Dalam konteks pembentukan akhlak, banyak ahli yang menganggap bahwa tujuan pendidikan sebenarnya adalah membentuk akhlak yang baik. Sebagai contoh, Muhammad Athiyah Al-Abrasyi menyatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah esensi dan tujuan pendidikan Islam. Ahmad D. Marimba juga berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah sama dengan tujuan hidup setiap Muslim, yaitu untuk menjadi hamba Allah yang beriman dan menyerahkan diri kepada-Nya dengan memeluk agama Islam. Dalam hal ini, pembentukan akhlak dianggap sebagai aspek penting dalam mencapai tujuan hidup yang sebenarnya.[1]
Berikut ini faktor-faktor pembentuk akhlak menurut Mahjuddin:
- Faktor Pembawaan Naluriyah (Gharizah)
Sebagai makhluk biologis, manusia memiliki faktor bawaan sejak lahir yang dapat mempengaruhi perilaku mereka. Faktor ini disebut sebagai naluri atau tabiat oleh J.J. Rousseau. Mansur Ali Rajab kemudian menamakan faktor ini sebagai “tabiat kemanusiaan” (al-tabi’ah al-insaniyyah). Rajab mengikuti pandangan Plato bahwa tabiat baik dan buruk dalam diri manusia sangat dekat, sehingga manusia dapat melakukan perbuatan baik dan buruk secara bergantian. Ia juga mengikuti pandangan J.J. Rousseau bahwa manusia lahir dengan bawaan baik, tetapi sifat buruk dapat muncul karena pengaruh lingkungan, seperti pergaulan.
- Faktor sifat-sifat keturunan (al-Warithah)
Menurut Mansur Ali Rajab, sifat-sifat keturunan adalah sifat-sifat bawaan yang diwariskan oleh orang tua kepada anak dan cucunya. Warisan sifat-sifat orang tua dapat berlangsung secara langsung (mubasharah) atau tidak langsung (gairu mubasharah), sehingga sifat-sifat tersebut tidak selalu turun kepada anak, tetapi bisa turun kepada cucu. Sifat-sifat ini dapat berasal dari ayah atau ibu, dan keturunan juga dapat mewarisi kecerdasan (sifah al-‘aqliyah) dari ayah atau kakeknya, serta sifat baik (sifah al-khuluqiyaah) dari ibu atau neneknya, atau sebaliknya.
- Faktor Lingkungan Dan Adat Istiadat
Pembentukan akhlak manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan alam dan sosial, yang dalam pendidikan dikenal sebagai faktor empiris, yaitu pengalaman hidup manusia. John Lock menjadi pelopor dalam hal ini. Faktor pengalaman yang disengaja, termasuk pendidikan dan pelatihan, serta faktor yang tidak disengaja, seperti lingkungan alam dan sosial, juga memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan manusia. Dalam ilmu akhlak, lingkungan alam disebut sebagai “al-biah” dan lingkungan sosial disebut sebagai “al-adah“.
- Faktor Agama (Kepercayaan)
Agama tidak hanya sekadar menjadi kepercayaan yang dimiliki oleh manusia, tetapi juga harus berfungsi dalam kehidupannya secara menyeluruh. Agama dapat berperan sebagai sistem kepercayaan, sistem ibadah, dan sistem kemasyarakatan yang terkait dengan nilai-nilai akhlak. Dalam hal ini, agama diharapkan dapat membimbing manusia dalam berbagai aspek kehidupannya.
[1] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1962), hlm 48-49
