Konsep Pemasaran (skripsi dan tesis)

Sebuah perusahaan dalam menjalankan bisnisnya harus efisien menjalankan konsep pemasarannya, agar keuntungan yang diharapkan dapat terwujud dengan baik. Ini pertanda bahwa kegiatan pemasaran dalam perusahaan harus dikoordinasi dan dikelola dengan cara yang lebih holistik. Falsafah konsep pemasaran bertujuan untuk memberikan kepuasan terhadap keinginan dan kebutuhan konsumen. Perusahaan melakukan kegiatan yang mendasar dengan konsep pemasaran yang harus diarahkan untuk memenuhi tujuan perusahaan. Konsep pemasaran adalah filosofi bisnis yang menyatakan bahwa pemuasan kebutuhan merupakan syarat ekonomis dan sosial bagi kelangsungan hidup perusahaan (Sofyan Assauri, 2009 : 32)

Hubungan Ekuitas Merek Terhadap Loyalitas Pelanggan (skripsi dan tesis)

Ekuitas merek merupakan salah satu komponen paling penting yang dievaluasi oleh konsumen. Sebab ekuitas merek menciptakan struktur pengetahuan merek yang tepat untuk konsumen. Dan juga bisa mengajukan beberapa kriteria dalam memilih atau merancang elemen-elemen merek supaya mudah diingat oleh konsumen, memiliki arti tertentu, mengandung daya tarik secara estetika, mudah diadaptasi dan fleksibel sepanjang waktu. Maka dalam proses tersebut dapat diperoleh nilai tambah dari kehidupan pelanggan yang sangat dipengaruhi oleh merek sehingga menjadi pelanggan yang loyal (loyalitas pelanggan). Hubungan ekuitas merek dengan proses loyalitas sangat berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan terhadap suatu produk. Dimana ekuitas suatu merek akan menjadi sebuah pertimbangan seorang konsumen apakah produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan serta mendapat manfaat produk. Maka ekuitas merek menjadi tolak ukur dalam menciptakan loyalitas pelanggan.

Faktor-faktor yang membentuk brand image (skripsi dan tesis)

Menurut (Shiffman dan kanuk, 1997) menyebutkan faktor-faktor pembentuk brand image adalah sebagai berikut: 1. Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk yang ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu. 2. Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan pendapat dan kesepakatan yang di bentuk oleh masyarakat tentang suatui produk yang dikonsumsi. 3. Kegunaan atau manfaat, yang terkait dengan fungsi dari suatu produk yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen. 4. Pelayanan, yang berkaitan dangan tugas produsen dalam melayani konsumennya. 5. Resiko berkaitan dengan untung rugi yang dialami oleh konsumen. 6. Harga, dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk mempengaruhi suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra jangka panjang. 7. Image, yang dimiliki merek itu sendiri, yaitu berupa pelanggan, kesempatan dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari produk tertentu. Sedangkan (Kertajaya,2007) menyebutkan bahwa brand image di benak konsumen dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: 1. Komunikasi dari sumber lain yang belum tentu sama dengan yang dilakukan pemasar. komunukasi bisa datang dari konsumen lain, pengecer dan pesaing. 2. Pengalaman konsumen melalui suatu eksperimen yang dilakukan konsumen dapat mengubah persepsi yang dimiliki sebelumnya. Oleh sebab itu, junlah berbagai persepsi yang timbul itulah yang akan membentuk total image of brand (citra keseluruhan sebuah merek). 3. Pengembangan produk: posisi brand terhadap produk memang cukup unik. disatu sisi, merupakan payung bagi produk, artinya dengan dibekali brand tersebut, produk dapat naik nilainya. Di sisi lain, performa ikut membentuk brand image yang memayunginya dan tentunya konsumen akan membangdingkan antara performa produk yang telah dirasakan dengan janji brand dalam slogan. Menurut Timmerman (dalam Noble, 1999) brand image sering terkonseptualisasi sebagai sebuah koleksi dari semua asosiasi yang berhubungan dengan sebuah merek. Citra merek terdiri dari: 1. Faktor fisik: karakteristik dari merek tersebut, seperti desain kemasan, logo, nama merek, fungsi dan kegunaan produk dari merek itu. 2. Faktor psikologis: di bentuk oleh emosi, kepercayaan, nilai, kepribadian yang dianggap oleh konsumen menggambarkan produk dari merek tersebut. Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa faktor-faktor pembentuk brand image yaitu faktor fisik (kemasan, logo, nama merek) dan faktor psikologis (kepercayaan, nilai, kepribadian ), kualitas atau mutu, dapat dipercaya, manfaat dan harga. Brand image sangat erat kaitananyya dengan apa yang orang pikirkan, rasakan terhadap suatu merek tertentu sehingga dalam citra merek faktor psikologis lebih banyak berperan dibandingkan faktor fisik dari merek tersebit.

Kualitas Pelayanan (skripsi dan tesis)

Kata kualitas mengandung banyak definisi dan makna karena orang yang berbeda mengartikannya secara berlainan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2018), mendefinisikan kualitas merupakan tingkat baik buruknya yang berhubungan dengan mutu atas dasar kepandaian, kecakapan, dan sebagainnya. Sedangkan definisi kualitas menurut Kotler (2013) adalah “kemampuan yang dapat mempengaruhi seluruh ciri dan sifat pelayanan serta produk untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan baik yang dinyatakan atau yang tersirat”. Definisi ini merujuk kepada customer. Suatu perusahaan dapat mencapai kualitas yang baik bila pelayanan yang diberikan dapat memenuhi atau melebihi harapan customer. Pelayanan menurut Sampara dalam Sinambela (2011), pelayanan adalah serangkaian urutan kegiatan atau kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antar seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik dan menyediakan kepuasan kepada pelanggan. Menurut Tjiptono (2011), kualitas pelayanan jasa adalah tingkat kelebihan serta keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas taraf keungulan tersebut untuk memenuhi keinginan konsumen. Sedangkan menurut Goeth dan Davis (dalam Tjiptono, 2012) menyatakan bahwa kualitas pelayanan jasa adalah tingkat layanan sebagai ukuran seberapa bagus layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Berdasarkan definisi di tersebut, maka ditarik kesimpulan, kualitas pelayanan adalah perilaku perusahaan yang dapat dengan baik memberikan pelayanan jasa terhadap pelanggannya sehingga customer merasa puas karena kebutuhannya terpenuhi, untuk mengetahui kualitas yang ditawarkan perusahaan itu baik, maka customer perlu menilai suatu jasa tersebut. Menurut Parasuraman dkk (2012) terdapat beberapa dimensi pengukuran untuk menilai kualitas pelayanan sebagai variabel independent yaitu: a. Reliability (kehandalan) Reliability atau kehandalan yang merupakan kemampuan untuk menerapkan pelayanan yang telah dijanjikan secara tepat, benar dan dapat dipercaya. Kemampuan dan kinerja harus sesuai dengan keinginan customer yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua customer tanpa kesalahan, dan sikap yang bersahabat dan mengerti kepada semua customer. b. Assurance (jaminan) Assurance atau jaminan adalah perilaku atau tingkah laku karyawan agar mampu menumbuhkan serta meningkatkan kepercayaan customer terhadap perusahaan dan perusahaan bisa menciptakan rasa aman bagi pelanggannya. Jaminan ini juga berarti bahwa pemberi layanan dengan bersikap sopan, menguasai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menangani dan menerima setiap pertanyaan atau masalah dari customer. c. Tangibles (bukti fisik) Tangibles adalah bukti fisik yang berwujud. Penampilan bentuk-bentuk fisik yang semua mencitrakan penampilan fisik atau image pelayanan oleh customer, kesiapan dan ketersediaan peralatan yang digunakan, personil, dan media komunikasi. Hal ini akan menjadi sangat penting khususnya bagi customer baru bagi penilaian pertama. d. Empathy (empati) Empathy atau perhatian berarti perusahaan mengetahui serta memahami masalah para pelanggannya, bertindak atas dasar kepentingan customer, memberikan perhatian kepada customer dan memiliki jam operasional yang nyaman bagi customer. Dimensi ini mengutamakan pada perhatian yang dilakukan oleh pemberi layanan terhadap pelanggannya (attentiveness). e. Responsiveness (ketanggapan) Responsiveness atau ketanggapan adalah keinginan dan kemauan karyawan untuk membanti pelanggan dan menyediakan pelayanan dengan segera serta menyampaikan informasi yang jelas. Dimensi ini mengutamakan pada kesigapan (promptness) yang berkaitan dengan permintaan, keinginan, pernyataan, keluhan, masalah pelangggan. Pemberi layanan harus dapat memutuskan kapan jasa akan diberikan dan melakukannya secara cepat.

Pengertian persepsi (skripsi dan tesis)

Walgito (2010) mengungkapkan bahwa persepsi merupakan proses akhir dari pengamatan yang diawali oleh proses penginderaan. Proses diterimanya stimulus oleh indera menimbulkan perhatian khusus lalu diteruskan ke otak dan setelah itu individu akan mengerti makna dari stimulus tersebut. Dengan persepsi, individu dapat menyadari tentang keadaan lingkungan disekitarnya maupun hal yang ada dalam diri individu tersebut. Maka dari itu persepsi sedikit banyak akan mempengaruhi bagaimana seseorang berperilaku. Respon sebagai akibat dari persepsi dapat dilakukan individu dalam berbagai macam bentuk perilaku. Stimulus yang akan mendapatkan respon tergantung pada perhatian individu tersebut. Kemampuan berfikir, perasaan dan pengalamanpengalaman yang dimiliki setiap individu tidaklah sama maka respon setiap individu pasti berbeda. Setiap orang mempunyai kecenderungan melihat benda yang sama dengan cara yang berbeda. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pengalaman, pengetahuan dan sudut pandangnya.

Teknik Pengawasan (skripsi dan tesis)

 

a. Pengawasan Langsung ialah apabila pimpinan pimpinan organisasi melakukan sendiri pengawasan terhadap kegiatan yang sedang dijalankan oleh para bawahannya. Pengawasan langsung ini dapat berbentuk inspeksi langsung, on-the-spot observation, dan on-thespot report. b. Pengawasan Tidak Langsung ialah pengawasan dari jarak jauh. Pengawasan ini dilakukan melalui laporan yang disampaikan oleh para bawahan. Laporan itu dapat berbentuk tertulis dan lisan. Kelemahan dari pengawasan tidak langsung ialah sering para bawahan hanya melaporkan hal-hal positif saja. Siagian (2008:115)

Pengaruh Pengetahuan produk terhadap Niat pembelian (skripsi dan tesis)

Penelitian yang diusung oleh Tariq et al (2013:342) dengan judul “Customer Perceptions about Branding and Purchase Intention: A Study of FMCG in an Emerging Market”, Pedersen & Nysveen dalam Tariq et al (2013:342) mempelajari pengetahuan produk dan efeknya pada niat pembelian konsumen atas dasar 874 tanggapan mereka mampu menentukan dan membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif langsung pengetahuan produk terhadap niat pembelian. Selain itu, Eze, Tan, Yeo dalam Tariq et al (2013:342) mempelajari pengetahuan produk untuk mengetahui pengaruhnya terhadap niat pembelian konsumen. Data yang terkumpul dari pemuda Cina (n = 204) penuaan antara 21-35 dan setelah analisis menemukan hubungan positif antara pengetahuan produk dan niat pembelian konsumen. Hal ini membantu kami dalam mengembangkan hipotesis kami terdapat hubungan signifikan positif antara pengetahuan produk terhadap niat pembelian.