Kepuasan adalah cermin dari perasaan seseorang terhadap
pekerjaannya. Robbins (2006) mendefinisikan kepuasan kerja adalah suatu
sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya, selisih antara
banyaknya ganjaran yang diterima seorang pekerja dan banyaknya yang
mereka yakini seharusnya mereka terima. Kepuasan kerja ditentukan oleh
beberapa faktor yakni kerja yang secara mental menantang, kondisi kerja
yang mendukung, rekan kerja yang mendukung, serta kesesuaian
kepribadian dengan pekerjaan.
Luthans (2006) menyebutkan bahwa kepuasan kerjamerupakan
keadaan emosi yang senang atau emosi yang positif yang berasal dari
penilaian kerja atau pengalaman kerja seseorang. Lebih jauh dikatakan
bahwa kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap
pekerjaannya, yang dapat terlihat dari sikap positif pekerja terhadap
pekerjaannya dan segala sesuatu yang dihadapi pada lingkungan kerja.
Kepuasan kerja sangat diperlukan bagi karyawan karena dengan
adanya kepuasan kerja karyawan dapat meningkatkan produktivitas.
Adanya ketidakpuasan kerja di antara karyawannya dapat menimbulkan
hal-hal yang tidak menguntungkan bagi perusahaan maupun bagi karyawan
itu sendiri. Wexley dan Yukl (2005) mengemukakan tiga teori tentang
kepuasan kerja, yaitu :
a. Teori Ketidaksesuaian
Seseorang akan merasakan kepuasan kerja apabila tidak ada perbedaan
antara yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan, dalam hal ini
batas minimal kebutuhan telah terpenuhi. Jika kebutuhannya telah
terpenuhi di atas batas minimal maka seseorang akan merasa lebih puas.
Sebaliknya bila batas minimal kebutuhannya tidak terpenuhi maka
seseorang akan merasakan ketidakpuasan kerja.
b. Teori Keadilan
Seseorang akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia
merasakan adanya keadilan (equity) atau tidak atas suatu situasi yang
dialami dalam pekerjaan. Perasaan adil atau tidak adil diperoleh dengan
cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang dinilai sekelas,
jabatan sama dan masa kerja sama. Jika perbandingan itu dianggap
cukup adil maka ia merasa puas.
c. Teori Dua Faktor
Pada dasarnya kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja merupakan dua
hal yang berbeda. Menurut teori ini kepuasan dan ketidakpuasan bukan
merupakan titik yang berlawanan dengan satu titik netral pada
pusatnya, sepert pandangan teori sikap kerja konvensional, tetapi dua
titik yang berbeda.
Salah satu faktor ketidakpuasan kerja tidak dapat mengubah menjadi
kepuasan tetapi hanya mengurangi ketidakpuasan. Menurut Luthans (2006)
kepuasan kerja terdiri dari kepuasan kepada :
a. Pekerjaan itu sendiri (Work it self)
Disebutkan bahwa bila seorang karyawan dalam sebuah
organisasi memiliki otonomi yang tinggi, kebebasan menentukan tugas-
tugas dan jadwal kerja mereka sendiri, perubahan dalam variabel ini
memberi pengaruh yang secara besar pula terhadap kepuasan kerja.
Robbins (2006) menyatakan bahwa karyawan cenderung lebih menyukai
pekerjaan-pekerjaan yang memberi kesempatan untuk menggunakan
keterampilan dan kemampuan mereka dan menawarkan bermacam-
macam tugas, kebebasan dan umpan balik mengenai betapa baik mereka
mengerjakan pekerjaannya sehingga kesenangan dan kepuasan karyawan
dapat tercipta.
b. Gaji (Pay)
Gaji merupakan sistem ganjaran moneter yang diterima individu
sebagai imbal jasa atas keterlibatannya dalam rangka pencapaian tujuan
dan kinerja organisasi. Gaji yang diterima dari bekerja memberikan
jawaban atas kebutuhan individu dan keluarga, inilah yang menjadi
alasan mengapa karyawan memiliki kinerja yang tinggi terhadap
pekerjaannya apabila masalah gaji (yang sesuai) ini dapat dipenuhi oleh
perusahaan. Kepuasan kerja diperoleh dari tingkat imbalan atau hasil
yang diperoleh dari pekerjaan, dibandingkan dengan apa yang
diharapkan oleh karyawan. Semakin lebih banyak yang diperoleh dari
pekerjaan dibandingkan dengan yang diharapkan maka semakin tinggi
kepuasan kerja tersebut.
c. Supervisi
Gibson, et al (2005) menyatakan pemimpin yang dapat
menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat akan dapat memuaskan
bawahannya. Hal itu akan tercermin pada sikap bawahannya yang
cenderung patuh kepada atasannya dan akan mempunyai semangat kerja
yang tinggi
d. Hubungan dengan teman sekerja (Co-workers)
Hal ini merupakan faktor yang penting dalam menciptakan
kepuasan kerja karena bagaimanapun juga manusia merupakan makhluk
sosial yang pasti membutuhkan interaksi dengan individu lain. Tidak
mungkin seorang individu akan selalu mengandalkan dirinya sendiri,
karena setiap individu mempunyai batas kemampuannya masing-masing.
Dengan terciptanya hubungan yang baik di antara rekan sekerja maka
rasa nyaman dan aman dalam bekerja akan tercipta di dalamnya sehingga
kepuasan kerja dapat terwujud. Robbins (2006) menyatakan bahwa bagi
kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi kebutuhan akan interaksi
sosial, oleh karena itu tidaklah mengejutkan apabila memiliki rekan keja
yang ramah dan mendukung akan mengantarkan kepada kepuasan kerja
yang meningkat.
e. Kesempatan promosi (Promotion opportunities)
Promosi memberikan individu status sosial yang lebih tinggi,
pertumbuhan pribadi, dan tanggung jawab yang lebih banyak. Oleh
Karena itu individu yang mempersepsikan bahwa keputusan promosi
dibuat dalam cara yang adil, kemungkinan besar akan mengalami
kepuasan dari pekerjaan mereka.
