Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas produk


Menurut Menurut Kotler dan Keller (2012) faktor-faktor
kualitas produk adalah sebagai berikut :

  1. Pasar (market), jumlah produk baru dan baik yang ditawarkan
    dipasar terus bertambah pada laju yang eksplosif.
  2. Uang (money), meningkatnya persaingan dalam banyak bidang
    bersamaan dengan fluktuasi ekonomi dunia telah menurunkan
    batas (margin) laba.
  3. Manajemen (management), tanggung jawab kualitas telah
    didistribusikan antara beberapa kelompok khusus.
  4. Manusia (man), pertumbuhan yang cepat dalam pengetahuan
    teknis dan penciptaan seluruh bidang baru seperti elektonika
    komputer menciptakan suatu permintaan yang besar akan
    pekerja dengan pengetahuan khusus.
  5. Motivasi (motivation), penelitian tentang motvasi manusia
    menunjukkan bahwa sebagai hadiah tambahan uang.
  6. Bahan (material), disebabkan oleh biaya produksi dan
    persyaratan kualitas.
  7. Mesin dan mekanis (machine and mecanization), kualitas yang
    baik menjadi faktor yang kritis dalam memelihara waktu kerja
    mesin agar fasilitasnya dapat digunakan sepenuhnya.
  8. Metode informasi modern (modern information method),
    evolusi teknologi komputer membuka kemungkinan untuk
    mengumpulkan, menyimpan, mengambil kembali,
    memanipulasi informasi pada skala yang tidak terbayangkan
    sebelumnya.
  9. Persyaratan proses produksi (morning product requirement),
    kemajuan yang pesat dalam perancangan produk, memerlukan
    pengendalian yang lebih ketat pada seluruh proses pembuatan
    produk

Pengertian Kualitas Produk


Produk merupakan inti dari sebuah kegiatan pemasaran karena
produk merupakan output atau hasil dari salah satu kegiatan atau
aktivitas perusahaan yang dapat ditawarkan kepasar sasaran untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Pada dasarnya
dalam membeli suatu produk, seorang konsumen tidak hanya
membeli produk, akan tetapi konsumen juga membeli manfaat atau
keunggulan yang dapat diperoleh dari produk yang dibelinya. Oleh
karna itu suatu produk harus harus memiliki keunggulan dari
produk-produk yang lain, salah satunya dari segi kualitas produk
yang ditawarkan. Menurut Kotler dan Keller (2012) kualitas
produk adalah kemampuan sebuah produk dalam mempergerakan
fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas,
ketepatan, kemudahan pengoperasian, dan reparasi produk juga
atribut produk lainnya. Sedangkan menurut Garvin (2010) kualitas
adalah keunggulan yang dimiliki produk tersebut. Kualitas dalam
pendangan konsumen adalah hal yang mempunyai ruang lingkup
tersendiri yang berbeda dengan kualitas dalam pandangan produsen
saat mengeluarkan suatu produk yang biasa dikenal sebagai
kualitas sebenarnya.
Menurut Fandy Tjiptono (2015:231), dari sudut pandang
pemasar, kualitas produk merupakan segala sesuatu yang dapat
ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli,
digunakan, dan dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan
atau keinginan pasar bersangkutan. Dan jika dari perspektif
konsumen, produk adalah segala sesuatu yang diterima konsumen
dari sebuah pertukaran dengan pemasar. Sedangkan menurut
Mowen (2012) kualitas produk adalah proses evaluasi secara
keseluruhan kepada pelanggan atas perbaikan kinerja suatu produk.
Kualitas produk memiliki suatu ketertarikan bagi konsumen dalam
mengelola hubungan yang baik dengan perusahaan penyedia
produk. Berdasrkan beberapa definisi diatas dapat disimpukan
bahwa kualitas produk adalah kemampuan suatu produk dalam
memenuhi keinginan konsumen. Keinginan konsumen tersebut
diantaranya daya tahan produk, keandalan produk, kemudahan
pemakaian, serta atribut bernilai lainnya yang bebas dari
kekurangan dan kerusakan

Tujuan dalam menetapkan harga


Menurut Fandy Tjiptono dalam Hadiyuda (2014) menyatakan
bahwa terdapat empat (4) macam tujuan dalam menetapkan harga,
yaitu:

  1. Tujuan mengacu terhadap laba, perusahaan memilih harga
    untuk dapat mengasilkan laba yang tinggi.
  2. Tujuan mengacu pada citra, perusahaan dapat menetapkan
    harga tinggi dalam membentuk citra prestisius dan harga
    tertentu citra nilai tertentu.
  3. Tujuan mengacu pada volume penjualan, menetapkan harga
    agar bisa mencapai target volume penjualan.
  4. Tujuan mengacu pada stabilitas harga, perusahaan
    mempertahankan untuk hubungan yang stabil antara harga dari
    perusahaan dengan harga pemimpin

Indikator dari harga


Menurut Kotler dan Amstrong (2012) indikator yang dimiliki
harga adalah sebagai berikut:
1) Keterjangkauan harga, konsumen bisa menjangkau harga yang
telah ditetapkan oleh perusahaan. Produk biasanya ada beberapa
jenis dalam satu merk dan harganya juga berbeda dari termurah
sampai termahal.
2) Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga, konsumen
sering membandingkan harga suatu produk dengan produk
lainnya. Dalam hal ini mahal murahnya harga suatu produk
sangat dipertimbangkan oleh konsumen pada saat membeli
produk tersebut.
3) Kesesuaian harga dengan kualitas produk, harga sering kali
dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen orang sering
memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena
mereka melihat adanya perbedaan kualitas.
4) Kesesuaian harga dengan manfaat, konsumen memutuskan
membeli suatu produk jika manfaat yang dirasakan lebih besar
atau sama dengan yag telah dikeluarkan untuk mendapatkannya.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) didalam variabel harga
ada beberapa unsur kegiatan utama yaitu, meliputi imbalan, diskon,
dan bonus. Teori nilai ini kemudian berkembang melahirkan teori
imbalan yang dikemukakan oleh Lorenzo (2016:37) bahwa setiap
aktivitas transaksi produk dan jasa selalu menyertakan harga
imbalan sebagai kesepakatan. Imbalan adalah balas jasa atas
kegiatan transaksi produk yang saling menguntungkan oleh pihak
produsen dan konsumen atau dengan kata lain provider dan
pelanggan. Pada berbagai kegiatan pemasaran produk dan jasa,
aktivitas penentuan harga menjadi penting dan krusial. Umumnya
pelanggan atau konsumen menghendaki harga yang lebih murah.
Teori potong harga atau diskon merupakan konsepsi tentang
penghargaan dan kejadian transaksi. Muller (2013:25)
mengemukakan bahwa teori potong harga (discount) merupakan
sebuah tindakan dan perilaku yang mengapresiasikan pentingnya
harga untuk menarik keuntungan. Artinya, pemberian diskon
merupakan sebuah daya tarik untuk mendapatkan keuntungan
dengan memberikan penghargaan dan manfaat atas produk dan jasa
yang dibeli. Pemberian bonus menjadi nilai keuntungan yang
dirasakan oleh pelanggan dan menjadi keuntungan bagi pemberi
bonus. Bonus merupakan dua sisiyang saling menguntungkan baik
dari pihak produsen dan konsumen atau dari provider dan
pelanggan

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menetapkan harga


Menurut Kotler dan Amstrong (2012) penetapan harga yaitu
merupakan keputusan tentang harga yang akan diikuti dalam
jangkawaktu tertentu untuk membuat konsumen agar menjadi
tertarik melakukan pembelian. Harga ditetapkan dengan
mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Elastisitas dengan harga permintaan
    Efektivitas program penetapan harga tergantung pada dampak
    perubahan harga terhadap permintaan, karena perubahan unit
    penjualan sebgai akibat perubahanharga perlu diketahui.
    Namun, perubahan harga memiliki damapak ganda terhadap
    penerimaan penjualan perusahaan, yakni perubahan unit
    penjualan dan perubahan penerimaan per-unit.
  2. Faktor persaingan
    Reaksi persaing terhadap perubahan harga merupakan salah
    satu faktor penting yang perlu dipertimbangkan setiap
    perusahaan. Jika perubahan harga disamai oleh semua pesaing,
    maka sebenarnya tidak akan ada perubahan pangsa pasar.
    Dalam hal ini pengurangan harga tidak akan berdampak pada
    permintaan selektif.
  3. Faktor biaya
    Struktur biaya perusahaan (biaya tetap dan biaya variabel)
    merupakan faktor pokok yang menentukan batas bawah harga.
    Artinya tingkat harga minimal harus bisa menutup biaya
    (setidaknya biaya variabel).
  4. Faktok lini produk
    Perusahaan bisa menambah lini produknya dalam rangka
    memperluas served market dengan cara perluasan ini dalam
    bentuk perluasan vertikal dan perluasan horizontal.
  5. Faktor pertimbangan lain dalam penetapan harga
    Faktor-faktor lain yang harus juga dipertimbangkan dalam
    rangka merancang program penetapan harga antara lain,
    lingkungan politik dan hukum, lingkungan internasional, dan
    unsur harga dalam program pemasaran lain

Pengertian Harga


Perusahaan mampu bertahan ditengah persaingan yang ketat
apabila perusahaan tersebut berhasil dalam memadukan keempat
varial bauran pemasaran, yaitu harga, produk, promosi, dan saluran
distribusi dengan tepat. Harga memiliki peranan yang sangat
penting dalam mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli
produk atau jasa, sehingga sangat menentukan keberhasilan
pemasaran suatu produk dan jasa. Disamping itu harga merupakan
unsur dari bauran pemasaran yang bersifat fleksibel, yang artinya
dapat diubah dengan cepat. Definisi harga menurut Kotler dan
Amstrong (2012) dalam artian sempit harga dapat didefiniskan
sebagai jumlah uang yang ditagihkan untuk suatu produk atau jasa,
atau dapat didefiniskan secara luas harga adalah sebagai jumlah
nilai yang ditukarkan konsumen untuk keuntungan memiliki dan
menggunakan produk atau jasa yang memungkinkan perusahaan
mendapatkan laba yang wajar dengan cara dibayar untuk nilai
pelanggan yang diciptakannya.
Definisi harga menurut Buchari Alma (2015) harga adalah
nilai suatu produk untuk ditukarkan dengan produk lain. Nilai ini
dapat dilihat dalam situasi barter yaitu pertukaran barang dengan
barang. Sekarang ini ekonomi kita tidak melakukan barter lagi,
akan tetapi menggunakan uang sebagai ukuran yang disebut harga.
Lalu Kotler (2014) juga menjelaskan bahwa harga adalah
penetapan balas jasa sesuai dengan nilai produk.Harga sangat
penting dalam menentukan nilai suatu produk nilai produk
tergantung pada harganya, nilai produk ditentukan berdasarkan
harganya. Pernyataan ini biasa dikenal dengan teori nilai. Semakin
mahal harga produk, maka semakin tinggi nilainya.
Menurut Philip Kotler (2012) harga adalah jumlah uang yang
harus dibayar pelanggan untuk produk yang akan dibelinya.
Menurut kebijakan mengenai harga sifat hanya sementara, itu
berarti produsen harus mengikuti perkembangan harga dipasar dan
harus mengetahui posisi perusahaan dalam situasi pasar secara
keseluruhan. Dari beberapa definisi menurut para ahli diatas dapat
disimpulkan harga adalah nilai uang yang harus dibayarkan oleh
konsumen kepada penjual atas barang atau jasa yang dibelinya,
dengan kata lain harga adalah nilai suatu barang yang ditentukan
oleh penjual

Indikator minat beli


Menurut Kotler dalam Abzari, et al (2014) ada beberapa
indikator yang menentukan minat beli, yaitu :
a) Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang dalam
membeli produk.
b) Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang
mereferensikan produk kepada orang lain.
c) Minat preferensial, yaitu menunjukkan perilaku seseorang yang
memiliki preferensial utama pada produk tersebut.
d) Minat eksploratif, yaitu menunjukkan perilaku seseorang yang
selalu mencari informasi mengenai produk yang diminati dan
mencari produk lain yang akan mendukung sifat-sifat positif
dari produk tersebut.
d. Aspek-aspek minat beli
Menurut Lucas dan Britt dalam Wisnu (2016) aspek-aspek
yang terdapat dalam minat beli adalah :
1) Aspek ketertarikan adalah perilaku konsumen yang
menunjukkan adanya pemusatan perhatian yang disertai rasa
senang terhadap suatu produk.
2) Aspek keinginan adalah perilaku konsumen yang menunjukkan
adanya dorongan untuk berkeinginan memiliki suatu produk.
3) Aspek keyakinan, adalah perilaku konsumen yang menunjukkan
adanya rasa percaya diri terhadap kualitas, daya guna dan
manfaat dari membeli suatu produk

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli


Faktor-faktor yang membentuk minat beli menurut Kotler
dalam Abzari, et al (2014), yaitu :
a) Faktor kualitas produk, merupakan atribut produk yang
dipertimbangkan dari segi manfaat fisiknya.
b) Faktor brand / merek, merupakan atribut yang memberikan
manfaat non material, yaitu kepuasan emosional.
c) Faktor kemasan, atribut produk berupa pembungkus dari pada
produk utamanya.
d) Faktor harga, pengorbanan riel dan material yang diberikan oleh
konsumen untuk memproleh atau memiliki produk.
e) Faktor ketersediaan barang, merupakan sejauh mana sikap
konsumen terhadap ketersediaan produk yang ada.
f) Faktor promosi, merupakan pengaruh dari luar yang ikut
memberikan rangsangan bagi konsumen dalam memilih produk

Pengertian Minat Beli


Banyak pakar yang mendefinisikan tentang minat beli
berdasarkan perspektifnya masing-masing meskipun tidak terdapat
satu definisi tunggal yang menjadi rujukan bersama mengenai
minat beli, namun pada intinya mereka menyatakan subtansi yang
sama tentang minat beli. Salah satu bentuk dari perilaku konsumen
yaitu minart atau keinginan membeli suatu produk atau layanan
jasa. Bentuk dari konsumen minat beli adalah konsumen potensial
yaitu konsumen yang belum melakukan tindakan pembelian pada
masa sekarang dan kemungkinan akan melakukan tindakan
pembelian pada masa yang akan datang atau bisa disebut sebagai
calon pembeli.Menurut Kotler dalam Abzari, et al (2014) minat
beli adalah perilaku konsumen dimana konsumen memiliki
keinginan dalam memilih dan mengkonsumsi suatu produk. Minat
beli akan timbul apabila seseorang konsumen sudah berpengaruh
terhadap mutu dan kualitas dari suatu produk dan informasi suatu
produk. Menurut Engel dalam Nih Luh Julianti (2014) berpendapat
bahwa minat beli sebagai kekuatan pendorong atau sebagai motif
yang bersifat instristik yang mampu mendorong seseorang untuk
menaruh perhatian secara spontan, wajar, mudah, tanpa paksaan
dan selektif pada suatu produk untuk kemudian mengambil
keputusan membeli. Hal ini dimungkinkan oleh adanya kesesuaian
dengan kepentingan individu yang bersangkutan serta memberi
kesenangan dan kepuasan pada dirinya. Jadi sangatlah jelas bahwa
minat beli diartikan sebagai suatu sikap menyukai yang ditunjukan
dengan kecenderungan untuk selalu membeli yang sesuai dengan
kesenangan dan kepentingannya. Sedangkan Menurut Durianto
(2013) minat beli adalah keinginan untuk membeli produk.
Menurut Assael Sukmawati dan Suyono dalam Pramono
(2012) minat beli adalah tahap dimana konsumen membentuk
pilihan mereka diantara beberapa merek yang tergabung dalam
perangkat pilihan. Kemudian pada akhirnya melakukan suatu
pembelian pada suatu alternatif yang paling disukainya atau proses
yang dilalui konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa yang
didasari oleh bermacam pertimbangan. Kemudian Kotler, Bowen,
dan Makens (2014) menyatakan bahwa minat beli timbul setelah
adanya proses evaluasi alternatif. Dalam proses evaluasi seseorang
akan membuat suatu rangkaian pilihan mengenai produk yang
hendak dibeli atas dasar merek maupun niat. Menurut Ferdinand
(2016) minat beli konsumen dapat diartikan sebagai minat beli
yang mencerminkan hasrat dan keinginan konsumen untuk
membeli suatu produk. Berdasarkan dari beberapa definisi diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa minat beli adalah perilaku
konsumen dimana konsumen memiliki keinginan dalam memilih
dan mengkonsumsi suatu produk dengan merk yang berbeda,
kemudian melakukan suatu pilihan yang disukainya dengan cara
membayar uang atau dengan pengorbanan

Hubungan Citra Merek terhadap Minat Beli Ulang


Citra merek diartikan sebagai ingatan akan suatu merek atau produk yang
terbentuk di benak konsumen. Sehingga konsumen akan lebih bersedia untuk
memilih produk yang sudah dikenal memiliki citra merek yang positif. Oleh karena
itu, sangat penting bagi produsen untuk menjaga citra merek yang baik dari
produknya di benak konsumen. Munculnya niat beli kembali suatu produk pada
konsumen disebabkan oleh pengaruh dari produk itu sendiri
Brand image juga merupakan pondasi penting untuk menarik minat beli
ulang konsumen. Ketika konsumen mengukur suatu merek melalui kualitas,
keandalan, dan nilai tambah, minat beli ulang cenderung akan meningkat. Sebuah
brand image yang kuat akan membangun kepercayaan dan loyalitas, dapat
menimbulkan minat beli ulang yang kuat, serta pengaruh positif terhadap
pertumbuhan dan kesuksesan merek dalam pasar.
Citra merek memiliki keterkaitan terhdap minat beli ulang, karena dengan
adanya citra merek yang positif dapat menarik dan juga meningkatkan minat
konsumen untuk membeli kembali produk atau layanan yang ditawarkan. Dengan
adanya keyakinan oleh konsumen terhdap suatu merek maka citra merek dianggap
memiliki hubungan yang signifikan terhadap minat beli ulang

Hubungan Kredibilitas Selebrity Endorser terhadap Minat Beli Ulang


Kredibilitas celebrity endorser di artikan sebagai sebuah kepercayaan
kepada seorang celebrity endorser, dengan adanya kepercayaan yang dibangun
oleh celebrity endorser maka akan mempengaruhi kepercayaan para pengikutnya
melalui segala informasi yang di sampaikan, dengan kepercayaan yang telah di
bangun dengan baik maka seorang celebrity endorser akan sangat mudah
mempengaruhi minat beli ulang jika melakukan promosi kepada para konsumen.
Kredibilitas selebrity endorser memiliki peran penting dalam
mempengaruhi minat beli ulang calon konsumen terhadap produk atau jasa yang
iklankan. Apabila seorang selebriti mempunyai reputasi yang baik dan dihormati
dalam bidangnya, pengikutnya cenderung untuk mengaitkan reputasi positif
tersebut dengan produk yang diiklankan.
Selain itu pemilihan selebrity sebagai endorser suatu produk harus
disesuaikan menurut sikap maupun karakteristik agar sesuai dengan produk yang
akan ditawarkan sehingga calon konsumen akan lebih mudah menerima pesan yang
di sampaikan dan berminat untuk membeli kembali.

Citra Merek


Menurut (Intan & Hardjanti, 2020) Citra terhadap sebuah merek
bersangkutan dengan sikap yang berupa kepercayaan dan preferensi terhadap
sebuah merek, Merek bisa dideskripsikan dengan karakteristik-karaktetristik
terentu. Semakin baik pemaparan dari karakteristik merek, maka semakin kuat citra
merek dan semakin besar kesempatan untuk pertumbuhan citra itu. Selain itu, citra
merek didefinisikan juga sebagai salah satu peran penting dalam membedakan
penyedia layanan dengan para pesaing lainnya (Novriani, 2022)
Citra merek adalah pemikiran setiap konsumen terhadap suatu produk
berdasarkan pemikiran, perasaan, dan visualisasi yang diterima pengunjung,
keduanya dirasakan secara langsung, serta informasi dari media (Nimas Bidari &
Kurniawan, 2023). Citra merek merupakan ciri khas, nama, istilah, desain, atau
kombinasi yang menampilkan identitas produk baik barang atau jasa, serta dapat
dijadikan pembeda suatu produk dengan produk pesaing lainnya (Iswara & Santika,
2019). Citra merek (Brand Image) adalah pengamatan dan kepercayaan yang
digenggam konsumen, seperti yang dicerminkan di asosiasi atau diingatan
konsumen (Rachmawati et al., 2024).
Brand image diartikan sebagai suatu gambaran atau kesan yang ditunjukkan
oleh suatu merek didalam benak pelanggan (I Gusti Ayu Elsa Permata Sari, dkk,
2022). Citra merek merupakan sebuah jati diri dari produk yang berada di dalam
benak konsumen. Citra merek sendiri dapat berupa logo, nama merek, semboyan
ataupun slogan dari suatu perusahaan, pemasar produk atau jasa (Amalia & Riva’i,
2022). Brand Image merupakan ingatan pada suatu merek yang dibentuk serta
29
ditanamkan pada seorang individu dalam pikiran mereka. Konsumen yang sudah
terbiasa dengan suatu merek tertentu mampu membangun citra merek yang
konsisten (Putri et al., 2022)
Merek atau brand, dalam suatu perusahaan merupakan suatu pengenal.
Lebih dari sekedar lambang ataupun nama (Suardhita & Rafik, 2019). Brand Image
adalah wujud dari keseluruhan persepsi terhadap sebuah merek dan dibentuk dari
informasi dan pengalaman masa lalu terhadap sebuah merek (Prihartini et al.,
2022). Brand image juga merupakan sebuah persepsi atau suatu keyakinan terhada
brand atau merek yang melekat pada produk sehingga memungkinkan konsumen
untuk melakukan pembelian (Prisca, dkk, 2020). Citra merek dalam penelitian ini
melambangkan keseluruhan persepsi konsumen terhadap merek yang muncul
karena informasi dan pengalaman konsumen pada suatu merek.
Adapun komponen-komponen yang terkandung dalam citra merek atau
brand image (Joseph, 2020) diantara lain yaitu sebagai berikut:

  1. Attributes (atribut)
    Atribut merupakan penjelasan secara deskriptif terhadap fitur-fitur yang
    melekat pada sebuah produk atau jasa. Berikut hal-hal yang ada di dalam
    komponen atribut yakni:
    a. Product related attributes (atribut produk). Merupakan berbagai hal
    yang diperlukan agar fungsi produk yang ditawarkan kepada kondumen
    dapat berfungsi dengan baik. Hal tersebut berhubungan dengan
    komposisi fisik atau persyaratan dari suatu jasa yang ditawarkan.
    b. Non-product related attributes (atribut non-produk). Merupakan aspek
    eksternal dari sebuah produk yang berhubungan dengan pembelian dan
    konsumsi suatu produk atau jasa. beruapa informasi tentang harga,
    kemasan dan desain produk, orang, per group atau selebriti yang
    menggunakan produk atau jasa tersebut, bagaimana dan dimana produk
    atau jasa itu digunakan.
  2. Benefits (keuntungan)
    Benefits atau keuntungan adalah nilai personal yang konsumen kaitkan pada
    atribut-atribut produk atau jasa tersebut. Adapun hal-hal yang perlu ada
    dalam komponen benefits adalah:
    a. Functional benefits, digunakan untuk pemenuhan kebutuhan dasar
    seperti kebutuhan fisik dan keamanan atau pemecahan masalah.
    b. Experiental benefits, dihubungkan dengan perasaan yang muncul
    dengan menggunakan suatu produk atau jasa. Benefit ini dimaksudkan
    untuk memenuhi kebutuhan bereksperimen seperti kepuasan sensori.
    c. Symbolic benefits, dihubungkan dengan kebutuhan akan persetujuan
    sosial atau ekspresi personal dan self-esteem seseorang. Konsumen
    akan menghargai nilai-nilai prestise, eksklusivitas dan gaya fashion
    karena hal tersebut berhubungan dengan konsep diri mereka.
  3. Brand Attitude (sikap merek)
    Brand attitude atau sikap merek merupakan penilaian keseluruhan atas
    suatu merek, seperti apa saja yang dipercayai oleh konsumen mengenai
    merek-merek tertentu , serta sejauh apa konsumen percaya bahwa produk
    atau jasa tersebut memiliki atribut atau keuntungan tertentu, dan penilaian
    evaluatif terhadap kepercayaan tersebut bagaimana baik atau buruknya
    suatu produk jika memiliki atribut atau keuntungan tersebut.
    (Schiffman, Leon G. Kanuk, 2021) menyebutkan faktor-faktor pembentuk citra
    merek yaitu:
  4. Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk barang yang
    ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu.
  5. Dipercaya atau diandalkan. Berkaitan dengan pendapat atau kesepakatan
    yang dibentuk oleh masyarakat tentang suatu produk yang dikonsumsi.
  6. Kegunaan atau manfaat yang terkait dengan fungsi dari suatu produk barang
    yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.
  7. Harga, yang dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak
    sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk mempengaruhi
    suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra jangka panjang.
  8. Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri, yaitu berupa pandangan,
    kesepakatan dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari produk
    tertentu.
    Menurut (Kotler & Keller, 2021) Citra merek adalah proses dimana seseorang
    memilih, mengorganisasikan, dan mengartikan masukan informasi untuk
    menciptakan suatu gambaran yang berarti. Citra merek diperlukan sebagai sebuah
    identitas atau daya tarik tersendiri untuk menarik minat konsumen berdasarkan
    persepsi konsumen terhadap sebuah merek. Terdapat 3 indikator brand image (citra
    merek) menurut (Kotler & Keller, 2021) diantaranya adalah:
  9. Keunggulan, merupakan kinerja suatu merek untuk mudah dikenal oleh
    pembeli serta mempunyai kelebihan dalam persaingan.
  10. Kekuatan, merupakan ukuran seberapa kuat interaksi yang bisa dibuat oleh
    merek dengan pembeli.
  11. Keunikan, merupakan kesanggupan untuk membedakan sebuah merek
    diantara merek-merek yang lainnya.