Aspek-aspek literasi keuangan (skripsi dan tesis)
Chen dan Volpe (1998; Mendari dan Kewal, 2014) menyatakan bahwa
literasi keuangan dibagi dalam 4 (empat) aspek, yaitu:
a. General Personal Finance Knowledge, meliputi pemahaman beberapa hal yang berkaitan dengan pengetahuan dasar tentang keuangan pribadi.
b. Saving and borrowing, bagian ini meliputi pengetahuan yang berkaitan
dengan tabungan dan pinjaman seperti penggunaan kartu kredit.
c. Insurance, bagian ini meliputi pengetahuan dasar asuransi dan produk-produk
asuransi seperti asuransi jiwa dan asuransi kendaraan bermotor.
d. Investment, bagian ini meliputi pengetahuan tentang suku bunga pasar, reksa
dana dan risiko investasi.
Menurut Programme for International Student Assessment/ PISA (2012;
Thomson, 2014), aspek-aspek dalam literasi keuangan adalah:
a. Uang dan Transaksi
Uang dan transaksi merupakan aspek inti dari literasi keuangan. Aspek ini
termasuk kesadaran akan perbedaan bentuk dan tujuan uang serta penanganan
transaksi moneter sederhana seperti pembayaran keperluan sehari-hari,
belanja, nilai uang, kartu bank, cek, rekening bank dan mata uang.
b. Perencanaan dan Pengelolaan Keuangan
Kategori ini mencakup aspek kemampuan literasi keuangan yang penting,
seperti perencanaan dan pengelolaan pendapatan dan kekayaan yang lebih
baik dalam jangka pendek dan panjang, khususnya pengetahuan dan
kemampuan untuk memonitor pendapatan dan biaya serta memanfaatkan
pendapatan dan sumber daya lain yang tersedia untuk meningkatkan
kesejahteraan keuangan.
c. Risiko dan Keuntungan
Aspek ini berisi kemampuan untuk mengidentifikasi cara-cara untuk
mengelola dan menyeimbangkan risiko (termasuk melalui asuransi dan
produk tabungan) serta pemahaman tentang keuntungan atau kerugian
potensial dalam berbagai konteks keuangan dan produk, seperti perjanjian
kredit dengan suku bunga variabel dan produk investasi.
d. Fiancial Landscape
Aspek ini berkaitan dengan karakter dan fitur dari dunia keuangan. Hal ini
termasuk mengetahui hak dan tanggung jawab dari konsumen di pasar
keuangan dan lingkungan keuangan umum, serta implikasi utama kontrak
keuangan. Aspek ini juga menggabungkan pemahaman tentang konsekuensi
dari perubahan kondisi ekonomi dan kebijakan masyarakat, seperti perubahan
suku bunga dan perpajakan
Pengertian literasi keuangan (skripsi dan tesis)
Pengertian Persepsi Kualitas (skripsi dan tesis)
Menurut Shiffman dan Kanuk (2010) persepsi adalah interpretasi proses dimana konsumen memahami lingkungan mereka sendiri. Persepsi akan membentuk persepsi kualitas dari suatu produk yang dapat menentukan nilai dari produk tersebut dan berpengaruh secara langsung kepada keputusan pembelian konsumen serta loyalitas mereka terhadap merek. Persepsi kualitas merupakan persepsi konsumen, maka dapat diramalkan jika persepsi kualitas pelanggan negatif, produk tidak akan disukai dan tidak akan bertahan lama dipasar. Begitu pula jika persepsi kualitas positif, maka konsumen akan memiliki minat untuk membeli dan menyukai produk tersebut. Aaker (1997) menjelaskan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa berkaitan dengan yang diharapkan oleh konsumen. Selanjutnya Aaker menegaskan satu hal yaitu bahwa persepsi kualitas merupakan persepsi para konsumen, oleh sebab itu persepsi kualitas tidak dapat diterapkan secara obyektif. Selain itu persepsi konsumen akan melibatkan apa yang penting untuk konsumen karena setiap konsumen memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap suatu produk atau jasa (Aaker, 1997).
Dalam pengertian lain disebutkan bahwa persepsi kualitas merupakan salah satu dimensi yang lain dari nilai merek (merek value). Dimana dengan adanya persepsi kualitas positif akan mendorong para pelanggan untuk menyeleksi suatu barang atau jasa dalam melakukan pembelian. Kesan yang diciptakan merupakan salah satu dari karakteristik dasar dari pemasaran modern yang berorientasi pada pelanggan, sehingga adanya perhatian yang khusus untuk menciptakan suatu merek yang kuat (strong merek) (Aaker, 1991; Zeithaml, 1988).
Dimensi Dalam Kepribadian Merek (skripsi dan tesis)
Untuk mengukur kepribadian merek maka dikembangkan sebuah model Kepribadian Merek yang terdiri dari lima dimensi inti yaitu ketulusan (sincerity), kegembiraan (excitement), kompetensi (competence), kecanggihan (sophistication), kekasaran (ruggedness) (Aaker, 1997). Dijelaskan lebih lanjut bahwa dimensi yang dirancang untuk menggambarkan struktur dan sifat dari kepribadian merek ini adalah sebagai berikut :
- Dimensi sincerity adalah ketulusan atau kesungguhan. Sincerity menggambarkan kejujuran dalam kualitas, keaslian produk, sederhana dan ceria.
- Dimensi excitement menunjukan kepribadian yang menyenangkan, unik, berjiwa muda dan up to date
- Dimensi competence menggambarkan kepribadian yang dapat diandalkan atau sesuai harapan.
- Dimensi sophistication merupakan dimensi kepribadian pembentuk pengalaman yang memuaskan.
- Dimensi ruggedness menggambarkan kepribadian yang keras. Karakter dalam dimensi ini adalah merek yang dikaitkan dengan manfaat suatu merek dalam menunjang kegiatan luar rumah dan atau kekuatan produk
Dimensi ini kemudian dikembangkan oleh Kotler & Amstrong (2012) dengan menambahkan berbagai indicator yang dapat diruaikan sebagai berikut:
Aaker (1997) mengembangkan 5 dimensi merek personality yang terdiri dari Sincerity, Excitement, Competence, Sophistication dan Rugedness. Dimensi ketulusan merek terdiri dari beberapa item yaitu rendah hati, jujur, sederhana, dan ceria. Dimensi Excitement terdiri dari berani, semangat, imajinatif dan modern. Dimensi kompetensi terdiri dari dapat diandalkan, pandai dan sukses. Dimensi sophistication terdiri dari glamor dan pesona. Dimensi ruggedness terdiri dari gagah dan kuat. Seperti yang ditunjukan pada Gambar 2.2.
- Pertama adalah Sincerity (Down-to-earth, family-oriented, small town, honest, sincere, realistic, wholesome, original, cheerful, sentimental and friendly). Dimensi ini menunjukkan sifat manusia yang tulus. Jika diaplikasikan pada merek dimensi sincerity atau kesungguhan hati ini mencerminkan bagaimana merek benar-benar menunjukkan konsistensinya dalam memenuhi need (kebutuhan), want (keinginan), dan expectation (harapan) dari konsumen.
- Kedua adalah excitement (Contemporary, independent, up-to-date, unique, imaginative, young, cool, sprited, exciting, trendy and daring). Excitement artinya kegembiraan, bagaimana sebuah merek mampu memberikan kesenangan pada pemakainya.
- Ketiga adalah dimensi Competence (Reliable, hardworking, sincere, intelligent, technical, corporate, successful, leader and confident). Dimensi Competence ini menunjukkan bahwa suatu merek punya kemampuan untuk menunjukkan keberadaanya di pasar.
- Keempat adalah dimensi sophisticating (Upper class, glamor, good-looking, charming, feminine and smooth). Dimensi ini lebih mengacu pada bagaimana suatu merek memberikan nilai bagi konsumennya. Ada dua elemen yaitu upper class dan charming.
- Dimensi yang kelima adalah rugedness (Outdoorsy, masculine, western, tough, and rugged). Dimensi ini menunjukkan bagaimana sebuah merek mampu bertahan di tengah persingan merek-merek lain. Elemen outdoorsy mengacu pada sifat kokoh dan maskulin, sedangkan tough menunjukkan elemen yang kuat.
Pengertian Kepribadian Merek (skripsi dan tesis)
Schiffman & Kanuk (2007) mendefinisikan, “Brand personality is a set of human characteristic that become associated with a brand.” yang dapat diartikan bahwa kepribadian merek adalah seperangkat karateristik seseorang yang diasosiasikan dengan sebuah merek. Kepribadian merek yang dimiliki sebuah produk akan menarik perhatian konsumen sehingga konsumen memiliki niat untuk membeli. Konsumen telah mengenal merek yang bermacam-macam sehingga kepribadian merek termasuk merupakan hal penting dalam pengambilan keputusan konsumen, dapat menimbulkan niat pembelian dalam benak konsumen (Louis & Lombart, 2010)
Kepribadian merek merupakan metafora yang berlaku untuk merek yang dimana adalah bahwa konsumen tumbuh afinitas terhadap merek didasarkan pada kepribadiannya (Koebel dan Ladwein, 2017). Kepribadian merek dapat membantu seorang konsumen dapat mengidentifikasi dirinya dalam hubungannya dengan merek berdasarkan kepribadian sendiri yang berasal dari merek. Ferrandi dan Valette-Florence (2012) membuat konsep kepribadian merek sebagai seluruh ciri-ciri kepribadian yang digunakan untuk mengkarakterisasi individu yang terkait dengan merek.
Dalam hal lain, kepribadian merek dapat digunakan untuk menganalisis perilaku konsumen untuk produk atau pilihan merek tertentu. Contoh, produsen kopi telah menemukan bahwa peminum kopi berat cenderung mempunyai kemampuan sosialisasi yang tinggi. Oleh karena itu, untuk menarik konsumen, Starbucks dan gerai kafe lainnya menciptakan lingkungan dimana orang dapat bersantai dan bersosialisasi dengan secangkir kopi panas. Idenya bahwa merek tersebut juga mempunyai kepribadian, dan bahwa konsumen senang memilih merek dengan kepribadian yang sesuai dengan kepribadian mereka. Kepribadian merek (merek personality) adalah bauran khusus karakteristik perilaku manusia yang dikaitkan dengan merek tertentu Kotler (2012).
Teori Keynes (skripsi dan tesis)
Menurut teori ini, inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup diluar batas kemampuan ekonominya. Proses inflasi, menurut pandangan ini, tidak lain adalah proses perebutan bagian rejeki diantara kelompok-kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar daripada yang bias disediakan oleh masyarakat tersebut. Proses perebutan ini akhirnya diterjemahkan menjadi keadaan dimana permintaan masyarakat akan barang-barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia (timbulnya apa yang disebut inflationary gap). Inflationary gap timbul karena adanya golongangolongan masyarakat tersebut berhasil menerjemahkan aspirasi mereka menjadi permintaan yang efektif akan barang-barang. Dengan kata lain, mereka berhasil memperoleh dana untuk mengubah aspirasinya menjadi rencana pembelian barang-barang yang didukung dengan dana
Teori Kuantitas Untuk Inflasi (skripsi dan tesis)
Teori kuantitas merupakan teori yang paling tua mengenai inflasi, namun teori ini masih sangat berguna untuk menerangkan proses inflasi di jaman yang modern ini, terutama di Negara-negara yang sedang berkembang. Teori kuantitas ini menyoroti peranan dalam inflasi dari: a) Jumlah uang yang beredar Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang yang beredar, tanpa ada kenaikan jumlah uang yang beredar. Kejadian seperti ini misalnya, kegagalan panen, hanya akan menaikkan harga-harga untuk sementara waktu saja. Bila jumlah uang tidak ditambah, inflasi akan berhenti dengan sendirinya, apapun sebab-musababnya awal dari kenaikan hargaharga tersebut. b) Psikologi (expectations) masyarakat Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar dan oleh psikologi (harapan) masyarakat mengenai harga-harga di masa mendatang.
Jenis-jenis Inflasi (skripsi dan tesis)
Pengertian Inflasi (skripsi dan tesis)
Hubungan Frekuensi Perdagangan Saham terhadap Volatilitas Harga Saham (skripsi dan tesis)
Menurut Ang frekuensi perdagangan yang tinggi menunjukan tingginya minat investor terhadap saham tersebut sehingga meningkatnya jumlah permintaan akan saham. Meningkatnya frekuensi perdagangan menyebabkan interaksi pasar dalam perdagangan yang mengakibatkan harga saham bergerak naik atau turun, sehingga menyebabkan meningkatnya volatilitas harga saham
Fungsi Frekuensi Perdagangan Saham (skripsi dan tesis)
Frekuensi perdagangan dapat digunakan untuk melihat likuiditas sebuah saham. Saham-saham dengan frekuensi perdagangan yang tinggi menunjukan saham tersebut secara aktif diperdagangkan di pasar modal. Aktivitas frekuensi perdagangan saham merupakan salah satu elemen yang menjadi salah satu bahan untuk melihat reaksi pasar terhadap sebuah informasi yang masuk pada pasar modal. Perkembangan harga saham dan aktivitas frekuensi perdagangan saham di pasar modal merupakan indikasi penting untuk mempelajari tingkah laku pasar sebagai acuan pelaku pasar dalam menentukan transaksi di pasar modal. Biasanya investor akan mendasarkan keputusan pada berbagai informasi dalam pasar modal atau lingkungan luar dari pasar modal tersebut.
Pengertian Frekuensi Perdagangan Saham (skripsi dan tesis)
Hubungan Volume Perdagangan Saham terhadap Volatilitas Harga Saham (skripsi dan tesis)
Volume perdagangan merupakan bagian dalam analisis teknikal. Kegiatan perdagangan dalam volume yang sangat tinggi di suatu bursa akan ditafsirkan sebagai tanda pasar akan membaik (bullish). Peningkatan volume perdagangan yang dibarengi peningkatan harga merupakan gejala yang makin kuat akan kondisi yang bullish. Semakin besar volume transaksi maka semakin cepat dan semakin mudah saham diperjualbelikan. Semakin banyak lembar saham yang diperjualbelikan menunjukkan optimisme pasar terhadap saham sehingga harga saham bisa meningkat. 64 Menurut Chan dan Fong volume perdagangan mencerminkan informasi yang diterima oleh pelaku pasar. Informasi yang diterima pelaku pasar baik informasi publik maupun informasi non publik akan diinterpretasikan berbeda oleh masing-masing investor. Namun pada umumnya apabila tidak ada informasi mengenai saham, investor lebih cenderung untuk tetap memegang saham mereka (hold), hal ini mengakibatkan volume perdagangan menurun karena tidak banyak saham yang dijual. Volume perdagangan yang menurun mengakibatkan volatilitas juga menurun karena harga saham tidak banyak bergerak. Begitu pula sebaliknya, apabila volume perdagangan meningkat maka volatilitasnya juga akan naik.
Fungsi Volume Perdagangan Saham (skripsi dan tesis)
Aktivitas volume perdagangan digunakan untuk melihat penilaian suatu info oleh investor individual dalam arti info tersebut membuat suatu keputusan perdagangan ataukah tidak. Hal ini berkaitan dengan salah satu motivasi investor dalam melakukan transaksi jual beli saham yaitu penghasilan yang berkaitan dengan capital gain. Volume perdagangan yang kecil menunjukkan investor yang sedikit atau kurang tertarik dalam melakukan investasi di pasar sekunder, sedangkan volume yang besar menunjukkan banyaknya investor dan banyaknya minat untuk melakukan transaksi jual dan beli saham. Volume perdagangan saham dipergunakan untuk mengukur apakah para pemodal individu mengetahui informasi yang dikeluarkan perusahaan dan menggunakanya dalam pembelian atau penjualan saham sehingga akan mendapatkan keuntungan diatas normal. Saham yang dimaksud adalah saham biasa yang diperdagangkan di pasar modal Indonesia khususnya di bursa Efek Indonesia.
Pengertian Volume Perdagangan Saham (skripsi dan tesis)
Volume perdagangan saham adalah jumlah lembar saham yang ditransaksikan antar investor dan nilai transaksinya pada satu transaksi ataupun selama periode waktu tertentu. Sementara menurut Wiyani volume perdagangan saham adalah banyaknya lembaran saham suatu emiten yang diperjualbelikan di pasar modal setiap hari dengan tingkat harga yang disepakati oleh pihak penjual dan pembeli saham. Kinerja suatu saham dapat diukur dengan volume perdagangannya. Semakin sering saham tersebut diperdagangkan mengindikasikan bahwa saham tersebut aktif dan diminati oleh para investor. Volume perdagangan ini seringkali dijadikan tolok ukur (benchmark) untuk mempelajari informasi dan dampak dari berbagai kejadian.
Penilaian Saham (skripsi dan tesis)
Indeks SRI-KEHATI (skripsi dan tesis)
Indeks ini dibentuk atas kerja sama antara Bursa Efek Indonesia dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). SRI adalah kependekan dari Sustainable Responsible Investment. Indeks ini diharapkan memberi tambahan informasi kepada investor yang ingin berinvestasi pada emiten-emiten yang memiliki kinerja sangat baik dalam mendorong usaha berkelanjutan, serta memiliki kesadaran terhadap lingkungan dan menjalankan tata kelola perusahaan yang baik. Indeks ini terdiri dari 25 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih dengan mempertimbangkan kriteri-kriteria seperti: Total Aset, Price Earning Ratio (PER) dan Free Float.
Indeks PEFINDO25 (skripsi dan tesis)
Kerja sama antara Bursa Efek Indonesia dengan lembaga rating PEFINDO meluncurkan indeks harga saham yang diberi nama Indeks PEFINDO25. Indeks ini dimaksudkan untuk memberikan tambahan informasi bagi pemodal khususnya untuk saham-saham emiten kecil dan menengah (Small Medium Enterprises / SME). Indeks ini terdiri dari 25 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria seperti: Total Aset, tingkat pengembalian modal (Return on Equity / ROE) dan opini akuntan publik. Selain kriteria tersebut di atas, diperhatikan juga faktor likuiditas dan jumlah saham yang dimiliki publik.
Indeks BISNIS-27 (skripsi dan tesis)
Kerja sama antara Bursa Efek Indonesia dengan harian Bisnis Indonesia meluncurkan indeks harga saham yang diberi nama Indeks BISNIS-27. Indeks yang terdiri dari 27 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih berdasarkan kriteria fundamental, teknikal atau likuiditas transaksi dan Akuntabilitas dan tata kelola perusahaan.
Indeks Kompas100 (skripsi dan tesis)
Indeks yang terdiri dari 100 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang sudah ditentukan. Review dan penggantian saham dilakukan setiap 6 bulan.
Jakarta Islamic Index (JII) (skripsi dan tesis)
Jakarta Islamic Index merupakan indeks yang terdiri 30 saham yang memenuhi kriteria syariah yang ditetapkan Dewan Syariah Nasional (DSN). Pembentukan JII tidak lepas dari kerja sama antara Pasar Modal Indonesia (dalam hal ini PT Bursa Efek Jakarta) dengan PT Danareksa Invesment Management.
Penentuan kriteria dalam pemilihan saham dalam JII
melibatkan Dewan Pengawas Syariah PT DIM. Sahamsaham yang akan masuk ke JII harus melalui filter syariah terlebih dahulu. Pengkajian ulang akan dilakukan 6 (enam) bulan sekali dengan penentuan komponen indeks pada
awal bulan Januari dan Juli setiap tahunnya
Indeks LQ45 (skripsi dan tesis)
Indeks yang terdiri dari 45 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang sudah ditentukan. Review dan penggantian saham dilakukan setiap 6 bulan
Indeks Sektoral (skripsi dan tesis)
Menggunakan semua Perusahaan Tercatat yang termasuk dalam masing-masing sektor. Sekarang ini ada 10 sektor yang ada di BEI yaitu sektor Pertanian, Pertambangan, Industri Dasar, Aneka Industri, Barang Konsumsi, Properti, Infrastruktur, Keuangan, Perdangangan dan Jasa, dan Manufatur
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (skripsi dan tesis)
Menggunakan semua Perusahaan Tercatat sebagai komponen perhitungan Indeks. Agar IHSG dapat menggambarkan keadaan pasar yang wajar, Bursa Efek Indonesia berwenang mengeluarkan dan atau tidak memasukkan satu atau beberapa Perusahaan Tercatat dari perhitungan IHSG. Dasar pertimbangannya antara lain, jika jumlah saham Perusahaan Tercatat tersebut yang dimiliki oleh publik (free float) relatif kecil sementara kapitalisasi pasarnya cukup besar, sehingga perubahan harga saham Perusahaan Tercatat tersebut berpotensi mempengaruhi kewajaran pergerakan IHSG. IHSG adalah milik Bursa Efek Indonesia. Bursa Efek Indonesia tidak bertanggung jawab atas produk yang diterbitkan oleh pengguna yang mempergunakan IHSG sebagai acuan (benchmark). Bursa Efek Indonesia juga tidak bertanggung jawab dalam bentuk apapun atas keputusan investasi yang dilakukan oleh siapapun Pihak yang menggunakan IHSG sebagai acuan (benchmark).
Harga Saham dan Nilai Saham (skripsi dan tesis)
Jenis Saham (skripsi dan tesis)
Saham (skripsi dan tesis)
Saham menurut Darmadji dan Fakhrudin, merupakan tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Saham merupakan sekuritas penting yang diterbitkan oleh perusahaan untuk menarik investor untuk bergabung di dalam perusahaan. Menurut Dewan Syariah Nasional (DSN) saham syariah adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang memenuhi kriteria syariah dan tidak termasuk saham yang memiliki hak-hak istimewa
Pihak yang Terlibat dalam Pasar Modal Syariah (skripsi dan tesis)
Adapun pihak-pihak yang terlibat didalam pasar modal syariah yaitu:
Instrumen Pasar Modal Syariah di Indonesia (skripsi dan tesis)
Pasar Modal Syariah di Indonesia (skripsi dan tesis)
Pasar Modal Syariah di Indonesia dimulai dengan diterbitkannya Reksa Dana Syariah oleh PT. Danareksa Investment Management pada 3 Juli 1997. Selanjutnya, Bursa Efek Indonesia berkerjasama dengan PT. Danareksa Investment Management meluncurkan Jakarta Islamic Index pada tanggal 3 Juli 2000 yang bertujuan untuk memandu investor yang ingin menginvestasikan dananya secara syariah. Dengan hadirnya indeks tersebut, maka para pemodal telah disediakan saham-saham yang dapat dijadikan sarana berinvestasi sesuai dengan prinsip syariah. Kegiatan di Pasar modal Indonesia menerapkan prinsip-prinsip syariah juga mengacu kepada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal berikut peraturan pelaksananaannya (Peraturan Bapepam-LK, Peraturan Pemerintah, Peraturan Bursa dan lain-lain). Bapepam-LK selaku regulator pasar modal di Indonesia, memiliki beberapa peraturan khusus terkait pasar modal syariah, sebagai berikut:
Peraturan Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efeek Syariah
Peraturan Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah
Peraturan Nomor IX.A.14 tentang Akad-akad yang digunakan dalam Penerbitan Efek Syariah
Peranan Pasar Modal Syariah (skripsi dan tesis)
Pasar modal merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan atau surat-surat berharga jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang maupun modal sendiri. Pasar modal merupakan salah satu pilar penting dallam perekonomian dunia saat ini. Banyak industri dan perusahaan yang menggunakan institusi pasar modal sebagai media untuk menyerap investasi dan media untuk memperkuat posisi keuangannya. Perekoniam modern tidak akan mungkin eksis tanpa adanya pasar modal yang terorganisir dengan baik. Peranan fundamental pasar modal dalam kegiatan ekonomi adalah: a) Memfasilitasi secara langsung bagi para pemilik modal guna berpartisipasi dalam meraih keuntungan berinvestasi. b) Memfasilitasi para pengusaha mendapatkan tambahan modal untuk menstabilkan tingkat likuiditas perusahaannya dengan menjual kepemilihan saham dan obligasi perusahaan. c) Memfasilitasi upaya berbagai perusahaan guna peningkatan kemampuan keuangan perusahaan dalam rangka ekspansi usaha. d) Untuk mempermudah perusahaan di dalam membagi pengelolaan keuangan internal perusahaan dengan kegiatan keuangan eksternal perusahaan. Sementara menurut Metwally fungsi dari keberadaan pasar modal syariah antara lain: a) Memungkinkan bagi masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan bisnis dengan memperoleh bagian dari keuntungan dan risikonya. b) Memungkinkan para pemegang saham menjual sahamnya guna mendapatkan likuiditas. c) Memungkinkan perusahaan meningkatkan modal dari luar untuk membangun dan mengembangkan lini produksinya. d) Memisahkan operasi kegiatan bisnis dari fluktuasi jangka pendek pada harga saham yang merupakan ciri umum pada pasar modal konvensional
Karakteristik Pasar Modal Syariah (skripsi dan tesis)
Prinsip Pasar Modal Syariah (skripsi dan tesis)
Jenis – Jenis Pasar Modal (skripsi dan tesis)
Pasar Modal Syariah (skripsi dan tesis)
Risiko Investasi (skripsi dan tesis)
Tipe Investor (skripsi dan tesis)
Bentuk-bentuk Investasi (skripsi dan tesis)
Investasi Syariah (skripsi dan tesis)
Uji Heteroskedastisitas (skripsi dan tesis)
Uji Heteroskedastisitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varians dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Jika varians berbeda maka disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedasitas (Ghozali, 2011). Cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas yaitu dengan menggunakan uji Glejser. Uji Glejser dilakukan dengan meregresi masing-masing variabel independen dengan absolut residual sebagai variabel dependen. Hipotesis yang digunakan dalam pengujian heteroskedastisitas adalah sebagai berikut : H0 : tidak ada heteroskedastisitas Ha : ada heteroskedastisitas Dasar pengambilan keputusannya adalah jika signifikasi < 0,05 maka H0 ditolak, artinya ada heteroskedastisitas, sedangkan jika signifikansi > 0,05 maka H0 diterima, artinya tidak ada heteroskedastisitas.
Uji Autokorelasi (skripsi dan tesis)
Autokorelasi sering dikenal dengan nama korelasi serial dan sering
ditemukan pada data serial waktu (time series). Uji autokorelasi
bertujuan menguji apakah dalam model regresi ada korelasi antara
kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu
pada periode t-1 (sebelumnya). Model regresi yang baik adalah regresi
yang bebas dari autokorelasi. Alat ukur yang digunakan untuk
mendeteksi adanya autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan tes
Durbin-Watson (D-W).
Uji Normalitas (skripsi dan tesis)
.
Pengaruh Order Imbalance terhadap Volatilitas Harga Saham (skripsi dan tesis)
Order imbalance disebut juga net order flow adalah perbedaan absolut antara volume harga penawaran dan volume harga permintaan per saham per hari. Dalam pasar modal seperti pasar pada umumnya, terbentuknya harga merupakan tarik menarik antara kekuatan pembeli dan penjual. Harga akan naik jika terjadi kelebihan permintaan dan akan turun jika terjadi kelebihan penawaran sehingga order imbalance (yang diukur dari perbedaan absolut antara volume penawaran dan volume permintaan) dihipotesiskan akan berpengaruh pada volatilitas harga di Bursa Efek Indonesia Volatilitas dipengaruhi oleh net order inflow, karena para pelaku pasar tidak dapat membedakan order penawaran atau permintaan itu berasal dari informed atau liquidity trader sehingga mereka akan menginterpretasikan informasi dari net order inflow (Admati dan Pfleiderer, 1988). Hal ini didukung oleh hasil penelitian Chan dan Fong (2000) yang menunjukkan bahwa volatilitas dipengaruhi oleh order imbalance. Berdasarkan uraian 29 tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa order imbalance berpengaruh positif terhadap volatilitas harga saham
Pengaruh Frekuensi Perdagangan terhadap Volatilitas Harga Saham (skripsi dan tesis)
Frekuensi perdagangan saham adalah berapa kali terjadinya transaksi jual beli pada saham yang bersangkutan pada waktu tertentu (Rohana dkk, 2003), sedangkan menurut (Ang, 1997) frekuensi perdagangan saham adalah jumlah transaksi perdagangan saham pada periode tertentu. Frekuensi perdagangan dapat digunakan untuk melihat likuiditas sebuah saham. Saham-saham dengan frekuensi perdagangan yang tinggi menunjukan saham tersebut secara aktif diperdagangkan di pasar modal. Frekuensi yang tinggi juga menunjukan tingginya minat investor terhadap saham tersebut. Minat yang tinggi dari investor biasanya akan diikuti oleh 28 meningkatnya jumlah permintaan akan saham. Terjadinya peningkatan permintaan saham maka secara tidak langsung akan terjadi peningkatan frekuensi perdagangan (Ang, 1997). Meningkatnya frekuensi perdagangan menyebabkan interaksi pasar dalam perdagangan yang mengakibatkan harga saham bergerak naik atau turun, sehingga menyebabkan meningkatnya volatilitas harga saham. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa frekuensi perdagangan berpengaruh terhadap volatilitas harga saham
Pengaruh Volume Perdagangan terhadap Volatilitas Harga Saham (skripsi dan tesis)
Volume perdagangan saham adalah banyaknya lembaran saham suatu emiten yang diperjualbelikan di pasar modal setiap hari dengan tingkat harga yang disepakati oleh pihak penjual dan pembeli saham (Wiyani, 2005). Seperti dijelaskan pada berbagai teori model hubungan antara volume perdagangan dengan volatilitas harga saham yaitu volume perdagangan berpengaruh terhadap volatilitas harga saham karena volume perdagangan mencerminkan informasi yang diterima oleh pelaku pasar (Chan dan Fong, 2000). Informasi yang diterima pelaku pasar baik informasi publik maupun informasi non publik akan diinterpretasikan berbeda oleh masing-masing investor. Namun pada umumnya apabila tidak ada informasi mengenai saham, investor lebih cenderung untuk tetap memegang saham mereka (hold), hal ini mengakibatkan volume perdagangan menurun karena tidak banyak saham yang dijual. Volume perdagangan yang menurun mengakibatkan volatilitas juga menurun karena harga saham tidak banyak bergerak. Begitu pula sebaliknya, apabila investor menerima informasi yang banyak mengenai suatu saham, maka investor akan banyak menjual saham mereka, hal ini akan berakibat meningkatnya volume perdagangan. Akibat dari peningkatan volume perdagangan tersebut, maka volatilitasnya juga akan naik. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa volume perdagangan berpengaruh positif terhadap volatilitas harga saham
Order Imbalance (skripsi dan tesis)
Order imbalance disebut juga net order flow yaitu perbedaan absolut antara volume harga penawaran dan volume harga permintaan per saham per hari. Dalam penelitian Chan dan Fong (2000) order imbalance terbukti berpengaruh terhadap volatilitas harga saham. Serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Chordia (2002) menunjukkan bahwa order imbalance memiliki pengaruh yang kuat terhadap tingkat pengembalian pasar masa lalu, yang dibuktikan dengan sikap kontrarian. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa order imbalances mempengaruhi likuiditas dan tingkat pengembalian pada level pasar agregat. Volatilitas dipengaruhi oleh net order inflow, karena para pelaku pasar tidak dapat membedakan order penawaran atau permintaan itu berasal dari informed atau liquidity trader sehingga mereka akan menginterpretasikan informasi dari net order inflow (Admati dan Pfleiderer, 1988). Dalam pasar modal seperti pasar pada umumnya, terbentuknya harga merupakan tarik menarik antara kekuatan pembeli dan penjual. Harga akan naik jika terjadi kelebihan permintaan dan akan turun jika terjadi kelebihan penawaran sehingga order imbalance (yang diukur dari perbedaan absolut antara volume penawaran dan volume permintaan) dihipotesiskan akan berpengaruh pada volatilitas harga saham di Bursa Efek Indonesia
Frekuensi Perdagangan (skripsi dan tesis)
Volume Perdagangan (skripsi dan tesis)
Volatilitas Harga Saham (skripsi dan tesis)
Indeks Harga Saham (skripsi dan tesis)
Saham (skripsi dan tesis)
Arus Modal Asing dan Harga Aset (Skripsi dan tesis)
Permanent Component dan Transitory Component Volatility (skripsi dan tesis)
Estimate of Volatility (skripsi dan tesis)
Volatilitas return ditunjukan dengan varian atau standar deviasi return. Volatilitas adalah pengukuran statistik variasi harga suatu instrumen (Butler, 1999). Dengan kata lain, volatilitas adalah kecepatan naik turunnya return. Semakin tinggi volatilitasnya, maka kepastian return suatu saham semakin rendah, begitu juga sebaliknya. Dalam melakukan forecasting, volatilitas umumnya diasumsikan konstan dari waktu ke waktu, walaupun kenyataannya tidak. Menurut Watsham (1997), volatilitas yang konstan dari waktu ke waktu disebut homoskedastic, sedangkan volatilitas yang tidak konstan disebut heteroskedastic. Volatilitas Konstan (Constant Volatility) dapat diukur menggunakan Standar Deviasi (Standard Deviation), rata-rata bergerak sederhana (Simple Moving Average) dan Historical Simulation. Standar deviasi dapat digunakan untuk mengukur volatilitas data yang memiliki distribusi normal. Standar deviasi mengukur penyebaran atau distribusi yang merupakan jarak rata-rata perubahan harga terhadap mean sebagai puncak. Asumsi volatilitas dan korelasi biasanya konstan, tetapi kenyataannya volatilitas dan korelasi pada data keuangan adalah tidak konstan, kadang menunjukan ketidakteraturan. Bisa saja pada suatu periode volatilitasnya rendah namun berikutnya diikuti dengan volatilitas tinggi. Hal ini disebut dengan volatility clustering. Volatilitas tidak konstan (Non-Constant Volatility) dapat diukur menggunakan metode Generalized Autoregresive Conditional Heteroskedastic (GARCH).
Return dan Volatilitas Saham (skripsi dan tesis)
Ang (1997) mengatakan bahwa return saham adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh investor atas suatu investasi yang dilakukan. Return saham memungkinkan seorang investor untuk membandingkan keuntungan aktual ataupun keuntungan yang diharapkan yang disediakan oleh berbagai saham pada tingkatan pengembalian yang diinginkan. Di sisi lain, return pun memiliki peran yang amat signifikan di dalam menentukan nilai dari sebuah saham. Jogiyanto (1998) menjelaskan bahwa terdapat dua unsur pokok return total saham, yaitu capital gain dan yield. Capital gain merupakan hasil yang diperoleh dari selisih antara harga pembelian (kurs beli) dengan harga penjualan (kurs jual). Artinya jika kurs beli lebih kecil dari pada kurs jual maka investor dikatakan memperoleh capital gain, dan sebaliknya disebut dengan capital loss. Yield merupakan persentase penerimaan kas periodik terhadap harga investasi periode tertentu dari suatu investasi. Untuk saham, yield adalah persentase dividen terhadap harga saham periode sebelumnya.
Transaksi Asing (skripsi dan tesis)
Indeks Harga Saham (skripsi dan tesis)
Saham (skripsi dan tesis)
Pengaruh Earnings Volatility terhadap Stock Price Volatility (skripsi dan tesis)
Earnings volatility merupakan simpang baku rasio pendapatan operasi perusahaan sebelum dikurangkan dengan tingkat bunga serta pajak (EBIT). Earnings volatility menggambarkan naik turunnya pendapatan perusahaan dalam suatu periode. Dalam kata lain, earnings volatility adalah gambaran tingkat kestabilan pendapatan atau laba suatu perusahaan. Menurut teori signalling yang dikemukakan Jama’an (2008), perusahaan seharusnya memberikan isyarat kepada pengguna laporan keuangan (kreditur atau investor). Isyarat ini dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut dalam konidisi baik. Laba yang stabil merupakan indikasi bahwa prospek perusahaan di masa mendatang akan tetap baik. Hal ini ditangkap investor sebagai isyarat baik bagi keamanan investasinya. Sebaliknya, jika laba perusahaan cenderung volatil, investor akan dihadapkan dengan resiko bagi kelangsungan investasinya. Perubahan tingkat laba mengindikasikan adanya sebuah volatilitas pendapatan perusahaan (Kinyua, 2013). Bathala et al. (1994) menyatakan bahwa, earnings volatility merupakan tanda yang mewakili sebuah resiko bisnis. Dan resiko bisnis menurut Gitman (2003) merupakan resiko yang dihadapi oleh perusahaan dimana perusahaan tidak mampu menutupi biaya operasional. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Zakaria et al. (2012), Lashgari et al. (2014) dan Jannah (2016), perusahaan dengan tingkat earnings volatility yang tinggi cenderung menggambarkan pencapaian laba perusahaan 25 yang naik turun, sehingga berpengaruh positif signifikan terhadap stock price volatility.
Pengaruh Growth in Assets terhadap Stock Price Volatility (skripsi dan tesis)
Pengaruh Dividend Yield terhadap Stock Price Volatility (Skripsi dan tesis)
.
Teori Agency Free Cash Flow (skripsi dan tesis)
Menurut Mamduh (2004), manajer keuangan akan berusaha memegang sumber daya perusahaan agar tetap dalam kendali manajer. Jika perusahaan memperoleh keuntungan atau kas masuk tinggi, maka manajer akan berusaha agar keuntungan atau kas masuk tersebut tetap berada di tangan manajer. Meskipun sebenarnya pemegang saham mungkin akan diuntungkan jika kas tersebut dibagikan kepada mereka (misal dalam bentuk deviden), kemudian pemegang saham dibiarkan menginvestasikan kas tersebut ke alternatif investasi lain yang lebih menguntungkan. Manajer berusaha menahan kas tersebut dengan berbagai cara, misal dengan tidak membayarkan deviden atau melakukan akuisisi perusahaan lain. Dengan akuisisi, sumber daya masih berada di tangan manajer. Menurut Jensen (1986) dalam Mamduh (2004), perusahaan dengan kesempatan pertumbuhan yang lebih tinggi (perusahaan berkembang), memiliki arus kas bebas (free cash flow) yang rendah karena sebagian besar dana yang ada digunakan untuk investasi pada proyek yang memiliki nilai bersih saat ini (Net Present Value) yang positif. Sebaliknya, perusahaan yang menumpuk arus kas bebas (free cash flow) seringkali mejadi sasaran akuisisi oleh perusahaan lain. Perusahaan tersebut 18 cenderung mempunyai harga saham yang lebih rendah dari harga yang seharusnya.
Teori Asimetri Informasi (skripsi dan tesis)
Mamduh (2004) menjelaskan tentang teori asimetri yang mengasumsikan bahwa pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan tidak memiliki informasi yang sama mengenai prospek dan resiko perusahaan. Pihak tertentu memiliki informasi yang lebih baik dibandingkan pihak lainnya. Manajer biasanya mempunyai informasi yang lebih baik dibanding pihak luar (seperti investor). Karena itu, dapat dikatakan terjadi asimetri informasi antara manajer dengan investor. Dengan kata lain, perilaku manajer, termasuk dalam keputusannya akan struktur permodalan perusahaan, dapat dianggap sebagai sinyal oleh investor. Menurut Myers & Majluf (1977), terdapat asimetri informasi antara manajer dengan pihak luar, dengan kata lain manajer memiliki informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi perusahaan dibandingkan pihak luar. Pada saat harga saham menunjukkan nilai yang terlalu tinggi (overvalue), manajer akan cenderung mengeluarkan saham (memanfaatkan harga yang terlalu tinggi). Tentunya pihak luar (pasar) tidak mau dikecoh. Oleh sebab itu, pada saat penerbitan saham baru diumumkan, harga akan jatuh karena pasar menginterpretasikan bahwa harga saham sudah lebih dari nilai sesungguhnya (overvalue). Teori tersebut dapat menjelaskan fenomena jatuhnya harga saham pada saat terjadi pengumuman penerbitan saham baru. Jika harga saham jatuh, maka pemegang saham lama akan dirugikan jika dilakukan penerbitan saham baru. Sebaliknya, pemegang saham baru yang akan diuntungkan karena dapat membeli saham dengan harga murah. Karena jatuhnya harga tersebut berkaitan dengan asimetri informasi, maka dapat dikatakan bahwa ada biaya asimetri informasi yang berkaitan dengan penerbitan saham. Biaya tersebut akan semakin besar jika harga saham jatuh cukup signifikan.
Teori Dividend Irrelevance (skripsi dan tesis)
Menurut Miller & Modligiani (1961), nilai perusahaan hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk menghasilkan pendapatan dan resiko bisnis, tidak pada bagaimana perusahaan memisahkan pendapatan ke laba yang ditahan dan deviden. Teori ini menyatakan bahwa pembayaran deviden sekarang atau waktu selanjutnya (capital gain) tidak relevan, karena nilai perusahaan akan tetap sama. Teori ini dapat diilustrasikan sebagai berikut, jika tahun ini perusahaan tidak membagi deviden, maka pada tahun depan, investor dapat memperoleh deviden tahun depan dan deviden yang seharusnya dibayar tahun ini ditambah dengan tingkat keuntungan dari deviden yang ditahan tersebut (Mamduh, 2004)
Teori Bird In the Hand (Devidend Relevance Theory) (skripsi dan tesis)
Teori The Bird in the Hand adalah teori yang menjelaskan bahwa investor menghendaki pembayaran deviden yang tinggi atau dapat dikatakan kebijakan deviden adalah relevan dan dibutuhkan investor. Alasan yang sering dikemukakan dalam memilih teori deviden relevan ini karena ada anggapan bahwa mendapat deviden tinggi saat ini resikonya lebih kecil daripada mendapat capital gain di masa yang akan datang. Teori Bird in The Hand dikemukakan oleh Gordon (1959) dan Lintner (1956). Menurut teori ini, investor atau pemegang saham akan lebih suka kepastian pembagian deviden daripada janji akan dibagikan deviden lebih besar di waktu mendatang. Teori ini dapat diilustrasikan dengan satu burung di tangan akan lebih bernilai, daripada banyak burung di langit. Begitu pula para pemegang saham atau investor yang memiliki karakter tidak suka bertaruh, yang lebih memilih untuk mendapat keuntungan melalui pembayaran deviden di masa sekarang daripada menunggu capital gain di masa mendatang.
Teori Signalling (skripsi dan tesis)
Menurut Jama’an (2008), teori signalling mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan isyarat kepada pengguna laporan keuangan. Isyarat ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Isyarat dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain. Teori signalling menjelaskan bahwa pemberian isyarat dilakukan oleh manajer berguna untuk mengurangi asimetri informasi. Contoh kasus dalam realita, misalnya manajer menerima informasi mengenai profitabilitas dan arus kas bebas (free cashflow) pada masa yang akan datang yang tidak dimiliki oleh investor, sehingga investor dituntut untuk mempersepsikan isyarat tersebut sesuai dengan analisanya untuk menangkap pesan yang terkandung dalam isyarat pada sebuah kebijakan deviden perusahaan (Satmoko, 2012).
Earnings Volatility (skripsi dan tesis)
Earnings volatility merupakan gambaran bagaimana pendapatan perusahaan yang naik turun dalam suatu periode. Dalam kata lain, earnings volatility adalah gambaran tingkat kestabilan pendapatan atau laba suatu perusahaan. Menurut teori signalling yang dikemukakan Jama’an (2008), perusahaan seharusnya memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan (kreditur atau investor). Sinyal ini berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut dalam konidisi baik. Laba yang stabil merupakan indikasi bahwa prospek perusahaan di masa mendatang akan tetap baik. Kondisi ini mencerminkan bahwa perusahaan memiliki konsumen yang loyal sehingga produk hasil produksinya sudah jelas alokasi penjualannya. Hal ini ditangkap investor sebagai sinyal positif bagi keamanan investasinya. Sebaliknya, jika laba perusahaan cenderung volatil, investor akan dihadapkan dengan resiko bagi kelangsungan investasinya. Perubahan tingkat laba mengindikasikan adanya sebuah volatilitas pendapatan perusahaan (Kinyua, 2013).
Firm Size (skripsi dan tesis)
Firm size merupakan skala dimana besar atau kecilnya suatu perusahaan, dapat diklasifikasikan berdasarkan toal aset perusahaan atau total penjualan (Sunyoto, 2006 dalam Dhira, 2014). Dengan dasar kategori di atas, perusahaan-perusahaan dapat dibedakan ke dalam 3 klasifikasi, yaitu perusahaan kecil, perusahaan menengah dan perusahaan besar (Suwito, 2005). 11 Perusahaan besar memiliki 3 keunggulan utama dibanding dengan perusahaan dengan skala lainnya. Pertama, perusahaan besar dapat mengakses dengan mudah perolehan dana melalui pasar modal. Kedua, perusahaan besar memiliki kekuatan tawar-menawar (bargaining power) yang tinggi. Ketiga, perusahaan besar memiliki probabilitas yang tinggi akan capaian laba yang besar (Agnes, 2004). Disamping itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh Hashemijoo et al. (2012), saham perusahaan kecil lebih likuid dibandingkan dengan perusahaan yang besar, sehingga menyebabkan harga saham lebih volatil. Perusahaan yang besar cenderung terdiversifikasi sehingga menurunkan resiko kebangkrutan. Di samping itu mereka bisa memberikan informasi lebih banyak sehingga bisa menurunkan biaya monitoring. Ukuran besar mengurangi asimetri informasi antara pihak internal perusahaan dengan investor (Mamduh, 2004).
Dividend Yield (skripsi dan tesis)
Stock Price Volatility (skripsi dan tesis)
Volatilitas merupakan pengukuran statistik untuk fluktuasi harga selama periode tertentu (Firmansyah, 2006). Ukuran tersebut menunjukkan fluktuasi harga dalam periode yang singkat dan tidak mengukur tingkat harga, melainkan derajat variasinya dari satu periode ke periode lainnya. Dalam siklus pergerakan harga saham, terdapat gerak naik dan turun atau fluktuasi pada tiap satuan waktu. Jarak antara harga terendah dan harga tertinggi dalam suatu satuan waktu sebuah harga saham dapat diterjemahkan dalam konsep volatilitas harga. Sedangkan stock price volatility adalah rentang jarak antara harga tertinggi dengan harga terendah suatu saham dalam pasar modal pada periode tertentu. Untuk mengukur rasio dari suatu saham dapat dilihat dari volatilitas saham tersebut (Hashemijoo, 2012). Stock price volatility yang lebih besar menggambarkan adanya keuntungan atau kerugian yang lebih tinggi pada kurun waktu jangka pendek. Harga saham yang mempunyai daya volatilitas tinggi, dapat berubah sewaktu-waktu dan sulit untuk diprediksi. Stock price volatility merupakan resiko sistemik yang dihadapi oleh investor (Guo, 2002). Dari hal tersebut dapat diartikan bahwa semakin besar volatilitas, semakin besar pula keuntungan atau kerugian dalam jangka waktu yang singkat (Khaled, 2011).
Return Indeks Saham dan Volatilitas Indeks Saham (skripsi dan tesis)
Kegiatan perdagangan saham yang dilakukan oleh para investor, memiliki maksud untuk memperoleh return yang lebih tinggi. Return yang lebih tinggi tersebut dapat diperoleh dari pembelian ataupun penjualan saham yang tepat. Suatu saham yang dinilai akan memberikan return yang baik, akan banyak dicari oleh para investor, dengan demikian harga dari saham tersebut akan semakin meningkat. Kenaikan atau penurunan harga dari suatu saham didasari oleh return yang akan diperoleh dari saham tersebut. Tingginya return dari suatu saham akan menyebabkan meningkatnya harga dari saham tersebut, sebaliknya akan semakin rendah harga saham itu apabila return yang diperoleh juga rendah
Volume Perdagangan Indeks Saham dan Volatilitas Indeks Saham (skripsi dan tesis)
Terdapat tiga teori yang dapat dikemukakan untuk menjelaskan adanya hubungan antara volume perdagangan saham dengan volatilitas harga saham. Pertama, mixture of distribution hypothesis, yang mengasumsikan bahwa perubahan harga per transaksi berhubungan secara monoton dengan volume transaksi yang bersangkutan. Keduanya berhubungan dengan aliran informasi yang masuk sehingga menimbulkan hubungan antara volume dan pergerakan harga (mixing variable). Kedua, difference in opinion model, yang mengemukakan apabila informasi publik berubah dari menguntungkan menjadi tidak menguntungkan atau sebaliknya, maka investor mempunyai keyakinan yang berbeda mengenai nilai saham sehingga menimbulkan transaksi perdagangan. Ketiga, asymmetric information model, yang mengemukakan bahwa investor yang berinformasi (informed investor) akan melakukan transaksi berdasarkan informasi privat yang diperolehnya. Karena itu, semakin banyak transaksi yang dilakukan investor, semakin tinggi pula volatilitas harga saham dikarenakan munculnya informasi privat. (Tim Studi Volatilitas Pasar Modal Indonesia dan Perekonomian Dunia, 2011) Berbagai penelitian membuktikan bahwa volume perdagangan berpengaruh signifikan tehadap volatilitas harga saham, misalnya seperti penelitian yang dilakukan oleh Chan dan Fong (2000) menemukan bahwa volume perdagangan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap harga saham. Temuan serupa juga ditunjukkan oleh Chen et al. (2001) yang menganalisis indeks saham di sembilan negara. Studi tersebut menunjukkan bahwa volatilitas indeks saham memiliki keterkaitan yang positif dan signifikan dengan volume perdagangan
Volume Perdagangan Indeks Saham dan Return Indeks Saham (skripsi dan tesis)
Kegiatan perdagangan saham dapat dilihat melalui indikator aktifitas volume perdagangan (trading volume activity) (Suad, 1998). Kegiatan volume perdagangan yang sangat tinggi di bursa akan ditafsirkan sebagai tanda pasar akan membaik. Peningkatan volume perdagangan dibarengi dengan peningkatan harga saham merupakan gejala yang makin kuat akan kondisi bullish (Suad, 1998). Teori likuiditas menyatakan bahwa pengurangan dalam likuiditas saham akan mempengaruhi pengurangan dalam harga saham juga (Amihud, et al, 2005). Likuiditas diartikan sebagai kemudahan untuk melakukakan transaksi dalam sekuritas. Semakin likuid suatu sekuritas dapat diartikan semakin besar volume perdagangan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ketika volume perdagangan mengalami kenaikan, maka harga saham juga akan mengalami kenaikan. Kenaikan atau penurunan harga saham akan mempengaruhi return saham, apabila harga saham naik, return saham akan mengalami kenaikan. Begitu juga sebaliknya, ketika volume perdagangan menurun, maka harga saham akan mengalami penurunan dan berdampak terhadap penurunan return saham. Penelitian yang dilakukan oleh Fuadi (2009) menunjukan bahwa volume perdagangan mempunyai pengaruh positif terhadap return saham. Hal ini diperkuat pada hasil penelitian dari Kant (2011), Le Quang Tiep dan Mustafa Mehmed (2009), Pathirawasam (2009), Mubarik dan Javid (2009), Medeiros dan Doornik (2008). yang menyimpulkan bahwa volume perdagangan mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap return saham.
Return Indeks Saham dan Volume Perdagangan Indeks Saham (skripsi dan tesis)
Teori permintaan aset menyebutkan bahwa jumlah permintaan suatu asset berhubungan positif dengan perkiraan imbal hasil aset alternatif (Mishkin, 2008). Hal ini dapat diartikan bahwa ketika harga saham diperkirakan akan mengalami kenaikan yang menyebabkan kenaikan return saham, maka volume perdagangan juga akan mengalami kenaikan. 35 Penelitian yang dilakukan oleh Ravichandran dan Bose (2012) menunjukan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara return saham dan volume perdagangan. Hal ini juga diperkuat dalam penelitian yang dilakukan oleh Ravi Kant (2011), Mubarik dan Javid (2009), Medeiros dan Doornik (2008) yang menemukan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara return saham dan volume perdagangan
Seasonal Volatility (Skripsi dan tesis)
Komoditas pertanian tertentu seperti jagung, kacang, kedelai dan gandum sangat sensitif terhadap faktor-faktor volatilitas yang muncul dari kondisi cuaca musim yang jelek, Oleh karena itu berdasarkan faktor-faktor tersebut seseorang harus menetapkan volatilitas yang tinggi pada masamasa tersebut.
Forecast Volatility (skripsi dan tesis)
Seperti halnya terdapat jasa yang berusaha meramalkan pergerakan arah masa depan harga suatu kontrak demikian juga terdapat jasa yang berusaha meramalkan volatilitas masa depan suatu kontrak. Peramalan bisa jadi untuk suatu periode, tetapi biasanya mencakup periode yang identik dengan sisa masa option dari underlying contract
Historical Volatility (skripsi dan tesis)
Masa depan dapat diprediksi dengan mempelajari masa lalu. Hal ini dilakukan dengan membuat suatu permodelan dengan teori pricing berdasarkan data masa lalu untuk meramalkan volatilitas pada masa yang akan datang. Terdapat bermacam-macam pilihan dalam menghitung historical volatility, namun sebagian besar metode bergantung pada pemilihan dua paremeter, yaitu periode historis dimana volatilitas akan dihitung, dan interval waktu antara perubahan harga. Periode historis dapat berupa jadi empat belas hari, enam bulan, lima tahun, atau lainnya. Interval waktu dapat berupa harian, mingguan, bulanan, atau lainnya. Future volatility dan historical volatility terkadang disebut sebagai realized volatility
Future Volatility (skripsi dan tesis)
Future volatility adalah apa yang hendak diketahui oleh para pemain dalam pasar keuangan (trader). Volatilitas yang paling baik adalah yang mampu menggambarkan penyebaran harga di masa yang akan datang untuk suatu undelying contract. Secara teori angka tersebut merupakan yang kita maksud ketika kita membicarakan input volatilitas ke dalam model teori pricing. Trader jarang membicarakan future volatily karena masa depan tidak mungkin diketahui.
Volatilitas Indeks Saham (skripsi dan tesis)
Dikutip dari penelitian yang dilakukan oleh Napitupulu dan Syahyunan, (2012), dikatakan bahwa volatilitas merupakan ukuran terhadap sebaran/dispersi di sekitar rata-rata hasil dari sebuah sekuritas. Satu cara untuk mengukur volatilitas adalah dengan menggunakan standar deviasi, yang akan menjelaskan seberapa ketat harga suatu saham dapat dikelompokkan di seputar rata-rata (mean) atau rata-rata bergerak (moving average/MA). Ketika harga-harga bergerak sangat ketat dalam satu gerombolan, standar deviasinya sangat kecil. Ketika pergerakan harga sangat tersebar, standar deviasi akan relatif besar. Volatilitas dari suatu saham atau indeks saham sangat penting untuk dipahami oleh para investor. Itu dimaksudkan untuk meminimalisir resiko yang akan dihadapi. Semakin tinggi tingkat volatilitas, semakin tinggi pula tingkat ketidakpastian dari imbal hasil (return) saham yang dapat diperoleh. Salah satu dari sepuluh prinsip manajemen keuangan menyatakan bahwa investor tidak akan mau mengambil risiko yang lebih tinggi kecuali apabila dapat memperoleh kompensasi berupa return yang lebih tinggi (high risk, high return) (Keown et al., 2003). Menurut Schwert dan W. Smith, Jr (1992) dalam terdapat lima jenis volatilitas dalam pasar keuangan, yaitu future volatility, historical volatility, forecast volatility, implied volatility, dan seasonal volatility.
Return Saham dan Indeks Saham (skripsi dan tesis)
Return merupakan hasil yang diperoleh dari kegiatan investasi. Return saham adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh pemodal atas suatu investasi yang dilakukannya (Ang, 1997). Setiap investasi baik jangka panjang maupun jangka pendek mempunyai tujuan utama untuk mendapatkan keuntungan yang disebut return, baik langsung maupun tidak langsung (Ang, 1997). Penghitungan return saham (total return) terdiri dari capital gain (loss) dan yield (Jogiyanto, 2009). Capital gain (loss) merupakan selisih untung (rugi) dari harga investasi sekarang relatif dengan harga periode yang lalu. Pendapatan yang berasal dari capital gain disebabkan harga jual saham lebih besar dari harga belinya. Sebaliknya jika harga jual saham lebih kecil dari harga beli disebut capital loss. Sedangkan yield (dividen) merupakan presentase penerimaan kas periodik terhadap harga investasi periode tertentu dari suatu investasi. Besarnya dividen yang dibagikan tergantung dari besar kecilnya laba yang diperoleh badan usaha dan kebijakan pembagian dividen.
Indeks Saham Beberapa Negara (skripsi dan tesis)
Penjelasan secara ringkas mengenai indeks saham dari masing-masing negara yang akan dijadikan obyek penelitian, yang dikutip dari situs Bloomberg:
Indeks Harga Saham Gabungan (skripsi dan tesis)
Indeks harga saham gabungan suatu rangkaian informasi historis mengenai pergerakan harga saham gabungan, sampai tanggal tertentu. Indeks harga saham gabungan mencerminkan suatu nilai yang berfungsi sebagai pengukuran kinerja suatu saham gabungan di bursa efek (Sunariyah, 2006). Ada 3 cara pembobotan yang bisa digunakan untuk penentuan metode hitungan indeks pasar (Bodie, Kane dan Marcus, 2006 : hal 63) : 1. Berdasarkan harga (tertimbang berdasarkan harga atau price-weighted) 2. Berdasarkan nilai kapitalisasi pasar ( tertimbang berdasarkan nilai atau market value-weighted). 17 3. Tidak tertimbang atau berbobot sama ( unweighted atau equal-weights)
Indeks Harga Saham Individual (skripsi dan tesis)
Indeks Harga Saham Individual menggambarkan suatu rangkaian
informasi historis mengenai pergerakan harga masing-masing saham, sampai
pada tanggal tertentu. Indeks harga saham individu hanya menunjukan
perubahan dari suatu harga saham suatu perusahaan. Harga dasar sering
disebut Ho dan harga yang berlaku sering disebut dengan Ht. Harga dasar
ditetapkan sebesar 100%. Secara sederhana rumus untuk menghitung indeks
harga saham adalah berikut ini.
HIS = ( Ht/Ho)x 100%
Keterangan:
IHS = Indeks harga saham
Ht = Harga pada waktu yang berlaku
Ho = Harga pada waktu dasar
Pergerakan nilai indeks akan menunjukan perubahan situasi pasar yang
terjadi. Pasar yang sedang bergairah atau terjadi transaksi yang aktif, ditunjukan dengan indeks harga saham yang mengalami kenaikan. Kondisi ini yang biasanya menunjukan keadaan yang diinginkan. Keadaan stabil ditunjukan dengan indeks harga saham yang tetap, sedangkan pasar yang lesu ditunjukan dengan indeks harga saham yang mengalami penurunan.
Indeks saham individual tidak akan berubah jika harga pasar saham
tersebut tidak berubah. Hal ini disebabkan karena harga dasar bersifat tetap.
Besarnya harga dasar ini akan tetap, sepanjang tidak ada perubahan harga pasar akibat dari harga teoritis baru suatu saham sebagai hasil perhitungan dari pengaruh aksi emiten seperti,rights issue,stock split, saham bonus, dividen saham, warrant redeption, dan sebagainya (Ang,1997)
Likuiditas (skripsi dan tesis)
Rasio likuiditas digambarkan mampu mengukur sejauh mana kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek, sehingga bila ditagih perusahaan mampu membayar utang terutama utang jatuh tempo. Kewajiban jangka pendek perusahaan berupa gaji karyawan, gaji teknisi, gaji lembur, tagihan telepon, dsb. Apabila perusahaan mampu melunasi kewajiban jangka pendeknya dengan tuntas maka potensi perusahaan mengalami financial distress akan semakin kecil menurut Fed Weston (dalam Kasmir 2008). Rasio likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini adalah current ratio. Current ratio merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih. Rasio ini dapat pula dikatakan sebagai metode untuk mengukur tingkat keamanan (margin of safety) suatu perusahaan (Kasmir, 2008). Menurut rasio likuiditas untuk perusahaan dapat dinilai aman adalah 2, artinya jika perusahaan mempunyai hutang sebesar Rp 1, maka perusahaan barus juga mempunyai aset lancar minimal sejumlah Rp 2, dari rasio ini dapat diperoleh pandangan tentang solvabilitas kas pada saat ini dan kemampuan perusahaan untuk tetap mempertahankan solvabilitasnya. Rasio solvabilitas yang kurang bsik dalam jangka panjang akan berpengaruh terhadap solvabilitas perusahaan. Rasio likuiditas mengukur keefektifan perusahaan dalam menggunakan aset yang dimilikinya untuk mememnuhi kewajiban – kewajiban jangka pendek perusahaan.
Financial Indicators (skripsi dan tesis)
Financial Indicators dapat dikatakan sebagagai indikator kinerja keuangan perusahaan merupakan hasil atau kondisi keuangan suatu perusahaan maupun kinerja yang telah dicapai oleh perusahaan untuk suatu periode tertentu yang disajikan di dalam laporan keuangan perusahaan (Jiming dan Wei Wei, 2011). Menurut teori manajemen keuangan financial indicators dapat menggabungakan aset dan kewajiban melalui laporan laba rugi dan arus kas selain itu dapat menghilangkan efek skala perusahaan dan perbedaan industri pada penelitian Jiming dan Wei Wei, 2011 menggunakan indikator yaitu: 1. Indikator solvabilitas meliputi solvabilitas jangka panjang dan solvabilitas jangka pendek indikator tersebut untuk mengkur keadaan perusahaan yang meliputi rasio likuiditas, current rasio, quick rasio, cash to current liability ratio, equity rario, debt asset rasio, debt equity ratio, agregat dan penutupan bunga. 2. Indikator profitabilitas merupakan sebagai pusat dari sistem keuangan. Indikator profitabilitas dapat mencerminkan profitabilitas perusahaan meliputi laba kotor bisnis utama, laba bersih dari bisnis utama, ratio of return on total assets, total accruals to total assets dan rate of return. 3. Indikator kapasitas operasi mencerminkan efisiensi operasional perusahaan meliputi perputaran piutang, perputaran persediaan, dan perputaran total aset. 4. Indikator pertumbuhan mencerminkan tingkat pertumbuhan pendapatan bisnis utama tingkat pertumbuhan laba operasi, tingkat pertumbuhan laba bersih, tingkat pertumbuhan total aset dan tingkat pertumbuhan bersih aset. 5. Indikator arus kas mencerminkan peran arus kas meliputi tingkat penjualan tunai, arus kas bersih, dari aktivitas operasi setiap saham dan arus kas masuk dan keluar dari aktivitas operasi. Indikator keuangan yang disebutkan diatas merupakan pilihan untuk melihat perusahaan pengalami financial distress sehingga dalam penelitain ini memilih variabel penelitian yaitu likuiditas, leverage, operating capacity
Financial Distres (skripsi dan tesis)
Financial distres adalah keadaan dimana keuangan perusahaan sedang mengalami kesulitan atau keadaan tidak sehat. Financial distress yaitu tahapan penurunan kondisi keuangan sebelum terjadinya kebangkrutan ataupun likuidasi. Financial distress dimulai dengan ketidak mampuan memenuhi kewajibankewajibannya, terutama kewajiban jangka pendek termasuk kewajiban likuiditas, dan merupakan kewajiban dalam kategori solvabilitas menurut Plat dan Plat (dalam Fahmi 2013:158). Financial distress adalah suatu masalah keuangan yang dapat dihadapi perusahaan yang memiliki beberapa tahapan (dalam Febriani 2010:196). Tahapan kebangkrutan tersebut dijelaskan sebagai berikut:
Teori Keagenan (skripsi dan tesis)
Teori keagenan (agency theory) merupakan teori yang menjelaskan tentang adanya pemisahan kepentingan antara pemilik perusahaan dan pengelola perusahaan (Bodroastuti, 2009). Menurut teori keagenan, pemisahan ini dapat menyebabkan konflik. Terjadinya agency confict disebabkan pihak – pihak yang berhubungan yaitu principal (yang menyerahkan kontrak atau pemegang saham) dan agen (yang menerima kontrak dan mengelola dana principal) mempunyai kepentingan yang saling bertentangan. Apabila agen dan principal berupaya mengoptimalkan kepentingannya masing – masing, serta memiliki keinginan, motivasi dan tujuan yang berbeda, maka agen (manajemen) tidak selalu bertindak sesuai keinginan principal menurut Jensen dan Mecking (dalam Hanifah, 2013). Permasalahan yang muncul karena adanya perbedaan sudut pandang dan kepentingan antara agen dan principal disebut agency problem. Salah satu penyebab agency problem adalah adanya asymmetric information. Asymmetrc information adalah informasi yang tidak seimbang karena adannya distribusi informasi yang berbeda antara principal dan agen yang mengakibatkan masalah yaitu kesulitan principal untuk memonitor dan melakukan kontrol terhadap tindakan-tindakan agen (Emirzon,2007). Jensen dan Mecking (dalam Hanifah, 2013) menyatakan permasalahan adalah: 1. Moral hazard, yaitu permasalahan yang muncul jika agen tidak melaksanakan hal-hal yang disepakati bersama dalam kontrak kerja. 2. Adverse selection, yaitu keadaan dimana principal tidak dapat memehami apakah suatu keputusan diambil oleh agen benar didasakan atas informasi yang telah diperolehnya atau terjadinya sebagai sebuah kelalaian tugas. Dengan demikian perlu suatu mekanisme pengendalian yang dapat menyatukan perbedaan yaitu good corporate governance. Good corporate governance adalah sistem antisipasi agar tidak terjadi konflik atau antara pihak agen dan principal yang berdampak pada penurunan agency cost (Bondroastuti,2009)
Pengaruh Merger dan Akuisisi Terhadap Kinerja Keuangan
Peningkatan kinerja keuangan perusahaan setelah merger dan akuisisi yang diukur menggunakan ROE dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Kadek dan Made (2013). Selain penelitian tersebut peningkatan ROE setelah peristiwa akuisisi juga dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Fuji dan Ardi (2012) pada perusahaan yang pengakuisisi. Jurnal Internasional yang disusun oleh Mahesh dan Daddikar (2012) yang melakukan penelitian tentang peningkatan kinerja pasca merger menunjukan bahwa kinerja keuangan yang diukur mengguanakan rasio ROE mengalami peningkatan yang signifikan setalah peristiwa merger. Pengaruh merger dan akuisisi tehadap peningkatan kinerja keuangan yang diukur menggunakan ROI dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan Hamidah dan 20 Manasye (2013). Selain penelitian di atas. penelitian yang dilakukan oleh Fuji dan Ardi (2012) juga mengungkap adanya peningkatan kinerja keuangan pasca merger yang diukur menggunakan rasio keuangan ROI. Total Assets Turnover (TATO) mengalami peningkatan pasca merger dan akuisisi dilakukan tercermin pada penelitian yang dilakukan oleh Fuji dan Ardi (2012). Selain ROE. ROI. dan TATO yang dijadikan rasio untuk mengukur kinerja keuangan pada penelitian ini juga ditambahkan Debt to Total Equity (DTE) sebagai rasio hutang yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan perushaan. Meurut Sawir Agnes (2009:13) Debt Ratio adalah sejauh mana hutang sebuah perushaan dapat ditutup oleh aktiva yang dimiliki. Penelitian terdahulu yang menggunakan DTE sebagai variabel penelitian adalah penelitian Fuji dan Ardi (2012) sebagai alasan peneliti saat ini menggunakan DTE sebagai variabel penelitian.
Alasan Perusahaan melakukan Merger dan Akuisisi (skripsi dan tesis)
Menurut James C. Van Horne dan John M. Wachowicz (2013:364) bahwa alasan perusahaan melakukan merger dan akuisisi adalah sebagai berikut : 1. Peningkatan Penjualan dan Operasional yang Ekonomis Peningkatan dalam penjualan serta pencapaian operasional yang ekonomis merupakan salah satu alasan perusahaan melakukan merger dan akuisisi. Peningkatan penjualan didapat setelah peristiwa merger dan akuisisi ini diharapkan dapat meningkatkan penjualan serta pemasaran yang lebih besar. Sementara operasional ekonomis tersebut yang dimaksud adalah penambahan teknologi serta tenaga kerja yang dapat menghasilkan produk yang lebih banyak dalam waktu yang singkat. 2. Perbaikan Manajemen Banyak perusahaan yang bekerja dalam sebuah menejemen yang tidak efisien. maka diharapkan merger dan akuisisi dapat menjawab permasalahan tersebut. 3. Pengaruh Informasi Setelah peristiwa merger dan akuisisi diharapkan dapat memberikan sinyal-sinyal positif bagi investor. sehingga nilai pasar perusahaan bisa membaik setelah merger dan akuisisi. 4. Transfer Kesejahteraan Transfer kesejahteraan yang dimaksud adalah transfer kesejahteraan antara pemegang saham dengan pemilik utang. 5. Penghematan pajak Perusahaan melakukan akuisisi sebagai potensi memperoleh penghematan pajak. Salah satu sumber penghematan pajak adalah untuk meningkatkan debt capacity. Apabila penggabungan perusahaan menyebabkan kombinasi perusahaan tersebut mampu meminjam lebih besar tanpa harus meningkatkan biaya kebangkrutan. maka tambahan pinjaman tersebut akan mampu memberikan manfaat dalam bentuk tax savings. 6. Keuntungan Leverage Perubahan yang terjadi pada leverage keuangan perusahaan setelah peristiwa merger dan akuisisi diharapkan dapat menambah nila perusahaan yang tercermin pada kinerja keuangan. 7. Hipotesis Hubris Hubris menyatakan bahwa premi lebih yang dibayar untuk perusahaan target menguntungkan pemegang saham perusahaan yang diakuisisi. 8. Agenda Manajemen Pribadi Alasan terkhir perusahaan melakukan merger dan akuisisi ini merupakan ambisi pribadi manajemen dalam rangka menguasai pasar dengan melakukan penggabungan serta pembelian terhadap perusahaan lain.
Pengertian Merger dan Akuisisi (skripsi dan tesis)
Merger adalah salah satu strategi perusahaan dalam mengembangkan dan menumbuhkan perusahaan. Merger berasal dari kata merger (latin) yang berarti bergabung. bersama. berkombinasi yang menyebabkan hilangnya identitas akibat penggabungan ini. Merger didefinisikan penggabungan usaha dari dua atau lebih perusahaan yang pada akhirnya bergabung kedalam salah satu perusahaan yang telah ada sebelumnya. sehingga menghilangkan salah satu nama perusahaan yang melakukan merger. Dengan kata lain bahwa merger adalah kesepakatan dua atau lebih perusahaan untuk bergabung yang kemudian hanya ada satu perusahaan yang tetap hidup sebagai badan hukum. sementara yang lainnya menghentikan aktivitas atau bubar (Moin. 2010:15). Pihak yang masih hidup dalam atau yang menerima merger dinamakan surviving firm atau pihak yang mengeluarkan saham (issuing firm). Sementara itu perusahaan yang berhenti dan bubar setelah terjadinya merger dinamakan merged firm. Surviving firm dengan sendirinya memiliki ukuran yang semakin besar karena seluruh aset dan kewajiban dari merger firm dialihkan ke surviving firm. Perusahaan yang dimerger akan menanggalkan status hukumnya sebagai entitas yang terpisah dan setelah merger statusnya berubah menjadi bagian (unit bisnis) di bawah surviving firm. Dengan demikian merged firm tidak dapat bertindak hukum atas namanya sendiri.
Brand Association (skripsi dan tesis)
Aaker dalam Handayani, dkk (2010: 76), mendefinisikan brand association sebagai segala sesuatu yang terhubung di memori konsumen terhadap suatu merek. Schiffman dan Kanuk (2000: 111), menambahkan bahwa asosiasi merek yang positif mampu menciptakan citra merek yang 24 sesuai dengan keinginan konsumen, sehingga dapat menciptakan rasa percaya diri konsumen atas keputusan pembelian merek tersebut. Menurut Simamora (2003: 63), asosiasi merek adalah segala hal yang berkaitan tentang merek dalam ingatan. Sedangkan menurut Durianto, dkk (2004: 61), asosiasi merek merupakan segala kesan yang muncul di benak seseorang yang terkait dengan ingatannya mengenai suatu merek. Keller (2003: 731), secara konseptual membedakan tiga dimensi dari asosiasi merek, yaitu:
1) Strength (kekuatan) Kekuatan dari asosiasi merek tergantung dari banyaknya jumlah atau kuantitas dan kualitas informasi yang diterima oleh konsumen. Semakin dalam konsumen menerima informasi merek, semakin kuat asosiasi merek yang dimilikinya. Dua faktor yang memengaruhi kekuatan asosiasi merek yaitu hubungan personal dari informasi tersebut dan konsistensi informasi tersebut sepanjang waktu.
2) Favorability (kesukaan) Asosiasi merek yang disukai terbentuk oleh program pemasaran yang berjalan efektif mengantarkan produk-produknya menjadi produk yang disukai oleh konsumen.
3) Uniqueness (keunikan) Asosiasi keunikan merek tercipta dari asosiasi kekuatan dan kesukaan yang membuat suatu merek menjadi lain daripada yang lain. Dengan adanya asosiasi unik dari suatu merek, akan tercipta keuntungan kompetitif dan alasan-alasan mengapa konsumen sebaiknya membeli merek tersebut. Asosiasi unik dirancang agar konsumen “tidak ada alasan untuk tidak” memilih merek tersebut. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa asosiasi merek merupakan segala hal atau kesan yang ada di benak seseorang yang berkaitan dengan ingatannya mengenai suatu merek. Kesan-kesan yang terkait merek akan semakin meningkat dengan semakin banyaknya pengalaman konsumen dalam mengonsumsi atau menggunakan suatu merek atau dengan seringnya penampakkan merek tersebut dalam strategi komunikasinya, ditambah lagi jika kaitan tersebut didukung oleh suatu jaringan dari kaitan-kaitan lain. Sebuah merek adalah seperangkat asosiasi, biasanya terangkai dalam berbagai bentuk yang bermakna.
Menurut Durianto, dkk (2004: 69), asosiasi-asosiasi yang terkait dengan suatu merek umumnya dihubungkan dengan berbagai hal berikut:
1) Atribut produk (product attributes) Atribut produk yang paling banyak digunakan dalam strategi positioning adalah mengasosiasikan suatu obyek dengan salah satu atau beberapa atribut atau karakteristik produk yang bermakna dan saling mendukung, sehingga asosiasi bisa secara langsung diterjemahkan dalam alasan untuk pembelian suatu produk.
2) Atribut tak berwujud (intangibles attributes) Suatu faktor tak berwujud merupakan atribut umum, seperti halnya persepsi kualitas, kemajuan teknologi, inovasi, atau kesan nilai yang mengikhtisarkan serangkaian atribut yang obyektif.
3) Manfaat bagi konsumen (customers benefits) Biasanya terdapat hubungan antara atribut produk dan manfaat bagi konsumen. Terdapat dua manfaat bagi konsumen, yaitu: (a) manfaat rasional (rational benefit), adalah manfaat yang berkaitan erat dengan suatu atribut produk dari produk yang dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan yang rasional; (b) manfaat psikologis (psychological benefit), seringkali merupakan konsekuensi ekstrim dalam proses pembentukan sikap, berkaitan dengan perasaan yang ditimbulkan ketika membeli atau menggunakan merek tersebut.
4) Harga relatif (relative price) Evaluasi terhadap suatu merek di sebagian kelas produk ini akan diawali dengan penentuan posisi merek tersebut dalam satu atau dua dari tingkat harga.
5) Penggunaan (application) Pendekatan ini adalah dengan mengasosiasikan merek tersebut dengan suatu penggunaan atau aplikasi tertentu.
6) Pengguna/konsumen (user/customer) Pendekatan ini adalah dengan mengasosiasikan sebuah merek dengan sebuah tipe pengguna atau konsumen dari produk tersebut.
7) Orang terkenal/khalayak (celebrity/person) Mengkaitkan orang terkenal atau artis dengan sebuah merek dapat mentransfer asosiasi kuat yang dimiliki oleh orang terkenal ke merek tersebut.
8) Gaya hidup/kepribadian (lifestyle/personality) Sebuah merek bisa diilhami oleh para konsumen merek tersebut dengan aneka kepribadian dan karakteristik gaya hidup yang hampir sama.
9) Kelas produk (product class) Beberapa merek perlu membuat keputusan positioning yang menentukan dan melibatkan asosiasi-asosiasi kelas produk.
10) Para pesaing (competitors) Mengetahui pesaing dan berusaha untuk menyamai atau bahkan mengungguli pesaing.
11) Negara/wilayah geografis (country/geographic area) Sebuah negara dapat menjadi simbol yang kuat asalkan memiliki hubungan yang erat dengan produk, bahan, dan kemampuan.
Pada umumnya asosiasi merek (terutama yang membentuk brand image-nya) menjadi pijakan konsumen dalam keputusan pembelian dan loyalitas pada merek tersebut. Dalam prakteknya, didapati banyak sekali kemungkinan asosiasi dan varian dari asosiasi merek yang dapat memberikan nilai bagi suatu merek, dipandang dari sisi perusahaan maupun dari sisi pengguna.
Menurut Simamora (2003: 82) antara lain: 1) Proses penyusunan informasi Asosiasi-asosiasi dapat membantu mengikhtisarkan sekumpulan fakta dan spesifikasi yang mungkin sulit diproses dan diakses para konsumen. 2) Pembedaan Suatu asosiasi dapat memberikan landasan yang penting bagi upaya pembedaan suatu merek dari merek lain. 3) Alasan untuk membeli Asosiasi merek yang berhubungan dengan atribut produk atau manfaat bagi konsumen yang dapat pembeli untuk menggunakan merek tersebut. 4) Menciptakan sikap atau perasaan positif Asosiasi mampu merangsang suatu perasaan positif yang pada gilirannya merambat pada merek yang bersangkutan. 5) Landasan untuk perluasan Asosiasi dapat menjadi dasar perluasan sebuah merek dengan menciptakan kesan kesesuaian antara merek tersebut dan produk baru perusahaan
Brand Awareness (skripsi dan tesis)
Aaker dalam Handayani, dkk (2010: 62), mendefinisikan kesadaran merek adalah kemampuan dari konsumen potensial untuk mengenali atau mengingat bahwa suatu merek termasuk ke dalam kategori produk tertentu. Sedangkan menurut Durianto, dkk (2004: 30), brand awareness adalah kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali, mengingat kembali suatu merek sebagai bagian dari suatu kategori produk tertentu. Kesadaran merek merupakan elemen ekuitas yang sangat penting bagi perusahaan karena kesadaran merek dapat berpengaruh secara langsung terhadap ekuitas merek. Apabila kesadaran konsumen terhadap merek rendah, maka dapat dipastikan bahwa ekuitas mereknya juga akan rendah. Kemampuan konsumen untuk mengenali atau mengingat merek suatu produk berbeda tergantung tingkat komunikasi merek atau persepsi konsumen terhadap merek produk yang ditawarkan.
Berikut adalah tingkatan brand awareness yang dikemukakan oleh Handayani, dkk (2010: 65): 22 1) Unware of brand Pada tahapan ini, konsumen merasa ragu atau tidak yakin apakah sudah mengenal merek yang disebutkan atau belum. Tingkatan ini yang harus dihindarkan oleh perusahaan. 2) Brand recognition Pada tahapan ini, konsumen mampu mengidentifikasi merek yang disebutkan. 3) Brand recall Pada tahapan ini, konsumen mampu mengingat merek tanpa diberikan stimulus. 4) Top of mind Pada tahapan ini konsumen mengingat merek sebagai yang pertama kali muncul di pikiran saat berbicara mengenai kategori produk tertentu. Kesadaran merek akan sangat berpengaruh terhadap ekuitas suatu merek. Kesadaran merek akan memengaruhi persepsi dan tingkah laku seorang konsumen. Oleh karena itu meningkatkan kesadaran konsumen terhadap merek merupakan prioritas perusahaan untuk membangun ekuitas merek yang kuat. Durianto, dkk (2004: 57), mengungkapkan bahwa tingkat kesadaran konsumen terhadap suatu merek dapat ditingkatkan melalui berbagai upaya sebagai berikut:
1) Suatu merek harus dapat menyampaikan pesan yang mudah diingat oleh para konsumen. Pesan yang disampaikan harus berbeda dibandingkan merek lainnya. Selain itu pesan yang disampaikan harus memiliki hubungan dengan merek dan kategori produknya.
2) Perusahaan disarankan memakai jingle lagu dan slogan yang menarik agar merek lebih mudah diingat oleh konsumen.
3) Simbol yang digunakan perusahaan sebaiknya memiliki hubungan dengan mereknya.
4) Perusahaan dapat menggunakan merek untuk melakukan perluasan produk, sehingga merek tersebut akan semakin diingat oleh konsumen.
5) Perusahaan dapat memperkuat kesadaran merek melalui suatu isyarat yang sesuai dengan kategori produk, merek, atau keduanya.
6) Membentuk ingatan dalam pikiran konsumen akan lebih sulit dibandingkan dengan memperkenalkan suatu produk baru, sehingga perusahaan harus selalu melakukan pengulangan untuk meningkatkan ingatan konsumen terhadap merek.
Ekuitas Merek (skripsi dan tesis)
Menurut Kotler dan Keller (2009: 263), ekuitas merek adalah nilai tambah yang diberikan pada produk dan jasa. Ekuitas merek dapat tercermin dalam cara konsumen berpikir, merasa, dan bertindak dalam hubungannya dengan merek, dan juga harga, pangsa pasar, dan profitabilitas yang diberikan merek bagi perusahaan. Menurut Durianto, dkk (2004: 61), ekuitas merek dapat memberikan nilai bagi perusahaan. Berikut adalah nilai ekuitas merek bagi perusahaan:
a. Ekuitas merek yang kuat dapat membantu perusahaan dalam upaya menarik minat calon konsumen serta upaya untuk menjalin hubungan yang baik dengan para konsumen dan dapat menghilangkan keraguan konsumen terhadap kualitas merek.
b. Seluruh elemen ekuitas merek dapat memengaruhi keputusan pembelian konsumen karena ekuitas merek yang kuat akan mengurangi keinginan konsumen untuk berpindah ke merek lain.
c. Konsumen yang memiliki loyalitas tinggi terhadap suatu merek tidak akan mudah untuk berpindah ke merek pesaing, walaupun pesaing telah melakukan inovasi produk.
d. Asosiasi merek akan berguna bagi perusahaan untuk melakukan evaluasi atas keputusan strategi perluasan merek.
e. Perusahaan yang memiliki ekuitas merek yang kuat dapat menentukan harga premium serta mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap promosi.
f. Perusahaan yang memiliki ekuitas merek yang kuat dapat menghemat pengeluaran biaya pada saat perusahaan memutuskan untuk melakukan perluasan merek
. g. Ekuitas merek yang kuat akan menciptakan loyalitas saluran distribusi yang akan meningkatkan jumlah penjualan perusahaan.
h. Empat elemen inti ekuitas merek (brand awareness, brand association, perceived quality, dan brand loyalty) yang kuat dapat meningkatkan kekuatan elemen ekuitas merek lainnya seperti kepercayaan konsumen, dan lain-lain.
Aaker (1997: 23) mengungkapkan bahwa ekuitas merek menciptakan nilai baik pada perusahaan maupun pada konsumen. Pernyataan ini telah didukung oleh beberapa penelitian, diantaranya yang dilakukan oleh Smith (2007: 107), yang menyatakan bahwa ekuitas merek dapat menjadi pertimbangan perusahaan dalam melakukan merger atau akuisisi. Penelitian lain yang dilakukan oleh Lane (1995: 70), menyebutkan bahwa ekuitas merek memengaruhi respon pada stock market. Ekuitas merek dapat menjaga harga premium dari suatu produk (Keller, 2003: 75), selain itu menurut Rangaswamy dalam Yoo (2000: 200), ekuitas merek juga dapat memengaruhi kelangsungan hidup sebuah merek. Ekuitas merek dapat diartikan dengan kekuatan dari sebuah merek. Menurut Morgan (2000: 76), dari sisi perusahaan, melalui merek yang kuat perusahaan dapat mengelola aset-aset mereka dengan baik, meningkatkan arus kas, memperluas pangsa pasar, menetapkan harga premium, mengurangi biaya promosi, meningkatkan penjualan, menjaga stabilitas, dan meningkatkan keunggulan kompetitif. Sedangkan menurut Shoker (1994: 151), apabila dikaitkan dengan perspektif konsumen, ekuitas merek merupakan suatu bentuk respon atau tanggapan dari konsumen terhadap sebuah merek. Lebih lanjut, Lassar (1995: 15) mendefinisikan ekuitas merek sebagai bentuk peningkatan perceived utility dan nilai sebuah merek dikaitkan dengan suatu produk. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ekuitas merek merupakan persepsi konsumen terhadap keistimewaan suatu merek dibandingkan dengan merek yang lain. Beberapa peneliti mempunyai pendapat yang berbeda-beda dalam mengklasifikasikan indikator atau dimensi yang terdapat dalam ekuitas merek. Keller (2003: 56), menyebutkan pengetahuan merek (brand knowledge) yang terdiri atas kesadaran merek (brand awareness) dan citra merek (brand image) sebagai indikator dari ekuitas merek.
Shocker dan Weitz dalam Gil (2007: 191), mengklasifikasikan dimensi ekuitas merek menjadi dua, yaitu citra merek (brand image) dan loyalitas merek (brand loyalty). Agarwal dan Rao dalam Gil (2007: 191), mengemukakan dua indikator utama pada ekuitas merek yaitu kualitas keseluruhan (overall quality) dan minat memilih (choice intention). Namun yang paling umum digunakan adalah pendapat Aaker (1997: 25), yaitu bahwa terdapat lima indikator atau dimensi utama pada ekuitas merek. Kelima indikator tersebut adalah kesadaran merek (brand awareness), asosiasi merek (brand associations), mutu yang dirasakan (perceived quality), loyalitas merek (brand loyalty) dan aset-aset lain yang berkaitan dengan merek (other brand-related assets). Pada prakteknya, hanya empat dari kelima indikator tersebut yang digunakan pada penelitian-penelitian mengenai consumer-based brand equity, yaitu kesadaran merek, asosiasi merek, persepsi kualitas, dan loyalitas merek. Hal ini dikarenakan aset-aset lain yang berkaitan dengan merek (seperti hak paten dan saluran distribusi), tidak berhubungan secara langsung dengan konsumen. Menurut Simamora (2003: 68), ekuitas merek tidak terjadi dengan sendirinya. Ekuitas merek dibangun oleh elemen-elemen ekuitas merek yang terdiri dari:
a. Kesadaran merek (brand awareness).
b. Asosiasi merek (brand association).
c. Persepsi kualitas (perceived quality).
d. Loyalitas merek (brand loyalty).
e. Aset-aset merek lainnya (other proprietary brand assets), seperti hak paten, akses terhadap pasar, akses terhadap teknologi, akses terhadap sumber daya, dan lain-lain.
Menurut Durianto, dkk (2004: 4), empat elemen brand equity di luar aset-aset merek lainnya dikenal dengan elemen-elemen utama dari brand equity. Elemen brand equity yang kelima secara langsung akan dipengaruhi oleh kualitas dari empat elemen utama tersebut.
Pengertian, Peranan dan Kegunaan Merek (skripsi dan tesis)
Melihat fenomena persaingan pemasaran yang terjadi, membuat para pemasar untuk mampu mencari, mengembangkan bahkan merebut pangsa pasar dari para pesaingnya. Selain mengandalkan produk yang dihasilkan dengan segala macam perbedaan dan keunggulannya, salah satu modal untuk memenangkan persaingan adalah dengan menggunakan merek (brand). Merek adalah sesuatu yang mudah dikenali dari sebuah produk. Melihat merek suatu produk membuat produsennya mudah dikenali. Dalam era globalisasi ini, peranan merek menjadi sangat penting karena perbedaan satu produk dari produk lainnya sangat tergantung pada merek yang ditampilkan. Selain itu, merek yang telah dipatenkan dapat membuat produk tersebut menjadi lebih terlindungi dari upaya pemalsuan dan pembajakan. Menurut UU Merek No. 15 Tahun 2001 Pasal 1 ayat 1 (Tjiptono, 2005: 2), merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa.
American Marketing Association (AMA) (Kotler, 2002: 215), mendefinisikan merek sebagai nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing. Jadi merek membedakan penjual, produsen atau produk dari penjual, produsen atau produk lain. Kotler dan Susanto (2001: 575), menyatakan bahwa merek merupakan nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan atau kombinasi dari hal-hal tersebut yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing. Selanjutnya Aaker (1997: 9), menyatakan bahwa merek adalah nama dan atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, cap atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu, dengan demikian membedakannya dari barang-barang dan jasa yang dihasilkan para kompetitor.
Menurut Durianto, dkk (2004: 61), merek sangat penting atau berguna karena beberapa alasan sebagai berikut:
a. Mengkosistenkan dan menstabilkan emosi konsumen.
b. Mampu menembus setiap pagar budaya dan pasar.
c. Mampu menciptakan komunikasi interaksi dengan konsumen.
d. Berpengaruh dalam membentuk perilaku konsumen.
e. Memudahkan proses pengambilan keputusan pembelian, karena konsumen dapat dengan mudah membedakan produk yang dibelinya dengan produk lain.
f. Dapat berkembang menjadi sumber aset terbesar bagi perusahaan. Merek mengandung janji perusahaan untuk secara konsisten memberikan ciri, manfaat, dan jasa tertentu kepada pembeli. Menurut Kotler (2002: 460), merek lebih dari sekedar jaminan kualitas karena di dalamnya tercakup enam pengertian berikut:
a. Atribut Produk Merek mengingatkan pada atribut-atribut tertentu.
b. Manfaat Atribut perlu diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan emosional. Konsumen sebenarnya membeli manfaat dari produk yang dibelinya.
c. Nilai Merek menyatakan sesuatu tentang nilai produsen.
d. Budaya Merek mencerminkan budaya tertentu.
e. Kepribadian Merek mencerminkan kepribadian tertentu.
f. Pemakai Merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa merek mempunyai dua unsur, yaitu brand name yang terdiri dari huruf-huruf atau kata-kata yang dapat terbaca, serta brand mark yang berbentuk simbol, desain, selain berguna untuk membedakan satu produk dari produk pesaingnya juga berguna untuk mempermudah konsumen untuk mengenali dan mengidentifikasi barang atau jasa yang hendak dibeli.
Pengaruh Country of Origin terhadap keputusan pembelian ulang (Skripsi dan tesis)
Menurut Kotler dan Keller (2018) menyebutkan bahwa persepsi Country Of Origin adalah asosiasi mental dan kepercayaan yang dipicu oleh suatu Negara. Pembeli memiliki perilaku dan keyakinan yang berbeda terhadap merek dari negara asalnya. Dalam penelitian Nurina Nadhifi Suria Andriani (2016), Jovita S. Dinata (2015) dan Lina Pileliene (2014) mengemukakan bahwa Country Of Origin terbukti mempengaruhi keputusan pembelian secara signifikan.
Pengaruh loyalitas merek terhadap keputusan pembelian ulang (skripsi dan tesis)
Konsep Loyalitas Merek dalam karya (Jacoby and Kyner, dalam Odin et al. 2001) menjelaskan tentang rangkaian tindakan konsumen dan mengemukakan enam poin yaitu non-random, Perilaku respon, Menyatakan dari waktu ke waktu, Unit pengambilan keputusan, terkait dengan satu atau lebih merek alternatif dari satu merek dan Fungsi dari proses psikologis. Dalam penelitian Adiati Hardjanti dan Yollanda Dwilova (2014), Beata Seinauskiene (2015), mengemukakan bahwa loyalitas merek berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian ulang
Pengaruh Kualitas Persepsian terhadap keputusan pembelian ulang (skripsi dan tesis)
Menurut Aaker (dalam Kartajaya, 2010) Kualitas Persepsian merupakan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan yang sama dengan maksud yang diharapkannya. Persepsi terhadap kualitas menggambarkan perasaan konsumen yang secara menyeluruh tentang suatu merek. Dalam konsep perilaku konsumen persepsi terhadap kualitas dari seorang konsumen adalah hal yang sangat penting, produsen berlomba dengan berbagai macam gaya untuk dapat membuat suatu produk atau jasa yang bagus menurut konsumen (Kotler, 2018). Pada penelitian Reski Pratiwi (2015) dan Aditia Hardjanti (2014) mengungkapkan bahwa Kualitas Persepsian berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian ulang.
Pengaruh asosiasi merek terhadap keputusan pembelian ulang (skripsi dan tesis)
Menurut Tjiptono (2014), asosiasi merek adalah Semua hal yang berkaitan dengan ingatan terhadap sebuah merek. Brand association berkaitan erat dengan brand image, yang diartikan sebagai serangkaian asosiasi merek dengan makna tertentu. Asosiasi merek memiliki tingkat kekuatan tertentu dan seiring dengan bertambahnya pengalaman konsumsi atau eksposur dengan merek spesifik. Pada penelitian Dwi Nanda Putri Sirajudin (2016), Mila Azhari (2014). Pada penelitian tersebut menunjukkan berjalan sesuai dengan keinginan yang bisa membuat konsumen memiliki rasa puas dan melakukan keputusan pembelian ulang dan sulit untuk mengganti merek (Switching brand)
