DASAR PENGGUNAAN METODE ANGKET (skripsi dan tesis)

 

 

Angket mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri (self report) dari responden, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan, keyakinan maupun sikap pribadi seseorang. Penggunaan angket sebagai metode pengumpulan data pada penelitian di dasarka pada anggapan:

  1. Bahwa subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
  2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subjek kepda peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
  3. Bahwa interprestasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan yang dimaksudkan oleh peneliti

 

 

 

Widoyoko, 2015

METODE PENGUMPULAN DATA (skripsi dan tesis)

 

 

Metode pengumpulan data merupakan suatu hal yang penting dalam penelitian, karena metode ini merupakan strategi atau cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitiannya. Pengumpulan data dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan, keterangan-keterangan, dan informasi yang dapat dipercaya. Untuk memperoleh data tersebut maka dalam penelitian ini dapat digunakan berbagai macam metode, diantaranya adalah dengan angket, observasi, wawancara, tes dan analisis dokumen.

  1. Angket

Angket atau kuesioner merupakan metode engumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tau pernyataan tertulis kepada responden untuk diberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna. Angket merupakan metode pengumpulan data yang efisien jika peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang akan diharapkan dari responden. Selain itu, angket juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang cukup luas.

  1. Wawancara

Wawancara merupakan suatu proses tanya jawab atau dialog secara lisan antara pewancara (interviewer) dengan responden atau orang yang diintervieu (interview) dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Wawancara merupakan cara pengumplan data yang langsung dari sumbernya tentang berbagai gejala sosial baik yang terpendam maupun tampak. Wawancara merupakan alat yang sangat baik untuk mengetahui tanggapan, pendapat, keyakinan, perasaan, motivasi serta proyeksi seseorang terhadap masa depannya. Wawancaraini digunakan bila jumlah responden relatif sedikit.

  1. Observasi

Sebagai metode pengumpulan data, observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatn secara sistematik terhadap unsur-unsur yang nampak dalam suatu gejala pada objek penelitian. Unsur-unsur yang nampak itu disebut dengan data atau informasi yang harus diamati dan dicatat secara benar dan lenkap. Metode ini digunakna untuk melihat dan mengamati secara langsung keadaan di lapangan gar peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih luas tetang permasalahan yang akan diteliti.

  1. Analisis Dokumen

Metode ini merupakan suatu cara pengumpulan data yang dilakukan dengan menganalisis isi dokumen yang berhubungan dengan maalah yang akan diteliti. Dalam arti sempit dokumen berarti barang, atau benda tertulis sedangkan dalam arti yang luas, dokumen bukan hanya berwujud tulisan saja tetapi dapat berupa benda peninggalan seperti prasasti dan simbol-simbol lainnya.

  1. Tes

Tes merupakan salah satu alat untk melakukan pengukuran yaitualat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek. Karakteristik objek daat berupa ketrampilan, pengetahuan, bakat, minat, maupun bakat baik yang dimiliki idividu maupun kelompok.

Widoyoko, 2015,

UJI STATISTIK PADA TIAP JENIS DATA (skripsi dan tesis)

 

  1. Data nominal mempunyai ciri antara lain: hasil hitungan dan tidak dijumpai angka pecahan, angkayang tertera hanya label saja, tidak mempunyai urutan (ranging), tidak mempunyai ukuran baku dan tidak mempunyai nol mutlak.

Analisis statistik yang cocok untuk data nominal antara lain: Uji binomium, uji Chi Kuadrat Satu Sampel, Uji Chi Kuadrat Dua Sampel, Uji Chi Kuadrat Lebih Dari Dua Sampel, Uji Prubahan Tanda Mc Nemar, Uji Peluang Fisher, Uji  Cohran dan Uji Koefiesien. Sedangkan tes statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik (Riduwan, 2009; 6-7)

  1. Data Ordinal

Analisis statistik yang cocok untuk data ordinal adalah: Uji Kolmogorov Smirnov Satu Sampel, Uji Tanda, Uji Pasangan Tanda Wilcoxon, Uji Media, Uji Mann Whitney U, Uji Kolmogorov Smirnov Dua Sampel, Uji Deret Wald Wolfowitz, Uji Reaksi Ekstrim Moses, Uji Analisis Varians Dua Arah Friedman, Uji Varians ruskal Walls Satu Arah, Perluasan Uji Media, Uji Koefisien Korelasi Rank Kendall, Ujia Koefisien Parsial Kendall, dan Uji Koefisien Konkordans Kendall. Analisis statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik (Riduwan, 2009; 6-7)

  1. Data Interval

Analisis statistik yang cocok untuk data interval adalah; Uji T, Uji t test, Uji Anova Satu Jalur, Uji anova Dua Jalur, Uji Person Product Moment, Uji Korelasi Parsial, Uji Korelasi Ganda, Uji Regresi. Tes statistik yangdigunakan adalah tes statistik (Riduwan, 2009; 6-7)

  1. Data rasio

Pemilihan teknik statistik yang digunakan dalam analsisi data selain tergantung pada macam data juga pada bentuk hipotesisnya.

Widoyoko, 2015,

SKALA PENGUKURAN (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan data skalanya, data dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu: data nominal, ordinal, interval dan rasio

  1. Data nominal

Data nominal merupakan data yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat diurutkan dan diperbandingkan satu dengan yang lain. Nominal atau nomi yang berarati nama, menunjukkan label atau tanda yang hanya untuk membedakan antara satu dengan yang lainnya. Sebagai sebuah tanda atau label, data nominal dapa dibedakan tetapi tidak dapat diurutkan. Tanda atau label tidak mempunyai makna selain sebagai pembeda.

  1. Data ordinal

Data ordinal merupakan data yang memiliki urutan (order) tetapi tidak memiliki jarak perbedaan yang sama di antara rangkaian urutan tersebut. Atau dengan kata lain merupakan data yang mempunyai jenjang sehngga responden dapat diurutkan jenjangnya sesuai dengan karakteristik yang ada pada dirinya. Dalam data ordinal, kita dapat menyatakan sesuatu itu lebih, sama atau kurang dari yang lain. Data ordinal dapat dibedakan dan diurutkan tetapi tidak memiliki jarak yang sama dalam urutn maupun perbedaan yang ada. Data ordinal menggolongkan subjek menurut jenjangnya, tanpa memperhatikan jarak perbedaan antara golongan yang satu dengan lainnya

  1. Data interval

Data interval merupakan data yang memiliki perbedaan, urutan dan jarak perbedaan yang sama di antara rangkaian urutan tersebuttetapi tidak memiliki titik nol absolut atau mutlak. Jarak dalam skala interval diatur mengkuti aturan tertentu yang mudah dapat dimengerti

 

Widoyoko, 2015,

CARA PENGUMPULAN DATA (skripsi dan tesis)

 

 

Data dapat dikelompokkan berdasarkan cara pengumpulannya. Berdasarkan cara pengumpulannya, ata dapat dibagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder:

  1. Data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber pertama atau dengan kata lain data yang pengumpulannya dilakukan sendiri olehpeneliti secara langsung seperti hasil wawancara dan hasul pengisian angket (kuesioner)
  2. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua.Purwanto (2001; 1995) mengartikan data sekunder sebagai data yang dikumpulkan oleh orang atau lembagalain. Soeratno dan Arsyad (2003; 76) mengartikan data sekunder sebagai data yang diterbitkan atau yang digunakan oleh oragnisasi yang bukan pengolahnya. Dengan demikian data sekunder mempunyai dua makna. Pertama, data yang diolah lebih lanjut, misalnya dalam bentuk tabel atau diagram. Kedua, data yang dikumpulkan oleh orang taau lembaga lan, dengan kata lain bukan data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti.

 

 

Widoyoko, 2015,

SUMBER DATA (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan sumbernya, data dapat dikelompokkan menjadi dua data yaitu:

  1. Data internal merupakan data yang dikumpulkan atau diperoleh dari lembaga atau organisasi dimana penelitian dilaksanakan.
  2. Data eksternal merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan dari lembaga aau organisasi lain dimana penelitian dilaksanakan

 

 

Widoyoko, 2015

SIFAT DATA (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan sifatnya, data dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu data dikotomi, diskrit atau kontinum.

  1. Data dikotomi merupakan data yang bersifat pilah atau satu sama lain seperti jenis kelamin, suku, agama dan lain sebagainya. Pengumpulan data dikotomi dilakukan dengan memberikan angka label
  2. Data diskrit merupakan data yang pengumpulan datanya dilakukan dengan cara menghitung atau membilang
  3. Data kontinum merupakan data yang pengumpulan datanya dilakukan dengan cara mengukur dengan alat ukur yang menggunakan skala tertentu

 

 

 

Widoyoko, 2015,

JENIS DATA (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan data dibedakan menjadi dua macam yaitu data kaulutatif dan kuantitatif.

  1. Data kualitatif

Data kualitatif merupakan data yang menunjukkan kualitas atau mutu sesuatu yang ada baik keadaan, proses, perisitiwa/kejadian dan lainnya yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau berupa kata-kata. Penentan kualitas itu menuntut menilai tentang bagaimana mutu sesuatu itu. Contohnya: wanita itu cantik, pria itu tampan, baik, buruk dan sebagainya. Data ini biasanya diperoleh  dari hasil wawancara dan bersifat subjketif sebab data tersebut dapat ditafsirkan lain oleh orang yang berbeda. Data kualitatif yang diangkakan (kuantifikasi) dalam bentuk ordinal atau rangking.

Nawawi dan Hadari (2006; 49-51) membedakan data kualitatif dilihat dari jenisnya sebagai berikut:

  • Data kategori yang dinyatakan dengan perkataan untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan, proses atau persitiwa termasuk dalam salah stau golongan atau suatu pihak tertentu
  • Data yang menunjukkan porsi dari setiap keadaan yang dinyatakan dengan perkataan yang merupakan perbandingan dengan yang ideal atau keseluruhan.
  • Data berjenjang atau meningkat yang dinyatakan dengan kata-kata untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan atau kejadian perstiwa termasuk pada suatu tingkatan mutu/kualitas tertentu di atas atau di bawah rata-rata.
  • Data yang bersifat relatif yang dinyatakan dengan kata-kata untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan atau kejadian/persitiwa merupakan sesuau yang adanya dapat berubah-ubah.
  • Data yang bertentangan yang menyatakan jika yang satu ada maka yang lain tidak aa tentang suatu keadaan, kejadian atau proses tertentu yang diungkapkan dalam suatu penelitian
  1. Data kuantitatif

Data kuantitatif merupakan data yang berwujud angka-angka sebagai hasil observasi atau pengukuran. Data ini diperoleh dari hasil pengukuran langsung maupun dari angka-angka yang diperoleh dengan mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif. Data kuantitatif bersifat objektif dan bisa ditafsirkan sama oleh seua orang

 

 

 

Widoyoko, 2015,

PERAN DATA DALAM PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

  1. Data berfungsi sebagai alat hipotesis atau alat bukti atas pertanyaan penelitian
  2. Kualitas data sanga menentukan kualitas hasil penelitian. Artinya hasil penelitian sangat tergantung pada kualitas data yang berhasil belum tentu hasil penelitian juga baik. Hasil penelitian selain dipengaruhi oleh kualitas data yang berhasil dikumpulkan juga dipengaruhi oleh ketepatan dan keakuratan analisis data yang dilakukan. Kualitas data tergantung pada kualitas dari instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data. Kualitas instrumen pengumpulan data berkaitan dengan validitas dan reabilitas instrumen

 

Widoyoko, 2015,

PENGERTIAN DATA (skripsi dan tesis)

 

 

Secara umum, data diartikan sebagai suatu fakta yang dapat digambarkan dengan angka, simbol, kode dan lain-lain (Umar, 2001:6). Menurut Arikunto (2006:118) data diartikan sebagai hasil pencatatan peneliti, baik berupa fakta maupun angka. Sedangkan menurut Soeratno dan Arsyad (2003; 72-73) data adalah semua hasil observasi atau pengukuran yang telah dicatat untuk suatu keperluan tertentu. Data merupakan bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta (Ridwan, 2009; 5). Dalam konteks penelitian, data dapat diartikan sebagai keterangan mengenai variabel pada sejumlah objek. Data menerangkan objek-objke dalam variabel tertentu. Misalnya: data berat 5 batang logam merupakan keterangan mengenai 5 logam dalam variabel “berat”.

Widoyoko, 2015,

PENAMPILAN WAKTU PENGUKURAN (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan penampilan/performan ketika hendak diukur, variabel dapat dibedakan menjadi dua, yaitu variabel maksimalis dan variabel tipikalis.

  1. Variabel maksimalis

Variabel maksimalis merupkan variabel yang pada waktu pengumpulan datanya responden di dorong untuk menunjukkan penampilan maksimalnya. Berdasarkan penampilan maksimalnya tersebut dapat diketahui keberadaan variabel tersebut pada responden. Instrumen yag digunkaan untuk mengukur performan variabel maksimalis adalah tes.

  1. Variabel tipikalis

Variabel tipikalis merupkan variabel yang pada saat pengumpulan datanya responden tidak didorong untuk menunjukkan penampilan maksimal tetapi lebih di dorong untuk melaporkan secara jujur keadaan dirinya dalam variabel yang diukur.

 

Widoyoko, 2015

TIPE SKALA PENGUKURAN (skripsi dan tesis)

 

 

Variabel dapat dibedakan berdasarkan tipe skala pengukuran. Terdapat 4 tingkat variasi yang dihasilkan dari hasil pengukuran terhadap variabel yaitu nominal, rdinal, interval dan rasio.

  1. Variabel Nominal

Variabel nominal disebut juga dengan variabel diskrit. Sesuai dengan namnya nominal atau nomi yang berarti nama, menunjukkan label atau tanda yang hanya untuk membedakan antara variabel yang satu dengan lainnya. Variabel nominal adalah variabel yang dapat dgolongkan secara terpisah, secara diskrit, secara kaegori. Contoh variabel nominal diantaranya adalah jenis kelamin, jenis pekerjaan, jenis dan lain sebagainya. Variabel nominal meripakan variabel yang memiliki variasi paling sedikit yaitu perbedaan. Contoh variabel jenis hanya membedakan antara laki-laki dan perempuan dan tidak memiliki jenjang bertingkat atau urutan, tidak memiliki kesamaan jarak perbedaan serta tidak dapat diperbandingkan

  1. Variabel ordinal

Variabel ordinal merupkan variabel yang memiliki variasi perbedaan dan urutan (order) tetapi tidak memiliki kesamaan jarak perbedaan serta tidak dapat diperbandingkan. Urutanni menggambarkan adanya gradasi atau peringkat, akan tetapi jarak tingkat yang satu dengan tingkat lainnya tidak dapat diketahui dengan pasti.

  1. Variabel Interval

Variabel interval merupakan variabel yang skala pengukurannya dapat dibedakan, bertingkat dan memiliki jarak yang sama dari satuan hasil pengukuran, namun tidak bersifat mutlak dan tidak dapat diperbandingkan,

  1. Variabel Rasio

Variabel rasio merupkan variabel yang memiliki skor yang dapat dibedakan, diurutkan, memiliki kesamaan jarak perbedaan dan dapat diperbandingkan. Dengan demikian variabel yang memiliki skala rasio merupakan variabel yang memiliki tingkat tertingi dalam pensaklaan pengkuran variabel karena dapat menunjukkan perbedaa, tingkat, jarak dan dapat diperbandingkan.

Widoyoko, 2015,

URGENSI PEMBAKUAN INSTRUMEN (skripsi dan tesis)

 

 

Berdasarkan perlu tidaknya pembakuan instrumen untuk mengumpulkan data, variabel dapat dibedakan menjadi variabel faktual dan variabel konseptual (Purwanto, 2007; 9)

  1. Variabel Faktual

Variabel fktual merupakan variabel yang terdapat di dalam faktnya. Contoh variabel faktual antara lan: jenis kelamin, agama, pendidikan, usia asal sekolah dan sebagainya. Karena bersifat aktual, maka bila terdapat kesalahan dalam pengumpulan data, kesalahan bukan terletak pada isntrumen tetapi pada responden, misalnya memberi jawaban yang tidak jujur. Instrumen untuk mengumpulkan data variabel faktual tidak perlu dibakukan. Tidak perlu dlakukan uji validias dan realiabilitas.

  1. Variabel Konseptual

Variabel konseptual merupakan variabel yangtidak terlihat dalam fakta namun ersembunyi dalam konsep. Variabel konsep hanya diketahui berdasarkan indikator yang nampak. Contoh variabel konsep antara lain: prestasi belajar, motivasi belajar, kecerdasan dan lain sebagainya. Karen tersembunyi dalam kosep maka keakuratan data dari variabel konsep tergantung pada keakuratan indikatr dari konsep-konsep yang dikembangkan oleh peneltii. Kesalahan data dalam pengukuran dapat disebabkan oleh kesalahan konsep beserta indikator yang dikembangkan. Kesalahan data dari variabel prestasi belajar misalnya, kemungkinan disebabkan oleh instrumen pengumpulan data prestasi (baik dengan tes maupun non tes) yangsalah konsep. Untuk memastikan instrumen tidak salah konsep maka sebelum digunakan untuk mengumpulkan data variabl konsep, instrumen harus diuji validitas dan realibilitasnya

 

 

 

Widoyoko, 2015

PENENTUAN KEDUDUKAN VARIABEL (skripsi dan tesis)

Untuk dapat menentukan kedudukan variabel beas, terikat, kontrol, moderating, variabel antara atau lainnya harus dilihat konteksnya dengan dilandasi konsep teoritis yang mendasari maupun hasil dari pengamatan empiris. Untuk itu, sebelum peneliti memilih variabel apa yang akan diteliti perlu dilakukan kajian teoritis, dan melakukan studi pendahuluan terlebih dahulu pada objek yang akan diteliti. Jangan sampai terjadi menyusun rancangan penelitian di belakang meja dan tanpa mengetahui terlebih dahulu permasalaahn yang ada di objek penelitian. Sering terjadi, rumusan masalah dibuat tanpa melalui studi pendahuluan ke objek peneltian, sehingga setelah dirumuskan ternyata masalah itu tidak menjadi masalah pada objek penelitiabn. Setelah masalah dapat dipahami dengan jelas dan dikaji secara teoritis maka peneliti dapat menentukan variabel-variabel penelitiannya.

Widoyoko, 2015,

HUBUNGAN ANTAR VARIABEL (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan hubungan antar variabel maka variabel dalam penelitian tersebut dapat dibedakan menjadi:

  1. Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab terjadinya perubahan pada variabel lain. Dengan kata lain, perubahan pada variabel ni diasumsikan akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada variabel lain. Variabel ini disebut variabel bebas karena adanya tidak tergantung pada adanya yang lain atau bebas dari ada atau tidaknya variabel lain.

Untuk lebih mudah memahaminya dapat dilihat dari contoh sebuah penelitian. Jika dalam penelitian dinyatakan bahwa yang akan diungkap adalah “pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa” maka variabel bebasnya adalah “motivasi belajar”. Variabel ini disebut variabel bebas karena “pretasi belajar siswa” tergantung dan dipengaruhi oleh variabel tersebut, yang adanya bebas tidak tergantung pada variabel yang lain.

Variabel bebas sering juga disebut sebagai variabel stimulus, pengaruh dan prediktor. Dalam SEM (Structural Equation Modelling)/ Permodelan Persamaan Struktural, variabel bebas disebut sebagai variabel eksogen

  1. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Disebut variabel terikat karena kondisi atau variasinya dipengaruhi atau terikat oleh variasi variabel lain, yaitu dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel terikat ini ada yang menyebut dengan istilah variabel tergantung, karena variasinya tergantung oleh variasi variabel lain. Selain itu ada juga yang menyebut variabel output, kriteria ataupun respon. Dalam SEM (Structural Equation Modelling)/ Permodelan Persamaan Struktural, variabel bebas disebut sebagai variabel indogen

  1. Variabel Kontrol

Variabel antara atau intervening variabel merupakan variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikat menjadi hbungan tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela yang terletak di antara variabel bebas dan terikat, sehingga variabel bebas tidak langsing berubahnya atau timbulnya variabel terikat

  1. Variabel Moderator

Variabel moderator merupakan yang memperkuat atau memperlemah pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Sugiyono (2010; 39) menyebut dengan istilah variabel independen kedua. Secara definisi hampir sama dengan variabel kontrol, hanya saja di sini pengaruh variabel itu tidak dinetralisisr atau ditiadakan tetapi bahkan dianalisis atau diperhitungkan

  1. Variabel Antara

Variabel antara aatau intervening variabel merupakan variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabelbeas terhadap variabel terikat menjadi hubungan tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela yang terletak di antara variabel bebas dan terikat, sehingga variabel bebas tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel terikat.

Widoyoko, 2015,

MACAM-MACAM VARIABEL PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

Dalam penelitian dikenal bermacam-macam penamaan variabel. Dari berbagai macam variabel tersebut, sekurang-kurangnya dapat diklasifikasikan berdasarkan lima aspek. Kelima aspek tersebut adalah:

  1. Sifat variabel

Berdasarkan sifatnya, variabel penelitian dapat dibedakan menjadi dua aitu variabel statis dan variabel dinamis

  1. Variabel Statis

Ariabel statis merupakan variabel yang mempunyai sifat yang tetap, tidak dapat diubah keberadaannya maupun karakteristiknya. Dalam kondisi yang wajar sifat-sifat itu sukar diubahnya speerti mialnya jenis kelamin, jenispekerjaan, status soail ekonomi, dan sebagainya. Ada juga yang menyebutnya variabel atributif (Sudjarwo dan Basrowi, 2009; 198). Sifat yang ada padanya adalah tetap, untuk itu penelitian hanya mampu untuk memilih atau menyeleksi. Oleh karena variabel ini disebut juga dengan variabel selektif. Arikunto (2006; 124) selain menggunakan istilah variabel tidak berdaya untukmaksud yang sama karenapeneliti tidak mampu mengubah atau mengusulkan untuk mengubah variabel tersebut

  1. Variabel Dinamis

Variabel dinamis merupakan yang dapat diubah keberadaanya atau karakteristiknya. Variabel ini memungkinkan untuk dimanipulasi atau diubahs esuai dengan tujuan yang diinginkan oleh peneliti. Pengubahan dapat berupa peningkatan atau penurunan. Contoh variabel dinamis adalah: kinerja pegawai, motivasi belajar. Selain menggunakan istilah variabel dinamis, untuk maksud yang sama maka Arikunto (2006; 124) menggunakan istilah variabel terubah. Sedangkan Sudjarwo dan Basrowi (2009; 197) menggunakan istilah variabel aktif.

 

Widoyoko, 2015

CIRI-CIRI VARIABEL PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

Dalam penelitian, variabel mempunyai tiga ciri, yaitu: mempenyai variasi nilai, membedakan satu objek dengan objek lain dalam satu populasi dan dapat diukur.

  1. Variabel mempunyai nilai yang bervariasi. Oleh karena itu variabel membedakan satu objek dengan objek lain dalam populasi, maka variabel harus memiliki nilai yang bervariasi. Misalakan dari populasi 30 oang mahasiswa maka IP hanya akan menjadi variabel apabila terdapat nilai yang bervariasi. Sebaliknya, apabila dari 30 orang siswa tersebut tidak terdapat variasi karena nilai IP yang sama maka IP bukanlah variabel pada populasi yang bersangkutan. Contoh lain, dari populasi penduduk yang mendiami suatu wilayah tertentu, jenis pekerjaan atau prfesi bukan merupkan variabel apabila selurh penduduk tersebut memiliki pekerjaan atau profesi yang sama.
  2. Variabel membedakan satu objek dari objek yang lain. Objek-objek menjadi anggota populasi karnan mempunyai satu karakteristikyang sama. Meskipun sama, objekobjek dalam populasi dapat dibedakan satu sama lain dalam variabel. Sebagai contoh, populasi mahasiswa terdiri dari anggota ang memeiliki satu kesamaan karakteristik yaitu mahasiswa. Selain kesamaan tersebut, antara mereka berbeda daam usia, jenis kelamin, agama, motivasi belajar, tempat tinggal, prestasi dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan ini yang merupakan variabel karena mempunyai sifat membedakan di antara objek yang ada dalam populasi.
  3. Variabel harus dapat diukur. Penelitian kuantitatif menghasruskan hasil penelitian yang ojektif, terukur dan selalu terbuka untuk diuji. Variabel berbeda dengan konsep. Konsep belum dapat dukur sedangkan variabel dapat diukur. Variabel adalah operasionalisasi konsep. Sebagai contoh, belajar adalah konsep dan hasil belajar adalah variabel; siswa adalah konsep dan jumlah siswa adalah Variabel. Dengan demikian data dari Variabel penelitian harus tampak dalam perilaku yang dapat diobservasi dan diukur, misalnya prestasi belajar aalah jumlah jawaban benar yang dibuat siswa dalam mengerjakan sebuah tes.

 

Widoyoko, 2015

Regresi Non Linier (skripsi dan tesis)

Regresi non linier adalah suatu metode untuk mendapatkan model non linier yang menyatakan veriabel dependen dan independen. Apabila hubungan fungsi antara variabel bebas X dan variabel tidak bebas Y bersifat non linier, tansformasi bentuk nonlinier ke bentuk linier. Untuk mendapatkan linieritas dari hubungan non linier, dapat dilakukan transformasi pada variabel dependen atau variabel independen atau keduanya. Dalam kasus regresi non linier, yang banyak digunakan yaitu model regresi eksponensial dan regresi geometri. Regresi non linier dimaksudkan sebagai satu bentuk regresi yang melihat hubungan antara variabel predictor (X) dengan variabel respon (Y),
yang tidak bersifat linier. Kemudahan model regresi non linier tersebut karena dapat ditransformasikan ke model regresi linier

Pengertian Statistik inferensial (skripsi dan tesis)

Statistik inferensial adalah statistik yang berkenaan dengan cara penarikan kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh dari sampel untuk menggambarkan karakterisktik atau ciri dari suatu populasi. Dengan demikian dalam statistik inferensial dilakukan suatu generalisasi (perampatan atau memperumum) dan hal yang bersifat khusus (kecil) ke hal yang lebih luas (umum). Oleh karena itu, statistik inferensial disebut juga statistik induktif atau statistik penarikan kesimpulan. Pada statistik inferensial biasanya dilakukan pengujian hipotesis dan pendugaan mengenai karakteristik (ciri) dari suatu populasi, seperti mean dan Uji t (Sugiyono, 2006).
Statistika inferensia ada dua macam, yaitu statistika parametrik dan statistika non parametrik. Suatu hipotesis statistika merupakan pernyataan tentang fungsi peluang dari suatu atau lebih peubah acak. Hipotesis dikatakan sederhana apabila pernyataan menunjukkan ciri populasi secara lengkap. Bila tidak, hipotesis dikatakan majemuk. Hipotesis yang dipelajari yaitu hipotesis nol (H0) dan hipotesis yang merupakan konklusi apabila hipotesis nol ditolak adalah hipotesis tandingan (H1).

Pengertian Statistika Deskriptif (skripsi dan tesis)

Statistika deskriptif adalah statistik yang berkenaan dengan metode atau cara mendeskripsikan, menggambarkan, menjabarkan, atau menguraikan data. Statistik deskriptif mengacu pada bagaimana menata atau mengorganisasi data, menyajikan, dan menganalisis data. Menata, menyajikan, dan menganalisis data dapat dilakukan misalnya dengan menentukan nilai rata-rata hitung dan persen / proposisi. Cara lain untuk menggambarkan data adalah dengan membuat tabel, distribusi frekuensi, dan diagram atau grafik (Sugiyono, 2006).

Uji Rang-Tanda (skripsi dan tesis)

Uji Rang-Tanda dicetuskan oleh Frank Wilcoxon pada tahun 1945 dan saat ini disebut sebagai uji rang-tanda Wilcoxon. Uji ini memanfaatkan baik tanda maupun besarnya selisih. Uji rang-tanda Wilcoxon digunakan untuk kasus dua sampel yang dependen bila skala ukur memungkinkan kita menentukan besar selisih yang terjadi, jadi bukan sekedar hasil pengamatan yang berbeda saja. Uji rang-tanda Wilcoxon cocok digunakan bila kita dapat mengetahui besarnya selisih antara pasangan-pasangan harga pengamatan X1 dan Y1 berikut arah selisih yang bersangkutan. Apabila kita dapat menentukan besarnya setiap selisih, maka kita dapat menetapkan peringkat untuk masing-masing selisih itu. Melalui penyusunan peringkat selisih – selisih inilah uji Wilcoxon memanfaatkan informasi tambahan yang tersedia.

Uji Tanda (skripsi dan tesis)

    Uji tanda digunakan untuk menguji hipotesis mengenai median populasi. Dalam banyak kasus prosedur nonparametrik, rataan digantikan oleh median sebagai parameter lokasi yang relevan untuk diuji.

Uji tanda juga mempunyai asumsi dimana asumsinya adalah distribusinya bersifat binomial. Binomial artinya mempunyai dua nilai. Nilai ini dilambangkan dengan tanda, yaitu positif dan negatif. Ini mengapa ia disebut uji tanda.

Uji tanda banyak digunakan karena uji ini paling mudah untuk dilakukan pengujiannya dan tidak memakan waktu yang lama. Pengerjaan pengujian ini terbilang cukup mudah. Apabila setiap nilai pengamatan memiliki nilai lebih besar dari nilai rataannya maka diganti dengan tanda (+). Sedangkan, apabila setiap nilai pengamatan memiliki nilai kurang dari nilai rataannya maka diganti dengan tanda (-). Dan, apabila nilai pengamatannya sama dengan nilai rataannya maka nilai pengamatan tersebut harus dibuang.

Pengujian uji tanda yang pertama dilakukan adalah menentukan hipotesis nolnya beserta dengan hipotesis tandingannya. Tentukan pula taraf nyatanya beserta nilai proporsi peubah binomial X-nya. Kemudian melakukan penghitungan  Z hitung (apabila jumlah sampel lebih dari 30) dengan nilai n merupakan jumlah data pengamatan setelah dibandingkan dengan nilai rataannya dan nilai x adalah jumlah data pengamatan dengan tanda (+). Dengan begitu nilai Z akan didapat dan nilai P (proporsi)nya dapat ditentukan. Keputusan H0 akan ditolak apabila nilai P yang didapat lebih kecil atau sama dengan nilai taraf nyatanya.

Uji Tanda (Sign Test) (skripsi dan tesis)

Di dalam menggunakan t test, populasi dari mana sampel diambil harus
didistribusikan normal. Untuk pengujian perbedaan mean dari dua populasi
didasarkan pada anggapan bahwa variance populasinya harus identik/sama. Dalam banyak hal bila salah satu atau dua anggapan tersebut tidak dapat diketahui, maka t test tidak dapat dipergunakan. Dalam hal demikian dapatlah dipergunakan uji nonparametrik yang umum dikenal sebagai uji tanda (sign test). Uji tanda didasarkan atas tanda-tanda, positif atau negatif, dari perbedaan antara pasangan pengamatan. Budan didasarkan pada besernya perbedaan. Uji tanda dapat dipergunakan untuk mengevaluasi efek dari suatu treatment tertentu. Efek dari variabel eksperimen atau treatment tidak dapat diukur melainkan hanya dapat diberi tanda positif atau negatif saja. Sebagai contoh misalnya: apakah penerangan akan kebersihan dan kesehatan ada manfaatnya untuk menyadarkan penduduk dalam hal kebersihan dan kesehatan. Untuk itu perlu diamati sebelum dan sesudah beberapa
minggu diadakan penerangan. Efek penerangan kesadaran penduduk tidak dapat diukur, tetapi hanya dapat diberi tanda positif atau negatif saja.
Apabila (X-Y) menunjukkan beda dari kedua variabel random dan m
menunjukan median dari beda ini, maka uji tanda dapat dipergunakan untuk menguji hipotesa nilil m = 0 dengan hepotesa alternatif m ≠ 0. Bila benar
haruslah probabilitas untuk memperoleh suatu beda yang bertanda positif sama dengan probabilitas untuk memperoleh beda tanda yang bertanda negatif yaitu masing-masing sebesar 0,5. Uji tanda bertitik-tolak pada kenyataan ini, karena apabila benar, dapatlah diharapkan bahwa beda yang bertanda positif kira-kira sama dengan banyaknya beda yang bertanda negatif dari n buah beda yang diamati. Dengan demikian dapatlah hipotesa nihil dinyatakan dengan P = 0,5, di mana P menunjukan probabilitas untuk memperoleh beda yang bertanda positif. Hipotesa alternatif dinyatakan dengan P ≠ 0,5 bila dipergunakan pengujian dua arah, atau P 0,5 bila dipergunakan pengujian satu arah.

Uji Median (Median Tes) (skripsi dan tes)

Uji median adalah metode nonparametrik yang paling sederhana. Uji median
ini adalah merupakan prosedur pengujian apakah dua atau lebih populasi dari mana sampel independen diambil mempunyai median yang sama. Untuk
menyederhanakannya hanya akan dibatasi pada dua sampel saja (sebenarnya prosedur ini dapat dengan mudah diperluas untuk tiga sampel atau lebih). Uji nonparametrik ini dipergunakan untuk menentukan signifikansi perbedaan antara median dari dua populasi yang independen. Hipotesa nihil yang akan diuji menyatakan bahwa populasi dari mana dua sampel itu diambil mempunyai median yang sama. Hipotesa alternatifnya menyatakan bahwa dua populasi itu mempunyai median yang berbeda.
Uji median tidak memerlukan anggapan-anggapan tertentu tentang dua populasi dari mana sampel diambil. Untuk keperluan uji median ini perlu ditentukan/dihitung lebih dahulu median dari kombinasi distribusi sampelnya (overall median). Kemudian untuk setiap grup dihitung frekuensi nilai yang terletak pada/diatas overall median dan yang terletak dibawah overall median

Uji Chi Square (skripsi dan tesis)

Uji χ2 hanya digunakan untuk data diskrit. Uji ini adalah uji independensi,
dimana suatu variable tidak dipengaruhi atau tidak ada hubungan dengan variable lain.χ2 bukan merupakan ukuran derajat hubungan. Uji ini hanya digunakan untuk mengestimate barangkali bahwa beberapa factor, disamping sampling error, dipandang mempengaruhi adanya hubungan. Selama hipotesa nihil menyatakan bahwa tidak ada hubungan(variable-variabelnya independen), uji ini hanya mengevaluasi kemungkinan bahwa hubungan dari nilai pengamatan disebabkan oleh sampling error. Hipotesa nihil ditolak bila nilai χ2 yang dihitung dari sampel lebih besar dari nilai χ2 dalam tebel berdasarkan level of significance tertentu.
Ho diterima apabila: χ2 χ2 ; derajat bebas tertentu
Ho ditolak apabila: χ2 χ2 ; derajat bebas tertentu
Diketemukan nilai χ2 yang signifikan belum tentu menunjukkan adanya hubungan sebab akibat (seperti halnya pada korelasi). Diketemukan nilai χ2
yang signifikan menunjukkan bahwa variabel-variabelnya dependen

Keunggulan Statistik Nonparametrik (skripsi dan tesis)

a. Asumsi dalam uji-uji statistik nonparametrik relatif lebih longgar. Jika pengujian data menunjukkan bahwa salah satu atau beberapa asumsi yang mendasari uji statistik parametrik. (misalnya mengenai sifat distribusi data) tidak terpenuhi, maka statistik nonparametrik lebih sesuai diterapkan dibandingkan statistic parametrik.
b. Perhitungan-perhitungannya dapat dilaksanakan dengan cepat dan mudah, sehingga hasil penelitian segera dapat disampaikan.
c. Untuk memahami konsep-konsep dan metode-metodenya tidak memerlukan dasar matematika serta statistika yang mendalam.
d. Uji-uji pada statistik nonparametrik dapat diterapkan jika kita menghadapi
keterbatasan data yang tersedia, misalnya jika data telah diukur menggunakan skala pengukuran yang lemah (nominal atau ordinal).
e. Efisiensi statistik nonparametrik lebih tinggi dibandingkan dengan metode parametrik untuk jumlah sampel yang sedikit

Penelitian observasi (skripsi dan tesis)

Penelitian observasi di dilakukan untuk memotret keadaan
suatu variabel atau keadaan satu atau lebih variabel tergayut akibat adanya variabel bebas. Hubungan antar variabel bebas dan variabel tergayut dapat berupa hubungan sebab akibat jika hubungan antarkeduanya bersifat asimeteris. Hubungan antara variabel bebas dan tergayut dapat berupa hubungan kecenderungan apabila hubungan bersifat simeteris. Hal ini terjadi jika baik variabel bebas dan variabel tergayut yang diteliti sebenarnya dipengaruhi oleh variabel penyebab yang lain.

Besar sampel (skripsi dan tesis)

Beberapa faktor yang mempengaruhi penetapan besar sampel adalah:
a) Derajat kepekaan uji klinik: jika diketahui bahwa perbedaan kemaknaan klinis antara 2 obat yang diuji tidak begitu besar, berarti diperlukan jumlah sampel yang besar
b) Keragaman hasil: makin kecil keragaman hasil uji antar individu dalam
kelompok yang sama, semakin sedikit jumlah subyek yang diperlukan.
c) Derajat kebermaknaan statistik: semakin besar kebermaknaan statistik yang diharapkan dari uji klinik, semakin besar pula jumlah subyek yang diperlukan.

Pengacakan atau randomisasi intervensi (skripsi dan tesis)

Randomisasi atau pengacakan intervensi mutlak diperlukan dalam uji klinik
terkendali (RCT), dengan tujuan utama menghindari bias. Dengan pengacakan maka:
a) setiap subjek akan memperoleh peluang yang sama dalam mendapatkan obat uji atau pembandingnya (sebagai kelompok intervensi atau kontrol)
b) subjek yang memenuhi kriteria inklusi akan terbagi sama rata dalam setiap
kelompok intervensi, dimana ciri-ciri subjek dalam satu kelompok praktis
seimbang.

Rancangan uji klinik (skripsi dan tesis)

Untuk memperoleh hasil yang optimal perlu disusun rancangan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan etis, dengan tetap mengutamakan segi keselamatan dan kepentingan pasien. Dua rancangan yang sering digunakan, yaituRandomized Clinical Trial (RCT) parallel design dan RCT cross-over design.
(a) Rancangan RCT parallel design
Prinsip dasar rancangan ini adalah secara acak subjek dibagi ke dalam 2 atau
lebih kelompok pengobatan. Jumlah subjek pada setiap kelompok harus
seimbang atau sama. Masing-masing kelompok akan memperoleh
pengobatan/perlakuan yang berbeda, sesuai dengan jenis perlakuannya. (b) Rancangan RCT cross-over design
Pada rancangan ini setiap subjek akan memperoleh semua bentuk
pengobatan/perlakuan secara selang-seling, yang ditentukan secara acak. Untuk menghindari kemungkinan pengaruh obat/perlakuan yang satu dengan yang lainnya, setiap subjek akan memperoleh periode bebas pengobatan (washed-out period atau WOP).

Pengertian Eksperimen Semu (kuasi eksperimen) (skripsi dan tesis)

Quasi eksperiment didefinisikan sebagai eskperimen yang memiliki perlakuan, pengukuran dampak, unit eksperimen namun tidak menggunakan penugasan acak untuk menciptakan perbandingan dalam rangka menyimpulkan perubahan yang disebabkan perlakuan (Cook & Campbell, 1979). Pada penelitian lapangan biasanya menggunakan rancangan eksperiment semu (kuasi eksperimen). Desain tidak mempunyai pembatasan yang ketat terhadap randomisasi, dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancaman-ancaman validitas.
Penelitian eksperimen semu atau eksperimen kuasi pada dasarnya sama dengan penelitian eksperimen murni. Penelitian eksperimen murni dalam bidang pendidikan, subjek, atau partisipan penelitian dipilih secara random dimana setiap subjek memperoleh peluang sama untuk dijadikan subjek penelitian. Peneliti memanipulasi subjek sesuai dengan rancangannya. Berbeda dengan penelitian kuasi, peneliti tidak mempunyai keleluasaan untuk memanipulasi subjek, artinya random kelompok biasanya diapakai sebagai dasar untuk menetapkan sebagai kelompok perlakuan dan control. Misalnya, kita ingin menguji apakah pebelajar yang dibelajarkan melalui buku teks yang disertai video memperoleh hasilatau prestasi belajar yang lebih unggul, jika dibandingkan dengan pebelajar yang hanya dibelajarakan dengan buku teks saja? Untuk maksud tersebut, kita menentukan kelompok subjek mana yang diberi perlakuan (buku teks dan video) dan control atau kendali (buku teks saja). Setelah diberi perlakuan dalam kurun waktu tertentu, kedua kelompok subjek diberi pascates. Hasil pascates ini kita uji dengan teknik statistic tertentu

Penilaian respons (skripsi dan tesis)

Penilaian respons pasien terhadap proses terapetik yang diberikan harus bersifat objektif, akurat, dan konsisten. Empat kategori utama yang sering digunakan adalah:

a) Penilaian awal sebelum perlakuan: sesaat sebelum uji dilakukan, keadaan klinis
hendaknya dicatat secara seksama berdasarkan parameter yang telah disepakati.
Magister Manajemen Rumahsakit Fakultas Kedokteran UGM 5
Sebagai contoh tekanan darah, hendaknya diukur sesaat sebelum uji klinik
dimulai.
b) Kriteria utama respons pasien: indikasi utama pengobatan merupakan kriteria
utama yang harus dinilai. Jika yang diuji obat analgetik-antipiretika, maka kriteria
utama penilaian adalah penurunan panas, ada tidaknya kejang atau gejala lain
sebagai manifestasi demam dan yang lainnya.
c) Kriteria tambahan: dari segi keamanan pemakaiannya. Misalnya efek samping
baik yang berbahaya maupun yang tidak.
d) Pemantauan pasien: faktor-faktor yang mempengaruhi ketaatan pasien untuk
berpartisipasi dalam penelitian hendaknya dapat dikontrol sebaik mungkin.

Pembutaan (blinding) (skripsi dan tesis)

Yang dimaksud dengan pembutaan adalah merahasiakan bentuk terapi yang
diberikan. Dengan pembutaan, maka pasien dan/atau pemeriksa tidak mengetahui yang mana obat yan g diuji dan yang mana pembandingnya. Biasanya bentuk obat yang diuji dan pembandingnya dibuat sama. Tujuan utama pembutaan ini adalah untuk menghindari bias pada penilaian respons terhadap obat yang diujikan.
Pembutaan dapat dilakukan secara: single blind (jika identitas obat tidak diberitahukan kepada pasien), double-blind (jika baik pasien maupun dokter pemeriksa tidak diberitahu obat yang diuji maupun pembandingnya), atau triple blind (jika pasien, dokter pemeriksa ataupun individu yang melakukan analisis tidak mengetahui identitas obat yang diuji dan pembandingnya)

Komponen-komponen uji klinik (skripsi dan tesis)

1. Seleksi atau pemilihan subjek
Dalam uji klinik, harus ditentukan secara jelas kriteria-kriteria pemilihan pasien, yaitu:
a) Kriteria inklusi, yakni syarat-syarat yang secara mutlak harus dipenuhi subjek untuk dapat berpartisipasi dalam penelitian. Kriterianya antara lain kriteria diagnosis baik klinik maupun laboratoris, tingkat keparahan penyakit, asal pasien (rumah sakit atau populasi), umur, dan jenis kelamin.
b) Kriteria eksklusi (pengecualian), yaitu kriteria yang membatasi partisipasi subjek dalam penelitian. Sebagai contoh hampir sebagian besar uji klinik obat tidak memasukkan wanita hamil sebagai subjek mengingat pertimbangan risiko yang mungkin lebih besar dibanding manfaat yang didapat. Subjek yang mempunyai risiko tinggi terhadap pengobatan/perlakuan uji juga secara ketat tidak dilibatkan dalam penelitian

PENGERTIAN PENELITIAN EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen merupakan suatu penelitian yang menjawab pertanyaan “jika kita melakukan  sesuatu pada kondisi yang dikontrol secara ketat maka apakah yang akan terjadi?”. Untuk mengetahui apakah ada perubahan atau tidak pada suatu keadaan yang di control secara ketat maka kita memerlukan perlakuan (treatment) pada kondisi tersebut dan hal inilah yang dilakukan pada penelitian eksperimen.  Sehingga penelitian eksperimen dapat dikatakan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiono : 2010).

 

Menurut Solso & MacLin (2002), penelitian eksperimen adalah suatu penelitian yang di dalamnya ditemukan minimal satu variabel yang dimanipulasi untuk mempelajari hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, penelitian eksperimen erat kaitanya dalam menguji suatu hipotesis dalam rangka mencari pengaruh, hubungan, maupun perbedaan perubahan terhadap kelompok yang dikenakan perlakuan.

Rancangan Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

 

(1). Rancangan Pra-Eksperimental

 

Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:

 

a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)

 

b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)

 

c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)

 

(2). Rancangan Eksperimen Murni

 

Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:

 

a). Adanya kelompok kontrol.

 

b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.

 

c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.

 

Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.

 

a). Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized

 

posttest only control group design)

 

b). Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the randomized pretest-posttest control group design)

 

c). Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)

 

d). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan

kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)

 

e). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)

 

(3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)

 

Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:

 

a). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design, using matched subject).

 

b). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok

kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),

 

c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter

balanced, using matched subject) .

 

d). Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)

 

e). Rancangan faktorial (factorial design).

  Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu,

  • Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
  • Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
  • Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.

Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:

  1. Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen;
  2. menentukan cara mengontrol;
  3. memilih rancangan penelitian yang tepat;
  4. menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian;
  5. membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen;
  6. membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan;
  • mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
  •  Melaksanakan eksperimen.
  •  Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
  •  Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.
  •  Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
  • Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).

 Karakteristik Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis0

Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu,

(1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang).

 (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental.

(3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak.

 (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.

(5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi

DASAR PENGGUNAAN WAWANCARA (skripsi dan tesis)

 

Wawancara atau interviu memiliki dasar penggunaan yang sama engan angket, yaitu mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri (self report) dari responden, atau setidakny-tidaknya ada pengetahuan, keyakinan, maupun sikap pribadi responden, penggunaan wawancara sebagai metode pengumpulan data dalam penelitian di dasarkan pada anggapan:

  1. Bahwa subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
  2. Bahwa apa yang dinyataka oleh subjek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
  3. Bahwa interprestasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan yang dimaksudhkan oleh peneliti

 

 

 

Widoyoko, 2015,

PENGERTIAN ISTILAH DALAM METODE WAWANCARA (skripsi dan tesis)

 

  1. Pewawancara (interviewer) adalah petugas pengumu informasi yang diharapkan dapat menyampaikan pertanyaan dengan jelas dan merangsang responden untuk mejawab semua pertanyaan dan mencatat semua informasi yang dibutuhkan dengan benar.
  2. Orang yang di interviu (interviewer) atau responden adalah orang yang memberi infomrasi yang diharaka dapat menjawab semua pertanyaan dengan jelas dan lengkap. Dalam pelaksanaan wawancara diperlukan kesediaan dari responden untuk menjawab pertanyaan dan keselarasan antara responden dan pewawancara.
  3. Pedoman wawancara berisi tentang uraian tentang data yang akan diungkap yang biasanya dituangkan dalam bentuk pertanyaan agar proses wawancara berjalan dengan baik

 

Widoyoko, 2015,

PRINSIP PENULISAN ANGKET (skripsi dan tesis)

 

Penulisan angket yang baik perlu memperhatikan beberapa prinsip. Sugiyono (2010, 142-144) menyatakan ada 10 prinsip yang perlu diperhatikan dalam penulisan angket:

  1. Isi dan tujuan pernyataan
  2. Bahasa yang digunakan
  3. Tipe dan bentuk pertanyaan
  4. Pertanyaan tidak mendua
  5. Tidak menanyakan yang sudah lupa
  6. Pertanyaan tidak menggiring
  7. Panjang pertanyaan
  8. Urutan pertanyaan
  9. Prinsip pengukuran
  10. Penampilan fisik angket

 

Widoyoko, 2015,

JENIS ANGKET DARI JAWABAN YANG DIBERIKAN (skripsi dan tesis)

 

Dipandang dari hawaban yang diberikan, angket dibedakan mejadi angket langsung dan angket tidak langsung

Angket langsung yaitu angket dimana responden menjawab/memberi respon tentang keadaan dirinya sendiri. Contoh : angket yang mengukur sikap guru terhadap kebijakan sekolah, respondennya adalah guru maka guru menjawab tentang keadaan dirinya sendiri

Angket tidak langsung yaitu jika responden menjawab/memberi respon tentang keadaan orang lain. Contohnya: angket untuk mengukur kinerja guru, respondennya adalah siswa maka siswa yang menilai keadaan guru atau kinerja gurunya pada saat mengajar sesuai dengan alternatif yang disediakan oleh penyusun angket

 

Widoyoko, 2015,

JENIS ANGKET DARI CARA MENJAWAB (skripsi dan tesis)

 

Dipandang dari cara menjawab, angket dapa dibedakan menjadi angket terbuka dan angket tertutup

  1. Angket terbuka merupakan angket yang bisa dijawab/direspon secara bebas oleh responden. Peneliti tidak menyediakan alternatif jawaban/respon kepada respoden. Penggunaan angket terbuka maupun tertutup maisng-masing memiliki kelebihan maupun kekurangan. Angket terbuka memiliki kelebihan maupun kekurangan. Angket terbuka memiliki kelebihan yaitu:
  2. Akan mendapatkan data yang bervariasi
  3. Membantu peneliti mendapatkan infomrasi yang lebih lengkap tentang objek yang diteliti
  4. Memberikan kebebasan kepada responden untuk menulis jawaban atau berdasarkan pendapatnya
  5. Responden dapat mengisi atau memberi respon sesuai dengan keadaan responden yang dialaminya

Angket terbuka memiliki kekurangan yaitu:

  1. Bagi peneliti sulit untuk mengelompokkan jawaban/respon atau memberi kode terhadap jawaban responden
  2. Bagi responden memakan waktu untuk menjawab pertanyaan atau memeri respon terhadap pertanyaan yang disampaikan
  3. Angket tertutup, merupakan angket yang jumlah item dan alternatif jawabnnya maupun responnya sudah ditentukan, responden tinggal memilihnya sesuai denagan keadaan yang sebenarnya

Angket tertutup memiliki kelebihan, antara lain;

  1. Mudah memberi nilai
  2. Mudah dalam memberi kode

Angket tertututp memiliki kekurangan, antara lain:

  1. Bagi peneliti, kadang-kadang sulit untuk menyediakan alternatif jawaban/respon yang sesuai dengan keadaan responden
  2. Bagi respondn sulit untuk memilih alternatif jawaban/respon yang sesuai dengan keadaan dirinya.

 

FUNGSI ANGKET (skripsi dan tesis)

 

Pada umumnya angket mempunyai dua fungsi, yaitu deskripsi dan pengukuran

  1. Fungsi deskripsi maksudnya adalah informasi yang diperoleh melalui angket dapat memberikan gambaran ((deskripsi) tentang karaketristik dari individu atau sekelompok responden, contohnya: gender, pendidikan, pekerjaan, umur dan pendapatan. Selanjutnya, penggambaran unsur-unsur itu mempunyai beberapa tujuan misalnya peneliti dapat memperoleh keterangan tentang tingkah laku individu atau kelompok responden tertentu
  2. Fungsi pengukuran, maksudnya berdasarkan respon yang diberikan oleh respon yang diberikan oleh responden peneliti dapat mengukur variabel-variabel individual atau kelompok tertentu, contohnya variabel sikap. Angket dapat berisi item pertanyaan maupun pernyataan tunggal atau jamak, yang telah dirancang melalui kisi-kisi instrumen untuk mengukur berbagai gejala

 

KEKURANGAN ANGKET (skripsi dan tesis)

 

  1. Responden sering tidak teliti dalam menjawab sehingga ada pertanyaan yang terleati tidak terjawab padahal sukar diulang untuk memberikan kembali angket kepada responden tersebut
  2. Sering sulit dicari validitasnya, sebab responden memiliki situasi dan kondisi yang tidak sama untuk informasinya
  3. Walaupun dibuat anonim, kadang-kadang responden dengan sengaja memberikan jawaban tidak benar atau tidak jujur
  4. Jika dikirim melalui pos, sering tidak kembali. Menurut penelitian, angket yang dikirim lewat pos angka pengembaliannya sangat rendah, hanya sekitar 20% (Srikunto, 2006; 15)
  5. Waktu pengembaliannya tidak bersama-sama bahkan kadang-kadang ada yang terlalu lama sehingga terlambat

 

 

 

Widoyoko, 2015,

DASAR PENGGUNAAN METODE ANGKET (skripsi dan tesis)

 

Angket mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri (self report) dari responden, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan, keyakinan maupun sikap pribadi seseorang. Penggunaan angket sebagai metode pengumpulan data pada penelitian di dasarka pada anggapan:

  1. Bahwa subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
  2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subjek kepda peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
  3. Bahwa interprestasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan yang dimaksudkan oleh peneliti

 

 

 

Widoyoko, 2015,

METODE PENGUMPULAN DATA (skripsi dan tesis)

 

Metode pengumpulan data merupakan suatu hal yang penting dalam penelitian, karena metode ini merupakan strategi atau cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitiannya. Pengumpulan data dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan, keterangan-keterangan, dan informasi yang dapat dipercaya. Untuk memperoleh data tersebut maka dalam penelitian ini dapat digunakan berbagai macam metode, diantaranya adalah dengan angket, observasi, wawancara, tes dan analisis dokumen.

  1. Angket

Angket atau kuesioner merupakan metode engumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tau pernyataan tertulis kepada responden untuk diberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna. Angket merupakan metode pengumpulan data yang efisien jika peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang akan diharapkan dari responden. Selain itu, angket juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang cukup luas.

  1. Wawancara

Wawancara merupakan suatu proses tanya jawab atau dialog secara lisan antara pewancara (interviewer) dengan responden atau orang yang diintervieu (interview) dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Wawancara merupakan cara pengumplan data yang langsung dari sumbernya tentang berbagai gejala sosial baik yang terpendam maupun tampak. Wawancara merupakan alat yang sangat baik untuk mengetahui tanggapan, pendapat, keyakinan, perasaan, motivasi serta proyeksi seseorang terhadap masa depannya. Wawancaraini digunakan bila jumlah responden relatif sedikit.

  1. Observasi

Sebagai metode pengumpulan data, observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatn secara sistematik terhadap unsur-unsur yang nampak dalam suatu gejala pada objek penelitian. Unsur-unsur yang nampak itu disebut dengan data atau informasi yang harus diamati dan dicatat secara benar dan lenkap. Metode ini digunakna untuk melihat dan mengamati secara langsung keadaan di lapangan gar peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih luas tetang permasalahan yang akan diteliti.

  1. Analisis Dokumen

Metode ini merupakan suatu cara pengumpulan data yang dilakukan dengan menganalisis isi dokumen yang berhubungan dengan maalah yang akan diteliti. Dalam arti sempit dokumen berarti barang, atau benda tertulis sedangkan dalam arti yang luas, dokumen bukan hanya berwujud tulisan saja tetapi dapat berupa benda peninggalan seperti prasasti dan simbol-simbol lainnya.

  1. Tes

Tes merupakan salah satu alat untk melakukan pengukuran yaitualat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek. Karakteristik objek daat berupa ketrampilan, pengetahuan, bakat, minat, maupun bakat baik yang dimiliki idividu maupun kelompok.

Widoyoko, 2015,

SUMBER DATA (skripsi dan tesis)

 

Pengertian sumber data dalam penelitian adalah subjek darimana data tersebut diperoleh. Apabila peneliti menggunakan angket atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data tersebut disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti. Bila pengumpulan data dilakukan atas populasi maka responden penelitian adalah populasi, sedangkan bila pengumpulan data dilakukan atas sampel maka responden adalah sampel. Data dikumpulkan dengan memebri skor terhadap respon yang diberikan oleh responden. Pertanyaan mengenai data yang akan dikumpulkan berhubungan dengan variabel.

Sumber data dapat dibedakan berdasarkan dua ahl yaitu berdasarkan subjek dimana data melekat dan berdasarkn wilayah sumber data. Berdasarkan subjek dimana data melekat, sumber data dapat diklasifikasikan menjadi 4 singkatan  yaitu:

Person : Sumber data berasal dari orang

Sumber data bisa memberikan pernyataan berupa jawaban lisan melalui wawancara atau jawaban tertulis melalui angket. Sumber data person disebut dengan responden

Place    : sumber data berasal dari tempat

Sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam, misalnya kelengkapan alat, wujud benda dsb

Process : sumber data gerak/aktivitas

Sumber data menyajikan tampilan berupa keadaan bergerak misalnya aktivitas belajar siswa, gerak tarian dsb

Paper    : sumber data berupa simbol

Sumber data yang menyajikan tanda-tanda beru[a huruf, angka, gambar atau simbol-simbol lain, dengan pengertian ini maka “paper” bukan terbatas hanya pada kertas sebagaimana terjemahan dari kata “paper” dalam bahasa Inggris. Tetapi juga berwujud batu, kayu, tuang dsb.

Berdasarkan wilayah sumber data dalam arti keseluruan atau sebagian sumber data diambil sebagai subjek penelitian, sumber data dapat dibedakan menjadi dua, yaitu populasi dan sampel. Pengumpulan data yang dilakukan atas populasi menghasilkan data dan kesimpulan yang lebih akurat karena tidak ada kesalahan yangakan terjadi karena seluruh objek dikumpulkan datanya, dan dianalisis. Namun pengumpulan data demikian seringkali tidak dapatdilakukan karena berbagai kondisi. Dengan demikian pengumpulan data hanya dilakukan dari sampel. Sampel adalah sebagian dari populasi yang mempunyai sifat dan ciri yang sama dengan populasi karena  diambil dari populasi meggunakan teknik sampling tertentu yang secara metodologis dapat dipertanggungjawabkan. Bila sumber data adalah sampel, namun kesimpulan akan diberlakukan untuk seluruh populasi maka dengan proses generalisasi.

Widoyoko, 2015,

UJI STATISTIK PADA TIAP JENIS DATA (skripsi dan tesis)

 

 

  1. Data nominal mempunyai ciri antara lain: hasil hitungan dan tidak dijumpai angka pecahan, angkayang tertera hanya label saja, tidak mempunyai urutan (ranging), tidak mempunyai ukuran baku dan tidak mempunyai nol mutlak.

Analisis statistik yang cocok untuk data nominal antara lain: Uji binomium, uji Chi Kuadrat Satu Sampel, Uji Chi Kuadrat Dua Sampel, Uji Chi Kuadrat Lebih Dari Dua Sampel, Uji Prubahan Tanda Mc Nemar, Uji Peluang Fisher, Uji  Cohran dan Uji Koefiesien. Sedangkan tes statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik (Riduwan, 2009; 6-7)

  1. Data Ordinal

Analisis statistik yang cocok untuk data ordinal adalah: Uji Kolmogorov Smirnov Satu Sampel, Uji Tanda, Uji Pasangan Tanda Wilcoxon, Uji Media, Uji Mann Whitney U, Uji Kolmogorov Smirnov Dua Sampel, Uji Deret Wald Wolfowitz, Uji Reaksi Ekstrim Moses, Uji Analisis Varians Dua Arah Friedman, Uji Varians ruskal Walls Satu Arah, Perluasan Uji Media, Uji Koefisien Korelasi Rank Kendall, Ujia Koefisien Parsial Kendall, dan Uji Koefisien Konkordans Kendall. Analisis statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik (Riduwan, 2009; 6-7)

  1. Data Interval

Analisis statistik yang cocok untuk data interval adalah; Uji T, Uji t test, Uji Anova Satu Jalur, Uji anova Dua Jalur, Uji Person Product Moment, Uji Korelasi Parsial, Uji Korelasi Ganda, Uji Regresi. Tes statistik yangdigunakan adalah tes statistik (Riduwan, 2009; 6-7)

  1. Data rasio

Pemilihan teknik statistik yang digunakan dalam analsisi data selain tergantung pada macam data juga pada bentuk hipotesisnya.

Widoyoko, 2015,

SKALA PENGUKURAN (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan data skalanya, data dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu: data nominal, ordinal, interval dan rasio

  1. Data nominal

Data nominal merupakan data yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat diurutkan dan diperbandingkan satu dengan yang lain. Nominal atau nomi yang berarati nama, menunjukkan label atau tanda yang hanya untuk membedakan antara satu dengan yang lainnya. Sebagai sebuah tanda atau label, data nominal dapa dibedakan tetapi tidak dapat diurutkan. Tanda atau label tidak mempunyai makna selain sebagai pembeda.

  1. Data ordinal

Data ordinal merupakan data yang memiliki urutan (order) tetapi tidak memiliki jarak perbedaan yang sama di antara rangkaian urutan tersebut. Atau dengan kata lain merupakan data yang mempunyai jenjang sehngga responden dapat diurutkan jenjangnya sesuai dengan karakteristik yang ada pada dirinya. Dalam data ordinal, kita dapat menyatakan sesuatu itu lebih, sama atau kurang dari yang lain. Data ordinal dapat dibedakan dan diurutkan tetapi tidak memiliki jarak yang sama dalam urutn maupun perbedaan yang ada. Data ordinal menggolongkan subjek menurut jenjangnya, tanpa memperhatikan jarak perbedaan antara golongan yang satu dengan lainnya

  1. Data interval

Data interval merupakan data yang memiliki perbedaan, urutan dan jarak perbedaan yang sama di antara rangkaian urutan tersebuttetapi tidak memiliki titik nol absolut atau mutlak. Jarak dalam skala interval diatur mengkuti aturan tertentu yang mudah dapat dimengerti

 

Widoyoko, 2015,

CARA PENGUMPULAN DATA (skripsi dan tesis)

 

Data dapat dikelompokkan berdasarkan cara pengumpulannya. Berdasarkan cara pengumpulannya, ata dapat dibagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder:

  1. Data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber pertama atau dengan kata lain data yang pengumpulannya dilakukan sendiri olehpeneliti secara langsung seperti hasil wawancara dan hasul pengisian angket (kuesioner)
  2. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua.Purwanto (2001; 1995) mengartikan data sekunder sebagai data yang dikumpulkan oleh orang atau lembagalain. Soeratno dan Arsyad (2003; 76) mengartikan data sekunder sebagai data yang diterbitkan atau yang digunakan oleh oragnisasi yang bukan pengolahnya. Dengan demikian data sekunder mempunyai dua makna. Pertama, data yang diolah lebih lanjut, misalnya dalam bentuk tabel atau diagram. Kedua, data yang dikumpulkan oleh orang taau lembaga lan, dengan kata lain bukan data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti.

Widoyoko, 2015,

SIFAT DATA (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan sifatnya, data dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu data dikotomi, diskrit atau kontinum.

  1. Data dikotomi merupakan data yang bersifat pilah atau satu sama lain seperti jenis kelamin, suku, agama dan lain sebagainya. Pengumpulan data dikotomi dilakukan dengan memberikan angka label
  2. Data diskrit merupakan data yang pengumpulan datanya dilakukan dengan cara menghitung atau membilang
  3. Data kontinum merupakan data yang pengumpulan datanya dilakukan dengan cara mengukur dengan alat ukur yang menggunakan skala tertentu

Widoyoko, 2015,

JENIS DATA (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan data dibedakan menjadi dua macam yaitu data kaulutatif dan kuantitatif.

  1. Data kualitatif

Data kualitatif merupakan data yang menunjukkan kualitas atau mutu sesuatu yang ada baik keadaan, proses, perisitiwa/kejadian dan lainnya yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau berupa kata-kata. Penentan kualitas itu menuntut menilai tentang bagaimana mutu sesuatu itu. Contohnya: wanita itu cantik, pria itu tampan, baik, buruk dan sebagainya. Data ini biasanya diperoleh  dari hasil wawancara dan bersifat subjketif sebab data tersebut dapat ditafsirkan lain oleh orang yang berbeda. Data kualitatif yang diangkakan (kuantifikasi) dalam bentuk ordinal atau rangking.

Nawawi dan Hadari (2006; 49-51) membedakan data kualitatif dilihat dari jenisnya sebagai berikut:

  • Data kategori yang dinyatakan dengan perkataan untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan, proses atau persitiwa termasuk dalam salah stau golongan atau suatu pihak tertentu
  • Data yang menunjukkan porsi dari setiap keadaan yang dinyatakan dengan perkataan yang merupakan perbandingan dengan yang ideal atau keseluruhan.
  • Data berjenjang atau meningkat yang dinyatakan dengan kata-kata untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan atau kejadian perstiwa termasuk pada suatu tingkatan mutu/kualitas tertentu di atas atau di bawah rata-rata.
  • Data yang bersifat relatif yang dinyatakan dengan kata-kata untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan atau kejadian/persitiwa merupakan sesuau yang adanya dapat berubah-ubah.
  • Data yang bertentangan yang menyatakan jika yang satu ada maka yang lain tidak aa tentang suatu keadaan, kejadian atau proses tertentu yang diungkapkan dalam suatu penelitian
  1. Data kuantitatif

Data kuantitatif merupakan data yang berwujud angka-angka sebagai hasil observasi atau pengukuran. Data ini diperoleh dari hasil pengukuran langsung maupun dari angka-angka yang diperoleh dengan mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif. Data kuantitatif bersifat objektif dan bisa ditafsirkan sama oleh semua orang

Widoyoko, 2015

PERAN DATA DALAM PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

  1. Data berfungsi sebagai alat hipotesis atau alat bukti atas pertanyaan penelitian
  2. Kualitas data sanga menentukan kualitas hasil penelitian. Artinya hasil penelitian sangat tergantung pada kualitas data yang berhasil belum tentu hasil penelitian juga baik. Hasil penelitian selain dipengaruhi oleh kualitas data yang berhasil dikumpulkan juga dipengaruhi oleh ketepatan dan keakuratan analisis data yang dilakukan. Kualitas data tergantung pada kualitas dari instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data. Kualitas instrumen pengumpulan data berkaitan dengan validitas dan reabilitas instrumen

 

Widoyoko, 2015,

PENGERTIAN DATA (skripsi dan tesis)

 

 

Secara umum, data diartikan sebagai suatu fakta yang dapat digambarkan dengan angka, simbol, kode dan lain-lain (Umar, 2001:6). Menurut Arikunto (2006:118) data diartikan sebagai hasil pencatatan peneliti, baik berupa fakta maupun angka. Sedangkan menurut Soeratno dan Arsyad (2003; 72-73) data adalah semua hasil observasi atau pengukuran yang telah dicatat untuk suatu keperluan tertentu. Data merupakan bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta (Ridwan, 2009; 5). Dalam konteks penelitian, data dapat diartikan sebagai keterangan mengenai variabel pada sejumlah objek. Data menerangkan objek-objke dalam variabel tertentu. Misalnya: data berat 5 batang logam merupakan keterangan mengenai 5 logam dalam variabel “berat”.

Widoyoko, 2015,

PENAMPILAN WAKTU PENGUKURAN (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan penampilan/performan ketika hendak diukur, variabel dapat dibedakan menjadi dua, yaitu variabel maksimalis dan variabel tipikalis.

  1. Variabel maksimalis

Variabel maksimalis merupkan variabel yang pada waktu pengumpulan datanya responden di dorong untuk menunjukkan penampilan maksimalnya. Berdasarkan penampilan maksimalnya tersebut dapat diketahui keberadaan variabel tersebut pada responden. Instrumen yag digunkaan untuk mengukur performan variabel maksimalis adalah tes.

  1. Variabel tipikalis

Variabel tipikalis merupkan variabel yang pada saat pengumpulan datanya responden tidak didorong untuk menunjukkan penampilan maksimal tetapi lebih di dorong untuk melaporkan secara jujur keadaan dirinya dalam variabel yang diukur.

 

Widoyoko, 2015,

TIPE SKALA PENGUKURAN (skripsi dan tesis)

 

 

Variabel dapat dibedakan berdasarkan tipe skala pengukuran. Terdapat 4 tingkat variasi yang dihasilkan dari hasil pengukuran terhadap variabel yaitu nominal, rdinal, interval dan rasio.

  1. Variabel Nominal

Variabel nominal disebut juga dengan variabel diskrit. Sesuai dengan namnya nominal atau nomi yang berarti nama, menunjukkan label atau tanda yang hanya untuk membedakan antara variabel yang satu dengan lainnya. Variabel nominal adalah variabel yang dapat dgolongkan secara terpisah, secara diskrit, secara kaegori. Contoh variabel nominal diantaranya adalah jenis kelamin, jenis pekerjaan, jenis dan lain sebagainya. Variabel nominal meripakan variabel yang memiliki variasi paling sedikit yaitu perbedaan. Contoh variabel jenis hanya membedakan antara laki-laki dan perempuan dan tidak memiliki jenjang bertingkat atau urutan, tidak memiliki kesamaan jarak perbedaan serta tidak dapat diperbandingkan

  1. Variabel ordinal

Variabel ordinal merupkan variabel yang memiliki variasi perbedaan dan urutan (order) tetapi tidak memiliki kesamaan jarak perbedaan serta tidak dapat diperbandingkan. Urutanni menggambarkan adanya gradasi atau peringkat, akan tetapi jarak tingkat yang satu dengan tingkat lainnya tidak dapat diketahui dengan pasti.

  1. Variabel Interval

Variabel interval merupakan variabel yang skala pengukurannya dapat dibedakan, bertingkat dan memiliki jarak yang sama dari satuan hasil pengukuran, namun tidak bersifat mutlak dan tidak dapat diperbandingkan,

  1. Variabel Rasio

Variabel rasio merupkan variabel yang memiliki skor yang dapat dibedakan, diurutkan, memiliki kesamaan jarak perbedaan dan dapat diperbandingkan. Dengan demikian variabel yang memiliki skala rasio merupakan variabel yang memiliki tingkat tertingi dalam pensaklaan pengkuran variabel karena dapat menunjukkan perbedaa, tingkat, jarak dan dapat diperbandingkan.

Widoyoko, 2015,

URGENSI PEMBAKUAN INSTRUMEN (skripsi dan tesis)

 

 

Berdasarkan perlu tidaknya pembakuan instrumen untuk mengumpulkan data, variabel dapat dibedakan menjadi variabel faktual dan variabel konseptual (Purwanto, 2007; 9)

  1. Variabel Faktual

Variabel fktual merupakan variabel yang terdapat di dalam faktnya. Contoh variabel faktual antara lan: jenis kelamin, agama, pendidikan, usia asal sekolah dan sebagainya. Karena bersifat aktual, maka bila terdapat kesalahan dalam pengumpulan data, kesalahan bukan terletak pada isntrumen tetapi pada responden, misalnya memberi jawaban yang tidak jujur. Instrumen untuk mengumpulkan data variabel faktual tidak perlu dibakukan. Tidak perlu dlakukan uji validias dan realiabilitas.

  1. Variabel Konseptual

Variabel konseptual merupakan variabel yangtidak terlihat dalam fakta namun ersembunyi dalam konsep. Variabel konsep hanya diketahui berdasarkan indikator yang nampak. Contoh variabel konsep antara lain: prestasi belajar, motivasi belajar, kecerdasan dan lain sebagainya. Karen tersembunyi dalam kosep maka keakuratan data dari variabel konsep tergantung pada keakuratan indikatr dari konsep-konsep yang dikembangkan oleh peneltii. Kesalahan data dalam pengukuran dapat disebabkan oleh kesalahan konsep beserta indikator yang dikembangkan. Kesalahan data dari variabel prestasi belajar misalnya, kemungkinan disebabkan oleh instrumen pengumpulan data prestasi (baik dengan tes maupun non tes) yangsalah konsep. Untuk memastikan instrumen tidak salah konsep maka sebelum digunakan untuk mengumpulkan data variabl konsep, instrumen harus diuji validitas dan realibilitasnya

Widoyoko, 2015,

PENENTUAN KEDUDUKAN VARIABEL (skripsi dan tesis)

 

Untuk dapat menentukan kedudukan variabel beas, terikat, kontrol, moderating, variabel antara atau lainnya harus dilihat konteksnya dengan dilandasi konsep teoritis yang mendasari maupun hasil dari pengamatan empiris. Untuk itu, sebelum peneliti memilih variabel apa yang akan diteliti perlu dilakukan kajian teoritis, dan melakukan studi pendahuluan terlebih dahulu pada objek yang akan diteliti. Jangan sampai terjadi menyusun rancangan penelitian di belakang meja dan tanpa mengetahui terlebih dahulu permasalaahn yang ada di objek penelitian. Sering terjadi, rumusan masalah dibuat tanpa melalui studi pendahuluan ke objek peneltian, sehingga setelah dirumuskan ternyata masalah itu tidak menjadi masalah pada objek penelitiabn. Setelah masalah dapat dipahami dengan jelas dan dikaji secara teoritis maka peneliti dapat menentukan variabel-variabel penelitiannya.

 

Widoyoko, 2015,

HUBUNGAN ANTAR VARIABEL (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan hubungan antar variabel maka variabel dalam penelitian tersebut dapat dibedakan menjadi:

  1. Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab terjadinya perubahan pada variabel lain. Dengan kata lain, perubahan pada variabel ni diasumsikan akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada variabel lain. Variabel ini disebut variabel bebas karena adanya tidak tergantung pada adanya yang lain atau bebas dari ada atau tidaknya variabel lain.

Untuk lebih mudah memahaminya dapat dilihat dari contoh sebuah penelitian. Jika dalam penelitian dinyatakan bahwa yang akan diungkap adalah “pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa” maka variabel bebasnya adalah “motivasi belajar”. Variabel ini disebut variabel bebas karena “pretasi belajar siswa” tergantung dan dipengaruhi oleh variabel tersebut, yang adanya bebas tidak tergantung pada variabel yang lain.

Variabel bebas sering juga disebut sebagai variabel stimulus, pengaruh dan prediktor. Dalam SEM (Structural Equation Modelling)/ Permodelan Persamaan Struktural, variabel bebas disebut sebagai variabel eksogen

  1. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Disebut variabel terikat karena kondisi atau variasinya dipengaruhi atau terikat oleh variasi variabel lain, yaitu dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel terikat ini ada yang menyebut dengan istilah variabel tergantung, karena variasinya tergantung oleh variasi variabel lain. Selain itu ada juga yang menyebut variabel output, kriteria ataupun respon. Dalam SEM (Structural Equation Modelling)/ Permodelan Persamaan Struktural, variabel bebas disebut sebagai variabel indogen

  1. Variabel Kontrol

Variabel antara atau intervening variabel merupakan variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikat menjadi hbungan tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela yang terletak di antara variabel bebas dan terikat, sehingga variabel bebas tidak langsing berubahnya atau timbulnya variabel terikat

  1. Variabel Moderator

Variabel moderator merupakan yang memperkuat atau memperlemah pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Sugiyono (2010; 39) menyebut dengan istilah variabel independen kedua. Secara definisi hampir sama dengan variabel kontrol, hanya saja di sini pengaruh variabel itu tidak dinetralisisr atau ditiadakan tetapi bahkan dianalisis atau diperhitungkan

  1. Variabel Antara

Variabel antara aatau intervening variabel merupakan variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabelbeas terhadap variabel terikat menjadi hubungan tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela yang terletak di antara variabel bebas dan terikat, sehingga variabel bebas tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel terikat.

Widoyoko, 2015,

MACAM-MACAM VARIABEL PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

Dalam penelitian dikenal bermacam-macam penamaan variabel. Dari berbagai macam variabel tersebut, sekurang-kurangnya dapat diklasifikasikan berdasarkan lima aspek. Kelima aspek tersebut adalah:

  1. Sifat variabel

Berdasarkan sifatnya, variabel penelitian dapat dibedakan menjadi dua aitu variabel statis dan variabel dinamis

  1. Variabel Statis

Ariabel statis merupakan variabel yang mempunyai sifat yang tetap, tidak dapat diubah keberadaannya maupun karakteristiknya. Dalam kondisi yang wajar sifat-sifat itu sukar diubahnya speerti mialnya jenis kelamin, jenispekerjaan, status soail ekonomi, dan sebagainya. Ada juga yang menyebutnya variabel atributif (Sudjarwo dan Basrowi, 2009; 198). Sifat yang ada padanya adalah tetap, untuk itu penelitian hanya mampu untuk memilih atau menyeleksi. Oleh karena variabel ini disebut juga dengan variabel selektif. Arikunto (2006; 124) selain menggunakan istilah variabel tidak berdaya untukmaksud yang sama karenapeneliti tidak mampu mengubah atau mengusulkan untuk mengubah variabel tersebut

  1. Variabel Dinamis

Variabel dinamis merupakan yang dapat diubah keberadaanya atau karakteristiknya. Variabel ini memungkinkan untuk dimanipulasi atau diubahs esuai dengan tujuan yang diinginkan oleh peneliti. Pengubahan dapat berupa peningkatan atau penurunan. Contoh variabel dinamis adalah: kinerja pegawai, motivasi belajar. Selain menggunakan istilah variabel dinamis, untuk maksud yang sama maka Arikunto (2006; 124) menggunakan istilah variabel terubah. Sedangkan Sudjarwo dan Basrowi (2009; 197) menggunakan istilah variabel aktif.

Widoyoko, 2015,

CIRI-CIRI VARIABEL PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

Dalam penelitian, variabel mempunyai tiga ciri, yaitu: mempenyai variasi nilai, membedakan satu objek dengan objek lain dalam satu populasi dan dapat diukur.

  1. Variabel mempunyai nilai yang bervariasi. Oleh karena itu variabel membedakan satu objek dengan objek lain dalam populasi, maka variabel harus memiliki nilai yang bervariasi. Misalakan dari populasi 30 oang mahasiswa maka IP hanya akan menjadi variabel apabila terdapat nilai yang bervariasi. Sebaliknya, apabila dari 30 orang siswa tersebut tidak terdapat variasi karena nilai IP yang sama maka IP bukanlah variabel pada populasi yang bersangkutan. Contoh lain, dari populasi penduduk yang mendiami suatu wilayah tertentu, jenis pekerjaan atau prfesi bukan merupkan variabel apabila selurh penduduk tersebut memiliki pekerjaan atau profesi yang sama.
  2. Variabel membedakan satu objek dari objek yang lain. Objek-objek menjadi anggota populasi karnan mempunyai satu karakteristikyang sama. Meskipun sama, objekobjek dalam populasi dapat dibedakan satu sama lain dalam variabel. Sebagai contoh, populasi mahasiswa terdiri dari anggota ang memeiliki satu kesamaan karakteristik yaitu mahasiswa. Selain kesamaan tersebut, antara mereka berbeda daam usia, jenis kelamin, agama, motivasi belajar, tempat tinggal, prestasi dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan ini yang merupakan variabel karena mempunyai sifat membedakan di antara objek yang ada dalam populasi.
  3. Variabel harus dapat diukur. Penelitian kuantitatif menghasruskan hasil penelitian yang ojektif, terukur dan selalu terbuka untuk diuji. Variabel berbeda dengan konsep. Konsep belum dapat dukur sedangkan variabel dapat diukur. Variabel adalah operasionalisasi konsep. Sebagai contoh, belajar adalah konsep dan hasil belajar adalah variabel; siswa adalah konsep dan jumlah siswa adalah Variabel. Dengan demikian data dari Variabel penelitian harus tampak dalam perilaku yang dapat diobservasi dan diukur, misalnya prestasi belajar aalah jumlah jawaban benar yang dibuat siswa dalam mengerjakan sebuah tes.

 

Widoyoko, 2015,

Keterampilan yang harus dimiliki seorang pewawancara (skripsi dan tesis)

 

 

1) Mendengarkan

Kemampuan untuk mendengarkan secara kreatif dan empatik diperlukan untuk dapat mengorek lebih dalam isi dari permukaan yang disampaikan, kemampuan ini merupakan kunci dalam proses wawancara. Menjadi pendengar yang baik berarti harus dapat terbebas dari sekedar mendengarkan dan dapat memberikan perhatian penuh pada klien, pendengar yang baik tidak hanya memusatkan perhatiannya pada “apa yang dikatakan” tetapi juga “bagaimana mengatakannya”. Perhatian tidak hanya terpusat pada klien, tetapi juga pada dirinya sendiri dalam arti sadar terhadap kebutuhan, nilai dan standar yang dimiliki yang kemungkinan berpengaruh terhadap penangkapan pewawancara tentang isi pembicaraan dengan klien.

Ada tiga macam mendengarkan dalam wawancara, yaitu:

a) Mendengarkan kritis (critical listening)

Merupakan metode positif dalam mendengarkan. Dari apa yang diterima cenderung tidak banyak feed back. Metode ini hanya berfokus pada apa yang ingin didengarkan.

b) Mendengaran aktif (active listening)

Metode yang bisa menyediakan pemahaman bagi dirinya sendiri maupun dalam pemberian feed back. Metode ini memerlukan pendengar untuk memahami, menafsirkan, dan mengevaluasi apa yang ia dengar.

  1. c) Empati dalam mendengarkan (emphathic listening)

Metode mendengarkan secara aktif menggunakan client-centered approach; meliputi kemampuan untuk merasakan (sensing), memproses (prosessing) dan merespon (responding) secara empati. Suatu cara untuk dapat lebih memahami perasaan-perasaan yang diterima.

2) Mengobservasi suara dan pembicaraan/ucapan

Seringkali orang tidak mau mengatakan persoalannya secara langsung tetapi tampak dalam perubahan-perubahan suara selama proses wawancara, jika hal ini terjadi cobalah untuk mengerti “mengapa”. Pewawancara juga dapat memperkirakan kondisi psikologis klien dari caranya berbicara dan isi pembicaraa. Oleh karena itu, keterampilan ini dinilai penting untuk membantu memfokuskan masalah.

Ada beberapa hal yang dapat digunakan sebagai pegangan, diantaranya:a) Intensitas suara (suara sangat keras, sangat lembut, monoton).

b) Kecepatan pembicaraan (sangat lambat, tersentak-sentak, monoton, sedang)

c) Kelancaran berbicara (bloking, keragu-raguan).d) Spontanitas (spontan,ragu-ragu, tidak dapat lugas, malu mengucapkan sesuatu).

e) Waktu reaksi (cepat/lambat daam menanggapi pertanyaan baik yang umum

maupun khusus).

f) Relevansi pembicaraan dengan topic (relevan/tidak relevan)

.g) Sopan santun dalam berbicara.

h) Penyimpangan dalam mengucapkan sesuatu (ekolalia, kata yang bercampur baur).

i) Pengaturan pembicaraan (teratur, melompat-lompat).j) Perbendaharaan kata (banyak-sedikit).

k) Kualitas suara (mendesah, parau, serak)

.l) Penguasaan pembicaraan (pengulanngan, pembetulan, kata tidak komplit).

3) Mengobservasi bahasa non verbal (perilaku)

Dalam wawancara seorang pewawancara perlu memperhatikan bentuk komunikasi verbal dan non verbal saat wawancara berlangsung. Selain itu, pewawancara juga harus memiliki keterampilan dalam membuka dan mengakhiri wawancara.

Pesan-pesan non verbal dapat:

a) memperkuat dan memverifikasikan pesan-pesan verbal seseorang

.b) Menekankan pesan verbal

.c) Pesan pesan non verbal mungkin menggantikan pesan-pesan verbald) Kadang-kadang simbol-simbol non verbal tidak konsisten dengan simbol-simbol verbal. Bahkan mungkin berlawanan, jadi bukan sekedar apa yang dikatakan, tapi bagaimana cara mengatakannya.

4) Mengobservasi penampilan

5) Mengintegrasikan observasi

MODEL PENDEKATAN DALAM WAWANCARA (skripsi dan tesis)

 

1) Direct interview

Kelebihan: mudah dipelajari, memerlukan waktu yang lebih sedikit, menyediakan data yang bisa digunakan, bisa digunakan sebagai suplemen/metode tambahan dalam mengumpulkan data, dapat direplikasi/diulang-ulang. Kekurangan: tidak fleksibel, terbatas dalam variasi & kedalaman mengenai topik, tidak member kesempatan kepada interviewer untuk menggunakan teknik yang bermacam-macam, sering digunakan untuk menggantikan alat pengumpul data yang lebih efektif & efisien daripada menggunakan wawancara, validitas informasi yang didapat patut dipertanyakan, terutama pada intonasi suara & jenis kelamin interviewernya & hal-hal yang bisa menimbulkan bias.

2) Non-direct interview

Kelebihan: interviewer lebih fleksibel dalam mengajukan pertanyaan, memberi kesempatan untuk lebih luas & menggali lebih dalam mengenai suatu topic. Memberi kesempatan kepada interviewer untuk menjalin hubungan yang lebih mantap, memberi kemungkinan kepada interviewer untuk mengekspresikan dirinya lebih luas. Kekurangan: memakan banyak waktu, membutuhkan kepakaan kepada interviewee/interviewer yang sesitif, umumnya menghasilkan data yang tidak dapat dikuantifikasikan, memungkinkan kepada seseorang untuk memberikan informasi melebihi dari apa yang dibutuhkan/yang bisa diproses.

Pengertian Wawancara (skripsi dan tesis)

Wawancara atau interview merupakan salah satu wujud dari komunikasi interpersonal dimana merupakan suatu bentuk komunikasi yang langsung tanpa perantara media antar individu, dalam hal ini peran sebagai pembicara dan pendengar dilakukan secara bergantian, serta sering kali peran itu menyatu. Wawancara merupakan suatu proses komunikasi dyadic dengan suatu tujuan dan maksud yang serius yang dirancang untuk pertukaran perilaku dan melibatkan proses tanya jawab. Yang dimaksud dengan proses pada hal ini adalah terjadinya suatu proses yang dinamis yang saling bergantian dengan beberapa variabel yang terlibat dimana derajat dari system/struktur tidak terlalu pasti (fleksibel). Sedangkan yang dimaksud dengan dyadic adalah bahwa interview atau wawancara merupakan interaksi antar dua pihak (individu ke individu) tidak lebih dari dua pihak yaitu interviewer (pewawancara) dan interviewee (orang yang diwawancarai).
Wawancara berbeda dengan percakapan biasa. Wawancara merupakan salah satu cara untuk melakukan asesmen yang mempunyai beberapa ciri, yaitu:
1) Mempunyai tujuan dan maksud yang jelas.
2) Pewawancara bertanggung jawab untuk mengarahkan interaksi dan memilih isi pembicaraan.
3) Tidak ada pertanyaan yang bersifat timbale balik antara pewawancara dan klien.
4) Perilaku pewawancara direncanakan dan diatur.
5) Biasanya pewawancara diharuskan menerima permintaan klien untuk suatu kegiatan
wawancara walaupun dalam beberapa situasi (sekolah, rumah, kantor). Untuk hal-hal
tertentu anak dan orangtua diharuskan datang guna melakukan wawancara.
6) Pewawancara disyaratkan untuk memberikan atensi yang berkesinambungan selama
terjadi interaksi.
7) Wawancara secara formal direncanakan dalam suatu pertemuan.
8) Kenyataan dan perasaan yang tidak menyenangkan tidak perlu dihindari

Pengertian Analisis Data (skripsi dan tesis)

Kata analysis berasal dari bahasa Greek (Yunani), terdiri dari kata “ana” dan
“lysis“. Ana artinya atas (above), lysis artinya memecahkan atau enghancurkan.
Secara difinitif ialah: ”Analysis is a process of resolving data into its constituent components to reveal its characteristic elements and structure” Ian Dey (1995: 30). Agar data bisa dianalisis maka data tersebut harus dipecah dahulu menjadi bagian-bagian kecil (menurut element atau struktur), kemudian menggabungkannya bersama untuk memperoleh pemahaman yang baru. Analisa data merupakan proses paling vital dalam sebuah penelitian. Hal ini berdasarkan argumentasi bahwa dalam analisa inilah data yang diperoleh peneliti bisa diterjemahkan menjadi hasil yang sesuai dengan kaidah ilmiah. Maka dari itu, perlu kerja keras, daya kreatifitas dan kemampuan intelektual yang tinggi agar mendapat hasil yang memuaskan. Analisis data berasal dari hasil pengumpulan data. Sebab data yang telah terkumpul, bila
tidak dianalisis hanya menjadi barang yang tidak bermakna, tidak berarti, menjadi data yang mati, data yang tidak berbunyi. Oleh karena itu, analisis data di sini berfungsi untuk mamberi arti, makna dan nilai yang terkandung dalam data itu (Kasiram, 2006: 274). Analisis data disebut juga pengolahan data dan penafsiran data. Analisi data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematisasi, penafsiran dan verivikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai social, akademis dan ilmiah. Kegiatan dalam analisis data adalah : mengelompokan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dan seluruh esponden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan
untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji
hipotesis, langkah terakhir tidak dilakukan. Tujuan analisa menurut  Effendi
(1987 : 231) adalah menyederhanakan data dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasi. Dalam penelitian strukturalistik, data yang berupa kualitatif (kata-kata) dikuantifikasikan terlebih dahulu kemudian dianalisis secara statistikan bertujuan untuk menjelaskan fenomena, menguji hipotesis kerja dan mengangkat sebagai temuan berupa verifikasi terhadap teori lama dan teori baru. Sedangkan dalam penelitian aturalistik data bisa berupa kata-kata maupun angka. Data yang bersifat kuantitatif (angka) tidak perlu dikualitatifkan terlebih dahulu dan tidak menguji hipotesis/teori, melainkan untuk mendukung pemahaman yang dilakukan oleh data
kualitatif dan menghasilkan teori baru Menurut beberapa ahli, analisis data dapat didefinisikan sebagai berikut:

1. Menurut Patton (1980), analisis data adalah proses mengatur ukuran data,
mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar.
2. Menurut Bogdan dan taylor (1975), analisis data adalah proses yang merinci
usaha formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti
yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu.
3. Menurut Lexy J. Moleong (2000), analisis data adalah proses
mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data

PROSEDUR WAWANCARA (skripsi dan tesis)

Creswell (1998) menjelaskan bahwa prosedur wawancara seperti tahapan berikut ini:
1. Identifikasi para partisipan berdasarkan prosedur  sampling yang dipilih.
2. Tentukan jenis wawancara yang akan dilakukan dan informasi apa yang relevan dalam menjawab pertanyaan penelitian.
3. Siapkan alat perekam yang sesuai, misalnya mike untuk pewawancara maupun partisipan. Mike harus cukup sensitif merekam pembicaraan terutama bila ruangan tidak memiliki struktur akustik yang baikdan ada banyak pihak yang harus direkam.

4. Cek kondisi alat perekam, misalnya batereinya. Kaset harus kosong dan tepat pada pita hitam bila mulai merekam. Jika perekaman dimulai, tombol
perekam sudah ditekan dengan benar.
5. Susun protokol wawancara, panjangnya kurang lebih empat sampai lima halaman dengan kira-kira lima pertanyaan terbuka dan sediakan ruang yang cukup di antara pertanyaan untuk mencatat respon terhadap komentar partisipan.
6. Tentukan tempat untuk melakukan wawancara. Jika mungkin ruangan cukup tenang, tidak ada distraksi dan nyaman bagi partisipan. Idealnya peneliti dan partisipan duduk berhadapan dengan perekam berada di antaranya, sehingga suara suara keduanya dapat terekam baik. Posisi ini juga membuat peneliti mudah mencatat ungkapan non verbal partisipan, seperti tertawa, menepuk kening, dsb.
7. Berikan inform consent pada calon partisipan.

8. Selama wawancara, sesuaikan dengan pertanyaan, lengkapi pada waktu tersebut (jika mungkin), hargai partisipan dan selalu bersikap sopan santun.
Pewawancara yang baik adalah yang lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.

Byrne (2001) menyarankan agar sebelum memilih wawancara sebagai metoda pengumpulan data, peneliti harus menentukan apakah pertanyaan penelitian dapat dijawab dengan tepat oleh partisipan. Studi hipotesis perlu digunakan untuk menggambarkan satu proses yang digunakan peneliti untuk memfasilitasi wawancara, misalnya mewawancarai pengalaman ayah selama prosedur seksio sesarea perlu dilakukan dalam 48 jam setelah persalinan
dan kemudian antara satu hingga dua bulan berikutnya. Wawancara perlu dilakukan lebih dari dua kali karena dua alasan utama. Pertama adalah pendekatan pengetahuan temporal. Istilah temporal maksudnya
adalah istilah filosofis yang mendefinisikan bagaimana situasi dan pengetahuan orang saat itu dipengaruhi oleh pengalamannya dan bagaimana situasi saat itu akan menentukan masa depannya. Alasan kedua adalah untuk
memenuhi kriteria rigor (ketepatan). Selain itu, peneliti dapat mengkonfirmasi atau mengklarifikasi informasi yang ditemukan pada wawancara pertama. Melalui pertemuan ini hubungan saling percaya semakin meningkat sehingga dapat menyingkap pengalaman atau perasaan partisipan yang lebih pribadi

PENYELIDIKAN DAN PENETAPAN DALAM WAWANCARA (skripsi dan tesis)

Selama wawancara peneliti dapat menggunakan pertanyaan prompts atau probing. Ini membantu mengurangi kecemasan peneliti dan partisipan, tujuannya adalah penyelusuran untuk menguraikan arti atau alasan.
Seidman (1991 dalam Holloway & Wheeler, 1996) memilih istilah menjelajahi dan tidak menyukai istilah menyelidiki (probe) karena menekankan posisi kekuatan pewawancara dan merupakan nama untuk instrumen yang digunakan dalam investigasi medis. Pertanyaan eksplorasi dapat digunakan, seperti: Apa pengalaman yang menyenangkan? Bagaimana perasaan anda tentang hal itu? Dapatkah diceritakan lebih banyak lagi tentang itu?
Menarik sekali, mengapa anda lakukan? Pewawancara dapat menindaklanjuti poin tertentu atau kata tertentu yang diungkapkan partisipan. Partisipan
dengan lancer akan menceritakan tentang suatu kisah, merekonstruksi pengalamannya, insiden, atau perasaan mereka tentang penyakit.
Prompt non-verbal mungkin lebih bermanfaat. Cara berdiri peneliti, kontak mata dan condong ke depan akan mendorong refleksi. Sebenarnya keterampilan yang diadopsi dalam konseling yang telah dimiliki perawat akan
mempermudah melakukan hal ini. Tujuan penggunaan prompt atau probe ini adalah agar wawancara berjalan lancar dan memberikan rasa nyaman baik pada peneliti maupun partisipan tanpa keluar dari tujuan penelitian. Ini
tidak lepas dari kemampuan pewawancara itu sendiri. Seorang pewawancara yang baik harus mempunyai ketetrampilan komunikasi yang mumpuni. Ketrampilan ini meliputi ketrampilan mendengarkan, menyusun kata
(paraphrasing), probing, dan meringkas hasil wawancara (Byrne, 2001).

LAMA DAN PEMILIHAN WAKTU WAWANCARA (skripsi dan tesis)

Field & Morse (1985 dalam Holloway & Wheeler, 1996) menyarankan bahwa wawancara harus selesai dalam satu jam. Sebenarnya waktu wawancara
bergantung pada partisipan. Peneliti harus melakukan kontrak waktu dengan partisipan, sehingga mereka dapat merencanakan kegiatannya pada hari itu tanpa terganggu oleh wawancara, umumnya partisipan memang menginginkan waktunya cukup satu jam. Pada pastisipan lanjut usia, menderita kelemahan fisik, atau sakit mungkin perlu istirahat setelah 20 atau 30 menit. Partisipan anak juga tidak bisa konsentrasi dalam waktu yang lama. Peneliti harus menggunakan penilaian sendiri, mengikuti keinginan partisipan, dan menggunakan waktu sesuai dengan kebutuhan penelitiannya. Umumnya lama wawancara tidak lebih dari tiga jam. Jika lebih, konsentrasi tidak akan diperoleh bahkan bila wawancara tersebut dilakukan oleh peneliti berpengalaman sekalipun. Jika dalam waktu yang maksimal tersebut data belum semua diperoleh, wawancara dapat dilakukan lagi. Beberapa kali
wawancara singkat akan lebih efektif dibanding hanya satu kali dengan waktu yang panjang

Dimensi Dalam Pertimbangan Jenis Wawancara (skripsi dan tesis)

Wilson (1996) membandingkan metode bertanya dengan menggunakan tiga dimensi, yaitu: dimensi prosedural, struktural dan konstekstual.

Faktor prosedural/struktural. Dimensi prosedural bersandar pada wawancara yang bersifat natural antara peneliti dan partisipan atau disebut juga wawancara tidak berstruktur. Tempat wawancara adalah tempat keseharian partisipan seperti rumah atau tempat bekerja, bukan di laboratorium. Jadi yang
dipertimbangkan dalam hal ini adalah prosedurnya, apakah kaku seperti di laboratorium atau natural. Hal lain yang dibandingkan adalah strukturnya seperti metode yang sangat berstruktur (highly structured) dan
kurang berstruktur (less structured).

Faktor konstekstual. Dimensi konstekstual mencakupi jumlah isyu. Pertama, terminologi yang di dalam wawancara dianggap penting. Kedua, konteks wawancara yang berdampak pada penilaian respon (response rate).

Aspek kontekstual yang penting lainnya adalah persepsi partisipan terhadap karakteristik pewawancara. Hal yang menjadi dasar partisipan mengungkapkan pendapatnya atau pengalamannya
adalah berdasarkan karakteristik pewawancara yang terlihat, misalnya aksen, pakaian, suku atau jender. Ini yang dikenal sebagai variabilitas pewawancara. Untuk meminimalkan dampak ini usahakan pewawancara cocok dengan responden.

Wawancara berstruktur atau berstandard (skripsi dan tesis)

Peneliti kualitatif jarang menggunakan jenis wawancara ini. Beberapa keterbatasan pada wawancara jenis ini membuat data yang diperoleh tidak kaya. Jadwal wawancara berisi sejumlah pertanyaan yang telah direncanakan sebelumnya. Tiap partisipan ditanyakan pertanyaan yang sama dengan urutan yang sama pula. Jenis wawancara ini menyerupai kuesioner survei tertulis. Wawancara ini menghemat waktu dan membatasi efek pewawancara bila sejumlah pewawancara yang berbeda terlibat dalam penelitian. Analisis data tampak lebih mudah sebagaimana jawaban yang dapat ditemukan dengan cepat. Umumnya, pengetahuan statistik penting dan berguna untuk menganalisis jenis wawancara ini. Namun jenis wawancara ini mengarahkan respon partisipan dan oleh karena itu tidak tepat digunakan pada pendekatan kualitatif. Wawancara berstruktur bisa berisi pertanyaan terbuka, namun peneliti harus diingatkan terhadap hal ini sebagai isu metodologis yang akan mengacaukan dan akan jadi menyulitkan analisisnya. Peneliti kualitatif menggunakan pertanyaan yang berstruktur ini hanya untuk mendapatkan data sosiodemografik, seperti usia, lamanya kondisi yang dialami, lamanya pengalaman, pekerjaan, kualifikasi, dsb. Kadang komite etik menanyakan jadwal wawancara yang ditentukan sebelumya sehingga mereka dapat
menemukan alur penelitian yang sebenarnya. Pada kasus ini, pedoman wawancara semi berstruktur lebih dianjurkan. Robinson (2000) mengatakan bahwa wawancara mendalam, formal terbuka merupakan aliran utama
penelitian kualitatif keperawatan. Wawancara kualitatif formal adalah percakapan yang tidak berstruktur dengan tujuan yang biasanya mengutamakan perekaman dan transkrip data verbatim (kata per kata), dan
penggunaan pedoman wawancara bukan susunan pertanyaan yang kaku. Pedoman wawancara terdiri atas satu set pertanyaan umum atau bagan topik, dan  digunakan pada awal pertemuan untuk memberikan struktur, terutama bagi para peneliti pemula. Aturan umum dalam wawancara kualitatif adalah tidak memaksakan agenda atau kerangka kerja pada partisipan, justeru tujuan wawancara ini untuk mengikuti kemauan partisipan. Penggunaan format ini adalah untuk menangkap perspektif partisipan sesuai dengan tujuan penelitian.

Wawancara Semi Berstruktur (skripsi dan tesis)

Wawancara ini  dimulai dari isu yang dicakup dalam pedoman wawancara. Pedoman wawancara bukanlah jadwal seperti dalam penelitian kuantitatif. Sekuensi pertanyaan tidaklah sama pada tiap partisipan bergantung pada
proses wawancara dan jawaban tiap individu. Namun pedoman wawancara menjamin peneliti dapat mengumpulkan jenis data yang sama dari partisipan.
Peneliti dapat menghemat waktu melalui cara ini. Dross rate lebih rendah daripada wawancara tidak berstruktur. Peneliti dapat mengembangkan pertanyaan dan memutuskan sendiri mana isu yang dimunculkan. Pedoman wawancara dapat agak panjang dan rinci walaupun hal itu tidak perlu diikuti secara ketat. Pedoman wawancara berfokus pada subyek area tertentu yang diteliti, tetapi dapat direvisi setelah wawancara karena ide yang baru muncul belakangan. Walaupun pewawancara bertujuan mendapatkan perspektif partisipan, mereka harus ingat bahwa mereka perlu mengendalikan diri sehingga tujuan penelitian dapat dicapai dan topik penelitian tergali

Wawancara Tidak Terstruktur (skripsi dan tesis)

Wawancara tidak berstruktur, tidak berstandard, informal, atau berfokus dimulai dari  pertanyaan umum dalam area yang luas pada penelitian.
Wawancara ini biasanya diikuti oleh suatu kata kunci, agenda atau daftar topik yang akan dicakup dalam wawancara. Namun tidak ada pertanyaan yang ditetapkan sebelumnya kecuali dalam wawancara yang awal sekali.
Jenis wawancara ini bersifat fleksibel dan peneliti dapat mengikuti minat dan pemikiran partisipan. Pewawancara dengan bebas menanyakan berbagai
pertanyaan kepada partisipan dalam urutan manapun bergantung pada jawaban. Hal ini dapat ditindaklanjuti, tetapi peneliti juga mempunyai agenda sendiri yaitu tujuan penelitian yang dimiliki dalam pikirannya dan isyu
tertentu yang akan digali. Namun pengarahan dan pengendalian wawancara oleh peneliti sifatnya minimal. Umumnya, ada perbedaan hasil wawancara pada tiap partisipan, tetapi dari yang awal biasanya dapat dilihat pola tertentu. Partisipan bebas menjawab, baik isi maupun panjang pendeknya paparan, sehingga dapat diperoleh informasi yang sangat dalam dan rinci.
Wawancara jenis ini terutama cocok bila peneliti mewawancarai partisipan lebih dari satu kali. Wawancara ini menghasilkan data yang terkaya, tetapi
juga memiliki dross rate tertinggi, terutama apabila pewawancaranya tidak berpengalaman. Dross rate adalah jumlah materi atau informasi yang tidak berguna dalam penelitian

Struktur Dalam Wawancara (skripsi dan tesis)

Peneliti harus memutuskan besarnya struktur dalam wawancara. Struktur wawancara dapat berada pada rentang tidak berstruktur sampai berstruktur.
Penelitian kualitatif umumnya menggunakan wawancara tidak berstruktur atau semi berstruktur (Holloway & Wheeler, 1996). Wawancara tidak berstruktur, tidak berstandard, informal, atau berfokus dimulai dari pertanyaan umum dalam area yang luas pada penelitian. Wawancara ini biasanya diikuti oleh suatu kata kunci, agenda atau daftar topik yang akan dicakup dalam wawancara. Namun tidak ada pertanyaan yang ditetapkan sebelumnya kecuali dalam wawancara yang awal sekali.

Jenis-Jenis Wawancar (skripsi dan tesis)

1. Wawancara Terpimpin
Wawancara terpimpin biasanya dilakukan dengan cara “memandu” orang lain selama berlangsungnya kegiatan penggalian informasi. Jenis pertanyaan juga cenderung berupa pertanyaan tertutup, dimana pertanyaan ini akan dijawab dengan cukup singkat. Biasanya jenis wawancara ini digunakan untuk mendapatkan respon dari daftar pertanyaan yang banyak sehingga efektivitas waktu bisa lebih terpelihara. Kesimpulan akan diambil dari seberapa banyak
jumlah ya atau tidak dari pertanyaan yang diajukan.
2. Wawancara Bebas
Berkebalikan dengan wawancara terpimpin, proses wawancara ini lebih cenderung membebaskan responden untuk memberikan jawabannya. Pertanyaan yang digunakan biasanya juga menggunakan pertanyaan-pertanyaaan terbuka seperti misalnya diawali dengan
kata “bagaimana”. Wawancara bebas umumnya memerlukan ketelitian dari pewawancara dalam menangkap poin-poin penting yang disampaikan oleh responden. Informasi tidak diambil secara mentah, tetapi dianalisis kembali untuk didapatkan data yang tepat.
3. Wawancara Bebas Terpimpin
Wawancara bebas terpimpin bisa dikatakan sebagai bentuk kombinasi dari wawancara bebas dan wawancara terpimpin. Awal mula, pewawancara mungkin akan memberikan pertanyaan terbuka kepada responden. Manakala responden sudah bebas mengungkapkan apa yang menjadi pendapat atau masalahnya, maka pewawancara akan mengarahkan jalannya
wawancara tersebut menggunakan pertanyaan-pertanyaan tertutup. Jenis wawancara ini biasanya lebih digunakan pada bagaimana responden akan menentukan sikap atau menemukan jawaban mengenai
permasalahannya di akhir nanti.
4. Wawancara Terfokus pada Kelompok
Wawancara terfokus pada kelompok juga dikenal sebagai Focus Group Discussion (FGD). Dalam wawancara ini, seorang pewawancara akan dikelilingi oleh beberapa responden untuk membahas mengenai permasalahan yang tengah mereka hadapi. Biasanya permasalahan tersebut memiliki satu persamaan. Pewawancara akan menanyakan hal yang sama dan
menanyakan ke semua responden untuk mengetahui tanggapan-tanggapan mereka. Setelah semua jawaban terkumpul, maka pewawancara akan membantu untuk memilah informasi apa saja yang bisa dijadikan sebagai solusi atau rangkuman dari hasil wawancara tersebut.
5. Wawancara Tradisional
Wawancara tradisional merupakan bentuk wawancara lain yang memiliki sifat konvensional. Proses wawancara biasanya dilakukan hanya dengan tanya jawab. Unsur psikologi masuk hanya terkait dengan proses tanya jawab di sana. Pewawancara mungkin tidak akan memperhatikan unsur lain karena hanya berfokus pada jawaban-jawaban yang akan dirumuskan sebagai kesimpulan terkait dengan permasalahan psikologi nantinya. Bentuk wawancara ini juga umum dilakukan untuk mengetahui bagaimana jalannya wawancara dengan baik.
7. Wawancara Persuasif
Sesuai dengan namanya, wawancara persuasif biasanya akan memberikan ajakan-ajakan tertentu. Proses wawancara tidak hanya sekedar mencari informasi dari klien, tetapi juga menghubungkan informasi dari klien untuk kemudian dijadikan sebagai jembatan agar terjadi perubahan sikap yang mengarah kepada solusi klien. Ini merupakan cara yang bisa dilakukan
terutama bagi mereka yang lebih suka mendapatkan panduan solusi dari orang lain daripada mencari solusi sendiri.
8. Wawancara Informatif
Wawancara informatif dilakukan untuk menggali lebih banyak informasi dari seseorang. Ini merupakan proses dimana wawancara akan dilakukan dengan berfokus pada klien. Setiap jawaban klien akan dielaborasi (dikembangkan) sedemikian rupa sehingga jawaban tersebut bisa semakin rinci. Proses ini juga membutuhkan keterampilan yang baik dari pewawancara.

Tujuan Path Analysis (skripsi dan tesis)

Menurut Sarwono, 2012, tujuan menggunakan Path Analysis diantaranya adalah:
1. variabel tetentu terhadap variabel lain yang dipengaruhinya.
2. Menghitung besarnya pengaruh satu variabel Melihat hubungan antar variabel dengan didasarkan pada model apriori.
3. Menerangkan mengapa variabel-variabel berkorelasi dengan menggunakan suatu model yang berurutan secara temporer.
4. Menggambarkan dan menguji suatu model matematis dengan menggunakan persamaan yang memadai.
5. Mengidentifikasi jalur penyebab suatu independen exogenous atau lebih terhadap variabel dependen endogenous lainnya

Pengertian Path Analysis (skripsi dan tesis)

“Path Analysis ialah suatu teknik untuk menganalisis hubungan sebab akibat yang tejadi pada regresi berganda jika variabel bebasnya memengaruhi variabel tergantung tidak hanya secara langsung tetapi juga secara tidak langsung”. (Retherford 1993 dikutip oleh Widaryano, 2005).
Sedangkan definisi lain mengatakan: “Path Analysis merupakan pengembangan langsung bentuk regresi berganda dengan tujuan untuk memberikan estimasi tingkat kepentingan (magnitude) dan signifikansi (significance) hubungan sebab akibat hipotetikal dalam seperangkat variabel.” l Webley 1997 dikutip oleh Sarwono 2007). David Garson mendefinisikan Path Analysis sebagai “Model perluasan regresi yang digunakan untuk menguji keselarasan matriks korelasi dengan dua atau lebih model hubungan sebab akibat yang dibandingkan oleh peneliti. Modelnya digambarkan dalam bentuk gambar lingkaran dan panah dimana anak  panah tunggal menunjukkan sebagai penyebab. Regresi dikenakan pada masing-masing variabel dalam suatu model sebagai variabel tergantung (pemberi respon) sedang yang
lain sebagai penyebab. Pembobotan regresi diprediksikan dalam suatu model yang dibandingkan dengan matriks korelasi yang diobservasi untuk semua variabel dan dilakukan juga penghitungan uji keselarasan statistik. (David Garson, 2003 dikutip oleh Sunyoto 2011).
Menurut Kuncoro, 2007, teknik Path Analysis adalah teknik yang digunakan
dalam menguji besarannya sumbangan (kontribusi) yang ditunjukan oleh koefisien jalur pada setiap diagram jalur dari hubungan kausal antar variabel X1, X2,dan X3 terhadap Y serta dampaknya terhadap Z

Kelemahan Dalam Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Kelemahan menggunakan analisis jalur diantaranya :
1. Tidak dapat mengurangi dampak kesalahan pengukuran.
2. Analisis jalur hanya mempunyai variabel-variabel yang dapat diobservasi
secara langsung.
3. Analisis jalur tidak mempunyai indikator-indikator suatu variabel laten.
4. Karena analisis jalur merupakan perpanjangan regresi linier berganda, maka
semua asumsi dalam rumus ini harus diikuti.
5. Sebab akibat dalam model hanya bersifat searah (one direction), tidak boleh
bersifat timbal balik (reciprocal).

Keuntungan Dalam Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Menurut Sarwono (2012), keuntungan menggunakan analisis jalur
diantaranya :
1. Kemampuan menguji model keseluruhan dan parameter-parameter individual.
2. Kemampuan pemodelan beberapa variabel mediator/perantara.
3. Kemampuan mengestimasi dengan menggunakan persamaan yang dapat
melihat semua kemungkinan hubungan sebab akibat pada semua variabel
dalam model.
4. Kemampuan melakukan dekomposisi korelasi menjadi hubungan yang bersifat sebab akibat (causal relation), seperti pengaruh langsung (direct effect) dan pengaruh tidak langsung (indirect effect) dan bukan sebab akibat (non-causal association), seperti komponen semu (spurious)

Model Dalam Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

1.Model Persamaan Satu Jalur
Model Persamaan satu jalur merupakan hubungan sebenarnya sama dengan
regresi berganda, yaitu variabel bebas terdiri dari satu variabel dan variabel
tergantungnya hanya satu.
2. Model Persamaan Dua Jalur
Model ini terdiri dari tiga variabel bebas dan mempunyai dua variabel
tergantung.
3. Model Persamaan Tiga Jalur
Model ini terdiri dari tiga variabel bebas, salah satu variabel bebas menjadi
variabel perantara dan mempunyai dua variabel tergantung

Model Hubungan Antar Variabel (skripsi dan tesis)

a. Analisis Jalur Model Trimming
Model Trimming adalah model yang digunakan untuk memperbaiki suatu
model struktur analisis jalur dengan cara mengeluarkan dari model variabel
eksogen yang koefisien jalur diuji secara keseluruhan apabila ternyata ada
variabel yang tidak signifikan. Walaupun ada satu, dua, atau lebih variabel
yang tidak signifikan, perlu memperbaiki model struktur analisis jalur yang
telah dihipotesiskan.
b. Analisis Jalur Model Dekomposisi
Model dekomposisi adalah model yang menekankan pada pengaruh yang
bersifat kausalitas antar variabel, baik pengaruh langsung ataupun tidak
langsung dalam kerangka analisis jalur, sedangkan hubungan yang sifatnya
nonkausalitas atau hubungan korelasional yang terjadi antar variabel eksogen
tidak termasuk dalam perhitungan ini.
Perhitungan menggunakan analisis jalur dengan menggunakan model
dekomposisi pengaruh kausal antar variabel dapat dibedakan menjadi tiga
yaitu:
1. Direct causal effects (Pengaruh Kausal Langsung) adalah pengaruh satu
variabel eksogen terhadap variabel endogen yang terjadi tanpa melalui
variabel endogen lain.
2. Indirect causal effects (Pengaruh Kausal Tidak Langsung) adalah
pengaruh satu variabel eksogen terhadap variabel endogen yang terjadi
melalui variabel endogen lain terdapat dalam satu model kausalitas yang
sedang dianalisis.
3. Total causal effects (Pengaruh Kausal Total) adalah jumlah dari pengaruh
kausal langsung dan pengaruh kausal tidak langsung.
c. Model Regresi Berganda
Model ini merupakan pengembangan regresi berganda dengan menggunakan
dua variabel exogenous, yaitu X1 dan X2 dengan satu variabel endogenous Y.
d. Model Mediasi
Model mediasi atau perantara ialah di mana variabel Y memodifikasi
pengaruh variabel X terhadap variabel Z.
e. Model Kombinasi Regresi Berganda dan Mediasi
Model ini merupakan kombinasi antara model pertama dan kedua, yaitu
variabel X berpengaruh terhadap variabel Z secara langsung dan secara tidak
langsung mempengaruhi variabel Z melalui variabel Y. Model digambarkan
sebagai berikut:
Gambar 2.3 Model Kombinasi
f. Model Kompleks
Model ini merupakan model yang lebih kompleks, yaitu variabel X1 secara
langsung mempengaruhi Y2 dan melalui variabel X2 secara tidak langsung
mempengaruhi Y2, sementara variabel Y2 juga dipengaruhi oleh variabel Y1.
g. Model Rekursif dan Non Rekursif

Lambang Dalam Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

(1) Dalam Analisis Jalur, kita hanya menggunakan sebuah lambung variabel, yaitu X. Untuk membedakan X yang satu dengan X yang lainnya, kita menggunakan subscript (indeks). Contoh: X1, X2, X3, ….. , Xk. (2) Kita membedakan dua jenis variabel, yaitu variabel variabel yang menjadi pengaruh (exogenous variable), dan variabel yang dipengaruhi (endogenous variable). (3) Lambang hubungan langsung dari eksogen ke endogen adalah panah bermata satu, yang bersifat recursive atau arah hubungan yang tidak berbalik/satu arah. (4) Diagram jalur merupakan diagram atau gambar yang mensyaratkan hubungan terstruktur antar variabel (Harun Al Rasyid, 2005).

Istilah-istilah dalam Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Menurut Sarwono (2007), ada beberapa istilah yang digunakan dalam
analisis jalur yaitu sebagai berikut:
1. Model Jalur
Adalah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas, perantara
dan tergantung. Pola hubungannya menggunakan anak panah. Anak panah
tunggal menunjukkan hubungan sebab-akibat antara variabel exogenous
dengan satu variabel tergantung atau lebih. Anak panah-anak panah juga
menghubungkan kesalahan (variabel residue) dengan semua variabel
endogenous masing-masing. Anak panah ganda menunjukkan korelasi antara
pasangan variabel-variabel exogenous.
2. Jalur penyebab untuk suatu variabel yang diberikan
Meliputi pertama, jalur-jalur arah dari anak panah menuju ke variabel tersebut
dan kedua, jalur-jalur korelasi dari semua variabel endogenous yang
dikorelasikan dengan variabel-variabel lain yang mempunyai anak panahanak panah menuju ke variabel yang sudah ada tersebut.
3. Variabel exogenous
Adalah semua variabel yang tidak ada penyebab–penyebab eksplisitnya atau
dalam diagram tidak ada anak-anak panah yang menuju ke arahnya, selain
pada bagian kesalahan pengukuran. Jika antara variabel ini dikorelasikan
maka korelasi ditunjukkan dengan anak panah berkepala dua yang
menghubungkan variabel-variabel tersebut. Variabel ini disebut pula
independen variabel.
4. Variabel endogenous
Adalah variabel yang mempunyai anak panah-anak panah menuju ke arahnya.
Variabel yang termasuk di dalamnya mencakup semua variabel perantara dan
tergantung. Variabel perantara endogenous mempunyai anak panah yang
menuju ke arahnya dan dari arah variabel tersebut dalam suatu model.
Adapun variabel tergantung hanya mempunyai anak panah yang menuju ke
arahnya. Variabel ini disebut pula dependen variabel.
5. Koefisien jalur atau pembobotan jalur
Adalah koefisien regresi standar atau disebut ‘beta’ yang menunjukkan
pengaruh langsung dari suatu variabel bebas terhadap variabel tergantung
dalam suatu model tertentu.
6. Variabel-variabel exogenous yang dikorelasikan
Jika semua variabel exogenous dikorelasikan maka sebagai penanda
hubungannya ialah anak panah dengan dua kepala yang dihubungkan di
antara variabel-variabel dengan koefisien korelasinya.
7. Istilah gangguan
Gangguan atau residue mencerminkan adanya varian yang tidak dapat
diterangkan atau pengaruh dari semua variabel yang tidak terukur ditambah
dengan kesalahan pengukuran.
8. Dekomposisi pengaruh
Koefisien-koefisien jalur dapat digunakan untuk mengurai korelasi-korelasi
dalam suatu model ke dalam pengaruh langsung dan tidak langsung yang
berhubungan dengan jalur langsung dan tidak langsung yang direfleksikan
dengan anak panah-anak panah dalam suatu model tertentu.
9. Model Recursive
Model penyebab mempunyai satu arah dan tidak ada pengaruh sebab akibat
(reciprocal). Dalam model ini, satu variabel tidak dapat berfungsi sebagai
penyebab dan akibat dalam waktu yang bersamaan.
10. Model Non-Recursive
Model penyebab mempunyai arah yang membalik (feed back loop) dan ada
pengaruh sebab akibat (reciprocal).

Asumsi dalam Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Asumsi yang melandasi analisis jalur diantaranya adalah (Solimun 2002,
Riduan dan Kuncoro 2011 dikutip oleh Sunjoyo dkk, 2013):
1. Hubungan antar variabel haruslah linear dan aditif.
2. Ukuran sampel yang memadai sebaiknya diatas 100.
3. Pola hubungan antara variabel adalah rekursif (satu arah).
4. Data berskala interval

Manfaat Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Menurut Saparina (2013), ada beberapa manfaat analisis jalur diantaranya
adalah:
1. Sebagai penjelas terhadap fenomena yang dipelajari atau permasalahan yang diteliti.
2. Untuk prediksi nilai variabel endogenous (Y) berdasarkan nilai variabel
eksogenous (X).
3. Sebagai faktor determinan yaitu penentuan variabel eksogenous (X) mana
yang berpengaruh dominan terhadap variabel endogenous (Y), juga untuk
menelusuri mekanisme (jalur-jalur) pengaruh variabel eksogenous (X)
terhadap variabel endogenous (Y).
4. Pengujian model, menggunakan theory triming, baik untuk uji reabilitas
konsep yang sudah ada ataupun uji pengembang konsep baru.

Pengertian Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Analisis jalur ini merupakan perluasan atau kepanjangan dari regresi
berganda yang digunakan untuk menaksir hubungan kausalitas (sebab-akibat)
antar variabel yang telah ditetapkan sebelumnya, serta menguji besarnya
sumbangan atau kontribusi masing-masing variabel eksogen terhadap variabel endogen (Ghozali 2006, Riduan dan Kuncoro 2011 dikutip oleh Sunjoyo dkk, 2013).
Dalam pengujian hubungan kausal tersebut yang didasarkan pada teori
yang memang menyatakan bahwa variabel yang dikaji memiliki hubungan secara kausal. Analisis jalur bukan ditujukan untuk menurunkan teori kausal, melainkan dalam penggunaannya harus didasarkan pada teori yang menyatakan bahwa hubungan antar variabel tersebut bersifat kausal. Dengan demikian, kuat lemahnya teori yang digunakan dalam menggambarkan hubungan kausal tersebut menentukan dalam penyusunan diagram jalur dan mempengaruhi hasil dari analisis serta pengimplementasian secara keilmuan (Widiyanto, 2013). Menurut Pedhazur dalam Kerlinger (1983) dikutip oleh Widiyanto (2013), analisis jalur merupakan suatu bentuk terapan dari analisis multiregresi. Dalam analisis ini digunakan diagram jalur untuk membantu konseptualisasi masalah atau menguji hipotesis yang kompleks dan juga untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung dari variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat.
Analisis jalur ialah suatu tehnik untuk menganalisis hubungan sebab akibat
yang terjadi pada regresi berganda jika variabel bebasnya mempengaruhi variabel tergantung tidak hanya secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung (Robert D. Rutherford 1993 dikutip oleh Sarwono, 2007).
Defenisi lain mengatakan “Analisis jalur merupakan pengembangan
langsung bentuk regresi berganda dengan tujuan untuk memberikan estimasi
tingkat kepentingan (magnitude) dan signifikasi (significance) hubungan sebab
akibat hipotetikal dalam seperangkat variabel” (Paul Webley 1997 dikutip oleh
Sarwono, 2007).
David Garson dari North Carolina State University mendefenisikan
analisis jalur sebagai model perluasan regresi yang digunakan untuk menguji
keselarasan matriks korelasi dengan dua atau lebih model hubungan sebab akibat yang dibandingkan oleh peneliti. Modelnya digambarkan dalam bentuk gambar lingkaran dan panah dimana anak panah tunggal menunjukkan sebagai penyebab. Regresi dikenakan pada masing-masing variabel dalam suatu model sebagai variabel tergantung (pemberi respons) sedang yang lain sebagai penyebab. Pembobotan regresi diprediksikan dalam suatu model yang dibandingkan dengan  matriks korelasi yang diobservasi untuk semua variabel dan dilakukan juga penghitungan uji keselarasan statistik (David Garson 2003 dikutip oleh Sarwono, 2007).

Atribut Tunggal vs Atribut Komposit Skala Pengukuran (skripsi dan tesis)

            Sekalipun suatu skala psikologi bertujuan untuk mengukur variable yang konstraknya merupakan atribut tunggal, namun dalam perancangannya atribut tersebut seringkali perlu di uraikan menjadi beberapa dimensi atau komponen guna memperluas cakupan afektifnya dan memperjelas operasionalisasinya.

Pada skala yang dibuat untuk mengukur atribut tunggal seperti itu interkorelasi antar komponen atau dimensinya di harapkan tinggi karena memang komponen-komponen tersebut dirancang untuk mengukur hal yang sama. Dalam seleksi aitem aitemnya pun kita memilih daya beda aitem tertinggi yang ada dengan membandingkan indeksnya secara keseluruhan, bukan perkomponen. Adanya komponen yang ternyata berisi aitem aitem yang berkoefisien korelasi rix rendah menunjukkan antara lain bahwa komponen yang bersangkutan memang tidak relevan dengan tujuan pengukuran dan dapat dihapuskan. Lebih lanjut, untuk pengujian reliabilitasnya cukup dilakukan satu pengujian saja bagi seluruh aitem yang terpilih sehingga yanga ada adalah koefisien reliabilitas skala bukan koefisien-koefisien reliabilitas komponen.

Di sisi lain, ada skala psikologi yang dirancang untuk mengukur satu atribut namun atribut tersebut dikonsepkan sebagai terdiri atas beberapa aspek atau dimensi yang mengungkap subdomain yang berbeda satu sama lain. Skor-skor dari setiap aspek tersebut akan dijadikan satu skor komposit yang mengindikasikan ada tidaknya atribut semula sebagai tujuan ukurnya. Misalnya WAIS, WAIS bertujuan untuk mengukur IQ. IQ sendiri disimpulkan dari intelegensi yang konsepsinya terdiri atas 11 aspek kecakapan yang berbeda beda. Tidak satupun di antara aspek kecakapan yanga da dalam WAIS itu yang dinamai intelegensi. Setelah skor dari setiap aspek diperoleh dan dikompositkan sedemikian rupa, barulah skor akhir tersebut dinamai IQ yang mencerminkan intelegensi sebagaimana tujuan ukur semula.

Daslam hal pengukuran atribut komposit seperti ini, kita mengharapkan agar interkorelasi antaraspek atau anatardimensi itu rendah karena hal itu berarti bahwa setiap aspek memiliki fungsi ukur yang unik dan tidak ada tumpang tindih. Dari segi pemilihan aitemnya, kita harus melakukan analisis aitem bagi setiap aspek ( menghitung korelasi aitem dengta skor aspek, bukan denga skor skala), dengan membandingkan indeks daya deskrimminasinya dalam aspek masing-masing, bukan secara keseluruhan. Begitu juga dalam emnguji reliabilitasnya, lebih dahulu dilakukan komputasi koefisien reliabilitas bagi masing masing aspek, baru kemudian dihitung reliabilitas secara keseluruhan yang dikenal dengan nama reliabilitas skor komposit ( Mosier, 1943 dalam Azwar , 1997) .

Sebagaimana telah dijelaskan , seleksi aitem dengan menggunakan komputasi korelasi antara skor aitem dan skor total skala menghasilkan indeks daya diskriminasi aitem atau dikenal juga dengan indeks konsistensi aitem total. Peril di ingatkan bahwa indeks daya diskriminasi ini tidak sama dengan koefisien validitas aitem. Daya deskriminasi aitem dan validitas aitem merupakan dua hal berbeda dan pengertiannya tidak untuk dicampuradukkan. Indeks diskriminasi aitem semata-mata menunjukkan sejauh mana aitem yang bersangkutan berfungsi aseperti skala. Indeks daya diskriminasi aitem yangrendah berarti bahwa fungsi aitem yang bersangkutan tidak selaras dengan tujuan ukur skala.

Suatu skala yang seluruhnya berisi aitem dengan indeks diskriminasi tinggi berarti bahwa skala itu merupakan kumpulan aitem yang memiliki tujuan dan fungsi yang sama, tapi hal itu belum menunjukkan fungsi apa yang sebenarnya dimilikinya. Artinya suatu skala yang daya diskriminasi aitem-aitemnya tinggi, belum tentu valid untuk tujuan ukur yang direncanakan. Daya diskriminasi aitem tidak memiliki hubungan langsung dengan validitas skala. Dengan demikian, diharapkan para penyusun skala dan para peneliti yang menggunakan skala akan dapat melakukan evaluasi kualitas aitem dan kualitas skalanya dengan cara yang tepat dan menempatkan prosedur seleksi aitem pada proporsi yang selayaknya.

Memilih Aitem Berdasarkan Koefisien Korelasi Aitem Total (skripsi dan tesis)

            Parameter daya beda aitem yang berupa koefisien korelasi aitem total memperlihatkan kesesuaian fungsi aitem dengan fungsi skala dalam mengungkap perbedaan individual. Dengan demikian guna mengoptimalkan fungsi skala maka sangat logis apabila pemilihan aitem-aitemnya didasarkan pada besarnya koefisien korelasi termaksud.

Besarnya koefisien korelasi aitem total bergerak dari 0 sampai dengan 1,00 dengan tanda positif atau negative. Semakin baik daya diskriminasi aitem maka koefisien korelasinya semakin mendekati angka 1,00. Koefisien yang mendekati angka 0 atau yang memiliki tanda negative mengindikasikan daya diskriminasi yang tidak baik.

Sebagai kriteria pemilihan aitem berdasar korelasi aitem total biasanya digunakan batasan rix ≥ 0,30. Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 daya pembedanya di anggap memuaskan. Aitem yang memiliki harga rix atau ri(X-i) kurang dari 0,30 dapat di interpretasikan sebagai aitem yang memiliki daya diskriminasi rendah. Batasan ini merupakan suatu konvensi. Penyusun tes boleh menentukan sendiri batasan daya diskriminasi aitemnya dengan mempertimbangkan isi dan tujuan skala yangs edang disusun.

Apabila aitem yang memiliki indeks diskriminasi sama dengan atau lebih besar daripada 0,30 jumlahnya melebihi jumlah aitem yang direncanakan untuk dijadikan skala, maka kita dapat memilih aitem-aitem yang memiliki indeks daya diskriminasi tertinggi. Sebaliknya apabila jumlah aitem yang lolos ternyata masih tidak mencukupi jumlah yang di inginkan, kita dapat mempertimbangkan untuk menurunkan sedikit batas kriteria 0,30 – menjadi 0,25 misalnya sehingga jumlah aitem yang di inginkan dapat tercapai. Apabila hal ini tidak juga menolong, maka sangat mungkin kita harus merevisi seluruh aitem aitem baru sama sekali dan kemudian melakukan field testing kembali karena menurunkan batas kriteria rix dibawah 0,20 sangat tidak di sarankan.

Harus pula diketahui bahwa tingginya korelasi skor aitem dengan skor skala, sekalipun berperanan dalam meningkatkan reliabilitas skala, namun tidak selalu akan meningkatkan validitas skala. Bahkan semata-mata memilih aitem-aitem yang berkorelasi tinggi dengan skor skala akan berakibat menurunkan validitas isi dan validitas yang didasarkan pada kriteria ( lemke & Wiersma, 1976; Azwar, 1997 ).

Oleh karena itu, parameter daya diskriminasi aitem rixhendaknya tidak dijadikan patokan tunggal dalam menentukan aitem mana yang akhirnya diikutkan sebagai bagian skala dalam bentuk final dikarenakan di samping korelasi aitem total tersebut masih ada pertimbangan lain yang juga tidak kalah besar peranannya dalam menentukan kualitas skala. Pettimbangan itu antara lain adalah tujuan penggunaan hasil ukur skala dan komposisi aspek-aspek atau komponen-komponen yang dicakup oleh kawasan ukur yang harus diungkap oleh skala.

Koreksi Terhadap Efek Spurios Overlap (skripsi dan tesis)

            Apabila koefisien korelasi aitem total itu dihitung pada suatu skala yang berisi hanya sedikit aitem maka sangat mungkin akan diperol;eh koefisien korelasi aitem-total yang overestimated (lebih tinggi daripada sebenarnya) dikarenakan adanya overlap antara skor aitem dengan skor skala (Guilford,1965). Overestimasi ini dapat terjadi dikarenakan pengaruh kontribusi skor masing-masing aitem dalam ikut menentukan besarnya skor skala.

Sebagai contoh misalnya dalam sebuah skala skor di dapatkan dari penjumlahan skor-skor yang terdapat pada aitem-aitemnya, oleh karena itu dengan sendirinya skor setiap aitem menjadi bagian atau porsi dari skor skala tersebut. Porsi ini akan semakin besar apabila jumlah aitem dalam skala semakin sedikit. Dengan begitu, sewaktu kita menghitung koefisien korelasi suatu aitem dengan skor skala, sesungguhnya kita menghitung korelasi antara skor aitem yang bersangkutan. Dengan kata lain, kita menghitung korelasi skor dengan bagian dari dirinya sendiri dan hal ini tentu saja menyebabkan koefisien korelasinya cenderung menjadi lebih tinggi daripada kalau korelasi tersebut dihitung antara skor aitem dengan skor skala yang tidak mengandung aitem yang bersangkutan.

Semakin sedikit aitem yang ada dalam skala akan semakin besar overlap yang terjadi. Sebaliknya, semakin banyak jumlah aitem dalam skala maka akibat yang ditimbulkan oleh spurious overlap semakin kecil dan tidak signifikan. Sebagai pegangan kasar, bila jumlah aitem dalam skala lebih dari 30 buah maka umumnya efek spurious overlap tidak begitu besar dan karenanya dapat di abaikan, sedangkan apabila jumlah aitem dalam skala kurang dari 30 buah maka pengaruhnya menjadi substansial sehingga perlu diperhitungtkan.

Untuk korelasi aitem total yang dihitung dengan formula product moment Spearmen, formula koreksi terhadap efek spurious overlap adalah :

Ri(x-i) =                      rixsx – si

 

                √[Sx2 + Si2 – 2rixSiSx ]

Ri(x-i)  = koefisien korelasi aitem total setelah dikoreksi dari efek spurious overlap

rix            = Koefisien korelasi aitem total sebelum dikoreksi

si             = deviasi standar skor aitem yang bersangkutan

sx         = Deviasi skor standar skala

Parameter Aitem Untuk Skala  Pengukuran  (skripsi dan tesis)

            Daya beda atau daya diskriminasi aitem merupakan parameter yang paling penting dalam seleksi aitem skala psikologi yang mengukur atribut afektif. Daya diskriminasi aitem adalah sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan yang tidak memiliki atribut yang di ukur. Contohnya pada suatu skala yang disusun untuk mengungkap agresivitas, maka aitem yang berdaya beda tinggi adalah aitem yang mampu menunjukkan mana individu atau kelompok individu yang memiliki agresivitas tinggi dan mana yang tidak. Untuk skala sikap, aitem yang berdaya beda tinggi adalah aitem yang mampu membedakan mana subjek yang bersikap positif dan mana subjek yang bersikap negative.

            Indkes daya diskriminasi aitem merupakan pula indicator keselarasan atau konsistensi antara fungsi aitem dengan fungsi skala secara keseluruhan yang dikenal dengan istilah konsistensi aitem total. Prinsip kerja yang dijadikan dasar untuk melakukan seleksi aitem dalam hal ini adalah memilih aitem yang fungsi ukurnya selaras atau sesuai dengan fungsi ukur skala sebagaimana dikehendaki oleh penyusunnya. Atau dapat dikatakan memilih aitem yang mengukur hal sama dengan apa yang di ukur oleh skala sebagai keseluruhan.

            Pengujian daya diskriminasi aitem menghendaki dilakukannya komputasi koefisien korelasi antara distribusi skor aitem dengan suatu kriterian yang relevan, yaitu distribusi skor skala itu sendiri. Komputasi ini akan menghasilkan koefisien korelasi aitem-total yang dikenal pula dengan sebutan parameter daya beda aitem.

            Formula korelasi yang tepat untuk digunakan dalam komputasinya tergantung pada sifat penskalaan dan distribusi skor aitem dan skor skala itu sendiri. Bagi skala-skala yang setiap aitemnya diberi skor pada level interval dapat digunakan formula koefisien korelasi positif antara skor aitemdengan skor skala berarti semakin tinggi konsistensi antara aitem tersebut dengan skala keseluruhan yang berarti semakin tinggi daya bedanya. Bila koefisien korelasinya rendah mendekati nol berarti fungsi aitem tersebut tidak cocok dengan fungsi ukur skala dan daya bedanya tidak baik. Bila koefisien korelasi yang dimaksud ternyata negative artinya terdapat cacat serius pada aitem yang bersangkutan.

            Bila menggunakan formula person untuk komputasi koefisien korelasi aitem-total, dapat dipakai rumusan :

  rix  =                   ∑iX – ( ∑i)(∑X)/n

                    √[∑i2 – ( ∑i)2 / n][∑X2 – (∑X)2 /n]

  I = Skor aitem

X = Skor skala

N = Banyaknya subjek

Uji-Coba Aitem (skripsi dan tesis)

            Ujia coba empiris harus dilakukan dalam situasi dan kondisi testing yangs ebenarnya sehingga respons atau jawaban subjek merupakan respons yang sesungguhnya pula. Oleh sebab itu, subjek tidak boleh mengetahui bahwa pengenalan skala yang bersangkutan sebenarnya dilakukan sebagai suatu uji-coba. Guna menghasilkan kondisi testing yang ideal perlu di awali dari kompilasi aitem-aitem yang sudah harus disajikan dalam format final skala, yaitu dalam bentuk berkas atau buku yang dilengkapi dengan petunjuk cara pengerjaan misalnya pengerjaan , tata letak yang menarik dan mudah dibaca, lempar jawaban yang mudah digunakan, dan sebagainya. Tempat duduk responden tidak boleh berdesakan atau kurang leluasa sehingga memungkinkan responden merundingkan atau meniru jawaban responden lain sehingga tidak sesuai dengan keadaan seharusnya. Sekalipun responden tidak boleh diletakkan dalam situasi “sedang di uji” namun suasananya haruslah tetap serius.

            Untuk menghasilkan parameter-parameter yang cukup akurat dan stabil antar kelompok sampel, data empiris dari uji coba ini harus diperoleh dari subjek dalam jumlah yang banyak. Dengan subjek yasng jumlahnya cukup banyak diharapkan dapat diperoleh skor-skor yang variasinya menyebar secara noprmal atau mengikuti distribusi normal. Parameter-parameter aitem yang diperoleh dari skor yang terdistribusi secara normal akan lebih representative dan menggambarkan estimasi yang cermat terhadap sifat aitem-aitem yang dianalisis.

            Secara tradisional, statistika menganggap jumnlah sampel yang lebih dari 60 orang sudah cukup banyak. Namun secara metodologis besar-kecilnjya sampel yang representative harus di acukan pada heterogenitas populasi. Semakin heterogen populasi maka semakin banyak sampel yang di ambil. Heterogenitas populasi ini erat berkaitan dengan banyaknya cirri atau karakteristik populasi yang relevan untuk ikut dipertimbangkan.

            Banyaknya subjek yang perlu dijadikan sampel pengujian aitem dapat seratrus, dua ratus, empat ratus bahkan mungkin seribu atau beberapa ribu orang. Pada prinsipnya dalam ketrbatasan sumber daya yang ada dan mengingat pertimbangan teknik pelaksanaannya, harus tetap di usahakan untuk mengambil subjek dalam jumlah sebesar mungkin. Jumlah subjek yang terlalu sedikit akan mendatangkan keraguan mengenai distribusi skor subjek, mengenai kestabilan parameter yang diperoleh. Semakin banyak semakin baik.

            Hal ini mengingat bahwa parameter-parameter aitem akan dihasilkan oleh prosedur analisis aitem merupakan parameter yang secara kuantitatif tergantung pada karakteristik kelompok yang di gunakan sebagai sampel artinya parameter aitem yang diperoleh dari hasil analisis data pada suatu kelompok biasanya berbedadari parameter aitem yang sama apabila dihitung pada data kelompok yang lain. Parameter aitem akan semakin sensitive terhadap perbedaan yang terjadi apabila data yang digunakan berasal dari kelompok yang jumlahnya sangat sedikit atau yang merupakan kelompok pilihan. Itulah sebabnya jumlah subjek yang banyak dalam kelompok uji-coba akan memberikan rasa aman dan kepercayaan terhadap parameter aitem yang diperoleh.

Reliabilitas (skripsi dan tesis)

Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai kata rely dan ability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (reliable). Ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya (Azwar, 2009).
Azwar (2008) mengemukakan bahwa reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas  yang angkanya berada dalam rentang dari 0 sampai dengan 1.00. semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1.00 berarti semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya, koefisien yang semakin rendah mendekati angka 0 berarti semakin rendah reliabilitasnya.

Pengertian Validitas (skripsi dan tesis)

Menurut Azwar (2009), validitas berasal dari kata Validity yang mempunyai arti sejauhmana ketetapan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Senada dengan Suryabrata (2008) validitas instrumen didefinisikan sebagai sejauh mana instrumen itu merekam atau mengukur apa yang dimaksudkan untuk direkam atau diukur.
Validitas dinyatakan secara empirik oleh suatu koefisien, yaitu koefisien validitas (Azwar, 2009). Dalam penelitian ini pengujian tingkat kesahihan alat ukur dilakukan uji validitas, yang biasanya digunakan batasan rix ≥ 0,30. Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 daya pembedanya dianggap memuaskan, sebaliknya aitem yang memiliki harga  atau  kurang dari 0,30 dapat diinterpretasikan sebagai aitem yang memiliki daya diskriminasi rendah. Apabila aitem yang memiliki daya diskriminasi sama dengan atau lebih besar daripada 0,30 jumlahnya melebihi jumlah aitem yang direncanakan untuk dijadikan skala, maka kita dapat memilih aitem-aitem yang memiliki indeks daya diskrimnasi tertinggi. Sebaliknya, apabila jumlah aitem yang lolos ternyata masih tidak mencukupi jumlah yang diinginkan, kita dapat mempertimbangkan untuk menurunkan sedikit batas kriteria 0,30 menjadi 0,25 (Azwar, 2008).

UNSUR YANG MENENTUKAN ULANGAN DALAM PERCOBAAN/EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

Jumlah r (ulangan) yang diperlukan dalam suatu percobaan dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu:

  1. Derajat ketelitian, makin tinggi derajat ketelitian yang diinginkan dari percobaan akan makin besar pula jumlah r yang diperlukan, dan sebaliknya jika derajat ketelitian yang diperlukan makin rendah
  2. Keragaman bahan, alat, media dan lingkungan percobaan. Jika bahan, alat, media dan lingkungan percobaan makin heterogen maka jumlah r yang diperlukan makin besar dan sebaliknya jika bahan, alat, media dan lingkungan percobaan makin homogen maka jumlah r yang diperlukan makin sedikit.
  3. Biaya penelitian yangtersedia, karena bagaimanapun juga biaya merupakan faktor penentu dalam penelitian, jika biaya yang diperukan suatu percobaan cukup besar, maka jumlah r dapat diperkecil dan sebaliknya jika biaya percobaan tidak terlalu besar

 

(Kemas, 2012)

UNSUR-UNSUR DASAR PERCOBAAN/EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

 

Unsur-unusr dasar percobaan adalah perlakuan, ulangan dan lokal kontrol yang diuraikan sebagai berikut:

  1. Perlakuan

Adalah semua tindakan coba-coba yang dilakukan terhadap suatu objek yang pengaruhnya akan diselediki untuk menguji hipotesis. Perlakuan ini dapat berasal dari faktor kualitas (mutu) yaitu perlakuan yang hanya memperhitungkan mutu perlakuan X

  1. Ulangan (replication)

Adalah frekuensi (banyaknya) suatu perlakuan yang diselediki dalam suatu percobaan. Jumlah ulangan suatu perlakuan tergantung pada derajat ketelitian yang diinginkan oleh si peneliti terhadap kesimpulan hasil percobaan

  1. Lokal kontrol

Lokal kontrol merupakan upaya pengendalian kondisi lapangan yang heterogenyang menjadi nisbi homogen, setidak-tidaknya pada lokal-lokal tertentu yang ditujukan untuk menekan galat menjadi nisbi kecil sehingga bisa menonjolkan satu atau beberapa perlakuan yang logisnya memang lebih menonjol dari perlakuan kontrol atau perlakuan-perlakuan lainnya.

Apabila rancangan percobaan pada kondisi homogen seperti di labotarium, rumah kaca atau di ruang-ruang terkontrol lainnya yang dsebut dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) hanya mempunyai 2 unsur dasar yaitu perlakuan dan ulangan maka percobaan yang digunakan pada kondisi heterogen di lapangan seprti sawah, ladang dan kebun percobaan, di samping mempunyai 2 unsur dasar juga mempunyai unsur ke tiga yang disebut lokal kontrol

 

(Kemas, 2012)

 

 

 

 

 

 

NILAI YANG DIDAPATKAN DARI PERCOBAAN/EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

 

Nilai yang diperoleh dari mengamati sutu objek pengamatan pada penelitian percobaan dapat dipilah menjadi dua macam, yaitu:

  1. Nilai-nilai tidak bebas terjadi secara rambang dengan bersaran yangterganting pada hasil pengamatan/pengukuran Y, sehingga disebut dengan peragam/peubah tak bebas Y (dependent random variable Y) yang dalam hubungan kasuatif disebut dengan faktor akibat. Dalam percobaab, besaran nilai Y ini tidak tergantung pada kebutuhan peneliti, disebut dengan faktor akibat dan
  2. Nilai-nilai bebas yang terjadi secara rambang dengan besaranyang digantung pada kondisi/cara/waktu pengamatan/pengukuran sehingga disebut peragam/peubah bebas X (independet random variable X) yang dalam hubungan kasuatif disebut juga dengan faktor sebab adanya Y. Dalam percobaan, besaran nilai-nilai Y tergantung pada pengaruh X (perlakuan dan kondisi percobaan).

PENGERTIAN PERCOBAAN/EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

 

Percobaan atau eksperimen merupakan serangkaian kegiatan di mana setiap tahap dalam rangkaian benar-benar terdefinisikan, dilakukan untuk menemukan jawaban tentang permasalah yang diteliti melalui suatu pengujian hipotesis. Pola atau tata cara penerapan tindakan-tindakan (perlakuan dan non perlakuan) dalam suatu percobaan pada kondisi/lingkungan tertentu yangkemudian menjadi dasar penataan dan metode analisis terhadap data hasilnya disebut rancangan percobaan (experimental design).

 

(Kemas, 2012)

TUJUAN UMUM PEMODELAN STATISTIK DALAM SEM (skripsi dan tesis)

  • Memberikan cara yang efisien dan sesuai untuk menggambarkan struktur variabel laten yang mendasari seperangkat variabel yang diobservasi
  • Mengekspresikan dengan diagram atau menggunakan persamaan matematis
  • Menyusun postulat menggunakan model statistik yang didasarkan pada pengetahuan peneliti terhadap teori yang sesuai, riset empiris kajiannya, atau kombinasi antara teori dan empiris.
  • Menentukan keselarasan (Goodness of Fit) antara model yang dihipotesiskan dengan data sampel.
  • Menguji seberapa cocok antara data hasil observasi dengan dengan struktur model yang dibuat
  • Mengetahui  residual / perbedaan antara model yang dihipotesiskan dengan data observasi

 

 

 

 

Model Analisis Faktor Dalam SEM (skripsi dan tesis)

  1. Exploratory Factor Analysis (EFA)– : dirancang untuk suatu situasi dimana hubungan antara variabel – variabel yang diobservasi dan variabel laten tidak diketahui atau tidak jelas
  2. Confirmatory Factor Analysis (CFA)– : digunakan untuk riset dimana peneliti sudah mempunyai pengetahuan mengenai struktur variabel laten yang melandasinya. Didasarkan pada teori atau riset empiris yang bersangkutan membuat postulat /asumsi / reasoning hubungan antara pengukuran yang diobservasi dengan faktor – faktor yang mendasarinya sebelumnya kemudian melakukan pengujian struktur hipotesis ini secara statistik.

Kesimpulan: Model analisis faktor EFA dan CFA berfokus pada bagaimana dan sejauh mana semua – variabel yang diobservasi berhubungan dengan faktor – faktor laten yang mendasarinya. Dengan kata lain, model analisis ini berfokus pada sejauh mana variabel – variabel yang diobservasi ini dihasilkan oleh konstruk – konstruk laten yang mendasarinya; dengan demikian, kekuatan semua jalur regresi dari semua faktor tersebut kearah semua variabel yang diobservasi secara langsung (koefesien regresi / factor loadings) menjadi fokus analisisnya. Karena model ini, khususnya CFA hanya berfokus pada hubungan antara faktor – faktor dan semua variabel yang diukur maka dalam perspektif SEM disebut sebagai Measurement Model.

UKURAN SAMPEL SEM (skripsi dan tesis)

 

Ukuran sampel yang ideal untuk SEM sebaiknya antara 200 – 400

Jika menginginkan hasilnya semakin tepat, maka sebaiknya lebih besar dari 400 dengan 10-15 variable yang diobservasi dan dengan tingkat kesalahan sebesar 5%

Untuk tingkat kesalahan 1% diperlukan data sekitar 3200.