Komitmen biasa dikaitkan dengan keadaan dimana seorang karyawan
memihak pada perusahaan tertentu serta tujuan dan keinginannya untuk
mempertahankan keanggotaan dalam perusahaan tersebut. Menurut Allen dan
Meyer (1990, dalam Tarigan, Veronica dan Dorothea Wahyu Ariani, 2015)
mengungkapkan bahwa komitmen organisasi adalah sebuah konsep dari komitmen
yang memiliki tiga dimensi yaitu affective commitment, continuance commitment
dan normative commitment.
Berikut penjelasan dari ketiga dimensi tersebut yaitu:
a. Affective commitment yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan
emosional, identifikasi, dan keterlibatan karyawan dalam suatu perusahaan.
Karyawan dengan affective commitment yang tinggi masih bergabung
dengan perusahaan karena keinginan kuat untuk menjadi karyawan di
perusahaan tersebut. Selain itu, karyawan tersebut akan bekerja lebih keras
dan menunjukkan hasil pekerjaan yang lebih maksimal dibandingkan
dengan karyawan yang memiliki affective commitment rendah.
b. Continuance commitment yaitu nilai ekonomi yang dirasakan dari bertahan
dalam suatu perusahaan bila dibandingkan dengan meninggalkan
perusahaan tersebut. Komitmen ini berdasarkan persepsi karyawan tentang
kerugian yang dihadapi jika meninggalkan perusahaan. Tetapi apabila
karyawan tersebut bertahan dalam perusahaan maka dapat merasakan putus
asa dan frustasi yang dapat menyebabkan kinerja yang buruk.
c. Normative commitment yaitu kewajiban untuk bertahan dalam perusahaan
untuk alasan moral atau etis. Komitmen ini berkembang dari pengalaman
sosialisasi dan perasaan yang dimiliki oleh karyawan. Selain itu, normative
commitment menimbulkan perasaan berkewajiban sebagai karyawan untuk
memberikan balasan atas apa yang pernah diterima dari perusahaan.
Peneliti memilih affective commitment karena variabel ini telah
diidentifikasi memiliki pengaruh terbesar terhadap job satisfaction dan turnover
intention dibandingkan dengan continuance commitment dan normative
commitment
