Prinsip-prinsip dalam mengelola motivasi kerja


Berdasarkan definisi dan teori-teori mengenai motivasi kerja yang telah kita
bahas, dapat kita pahami bahwa motivasi kerja itu memiliki beberapa karakteristik
sebagai berikut:

  1. Motivasi kerja bersifat personel
    Hal ini berarti bahwa alasan seseorang termotivasi itu berbeda-beda. Pada
    orang yang berbeda, memiliki alasan yang berbeda pula. Seseorang melakukan
    pekerjaan dengan baik bisa jadi karena ingin mendapatkan sesuatu yang dia
    inginkan. Tetapi orang lain, melakukkannya karena dia ingin menghindari sesuatu
    yang tidak diinginkannya. Seseorang melakukan pekerjaan untuk memenuhi
    kebutuhan dasarnya, tetapi orang lain melakukan pekerjaan untuk memenuhi
    kebutuhan sosialnya. Beda orang, beda alasan, beda kebutuhanan yang ingin
    dipuaskan melalui pekerjaan yang dilakukannya.
  2. Motivasi kerja merupakan proses internal
    Karena merupakan proses psikologis yang terjadi dalam diri seseorang, maka
    seringkali kita tidak dapat mengetahui seberapa tinggi atau rendah motivasi
    seseorang dalam melakukan pekerjaan. Kita hanya memprediksi tinggi rendahnya
    motivasi seseorang melalui perilaku yang dia tampilkan, baik dalam hal arah,
    intensitas, maupun persistensi tindakan. Seseorang yang diprediksi memiliki
    motivasi kerja yang tinggi bila dia menerima atau bersedia melakukan pekerjaan
    yang diinstruksikan (arah tindakan), mengerjakan pekerjaan tersebut dengan
    melakukan tindakan yang intensif atau masih atau terus menerus (intensitas
    tindakan), dan melakukannya sampai akhirnya seluruh pekerjaan terlaksanakan
    dengan tuntas (persistensi tindakan). Sementara mereka yang memiliki motivasi
    kerja yang rendah, tercerminkan dari upayanya untuk menolak atau memindahkan
    tanggung jawab atas pekerjaan (arah tindakan), melakukan pekerjaan dengna
    aktivitas-aktivitas yang sangat sedikit dan justru tidak berkaitan dengan pekerjaan
    (intensitas aktivitas), dan dengan sengaja menunda-nunda atau memperlambat
    pekerjaan sehingga akhirnya tidak tuntas dikerjakan (persistensi tindakan). Dengan
    demikian, mengelola motivasi kerja pada hakikatnya adalah mengubah arah,
    intensitas, dan persistensi dari tindakan individu dalam bekerja yang awalnya
    bermotivasi rendah menjadi bermotivasi tinggi
  3. Motivasi kerja bersifat situasional atau kontekstual
    Karena motivasi bersifat personal dan berlangsung secara internal, maka
    banyak sekali kondisi atau situasi yang berpengaruh. Jika tadi dikatakan bahwa
    orang yang berbeda memiliki motivasi yang berbeda, maka pada orang yang sama
    14
    pun namun berbeda situasi atau konteksnya maka motivasinya juga akan berbeda.
    Ambil contoh, seseorang mendapatkan instruksi untuk membuat laporan kerja pada
    jam 02 siang hari, maka motivasinya akan berbeda dengan instruksi yang sama pada
    jam 02 dini hari. Pekerjaan yang sama dari atasan yang sama kepada orang yang
    sama, namun waktunya berbeda maka motivasi kerja pun akan berbeda. Ada situasi
    atau keadaan tertentu, seseorang memiliki motivasi kerja yang tinggi. Namun ada
    kalanya, pada keadaan lain, orang tersebut memiliki motivasi yang rendah.
  4. Motivasi kerja bersifat sosial
    Selain bersifat personal, internal, dan situasional; maka karakteristik keempat
    dari motivasi kerja adalah bersifat sosial. Artinya pengaruh hubungan sosial dengan
    orang lain dalam tempat kerja sangat mempengaruhi motivasi kerja seseorang.
    Motivasi dari rekan kerja, atasan, dan bawahan cepat atau lambat akan berpengaruh
    kuat terhadap motivasi kita secara pribadi. Begitu pula dengan motivasi kerja kita
    akan sangat berpengaruh terhadap motivasi orang-orang yang bekerja bersama kita.