Rasio manajemen aktiva (asset management ratio), mengukur
seberapa efektif perusahaan mengelola aktivanya. Rasio-rasio ini
dirancang untuk menjawab pertanyaan sebagi berikut: apakah jumlah total
dari tiap-tiap jenis aktiva seperti yang dilaporkan dalam neraca terlihat
wajar, terlalu tinggi, atau terlalu rendah jika dibandingkan dengan tingkat
penjualan yang diproyeksinya?. Rasio perputaran persedian dinyatakan
sebagai penjualan dibagi persediaan.
A. Mengevaluasi hutang (jumlah hari penjualan belum tertagih)
Jumlah hari penjualan belum tertagih (days sale outstanding),
digunakan untuk menilai hutang, dan dihitung dengan membagi hutang
dengan jumlah hari penjualan rata-rata untuk menemukan berapa hari
penjualan masih dicatat dalam hutang. Jadi DSO, mencerminkan ratarata
rentang waktu perusahaan harus menunggu untuk menerima kas
setelah melakukan penjualan.
B. Mengevaluasi aktiva tetap (rasio perputaran aktiva tetap)
Rasio perputaran aktiva tetap mengukur seberapa efektifkah
perusahaan mempergunakan pabrik dan peralatannya. Ini merupakan
rasio dai penjualan aktiva bersih
Analisis Rasio (skripsi dan tesis)
Kinerja Keuangan perusahaan merupakan salah satu dasar penilaian
kondisi suatu perusahaan, untuk itu dibutuhkan suatu peralatan tertentu, berupa alat analisis. Alat analisis yang dimaksud adalah rasio-rasio keuangan. Laporan keuangan akan melaporkan posisi perusahaan pada suatu titik tertentu maupun operasinya selama suatu periode di masa lalu. Akan tetapi, nilai sebenarnya dari laporan keuangan terletak pada kenyataan bahwa laporan tersebut dapat digunakan untuk membantu meramalkan keuntungan dan deviden di masa depan. Dari sudut pandang investor, meramalkan masa depan adalah hakikat dari analisis laporan keuangan sedangkan sudut pandang manajmen, analisis laporan keuangan akan bermanfaat baik untuk membantu mengantisipasi konsisi-kondisi di masa depan maupun yang lebih penting lagi, sebagai titik awal untuk melakukan perencanaan langkah-langkah akan meningkatkan kinerja perusahaan di masa mendatang.
Pertumbuhan Perusahaan (skripsi dan tesis)
Pertumbuhan dinyatakan sebagai pertumbuhan total aset diamana
pertumbuhan aset masa lalu akan menggambarkan profitabilitas yang akan datang dan pertumbuhan yang datang (Taswan, 2003). Growth adalah perubahan (penurunan atau peningkatan) total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan.
Pertumbuhan aset dihitung sebagai persentase perubahan aset pada saat tertentu terhadap tahun sebelumnya (Saidi, 2004). Berdasarkan difinisi di atas dapat dijelaskan Growth merupakan perubahan total aset baik berupa peningkatan maupun penurunan yang dialami oleh perusahaan selama satu periode (satu tahun).
Pertumbuhan aset menggambarkan pertumbuhan aktiva perusahaan yang
akan mempengaruhi profitabilitas perusahaan yang menyakini bahwa persentase perubahan total aktiva merupakan indikator yang lebih baik dalam mengukur growth perusahaan (Putrakrisnanda, 2009). Ukuran yang digunakan adalah dengan menghitung proporsi kenaikan atau penurunan aktiva.
Trade Off Theory (skripsi dan tesis)
Selain teori yang telah dikemukakan oleh MM masih terdapat teori struktur
modal yang lain yang membahas hubungan antara struktur modal dengan nilai
perusahaan. Model trade-off mengasumsikan bahwa struktur modal perusahaan merupakan hasil trade-off dari keuntungan pajak dengan menggunakan hutang dengan biaya yang akan timbul sebagai akibat penggunaan hutang tersebut. Esensi trade-off theory dalam struktur modal adalah menyeimbangkan manfaat dan pengorbanan yang timbul sebagai akibat penggunaan hutang. Sejauh manfaat lebih besar, tambahan hutang masih diperkenankan. Apabila pengorbanan karena penggunaan hutang sudah lebih besar, maka tambahan hutang sudah tidak diperbolehkan. Trade-off theory telah mempertimbangkan berbagai faktor seperti corporate tax, biaya kebangkrutan, dan personal tax, dalam menjelaskan mengapa suatu perusahaan memilih struktur modal tertentu (Husnan, 2000). Kesimpulannya adalah penggunaan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan tetapi hanya pada sampai titik tertentu. Setelah titik tersebut, penggunaan hutang
justru menurunkan nilai perusahaan. Walaupun model trade-off theory tidak dapat menentukan secara tepat struktur modal yang optimal, namun model tersebut memberikan kontribusi penting yaitu;
1) Perusahaan yang memiliki aktiva yang tinggi, sebaiknya menggunakan
sedikit hutang.
2) Perusahaan yang membayar pajak tinggi sebaiknya lebih banyak
menggunakan hutang dibandingkan perusahaan yang membayar pajak
rendah
Teori Persinyalan (skripsi dan tesis)
MM berasumsi bahwa investor memiliki informasi yang sama tentang
prospek sebuah perusahaan seperti para manajernya, hal ini disebut
informasi simetris (symmetric information). Namun kenyataanya, para
manajer seringkali memiliki informasi yang lebih daripada pihak luar. Hal
ini disebut informasi asimetris (asymmetric information), dan memiliki
pengaruh yang penting pada struktur modal yang optimal.
Teori Pertukaran (skripsi an tesis)
Fakta bahwa bunga adalah beban pengurangan pajak menjadikan hutang
lebih murah daripada saham biasa atau saham preferen. Akibatnya, secara
tidak langsung pemeritah akan membayarkan sebagian biaya dari modal
hutang, atau dengan cara lain, hutang memberikan manfaat perlindungan
pajak. Semakin banyak perusahaan menggunakan hutang, maka semakin
tinggi nilai dan harga sahamnya, menurut asumsi tulisan Moddigliani-
Miller dengan pajak, harga saham sebuah perusahaan akan mencapai nilai
maksimal jika perusahaan sepenuhnya menggunakan hutang 100 persen.
Dalam dunia nyata, perusahaan jarang menggunakan hutang 100 persen.
Alasan utama perusahaan membatasi penggunaan hutang adalah untuk
menjaga biaya-biaya yang berhubungan dengan kebangkrutan tetap
rendah
Struktur Modal (skripsi dan tesis)
Teori struktur modal modern dimulai pada tahun 1958, ketika Profesor
Franco Modigliani dan Merton Miller ( selanjutnya disebut MM) menerbitkan apa yang disebut sebagai salah satu artikel keuangan paling berpengaruh yang pernah ditulis. MM membuktikan, dengan sekumpulan asumsi yang sangat membatasi, bahwa nilai sebuah perusahaan tidak terpengaruh oleh struktur modalnya. Atau dengan kata lain, hasil yang diperoleh MM menunjukkan bahwa bagaimana cara sebuah perusahaan akan mendanai operasinya tidak akan berarti apa-apa, sehingga struktur modal adalah suatu hal yang tidak relevan. Akan tetapi, studi MM didasarkan pada beberapa asumsi yang tidak realistik, termasuk hal-hal berikut: 1) tidak ada biaya pialang, 2) tidak ada pajak, 3) tidak ada biaya kebangkrutan, 4) investor dapat meminjam pada tingkat yang sama dengan perusahaan, 5) semua investor memiliki informasi yang sama dengan menajemen tentang peluang-peluang investasi perusahaan dimasa depan, 6) EBIT tidak terpengaruh oleh penggunaan hutang.
Meskipun beberapa asumsi di atas jelas-jelas merupakan suatu hal yang
tidak realistis, hasil ketidakrelevanan MM memiliki arti yang sangat penting.
Dengan menunjukkan kondisi-kondisi di mana struktur modal tersebut tidak
relevan, MM juga telah memberikan petunjuk mengenai hal-hal apa yang
dibutuhkan agar membuat struktur modal menjadi relevan yang selanjutnya akan mempengaruhi nilai perusahaan. Hasil karya MM menandai awal penelitian struktur modal modern, dengan penelitian selanjutnya berfokus pada melonggarkan asumsi-asumsi MM guna mengembangkan sutau teori struktur modal yang lebih realistis.
PEnghitungan Nilai Perusahaan (skripsi dan tesis)
Beberapa variabel kuantitatif yang sering digunakan untuk memperkirakan nilai perusahaan sebagai berikut:
1) Nilai Buku
Nilai buku per lembar saham (BVS) digunakan untuk mengukur nilai
shareholders equity atas setiap saham, dan besarnya nilai BVS dihitung
dengan cara membagi total shareholders equity dengan jumlah saham
yang beredar. Adapun komponen dari shareholders equity yaitu agio
saham (paidup capital in excess of par value) dan laba ditahan (retained
earning).
2) Nilai Appraisal
Nilai appraisal suatu perusahaan dapat diperoleh dari perusahaan appraisal
independent. Teknik yang digunakan oleh perusahaan appraisal sangat
beragam, bagaimanapun nilai ini sering dihubungkan dengan biaya
penempatan. Metode analisis ini sering tidak mencukupi dengan
sendirinya karena nilai aktiva individual mempunyai hubungan yang kecil
dengan kemampuan perusahaan secara keseluruhan dalam kegunaan
dalam menghasilkan earnings dan kemudian nilai going concern dari
suatu perusahaan. Bagaimanapun nilai appraisal dari suatu perusahaan
akan bermanfaat sewaktu digunakan dalam penghubungan dengan metode
penilaian yang lain. Nilai appraisal juga akan berguna dalam situasi
tertentu seperti dalam perusahaan keuangan, perusahaan sumber daya alam
atau bagi suatu organisasi yang beroperasi dalam keadaan rugi. Kegunaan
dari nilai appraisal akan menghasilkan beberapa keuntungan. Nilai
perusahaan yang berdasarkan appraiser independent juga akan
menghasilkan pengurangan good-will dengan meningkatkan harga aktiva
perusahaan yang telah dikenal. Good-will dihasilkan sewaktu nilai
pembelian suatu perusahaan melebihi nilai buku dari aktivanya.
3) Nilai Pasar Saham
Nilai pasar saham sebagaimana dinyatakan dalam kuotasi pasar modal
adalah pendekatan lain untuk memperkirakan nilai bersih dari suatu bisnis.
Apabila saham didaftarkan dalam bursa sekuritas utama dan secara luas
diperdagangkan, sebuah nilai pendekatan dapat dibangun berdasarkan nilai
pasar. Pendekatan nilai pasar adalah salah satu yang paling sering
dipergunakan dalam menilai perusahaan besar. Bagaimanapun nilai ini
dapat berubah secara cepat. Faktor analisis berkompetisi dengan pengaruh
spekulatif murni dan berhubungan dengan sentimen masyarakat dan
keputusan pribadi.
4) Nilai “Chop-Shop”
Pendekatan “Chop-Shop” untuk valuasi pertama kali diperkenalkan oleh
Dean Lebaron dan Lawrence Speidell of Batterymarch Financial
Management. Secara khusus, ia menekankan untuk mengidentifikasi
perusahaan multi industry yang dibawah nilai akan bernilai lebih apabila
dipisahkan menjadi bagian-bagian. Pendekatan ini
mengkonseptualisasikan praktik penekanan untuk membeli aktiva di
bawah harga penempatan mereka.
5) Nilai Arus Kas
Pendekatan arus kas untuk penilaian dimaksudkan agar dapat
mengestimasi arus kas bersih yang tersedia untuk perusahaan yang
menawarkan sebagai hasil merger atau akuisisi. Nilai sekarang dari arus
kas ini kemudian akan ditentukan dan akan menjadi jumlah maksimum
yang harus dibayar oleh perusahaan yang ditargetkan. Pembayaran awal
kemudian dapat dikurangi untuk menghitung nilai bersih sekarang dari
merger. Terdapat tiga jenis penilaian yang berhubungan dengan saham,
yaitu nilai buku (book value), nilai pasar (market value) dan nilai intrinsik
(intrinsic value). Nilai buku merupakan nilai saham menurut pembukuan
emiten. Nilai pasar merupakan pembukuan nilai saham di pasar saham dan
nilai intrinsik merupakan nilai sebenarnya dari saham.
Nilai Perusahaan (skrispi dan tesis)
Perusahaan adalah suatu organisasi yang mengkombinasikan dan
mengorganisasikan berbagai sumber daya dengan tujuan untuk memproduksi
barang dan atau jasa untuk dijual (Salvatore, 2005). Perusahaan ada karena akan menjadi sangat tidak efisien dan mahal bagi pengusaha untuk masuk dan
membuat kontrak dengan pekerja dan para pemilik modal, tanah dan sumber daya lain untuk setiap tahap produksi dan distribusi yang terpisah. Sebaliknya,
pengusaha biasanya masuk dalam kontrak yang besar dan berjangka panjang
dengan tenaga kerja untuk mengerjakan berbagai tugas dengan upah tertentu dan berbagai tunjangan lain. Kontrak yang umum semacam itu jauh lebih murah ketimbang sejumlah kontrak spesifik dan sangat menguntungkan baik bagi pengusaha maupun pekerja dan pemilik sumber daya lain. Perusahaan ada karena untuk menghemat biaya transaksi semacam itu. Dengan menginternalisasi berbagai transaksi (yaitu dengan menjalankan berbagai fungsi dalam perusahaan), perusahaan juga menghemat pajak penjualan dan menghindari kontrol harga dan peraturan pemerintah yang berlaku hanya untuk transaksi antar perusahaan. Semula teori perusahaan didasarkan pada asumsi bahwa maksud atau tujuan perusahaan adalah memaksimumkan laba sekarang atau jangka pendek.
Akan tetapi, berdasarkan pengamatan perusahaan sering kali mengorbankan laba jangka pendek untuk meningkatkan laba masa depan atau jangka panjang. Karena baik keuntungan jangka pendek maupun jangka panjang sangat penting, teori perusahaan (theory of the firm) sekarang mempostulatkan bahwa maksud atau tujuan utama perusahaan adalah untuk memaksimumkan kekayaan atau nilai perusahaan (value of the firm). Hal ini dicerminkan dari nilai sekarang atas semua keuntungan perusahaan yang diharapkan di masa depan
Pengaruh Liquiditas Terhadap DER (skripsi dan tesis)
Kasmir, (2014: 130) memaparkan bahwa likuiditas digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membiayai dan memenuhi kewajiban (utang) pada saat ditagih. Semakin tinggi likuiditas perusahaan maka semakin tinggi struktur modal. Hal ini berarti, semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya yang menunjukkan perusahaan dalam keadaan sehat. Sehingga, akan mempermudah perusahaan dalam memperoleh kewajiban jangka panjang yang berasal dari pihak luar perusahaan (Seftianee:2011, 52).
Perusahaan yang memiliki likuiditas yang tinggi berarti perusahaan memiliki internal financing yang cukup digunakan untuk membayar kewajibannya sehingga struktur modal juga berkurang. Dengan itu, semakin tinggi likuiditas suatu perusahaan akan semakin besar kemampuan perusahaan tersebut untuk membayar kewajibannya
Namun, perusahaan yang sedang berkembang umumnya memerlukan dana yang besar. Apabila dana internal tidak mencukupi kebutuhan perusahaan, maka perusahaan memilih utang sebagai sumber pendanaan eksternalnya (Primantara dan Dewi, 2016: 2717).
Terkait dengan pengaruh liquiditas terhadap DER hasil penelitian dari Najjar dan Petrov (2011), Ticoalu (2013) serta Juliantika dan dewi (2016) menunjukkan bahwa liquiditas berpengaruh signifikan terhadap DER.
Pengaruh Risiko Bisnis Terhadap DER (skripsi dan tesis)
Suatu perusahaan mempunyai risiko bisnis yang kecil apabila permintaan akan produknya stabil, harga-harga masukan dan produknya relatif konstan. Namun, makin rendah risiko bisnis perusahaan, makin tinggi risiko utang yang optimal (Puspida dan Budianto, 2013: 13).
Disisi lain semakin kecil risiko bisnis maka semakin kecil struktur modal. Investor yang memiliki sifat risk seeker kurang tertarik dengan perusahaan yang memiliki risiko yang rendah. Karena, mereka beranggapan bahwa jika risiko tinggi maka return yang akan mereka dapatkan semakin tinggi (Seftianee, 2011: 52).
Bisinnes risk meningkat, maka struktur modal akan menurun. Perusahaan yang memiliki risiko tinggi akan memakai utang yang kecil karena utang dapat meningkatkan suatu risiko kebangkrutan perusahaan. Dalam pecking order theory, perusahaan dengan risiko bisnis tinggi cenderung sedikit menggunakan utang, untuk menghindari kebangkutan dari pemakaian utang. Sehingga perusahaan dituntut menggunakan retained earning agar tidak memiliki risiko kebangkrutan dari utang (Ticoalu, 2013: 16).
Apabila pendapatan tidak stabil, maka risiko bisnis perusahaan akan tinggi maka laba yang dihasilkan cenderung berfluktuasi dan perusahaan tidak akan mengurangi utang, menggunakan utang dalam memenuhi kebutuhan dananya. Sebagaimana, trade-off theory dimana perusahaan yang memiliki profitabilitas yang tinggi yang sekaligus akan memiliki risiko bisnis yang tinggi akan berusaha mengurangi pajaknya dengan cara meningkatkan rasio utangnya, sehingga tambahan utang tersebut akan mengurangi pajak (Sawitri dan Lestari, 2015: 1245-1246).
Pengaruh Struktur Aktiva Terhadap DER (skripsi dan tesis)
Pemilihan jenis aktiva oleh suatu perusahaan akan mempengaruhi struktur modal perusahaan. Dengan proporsi aktiva besar akan menyebabkan perusahaan mempunyai tingkat leverage yang lebih tinggi. Karena, aktiva yang besar merupakan jaminan yang baik bagi pemberi pinjaman. Sehingga, kepemilikan aktiva tersebut juga dapat menjaga nilai likuiditas perusahaan (Putri, 2012: 8).
Namun, disisi lain asset perusahaan yang banyak menunjukkan kekayaan perusahaan. Dengan adanya asset yang besar maka modal internal perusahaan tinggi. Hal ini, mengguntungkan perusahaan ketika dilikuidasi dengan adanya kekayaan internal yang melimpah maka akan dapat menutupi utang.
Aktiva yang digunakan suatu perusahaan dalam aktivitas operasinya hingga tingkat tertentu, menentukan sumber pendanaan. Aktiva jangka panjang dibiayai perusahaan dengan modal sendiri, namun dapat juga dibiayai dengan mengunakan modal utang. (Wild et.,all, 2004: 222).
Sehingga, struktur asset yang mengalami peningkatan akan mengakibatkan kenaikan pada utang (Finky et.all, 2013: 10). Dikarenakan, asset dapat digunakan sebagai jaminan utang. Sehingga, pemberi kredit akan merasa lebih aman apabila perusahaan tidak dapat melunasi utangnya, ia akan menyita assetnya.
Pengaruh Profitabilitas Terhadap DER (skripsi dan tesis)
Profitabilitas sebagai pengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan, dipengaruhi oleh besar kecilnya utang perusahaan. Apabila proporsi utang makin besar maka rasio ini juga akan semakin besar (Sartono, 2010: 124). Jadi profitabilitas akan mempengaruhi tingkat utang yang dimiliki perusahaan secara berbanding lurus.
Disisi lain, profitabilitas dalam perusahaan mempengaruhi struktur modal. Perusahaan dengan profitabilitas tinggi berarti memiliki sumber dana internal yang tinggi. Sehingga perusahaan dapat menggunakannya untuk penambahan modalnya (Damayanti, 2013: 30). Hal ini membuat perusahaan dapat mengurangi jumlah struktur modal yang berupa utang, karena menggunakan pendanaan internal terlebih dahulu.
Sebagaimana, pecking order theory perusahaan lebih memilih untuk menggunakan sumber dana dari dalam atau pendanaan internal daripada pendanaan eksternal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba ditahan yang
dihasilkan dari kegiatan operasional perusahaan (Primantara dan Dewi, 2016: 2718).
Ketika profitabilitas dalam keadaan baik, hal ini akan memberikan dampak positif terhadap keputusan investor dipasar modal untuk menanamkan modalnya dalam bentuk penyertaan modal yang akan berdampak juga pada keputusan kreditor dalam kaitannya dengan pendanaan melalui utang (Harmono, 2011:110). Sehingga, selain profitabilitas dapat memperbesar proporsi modal dapat pula memperbesar utang
Struktur Aktiva (skripsi dan tesis)
Pada penelitian ini variabel independen yang bukan termasuk rasio keuangan adalah struktur aktiva. Struktur aktiva merupakan komposisi aktiva perusahaan yang menunjukkan seberapa besar aset perusahaan dapat digunakan sebagai jaminan pinjaman (Brigham dan Huston, 2014: 188).
Struktur aktiva mempunyai pengaruh terhadap struktur modal yaitu perusahaan yang sebagian besar dari aktivanya terdiri atas aktiva lancar akan mengutamakan kebutuhan dananya dengan utang. Sedangkan, apabila struktur aktiva tetapnya tinggi maka penggunaan modal sendiri akan semakin tinggi yang berarti penggunaan modal asing atau struktur modalnya makin rendah (Prabansri dan Kesuma, 2005: 5).
Aktiva tetap menurut Rahardjo (2009: 21) merupakan aset yang berhubungan dengan hak milik, bangunan, dan peralatan perusahaan. Sebagaimana PSAK (Pernyataan Standar Akutansi Keuangan) No.16, Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak
dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
Likuiditas (skripsi dan tesis)
Brigham dan Huston (2011: 134) menyatakan bahwa rasio liquiditas merupakan rasio yang menunjukkan hubungan antara kas dan aset lancar perusahaan lainnya dengan kewajiban lancarnya. Sedangkan Sartono, (2014: 116) mnurutnya liquiditas perusahaan menunjukkan kemampuan untuk membayar kewajian finansial jangka pendek tepat pada waktunya. Liquiditas perusahaan ditunjukkan oleh besar kecilnya aktiva lancar yaitu aktiva yang mudah untuk diubah menjadi kas yang meliputi kas, surat berharga, piutang dan persediaan.
Rasio ini diukur dengan Curret Ratio (CR). Semakin tinggi Current Ratio menandakan bahwa semakin besar kemampuan perusahaan untuk
24
memenuhi kewajiban finansial jangka pendek. Aktiva lancar tersebut diantaranya yaitu kas, piutang, surat berharga den persediaan. Persediaan merupakan aktiva lancar yang kurang liquid dibandingkan dengan yang lain.
Current ratio adalah rasio yang digunakan atas solvensi jangka pendek, yang mencakup kemampuan suatu perusaaan memenuhi kebutuhan utang ketika jatuh tempo (Fahmi, 2014: 69). Menurut subramanyam dan Jhon J. Wild “alasan digunakannya rasio lancar secara luas sebagai ukuran liquiditas mencakup kemampuan untuk mengukur :
1. Kemampuan memenuhi kewajiban lancar. Makin tinggi jumlah aset lancar terhadap kewajiban lancar, makin besar kewajiban lancar tersebut akan dibayar.
2. Penyangga kerugian. Rasio lancar menunjukkan tingkat keamanan yang tersedia untuk menutup penurunan nilai aset lancar non-kas pada saat aset tersebut dilepas atau dilikuidasi. Sehingga, makin besar aset makin kecil risiko yang ditanggung.
3. Cadangan dana lancar. Rasio lancar merupakan ukuran tingkat keamanan terhadap ketidak pastian arus kas perusahaan. seperti pemogokan dan kerugian luar biasa, dapat membahayakan arus kas secara sementara dan tidak terduga.
Analisis liquiditas jangka pendek sangat penting karena sebelum menilai solvabilitas jangka panjang, kemampuan keberhasilan keuangan perusahaan dilihat dari kemampuan keuangan jangka pendeknya. Sehingga, pinjaman dan obligasi mengharuskan dipertahankannya tingkat minimum modal
25
kerja karena kepentingannya liquiditas lancar untuk memastikan solvabilitas jangka panjang (Wild, et.,all, 2004: 221).
Rasio liquiditas jangka panjang akan memiliki risiko. Risiko ini mencerminkan ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Jika perusahaan tidak mampu memenuhi kebutuhan jangka panjangnya, perusahaan bisa dinyatakan bangkrut dan direorganisasi (Hanafi dan Halim, 2014: 207).
Risiko Bisnis (Business Risk) (skripsi dan tesis)
Menurut Yuliana, (2010: 107) risiko bisnis merupakan risiko yang timbul akibat menurunnya profitabilitas perusahaan emiten. Risiko bisnis/risiko usaha merupakan faktor penentu struktur modal yang paling penting, tingkat risiko inheren dalam operasi perusahaan jika tidak menggunakan utang. Risiko usaha, mengandung tingkat risiko aset perusahaan bila tidak menggunakan utang (Brigham dan Huston, 2011: 157).
Para manajer perlu mempertimbangkan perkembangan dalam inovasi keuangan untuk menilai risiko bawaan (inherent risk) pada struktur modal perusahaan. Suatu perusahaan dapat meningkatkan risiko (dan potensi pengembalian) pemegang saham dengan meningkatkan utang (Wild, et.,all. 2004: 236-237).
Risiko bisnis perusahaan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup perusahaan, kemampuan perusahaan untuk membayar utang, dan minat pemodal untuk menanamkan dana pada perusahaan dan mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memperoleh dana dalam menjalankan kegiatan operasionalnya (Fahmi, 2014: 449).
Risiko bisnis pada penelitian ini diproksi dengan financial laverage yaitu DOL (Degree of Operating Laverage). DOL merupakan presentase perubahan laba sebelum bunga dan pajak sebagai akibat presentase perubahan
penjualan (Sartono, 2010: 260). Sedangkan menurut Keown, et.,all. (2005: 116) kemampuan EBIT perusahaan dalam merespon fluktuasi penjualan.
Sartono, (2010: 120) menyatakan bahwa financial leverage menunjukkan proporsi atas penggunaan utang untuk membiayai investasinya. Perusahaan yang tidak mempunyai laverage berarti menggunakan modal sendiri 100 %. Penggunaan utang bagi perusahaan mengandung tiga dimensi:
a. Pemberi kredit akan menitik beratkan pada besarnya jaminan atas kredit yang diberikan.
b. Dengan menggunakan utang maka apabila perusahaan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari beban tetapnya, maka pemilik perusahaan keuntungannnya akan meningkat.
c. Dengan menggunakan utang maka pemilik memperoleh dana dan tidak kehilangan pengendalian perusahaan.
Profitabilitas (skripsi dan tesis)
Menurut Kasmir (2014: 196) Rasio profitabilitas adalah rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan yang memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan yaitu laba yang dihasilkan dari penjualan dan investasi. Sedangkan (Sartono, 2010: 122) menyatakan bahwa profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan memperoleh laba dari penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Dengan demikian investor jangka panjang akan memperhatikan analisis profitabilitas, misalnya bagi pemegang saham akan melihat keuntungan yang akan diterimanya dalam bentuk deviden.
Tujuan dan manfaat rasio profitabilitas menurut Kasmir (2014: 197-198). Tujuan penggunaan rasio profitabilitas bagi perusahaan maupun pihak luar perusahaan, diantaranya adalah:
a. Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu
b. Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.
c. Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu.
d. Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.
e. Untuk mengukur produktivitas seluruh dana yang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri.
f. Untuk mengukur produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal sendiri.
Manfaat yang diperoleh dari penggunaan rasio profitabiltas adalah untuk:
a. Mengetahui besarnya tingkat laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode.
b. Mengetahui posisis laba tahun sebelumnya dan tahun sekarang.
c. Mengetahui perkembangan laba dari waktu ke waktu.
d. Mengetahui besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.
e. Mengetahui produktifitas dari seluruh dana prusahaan yang digunakan baik modal pnjaman maupun modal sendiri.
Rasio profitabilitas pada penelitian ini diukur dengan ROE. ROE (Return on Equity) merupakan rasio yang menunjukkan efisiensi dengan modal sendiri, yang mengukur laba setelah pajak dengan modal sendiri (Kasmir, 2014: 204). Sedangkan menurut (Sartono, 2010: 124) ROE merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaaan.
Fungsi dari ROE bagi perusahaan menurut (Hanafi dan Halim, 2014: 177) adalah untuk membayar bunga utang, saham preferen dan pemegang saham biasa (kalau ada sisa)
DER (Debt to Equity Ratio) (skripsi dan tesis)
Rasio utang atas modal adalah perbandingan antara jumlah seluruh utang (baik jangka pendek maupun jangka panjang) dengan jumlah modal sendiri perusahaan (Rahardjo, 2009:140). Menurut Kasmir (2014: 158) rasio DER berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang.
Lebih lanjut Kasmir (2014: 158) menyatakan bahwa bagi perusahaan semakin besar rasio DER akan semakin baik. Karena, rasio yang rendah akan membuat semakin tinggi tingkat pendanaan yang harus disediakan pemilik. Hal ini menunjukkan semakin besar batas pengaman bagi perusahaan jika terjadi kerugian atau penyusutan terhadap nilai aktiva. Namun, bagi bank hal ini tidak menguntungkan karena akan semakin besar risiko yang ditanggung atas kegagalan yang mungkin terjadi di perusahaan.
Menurut Rahardjo (2009: 43-44) DER menunjukkan berapa besar utang atau kewajiban perusahaan dibandingkan dengan modalnya. Rasio ini merupakan salah satu rasio pengukur solvabilitas (solvency) perusahaan , yaitu kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya. Perusahaan yang konservatif mempertahankan utang tidak boleh melebihi dari 1 (satu) kali modal yang dimiliki, dengan pertimbangan apabila perusahaan dilikuidasi maka seluruh kewajiban utangnya akan dapat dipenuhi dari modal.
Rasio utang menimbang porsi semua aktiva yang didanai dengan utang. Rasio utang jangka panjang tergadap total kapitalisasi menggambarkan sejauh mana penggunaan utang jangka panjang dipakai manajemen untuk mendanai perusahaan secara permanen (baik utang jangka panjang maupun ekuitas pemegang saham. Rasio utang terhadap ekuitas mengukur risiko struktur modal dalam hubungan antara yang dipasok oleh kreditor (utang) dan investor (ekuitas) (Fraser dan Ormiston, 2004: 233)
Rasio Struktur Modal (Capital Structure Ratio) (skripsi dan tesis0
Rasio struktur modal merupakan sarana lain analisis solvabilitas. Ukuran rasio struktur modal mengkaitkan komponen struktur modal satu sama lain atau dengan totalnya ( Wild et.all, 2004: 219). Struktur modal berkaitan dengan proses analitik.
Proses analitik meliputi evaluasi jumlah dan proporsi utang struktur modal perusahaan dan kemampuan untuk membayar utang. Utang berimplikasi pada risiko karena utang berhubungan dengan kepuasan dalam memenuhi kewajiban keuangan yang tetap (Fraser dan Ormiston, 2004: 246).
Analisis common-size dan rasio struktur modal, mengukur risiko struktur modal perusahaan. Semain tinggi proporsi utang, semakin besar beban bunga tetap dan pembayaran kembali utang, dan semakin besar kemungkinan gagal bayar pada periode penurunan laba atau masa sulit. (Wild, et.,all. 2004:
221-222).
Modal (Equity) (skripsi dan tesis)
Menurut Jusup (2011: 29) modal merupakan hak pemilik perusahaan atas kekayaan (aset) perusahaan. Fahmi (2014: 175) mengatakan bahwa modal terdiri dari preferen stock, commond stock dan retained earnings yang merupakan bagian dari common equity.
Selain utang komponen yang menyusun struktur modal adalah modal (Harmono, 2011: 137). Sebagaimana Nafarin (2007: 352) yang menyatakan bahwa modal sendiri merupakan selisih antara harta dengan utang.
Lebih lanjut menurut Nafarin (2007: 348-349) setiap perluasan modal sendiri akan memperbesar kemampuan perusahaan dalam menanggung risiko
yang dibelanjainya. Hal ini mengandung “prinsip keamanan” terhadap utang. Apabila modal sendiri kecil maka besarnya modal asing juga kecil yang menandakan bahwa struktur modal kecil. Sedangkan apabila modal sendiri besar maka modal asing juga dapat besar, tetapi tidak melebihi modal sendiri sehingga menunjukkan struktur modal yang besa
Utang (skripsi dan tesis)
Utang adalah kewajiban (liabilites) yang dimiliki perusahaan bersumber dari dana eksternal, baik yang bersumber dari perbankan, leasing, penjualan obligasi dan sejenisnya (Fahmi, 2014: 153). Anggaran utang adalah anggaran untuk memperoleh dan membayar utang. Utang kebalikan dari piutang merupakan kewajiban debitur (peminjam) untuk melaksanakan sesuatu kepada kreditur (pemberi pinjaman) selama jangka waktu tertentu (Nafarin, 2007: 342).
Secara umum liabilites (utang) menurut Rahardjo (2009: 26) terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. Current liabilities atau short-term liabilites atau current debt (utang jangka pendek/utang lancar) adalah utang yang berjangka waktu paling lama satu tahun seperti utang usaha, beban terutang, wesel bayar, kredit modal kerja dan lain-lain.
2. Non current liabilites atau long-term liabilities atau long-term debt atau non current debt (utang jangka panjang) adalah utang yang berjangka waktu lebih dari satu tahun seperti: utang obligasi, utang hipotek, kredit investasi dan lain-lain.
3. Kewajiban lain-lain atau utang lain-lain merupakan kewajiban yang tidak termasuk dalam utang jangka pendek maupun panjang. Seperti, pendapatan yang ditangguhkan, uang jaminan jangka panjang yang diterima dari pelanggan.
Anggaran utang berguna untuk kemajuan perusahaan. Utang dapat dikelola dengan baik caranya antara lain dengan membuat anggaran utang.
Anggaran utang tersebut dapat meningkatkan laba dan rentabilitas, pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan, dan alat pengawas dalam hal pembayarn utang (Nafarin M, 2007: 342)
Keputusan Pendanaan (skripsi dan tesis)
Keputusan pendanan berkaitan dengan keputusan mencari sumber dana yang paling menguntungkan. Semakin tinggi utang, semakin berkurang fleksibilitas perusahaan. Pemberi utang akan semakin berhati-hati, dan banyak mengenakan persyaratan atau pembatasan terhadap perusahaan. Keputusan pendanaan berupa bentuk dan jumlah investasi perusahaan bisa didapatkan dari pemegang saham maupun utang. Pilihan antara pendanaan utang dan ekuitas disebut sebagai struktur modal. Modal tersebut merupakan sumber pendanaan jangka panjang (Brealey, et.all., 2007: 6).
Struktur modal dapat didanai dengan utang, terutama utang jangka panjang guna mendukung kegiatan rill perusahaan secara jangka panjang serta meningkatkan leverage perusahaan. Keputusan pendanaan, digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumen ketika dibutuhkannya aktiva tetap seperti teknologi mesin untuk produksi. Kebijakan pendanaan perusahaan dipengaruhi oleh preferensi manajemen tentang sejauh mana penguasaan manajemen dalam menentukan struktur modal optimal (Harmono, 2011: 11-12).
Struktur Modal (skripsi dan tesis)
Sartono (2010: 225) menyatakan struktur modal merupakan perimbangan utang jangka pendek yang bersifat permanen, utang jangka panjang, saham preferen serta saham biasa. Struktur modal merupakan bagian dari struktur keuangan yang berupa perimbangan antara total utang dan modal sendiri. Sedangkan menurut Horne dan Wachowicz (2001: 16) struktur modal merupakan proporsi pendanaan permanen jangka panjang perusahaan yang diwakili oleh utang, saham preferen, dan ekuitas saham biasa.
Teori struktur modal berkaitan dengan bagaimana modal dialokasikan dalam aktivitas investasi, aktiva rill perusahaan, dengan cara menentukan struktur modal antara modal utang dan modal sendiri. Keputusan pendanaan oleh manajemen akan berpengaruh pada penilaian perusahaan yang terefleksi di harga saham. Oleh karena itu, salah satu tugas manajemen keuangan adalah menentukan kebijakan pendanaan yang dapat memaksimalkan harga saham merupakan cermin dari suatu nilai perusahaan dengan menentukan struktur modal optimal untuk menunjang kegiatan investasi perusahaan (Harmono, 2011: 137).
Struktur modal menurut (Fahmi, 2014: 176) dibagi menjadi dua: Pertama, simple capital structure yaitu jika perusahaan hanya menggunakan modal sendiri saja dalam struktur modalnya. Kedua, complex capital structure yaitu jika perusahaan tidak hanya menggunakan modal sendiri tetapi juga menggunakan modal pinjaman dalam struktur modalnya
Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)
Esensi pertumbuhan bagi suatu perusahaan yaitu dengan adanya kesempatan investasi yang dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan (Chung dan Charoenwong, 1991 dalam Prapaska, 2012). Apabila terdapat kesempatan investasi yang menguntungkan, maka sebaiknya manajer perusahaan mengambil kesempatan tersebut guna meningkatkan kemakmuran pemegang saham. Karena dengan semakin besar kesempatan investasi yang menguntungkan, maka akan semakin besar investasi yang dilakukan.
Investasi adalah kegiatan menempatkan dana atau uang dengan tujuan untuk memelihara atau meningkatkan nilai serta mengharapkan hasil atau return positif atas kegiatan tersebut. Keputusan investasi menyangkut tentang keputusan pengalokasian dana baik dana yang berasal dari dalam perusahaan maupun dana yang berasal dari luar perusahaan pada berbagai bentuk investasi baik investasi jangka pendek maupun investasi jangka panjang (Ningsih dan Iin, 2012).
Profitabilitas (skripsi dan tesis)
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pada periode tertentu. Menurut Brigham dan Houston (2011), menyatakan bahwa rasio profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukan gabungan efek-efek dari likuiditas, manajemen aktiva, dan hutang pada hasil-hasil operasi perusahaan. Sedangkan Yunita (2011) menyatakan bahwa profitabilitas merupakan tingkat keuntungan bersih yang mampu diraih oleh perusahaan pada saat menjalankan operasinya.
Dalam penelitian ini rasio profitabilitas menggunakan indikator return on asset (ROA). ROA merupakan salah satu indikator keuangan yang sering dipakai untuk menilai kinerja perusahaan karena mudah dihitung dan dipahami.
Ang (1997) menyatakan bahwa return on assets adalah tingkat keuntungan bersih yang berhasil diperoleh perusahaan dalam menjalankan operasionalnya. Return on assets diukur dari laba bersih setelah pajak (earnings after tax) terhadap total asset yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam penggunaan investasi yang digunakan untuk operasi perusahaan dalam rangka menghasilkan profitabilitas perusahaan.
Kebijakan Hutang (skripsi dan tesis)
Kebijakan hutang yaitu kebijakan perusahaan dalam menentukan seberapa besar kebutuhan pendanaan perusahaan dibiayai oleh hutang. Kebijakan hutang merupakan kebijakan pendanaan perusahaan yang sumbernya berasal dari eksternal perusahaan. Kebijakan hutang pada umumnya lebih banyak digunakan oleh perusahaan daripada menerbitkan saham baru karena dirasa lebih aman, sehingga dengan demikian semakin tinggi kebijakan hutang yang dilakukan pada tingkat tertentu maka semakin tinggi pula nilai perusahaan. Kebijakan hutang berkaitan erat dengan struktur modal karena hutang merupakan salah satu komposisi dalam struktur modal (Darmawan, 2012).
Kebijakan hutang merupakan keputusan yang sangat penting bagi setiap perusahaan karena kebijakan ini diambil oleh manajemen perusahaan dalam rangka memperoleh sumber pembiayaan bagi perusahaan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan (Rahmawati, 2012)
Kebijakan Dividen (skripsi dan tesis)
Kebijakan dividen merupakan salah satu return yang diperoleh oleh pemegang saham dalam kegiatan menanam modal di perusahaan selain capital gain. Kebijakan dividen mengenai keputusan apa yang akan diambil oleh perusahaan terhadap laba yang diperoleh perusahaan apakah akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi dimasa datang. Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba perusahaan sebagai dividen, maka akan mengurangi laba yang ditahan dan selanjutnya mengurangi total sumber dana intern atau internal financing. Sebaliknya apabila laba yang diperoleh perusahaan digunakan sebagai laba ditahan, maka kemampuan pembentukan dana intern perusahaan akan semakin besar (Ningsih dan Iin, 2012).
Apabila perusahaan meningkatkan pembayaran dividen, maka dapat diartikan oleh investor sebagai sinyal harapan manajemen tentang membaiknya kinerja perusahaan di masa yang akan datang sehingga kebijakan dividen memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan. Kebijakan dividen melibatkan dua pihak yang memiliki kepentingan berbeda, yaitu pemegang saham dan perusahaan itu sendiri.
Nilai Perusahaan (skripsi dan tesis)
Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap perusahaan dimana hal ini sering dikaitkan dengan harga saham perusahaan tersebut. Sujoko dan Soebiantoro (2007) menjelaskan bahwa nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Sedangkan menurut Husnan (2001), nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Nilai perusahaan didefinisikan sebagai persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan dalam mengelola sumber dayanya.
Nilai perusahaan dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting karena dengan nilai perusahaan yang tinggi maka akan diikuti dengan tingginya kemakmuran pemegang saham. Nilai perusahaan yang tinggi dapat meningkatkan kemakmuran bagi para pemegang saham, sehingga para pemegang saham akan menginvestasikan modalnya kepada perusahaan tersebut (Fenandar dan Surya, 2012). Semakin tinggi harga saham maka semakin tinggi nilai perusahaan, semakin tinggi nilai perusahaan maka akan semakin tinggi juga kemakmuran para pemilik saham
Teori Dividen Irelevan MM (Miller-Modigliani) (skripsi dantesis)
Menyatakan bahwa kebijakan dividen tidak berdampak pada harga saham maupun biaya modal suatu perusahaan, karena nilai perusahaan hanya ditentukan oleh profitabilitas dasar dan risiko usahanya. Dengan kata lain, nilai perusahaan hanya bergantung pada laba yang dihasilkan oleh asetnya, bukan pada bagaimana laba itu dipecah antara dividen dan laba ditahan. Karena rasio pembayaran dividen hanyalah rincian dan tidak mempengaruhi kesejahteraan pemegang saham. Investor beranggapan bahwa nilai perusahaan hanya dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aset-aset perusahaan atau kebijakan investasinya.
Theory Bird in The Hand (skripsi dan tesis)
Merupakan konsep mengenai kepedulian investor terhadap dividen yang dibagikan oleh perusahaan. Gordon dan Lintner (1962-1963) menjelaskan bahwa investor menghendaki pembayaran dividen yang tinggi karena beranggapan bahwa memperoleh dividen tinggi saat ini resikonya lebih kecil daripada memperoleh capital gain dimasa yang akan datang. Dalam theory bird in the hand ini, Gordon dan Lintner berpendapat bahwa kemungkinan capital gain yang diharapkan lebih besar risikonya daripada dividend yield yang sudah pasti sehingga investor akan meminta tingkat keuntungan yang lebih tinggi untuk setiap pengurangan dividend yield. Salah satu keuntungan bila menerapkan theory bird in the hand adalah dengan memberikan dividen yang tinggi, maka harga saham perusahaan juga akan semakin tinggi pula. Tetapi ada kekurangan dalam theory birn in the hand, yaitu investor diharuskan untuk membayar pajak yang besar akibat dari dividen yang tinggi
Teori Sinyal (Signalling Theory) (skripsi dan tesis)
Menurut Wolk, et al (2001) teori sinyal menjelaskan bahwa alasan perusahaan menyajikan informasi untuk pasar modal. Teori sinyal menunjukan adanya asimetri informasi antara manajemen perusahaan dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan informasi tersebut. Menurut Jama’an (2008) Signalling Theory menjelaskan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik.
Pengaruh Kebijakan Dividen terhadap Nilai Perusahaan (skripsi dan tesis)
Pada dasarnya, laba bersih perusahaan bisa dibagian kepada pemegang
saham sebagai dividen atau ditahan dalam bentuk laba ditahan untuk membiayai investasi perusahaan. Kebijakan dividen menyangkut keputusan tentang penggunaan laba yang menjadi hak pemegang saham.
Menurut Hatta (2002) dalam Wijaya dan Wibawa (2010), terdapat
sejumlah perdebatan mengenai bagaimana kebijakan deviden mempengaruhi nilai perusahaan. Pendapat pertama menyatakan bahwa kebijakan dividen tidak mempengaruhi nilai perusahaan, yang disebut dengan teori irrelevansi dividen. Pendapat kedua menyatakan bahwa dividen yang tinggi akan meningkatkan nilai perusahaan, yang disebut dengan Bird in The Hand Theory. Pendapat ketiga menyatakan bahwa semakin tinggi dividend payout ratio suatu perusahaan, maka nilai perusahaan tersebut akan semakin rendah. Penelitian Wijaya dan Wibawa (2010), dapat membuktikan bahwa kebijakan dividen mempengaruhi nilai perusahaan secara positif.
Pengaruh Keputusan Pendanaan terhadap nilai perusahaan (skripsi dan tesis)
Menurut Brigham dan Houston (2001) dalam Wijaya dan Wibawa (2010),
menyatakan bahwa peningkatan hutang diartikan oleh pihak luar tentang
kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban di masa yang akan datang atau adanya risiko bisnis yang rendah, hal tersebut akan direspon secara positif oleh pasar. Terdapat dua pandangan mengenai keputusan pendanaan. Pandangan pertama dikenal dengan pandangan tradisional yang menyatakan bahwa struktur modal mempengaruhi nilai perusahaan. Peningkatan pendanaan melalui utang merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi biaya keagenan. Hutang dapat mengendalikan manajer untuk mengurangi tindakan perquisites dan kinerja perusahaan menjadi lebih efisien sehingga penilaian investor terhadap perusahaan akan meningkat. (Arieska dan Gunawan, 2011) Penelitian Wijaya dan Wibawa (2010), Wahyudi dan Pawestri (2006) dan Hasnawati (2005) sama-sama menemukan bukti bahwa keputusan pendanaan mempengaruhi nilai perusahaan secara positif
Pengaruh Keputusan Investasi terhadap nilai perusahaan (skripsi dan tesis)
Menurut Gaver dan Gaver (1993) dalam Hidayat (2010), kesempatan
investasi merupakan nilai perusahaan yang besarnya tergantung pada
pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen di masa yang akan datang, dalam hal ini pada saat ini merupakan pilihan-pilihan investasi yang diharapkan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Pendapat ini sejalan dengan Smith dan Watts (1992) dalam Hidayat (2010) yang menyatakan bahwa set kesempatan investasi merupakan komponen nilai perusahaan yang merupakan hasil dari pilihan-pilihan untuk membuat investasi di masa yang datang. Menurut Kallapur dan Trombley (1999) dalam Hidayat (2010) bahwa kesempatan investasi perusahaan tidak dapat diobservasi untuk pihak-pihak di luar perusahaan sehingga diperlukan suatu proksi untuk melihatnya. Menurut Wahyudi dan Pawestri (2006), nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai pasar saham sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Nilai perusahaan semata-mata ditentukan oleh keputusan investasi.
Pernyataan sesuai hasil penelitian Fama dan French (1998), yang menemukan
bahwa investasi yang dihasilkan dari kebijakan dividend dan leverage memiliki
informasi yang positif tentang perusahaan di masa yang akan datang, selanjutnya berdampak positif terhadap nilai perusahaan. Sementara itu penelitian Wijaya dan Wibawa (2010) dapat memberikan konfirmasi empiris bahwa keputusan investasi berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hasil yang serupa dapat diketahui pada penelitian Hasnawati (2005) yang menemukan bukti empiris bahwa keputusan investasi berpengaruh positif
terhadap nilai perusahaan sebesar 12,25%, sedangkan sisanya sebesar 87,75% dipengaruhi oleh faktor lain seperti keputusan pendanaan, kebijakan dividen, faktor eksternal perusahaan seperti: tingkat inflasi, kurs mata uang, pertumbuhan ekonomi, politik, dan psikologi pasar. Sementara itu Wahyudi dan Pawestri (2006) menemukan bahwa keputusan investasi tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan
Kebijakan Dividen (skripsi dan tesis)
Dividen merupakan nilai pendapatan bersih perusahaan setelah pajak
dikurangi dengan laba ditahan (retained earning) yang ditahan sebagai cadangan bagi perusahaan. Dividen ini untuk dibagikan kepada para pemegang saham sebagai keuntungan dari laba perusahaan. Apabila perusahaan penerbit saham mampu menghasilkan laba yang besar maka ada kemungkinan pemegang sahamnya akan menikmati keuntungan dalam bentuk dividen yang besar pula. Dividen diartikan sebagai pembagian laba kepada para pemegang saham perusahaan sebanding dengan jumlah saham yang dipegang oleh masing-masing pemilik. Martono dan Harjito (2005:253) menyatakan bahwa kebijakan dividen merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan keputusan pendanaan perusahaan. Kebijakan dividen (dividend policy) merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang
saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna
pembiayaan investasi di masa yang akan datang. Rasio pembayaran dividen
(dividend payout ratio) menentukan jumlah laba dibagi dalam bentuk dividen kas dan laba yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Rasio ini menunjukkan
persentase laba perusahaan yang dibayarkan kepada pemegang saham biasa
perusahaan berupa dividen kas. Apabila laha perusahaaan yang ditahan dalam
jumlah besar, berari laba yang akan dibayarkan sebagai dividen menjadi lebih
kecil. Dengan demikian aspek penting dari kebijakan dividen adalah menentukan alokasi laba yang sesuai di antara pembayaran laba sebagai dividen dengan laba yang ditahan di perusahaan.
Kebijakan dividen merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh
perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi di masa datang. Kebijakan dividen menyangkut masalah penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham, dan laba tersebut bisa dibagi sebagai dividen atau laba yang ditahan untuk diinvestasikan kembali.
Sementara itu menurut Van Horn (1998:495), kebijakan dividen
merupakan bagian yang menyatu dengan keputusan pendanaan perusahaan. Rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) menentukan jumlah laba yang dapat ditahan sebagai sumber pendanaan. Semakin besar laba ditahan semakin sedikit jumlah laba yang dialokasikan untuk pembayaran dividen. Alokasi penentuan laba ditahan dan pembayaran dividen merupakan aspek utama dalam kebijakan dividen. Aspek-aspek tambahan yang lain adalah aspek hukum, likuiditas dan pengawasan saham yang diterbitkan, stabilitas dividen, dividen saham, pembelian kembali saham dan pertimbangan-pertimbangan adminitrasi.
Fama dan French (1998) dalam Wijaya dan Wibawa (2010) menemukan
bahwa investasi yang dihasilkan dari kebijakan dividen memiliki informasi yang
positif tentang perusahaan di masa yang akan datang, selanjutnya berdampak
positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini sesuai hasil penelitian Wijaya dan
Wibawa (2010) yang menunjukkan bahwa kebijakan dividen memberikan
pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Perusahaan akan membayar dividen yang besar kepada pemegang saham karena dapat meningkatkan nilai perusahaan. Teori ini didukung dengan penelitian pada perusahaan yang dinilai berdasarkan aliran kas yang akan diterima oleh pemegang saham. Menurut teori bird in the hand, pemegang saham lebih menyukai dividen tinggi dibandingkan dengan dividen yang akan dibagikan di masa yang akan datang dan capital gains (Bhattacharya, 1979 dalam Wijaya dan Wibawa,2010)
Keputusan Pendanaan (skripsi dan tesis)
Keputusan pendanaan dapat diartikan sebagai keputusan yang menyangkut struktur keuangan (financial structure). Struktur keuangan perusahaan merupakan komposisi dari keputusan pendanaan yang meliputi hutang
jangka pendek, hutang jangka panjang dan modal sendiri. Struktur keuangan
perusahaan sering kali berubah akibat investasi yang akan dilakukan perusahaan. Oleh karena itu besar kecilnya investasi yang akan dilakukan perusahaan akan berpengaruh pada komposisi (struktur) pendanaan perusahaan. Setiap perusahaan akan mengharapkan adanya struktur modal yang dapat memaksimalkan nilai perusahaan dan meminimalkan biaya modal. (Purnamasari, 2009)
Menurut Darminto (2008) keputusan pendanaan (financing decision)
menyangkut komposisi pendanaan berupa ekuitas pemilik (owner’s fund),
kewajiban jangka panjang (long term loans) dan kewajiban jangka pendek atau
kewajiban lanear (current liabilities). Sumber modal dapat berasal dari pinjaman jangka panjang, menambah modal sendiri yang berasal laba ditahan maupun dengan emisi saham. Penggunaan utang merupakan trade antara benefit and cost dalam menentukan bauran utang dengan ekuitas yang optimal dalam jangka panjang. Bauran yang optimal akan menyumbangkan antara benefit and cost sehingga akan meminimalkan biaya modal dan meningkatkan nilai perusahaan (Brigham, 1998).
Keputusan pendanaan dipengaruhi oleh faktor eksternal dan selanjutnya
mempengaruhi kinerja keuangan yang dicapai maupun dalam menentukan
kebijakan dividen. Keputusan pengelolaan aktiva (assets management decision) menyangkut operasi berbagai jenis aktiva yaitu komponen aktiva lancar dan semua jenis aktiva tetap secara efisiensi untuk memperoleh laba bcrsih secara maksimal. (Darminto,2008)
Mulyadi (2006:236) yang dikutip Pudjiati dan Widanar (2009), berpendapat bahwa keputusan pendanaan akan menyangkut penentuan kombinasi
berbagai sumber dana yang pada dasarnya akan dibagi menjadi dua:
a. Pendanaan ekstern yang akan mengarah pada pengambilan keputusan
mengenai struktur modal, yakni menentukan proporsi antara hutang jangka
panjang dan modal sendiri. Hal ini akan nampak pada debt to equity ratio
perusahaan tersebut.
b. Pendanaan intern yang diaplikasikan menurut penentuan kebijakan deviden
yang digambarkan melalui dividend payout ratio.
Struktur modal yang baik minimal memiliki proposional antara sumber
dana internal dan eksternal sehingga segala kewajiban dapat dilunasi. Kim (1982) dalam Imam dan Indra (2000) menyatakan bahwa tolak ukur struktur modal yang optimal ditunjukkan dengan leverage keuangan yang kecil, dengan leverage yang kecil perusahaan cenderung mengurangi risiko perusahaan (atau risiko tidak sistimatis). Keputusan pendanaan dalam penelitian ini dikonfirmasikan melalui Debt to Equity Ratio (DER), dimana rasio ini menunjukkan perbandingan antara pembiayaan dan pendanaan melalui hutang dengan pendanaan melalui ekuitas. keputusan pendanaan yang menggunakan pendanaan melalui ekuitas lebih banyak daripada pendanaan melalui hutang karena dengan menggunakan pendanaan melalui ekuitas lebih banyak dapat meningkatkan nilai perusahaan. (Wijaya dan Wibawa, 2010)
Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)
Keputusan investasi merupakan faktor penting dalam fungsi keuangan
perusahaan. Fama (1978) dalam Hidayat (2010) menyatakan bahwa nilai
perusahaan semata-mata ditentukan oleh keputusan investasi. Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa keputusan investasi itu penting, karena untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu memaksimumkan kemakmuran pemegang saham hanya akan dihasilkan melalui kegiatan investasi perusahaan.
Keputusan investasi meliputi investasi pada aktiva jangka pendek (aktiva
lancar) dan aktiva jangka panjang (aktiva tetap). Aktiva jangka pendek biasanya didefinisikan sebagai aktiva dengan jangka waktu kurang dari satu tahun atau kurang dari satu siklus bisnis, dalam hal ini dana yang diinvestasikan pada aktiva jangka pendek diharapkan akan diterima kembali dalam waktu dekat atau kurang dari satu tahun dan diterima sekaligus. Tujuan perusahaan berinvestasi pada aktiva jangka pendek adalah untuk digunakan sebagai modal kerja atau operasional perusahaan. Contoh aktiva jangka pendek adalah persediaan, piutang, dan kas. Sedangkan aktiva jangka panjang didefinisikan sebagai aktiva dengan jangka waktu lebih dari satu tahun, dalam hal ini dana yang ditanamkan pada aktiva jangka panjang akan diterima kembali dalam waktu lebih dari satu tahun dan kembalinya secara bertahap. Tujuan perusahaan berinvestasi pada aktiva jangka panjang adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan. (Hidayat,2010) Keputusan investasi tidak dapat diamati secara langsung oleh pihak luar. Beberapa studi yang dilakukan dalam hubungannya dengan keputusan investasi anatara lain Myers (1977) yang memperkenalkan Investment Opportunities Set (IOS). IOS memberi petunjuk yang lebih luas dimana nilai perusahaan tergantung pada pengeluaran perusahaan dimasa yang akan datang. Investment Opportunities Set (IOS) merupakan nilai perusahaan yang besarnya tergantung pada pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen dimasa yang akan datang, dimana pada saat ini merupakan pilihan-pilihan investasi yang diharapkan akan menghasilkan return yang besar. Menurut Gaver dan Gaver (1993) dalam Hasnawati (2005), IOS merupakan nilai perusahaan yang besarnya tergantung pada pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen di masa yang akan datang, di mana pada saat ini merupakan pilihan-pilihan investasi yang diharapkan akan mengahasilkan
return yang lebih besar. Dari pendapat ini sejalan dengan Smith dan watts (1992) dalam Hasnawati (2005), bahwa komponen nilai perusahaan merupakan hasil dari pilihan-pilihan untuk membuat investasi di masa yang akan datang merupakan IOS. Dari definisi di atas, terdapat dua pengertian mengenai IOS. Satu pendapat mengatakan bahwa IOS merupakan keputusan investasi yang dilakukan perusahaan untuk menghasilkan nilai. Di lain pihak IOS didefinisikan sebagainilai perusahaan yang nilainya di proksi melalui IOS. IOS tidak dapat diobservasi secara langsung (laten), sehingga dalam perhitungannya menggunakan proksi (Kallapur dan Trombley, 1999). Proksi IOS yang digunakan dalam penelitian ini adalah Price Earning Ratio (PER), dimana ratio ini menunjukkan perbandingan antara closing price dengan laba per lembar saham (earning per share).
Nilai Perusahaan (skripsi dan tesis)
Nilai perusahaan atau juga disebut dengan nilai pasar perusahaan
merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Fakta menunjukkan bahwa nilai kekayaan yang ditunjukkan pada neraca tidak memiliki hubungan dengan nilai pasar dari perusahaan. Hal ini disebabkan karena perusahaan memiliki kekayaan yang tidak bisa dilaporkan dalam neraca seperti manajemen yang baik, reputasi yang baik dan prospek yang cerah (Erlangga dan Suryandari, 2009).
Nilai perusahaan juga didefinisikan sebagai nilai pasar karena nilai
perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham secara maksimum apabila harga saham perusahaan meningkat (Hasnawati, 2005 dalam Wijaya dan Wibawa, 2010). Sehingga dari pengertian tersebut nilai perusahaan diukur dengan menggunakan harga saham. Nilai perusahaan menunjukkan nilai dari berbagai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan, termasuk surat berharga yang dikeluarkannya. Nilai perusahaan tercermin pada data akuntansi yang terdapat dalam laporan keuangan (Ohlson, 1995 dalam Darminto, 2010). Nilai perusahaan go public selain menunjukkan nilai seluruh aktiva, juga tercermin dari nilai pasar atau harga sahamnya, sehingga
semakin tinggi harga saham mencerminkan tingginya nilai perusahaan. Harga
saham juga dapat sebagai indikator keberhasilan manajemen dalam engelola
aktiva perusahaan, sedangkan nilai perusahaan publik ditentukan oleh pasar
saham (Walsh, 2003). Menurut Brigham & Ghapenski (1996) dalam Darminto
(2010), manajemen dalam mengelola aktiva secara efisien sebagai upaya
meningkatkan kinerja keuangan maupun nilai perusahaan. Salah satu tugas
mendasar dari manajer meningkatkan atau memaksimalkan nilai perusahaan
(value of the firm). Nilai perusahaan menunjukkan nilai berbagai aset yang
dimiliki perusahaan, termasuk surat-surat berharga yang telah dikeluarkannya.
Pengukuran Beban Kerja (skripsi dan tesis)
Menurut O’Donnell dan Eggemeier (dalam Muskamal 2010), pengukuran
beban kerja dapat dilakukan dalam tiga jenis, yaitu:
a. Pengukuran subjektif
Pengukuran subjektif adalah pengukuran yang didasarkan kepada penilaian
dan pelaporan oleh pekerja terhadap beban kerja yang dirasakannya dalam
menyelesaikan suatu tugas. Pengukuran jenis ini pada umumnya
menggunakan skala penilaian (rating scale).
b. Pengukuran kinerja
Pengukuran kinerja adalah pengukuran yang diperoleh melalui pengamatan
terhadap aspek-aspek perilaku/aktivitas yang ditampilkan oleh pekerja. Salah
satu jenis dalam pengukuran kinerja adalah pengukuran yang diukur
berdasarkan waktu. Pengukuran kinerja dengan menggunakan waktu
merupakan suatu metode untuk mengetahui waktu penyelesaian suatu
pekerjaan yang dikerjakan oleh pekerja yang memiliki kualifikasi tertentu, di
dalam suasana kerja yang telah ditentukan serta dikerjakan dengan suatu
tempo kerja tertentu.
c. Pengukuran fisiologis
Pengukuran fisiologis adalah pengukuran yang mengukur tingkat beban kerja
dengan mengetahui beberapa aspek dari respon fisiologis pekerja sewaktu
menyelesaikan suatu tugas/pekerjaan tertentu. Pengukuran yang dilakukan
biasanya pada refleks pupil, pergerakan mata, aktivitas otot dan responrespon tubuh lainnya
Pengertian Beban Kerja (skripsi dan tesis)
Menurut Dhania (2010:16) pengertian beban kerja adalah Kegiatan/tugas
yang harus diselesaikan dalam suatu perusahaan atau organisasi dan pemegang jabatan dalam perusahaan tersebut dalam jangka waktu tertentu.
Selanjutnya Menurut Permendagri (2008), Beban kerja adalah besaran
pekerjaan yang harus dipikul oleh suatu jabatan atau unit organisasi dan
merupakan hasil kali pada volume kerja dan norma waktu.
Sedangkan menurut Danang Sunyoto (2012:64), beban kerja adalah yang
terlalu banyak dapat menyebabkan ketegangan dalam diri seseorang sehingga menimbulkan stress. Hal ini bisa disebabkan oleh tingkat keahlian yang dituntut terlalu tinggi, kecepatan kerja mungkin terlalu tinggi, volume kerja mungkin terlalu banyak dan sebagainya.
Berdasarkan pengertian menurut para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa
beban kerja adalah tanggungan pekerjaan yang harus diselesaikan oleh karyawan dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan dengan jangka waktu yang telah ditentukan
Faktor-Faktor Pembentuk Komitmen (skripsi dan tesis)
1. Faktor Kesadaran
Kesadaran menunjukan suatu keadaan jiwa seseorang, yang
merupakan titik temu atau equlibirium dari berbagai pertimbangan
sehingga diperoleh suatu keyakinan, ketenangan, ketetapan hati, dan
kesinambungan dalam jiwa yang bersangkutan.
2. Faktor Aturan
Aturan adalah perangkat penting dalam segala tindakan dan perbuatan
seseorang. Peranan aturan sangat besar dalam hidup bermasyarakat,
sehingga dengan sendirinya aturan harus dibuat, dipatuhi, dan diawasi
yang pada akhirnya dapat tercapai sasaran manajemen sebagai pihak
yang berwenang, yang mengatur segala sesuatu yang ada di dalam
organisasi kerja tersebut.
3. Faktor Organisasi
Organisasi pelayanan, contohnya pelayanan pendidikan, pada
dasarnya tidak berbeda dengan organisasi pada umumnya. Hanya
terdapat sedikit perbedaan pada penerapannya, karena sasaran
pelayanan ditujukan secara khusus kepada manusia yang memiliki
watak dan kehendak yang multikompleks. Organisasi pelayanan yang
dimaksud disini adalah mengorganisir fungsi pelayanan yang baik
dalam bentuk struktur maupun mekanisme yang akan berperan dalam
mutu dan kelancaran pelayanan.
4. Faktor Pendapatan
Pendapatan ialah penerimaan seseorang sebagai imbalan atas
tenaga/pikiran yang telah dicurahkan untuk orang lain atau badan
organisasi, baik dalam bentuk uang, fasilitas dalam jangka waktu
tertentu. Pada dasarnya pendapatan harus dapat memenuhi kebutuhan
hidup baik untuk dirinya dan keluarga.
5. Faktor Kemampuan Keterampilan
Kemampuan berasal dari kata mampu yang memiliki arti dapat
melakukan tugas/pekerjaan sehingga menghasilkan barang atau jasa
sesuai dengan yang diharapkan. Kemampuan dapat diartikan sebagai
sifat/ keadaan yang ditunjukan oleh keadaan seseorang yang dapat
melaksanakan tugas atas dasar ketentuan-ketentuan yang ada.
Keterampilan adalah kemampuan melakukan pekerjaan dengan
menggunakan anggota badan dan peralatan yang tersedia.
6. Faktor Sarana Pelayanan
Sarana pelayanan adalah segala jenis perlengkapan kerja dan fasilitas
lain yang berfungsi sebagai alat utama/pembantu dalam pelaksanaan
pekerjaan, dan juga berfungsi sosial dalam rangka untuk memenuhi
kepentingan orang-orang yang sedang berhubungan dengan organisasi
kerja itu.
Menciptakan Komitmen Karyawan (skripsi dan tesis)
Menurut Martin dan Nicholss ( dalam Srimulyani, 2009:15-20), ada tiga pilar
besar dalam komitmen. Ketiga pilar itu meliputi:
1. Perasaan memiliki perusahaan (A sense of belonging to the organization)
Untuk mencapai rasa mmiliki tersebut maka salah satu pihak dalam
manajemen harus mampu membuat karyawan: a) mampu
mengidentifikasikan dirinya terhadap organisasi ; b) merasa yakin bahwa apa
yang dilakukannya adalah berharga bagi organisasi tersebut; c) merasa
nyaman dengan organisasi tersebut; d) merasa mendapat dukungan yang
penuh dari organisasi tersebut dalam bentuk misi yang jelas; nilai – nilai yang
ada; dan norma – norma yang berlaku.
2. Perasaan bergairah terhadap pekerjaan (A sense of excitement in the job)
Perasaan seperti ini bisa muncul dengan cara : a) mengenali faktor – faktor
motivasi instrinsik dalam mengatur desain pekerjaan; b) kualitas
kepemimpinan; c) kemauan manajer dan supervisor untuk mengenali bahwa
motivasi dan komitmen bisa meningkat bila ada perhatian terus-menerus.
3. Pentingnya rasa memiliki (ownership)
Rasa memiliki bisa muncul jika pegawai merasa bahwa benar-benar diterima
menjadi bagian atau kunci penting dari organisasi. Konsep penting dari
ownership akan meluas dalam bentuk partisipasi dalam membuat keputusankeputusan dalam mengubah praktik kerja
Ciri-ciri Komitmen Karyawan (skripsi dan tesis)
Goleman (dalam Kuswan 2015:116) menyatakan bahwa ciri-ciri seseorang
yang memiliki komitmen karyawan adalah:
a. Memiliki inisiatif untuk mengatasi masalah yang muncul, baik secara
langsung terhadap dirinya atau kelompok.
b. Bernuansa emosi, yaitu menjadikan sasaran individu dan sasarn organisasi
menjadi satu dan sama atau mersakan keterikatan yang kuat.
18
c. Bersedia melakukan pengorbanan yang diperlukan, misalnya menjadi
“patriot”
d. Memiliki visi strategis yang tidak mementingkan diri sendiri.
e. Bekerja secara sungguh-sungguh walaupun tanpa imbalan secara langsung
f. Merasa sebagai pemilik atau memandang diri sendiri sebagai pemilik
sehingga setiap tugas diselesaikan secepat dan sebaik-baiknya
g. Memiliki rumusan misi yang jelas untuk gambaran tahapan yang akan dicapai
h. Memiliki kesadaran diri dengan perasaan yang jernih bahwa pekerjaan
bukanlah suatu beban
Menumbuhkan Komitmen Karyawan (skripsi dan tesis)
Menurut Zainuddin (2002:19): Komitmen organisasi memiliki tiga aspek
utama yaitu identifikasi, keterlibatan dan loyalitas pegawai terhadap organisasi dan organisasinya.
1. Identifikasi
Identifikasi, yang mewujud dalam bentuk kepercayaan pegawai terhadap
organisasi, dapat dilakukan dengan memodifikasi tujuan organisasi, sehingga
mencakup beberapa tujuan pribadi para pegawai ataupun dengan kata lain
organisasi memasukkan pula kebutuhan dan keinginan pegawai dalam tujuan
organisasinya. Hal ini akan membuahkan suasana saling mendukung diantara
para pegawai dengan organisasi.
2. Keterlibatan
Keterlibatan atau partisipasi pegawai dalam aktivitas-aktivitas kerja penting
untuk diperhatikan karena adanya keterlibatan pegawai menyebabkan mereka akan mau dan senang bekerja sama baik dengan pimpinan ataupun dengan
sesama teman kerja. Salah satu cara yang dapat dipakai untuk memancing
keterlibatan pegawai adalah dengan memancing partisipasi mereka dalam
berbagai kesempatan pembuatan keputusan, yang dapat menumbuhkan
keyakinan pada pegawai bahwa apa yang telah diputuskan adalah merupakan
keputusan bersama.
3. Loyalitas
Loyalitas pegawai terhadap organisasi memiliki makna kesediaan seseorang
untuk melanggengkan hubungannya dengan organisasi, kalau perlu dengan
mengorbankan kepentingan pribadinya tanpa mengharapkan apapun
(Wignyo-soebroto, 1987). Kesediaan pegawai untuk mempertahankan diri
bekerja dalam organisasi adalah hal yang penting dalam menunjang
komitmen pegawai terhadap organisasi dimana mereka bekerja. Hal ini dapat
diupayakan bila pegawai merasakan adanya keamanan dan kepuasan di dalam
organisasi tempat ia bergabung untuk bekerja
Jobs Satisfaction (skripsi dan tesis)
Robbins (2008: 37) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai sikap umum individu terhadappekerjaannya. Definisi lain mengatakan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan positifatau negative individu terhadap pekerjaan mereka, sikap umum atau respon emosional terhadap pekerjaanya. (Schermerhorn, Hunt Osborn (2005). Dimensi kepuasan kerja yaitu meliputi pay, the work it self, promotionopportunities, supervision, cowokers dan work condition (Luthans, 2008:142), namunterdapat beberapa pakar yang menyatakan bahwa terdapat 5 dimensi utama kepuasan(Greenberg & Baron, 2003:151; Hunt & Osborn, 2005:143) yang terdiri dari pay, thework it self, promotion oppurtnities, supervision, dan Coworkers
Islamic Work Ethic (skripsi dan tesis)
Khan, K.et.al (2013:237 )Etika adalah prinsip-prinsip moral yang membedakan
benar dan salah. Telah lama para akademisi dan para sarjana melakukan penelitian dan pembahasan terkait dengan pemahaman mengapa manusia berprilaku tertentu dengan melakukan pembenaran atas apa yang mereka lakukan dengan alasan tertentu. Islam merupakan agama yang sempurna tidak hanya fokus dalam ritual peribadatan akan tetapi mengatur seluruh aktifitas yang dilakukan oleh manusia. Selc¸uk Uygur(2010:218) Islamic Work Ethic)merupakan etos kerja yang mengacu pada prinsip Al-Qur‟an dan Al-Hadits seperti: bekerja secara sungguh-sungguh (Hard Work), kejujuran dan keadilan dalam bekerja (berdagang), mendorong manusia kepada peningkatan keterampilan dan teknologi, dedikasi dalam bekerja adalah sebuah kebajikan,
kerja kreatif adalah sumber kebahagiaan dan prestasi, hidup tanpa bekerja tidak memiliki makna dan keterlibatan dalam kegiatan ekonomi adalah sebuah kewajiban
Work Life Balance (skripsi dan tesis)
Muhammad Imran Malik et.al (2010: 27 ) menagatakan bahwaWork life balance adalah tentang bagaima karyawan menyeimbangkan tuntutan kerja dengan tuntutan yang lain seperti, keluarga, hobi dan kehidupan masyarakat. Untuk pengukuran work life balance menggunakan dua indikator pengukuran yaitu work life conflict dan life work conflict yang di adopsi dari Netemeyer, et al., (1996) dalam Julie A.Waumsley,et al. (2010:3). Berdasarkan temuan dalam penelitian Muhammad Imran Malik (2010) bahwa turnover intention karyawan dapat dipengaruhi oleh work life balance.Micheal L. Shier,Dkk (2013).Kemampuan untuk menyeimbangkan tuntutan Pribadi dengan Pekerjaan secara siginifikan memprediksi kepuasan kerja dan Intention To Leave
Pengaruh Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasi terhadap Turnover Intention (skripsi dan tesis)
Menurut Mobley et al (1978) keinginan pindah kerja (intention
turnover) adalah kecenderungan atau niat karyawan untuk berhenti bekerja
dari pekerjaannya secara sukarela atau pindah dari satu tempat kerja ke
tempat kerja yang lain menurut pilihannya sendiri. Mowday et al (1982)
dalam Meyer Allen (1991) mendefinisikan komitmen organisasi secara
mendasar dibagi dalam komitmen sikap dan komitmen perilaku.
Komitmen sikap didefinisikan sebagai sebuah sikap yang ditujukan pada
proses dimana orang mulai berpikir hubungan mereka dengan sebuah
organisasi. Hal ini juga dapat diartikan sebagai pola pikir dari individual
yang merasakan secara dalam bagaimana mereka menilai diri dan tujuan
mereka apakah sejalan dengan kehendak dan tujuan organisasi atau tidak.
Sedangkan komitmen perilaku berhubungan dengan sebuah proses dimana
seseorang terkunci dalam sebuah organisasi karena kondisi tertentu dan
bagaimana mereka menyelesaikan masalah yang mereka hadapi
didalamnya.
Dalam penelitian sebelumnya menurut Sutanto dan Gunawan (2015)
menunjukkan adanya arah negatif dari variabel kepuasan kerja dan
komitmen organisasional terhadap turnover intention. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi kepuasan kerja maupun komitmen
organisasi akan berdampak baik terhadap perusahaan yaitu penurunan
turnover intention, namun sebaliknya jika kepuasan kerja dan komitmen
organisasi rendah maka akan berdampak negatif terhadap perusahaan yaitu
tingkat turnover intention yang tinggi.
Hal ini mengindikasikan bahwa kepuasan kerja dan komitmen
organisasiakan berdampak atau menimbulkan peningkatan keinginan
karyawan untuk meninggalkan perusahaan. Dengan adanya kepuasan kerja
dan komitmen organisasi yang tinggi, maka akan mengurangi turnover
intention. Sehingga, dengan adanya pemberian gaji yang adil dan sesuai
dengan beban kerja yang diterima karyawan juga sistem promosi jabatan
dan kenaikan jabatan yang tersistem dengan jelas serta adanya hasrat atau
keinginan karyawan untuk tetap bertahan di dalam perusahaan maka akan
mengurangi turnover intention karyawan di PT. Kajima Indonesia
Pengaruh Komitmen Organisasi terhadap Turnover Intention (skripsi dan tesis)
Penelitian Grant, et al (2001) menunjukkan bahwa semakin tinggi
kepuasan kerja dan komitmen organisasi diharapkan akan menurunkan
maksud dan tujuan karyawan untuk meninggalkan organisasi. Lebih lanjut,
karyawan yang tidak puas dengan aspek-aspek pekerjaannya dan tidak
memiliki komitmen terhadap organisasinya akan lebih mencari pekerjaan
di organisasi yang lain. Dengan demikian, Grant et al (2001) menemukan
pengaruh hubungan yang negatif antara komitmen organisasi dan turnover
intention.
Dalam penelitian Yaqin (2013) menunjukkan adanya pengaruh
komitmen organisasi terhadap turnover intention yang disebabkan oleh
banyaknya tawaran yang lebih menguntungkan dari perusahaan luar
sehingga menyebabkan tingkat turnover intention karyawan yang tinggi.
Begitu pula dengan Sutanto dan Gunawan (2015) mengenai turnover
intention diketahui bahwa karyawan yang memiliki komitmen organisasi
yang sangat tinggi akan berpengaruh signifikan terhadap turnover
intention. Dengan kata lain, komitmen organisasi berkaitan dengan
keinginan karyawan yang tinggi untuk berbagi dan berkorban bagi
organisasi. Karyawan yang memiliki komitmen organisasional yang tinggi
memberikan kontribusi besar kepada perusahaan karena mereka mau
bekerja semaksimal mungkin dan berperilaku baik dalam mencapai tujuan
perusahaan.
Dengan adanya teori-teori yang telah diungkapkan diatas menunjukkan
adanya keterkaitan antara komitmen organisasi dengan turnover intention.
Komitmen organisasi cenderung akan memberikan pengaruh positif
terhadap karyawan dalam berfikir sehingga komitmen organisasi akan
dapat mencegah karyawan pergi meninggalkan perusahaan untuk berada
dalam posisi yang aman
Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Turnover Intention (skripsi dan tesis)
Kepuasan pada dasarnya merupakan suatu hal yang bersifat pribadi,
karena kebutuhan dan keinginan akan kepuasan dari setiap individu
berbeda-beda. Karyawan yang mereka merasa dekat dengan organisasi
memandang organisasi sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan pribadi
mereka. Oleh karena itu mereka bersedia untuk mengerahkan segala upaya
untuk perusahaan, dan mereka akan mengembangkan kepuasan dari apa
yang sudah mereka lakukan.
Kepuasan kerja karyawan dapat dilakukan dengan pemberian gaji dan
upah dengan adil dan sesuai harapan karyawan. Ketika gaji dan upah yang
diterima karyawan dirasa sudah sesuai dengan apa yang mereka inginkan
maka dapat menurunkan keinginan karyawan untuk keluar dari
perusahaan. Kesesuaian pemberian gaji dan upah sangat penting agar
karyawan merasa sesuai dan puas dengan apa yang telah mereka lakukan
untuk perusahaan. Dapat diartikan dengan karyawan menerima gaji yang
tinggi maka semakin rendah tingkat karyawan yang keluar dari
perusahaan. Selain gaji ada promosi jabatan yang jelas akan
mempengaruhi kepuasan kerja karyawan, karyawan yang mendapatkan
kesempatan untuk maju diperusahaan akan dapat merasa dihargai dan
kerja kerasnya diperusahaan mendapatkan apresiasi yang sesuai harapan.
Dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja karyawan berpengaruh yang
negatif terhadap turnover intention
Dampak Komitmen Organisasi (skripsi dan tesis)
Menurut Luthans (2005: 219) menjelaskan bahwa
komitmen organisasi berpengaruh terhadap:
1) Kinerja yang tinggi
Komitmen organisasi berpengaruh terhadap kinerja yang
tinggi. Semakin tinggi komitmen karyawan terhadap organisasi
maka kinerja karyawan akan cenderung tinggi.
2) Turnover yang rendah
Komitmen organisasi berpengaruh terhadap turnover yang
rendah. Semakin tinggi komitmen karyawan terhadap
organisasi maka kecenderungan karyawan tersebut untuk
keluar akan cenderung rendah.
3) Absensi yang rendah
Komitmen organisasi berpengaruh terhadap absensi yang
rendah. Semakin tinggi komitmen karyawan terhadap
organisasi maka kecenderungan ketidakhadiran karyawan akan
cenderung rendah.
Indikator Komitmen Organisasi (skripsi dan tesis)
Untuk mengukur variabel komitmen organisasi, digunakan empat
indikator yang dikembangkan oleh Mowday et al (1982) yaitu:
1. Keinginan kuat sebagai anggota
Karyawan bangga bekerja di perusahaan dan menganggap
perusahaan sebagai tempat yang baik untuk bekerja.
2. Keinginan berusaha keras dalam bekerja
Adanya perasaan nyaman yang dirasakan karyawan membuat
karyawan termotivasi untuk selalu berprestasi lebih baik lagi.
3. Penerimaan nilai organisasi
Karyawan merasa bahwa nilai-nilai yang diterapkan dan berlaku
diperusahaan sesuai dengan nilai yang dianut oleh karyawan.
4. Penerimaan tujuan organisasi
Keinginan untuk tetap berada di perusahaan membuat karyawan
berusaha keras dalam melaksanakan tugas supaya tujuan
perusahaan tercapai
Definisi Komitmen Organisasi (skripsi dan tesis)
Dalam studi manajemen sumber daya manusia, komitmen
karyawan sebagai salah satu aspek yang mempengaruhi perilaku
manusia dalam organisasi. Visi, misi dan tujuan organisasi akan
tercapai jika adanya komitmen dari anggota organisasinya (Mowday et
al, 1983). Menurut Luthans (2006: 35) komitmen itu sendiri diartikan
secara umum sebagai sikap yang menunjukkan loyalitas karyawan dan
merupakan proses berkelanjutan bagaimana seorang anggota
organisasi mengekspresikan perhatian mereka kepada kesuksesan dan
kebaikan organisasinya. Mowday dalam Meyer dan Allen (1991)
mendefinisikan komitmen organisasi secara mendasar dibagi dalam
komitmen sikap dan komitmen perilaku. Komitmen sikap didefinisikan
sebagai sebuah sikap yang ditujukan pada proses dimana orang mulai
berpikir hubungan mereka dengan sebuah organisasi. Hal ini juga
dapat diartikan sebagai pola pikir dari individual yang merasakan
secara dalam bagaimana mereka menilai diri dan tujuan mereka,
apakah sejalan dengan kehendak dan tujuan organisasi atau tidak.
Sedangkan komitmen perilaku berhubungan dengan sebuah proses
dimana seseorang terkunci dalam sebuah organisasi karena kondisi
tertentu dan bagaimana mereka menyelesaikan masalah yang mereka
hadapi didalamnya.
Komitmen karyawan menurut Eaton et al (1992) merupakan
derajat seseorang mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari
organisasi dan keinginan melanjutkan partisipasi aktif di dalamnya.
Menurut Meyer dan Allen (1993) komitmen karyawan adalah sikap
kedekatan hubungan antara seorang karyawan atau individu terhadap
organisasi yang diwujudkan dengan loyalitas, dan keinginan untuk
tetap tinggal karena dilibatkannya karyawan dalam organisasi.
Sedangkan menurut Robbins (2008: 100) komitmen karyawan
didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana seorang karyawan
memihak organisasi tertentu serta tujuan-tujuan keinginannya untuk
memperrtahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut.
Robbin (2008: 101) mengajukan tiga dimensi komitmen dan di
refleksikan dalam tiga pokok utama yaitu:
1. Affective Commitment (komitmen afektif) yaitu perasaan
emosional untuk organisasi dan keyakinan dalam nilai-nilainya.
26
2. Continuance Commitment (komitmen berkelanjutan) adalah
nilai ekonomi yang dirasa dari bertahan dalam suatu organisasi
bila dibandingkan dengan meninggalkan organisasi tersebut.
Seorang karyawan mungkin berkomitmen kepada seorang
pemberi kerja karena dibayar tinggi dan merasa bahwa
pengunduran diri dari perusahaan akan menghancurkan
keluarganya.
3. Normative Commitment (komitmen normatif) yaitu kewajiban
untuk bertahan dalam organisasi untuk alasan-alasan moral atau
etis. Sebagai contoh, seorang karyawan yang memelopori
sebuah inisiatif baru mungkin bertahan dengan seorang
pemberi kerja karena ia merasa “meninggalkan seseorang
dalam keadaan yang sulit” bila ia pergi.
Dampak Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Kepuasan kerja karyawan memberikan sejumlah konsekuensi
ketika karyawan puas dengan pekerjaan mereka dan juga konsekuensi
ketika karyawan tidak puas dari pekerjaan mereka. Ketidakpuasan
kerja yang dialami oleh karyawan dapat ditunjukkan dalam beberapa
perilaku, Robbins dan Judge (2008: 112) menjelaskan beberapa
konsekuensi dari ketidakpuasan kerja dalam sebuah kerangka sebagai
berikut:
1. Keluar (exit), perilaku yang ditujukan untuk meninggalkan
organisasi, termasuk mencari posisi baru dan mengundurkan diri.
2. Aspirasi (voice), perilaku yang ditujukan dengan secara aktif dan
konstruktif berusaha memperbaiki kondisi, termasuk menyarankan
perbaikan, mendiskusikan masalah dengan atasan dan beberapa
bentuk aktivitas serikat kerja.
3. Kesetiaan (loyalty), secara pasif tetapi optimistis menunggu
membaiknya kondisi, termasuk membela organisasi dan
24
manajemennya untuk melakukan perbaikan atau hal-hal yang
seharusnya dilakukan.
4. Pengabdian (neglect), secara pasif membiarkan kondisi menjadi
lebih buruk, termasuk ketidakhadiran atau keterlambatan yang
terus-menerus, kurangnya usaha dan meningkatnya angka
kesalahan.
Indikator Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Kepuasan kerja berkaitan dengan prospek dengan pekerjaannya,
apakah memberikan harapan untuk berkembang atau tidak. Semakin
aspek-aspek harapan terpenuhi, maka semakin tinggi tingkat kepuasan
kerja. Kepuasan kerja menurut Luthans dalam Witasari (2009) diukur
dengan lima indikator yaitu:
1. Kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri
Dalam penelitian Judge dan Locke (1994) disebutkan bahwa
bila seorang karyawan dalam sebuah organisasi memiliki otonomi
yang tinggi, kebebasan menentukan tugas-tugas dan jadwal kerja
mereka sendiri, perubahan dalam variabel ini memberi pengaruh
yang secara besar pula terhadap kepuasan kerja. Robbins (2006)
menyatakan bahwa karyawan cenderung lebih menyukai
pekerjaan-pekerjaan yang memberi kesempatan untuk
menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka dan
menawarkan bermacam-macam tugas, kebebasan dan umpan balik
mengenai betapa baik mereka mengerjakan pekerjaannya sehingga
kesenangan dan kepuasan karyawan dapat tercipta.
2. Kepuasan terhadap Gaji (Pay)
Gaji merupakan sistem ganjaran moneter yang diterima individu
sebagai imbal jasa atas keterlibatannya dalam rangka pencapaian
tujuan dan kinerja organisasi. Gaji yang diterima dari bekerja
memberikan jawaban atas kebutuhan individu dan keluarga, inilah
yang menjadi alasan mengapa karyawan memiliki kinerja yang
tinggi terhadap pekerjaannya apabila masalah gaji (yang sesuai) ini
dapat dipenuhi oleh perusahaan. Dalam penelitian Judge dan Locke
(1994) menyatakan kepuasan kerja diperoleh dari tingkat imbalan
atau hasil yang diperoleh dari pekerjaan, dibandingkan dengan apa
yang diharapkan oleh karyawan. Semakin lebih banyak yang
diperoleh dari pekerjaan dibandingkan dengan yang diharapkan
maka semakin tinggi kepuasan kerja tersebut.
3. Kepuasan terhadap Supervisi
Gibson, et al (2005) menyatakan pemimpin yang dapat
menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat akan dapat
memuaskan bawahannya. Hal itu akan tercermin pada sikap
bawahannya yang cenderung patuh kepada atasannya dan akan
mempunyai semangat kerja yang tinggi.
4. Kepuasan terhadap hubungan dengan rekan kerja (Co-workers)
Hal ini merupakan faktor yang penting dalam menciptakan
kepuasan kerja karena bagaimanapun juga manusia merupakan
makhluk sosial yang pasti membutuhkan interaksi dengan individu
lain. Tidak mungkin seorang individu akan selalu mengandalkan
dirinya sendiri, karena setiap individu mempunyai batas
kemampuannya masing-masing. Dengan terciptanya hubungan
yang baik di antara rekan sekerja maka rasa nyaman dan aman
dalam bekerja akan tercipta di dalamnya sehingga kepuasan kerja
dapat terwujud. Robbins (2006) menyatakan bahwa bagi
kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi kebutuhan akan interaksi
sosial, oleh karena itu tidaklah mengejutkan apabila memiliki rekan
keja yang ramah dan mendukung akan mengantarkan kepada
kepuasan kerja yang meningkat.
5. Kepuasan terhadap kesempatan promosi (promotion opportunities)
Promosi memberikan individu status sosial yang lebih tinggi,
pertumbuhan pribadi, dan tanggung jawab yang lebih banyak. Oleh
karena itu individu yang mempersepsikan bahwa keputusan
promosi dibuat dalam cara yang adil, kemungkinan besar akan
mengalami kepuasan dari pekerjaan mereka (Robbins, 2006).
Dampak Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Tinggi rendahnya suatu kepuasan karyawan akan memberi dampak
bagi perusahaan atau pun karyawan itu sendiri. Menurut Robbins
(2008: 113) beberapa dampak yang disebabkan karena kepuasan kerja,
antara lain:
a) Kepuasan Kerja dan Kinerja
Kepuasan kerja dalam organisasi menghasilkan kinerja yang baik
karena dapat meningkatkan produktivitas karyawan. Jika kepuasan
dan kinerja digabungkan untuk sebuah perusahaan secara
keseluruhan, maka perusahaan yang banyak memiliki karyawan
yang puas cenderung lebih efektif daripada yang memiliki sedikit
karyawan yang tidak puas. Pekerja yang bahagia atau puas akan
pekerjaannya akan menjadi karyawan yang produktif.
b) Kapuasan Kerja dan Kepuasan Pelanggan
Kepuasan kerja karyawan dapat membuat kepuasan pelanggan
meningkat. Karena pelayanan sangat tergantung pada bagaimana
karyawan berurusan dengan pelanggan. Karyawan yang puas akan
lebih bersahabat, ramah, dan responsif dalam menghargai
konsumen.
c) Kepuasan Kerja dan OCB
Karyawan yang puas tampaknya cenderung berbicara secara positif
tentang organisasi, membantu individu lain, dan melewati harapan
normal dalam pekerjaan mereka. Selain itu, karyawan yang puas
mungkin lebih mudah berbuat lebih dalam pekerjaan karena
mereka ingin merespons pengalaman positif mereka.
d) Kepuasan Kerja dan Ketidakhadiran
Ketidakpuasan karyawan dalam bekerja dapat diungkapkan dalam
sejumlah cara, misalnya yaitu mengeluh, tidak disiplin, sering
membolos, menjadi tidak patuh, mencuri properti organisasi, atau
menghindari sebagian tanggungjawab kerja mereka.
e) Kepuasan Kerja dan Perputaran Karyawan
Dampak dari tingginya ketidakpuasan karyawan pada perusahaan
bisa dengan cara keluar atau meninggalkan perusahaan. Keluar dari
perusahaan besar kemungkinannya berhubungan dengan ketidak
puasan kerja.
Definisi Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Dalam dunia kerja, kepuasan kerja merupakan hal yang sangat
penting bagi setiap pekerja. Seorang pekerja yang merasa puas dalam
pekerjaannya akan membawa dampak yang positif dalam banyak hal,
salah satunya adalah menurunnya keinginan untuk meninggalkan
perusahaan. Robbins dan Judge (2008: 99) mendefinisikan kepuasan
kerja sebagai perasaan positif tentang pekerjaan sesorang yang
merupakan hasil dari evaluasi karakteristik-karakteristiknya. Kepuasan
kerja ditentukan oleh beberapa faktor yakni kerja yang secara mental
menantang, kondisi kerja yang mendukung, rekan kerja yang
mendukung, serta kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan.
Luthans dalam Witasari (2009) menyebutkan bahwa kepuasan
kerja merupakan keadaan emosi yang senang atau emosi positif yang
berasal dari penilaian kerja atau pengalaman seseorang. Lebih jauh
dikatakan bahwa kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang
terhadap pekerjaannya, yang dapat terlihat dari sikap positif pekerja
terhadap pekerjaannya dan segala sesuatu yang dihadapi pada
lingkungan kerja.
Kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual. Setiap
individu mempunyai tingkat kepuasan yang berbeda-beda, seperti yang
didefinisikan oleh Kreitner dan Kinicki (2003: 271), bahwa kepuasan
kerja suatu efektifvitas atau respons emosional terhadap berbagai
aspek pekerjaan. Definisi ini mengandung pengertian bahwa kepuasan
kerja bukanlah suatu konsep tunggal. Sebaliknya, seseorang dapat
relatif puas dengan suatu aspek dari pekerjaannya dan tidak puas
dengan salah satu atau lebih aspek lainnya
Dampak Turnover Intention (skripsi dan tesis)
Menurut Mobley et al (1978) tinggi rendahnya turnover
intention akan membawa beberapa dampak pada karyawan maupun
perusahaan, antara lain:
1) Beban kerja. Jika turnover intention karyawan tinggi, beban
kerja untuk karyawan bertambah karena jumlah karyawan
berkurang. Semakin tinggi keinginan karyawan untuk
meninggalkan perusahaan, maka semakin tinggi pula beban
kerja karyawan selama itu.
2) Biaya penarikan karyawan. Menyangkut waktu dan fasilitas
untuk wawancara dalam proses seleksi karyawan, penarikan
dan mempelajari penggantian karyawan yang mengundurkan
diri.
3) Biaya latihan. Menyangkut waktu pengawas, departemen
personalia dan karyawan yang dilatih. Pelatihan ini diberikan
untuk karyawan baru. Jika turnover intention tinggi dan
banyak karyawan yang keluar dari perusahaan, maka akan
mengakibatkan peningkatan pada biaya pelatihan karyawan.
4) Adanya produksi yang hilang selama masa pergantian
karyawan. Dalam hal ini, berkurangnya jumlah karyawan akan
mengurangi jumlah produksi atau pencapaian target penjualan.
Ini akibat dari tingginya turnover intention. Terlebih bila
karyawan yang keluar adalah karyawan yang memiliki tingkat
produktivitas yang tinggi.
5) Banyak pemborosan karena adanya karyawan baru. Imbas dari
tingginya turnover karyawan membuat perusahaan
mengeluarkan biaya- biaya yang sebenarnya bisa dihindari jika
dapat mengelola SDM dengan baik agar karyawan dapat
bertahan lama di perusahaan.
6) Memicu stres karyawan. Stres karyawan dapat terjadi karena
karyawan lama harus beradaptasi dengan karyawan baru.
Dampak yang paling buruk dari stres ini adalah memicu
karyawan yang tinggal untuk berkeinginan keluar dari
perusahaan
Faktor-faktor Turnover Intention (skripsi dan tesis)
Menurut Mobley, et al (1978) menyebutkan beberapa
faktor yang menjadi penyebab keinginan pindah kerja (Turnover
Intention) adalah sebagai berikut:
1) Karakteristik Individu
Organisasi adalah wadah yang memiliki tujuan yang
ditentukan secara bersama oleh orang-orang yang terlibat
didalamnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan
adanya interaksi yang berkesinambungan dari unsur-unsur
organisasi. Karakter individu yang mempengaruhi keinginan
pindah kerja antara lain seperti umur, pendidikan, status
perkawinan.
2) Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja dapat meliputi lingkungan fisik maupun
sosial. Lingkungan fisik meliputi keadaan suhu, cuaca, kontruksi,
bangunan, dan lokasi pekerjaan. Sedangkan lingkungan sosial
meliputi sosial budaya di lingkungan kerjanya, dan kualitas
kehidupan kerjanya.
3) Kepuasan Kerja
Pada tingkat individual, kepuasan merupakan variabel
psikologi yang paling sering diteliti dalam suatu model intention to
leave. Aspek kepuasan yang ditemukan berhubungan dengan
keinginan individu untuk meninggalkan organisasi meliputi
kepuasan akan gaji dan promosi, kepuasan atas supervisor yang
diterima, kepuasan dengan rekan kerja dan kepuasan akan
pekerjaan dan isi kerja.
4) Komitmen organisasi
Perkembangan selanjutnya dalam studi intention to leave
memasukkan konstruk komitmen organisasional sebagai konsep
yang turut menjelaskan proses tersebut sebagai bentuk perilaku,
komitmen organisasional dapat dibedakan dari kepuasan kerja.
Komitmen mengacu pada respon emosional (affective) individu
kepada keseluruhan organisasi, sedangkan kepuasan mengarah
pada respon emosional atas aspek khusus dari pekerjaan.
Definisi Turnover Intention (skripsi dan tesis)
Intensi adalah niat atau keinginan yang timbul pada individu untuk
melakukan sesuatu. Sementara turnover adalah berhentinya atau
penarikan diri seseorang karyawan dari tempat bekerja. Dengan
demikian, turnover intention (intensi keluar) adalah kecenderungan
atau niat karyawan untuk berhenti bekerja dari pekerjaannya (Zeffane,
1994).
Menurut Mobley et al (1978) keinginan pindah kerja (intention
turnover) adalah kecenderungan atau niat karyawan untuk berhenti
bekerja dari pekerjaannya secara sukarela atau pindah dari satu tempat
kerja ke tempat kerja yang lain menurut pilihannya sendiri. Mobley, et
al (1978) keinginan untuk pindah dapat dijadikan gejala awal
terjadinya turnover dalam sebuah perusahaan. Menurut Bluedorn
(2001) turnover intention adalah kecenderungan sikap atau tingkat
dimana seorang karyawan memiliki kemungkinan untuk meninggalkan
organisasi atau mengundurkan diri secara sukarela dari pekerjaanya.
Turnover mengarah pada kenyataan akhir yang dihadapi organisasi
berupa jumlah karyawan yang meninggalkan organisasi pada periode
tertentu, sedangkan turnover intention mengacu pada hasil evaluasi
individu mengenai kelanjutan hubungan dengan organisasi yang belum
diwujudkan dalam tindakan pasti meninggalkan organisasi. Turnover
dapat berupa pengunduran diri, perpindahan keluar unit organisasi,
pemberhentian atau kematian anggota organisasi
Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Kepuasan kerja hal yang mutlak diperhatikan, manajemen harus senantiasa memonitor kepuasan kerja, karena hal itu mempengaruhi tingkat absensi,
kinerja, semangat kerja, turnover dan masalahmasalah dalam dunia personalia lainnya. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap
pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya. Martoyo (2007:156) berpendapat bahwa kepuasaan kerja adalah “keadaan emosional karyawan dimana terjadi ataupun tidak terjadi titik temu antara nilai balas jasa yang memang diinginkan oleh karyawan yang bersangkutan”. Selain itu lebih lanjut Hasibuan (2011:202) mendefinisikan “kepuasan kerja sebagai sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya”.
Intention To Leave (skripsi dan tesis)
Intensi adalah niat atau keinginan yang timbul pada individu untuk melakukan sesuatu. Sementara leave adalah keluarnya atau penarikan diri sesorang
karyawan dari tempat bekerja. “intention to leave (keinginan untuk keluar) adalah kecenderungan atau niat karyawan untuk keluar bekerja dari
pekerjaannya” (Zeffane, 1994). Intention to Leave yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pertimbangan yang serius untuk meninggalkan
pekerjaan saat ini. Karyawan yang yang memiliki memiliki intention to leave tinggi akan diwujudkan dengan keluar dari pekerjaan.
Kompensasi (skripsi dan tesis)
Perusahaan atau organisasi harus memiliki timbal balik yang baik dengan karyawan. Karyawan memberikan pikiran dan tenaga agar tercapainya tujuan dari suatu perusahaan, maka dari itu perusahaan harus memberikan balas jasa
dengan memberikan kompensasi. Kompensasi menurut (Hasibuan, 2011:118) adalah “Semua pendapatan yang berbentuk uang, barang, langsung atau tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan balas jasa yang diberikan oleh perusahaan”. Sedangkan menurut Handoko (2001:155) “kompensasi merupakan segala sesuatu yang diterima karyawan sebagai balas jasa untuk
kerja mereka”. Menurut Bangun (2012:255) kompensasi terdiri dari kompensasi finansial dan kompensasi non finansial. Kompensasi finansial
adalah kompensasi yang dibayarkan perusahaan dalam bentuk uang, barang dan jasa. Kompensasi non finansial adalah bentuk kompensasi yang
diberikan kepada karyawan selain dalam bentuk uang, barang ataupun jasa
Pengaruh Komitmen Organisasional dan Intention to Leave (skripsi dan tesis)
Komitmen yang kuat terhadap organisasi akan menjadi bahan pertimbangan bagi karyawan untuk meninggalkan organisasi. Kebulatan suara terhadap tujuan akan membentuk keterikatan, kesetiaan, dan komitmen organisasi.
Kondisi ini selanjutnya akan mengurangi kecenderungan karyawan untuk keluar dari organisasi (Robbins, 2002:284). Perluasan komitmen organisasional yang logis khususnya fokus pada faktor-faktor komitmen yang kontinu, yang mengungkapkan bahwa keputusan untuk tinggal bersama atau meninggalkan perusahaan pada akhirnya tercermin dalam ketidakhadiran dan angka perputaran karyawan. Karyawan yang tidak puas dengan pekerjaan atau yang tidak berkomitmen terhadap orga-nisasi memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk meninggalkan organisasi, mungkin lewat ketidakhadiran atau perputaran secara permanen. (Mathis & Jackson 2006:122) Menurut Davis & Newstrom (1989:179-180) Komitmen organisasi Seperti gaya magnet yang kuat menarik satu benda logam yang lain,
itu adalah ukuran dari kesediaan karyawan untuk tetap bersama sebuah perusahaan di masa depan. Hal ini sering mencerminkan keyakinan
karyawan dalam misi dan tujuan perusahaan, kesediaan untuk mengeluarkan upaya prestasi mereka, dan niat untuk terus bekerja di sana
Pengaruh Kepuasan Kerja dan Intention to Leave (skripsi dan tesis)
Davis dan Newstrom (1989:181) mengemukakan bahwa karyawan yang lebih puas lebih kecil kemungkinannya untuk berpikir tentang berhenti, mencari pekerjaan baru, atau mengumumkan niat mereka untuk berhenti, dan
dengan demikian lebih mungkin untuk tinggal bersama perusahaan mereka lagi. Luthans (2006:247) mengatakan bahwa penelitian-penelitian mengungkapkan hubungan negatif antara kepuasan dan pergantian karyawan. Kepuasan kerja yang tinggi tidak akan membuat pergantian karyawan menjadi rendah, tetapi hal tersebut mungkin membantu. Sebaliknya, jika terdapat ketidakpuasan kerja, maka pergantian karyawan mungkin tinggi.
Kemudian Luthans (2006:247) melanjutkan bahwa pada dasarnya tepat untuk mengatakan bahwa kepuasan kerja merupakan hal penting dalam pergantian karyawan.
Menurut Robbins (2006:108) ketidakpuasan karyawan dapat diungkapkan dalam sejumlah cara. Tanggapan yang berbeda antara satu orang dan yang lainnya dibagi dalam dua dimensi yaitu: konstruktif/destruktif dan aktif/pasif. Tanggapan seseorang yang mengarah pada sikap yang konstruktif yaitu dengan berbagai upaya untuk memperbaiki kondisi seperti: mendiskusikan masalah dengan atasan atau menyarankan perbaikan, sedangkan tanggapan ketidakpuasan yang mengarah ke destruktif dinyatakan dengan cara keluar dari perusahaan
Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasional (skripsi dan tesis)
Meskipun kepuasan berkaitan dengan sikap karyawan terhadap pekerjaan, dan komitmen berkaitan dengan level organisasi, tetapi hubungan yang kuat antara kepuasan kerja dan komitmen organisasi telah diketahui selama
bertahun-tahun (Luthans, 2006:248). Hubungan antara kepuasan kerja dan komitmen organisasional juga ditunjukan oleh Stum dalam Sopiah (2008:164), menurut Stum salah satu faktor yang berpengaruh terhadap komitmen organisasional adalah kepuasan kerja. Berbagai studi penelitian menunjukan
bahwa orang-orang yang relatif puas dengan pekerjaannya akan lebih berkomitmen terhadap organisasi (Mathis & Jackson, 2006:122).
Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa kepuasan kerja yang tinggi dari karyawan sebuah perusahaan akan mendorong
karyawan untuk lebih berkomitmen terhadap organisasi di mana karyawan tersebut bekerja
Budaya Organisasi dan Intention to Leave (skripsi dan tesis)
Mathis dan Jackson (2006:128) mengungkapkan bahwa beberapa komponen organisasional mempengaruhi karyawan dalam memutuskan apakah akan terus bertahan di dalam perusahaan atau meninggalkan peru-sahaan,
salah satu komponen organisasional tersebut adalah budaya organisasi. Menurut Mathis dan Jackson (2006:128) ada banyak contoh yang
dapat diberikan mengenai karyawan teknis utama, profesional, dan administratif yang meninggalkan perusahaan karena budaya perusahaan yang tampaknya tidak menghargai orang dan menciptakan rinta-ngan terhadap penggunaan kapabilitas ind-vidual. Sebaliknya menciptakan budaya yang menghargai orang memungkinkan beberapa perusahaan untuk
menarik dan memelihara karyawan dengan baik. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa menurut Mathis dan Jackson
(2006:128) budaya merupakan hal yang penting dalam mempertahankan karyawan, hal senada juga dikemukakan oleh Luthans (2006:125-
126) bahwa ada analisis terbaru dari perusahaan fortune yang mene-mukan bahwa atribut yang paling berhubungan dengan mereka yang menduduki peringkat tiga teratas dalam industri adalah “menarik dan mempertahankan orangorang yang punya talenta mengagumkan”. Cara yang dilakukan perusahaan tersebut adalah menanggapi budaya dan nilai mereka secara
serius.
Pengaruh Budaya Organisasi dan Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Robbins (2002:36) mengemukakan beberapa faktor penting yang lebih banyak mendatangkan kepuasan kerja yang pertama adalah pekerjaan yang memberikan kesempatan untuk menggunakan keterampilan, dan umpan
balik tentang seberapa baik mereka bekerja, faktor berikutnya adalah bagaimana kondisi kerja karyawan, baik dari segi kenyamanan
pribadi maupun kemudahan untuk melakukan pekerjaan, hal-hal tersebut berkaitan erat dengan aturan dan standar-standar yang telah
ditentukan oleh perusahaan, sedangkan aturan dan standar tersebut terbentuk dari budaya organisasi di dalam perusahaan itu sendiri,
Bagaimana budaya bisa mempengaruhi kepuasan kerja. Karakteristik
dari budaya organisasi akan menentukan budaya organisasi yang kuat atau rendah, kekuatan budaya organisasi akhirnya akan menentukan tingkat kepuasan dan kinerja dari karyawan
Pengaruh Budaya Organisasidan Komitmen Organisasional (skrispi dan tesis)
Berdasarkan definisi dari Mathis dan Jackson (2006:122). Komitmen organisasional adalah tingkat sampai di mana karyawan yakin
dan menerima tujuan organisasi, serta berkeinginan untuk tetap tinggal di dalam organisasi tersebut. Tujuan organisasi sendiri merupakan perwujudan dari nilai-nilai yang digunakan dan diyakini oleh setiap anggota organisasi. sedangkan nilai-nilai organisasi merupakan budaya organisasi itu sendiri seperti yang dijelaskan Sopiah (2008:138) bahwa budaya perusahaan adalah sekumpulan nilai dan pola perilaku yang dipelajari, dimiliki bersama
oleh semua anggota organisasi dan diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Keterkaitan antara budaya organisasi dan komitmen organisasional juga dikemukakan oleh Robbins (2002:282) bahwa suatu budaya yang kuat akan memperlihatkan kesepakatan yang tinggi mengenai tujuan organisasi di
antara anggota-anggotanya. Kebulatan suara terhadap tujuan akan membentuk keterikatan, kesetiaan, dan komitmen organisasi. Dengan
kata lain, karyawan tidak pernah lepas dari nilai-nilai budaya sebagai pedoman mereka dalam bekerja dan bertingkah laku di dalam organisasi. Kecocokan nilai budaya menimbulkan suasana kondusif bagi pegawai dalam menjalankan aktivitas kerjanya. Budaya organisasi yang kondusif, akan menimbulkan
komitmen yang kuat dari pegawai terhadap organisasi.
Customer Satisfaction Index (CSI) (skripsi dan tesis)
Customer Satisfaction Index (CSI) digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan pengguna jasa secara menyeluruh dengan melihat tingkat kinerja dan tingkat kepentingan/harapan dari atribut-atribut jasa pelayanan.
Menurut Aritonang (2005), untuk mengetahui besarnya nilai CSI, maka
langkah-langkah yang dilakukan yaitu :
- Menentukan Mean Importance Score (MIS) atau rata-rata skor kepentingan. Nilai ini diperoleh dari rata-rata tingkat kepentingan/ harapan pengguna jasa.\
Menghitung Weight Faktor (WF) atau faktor tertimbang.
Bobot ini merupakan prosentase nilai MIS per indikator terhadap total MIS seluruh indikator.
Menghitung Weight Score (WS) atau Skor tertimbang. Bobot ini merupakan perkalian antara WF dengan rata-rata tingkat kinerja (Mean Performance Score = MPS)
- Menentukan Customer Satisfaction Index (CSI)
Bila nilai CSI > 50% maka dapat dikatakan bahwa pengguna jasa telah merasa puas, sebaliknya bila CSI < 50% maka pengguna jasa belum merasa puas. Nilai CSI dalam penelitian ini dibagi dalam lima kriteria dari tidak puas sampai dengan sangat puas
Pelayanan, Nilai dan Kepuasan Pelanggan (skripsi dan tesis)
Pelayanan adalah usaha melayani kebutuhan orang lain. Untuk instansi yang mempunyai standar pelayanan, maka pelayanan adalah melebihi standar yang ada atau sesuai dengan standar yang ada, sedangkan bagi instansi yang belum mempunyai standar pelayanan, maka pelayanan berarti pelayanan yang terbaik yang dapat diberikan, pelayanan yang mendekati apa yang dianggap pelayanan standard dan pelayanan yang dilakukan secara maksimal.
Menurut Kotler dalam Supranto (1993), di dalam memberikan jasa pelayanan yang baik kepada pelanggan, terdapat lima kriteria penentu kualitas jasa pelayanan, yaitu sebagai berikut :
a. Bukti fisik (tangibles), meliputi fasilitas fisik, peralatan, pegawai dan sarana
komunikasi.
b. Keandalan (reliability), yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan.
c. Daya tanggap (responsiveness), yaitu kesigapan para karyawan untuk
membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap
dan cepat.
d. Jaminan (assurance), mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimilki para karyawan, bebas dari bahaya, risiko atau keragu-raguan.
e. Empati (empathy), meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan komunikasi yang baik, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan para pelanggan.
Menurut Tjiptono (2006), dimensi nilai pelanggan adalah sebagai berikut:
a. Emotional value, yaitu utilias yang berasal dari perasaan atau efektif/emosi
positif yang ditimbulkan dari mengkonsumsi produk/jasa.
b. Social value, yaitu utilitas yang didapatkan dari kemampuan produk/jasa
untuk meningkatkan konsep diri sosial konsumen.
c. Quality/performance value, yakni utilitas yang didapatkan dari produk/jasa karena reduksi biaya jangka pendek dan biaya jangka panjang.
d. Price/value for money, yakni utilitas yang diperoleh dari persepsi terhadap kualitas dan kinerja yang diharapkan atas produk/jasa.
Menurut Kotler (2002), kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi/kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu produk/jasa dan harapan-harapannya.
Satisfaction = f (Performance–Expectation)
Persamaan ini menghasilkan tiga
kemungkinan, yaitu :
1. Performance < Expectation
Bila ini terjadi maka konsumen mengatakan bahwa pelayanan yang diberikan jelek, karena harapan konsumen tidak terpenuhi atau pelayanannya kurang baik, belum memuaskan konsumen.
2. Performance = Expectation
Bila ini terjadi, maka bagi konsumen tidak ada istimewanya, pelayanan yang diberikan biasa-biasa saja, karena belum memuaskan konsumen.
3. Performance > Expectation
Bila keadaan ini tercapai, maka konsumen merasakan bahwa pelayanan yang diberikan adalah baik dan menyenangkan
Manajemen Konstruksi (skripsi dan tesis)
Manajemen konstruksi (construction management) adalah bagaimana agar
sumber daya yang terlibat dalam proyek konstruksi dapat diaplikasikan oleh manajer proyek secara tepat. Sumber daya dalam proyek konstruksi dapat dikelompokkan menjadi manpower, material, machines, money, method.
Manajemen pengelolaan setiap proyek konstruksi sipil meliputi delapan fungsi dasar manajemen (Ervianto, 2002), yaitu: Penetapan tujuan (goal setting), Perencanaan (planning), Pengorganisasian (organizing), Pengisian staff (staffing), Pengarahan (directing), Pengawasan (supervising), Pengendalian (controling) dan Koordinasi (coordinating)
Pengertian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)
Sebagaimana kita ketahui dalam suatu perusahaan yang bergerak di bidang
konstruksi memiliki organisasi yang terstruktur secara utuh dan menyeluruh akan terdiri dari bagian-bagian yang saling berinteraksi baik secara fisik seperti halnya pimpinan, pelaksana pekerjaan, ahli, material / bahan, dana, informasi, pemasaran dan pasar itu sendiri. Mereka saling bahu-membahu
melaksanakan berbagai macam kegiatan yang dilakukan dalam suatu proses pekerjaan yang saling berhubungan karena adanya interaksi dan ketergantungan, segala aktivitas dalam sebuah perusahaan menunjukan adanya sistem didalam-nya. Dengan demikian disimpulkan, bahwa pengertian tentang sistem adalah suatu proses dari gabungan berbagai komponen /
unsur / bagian / elemen yang saling berhubungan, saling berinteraksi dan saling ketergantungan satu sama lain yang dipengaruhi oleh aspek lingkungan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai (Tarore dan Mandagi, 2006).
Manajemen merupakan suatu ilmu pengetahuan tentang seni memimpin
organisasi yang terdiri atas kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian terhadap sumber-sumbar daya yang terbatas dalam usaha mencapai tujuan dan sasaran yang efektif dan efisien
(Abrar Husein, 2008). Secara sistematis fungsi manajemen menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk itu perlu diterapkan fungsi-fungsi dalam manaje-men itu sendiri seperti perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan dan pengendalian (controlling).
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ditinjau dari segi keilmuan dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan dan penerapan mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Penerapan K3 dijabarkan ke dalam Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang disebut SMK3
(Soemaryanto, 2002). Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang disebut SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan,
prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan K3 dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif (Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum Nomor. 09 / PER / M / 2008) Menurut Peraturan Menteri No PER. 05 /
MEN /1996, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan prosedur, proses
dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan
kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
Manfaat penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) bagi perusahaan menurut Tarwaka (2008)
adalah:
1. Pihak manajemen dapat mengetahui kelemahan-kelemahan unsur sistem
operasional sebelum timbul gangguan operasional, kecelakaan, insiden dan
kerugian-kerugian lainnya.
2. Dapat diketahui gambaran secara jelas dan lengkap tentang kinerja K3 di perusahaan.
3. Dapat meningkatkan pemenuhan terhadap peraturan perundangan bidang K3.
4. Dapat meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kesadaran tentang K3,
khususnya bagi karyawan yang terlibat dalam pelaksanaan audit.
5. Dapat meningkatkan produktivitas kerja.
Peraturan dan prosedur keselamatan kerja (skripsi dan tesis)
Peraturan dan prosedur keselamatan kerja merupakan salah satu faktor yang dapat meminimalisasi kecelakaan yang diakibatkan adanya kondisi tidak
aman (Pipitsupaphol, 2003) karena dapat memberikan gambaran dan batasan yang jelas terhadap penerapan program keselamatan kerja pada proyek konstruksi. Mohamed (2002) mengungkapkan bahwa peraturan dan prosedur keselamatan kerja yang diterapkan oleh perusahaan hendaknya mudah dipahami dan tidak sulit untuk diterapkan pada proyek konstruksi, ada sangsi
yang tegas bila peraturan dan prosedur keselamatan kerja dilanggar, dan ada perbaikan secara berkala sesuai dengan kondisi proyek konstruksi.
Permasalahan yang sering muncul adalah perusahaan menerapkan peraturan dan prosedur yang tidak sesuai dengan keadaan proyek konstruksi, maupun sulit diterapkan pada pekerjaan, sehingga hal tersebut mendorong pekerja untuk melanggar peraturan dan prosedur keselamatan kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan
Komitmen top manajemen (skripsi dan tesis)
Menurut Reason (1997), program keselamatan kerja hendaklah dimulai dari awal, dalam hal ini dimulai dari tingkat teratas organisasi (top management)
perusahaan tersebut. Untuk memulai program keselamatan kerja, top management dapat merumuskan suatu kebijakan yang menunjukkan
komitmen terhadap masalah keselamatan kerja. Langkah awal ini selanjutnya akan menentukan pengambilan kebijakan berikutnya dalam hal
keselamatan kerja. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya (Cheyne et al., 1998; Mohamed 2002; Pipitsupaphol, 2003) menunjukkan bahwa faktor
komitmen merupakan salah satu faktor utama budaya keselamatan kerja, dimana tanpa dukungan dari pihak manajemen sangatlah sulit untuk mencapai
keberhasilan dalam menjalankan program keselamatan kerja
Budaya keselamatan kerja (skripsi dan tesis)
Budaya keselamatan kerja merupakan salah satu komponen penting dari budaya organisasi yang membahas keselamatan kerja individu, pekerjaan dan
hal-hal yang diutamakan oleh organisasi mengenai keselamatan kerja. Budaya keselamatan kerja menurut Uttal (1983) merupakan gabungan dari nilainilai dan kepercayaan-kepercayaan yang berinteraksi dengan struktur organisasi dan sistem pengendalian yang membentuk norma-norma perilaku (dikutip dari
Cooper, 2000). Sedangkan menurut Turner (1992), budaya keselamatan kerja merupakan kumpulan kepercayaan, norma, sikap, peraturan dan praktek-praktek sosial serta teknis yang ditujukan untuk mengurangi kondisi yang dapat membahayakan pekerja, manajer, pelanggan dan anggota masyarakat.
Perilaku pekerja terhadap keselamatan kerja (skripsi dan tesis)
Perilaku tidak aman pekerja dapat berupa kesalahan atau kelalaian yang dilakukan manusia. Reason (1990) membagi perilaku ini menjadi tiga tingkatan, yaitu: skill-based error, kesalahan yang berhubungan dengan keahlian dan kebiasaan pekerja; rule-based error, kesalahan dalam memenuhi standard dan prosedur yang berlaku; dan knowledge-based error,
kesalahan dalam mengambil keputusan karena kurangnya pengetahuan. Selain itu, Reason juga menambahkan violation atau pelanggaran sebagai
salah satu bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh pekerja.
Pada penelitian ini faktor perilaku pekerja terdiri dari delapan indikator, yaitu: (1) melaporkan kecelakaan yang terjadi, (2) mengingatkan pekerja lain tentang
bahaya dan keselamatan kerja, (3) menggunakan perlengkapan keselamatan kerja, (4) meletakkan material dan peralatan pada tempat yang ditentukan,
(5) mengikuti semua prosedur keselamatan kerja, (6) mengikuti semua instruksi dari atasan, (7) bergurau dengan rekan kerja waktu bekerja, (8) melakukan gerakan berbahaya seperti berlari, melempar, dan melompat.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (skripsi dan tesis)
Keselamatan kerja merupakan keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. Keselamatan kerja juga dapat diartikan sebagai suatu usaha atau kegiatan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, serta mencegah semua bentuk kecelakaan yang mungkin terjadi. Keselamatan kerja berlaku disegala tempat kerja, baik di darat, di laut, di permukaan air, di dalam air maupun di udara.Tempattempat kerja demikian tersebar pada kegiatan ekonomi, pertanian, industri pertambangan, perhubungan pekerjaan umum, jasa dan lain-lain. Salah satu aspek penting sasaran keselamatan kerja mengingat resiko bahayanya adalah penerapan teknologi, terutama teknologi canggih dan mutakhir. Hal ini akan memacu pekerja untuk meningkatkan motivasi dan produktivitas dari tenaga kerja. Lokasi proyek merupakan salah satu lingkungan kerja yang mengandung resiko cukup besar terjadi kecelakaan. Tim manajemen sebagai pihak yang bertanggung jawab selama proses pembangunan harus mendukung dan mengupayakan programprogram yang dapat menjamin agar dapat meminimalisir bahkan menghilangkan kecelakaan kerja. Hubungan antara pihak yang berkewajiban memperhatikan masalah keselamatan dan kesehatan kerja adalah kontraktor dengan pekerja. Kewajiban kontraktor dan rekan kerjanya adalah mengasuransikan pekerjanya selama masa pembangunan berlangsung. Pada rentang waktu pelaksanaan pembangunan, kontraktor sudah selayaknya tidak mengizinkan pekerjanya untuk beraktivitas, bila terjadi hal-hal berikut:
Profil Produktivitas (skripsi dan tesis)
Dalam hubungan produktivitas dikenal pola umum yang
menggambarkan profil kecenderungan naik turunnya
produktivitas tenaga kerja (direct labor) selama tahap
kontruksi. Penjelasan lebih lanjut adalah sebagai
berikut :
1. Mobilisasi :Pada tahap awal ini yang berlangsung10-15% dari masa konstruksi, produktivitas berkurang (±10%). Hal ini karena para pekerja memerlukan masa pengenalan dan peyesuaian pekerjaan. juga pada masa menanjak (build up) sering kali sulit mengikuti secara tepat kenaikan jumlah kegiatan dengan kenaikan jumlah pekerja yang diperlukan sehingga menimbulkan pengaturan yang kurang efisien.
2. Periode Puncak :Pada masa ini dicapai produktivitas optimal, jumlah tenaga kerja tidak bertambah dan telah terbiasa dengan pekerjaan maupun kondisi medan atau lapangan yang dihadapi.
3. Periode Menurun : Pada masa menjelang akhir
konstruksi, produtivitas cenderung menurun,
terutama disebabkan oleh :
Kurang tepatnya perencanaan. Misalnya masa kontrak kerja belum berakhir sadangkan pekerjaan sudah menipis, sehingga terjadi kelebihan tenaga kerja.
Sikap mental atau semangat yang mengendur, karena melihat pekerjaan mulai berkurang dan belum tentu tersedia lapangan kerja yang berikutnya.
Terlambatnya demobilisasi, sering dijumpai penyelia ingin menahan pekerja yang berlebihan dengan menunggu sampai hasil kerjanya meyakinkan
Tenaga Kerja Konstruksi (skripsi dan tesis)
Yang perlu ditinjau disini adalah produktivitas tenaga kerja : kualitas dan kuantitas kerja, efisiensi rencana kerja, jam kerja, kondisi lingkungannya dan lain-lain.
Berikut ini adalah fungsi dan tugas dari tenaga kerja berdasarkan keahliannya:
1. Mandor adalah orang yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu. Mandor membawahi langsung
pekerja-pakerja atau tukang-tukang.
2. Kepala tukang adalah orang yang mempunyai keahlian dalam bidang pertukangan untuk jenis pekerjaan tertentu dan memberi petunjuk-petunjuk
kepada para tukang yang berhubungan dengan jenis pekerjaan tersebut.
3. Tukang adalah orang yang langsung mengerjakan pekerjaan dilapangan dalam bidang tertentu sesuai petunjuk kapala tukang. Orang-orang ini biasanya memiliki sedikit keterampilan.
4. Pekerja (Buruh) adalah orang yang membantu tukang atau kepala tukang untuk semua jenis pekerjaan tanpa harus memiliki keahlian atas
pekerjaan tertentu.
Produtivitas tenaga kerja mencerminkan manfaat tenaga kerja, intensitasnya menunjukkan jumlah kerja.Adapun pengertian produktivitas menurut ILO “penelitian kerja dan produktivitas” adalah perbandingan antara jumlah yang dihasilkan dan jumlah tiap sumber tenaga kerja yang dipakai selama produksi berlangsung. Secara umum dapat dikatakan bahwa produktivitas tenaga kerja
adalah volume pekerjaan yang dihasilkan oleh seorang pekerja atau oleh satu tim pekerja (kelompok pekerja) selama tenggang waktu tertentu.
Bila dilihat dari bentuk hubungan kerja antara pihak yang bersangkutan, maka tenaga kerja proyek khususnya tenaga kerja konstruksi dibedakan menjadi 2
yaitu:
a. Tenaga kerja borongan, tenaga kerja berdasarkan ikatan kerja yang ada antara perusahaan penyedia tenaga kerja (labour supplier) dengan kontraktor
untuk jangka waktu tertentu.
b. Tenaga kerja langsung (direct hire), tenaga kerja yang direkrut dan menandatangani ikatan kerja perorangan dengan perusahaan kontraktor.
Umumnya diikuti dengan latihan, sampai dianggap cukup memiliki kemampuan dan kecakapan dasar.
Produktivitas tenaga kerja besar pengaruhnya terhadap pelaksanaan proyek antara lain pada aspek jumlah tenaga kerja dan fasilitas yang diperlukan. Apabila pada suatu daerah tenaga kerja tersedia cukup banyak, biaya upah kerja menjadi murah sehingga pada situasi seperti ini adalah tidak memerlukan teknologi tinggi.
Keselamatan kerja (skripsi dan tesis)
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan
tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. (Ridley, 2004). Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan
baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat
makmur dan sejahtera. Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah
kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. (Armanda, 2006).
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka menimbulkan konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja. (Ramli, 2010). Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun
1992 Bagian 6 Tentang Kesehatan Kerja, pada Pasal 23 berisi:
1) Kesehatan kerja disenggelarakan untuk mewujudkan produktivitas kerja yang optimal.
2) Kesehatan kerja meliputi perlindungan kesehatan kerja, pencegahan penyakit akibat kerja, dan syarat kesehatan kerja.
3) Setiap tempat kerja wajib menyelenggarakan kesehatan kerja.
Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Tidak terduga oleh karena latar belakang peristiwa itu tidak terdapat adanya unsur kesengajaan, lebih-lebih dalam bentuk perencanaan. Oleh karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian material ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai pada yang paling berat. (Austen dan Neale, 1991).
Faktor produktivitas tenaga kerja (skripsi dan tesis)
Menurut Iman Soeharto Variabel-variabel yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja lapangan dapat dikelompokan menjadi:
1. Kondisi fisik lapangan dan sarana bantu Kondisi fisik ini berupa iklim, musim, atau keadan cuaca. Misalnya adalah temperatur udara panas dan dingin, serta hujan dan salju. Pada daerah tropis dengan kelembaban udara yang tinggi dapat mempercepat rasa lelah tanaga kerja, sebaliknya di daerah dingin, bila musim salju tiba, produktivitas tanaga kerja lapangan akan menurun. Untuk kondisi fisik lapangan kerja seperti rawa- rawa, padang pasir atau tanah
berbatu keras, besar pengaruhnya terhadap produktivitas. Hal ini sama akan dialami di tempat kerja dengan keadaan khusus seperti dekat dengan unit yang sedang beroperasi, yang biasanya terjadi pada proyek perluasan instalasi yang telah ada, yang sering kali dibatasi oeh bermacam-macam peraturan keselamatan dan terbatasnya ruang gerak, baik untuk pekerja maupun peralatan. Sedangkan untuk kekurang lengkapnya sarana bantu seperti
peralatan akan menaikkan jam orang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Sarana bantu diusahakan siap pakai dengan jadwal pemeliharaan yang tepat.
2. Sistem manajemen proyek yang dimaksud dengan supervisi adalah segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan tugas pengelolaan para tenaga kerja, memimpin para pekerja dalam pelaksanaan tugas, termasuk menjabarkan perencanaan dan pengendalian menjadi langkah-langkah pelaksanaan janngka pendek, serta mengkoordinasikan dengan rekan atau
penyelia lain yang terkait. Keharusan memilikki kecakapan memimpin anak buah bagi penyelia, bukanlah sesuatu hal yang perlu dipersoalkan lagi. Melihat lingkup tugas dan tanggung jawabnya terhadap pengaturan pekerjaan dan penggunaan tenaga kerja, maka kualitas penyelia besar pengaruhnya terhadap produktivitas secara menyeluruh
3. Skill dan pendidikan termasuk pengaruh faktor lingkungan dan keluarga terhadap pendidikan formal yang diambil tenaga kerja. Kemampuan tenaga kerja untuk menganalisis situasi yang terjadi dalam lingkup pekerjaannya dan sikap moral yang diambil pada keadaan tersebut.
4. Kesesuain upah dalam meningkatkan produktivitas karyawan dalam melaksanakan pekerjaan diperlukan adanya motivasi kepada para tenaga kerja, yaitu salah satunya dengan memperhatikan upah yang sesuai. Apabila upah tenaga kerja diabaikan oleh perusahaan maka akan menimbulkan
masalah bagi perusahaan, membuat malas para tenaga kerja, mogok kerja, atau melakukan usaha untuk pindah ke perusahaan lain. Tapi sebaliknya apabila perusahaan mempunyai upah dan kesejahteraan tenaga kerja yang direncanakan dengan baik maka itu dianggap faktor yang dapat
memotivasi tenaga kerja untuk meningkatkan produktivitas.
5. Kesehatan Pekerja
Penelitian menunjukan bahwa kesehatan pekerja juga mempengaruhi produktivitas tenaga kerja di lapangan, dalam arti semakin sehat atau pekerja dalam kondisi yang prima, dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja di lapangan.
6. Pengalaman
Kurva pengalaman atau yang sering dikenal dengan learning curve. Didasarkan atas asumsi bahwa seseorang atau sekelompok orang yang mengerjakan pekerjaan relatif sama dan berulang-ulang, maka akan memperoleh pengalaman dan peningkatan keterampilan.
7. Usia
Usia juga dapat mempengaruhi tingkat produktivitas tenaga kerja, karena didalam usia produktif kerja relatif memiliki tenaga yang lebih untuk meningkatkan produktivi
Material (skripsi dan tesis)
Pada pekerjaan pasangan dinding, material merupakan salah satu aspek penting yang harus diperhatikan karena sangat mempengaruhi nilai produktivitas. Dalam penelitian ini material dikategorikan jadi dua yaitu bata ringan, dan mortar. Keunggulan utama bata ringan ini terletak pada beratnya yang ringan (400-600 kg/m³), dapat dipotong dengan gergaji biasa, sambungan-sambungan dapat di rekatkan dengan mortar sehingga hasil dinding sangat rata dan teratur. Dari segi ekologi bata ringan ini dapat dinilai baik dalam daya menanggulangi bising dan panas yang tinggi.
Dilihat dari sejarahnya sebenarnya bata ringan bukanlah produk baru karena bata ringan ini ditemukan pada tahun 1923. Bata ringan untuk saat ini banyak dipakai di kawasan Eropa dan Asia. Untuk wilayah Amerika lebih dari 40% pembangunan menggunakan bata ringan. Keuntungan bata ringan yang mempunyai efisiensi sumber daya yang tinggi dalam penerapannya dilapangan berdasarkan hasil wawancara, bahwa dalam pemakaiannya material bata ringan ini sangat mempengaruhi disain struktur bangunan menjadi jauh lebih ringan, pemakaian tulangan yang lebih kecil dan berdampak pada pemakaian bahan-bahan lain yang jauh lebih hemat misalnya: Semen yang dipergunakan untuk pondasi, kolom, balok serta bagian lain dari bangunan yang memakai semen sebagai bahan utamanya menjadi berkurang banyak. Waste material (sisa material) menjadi lebih sedikit karena bata ringan ini tidak mudah pecah dan dikarenakan mempunyai bentuk yang dapat disesuaikan dengan keperluan di lapangan maka dalam penempatannya di lapangan pun lebih mudah untuk dipantau. Dalam bangunan tinggi pemakaian tower crane akan menimbulkan polusi udara yang berasal dari asap sisa pembuangan generator (genset), dan polusi suara yang ditimbulkan oleh generator itu sendiri.
Karena bata ringan mempunyai berat sepertiga dari bata, maka tower crane yang sama dapat mengangkut material bata ringan ini lebih banyak daripada bata biasa sehingga selain menghemat dalam bahan bakar juga mengurangi polusi udara dan suara yang ditimbulkan oleh generator tower crane tersebut.
Pemakaian tulangan yang lebih sedikit tentunya akan menghemat pemakaian bahan material besi tulangan yang akan dipakai secara keseluruhan untuk proyek dan tentunya secara tidak langsung mengurangi polusi udara dan suara yang dihasilkan dari proses pengolahan tulangan tersebut dilapangan (pengelasan, pemotongan)
Tahapan kegiatan pada siklus proyek (skripsi dan tesis)
Tahapan kegiatan pada siklus proyek dapat berbeda karena pola penanganan
dan pengelolaannya cukup berbeda. Siklus proyek menggambarkan urutan
langkah-langkah sejak proses awal hingga berakhirnya proyek. Tahapan
kegiatan dalam siklus proyek konstruksi adalah :
a. Tahap konseptual gagasan : tahapan ini terdiri atas kegiatan perumusan
gagasan, kerangka acuan, studi kelayakan awal, indikasi awal dimensi,
biya dan jadwal proyek.
b. Tahap studi kelayakan : studi kelayakan dengan tujuan mendapatkan
keputusan tentang kelanjutan investasi pada proyek yang akan
dilakukan. Informasi dan data dalam implementasi perencanaan
proyek lebih lengkap dari langkah di atas sehingga penentuan
dimensi dan biaya proyek lebih akurat lagi dengan tinjauan terhadap
aspek-aspek social, buadaya, ekonomi, finansial, legal, teknis dan
administrative yang lebih komprehensif.
c. Tahap detail desain : tahapan ini terdiri atas kegiatan, pendalaman
berbagai aspek persoalan, design engineering dan pengembangan,
pembuatan jadwal induk dan anggaran serta mentukan perencanaan
sumber daya, pembelian dini, penyiapan perangkap dan penentuan
peserta proyek dengan program lelang.
d. Tahap pengadaan : tahapan ini adalah memilih kontraktor pelaksana
dengan menyertakan dokumen perencanaan, aturan teknis
danadministrasi yang lengkap, produk tahapan detail desain. Dari
proses ini diperoleh penawaran yang kompetitif dari kontraktor
dengan tingkat akuntabilitas dan transparansi yang baik.
e. Tahap implementasi : tahap ini terdiri atas kegiatan, design engineering
yang rinci, pembuatan spesifikasi dan kriteria, pembelian peralatan
dan material, fabrikasi dan konstruksi, inspeksi mutu, uji coba, start
up, demobilisasi dan laporan penutup proyek. Tujuan akhir proyek
adalah mendapatkan kinerja biaya, mutu, waktu dan keselamatan
kerja paling maksimal, penjadwalan dan pengendalian yang lebih
cermat serta terperinci dari proses sebelumnya.
f) Tahap operasi dan pemeliharaan : tahap ini terdiri atas kegiatan operasi
rutin dan pengamatan prestasi akhir proyek serta pemeliharaan
fasilitas bangunan yang dapat digun
Keterlambatan Proyek (skripsi dan tesis)
Proyek sering mengalami keterlambatan. Bahkan bisa dikatakan hampir
80% proyek mengalami keterlambatan. Jeleknya, keterlambatan proyek sering berulang pada aspek yang dipengaruhi maupun faktor yang mempengaruhi. Waktu (Time) adalah salah satu constraint dalam Project Management di samping biaya (Cost), dan kualitas (Quality). Keterlambatan proyek akan berdampak pada aspek lain dalam proyek. Sebagai contoh, meningkatnya biaya untuk effort mempercepat pekerjaan dan bertambahnya biaya overhead proyek.
Dampak lain yang juga sering terjadi adalah penurunan kualitas
karena pekerjaan “terpaksa” dilakukan lebih cepat dari yang seharusnya
sehingga memungkinkan beberapa hal teknis “dilanggar” demi mengurangi
keterlambatan proyek. Keterlambatan proyek akan menyebabkan kerugian
bagi pihak Pemilik Proyek yang tidak sedikit.
Kehilangan kesempatan / opportunity karena proyek belum bisa
menghasilkan profit sudah sering terjadi. Kejadian ini umunya menjadi
sumber konflik baru bagi Penyedia Jasa dan Pemilik Proyek itu bagi Pemilik
Swasta. Bagi proyek pemerintah, misalnya pada proyek rumah sakit, maka
kerugian akan mengarah pada kerugian non-materiil seperti tertundanya
penggunaan ruang operasi yang sifatnya urgent sehingga pasien harus
dirujuk ke rumah sakit lain jika tidak operasinya ditunda.
Keterlambatan proyek dapat dilihat dalam dua hal seperti yang
telah disebutkan di atas yaitu aspek yang terpengaruh dan faktor yang
mempengaruhi atau yang menjadi penyebab. Adapun faktor yang terpengaruh
menyebabkan proyek terlambat adalah:
Keterlambatan terkait material
Keterlambatan terkait tenaga kerja
Keterlambatan terkait peralatan
Perencanaan yang tidak sesuai
Lemahnya kontrol waktu proyek
Keterlambatan Sub-kontraktor
Koordinasi yang lemah
Pengawasan yang tidak memadai
Metode pelaksanaan yang tidak sesuai
Kurangnya personil secara teknikal
Komunikasi yang lemah.
Lebih lanjut pada penelitian tersebut, dilakukan analisis mengenai faktor
yang berkontribusi pada keterlambatan proyek yang dikaji dari penelitian
sebelumnya. Hasilnya diperoleh suatu peringkat 25 faktor yang paling
berkontribusi atau paling mempengaruhi keterlambatan proyek.
Metode pelaksanaan pekerjaan atau yang biasa disingkat CM
(Construction Method) merupakan urutan pelaksanaan pekerjaan yang logis
dengan teknik sehubungan dengan tersedianya suber daya yang dibutuhkan
dan kondisi medan kerja guna memperoleh cara pelaksanaan yang efektif dan
efisien. Metode pelaksanaan pekerjaan tersebut sebenarnya telah dibuat oleh
kontraktor yang bersangkutan pada waktu membuat atau pun mengajukan
penawaran pekerjaan.
Kegiatan yang dilakukan dalam proses pengendalian dapat berupa
pengawasan, pemeriksaan serta tindakan koreksi yang dilakukan selama
proses implementasi. Sasaran dan tujuan seperti optimasi kinerja biaya,
mutu, waktu dan keselamatan kerja harus memiliki format terstandar kriteria
sebagai alat ukur, agar dapat mengindikasikan pencapaian kinerja proyek.
Alat ukur yang digunakan dapat berupa jadwal, kuantitas pekerjaan, standar
mutu/spesifikasi pekerjaan serta standar keselamatan dan kesehatan kerja
yang untuk selanjutnya diproses dalam suatu sistem informasi
Pengukuran Produktivitas Kerja (skripsi dan tesis)
Pengukuran produktivitas kerja sebagai sarana untuk menganalisa dan
mendorong efisiensi produksi. Manfaat lain adalah untuk menentukan target
dan kegunaan, praktisnya sebagai standar dalam pembayaran upah karyawan.
Untuk mengukur suatu produktivitas dapatdigunakan dua jenis ukuran jam
kerja manusia yakni jam – jam kerja yang harus dibayar dan jam – jam kerja
yang harus dipergunakan untuk bekerja.
Ada dua macam alat pengukuran produktivitas, yaitu :
a. Physical productivity, yaitu produktivitas secara kuantitatif seperti
ukuran (size), panjang, berat, banyaknya unit, waktu, dan biaya tenaga
kerja.
b. Value productivity, yaitu ukuran produktivitas dengan menggunakan
nilai uang yang dinyatakan dalam rupiah, yen, dollar dan seterusnya.
(Ravianto, 1986 : 21)
Produktivitas kerja (skrispi dan tesis)
Produktivitas kerja adalah kemampuan menghasilkan suatu kerja yang
lebih banyak daripada ukuran biasa yang telah umum. (The Liang Gie,1981
: 3). Pengertian produktivitas pada dasarnya mencakup sikap mental yang
selalu mempunyai pandangan bahwa kehidupan di hari lebih baik dari hari
kemarin dan hari esok lebih baik dari baik dari hari ini (Sinungan, 1985 :
12). Secara teknis produktivitas adalah suatu perbandingan antara hasil yang
dicapai (out put) dengan keseluruhan sumber daya yang diperlukan (in put).
Produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang
dicapai dengan peran tenaga kerja persatuan waktu (Riyanto, 1986 : 22).
Soepardi Harris, Bambang Perkasa Alamdan Arief Nugroho Wibowo
58 Tecnoscienza Vol.2 No.1 Oktober 2017
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa produktivitas kerja
adalah kemampuan karyawan dalam berproduksi dibandingkan dengan
input yang digunakan, seorang karyawan dapat dikatakan produktif apabila
mampu menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan diharapkan dalam
waktu yang singkat atau tepat. Faktor yang mempengaruhi Produktivitas
Kerja.
Untuk mencapai produktivitas yang tinggi suatu perusahaan dalam
proses produksi, selain bahan baku dan tenaga kerja yang harus ada juga
didukung oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1. Pendidikan
2. Keterampilan
3. Sikap dan etika kerja
4. Tingkat penghasilan
5. Jaminan sosial
6. Tingkat sosial dan iklim kerja
7. Motivasi
8. Gizi dan kesehatan
9. Hubungan individu
10. Teknologi
11. Produksi.
(Ravianto, 1985 : 139).
Produktivitas (skripsi dan tesis)
Produktivitas merupakan istilah dalam kegiatan produksi sebagai perbandingan antara luaran (output) dengan masukan (input). Menurut Herjanto, produktivitas merupakan suatu ukuran yang menyatakan bagaimana baiknya sumber daya diatur dan dimanfaatkan untuk mencapai hasil yang optimal. Produktivitas dapat digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan suatu industri atau UKM dalam menghasilkan barang atau jasa. Sehingga semakin tinggi perbandingannya, berarti semakin tinggi produk yang dihasilkan. Ukuran-ukuran produktivitas bisa bervariasi, tergantung pada aspekaspek output atau input yang digunakan sebagai agregat dasar, misalnya indeks produktivitas buruh, produktivitas biaya langsung, produktivitas biaya total, produktivitas energi, produktivitas bahan mentah, dan lain-lain.
Konsep produktivitas dijelaskan oleh Ravianto (1989: 18) adalah sebagai berikut:
1. Produktivitas adalah konsep universal, dimaksudkan untuk menyediakan semakin banyak barang dan jasa untuk semakin banyak orang dengan menggunakan sedikit sumber daya.
2. Produktivitas berdasarkan atas pendekatan multidisiplin yang secara efektif merumuskan tujuan rencana pembangunan dan pelaksanaan cara-cara produktif dengan menggunakan sumber daya secara efektif dan efisien namun tetap menjaga kualitas.
3. Produktivitas terpadu menggunakan keterampilan modal, teknologi manajemen, informasi,energi, dan sumber daya lainnya untuk mutu kehidupan yang mantap bagi manusia melalui konsep produktivitas secara menyeluruh.
4. Produktivitas berbeda di masing-masing negara dengan kondisi, potensi, dan kekurangan serta harapan yang dimiliki oleh negara yang bersangkutan dalam jangka panjang dan pendek, namun masingmasing negara mempunyai kesamaan dalam pelaksanaan pendidikan dan komunikasi.
5. Produktivitas lebih dari sekedar ilmu teknologi dan teknik manajemen akan tetapi juga mengandung filosofi dan sikap mendasar pada motivasi yang kuat untuk terus menerus berusaha mencapai mutu kehidupan yang baik.
6. Sinungan (1995: 18) menjelaskan produktivitas dalam beberapa kelompok sebagai berikut:
a. Rumusan tradisional bagi keseluruhan produksi tidak lain adalah ratio apa yang
b. dihasilkan (output) terhadap keseluruhan peralatan produksi yang digunakan.
c. Produktivitas pada dasarnya adalah suatu sikap mental yang selalu mempunyai
d. pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini lebih baik dari pada kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. e. Produktivitas merupakan interaksi terpadu serasi dari tiga faktor esensial, yakni :
f. Investasi termasuk pengetahuan dan tekhnologi serta riset, manajemen dan tenaga kerja.
Siklus produktivitas merupakan salah satu konsep produktivitas yang membahas upaya peningkatan produktivitas terus-menerus. Ada empat tahap sebagai satu siklus yang saling terhubung dan tidak terputus:
1. Pengukuran
2. Evaluasi
3. Perencanaan
4. Peningkatan Produktivitas yang diperhitungkan hanya produk bagus yang dihasilkan saja, jika suatu work center banyak mengeluarkan barang cacat dapat dikatakan work center tersebut tidak produktif. Keempat kegiatan tersebut sudah menjadi dasar industri dalam melakukan peningkatan produktivitas. Siklus produktivitas digunakan sebagai dasar perbaikan masalah produksi terutama pada skala industri. Beberapa permasalahan yang menyebabkan penurunan produktivitas perusahaan adalah:
1. Tidak ada evaluasi produktivitas
2. Keterlambatan pengambilan keputusan oleh manajemen
3. Motivasi rendah dalam pekerjaan.
4. Perusahaan tidak mampu berkompetisi dan beradaptasi pada kemajuan teknologi dan informasi. Upaya peningkatan produktivitas membutuhkan beberapa indikator sebagai evaluasi. Salah satu diantaranya adalah metode OEE (Overall Equipment Effectiveness). Sementara identifikasi permasalahan dapat dilakukan dengan pendekatan lean production. Produktivitas berarti kemampuan menghasilkan sesuatu. Sedangkan kerja berarti kegiatan melakukan sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah mata pencaharian (Poerwadarminta, 1984 : 70)
Perhitungan Optimalisasi Produktuvitas Tenaga Kerja (skripsi dan tesis)
Perhitungan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dihitung berdasarkan Standard time. Standard time dihitung dengan menggunakan metode time study, dimana metode ini dilakukan dengan pengamatan langsung dilapangan. Langkah perhitungan untuk mendapat nilai optimal dari produktivitas sebagai berikut :
1. Menghitung standard time setiap breakdown pekerjaan pembesian dengan metode time study.
2. Menghitung besar rata-rata produktivitas tenaga kerja pada pekerjaan pembesian.
3. Dengan cara mendesain standard time yang baru yang diperlukan untuk mengoptimalkan produktivitas dengan berpatokan dengan standard time yang dihitung sebelumnya.
Pengukuran Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Pengukuran kepuasan kerja sangat bervariasi, baik dari segi analisa statistikanya maupun pengumpulan datanya. Informasi yang didapat dari kepuasan kerja ini bisa melalui tanggung jawab secara perorangan, dengan angket ataupun dengan pertemuan suatu kelompok kerja. Apabila menggunakan tanya jawab (interview) sebagai alatnya maka pada karyawan diminta untuk merumuskan tentang perasaannya terhadap aspek-aspek pekerjaan (self report), hanya orang yang bersangkutan yang tahu persis bagaimana perasaannya terhadap pekerjaan, dapat menggunakan pertanyaan langsung maupun tidak langsung. Cara yang lain adalah dengan mengamati sikap dan tingkah laku karyawan tersebut.
Umar (2005) menyebutkan bahwa kepuasan karyawan terhadap pekerjaannya dipengaruhi oleh beberapa faktor berdasarkan Job Description Index (JDI) meliputi pembayaran, pekerjaan itu sendiri, promosi pekerjaan, kepenyeliaan dan rekan sekerja. Dari berbagai pendapat di atas dapat dirangkum mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja yaitu:
- Faktor psikologi, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan yang meliputi minat, ketentraman dalam kerja, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilan.
- Faktor sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial baik antara sesama karyawan, dengan atasannya, maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya.
- Faktor fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik lingkungan karyawan, meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan, suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan, umur dan sebagainya.
- Faktor finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan yang meliputi sistem dan besarnya gaji, jaminan sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi dan sebagainya
Pengertian Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Menurut Handoko (2010) kepuasan kerja (job satisfaction) adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan yang dialami para karyawan dalam memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya yang tampak dalam sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi dilingkungan kerjannya. Menurut Davis, Wexley dan Yukl yang diacu Mangkunegara (2010) kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang menyokong atau tidak menyokong diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya. Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti upah atau gaji yang diterima, kesempatan pengembangan karir, hubungan dengan pegawai lainnya, penempatan kerja, jenis pekerjaan, struktur organisasi perusahaan, mutu pengawasan. Sedangkan perasaan yang berhubungan dengan dirinya, antara lain umur, kondisi kesehatan, kemampuan, pendidikan.
Menurut Johan (2008) kepuasan kerja dirumuskan sebagai respon umum pekerja berupa perilaku yang ditampilkan karyawan sebagai hasil persepsi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Baron dan Greenberg (2003) mendefinisikan kepuasan sebagai sikap positif atau negatif seseorang terhadap pekerjaannya. Menurut Tiffin yang diacu As’ad (2008) kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya sendiri, situasi kerja, kerjasama antara pimpinan dengan sesama karyawan. Kepuasan atau ketidakpuasan seseorang dengan pekerjaan merupakan keadaan yang sifatnya subyektif, yang merupakan hasil kesimpulan yang didasarkan pada suatu perbandingan mengenai apa yang secara nyata diterima oleh karyawan dari pekerjaannya dibandingkan dengan apa yang diharapkan, diinginkan dan dipikirkannya sebagai hal yang pantas atau berhak baginya (Gomes, 2009).
Menurut Hasibuan (2008) kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan dan kombinasi dalam dan luar pekerjaan. Kepuasan kerja dalam pekerjaan adalah kepuasan kerja yang dinikmati dalam pekerjaan dengan memperoleh pujian hasil kerja, penempatan, perlakuan, peralatan dan suasana lingkungan kerja yang baik. Kepuasan kerja di luar pekerjaan adalah kepuasan kerja karyawan yang dinikmati di luar pekerjaan dengan besarnya balas jasa yang akan diterima dari hasil kerjanya, agar karyawan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Kepuasan kerja kombinasi dalam dan luar adalah kepuasan kerja yang dicerminkan oleh sikap emosional yang seimbang antara balas jasa dengan pelaksanaan pekerjaannya.
Menurut Siagian (2005) kepuasan kerja merupakan suatu cara pandang seseorang baik yang bersifat positif maupun bersifat negatif tentang pekerjaannya. Menurut Satria (2005) kepuasan kerja merupakan suatu sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya yang menunjukkan pertimbangan kognitif, afektif dan konatif mengenai objeknya yang dalam hal ini adalah pekerjaan yang meliputi faktor pembayaran, work it self, promosi, supervisi dan rekan kerja.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli sebagaimana diungkapkan di atas dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah suatu sikap yang dimiliki oleh seseorang mengenai pekerjaan yang dihasilkan
Sumber Stres Kerja (skripsi dan tesis)
Menurut Davis dan Newstrom (2005) penyebab stres adalah perbedaan antara nilai perusahaan dan nilai karyawan. Artinya, perbedaan ini menuntut karyawan dengan tekanan mental pada waktu yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nilai perusahaan dan karyawan. Penyebab stres yang umum dan secara luas dikenal adalah perubahan suatu pekerjaan, dimana sumber stres berbeda menurut tingkat organisasinya karena memerlukan penyesuaian dari karyawan. Perubahan cenderung menyebabkan stres yang lebih berat apabila perubahan tersebut penting dan tidak lazim, misalnya pemberhentian sementara atau pemindahan tugas. Kondisi kerja yang menyebabkan stres antara lain :
- Beban kerja yang berlebihan
- Tekanan atau desakan waktu
- Kualitas penyelia yang jelek
- Iklim politik yang tidak nyaman
- Wewenang yang tidak memadai untuk melaksanakan tanggung jawab
- Konflik dan keambiguan peran
- Perbedaan antara nilai perusahaan dan karyawan
- Perubahan tipe, khususnya jika penting dan tidak lazim, misalnya pemberhentian sementara
- Frustasi
Menurut Siagian (2004) stres merupakan interaksi antara seseorang dengan lingkungannya dengan ciri ketegangan emosional yang mempengaruhi kondisi fisik dan mental seseorang. Terdapat tiga kelompok ”stressor” dalam kehidupan seseorang, yaitu faktor-faktor lingkungan, faktor-faktor organisasional, dan faktor-faktor individual. Faktor-faktor lingkungan merupakan salah satu faktor penyebab seseorang menghadapi stres yang menyangkut masalah-masalah ketidakpastian dalam bidang ekonomi, politik dan dampak dari perkembangan teknologi.
Faktor-faktor organisasional yang dapat menjadi stressor bagi karyawan berasal dari lingkungan pekerjaannya seperti tekanan untuk menghindar dari berbuat kesalahan, menyelesaikan tugas pada satu jangka waktu tertentu, beban tugas yang terlalu berat, atasan yang kaku, tidak peka dan terlalu banyak menuntut, rekan sekerja yang tidak mendukung. Dengan perkataan lain, faktor-faktor organisasional yang dapat menjadi ”stressor” ialah:
- Tuntutan tugas
- Tuntutan peran
- Tuntutan hubungan interpersonal,
- Struktur organisasi
- Kepemimpinan dan siklus hidup organisasi.
Faktor-faktor individual merupakan faktor yang berasal dari apa yang terjadi atau tidak terjadi pada jam-jam di luar jam kerja seorang karyawan yang berpengaruh pada timbul tidaknya stres dalam kehidupan kekaryaaan seseorang. Terdapat faktor-faktor yang bersifat individual yang menjadi stressor dalam kehidupan seseorang seperti masalah-masalah keluarga, masalah-masalah ekonomi dan kepribadian seseorang.
Menurut Siagian (2005) stres bersumber dari pekerjaan dan luar pekerjaan seseorang. Berbagai hal yang dapat menjadi sumber stres yang berasal dari pekerjaan dapat beraneka ragam seperti beban tugas yang terlalu berat, desakan waktu, penyeliaan yang kurang baik, iklim kerja yang menimbulkan rasa tidak aman, kurangnya informasi dari umpan balik tentang prestasi kerja seseorang, ketidakseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab, ketidakjelasan peranan karyawan dalam keseluruhan kegiatan organisasi, frustasi yang ditimbulkan oleh intervensi pihak lain yang terlalu sering sehingga seseorang merasa terganggu konsentrasinya, konflik antara karyawan dengan pihak lain di dalam dan di luar kelompok kerjanya, perbedaan sistem nilai yang dianut oleh karyawan dan yang dianut oleh organisasi dan perubahan yang terjadi, sehingga pada umumnya dapat menimbulkan rasa ketidakpastian. Stres yang berasal dari lingkungan luar yang dihadapi oleh seseorang, seperti masalah keuangan, perilaku negatif anak-anak, kehidupan keluarga yang tidak atau kurang harmonis, pindah tempat tinggal, ada anggota keluarga yang meninggal, kecelakaan, penyakit gawat dan perkembangan teknologi adalah beberapa contoh penyebab stress.
Berdasarkan teori di atas didapat suatu dasar pemikiran dari permasalahan yang dihadapi yaitu adanya stres kerja yang berasal dari sumber stres kerja antara lain beban kerja yang berlebihan, tekanan dan desakan waktu, kualitas supervisi yang buruk, kondisi perusahaan yang tidak aman, kurangnya pengendalian diri, wewenang yang tidak mencukupi untuk melaksanakan tanggung jawab, konflik dan kemenduaan peran, perbedaan antara nilai yang dianut perusahaan dan karyawan, perubahan, frustasi dan teknologi.
Perhitungan Produktivitas dengan menggunakan Metode Time Study (skripsi dan tesis)
Metode time study digunakan untuk menghitung nilai standard time suatu pekerjaan. Penggunaan metode ini dilakukan dengan pengamatan langsung dilapangan, bagaimana suatu pekerjaan dilakukan dari tahap awal hingga tahap akhir. Tahap-tahap pengamatan dengan cara time study :
1. Menentukan jenis pekerjaan yang akan diamati dan memahami kondisi pekerjaan pada saat itu.
2. Setiap pekerjaan di-breakdown menjadi beberapa elemen pekerjaan
3. Setiap breakdown pekerjaan diamati dari tahap awal hingga akhir
4. Waktu yang dicatat dimasukkan didalam lembaran time study
5. Mengkonversikan upah pekerja kedalam tukang dengan standard upah tukang
6. Menghitung nilai basic time dengan mengalihkan nilai konversi upah tukang dengan waktu dicatat
7. Data basic time kemudian dihitung dengan memperhatikan waktu contingency dan relaxation
untuk memperoleh standart time.
Langkah-langkah perhitungan dengan cara time study sehingga didapat nilai produktivitas.
1. Mencatat waktu setiap kali pengamatan elemenelemen pekerjaan dilapangan dan kemudian dimasukan dalam lembar time study untuk
memperoleh nilai basic time dari tiap pengamatan
setiap elemen pekerjaan. Nilai basic time adalah
nilai manhour untuk 1 volume pekerjaan.
2. Nilai basic time dari tiap pengamatan elemenelemen pekerjaan kemudian di jumlah dan diratarata untuk memperoleh average basic time
3. Nilai average basic time kemudian dihitung dengan memperhatikan waktu contingency dan relaxation untuk memperoleh nilai standard time dari tiap elemen pekerjaan
4. Setelah itu dihitung total standard time dari tiap elemen pekerjaan dengan cara mengalikan nilai standard time elemen pekerjaan dengan volume
perolehan untuk elemen pekerjaan tersebut ( volume ) perolehan dan total standard time haruslah berasal dari 1 kali pengamatan dalam waktu tertentu
5. Membandingkan volume total perolehan pekerjaan dengan total standard time untuk memperoleh nilai produktivitas suatu pekerjaan
Prinsip Metode Time study (skripsi dan tesis)
Rating
Ervianto (2004) mengemukakan pada umumnya penelitian dilakukan berdasarkan angka 100, yang memberikan informasi bahwa kinerja yang
terjadi dalam keadaan normal.
Basic Time
Basic time, adalah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu aktivitas dengan rating standard. Angka basic time di peroleh dengan rumus:
Basic time = observed time x (observed rating / standard rating )
Basic Time dihitung pada sejumlah observasi/pengamatan kemudian diambil nilai rataratanya. Dalam hal ini nilai rata-rata digunakan sebagai dasar basic time dari suatu kegiatan (Ervianto 2004).
Standard Time
Yang di maksud dengan standard time adalah “waktu seharusnya” yang dapat dicapai oleh tenaga ahli yang bekerja dengan standard rating untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Untuk menentukan standard time juga harus
diperhitungkan tentang Relaxation Allowance ( waktu relaksasi ) dan Contingency ( waktu kontigensi ).
Waktu relaksasi adalah waktu di saat pekerja harus berhenti sejenak dari pekerjaan yang mereka lakukan untuk menyegarkan kembali kondisi
badan mereka. Untuk lebih jelas tentang penyebab diperlukannya relaksasi dapat dilihat pada tabel relaksasi akibat faktor panas dan kelembapan udara
dan tabel pengaruh relaksasi terhadap basic time.
Produktivitas Tenaga Kerja Konstruksi (skripsi dan tesis)
Ukuran produktivitas yang sering diamati
adalah berkaitan dengan tenaga kerja. Pengertian
tenaga kerja menurut Undang-undang Republik
Indonesia No. 13 Tahun 2003 adalah setiap
orang yang mampu melakukan pekerjaan guna
menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk
memenuhi kebutuhan sendiri maupun
masyarakat. (Seri Perundang-undangan,Undang –
undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun
2003 Tentang Ketenagakerjaan).
Berikut adalah fungsi dan tugas-tugas
tenaga kerja berdasarkan kehaliannya :
1. Mandor adalah orang yang mempunyai
keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan
jenis pekerjaan tertentu. Mandor membawahi
langsung pekerja-pekerja atau tukang-tukang.
2. Kepala tukang adalah orang yang mempunyai
keahlian dalam bidang pertukangan untuk
jenis pekerjaan tertentu dan memberi
petunjuk-petunjuk kepada para tukang yang
berhubungan dengan jenis pekerjaan tersebut.
3. Tukang adalah orang yang langsung
mengerjakan pekerjaan dilapangan dalam
bidang tertentu sesuai petunjuk kepala
tukang.orang-orang ini biasanya memiliki
sedikit keterampilan.
4. Pekerja (buruh) adalah orang yang membantu
tukang atau kepala tukang untuk semua jenis
pekerjaan tanpa harus memiliki keahlian atas
pekerjaan tertentu.
Pengertian Stres Kerja (skripsi dan tesis)
Perkataan stress berasal dari bahasa latin Stingere, yang digunakan pada abad XVII untuk menggambarkan kesukaran, penderitaan dan kemalangan. “Stress adalah ketegangan atas tekanan emosional yang dialami sesesorang yang sedang menghadapi tuntutan yang sangat besar, hambatan-hambatan, dan adanya kesempatan yang sangat penting yang dapat mempengaruhi emosi, pikiran dan kondisi fisik seseorang” Hariandja (2002:303)
Menurut Szilagyi yang diacu Gitosudarmono dan Sudita (2010) stres adalah pengalaman yang bersifat internal yang menciptakan adanya ketidakseimbangan fisik dan psikis dalam diri seseorang sebagai akibat dari faktor lingkungan eksternal, organisasi atau orang lain. Menurut Menurut Handoko (2010) stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stres yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan. Sebagai hasilnya, pada diri para karyawan berkembang berbagai macam gejala stres yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka yang menyangkut baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental.
Menurut Arep dan Tanjung (2003) stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Orang yang mengalami stres menjadi tegang dan merasakan kekhawatiran kronis sehingga mereka sering menjadi marah-marah, agresif, tidak dapat relaks atau memperlihatkan sikap yang tidak kooperatif. Sedangkan dalam Mangkunegara (2008) menyatakan bahwa “Perasaan tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaan. Stress kerja ini tampak dari simptom, antara lain emosi tidak stabil, perasaan tidak tenang, suka menyendiri, sulit tidur, merokok yang berlebihan, tidak bisa rileks, cemas, tegang, gugup, tekanan darah meningkat, dan mengalami gangguan pencernaan” “ Kondisi yang muncul dari interaksi antara manusia dan pekerjaan serta dikarakteristikkan oleh perubahan manusia yang memaksa mereka untuk menyimpang dari fungsi normal mereka” (Molan; 2006:).
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa stress adalah respons adaptif terhadap situasi eksternal yang menghasilkan penyimpangan fisik, psikologis, dan atau perilaku pada anggota organisasi. Kesimpulan di atas menunjukan adanya kondisi tertentu dalam lingkungan yang merupakan sumber potensial bagi munculnya stres. Bagaimana bentuk stress yang dihayati tergantung dari karakteristik yang unik dari individu yang bersangkutan serta penghayatannya tehadap faktor-faktor dari lingkungan yang potensial memunculkan stress padanya, walaupun hampir setiap kelompok orang dihadapkan pada jenis atau kondisi stress yang serupa, tetapi hal ini akan menghasilkan reaksi yang berbeda, bahkan dalam menghadapi jenis stress atau kondisi yang sama setiap individu dapat berbeda-beda pola reaksinya.
Karakteristik Budaya Organisasi (skripsi dan tesis)
Robbins (2003) memberikan karakteristik budaya organisasi sebagai berikut :
- Innovasi dan keberanian mengambil resiko, yaitu sejauhmana organisasi mendorong para pegawai untuk bersikap inovatif dan berani mengambil resiko serta bagaimana organisasi menghargai tindakan pengambilan resiko oleh pegawai dan membangkitkan ide pegawai.
- Perhatian terhadap detail, yaitu sejauhmana organisasi mengharapkan pegawai memperlihatkan kecermatan, analisis dan perhatian terhadap rincian.
- Berorientasi pada hasil, yaitu sejauhmana manajemen memusatkan perhatian pada hasil dibandingkan perhatian terhadap tekhnik dan proses yang digunakan untuk meraih hasil tersebut.
- Berorientasi pada manusia, yaitu sejauhmana keputusan manajemen memperhitungkan efek hasil-hasil pada orang-orang di dalam organisasi.
- berorientasi pada tim, yaitu sejauhmana penekanan diberikan pada kerja tim dibandingkan dengan kerja indivdual.
- Agresivitas, yaitu sejauhmana orang-orang dalam organisasi itu agresif dan kompetitif untuk menjalankan budaya organisasi sebaik-baiknya.
- Stabilitas yaitu sejauhmana kegiatan organisasi menekankan status quo sebagai kontras dari pertumbuhan
Tiap karakteristik ini berlangsung pada suatu kontinum dari rendah ke tinggi. Maka dengan menilai organisasi itu berdasarkan tujuh karakteristik ini, akan diperoleh gambaran majemuk dari budaya organisasi itu. Gambaran ini menjadi dasar untuk perasaan pemahaman bersama yang dimiliki para anggota mengenai organisasi, bagaimana urusan diselesaikan di dalamnya, dan cara para anggota diharapkan berperilaku
Sedangkan menurut Kreitner dan Kinicki (2003) bahwa secara umum terdapat 3 (tiga) tipe budaya organisasi yaitu:
- Budaya konstruktif
Budaya konstruktif adalah budaya dimana para karyawan didorong untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengerjakan tugas dan proyeknya dengan cara yang akan membantu mereka dalam memuaskan kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang. Tipe budaya ini mendukung keyakinan normatif yang berhubungan dengan pencapaian tujuan aktualisasi diri, penghargaan yang manusiawi dan persatuan.
- Budaya pasif-defensif
Budaya pasif-defensif bercirikan keyakinan yang memungkinkan bahwa karyawan berinteraksi dengan karyawan lain dengan cara yang tidak mengancam keamanan kerja sendiri. Budaya ini mendorong keyakinan normatif yang berhubungan dengan persetujuan, konvensional, ketergantungan, dan penghidupan.
- Budaya agresif -defensif
Budaya agresif-defensif mendorong karyawannya untuk mengerjakan tugasnya dengan kerja keras untuk melindungi keamanan kerja dan status mereka. Tipe budaya ini lebih bercirikan keyakinan normatif yang mencerminkan oposisi, kekuasaan, kompetitif dan perfeksionis.
Pengertian Budaya Organisasi (skripsi dan tesis)
Pengertian budaya organisasi banyak diungkapkan oleh para ilmuwan yang merupakan ahli dalam ilmu budaya organisasi yang pada hakekatnya tidak jauh berbeda antara satu ahli dengan ahli lainnya. Robbins (2010) menyatakan budaya organisasi (organizational culture) sebagai suatu sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan organisasi tersebut dengan organisasi yang lain.” Lebih lanjut, Robbins (2010) menyatakan bahwa sebuah sistem pemaknaan bersama dibentuk oleh warganya yang sekaligus menjadi pembeda dengan organisasi lain. Sistem pemaknaan bersama merupakan seperangkat karakter kunci dari nilai-nilai organisasi.
Moeljono (2005) menyatakan bahwa budaya organisasi: Sistem nilai-nilai yang diyakini semua anggota organisasi dan yang dipelajari, diterapkan serta dikembangkan secara berkesinambungan, berfungsi sebagai sistem perekat, dan dapat dijadikan acuan berperilaku dalam organisasi untuk mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan. Pengertiannya, bahwa budaya perusahaan adalah nilai yang menentukan arah perilaku dari anggota di dalam organisasi. Jika value tadi menjadi shared value, maka terbentuk sebuah kesamaan persepsi akan perilaku yang sesuai dengan karakter organisasi. Dengan demikian, budaya organisasi memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan.
David (2009) menyatakan bahwa: Budaya organisasi adalah pola tingkah laku yang dikembangkan oleh suatu organisasi yang dipelajarinya ketika menghadapi masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal, yang telah terbukti cukup baik untuk disahkan dan diajarkan kepada anggota baru sebagai cara untuk menyadari, berpikir dan merasa. Menurut Sule dan Saefullah (2005) budaya organisasi merupakan nilai-nilai dan norma yang dianut dan dijalankan oleh sebuah organisasi terkait dengan lingkungan di mana organisasi tersebut menjalankan kegiatannya.
Budaya organisasi merupakan pola keyakinan dan nilai-nilai dalam organisasi yang dipahami, dijiwai dan dipraktekan oleh anggota organisasinya sehingga pola tersebut memberikan makna tersendiri bagi organisasi yang bersangkutan dan menjadi dasar aturan berperilaku (Sobirin, 2005). Hal ini berarti setiap organisasi mempunyai sistem makna yang berbeda. Perbedaan ini menyebabkan setiap organisasi mempunyai karakteristik yang unik dan berbeda serta respon yang berbeda ketika menghadapi masalah yang sama. Disamping itu perbedaan sistem makna ini dapat menyebabkan perbedaan perilaku para anggota organisasi dan perilaku organisasi itu sendiri. Akar perbedaan ini bersumber pada asumsi-asumsi dasar yang meliputi keyakinan, nilai-nilai, filosofi atau ideologi organisasi yang digunakan dalam memecahkan persoalan organisasi.
Indikator Dalam Perubahan Struktur Organisasi (skripsi dan tesis)
Karakteristik perubahan struktur organisasi menurut Kasali dalam Nasution (2006), yaitu:
- Bersifat misterius karena tidak mudah dipegang.
- Memerlukan tokoh terkenal dalam melakukan perubahan.
- Tidak semua orang bisa diajak melihat perubahan.
- Perubahan terjadi setiap saat secara kontinu.
- Ada sisi lembut dan sisi keras dalam perubahan.
- Membutuhkan waktu, biaya dan kekuatan.
- Dibutuhkan upaya khusus untuk menyentuh nilai dasar atau budaya korporat.
- Banyak diwarnai mitos.
- Perubahan menimbulkan ekspektasi yang dapat menimbulkan getaran emosi dan harapan.
- Perubahan selalu menakutkan yang menimbulkan kepanikan
Struktur organisasi merupakan suatu cara pembagian tugas pekerjaan yang kemudian dikelompokkan serta dikoordinasikan secara formal. Robbins (2008) mengemukakan 6 (enam) unsur yang perlu diperhatikan dalam pembentukan suatu struktur organisasi, yaitu:
- Spesialisasi atau pembagian tenaga kerja. Merupakan pemecahan suatu alur penyelesaian pekerjaan menjadi sejumlah langkah penyelesaian yang diselesaikan dengan kualifikasi tertentu.
- Departementalisasi, dapat didasarkan pada kesamaan kelompok pekerjaan maupun berdasarkan teritori agar tugas dapat dikoordinasikan.
- Rantai komando, merupakan alur perintah dan kewenangan berkaitan dengan tanggung jawab dari tingkatan-tingkatan dalam suatu organisasi.
- Rentang kendali, menentukan banyaknya tingkatan dan manajer yang harus dimiliki oleh suatu organisasi.
- Sentralisasi dan desentralisasi, merupakan suatu cara pengambilan keputusan berdasarkan kewenangan manajerial.
- Formalisasi, merupakan suatu tingkatan pekerjaan dalam suatu organisasi yang dibakukan berdasarkan aturan
Menurut Kreitner dan Kinicki dalam Nasution (2010) mengelompokkan perubahan ke dalam tiga kelompok tipologi, yaitu:
- Adaptive Change
Adaptive Change merupakan perubahan yang paling rendah tingkat kompleksitasnya, dan ketidakpastiannya. Perubahan ini menyangkut pelaksanaan perubahan yang sifatnya berulang atau meniru perubahan dari unit kerja yang berbeda, dan karyawan tidak merasakan kekuatiran atas perubahan.
- Innovative Change
Perubahan ini berada di tengah kontinum diukur dari kompleksitas, biaya dan ketidakpastiannya.
- Radically Innovative Change
Radically Innovative Change merupakan jenis perubahan yang paling sulit dilaksanakan dan cenderung paling menakutkan bagi manajer untuk melaksanakan dan memberikan dampak kuat pada keamanan kerja karyawan. Perubahan inovatif radikal merupakan perubahan yang bersifat mendasar dan fundamental dengan dampak dan resiko yang luas.
Pendekatan sistem Kreitner dan Kinicki (2001) mengemukakan kerangka kerja perubahan organisasional yang terdiri dari tiga komponen, yaitu:
- Inputs, yang terdiri dari kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.
- Target Element of Change: yang terdiri atas tingkat organisasi, tingkat kelompok dan tingkat individu
Pengertian Perubahan Struktur Organisasi (skripsi dan tesis)
Untuk memahami perubahan organisasi secara teoretis, penulis mengumpulkan beberapa definisi dan konsep para ilmuan. Michel Beer (2007: 452) menyatakan berubah itu adalah memilih tindakan yang berbeda dari sebelumnya, perbedaan itulah yang menghasilkan sustu perubahan. Jika pilihan hasilnya sama dengan yang sebelumnya berarti akan memperkuat status quo yang ada. Selanjutnya Winardi (2005: 2) menyatakan, bahwa perubahan organisasi adalah tindakan beralihnya sesuatu organisasi dari kondisi yang berlaku kini menuju ke kondisi masa yang akan datang menurut yang di inginkan guna meningkatkan efektivitasnya. Sejalan dengan itu Anne Maria (2008) berpendapat, bahwa perubahan organisasi adalah suatu tindakan menyusun kembali komponen-komponen organisasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas organisasi.
Perubahan organisasi menurut Nasution (2006) merupakan pergeseran dari keadaan sekarang suatu organisasi menuju pada keadaan yang diinginkan di masa depan. Perubahan tersebut dapat terjadi pada struktur organisasi, proses mekanisme kerja, sumber daya manusia dan budaya. Perubahan adalah membuat sesuatu menjadi berbeda dan perubahan berarti bahwa kita harus merubah dalam cara mengerjakan atau berfikir tentang sesuatu.
Mengingat begitu pentingnya perubahan dalam lingkungan yang bergerak cepat sudah saatnya organisasi tidak menunda perubahan, penundaan berarti akan menghadapkan organisasi pada proses kemunduran. Akan tetapi perlu diingat bahwa tidak semua perubahan yang terjadi akan menimbulkan kondisi yang lebih baik, sehingga perlu diupayakan agar perubahan tersebut diarahkan kearah yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi yang sebelumnya. Pendapat yang senada dikemukakan oleh JO. Bryson (1990: 374) seorang pakar dalam manajemen perpustakan menyatakan bahwa ”when one or more elements in alibrary change it is called organizational change” Pendapat Bryson tersebut menunjukkan bahwa salah satu unsur saja dalam organisasi yang berubah, sudah dapat dikatakan sebagai perubahan organisasi.
