Waktu Pelaksanaan Proyek (skripsi dan tesis)

Pelaksanaan pekerjaan dengan manajemen profesional meliputi perencanaan/desainer, pelelangan/tender dan pelaksanaan. Perencanaan jadwal waktu dapat dibuat dengan berbagai cara/teknik yang banyak digunakan antara lain dengan bagan balok (bar chart) maupun jaringan kerja (network planning).

Untuk membuat jadwal kerja dengan bagan balok (bar chart) yang pertama harus diketahui adalah durasi dari tiap-tiap pekerjaan. Durasi dihitung dengan rumus sebagai berikut :

D = V/P

 …………………………………………………………………………… (2.1)

Dimana : D  = durasi

V  = volume pekerjaan

P  = produktivitas per satuan waktu

Selanjutnya pelaksanaan tiap-tiap pekerjaan diplot dengan bentuk balok pada bagan dengan memperhatikan urutan pelaksanaannya dengan pekerjaan-pekerjaan yang lain. Bagan balok sangat bermanfaat karena dapat dikembangkan menjadi kurva S, yaitu grafik yang menunjukkan kemajuan/prestasi pada satuan waktu tertentu untuk seluruh proyek, baik dari sisi perencanaan maupun dari realisasi. Prosentase kemajuan pada kurva S didasarkan pada satuan yang sama, yang disebut bobot. Agar ukuran yang digunakan untuk setiap pekerjaan dalam menghitung bobot sama, maka satuan tiap pekerjaan dinyatakan dalam satuan uang (rupiah). Cara penghitungan bobot pekerjaan adalah sebagai berikut :

A = (B/C) x 100%  …………………………………………………………………… (2.2)

Dimana:

A = Bobot pekerjaan (%)

B = Nilai/Biaya item pekerjaan (Rp)

C = Nilai/Biaya total proyek (Rp)

Perilaku Kegiatan Proyek (skripsi dan tesis)

Pengertian suatu proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam satu bentuk kesatuan dengan menggunakan sumber daya untuk mendapatkan manfaat. Kegiatan-kegiatan berlangsung dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas. Sumber daya yang digunakan dalam pelaksanaan proyek dapat berbentuk barang-barang modal, bahan-bahan mentah, tenaga kerja dan waktu. Sumber daya tersebut sebagian atau seluruhnya dapat dianggap sebagai barang atau jasa, konsumsi yang dikorbankan dari penggunaan masa sekarang untuk memperoleh manfaat yang lebih besar dimasa yang akan datang. Dari pengertian di atas, proyek mempunyai ciri-ciri:

  1. memiliki tujuan yang khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir,
  2. jumlah biaya, sasaran jadwal serta kriteria mutu dalam proses pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan,
  3. bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya tugas, titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas, dan
  4. tidak berulang, macam dan intensitas kegiatan berubah atau tidak sama.

Kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan selanjutnya dilaksanakan, untuk itu perlu mengorganisir dan mengelola sumber daya yang ada agar tercapai sasaran tersebut. Upaya tersebut bertujuan agar kegiatan-kegiatan dapat berjalan lancar mencapai sasaran tanpa banyak penyimpangan yang berarti. Usaha ini dikenal sebagai proses pengendalian yang merupakan salah satu fungsi manajemen proyek .

Di dalam proses mencapai tujuan tersebut ada batasan yang harus dipenuhi yaitu besarnya biaya yang dialokasikan, jadwal/waktu yang ditentukan serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga hal tersebut merupakan parameter penting bagi penyelenggara proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek.

  1. Biaya/Anggaran

Biaya/anggaran adalah suatu batasan alokasi dana yang ditentukan untuk suatu proyek. Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi dari anggaran yang ditentukan. Anggaran tidak hanya ditentukan secara total proyek melainkan terbagi atas anggaran komponen-komponennya atau per periode tertentu (misalnya per triwulan atau per kwartal) yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan demikian penyelesaian bagian-bagian proyek pun harus memenuhi sasaran anggaran per periode tersebut.

  1. Jadwal/Waktu

Waktu/jadwal adalah suatu rentang masa yang ditetapkan untuk penyelesaian suatu proyek. Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu yang telah ditentukan dalam arti penyerahan akhir proyek tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan.

  1. Mutu

Mutu adalah suatu standar/target yang harus dihasilkan suatu produk dengan biaya dan waktu yang telah ditentukan. Produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan. Sebagai contoh, bila hasil kegiatan proyek tersebut berupa produk aspal beton maka kriteria yang harus dipenuhi adalah persyaratan material, pencampuran, dan pelaksanaan penghamparan harus sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan untuk mutu aspal beton tersebut.

               Iman Soeharto (1998) memberikan penjelasan suatu konsep biaya pada suatu pekerjaan (aktivitas) dapat dibagi dalam :

  1. Biaya langsung (direct cost), yaitu biaya yang berkaitan langsung dengan volume pekerjaan yang dilaksanakan antara lain biaya untuk upah tenaga kerja dan bahan/material. Hubungan antara biaya langsung dengan waktu pelaksanaan merupakan garis non linier, apabila waktu pelaksanaan dipercepat maka pada umumnya biaya langsung akan makin tinggi.
  2. Biaya tak langsung (indirect cost), yaitu pengeluaran-pengeluaran untuk overhead, gaji pegawai tetap, biaya sewa dan perawatan alat, asuransi, bunga bank dan sebagainya. Biaya ini mempunyai sifat bahwa apabila waktu pelaksanaan diperlambat maka secara total biaya akan semakin tinggi.

H

Perangkat Manajemen (skripsi dan tesis)

Dalam rangka upaya membentuk suatu Sistem Manajemen Proyek yang lengkap serta kokoh, untuk pelaksanaan pada masing-masing tahapan siklus mekanisme tersebut memerlukan alat-alat manajemen, yang umumnya terdiri dari:

  1. Analisis Masalah

Perencanaan proyek dimulai dari masalah-masalah pokok program pembangunan, menyusun strategi yang lebih luas, dan kemudian memilih proyek-proyek yang akan dapat mencapai tujuan-tujuan program tersebut. Diperlukan cara-cara analisis yang sistematis, sederhana, mudah dikomunikasikan, dan didasarkan pada suatu kerangka pemikiran logis.

  1. Kerangka Logis

Kerangka logis merupakan seperangkat pengertian yang saling berkaitan, yang mampu menjelaskan secara logis tentang :

1)        Mengapa suatu proyek harus dilaksanakan,

2)        Bagaimana proyek akan dilaksanakan,

3)        Faktor-faktor luar apa saja yang mengakibatkan ketidakpastian keberhasilan proyek,

4)        Bagaimana wujud proyek bila sudah selesai,

5)        Bagaimana menetapkan ukuran keberhasilan proyek yang sudah selesai.

  1. Analisis Anggaran Keuangan

Anggaran keuangan disusun secara realistis, bertahap waktu, dengan berorientasi pada kegiatan-kegiatan proyek.

  1. Rincian Tanggung Jawab

Rincian tanggung jawab yang merupakan salah satu perangkat Sistem Manajemen Proyek dengan kegunaannya antara lain sebagai berikut:

  1. Dapat membantu tercapainya kesepakatan mengenai peran dan tanggung jawab masing-masing individu atau satuan organisasi yang terlibat dalam pelaksanaan proyek,
  2. Untuk menyederhanakan pelaksanaan koordinasi proyek dan sebagai sarana untuk media komunikasi antar masing-masing penanggung jawab,
  3. Memperlihatkan hubungan tugas dan jabatan secara jelas, sehingga membantu memastikan bahwa semua tugas dan personil yang diperlukan telah tersusun.
  4. Jadwal Pelaksanaan Proyek

Jadwal pelaksanaan berguna untuk menentukan waktu dan urutan kegiatan-kegiatan proyek, dan dibuat berdasarkan daftar perincian kegiatan.

  1. Sistem Monitoring dan Pelaporan

Dalam rangka pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek dibutuhkan media atau alat yang mampu merangkum informasi-informasi yang harus secara aktif diketahui, diikuti, dan diamati selama pelaksanaan.

  1. Sistem Evaluasi

Evaluasi Ditujukan untuk penyempurnaan pelaksanaan proyek sehingga lebih bersifat berorientasi ke depan, yaitu upaya peningkatan kesempatan demi untuk keberhasilan proyek. Dan dapat memeriksa kemajuan dan kemampuan proyek dalam mengatasi segenap permasalahan yang dihadapi pada setiap saat.

  1. Konsep Pendekatan Tim

Pendekatan tim merupakan upaya membangkitkan semangat untuk menggalang persatuan dalam bekerja sama, memadukan tindakan, meningkatkan komunikasi, mengurangi masalah dan mendorong keikutsertaan mereka yang keterlibatannya diperlukan demi keberhasilan proyek.

Siklus Manajemen Proyek (skripsi dan tesis)

Semua kegiatan proyek merupakan suatu siklus mekanisme manajemen yang didasarkan atas tiga tahapan, yaitu : perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (lihat gambar 2.2). Siklus mekanisme manajemen tersebut merupakan proses terus menerus selama proyek berjalan. Oleh karenanya pelaksanaan proyek berlangsung dalam suatu tata hubungan kompleks yang selalu berubah-ubah (dinamis). Rencana semula harus selalu disesuaikan dengan keadaan atau kondisi mutakhir dengan memanfaatkan umpan balikdari hasil evaluasi. Keberhasilan pelaksanaannya tergantung pada upaya dan tindakan yang terkoordinasi dari berbagai satuan organisasi dan jabatan di berbagai jenjang manajemen.

Sistem Manajemen Proyek (skripsi dan tesis)

Untuk dapat menangani pelaksanaan proyek dengan baik atau paling tidak dimaksudkan untuk memperkecil peluang timbulnya permasalahan dan mencegah datangnya kesulitan, diperlukan pendekatan dengan menyusun suatu konsep Sistem Manajemen Proyek. Sedangkan konsep sistem yang dimaksud tiada lain adalah penataan serta pengorganisasian atas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan manajemen manajemen proyek.

Sistem manajemen proyek disusun dan dijabarkan menjadi seperangkat pengertian-pengertian, alat-alat, dan petunjuk tata cara yang mudah untuk dilaksanakan sedemikian sehingga :

  1. Mampu menghubungkan dan menjembatani kesenjangan persepsi di antara para perencana pembangunan dan pelaksanaannya, sehingga kesemuanya mempunyai satu kerangka konsep yang sama tentang kriteria keberhasilan suatu proyek,
  2. Dapat memberikan kesamaan bahasa yang sekaligus memadukan tertib teknis dan sosial, yang dapat diterapkan pada setiap proyek disetiap jenjang dengan cara-cara sederhana, jelas, dan sistematis,
  3. Mampu mewujudkan suatu bentuk kerjasama dan koordinasi antar satuan organisasi pelaksanaannya sehingga terwujud suatu semangat bersama untuk merencanakan proyek secara lebih terinci, dan cukup cermat dalam mengantisipasi masalah-masalah yang akan timbul dalam pelaksanaannya.

Sistem Manajemen Proyek yang diberlakukan hendaknya ditujukan untuk dapat digunakan dalam upaya melengkapi tata cara organisasi yang berlaku. Sehingga pemakaian sistem tersebut, khususnya pada proyek-proyek pemerintah, akan membantu para birokrat untuk dapat memenuhi peraturan dan ketentuan pemerintah dalam perencanaan, penyusunan anggaran keuangan dan sistem pelaporan.

Waktu Pelaksanaan Proyek (skripsi dan tesis)

Pelaksanaan pekerjaan dengan manajemen profesional meliputi perencanaan/desainer, pelelangan/tender dan pelaksanaan. Perencanaan jadwal waktu dapat dibuat dengan berbagai cara/teknik yang banyak digunakan antara lain dengan bagan balok (bar chart) maupun jaringan kerja (network planning).

Untuk membuat jadwal kerja dengan bagan balok (bar chart) yang pertama harus diketahui adalah durasi dari tiap-tiap pekerjaan. Durasi dihitung dengan rumus sebagai berikut :

D = V/P

 …………………………………………………………………………… (2.1)

Dimana : D  = durasi

V  = volume pekerjaan

P  = produktivitas per satuan waktu

Selanjutnya pelaksanaan tiap-tiap pekerjaan diplot dengan bentuk balok pada bagan dengan memperhatikan urutan pelaksanaannya dengan pekerjaan-pekerjaan yang lain. Bagan balok sangat bermanfaat karena dapat dikembangkan menjadi kurva S, yaitu grafik yang menunjukkan kemajuan/prestasi pada satuan waktu tertentu untuk seluruh proyek, baik dari sisi perencanaan maupun dari realisasi. Prosentase kemajuan pada kurva S didasarkan pada satuan yang sama, yang disebut bobot. Agar ukuran yang digunakan untuk setiap pekerjaan dalam menghitung bobot sama, maka satuan tiap pekerjaan dinyatakan dalam satuan uang (rupiah). Cara penghitungan bobot pekerjaan adalah sebagai berikut :

A = (B/C) x 100%  …………………………………………………………………… (2.2)

Dimana:

A = Bobot pekerjaan (%)

B = Nilai/Biaya item pekerjaan (Rp)

C = Nilai/Biaya total proyek (Rp)

Perilaku Kegiatan Proyek (skripsi dan tesis)

Pengertian suatu proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam satu bentuk kesatuan dengan menggunakan sumber daya untuk mendapatkan manfaat. Kegiatan-kegiatan berlangsung dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas. Sumber daya yang digunakan dalam pelaksanaan proyek dapat berbentuk barang-barang modal, bahan-bahan mentah, tenaga kerja dan waktu. Sumber daya tersebut sebagian atau seluruhnya dapat dianggap sebagai barang atau jasa, konsumsi yang dikorbankan dari penggunaan masa sekarang untuk memperoleh manfaat yang lebih besar dimasa yang akan datang. Dari pengertian di atas, proyek mempunyai ciri-ciri:

  1. memiliki tujuan yang khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir,
  2. jumlah biaya, sasaran jadwal serta kriteria mutu dalam proses pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan,
  3. bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya tugas, titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas, dan
  4. tidak berulang, macam dan intensitas kegiatan berubah atau tidak sama.

Kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan selanjutnya dilaksanakan, untuk itu perlu mengorganisir dan mengelola sumber daya yang ada agar tercapai sasaran tersebut. Upaya tersebut bertujuan agar kegiatan-kegiatan dapat berjalan lancar mencapai sasaran tanpa banyak penyimpangan yang berarti. Usaha ini dikenal sebagai proses pengendalian yang merupakan salah satu fungsi manajemen proyek .

Di dalam proses mencapai tujuan tersebut ada batasan yang harus dipenuhi yaitu besarnya biaya yang dialokasikan, jadwal/waktu yang ditentukan serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga hal tersebut merupakan parameter penting bagi penyelenggara proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek.

  1. Biaya/Anggaran

Biaya/anggaran adalah suatu batasan alokasi dana yang ditentukan untuk suatu proyek. Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi dari anggaran yang ditentukan. Anggaran tidak hanya ditentukan secara total proyek melainkan terbagi atas anggaran komponen-komponennya atau per periode tertentu (misalnya per triwulan atau per kwartal) yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan demikian penyelesaian bagian-bagian proyek pun harus memenuhi sasaran anggaran per periode tersebut.

  1. Jadwal/Waktu

Waktu/jadwal adalah suatu rentang masa yang ditetapkan untuk penyelesaian suatu proyek. Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu yang telah ditentukan dalam arti penyerahan akhir proyek tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan.

  1. Mutu

Mutu adalah suatu standar/target yang harus dihasilkan suatu produk dengan biaya dan waktu yang telah ditentukan. Produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan. Sebagai contoh, bila hasil kegiatan proyek tersebut berupa produk aspal beton maka kriteria yang harus dipenuhi adalah persyaratan material, pencampuran, dan pelaksanaan penghamparan harus sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan untuk mutu aspal beton tersebut.

               Iman Soeharto (1998) memberikan penjelasan suatu konsep biaya pada suatu pekerjaan (aktivitas) dapat dibagi dalam :

  1. Biaya langsung (direct cost), yaitu biaya yang berkaitan langsung dengan volume pekerjaan yang dilaksanakan antara lain biaya untuk upah tenaga kerja dan bahan/material. Hubungan antara biaya langsung dengan waktu pelaksanaan merupakan garis non linier, apabila waktu pelaksanaan dipercepat maka pada umumnya biaya langsung akan makin tinggi.
  2. Biaya tak langsung (indirect cost), yaitu pengeluaran-pengeluaran untuk overhead, gaji pegawai tetap, biaya sewa dan perawatan alat, asuransi, bunga bank dan sebagainya. Biaya ini mempunyai sifat bahwa apabila waktu pelaksanaan diperlambat maka secara total biaya akan semakin tinggi.

H

Perangkat Manajemen (skripsi dan tesis)

Dalam rangka upaya membentuk suatu Sistem Manajemen Proyek yang lengkap serta kokoh, untuk pelaksanaan pada masing-masing tahapan siklus mekanisme tersebut memerlukan alat-alat manajemen, yang umumnya terdiri dari:

  1. Analisis Masalah

Perencanaan proyek dimulai dari masalah-masalah pokok program pembangunan, menyusun strategi yang lebih luas, dan kemudian memilih proyek-proyek yang akan dapat mencapai tujuan-tujuan program tersebut. Diperlukan cara-cara analisis yang sistematis, sederhana, mudah dikomunikasikan, dan didasarkan pada suatu kerangka pemikiran logis.

  1. Kerangka Logis

Kerangka logis merupakan seperangkat pengertian yang saling berkaitan, yang mampu menjelaskan secara logis tentang :

1)        Mengapa suatu proyek harus dilaksanakan,

2)        Bagaimana proyek akan dilaksanakan,

3)        Faktor-faktor luar apa saja yang mengakibatkan ketidakpastian keberhasilan proyek,

4)        Bagaimana wujud proyek bila sudah selesai,

5)        Bagaimana menetapkan ukuran keberhasilan proyek yang sudah selesai.

  1. Analisis Anggaran Keuangan

Anggaran keuangan disusun secara realistis, bertahap waktu, dengan berorientasi pada kegiatan-kegiatan proyek.

  1. Rincian Tanggung Jawab

Rincian tanggung jawab yang merupakan salah satu perangkat Sistem Manajemen Proyek dengan kegunaannya antara lain sebagai berikut:

  1. Dapat membantu tercapainya kesepakatan mengenai peran dan tanggung jawab masing-masing individu atau satuan organisasi yang terlibat dalam pelaksanaan proyek,
  2. Untuk menyederhanakan pelaksanaan koordinasi proyek dan sebagai sarana untuk media komunikasi antar masing-masing penanggung jawab,
  3. Memperlihatkan hubungan tugas dan jabatan secara jelas, sehingga membantu memastikan bahwa semua tugas dan personil yang diperlukan telah tersusun.
  4. Jadwal Pelaksanaan Proyek

Jadwal pelaksanaan berguna untuk menentukan waktu dan urutan kegiatan-kegiatan proyek, dan dibuat berdasarkan daftar perincian kegiatan.

  1. Sistem Monitoring dan Pelaporan

Dalam rangka pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek dibutuhkan media atau alat yang mampu merangkum informasi-informasi yang harus secara aktif diketahui, diikuti, dan diamati selama pelaksanaan.

  1. Sistem Evaluasi

Evaluasi Ditujukan untuk penyempurnaan pelaksanaan proyek sehingga lebih bersifat berorientasi ke depan, yaitu upaya peningkatan kesempatan demi untuk keberhasilan proyek. Dan dapat memeriksa kemajuan dan kemampuan proyek dalam mengatasi segenap permasalahan yang dihadapi pada setiap saat.

  1. Konsep Pendekatan Tim

Pendekatan tim merupakan upaya membangkitkan semangat untuk menggalang persatuan dalam bekerja sama, memadukan tindakan, meningkatkan komunikasi, mengurangi masalah dan mendorong keikutsertaan mereka yang keterlibatannya diperlukan demi keberhasilan proyek.

Siklus Manajemen Proyek (skripsi dan tesis)

Semua kegiatan proyek merupakan suatu siklus mekanisme manajemen yang didasarkan atas tiga tahapan, yaitu : perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (lihat gambar 2.2). Siklus mekanisme manajemen tersebut merupakan proses terus menerus selama proyek berjalan. Oleh karenanya pelaksanaan proyek berlangsung dalam suatu tata hubungan kompleks yang selalu berubah-ubah (dinamis). Rencana semula harus selalu disesuaikan dengan keadaan atau kondisi mutakhir dengan memanfaatkan umpan balikdari hasil evaluasi. Keberhasilan pelaksanaannya tergantung pada upaya dan tindakan yang terkoordinasi dari berbagai satuan organisasi dan jabatan di berbagai jenjang manajemen.

Sistem Manajemen Proyek (skripsi dan tesis)

Untuk dapat menangani pelaksanaan proyek dengan baik atau paling tidak dimaksudkan untuk memperkecil peluang timbulnya permasalahan dan mencegah datangnya kesulitan, diperlukan pendekatan dengan menyusun suatu konsep Sistem Manajemen Proyek. Sedangkan konsep sistem yang dimaksud tiada lain adalah penataan serta pengorganisasian atas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan manajemen manajemen proyek.

Sistem manajemen proyek disusun dan dijabarkan menjadi seperangkat pengertian-pengertian, alat-alat, dan petunjuk tata cara yang mudah untuk dilaksanakan sedemikian sehingga :

  1. Mampu menghubungkan dan menjembatani kesenjangan persepsi di antara para perencana pembangunan dan pelaksanaannya, sehingga kesemuanya mempunyai satu kerangka konsep yang sama tentang kriteria keberhasilan suatu proyek,
  2. Dapat memberikan kesamaan bahasa yang sekaligus memadukan tertib teknis dan sosial, yang dapat diterapkan pada setiap proyek disetiap jenjang dengan cara-cara sederhana, jelas, dan sistematis,
  3. Mampu mewujudkan suatu bentuk kerjasama dan koordinasi antar satuan organisasi pelaksanaannya sehingga terwujud suatu semangat bersama untuk merencanakan proyek secara lebih terinci, dan cukup cermat dalam mengantisipasi masalah-masalah yang akan timbul dalam pelaksanaannya.

Sistem Manajemen Proyek yang diberlakukan hendaknya ditujukan untuk dapat digunakan dalam upaya melengkapi tata cara organisasi yang berlaku. Sehingga pemakaian sistem tersebut, khususnya pada proyek-proyek pemerintah, akan membantu para birokrat untuk dapat memenuhi peraturan dan ketentuan pemerintah dalam perencanaan, penyusunan anggaran keuangan dan sistem pelaporan.

Manajemen Proyek (skripsi dan tesis)

Manajemen adalah usaha manusia untuk mencapai tujuan dengan cara yang paling efektif dan efisien. Usaha yang dimaksud adalah bagian dari proses manajemen yaitu suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan secara berurutan atau kronologis. Rangkaian kegiatan dimaksud secara umum yaitu mulai dari penetapan tujuan (goal setting), perencanaan (planning) pengorganisasian (organizing) pelaksanaan (actuating) dan pengawasan/pengendalian (controlling).

  1. Perencanaan

Perencanaan adalah suatu proses yang mencoba meletakkan dasar tujuan dan sasaran termasuk menyiapkan segala sumber daya untuk mencapainya. Perencanaan memberikan pegangan/pedoman bagi pelaksana mengenai alokasi sumber daya dalam melaksanakan kegiatan. Iman Soeharto (1977) secara garis besar menyatakan perencanaan berfungsi untuk meletakkan dasar sasaran proyek, yaitu penjadwalan, anggaran dan mutu. Pengertian diatas menekankan bahwa perencanaan merupakan suatu proses, berarti perencanaan tersebut mengalami tahap-tahap pekerjaan tertentu. Adapun tahapan yang dilalui dalam menyusun suatu perencanaan adalah :

1)      menentukan tujuan yaitu sebagai pedoman yang memberikan arah gerak dari kegiatan yang dilakukan,

2)      menentukan sasaran yaitu suatu titik tertentu yang perlu dicapai untuk mewujudkan suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya,

3)      mengkaji posisi awal terhadap tujuan yaitu untuk mengetahui sejauh mana kesiapan dan posisi, maka perlu diadakan kajian terhadap posisi dan situasi awal terhadap tujuan dan sasaran yang hendak dicapai,

4)      memilih alternatif adalah selalu tersedianya beberapa alternatif yang dapat dipergunakan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran. Dalam memilih alternatif yang paling sesuai untuk suatu kegiatan memerlukan kejelian dan pengkajian yang seksama agar alternatif yang dipilih lebih tepat, dan

5)      menyusun rangkaian langkah untuk mencapai tujuan, proses ini terdiri dari penetapan langkah terbaik yang mungkin dapat dilaksanakan setelah memperhatikan berbagai batasan.

  1. Penjadwalan

Penjadwalan dalam pengertian proyek konstruksi merupakan perangkat untuk menentukan aktifitas yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu proyek dengan urutan serta kerangka waktu tertentu, dimana setiap aktifitas harus dilaksanakan agar proyek selesai tepat waktu dan biaya yang ekonomis (Callahan, 1992). Penjadwalan meliputi tenaga kerja, material, peralatan, keuangan dan waktu. Dengan penjadwalan yang tepat maka beberapa macam kerugian  dapat dihindari seperti keterlambatan, pembengkakan biaya dan perselisihan. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari penjadwalan antara lain  bagi pemilik proyek dan pelaksana proyek atau kontraktor.

1)      Bagi Pemilik Proyek dapat digunakan untuk:

  1. a)mengetahui waktu mulai dan selesai proyek,
  2. b)merencanakan aliran kas, dan
  3. c)mengevaluasi efek perubahan terhadap waktu dan biaya proyek.

2)      Bagi Pelaksana Proyek/Kontraktor dapat digunakan untuk :

  1. a)memprediksi kapan suatu kegiatan yang spesifik dimulai dan diakhiri,
  2. b)merencanakan kebutuhan material, peralatan dan tenaga kerja,
  3. c)mengatur waktu keterlibatan sub kontraktor,
  4. d)menghindari konflik antara sub kontraktor dengan pekerja,
  5. e)merencanakan aliran kas, dan
  6. f)mengevaluasi efek perubahan terhadap waktu dan biaya proyek.
  7. Pengendalian

Mockler (1972) dalam  Soeharto (1977) memberikan pengertian tentang pengendalian yaitu adalah usaha yang sistematis untuk menentukan standar yang sesuai dengan sasaran perencanaan, merancang system informasi, membandingkan pelaksanaan dengan standar, kemudian mengambil tindakan pembetulan yang diperlukan agar sumber daya digunakan secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai sasaran. Fungsi utama pengendalian adalah memantau dan mengkaji (bila perlu mengadakan koreksi). Pengendalian memantau apakah hasil kegiatan yang telah dilaksanakan sesuai dengan patokan yang telah digariskan dan memastikan penggunaan sumber daya yang efektif dan efisien.

Manajemen proyek adalah merencanakan, mengorganisir, melaksanakan dan mengendalikan sumber daya untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan. Lebih jauh manajemen proyek menggunakan pendekatan sistem dan hirarki (arus kegiatan) vertikal maupun horizontal.

Manajemen profesional adalah suatu kegiatan yang melibatkan sumber daya di dalamnya, dimana tugas dan tanggung jawab dilakukan secara profesional. Kegiatan yang dimaksud dimulai dari tahapan pembuatan desain, penawaran, penunjukkan pelaksana dan tahapan konstruksi dengan harapan tercapainya tepat mutu, tepat waktu dan tepat biaya.

Manajemen konstruksi mempunyai tugas dan kewajiban untuk menjamin pemilik proyek, akan mendapatkan pelaksanaan proyek yang ekonomis, sesuai dengan kebutuhan pemilik proyek dan menjamin bahwa proyek dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan spesifikasi.

Konsultan perencana mempunyai tugas dan tanggung jawab menangkap ide dan gagasan dari pemilik proyek melalui manajemen konstruksi, kemudian melakukan pengelolaan tahap demi tahap sampai ide tersebut terwujud.

Kontraktor adalah sebagai pelaksana proyek yang diberikan oleh pemilik proyek dengan pengarahan dan pengendalian yang dilakukan oleh manajemen konstruksi, sehingga pelaksanaan sesuai dengan perencanaan yang telah digariskan.

Mekanisme stabilisasi lempung (skripsi dan tesis)

      Mekanisme stabilisasi lempung dengan semen adalah reaksi hidrasipozzolanic dan sementasi. Hidrasi adalah suatu proses reaksi kimia semen yang membutuhkan air untuk membentuk media perekat.Hasil hidrasi semen akan membentuk kerangka yang keras secara terus menerus dan tidak berubah lagi (pozzolanic) yang lambat laun akan tersementasi yaitu menjadi suatu struktur yang tahan terhadap pengaruh lingkungan.Kerangka keras tersebut akan memperkuat tanah karena mengikat butiran tanah, mengisi ruang kosong (pori) antar butiran tanah, karena sifat kerangka tersebut impermiabel maka akan mampu mengurangi permeabilitas, kecenderungan untuk swelling juga menurun dan memberikan ketahanan terhadap cuaca.Reaksi ini berjalan lambat sehingga memerlukan masa rawatan tertentu.(Ghani,1991).

      Hardiyatmo (2002)  menyatakan stabilisasi semen adalah untuk menaikan kekuatan tanah, namun reaksi kimia yang menghasilkan kekuatan tersebut belum diketahui dengan jelas dipercaya bahwa dua proses yaitu proses primer dan sekunder.Proses primer terdiri dari hidrolisa dan hidrasi semen, untuk mengikat butiran mineral dan agregat tanah didekatnya.Proses sekunder terdiri dari reaksi antara partikel tanah dan kalsium hidroksida terbebas selama hidrasi semen.

      Kebutuhan air untuk proses hidrasi adalah kurang lebih 25% berat semen (Tjorodimulyo,1996).

      Stabilisasi menggunakan semen tidak tergantung pada jenis mineral tanah yang distabilisasi, sehingga kekuatan dari stabilisasi tergantung pada selimut cairan semen yang mengeras (Rollings dan Rollings,1996).

      Penambahan air pada stabilisasi dengan semen mula mula akan diambil oleh tanah lempung ( karena sifat air yang dipolar yang akan tertarik oleh permukaan lempung bermuatan negatif) sehingga tanah menjadi mengembang menyebabkan bertambahnya jarak antara mineral lempung kemudian tambahan air berikutnya untuk proses hidrasi (semen menyelimuti butiran lempung dan merekatkan antar butiran baik butiran lempung maupun butiran semen sendiri) dan sebagai pelumas mineral lempung pada proses pemadatan proses yang demikian menyebabkan kebutuhan air untuk stabilisasi relatif besar.(Ghani,1991).

      Rollings dan Rollings (1996) bahwa portland semen pada saat dicampur dengan tanah atau agregat akan meningkatkan kekuatan tanah karena adanya proses hidrasi pada semen portland.Keuntungan utama penggunaan semen sebagai bahan stabilisasi adalah ikatan sementasi yang kuat yang akan mengikat partikel tanah menjadi satu kesatuan yang tersementasi.

Stabilisasi Tanah (skripsi dan tesis)

Ingles dan Metcalf (1972), menyatakan bahwa perubahan sifat tanah untuk mendapatkan persyaratan teknis tertentu disebut Stabilisasi.

      Stabilisasi adalah usaha untuk mempertinggi kemampuan tanah untuk mendapatkan pemadatan optimal.(Soekoto,1984).

Stabilisasi tanah menurut Bowles (1984), adalah meliputi salah satu tindakan dibawah ini yaitu :

  1. Menambah kerapatan tanah;
  2. Menambah material yang tidak aktif sehingga meningkatkan kohesi dan atau   tahanan gesek yang timbul;
  3. Menambah bahan tertentu yang menyebabkan terjadinya perubahan kimiawi dan atau fisis pada tanah;
  4. Menurunkan muka air tanah;
  5. Menganti tanah yang buruk dengan tanah yang lebih baik;

Secara umum stabilisasi tanah dapat dibedakan kedalam dua jenis stabilisasi yaitu : Stabilisasi mekanis yang bertujuan untuk menambah kekuatan atau kapasitas dukung tanah dan mengatur gradasi butir tanah.Sedangkan stabilisasi kimiawi adalah mengandalkan kepada suatu bahan stabilisator yang dapat mengubah dan mengurangi sifat tanah yang kurang menguntungkan dalam mencapai kestabilan yang tinggi.(Soekoto,1984)

      Umumnya tanah yang mengandung banyak lempung sulit dicampur dan kadang bahan tambah dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan sifat yang berarti, diketahui bahwa hasil yang baik dalam stabilisasi semen adalah bila tanah bergradasi baik dan mempunyai butiran halus kurang dari 50%, serta plastisitas kurang dari 18% serta batas cair kurang dari 40%.Stabilisasi tanah-semen untuk lempung walaupun kadar semen sudah ditinggikan dalam tanah lempung namun kekuatan campuran lempung – semen sangat lebih kecil dibandingkan dengan tanah berpasir dan kerikil berpasir.( Hardiyatmo,2006).

      Semen dapat bereaksi dengan semua jenis tanah dan jumlah semen yang ditambahkan untuk stabilisasi tanah lempung berkisar antara 6% – 10% berat kering tanah.(Soekoto,1984).

      Lambe (1962) dalam Hardiyatmo (2006), menyatakan banyaknya kadar semen dalam campuran tanah-semen dapat dilihat pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5 Kadar semen yang baik untuk campuran tanah-semen ( Lambe,1962)

Macam tanah Kadar semen (% terhadap berat)
Kerikil 5 – 10
Pasir 7 – 12
Lanau 12 – 15
Lempung 12 – 20

   

Air Sebagai Campuran Semen (skripsi dan tesis)

      Pada umumnya semua jenis air dapat digunakan untuk stabilisasi semen, air minum termasuk yang paling baik air dengan kandungan organik tinggi dapat menyebabkan masalah sehingga penggunaanya harus dihindari.Beberapa loam dan lempung membutuhkan kadar air tinggi pada saat pemadatan,dan dapat menyebabkan kekuatan yang lebih rendah Ingels dan Metcalf (1972)  dalam Hardiyatmo (2002).

      Kadar air selalu tergantung pada daya pemadatan, bilamana daya pemadatan berlainan maka kadar air optimum juga akan berlainan.(Wesley 1997).

      Tanah berbutir halus khususnya tanah lempung akan banyak dipengaruhi air, karena pada tanah berbutir halus luas permukaan spesifik menjadi lebih besar, variasi kadar air akan mempengaruhi plastisitas tanah.(Hardiyatmo,2002).

      Hardiyatmo (2002), menyatakan Satu molekul air merupakan batang yang mempunyai muatan positif dan negatif pada ujung yang berlawanan atau dipolar (dobel kutub).Mekanisme yang menyebabkan molekul air dipolar dapat tertarik oleh permukaan partikel lempung secara elektrik (Gambar 2.1):

  1. Tarikan antara permukaan bermuatan negatif dari partikel lempung dengan ujung positif dari dipolar.
  2. Tarikan antara kation dalam lapisan ganda dengan muatan negatif dari ujung dipolar kation-kation ini tertarik oleh permukaan partikel lempung yang bermuatan negatif.
  1. Stabilisasi Tanah

Ingles dan Metcalf (1972), menyatakan bahwa perubahan sifat tanah untuk mendapatkan persyaratan teknis tertentu disebut Stabilisasi.

      Stabilisasi adalah usaha untuk mempertinggi kemampuan tanah untuk mendapatkan pemadatan optimal.(Soekoto,1984).

Stabilisasi tanah menurut Bowles (1984), adalah meliputi salah satu tindakan dibawah ini yaitu :

  1. Menambah kerapatan tanah;
  2. Menambah material yang tidak aktif sehingga meningkatkan kohesi dan atau   tahanan gesek yang timbul;
  3. Menambah bahan tertentu yang menyebabkan terjadinya perubahan kimiawi dan atau fisis pada tanah;
  4. Menurunkan muka air tanah;
  5. Menganti tanah yang buruk dengan tanah yang lebih baik;

Secara umum stabilisasi tanah dapat dibedakan kedalam dua jenis stabilisasi yaitu : Stabilisasi mekanis yang bertujuan untuk menambah kekuatan atau kapasitas dukung tanah dan mengatur gradasi butir tanah.Sedangkan stabilisasi kimiawi adalah mengandalkan kepada suatu bahan stabilisator yang dapat mengubah dan mengurangi sifat tanah yang kurang menguntungkan dalam mencapai kestabilan yang tinggi.(Soekoto,1984)

      Umumnya tanah yang mengandung banyak lempung sulit dicampur dan kadang bahan tambah dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan sifat yang berarti, diketahui bahwa hasil yang baik dalam stabilisasi semen adalah bila tanah bergradasi baik dan mempunyai butiran halus kurang dari 50%, serta plastisitas kurang dari 18% serta batas cair kurang dari 40%.Stabilisasi tanah-semen untuk lempung walaupun kadar semen sudah ditinggikan dalam tanah lempung namun kekuatan campuran lempung – semen sangat lebih kecil dibandingkan dengan tanah berpasir dan kerikil berpasir.( Hardiyatmo,2006).

      Semen dapat bereaksi dengan semua jenis tanah dan jumlah semen yang ditambahkan untuk stabilisasi tanah lempung berkisar antara 6% – 10% berat kering tanah.(Soekoto,1984).

      Lambe (1962) dalam Hardiyatmo (2006), menyatakan banyaknya kadar semen dalam campuran tanah-semen dapat dilihat pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5 Kadar semen yang baik untuk campuran tanah-semen ( Lambe,1962)

Macam tanah Kadar semen (% terhadap berat)
Kerikil 5 – 10
Pasir 7 – 12
Lanau 12 – 15
Lempung 12 – 20

   

Semen (skripsi dan tesis)

  1. Semen Portland

      Menurut SII.0013-81 Semen Portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker yang terutama terdiri dari silikat silikat kalsium yang bersifat hidrolis bersama bahan tambahan yang biasanya bahan digunakan adalah Gips.

      Nama semen Portland dipatenkan oleh Joseph Aspdin pada tahun 1824 pada material berbentuk bubuk yang merupakan susunan air dan pasir menyerupai sumber batuan kapur alam yang berada dipulau kecil Portland Inggris (Derucher dkk,1998).

      Semen merupakan stabilizing agents yang baik sekali, mengingat bahwa kemampuannya mengeras dan mengikat butir – butir agregat sangat bermanfaat bagi usaha kita mendapatkan masa tanah yang kokoh dan tahan terhadap deformasi.Semen dapat bereaksi pada hampir semua jenis tanah dari yang jenis kasar non kohesip sampai yang sangat plastis sekalipun.(Soekoto,1984).

      Widjojo(1997) menyatakan diantara bahan ikat yang telah diketahui semenlah yang terpenting, karena semen dapat mengadakan pengikatan dan pengerasan didalam air.

      Distribusi ukuran butiran semen yaitu sekitar 0,5 mikron dan 100 mikron, dengan rata rata sekitar 20 mikron (Hardiyatmo,2006).

  1. Susunan semen

      Tjokrodimuljo (1996) menyampaikan tentang kandungan oksida pada bahan dasar semen portland yaitu dapat dilihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3. Kadar Oksida bahan dasar semen portland (Tjokrodimuljo,1996)

Oksida Jumlah (%)
Kapur,CaO

Silika,SiO2

AluminaAl2O3

Besi,Fe2O3

Magnesia,MgO

Sulfur,SO3

Soda/Potas,Na2+K2O

60 – 65

17 – 25

3 – 8

0,5 – 6

0,5 – 4

1 – 2

0,5 – 1

    Widjojo (1977) menyatakan senyawa kimia yang terdapat pada klinker semen portland seperti Tabel 2.4.

Tabel 2.4 Komposisi susunan kimiawi (Widjojo,1977)

Rumus kimia Singkatan Nama
3CaO.SiO2 C3S Alit
2CaO.SiO2 C2S Belit
2CaO.SiO2 C2S Felit
4CaO.AL2O3.Fe2O3 C4AF Celit
3CaO.AL2O3 C3A Celit
5CaO.3AL2O3 C5A3 Celit

 

      Menurut Tjokrodimulyo (1996) fungsi susunan kimiawi semen adalah :

  1. C3S berpengaruh besar pada pengerasan semen sebelum 14 hari.
  2. C2S berpengaruh besar pada pengerasan setelah 7 hari menyebabkan semen tahan terhadap serangan zat kimia dan mengurangi susut akibat pengeringan.
  3. C3A bereaksi cepat dan akan meningkatkan kekuatan setelah 24 jam.
  4. C4AF belum diketahui fungsinya

      Nilson dan Winter (1991) mengemukakan bahan baku pembentuk semen adalah kapur (CaO) dari batu kapur, Silika (SiO2) dari lempung dan alumina (Al2O3) dari lempung dan sedikit presentase dari Magnesia (Mg0), dan terkadang sedikit Alkali, Oksida besi terkadang ditambah untuk mengontrol komposisinya.

  1. Jenis dan sifatsemen portland

Dari berbagai macam jenis semen portland menurut SII.0013-18 adalah sebagai berikut :

  1. Jenis I             Semen Portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan-persyaratan khusus seperti yang diisyaratkan pada jenis jenis lain.
  2.     Jenis  II          Semen Portland yang dalam penggunaanya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang.
  3.      Jenis  III         Semen Portland yang dalam penggunaanya memerlukan kekuatan yang tinggi pada fase permulaan setelah pengikatan terjadi.
  4.     Jenis   IV         Semen Portland yang dalam penggunaanya memerlukan panas hidrasi yang rendah.
  5.     Jenis  V           Semen Portland yang dalam penggunaanya memerlukan ketahanan yang tinggi terhadap sulfat.

  1. Warna

      Ciri dari semen portland adalah merupakan bubuk halus, biasanya berwarna abu abu dengan ukuran butiran antara 0,5 mikron sampai dengan 80 mikron. (Kerbs dan Walker,1971).

      Warna semen portland tanpa tercampur bahan lain, berwarna abu-abu kehijauan dan setelah membatu menjadi abu-abu kebiru-biruan.(Widjojo,1997).

  1. Berat jenis

      Semen portland sebagian besar partikel lolos saringan 200 dengan spesific gravity berkisar antara 3,12 sampai 3,20.(Kerbs dan Walker,1971).

c.Pengikatan

      Widjojo (1977) Tepung semen portland yang dicampur dengan air hingga menjadi bubur akan mengeras didalam waktu tertentu. Hal ini disebabkan adanya reaksi antara senyawa semen dengan air. Air berlaku sebagai penghidrat dan penghidrolisanya, reaksi hidrasi merupakan suatu reaksi pengikatan air secara kimia hingga terbentuk senyawa hidrat berupa kristal dari senyawa

3 CaO.ALO3 + 6H2O —— 3 CaO.AL2O3.6H22O

      Reaksi hidrolisa adalah suatu reaksi pemecahan garam dengan air menjadi asam dan basah dengan reaksi yang terjadi pada silikat-trikalsium :

2[3CaO.SiO2]  + nH2O—— 3CaO.2SiO2.nH2O + 3Ca(OH)2

d.Waktu pengikatan

      Waktu pengikatan semen dibagi 2 ialah masa ikatan awal dan masa ikatan akhir.Ikatan awal untuk semua jenis semen tidak boleh kurang dari 60 menit.hal ini perlu untuk memberikan cukup waktu guna pengolahan sebelum semen tersebut dipergunakan.(Widjojo,1977).

      Pencampuran tanah dan semen tidak boleh lebih dari 30 menit mulai pemadatan tidak boleh lebih dari satu jam setelah pencampuran dan berakhirnya proses pemadatan tidak boleh lebih dari dua jam.(Rollings dan Rollings,1996).

Penanganan Tanah Ekspansif (skripsi dan tesis)

Prosedur penanganan yang dapat digunakan untuk stabilisasi tanah ekspansif sebelum dan sesudah konstruksi jalan adalah dengan langkah-langkah sebagai berikut: (Nelson, 1991)

1.      Stabilisasi Kimiawi (chemical additive)

a.       Stabilisasi Kapur

Stabilisasi kapur banyak dilakukan dengan berhasil pada proyek pengerjaan jalan  karena mampu menurunkan nilai swelling dan meningkatkan plastisitas tanah serta kemampuan tanah dengan mencampurkan kapur pada tanah subgrade dengan konsentrasi tertentu. Mekanisme utama dari stabilisasi kapur adalah adanya reaksi pertukaran kation, flokulasi-aglomerasi, larbonasi kapur, dan reaksi pozzolanic.  

b.      Stabilisasi semen

Stabilisasi semen memanfaatkan reaksi hidrasi semen yang merupakan reaksi pozolanic kompleks dari komponen-komponen penyusun semen. Hasil dari pencampuran semen dengan tanah ekspansif adalah pengurangan batas cair (LL), pengurangan indeks palstisitas (IP), mengurangi perubahan volume potensial (swell potensial) dan meningkatkan tegangan geser. Mekanisme pencampurannya hampir serupa dengan kapur.

c.       Treatment garam

Jenis garam yang digunakan untuk proses stabilisasi ini adalah jenis garam NaCl dan CaCl. Natrium klorida (NaCl) dapat meningkatkan batas kerut (srhinkage limit) dan tegangan geser, sedangkan kalsium klorida (CaCl) dapat menstabilkan perubahan kadar cairan dalam tanah sehingga mengurangi potensi pengembangan. Namun usaha stabilisasi dengan kapur secara ekonomis kurang meguntungkan mengingat durasi ketahannannya hany maksimal sampai 3 tahun saja.

d.      Senyawa organik

Beberapa senyawa organik telah dicoba untuk usaha stabilisasi tanah ekspansif, namun salah satu senyawa organik yang dapat diaplikasikan dengan baik adalah resin (damar). Mekanismenya adalah mencampurkan secara langsung resin dengan tanah ekspansif hingga tanah mengeras.

2.      Pembasahan (prewetting)

Pembasahan dilakukan berdasarkan teori bahwa peningkatan kadar air tanah ekspansif maka volume tanah ekspansif terhitung pada kondisi kembang maksimumnya. Pembasahan dilakukan sebelum konstruksi, namun upaya ini akan memerlukan waktu yang lama bahkan sampai beberapa tahun jika tanah ekspansif yang ditreatmen memiliki konduktifitas hidrolik yang rendah.

Upaya stabilisasi dengan pembasahan dapat dilakukan dengan sukses pada saat musim kering terjadi karena tanah ekspansif memiliki densitas yang rendah dan mampu menyerap air dengan cepat. Pembasahan untuk meningkatkan kadar air hingga 2 -3 % di atas batas plastis (PL) ternyata mampu memberikanhasil yang memuaskan terhadap nilai stabilitas tanah.

3.      Penggantian tanah dengan Pemadatan (soil replacement with compaction)

Penggantian tanah ekspansif dengan tanah non ekspansif dapat memberikan satbilitas yang lebih baik. Beberapa keunggulan penggunaan metode ini adalah bahwa tanah non ekspansif dapat dipadatkan mencapai kadar kering yang tinggi  bahkan melampaui  berat kering dari hasi stabilisasi pembasahan, biaya yang dikeluarkan dapat lebih kecil mengingat peralatan yang dipergunakan untuk metode ini sangat sederhana, penggantian tanah dapat dilakukan dengan cepat.

Namun pada umunya lapisan tanah ekspansif terlalu dalam dan besar untuk dilakukan penggantian sehingga menjadi tidak ekonomis untuk dilakukan, dan jika tanah stabil yang digunakan untuk mengganti tanah ekspansif tidak berada di sekitar daerah konstruksi maka akan menimbulkan biaya tersendiri untuk mendatangkannya.

4.      Kendali kadar air (moisture control)

Ekspansifitas tanah merupakan akibat dari fluktuasi kadar air dalam tanah. Jika fluktuasi kadar air dalam tanah dapat dikendalikan maka akan didapatkan tanah yang stabil. Sebagai persiapan proyek konstruksi jalan maka pengendalian kadar air tanah yang dapat dilakukan pada umumnya dilakukan secara horizontal dan vertikal. 

Selain poypropilen, bahan lain yang dapat dipergunakan sebagai membran adalah aspal karena sifat anti air yang dimilikinya serta fleksibilitasnya yang tinggi. Penggunaan beton sebagai barier juga sering dilakukan, yaitu dengan cara membuat slab beton di bahu jalan dengan lebar tertentu dan menanambahkan slab beton di bawah barier tersebut secara horisontal.

5.      Pembebanan (surcharge loading)

Akibat pengembangan tanah ekspansif dapat diminamlisir dengan memberikan pembebanan yang cukup pada lapisan subgrade. Biasanya metode ini mampu bekerja secara efektif pda tanah yang memiliki derajat ekspansi yang rendah. Analisis laboratorium yang komprehensif sangat diperlukan jika ingin menggunakan  metode ini agar dapat diperhitungkan berat pembebanan yang sesuai. Pada prakteknya banyak tanah ekspansif memiliki derajat ekspansifitas sangat tinggi sehingga sangat tidak mungkin untuk dilakukan pembebanan.

 

6.      Metode thermal (thermal method)

Metode ini dilakukan dengan cara membakar tanah ekspansif sampai suhu 200% sehingga potensial swelnya dapat diturunkan. Namun pengujian secara ekonomis terhadap metode ini belum dilakukan

Benda Cagar Budaya (skripsi dan tesis)

Berdasarkan Undang-Undang No 5 Tahun 1992, yang dimaksudkan dengan benda cagar budaya adalah:

  1. benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yangberupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atausisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (limapuluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, sertadianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmupengetahuan, dan kebudayaan;
  2. benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagisejarah, ilmu pengetahuan , dan kebudayaan

Perlindungan benda cagar budaya bertujuan melestarikan dan memanfaatkannya untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Lingkup pengaturan Undang-undang tersebut meliputi benda cagar budaya, benda yang diduga benda cagar budaya, benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya.

Benda cagar budaya tertentu dapat dimiliki atau dikuasai oleh setiap orang dengan tetap memperhatikan fungsi sosialnya dan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-undang tersebut. Benda cagar budaya sebagaimana dimaksudkan adalah benda cagar budaya yang :

  1. dimiliki atau dikuasai secara turun-temurun atau merupakan warisan;
  2. jumlah untuk setiap jenisnya cukup banyak dan sebagian telah dimiliki oleh Negara.

Lebih lanjut menurut Undang-Undang tersebut setiap orang yang memiliki atau menguasai benda cagar budaya wajib melindungi dan memeliharanya. Perlindungan dan pemeliharaan benda cagar budaya sebagaimana dimaksudkan wajib dilakukan dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanannya.

Rumah Tradisional Jawa (skripsi dan tesis)

            Rumah adat jawa dibedakan menjadi lima yaitu (Prijotomo, 1995 )  Panggang-pe, Kampung, Limasan, Tajug dan Joglo. Pada awalnya bentuk Rumah Tradisional Jawa adalah bentuk Panggangpe yang merupakan bentuk bangunan yang paling sederhana, karena hanya terdiri dari satu ruang. Panggang Pe sering digunakan sebagai gardu ronda, maupun  kios.bangunan tipe ini kurang layak untuk dijadikan tempat tinggal permanen. Varian dari rumah bentuk Panggang pe yaitu Panggang Pe Trajumas, Panggang Pe Pokok, Panggang Pe Gedang Selirang, Panggang Pe Gedang Setangkep, Panggang Pe bentuk warung / kios.

Kemudian dari panggang Pe tersebut mengalami modifikasi menjadi bentuk Kampung yang memiliki ruang lebih dari satu. Rumah ini umumnya dimiliki oleh rakyat biasa. Bangunan ini tidak terlalu komplek dan tidak semahal rumah tipe joglo.sembilan ( 9 ) tipe bentuk bangunan Kampung yaitu Kampung Sinom, Kanpung Srotongan, Kampung Dara Gepak, Kampung Jompongan, Kampung Gajah Ngombe, Kampung Pacul Gowang, Kampung Semar Tinandu, Kampung Trajumas, dan Kampung Gedang Selirang

Selanjutnya Limasan  yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari bentuk Kampung. Hampir sama dengan tipe Kampung, Rumah tipe Limasan ini umumnya dimiliki oleh rakyat biasa. Limasan sendiri memiliki varian yang paling banyak yaitu Limasan Srotongan, Limasan Semar Tinandu, Limasan Pacul Gowang, Limasan Gajah Mungkur, Limasan Gajah Ngombe, Limasan Trajumas, Limasan Klabang Nyander, Limasan Sinom, Limasan Bapangan, Limasan Apitan, Limasan Ceblokan, Limasan Awaken, Limasan Gajah Nyerang, Limasan Cere Gancet, Limasan Gotong Mayit, Limasan Semar Pinondong, Limasan Apitan, Limasan Lambang Sari, Limasang Trajumas Lambang Gantung, Limasan Trajumas Lambang Teplok, Limasan Lambang Teplo, Limasan Empyak Setangkep, Limasan Sinom Lambang Gantung Rangka Kutuk Ngambang, dan Limasan Sinom Lambang Gantung Rangka Kutuk Manglung.

Bentuk Limasan Semar Tinandu sendiri memiliki sub varian  yaitu Limasan Semar Tinandu Tumpeng, Limasan Semar Tinandu Prapatan Tunggal, Limasan Semar Tinandu Gembengan, Limasan Semar Tinandu Kedas, Limasan Semar Tinandu Pedasan, Limasan Semar Tinandu Hargo, Limasan Semar Tinandu Puspo. Untuk rumah adat dengan tipe Tajug terdiri atas  Tajug Ceblokan, Tajug Semar Tinandu, Tajug Mangkurat, Tajug Lambang Gantung, Tajug Lambang Sari, Tajug Lambang Teplok, Tajug Sinom Semar Tinandu, Tajug Tawon Boni

Tajug adalah tipe dasar yang menjadi pangkal dari acuan pengembangan Joglo ( Lihat gambar 3.1). Nama joglo sendiri berasal dari kata Tajug loro ( dua buah tajug). Bentuk joglo sendiri berasal dari dua buah bangunan tajug yang dirapatkan menjadi satu, dan kemudian mengganti atau yang lebih tepatnya menyambungkan kucup dari atap bangunan tajug menjadi satu (Lihat gambar .2). Penggabungan kuncup dari tajug ini menggunakan sebuah kayu panjang dan biasa disebut molo. Apabila dipandang dari segi kekomplekan sistem struktur dan sistem sambungan, Joglo dan Tajug adalah bentuk yang paling rumit dan lengkap (Prihatmaji, 2002).

            Bentuk joglo mempunyai ciri bahwa perbandingan panjang blandar dengan panjang suwunan tidak terlalu menyolok sehingga bentuk atap kelihatan terlalu tinggi dan tanpa ander ( Wiryoprawiro 1985). Atap tersebut disangga oleh 4 tiang utama yang disebut saka guru. Bentuk joglo dapat dipakai untuk pendapa ataupun rumah tinggal. Di keempat sisi atap diberi tambahan emper sehiga memerlukan tambahan tiang.

 

Bentuk rumah joglo sendiri ada beberapa macam ( Dakung, 1987 ) yaitu Joglo Lawakan, Joglo Sinom, Joglo Pangrawit, Joglo Mangkurat, Joglo Hageng, Joglo Semar Tinandhu, dan Joglo Jompongan. Dari ke tujuh bentuk joglo tersebut, yang paling banyak digunakan oleh para bangsawan dan para abdi dalem kraton adalah Joglo Mangkurat, Joglo Semar tinandu, dan Joglo Hageng ( lihat gambar 3.2). Sedangkan jenis jenis joglo yang lainnya biasanya digunakan oleh rakyat biasa seperti Joglo Lawakan, Joglo Sinom, Joglo Pangrawit, dan Joglo Jompongan.

Kinerja Proyek (skripsi dan tesis)

Kinerja Proyek dalam penelitian ini yang terdiri dari kinerja biaya, kinerja mutu, kinerja waktu, kinerja pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja (K3), dan kinerja lingkungan. Masing-masing kriteria kinerja proyek tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

  1. a)Kinerja biaya

Biaya merupakan pertimbangan utama dari suatu proyek konstruksi, karena bagaimana dan berapa lama suatu proyek konstruksi yang akan dibuat tergantung pada biaya yang tersedia. Pada umumnya biaya yang dibutuhkan dalam suatu proyek konstruksi sangat besar. Ketidak tepatan yang terjadi dalam penyediaanya akan berakibat terganggunya kinerja proyek secara keseluruhan. Oleh karena itu pembiayaan perlu di anggarkan untuk selanjutnya dituangkan ke dalam jadwal pekerjaan dan rencana sepesifikasi. (Ervianto, 2005)

  1. b)Kinerja mutu

Mutu proyek konstruksi adalah kesesuaian pekerjaan di lapangan dengan spesifikasi dari suatu proyek konstruksi. Spesifikasi merupakan dokumen legal yang harus dipenuhi dan merupakan bagian dari sebuah kontrak antara pemilik proyek dengan kontraktor. Tujuan utama dari spesifikasi adalah menyamakan persepsi antara pengguna jasa dengan penyedia jasa. (Ervianto, 2004)

  1. c)Kinerja waktu

Kinerja waktu dalam suatu proyek berkaitan dengan penundaan waktu proyek dari yang seharusnya direncanakan. Penundaan (delay) adalah sebagian waktu pelaksanaan yang tidak dapat dimanfaatkan sesuai dengan rencanan, sehingga menyebabkan beberapa kegiatan yang mengikuti menjadi tertunda atau tidak dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan. (Ervianto, 2004)

Keterlambatan atau penambahan durasi proyek dari yang direncanakan dalam proyek konstruksi secara umum biasanya disebabkan oleh perbedaan kondisi lokasi, perubahan desain, pengaruh cuaca, tidak terpenuhinya kebutuhan pekerja, material atau peralatan, kesalahan perencanaan, dan keterlibatan pemilik proyek. Keterlambatan akan menyebabkan bertambahnya biaya konstruksi.

  1. d)Kinerja pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja (K3)

Proses pembangunan proyek konstruksi pada umumnya merupakan kegiatan yang banyak mengandung bahaya. Oleh karena itu keselamatan kerja mutlak diperhatikan karena menyangkut permasalahan, perikemanusiaan, biaya dan manfaat ekonomi, aspek hukum, pertanggung jawaban serta citra organisasi itu sendiri.

Secara umum faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja dapat dibedakan menjadi (1) faktor pekerja itu sendiri/kehati-hatian pekerja (2) faktor metode konstruksi (3) peralatan K3 yang tersedia (4) keputusan manajemen. Sedangkan usaha-usaha pencegahan kecelakaan kerja yang dapat dilakukan adalah (1) pengelompokan pekerjaan berdaarkan resiko kerja (2) pelatihan keselamatan kerja bagi pekerja konstruksi (3) pengawasan intensif terhadap pelaksanaan pekerjaan (4) ketersediaan alat K3 (5) pelaksanaan pengaturan di lolasi proyek konstruksi (Ervianto, 2005)

  1. e)Kinerja lingkungan.

Lingkungan merupakan pendukung dasar dari semua sistem yang ada, oleh karena itu daya dukung lingkungan perlu sangat diperhatikan. Pelaksanaan proyek konstruksi pada hakekatnya adalah merupakan upaya penyediaan infrastruktur yang dapat mendukung kegiatan ekonomi dan sosial manusia. Jika pelaksanaan proyek konstruksi tidak memperhatikan daya dukung lingkungan, maka akan menyebabkan kerusakan alam yang pada hakekatnya akan merugikan manusia termasuk makhluk hidup yang lain. (Kodoatie, 2005)

Kesesuaian antara pembangunan suatu proyek konstruksi dengan daya dukung alam, dituangkan dalam dokumen AMDAL yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah. Oleh karena itu dokumen ini wajib dimiliki oleh suatu proyek konstruksi, apalagi yang berskala besar.

Kinerja Manajer Proyek (skripsi dan tesis)

Peran utama manajer proyek sebagai pemimpin adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam perjalanannya selama memimpin organisasi, kinerja manajer proyek selalu diamati, dievaluasi oleh anggotanya baik secara formal maupun informal. Penilaian bahwa pemimpin “lemah” apabila kinerjanya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sebagian besar anggotanya yang dapat menyebabkan proyek berjalan ke arah yang kurang tepat. (Ervianto, 2005)

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kinerja secara umum adalah apa yang dicapai atau prestasi kerja yang terlihat. Kinerja yang dalam bahasa inggrisnya disebut dengan performance, diartikan sebagai daya guna, prestasi atau hasil. Kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan dan waktu.

Menurut Dale Timpe (1992), kinerja adalah tingkat prestasi seseorang atau karyawan dalam suatu organisasi atau perusahaan yang dapat meningkatkan produktifitas. Kinerja menurut Meiner (1965) adalah sebagai kesuksesan yang dicapai individu di dalam melakukan pekerjaannya di mana ukuran kesuksesan yang dicaoai individu tidak dapat disamakan dengan individu yang lain. Kesuksesan yang dicapai individu berdasarkan ukuran yang berlaku dan disesuaikan dengan jenis pekerjaannya.

Menurut Flippo (1984) bahwa agar seseorang mencapai kinerja yang tinggi tergantung pada kerjasama, kepribadian, kepandaian yang beranekaragam, kepemimpinan, keselamatan, pengetahuan pekerjaan, kehadiran, ketangguhan dan inisiatif. Salah satu teori harapan (expectancy theory) yang dikembangkan oleh Vromm menyatakan bahwa kinerja (performance) adalah fungsi dari motivasi (motivation) dan kemampuan (ability) yang dapat dituliskan sebagai berikut : P = f(M x A). dengan demikian jelas apabila motivasi dari suatu organisasi ditingkatkan maka kinerjanya akan meningkat pula. Dari salah satu riset yang dilakukan di Yogyakarta diperoleh faktor yang dominan mempengaruhi motivasi mandor kontruksi yaitu apabila diberikan stimulus yang dapat meningkatkan stimulus meningkatkan taraf kehidupan dan kesehjateraan sosial yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok (primer) dan pemberian bonus diyakini dapat meningkatkan kinerja mandor (Ervianto, 2005).

Untuk mengukur kinerja, terlebih dahulu harus ditetapkan kriterianya. Menurut Jossup dan Jessup dalam Moh. As’ad (1997) yang diperlukan pertama dalam hal ini adalah ukuran mengenai sukses dan yang kedua adalah bagian-bagian mana yang dianggap penting sekali dalam suatu pekerjaan. Yang menjadi masalah sekarang bahwa ukuran sukses tersebut sulit dilakukan karena kompleksnya suatu pekerjaan. Tetapi secara ringkas dapat dikatakan bahwa pengukuran tentang job performance atau kinerja itu tergantung kepada jenis pekerjaan dan tujuan organisasi.

Randal S. Shuller dan Susan E. Jackson (1999) mengatakan bahwa penilaian kinerja adalah mengukur siapa mengerjakan apa dengan baik. Dalam hal ini penilaian kinerja mengacu pada suatu sistem formal dan terstruktur yang mengukur, menilai, dan mempengaruhi sifat-sifat yang berkaitan dengan pekerjaan, perilaku dan hasil termasuk tingkat ketidak hadiran. Fokusnya dalah untuk mengetahui seberapa produktif seorang pegawai dan apakah ia bisa berkinerja sama atau lebih efektif pada masa yang akan datang, sehingga pegawai, organisasi dan masyarakat semuanya memperoleh manfaat.

Beach (1990) menyebutkan bahwa penilaian kinerja seseorang dapat didasarkan pada beberapa indikator yaitu:

  1. kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan,
  2. kesungguhan dalam menyelesaikan pekerjaan,
  3. kemampuan memberikan layanan pada masyarakat,
  4. tanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan,
  5. kejujuran dalam bekerja,
  6. kemampuan bekerjasama,
  7. pengetahuan dan keterampilan kerja,
  8. kemampuan mengambil keputusan.

Menurut Dale Timpe (1992), terdapat dua faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang, yaitu:

  1. Faktor internal, yaitu faktor yang berhubungan dengan sifat-sfifat seseorang, meliputi sikap, sifat-sifat kepribadian, sifat fisik, keinginan atau motivasi, umur, jenis kelamin, pendidikan, pengalaman kerja, latar belakang budaya dan variabel-variabel lainnya.
  2. Faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yang berasal dari lingkungan, meliputi kebijaksanaan organisasi, kepemimpinan, tindakan rekan kerja atau bawahan, sistem upah dan lingkungan sosial.

Dalam hal pengukuran kinerja seseorang, menurut As’ad (2004) dapat dilakukan dengan tiga pendekatan berikut:

  1. Subjective Prosedur

Prosedur ini meliputi pertimbangan penilaian ataupun pertimbangan terhadap kinerja seseorang yang dilakukan oleh atasan, bawahan, rekan kerja, atau diri sendiri. Dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah adanya human error atau faktor manusia yang memang cenderung subyektif.

Galat tersebut disebabkan karena kebanyakan dari para penilai tidak menyadari bahwa mereka melakukan suatu kesalahan sehingga mereka tidak bisa memperbaiki pertimbangan-pertimbangannya. Namun di sisi lain metode pengukuran ini sangat mudah dan cepat untuk dilakukan.

  1. Direct Measures

Dalam hal ini kinerja diukur secara langsung dari hasil kerja orang tersebut (produktifitasnya) misalnya diukur dari jumlah produk yang dihasilkan dalam waktu tertentu, diukur dari jumlah produk yang tidak dapat dipakai dan juga jumlah kejadian yang tidak diinginkan selama jangka waktu tertentu. Sehingga kinerja untuk masing-masing jenis pekerjaan sangatlah berbeda, untuk itu penilaian ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu (1) yang berhubungan dengan produksi yang menyangkut unit-unit yang diproduksi dan kualiats produksi dan kualitas produk (2) yang berhubungan dengan personal information, yang meliputi: absentiesme, ketepatan datang, keluhan-keluhan dari karyawan, dan waktu yang dipergunakan untuk mempelajari suatu pekerjaan dan sebagainya.

  1. Proficiency Testing

Tes proficiency merupakan suatu pendekatan dengan mengetest keterampilan karyawan dan pengetahuan yang dimilikinya berupa te di lingkungan pekerjaan secara langsung, maupun tes berupa simulasi.Cara lain dari tes proficiency adalah dengan melakukan tes tulis. Tes ini berguna untuk mengetahui potensi yang dimiliki oleh seorang karyawan dan untuk mengevaluasi apakah seorang karywan dapat dikembangkan untuk pekerjaan-pekerjaan yang lebih sulit.

Dalam setiap proyek konstruksi, pengelolaan proyek dilakukan oleh sekelompok orang yang mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Setiap proyek dikelola oleh tim yang terdiri dari manajer proyek (project manajer), site manajer, teknik, administrasi kontrak, personalia dan keuangan. Koordinasi anggota tim proyek dilakukan sepenuhnya oleh manajer proyek.

Manajer proyek dapat didefinisikan sebagai seseorang yang bertanggung jawab terhadap organisasi induk proyeknya sendiri, dan tim yang bekerja dalam proyeknya. Adapun kinerja manajer proyek dapat dilihat dari kriteria-kriteria sebagai berikut: (Ervianto, 2005)

  1. Kemampuan mengusahakan sumber daya yang memadai
  2. Kemampuan memotivasi sumber daya manusia
  3. Kemampuan membuat keputusan yang tepat
  4. Kemampuan memandang timnya secara berimbang (adil)
  5. Kemampuan berkomunikasi dengan baik
  6. Kemampuan dalam bernegosiasi

Kepemimpinan Manajer Proyek (skripsi dan tesis)

Salah satu karakteristik proyek konstruksi adalah adanya organisasi. Setiap organisasi mempunyai keragaman tujuan di mana di dalamnya terlibat sejumlah individu dengan ragam kehlian, ketertarikan, kepribadian dan juga ketidak pastian. Langkah awal manajer proyek sebagai pimpinan organisasi proyek konstruksi bertugas menyatukan visi menjadi satu tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.(Ervianto, 2005) Menurut Soehardi Sigit (2003), kepemimpinan merupakan upaya untuk memepngaruhi orang lain untuk melakukan perbuatan ke arah yang dikehendaki. Kepemimpinan dalam proyek konstruksi adalah kemampuan dalam memanfaatkan sumber daya 5 M (men, machines, mathods, materials, money) untuk dapat menyelesaikan masalah dan menentukan arah tujuan tercapainya proyek konstruksi yang tepat biaya, tepat mutu, dan tepat waktu.

Dalam pandangan tradisional, pemimpin dianggap sebagai hero. Pengertian pahlawan di sini menurut Yukl (1989) adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menentukan takdir organisasi yang dipimpinnya. Jadi apa yang dilakukan dan diputuskan oleh seorang pemimpin akan mempengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan. Hal ini seringkali disebut sebagai romantisme kepemimpinan yang menurut Thomas (1988), “Convensional leadership have generally assumed that leader have significant and crucial impact on the performance of organization they lead”. Pandangan ini kemudian disebut Thomas sebagai pandangan ‘Individualis’, yang mengandung makna bahwa individu merupakan figus yang berarti bagi kehidupan organisasi.

Salah satu elemen prinsip dalam konsep romantisme, menurut Meindl, Ehlirch dan Dukerich (1985) adalah pandangan bahwa kepemimpinan merupakan pusat dari proses organisasi dan kekuatan utama dalam skema aktivitas dan kejadian dalam organisasi.

Dalam realitasnya pandangan ini dianggap positif oleh pemimpin, bahkan memanfaatkan padangangan tersebut untuk kepentingan politisnya dengan melakukan manipulasi terhadap kinerja. Hal tersebut ditengarai oleh Yukl (1989a),

The attributional biases about leader are exploited by many political leader and top executives who seek to create the impression that are in control of events. Symbol and rituals, such as elaborate inagural ceremonies, reinforce the percieved importance of leaders (Pfeffer). Successes are announced and celebrated; filure are suppresed or downplayed” 

Namun di sisi lain, hal tersebut dapat menjadi sesuatu yang negatif bagi pertumbuhan organisasi. Anggapan bahwa pemimpin adalah segalanya dan apapun yang dilakukan dan diputuskan membawa dampak bagi kehidupan dapat menjadi bumerang bagi pemimpin dan organisasi yang dipimpinnya, yakni bila pemimpin menjadi cenderung berhati-hati, menghindari resiko dan mengambil langkah aman. Hal tersebut tentunya dapat menghambat pertumbuhan organisasi.

Seorang pemimpin yang baik harus mempunyai sifat-sifat yang baik dan terpuji sehingga menjadi teladan bagi bawahannya. Menurut Mulia Nasution (1994) kepmimpinan yang baik harus memiliki sifat-sifat yaitu:

  1. Mempunyai kemampuan melebihi orang lain. Seorang pemimpin tidak mau menjadi nomor dua, juga mempunyai keinginan mengatasi dann mengungguli orang lain. Seorang pemimpin harus penuh inisiatif dan sanggup bekerja keras serta ulet untuk mencapai tujuan.
  2. Mempunyai rasa tanggung jawab yang besar. Seorang pemimpin tidak akan pernah merasa takut untuk memikul tanggung jawab terhadap orang lain, atau pekerjaan yang sukara sekalipun.
  3. Mau bekerja keras. Seorang pemimpin akanselalu sanggup bekerja keras dan tidak kenal lelah, ia mempunyai daya tahan yang kuat untuk bekerja keras dakan jangka waktu yang lama. Hal ini untuk dapat memberi contoh atau motivasi bawahannya.
  4. Pandai bergaul, seorang pemimpin yang baik, selalu pandai bergaul dengan teman sejawat. Ia akan berusaha mengnal baik temannya serta memahami segala persoalannya.
  5. Memberi contoh bekerja dengan semangat pada bawahan. Seorang pemimpin selalu menjadi pelopor dan selalu menjadi contoh bagaimana cara bekerja keras dan bersemangat, sehingga bawahan dengan sendirinya termotivasi untuk ikut bekerja dengan semangat.
  6. Memiliki rasa integritas. Pemimpin harus mempunyai rasa bersatu padu dengan kelompok yang ada di dalam organisasinya.

Definisi Proyek (skripsi dan tesis)

Untuk menunjang pesatnya pembangunan, pemerintah melakukan pembangunan disegala bidang baik, fisik maupun mental spiritual. Sampai saat ini pemerintah masih menetapkan program fisik sebagai program paling dominan yang sering dikenal sebagai istilah proyek. Proyek didefinisikan sebagai suatu sistem yang kompleks yang melibatkan koordinasi dari sejumlah bagian yang terpisah dari organisasi dan di dalamnya terdapat skedul dan syarat-syarat dimana kita harus bekerja (Sukanto, 1997)

Proyek konstruksi berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia dan kemajuan teknologi. Bidang-bidang kehidupan manusia yang semakin beragam menuntut industri jasa konstruksi, membangun proyek-proyek konstruksi yang sesuai dengan keragaman bidang tersebut. Secara umun klasifikasi berdasarkan jenis bangunan maka proyek konstruksi dapat dibagi menjadi:

  1. Proyek Konstruksi Bangunan Gedung (Building Construction)

Proyek bangunan gedung mencakup bangunan gedung, rumah sakit, rumah tinggal dan sebagainya. Dari segi biaya dan teknologi terdin dari yang berskala rendah, menengah, dan tinggi. Biasanya perencanaan untuk proyek bangunan gedung lebih lengkap dan detail. Untuk proyek-proyek pernerintah (di Indonesia) proyek bangunan gedung ini dibawah pengawasan atau pengelolaan DPU sub dinas Cipta Karya.

  1. Proyek Bangunan Perumahan atau. Pemukiman (Residental Construction/Real Estate)

Disini proyek pembangunan atau pernukiman (real estate) dibedakan dengan proyek bangunan gedung secara rinci yang didasarkan pada klase pernbangunan serempak dengan penyerahan prasaana-prasarana penunjagnya.Jadi memerlukan perencanaan infrastruktur dari Perumahan seperti jaringan transportasi, air,dan fasilitas lainnya lainnys. Proyek pembangunan pemukiman ini dari rumah yang sangat sederhana sampai rurnah megah sampai.

  1. Proyek Konstruksi TeknikSipil

Umumnya proyek yang termasuk jenis ini adalah proyek bendungan, proyek jalan raya, jembatan, terowongan, jalan kereta api, pelabuhan dan lain-lain.Jenis proyek itu umumnya berskala besar dan membutuhkan teknologi tinggi.

  1. Proyek Konstruksi Industri(Industrial Construction)

Proyek konstruksi yang termasuk jenis ini biasanya proyek industri yang membutuhkan spesifikasi dan persyaratan khusus, seperti untuk kilang minyak, industri berat atau industri dasar, pertambangan, sebagainya. Perencanaan dan pelaksanaan membutuhkan ketelitian dan keahlian atau teknologi yang spesifikasi.

 

 

Pelaksanaan suatu proyek merupakan proses yang panjang, dimana mekanismenya tersusun serta terdiri dari banyak sekali kegaiatan atau pekerjaan. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan gabungan dari berbagai kepentingan dan tanggung jawab yang saling terkait dari pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan dan sesuai dengan kepentingan dan tanggung jawab individual tersebut direncanakan sebuah sistem. Sistem yang dimaksudkan adalah kumpulan komponen-komponen kegiatan yang saling berhubungan dan tergantung yang harus dikoordinasikan dan dikendalikan sedemikian rupa sehingga mejadi kesatuan yang menyeluruh. Pendekatan sistem tersebut tidaklah memperlakukan bagian-bagian organisasi secara terpisah-pisah akan tetapi menjadi keseluruhannya sebagai kesatuan koordinasi yang terpadu dan terintegrasi (Paulson Jr et al,  1987)

Banyak hal harus dipertimbangkan untuk membuat sistem pelaksanaan proyek termasuk diantaranya adalah mengkombinasikan dan mengkomposisikan hal-hal menyangkut unsur-unsur mutu atau kualitas, biaya dan waktu pelaksanaan. Perubahan dari unsur-unsur tersebut akan langsung berpengaruh terhadap keseluruhan tahapan-tahapan pelaksanaan pembangunan.

Tahapan dalam kegiatan proyek kontruksi dimulai sejak dikemukakan prakarsa dari Pemilik atau sejak pengembangan konsep sampai dengan tahap pengoperasian bagunan sesuai dengan tujuan fungional proyek. Walaupun setiap pelaksaaan proyek masing-masing berbeda tetapi secara garis besar tetap membentuk pola yang sama. Perbedaaan setiap proyek terletak pada alokasi rentang waktu dan penekanan untuk setiap tahapan. Hubungan antar tahapan dapat berurutan seperti halnya yang dilaksanakan secara tradisional, tataua bertumpang tindih sebatas yang dilakukan pada bagian-bagian tertentu demi untuk mencapai hasil optimal. Hasil optimal sebagai tujuan akhir dari  sistem pengendalian, pengawasan kualitas berkaitan dengan pemantauan kualitas hasil pekerjaan untuk menjamin tercapainya standar spesifikasi teknis seperti yang disepakati. Pengawasan kualitas harus sudah dilaksanakan sejak diterimanya masukan, diteruskan selama proses produksi dan berlangsung pada thap akhirnya. Pengawasan kualitas tidak hanya dapat dilakukan berdasarkan pada sampel statistik seperti yang berlaku dalam industri menufaktur pada umumnya.

Secara umum tahapan pokok dalam proyek kontruksi sebagai berikut : (Dipohusodo, 1996).

  1. Tahap Pengembangan Konsep

Pada tahap awal harus dapat mengungkapkan fakta-fakta keadaan di lokasi proyek baik berupa faktor-faktor yang mendukung ataupun menjadi kendala, antara lain pengenalan terhadap yuridiksi praktek kerja setempat, bersama dengan upaya untuk mengestimasi produksitivitas serta memperhitungkan ketersediaan tenaga kerja terampil (mendapatkan informasi standar upah/UMR), harga material utama bangunan dan lain-lain.

Berdasarkan mengenai keadaan di lokasi proyek maka dilakukan peninjauan tentang kriteria konsep, sistem perencanaan serta sistem perancangan detail yang akan diperlakukan. Penyusunan konsep dan kriteria pelaksanaan secara keseluruhan sedini mungkin untuk menumbuhkan kerja sama tim, menyamakan persepsi untuk mencapai tujuan dan memebentuk dasar-dasar perencanaan yang akan terus dikembangkan. Rencana kerja proyek biasanya mencakup kegiatan menyususn estimasi pendahuluan, rencana kerja jangka pendek, paket-paket pekerjaan, program rekayasa nilai dan perencanaan kontruksi. Selanjutnya adalah langkah-langkah dan jadwal rencana untuk mendasari upaya pelaksanaan proyek secara bertahap. Di samping itu perlu melakukan peninjauan kembali mengenai pendelegasiaan wewenang dari pemberi tugas kepada setiap unsur organisasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

  1. Tahap Perencanaan (Planning)

Keberhasilan proyek diawali dan sangat ditentukan dengan berhasil atau tidaknya untuk menyusun landasannya yaitu berupa perencanaan yang lengkap dan matang sehingga dengan sendirinya suatu perencanaan dapat mengakomodasikan seluruh kebutuhan dan kepentingan pelaksanaan kontruksi dari perencanaan meliputi hal-hal yang bersifat teknis, termasuk metode kerja sampai dengan dampak yang diakibatkan.

Proses perencanaan keseluruhan secara umum dibagi menjadi empat tahapan pelaksanan, yaitu tahap tanggapan terhadap Arahan Penugasan (TOR) atau seringkali disebut dengan tahap pengajuan proposal kemudian tahap survai dan investigasi, tahap penyusunan pra-rencana atau dikenal sebagai sketsa rencana, serta tahap perencanaan final atau perancangan detail. Pelaksanaan keempat tahapan tersebut secara berurutan, tidak bisa diubah dan kelengkapan dari masing-masing tahap sangat ditentukan dari hasil pada tahapan sebelumnya.

  1. Tahap Sketsa Rencana (Preliminary Design)

Inti daripada pra-rencana atau sketsa rencana ialah menuangkan konsep-konsep arsitektur, evaluasi terhadap beberapa alternatif proses teknologi, penetapan dimensi serta kapasitas ruangan-ruangan dan mengetengahkan studi-studi banding ekonomi pembangunan. Pada umunya penyusunan pra-rencana merupakan perkembangan langsung dari tahapan pengembangan konsep. Dalam sketsa rencna tersebut diakomodasi segala macam peraturan yang harus diperlakukan misalnya praturan pmbagian zoning, ketentuan batas roof dan syarat IMB lainnya. Juga ketentuan mengenai instalasi mekanikal dan elektrikal, standar keamanan dan sebagainya. Dengan tersusunnya para rencana yang dilengkapi dnegan sketsa-sketsa perencanaan sudah didapatkan gambaran mengenai ruang lingkup dan besar proyek. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dibuat estimasi biaya proyek sementara untuk tujuan pengendalian pendahuluan.

  1. Tahap Rancangan Detail (Detail Design)

Tahapan perancangan detail atau rancangan final mencakup kegaiatn menjabarkan seluruh perancangan termasuk rancangan elemen bagian terkecil secara sistematis dan berurutan. Masing-masing disertai gambar-gambar perencanaan, spesifikasi teknis dan syarat-syarat pelaksanaan pekerjaan Gambar-gambar detail dan spesifikasi teknis ditujukan untuk menjelaskan pekerjaan serta dipakai sebagai pedoman atau petunjuk agar semua pekerjaan dapat dilaksanakan dengan setepat-tepatnya. Dengan mendasarkan pada pola perancangan detail trsebut dapat dibuatkan rencana kerja final yang memuat penegelompokan pekerjaan dan kegiatan secara terperinci dengan tujuan membagi manjadi paket-paket jadwal yang lebih disempurnakan berupa jadwal bagan balok dan jaringan kerja yang lebih terperinci, kesepakatan sistem koordinasi dan pengendalian proyek yang dilengkapi dengan pembagian tugas dan tanggung jawab secara lengkap. Dengan kesiapan rencana kerja final tersebut berarti program rekayasa nilai sudah siap diterapkan. Pada dasarnya penyusunan rencana kerja final ditujukan pada dua sasaran pokok yaitu : Yang pertama sebagai pedoman pelaksaan pekerjaan maka biaya pelaksanaan kontruksi tidak melebihi anggaran dan yang kedua pekerjaan akan selesai dengan kualitas dan dalam rentang waktu yang direncanakan atau ditetapkan.

  1. Tahap Pelaksanaan (Operation)

Tahap pelaksanaan telah dimulai sejak ditetapkannya kontraktor serta penyerahan lapangan dengan segala keadaannya kepada kontraktor. Selanjutnya perlu segera mengembangkan jadwal kerja yang diajukan di dalam penawaran kontraktor menjadi jadwal tereperinci baik berupa bagan balok maupun jaringan kerja. Jadwal kerja disusun hanya berdasarkan asumsi yang sangat umum sehingga dapat dipastikan bahwa semenjak berhadapan dengan lapangan langsung selalu didapati hal-hal yang tidak tepat dengan asumsi yang dibuat sebelumnya.

Selama pelaksanaan proyek berjalan juga dilakukan pengendalian dengan selalu mengikuti laporan dan evaluasi pekerjaan termasuk jadwal rencana kerja yang disiapkan secara teratur dalam waktu periodik harian, mingguan, dan bulanan. (Dipohusodo, 1996).

Pengertian Jalan (skripsi dan tesis)

Berdasarkan Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, didefinisikanbahwa jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan,termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas,yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanahdan/atau air serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta apidan jalan kabel.

Jalan sesuai dengan peruntukannya terdiri atas jalan umum dan jalan khusus. Jalanumum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum, sedangkan jalan khususadalah jalan yang dibangun oleh instansi, badan usaha, perseorangan atau kelompokmasyarakat untuk kepentingan tertentu.Jalan umum dikelompokkan menurut sistem, fungsi, status dan kelas. Sedangkanuntuk pengaturan kelas jalan berdasarkan spesifikasi penyediaan prasarana jalan,dikelompokkan atas jalan bebashambatan, jalan raya, jalan sedang dan jalan kecil(DPU, 2006).

Menurut Undang-undang RI No.38 Tahun 2004, jalan dapat diklasifikasi yaitu:

  1. Klasifikasi Jalan Menurut Peran dan Fungsi, terdiri atas:
  • Jalan Arteri
  • Jalan Arteri Primer: ruas jalan yang menghubungkan antar kota jenjang kesatu dengan kota jenjang kedua.

Persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain:

  1. Kecepatan rencana > 60 km/jam.
  2. Lebar badan jalan > 8,0 meter.
  3. Kapasitas jalan lebih besar dari volume lalu-lintas rata-rata.
  4. Jalan masuk dibatasi secara efisien sehingga kecepatan rencana dan kapasitas jalan dapat tercapai.
  5. Tidak boleh terganggu oleh kegiatan lokal, lalu lintas lokal.
  6. Jalan primer tidak terputus walaupun memasuki kota.
  • Jalan Arteri Sekunder: ruas jalan yang menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua.

Persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain:

  1. Kecepatan rencana > 30 km/jam.
  2. Lebar jalan > 8,0 meter.
  3. Kapasitas jalan lebih besar atau sama dari volume lalu-lintas rata-rata.
  4. Tidak boleh diganggu oleh lalu-lintas lambat.
  • Jalan Kolektor.
  • Jalan Kolektor Primer: ruas jalan menghubungkan antar kota kedua dengan kota jenjang kedua, atau kota jenjang kesatu dengan jenjang ketiga.

Persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain:

  1. Kecepatan rencana > 40 km/jam.
  2. Lebar badan jalan > 7,0 meter.
  3. Kapasitas jalan lebih besar atau sama dengan volume lalu-lintas rata-rata.
  4. Jalan masuk dibatasi secara efisien sehingga kecepatan rencana dan kapasitas jalan tidak terganggu.
  5. Tidak boleh terganggu oleh kegiatan lokal, lalu-lintas lokal.
  6. Jalan kolektor primer tidak terputus walaupun memasuki daerah kota.
  • Jalan Kolektor Sekunder: ruas jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga.

Persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu: kecepatan rencana     > 20 km/jam dan lebar jalan > 7,0 meter.

  • Jalan Lokal
  • Jalan lokal primer: ruas jalan yang menghubungkan kota jenjang kesatu dengan persil, kota jenjang kedua dengan persil, kota jenjang ketiga dengan kota jenjang ketiga lainnya, kota jenjang ketiga dengan kota jenjang di bawahnya.

Persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain:

  1. Kecepatan rencana > 20 km/jam.
  2. Lebar badan jalan > 6,0 meter.
  3. Jalan lokal primer tidak terputus walaupun memasuki desa.
  • Jalan Lokal Sekunder: ruas jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kesatu, kedua dengan perumahan.

Persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu kecepatan rencana       > 10 km/jam dan lebar jalan > 5,0 meter.

  • Jalan Lingkungan

Jalan Lingkungan merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri-ciri:

  1. Perjalanan jarak dekat
  2. Kecepatan rata-rata rendah

 

 

  1. Klasifikasi Jalan Menurut Wewenang, terdiri atas:
  • Jalan Nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antar ibukota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta jalan tol.
  • Jalan Provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antar ibukota kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
  • Jalan Kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak termasuk jalan nasional dan jalan provinsi, yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antar ibukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antar pusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.
  • Jalan Kota merupakan jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antar persil, serta menghubungkan antar pusat permukiman yang berada di dalam kota.
  • Jalan desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antar permukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan.

 

Pengenalan Jenis Jenis Meter Air (skripsi dan tesis)

  • Jenis meter Vane – Wheel.

Meter jenis ini mempunyai suatu kincir yang terdiri atas sudu – sudu berjarak antara 30 sampai dengan 90 derajat dengan tujuan menghindari putaran yang terlalu cepat. Air yang masuk akan diukur dengan sudut singgung 45 derajat untuk menghindari titik mati sehingga bagaimanapun posisinya, setiap sudu-sudu selalu dalam keadaan sensitif terhadap aliran air. Untuk itu meter dilengkapi dengan lubang-lubang yang terdapat disekeliling dinding tabung dengan arah tangensial terhadap dinding tabung tersebut. Air yang mengalir masuk kedalam meter akan menggerakkan kincir ynag berhubungan dengan suatu mekanisme penghitungan.

Meter jenis vane ini dapat dibagi lagi menjadi single – jet dan multi jet meter. Masing masing mempunyai dua tipe, yaitu tipe basah dan tipe kering.

  • Single jet

Lubang pemasukan dan pengeluaran  air hanya satu sehingga tekanan yang terjadi pada sudu – sudu kuat dan tidak merata. Hal ini menyebabkan umur teknis lebih pendek karena itu harganya relatif lebih murah.

  • Multi Jet.

Lubang pemasukan dan pengeluaran air lebih dari satu sehingga tekanan yang terjadi pada sudu – sudu lebih lemah dan merata. Hal ini menyebabkan umur teknis lebih lama dan harganya pun relatif lebih mahal.

  • Tipe Basah

Air membasahi sudu – sudu, roda gigi dan dial.

Keuntungan    :  Starting Flow lebih rendah

Kerugian         : Jika kualitas air tidak baik, pembacaan angka meter tersebut jadi terganggu.

  • Tipe Kering

Air membasahi sudu-sudu, tapi tidak membasahi roda gigi dan dial. Mekanisme meter menggunakan trasmisi magnetik .

Keuntungan    :  Pembacaan angka meter tersebut tidak terganggu dengan kualitas air.

  • Jenis Meter Turbin / Propeller.

Pada dasarnya kedua meter ini hampir sama. Perbedaanya kalau meter turbin sudu – sudunya mulai berputar bila ada aliran air yang menggerakkan  sedangkan Propeller bila sudu – sudunya digerakkan maka air di sekelilingnya melaju. Jenis meter tersebut mula-mula ditemukan oleh : Tn. Renhard Woltman. Kegunaanya untuk mengukur udara maupun cairan. Dengan menghitung jumlah putaran pada satu satuan waktu dan dengan diketahui diameter pipa maka dapat dihitung besar discharge.

Untuk diameter yang sama dibandingkan dengan jenis meter vane, meter woltman mempunyai kapasitas yang lebih besar dengan kehilangan tekanan yang lebih rendah tetapi kepekaanya kurang.

Ada dua jenis tipe woltman ini, yaitu :

  • Woltman Tipe horizontal
    • Posisi Propeller Horizontal
    • Dapat dipasang pada pipa horizontal dan Vertikal.
    • Aliran air diteruskan secara garis lurus.
    • Kehilangan tekanan lebih rendah.
    • Harga relatif lebih rendah, umumnya digunakan untuk keperluan domestik.


  • Woltman Type Vertikal.
    • Hanya dipasang pada pipa Vertikal.
    • Posisi Propeller
    • Aliran air mengalami pemisahan beberapa kali
    • Kehilangan tekanan lebih besar.
    • Harga relatif lebih mahal, umumnya digunakan untuk meter Industri.
    • Batasan pengukuran Minimum lebih baik.
  • Jenis Meter Venturi

Jenis meter ini mula-mula ditemukan oleh Ir Venturi dari Italia. Prinsip kerjanya menggunakan Hukum Bernauli, yaitu selisih tekanan maksimum dan minimum sebagai fungsi dari kecepatan air. Jenis meter Venturi ini banyak dipakai untuk pengukuran besar, seperti pada unit-unit produksi yang dilengkapi dengan alat remote sehingga dapat dicatat pada tempat yang berjarak dari alat venturi tersebut. Secara umum, jenis meter venturi mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan jenis Meter Woltman.

  • Jenis Meter Orifice.

Jenis meter ini adalam modifikasi dari meter venturi dengan bentuk yang lebih kecil dan praktis. Prinsip kerjanya sama, hanya mempunyai kehilangan tekanan yang lebih besar dari meter jenis venturi.

  • Jenis Meter

Jenis meter ini disebut Piston displacement, rotary piston, atau volumetric piston type. Prinsipnya dengan adanya aliran air maka piston jalan. Ciri dari meter ini mempunyai ketelitian yang tinggi namun kehilangan tekanan cukup besar.

  • Jenis Nutating – Disc – Meter.

Prinsip kerja dan kualitasnya hampir sama dengan meter piston. Jenis meter ini banyak digunakan untuk keperluan Domestik di USA.

  • Jenis Meter Coumpound.

Meter ini sebenarnya gabungan antara meter-meter kecil dengan meter besar, disatukan dan dilengkapi dengan katub – katub yang peka terhadap kecepatan aliran. Pada aliran kecil, katub – katub tertutup sehingga aliran air diteruskan lewat by-pass yang berupa meter kecil. Sedangkan untuk aliran besar, katub terbuka dan aliran dapat masuk ke meter besar. Dengan coumpound meter ini ketelitian jauh lebih baik dari pada meter tunggal.

  • Jenis Induction meter.

Dasar kerjanya menggunakan prinsip medan magnet yang dapat dipotong oleh aliran air yang akan diukur volumenya. Untuk kecepatan yang berbeda-beda maka medan magnet yang dipotong juga berbeda, dan perbedaan ini dapat diikuti oleh alat perasa (sensing device). Signal – signal ini kemudian dikuatkan lalu besarnya perubahan dikalibrasi terhadap aliran fluidanya sehingga didapat hubungan antara perubahan medan magnet dengan kecepatan aliran air untuk mengetahui volume air.

Klasifikasi Meter Air (skripsi dan tesis)

Untuk dapat mengukur jumlah air yang diproduksi, yang didistribusikan dan yang sampai kepada masing – masing pelanggan, diperlukan alat ukur air ( meter air ) . ada banyak jenis meter air yang dapat digunakan , pada dasarnya dapat dibagi dalam dua kelompok :

  • Displacement meter.
  • Velocity meter.

Displacement meter disebut juga Volumetric meter, terutama digunakan untuk aliran yang relatif kecil. Biasanya digunakan pada konsumen dengan pemakaian air kecil sampai sedang. Prinsip kerja meter kelompok ini adalah dengan melewatkan air sebagian – sebagian, setelah memenuhi suatu bagian penampang dalam meter (kontainer) yang diketahui volumenya. Banyaknya aliran (flow) diketahui dengan mencatat beberapa kali kontainer tersebut penuh dan kosong. Jenis meter air yang termasuk kedalam kelompok ini adalah  jenis Nutating – Disk Meter, Rotary dan Reciprocating.

 

 

Velocity meter atau pengukuran dengan kecepatan, mengukur aliran (Flow) dengan melewatkan air tersebut melalui suatu penampang yang diketahui luasnya. Kelompok meter ini biasanya digunakan untuk mengukur aliran dalam jumlah besar. Jenis meter yang termasuk kelompok ini adalah  Jenis Meter Turbin  / Propeller, Venturi, Orifice  dan Vane – Wheel Meters.

Secara umum kelompok displacement meter mempunyai ketelitian yang tinggi namun dengan kehilangan tekanan yang cukup besar dan velocity meter mempunyai kehilangan tekanan yang lebih kecil akan tetapi kepekaan/ ketelitian ukuran juga lebih rendah.