Berdasarkan definisi dan teori-teori mengenai motivasi kerja yang telah kita
bahas, dapat kita pahami bahwa motivasi kerja itu memiliki beberapa karakteristik
sebagai berikut:
- Motivasi kerja bersifat personel
Hal ini berarti bahwa alasan seseorang termotivasi itu berbeda-beda. Pada
orang yang berbeda, memiliki alasan yang berbeda pula. Seseorang melakukan
pekerjaan dengan baik bisa jadi karena ingin mendapatkan sesuatu yang dia
inginkan. Tetapi orang lain, melakukkannya karena dia ingin menghindari sesuatu
yang tidak diinginkannya. Seseorang melakukan pekerjaan untuk memenuhi
kebutuhan dasarnya, tetapi orang lain melakukan pekerjaan untuk memenuhi
kebutuhan sosialnya. Beda orang, beda alasan, beda kebutuhanan yang ingin
dipuaskan melalui pekerjaan yang dilakukannya. - Motivasi kerja merupakan proses internal
Karena merupakan proses psikologis yang terjadi dalam diri seseorang, maka
seringkali kita tidak dapat mengetahui seberapa tinggi atau rendah motivasi
seseorang dalam melakukan pekerjaan. Kita hanya memprediksi tinggi rendahnya
motivasi seseorang melalui perilaku yang dia tampilkan, baik dalam hal arah,
intensitas, maupun persistensi tindakan. Seseorang yang diprediksi memiliki
motivasi kerja yang tinggi bila dia menerima atau bersedia melakukan pekerjaan
yang diinstruksikan (arah tindakan), mengerjakan pekerjaan tersebut dengan
melakukan tindakan yang intensif atau masih atau terus menerus (intensitas
tindakan), dan melakukannya sampai akhirnya seluruh pekerjaan terlaksanakan
dengan tuntas (persistensi tindakan). Sementara mereka yang memiliki motivasi
kerja yang rendah, tercerminkan dari upayanya untuk menolak atau memindahkan
tanggung jawab atas pekerjaan (arah tindakan), melakukan pekerjaan dengna
aktivitas-aktivitas yang sangat sedikit dan justru tidak berkaitan dengan pekerjaan
(intensitas aktivitas), dan dengan sengaja menunda-nunda atau memperlambat
pekerjaan sehingga akhirnya tidak tuntas dikerjakan (persistensi tindakan). Dengan
demikian, mengelola motivasi kerja pada hakikatnya adalah mengubah arah,
intensitas, dan persistensi dari tindakan individu dalam bekerja yang awalnya
bermotivasi rendah menjadi bermotivasi tinggi - Motivasi kerja bersifat situasional atau kontekstual
Karena motivasi bersifat personal dan berlangsung secara internal, maka
banyak sekali kondisi atau situasi yang berpengaruh. Jika tadi dikatakan bahwa
orang yang berbeda memiliki motivasi yang berbeda, maka pada orang yang sama
14
pun namun berbeda situasi atau konteksnya maka motivasinya juga akan berbeda.
Ambil contoh, seseorang mendapatkan instruksi untuk membuat laporan kerja pada
jam 02 siang hari, maka motivasinya akan berbeda dengan instruksi yang sama pada
jam 02 dini hari. Pekerjaan yang sama dari atasan yang sama kepada orang yang
sama, namun waktunya berbeda maka motivasi kerja pun akan berbeda. Ada situasi
atau keadaan tertentu, seseorang memiliki motivasi kerja yang tinggi. Namun ada
kalanya, pada keadaan lain, orang tersebut memiliki motivasi yang rendah. - Motivasi kerja bersifat sosial
Selain bersifat personal, internal, dan situasional; maka karakteristik keempat
dari motivasi kerja adalah bersifat sosial. Artinya pengaruh hubungan sosial dengan
orang lain dalam tempat kerja sangat mempengaruhi motivasi kerja seseorang.
Motivasi dari rekan kerja, atasan, dan bawahan cepat atau lambat akan berpengaruh
kuat terhadap motivasi kita secara pribadi. Begitu pula dengan motivasi kerja kita
akan sangat berpengaruh terhadap motivasi orang-orang yang bekerja bersama kita.
