Intensi adalah niat atau keinginan yang timbul pada individu untuk
melakukan sesuatu. Sementara turnover adalah berhentinya atau penarikan
diri seseorang karyawan dari tempat bekerja. Dengan demikian, turnover
intention (intensi keluar) adalah kecenderungan atau niat karyawan untuk
berhenti bekerja dari pekerjaannya (Zeffane, 1994). Turnover mengarah
pada kenyataan akhir yang dihadapi organisasi berupa jumlah karyawan
yang meninggalkan organisasi pada periode tertentu, sedangkan turnover
intention mengacu pada hasil evaluasi individu mengenai kelanjutan
hubungan dengan organisasi yang belum diwujudkan dalam tindakan pasti
meninggalkan organisasi.
Menurut Purnama Dewi dan Artha Wibawa (2016), turnover
intention yang rendah dapat memperkecil perputaran karyawan serta biaya-
biaya yang dikeluarkan. Turnover dapat berupa pengunduran diri,
perpindahan keluar unit organisasi, pemberhentian atau kematian anggota
organisasi. Robbins (2006) menjelaskan bahwa penarikan diri seseorang
keluar dari suatu organisasi (turnover) dapat diputuskan secara 2 sebab,
yaitu:
a. Sukarela (voluntary turnover)
Voluntary turnover atau quit merupakan keputusan karyawan untuk
meninggalkan organisasi secara sukarela yang disebabkan oleh faktor
seberapa menarik pekerjaan yang ada saat ini, dan tersedianya alternatif
pekerjaan lain.
b. Tidak sukarela (involuntary turnover)
Sebaliknya, involuntary turnover atau pemecatan
menggambarkan keputusan pemberi kerja (employer) untuk
menghentikan hubungan kerja dan bersifat uncontrollable bagi
karyawan yang mengalaminya (Shaw et al., 1998).
Menurut Utami dan Bonussyeani (2009) antara karyawan yang
meninggalkan organisasi secara suka rela tetapi tidak dapat dihindari
dan karyawan yang tetap tinggal pada organisasi (stay) tidak dapat
dibedakan karakteristik tingkat kepuasan dan komitmennya.
Perpindahan kerja suka rela yang dapat dihindari disebabkan karena
alasan-alasan:
1) Upaya yang lebih baik di tempat lain.
2) Kondisi kerja yang lebih baik di organisasi lain.
3) Masalah dengan kepemimpinan / administrasi yang ada.
4) Adanya organisasi lain yang lebih baik.
Sedangkan perpindahan kerja sukarela yang tidak dapat dihindari
disebabkan oleh alasan-alasan:
1) Pindah ke daerah lain karena mengikuti pasangan.
2) Perubahan arah karir individu, harus tinggal di rumah untuk menjaga
pasangan /anak, dan kehamilan.
Turnover mengacu pada keluarnya seseorang dari keanggotaan
suatu organisasi. Menurut Faslah (2010) menjelaskan bahwa biaya atau
kerugian atas adanya turnover meliputi:
1) Biaya langsung yang terkait dengan kegiatan rekruitmen.
2) Biaya tidak langsung misalnya biaya yang berhubungan dengan
pelatihan karyawan baru.
3) Kerugian produktivitas oleh proses pembelajaran karyawan baru.
Ada 2 (dua) macam model penarikan diri dari organisasi
(organizational withdrawl) yang mencerminkan rencana individu untuk
meninggalkan organisasi baik secara temporer maupun permanen, yaitu:
1) Penarikan diri dari pekerjaan (work withdrawl), biasa disebut
mengurangi jangka waktu dalam bekerja atau melakukan penarikan
diri secara sementara. Mueller (2003)menyebutkan bahwa karyawan
yang merasa tidak puas dalam pekerjaan akan melakukan beberapa
kombinasi perilaku seperti tidak menghadiri rapat, tidak masuk kerja,
menampilkan kinerja yang rendah dan mengurangi keterlibatannya
secara psikologis dari pekerjaan yang dihadapi.
2) Alternatif mencari pekerjaan baru (search for alternatives), biasanya
karyawan benar-benar ingin meninggalkan pekerjaannya secara
permanen. Dapat dilakukan dengan proses pencarian kerja baru,
sebagai variabel antara pemikiran untuk berhenti bekerja atau
keputusan aktual untuk meninggalkan pekerjaan (Mueller, 2003).
Turnover yang dibahas dalam penelitian ini adalah dalam
konteks model sukarela (voluntary turnover). Variabel intensi keluar
diukur dengan tiga item yang menggali informasi mengenai keinginan
responden untuk mencari pekerjaan lain (Mobley, 1986) menyebutkan
item pengukuran tersebut terdiri atas:
1) Kecenderungan individu berpikir untuk meninggalkan organisasi
tempat ia bekerja sekarang.
2) Kemungkinan individu akan mencari pekerjaan pada organisasi
lain.
3) Kemungkinan meninggalkan organisasi
