Pengertian Inovasi


Istilah inovasi memang selalu diartikan secara berbeda-beda oleh beberapa ahli.
Menurut Suryani (2008:304), Inovasi dalam konsep yang luas sebenarnya tidak
hanya terbatas pada produk. Inovasi dapat berupa ide, cara-cara ataupun obyek
yang dipersepsikan oleh seseorang sebagai sesuatu yang baru. Inovasi juga sering
dugunakan untuk merujuk pada perubahan yang dirasakan sebagai hal yang baru
oleh masyarakat yang mengalami. Namun demikian, dalam konteks pemasaran
dan konteks perilaku konsumen inovasi dikaitkan dengan produk atau jasa yang
sifatnya baru. Baru untuk merujuk pada produk yang memang benar-benar belum
pernah ada sebelumnya di pasar dan baru dalam arti ada hal yang berbeda yang
merupakan penyempurnaan atau perbaikan dari produk sebelumnya yang pernah
ditemui konsumen di pasar.
Kata inovasi dapat diartikan sebagai “proses” atau “hasil” pengembangan dan atau
pemanfaatan atau mobilisasi pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan
teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk, proses
yang dapat memberikan nilai yang lebih berarti. Menurut Rosenfeld dalam
Sutarno (2012:132), inovasi adalah transformasi pengetahuan kepada produk,
proses dan jasa baru, tindakan menggunakan sesuatu yang baru. Sedangkan
menurut Mitra pada buku tersebut dan pada halaman yang sama, bahwa inovasi
merupakan eksploitasi yang berhasil dari suatu gagasan baru atau dengan kata lain
merupakan mobilisasi pengetahuan, keterampilan teknologis dan pengalaman
untuk menciptakan produk, proses dan jasa baru. Namun menurut Vontana
(2009:20), inovasi adalah kesuksesan ekonomi dan sosial berkat diperkenalkannya
cara baru atau kombinasi baru dari cara-cara lama dalam mentransformasi input
menjadi output yang menciptakan perubahan besar dalam hubungan antara nilai
guna dan harga yang ditawarkan kepada konsumen dan/atau pengguna,
komunitas, sosietas dan lingkungan.
Hampir sama dengan inovasi organisasi menurut Sutarno (2012:134-135) yang
didefinisikan sebagai cara-cara baru dalam pengaturan kerja, dan dilakukan dalam
sebuah organisasi untuk mendorong dan mempromosikan keunggulan kompetitif.
Inti dari inovasi organisasi adalah kebutuhan untuk memperbaiki atau mengubah
suatu produk, proses atau jasa. Inovasi organisasi mendorong individu untuk
berpikir secara mandiri dan kreatif dalam menerapkan pengetahuan pribadi untuk
tantangan organisasi. Semua organisasi bisa berinovasi termasuk untuk organisasi
perusahaan, rumah sakit, universitas, dan organisasi pemerintahan. Pentingnya
nilai, pengetahuan dan pembelajaran dalam inovasi organisasi sangat penting.
Menurut Yogi dalam LAN (2007:115), inovasi biasanya erat kaitannya dengan
lingkungan yang berkarakteristik dinamis dan berkembang. Pengertian inovasi
sendiri sangat beragam, dan dari banyak perspektif. Menurut Rogers dalam LAN
(2007:115) menjelaskan bahwa inovasi adalah sebuah ide, praktek, atau objek
yang dianggap baru oleh individu satu unit adopsi lainnya. Sedangkan menurut
Damanpour bahwa sebuah inovasi dapat berupa produk atau jasa yang baru,
tekonologi proses produk yang baru, sistem struktur dan administrasi baru atau
rencana baru bagi anggota organisasi.
Menurut Rogers dalam LAN (2007:116) mengatakan bahwa inovasi mempunyai
atribut sebagai berikut:

  1. Keuntungan Relatif
    Sebuah inovasi harus mempunyai keunggulan dan nilai lebih dibandingkan
    dengan inovasi sebelumnya. Selalu ada sebuah nilai kebaruan yang melekat dalam
    inovasi yang menjadi ciri yang membedakannya dengan yang lain.
  2. Kesesuaian
    Inovasi juga sebaiknya mempunyai sifat kompatibel atau kesesuain dengan
    inovasi yang digantinya. Hal ini dimaksudkan agar inovasi yang lama tidak serta
    merta dibuang begitu saja, selain karena alasan faktor biaya yang sedikit, namun
    juga inovasi yang lama menjadi bagian dari proses transisi ke inovasi terbaru.
    Selain itu juga dapat memudahkan proses adaptasi dan proses pembelajaran
    terhadap inovasi itu secara lebih cepat.
  3. Kerumitan
    Dengan sifatnya yang baru, maka inovasi mempunyai tingkat kerumitan yang
    boleh jadi lebih tinggi dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Namun
    demikian, karena sebuah inovasi menawarkan cara yang lebih baru dan lebih baik,
    maka tingkat kerumitan ini pada umumnya tidak menjadi masalah penting.
  4. Kemungkinan Dicoba
    Inovasi hanya bisa diterima apabila telah teruji dan terbukti mempunyai
    keuntungan atau nilai dibandingkan dengan inovasi yang lama. Sehingga sebuah
    produk inovasi harus melewati fase “uji publik”, dimana setiap orang atau pihak
    mempunyai kesempatan untuk menguji kualitas dari sebuah inovasi.
  5. Kemudahan diamati
    Sebuah inovasi harus juga dapat diamati, dari segi bagaimana sebuah inovasi
    bekerja dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
    Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli maka peneliti dapat menarik kesimpulan
    bahwa inovasi merupakan suatu penemuan baru yang berbeda dari yang
    sebelumnya berupa hasil pemikiran dan ide yang dapat dikembangkan juga
    diimplementasikan agar dirasakan manfaatnya.
    Inovasi erat kaitannya teknologi dan informasi, khususnya internet, memiliki
    peranan penting dalam meningkatkan transparansi. Richard Heeks dalam LAN
    (2007:98) mengelompokkan manfaat tekonologi informasi dan komunikasi dalam
    dua kelompok, yaitu:
  6. Manfaat pada Tingkat Proses
    a. Menghemat biaya: mengurangi biaya transaksi bagi masyarakat untuk akses ke
    informasi pemerintah dan mengirim informasi ke pemerintah, mengurangi biaya
    bagi pemerintah untuk menyediakan inoformasi.
    b. Menghemat waktu: mempercepat proses internal dan proses pertukaran data
    dengan instansi lain.
    c. Mengurangi keterbatasan: dimanapun, kapanpun informasi dan layanan
    pemerintah dapat diakses oleh masyarakat.
    d. Keputusan yang lebih baik: pimpinan dapat mengontrol kinerja stafnya,
    mengontrol kegiatan, ataupun mengontrol kebutuhan.
  7. Manfaat pada Tingkat Pengelolaan
    a. Merubah perilaku aparatur: mengurangi interes pribadi dan meningkatkan
    interes rasional atau nasional. Misalnya dalam mengurangi tindakan korupsi,
    mengurangi pemalsuan, kerja lebih efektif dan efisien dan perlakuan terhadap
    masyarakat yang lebih setara dalam pelayanan publik.
    b. Merubah perilaku masyarakat: partisipasi yang lebih besar terhadap proses
    pemerintahan dan memperluas kesempatan pemasok untuk ambil bagian dalam
    pelayanan pengadaan barang atau jasa.
    c. Pemberdayaan: meningkatkan keseimbangan kekuatan antar kelompok, melalui
    kemudahan, akses ke informasi kepemerintahan. Pemberdayaan aparatur lebih
    meningkat melalui akses ke informasi yang dibutuhkan mereka dalam
    menjalankan tugas dan fungsinya, pemberdayaan pemasok melalui akses ke
    informasi tentang pengadaan barang dan jasa dan pemberdayaan manajer melalui
    akses ke informasi mengenai stafnya dan sumberdaya lainnya.