Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan (skripsi dan tesis)

Pendapatan keluarga yang satu berbeda dengan pendapatan keluarga yang lain, sesuai dengan kegiatan perekonomian mereka. akan tetapi pendapatan setiap keluarga tidak akan terlepas dari hal-hal berikut, diantaranya:

1) Pendapatan pokok Pendapatan pokok dapat berbentuk pendapatan per semester atau semi semester bergantung pada mata pencaharian pokok kepala rumah tangga.

2) Pendapatan tambahan Pendapatan tambahan adalah pendapatan keluarga yang dihasilkan anggota keluarga yang sifatnya tambahan, seperti bonus atau pemberian dana bantuan.

3) Pendapatan lain-lain Pendapatan lain-lain dapat berupa bantuan atau hibah dari orang lain atau hasil dari perputaran harta. Bantuan istri kepada suaminya dalam masalah keuangan keluarga dianggap sebagai pendapatan lain-lain karena hal ini dapat membantu pembelanjaan keluarga.

Sumber Pendapatan (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya pendapatan keluarga berasal dari berbagai sumber, kondisi ini bisa terjadi karena masing-masing anggota rumah tangga mempunyai lebih dari satu jenis pekerjaan baik sebagai pekerjaan tetap maupun pekerjaan pengganti. Konkretnya penghasilan keluarga dapat bersumber pada:

1) Usaha sendiri, misalnya berdagang, wiraswasta.

2) Bekerja pada orang lain, misalnya karyawan atau pegawai

. 3) Hasil dari milik, misalnya punya sawah atau rumah disewakan.

Pendapatan keluarga dapat diterima dalam bentuk uang, dapat juga dalam bentuk barang (disebut “in natura” misalnya tunjangan beras, hasil dari sawah atau pekarangan sendiri), atau fasilitas-fasilitas (misalnya rumah dinas, pengobatan gratis). Dalam masyarakat modern kebanyakan orang mendapat penghasilannya dalam bentuk uang. Berhubung dengan itu dibedakan penghasilan nominal (Money Income), yaitu jumlah rupiah yang diterima, dan penghasilan riil/nyata (Real Income), yaitu jumlah barang yang dapat dibeli dengan sejumlah uang tertentu, (atau dapat dinilai dalam uang). Pembedaan ini penting terutama bila harga-harga tidak stabil

Pengertian Pendapatan (skripsi dan tesis)

Pendapatan merupakan suatu unsur penting dalam perekonomian yang berperan meningkatkan derajat hidup orang banyak melalui kegiatan produksi barang dan jasa. Besarnya pendapatan seseorang tergantung dari jenis pekerjaannya. Pendapatan adalah segala sesuatu yang didapat dari hasil usaha baik berupa uang ataupun barang.  Pendapatan merupakan jumlah seluruh uang yang diterima oleh seseorang atau rumah tangga selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Pendapatan terdiri dari upah atau penerimaan tenaga kerja, pendapatan dari kekayaan seperti sewa dan dividen, serta pembayaran transfer atau penerimaan dari pemerintah seperti tunjangan sosial atau asuransi pengangguran.

Sedangkan Dwi Suwiknyo yang mendefinisikan pendapatan sebagai uang yang diterima oleh seseorang dan perusahaan dalam bentuk gaji, upah, sewa, laba, dan lain sebagainya.3 Dalam analisis mikro ekonomi, istilah pendapatan khususnya dipakai berkenaan dengan aliran penghasilan dalam suatu periode waktu yang berasal dari penyediaan faktor-faktor produksi sumber daya alam, tenaga kerja dan modal yang masing-masing dalam bentuk sewa, upah dan laba secara berurutan.4 Tidak jauh berbeda pula dengan yang dirumuskan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) yang menyatakan bahwa pendapatan yaitu  keseluruhan jumlah penghasilan yang diterima oleh seseorang sebagai balas jasa berupa uang dari segala hasil kerja atau usahanya baik dari sektor formal maupun non formal yang terhitung dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan pengertian pendapatan yang telah disebutkan di atas, maka pendapatan rumah tangga petani tebu dapat diklasifikasikan sebagai pendapatan total petani tebu, yaitu besarnya pendapatan total anggota keluarga yang diperoleh dari penjumlahan hasil tani dan pendapatan lainnya.

Pertumbuhan Ekonomi (skripsi dan tesis)

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan dalam suatu perekonomian. Kemajuan suatu perekonomian ditentukan oleh besarnya pertumbuhan yang ditunjukan oleh perubahan output nasional. Adanya perubahan output dalam perekonomian merupakan analisis ekonomi jangka pendek. Secara umum teori tentang pertumbuhan ekonomi dapat di kelompokan menjadi dua, yaitu teori pertumbuhan ekonomi klasik dan teori pertumbuhan ekonomi modern. Pada teori pertumbuhan ekonomi klasik, analisis di dasarkan pada kepercayaan dan efektivitas mekanisme pasar bebas. Teori ini merupakan teori yang dicetuskan oleh para ahli ekonom klasik antara lain Adam Smith, David Ricardo. Teori lain yang menjelaskan pertumbuhan ekonomi adalah teori ekonomi modern. Teori pertumbuhan Harrod-Domar merupakan salah satu teori pertumbuhan ekonomi modern, teori ini menekankan arti pentingnya pembentukan investasi bagi pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi investasi maka akan semakin baik perekonomian, investasi tidak hanya memiliki pengaruh terhadap permintaan agregat tetapi juga terhadap penawaran agregat 15 melalui pengaruhnya terhadap kapasitas produksi. Dalam perspektif yang lebih panjang investasi akan menambah stok kapital

Jaminan Kesehatan (skripsi dan tesis)

Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Jaminan kesehatan diselenggarakan dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan (Thabrany, 2014). Program jaminan kesehatan yang diselenggarakan untuk masyarakat sebagai wujud komitmen tanggungjawab pemerintah dalam melaksanakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dimana merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Pemerintah berupaya memberikan pelayanan kesehatan yang menjangkau seluruh masyarakat dengan memfasilitasi jaminan kesehatan yang diberikan secara maksimal pada masyarakat yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan dan taraf hidup sehat pada masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2015). 29 Program jaminan kesehatan yang diselenggarakan pemerintah untuk masyarakatnya sebagai wujud komitmen tanggungjawab dalam melaksanakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dimana merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Pemerintah berupaya serius dalam penataan pelayanan kesehatan yang menjangkau seluruh masyarakat dengan memfasilitasi jaminan kesehatan yang diberikan secara maksimal maka akan mewujudkan kesejahteraan. Karena akan dapat meningkatkan derajat kesehatan dan taraf hidup sehat pada masyarakat yang dimana kesehatan merupakan indikator pembangunan manusia (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2015). Usaha yang telah dirintis pemerintah yaitu dengan menyelenggarakan jaminan sosial di bidang kesehatan dalam bentuk PT Askes dan PT Jamsostek yang melayani diantara lain pegawai negeri sipil, veteran, penerima pensiunan, dan juga pegawai swasta. Untuk masyarakat miskin dan tidak mampu, pemerintah pusat menyediakan program Jamiman Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) begitu pula dengan pemerintah daerah yang menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2015)

Efektivitas Program (skripsi dan tesis)

Efektivitas dapat dijelaskan sebagai tingkat pencapaian tujuan, dimana tujuan itu merupakan visi yang bersifat abstrak dapat dideduksi sampai menjadi kongkrit yaitu sasaran. Sasaran merupakan tujuan yang terukur, konsep hasil relatif, bergantung pada pertanyaan, pada mata rantai dalam proses, siklus dan hasil yang didefinisikan. Kegiatan dapat dikatakan efektif apabila telah mencapai tujuan yang ditentukan, sejauh mana keluaran yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan, dan suatu pekerjaan dapat diselesaikan dengan perencanaan, baik dalam waktu, biaya, maupun mutunya dapat dikatakan efektif (Ndraha, 2005) dalam (Sari P. F., 2015). Dalam suatu program, efektivitas diartikan sebagai keberhasilan implementasi yang mencakup pencapaian target atau tujuan yang ditetapakan, sesuai dengan rencana atau sasaran yang dibuat, dan menghasilkan kejadian yang sesuai diharapakan. Implementasi program merupakan cara atau metode untuk mencapai tujuan program yang dirancang melalui identifikasi masalah yang ada. Efektivitas juga merupakan salah satu dari indikator nilai evaluasi program, dimana tujuan dari evaluasi program untuk mengetahui adanya pencapaian hasil, kemajuan, dan juga kendala dalam pelaksanaan program dapat dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan program di masa yang akan datang (Darmawan dan Sjaaf, 2016) Dalam implementasi program, terdapat proses mobilisasikan sumber daya, dana dan manusia. Keberhasilan implementasi berkaitan dengan planning, organizing, actuacting, controling, ketajaman indikator, dan 28 komitmen SDM di dalamnya. Dapat disimpulkan bahwa efektivitas program merupakan suatu proses pencapaian usaha tertentu dengan menggunakan strategi yang telah ditentukam sebelumnya agar mencapai tujuan yang diharapkan.

Pelayanan Publik (skripsi dan tesis)

Pelayanan publik atau pelayanan umum dapat didefinisikan sebagai segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang pada prinsipnya menjadi tanggungjawab dan dilaksanakan oleh instansi pemerintah dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan (Hardiyansyah, 2011). Pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori yaitu pelayanan kebutuhan dasar dan pelayanan umum, pada pelayanan kesehatan termasuk dalam kategori pelayanan kebutuhan dasar. Ketersediaan layanan kesehatan dapat didefinisikan sebagai kapasitas sistem kesehatan untuk meningkatkan cakupan akses dan keamanan kualitas layanan berupa peningkatan status dan pemerataan kesehatan, pelayanan kesehatan yang responsif, perlindungan terhadap resiko sosial dan keuangan, serta peningkatan efisiensi (Darmawan dan Sjaaf, 2016).

Dalam rangka menyelenggarakan tata kelola pelayanan publik yang baik (good governance) bidang kesehatan perlu adanya pengembangan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan sesuai dengan 4 kebijakan yaitu subsistem manajemen, informasi, dan regulasi kesehatan serta subsistem pemberdayaan masyarakat (Darmawan dan Sjaaf, 2016). Pemerintah mempunyai peranan penting dan wewenang dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakatnya, manajemen yang cermat dan bertanggung jawab atas terealisasinya layanan kesehatan akan mewujudkan kesejahteraan masyarakat, hal ini merupakan kepengurusan inti dari pemerintahan yang baik. Karena kesehatan masyarakat selalu merupakan prioritas nasional, karena tanggung jawab pemerintah atas hal ini akan terus berkelanjutan dan bersifat permanen (Darmawan dan Sjaaf, 2016). Peran pemerintah yang efektif pada sistem kesehatan merupakan hal yang kritis dan berperan penting karena tiga alasan yaitu:

(1) kesehatan merupakan hal sentral dalam mengentaskan kemiskinan, karena masyarakat sering kurang mendapatkan informasi mengenai kesehatan karena kemiskinan,

(2) rumah tangga mengeluarkan dana yang sedikit untuk kesehatan karena mengabaikan eksternalitas (seperti masalah penularan penyakit),

(3) pasar akan berinvestasi terlalu sedikit pada infrastruktur kesehatan dan penelitian serta pengembangan karena kegagalan pasar (Todaro dan Smith, 2003).

Aspek Ekonomi Kesehatan dari Pelayanan Kesehatan (skripsi dan tesis)

Hubungan antara kesehatan, pelayanan kesehatan dan komoditi ekonomi dalam pembahasan ilmu ekonomi akan selalu mengarah kepada demand, supply, dan distribusi komoditi. Dalam hal ini komoditinya merupakan pelayanan kesehatan bukan kesehatnnya sendiri, karena kesehatan tidak dapat secara langsung dijual atau dibeli di pasar. Pelayanan kesehatan hanya merupakan salah satu ciri komoditi, dan kegiatan kesehatan merupakan salah satu karakteristik dari pelayanana kesehatan (Tjiptoherijanto dan Soesetyo, 1994). Dalam sudut pandang supply produksi yang terpenting dari pelayanan kesehatan adalah kesehatan dan sekaligus akan menghasilkan output lainnya. Dari sudut pandang demand masyarakat ingin memperbaiki status kesehatannya sehingga mereka memerlukan pelayanan kesehatan 25 sebagai cara untuk mencapai status kesehatan yang lebih tinggi. Hal ini menjelaskan sifat komoditi pelayanan kesehatan dapat dipandang dari dua sisi pasar yaitu permintaan dan penawaran yang mencerminkan antara apa yang diminta berupa kesehatan dan apa yang disediakan berupa pelayanan kesehatan itu sendiri (Tjiptoherijanto dan Soesetyo, 1994).

Sumber-Sumber Pembiayaan Sektor Kesehatan (skripsi dan tesis)

Pembiayaan sektor kesehatan mencakup aspek keuangan dan
jasa kesehatan maupun kegiatan-kegiatan yang berhubungan
dengan kesehatan. Pembiayaan kesehatan bersumber dari berbagai
sumber, yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta,
organisasi masyarakat, dan biaya dari masyarakat itu sendiri.
Pembiayaan kesehatan harus diciptakan dengan stabil, terintegrasi,
dan juga berkesinambungan karena pembiayaan kesehatan
memegang peranan yang sangat penting untuk penyelenggaraan
pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan
kesehatan (Darmawan dan Sjaaf, 2016).
Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat merupakan
barang publik (public good) yang menjadi tanggung jawab
pemerintah, sedangkan untuk pelayanan kesehatan perorangan
pembiayaannya bersifat privat, kecuali pembiayaan untuk
masyarakat miskin dan tidak mampu menjadi tanggung jawab
pemerintah. Pembiayaan pelaksanaan kesehatan perorangan
diselenggarakan melalui jaminan pemeliharaan kesehatan dengan
mekanisme asuransi sosial (Darmawan dan Sjaaf, 2016).

Peranan Pembangunan Kesehatan Dalam Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi (skripsi dan tesis)

Timbulnya kekurangan gizi dan derajat kesehatan masyarakat akan berpengaruh pada kemisikinan, sehingga apabila derajat kesehatan diperbaiki, maka pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi akan dinikmati. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi sudah tentu disebabkan oleh semakin produktifnya sumber daya manusia yang merupakan masukan bagi perkembangan perekonomian (Hardiyansyah, 2011). Produk domestik bruto (PDB atau GNP) merupakan ukuran yang umum dipakai untuk mengukur nilai dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu perekonomian. Pada programprogram di bidang kesehatan dan pendidikan lebih berhubungan dengan peningkatan kualitas dari sumber daya manusia, hal ini perlu mendapat perhatian khusus, Karena GNP merupakan ukuran keadaan ekonomi suatu negara, khususnya yang menyangkut kemajuan ekonominya. Maka semakin tinggi GNP suatu negara maka akan semakin terpenuhi kebutuhan dasar dalam negara tersebut (Tjiptoherijanto dan Soesetyo, 1994). Dalam hubungan ini yang dipentingkan adalah sejauh mana pertambahan modal yang ditunjukkan oleh perkembangan modal melalui investasi, atau pertumbuhan tenaga kerja yang disebabkan oleh pertambahan penduduk, menyebabkan pertambahan dari GNP. Perubahan dalam GNP bukan ditunjukkan semata-mata oleh adanya perkembangan dalam tenaga kerja atau modal, tetapi oleh faktor residual yang kemudian ternyata merupakan peningkatan kualitas dari faktor-faktor produksi. Dalam hubungan inilah peranan kesehatan dan pendidikan yang mempengaruhi kualitas sumber daya manusia menjadi penting dan perlu dikaji (Tjiptoherijanto dan Soesetyo, 1994)

Ekonomi Kesehatan dan Pembangunan (skripsi dan tesis)

Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh negara untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal (Darmawan dan Sjaaf, 2016). Pengaruh kesehatan terhadap pembangunan ekonomi yaitu dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai subjek utama dalam proses pembangunan, dan pembahasan mengenai peran kesehatan terhadap pembangunan ekonomi diawali dengan memperlihatkan berbagai bentuk peranan program kesehatan dalam meningkatkan produktivitas, dan dengan adanya peningkatan produktivitas ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Tjiptoherijanto dan Soesetyo, 1994). Sistem kesehatan nasional dimaksudkan sebagai suatu sumbangan bagi peningkatan penyelenggaran pembangunan kesehatan khususnya dan pembangunan nasional pada umunya. Dalam sistem kesehatan nasional  disebutkan bahwa tujuan pembangunan nasional dibidang kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduknya agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional (Tjiptoherijanto dan Soesetyo, 1994).

Ruang Lingkup Aspek Kesehatan dalam Kajian Ilmu Ekonomi (skripsi dan tesis)

Kesehatan merupakan fenomena ekonomi yang baik dinilai dari segi investasi karena kesehatan dapat menjadi suatu variabel yang penting untuk meningkatkan nilai tambah barang dan jasa, atau sebagai tujuan baik individu, rumah tangga maupun masyarakat yang dikenal sebagai tujuan kesejahteraan welfare objective. Karena itu kesehatan menjadi penting sebagai modal dan memiliki tingkat pengembalian yang positif untuk kesejahteraan (Yatiman, 2012). “Menurut Mils dan Gilson, dalam (Yatiman, 2012) terdapat konsep mendefinisikan ekonomi kesehatan sebagai suatu konsep, teknik dan teori ilmu ekonomi pada sektor kesehatan, sehingga pada hal ini ekonomi kesehatan berhubungan erat dengan hal-hal sebagai berikut:

1) Alokasi sumber daya di antara berbagai upaya kesehatan

2) Jumlah sumber daya yang digunakan dalam pelayanan kesehatan

3) Pengorganisasian dan pembiayaan dari berbagai pelayanan kesehatan

4) Efisiensi pengalokasian dan penggunaan berbagai sumber daya

5) Dampak upaya pencegahan, pengobatan, dan pemulihan kesehatan pada indvidu dan masyarakat”.  Sebagai bentuk penerapan ilmu ekonomi dalam upaya kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal guna mencapai tujuan awal yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ilmu ekonomi sangat berperan pada pemilihan dan pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan, terutama pada penggunaan sumber daya. Dengan diterapkannya ilmu ekonomi pada aspek kesehatan, maka dalam kegiatan pelaksanaannya harus memenuhi kriteria efisiensi (cost-effective)

Ekonomi Kesehatan (skripsi dan tesis)

Ekonomi kesehatan dapat diartikan sebagai ilmu ekonomi yang diterapkan pada semua kegiatan yang mempengaruhi derajat kesehatan. Ekonomi kesehatan merupakan suatu disiplin ilmu ekonomi yang diterapkan kepada topik-topik kesehatan, memperlihatkan berbagai bentuk perbaikan gizi, dan program kesehatan terhadap peningkatan produktivitas. Dengan meningkatnya produktivitas nantinya akan berpengaruh juga pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi (Tjiptoherijanto dan Soesetyo, 1994). Dalam kondisi naiknya tingkat pertumbuhan ekonomi juga akan mempengaruhi pada tingkat kesejahteraan masyarakat. Sifat dari ilmu ekonomi kesehatan dapat dijelaskan dengan membahas melalui pembatasan mengenai ilmu ekonomi itu sendiri, ilmu ekonomi kesehatan secara umum sebagai penerapan dari teori-teori, konsep-konsep, dan teknik-teknik di dalam ilmu ekonomi pada sektor kesehatan. Berhubungan erat dengan masalah alokasi sumber daya untuk berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan, banyaknya sumber daya yang digunakan dalam pelayanan kesehatan, organisasi dan pembiayaan lembaga-lembaga pemberi pelayanan kesehatan, efisiensi penggunaan dan alokasi sumber daya untuk tujuan yang bersifat kesehatan, serta pengaruh dari program pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi pelayanan kesehatan bagi perorangan serta masyarakat (Lee dan Mills 1979) dalam (Tjiptoherijanto dan Soesetyo, 1994).

Indeks Pembangunan Manusia (skripsi dan tesis)

UNDP (United Nations Development Programme) mendefinisikan pembangunan manusia sebagai suatu proses untuk memperluas pilihanpilihan bagi penduduk, dalam konsep pembangunan manusia seharusnya pembangunan dapat dianalisis dan dipahami dari sudut manusianya, bukan hanya dari pertumbuhan ekonominya. Dikutip dari UNDP (Human Development Report, 1995) dalam (Maharany, 2012) terdapat sejumlah premis dalam pembangunan manusia yaitu:

a. Pembangunan harus mengutamakan penduduk sebagai pusat perhatian.

b. Pembangunan dimaksudkan untuk memperbesar pilihan bagi penduduk, tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan.

c. Pembangunan manusia memperhatikan bukan hanya pada meningkatkan kemampuan (kapabilitas) manusia tetapi juga pada upaya memanfaatkan kemampuan manusia secara optimal.

d. Pembangunan manusia menjadi dasar dalam penentuan tujuan pembangunan dan dalam menganalisis pilihan-pilihan untuk mencapainya.

e. Pembangunan manusia didukung empat pilar pokok yaitu yaitu produktivitas, pemerataan, kesinambungan, pemberdayaan. Dalam konsep tersebut penduduk ditempatkan sebagai tujuan akhir, sedangkan upaya pembangunan sebagai sarana untuk mencapai tujuan itu.

Terdapat empat pilar pokok yang perlu diperhatikan dan dipahami untuk mencapai tujuan pembangunan manusia yaitu (Maharany, 2012):

a. Produktifitas, penduduk harus meningkatkan produktifitas dan partisipasi penuh dalam proses penciptaan pendapatan dan nafkah. Sehingga pembangunan ekonomi merupakan bagian dari model pembangunan manusia.

b. Pemerataan, penduduk memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan akses terhadap sumber daya ekonomi dan sosial.

c. Kesinambungan, akses terhadap sumber daya ekonomi dan sosial harus dipastikan tidak hanya untuk generasi-generasi yang akan datang.

d. Pemberdayaan, penduduk harus berpartisipasi penuh dalam keputusan dan proses yang akan menentukan kehidupan mereka sendiri, serta berpartisipasi dan mengambil keputusan dalam proses pembangunan. Pengertian pembangunan manusia juga merupakan upaya untuk memperluas peluang penduduk untuk mencapai kehidupan yang layak.

Dapat dipahami bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian pembanguan manusia yang sudah dilakukan di suatu negara atau wilayah. IPM juga dapat digunakan untuk mengklasifikasi suatu negara apakah masuk dalam kategori negara maju, negara berkembang, atau negara terbelakang, dan untuk mengukur pengaruh kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup (Maharany, 2012). Menurut UNDP (United Nations Development Programme) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah pengukuran pencapaian keberhasilan   pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Dalam komponen pembangunan manusia terdapat angka harapan hidup yang mewakili bidang kesehatan, angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah mewakili pembangunan di bidang pendidikan, dan kemampuan daya beli masyarakat dilihat dari rata-rata pengeluaran per kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian untuk hidup layak pada kondisi ekonomi (Sari E. J., 2016).

Teori Pembangunan Lewis (skripsi dan tesis)

Model pembangunan dalam teori ini terdapat dua sektor dari perekonomian yang terbelakang, yakni:

(1) sektor pedesaan yang kelebihan penduduk ditandai dengan produktivitas marjinal tenaga kerja sama dengan nol, situasi ini memungkinkan Lewis untuk mendefinisikan kondisi surplus tenaga kerja sebagai suatu fakta jika sebagian tenaga kerja ditarik dari sektor pertanian maka sektor itu akan kehilangan outputnya.

(2) Sektor industri perkotaan modern yang tinggi tingkat produktivitasnya dan menjadi tempat penampungan tenaga kerja yang ditransfer dari sektor subsisten (Todaro dan Smith, 2003)

Teori Joseph Schumpeter (skripsi dan tesis)

pentingnya inovasi dalam pembangunan. Dalam teorinya yang menekankan pentingnya inovasi sebagai sumber utama pembangunan, inovasi merupakan hal-hal baru yang diaplikasikan dalam masyarakat sehingga dapat meningktakan efisiensi. Schumpeter mencoba untuk membedakan antara pertumbuhan ekonomi dengan perkembangan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai terjadinya peningkatan output karena peningkatan faktor produksi yang digunakan, sedangkan pembangunan diartikan sebagai terjadinya peningkatan output karena adanya aktivitas inovasi dalam proses produksi (Hudiyanto, 2014).

Teori David Ricardo (skripsi dan tesis)

 

Penduduk dan Kondisi Stasioner. Mewakili kaum klasik, Ricardo memusatkan perhatian pada peranan manusia terhadap pertumbuhan ekonomi dengan kata lain output nasional GDP tergantung atau ditentukan semata-mata oleh jumlah penduduk (sebagai tenaga kerja). Apabila jumlah penduduk meningkat maka output juga akan meningkat pula. Begitupun sebaliknya jika menurun maupun konstan. Karena tingkat pertumbuhan ekonomi (GDP) ditentukan oleh jumlah penduduk, perhatian tentu dipusatkan pada jumlah penduduk (Hudiyanto, 2014).

Teori Rostow (skripsi dan tesis)

Tahap-Tahap Pertumbuhan. Pembangunan ekonomi bukan saja mensyaratkan adanya perubahan struktural dari dominasi sektor pertanian kearah pentingnya sektor industri melainkan juga terjadinya perubahan aspek sosial politik dan budaya. Dalam berbagai perubahan, Rostow mencatat adanya tahap-tahap pertumbuhan ekonomi dimana setiap negara mempunyai jalur yang lurus dari tahapan tradisional sampai tahap konsumsi massa tinggi, yaitu terdiri dari (Kuncoro, 2010):

a) Tahap masyarakat tradisional

b) Tahap prasyarat untuk lepas landas

c) Tahap lepas landas

d) Tahap dorongan kearah ke kedewasaan

e) Tahap konsumsi tinggi

Teori Pembangunan Karl Marx (skripsi dan tesis)

Evolusi perkembangan masyarakat dalam teori ini dibagi menjadi tiga tahapan yaitu feodalisme, kapitalisme, dan sosialisme. Masyarakat feodalisme mencerminkan kondisi di mana perekonomian yang ada masih bersifat tradisional, dalam perkembangan teknologi yang ada menyebabkan terjadinya pergeseran di sektor ekonomi, di mana masyarakat yang semula agraris-feodal kemudian beralih menjadi masyarakat yang industri kapitalis. Karl Marx berasumsi bahwa kemampuan pengusaha dalam mengakumulasi modal terletak pada kemampuan dalam memanfaatkan nilai lebih produktivitas buruh yang dipekerjakan (Kuncoro, 2010)

Teori Pertumbuhan Adam Smith (skripsi dan tesis)

Modal merupakan pemegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi karena akumulasi modal akan menggambarkan pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada suatu   negara. Modal tersebut dapat diperoleh dari tabungan dengan mengakumulasikan modal yang dihasilkan dari tabungan, maka pelaku ekonomi dapat menginvestasikan ke sektor riil, untuk meningkatkan penerimaannya. Masyarakat yang mampu menabung pada dasarnya masyarakat yang menguasai sumbersumber ekonomi, yaitu para pengusaha dan tuan tanah. Dan pekerja menjadi pelaku ekonomi yang tidak mampu menabung karena tidak dapat menguasai dan mengusahakan sumber-sumber ekonomi yang ada (Kuncoro, 2010)

Teori Pertumbuhan Linear (skripsi dan tesis)

Yang mendasari pemikiran teori ini yaitu evolusi proses pembangunan yang bertahap yang dialami suatu negara. Tahapan-tahapan tertentu yang dilalui merupakan proses untuk membangun negara ke tingkat yang semakin tinggi. Dan tahapan-tahapan itu harus dilalui secara terstruktur guna proses pembanguan yang lebih baik lagi (Kuncoro, 2010). Teori-teori pembangunan yang menjadi bagian dari pertumbuhan linear yaitu teori yang dikemukakan oleh Adam Smith, Karl Marx dan Rostow,

Pembangunan Ekonomi (skripsi dan tesis)

Pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses tahapan yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional, disamping tetap mengejar peningkatan pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan kemiskinan. Bahwa hakekat pembangunan harus mencerminkan perubahan total suatu masyarakat atau penyesuaian sistem sosial secara keseluruhan tanpa mengabaikan keragaman kebutuhan dasar dan keinginan individual maupun kelompok-kelompok sosial untuk bergerak maju menuju kondisi kehidupan yang lebih baik (Todaro dan Smith, 2003). Dalam pembangunan terdapat tiga nilai inti pembangunan yaitu;

(1) ketahanan (sustenance) kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti pangan, papan, kesehatan, dan proteksi untuk mempertahankan hidup,

(2) harga diri (self esteem) pembangunan haruslah memanusiakan manusia, menjadi manusia seutuhnya dalam kehidupan yang serba lebih baik karena adanya dorongan dari diri sendiri untuk maju, untuk menghargai diri sendiri, merasa pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu,

(3) hak asasi manusia untuk memilih (freedom from servitude) kebebasan bagi setiap individu suatu negara untuk berfikir, berkembang, berperilaku dan  berpartisipasi dalam pembangunan (Todaro dan Smith, 2003). Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan suatu negara dibutuhkan pembangunan sebagai proses untuk melakukan perubahan pada indikator sosial maupun ekonomi masyarakat menuju ke arah yang lebih baik dan berkesinambungan

Produk Domestik Regional Bruto (skripsi dan tesis)

Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu wilayah/propinsi dalam suatu periode tertentu ditunjukkan oleh data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), baik atas dasar harga yang berlaku atau atas dasar harga konstan.Pengertian PDRB menurut Badan Pusat Statistik  (2007:2) yaitu jumlah nilai tambah yang dihasilkan untuk seluruh wilayah usaha dalam suatu wilayah atau merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan seluruh unit ekonomi di suatu wilayah.Penghitungan PDRB dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu langsung dan tidak langsung (alokasi).

1. Metode Langsung Penghitungan metode langsung ini dapat dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu pendekatan produksi, pendekatan pendapatan dan pendekatan pengeluaran. Walaupun mempunyai tiga pendekatan yang berbeda namun akan memberikan hasil penghitungan yang sama (BPS 2007:3). Adapun penghitungan PDRB secara langsung dapat dilakukan melalui tiga pendekatan sebagai berikut:

a. PDRB Menurut Pendekatan Produksi (Production Approach) PDRB adalah jumlah nilai produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi (di suatu region) pada suatu jangka waktu tertentu (setahun). Perhitungan PDRB melalui pendekatan ini disebut juga penghitungan melalui pendekatan nilai tambah (value added). Pendekatan produksi adalah penghitungan nilai tambah barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu kegiatan atau sektor ekonomi dengan cara mengurangkan biaya antara dari total nilai produksi bruto sektor atau subsektor tersebut. Pendekatan ini banyak digunakan untuk memperkirakan nilai tambah dari sektor/kegiatan yang produksinya berbentuk fisik/barang, seperti pertanian, pertambangan, industri dan sebagainya. Nilai tambah merupakan selisih antara nilai produksi (output) dan nilai biaya antara (intermediate cost), yaitu bahan baku atau penolong dari luar yang dipakai dalam proses produksi (Tarigan 2007:23). Sesuai dengan namanya yaitu PDRB, yang dihitung dalam hal ini adalah nilai produksinya dalam bentuk barang atau fisik.

Dalam praktiknya, produk ini dihitung berdasarkan sektor-sektor yang menghasilkannya, yaitu (Suherman Rosyidi 2006:107):

1) sektor pertanian;

2) sektor pertambangan dan penggalian;

3) Sektor Industri Pengolahan;

3) sektor listrik, gas, dan air bersih;

4)sektor bangunan;

5) sektor perdagangan, hotel, dan restoran;

6) sektor pengangkutan dan komunikasi

7) sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan; dan

8) jasa-jasa.

b. PDRB Menurut Pendekatan Pendapatan (Income Approach)

PDRB adalah jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut dalam proses produksi di suatu wilayah pada jangka waktu tertentu (setahun). Penghitungan PDRB melalui pendekatan ini diperoleh dengan menjumlahkan semua balas jasa yang diterima faktor produksi yang komponennya terdiri dari upah dan gaji dan surplus usaha, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan ditambah dengan penyusutan dan pajak tidak langsung neto (BPS 2007:4).

c. PDRB Menurut Pendekatan Pengeluaran (Expend. Approach) PDRB adalah jumlah seluruh pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak mencari untung, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap domestik bruto, perubahan stok dan ekspor netto di suatu wilayah.Perhitungan PDRB melalui pendekatan ini dilakukan dengan bertitik tolak dari penggunaan akhir barang dan jasa yang dihasilkan di wilayah domestik (BPS 2007:4).

2. Metode Tidak Langsung

Dalam metode ini PDRB suatu wilayah diperoleh dengan menghitung PDRB wilayah tersebut melalui alokasi PDRB wilayah yang lebih luas. Untuk melakukan alokasi PDRB wilayah ini digunakan beberapa alokator antara lain: Nilai produksi bruto atau netto setiap sektor/subsektor pada wilayah yang dialokasikan, jumlah produksi fisik, tenaga kerja, penduduk, dan alat ukur tidak langsung lainnya. Dengan menggunakan salah satu atau beberapa alokator dapat diperhitungkan persentase bagian masing-masing propinsi terhadap nilai tambah setiap sektor dan subsektor (Tarigan 2007:24). Cara penyajian PDRB adalah sebagai berikut:

a. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku, semua agregat pendapatan dinilai atas dasar harga yang berlaku pada masing-masing tahunnya, baik pada saat menilai produksi dan biaya antara maupun pada penilaian komponen PDRB. PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu daerah.Nilai PDRB yang besar  menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang besar, begitu juga sebaliknya.

b. PDRB Atas Dasar Harga Konstan, semua agregat pendapatan dinilai atas dasar harga tetap, maka perkembangan agregat pendapatan dari tahun ke tahun semata-mata karena perkembangan produksi riil bukan karena kenaikan harga atau inflasi. PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan atau setiap sektor dari tahun ke tahun.

Analisis Input-Output. (skripsi dan tesis)

Analisis input-output adalah suatu teknik pengukuran ekonomi daerah. Analisis ini digunakan dalam upaya untuk melihat keterkaitan antar industri dalam upaya untuk memehami kompleksitas perekonomian serta kondisi yang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan antara penawaran dan permintaan.Dalam penelitian ini digunakan Analisis Location Quotient karena memiliki kebaikan berupa alat analisis yang sederhana yang dapat menunjukkan struktur perekonomian suatu daerah dan industri subtitusi impor potensial atau produk-produk yang bisa dikembangkan untuk ekspor dan menunjukkan industri-industri potensial untuk dianalisis lebih lanjut

Angka Pengganda Pengerjaan (skripsi dan tesis)

Angka penggandaan pengerjaan dimaksudkan untuk mengukur pengaruh suatu kegiatan ekonomi baru terhadap penciptaan jumlah pekerjaan. Rumus untuk menghitung angka pengganda pengerjaan ini adalah sebagai berikut (Prasetyo Soepono, 1993) : Pengerjaan Total Angka Pengganda Pengerjaan = Pengerjaan Sektor Ekspor

Analisis Shift Share (skripsi dan tesis)

Analisis Shift Share merupakan teknik yang sangat berguna dalam menganalisis perubahan struktur ekonomi daerah dibandingkan dengan perekonomian nasional. Tujuan analisis ini adalah untuk menentukan kinerja atau produktivitas kerja perekonomian daerah dengan membandingannya dengan daerah yang lebih besar (regional/nasional). Analisis ini memberikan data tentang kinerja perkonomian dalam 3 bidang yang berhubungan satu sama lain yaitu :

(1). Pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan cara menganalisis perubahan pengerjaan agregat secara sektoral dibandingkan dengan perubahan pada sektor yang sama di perekonomian yang dijadikan acuan.

(2). Pergeseran proporsional mengukur perubahan relatif, pertumbuhan atau penurunan pada daerah dibandingkan dengan perekonomian yang lebih besar yang dijadikan acuan. Pengukuran ini dapat mengetahui apakah perekonomian daerah terkonsentrasi pada industriindustri yang tumbuh lebih cepat ketimbang perekonomian yang dijadikan acuan.

(3). Pergeseran diferensial menentukan seberapa jauh daya saing industri daerah (lokal) dengan perekonomian yang dijadikan acuan.

Location Quotient (skripsi dan tesis)

Dalam analisis ini kegiatan ekonomi suatu daerah dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :

(1). Sektor Basis adalah kegiatan ekonomi yang melayani pasar di daerah itu sendiri maupun di luar daerah yang bersangkutan.

(2). Sektor Non Basis adalah kegiatan ekonomi yang melayani pasar di daerah itu sendiri.

Metode LQ digunakan untuk mengidentifikasikan komoditas unggulan diakomodasi dari Miller dan Wright (1991), Isserman (1997), dan Ron Hood (1998). Menurut Hood (1998), Location Quostient adalah suatu alat pengembangan ekonomi yang lebih sederhana dengan segala kelebihan dan keterbatasannya. Teknik LQ merupakan salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam model ekonomi basis sebagai langkah awal untuk memahami sektor kegiatan yang menjadi pemacu pertumbuhan.LQ mengukur konsentrasi relatif atau derajat spesialisasi kegiatan ekonomi melalui pendekatan perbandingan. Inti dari model ekonomi basis menerangkan bahwa arah dan pertumbuhan suatu wilayah ditentukan oleh eksport wilayah. Ekspor itu sendiri tidak terbatas pada bentuk barang-barang dan jasa, akan tetapi dapat juga berupa pengeluaran orang asing yang berada di wilayah tersebut terhadap barangbarang tidak bergerak (Budiharsono,2001). Teknik LQ banyak digunakan untuk membahas kondisi perekonomian, mengarah pada identifikasi spesialisasi kegiatan perekonomian atau mengukur konsentrasi relatif kegiatan ekonomi untuk mendapatkan gambaran dalam penetapan sektor unggulan sebagai leading sector suatu kegiatan ekonomi (industri).Dasar pembahasannya sering difokuskan pada aspek tenaga kerja dan pendapatan. Berdasarkan pemahaman terhadap teori ekonomi basis, teknik LQ relevan digunakan sebagai metode dalam menentukan komoditas unggulan khususnya dari sisi penawaran (produksi atau populasi). Untuk komoditas 30 yang berbasis lahan seperti tanaman pangan , holtikultura dan perkebunan, perhitungannya didasarkan pada lahan pertanian ( area tanam atau area panen ), produksi atau produktivitas. Sedangkan untuk komoditas pertanian yang tidak berbasis lahan seperti usaha ternak, dasar perhitungannya digunakan jumlah populasi (ekor).

Model Pertumbuhan Interregional (perluasan dari teori basis) (skripsi dan tesis)

Model pertumbuhan ini adalah perluasan dari teori basis ekspor, yaitu dengan menambah faktor-faktor yang bersifat eksogen.Selain itu model basis ekspor hanya membahas daerah itu sendiri tanpa memperhatikan dampak dari daerah tetangga.Model ini memasukkan dampak dari daerah tetangga, itulah sebabnya maka dinamakan model interregional.Dalam model ini di asumsikan bahwa selain ekspor pengeluaran pemerintah dan investasi juga bersifat eksogen dan daerah itu terikat kepada suatu sistem yang terdiri dari beberapa daerah yang berhubungan erat (Tarigan, 2007). Dalam penelitian ini digunakan teori basis ekonomi karena teori ini adalah bentuk model pendapatan yang paling sederhana dan dapat bermanfaat sebagai sarana untuk memperjelas struktur daerah yang bersangkutan, teori ini juga memberikan landasan yang kuat bagi studi pendapatan regional dan juga dapat digunakan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang dapat mendorong pertumbuhan wilayah (Adisasmita, 2008).

Teori Sektor Basis Ekonomi (skripsi dan tesis)

Sektor basis memainkan peranan penting sehingga peningkatan besarannya akan membawa pengaruh terhadap peningkatan sektor lainnya. Serangkaian teori yang menjelaskan hubungan antara sektor-sektor dalam suatu perekonomian regional satu diantaranya teori basis ekonomi. Teori basis ekonomi ini menyatakan bahwa faktor penentu pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan barang dan jasa dari luar daerah. Pertumbuhan industri-industri yang menggunakan sumber daya lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk ekspor, akan menghasilkan kekayaan daerah dan penciptaan lapangan kerja (Lincolin, 1999).

Dalam teori basis ekonomi ini, lebih memusatkan pada kegiatan-kegiatan basis atau ekspor, tetapi tidak melihat pentingnya impor. Suatu peningkatan dalam kesempatan kerja dan pendapatan basis mungkin hanya mempunyai suatu efek pengganda yang sangat terbatas terhadap kegiatan bukan basis jika sebagian besar dari pendapatan ekstra mengalir keluar wilyah dalam bentuk    pengeluaran untuk impor. Yang sangat penting dalam hal ini, bahwa suatu perekonomian dapat bertambah tidak hanya dengan peningkatan ekspor dari industri basis tetapi juga dengan mengganti barang-barang impor dari industri basis dengan barang-barang hasil produksi wilayah yang bersangkutan. Walaupun industri basis merupakan suatu faktor penting yang mendorong perubahan dalam perekonomian regional, namun tidak perlu diragukan bahwa dalam keadaan tertentu kegiatan-kegiatan bukan basis yang sudah berkembang dengan baik dapat menarik masuknya industri basis kedalam suatu daerah dan dengan demikian dapat menjadi salah satu penentu bagi tingkat ekonomi daerah tersebut.

Selanjutnya dikemukakan bahwa bertambahnya kegiatan basis dalam suatu wilayah akan bertambah arus pendapatan kedalam wilayah yang bersangkutan, menambah permintaan barang dan jasa didalamnya dan menimbulkan kegiatan volume bukan basis. Sebaliknya berkurangnya kegiatan mengekspor barang-barang dan jasa-jasa menyebabkan berkurangnya pendapatan yang masuk ke dalam wilayah yang bersangkutan. Teori basis ekspor murni dikembangkan pertama kali oleh Tiebout.Teori ini membagi kegiatan produksi/jenis pekerjaan yang terdapat di dalam satu wilayah atas sektor basis dan sektor non basis.Kegiatan basis adalah kegiatan yang bersifat exogenous artinya tidak terikat pada kondisi internal perekonomian wilayah dan sekaligus berfungsi mendorong tumbuhnya jenis pekerjaan lainnya.Sedangkan kegiatan non basis adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah itu sendiri.

Analisis basis ekonomi adalah berkenaan dengan identifikasi pendapatan basis (Richardson, 2001). Bertambah banyaknya kegiatan basis dalam suatu wilayah akan menambah arus pendapatan ke dalam wilayah yang bersangkutan, yang selanjutnya menambah permintaan terhadap barang atau jasa di dalam wilayah tersebut, sehingga pada akhirnya akan menimbulkan kenaikan volume kegiatan non basis. Sebaliknya berkurangnya aktivitas basis akan mengakibatkan berkurangnya pendapatan yang mengalir ke dalam suatu wilayah, sehingga akan menyebabkan turunnya permintaan produk dari aktivitas non basis. Teori basis ekonomi mendasarkan pandangannya bahwa laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah tersebut. Pertumbuhan industri-industri yang menggunakan sumber daya lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk diekspor, akan menghasilkan kekayaan daerah dan penciptaan peluang kerja (Arsyad, 1999). Asumsi ini memberikan pengertian bahwa suatu daerah akan mempunyai sektor unggulan apabila daerah tersebut dapat memenangkan persaingan pada sektor yang sama dengan daerah lain sehingga dapat menghasilkan ekspor. Untuk menganalisis basis ekonomi suatu wilayah, salah satu teknik yang lazim digunakan adalah Indeks Spesialisasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar tingkat spesialisasi sektor-sektor basis atau unggulan (leading sectors).Dalam teknik IS berbagai peubah (faktor) dapat digunakan sebagai indikator pertumbuhan wilayah, misalnya kesempatan kerja (tenaga kerja) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu wilayah.

Teori Pertumbuhan Jalur Cepat (turnpike) (skripsi dan tesis)

Teori Pertumbuhan Jalur Cepat (TPJC) atau turnpike diperkenalkan oleh Samuelson 1955. Pada intinya teori ini menekankan bahwa setiap daerah perlu mengetahui sektor ataupun komoditas apa yang memiliki potensi besar dan dapat dikembangkan dengan cepat, baik karena potensi alam maupun karena sektor itu memiliki comparative adventage untuk dikembangkan. Artinya, dengan kebutuhan modal yang sama sektor tersebut dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar, dapat berproduksi dalam waktu relatif singkat dan sumbangan untuk perekonomian juga cepat besar. Agar pasarnya terjamin, produk tersebut harus bisa di ekspor keluar daerah atau ke luar negeri. Perkembangan sektor tersebut akan mendorong sektor lain turut berkembang sehingga perekonomian secara keseluruhan akan tumbuh. Mensenergikan sektor-sektor adalah membuat sektor-sektor saling terkait dan saling mendukung. Menggabungkan jalur cepat dan mensinergikan dengan sektor lain yang terkait akan mampu membuat perekonomian tumbuh cepat

Faktor Pertumbuhan ekonomi (Skripsi dan tesis)

Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh dua macam faktor, faktor ekonomi dan faktor nonekonomi (M.L Jhingan 2000:67):

a. Faktor Ekonomi Para ahli ekonomi menganggap faktor produksi sebagai kekuatan utama yang mempengaruhi pertumbuhan.Laju pertumbuhan ekonomi jatuh dan bangunnya merupakan konsekuensi dari perubahan yang terjadi di dalam faktor produksi tersebut. Beberapa faktor ekonomi tersebut akan dibahas dibawah ini:

1) Sumber Alam Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan suatu perekonomian adalah sumber alam atau tanah.Bagi pertumbuhan ekonomi, tersedianya sumber alam secara melimpah merupakan hal yang sangat penting. Suatu negara atau daerah yang kekurangan sumber alam tidak akan dapat membangun dengan cepat.

2) Akumulasi Modal Modal berarti persediaan faktor produksi yang secara fisik dapat direproduksi.Apabila stok modal naik dalam batas waktu tertentu dapat dikatakan sebagai akumulasi modal atau pembentukan modal.Dalam arti ini pembentukan modal merupakan investasi dalam bentuk barang-barang modal yang dapat menaikkan stok modal, output nasional dan pendapatan nasional.Jadi, pembentukan modal merupakan kunci utama pertumbuhan ekonomi.

3) Organisasi Organisasi merupakan bagian penting dari proses pertumbuhan. Organisasi berkaitan dengan penggunaan faktor produksi dalam kegiatan  ekonomi.Organisasi bersifat melengkapi modal, buruh dan membantu meningkatkan produktivitasnya.Dalam pertumbuhan ekonomi modern, para wiraswastawan tampil sebagai organisator dan pengambil risiko di antara ketidakpastian

4) Kemajuan Teknologi Perubahan teknologi dianggap sebagai faktor paling penting di dalam proses pertumbuhan ekonomi. Dalam bentuknya yang paling sederhana, kemajuan teknologi disebabkan oleh cara-cara baru dan cara-cara lama yang diperbaiki dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tradisional.Perubahan itu berkaitan dengan perubahan di dalam metode produksi yang merupakan hasil pembaharuan atau hasil dari teknik penelitian baru. Perubahan pada teknologi telah menaikkan produktivitas buruh, modal dan faktor produksi yang lain.

5) Pembagian Kerja dan Skala Prioritas Spesialisasi dan pembagian kerja menimbulkan peningkatan produktivitas.Keduanya membawa ke arah ekonomi produksi skala besar yang selanjutnya membantu perkembangan industri.Dengan ini laju pertumbuhan ekonomi dapat meningkat.

6) Faktor Non Ekonomi

Selain adanya faktor ekonomi, faktor non ekonomi juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi disuatu daerah. Faktor non ekonomi tersebut meliputi :

a. Faktor Sosial Faktor sosial dan budaya juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Kekuatan faktor ini menghasilkan perubahan pandangan, harapan, struktur, dan nilai-nilai sosial. Orang dibiasakan menabung dan berinvestasi, dan menikmati risiko untuk memperoleh laba dalam rangka memaksimumkan output berdasarkan input tertentu. Kebebasan agama dan ekonomi mendorong perubahan pandangan dan nilai sosial sehingga sangat membantu pertumbuhan ekonomi modern.

b. Faktor Manusia Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tidak semata-mata terganutng pada jumlah sumberdaya manusia saja, tetapi lebih menekan pada efisinsi mereka. Penggunaan secara tepat sumberdaya manusia untuk pembangunan ekonomi dapat dilakukan dengan dua cara berikut. Pertama, harus ada pengendalian atas perkembangan penduduk.Kedua, harus ada perubahan dalam pandangan tenaga buruh.Persyaratan yang paling penting bagi laju pertumbuhan industri adalah manusia.Manusia, di atas segalanya yang berdedikasi terhadap pembangunan ekonomi negerinya atau daerahnya.

c. Faktor Politik dan Administratif Faktor politik dan administratif juga membantu pertumbuhan ekonomi modern. Struktur politik dan administrasi yang lemah merupakan penghambat besar bagi pembangunan ekonomi suatu daerah.

Profesor Kuznets (Todaro, 2000:144) juga mengemukakan enam karakteristik atau ciri proses pertumbuhan ekonomi. Karakteristik proses pertumbuhan ekonomi tersebut meliputi:

1) tingkat pertumbuhan output perkapita dan pertumbuhan penduduk yang tinggi;

2) tingkat kenaikan total produktivitas faktor yang tinggi;

3) tingkat transformasi struktural ekonomi yang tinggi; 4) tingkat transformasi sosial dan ideologi yang tinggi;

5) adanya kecenderungan negara-negara (daerah) yang mulai atau yang sudah maju perekonomiannya untuk berusaha menambah bagian-bagian dunia atau daerah lainnya sebagai daerah pemasaran dari sumber bahan baku yang baru; dan

6) terbatasnya penyebaran pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai sekitar sepertiga bagian penduduk dunia.

Teori Pertumbuhan Ekonomi (skripsi dan tesis)

Teori pertumbuhan ekonomi menurut Boediono dalam Tarigan (2007:44) dapat didefinisikan sebagai suatu proses kenaikan output perkapita dalam jangka panjang. Jadi, persentase pertambahan output itu haruslah lebih tinggi dari persentase pertambahan jumlah penduduk dan ada kecenderungan dalam  19 jangka panjang bahwa perekonomian akan terus berlanjut. Ekonomi dikatakan tumbuh atau berkembang apabila terjadi pertumbuhan output riil perkapita.

Menurut Schumpeter dan Hicks dalam Jhingan (2000:4), ada perbedaan dalam istilah perkembangan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi.Perkembangan ekonomi merupakan perubahan spontan dan terputus-putus dalam keadaan stasioner yang senantiasa mengubah dan mengganti situasi keseimbangan yang ada sebelumnya, sedangkan pertumbuhan ekonomi adalah perubahan jangka panjang secara perlahan dan mantap yang terjadi melalui kenaikan tabungan dan penduduk.Hicks mengemukakan masalah negara terbelakang menyangkut pengembangan sumber-sumber yang tidak atau belum dipergunakan, kendati penggunanya telah cukup dikenal, sedangkan masalah Negara maju terkait pada pertumbuhan karena kebanyakan dari sumber mereka sudah diketahui dan dikembangkan sampai batas tertentu. Adam Smith membagi tahapan pertumbuhan ekonomi menjadi lima tahap yang berurutan yang dimulai dari masa berburu, masa berternak, masa bercocok tanam, masa perdagangan, dan tahap masa industri. Menurut teori ini masyarakat akan bergerak dari masyarakat tradisional kemasyarakat modern yang kapitalis. Dalam prosesnya, pertumbuhan ekonomi akan semakin terpacu dengan adanya sistem pembagian kerja antar pelaku ekonomi. Adam Smith memandang pekerja sebagai salah satu input bagi  proses produksi, pembagian tenaga kerja merupakan titik sentral pembahasan dalam teori ini, dalam upaya peningkatan produktifitas kerja.

Menurut Simon Kuznets (Todaro 2000:144) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara (daerah) yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya, yang terwujud dengan adanya kenaikan output nasional secara terus-menerus yang disertai dengan kemajuan teknologi serta adanya penyesuaian kelembagaan, sikap dan ideologi yang dibutuhkannya. Selain itu, menurut Sumitro Djojohadikusumo (1994) pertumbuhan ekonomi berpokok pada proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Atas sudut pandang tersebut, penelitian ini menggunakan istilah pertumbuhan ekonomi yang akandilihat dari sudut pandang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pertumbuhan ekonomi dapat diketahui dengan membandingkan PDRB pada satu tahun tertentu (PDRBt) dengan PDRB sebelumnya (PDRBt – 1)

Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah (skripsi dan tesis)

Perencanaan pembangunan ekonomi daerah merupakan perencanaan untuk memperbaiki penggunaan sumberdaya-sumberdaya publik yang tersedia di daerah tersebut dan untuk memperbaiki kapasitas sektor swasta dalam menciptakan nilai sumberdaya-sumberdaya swasta secara bertanggung jawab. Pembangunan ekonomi yang efisien membutuhkan secara seimbang perencanaan yang teliti mengenai penggunaan sumber data publik dan sektor swasta, petani, pengusaha kecil, koperasi, pengusaha besar dan organisasiorganisasi sosial harus mempunyai peran dalam proses perencanaan. Melalui perencanaan pembangunan ekonomi daerah, suatu daerah dilihat secara keseluruhan sebagai suatu unit ekonomi (economic entity) yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yang berinteraksi satu sama lain. (Arsyad 1999: 104) Ada dua kondisi yang mempengaruhi proses perencanaan pembangunan daerah yaitu tekanan yang berasal dari lingkungan dalam negeri maupun luar negeri yang mempengaruhi kebutuhan daerah dalam proses pembangunan perekonomiannya, Kenyataannya bahwa perekonomian daerah dalam suatu negara dipengaruhi oleh setiap sektor secara berbeda-beda (Kuncoro, 2004). Ciri-ciri dari suatu perencanaan pembangunan ekonomi daerah antara lain:

1. Usaha untuk mencerminkan dalam rencana untuk mencapai perkembangan sosial ekonomi yang mantap (steady social economic growth). Hal ini dicerminkan dalam usaha pertumbuhan yang positif. 2. Usaha perluasan kesempatan kerja

3. Usaha yang mencerminkan dalam rencana untuk meningkatkan pendapatan perkapita.

4. Usaha untuk mengadakan perubahan struktur ekonomi, hal ini sering disebut usaha diversifikasi ekonomi.

5. Usaha pemerataan pembangunan sering disebut sebagai distributive justice.

6. Usaha untuk pembinaan lembaga-lembaga ekonomi masyarakat yang lebih menunjang kegiatan-kegiatan pembangunan

. 7. Usaha secara terus menerus menjaga stabilitas ekonomi. Dari sudut pandang ekonomi, ada beberapa alasan perlunya perencanaan pembangunan ekonomi (Arsyad 1999 : 23).

Beberapa alasan tersebut meliputi

:1) alokasi sumberdaya-sumberdaya pembangunan yang terbatas bisa lebih efisien dan efektif sehingga dapat dihindari adanya pemborosanpemborosan;

2) perkembangan ekonomi atau pertumbuhan ekonomi mantap berkesinambungan;

3) stabilitas ekonomi tercapai dalam menghadapi siklus konjungtur.

Pembangunan Ekonomi Daerah (skripsi dan tesis)

Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut Pada dasarnya pembangunan daerah dilakukan dengan usaha-usaha sendiri dan bantuan teknis serta bantuan lain-lain dari pemerintah. Dalam arti ekonomi pembangunan daerah adalah memajukan produksi pertanian dan usaha-usaha pertanian serta industri dan lain-lain yang sesuai dengan daerah tersebut dan berarti pula merupakan sumber penghasilan dan lapangan kerja bagi penduduk. Sehingga proses pembangunan bukan hanya ditentukan oleh aspek ekonomi semata, namun demikian pertumbuhan ekonomi merupakan unsur yang penting dalam proses pembangunan daerah. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi masih merupakan target utama dalam rencana pembangunan daerah disamping pembangunan sosial. Pertumbuhan ekonomi setiap daerah akan sangat bervariasi sesuai dengan potensi ekonomi yang dimiliki oleh daerah tersebut. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Simanjuntak, 2003).

Menurut Blakely (1989), pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan seluruh komponen masyarakat mengelola berbagai sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan untuk menciptakan suatu lapangan pekerjaan baru dan merangsang pertumbuhan ekonomi dalam wilayah tersebut. Menurut Lincolin Arsyad dalam bukunya yang berjudul Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah, pengertian daerah berbeda-beda tergantung aspek tinjauannya. Dari aspek ekonomi, daerah mempunyai tiga pengertian yaitu (Arsyad, 1999: 107-108) :

1. Suatu yang dianggap sebagai ruang dimana kegiatan ekonomi terjadi daerah dan didalam berbagai pelosok ruang tersebut terdapat sifat-sifat yang sama. Kesamaan sifat-sifat tersebut antara lain dari segi pendapatan perkapitanya, budayanya, geografisnya dan sebagainya. Daerah dalam pengertian seperti ini disebut daerah homogen

2. Suatu daerah dianggap sebagai suatu ekonomi ruang yang dikuasai oleh satu atau beberapa pusat kegiatan ekonomi yang disebut daerah modal

3. Suatu daerah adalah suatu ekonomi ruang yang berada di bawah satu asministrasi tertentu seperti satu propinsi, kabupaten, kecamatan dan sebagainya. Jadi daerah di sini didasarkan pada pembagian administrasi suatu negara. Disebut sebagai daerah perencanaan atau daerah administrasi.

Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional.Pembangunan daerah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperluas kesempatan kerja dan meratakan hasil-hasil pembangunan tersebut kepada seluruh lapisan masyarakat.Berhasil tidaknya pembangunan nasional tidak terlepas dari keberhasilan pemerintah daerah dalam melakukan pembangunan daerah.Sehingga pembangunan daerah memberikan kontribusi yang besar dalam keberhasilan pembangunan nasional.

Menurut teori ekonomi Neo Klasik, ada dua konsep pokok dalam pembangunan ekonomi daerah yaitu keseimbangan (equilibrium) dan mobilitas faktor produksi daerah. Artinya, sistem perekonomian akan mencapai keseimbangan alamiahnya jika modal bias mengalir tanpa retriksi (pembatasan). Oleh karena itu, modal akan mengalir dari daerah yang memiliki upah tinggi menuju daerah yang memiliki upah rendah. Dalam pembangunan ekonomi modal memegang peranan penting. Menurut teori ini, akumulasi modal akan menentukan cepat atau lambatnya pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Proses pertumbuhan akan terjadi secara simultan dan memiliki hubungan keterkaitan satu sama lainnya. Timbulnya peningkatan kinerja pada suatu sektor akan meningkatkan daya tarik bagi pemupukan modal, mendorong kemajuan teknologi, meningkatkan spesialisasi dan memperluas pasar. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang semakin cepat. Proses pertumbuhan ekonomi sebagai suatu fungsi tujuan pada akhirnya harus tunduk pada fungsi kendala yaitu keterbatasan sumber daya ekonomi (Mudrajat Kuncoro, 2002). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembangunan ekonomi daerah tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi. Suatu masyarakat dinilai berhasil melaksanakan pembangunan bila pertumbuhan ekonomi masyarakat tersebut cukup tinggi. Dalam penelitian ini pembangunan ekonomi daerah merupakan fungsi dari potensi sumberdaya alam, tenaga kerja dan sumberdaya manusia, investasi modal, prasarana dan sarana pembangunan, transportasi dan komunikasi, komposisi industri, teknologi, situasi ekonomi dan perdagangan antar wilayah, kemampuan pendanaan dan pembiayaan pembangunan daerah, kewirausahaan, kelembagaan daerah dan lingkungan pembangunan secara luas. Keberhasilan pembangunan daerah salah satunya ditentukan oleh adanya peningkatan laju pertumbuhan ekonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (added value) yang terjadi.Jadi pendapatan wilayah menggambarkan perekonomian pada suatu daerah dengan menggambarkan balas jasa bagi faktor-faktor produksi yang beroperasi pada daerah tersebut (Tarigan, 2007).

Teori Pembangunan Ekonomi (skripsi dan tesis)

Pengertian pembangunan ekonomi yang dijadikan pedoman dalam penelitian ini didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita riil penduduk suatu negara atau daerah dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan sistem kelembagaan (Arsyad 1999:6). Berdasarkan atas definisi ini dapat diketahui bahwa pembangunan ekonomi harus dipandang sebagai suatu proses dimana saling keterkaitan dan saling mempengaruhi antara faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pembangunan ekonomi tersebut sehingga dapat diidentifikasi dan dianalisis dengan seksama. Dengan cara tersebut bisa diketahui beberapa peristiwa yang timbul yang akan mewujudkan peningkatan kegiatan ekonomi dan taraf kesejahteraan masyarakat dari satu tahap pembangunan ke tahap pembangunan berikutnya. Pembangunan ekonomi didefinisikan dalam beberapa pengertian sebagai berikut: Menurut Schumpeter pembangunan ekonomi adalah perubahan yang spontan dan terputus-putus (discontinuous) pada saluran-saluran arus sirkuler yaitu merupakan gangguan terhadap keseimbangan yang selalu mengubah dan mengganti keadaan keseimbangan yang ada sebelumnya (Jhingan 2000:125)

Sadono Sukirno (1985:13) mendefinisikan pembangunan ekonomi sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita penduduk suatu masyarakat meningkat dalam jangka panjang. Definisi tersebut mengandung pengertian bahwa pembangunan ekonomi merupakan suatu perubahan yang terjadi secara terus-menerus melalui serangkaian kombinasi proses demi mencapai sesuatu yang lebih baik yaitu adanya peningkatan pendapatan perkapita yang terus menerus berlangsung dalam jangka panjang. Menurut Sumitro Djojohadikusumo (1994) pembangunan ekonomi adalah suatu proses tranformasi yang dalam perjalanan waktu ditandai oleh perubahan struktural yaitu perubahan pada landasan ekonomi maupun pada kerangka susunan ekonomi masyarakat yang bersangkutan.

Todaro (1994) mengartikan pembangunan ekonomi sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup perubahan struktur, sikap hidup dan kelembagaan, peningkatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakmerataan distribusi pendapatan dan pemberantasan kemiskinan. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses pembangunan yang terjadi terus-menerus yang bersifat dinamis. Apapun yang dilakukan, hakikat dari sifat dan proses pembangunan itu mencerminkan adanya terobosan yang baru, jadi bukan merupakan gambaran ekonomi suatu saat saja. Pembangunan ekonomi berkaitan dengan pendapatan perkapita dan pendapatan nasional.Pendapatan perkapita yaitu pendapatan rata-rata penduduk suatu daerah sedangkan pendapatan nasional merupakan nilai produksi barangbarang dan jasa-jasa yang diciptakan dalam suatu perekonomian di dalam 12 masa satu tahun.Pertambahan pendapatan nasional dan pendapatan perkapita dari masa ke masa dapat digunakan untuk mengetahui laju pertumbuhan ekonomi dan juga perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu daerah. Todaro dalam (Arsyad 1999:5) juga mengatakan bahwa keberhasilan suatu pembangunan ekonomi ditunjukkan oleh 3 nilai pokok. Nilai pokok tersebut meliputi:

1) berkembangnya kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokoknya (basic needs);

2) meningkatnya rasa harga diri (selfesteem) masyarakat sebagai manusia; dan

3) meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memilih (freedom from servitude) yang merupakan salah satu dari hak asasi manusia. Pembangunan merupakan proses transformasi yang dalam perjalanan waktu ditandai oleh perubahan struktural. Perubahan tersebut terjadi pada landasan kegiatan ekonomi maupun pada kerangka susunan ekonomi masyarakat yang bersangkutan

Definisi Sektor Unggulan (skripsi dan tesis)

Sektor unggulan adalah sektor yang memiliki ketangguhan dan kemampuan yang tinggi sehingga dijadikan sebagai harapan pembangunan ekonomi. Sektor unggulan diharapkan dapat menjadi tulang punggung dan penggerak perekonomian sehingga dapat menjadi refleksi dari struktur perekonomian suatu wilayah (Deptan, 2005). Secara umum, syarat utama agar suatu sektor layak dijadikan sebagai unggulan perekonomian adalah sektor tersebut memiliki kontribusi yang dominan dalam pencapaian tujuan pembangunan. Jika dikaitkan dengan pengembangan wilayah, maka penentuan sektor unggulan dapat dilakukan dengan kriteria sebagai berikut (Mubyarto, 1989):

1. Jumlah tenaga kerja dan sumberdaya lainnya yang dipergunakan atau bisa dipakai secara langsung maupun tidak langsung.

2. Kontribusi secara langsung ataupun tidak langsung terhadap pendapatan PDRB.

3. Kesesuaian lahan dimana karakter lahan harus disesuaikan dengan karakteristik sektor tersebut dan ketersediannya harus mampu menampung laju pertumbuhan sektor tersebut.

Teori Basis Ekonomi (skripsi dan tesis)

Perekonomian regional terbagi menjadi dua kegiatan besar, yaitu: kegiatan basis dan kegiatan nonbasis. Teori ini menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah berhubungan langsung dengan permintaan barang dan jasa dari luar daerah. Pertumbuhan perindustrian yang menggunakan sumber daya lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk diekspor, akan menghasilkan kekayaan daerah dan penciptaan peluang kerja (job creation). Strategi pembangunan daerah yang muncul didasarkan pada teori ini merupakan penekanan terhadap arti pentingnya bantuan kepada dunia usaha yang mempunyai pasar secara nasional maupun internasional. Implementasinya adalah kebijakan yang mencakup pengurangan hambatan atau batasan terhadap perusahaanperusahaan yang berorientasi ekspor yang ada dan akan didirikan di daerah itu (Arsyad, 1999).

Menurut Glasson (1977), kegiatan basis adalah kegiatan mengekspor barang dan jasa keluar batas perekonomian masyarakatnya atau memasarkan barang dan jasa kepada orang-orang yang datang dari luar perbatasan perekonomian masyarakat. Bertambah banyaknya basis di dalam suatu daerah akan menambah arus pendapatan ke dalam daerah yang bersangkutan. Menambah permintaan barang dan jasa akan menimbulkan kenaikan volume kegiatan, begitu juga sebaliknya. Kegiatan lain yang bukan kegiatan basis disebut sektor nonbasis. Sektor nonbasis ditujukan untuk memenuhi kebutuhan lokal, sehingga permintaan sektor ini sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan masyarakat setempat dan tidak bisa berkembang melebihi pertumbuhan ekonomi wilayah. Oleh karena itu, satusatunya sektor yang bisa meningkatkan perekonomian wilayah melebihi pertumbuhan adalah sektor basis (Tarigan, 2005).

Menurut Priyarsono et al. (2007), sektor basis atau nonbasis tidak bersifat statis tetapi dinamis sehingga dapat mengalami peningkatan atau bahkan kemunduran dan definisinya dapat bergeser setiap tahun.  Adapun sebab-sebab kemajuan sektor basis adalah:

1. Perkembangan jaringan komunikasi dan transportasi.

2. Perkembangan pendapatan dan penerimaan daerah

. 3. Perkembangan teknologi.

4. Pengembangan prasarana ekonomi dan sosial.

Sedangkan penyebab kemunduran sektor basis adalah:

1. Adanya penurunan permintaan di luar daerah.

2. Kehabisan cadangan sumberdaya.

Untuk mengetahui sektor basis dan nonbasis dapat digunakan metode pengukuran langsung maupun tidak langsung. Pada metode pengukuran langsung, penentuan sektor basis dan nonbasis dilakukan melalui survei langsung di daerah yang bersangkutan. Sedangkan pada metode pengukuran tidak langsung, penentuan sektor basis dan nonbasis dilakukan dengan menggunakan data PDB/PDRB dan tenaga kerja per sektor. Berikut penjelasan mengenai kedua metode tersebut.

1. Metode Pengukuran Langsung Pada metode pengukuran langsung, survei dilakukan terhadap sembilan sektor utama yang terdapat di daerah tersebut. Jika sektor yang disurvei berorientasi ekspor maka sektor tersebut dikelompokkan ke dalam sektor basis dan sebaliknya jika sektor tersebut hanya memiliki pasar pada skala lokal maka sektor tersebut dikategorikan ke dalam sektor nonbasis. Metode ini mudah untuk dilakukan, namun memiliki beberapa kelemahan, yaitu:

a. Biaya yang dibutuhkan untuk melakukan survei secara langsung tidak sedikit, terutama jika daerah yang disurvei cukup luas.

b. Umumnya dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan survei langsung di suatu daerah

. c. Membutuhkan banyak tenaga kerja, selain itu tenaga kerja yang melakukan survei harus memiliki skill tersendiri dalam mengidentifikasi sektor basis dan nonbasis.

2. Metode Pengukuran Tidak Langsung Secara umum terdapat tiga metode yang digunakan untuk menentukan basis dan sektor nonbasis di suatu daerah berdasarkan pengukuran tidak langsung, yaitu:

a. Metode Asumsi Biasanya berdasarkan kondisi di wilayah tersebut (data sekunder), ada kegiatan tertentu yang diasumsikan kegiatan basis dan non basis

b. Metode Location Quotient (LQ) Metode Location Quotient (LQ) adalah salah satu metode untuk menentukan sektor basis dan non basis. Dengan dasar pemikiran basis ekonomi, kemampuan suatu sektor dalam suatu daerah dapat dihitung dari rasio antara pendapatan (tenaga kerja) sektor i pada tingkat wilayah terhadap pendapatan (tenaga kerja) total wilayah dengan pendapatan (tenaga kerja) sektor i pada tingkat provinsi terhadap pendapatan (tenaga kerja) provinsi.

c. Metode kombinasi antara pendekatan asumsi dengan metode LQ 17 Metode kombinasi merupakan kombinasi pendekatan asumsi dengan metode LQ.

d. Metode Pendekatan Kebutuhan Minimum (MPKM) Metode pendekatan kebutuhan minimum melibatkan penyeleksian sejumlah wilayah yang “sama” dengan wilayah yang diteliti, dengan menggunakan distribusi minimum dari tenaga kerja.

Teori Pertumbuhan Ekonomi `(skripsi dan tesis)

 

Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu indikator yang penting dalam menganalisis pembangunan ekonomi yang dilaksanakan. Pertumbuhan harus berjalan secara berdampingan dan terencana dalam upaya terciptanya pemerataan kesempatan dan pembagian hasil-hasil pembangunan. Dengan demikian maka suatu daerah yang kurang produktif akan menjadi lebih produktif dan berkembang yang pada akhirnya dapat mempercepat proses pertumbuhan itu sendiri.  Todaro dan Smith (2006) mengatakan bahwa ada tiga faktor atau komonen utama dalam pertumbuhan ekonomi. Pertama, akumulasi modal yang meliputi semua bentuk dan jenis investasi baru yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik dan sumberdaya manusia. Kedua, pertumbuhan penduduk yang beberapa tahun selanjutnya dengan sendirinya membawa pertumbuhan angkatan kerja dan ketiga adalah kemajuan teknologi. Menurut Tarigan (2005), pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat yang terjadi di suatu wilayah, yaitu adanya kenaikan seluruh nilai tambah yang terjadi di wilayah tersebut. Pertambahan pendapatan menggambarkan pertambahan balas jasa bagi faktor-faktor produksi yang beroperasi di wilayah tersebut (tanah, modal, tenaga kerja, dan teknologi) dimana pendapatan tersebut diukur dalam nilai riil (dinyatakan dalam harga konstan). Hal ini juga dapat menggambarkan kemakmuran daerah tersebut. Kemakmuran suatu wilayah selain ditentukan oleh besarnya nilai tambah yang tercipta di wilayah tersebut juga oleh besaran transfer-payment, yaitu bagian pendapatan yang mengalir ke luar wilayah atau mendapat aliran dana dari luar wilayah.

persyaratan pembangunan ekonomi (skripsi dan tesis)

Jhinghan (2010) mengajukan beberapa persyaratan pembangunan ekonomi yaitu:

1. Atas dasar kekuatan sendiri, pembangunan harus bertumpu pada kemampuan perekonomian dalam negeri/daerah. Hasrat untuk memperbaiki nasib dan prakarsa untuk menciptakan kemajuan materil harus muncul dari masyarakatnya.

2. Menghilangkan ketidaksempurnaan pasar. Ketidaksempurnaan pasar menyebabkan immobilitas faktor dan menghambat ekspansi sektoral dan pembangunan.

3. Perubahan struktural, artinya peralihan dari masyarakat pertanian tradisional menjadi ekonomi industri yang ditandai oleh meluasnya sektor sekunder dan tersier serta menyempitnya sektor primer.

4. Pembentukan modal, merupakan faktor penting dan stategis dalam pembangunan ekonomi, bahkan disebut sebagai kunci utama menuju pembangunan ekonomi.

5. Kriteria investasi yang tepat, memiliki tujuan untuk melakukan investasi yang paling menguntungkan masyarakat tetapi tetap mempertimbangkan dinamika perekonomian.

6. Persyaratan sosio-budaya. Wawasan sosio budaya serta organisasinya harus dimodifikasi sehingga selaras dengan pembangunan.

7. Administrasi. Dibutuhkan alat perlengkapan administratif untuk perencanaan ekonomi dan pembangunan.

Teori Pembangunan (skripsi dan tesis)

Ekonomi Pembangunan ekonomi memiliki pengertian yang sangat luas. Menurut akademisi ilmu ekonomi, secara tradisional pembangunan dipandang sebagai suatu fenomena ekonomi yang diukur berdasarkan tingkat pertumbuhan ekonomi. Perspektif mengenai tujuan dan makna pembangunan kemudian berkembang menjadi lebih luas lagi. Pada hakekatnya pembangunan harus mencerminkan perubahan total suatu masyarakat atau penyesuaian sistem sosial secara keseluruhan, tanpa mengabaikan keragaman kebutuhan dasar dan keinginan individual maupun kelompok sosial yang ada di dalamnya untuk bergerak maju menuju suatu kehidupan yang serba lebih baik secara material maupun spiritual. Oleh karena itu, indikator pembangunan ekonomi tidak hanya diukur dari pertumbuhan PDRB maupun PDRB perkapita tetapi juga indikator lainnya seperti: ketenagakerjaan, pendidikan, distribusi pendapatan, jumlah penduduk miskin. Hal ini sesuai dengan paradigma pembangunan modern yang mulai mengedepankan pengentasan kemiskinan, penurunan ketimpangan distribusi pendapatan, serta penurunan tingkat pengangguran (Todaro dan Smith, 2006). Menurut Rostow pembangunan ekonomi merupakan suatu proses multidimensional yang menyebabkan perubahan karakteristik penting suatu masyarakat, misalnya perubahan keadaan sistem politik, struktur sosial, sistem nilai dalam masyarakat dan struktur ekonominya. Rostow membedakan proses  pembangunan menjadi lima tahap yaitu: masyarakat tradisional, prasyarat untuk tinggal landas, tinggal landas, menuju kedewasaan dan masa konsumsi tinggi. (Arsyad, 1999).

Hukum Permintaan (skripsi dan tesis)

Hukum permintaan adalah hukum yang menjelaskan tentang adanya hubungan yang bersifat negatif antara tingkat harga dengan jumlah barang yang diminta. Apabila harga naik jumlah barang yang diminta sedikit dan apabila harga rendah jumlah barang yang diminta meningkat, dengan demikian menurut Sadono Sukirno (2010:76) hukum permintaan adalah sebagai berikut: “Semakin turun tingkat harga, maka semakin banyak jumlah barang yang tersedia diminta, dan sebaliknya semakin naik tingkat harga maka semakin sedikit jumlah barang yang bersedia diminta”. Penyebab utama berlakunya hukum permintaan ini karena terbatasnya pendapatan konsumen. Hubungan terbalik antara harga dan jumlah permintaan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Pertama, kenaikan harga menyebabkan para pembeli mencari barang lain yang dapat digunakan sebagai pengganti terhadap barang yang mengalami kenaikan harga. Sebaliknya, apabila harga turun maka orang mengurangi pembelian terhadap barang lain yang sama jenisnya dan menambah pembelian terhadap barang yang mengalami penurunan harga.
2) Kedua, kenaikan harga menyebabkan pendapatan riil para pembeli berkurang.
Pendapatan yang merosot tersebut memaksa para pembeli untuk mengurangi pembeliannya terhadap berbagai jenis barang, dan terutama barang yang mengalami kenaikan harga. Permintaan akan suatu barang di pasar akan terjadi apabila konsumen mempunyai keinginan (willing) dan kemampuan (ability) untuk membeli, pada tahap kosumen hanya memiliki keinginan atau kemampuan saja maka permintaan barang belum terjadi, kedua syarat willing dan ability harus ada untuk terjadinya permintaan (Sukirno, 2010). Hukum permintaan menyatakan bahwa jumlah barang yang diminta dalam suatu periode waktu tertentu berubah berlawanan dengan harganya, dengan asumsi hal lain tetap atau ceteris paribus (Samuelson, 1998).

Teori Permintaan (skripsi dan tesis)

Permintaan berkaitan dengan keinginan konsumen akan suatu barang dan jasa yang ingin dipenuhi. Teori permintaan menerangkan tentang hubungan antara berbagai kombinasi harga dan jumlah suatu barang yang ingin dan dapat dibeli oleh konsumen pada berbagai tingkat harga untuk suatu periode tertentu. Permintaan yang dilakukan oleh individu terhadap suatu komoditas dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut Sadono Sukirno (2010:75), faktor-faktor yang menentukan permintaan masyarakat terhadap suatu barang, yaitu : 1) harga barang itu sendiri 2) harga barang lain yang berkaitan erat dengan barang tersebut 3) pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat 4) corak distribusi pendapatan dalam masyarakat 5) cita rasa masyarakat 6) jumlah penduduk dan 7) ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang

Pengertian Pendapatan (skripsi dan tesis)

Dalam Ilmu Ekonomi pendapatan merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan harapan di akhir periode tetap memiliki kemakmuran yang sama pada awal periode. Menurut Damayanti (2011) mendefinisikan pendapatan sebagai berikut: “Pendapatan adalah penerimaan seseorang dalam bentuk uang tunai atau bukan tunai yang diperoleh ketika terjadi transaksi antara pedagang dan pembeli dalam suatu kesepakatan bersama.” Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendapatan konsumen adalah kesanggupan seseorang di dalam membeli pakaian sangat dipengaruhi pendapatan yang diperolehnya. Apabila pendapatan seseorang meningkat dan kondisi perekonomiannya tidak terjadi resesi dan inflasi, kecenderungan untuk membeli pakaian akan meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas. Sudarsono (2007:68) membagi pedapatan menjadi tiga bagian yaitu:
 1. Pendapatan pokok: adalah pendapatan yang tiap bulan diharapkan diterima dari pekerjaan utama yang bersifat rutin. Seperti gaji pegawai, gaji karyawan, gaji guru, dan lain-lain.
 2. Pendapatan sampingan: adalah pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan di luar pekerjaan pokok, tidak semua orang mempunyai pendapatan sampingan. Pendapatan ini bersifat tidak tetap.
3. Pendapatan lain-lain: pendapatan yang berasal dari pemberian pihak lain, baik bentuk barang maupun bentuk uang, pendapatan bukan dari usaha.

Pengertian Harga (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Armstrong (2008:278) mendefinisikan harga sebagai berikut: “Harga adalah sejumlah uang yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai yang ditukarkan para pelanggan untuk memperoleh manfaat dari memiliki atau menggunakan suatu produk atau jasa”. Dari definisi tersebut dijelaskan bahwa harga merupakan unsur penting dalam sebuah penjualan, dengan adanya harga maka penjual atau produsen akan mendapatkan keuntungan bagi keberlangsungan usaha nya. Selain itu, harga juga merupakan suatu alat yang nantinya dijadikan proses pertukaran terhadap suatu barang atau jasa oleh konsumen. Lebih lanjut menurut Kotler dan Amstrong (2008:345), menjelaskan ada empat ukuran yang mencirikan harga yaitu keterjangkauan harga dengan kualitas produk, kesesuaian harga dengan manfaat, dan harga sesuai dengan kemampuan atau daya saing harga. Dibawah ini penjelasan mengenai empat ukuran harga yaitu:
1. Keterjangkauan harga
Konsumen dapat menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Produk biasanya ada beberapa jenis dalam satu merek namun harganya juga berbeda dari yang termurah hingga yang termahal. Dengan harga yang di tetapkan para konsumen banyak yang membeli produk.
2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Harga sering dijadikan indikator kualitas bagi konsumen, konsumen sering memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena mereka melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi orang beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.
3. Kesuaian harga dengan manfaat
Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang dirasakan lebih besar atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk mendapatkannya. Jika konsumen merasakan manfaat produk lebih kecil dari uang yang dikeluarkan maka konsumen akan beranggapan bahwa produk tersebut mahal dan konsumen akan berpikir dua kali untuk melakukan pembelian ulang.
4. Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan produk linnya
. Dalam hal ini mahal murahnya suatu produk sangat dipertimbangkan oleh konsumen pada saat akan membeli produk tersebut. Jadi bisa dikatakan harga tergantung pada kemampuan bernegosiasi dari pihak penjual atau pembeli untuk memperoleh harga kesepakatan yang sesuai dengan keinginan masing-masing pihak, sehingga pada awalnya pihak penjual akan menetapkan harga yang tinggi dan pembeli akan menetapkan penawaran dengan harga terendah. Harga sebuah produk atau jasa merupakan faktor penentu dalam permintaan pasar. Harga merupakan hal yang sangat penting yang diperhatikan oleh konsumen dalam membeli produk atau jasa. Jika konsumen merasa cocok dengan harga yang ditawarkan, maka mereka akan cenderung melakukan pembelian ulang untuk produk yang sama. Dalam teori ekonomi disebutkan bahwa harga suatu barang atau jasa yang pasarnya kompetitif, maka tinggi rendahnya harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran pasar.  Selanjutnya Tjiptono (2008:152) mengatakan bahwa harga memiliki dua peranan utama dalam proses pengambilan keputusan untuk mempengaruhi minat beli, yaitu:
 1. Peranan alokasi harga
Peranan alokasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam membantu para pembeli untuk memutuskan cara memperoleh manfaat tertinggi yang diharapkan berdasarkan daya belinya. Dengan demikian dengan adanya harga dapat membantu para pembeli untuk memutuskan cara mengalokasikan daya belinya pada berbagai jenis barang atau jasa, pembeli membandingkan harga dari berbagai alternatif yang tersedia, kemudian memutuskan alokasi dana yang dikehendaki.
2. Peranan informasi harga
Peranan informasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam “mendidik” konsumen mengenai faktor-faktor produk, seperti kualitas. Hal ini terutama bermanfaat dalam situasi dimana pembeli mengalami kesulitan untuk menilai faktor produksi atau manfaatnya secara objektif. Persepsi yang sering berlaku adalah bahwa harga yang mahal mencerminkan kualitas yang tinggi. Selain itu terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat harga tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat harga menurut Basu Swastha dan Irawan (2005:242) adalah sebagai berikut:
 1. Keadaan Perekonomian
Keadaan perekonomian sangat mempengaruh tingkat harga yang berlaku. Pada periode resesi misalnya, merupakan suatu periode dimana harga berada pada suatu tingkat yang lebih rendah.
 2. Penawaran dan Permintaan
 Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli oleh pembeli pada tingkat harga tertentu. Pada umumnya tingkat harga yang lebih rendah akan mengakibatkan jumlah yang diminta lebih besar. Sedangkan penawaran merupakan kebalikan dari permintaan, yaitu suatu jumlah yang ditawarkan oleh penjual pada suatu tingkat harga tertentu. Pada umumnya, harga yang lebih tinggi mendorong jumlah yang ditawarkan lebih besar.
3. Elastisitas Permintaan
Sifat permintaan pasar tidak hanya mempengaruhi penentuan harganya tetapi juga mempengaruhi volume yang dapat dijual. Untuk beberapa barang, harga dan volume penjualan ini berbanding terbalik, artinya jika terjadi kenaikan harga maka penjualan akan menurun dan sebaliknya.
 4. Persaingan
 Harga jual beberapa macam barang sering dipengaruhi oleh keadaan persaingan yang ada. Dalam persaingan, penjual yang berjumlah banyak aktif menghadapi pembeli yang banyak pula. Banyaknya penjual dan pembeli akan mempersulit penjual perseorangan untuk menjual dengan harga lebih tinggi kepada pembeli yang lain.
 5. Biaya
Biaya merupakan dasar dalam penentuan harga, sebab suatu tingkat harga yang tidak dapat menutup akan mengakibatkan kerugian. Sebaliknya, apabila suatu tingkat harga melebihi semua biaya akan menghasilkan keuntungan.
6. Tujuan manajer
 Penetapan harga suatu barang sering dikaitkan dengan tujuan yang akan dicapai. Setiap perusahaan tidak selalu mempunyai tujuan yang sama dengan perusahaan lainnya.
7. Pengawasan Pemerintah
 Pengawasan pemerintah juga merupakan faktor penting dalam penentuan harga. Pengawasan pemerintah tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk penentuan harga maksimum dan minimum, diskriminasi harga, serta praktek-praktek lain yang mendorong atau mencegah usaha kearah monopoli.

Pasar Monopoli (skripsi dan tesis)

Berbeda dengan pasar persaingan sempurna, pasar monopoli merupakan kebalikan dari pasar tersebut di dalam pasar monopoli hanya terdapat satu 18 penjual untuk satu jenis barang tertentu. Pada umumnya produsen monopoli memperoleh laba melebihi normal karena adanya hambatan masuk ke dalam pasar serta di dalam pasar monopoli produsen adalah sebagai price maker. Berikut merupakan ciri-ciri dari pasar monopoli:

 Hanya ada satu penjual

 Penjual dapat mempengaruhi harga pasar (price maker)

 Terdapat hambatan untuk masuk ke dalam pasar bagi calon produsen baru (barriers to entry)

Pasar Modern (skripsi dan tesis)

Menurut Peraturan Presiden RI No.112 Tahun 2007, pada dasarnya pasar modern tidak jauh berbeda dari pasar tradisional, namun pasar modern terdapat penjual dan pembeli yang tidak bertransaksi secara langsung melainkan konsumen atau pembeli melihat label harga yang terdapat dalam barang tersebut, berada dalam bangunan serta pelayanannya dilakukan secara mandiri atau swalayan dan dapat juga dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual 16 tersebut, selain dari bahan makanan, terdapat juga barang lainnya yang dijual dan biasanya dapat bertahan lama. Adapun pasar modern yang diatur keberadaan lokasinya bahwa minimarket boleh berlokasi pada setiap sistem jaringan jalan, termasuk sistem jaringan jalan lingkungan pada kawasan pelayanan lingkungan (perumahan) di dalam kota/perkotaan.Berdasarkan luas lantai toko minimarket memiliki luas lantai < 400 m2 . Dibawah ini merupakan struktur pasar menurut Sukirno (2010) antara lain: 1. Pasar Persaingan Sempurna Pasar persaingan sempurna merupakan salah satu jenis pasar yang banyak menjual satu jenis produk tertentu. Dapat dikatakan sempurna karena di dalam pasar penjual sama-sama menjual barang sejenis dan tidak ada persaingan harga didalamnya serta para penjual dapat bebas keluar masuk pasar karena di dalam pasar persaingan sempurna tidak ada penghalang atau barriers. Pasar persaingan sempurna memiliki ciri yaitu diantaranya:

 Terdapat banyak penjual dan pembeli di dalam pasar.

 Barang yang dijual bersifat homogen atau satu jenis.

 Penjual tidak dapat mempengaruhi harga atau penjual sebagai price taker. Pasar persaingan sempurna memiliki dua keseimbangan yaitu keseimbangan dengan keuntungan maksimum dan keseimbangan dengan kerugian minimum. Keuntungan maksimum yaitu kondisi keseimbangan tercapai ketika produsen memperoleh laba maksimum sebesar bidang yang diarsir

Pasar Tradisional (skripsi dan tesis)

Menurut Peraturan Presiden RI No. 112 Tahun 2007, pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda 15 yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar. Lebih lanjut, Samuelson dan Nordhaus (2000) mengemukakan pasar tradisional sebagai berikut: “Pasar tradisional adalah suatu bentuk pasar nyata sebagaimana definisi pasar, dimana barang yang diperjualbelikan bisa dipegang oleh pembeli dan memungkinkan terjadinya tawar menawar secara langsung antara penjual dan pembeli. Barang yang diperjualbelikan di pasar tradisional biasanya adalah barang kebutuhan sehari-hari”. Sebagian besar pasar tradisional secara keleluasaan distribusi dapat dikategorikan sebagai pasar lokal, karena hanya menjangkau daerah tertentu yang luas cakupannya sempit. Kebanyakan pedagang pasar tradisional tidak mempunyai catatan penjualan, biaya produksi maupun biaya-biaya lainnya jarang sekali dihitung dengan seksama (Asakdiyah, 2004). Pasar tradisional juga merupakan pasar yang mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, baik lapisan masyarakat kalangan atas, menengah, maupun masyarakat kalangan bawah

Pengertian Pasar (skripsi dan tesis)

Menurut Boediono (2000:28) dalam Ilmu Ekonomi pengertian pasar tidak harus dikaitkan dengan suatu tempat yang dinamakan pasar dalam pengertian sehari-hari. Suatu pasar dalam Ilmu Ekonomi adalah dimana terjadi transaksi antara penjual dan pembeli, barang yang ditransaksikan bisa berupa barang apapun, mulai dari beras dan sayur-mayur, sampai jasa angkutan, uang dan tenaga kerja. Setiap barang ekonomi mempunyai pasarnya sendiri-sendiri. Selain itu, menurut Peraturan Presiden RI No. 112 Tahun 2007, pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu, baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plasa, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya. Dari definisi ini, ada empat poin penting yang menonjol yang menandai terbentuknya pasar, yaitu:
1. Ada penjual dan pembeli.
 2. Bertemu di sebuah tempat yang sama
 3. Terjadi kesepakatan di antara penjual dan pembeli, sehingga terjadi jual beli atau tukar menukar.
4. Antara penjual dan pembeli kedudukannya sederajat.

Fungsi Pengecoh/Distractor (skripsi dan tesis)

Berbeda dengan soal bentuk uraian, pada soal pilihan ganda telah dilengkapi beberapa pilihan jawaban. Di antara pilihan jawaban yang ada, hanya satu yang benar. Selain jawaban yang benar tersebut, adalah jawaban yang salah. Jawaban yang salah itulah yang dikenal dengan distractor (pengecoh). Butir soal yang baik, pengecohnya akan dipilih secara merata oleh peserta didik yang menjawab salah. Sebaliknya, butir soal yang kurang baik, pengecohnya akan dipilih secara tidak merata oleh peserta didik. Tujuan utama dari pemasangan distractor pada setiap butir item adalah agar dari sekian banyak peserta tes yang mengikuti tes hasil 52 belajar ada yang tertarik untuk memilihnya. Distractor akan mengecoh peserta didik yang kurang mampu untuk dapat dibedakan dengan yang mampu. Distractor yang baik adalah yang dapat dihindari oleh peserta didik yang pandai dan akan dipilih oleh peserta didik yang kurang pandai. Dengan demikian distractor baru dapat dikatakan telah berfungsi dengan baik apabila distraktor tersebut telah memiliki daya rangsang atau daya tarik yang baik. Menurut Anas Sudijono (2011: 411), mengungkapkan bahwa distractor telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila distractor tersebut telah dipilih sekurang-kurangnya 5% dari seluruh peserta tes. Distrsctor yang telah menjalankan fungsinya dengan baik dapat digunakan kembali pada tes yang akan datang. Dengan demikian, efektivitas distractor adalah seberapa baik pilihan yang salah tersebut dapat mengecoh peserta tes yang memang tidak mengetahui kunci jawaban yang tersedia. Semakin banyak peserta tes yang memilih distractor tersebut, maka distractor itu dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Jika peserta tes mengabaikan semua option (tidak memilih) disebut omit. Dilihat dari segi omit, sebuah item dikatakan baik jika omitnya tidak lebih dari 10 % pengikut tes.

Fungsi Pengecoh/Distractor (skripsi dan tesis)

Berbeda dengan soal bentuk uraian, pada soal pilihan ganda telah dilengkapi beberapa pilihan jawaban. Di antara pilihan jawaban yang ada, hanya satu yang benar. Selain jawaban yang benar tersebut, adalah jawaban yang salah. Jawaban yang salah itulah yang dikenal dengan distractor (pengecoh). Butir soal yang baik, pengecohnya akan dipilih secara merata oleh peserta didik yang menjawab salah. Sebaliknya, butir soal yang kurang baik, pengecohnya akan dipilih secara tidak merata oleh peserta didik. Tujuan utama dari pemasangan distractor pada setiap butir item adalah agar dari sekian banyak peserta tes yang mengikuti tes hasil 52 belajar ada yang tertarik untuk memilihnya. Distractor akan mengecoh peserta didik yang kurang mampu untuk dapat dibedakan dengan yang mampu. Distractor yang baik adalah yang dapat dihindari oleh peserta didik yang pandai dan akan dipilih oleh peserta didik yang kurang pandai. Dengan demikian distractor baru dapat dikatakan telah berfungsi dengan baik apabila distraktor tersebut telah memiliki daya rangsang atau daya tarik yang baik. Menurut Anas Sudijono (2011: 411), mengungkapkan bahwa distractor telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila distractor tersebut telah dipilih sekurang-kurangnya 5% dari seluruh peserta tes. Distrsctor yang telah menjalankan fungsinya dengan baik dapat digunakan kembali pada tes yang akan datang. Dengan demikian, efektivitas distractor adalah seberapa baik pilihan yang salah tersebut dapat mengecoh peserta tes yang memang tidak mengetahui kunci jawaban yang tersedia. Semakin banyak peserta tes yang memilih distractor tersebut, maka distractor itu dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Jika peserta tes mengabaikan semua option (tidak memilih) disebut omit. Dilihat dari segi omit, sebuah item dikatakan baik jika omitnya tidak lebih dari 10 % pengikut tes.

Reliabilitas Tes (skripsi dan tesis)

Menurut Nana Sudjana (2006: 17), ada empat cara yang digunakan untuk melakukan uji reliabilitas tes, yaitu:

a) Reliabilitas Tes Ulang
Tes ulang (retest) adalah penggunaan alat penilaian terhadap subjek yang sama dilakukan dua kali dalam waktu berlainan.
 b) Reliabilitas Pecahan
Setara Mengukur reliabilitas bentuk pecahan setara tidak dilakukan dengan pengulangan pada subjek yang sama, tetapi menggunakan hasil dari bentuk tes sebanding atau setara dengan yang diberikan kepada subjek yang sama pada waktu yang berbeda. Dengan demikian, diperlukan dua perangkat tes yang disusun agar memiliki derajat kesamaan atau kesetaraan, baik dari segi isi, tingkat kesukaran, abilitas yang diukur, jumlah pertanyaan, bentuk pertanyaan, maupun segi-segi teknis lainnya.
 c) Reliabilitas Belah Dua
Dalam prosedur ini tes diberikan kepada kelompok subjek cukup satu kali atau pada satu saat. Butir-butir soal dibagi menjadi dua bagian yang sebanding, biasanya dengan membedakan soal nomor genap dengan soal nomor ganjil. Setiap bagian soal diperiksa hasilnya, kemudian skor dari kedua bagian tersebut dikorelasikan untuk dicari koefisien korelasinya. Mengingat korelasi tersebut hanya berlaku sebagian, tidak untuk seluruh soal, maka koefisien korelasi yang diperolehnya tidak untuk seluruh soal, tetapi hanya untuk separuhnya.
 d) Kesamaan Rasional
Prosedur ini dilakukan dengan menghubungkan setiap butir dalam satu tes dengan butir-butir yang lainnya dalam tes itu sendiri secara keseluruhan. Dalam penelitian ini untuk mengukur reliabilitas digunakan cara kesamaan rasional. Setiap butir dikorelasikan dengan butir-butir yang lainnya secara keseluruhan

Reliabilitas (skripsi dan tesis)

Reliabilitas adalah tingkat atau derajat konsistensi dari suatu instrumen. Reliabilitas tes berkenaan dengan pertanyaan apakah suatu tes teliti dan dapat dipercaya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Suatu tes dikatakan reliabel jika selalu memberikan hasil yang sama bila diteskan pada kelompok yang sama pada waktu atau kesempatan yang berbeda (Zainal Arifin, 2011: 258). Menurut Nana Sudjana (2006: 16), “Reliabilitas alat penilaian adalah ketetapan atau keajegan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya”. Artinya, kapan pun alat penilaian tersebut digunakan akan memberikan hasil yang relatif sama. Hal senada juga diungkapkan Validitas Item Validitas Logika Validitas Validitas Empiris Validitas Tes Validitas Isi Validitas Konstruksi Validitas Ramalan Validitas Bandingan 45 Chabib Thoha (2003: 118), “reliabilitas sering diartikan dengan keterandalan”. Artinya, suatu tes memiliki keterandalan jika tes tersebut dipakai mengukur berulang-ulang hasilnya sama. Dengan demikian reliabilitas dapat pula diartikan dengan keajegan atau stabilitas. Reliabilitas merupakan salah satu persyaratan bagi sebuah tes. Reliabilitas sebuah soal perlu karena sebagai penyokong terbentuknya validitas butir soal sehingga sebuah soal yang valid biasanya reliabel.

Teknik Analisis Butir (skripsi dan tesis)

Soal Analisis kualitas tes merupakan suatu tahapan yang harus ditempuh untuk mengetahui derajat kualitas suatu tes. Dalam penilaian hasil belajar diharapkan tes dapat menggambarkan hasil yang objektif dan akurat. Dalam melaksanakan analisis butir soal, pembuat soal dapat melakukan analisis secara kualitatif, dalam kaitannya dengan isi dan bentuk, dan analisis secara kuantitatif dalam kaitannya dengan ciri–ciri statistikanya atau prosedur peningkatan secara judgment dan prosedur peningkatan secara empirik. Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruk, sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi soal yang termasuk validitas dan reliabilitas soal. 1) Validitas Validitas mencerminkan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen tes berfungsi sebagai alat ukur hasil belajar. Suatu tes dapat dikatakan memiliki validitas apabila tes tersebut dapat mengukur objek yang seharusnya diukur dan sesuai dengan kriteria tertentu. Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Tes yang memiliki 39 validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran. a) Validitas Tes Menurut Anas Sudijono (2011: 163), penganalisisan terhadap tes hasil belajar sebagai suatu totalitas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penganalisisan dengan jalan berpikir secara rasional (logical analysis) dan penganalisisan yang dilakukan dengan mendasarkan diri pada kenyataan empiris (empirical analysis). (1)Pengujian Validitas Tes Secara Rasional Validitas rasional adalah validitas yang diperoleh atas dasar hasil pemikiran, validitas yang diperoleh dengan berpikir secara logis. Dengan demikian maka suatu tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas rasional apabila setelah dilakukan penganalisisan secara rasional tes hasil belajar tersebut memang telah mengukur apa yang seharusnya diukur dengan tepat (Anas Sudijono, 2011: 164). Untuk dapat menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas rasional atau belum, maka dapat dilakukan penelusuran melalui dua segi, yaitu dari segi isi (content) dan dari segi susunan atau konstruksinya (construct). (a)Validitas Isi (Content Validity) Menurut Anas Sudijono ( 2011: 164-165) validitas isi adalah validitas yang dilihat dari segi isi tes tersebut sebagai 40 alat pengukur hasil belajar, yaitu sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, isinya telah mewakili secara representatif terhadap seluruh materi atau bahan pelajaran yang seharusnya diteskan/diujikan. Dalam praktik, validitas isi dari suatu tes hasil belajar dapat diketahui dengan jalan membandingkan antara isi yang terkandung dalam tes hasil belajar dengan tujuan instruksional khusus yang telah ditentukan untuk masingmasing mata pelajaran. Jika penganalisisan secara rasional itu menunjukkan hasil yang telah mencerminkan tujuan instruksional khusus di dalam tes hasil belajar, maka tes hasil belajar yang sedang diuji tersebut dapat dinyatakan sebagai tes hasil belajar yang telah memiliki validitas isi. Upaya lain yang dapat ditempuh dalam rangka mengetahui validitas isi dari tes hasil belajar adalah dengan menyelenggarakan diskusi panel (Anas Sudijono, 2011: 165). (b)Validitas Konstruksi (Construct Validity) Validitas konstruksi dapat diartikan sebagai validitas yang dilihat dari segi susunan, kerangka, atau rekaan. Suatu tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas konstruk apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut telah benar-benar dapat secara tepat mengukur aspek-aspek berpikir seperti aspek kognitif, aspek afektif, dan 41 aspek psikomotorik sebagaimana telah ditentukan dalam tujuan instruksional khusus (Anas Sudijono, 2011: 166). Validitas konstruksi dari suatu tes hasil belajar dapat dilakukan penganalisisannya dengan melakukan pencocokan antara aspek-aspek berpikir yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut dengan aspek-aspek yang dikehendaki untuk diungkap oleh tujuan instruksional khusus. Seperti pada penganalisisan validitas isi, pada penganalisisan validitas konstruksi juga dapat dilakukan dengan menyelenggarakan diskusi panel (Anas Sudijono, 2011: 167). (2)Pengujian Validitas Tes Secara Empiris Validitas empiris adalah validitas yang bersumber pada atau diperoleh atas dasar pengamatan di lapangan. Tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas empiris apabila berdasarkan hasil analisis yang dilakukan terhadap data hasil pengamatan di lapangan terbukti bahwa tes hasil belajar secara tepat telah dapat mengukur hasil belajar yang seharusnya diukur lewat tes hasil belajar tersebut (Anas Sudijono, 2011: 167). Untuk dapat menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas empirik atau belum, maka dapat dilakukan penelusuran melalui dua segi, yaitu dari segi daya ketepatan meramalnya (Predictive Validity) dan daya ketepatan bandingannya (Concurrent Validity). 42 (a)Validitas Ramalan (Predictive Validity) Validitas ramalan dari suatu tes adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauhkah sebuah tes telah dapat secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk meramalkan apa yang bakal terjadi pada masa mendatang (Anas Sudijono, 2011: 168). Untuk mengetahui apakah suatu tes hasil belajar telah memiliki validitas ramalan, maka dapat dilakukan dengan mencari korelasi antara tes hasil belajar yang sedang diuji validitas ramalannya dengan kriterium yang ada. Jika di antara kedua variabel tersebut terdapat korelasi yang signifikan, maka tes yang sedang diuji tersebut telah memiliki daya ramal yang tepat, artinya apa yang telah diramalkan, betul-betul telah terjadi secara nyata dalam praktik. (b)Validitas Bandingan (Concurrent Validity). Tes sebagai alat pengukur dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan apabila tes tersebut dalam kurun waktu yang sama secara tepat telah mampu menunjukkan adanya hubungan searah antara tes pertama dengan tes berikutnya (Anas Sudijono, 2011: 176). Dalam rangka menguji validitas bandingan, data yang mencerminkan pengalaman yang diperoleh pada masa lalu dibandingkan dengan data hasil tes yang diperoleh pada masa 43 sekarang. Jika hasil tes yang sekarang memiliki hubungan searah dengan hasil tes berdasar pengalaman masa lalu, maka tes tersebut dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan. Perbedaan antara validitas ramalan dengan validitas bandingan adalah apabila kriterium yang dihubungkan itu terdapat pada waktu yang akan datang, maka validitasnya disebut validitas ramalan. Sebaliknya, apabila kriterium tersebut terdapat atau tersedia pada saat sekarang atau pada kurun waktu bersamaan dengan alat pengukur yang sedang diuji validitasnya, maka validitasnya disebut validitas bandingan. b) Validitas Item Menurut Anas Sudijono (2011: 163), validitas item dari suatu tes adalah ketepatan mengukur yang dimiliki oleh sebutir item (yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tes sebagai suatu totalitas), dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir item tersebut. Hubungan antara butir item dengan tes hasil belajar sebagai suatu totalitas adalah bahwa semakin banyak butir-butir item yang dapat dijawab oleh peserta didik, maka skor total hasil tes tersebut akan semakin tinggi. Untuk sampai pada kesimpulan bahwa item-item yang ingin diketahui validitasnya, dapat digunakan teknik korelasi sebagai 44 teknik analisisnya. Sebutir item dapat dinyatakan valid apabila skor item yang bersangkutan terbukti memiliki kesejajaran dengan skor total.

Pengertian Analisis Butir Soal (skripsi dan tesis)

Kegiatan menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan mutu soal yang telah ditulis. Tugas melakukan evaluasi terhadap alat pengukuran yang telah digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar peserta didik pada umumnya dilupakan oleh evaluator. Menurut Nana Sudjana (2006: 135), “Analisis butir soal atau analisis item adalah pengkajian pertanyaan-pertanyaan tes agar diperoleh 37 perangkat pertanyaan yang memiliki kualitas yang memadai”. Menurut Daryanto (2007: 177), “Analisis soal adalah suatu prosedur sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun”. Tujuan penelaahan butir soal adalah untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu untuk digunakan. Di samping itu, tujuan analisis butir soal juga untuk membantu meningkatkan tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif serta untuk mengetahui informasi diagnostik pada peserta didik apakah mereka sudah atau belum memahami materi yang telah diajarkan. Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya, di antaranya dapat menentukan peserta didik mana yang sudah atau belum menguasai materi yang diajarkan guru. Salah satu cara memperbaiki proses belajar-mengajar yang paling efektif adalah dengan cara mengevaluasi tes hasil belajar yang diperoleh dari proses belajar-mengajar itu sendiri. Dengan kata lain, hasil tes tersebut kita olah sedemikian rupa sehingga hasil dari pengolahan itu dapat diketahui komponen manakah dari proses belajarmengajar itu yang masih lemah. Pengolahan tes hasil belajar dalam rangka memperbaiki proses belajar-mengajar salah satunya adalah dengan melakukan analisis butir soal.

Ciri-ciri Tes Hasil Belajar yang Baik (skripsi dan tesis)

Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 57-63), sebuah tes dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memiliki persyaratan tes. Setidaknya ada lima ciri yang harus dimiliki agar tes dapat dikatakan yang baik sebagai alat ukur yaitu memiliki validitas, reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas, dan ekonomis.
1) Validitas
Kata valid dalam bahasa Indonesia sering diartikan dengan istilah shahih. Sebuah tes dapat dikatakan telah memiliki “validitas” apabila tes tersebut dengan shahih telah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur lewat tes tersebut. Dalam pembicaraan evaluasi pada umumnya orang hanya mengenal istilah “valid” untuk alat evaluasi atau instrumen evaluasi. Hingga saat ini belum banyak yang menerapkan istilah “valid” untuk data. Sebuah data atau informasi dapat dikatakan valid apabila sesuai dengan keadaan senyatanya.
2) Reliabilitas
Reliabilitas sering dikaitkan dengan masalah kepercayaan. Tes dapat dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berulang kali. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukkan ketetapan. Dengan kata lain, jika para siswa diberikan tes yang sama pada waktu yang berbeda maka setiap siswa akan tetap berada pada ururan (ranking) yang sama pada kelompoknya.
3) Objektivitas
Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor-faktor subjektivitas yang mempengaruhi. Dalam hal ini kaitannya dengan sistem pemberian skor terhindar dari unsur-unsur subjektivitas yang melekat pada penyusun tes. Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan pada sistem scoring, sedangkan reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.
 4) Praktikabilitas Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis, mudah pengadministrasiannya. Tes yang praktis adalah tes yang:
 a) Mudah dilaksanakan
 b) Mudah pemeriksaannya
c) Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan/diawali oleh orang lain.  5) Ekonomis Yang dimaksud ekonomis adalah pelaksanaan tes tidak membutuhkan biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang lama.

Macam-macam Tes (skripsi dan tesis)

Sebagai alat pengukur dan penilai dalam evaluasi hasil belajar, tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis atau golongan, tergantung dari segi mana atau dengan alasan apa penggolongan tes itu dilakukan. Secara garis besar, tes sebagai alat evaluasi digolongkan menjadi dua macam yaitu tes dan bukan tes (non tes). Menurut Anas Sudijono (2011: 68-75) tes dapat digolongkan menjadi beberapa macam yaitu:

1) Penggolongan Tes Berdasarkan Fungsinya Sebagai Alat Pengukur Perkembangan/Kemajuan Belajar Peserta Didik.
a) Tes Seleksi
b) Tes Awal
c) Tes Akhir
 d) Tes Diagnostik
e) Tes Sumatif
 f) Tes Formatif
2) Penggolongan Tes Berdasarkan Aspek Psikis yang Ingin Diungkapkan.
 a) Tes Intelegensi
b) Tes Kemampuan
c) Tes Sikap
d) Tes Kepribadian
 e) Tes Hasil Belajar
3) Penggolongan Lain –lain
 a) Dilihat dari segi banyaknya orang yang mengikuti tes.
 (1)Tes Individual.
(2)Tes Kelompok.
 b) Dilihat dari segi waktu yang disediakan bagi testee untuk menyelesaikan tes.
 (1)Power Test (2)Speed Test
 c) Dilihat dari segi bentuk responnya.
(1)Verbal Test
(2)Nonverbal Test
d) Ditinjau dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara memberikan jawaban.
 (1)Tes Tertulis
 (2)Tes Lisan
 Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 26-39) ada dua teknik evaluasi, yaitu teknik nontes dan teknik tes. 1) Teknik nontes. Yang tergolong teknik non tes adalah:
a) Skala bertingkat (rating scale)
b) Kuesioner (questionair)
 c) Daftar cocok (check list)
d) Wawancara (interview)
e) Pengamatan (observation)
f) Riwayat hidup
 2) Teknik tes.
a) Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur siswa.
 (1)Tes diagnostik
Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahankelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.
 (2)Tes formatif
Tes formatif digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah terbentuk setelah mengikuti sesuatu program tertentu.
(3)Tes sumatif
Tes sumatif dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atau sebuah program yang lebih besar. Di sekolah-sekolah tes formatif biasanya diberikan pada akhir setiap program dan biasanya dikenal dengan istilah ulangan harian. Tes ini merupakan tes akhir program atau dapat juga dipandang sebagai tes  diagnostik pada akhir pelajaran, sedangkan tes sumatif biasanya dikenal dengan istilah ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada akhir catur wulan atau akhir semester. Tes dapat dibedakan atas beberapa jenis dan pembagian jenis-jenis tersebut dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang.
Chabib Thoha (2003: 46-47) membagi jenis tes menjadi sembilan macam yaitu:
 1) Tes Penempatan adalah tes untuk mengukur kemampuan dasar yang dimiliki oleh anak didik, kemampuan tersebut dapat dipakai meramalkan kemampuan peserta didik pada masa mendatang, sehingga peserta didik dapat dibimbing, diarahkan atau ditempatkan pada jurusan yang sesuai dengan kemampuan dasarnya.
 2) Tes Pembinaan diselenggarakan secara periodik, isinya mencakup semua unit pengajaran yang telah diajarkan.
3) Tes Sumatif bertujuan mengukur keberhasilan belajar peserta didik secara menyeluruh, materi yang diujikan seluruh pokok bahasan dan tujuan pengajaran dalam satu program tahunan.
4) Tes Diagnostik digunakan untuk mengetahui sebab kegagalan peserta didik dalam belajar.
 5) Tes Standar adalah tes yang disusun oleh satu tim ahli atau lembaga yang khusus menyelenggarakan secara profesional.
6) Tes Nonstandar adalah tes yang disusun oleh seorang pendidik yang belum memiliki keahlian profesional dalam penyusunan tes.
7) Tes Tertulis adalah tes yang soal dan jawaban yang diberikan kepada siswa berupa bahasa tulisan. Tes tertulis secara umum dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu:
a) Tes Objektif, yaitu tes yang itemnya dapat dijawab dengan memilih jawaban yang sudah tersedia sehingga peserta didik menampilkan keseragaman data, baik bagi yang menjawab benar maupun yang menjawab salah.
 b) Tes Subjektif, yaitu tes yang memberikan kebebasan peserta didik untuk memilih dan menentukan jawaban. Kebebasan tersebut mengakibatkan data jawaban bervariasi sehingga mengundang subjektivitas penilai.
8) Tes Lisan, yaitu tes soal dan jawabannya menggunakan bahasa lisan.
 9) Tes Tindakan, yaitu tes di mana respon atau jawaban yang dituntut dari peserta didik berupa tindakan tingkah laku konkrit.
 Dari sekian banyak jenis tes seperti di atas, alat penilaian bukan tes (nontest) masih jarang digunakan baik dalam menilai hasil belajar maupun dalam menilai proses belajar mengajar. Para guru di sekolah pada umumnya lebih banyak menggunakan tes daripada nontes mengingat alatnya mudah dibuat, penggunaannya lebih praktis, dan yang dinilai terbatas pada aspek kognitif berdasarkan hasil belajar peserta didik setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya.

Fungsi Tes (skripsi dan tesis)

Hasil Belajar Tes sebagai instrumen dalam kegiatan evaluasi memiliki makna tersendiri dalam dunia pendidikan, terutama dalam pembelajaran. Tes merupakan prosedur yang sistematis dipandang sebagai alat dan teknik dalam melakukan evaluasi hasil belajar. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa tes banyak digunakan oleh seorang guru untuk melakukan evaluasi hasil belajar. Secara umum, ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu:
1) Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hubungan ini tes berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.
2) Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh program pengajaran yang telah ditentukan, telah dapat dicapai. (Anas Sudijono, 2011: 67)
Menurut Nana Sudjana (2006: 35)., tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan 29 tujuan pendidikan dan pengajaran. Dalam batas tertentu tes dapat pula digunakan untuk mengukur atau menilai hasil belajar afektif dan psikomotor. Dengan demikian fungsi tes sebagai instrumen evaluasi adalah untuk mengukur prestasi atau hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam belajar. Selain itu tes juga berfungsi untuk mengukur keberhasilan suatu program pengajaran

Pengertian Tes (skripsi dan tesis)

Banyak alat atau instrumen yang dapat digunakan dalam kegiatan evaluasi, salah satunya adalah tes. Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Menurut Anne Anastasi yang dikutip Anas Sudijono (2011: 66), “Tes adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang objektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu”. Zainal Arifin (2011: 118), mengartikan tes sebagai suatu teknik atau cara yang digunakan dalam rangka melaksanakan kegiatan pengukuran, yang di dalamnya terdapat berbagai pertanyaan, pernyataan, atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh peserta didik untuk mengukur aspek perilaku peserta didik. Di sisi lain, menurut Goodenough dalam Anas Sudijono (2011: 28 67), tes adalah suatu tugas atau serangkaian tugas yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu, dengan maksud untuk membandingkan kecakapan mereka, satu sama lain. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa dalam dunia evaluasi pendidikan yang dimaksud dengan tes adalah cara atau prosedur dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan. Tes tersebut dapat berbentuk pemberian tugas kepada peserta didik sehingga hasilnya dapat dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan

Tinjauan Teori tentang Hasil Belajar sebagai Objek Evaluasi Hasil Belajar (skripsi dan tesis)

Dalam kegiatan pembelajaran terdapat empat unsur utama yang harus dipahami yaitu tujuan, bahan, metode, alat dan metode, serta evaluasi. Evaluasi berfungsi sebagai alat untuk mengetahui keberhasilan proses dan hasil belajar peserta didik. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris. Dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar evaluator dituntut untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap peserta didik, baik dari segi pemahamannya terhadap materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan, maupun dari segi penghayatan dan pengamalannya. Mengingat ketiga aspek atau ranah tersebut sangat erat kaitannya dan tidak mungkin dapat dipisahkan dari kegiatan evaluasi hasil belajar, maka ketiga ranah tersebut sangat penting untuk dipahami. Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Di antara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menguasai isi bahan pengajaran.

a. Ranah Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari tujuh aspek yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi, dan kreasi. Seperti yang diungkapkan Anas Sudijono (2011: 49) “Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak)”. Menurut Bloom dalam Asmi (2010: 2), segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Pada awalnya Bloom mengklasifikan tujuan kognitif dalam enam level, yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), aplikasi (apply), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation) dalam satu dimensi, akan tetapi Anderson dan Kratwohl merevisinya menjadi dua dimensi, yaitu proses dan isi/jenis. Pada dimensi proses, terdiri atas mengingat (remember), memahami (understand), menerapkan (apply), menganalisis (analyze), menilai (evaluate), dan berkreasi (create). Pada dimensi isinya terdiri atas pengetahuan faktual (factual knowlwdge), pengetahuan konseptual (conceptual knowledge), pengetahuan prosedural (procedural knowledge), dan pengetahuan metakognisi (metacognitive knowledge).
 b. Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni, penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Ranah afektif merupakan internalisasi sikap yang menunjuk ke arah pertumbuhan batiniah dan terjadi bila peserta didik menjadi sadar tentang nilai yang diterima, kemudian mengambil sikap sehingga menjadi bagian dari dirinya dalam membentuk nilai dan menentukan tingkah laku. Ranah afektif berkaitan dengan sikap dan nilai. Sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya apabila telah memiliki penguasaan yang tinggi pada ranah kognitifnya. Hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagi tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman kelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial. Ada beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar seperti yang dikemukakan Nana Sudjana (2006: 30). Kategorinya dimulai dari tingkat yang dasar atau sederhana sampai tingkat yang kompleks, meliputi: 1) Menerima (receiving), yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dll. 2) Menjawab (responding), yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar. 3) Penilaian (valuing) berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi. 4) Organisasi (organization), yakni pengembangan dari nilai ke dalam suatu sistem organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan, dan prioritas nilai yang telah dimilikinya.
5) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai (characterization by a value or value complex), yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.
 c. Ranah Psikomotorik Ranah psikomotorik merupakan kemampuan peserta didik yang berkaitan dengan gerak tubuh atau bagian-bagiannya, mulai dari gerakan sederhana sampai gerakan yang kompleks. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik, yakni:
1) Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang tidak disadari).
2) Ketrampilan pada gerakan-gerakan dasar.
 3) Kemampuan perseptual, termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motoris, dll.
4) Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan dan ketepatan.
 5) Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada ketrampilan kompleks.
 6) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-decursive seperti gerakan ekspresif dan interpretatif. (Nana Sudjana, 2006: 23)
Menurut Anas Sudijono (2011: 57) ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar psikomotor merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif dan afektif. Hasil belajar kognitif dan afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan ranah afektif.
Penilaian psikomotor memang lebih sulit dan subjektif dibandingkan dalam aspek kognitif karena penilaian psikomotorik memerlukan pengamatan dengan keterandalan yang tinggi terhadap dimensi-dimensi yang akan diukur. Apabila pengukuran dalam aspek psikomotor ini tidak dilakukan secara cermat maka aspek subjektivitas akan lebih dominan

Ciri-ciri Hasil Belajar (skrispi dan tesis)

 Sebagai suatu bidang kegiatan, evaluasi hasil belajar merupakan hal yang terpenting untuk mengukur keberhasilan tercapainya tujuan pendidikan. Evaluasi hasil belajar memiliki ciri-ciri khas yang membedakannya dengan kegiatan yang lain. Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 11-16) ciri-ciri penilaian dalam pendidikan antara lain:
1) Penilaian dilakukan secara tidak langsung.
2) Penggunaan ukuran kuantitatif.
 3) Penilaian pendidikan menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap.
 4) Penilaian pendidikan bersifat relatif.
5) Dalam penilaian pendidikan sering terjadi kesalahan-kesalahan. E
valuasi hasil belajar yang baik adalah evaluasi yang jauh dari sikap subjektivitas penilai. Selain itu dalam melakukan evaluasi harus objektif dalam melakukan pengukuran sehingga dapat mengukur apa yang seharusnya diukur dalam pembelajaran

Prosedur Evaluasi Hasil Belajar (skripsi dan tesis)

Menentukan pokok-pokok dan ketentuan apa yang perlu dilakukan dalam suatu program evaluasi hasil belajar itu sangat sulit. Hal ini disebabkan oleh tujuan khusus dari tiap jenis dan keadaan sekolah masing-masing tidak sama. Sekalipun tidak selalu sama, namun pada umumnya para pakar dalam bidang evaluasi pendidikan merinci kegiatan evaluasi hasil belajar ke dalam enam langkah pokok seperti yang dikemukakan Anas Sudijono (2011: 59-62) yaitu:

1) Menyusun rencana evaluasi hasil belajar.
a) Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi.
b) Menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi.
c) Memilih dan menentukan teknik yang akan dipergunakan di dalam pelaksanaan evaluasi.
d) Menyusun alat-alat pengukur yang akan dipergunakan dalam pengukuran dan penilaian hasil belajar peserta didik.
e) Menentukan tolok ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi.
 f) Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri.
 2) Menghimpun data.
 3) Melakukan verifikasi data.
4) Mengolah dan menganalisis data.
5) Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan.
 6) Tindak lanjut hasil evaluasi. Dalam kegiatan evaluasi terdapat prosedur tersendiri, meskipun kegiatan mengevaluasi itu lebih tepat dipandang sebagai suatu proses kontinyu yang tidak terputus-putus.
Untuk menghubungkan proses yang kontinyu tersebut diperlukanlah suatu prosedur. Prosedur merupakan langkah-langkah pokok yang harus ditempuh dalam kegiatan evaluasi. Keberhasilan suatu kegiatan evaluasi akan dipengaruhi pula oleh kegiatan evaluator dalam melaksanakan prosedur evaluasi. Menurut Zainal Arifin (2011: 88) prosedur evaluasi pembelajaran meliputi:
 1) Perencanaan evaluasi, yang meliputi analisis kebutuhan, merumuskan tujuan evaluasi, menyusun kisi-kisi, mengembangkan draft instrumen, uji coba dan analisis, merevisi dan menyusun instrumen final.
 2) Pelaksanaan evaluasi dan monitoring.
3) Pengolahan data dan analisis.
4) Pelaporan hasil evaluasi.
5) Pemanfaatan hasil evaluasi. Baik buruknya evaluasi hasil belajar berada di tangan seorang guru sebagai evaluator yang melaksanakan evaluasi tersebut. Oleh sebab itu seorang guru harus bertanggung jawab terhadap hasil evaluasi. Tanggung jawab tersebut dapat ditunjukkan dengan melaksanakan prosedur evaluasi yang baik, dan dipertanggungjawabkan bagi pihak–pihak yang berkepentingan.

Prinsip-prinsip Evaluasi Hasil Belajar (skripsi dan tesis)

Mengingat pentingnya evaluasi hasil belajar dalam menentukan kualitas pendidikan, maka upaya dalam merencanakan dan melaksanakan evaluasi tersebut hendaknya memperhatikan pada beberapa prinsip sehingga evaluasi dapat mencapai sasaran yang diinginkan. Evaluasi hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip seperti yang dikemukakan oleh Anas Sudijono (2011: 31-33), yaitu:

1) Prinsip keseluruhan. Evaluasi hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi tersebut dilaksanakan secara bulat, utuh, dan menyeluruh.
2) Prinsip kesinambungan. Evaluasi hasil belajar yang baik adalah evaluasi belajar yang dilaksanakan secara teratur dan sambungmenyambung dari waktu ke waktu.
3) Prinsip objektivitas. Evaluasi hasil belajar dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari faktor-faktor yang sifatnya subjektif.

Menurut Daryanto (2007: 19-21) beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam menyusun evaluasi antara lain:
1) Keterpaduan.
Evaluasi merupakan komponen integral dalam program pengajaran di samping tujuan instruksional dan materi serta metode pengajaran. Karena itu, perencanaan evaluasi harus sudah ditetapkan pada waktu menyusun satuan pengajaran sehingga dapat disesuaikan secara harmonis dengan tujuan instruksional dan materi pengajaran yang hendak disajikan.
2) Keterlibatan siswa.
Untuk dapat mengetahui sejauh mana siswa berhasil dalam kegiatan belaja-mengajar yang dijalaninya secara aktif, siswa membutuhkan evaluasi.
3) Koherensi.
Evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur.
4) Pedagogis.
Evaluasi perlu diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap dan tingkah laku ditinjau dari segi pedagogis.
5) Akuntabilitas.
 Sejauh mana keberhasilan program pengajaran perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan sebagai laporan pertanggungjawaban.
Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 24) ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga komponen yaitu antara:
 1) Tujuan pembelajaran.
2) Kegiatan pembelajaran atau Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
3) Evaluasi.
Dalam Suharsimi Arikunto (2009: 24-25) juga dijelaskan maksud dari bagan triangulasi
 yaitu:
 1) Hubungan antara tujuan dengan KBM.
Kegiatan belajar-mengajar yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, anak panah yang menunjukkan hubungan antara keduanya mengarah pada tujuan dengan makna bahwa KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM, menunjukkan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya ke KBM.
2) Hubungan antara tujuan dengan evaluasi.
Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai. Dengan makna demikian maka anak panah berasal dari evaluasi menuju ke tujuan. Di lain sisi, jika dilihat dari langkah, dalam menyusun alat evaluasi ia mengacu pada tujuan yang sudah dirumuskan. 3) Hubungan antara KBM dengan evaluasi.
 Selain mengacu pada tujuan, evaluasi juga harus mengacu atau disesuaikan dengan KBM yang dilaksanakan. Sebagai misal, jika kegiatan belajar-mengajar dilakukan oleh guru dengan menitikberatkan pada keterampilan, evaluasinya juga harus mengukur tingkat keterampilan siswa, bukannya aspek pengetahuan. 20 Untuk memperoleh hasil evaluasi yang lebih baik, maka kegiatan evaluasi harus bertitik tolak dari prinsip-prinsip umum seperti yang dikemukakan Zainal Arifin (2011: 30-31) yaitu:
1) Kontinuitas.
 Evaluasi tidak boleh dilakukan secara insidental karena pembelajaran itu sendiri adalah suatu proses yang kontinu. Oleh sebab itu, evaluasi pun harus dilakukan secara kontinyu.
2) Komprehensif
 Dalam melakukan evaluasi terhadap suatu objek, guru harus mengambil seluruh objek itu sebagai bahan evaluasi. Misalnya, objek evaluasi adalah peserta didik, maka seluruh aspek kepribadian peserta didik harus dievaluasi, baik yang menyangkut kognitif, afektif, maupun psikomotor.
 3) Adil dan objektif.
Dalam melakukan evaluasi, guru harus berlaku adil tanpa pilih kasih. Semua peserta didik harus diberlakukan sama tanpa “pandang bulu”. Guru juga hendaknya bertindak secara objektif, apa adanya sesuai dengan kemampuan peserta didik. Evaluasi harus didasarkan atas kenyataan (data dan fakta) yang sebenarnya, bukan hasil manipulasi atau rekayasa.
4) Kooperatif.
Dalam kegiatan evaluasi guru hendaknya bekerja sama dengan semua pihak seperti orang tua peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, termasuk dengan peserta didik itu sendiri. Hal ini dimaksudkan agar semua pihak merasa puas dengan hasil evaluasi, dan pihak-pihak tersebut merasa dihargai.
5) Praktis.
Praktis mengandung maksud mudah digunakan, baik oleh guru itu sendiri yang menyusun alat evaluasi maupun orang lain yang menggunakan alat tersebut. Untuk itu harus diperhatikan bahasa dan petunjuk mengerjakn soal. Dengan demikian evaluasi hasil belajar yang baik agar kualitas pendidikan dapat tercapai harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengukur hasil belajar yang telah ditentukan dengan jelas dan sesuai dengan kompetensi serta tujuan pembelajaran. Selain itu evaluasi hasil belajar hendaknya diikuti dengan tindak lanjut sehingga dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan

Tujuan dan Fungsi Evaluasi Hasil Belajar

Nana Sudjana (2006: 4) mengemukakan bahwa tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk:

1) Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya.
 2) Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.
3) Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi pelaksanaannya.
4) Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu: pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa.
Anas Sudijono (2011: 16-17) mengemukakan bahwa tujuan evaluasi ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus.
 1) Tujuan umum. Secara umum, tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan ada dua, yaitu:
a) Untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh para peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
b) Untuk mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pengajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka waktu tertentu.
2) Tujuan khusus. Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan adalah :
a) Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan.
b) Untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya. Fungsi evaluasi tidak dapat dipisahkan dari tujuan evaluasi itu sendiri. Dari pemaparan di atas tersirat tujuan evaluasi ialah untuk memperoleh data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di mana tingkat kemampuan dan keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan-tujuan kurikuler. Secara rinci, evaluasi hasil belajar dikemukakan oleh Chabib Thoha (2003: 10-11) apabila dilihat dari kepentingan masing-masing pihak, yaitu:
 1) Fungsi bagi guru.
a) Mengetahui kemajuan belajar peserta didik.
 b) Mengetahui kedudukan masing-masing individu peserta didik dalam kelompoknya.
 c) Mengetahui kelemahan-kelemahan dalam cara belajar mengajar dalam PBM. 16 d) Memperbaiki proses belajar mengajar.
 e) Menentukan kelulusan peserta didik.
 2) Fungsi bagi peserta didik.
a) Mengetahui kemampuan dan hasil belajar.
 b) Memperbaiki cara belajar.
c) Menumbuhkan motivasi dalam belajar.
3) Fungsi bagi sekolah.
a) Mengukur mutu hasil pendidikan.
 b) Mengetahui kemajuan dan kemunduran sekolah.
c) Membuat keputusan kepada peserta didik.
 d) Mengadakan perbaikan kurikulum.
 4) Fungsi bagi orang tua peserta didik.
 a) Mengetahui hasil belajar anaknya
 b) Meningkatkan pengawasan dan bimbingan serta bantuan kepada anaknya dalam usaha belajar.
 c) Mengarahkan pemilihan jurusan, atau jenis sekolah pendidikan lanjutan bagi anaknya.
 5) Fungsi bagi masyarakat dan pemakai jasa pendidikan.
a) Mengetahui kemajuan sekolah.
 b) Ikut mengadakan kritik dan saran perbaikan bagi kurikulum pendidikan pada sekolah tersebut.
 c) Lebih meningkatkan partisipasi masyarakat dalam usahanya membantu lembaga pendidikan. Selain fungsi di atas, menurut Daryanto (2007: 14-16) evaluasi juga dapat berfungsi sebagai alat seleksi, diagnostik, penempatan, dan pengukur keberhasilan guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil pembelajaran. Penjelasan dari setiap fungsi tersebut adalah:
1) Fungsi seleksi. Evaluasi yang dilakukan oleh guru digunakan untuk menyeleksi siswanya. Seleksi itu mempunyai berbagai tujuan, antara lain:
a) Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.
 b) Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.
 c) Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
d) Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dan sebagainya.
 2) Fungsi diagnostik. Evaluasi digunakan untuk mendiagnosis peserta didik tentang kebaikan dan kelemahannya serta peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan tersebut maka akan mudah mencari cara untuk mengatasinya.
 3) Fungsi penempatan. Evaluasi digunakan untuk menempatkan peserta didik dalam situasi pembelajaran yang tepat sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
4) Fungsi pengukur keberhasilan Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana, dan sistem kurikulum.
Pada hakikatnya, tujuan dan fungsi evaluasi adalah untuk mengetahui seberapa jauh tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan itu dapat tercapai dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan. Di samping itu, tujuan dan fungsi evaluasi adalah untuk memberikan gambaran terhadap tingkah laku hasil belajar yang telah dicapai pesrta didik. Tujuan yang terpenting dalam evaluasi adalah untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu.

Pengertian Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi Hasil Belajar (skripsi dan tesis)

Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 3) mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran, artinya hasil ukur secara kuantitatif hanya dengan satuan atau besaran ukuran saja tanpa memberikan penilaian. Dengan kata lain mengukur adalah suatu proses untuk menentukan kuantitas tertentu. Gronlund dalam Zainal Arifin (2011: 4) mengemukakan bahwa penilaian adalah suatu proses yang sistematis dari pengumpulan, analisis, dan interpretasi informasi/data untuk menentukan sejauh mana peserta 14 didik telah mencapai tujuan pembelajaran. Dalam Peraturan Pemerintah RI No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Ayat (17) penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 3) menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk dan penilaian bersifat kualitatif. Berdasarkan pengertian pengukuran, penilaian, dan evaluasi di atas dapat disimpulkan bahwa antara pengukuran, penilaian, dan evaluasi merupakan suatu proses yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Evaluasi mencakup dua kegiatan yaitu pengukuran dan penilaian. Evaluasi merupakan program atau kegiatan untuk menilai sesuatu. Untuk dapat menentukan nilai dari sesuatu yang sedang dinilai itu, maka dilakukanlah pengukuran

Tujuan dan Fungsi Mata Pelajaran Ekonomi Akuntansi di SMA (skripsi dan tesis)

Zainal Arifin (2011: 10) menyatakan “Pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan sistemik, yang bersifat interaktif dan komunikatif antara pendidik dengan peserta didik, sumber belajar dan lingkungan untuk menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya tindakan belajar peserta didik, baik di kelas maupun di luar kelas, dihadiri guru secara fisik atau tidak, untuk menguasai kompetensi yang telah ditentukan ”. Proses kegiatan pembelajaran yang baik akan dapat membantu siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memperoleh pengetahuan maupun keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam Depdiknas (2003: 6) tentang standar kompetensi mata pelajaran Ekonomi SMA dan MA dijelaskan bahwa tujuan dan fungsi mata pelajaran Ekonomi adalah sebagai berikut : 1) Tujuan Mata Pelajaran Ekonomi di SMA : Membekali siswa sejumlah konsep ekonomi untuk mengetahui dan mengerti peristiwa dan masalah ekonomi dalam kehidupan seharihari, terutama yang terjadi di lingkungan setingkat individu/rumah tangga, masyarakat dan negara. Membekali siswa sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi pada jenjang selanjutnya. Membekali siswa nilai-nilai serta etika ekonomi dan memiliki jiwa wirausaha. Meningkatkan kemampuan berkompetensi dan bekerjasama dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun skala internasional. 13 2) Fungsi Mata Pelajaran Ekonomi di SMA: Mengembangkan kemampuan siswa untuk berekonomi, dengan cara mengenal berbagai kenyataan dan peristiwa ekonomi, memahami konsep dan teori serta berlatih dalam memecahkan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan masyarakat. Dalam Depdiknas (2003: 6) tentang standar kompetensi mata pelajaran Akuntansi SMA dan MA dijelaskan bahwa tujuan dan fungsi mata pelajaran Akuntansi adalah sebagai berikut : 1) Tujuan Mata Pelajaran Akuntansi di SMA : Membekali tamatan SMA dalam berbagai kompetensi dasar, agar mereka menguasai dan mampu menerapkan konsep-konsep dasar, prinsip dan prosedur Akuntansi yang benar, baik untuk kepentingan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ataupun untuk terjun ke masyarakat, sehingga memberikan manfaat bagi kehidupan siswa. 2) Fungsi Mata Pelajaran Akuntansi di SMA : Mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap rasional, teliti, jujur, dan bertanggung jawab melalui prosedur pencatatan, pengelompokkan, pengikhtisaran transaksi keuangan, penyusunan laporan keuangan dan penafsiran perusahaan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK).

Ruang Lingkup Mata Pelajaran Ekonomi Akuntansi di SMA (skripsi dan tesis)

Mata pelajaran Ekonomi mencakup perilaku ekonomi dan kesejahteraan yang berkaitan dengan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan kehidupan terdekat hingga lingkungan terjauh, meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1) Perekonomian 2) Ketergantungan 3) Spesialisasi dan pembagian kerja 4) Perkoperasian 5) Kewirausahaan 6) Akuntansi dan manajemen Depdiknas (2003: 7) Ruang lingkup pelajaran Akuntansi SMA dimulai dari dasar-dasar konseptual, struktur, dan siklus Akuntansi. Adapun materi pokok pelajaran Akuntansi di SMA adalah sebagai berikut: 1) Akuntansi dan sistem informasi 2) Dasar hukum pelaksanaan Akuntansi 3) Struktur Dasar Akuntansi 4) Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa 5) Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang 12 6) Siklus Akuntansi Koperasi 7) Analisis Laporan Keuangan 8) Metode kuantitatif Depdiknas (2003: 6-7)

Pengertian Ekonomi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang banyak, bervariasi, dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi, dan/atau distribusi. Pengertian ekonomi menurut Iskandar Putong (14: 2002) adalah semua yang menyangkut halhal yang berhubungan dengan perikehidupan dalam rumah tangga. Menurut Samuelson (4: 2003) ilmu ekonomi adalah kajian bagaimana masyarakat menggunakan sumber daya yang langka untuk memproduksi komoditi-komoditi yang berharga dan mendistribusikannya kepada masyarakat luas. Prospek dan tantangan di masa depan merupakan bagian integral dari globalisasi ekonomi yang berpengaruh terhadap profesionalisme pengelolaan usaha. Salah satu aspek pengelolaan usaha baik pada sektor formal maupun non formal adalah kewajiban perusahaan membuat laporan keuangan sesuai dengan besar kecilnya transaksi keuangan suatu usaha. Sebagai bagian ilmu ekonomi yang mempelajari siklus/proses kegiatan dari seluruh transaksi keuangan perlu dilaksanakan di sekolah untuk membangun pemahaman dan keterampilan Akuntansi. Dalam 10 pembelajaran di sekolah, mata pelajaran Akuntansi merupakan bagian dari mata pelajaran Ekonomi yang diajarkan di SMA. Akuntansi merupakan bahan kajian mengenai suatu sistem untuk menghasilkan informasi berkaitan dengan transaksi keuangan. Informasi tersebut dapat digunakan dalam rangka pengambilan keputusan dan tanggung jawab di bidang keuangan baik oleh pelaku ekonomi swasta (akuntansi perusahaan), pemerintah (akuntansi pemerintah), ataupun organisasi masyarakat lainnya (akuntansi publik). Pengertian akuntansi menurut American Accounting Association adalah “Accounting as the process identifiying, measuring, and communicating economic information to permit informed judgements and decisions by users of the information” (Sumarsono, 2004: 3). Definisi selanjutnya terdapat pada Accounting Principles Board (APB) No. 4 yang menjelaskan akuntansi sebagai suatu aktivitas jasa yang memiliki fungsi menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan tentang satuan-satuan ekonomi yang dapat bermanfaat dalam menetapkan pilihan-pilihan yang logis diantara berbagai tindakan alternatif (Suwardjono, 2010: 9). Definisi akuntansi menurut Haryono Yusuf (2001: 4) mencakup 2 (dua) pengertian, yaitu : 1) Ditinjau dari sudut pemakainya, akuntansi adalah suatu disiplin yang menyediakan informasi yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efisien dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan suatu organisasi. 2) Ditinjau dari sudut kegiatannya, akuntansi didefinisikan sebagai proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan, dan penganalisisan data keuangan suatu organisasi. 11 Secara umum, ekonomi dapat dipahami sebagai suatu kegiatan atau usaha tentang bagaimana manusia dapat memenuhi kebutuhannya dan bagaimana mengelola sumber daya yang terbatas atau langka, sedangkan akuntansi (accounting) dapat dipahami sebagai suatu proses kegiatan mengolah data keuangan (input) agar menghasilkan informasi keuangan (output) yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan atau organisasi ekonomi yang bersangkutan.

Tujuan Kebijakan Ekonomi Makro (skripsi dan tesis)

Kebijakan ekonomi yang dirumuskan oleh pemerintah tentu harus disesuaikan dengan tujuan ataupun target apa yang harus dicapai dengan kebijakan yang akan dibuat tersebut. Oleh karena itu sebelum memutuskan kebijakan apa yang harus digunakan dalam perekonomian harus terlebih dahulu ditentukan target dan tujuan yang hendak dicapai, sehingga dalam pelaksanaan kebijakan tersebut dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Kelana (1996:7) secara umum ada beberapa aspek yang menjadi tujuan kebijakan makroekonomi dan merupakan pilihan tersendiri bagi setiap Negara. Hal ini diakibatkan oleh berbedanya tujuan dan sasaran ekonomi suatu Negara tergantung pada kondisi dan keadaan ekonomi di Negara tersebut. Tujuan yang dimaksudkan antara lain:

1. Menciptakan Tingkat Harga yang Stabil. Banyak orang mengartikan harga yang stabil sebagai harga yang selalu konstan (constant price). Namun bila dilihat lebih jauh, harga yang stabil bukan berarti harga selalu konstan namun tingkat fluktuasinya lebih kecil atau jarang. Stabilitas harga merupakan tujuan yang penting. Fluktuasi harga yang tinggi tentu akan meningkatkan risiko pada dunia usaha. Sebagai contoh di bidang properti (perumahan). Untuk membangun suatu perumahan tentu dibutuhkan bahan baku dan tenaga kerja. Tentu harga bahan baku dan tenaga kerja tidak akan selalu sama pada berbagai periode waktu. Kontrak yang dilakukan pengembang dengan tenaga kerja tentu dipengaruhi oleh perubahan harga. Demikian juga dengan bahan baku,  harga dari bahan bahan bangunan akan sangat dipengaruhi oleh kestabilan perubahan harga dari waktu ke waktu. Kestabilan harga akan memudahkan pengembang merencanakan pembangunan perumahan sesuai dengan yang diharapkannya. Dan dengan demikian akan semakin meningkatkan gairah dunia usaha perumahan kedepannya.

 2. Memaksimalkan Tenaga Kerja dan Output Mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh (full employment) merupakan cita cita setiap negara di dunia . Namun pada umumnya tidak ada satu negara pun didunia yang mampu mewujudkan adanya penggunaan tenaga kerja penuh. Walaupun memaksimalkan output cenderung mendorong tercapainya tujuan penggunaan tenaga kerja kapasitas penuh (full employment) namun kebijakan kebijakan yang dirumuskan oleh pemerintah dengan menambah pengeluaran aggregat (output) hanya mampu mengurangi jumlah pengangguran tetapi tetap tidak mampu untuk menciptakan perekonomian dengan penggunaan tenaga kerja penuh.

3. Menciptakan Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi merupakan dambaan bagi setiap Negara di dunia. Namun pertumbuhan ekonomi yang diharapkan biasanya harus diikuti dengan adanya stabilitas, keadilan ekonomi (economic equality) serta distribusi pendapatan yang merata di setiap wilayah yang ada di Negara tersebut. Disamping itu, adanya peningkatan populasi manusia dan kebutuhan yang tidak terbatas mendorong perekonomian untuk selalu Universitas Sumatera Utara meningkatkan produksi barang dan jasanya dan akan semakin memungkinkan penambahan jumlah tenaga kerja yang terserap dalam memproduksi barang tersebut. Sehingga pertumbuhan ekonomi akan terjadi di Negara tersebut dan akan lebih baik jika diikuti dengan distribusi pertumbuhan yang merata. 4. Mengukuhkan Neraca Pembayaran (Stabilitas Neraca Pembayaran) Stabilitas neraca pembayaran dianggap sangat penting dikarenakan hal ini berkenaan dengan hubungan luar negeri dan cadangan devisa suatu Negara. Neraca pembayaran yang tidak kukuh akan mengurangi kemampuan suatu negara dalam menghadapi masalah pengaliran dana keluar negeri yang melebihi dari keadaan yang biasanya berlaku. Sebagai akibatnya cadangan mata uang asing akan merosot dan kurs mata uang asing meningkat. Hal ini akan menimbulkan efek buruk ke perekonomian suatu negara seperti inflasi, biaya produksi meningkat akan tetapi sebaliknya daya beli masyarakat merosot. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi makro perlu memperhatikan kedudukan neraca pembayaran dan kurs valuta asing selalu tetap teguh keadaannya

Masalah dalam Ekonomi Makro (skripsi dan tesis)

Di setiap negara di dunia ini tentu kegiatan perekonomiannya tidak selalu stabil, apalagi dengan ruang lingkup yang sangat luas setiap negara pasti mempunyai kendala ataupun masalah tersendiri. Namun bila diklasifikasikan lagi masalah masalah yang dihadapi oleh tiap negara di dunia dapat dikelompokkan menjadi 3 masalah pokok. Menurut Bakti, Rakhmat, dan Syahrir (2010:12) kebijakan makro ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah sebagai keiikutsertaan pemerintah dalam memacu kehidupan ekonomi selalu dihadapkan kepada masalah pertumbuhan, inflasi, dan pengangguran sebagai central issues macroeconomic. Dengan kata lain bahwa yang menjadi masalah pokok dalam ekonomi makro dan mencakup keseluruhan variabel variabel dalam ekonomi makro adalah masalah pertumbuhan, inflasi dan pengangguran

Pengertian dan Sejarah berkembangnya Ekonomi Makro (skripsi dan tesis0

Makro ekonomi adalah salah satu cabang ilmu ekonomi yang membahas perilaku perekonomian secara agregat, misalnya kemakmuran dan resesi, output barang dan jasa, total perekonomian, laju pertumbuhan output, laju inflasi dan pengangguran, neraca pembayaran dan juga nilai kurs ( Dornbusch, Stanley, dan Mulyadi, 1996:3) Ekonomi makro terbentuk dari adanya kemerosotan ekonomi dunia yang berawal dari adanya depresi ekonomi di Amerika Serikat tahun 1932. Pada saat itu hampir 25 % masyarakat Amerika kehilangan pekerjaannya dan berakibat pada merosotnya angka pendapatan nasional negara tersebut. Tentu saja hal ini menjalar dan meluas ke seluruh dunia. Pada saat itu tidak ada satu teori atau ajaran ekonomi yang mampu memecahkan masalah depresi ekonomi tersebut. Hal ini semakin menyadarkan para ahli ekonomi saat itu bahwa ekonomi tidak dapat hanya tergantung pada mekanisme pasar saja, karena mekanisme pasar tidak mampu menimbulkan pertumbuhan ekonomi yang baik dan stabil. Seorang ahli ekonomi yang sekaligus pada saat itu bertugas sebagai Presiden World Bank mengemukakan pandangannya terhadap krisis ekonomi yang dihadapi dunia saat itu. Dalam buku yang berjudul The General Theory of Employment, Interest, and Money, John Maynard Keynes mengatakan bahwa pada saat itu untuk memecahkan masalah ekonomi suatu perekonomian tidak boleh hanya tergantung pada mekanisme pasar saja tetapi membutuhkan juga campur tangan pemerintah didalamnya. Pandangan John Maynard Keynes dalam bukunya tersebut menjadi awal ataupun landasan lahirnya teori ekonomi makro modern.

Tahapan Pelaksanaan Assertive (skripsi dan tesis)

Training Pelaksanaan assertive training memiliki beberapa tahapan atau prosedur yang akan dilalui ketika pelaksanaan latihan. Pada umumnya teknik untuk 24 melakukan latihan asertif, mendasarkan pada prosedur belajar dalam diri seseorang yang perlu diubah, diperbaiki dan diperbarui. Masters (Gunarsih, 2007) meringkas beberapa jenis prosedur latihan asertif, yakni:

1. Identifikasi terhadap keadaan khusus yang menimbulkan persoalan pada pasien atau klien.

2. Memeriksa apa yang dilakukan atau dipikirkan pasien atau klien pada situasi tersebut.
3. Dipilih sesuatu situasi khusus di mana pasien atau klien melakukan permainan peran (role play) sesuai dengan apa yang ia perlihatkan.
4. Terapis memberikan umpan balik secara verbal, menekankan hal yang positif dan menunjukkan hal-hal yang tidak sesuai ( tidak cocok, inadekuat) dengan sikap yang baik dan dengan cara yang tidak menghukum atau menyalahkan.
5. Terapis memperlihatkan model perilaku yang lebih diinginkan, pada pasien atau klien menerima model perilaku jika sesuai ( terjadi pergantian peran).
6. Terapis membimbing, menjelaskan hal-hal yang mendasari perilaku yang diinginkan.
 7. Selama berlangsung proses peniruan, terapis meyakinkan pernyataan dirinya yang positif yang diikuti oleh perilaku.
8. Pasien atau klien kemudian berusaha untuk mengulangi respon tersebut.
9. Terapis menghargai perkembangan yang terjadi pada pasien atau klien dengan strategi “pembentukan”(shaping) atau dukungan tertentu yang menyertai pebentukan respon baru.
 (Langkah nomor lima, enam, tujuh dan delapan, diulang sampai terapis dan pasien atau klien puas terhadap respon-responnya yang setidaknya sudah berkurang ansietasnya dan tidak membuat pernyataan diri(selfsentiment) yang negatif.)
10. Sekali pasien atau klien dapat menguasai keadaan sebelumnya menimbulkan sedikit ansietas, terapis melangkah maju ke hierarki yang lebih tinggi dari keadaannya yang menjadi persoalan.
11. Kalau interaksinya terjadi dalam jangka waktu lama, harus dipecah menjadi beberapa bagian yang diatur waktunya. Selanjutnya terapis bersama pasien atau klien menyusun kembali urutan keseluruhannya secara lengkap
. 12. Diantara waktu-waktu pertemuan, terapis menyuruh pasien atau klien melatih dalam imajinasinya, respon yang cocok pada beberapa keadaan. Kepada mereka juga diminta menyertakan pernyataan diri yang terjadi selama melakukan imajinasi. Hasil apa yang dilakukan pasien atau klien, dibicarakan pada pertemuan berikutnya.
13. Pada saat pasien atau klien memperlihatkan ekspresi yang cocok dari perasaan-perasaannya yang negatif, terapis menyuruhnya melakukan dengan respon yang paling ringan. Selanjutnya pasien atau klien harus memberikan respons yang kuat kalau respon tidak efektif.
14. Terapis harus menentukan apakah pasien atau klien sudah mampu memberikan respon yang sesuai dari dirinya sendiri secara efektif terhadap keadaan baru, baik dari laporan langsung yang diberikan maupun dari keterangan orang lain yang mengetahui keadaan pasien atau klien. 26 Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa assertive training merupakan terapi perilaku yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan individu yang diganggu kecemasan dengan berbagai teknik yang ada agar individu tersebut dapat memiliki perilaku asertif yang diinginkan

Manfaat Assertive Training (skripsi dan tesis)

Menurut pendapat Corey (2009), manfaat latihan asertif yaitu membantu bagi orang-orang yang:

 a. tidak mampu mengungkapkan kemarahan dan perasaan tersinggung;

b. menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya ; c. memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”;
d. mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respon-respon positif lainnya merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.
Berdasarkan pendapat diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa manfaat latihan asertif adalah membantu peningkatan kemampuan mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain.

Tujuan Assertive Training (skripsi dan tesis)

Teknik assertive training dalam pelaksanaannya tentu memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh konselor dan klien. Day (2008) menjelaskan bahwa assertive training membantu klien belajar kemandirian sosial yang diperlukan untuk mengekspresikan diri mereka dengan tepat. Sedangkan menurut Corey (2009) terdapat beberapa tujuan assertive training yaitu :

a. Mengajarkan individu untuk menyatakan diri mereka dalam suatu cara sehingga memantulkan kepekaan kepada perasaan dan hak-hak orang lain;
b. Meningkatkan keterampilan behavioralnya sehingga mereka bisa menentukan pilihan apakah pada situasi tertentu perlu berperilaku seperti apa yang diinginkan atau tidak;
 c. Mengajarkan pada individu untuk mengungkapkan diri dengan cara sedemikian rupa sehingga terefleksi kepekaanya terhadap perasaan dan hak orang lain;

d. Meningkatkan kemampuan individu untuk menyatakan dan mengekspresikan dirinya dengan enak dalam berbagai situasi sosial;
e. Menghindari kesalahpahaman dari pihak lawan komunikasi.   Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan latihan assertif adalah untuk melatih individu mengungkapkan dirinya, mengemukakan apa yang dirasakan dan menyesuaikan diri dalam berinteraksi sehingga dapat menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam berkomunikasi.

Perilaku Asertif (skripsi dan tesis)

Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilah assertiveness atau assertion, yang artinya titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif. Frensterhim dan Baer, mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkah laku atau perilaku asertif orang yang berpendapat dari orientasi dari dalam, memiliki kepercayan diri yang baik, dapat mengungkapkan pendapat dan ekspresi yang sebenarnya tanpa rasa takut dan berkomunikasi dengan orang lain secara lancar. Sebaliknya orang yang kurang asertif adalah mereka yang memiliki ciri terlalu mudah mengalah atau lemah, mudah tersinggung, cemas, kurang yakin pada diri sendiri, sukar mengadakan komunikasi dengan orang lain, dan tidak bebas mengemukakan masalah atau hal yang telah dikemukakan. Nelson dan Jones (2006) menjelaskan bahwa perilaku asertif adalah perilaku yang merefleksikan rasa percaya diri dan menghormati diri sendiri dan orang lain. hal ini sejalan dengan pengertian perilaku asertif yang dikemukakan oleh Alberti dan Emmons, yaitu perilaku asertif meningkatkan kesetaraan dalam hubungan sesama manusia, yang memungkinkan kita untuk menunjukkan minat terbaik kita, berdiri sendiri tanpa hatrus merasa cemas, mengeekspresikan perasaan kita dengan jujur dan nyaman, melatih kepribadian kita yang sesungguhnya tanpa menolak kebenaran dari orang lain. 22 Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah perilaku sesesorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut, emosi, perasaan, pikiran serta keinginan dan kebutuhan secara terbuka, tegas dan jujur tanpa perasaan cemas atau tegang terhadap orang lain, tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain.

Pengertian Assertive Training (skripsi dan tesis)

 Assertive training merupakan salah satu teknik dalam terapi behavioral. Menurut Willis (2004) terapi behavioral berasal dari dua arah konsep yakni Pavlovian dari Ivan Pavlov dan skinerian dari B.F Skinner. Mula-mula terapi ini dikemabangkan oleh Wolpe untuk menanggulangi neurosis. Neurosis dapat dijelaskan dengan mempelajari perilaku yang tidak adaptif melalui proses belajar. Dengan kata lain perilaku yang menyimpang bersumber dari hasil belajar di lingkungan. Willis (2004) menjelaskan bahwa assertive training merupakan teknik dalam konseling behavioral yang menitikberatkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya. Assertive Training adalah suatu teknik untuk membantu klien dalam hal-hal berikut: a. Tidak dapat menyatakan kemarahan atau kejengkelannya; b. Mereka yang sopan berlebihan dan membiarkan orang lain mengambil keuntungan padanya; c. Mereka yang mengalami kesulitan berkata “tidak”; d. Mereka yang sukar menyatakan cinta dan respon positif lainnya; e. Mereka yang merasakan tidak punya hak untuk menyatakan pendapat dan pikirannya. Selain itu Gunarsih (2007) dalam bukunya Konseling dan Psikoterapi menjelaskan pengertian latihan asertif yaitu prosedur latihan yang diberikan kepada klien untuk melatih perilaku penyesuaian sosial melalui ekspresi diri dari perasaan, sikap, harapan, pendapat, dan haknya. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa assertive training atau latihan asertif adalah prosedur latihan yang diberikan 21 untuk membantu peningkatan kepercayaan diri dalam mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain

Pendekatan Behavioral (skripsi dan tesis)

Pendekatan konseling behavioral adalah pendekatan yang berfokus pada tingkah laku klien yang luas cakupannya. Sering kali seseorang mengalami kesulitan karena tingkah laku yang kurang atau berlebihan dari kelaziman. Konselor yang mengambil pendekatan tingkah laku berupaya membantu klien mempelajari cara bertindak yang baru dan tepat, atau membantunya mengubah atau menghilangkan tindakan yang berlebihan. Cormier dkk (dalam Gladding, 2012), mengungkapkan bahwa pendekatan behavioral juga berguna dalam menangani kesulitan yang berhubungan dengan kegelisahan, stres, kepercayaan diri, hubungan dengan orang tua, dan interaksi sosial. James & Gilliland (dalam Gladding. 2012) menjelaskan bahwa Pada dasarnya, pendekatan behavioral diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku yang maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan. Seorang konselor dapat mengambil beberapa peranan, bergantung pada orientasi tingkah lakunya dan tujuan klien. Bagaimanapun juga umumnya konselor yang menggunakan pendekatan behavioral, aktif di dalam sesi konseling. Sebagai hasilnya, klien belajar, tidak belajar, atau mempelajari ulang cara 19 berperilaku yang spesifik. Dalam proses itu, konselor berfungsi sebagai konsultan, guru, penasihat, fasilitator, dan pendukung. Konselor behavioral memberikan instruksi atau memberikan tenaga pendukung di lingkungan klien yang membantu proses perubahan. Konselor behavioral yang efektif bekerja dari suatu perspektif yang luas dan melibatkan klien di dalam setiap tahapan konseling. Pada dasarnya konselor ingin membantu klien untuk menyesuaikan diri dengan baik terhadap kondisi kehidupannya, dan mencapai tujuan pribadi dan profesionalnya. Langkah besar dalam pendekatan behavioral adalah bahwa konselor dan klien mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Satu aspek yang penting dari peran klien dalam pendekatan behavioral adalah klien didorong untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru dengan maksud memperluas perbendaharaan tingkah laku adaptifnya. Dalam terpi, klien dibantu untuk menggeneralisasikan dan mentransfer belajar yang diperoleh di dalam situasi konseling ke dalam situasi di luar konseling. konseling ini belum lengkap apabila verbalisasi-verbalisasi tidak atau belum diikuti oleh tindakan-tindakan. Klien harus berbuat lebih dari sekedar memperoleh pemahaman-pemahaman, sebab dalam pendekatan ini klien harus bersedia mengambil resiko. Masalah-masalah dalam kehidupan nyata harus dipecahkan dengan tingkah laku baru di luar konseling,berarti fase tindakan merupakan hal yang esensial. Keberhasilan dan kegagalan usahausaha menjalankan tingkah laku baru adalah bagian yang vital dari perjalanan konseling

Pengertian bimbingan dan konseling (skripsi dan tesis)

Menurut Prayitno (1995) menyatakan bahwa Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku. Dan Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuankemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. Jadi, dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling adalah proses pemberian bantuan yang diberikan oleh seorang profesional dalam hal ini adalah seorang konselor kepada seorang konseli atau lebih, dimana bimbingan dan konseling ini adalah untuk memandirikan konseli 18 dalam menyelesaikan masalahnya serta dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Ada dua macam pemberian bantuan yang diberikan jika dilihat dari jumlah konseli yang diberi bantuan, yaitu konseling perseorangan dan bimbingankonseling kelompok. Dan dalam penelitian ini peneliti menggunakan bimbingan kelompok dalam praktek aplikasi penelitian

Fungsi Komunikasi Interpersonal (skripsi dan tesis)

Tanpa kita sadari, keberadaan komunikasi interpersonal telah berperan aktif dalam kehidupan, bahkan tidak sedikit manusia yang melakukan praktik komunikasi interpersonal ini. Menurut Enjang (2009: 77-79) komunikasi Interpersonal memiliki fungsi yaitu :

 a. Memenuhi kebutuhan sosial dan psikologis. Dengan komunikasi inetrpersonal, kita bisa memenuhi kebutuhan sosial atau psikologis kita;
b. Mengembangkan kesadaran diri. Melalui komunikasi interpersonal akan terbiasa mengembangkan diri;

c. Matang akan konvensi sosial. Melalui komunikasi interpersonal kita tunduk atau menentang konvensi sosial;
d. Konsistensi hubungan dengan orang lain. Melalui komunikasi interpersonal kita menetapkan hubungan kita. Kita berhubungan dengan orang lain, melalui pengalaman dengan mereka, dan melalui percakapan– percakapan bersama mereka;

 e. Mendapatkan informasi yang banyak. Melalui komunikasi interpersonal, kita juga akan memperoleh informasi yang lebih. Informasi yang akurat 17 dan tepat waktu merupakan kunci untuk membuat keputusan yang efektif;
f. Bisa mempengaruhi atau dipengaruhi orang lain

Pentingnya Komunikasi Interpersonal

Sebagai makhluk sosial, komunikasi interpersonal sangat penting bagi kebahagiaan hidup kita. Jhonson (Supratiknya, 2003:9) menunjukkan beberapa peranan yang disumbangkan oleh komunikasi interpersonal dalam rangka menciptakan kebahagiaan hidup manusia, yaitu sebagai berikut :

1. Komunikasi interpersonal membantu perkembangan intelektual dan sosial kita;
2. Identitas dan jati diri kita terbentuk dalam dan lewat komunikasi dengan orang lain;
3. Dalam rangka menguji realitas disekeliling kita serta menguji kebenaran kesan-kesan dan pengertian yang kita miliki tentang di dunia disekitar kita, kita perlu membandingkannya dengan kesan-kesan dan pengertian orang lain tentang realitas yang sama;

4. Kesehatan mental kita sebagian besar juga ditentukan oleh kualitas komunikasi atau hubungan kita dengan orang-orang lain, lebih-lebih orang-orang yang merupakan tokoh-tokoh signifikan (significant figure) dalam hidup kita.   Jadi, secara tidak langsung dengan berkomunikasi individu akan mengenali jati dirinya. Komunikasi juga memberikan berbagai informasi yang dapat membantu individu untuk belajar dan mengembangkan kemampuan intelektualnya. Kondisi mental seseorang juga dipengaruhi oleh kualitas komunikasinya. Oleh karena itu, sebagai makhluk sosial komunikasi interpersonal merupakan hal yang penting bagi individu

Ciri-Ciri Komunikasi Interpersonal (skripsi dan tesis)

Komunikasi interpersonal bersifat dialogis, dalam arti arus balik antara komunikator dengan komunikan terjadi langsung, sehingga pada saat itu juga komunikator dapat mengetahui secara langsung tanggapan dari komunikan, dan secara pasti akan mengetahui apakah komunikasinya positif, negatif dan berhasil atau tidak. Apabila tidak berhasil, maka komunikator dapat memberi kesempatan kepada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya. Menurut Kumar (dalam Wiryanto, 2005: 36) bahwa ciri-ciri komunikasi interpersonal yaitu: a. Keterbukaan (openess), yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang diterima di dalam menghadapi hubungan interpersonal; b. Empati (empathy), yaitu merasakan apa yang dirasakan orang lain. c. Dukungan (supportiveness), yaitu situasi yang terbuka untuk mendukung komunikasi berlangsung efektif. d. Rasa positif (positivenes), seseorang harus memiliki perasaan positif terhadap dirinya, mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi kondusif untuk interaksi yang efektif. e. Kesetaraan atau kesamaan (equality), yaitu pengakuan secara diamdiam bahwa kedua belah pihak menghargai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. 15 Berdasarkan paparan diatas mengenai ciri-ciri komunikasi interpersonal, dapat disimpulkan bahwa dalam komunikasi interpersonal, agar diperoleh komunikasi yang efektif maka dibutuhkannya keterbukaan (opennes), empati (empathy), sikap mendukung (supportivenes), rasa positif (positivenes) dan kesetaraan (equality).

Pengertian Komunikasi Interpersonal (skripsi dan tesis)

Pada hakikatnya komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara komunikator dan komunikan. Komunikasi ini paling efektif mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang. Komunikasi interpersonal bersifat dialogis. Artinya, arus balik terjadi langsung. Komunikator dapat mengetahui tanggapan komunikan saat itu juga. Komunikator mengetahui tanggapan komunikan saat itu juga. Komunikator mengetahui secara pasti apakah komunikasinya positif, negatif, berhasil atau tidak. Jika tidak berhasil maka komunikator dapat memberi kesempatan komunikan untuk bertanya seluasluasnya. Menurut Cangara (2010) komunikasi Interpersonal merupakan proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka. Sedangkan definisi umum komunikasi interpesonal menurut Enjang (2009: 68) adalah komunikasi antar orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap peserta menangkap reaksi yang lain secara langsung, baik verbal maupun nonverbal. Selain itu, Kellerman dan Peter (2001) dalam bukunya Interpersonal Communication mendefinisikan komunikasi interpersonal sebagai komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang memiliki karakteristik yaitu komunikasi terjadi dari satu orang ke orang lain, komunikasi berlangsung secara tatap muka dan isi dari komunikasi itu merefleksikan karakter pribadi dari tiap individu itu sebaik hubungan dan peran sosial mereka. 14 Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih secara langsung (tatap muka) dan terjadi timbal balik secara langsung pula baik secara verbal maupun non-verbal

Pengertian Komunikasi (skripsi dan tesis)

Komunikasi mencakup pengertian yang luas dari sekedar wawancara. Setiap bentuk tingkah laku mengungkapkan pesan tertentu, sehingga juga merupakan sebentuk komunikasi. Sedangkan Rogers bersama Kuncaid (Cangara, 2010) mendefinisikan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. Secara sempit komunikasi diartikan sebagai pesan yang dikirimkan seseorang kepada satu atau lebih penerima dengan maksud sadar untuk mempengaruhi tingkah laku penerima. Setiap bentuk komunikasi setidaknya dua orang saling mengirimkan lambang-lambang yang memiliki makna tertentu. Lambanglambang tersebut bisa bersifat verbal berupa kata-kata, atau bersifat nonverbal berupa ekspresi atau ungkapan tertentu dan gerakan tubuh Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian ide, gagasan atau pesan-pesan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara lisan maupun tulisan untuk tujuan tertentu

Proses Komunikasi (skripsi dan tesis)

Proses komunikasi dibagi menjadi dua tahapan (Ridwan, 2013) :

 1. Proses komunikasi secara primer adalah sebuah cara penyampaian pikiran atau perasaan seseorang dengan orang lain dan biasanya disampaikan dengan (bahasa, isyarat, warna, gambar)
2. Proses komunikasi secara sekunder adalah sebuah cara penyampaian pikiran atau perasaan dengan dibantu media dan menggunakan alat atau sarana, seperti contohnya (email, telepon, televisi, surat kabar, radio, dan lain-lain). Proses komunikasi sekunder ini semakin menunjukan keefektifan dan efisien seiring dengan berkembang nya teknologi saat ini. Jika dikaitkan dengan penelitian ini, rumah sakit Telogorejo Semarang melakukan proses keduanya

Komunikasi Organisasi (skripsi dan tesis)

Komunikasi dalam suatu organisasi merupakan hal penting dalam menciptakan kesamaan pemahaman atas informasi yang disampaikan satu sama lain. Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan sebagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi formal merupakan komunikasi yang disetujui oleh suatu organisasi atau kelompok itu sendiri yang bersifat terorientasi pada kepentingan organisasi. Yang berisi cara kerja dalam suatu organisasi atau kelompok, produktifitas, dan berbagai macam pekerjaan yang harus dilakukan dalam suatu organisasi. Misal : memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Sedangkan komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Yang orientasinya bukan hanya pada organisasi saja akan tetapi lebih pada anggotanya secara individual. Komunikasi yang efektif yang terjalin dapat ditunjukan dengan peningkatan kinerja karyawan karena telah berhasil menunjukan kerjasama yang baik (Garnet et al, 2008). Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan perusahaan harus membuat strategi yang baik agar hasil yang diinginkan dapat tercapai. Kualitas manajemen sebuah perusahaan dinilai dari proses karyawannya berkomunikasi (Razi dan More, 2008).

Pemikiran Fenomenologi Alfred Schutz (skripsi dan tesis)

Schutz memusatkan perhatian pada cara orang memahami kesadaran orang lain, akan tetapi ia hidup dalam aliran kesadaaran diri sendiri. Persefektif yang digunakan oleh Schutz untuk memahami kesadaran itu dengan konsep intersubyektif. Yang dimaksud dengan dunia intersubyektif ini adalah kehidupan dunia (life-word) atau dunia kehidupan sehari-hari (Ritzer & Douglas 2007: 94). Menurut Schutz, manusia mengkonstruksi makna diluar arus utaman pengalaman melalui proses “tipikasi”. Hubungan antarmakna pun diorganisasikan melalui proses ini, atau biasa disebut stock of knowledge. Jadi kumpulan pengetahuan memiliki kegunaan praktis dari dunia itu sendiri, bukan sekedar pengetahuan tentang dunia. Inti dari pemikiran Schutz (Kuswarno, 2013: 18) adalah bagaimana memahami tindakan sosial melalui penafsiran. Proses penafsiran dapat digunakan untuk memperjelas atau memeriksa makna yang sesungguhnya, sehingga dapat memberikan konsep kepekaan yang implicit. Schutz meletakan hakikat manusia dalam pengalaman subjektif, terutama ketika mengamil tindakan dan mengambil sikap terhadap dunia kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, Schutz mengikuti pemikiran Husserl, yaitu proses pemahaman aktual kegiatan kita, dan pemberian makna terhadapnya, sehingga terefleksi dalam tingkah laku. Schutz (Kuswarno, 2013: 19) mengawali pemikirannya dengan mengatakan bahwa objek penelitian ilmu sosial pada dasarnya berhubungan dengan dengan interpretasi terhadap realitas. Orang-orang saling terikat ketika membuat interpretasi ini. Peneliti berusaha untuk menyamakan persepsi dengan informan. Persamaan persepsi dapat terbentuk apabila adanya komunikasi yang terus menerus sehingga peneliti dapat menemukan makna dari informan sebagai objek penelitian. Peneliti harus menggunakan metode interpretasi yang sama dengan orang yang diamati, sehingga peneliti bisa masuk kedalam dunia interpretasi dunia orang yang dijadikan objek penelitian. Menurut Schutz, tindakan manusia adalah bagian dari posisinya dalam masyarakat (Kuswarno, 2013: 38). Ada dua aspek yang dibahas dalam teori fenomenologi, berdasarkan pemikiran Schutz (Kuswarno, 2013: 109-111).yaitu : 1) Aspek intersubyektif, yakni makna subjektif yang terbentuk dalam dunia sosial oleh aktor berupa sebuah “kesamaan dan kebersamaan”. Pembentukan makna dapat dihasilkan dari proses berbagi makna antarindividu. . 2) Aspek historis, yaitu tindakan yang beriorentasi pada waktu. Ada dua hal yang dilihat dari aspek historis, yaitu motif tujuan (in order motive) dan motif alasan (because motive). Motif tujuan merupakan motif yang dimiliki oleh informan untuk mencapai tujuan tertentu ketika mereka menafsirkan dan melakukan sebuah tindakan. Motif alasan merupakan pijakan atau pemahaman yang melatarbelakangi informan sehingga membentuk pemahaman tersendiri dalam penafsiran tindakan tersebut.

Pengertian Fenomenologi (skripsi dan tesis)

Morissan menjelaskan dalam bukunya Teori Komunikasi (2013: 31) Tradisi Fenomenologi memfokuskan perhatian terhadap pengalaman sadar seseorang individu.Teori komunikasi yang masuk dalam tradisi fenomenologi berpandangan bahwa manusia secara aktif menginterpretasikan pengalaman mereka sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan. Tradisi fenomenologi memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi dan interprestasi dari pengalaman subjektif manusia. Pendukung teori ini berpandangan bahwa cerita atau pengalaman individu adalah lebih penting dan memiliki otoritas lebih besar dari pada hipotesis penelitian sekalipun. Pernahkah anda berbaring di suatu tempat terbuka pada malam hari yang gelap, sambil memandang kelangit yang ditaburi bintang-bintang nan jauh disana? (hal ini mungkin pernah kita lakukan pada masa kecil dulu). Sebagian orang yang melakukan ini mungkin pernah membayangkan dan merenung betapa luasnya alam semesta dan bertanya mungkinkah ada makhluk lain yang hidup diluar sana. Ketika melihat kerlap-kerlip bintang, kita pun berpikir mengenai cahaya bintang, kecepatan cahaya, jarak anatara bintang dengan kita, waktu yang dibutuhkan cahaya hingga sampai kemata kita, dan seterusnya. Orang pun mencoba memperluas pengetahuan tentang langit dengan menggunakan teleskop. Proses untuk mengetahui melalui pengalaman langsung ini merupakan wilayah pembahasan fenomenologi, tradisi kedua dalam disiplin ilmu komunikasi (Morissan, 2013: 31). Istilah phenomenon mengacu pada kemunculan sebuah benda, kejadian, atau kondisi yang dilihat. Fenomenologi merupakan cara yang digunakan manusia untuk memahami dunia melalui pengalaman langsung. Peneliti hendak mengetahui sesuatu dengan sadar menganalisis serta menguji persepsi dan perasaan peneliti tentangnya (Kuswarno, 2013: 1). Kuswarno pun menyatakan bahwa tujuan fenomenologi adalah mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran, dan dalam tindakan, seperti bagaimana fenomenologi tersebut bernilai atau diterima secara estetis. Fenomenologi mencoba mencari sebuah pemahaman manusia dalam mengkonstruksi kerangka intersubjektif, karena pemahaman kita mengenai dunia dibentuk oleh hubungan kita dengan orang lain, hal ini jelas bahwa fenomenologi mengkonstruksikan sebuah pengalaman berdasarkan pengetahuan yang dilakukan manusia dengan adanya sebuah hubungan dengan orang lain (Kuswarno, 2013: 2).

Pengertian dan Pemikiran Fenomenologi (skripsi dan tesis)

Memahami metodelogi fenomenologi, akan lebih jelas dengan mengikuti pemikiran dari Schutz. Dialah yang pertama kali membuat penelitian sosial berbeda dari pendahulunya, yang berorientasi positivistik. Walaupun plopor fenomenologi adalah Husserl, Schutz adalah orang pertama yang menerapkan fenomenologi dalam penelitian ilmu sosial. Itulah sebabnya dalam pemabahasan metodelogi fenomenologi, Schutz mendapat prioritas yang utama. Selain itu, melalui Schutz-lah pemikiran-pemikiran Husserl yang dirasakan abstrak pada masa itu dapat dimengerti

Keunggulan Jejaring Sosial Facebook (skripsi dan tesis)

Sumadirian menjelaskan bahwa facebook menawarkan banyak kelebihan dibandingkan dengan pendahuluannya e-mail. Pada facebook, kita saling berkomunikasi dengan menampakkan wajah kita, foto-foto zaman dulu atau foto-foto dan video terkini kita. Dengan facebook, tiap orang mendadak menjadi narsis, senang bergaya, tampil menjadi peragawanperagawati genit centil, atau muncul jadi aktor dan aktris seksi (Sumadiria, 2014: 238). Facebook adalah situs web jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid Ardsley High School (Madcoms, 2009: 4). Seperti yang sudah diutarakan diatas bahwa jumlah layanan jejaring sosial yang beredar di internet sangat banyak sekali, mulai dari friendster, myspace, Hi5, twitter, Linkedin, Bebo, Fupei, Digli dan masih banyak lagi, nah tentu banyak alasan kenapa memilih facebook, hingga menjadikan layanan ini menjadi sangat booming sampai saat ini. Dilihat dari segi tampilannya facebook lebih simple, banyak pengguna jejaring sosial yang mengatakan bahwa tampilan facebook lebih bersih, rapih dan sederhana itulah kesimpulan saat kita menggunakan facebook. Dalam mengelola user facebook lebih serius, jika kita bermain-main di facebook akan sangat jarang kita dapati user ganda atau user yang hanya iseng menggunakan akun. Hal ini sudah diantisipasi oleh facebook, oleh karena itu tidak akan kitajumpai nama user dengan menggunakan karakter-karakter aneh. Facebook sangat serius dan professional dalam mengelola akun dan masih banyak lagi keunggulan yang di suguhkan facebook seperti dapat menulis dengan space dan karakter perhuruf yang cukup leluasa yaitu dengan 420 sampai 63.206 karakter (Madcoms, 2009: 6).

Pengertian Jejaring Sosial Facebook (skripsi dan tesis)

Dalam bentuk yang sederhana, suatu jaringan sosial adalah peta semua ikatan yang relevan antar simpul yang dikaji. Jaringan peta semua ikatan yang relevan antar simpul yang dikaji. Jaringan tersebut dapat pula digunakan untuk menentukan modal sosial aktor individu. Konsep ini sering digambarkan dalam diagram jaringan sosial yang mewujudkan simpul sebagai titik dan ikatan sebagai garis penghubungnya (Madcoms, 2009: 2). Jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi. Jejaring sosial terbesar antara lain facebook, myspace, twitter dan instagram. Facebook adalah suatu jenis jejaring sosial yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk menjalin hubungan pertemanan dengan seluruh orang yang ada di belahan dunia untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Facebook merupakan situs pertemanan yang dapat digunakan oleh manusia untuk bertukar informasi, berbagi foto, video, dan lainnya (Madcoms, 2010: 1)

Awal Mula Media Sosial (skripsi dan tesis)

Dibalik lahirnya media sosial dewasa ini, pertumbuhannya tidak terlepas dari dampak kemajuan teknologi internet yang pesat. Meskipun internet banyak disalah gunakan oleh penggunanya, namun internet menjadi sebuah “nama” penting dibalik perkembangan World Wide Web (WWW) hingga sekarang. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas (Madcoms, 2009: 1).

a. Sejarah Singkat Internet
Pertama kali internet merupakan jaringan komputer yang dibentuk tahun 1970-an yang disebut Arpanet (Advanced Research Project Agency Network) yaitu komputer yang dibentuk oleh departemen pertahanan Amerika Serikat. Yang untuk selanjutnya jaringan ini diperbaharui dan dikembangkan dan menjadi tulang punggung terbentuknya internet sekarang (Noegroho, 2010: 48). Membayangkan internet sebagai jaringan komputer adalah tidak dapat dibenarkan. Jaringan komputer hanyalah medium yang membawa informasi. Daya guna internet terletak pada informasi itu sendiri bukan pada jaringan komputer, sehingga dapat dikatakan bahwa internet merupakan sumber daya yang berorientasi kemanusia. Internet memberikan kesempatan pada pemakai seluruh dunia untuk mempergunakan sumber daya informasi tersebut secara bersama-sama. Dapat mengirim dan menerima elektronik mail (e-mail) atau membentuk hubungan jaringan komputer lain, untuk hal ini diperlukan jaringan terkomunikasi dan komputer yang memadai serta perangkat lunak sebagai browser (penjelajah) (Noegroho, 2010: 48-49). Internet merupakan sebuah jaringan antar-komputer yang saling berkaitan. Jaringan ini tersedia secara terus-menerus sebagai pesan-pesan elektronik, termasuk email, transmisi file, dan komunikasi dua arah antar-individu atau komputer. Hal yang membuat internet mampu menarik perhatian dunia adalah dengan adanya penemuan mosaic tahun 1993, yakni sebuah browser untuk World Wide Web (WWW) yang menyebabkan internet bisa diakses (Saverin & Tankard, 2008: 6). Bulletin Board Service dalam (Noegroho, 2010) menjelaskan bahwa fasilitas internet yang memungkinkan pemakai melakukan kegiatan seperti: memilih satu grup diskusi atau lebih yang dianggap menarik, secara berkala mengecek item berita yang baru muncul, mengeposkan suatu nota ke grup diskusi untuk dibaca pengakses lainnya. Layanan internet yang juga menarik adalah transfer file secara elektronis, yaitu File Transfer Protocol (FTP) digunakan untuk mentransfer satu salinan file dari sebuah komputer ke komputer lain melalui internet. Internet telah ditempatkan pada pisau bermata dua, dari titik kerawanan dan keamanannya (Noegroho, 2010: 48-50). Media sosial mempunyai banyak bentuk, diantaranya yang paling popular yaitu, blog, twitter dan facebok. Facebook merupakan salah satu jejaring sosial yang paling mudah digunakan. Karena hanya memerlukan waktu yang singkat tetapi informasi yang disampaikan dapat langsung menyebar secara luas (Zarella, 2010: 31).

Pengertian Media Sosial (skripsi dan tesis)

Dewasa ini teknologi HP sudah demikian maju fiture layanannya, dahulu hanya digunakan untuk menerima dan menelpon serta mengirim dan menerima Short Message System (SMS), namun sekarang sudah dipadukan dengan teknologi audio dan video, sehingga bisa mengirim gambar dan suara (Noegroho, 2010: 2). McLuhan menjeaskan bahwa seluruh teknologi komunikasi sudah menjangkau pancaindra manusia seperti sentuhan, penciuman, rasa, pendengaran dan pengelihatan. Bahkan teknologi komunikasi dapat membawa seseorang individu melintasi batas ruang dan waktu serta mendapatkan informasi yang tidak didapat sebelumnya. Manusia telah menjadikan teknologi media sebagai jendela dunia atau “a window to the world” dan dapat mengetahui kejadian-kejadian yang jauh jaraknya tanpa kita hadir langsung di lokasi kejadian (Noegroho, 2010: 4). Teknologi komunikasi sekarang telah berhasil mengintegrasikan teknologi telekomunikasi, teknologi informasi dan teknologi multimedia atau teknologi telematika. Ketika teknologi tersebut berjalan sendiri-sendiri tentunya dampak yang dihasilkan belum sebesar apabila bersatu seperti sekarang. Bervariatif pelayanan baru untuk mendapatkan informasi karena didukung teknologi telekomunikasi menjadi keniscayaan. Pelayanan baru tersebut pada hakekatnya adalah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan informasi yang disajikan dalam berbagai bentuk. Karena manusia meng-encode dan men-decode informasi menggunakan panca indranya (mata, hidung, telinga, mulut, dan kulit), maka pelayanan inipun berupaya menyajikan informasi dalam bentuk gambar, grafik, teks, suara (Noegroho, 2010: 4). Pada dasarnya media sosial merupakan perkembangan mutakhir dari teknologiteknologi web baru berbasis internet, yang memudahkan semua orang untuk dapat berkomunikasi, berpartisifasi, saling berbagi dan membentuk sebuah jaringan secara online, sehingga ada keringanan untuk menyebar luaskan konten merek sendiri. Post di blog, tweet, atau video youtube dapat direproduksi dan dapat dilihat secara langsung oleh jutaan orang secara gratis (Zarella, 2010: 2-3). Pengertian media sosial atau dalam bahasa inggris “social media” menurut tata bahasa, terdiri dari kata “social” yang memiliki arti kemasyarakatan atau sebuah interaksi dan “media” adalah sebuah wadah atau tempat sosial itu sendiri. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisifasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, wiki, dan jejaring sosial utamanya facebook dan twitter merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat diseluruh dunia (Asm. Romli, 2012: 104). Sedangkan menurut Nasrullah (2015: 20) media sosial merupakan media yang digunakan untuk mempublikaskan konten profil, aktivitas, atau pendapat pengguna sebagai media yang memberikan ruang bagi komunikasi dan interaksi dalam jejaring sosial. Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein (2010: 101), mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran usergenerated”.Sosial media dapat pula dideskripsikan sebagai aplikasi berbasis internet dimana para penggunanya dapat berbagi informasi, opini, pandangan, pengalaman, dan perspektif. Bentuk sosial media sendiri sangat beragam, termasuk aplikasi yang bersifat community content seperti youtube, situs jejaring sosial (instagram, twitter, dan tentu saja facebook), blog seperti tumblr, dan kolaborasi projek seperti Wikipedia. Semua aplikasi tersebut memiliki konten yang diciptakan, diperbaharui, dan dipelihara oleh para pengguna sendiri secara individual dan disediakan untuk pengguna lain yang menggunakan aplikasi tersebut, tanpa perlu membayar dan bersifat sukarela

Internet sebagai New Media (skripsi dan tesis)

Saverin & Tankard menjelaskan dalam buku Teori Komunikasi (2008: 443) media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada peneriman informasi, dan yang dimaksud dengan baru adalah sesuatu yang dapat menciptakan suatu inovasi ataupun perubahan yang dapat melahirkan sesuatu yang sangat diinginkan seseorang. New media atau media baru adalah sebuah terminologi untuk menjelaskan konvergensi antara teknologi komunikasi digital yang terkomputerisasi serta terhubung ke dalam jaringan. Termasuk dalam new media atau media baru adalah internet, selain internet tidak termasuk ke dalam new media, seperti media cetak, televisi, majalah, Koran, dan lainlain. New media juga bisa diartikan sebagai produk teknologi komunikasi di media massa yang akan datang bersama-sama dengan komputer digital. Media baru dideskripsikan sebagai media yang dapat menayangkan konten atau informasi secara interaktif, audien dimampukan untuk menanggapi setiap informasi dengan mudah, pembaca bisa bertindak secara aktif untuk menyampaikan informasi, dan pembaca dapat berkomunikasi dan bekerja sama pembaca atau anggota lainnya. Istilah “media baru” ini sering muncul untuk aplikasi web 2.0, aplikasi yang identik dengan konten digital yang dapat didistribusikan secara massif dan interaktif melalui internet. Konten internet berupa gabungan berbagai jenis media seperti teks, gambar, suara, dan video ditambah dengan kemampuan interaktifnya mengalahkan segenap media yang pernah ada. Internet adalah jaringan komuputer dunia yang mengembangkan Arpanet (Advanced Research Project Agency Network), suatu sistem komunikasi yang terkait dengan pertahanan keamanan yang dikembangkan pada tahun 1960-an. Manfaat sistem komunikasi yang berjaringan ini dengan cepat ditangkap oleh para peneliti dan pendidik secara umum. Akhirakhir ini, melalui komputer dirumah, modem, dan warnet, serta melalui layanan-layanan seperti Web-TV, Internet hadir untuk publik. Pada keadaan seperti ini pun masih ada beberapa orang yang tak setuju bahwa internet merupakan sebuah media massa baru. Internet berkembang secara fenomenal, baik dari segi jumlah host computer (komputer induk) maupun dari segi jumlah penggunanya, selama beberapa tahun terakhir (Saverin & Tankard, 2008: 443). Levy menggambarkan (Severin & Tankard, 2008: 6) internet sebagai “saluran komunikasi yang tidak terbatas, pembangunan komunikasi, iklan elektronik dan interaksi yang sangat kompleks yang mengaburkan batas antara penyedia dan konsumen”. Dapat disimpulkan bahwa Levy menggambarkan komunikasi melalui saluran internet tidak memiliki batasan, sehingga pengguna layanan internet perlu berhati-hati terhadap informasi yang mereka terima. Seperti yang dijelaskan oleh Saverin & Tankard (2008: 8-9) banyak pengguna layanan internet yang juga menyadari bahwa mereka juga perlu berhati-hati terhadap informasi yang mereka terima. Para pengguna internet dan layanan jasa iklan seharusnya meninjau kembali ketepatan informasi dari layanan ini. Berita yang diterima oleh masing-masing pengguna kadang memuat informasi yang bisa dipercaya, tetapi bisa juga hanya memuat rumor, spekulasi, pernyataan yang sengaja diselewengkan, dan penipuan. Situasi ini sebenarnya dapat memacu para jurnalis serta professional lain (yaitu orang-orang yang memiliki keahlian untuk menilai sebuah informasi) untuk menguji kebenaran berita, dan yang terpenting adalah memberikan pengarahan tentang mana yang penting dan mana yang tidak. Tulisan Mashall McLuhan adalah sumber gagasan yang kaya untuk melakukan riset tentang media baru. Gagasan inti McLuhan bahwa the medium is the message dapat diaplikasikan pada internet atau pada bentuk-bentuk khusus world wide web, seperti situs-situs berita online. Gagasan Mcluhan bahwa media baru sering memanfaatkan media lama sebagai isi juga dapat diterapkan pada internet. Beberapa penelitian telah mendokumentasikan kecenderungan koran-koran online untuk mengemas kembali materi-materi dari koran-koran cetak. Tentunya, gagasan Mcluhan tentang “desa global” tampaknya semakin dekat pada realita dengan internet. Berbagai pertanyaan menarik tentang seperti apa bentuk desa global ini dapat disinggung oleh para peneliti. Gagasan McLuhan tentang kematian atau penurunan cetakan juga merupakan gagasan provokatif. Dengan munculnya hypertext, kita tidak lagi terbatas pada model teks linier yang dikatakan oleh Mcluhan sebagai fitur dasar buku-buku dan bentuk cetakan yang lebih kuno lainnya (Saverin & Tankard, 2008: 458).

Perubahan Komunikasi Massa di Era Internet (skripsi dan tesis)

Berubahan terbesar dibidang komunikasi 40 tahun terakhir (sejak munculnya TV) adalah penemuan dan pertumbuhan internet. Salah satu perubahan teknologi baru itu menyebabkan dipertanyakannya kembali definisi komunikasi itu sendiri. Definisi komunikasi massa yang sebelumnya sudah cukup jelas komunikasi massa bisa didefinisikan dalam tiga ciri menurut Wright (Severin & Tankard, 2008: 4):

 1. Komunikasi massa diarahkan kepada audience yang relatif besar, heterogen, dan anonim.
 2. Pesan-pesan yang disebarkan secara umum, sering dijadwalkan untuk bisa mencapai sebanyak mungkin anggota audiens secara serempak dan sifatnya sementara.
3. Komunikator cenderung berada atau beroperasi dalam sebuah organisasi yang komplek yang mungkin membutuhkan biaya yang besar.
Tetapi internet, newsgroups, mailing list, perbincangan di radio yang mengundang telepon dari pendengarnya, World Wide Web, televisi kabel multisaluran, dan buku-buku yang melampirkan disket-disket komputer, yang tidak dapat dikategorikan dengan mudah apakah mereka termasuk dalam komunikasi massa atau bukan. Internet berbeda dengan media-media yang lebih tradisional ini. Dari pada mengubah hubungan antara khalayak dan industri, internet mengubah definisi komponen-komponen yang berbeda dalam proses komunikasi, dan sebagai hasilnya, mengubah hubungan antara komponen yang satu dan yang lain. Pada internet, individu tunggal dapat berkomunikasi dengan kahlayak luas, seperti halnya sebuah perusahaan raksaksa dan multinasional yang memproduksi sebuah program jaringan televisi. Perusahaan atau korporasi ini cocok dengan definisi terdahulu sumber komunikasi massa-namun tidak demikian dengan pengguna internet. Umpan balik dalam komunikasi massa secara tradisional dideskripsikan sebagai umpan balik yang dapat tersimpulkan dan tertunda. Akan tetapi, umpan balik online dapat saja, dan sangat mungkin, bersifat segera dan langsung. Ini lebih mirip dengan umpan balik dalam komunikasi antarpribadi dari pada umpan balik komunikasi massa. Definisi ulang elemen-elemen komunikasi yang dipengaruhi oleh internet ini memfokuskan kembali perhatian pada isu-isu seperti kebebasan berekspresi, privasi, tanggung jawab, dan demokratis (Baran, 2012: 402)

Karakteristik Komunikasi Massa (skripsi dan tesis)

Menurut Sumadiria (2014: 20) dengan merujuk kepada pendapat para pakar
komunikasi, karakteristik atau ciri-ciri spesifik komunikasi massa, yaitu; (1) Komunikator komunikasi massa melembaga; (2) Komunikasi massa berlangsung satu arah; (3) Pesan komunikasi massa bersifat umum dan diterima serempak, (4) Ditunjuk kepada khalayak yang lebih luas, tersebar, anonim, dan heterogen; dan (5) Selintas.
1) Komunikator Melembaga
Komunikasi massa bersifat institusional. Ini berarti komunikator komunikasi massa bersifat melembaga. Ia merupakan kumpulan individu dari berbagai keahlian dalam ranah sejenis yang tergabung dalam sebuah lembaga yang terorganisasi dengan rapi, baik, dan professional. Karena institusional, maka gaya komunikator suatu media komunikasi massa tidaklah berbeda satu sama lain. Semuanya sama. Semuanya seragam. Sebagai contoh, gaya seluruh presenter berita Metro TV Jakarta ketika membacakan berita, tidak ada yang
berbeda satu sama lain. Mereka menapilkan gaya serupa. Mereka tampil dalam gaya yang  sama karena harus tunduk kepada kebijakan redaksional stasiun televisi tersebut. Itulah konsekuensi dari komunikator yang bersifat institusional atau melembaga (Sumadiria, 2014: 21).
2) Komunikasi Satu Arah
Pesan komunikasi massa bersifat satu arah, maksudnya tidak terjadi umpan balik langsung. Tidak terdapat proses dialogis. Kita sebagai pemirsa televisi misalnya, tetap saja hanya sebagai penerima.Posisi kita pasif. Ketika dilayar kaca disajikan tayangan infotainment dengan banyak kisah perselingkuhan, perceraian, dan hujan caci-maki dari pihak-pihak yang sedang bertikai dikalangan selebritis kelas karbitan, kita tidak bisa melayangkan protes seketika kepada pembawa acara untuk mengalihkan pembicaraan ke
topik lain yang bersifat mendidik. Seperti kaset yang sedang diputar, mereka terus saja bicara (Sumadiria, 2014: 22).
3) Khalayak Tersebar Anonim Heterogen
Khalayak komunikasi massa tersebut dimana-mana; dikota dan dikampung, digunung dan dilembah, disungai dan dipantai. Karena tersebar dimana-mana, maka khalayak komunikasi massa tidak dikenal dan tidak kenal satu sama lain. Mereka diikat oleh media secara psikologis tetapi mereka tidak diikat dan tidak terikat oleh antar mereka sendiri. Dengan kata lain mereka hanya terhubung dengan media massa tetapi antar mereka tidak terhubungkan satu sama lain. Dalam ilustrasi sederhana, kita dirumah kita masing-masing
menyaksikan siaran televisi. Tetapi antar penghuni rumah tidak mengenal satu sama lain, meskipun secara fisik geografis hanya dipisahkan oleh batas administratif rukun warga (RW) atau kelurahan. Jadi, khalayak komunikasi massa selain tersebar juga anonim. Kita tidak tahu siapa tetangga kita di RW sebelah. Begitu juga sebaliknya. Satu sama lain tidak saling mengenal
tentu saja, dalam anonimitas tersebut terdapat heterogenitas. Artinya dalam kelompok-kelompok masyarakat yang tidak saling mengenal satu sama lain tetapi terhubungkan oleh tayangan acara-acara televisi, ditemukan banyak unsur kemajemukan, dari soal jenis kelamin sampai dengan kepersoalan tingkat kependidikan, ras, warna kulit, dan bahkan keterikatan sosial budaya serta keyakinan beragama (Sumadiria, 2014: 23).
4) Selintas
Selintas berarti sesaat, sambil lalu, sambil lewat, sekilas, sepintas, hanya sekelebatan. Sebagai contoh, siaran berita radio, bersifat selintas. Dalam bahasa popular hanya numpang lewat. Begitu saat itu singgah ditelinga, bahkan belum dapat dicerna dengan baik maknanya, pesan berita radio sudah hilang lenyap tak berbekas. Selintas mengandung arti juga tak bisa diulang atau diulang-ulang. Walau sudah lewat dari pendengaran kita, maka berita radio tidak akan pernah bisa dibacakan ulang. Sifat radio siaran yang selintas itu, sangat bertolak belakang dengan sifat surat kabar atau majalah. Surat kabar dan majalah, sifatnya tercetak diatas kertas. Karena tercetak, maka berita surat kabar dan majalah terdokumentasikan. Karena terdokumentasikan, maka kita bisa membaca berita dan tulisan surat kabaratau majalah kapan saja dan dimana saja. Jika banyak yang kurang dipahami maknanya, kita juga bisa membacanya berulang-ulang.
Lebih dari itu, kita bisa bertanya kepada yang lebih tahudan lebih ahli dengan cara menunjukan bagian-bagian kalimat yang tidak bisa dipahami maknanya tersebut sifat berita radio siaran dan televisi siaran selintas, dan sifat berita surat kabar dan majalah yang tercetak terdokumentasikan, pada akhirnya melahirkan filosofi jurnalistik yang berbeda bagi industri media. Filosofi media cetak misalnya, yakni surat kabar dan majalah: apapun yang ditulis dan dilaporkan haruslah memenuhi klasifikasi kelengkapan informasi,
keakuratan data, ketajaman analisis, dan dampak informasi, edukasi, serta daya referensi tinggi yang ditimbulkannya. Dalam bahasa sederhana, laporan media cetak harus unggul  dalam kedalaman dan ketajaman analisis. Sedangkan laporan radio dan televisi siaran harus unggul dalam kecepatan dan kesaksian dari lokasi prestiwa (Sumadiria, 2014: 24).
5) Pesan Umum Diterima Serempak
Ketika kita sedang menonton acara televisi “Metro The Morning” di Metro TV, tanpa kita sadari pesan tersebut juga dinikmati secara bersamaan oleh ribuan, bahkan jutaan orang di seluruh Indonesia. Acara ini sangat mustahil disiarkan hari ini di Jakarta dan di putar keesokan paginya di Kalimantan.Acara itu di siarkan secara serempak dan saat itu juga. Bahkan kalau kita menikmati acara Liga Champion atau Piala Dunia, acara tesebut dinikmati oleh hampir seluruh masyarakat dunia.
Inilah salah satu ciri komunikasi massa selanjutnya. Bahwa dalam komunikasi massa ada keserempakan dalam proses penyebaran pesan-pesannya.  serempak berarti khalayak bisa menikmati media massa tersebut hampir bersamaan. Bersamaan tentu juga bersifat relatif. Majalah atau media sebagai contohnya, surat kabar bisa dibaca ditempat terbit pukul 5 pagi, tetapi di luar kota baru pukul 6 pagi, ini masalah teknis semata. Namun, harapan komunikator dalam komunikasi massa, pesan tetap ingin dinikmati secara bersamaan oleh para pembacanya. Tidak terkecuali bahwa pesan tersebut (lewat surat kabar) disebar (didistribusikan) oleh media cetak secara bersamaan pula (Baran, 2008: 28-29).

Pengertian Komunikasi Massa (skripsi dan tesis)

Apapun bentuknya komunikasi massa akan terus menerus berperan penting dalam kehidupan kita. Komunikasi massa menjadi mata dan telinga bagi masyarakat. Komunikasi massa memberi masyarakat sarana untuk mengambil keputusan dan membentuk opini kolektif yang bisa digunakan untuk bisa lebih memahami diri mereka sendiri. Ia merupakan sumber
utama untuk mengembangkan nilai-nilai dalam masyarakat (Severin & Tankard, 2008: 4). Lantas, apa yang dimaksud dengan media massa? Apa pula hubungannya dengan komunikasi massa? Keduanya tidak bisa disamakan, Media massa menunjuk kepada bentuk saluran penyampai pesan (media channel). Sedangkan komunikasi massa menunjuk kepada proses kegiatannya (media activity). Sebagai contoh, surat kabar, tabloid, majalah, radio,
televisi, film, media online internet, itulah yang dimaksud dengan media massa, atau lengkapnya media komunikasi massa. Ia terlihat kasat mata menurut bentuk, ukuran, dan volumenya. Sedangkan bagaimana pesan-pesan melalui surat kabar, radio, atau televisi dipersiapkan, diolah, dan dipublikasikan kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya, maka itulah yang di maksud dengan proses komunikasi massa (Sumadiria, 2006: 1).
Banyak definisi tentang komunikasi massa yang telah dikemukakan. Namun, dari sekian banyak definisi itu ada benang merah kesamaan definisi satu sama lain. Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media (media cetak dan elektronik) sebab awal perkembangannya saja, komunikasi massa berasal dari pengembangan kata media of mass communication (media komunikasi massa). Media massa (saluran) yang dihasilkan oleh teknologi modern. Hal ini perlu ditekankan sebab ada media yang bukan media massa yakni  media tradisional seperti kentongan, angklung, gamelan, dan lain-lain. Jadi, disini jelas media massa menunjuk pada hasil produk teknologi modern sebagai saluran dalam komunikasi massa (Nurudin, 2013: 4).
Dari definisi komunikasi massa diatas maka internet masuk kedalam media massa dan jika ditinjau dari ciri-ciri, fungsi, dan elemennya, internet jelas masuk dalam bentuk komunikasi massa dengan demikian bentuk komunikasi massa bisa ditambah dengan internet. Bisa jadi pula beberapa definisi yang tidak menyebutkan internet dalam definisi komunikasinya karena definisi itu dibuat beberapa puluh tahun yang lalu ketika internet belum mewabah
seperti sekarang ini maka, sah-sah saja jika kita memasukan internet dalam bentuk komunikasi massa. Jadi, media massa itu antara lain: televisi, radio, internet, majalah, koran, tabloid, buku dan film (film bioskop, dan bukan negatif film yang dihasilkan kamera)

Arah Komunikasi (skripsi dan tesis)

Komunikasi dapat berjalan mengalir secara vertikal atau lateral,
lateral di artika sejajar antara mereka yang berada tingkat satu wewenang. Lebih jauh, dimensi vertikal dapat dibagi aliran komunikasi ke bawah dan ke atas.
1. Komunikasi kebawah
Komunikasi yang mengalir dari satu tigkatan dalam kelompo atau organisasi
ke tingkatan yang lebih rendah disebut komunikasi ke bawah. Ketika berpikir
mengenai para manajer yang berkomunikasi dengan karyawan-karyawannya, kita
biasanya memikirkan pola ke bawah ini. Komunikasi inilah yang digunakan oleh
para pemimpin kelompok dan manajer untuk menetapkan tujuan, menyampaikan
instruksi, menginformasikan kebijakan serta prosedur

Proses komunikasi Organisasi (skripsi dan tesis).

Sebelum komunikasi dapat terjadi, dibutuhan suatu tujuan, yang
terekpresikan sebagai pesan untuk disampaikan. Pesan tersebut disampaikan dari seorang pengirim kepada seorang penerima. Ia disandikan (diubah menjadi suatu bentuk simbolis) dan dialihkan melalui perantara (saluran) kepada penerima, yang  lalu menerjemahkan ulang (membaca sandi) pesan yang diberikan oleh pengirim hasilnya adalah transfer makna dari satu orang kepada orang lain.
Proses komunikasi (Robin, hal 6, 2008) meliputi : (1) pengirim, (2)
penyandian, (3) pesan, (4) saluran, (5) penerjemahan sandi, (6) penerima, (7)
gangguan, (8) umpan balik. Pengirim mengirimkan sebuah pesan dengan cara
menyadikan pemikirannya. Pesan tersebut adalah produk fisik aktual dari
penyadian oleh pengirim.
Saluran formal (Formal channels) disediakan oleh organisasi dan
berfungsi sebagai penyampai pesan-pesan yang berhubungan dengan aktivitas profesional dari para anggotanya. Secara tradisional, saluran ini mengikuti rantai otoritas dalam organisasi. Saluran informal tersebut bersifat spontan dan timbul sebagai tanggapan terhadap tanggapan-tanggapan individual.
Penerima adalah objek yang menjadi sasaran dari pesan itu. Tetapi,
sebelum pesan tersebut dapat diterima, simbol – simbol di dalamya harus
diterjemahkan menjadi bentuk yang dapat dipahami oleh penerima. Langkah ini disebut penerjemah sandi dalam pesan, Gangguan mewakili berbagai hambatan komunikasi yang mengacaukan kejelasan pesan. Contoh-contoh sumber gangguan meliputi masalah persepsi, muatan informasi yang berlebihan, kesulitan-kesulitan semantik, atau perbedaan kultural. Mata rantai terkhir dalam lingkaran umpan balik, Umpan balik adalah sarana pengecekan mengenai seberapa berhasil kita telah menyampaikan pesan.
Dalam teori fungsional komunikasi kelompok (Morissan, hal 141, 2009)
memandang proses sebagai instrumen yang digunakan kelompok untuk
mengambil keputusan dengan menekankan hubugan antara kualitas komunikasi dan kualitas keluaran (output) kelompok. Menurut teori ini, komunikasi berfungsi dalam sejumlah hal yang akan menentukan atau memutuskan hasil- hasil yang dicapai kelompok.
Komunikasi adalah alat untuk menyampaikan informasi, cara yang
digunakan amggota kelompok untuk menjeljahi dan mengenai kesalahan dan
komunikasi juga berfungsi sebagai alat persuasi. Pendekatan yang digunakan teori fungsional sangat dipengaruhi oleh sifat pragmatis ajaran diskusi kelompok kecil.
Pendekatan ini meletakkan sebagian besar dasar pemikirannya pada karya ahli
filsafat john Dewey .
Menurut Dewey (dalam Morissan, hal 141, 2009) Proses pemecahan
dalam kelompok terdiri dari atas enam langkah yaitu (1) Pernyataan kesulitan; (2) Penentuan masalah;(3)Analisis masalah; (4)Saran penyelesaian;
(5)Membandingkan alternatif dan pengujian alternatif terhadap seperangkat
tujuan atau kriteria (6)Melaksanakan solusi terbaik. Teori-teori fungsional
membahas cara- cara komunikasi mempengaruhi masing-masing dari keenam
elemen tersebut. Berikut empat fungsi komunikasi untuk menghasilkan keputusan yang efektif terutama dalam pelaksanaan program paket B yang terdiri atas :
1. Analisis masalah
Biasanya dimulai dengan proses pengambilan keputusan dengan
mengindentifikasikan dan menilai suatu masalah dan pada tahap ini mereka harus menjawab berbagai pertanyaaan, seperti apa yang terjadi, mengapa terjadi, siapa yang terlibat?apa bahayanya?siapa yang dirugikan?analisis masalah harus  dilakukan, analisi masalah harus dilakukakn ketika kita menjawab “ya” terhadap pertanyaan : apakah telah terjadi sesuatu yang memerlukan perbaikan dan perubahan.
2. Penentuan tujuan
Kelompok harus mengumpulkan dan mengevaluasi informasi terkait dengan
masalah yang tengah dihadapi. Ketika kelompok membahas berbagai
kemungkinan solusi, informasi akan terus diterima dan terkumpul.
3. Indentifikasi alternatif
Pada tahap ini, kelompok membuat berbagai usulan alternatif untuk mengatasi masalah. Hirokawa dan Gouran (dalam Morissan) menekankan pentingnya memiliki sejumlah solusi alternatif ketika kelompok mengambil keputusan mengenai masalah yang tengah dihadapi.
4. Evaluasi konsekuensi
Berbagai solusi alternatif yang tersedia kemudian dievaluasi dengan tujuan
akhirnya adalah untuk mengambil keputusan. Anggota kelompok harus menguji keunggulan dari setiap pilihan yang tersedia untuk menentukan pilihan solusi yang paling memenuhi kriteria yang dinilai penting

Fungsi-Fungsi Komunikasi (skripsi dan tesis)

Komunikasi (dalam Robin) memiliki empat fungsi utama : Kontrol,
Motivasi, Ekspresi emosional, dan Informasi, Komunikasi menjaga motivasi
dengan cara menjelaskan kepada para karyawan yang harus dilakukan, seberapa baik pekerjaan mereka, dan apa yang dapat dilakukan, seberapa baik pekerjaan mereka, dan apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kinerja sekiranya hasilnya kurang baik.
Fungsi terakhir komunikasi berhubungan dengan perannya dalam
memfasilitasi pengambilan keputusan. Komunikasi memberikan fungsi yang
dibutuhkan oleh individu dan kelompok untuk mengambil keputusan dengan cara menyampaikan data untuk mmengindentifikasi dan mengevaluasi pilihan-pilihan alternatif yang ada.
Tidak ada satu dari keempat fungsi komunikasi tersebut yang harus
dipahami sebagai lebih penting dibanding yang lainnya. Agar dapat berjalan
secara efektif, kelompok- kelompok kerja harus melakukan kontrol atas para
anggotanya, merangsang para anggotanya untuk bekerja, menyediakan cara bagi mereka untuk meluapkan ekspresi emosional mereka dan membuat pilihanpilihan keputusan

Pengertian Komunikasi (skripsi dan tesis)

Komunikasi yang efektif (Muhamad, Arni. Hal 1, 2009) adalah penting
bagi semua sorganisasi, oleh karena itu, para pimpinan organisasi dan para
komunikator dalam organisasi perlu memahami dan menyempurnakan
kemampuan komunikasi mereka (Kohler 1981), Seperti yang dikemukakan oleh Forsdale (hal 1, 1987) adalah ahli sosiologi Amerika mengatakan bahwa,
“Communication is the process by which an individual transmits stiuly (usually
verbal) to modify the behavior of oter individuals “ dengan kata-kata lain
komunikasi adalah proses individu mengirim stimulus yang biasanya dalam
bentuk verbal untuk mengubah tingkah laku orang laku orang lain.
Dalam proses komunikasi dapat terjadi adanya gangguan (noise) yang
disebabkan oleh berita yang disampaikan tidak jelas, atau gangguan lain yang
mempengaruhi media komunikasi. Bila hal ini terjadi, keadaan tersebut
menunjukkan bahwa komunikasi tidak efektif. Lebih lanjut Robbin (2003 :78)
Mengatakan suatu komunikasi dikatakan efektif apabila mengandung aspek-aspek
sebagai berikut :
1. Langsung (To the point)
Artinya informasi yang disampaikan secara langsung atau tidak ragu.
2. Assertive
Artinya dalam penyampaian informasi tidak ada perasaan takut untuk
menyampaikan apa yang diinginkan dan menyampaikan pertanyaan
mengapa.
3. Ramah dan bersahabat (Congenial)
Artinya informasi yang disampaikan sebaiknya dibarengi dengan sikap
dan airmuka yang ramah dan ada kesan bersahabat.
4. Kejelasan (Clarity)
Kejelasan mengandung arti bahwa bahasa maupun informasi yang
disampaikan harus jelas atau mudah dimengerti.
5. Ketepatan (Accuracy)
Bahasa yang digunakan harus sesuai dengan apa yang sesungguhnya ingin
disampaikan.
6. Konteks (Context)
Bahasa dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan
lingkungan dimana komunikasi itu terjadi.
7. Alur (Flow)
Komunikasi yang efektif akan tercapai apabila dalam penyampaiannya
informasi tersebut disampaikan dengan alur bahasa secara runtut dan
terjadi dua arah.
8. Budaya (Culture)
Aspek ini tidak saja menyangkut bahasa dan informasi, tetapi juga
menyangkut tata krama dan etika.
Pada definisi ini mereka menganggap komunikasi sebagai suatu proses,
bukan sebagai suatu hal. Selain itu terdapat yang dimaksudkan dengan model
komunikasi adalah gambaran yang sederhana dari proses komunikasi yang
memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi dengan komponen
lainya. Penyajian model dalam bagian ini dimaksudkan untuk mempermudah
memahami proses komunikasi dan melihat komponen dasar yang perlu ada dalam suatu komunikasi.

Stakeholder dalam event (skripsi dan tesis)

Stakeholder dalam event adalah suatu kesatuan dari bermacam-macam
pihak yang terlibat dalam suatu event. Keterlibatan pihak-pihak ini
memiliki tingkatan masing-masing sesuai motif individual, kekuasaan,
sumber, besarnya pengaruh, dan peran. Kesuksesan suatu event bisa
ditentukan oleh besarnya pengaruh dan dukunganyang diberikan dari
stakeholder. Konsep suatu event juga menjadi salah satu factor dalam
membentuk sebuah kelompok stakeholder. Misalnya, event festival seni
akan menarik komunitas seni dan lembaga-lembaga kesenian lainnya.
Panitia dan perencana event juga harus teliti dan tepat dalam menyeleksi
dan mengkoordinir stakeholder yang akan berpartisipasi dalam event.
Kerja sama yang baik dengan stakeholder dapat membawa efek yang luas
bagi event maupun kumpulan stakeholder lainnya, seperti yang dikatakan
oleh Bramwell dan Lane dalam buku Event Management (McCartney,
2010: 261) :
“Each stakeholder controls resources, such as knowledge,
expertise, constituency, and capital, but on their own they
are unlikely to posses all the resources necessary to achieve
their objectives and to plan effectively for their future in
relation to a significant tourism development issue”
Menurut Sulyus Natoradjo dalam buku Event Organizing (2011: 20),
stakeholder event adalah semua pihak, baik perorangan, asosiasi, maupun
organisasi internal atau eksternal, yang memiliki kepentingan dan peran
dalam event. Kelompok dari stakeholder tidak hanya terdiri dari pihak
yang melakukan investasi secara financial terhadap event, tetapi juga
semua pihak yang terlibat baik secara politik, emosional, motivasi atau
dukungan, serta berminat pada event tersebut.
Menurut peneliti, stakeholder event adalah pihak-pihak penting yang
terlibat dalam mendukung kesuksesan suatu event dengan fungsi dan
kepentingan masing-masing yang berbeda. Stakeholder dan event
memiliki keterikatan yang saling berpengaruh, artinya, kesuksesan event
dipengaruhi oleh efektivitas stakeholder, dan nama baik stakeholder juga
dipengaruhi oleh event yang diinvestasikannya. Jika stakeholder
berfungsi dengan baik, maka event dapat berjalan lancer dan sukses
terselenggara, dan jika event sukses maka nama baik stakeholder bisa
meningkat dan dipandang baik oleh publik.
Fomburn and Shanley dalam Khasali membagi stakeholders menjadi
dua bagian yaitu stakeholders internal dan eksternal. (Khasali, 2008 : 63)
Stakeholders internal yaitu :
1. Pemegang saham, yaitu pihak yang mempunyai modal untuk
membantu berjalannya perusahaan, sehingga pihak tersebut mempunyai
kuasa atas perusahaan tersebut.
2. Manajemen dan Top Executive, adalah orang-orang yang
bertanggung jawab untuk menjaga kelangsungan perusahaan serta
pembuat kebijakan dalam perusahaan sehingga mereka menjadi sumber
berita majalah bisnis dan ekonomi.
3. Karyawan, adalah orang-orang yang tidak memegang jabatan
struktural.
4. Keluarga karyawan, sangat penting artinya untuk menjaga relasi
dengan keluarga karyawan karena mereka pun akan menaruh minat
yang sama besar dengan karyawan karena mereka secara tidak langsung
telah mengetahui perusahaan lewat karyawan.
Stakeholders eksternal yaitu :
1. Konsumen, yaitu pihak yang mempunyai hak untuk memilih
barangnya sendiri.
2. Penyalur, yaitu orang yang menyalurkan barang-barang kepada
konsumen.
3. Pemasok, yaitu orang-orang yang menyediakan pasokan barangbarang dari penyalur kepada konsumen.
4. Bank, sebuah lembaga komersial yang tidak hanya mengandalkan
bunga yang diterima melainkan jaminan, atas pengambilan pinjaman
pokok debitur.
5. Pemerintah, adalah penentu kebijakan, bahwa kebijakan dibuat dengan
melihat kebutuhan akan masyarakat.
6. Pesaing, adalah pihak yang dianggap ancaman oleh perusahaan.

7. Komunitas, yaitu masyarakat yang tinggal, hidup dan berusaha di
lokasi sekitar perusahaan.
8. Pers
Dari teori stakeholder, peneliti menarik kesimpulan bahwa stakeholder
adalah semua pihak yang memiliki kepentingan dan tanggung jawab
yang tidak secara langsung terhadap kelangsungan suatu event.
Stakeholder terbagi atas dua yaitu internal dan eksternal, dimana pihak
internal lebih memiliki peran besar atas perencanaan dan pelaksanaan
event, sedangkan pihak eksternal memberi dukungan yang secara fisik
tidak terlihat namun secara teknis memberikan pengaruh yang cukup
besar.