Karakteristik Sistem Reward yang Efektif


Menurut Mulyadi dan Setyawan (2001) terdapat tujuh karakteristik yang
harus harus diperhatikan agar penghargaan dapat bermanfaat dan sesuai degan
tujuan yang ingin dicapai. Karakteristik tersebut adalah:

  1. Penghargaan harus dihargai oleh penerima
  2. Penghargaan harus cukup besar untuk dapat memiliki dampak
  3. Penghargaan harus dimengerti penerima
  4. Penghargaan harus diberikan pada waktu yang tepat
  5. Dampak penghargaan harus dirasakan dalam jangka panjang
  6. Penghargaan harus dapat diubah
  7. Penghargaan harus memerlukan biaya efisien
    Menurut Ghani (2003:108), penghargaan akan berjalan efektif apabila
    memenuhi koridor:
  8. Dilakukan secara adil dan tidak pilih kasih, diberlakukan untuk semua
    anggota organisasi perusahaan.
  9. Aturan yang jelas/transparan dan accountable, sehingga setiap pekerjaan
    tahu persis rambu-rambu sistem dan prosedur.
  10. Diberlakukan secara konsisten dan konsekuensi. Pemberian reward yang
    berhasil dapat meningkatkan tangible outcomes seperti individual,
    kelompok, kinerja organisasi, kuantitas dan kualitas kerja. Selain itu,
    reward juga dapat mengarahkan tindakan dan perilaku dalam teamwork,
    kerjasama dan pengambilan resiko, serta kreativitas

Aspek – Aspek Minat Beli


Minat beli merupakan tahap akhir dari suatu proses keputusan pembelian
yang kompleks. Proses ini dimulai dari munculnya kebutuhan akan suatu
produk atau merek, kemudian pemrosesan informasi oleh konsumen,
selanjutnya konsumen akan melakukan evaluasi terhadap produk atau
merek tersebut. Hasil dari evaluasi tersebut kemudian memunculkan niat
atau keputusan untuk melakukan pembelian. Menurut Schiffman dan
Kanuk (2007), terdapat beberapa aspek minat beli pada konsumen,
diantaranya:
a. Tertarik untuk mencari informasi tentang produk.
Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk
mencari informasi mengenai produk tersebut. Level pencarian yang
lebih ringan atau penguatan perhatian dan level aktif mencari informasi
yaitu dengan mencari bahan bacaan, bertanya kepada teman, atau
mengunjungi toko untuk mempelajari produk tertentu.
b. Mempertimbangkan untuk membeli.
Melalui pengumpulan informasi, kemudian konsumen mempelajari
merek-merek yang bersaing serta fitur dari merek tersebut. Melakukan
evaluasi terhadap pilihan-pilihan dan mulai mempertimbangkan untuk
melakukan pembelian produk.
c. Tertarik untuk mencoba.
Setelah konsumen berusaha memenuhi kebutuhan, mempelajari merek
yang menjadi pesaing dari produk tersebut serta fitur merek tersebut,
kemudian konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi produk dan
melakukan evaluasi terhadap produk-produk tersebut. Evaluasi ini
dianggap sebagai proses yang berorientasi kognitif, maksudnya adalah
konsumen dianggap menilai suatu produk secara sangat sadar dan
rasional hingga mengakibatkan ketertarikan untuk mencoba.
d. Ingin mengetahui produk.
Setelah memiliki ketertarikan untuk mencoba suatu produk, konsumen
akan memiliki keinginan untuk mengetahui produk. Konsumen akan
memandang produk sebagai sekumpulan atribut dengan kemampuan
yang berbeda-beda dalam memberikan manfaat yang digunakan untuk
memuaskan kebutuhan.

Kriteria Celebrity Endorser


Kriteria memilih selebritiyangmenjadiendorsermemerlukan pertimbangan-
pertimbangandaripengiklan karenakarakterendorserdiukur sangat efektif dalam
mengangkat citra produk dan brand awareness(Royan, 2005:23).Dalam
mengevaluasi selebriti yang akan dijadikan endorser Amy Dyson dan Douglas
Turco mengemukakan konsep FRED (Familiarity, Relevance, Esteem,
Differentiation) (Michiak & Shankim, 1994:51), yaitu:
a. Familiarity, merupakan komponen pertama yang penting dalam celebrity
endorser, artinya khalayak sasaran harus mengenal pada sosok sang artis dan
melihatnya sebagai pribadi yang tulus, menyenangkan dan bisa dipercaya.
Dalam hal ini produsen kartu AS memilih Sule, Smash, dan Rianti Catwright
sebagai celebrity endorser dimana mereka merupakan sosok yang sudah
sangat dikenal dan familiar dimata masyarakat. Karena mereka merupakan
sosok selebritis yang sering muncul di televisi.
b. Relevance, artinya terdapat hubungan yang berarti(kecocokan)
antaraimagemerekyangdiiklankandengan selebriti, serta antara selebriti
dengan target market. Pengiklan seringkali mencocokkan image produk,
karakteristik target market, dan personalitas daricelebrity endorser (Belch dan
Belch. 2004:175). Orang-orang yang dapat dipercaya dan dianggap memiliki
wawasan untuk isu tertentu, seperti kehandalan merek akan mampu
meyakinkan orang lain untuk mengambil suatu tindakan. Sebagai contoh
17
Michael Jordan dipilih untuk mendukung Gatorade sejauh mana persona
publiknya adalah penuh kepercayaan dan sebagai atlet dia mengetahui semua
tentang manfaat minuman olahraga (Terence Shimp, 464)
c. Esteem, artinya terdapat respek dan kepercayaan yang tinggi dari konsumen
terhadap selebriti. dalam hal ini sebagai contoh, selebriti yang dipilih
sebagaiendorser tidak pernah tersangkut dalam tindak kriminal atau hal-hal
yang buruk lainnya. Citra selebriti harus sesuai dengan nilai, prilaku dan kesan
yang diinginkan untuk merek yang diiklankan. Contoh kasus pada artis Luna
maya, yang sebelumnya dipercaya sebagai endorser di beberapa iklan, tetapi
setelah kasus yang dihadapinya bersama Ariel peterpan dan Cut tari maka
sejumlah iklan yang dibintanginya pun ditarik dari media. Dan karena kasus
tersebut maka respect dari masyarakat pun berkurang kepada sosok artis Luna
maya. Dan hal itu dapat berdampak buruk pada citra sebuah produk apabila di
iklankan dengan bantuan celebrity endorser yang citranya sudah buruk di
mata para konsumen ataupun konsumen.
d. Differentiation, artinya konsumen melihat endorser sebagai pribadi yang unik,
berbeda dan eksklusif atas produk yang diiklankannya. Ini merupakan sebuah
kontribusi besar bagi efektifitas seorang endorser.

Analisis Usaha


Usaha pabrik konsentrat sapi perah bertujuan untuk menghasilkan kualitas
pakan yang berkualitas serta menghasilkan keuntungan. Keuntungan dan kerugian
hanya dapat diketahui apabila seluruh biaya produksi dan penerimaan
diperhitungkan, diantaranya dapat dilakukan dengan menghitung penerimaan,
biaya produksi, analisa kelayakan usaha, dan pendapatan (Santoso et al., 2014).
Analisis pendapatan berfungsi untuk mengukur berhasil tidaknya suatu usaha,
menentukan komponen utama pendapatan dan apakah komponen itu masih dapat
ditingkatkan atau tidak (Siregar et al., 2009).
Pendapatan adalah ukuran perbedaan antara penerimaan dan pengeluaran
pada periode tertentu, apabila perbedaan yang diperoleh adalah positif
mengindikasikan keuntungan bersih yang diperoleh, dan apabila negatif
mengindikasikan kerugian (Kay et al., 2004). Semakin besar pendapatan yang
diterima petani atau peternak akan semakin besar pula tingkat keberhasilan usaha.
Keuntungan yang rendah dapat disebabkan karena besar skala usaha yang tidak
memadai atau pengoperasian usaha yang tidak efisien (Santoso et al., 2014).

Fungsi Budaya Organisasi


Budaya pada umumnya sukar dibedakan dengan fungsi budaya
kelompokatau budaya organisasi, karena budaya merupakan gejala
sosial. Budaya organisasi memiliki fungsi yang sangat penting. Fungsi
budaya organisasi adalahsebagai tapal batas tingkah laku individu yang
ada didalamnya. Fungsi budayaorganisasi menunjukkan peranan atau
kegunaan dari budaya organisasi. Fungsi budaya organisasi menurut
Robert Kreitner dan Angelo Kinicki (2013:34) adalah:

  1. memberikan identitas kepada anggota organisasi.
  2. Memudahkan komitmen kolektif.
  3. Meningkatkan stabilitas sistem sosial. Stabilitas sistem sosial
    mencerminkansejauh mana lingkungan kerja dipersepsikan
    sebagai positif dan memperkuat,dan sejauh mana konflik
    perubahan dikelola secara efektif.
  4. Membentuk perilaku dengan membantu anggota organisasi
    memahami lingkungan mereka. Fungsi budaya organisasi ini
    membantu memahami mengapa organisasi melaukan apa yang
    dilakukannya untuk mencapai tujuanjangka panjangnya.