Alasan penggunaan PLS untuk penelitian ini adalah:
Penelitian Fenomenologis (skripsi dan tesis)
Peneliti dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitankaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Sosiologi fenomenologis pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh pandangan Edmund Husserl dan Alfred Schultz. Pengaruh lainnya berasal dari Weber yang memberi tekanan padaverstehn, yaitu pengertian interpretatif terhadap pemahaman manusia. Fenomoenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti oleh mereka nkuiri fenomenologis memulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk mengungkap pengertian sesuatu yang sedang diteliti. Yang ditekankan oleh kaum fenomenologis adalah aspek subjektif dari perilaku orang. Mereka berusaha untuk masuk kedalam dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaiaman suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari. Para fenomenolog percaya bahwa pada makhluk hidup tersedia pelbagai cara untuk menginterpretasikan pengalaman melalui interaksi dengan orang lain, dan bahwa pengertian pengalaman kitalah yang membentuk kenyataan
Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F) (skripsi dan tesis)
Pengujian koefisien regresi keseluruhan menunjukkan apakah variabel bebas secara keseluruhan atau Bersama mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat (Ghozali, 2016: 99). Kriteria pengujian yang digunakan adalah dengan membandingkan nilai signifikan yang diperoleh dengan taraf signifikan yang telah ditentukan yaitu 0,05. Apabila nilai signifikan < 0,05 maka variabel independen mampu mempengaruhi variabel dependen secara signifikan atau hipotesis diterima. Selain itu cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan membandingkan F hitung dengan F tabel dengan kriteria sebagai berikut: a. Bila F hitung < F tabel, maka variabel bebas (independen) secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel dependen. b. Bila F hitung > F tabel, maka variabel bebas (independen) secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen.
Koefisien Determinasi (R2 ) (skripsi dan tesis)
Uji Heteroskedastisitas (skripsi dan tesis)
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui ada atu tidaknya penyimpangan asumsi klasik heteroskedastisitas, yaitu adanya ketidaksamaan varian residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Model regresi yang baik 70 adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2016: 134). Penelitian ini menggunakan Uji Glejser untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitaa. Dalam uji Glejser, indikasi terjadinya heteroskedatisitas yaitu apabila variabel independen signifikan secara statistik mmpengaruhi variabel dependen. Jika probabilitas signifikan diatas tingkat kepercayaan 5% maka model regresi tidak mengandung adanya heteroskedastisitas (Ghozali, 2016: 134).
Uji Multikolonieritas (skripsi dan tesis)
Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka hubungan antar variabel independent dengan variabel dependen akan terganggu (Ghozali, 2016: 103). Multikolinearitas dapat dilihat dari (1) nilai tolerance dan lawannya (2) variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Setiap variabel independen menjadi variabel dependen (terikat) dan diregres terhadap variabel independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya (Ghozali, 2016: 103). Suatu model regresi dapat dikatakan bebas multikolinearlitas jika mempunyai nilai VIF kurang dari 10, dan nilai tolerance tidak kurang dati 0,1. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearlitas antar variabel independen dalam dalam model regresi ini (Ghozali, 2016: 105).
Uji Normalitas (skripsi dan tesis)
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam data yang telah dikumpulkan terdistribusi secara normal atau diambil dari populasi normal. Kalau asumsi dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid (Ghozali, 2016: 154). Pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat histogram dari residual. Akan tetapi pada pengujian ini juga menggunakan Uji Kolmogrov Smirnov dimana jika nilai sig ≥ 0.05 atau 5% artinya residual menyebar normal dan begitu pula sebaliknya (Ghozali, 2016: 31).
Uji Validitas (skripsi dan tesis)
Uji Validitas digunakan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid atau sahih jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Uji validitas dilakukan dengan cara melihat korelasi skor butir pertanyaan dengan total skor variabel melalui program SPSS dengan melihat pada kolom Corrected Item – Total Correlation (Ghozali, 2016: 52). Pengambilan keputusan apakah pertanyaan valid atau tidak valid dapat didasarkan pada pernyataan dibawah ini (Ghozali, 2016: 53): b. Jika nilai r positif, serta nilai r hitung > r tabel atau taraf probabilitas kesalahan (sig) ≤ 0,05 maka item pertanyaan atau variabel tersebut dinyatakan valid. 68 c. Sebaliknya, jika nilai r negatif, serta nilai r hitung < r tabel atau taraf probabilitas kesalahan (sig) ≥ 0,05 maka item pertanyaan atau variabel tersebut dinyatakan tidak valid
Analisis Dalam Metode Analisis Isi (skripsi dan tesis)
Analisis data dalam metode analisis isi deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sebagai metode yang sistematis analisis isi mengikuti suatu proses-proses tertentu dalam pengaplikasiannya. Adapun langkah-langkah analisis isi deskriptif dalam penelitian sebagaimana dikutip dalam Kriyantono, (2006, hlm. 167) ini adalah sebagai berikut:
Pengertian analisis isi (skripsi dan tesis)
Neuendorf (dalam Eriyanto,2011, hlm. 16) mengemukakan bahwa analisis isi adalah sebuah peringkasan (summarizing), kuantifikasi dari pesan yang didasarkan pada metode ilmiah (diantaranya objektifintersubjektif, reliabel, valid, dapat digeneralisasikan, dapat direplikasi dan pengujuian hipotesis) dan tidak dibatasi untuk jenis variabel tertentu atau konteks di mana pesan dibentuk dan ditampilkan. Analisis isi sering digunakan dalam penelitian disiplin ilmu komunikasi. Analisis isi dipakai untuk menganalisis isi dari media cetak maupun elektronik. Selain itu analisis isi juga dipakai untuk mempelajari isi semua konteks komunikasi, baik komunikasi antarpribadi, kelompok ataupun organisasi. (Eriyanto, 2011, hlm. 10). Ciri khas dari penelitian menggunakan analisis isi adalah metode ini hanya dapat menganalisis pesan yang yang tersurat (tampak) bukan makna yang dirasakan oleh peneliti. Pada saat proses coding dan pengumpulan data, peneliti harus menilai dari aspek yang terlihat. Akan tetapi, pada tahap analisis data, peneliti bisa menafsirkan aspek-aspek yang tidak terlihat di dalam pesan.
Analisis Framing (skripsi dan tesis)
Analisis Framing adalah bagian dari analisis isi yang melakukan penilaian tentang wacana persaingan antarkelompok yang muncul atau tampak di media. Dikenal konsep bingkai, yaitu gagasan sentral yang terorganisasi, dan dapat dianalisis melalui dua turunannya, yaitu simbol berupa framing device dan reasoning device. Framing device menunjuk pada penyebutan istilah tertentu yang menunjukkan “julukan” pada satu wacana, sedangkan reasoning device menunjuk pada analisis sebab-akibat. Di dalamnya terdapat beberapa ‘turunan’, yaitu metafora, perumpamaan atau pengandaian. Catchphrases merupakan slogan-slogan yang harus dikerjakan. Exemplar mengaitkan bingkai dengan contoh, teori atau pengalaman masa silam. Depiction adalah “musuh yang harus dilawan bersama”, dan visual image adalah gambar-gambar yang mendukung bingkai secara keseluruhan. Pada instrumen penalaran, Roots memperlihatkan analisis sebab-akibat, Appeals to principles merupakan premis atau klaim moral, dan Consequences merupakan kesimpulan logika penalaran.
Analisis Semiotik (Semiotic Analysis) (skripsi dan tesis)
Pengertian semiotika secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Menurut Eco, semiotik sebagai “ilmu tanda” (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.
Menurut Eco, ada sembilan belas bidang yang bisa dipertimbangkan sebagai bahan kajian untuk semiotik, yaitu semiotik binatang, semiotik tanda-tanda bauan, komunikasi rabaan, kode-kode cecapan, paralinguistik, semiotik medis, kinesik dan proksemik, kode-kode musik, bahasa yang diformalkan, bahasa tertulis, alfabet tak dikenal, kode rahasia, bahasa alam, komunikasi visual, sistem objek, dan sebagainya
Semiotika di bidang komunikasi pun juga tidak terbatas, misalnya saja bisa mengambil objek penelitian, seperti pemberitaan di media massa, komunikasi periklanan, tanda-tanda nonverbal, film, komik kartun, dan sastra sampai kepada musik.
Analisis Wacana (skripsi dan tesis)
Analisis wacana adalah analisis isi yang lebih bersifat kualitatif dan dapat menjadi salah satu alternatif untuk melengkapi dan menutupi kelemahan dari analisis isi kuantitatif yang selama ini banyak digunakan oleh para peneliti. Jika pada analisis kuantitatif, pertanyaan lebih ditekankan untuk menjawab “apa” (what) dari pesan atau teks komunikasi, pada analisis wacana lebih difokuskan untuk melihat pada “bagaimana” (how), yaitu bagaimana isi teks berita dan juga bagaimana pesan itu disampaikan.
Beberapa perbedaan mendasar antara analisis wacana dengan analisis isi yang bersifat kuantitatif adalah sebagai berikut.
Analisis wacana lebih bersifat kualitatif daripada yang umum dilakukan dalam analisis isi kuantitatif karena analisis wacana lebih menekankan pada pemaknaan teks daripada penjumlahan unit kategori, seperti dalam analisis isi.
Analisis isi kuantitatif digunakan untuk membedah muatan teks komunikasi yang bersifat manifest (nyata), sedangkan analisis wacana justru memfokuskan pada pesan yang bersifat latent (tersembunyi).
Analisis isi kuantitatif hanya dapat mempertimbangkan “apa yang dikatakan” (what), tetapi tidak dapat menyelidiki bagaimana ia dikatakan (how).
Analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi, sedangkan analisis isi kuantitatif memang diarahkan untuk membuat generalisasi.
Model analisis wacana yang diperkenalkan oleh van Dijk sering kali disebut sebagai “kognisi sosial”, yaitu suatu pendekatan yang diadopsi dari bidang psikologi sosial. Menurut van Dijk, ada 3 dimensi yang membentuk suatu wacana sehingga analisis yang dilakukan terhadap suatu wacana harus meliputi ketiga dimensi tersebut, yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial.
Reliabilitas dan Validitas Pada Analisis Isi (skripsi dan tesis)
Masalah reliabilitas (keterandalan) dan validitas pengukuran (kesahihan) merupakan 2 hal pokok dalam penelitian yang tidak boleh ditinggalkan. Reliabilitas didefinisikan sebagai keterandalan alat ukur yang dipakai dalam suatu penelitian. Apakah kita benar-benar dapat mengukur dengan tepat sesuai dengan alat atau instrumen yang dimiliki.
Dikenal beberapa jenis reliabilitas, yaitu berikut ini.
-
Intercoder dan intracoder, yaitu pemberian kode dari luar dan dari dalam.
-
Pretest, yaitu pengujian atau pengukuran perbedaan nilai antara juri-juri pemberi nilai.
-
Reliabilitas kategori, yaitu derajat kemampuan pengulangan penempatan data dalam berbagi kategori.
Validitas adalah kesahihan pengukuran atau penilaian dalam penelitian. Dalam analisis isi, validitas dilakukan dengan berbagai cara atau metode sebagai berikut.
-
Pengukuran produktivitas (productivity), yaitu derajat di mana suatu studi menunjukkan indikator yang tepat yang berhubungan dengan variabel.
-
Predictive validity, yaitu derajat kemampuan pengukuran dengan peristiwa yang akan datang.
-
Construct validity, yaitu derajat kesesuaian teori dan konsep yang dipakai dengan alat pengukuran yang dipakai dalam penelitian tersebut.
Skala pada Analisis Isi (skripsi dan tesis)
Telah dijelaskan dua macam teknik penskalaan (scaling) yang bertujuan khusus untuk mengukur intensitas. Pertama, metode Q-Sort, menyediakan suatu cara penskalaan universe pernyataan-pernyataan mengenai variabel tertentu. Skala Q-Sort mempergunakan distribusi skala 9 titik. Pada lajur pertama, (Y) berisi 9 point nilai, yang menunjukkan tingkat terendah (1) sampai tingkat tertinggi (9), dan lajur kedua (X) yang menunjukkan persentase pernyataan dalam tiap kategori. Untuk menentukan item-item masuk pada kategori tertentu pada skala yang telah tersedia, dipakai orang-orang yang dianggap sebagai juri penilai. Dalam hal ini perlu ditetapkan keterandalan (reliabilitas) alat ukur, dan kesahihan (validitas) pengukuran.
Kedua, metode skala perbandingan pasangan (pair comparison scaling), yaitu teknik menentukan skala relatif item-item yang tidak melibatkan distribusi nyata. Penggunaan metode ini adalah untuk mengetahui pernyataan-pernyataan yang paling intens di antara pasangan-pasangan yang mungkin. Keseluruhan metode ini akan menghasilkan suatu skala relatif antaritem
Dasar-dasar Rancangan Penelitian Analisis Isi (skripsi dan tesis)
Prosedur dasar pembuatan rancangan penelitian dan pelaksanaan studi analisis isi terdiri atas 6 tahapan langkah, yaitu (1) merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesisnya, (2) melakukan sampling terhadap sumber-sumber data yang telah dipilih, (3) pembuatan kategori yang dipergunakan dalam analisis, (4) pendataan suatu sampel dokumen yang telah dipilih dan melakukan pengkodean, (5) pembuatan skala dan item berdasarkan kriteria tertentu untuk pengumpulan data, dan (6) interpretasi/ penafsiran data yang diperoleh.
Urutan langkah tersebut harus tertib, tidak boleh dilompati atau dibalik. Langkah sebelumnya merupakan prasyarat untuk menentukan langkah berikutnya. Permulaan penelitian itu adalah adanya rumusan masalah atau pertanyaan penelitian yang dinyatakan secara jelas, eksplisit, dan mengarah, serta dapat diukur dan untuk dijawab dengan usaha penelitian.
Pada perumusan hipotesis, dugaan sementara yang akan dijawab melalui penelitian, peneliti dapat memilih hipotesis nol, hipotesis penelitian atau hipotesis statistik.
Penarikan sampel dilakukan melalui pertimbangan tertentu, disesuaikan dengan rumusan masalah dan kemampuan peneliti.
Pembuatan alat ukur atau kategori yang akan digunakan untuk analisis didasarkan pada rumusan masalah atau pertanyaan penelitian, dan acuan tertentu. Misalnya, kategori tinggi-sedang-rendah, dengan indikator-indikator yang bersifat terukur.
Kemudian, pengumpulan atau coding data, dilakukan dengan menggunakan lembar pengkodean (coding sheet) yang sudah dipersiapkan. Setelah semua data diproses, kemudian diinterpretasikan maknanya
Tahapan Proses Penelitian Analisis Isi (skripsi dan tesis)
Terdapat tiga langkah strategis penelitian analisis isi.
Pertama, penetapan desain atau model penelitian. Di sini ditetapkan berapa media, analisis perbandingan atau korelasi, objeknya banyak atau sedikit dan sebagainya.
Kedua, pencarian data pokok atau data primer, yaitu teks itu sendiri. Sebagai analisis isi maka teks merupakan objek yang pokok bahkan terpokok. Pencarian dapat dilakukan dengan menggunakan lembar formulir pengamatan tertentu yang sengaja dibuat untuk keperluan pencarian data tersebut.
Ketiga, pencarian pengetahuan kontekstual agar penelitian yang dilakukan tidak berada di ruang hampa, tetapi terlihat kait-mengait dengan faktor-faktor lain
Desain Analisis Isi (skripsi dan tesis)
Setidaknya dapat diidentifikasi tiga jenis penelitian komunikasi yang menggunakan analisis isi. Ketiganya dapat dijelaskan dengan teori 5 unsur komunikasi yang dibuat oleh Harold D. Lasswell, yaitu who, says what, to whom, in what channel, with what effect. Ketiga jenis penelitian tersebut dapat memuat satu atau lebih unsur “pertanyaan teoretik” Lasswell tersebut.
Pertama, bersifat deskriptif, yaitu deskripsi isi-isi komunikasi. Dalam praktiknya, hal ini mudah dilakukan dengan cara melakukan perbandingan. Perbandingan tersebut dapat meliputi hal-hal berikut ini.
-
Perbandingan pesan (message) dokumen yang sama pada waktu yang berbeda. Dalam hal ini analisis dapat membuat kesimpulan mengenai kecenderungan isi komunikasi.
-
Perbandingan pesan (message) dari sumber yang sama/tunggal dalam situasi-situasi yang berbeda. Dalam hal ini, studi tentang pengaruh situasi terhadap isi komunikasi.
-
Perbandingan pesan (message) dari sumber yang sama terhadap penerima yang berbeda. Dalam hal ini, studi tentang pengaruh ciri-ciri audience terhadap isi dan gaya komunikasi.
-
Analisis antar-message, yaitu perbandingan isi komunikasi pada waktu, situasi atau audience yang berbeda. Dalam hal ini, studi tentang hubungan dua variabel dalam satu atau sekumpulan dokumen (sering disebut kontingensi (contingency).
-
Pengujian hipotesis mengenai perbandingan message dari dua sumber yang berbeda, yaitu perbedaan antarkomunikator.
Kedua, penelitian mengenai penyebab message yang berupa pengaruh dua message yang dihasilkan dua sumber (A dan B) terhadap variabel perilaku sehingga menimbulkan nilai, sikap, motif, dan masalah pada sumber B.
Ketiga, penelitian mengenai efek message A terhadap penerima B. Pertanyaan yang diajukan adalah apakah efek atau akibat dari proses komunikasi yang telah berlangsung terhadap penerima (with what effect)?
Syarat analisis isi (skripsi dan tesis)
analisis isi tidak dapat diberlakukan pada semua penelitian sosial. Analisis isi dapat dipergunakan jika memiliki syarat berikut.
-
Data yang tersedia sebagian besar terdiri dari bahan-bahan yang terdokumentasi (buku, surat kabar, pita rekaman, naskah/manuscript).
-
Ada keterangan pelengkap atau kerangka teori tertentu yang menerangkan tentang dan sebagai metode pendekatan terhadap data tersebut.
-
Peneliti memiliki kemampuan teknis untuk mengolah bahan-bahan/data-data yang dikumpulkannya karena sebagian dokumentasi tersebut bersifat sangat khas/spesifik
Pengertian Analisis Isi (skripsi dan tesis)
Analisis isi (content analysis) adalah penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Pelopor analisis isi adalah Harold D. Lasswell, yang memelopori teknik symbol coding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi.
Analisis isi dapat digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi. Baik surat kabar, berita radio, iklan televisi maupun semua bahan-bahan dokumentasi yang lain. Hampir semua disiplin ilmu sosial dapat menggunakan analisis isi sebagai teknik/metode penelitian. Holsti menunjukkan tiga bidang yang banyak mempergunakan analisis isi, yang besarnya hampir 75% dari keseluruhan studi empirik, yaitu penelitian sosioantropologis (27,7 persen), komunikasi umum (25,9%), dan ilmu politik (21,5%).
Sejalan dengan kemajuan teknologi, selain secara manual kini telah tersedia komputer untuk mempermudah proses penelitian analisis isi, yang dapat terdiri atas 2 macam, yaitu perhitungan kata-kata, dan “kamus” yang dapat ditandai yang sering disebut General Inquirer Program.
Prosedur Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)
Pada dasarnya, prosedur atau langkah-langkah dalam metode AHP meliputi:
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan, lalu menyusun hierarki dari permasalahan yang dihadapi. Menyusun hierarki adalah dengan menetapkan tujuan yang merupakan sasaran sistem secara keseluruhan pada level teratas.
2. Menentukan prioritas elemen
– Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah mem buat
perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan
sesuai kriteria yang diberikan.
– Matriks perbandingn berpasangan diisi menggunakan bilangan untuk
mempresentasikan kepentingan relatif dari suatu elemen terhadap elemen yang
lainnya.
3. Sintesis
Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesis untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini adalah:
– Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom pada matriks.
– Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks.
– Menumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah
elemen untuk mendapatkan nilai rata-rata .
4. Mengukur konsistensi Dalam pembuatan keputusan, penting untuk mengetahui
sebeapa baik konsistensi yang ada karena kita tidak menginginkan keputusan
berdasarkan pertimbangan dengan konsistensi yang rendah. Hal-hal yang
dilakukan dalam langkah ini adalah:
– kalikan setiap nilai pada kolom pertama dengan prioritas relatif elemen
pertama, nilai pada kolom kedua dengan prioritas relatif elemen kedua, dan
seterusnya.
– Jumlahkan setiap baris.
– Hasi dari pejumlahan baris dibagi dengan elemen prioritas relatif yang
bersangkutan.
– Jumlahkan hasil bagi di atas dengan banyaknya elemen yang ada, hasilnya
disebut λ maks.
5. Hitung Consistency Index (CI) dengan rumus :
CI = ( λ maks-n)/n
Di mana n = banyaknya elemen
6. Hitung Rasio Konsistensi / Consistency Ratio (CR) dengan rumus :
CR=CI/IR
15
Di mana CR=Consistency Ratio
CI=Consistency Index
IR=Indeks Random Consistency
7. Memeriksa konsistensi hierarki. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data judgment harus diperbaiki. Namun jika ratio konsistensi (CI/IR) kurang atau sama denga 0,1. maka hasil perhitungan bisa dinyatakan benar.
Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)
Penelitian ini melakukan tinjauan literature pada kualitas website untuk menghasilkan subkriteria (alternatif pilihan) dan empat kriteria kualitas website (faktor utama) yaitu kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas layanan dan daya tarik yang digunakan untuk mengukur kualitas website. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengguna website perpustakaan ini akan dilakukan pengkajian dengan mendapatkan masukan dari para responden yang terhimpun dalam sebuah kuesioner yang akan diolah dengan menggunakan metode analytical hierarchy process (AHP) untuk menentukan bobot relatif faktor kualitas website dengan kelengkapan data numerik dari perhitungan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Model proses analisis hirarki (berjenjang) ini diperkenalkan pertama kali oleh Thomas L. Saaty pada era 1970-an di mana ciri khas dari model ini adalah penentuan skala prioritas atas alternatif pilihan berdasarkan suatu proses analitis secara berjenjang, terstruktur atas variabel keputusan (Darmawan 2009). Metode AHP merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan dengan memperhatikan faktor-faktor persepsi, prefensi, pengalaman dan intuisi. AHP menggabungkan penilaian-penilaian dan nilai-nilai pribadi ke dalam satu cara yang logis. (Marimin dan Nurul 2010). AHP (Analytical Hierarchy Process) memiliki sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam kelompok-kelompoknya dan diatur menjadi suatu bentuk hirarki (Permadi 1992).
Dapat disimpulkan AHP adalah sebuah metode yang dapat menguraikan permasalahan yang sangat luas menjadi terstruktur. AHP memiliki banyak keunggulan dalam menjelaskan proses pengambilan keputusan karena dapat digambarkan secara grafis, sehingga mudah dipahami oleh semua pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Dengan 13 AHP proses keputusan kompleks dapat diuraikan menjadi keputusan-keputusan lebih kecil yang dapat ditangani dengan mudah. Penelitian sebelumnya tentang website dengan menggunakan metode AHP telah dilakukan oleh Changping (2009) tentang AHP dan dasar evaluasi analisis kesesuaian terhadap kualitas layanan informasi: studi empiris pada industri berteknologi tinggi dengan informasi portal web, di mana hasil dari penelitiannya terhadap 10 (sepuluh) pusat informasi yang berbasis web didapat nilai tertinggi pada informasi di website industri perangkat medis China dengan nilai tertinggi yaitu 3,8296, dimana alternatif pilihannya ada pada kemudahan dalam pemakaian website seperti navigasi dan kecepatannya dengan nilai 0,2371. Hsiu-Fen (2010) tentang penggunaan aplikasi AHP untuk mengevaluasi kualitas website didapat hasil dengan nilai tertinggi 0,288 pada kualitas informasi dan peringkat kedua 0,258 pada kualitas sistem. Menurut Permadi (1992) AHP adalah salah satu bentuk model pengambilan keputusan yang pada dasarnya berusaha menutupi semua kekurangan dari model-model sebelumnya. Model AHP memakai persepsi manusia yang dianggap ekspert dalam arti kata mengerti benar dengan permasalahan yang diajukan atau memiliki kepentingan dengan permasalahan.
Langkah Analisis ARIMA (skrispi dan tesis)
Setelah data diperoleh, maka langkah-langkah yang akan dilakukan dalam
menganalisis data adalah :
1. Membuat plot time series I
2. Melakukan pemeriksaan pada data apakah data sudah stasioner atau belum, menggunakan uji Augmented Dickey Fuller (ADF) untuk memeriksa apakah data sudah stasioner dalam mean dan melalui grafik transformasi Box-Cox dan uji Bartlett untuk memeriksa apakah data sudah stasioner dalam varian.
3. Melakukan proses pembedaan (differencing) jika tidak memenuhi asumsi stasioner dalam rata-rata dan melakukan transformasi data jika tidak memenuhi asumsi stasioneritas dalam varians untuk data.
4. Membuat plot Autocorrelation Function (ACF) dan Partial Autocorrelation Function (PACF) untuk melihat apakah terdapat efek musiman atau tidak serta untuk melihat panjang musiman dari data dan juga untuk mengukur hubungan keeratan antar pengamatan suatu deret waktu
5. Penetapan model untuk sementara atau mengidentifikasi model ARIMA berdasarkan dari plot Autocorrelation Function (ACF) dan Partial Autocorrelation Function (PACF)
6. Penaksiran parameter dari semua model ARIMA Musiman yang mungkin dari data.
7. Menguji signifikansi parameter model ARIMA Musiman dan memilih model dengan semua parameter yang dihasilkan.
8. Pemeriksaan atau diagnosa apakah model memadai yaitu meliputi uji independensi residual dan uji kenormalan residual.
9. Mengevaluasi model peramalan yang telah didapatkan dengan menghitung nilai MSE, serta dilakukan pemilihan model terbaik berdasarkan nilai MSE yang paling kecil.
10. Menghitung residual yaitu selisih antara data aktual dengan hasil peramalan selama enam tahun sebelumnya.
11. Melakukan verifikasi peramalan pada model sementara menggunakan peta kendali Moving Range untuk mengetahui apakah hasil peramalan tersebut benar-benar mencerminkan data masa lalu.
12. Melakukan peramalan kedepan untuk data berdasarkan model terbaik yang dihasilkan oleh metode ARIMA Musiman.
Jenis Stasioneritas (skripsi dan tesis)
1. Kestasioneran terhadap rata-rata
Suatu proses stasioner dalam rata-rata jika E(Zt) = μt = μ adalah konstan untuk setiap t. Untuk memeriksa kestasioneran ini dapat digunakan diagram deret waktu (time series plot) yaitu diagram pencar antara nilai peubah Zt dengan waktu t. Dapat juga dengan menggunakan uji unit root yang bertujuan untuk mengetahui apakah data tersebut mengandung unit root atau tidak. Salah satu dari uji unit root ini yang digunakan adalah Augmented Dickey Fuller (ADF-test) dimana filosofi dari uji ADF ini adalah dengan mengikuti proses autoregressive orde pertama atau AR(1).
2. Kestasioneran terhadap varians
Suatu proses stasioner pada varians jika Var (Zt) = E (Zt – μt) 2 = σ 2 adalah konstan untuk setiap t. Pengujian stasioneritas dalam varians dapat menggunakan uji Bartlett. Jika data tidak stasioner dalam varians maka digunakan transformasi data. Menurut Rosadi (2012), transformasi yang biasa digunakan adalah Box-Cox Transformation
Heteroskedastisitas (skripsi dan tesis)
Heteroskedastisitas merupakan suatu kondisi apabila suatu data memiliki varians residual yang tidak konstan atau dengan kata lain situasi saat varians dari faktor pengganggu adalah tidak sama untuk semua observasi. Jika kesalahan pada suatu model mengandung masalah heteroskedastisitas, maka akibatnya UNIVERSITAS SUMATERA UTARA estimator yang dihasilkan tetap konsisten, tetapi tidak lagi efisien karena ada estimator lain yang memilki varians yang lebih kecil daripada estimator yang memiliki residual yang bersifat heteroskedastisitas. Adanya masalah heteroskedastisitas juga menjadi indikasi adanya efek ARCH pada data.
Stasioneritas (skripsi dan tesis)
Stasioneritas berarti bahwa tidak terdapat perubahan yang drastis pada data. Fluktuasi data berada di sekitar suatu nilai rata-rata yang konstan, tidak tergantung pada waktu dan variansi dari fluktuasi tersebut. (Makridakis, 1995) Sekumpulan data dinyatakan stasioner jika nilai rata-rata dan varians dari data time series tersebut tidak mengalami perubahan secara sistematik sepanjang waktu atau dengan kata lain rata-rata dan variansnya konstan. Kestasioneran data ini berkaitan dengan metode estimasi yang digunakan. Tidak stasionernya data akan mengakibatkan kurang baiknya model yang diestimasi. Selain itu apabila data yang digunakan dalam model ada yang tidak stasioner, maka data tersebut dipertimbangkan kembali validitas dan kestabilannya. Salah satu penyebab tidak stasionernya sebuah data adalah adanya autokorelasi. Bila data distasionerkan maka autokorelasi akan hilang dengan sendirinya, karena itu transformasi data untuk membuat data yang tidak stasioner menjadi stasioner sama dengan transformasi data untuk menghilangkan autokorelasi
Kestasioneran Data Deret Waktu (skripsi dan tesis)
Suatu data pengamatan dikatakan stasioner apabila proses tidak mengalami perubahan seiring dengan waktu yang berubah, dengan kata lain, proses stasioner untuk suatu {Zt}, mempunyai : Mean ?(??)=? , Var (??)=?(??−?)2=?2 yang konstan dan kovarian yang merupakan fungsi dari perbedaan waktu |t – s| yang dapat ditulis sebagai berikut :
(1)Stasioneritas merupakan suatu keadaan jika proses pembangkitan yang mendasari suatu deret berkala didasarkan pada nilai tengah konstan dan nilai varians konstan. Dalam suatu data kemungkinan data tersebut tidak stationer hal ini dikarenakan mean tidak konstan atau variannya tidak konstan sehingga untuk menghilangkan ketidakstasioneran terhadap mean, maka data tersebut dapat dibuat lebih mendekati stasioner dengan cara melakukan penggunaan metode pembedaan atau differencing. Prilaku data yang stasioner antara lain tidak mempunyai variasi yang terlalu besar dan mempunyai kecendrungan untuk mendekati nilai rata-ratanya, dan sebaliknya untuk data yang tidak stasioner. [3].
Jenis-jenis data yang dikategorikan stasioner dan non stasioner adalah: [5]
1. Kestasioneran data deret waktu
Ada dua macam kestasioneran data, yaitu stasioner kuat (strickly stationer) dan stasioner lemah (weakly stationer). Disebut stasioner kuat (strickly stationer) jika bentuk distribusi gabungannya tetap untuk setiap himpunan bagian dari himpunan data deret waktu, dan dalam notasi statistiknya.
Data deret waktu stasioner lemah (weakly stationer) jika pola trendnya hampir merupakan fungsi konstan.
2. Nonstasioner
Nonstasioneritas data diklasifikasikan atas
tiga bentuk yaitu :
a. Nonstasioner dalam rata-rata hitung, jika trend tidak datar (tidak sejajar sumbu waktu) dan data tersebar pada “pita” yang meliput secara seimbang trendnya.
b. Nonstasioner dalam varians, jika trend datar atau hampir datar tapi data tersebar membangun pola melebar atau menyempit yang meliput secara seimbang trendnya (pola terompet).
c. Nonstasioner dalam rata-rata hitung dan varians, jika trend tidak datar dan data membangun pola terompet
Identifikasi Ke-tidak-stasioner-an Data Deret Waktu (skripsi dan tesis)
Suatu data pengamatan dikatakan stasioner apabila proses tidak mengalami perubahan seiring dengan waktu yang berubah, dengan kata lain, proses stasioner untuk suatu {Zt}, mempunyai : Mean ?(??)=? , Var (??)=?(??−?)2=?2 yang konstan dan kovarian yang merupakan fungsi dari perbedaan waktu |t – s|
Dalam kondisi tertentu maka di dapatkan data yang tidak stationer. Dimaksud dengan ketidak-stasioneran data secara visual, tahap pertama dapat dilakukan pada peta data atas waktu, karena biasanya “mudah” dan jika belum mendapatkan kejelasan, maka tahap berikutnya ditelaah pada gambar ACF dan PACF. Telaahan pada gambar pada peta data atas waktu, ACF dan PACF, jika data tidak stasioner maka gambarnya akan membangun pola diantaranya :
- Menurun, jika data tidak stasioner dalam rata-rata hitung (trend naik atau turun).

Gambar 1. Data tidak stasioner dalam rata-rata hitung

Gambar 2. ACF data tidak stasioner dalam rata-rata hitung

Gambar 3. PACF data tidak stasioner dalam rata-rata hitung
- Alternating, jika data tidak stasioner dalam varians.

Gambar 1. Data tidak stasioner dalam varians

Gambar 2. ACF data tidak stasioner dalam varians

Gambar 3. PACF data tidak stasioner dalam varians
- Gelombang, jika data tidak stasioner dalam rata-rata hitung dan varians
Stasioneritas (skripsi dan tesis)
Kestasioneran data merupakan kondisi yang diperlukan dalam analisis regresi deret waktu karena dapat memperkecil kekeliruan model, sehingga jika data tidak stasioner, maka harus dilakukan transformasi stasioneritas melalui proses diferensi, jika trend-nya linier, sedangkan jika tidak linier, maka transformasi linieritas trend melalui proses logaritma natural jika trend-nya eksponensial, dan proses pembobotan (penghalusan eksponensial sederhana) jika bentuknya yang lain, yang selanjutnya dilakukan proses diferensi pada data hasil proses linieritas.
Berdasarkan deskripsinya, bentuk kestasioneran ada dua yaitu Stasioner Kuat (Strickly Stationer) atau Stasioner Orde Pertama (Primary Stationer) dan stasioner lemah (Weakly Stationer) atau Stasioner orde kedua (Secondary Stationer). Deskripsi umum kestasioneran adalah sebagai berikut, Xt1, Xt2, … disebut stasioner kuat jika distribusi gabungan Xt1, Xt2, … , Xtn sama dengan distribusi gabungan Xt1+k, Xt2+k, … , Xtn+k, untuk setiap nilai t1, t2, … , tn dan k. Sedangkan disebut stasioner lemah, jika rata-rata hitung data konstan, E(X) = µ dan autokovarians-nya merupakan fungsi dari lag ρk = f(k). Sedangkan ketidaksioneran data diklasifikasikan atas 3 (tiga) bentuk yaitu :
- Tidak stasioner dalam rata-rata hitung, jika trend tidak datar (tidak sejajar sumbu waktu) dan data tersebar pada “pita” yang meliputi secara seimbang trendnya.
- Tidak stasioner dalam varians, jika trend datar atau hampir datar tapi data tersebar membangun pola melebar atau menyempit yang meliputi secara seimbang trendnya (pola terompet).
- Tidak stasioner dalam rata-rata hitung dan varians, jika trend tidak datar dan data membangun pola terompet.
Model AUTOREGRESIF INTEGRETED MOVING AVERAGE/ARIMA (skripsi dan tesis)
Model ARIMA merupakan model gabungan antara Autoregressive (AR) orde p dan Moving Average (MA) orde q serta proses differencing orde d untuk data pada level musiman maupun non musiman dan termasuk dalam kelompok pemodelan linier . Model AR (Autoregressive) pada orde p menyatakan pengamatan pada waktu ke-t berhubungan linier dengan pengamatan waktu sebelumnya t-1, t-2,…, t-p. Bentuk fungsi persamaan untuk model AR pada orde p dinyatakan sebagai berikut:
?? ̇ = ?1?̇ ?−1 + ?2?̇ ?−2 + ⋯ + ???̇ ?−? + ?? (1)
Model MA (Moving Average) digunakan untuk menjelaskan suatu kejadian bahwa suatu pengamatan pada waktu t dinyatakan sebagai kombinasi linier dari sejumlah residual. Bentuk fungsi persamaan untuk model MA pada orde q dinyatakan sebagai berikut:
?? ̇ = ?? − ?1??−1 − ?2??−2 − ⋯ − ????−? (2)
Model ARMA merupakan model gabungan antara model AR (Autoregressive) dan MA (Moving Average) yang kadang ditulis dengan notasi ARMA (p,q). Bentuk fungsi model ARMA pada orde p dan q dinotasikan sebagai berikut:
?? ̇ = ?1?̇ ?−1 + ⋯ + ???̇ ?−? + ?? − ?1??−1 − ⋯ − ????−? (3)
Model ARIMA (p, d, q) yang dikenalkan oleh Box dan Jenkins dengan p sebagai orde operator dari AR, d merupakan orde differencing dan q sebagai orde operator dari MA. Model ini digunakan untuk data time series yang telah stasioner setelah dilakukan differencing sebanyak d kali yaitu dengan menghitung selisih pengamatan dengan pengamatan sebelumnya dimana bentuk persamaan untuk model ARIMA adalah sebagai berikut: ?? (?)(1 − ?) ??? = ?0 + ??(?)?? (4) Apabila model ARIMA mempunyai pola musiman (seasonal) maka model yang dibentuk secara umum adalah sebagai berikut: Φ? (? ? )(1 − ? ? ) ??? = Θ?(? ? )?? (5)
Pengertian Analytic Network Process (ANP) (skripsi dan tesis)
Analytic Network Process (ANP) merupakan teori matematis yang mampu menganalisa pengaruh dengan pendekatan asumsi-asumsi untuk menyelesaikan bentuk permasalahan. ANP sebagai suatu pendekatan alternatif baru untuk studi kualitatif yang dapat mengkombinasikan nilai-nilai Intangible dan judgement subyektif dengan data-data statistik dan faktor-faktor tangible lainnya (Saaty, 2008). Metode ini digunakan dalam bentuk penyelesaian dengan pertimbangan atas penyesuaian kompleksitas masalah disertai adanya skala prioritas yang menghasilkan pengaruh prioritas terbesar. ANP merupakan generalisasi dari Analytic Hierarchy Process, dengan mempertimbangkan ketergantungan antara unsur-unsur dari hirarki. Banyak masalah keputusan tidak dapat terstruktur secara hirarkis karena mereka melibatkan interaksi dan ketergantungan unsur-unsur tingkat yang lebih tinggi dalam hirarki dielemen level yang lebih rendah (Saaty, 2008). Banyak proses pengambilan keputusan suatu persoalan tidak dapat disusun dalam bentuk hirarki karena melibatkan interaksi dan ketergantungan elemen-elemen yang lebih tinggi tingkatannya kepada level elemen yang lebih rendah. Metode ANP mampu memperbaiki kelemahan AHP berupa kemampuan mengakomodasi keterkaitan antar kriteria atau alternatif. Komponen ANP terdiri dari hirarki kontrol, cluster, elemen, hubungan antar elemen dan hubungan antar cluster. Keterkaitan pada metode ANP ada 2 jenis yaitu keterkaitan dalam satu set elemen (inner depedence) dan keterkaitan antar elemen yang berbeda (outer depedence)
Tahapan ANP (skripsi dan tesis)
1) Menyusun struktur masalah dan mengembangkan model keterkaitan melakukan penentuan sasaran atau tujuan yang diinginkan, menentukan kriteria mengacu pada kriteria control dan menentukan alternatif pilihan. Jika terdapat elemen – elemen yang memiliki kualitas etara maka dikelompokkan ke dalam suatu komponen yang sama.
2) Membentuk matriks perbandingan berpasangan. ANP mengasumsikan bahwa pengambil keputusan harus membuat perbandingan kepentingan antara seluruh elemen untuk setiap level dalam bentuk berpasangan. Perbandingan tersebut itransformasi ke dalam bentuk matriks A. Nilai aij merepresentasikan nilai kepentingan relative dari elemen pada baris ke-i terhadap elemen pada kolom ke-j. misalnya aij =wi / wj.
Jika ada n elemen yang dibandingkan maka matriks perbandingan A idefinisikan sebagai : A= =
3) Menghitung bobot elemen. Jika perbandingan berpasangan telah lengkap, vector prioritas w yang disebut sebagai eigenvector dihitung dengan rumus : A . w = λmaks . W Dimana : A adalah matriks perbandingan berpasangan dan λmaks adalah eigen value terbesar dari A. Eigen vector merupakan bobot prioritas suatu matriks yang kemudian digunakan dalam penyusunan supermatriks.
4) Menghitung rasio konsistensi. Rasio konsistensi tersebut harus 10% atau kurang. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data keputusan harus diperbaiki. Dalam prakteknya, konsistensi tersebut tidak mungkin didapat. Pada matriks konsistensi, secara praktis λmaks = n, sedangkan pada matriks tidak setiap variasi dari wij akan membawa perubahan pada nilai λmaks. Deviasi λmaks dari n merupakan suatu parameter Consistency Index (CI) sebagai berikut : CI = Dimana : CI = Consistency Index λmaks= nilai eigen terbesar n =jumlah elemen yang dibandingkan 4 Berikut gambaran dari metode ANP.
Tahapan ANP
1) Menyusun struktur masalah dan mengembangkan model keterkaitan melakukan penentuan sasaran atau tujuan yang diinginkan, menentukan kriteria mengacu pada kriteria control dan menentukan alternatif pilihan. Jika terdapat elemen – elemen yang memiliki kualitas etara maka dikelompokkan ke dalam suatu komponen yang sama.
2) Membentuk matriks perbandingan berpasangan. ANP mengasumsikan bahwa pengambil keputusan harus membuat perbandingan kepentingan antara seluruh elemen untuk setiap level dalam bentuk berpasangan. Perbandingan tersebut itransformasi ke dalam bentuk matriks A. Nilai aij merepresentasikan nilai kepentingan relative dari elemen pada baris ke-i terhadap elemen pada kolom ke-j. misalnya aij =wi / wj. Jika ada n elemen yang dibandingkan maka matriks perbandingan A idefinisikan sebagai : A= =
3) Menghitung bobot elemen. Jika perbandingan berpasangan telah lengkap, vector prioritas w yang disebut sebagai eigenvector dihitung dengan rumus : A . w = λmaks . W
Dimana :
A adalah matriks perbandingan berpasangan dan λmaks adalah eigen value terbesar dari A.
Eigen vector merupakan bobot prioritas suatu matriks yang kemudian digunakan dalam penyusunan supermatriks.
4) Menghitung rasio konsistensi. Rasio konsistensi tersebut harus 10% atau kurang. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data keputusan harus diperbaiki. Dalam prakteknya, konsistensi tersebut tidak mungkin didapat. Pada matriks konsistensi, secara praktis λmaks = n, sedangkan pada matriks tidak setiap variasi dari wij akan membawa perubahan pada nilai λmaks.
Tahapan ANP
1) Menyusun struktur masalah dan mengembangkan model keterkaitan melakukan penentuan sasaran atau tujuan yang diinginkan, menentukan kriteria mengacu pada kriteria control dan menentukan alternatif pilihan. Jika terdapat elemen – elemen yang memiliki kualitas etara maka dikelompokkan ke dalam suatu komponen yang sama.
2) Membentuk matriks perbandingan berpasangan. ANP mengasumsikan bahwa pengambil keputusan harus membuat perbandingan kepentingan antara seluruh elemen untuk setiap level dalam bentuk berpasangan. Perbandingan tersebut itransformasi ke dalam bentuk matriks A. Nilai aij merepresentasikan nilai kepentingan relative dari elemen pada baris ke-i terhadap elemen pada kolom ke-j. misalnya aij =wi / wj. Jika ada n elemen yang dibandingkan maka matriks perbandingan A idefinisikan sebagai : A= =
3) Menghitung bobot elemen. Jika perbandingan berpasangan telah lengkap, vector prioritas w yang disebut sebagai eigenvector dihitung dengan rumus : A . w = λmaks . W Dimana : A adalah matriks perbandingan berpasangan dan λmaks adalah eigen value terbesar dari A. Eigen vector merupakan bobot prioritas suatu matriks yang kemudian digunakan dalam penyusunan supermatriks.
4) Menghitung rasio konsistensi. Rasio konsistensi tersebut harus 10% atau kurang. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data keputusan harus diperbaiki. Dalam prakteknya, konsistensi tersebut tidak mungkin didapat. Pada matriks konsistensi, secara praktis λmaks = n, sedangkan pada matriks tidak setiap variasi dari wij akan membawa perubahan pada nilai λmaks. Deviasi λmaks dari n merupakan suatu parameter Consistency Index (CI) sebagai berikut : CI = Dimana : CI = Consistency Index λmaks= nilai eigen terbesar n =jumlah elemen yang dibandingkan 5
5) Nilai CI tidak akan berarti apabila terdapat standar untuk menyatakan apakah CI menunjukkan matriks yang konsisten. Saaty (2008) memberikan patokan dengan melakukan perbandingan secara acak atas 500 buah sampel. Saaty berpendapat bahwa suatu matriks yang dihasilkan dari perbandingan yang dilakukan secara acak merupakan suatu matriks yang mutlak tidak konsisten. Dari matriks acak tersebut didapatkan juga nilai Consistency Index, yang disebut Random Index (RI). Dengan membandingkan CI dan RI maka didapatkan patokan untuk menentukan tingkat konsistensi suatu matriks, yang disebut Consistency Ratio (CR), dengan rumus : CR = Dimana : CR = Consistency Ratio CI = Consistency Index RI = Random Index Nilai RI merupakan nilai random index yang dikeluarkan oleh Oarkridge Laboratory.
6) Membuat Supermatriks Supermatriks merupakan hasil vector prioritas dari perbandingan berpasangan antar cluster, kriteria dan alternatif. Supermatriks terdiri dari tiga tahapan, yaitu supermatriks tidak tertimbang (Unweighted Supermatrix), supermatriks tertimbang (Weighted Supermatrix) dan supermatriks limit (Limitting Supermatrix).
a. Tahap Unweighted Supermatrix Unweighted Supermatrix dibuat berdasarkan perbandingan berpasangan antar cluster, kriteria dan alternatif dengan cara memasukkan vector prioritas (eigen vector) kolom ke dalam matriks yang sesuai dengan selnya.
b. Tahap Weighted Supermatrix Weighted Supermatrix diperoleh dengan cara mengalihkan semua elemen pada unweighted supermatrix dengan nilai yang terdapat dalam matriks cluster yang sesuai sehingga setiap kolom memiliki jumlah satu.
c. Tahap Limmiting Supermatrix Selanjutnya untuk memperoleh limiting supermatrix, weighted supermatrix dinaikkan bobotnya. Menaikkan bobot weighted supermatrix dilakukan dengan cara mengalikan supermatriks tersebut dengan dirinya sendiri sampai beberapa kali. Ketika bobot pada setiap kolom memiliki nilai yang sama, maka limmiting supermatrix sudah didapatkan.
7) Rangking Alternatif
a. Bobot Raw Bobot raw merupakan nilai eigen vektor dari normalisasi limiting supermatrik.
b. Bobot Normal Bobot normal didapatkan dari nilai bobot raw dibagi dengan jumlah total dari bobot raw.
. Bobot Ideal Nilai ideal adalah nilai hasil bagi kolom(kolom nilai normal) dengan nilai terbesar pada kolom normal
Prinsip Dasar ANP (skripsi dan tesis)
Terdapat tiga prinsip dasar ANP :
1. Dekomposisi.
Masalah – masalah yang dikumpulkan dengan melakukan studi lapangan ketika penelitian sedang berlangsung merupakan masalah yang kompleks. Untuk menstruktur masalah – masalah yang kompleks tersebut perlu didekomposisikan ke dalam suatu jaringan dalam bentuk komponen – komponen, cluster, sub cluster, serta alternatif. Mendekomposisi adalah memodelkan masalah ke dalam kerangka ANP.
2. Penilaian Komparasi.
Prinsip ini diterapkan untuk melihat perbandingan pasangan (pairwise) dari semua jaringan / hubungan / pengaruh yang dibentuk dalam suatu kerangka kerja. Hubungan tersebut dapat berupa hubungan anatara elemen – elemen dalam suatu komponen yang berbeda atau hubungan antara elemen dengan elemen lainnya dalam komponen yang sama. Pembandingan pasangan ini digunakan untuk mendapatkan prioritas local dari elemen – elemen dalam suatu cluster dilihat dari cluster induknya.
3. Komposisi hierarki atau sintesis.
Prinsip ini diterapkan untuk mengalikan prioritas lokal dari elemen – elemen dalam cluster dengan prioritas ‘global’ dari elemen induk yang akan menghasilkan prioritas global seluruh hierarki dan menjumlahkannya untuk menghasilkan prioritas global untuk elemen level terendah (biasanya merupakan alternatif).
Pengertian Multiple Criteria Decision Making (MCDM) (skripsi dan tesis)
Multiple Criteria Decision Making (MCDM) merupakan suatu metode pengambilan keputusan untuk menetapkan alternative terbaik dari sejumlah alternative berdasarkan beberapa kriteria tertentu. Terdapat beberapa metode dalam pendekatan MCDM anatara lain Simple Additive Weighting Method (SAW), Weighted Product Model (WPM), ELECTRE, Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS), Analytic Hierarchy Process (AHP) serta ANP karena merupakan pengembangan dari AHP[10].
Pengertian Analytic Network Process (ANP) (skripsi dan tesis)
Analytic Network Process (ANP) merupakan teori matematis yang mampu menganalisa pengaruh dengan pendekatan asumsi-asumsi untuk menyelesaikan bentuk permasalahan. ANP sebagai Jurnal Sistem Informasi Bisnis 02(2016) On-line :http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jsinbis 107 suatu pendekatan alternatif baru untuk studi kualitatif yang dapat mengkombinasikan nilai-nilai Intangible dan judgement subyektif dengan data-data statistik dan faktor-faktor tangible lainnya (Saaty, 2008). Metode ini digunakan dalam bentuk penyelesaian dengan pertimbangan atas penyesuaian kompleksitas masalah disertai adanya skala prioritas yang menghasilkan pengaruh prioritas terbesar. ANP merupakan generalisasi dari Analytic Hierarchy Process, dengan mempertimbangkan ketergantungan antara unsur-unsur dari hirarki. Banyak masalah keputusan tidak dapat terstruktur secara hirarkis karena mereka melibatkan interaksi dan ketergantungan unsur-unsur tingkat yang lebih tinggi dalam hirarki dielemen level yang lebih rendah (Saaty, 2008). Banyak proses pengambilan keputusan suatu persoalan tidak dapat disusun dalam bentuk hirarki karena melibatkan interaksi dan ketergantungan elemen-elemen yang lebih tinggi tingkatannya kepada level elemen yang lebih rendah. Metode ANP mampu memperbaiki kelemahan AHP berupa kemampuan mengakomodasi keterkaitan antar kriteria atau alternatif. Komponen ANP terdiri dari hirarki kontrol, cluster, elemen, hubungan antar elemen dan hubungan antar cluster. Keterkaitan pada metode ANP ada 2 jenis yaitu keterkaitan dalam satu set elemen (inner depedence) dan keterkaitan antar elemen yang berbeda (outer depedence)
Pengertian Analytic Network Process (ANP) (skripsi dan tesis)
ANP merupakan pengembangan dari metode Analytic Hierarchy Process (AHP), AHP sendiri merupakan metode yang lebih banyak memperhitungkan ketergantungan antara unsur-unsur hirarki. Banyak masalah keputusan yang tidak dapat terstruktur menggunakan hirarki karena hierarki lebih mempertimbangkan ketergantungan dengan elemen tingkat yang lebih tinggi dalam hirarki, pada elemen tingkat yang lebih rendah. Sedangkan ANP yang diwakili oleh jaringan, bukan hirarki dapat mengatasi masalah tersebut. ANP adalah cara logis digunakan untuk menangani masalah ketergantungan dari unsur yang lebih tinggi
Langkah Dalam ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS/ AHP (skripsi dan tesis)
Pada dasarnya, prosedur atau langkah-langkah dalam metode AHP yang digunakan meliputi:
Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan, lalu menyusun jaringan dari permasalahan yang dihadapi.
Menentukan prioritas elemen
– Menentukan prioritas elemen dengan membuat perbandingan berpasangan berdasarkan sesuai dengan kriteria yang diberikan dengan mengelompokan dalam komponen yang sama.
– Dalam model AHP, langkah yang harus dilakukan adalah mengetahui suatu tingkat kepentingan terhadap kriteria AHP untuk perbandingan kriteria dalam seluruh sistem. Langkah ini dilakukan melalui matriks perbandingan berpasangan.
– Nilai numerik pada seluruh perbandingan diperoleh dari skala perbandingan 1 sampai 9 yang telah ditetapkan oleh Saaty.
Menghitung bobot elemen Dalam pembuatan keputusan, penting untuk mengetahui seberapa baik konsistensi yang ada karena kita tidak menginginkan keputusan berdasarkan pertimbangan dengan konsistensi yang rendah.
Hitung Consistency Index (CI): CI : ( λ maks-n) / (n-1) (1)
Hitung Rasio Konsistensi / Consistency Ratio (CR) CR : CI/IR (2) Dengan CR : Consistency Ratio CI : Consistency Index IR : Indeks Random Consistency Bila matriks matriks perbandingan berpasangan (pair-wise comparison) dengan nilai CR lebih kecil dari 0,1 maka ketidakkonsisten
Pengertian Analytical Hierarchy Process /AHP (skripsi dan tesis)
AHP merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. AHP sendiri merupakan sebuah model pendukung keputusan yang dapat menyelesaikan masalah yang bersifat multi kriteria yang kompleks berdasarkan unsur hierarki sebagai dasar penyusunnya. Hirarki merupakan suatu penggambaran sebuah permasalahan yang kompleks dimana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level faktor kriteria, sub kriteria, dan seterusnya hingga ke level terakhir yaitu alternatif. Dengan menggunakan hirarki, masalah dapat digabung ke dalam kelompok-kelompoknya sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur dan sistematis
Konsep Input dan Output Dalam Pengukuran Efisiensi Perbankan (skripsi dan tesis)
Model DEA (skripsi dan tesis)
Definisi DEA (skripsi dan tesis)
Konsep Efisiensi (skripsi dan tesis)
Metode Data Envelopment Analisis (DEA) (skripsi dan tesis)
Tahap Analisis Data Kualitatif (skripsi dan tesis)
Analisis data penelitian kualitatif seharusnya dimulai pada awal penelitian. Ketika seseorang melakukan penelitian, maka di saat itu pula ia (peneliti) akan berhadapan dengan data-data baik data-data dari teks atau dokumen, melalui catatancatatan observasi ataupun melalui wawancara. Pada saat yang sama, peneliti akan membaca data-data tersebut (mungkin berkali-kali) yang selanjutnya akan memberikan makna terhadap data yang dibaca tersebut. Analisis data di awal penelitian akan memudahkan peneliti dalam menerapkan strategi yang akan digunakan dalam mengumpulkan datadata atau informasi baru selanjutnya. Mengingat peneliti akan melakukan pengumpulan data melalui wawancara dengan informan lain, maka analisis data yang dilakukan lebih awal akan menjadi panduan peneliti dalam menggali informasi dari informan. Setelah mengumpulkan data melalui wawancara dan observasi, maka hal yang pertama dihadapi oleh seorang peneliti adalah berhadapan dengan data-data penelitian. Data-data tersebut membutuhkan pengorganisasian yang kemudian disebut sebagai analisis data.
Sifat dan Defenisi Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)
Bagi beberapa peneliti, penelitian kualitatif terkadang sulit didefinisikan. Argumentasi yang paling banyak digunakan adalah bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak memanfaatkan angka-angka, berlawanan dengan penelitian kuantitatif. Pendapat ini tidak dapat disalahkan mengingat datadata yang diperoleh dalam penelitian kualitatif lebih bersifat kata-kata atau informasi. Namun demikian, penelitian kualitatif dapat diidentifikasi dan dipahami dengan melihat cakupan atau feature yang terdapat pada penelitian kualitatif. Flick (2007) berpendapat bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang diperuntukkan untuk memahami, menguraikan, dan bahkan menjelaskan fenomena sosial yang ada dengan cara-cara sebagai berikut:
KODING DALAM KUALITATIF (skripsi dan tesis)
Dalam penelitian kualitatif. data coding atau pengodean data memegang peranan penting dalam proses analisis data, dan menentukan kualitas abstraksi data hasil penelitian. Salah seorang sosiolog bernama Anselm Strauss (1987: 27) pernah mengatakan demikian,
“Any researcher who wishes to become proficient at doing qualitative analysis, must learn to code well and easily. The excellence of the research rests in large part on the excellence of the coding.”
Setiap peneliti yang berkeinginan untuk menjadi mahir dalam melakukan analisis kualitatif, harus belajar untuk mengodekan data dengan baik dan mudah. Keunggulan penelitian sebagian besar terletak pada keunggulan pengodean data.
Sayangnya, dalam berbagai literatur mengenai penelitian kualitatif di Indonesia, tidak banyak orang yang membicarakan tata cara atau tehnik-tehnik dalam melakukan pengodean, meskipun pengodean merupakan suatu tugas yang penting dan krusial dalam proses analisis. Dalam tulisan ini, penulis hendak membagi beberapa pengetahuan mengenai tata cara melakukan pengodean. Mungkin baik apabila penulis awali dulu dengan penjelasan mengenai apa itu kode dalam penelitian kualitatif.
Apa itu kode?
Cermatilah definisi kode yang dipaparkan oleh Saldana (2009: 3) berikut ini,
“A code in qualitative inquiry is most often a word or short phrase that symbolically assigns a summative, salient, essence-capturing, and/or evocative attribute for a portion of language-based or visual data.”
Kode dalam penelitian kualitatif merupakan kata atau frasa pendek yang secara simbolis bersifat meringkas, menonjolkan pesan, menangkap esensi dari suatu porsi data, baik itu data berbasiskan bahasa atau data visual. Dengan bahasa yang lebih sederhana, kode adalah kata atau frasa pendek yang memuat esensi dari suatu segmen data.
Koding Data (Pemberian Kode pada data) (skripsi dan tesis)
Koding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka/ bilangan. Misalnya untuk variabel pekerjaan dilakukan koding 1 = Pegawai Negeri, 2 = Wiraswasta, 3 = Pegawai Swasta dan 4 = Pensiunan. Jenis kelamin: 1 = Pria dan 2 = Wanita, dsb. Kegunaan dari koding adalah untuk mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat pada saat entry data. Entry data, adalah transfer coding data dari kuisioner kesoftware. Pengkodean data dilakukan untuk memberikan kode yang spesifik pada respon jawaban responden untuk memudahkan proses pencatatan data.
Pemberian kode pada data adalah menterjemahkan data kedalam kode-kode yang biasanya dalam bentuk angka. Tujuannya ialah untuk dapat dipindahkan kedalam sarana penyimpanan, misalnya komputer dan analisa berikutnya. Dengan data sudah diubah dalam bentuk angka-angka, maka peneliti akan lebih mudah mentransfer kedalam komputer dan mencari program perangkat lunak yang sesuai dengan data untuk digunakan sebagai sarana analisa, misalnya apakah data tersebut dapat dianalisa
Editing Data (Pemeriksaan Data) (skripsi dan tesis)
Pengertian dari editing data adalah proses meneliti hasil survai untuk meneliti apakah ada response yang tidak lengkap, tidak komplet atau membingungkan, dan apabila ada kasus seperti ini ada beberapa cara untuk mengatasinya misalnya:
Dengan cara mengembalikan ke survayor, apabila survai lagi tidak mungkin dilakukan maka response yang tidak lengkap dapat diganti dengan missing value atau ditulis tidak menjawab,
Menyingkirkan hasil survay dengan jawaban yang tidak lengkap (apabila jumlahnya kecil dan sampel yang diambil besar)
Dilakukan dengan cara meneliti kembali data yang terkumpul dari penyebaran kuesioner. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah data yang terkumpul sudah cukup baik. Pemeriksaan data atau editing dilakukan terhadap jawaban yang telah ada dalam kuesioner dengan memperhatikan hal-hal meliputi: kelengkapan pengisian jawaban, kejelasan tulisan, kejelasan makna jawaban, serta kesesuaian antar jawaban. (Suplemen MPS1 Kuantitatif)
Proses editing merupakan proses dimana peneliti melakukan klarifikasi, keterbacaan, konsisitensi dan kelengkapan data yang sudah terkumpul. Proses klarifikasi menyangkut memberikan penjelasan mengenai apakah data yang sudah terkumpul akan menciptakan masalah konseptual atau teknis pada saat peneliti melakukan analisa data. Dengan adanya klarifikasi ini diharapkan masalah teknis atau konseptual tersebut tidak mengganggu proses analisa sehingga dapat menimbulkan bias penafsiran hasil analisa. Keterbacaan berkaitan dengan apakah data yang sudah terkumpul secara logis dapat digunakan sebagai justifikasi penafsiran terhadap hasil analisa. Konsistensi mencakup keajegan jenis data berkaitan dengan skala pengukuran yang akan digunakan. Kelengkapan mengacu pada terkumpulannya data secara lengkap sehingga dapat digunakan untuk menjawab masalah yang sudah dirumuskan dalam penelitian tersebut.
Analisis pengujian model regresi logistik (skripsi dan tesis)
Analisis pengujian model regresi logistik (Kuncoro; 2001, Field; 2009, dan Ghozali; 2011):
1. Menilai keseluruhan model (overall fit model)
Langkah pertama adalah menilai overall fit model terhadap data. Hipotesis untuk menilai model fit adalah : H0 = model yang dihipotesiskan fit dengan data HA = model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data Statistik yang digunakan berdasarkan fungsi log-likelihood yang berbasis dengan probabilitas yang terkait dengan hasil prediksi dan aktual yang dihipotesakan mengggambarkan data input. Untuk menguji hipotesis nol dan alternatif, L ditransformasikan menjadi -2logL, lalu kemudian dibandingkan antara nilai -2logL pada awal (block number = 0) dimana model hanya memasukan konstanta dengan -2logL setelah mode memasukan variabel bebas (block number = 1). Apabila nilai -2logL block number = 0 > nilai -2logL block number = 1 maka menunjukan model regresi yang baik. Nilai yang besar dari statistik log-likelihood menunjukan model statistik yang buruk, karena semakin besar nilai dari log-likelihood, semakin pengamatn tidak dapat dijelaskan.
2. Cox and Snell’s R Square
Merupakan ukuran yang mirip dengan ukuran R2 pada multiple regression yang didasarkan pada teknik estimasi likelihood dengan nilai maksimum kurang dari 1 (satu) . Memiliki persamaan seperti berikut : ?? 2 = 1 − ? ⌊− 2 ? (??(???))−(??(????????))⌋ (3.7)
3. Nagelkerke’s R Square
Merupakan modifikasi dari koefisien Cox dan Snell untuk memastikan bahwa nilainya bervariasi dari 0 (nol) sampai 1 (satu). Hal ini dilakukan dengan cara membagi nilai Cox and Snell’s R Square dengan nilai maksimumnya. Nilai nagelkerke’s R 2 dapat diinterprestasikan seperti nilai R 2 pada multiple regression.
4. Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test
Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test dilakukan untuk menguji hipotesis nol bahwa data empiris cocok atau sesuai dengan model (tidak ada perbedaan antara model dengan data sehingga model dapat dikatakan fit). Jika nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit test statistics sama dengan atau kurang dari 0,05, maka hipotesis nol ditolak yang berarti ada perbedaan signifikan antara model dengan nilai observasinya sehingga Goodness fit model tidak baik karena model tidak dapat memprediksi nilai observasinya. Jika lebih besar daripada 0,05, maka hipotesis diterima. 5. Menguji koefisien regresi Pengujian koefisien regresi dilakukan untuk menguji seberapa jauh variabel bebas yang dimasukan dalam model mempunyai pengaruh terhadap variabel terikatnya. Dalam regresi logistik menggunakan wald statistic yang memiliki distribusi khusus yaitu chi-square distribution. Untuk menentukan penolakan dan penerimaan H0 dapat ditentukan dengan wald statistic dan nilai probabilitas (sig), dengan cara nilai wald statistic dibandingkan dengan chi-square sedangkan nilai probilitas (sig) dibandingkan dengan tingkat signifikansi (α) 10% dengan kriteria:
a. H0 diterima apabila wald statistic < chi-square dan nilai probabilitas (sig) > tingkat signifikansi (α). Hal ini berarti HA ditolak atau hipotesis yang menyatakan variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat ditolak.
b. H0 ditolak apabila wald statistic > chi-square dan nilai probabilitas (sig) < tingkat signifikansi (α). Hal ini berarti HA diterima atau hipotesis yang menyatakan variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat diterima
Kelebihan Analisis Regresi Logistik (skripsi dan tesis)
Kuncoro (2001) mengatakan bahwa regresi logistik memiliki beberapa kelebihan dibandingkan teknik analisis lain yaitu: 1. Regresi logistik tidak memiliki asumsi normalitas dan heteroskedastisitas atas variabel bebas yang digunakan dalam model sehingga tidak diperlukan uji asumsi klasik walaupun variabel independen berjumlah lebih dari satu. 2. Variabel independen dalam regresi logistik bisa campuran dari variabel kontinu, distrik, dan dikotomis. 3. Regresi logistik tidak membutuhkan keterbatasan dari variabel independennya. 4. Regresi logistik tidak mengharuskan variabel bebasnya dalam bentuk interval.
Analisis Regresi Logistik (skripsi dan tesis)
Regresi logistik digunakan untuk menguji apakah probabilitas terjadinya variabel terikat atau dependen variable dapat diprediksi dengan variabel bebasnya atau independent variable. Logistic Regression umumnya dipakai jika asumsi multivariate normal distribution tidak dipenuhi (Ghozali, 2011). Analisis regresi logistik tidak memerlukan asusmsi normalitas pada data pada variabel bebabasnya
Pengamatan (Observasi) (skripsi dan tesis)
Pengamatan (observasi) adalah suatu proses yang kompleks yang
tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis, dua diantaranya
yang terpenting adalah proses – proses pengamatan dan ingatan.62 Atau
alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan
mencatat secara sistematik gejala – gejala yang diteliti.63
Observasi merupakan pengamatan yang didasari oleh kegiatankegiatan pemilihan, pengubahan, pencatatan, dan pengkodean terhadap
serangkaian perilaku dan suasana yang berkenaan dengan organisme
(naturalistik), sesuai dengan tujuan-tujuan empiris. Pengamatan untuk
memperoleh data dalam penelitian memerlukan ketelitian untuk
mendengarkan dan perhatian yang hati-hati dan terperinci pada apa yang
dilihat.64 Dengan menggunakan teknik pengumpulan data ini diharapkan
nantinya akan diperoleh data yang lengkap, tajam, dan sampai mengetahui
pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. Dalam penelitian ini
nantinya peneliti akan melihat kegiatan yang ada didalamnya untuk
mendapat data yang selengkap-lengkapnya dan data yang dihimpun dapat
terjaga kevalidannya
Desain MMR (skripsi dan tesis)
Dalam bagian ini akan diberikan tiga desain MMR yang hemat penulis
rancangan tersebut sangat terbuka untuk diaplikasikan dalam konteks
olahraga serta tidak sukar menggunakannya. Ketiga desain tersebut akan
penulis ambil dari karya Steckler at al., (1992), Tashakkori & Teddlie
(2010), Creswell (1999; 2010), Morse (2010) serta Creswell at al (2010).
Di samping itu, penulis juga akan berusaha untuk memberikan contoh
aplikasi setiap desain yang diberikan dalam konteks olahraga.
Desain I: Mengembangkan Instrumen kuantitatif
Rancangan pertama yang diberikan di sini adalah sebuah desain
yang digunakan dengan tujuan untuk mengembangkan instrumen
penelitian kuantitatif. Steckler at al., (1992: 5) menyebut model
pertamanya dengan “qualitative methods are used to help develop
quantitative measures and instruments”. Tidak berbeda, Creswell (1999:
463) menyebut modelnya dengan “instrument-building model”.
Dengan menggunakan desain di atas maka terdapat dua tahap
penelitian. Pada tahap pertama, metode kualitatif diarahkan untuk
mendapatkan konstruk-konstruk aitem pertanyaan atau pernyataan yang
nantinya menjadi dasar dalam pengembangan instrumen penelitian.
Dalam tahap inipeneliti menggunakan teknik wawancara mendalampada
responden. Wawancara tersebut ditujukan untuk mengungkap
karakteristik kepribadian dan/atau fenomena yang menjadi cikal bakal
penyusunaninstrumen kuantitatif.
Setelah hasil dari tahap pertama didapat maka penelitian
dilanjutkanke tahap kedua, yaitumemanfaatkan metode kuantitatif. Dalam
tahap kedua tersebut peneliti akan melakukan pengujian validitas dan
reliabilitas instrumen pada subjek yang luas. Creswell at al (2010)
menyarankan untuk melakukan pengujian pada 500 individu. Meskipun
sudah divisualisasikan seperti di atas, hal ini dianggap kurang begitu
membantu dalam memahami desain tersebut. Dibutuhkan penjelasan
lebih lanjut berkaitan dengan prosedur rancangan di atas
Desain II: Kualitatif sebagai komplementar dari kuantitatif
Desain yang kedua digunakan ketika peneliti menghendaki agar
metode kualitatif dimanfaatkan untuk membantu memberikan penjelasan
dalam penemuan metode kuantitatif. Oleh Morse (2010) rancangan
demikian dinotasikan dengan . Tanda anak panah
menunjukan penelitian dilakukan secara berurutan (sequential) sedangkan
huruf besar (KUAN yang akronim dari kuantitatif) mengindikasikan
prioritas atau bobot yang lebih dominan. Tashakkori & Teddlie (2010)
membuat notasi dominan-kurang dominan yang berurutan (sequential)
sebagai berikut KUAN/KUAL
Rancangan di atas (Mores, 2010; Tashakkori & Teddlie, 2010;
Steckler at al., 1992; Creswell, 1999; 2010; dan Creswell at al., 2010)
menjadidesain yang cukup populer dalam penelitian MMR dan acapkali
digunakan oleh para peneliti yang lebih condong pada proses kuantitatif.
Menurut Tashakkori & Teddlie (2010) desain ini terkenal di kalangan
mahasiswa tingkat sarjana dan peneliti pemula yang ingin menggunakan
dua pendekatan dalam pekerjaan mereka tetapi tidak ingin mendapatkan
banyak kesulitan ketika menggunakan dua pendekatan secara bersama.
Creswell (2012: 542) menjelaskan “this design…perhaps the most popular
form of mixed methods design in educational research”
Dalam rancangan di atas penelitian pertama dilakukan dengan
metode kuantitatif dan kemudian dilanjutkan menggunakan metode
kualitatif. Oleh karena itu, Creswell (2010; 2012) dan Creswell at al., 2010)
menyebut rancangan tersebut sebagai desain dua tahap. Desain dua
tahap merupakan yang paling sederhana dari desain MMR berurutan
(Tashakkori & Teddlie, 2010). Rancangan bertahap merupakan prosedur
penelitian di mana peneliti berusaha menggabungkan atau memperluas
penemuan yang diperoleh dari satu metode dengan penemuan dari
metode yang lain (Creswell, 2010).
Prosedur yang digunakan oleh peneliti dalam rancangan ini adalah
mengumpulkan data dan menganalisisnya menggunakan metode
kuantitatif kemudian diikuti oleh pengumpulan data serta analisis
datasecara kualitatif yang dibangun berdasarkan temuan awal (kuantitatif).
Bobot atau prioritas lebih diberikan pada data kuantitatif (Creswell at al,
2012). Meskipun demikian dua jenis data ini tidak terpisah dan tetap
berhubungan (Creswell, 2010).
Contoh penerapan desain tersebut dapat dilihat dalam
penelitiannya Maksum (2010) yang menyelidiki akar masalah dan pola
kekerasan suporter sepakbola Surabaya atau yang dikenal dengan
Bonek. Dalam tahap pertama peneliti menggunakan metode survei untuk
mendapat data tentang status sosial ekonomi para suporter, yang
mencakup tingkat pendidikan, status pekerjaan, jenis pekerjaan, tingkat
pendapatan dan kondisi orangtua. Mengingat menggunakan metode
kuantitatif maka subjek yang diselidiki jumlahnya cukup besar, yaitu 500
suporter yang diambil secara acak ketika menyaksikan persebaya
bertanding di kandang. Pengumpulan data dalam tahap tersebut dilakukan
menggunakan angket.
Setelah penelitian tahap pertama selesai dilakukan maka
dilanjutkanstudi tahap kedua dengan metode kualitatif. Tujuan dalam
penelitian tahap kedua ini adalah untuk mengungkap karakteristik dasar
dari kerusuhan suporter, faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya
kerusuhan dan pola terjadinya kerusuhan suporter. Ada dua fase dalam
metode kualitatif yang digunakan, yaitu preliminary study dan field study.
Observasi lapangan serta Focus Group Discussion (FGD) menjadi pilihan
strategi untuk mengumpulkan data bertalian dengan tindak kerusuhan
suporter sepakbola.
Pada kesempatan ini penulis akan mencoba menganalisis prosedur
penelitian di atas. Dalam desain penelitiannya, Maksum (2010)
menyatakan bahwa peneliti menggunakan sequential explanatory design
dari Creswell (2003) yang bersifat dominan-kurang dominan, yaitu
menempatkan metode kualitatif lebih menonjol dibanding kuantitatif.
Prosedur tersebut akan sedikit berbeda dari tujuan awal pengembangan
sequential explanatory design dari Creswell (2010). Ilmuan yang
mengembangkan model tersebut menyatakan bahwa dalam sequential
explanatory design tersebut prioritas lazimnya diberikan pada data
kuantitatif (Creswell, 2010; Creswell at al, 2010). Namun, penelitian
Maksum (2010) melakukan sebaliknya, yaitu memberikan bobot dan
prioritas pada kualitatif. Apa yang dilakukan oleh Maksum (2010) dalam
penelitiannya patut diapresiasi karena ia melakuan perubahan bobot atau
prioritas untuk dapat menjawab secara mendalam masalah yang ada di
lapangan.
Desain III: Kuantitatif sebagai komplementar kualitatif
Desain tersebut merupakan kebalikan dari desain sebelumnya
(desain II). Desain III digunakan ketika peneliti menghendaki agar metode
kuantitatif dimanfaatkan untuk menguji secara luas penemuan yang
dihasilkan dari metode kualitatif. Morse (2010) memberikan notasi seperti
berikut . Penjelasan tanda anak panah dan huruf besar atau
kecil sama seperti pada desain sebelumnya. Tashakkori & Teddlie (2010)
membuat notasi dominan-kurang dominan yang berurutan (sequential)
sebagai berikut KUAL/KUAN. Steckler at al., (1992: 5) mengajukan model
3 yang ia sebut dengan “quantitative methods are used to embellish a
primarily qualitative study”
Rancangan yang lebih lengkap diberikan oleh Creswell (1999;
2010) dan Creswell at al (2010). Pakar mixed methods tersebut menyebut
rancangannya dengan istilah sequential exploratory design
Berbeda dengan sequential explanatory design yang lebih tepat
untuk menjelaskan dan menginterpretasikan hubungan, fokus utama
sequential exploratory design adalah untuk mengeksplorasi fenomena
(Creswell, 2010; Creswell at al, 2010). Meski begitu, desain di atas juga
melalui dua tahap penelitian, yang prioritas atau bobot lebih besar
diberikan pada kualitatif.Itu sebabnya data kuantitatif dimanfaatkan untuk
membantu dalam menginterpretasikan temuan-temuan kualitatifdalam
tahap pertama.
Rancangan ini lebih bermanfaat ketika seorang peneliti tidak hanya
ingin mengeksplorasi sebuah fenomena namun juga ingin memperluas
temuan-temuan kualitatifnya. Morgan (1998) menyatakan rancangan ini
cocok digunakan ketika menguji elemen-elemen sebuah teori baru yang
muncul dari tahap kualitatif dan bahwa desain ini juga dapat digunakan
untuk mengeneralisasikan temuan kualitatif pada sampel-sampel yang
lebih luas serta berbeda. Creswell (1999) dan Creswell at al (2010)
menjelaskan bahwa sequential exploratory design sering kali dibahas
sebagai desain yang digunakan ketika peneliti membuat dan menguji
instrumen.
Menganalisis prosedur penelitian Maksum (2007) di bagian
sebelumnya serta mempertimbangkan pendapat Morgan (1998), Creswell
(1999) dan Creswell at al (2010) maka apa yang dilakukan oleh pakar
psikologi olahraga tersebut sejatinya adalah aplikasi dari sequential
exploratory design. Meskipun secara eksplisit, jika membaca artikelnya,
iatidak menuliskan mengunakan rancangan sequential exploratory dalam
penelitiannya namun prosedur yang ia gunakan sesuai dengan desain
tersebut.
Tujuan Penggunaan Desain Mix Method Research (skrispi dan tesis)
Terkait dengan pertanyaan di atas, Creswell (2010) menjelaskan
MMR akan berguna ketika metode kuantitatif atau kualitatif secara sendirisendiri kurang mumpuni untuk memahami permasalahan penelitian.
Sebaliknya, di sisi yang lain, penggunaan MMR diyakini dapat
memperoleh pemahaman yang lebih baik dibanding dengan hanya
menggunakan metode tunggal.
Bila mencermati sejarahnya maka tampak bahwa MMR
dikembangkan dengan semangat untuk mendapatkan hasil penelitian
yang lebih memuaskan dibandingkan dengan hanya menggunakan
metode tunggal. Malina (2010: 6) menyatakan “mixed methods research
employ both approaches iteratively or simultaneously to creat a research
outcome stronger than either method individually”. Oleh kerena itu,
penelitian ini secara keseluruhan lebih powerful daripada metode tunggal
(Creswell, 2010).
Creswell (2012: 535) memberikan petunjuk yang mencerahkan
bahwa “You conduct a mixed methodss study when you have both
quantitative and qualitative data and both types of data, together, provide
a better understanding of your research problem than either type by itself.
Mixed methodss research is a good design to use if you seek to build on
the strengths of both quantitative and qualitative data….You also conduct
a mixed methodss study when one type of research (qualitative or
quantitative) is not enough to address the research problem or answer the
research questions”.
Kelebihan Dan Kelemahan Mixed Methods (skripsi dan tesis)
Seperti halnya metode kuantiatif serta kualitatif yang memiliki
kelebihan disatu sisi dan kekurangan di sisi yang lain, MMRpun demikian.
Dengan kesadaran seperti ini maka peneliti dapat mempertimbangkan
saran dari Jones (1997) yang menyatakan bahwa ketika
mengkombinasikan metode maka kita ambil kelebihan atau kekuatan yang
terdapat dalam setiap metode. Pertanyaannya kemudian, apakah
kelebihan dari MMR?
Menurut Teddlie & Tashakkori (2010) MMR memiliki kelebihan
antara lain (1) sanggup menjawab pertanyaan yang tidak mampu dijawab
oleh metodologi yang lain, (2) memberikan proses pengambilan simpulan
yang lebih baik atau akurat, (3) memberikan peluang untuk menyajikan
beragam pandangan yang komprehensif. Tidak berbeda jauh Putra (2017)
menyebutkan bahwa beberapa kelebihan MMR antara lain (1)
dimungkinkan mengajukan pertanyaan penelitian yang kompleks, (2)
didapat data yang lebih kaya dan komprehensif, (3) hasil penelitian akan
memliki kredibilitas yang tinggi karena adanya triangulasi.
Meskipun memiliki banyak kelebihan dibanding penggunaan
metode tunggal, Putra (2017) menyatakan bahwa penggunaan MMR juga
memiliki kelemahan. Terkait dengan itu, Morse (2010) memberikan
catatan yang membantu kita. Menurutnya, pada sisi lain, kekuatan
komprehensivitas penggunaan MMR juga dapat dipandang sebagai
kelemahan. Dalam praktiknya peneliti dapat kurang ketat menerapkan
prosedur-prosedur yang ada sehingga data yang diperolehnya menjadi
dipertanyakan.
Penulis yang menganalisis penggunaan MMR menemukan bahwa
terdapat tiga kelemahaan dalam metode tersebut, antara lain (1)
dibutuhkan pengetahuan prasayarat yang baik dan mendalam terkait
dengan metode kuantitatif serta kualitatif karena keduanya digunakan
dalam satu penelitian, (2) diperlukan pengambilan banyak data dalam
penelitiannya, (3) menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam proses
penelitiannya. Morse (2010) mengingatkan bahwa menggunakan MMR
menimbulkan ancaman serius terhadap validitas penelitian karena asumsiasumsi dasar dari kedua metode rawan dilanggar ketika memadukan atau mengkombinasikannya
Prinsip Rancangan MMR (skripsi dan tesis)
Ilmuwan berpengaruh, Morse (2010), mengeluarkan empat prinsip
dalam MMR. Namun dalam bagian ini, penulis hanya memberikan dua
prinsip yang kemudian penulis kaitkan dengan konteks olahraga. Pertama,
mengenali arah teoretis proyek penelitian. Semua proyek penelitian
memiliki tujuan akhir berupa penemuan ataupun pengujian. Cara utama
yang ditempuh peneliti dalam mengkaji secara tuntas tema penelitian di
sebut dengan arah teoretis. Arah teoretis tersebut dapat berciri induktif
(untuk tujuan penemuan) atau deduktif (untuk tujuan pengujian).
Arah teoretis induktif adalah ketika peneliti bekerja dengan tujuan
untuk menemukan jawaban, misalnya, Kenapa pelatih yang satu lebih
sukses dibanding dengan pelatih yang lain? Apakah yang membuat
seorang atlet lebih berprestasi dibanding dengan atlet lainnya? Faktor apa
yang menyebabkan itu terjadi? Seluruh arah induktif tidak berubahah
meskipun terdapat bagian-bagian kecil dalam penelitian yang berusaha
untuk melakukan konfirmatoris seperti dalam arah deduktif.
Jikalau semangat utama penelitiannya adalah untuk menguji suatu
teori atau hipotesis, untuk menjawab seberapa besar, untuk menentukan
hubungan dan tujuan sejenis lainnya maka arah teoretisnya berciri
deduktif. Pertanyaan yang biasa diajukan dengan arah teoretis seperti ini
antara lain: Apakah ada perbedaan kemampuan motorik antara anak yang
tinggal di daerah pesisir dengan di gunung? Apakah terdapat hubungan
antara gaya kepemimpinan pelatih dengan disiplin atlet? Sekali lagi,
meskipun arah utama teoretisnya adalah berciri deduktif namun dalam
penelitianya, seorang peneliti dapat memasukkan arah induktif untuk
mendapat pemahaman yang lebih komprehensif. Misalnya, bertalian
dengan budaya hidup masyarakat, kebiasaan masyarakat dalam
beraktivitas fisik, dan konstruk-konstruk lain yang relevan.
Kedua, menyadari akan dominasi yang ada dalam proyek
penelitian. Dalam rancangan mixed methods kita akan menemui istilah
dominan (dominant) seperti yang digunakan Morse (2010) serta
Tashakkori & Teddlie (2010) atau prioritas (priority) dari Morgan (1998)
yang menunjukkan tentang kadar atau bobot dalam desain penelitian.
Kesadaran akan bobot tersebut menjadi penting agar proyek penelitian
dapat berjalan dengan lancar dan tidak menimbulkan kerancuan dalam
praktiknya.
Morse (2010), Creswell (2010; 2012), dan Creswell at al (2010)
memberikan notasi huruf besar dan kecil untuk menunjukkan metode
mana yang lebih dominan atau yang memiliki bobot (weighting) lebih
tinggi. Ketika peneliti menggunakan metode kualitatif lebih dominan
sedangkan kuantitatif sebagai suplementer maka peneliti dapat
memberikan notasi KUAL + kuan atau . Sebaliknya, ketika
metode kuantitatif lebih dominan dibanding dengan kualitatif maka kita
dapat memberikan notasi KUAN + kual atau .
Mixed Methods Research (MMR) (skripsi dan tesis)
Mixed Methods Research (MMR) yang berlandaskan paradigma
pragmatism mempunyai penyebutan istilah yang sangat beragam.
Banyaknya istilah yang diberikan oleh pakar membuktikan bahwa metode
tersebut mengalami perkembangan. Putra (2017) yang menganalisis dan
mensintesiskan penggunaan istilah metode ini menemukan delapan istilah
berbeda yang digunakan oleh ilmuwan. Misalnya, mixing methods, mixed
methods research or called mixed research, blending quantitativequalitative, multimethods, convergence, integrated, andcombined.
Meskipun sangat beragam namun MMR dipandang lebih umum
digunakan oleh peneliti. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh
Collins, Onwuegbuzie, and Jiao (dalam Johnson, Onwuegbuzie & Turner,
2007: 118) yang menyelidiki 496 artikel dari lintas disiplin ilmu dan
menemukan bahwa “Mixed methods research has become the most
popular term used to describe this movement”.Dengan dasar itu maka
istilah yang digunakan dalam artikel ini adalah Mixed Methods Research
(MMR). Pertanyaannya sekarang, apakah yang dimaksud dengan MMR?
Brannen (2005: 4) menyatakan “mixed methods research means
adopting a research strategy employing more than one type of research
methods.” Pakar yang lain, Creswell (2010) menyebutkan MMR
merupakan pendekatan yang mengkombinasikan atau mengasosiasikan
bentuk kualitatif dan bentuk kuantitatif. Johnson (2014: 1) memberikan
definisi yang komprehensif bahwa “Mixed methods research (also mixed
research or mixed methodology) is the type of research in which a
researcher or team of researchers mixies or combines qualitative and
quantitative research, philosphie/paradigms, methodologies, methods,
techniques, approaches, concepts or language into a single research
study”. Johnson, Onwuegbuzie & Turner (2007: 129) dalam tulisannya
yang mengupas tentang definisi MMRsampai pada simpulan “mixed
methods research is an intellectual and practical synthesis based on
qualitative and quantitative research”.
Putra (2017) yang menganalisis dari karakteristik MMR
mendefinisikannya sebagai penerapan dua metode (kuantitatif dan
kualitatif) dalam satu penelitian yang dilakukan secara berurutan maupun
bersamaan dengan tujuan untuk memahami lebih mendalam tentang
fenomena yang dikaji. Dalam artikel ini penulis akan merevisi definisi
sebelumnya dan mengaitkannya dengan konteks olahraga. MMR dalam
tulisan ini dipahami sebagai pengabungan dua metode (kuantitatif dan
kualitatif) dalam satu proses penelitian yang dilakukan secara berurutan
atau bersamaan dengan tujuan untuk memahami lebih komprehensif serta
mendalam tentang fenomena keolahragaan yang dikaji
Sifat dan Definisi Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)
Penyelidikan dan Penetapan dalam Wawancara (skripsi dan tesis)
Pewawancara bisa melakukan tindak lanjut poin tertentu atau dengan kata-kata tertentu yang diungkapkan oleh partisipan. Partisipan menjadi lancar jika dimintai untuk menceritakan mmengenai sebuah kisah, merekonstruksi pengalaman yang mreka alami, speerti hari, perasaan, atau insiden mreka mengenai sebuah penyakit.
Jenis Pertanyaan Dalam Wawancara dan Hal yang Terkait (skripsi dan tesis)
Lama dan Pemilihan Waktu Wawancara (skripsi dan tesis)
Teknik Analisis Komparatif Konstan (Constant Comparative Analysis) (skripsi dan tesis)
Dalam tahap ini terdapat 2 kegiatan yang perlu dilakukan oleh seorang peneliti, yakni mencatat kejadian dan memberikan komentar mengenai catatan tersebut. Dalam proses penelitian setiap kejadian yang releven dengan masalah penelitian baiknya dicatat oleh peneliti, meskipun kejadian itu terjadi berulang kali. Dari hasil pencatatan itu peneliti bisa melakukan perbandingan (dimensi, kondisi ketika berlangsungnya kejadian, konsekuensi, serta hubungan dengan kategori yang lain) secara terus menerus sampai peneliti bisa menemukan ciri-ciri kategori teoritis.
Dalam tahap inilah peneliti memperbandingkan kejadian-kejadian yang telah ada lalu dari kejadian itu muculah kategori-kategori. Contohnya seorang peneliti menemukan kategori penolakan tentang program KB kepada masyarakat pedesaan, sedangkan untuk kategori penerimmaan program KB terdapat di masyarakat perkotaan. Lalu selanjutnya peneliti memaddukan ciri tiap-tiap kategori, contohnya penolakan masyarakat desa yang mempunyai tingkat pendidikan rendah, kelompok agamis, pasangan yang baru saja menikah, sedangkan kelompok masyarakat desa yang kerjanya sebagai pegawai dan guru cenderung dapat menerima KB. Itu artinya pada tahap inilah peneliti dituntuk mencari ciri-ciri kategori secara rinci sehingga data yang diperoleh dalam penelitian bisa dianalisa lebih mendalam.
Dalam tahap ini lebih banyak dilihat dari bagaimanaya peneliti membatasi lingkup sekian banyaknya teori sederhana yang terbentuk melalui tahap sebelumnya, lalu digeneralisasikan ke dalam arus teori yang relevensinya lebih besar.
Jika seorang peneliti sudah yakin kalau kerangka analisisnya bisa membentuk teori subtantif yang sistemmatik, maka hal itu merupakan pernyataan yang akurat dengan alasan mengenai permasalahan-permasalahan yang dikaji dan bisa dipahami oleh orang lain yang mempunyai minat dengan hasil penelitian tersebut.
Teknik Analisis Taksonomik (Taksonomic Analysis) (skrispi dan tesis)
Model teknik analisis domain menghasilkan analisis yang sifatnya umum, namun belumm terperinci dan sifatnya masih menyeluruh. Jika yang dimau adalah sebuah hasil analisis yang berfokus pada suatu domain ataupun sub-domain tertentu maka suatu penelitian akan menjadi lebih tepat jika memakai analisis Taksonomik. Melalui Analisis Taksonomik, maka analisis akan berfokus pada domain tertentu, setelah itu memilih domain tersebut untuk dijadikan sub-domain dan bagian-bagian yang lebih terperinci dan khusus yang memiliki rumpun yang serup
Teknik Analisis Komparatif Konstan (Constant Comparative Analysis) (skripsi dan tesis)
Dalam tahap ini terdapat 2 kegiatan yang perlu dilakukan oleh seorang peneliti, yakni mencatat kejadian dan memberikan komentar mengenai catatan tersebut. Dalam proses penelitian setiap kejadian yang releven dengan masalah penelitian baiknya dicatat oleh peneliti, meskipun kejadian itu terjadi berulang kali. Dari hasil pencatatan itu peneliti bisa melakukan perbandingan (dimensi, kondisi ketika berlangsungnya kejadian, konsekuensi, serta hubungan dengan kategori yang lain) secara terus menerus sampai peneliti bisa menemukan ciri-ciri kategori teoritis.
Dalam tahap inilah peneliti memperbandingkan kejadian-kejadian yang telah ada lalu dari kejadian itu muculah kategori-kategori. Contohnya seorang peneliti menemukan kategori penolakan tentang program KB kepada masyarakat pedesaan, sedangkan untuk kategori penerimmaan program KB terdapat di masyarakat perkotaan. Lalu selanjutnya peneliti memaddukan ciri tiap-tiap kategori, contohnya penolakan masyarakat desa yang mempunyai tingkat pendidikan rendah, kelompok agamis, pasangan yang baru saja menikah, sedangkan kelompok masyarakat desa yang kerjanya sebagai pegawai dan guru cenderung dapat menerima KB. Itu artinya pada tahap inilah peneliti dituntuk mencari ciri-ciri kategori secara rinci sehingga data yang diperoleh dalam penelitian bisa dianalisa lebih mendalam.
Dalam tahap ini lebih banyak dilihat dari bagaimanaya peneliti membatasi lingkup sekian banyaknya teori sederhana yang terbentuk melalui tahap sebelumnya, lalu digeneralisasikan ke dalam arus teori yang relevensinya lebih besar.
Jika seorang peneliti sudah yakin kalau kerangka analisisnya bisa membentuk teori subtantif yang sistemmatik, maka hal itu merupakan pernyataan yang akurat dengan alasan mengenai permasalahan-permasalahan yang dikaji dan bisa dipahami oleh orang lain yang mempunyai minat dengan hasil penelitian tersebut.
Model Analisis Domain (Domain Analysis) (skripsi dan tesis)
- Menentukan pola hubungan semantik tertentu atas dasar fakta atau informasi yang telah tersedia di catatan harian peneliti lapangan.
- Mempersiapkan kerja analisis domain.
- Menentukan kesamaan data dari catatan harian peneliti lapangan.
- Melakukan pencarian konsep induk serta kategori simbolis dari domain tertentu yang ada kesesuaian dengan pola hubungan semantik.
- Menyusun daftar secara keseluruhan domain dari semua data yang tersedia.
Model Analisis Interaktif Miles & Huberman (skripsi dan tesis)
Data yang didapat dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dicatat pada catatan lapangan yang terdiri atas 2 bagian yaitu bagian deskriptif dan bagian reflektif. Pengertian catatan deskriptif yaitu catatan alami, (merupakan catatan mengenai apa yang disaksikan, didengar, dilihat dan dialammmi sendiri oleh peneliti tanpa adanya penafsiran dan pendapat dari peneliti terhadap fenomena yang dialaminya). Catatan reflektif adalah catatan yang isinya kesan, pendapat, komentar serta tafsiran peneliti mengenai apa penemuan yang dijumpai. Selain itu merupakan bahan rencana pengumpulan data untuk tahap selanjutnya.
Selanjutnya sesudah data terkumpul dibuat reduksi data, untuk menentukan data yang relevan dan mempunyai maka, memfokuskan data yang mengarah pada pemecahan masalah, penemuan, pemaknaan atau untuk menjawab pertanyaan penelitian. Selanjutnya melakukan penyederhanaan serta menyususn secara sistematis dan menjabarkan hal-hal penting mengenai hasil penemuan dan maknanya. Dalam proses reduksi data, hanya temuan data atau temuan yang berkaitan dengan permasalahan penelitian yang direduksi. Sedangkan untuk data yang tidak ada kaitannya dengan masalah penelitian dibuang. Atau dengan kata lain reduksi data dipakai untuk analisis yang mengarahkan, menggolongkan, menajamkan dan membuang yang tidak penting danmengorganisasikan data. Dengan begitu maka akan mempermudahkan peneliti untuk menarik sebuah kesimpulan.
Penyajian data bisa berbentuk tulisan, gambar, tabel dan grafik. Tujuan penyajian data untuk menggabungkan informasi sehingga bisa memberikan gambaran terhadap keadaan yang terjadi. Dalam hal ini, supaya peneliti tidak mengalami kesulitan dalam penguasaan informasi secara baik dan menyeluruh dan juga bagian-bagian tertentu dari hasil peneltian. Maka dari itulah peneliti harus membuat naratif, grafik atau matrik untuk mempermudah penguasaan data atau informasi tersebut. Dengan cara seperti itu maka peneliti bisa tetap menguasai data dan tidak tenggelam dalam kesimpulan informasi yang bisa membosankan. Hal seperti ini dilakukan karena data yang tersususun kurang baik dapat mempengaruhi peneliti dalam mengambil kesimpulan yang memihak dan dalam bertindak secara ceroboh, dan tidak mendasar. Mengenai display data harus dissadari sebagai bagian di dalam analisis data.
Penarikan kesimpulan dilakukan selama berlangsungnya penelitian, seperti halnya proses reduksi data, sesudah data telah terkummpul memadai maka akan dapat diperoleh kesimpulan sementara, dan sesudah data benar-benar lengkap maka dapat diperoleh kesimpulan akhir.
Model (skripsi dan tesis)
Pemodelan (Santosa, 2005) Model dapat digunakan untuk menampilkan,
mengeksplorasi, dan menjelaskan data proyek. Menciptakan sebuah model adalah untuk menunjukkan hubungan antara berbagai item dalam
sebuah proyek, misalnya: menggunakannya untuk mendemonstrasikan teori yang sedang dibangun, isu permasalahan dalam sebuah kerja tim, atau
bagaimana mendukung data dengan dugaan/hipotesa awal. Model yang diperoleh merupakan visualisasi dari konsep-konsep yang hubungannya dicari dan akan makin jelas setelah dianalisis
Analisis N Vivo (skripsi dan tesis)
DEFINISI PENGUMPULAN DATA (skripsi dan tesis)
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Sebelum melakukan penelitian, seorang peneliti biasanya telah memiliki dugaan berdasarkan teori yang ia gunakan, dugaan tersebut disebut dengan hipotesis (Baca juga: Pengertian Hipotesis dan Langkah Perumusan Hipotesis). Untuk membuktikan hipotesis secara empiris, seorang peneliti membutuhkan pengumpulan data untuk diteliti secara lebih mendalam.
Proses pengumpulan data ditentukan oleh variabel-variabel yang ada dalam hipotesis. Pengumpulan data dilakukan terhadap sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Data adalah sesuatu yang belum memiliki arti bagi penerimanya dan masih membutuhkan adanya suatu pengolahan. Data bisa memiliki berbagai wujud, mulai dari gambar, suara, huruf, angka, bahasa, simbol, bahkan keadaan. Semua hal tersebut dapat disebut sebagai data asalkan dapat kita gunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian, ataupun suatu konse
Jenis Wawancara (skripsi dan tesis)
Terdapat dua jenis wawancara, yakni: 1). wawancara mendalam (in-depth
interview), di mana peneliti menggali informasi secara mendalam dengan cara terlibat langsung dengan kehidupan informan dan bertanya jawab secara bebas tanpa pedoman pertanyaan yang disiapkan sebelumnya sehingga suasananya hidup, dan dilakukan berkalikali; 2). wawancara terarah (guided interview) di mana peneliti menanyakan kepada informan hal-hal yang telah disiapkan sebelumnya. Berbeda dengan wawancara mendalam, wawancara terarah memiliki kelemahan, yakni suasana tidak hidup, karena peneliti terikat dengan pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Sering terjadi pewawancara atau peneliti lebih memperhatikan daftar pertanyaan yang diajukan daripada bertatap muka dengan informan, sehingga suasana terasa kaku.
Wawancara (skripsi dan tesis)
Wawancara merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa wawancara (interview) adalah suatu kejadian atau suatu proses interaksi antara pewawancara (interviewer) dan sumber informasi atau orang yang di wawancarai (interviewee) melalui komunikasi langsung (yusuf, 2014).
Metode wawancara/interview juga merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden/ orang yang di wawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara. Dalam wawancara tersebut biasa dilakukan secara individu maupun dalam bentuk
kelompok, sehingga di dapat data informatik yang orientik.
Wawancara bertujuan mencatat opini, perasaan, emosi, dan hal lain berkaitan dengan individu yang ada dalam organisasi. Dengan melakukan interview, peneliti dapat memperoleh data yang lebih banyak sehingga peneliti dapat memahami budaya melalui bahasa dan ekspresipi hak yang diinterview; dan dapat melakukan klarifikasi atas hal‐ hal yang tidak diketahui. Pertanyaan pertama yang perlu diperhatikan dalam interview adalah Siapa yang
harus diinterview ? Untuk memperoleh data yang kredibel makain terview harus dilakukan dengan Know ledgeable Respondent yang mampu menceritakan dengan akurat fenomena yang diteliti. Isu yang kedua adalah Bagaimana membuat responden mau bekerjasama? Untuk merangsang pihak lain mau meluangkan waktu untuk diinterview, maka perilaku
pewawancara dan responden harus selaras sesuai dengan perilaku yang diterima secara sosial sehingga ada kesan saling menghormati. Selain itu, interview harus dilakukan dalam waktu dan tempat yang sesuai sehingga dapat menciptakan rasa senang, santai dan bersahabat.
Kemudian, peneliti harus berbuat jujur dan mampu meyakinkan bahwa identitas responden tidak akan pernah diketahui pihak lain kecuali peneliti dan responden itu sendiri. Data yang diperoleh dari wawancara umumnya berbentuk pernyataan yang menggambarkan pengalaman, pengetahuan, opini dan perasaan pribadi. Untuk memperoleh data ini peneliti dapat menggunakan metode wawancara standar yangt erskedul (Schedule Standardised
Interview), interview standart akterskedul (Non‐Schedule Standardised Interview) atau interview informal (Non Standardised Interview). Ketiga pendekatan tersebut dapat dilakukan dengan teknik sebagai berikut: a) Sebelum wawancara dimulai, perkenalkan diri dengan sopan untuk menciptakan hubungan baik b) Tunjukkan bahwa responden memiliki kesan
bahwa dia orang yang “penting” c) Peroleh data sebanyak mungkin d) Jangan mengarahkan jawaban e) Ulangi pertanyaan jika perlu f) Klarifikasi jawaban g) Catat interview (Chairi, 2009).
Teknis pelaksanaan wawancara dapat dilakukan secara sistematis atau tidak sistematis. Yang dimaksud secara sistematis adalah wawancara dilakukan dengan terlebih dahulu peneliti menyusun instrument pedoman wawancara. Disebut tidak sistematis, maka peneliti meakukan wawancara secara langsung tanpa terlebuh dahulu menyusun instrument pedoman wawancara. Saat ini. dengan kemajuan teknologi informasi, wawancara bisa saja dilakukan
tanpa tatap muka, yakni melalui media telekomunikasi. Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya. Dalam wawancara harus direkam, wawancara yang direkamakn memberikan nilai tambah. Karena, pembicaraan yang di rekam akan menjadi bukti otentik bila terjadi salah penafsiran. Dan setelah itu data yang direkam selanjutnya ditulis kembali dan diringkas. Dan peneliti memberikan penafsiran atas data yang diperoleh lewat wawancara. Susunan wawancara itu dapat dimulai dengan sejarah kehidupan, tentang gambaran umum situasi pertisipan. Pertanyaan yang diajukan juga berupa hasil pengalaman. Dalam mengajukan pertanyaan, peneliti harus memberikan penekanan kepada arti dari pengalaman
tersebut. Prinsip umum pertanyaan dalam wawancara adalah ; harus singkat, open ended, singular dan jelas. Peneliti harus menyadari istilah-istilah umum yang dimengerti partisipan. Dan sebaiknya wawancara tidak lebih dari 90 menit. Bila dibutuhkan, peneliti dapat meminta waktu lain untuk wawancara selanjutnya (Semiawan, 2010). Wawancara mendalam adalah
interaksi/pembicaraan yang terjadi antara satu orang pewawancara dengan satu orang informan (Manzilati, 2017).
Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau, merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya. Karena merupakan proses pembuktian, maka bisa saja hasil wawancara
sesuai atau berbeda dengan informasi yang telah diperoleh sebelumnya. Agar wawancara efektif, maka terdapat berapa tahapan yang harus dilalui, yakni ; 1). mengenalkan diri, 2). menjelaskan maksud kedatangan, 3). menjelaskan materi wawancara, dan 4). mengajukan pertanyaan (Yunus, 2010: 358).
Teknik Pengumpulan Data Metode Kualitatif (skripsi dan tesis)
Dalam penelitian kualitatif, kualitas riset sangat tergantung pada kualitas dan kelengkapan data yang dihasilkan. Pertanyaan yang selalu diperhatikan dalam pengumpulan data adalah apa, siapa, dimana, kapan, dan bagaimana. Penelitian kualitatif bertumpu pada triangulation data
yang dihasilkan dari tigametode : interview, participan to bservation, dan telaah catatan organisasi (document records)
Dalam penelitian kualitatif pengumpulan data lazimnya menggunakan metode observasi, dokumentasi dan wawancara. Juga tidak diabaikan kemungkinan menggunakan sumbersumber non-manusia (non-human source of information), seperti dokumen, dan rekaman (record) yang tersedia. Pelaksanaan pengumpulan data ini juga melibatkan berbagai aktivitas pendukung lainnya, seperti menciptakan rapport, pemilihan informan, pencatatan data/informasi hasil pengumpulan data. Karena itu dalam bagian ini akan dibahas secara berturut-turut; Penciptaan rapport, Pemilihan informan, Pengumpulan data dengan metode observasi, dokumentasi, wawancara, Pengumpulan data dari sumber non-manusia dan
Pencatatan data/ informasi hasil pengumpulan data.
a. Penciptaan Rapport
Menurut Faisal (1990) penciptaan rapport ini merupakan prasyarat yang amat penting. Peneliti tidak akan dapat berharap untuk memperoleh informasi secara produktif dari informan apabila tidak tercipta hubungan harmonis yang saling mempercayai antara pihak peneliti dengan pihak yang diteliti.Terciptanya hubungan harmonis satu dengan yang lain
saling mempercayai, tanpa kecurigaan apapun untuk saling membuka diri, merupakan permasalahan yang berkaitan dengan penciptaan rapport. Untuk mencapai tingkat rapport yang membuat informan bisa menjadi semacam co-reseacher (sejawat atau pasangan bagi seorang peneliti), menurut Faisal, lazimnya ia mengalami proses 4 (empat) tahap, yaitu; (1)
apprehension (2) exploration (3) cooperation, dan (4) participation.
b. Pemilihan Informan
Pemilihan informan dengan sendirinya perlu dilakukan secara purposif (bukan secara acak) yaitu atas dasar apa yang diketahui tentang variasi-variasi yang ada atau elemenelemen yang ada atau sesuai kebutuhan penelitian. Dengan kata lain jika suatu penelitian sudah tidak ada informasi yang dibutuhkan lagi (data yang diperoleh sudak dianggap cukup) maka peneliti tak perlu lagi melanjutkannya dengan mencari informasi atau informan lain (sample baru). Artinya jumlah sample/ informan bisa sangat sedikit, tetapi bisa juga sangat
banyak. Itu sangat tergantung pada; (1) memilihan informannya itu sendiri, dan (2) kompleksitas/keragaman fenomena yang di kaji (pokok masalah penelitian). Jadi yang penting dalam penelitian kualitatif adalah tuntasnya perolehan informasi bukan jumlah sample atau informannya. Oleh karena itu terdapat tiga tahap yang biasa dilakukan dalam pemilihan sample/informan, yaitu: (1) pemilihan sample/informan awal, apakah informan (untuk diwawancarai) ataukah suatu situasisosial (untuk diobservasi). (2) pemilihan sample/informan lanjutan, guna memperluas informasi dan melacak seganap variasi
informasi yang mungkin ada, dan (3) menghentikan pemilihan sample/informan lanjutan sekiranya sudah tidak muncul lagi informasi- informsi baru (Subadi, 2006)
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan oleh peneliti untuk
mengumpulkan data-data penelitian dari sumber data (subyek maupun sampel penelitian). Teknik pengumpulan data merupakan suatu kewajiban, karena teknik pengumpulan data ini
nantinya digunakan sebagai dasar untuk menyusun instrumen penelitian. Instrument penelitian merupakan seperangkat peralatan yang akan digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data-data penelitian (Kristanto, 2018). Pengumpulan data merupakan tahapan yang sangat
penting dalam sebuah penelitian. Teknik pengumpulan data yang benar akan menghasilkan data yang memiliki kredibilitas tinggi, dan sebaliknya. Oleh karena itu, tahapan ini tidak boleh salah
dan harus dilakukan dengan cermat sesuai prosedur dan ciri-ciri penelitian kualitatif. Sebab, kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam metode pengumpulan data akan berakibat fatal, yakni berupa data yang tidak credible, sehingga hasil penelitiannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta(participant observaction), wawancara mendalam (in depth interview), dan dokumentasi (Sugiono, 2017). Pada dasarnya kegunaan data (setelah diolah dan dianalisis)
ialah sebagai dasar yang objektif didalam proses pembuatan keputusan–keputusan/kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam rangka ntuk memecahkan persoalan oleh pengambil keputusan (Situmorang, 2010).
Misalnya, jika peneliti ingin memperoleh informasi mengenai persepsi guru terhadap kurikulum yang baru, maka teknik yang di pakai ialah wawancara, bukan observasi. Sedangkan, jika peneliti ingin mengetahui bagaimana guru menciptakan suasana kelas yang
hidup, maka teknik yang dipakai adalah observasi. Begitu juga jika, ingin diketahui mengenai kompetensi siswa dalam mata pelajaran tertentu, maka teknik yang dipakai adalah tes, atau bisa juga dokumen berupa hasil ujian. Dengan demikian, informasi yang inin di peroleh menentukan
jenis teknik yang di pakai (materials determine a means) (Rahardjo, 2011).
Namun, masih di perlukan kecakapan peneliti menggunakan teknik-teknik tersebut.
Karena bisa jadi jika belum berpengalaman atau belum memiliki pengetahuan yang memadai, peneliti tidak berhasil menggali informasi yang dalam, sebagaimana karakteristik data dalam penelitian kualitatif, karena kurang cakap menggunakan teknik tersebut, walaupun teknik yang dipilih sudah tepat. Solusinya terus belajar dan membaca hasil-hasil penelitian sebelumnya
yang sejenis akan sangat membantu menambah kecakapan peneliti.
Penggunaan istilah „data‟ sebenarnya meminjam istilah yang lazim dipakai dalam metode penelitian kualitatif yang biasanya berupa tabel angka. Namun, dalam metode penelitian kualitatif yang dimaksudkan dengan data adalah segala informasi baik lisan maupun tulis, bahkan bisa berupa gambar atau foto, yang berkontribusi untuk menjawab masalah penelitian
sebagaimana dinyatakan di dalam rumusan masalah atau focus penelitian.
Dalam bahasa teknik pengumpulan data untuk penelitian kualitatif akan dibagi menjadi dua kegiatan belajar belajar yakni : kegiatan belajar 1) tentang teknik wawancara dan observasi, kegiatan belajar 2) tentang teknik dokumentasi dan trialungasi (Suwendra, 2018). Dan di dalam metode penelitian kualitatif juga lazimnya data di kumpulkan dengan beberapa teknik pengumpulan data kualitatif, yaitu ; 1) wawancara, 2) observasi, 3) dokumentasi, dan 4) diskusi terfokus (Focus Group Discussion). Sebelum masing-masing teknik tersebut diuraikan secara rinci, perlu ditegaskan di sini bahwa hal sangat penting yang harus dipahami oleh setiap peneliti adalah alasan mengapa masing-masing teknik tersebut dipakai, untuk memperoleh informasi apa, dan pada bagian focus masalah mana yang memerlukan teknik wawancara, mana yang memerlukan teknik observasi, dst. Pilihan teknik tergntung pada jenis informasi yang di peroleh.
Keberhasilan dalam pengumpulan data banyak ditentukan oleh kemampua n peneliti menghayati situasi sosial yang dijadikan fokus penelitian. Ia dapat melakukan wawancara dengan subjek yang ia teliti, ia harus mampu mengamati situasi sosial, yang terjadi dalam konteks yang sesungguhnya, ia dapat memfoto fenomena, symbol, dan tanda yang terjadi, ia mungkin pula merekam dialog yang terjadi. Peneliti tidak akan mengakhiri fase pengumpulan data, sebelum ia yakin bahwa data yang terkumpul dari berbagai sumber yang berbeda dan terfokus pada situasi sosial yang di teliti telah mampu menjawab tujuan penelitian. Dalam konteks ini validitas, reabilitas, dan triangulasi (triangulation) telah dilakukan dengan benar, sehingga ketepatan (accuracy) dan kredibilitas (credibility) tidak diragukan lagi oleh siapapun (yusuf, 2014).
Data penelitian kualitatif biasanya berbentuk teks, foto, cerita, gambar, artifacts, dan bukan berupa angka-angka hitung-hitungan. Data dikumpulkan bilamana arah dan tujuan penelitian sudah jelas dan juga bila sumber data yaitu informan atau partisipan sudah diidentifikasi, dihubungi serta sudah mendapatkan persetujuan atas keinginan mereka untuk memberikan informasi yang dibutuhkan. Jadi, data penelitian kualitatif diperoleh dengan berbagai macam cara : wawancara, observasi, dan dokumen. Perolehan data dengan berbagai macam cara ini disebut triangulasi (triangulation). Alasan menggunakan trangulasi adalah bahwa tidak ada metode pengumpulan data tunggal yang sanga cocok dan dapat benar-benar sempurna. Dalam banyak penelitian kualitatif, peneliti umumya menggunakan teknik triangulasi dalam arti menggunakan interview dan observasi (Semiawan, 2010).
Triangulasi Kualitatif (skripsi dan tesis)
Triangulasi adalah menguji keabsahan data dengan mencocokkan atau membandingkannya dengan sesuatu yang lain (di luar data yang mau diuji keabsahannya). Katakan saja bahwa anda mau menguji keabsahan data anda maka yang perlu dan segera dilakukan adalah mencari data atau sesuatu yangrelevan dengan data anda.
Dua cara yang bisa anda lakukan saat anda melakukan triangulasi:
Triangulasi dengan sumber yang sama tetapi dengan cara atau metode yang berbeda
Triangulasi dengan cara atau metode yang sama tetapi dengan sumber yang berbeda
Dari dua cara triangulasi di atas ternyata yang paling banyak digunakan adalah pencocokkan dengan sumber yang berbeda. Triangulasi sumber data adalah mengecek kembali data-data yang sudah anda dapatkan dari informan utama dengan cara menanyakan kebenaran data kepada informan tambahan (bisa satu atu lebih).
Sedangkan triangulasi metode adalah mengecek kembali data dengan cara yang berbeda.
Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk melahirkan sebuah teori baru atau mengembangkan sebuah teori lama yang dihasilkan oleh peneliti sebelumnya. Jika anda tidak menemukan sebuah teori (baru) maka bisa dikatakan bahwa penelititan yang anda lakukan nihil hasilnya. Melahirkan sebuah teori baru tentunya bukan sembarang teori tetapi sebuah teori yang akan bisa dan dapat diterima oleh orang banyak. Oleh karena itu perlu dilakukan triangulasi teori sebelum teori anda dipublikasikan yaitu dengan mencocokkan teori anda dengan teori yang relevan bertujuan untuk menghindari penyimpangan individual.
Karakteristik Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)
Creswell (2007, p. 45-47) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian kualitatif yang baik, antara lain:
- peneliti menggunakan prosedur mendapatkan data yang tepat.
- Peneliti membatasi penelitian di dalam asumsi dan karakteristik dari pendekatan kualitatif.
- Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalam penelitiannya.
- Peneliti memulai penelitian dengan satu fokus.
- Penelitian berisi metode yang rinci, pendekatan yang tepat dalam pengumpulan data, analisis data, dan penulisan laporan.
- Peneliti menganalisis data menggunakan pemisahan analisis dalam beberapa level.
- Peneliti menulis secara persuasif, sehingga pembaca dapat merasakan pengalaman yang sama.
- Proses penelitian dengan pendekatan kualitatif
Penelitian kualitatif dimulai dengan ide yang dinyatakan dengan pertanyaan penelitian (research questions). Pertanyaan penelitian tersebut yang nantinya akan menentukan metode pengumpulan data dan bagaimana menganalisisnya. Metode kualitatif bersifat dinamis, artinya selalu terbuka untuk adanya perubahan, penambahan, dan penggantian selama proses analisisnya (Srivastava, A. & Thomson, S.B., 2009).
Alasan memilih metode kualitatif (skripsi dan tesis)
Sale, et al. (2002) menyatakan bahwa penggunaan metode dipengaruhi oleh dan mewakili paradigma yang merefleksikan sudut pandang atas realitas. Lebih lanjut, Kasinath (2013) mengemukakan ada tiga alasan untuk menggunakan metode kualitatif, yaitu (a) pandangan peneliti terhadap fenomena di dunia (a researcher’s view of the world), (b) jenis pertanyaan penelitian (nature of the research question), dan (c) alasan praktis berhubungan dengan sifat metode kualitatif (practical reasons associated with the nature of qualitative methods).
Sementara itu, menurut McCusker, K., & Gunaydin, S. (2015), pemilihan penggunaan metode kualitatif dalam hal tujuan penelitiannya adalah untuk memahami bagaimana suatu komunitas atau individu-individu dalam menerima isu tertentu. Dalam hal ini, sangat penting bagi peneliti yang menggunakan metode kualitatif untuk memastikan kualitas dari proses penelitian, sebab peneliti tersebut akan menginterpretasi data yang telah dikumpulkannya.
Metode kualitatif membantu ketersediaan diskripsi yang kaya atas fenomena. Kualitatif mendorong pemahaman atas substansi dari suatu peristiwa. Dengan demikian, penelitian kualitatif tidak hanya untuk memenuhi keinginan peneliti untuk mendapatkan gambaran/penjelasan, tetapi juga membantu untuk mendapatkan penjelasan yang lebih dalam (Sofaer, 1999). Dengan demikian, dalam penelitian kualitatif, peneliti perlu membekali dirinya dengan pengetahuan yang memadai terkait permasalahan yang akan ditelitinya.
Definisi penelitian kualitatif (skripsi dan tesis)
Definisi penelitian kualitatif dapat ditemukan pada banyak literatur. Antara lain, Ali dan Yusof (2011) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai:
Any investigation which does not make use of statistical procedures is called “qualitative” nowdays, as if this were a quality label in itself.
Definisi dari Ali dan Yusof tersebut, menekankan pada ketidakhadiran penggunaan alat-alat statistik dalam penelitian kualitatif. Hal ini tentunya untuk mempermudah dalam membedakan penggunaan metode kualitatif dengan penggunaan metode kuantitatif. Karena metode kuantitatif bergantung pada penggunaan perhitungan dan prosedur analisis statistika.
Sementara itu, metode kualitatif lebih menekankan pada pengamatan fenomena dan lebih meneliti ke subtansi makna dari fenomena tersebut. Analisis dan ketajaman penelitian kualitatif sangat terpengaruh pada kekuatan kata dan kalimat yang digunakan. Oleh karena itu, Basri (2014) menyimpulkan bahwa fokus dari penelitian kualitatif adalah pada prosesnya dan pemaknaan hasilnya. Perhatian penelitian kualitatif lebih tertuju pada elemen manusia, objek, dan institusi, serta hubungan atau interaksi di antara elemen-elemen tersebut, dalam upaya memahami suatu peristiwa, perilaku, atau fenomena (Mohamed, Abdul Majid & Ahmad, 2010).
Pengertian Metode Penelitian (skripsi dan tesis)
Secara umum metode penelitian didefinisikan sebagai suatu
kegiatan ilmiah yang terencana, terstruktur, sistematis dan
memiliki tujuan tertentu baik praktis maupun teoritis. Dikatakan sebagai ‘kegiatan ilmiah’ karena penelitian dengan aspek
ilmu pengetahuan dan teori. ‘Terencana’ karena penelitian
harus direncanakan dengan memperhatikan waktu, dana dan
aksesibilitas terhadap tempat dan data.
Sekaran (2003) mendefinisikan penelitian sebagai suatu
kegiatan yang terorganisir, sistematis, berdasarkan data,
dilakukan secara kritis, objektif, ilmiah untuk mendapatkan
jawaban atau pemahaman yang lebih mendalam atas suatu
masalah. Intinya, menurut beliau, yaitu memberikan masukan
Pengertian, Tujuan, dan Latar Belakang Penelitian 5
yang dibutuhkan oleh pengambil kebijakan untuk membuat
suatu keputusan. Masukan tersebut rnerupakan hasil
penelahaan dan analisis data yang dibuat secara seksarna.
Ditambahkannya pula bahwa data dapat berupa angka atau
teks, baik kuantitatif rnaupun kualitatif.
John Creswell (2008) rnendefinisikan penelitian sebagai
suatu proses bertahap bersiklus yang dirnulai dengan
identifikasi masalah atau isu yang akan diteliti. Setelah masalah
teridentifikasi kernudian diikuti dengan rnereviewbahan bacaan
atau kepustakaan. Sesudah itu rnenentukan dan rnernperjelas
tujuan penelitian. Dilanjutkan dengan pengurnpulan dan
analisa data. Kernudian rnenafsirkan (interpretation) data
yang diperoleh. Penelitian ini berpuncak pada pelaporan hasil
penelitian. Pembaca atau audience akan rnengevaluasi dan
selanjutnya rnenggunakannya. Dari identifikasi rnasalah hingga
pelaporan, sernuanya berlangsung dalarn suatu proses yang
bertahap yang berurutan secara teratur dan sistematis
Triangulasi Dalam Kualitatif (skripsi dan tesis)
Triangulasi adalah teknik pemeriksanaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.
Menurut Patton (1980) ini bisa dicapai dengan membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi, membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu, membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan yang lain, serta membandingkan hasil wawancara dengan isu suatu dokumen yang berkaitan.
Beberapa cara yang diusulkan Patton (1980) untuk meningkatkan transferabilitas penelitian adalah dengan melakukan konsep trianggulasi, yang meliputi empat hal :
- Trianggulasi data : menggunakan sumber data yang beranekaragam.
- Trianggulasi peneliti : menggunakan beberapa peneliti atau evaluator yang berbeda untuk mengecek penelitian.
- Trianggulasi teori : menggunakan perspektif yang berbeda untuk menginterpretasi data yang sama.
- Trianggulasi metodologis : menggunakan beberapa metode yang berbeda untuk meneliti hal yang sama.
Teknik triangulasi lebih mengutamakan efektivitas proses dan hasil yang diinginkan. Oleh karena itu, triangulasi dapat dilakukan dengan menguji apakah proses dan hasil metode yang digunakan sudah berjalan dengan baik. Seperti (1) peneliti menggunakan wawancara mendalam dan observasi partisipasi untuk pengumpulan data. (2) dilakukan uji silang terhadap materi catatan-catatan harian itu untuk memastikan tidak adainformasi yang bertentangan antara catatan harian wawancara dan catatan harian observasi. (3) hasil konfirmasi itu perlu diujikan lagi dengan informasi sebelumnya karena bisa jadi konfirmasi itu bertentangan dengan informasi yang telah dihimpun sebelumnya.
Kredibilitas Dalam Analisis Kualitatif (skripsi dan tesis)
Upaya untuk menjaga kredibilitas dalam penelitian
adalah melalui langkah-langkah sebagai berikut
(Sugiyono, 2012 :270)
a.Perpanjangan pengamatan
Peneliti kembali ke lapangan untuk melakukan
pengamatan untuk mengetahui kebenaran data yang
diperoleh maupun menemukan data baru.
b. Meningkatkan ketekunan
Melakukan pengamatan secara lebih cermat.
Dengan meningkatakan ketekunan, peneliti dapat
melakukan pengecekan kembali apakah data yang
ditemukan benar atau salah.
c. Triangulasi
Pengecekan data sebagai sebagai sumber dengan
berbagai cara dan berbagai waktu.
d. Analisis kasus negatif
Peneliti mencara data yang berbeda dengan data
yang ditemukan. Apabila tidak ada data yang berbeda
maka data yang ditemukan sudah dapat dipercaya.
e. Menggunakan bahan referensi
Bahan referensi yang dimaksud adalah sebagai
pendukung data yang ditemukan, sebagai contoh data
hasil wawancara perlu didukung adanya rekaman
wawancara.
f. Menggunakan member check
Mengadakan kesepakatan dengan informan bahwa
data yang telah diterima sudah sesuai dengan hasil
wawancara. Apabila data sudah benar maka data
sudah dianggap valid, maka peneliti perlu melakukan
diskusi dengan pemberi data agar penafsiran akan data
yang diperoleh dapat disepakati
KARAKTERISTIK PENELITIAN ILMIAH (skripsi dan tesis)
Penelitian ilmiah didasarkan atas logika, terorganisasi, dan teliti dalam identifikasi masalah, pengumpulan data, analisis data dan penarikan kesimpulan yang valid. Kadar (tinggi-rendahnya) mutu ilmiah suatu penelitian ilmiah dapat diukur dengan dua kriteria, yaitu:
- Kemampuannya untuk memberikan pengertian tentang masalah yang diteliti sehingga jelas.
- Kemampuannya untuk meramalkan, artinya sampai di mana kesimpulan yang sama dapat dicapai, apabila data yang sama ditemukan di tempat waktu lain.
Ciri-ciri penelitian ilmiah, adalah sebagai berikut:
- Purposiveness, memiliki fokus tujuan yang jelas.
- Rigor, teliti dan memiliki dasar teori dan desain metodologi yang baik.
- Testability, prosedur pengujian hipotesis jelas.
- Replicability, pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau kasus sejenis lainnya.
- Objectivity, berdasarkan atas fakta dari data actual, bukan penilaian yang subjektif dan emosional.
- Generalizability, semakin luas ruang lingkup penggunaan hasil penelitian semakin berguna.
- Precision, mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat.
- Parsimony, kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.
JENIS PENELITIAN BERDASARKAN KEILMIAHANNYA (skripsi dan tesis)
Hasan (2004;5-6) menyatakan bahwa berdasarkan keilmiahannya, penelitian dibedakan atas dua yaitu sebagai berikut:
1) Penelitian Ilmiah
Penelitian ilmiah adalah penelitian yang dalam pelaksanaannya menggunakan kaidah-kaidah ilmiah, artinya pokok pikiran yang dikemukakan disimpulkan melalui suatu prosedur yang sistematis dengan mempergunakan pembuktian yang meyakinkan (ilmiah).
2) Penelitian Nonilmiah
Penelitian non ilmiah adalah penelitian yang dalam pelaksanaannya tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah yang ilmiah
JENIS PENELITIAN BERDASARKAN TEMPAT PENELITIAN (skripsi dan tesis)
Hasan (2004;5) menyatakan bahwa berdasarkan tempat penelitian, penelitian dibedakan atas tiga yaitu sebagai berikut:
1) Penelitian lapangan (Field Research)
Penelitian lapangan adalah penelitian yang langsung dilakukan di lapangan atau pada responden.
2) Penelitian kepustakaan (Library Research)
Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan leteratur (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian dari peneliti terdahulu.
3) Penelitian Laboratorium (Laboratory Research)
Penelitian laboratorium adalah penelitian yang dilaksanakan pada tempat tertentu (laboratorium) dan biasanya bersifat eksperimen atau percobaan
JENIS PENELITIAN BERDASARKAN SIFAT PERMASALAHANNYA (skripsi dan tesis)
Margono (2009;6) menyatakan bahwa tugas penelitian yaitu untuk memberikan, menerangkan dan meramalkan dan mengatasi permasalahan atau persoalan-persoalan, maka penelitian dapat digolongkan pula dari sudut pandang ini. Berdasarkan penggolongan dapat dipilih rencana penelitian yang sesuai. Ada 8 jenis penelitian itu, yakni:
1) Penelitian Historis
Penelitian ditunjukan kepada rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif memahami peristiwa-peristiwa masa lampau itu. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini sukar dikendalikan. Maka tingkat kepastian pemecahan dengan metode ini pasti rendah. Data yang dikumpulkan biasanya berupa hasil pengamatan orang, seperti surat-surat, arsip dan dokumen-dokumen masa lalu. Penelitian seperti ini bila ditunjukan kepada kehidupan pribadi seseorang maka penelitian disebut penelitian biografi. Kekhususan penelitian ini adalah:
- Data yang dikumpulkan diambil dari hasil observasi orang lain.
- Data yang baik adalah data yang otentik, tepat dan dari sumber-sumber penting.
- Penelitian dilakukan dengan tertib, sistematis, objektif dan tuntas.
- Data yang dikumpulkan dari sumber primer, yaitu langsung melakukan observasi atas peristiwa-peristiwa yang dilaporkan.
- Data yang berbobot adalah data yang diuji secara eksternal dan internal.
2) Penelitian Deskripsi
Penelitian deskripsi berusaha memberikan dengan sistematis dan cermat serta fakta-fakta aktual dan sifat populasi tertentu. Kekhususan penelitian ini adalah:
- Bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah aktual yang dihadapi sekarang.
- Bertujuan untuk mengumpulkan data atau informasi untuk disusun, dijelaskan dan dianalisis.
3) Penelitian Perkembangan
Penelitian ini menyelidiki pola dan proses pertumbuhan dan perubahan sesuai dengan fungsi waktu. Kekhususan penelitian ini adalah:
- Memusatkan perhatian pada ubahan-ubahan tertentu dan perkembangannya selama jangka waktu tertentu.
- Penelitian ini biasanya memakai waktu yang panjang atau bersifat longitudinal.
4) Penelitian Kasus atau Penelitian Lapangan
Penelitian kasus memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan terperinci mengenai latar belakang keadaan sekarang yang dipermasalahkan. Kekhususan penelitian ini adalah:
- Subjek yang diteliti terdiri dari suatu kesatuan (unit) secara mendalam, sehingga hasilnya merupakan suatu gambaran lengkap atas kasus pada unit itu.
- Selain penelitian hanya pada suatu unit, ubahan-ubahan yang diteliti juga terbatas, dari ubahan-ubahan yang lebih besar jumlahnya, yang berpusat pada aspek yang menjadi kasus.
5) Penelitian Korelasional
Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara dua gejala atau lebih. Misalnya, apakah ada hubungan antara status sosial orang tua siswa dengan prestasi anak mereka. Kekhususan penelitian ini adalah:
- Gejala-gejala yang diteliti pelik, tidak dapat dikontrol sehingga tidak dapat dieksperimenkan.
- Ubahan-ubahan yang akan diukur ada hubungannya serentak muncul dalam kenyataan.
- Korelasi yang akan diukur adalah tingkat tinggi rendahnya hubungan bukan ada tidaknya hubungan.
6) Penelitian Hubungan Sebab-Akibat
Penelitian untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat antara faktor tertentu yang mungkin menjadi penyebab gejala yang diselidiki.
Misalnya: sikap santun siswa dalam kegiatan belajar, mungkin dikarenakan banyaknya lulusan tertentu yang tidak mendapakkan lapangan kerja. Kekhususan penelitian ini adalah:
- Penelitian bersifat ex post fakto.
- Suatu gejala yang diamati diusut kembali dari suatu faktor atau beberapa faktor pada masa lampau.
7) Penelitian Eksperimen
Penelitian ini dilakukan dengan melakukan percobaan terhadap kelompok-kelompok eksperimen. Kepada tiap kelompok eksperimen dikenakan perlakuan tertentu dengan kondisi-kondisi yang dapat dikontrol. Kekhususan penelitian ini adalah:
- Di dalam eksperimen terdapat kelompok yang dikenal perlakuan eksperimental dan kelompok yang dikenal perlakuan pembanding.
- Menggunkan sedikitnya dua kelompok eksperimen.
- Harus memperhatikan benar-benar perbedaan pengaruh yang diakibatkan oleh perlakuan eksperimental dengan perlakuan pembanding.
- Menggunakan agar pengaruh perlakuan eksperimen maksimal dan pengaruh ubahan penyangga menjadi minimal.
8) Penelitian Tindakan
Penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan baru untuk mengatasi kebutuhan dalam dunia kerja atau bidang praktis lain. Misalnya: penelitian keterampilan kerja yang sesuai bagi siswa yang putus sekolah di suatu daerah. Kekhususan penelitian ini adalah:
- Disiapkan untuk kebutuhan praktis yang berkaitan dangan dunia kerja.
- Penelitian didasarkan pada pengamatan aktual dan data tingkah laku.
- Bersifat fleksibel.
JENIS PENELITIAN BERDASARKAN JENIS DATA DAN ANALISISNYA (skripsi dan tesis)
1) Penelitian Kualitatif
Penelitian Kualitatif adalah penelitian yang datanya adalah data kualitatif sehingga analisisnya juga analisis kualitatif (deskriptif). senada dengan pendapat tersebut sukmadinata (2009;18) berpendapat bahwa data kualitatif adalah data dalam bentuk kata, kalimat, dan gambar. Data kualitatif dapat diubah menjadi data kuantitatif dengan jalan diskoring. Contoh data kualitatif adalah manis, pahit, rusak, gagal, baik sekali, baik, kurang baik, tidak baik, atau sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju, selalu, sering, kadang-kadang, jarang, dan tidak pernah.
2) Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang datanya merupakan data kuantitatif sehingga analisis datanya menggunakan analisis kuantitatif (inferensi). Data kuantitatif adalah dalam bentuk angka, atau data kualitatif yang diangkakan seperti: 1, 2, 3, 4, … dst, atau skor 5 = selalu, skor 4 = sering, skor 3 = kadang-kadang, skor 2 = jarang, dan skor 1 = tidak pernah
Data kuantitatif dibedakan menjadi data diskrit atau nominal dan data kontinum. Data nominal adalah data dalam bentuk kategori atau diskrit.
3) Penelitian Gabungan Kualitatif dan Kuantitatif
Penelitian gabungan kualitatif dan kuantitatif adalah penelitian yang datanya terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif sehingga analisis datanya pun menggunakan analisis data kualitatif dan analisis data kuantitatif.
JENIS PENELITIAN BERDASARKAN PENGGUNAANNYA (skripsi dan tesis)
Jenis penelitian bila dilihat dari segi penggunaannya dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu:
1) Penelitian Dasar atau Penelitian Murni
LIPI memberi definisi penelitian dasar adalah setiap penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ilmiah atau untuk menemukan bidang penelitian baru tanpa suatu tujuan praktis tertentu. Artinya kegunaan hasil penelitian tidak segera dipakai, namun untuk waktu jangka panjang akan segera dipakai.
Gay (dalam Sugiyono, 2009) menyatakan bahwa penelitian dasar bertujuan untuk mengembangkan teori dan tidak memperhatikan kegunaan yang langsung bersifat praktis. Senada dengan pendapat tersebut, Suriasumantri (dalam Sugiyono, 2009;9) berpendapat bahwa penelitian dasar atau murni adalah penelitian yang bertujuan menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui.
2) Penelitian Terapan
Batasan yang diberikan LIPI bahwa setiap penelitian terapan adalah setiap penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ilmiah dengan suatu tujuan praktis. Berarti hasilnya diharapkan segera dapat dipakai untuk keperluan praktis. Misalnya penelitian untuk menunjang kegiatan pembangunan yang sedang berjalan, penelitian untuk melandasi kebijakan pengambilan keputusan atau administrator.
Senada dengan pendapat tersebut, Gay (dalam Sugiyono, 2009;9) berpendapat bahwa penelitian terapan adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan menerapkan, menguji dan mengevaluasi kemampuan suatu teori yang diterapkan dalam memecahkan masalah-masalah praktis. Suriasumantri (dalam Sugiyono, 2009;9) menyatakan bahwa penelitian terapan bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan praktis. Sehingga, hubungan penelitian murni dan penelitian terapan sangat erat, karena penelitian murni/dasar berkenaan dengan penemuan dan pengembangan ilmu, setelah ilmu tersebut digunakan untuk memecahkan masalah, maka penelitian tersebut akan menjadi penelitian terapan.
Koefisien determinasi (R2) (skripsi dan tesis)
Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel independen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.
Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Setiap tambahan satu variabel independen, maka R2 akan meningkat, tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan Adjusted R2.
Dengan menggunakan nilai Adjusted R2, dapat dievaluasi model regresi mana yang terbaik. Tidak seperti nilai R2, nilai Adjusted R2 dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam model. Dalam kenyataan, nilai Adjusted R2 dapat bernilai negatif, walaupun yang dikehendaki harus bernilai positif. Menurut Gujarati (dikutip oleh Ghozali, 2005), jika dalam uji empiris didapatkan nilai Adjusted R2 negatif, maka nilai Adjusted R2 dianggap bernilai nol. Secara matematis jika nilai R2 = 1, maka Adjusted R2 = R2 = 1 sedangkan jika nilai R2 = 0, maka adjusted R2 = (1 – K)/(n – k). Jika k >1, maka adjusted R2 akan benilai negatif.
Uji statistik t (skripsi dan tesis)
Uji t digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh secara linier antara variabel bebas dan variabel terikat.
1. Jika t hitung < t tabel maka Ho ditolak dan menerima Ha, artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat.
2. Jika t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan menerima Ha, artinya ada pengaruh antara variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat. Uji t dapat dilakukan hanya dengan melihat nilai signifikansi t masing-masing variabel yang terdapat pada output hasil analisis regresi yang menggunakan versi 13.0. jika angka signifikansi t lebih kecil dari α (0,05) maka dapat dikatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara variable bebas terhadap variabel terikat.
Uji statistik F (skripsi dan tesis)
Uji F digunakan untuk menguji signifikasi koefisien regresi secara keseluruhan dan pengaruh variabel bebas secara bersama-sama.
1. Apabila F hitung < F tabel maka Ha diterima dan Ho ditolak artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas secara simultan terhadap variabel terikat.
2. Apabila Fhitung > F tabel maka Ha diterima dan Ho ditolak artinya ada pengaruh antara variabel bebas secara simultan terhadap variabel
terikat. Uji F dapat dilakukan hanya dengan melihat nilai signifikansi F yang terdapat pada output hasil analisis regresi yang menggunakan versi 17.0. jika angka signifikansi F lebih kecil dari α (0,05) maka dapat dikatakan bahwa adapengaruh yang signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat secara simultan.
Uji Heterokedastisitas (skripsi dan tesis)
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas.
Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas akan dilakukan melalui penglihatan grafik plot antar nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Deteksi dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED. Dasar pengambilan keputusan sebagai berikut (Ghozali, 2005) :
1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka) pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
Analisis dengan menggunakan plots memiliki kelemahan yang cukup signifikan oleh karena jumlah pengamatan mempengaruhi hasil ploting. Semakin sedikit jumlah pengamatan semakin sulit menginterpretasikan hasil grafik plot. Oleh sebab itu diperlukan uji statistik yang dapat menjamin keakuratan hasil.
Salah satu uji statistik yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas adalah Uji Park. Jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi terjadi Heteroskedastisitas. Apabila probabilitas signifikansinya diatas tingkat kepercayaan 5%, maka tidak ada satupun variabel independen yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel nilai Absolut Ut (AbsUt) (Gozali, 2005)
Uji Autokorelasi (skripsi dan tesis)
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Salah satu cara yang digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi adalah dengan Uji Durbin Watson (DW Test). Uji ini hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat satu (first order autocorrelation) dan mensyaratkan adanya intercept (konstanta) dalam model regresi dan tidak ada variabel lagi diantara variabel bebas.
Uji Multikolinearitas (skripsi dan tesis)
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Uji multikolonieritas dapat dilihat dari nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF), dengan dasar pengambilan keputusan sebagai berikut:
1. Jika nilai tolerance di atas 0,1 dan nilai VIF di bawah 10, maka tidak terjadi masalah multikolinearitas, artinya model regresi tersebut baik.
2. Jika nilai tolerance lebih kecil dari 0,1 dan nilai VIF di atas 10, maka terjadi masalah multikolinearitas, artinya model regresi tersebut tidak baik.
Uji Normalitas (skripsi dan tesis)
Uji normalitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel bebas dan variabel terikat keduanya memiliki distribusi normal atau tidak (Ghozali, 2005). Model regresi yang baik adalah memiliki data berdistribusi normal. Untuk menguji apakah terdapat distribusi yang normal atau tidak dalam model regresi maka digunakanlah uji Kolmogorof Smirnov dan analisis grafik.
Dasar pengambilan keputusan analisis statistik dengan Kolmogorov-Smirnov Z (1-Sample K-S) adalah (Ghozali, 2005):
1. Apabila nilai Asymp. Sig. (2-tailed) kurang dari 0,05, maka Ho ditolak. Hal ini berarti data residual terdistribusi tidak normal.
2. Apabila nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05, maka Ho diterima. Hal ini berarti data residual terdistribusi normal.
Dasar pengambilan keputusan dengan analisis grafik adalah (Ghozali, 2005):
1. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya tidak menunjukkan pola
distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas
Pengertian Rumusan Masalah (skripsi dan tesis)
- Menurut Pariata Westra (1981 : 263 ) bahwa “Suatu masalah yang terjadi apabila seseorang berusaha mencoba suatu tujuan atau percobaannya yang pertama untuk mencapai tujuan itu hingga berhasil.”
- Menurut Sutrisno Hadi ( 1973 : 3 ) “Masalah adalah kejadian yang menimbulkan pertanyaan kenapa dan kenapa”.
Rumusan masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data bentuk-bentuk rumusan masalah penelitian ini berdasarkan penelitian menurut tingkat eksplanasi (Sugiyono).
Tujuan Rumusan Masalah (skripsi dan tesis)
Prosesi penyelesaian dalam rumusan masalah berkaiatan erat dengan keapikan yang ada dalam karya tulis. Rumusan ini sendiri memiliki fungsi dan tujuan, diantarnya;
Menjadi Alasan
Tujuan pembuatan dalam perumusan masalah ialah menjadi alasan mengapa penelitian dilakukan, dengan bentuk sejumlah pertanyaan secara langsung menjadi alasa para pembaca mengentai gagasan yang disampaikannya, meskipun singkat.
Pedoman
Tujuan batasan rumusan masalah ialah menjadi pedoman yang dilakukan oleh penulis dalam menyelesaikan karya tulisnya. Baik skripsi ataupun makalah proses ini berkaiatan erat dengan jawaban yang akan disampaikan dalam bab selanjutnya, yakni pembahasan atau isi.
Menentukan Jenis Data
Langkah pembuatan rumusan masalah yang lainnya bertujuan untuk mentukan instrumen penelitian, selain itu pertanyaan dalam rumusan masalah juga akan bisa memilah dan meilih antar teknik analisis data yang diperlukan, misalnya menggunakan penelitian kualitataif ataupun mempergunakan penelitian kualitataif.
Mempermudah Penetuan Populasi dan Sempel
Manfaat yang di dapakan dari perumusan masalah ialah mampu memberikan penentuan populasi dan sempel. Hal ini berhubungan erat dengan keadaan dan kondisi penelitian yang akan dilakukan, oleh karena itulah bagi siapapun yang ingin menyelesaikan penelitian haruslah menyertakan rumusan masalah.
Dari sejumlah pembahasan mengenai pengertian, jenis, dan tujuan rumusan masalah secara umum dapat disimpukan bahwa pembuatan rumusan permasalahan ini sangat diperlukan bagi siapapun yan ingin membuat karya tulis, baik dalam skripsi, essay, makalah, proposal penelitian, ataupun dalam contoh karya tulis lainnya.
Pengertian Rumusan Masalah (skripsi dan tesis)
Pengertian rumusan masalah adalah tulisan singkat yang berada di bagian pembukaan karya tulis, bagian ini menjelaskan secara terperinci mengenai fenomena sosial yang terjadi dalam sejumlah pertanyaan-pertanyaan tertentu.
Dalam definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwanya proses pembuatan rumusan masalah berkaitan erat dengan pembahasan dalam karya tulis, tidak boleh ada penyimpangan, hal ini di dasarkan untuk mempermudah pembaca makalah atau laporan penelitian untuk menemukan garis besar karya yang akan diselesaikan.
Fungsi Rumusan Masalah (skripsi dan tesis)
Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut:
- Sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan.
- Sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan.
- Sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya.
- Dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.
Rumusan Masalah Penelitian yang Baik (skripsi dan tesis)
Rumusan masalah penelitian yang baik, antara lain:
- Bersifat orisinil, belum ada atau belum banyak orang lain yang meneliti masalah tersebut.
- Dapat berguna bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan terhadap masyarakat.
- Dapat diperoleh dengan cara-cara ilmiah.
- Jelas dan padat, jangan ada penafsiran yang lain terhadap masalah tersebut.
- Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
- Bersifat etis, artinya tidak bertentangan atau menyinggung adat istiadat, ideologi, dan kepercayaan agama.
- Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
- Rumusan masalah harus jelas, padat, dan dapat dipahami oleh orang lain.
- Rumusan masalah harus mengandung unsure data yang mendukung pemecahan masalah penelitian.
- Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat kesimpulan sementara (hipotesis).
- Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian
LANGKAH – LANGKAH DALAM MEMBUAT SUATU RUMUSAN MASALAH (skripsi dan tesis)
Adapun langkah – langkah dalam membuat suatu rumusan masalah adalah sebagai berikut :
Menulis Rumusan Masalah Sendiri. Jelaskan keadaan “ideal”. Ada banyak cara yang berbeda untuk menulis rumusan masalah — beberapa sumber referensi merekomendasikan untuk langsung membahas masalah itu sendiri, sementara sumber lainnya merekomendasikan memberikan konteks latar belakang terlebih dahulu agar masalah (dan solusinya) lebih mudah untuk dipahami oleh pembaca. Jika Anda begitu tidak yakin bagaimana harus memulai, pilihlah opsi kedua. Walaupun keringkasan adalah sesuatu yang harus ditujukan oleh setiap tulisan yang praktis, pemahaman yang baik lebih penting lagi. Mulailah dengan menjelaskan bagaimana seharusnya hal-hal bekerja. Sebelum Anda menyebutkan masalah Anda, jelaskan dalam beberapa kalimat bagaimana berlangsungnya hal-hal jika tidak ada masalah.
Pertanggungjawabkan pernyataan Anda. Tidak peduli berapa banyak uang yang Anda klaim dikuras masalah Anda terhadap perusahaan Anda, jika Anda tidak dapat mempertanggungjawabkan klaim Anda dengan bukti yang masuk akal, Anda mungkin tidak dianggap serius. Segera setelah Anda mulai membuat klaim spesifik tentang seberapa serius masalah Anda, Anda harus mulai mendukung pernyataan Anda dengan bukti. Dalam beberapa kasus, ini mungkin dari penelitian Anda sendiri, dari data dari penelitian atau proyek terkait, atau bahkan dari sumber pihak ketiga terkemuka.
Usulkan solusi. Ketika Anda sudah menjelaskan apa masalahnya dan mengapa begitu penting, lanjutkan menjelaskan bagaimana Anda mengusulkan untuk mengurusnya. Seperti dengan pernyataan awal dari masalah Anda, penjelasan solusi Anda harus ditulis agar sejelas dan seringkas mungkin. Tetaplah pada konsep-konsep besar, penting, konkret dan tinggalkan rincian kecil untuk nanti — Anda akan memiliki banyak kesempatan untuk masuk ke setiap aspek kecil dari solusi yang Anda usulkan dalam badan proposal Anda.
Jelaskan manfaat dari solusi. Sekali lagi, sekarang Anda sudah memberitahu pembaca Anda apa yang harus dilakukan soal masalah ini, ide yang sangat baik adalah menjelaskan mengapa solusi ini adalah ide yang baik. Karena bisnis selalu berusaha untuk meningkatkan efisiensi dan mendapatkan lebih banyak uang, Anda akan ingin fokus terutama pada dampak keuangan dari solusi Anda — biaya yang mana yang akan terkurangi, bentuk-bentuk baru dari pendapatan yang bagaimana yang akan dihasilkan, dan sebagainya. Anda juga bisa menjelaskan manfaat non-nyata, seperti kepuasan pelanggan yang meningkat, tetapi penjelasan total tidak boleh lebih panjang dari beberapa kalimat untuk satu paragraf.
Simpulkan dengan meringkas masalah dan solusi. Setelah Anda telah mempresentasikan visi ideal untuk perusahaan Anda, mengidentifikasi masalah yang menhalangi Anda dari mencapai idealisme ini, dan menyarankan solusi, Anda hampir selesai. Yang tersisa untuk dilakukan adalah menyimpulkan dengan ringkasan argumen utama Anda yang memungkinkan Anda dengan mudah transisi ke dalam tubuh utama dari proposal Anda. Tidak perlu untuk membuat kesimpulan ini lagi daripada yang seperlunya — cobalah untuk menyatakan, hanya dalam beberapa kalimat, inti dasar dari apa yang telah dijelaskan dalam pernyataan masalah Anda dan pendekatan yang Anda niatkan untuk diambil dalam badan artikel.
Ingat “lima W”. Rumusan masalah harus seinformatif mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin, tetapi tidak harus menyelidiki rincian kecil. Jika Anda pernah ragu-ragu tentang apa yang harus disertakan dalam rumusan masalah Anda, ide yang cerdas adalah mencoba untuk menjawab lima W (siapa/who, apa/what, di mana/where, kapan/when, dan mengapa/why), plus bagaimana/how. Mengatasi lima W memberikan pembaca Anda pengetahuan tingkat dasar yang baik untuk memahami masalah dan solusi tanpa merantau ke tingkat detail yang tidak perlu.
Selalu mengoreksi kesalahan. Ini merupakan keharusan untuk semua bentuk tulisan yang serius — tidak ada draft pertama sepanjang sejarah yang tidak bisa memperoleh keuntungan dari mata yang hati-hati dan dari pengkoreksi yang baik. Setelah Anda menyelesaikan rumusan masalah Anda, bacalah dengan cepat. Apakah “alurnya” tampak benar? Apakah menyajikan ide-idenya dengan koheren? Apakah tampaknya teratur dengan logis? Jika tidak, buat perubahan ini sekarang. Saat Anda akhirnya puas dengan struktur rumusan masalah Anda, periksa ejaan, tata bahasa, dan kesalahan format.
JENIS RUMUSAN MASALAH (skripsi dan tesis)
- Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Jadi dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel yang lain.
- Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda.
- Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan yaitu: hubungan simetris, hubungan kausal, dan interaktif.
Pengertian Rumusan Masalah (skripsi dan tesis)
Rumusan masalah adalah tulisan singkat berupa pertanyaan yang biasanya terletak di awal laporan atau proposal dan biasanya terletak setelah latar belakang yang dijelaskan dalam laporan tersebut. Rumusan masalah digunakan untuk menjelaskan masalah atau isu yang dibahas dokumen tersebut kepada para pembaca. Secara umum, suatu rumusan masalah akan menggarisbawahi fakta-fakta dasar dari masalahnya, menjelaskan alasan masalah itu penting, dan menentukan solusi secepat dan selangsung mungkin. Rumusan masalah sering digunakan di dunia bisnis untuk kepentingan perencanaan tapi dapat juga diperlukan dalam situasi akademis sebagai bagian dari laporan yang bergaya seperti laporan atau proyek tulisan.

