Menurut aliran nativisme, faktor pembawaan dari dalam yang dapat berupa kecendrungan, bakat, dan akal sangat berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang. Jika seseorang sudah memiliki pembawaan atau kecendrungan kepada yang baik, maka dengan sendirinya orang tersebut menjadi baik. Di sisi lain, aliran empirisme meyakini bahwa faktor lingkungan sosial, termasuk pembinaan dan pendidikan yang diberikan, sangat mempengaruhi pembentukan diri seseorang. Pendekatan aliran konvergensi, yang menggabungkan aliran nativisme dan empirisme, berpendapat bahwa pembentukan akhlak dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu pembawaan si anak, dan faktor eksternal, yaitu pendidikan dan pembinaan yang dibuat secara khusus atau melalui interaksi lingkungan sosial.[1]
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi akhlak seseorang terbagi menjadi tiga, yaitu faktor dari dalam yang terdiri dari potensi fisik, intelektual, dan hati yang dibawa sejak lahir, dan faktor dari luar yang meliputi kedua orang tua di rumah, guru di sekolah, serta tokoh dan pemimpin di masyarakat. Faktor dari luar, seperti lingkungan sosial, pendidikan, dan pembinaan, dapat membentuk karakter dan membantu mengarahkan potensi dari dalam seseorang menjadi positif. Oleh karena itu, kedua faktor tersebut sama-sama penting dalam membentuk akhlak seseorang.
[1] Abuddin Nata, Akhlak Tasauf, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm 167
