Istilah motivasi (motivation) berasal darii Bahasa Latin, yaitu “Movere”
yang berarti “menggerakkan” (to move). Motivasi adalah sebab dari tindakan.
Barelson dan Steiner dikutip oleh Siswanto Sastrohadiwiryo dalam
Bintoro (2017), mendefinisikan motivasi sebagai keadaan kejiwaan dan sikap
mental manusia yang memberikan energi, mendorong kegiatan atau
menggerakkan dan mengarah atau menyalurkan perilaku kearah mencapai
kebutuhan yang memberi kepuasan atau mengurangi ketidakseimbangan.
Pendapat lain, yakni Stefan Ivanko dalam Hamali (2016) mendefinisikan
motivasi sebagai keinginan dan energi seseorang yang diarahkan untuk
pencapaian suatu tujuan.
Sedangkan Kondalkar dalam Hamali (2016), mendefinisikan motivasi
sebagai keinginan yang membakat yang disebabkan oleh kebutuhan, keinginan
dan kemauan yang mendorong seorang individu untuk menggunakan energi
fisik dan mentalnya demi tercapainya tujuan-tujuan yang diinginkan.
Teori Clayton Alderfer (1972) menyatakan bahwa teori ini merupakan
pengklasifikasian piramida kebutuhan manusia dari teori kebutuhan yang
dikemukakan Maslow menjadi 3 kategori. Maslow menyatakan bahwa
kebutuhan terdiri dari 5 kategori atau indikator yakni kebutuhan fisiologi, rasa
aman, kasih sayang, penghargaan serta aktualisasi diri. Sedangkan menurut
Clayton Alderfer, motivasi ini memiliki 3 kategori atau indikator, yakni
existence needs (kebutuhan-kebutuhan diri) yang sejajar dengan kebutuhan
fisiologis dan rasa aman dari teori Maslow, relatedness needs (kebutuhankebutuhan berelasi dengan orang lain) yang sejajar dengan kasih sayang dan
penghargaan dari teori Maslow, dan growth needs (kebutuhan-kebutuhan untuk
tumbuh) yang sejajar dengan aktualisasi diri dari teori Maslow.
Motivasi dapat berupa motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi
intrinsik contohnya kepuasan dan perasaan untuk mencapai sesuatu. Motivasi
ekstrinsik contohnya imbalan, hukuman, dan perolehan tujuan. Secara
sederhana, motivasi kerja adalah faktor pendorong atau daya penggerak untuk
bekerja bagi karyawan dalam sebuah perusahaan
