Definisi dan Pengertian Inovasi


Inovasi adalah salah satu pilihan korporasi dalam menghadapi persaingan
pasar dan pengelolaan yang berkelanjutan. Freeman (2004) menganggap inovasi
sebagai upaya dari perusahaan melalui penggunaan teknologi dan informasi untuk
mengembangkan, memproduksi dan memasarkan produk yang baru untuk industri.
Dengan kata lain inovasi adalah modifikasi atau penemuan ide untuk perbaikan
secara terus-menerus serta pengembangan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Pervaiz K. Ahmed and Charles D. Shepherd (2010) inovasi perusahaan dapat
menghasilkan R&D (Research and Development), produksi serta pendekatan
pemasaran dan akhirnya mengarah kepada komersialisasi inovasi tersebut. Dengan
kata lain inovasi adalah proses mewujudkan ide baru, yang berbeda dengan yang
dulu, dengan cara produksi atau dengan membuatnya menjadi nyata, dimana inovasi
termasuk generasi evaluasi, konsep baru dan implementasi. Dimana penggunaan
metode baru dan berbeda serta teknologi untuk meningkatkan kualitas biaya atau
lebih rendah, untuk memenuhi atau melampaui target perusahaan.
Pervaiz K. Ahmed and Charles D. Shepherd (2010) inovasi tidak hanya
terbatas pada benda atau barang hasil produksi, tetapi juga mencakup sikap hidup,
perilaku, atau gerakan-gerakan menuju proses perubahan di dalam segala bentuk tata
kehidupan masyarakat. Jadi, secara umum, inovasi berarti suatu ide, produk,
informasi teknologi, kelembagaan, perilaku, nilai-nilai, dan praktik-praktik baru yang
belum banyak diketahui, diterima, dan digunakan atau diterapkan oleh sebagian
besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau
mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat
demi terwujudnya perbaikan mutu setiap individu dan seluruh warga masyarakat
yang bersangkutan

Financial Behavior (skripsi dan tesis)

Financial behavior adalah ilmu yang menjelaskan mengenai perilaku
seseorang dalam mengatur keuangan mereka dari sudut pandang psikologi dan
kebiasaan individu atau seseorang tersebut, Ilmu ini juga menjelaskan
mengenai pengambilan keputusan yang irasional terhadap keuangan mereka
(Ersha, 2016).
Financial behavior berhubungan dengan tanggung jawab keuangan
seseorang mengenai cara pengelolaan keuangan mereka. Tanggung jawab
keuangan adalah proses pengelolaan uang dan aset lainnya dengan cara yang
dianggap produktif. Tugas utama pengelolaan uang adalah proses
penganggaran. Anggaran bertujuan untuk memastikan bahwa individu mampu
mengelola kewajiban keuangan secara tepat waktu dengan menggunakan
penghasilan yang diterima dalam keuangan yang sama (Ida & Dwinta, 2010).
Financial behavior adalah kemampuan seseorang dalam mengatur yaitu
perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian,
pencarian dan penyimpanan dana keuangan sehari-hari. Munculnya financial
behavior merupakan dampak dari besarnya hasrat seseorang untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya sesuai dengan tingkat pendapatan yang diperoleh
(Iramani,2013). prinsip dasar financial management behavior terbagi menjadi
empat hal utama yaitu:
a. Konsumsi, yaitu pengeluaran rumah tangga atas berbagai barang dan
jasa.
b. Tabungan, yaitu pendapatan yang tidak dikonsumsi rumah tangga pada
suatu periode tertentu.
c. Investasi, yaitu pengalokasian dan pemanfaatan sumber daya yang ada
saat ini untuk mencapai tujuan masa yang akan dating.
d. Manajemen Hutang, yaitu kemampuan seseorang dalam memanfaatkan
utang agar tidak membuat anda mengalami kebangkrutan

Financial Attitude (skripsi dan tesis)

Sikap merupakan penggambaran kepribadian diri baik secara fisik maupun
pikiran terhadap keadaan atau objek tertentu (Yulianti, 2013). Sedangkan
attitude merupakan sikap terhadap objek, individu maupun peristiwa baik itu
yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan (Budiono, 2012).
Financial attitude menurut (Parrotta & Jhonson, 1998) yaitu memandang uang
sebagai power/freedom, reward for efforts atau evil. Dengan kata lain sikap
terhadap uang seseorang adalah bagaimana seseorang memiliki pandangan
mengenai uang yakni uang sebagai sumber kekuatan dan kebebasan, prestasi,
ataupun sumber kejahatan. Oleh sebab itu Financial attitude sangat berperan
penting dalam menentukan Financial management behavior seseorang.
Financial attitude dapat membentuk cara orang untuk menghabiskan,
menyimpan, menimbun, dan membuang uang Ada tiga komponen utama dari
attitude yaitu :
a. Kognitif
Kognitif merupakan suatu opini atau keyakinan dari sikap yang
menentukan tingkatan untuk sesuatu atau bagian yang lebih penting
dari sikap.
b. Afektif
Afektif (perasaan) adalah emosional yang berada dalam diri setiap
individu. Perasaan juga diartikan sebagai pernyataan dari sikap yang
diambil
c. Perilaku
Perilaku atau tindakan adalah cerminan dari bagaimana individu
berperilakudalam cara tertentu terhadap sesuatu atau seseorang. Setiap
individu yang selalu menerapkan financial attitude di dalam
kehidupannya akan mempermudah individu tersebut dalam
menentukan sikap dan berperilaku dalam hal keuangan, seperti
mengelola keuangan, menyusun anggaran pribadi dan membuat
keputusan berinvestasi yang tepat.
Dalam melakukan pengelolaan keuangan, attitude juga diperlukan agar
memiliki keuntungan untuk masa depan baik dalam modal berinvestasi
maupun untuk tabungan masa depan. Financial attitude merupakan
pertimbangan secara psikologi terhadap kecenderungan dalam
memperlihatkan rekomendasi praktek manajemen keuangan berdasarkan
pernyataan setuju atau tidak setuju. Financial attitude lebih mengarahkan
kepada sebuah keyakinan dan kepercayaan yang behubungan dengan
bermacam konsep dasar keuangan individu seperti apakah pentingnya dalam
melakukan penyimpanan uang atau menabung (Parotta & Jhonson, 1998)
Financial attitude menjadi prediktor yang signifikan bagi keberhasilan
maupun kegagalan dalam mengelola keuangan agar yakin dalam melakukan
pembuatan keputusan keuangan yang tepat. Membentuk financial attitude
yang baik akan memudahkan dalam melakukan pengelolaan keuangan dan
apabila tidak, akan berdampak pada perilaku keuangan yang buruk yang dapat
menyebabkan berbagai persoalan yang tidak dinginkan terjadi. Hal inilah yang
menyebabkan financial attitude menjadi salah satu penentu yang membuat
seseorang berbeda dengan yang lainnya karena pengaruh dari perilaku
keuangan seseorang (Sina, 2013).
Individu yang memiliki financial attitude dapat menentukan bagaimana
sikap dan perilaku mengenai hal yang berhubungan dengan keuangan seperti
pengelolaan, penganggaran maupun keputusan yang akan diambil. Hal ini
dikarenakan adanya tujuan yang dicapai dalam merencanakan keuangan baik
dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Selain itu individu juga
memiliki attitude yang berbeda dalam melakukan pengelolaan keuangan
karena individu berada dalam kondisi keuangan dan target keuangan yang
berbeda satu dengan yang lainnya (Yulianti, 2013).
Ada empat dimensi indikator dari financial attitude Money Attitude Scale
(MAS) yaitu :
a. Power-prestige
Faktor ini menggunakan uang sebagai alat untuk mempengaruhi
maupun memberikan kesan kepada orang lain dan juga merupakan
simbol kesuksesan. Bagi sebagian orang, uang berarti kekuatan
digunakan untuk membeli status, kekuasaan dll.
b. Distrus
Pada faktor ini disebut juga dengan price sensitivity. Karena bagi
sebagian orang memiliki sikap yang sensitif terhadap harga yang
dibayarkan untuk mendapatkan suatu barang atau jasa. Sehingga
adanya kemungkinan setiap orang memiliki kemampuan untuk
melakukan keputusan pembelian yang baik dan lebih efisien
c. Anxiety
Faktor ini melihat uang sebagai sesuatu sumber yang mendatangkan
kecemasan. Dengan adanya tingkat kekhawatiran maupun kecemasan
yang tinggi dalam menggunakan uang akan berakibat pada
berkurangnya intensitas dorongan untuk melakukan pembelian
terhadap barang ataupun jasa
d. Retention-time
Faktor yang berkaitan dengan waktu penyimpanan untuk masa depan.
Hal ini dapat berarti dibutuhkan perencanaan dalam menggunakan
maupun membelanjakan uang yang bermanfaat pada masa depan

Aspek dalam Financial knowledge (skripsi dan tesis)

Menurut (Lusardi, 2010) literasi keuangan mencakup 5 (lima) konsep
keuangan, yaitu :
1) Pengetahuan Dasar Mengenai Keuangan Pribadi (Basic Personal
Finance) Konsep ini mencakup berbagai pemahaman seseorang
terhadap suatu system keuangan (perhitungan tingkat bunga
sederhana, bunga majemuk, tingkat inflasi, nilai waktu uang, modal
kerja dan lain-lain).
2) Pengetahuan Mengenai Manajemen Uang (Money Management).
Konsep ini mencakup bagaimana setiap individu dapat mengelola
dan menganalisis keuangan pribadi mereka. Pemahaman literasi
keuangan yang baik memberikan praktek keuangan yang baik pula
pada pengelolaan keuangan setiap individu. Dalam hal ini, setiap
individu juga diarahkan tentang bagaimana menyusun anggaran dan
membuat prioritas penggunaan dana yang tepat sasasaran agar bisa
membuat keputusan yang tepat dan bisa mengatur dan mengelola
keuangan dengan baik.
3) Pengetahuan mengenai Kredit dan Utang (Credit and Debt
Management) Menurut UU No 10 Tahun 1998 tentang perubahan
atas UU No 7 Tahun 1992 tentang perbankan, kredit ialah
penyediaan uang atau tagihan yang dapat disamakan, berdasarkan
persetujuan atau kesepakatan antar bank dengan pihak lain yang
mewajibkan pihak meminjam untuk melunasi utangnya setelah
jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Sedangkan
manajemen utang merupakan konsep proses pembayaran utang yang
melibatkan pihak ketika untuk membantu peminjam utang. Konsep
ini mencakup bagaimana setiap individu dapat memanfaatkan kredit
dan utang saat mengalami kekurangan dana. Dengan semakin
meningkatnya kebutuhan setiap individu yang mengakibatkan
ketidakseimbangan terhadap pengeluaran dan pendapatan, maka
setiap individu dapat menggunakan kredit dan utang sebagai solusi
masalah tersebut.
4) Pengetahuan Mengenai Tabungan dan Investasi (Saving and
Investment) Tabungan merupakan bagian dari pendapatan
masyarakat yang tidak di pergunakan untuk kegiatan konsumsi,
sedangkan investasi merupakan bagian dari tabungan yang
dipergunakan untuk kegiatan ekonomi yang menguntungkan dalam
menghasilkan produk berupa barang dan jasa.
5) Pengetahuan Mengenai Resiko (Risk Management) Secara umum
resiko yang dihadapi oleh setiap individu antara lain:
a. Risiko akibat kematian, kecelakaan ataupun penyakit
(Risiko Personal).
b. Tanggungjawab terhadap kerugian ekonomi orang lain
akibat kelalaian kita (Risiko Kewajiban).
c. Risiko atas rusak atau kehilangan asset yang dimiliki (Risiko
Aset).
Cara menangani risiko akan berpengaruh terhadap keamanan financial
dimasa yang akan datang. Salah satu cara tepat yang yang dapat
menanggulangi risiko tersebut yaitu dengan mengasuransikan asset dan hal-hal
beresiko. Financial knowledge sangat diperlukan dalam memilih asuransi asset
sebagai pengelola risiko tersebut dan menghindari risiko tambahan yang
mungkin akan terjadi

Financial Knowledge (skripsi dan tesis)

Financial knowledge adalah penguasaan seseorang atas berbagai hal tentang
dunia keuangan (Kholilah & Iramani, 2013). Secara umum, kurangnya
financial knowledge seseorang disebabkan oleh pendidikan. Dengan asumsi
bahwa pendidikan dapat meningkatkan financial knowledge yang akan
menghasilkan pengambilan keputusan keuangan yang lebih efektif (Robb &
Woodyard, 2011). Financial knowledge dapat diperoleh dari pendidikan formal
dan sumber-sumber informal. Pendidikan formal ini seperti program sekolah
tinggi atau kuliah, seminar, dan kelas pelatihan di luar sekolah. Sedangkan
sumber-sumber informal dapat diperoleh dari lingkungan sekitar, seperti dari
orang tua, teman, dan rekan kerja, maupun yang berasal dari pengalaman
sendiri.

Fungsi Minat (skripsi dan tesis)

Fungsi minat tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan fungsi dari
motivasi. Persamaan diantara kedua fungsi tersebut yaitu adanya keinginan,
hasrat, dan tenaga penggerak lainnya yang berasal dari dalam dirinya untuk
melaksanakan sesuatu dan juga memberi tujuan dan arah kepada tingkah
laku sehari–hari (W. A. Gerungan, 2012:141)

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat (skripsi dan tesis)

(Fatmasari, 2011) menerangkan bahwa faktor faktor yang mempengaruhi
timbulnya minat, secara garis besar dikelompokkan menjadi dua yaitu:
1) Dorongan dari dalam diri individu yang bersangkutan (misal: bobot,
umur, jenis kelamin, pengalaman, perasaan mampu, kepribadian).
2) Dorongan dari pihak luar (misalnya: lingkungan, sekolah dan
masyarakat).

Minat investasi  (skripsi dan tesis)

Ciri-ciri seseorang yang berminat untuk berinvestasi dapat diketahui
dengan seberapa berusahanya mereka dalam mencari tahu tentang suatu
jenis investasi, mempelajari dan kemudian mempraktikanya. Hal ini senada
dengan pendapat (Kusmawati, 2011) yang menyatakan bahwa minat
berinvestasi adalah keinginan untuk mencari tahu tentang jenis suatu
investasi dimulai dari keuntungan, kelemahan, kinerja investasi dan lain
sebagainya. Ciri lain yang dapat dilihat adalah mereka akan berusaha
meluangkan waktu untuk mempelajari lebih jauh tentang investasi tersebut
atau mereka langsung mencoba berinvestasi pada jenis investasi tersebut,
bahkan menambah ’porsi’ investasi mereka yang sudah ada.
(Triwijayati & Koesworo, 2006) mengungkapkan dalam teori sikap yaitu
Theory of Reasoned Action yang dikembangkannya, bahwa adanya
keinginan untuk bertindak karena adanya keinginan yang spesifik untuk
berperilaku. Ini menunjukkan bahwa niat berperilaku dapat menunjukkan
perilaku yang akan dilakukan oleh seseorang. Hal tersebut menunjukan
bahwa seorang yang memiliki minat berinvestasi maka kemungkinan besar
dia akan melakukan tindakan-tindakan yang dapat mencapai keinginan
mereka untuk berinvestasi, seperti mengikuti pelatihan dan seminar tentang
investasi, menerima dengan baik penawaran investasi, dan pada akhirya
melakukan investasi.
(Diharja, 2008) menyimpulkan hasil penelitian untuk sampel 100 orang,
terdapat sembilan variabel bebas yang mempengaruhi minat investasi
masyarakat yaitu: return dan risiko, likuiditas, rentang waktu, pajak dan
biaya, peraturan, hukum dan kredibilitas, teknologi dan infrastruktur, variasi
produk, pasar dan ketersediaan informasi yang dihubungkan dengan minat
investasi masyarakat Sedangkan untuk variabel tidak bebas, yaitu variabel
kategori seperti umur, jenis kelamin, status, pendidikan, pekerjaan,
penghasilan, lokasi tempat tinggal, lokasi tempat kerja dan sisa penghasilan,
hanya variabel pekerjaan dan penghasilan yang berpengaruh secara
signifikan terhadap minat investasi masyarakat

Theory of Planned Behavior/ Theory of Reasoned Action (skripsi dan tesis)

Teori yang dapat menjelaskan hubungan antara sikap dengan perilaku
seseorang adalah Theory of Planned Behavior (TPB) yang merupakan
pengembangan dari Theory of Reasoned Action (TRA). Theory of Reasoned
Action (TRA) dapat diaplikasikan ke dalam perilaku konsumen. Misalnya
pada perilaku membeli dipengaruhi oleh niat (intention), sikap terhadap
perilaku (attitude towards behavior) dan norma-norma subjektif (subjective
norm) (Dharmmesta, 2010). Teori ini menjelaskan bahwa sikap akan
mempengaruhi perilaku melalui suatu proses pengambilan keputusan yang
teliti dan beralasan, dan berdampak pada tiga hal yaitu: (1) perilaku bukan
hanya dipengaruhi oleh sikap secara umum tetapi juga dengan oleh sikap
yang lebih spesifik terhadap suatu obyek, (2) perilaku tidak hanya
dipengaruhi oleh sikap tetapi juga oleh norma-norma subyektif yaitu
keyakinan mengenai apa yang orang lain inginkan agar melakukan sesuatu,
dan (3) sikap terhadap perilaku bersama dengan norma subyektif
membentuk niat untuk berperilaku.
(Thimotius, 2016) mengemukakan di dalam Theory of Planned
Behavior, bahwasanya manusia cenderung bertindak sesuai dengan intensi
dan persepsi pengendalian melalui perilaku tertentu, dimana intensi
dipengaruhi oleh tingkah laku, normai subjektif serta pengendalian perilaku.
Dari ketiga hal yang menentukan intensi tersebut, tingkah laku merupakan
poin utama yang mampu memprediksi sebuah perilaku. Pada Theory of
Planned Behavior ini juga dijelaskan bahwa niat berperilaku (behavioral
intention) tidak hanya dipengaruhi oleh sikap terhadap perilaku (attitude
towards behavior) dan norma subyektif (subjective norm), tetapi juga
dipengaruhi oleh kontrol keperilakuan yang dirasakan (perceived behavioral
control). Kontrol keperilakuan dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan
perkiraan seseorang mengenai sulit atau tidaknya untuk melakukan perilaku
tertentu (Azwar, 2009). Karenanya niat berperilaku dapat menunjukkan
perilaku yang akan dilakukan oleh seseorang. Hal ini dapat menjelaskan
apabila seorang yang memiliki minat berinvestasi maka dia cenderung akan
melakukan tindakan-tindakan untuk dapat mencapai keinginannya
berinvestasi. Misalkan dengan mengikuti pelatihan dan seminar tentang
investasi, menerima dengan baik penawaran investasi, dan pada akhirnya
melakukan investasi (Kusmawati, 2011).

Minat Berinvestasi (skripsi dan tesis)

Minat pada dasarnya adalah sebab akibat dari pengalaman (Khairani, 2017).
Menurut (Syahyunan, 2015) investasi adalah komitmen atas sejumlah dana
atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan
memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Salah satu faktor yang
mempengaruhi minat adalah factor inner urge yaitu bahwa rangsangan yang
datang dari lingkungan atau ruang lingkup yang sesuai dengan keinginan atau
kebutuhan seseorang akan mudah menimbulkan minat.
Minat sangat besar pengaruhnya terhadap aktivitas yang dilakukan
khususnya bagi seseorang yang sedang melakukan aktivitas pembelajaran
terkait investasi atau sedang menempuh pendidikan di fakultas ekonomi yang
erat kaitannya dengan investasi, maka dari pembelajaran yang dilakukan, akan
dapat menambah pengetahuannya mengenai suatu investasi. Dengan
pengetahuan yang didapat dari aktivitas pembelajaran mengenai manajemen
keuangan dan investasi, mengikuti seminar-seminar tentang investasi,
kemudahan memperoleh informasi perkembangan investasi yang diperoleh
melalui internet, maka akan dapat merangsang timbulnya minat seseorang
untuk melakukan investasi

Indikator Lingkungan Keluarga (skripsi dan tesis)

Slameto (2010: 60) mengungkapkan terdapat beberapa indikator yang
dapat digunakan untuk mengukur variabel lingkungan keluarga, diantaranya
adalah cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah,
keadaan ekonomi keluarga, perhatian dari orang tua, dan latar belakang
kebudayaan.
a) Cara orang tua mendidik.
Menurut Sutjipto Wirowidjojo dalam Slameto (2010: 61), “Keluarga adalah
lembaga pendidikan yang pertama dan paling utama”. Metode yang
diterapkan oleh orang tua dalam mendidik akan membentuk karakter dalam
diri seorang anak. Bimbingan belajar dan pembentukan karakter sangat
dibutuhkan oleh seorang anak agar terciptanya hasil didikan yang baik.
b) Relasi antara anggota keluarga.
Relasi antara anggota keluarga yang terpenting adalah relasi antara anak
dengan orang tua, setelah itu tercipta juga relasi yang baik antara anak dengan
saudaranya yang lain. Relasi antara anggota keluarga ini erat kaitannya
dengan bagaimana cara orang tua mendidik. Hal ini akan berpengaruh
terhadap perkembangan karakter dan sikap seorang anak.
c) Suasana rumah.
Suasana rumah merupakan suatu kejadian yang sering terjadi dan dialami
oleh seorang anak di dalam lingkungan keluarganya. Suasana rumah akan
memperngaruhi hasil belajar seorang anak, karena rumah tersebut dijadikan
sebagai tempat untuk seorang anak belajar. Maka dari itu, di dalam rumah ini
harus menciptakan suasana rumah yang aman, tentram, dan damai, sehingga
akan memberikan dampak positif pula terhadap proses dan hasil belajar anak.
d) Keadaan ekonomi keluarga.
Keadaan ekonomi keluarga akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan
pokok seorang anak, kebutuhan pokok itu diantaranya kebutuhan akan sarana
dan prasarana pendidikannya, kebutuhan kesehatannya, dan yang lainnya.
Tentunya hal ini akan mempengaruhi perkembangan belajar anak.
e) Perhatian dari orang tua.
Demi tercapainya keberhasilan proses belajar, seorang anak membutuhkan
dorongan, pengertian, dan perhatian dari orang tua. Dengan adanya perhatian
dari orang tua, seorang anak akan merasakan hal positif dan terpacu untuk
berprestasi dalam bidang yang diminatinya.
f) Latar belakang kebudayaan.
Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap
anak dalam belajar dan menentukan sesuatu. Perlu kepada anak ditanamkan
kebiasaan-kebiasaan yang baik, agar mendorong semangat anak untuk
belajar.

Pengertian Lingkungan Keluarga (skripsi dan tesis)

Lingkungan merupakan sebuah tempat tinggal dimana seseorang akan
mendapatkan pengalaman selama hidup di lingkungan yang ditempati. Suatu
lingkungan akan menjadi rumah bagi setiap orang, dan ia akan mampu mengenal
satu sama lain serta dipaksa untuk mampu hidup bersosialisasi. Lingkungan
keluarga merupakan ruang lingkup terkecil dari masyarakat yang terdiri dari ayah,
ibu, dan anak. Keluarga akan menjadi kelompok sosial pertama yang menjadi
pusat identifikasi anak, serta tempat anak membentuk karakter dan membuat
keputusan dalam menentukan suatu tindakan.
Menurut Slameto dalam Henawati Prilovia dan Iskandar (2018: 58)
menyatakan bahwa “Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari lingkungan
keluarga berupa cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana
rumah, dan keadaan ekonomi keluarga”. Dalam lingkungan keluarga, seseorang
akan mendapatkan pengalaman pertama dalam kehidupannya. Menurut Agus
Wibowo dalam Henawati Prilovia dan Iskandar (2018: 58), menyatakan
“Pendidikan kewirausahaan memang sangat efektif jika ditanamkan kepada anak
sejak dalam lingkungan keluarga”. Sedangkan menurut Syamsu Yusuf dalam Putu
Eka Desy Yanti, I Made Nuridja, dan I Ketut Dunia (2014: 3), menyatakan
bahwa:
“Dalam keluarga akan terjadi interaksi sosial dimana seorang anak pertama-tama
belajar memerhatikan keinginan-keinginan orang lain, belajar bekerja bersama,
saling membantu, disini anak belajar memegang peranan sebagai makhluk sosial
yang mempunyai norma-norma dan kecakapan-kecakapan tertentu dalam
pergaulannya dengan orang lain”.
Berdasarkan beberapa pengertian lingkungan keluarga di atas, maka dapat
disimpulkan lingkungan keluarga merupakan sebuah tempat yang di dalamnya
terdapat beberapa pihak yang berperan penting dan dapat memberikan pengaruh
bagi pembentukan karakter seseorang, pengenalan kepribadian dan menggali
potensi yang ada pada diri seseorang tersebut serta pembentukan karakter dan
pengenalan diri seseorang akan dipengaruhi besar oleh kondisi sosial orang tua
dan keluarga.

Indikator Pendidikan Kewirausahaan (skripsi dan tesis)

Menurut Bukirom et al. dan Fatoki dalam I Kade Aris Fitriawan Dusak
dan Ida Bagus Sudiksa (2016: 5197), indikator pendidikan kewirausahaan adalah sebagai berikut.
a) Metode yang digunakan dalam pendidikan kewirausahaan, dengan
menggunakan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan siswa, maka
siswa akan dengan mudah memahami apa yang akan disampaikan oleh
gurunya.
b) Materi kewirausahaan yang diberikan dalam pendidikan kewirausahaan.
c) Tujuan dari pengajaran pendidikan kewirausahaan dalam menumbuhkan niat
berwirausaha.
Ungkapan lain tentang indikator pendidikan kewirausahaan diungkapkan
dalam jurnal Andhika Wahyudiono (2016: 83) yaitu sebagai berikut:
a) Tujuan pendidikan.
b) Sarana dan prasarana.
c) Materi pengajaran.
d) Metode pengajaran.
Dalam penelitian ini akan menggunakan 2 (dua) pendapat tentang
indikator yang digunakan untuk mengukur variabel pendidikan kewirausahaan,
yaitu menurut Bukirom et al dan Fatoki dalam I Kade Fitriawan Dusak (2016:
5197) dan indikator yang dinyatakan dalam jurnal Andhika Wahyudiono (2016:
83) yaitu diantaranya metode yang digunakan dalam pendidikan kewirausahaan,
materi kewirausahaan dalam pendidikan kewirausahaan, tujuan dari pengajaran
pendidikan kewirausahaan, dan sarana dan prasarana yang digunakan dalam
proses pendidikan kewirausahaan.

Pengertian Pendidikan Kewirausahaan (skripsi dan tesis)

Pendidikan pada dasarnya adalah sebagai pondasi dan petunjuk bagi seseorang dalam bertindak atau melakukan sesuatu dan sebagai dasar memiliki tujuan untuk mengembangkan segala hal yang dimiliki oleh seseorang yang telah dibawa sejak lahir. Seperti pernyataan Ki Hajar Dewantara dalam buku pendidikan lingkungan sosial budaya (2015: 19), bahwa “Pendidikan adalah tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka 18 sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya”. Adapula menurut Langgulung dalam buku pendidikan lingkungan sosial budaya (2015: 19), “Pendidikan adalah proses pemindahan nilai pada suatu masyarakat kepada setiap individu yang ada di dalamnya dan proses pemindahan nilai-nilai budaya atau pengajaran”. Pendidikan kewirausahaan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi minat berwirausaha pada diri seseorang dan sangat memiliki peranan penting. Pendidikan kewirausahaan ini dilaksanakan melalui proses pembelajaran berupa penyampaian teori dan pelaksanaan praktik. Dalam teori tentang pendidikan yang dikemukakan oleh Buchari Alma dalam Sifa Farida dan Ahmad Nurkhin (2016: 277), menurutnya keberanian membentuk wirausaha didorong oleh lembaga pendidikan atau sekolah, sekolah yang memberikan mata pelajaran kewirausahaan yang praktis dan menarik dapat menumbuhkan minat mahasiswa untuk berwirausaha. Sedangkan menurut Thomas W, Zimmerer dalam buku kewirausahaan (2010: 1), “Kewirausahaan merupakan hasil dari suatu disiplin serta proses sistematis penerapan kreativitas dan inovasi dalam memenuhi kebutuhan dan peluang di pasar”. Menurut Peter F Drucker dalam buku kewirausahaan (2010: 11), “Kewirausahaan kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda”. Menurut Isrososiawan dalam Anik Kusmintarti, Andi Asdani, dan Nur Indah Riwajanti (2017: 46), menyatakan bahwa “Pendidikan kewirausahaan adalah aktivitas-aktivitas pengajaran dan pembelajaran tentang kewirausahaan yang meliputi pengembangan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan karakter  pribadi sesuai dengan umur dan perkembangan siswa”. Adapun menurut Chimuceka dalam I Kade Aris Friatnawan Dusak dan Ida Bagus Sudiksa (2016: 5190) “Pendidikan kewirausahaan sebagai intervensi tujuan oleh instruktur dalam kehidupan seorang pelajar, dengan memberikan pengetahuan kewirausahaan dan keterampilan yang berguna bagi peserta didik untuk bertahan hidup di dunia bisnis”. Selain itu dalam jurnal Retno Budi Lestari dan Trisnandi Wijaya (2012: 113) mengungkapkan bahwa “Pendidikan kewirausahaan dapat membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku pada mahasiswa menjadi seorang wirausahawan (entrepreneur) sejati sehingga mengarahkan mereka untuk memilih berwirausaha sebagai pilihan karir”. Dari beberapa pengertian tentang pendidikan kewirausahaan diatas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan kewirausahaan adalah segala aktifitas yang dilakukan secara sadar berupa pembelajaran kewirausahaan baik dalam bentuk teori maupun praktik yang dilaksanakan oleh peserta didik dengan tujuan untuk menumbuh kembangkan kemampuan yang dimilikinya serta menambah wawasan peserta didik tentang kewirausahaan untuk mampu bertahan dalam persaingan di dunia bisnis dan membentuk pola pikir atau mindset dalam berfikir bahwa berwirausaha itu ada sebagai pilihan karir.

Faktor yang Memengaruhi Minat Berwirausaha (skripsi dan tesis)

Minat berwirausaha pada diri seseorang tidak dibawa sejak ia lahir, akan
tetapi harus ditumbuhkan melalui beberapa faktor yang memiliki pengaruh
terhadap timbulnya minat berwirausaha tersebut. Sebelum seseorang menjadi
wirausaha, yang dibutuhkan adalah memiliki minat dalam berwirausaha yang
tertanam dalam dirinya tanpa paksaan dari pihak manapun. Banyak faktor yang
memengaruhi timbulnya minat berwirausaha, faktor-faktor tersebut tergolong
kedalam 2 (dua) kategori yiatu ada faktor instrinsik dan ada faktor ekstrinsik.
Menurut Edy Dwi Kurniati dalam Ni Luh Wahyuni Widya Putri (2017:
5), faktor yang mempengaruhi minat berwirausaha secara garis besar dapat
dikelompokan menjadi 2 (dua) faktor, yaitu pertama faktor instrinsik, adalah
faktor-faktor yang timbul karena pengaruh rangsangan dari dalam individu itu
sendiri seperti pendapatan, harga diri, perasaan senang. Kedua faktor ekstrinsik
adalah faktor-faktor yang mempengaruhi individu karena rangsangan dari luar,
seperti lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, peluang, dan pendidikan.
Dalam jurnal Fatrika Fahmi, dkk (2012: 7), menyatakan bahwa faktorfaktor yang memengaruhi minat berwirausaha meliputi karakteristik (jenis
kelamin dan usia), lingkungan (lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan,
lingkungan masyarakat), kepribadian (ekstraversi, kesepahaman/ agreebleeness,
berani mengambil resiko, kebutuhan berprestasi dan independen, evaluasi diri
serta overconfidance/ kepercayaan diri yang lebih) dan motif berwirausaha
(bekerja dan penyaluran ide kreatif).
Dari beberapa teori yang telah dikemukakan, peneliti ingin mengetahui
faktor manakah yang memberikan pengaruh terhadap minat berwirausaha dan
faktor yang digunakan dalam penelitian ini adalah faktor pendidikan dan
lingkungan keluarga.

Indikator Minat Berwirausaha (skripsi dan tesis)

Ada beberapa indikator yang digunakan dalam mengukur variabel minat berwirausaha, diantaranya adalah menurut Muniarti dalam Mega Pratitis Nur Aini, Sigit Santosa, dan Nurhasan Hamidi (2017: 6), indikator tersebut antara lain. a) Merasa tertarik untuk berwirausaha. Kegiatan berwirausaha ini akan memiliki daya tarik sendiri bagi setiap orang. Bila seseorang melakukan sesuatu hal sesuai dengan hati nurani maka akan semakin tertarik pula seseorang tersebut kepada sesuatu hal, sehingga dapat memperoleh hasil yang maksimal. b) Berkeinginan untuk berwirausaha. Keinginan ini akan muncul dengan sendirinya tanpa adanya paksaan dari pihak lain. Akan tetapi hal yang mempengaruhi keinginan seseorang untuk berwirausaha akan timbul dari faktor ekstrinsik ataupun faktor intrinsik.  c) Memiliki keyakinan untuk berwirausaha. Keyakinan yang dimiliki seseorang akan menjadi kunci sukses bagi dirinya dalam menjalankan suatu usaha. Karena keyakinan tersebut akan menjadi sugesti, apabila keyakinan tersebut menjurus ke arah yang negatif maka tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik, begitupun sebaliknya. Dalam mengukur variabel minat berwirausaha, dalam penelitian ini akan menggunakan ketiga indikator di atas, yaitu merasa tertarik untuk berwirausaha, berkeinginan untuk berwirausaha, dan memiliki keyakinan untuk berwirausaha.

Pengertian Minat Berwirausaha (skripsi dan tesis)

Minat berwirausaha adalah sebuah dorongan dari dalam diri manusia
untuk melakukan atau menyukai sesuatu tanpa sebuah paksaan. Minat dapat
diperlihatkan melalui pernyataan yang menunjukan bahwa seseorang lebih
menyukai sesuatu hal dibandingkan hal lainnya.
Menurut Sardiman dalam Retno Kadarsih, Susilaningsih, dan Sri
Sumaryati (2013: 96), “Minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila
seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara yang dihubungkan dengan
keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri”.
Adapun menurut Santoso dalam Isky Fadli Fu’adi, Budarso Eko, dan
Murdani (2009: 92 – 93) menyatakan bahwa “Minat berwirausaha adalah gejala
psikis untuk memusatkan perhatian dan berbuat sesuatu terhadap wirausaha itu
dengan perasaan senang, karena membawa manfaat bagi dirinya maupun orang
lain”. Dan adapula menurut Isky Fadli Fu’adi, dkk (2009: 93), yang dimaksud
dengan minat berwirausaha adalah.
“Keinginan, ketertarikan, serta kesediaan individu melalui ide-ide yang dimiliki
untuk bekerja keras atau berkemauan keras untuk berusaha memenuhi kebutuhan
hidupnya, tanpa merasa takut dengan resiko yang akan terjadi, dapat menerima
tantangan, percaya diri, kreatif dan inovatif serta mempunyai kemampuan dan
keterampilan untuk memenuhi kebutuhan”.
Pengertian lain dikemukakan oleh Suryana dalam Ni Luh Wahyuni Widya
Putri (2017: 5), “Minat berwirausaha adalah pilihan aktivis seseorang karena
merasa tertarik, senang dan berkeinginan untuk berwirausaha serta mengambil
resiko untuk meraih kesuksesan”.
Dari beberapa pengertian tentang minat berwirausaha di atas, dapat
disimpulkan bahwa minat berwirausaha adalah sebuah perasaan yang timbul dari
dalam diri seseorang berupa keinginan, ketertarikan, dan kesediaan terhadap
sesuatu hal yang disadari tanpa adanya paksaan dan berpikir bahwa sesuatu
tersebut dapat bermanfaat bagi dirinya dan pihak lain, serta mampu bersedia
mengambil resiko dari apa yang ia putuskan.

Teori Minat Berwirausaha (skripsi dan tesis)

Teori yang mendasari penelitian ini yaitu teori yang dikemukakan oleh
Ajzen dan Fishbein. Menurut Ajzen dan Fishbein dalam Josia Sanchaya
Hendrawan dan Hani Sirine (2017: 296) memperkenalkan Theory of Planned
Behavior yang merupakan pengembangan dari Theory of Reasoned Action. Secara
umum teori ini menjelaskan tentang tindakan seseorang. Dalam teori ini terdapat 3
(tiga) konsep, diantaranya adalah:
1) Attitude toward the behavior, artinya sikap terhadap perilaku mengacu pada
tingkat dimana seseorang membentuk evaluasi positif atau negatif terhadap
perilaku.
2) Subjective norm, artinya mengacu pada tekanan sosial yang disarankan untuk
melakukan atau tidak melakukan perilaku tersebut.
3) Perceived behavioral control, artinya untuk mengontrol perilaku yang
dirasakan mengacu pada persepsi orang tentang kemampuan mereka dalam
melakukan perilaku tertentu. Penelitian ini erat kaitannya dengan tiga konsep
yang terdapat dalam theory of planned behavior.
Dalam konsep attitude toward the behavior dan subjective norm
berhubungan dengan variabel independen atau variabel bebas, sedangkan konsep
perceived behavioral control berhubungan dengan variabel dependen atau
variabel terikat. Teori ini pun mengungkapkan bahwa keputusan berwirausaha
dipengaruhi oleh faktor pembelajaran dan lingkungan keluarga. Faktor
pembelajaran dalam penelitian ini didapat oleh siswa melalui pelaksanaan
pendidikan kewirausahaan, baik pelaksanaan pendidikan kewirausahaan yang
dilaksanakan didalam kelas ataupun diluar kelas.
Menurut Suryana dalam Dini Agusmiati (2018: 887), “Seorang wirausaha
tidak akan berhasil apabila tidak memiliki pengetahuan, kemampuan, dan
kemauan. Faktor lingkungan keluarga pun akan memberikan pengaruh besar bagi
siswa dalam menentukan dan membuat keputusan terkait berwirausaha”.
Theory of Planned Behavior (TPB) memang sering digunakan sebagai
teori dalam penelitian mengenai minat berwirausaha untuk menjelaskan hubungan
antara pengaruh faktor-faktor personal dengan minat kewirausahaan. Menurut
Raguz dan Matic dalam Josia Sanchaya Hendrawan dan Hani Sirine (2017: 296),
teori ini dianggap sebagai model yang lebih baik dan lebih kompleks dalam
menjelaskan dan memprediksi minat kewirausahaan atau memulai bisnis.
Dalam menumbuhkan minat berwirausaha pula perlu adanya dukungan
motivasi berwirausaha. Menurut Buchari Alma dalam buku kewirausahaan (2013:
89), “Motivasi adalah kemauan untuk berbuat sesuatu”. Motivasi sebagai salah
satu hal yang mendukung seseorang dan menumbuhkan keberanian dalam
memiliki minat berwirausaha. Motivasi ini bisa timbul dari 2 (dua) faktor, yaitu
faktor intrinsik dan ekstrinsik yang dimiliki seseorang. Menurut pendapat Syah
dalam Moh. Luqman Shobrony dan Sri Hartati (2015: 201), motivasi intrinsik ini
dapat berupa dorongan keluarga, kecerdasan, kepribadian, sikap, dan cita-cita.
Sedangkan faktor ekstrinsik dapat berupa pengaruh dari teman, kerabat, atau
saudara yang sudah sukses dalam berwirausaha.
Dalam jurnal Wisnu Septian Ginanjar Prihantoro dan Syamsu Hadi (2016:
710), mengungkapkan bahwa “Motivasi berwirausaha adalah sebagai tenaga
dorongan yang menyebabkan siswa melakukan suatu kegiatan berwirausaha”.
Motivasi itu sebagai penggerak seseorang dalam melakukan suatu tindakan.
Dalam buku kewirausahaan (2011: 17) secara umum motivasi seseorang
untuk menjadi wirausaha antara lain.
a. Laba: dapat menentukan berapa laba yang dikehendaki, keuntungan yang
diterima, dan berapa yang akan dibayarkan kepada pihak lain atau
pegawainya.
b. Kebebasan: bebas mengatur waktu, bebas dari supervisi, bebas aturan main
yang menekan atau intervensi orang lain, bebas dari aturan budaya organisasi
atau perusahaan.
c. Impian personal: bebas mencapai standar hidup yang diharapkan, lepas dari
rutinitas kerja yang membosankan karena harus mengikuti visi, misi, dan
impian orang lain. Dapat menentukan nasib/ visi, misi, dan impiannya sendiri.
d. Kemandirian: memiliki rasa bangga karena dapat mandiri dalam segala hal,
seperti permodalan, mandiri dalam pengelolaan/ manajemen, mandiri dalam
pengawasan, serta menjadi manajer terhadap dirinya sendiri.
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan berwirausaha
seseorang dapat memiliki motivasi untuk mendapatkan laba, kebebasan, impian
yang dapat diwujudkan, serta kemandirian yang mana ia tidak akan bergantung
kepada orang lain. Dengan memiliki motivasi berwirausaha, akan membantu
menumbuhkan minat agar lebih mantap untuk menjalankan suatu usaha, sehingga
ia mampu menjadi seseorang yang independen atau mampu berdiri sendiri.

Aspek Perceived Behavioral Control  (skripsi dan tesis)

Perceived behavioral control adalah persepsi individu mengenai
kemudahan atau kesulitan untuk melakukan perilaku tertentu (Ajzen, 2005).
Perceived behavioral control ditentukan oleh kombinasi antara control belief dan
perceived power control. Control belief merupakan belief individu mengenai
faktor pendukung atau penghambat untuk memunculkan sebuah perilaku.
Perceived power control adalah kekuatan perasaan individu akan setiap faktor
pendukung atau penghambat tersebut.
Behavioral belief dianggap menentukan sikap, normative belief dipandang
sebagai menentukan norma subjektif dan control belief yang kuat mengenai
faktor-faktor yang ada akan memfasilitasi suatu perilaku, maka seseorang tersebut
memiliki persepsi yang tinggi untuk mampu mengendalikan suatu perilaku.
Namun sebaliknya, seseorang akan memiliki control belief yang kuat mengenai
faktor-faktor yang menghambat perilaku.

Pengertian Perceived Behavioral Control (skripsi dan tesis)

“Perceived behavioral control refers to people’s perception of their ability to perform a given behavior” (Ajzen, 2015). Kontrol tingkah laku yang dirasakan merujuk pada persepsi seseorag mengenai kemampuannya untuk menampilkan perilaku tertentu. Ajzen (2005) menjelaskan perceived behavioral control sebagai fungsi yang didasarkan oleh belief yang disebut sebagai control beliefs, yaitu belief individu mengenai ada atau tidak adanya faktor yang mendukung atau menghalangi individu untuk memunculkan sebuah perilaku. Belief ini didasarkan pada pengalaman terdahulu individu tentang suatu perilaku, informasi yang dimiliki individu tentang suatu perilaku yang diperoleh dengan melakukan observasi pada pengetahuan yang dimiliki diri maupun orang lain yang dikenal individu, dan juga oleh berbagai faktor lain yang dapat meningkatkan ataupun menurunkan perasaan individu mengenai tingkat kesulitan dalam melakukan suatu perilaku. Semakin banyak sumber yang dibutuhkan dan kesempatan yang dianggap telah ia miliki dan lebih sedikit pengahalang atau penghambat yang mereka rasakan, semakin besar kontrol yang mereka persepsi atas perilaku. Semakin individu merasakan banyak faktor pendukung dan sedikit faktor penghambat untuk dapat melakukan suatu perilaku, maka lebih besar kontrol yang mereka rasakan atas perilaku tersebut dan begitu juga sebaliknya, semakin sedikit individu merasakan faktor pendukung dan banyak faktor penghambat untuk dapat melakukan suatu perilaku, maka individu akan cenderung mempersepsikan diri sulit untuk melakukan perilaku tersebut (Ajzen, 2005).

Aspek Subjective Norm (skripsi dan tesis)

Norma Subjektif diartikan sebagai dukungan orang-orang terdekat untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku (Ajzen, 2005). Norma subjektif ditentukan oleh dua aspek yaitu normative belief (keyakinan normatif), normative belief adalah keyakinan seseorang mengenai setuju atau tidak setuju yang berasal dari referent. Referent merupakan orang atau kelompok sosial yang sangat berpengaruh bagi seseorang baik itu orang tua, pasangan (istrri atau suami), teman dekat, rekan kerja dan lain-lain tergantung pada tingkah laku yang dimaksud. Keyakinan normatif (normative belief) berasal dari keyakinan seseorang mengenai orang-orang terdekatnya (significant others) yang mendukung atau menolak pada tampilan perilaku tersebut. Keyakinan normatif didapat dari significant others tentang apakah individu perlu, harus, atau dilarang melakukan perilaku tertentu dan dari seseorang yang berhubungan langsung dengan perilaku tersebut. Dan aspek kedua yaitu motivation to comply (keinginan untuk mengikuti), motivation to comply adalah motivasi individu untuk menampilkan atau mematuhi perilaku yang diharapkan significant others. Individu yang percaya bahwa significant others menyetujui suatu perilaku, maka ini akan menjadi tekanan sosial bagi individu untuk melakukan perilaku tersebut dan begitu sebaliknya

Pengertian Subjective Norm (skripsi dan tesis)

“Subjective norm is the perceived social pressure to engage or not to engage in a behavioral” (Ajzen, 2015). Norma subjektif adalah tekanan yang dirasakan oleh seseorang yang berasal dari lingkungan sosialnya tentang harus atau tidak harus menampilkan suatu perilaku. Ajzen (2005) mengatakan norma subjektif merupakan fungsi yang didasarkan oleh belief yang disebut normative belief, yaitu belief mengenai kesetujuan dan atau ketidaksetujuan yang berasal dari referent atau orang dan kelompok yang berpengaruh bagi individu (significant others) seperti orang tua, pasangan, teman dekat, rekan kerja atau lainnya terhadap suatu perilaku. Norma subjektif didefinisikan sebagai persepsi individu tentang tekanan sosial untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku (Ajzen, 2005). Norma subjektif ditentukan oleh kombinasi antara normative belief individu dan motivation to comply. Biasanya semakin individu mempersepsikan bahwa social referent yang mereka miliki mendukung mereka untuk melakukan suatu perilaku maka individu tersebut akan cenderung merasakan tekanan sosial untuk memunculkan perilaku tersebut. Dan sebaliknya semakin individu mempersepsikan bahwa social referent yang mereka miliki tidak menyetujui suatu perilaku maka individu cenderung merasakan tekanan sosial untuk tidak melakukan perilaku tersebut. Ketika seseorang ingin menampilkan perilaku, maka ia akan menyesuaikan perilaku tersebut dengan norma kelompoknya sehingga kecenderungan untuk menampilkan perilaku akan semakin besar jika kelompok bisa menerima perilaku tersebut. Kelompok ini bisa saja berupa orangtua, saudara, teman dekat, dan orang yang berkaitan dengan perilaku tersebut.

Pengertian Attitude Toward Behavior (skripsi dan tesis)

“Attitude toward a behavior is the degree to which performance of the
behavior is positively or negatively valued” (Ajzen, 2005).
Sikap terhadap perilaku adalah derajat penilaian positif atau negatif dari
suatu perilaku tertentu (Ajzen, 2005).
Ajzen (2005) mengatakan sikap merupakan suatu disposisi untuk
merespon secara positif atau negatif suatu perilaku. Sikap terhadap perilaku
ditentukan oleh belief tentang konsekuensi dari sebuah perilaku, yang disebut
sebagai behavioral beliefs (Ajzen, 2005). Menurut Ajzen (2005) setiap behavioral
beliefs menghubungkan perilaku dengan hasil yang bisa didapat dari perilaku
tersebut. Sikap terhadap perilaku ditentukan oleh evaluasi individu mengenai hasil
yang berhubungan dengan perilaku dan dengan kekuatan hubungan dari kedua hal
tersebut (Ajzen, 2005).
Sikap merupakan evaluasi individu baik positif maupun negatif terhadap
objek sikap berupa benda institusi, orang, kejadian, perilaku, maupun minat
tertentu. Sikap ditentukan dari evaluasi seseorang mengenai konsekuensi suatu
perilaku yang diasosiasikan dengan suatu perilaku, dengan melihat kuatnya
hubungan antara konsekuensi tersebut dengan suatu perilaku. Maka dapat
disimpulkan bahwa jika seseorang memiliki belief yang kuat bahwa suatu perilaku
akan menghasilkan konsekuensi yang positif, maka sikap terhadap perilaku
tersebut akan positif. Akan tetapi jika belief terhadap perilaku tersebut negatif,
maka sikap yang terbentuk terhadap suatu perilaku tersebut akan negatif.
Secara umum, semakin individu memiliki evaluasi bahwa suatu perilaku
akan menghasilkan konsekuensi positif maka individu akan cenderung bersikap
favorable terhadap perilaku tersebut; sebaliknya, semakin individu memiliki
evaluasi negative maka individu akan cenderung bersikap unfavorable terhadap
perilaku tersebut (Ajzen, 2005).

Theory of Planned Behavior (skripsi dan tesis)

Theory of planned behavior merupakan teori yang dikembangkan oleh
Ajzen yang merupakan penyempurnaan dari reason action theory yang
dikemukakan oleh Fishbein dan Ajzen. Fokus utama dari teori planned behavior
ini sama seperti teori reason action yaitu intensi individu untuk melakukan
perilaku tertentu. Intensi dianggap dapat melihat faktor-faktor motivasi yang
mempengaruhi perilaku. Intensi merupakan indikasi seberapa keras orang mau
berusaha untuk mencoba dan berapa besar usaha yang akan dikeluarkan individu
untuk melakukan suatu perilaku.
“Intention is an indication of a person’s readiness to perform a given
behavior, and it is consider to be the immediate antecendent of behavior. The
intention is based on attitude toward behavior, seubjective norm, and perceived
behavioral contrh bol, with each predictor weighted for its importance in relation
to the behavior and population of interest” (Ajzen, 2005).
Intention adalah indikasi kesiapan seseorang untuk melakukan perilaku
tertentu dan dianggap sebagai penentu langsung atau penyebab munculnya
perilaku. Intention tersebut dibentuk berdasarkan sikap terhadap perilaku, norma
subjektif, dan kontrol perilaku yang dirasakan, dimana tiap-tiap prediktor ini
memiliki bobot keterkaitan yang penting terhadap tingkah laku dan ketertarikan
(Ajzen, 2005).
Ajzen menyatakan bahwa niat untuk berperilaku (intenttion) dapat
digunakan untuk meramalkan seberapa kuat keinginan individu untuk
menampilkan tingkah laku dan seberapa usaha yang direncanakan atau akan
dilakukan untuk menampilkan suatu tingkah laku.
Ajzen menegaskan intensi sebagai pendahulu dari suatu perilaku yang
dimunculkan seseorang. Jadi, sebelum perilaku muncul terlebih dahulu terbentuk
intensi atau niat untuk memunculkan perilaku tersebut. Di dalam konsep Theory
of planned behavior terdapat empat elemen yang sering dikenal dengan istilah
TACT, yaitu :
a. Target, yaitu objek yang menjadi sasaran perilaku. Objek yang menjadi
sasaran dari perilaku spesifik dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu orang
tertentu/objek tertentu (particular object), sekelompok orang/sekelompok
objek (a class of object), dan orang atau objek pada umumnya (any
object).
b. Action, yang berati tindakan dan bisa diartikan pula sebagai perilaku yang
akan diwujudkan secara nyata.
c. Context, yang berarti konteks atau situasi. Situasi yang mendukung untuk
dilakukannya suatu perilaku (bagaimana dan dimana perilaku itu akan
diwujudkan).
d. Time, yaitu waktu terjadinya perilaku yang meliputi waktu tertentu, dalam
satu periode atau jangka waktu yang tidak terbatas.
Menurut theory of planned behavior, intensi adalah fungsi dari tiga
determinan dasar yaitu :
1. Faktor Personal merupakan sikap individu terhadap perilaku berupa evaluasi
positif atau negatif terhadap perilaku yang akan ditampilkan.
2. Faktor sosial diistilahkan dengan kata norma subjektif yang meliputi persepsi
individu terhadap tekanan sosial untuk menampilkan atau tidak menampilkan
perilaku.
3. Faktor kendali yang disebut perceived behavioral control yang merupakan
perasaan individu akan mudah atau sulitnya menampilkan perilaku tertentu.
Umumnya seseorang menunjukkan intensi terhadap suatu perilaku jika
mereka telah mengevaluasinya secara positif, mengalami tekanan sosial untuk
melakukannya, dan ketika mereka percaya bahwa mereka memiliki kesempatan
dan mampu untuk melakukannya. Sehingga dengan menguatnya intensi seseorang
terhadap perilaku tersebut, maka kemungkinan individu untuk menampilkan
perilaku juga semakin besar (Ajzen, 2005). Apabila ketika control diri mereka
lebih besar dalam memiliki kesempatan dan mampu untuk melakukannya akan
langsung mempengaruhi ke perilaku mereka.
Teori ini berasumsi bahwa pentingnya attitude toward behavior, subjective
norm dan perceived behavioral control adalah relati teragntung pada intensi yang
diteliti. Pada beberapa intensi, pertimbangan attitudional lebih penting
dibandingkan pertimbangan normatif, sementara untuk intensi yang lainnya
pertimbangan normatif adalah yang lebih dominan. Begitu juga perceived
behavioral control, mungkin akan lebih penting ada beberapa perilaku
dibandingkan dengan determinan yang lain. pada beberapa hal, hanya satu atau
dua faktor saja yang dibutuhkan untuk menjelaskan intensi, sedangkan pada yang
lainnya, ketiga faktor adalah determinan yang sama pentingnya (Ajzen, 2015).

Konsep UMKM (skripsi dan tesis)

Anggraeni et al, (2013) menjelaskan mengenai Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah sebaga berikut:
1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan atau
badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.
2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan
oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha
Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,
yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan
merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki,
dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung
dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih
atau hasil penjualan tahunan sebagaimana yng diatur dalam Undangundang.
Berdasarkan pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa UMKM adalah
suatu bentuk usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh orang perseorangan
atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah.
UMKM dalam menjaga eksistensinya di tengah persaingan usaha juga
menghadapi kendala atau permasalahan, seperti (Rifa’i, 2013):
1. Faktor internal, meliputi:
a. Kurangnya modal dan terbatasnya akses pembiayaan.
b. Sumber daya manusia yang kurang berkualitas.
c. Lemahnya jaringan usaha dan penetrasi pasar.
d. Mentalitas pengusaha UMKM
e. Kurangnya transparansi.
2. Faktor eksternal, meliputi:
a. Iklim usaha belum sepenuhnya kondusif.
b. Terbatasnya sarana dan prasarana pendukung keberlangsungan
usaha.
c. Pungutan liar
d. Implikasi perdagangan bebas dan otonomi daerah.
e. Terbatasnya akses pasar.
f. Terbtasnya akses informasi

Faktor Pendorong Intrapreneur (skripsi dan tesis)

Antonic dalam BUdiharjo (2011) menyebutkan anteseden intrapreneurship
dibagi menjadi dua yaitu lingkungan (environment) dan organisasi
(organization).
1. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan yang positif meliputi dinamisme peluang teknologi,
pertumbuhan industry, dan permintaan untuk produk baru, sedangkan
antesenden untuk lingkungan yang tidak dikehendaki meliputi
perubahan yang tidak dikehendaki dan persaingan yang tinggi.
2. Faktor organisasi
Karakteristik yang dapat mendorong intrapreneurship adalah system
terbuka, kendali fomal pada aktivitas intrapreneurship, pemindahan
intensif pada lingkungan, dukungan organisasional, dan nilai-nilai
perusahaan.
Dari kedua faktor diatas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan intrapreneur
berkorelasi secara positif dengan pertumbuhan organisasi. Dengan kata lain
seorang intrapreneur mendedikasikan dirinya untuk menyelesaikan rencanarencananya dalam membantu perusahaan untuk meraih kesuksesan oleh karena
itu dukungan sistem organisasi amat berarti bagi seorang intrapreneurship dalam
pengembangan organisasi tersebut.

Definisi Intrapreneur (skripsi dan tesis)

Konsep intrapreneur pertama kali muncul pada tahun 1973 oleh Susbauer dalam tulisannya yang berjudul Intracoporat Entrepreneurship: Program in American Industry. Yang kemudian dipopulerkan oleh Pinchott dan Burgeman. Princhott (Dalam Budiharjo, 2011:152) mendefinisikan seorang intrapreneur adalah seorang yang memfokuskan pada inovasi dan kreatifitas dan yang mentransformasi suatu mimpi atau gagasan menjadi usaha yang menguntungkan yang dioperasikan dalam lingkup lingkungan perusahaan. Asef Karimi, et al, (2011) ada beberapa perbedaan antara intrapreneur dan entrepreneur, pertama intrapreneur membuat keputusan berisiko menggunakan sumber daya perusahaan sedangkan entrepreneur menggunakan sumber daya mereka sendiri dalam membuat keputusan. Kedua intrapreneur terjadi diantara karyawan dari dalam organisasi mereka sedangkan entrepreneur cenderung terutama secara eksternal terfokus. Dari kedua teori diatas dapat disimpulkan bahwa intrapreneur adalah seorang pekerja yang memiliki sikap inovatif dalam memodifikasi produk yang sudah ada maupun produk baru, karena sala satu fungsi intrapreneur adalah menciptakan produk dan teknologi baru dengan cara meniru yang sudah ada. Dengan demikian dapat dikatakan juga bahwa intrapreneur adalah orang yang mengaplikasikan pengetahuanya dengan memanfaatkan temuan orang lain dalam usaha memproduksi produk dengan berani mengambil resiko menuangkan ideidenya melalui sentuhan inovasi dengan tujuan memajukan perusahaan atau organisasi tempat dimana dia bekerja.

Pengukuran Kontrol Perilaku Entrepreneurship (skripsi dan tesis)

Darmawan dan Setyapurnama (2014) menjelaskan bahwa kontrol perilaku
dipengaruhi oleh dua keyakinan yaitu 1) keyakinan tentang keberadaan hal-hal
yang mendukung atau menghambat perilaku yang akan ditampilkan (control
beliefs) dan 2) persepsinya tentang seberapa kuat hal-hal yang mendukung dan
menghambat perilakunya tersebut (perceived power). Control beliefs dan
perceived power menimbulkan perceived behavioral control atau kontrol
keperilakuan yang dipersepsikan.
Wisal (2013) menjelaskan bahwa aspek kontrol perilaku dapat digunakan
dalam berbagai situasi dan perilaku. Kontrol perilaku ini dapat mempengaruhi
perilaku secara mandiri atau tidak tergantung pada variabel sikap terhadap
perilaku dan norma subjektif. Kontrol perilaku menunjukkan sejauh mana
seseorang merasa bahwa yakin dapat menampilkan atau tidak menampilkan
perilaku yang berada di bawah kontrol individu itu sendiri tergantung pada control
belief dan perceived power. Control belief dan perceived power itu sendiri juga
dipengaruhi oleh self efficacy dan controllability. Self efficacy dapat diukur dengan
menanyakan seberapa sulit menampilkan perilaku dan seberapa tinggi tingkat
kepercayaan diri individu dapat menunjukkan perilaku. Controllability dapat diukur
dengan pertanyaan apakah memunculkan perilaku berdasarkan keinginan individu
sendiri dan faktor lain di bawah kontrol individu.
Control belief merupakan sejumlah keyakinan akan kemampuan yang
dimiliki individu (berdasarkan resources dan opportunity) berperilaku. Control
belief ini didasarkan oleh pengalaman masa lalu terkait perilaku entrepreneur,
tetapi biasanya individu dipengaruhi oleh informasi kedua (second-hand
information) melalui pengalaman orang lain seperti kenalan atau teman. Perceived
power merupakan seberapa kuat dari resources dan opportunity yang dimiliki itu
dapat memudahkan atau mempersulit terlaksananya perilaku
entrepreneur (Wisal, 2013).

Definisi Kontrol Perilaku Entrepreneurship (skripsi dan tesis)

Terjadinya suatu perilaku tidak hanya bergantung pada besarnya niat
seseorang, namun perilaku tersebut juga harus berada di bawah kontrol
keperilakuannya. Kontrol perilaku merupakan kemudahan yang dirasakan atau
hambatan dalam melakukan perilaku tertentu (Mahmoud et al, 2015). Firmansyah
(2013) menjelaskan bahwa kontrol keperilakuan yang dirasakan merupakan
variabel yang menunjukkan mudah atau sulitnya melakukan tindakan yang
dimaksud.
Giantri et al, (2013) menjelaskan bahwa kontrol perilaku mencerminkan
keyakinan mengenai akses sumber daya dan kesempatan yang dibutuhkan untuk
berperilaku. Pacheco et al, (2013) menguraikan bahwa kontrol perilaku mengacu
pada kemampuan yang dirasakan lebih situasional secara signifikan mengubah
situasi. Kontrol tersebut telah menunjukkan ke arah peran penting dalam
kehidupan masyarakat dengan menunjukkan pengurangan stres dan
menginduksikan motivasi.
Menurut Darmawan dan Setyapurnama (2014) kontrol perilaku merupakan
persepsi keyakinan individu yang berkaitan dengan seberapa bisa untuk
melakukan suatu perilaku tertentu. Lebih lanjut disebutkan bahwa kontrol perilaku
merupakan faktor-faktor yang diyakini individu akan mempermudah dan
menghambat niat untuk berperilaku.
Pada teori TPB, diasumsikan bahwa kontrol perilaku memiliki implikasi
motivasional terhadap niat-niat. Orang-orang yang percaya bahwa dirinya tidak
memiliki sumber-sumber data yang ada atau tidak memiliki kesempatankesempatan untuk melakukan perilaku tertentu mungkin tidak akan membentuk
niat-niat perilaku yang kuat untuk melakukannya meskipun individu tersebut
memiliki sikap-sikap positif terhadap perilakunya dan percaya bahwa orang lain
akan menyetujui seandainya dirinya melakukan perilaku tersebut. Dengan
demikian, diharapkan terjadi hubungan antara kontrol perilaku dengan niat yang
tidak dimediasi oleh sikap dan norma subjektif (Hidayati, 2014).
Menurut Ajzen kontrol perilaku merupakan kemudahan atau kesulitan
persepsian untuk melakukan perilaku. Kontrol perilaku menghubungkan
bagaimana mudah atau sulit akan mengeluarkan perilaku yang pasti. Kontrol
perilaku juga menunjukkan mudahnya atau sulitnya seseorang dalam melakukan
tindakan dan dianggap sebagai cerminan pengalaman masa lalu disamping
halangan atau hambatan yang terantisipasi (Hidayati, 2014). Berdasarkan
beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kontrol persepsi
kewirausahaan adalah suatu persepsi yang dimiliki oleh seorang individu tentang
mudah atau sulitnya individu dalam melakukan perilaku yang berkaitan dengan
kewirausahaan.

Pengukuran Norma Subjektif (skripsi dan tesis)

Handaru et al, (2014) menjelaskan bahwa norma subjektif ditentukan oleh
normative belive dan motivation to comply. Jadi, seseorang akan cenderung
melakukan suatu tindakan berdasarkan hal-hal yang diharapkan oleh orang yang
dianggap penting atau berdasarkan norma yang berlaku pada saat itu. Senada
dengan Darmawan (2015) yang juga menyatakan bahwa norma subjektif
dipengaruhi oleh dua keyakinan yaitu (1) normatif beliefs yaitu keyakinan adanya
pihak lain (referant) baik individu atau pun kelompok yang akan mendukung
ataupun tidak mendukung seseorang berperilaku, dan (2) motivation to comply
yaitu motivasi seseorang untuk memenuhi harapan pihak referan.

Definisi Norma Subjektif (skripsi dan tesis)

Firmansyah (2013) menjelaskan bahwa norma subjektif berkaitan dengan tekanan sosial yang dirasakan untuk melakukan tindakan yang sedang dipantau. Pendapat orang lain yang penting (anggota keluarga yaitu teman dekat dan orangorang berpengaruh lainnya seperti guru, pengusaha sukses, penasihat perusahaan) yang diyakini membentuk niat kewirausahaan. Norma subjektif sendiri diartikan sebagai suatu tekanan sosial yang dirasakan untuk melakukan atau berperilaku tertentu (Mahmoud et al, 2015). Menurut Fishbein dan Ajzen norma subjektif adalah persepsi individu dalam berhubungan dengan kebanyakan orang yang penting baginya. Individu diharapkan untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu, orang-orang yang penting baginya kemudian digunakan sebagai acuan atau patokan untuk melakukan perilaku secara langsung (Thahir, 2015). Darmawan (2015) mendefinisikan norma subjektif sebagai persepsi individu adanya keinginan dan harapan dari pihak lain agar individu menunjukkan atau tidak menunjukkan perilaku. Perilaku individu tidak hanya ditentukan oleh sikap individu saja tetapi ditentukan oleh persepsi individu terhadap tekanan sosial dari pihak lain dan kemampuan invididu untuk memenuhi harapan pihak lain. Menurut Baron dan Byrne dalam Handaru et al, (2014) norma subjektif merupakan persepsi individu yang berhubungan dengan kebanyakan dari orangorang yang penting bagi dirinya, mengharapkan individu untuk melakukan atau tidak melakukan tingkah laku tertentu, orang-orang yang penting bagi dirinya itu kemudian dijadikan acuan atau patokan untuk mengarahkan tingkah laku. Kreitner dan Kinicki dalam Handaru et al, (2014) menjelaskan bahwa norma subjektif sebagai penerimaan tekanan sosial untuk menampilkan sebuah perilaku yang spesifik. Norma subjektif diartikan sebagai adanya persepsi individu terhadap tekanan sosial yang ada untuk menunjukkan atau tidak suatu perilaku. Apabila individu meyakini apa yang menjadi norma kelompok, maka individu akan mematuhi dan membentuk perilaku yang sesuai dengan kelompoknya (Handaru et al, 2014). Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa norma subjektif adalah persepsi yang timbul dari dalam diri individu karena adanya tekanan sosial dari sekitarnya sehingga memunculkan atau mengarahkan individu untuk berperilaku tertentu. Dalam hal ini perilaku yang dimaksud adalah entrepreneur. Jadi, norma subjektif yang dimaksud merupakan persepsi yang timbul dari dalam diri individu karena adanya tekanan sosial dari sekitarnya sehingga memunculkan atau mengarahkan individu untuk berperilaku kewirausahaan.

Pengukuran Sikap Entrepreneurship (skripsi dan tesis)

Gopi dan Ramayah (2007) menjelaskan bahwa sikap telah lama menjadi
konstruk yang memandu perilaku masa depan atau penyebab munculnya niat
pada diri individu yang kemudian pada akhirnya mengarahkan pada suatu perilaku
tertentu. Dalam TRA, sikap disebut sebagai efek evaluatif dari perasaan positif
atau negatif dari individu dalam melakukan perilaku tertentu. Terdapat dua
komponen dalam sikap, yaitu sikap terhadap objek fisik dan sikap terhadap
perilaku atau melakukan tindakan tertentu.
Dahalan et al, (2015) menyebutkan bahwa sikap pada dasarnya memiliki
tiga komponen yang meliputi komponen kognitif terdiri dari keyakinan dan pikiran
seseorang dalam memiliki sekitar objek dari sikap tersebut. Kemudian komponen
afektif terdiri dari perasaan positif atau negatif terhadap objek. Selanjutnya adalah
komponen konatif atau perilaku terdiri dari niat perilaku dan kecenderungan untuk
berperilaku dengan cara tertentu terhadap objek.

Definisi Sikap Entrepreneurship (skripsi dan tesis)

Sikap merupakan suatu pola perilaku, tedensi atau kesiapan antisipatif,
predisposisi untuk dapat menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara
sederhana sikap juga diartikan sebagai respon terhadap stimuli sosial yang telah
terkondisikan. Soetarno menjelaskan lebih lanjut bahwa sikap merupakan
pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap
objek tertentu. Sikap akan senantiasa diarahkan kepada sesuatu, hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada sikap tanpa objek. Sikap akan diarahkan kepada
benda-benda, orang, peristiwa, pandangan, lembaga, norma, dan lainya
(Musdalifah, 2015).
Ajzen mendefinisikan sikap terhadap perilaku merupakan gambaran
sejauh mana seseorang memiliki evaluasi yang menguntungkan atau tidak
menguntungkan atau penilaian dari perilaku yang bersangkutan. Uraian tersebut
juga diasumsikan bahwa individu melaporkan sikap terhadap perilaku yang tinggi
akan lebih cenderung untuk berniat dan kemudian melakukan tindakan yang
dipantau (yaitu tindakan untuk menjadi seorang pengusaha) (Firmansyah, 2013).
Sedangkan menurut Fishbein dan ajzen sikap merupakan kecenderungan
individu agar belajar untuk merespon secara konsisten hal-hal yang dinilai
menguntungkan atau tidak menguntungkan sehubungan dengan suatu objek
tertentu. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sikap terhadap perilaku mencerminkan
evaluasi positif atau negatif secara keseluruhan dari individu untuk melakukan
suatu perilaku tertentu. Berdasarkan hal tersbeut, maka sikap terhadap perilaku
yang semakin kuat akan menunjukkan niat individu yang semakin kuat juga untuk
melakukan hal tersebut (Dahalan et al, 2015).
Mahmoud et al, (2015) menguraikan bahwa sikap merupakan derajat
bahwa seorang individu merasakan daya tarik dari suatu perilaku tertentu. Oleh
karena itu, sikap kewirausahaan diartikan sebagai sejauh mana penilaian positif
seseorang dari menciptakan dan memulai bisnis baru. Dahalan et al, (2015)
menjelaskan lebih lanjut bahwa sikap individu terhadap perilaku entrepreneur
dapat lebih dipahami ketika sikap terhadap suatu objek membentuk pola yang
komprehensif dan teratur yang kemudian menunjukkan kesatuan dalam orientasi
seseorang terhadap aktivitas kewirausahaan.
Berdasarkan beberapa uraian definisi di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa sikap entrepreneur merupakan kecenderungan individu belajar untuk
merespon secara konsisten hal-hal yang dinilai menguntungkan atau tidak
menguntungkan sehubungan dengan orientasi seseorang terhadap aktivitas
kewirausahaan.

Pengukuran Niat Ber-Entrepreneur (skripsi dan tesis)

Fauzi et al, (2015) menjelaskan bahwa niat kewirausahaan tergantung pada tiga unsur sesuai dengan Shapero’s Entrepreneurial Event Model (SEE), adapun tiga unsur tersebut adalah persepsi keinginan tersebut, kecenderungan untuk bertindak, dan persepsi kelayakan. Sedangkan menurut model perilaku, niat dijelaskan oleh sikap subjek terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku subjek. Sedangkan menurut Bird dalam Fauzi et al, (2015) bahwa niat kewirausahaan didasarkan pada kombinasi dari dua faktor yaitu personal dan kontekstual. Vemmy menjelaskan bahwa niat entrepreneur pada seseorang dapat ditinjau dari empat dimensi yaitu desires, preferences, plans dan behavior expectancies (Handaru et al, 2015). 1. Desires adalah sesuatu dalam diri seseorang yang berupa keinginan atau hasrat yang tinggi untuk memulai suatu usaha. 2. Preferences adalah sesuatu dalam diri seseorang yang menunjukkan bahwa memiliki usaha atau bisnis yang mandiri adalah suatu kebutuhan yang harus dicapai. 3. Plans merujuk pada harapan dan rencana yang ada dalam diri seseorang untuk memulai suatu usaha di masa yang akan datang. 4. Behavior expectancies adalah tinjauan atas suatu kemungkinan untuk entrepreneur dengan diikuti oleh target dimulainya sebuah usaha bisnis. Sedangkan menurut Linan dan Chen dalam Handaru et al, (2015) menjelaskan bahwa dalam mengukur niat entrepreneur seseorang dapat menggunakan pendekatan dengan pernyataan tertentu seperti desire (I want to), self-prediction (how likely it is) dan behavioral intention (I intend to) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa intensi entrepreneur diukur melalui seberapa besar keinginan individu untuk memulai bisnis yang baru. Prediksi individu mengacu pada seberapa besar kemungkinan untuk memulai bisnis tersebut dapat dilakukan dan gambaran tentang perilaku bisnis yang tampak dari individu.

Definisi Niat Entrepreneur (skripsi dan tesis)

Niat entrepreneur menunjukkan keinginan untuk melakukan suatu tindakan atau perilaku entrepreneur. Motivasi entrepreneur merupakan salah satu proses yang membentuk niat entrepreneur (Maehara dan Yuliati, 2013). Niat juga dipandang sebagai suatu minat yang muncul dari dalam diri. Minat merupakan sesuatu yang membangkitkan perhatian pada sesuatu hal. Minat akan mengindikasikan apa yang diinginkan atau dilakukan orang atau apa yang disenangi. Seseorang yang berminat pada suatu hal, maka segala tindakan atau apa yang dilakukan akan mengarahkannya pada minatnya tersebut (Aprilianty, 2012). Sandjaja dalam Siswadi (2013) menjelaskan bahwa minat merupakan suatu kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari maupun mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu. Minat juga diartikan sebagai sikap positif terhadap aspek-aspek lingkungan. Selain itu, minat juga merupakan kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menikmati suatu aktivitas diserta dengan rasa senang. Kemudian Ajzen menyebut bahwa niat adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan perilaku tertentu yang kemudian disebut dengan intensi. Intensi merupakan komponen yang dapat mempengaruhi perilaku dan berindikasi seberapa keras orang bersedia untuk mencoba dan melakukan tingkah laku tertentu (Musdalifah, 2015). Lebih lanjut, Musdalifah (2015) menguraikan bahwa intensi dipandang sebagai ubahan yang paling dekat dari individu untuk melakukan perilaku, maka dengan demikian intensi dapat dipandang sebagai hal yang khusus dari keyakinan yang obyeknya selalu individu dan atribusinya selalu perilaku. Intensi memainkan peranan yang khas dalam mengarahkan tindakan, yakni menghubungkan antara pertimbangan mendalam yang diyakini dan diinginkan oleh seseorang dengan tindakan tertentu. Handaru et al, (2015) menjelaskan bahwa intensi merupakan suatu komponen yang ada pada diri individu yang mengacu pada keinginan untuk melakukan tingkah laku tertentu. Pada Theory of Planned Behavior (TPB), niat untuk entrepreneur dan keputusan untuk melakukan operasi bisnis tergantung pada sikap kewirausahaan (attitude), kemudian bagaimana merasakan tekanan sosial berpengaruh terhadap perilaku kewirausahaan (subjective norm) dan bagaimana persepsi mengontrol perilaku (perceived behavior control) (Firmansyah, 2013). Berdasarkan beberapa uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa niat kewirausahaan merupakan suatu kecenderungan individu yang keluar dari dalam diri seseorang sebagai wujud dari keinginan untuk melakukan suatu tindakan atau perilaku dalam entrepreneur. Hal tersebut kemudian dilakukan dengan berusaha untuk mencari maupun mencoba aktivitas-aktivitas dalam suatu bidang bisnis

Pengukuran Behaviour Entrepreneur (skripsi dan tesis)

Adinoto (2013) menjelaskan bahwa perilaku kewirausahaan dikaitkan
dengan faktor inovasi (innovation), kemampuan yang proaktif (proactiveness), dan
keberanian mengambil risiko (risk taking). Intensitas ekstensi faktor-faktor tersebut
dinilai akan berdampak pada kepekaan organisasi atau individu dan
mempengaruhi dealer trust maupun pembeli terhadap perusahaan. Setyorini
(2013) menambahkan bahwa keberhasilan seseorang dalam menjalankan
usahanya ditentukan oleh faktor dari dalam diri wirausaha tersebut. Kepribadian
wirausaha merupakan faktor utama sedangkan faktor-faktor lain merupakan
pendukung yang antara lain adaIah kemampuan, teknologi, dan faktor lain.
Perilaku ini dilandasi oleh spirit entrepreneurship.
Perilaku kewirausahaan diukur dengan mendasarkan diri pada
karakteristik yang dimiliki oleh individu yang terjun dalam dunia ini. Menurut
Sukardi dalam Setyorini (2013) menjelaskan bahwa perilaku entrepreneurn diukur
dengan menggunakan beberapa aspek yaitu:
1. Selalu tanggap terhadap peluang atau kesempatan berusaha maupun
yang berkaitan dengan perbaikan kinerjanya yang ditandai dengan sifat
instrumental.
2. Ada usaha untuk terus-menerus memperbaiki prestasi, mempergunakan
umpan balik, menyukai tantangan dan berupaya agar hasil kerjanya selalu
lebih baik. Tingkah laku ini disebut dengan tingkah laku prestatif yang
didukung oleh sifat prestatif.
3. Melakukan usaha-usaha untuk meperluas Jaringan sosialnya, membina
kenalan, mencari kenalan dan berusaha menyesuaikan diri dalam segala
kesempatan.
4. Dalam berusaha selalu ada usaha untuk selalu terlibat dalam situasi kerja,
tidak mudah menyerah sebelum pekerjaan selesai. Seakan-akan memiliki
tenaga untuk terlibat terus-menerus dalam kerja. Tingkah laku ini disebut
dengan tingkah laku kerja keras.
5. Berusaha untuk selalu optimis bahwa usahanya akan memberi hasil.
Dalam aktualisasinya adalah dirinya yakin, jarang terlihat ragu-ragu.
Tingkah laku ini ditandai dengan keyakinan diri.
6. Tidak mudah khawatir tentang situasi yang serba tidak pasti apakah
usahanya akan bisa membuahkan hasil. Ada keberanian mengambil risiko
dan mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan kegagalan. Tingkah laku
ini merupakan pengambilan resiko yang diperhitungkan.
7. Sifat swa kendali yaitu benar-benar menentukan apa yang harus dilakukan
dan bertanggungjawab pada dirinya sendiri.
8. Ada usaha keras untuk mencari cara-cara baru guna memperbaiki
kinerjanya. Keterbukaan pada gagasan, pandangan dan penemuanpenemuan baru yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerjanya.
Tidak terfokus pada pola lama, tapi berusaha mengembangkan ide baru.
Tingkah laku ini disebut dengan tingkah laku inovatif
9. Memiliki tanggung jawab pribadi. Keberhasilan dan kegagalan merupakan
tanggung jawab pribadi. Oleh karena itu ada kesenangan karena dapat
mengambil keputusan untuk bertindak dan tidak tergantung kepada orang
lain.

Faktor Yang Mempengaruhi Behaviour Entrepreneur (skripsi dan tesis)

Seorang entrepreneur adalah seorang yang menerapkan kemampuannya
untuk mengatur, menguasai alat-alat produksi dan menghasilkan hasil yang
berlebihan yang selanjutnya dijua atau ditukarkan dan memperoleh pendapatan
dari usahanya (Amin, 2015). Prawirokusumo dalam Handaru et al, (2015)
menjelaskan bahwa di dalam diri seorang entrepreneur terdapat hal yang sangat
melekat, yaitu wirausaha memiliki kecenderung risk taker yang dapat
mengakomodasi atau menyesuaikan diri dari perubahan-perubahan dan para
entrepreneur mampu mengembangkan potensi dirinya.
Kemudian mengutip dari Hisrich, Peters dan Shepherd menyatakan bahwa
budaya juga mampu membedakan perusahaan dijalankan secara kewirausahaan
dan dikelola secara tradisional.Sebuah perusahaan dengan orientasi
kewirausahaan terhadap budaya mendorong karyawan untuk menghasilkan ideide, percobaan dan terlibat dalam tugas-tugas lain yang mungkin menghasilkan
output kreatif. Kemudian Pinem menyebutkan bahwa faktor lingkungan juga
memiliki peran yang signifikan dalam pembentukan jiwa kewirausahaan, faktor
tersebut adalah budaya karena dalam budaya tersimpan nilai-nilai apa yang
dianggap baik. Selanjutnya dari Stringa menambahkan bahwa faktor demografi
seperti jenis kelamin, umur, status sosial, tingkat pendidikan dan entrepreneurial
culture yang melekat pada karakteristik entrepreneur (Handaru et al, 2015).
Wijayanti dan Kistyanto (2013) menguraikan bahwa dalam pembentukan
perilaku kewirausahaan sangat dipengaruhi oleh pedoman, pengharapan, dan
nilai, baik yang berasal dari pribadi maupun kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa
dalam membentuk dan mengarahkan seorang individu untuk berperilaku
kewirausahaan sangatlah dipengaruhi oleh budaya perusahaan, khususnya
budaya kewirausahaan perusahaan.

Definisi Behaviour Entrepreneur (skripsi dan tesis)

Setiawan (2012:348) menjelaskan bahwa sebagian cerdik pandai atau
kaum intelektual menjelaskan bahwa setiap orang seharusnya memiliki jiwa,
perilaku dan prakarsa wirausaha. Jiwa dan perilaku kewirausahaan jelas hanya
akan terbangun apabila dijalankan dari mulai kreativitas dan inovasi. Ciri-ciri
wirausahawan sendiri adalah memiliki tujuan yang berkelanjutan, tekun, memiliki
pengetahuan bisnis, mampu mengatasi kegagalan, mampu mengendalikan,
berani mengambil risiko, memiliki alternatif solusi dalam memecahkan masalah,
bergerak cepat berdasarkan inisiatif, energik, komunikatif dan konsultatif, sehat
jasmani dan mental, toleransi terhadap ketidakpastian, percaya diri, komitmen,
bertanggung jawab, tidak tergantung pada yang lain, fleksibel, memiliki
keingintahuan dan hasrat mencipta yang tinggi, positive thinking, aktif dalam
jejaring dan organisasi, inovatif, serta memiliki pengetahuan bisnis. Hal ini
tentunya semua itu perlu dibingkai dengan moral dan etika yang berprinsip
kebenaran dan keadilan.
Perilaku usaha dinyatakan oleh Thobias et al, (2013) sebagai semangat,
kemampuan, sikap, perilaku individu dalam menangani usaha atau kegiatan yang
mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi,
dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan
pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Menurut Robbins perilaku berkenaan dengan tindakan-tindakan manusia
yang dapat diamati dan diukur. Tindakan-tindakan manusia disini dapat berupa
belajar, bekerja, mangkir, istirahat, memimpin, motivasi dan sebagainya. Kata ke
wirausahaan sendiri merupakan keberanian, keutamaan serta keperkarsaan
dalam memenuhi kebutuhan serta memecahkan permasalahan hidup dengan
kekuatan yang ada pada dirinya sendiri (Amin, 2015).
Berdasarkan uraian di atas, maka Amin (2015) menjelaskan bahwa
perilaku kewirausahaan merupakan tindakan-tindakan manusia yang dapat diukur
yang dilakukan dengan keberanian, keutamaan serta keperkasaan dalam
memenuhi kebutuhan dan permasalahan dengan kemampuan dan kekuatan yang
berasal dari diri sendiri. Dalam hal ini pemenuhan kebutuhan dan permasalahan
hidup yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan bisnis seperti proses dalam
pembentukan suatu produk.
Pendekatan perilaku dalam konsep entrepreneurship seperti halnya
pendekatan trait lebih menekankan perilaku apa saja yang menjadi penentu dalam
kewirausahaan yang sukses. Dalam pendekatan ini, mitos-mitos mengenai
kewirausahaan dipatahkan. Misalnya kewirausahaan itu tidak dapat dipelajari.
Justru pendekatan perilaku lebih menekankan peluang bagi siapa saja untuk
belajar entrepreneur (Helmi, 2011). Berdasarkan beberapa uraian definisi perilaku
wirausaha, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku entrepreneur merupakan
tindakan-tindakan manusia yang dapat diukur yang dilakukan dengan keberanian,
keutamaan serta keperkasaan dalam memenuhi kebutuhan dan permasalahan
terkait kegiatan-kegiatan bisnis dengan kemampuan dan kekuatan yang berasal
dari diri sendiri.

Faktor Pembentuk Entrepreneur (skripsi dan tesis)

Menurut Soegoto (2011:12) seorang entrepreneur harus memiliki faktorfaktor pada dirinya sebagai berikut.
1. The creavity, yaitu kreatif menghasilkan sesuatu yang baru dengan
menambahkan nilainya. Pertambahan nilai ini tidak hanya diakui oleh
wirausahawan semata namun juga audiens yang akan menggunakna hasil
kreasi tersebut.
2. The commitment, yaitu memiliki komitmen yang tinggi terhadap apa yang
ingin dicapai dan dihasilkan dari waktu dan usaha yang ada.
3. The risk, yaitu siap menghadapi resiko yang mungkin timbul, baik resiko
keuangan, fisik, dan resiko sosial.
4. The reward dimana reward yang utama adalah independensi atau
kebebasan yang diikuti dengan kepuasan pribadi, sedangkan reward
berupa uang biasnaya dianggap sebagai suatu bentuk derajat kesuksesan
usahanya.

Karakteristik Entrepreneur (skripsi dan tesis)

Sarwoko et al, (2013) mengemukakan karakteristik entrepreneur yang
dapat menentukan keberhasilan bisnis adalah:
1. Faktor pikologis
Faktor psikologis merupakan karakteristik individu yang dapat menentukan
keberhasilan bisnis, meliputi: kebutuhan untuk berprestasi, locus of control,
dan karakter pribadi.
2. Faktor pendidikan
Faktor pendidikan merupakan karakteristik yang dapat menjadi determinan
dalam menentukan keberhasilan bisnis. Semakin tinggi pendidikan
entrepreneur akan memiliki dampak yang baik dalam entrepreneur karena
mencerminkan fakta sebagai seorang individu yang memiliki keunggulan
dari segi pengetahuan.
Adapun tipe karakteristik entrepreneur menurut Sarwoko et al, (2013)
dibedakan menjadi dua, yaitu: 1) Atribut meliputi: usia, jenis kelamin, agama,
pengaruh keluarga; dan 2) Kualifikasi meliputi pendidikan dan pengalaman bisnis.
Sonny et, (2012) mengemukakan terdapat 17 karakteristik yang melekat pada diri
entrepreneur, yaitu:
1. Komitmen total, determinasi, dan keuletan hati
Entrepreneur adalah mereka yang memiliki komitmen total dan determinasi
untuk maju sehingga dapat mengatasi berbagai hambatan. Kesulitan yang
timbul tidak membuat surut semangat entrepreneur untuk terus berkreasi
dan berinovasi.
2. Dorongan kuat untuk berprestasi
Entrepreneur adalah orang yang berani memulai sendiri, tidak terlalu
tergantung pada orang lain, yang digerakkkan oleh keinginan kuat untuk
berkompetisi, melampaui standar yang ada dan mencapai sasaran.
3. Berorientasi pada kesempatan dan tujuan
Entrepreneur adalah orang yang berani memulai sendiri, tidak terlalu
bergantung pada orang lain, yang digerakkan oleh keinginan kuat untuk
berkompetisi, melampaui standar yang adil dan mencapai sasaran.
4. Inisiatif dan tanggung jawab
Entrepreneur adalah pribadi yang independen, bergantung pada dirinya
sendiri dan secara aktif mengambil inisiatif untuk memecahkan masalah.
5. Pengambilan keputusan yang konsisten
Entrepreneur merupakan seseorang yang tidak mudah terintimidasi oleh
situasi yang sulit, karena merupakan pribadi yang percaya diri dan optimis.
6. Mencari umpan balik
Entrepreneur yang efektif adalah pembelajar yang cepat karena memiliki
keinginan yang kuat untuk mengetahui bagaimana bertindak dengan benar
dan memperbaiki kinerjanya. Umpan balik adalah sentral dari
pembelajaran seorang entrepreneur.
7. Internal locus of control
Entrepreneur yang sukses menyakini diri mereka sendiri. Seorang
entrepreneur tidak percaya bahwa keberhasilan atau kegagalan
dipengaruhi oleh takdir, keberuntungan, dan kekuatan lainnya.
Entrepreneur memiliki kepercayaan bahwa pencapaian yang diperoleh
merupakan hasil pengendalian dan pengaruh diri. Entrepreneur juga
menyakini bahwa mereka dapat mengendalikan lingkungan melalui
berbagai aktivitas yang dilakukan.
8. Toleransi terhadap ambiguitas
Entrepreneur selalu menghadapi kondisi ketidakpastian, hal ini terjadi
karena kurangnya informasi yang diperlukan untuk memetakan situasi.
Entrepreneur dengan tolerasi yang tinggi terhadap ambiguitas akan
menanggapi kondisi tersebut dengan upaya-upaya terbaik untuk
mengatasinya.
9. Pengambilan resiko yang terkalkulasi
Entrepreneur bukanlah penjudi, karena ketika mereka terlibat dalam suatu
bisnis maka telah diperhitungkan dengan pemikiran yang matang, karena
entrepreneur menghindari resiko yang tidak perlu.
10. Integritas dan reliabilitas
Karakteristik ini merupakan kunci kesuksesan relasi antara pribadi dan
bisnis yang membuat entrepreneur dapat bertahan lama.
11. Toleransi terhadap kegagalan
Kegalan adalah hal yang biasa bagi entrepreneur, karena merupakan
bagian dari pengalaman pembelajaran. Entrepreneur yang efektif adalah
cukup realistis dalam menghadapi kesulitan. Entrepreneur tidak menjadi
kecewa, terpukul, atau depresi ketika menghadapi kegagalan. Sebaliknya,
entrepreneur terus mencari kesempatan untuk menyadari bahwa banyak
pelajaran yang dapat dipetik dari kegagalan daripada keberhasilan.
12. Energi tingkat tinggi
Entrepreneur sering menghadapi beban kerja yang berat dan tingkat stres
yang tinggi, namun entrepreneur selalu memiliki energi tinggi untuk
menghadapinya.
13. Kreatif dan inovatif
Entrepreneur yang sukses adalah individu yang kreatif dan inovatif.
Kreatifitas dapat dipelajari dan dilatih serta merupakan kunci sukses dalam
struktur ekonomi masa kini.
14. Visi
Entrepreneur mengetahui arah bisnis yang akan dijalani. Visi
dikembangkan sepanjang waktu yang menentukan eksistensi bisnisnya di
masa depan.
15. Independen
Entrepreneur menginginkan kebebasan dalam mengembangkan bisnis.
Entrepreneur tidak menginginkan birokrasi yang rumit sehingga dapat
menghambat aktivitasnya.
16. Percaya diri dan optimis
Entrepreneur selalu menghadapi berbagai tantangan tetapi hal tersebut
tidak membuat kehilangan kepercayaan diri dan pesimis. Entrepreneur
selalu percaya diri dan optimis bahwa segala kesulitan yang menghadang
dapat diatasi.
17. Membangun tim
Meskipun entrepreneur selalu menginginkan otonomi tetapi tidak
membatasi keinginannya untuk membangun entrepreneurship yang kuat.
Entrepreneur yang sukses membutuhkan tim yang handal serta dapat
menangani pertumbuhan dan perkembangan usaha.
Handaru et al, (2015) mengidentifikasikan terdapat hanya enam
karakteristik entrepreneur, yang meliputi tidak mudah menyerah dalam mencapai
tujuan (need for achievement), sikap entrepreneurdalam mengelola usahanya
(locus of control), memiih suatu tantangan namun cukup kemungkinan untuk
berhasil (risk taking propensity), kemampuan unutuk berhubungan dengan
sesuatu yang tidak bisa diprediksi (tolerence for ambiguity), dapat menciptakan
barang dan jasa baru (innovativeness), memiliki percaya diri yang tinggi akan
keberhasilan usahanya (confidence).

Definisi Entrepreneur (skripsi dan tesis)

Kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis entreprendre yang dapat didefinisikan sebagai seorang yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mencari cara-cara atau teknik yang lebih baik dalam pemanfaatan sumber daya, memperkecil pemborosan, serta menghasilkan barang atau jasa dalam upaya memuaskan kebutuhan orang lain (Wibowo dan Kusrianto, 2010:11). Seorang ahli ekonomi dari Austria bernama Joseph Schumpter mendefinisikan entrepreneur sebagai seorang yang ingin dan mampu untuk melakukan perombakan sistem ekonomi, mengubah ide baru atau penemuan baru menjadi sebuah inovasi yang sukses. Inovasi tersebut dapat berwujud: 1) produk baru baik berupa barang atau jasa; 2) organisasi atau manajemen baru; 3) cara berproduksi yang baru; 4) menggunakan bahan baku yang baru (Wibowo dan Kusrianto, 2010:11-12). Menurut Aprijon (2013) entrepreneur merupakan seseorang yang membawa sumber daya berupa tenaga kerja, material dan aset lainnya pada suatu kombinasi yang menambahkan nilai yang lebih besar dibandingkan sebelumnya, serta dilekatkan pada orang yang membawa perubahan, inovasi dan aturan baru. Kata “entrepreneur” dalam entrepreneurship dapat diartikan sebagai individu yang melakukan inovasi, keuangan dan ketajaman bisnis dalam upaya untuk mengubah inovasi menjadi barang ekonomi dan hasil dari salah satu upaya dalam entrepreneur mungkin penciptaan organisasi baru atau revitalisasi organisasi yang ada dalam menganggapi peluang yang dirasakan (Olorundare dan Kayode, 2014). Aprilianty (2012) mendefinisikan entrepreneur atau wirausahawan adalah seseorang yang mengembangkan produk baru atau ide baru dan membangun bisnis dengan konsep baru. Dalam hal ini akan menuntut sejumlah kreativitas dan suatu kemampuan untuk melihat pola-pola dan trend-trend yang berlaku untuk menjadi seorang wirausahawan. Eroglu dan Picak (2011) menjelaskan bahwa entrepreneur adalah orang yang terbiasa menciptakan dan berinovasi untuk membangun sesuatu yang bernilai dan peluang diakui di sekitar yang dirasakan. Hisrich dalam Eroglu dan Picak (2011) menyatakan bahwa entrepreneur akan ditandai dengan seseorang yang menunjukkan inisiatif dan berpikir kreatif, mampu mengatur mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah sumber daya dan situasi yang ada ke kegiatan praktis dan siap menerima risiko serta kegagalan. Uraian tersebut sejalan dengan pernyataan dari Sonny et al, (2012) yang menjelaskan bahwa entrepreneur adalah orang yang berjiwa berani mengambil risiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan, bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. Berdasarkan beberapa pengertian mengenai entrepreneur dapat dijelaskan seorang entrepreneur memiliki kemampuan mengubah sesuatu menjadi lebih baik atau menciptakan seseuatu yang benar-benar baru, berjiwa kreatif dan inovatif. Seorang entrepreneur akan mampu menentukan cara produksi baru atau inovasi yang harus dilakukan terhadap suatu produk sehingga mampu menciptakan nilai tambah terhadap produk tersebut.

Niat Berperilaku (skripsi dan tesis)

Niat berperilaku merupakan ukuran dari kesediaan individu untuk
melakukan perilaku yang diinginkan. Berdasarkan pemikiran model TPB maka
niat berperilaku merupakan prediktor yang kuat menentukan perilaku. Seseorang
yang memiliki niat perilaku tinggi akan memungkinkan orang tersebut terlibat atau
melakukan perilaku tersebut (Mok dan Lee, 2013). TPB terdiri dari tiga konstruk
yang masing-masing merupakan determinan yang menentukan niat berperilaku
seseorang, yaitu:
1. Konstruk pertama adalah sikap (attitude) yang mendefinisikan sebagai
sejauh mana seseorang mengevaluasi atau menilai perilaku tersebut
menguntungkan atau tidak, menyenangkan atau tidak menyenangkan,
baik atau buruk, berbahaya atau bermanfaat, suka atau tidak suka
terhadap objek akan memediasi semua tanggapan ke objek. Sikap
menjadi determinan yang menentukan niat berperilaku seseorang
(Hasbullah et al, 2014). Sikap merupakan langkah-langkah dari keyakinan
perilaku seseorang, hal ini merupakan fungsi individu yang merasakan
kemungkinan hasil dari perilaku yang akan dilakukan serta evaluasinya
(Mok dan Lee, 2013).
2. Konstruk kedua adalah subjective norms (norma subjektif) adalah acuan
yang berasal dari lingkungan sosial yang memberikan pengaruh
seseorang dalam berperilaku. TPB mengemukakan bahwa seseorang
dapat memiliki keyakinan berdasarkan apa yang diharapkan orang lain
pada orang tersebut. Orang dapat memiliki sikap yang baik terhadap
objek tertentu, namun jika ada tekanan dari orang lain untuk tidak
melakukannya, maka orang tersebut akan memilki sikap yang negatif
(Hasbullah et al, 2014). Norma subjektif mengukur efek dari pengaruh
sosial yang diberikan pada individu (Mok dan Lee, 2013).
3. Konstruk ketiga adalah kontrol perilaku yang dirasakan (perceived behavior
control) yaitu merasakan kemudahan atau kesulitan dalam menjalankan
perilaku. Perilaku yang dirasakan dapat menjadi cerminan dari keyakinan
terhadap ketersediaan sumber daya serta kesempatan untuk melakukan
perilaku tertentu (Hasbullah et al, 2014). Kontrol perilaku yang dirasakan
merupakan ukuran dari persepsi seseorang tentang kemudahan dan
kesulitan ketika akan melakukan perilaku tertentu. Sejauh mana
seseorang berhasil mengubah niat berperilakunya menjadi perilaku aktual
sangat bergantung pada kontrol perilaku yang dirasakan (Mok dan Lee,
2013).
Senada dengan pernyataan di atas, Pangestu dan Rusmana (2012) juga
menyatakan bahwa Theory of Planned Behavior adalah sebuah teori yang
menerangkan bahwa perilaku yang ditampilkan oleh individu timbul karena adanya
niat untuk berperilaku. Sedangkan munculnya niat berperilaku ditentukan oleh 3  faktor penentu yaitu:
1. Behavioral beliefs, yaitu keyakinan individu akan hasil dari suatu perilaku
dan evaluasi atas hasil tersebut (beliefs strength and outcome
evaluation);
2. Normative beliefs, yaitu keyakinan tentang harapan normatif orang lain
dan motivasi untuk memenuhi harapan tersebut (normatif beliefs and
motivation to comply); dan
3. Control beliefs, yaitu keyakinan tentang keberadaan hal-hal yang
mendukung atau menghambat perilaku yang akan ditampilkan (control
beliefs) dan persepsinya tentang seberapa kuat hal-hal yang mendukung
dan menghambat perilakunya tersebut (perceived power).
Hambatan yang mungkin timbul pada saat perilaku ditampilkan dapat
berasal dari dalam diri sendiri maupun dari lingkungan. Secara berurutan,
behavioral beliefs menghasilkan sikap terhadap perilaku positif atau negatif,
normative beliefs menghasilkan tekanan sosial yang dipersepsikan (perceived
social pressure) atau norma subyektif (subjective norm), dan control beliefs
menimbulkan perceived behavioral control atau kontrol keperilakuan yang
dipersepsikan Ajzen dalam Pangestu dan Rusmana (2012).

Model TPB (Theory of Planned Behavior) (skripsi dan tesis)

Theory of Planned Behavior (TPB) dikembangkan oleh Ajzen sebagai perluasan dari Theory of Reasoned Action (TRA). Theory of Planned Behavior merupakan kerangka konsptual yang digunakan untuk meneliti perilaku individu dimana melalui Theory of Planned Behavior memungkinkan dapat diketahui faktor yang mempengaruhi keputusan individu dalam berperilaku sehingga dapat dikatakan individu dalam berperilaku didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan rasional (Kumar, 2012). TPB merupakan model yang dihasilkan dari TRA dengan mengasumsikan bahwa perilaku tertentu ditentukan oleh niat untuk melakukannya. TPB sebagai perluasan TRA karena dalam teori TRA tidak terdapat komponen kontrokl perilaku yang dirasakan, sehingga model TRA kesulitan dalam menjelaskan perilaku seseorang yang tidak memiliki kontrol atas perilakunya (Mok dan Lee, 2013). TPB menjelaskan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh niat berperilaku. Di dalam TPB komponen sikap terhadap perilaku dan norma subjektif memiliki kesamaan dengan teori TRA, namun dalam teori TPB ditambahkan kontrol perilaku yang dirasakan sebagai komponen yang menentukan niat berperilaku (Ajzen, 1991).

Hubungan Penggunaan Teknologi Informasi dengan Kinerja Individual (skripsi dan tesis)

Secara umum sistem yang diimplementasikan dalam satu organisasi
seharusnya memudahkan pemakai dalam mengidentifikasi data, mengakses
data, dan mengintepretasikan data tersebut. Data dalam informasi tersebut
seharusnya merupakan data yang terintegrasi dari seluruh unit
perusahaan/organisasi sehingga dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan
tugas dalam perusahaan/organisasi.
Goodhue dkk. (1995) dalam Tjhai (2003:8) mengemukakan agar suatu
teknologi informasi dapat memberikan dampak yang positif terhadap kinerja
individual, maka teknologi tersebut harus dimanfaatkan dengan tepat dan
harus mempunyai kecocokan dengan tugas yang didukung. Kinerja individual
dalam penelitian adalah pencapaian serangkaian tugas individu dengan
dukungan teknologi informasi. Kinerja yang semakin tinggi melibatkan
kombinasi dari peningkatan efisiensi, efektivitas, produktivitas, dan
peningkatan kualitas.

Technology Acceptance Model (TAM) (skripsi dan tesis)

Dalam penulisan ini penulis menggunakan Model Penerimaan
Teknologi yang dikemukakan oleh Davis (1989) yaitu Technology
Acceptance Model (TAM), model ini sebenarnya diadopsi dari model TRA
yaitu teori tindakan yang beralasan dengan satu premisa bahwa reaksi dan
persepsi seseorang terhadap sesuatu hal, akan menentukan sikap dan
perilaku orang tersebut. Reaksi dan persepsi pengguna Teknologi Informasi
(TI) akan mempengaruhi sikapnya dalam penerimaan terhadap teknologi
tersebut. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhinya adalah persepsi
pengguna terhadap kemanfaatan dan kemudahan penggunaan TI sebagai
suatu tindakan yang beralasan dalam konteks pengguna teknologi, sehingga
alasan seseorang dalam melihat manfaat dan kemudahan penggunaan TI
menjadikan tindakan/perilaku orang tersebut sebagai tolok ukur dalam
penerimaan sebuah teknologi.
Model TAM yang dikembangkan dari teori psikologis, menjelaskan
perilaku pengguna komputer yaitu berlandaskan pada kepercayaan (belief),
sikap (attitude), keinginan (intention), dan hubungan perilaku pengguna (user
behaviour relationship). Tujuan model ini untuk menjelaskan faktor-faktor
utama dari perilaku pengguna terhadap penerimaan pengguna teknologi.
Secara lebih terinci menjelaskan tentang penerimaan Teknologi Informasi
dengan dimensi – dimensi tertentu yang dapat mempengaruhi diterimanya
Teknologi Informasi oleh pengguna (user).
Model ini menempatkan faktor sikap dari tiap-tiap perilaku pengguna
dengan dua variabel yaitu :
1. Kemanfaatan (usefulness)
2. Kemudahan penggunaan (ease of use)
Kedua variabel ini dapat menjelaskan aspek keperilakuan pengguna.
Kesimpulannya adalah model TAM dapat menjelaskan bahwa persepsi
pengguna akan menentukan sikapnya dalam penggunaan TI. Model ini secara
lebih jelas menggambarkan bahwa penerimaan penggunaan TI dipengaruhi
oleh kemanfaatan (usefulness) dan kemudahan penggunaan (ease of use).
Technology Acceptance Model (TAM) yang telah dimodifikasi dari
model penelitian TAM sebelumnya yang terdiri dari 5 faktor yang
menempatkan dua variabel : (1) Persepsi tentang kemudahan penggunaan
(Perceived Ease Of Use), (2) persepsi terhadap kemanfaatan (Perceived
Usefulness), dan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap pengguna untuk
menggunakan teknologi informasi yaitu (3) sikap penggunaan (Attitude
Toward Using), (4) perilaku untuk tetap menggunakan (Behavioral Intention
To Use), dan (5) kondisi nyata penggunaan sistem (Actual System Usage).

Task-Technology Fit Theory (skripsi dan tesis)

Inti dari model ini adalah konstruk yang disebut kecocokan tugas
dengan teknologi atau Task-Technology Fit (TTF), yaitu kesesuaian antara
kemampuan teknologi dengan tuntutan pekerjaan, atau kemampuan teknologi
untuk mendukung pekerjaan (Goodhue and Thompson, 1995).
Menurut Goodhue (1995) evaluasi terhadap user dengan
menggunakan model ini ditentukan oleh karakteristik dari pekerjaan ,
karakteristik dari individu dan sistem informasi dan persyaratan suatu
pekerjaan akan menghasilkan evaluasi user yang positif. Goodhue (1995)
menganjurkan bahwa TTF digunakan sebagai konstruk evaluasi user untuk
mengukur kesuksesan suatu sistem informasi. Definisi ini menekankan pada
kemampuan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas yang akan
dikerjakan dengan teknologi yang digunakan diwujudkan dalam penggunaan
software yang tepat dalam mengerjakan suatu tugas tertentu

Social Cognitive Theory (skripsi dan tesis)

Social Cognitive Theory dikembangkan oleh Compeau dan Higgins
Model tersebut didasarkan pada teori kognitif yang dikembangkan oleh
Badura untuk menguji apakah pengaruh komputer self-efficacy, ekspektasi
hasil, minat atau perhatian, serta kecemasan terhadap penggunaan komputer.
Dalam teori ini self-efficacy merupakan anteseden terhadap penggunaan
teknologi. Tanggapan emosional seperti perhatian dan kecemasan
dipengaruhi self-efficacy. Sementara itu, menurut Venkatesh (2003)
ekspektasi dibagi menjadi dua kelompok yaitu ekspektasi pencapaian
individual dan ekspektasi kinerja.

Theory of Planed Behavior (TPB) (skripsi dan tesis)

Theory of Reason Action kemudian diperluas dan dimodifikasi oleh
Ajzen dengan teori perilaku terencana (theory of planned behavior), di mana
determinan intensi tidak hanya dua (sikap terhadap perilaku yang
bersangkutan dan norma-norma subjektif) melainkan tiga dengan
diikutsertakannya aspek kontrol perilaku yang dihayati (perceived behavioral
control). Keyakinankeyakinan berpengaruh pada sikap terhadap perilaku
tertentu, pada norma-norma subjektif, dan pada kontrol perilaku yang
dihayati. Keyakinan mengenai perilaku apa yang bersifat normatif dan
motivasi untuk bertindak sesuai dengan harapan normatif tersebut
membentuk norma subjektif dalam diri individu. Kontrol perilaku ditentukan
oleh pengalaman masa lalu dan perkiraan individu mengenai seberapa sulit
atau mudahnya untuk melakukan perilaku yang bersangkutan. Dalam teori
perilaku terencana, faktor utama dari suatu perilaku yang ditampilkan
individu adalah intensi untuk menampilkan perilaku tertentu (Ajzen, 1991:
hal 5). Intensi diasumsikan sebagai faktor motivasional yang mempengaruhi
perilaku. Intensi merupakan indikasi seberapa keras seseorang berusaha atau
seberapa banyak usaha yang dilakukan untuk menampilkan suatu perilaku.
Sebagai aturan umum, semakin keras intensi seseorang untuk terlibat
dalam suatu perilaku, semakin besar kecenderungan ia untuk benar-benar
melakukan perilaku tersebut. Intensi untuk berperilaku dapat menjadi perilaku
sebenarnya hanya jika perilaku tersebut ada di bawah kontrol individu yang
bersangkutan. Individu tersebut memiliki pilihan untuk memutuskan
menampilkan perilaku terterntu atau tidak sama sekali. (Ajzen, 1991). Sampai
seberapa jauh individu akan menampilkan perilaku, juga tergantung pada
faktor-faktor non motivasional. Jika intensi dianggap sebagai faktor yang
konstan, maka usaha-usaha untuk menampilkan perilaku tertentu tergantung
pada sejauh mana kontrol yang dimiliki individu tersebut. Hal penting kedua
yang mendasari pernyataan bahwa ada hubungan langsung antara kontrol
terhadap perilaku yang dihayati (perceived behavioral control) dan perilaku
nyatanya , seringkali dapat digunakan sebagai pengganti atau subtitusi untuk
mengukur kontrol nyata (actual control).

Theory of Reason Action (TRA) (skripsi dan tesis)

Theory Reasoned Action pertama kali dicetuskan oleh Ajzen pada
tahun 1980. Teori ini disusun menggunakan asumsi dasar bahwa manusia
berperilaku dengan cara yang sadar dan mempertimbangkan segala informasi
yang tersedia. Dalam TRA ini, Ajzen (1980) menyatakan bahwa niat
seseorang untuk melakukan suatu perilaku menentukan akan dilakukan atau
tidak dilakukannya perilaku tersebut. Lebih lanjut, Ajzen mengemukakan
bahwa niat melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu dipengaruhi
oleh dua penentu dasar, yang pertama berhubungan dengan sikap ( attitude
towards behavior) dan yang lain berhubungan dengan pengaruh sosial yaitu
norma subjektif (subjective norms).
Dalam upaya mengungkapkan pengaruh sikap dan norma subjektif
terhadap niat untuk dilakukan atau tidak dilakukannya perilaku, Ajzen
melengkapi TRA ini dengan keyakinan (beliefs). Dikemukakannya bahwa
sikap berasal dari keyakinan terhadap perilaku (behavioral beliefs),
sedangkan Norma subjektif berasal dari keyakinan normatif ( normative
beliefs). Akan tetapi dikarenakan norma subjektif ini tidak memiliki memiliki
kepastian teori dan ukurannya adalah aspek psikologi seseorang yang sifatnya
sangat subjektif maka komponen norma subjektif ini tidak dimasukkan
kedalam TAM

Model Penerimaan Teknologi (skripsi dan tesis)

Pengertian model secara sederhana adalah “ Gambaran “ yang
dirancang untuk mewakili kenyataan. Model didefinisikan adalah tiuan gejala
yang akan diteliti: model menggambarkan hubungan antara variabel-variabel
atau sifat-sifat atau komponen gejala-gejala tersebut. Model bukan teori
walaupun bisa menerapkan atau melahirkan teori, model hanyalah taxonomy
yang merinci kompone-komponen secara cermat, yang bertujuan unutk
mempermudah pemikiran yang sistematis dan logis. Beberapa model yang
dibangun untuk menganalisis dan memahami faktor – faktor yang
mempengaruhi diterimanya Penggunaan Teknologi komputer, di antaranyaya
ng tercatat dalam berbagai literatur dan referensi hasil riset dibidang
teknologi informasi, Teori dan model tersebut adalah Theory of Reason
Action (TRA), Theory of Planned Behavior (TPB), Social Cognitive Theory,
Task-Technology Fit Theory, dan Technology Acceptance Model (TAM).
Model atau teori terakhir adalah Unified Theory of Acceptance and Use of
Technology (UTAUT)

Penggunaan Teknologi Informasi (skripsi dan tesis)

Penggunaan teknologi informasi menurut Thomson et al. dalam
Tjhai (2003) merupakan manfaat yang diharapkan oleh pengguna sistem
informasi dalam melaksanakan tugasnya atau perilaku dalam menggunakan
teknologi pada saat melakukan pekerjaan. Penggunaan teknologi informasi
yang tepat dan didukung oleh keahlian personil yang mengoperasikannya
dapat meningkatkan kinerja perusahaan maupun kinerja individu yang
bersangkutan.

Teknologi Informasi (skripsi dan tesis)

Teknologi Informasi (TI) adalah faktor yang sangat mendukung dalam
penerapan sistem informasi yang merupakan suatu solusi organisasi dan
manajemen untuk memecahkan permasalahan manajemen yang timbul.
Menuju era globalisasi para pimpinan organisasi dalam pengambilan
keputusan (decision making) tertentu untuk pengembangan solusi yang baru
maupun perubahannya akan digantikan oleh peranan Sistem Informasi (SI)
yang didukung oleh TI yang tepat guna. Salah satu modal yang harus
ditingkatkan untuk menghadapi hal tersebut adalah efektifitas Penggunaan
Teknologi Informasi.
Teknologi informasi (TI) secara umum, adalah kumpulan sumber daya
informasi perusahaan, para penggunanya, serta manajemen perusahaan yang
menjalankannya; meliputi infrastruktur TI dan semua sistem informasi
lainnya dalam perusahaan (Turban, Rainer Potter:2006). Menurut O’Brien (2006:28) teknologi adalah suatu jaringan komputer
yang terdiri atas berbagai komponen pemrosesan informasi yang
menggunakan berbagai jenis hardware, software, manajemen data, dan
teknologi jaringan informasi. Teknologi informasi dapat didefinisikan
sebagai perpaduan antara teknologi komputer dan telekomunikasi dengan
teknologi lainnya seperti perangkat keras, perangkat lunak, database,
teknologi jaringan, dan peralatan telekomunikasi lainnya (Maharsi 2000).
Teknologi informasi dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu
perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Perangkat keras
menyangkut peralatan-peralatan yang bersifat fisik, seperti memori, printer
dankeyboard. Adapun perangkat lunak meliputi : instruksi-instruksi untuk
mengatur perangkat keras agar bekerja sesuai dengan tujuan instruksi tersebut
(Kadir, 2003). Sedangkkan Haag (2000) membagi teknologi informasi
menjadi 6 kelompok antara lain :
1. Teknologi masukan (input)
Segala perangkat yang digunakan untuk menangkap data/informasi dari
sumber asalnya.
2. Teknologi keluaran (output)
Supaya informasi dapat diterima oleh pemakai yang membutuhkan,
informasi perlu disajikan dalam berbagai bentuk baik kertas dengan
menggunakan printer maupun melalui media penyimpanan.
3. Teknologi perangkat lunak (software)
Untuk menciptakan informasi diperlukan perangkat lunak atau program.
Program adalah sekumpulan instruksi yang digunakan untuk
mengendalikan perangkat keras komputer.
4. Teknologi penyimpan (storage)
Teknologi penyimpan menyangkut segala peralatan yang digunakan untuk
menyimpan data, seperti Harddisk, disket, Flasdisk, CD, DVD. 5. Teknologi telekomunikasi (telecomunication)
Teknoligi telekomunikasi merupakan teknologi yang memungkinkan
hubungan jarak jauh. Internet dan ATM merupakan contoh teknologi yang
memanfaatkan teknologi telekomunikasi.
6. Teknologi pemroses (process)
Mesin pemroses adalah bagian penting dalam teknologi informasi yang
berfungsi untuk mengingat data/program berupa komponen memori dan
mengeksekusi program berupa komponen CPU.

Informasi (skripsi dan tesis)

Informasi merupakan data atau fakta yang telah diproses sedemikian
rupa, sehingga berubah bentuknya menjadi informasi. Informasi dapat
memperkaya penyajian dan mengungkapkan sesuatu yang penerimanya tidak
tersangka. Di samping itu informasi dapat mengurangi ketidakpastian serta
mempunyai nilai dalam keputusan karena dengan adanya informasi kita dapat
memilih tindakan dengan resiko yang kecil.
Untuk menghasilkan kebijaksanaan dan keputusan yang baik
diperlukan pengolahan data menjadi informasi yang relevan dengan masalah
pada perguruan tinggi yang sedang dihadapi. Dengan demikian data itu
merupakan bahan mentah yang harus diproses lebih dahulu baru kemudian
dapat digunakan. Data tidak akan dapat bercerita tentang suatu persoalan
apabila tidak diolah terlebih dahulu. Sedangkan informasi itu sendiri adalah
data yang telah diproses dan berperan untuk mengurangi sifat ketidakpastian
tentang situasi yang dihadapi yang berguna bagi pengambilan keputusan
yang tepat.
Dalam pemakaian sehari-hari, informasi sering diartikan data. Dalam
raung lingkup sistem informasi manajemen kedua hal tersebut berbeda
walaupun hubungan keduanya sangat erat. Apabila dianalogkan dengan
proses produksi, data adalah bahan baku yang setelah mengalami proses
keluar menjadi bahan baru, yaitu informasi. Informasi merupakan data atau
fakta yang telah diproses sedemikian rupa, sehingga berubah bentuknya
menjadi informasi.
Menurut Davis (2002) pengertian informasi adalah: “Data yang
telah diolah menjadi bentuk yang berarti bagi yang menerimanya dan
bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini dan saat mendatang”.
Hubungan data dengan informasi adalah seperti bahan baku dengan
barang jadi. Dengan kata lain suatu sistem pengolahan informasi mengolah
data menjadi informasi. Menurut Aji (2005:6) informasi adalah data yang
terolah dan sifatnya menjadi data lain yang bermanfaat dan biasa disebut
informasi.
Dari definisi itu dapat disimpulkan bahwa data adalah bahan mentah
yang diproses menjadi sebuah informasi. Jadi terdapat perbedaan antara data
dengan informasi di mana data adalah “bahan baku” yang harus diolah
sedemikian rupa hingga berubah sifatnya menjadi informasi. Perubahan ini
penting untuk disadari karena sesungguhnya data tidak mempunyai nilai apa- apa untuk mengambil keputusan, hanya informasi mempunyai nilai, dalam
arti bahwa informasi akan memudahkan manajer untuk mengambil
keputusan.

Teknologi (skripsi dan tesis)

Teknologi merupakan penerapan pengetahuan untuk pelaksanaan
tugas/ kegiatan tertentu secara lebih efektif, dalam hal ini definisi teknologi
oleh (Rosenzweig, 2000) teknologi adalah organisasi dan aplikasi
pengetahuan untuk tercapainya tujuan praktis, ia meliputi manifestasi fisik
seperti alat-alat dan mesin-mesin, tetapi juga tehnik dan proses intelektual
yang dipakai untuk memecahkan masalah dan memperoleh hasil yang
diinginkan. Menurut O’Brien (2006:28) teknologi adalah suatu jaringan
komputer yang terdiri atas berbagai komponen pemrosesan informasi yang
menggunakan berbagai jenis hardware, software, manajemen data, dan
teknologi jaringan informasi.

Teori ERG (skripsi dan tesis)

Menurut Arfan (2010) menjelaskan teori dari clayton alderfer ini juga
menganggap kebutuhan manusia tersusun dalam suatu hierarki. Maslow
mengatakan orang cenderung meningkat hierarki kebutuhannya sejalan dengan
terpuaskannya kebutuhan sebelumnya. Namun, alderfer tidak sendapat dengan
maslow. Alderfer menegaskan suatu kebutuhan tidak harus terpuaskan terlebih
dahulu sebelum kebutuhan pada tingkat di atasnya muncul.
Teori ERG (existence, relatedness, growth) menganggap kebutuhan manusia
memiliki tiga hierarki kebutuhan, yaitu kebutuhan akan eksistensi (existence
needs), kebutuhan akan keterikatan (relatedness needs), dan kebuutuhan akan
pertumbuhan (growth needs). Teori ERG mengandung suatu dimensi frustrasi
regresi. Ingat kembali bahwa maslow beragumen seorang individu akan tetap
pada suatu tingkat kebutuhan tertentu sampai kebutuhan tersebut dipenuhi. Teori
ERG menyangkalnya dengan mengatakan bahwa bila suatu tingkat kebutuhan dari
urutan yang lebih tinggi terhalang, maka timbul hasrat dalam individu itu untuk
meningkatkan kebutuhannya di tingkat lebih rendah. Ketidak mampuan untuk
memuaskan suatu kebutuhan akan interaksi sosial, misalnya mungkin
meningkatkan hasrat untuk memiliki lebih banyak uang atau kondisi kerja yang
lebih baik. Jadi, frustasi (halangan) dapat mendorong ke suatu kemunduran yang
lebih rendah.
Ringkasnya, teori ERG beragumen seperti maslow bahwa kebutuhan tingkat
rendah yang terpuaskan menghantar ke hasrat untuk memenuhi kebutuhan dengan
tingkatan yang lebih tinggi. Namun, kebutuhan ganda dapat beroperasi sebagai
motivator sekaligus halangan, dimana mencoba memuaskan kebutuhan dengan
tingkat yang lebih tinggi dihasilkan pengaruh terhadap pemuasan akan kebutuhan
dengan ingkat lebih rendah.
Teori ERG lebih konsisten dengan pengetahuan kita mengenai perbedaan
individual diantara orang-orang. Variabel seperti pendidikan, latar belakang
keluarga, dan lingkungan budaya dapat mengubah arti penting atau kekuatan
dorong yang dimiliki sekelompok kebutuhan terhaap seorang individu tertentu.
Bukti memperlihatkan bahwa orang-orang dalam budaya-budaya lain
memeringkat kategori kebutuhan dengan cara berbeda. Namun, secara
keseluruhan teori ERG menyatakan suatu versi yang lebih valid dibandingkan
dengan hierarki kebutuhan.

Teori kebutuhan dan kepuasan (skripsi dan tesis)

Menurut Arfan (2010) menjelaskan bahwa Maslow mengembangkan suatu bentuk teori kelas. Teorinya menjelaskan bahwa setiap individu mempunyai beraneka ragam kebutuhan yang dapat mempegaruhi perilaku mereka. Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan ini kedalam beberapa kelompok yang pengaruh nya berbeda-beda. Pada kenyataannya, terdapat suatu hierarki kebutuhan yang didominasi oleh kebutuhan lain yang tidak mempunyai pengaruh motivasi yang lebih. Pada praktiknya, teori kebutuhan ini merupakan bagian-bagian dari teori
kebutuhan psikologis yang akan didominasi oleh kebutuhn-kebutuhan lain jika
tidak dipenuhi. Secara psikologis, kebutuhan merupakan syarat dasar untuk
memenuhi kebutuhan fisik, seperti makan, minum, perlindungan, dan sebagainya,
yang disebut kebutuhan dasar utama (primary basic need).
Secara ringkas, kelima hierarki kebutuhan manusia oleh maslow dijabarkan
sebagai berikut :
1. Kebutuhan fisiologis (physiological needs) yaitu kebutuhn fisik, seperti
kebutuhan untuk memuaskan rasa lapar dan haus, kebutuhan akan
perumahan, pakaian, dan sebagainya.
2. Kebutuhan akan keamanan (safety needs) yaitu kebutuhan akan
keselamatan dan perlindungan dari bahaya, ancaman, perampasan, atau
pemecatan.
3. Kebutuhan sosial (social needs) yaitu kebutuhan akan rasa cinta dan
kepuasan dalam menjalin hubungan dengan orang lain, kebutuhan akan
kepuasan dan perasaan memiliki serta diterima dalam suatu kelompok,
rasa kekurangan, persahabatan, an kasih sayang.
4. Kebutuhan akan penghargaan ( esteem needs) yaitu kebutuhan akan status
atau kedudukan, kehormatan diri, reputasi, dan prestasi.
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization needs) yaitu kebutuhan
pemenuhan diri untuk menggunakan potensi ekspresi diri dan melakukan
apa yang paling sesuai dengan dirinya.

Konsep teknologi (skripsi dan tesis)

Teknologi secara harfiah dapat diartikan sebagai keseluruhan sarana untuk
menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan
hidup manusia (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Didasari pengertian tersebut
dapat kita pahami bahwa teknologi dicipatakan untuk membantu pekerjaan
ataupun aktivitas manusia menjadi lebih mudah. Perkembangan kemajuan
teknologi dewasa ini berlangsung sedemikian pesatnya sehingga para ahli
menyebut gejala ini sebagai suatu revolusi. Perubahan-perubahan ini terjadi,
terutama disebabkan berbagai kemampuan dan potensi teknologi yang
memungkinkan manusia untuk saling berhubungan tanpa batasan waktu, jarak,
kecepatan, dan kapasitas yang dapat diatasi seiring berkembangnya sarana
informasi yang mutakhir. Teknologi dapat juga diartikan sebagai sistem komputer
(hardware, software, dan data) dan jasa yang mendukung pemakai (training, help
lines, dan lain-lain) yang disediakan untuk membantu pemakai dalam tugastugasnya (Goodhue danThompson, 1995). Teknologi dapat pula didefinisikan
sebagai karangka teknis, konsep dan sesuatu yang berwujud yang dikembangkan
untuk memecahkan masalah teknis dan kemampuan untuk memanfaatkan konsep
hal ang berwujud dalam cara yang efektif dan disisi lain teknologi merupakan
pengembangan hardware maupun software dalam pemecahan masalah
operasional yang efektif dalam sebuah organisasi (Errko dan Leinmanen, 1995,
llitan 2002).
Adopsi teknologi sebagai hasil dari penerimaan teknologi oleh pemakai akhir (end
user) didasarkan pada persepsi kemanfaatan serta kemudahan dalam penggunaan
teknologi tersebut menghasilkan perilaku dan perhatian untuk menggunakan
teknologi baru (Bahmanziari, Person, dan Crosby, 2003). Persepsi kemanfaatan
dapat didefinisikan sebagai tingkat dimana individu percaya bahwa menggunakan
sebuah bagian sistem dapat meningkatkan performa kerjanya, sedangkan persepsi
kemudahan merupakan tingkat dimana seorang individu yang menggunakan
sebuah bagian sistem akan lebih meringankan beban fisik maupun mental
penggunanya (Moore dan Benbasat dalam Niagara, 2008).
Keputusan untuk mengadopsi teknologi dapat pula dihubungkan dengan
bagaimana pengembangan inovasi dalam teknologi informasi oleh suatu bank.
Teknologi informasi adalah suatu teknologi yang meliputi segala hal yang
berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan
pengelolaan informasi. Penggunaan informasi di dalam sistem baik bertujuan
lebih kepada menarik nasabah serta mempertahankan nasabah agar terus
menggunakan layanan atau jasa yang diberikan pihak bank. Teknologi informasi
juga memberikan keuntungan lain bagi bank karena dalam proses perbankan
sendiri segala sesuatunya menjadi lebih praktis, termanajemen, efektif dan efisien.

Theory of Reasoned Actions (TRA) (skripsi dan tesis)

Theory of reasoned action (TRA) atau teori tindakan beralasan dikembangkan
oleh Fishbein dan Ajzen yang merupakan teori dinamika terbentuknya sikap dan
perilaku.Teori ini berkaitan dengan kombinasi respon untuk menghasilkan
perilaku. TRA mempunyai tiga variabel umum, yaitu: niat perilaku (BI=behavior
intention), sikap (A=Attitude), dan norma subjektif (SN=Subjektif Norm). TRA
menunjukkan bahwa niat perilaku seseorang tergantung pada sikap seseorang
tentang perilaku dan norma subjektif. Jika seseorang berniat untuk melakukan
suatu perilaku maka kemungkinan bahwa orang tersebut akan melakukannya.
Perhatian utama dari TRA adalah prediksi dari niat perilaku, yang mencakup
prediksi dari sikap dan prediksi perilaku. Berdasarkan teori ini, sikap seseorang
dalam menampakkan perilaku berkaitan erat dengan keyakinannya bahwa
menampakkan suatu perilaku akan membawa konsekuensi dan ia sudah
melakukan evaluasi atas konsekuensi itu Fishbein(1975) dalam David (2013).

Faktor-Faktor Yang Berperan Dalam Persepsi (skripsi dan tesis)

Dalam persepsi individu mengorganisasikan dan menginterprestasikan
stimulus yang diterimanya, sehingga stimulus tersebut mempunyai arti bagi
individu yang bersangkutan. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa
stimulus merupakan salah satu faktor yang berperan dalam persepsi. Berkaitan
dengan faktor-faktor yang berperan dalam persepsi dapat dikemukakan adanya
beberapa faktor yaitu :
a. Objek yang di persepsi
Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor.
Stimulus dapat datang dari luar individu yang di persepsi, tetapi juga dapat datang
dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf
penerima yang bekerja sebagai reseptor. Namun sebagian terbesar stimulus datang
dari luar individu.
b. Alat indera, syaraf dan pusat susunan syaraf
Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus.
Disamping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan
stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat
kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan syaraf motoris.
c. Perhatian
Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya
perhatian, yaitu merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam
rangka mengadakan persepsi sedangkan perhatian merupakan pemusatan atau
konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau
sekumpulan objek.
Rakhmat (2008) melihat ada tiga faktor yang mempengaruhi persepsi
individu, yaitu :
1) Karakteristik
Karakteristik setiap manusia berbeda-beda, oleh karena itu dalam melihat
suatu objek yang sama, kemungkinan akan berbeda pula dalam memberikan
persepsinya, karena cara pandangnya juga berbeda.
2) Suasana Emosional
Leuba dan Lucas (dalam Rakhmat, 2008) melakukan eksperimen untuk
mengungkapkan pengaruh suasana emosional terhadap persepsinya dengan
menciptakan tiga gambar dari suasana emosional, yakni gambar dengan suasana
bahagia, kritis dan suasana gelisah. Leuba dan Lucas pada akhirnya
menyimpulkan bahwa pada suasana hati yang berbeda, meskipun diberikan objek
(gambar) yang sama akan menimbulkan persepsi berbeda. Dengan demikian
suasana emosional berperan dalam menimbulkan persepsi.
3) Usia
Faktor usia juga mempengaruhi persepsi, bahwa masing-masing mempunyai
tingkat penilaian yang berbeda-beda tergantung usia dan pekerjaan mereka.
Orang yang masih muda belum dapat menyesuaikan diri terhadap situasi yang
baru, karena mereka mempunyai harapan yang terlalu tinggi dan mudah kecewa
bila harapannya tidak terpenuhi. Orang yang masih muda kemungkinan
mempunyai perasaan yang mudah kecewa bila harapannya tidak terpenuhi. Dalam
hal ini dapat dikatakan bahwa usia yang lebih dewasa akan menimbulkan persepsi
yang lebih positif.
Selain faktor di atas menurut Rakhmat (2008) cukup banyak yang
mempengaruhi persepsi. Ini berarti bahwa seseorang dapat sesuai atau tidak
mempersepsikan sesuatu seperti adanya, tergantung dengan informasi yang ia
terima melalui inderanya. Ternyata persepsi bukan sekedar rekaman peristiwa,
persepsi banyak dipengaruhi oleh keadaan subjek dan persepsi tidak selalu sama
dengan keadaan sebenarnya.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa faktorfaktor yang berperan dalam terjadinya persepsi ada beberapa faktor yaitu :
1) Objek atau stimulus yang di persepsikan,
2) Alat indera,
3) Perhatian yang merupakan syarat psikologis,
4) Karakteristik,
5) Suasana Emosional,
6) Usia.

Proses Persepsi (skripsi dan tesis)

Proses persepsi yang terjadi pada individu berlangsung dalam tiga tahap,
yaitu perhatian, organisasi dan interpretasi (Wood dkk, 1994).
a. Perhatian
Perhatian atau Atensi adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian
stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah.
Stimuli diperhatikan karena ada sifat menonjol antara lain: gerakan, intensitas
stimuli, kebaruan dan perulangan yang merupakan faktor eksternal. Faktor
internalnya berupa faktor biologis dan faktor sosio psikologis.
b. Organisasi
Pada umumnya seseorang menggunakan skema atau script untuk
mengorganisir sensasi berupa obyek atau kejadian. Skema itu merupakan
kerangka kognitif yang menyajikan organisasi pengetahuan tentang stimulus atau
konsep tertentu yang berkembang melalui pengalaman. Skema ini sangat berguna
untuk memahami situasi yang dihadapi sehingga dapat menentukan sikap atau
tindakan yang tepat.
c. Interpretasi
Apabila perhatian telah berlangsung, maka individu sebenarnya telah
mengorganisir stimulus ke dalam skema untuk diinterpretasi, yaitu memberi
makna informasi yang masuk tersebut. Pada tahap ini dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain karakteristik personal dan karakteristik situasi. Kesalahan dalam
memberikan interpretasi berarti ketidakakuratan data atau distorsi yang akan
mengakibatkan kesalahan pemahaman dan keputusan. Distorsi persepsi dapat
berujud halo effect, stereotipe, perceptual defence, proyeksi dan harapan.

Pengertian Persepsi (skripsi dan tesis)

Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga disebut proses sensoris. Namun proses itu tidak berhenti begitu saja, melainkan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi. Karena itu, proses persepsi tidak dapat lepas dari proses penginderaan dan proses penginderaan merupakan proses pendahulu dari proses persepsi. Proses penginderaan akan berlangsung setiap saat, pada waktu individu menerima stimulus melalui alat indera, yaitu melalui mata sebagai alat penglihatan, telinga sebagai alat pendengar, hidung sebagai alat pembauan, lidah sebagai alat pengecapan, kulit pada telapak tangan sebagai alat perabaan yang kesemuanya merupakan alat indera yang digunakan untuk menerima stimulus dari luar individu. Alat indera tersebut merupakan alat penghubung antara individu dengan dunia luarnya (Branca, 1964 ; Wood Worth dan Marquis, 1957 ; Dalam Walgito, 2004). Stimulus yang diindera itu kemudian oleh individu diorganisasikan dan diinterprestasikan, sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diindera itu, dan proses ini disebut persepsi. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa stimulus diterima oleh alat indera, yaitu yang dimaksud dengan penginderaan dan melalui proses penginderaan tersebut stimulus itu menjadi sesuatu yang berarti setelah diorganisasikan dan diinterpretasikan. Dengan persepsi individu akan menyadari tentang keadaan disekitarnya dan juga keadaan diri sendiri (Davidoff, 1981 dalam Walgito, 2004 ). Menurut Moskowitz dan Orgel, 1969 dalam Walgito, 2004, bahwa persepsi merupakan proses yang integrated dalam diri individu terhadap stimulus yang diterimanya. Persepsi adalah penelitian bagaimana kita menginteraksikan sensasi ke dalam percept objek, dan bagaimana kita selanjutnya menggunakan percept itu untuk mengenali dunia (percept adalah hasil dari proses perceptual). Sebagian karena mendapat inspirasi David Marr (1982) dalam Atkinson dkk (1987). Menurut Glover dan Bruning (1990), persepsi merupakan salah satu proses psikologis, atau lebih tepatnya proses kognitif. Sebelum seseorang memaknai suatu stimulus, sejumlah proses kognitif harus dilakukan. Drever (1988), menjelaskan bahwa dalam persepsi terjadi proses mengingat dan mengidentifikasi. Oleh sebab itu persepsi bukanlah proses yang pasif, melainkan aktif. Setiap orang aktif memilih stimulus mana yang akan ditangkap, diorganisasikan dan diinterprestasikan, tergantung pada minat personal, motivasi, keinginan, dan harapannya (Abizar, 1998). Persepsi juga merupakan proses waktu bagi individu untuk mengenal, mengorganisasikan, dan memaknai sensasi yang diperolehnya dari stimulus lingkungan, sehingga stimulus tersebut bermakna atau tidak bagi individu (Stenberg, 1999). Di samping itu, persepsi merupakan kemampuan untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan secara akurat (Hanna dkk, 2000). Makna atau interprestasi dibuat individu berdasarkan realitas objektif dan pengetahuan yang dimilikinya. Oleh sebab itu, individu tidak bisa mempersepsi suatu stimulus (objek) bila ia tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang obyek tersebut (Hamachek, 1990). Menurut Stenberg (1999), persepsi interpersonal merupakan penilaian individu tentang karakteristik orang lain yang berinteraksi dengannya. Melalui interaksi terjadi proses penilaian tentang karakteristik dari masing-masing yang dapat menimbulkan rasa senang ataupun tidak senang dari kedua belah pihak. Walgito (2004), menjelaskan bahwa proses tersebut tidak berhenti sampai di situ saja melainkan diteruskan ke susunan syaraf pusat, yaitu otak dan terjadilah proses psikologis, sehingga individu dapat menyadari apa yang ia lihat, dengar ataupun yang ia rasakan. Objek persepsi berupa manusia diapresiasi ahli dengan istilah persepsi interpersonal. Walgito (2003), menjelaskan bahwa persepsi interpersonal adalah proses seseorang untuk mengetahui, menginterpretasi, dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, tentang sifat-sifatnya, kualitasnya, dan keadaan yang lain yang ada dalam diri orang yang dipersepsi, sehingga terbentuk gambaran mengenai orang yang dipersepsi. Menurut Slameto (2003) persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia. Melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera penglihatan, pendengar, peraba, perasa dan penciuman. Menurut Rahmad (2008), persepsi adalah suatu proses yang memberikan esan terhadap pengalaman-pengalaman mengenai suatu objek pada rangsang yang diamati, sehingga orang akan mendapatkan hasil yaitu pengalaman yang baru. Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat inderanya. Persepsi itu merupakan proses pengorganisasian, penginterprestasian terhadap stimulus yang diterima oleh individu, sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan respon yang integrated dalam diri individu. Karena itu dalam penginderaan orang akan mengaitkan dengan stimulus, sedangkan dalam persepsi orang akan mengaitkan dengan objek. Dalam persepsi stimulus dapat datang dari luar diri individu, tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan. Jika yang dipersepsi dirinya sendiri sebagai objek persepsi, inilah yang disebut dengan persepsi diri (self-perception). Karena apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan, pengalaman, kemampuan berfikir, kerangka acuan dan aspek-aspek lain yang ada dalam diri individu akan ikut berperan dalam persepsi tersebut. Dalam persepsi sekalipun stimulusnya sama, akan tetapi karena pengalaman tidak sama, kemampuan berfikir tidak sama, kerangka acuan tidak sama ada kemungkinan hasil persepsi antara individu yang satu dengan individu yang lainnya tidak sama. Keadaan tersebut memberikan gambaran bahwa persepsi itu memang bersifat individual (Devidof, 1981 dalam Walgito, 2004). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan kemampuan individu untuk memahami, memaknai dan menginterpretasikan secara akurat stimulus yang datang dari lingkungan berdasarkan realitas objektif dan pengetahuan yang dimilikinya. Demikian juga dengan persepsi interpesonal yang menekankan proses interaksi, seseorang akan melakukan penilaian tentang karakteristik orang lain.

Pengertian Minat Berkonsultasi (skripsi dan tesis)

Setiap individu menginginkan kebahagiaan, terlepas dari segala macam
masalah. Kalaupun ada masalah, akan terdorong untuk menghindarinya atau
menyelesaikannya. Akan tetapi, tidak semua orang selalu berhasil dalam usahanya
menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya. Kegagalan itu bukan saja
karena ketidakmampuannya, akan tetapi selalu juga disebabkan karena
ketidaktahuan bagaimana cara menyelesaikan dengan memanfaatkan potensi yang
ada padanya (Winkel, 2006).
Bila demikian, maka ia perlu membicarakannya dengan seseorang yang
dianggap dapat memberikan bantuan atau jalan keluar dalam mengambil
keputusan dari apa yang dirasakan, dipikirkan atau dilakukan. Bantuan yang
diberikan bukanlah dalam bentuk materi, tetapi berupa bimbingan, nasehat atau
saran-saran yang mungkin dapat dilakukan oleh yang sedang menghadapi
masalah. Jadi, bantuan itu bersifat konsultasi. Dengan kata lain orang yang sedang
menghadapi masalah itu perlu berkonsultasi.
Siswa-siswa yang sedang menempuh pendidikannya di SMP, sering
mengalami permasalahan yang kompleks, di antaranya masalah yang
berhubungan dengan belajar, pribadi, dan sosial. Kalau masalah siswa tidak bisa
diatasi, maka akan berpengaruh terhadap proses dan hasil belajarnya. Karena
Guru Bimbingan Konseling memegang peranan integral dalam keseluruhan
program pendidikan di sekolah, ia harus dapat memberikan bantuan dan mencari
jalan keluar yang memberikan keuntungan akademis bagi para siswa (Stone &
Clark, 2000).
Berkonsultasi dengan Guru Bimbingan Konseling sekolah merupakan salah
satu sarana yang dapat dipergunakan siswa untuk bertukar pikiran, meminta
pendapat atau saran dalam usaha membantu penyelesaian masalah yang
dihadapinya di sekolah. Stone dan Clark (2000:277), mengungkapkan bahwa
Guru Bimbingan Konseling sekolah memiliki arti penting bagi perkembangan
pribadi siswa dan sebagai penasehat bagi keberhasilan belajar siswa di sekolah.
Kehadiran Guru Bimbingan Konseling profesional sangat diharapkan dalam usaha
membantu mangatasi masalah siswa di sekolah.
Pengertian minat berkonsultasi menurut Lewis dalam Gunarsa (2001)
kecenderungan yang terarah secara intensif atau dorongan yang ada pada diri
konseli atau siswa untuk berkonsultasi kepada Guru Bimbingan Konseling, yang
memberikan pemahaman lebih baik tentang diri konseli dalam hubungannya
dengan masalah-masalah yang dihadapinya, sehingga menimbulkan kepuasan dan
kesenangan. Timbulnya minat berkonsultasi pada diri konseli karena ia
membutuhkan nasehat atau bimbingan dari Guru Bimbingan Konseling untuk
menyelesaikan masalahnya. Sedang pada Guru Bimbingan Konseling minat itu
timbul karena kewajiban atau keinginannya membantu konseli. Bantuan ini
diberikan karena siswa dalam kenyataannya memang membutuhkan bantuan dari
Guru Bimbingan Konseling karena siswa tidak mampu mengatasinya sendiri.
Timbulnya minat siswa untuk berkonsultasi dengan Guru Bimbingan
Konseling sekolah tentu harus melalui serangkaian proses yang didahului dengan
adanya pengenalan siswa terhadap Guru Bimbingan Konseling sekolah dan
kegiatan berkonsultasi itu sendiri. Kalau individu telah menyadari bahwa Guru
Bimbingan Konseling sekolah dan juga kegiatan berkonsultasi merupakan sesuatu
yang menyenangkan, penting, dan bermanfaat bagi dirinya, tentu individu tersebut
akan merasa suka untuk melakukan konsultasi dengan Guru Bimbingan Konseling
sekolah.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa minat siswa untuk
berkonsultasi dengan Guru Bimbingan Konseling sekolah akan tumbuh jika ia
melihat Guru Bimbingan Konseling sekolah sebagai orang yang menyenangkan
dan kegiatan berkonsultasi dapat mendatangkan manfaat bagi dirinya. Minat
berkonsultasi dalam penelitian ini adalah adanya perasaan tertarik dari siswasiswa untuk bertukar pikiran atau meminta nasehat kepada Guru Bimbingan
Konseling sekolah agar siswa memperoleh informasi, memutuskan sesuatu, dan
memecahkan masalah yang sedang dihadapinya.

Pengertian Berkonsultasi (skripsi dan tesis)

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (1999), berkonsultasi berasal dari kata konsultasi yang berarti pertukaran pikiran untuk mendapatkan kesimpulan (misalnya nasehat, gagasan, saran) yang sebaik-baiknya dari seseorang yang lebih ahli (konsultan) yang tugasnya memberi petunjuk atau nasehat dalam suatu kegiatan. Berkonsultasi dapat diartikan sebagai bertukar pikiran atau meminta pertimbangan atau nasehat dalam memutuskan sesuatu. Menurut Hershenson (1996), bahwa konsultasi adalah hubungan yang sukarela antara orang yang membantu secara profesional dengan seseorang yang membutuhkan bantuan, kelompok atau kesatuan sosial lainnya. Penasehat ahli membantu klien dalam menentukan dan memecahkan masalah dalam hubungannya dengan pekerjaan atau masalah yang berhubungan dengan orang lain. Shertzer & Stone (1990) dalam Winkel (2006) merumuskan arti daripada konsultasi dalam program bimbingan adalah proses memberikan asistensi profesional kepada guru, orangtua, pejabat struktural dan Guru Bimbingan Konseling, dengan tujuan mengidentifikasikan dan mengatasi permasalahan yang menimbulkan hambatan-hambatan dalam komunikasi mereka dengan para siswa atau mengurangi keberhasilan program pendidikan sekolah. Selanjutnya Munro yang dikutip Winkel (2006) mengemukakan bahwa berkonsultasi berarti menggunakan teknik-teknik konseling untuk membantu klien agar memahami, memilih dan menerapkan metode-metode yang relevan dalam lingkup tugas klien. Klien sendiri memilih dari metode-metode yang diusulkan oleh Guru Bimbingan Konseling, mana yang dianggap paling tepat, klien sendiri menentukan kapan suatu metode akan diterapkan, menerapkan sendiri dan memutuskan sendiri pada saat kapan sudah merasa puas. Gunarsa (2001) menjelaskan bahwa kegiatan konseling yang hanya berlangsung satu atau dua kali dan bersifat tukar pikiran, mendiskusikan sesuatu secara langsung, lebih tepat disebut sebagai kegiatan konsultasi. Namun dari kegiatan konsultasi ini pada akhirnya akan berlanjut menjadi kegiatan konseling apabila telah mempergunakan teknik- teknik tertentu secara profesional sehingga klien merasakan ada hasil dan manfaatnya, yaitu terjadinya perubahan pada diri klien. Konsultasi dapat menjadi jembatan antara identifikasi mengenai masalahmasalah klien sehingga pelayanan konseling dapat berjalan secara efektif. Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa berkonsultasi adalah pertukaran pikiran atau permintaan nasehat yang dilakukan oleh klien kepada Guru Bimbingan Konseling, agar klien memperoleh informasi, memutuskan sesuatu dan memecahkan masalah sehingga klien dapat berubah dalam sikap dan tindakannya.

Proses Terbentuknya Minat (skripsi dan tesis)

Blum dan Balinsky (1993), mengemukakan bahwa interaksi yang terjadi
antara individu dengan lingkungannya dapat menyebabkan munculnya minat,
sedangkan pengalaman sangat berperan dalam pembentukan minat individu.
Keberadaan minat pada diri individu merupakan hasil dari serangkaian proses.
Apabila seseorang berminat terhadap suatu hal, maka proses pertama yang akan
dialaminya adalah pengenalan terhadap objek atau aktivitas yang merupakan
rangsangan (stimuli) bagi dirinya. Rangsangan-rangsangan tersebut dapat
berbentuk manusia, benda-benda, atau berupa suatu kegiatan (aktivitas) tertentu.
Setelah terjadi proses pengenalan akan timbul perasaan sadar pada diri
individu bahwa objek atau aktivitas tersebut bermanfaat bagi dirinya. Karena
objek tersebut dirasakan ada manfaatnya, kemudian diikuti oleh adanya perasaan
tertarik dan menyenangi objek atau aktivitas tersebut.
Selanjutnya Blum dan Balinsky (1993), mengemukakan teori acceptance –
rejection yang memandang bahwa keberadaan minat didasarkan orientasi suka
atau tidak suka kepada objek atau aktivitas. Penentuan minat ini didasarkan reaksi
individu menerima atau menolak. Jika individu menerima berarti berminat, tetapi
jika menolak berarti tidak berminat.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa proses proses
terbentuknya minat pada diri individu melalui serangkaian kegiatan yang meliputi;
(a). Pengenalan individu terhadap suatu objek atau aktivitas,
(b). Individu menyadari manfaat dari objek atau aktivitas yang dilakukannya,
(c). Individu merasa tertarik atau menyukai objek atau aktivitas tersebut, dan
(d). Jika individu dapat menerima suatu objek atau aktivitas berarti berminat,
tetapi jika menolak berarti tidak berminat.

Pengertian Minat (skripsi dan tesis)

Pengertian minat sering dikacaukan dengan perhatian. Meskipun mirip tetapi kedua istilah itu mempunyai tekanan yang berbeda. Perhatian lebih mengutamakan fungsi pikir, sedangkan minat lebih menonjolkan fungsi rasa. Dalam kenyataaannya antara minat dan perhatian mempunyai hubungan yang erat, apabila sesuatu menarik perhatian juga menyebabkan menarik minat, sebaliknya jika sesuatu menarik minat, maka juga menarik perhatian (Dakir, 1996). Karena fungsi rasa lebih menonjol pada minat, maka minat berhubungan dengan perasaan senang atau tidak senang pada suatu objek. Minat baru merupakan suatu kecenderungan untuk berbuat. Jika ada seorang siswa yang mempunyai minat untuk berkonsultasi, maka ia akan merasa senang untuk bertukar pikiran, minta informasi, minta pendapat atau saran dalam usaha mengatasi masalahnya kepada Guru Bimbingan Konseling sekolah. Menurut Abror (1993), minat adalah sebagai kecenderungan tingkah laku yang mengarah pada tujuan yang pasti, aktivitas-aktivitas atau pengalaman yang menarik dari tiap individu. Pendapat ini didukung oleh Shadily (1995), yang menyatakan bahwa minat adalah kecenderungan bertingkah laku yang terarah terhadap suatu objek, kegiatan atau pengalaman tertentu. Sementara itu Hurlock (1990) mengemukakan bahwa minat merupakan sumber motivasi yang akan mengarahkan seseorang dalam melakukan apa yang ingin mereka lakukan bila diberi kebebasan untuk memilihnya, bila mereka melihat sesuatu yang mempunyai manfaat bagi dirinya, maka mereka akan tertarik padanya serta akan menimbulkan kepuasan bagi dirinya. Minat juga berarti sebagai perhatian khusus yang menarik bagi individu. Witherington dan Cronbach (1994), menjelaskan bahwa minat merupakan kesadaran individu terhadap suatu objek karena objek itu penting bagi dirinya. Drever (1998), menjelaskan pengertian minat dengan menggunakan 2 (dua) istilah minat, yaitu secara fungsional dan secara struktural. Minat fungsional menunjukkan suatu jenis pengalaman perasaan yang dihubungkan dengan perhatian pada objek atau tindakan. Pengalaman perasaan itu disebut worthwileness. Minat struktural yaitu elemen sikap individu karena bawaan maupun yang diperoleh, oleh karena itu cenderung memenuhi perasaan worthwileness dalam hubungannya dengan objek-objek atau bidang pengetahuan khusus. Secara khusus Sukardi (2000), memandang minat sebagai suatu perangkat mental yang terdiri dari kombinasi, perpaduan, dan campuran dari perasaan, harapan dan prasangka serta kecenderungan lain yang dapat mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu. Berangkat dari pengertian ini secara implisit diketahui bahwa minat adalah sesuatu yang kompleks, karena perwujudannya yang menggejala pada perilaku yang sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan kejiwaan. Crow and Crow (1989) mengatakan bahwa minat berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Jadi, minat dapat diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Hilgard dalam Slameto (2003) memberi rumusan tentang minat adalah sebagai berikut : ”Interest is persisting tendency to pay attention to and enjoy some activity or content” Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Jadi berbeda dengan perhatian, karena perhatian sifatnya sementara (tidak dalam waktu yang lama) dan belum tentu diikuti dengan perasaan senang. Sedangkan minat selalu diikuti dengan perasaan senang dan kemudian diperoleh suatu kepuasan. Walgito (2003) mengartikan minat sebagai suatu keadaan yang mana seseorang mempunyai perhatian terhadap objek atau sesuatu dan disertai keinginan untuk mengetahui dan mempelajari maupun membuktikan lebih lanjut kecenderungan untuk berhubungan lebih aktif terhadap objek tersebut. Slameto (2003) menjelaskan bahwa minat adalah suatu yang menimbulkan dorongan atau rasa tertarik pada individu untuk menghasilkan lebih banyak dan  mendalam tentang sesuatu informasi, sehingga ia memiliki pengertian atau pemahaman yang lebih baik tentang sesuatu yang sebelumnya telah dimiliki. Menurut Gerungan dalam Djaali (2007) bahwa minat merupakan pengerahan perasaan dan menafsirkan untuk sesuatu hal (ada unsur seleksi). Holland dalam Djaali (2007) mengatakan bahwa pengertian minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu minat tidak timbul sendirian, akan tetapi adanya unsur kebutuhan. Minat adalah rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minatnya (Djaali, 2007). Selanjutnya menurut Mappiare (2008) minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut dan kecenderungan lain mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu. Berdasarkan beberapa pengertian minat di atas dapat disimpulkan bahwa minat merupakan gejala psikologis pada individu, yaitu adanya ketertarikan secara sadar terhadap objek tertentu (orang, benda, ataupun aktivitas) karena objek tersebut dirasa menyenangkan, penting, dan bermanfaat bagi dirinya, sehingga individu akan merasa senang untuk melakukan aktivitas yang berkaitan dengan objek tersebut

Tujuan Penilaian Kinerja Individu (skripsi dan tesis)

Karyawan bisa belajar seberapa besar kinerja mereka melalui sarana
informal, tetapi penilaian kinerja mengacu pada suatu sistem formal dan
terstruktur yang mengukur, menilai, dan mempengaruhi atribut, perilaku dan
hasil, termasuk tingkat ketidakhadiran, yang dikaitkan dengan pekerjaan
karyawan. Fokusnya adalah untuk mengetahui seberapa produktif seorang
karyawan dan apakah ia bisa berkinerja sama atau lebih efektif di masa yang akanbdatang sehingga karyawan, organisasi, dan masyarakat semuanya memperoleh manfaat.
Menurut Irham Fahmi (2010:65) menyatakan bahwa :
“Penilaian kinerja adalah suatu penilaian yang dilakukan kepada pihak
manajemen perusahaan baik para karyawan maupun manajer yang selama
ini telah melakukan pekerjaannya”.
Werther dan Davis (2008) dalam Donni Juni Priansa (2014:272)
menyatakan bahwa beberapa tujuan dari pelaksanaan penilaian kinerja terhadap
pegawai yang dilakukan oleh organisasi adalah:
1. “Peningkatan kinerja (Performance Improvement)
2. Penyesuaian kompensasi (Compensation Adjustment)
3. Keputusan penempatan (Placement Decision)
4. Kebutuhan pengembangan dan pelatihan (Training and Development
Needs)
5. Perencanaan dan pengembangan karir (Career Planning and
Development)
6. Prosedur perekrutan (Process Deficiencies)
7. Kesalahan Desain Pekerjaan dan Ketidakakuratan Informasi
(Informational Inaccuracies and Job-Design Errors)
8. Kesempatan yang Sama (Equal Employment Opportunity)
9. Tantangan Eksternal (External Challenges)
10. Umpan Balik (Feedback)”.
Kesepuluh tujuan penilaian kinerja tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Peningkatan kinerja (Performance Improvement)
Hasil penilaian kinerja memungkinkan manajer dan pegawai untuk
mengambil tindakan yang berhubungan dengan peningkatan kinerja.
2. Penyesuaian kompensasi (Compensation Adjustment)
Hasil penilaian kinerja membantu para pengambil keputusan untuk
menentukan siapa saja yang berhak menerima kenaikan gaji atau
sebaliknya.
3. Keputusan penempatan (Placement Decision)
Hasil penilaian kinerja memberikan masukan tentang promosi, transfer,
dan demosi bagi pegawai.
4. Kebutuhan pengembangan dan pelatihan (Training and Development
Needs)
Hasil penilaian kinerja membantu untuk mengevaluasi kebutuhan
pelatihan dan pengambangan bagi pegawai agar kinerja mereka lebih
optimal.
5. Perencanaan dan pengembangan karir (Career Planning and
Development)
Hasil penilaian kinerja memandu untuk menentukan jenis karir dan
potensi karir yang dapat dicapai.
6. Prosedur perekrutan (Process Deficiencies)
Hasil penilaian kinerja mempengaruhi prosedur perekrutan pegawai
yang berlaku di dalam organisasi.
7. Kesalahan Desain Pekerjaan dan Ketidakakuratan Informasi
(Informational Inaccuracies and Job-Design Errors)
Hasil penilaian kinerja membantu dalam menjelaskan apa saja
kesalahan yang telah terjadi dalam manajemen SDM terutama di bidang
informasi kepegawaian, desain jabatan, serta informasi SDM lainnya.
8. Kesempatan yang Sama (Equal Employment Opportunity)
Hasil penilaian kinerja menunjukkan bahwa keputusan penempatan
tidak diskriminatif karena setiap pegawai memiliki kesempatan yang
sama.
9. Tantangan Eksternal (External Challenges)
Hasil penilaian kinerja dapat menggambarkan sejauhmana faktor
eksternal seperti keluarga, keuangan pribadi, kesehatan, dan lainlainnya yang mempengaruhi pegawai dalam mengemban tugas dan
pekerjaannya.
10. Umpan Balik (Feedback)
Hasil penilaian kinerja memberikan umpan balik bagi kepentingan
kepegawaian terutama Departemen SDM serta terkait dengan
kepentingan pegawai itu sendiri.

Pengukuran Kinerja Individu (skripsi dan tesis)

Kinerja individu pegawai pada dasarnya diukur sesuai dengan kepentingan
organisasi, sehingga indikator dalam pengukurannya disesuaikan dengan
kepentingan organisasi itu sendiri. Penilaian kinerja seharusnya berdasarkan
pada tugas-tugas tertentu yang dapat atau gagal dicapai oleh individu
(pemakai), dan apabila cocok maka perlu dilakukan identifikasi perilaku individu
dalam melakukan pekerjaan selama periode penilaian. Dampak kinerja dalam
penelitian ini berhubungan dengan pencapaian serangkaian tugas -tugas
individu. Kinerja yang semakin tinggi melibatkan kombinasi dari peningkatan
efesiensi, peningkatan efektivitas, peningkatan produktivitas dan peningkatan
kualitas. Untuk dapat meningkatkan kinerja ketingkat lebih tinggi maka aktivitas
kerja harus dapat diidentifikasi dan dianalisis. Pengukuran kinerja ini melihat
dampak sistem terhadap efektivitas penyelesaian tugas individu, membantu
meningkatkan kinerja dan menjadikan pemakai lebih produktif dan kreatif.
Mondy, Noe, Premeaux (1999) dalam Donni Juni Priansa (2014:271)
menyatakan bahwa pengukuran kinerja individu dapat dilakukan dengan
menggunakan dimensi, antara lain:
1. “Kuantitas Pekerjaan (Quantity of Work)
2. Kualitas Pekerjaan (Quality of Work)
3. Kemandirian (Dependability)
4. Inisiatif (Initiative)
5. Adaptabilitas (Adaptability)
6. Kerjasama (Cooperation)”.
Dimensi-dimensi pengukuran kinerja individu tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Kuantitas pekerjaan (Quantity of Work)
Kuantitas pekerjaan berhubungan dengan volume pekerjaan dan
produktivitas kerja yang dihasilkan oleh pegawai dalam kurun waktu
tertentu.
2. Kualitas pekerjaan (Quality of Work)
Kualitas pekerjaan berhubungan dengan pertimbagan ketelitian, presisi,
kerapian, dan kelengkapan di dalam menangani tugas-tugas yang ada di
dalam organisasi.
3. Kemandirian (Dependability)
Kemandirian berkenaan dengan pertimbangan derajat kemampuan
pegawai untuk bekerja dan mengemban tugas secara mandiri dengan
meminimalisir bantuan orang lain. Kemandirian juga menggambarkan
kedalaman komitmen yang dimiliki oleh pegawai.
4. Inisiatif (Initiative)
Inisiatif berkenaan dengan pertimbangan kemandirian, fleksibilitas
berfikir, dan kesediaan untuk menerima tanggung jawab.
5. Adaptabilitas (Adaptability)
Adaptabilitas berkenaan dengan kemampuan untuk beradaptasi,
mempertimbangkan kemampuan untuk bereaksi terhadap mengubah
kebutuhan dan kondisi-kondisi.
6. Kerjasama (Coorperation)
Kerjasama berkaitan dengan pertimbangan kemampuan untuk
berkerjasama, dan dengan, orang lain. Apakah assignments, mencakup
lembur dengan sepenuh hati.
Parasuraman, Zeithami, dan Berry dalam Journal of Marketing dalam
Sudarmanto (2014:14) mengemukakan ukuran kinerja individu dalam dimensi
kualitas, sebagai berikut:
1. “Kehandalan, yakni mencakup konsistensi kinerja dan kehandalan
dalam pelayanan: akurat, benar dan tepat.
2. Daya tanggap, yaitu keinginan dan kesiapan para pegawai dalam
menyediakan pelayanan dengan tepat waktu.
3. Kompetensi, yaitu keahlian dan pengetahuan dalam memberikan
pelayanan.
4. Akses, yaitu pelayanan yang mudah diakses oleh pengguna layanan.
5. Kesopanan, yaitu mencakup kesopansantunan, rasa hormat, perhatian
dan besahabat dengan pengguna layanan.
6. Komunikasi, yaitu kemampuan menjelaskan dan menginformasikan
pelayanan kepada pengguna layanan dengan baik dan dapat dipahami
dengan mudah.
7. Kejujuran, yaitu mencakup kejujuran dan dapat dipercaya dalam
memberikan layanan kepada pelanggan.
8. Keamanan, yaitu mencakup bebas dari bahaya, kemanan secara fisik,
risiko, aman secara finansial.
9. Pengetahuan terhadap pelanggan, yaitu berusaha mengetahui
kebutuhan pelanggan, belajar dari persyaratan-persyaratan khusus
pelanggan.
10. Bukti langsung, meliputi fasilitas fisik, penampilan pegawai, peralatan
dan perlengkapan pelayanan, fasilitas pelayanan.”
Menurut Dessler (2006) dalam Arif Ramadhani (2011:27) menyatakan
bahwa terdapat delapan dimensi pengukuran kinerja manajer/pegawai/individu,
yaitu:
1. “Pemahaman Pekerjaan/Kompetensi
a. Menunjukkan pemahaman dan keterampilan yang sangat diperlukan
dalam pencapaian efektivitas kerja.
b. Memahami harapan pekerjaan dan tetap melaksanakannya sesuai
dengan perkembangan baru dalam wilayah tanggung jawabnya.
c. Menunjukkan tanggung jawab sesuai dengan prosedur dan kebijakan
pekerjaan.
d. Bertindak sebagai narasumber pada orang-orang yang bergantung
untuk mendapatkan bantuan.
2. Kualitas/Kuantitas Kerja
a. Menyelesaikan tugas-tugas secara teliti, akurat dan tepat waktu
sehingga mencapai hasil yang diharapkan.
b. Menunjukkan perhatian pada tujuan-tujuan dan kebutuhan
departemennya dan departemen lain yang bergantung pada
pelayanan dan hasil kerjanya.
c. Menangani berbagai tanggung jawab secara efektif.
d. Menggunakan jam kerja secara produktif.
3. Perencanaan/Organisasi
a. Menetapkan sasaran yang jelas dan mengorganisasikan kewajiban
bagi diri sendiri berdasarkan pada tujuan departemen, divisi, atau
pusat manajemen.
b. Mengidentifikasi sumberdaya yang dibutuhkan untuk mencapai
tujuan dan sasaran organisasi.
c. Mencari pedoman pada saat terdapat ketidakjelasan tujuan dan
prioritas.
4. Inisiatif/Komitmen
a. Menunjukkan tanggung jawab pribadi ketika melaksanakan
kewajiban pekerjaan.
b. Menawarkan bantuan untuk mendukung tujuan dan sasaran
departemen dan divisi.
c. Bekerja dengan pengawasan yang minimal.
d. Menunjukkan kesesuaian dengan jadwal kerja/harapan kehadiran
untuk posisi tersebut.
5. Penyelesaian Masalah/Kreativitas
a. Mengidentifikasi dan menganalisis masalah.
b. Merumuskan alternatif pemecahan masalah.
c. Melakukan atau merekomendasikan tindakan yang sesuai.
d. Menindaklanjuti untuk memastikan masalah yang telah diselesaikan.
6. Kerja Tim dan Kerja Sama
a. Menjaga keharmonisan dan efektivitas hubungan dengan atasan,
rekan kerja dan/atau bawahan.
b. Beradaptasi untuk perubahan prioritas dan kebutuhan.
c. Berbagai informasi dan sumber daya dengan pihak lain untuk
meningkatkan hubungan kerja yang positif dan kolaboratif.
7. Kemampuan Berhubungan dengan Orang Lain
a. Berhubungan secara efektif dan positif dengan atasan, rekan kerja,
bawahan dan stakeholders lainnya.
b. Menunjukkan rasa menghargai kepada setiap individu.
8. Komunikasi (Lisan atau Tulisan)
a. Menyampaikan informasi dan ide secara efektif baik lisan maupun
tulisan.
b. Mendengarkan dengan hati-hati dan mencari klarifikasi untuk
memastikan pemahaman.”
Sedangkan menurut John Miner (1988) dalam Sudarmanto (2009:11),
dimensi yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam menilai kinerja karyawan
dapat dikemukakan dalam 4 dimensi, antara lain:
1. “Kualitas, yaitu: tingkat kesalahan, kerusakan, kecermatan.
2. Kuantitas, yaitu: jumlah pekerjaan yang dihasilkan.
3. Penggunaan waktu dalam bekerja, yaitu: tingkat ketidakhadiran,
keterlambatan, waktu kerja efektif/jam kerja hilang.
4. Kerjasama dengan oranglain dalam bekerja”.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Individu (skripsi dan tesis)

Darma (1998:11) dalam Arif Ramadhani (2011:22) mengemukakan empat
faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai, yaitu:
1. “Pegawai, berkenaan dengan kemauan dan kemampuan dalam
melaksanakan pekerjaan.
2. Pekerjaan, menyangkut desain pekerjaan, uraian pekerjaan dan sumber
daya untuk melaksanakan pekejaan.
3. Mekanisme kerja, mencakup sistem/prosedur pendelegasian dan
pengendalian, serta struktur organisasi.
4. Lingkungan kerja, meliputi faktor-faktor lokasi dan kondisi kerja, iklim
organisasi dan komunikasi.”
Sedangkan Gibson, Ivancevich dan Donnely (1985-51-53) dalam Arif
Ramadhani (2011:22) secara kompetitif mengemukakan adanya tiga kelompok
variabel sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai dan potensi
individu dalam organisasi, yaitu:
1. “Variabel Individu, meliputi: kemampuan/keterampilan (fisik), latar
belakang (keluarga, tingkat sosial, dan pengalaman) dan demografi
(umur, asal usul, dan jenis kelamin).
2. Variabel Organisasi, meliputi: sumber daya, kepemimpinan, imbalan,
struktur, dan desain pekerjaan.
3. Variabel Individu (Psikologis), meliputi: mental/intelektual, persepsi,
sikap, kepribadian, belajar, dan motivasi.”
Donnely, Gibson, dan Ivanvech (1994) dalam Sinambela (2012:11) juga
mengemukakan bahwa kinerja individu oleh enam faktor:
1. “Harapan mengenai imbalan
2. Dorongan
3. Kemampuan, kebutuhan dan sifat
4. Persepsi terhadap tugas
5. Imbalan internal dan eksternal
6. Persepsi tentang tingkat imbalan dan kepuasan kerja.”

Jenis-Jenis Kinerja (skripsi dan tesis)

Dalam suatu organisasi dikenal ada tiga jenis kinerja yang dapat dibedakan
Moeheriono (2010:63), yaitu sebagai berikut:
1. “Kinerja Operasional (Operation Performance)
2. Kinerja Administratif (Administrative Perfoormance)
3. Kinerja Strategik (Strategic Performance)”.
Adapun penjelasan mengenai jenis-jenis kinerja adalah sebagai berikut:
1. Kinerja Operasional (Operation Performance), kinerja ini
berkaitan kinerja ini berkaitan dengan efektivitas penggunaan
setiap sumber daya yang digunakan oleh perusahaan, seperti
modal, bahan baku, teknologi dan lain sebagainya.
2. Kinerja Administratif (Administratif Performance), kinerja ini
berkaitan dengan kinerja administrasi organisasi, termasuk
didalamnya struktur administratif yang mengatur hubungan otoritas
wewenang dan tanggung jawab dari orang yang menduduki
jabatan. Selain itu, berkaitan dengan kinerja mekanisme aliran
informasi antar unit kerja dalam organisasi.
3. Kinerja Strategik (Strategic Performance), kinerja ini berkaitan
atas kinerja perusahaan dievaluasi ketepatan perusahaan dalam
memilih lingkungannya dan kemampuan adaptasi perusahaan,
khususnya secara strategi perusahaan dalam menjalankan visi dan
misinya. Sehingga dengan keberhasilan kinerja strategik,
perusahaan bisa mencapai keunggulan bersaingnya. Dan bisa
menjadi perusahaan yang menjadi contoh bagi perusahaan
pesaingnya.

Pengertian Kinerja Individu (skripsi dan tesis)

Bernardin (2001) dalam Sudarmanto (2014:8) menyatakan bahwa:
“Kinerja merupakan catatan hasil yang diproduksi (dihasilkan) atas fungsi
pekerjaan tertentu atau aktivitas-aktivitas selama periode waktu tertentu.”
Menurut Lijan Poltak Sinambela (2012:5) mendefinisikan kinerja
karyawan adalah sebagai berikut:
“Kinerja pegawai didefinisikan sebagai kemampuan pegawai dalam
melakukan sesuatu keahlian tertentu.”
Menurut Prawirosentono dalam Lijan Poltak Sinambela (2012:5), yaitu:
“Hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang
dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab
masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi
bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan
moral dan etika.”
Pengertian kinerja atau prestasi diberikan batasan oleh Manajer sebagai
kesuksesan seseorang di dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Sudarmanto
(2009:8) mendefiniskan kinerja individu sebagai berikut:
“Kinerja individu merupakan pencapaian atau efektivitas pada tingkat
pegawai atau pekerjaan. Kinerja pada level ini dipengaruhi oleh tujuan
pekerjaan, rancangan pekerjaan, dan manajemen pekerjaan serta
karakteristik individu”.
Sedangkan menurut Wirawan (2009:5) mendefinisikan kinerja individu
adalah sebagai berikut:
“Kinerja adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau
indikator-indikator suatu pekerjaan atau suatu profesi dalam waktu
tertentu”.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa organisasi yang berhasil
dan efektif merupakan organisasi dengan individu yang di dalamnya memiliki
kinerja yang baik. Organisasi yang efektif atau berhasil akan ditopang oleh
sumber daya manusia yang berkualitas.

Pengukuran Penggunaan Sistem Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Choe (1996) dalam Acep Komara (2006) mengungkapkan bahwa
penggunaan sistem informasi menunjukkan frekuensi penggunaan sistem
informasi dan kesediaan menggunakan sistem. Perilaku penggunaan sistem
informasi sangat bergantung pada evaluasi pengguna dari sistem tersebut. Suatu
sistem informasi akan digunakan apabila pengguna memiliki minat untuk
menggunakan sistem informasi tersebut karena keyakinan bahwa menggunakan
sistem informasi dapat meningkatkan kinerjanya, menggunakan sistem informasi
dapat dilakukan dengan mudah, serta pengaruh lingkungan sekitarnya dalam
menggunakan sistem informasi tersebut (Sekarini, 2013).
Penggunaan sistem informasi dipengaruhi oleh kondisi yang memfasilitasi
pengguna dalam menggunakannya karena apabila sistem informasi tidak
didukung oleh peralatan-peralatan dan fasilitas yang diperlukan maka pengguna
tersebut tidak dapat menggunakan sistem informasi tersebut (Sekarini, 2013).
Venkatesh et al (2003) dalam Jogiyanto (2007:324) melakukan penelitian
mengenai Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT)
terdapat dua konstruk penggunaan sistem informasi yaitu :
1. “Kondisi-kondisi yang memfasilitasi
2. Sikap terhadap penggunaan teknologi/sistem informasi.”
Adapun penjelasan dari pernyataan diatas :
1. Kondisi-kondisi yang memfasilitasi didefinisikan sebagai sejauh mana
seseorang percaya bahwa infrastruktur organisasional dan teknikal
tersedia untuk mendukung sistem. Definisi ini mendukung konsep
yang sama dengan konstruk-konstruk kontrol perilaku persepsian
(perceived behavioral control), kondisi-kondisi pemfasilitasi dan
kompatibilitas. Indikatornya meliputi,
Memiliki sumber daya (misal: komputer, software) yang diperlukan
Memiliki pengetahuan yang diperlukan
Penyediaan seorang ahli mengenai penggunaan sistem informasi
Kompatibilitas
2. Sikap terhadap penggunaan teknologi didefinisikan sebagai reaksi
perasaan menyeluruh dari individual untuk menggunakan suatu sistem.
Beberapa indikator, meliputi:
Unsur kongnitif/cara pandang
Motivasi intrinsik
Perasaan pada saat menggunakan
Intensitas dalam penggunaan sistem informasi
Frekuensi dalam penggunaan sistem informasi
Banyaknya jenis software yang digunakan

Definisi Penggunaan Sistem Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Jogiyato (2007:117) menjelaskan perilaku penggunaan sistem
informasi (behavior) sebagai berikut :
“Perilaku (behavior) adalah tindakan yang dilakukan seseorang. Dalam
konteks penggunaan sistem teknologi informasi, perilaku (behavior)
adalah penggunaan sesungguhnya (actual use) dari teknologi.”
Menurut Goodhue et al dalam Jogiyanto (2007:527) menjelaskan bahwa
penggunaan sistem informasi dapat diartikan sebagai berikut :
“Pemakaian atau penggunaan sistem informasi adalah suatu perilaku
dalam menggunakan suatu teknologi sistem informasi dalam
menyelesaikan tugas-tugas. Pengukuran-pengukuran semacam frekuensi
penggunaan sistem informasi banyak digunakan untuk mengukur konstruk
pemakaian”.
Menurut Handayani (2007) penggunaan sistem informasi sebagai perilaku
seorang individu untuk menggunakan sistem informasi karena adanya manfaat
yang akan diperoleh untuk membantu dalam menyelesaikan pekerjaannya. Ketika
suatu sistem dipercaya menjadi lebih berguna, lebih penting atau memberikan
keuntungan relatif maka akan menimbulkan minat seseorang untuk menggunakan
sistem tersebut.
Seddon (1997) dalam Iranto (2012) menyatakan bahwa penggunaan sistem
informasi merupakan perilaku yang muncul akibat adanya keuntungan atas
pemakaian sistem informasi tersebut. Perilaku yang ditimbulkan dari pemakaian
sistem informasi ini dalam proses selanjutnya diharapkan akan memberi dampak
terhadap kinerja individu.

Pengukuran Minat Pemanfaatan Sistem Informasi (skripsi dan tesis)

Venkatesh et al (2003) dalam Jogiyanto (2007:314) melakukan penelitian
mengenai Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT)
terdapat tiga konstruk minat pemanfaatan sistem informasi yaitu :
1. “Ekspektasi kinerja
2. Ekspektasi usaha
3. Pengaruh sosial”.
Adapun penjelasan dari pernyataan diatas adalah:
1. Ekspektasi kinerja didefinisikan sebagai seberapa tinggi seseorang
percaya bahwa menggunakan suatu sistem akan membantu dia untuk
mendapatkan keuntungan-keuntungan kinerja di pekerjaannya. Lima
dimensi yang termasuk dalam ekspektasi kinerja yang diperoleh dari
beberapa model sebelumnya adalah:
Kegunaan persepsian (perceived usefulness) didefinisikan sebegai
seberapa jauh seseorang percaya bahwa menggunakan suatu sistem
tertentu akan meningkatkan kinerja pekerjaannya. Indikator
kegunaan persepsian, meliputi membantu menyelesaikan pekerjaan
lebih cepat.
Motivasi ekstrinsik (extrinsic motivation) didefinisikan sebagai
persepsi yang diinginkan pemakai untuk melakukan suatu aktivitas
karena dianggap sebagai alat dalam mencapai hasil-hasil bernilai
yang berbeda dari aktivitas itu sendiri, semacam kinerja pekerjaan.
Indikator motivasi ekstrinsik, meliputi meningkatkan kinerja
pekerjaan.
Kesesuaian-tugas (job-fit) didefinisikan sebagai bagaimana
kemampuan-kemampuan dari suatu sistem meningkatkan kinerja
pekerjaan individual. Indikator kesesuaian-tugas, meliputi
meningkatkan efektivitas pekerjaan.
Keuntungan-relatif (relative advantage) didefinisikan sebagai
seberapa jauh menggunakan suatu inovasi dipersepsikan sebagai
lebih baik daripada menggunakan pendahulunya. Indikator
keuntungan relatif, meliputi mempermudah dalam pekerjaan.
Ekspektasi-ekspektasi hasil (outcome expectations). Ekspektasiekspektasi hasil berhubungan dengan konsekuensi-konsekuensi dari
perilaku. Indikator ekspektasi-ekspektasi hasil, meliputi
meningkatkan kualitas output.
2. Ekspektasi usaha didefinisikan sebagai tingkat kemudahan yang
dihubungkan dengan penggunaan suatu sistem. Apabila sistem mudah
digunakan, maka usaha yang dilakukan tidak akan terlalu tinggi dan
sebaliknya jika suatu sistem sulit digunakan maka diperlukan usaha
yang tinggi untuk menggunakannya. Tiga konstruk yang berasal dari
model-model sebelumnya sudah ada yang menangkap konsep
ekspektasi usaha ini. Ketiga dimensi ini adalah:
Kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use)
didefinisikan sebagai seberapa jauh seseorang percaya bahwa
menggunakan suatu sistem akan bebas dari usaha. Indikator
kemudahan penggunaan persepsian, meliputi dapat mengoperasikan
sistem informasi, dan dapat berinteraksi dengan jelas dan mudah.
Kerumitan (complexity) didefinisikan sebagai seberapa jauh suatu
sistem dipersepsikan sebagai sesuatu yang secara relatif susah untuk
dipahami dan digunakan. Indikator kerumitan, meliputi dapat
menyita waktu kerja, menggunakan sistem informasi bukan hal yang
rumit dan tidak membutuhkan usaha yang keras dalam berinteraksi.
Kemudahan penggunaan (ease of use) didefinisikan sebagai seberapa
jauh menggunakan suatu inovasi dipersepsikan sebagai yang sulit
untuk digunakan. Indikator kemudahan penggunaan, meliputi
percaya bahwa semua pekerjaan yang diinginkan dapat diselesaikan
dengan menggunakan sistem informasi.
3. Pengaruh sosial didefinisikan sebagai sejauh mana seorang individual
mempersepsikan kepentingan yang dipercaya oleh orang-orang lain
yang akan mempengaruhinya menggunakan sistem yang baru.
Pengaruh sosial sebagai suatu penentu langsung terhadap minat
diwakili oleh beberapa konstruk sebagai berikut:
Norma subyektif (subjective norm) didefinisikan sebagai persepsi
seseorang bahwa kebanyakan orang yang penting baginya berpikir
bahwa dia seharusnya atau tidak seharusnya melakukan perilaku
bersangkutan. Indikatornya meliputi, pengaruh rekan kerja.
Faktor-faktor sosial (social factors) didefinisikan sebagai
didefinisikan sebagai internalisasi seseorang tentang kultur subyektif
grup acuan dan kesepakatan interpersonal spesifik yang dilakukan
seseorang dengan orang-orang lain di situasi-situasi sosial spesifik.
Indikatornya meliputi, pengaruh atasan kerja atau kepala divisi dan
dukungan kepala divisi.
Image didefinisikan sebagai sejauh mana penggunaan suatu inovasi
dipersepsikan meningkatkan status seseorang di sistem sosialnya.
Indikatornya meliputi, status yang lebih tinggi dan profil yang tinggi.

Definisi Minat Pemanfaatan Sistem Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Jogiyanto (2007:116) menjelaskan minat pemanfaatan sistem
informasi sebagai berikut :
“Minat pemanfaatan sistem informasi adalah suatu keinginan (minat)
seseorang untuk melakukan suatu perilaku tertentu dengan memanfaatkan
sistem informasi”.
Menurut Pauli (2007) dalam Wiewien (2010) minat pemanfaatan sistem
informasi didefinisikan sebagai indikasi bagaimana seseorang mau mencoba
sistem informasi, dan bagaimana usaha seseorang merencanakan untuk
menggunakan sistem informasi, dan untuk menampilkan perilakunya.
Menurut Handayani (2007) minat pemanfaatan sistem informasi
didefinisikan sebagai tingkat keinginan atau niat pemakai menggunakan sistem
secara terus menerus dengan asumsi bahwa mereka mempunyai akses terhadap
informasi. Arief Hermawan (2008) dalam Suseno (2009) mendefinisikan minat
perilaku menggunakan teknologi sebagai minat (keinginan) seseorang untuk
melakukan perilaku tertentu. Davis et al (1989) dalam Firmansyah (2014)
mengungkapkan behavioral intention to use adalah kecenderungan perilaku untuk
tetap menggunakan suatu teknologi.
Davis et al (1989) dalam Wiewien (2010) mengemukakan bahwa adanya
manfaat yang dirasakan oleh pemakai sistem teknologi informasi akan
meningkatkan minat mereka untuk menggunakan sistem teknologi informasi.
Thompson et al (1991) dalam Wiewien (2010) menyatakan bahwa keyakinan
seseorang akan kegunaan sistem teknologi informasi akan meningkatkan minat
mereka dan pada akhirnya individu tersebut akan menggunakan sistem teknologi
informasi dalam pekerjaannya.

Konsep Minat (skripsi dan tesis)

Konsep minat menurut Jogiyanto (2007:29) adalah :
“Minat (intention) didefinisikan sebagai keinginan untuk melakukan
perilaku. Minat tidak selalu statis. Minat dapat berubah dengan
berjalannya waktu.”
Minat merupakan kecenderungan perilaku untuk tetap menggunakan suatu
teknologi (Wibowo, 2008). Minat merupakan salah satu aspek psikis manusia
yang dapat mendorong untuk mencapai tujuan. Seseorang yang memiliki minat
terhadap suatu obyek, cenderung untuk memberikan perhatian atau merasa senang
yang lebih besar kepada obyek tersebut. Seorang individu apabila menilai sesuatu
yang bermanfaat bagi dirinya maka di saat itulah dia akan berminat untuk
menggunakannya lagi dan akan mendatangkan kepuasan (Kusuma, 2007).

Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) (skripsi dan tesis)

Model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) merupakan salah satu model penerimaan teknologi terkini yang dikembangkan oleh Venkatesh, dkk. UTAUT mensintesis elemen-elemen pada delapan model penerimaan teknologi terkemuka untuk memperoleh kesatuan pandangan mengenai penerimaan pengguna. Kedelapan teori terkemuka yang disatukan di Kegunaan Persepsian (Perceived Usefulness) Kemudahan Penggunaan Persepsian (Perceived Ease of Use) Sikap terhadap menggunakan teknologi (Attitude towards Using Technology) Minat Perilaku Menggunakan Teknologi (Behavioral Intention to Use) Penggunaan Teknologi Sesungguhnya (Actual Technology Use) dalam UTAUT adalah Theory of Reason Action (TRA), Technology Acceptance Model (TAM), Motivational Model (MM), Theory of Planned Behavior (TPB), Combined TAM and TPB, Model of PC Utilization (MPTU), Innovation Difussion Theory (IDT), dan Social Cognitive Theory (SCT). UTAUT terbukti lebih berhasil dibandingkan kedelapan teori yang lain dalam menjelaskan sekitar 70 persen dari varian niat perilaku untuk menggunakan teknologi dan sekitar 50 persen dari varian dalam menggunakan teknologi. UTAUT bertujuan menjelaskan minat pengguna untuk menggunakan SI dan perilaku pengguna berikutnya (Venkatesh et al dalam Sedana dan Wijaya, 2010). Terdapat tujuh konstruk yang tampaknya selalu signifikan menjadi pengaruh-pengaruh langsung terhadap minat atau penggunaan, yaitu ekspektasi kinerja, ekspektasi usaha, pengaruh sosial, kondisi yang memfasilitasi, sikap terhadap menggunakan teknologi, keyakinan-sendiri, dan kecemasan. Namun, dalam model UTAUT hanya memiliki empat konstruk yang memainkan peran penting sebagai determinan langsung dari niat untuk menggunakan sistem (behavioral intention) dan penggunaan sistem informasi (use behavior) yaitu Performance expectancy (ekspektasi kinerja), Effort expectancy (ekspektasi usaha), Social Influence (pengaruh sosial) dan Facilitating conditions (kondisi yang memfasilitasi). Jenis kelamin, umur, pengalaman dan sukarela penggunaan digunakan untuk menengahi dampak empat faktor utama diatas terhadap minat penggunaan dan perilaku (Venkatesh et al dalam Sedana dan Wijaya, 2010).

Technology Acceptance Model (TAM) (skripsi dan tesis)

Salah satu teori tentang penggunaan sistem teknologi informasi yang dianggap sangat berpengaruh dan umumnya digunakan untuk menjelaskan penerimaan individual terhadap penggunaan sistem teknologi informasi adalah model penerimaan teknologi (Technology Acceptance Model) (TAM). Teori ini pertama kali dikenalkan oleh Davis (1986). Teori ini dikembangkan dari Theory of Reasoned Action atau TRA oleh Ajzen dan Fishbein (1980) (Jogiyanto, 2007:111). Menurut Jogiyanto (2007:111) TAM menambahkan dua konstruk utama ke dalam model TRA yaitu: 1. “Kegunaan persepsian (perceived usefulness) 2. Kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use).” Sikap terhadap perilaku (Attitude towards Behavior) Kontrol Perilaku Persepsian (Perceived Bevioral Control) Norma Subyektif (Subjective Norm) Niat Perilaku (Behavioral Intention) Perilaku (Behavior) TAM berargumentasi bahwa penerimaan individual terhadap sistem teknologi informasi ditentukan oleh dua konstruk tersebut. Karena TAM dimaksudkan untuk penggunaan teknologi, maka perilaku (behavior) di TAM dimaksudkan sebagai perilaku menggunakan teknologi.

Theory of Planned Behavior (TPB) (skripsi dan tesis)

Teori perilaku rencanaan (theory of planned behavior atau TPB)
merupakan pengembangan lebih lanjut dari theory of reasoned action (TRA).
Ajzen (1988) menambahkan sebuah konstruk yang belum ada di TRA. Konstruk
ini disebut dengan kontrol perilaku persepsian (perceived behavioral control).
Konstruk ini ditambahkan di TPB untuk mengontrol perilaku individual yang
dibatasi oleh kekurangan-kekurangannya dan keterbatasan-keterbatasan dari
kekurangan sumber-sumber daya yang digunakan untuk melakukan perilakunya
(Jogiyanto, 2007:61).
Dalam Jogiyanto (2007:63) dijelaskan bahwa:
“Asumsi dasar TPB adalah banyak perilaku yang tidak semuanya di bawah
kontrol penuh individual sehingga perlu ditambahkan konsep kontrol
perilaku persepsian.”
Teori ini mengasumsikan bahwa kontrol perilaku persepsian mempunyai
implikasi motivasional terhadap minat-minat, selain itu adanya kemungkinan
hubungan langsung antara kontrol perilaku persepsian dengan perilaku. Jika
semua perilaku dapat dikontrol sepenuhnya oleh individu-individu mendekati
maksimum maka TPB akan kembali menjadi TRA.
Menurut Ajzen (1991) dalam Jogiyanto (2007:64) mendefinisikan kontrol
perilaku persepsian sebagai berikut:
“Kontrol perilaku persepsian (perceived behavioral control) sebagai
kemudahan atau kesulitan persepsian untuk melakukan perilaku.”
Sedangkan dalam konteks sistem teknologi informasi, Taylor dan Todd
(1995) dalam Jogiyanto (2007:64) mendefinisikan:
“Kontrol perilaku persepsian (perceived behavioral control) sebagai
persepsi dan konstruk-konstruk internal dan eksternal dari perilaku.”
Kontrol perilaku persepsian ini merefleksikan pengalaman masa lalu dan
juga mengantisipasi halangan-halangan yang ada. Aturan umumnya adalah,
semakin menarik sikap dan norma subyektif terhadap suatu perilaku, dan semakin
besar kontrol perilaku persepsian, semakin kuat niat seseorang untuk melakukan
perilaku yang sedang dipertimbangkan (Jogiyanto, 2007:65).
TPB digunakan untuk menjelaskan pengaruh sikap terhadap penggunaan
(attitude), norma subyektif (subjective norms), dan kontrol perilaku persepsian
(perceived behavioral control) mempengaruhi niat atau keinginan untuk
menggunakan teknologi. Dengan adanya minat untuk menggunakan sistem
informasi akan mendorong seorang individu untuk menggunakan sistem informasi
tersebut.

Theory of Reasoned Action (TRA) (skripsi dan tesis)

Theory of Reasoned Action (TRA) atau teori tindakan beralasan yang
dikembangkan oleh Icek Ajzen dan Martin Fishbein (1980) dalam Jogiyanto
(2007:25) adalah:
“Suatu teori yang berhubungan dengan sikap dan perilaku individu dalam
melaksanakan kegiatan atau tindakan yang beralasan dalam konteks
penggunaan teknologi sistem informasi.”
Menurut Jogiyanto (2007:35) bahwa teori ini menjelaskan tahapan-tahapan
manusia melakukan perilaku.
“Pada tahap awal, perilaku (behavior) diasumsikan ditentukan oleh niat
(intention). Pada tahap berikutnya niat-niat dapat dijelaskan dalam bentuk
sikap-sikap terhadap perilaku (atitudes toward the behavior) dan normanorma subyektif (subjective norms) dalam bentuk kepercayaankepercayaan tentang konsekuensi melakukan perilakunya dan tentang
ekspektasi-ekspektasi normatif dari orang yang direferensi (referent) yang
relevan. Secara keseluruhan, berarti perilaku seseorang dapat dijelaskan
dengan mempertimbangkan kepercayaan-kepercayaannya. Karena
kepercayaan-kepercayaan seseorang mewakili informasi yang mereka
peroleh tentang dirinya sendiri dan tentang dunia di sekeliling mereka, ini
berarti bahwa perilaku terutama ditentukan oleh informasi ini.”

Pengertian Sistem Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Laudon yang dialihbahasakan oleh Chriswan & Machmudin
(2008:15) bahwa :
“Sistem informasi secara teknis didefinisikan sebagai sekumpulan
komponen yang saling berhubungan, mengumpulkan, memproses,
menyimpan, dan mendistribusikan informasi untuk menunjang proses
pengambilan keputusan dan pengawasan dalam suatu organisasi”.
Bodnar dan Hopwood (2010:3) mengungkapkan bahwa sistem informasi
mengarah pada penggunaan teknologi didefinisikan sebagai berikut :
”A computer based information system is a collection of computer
hardware and software designed to transform data into useful
information”.
Kutipan di atas dapat diartikan bahwa sistem informasi berbasis komputer
merupakan suatu rangkaian perangkat keras dan perangkat lunak yang dirancang
untuk mentransformasi data menjadi informasi.
Azhar Susanto (2013:58) menyatakan bahwa sistem informasi adalah
sebagai berikut :
“Sistem informasi merupakan kumpulan dari sub-sub sistem yang saling
berhubungan satu sama lain, dan bekerja sama secara harmonis untuk
mencapai satu tujuan yaitu mengolah data menjadi informasi yang
berguna”.
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi
merupakan kerangka kerja organisasi dalam menghasilkan informasi yang
bermanfaat dan berguna bagi manajemen dalam mengambil keputusan yang
objektif sehingga hasilnya sesuai dengan sasaran yang diharapkan.

Pengertian Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Gordon B. Davis (1985) dalam Mardi (2011:5) informasi adalah :
“Informasi adalah data yang telah diolah ke dalam suatu bentuk yang
berguna bagi penerimanya dan nyata atau berupa nilai yang dapat
dipahami di dalam keputusan sekarang maupun masa depan.”
Menurut Gelinas & Dull (2008), Hall (2008), Laudon & Laudon (2006),
Tuban et al. (2006) dalam Samiaji Sarosa (2009:12) adalah :
“Informasi adalah data yang sudah mengalami pemrosesan sedemikian
rupa sehingga dapat digunakan oleh penggunanya dalam membuat
keputusan.”
Menurut McLeod dalam Yakub (2012:8) adalah :
“Informasi (information) adalah data yang diolah menjadi bentuk lebih
berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya.”
Menurut Azhar Susanto (2013:38) adalah :
“Informasi adalah hasil pengolahan data yang memberikan arti dan
manfaat.”
Berdasarkan pengertian di atas menunjukan bahwa informasi adalah data
yang telah diolah sedemikian rupa dan menjadi bentuk yang lebih berguna dan
bermanfaat bagi penggunanya.

Pengertian Sistem (skripsi dan tesis)

Menurut Azhar Susanto (2013:22), mengartikan sistem adalah :
“Sistem adalah kumpulan atau group dari sub sistem atau bagian atau
komponen apapun baik phisik maupun non phisik yang saling
berhubungan satu sama lain dan bekerja secara harmonis untuk mencapai
satu tujuan tertentu.”
Menurut Bertalanffy (1971) dan Checkland (1981) dalam Samiaji Sarosa
(2009:11) adalah :
“Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling
berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan
atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu.”
Sedangkan, menurut McLeod dalam Yakub (2012:4) adalah :
“Sistem adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan
tujuan yang sama untuk mencapai tujuan.”
Berdasarkan pengertian di atas, sistem adalah sekumpulan komponen atau
elemen yang bekerja sama dan saling berhubungan satu sama lain untuk mencapai
tujuan tertentu.

 

Metode UTAUT (skripsi dan tesis)

“UTAUT merupakan salah satu model penerimaan teknologi terkini yang dikembangkan oleh Venkatesh, dkk. UTAUT menggabungkan fitur-fitur yang berhasil dari delapan teori penerimaan teknologi terkemuka menjadi satu teori. Kedelapan teori terkemuka yang disatukan di dalam UTAUT adalah theory of reasoned action (TRA), technology acceptance model (TAM), motivational model (MM), theory of planned behavior (TPB), combined TAM and TPB, model of PC utilization (MPTU), innovation diffusion theory (IDT), dan social cognitive theory (SCT). UTAUT terbukti lebih berhasil dibandingkan kedelapan teori yang lain dalam menjelaskan hingga 70 persen varian pengguna Setelah mengevaluasi kedelapan model, Venkatesh, dkk. menemukan tujuh konstruk yang tampak menjadi determinan langsung yang signifikan terhadap behavioral intention atau use behavior dalam satu atau lebih di masingmasing model. Konstruk- konstruk tersebut adalah performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions, attitude toward using technology, dan self-efficacy. Setelah melalui pengujian lebih lanjut, ditemukan empat konstruk utama yang memainkan peran penting sebagai determinan langsung dari behavioral intention dan use behavior yaitu, performance expectancy, effort expectancy, social influence, dan facilitating conditions. Sedangkan yang lain tidak signifikan sebagai determinan langsung dari behavioral intention. Disamping itu terdapat pula empat moderator: gender, age, voluntariness, dan experience yang diposisikan untuk memoderasi dampak dari empat konstruk utama pada behavioral intention dan use behavior.” (Trie Hadayani dan Sudiana,2012). “Tujuan utama penelitian menggunakan UTAUT adalah membantu organisasi untuk memahami bagaimana penggunaan bereaksi terhadap pengenalan teknologi baru. Pada awalnya, UTAUT dikembangkan dari Technology Acceptance Model (TAM) pada tahun 2003 dengan empat konstruk yang mempengaruhi niat perilaku untuk menggunakan teknologi yaitu: performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions. Sampai saat ini UTAUT sudah dikembangkan kembali dari konteks organisasi menjadi konteks konsumen individu yang diberi nama Model UTAUT2 di mana habit, hedonic motivation dan price value ditambahkan sebagai konstruksi baru” Venkatesh,(2003) dalam Wangsi,(2005). Model UTAUT memiliki 2 jenis yaitu UTAUT dan UTAUT2. UTAUT menjelaskan “empat konstruk yang memainkan peran penting sebagai determinan langsung dari behavioral intention dan use behavior yaitu, performance expectancy, effort expectancy, social influence, dan facilitating conditions. Disamping itu terdapat pula empat moderator: gender, age, voluntariness, dan experience yang diposisikan untuk memoderasi dampak dari konstruk-konstruk pada behavioral intention dan use behaviour”. Vankatesh,(2003)

Social Cognitive Theory (SCT) (skripsi dan tesis)

Teori ini digunakan untuk menerangkan teori perilaku manusia. Social Cognitive Theory (SCT) dikembangkan dan diterapkan kedalam konteks penggunaan komputer. Dalam penelitian (Winarko & Mahadewi, 2013) menggembangkan suatu model konstruksi untuk menejelaskan peranan Self Efficiency. Self Efficiency yaitu penilaian tentang kemampuan seseorang untuk menggunakan suatu teknologi yang digunakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas tertentu. Penilaian ini tidak mempertimbangkan apa yang telah dilakukan oleh orang lain dimasa lalu, namun lebih mempertimbangkan pertimbangan apa yang dapat dilakukan dimasa yang akan datang. Selain itu tidak hanya mempertimbangkan unsur-unsur dalam pengoperasian komputer yang sederhana namun juga kemampuan dalam mengaplikasikan keterampilan komputer untuk tugas-tugas yang lebih bersifat kompleks.

innovation Diffusion Theory (IDT) (skripsi dan tesis)

Teori ini dikembangkan berdasarkan Diffusion of Innovation
oleh Rogers yang dikutip oleh (Winarko & Mahadewi, 2013).
Menurut Rogers, ada beberapa kategori adopter terhadap inovasi teknologi
baru. Kategori tersebut adalah Innovators, Early Adopters, Early Majority,
Late Majority dan Laggards.
1) Innovators adalah kategori orang-orang yang pertama kali mau
mengadopsi suatu inovasi. Ciri khas Innovators:
1. Mau menempuh resiko
2. Berusia muda
3. Memiliki kelas sosial yang tinggi
4. Memiliki kemampuan finansial yang cukup
5. Berjiwa sosial
6. Memiliki akses ke sumber-sumber pengetahuan dan
7. Berinteraksi dengan kelompok Innovator lainnya
2) Early Adopters adalah kategori kedua yang paling cepat mengadopsi
adanya inovasi teknologi baru dan memiliki ciri yang hampir sama dengan
Innovators. Mereka yang dalam kategori ini memiliki Opinion
Leadership yang tinggi.
3) Early Majority adalah kategori orang yang membutuhkan waktu
lebih lama dibandingkan dengan dua kategori sebelumnya untuk mengadopsi
teknologi baru. Biasanya mereka berasal dari kategori yang memiliki kelas
sosial diatas rata-rata, berhubungan dengan kategoti Early Adpoters dan
jarang memiliki Opinion Leadership dalam suatu sistem.
4) Late Majority adalah kategori yang mengadopsi inovasi setelah rata- rata
anggota masyarakat ingin mengadopsi teknologi baru. Kategori ini memiliki
sikap ragu-ragu terhadap teknologi baru sampai masyarakat lain mau
menerimannya.
5) Laggards adalah kategori yang terakhir yang mau mengadopsi teknologi
baru. Ciri-cirinya:
1. Memiliki golongan sosial yang rendah
2. Kemampuan finansial yang rendah
3. Hampir tidak memiliki Opinion Leadership
4. Berusia relatif lebih tua dan
5. Memiliki pola berfikir yang konservatif
Dalam konstruksi model Innovation Diffusion Theory (IDT) dilakukan
penelitan mendalam untuk mengukur persepsi terhadap pengadopsian
inovasi dalam Teknologi. Ada 8 konstruksi yang dijadikan sebagai alat
ukur:
1. Voluntariness of Use yaitu sejauh mana pengguna suatu inovasi
dipersepsikan secara sukarela atau bebas
2. Image yaitu sejauh mana penggunaan suatu inovasi dipersepsikan
untuk meningkatkan citra atau status seseorang dalam sistem sosial.
3. Relative Advantage yaitu sejauh mana inovasi dipersepsikan unutk
lebih baik dari sebelumnya.
4. Compatibility yaitu sejauh mana sebuah inovasi dipersepsikan konsisten
dengan nilai-nilai, kebutuhan yang ada dan pengalaman masa lalu dari
Potential Adopters.
5. Ease of Use yaitu sejauh mana sebuah inovasi dipersepsikan sulit atau
mudah untuk digunakan.
6. Result Demonstrability yaitu hasil nyata dari pengguna inovasi,
sehingga juga dapat diamati dan dikomunikasikan.
7. Trialability yaitu sejauh mana sebuah inovasi dapat dicoba lebih dulu
sebelum benar-benar diadopsi
8. Visibility yaitu sejauh mana seseorang dapat melihat orang lain
menggunakan sistem didalam organisasi.

Model of PC Utilization (MPCU) (skripsi dan tesis)

Teori ini dikembangkan dengan menggunakan pendekatan faktorfaktor yang mempengaruhi sebuah perilaku yang dikutip oleh (Winarko &
Mahadewi, 2013) dalam konteks sistem informasi untuk memprediksi
pemanfaatan Teknologi Informasi. Teori Triandis digunakan dalam
penelitian sosiologi dan psikologi yang menerangkan suatu model
konstruksi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang.
Triandis mengemukakan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh apa
yang orang ingin lakukan (Attitudes), apa yang mereka pikir harus
dilakukan (Social Norms), apa yang mereka biasa lakukan (Habits), dan
oleh konsekuensi–konsekuensi yang diharapkan atas tindakannya
(Expected Consequences).
Dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan (Utilization) Teknologi
Informasi sangat dipengaruhi oleh norma-norma social (Social Norms),
faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan teknologi informasi
menurut kutipan (Kasmana, 2013) :
1. Faktor sosial (Social Factors) merupakan internalisasi kultur
subyektif kelompok dan persetujuan interpersonal tertentu yang dibuat
antar individu dalam situasi sosial tertentu. Kultur subyektif berisi norma
(norms), peran (role), dan nilai (values).
2. Pengaruh terhadap pengguna (Affect Toward Use) adalah yang
berhubungan dengan perasaan senang, kegembiraan atau depresi,
kemuakkan, ketidaksenangan atau kebencian, rasa suka atau tidak suka
dalam melakukan pekerjaan individu menggunakan teknologi informasi
atau dengan tindakan tertentu.
21
3. Kompleksitas (complexity). Sebagai tingkat inovasi yang
dipersepsikan sebagai sesuatu yang relatif sulit untuk diartikan dan
digunakan.
4. Kesesuaian tugas (job fit). Dapat di ukur dengan mengetahui apakah
individu percaya bahwa pemanfaatan teknologi informasi dapat
meningkatkan kinerja individu yang bersangkutan. Hubungan yang positif
antara kesesuaian tugas dengan pemanfaatan teknologi informasi telah
dibuktikan hasil penelitian.
5. Konsekuensi jangka panjang (long-term concequences). Konsekuensi
jangka panjang dari keluaran yang dihasilkan apakah mempunyai keuntungan
dimasa yang akan datang dan tidak hanya untuk memenuhi
kebutuhan saat ini.

Theory of Planned Behavior (TPB) (skripsi dan tesis)

Teori ini adalah pengembangan dan penyempurnaan keterbatasan dalam
Theory of Reasoned Action (TRA) yang dibahas sebelumnya. Perbedaan
mendasar model teori ini dengan sebelumnya adalah adanya tambahan satu
elemen dalam model model konstruksi yang disebut sebagai persepsi terhadap
Perceived Behavioral Control atau disebut PBC (kendali perilaku seseorang)
didefinisikan sebagai persepsi seseorang terhadap sejauhmana tingkat
kemudahan atau kesulitan dalam melaksanakan suatu tindakan atau berperilaku
dalam kutipan (Winarko & Mahadewi, 2013).

Motivational Model (MM) (skripsi dan tesis)

Davis et al. (1992) mengadaptasi teori motivasional yang dapat
menjelaskan perilaku untuk memahami adopsi teknologi pada individu yang
kemudian mengklasifikasi motivasi menjadi motivasi intrinsik dan motivasi
ekstrinsik. Perspektif motivasi ekstrinsik menjelaskan bahwa perilaku individu
ditentukan oleh harapan akan perolehan manfaat dan keuntungan di kemudian
hari sedangkan perspektif motivasi intrinsik menjelaskan bahwa perilaku
individu ditentukan dengan timbulnya perasaan aman, nyaman, dan bahagia
pada diri.
Davis et al. (1992) mengidentifikasi perceived usefulness sebagai
motivasi ekstrinsik dan perceived enjoyment sebagai motivasi instrinsik pada
konteks objek penggunaan teknologi komputer di lingkungan kerja. Hasil studi
Davis et al. (1992) menyatakan bahwa perceived enjoyment dan perceived
usefulness memediasi pengaruh dari perceived ease of use pada behavioral
intention.

Kualitas Layanan (skripsi dan tesis)

Kualitas Lelayanan merupakan sikap yang berhubungan dengan
keunggulan suatu jasa pelayanan atau pertimbangan konsumen tentang
kelebihan suatu perusahaan. (Parasuraman. et al, 1985). Kebanyakan
layanan yang ditawarkan oleh peritel lebih hanya pada melengkapi informasi
tentang barang dagangan yang ditawarkan, seharusnya pelayanan pada
pelanggan (customer sevice) adalah satuan aktifitas yang dilakukan
oleh peritel dalam membuat pengalaman berbelanja konsumen lebih
bersifat memberikan penghargaan pada konsumen (Utami, 2010).
Kualitas layanan dalam perusahaan jasa maupun retail merupakan hal
yang sangat penting dari sudut pandang konsumen karena kualitas
pelayanan merupakan dasar dari pemasaran jasa dikarenakan produk utama
yang ditawarkan adalah kinerja (performance) (Iskandar & Bemarto, 2007).
Terdapat lima atribut dan dimensi dalam kualitas layanan yang
dikembangkan oleh Parasuraman, Zeithaml dan Berry yang dikutip dalam
Utami (2010) dan menjadi dasar pengembangan telaah terhadap kualitas
layanan, diantaranya :
1. Bukti fisik (Tangibles)
Merupakan penampilan fasilitas fisik perlengkapan seperti
bangunan gerai, tempat parkir, kebersihan, kerapihan dan kenyamanan
ruangan, serta penampilan karyawan.
2. Keandalan (Reliability)
Reliability merupakan kemampuan untuk memberikan pelayanan yang
sesuai dengan yang dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan.
Terdapat dua aspek dalam dimensi ini, yaitu kemampuan perusahaan untuk
memberikan pelayanan seperti yang dijanjikan, dan seberapa jauh suatu
perusahaan mampu memberikan pelayanan akurat atau tidak ada error.
3. Daya tanggap (Responsiveness)
Responsiveness merupakan kesigapan karyawan dalam membantu
pelanggan dan memberikan pelayanan yang cepat dan tanggap, yang
meliputi : kesigapan karyawan dalam melayani pelanggan, kecepatan
karyawan dalam menangani transaksi, dan penanganan keluhan pelanggan.
4. Jaminan (Assurance)
Assurance meliputi kualitas keramahtamahan karyawan, perhatian dan
kesopanan dalam memberi pelayanan serta sifat dapat dipercaya yang
dimiliki para staf dan karyawan, ketrampilan dalam memberikan informasi.
5. Empati (Emphaty)
Perhatian secara individual yang diberikan kepada perusahaan – dalam hal
ini pemilik usaha ritel–kepada pelanggan untuk memahami keinginan dan
kebutuhan pelanggannya dan kemampuan karyawan untuk berkomunikasi
dengan pelanggan. Dimensi emphaty sendiri meliputi : (1)
komunikasi, merupakan kemampuan komunikasi untuk
menyampaikan informasi kepada pelanggan atau pun memperoleh
masukan dari pelanggan. (2) pemahaman kepada pelanggan
(understanding the customer),meliputi usaha perusahaan untuk
mengetahui dan memahami kebutuhan serta keinginan konsumen.

Konsep Layanan (skripsi dan tesis)

Istilah layanan berasal dari kata “layan” yang artinya menolong menyediakan segala apa yang diperlukan oleh orang lain untuk perbuatan melayani. Pada dasarnya setiap manusia membutuhkan layanan, bahkan secara ekstrim dapat dikatakan bahwa layanan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. layanan adalah proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain yang langsung (Moenir, 2006). Membicarakan layanan berarti membicarakan suatu proses kegiatan yang konotasinya lebih kepada hal yang abstrak (Intangible). layanan merupakan suatu proses, proses tersebut menghasilkan suatu produk yang berupa pelayanan, yang kemudian diberikan kepada pelanggan. Menurut (Ahmad Batinggi,1998) terdapat tiga jenis layanan yang bisa dilakukan oleh siapapun, yaitu : 1. Layanan dengan lisan Layanan dengan lisan dilakukan oleh petugas – petugas di bidang Hubungan Masyarakat ( HUMAS ), bidang layanan Informasi, dan bidang-bidang lain yang tugasnya memberikan penjelasan atau keterangan kepada siapapun yang memerlukan. Agar supaya layanan lisan berhasil sesuai dengan yang diharapkan, ada syarat – syarat yang harus dipenuhi oleh pelaku layanan yaitu: a. Memahami masalah – masalah yang termasuk ke dalam bidang tugasnya. b. Mampu memberikan penjelasan apa yang diperlukan, dengan lancar, singkat tetapi cukup jelas sehingga memuaskan bagi mereka yang memperoleh kejelasan mengenai sesuatu. c. Bertingkah laku sopan dan ramah 2. Layanan dengan tulisan Layanan melalui tulisan merupakan bentuk layanan yang paling menonjol dalam melaksanakan tugas. Sistem layanan pada abad Informasi ini menggunakan sistem layanan jarak jauh dalam bentuk tulisan. Layanan tulisan ini terdiri dari 2 (dua) golongan yaitu, berupa petunjuk Informasi dan yang sejenis ditujukan kepada orang – orang yang berkepentingan, agar memudahkan mereka dalam berurusan dengan instansi atau lembaga pemerintah. Kedua, layanan berupa reaksi tertulis atau permohonan laporan, pemberian/ penyerahan, pemberitahuan dan sebagainya. Adapun kegunaannya yaitu : a. Memudahkan bagi semua pihak yang berkepentingan. b. Menghindari orang yang banyak bertanya kepada petugas c. Mamperlancar urusan dan menghemat waktu bagi kedua pihak, baik petugas maupun pihak yang memerlukan pelayanan. d. Menuntun orang ke arah yang tepat 3. Layanan dengan perbuatan Pada umumnya layanan dalam bentuk perbuatan dilakukan oleh petugas-petugas yang memiliki faktor keahlian dan ketrampilan. Dalam kenyataan sehari – sehari layanan ini memang tidak terhindar dari layanan lisan jadi antara layanan perbuatan dan lisan sering digabung. Hal ini disebabkan karena hubungan pelayanan secara umum banyak dilakukan secara lisan kecuali khusus melalui hubungan tulis yang disebabkan oleh faktor jarak.

Layanan (skripsi dan tesis)

Data Layanan adalah usaha pemberian bantuan atau pertolongan kepada orang lain, baik berupa materi maupun bukan materi agar orang itu dapat mengatasi masalahnya sendiri (Suparlan,2000). Menurut (Inmon,2005) data adalah kumpulan dari fakta, konsep, atau instruksi pada penyimpanan yang digunakan untuk komunikasi, perbaikan dan diproses secara otomatis yang mempresentasikan informasi yang dapat di mengerti oleh manusia. Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa layanan data adalah menolong menyediakan segala apa yang diperlukan orang lain mengenai paket data. Salah satu nya paket layanan data Tri(3) yang beberapa tipe varian paket yang cocok, bisa orang lain pilih sesuai kebutuhan. setiap layanan data kartu perdana memiliki fokus layanan yang berbeda-beda. Misalnya, jika ingin menggunakan kartu perdana Tri(3) untuk berinternetan. mungkin bisa memilih kartu perdana get more yang akan mendapatkan kuota yang berlipat setiap kali perpanjang masa aktif. Pilihan lain salah satu nya untuk pengguna blackberry. tidak ada salahnya menggunakan kartu perdana Tri(3) yang khusus diperuntukan untuk pengguna blackberry atau untuk pengguna yang aktif menggunakan telpon, sms dan internet maka ada baiknya pengguna menggunakan paket jumbo atau jagoan internet 1000.

Sistem Telekomunikasi (skripsi dan tesis)

Sistem telekomunikasi terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak yang
mamancarkan informasi dari satu tempat ke tempat lain. Sistem ini dapat
memancarkan teks, data, grafik, suara, dokumen, atau video. Komponen utama
suatu sistem telekomunikasi meliputi hal- hal berikut:
1. Perangkat Keras Semua jenis komputer dan pengolah komunikasi (modems
atau komputer kecil yang digunakan untuk komunikasi).
2. Media Komunikasi Media fisik, dimana sinyal elektronik dialirkan, termasuk
media tanpa kawat (digunakan dengan Cell Phone dan satelit). -Jaringan
Komunikasi Jalur antar komputer dan alat komunikasi Perangkat Lunak
Komunikasi Perangkat lunak yang mengendalikan sistem telekomunikasi dan
keseluruhan proses transmisi.
3. Penyedia Komunikasi Data Suatu perusahaan yang menyediakan jasa atau
layanan komunikasi data.
4. Protokol Komunikasi Aturan untuk mengirimkan informasi pada sistem
Aplikasi Komunikasi Pertukaran data secara elektronik, teleconferencing,
videconferencing, e-mail, reproduksi, dan perpindahan data secara elektronik
untuk memancarkan dan menerima informasi, suatu sistem telekomunikasi harus
melaksanakan sejumlah fungsi terpisah yang transparant kepada pengguna. Sistem
telekomunikasi terdiri dari dua sisi :
1. Pengirim Informasi (Tansmitter of Information)
2. Penerima Informasi (Receiver of Information)

Trend Telekomunikasi di Dunia (skripsi dan tesis)

Trend yang mendasari pertumbuhan sektor telekomunikasi yaitu:
1. Sektor telekomunikasi yang terus tumbuh berkesinambungan. Perserongan
berharap industri telekomunikasi dan kebutuhan atas jasa telekomunikasi akan
meningkat dalam jangka menengah bersamaan dengan berkembang dan
semakin moderen Indonesia dan juga meningkatnya penetrasi fixed wireless di
Indonesia.
2. Migrasi trafik suara dan data ke layanan nirkabel. Perseroan
memprediksikan layanan nirkabel akan semakin populer akibat dari jangkauan
populasi yang lebih luas, meningkatnya kualitas jaringan, semakin
terjangkaunya harga ponsel dan semakin banyaknya paket layanan prabayar.
Munculnya paket data internet bagi kelas menengah ke bawah, yang
memberikan penawaran layanan data dan suara dasar dengan harga yang
kompetitif dan kecil pada khususnya, telah memperluas pasar yang dapat
dilayani oleh operator.
3. Stabilnya tingkat pemakaian fasilitas telekomunikasi. Pertumbuhan atas
penggunaan layanan data dan SMS diprediksikan akan mengalami peningkatan
di tahun-tahun mendatang. Hal tersebut akan membantu menstabilisasi
penurunan dari layanan suara.
4. Meningkatnya tingkat kompetisi jasa pelayanan telekomunikasi. Dengan
adanya investasi yang dilakukan operator-operator telekomunikasi asing di
Indonesia, persaingan akan semakin meningkat dalam jangka menengah
apabila para pemain baru yang memasuki pasar mampu mengembangkan
jaringan yang ekstensif dan menawarkan layanan yang berkualitas.

Peranan dan Aturan Telekomunikasi (skripsi dan tesis)

Teknologi telekomunikasi yang ditulang punggungi teknologi elektronika
merupakan sarana yang berguna untuk mengatasi problematika masyarakat
pedesaan terutama petani. Masyarakat pedesaan menginginkan adanya
kehidupan yang lebih baik. Konsep “Kehidupan Yang Baik” menurut Redfield
(1982) disini melukiskan nilai-nilai masyarakat, validitas perbandingan yang
didasarkan pada berbagai ragam jenis sumber informasi termasuk teknologi
telekomunikasi yang begitu jauhnya terpisah, dan nilai generalisasi yang
diberikan kepada masyarakat.
Salah satu peranan telekomunikasi adalah sebagai penunjang keberhasilan
pembangunan Nasional yang merambah ke masyarakat dalam bentuk
pertukaran informasi untuk kelancaran berkomunikasi. Peranan telekomunikasi
pada masyarakat tidak hanya memfasilitasi dan melayani dalam perkembangan
ekonomi di masyarakat tersebut, tetapi juga dapat memperbaiki infrastuktur
masyarakat. hal ini menyebabkan diterbitkannya beberapa peraturan yang
secara khusus menggabungkan beberapa aspek yaitu Undang-undang
no.11/2008 tanggal 21 april 2008 tentang transaksi dan informasi elektronik
(“UU no.11/2008”), memungkinkan Telekomunikasi untuk dapat
menyelenggarakan dan memperluas usaha di bidang informasi dan transaksi
elektronik, termasuk e-payment.

Definisi dan Sejarah Singkat Telekomunikasi (skripsi dan tesis)

berasal dari bahasa Yunani, artinya proses pertukaran informasi antar dua buah pihak pada jarak tertentu. Kini berkembang dengan melewatkan sinyal dari suatu pemancar ke penerima atau sebaliknya. Pemilihan perangkat transportasi untuk pengiriminan sinyal yang baik telah menjadi peranan mendasar untuk mencapai komunikasi yang efektif. “Perusahaan Telekomunikasi sudah ada sejak masa Hindia Belanda dan yang menyelenggarakan adalah pihak swasta. Sedangkan perusahaan Telekomunikasi Indonesia sendiri juga termasuk bagian dari perusaahaan tersebut yang mempunyai bentuk badan usaha Post-en Telegraaflent dengan Staats blaad No.52 tahun 1884. Dan sejak tahun 1905 perusahaan Telekomunikasi sudah berjumlah 38 perusahaan. Namun setelah itu pemerintah Hindia Belanda mengambil alih perusahaan tersebut yang berdasar kepada Staatsblaad tahun 1906 dari sejak itu berdirilah Post, Telegraf en Telefoon Dients (PTT-Dients),dan perusahaan ini ditetapkan sebagai Perusahaan Negara berdasar Staats blaad No.419 tahun 1927 tentang Indonesia Bedrijven Weet”. (I.B.W Undang-Undang Perusahaan Negara).

Perkembangan Telekomunikasi di Indonesia (skripsi dan tesis)

Perkembangan telekomunikasi di Indonesia sudah mencapai tahap yang
mengagumkan. Interaksi yang tercapai antara manusia dengan teknologi seperti
telepon, komputer, camera, dan sistem digital telah berakibat terjadinya perubahan
dalam pola hidup dari manusia modern bahkan sampai pada masyarakat pedesaan.
Perkembangan teknologi telekomunikasi menurut Harmoko (1992)
dimungkinkan oleh adanya terobosan-terobosan di bidang elektronika dan
komputer. Perkembangan masyarakat yang semakin menghendaki kemudahankemudahan hubungan dengan beraneka ragam jasa telekomunikasi ikut pula
menjadi daya tarik berkembangnya teknologi telekomunikasi bahkan teknologi
informasi juga ikut berkembang. Persaingan di bidang ekonomi, semakin
memerlukan pengelolaan usaha yang efisien dan efektif untuk menghasilkan
produk-produk yang berkualitas tinggi dengan biaya serendah mungkin.

Pengaruh Kepercayaan Terhadap Niat Untuk Bertransaksi Online (skripsi dan tesis)

Risiko dan kepercayaan memiliki hubungan erat karena kepercayaan akansulit timbul apabila masih terdapat risiko yang terlalu besar (Artha, 2011). Mayeret al (1995) mendefinisikan kepercayaan sebagai perilaku seseorang yangdidasarkan pada keyakinan mereka terhadap karakteristik orang lain. Penelitian Permatasari (2015), Yutadi (2015), dan Sulistyowati (2016) menemukan adanya pengaruh yang signifikan antara variabel kepercayaan terhadap keputusan pembelian secara online.

Pengaruh Keamanan Terhadap Niat Untuk Bertransaksi Online (skripsi dan tesis)

Keamanan merupakan salah satu masalah penting yang dihadapi penggunainternet. Kejahatan dalam media internet berjumlah sangat besar serta memiliki bentuk yang beragam karena beberapa alasan. Pertama, identitas individu, atau organisasi dalam dunia internet mudah untuk dipalsukan, tetapi sulit dibuktikan secara hukum (Jarvenpaa dan Grazioly, 1999). Kedua tidak membutuhkan sumber daya ekonomi yang besar untuk melakukan kejahatan dalam internet. Ketiga internet menyediakan akses yang luas pada pengguna yang potensial menjadi korban. Keempat kejahatan dalam internet, identitas pelaku tidak dikenal dan secara yuridis sulit mengejar pelaku. Penelitian Permatasari (2015), Yutadi (2015), dan Sulistyowati (2016) menemukan adanya pengaruh yang signifikan antara variabel keamanan terhadap keputusan pembelian secara online.

Pengaruh Privasi Terhadap Niat Untuk Bertransaksi Online (skripsi dan tesis)

Secara umum privasi mengacu pada perlindungan informasi pribadi. Chau., et al (1999) mendefinisikan adalah hak individu untuk menjadikan dirinya sendiri dengan mempertimbangkan beberapa dimensi privasi seperti, prilaku, komunikasi, dan data pribadi. Dalam internet, privasi mempengaruhi aspek seperti distribusi, atau penggunaan non-autorised informasi pribadi (Wang et al., 1998). Kapasitas pertumubuhan teknologi baru untuk mengolah informasi, plus kompleksitas menjadikan privasi isu penting. Fakta ini semakin meningkatkan kecurigaan konsumen seperti bagaimana data pribadi dikumpulkan diproses dalam transaksi online (Flavio dan Gunalu, 2006). Untuk mengurangi kecurigaan konsumen mengenai penanganan data pribadi keamanan sistem sangat penting yang dapat menjamin kemanan data pribadi.