Allen dan Meyer (1990, dalam Tarigan, Veronica dan Dorothea Wahyu
Ariani, 2015) mengungkapkan bahwa setiap komponen memiliki dasar yang
berbeda. karyawan yang memiliki affective commitment tinggi masih bergabung
dengan perusahaan karena keinginan untuk tetap menjadi karyawan di perusahaan
tersebut. Selain itu, menurut Vandenberghe (2004) affective commitment
memberikan efek kuat secara langsung terhadap niat untuk keluar dari perusahaan.
Apabila affective commitment tinggi, maka niat untuk keluar dari perusahaan juga
rendah.
Hartmann dan Bambacas (2000) berpendapat bahwa affective commitment
mengarah kepada perasaan memiliki, merasa terikat kepada perusahaan dan telah
memiliki hubungan dengan karakteristik pribadi, struktur perusahaan, pengalaman
bekerja misalnya gaji, pengawasan, kejelasan peran, serta berbagai keterampilan.
Sedangkan, menurut Becker (1990) menggambarkan affective commitment sebagai
suatu kecenderungan untuk terikat dalam aktivitas perusahaan secara konsisten
sebagai hasil dari akumulasi investasi yang hilang jika aktivitasnya dihentikan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
affective commitment merupakan salah satu komponen dalam komitmen organisasi
yang berkaitan dengan keterikatan emosional, identifikasi, dan merasa terlibat
dalam seluruh aktivitas, tujuan, nilai suatu organisasi. Affective commitment
merupakan kesadaran bahwa karyawan memiliki tujuan dan nilai yang sama dan
selaras dengan perusahaannya. Pada tahap ini tujuan dan nilai karyawan memiliki
keselarasan dan kesatuan sehingga akan mempengaruhi karyawan untuk
berdedikasi penuh dengan loyalitasnya dan ingin tetap bergabung dengan
perusahaan serta rendahnya niat untuk keluar dari perusahaan
