Faktor-faktor Job Satisfaction


Mangkunegara (2004) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi job satisfaction dapat ditentukan dengan beberapa hal, antara lain:
a. Faktor pegawai yaitu, kecerdasan, kecakapan khusus, umur, jenis kelamin,
kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa kerja, kepribadian,
emosi, cara berpikir, persepsi dan sikap kerja.
b. Faktor pekerjaan yaitu, jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat atau
golongan, kedudukan, mutu pengawasan, jaminan finansial, kesempatan
promosi jabatan, interaksi sosial, dan hubungan kerja.
Robbins (2008) berpendapat bahwa aspek-aspek kerja yang berpengaruh
terhadap kepuasan kerja yaitu:
a. Gaji atau Upah yaitu imbalan yang diterima oleh seseorang dari perusahaan
atas jasa yang diberikan, baik berupa waktu, tenaga, keahlian atau
keterampilan. Oleh karena itu, setiap perusahaan harus memeperhatikan
prinsip keadilan dalam penetapan gaji atau pengupahan.
b. Pekerjaan yaitu tugas kerja yang diberikan oleh perusahaan terhadap
karyawannya sebagai bentuk dari kesempatan untuk belajar atau pun
tanggung jawab.
c. Promosi yaitu perpindahan dari suatu jabatan ke jabatan lain yang
mempunyai status dan tanggung jawab yang lebih tinggi. Konsekuensinya
disertai dengan peningkatan gaji dan hak-hak lainnya berdasarkan ketentuan
dari perusahaan.
d. Penyelia atau pengawasan kerja berarti kemampuan penyelia untuk
membantu dan mendukung pekerjaan. Kepuasan karyawan dapat
meningkat apabila penyelia bersifat ramah dan dapat memahami karyawan.
e. Rekan kerja berarti apabila seorang karyawan memiliki rekan kerja yang
ramah maka dapat mendukung kepuasan kerja dari karyawan tersebut.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas tentang faktor kepuasan kerja, maka
dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah
gaji, pekerjaan, promosi, penyelia dan rekan kerja.
Job satisfaction karyawan tinggi, maka tingkat affective commitment yang
dimiliki karyawan akan meningkat. Karyawan dengan kepuasan kerja yang tinggi
dapat dinyatakan bahwa memiliki komitment afektif yang tinggi akan cenderung
untuk tetap mempertahankan pekerjaannya dalam perusahaan secara berkelanjutan
dan tidak meninggalkan perusahaan serta pekerjaannya, sehingga angka turnover
intention akan mengalami penurunan