Metode Pembinaan Akhlak

Pembinaan akhlak merupakan prioritas utama dalam agama Islam. Hal ini dapat dilihat dari salah satu misi Nabi Muhammad SAW yang utama, yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Islam sangat memperhatikan pembinaan akhlak, seperti yang terlihat dari perhatiannya terhadap pembinaan jiwa, yang diutamakan daripada pembinaan fisik. Jiwa yang baik akan menghasilkan perbuatan yang baik, dan hal ini akan membawa kebaikan dan kebahagiaan dalam seluruh aspek kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.[1]

Dalam pembinaan akhlak, Islam sangat menekankan pada muatan akhlak yang terdapat pada semua aspek ajarannya. Ketaatan dalam menjalankan serangkaian amal shaleh dan perbuatan terpuji sangat erat kaitannya dengan keyakinan dalam ajaran Islam. Iman yang tidak disertai dengan amal shaleh dianggap sebagai iman yang palsu dan bahkan dianggap sebagai kemunafikan.

Pelaksanaan rukun iman dan Islam terintegrasi dengan pembinaan akhlak juga. Analisis Muhammad Al-Ghazali terhadap rukun Islam yang lima menunjukkan dengan jelas bahwa konsep pembinaan akhlak terkandung dalam rukun islam tersebut. Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah merupakan dua kalimat syahadat yang menjadi rukun pertama dalam agama Islam. Kalimat ini menyatakan bahwa selama hidupnya, manusia hanya tunduk pada aturan dan tuntutan Allah. Orang yang tunduk dan patuh pada aturan Allah dan Rasulnya dapat dipastikan akan menjadi orang yang baik.

Al-Ghazali menganjurkan agar akhlak yang baik harus dilatih dengan cara membiasakan jiwa dengan pekerjaan atau tingkah laku yang mulia. Jika seseorang ingin menjadi pemurah, maka ia harus membiasakan dirinya melakukan tindakan yang bersifat pemurah, sehingga sifat murah hati dan murah tangan menjadi bawaan alaminya.[2] Dalam tahap-tahap tertentu, pembinaan akhlak, terutama akhlak lahiriyah, dapat dilakukan melalui cara paksaan yang lama kelamaan tidak lagi terasa sebagai paksaan. Sebagai contoh, seseorang yang ingin menulis atau mengatakan kata-kata yang bagus, pada awalnya ia harus memaksa tangan dan mulutnya untuk menuliskan atau mengatakan kata-kata dan huruf yang bagus. Namun, jika kebiasaan ini dilakukan dalam jangka waktu yang lama, maka paksaan tersebut tidak lagi terasa sebagai paksaan.

Dalam rangka pembinaan akhlak yang efektif, perlu diperhatikan faktor kejiwaan dari sasaran yang akan dibina. Hasil penelitian psikolog menunjukkan bahwa kejiwaan manusia berbeda menurut usia. Pada usia kanak-kanak, misalnya, mereka lebih suka melakukan hal-hal yang bersifat rekreatif dan bermain. Oleh karena itu, ajaran akhlak dapat disampaikan dalam bentuk permainan. Hal ini telah dilakukan oleh para ulama di masa lalu dengan menyajikan ajaran akhlak melalui syair yang berisi tentang sifat-sifat Allah dan Rasul, anjuran untuk beribadah dan berakhlak mulia, dan lain sebagainya. Syair tersebut biasanya dibacakan menjelang pengajian, saat akan melaksanakan sholat lima waktu, dan acara-acara peringatan hari besar Islam.[3]