Efikasi Diri

      Efikasi diri merupakan keyakinan seseorang atas kemampuan dirinya dalam melaksanakan tugas (Putri, 2018). Bandura (1994) dalam Putri (2018) menyatakan bahwa efikasi diri merupakan kepercayaan diri seseorang bahwa dia mampu melaksanakan tugas pada level tertentu yang akan mempengaruhi aktivitas pribadi pada pencapaian tujuan. Bandura (2006) dalam Akbar & Wowo (2016) mendefinisikan efikasi diri sebagai keyakinan seseorang pada kemampuan diri dalam melakukan suatu tindakan untuk mencapai suatu prestasi.

      Efikasi diri mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan. Individu akan mampu mengoptimalkan potensi yang ada pada dirinya jika dia mempunyai efikasi diri yang mendukung (Rustika, 2012). Seseorang dengan efikasi diri yang tinggi akan mampu menyelesaikan tugas yang sulit karena menganggap tugas tersebut sebagai tantangan bukan ancaman. Sedangkan seseorang yang mempunyai efikasi diri rendah akan menghindar dari tugas yang sulit dan meragukan kemampuan yang dimilikinya (Putri, 2018). Individu dengan efikasi diri tinggi selalu optimis pada kemampuan yang dimilikinya, lebih menyukai tantangan, merasa puas dengan pekerjaannya, serta mempunyai pengendalian diri yang baik (Akbar & Wawo, 2016). Seseorang yang mempunyai efikasi diri tinggi akan cenderung melakukan whistleblowing. (Hidayati & Pustikaningsih, 2016).

      Bandura menyatakan efikasi diri dapat terbentuk dari beberapa sumber (Rustika, 2012). Sumber tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pengalaman berhasil

Pengalaman berhasil merupakan sumber efikasi diri yang berasal dari pengalaman individu. Sehingga sumber ini merupakan sumber yang paling mempengaruhi efikasi diri. Jika individu mempunyai pengalaman berhasil akan menaikkan efikasi diri individu sedangkan jika individu mempunyai pengalaman tidak berhasil akan menurunkan efikasi diri individu.

  • Kejadian yang dihayati seolah-olah dialami sendiri

Sumber efikasi diri ini bukan merupakan sumber yang berasal dari diri seseorang itu sendiri namun bersumber dari pengalaman orang lain. Apabila individu melihat pengalaman yang dialami orang lain lalu ikut merasakannya akan mempengaruhi efikasi diri individu tersebut. Efikasi diri akan meningkat ketika individu melihat keberhasilan orang lain. Sedangkan efikasi diri akan menurun ketika melihat orang lain gagal.

  • Persuasi verbal

Sumber efikasi diri ini dilakukan dengan memberikan informasi secara sengaja kepada seseorang dengan cara memberikan dorongan sehingga efikasi diri seseorang akan berubah. Jika kepercayaan individu terhadap pemberi dorongan tinggi maka semakin besar kemungkinan mengubah efikasi diri individu tersebut. Namun sebaliknya jika individu lebih percaya pada penilaian diri sendiri daripada penilaian orang yang memberi dorongan, keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki akan sulit digoyahkan.

  • Keadaan fisiologis dan suasana hati

Dalam aktivitas yang melibatkan kekuatan orang akan menganggap bahwa kelelahan dan rasa sakit dapat mempengaruhi efikasi dirinya. Begitu juga dengan suasana hati seseorang. Saat individu merasa sedih, penilaian indidvitu terhadap dirinya sendiri cenderung rendah.

      Hidayati & Pustikaningsih (2016) menyatakan dimensi efikasi diri menurut Bandura yaitu magnitude, generality, dan strength. Bandura (1977) menyatakan bahwa terdapat tiga dimensi efikasi diri. Berikut ini merupakan dimensi efikasi diri menurut Bandura (1977):

  1. Magnitude

Magnitude berkaitan dengan tingkat kesulitan tugas yang akan dihadapi individu. Ketika individu dihadapkan pada tingkat kesulitan tertentu, individu

  • Generality

Generality berkaitan dengan sejauh mana keyakinan individu terhadap kemampuan yang dimilikinya.

  • Strength

Strength berkaitan dengan kekuatan keyakinan individu pada kemampuan yang dimilikinya.