Di dalam organisasi sangat dibutuhkannya komitmen karyawan
terhadap organisasi. Komitmen yang ada di dalam diri karyawan akan
membuat karyawan melakukan kegiatan kerja sesuai dengan pedoman
kerja. Menurut Arfan (2010:54) Komitmen organisasi merupakan tingkat
sampai sejauh apa seorang karyawan memihak pada suatu organisasi
tertentu dan tujuan-tujuannya, serta berniat mempertahankan
keanggotaannya dalam organisasi tersebut. Komitmen organisasi adalah
kemauan seseorang untuk tetap menjadi anggota organisasi, kemauan
menunjukkan usaha untuk organisassi, dan mendukung tujuan dan nilai
organisasi (Dubin et al, 1975 dalam Gurses dan Demiray, 2009). Mowday
et al (1987) dalam Khaliq et al (2016) mengatakan bahwa komitmen
organisasi dapat didefinisikan sebagai kepercayaan karyawan terhadap
tujuan dan nilai organisasi, keinginan untuk tetap menjadi anggota dan
loyalitas terhadap organisasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa komitmen
organisasi adalah suatu sikap yang dimiliki oleh karyawan maupun
anggota organisasi dengan keterkaitan dan keterlibatan karyawan maupun
anggota pada suatu organisasi dengan menumbuhkan loyalitas serta
mendorong karyawan terlibat dalam berbagai pengambilan keputusan,
sehingga dengan adanya komitmen karyawan memiliki rasa untuk
memiliki organisasi tersebut.
24
Karyawan yang memiliki komitmen yang tinggi akan bertanggung
jawab terhadap organisasinya untuk mencapai tujuan organisasi bersama.
Adanya komitmen organisasi di dalam diri karyawan akan menunjukan
sikap dan perilaku positif terhadap orgnisasinya, sehingga karyawan akan
memiliki jiwa pembela untuk membela organisasinya. Jiwa pembela
tersebut dapat diaplikasikan dalam pekerjaannya untuk mewujudkan
tujuan organisasi.
Rasa peduli terhadap organisasi yang ada di diri karyawan dapat
ditunjukan dengan memiliki niat whistleblowing. Menurut Brief dan
Motowidlo (1986) dalam Rizki (2012) tindakan melakukan
whistleblowing merupakan tindakan prososial anggota organisasi yang
berguna untuk melindungi tujuan jangka panjang organisasi dengan
melaporkan arahan, prosedur, dan kebijakan yang menurutnya tidak etis
atau legal. Adanya pendapat tersebut diharapkan karyawan bisa
melakukan tindakan whistleblowing dengan memiliki komitmen
organisasi yang tinggi.
Komitmen organisasi terbentuk ketika karyawan memiliki sikap yang
berhubungan dengan organisasinya. Arfan (2010: 55) mengatakan ada tiga
sikap yang saling berhubungan terhadap organisasi, yaitu:
1) Identifikasi (Identification), yaitu pemahaman atau penghayatan
terhadap tujuan organisasi.
2) Keterlibatan (Involvement), yaitu perasaan terlibat dalam suatu
pekerjaan atau perasaan bahwa pekerjaan tersebut adalah
menyenangkan.
3) Loyalitas (Loyalty), yaitu persaan bahwa organisasi adalah tempatnya
bekerja dan tinggal.
Menurut Arfan (2010:55) berpendapat bahwa komitmen organisasi
memiliki tiga komponen utama, yaitu:
1) Komitmen Afektif (Affective commitment), terjadi apabila karyawan
ingin menjadi bagian dari organisasi karena adanya ikatan emosional
atau psikologis terhadap organisasi.
2) Komitmen Berkelanjutan (Continuance commitment) muncul apabila
karyawan tetap bertahan pada suatu organisasi karena membutuhkan
gaji dan keuntungan-keuntungan lain, atau karyawan tersebut tidak
menemukan pekerjaan lain. Dengan kata lain, karyawan tersebut
tinggal di organisasi tersebut karena dia membutuhkan organisasi
tersebut.
3) Komitmen Normatif (Normative commitment) timbul dari nilai-nilai
diri karyawan. Karyawan bertahan menjadi anggota suatu organisasi
karena memiliki kesadaran bahwa komitmen terhadap organisasi
tersebut merupakan hal yang memang harus dilakukan. Jadi, karyawan
tersebut tinggal di organisasi itu karena ia merasa berkewajiban untuk
