Relativisme


Forsyth (1980) mengemukakan Relativisme adalah suatu sikap
penolakan terhadap nilai-nilai moral yang absolut dalam mengarahkan
perilaku. Dalam hal ini individu masih mempertimbangkan beberapa nilai
dari dalam dirinya maupun lingkungan sekitar. Relativisme etis
merupakan teori yang menyatakan bahwa suatu tindakan dapat dikatakan
etis atau tidak, benar atau salah, yang tergantung kepada pandangan
masyarakat. Teori ini meyakini bahwa tiap individu maupun kelompok
memiliki keyakinan etis yang berbeda. Dengan kata lain, relativisme etis
maupun relativisme moral adalah pandangan bahwa tidak ada standar etis
yang secara absolute benar. Dalam penalaran moral seorang individu, ia
harus selalu mengikuti standar moral yang berlaku dalam masyarakat
dimanapun ia berada.
Secara garis besar ada 3 pihak yang melakukan penolakan, mereka
sama-sama menolak bahwa nilai-nilai moral yang berlaku mutlak dan
umum, antara lain:
1) Pihak pertama berpendapat bahwa ternyata nilai moral di berbagai
masyarakat dan kebudayaan tidaklah sama.
2) Pihak kedua menyatakan bahwa suatu nilai moral tidak pernah berlaku
mutlak, mereka memasang nilai atau norma sendiri yaitu bahwa suatu
nilai moral tidak boleh mengikat secara mutlak.
3) Pihak ketika mendekati nilai moral dari segi yang lain yaitu dari segi
metode etika, disini mereka menolak norma moral secara mutlak
berdasar logika tiap-tiap individu itu sendiri.
Orientasi Etika Relativisme dapat diukur dengan indikator etika
yang bervariasi dari satu situasi dan masyarakat ke situasi dan masyarakat
lainnya, selain itu tipe-tipe moralitas yang berbeda tidak dapat
dibandingkan dengan keadilan, pertimbangan etika dalam hubungan antar
orang begitu kompleks, sehingga individu seharusnya diijinkan untuk
membentuk kode etik individu mereka sendiri, serta kebohongan dapat
dinilai sebagai tindakan moral atau imoral tergantung pada situasi
(Khairul, 2011).