Metode penelitian kualitatif mulai dikenal pada tahun 1960 dimana pada saat itu penelitian sosial humaniora hingga peneliti yang merasa data mereka kurang utuh jika hanya menggunakan teknik pengumpulan dan analisis kualitatif. Jika sesuai dengan fokus kajian penelitian kualitatif mengkaji peristiwa, fenomena, atau pengalaman manusia untuk menjawab pertanyaan mengapa sesuatu terjadi, bagaimana terjadinya, dan apa penyebabnya (Bogdan & Biklen, 2007). Sehingga data yang diperoleh berdasarkan adanya peristiwa, fenomena, atau experience yang sudah ada dan terjadi dalam kurun waktu yang lama, diperhatikan terus menerus, pencacatan mandiri oleh peneliti, wawancara mendalam dengan narasumber ahli, kemudian didukung oleh dokumen sekunder. Nah dari sini kita tahu bahwa untuk menentukan responden saja, peneliti harus melakukan penelitian terdahulu lalu memilih responden dengan teknik purposif atau memilih siapa yang diangap paling mengetahui objek/kajian penelitian.
Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka dan penulisan literatur menjadi dasar dari setiap penelitian dan penulisan akademis, dan hal itu merupakan tahapanpenting dansangat diperlukan untuk setiap pekerjaan penelitian akademik. Namun, proses penulisan sebuah tinjauan pustaka yang sistematis telah menjadi permasalahan kompleks, dan membosankan, terutama bagi para peneliti pemula dan mahasiswa yang belum atau tidak berpengalaman. Kesulitan dalam memahami, mengkaji, dan menulis literatur terutama berasal dari kegagalan sejak awal untuk secara jelas mengidentifikasi apa yang diinginkan oleh pengulas dan bagaimana cara mencarinya dengan cara yang sistematis dan komprehensif. Meninjau dan menulis literatur akademik adalah tugas yang sangat besar, untuk itu seorang peneliti harus fokus pada tujuan spesifik serta penyediaan referensi yang memadai dan relevan. Dengan pemahaman yang tepat, penulisan sebuah literatur reviewdapat dikuasai dan dilakukan dengan mudah.
Tinjauan literatur
Tinjauan literatur adalah fitur umum dari semua produk penelitian, terlepas dari disiplin atau subjeknya. Sebuah tinjauan literatur menjadi dasar untuk semua jenis penelitian atau pekerjaan yang dipelajari. Namun, terkadang proses tinjauan tersebut biasanya diabaikan sebagai bentuk analisis kualitatif. Proses yang dilakukan dalam membangun argumen dari sebuah literatur mirip dengan proses yang terlibat dalam menganalisis data kualitatif. Proses tersebut meliputi: membaca dan merefleksikan, berinteraksi dengan literatur/data dan mengomentarinya, mengidentifikasi tema kunci dan melakukan pengkodean; mengekstrak dari kutipan untuk digunakan saat menulis; menghubungkan ide-ide serupa dari berbagai artikel, mengidentifikasi kontradiksi dalam argumen, membandingkan perbedaan dalam artikel, membangun argumen/analisis sendiri dengan tautan ke bukti pendukung dalam data/literatur (Pautasso, 2013).Para peneliti telah mengembangkan berbagai strategi untuk menangani jumlah bahan yang dihasilkan oleh tinjauan literatur. Di masa lalu, sistem indeks digunakan sebagai alat tetapi dalam beberapa tahun terakhir, perangkat lunak bibliografi telah muncul sebagai alat yang disukai untuk mengatur dan membuat sebuah literatur review. Paket seperti EndNote, Reference manager, Mendeley,dll. Penggunaan alat dalam dalam mengolah sebuah referensi tentunya sangatlah membantu. Hal ini memungkinkan untuk mengunduh abstrak dalam beberapa atau seluruh artikel untuk dimasukkan dalam basis data bibliografi. Perangkat lunak tersebut menawarkan cara yang fleksibel untuk mencari dan mengurutkan referensi(Machi& McEvoy, 2008). Mereka memiliki tautan langsung dengan paket pengolah kata, membuatnya mudah untuk memasukkan kutipan yang benar pada suatu titik dalam teks. Mereka juga memiliki kemampuan untuk menghasilkan bibliografi dalam gaya yang sesuai untuk berbagai jurnal. Selain itu, dimungkinkan pula untuk berkomentar dan merenungkan sebuah artikel, mengkodekannya dengan kata-kata kunci tertentu dll. Namun, paket-paket ini tidak dirancang untuk analisis data, sehingga proses ini dapat dilakukan hanya dengan cara yang terbatas. Paket analisis perangkat lunak khusus diperlukan untuk mendukung proses analisis yang terlibat dalam tinjauan literatur.Paket perangkat lunak seperti Atlas.ti, N4 Classic, N5, NVivo, WinMaxdll. Dapat digunakan untuk mendukung proses analisis yang terlibat dalam tinjauan literatur (Edwards-Jones, 2014). Mereka tidak mengganti perangkat lunak bibliografi yang disebutkan di atas, karena mereka tidak memiliki alat bibliografi yang dimiliki paket-paket tersebut. Tetapi alat analitis mereka dapat digunakan sebagai tambahan alat
Analisis NVivo
Visualisasi Hierarki ChartPemetaan Hierarki Chart menggunakan alat bantu Nvivo 14 mempunyai fungsi untuk melihat dan menggambarkan secara menyeluruh analisis SWOT berdasarkan sumber berita yang telah ditentukan dapat melalui diagram ataupun tabel (Nurul Izza & Mi’raj, 2023)
Visualisasi Word Cloud Pemetaan comparison topik media mempunyai fungsi untuk melihat dan menggambarkan perbandingan hubungan antara beberapa medua dengan topik yang telah ditentukan (Izza & Rusydiana, 2023)
Visualisasi World Frequency Results Word Frequency Results berguna untuk memetakan kata-kata yang sering muncul dan dibahas pada media (Plard & Martineau, 2021).Gambar 6. World Frequency Results
Visualisasi Correlation World Frequency Results Correlation World Frequency Results mempunyai fungsi yaitu untuk menggambarkan hubungan secara menyeluruh atara satu topik dengan topik lainnya (Allsop et al., 2022)
Nvivo
Pendekatan kualitatif dengan alat bantu software NVivo merupakan perangkat lunak analisis data kualitatif yang digunakan dalam penelitian. NVivo membantu peneliti dalam menyimpan, mengatur, dan mengeksplorasi data dengan mudah, serta mengurangi risiko kerusakan data mentah. NVivo memungkinkan pengguna untuk menyimpan teks, gambar, audio, dan video secara langsung di dalam proyek, serta mengakses data multimedia tersebut langsung dari dalam platform NVivo. Melalui tangkapan artikel berita yang ada dapat melihat dan memetakan informasi dari sebuah narasi.Beberapa tahapan – tahapan yang dapat dilakukan dengan memanfatkan platform NVivo seperti :•Import Data: Data kualitatif dalam bentuk teks artikel media, audio, atau video diimpor ke dalam platform NVivo.•Koding Data: Data dikodekan berdasarkan tema, pola, atau kategori tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian.•Eksplorasi dan Organisasi: Data dieksplorasi untuk mengidentifikasi pola-pola dan hubungan antar tema, serta diorganisasi dalam bentuk matriks atau diagram untuk mempermudah pemahaman.•Analisis Mendalam: Melalui fitur pencarian dan query, peneliti dapat melakukan analisis mendalam untuk mengidentifikasi hubungan dan pola-pola yang muncul dari data dengan koding yang sudah ditentukan.isualisasi Data: NVivo memungkinkan visualisasi data dalam bentuk diagram, grafik,, model konseptual, dan tabel nilai untuk memperjelas temuan analisis.Penarikan Kesimpulan: Berdasarkan hasil analisis, peneliti dapat menarik kesimpulan yang relevan dengan tujuan penelitian. Pemetaan NVivo menjadi alat ukur baru untuk melihat dan mengambarkan hasil temuan berdasarkan narasi artikel media yang sering dibahas (Soehardi et al., 2021
Nvivo
NVivo merupakan software analisis data kualitatif
yang dikembangkan oleh Qualitative Solution and
Research (QSR) international. QSR sendiri adalah
perusahaan pertama yang mengembangkan
software analisis data kualitatif. NVivo bermula
dari kemunculan software NUDIST (Nonnumeric Unstructured Data, Index Searching, and Theorizing) pada tahun 1981 (Bazeley, 2007). NUDIST awalnya diciptakan oleh seorang
programer bernama Tom Richards untuk membantu istrinya, Lyn Richards, yang berprofesi
sebagai sosiolog
Pengertian Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan disekolah, kegiatan belajar
merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya
pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses belajar
yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Mengajar dan belajar merupakan dua
kegiatan yang berbeda tetapi terdapat hubungan yang erat dan saling pengaruh dan
mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain. Belajar juga merupakan
perubahan tingkah laku yang terjadi dari dalam diri individu, biasanya belajar
mengarah kepada yang lebih baik lagi, dari yang belum tahu menjadi tahu, dari
yang sudah tahu menjadi lebih tahu lagi dibandingkan yang sebelumnya.
Slameto (2010:2) “Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya”. Howard L. Kingskey dalam Syaiful Bahri Djamarah, (2011:13)
mengatakan bahwa “Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau
diubah melalui praktik atau latihan.
Mulyono Abdurrahman (2012:19) “Belajar merupakan suatu proses dari
seorang individu yang berupaya mencapai tujuan belajar atau yang biasa disebut
hasil belajar, yaitu suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap”.
Gagne dalam Suprijono (2010 : 2) berpendapat bahwa : ”Belajar adalah
perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai melalui aktivitas. Perubahan
disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang
secara alamiah”.
Morgan dalam Suprijono (2010:3) berpendapat bahwa ”Belajar adalah
perubahan perilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman”.
Dari defenisi diatas dapat dinyatakan bahwa belajar adalah perubahan
tingkah laku yang terjadi dari dalam diri individu, biasanya belajar mengarah
kepada yang lebih baik lagi, dari yang belum tahu menjadi tahu, dari yang sudah
tau menjadi lebih tahu lagi dibandingkan yang sebelumnya. Atau serangkaian
kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang
menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor
Faktor-Faktor Pendukung Selebritas
Faktor-faktor pendukung selebritas, menurut (O’Mahony et
al., 1998) sebagai berikut :
A. Attractiveness (daya tarik)
Daya tarik bukan daya tarik fisik, meskipun daya tarik0bisa
menjadi faktor yang sangat penting tetapi meliputi sejumlah
karakteristik yang dapat dilihat khalayak dalam diri
pendukung, kecerdasan, sikap kepribadian, gaya hidup,
keatletisan postur0tubuh, dan lain-lain.
B. Trustworthines (kepercayaan)
Kepercayaan0mengacu pada kejujuran, integritas0dan dapat
dipercayainya0sebagai0sumber. Sementara keahlian dan
kepercayaan tertentu saling berhubungan timbal balik, sering
kali pendukung0tertentu0dianggap sangat dipercaya padahal
bukan orang yang ahli dibidang tertentu. Kepercayaan0juga
mengacu0pada keyakinan penerima pesan bahwa sumber
pesan akan memberikan informasi yang valid. Dalam beberapa
riset diketahui bahwa selebritas lebih bisa dipercaya
dibandingkan dengan0non0selebritas0secara signifikan.
C. Expertise (keahlian)
Mengacu0pada pengetahuan,0pengalaman atau ketrampilan
yang dimiliki seorang pendukung yang berhubungan dengan
topik iklannya. Hal itu dianggap sebagai hal yang0dirasakan
daripada sebagai fenomena0mutlak
Pengertian Celebrity Endorser Review
Menurut (Shimp et al., 2003) celebrity endorser adalah
menggunakan artis, entertainer, atlet dan public figure sebagai
bintang iklan di media-media, mulai dari media cetak, media sosial,
maupun media televisi yang mana banyak diketahui orang
banyak0untuk keberhasilan produk0yang0didukung.
Keberhasilan0sebuah iklan tidak terlepas dari pesan
bintang0iklan dalam mempromosikan sebuah merek produk,
terutama bila iklan tersebut ditayangkan melalui media
televisi0maupun media sosial. Penggunaan0bintang0iklan dalam
sebuah iklan di televisi maupun media sosial merupakan alternatif
strategi yang tepat untuk memperkenalkan0produk kepada
konsumen.
Bentuk Proses Pengambilan Keputusan
Bentuk0proses pengambilan keputusan0tersebut dapat
digolongkan sebagai berikut :
- Fully Planned Purchase, dimana baik produk dan merek sudah
dipilih sebelumnya. Biasanya terjadi ketika ada0keterlibatan
dengan produk tinggi misalnya barang otomotif, namun bisa0juga
terjadi dengan keterlibatan pembelian yang rendah seperti barang
kebutuhan rumah tangga - Partially Planned Purchase, dimana konsumen bermaksud untuk
membeli produk yang sudah ada tetapi pemilihan merek ditunda
sampai saat pembelajaran. Keputusan0akhir0dapat dipengaruhi
oleh0diskon0harga0atau0display0produk. - Unplanned Purchase, dimana produk ataupun merek dipilih pada
saat berada di tempat pembelian. Konsumen0sering0memanfaatkan
katalog dan produk pajangan sebagai pengganti9daftar belanja.
Dengan0kata lain, sebuah pajangan dapat mengingatkan seseorang
akan kebutuhan yang akan memicu pembelian.
Pengertian Keputusan Pembelian
Menurut (Kotler & Amstrong, 2012), keputusan pembelian
konsumen adalah memberi merek yang paling disukai dari berbagai
alternatif yang ada, tetapi dua faktor bisa berada antara niat
pembelian dan keputusan pembelian.
Menurut (Kotler et al., 2011) keputusan pembelian
adalah0tahap dalam proses pengambilan keputusan pembelian
dimana konsumen benar-benar membeli sebuah produk.
Pengambilan sebuah keputusan merupakan suatu kegiatan individu
yang secara langsung terlibat dalam0mendapatkan dan
mempergunakan barang0yang ditawarkan.
Menurut (Heruwati, 2010) keputusan pembelian pada
dasarnya merupakan komponen utama0dalam sebuah0perilaku
konsumen. Dalam memahami perilaku konsumen, terdapat banyak
pengaruh yang mendasari0seseorang dalam mengambil keputusan
pembelian suatu produk atau merek. Pada kebanyakan orang,
perilaku pembelian seringkali dipengaruhimoleh banyaknya
rangsangan dari luar, baik0berupa rangsangan pemasaran maupun
rangsangan dari lingkungan yang0lain. Rangsangan tersebut
kemudian diproses (diolah) dalam diri, sesuai dengan karakteristik
pribadinya, sebelum akhirnya diambil0keputusan pembelian.
Pengaruh Brand Trust, Celebrity Endorsement dan Iklan terhadapMinat Beli
Pada penelitian yang dilakukan oleh Sanny et al., (2020) didasari dari
pengaruh brand trust, celebrity endorsement dan iklan terhadap minat beli
konsumen. Pada penelitian ini menunjukkan dalam memilih suatu produk
skincare perlu adanya pertimbangan, dan beberapa faktor penentu minat beli
konsumen ialah brand trust, celebrity endorsement dan iklan.
Konsumen dapat beranggap bahwa jika mempromosikan suatu barang
melalui celebrity endorsement secara positif, maka dapat meningkatkan daya
minat beli terhadap konsumen. Konsumen dapat mempercayai suatu produk jika
iklan yang ditampilkan menarik dan dapat menarik hati konsumen bisa melalui
iklan televisi, media sosial dan lainnya. Dengan adanya iklan yang dapat
dipercaya oleh konsumen maka artinya konsumen akan minat membeli produk
tersebut. Konsumen yang percaya akan suatu merek karena didasari merek
tersebut dapat menarik hati konsumen, nyaman dan disukai konsumen, maka
konsumen akan niat membeli produk tersebut dan bahkan dapat membeli ulang
seterusnya pada produk tersebut
Pengaruh Iklan terhadap minat beli
Pada penelitian yang dilakukan oleh Sihombing, (2016) menunjukkan
bahwa hasil analisis yang dilakukan terdapat pengaruh positif pada variabel iklan
terhadap minat beli konsumen pada internet 4G Plus Indosat. Hal ini menujukkan
bahwa jika semakin sering iklan yang ditayangkan maka semakin tinggi pula niat
beli yang dirasakan oleh konsumen.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Setiawaty, (2017) menunjukkan hasil
analisis yang dilakukan terdapat bahwa iklan tidak tidak berpengaruh yang
signifikan terhadap minat beli konsumen Smartphone Samsung Galaxy Series.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Lazuardi, (2018) menunjukkan hasil
analisis bahwa variabel iklan terdapat pengaruh positif dan signifikan terhadap
minat beli konsumen sepatu olahraga nike. Karena kemungkinan Nike selalu
berusaha menghasilkan iklan yang berkualitas tinggi untuk setiap konsumen
Pengaruh Celebrity Endorsement terhadap Minat Beli
Pada penelitian yang dilakukan oleh Savitri, (2017) menunjukkan bahwa
hasil analisis yang dilakukan, dinyatakan variabel celebrity endorse berpengaruh
positif signifikan terhadap minat beli. Karena konsumen menganggap bahwa jika
suatu produk barang atau jasa yang dipromosikan melalui celebrity endorser itu
berarti produk tersebut memiliki kualitas yang bagus, dan dengan adanya celebrity
endorser ini kosumen akan lebih mempercayai dan yakin terhadap produk
tersebut.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Setiawan, (2018) menunjukkan bahwa
hasil analisis yang dilakukan terdapat pengaruh positif signifikan variabel
celebrity endorsement terhadap minat beli pada masyarakat yang pernah melihat
advertising celebrity endorsement produk green tea esprecielo allure di social
media instagram. dengan ini menunjukkan bahwa konsumen akan lebih minat
membeli produk tersebut yang di sponsori oleh celebrity endorsement. Pada saat
konsumen menilai Chelsea Olivia dan Glenn Alinskie sesuai dengan merek green
tea esprecielo allure maka akan semakin menigkatkan minat beli dari produk
green tea esprecielo allure.
Pengaruh Brand Trust terhadap Minat Beli
Pada penelitian yang dilakukan oleh Suhardi and Irmayanti, (2019) bahwa
Berdasarkan hasil analisis pengaruh variabel brand trust terhadap minat beli,
diperoleh hasil bahwa variabel ini independent ii dapat memprediksi minat beli
Siswa/i SLTA sekecamatan Cibingbin terhadap produk Shampo Clear. Nilai uji t
sebesar 5,475 dengan sig 0,000 sehingga dapat diartikan bahwa hipotesis yang
telah dirumuskan sebelumnya yaitu “kepercayaan merek berpengaruh positif
terhadap minat beli” diterima. Kepercayaan merek memiliki pengaruh yang sangat
besar terhadap keberlangsungan merek, karena jika sebuah merek tidak dipercayai
lagi oleh konsumen maka produk yang dipercayai oleh merek akan sulit
berkembang dipasar.
Dimensi Minat Beli
Menurut Busler dalam Kresnardi, (2017) terdapat 3 dimensi dari buying
intention (minat beli) yaitu:
- Likely, ialah rencana pembelian konsumen terhadap suatu produk barang
atau jasa. - Definitely would, mengacu kepada kepastian konsumen dalam suatu
produk barang atau jasa. - Probable, mengacu pada mungkin konsumen dalam membeli suatu produk
barang atau jasa
Indikator Minat Beli
Menurut Kotler dan Keller dalam Nainggolan and Heryenzus, (2018)
menyatakan minat beli dapat diidentifikasi melalui indikator sebagai berikut :
- Minat transaksional, ialah kecenderungan pada seseorang buat
membeli produk barang ataupun jasa. - Minat referensial, ialah kecenderungan pada seorang guna
mereferensikan produk kepada orang lain. - Minat preferensial, ialah minat dimana menggambarkan sikap seorang
yang mempunyai preferensi utama pada produk tersebut. - Minat eksploratif, ialah minat dimana menggambarkan sikap seorang
yang senantiasa mencari data menimpa produk yang diminatinya serta
mencari data guna menunjang sifat-sifat positif dari produk tersebut.
Indikator lain menurut Schiffman dan Kanuk dalam Putra, (2019) terdapat 4
komponen sebagai berikut: - Memiliki ketertarikan dalam mencari informasi tentang suatu produk.
- Mempunyai pertimbangan dalam membeli suatu produk.
- Tertarik untuk mencoba suatu produk.
- Memiliki keinginan untuk mengetahui suatu produk.
Definisi Minat Beli
Menurut Kotler and Keller, (2012) bahwasanya dalam sesi penilaian pada
minat beli pada proses keputusan pembelian, konsumen membentuk kesukaan/
minat atas merek-merek dalam sekumpulan pilihan-pilihan, kosumen pula bisa
jadi membentuk minat beli yang sangat disukai pada produk tersebut. Minat beli
merupakan salah satu sikap pelanggan yang timbul selaku reaksi terhadap objek
yang menampilkan atas dasar kemauan pelanggan guna melaksanakan terjadinya
suatu pembelian.
Pengertian minat beli menurut Setiawan dan Ihwan dalam Ambarwati,
Sunarti and Mawardi, (2015) terdapat 3 pengertian sebagai berikut :
- Minat beli adanya tujuan kepada orang yang mempunyai keinginan
buat membeli. - Minat beli dapat menjadi pula selaku tolak ukur atas dasar kemauan
seseorang dalam membeli. - Minat beli atas dasar terjadinya hubungan dengan sikap pembelian
yang dicoba terus menerus oleh seorang.
Menurut Assel dalam Mubarok, (2016) “Minat beli merupakan
kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan
yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan
konsumen melakukan pembelian”.
Menurut Penitasari, (2017) Minat beli merupakan suatu kecenderungan
yang bertujuan agar merasa tertarik ataupun terdorong buat melaksanakan
aktivitas memperoleh serta mempunyai benda serta jasa. Minat beli ialah
statement pada mental konsumen yang merefleksikan rencana pembelian sesuatu
produk dengan merek tertentu.
Menurut Ashari dalam Suhardi and Irmayanti, (2019) minat beli merupakan
suatu tindakan seseorang baik individu maupun pelanggan yang memiliki
kecenderungan untuk memilih dan membeli suatu produk dengan ketentuan
produk atau merek yang diinginkan, atau suatu kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang yang memiliki keterkaitan dalam melakukan pembelian suatu produk
atau merek tertentu dengan tingkat pengukuran tertentu ketika terjadinya suatu
tindakan pembelian pada suatu produk atau jasa
Dimensi Iklan
Menurut Riyantoro dalam Margahana, (2020) menyebutkan bahwa
efektivitas dari suatu iklan dapat diukur oleh 4 dimensi, yaitu :
- Dimensi empati dengan menginformasikan
dimensi empati yang dimaksud ialah - Dimensi persuasi
- Dimensi impact
- Dimensi kommunikas
Indikator iklan
menurut Sugiardi et al., (2017) terdapat 4 indikator pada
iklan sebagai berikut :
A. Menimbulkan perhatian. Artinya jika suatu iklan ingin memunculkan
atensi/perhatian, maka iklan tersebut wajib dicermati tentang tampilan
foto, perkataan dalam iklan yang harus menonjolkan kelebihan serta mutu
produk yang menarik.
B. Menarik. Artinya iklan haruslah menarik sebab konsumen lebih meningkat
responnya jika iklan tersebut menarik. Iklan wajib menarik termasuk dari
tampilan ataupun data informasi yang terdapat pada iklan yang sudah
dibuat secara kreatif dan inovatif. Sehingga tujuan yang diinginkan ialah
konsumen akhirnya dapat tertarik serta mencuat rasa mau mengenali
produk serta mencari data informasi tentang produk tersebut.
C. Dapat menimbulkan keinginan. Artinya iklan haruslah mempunyai suatu
dampak sehabis penayangannya, salah satunya dapat meningkatkan
kemauan. Buat memunculkan suatu kemauan, dalam iklan wajib terdapat
kesesuaian data informasi yang diberikan kepada konsumen dengan
produk yang diiklankan.
D. Menghasilkan suatu tindakan. Artinya suatu iklan dapat dikatakan menjadi
efisien apabila dapat membuat konsumen menciptakan suatu
tindakan/aksi. Karena jika konsumen membeli produk sehabis melihat
tayangan iklan, dapat dikatakan iklan tersebut sukses mempengaruhi
konsumen.
Definisi Iklan
Setiawaty, (2017) Menyatakan bahwa iklan menjadi salah satu cara yang
sudah banyak dipakai pada setiap perusahaan guna memberikan daya tarik minat
pada konsumen. Iklan merupakan salah satu wujud komunikasi yag bersifat tidak
langsung, karna didasari oleh informasi tentang keunggulan pada suatu produk
yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan rasa yang
mengasyikkan yang hendak mengganti seorang supaya dapat terjadinya suatu
transaksi pembelian. Jadi, perusahaan berupaya dengan ide berkreasi dengan
semaksimal mungkin agar bisa menghasilkan suatu iklan yang menarik serta bisa
membagikan data yang jelas kepada khalayak demi tercapainya keinginan
konsumen untuk membeli produk dari industri tersebut.
Kotler dan Keller, (2014) Iklan merupakan suatu wujud dari seluruh
presentasi nonpersonal yang bersifat berbayar serta promosi ide, produk barang
ataupun jasa yang mana melalui sponsor yang jelas. Iklan dapat menjangkau
setiap pembeli yang tersebar menyeluruh secara geografis. Iklan juga bisa
membangun citra yang bersifat jangka panjang pada produk ataupun jasa yang
dapat memicu penjualan dengan kilat. Kasali dalam Solihin, (2015) Iklan
merupakan suatu bentuk pesan tentang benda/jasa (produk) yang terbuat oleh
produser/pemrakasa yang di informasikan melalui media (cetak, audio, elektronik)
yang ditujukan kepada khalayak. Tujuan iklan merupakan supaya khalayak
tertarik agar dapat membeli ataupun memakai benda ataupun jasa tersebut. Secara
simpel iklan merupakan pesan yang menawarkan sesuatu produk yang
diperuntukkan kepada khalayak melalui media.
Launa dalam Savitri, (2017) Iklan merupakan suatu bentuk komponen
promotional mix yang uiversal dicoba oleh suatu idustri. Iklan dapat bisa
dianggap sangat berarti bila produknya dapat sukses diperjualbelikan dipasar.
Tiap tahun, apalagi masing-masing launching produk baru, industri dapat
menghabiskan ratusan juta apalagi miliaran rupiah hanya untuk pengeluaran
bayaran iklan
Dimensi Celebrity Endorsement
Pada pemilihan celebrity endorsement yang nantinya membawakan sebuah
iklan, perlu adanya pertimbangan-pertimbangan atribut atau dimensi yang dapat
mewakilkan produk tersebut, agar karakter endorser dan produk yang dibawakan
memiliki kecocokan yang nantinya dapat sangat berpengaruh dalam menciptakan
kepercayaan merek produk, serta meningkatkan tingkat penjualan produk tersebut.
Ohanian dalam Kresnardi, (2017), mengatakan bahwa terdapat 3 dimensi dari
celebrity endorsement yaitu:
A. Trusthworthiness
Keyakinan yang didefinisikan sebagai kejujuran, integritas serta keyakinan
yang dipunyai oleh seorang endorser. Mengenai bagaimana seorang
endorser dapat memiliki keyakinan dan kejujuran di khalayak masyarakat
terhadap produk yang ia tawarkan.
B. Expertise
Sepanjang mana seorang endorser diperhatikan tentang ilmu pengetahuan,
pengalaman ataupun keahlian dalam mempromosikan suatu produk atau
jasa.
C. Attractiveness
Seorang endorser yang menarik sebagian besar memungkikan akan disukai
baik daya tarik energinya ataupun karakter serta diyakini dapat berdampak
positif bagi khalayak.
Evan and Noviyandi, (2020) mengatakan adanya 5 dimensi latar belakang
celebrity endorsement yaitu sebagai berikut:
A. Familiarity
Familiarity (Keakraban) yang artinya daya tarik seorang selebriti endorser
bukan hanya bergantung pada penampilan fisik semata, namun bagaimana
karakteristik, gaya hidup dan keterampilan intelektual yang ia miliki yang
ia mampu diterima oleh khalayak. Karena ciri-ciri dan karakteristik
seorang selebriti endorser yang diketahui oleh masyarakarat yang
mendapat nilai baik dimata masyarakat akan berdampak positif terhadap
produk yang ia tawarkan. Lia, Huang & Minghua dalam Evan and
Noviyandi, (2020) efektivitas pesan bergantung pada “pengenalan,
kesukaan, kesamaan, dan penampilan fisik untuk responden”
B. Congruity
Pada segi kesesuaian ini, prinsipnya bahwa kesesuaian antara selebriti
serta produk yang ditawarkan yang berarti semacam atribut lain yang
terpaut dengan selebriti pada penerimaan sosial yang besar serta guna
penguatan dan kredibilitasnya. Kesesuaian latar balik antara selebriti
dengan produk yang ditawarkan dapat memungkinkan menghasilkan
asosiasi produk terhadap konsumen. Oleh karena itu salah satu aspek
utama dalam menciptakan umpan balik yang positif ialah adanya
kesesuaian antara seorang selebriti dengan produk yang ditawarkan
tersebut. Sebab konsumen akan menyangka bahwa produk tersebut benar
adanya dipakai oleh selebriti tersebut dari produk yang ia tawarkan.
C. Physical appearance
Daya tarik fisik mempunyai afirmatif yang dapat berakibat pada sikap
konsumen terhadap produk serta layanan yang mana dapat menjadi suatu
perbandingan dengan produk lain yang dipromosikan oleh orang-orang
yang kurang menarik. Perihal ini disebabkan oleh energi daya tarik
selebriti yang mempunyai hasil yang signifikan semacam orang lain yang
hirau dengan penampilannya sendiri. Bisa dikatakan kalau daya tarik
seorang selbriti sangat pengaruhi sikap konsumen yang memunculkan
hasrat buat membeli produk yang ditawarkan.
D. Trusthworthiness
Pelanggan dapat yakin kalau seorang selebriti merupakan salah satu
sumber informasi yang bisa diandalkan, karenanya seorang selebriti bisa
mempengaruhi keyakinan pelanggan terhadap suatu produk. Adanya
keyakinan pelanggan timbul dari penyampaian informasi data yang
relevan dengan selebriti. Latar balik dari ini tidak hanya terpaut oleh
keahliannya, namun kredibilitas seseorang selebriti dalam membagikan
opini terhadap produk yang mereka dukung ataupun iklankan. Dengan
demikian, pelanggan dengan perilaku positif hendak mempunyai hasrat
dalam membeli produk yang diiklankan disebabkan adanya keyakinan
pada testimonri ataupun data yang diberikan oleh selebriti.
E. Expertise
Seorang selebriti yang mempunyai pengetahuan serta keahlian besar di
bidangnya mempunyai kekuatan buat membagikan saran lebih pas
daripada mereka yang kurang ataupun tidak mempunyai pengetahuan serta
keahlian dibidang tersebut. Bila seorang selebriti dapat meyakinkan
pelanggan dengan kemampuan yang dimilikinya, maka produk yang
ditawarkan dapat berdampak positif pada sikap pelanggan dalam memilah
produk yang sesuai.
Indikator Celebrity Endorsement
Menurut Percy dan Rossiter dalam Dewa, (2018) mengemukakan bahwa
Celebrity Endorsement memiliki indikator yang dapat diukur melalui VisCAP
model (visibility, credibility, attraction, power).
A. Visibility
Melalui segi ini, seorang selebriti yang mewakili suatu produk merupakan
seseorang yang mempunyai keahlian buat dicermati oleh orang banyak
ataupun publik. Umumnya selebriti yang diseleksi merupakan orang yang
lagi populer serta mempunyai pengaruh luas digolongan suatu masyarakat
atau kelompok, sehingga mereka bisa tertarik terhadap merek yang
diiklankan.
B. Credibility.
Melalui segi kredibilitas, ialah anggapan warga terhadap kelebihan-
kelebihan dari selebriti endorser, sehingga diterima serta diiringi oleh
warga. Ada 2 aspek yang membentuk kredibilitas seseorang, ialah
- Kemampuan.
Kemampuan membuktikan bahwa seberapa luas pengetahuan ataupun
keahlian yang dipunyai oleh seorang endorser. Seseorang yang mampu
membuktikan bahwa ia memiliki nilai yang unggul pada keahlian yang
ia miliki. - Keyakinan.
Dengan keyakinan yang dimiliki seorang endorser, ia dapat
menampilkan seberapa jujurkah endorser dalam mengantarkan suatu
iklan serta bagaimana meyakinkan pandangan masyarakat terhadap
iklan yang ia bawakan agar dapat diterima.
C. Attraction
Dari segi attraction¸ada 2 karakteristik yang dimiliki yaitu - Kepesonaan.
Kepesonaan ialah dari sisi penampilan raga serta karakter, sehingga
lewat energi positif dan daya tarik dari seorang endorser bisa
membawa dampak yang positif pula terhadap merek yang ia
tampilkan. - Kesamaan.
Kesamaan ialah kesamaan cerminan emosional endorser dalam iklan,
sehingga menolong khalayak tertarik pada komunikator yaitu endorser.
Tujuan adanya kesamaan cerminan emosional supaya dapat
membantu dalam mengefektifkan komunikasi dalam beriklan.
D. Power
Power ialah besarnya pengaruh yang dipunyai oleh seorang
endorser terhadap suatu masyarakat atau kelompok. Semakin terus
menjadi besar pengaruhnya, maka dapat terus menjadikan masyarakat
tersebut mempercayai produk yang dibawanya
Definisi Celebrity Endorsement
Garthwaite dalam Setiawan, (2018) mendefinisikan bahwa Celebrity
Endorsement merupakan advertising yang lumayan universal agar dapat
meningkatkan Brand Awereness sebagai tujuannya yang mana dalam pelaksanaan
promosinya melalui asosiasi eksplisit dengan memakai selebriti, produk kosmetik,
produk jam tangan, alkohol, mobil, apotek, program penurun berat badan, serta
jasa keuangan. buah iklan dengan memakai kepopulerannya. Vidyanata, (2019)
mendifiniskan Celebrity Endorsement ialah salah satu bentuk strategi dari
periklanan yang diketahui sejak lama pada fitur pemasaran yang modern. Sebuah
industri kerap memakai endorser untuk mempromosikan produk atau jasa yang
dapat menghasilkan ketertarikan pada konsumen terhadap produk atau jasa
tersebut. Adanya pemakaian celebrity endorsement dalam mempromosikan suatu
produk atau jasa, agar dapat mudah diingat oleh konsumen atas produk atau jasa
yang dilakukan oleh celebrity endorsement.
Biswas, Biswas dan Das dalam Kresnardi, (2017) Celebrity Endorsement
merupakan atribut yang ditampilkan pada produk atau jasa serta mutu produk
tersebut, yang dapat meningkatkan penerimaan dari konsumen, karena
kepercayaan dan keyakinan konsumen terhadap celebrity endorsement dianggap
dapat memberikan tanggapan yang baik dimata konsumen pada merek tersebut
Dimensi Brand Trust
Brand trust merupakan keadaan dimana konsumen bertabiat positif terhadap
merek, yakin terhadap merek serta terdapatnya harapan di benak mereka kalau
merek tersebut hendak membagikan hasil cocok dengan yang dijanjikan kepada
konsumen sehingga hendak memunculkan kesetiaan terhadap sesuatu merek.
Menurut ika dan kustini dalam , brand trust dapat diukur melalui dimensi
viabilitas (dimension of viability) dan dimensi intersionalitas (dimension of
intentionality). Dalam penjelasan dari kedua dimensi tersebut dapat diuraikan
sebagai berikut:
A. Dimension of viability. Ukuran ini mewakili suatu anggapan kalau sesuatu
merek bisa dipenuhi serta memuaskan kebutuhan serta nilai konsumen.
Ukuran ini bisa diukur lewat penanda kepuasan serta nilai (value).
B. Dimension of intentionality. Ukuran ini mencerminkan bahwa perasaan
nyaman dari seseorang terhadap suatu merek. Ukuran ini dapat diukur lewat
indikator security dan trust
Karakteristik Konsumen Merek (Consumer-Brand Characteristic)
Hubungan bukanlah arah, masing-masing kelompok saling
mempengaruhi dibandingkan dengan kelompok lain. Untuk karakteristik
merek pelanggan untuk mempengaruhi kepercayaan pelanggan pada
merek. Karakteristik hubungan pelanggan dengan merek mencakup
kesamaan antara pelanggan konsep diri dengan citra merek, favorit
pelanggan hingga merek, pengalaman pelanggan, kepuasan pelanggan dan
dukungan dari kolega. Karakteristik konsumen Merek adalah sebagai
berikut:
- Similarity between consumer’s self-concept and brand personality
(kemipiripan antara konsep diri konsumen dengan kepribadian merek).
Karakter merek merupakan asosiasi yang terpaut dengan merek yang
diingat oleh konsumen dalam menerimanya. Kesamaan antara konsep
diri konsumen dengan karakter merek sangat berkaitan dengan
keyakinan konsumen terhadap merek tersebut. - Brand liking. Agar mendapatkan hubungan antara konsumen dengan
sebuah merek, konsumen perlu menyukai suatu jenis merek yang mana
menurut konsumen merek tersebut menarik dan sesuai. Karena jika
konsumen sudah menyukai suatu jenis merek, maka dapat
memungkinkan merek tersebut dapat dipercayai oleh konsumen. - Brand experience. Pengalaman merek yaitu suatu waktu masa lalu
yang dialami konsumen terhadap suatu jenis merek, lebih tepatnya
pada pemakaiannya. Suatu merek memiliki ikatan yang kuat dengan
konsumen dalam mempercayai suatu merek. - Brand satisfaction. Brand satisfaction ialah hasil penilaian subjektif
terhadap apa yang sudah dicapai oleh suatu merek yang terpilih dalam
rangka penuhi apa yang diharapkan konsumen. Fenomena ini cocok
dengan paradigma diskonfirmasi kepuasan konsumen, dimana
perbandingan antara harapan konsumen dengan hasil yang dialami
sangat menandai definisi konsumen. - Peer support. Salah satu determinan sikap orang yang dimana
merupakan pengaruh yang dibawa oleh orang lain. Buat melaporkan
secara tidak langsung kalau pengaruh sosial ialah determinan berarti
dalam pembuatan sikap orang
Karakteristik Perusahaan (Company Characteristic).
Karakteristik perusahaan juga dapat mempengaruhi tingkat
kepercayaan pelanggan pada sebuah merek. Pengetahuan konsumen
terhadap perusahaan kemungkinan akan mempengaruhi penilaiannya
terhadap merek perusahaan. Karakteristik perusahaan yang diperkirakan
dapat mempengaruhi kepercayaan konsumen terhadap perusahaan (trust in
the company) adalah sebagai berikut:
- Trust in the Company (Keyakinan terhadap Industri). Trust in the
Company merupakan rasa yakin kalau industri itu bagus, dapat
dipercaya, serta memiliki keahlian buat menghasilkan produk yang
bermutu. - Company Reputation. Anggapan konsumen kalau industri mempunyai
reputasi kesetaraan yang dangat berkaitan erat dengan keyakinan
konsumen terhadap merek tersebut. - Perceived Motives of the Company (Motif Industri yang di-alami
Pelanggan). Anggapan konsumen kalau industri mempunyai motif
yang menguntungkan sangat berkaitan dengan keyakinan konsumen
terhadap merek yang diluncurkan industri tersebut. - Company Integrity ( Integritas Industri ). Integritas industri ialah
anggapan konsumen yang cocok dengan prinsip-prinsip yang logis
misalnya menepati janji, berperan etis serta berlaku juju
Indikator Brand Trust
Menurut Lau dan Lee dalam Bambang and Heriyanto, (2017) ada tiga faktor
yang menjadikan sebagai indikator dalam kepercayaan merek atau brand trust
yang meliputi sebagai berikut:
A. Karakteristik Merek (Brand Characteristic).
Karakteristik atau ciri merek memiliki kedudukan yang berarti dalam
memastikan pengambilan keputusan agar dapat mempercayai sesuatu
merek, perihal ini diakibatkan konsumen melaksanakan evaluasi saat
sebelum membelinya. Indikator yang berkaitan dengan brand trust
imeliputi sebagai berikut:
- Brand Repution. Persepsi konsumen bahwa suatu merek memiliki
reputasi yang bagus sangatlah berkaitan dengan kepercayaan
konsumen terhadap merek tersebut. - Brand Predictability. Prediktabilitas ini dapat terkait dengan tingkat
kekonsistenan kualitas produk. Prediksi atau persepsi konsumen adalah
bahwa suatu merek dapat diprediksikan erat kaitannya dengan
kepercayaan konsumen terhadap suatu merek tersebut. - Brand Competence. Brand competence merupakan merek yang
mempunyai kemampuan untuk memecahkan permasalahan yang
dihadapi oleh konsumen dan memenuhi segala keperluannya.
Kemampuan merupakan elemen penting yang mempengaruhi
kepercayaan. Konsumen mungkin mengetahui brand competence
melalui penggunaan secara langsung atau komunikasi dari mulut ke
mulut
Pemasaran
Pemasaran menjadi salah satu faktor penting dalam mencapai tujuan suatu
perusahaan, karena dalam memenuhi segala kebutuhan dan keinginan dari
konsumen diperlukan adanya pemasaran baik dari produk dan jasa yang
ditawarkan oleh perusahaan sesuai dengan kebutuhan dipasar. Jika saat ini
perusahaan tidak ada pemasaran, perusahaan akan mengalami kesulitan dalam
mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam mempelajari ilmu pemasaran,
perusahaan perlu menguasai dan terus menggali lebih dalam hal-hal yang
berkaitan dengan dunia pemasaran agar penjualan dapat terus meningkat dan
penghasilan terus bertambah naik.
Menurut asosiasi pemasaran Amerika dalam Kotler (2012) pemasaran
merupakan salah satu guna organisasi serta seperangkat proses penciptaan,
mengkomunikasikan serta menyerahkan nilai terhadap pelanggan serta mengelola
ikatan dengan metode yang menguntungkan bagi organisasi serta para pemilik
saham.
Menurut Kotler,Philip dan Keller, (2016) adalah aktivitas, rangkaian,
institusi, dan proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan,
dan pertukaran penawaran yang bernilai bagi pelanggan, klien, mitra dan
masyarakat luas. Inti dari pemasaran ialah proses sosial dimana individu dan
kelompok memperoleh apa yang diinginkan melalui, menawarkan dan dengan
bebas bertukar produk dan layanan bernilai dengan orang lain
Hubungan Celebrity Endorser dan Kualitas Produk denganKeputusan Pembelian
Pada penelitian Junita Rati (2015:248) dengan judul jurnal “Pengaruh
Celebrity Endorser Bunga Citra Lestari Dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan
Pembelian Sabun Lux” menyatakan bahwa adanya pengaruh yang positif dan
signifikan antara variabel independent (variabel bebas) dengan variabel dependent
(variabel terikat). Pengujian ini menunjukkan bahwa semua variabel independent
yang terdiri dari variabel celebrity endorser dan variabel kualitas produk secara
bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
Artinya bahwa mengkombinasikan atau menggabungkan antara variabel celebrity
endorser dan variabel kualitas produk menjadi sebuah strategi yang sangat ampuh
dalam menarik minat konsumen untuk bisa meningkatkan suatu pembelian.
Hubungan Kualitas Produk dengan Keputusan Pembelian
Pada penelitian Mega Yunita (2017:27), dengan judul jurnal “Pengaruh
Kualitas Produk, Citra Merek Dan Celebrity Endorser Terhadap Keputusan
Pembelian Shampoo Sunsilk Pada Indomaret Wilayah Pasar Minggu Jakarta
Selatan” menyatakan kualitas produk memiliki pengaruh yang positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian shampoo Sunsilk pada Indomaret
wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan.. Artinya, semakin bagus kualitas suatu
produk maka semakin cepat konsumen memutuskan pembelian atas produk
tersebut
Indikator Keputusan Pembelian (Purchasing Decisions)
Perilaku pembelian konsumen merupakan suatu rangkaian tidakan fisik
maupun mental yang dialami konsumen ketika akan melakukan pembelian produk
tertentu. Adapun indikator keputusan pembelian menurut Philip Kotler dan Gary
Armstrong (2012:184-190) yaitu:
- Pengenalan Masalah
Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenali masalah atau kebutuhan.
Kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal.
Rangsangan internal berasal dari dalam diri seseorang untuk memenuhi
kebutuhannya, sedangkan rangsangan eksternal lebih dipengaruhi oleh
lingkungan sekitarnya. - Pencarian Informasi
Konsumen yang terangsang akan mencari informasi yang sesuai dengan
kebutuhannya. Pada tahap awal konsumen mencari informasi yang lebih
ringan, yaitu dengan menguatkan perhatian terhadap informasi produk. Tahap
selanjutnya konsumen akan lebih aktif untuk mencari informasi dari berbagai
sumber yang didapatkannya. Melalui pengumpulan informasi, konsumen akan
menganalisis berbagai produk dengan kekurangan dan keunggulannya
sehingga didapatkan produk yang sesuai dengan kriteria kebutuhannya. - Evaluasi Alternatif
Konsumen melakukan berbagai proses evaluasi pada beragam situasi
pembelian yang berorientasi kognitif. Proses tersebut berasumsi bahwa
konsumen melakukan penilaian terhadap suatu produk dengan kesadaran dan
rasional. Dalam proses itu konsumen melakukan evaluasi berdasarkan
kebutuhan, manfaat dan antribut yang terdapat dalam produk untuk
mendapatkan kepuasan tertinggi. - Keputusan Pembelian
Menurut Kotler & Keller (2007) terdapat dua faktor yang berada diantara niat
pembelian dan keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain.
Sikap orang lain mempunyai pengaruh untuk mengurangi alternatif pemilihan
oleh konsumen. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor pertama intensitas sikap
negatif orang lain terhadap konsumen, kedua motivasi konsumen mengikuti
keinginan orang lain. Intensitas orang lain untuk memberikan stigma negatif
akan membuat konsumen mengubah kesan dari suatu produk sehingga
konsumen beralih pada produk lain. Keadaan sebaliknya jika konsumen
mendapat stigma positif dari orang-orang lain, maka konsumen akan
cenderung memperkuat kesan positifnya terhadap suatu produk. Faktor kedua
adalah situasi yang tidak terantisipasi sehingga akan dapat mengubah
keputusan pembelian. Keputusan konsumen untuk menunda atau menghindari
keputusan pembelian sangat dipengaruhi oleh aspek risiko yang telah
dipertimbangkan oleh konsumen. Tingkat risiko yang telah dipertimbangkan
konsumen bergantung pada besarnya ketidakpastian manfaat atau kelebihan
yang didapatkan, besarnya kesan negatif terhadap suatu produk dan biaya
yang harus dikeluarkan. Sehingga konsumen akan mengumpulkan informasi
dari berbagai sumber untuk mengurangi ketidakpastian yang mungkin akan
didapat jika memilih produk. - Perilaku Pasca Pembelian
Setelah melakukan pembelian (pasca pembelian), konsumen akan mengalami
tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Puas atau tidaknya konsumen akan
sangat berpengaruh terhadap perilaku selanjutnya. Konsumen yang merasa
puas cenderung mempunyai peluang yang lebih besar untuk melakukan
pembelian ulang serta merekomendasikan kepuasannya kepada orang lain.
Apabila konsumen merasa tidak puas, maka konsumen akan mempunyai
kesan negatif dan cenderung mencari produk lain yang dapat memberinya
kepuasan
Dimensi Keputusan Pembelian
Philip Kotler dan Gary Amstrong (2012:161) menyatakan bahwa bagi
konsumen, sebenarnya pembelian bukanlah hanya merupakan satu tindakan saja,
melainkan terdiri dari beberapa tindakan yang satu sama lain saling berkaitan.
Menurut Donni Juni Priansa (2017:90) Dimensi keputusan pembelian terdiri dari:
- Pilihan Produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk atau
menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain. Perusahaan harus memusatkan
perhatiaanya kepada orang-orang yang berminat membeli sebuah produk
serta alternative yang mereka pertimbangkan.
a. Keunggulan produk
Berupa tingkat kualitas yang dapat diharapkan oleh konsumen pada
produk yang dibutuhkannya dari berbagai pilihan produk.
b. Manfaat produk
Berupa tingkat kegunaan yang dapat dirasakan oleh konsumen pada tiap
pilihan produk dalam memenuhi kebutuhannya.
c. Pemilihan produk
Berupa pilihan konsumen pada produk yang dibelinya, sesuai dengan
kualitas yang diinginkan dan manfaat yang akan diperolehnya. - Pilihan Merek
Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih
sebuah merek, apakah berdasarkan ketertarikan, kebiasaan, atau
kesesuaian.
a. Ketertarikan pada merek
Berupa ketertarikan pada citra merek yang telah melekat pada produk
yang dibutuhkan.
b. Kebiasaan pada merek
Konsumen memilih produk yang dibelinya dengan merek tertentu,
karena telah biasa menggunakan merek tersebut pada produk yang
diputuskan untuk dibelinya.
c. Kesesuaian harga
Konsumen selalu mempertimbangkan harga yang sesuai dengan
kualitas dan manfaat produk. - Pilihan Saluran Pembelian
Konsumen harus mengambil keputusan tentang penyalur mana yang akan
dikunjungi. Setiap konsumen berbeda-beda dalam hal menentukan
penyalur.
a. Pelayanan yang diberikan
Pelayanan yang baik serta kenyamanan yang diberikan oleh distributor
ataupun pengecer pada konsumen, membuat konsumen akan selalu
memilih lokasi tersebut untuk membeli produk yang dibutuhkannya.
b. Kemudahan untuk mendapatkan
Selain pelayanan yang baik, konsumen akan merasa lebih nyaman jika
lokasi pendistribusian mudah dijangkau dalam waktu singkat dan
menyediakan barang yang dibutuhkan.
c. Persediaan barang
Kebutuhan dan keinginan konsumen akan suatu produk tidak dapat
dipastikan kapan terjadi, namun persediaan barang yang memadai
pada penyalur akan membuat konsumen memilih untuk melakukan
pembelian di tempat tersebut. - Waktu Pembelian
Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda-
beda, misalnya: ada yang membeli setiap hari, satu minggu sekali, dua
minghu sekali, tiga minggu sekali, satu bulan sekali dan sebagainya.
a. Kesesuaian dengan kebutuhan
Ketika seseorang merasa membutuhkan sesuatu dan merasa perlu
melakukan pembelian, maka ia akan melakukan pembelian.
b. Keuntungan yang dirasakan
Ketika konsumen memenuhi kebutuhannya akan suatu produk pada
saat tertentu, maka saat itu konsumen akan merasakan keuntungan
sesuai kebutuhannya melalui produk yang dibeli sesuai waktu di
butuhkannya.
c. Alasan pembelian
Setiap produk selalu memiliki alasan untuk memenuhi kebutuhan
konsumen pada saat ia membutuhkannya. - Jumlah Pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk
yang akan dibelinya pada suatu saat.
a. Keputusan jumlah pembelian
Selain kepuusan pada suatu pilihan merek yang diambil konsumen,
konsumen juga dapat menentukan jumlah produk yang akan
dibelinya sesuai kebutuhan.
b. Keputusan pembelian untuk persediaan
Dalam hal ini konsumen membeli produk selain untuk memenuhi
kebutuhannya, juga melakukan beberapa tindakan persiapan dengan
sejumlah persediaan produk yang mungkin dibutuhkannya pada saat
mendatang
Pengertian Keputusan Pembelian (Purchasing Decisions)
Menurut Philip Kotler and Kevin Lane Keller (2016:198) adalah bentuk
pemilihan dan minat untuk membeli merek yang paling disukai diantara sejumlah
merek yang berbeda.
Menurut Philip Kotler dan Gary Amstrong (2014:155) “purchase decision
will be to buy the most preferred brand, but two factors can come betwen the
purchase intention and the purchace decision” keputusan pembelian adalah
membeli merek yang palig disukai, tetapi dua faktor dapat muncul antara niat
pembelian dan keputusan pembelian.
Menurut Keshari & Kumar (2011) dalam Wikan, Renny (2018:278)
Purchase decision merupakan kegiatan individu yang secara langsung terlibat
dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian terhadap produk yang
ditawarkan oleh penjual. Konsumen membutuhkan informasi yang berkaitan
dengan purchase decision yang akan dilakukan
Indikator Kualitas Produk
Menurut Garvin yang dikutip oleh Fandy Tjiptono (2012 : 121) kualitas
produk memiliki indikator-indikator yaitu sebagai berikut :
- Kinerja (Performance) merupakan karakteristik operasi dan produk inti (core
product) yang dibeli. Misalnya kecepatan, kemudahan dan kenyamanan
dalam penggunaan. - Fitur (feature)
Dimensi fitur merupakan karakteristik atau ciri-ciri tambahan yang
melengkapi manfaat dasar suatu produk. Fitur bersifat pilihan bagi konsumen.
Fitur bisa meningkatkan kualitas produk jika kompetitor tidak memiliki fitur
tersebut. - Kesesuaian dengan spesifikasi (Conformance to Spesification)
Kesesuaian yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi
standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya pengawasan kualitas dan
desain, Standar karakteristik operasional adalah kesesuaian kinerja produk
dengan standar yang dinyatakan suatu produk, ini semacam “janji” yang
harus dipenuhi oleh produk. Produk yang memiliki kualitas dari dimensi ini
berarti sesuai dengan standarnya. - Ketahanan (Durability)
Daya tahan menunjukan usia produk, yaitu jumlah pemakaian suatu produk
sebelum produk itu digantikan atau rusak. Semakin lama daya tahannya tentu
semakin awet, produk yang awet akan dipersepsikan lebih berkualitas
dibanding produk yang cepat habis atau cepat diganti. - Keandalan (Realibility)
Keandalan yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal
pakai. Misalnya pengawasan kualitas dan desain, standar karakteristik
operasional kesesuaian dengan spesifikasi. - Kemampuan Diperbaiki (Serviceability)
Kualitas produk ditentukan atas dasar kemampuan diperbaiki: mudah, cepat
dan kompeten. Produk yang mampu diperbaiki tentu kualitasnya lebih tinggi
dibandingkan dengan produk yang tidak atau sulit diperbaiki. - Estetika (Esthetica)
Yaitu daya tarik produk terhadap panca indera, misalkan bentuk fisik, model
atau desain yang artistik, warna dan sebagainya. - Kualitas yang dipersepsikan (Perceived Quality)
Merupakan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau
keunggulan suatu produk. Biasanya karena kurangnya pengetahuan pembeli
akan atribut atau ciri-ciri produk yang akan dibeli, maka pembeli
memperspsikan kualitasnya dari aspek harga, iklan, reputasi perusahaan,
maupun negara pembuatnya
Faktor-faktor Kualitas Produk (Product Quality)
Menurut Assauri (2015), faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas
produk adalah sebagai berikut:
- Fungsi suatu produk
Suatu produk yang dihasilkan hendaknya memperhatikan fungsi untuk apa
produk tersebut digunakan sehingga produk yang dihasilkan harus dapat benar-
benar memenuhi fungsi itu. Karena pemenuhan fungsi tersebut mempengaruhi
keputusan konsumen untuk membeli. Sedangkan tingkat keputusan tertinggi
tidak selamanya terpenuhi, maka tingkat kualitas suatu produk tergantung pada
tingkat pemenuhan fungsi keputusan pengguna yang dapat dicapai. - Wujud luar produk
Salah satu faktor penting dan sering dipergunakan oleh konsumen dalam
melihat produk pertama kalinya untuk menentukan kualitas produk tersebut
adalah wujud luar produk. Walaupun produk yang dihasilkan secara teknis atau
mekanis telah maju tetapi tidak bila wujud luarnya kurang menarik akan sulit
diterima, maka hal ini dapat menyebabkan produk tersebut tidak disenangi
konsumen. - Biaya produk tersebut
Umumnya biaya dan harga suatu produk akan dapat menentukan kualitas
produk tersebut. Hal ini terlihat dari produk yang mempunyai biaya atau harga
yang mahal menunjukkan bahwa kualitas produk tersebut relatif lebih baik.
Demikian sebaliknya produk yang mempunyai harga yang murah dapat
menunjukkan bahwa kualitas produk tersebut relatif lebih murah
Pengertian Kualitas Produk (Product Quality)
Menurut Kotler dan Keller ( 2009 : 143 ) Kualitas Produk adalah totalitas
fitur dan karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya
untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat. Sedangkan Menurut
Assauri ( 2015 : 211 ) Kualitas Produk adalah pernyataan tingkat kemampuan dari
suatu merek atau produk tertentu dalam melaksanakan fungsi yang diharapkan.
Menurut Assauri dalam Arumsari (2012:45), kualitas produk merupakan faktor-
faktor yang terdapat dalam suatu barang atau hasil yang menyebabkan barang atau
hasil tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa barang atau hasil itu dimaksudkan
Indikator Pendukung Selebriti (Celebrity Endorser)
Shimp (2014:167) mengatakan bahwa lima indikator celebrity endorser
untuk memfasilitasi efektivitas komunikasi dijelaskan dengan akronim TEARS.
TEARStersebut terdiri dari Trustworthiness (dapat dipercaya) dan Expertise
(keahlian) yang merupakan dua dimensi dari credibility, physical attractiveness,
respect (kualitas dihargai) dan similarity (kesamaan dengan audience yang dituju)
merupakan komponen dari konsep umum attractiveness (daya tarik fisik).
Menurut Shimp (2014:168) TEARS dijelaskan sebagai berikut:
- Trustworthiness (dapat dipercaya)
Trustworthiness mengacu pada kejujuran, integritas dan kepercayaan diri dari
seorang sumber pesan. Artinya kemampuan celebrity endorser dalam
menyampaikan pesan dari suatu produk bergantung pada kepercayaan diri,
integritas dan persepsi penerima pesan atas motivasi atau dorongan dari
dalam diri celebrity endoser tersebut untuk tampil secara objektif. - Expertise (keahlian)
Expertise (keahlian) mengacu pada pengetahuan, pengalaman atau keahlian
yang dimiliki endorser yang dihubungkan dengan merek yang didukung.
Seorang endorser dapat lebih diterima jika menguasai atau ahli mengenai
produk yang akan didukungnya sehingga endorser tersebut akan lebih
persuasif menyampaikan pesan. - Attractiveness (daya tarik fisik)
Attractiveness mengacu pada diri yang dianggap sebagai hal yang menarik
untuk dilihat dalam kaitannya dengan konsep kelompok tertentu dengan daya
tarik fisik. Daya tarik fisik merupakan hal pertama yang ditangkap oleh
audience ketika endorser melakukan tugasnya. Kemudian audience akan
mengidentifikasi untuk menentukan perilaku atau keputusan pemilihan produk. - Respect (kualitas dihargai)
Respect adalah kualitas yang dihargai atau digemari sebagai akibat dari kualitas
pencapaian personal. Endorser dipilih karena mampu mewakili dari suatu
produk yang didukungnya. Sehingga akan cenderung mempengaruhi minat
konsumen terhadap suatu produk. - Similarity (kesamaan audience yang dituju)
Similarity mengacu pada kesamaan antar endorser dan audience dalam hal
umur, jenis kelamin, etnis, status sosial dan sebagainya.
Peran Pendukung Selebriti (Celebrity Endorser)
Berikut ini adalah beberapa peran selebriti sebagai model iklan yang bisa
digunakan perusahaan dalam sebuah iklan Schiffman & Kanuk dalam Mahestu
Noviandra (2010).
- Testimonial, jika secara personal selebriti menggunakan produk tersebut
maka pihak dia bisa memberikan kesaksian tentang kualitas maupun benefit
dari produk atau merek yang diiklankan tersebut. - Endorsement, ada kalanya selebriti diminta untuk membintangi iklan produk
dimana dia secara pribadi tidak ahli dalam bidang tersebut. - Actor, selebriti diminta mempromosikan suatu produk atau merek tertentu
terkait dengan peran yang sedang ia bintangi dalam suatu program tayangan
tertentu. - Spokeperson, selebriti yang mempromosikan produk, merek atau suatu
perusahaan dalam kurun waktu tertentu masuk dalam kelompok peran
spokerperson. Penampilan mereka akan diasosiasikan dengan merek atau
produk yang mereka wakili
Pengertian Pendukung Selebriti
Menurut Kertamukti (2015:69) Selebriti adalah tokoh (aktor, penghibur,
atau atlet) yang dikenal karena prestasinya di dalam bidang – bidang yang berbeda
dari golongan produk yang didukungnya. Sedangkan selebriti pendukung
(celebrity endorser) adalah individu yang terkenal oleh publik atas prestasinya
selain daripada produk yang didukungnya. Menurut Shimp (2014:167), endorser
adalah pendukung iklan atau yang dikenal juga sebagai bintang iklan untuk
mendukung suatu produk. Sedangkan selebriti adalah tokoh (aktor, penghibur atau
atlet) yang dikenal karena prestasinya di dalam bidang-bidang yang berbeda dari
produk yang đidukungnya. Selebriti dipandang sebagai individu yang disenangi
oleh masyarakat dan memiliki keunggulan atraktif yang membedakannya dari
individu lain. Shimp (2014:168) berpendapat bahwa celebrity endorser adalah
menggunakan artis sebagai bintang iklan di media-media, mulai dari media cetak,
media sosial, maupun media televisi. Handri Candra (2008:93) menjelaskan
celebrity endorser adalah cara melakukan promosi produk dengan artis sebagai
tokoh pengiklan. Semakin ngetop seorang selebriti biasanya akan semakin banyak
fansnya. Karena sifat selebriti yang terkenal dan banyak pencintanya, maka
menggunakan selebriti sebagai endorser produk adalah salah satu cara untuk
menaikkan pamor produk anda. Cara ini banyak ditempuh oleh produsen
untuk menaikkan aware produk mereka
Pengaruh Celebrity endorser terhadap minat beli konsumen
Trustworthiness (kepercayaan) mengacu pada sejauh mana sumber
dipandang memiliki kejujuran, ketulusan, dan dapat dipercaya. Sumber yang
dapat dipercaya secara sederhana berarti endorser sebuah merek secara bertahap
mampu membuat audiens memiliki kepercayaan pada apa yang mereka katakan.
Jika sumber atau endorser tersebut adalah endorser maka trustworthiness lebih
mengarah pada kemampuan endorser untuk memberikan kepercayaan kepada
konsumen akan suatu produk. Kepercayaan mencerminkan sejauh mana
kepercayaan konsumen pada katakata endorser tentang merek yang diiklankan (
Arora dan Sahu, 2014). Priester dan Petty (2003) mencatat bahwa jika endorser
yang dianggap sangat dapat dipercaya, membuat konsumen tidak mungkin
meneliti pesan iklan lebih detail dan konsumen tanpa berpikir dapat menerima
kesimpulan dari iklan. Jika informasi berasal dari sumber yang dapat dipercaya,
maka sikap, nilai, dan pendapat konsumen dapat dipengaruhi oleh internalisasi.
Internalisasi terjadi apabila sumber mempengaruhi sikap pribadi dari konsumen
(Ohanian, 1990). Apabila Endorser yang mendukung produk dipercaya maka
dapat mempengaruhi perilaku pembelian konsumen (Khong dan Wu, 2013).
Expertise (keahlian) mengacu pada pengetahuan, pengalaman atau
keahlian yang dimiliki oleh seorang endorser yang dihubungkan dengan merek
yang mereka dukung. Keahlian adalah pengetahuan dan pengalaman endorser
tentang merek yang diiklankan (Arora dan Sahu, 2014). Menurut Shimp (2003),
Seorang endorser yang dipandang sebagai seorang yang ahli pada merek yang
didukungnya akan lebih persuasif dalam menarik konsumen untuk melakukan
pembelian produk daripada seorang endorser yang tidak dipandang sebagai
seorang yang ahli.
Endorser dianggap ‘ahli’ ketika mereka mendukung produk yang berkaitan
dengan daerah-daerah yang telah membuat mereka populer (Biswas, Hussain, dan
O’Donnell, 2006). Misalnya, atlet dianggap ahli ketika mendukung produk yang
berhubungan dengan olahraga. Model dianggap sebagai memiliki keahlian yang
berkaitan dengan produk kecantikan dan barang-barang fashion. Keahlian
endorser adalah menyediakan konsumen informasi yang lebih konkrit pada
penawaran produk, yang kemudian dapat menyebabkan sikap yang
menguntungkan terhadap merek dan mempengaruhi perilaku pembelian mereka
(Magnini, Honeycutt, dan Cross, 2008). Keahlian yang dimunculkan oleh
endorser dapat meningkatkan sikap positif dan minat beli konsumen (Khong dan
Wu, 2013).
Minat Beli
Minat beli diperoleh dari suatu proses belajar dan proses pemikiran yang
membentuk suatu persepsi. Minat yang muncul dalam melakukan pembelian
menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benaknya dan menjadi
suatu kegiatan yang sangat kuat yang pada akhirnya ketika seorang konsumen
harus memenuhi kebutuhannya akan mengaktualisasikan apa yang ada didalam
benaknya itu. Dengan demikian, minat beli akan timbul saat dalam proses
pengambilan keputusan.
Definisi minat beli menurut Thamrin, (2013: 142 ) adalah merupakan
bagian dari komponen perilaku konsumen dalam sikap mengkonsumsi,
kecenderungan responden untuk bertindak sebelum keputusan membeli benar-
benar dilaksanakan. Minat beli merupakan kecenderungan konsumen untuk
membeli suatu merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan
pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan
pembelian (Assael, 2010). Perilaku konsumen dalam mengambil keputusan
membeli mempertimbangkan barang dan jasa apa yang akan dibeli, dimana,
kapan, bagaimana, berapa jumlah dan mengapa membeli produk tersebut. Lucas
dan Britt (2003) dan Natalia (2008) mengatakan bahwa aspek-aspek yang terdapat
dalam minat beli antara lain:
a. Perhatian, adanya perhatian yang besar dari konsumen terhadap suatu
produk (barang atau jasa).
b. Ketertarikan, setelah adanya perhatian maka akan timbul rasa tertarik
pada konsumen.
c. Keinginan, berlanjut pada perasaan untuk mengingini atau memiliki
suatu produk tersebut.
d. Keyakinan, kemudian timbul keyakinan pada diri individu terhadap
produk tersebut sehingga menimbulkan keputusan (proses akhir) untuk
memperolehnya dengan tindakan yang disebut membeli.
e. Keputusan
Disimpulkan bahwa aspek-aspek dalam minat beli adalah sebagai
berikut :
a. Ketertarikan (interest) yang menunjukan adanya pemusatan
perhatian dan perasaan senang.
b. Keinginan (desire) ditunjukkan dengan adanya dorongan untuk
memiliki.
c.Keyakinan (convicition) ditunjukkan dengan adanya perasaan
percaya diri individu terhadap kualitas, daya guna dan keuntungan
dari produk yang akan dibel
Perilaku Pembelian Konsumen
Menurut Kotler dan Keller (2009: 166) Perilaku konsumen adalah studi
tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli,
menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka.
Menurut Pindyck dan Rubinfeld (2007: 72) Teori perilaku konsumen
adalah deskripsi tentang bagaimana konsumen mengalokasikan pendapatan antara
barang dan jasa yang berbeda-beda untuk memaksimalkan kesejahteraan
konsumen tersebut. Schiffman dan Kanuk (2008) mendefinisikan perilaku
konsumen (consumenbehavior) sebagai perilaku yang diperlihatkan konsumen
dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan menghabiskan produk
yang diharapkan akan memuaskan kebutuhan hidup. Perilaku pembelian
konsumen dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, dan pribadi (Kotler dan Keller,
2009).
- Faktor Budaya
Menurut Kotler dan Keller (2009: 166), Budaya (culture) adalah
determinan dasar keinginan dan perilaku seseorang. Kelas budaya, subbudaya,
dan sosial sangat mempengaruhi perilaku pembelian konsumen.
a. Sub budaya (subculture)
Setiap budaya terdiri dari beberapa subbudaya (subculture) yang
lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih
spesifik untuk anggota mereka. Subbudaya meliputi kebangsaan, agama,
kelompok ras, dan wilayah geografis.
b. Kelas Sosial
Menurut Kotler dan Keller (2009: 168), kelas sosial didefinisikan
sebagai sebuah stratifikasi sosial atau divisi yang relatif homogen dan
bertahan lama dalam sebuah masyarakat, tersusun secara hierarki dan
mempunyai anggota yang berbagi nilai, minat, dan perilaku yang sama. - Faktor Sosial
Selain faktor budaya, faktor sosial seperti kelompok referensi, keluarga,
serta peran sosial dan status mempengaruhi perilaku pembelian.
a. Kelompok Referensi
Kelompok referensi (reference group) seseorang adalah semua
kelompok yang mempunyai pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak
langsung terhadap sikap atau perilaku orang tersebut.
b. Keluarga
Menurut Kotler dan Keller (2009: 171), Keluarga adalah organisasi
pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dan anggota
keluarga merepresentasikan kelompok referensi utama yang paling
berpengaruh.
c. Peran dan Status
Orang berpartisipasi dalam banyak kelompok, keluarga, klub, dan
organisasi. Kelompok sering menjadi sumber informasi penting dan
membantu mendefinisikan norma perilaku. Posisi seseorang dalam tiap
kelompok di mana ia menjadi anggota berdasarkan peran dan status. Peran
(role) terdiri dari kegiatan yang diharapkan dapat dilakukan seseorang. Setiap
peran menyandang status. - Faktor Pribadi
Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Faktor
pribadi meliputi usia dan tahap dalam siklus hidup pembeli, pekerjaan dan
keadaan ekonomi, kepribadian dan konsep diri, serta gaya hidup dan nilai.
a. Usia dan Tahap Siklus Hidup
Selera dalam makanan, pakaian, perabot, dan rekreasi sering
berhubungan dengan usia. Konsumsi juga dibentuk oleh siklus hidupkeluarga
dan jumlah, usia, serta jenis kelamin orang dalam rumah tangga pada satu
waktu tertentu.
b. Pekerjaan dan Keadaan Ekonomi
Pekerja kerah biru akan membeli baju kerja, sepatu kerja, dan kotak
makan. Presiden perusahaan akan membeli jas, perjalanan udara, dan
keanggotaan country club. Pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok
pekerjaan yang mempunyai minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa
mereka.
c. Kepribadian dan Konsep Diri
Setiap orang mempunyai karakteristik pribadi yang mempengaruhi
perilaku pembeliannya. Yang dimaksudkan dengan kepribadian (personality),
adalah sekumpulan sifat psikologis manusia yang menyebabkan respons yang
relatif konsisten dan tahan lama terhadap rangsangan lingkungan (termasuk
perilaku pembelian). Kepribadian juga dapat menjadi variabel yang berguna
dalam menganalisis pilihan merek konsumen. Idenya bahwa merek juga
mempunyai kepribadian, dan konsumen mungkin memilih merek yang
kepribadiannya sesuai dengan mereka. Kepribadian merek (brand
personality) dapat didefinisikan sebagai bauran tertentu dari sifat manusia
yang dapat dikaitkan pada merek tertentu.
d. Gaya Hidup dan Nilai
Orang-orang dari subbudaya dan kelas sosial yang sama mungkin
mempunyai gaya hidup yang cukup berbeda. Menurut Kotler dan Keller (2009:
175), Gaya hidup (lifestyle) adalah pola hidup seseorang di dunia yang tercermin
dalam kegiatan, minat, dan pendapat
Endorser
Menurut Terence A. Shimp (2010), endorser adalah pendukung iklan atau
yang dikenal juga sebagai bintang iklan dalam mendukung iklan produknya.
Shimp juga membagi endorser dalam 2 (dua) jenis, yaitu :
a. Typical-Person Endorser adalah orang-orang biasa yang tidak terkenal untuk
mengiklankan suatu produk.
b. Celebrity Endorser adalah penggunaan orang terkenal (Public Figure) dalam
mendukung suatu iklan.
Celebrity endorser didefinisikan sebagai seorang figure yang dikenal baik
oleh publik dan memerankan dirinya sebagai konsumen dalam iklan. Selebriti
meliputi bintang film maupun bintang televisi, bintang olahraga, penyanyi dan
orang-orang tertentu lainnya yang berpengaruh (Sidharta, 2014). Banyak faktor
yang dipertimbangkan produsen dalam memilih endorser sebagai bintang iklan.
Penelitian yang dilakukan oleh Guan Feng Song dan Sirion Chaipoopiratana
(2008) menyimpulkan bahwa faktor yang digunakan untuk memilih celebrity
endorser adalah:
- Risk
Faktor risiko ini sendiri terdiri dari biaya untuk memperoleh layanan
dari selebriti (endorcement fee), citra resiko perubahan besar kecilnya
kemungkinan bahwa selebriti akan berada dalam masalah setelah dukungan
dilakukan (image change risk), sulit atau mudahnya selebriti bekerjasama
(exclusive representation), berapa banyak merek lain yang sedang didukung
selebriti tersebut (overshadowing) dan perbedaan karakter selebriti dengan
produk yang diiklankan (differentiation). - Physical Attractiviness
Sifat yang dimiliki seorang yang dapat menimbulkan rasa ketertarikan
terhadap dirinya. Daya tarik fisik seorang selebriti adalah salah satu alasan
untuk seorang selebriti disukai oleh penonton. Faktor Physical Attractivines
ini sendiri terdiri dari Kecakapan/ kecantikan (handsome/ pretty), modis
(fashionable), sexi (sexy), daya tarik (attractiviness), dan elegan (elegant). - Credibility
Credibility juga dianggap penting sebagai alasan utama dan faktor
penentu dalam pemilihan celebrity endorser. Kredibilitas adalah sebuah
sifat yang dimiliki seseorang yang dapat menimbulkan kepercayaan orang
lain terhadap dirinya atas kebenaran yang disampaikan melalui iklan. Faktor
tersebut meliputi Reputasi (reputation), popularitas seorang celebrity
endorser(popularity), Citra publik tentang celebrity endorser (public
image), kepercayaan (trustworthiness), dan laku tidaknya celebrity
endorser(deporment). - Amiability
Amiability mengacu pada kemampuan selebriti untuk menjaga
keramahan dengan masyarakat sehingga bisa diterima dan disukai oleh
masyarakat. Oleh karena itu praktisi lebih mendukung selebriti yang sangat
ramah. Faktor Amiability ini sendiri terdiri dari Keberanian (outgoing and
bold), disukai (likeability), dan celebrity yang dapat membina hubungan
sosial (socialassociation/ intercourse). - Celebrity Product Match
Para eksekutif periklanan menuntut agar citra selebriti, nilai, dan
perilakunya sesuai dengan kesan yang diinginkan untuk produk yang
diiklankan. Faktortersebut terdiri dari penampilan celebrity endorser yang
cocok dengan produk (celebrity appearance/ image product match), dan
kelebihan selebriti yang cocok dengan produk (celebrity value product
match). - Proffesion
Orang akan menghormati profesi apa pun, seperti sebagai pekerja
keras dan seseorang yang bertanggung jawab. Apabila profesi selebriti
memiliki beberapa hubungan dengan produk yang didukung sehingga dapat
dipercaya untuk berbicara tentang produk yang didukung, hal tersebut akan
menjadikan pengaruh yang besar bagi masyarakat untuk memilih produk
yang diiklankan oleh celebrity endorser tersebut. Faktor ini terdiri dari
Keahlian (expertise), pekerja keras (hardworking and responsible) dan
berpengetahuan (knowledge/ qualified to talk about product). - Celebrity Audience Match
Bahwa kecocokan selebriti tidak hanya pada produk yang diiklankan
akan tetapi kecocokan meliputi bintang iklan dimana merupakan public
figur yang patut dipandang oleh khlayak umum. Faktor Celebrity Audience
Match ini terdiri dari Penampilan selebriti yang cocok dengan penonton
(celebrity appearance/ image audience match).
Promosi dengan media sosial
Media sosial adalah sebuah media online yang penggunanya dapat
dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan membuat isi, termasuk blog,
jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki
merupakan bentuk media sosial yang paling sering digunakan oleh orang di
seluruh dunia. Pengguna internet di Indonesia telah mencapai 63 juta orang.
Dari jumlah itu, 95 persen menggunakan Internet untuk mengakses jejaring
sosial ( Riu, 2015). Untuk itu promosi melalui media sosial sangat efektif
dan dapat membantu perusahaan ataupun pengusaha menjual produknya
lebih banyak lagi.
Promosi melalui media internet
Iklan merupakan salah satu cara untuk melakukan promosi melalui media
internet. Iklan online adalah bentuk promosi yang menggunakan internet dan
WorldWide Web untuk tujuan menyampaikan pesan memberikan pemasaran
untuk menarik pelanggan. Promosi melalui internet memiliki keunggulan
tersendiri dibanding promosi lainnya, menurut Aan di situs webhostmu.com
(2013). Keunggulan tersebut antara lain :
a. Biaya promosi yang dibilang tidak terlalu besar atau bahkan bisa juga gratis.
b. Iklan yang anda promosikan menyebar ke seluruh indonesia bahkan ke
seluruh dunia sehingga iklan anda akan dibaca oleh orang-orang di seluruh
dunia. Bayangkan jika anda promosi melalui brosur atau majalah maka akan
sangat susah prosesnya dan biayanya pun besar apalagi jika anda target
promosi hingga ke luar negeri.
c. Pemasangan iklan yang relatif mudah. Hanya melalui internet saja, isi
formulir pemasangan iklan dan daftar. Cepat, mudah, dan efektif.
d. Isi iklan bisa diubah setiap hari. Iklan bisa anda ubah kapanpun tiap hari,
tiap jam, atau tiap menit. Jika promosi melalui melalui koran, majalah,
televisi, radio maka hal ini tidak dapat dilakukan
Media online
Menurut Yusuf di situs bincangmedia.wordpress.com (2010), Media
online adalah sebutan umum untuk sebuah media yang berbasis telekomunikasi
dan multimedia (komputer dan internet). Didalamnya terdapat portal, website
(situs web), radio online, Tv-online, pers online, mail-online, dll, dengan
karakteristik masing-masing sesuai dengan fasilitas yang memungkinkan user
memanfaatkannya
Media Internet
Internet adalah salah satu metode yang paling modern digunakan untuk
bertukar serta menyebarkan informasi dan pengetahuan dengan biaya rendah
(Alsarayreh dan Jawabreh, 2011). Internet merupakan jaringan global komputer
dunia, besar dan sangat luas sekali dimana setiap komputer saling terhubung satu
sama lainnya dari negara ke negara lainnya di seluruh dunia dan berisi berbagai
macam informasi, mulai dari text, gambar, audio, video, dan lainnya.
Internet itu sendiri berasal dari kata Interconnection Networking, yang
berarti hubungan dari banyak jaringan komputer dengan berbagai tipe dan jenis,
dengan menggunakan tipe komunikasi seperti telepon, salelit, dan lainnya,
menurut Admin pada situs jaringankomputer.org (2012).
Promosi
Definisi dari promosi menurut para ahli adalah sebagai berikut: Menurut
Osman, Benjamin, dan Yeoh (2011) : “Promosi adalah salah satu teknik untuk
menarik konsumen untuk membeli lebih banyak atau mencoba produk atau jasa.”
Sedangkan menurut Buchari (2006): “Promosi adalah sebagai komunikasi yang
memberi informasi kepada calon konsumen mengenai suatu produk, yang dapat
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dan mendorong mereka untuk
membeli”.
Secara singkat promosi ini berkaitan dengan upaya untuk mengarahkan
seseorang untuk dapat mengenal produk perusahaan, lalu memahaminya, berubah
sikap, menyukai, yakin, kemudian akhirnya membeli dan akan selalu ingat akan
produk tersebut. Salah satu keuntungan dari promosi adalah dapat merangsang
konsumen untuk berpikir dan mengevaluasi merek dan ada kemungkinan membeli
ketika mereka tidak memiliki produk itu. Oleh karena itu, banyak pemasar dan
pengecer memanfaatkan berbagai jenis alat promosi dan strategi untuk memahami
preferensi konsumen dan meningkatkan penjualan mereka. ( Osman, Benjamin,
dan Yeoh, 2011)
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembeli adalah berbeda-beda
untuk masing-masing pembeli disamping produk yang dibeli dan saat
pembelinya berbeda. Menurut Swasta dalam Indra Wijaya (2013,p.19)
faktor-faktor tersebut adalah :
- Kebudayaaan
Adalah simbol dan fakta yang komplek, yang diciptakan oleh manusia
diturunkan dari generasi kegenerasi sebagai penentu dari pengatur
tingkah laku manusia dalam masyarakat yang ada. - Kelas Sosial
Faktor sosial kebudayaan yang lain yang dapat mempengaruhi
pandangan dan tingkah laku pembeli adalah kelas sosial, pada
pokoknya, masyarakat kita ini dapat dikelompokkan kedalam tiga
golongan yaitu :
a. Golongan atas
Yang termasuk dalam golongan ini antara lain pengusaha-pengusaha
kaya, pejabat-pejabat tinggi.
b. Golongan menengah
Termasuk dalam kelas ini yaitu pemerintah, pengusaha menengah.
c. Golongan rendah
Yang termasuk dalam kelas ini antara lain : rendah, buruh-buruh
pabrik, pegawai rendah, tukang becak, dan pedagang kecil. - Kelompok Refrensi
Kelompok refrensi kecil ini juga mempengaruhi perilaku seseorang
dalam membelinya, dan sering dijadikan pedoman oleh konsumen
dalam bertingkah laku, oleh karena itu konsumen selalu mengawasi
kelompok tersebut baik tingkah laku fisik maupun mentalnya. Yang
termasuk kelompok refrensi kecil ini antara lain : serikat buruh, tim-tim
atletik, perkumpulan agama, lingkungan tetangga. - Keluarga
Dalam keluarga, masing-masing anggota dapat berbuat hal yang
berbeda untuk membeli sesuatu. Setiap anggota keluarga memiliki
selera dan keinginan yang berbeda-beda, oleh karena itu, manajer
pemasaran perlu mengetahui sebenernya.
a. Siapa yang mempengaruhi keputusan untuk membeli.
b. Siapa yang membuat keputusan untuk membeli
c. Siapa yang melakukan pembelian
d. Siapa yang memakai produknya. - Pengalaman
Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan seseorang dalam
bertingkah laku. Pengalaman dapat diperoleh dari semua perbuatan di
masa lalu atau dapat pula dipelajari, sebab dengan belajar seseorang
dapat memperoleh pengalaman. Penafsiran dan peramalan proses
belajar konsumen merupakan kunci untuk mengetahui perilaku
pembelinya. - Kepribadian
Kepribadian dapat didefinisikan sebagai pola sifat individu yang dapat
menentukan tanggapan untuk bertingkah laku. Sebenarnya, pengaruh
sifat kepribadian konsumen terhadap pasangan dan perilaku pembelinya
adalah sangat umum, dan usaha-usaha untuk menghubungkan norma
kepribadian dengan berbagai macam tindakan pembelian konsumen
umumnya tidak berhasil, namun para ahli tetap percaya bahwa
kepribadiaan itu juga mempengaruhi perilaku pembeliaan seseorang. - Sikap dan Kepercayaan
Sikap dan kepercayaan merupakan faktor yang ikut mempengaruhi
pandangan dan perilaku pembeli konsumen. Sikap itu sendiri
mempengaruhi kepercayaan, kepercayaan juga mempengaruhi sikap. - Konsep Diri
Faktor lain yang ikut menentukan tingkah laku pembeli adalah konsep
diri. Konsep diri merupakan cara bagi seseorang untuk melihat dirinya
sendiri, dan pada saat yang sama ia mempunyai gambaran tentang diri
orang lain
Struktur Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian yang diambil oleh pembeli sebenarnya merupakan
kumpulan dari sejumlah keputusan yang terorganisir, setiap keputusan
pembelian mempunyai struktur sebanyak enam komponen. Komponen-
komponen tersebut antara lain :
- Keputusan tentang bentuk produk
Konsumen dapat mengambil keputusan pembelian dalam suatu produk.
Keputusan tersebut menyangkut pola ukuran, mutu, corak, dan
sebagainya. Dalam hal ini, perusahaan harus melakukan riset pemasaran
untuk mengetahui kesukaan konsumen tentang produk yang
bersangkutan agar dapat memaksimalkan daya tarik produknya. - Keputusan tentang merek
Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek mana yang akan
dibeli. Setiap merek memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal
ini, perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen harus memilih
sebuah merek dalam melakukan pembeliannya, merek yang sudah
dikenal memiliki nama yang akan memudahkan konsumen dalam
mengambil keputusannya. - Keputusan tentang penjualan
Konsumen harus mengambil keputusan dimana produk tersebut akan
dibeli. Dalam hal ini produsen, pedagang besar dan pengecer harus
mengetahui bagaimana konsumen menyukai produk tersebut. - Keputusan tentang jumlah produk.
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk
yang akan dibelinya suatu saat. Dalam hal ini, perusahaan harus
mempersiapkan banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang
berbeda-beda dari para pembeli. - Keputusan tentang waktu pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan ia harus
melakukan pembelian. Masalah ini menyangkut tersedianya uang untuk
membeli produk. Oleh karena itu perusahaan harus dapat mengukur
waktu produksi dan kegiatan pemasaran.
Pengertian Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian merupakan suatu penentuan apa yang akan dibeli atau
tidaknya oleh konsumen, keputusan didasarkan kepada hasil yang diperoleh
dari kegiatan atau aktivitas sebelum pembelian. Keputusan pembelian akan
hadir dalam suatu proses pembelian setelah mempertimbangkan adanya
kebutuhan yang dirasa konsumen dan adanya kegiatan atau aktivitas lain
yang dilakukan sebelum pembelian serta besarnya jumlah kemampuan dana
yang dimiliki. Pemahaman mengenai keputusan pembelian konsumen
meliputi bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli,
menggunakan dan tidak menggunakan barang atau jasa. Memahami
konsumen tidaklah mudah karena setiap konsumen memutuskan pembelian
tertentu yang berbeda-beda dan sangat bervariasi.
Menurut Kotler (2013 ,p.16) mengemukakan bahwa pengambilan keputusan
merupakan suatu kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam
mendapatkan dan mempergunakan barang yang ditawarkan. Biasanya
keputusan pembelian konsumen akan terwujud untuk membeli merek yang
paling disukai, tetapi dua faktor bisa muncul di antara niat.
Factor – Faktor Pendukung Terbentuknya Brand Image DalamKeterkaitannya Dengan Asosiasi Merek
Factor – Faktor Pendukung Terbentuknya Brand Image Dalam
Keterkaitannya Dengan Asosiasi Merek :
- Keunggulan asosiasi merek (Favorability of brand association) Salah
satu factor pembentuk Brand Image adalah keunggulan produk, dimana
produk tersebut unggul dalam persaingan. Karena keunggulan kualitas
(model dan kenyamanan) dan cirri khas itulah yang menyebabkan suatu
produk mempunyai daya tarik tersendiri bagi konsumen. - Kekuatan asosiasi merek (Strength of brand association) Contoh
membangun kepopuleran merek dengan strategi komunikasi melalui
periklanan. Setiap merek yang berharga mempunyai jiwa, suatu
kepribadian khusus adalah kewajiban mendasar bagi pemilik merek
untuk dapat mengungkapkan, mensosialisasikan jiwa/keperibadian
tersebut dalam satu bentuk iklan, ataupun bentuk kegiatan promosi dan
pemasaran lainnya. Hal itulah yang akan terus menerus yang menjadi
penghubung antara produk/merek dengan konsumen. Dengan demikian
merek tersebut akan cepat dikenal dan akan tetap terjaga ditengah-tengah
maraknya persaingan. Membangun popularitas sebuah merek tidaklah
mudah, namun demikian popularitas adalah salah satu kunci yang dapat
membentuk Brand Image. - Keunikan asosiasi merek (Uniqueness of brand association) Merupakan
keunikan-kunikan yang dimiliki oleh produk tersebut. Beberapa
keuntungan dengan terciptanya Brand Image yang kuat adalah :
a. Peluang bagin produk /merek untuk terus mengembangkan diri dan
memiliki prospek bisnis yang bagus.
c. Menciptakan loyalitas konsumen.
d. Membantu dalam efisiensi Marketing, karena merek telah berhasil
dikenal dan diingat oleh konsumen.
e. Membantu dalam menciptakan perbedaan dengan pesaing. Semakin
merek dikenal dengan masyarakat, maka perbedaan atau keunikan
baru yang diciptakan perusahaan akan mudah dikenali oleh konsumen.
f. Mempermudah dalam perekrutan tenaga kerja bagi perusahaan.
g. Meminimumkan kehancuran / kepailitan perusahaan
Faktor-Faktor Yang Membentuk Brand Image
Faktor-faktor yang membentuk brand image adalah:
a. Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk barang yang
ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu.
b. Dapat dipercaya atau diandalkan. berkaitan dengan pendapat atau
kesepakatan yang dibentuk oleh masyarakat tentang suatu produk yang
dikonsumsi.
c. Kegunaan atau manfaat yang terkait dengan fungsi dari suatu produk
barang yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.
d. Harga, dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak
sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk
mempengaruhi suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra jangka
panjang.
Pengertian Brand Image
Image adalah pesan yang disampaikan oleh suatu merek melalui bentuk
tampilan produk, nama, simbol, iklan, dsb. Identitas merek berkaitan erat
dengan brand image karena brand image merujuk pada bagaimana persepsi
konsumen akan suatu merek. Menurut Philip Kotler (2009, p.259) : “
Identitas adalah berbagai cara yang diarahkan perusahaan untuk
mengidentifikasikan dirinya atau memposisikan produknya”.
Sedangkan image, yaitu : Citra adalah persepsi masyarakat terhadap
perusahaan atau produknya. Maka jelas jika, brand image atau citra merek
adalah bagaimana suatu merek mempengaruhi persepsi, pandangan
masyarakat atau konsumen terhadap perusahaan atau produknya. Menurut
Kotler (2009, p.128) brand image adalah persepsi dan keyakinan yang
dilakukan oleh konsumen, seperti tercermin dalam asosiasi yang terjadi
dalam memori konsumen.
Keuntungan dan Resiko Menggunakan Celebrity Endorser
Ada beberapa keuntungan dan resiko apabila kita menggunakan celebrity
sebagai Endorser, salah satu keuntungan apabila kita menggunakan
celebrity sebagai Endorser Menurut Jawler dan Drewniany (2009 .p,57) :
- Celebrity endorser mempunyai kekuatan “menghentikan” artinya
celebrity sebagai endorser dapat diguakan untuk menarik perhatian dan
membantu menyelesaikan kekacauan yang dibuat oleh iklan-iklan
lainnya. - Celebrity endorser merupakan figur yang disukai audiens diharapkan
memiliki kekaguman terhadap celebrity sebagai endorser yang akan
berpengaruh pula pada produk atau perusahaan yang diiklankan.
Sebelum memutuskan memilih seorang celebrity sebagai endorser,
perusahaan seharusnya memeriksa dan mengukur popularitas dan daya
tarik celebrity tersebut sebagai orang terkenal. - Celebrity endorser mempunyai keunikan karakteristik yang dapat
membantu mengkomunikasikan pesan-pesan yang ingin disampaikan
kepada audiens. Celebrity sebagai endorser yang memiliki kesesuaian
karakteristik dengan produk yang akan diiklankan akan lebih membantu
dalam menyampaikan pesan dalam sebuah cara yang dramatis.
Pengaruh citra merek terhadap keputusan pembelian
Merek merupakan sebuah unsur yang penting dalam membantu proses
pemasaran di dalam perusahaan, sehingga merek merupakan salah satu hal yang
penting yang menyangkut reputasi perusahaaan. Merek merupakan nama, istilah,
lambang, desain atau kombinasi dari semuanya untuk mendiferensiasikan antara
merek satu dengan merek lainya.
Adapula citra merek yang merupakan asumsi dan persepsi konsumen
mengenai suatu merek, merupakan refleksi memori konsumen akan asosiasinya
pada merek tersebut citra merek dibentuk melalui kesadaran, reputasi, afinitas dan
jangkauan suatu merek (Ferrinadewi, 2011:165). hal ini memainkan peranan
penting terhadap keputusan pembelian. Keputusan pembelian muncul dari merek
yang memiliki citra yang baik dalam benak konsumen. Hal tersebut sesuai dengan
yang dalam penelitian yang dilakukan oleh Ni Made Rahayu Wulandari (2015),
dan Bih-Shya Lin (2007), serta penelitian yang dilakukan oleh Nela Evelina dkk
(2012), yang sama-sama meneliti hubungan antara citra merek terhadap keputusan
pembelian. Ketiga penelitian tersebut menyatakan bahwa terdapat pengaruh
positif antara citra merek terhadap keputusan pembelian
Pengaruh Desain Produk terhadap citra merek
Menghasilkan produk sesuai dengan yang di butuhkan dan di inginkan
manusia adalah hal yang ingin di capai dari proses perancangan. Salah satunya
adalah dengan merancang dengan berorientasi terhadap keinginan dan kebutuhan
pelanggan, dapat dipastikan bahwa setiap perusahaan
harus memperhatikan desain produk yang menarik serta dapat memenuhi
keinginan konsumen. ketika desain produk yang melekat pada suatu produk, maka
konsumen tentunya akan memberi suatu bentuk citra.
Hubungan antara desain produk terhadap citra merek ini telah terdapat
pada penelitian terdahulu seperti yang dikemukakan oleh Stanton (1995 dalam
assidieqi) desain produk merupakan salah satu aspek pembentuk citra. Perusahaan
juga semakin menyadari pentingnya nilai pemasaran dari desain produk. Maka
apabila desain produk dari suatu perusahaan di pasarkan maka akan membentuk
citra di benak konsumen.
Pengaruh Celebrity Endorser terhadap citra merek
Celebrity endorser merupakan salah satu metode promosi yang paling
populer di dunia, dengan menggunakan selebriti yang menarik, menyenangkan,
dan dapat di percaya oleh public yang di tuju sehingga produk yang dipromosikan
menjadi diketahui dan dikenal. Celebrity endorser memiliki hubungan yang erat
terhadap citra merek. bagi sebuah perusahaan, celebrity endorser adalah
pendukung produk yang di iklankan, dengan kata lain melalui celebrity endorser
perusahaan dapat berkomunikasi dengan public untuk meningkatkan citra merek
dari perusahaan itu sendiri.
Penggunaan Celebrity endorser merupakan salah satu strategi komunikasi
yang di lakukan oleh pemasar di dalam membangun citra merek. Seperti
beberapa penelitian sebelumnya yang telah ada untuk membahas pengaruh
Celebrity endorser terhadap citra merek, yaitu Alfiyah Nuraini dan Baskoro
Ndaru murti ,2014 yang menyatakan hasil penelitian menunjukan bahwa adanya
pengaruh positif dan signifikan variable iklan dan celebrity endorser terhadap
citra merek dan juga variable citra merek berpengaruh terhadap minat beli
Indikator Keputusan Pembelian
Dalam keputusan membeli suatu produk, menurut Swastha dalam
ambarani (2013:3) memiliki struktur sebanyak 7 komponen, antara lain keputusan
tentang jenis produk, bentuk produk , tentang merek, tentang penjualnya, tentang
jumlah produk, waktu pembelian dan cara pembayaran.
Dimensi keputusan Pembelian menurut Kotler dan Amstrong adalah :
- Pemilihan produk/jasa
Pemilihan produk atau jasa adalah alasan mengapa konsumen memilih
produk/jasa untuk memenuhi kebutuhan. - Pemilihan merek
Pemilihan merek yaitu bagaimana suatu merek mempromosikan dirinya dalam
bentuk konsumen yang meliputi citra (image) merek yang unik dari sebuah
produk / jasa. - Pemilihan waktu
Waktu adalah satu unsur terpenting bagi konsumen untuk membeli suatu
produk / jasa. - Pilihan metode/cara pembayaran
Konsumen harus mengambil pilihan tentang metode / cara pembayaran
produk yang di beli
Model Keputusan Pembelian
Keputusan untuk membeli suatu produk baik barang maupun jasa timbul
karena adanya dorongan emosional dari dalam diri maupun pengaruh dari luar.
Proses keputusan pembelian merupakan proses psikologis dasar yang memainkan
peranan penting dalam memahami bagaimana konsumen benar-benar membuat
keputusan pembelian mereka. Proses keputusan pembelian model lima tahap
menurut Kotler dan Keller (2013:184) adalah sebagai berikut:
- Pengenalan masalah
Proses pembelian dimulai ketika pembeli menyadari suatu masalah atau
kebutuhan yang dipicu oleh rangsangan internal atau eksternal. - Pencarian informasi
Sumber informasi utama di mana konsumen dibagi menjadi empat kelompok:
a. Pribadi. Keluarga, teman, tetangga, rekan.
b. Komersial. Iklan, situs web, wiraniaga, penyalur, kemasan, tampilan.
c. Publik. Media massa, organisasi pemeringkat konsumen.
d. Eksperimental. Penanganan, pemeriksaan, penggunaan produk. - Evaluasi alternatif
Beberapa konsep dasar yang akan membantu kita memahami proses evaluasi:
pertama, konsumen berusaha memuaskan sebuah kebutuhan. Kedua,
konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi produk. Ketiga, konsumen
melihat masing-masing produk sebagai sekelompok atribut dengan berbagai
kemampuan untuk menghantarkan manfaat yang diperlukan untuk
memuaskan kebutuhan ini. - Keputusan pembelian
Dalam tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi antar merek dalam
kumpulan pilihan. Konsumen mungkin juga membentuk maksud untuk
membeli merek yang paling disukai. Dalam melaksanakan maksud pembelian,
konsumen dapat membentuk lima sub keputusan: merek, penyalur, kuantitas,
waktu, dan metode pembayaran. - Perilaku pasca pembelian
Setelah pembelian , konsumen mungkin mengalami konflik dikarenakan
melihat fitur mengkhawatirkan tertentu atau mendengar hal-hal
menyenangkan tentang merek lain dan waspada terhadap informasi yang
mendukung keputusannya
Faktor – Faktor yang mempengaruhi Keputusan Pembelian
Menurut Kotler dan Keller (2013:166) perilaku pembelian konsumen
dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, dan pribadi.
- Faktor budaya
Kelas budaya, sub budaya, dan sosial sangat mempengaruhi perilaku
konsumen. Budaya (culture) adalah determinan dasar keinginan dan
perilaku seseorang. - Faktor sosial
Selain faktor budaya, faktor sosial seperti kelompok referensi, keluarga,
serta peran sosial dari status mempengaruhi perilaku pembelian. - Faktor pribadi
Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Faktor
pribadi meliputi usia dan tahap dalam siklus hidup pembeli; pekerjaan dan
keadaan ekonomi; kepribadian dan konsep diri; serta gaya hidup dan nilai
Pengertian Keputusan Pembelian
Menurut Buchari Alma (2013:96) mengemukakan bahwa
keputusan pembelian adalah sebagai berikut:
“Keputusan pembelian adalah suatu keputusan konsumen yang
dipengaruhi oleh ekonomi keuangan, teknologi, politik, budaya, produk,
harga, lokasi, promosi, physical evidence, people dan, process. Sehingga
membentuk suatu sikap pada konsumen untuk mengolah segala informasi
dan mengambil kesimpulan berupa respons yang muncul produk apa yang
akan dibeli”.
Menurut Kotler & Armstrong (2016:177) mendefinisikan keputusan
pembelian sebagai berikut:
“Keputusan pembelian merupakan bagian dari perilaku konsumen perilaku
konsumen yaitu studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan
organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa,
ide atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka”.
Keputusan pembelian tidak terpisahkan dari bagaimana sifat seorang
konsumen (consumer behavior) sehingga masing-masing konsumen memiliki
kebiasaan yang berbeda dalam melakukan pembelian, Kotler & Keller (2012:188)
mengemukakan keputusan pembelian memiliki dimensi sebagai berikut:
- Pilihan produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk
atau menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain. Dalam hal ini
perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang
berminat membeli sebuah produk serta alternatif yang mereka
pertimbangkan. - Pilihan merek
Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek nama yang akan
dibeli setiap merek memiliki perbedaan tersendiri. Dalam hal ini
perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah
merek. - Pilihan penyalur
Konsumen harus mengambil keputusan tentang penyalur mana yang akan
dikunjungi. Setiap konsumen berbeda-beda dalam hal menentukan
penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang murah,
persediaan barang yang lengkap, kenyamanan dalam belanja, keluasan
tempat dan lain-lain. - Waktu pembelian
Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda-
beda misalnya ada yang membeli setiap hari, satu minggu sekali, dua
minggu sekali dan lain sebagainya. - Jumlah pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk
yang akan dibelanjakan pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan
mungkin lebih dari satu. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan
banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda. - Metode pembayaran.
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang metode pembayaran yang
akan dilakukan dalam pengambilan keputusan menggunakan produk atau
jasa. Saat ini keputusan pembelian dipengaruhi oleh tidak hanya oleh
aspek lingkungan dan keluarga, keputusan pembelian juga dipengaruhi
oleh teknologi yang digunakan dalam transaksi pembelian.
Keputusan Pembelian
Konsumen mengambil banyak macam keputusan membeli setiap hari.
Kebanyakan perusahaan besar meneliti keputusan membeli konsumen secara amat
rinci untuk menjawab pertanyaan mengenai apa yang di beli konsumen, dimana
mereka membeli, serta mengapa mereka membeli. Perusahaan dapat menjelaskan
apa yang di beli konsumen untuk mencari jawaban atas pertanyaan mengenai
alasan tingkah laku konsumen bukan hasil yang mudah, jawabannya seringkali
tersembunnyi jauh dalam benak konsumen
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Terdapat empat faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam
pembelian suatu produk. Faktor-faktor ini memberi pengaruh yang cukup
signifikan terhadap konsumen dalam memilih produk yang akan dibelinya,
menurut Kotler dan Keller (2009:214) faktor-faktor ini terdiri dari :
- Cultural Factor (Faktor Budaya)
a. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling mendasar
b. Sub budaya, terdiri dari kebangsaan, agama, kelompok, ras dan daerah
georgrafis. Banyak sub-budaya yang membentuk segmen pasar penting,
dan pemasar sering merancang produk dan program pemasar yang
disesuaikan kebutuhan mereka.
c. Kelas sosial, merupakan pembagian masyarakat yang yang relatif
homogen dan permanen, dan tersusun secara hirarkis dan anggotanya
menganut nilai-nilai minat dan perilaku yang sama. - Sosial factor (Faktor Sosial)
Faktor Sosial yang mempengaruhi perilaku pembelian, seperti:
a. Kelompok Referensi
Kelompok referensi (reference group) seseorang adalah semua kelompok
uang mempunyai pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak langsung
terhadap sikap atau perilaku orang tersebut
b. Keluarga
Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting
dalam masyarakat dan anggota keluarga merepresentasikan kelompok
referensi utama yang paling berpengaruh. Ada dua keluarga dalam
kehidupan pembeli, yaitu: keluarga orientasi (family of orientation)
terdiri dari orang tua dan saudara kandung, keluarga prokreasi (family of
procreation) yaitu pasangan dan anak-anak.
c. Peran Sosial dan Status
Orang berpartisipasi dalam banyak kelompok, keluarga, klub, dan
organisasi. Kelompok sering menjadi sumber informasi penting dalam
membantu mendefinikasikan norma perilaku. Kita dapat mendefinisikan
posisi seseorang dalam tiap kelompok di mana ia menjadi anggota
bedasarkan peran dan status. - Personal factor(Faktor Pribadi)
Faktor pribadi juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Faktor pribadi
meliputi usia dan tahap dalam siklus hidup pembeli, pekerjaan dan keadaan
ekonomi, kepribadian dan konsep diri, serta gaya hidup dan nilai - Physicology factor(Faktor Pisikologis)
Pilihan pembelian seseorang di pengaruhi oleh empat faktor yaitu :
a. Motivasi
Motivasi adalah kebutuhan yang mendorong seseorang untuk bertindak.
b. Persepsi
Merupakan proses yang digunakan oleh individu untuk memilih,
mengorganisasikan, dan menginterpretasikan masukan – masukan
informasi guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti
c. Pembelajaran
Meliputi perubahan seseorang yang timbul berdasarkan pengalaman.
d. Keyakinan dan sikap
Keyakinan merupakan gambaran pemikiran yang dianut seseorang
tentang suatu hal. Keyakinan dapat berdasarkan pengetahuan,
pendapatan atau kepercayaan.
Komponen Citra Merek
Menurut Simamora dalam Ogi Sulistian (2011:33), menyatakan ada tiga
komponen citra merek, diantaranya adalah :
- Citra pembuat (Corporate Image)
Yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan
yang membuat suatu barang atau jasa. Bagi perusahaan manfaat brand adalah:
a. Brand memudahkan penjual mengolah pesanan dan menelusuri masalah-
masalah yang timbul.
b. Brand memberikan perlindungan hukum atas keistimewaan atau ciri khas
produk.
c. Brand memungkinkan untuk menarik sekelompok pembeli yang setia dan
menguntungkan.
d. Brand membantu penjual melakukan segmentasi pasar. - Citra pemakai atau konsumen (user or customer image)
a. Brand dapat menceritakan sesuatu kepada pembeli mengenai mutu.
b. Brand membantu menarik perhatian pembeli terhadap produk-produk baru
yang mungkin bermanfaat bagi merek. - Citra produk (product image)
Yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap suatu
barang atau jasa, seperti mengenai hal berikut:
a. Kualitas produk asli atau palsu.
b. Berkualitas baik.
c. Desain menarik.
d. Bermanfaat bagi konsumen
Manfaat Citra Merek
Menurut Tjiptono (2011:43) merek juga memiliki manfaat bagi produsen
dan konsumen :
- Bagi produsen, merek berperan penting sebagai :
a. Sarana identifikasi untuk memudahkan proses penanganan atau pelacakan
produk bagi perusahaan, terutama dalam pengorganisasian sediaan dan
pencatatan akuntansi.
b. Bentuk proteksi hukum terhadap fitur atau aspek produk yang unik.
Merek bisa mendapatkan perlindungan properti intelektual. Nama merek
bisa diproteksi melalui merek dagang terdaftar (registered trademarks)
proses pemanufakturan bisa dilindungi melalui hak paten dan kemasan
bisa diproteksi melalui hak cipta (copyright) dan desain.
c. Signal tingkat kualitas bagi para pelanggan yang puas, sehingga mereka
bisa dengan mudah memilih dan membelinya lagi di lain waktu.
d. Sarana untuk menciptakan asosiasi dan makna unik yang membedakan
produk dari para pesaing.
e. Sumber keunggulan kompetitif, terutama melalui perlindungan hukum,
loyalitas pelanggan, dan citra unik yang terbentuk dalam benak konsumen.
f. Sumber financial returns, terutama menyangkut pendapatan masa yang
akan datang. - Bagi konsumen merek bisa memberikan beraneka macam nilai melalui
sejumlah fungsi dan manfaat potensial
Pengertian Citra Merek
Citra merek memegang peranan penting dalam pengembangan sebuah
merek. Citra merek menyangkut reputasi dan kredibilitas suatu produk, yang
kemudian akan dijadikan pedoman bagi konsumen untuk mencoba dan
mengonsumsi suatu produk atau jasa tertentu. Citra merek mengacu kepada skema
memori akan sebuah merek, citra merek merupakan apa yang konsumen pikirkan
dan rasakan ketika mendengar atau melihat nama suatu merek. Konsumen lebih
sering membeli produk dengan merek yang terkenal karena merasa lebih nyaman
dengan hal-hal yang sudah terkenal, adanya asumsi bahwa merek terkenal lebih
dapat diandalkan, selalu tersedia dan mudah dicari, dan memiliki kualitas yang
tidak diragukan, sehingga merek yang lebih dikenal lebih sering dipilih oleh
konsumen daripada merek yang tidak dikenal (Aaker,1991). Untuk dapat
memberikan gambaran yang jelas mengenai citra merek, berikut ini beberapa
pengertian mengenai citra merek.
Kotler & Keller (2016:330), mengemukakan definisi citra merek sebagai
berikut:
“Citra merek menggambarkan sifat ekstrinsik produk atau jasa, termasuk
cara di mana merek berusaha memenuhi kebutuhan psikologis atau sosial
pelanggan”.
Sedangkan Ferrinadewi (2011:165) mendefinisikan citra merek sebagai
berikut:
“Brand image adalah persepsi tentang merek yang merupakan refleksi
memori konsumen akan asosiasinya pada merek tersebut”.
Menurut Aaker (dalam Aris Ananda, 2010:69) mendefinisikan citra merek
sebagai berikut:
“Brand image is how customers and other perceive the brand”. Yang
artinya citra merek adalah bagaimana pelanggan dan orang lain
memandang suatu merek. Terdapat empat dimensi dari citra merek yaitu:
- Recognition
Mencerminkan dikenalnya sebuah merek oleh konsumen berdasarkan past
exposure. Recognition berarti konsumen mengingat akan adanya atau
mengingat keberadaan dari merek tersebut. Recognition ini sejajar dengan
brand awareness. Brand awareness diukur dari sejauh mana konsumen
dapat mengingat suatu merek, tingkatannya dimulai dari brand unaware,
brand recognition, brand recall, top of mind, dan dominant brand. - Reputation
Reputation ini sejajar dengan perceived quality. Sehingga reputation
merupakan status yang cukup tinggi bagi sebuah merek karena di mata
konsumen merek atau brand memiliki suatu track record yang baik. - Affinity
Affinity adalah emotional relationship yang timbul antara sebuah merek
dengan konsumennya. Affinity sejajar dengan asosiasi positif yang
membuat seorang konsumen menyukai suatu produk atau jasa, pada
umunya asosiasi positif merek (terutama yang membentuk brand image)
menjadi pijakan konsumen dalam keputusan pembelian dan loyalitasnya
pada merek tersebut. - Domain
Domain menyangkut seberapa besar scope dari suatu produk yang mau
menggunakan merek yang bersangkutan. Domain ini mempunyai
hubungan yang erat dengan scale of scope.
Dari berbagai definisi di atas maka dapat penulis simpulkan bahwa citra
merek merupakan gambaran dari produk atau jasa pada benak konsumen termasuk
gambaran mengenai kemampuan suatu produk dalam memenuhi kebutuhan
psikologis atau sosial. Berdasarkan dimensi-dimensi citra merek di atas maka
penulis menarik beberapa faktor yang relevan dalam penelitian ini yaitu sebagai
berikut: - Recognition sejajar dengan brand awareness yaitu ukuran seberapa besar
suatu merek dikenal atau diketahui oleh masing-masing konsumen. - Reputation sejajar dengan perceived quality yaitu ukuran dari seberapa besar
konsumen menilai suatu produk dan persepsi konsumen terhadap kualitas
suatu produk. - Affinity adalah faktor emosional yang membuat seorang konsumen memiliki
asosiasi positif terhadap suatu merek
Citra Merek
Citra dalam dunia bisnis telah berkembang dan menjadi perhatian para
pemasar. Citra yang baik dari suatu produk akan mempunyai dampak yang
menguntungkan, sedangkan citra yang buruk akan mempunyai dampak yang akan
merugikan perusahaan. Citra yang baik, mempunyai kesan yang positif terhadap
suatu perusahaan, sedangkan citra yang kurang baik berarti konsumen mempunyai
kesan yang negatif.
Karakteristik Merek
Setiap perusahaan tentu menginginkan merek yang dipakai oleh
produknya menjadi merek pilihan konsumen, sehingga dapat memberikan
dukungan yang besar bagi keberhasilan produk tersebut dan produk
dipasarkan.merek harus mempunyai karakteristik seperti yang disebut oleh Kotler
dan Keller (2009:412) :
- Merek tersebut harus menyatakan sesuatu mengenai manfaat produk.
- Merek tersebut harus menyatakan kategori barang atau jasa tersebut.
- Merek tersebut harus menyatakan kualitas yang mudah dibayangkan secara
konkrit. - Merek tersebut harus mudah diucapkan,dikenal dan diingat.
- Merek tersebut harus memiliki ciri khas tersendiri dan berbeda.
- Merek tersebut tidak boleh memiliki makna yang buruk di negara dan bahasa
lain
Tingkatan Merek
Pada mulanya dorongan seseorang untuk memilih suatu merek yang
diinginkan, melakukan tindakan pemilihan di antara jenis barang atau jasa dengan
berbagai merek yang ada. Pemberian merek pada suatu produk hendaknya tidak
hanya berupa suatu simbol. Menurut Kotler dan Keller (2012:356) merek
merupakan suatu simbol yang rumit yang menjelaskan enam tingkatan makna,
yaitu :
- Atribut
Sebuah merek diharapkan mengingatkan suatu atribut atau sifat-sifat tertentu
dari suatu produk - Manfaat
Suatu merek lebih dari seperangkat atribut. Atribut harus diterjemahkan
kedalam manfaat fungsional dan emosional - Nilai
Merek mencerminkan nilai yang dimiliki oleh produsen sebuah produk - Budaya
Merek mempersentasekan budaya tertentu - Kepribadian
Suatu merek dapat memproyeksikan pada suatu kepribadian tertentu - Pengguna
Merek mengelompokan tipe-tipe konsumen yang akan membeli atau
mengkomsumsi suatu produk
Manfaat Merek
Menurut Buchari Alma (2013:134), merek akan memberikan manfaat
kepada:
- Produsen atau penjual
a. Memudahkan penjual dalam mengolah pesanan-pesanan dan menekan
masalah.
b. Nama merek dan tanda dagang secara hukum akan melindungi penjual
dalam pemalsuan ciri-ciri produk karena jika tidak demikian setiap
pesaing akan meniru produk tersebut.
c. Memberi peluang bagi penjual dalam kesetiaan konsumen pada produknya
dengan menetapkan harga lebih tinggi.
d. Membantu penjual dalam mengelompokkan pasar ke dalam segmen-
segmen tertentu.
e. Citra perusahaan dapat dibina dengan adanya merek yang baik.
f. Memberikan pertahanan terhadap persaingan harga. - Pembeli atau konsumen
a Dapat membedakan produk tanpa harus memeriksa secara teliti.
b Konsumen mendapat informasi tentang produk.
c Meningkatkan efisiensi.
d Memberikan jaminan kualitas
Pengertian Merek
Merek merupakan unsur penting yang dapat membantu proses pemasaran
barang di dalam perusahaan, sehingga merek merupakan salah satu hal yang
penting yang menyangkut reputasi perusahaan. Untuk dapat memberikan
gambaran yang jelas mengenai merek, berikut ini pengertian merek.
American Marketing Association (dalam Kotler & Keller, 2016:322)
mendefinisikan merek sebagai berikut:
“Merek sebagai nama, istilah, tanda, lambang, atau desain, atau
kombinasinya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau
jasa dari salah satu penjual atau kelompok penjual dan mendiferensiasikan
barang atau jasa dari salah satu penjual atau kelompok penjual dan
mendiferensiasikan merek dari para pesaing”.
Adapun Kotler & Keller (2016:322) yang mendefinisikan merek sebagai
berikut:
“Merek menandakan tingkat kualitas tertentu sehingga pembeli yang puas
dapat dengan mudah memilih produk kembali. Loyalitas merek
memberikan tingkat permintaan yang aman perusahaan lain untuk
memasuki pasar”.
Selain itu juga Buchari Alma (2013:130) mendefinisikan merek sebagai
berikut:
“Merek sebagai suatu tanda atau simbol yang memberikan identitas suatu
barang atau jasa tertentu, dapat berupa kata-kata, gambar atau kombinasi
keduanya”
Merek
Merek tidak hanya sebuah nama bagi produk, tetapi lebih dari itu
merupakan identitas untuk membedakan dari produk-produk yang dihasilkan dari
perusahaan lain, dengan identitas khusus produk tertentu akan lebih mudah
dikenali oleh konsumen dan pada gilirannya tentu akan lebih memudahkan pada
saat pembelian ulang produk tersebut.
Sebuah merek harus terdiri dari unsur fisik yang unggul dan mempunyai
daya tarik yang memikat. Merek harus tampil istimewa dan menarik yang akan
memberikan keuntungan nilai-nilai tersendiri bagi konsumen.
Citra
Citra merupakan hasil evaluasi dalam diri berdasarkan pengertian dan
pemahaman terhadap rangsangan yang telah diolah dan disimpan dalam benak
seseorang. Citra dapat diukur melalui pendapat, kesan atau respon seseorang
dengan tujuan untuk mengetahui secara pasti yang ada dalam pikiran setiap
individu mengenai suatu objek, bagaimana mereka memahaminya dan apa yang
mereka suka atau tidak suka dari objek tersebut.
Menurut Kotler dan Keller (2009:289) yang dialih bahasakan oleh Bob
Sabran menyatakan :
“Citra adalah suatu keyakinan ide dan jejak seseorang mempertahankan tentang
objek.”
Kemudian pengertian citra diperjelas oleh Zeithaml dan Bitner yang
dikutip oleh Bob Sabran (2010:55), yang mendefinisikan citra sebagai suatu
impresi, perasaan, atau konsepsi yang ada pada seseorang mengenai suatu
perusahaan, suatu objek, orang atau lembaga
Pengertian Desain Produk
Menghasilkan produk sesuai dengan yang dibutuhkan manusia adalah hal
yang ingin di capai dari proses perancangan. Salah satu caranya adalah dengan
merancang dengan berorientasi terhadap keinginan dan kebutuhan pelanggan.
Kemampuan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelanggan, kemudian secara tepat
menciptakan produk yang dapat menciptakan produk yang dapat memenuhi
kebutuhan tersebut dengan biaya yang rendah merupakan kunci sukses
perusahaan dalam mempertahankan eksistensinya.
Desain produk merupakan bagian terpenting dalam merancang suatu
bentuk produk sehingga memiliki nilai dan kegunaan untuk memenuhi keinginan
konsumen yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan waktu yang
berubah-ubah. Nilai yang terkandung dalam desain produk menghasilkan suatu
penampilan produk yang enjadi ciri khas tersendiri dan pembeda dari banyaknya
produk pesaing serta dapat menarik keputusan pembelian konsumen.
Desain produk juga dikaitkan sebagai suatu profesi yang kegiatannya
berkaitan dengan suatu proses inovasi. Dengan semakin ketatnya persaingan
dibidang industri, perusahaan harus terus mengembangkan inovasinya terhadap
produk terutama dalam hal desain, agar dapat menghasilkan produk yang baik dan
sesuai keinginan konsumen. Secara umum desain harus memiliki bentuk atau
model yang unik, kualitas yang baik, dan tentunya sesuai dengan psikologi
manusia, maka suatu desain perlu memperlihatkan kualitas kenyamanan,
kepraktisan dan kemudahan dalam pemeliharaan.
Menurut Kotler (2005) terdapat tujuh parameter desain produk yaitu :
- Ciri-ciri
Ciri-ciri adalah karaktistik yang mendukung fungsi dasar produk sebagian
besar produk dapat di tawarkan dengan beberapa ciri-ciri. Ciri-ciri produk
merupakan alat kompetitif untuk produk perusahaan yang terdiferensiasi.
Beberapa perusahaan sangat inovatif dalam penambahan ciri-ciri baru ke
produknya. Satu dari factor kunci keberhasilan perusahaan jepang adalah
karena mereka secara terus menerus meningkatkan ciri-ciri tertentu dari
produknya. Pengenalan ciri-ciri baru dinilai merupakan satu cara yang efektif
dari suatu produk dalam persaingan. - Kinerja
Kinerja mengacu pada tingkat karakteristik utama produk pada saat
beroperasi. Pembeli produk-produk mahal biasanya membandingkan kinerja
(kenampakan/prestasi) dari merek-merek yang berbeda. Para pembeli biasanya
rela untuk membayar lebih untuk kinerja yang lebih baik sepanjang lebihnya
harga tidak melebihi nilai yang dirasakan. - Mutu kesesuaian
Yang dimaksud dengan penyesuaian adalah tingkat dimana desain produk dan
karakteristik operasinya mendekati standar sasaran. Mutu kesesuaian adalah
tingkat kesesuaian dan pemenuhan semua unit yang di produksi terhadap
spesifikasi sasaran yang di janjikan. Hal ini disebut konformasi karena
spesifikasinya. - Tahan lama (durability)
Daya tahan merupakan ukuran waktu operasai yang di harapkan dari suatu
produk tertentu. Sebagai contoh, Volvo mengiklankan mobilnya sebagai
mobil yang mempunyai waktu pakai tertinggi untuk menjustifikasi harganya
yang lebih tinggi. Pembeli bersedia membayar lebih unttuk produk yang lebih
tahan lama. - Tahan uji (reliabilitas)
Reliabilitas adalah ukuran kemungkinan bahwa suatu produk tidak akan
berfungsi salah atau rusak dalam suatu periode waktu tertentu. Pembeli rela
membayar lebih untuk produk-produk dengan reputasi reliabilitas yang lebih
tinggi. Mereka ingin menghindari biaya karena kerusakan dan waktu untuk
reparasi. - Kemudahan perbaikan (repairability)
Kemudahan perbaikan adalah suatu ukuran kemudahan perbaikan suatu
produk yang mengalami kegagalan fungsi atau kerusakan-kerusakan.
Kemudahan perbaikan ideal aka nada jika pemakai dapat memperbaiki produk
tersebut dengan biaya murah atau tanpa biaya dan tanpa memakan waktu lebih
lama. - Model (style)
Model menggambarkan seberapa jauh suatu produk tampak dan berkenan bagi
konsumen. Model memberi keunggulan ciri kekhususan produk yang sulit
untuk ditiru. Sebagai contoh, banyak pembeli mobil yang membayar lebih
untuk mobil jaguar karena penampilannya yang luar biasa walaupun jaguar
sendiri tidak begitu baik dari segi ketahanan uji (reliability).
Berdasarkan ke tujuh parameter desain produk di atas maka penulis
menarik beberapa faktor yang relevan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut: - Ciri – ciri
- Mutu kesesuaian
- Model (style)
Desain Produk
Desain memiliki konsep yang lebih luas daripada gaya(style). Desain
selain mempertimbangkan faktor penampilan, juga bertujuan memperbaiki kinerja
produk, mengurangi biaya produksi, dan menambah keunggulan bersaing.
Unsur-Unsur Atribut Produk
Setiap produk mempunyai atribut yang berbeda-beda, sehingga konsumen
dihadapkan pada berbagai atribut yang di tawarkan oleh perusahaan. Perusahaan
mempunyai tugas untuk memperhatikan dan mengevaluasi atribut produk yang di
tawarkan, apakah atribut produk dari produk tersebut sudah memenuhi kebutuhan
dan keinginan konsumen atau belum.
Menurut kotler dan amstrong (2012:99) mengelompokan atribut produk
kepada tiga unsur penting yaitu kualitas produk (product quality), fitur produk
(product features), dan desain produk (product design)
- Kualitas produk (product quality)
Kualitas produk menunjukan kemampuan suatu produk untuk melakukan
fungsi-fungsinya. Kemampuan itu meliputi daya tahan, kehandalan, ketelitian
yang di hasilkan, kemudahan di operasikan dan di perbaiki, dan atribut lain
yang berharga pada produk secara keseluruhan. Agar dapat bersaing di pasar
secara berhasil produk harus memiliki mutu yang superior dibandingkan
dengan produk-produk pesaing lainnya. Mutu harus diukur dari segi persepsi
pembeli. Banyak perusahaan menjadikan suatu mutu sebagai senjata strategi
yang ampuh. - Fitur Produk (product features)
Fitur produk merupakan sarana kompetitif untuk membedakan produk satu
dengan prdoduk – produk pesaing. Fitur produk adalah alat untuk bersaing
yang membedakan produk suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Fitur
produk identic dengan sifat dan sesuatu yang unik, khas dan istimewa yang
tidak dimiliki oleh produk lainnya. Biasanya karakteristik yang melekat
dalam suatu produk merupakan hasil pengembangan dan penyempurnaan
secara terus menerus. - Desain produk (Product Design)
Desain memiliki konsep yang lebih luas daripada gaya (style), desain selain
mempertimbangkan factor penampilan, juga untuk bertujuan memperbaiki
kinerja produk, mengurangi biaya produksi, dan menambah keunggulan
bersaing. Desain atau rancangan adalah totalitas keistimewaan yang
mempengaruhi penampilan fungsi produk dari segi kebutuhan pelanggan
Pengertian Atribut produk
Atribut produk mempunyai pengaruh besar pada persepsi pembeli
terhadap produk. Hal itu di sebabkan karena secara fisik atribut produk membawa
berbagai macam manfaat yang di butuhkan dan diinginkan pembeli. Oleh karena
itu setiap perusahaan, harus berhati- hati dalam mengambil keputusan yang
bersangkutan dengan hal itu. Pengembangan produk dan jasa memerlukan
pendefinisian manfaat – manfaat yang akan di tawarkan manfaat – manfaat
tersebut kemudian di komunikasikan dan di sampaikan melalui atribut produk.
Pengertian atribut produk menurut tjiptono (2010:103) adalah :
“atribut produk adalah unsur-unsur produk yang di pandang penting oleh
konsumen dan dasar pengambilan keputusan pembelian”.
Sedangkan Philip Kotler dan Gary Amstrong (2012:272) mendefinisikan
atribut produk sebagai berikut:
“atribut produk adalah pengembangan suatu produk atau jasa melibatkan
manfaat yang akan di tawarkan produk atau jasa tersebut”
Sedangkan Lovelock dan Wright (2011:69) yang dialihbahasakan oleh
Agus Widyantoro mendefinisikan atribut produk sebagai berikut:
“Atribut produk adalah semua fitur (baik yang berwujud maupun tidak
berwujud) suatu barang atau jasa yang dapat di nilai pelanggan.”
Atribut Produk
Pengembangan produk dan jasa memerlukan pendefinisian manfaat –
manfaat yang akan ditawarkan. Manfaat – manfaat tersebut kemudian
dikomunikasikan dan disampaikan melalui atribut – atribut produk
Pengertian Produk
Produk merupakan elemen paling mendasar dan penting dalam bauran
pemasaran (marketing mix). Dikatakan paling penting karena dengan produklah
perusahaan menetapkan harga yang pantas, menyalurkan produk melalui saluran –
saluran distribusi mereka, dan mengkomunikasikan produk tersebut dengan suatu
bauran komunikasi yang tepat.
Produk dapat berupa barang maupun jasa, jika tidak ada produk, maka
tidak aka nada pemindahan hak milik sehingga tidak aka nada pemasaran. Semua
kegiatan pemasaran lainnya digunakan untuk menunjang gerakan produk.
Seberapa hebatnya usaha promosi yang di lakukan, distribusi dan harga jika tidak
diikuti dengan produk yang bermutu, disenangi oleh konsumen, maka usaha suatu
perusahaan tidak akan berhasil.
Definisi produk yang dikemukakan oleh Fandy Tjiptono (2012:95) adalah
sebagai berikut:
“Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan produsen untuk
diperhatikan, diminta, dibeli, dan dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan
kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan”.
Menurut Kotler dalam buku H.Abdul Manaf (2016:255) mengemukakan
produk sebagai berikut:
“A product is anything that can be offered to a market to satisfy a want or
need. Product that are marketed include physical good, services, events,
persons, places, properties, organization, information and ideas”.
Selain itu juga Buchari Alma (2013:139) mendefinisikan produk sebagai
berikut:
“Produk sebagai seperangkat atribut baik berwujud maupun tidak
berwujud, termasuk di dalamnya masalah warna, harga, nama baik pabrik,
nama baik toko yang menjual (pengecer), dan pelayanan pabrik serta
pelayanan pengecer, yang diterima oleh pembeli guna memuaskan
keinginannya”.
Produk
Inti merek yang hebat adalah produk yang hebat. Produk adalah elemen
kunci dalam penawaran pasar. Para pemimpin pasar biasannya menawarkan
produk barang dan jasa bermutu tinggi yang memberikan nilai pelanggan yang
lebih unggul. Banyak orang menganggap produk adalah suatu penawaran nyata,
tetapi produk bisa lebih dari itu
Indikator Celebrity Endorser
Menurut Shimp (2003) mengatakan lima atribut khusus Endorser
dijelaskan dengan akronim TEARS, dimana TEARS tersebut terdiri dari :
- Truthworthiness (dapat dipercaya)
Mengacu pada kejujuran, integritas dan kepercayaan diri dari seorang sumber
pesan - Expertise (keahlian)
Mengacu pada pengetahuan, pengalaman atau keahlian yang dimiliki oleh
seorang endorser yang dihubungkan dengan merek yang didukung seorang
endorser yang diterima sebagai seorang yang ahli pada merek yang
didukungnya akan lebih persuasive dalam menarik audience daripada seorang
endorser yang tidak diterima sebagai seorang yang ahli. - Attractiveness (dayatarik fisik)
Mengacu pada yang dianggap sebagai hal yang menarik untuk dilihat dalam
kaitannya dengan konsep tertentu dengan daya tarik fisik. - Respect (kualitas dihargai)
Kualitas yang dihargai ataudigemari sebagai akibat dari kualitas pencapaian
personal. - Similarity
Mengacu pada kesamaan antara endorser dan audience dalam hal umur , jenis
kelamin, etnis, status social, dan sebagainya.
Menurut Royan (2004:14), dalam penelitian Endang Sulistya (2012),
indikator Celebrity Endorser terdiri dari 4 unsur. - Visibility
Visibility memiliki dimensi seberapa jauh popularitas selebriti. - Creadibility
Berhubungan dengan pengetahuan yang diketahui sang bintang terhadap
produk yang di bintangi nya - Attraction
Lebih menitik beratkan pada daya tarik sang bintang - Power
Kemampuan selebriti dalam menarik konsumen.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dimensi menurut Royan
(2004:14) dalam ending sulistya (2012) yaitu : - Visibility
- Creadibility
- Attraction
- Power
Peran Celebrity Endorser
Berikut ini adalah beberapa peran selebriti sebagai model iklan yang bisa
digunakan perusahaan dalam sebuah iklan (Schiffman dan Kanuk dalam Mahestu
Noviandra, 2006:65-74):
- Testimonial, jika secara personal selebriti menggunakan produk tersebut maka
pihak dia bisa memberikan kesaksian tentang kualitas maupun benefit dari
produk atau merek yang diiklankan tersebut. - Endorsement, ada kalanya selebriti diminta untuk membintangi iklan produk
dimana dia secara pribadi tidak ahli dalam bidang tersebut. - Actor, selebriti diminta untuk mempromosikan suatu produk atau merek
tertentu terkait dengan peran yang sedang ia bintangi dalam suatu program
tayangan tertentu. - Spokeperson, selebriti yang mempromosikan produk, merek atau suatu
perusahaan dalam kurun waktu tertentu masuk dalam kelompok peran
spokeperson. Penampilan mereka akan diasosiasikan dengan merek atau
produk yang mereka wakili.
penggunaan selebriti sebagai bintang iklan diyakini memiliki daya tarik
tersendiri. selain memiliki keuntungan publisitas dan kekuatan memperoleh
perhatian dari konsumen, selebriti juga mempunyai kekuatan untuk dijadikan
sebagai alat untuk membujuk, merayu, serta mempengaruhi konsumen sasaran ,
yaitu dengan ketenaran yang dimilikinya . dengan memanfaatkan ketenaran
tersebut diharapkan dapat menarik minat konsumen untuk melakukan pembelian
terhadap produk yang diiklankannya.
Celebrity Endorser
Endorser merupakan strategi promosi yang sudah lama digunakan oleh
perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan penjualan produk mereka.
Perusahaan biasanya membayar seseorang untuk menggunakan produknya agar
dapat mengkomunikasikan pesan yang ingin di sampaikan oleh perusahaan
melalui produk tersebut.
Bauran Pemasaran (marketing mix)
Konsep bauran pemasaran menurut Kotler dan Keller (2012:25) terdiri
dari 4p, yaitu product (produk), price (harga), place (tempat), dan promotion
(promosi). Adapun pengertian dari masing-masing bauran pemasaran adalah
sebagai berikut:
- Produk (Product)
Suatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian, agar
produk yang dijual mau dibeli, digunakan atau dikonsumsi yang dapat
memenuhi suatu keinginan atau kebutuhan dari konsumen. - Harga (Price)
Sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat dari memiliki atau
menggunakan produk atau jasa yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan
penjual melalui tawar menawar, atau ditetapkan oleh penjual untuk satu harga
yang sama terhadap semua pembeli. - Tempat (Place)
Tempat diasosiasikan sebagai saluran distribusi yang ditujukan untuk mencapai
target konsumen. Sistem distribusi ini mencakup lokasi, transportasi,
pergudangan, dan sebagainya. - Promosi (promotion)
Promosi berarti aktivitas yang menyampaikan manfaat produk dan membujuk
pelanggan membelinya.
Alat-alat bauran pemasaran tersebut digunakan untuk mempengaruhi
saluran perdagangan dan konsumen akhir. Bauran pemasaran mencerminkan
pandangan penjual terhadap alat pemasaran yang tersedia untuk mempengaruhi
pembeli. Dari sudut pandang pembeli, setiap alat pemasaran dirancang untuk
memberi manfaat bagi pelanggan
Pengertian Manajemen Pemasaran
Sebuah perusahaan akan sukses apabila didalamnya terdapat kegiatan
manajemen pemasaran. Manajemen pemasaran berpengaruh pada aktivitas
pemasaran yang dilakukan. Manajemen pemasaran pun menjadi pedoman dalam
menjalankan kelangsungan hidup perusahaan dan menjadi peran yang tidak dapat
dipisahkan sejak dimulainya proses produksi hingga pada tahap barang sampai
pada konsumen. Tugas dari manajemen pemasaran itu adalah melakukan
perencanaan mengenai bagaimana cara mencari peluang pasar untuk melakukan
pertukaran barang dan jasa konsumen.
Kemudian, manajemen pemasaran mengimplementasikan rencana tersebut
untuk menciptakan dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan
konsumen demi tercapainya tujuan perusahaan. Untuk lebih jelasnya, berikut ini
adalah pengertian manajemen pemasaran yang peneliti kutip dari beberapa ahli
pemasaran.
Menurut Kotler dan Amstrong (2014:30) medefinisikan manajemen
pemasaran adalah:
“Marketing management as the art and science of choosing target markets
and building profitable relationship with them.”
Dilengkapi oleh ungkapan Kotler dan Keller (2016:27) yang mengatakan
bahwa manajemen pemasaran adalah;
“Marketing management as the art and science of choosing target markets
and getting, keeping, and growing customers through creating, delivering,
and communicating superior customer value.”
Pengertian Pemasaran
Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok yang perlu dilakukan
oleh perusahaan baik itu perusahaan barang atau jasa dalam
upayamempertahankan kelangsungan hidup usahanya. Hal tersebut disebabkan
karena pemasaran merupakan salah satu kegiatan perusahaan, dimana secara
langsung berhubungan dengan konsumen. Maka kegiatan pemasaran dapat
diartikan sebagai kegiatan manusia yang berlangsung dalam kaitannya dengan
pasar, pemasaran juga memiliki aktivitas penting dalam menganalisis dan
mengevaluasi segala kebutuhan dan keinginan para konsumen yang juga meliputi
segala aktivitas di dalam perusahaan. Dalam arti lain pemasaran adalah sebuah
kerangka perusahaan yang telah dirancang untuk penyampaian nilai dari sebuah
barang atau jasa secara langsung kepada konsumen dalam rangka pencapaian
tujuan perusahaan. Berikut adalah para ahli pemasaran mendefinisikan pemasaran,
Menurut Kotler dan Keller (2016:27) mendefinisikan pemasaran sebagai
berikut:
“Marketing is meeting needs profitability”, maksud ungkapan tersebut
adalah pemasaran merupakan hal yang dilakukan untuk memenuhi setiap
kebutuhan (kebutuhan konsumen) dengan cara-cara yang menguntungkan
semua pihak.
Sedangkan menurut Buchary Alma dan Djaslim Saladin (2010:2),
menyatakan bahwa pemasaran sebagai berikut :
Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial menyangkut individu
atau kelompok untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya melalui
penciptaan, penawaran dan pertukaran (nilai) produk dengan yang lain.
Lain halnya dengan definisi formal yang ditawarkan America Marketing
Association (AMA) yang dikutip oleh Kotler dan Keller (2016:27) sebagai
berikut:
“Marketing is the activity, set of institutions, and processes for creating,
communicating, delivering, and exchanging offerings that have value for
customers, clients, partners, and society at large.”
Hubungan Antara Sikap Pelanggan dan Minat Beli
Minat beli yaitu sebagian perangkat unsur dari komponen sikap
mengkonsumsi dari perilaku konsumen, yaitu kecenderungan responden untuk
mengambil tindakan sebelum membuat keputusan pembelian akhir. Pola pikir
konsumen sebelum melakukan pembelian dikenal dengan istilah minat beli.
Hubungan antara sikap terhadap keputusan pembelian dan minat beli dapat
dimediasi. Hasilnya, terdapat korelasi yang signifikan antara sikap konsumen dan
minat beli.
Hubungan Antara Minat Beli dan Selebgram Endorsement
Terdapat persaingan yang ketat diantara para pelaku bisnis di Indonesia
sebagai akibat dari banyaknya pemakai medsos dan pelaku bisnis online di
Indonesia. Ketika seorang konsumen berniat untuk melakukan pembelian, setiap
pelaku usaha perlu mempertimbangkan bagaimana cara untuk menarik perhatian
mereka. Menggunakan dukungan selebriti adalah salah satu cara yang bisa
dijalankan oleh pengusaha internet untuk mencapai hal ini (Prastyanti, Gita. 2017).
Pengiklan yang mendukung iklan lebih cenderung orang biasa. Mereka
biasanya digunakan sebagai strategi pemasaran untuk menarik perhatian pelanggan.
Pelanggan merasa lebih mudah untuk mengidentifikasi orang-orang biasa karena
mereka percaya bahwa mereka memiliki konsep diri, nilai, kepribadian, gaya hidup,
ciri-ciri demografis yang sebanding, dan sebagainya. Tujuan penggunaan endorser
adalah untuk membantu pesan iklan menjadi lebih mudah diterima oleh konsumen
dan membantu mereka mengembangkan rasa kepercayaan yang lebih besar
terhadap produk yang sedang dipromosikan (Rama, strategi kreatif, 71).
Pemasar dapat dengan mudah menjangkau target audiens mereka dengan
memanfaatkan daya tarik selebriti. Selebriti memiliki kekuatan untuk
mempengaruhi opini publik dan mendorong penggunaan atau pembelian produk
dan layanan tertentu. Identifikasi ini dapat berasal dari pengakuan (orang atau
skenario nyata atau simulasi), empati (seseorang atau situasi), kekaguman (seorang
atlet), atau inspirasi (bintang film ataupun gaya hidup). Pembeli potensial terkadang
percaya, “Apabila dia memakainya, pasti bagus, dan apabila saya memakainya,
saya pasti bakal menyukainya” (Alwin, Usman, 2016)
Minat Beli
Minat beli menurut Siahaan (2008) yaitu pilihan untuk memperoleh suatu
merek dari sejumlah merek yang bersaing. minat beli berkembang sebagai hasil dari
sejumlah kegiatan yang berurutan, seperti identifikasi keperluan, pencarian
informasi, penilaian informasi, dan pada akhirnya minat beli konsumen. Minat beli
konsumen, menurut Yamit (2010), adalah penilaian yang dilakukan setelah
pembelian atau sebagai hasil dari harapan dan perasaan yang kontras.
Minat beli, seperti yang didefinisikan oleh Kotler & Keller (2009), adalah
perilaku yang ditunjukkan oleh pelanggan dalam menanggapi item yang
menyampaikan niat mereka untuk melakukan pembelian. Salah satu fase dalam
proses pembelian konsumen adalah minat beli. Pelanggan memperoleh niat beli
atau kecenderungan untuk membeli ketika, pada titik tertentu, mereka telah mencari
serta menilai informasi dari alternatif merek dan telah membuat keputusan untuk
membeli sebagai hasil dari tahap evaluasi alternatif. Salah satu cara untuk
mendefinisikan niat beli adalah afirmasi mental konsumen yang mengekspresikan
niat mereka untuk membeli beberapa barang dengan merek tertentu.
Mengetahui apakah konsumen tertarik untuk membeli suatu produk atau
tidak sangat penting bagi pemasar, karena variabel minat digunakan oleh para
ekonom dan pemasar untuk meramalkan perilaku konsumen di masa depan. Salah
satu faktor psikologis yang secara signifikan mempengaruhi sikap pelaku adalah
minat beli. Bentuk lain dari motivasi yang bakal mendorong individu untuk
menyelesaikan suatu tugas ataupun tindakan adalah minat. Schiffman dan Kanuk
(2016) mendefinisikan motivasi sebagai kekuatan pendorong internal yang
mendorong orang untuk bertindak. Seseorang akan termotivasi untuk mempelajari
cara menggunakan suatu produk jika ia memiliki motivasi yang tinggi terhadap
produk tersebut. Di sisi lain, jika dia tidak memiliki motivasi, dia akan berusaha
untuk mengabaikan masalah tersebut.
Lucas dan Britt (2011) membuat daftar elemen-elemen minat beli sebagai
berikut:
- Perhatian konsumen, terfokus pada suatu produk (barang atau jasa).
- Konsumen akan merasakan rasa ingin tahu setelah adanya perhatian.
- Sensasi menginginkan atau memiliki suatu produk adalah aspek lain
dari keinginan.
Berikut ini adalah indikator minat beli sesuai Schiffman dan Kanuk
(2008:470-471): - Keinginan untuk mempelajari detail tambahan tentang produk
- Berpikir untuk membeli
- Ingin mempelajari lebih lanjut terkait produk
- Kecenderungan untuk mencoba barang tersebut
- Ingin membeli barang tersebut
Sikap Konsumen
Sikap konsumen memainkan peran penting dalam mempengaruhi keputusan
tentang apa yang akan dibeli. Robbins (2006, h. 169) mendefinisikan sikap sebagai
pernyataan atau penilaian tentang suatu hal, seseorang, atau kejadian. Tiga faktor
yang membentuk sikap individu, menurut Simamora (2002, h. 14): kognitif
(keyakinan dan pengetahuan konsumen tentang objek), afektif (perasaan seseorang
atas suatu objek, terlepas dari apakah objek itu diinginkan atau disukai), dan
perilaku (kecenderungan serta perilaku aktual atas suatu objek, dimana komponen
ini menunjukkan kecenderungan untuk bertindak).
Nugroho (2008:124) menegaskan bahwasanya sikap berkaitan dengan
kondisi mental dan kecemasan seseorang dalam kaitannya dengan kesiapan
merespon. Dari definisi sebelumnya, sikap dapat didefinisikan sebagai organisasi
kepercayaan yang sebagian besar tetap yang merespons secara teratur dengan cara
yang positif atau negatif, menguntungkan atau tidak menguntungkan, dan dengan
preferensi untuk hal-hal atau situasi tertentu. Melalui pertemuan dengan orang lain
dan pengalaman pribadi, seseorang memperoleh perspektif.
Meskipun sikap-sikap ini dapat diajarkan dan dibentuk, tak semuanya
mempunyai pengaruh yang sama pada waktu tertentu, dan beberapa sikap lebih kuat
daripada yang lain. Pelanggan yang tidak puas dengan satu atau beberapa strategi
pemasaran perusahaan tidak mungkin berhenti menggunakan produk tersebut;
sebaliknya, mereka mungkin akan memberi tahu teman dan keluarga mereka untuk
berbuat hal yang sama.
Berikut ini adalah indikator sikap konsumen yang dicantumkan oleh
Robbins (2006):
- Kesesuaian produk dengan harapan
- kekaguman atas desain produk
- perasaan atas warna produ
Celebrity Endorser (Selebgram)
Pendukung selebriti biasanya digunakan untuk menarik perhatian publik
dan sangat penting dalam membantu publik mengingat dan mengidentifikasi
produk. Ketika menggunakan selebriti populer untuk meningkatkan iklan produk,
pemasar harus siap untuk membayar biaya yang signifikan kepada selebriti yang
disukai ini. Selebriti endorser dipilih karena, menurut pendapat mereka, mereka
memiliki kepercayaan, kepribadian, cara hidup, demografi, dan aspek lain dari
kehidupan sehari-hari yang sama dengan masyarakat, sehingga membuat mereka
lebih mudah dipahami oleh pelanggan.
Selebriti adalah seseorang (bintang film, penghibur, atlet, ataupun orang
biasa) dengan profil yang terkenal, daya tarik publik, dan pengaruh media sehari-
hari. Selebriti sering dipakai sebab kualitas mereka-kecantikan, keberanian, bakat,
keanggunan, kekuatan, serta daya tarik-yang sering disamakan dengan daya tarik
yang akan dipromosikan oleh bisnis. Celebrity Endorser, menurut Kotler (2009),
adalah orang yang digunakan dalam iklan untuk memperkuat persepsi merek di
antara konsumen berdasarkan daya tarik atau popularitas mereka. Terence A.
Shimp (2003) mendefinisikan endorser sebagai orang yang mempromosikan iklan
komersial sebagai bintang iklan atau penggemar.
Shimp mengkategorikan endorser ke dalam dua kelompok: orang biasa yang
tidak terkenal karena dukungan produknya, yang dikenal sebagai typical-person
endorser, dan tokoh masyarakat yang terkenal karena dukungannya, yang dikenal
sebagai celebrity endorser, yang dapat mempengaruhi opini konsumen dan
mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Contoh tokoh-tokoh terkenal yang
dianggap sebagai Celebrity Endorser yang mempunyai kemampuan untuk
mempengaruhi keputusan konsumen yaitu Rachel Vennya, Tasya Farasya, Nabila
Zirus, dan Aghnia Punjabi. Mereka mengiklankan berbagai macam barang,
termasuk tas, makanan, kosmetik, pakaian, dan jilbab. Menurut Shimp (2003),
Celebrity Endorser adalah individu, seperti atlet, aktris, atau artis, yang telah
mendapatkan pengakuan publik atas pencapaian mereka dalam profesi tertentu dan
digunakan untuk mempromosikan produk yang bertujuan untuk menarik perhatian
dan mempengaruhi calon konsumen. Sementara itu, istilah “selebgram,” atau
Celebrity Endorser di Instagram, mengacu pada mereka yang dianggap cukup
handal untuk mempromosikan barang-barang yang dijual secara online melalui
profil Instagram. Selebgram dipilih untuk jenis promosi ini sebagian karena jumlah
pengikut mereka yang besar. Oleh karena itu, diyakini bahwa para penggemar
selebriti endorser akan tertarik, mengunjungi situs web penjualan produk,
mengikutinya, akhirnya menjadi pelanggan, dan mendorong orang lain untuk
membeli barang-barang tersebut secara online.
Indikator Perceived value
Indikator perceived value menurut Sweeney & Soutar (2001), yaitu :
a. Emosional value
Kegunaan yang berasal dari perasaan atau afektif menyatakan bahwa produk
menghasilkan.
b. Functional value (price)
Kegunaan yang berasal dari produk karena pengurangan biaya jangka pendek dan
jangka panjang yang dirasakan.
c. Fucntional value (performance)
Kegunaan yang berasal dari kualitas yang dirasakan dan kinerja yang diharapkan dari
produk
Stonewall mendefinisikan perceived value atau nilai yang dirasakan
sebagai fungsi dari fitur produk, kualitas, pengiriman, layanan dan harga
(Kittilertpaisan dan Chanchitpreecha, 2013). Perceived value adalah bentuk
komprehensif dari evaluasi konsumen mengenai suatu produk atau layanan.
Customer perceived value merupakan evaluasi pelanggan dari perbedaan
antara semua manfaat dan semua biaya pemasaran tawaran yang relatif
terhadap tawaran kompetitor lainnya (Kotler & Amstrong, 2014:35).
Subagio (2012) mengemukakan nilai yang dirasakan adalah suatu
bentuk yang melandasi kualitas layanan yang dirasakan, sebagai bahan nilai,
kualitas layanan yang dirasakan bisa jadi dikonsepkan sebagai hasil dan
pertukaran atau penjualan pelanggan antara persepsi kualitas dan pengorbanan
pelanggan dalam segi keuangan maupun non keuangan. Maka dapat
disimpulkan bahwa perceived value merupakan nilai yang dirasakan oleh
konsumen dari suatu fitur atau produk yang kemudian dijadikan suatu bahan
evaluasi antara persepsi kualitas dan pengorbanan pelanggan.
Indikator Brand Switching
Menurut Susanto dan Widyawati (2016) indikator keputusan perpindahan merek
terdiri dari :
- Keinginan mencari Variasi produk lain
Timbulnya keinginan untuk mencari variasi dari produk sejenis yang menawarkan
manfaat yang berbeda. - Ketidakpuasan pasca konsumsi
Timbulnya ekspresi negative yang timbul setelah menggunakan suatu produk
tertentu. - Keinginan untuk mempercepat penghentian penggunaan.
Adanya keinginan untuk segera mengakhiri penggunaan suatu untuk segera
menggunakan produk sejenis dengan perbedaan manfaat
Pengertian Brand Switching
Sebagaimana bahwa banyak sekali produk skincare dengan berbagai
merek yang ditawarkan oleh perusahaan untuk meningkatkan keinginan
konsumen mencoba produk dan merek tersebut. Dengan itu, beragamnya
produk mengakibatkan konsumen sedikit banyak mempunyai keinginan untuk
berpindah merek ke merek yang lain. Brand switching adalah perilaku
perpindahan merek yang dilakukan oleh konsumen karena alasan tertentu atau
dapat diartikan juga sebagai kerentanan konsumen untuk berpindah ke merek
lain. Menurut Ganes et al., Brand switching adalah saat dimana pelanggan atau
sekelompok pelanggan berpindah kesetiaan dari satu merek sebuah produk
tertentu ke merek produk lainnya. Semakin tinggi tingkat brand switching,
maka semakin tidak loyal tingkat pelanggan.( Chatrin dan Karlina, 2006).
Sedangkan menurut Peter dan Olson Brand switching adalah pola pembelian
yang dikarakteristikan dengan perubahan atau pergantian dari satu merek ke
merek yang lain ( Haryono dan Soesanto, 2011)
Peran Celebrity Endorser
Selebriti dalam social media ads memiliki banyak manfaat diantaranya
dapat meyakinkan, membujuk, merayu, dan mempengaruhi konsumen untuk
melakukan keputusan pembelian dari produk yang diiklankan dengan
memanfaatkan popularitas dan ketenarannya.
Ada beberapa peran penting celebrity endorser menurut Schiffman dan
Kanuk (2000) :
a. Testimonial, jika secara personal selebriti menggunakan produk tersebut
maka pihak dia bisa memberikan kesaksian tentang kualitas maupun benefit
dari produk atau merek yang di iklankan tersebut.
b. Endorsement, ada kalanya selebriti diminta untuk membintangi iklan
c. produk dimana dia secara pribadi tidak ahli dalam bidang tersebut.Actor,
selebriti diminta untuk mempromosikan suatu produk atau merek
d. tertentu terkait dengan peran yang sedang di bintangi dalam suatu program
tayangan tertentu.
e. Spokeperson, selebriti yang mempromosikan produk, merek atau suatu
f. perusahaan dalam kurun waktu tertentu masuk dalam kelompok peran
spokeperson
Pengertian Celebrity Endorser
Darmansyah et al. (2014) menyatakan agar suatu iklan menarik
perhatian konsumen maka diperlukan kreativitas dalam pembuatan suatu iklan,
untuk itu diperlukan suatu strategi yang kreatif, salah satu dengan
menggunakan seorang sosok yang memiliki charisma dan kemampuan dalam
mempengaruhi orang banyak, didalam dunia bisnis disebut dengan Celebrity
Endorser. Penggunaan selebriti yang tepat, memudahkan produsen untuk
membangun image produk dan membidik secara efektif konsumen dari produk
mereka, sekaligus dapat meningkatkan penjualan produk mereka yang akan
dijual dipasaran (Darmansyah,dkk, 2014).
Menurut Shimp, Celebrity Endorser adalah menggunakan artis sebagai
bintang iklan di media-media, mulai dari media cetak, media sosial, maupun
media televisi. Tidak hanya itu, selebriti digunakan karena berbagai atribut
yang melekat pada diri selebriti diantaranya daya Tarik, talenta, dan lain
sebagainya (Wahyuati,2016).
Kotler & Keller (2009:519) menjelaskan bahwa celebrity endorser
merupakan penggunaan narasumber (source) sebagai figure yang menarik atau
popular dalam iklan, hal tersebut merupakan cara yang cukup kreatif untuk
menyampaikan pesan agar pesan yang disampaikan dapat memperoleh
perhatian yang lebih tinggi serta dapat di ingat. Pada kegiatan pemasaran
penggunaan endorser sebuah produk dipercaya dapat mendongkrak penjualan
produk, endorser dapat menarik minat konsumen
terhadap produk sehingga konsumen tertarik untuk mengkonsumsi produk
yang di iklankan ( Khoiruman, 2015). Selebriti sebagai endorser dipercaya
dapat mempengaruhi minat beli konsumen untuk dapat mendongkrak
penjualan produk (Kiswalini dan Nurcahya,2014)
Pengertian Celebrity Endorser
Darmansyah et al. (2014) menyatakan agar suatu iklan menarik
perhatian konsumen maka diperlukan kreativitas dalam pembuatan suatu iklan,
untuk itu diperlukan suatu strategi yang kreatif, salah satu dengan
menggunakan seorang sosok yang memiliki charisma dan kemampuan dalam
mempengaruhi orang banyak, didalam dunia bisnis disebut dengan Celebrity
Endorser. Penggunaan selebriti yang tepat, memudahkan produsen untuk
membangun image produk dan membidik secara efektif konsumen dari produk
mereka, sekaligus dapat meningkatkan penjualan produk mereka yang akan
dijual dipasaran (Darmansyah,dkk, 2014).
Menurut Shimp, Celebrity Endorser adalah menggunakan artis sebagai
bintang iklan di media-media, mulai dari media cetak, media sosial, maupun
media televisi. Tidak hanya itu, selebriti digunakan karena berbagai atribut
yang melekat pada diri selebriti diantaranya daya Tarik, talenta, dan lain
sebagainya (Wahyuati,2016).
Kotler & Keller (2009:519) menjelaskan bahwa celebrity endorser
merupakan penggunaan narasumber (source) sebagai figure yang menarik atau
popular dalam iklan, hal tersebut merupakan cara yang cukup kreatif untuk
menyampaikan pesan agar pesan yang disampaikan dapat memperoleh
perhatian yang lebih tinggi serta dapat di ingat. Pada kegiatan pemasaran
penggunaan endorser sebuah produk dipercaya dapat mendongkrak penjualan
produk, endorser dapat menarik minat konsumen
