PENGERTIAN PENELITIAN INTERVENSI (skripsi dan tesis)

Penelitian intervensi adalah penelitian eksperimental yang dikenakan pada masyarakat sebagai kesatuan himpunan subjek. Peneliti melakukan manipulasi atau memberikan perlakuan bukan dengan pendekatan subjek secara individual seperti pada penelitian klinik, melainkan dengan pendekatan kelompok. Perlakuan diberikan dalam wujud paket yang dikenakan pada subjek secara kolektif dalam komunitas. Efek perlakuan diamati dengan menggunakan satuan analisis inividual maupun kelompok

Nama lain dari penelitian intervensi ini adalah penelitian operasional. Disebut penelitian operasional karena peneliian ini dilakukan sekaligus untuk meperbaiki suatu sistem atau program yang sedang berjalan. Beberapa peneliti menamakan penelitian ini sebagai action research atau penelitian tindakan karena penelitian dilakukan dengan melakukan tindakan yakni intrevensi atau manipulasi salah satu variabel

(Soekidjo, 2010)

RANCANGAN SEPARATE SAMPLE PRETEST POSTTEST (skripsi dan tesis)

Rancangan ini sering digunakan dalam penelitian-penelitian kesehatan dan keluarga berencana. Pengukuran pertama (pretest) dilakukan terhadap sampel yag dipilih secara acak dari populasi tertentu. Kemudian dilakukan intervensi atau program pada seluruh populasi tersebut. Selanjutnya, dilakukan pengukuran kedua (post test) pada kelompok sampel lain yang juga dipilih secara acak (random) dari populasi yang sama. Rancangan ini sangat baik untuk menghindari pengaruh atau efek dari “pretest: meskipn tidak dapat mengkontrol sejarah, maturitas dan instrumen. Rancangan ini dapat di ilustrasikan sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
Kel. Eksperimen 01 x
Kel. Kontrol x 02

 

Di samping itu, ke empat rancangan eksperimen semu ini rancangan eksperimen sungguhan (true experiment) juga dapat digunakan dalam penelitian eksperimen, hanya simbol R (randomisasi) dilakukan atau diabaikan.

(Soekidjo, 2010)

 

 

RANCANGAN NON EQUIVALENT CONTROL GROUP (skripsi dan tesis)

 

 

Dalam penelitian lapangan, biasanya lebih dimungkinkan untuk membandingkan hasil intervensi program kesehatan dengan suatu kelompok kontrol yang serupa, tetapi tidak perlu kelompok yang benar-benar sama. Misalnya kita akan melakukan studi tentang perngaruh pelatihan kader terhadap cakupan Posyandu. Kelompok kader yang akan diberikan pelatihan, tidak mungkin sama betul dengan kelompok kader yang tidak akan diberi pelatihan (kelompok kontrol). Bentuk rancangan ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
Kel. Eksperimen 01 x 02
Kel. Kontrol 01 x 02

 

Rancangan ini disebut sebagai non equivlent control group dan sangat baik digunakan untuk evaluasi program pendidikan kesehatan atau pelatihan-pelatihan lainnya. Di samping itu, rancangan ini juga baik untuk membandingkan hasil intervensi program kesehatan di suatu kecamatan atau desa atau sebaliknya. Dalam rancangan ini pengelompokkan kontrol tidak dapat dilakukan secara random atau acak. Oleh sebab itu rancangan ini sering disebut juga non randomized control pretest posttest design

RANCANGAN RANGKAIAN WAKTU DENGAN KELOMPOK PEMBANDING (skripsi dan tesis)

 

 

Pada dasarnya rancangan ini adalah rancangan rangkaian waktu, hanya saja menggunakan kelomok pembanding (kontrol). Rancangan ini lebih memungkinkan adanya kontrol terhadap validitas internal sehingga keuntungan dari rancangan ini lebih menjamin adanya validitas internal yang tinggi. Bentu rancangan tersebut adalah sebagaimana tercantum sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
Kel. Eksperimen 01 02 03 x 04 05 06 07
Kel. Kontrol 01 02 03 x 04 05 06 07

 

 

(Soekidjo, 2010)

 

RANCANGAN RANGKAIAN WAKTU (skripsi dan tesis)

 

 

Rancangan ini seperti rancangan pretest post test, kecuali mempunyai keuntungan dengan melakukan observasi (pengukuran yang berulang-ulang), sebelum dan sesudah perlakuan. Bentuk rancangan ini adalah sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
01 02 03 04 X 05 06 07 08

 

Dengan menggunakan serangkan observasi (tes) dapat memungkinkan validitasnya lebih tinggi. Karena pada rancangan pre tes postets kemungkinan hasil 02 dipengaruhi oleh faktor lain di luar perlakuan sangat besar. Sedangkan pada rancangan ini, oleh karena observasi dilakukan lebih dari satu kali (baik sebelum maupun sesudah perlakuan) maka pengaruh faktor luar tersebut dapat dikurangi

 

(Soekidjo, 2010)

 

 

RANCANGAN POSTTEST DENGAN KELOMPOK KONTROL (skripsi dan tesis)

 

 

Rancangan ini juga merupakan eskperimen sungguhan dan hampir sama dengan rancangan  Randomizes Salomon Four Grup, hanya bedanya tidak dilakukan pre test. Karena kasus-kasus telah dirandomisasi baik pada kelompok eksperimen maupin kelompok kontrol. Kelompok-kelompok tersebut dianggap sama sebelum dilakukan perlakuan. Bentuk rancangan ini sebagai berikut:

Perlakuan Post Test
R (kelompok Eksperimen) X 02
R (kelompok Kontrol) 02

 

Dengan rancangan ini, memungkinkan peneliti mengukur pengaruh perlakuan (intervensi) pada kelompok eksperimen dengan cara membandingkan kelompok tersebut dengan kelompok kontrol. Tetapi rancangan ini tidak memungkinkan peneliti untuk menentukan sejauh mana atau seberapa besar perubahan itu terjadi, sebab pretest tidak dilakukan untuk menentukan data awal

(Soekidjo, 2010)

RANCANGAN RANDOMIZES SALOMON FOUR GRUP (skripsi dan tesis)

 

 

Rancangan ini dapat mengtaasi kelemahan eksternal validitas uang ada pada rancangan randomized control group pretest posttes. Apabila pretest mungkin mempengaruhi subjek sehingga mereka menjadi lebih sensitif terhadap perlakuan (X) dan mereka bereaksi secara berbeda dari subjek yang tidak mengalami pretest maka generalisasi dari penelitian ini untuk populasi. Demikian pula kalau ada interaksi antara pretest dengan perlakuan (X). Rancangan Salomon ini dapat mengtasi masalah ini dengan menambah kelompok ke 3 (dengan perlakuan, tanpa pretest) dan yang ke 4 (tanpa perlakuan, tanpa pretest). Bentuk rancangan ini sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
Kel. Eksperimen (a) 01 X 02
Kel. Kontrol 01 02
Kel. Kontrol X 02
Kel. Kontrol 02

 

 

(Soekidjo, 2010)

 

RANCANGAN PERBANDINGAN KELOMPOK STATIS (skripsi dan tesis)

 

Rancangan ini seperti rancangan Rancangan Post Test Only Design, hanya bedanya menambahkan kelompok kontrol atau kelompok pembanding. Kelompok eksperimen menerima perlakuan (X) yang diikuti dengan pengukuran kedua atau observasi (02). Hasil observasi ini kemudian dikontrol atau dibandingkan dengan hasil observasi pada kelompok kontrol yang tidak menerima program atau intervensi. Rancangan ini dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Perlakuan Post Test
Kelompok eksperimen X 02
Kelompok kontrol 02

 

Dengan rancangan ini , beberapa faktor pengganggu seperti sejarah, testing, maturasi dan instrumen dapat dikontrol walaupun tidak dapat diperhitungkan efeknya.

(Soekidjo, 2010)

 

RANCANGAN ONE GROUP PRETEST POST TEST (skripsi dan tesis)

Rancangan ini juga tidak ada kelompok pembanding (kontrol), tetapi tidak sudah dilakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen (program). Bentuk rancanganini adalah sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
01 X 02

 

Kelemahan dari rancangan ini antara lain tidak ada jaminan bahwa perubahan yang terjadi pada variabel dependen karena intrevensi atau perlakuan. Tetapi perlu dicatat bahwa rancangan ini tidak terhindar dari berbaga kelemahan tersehadap validitas misalnya sejarah, testing, maturasi dan instrumen

 

(Soekidjo, 2010)

 

RANCANGAN POST TEST ONLY DESIGN (skripsi dan tesis)

Dalam rancangan ini perlakuan atau intervensi telah dilakukan (X) kemudan dilakukan pengukuran (observasi) atau post test (02). Selama tidak ada kelompok kontrol, hasil 02 tidak mungkin dibandingkan engan yang lain. Rancangan ini sering disebut “The One Shot Case Study”. Hasil observasi (02) hanya memberikan informasi yang bersifat deskriptif. Rancangan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Eksperimen Posttets
X 02

Dalam rancangan ini sama sekali tidak ada kontrol dan tidak ada internal validitas. Sifatnya yang cepat dan mudah, menyebabkan rancangan ini sering digunakan untuk meneliti suatu program yang inovatif. Misalnya dalam bidang pendidikan kesehatan. Di samping itu, rancangan in tidak mempunyai dasar untuk melakukan komparasi atau perbandingan. Oleh sebab itu kesimpulan yang diperoleh dapat menyesatkan. Namn demikian rancangan ini mempnunyai keuntungan antara lain dapat digunakan untuk menjajagi masalah-masalah yang diteliti atau mengembangkan gagasan atau metode-metode atau alat-alat tertentu.

 

(Soekidjo, 2010)

FAKTOR –FAKTOR DALAM VALIDITAS EKSTERNAL PENELITIAN KUASI EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

  1. Efek seleksi berbagai bias

Karakteristik anggota kelompok atau sampel eksperimen menentukan sekali terhadap generalisasi yang diperoleh. Kekeliruan dalam memilih anggota sampel dapat mengganggu hasil eksperimen. Oleh sebab itu, agar sampel yang diambil dapat representatf terhadap opulasi perlu diakukan identifikasi dan kontrol yang tepat

  1. Efek pelaksanaan pretest

Pretest banyak mempengaruhi variabel eksperimen, sedang pretest hanya dilakukan terhadap sampel. Oleh karena itu, eneralisasi yang diperoleh dari pelaksanaan eksperimen terhadap sampel, kemungkinan tidak daat berlaku untuk seluruh populasi sebab hanya anggota sampel yang mengalami pretest yang dapat mempengaruhi generalisasi, perlu dilakukan kontrol yang cermat dalam pelaksanaan pretes sehingga tidak mempunyai pengaruh terhada perlakuan yang menjadi dasar membuat generalisasi

  1. Efek prosedur eksperimen

Eksperimen yang dilakukan terhadap anggota-anggota sampel yang menyadari bahwa dirinya sedang dicoba atau di eksperimen menyebabkan generalisasi yang diperoleh tida berlaku bagi populasi karena adanya perbedaan pengalaman antara anggota sampel denga anggota populasi. Oleh sebab itu, perlu dilakukan ontrol terhadap pengaruh prosedur eksperimen tersebut

  1. Gangguan penangan perlakuan berganda

Jika subjek pada kelompok eksperimen di paparkan terhadap perlakuan dua kali atau lebih secara berturut-turut, maka perlakuan yang terdahulu mempunyai efek terhadap yang diberikutnya. Hal ini menyebabkan perlakuan terakhir yang muncul dipengaruhi oleh perlakuan sebelumnya. Jadi generalisasi yangdiperoleh hanya berlaku bagi subjek yang mempunyai pengalaman dengan pelaksanaan dan pemunculan perlakuan ganda secara berturut-turut

 

(Soekidjo, 2010)

FAKTOR –FAKTOR DALAM VALIDITAS INTERNAL PENELITIAN KUASI EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi atau mengganggu validitas internal dalam penelitian kuasi tersebut dapat disebut sebagai ancaman-ancaman validitas internal itu sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  1. Sejarah (history)

Peristiwa yang terjadi pada waktu yang lalu kadang-kadang dapat berpengaruh terhadap variabel keluaran (variabel terikat) . oleh karrena itu terjadi perubahan variabelterikat, kemungkinan bukan sepenuhnya disebabkan karena perakuan atau eksperimen tetapi juga dipengaruhi oleh faktr sejarah atau pengalaman subjek penelitian trhadap masalah-masalah yang dicobakan atau masalah-masalah lain yang berhubungan dengan eksperimen tersebut.

  1. Kematangan (maturitas)

Manusia, binaang atau makluk hidup lainnya sebagai subjek penelitian selalu mengalami perubahan. Pada manusai, perubahan berkiatan dengan proses kematangan atau maturitas baik secara biologis maupun psikologis. Dengan bertambahnya kematangan pada subjek ini akan berpengaruh terhadap variabel terikat. Dengan demikian, maka perubahan yang terjadi pada variabel terikat bukan saja karena adanya eksperimen tetapi juga disebabkan karena proses kematangan pada subjek yang mendapatkan perlakuan atau eksperimen

  1. Seleksi (selection)

Dalam memilih anggota kelompok eksperimen dan kelompok kontrool bisa terjadi perbdaan ciri-ciri atau sifat-sifat anggota kelompok satu dengn kelompok yang lainnya. Misalnya anggota-anggota kelompok eksperimen lebih tinggi pendidikannya dibandingkan dengana anggota-anggota kelompok kontrol sehingga sebelum diadakan perlakuan sudah terjadi pengaruh yang berbeda terhadap kedua kelompok tersebut. Setelah adanya perlakuan pada kelompok eksperimen, maka besarnya perubahanvariabel terikat yang terjadi mendapat gangguan dari variabel pendidikan tersebut. Dengan kata lain, perubahan yang terjadi pada variabel terikat tidak saja pengaruh perlakuan tetapi juga karena pengaruh pendidikan

  1. Prosedur tes (testing)

Pengalaman pada pretest dapat mempengaruhi hasil posttest, karena kemungkinan para subjek penelitian dapat mengingat kembali jawaban-jawaban yang salah pada waktu pretest dan kemudian pada waktu posttest subjek tersebut dapat memperbaiki jawabannya. Oleh sebab itu, perubahan variabel terikat tersebut bukan hanya karena hasl eksperimen saja, melainkan juga karena pengaruh dari pretest.

  1. Instrumen (instrumentation)

Alat ukur atau alat pengumpul data (instrumen) pada pretest biasanya digunakan lagi pada posttest. Hal ini sudah tentu akan berpengaruh terhadap hasil posttest tersebut. Dengan perkataan lain, perubahan yang terjadi pada variabel terikat, tidak disebabkan oleh perlakuan atau eksperimen saja tetapi juga karena pengaruh eksperimen.

  1. Mortalitas (mortality)

Pada proses dilakukan eksperimen atau pada waktu pretest dan posttest sering terjadi subjek yang drop out baik karena pindah, sakit ataupun meninggal dunia. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap hasil eksperimen

  1. Regresi ke arah nilai rata-rata

Ancaman ini terjadi karena adanya nilai ekstrem tinggi maupun ekstrem rendah dari hasil pretest (pengukuran pertama) cenederung untuk tidak ekstrem lagi pada posttest (pengukuran setelah namun biasanya mendekati nilai rata-rata. Perubahan yang terjadi pada variabel terikat tersebut bukan pada perubahan yang sebenarnya, melainkan merupakan perubahan semu. Oleh sebab itu ke aah nilai rata-rata ini juga disebut regresi semu. Untuk mempertinggi validitas internal eksperimen ini, maka faktor-faktor tersebut harus dikontrol atau diwaspadai dan diupayakan sehingga seminimal mungkin mengganggu validitas internal

 

(Soekidjo, 2010)

VALIDITAS HASIL PENELITIAN EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

 

Dalam penelitian eksperimen, terutama eksperimen semu (quasi experiment) selalu dipertanyakan mengenai validitasnya, baik validitas internal maupun validitas eksternal

  1. Validitas internal

Validtas internal berhubungan dengan ketepatan mengindentifikasi variabel-variabel keluaran (hasil eksperimen) tersebut, hanya sebagai akibat dari adanya perlakuan (eksperimen). Dengan kata lain, seberapa jauh hasil atau atau perubahan yang terjadi pada variabel terikat tersebut sebagai pengaruh atau akiat dari adanya perlakuan atau eksperimen (terutama eksperimen semu). Banyak faktor yang mempengaruhi validitas internal ini sehingga dapat mengganggu hasil eksperimen.

  1. Validitas eksternal

Validitas eksternal ini berkaitan dengankemungkinan generalisasi dari hasil eksperimen tersebut. Hal ini berarti, apakah hasil eksperimen tersebut terjadi pula, apabila eksperimen yang sama dilakukan pada populasi lain. Dengan kata lain, seberapa jauhkah representatif penemuan-penemuan penelitian ini dan seberapa jauh hasil-hasil penelitian tersebut dapat digeneralisasikan kepada subjek-subjek atau kondisi yang serupa atau semacam. Untuk mengontrol validitas eksternal ini diperlukan pengajian terhadap beberapa faktor.

PERANAN KONTROL DALAM PENELITIAN EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian eksperimen, kontrol mempunyai peranan yang sangat penting antara lain:

  1. Untuk mencegah munculnya faktor-faktor yang sebenarnya tidak diharapkanberpengaruh terhadap variabel terikat
  2. Untuk membedakan berbagai variabel yang tidak diperlukan dari variabel yang diperlukan
  3. Untuk menggambarkan secara kuantitatif hubungan antar variabel bebas dengan variabel terikat dan sejauh mana tingkat hubungan antara ke dua variabel tersebut.

(Soekidjo, 2010)

LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

 

Agar diperoleh hasil yang optimal, penelitian eksperimen biasanya menempuh langkah-langkah antara lain:

  1. Melakukan tinjuan literatur terutama yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti
  2. Mengidentifikasi dan membatasi masalah peneliian
  3. Merumuskan hipotesis-hipotesis penelitian
  4. Menyusun rencana eksperimen yang mncakup:
  5. Menentukan variabel bebas dan variabel terikat yakni variabel yang akan diukur perubahannya setelah adanya intervensi atau perlakuan
  6. Memilih disain atau model eksperimen yang akan digunakan
  7. Menentukan sapel
  8. Menyusun metode atau model eksperimen dan alat ukur
  9. Menyusun outline prosedur pengumpulan data
  10. Menyusun hipotesis statistik
  11. Melakukan pengumpulan data tahap pertama (pretest)
  12. Melakukan eksperimen atau percobaan
  13. Mengumpulkan data tahap kedua (postest)
  14. Mengolah dan menganalisis data
  15. Menyusun laporan

(Soekidjo, 2010)

 

PENELITIAN EVALUASI (skripsi dan tesis)

 

Penelitian evaluasi dilakukan untuk melihat apkah suatu program yang sedang atau sudah dilakukan. Misalnya penelitian evluasi tentang perkembangan pelayanan Puskesmas. Hasilnya penelitian ini digunakan untuk perbaikan dan peningkatan program-program tersebut. Dalam mengolah hasil penelitian evaluasi ini, biasanya menggunakan analisis staistik sederhana saja misalnya analisi persentase.

(Soekidjo, 2010)

STUDI PREDIKSI (skripsi dan tesis)

 

Studi ini digunakan untuk memperkirakan tentang kemungkinan munculnya suatu gejala berdasarkan gejala lain yang sudah muncul dan diketahui sebelumnya. Dalam bidang kesehatan, studi prediksi ini digunakan terutama :

  1. Untuk membuat perkiraan terhadap suatu atribut dari atribut lain
  2. Untuk membuat perkiraan terhadap suatu atribut dari hasil pengukuran
  3. Untuk membuat perkiraan terhadap suatu pengukuran dari suatu atribut lainnya
  4. Untuk membuat perkiraan terhadap pengukuran dari pengukuran lain

Dalam melakukan uji statistik biasanya menggunakan analisis regresi. Sebagaimana dengan teknik korelasi, maka dalam prediksi penafsiran analisis statistika di dasarkan pada koefesien yang diperoleh. Untuk melihat apakah ada munculnya suatu gejala itu adahubungannya dengan gejala lain dan sampai sebearapa besar derajat hubungan tersebut

(Soekidjo, 2010)

STUDI KORELASI (skripsi dan tesis)

 

 

Studi korelasi ini pada hakikatnya merupakan penelitian atau penelaahan hubungan antara dua variabel pada suatu situasi atau sekelompok subjek. Hal ini dilakukan untuk melihat hubungan antara gejala satu dengan gejala yang lain, atau variabel satu dengan variabel yang lain.

Untuk mengetahui korelasi antara suatu variabel dengan varabellain tersebut diusahakan dengan mengindentifikasi variabel yan ada pada suatu objek, kemudian diidentifikasi pula variabel lan yang ada pada objek yang sama dan dilihat apakah ada hubungan antara keduanya.

Dalam uji statistik biasanya menggunakan analiss korelasi. Seacara sederhana dapat diakukan dengan cara melihat skors atau nilai rata-rata dari variabel yang satu dengan skors rata-rata dari variabel yang lain. Koefisien korelasi yang diperoleh selanjutnya dapat dijadikan dasar untuk menguji hipotesis penelitian yang dikemukakan terhadap masalah tersebut dan sejauh mana hubungan antara keduanya.

(Soekidjo, 2010)

 

STUDI PERBANDINGAN (COMPARATIVE STUDY) (skripsi dan tesis)

Penelitian dengan menggunakan metode studi perbandingan dilakukan dengan cara membandingkan persamaan dan perbedaan sebagai fenomena untuk mencari faktor-faktor apa atau situasi apa bagaiman yang menyebabkan timbulnya suatu peristiwa tertentu. Studi ini dimulai dengan mengadakan pengumpulan fakta tentang faktor-faktor yang menyebabkan gejala tertentu, kemudian dibandingkan dengan situasi lain atau sekaligus membandingkan suatu gejala atau peristiwa dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dari dua atau beberapa kelompok sampel. Setelah mengetahui persamaan dan perbedaan penyebab selanjutnya ditetapkan bahwa sesuatu faktor yang menyebabkan munculnya suatu gejala ada objek yang diteliti itulah sebenarnya yang meyebabkan munculnya gejala tersebut baik kepada objek yang diteliti maupun pada objek yang dibandingkan

(Soekidjo, 2010)

STUDI PENELAHAAN KASUS (CASE STUDY) (skripsi dan tesis)

 

Studi kasus dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui studi kasus yang terdiri dari unit tunggal. Pengertian unit tunggal disini adalah satu orang, sekelompok penduduk yang terkena suatu masalah, atau sekelompok masyarakat di suatu daerah. unit yang menjadi kasus rtersebut dianalisis secara mendalam di analisis baik dari seg yang berhubungan dengan keadaan kasus itu sendir, faktor yang mempengaruhi, kejadian-kejadian khusus yang muncul sehubungan dengan kasus maupun tinakan ataupun reaksi kasus terhadap suatu perlakuan atau pemaparan tertentu. Meskipun di dalam studi kasus ini yang diteliti hanya berbentuk unit tunggal, namun dianalisis secara mendalam meliputi berbagai aspke yang cukup luas serta penggunaan berbagai teknik integratif

 

(Soekidjo, 2010)

TAHAP-TAHAP PENELITIAN COHORT (skripsi dan tesis)

 

Langkah-langkah pelaksanaan penelitian cohort antara lain sebagai berikut:

  1. Identifikasi faktor resiko dan efek
  2. Menetapkan subjek penelitian (menetapkan populasi dan sampel)
  3. Pemilihan subjek dengan faktor resiko posiif dari subjek dengan efk negatif
  4. Memilih subjek yang akan menjadi anggota kelompok kontrol
  5. Menganalisis dengan membandingkan proporsi subjek yang mendapat efek positif dengan subjek yang mendapat efek negatif baik pada kelompok resiko positif maupun kelompok beresiko negatif (kontrol)

 

(Soekidjo, 2010)

TAHAP-TAHAP PENELITIAN CASE CONTROL (skripsi dan tesis)

 

Tahap-tahap penelitian case control ini adalah sebagai berikut:

  1. Identifikasi variabel-variabel penelitian (faktor resiko dan efek)
  2. Menetapkan subjek penelitian (populasi dan sampel)
  3. Identifikasi kasus
  4. Pemilihan subjek sebagai kontrol
  5. Melakukan pengukuran retrospektif (melihat ke belakang) untukmelihat faktor resiko
  6. Melakukan analisis dengan membandingkan proporsi antara variabel-variebl objek penelitian dengan variabel-variabel kontrol

 

(Soekidjo, 2010)

TAHAP-TAHAP PENELITIAN CROSS SECTIONAL (skripsi dan tesis)

Dari skema rancangan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah penelitian cross sectional adalah sebagai berikut:

  1. Mengdentifikasi variabel-variabel penelitian dan mengindentifikasi faktor resiko dan faktor efek
  2. Menetapkan subjek penelitian atau populasi dan sampel
  3. Melakukan observasi atau pengukuran variabel-variabel yang merupakan faktor resiko dan efek sekaligus berdasarkan status keadaan variabel pada saat itu (pengumpulan data)
  4. Melakukan analisis korelasi dengan cara membandingkan prporsi antar kelompok-kelompok hasil observasi (pengukuran)

(Soekidjo, 2010)

PENGERTIAN DAN JENIS FAKTOR RESIKO DALAM PENELITIAN KESEHATAN (skripsi dan tesis)

 

 

Faktor resiko adalah faktor-faktor atau keadaan-keadaan yan mempengaruhi perkembangan suatu penyakit atau status kesehatan tertentu. Faktor resiko berbeda dengan agen (penyebab penyakit), dimana faktor resiko merupakan suatu kondisi yang memungkinkan adanya mekanisme hubungan antara agen penyakit dengan induk semang (host) dan penjami yaitu manusia, sehingga terjadinya efek (penyakit). Sedangkan agen adalah suatu faktor yang harus ada untuk terjadnya penyakit.

Ada dua macam faktor resiko yaitu:

  1. Faktor resiko yang berasal dari organisme itu sendiri (faktor resiko intrinsik). Faktor intrinsik itu sendiri dibedakan menjadi:
  2. Faktor jenis kelamin dan usia
  3. Faktor-faktor anatomi atau konstitusi tertentu
  4. Faktor nutrisi
  5. Faktor resiko yang berasal dari lingkungan (faktor resiko ekstrinsik) yang memudahkan seseorang terjangkit suatu penyakit tertentu. Berdasarkan jenisnya, faktor ekstrinsik ini dapat berupa: keadaan fisik, kimiawi, biologis, psikologis sosial buadaya dan perilaku

 

(Soekidjo, 2010)

PENGERTIAN PENELITIAN SURVEI ANALITIK (skripsi dan tesis)

 

 

Survei analitik adalah survei atau penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi. Kemudian melakukan analisis dinamika korelasi antara fenomena atau antara faktor resiko dengan faktor efek. Yang dimaksud dengan faktor efek adalah sutu fenomena yang mengakibatkan terjadinya efek (pengaruh).

(Soekidjo, 2010)

 

 

JENIS PENELITIAN SURVEI DESKRIPTIF (skripsi dan tesis)

 

Di dalam penelitian kesehatan, jenismasalah survei deskriptif dapat igolongkan dalam hal-hal sebagai berikut:

  1. Survei rumah tangga

Adalah suatu survei deskriptif yang ditujukan kepada rumah tangga. Biasanya pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada kepala keluarga. Informasi yang diperoleh dari kepala keluarga tidak saja infomrasi mengenai dirinya kepala keluarga tersebut, tetapi juga infrmasi tentang diri atau keadaan anggota-anggota keluarga lainnya dan bahkan informasi tentang rumah dan lingkungannya.

  1. Survei morbiditas

Adalah suatu survei deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui kejadian dan distribusi penyakit dalam masyarakat atau pupulasu. Survei ini dapat sekaligus digunakan untuk mengetahui insidence atau kejadian suatu penyakit maupun prevalensi

  1. Survei analisis jabatan

Survei ini bertujuan untukmengetahui tentang tugas dan tanggung jawab petugas kesehatan serta kegiatan-kegiatan para petugas tersebut berhubungan dengan pekerjaan mereka.  Di samping itu, survei inin juga dapat mengetahui status dan hubungan antara satu dengan yang lainnya atau hubungan antara atasan dan bawahan, kondisi kerja serta fasilitas yang ada untuk melaksanakan tugas

  1. Survei pendapat umum

Survei ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang pendapat umum terhadap suatu program pelayanan kesehatan yang sedangerjalan dan yang menyangkut seluruh lapisan masyarakat. Survei ini dapat juga digunakan untuk menggali pendapat seluruh masyarakat atau publik tentang pelayanan kesehatan dan masalah-masalah kesehatan masyarakat.

 

(Soekidjo, 2010)

PENGERTIAN DAN TUJUAN PENELITIAN SURVEI DESKRIPTIF (skripsi dan tesis)

 

Survei deskriptif dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya bertujuan untuk melihat gambaran fenomena (termasuk kesehatan) yang trjadi pada suatu populasi tertentu. Pada umumnya survei deskriptif digunakan untuk membuat penilaian terhadap suatu kondisi dan penyelenggaran suatu program di masa sekarang, kemudian hasilnya digunakan untuk menyusun perencanaan perbaikan program tersebut. Survei deskriptif didefinisikan suatu penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. Dalam bidang kesehatan masyarakat survei deskriptif digunakan untuk menggambarkan atau memotret masalah kesehatan serta yang terkait dengan kesehatan sekelompok penduduk atau orang yang tinggal dalam komunitas tertentu

(Soekidjo, 2010)

MANFAAT PENELITIAN KESEHATAN/KEDOKTERAN (skripsi dan tesis)

 

Dalam rangka pengembangan penelitian kesehatan/kedokteran, dperlukan perencanaan yangbaik dan teliti. Perencanaan yang teliti sangat memerlukan informasi dan data yanga kurrat ini diperlukan bantuan penelitian yang relevan. Secara singkat manfaat penelitian kesehatan/kedokteran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

  1. Hasil penelitian dapat digunakan untuk menggambarkan tentang keadaan atau status kesehatan idividu, kelompok maupun masyarakat
  2. Hasil penelitian kesehatan dapat digunaan untuk menggambarkan kemampuan sumberdaya, kemungkinan sumbernya tersebut guna mendukung pengembangan pelayanankesehatan yang direncanakan
  3. Hasil penelitian kesehatan dapat dijadikan sarana untuk menyusun kebijaksanaan dalam menyusun strategi pengembangan pelayanan kesehatan
  4. Hasil penelitian kesehatan dapat dilukiskan kemampuan dalam pembiayaan, peralatan dan ketenagakerjaan baik secara kuantitas maupun kualitats guna mendukung sistem kesehatan

 

(Soekidjo, 2010)

 

 

 

 

 

 

TUJUAN PENELITIAN KESEHATAN (skripsi dan tesis)

 

Tujuan penelitian kesehaan/kedokteran erat hubungannya dngan peelitian yang akan dilakukan. Tujuan penelitian penjelajahan berbeda dengan penelitian pengembangan, bebeda pila penelitian verifikatif. Demikian pula penelitian dasar, akan lain pula tujuannya dengan penelitian terapan. Tetapi secara umum semua jenis penelitian kesehatan/kesokteran itu antara lain, adalah:

  1. Menemukan atau mengkaji fakta baru maupun fakta lama sehubungan dengan bidang kesehatan/kedokteran
  2. Mengadakan analisiterhadap hubungan atau interaksi antara fakta-fakta yang ditemukan serta hbungannya dengan teori-teori yang ada
  3. Mengembangkan alat, teori atau konsep baru dalam bidang kesehatan/kedokteran yang memberi kemungkinan bagi peningkatan kesehatan masyarakat khususnya dan peningkatan kesehjateraan manusia pada umumnya

Pendapat lain mengelompokkan tujuan penelitian kesehatan/kedokteran itu menjadi tiga, yaitu:

  1. Untuk merumuskan teori, konsep dan atau generalisasi baru tentang penelitian kesehatan/kedokteran
  2. Untuk memperbaiki atau modifikasi teori, sistem atau program pelayanan penelitian kesehatan/kedokteran
  3. Untukmemperkokoh teori, konsep, sistem atau generalisasi yang sudah ada

(Soekidjo, 2010)

 

 

 

JENIS PENELITIAN BERDASARKAN SUMBER DATA (skripsi dan tesis)

 

Dari segi tempat atau sumber data darimana suatu penelitian itu dilakukan jenis penelitian kesehatan dibedakan menjadi:

  1. Penelitian perpustakaan

Penelitian perpustakaan dilakuka hanya dengan mengumpulkan dan mempelajari data dari literatur, laoran-laporan dan dokumen-dokumen lannya yang telah ada di perpustakaan.

  1. Penelitian labotarium

Penelitian labotarium dilakukan di dalam labotarium, pada umumnya digunakan dalam penelitian-penelitian klinis.

  1. Penelitian lapangan

Penelitian lapangan dilaksanakan di masyarakat dan masyarakat sebagai objek penelitian.

 

(Soekidjo, 2010)

JENIS PENELITIAN DALAM RANAH EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

 

  1. Penelitian dasar

Penelitian ini dilakukan untuk memahami atau menjelaskan gejala yang muncul pada suatuikhwal atau kejadian. Kemudian dari gejala yang terjadi pada ikhwal tersebut dianalisis dan kesimpulannya adalah merupakan pengethuan atau teori baru. Jenis penelitianin isering juga disebut dengan peneliitan murni atau “pure research” karena dilakukan untuk merumuskan suatu teori atau dasar pemikiran ilmiah tentang kesehatan/kedokteran.

  1. Penelitian terapan

Penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki atau memodifikasi proses suatu sistem atau program dengan menerapkan teori kesehatan  yang ada. Dengan kata lain, penelitian ini berhubungan dengan penerapan suatu sistem atau metiode yang terbaik sesuai dengan sumber daya yang tersedia untuk suatu hal atau suatu keadaan. Artinya, penelitian ini dilakukan, sementara itu sistem tersebut di uji coba dan dimodifikasi. Penelitian terapan ini sering disebut sebagai penelitian operasional.

  1. Penelitian tindakan

Penelitia ini dilakukan terutama untuk mencari suatu dasar pengetahuan praktis guna memperbaiki suatu situasi atau keadaan kesehatan masyarakat yang dilakukan secara terbatas. Biasanya penelitian ini dilakukan erhadap suatu keadaan yang sedang berlangsung. Penelitian ini biasanya dilakukan dimana pemecahan masalah perlu dilakukan dan hasilnya diperlukan untuk memperbaiki suatu keadaan

  1. Penelitian evaluasi

Penelitian ini dilakukan untukmelakukan penilaian terhadap suatu pelaksanaan kegiatan atau program yang sedang dilakukan dalam rangka mencari umpan balik yang akan dijadikan dasar untuk memperbaiki suatu program atau sistem. Penelitian evaluasi ada dua tipe, yaitu tinjauan (review) dan pengujian (trial).

 

(Soekidjo, 2010)

JENIS PENELITIAN BERDASARKAN SURVEI ANALITIK (skripsi dan tesis)

 

Dalam penelitian survei analitik, dari analisis korelasi dapat diketahui seberapa jauh kontribusi faktor resiko tertentu terhadap adanya suatu kejadian tertentu (efek). Secara garis besar survei analitik ini dibedaan dalam tiga pendekatan (jenis) yakni:

  1. Potong silang (cross sectional)

Dalam penelitian seksional silang atau potong silang, variabel sebab atau resiko dan akibat atau kasus yang terjadi pada objek penelitian diukur dan dikumpulkan secara simultan (dalam waktu yang bersamaan)

  1. Studi restrospektif (retrospective study)

Penelitian ini adalah penelitian yang berusa melihat ke belakang. Artinya pengumpulan data dimulai dari efek atau akibat yang telah terjadi. Kemudian dari feek tersebut ditelusuri ke belakang tentang penyebabnya atau variabel-variabel yang mempengaruhi akibat tersebut. Dengan kata lain, penelitian retrospektif ini berangkat dari dependent variables kemudian di cari independent variables.

  1. Studi Prospektif (cohort)

Penelitian ini adalah penelitian yang melihat ke depan (forward looking) artinya penelitian dimulai dari variabel penyebab atau faktor resiko kemudian diikuti akibanya pada waktu yang akan datang. Dengan kata lain, peneliitan in berangkat dari variabel independen kemudian diikuri akibat dari independen variabel tersebut terhadap dependen variabel.

 

(Soekidjo, 2010)

JENIS PENELITIAN DALAM RANAH SURVEI (KESEHATAN) (skripsi dan tesis)

 

 

Penelitian survei digolongkan menjadi dua yaitu penelitian survei yang bersifat deskriptif (descriptive) dan analitik (analytical).

  1. Dalam penelitian survei deskriptif, peneitian diarahkan untuk mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan di dalam suatu komunitas atau masyarakat. Dalam survei deskriptif pada umumnya penelitian menjawab pertanyaan bagaimana (how)
  2. Penelitian survei analitik maka penelitian diarakahkan untuk menjelaskan suatu keadaan atau situasi. Survei ini ppada umumnya berusaha menjawab pertanyaan mengapa (why)? Oleh sebab itu juga disebut dengan penelitian penjelasan (explanatory study).

 

(Soekidjo, 2010)

JENIS PENELITIAN KESEHATAN (skripsi dan tesis)

 

Pengelompokkan jenis penelitian kesehatan ini bermacam-macam menurut aspek mana penelitian itu ditinjau. Berdasarkan metode yang digunakan maka penelitian kesehatan dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu

  1. Metode penelitian survey

Penelitian survey adalah suatu penelitian yang dilakukan tanpa melakukan intervensi terhadap subjek penelitian (masyarakat), sehingga sering disebut dengan penelitian non eksperiman. Dalam survei, penelitian tidak dilakukan terhadap seluruh objek yang diteliti atau populasi tetapi hanya mengambil sebagian dari populasi tersebut (sampel). Sampel adalah bagian dari populai yang dianggap mewakili populasinya. Dalam penelitian survei, hasil dari peneliitian tersebut merupakanhasil dari keseluruhan. Dengan kata lain, hasil dari sampel tersebut dapat digeneralisasikan sebagi hasil populasi.

  1. Metode penelitian eksperimen

Dalam penelitian eksperimen atau percobaan, peneliti melakukan percobaan atau perlakuan terhadap variabel independennya, kemudian mengukur akibat atau pengaruh percobaan tersebut terhadap dependen variabel. Yang dimaksud dengan percobaan atau perlakuan di sini adalah suatu usaha modifikasi kondisi secara sengaja dan terkontrol dalam menentukan peristiwa atau kejadian, serta pengamatan terhadap perubahanyang terjadi akibat dari peristiwa tersebut.

  1. Metode penelitian surveilans

Dalam epidemiologi, khususnya pemberantasan penyakit menular, penelitian harus dilakukan secara terus menerus untuk mengetahui perkembangan penyakit-penakit yang bersangkutan. Penelitian yangterus menerus dilakukan dalam rangka memantau perkembangan suatu penyakit itu disebut dengan surveilans. Surveilans (surveillance) yang artinya pengamatan secara terus menerus terhadap suatu penyakit atau suatu kelompok atau masyarakat. Pengamatan dalam rangka surveilans dapat dilakukan terhadap kejadian suatu penyakit baik penyakit menular atau tidak menular

 

(Soekidjo, 2010)

 

Pengobatan Anti Retro Viral (ARV) (skripsi dan tesis)

Penanganan utama terhadap AIDS melalui pengobatan yang disebut sebagai antiretroviral agents. Di pertengahan tahun 1980-an, obat utama bagi AIDS adalah AZT (azidothymidine) yang berfungsi untuk memperlambat reproduksi HIV pada tahapan awal. Selanjutnya di pertengahan tahun 1990-an berkembang obat anti-retroviral baru yang disebut sebagai protease inhibitors, yang juga berfungsi untuk menangani reproduksi HIV dan secara dramatis mengurangi jumlah virus tersebut dalam banyak inveksi HIV yang dialami, tetapi tidak semuanya. (Sarafino, 2006). Terapi ARV selalu digunakan dalam bentuk kombinasi, oleh karena itu disebut HAART (Highly Active Antiretroviral Therapy). Sampai saat ini sudah ada dua bentuk kombinasi dimana kombinasi pertama adalah Neviral-Duviral dan Duviral-Efaviren (Schumaker, 2008)

ODHA memerlukan ARV biasanya bila level CD4 < 350/mm3. Penggunaan ARV di Indonesia sudah dimulai pada tahun 1990 dengan menggunakan obat paten, baru pada bulan Nopember tahun 2001 menggunakan obat generik. Kimia Farma sendiri baru mampu memproduksi ARV generik pada akhir tahun 2003, sehingga obat ARV dapat diberikan secara cuma-Cuma sejak tahun 2004. Hingga saat ini sumber obat ARV di Indonesia berasal dari dana APBN yang diproduksi oleh Kimia Farma dan dari Global Fund dengan perbandingan dana 70:30 (Yayasan Citra Usadha Indonesia. 2008).

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa anti-retroviral adalah suatu obat yang adapat digunakan untuk mencegah reproduksi retrovirus, yaitu virus yang terdapat pada HIV. Obat ini tidak untuk mencegah penyebaran HIV dari orang yang terinfeksi ke orang lain, tidak untuk menyembuhkan infeksi HIV dan juga tidak berfungsi untuk membunuh virus (agar tidak berkembang menjadi AIDS karena jika hal ini terjadi maka akan membuat kerusakan pada sel tubuh yang terkena infeksi virus tersebut). Antiretroviral digunakan untuk memblokir atau menghambat proses reproduksi virus, membantu mempertahankan jumlah minimal virus di dalam tubuh dan memperlambat kerusakan sistem kekebalan sehinga orang yang terinfeksi HIV dapat merasa lebih baik/nyaman dan bisa menjalani kehidupan normal.

Pengertian Orang dengan HIV AIDS (ODHA) (skripsi dan tesis)

Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Daerah Istimewah Yogyakarja nomor 20 tahun 2010 tentang penanggulangan Human Immunodefficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Defficiency Sindrome (AIDS) menyatakan bahwa orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) adalah orang yang sudah terinfeksi HIV baik pada tahap sebelum ada gejala maupun yang sudah ada gejala. Sedangkan orang yang hidup dengan pengidap HIV dan AIDS yang selanjutnya disingkat dengan OHIDHA adalah orang yang terdekat, teman kerja, atau keluarga dari orang yang sudah tertular HIV (www.birohukum.jogjaprov.go.id).

Perda Provinsi DIY no 20 tahun 2010 tentang penanggulangan HIV dan AIDS menyebutkan bahwa Human Immunodefficiency Virus (HIV) adalah virus penyebab AIDS yang digolongkan sebagai jenis yang disebut retrovirus yang menyerang sel darah putih dan melumpuhkan sistem kekebalan tubuh dan ditemukan dalam cairan tubuh pengidap HIV dan AIDS yang berpotensi menularkan melalui darah, air, mani, air susu ibu dan cairan vagina. Sedangkan Acquires Immuno Defficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh HIV yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia sehingga daya tahan tubuh melemah dan mudah terjangkit penyakit infeksi. AIDS muncul setelah virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh kita selama lima hingga sepuluh tahun atau lebih. Sistem kekebalan tubuh kita menjadi lemah, dan satu atau lebih penyakit dapat timbul. Karena lemahnya sistem kekebalan tubuh tadi, beberapa penyakit bisa menjadi lebih berat daripada biasanya. Individu yang AIDS rentan terjangkit berbagai penyakit yang mengancam (Sarafino, 2008).

 

 

Penyebab Kanker (skripsi dan tesis)

 

  1. Teori penyebab kanker

Menurut Tambayong (2000) teori penyebab kanker ada 4 yaitu :

1)         Teori mutasi somatik

Kelainan dalam gen timbul akibat perubahan mutasi, yang mungkin diinduksi oleh zat karsinogenik, dan adanya faktor herediter.

2)         Teori diferensiasi aberans atau epigenetik

Kelainan timbul akibat adanya gangguan pengaturan dari gen normal.

3)         Teori virus

Virus disebut sebagai kemungkinan penyebab kanker pada manusia, virus tersebut disebut virus onkogenik. Ada bukti yang menunjukkan bahwa virus mengubah genom sel yang terinfeksi kemudian mengubah turunan dari selnya. Dua virus onkogenik adalah virus DNA dan RNA.

4)         Teori seleksi sel

Menurut teori ini kanker berkembang tahap demi tahap, melalui proses mutasi. Proses ini dapat berhenti dan reversibel bila stimulusnya tak ada lagi.

 

  1. Faktor penyebab kanker

1)         Faktor genetik

Faktor genetik merupakan salah satu faktor penyebab kanker. Jenis kanker yang sering diturunkan dalam faktor genetik yaitu kanker payudara, kanker kulit, dan kanker indung telur.

2)         Faktor gaya hidup

Gaya hidup juga menjadi faktor timbulnya penyakit kanker. Gaya hidup yang dimaksud seperti merokok, kebiasaan makan, kebiasaan minum minuman beralkohol, dan perilaku seksual yaitu melakukan hubungan intim diusia dini serta sering berganti-ganti pasangan.

3)         Faktor virus

Virus Papilloma menyebabkan kutil kelamin (genitalis) merupakan salah satu penyebab kanker leher rahim pada wanita. Virus Sitomegalo menyebabkan Sarkoma Kaposi (kanker sistem pembuluh darah yang ditandai oleh lesi kulit berwarna merah). Virus Hepatitis B dapat menyebabkan kanker hati.

4)         Faktor emosional

Emosional di sini yang di maksudkan adalah stress. Stres berat menyebabkan ganggguan keseimbangan seluler tubuh. Keadaan tegang terus menerus dapat mempengaruhi sel, dimana sel jadi hiperaktif dan berubah sifat menjadi ganas sehingga menyebabkan kanker.

5)         Faktor gangguan keseimbangan hormon

Hormon dapat merupakan promotor terjadinya keganasan. Bila kadar hormon tertentu meningkat selama waktu yang lama dapat mencetuskan kanker payudara, endometrium, vagina, prostat, atau tiroid.

6)         Faktor radiasi

Radiasi dapat menyebabkan kanker payudara, tiroid, dan leukemia serta sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kanker kulit.

7)         Faktor Infeksi

Parasit Schistososma hematobium mengakibatkan kanker planoseluler. Infeksi oleh Clonorchis yang dapat menyebabkan kanker pankreas dan saluran empedu.

8)         Faktor penurunan imunitas

Penurunan imunitas karena tindakan kedokteran (iatrogen) misalnya penggunaan kemoterapi, pemberian kortikosteroid jangka lama, atau terapi penyinaran luas dapat mengakibatkan timbulnya keganasan setelah sepuluh tahun atau lebih.

Rahim (skripsi dan tesis)

 

Rahim (uterus) adalah organ berdinding tebal, muskular, pipih, cekung yang tampak mirip buah pir terbalik (Bobak, 2004). Uterus terdiri dari tiga bagian, yaitu fundus yang merupakan tonjolan bulat di bagian atas dan terletak di atas insersi tuba falopi, korpus yang merupakan bagian utama yang mengelilingi kavum uteri berbentuk segitiga, dan isthmus yakni bagian sedikit konstriksi berbentuk silinder yang menghubungkan korpus dengan serviks. Besarnya uterus berbeda-beda, bergantung pada usia dan pernah melahirkan anak atau belum. Ukuran uterus kira-kira sebesar telur ayam kampung. Ukuran uterus pada nulipara adalah 5,5-8 cm x 3,5-4 cm x 2-2,5 cm dengan berat 40-50 gram, sedangkan ukuran uterus pada multipara adalah 9-9,5 cm x 5,5-6 cm x 3-3,5 cm dengan berat 60-70 gram. Letak rahim yang normal adalah anteversiofleksi (Rustam, 1998).

Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan, yaitu endometrium, miometrium, dan peritoneum. Endometrium ialah suatu lapisan membran  mukosa yang mengandung banyak pembuluh darah. Miometrium tersusun atas lapisan-lapisan serabut otot polos yang terbentang ketiga arah (longitudinal, transversal, dan oblique). Peritoneum merupakan membran serosa yang melapisi seluruh korpus uterus, kecuali seperempat permukaan anterior bagian bawah dimana terdapat kandung kemih dan serviks (Bobak,2004).

Bagian bawah uterus adalah serviks atau leher rahim. Tempat perlekatan serviks uteri dengan vagina. Panjang serviks sekitar 2,5 sampai 3cm, 1cm menonjol ke dalam vagina pada wanita tidak hamil. Serviks terutama disusun oleh jaringan ikat fibrosa serta jumlah kecil serabut otot dan jaringan elastic. Muara sempit antara kavum uteri dan kanal endoserviks (kanal di dalam serviks yang menghubungkan kavum uteri dengan vagina), disebut ostium interna. Muara sempit antara endoserviks dan vagina disebut ostium eksterna.

Fungsi utama uterus adalah sebagai tempat bertumbuh dan  berkembangnya janin. Namun, uterus juga memiliki fungsi lain diantaranya pada siklus menstruasi uterus berperan dengan peremajaan endometrium, berkontraksi terutama pada proses persalinan dan setelah persalinan (Rustam, 1998).

 

Gambar 1.

Sistem Reproduksi Wanita (ADAM,2012)

Penatalaksanaan Bayi berat lahir rendah (BBLR) (skripsi dan tesis)

 

Konsekuensi dari anatomi dan fisiologi yang belum matang menyebabkan bayi BBLR cenderung mengalami masalah yang bervariasi. Hal ini harus diantisipasi dan dikelola pada masa neonatal. Penatalaksanaan yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi stress fisik maupun psikologis. Adapun penatalaksanaan BBLR meliputi (Wong, 2008; Pillitteri, 2003) :

  1. Dukungan respirasi

Tujuan primer dalam asuhan bayi resiko tinggi adalah mencapai dan mempertahankan respirasi. Banyak bayi memerlukan oksigen suplemen dan bantuan ventilasi. Bayi dengan atau tanpa penanganan suportif ini diposisikan untuk memaksimalkan oksigenasi karena pada BBLR beresiko mengalami defisiensi surfaktan dan periadik apneu. Dalam kondisi seperti ini diperlukan pembersihan jalan nafas, merangsang pernafasan, diposisikan miring untuk mencegah aspirasi, posisikan tertelungkup jika mungkin karena posisi ini menghasilkan oksigenasi yang lebih baik, terapi oksigen diberikan berdasarkan kebutuhan dan penyakit bayi. Pemberian oksigen 100% dapat memberikan efek edema paru dan retinopathy of prematurity (Wong et al.,2008).

  1. Termoregulasi

Kebutuhan yang paling krusial pada BBLR setelah tercapainya respirasi adalah pemberian kehangatan eksternal. Pencegahan kehilangan panas pada bayi distress sangat dibutuhkan karena produksi panas merupakan proses kompleks yang melibatkan sistem kardiovaskular, neurologis, dan metabolik. Bayi harus dirawat dalam suhu lingkungan yang netral yaitu suhu yang diperlukan untuk konsumsi oksigen dan pengeluaran kalori minimal. Menurut Thomas (1994) suhu aksilar optimal bagi bayi dalam kisaran 36,5°C – 37,5°C, sedangkan menurut Sauer dan Visser (1984) suhu netral bagi bayi adalah 36,7°C – 37,3°C (Wong et al., 2008).

Menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu (Kosim Sholeh, 2005) :

  • Kangaroo Mother Care atau kontak kulit dengan kulit antara bayi dengan ibunya. Jika ibu tidak ada dapat dilakukan oleh orang lain sebagai penggantinya.
  • Pemancar pemanas
  • Ruangan yang hangat
  • Inkubator

 

  1. Perlindungan terhadap infeksi

Perlindungan terhadap infeksi merupakan bagian integral asuhan semua bayi baru lahir terutama pada bayi preterm dan sakit. Pada bayi BBLR imunitas seluler dan humoral masih kurang sehingga sangat rentan denan penyakit. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah infeksi antara lain :

  • Semua orang yang akan mengadakan kontak dengan bayi harus melakukan cuci tangan terlebih dahulu.
  • Peralatan yang digunakan dalam asuhan bayi harus dibersihkan secara teratur. Ruang perawatan bayi juga harus dijaga kebersihannya.
  • Petugas dan orang tua yang berpenyakit infeksi tidak boleh memasuki ruang perawatan bayi sampai mereka dinyatakan sembuh atau disyaratkan untuk memakai alat pelindung seperti masker ataupun sarung tangan untuk mencegah penularan (Wong et al., 2008)

 

  1. Hidrasi

Bayi resiko tinggi sering mendapat cairan parenteral untuk asupan tambahan kalori, elektrolit, dan air. Hidrasi yang adekuat sangat penting pada bayi preterm karena kandungan air ekstraselulernya lebih tinggi (70% pada bayi cukup bulan dan sampai 90% pada bayi preterm). Hal ini dikarenakan permukaan tubuhnya lebih luas dan kapasitas osmotik diuresis terbatas pada ginjal bayi preterm yang belum berkembang sempurna sehingga bayi tersebut sangat peka terhadap kehilangan cairan ( Pilliteri et al., 2003)

  1. Nutrisi

Nutrisi yang optimal sangat kritis dalam manajemen bayi BBLR tetapi terdapat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi mereka karena berbagai mekanisme ingesti dan digesti makanan belum sepenuhnya berkembang. Jumlah, jadwal, dan metode pemberian nutrisi ditentukan oleh ukuran dan kondisi bayi. Nutrisi dapat diberikan melalui parenteral ataupun enteral atau dengan kombinasi keduanya Pilliteri et al., 2003) .

Bayi preterm menuntut waktu yang lebih lama dan kesabaran dalam pemberian makan dibandingkan bayi cukup bulan. Mekanisme oral-faring dapat terganggu oleh usaha memberi makan yang terlalu cepat. Penting untuk tidak membuat bayi kelelahan atau melebihi kapasitas mereka dalam menerima makanan. Toleransi yang berhubungan dengan kemampuan bayi menyusu harus didasarkan pada evaluasi status respirasi, denyut jantung, saturasi oksigen, dan variasi dari kondisi normal dapat menunjukkan stress dan keletihan (Wong et al., 2008).

Bayi akan mengalami kesulitan dalam koordinasi mengisap, menelan, dan bernapas sehingga berakibat apnea, bradikardi, dan penurunan saturasi oksigen. Pada bayi dengan reflek menghisap dan menelan yang kurang, nutrisi dapat diberikan melalui sonde ke lambung. Kapasitas lambung bayi prematur sangat terbatas dan mudah mengalami distensi abdomen yang dapat mempengaruhi (Wong et al., 2008)

 

  1. Penghematan energi

Salah satu tujuan utama perawatan bayi resiko tinggi adalah menghemat energi, Oleh karena itu BBLR ditangani seminimal mungkin. Bayi yang dirawat di dalam inkubator tidak membutuhkan pakaian , tetapi hanya membutuhkan popok atau alas. Dengan demikian kegiatan melepas dan memakaikan pakaian tidak perlu dilakukan. Selain itu, observasi dapat dilakukan tanpa harus membuka pakaian (Politeri et al., 2008).

Bayi yang tidak menggunakan energi tambahan untuk aktivitas bernafas, minum, dan pengaturan suhu tubuh, energi tersebut dapat digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Mengurangi tingkat kebisingan lingkungan dan cahaya yang tidak terlalu terang meningkatkan kenyamanan dan ketenangan sehingga bayi dapat beristirahat lebih banyak (Pilliteri et al., 2003).

Posisi telungkup merupakan posisi terbaik bagi bayi preterm dan menghasilkan oksigenasi yang lebih baik, lebih menoleransi makanan, pola tidur-istirahatnya lebih teratur. Bayi memperlihatkan aktivitas fisik dan penggunaan energi lebih sedikit bila diposisikan telungkup (Pilliteri et al., 2003).

PMK akan memberikan rasa nyaman pada bayi sehingga waktu tidur bayi akan lebih lama dan mengurangi stress pada bayi sehingga mengurangi penggunaan energi oleh bayi (Pilliteri et al., 2003).

 

  1. Stimulasi Sensori

Bayi baru lahir memiliki kebutuhan stimulasi sensori yang khusus. Mainan gantung yang dapat bergerak dan mainan- mainan yang diletakkan dalam unit perawatan dapat memberikan stimulasi visual. Suara radio dengan volume rendah, suara kaset, atau mainan yang bersuara dapat memberikan stimulasi pendengaran. Rangsangan suara yang paling baik adalah suara dari orang tua atau keluarga, suara dokter, perawat yang berbicara atau bernyanyi. Memandikan, menggendong, atau membelai memberikan rangsang sentuhan (Wong et al., 2008).

Rangsangan suara dan sentuhan juga dapat diberikan selama PMK karena selama pelaksanaan PMK ibu dianjurkan untuk mengusap dengan lembut punggung bayi dan mengajak bayi berbicara atau dengan memperdengarkan suara musik untuk memberikan stimulasi sensori motorik, pendengaran, dan mencegah periodik apnea (Pilliteri et al., 2003).

  1. Dukungan dan Keterlibatan Keluarga

Kelahiran bayi preterm merupakan kejadian yang tidak diharapkan dan membuat stress bila keluarga tidak siap secara emosi. Orang tua biasanya memiliki kecemasan terhadap kondisi bayinya, apalagi perawatan bayi di unit perawatan khusus mengharuskan bayi dirawat terpisah dari ibunya. Selain cemas, orang tua mungkin juga merasa bersalah terhadap kondisi bayinya, takut, depresi, dan bahkan marah. Perasaan tersebut wajar, tetapi memerlukan dukungan dari perawat (Pilliteri et al., 2003).

Perawat dapat membantu keluarga dengan bayi BBLR dalam menghadapi krisis emosional, antara lain dengan memberi kesempatan pada orang tua untuk melihat, menyentuh, dan terlibat dalam perawatan bayi. Hal ini dapat dilakukan melalui metode kanguru karena melalui kontak kulit antara bayi dengan ibu akan membuat ibu merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam merawat bayinya. Dukungan lain yang dapat diberikan perawat adalah dengan menginformasikan kepada orang tua mengenai kondisi bayi secara rutin untuk meyakinkan orang tua bahwa bayinya memperoleh perawatan yang terbaik dan orang tua selalu mendapat informasi yang tepat mengenai kondisi bayinya (Pilliteri et al., 2003).

Faktor Penyebab Pneumonia (skripsi dan tesis)

 

Beberapa penyebab dari bayi dengan berat badan lahir rendah (Proverawati dan Ismawati, 2010).

  1. Faktor ibu
    • Penyakit
  • Mengalami komplikasi kehamilan, seperti anemia, perdarahan antepartum, preekelamsi berat, eklamsia, infeksi kandung kemih.
  • Menderita penyakit seperti malaria, infeksi menular seksual, hipertensi, HIV/AIDS, TORCH, penyakit jantung.
  • Penyalahgunaan obat, merokok, konsumsi alkohol.
    • Ibu
  • Angka kejadian prematitas tertinggi adalah kehamilan pada usia < 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
  • Jarak kelahiran yang terlalu dekat atau pendek (kurang dari 1 tahun).
  • Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya.
    • Keadaan sosial ekonomi
  • Kejadian tertinggi pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal ini dikarenakan keadaan gizi dan pengawasan antenatal yang kurang.
  • Aktivitas fisik yang berlebihan
  • Perkawinan yang tidak sah
  1. Faktor janin

Faktor janin meliputi : kelainan kromosom, infeksi janin kronik (inklusi sitomegali, rubella bawaan), gawat janin, dan kehamilan kembar.

  1. Faktor plasenta

Faktor plasenta disebabkan oleh : hidramnion, plasenta previa, solutio plasenta, sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik), ketuban pecah dini.

  1. Faktor lingkungan

Lingkungan yang berpengaruh antara lain : tempat tinggal di dataran tinggi, terkena radiasi, serta terpapar zat beracun.

Klasifikasi Bayi berat lahir rendah (BBLR) (skripsi dan tesis)

 

Ada beberapa cara dalam mengelompokkan BBLR (Proverawati dan Ismawati, 2010) :

  1. Menurut harapan hidupnya

1) Bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan berat lahir 1500-2500 gram.

2) Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) dengan berat lahir 1000-1500 gram.

3) Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) dengan berat lahir kurang dari 1000 gram.

  1. Menurut masa gestasinya

1) Prematuritas murni yaitu masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (NKB-SMK).

2) Dismaturitas yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi kecil untuk masa kehamilannya (KMK).

Komplikasi Pneumonia (skripsi dan tesis)

 

Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empiema torasis, perikarditis purulenta, pneumotoraks atau infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis prulenta. Empiema torasis merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia bakteri, curiga ke arah ini apabila terdapat demam persisten meskipun sedang diberi antibiotik, ditemukan tanda klinis dan gambaran foto dada yang mendukung yaitu adanya cairan pada satu atau kedua sisi dada (Probe et al., 2000).

Ilten et,al. (2005) melaporkan mengenai komplikasi miokarditis (tekanan sistolik kanan meningkat, kreatinin kinase meningkat, dan gagal jantung) yang cukup tinggi pada seri pneumonia anak berusia 2-24 bulan. Oleh karena miokarditis merupakan keadaan yang fatal, maka dianjurkan untuk melakukan deteksi dengan teknik noninvasif seperti EKG, ekokardiografi, dan pemeriksaan enzim

Tatalaksana Pneumonia (skripsi dan tesis)

 

Menurut Buku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit, WHO (2009). Penatalaksanaan pneumonia pada anak dibagi menjadi 2 yaitu penatalaksanaan untuk pneumonia ringan dan penatalaksanaan untuk pneumonia berat.

  • Penatalaksanaan Pneumonia Ringan
    • Anak dirawat jalan
    • Beri antibiotik kotrimoksasol (4 mg TMP/kgbb/ kali) selama 3 hari atau, Amoksisilin (25 mg/ kgbb/kali) selama 3 hari. Pada pasien imunodefisiensi diberikan selama 5hari.
  • Penatalaksanaan Pneumonia Berat
    • Anak dirawat inap
    • Beri Ampisilin atau Amoksisilin (25-50 mg/ kgbb/ kali IM atau IV setiap 6 jam) yang harus dipantau dalam 24 jam pertama, veri selama 72 jam. Bila respon baik veri Amoksisilin oral (15 mg/kgbb/kali 3 kali sehari) selama 5 hari
    • Bila keadaan klinis memburuk sebelum 48 jam atau terdapat keadaan yang berat (tidak menyusu, muntah, kejang, letargis, tidak sdar, sianosis, distress pernafasan) maka ditambahkan kloramfenikol (25 mg/kgbb/kaliIM atau IV setiap 8 jam)
    • Bila datang dalam kondisi klinis berat, segera berikan oksigen dan pengobatan kombinasi ampisilin-kloramfenikol atau ampisilin gentamisin
  • Terapi Suportif:
    • Pemberian oksigen sesuai derajat sesaknya, pemberian dilakukan sampai tanda hipoksia (seperti tarikan dinding dada ke dalam yang berat atau napas cepat) tidak ditemukan lagi.
    • Nutrisi parenteral diberikan selama pasien masih sesak. Kebutuhan cairan rumatan diberikan sesuai umur anak, tetapi hati-hati terhadap kelebihan cairan/overhidrasi.

Pemeriksaan penunjang pneumonia (skripsi dan tesis)

 

Foto Rontgen toraks proyeksi posterior-anterior merupakan dasar diagnosis utama pneumonia. Foto lateral dibuat bila diperlukan informasi tambahan, misalnya efusi pleura. Pada bayi dan anak yang kecil gambaran radiologi seringkali tidak sesuai dengan gambaran klinis. Tidak jarang secara klinis tidak ditemukan apa-apa tetapi gambaran foto toraks menunjukkan pneumonia berat (WHO, 2009). Gambaran radiologis yang klasik dapat dibedakan menjadi 3 macam:

  • Konsolidasi lobar atau segmental disertai adanya air bronchogram (pneumatokel), biasanya disebabkan infeksi akibat pneumococcus atau bakteri lain.
  • Pneumonia interstisial, biasanya karena virus atau Mycoplasma; gambaran berupa corakan bronchovaskular bertambah, peribronchial cuffing, dan overaeriation; bila berat terjadi pachy consolidation karena atelektasis.

Gambaran pneumonia karena S. aureus dan bakteri lain biasanya menunjukkan gambaran bilateral yang difus, corakan peribronchial yang bertambah, dan tampak infiltrat halus sampai ke perifer

Gambaran Klinis Pneumonia (skripsi dan tesis)

 

            Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat ringannya penyakit, pada bayi gejalanya tidak jelas seringkali tanpa demam dan batuk, namun secara umum adalah sebagai berikut (Probe et al.,2000):

  • Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah atau diare, kadang-kadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner.
  • Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk (nonproduktif / produktif), sesak napas, retraksi dada, napas cepat/takipnea, napas cuping hidung, air hunger, merintih/grunting, dan sianosis.

WHO telah menggunakan penghitungan frekuensi napas per menit berdasarkan golongan umur sebagai salah satu pedoman untuk memudahkan diagnosa Pneumonia, terutama di institusi pelayanan kesehatan dasar. Napas cepat/ takipnea, bila frekuensi napas:

– umur < 2 bulan          : ≥ 60 kali/menit

– umur 2-11 bulan        : ≥ 50 kali/menit

– umur 1-5 tahun         : ≥ 40 kali/menit

– umur ≥ 5 tahun         : ≥ 30 kali/menit

Pada pemeriksaan fisik paru dapat ditemukan tanda klinis sebagai berikut, auskultasi terdengar suara nafas menurun dan fine crackles (ronki basah halus) pada daerah yang terkena, dull (redup) pada perkusi (WHO, 2009).

Patofisiologi Pneumonia (skripsi dan tesis)

 

Paru memiliki beberapa mekanisme pertahanan yang efektif yang diperlukan karena sistem respiratori selalu terpajan dengan udara lingkungan yang seringkali terpolusi serta mengandung iritan, patogen, dan alergen. Sistem pertahanan organ respiratorik terdiri dari tiga unsur, yaitu refleks batuk yang bergantung pada integritas saluran respiratori, otot-otot pernapasan, dan pusat kontrol pernapasan di sistem saraf pusat (Mc Phee et al. 2006 ).

Pneumonia terjadi jika mekanisme pertahanan paru mengalami gangguan sehingga kuman patogen dapat mencapai saluran napas bagian bawah. Agen-agen mikroba yang menyebabkan pneumonia memiliki tiga bentuk transmisi primer: (1) aspirasi sekret yang berisi mikroorganisme patogen yang telah berkolonisasi pada orofaring, (2) infeksi aerosol yang infeksius, dan (3) penyebaran hematogen dari bagian ekstrapulmonal. Aspirasi dan inhalasi agen-agen infeksius adalah dua cara tersering yang menyebabkan pneumonia, sementara penyebaran secara hematogen lebih jarang terjadi. (Mupamenunda, 2005)

Menurut Mc Phee et.al. (2006) Setelah mencapai alveoli, maka mikroorganisme patogen akan menimbulkan respon khas yang terdiri dari empat tahap berurutan:

  1. Stadium Kongesti (4 – 12 jam pertama): eksudat serosa masuk ke dalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor.
  2. Stadium Hepatisasi merah (48 jam berikutnya): paru tampak merah dan bergranula karena sel-sel darah merah, fibrin, dan leukosit PMN mengisi alveoli.
  3. Stadium Hepatisasi kelabu (3 sampai 8 hari): paru tampak kelabu karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang terserang.
  4. Stadium Resolusi (7 sampai 11 hari): eksudat mengalami lisis dan direabsorpsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali pada strukturnya semula.

Etiologi. Pneumonia (skripsi dan tesis)

Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme (virus atau bakteri) dan sebagian kecil disebabkan oleh hal lain (aspirasi, radiasi,dll). Secara klinis sulit membedakan pneumonia bakterial dan pneumonia viral. Demikian juga dengan pemeriksaan radiologis dan laboratorium, biasanya tidak dapat menentukan etiologi (Rizkianti cit Shingelton, 2009).

Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan penting pada perbedaan dan kekhasan pneumonia anak, terutama dalam spektrum etiologi, gambaran klinis dan strategi pengobatan. Etiologi pneumonia pada neonatus dan bayi kecil meliputi Streptococcus group B dan bakteri Gram negatif seperti E.colli, Pseudomonas sp, atau Klebsiella sp. Pada bayi yang lebih besar dan anak balita, pneumonia sering disebabkan oleh infeksi Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenzae tipe B dan Staphylococcus aureus, sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja, selain bakteri tersebut, sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma pneumonia (Probe, 2000 ).

Di negara maju, pneumonia pada anak terutama disebabkan oleh virus, disamping bakteri, atau campuran bakteri dan virus. Virus yang terbanyak ditemukan adalah Respiratory Syncytial virus (RSV), Rhinovirus, dan virus parainfluenza. Bakteri yang terbanyak adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenzae tipe B, dan Mycoplasma pneumoniae. Kelompok anak berusia 2 tahun ke atas mempunyai etiologi infeksi bakteri yang lebih banyak daripada anak berusia di bawah 2 tahun (Probe, 2000).

Pengertian Pneumonia (skripsi dan tesis)

 

 

Pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan utama pada anak di berbagai negara terutama di negara berkembang termasuk di Indonesia. Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia di bawah lima tahun. Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) hampir 1 dari 5 balita di negara berkembang meninggal karena pneumonia (WHO,2010).

Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan tuberkulosis. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian. Terdapat berbagai faktor risiko yang menyebabkan tingginya angka mortalitas pneumonia pada anak balita di negara berkembang. Faktor risiko tersebut adalah pneumonia yang terjadi pada masa bayi, berat badan lahir rendah (BBLR), tidak mendapat imunisasi, tidak mendapat ASI yang adekuat, malnutrisi, defisiensi vitamin A, tingginya prevalensi kolonisasi bakteri patogen di nasofaring, dan tingginya pajanan terhadap polusi udara (Rizkianti, 2009).

Berdasarkan tempat  terjadinya infeksi, dikenal dua bentuk pneumonia, yaitu: 1) Pneumonia masyarakat (community-acquired pnumonia), bila infeksinya terjadi di masyarakat, dan 2) pneumonia RS atau pneumonia nosokomial (hospital-acquired pneumonia), bila infeksinya didapat di RS. Selain berbeda dalam lokasi tempat terjadinya infeksi, kedua bentuk pneumonia ini juga berbeda dalam spektrum etiologi, gambaran klinis, penyakit dasar atau penyakit penyerta, dan prognosisnya. Pneumonia yang didapat di RS sering merupakan infeksi sekunder pada berbagai penyakit dasar yang sudah ada, sehingga spektrum etiologinya berbeda dengan infeksi yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, gejala klinis, derajat beratnya penyakit dan komplikasi yang timbul lebih kompleks dan memerlukan penanganan khusus sesuai dengan penyakit dasarnya (Probe,2000).

Kerusakan Hati (skripsi dan tesis)

Penyebab utama kerusakan hati adalah :

  • Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang adalah penyebab paling utama
  • Tidak buang air di pagi hari.
  • Pola makan yang terlalu berlebihan.
  • Tidak makan pagi.
  • Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan.
  • Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan.
  • Minyak goreng yang tidak sehat! Sedapat mungkin kurangi penggunaan minyak goreng saat menggoreng makanan hal ini juga berlaku meski menggunakan minyak goreng terbaik sekalipun seperti olive oil. Jangan mengkonsumsi makanan yang digoreng bila kita dalam kondisi penat, kecuali dalam kondisi tubuh yang fit.
  • Mengkonsumsi masakan mentah (sangat matang) juga menambah beban hati. Sayur mayur dimakan mentah atau dimasak matang 3/ 5 bagian. Sayur yang digoreng harus dimakan habis saat itu juga, jangan disimpan.

Penentuan Karsinoma (skripsi dan tesis)

Pemeriksaan fisik

  • .Hati: Biasanya membesar pada awal sirosis, bila hati mengecil artinya prognosis kurang baik..Konsistensi hati biasanya kenyal, tepi tumpul dan nyeri tekan.
  • Ascites dan vena kolateral di perut dan ekstra abdomen
  • .Manifestasi di luar perut : Spider nevi di tubuh bagian atas, bahu, leher, dada, pinggang, caput medusae

Pemeriksaan Faal

Faal metabolik yang dilakukan oleh jaringan hati,maka ada banyak pula, lebih dari 100, jenis test yang mengu-kur reaksi faal hati. Semuanya, disebut sebagai “tes faal hati”.Sebenarnya hanya beberapa yang- benar-benar mengukur faalhati. Diantara berbagai tes tersebut tidak ada tes tunggal yangefektif mengukur faal hati secara keseluruhan. Beberapa testerlalu peka sehingga tidak khas, sebagian lagi dipengaruhi pulaoleh faktor-faktor di luar hati, sebagian lagi sudah obsolete. Sebaliknya makin banyak tes yang diminta maka makin besar pula kemungkinannya mendapatkan defisiensi biokimia. Cara pemeriksaan shotgun semacam itu akan menimbulkan kebingungan.

  1. Integritas Sel

Enzim-enzim AST, ALT & GLDH akan meningkat bila terjadi kerusakan sel hati. Biasanya peningkatan ALT lebih tinggi daripada AST pada kerusakan hati yang akut, mengingat ALTmerupakan enzim yang hanya terdapat dalam sitoplasma selhati (unilokuler). Sebaliknya AST yang terdapat baik dalamsitoplasma maupun mitochondria (bilokuler) akan mening kat lebih tinggi daripada ALT pada kerusakan hati yang lebih dalam dari sitoplasma sel. Keadaan ini ditemukan pada keru-sakan sel hati yang menahun.2,5,7Adanya perbedaan pening-katan enzim AST dan ALT pada penyakit hati ini mendorongpara peneliti untuk menyelidiki ratio AST & ALT ini. De Ritiset al mendapatkan ratio AST/ALT =0,7 sebagaibatas penyakit hati akut dan kronis. Ratio lni yang terkenal dengan narna ratio De Ritis memberikan hasil < 0,7 pada penyakit hati akut dan > 0,7 pada penyakit hati kronis. Batas 0,7 ini dipakai apabila peme-riksaan enzim-enzim tersebut dilakukan secara optimized, sedangkan apabila pemeriksaan dilakukan dengan cara kolori-metrik batas ini adalah 1.7 Istilah “optimized”yang dipakai olehperkumpulan ahli kimia di Jerman ini mengandung arti bahwacara pemeriksaan ini telah distandardisasi secara optimum baiksubstrat, koenzim maupun lingkungannya. Enzim GLDHbersifat unikoluker dan terletak di dalam mitochondria. Enzimini peka dan karena itu baik untuk deteksi dini dari kerusakansel hati terutama yang disebabkan oleh alkohol, selain itu juga berguna untuk diagnosa banding ikterus. Perlu diketahui bahwacortison dan sulfonil urea pada dosis terapi dapat menurunkankadar GLDH. Pemeriksaan enzim LDH total akan lebihbermakna apabila dapat dilakukan pemeriksaan isoenzimnyayaitu LDH 5. Dalam hubungannya dengan metabolisme besi,sel hati rnembentuk transferin sebagai pengangkut Fe dan juga menyimpannya dalam bentuk feritin dan hemosiderin.Cu terdapat di dalam enzim seruloplasmin yang dibentuk oleh hati. Kelebihan Cu akan segera diekskresi oleh hati Wierzchowski, J., Holmquist, B. and Vallee, B. L.1992)

  1. Metabolisme Ekskresit

BSP (bromsulfonftalein), suatu zat warna, merupakan tes yang peka terhadap adanya kerusakan hati. Diukur retensinya didalam darah beberapa waktu setelah disuntikkan intravena Di dalam darah ia diikat oleh albumin dan di “uptake”olehsel-sel hati, dikonyugasi dan diekskresi melalui empedu. Padapenyuntikan 5 mg/kg berat badan maka setelah 45 menitretensinya kurang dari 5% pada keadaan normal.Korelasinya baik dengan kelainan histopatologik. Tes iniberguna pada hepatitis anikterus, mengetahui kerusakan setelahsembuh dari hepatitis, sirosis hati, semua tingkat hepatitiskronik, tersangka perlemakan hati dan keracunan hati. Namun tes ini kurang disenangi karena dapat timbul efek samping, walaupun jarang, yang fatal seperti renjatan anafilaktis.Akhir-akhir ini makin banyak dikerjakan pemeriksaan kadarasam empedu dalam darah. Tes ini mempunyai makna sepertites retensi BSP dan juga amat peka terutama kadarnya 2 jam setelah makan.Kadar amonia mengukur faal detoksifikasi hati yang meru-bahnya menjadi ureum. Faal ini baru terganggu pada kerusakanhati berat karena itu tes ini baru berguna untuk mengikutiperkembangan sirosis hati yang tidak terkompensir atau komahepatikum. Kadarnya juga akan meningkat bila ada shuntportokaval yang mem”by-pass” hati.Tes toleransi galaktosa menguji kemampuan faal hati meng-ubah galaktosa menjadi glukosa. Tes ini sudah jarang dilaku-kan. (Winkler, et al. 1971).

  1. Faal Eksresi

kadar bilirubin serum terutama panting untuk membedakan jenis-jenis ikterus. Pemeriksaan ini yang umum-nya memakai metodik Jendrassik dan Grof (1938) dapat dipengaruhi oleh kerja fisik dan makanan tertentu seperti karoten,oleh karena itu pengambilan sampel sebaiknya pagi harisesudah puasa. Pada ikterus prahepatik yang dapat disebabkanoleh proses hemolisis ataupun kelainan metabolisme sepertisindroma Dubin-Johnson, ditemukan peningkatan dari bilirubinbebas. Ikterus hepatik sebagai akibat kerusakan sel hati akanmeningkatkan baik bilirubin babas maupun bilirubin (diglukuronida) dalam darah serta ditemukannya bilirubin (diglukuronida) didalam urin. Sedangkan ikterus obstruktif, baikintra maupun ekstra hepatik, akan meningkatkan terutamabilirubin diglukuronida di dalam darah dan urin. Kadarurobilinogen dalam urin akan meningkat pada ikterus hepatik,sebaliknya ia akan menurun atau tidak ada sama sekali padaikterus obstruktif sesuai dengan derajat obstruksinya. Seperti telah disinggung sebelumnya pemeriksaan asam em-pedu makin banyak dipakai sebagai tes faal hati.Pemeriksaan ini dimungkinkan untuk dipakai di dalam kliniksejak ditemukannya metodik onzimatik yang relatif sederhanadibandingkan metodik-metodik sebelumnya. Dalam keadaan normal hanya sebagian kecil saja asam empedu terdapat di da lam darah sedangkan sebagian besar di- up take oleh sel hati. Pada kerusakan sel hati, hati gagal mengambil asam empedu, sehingga jumlahnya meningkat dalam darah. Pemeriksaan iniseperti pemeriksaan BSP dapat mendeteksi kelainan hati yang ringan disamping untuk follow up dan menguji adanya shunt portcaval (Mc Manus JFA dan Mowry RW. 1960).

  1. Faal Sintesa

Albumin disintesa oleh hati. Pada gangguan faal hati kadarnyadi dalam darah akan menurun.Cara pemeriksaan yang banyak dipakai sekarang adalah carabromcresylgreen. Selain dengan cara di atas, penurunan kadaralbumin juga dapat diukur secara elektroforesa dengan per-alatan khusus yang lebih mahal. Selain dengan pemeriksaanalbumin, pemeriksaan enzim cholinesterase(ChE) juga dipakaisebagai tolok ukur dari faal sintesa hati.  Penurunan aktivitas ChE ternyata lebih spesifik dari pemeriksaan albumin, karena aktivitas ChE kurang dipengaruhi faktor-faktor di luar hati dibandingkan dengan pemeriksaan kadar albumin.Penetapan masa protrombin plasma berguna untuk mengujisintesa faktor-faktor pembekuan II, VII, IX dan X.Semua pemeriksaan tersebut lebih berguna untuk menilai atau membuat prognosa dari pada mendeteksi penyakit hati kronis .

Gejala Klinis Hepatoma (skripsi dan tesis)

Gejala dini samar dan nonspesifik berupa kelelahan, anoreksia, dispepsia, flatulen, konstipasi atau diare, berat badan berkurang, nyeri tumpul atau berat pada epigastrium atau kuadran kanan atas(1). Manifestasi utama dan lanjut sirosis merupakan akibat dari dua tipe gangguan fisiologis:

  1. Gagal sel hati

-Ikterus

-Edema perifer

-Kecenderungan perdarahan

-Eritema palmaris (telapak tangan merah)

-Angioma laba-laba

-Fetor hepatikum

-Ensefalopati hepatik

  1. Hipertensi portal

-Splenomegali

-Varises oesofagus dan lambung

-Manifestasi sirkulasi kolateral lain

Sedang asites dapat dianggap sebagai manifestasi gagal hepatoseluler dan hipertensi portal (Skursky, L.,  et. al, 1979)

Keluhan dan gejala yang timbul sangat bervariasi. Pada awalnya penyakit kadang tanpa disertai keluhan atau sedikit keluhan seperti perasaan lesu, dan berat badan menurun drastis. Penderita sering mengeluh rasa sakit atau nyeri tumpul (rasa nyeri seperti ditekan jari atau benda tumpul) yang terus menerus di perut kanan atas yang sering tidak hebat tetapi bertambah berat jika digerakkan.

 

Patologi Karsinoma Hepatoma (skripsi dan tesis)

Secara makroskopis biasanya tumor beerwarna putih, padat kadang nekrotik kehijauan atau hemoragik. Sering diketemuukan thrombus tumor di dalam vena hepatica atau porta intrahepaik. Pembagian atas tipe morfologisnya adalah ekspansif, dengan batas yang jelas; infiltratif, menyebar atau menjalar; multifokal. Menuru WHO secara hitologik HCC dapat diklasifikasikan berdasarkan organisasi struktural sel tumor sebagai berikut: rabekular, pseudoglandular, kompak dan sirous (Meyskens, F. L. J. R. et al, 1985)

Hepatoma 75 % berasal dari sirosis hati yang lama/menahun. Khususnya yang disebabkan oleh alkoholik dan postnekrotik.  Pedoman diagnostik yang paling penting adalah terjadinya kerusakan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Pada penderita sirosis hati  yang disertai pembesaran hati mendadak.

Tumor hati yang paling sering adalah metastase tumor ganas dari tempat lain. Matastase ke hati dapat terdeteksi pada lebih dari 50 % kematian akibat kanker. Hal ini benar, khususnya untuk keganasan pada saluran pencernaan, tetapi banyak tumor lain juga memperlihatkan kecenderungan untuk bermestatase ke hati, misalnya kanker payudara, paru-paru, uterus, dan pankreas. Diagnosa sulit ditentukan, sebab tumor biasanya tidak diketahui sampai penyebaran tumor yang luas, sehingga tidak dapat dilakukan reseksi lokal lagi

Definisi Hepatoma (skripsi dan tesis)

Hepatoma atau karsinoma hepatoseluler (HCC/hepaocellular carcinoma) merupakan tumor hati primer yang berasal dari hepatosit, demikian pula dengan karsinoma fibrolamelar dan hepastoblastoma. Tumor ganas hati lainnya kolangiokarsinoma (CC) dan sistoadenokarsinoma yang berasal dari sel epitel bilier sedangkan angikarsinoma dan leiokarsinoma berasal dari sel mesenkim. Dari seluruh tumor hati ganas yang pernah didiagnosis 85% merupakan HCC, 10% CC dan 5% adalah jenis lainnya (Lin HJ. 1997). Hepatoma merupakan kanker hati primer yang paling sering ditemukan. Karsinoma fibrolamelar merupakan jenis hepatoma yang jarang, yang biasanya mengenai dewasa muda.

Efek biologis alkoholisme (skripsi dan tesis)

Alkohol dengan cepat diserap dari usus halus ke dalam peredaran darah. Penyerapan alkohol terjadi lebih cepat dibandingkan metabolisme dan pembuangannya dari tubuh, sehingga kadar alkohol dalam darah meningkat dengan cepat. Sejumlah kecil alkohol dalam darah dibuang ke dalam air kemih, keringat dan udara pernafasan.

Sebagian besar alkohol dimetabolisme di hati dan menghasilkan sekitar 210 kalori/100 gram (7 kalori per mililiter) dari alkohol murni yang diminum. Alkohol segera menekan fungsi otak; seberapa beratnya tergantung kepada kadarnya di dalam darah; semakin tinggi kadarnya, semakin berat gangguan yang terjadi. Kadar alkohol dapat diukur dalam darah atau dapat diperkirakan dengan mengukur jumlahnya dalam contoh udara yang dihembuskan.

Penggunaan alkohol jangka jumlah yang berlebihan bisa merusak berbagai organ di tubuh, terutama hati, otak dan jantung. Alkohol cenderung menyebabkan toleransi, sehingga seseorang yang secara teratur minum lebih dari 2 gelas alkohol/hari, bisa mengkonsumsi alkohol lebih banyak daripada non-alkoholik, tanpa mengalami intoksikasi.

Pecandu alkohol juga dapat menjadi toleransi terhadap obat-obatan anti-depresi lainnya. Sebagai contoh, pecandu yang minum barbiturat/benzodiazepin biasanya membutuhkan dosis yang lebih besar untuk memperoleh efek pengobatannya.  Toleransi tampaknya tidak merubah cara metabolisme atau pembuangan alkohol. Alkohol bahkan menyebabkan otak dan jaringan lainnya menyesuaikan diri dengan kehadiran alkohol.

Bila seorang pecandu tiba-tiba berhenti minum, akan terjadi gejala putus obat. Sindroma putus obat alkohol biasanya dimulai dalam 12-48 jam setelah seseorang berhenti meminum alkohol. Gejalanya meliputi gemetar, lemah, berkeringat dan mual. Beberapa pecandu mengalami kejang (diseburt epilepsi alkoholisme).

 

Peminum berat yang berhenti minum bisa mengalami halusinasi alkohol. Mereka mengalami halusinasi dan mendengar suara-suara yang tampaknya menuduh dan mengancam, menyebabkan ketakutan dan teror. Halusinasi alkohol bisa berlangsung berhari-hari dan dapat dikendalikan dengan obat-obatan anti-psikosa (seperti klorpromazin atau tioridazin). Jika tidak diobati, gejala putus alkohol dapat menyebabkan sekumpulan gejala yang lebih serius yang disebut Delirium Tremens (DTs). DTs biasanya tidak segera terjadi, tetapi muncul sekitar 2-10 hari setelah berhenti minum.

Pada DTs, pecandu pada awalnya merasakan cemas, kemudian terjadi kebingungan, sulit tidur, mimpi buruk, keringat berlebihan dan depresi berat. Denyut nadi cenderung menjadi lebih cepat.

Episode ini bisa meningkat menjadi halusinasi, ilusi yang menimbulkan rasa takut dan gelisah dan disorientasi terhadap halusinasi lihat yang menimbulkan teror. Benda yang terlihat dalam cahaya terang menimbulkan rasa takut. Pada akhirnya, penderita menjadi sangat kebingungan dan mengalami disorientasi berat. Penderita DTs kadang merasa lantai bergerak, dinding roboh dan ruangan berputar. Tangan menjadi gemetar yang kadang menjalar ke kepala dan seluruh tubuh, dan sebagian besar penderita menjadi sangat tidak terkoordinasi. DTs bisa berakibat fatal, apalagi jika tidak diobat.

Masalah lainnya secara langsung berhubungan dengan efek racun dari alkohol terhadap otak dan hati. Kerusakan hati karena alkohol menyebabkan hati tidak mampu membuang bahan-bahan racun dari dalam tubuh sehingga menyebabkan koma hepatikum. Pecandu yang mengalami koma hepatikum, tampak mengantuk, setengah sadar dan kebingungan, dan biasanya tangannya gemetar. Koma hepatikum bisa berakibat fatal dan harus segera diobati.

Penyebab Alkoholisme (skripsi dan tesis)

Penyebab seseorang menjadi pecandu alkohol belum diketahui secara pasti, namun penggunaan alkohol bukan satu satunya faktor penyebab. Dari orang-orang yang meminum alkohol, sekitar 10% menjadi pecandu. Pecandu alkohol memiliki angka kejadian yang lebih tinggi dibandingkan pecandu zat lainnya.

Alkoholisme lebih sering diderita para anak-anak pecandu dari pada anak-anak yang diadopsi, yang memperlihatkan bahwa alkoholisme melibatkan kelainan genetik atau biokimia. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa orang yang beresiko menjadi alkoholik tidak mudah mengalami keracunan, karena itu otak mereka kurang sensitif terhadap efek yang ditimbulkan oleh alkohol.

Selain kemungkinan kelainan genetik, latar belakang dan kepribadian tertentu dapat menjadi faktor pendukung seseorang menjadi pecandu. Pecandu sering berasal dari keluarga yang pecah dan dari mereka yang hubungan dengan orang tuanya kurang harmonis. Pecandu alkohol cenderung merasa terisolasi, sendiri, malu, depresi atau bermusuhan. Mereka biasa memamerkan perilaku perusakan diri, dan mungkin secara seksual tidak dewasa. Meskipun demikian, penyalahgunaan dan ketergantungan alkohol sangat umum sehingga pecandu mudah dikenali diantara orang-orang dengan berbagai kepribadian.