Teori Kepribadian Big Five (skripsi dan tesis)

Ada beberapa pendekatan yang dikemukakan oleh para ahli untuk memahami kepribadian. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah teori trait. Teori trait merupakan sebuah model untuk mengidentifikasi trait-trait dasar yang diperlukan untuk menggambarkan suatu kepribadian. Trait didefinisikan sebagai suatu dimensi yang menetap dari karakteristik kepribadian, hal tersebut yang membedakan individu dengan individu yang lain. Selama beberapa tahun debat diantara para tokoh-tokoh teori trait mengenai jumlah serta sifat dimensi trait yang dibutuhkan dalam menggambarkan kepribadian. Sampai pada tahun 1980-an setelah ditemukan metode yang lebih canggih dan berkualitas, khususnya analisa faktor, mulailah ada suatu kensensus tentang jumlah trait. Saat ini para peneliti khususnya generasi muda menyetujui teori trait yang mengelompokkan trait menjadi lima besar, dengan dimensi bipolar (Pervin & John, 2001) yang disebut Big Five

Faktor–faktor yang Mempengaruhi Kepribadian (skripsi dan tesis)

Secara khusus faktor-faktor yang memperngaruhi terbentuknya kepribadian ada dua yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan (Pervin & John, 2001).

. Faktor genetik

Faktor genetika mempunyai peranan penting didalam menentukan kepribadian khususnya yang terkait dengan aspek yang unik dari individu (dalam Pervin & John, 2001).

b. Faktor lingkungan

Faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang membuat seseorang sama dengan orang lain karena berbagai pengalaman yang dialaminya. Faktor lingkungan terdiri dari faktor budaya, kelas sosial, keluarga, teman sebaya, situasi. Salah satu faktor lingkungan yang paling penting adalah pengaruh keluarga (Collins et al., 2000; Havelson & Wampler, 1997; Maccoby, 2000 dalam Pervin & John, 2001).

Orang tua yang hangat atau yang kasar dan menolak, akan mempengaruhi perkembangan kepribadian anak. Menurut Pervin & John (2001), lingkungan teman mempunyai pengaruh dalam perkembangan kepribadian. Pengalaman pada masa kecil dan remaja dalam suatu kelompok mempunyai pengaruh terhadap perkembangan kepribadian. Situasi, mempengaruhi dampak keturunan dan lingkungan terhadap kepribadian. Kepribadian seseorang, walaupun pada umumnya mantap dan konsisten, berubah dalam situasi yang berbeda. Tuntutan yang berbeda dari situasi yang berlainan memunculkan aspek-aspek yang berlainan dari kepribadian seseorang. Diantara faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepribadian adalah pengalaman individu sebagai hasil dari budaya tertentu. Masing-masing budaya mempunyai aturan dan pola sangsi sendiri dari perilaku yang dipelajari, ritual dan kepercayaan. Hal ini berarti masing-masing anggota dari suatu budaya akan mempunyai karakteristik kepribadian tertentu yang umum (Pervin & John, 2001). Faktor lain yaitu faktor kelas sosial membantu menentukan status individu, peran yang mereka mainkan, tugas yang diembannya dan hak istimewa yang dimiliki. Faktor ini mempengaruhi bagaimana individu melihat dirinya dan bagaimana mereka mempersepsi anggota dari kelas sosial lain (Pervin & John, 2001).

Pengertian Kepribadian (skripsi dan tesis)

Kepribadian memiliki banyak arti. Beberapa teori lebih condong untuk melihat kepribadian sebagai suatu kesatuan yang utuh sedangkan beberapa teori lainnya memfokuskan kepribadian dalam lingkup ciri-ciri yang khas. Kepribadian atau personality berasal dari kata persona yang berarti topeng, yakni alat untuk menyembunyikan identitas diri. Bagi bangsa Romawi persona berarti, “bagaimana seseorang tampak pada orang lain”, jadi bukan diri yang sebenarnya. Adapun pribadi yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris person, atau persona dalam bahasa Latin yang berarti manusia sebagai perseorangan, diri manusia atau diri orang sendiri (Djaali, 2008). Kepribadian menurut Allport adalah organisasi dinamik dalam sistem psikofisik individu yang menentukan penyesuaiannya yang unik dengan  lingkungannya.

Suatu fenomena dinamik yang memiliki elemen psikologik dan fisiologik, yang berkembang dan berubah, yang memainkan peran aktif dalam berfungsinya individu (Alwisol, 2004). Eysenck juga mendefinisikan kepribadian merupakan keseluruhan pola tingkah laku aktual maupun potensial dari organisme, sebagaimana ditentukan oleh keturunan dan lingkungan. Pola tingkah laku itu berasal dan dikembangkan melalui interaksi fungsional dari empat sektor utama yang mengorganisir perilaku; sektor kognitif (intelligence), sektor konatif (character), sektor afektif (temperament) dan sektor somatik (constitution) (Alwisol, 2004).

Kemudian, pengertian kepribadian menurut Sigmund Freud adalah pertarungan antara id, ego, dan super ego. Id adalah bagian kepribadian manusia yang mengendalikan dorongan biologis, seprti dorongan sex dan sifat agresif, id bertindak atas prinsip kesenangan semata, sehingga seringkali disebut tabiat hewani manusia. Super ego adalah hati nurani yang bertindak atas prinsip moral. Super ego merupakan internalisasi dari norma sosial dan cultural masyarakatnya, id dan super ego seringkali bertentangan. Ego merupakan kepribadian yang menjembatani antarkeinginan id dan aturan yang ditentukan oleh super ego. Baik id, ego, dan super ego, ketiganya berada dalam alam bawah sadar manusia (Djaali, 2008). Kemudian pengertian yang sedikit berbeda diungkap oleh Jung bahwa kepribadian adalah mencakup keseluruhan fikiran, perasaan dan tingkah laku, kesadaran dan ketidaksadaran (Alwisol, 2004). Berdasarkan pada beberapa definisi di atas, maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa kepribadian adalah suatu ciri 19 individu yang membedakan antara satu individu dengan individu lainnya dalam membentuk tingkah laku.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Regulasi Emosi (skripsi dan tesis)

 

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan regulasi emosi seseorang, yaitu:

a. Usia

Penelitian menujukkan bahwa bertambahnya usia seseorang dihubungkan dengan adanya peningkatan kemampuan regulasi emosi, dimana semakin tinggi usia seseorang semakin baik kemampuan regulasi emosinya. Sehingga dengan bertambahnya usia seseorang menyebabkan ekspresi emosi semakin terkontrol, Maider (dalam Coon, 2005; dalam Ikhwanisifa, 2008).

b. Jenis Kelamin

Penelitian menemukan bahwa laki-laki den perempuan berbeda dalam mengekspresikan emosi baik verbal maupun ekspresi wajah sesuai dengan gendernya. Perbedaan gender dalam pengekspresian emosi dihubungkan dengan perbedaan dalam tujuan laki-laki dan perempuan mengontrol emosinya. Perempuan lebih mengekspresikan emosi untuk menjaga hubungan interpersonal serta membuat mereka tampak lemah dan tidak berdaya. Sedangkan laki-laki lebih mengekspresikan marah dan bangga untuk mempertahankan dan menunjukkan dominasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa wanita lebih dapat melakukan regulasi terhadap emosi marah dan bangga, sedangkan laki-laki pada emosi takut, sedih dan cemas, Fischer (dalam Coon, 2005; dalam Ikhwanisifa, 2008).

c. Religiusitas

Seseorang yang tinggi tingkat religiusitasnya akan berusaha untuk menampilkan emosi yang tidak berlebihan bila dibandingkan dengan orang yang tingkat religiusitasnya rendah, Krause (dalam Coon, 2005; dalam Ikhwanisifa, 2008).

d. Kepribadian

Orang yang memiliki kepribadian neuroticism dengan ciri-ciri sensitif, moody, suka gelisah, sering merasa cemas, panik, harga diri rendah, kurang dapat mengontrol diri dan tidak memiliki kemampuan coping yang efektif terhadap stress akan menunjukkan tingkat regulasi emosi yang rendah, Cohen & Armeli (dalam Coon, 2005; dalam Ikhwanisifa).

e. Pola Asuh

Beberapa cara orang tua mensosialisasikan emosi kepada anaknya diantaranya melalui: pendekatan tidak langsung dalam interaksi keluarga (antara anak dengan orang tua), teknik teaching dan coaching, dan mencocokkan kesempatan dalam lingkungan.

f. Budaya

Regulasi emosi dapat mempengaruhi cara seseorang berespon dalam berinteraksi dengan orang lain dan dalam cara ia meregulasi emosi dari apa yang dianggap sesuai atau culturally permissible, Lazarus (1991 dalam Ikhwanisifa, 2008).

g. Individual Dispositional

Karakteristik kepribadian seperti trait kepribadian yang dimiliki seseorang, dapat mempengaruhi cara seseorang meregulasi emosinya, Brenner & Salovey (1997 dalam Ikhwanisifa, 2008)

Strategi Regulasi Emosi (skripsi dan tesis) Setiap individu memiliki cara dalam melakukan regulasi emosi. Menurut Gross (1998) ada dua strategi dalam melakukan regulasi emosi, yaitu: a. Antecedent-focused strategy Antecedent-focuesed strategy ialah strategi yang dilakukan seseorang saat emosi muncul dan terjadi sebelum seseorang memberi respon terhadap emosi. Antecedent-focused merupakan strategi dalam regulasi emosi dengan mengubah cara berpikir seseorang menjadi lebih positif dalam menafsirkan atau menginterpretasikan suatu peristiwa yang menimbulkan emosi. Oleh karena itu, strategi ini disebut juga dengan cognitive reappraisal. Antecedent-focused strategy dapat mempengaruhi pengaruh kuat dari emosi sehingga respon yang ditampilkan tidak berlebihan. b. Respon-focused strategy Respon-focused strategy ialah bentuk dari pengaturan respon dengan menghambat ekspresi emosi berlebihan yang meliputi ekspresi wajah, nada suara dan perilaku. Strategi ini disebut juga dengan expressive suppression. Respon-focused strategy hanya efektif untuk menghambat respon emosi yang berlebihan, namun tidak membantu mengurangi emosi yang dirasakan. Individu yang sering menggunakan respon-focused strategy membuat seseorang menjadi tidak jujur dengan dirinya sendiri dan orang lain tentang apa yang mereka rasakan serta akan menimbulkan perasaan negatif, daripada individu yang menggunakan antecedent-focused strategy. Penelitian membuktikan bahwa antecedent-focused strategy lebih efektif sebagai strategi regulasi emosi daripada respon-focused strategy.

Setiap individu memiliki cara dalam melakukan regulasi emosi. Menurut Gross (1998) ada dua strategi dalam melakukan regulasi emosi, yaitu:

a. Antecedent-focused strategy

Antecedent-focuesed strategy ialah strategi yang dilakukan seseorang saat emosi muncul dan terjadi sebelum seseorang memberi respon terhadap emosi. Antecedent-focused merupakan strategi dalam regulasi emosi dengan mengubah cara berpikir seseorang menjadi lebih positif dalam menafsirkan atau menginterpretasikan suatu peristiwa yang menimbulkan emosi. Oleh karena itu, strategi ini disebut juga dengan cognitive reappraisal. Antecedent-focused strategy dapat mempengaruhi pengaruh kuat dari emosi sehingga respon yang ditampilkan tidak berlebihan.

b. Respon-focused strategy

Respon-focused strategy ialah bentuk dari pengaturan respon dengan menghambat ekspresi emosi berlebihan yang meliputi ekspresi wajah, nada suara dan perilaku. Strategi ini disebut juga dengan expressive suppression. Respon-focused strategy hanya efektif untuk menghambat respon emosi yang berlebihan, namun tidak membantu mengurangi emosi yang dirasakan. Individu yang sering menggunakan respon-focused strategy membuat seseorang menjadi tidak jujur dengan dirinya sendiri dan orang lain tentang apa yang mereka rasakan serta akan menimbulkan perasaan negatif, daripada individu yang menggunakan antecedent-focused strategy. Penelitian membuktikan bahwa antecedent-focused strategy lebih efektif sebagai strategi regulasi emosi daripada respon-focused strategy.

Manfaat Regulasi Emosi (skripsi dan tesis)

Regulasi emosi bermanfaat untuk menghentikan dan mengatur emosi yang muncul baik itu secara otomatis maupun spontan (tidak sadar) sebelum melakukan aksi dalam peristiwa tertentu. Regulasi emosi juga untuk mengendalikan emosi, mengatur penilaian, mengatur dan meredam reaksi fisiologis dengan melakukan relaksasi atau bernafas panjang. Selain itu, regulasi emosi sangat penting dalam kehidupan manusia, khususnya untuk mereduksi ketegangan yang timbul akibat emosi yang memuncak. Dalam konteks Al-Qur’an juga sebagai pengendalian emosi guna mengurangi ketegangan-ketegangan fisik, psikis dan menghilangkan efek-efek negatif (Hude, 2002).

Ciri-ciri Regulasi Emosi (skripsi dan tesis)

Individu dikatakan mampu melakukan regulasi emosi jika memiliki kendali yang cukup baik terhadap emosi yang muncul. Kemampuan regulasi emosi dapat dilihat dalam lima kecakapan yang dikemukakan oleh Goleman (2004), yaitu:

a. Kendali diri, dalam arti mampu mengelola emosi dan impuls yang merusak dengan efektif.

b. Memiliki hubungan interpersonal yang baik dengan orang lain, artinya lebih peka terhadap perasaan orang lain.

c. Memiliki sikap hati-hati, artinya dalam melakukan sesuatu harus berdasarkan pemikiran yang matang.

d. Memiliki adaptibilitas, yang artinya luwes dalam menangani perubahan dan tantangan.

e. Toleransi yang lebih tinggi terhadap frustasi, artinya tidak mudah putus asa terhadap masalah.

f. Memiliki pandangan yang positif terhadap diri dan lingkungannya, artinya lebih sering merasakan emosi positif daripada emosi negatif.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri individu yang dapat melakukan regulasi emosi ialah memiliki kendali diri, hubungan interpersonal yang baik, sikap hati-hati, adaptibilitas, toleransi terhadap frustasi, pandangan yang positif, peka terhadap perasaan orang lain, melakukan introspeksi dan relaksasi, lebih sering merasakan emosi positif daripada emosi negatif serta tidak mudah putus asa

Pengertian Regulasi Emosi (skripsi dan tesis)

Regulasi emosi sebagai salah satu bentuk regulasi afek merupakan usaha mengubah valensi baik atau buruk yang terjadi antara individu dan lingkungan dalam bentuk koping, regulasi mood, dan pertahanan psikologis (Gross, 1998). Regulasi emosi juga mempengaruhi pembentukan kepribadian dan menjadi sumber penting bagi perbedaan individu. Misalnya, seseorang tetap tenang walaupun dalam situasi tertekan, sedangkan individu lainnya siap ‘meledak’ seperti gunung berapi. Gross juga melihat regulasi emosi sebagai penghubung ke pengertian yang lebih luas dari regulasi afeksi (Gross, 1999).

Lebih lanjut Gross dan John (2003) menjelaskan bahwa regulasi emosi meliputi semua kesadaran dan ketidaksadaran strategi yang digunakan untuk menaikkan, memelihara dan menurunkan satu atau lebih komponen dari respon emosi. Komponen ini adalah perasaan, perilaku dan respon fisiologis. Proses regulasi emosi terjadi dua kali, yaitu pada awal tindakan (antecedent focused emotion regulation atau reappraisal) dan regulasi yang terjadi pada akhir tindakan (response focused emotion regulation atau suppression). Regulasi awal terdiri dari perubahan berpikir tentang situasi untuk menurunkan dampak emosional, sedangkan regulasi  akhir menghambat keluarnya tanda-tanda emosi. Regulasi awal dianggap lebih efektif daripada regulasi akhir karena regulasi awal yang mengurangi pengalaman dan perilaku pengungkapan emosi tidak mempunyai dampak pada memori. Adapun regulasi akhir yang mengurangi pengungkapan perilaku, gagal dalam mengurangi pengalaman emosi, mempengaruhi memori dan menaikkan respon fisiologis antara orang yang bersangkutan dengan lingkungan sosialnya.

Menurut Cole dkk. (2004) regulasi emosi menekankan pada bagaimana dan mengapa emosi itu sendiri mampu mengatur dan memfasilitasi proses-proses psikologis, seperti memusatkan perhatian, pemecahan masalah, dukungan sosial dan juga mengapa regulasi emosi memiliki pengaruh yang merugikan, seperti mengganggu proses pemusatan perhatian, interferensi pada proses pemecahan masalah serta mengganggu hubungan sosial antar individu (dalam Eisenberg, 2004). Selanjutnya, Cole dkk. (2004) menerangkan bahwa ada dua jenis fenomena pengaturan, yaitu emosi sebagai pengatur dan emosi yang diatur. Emosi sebagai pengatur berarti adanya perubahan yang tampak sebagai hasil dari jenis emosi yang aktif, misalnya ketakutan akan tampak melalui ekspresi wajah dan perilaku, dan terdapat pada sebuah sistem yang berkaitan dengan emosi seperti aktivitas kardiovaskular, dapat merefleksikan sifat alami emosi itu sendiri daripada sebuah jenis emosi tertentu yang mengatur sebuah sistem secara terpisah. Emosi sebagai pengatur lebih mengarah pada perubahan interdomain, seperti rasa sedih seorang anak yang disebabkan karena strategi yang diterapkannya. Sedangkan emosi yang telah diatur berkaitan dengan perubahan pada jenis emosi yang aktif, termasuk di dalamnya  perubahan dalam kemampuan emosi itu sendiri, intensitas serta durasi emosi yang terjadi dalam diri individu itu sendiri, seperti mengurangi stres dengan menenangkan diri, atau antar individu, seperti seorang anak yang membuat kedua orangtuanya yang sedang sedih menjadi tersenyum. Pengertian regulasi yang digunakan dalam penelitian ini lebih cenderung kepada pengertian yang kedua yaitu emosi yang telah diatur. Regulasi emosi yang dimaksud lebih kepada kemampuan individu dalam mengatur dan mengekspresikan emosi dan perasaan tersebut dalam kehidupan sehari- hari. Regulasi emosi diri ini lebih pada pencapaian keseimbangan emosional yang dilakukan oleh seseorang baik melalui sikap dan perilakunya

Kategori Harga Diri (skripsi dan tesis)

Coopersmith (1967) membagi taraf harga diri dalam tiga kategori, yaitu taraf harga diri tinggi, taraf harga diri sedang dan taraf harga diri rendah.

a. Harga Diri Tinggi

Individu yang harga dirinya tinggi menurut Coopersmith (1967) mempunyai sifat aktif, agresif, sukses dalam bidang akademis dan interaksi sosial. Dalam pergaulan lebih bersifat memimpin, bebas berpendapat, tidak menghindari perbedaan pendapat, tahan terhadap semua kritikan dan tidak mudah cemas. Individu bergaul dengan baik, adanya sifat optimis yang terbentuk berdasarkan keyakinan dalam dirinya bahwa ia mempunyai kecakapan, kemampuan bergaul dan mempunyai kepribadian yang kuat. Individu jarang terkena gangguan psikosomatik.

Menurut Crocker dan Wolfe (dalam Myers, 2012) harga diri yang tinggi akan dirasakan jika subjek merasa senang dengan penampilan, kepandaian, dan lainnya yang di anggap penting bagi harga diri sendiri. Harga diri seseorang mungkin bergantung pada prestasi sekolah dan daya tarik fisik, sedangkan orang yang lain mungkin bergantung pada perasaan dicintai oleh Tuhan dan ketaatan pada norma moral. Akan tetapi menurut Brown dan Dutton (dalam Myers, 2012) individu yang memiliki harga diri tinggi adalah individu yang menghargai dirinya sendiri dengan penampilan dan kemampuan yang dimilikinya.

b. Harga Diri Sedang

Individu yang memiliki harga diri sedang menurut Coopersmith (1967) mempunyai ciri-ciri sifat dan cara bertindak yang sama dengan individu yang mempunyai taraf harga diri tinggi. Perbedaannya hanya terletak pada intensitas keyakinan diri, kurang yakin dalam menilai diri pribadinya dan tergantung pada penerimaan sosial lingkungan dimana berada.

c. Harga Diri Rendah

Individu yang mempunyai taraf harga diri rendah menurut Coopersmith (1967) menunjukkan sifat-sifat putus asa, membayangkan kegagalan, dihinggapi depresi dan merasa tidak menarik dan merasa terisolir dalam pergaulannya. Kemauan untuk menghadapi kekurangan dan kelemahan sangat rendah, takut mengatur terhadap orang yang berbuat kesalahan, sangat peka terhadap kritik serta tidak merasa bergaul dengan orang lain

Aspek-Aspek Harga Diri (skripsi dan tesis)

Menurut Coopersmith (1967; dalam Sert, 2003; dalam Challenger, 2005; dalam Harris, 2009; dalam Gaspard, 2010; dalam Getachew, 2011; dalam Hsu, 2013), harga diri sebagai suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh individu terhadap dirinya memiliki empat aspek dalam membentuk harga diri, yaitu:

a. Kekuasaan (power)

Kekuasaan di sini berarti kemampuan individu untuk mempengaruhi orang lain, serta mengontrol atau mengendalikan orang lain, di samping mengendalikan dirinya sendiri. Apabila individu mampu mengontrol diri sendiri dan orang lain dengan baik maka hal tersebut akan mendorong terbentuknya harga diri yang positif atau tinggi, demikian juga sebaliknya. Kemampuan ini ditandai adanya pengakuan dan rasa hormat yang diterima individu dari orang lain. Kekuasaan itu dapat dicontohkan seperti pejabat, kewenangan ini harus dijalankan sesuai dengan kewenangan dan tidak boleh menyimpang dari peraturan yang telah ada. Individu yang memiliki suatu kekuasaan cenderung untuk aktif dalam berbagai organisasi dan memiliki harga diri yang tinggi dengan kekuasaan yang dimilikinya.

b. Keberartian (Significance)

Keberartian dapat dipahami sebagai adanya kepedulian, penilaian, dan afeksi yang diterima individu dari orang lain. memiliki rasa kepedulian dengan lingkungan sekitar, dapat berempati dengan kesusahan yang dipahami oleh orang lain, adanya penilaian di dalam diri individu dan afeksi yang didapat dari kemampuan maupun rasa hormat orang lain terhadap seorang individu membuat hidupnya lebih berarti dalam menjalankan kehidupan. Individu yang memiliki keberartian dalam hidupnya akan berpengaruh juga terhadap perkembangan harga dirinya, karena individu dengan harga diri tinggi dapat meyakini dirinya mampu, penting, berhasil, dan berharga dihadapan orang lain.

c. Kebaikan (Virtue)

Kebaikan merupakan suatu pengetahuan yang dimiliki individu untuk melakukan kebaikan juga. Kejahatan, kekeliruan atau semacamnya muncul karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki individu. Jika mengetahui kebaikan adalah dengan melakukan kebaikan, maka kekeliruan hanya datang dari kegagalan untuk mengetahui apa yang baik. Kebaikan juga diikuti dengan adanya mengikuti ketaatan terhadap standar moral dan etika, ditandai oleh ketaatan untuk menjauhi tingkah laku yang tidak diperbolehkan. Seorang individu yang dapat menjalankan kehidupan sesuai dengan moral dan etika yang ada di masyarakat dapat membuat individu merasa nyaman dengan lingkungannya. Selain itu secara tidak langsung individu juga dapat memberikan contoh atau dapat menjadi panutan yang baik bagi lingkungannya, hal itu menimbulkan penerimaan lingkungan yang tinggi terhadap individu tersebut. Penerimaan lingkungan yang tinggi itu akan mendorong terbentuknya harga diri yang tinggi, demikian sebaliknya. Patuhnya dengan kaidah-kaidah moral dan etika yang ada di suatu daerah juga dapat membuat seorang individu cepat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan baru dan menjalin hubungan sosial yang baik, sehingga akan berdampak pula terhadap harga diri seorang individu, karena individu melakukan kebaikan atas dasar kesadaran diri sendiri dan mengetahui manfaat bagi dirinya akan membentuk harga diri yang tinggi.

d. Kemampuan (Competence)

Kemampuan diartikan sebagai individu memiliki usaha yang tinggi untuk mendapatkan prestasi yang baik, sesuai dengan tahapan usianya. Misalnya, pada remaja putra akan berasumsi bahwa prestasi akademik dan kemampuan atletik adalah dua bidang utama yang digunakan untuk menilai kompetensinya, maka individu tersebut akan melakukan usaha yang maksimal untuk berhasil di bidang tersebut. Apabila usaha individu sesuai dengan tuntutan dan harapan, itu berarti invidu memiliki kompetensi yang dapat membantu membentuk harga diri yang tinggi. Sebaliknya apabila individu sering mengalami kegagalan dalam meraih prestasi atau gagal memenuhi harapan dan tuntutan, maka individu tersebut merasa tidak kompeten. Hal tersebut dapat membuat individu mengembangkan harga diri yang rendah. Apabila seorang individu dapat mengetahui dimana letak kemampuan di dalam dirinya dan kemudian dapat mengasah kemampuan itu dengan baik maka akan menghasilkan suatu prestasi yang membanggakan. Memiliki kemampuan di suatu bidang membuat individu merasa dibutuhkan, dihargai dan patut mendapatkan prestasi yang bagus. Adanya kemampuan yang dibanggakan dari diri individu dapat berpengaruh juga terhadap harga dirinya, karena individu dengan harga diri tinggi selalu berusaha menampilkan ide-ide cemerlang yang berasal dari kemampuannya, sehingga individu tersebut merasa dihargai dengan adanya ide-ide yang cemerlang dan prestasi yang membanggakan

. Pengertian Harga Diri (skripsi dan tesis)

Menurut Coopersmith (1967; dalam Sert, 2003; dalam Challenger, 2005; dalam Harris, 2009; dalam Gaspard, 2010; dalam Getachew, 2011; dalam Hsu,2013) harga diri adalah evaluasi individu mengenai dirinya yang diekspresikan dalam suatu sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukkan sejauh mana individu menyakini dirinya mampu, penting, berhasil dan berharga. Harga diri merupakan sikap-sikap yang dipegang oleh individu tersebut. Menurut Papalia (2008) harga diri merupakan pendapat atau penilaian seseorang yang membuat dirinya menjadi berharga. Burns (1993) mendefinisikan harga diri adalah perasaan bahwa “diri” itu penting dan efektif dan melibatkan pribadi yang sadar akan dirinya. Menurut Ronsenberg (dalam Burns, 1998) harga diri mengandung arti yaitu suatu sikap positif atau negatif terhadap suatu objek khusus yaitu diri. Menurut Myers (2012) harga diri adalah evaluasi diri seseorang secara keseluruhan. Sikap seseorang terhadap dirinya sendiri dalam rentang dimensi positif dan negatif. Harga diri sebagai evaluasi yang dibuat oleh individu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dirinya, yang mengekspresikan suatu sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukkan tingkat individu itu meyakini diri sendiri bahwa dia mampu, penting, berhasil, dan berharga

Hubungan Harga Diri Terhadap Perilaku Seksual Pra Nikah Pada Remaja (skripsi dan tesis)

Dalam sebuah teori yang dikemukakan oleh Coopersmith (1967) harga diri merupakan evaluasi yang di buat oleh individu dan biasanya mempertahankan segala sesuatu yang berkenaan dengan dirinya sendiri. Dari konsep tersebut Coopersmith menjelaskan bahwa harga diri mengekspresikan setuju atau tidak setuju dan menunjukkan sikap kepercayaan individu terhadap dirinya untuk menjadi mampu, penting, berhasil dan berharga. Jadi, harga diri adalah personal judgment (penilaian pribadi) mengenai perasaan pantas yang diekspresikan dalam sikap-sikap individu terhadap dirinya. Felker (dalam Kamila, 2013) mengemukakan bahwa komponen harga diri terdiri dari: perasaan diterima (Felling Of Belonging) yaitu perasaan individu bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu kelompok dan dirinya diterima seperti dihargai oleh anggota kelompoknya. Kelompok ini dapat berupa keluarga kelompok teman sebaya, atau kelompok apapun. kelompok tertentu. Selanjutnya perasaan mampu (Felling Of Competence ) yaitu perasaan dan keyakinan individu akan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri dalam mencapai suatu hasil yang diharapkan, misalnya perasaan seseorang pada saat mengalami keberhasilan atau kegagalan. Dan terakhir berupa perasaan berharga ( Felling Of Worth ) yaitu perasaan dimana individu merasa dirinya berharga atau tidak, dimana perasaan ini banyak dipengaruhi oleh pengalaman yang lalu. Perasaan yang dimiliki individu yang sering kali ditampilkan dan berasal dari pernyataan-pernyataan yang sifatnya pribadi seperti pintar, sopan, baik dan lain sebagainya.

Remaja putri yang melakukan hubungaan seksual pranikah tentunya memiliki penilaian yang berbeda dengan remaja putri yang belum pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Karena bagaimanapun di Indonesia yang menganut adat ketimuran masih menganggap bahwa berhubungan seks sebelum menikah adalah suatu yang dilarang. Dan berdampak buruk pula pada penilaian masyarakat terhadap remaja putri yang melakukannya. Dampak dari hubungan seksual pranikah yang berhubungan dengan harga diri ditandai oleh perasaan ragu terhadap dirinya, merasa bersalah, kotor, rasa takut tidak diterima, serta penghinaan dari masyarakat (Brock dalam Sari, 2008). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sari (2008) juga menyebutkan bahwa remaja putri yang melakukan hubungan seksual pranikah memiliki harga diri yang rendah, seperti merasa dirinya tidak berharga dan kotor. Adanya hasil penelitian sebelumnya, membuat peneliti ingin mengatahui lebih mendalam aspek-aspek yang masih belum diungkap dari harga diri remaja putri yang melakukan hubungan seksual pranikah di Pekanbaru. Melihat seberapa mampu remaja putri yang melakukan hubungan seksual pranikah menerima dirinya, dampak-dampak yang muncul, bagaimana menyikapi reaksi dari  lingkungannya?. Melihat bagaimana penialain terhadap dirinya dan bagaimana makna harga diri remaja putri tersebut. Peneliti akan membuktikannya menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang diharapkan mampu memberikan gambaran terhadap hal tersebut dengan lebih jelas melalui wawancara yang mendalam.

Harga Diri Pada Remaja Putri yang Melakukan Hubungan Seksual Pranikah (skripsi dan tesis)

Masa remaja adalah masa yang penuh gejolak. Masa remaja dimana kebanyakan orang mulai tertarik dengan lawan jenis, menghabiskan waktu bersama-sama teman, mencoba hal yang baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dan peristiwa-peristiwa “ bersejarah” dalam hidupnya. Paterson (dalam Sari, 2008), menyebutkan bahwa remaja adalah masa yang menarik karena terjadi banyak perubahan yang dramatis selama rentang waktu kehidupan seseorang.  Dalam masa remaja terjadi perubahan-perubahan yang besar dalam kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan indentitas diri, salah satunya yang dihadapi adalah harga diri ( Self Esteem ) seseorang remaja (Steinberg, 1999). Seperti yang diketahui bahwa pengertian harga diri merupakan evaluasi individu terhadap dirinya sendiri secara positif atau negatif. Evaluasi ini memperlihatkan bagaimana individu menilai dirinya sendiri dan diakui atau tidaknya kemampuan dan keberhasilan yang diperolehnya. Penilaian tersebut terlihat dari penghargaan mereka terhadap keberadaan dan keberartian dirinya. Individu yang memiliki harga diri positif akan menerima dan menghargai dirinya sendiri apa adanya (Santrock, 2007).

Hubungan seksual pranikah berkaitan erat dengan harga diri. Menurut Tambunan (2001) harga diri mengandung arti suatu hasil penilaian individu terhadap dirinya yang diungkapkan dalam sikap-sikap yang dapat bersifat positif atau negatif. Keputusan untuk melakukan hubungan seks tersebut memiliki konsekuensi yang berat, terutama untuk remaja wanita. Dalam sebuah studi ditemukan bahwa remaja perempuan memiliki harga diri yang lebih rendah dibandingkan remaja laki-laki, dan rendahnya harga diri ini berkaitan dengan rendahnya penyesuain yang sehat (Raty dalam Santrock, 2007). Steinberg (dalam Sari, 2008)) juga mengatakan bahwa harga diri merupakan konstruk yang penting dalam kehidupan sehari-hari juga berperan serta dalam menentukan tingkah laku seseorang. Dalam hal ini remaja putri yang melakukan hubungan seksual pranikah akan menimbulkan perilaku yang berdampak pada harga dirinya. Menurut Brock (dalam Sari, 2008) dampak dari  hubungan seksual pranikah yang berkaitan dengan harga diri di tandai oleh perasaan ragu terhadap dirinya, tidak percaya diri, merasa bersalah, kotor, rasa takut tidak diterima, serta penghinaan terhadap masyarakat. Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa remaja putri yang melakukan hubungan seksual pranikah akan menilai dirinya negatif. Dengan ditandai adanya perasaan ragu terhadap dirinya, tidak percaya diri, merasa bersalah, kotor, dan merasa takut tidak diterima

Tugas-Tugas Perkembangan Remaja (skripsi dan tesis)

Tugas perkembangan remaja difokuskan pada upaya meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa. Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Hurlock (dalam Ali dan Asrori, 2004) adalah berusaha:

a. Mampu menerima keadaan fisiknya.

b. Mampu menerima dan memahami peran seks usia remaja.

c. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis.

d. Mencapai kemandirian emosional.

e. Mencapai kemandirian ekonomi.

f. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat.

g. Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua.

h. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa. i. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.

j. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.

Menurut Ali dan Asrori (2004) tugas-tugas perkembangan fase remaja ini sangat berkaitan dengan perkembangan kognitifnya, yaitu fase operasional formal. Pencapaian kematangan fase kognitif akan sangat membantu kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangannya dengan baik

Pengertian Remaja (skripsi dan tesis)

Remaja dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa Latin adolencere yang artinya “ tumbuh atau tunbuh untuk mencapai kematangan”. Istilah adolescence menurut Hurlock (2002) memiliki makna yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Hal tersebut di dukung oleh pendapat Piaget yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia di mana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sma, paling tidak sejajar (dalam Ali dan Asrori, 2004).

Masa remaja, menurut Mappiare (dalam Ali dan asrori, 2004), berlangsung anatar umur 12 sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 sampai dengan 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12/13 tahun sampai dengan17/18 tahun adalah remaja awal, dan usia 17/18 tahun sampai dengan 21/22 tahun adalah remaja akhir. Masa remaja merupakan periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional. Tugas pokok remaja adalah mempersiapkan diri memasuki masa dewasa. Perubahan biologis, kognitif, adan sosio-emosional yang dialami remaja dapat berkisar mulai dari perkembangan fungsi seksual hingga proses berfikir abstrak hingga kemandirian (Santrock, 2007).

Lambat laun, para ahli perkembangan membedakan masa remaja menjadi periode awal dan periode akhir. Masa remaja awal (early adolescence) kurang lebih berlangsung dimasa sekolah menengah pertama atau sekolah menengah akhir dan periode pubertas tejadi pada masa ini. Masa remaja akhir (late adolescence ) kurang lebih terjadi pada pertengahan dasawarsa yang kedua dari kehidupan. Minat karir, pacaran, dan eksplorasi identitas sering kali lebih menonjol di masa remaja akhir di bandingkan di masa remaja awal (Santrock, 2007). Menurut Hall (dalam Sari, 2008) masa remaja dianggap sebagai masa topan, badai, dan stress (strom and stress), karena mereka telah memiliki keinginan bebas untuk menentukan nasib diri sendiri. Menurut Darajat (dalam 27 Sari, 2008) remaja adalah usia transisi dimana seorang individu telah meninggalkan usia kanak-kanak yang lemah dan penuh ketergantungan, akan tetapi belum mampu bertanggung jawab penuh baik terhadap dirinya maupun terhadap masyarakat, adapun masa usia remaja dimulai pada usia 13 sampai 21 tahun.

Faktor-Faktor Penyebab Remaja Melakukan Hubungan Seksual Pranikah (skripsi dan tesis0

Hurlock (dalam Betha F & Ahyani R.F, 2011), manifestasi dorongan seksual dalam perilaku seksual dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu stimulus yang berada dalam individu berupa bekerjanya hormon-hormon alat reproduksi. Hormon tersebut dapat menimbulkan dorongan seksual yang menuntut pemuasan. Sedangkan faktor eksternal yaitu stimulus yang berasal dari luar individu yang menimbulkan dorongan seksual sehingga memunculkan perilaku seksual. Dorongan eksternal tersebut dapat di peroleh melalui pengalaman berkencan, informasi mengenai seksualitas, diskusi dengan teman, pengalaman masturbasi, jenis kelamin, pengaruh orang dewasa, pengaruh buku bacaan dan tontonan porno. Oleh karena itu, stimulus-stimulus yang berasal dari dalam ataupun dari luar individu dapat mempengaruhi sikap dan perilaku seksual individu yang bersangkutan.

Menurut seksologi Ronosulistyo (dalam Hadi, 2006) remaja merupakan kelompok rentan terhadap rangsangan seksual. Pada fase ini, seseorang sedang berada dalam suatu masa pancaroba hormon yang berbuntut pada tingginya gairah seksual. Menurut Ronosulistyo (dalam Hadi, 2006) faktor-faktor yang menyebabkan remaja melakukan hubungan seksual pranikah yaitu :

a. Usia

Penelitian Fisgher dan Hall menunjukan bahwa remaja menengah dan remaja akhir, cenderung lebih memiliki sikap permisif dibandingkan remaja awal,  dimana cukup besar mempengaruhi sikap mereka tetapi Chilman menyatakan bahwa perilaku seksual pranikah akan mulai terjadi jika seseorang sudah berusia 16 tahun atau seseorang yang mengalami masa pubertas lebih cepat (dalam Sari, 2008).

b. Jenis Kelamin P

ria cenderung lebih permisif terhadap perilaku seksual pranikah dibandingkan wanita (Faturochman, 1992). Roche (dalam Sari, 2008) dalam penelitiannya menemukan bahwa pria lebih mementingkan keintiman fisik tanpa memperhatikan keterlibatan emosional dalam hubungan heteroseksual. Sedangkan wanita lebih mementingkan kualitas hubungan sehingga pada wanita keterlibatan emosional mempengaruhi tingkat penerimaan keintiman fisik yang dilakukan pasangannya.

c. Agama

Sekuat-kuatnya mental seseorang remaja agar tidak tergoda dengan pola hidup seks bebas jika remaja terus mengalami godaan dalam kondisi yang bebas dan tidak terkontrol, tentu saja suatu saat akan tergoda pula untuk melakukannya. Godaan semacam ini akan lebih berat lagi bagi re

maja yang memang benteng mental agamanya atau sistem religius yang tidak kuat dalam diri individu.

d. Pendidikan

Pendidikan memiliki hubungan yang significant dan negatif dalam keserbabolehan dalam perilaku seks pranikah (Faturochman,1992). Ini berarti dengan semakin tingginya pendidikan seseorang maka akan semakin tidak permisif terhadap perilaku seks pranikah. Di barat kenyatannya yang terjadi  justru sebaliknya, tingkat pendidikan cenderung significant dan positif terhadap perilaku seks pranikah.

e. Kelas Sosial

Secara umum kelas sosial dianggap permisif terhadap perilaku seksual pranikah. Pada kenyataannya (Reiss dalam Sari, 2008) menemukan bahwa pada kelas sosial ekonomi bawah, menengah, dan atas dari segmen konservatif, maka kelas bawah justru lebih konservatif.

f. Ketidakhadiran Orang Tua

Jika ada remaja yang sampai melakukan perilaku seks pranikah, itu hanya karena bebasnya pergaulan dan mungkin dari faktor bimbingan atau pola asuh orang tua dirumah yang tidak peduli atau tidak terbuka untuk membicarakan seks pada anaknya. Padahal disaat ini pergaulan di dunia remaja semakin bebas. Pada keluarga yang tinggal di kota besar, sudah merupakan suatu pola kehidupan yang dimana ayah dan ibu bekerja.

g. Pengalaman Pacaran ( Hubungan Afeksi)

Individu yang pernah menjalin hubungan afeksi atau berpacaran dari umur yang lebih dini, cenderung permisif terhadap perilaku seks pranikah. Begitu juga dengan halnya dengan individu yang telah banyak berpacaran dengan individu yang berusia sebaya dengannya.

Staples (dalam Fatturochman,1992) menyebutkan bahwa pengalaman berpacaran dapat menyebabkan seseorang permisif terhadap perilaku seks pranikah. Sarwono (2013) menyimpulkan bahwa masalah seksualitas timbul karena adanya faktor-faktor berikut :

a. Meningkatnya libido seksual Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido seksualitas). Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu.

b. Penundaan usia perkawinan

Penyaluran tidak dapat dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan yang menetapkan usia menikah (16 tahun bagi wanita dan 19 tahun bagi pria), maupun karena norma sosial yang makin lama makin menuntut persyaratan yang makin tinggi untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental, dan lain-lain).

c. Tabu larang

Norma-norma agama tetap berlaku dimana seorang dilarang untuk melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Bahkan, larangan berkembang lebih jauh kepada tingkah-tingkah laku lain seperti berciuman dan masturbasi.

d. Kurangnya informasi tentang seks

Individu pada umumnya belum mengetahui secara pasti mengenai masalah seksual secara lengkap. Hal ini justru membuat rasa ingin tahu individu terhadap seksual semakin meningkat, akhirnya hal tersebut mendorong individu untuk mendapatkan informasi yang tidak terkontrol dari media masa.

e. Kurangnya komunikasi antara orangtua dengan anak. Sulit bagi orangtua untuk membicarakan mengenai seksualitas terhadap anaknya. Hal ini dikarenakan ketidaktahuan orangtua maupun karena sikap yang tidak terbuka dan masih mentabukan untuk pembicaraan mengenai seks. f. Pergaulan bebas Di pihak lain, tidak dapat diingkari adanya kecenderungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan wanita

Pengertian Perilaku Seksual Pranikah (skripsi dan tesis)

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama (Sarwono, 2013). Menurut Purnomowardani dan Koentjoro (2000) perilaku seksual adalah manifestasi dari adanya dorongan seksual yang dapat diamati secara langsung melalui perbuatan yang tercermin dalam tahap-tahap perilaku seksual dari tahap yang paling ringan hingga yang paling berat.

Sedangkan menurut Melodina (1990) mengatakan bahwa hubungan seks pranikah adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh sepasang insan yang belum menikah atau yang belum terikat oleh tali perkawinan. Perilaku seks yang dianggap melanggar norma bukanlah suatu hal yang baru. Perilaku seksual pranikah adalah kegiatan seksual yang melibatkan dua orang yang saling menyukai atau saling mencintai, yang dilakukan sebelum perkawinan (Indirijati, 2001). Menurut Scanzoni dan Skanzoni (dalam Hadi, 2006) hubungan seksual pranikah adalah hubungan yang dilakukan pria dan wanita yang belum terikat perkawinan, dimana nantinya mereka akan menikah satu sama lain atau masing- masing akan menikah dengan orang lain. Jadi tidak hanya terbatas pada orang yang berpacaran saja. Hubungan seksual ini umumnya terjadi diantara mereka yang telah meningkat remaja menuju dewasa. Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat pada saat seseorang memasuki masa remaja mulai timbul dorongan- dorongan seksual di dalam dirinya. Apalagi pada saat ini minat mereka dalam menbina hubungan terfokus pada lawan jenis (Sarwono, 2013).

Hambatan dalam perkembangan harga diri (skripsi dan tesis)

Perkembangan dalam diri individu tidak selalu berjalan mulus, demikian pula dalam perkembangan harga diri bisa saja terdapat hambatan. Menurut Dariuszky (dalam Kamila, 2013) yang menghambat perkembangan harga diri adalah perasaan takut, yaitu kekhawatiran atau ketakutan (fear). Dalam kehidupan sehari-hari individu harus menempatkan diri di tengah-tengah realita. Ada yang menghadapi fakta-fakta kehidupan dengan penuh kebenaran, akan tetapi ada juga yang menghadapinya dengan perasaan tidak berdaya. Ini 19 adalah tanggapan negatif terhadap diri, sehingga sekitarnyapun merupakan sesuatu yang negatif bagi dirinya (Dariuszky dalam Kamila, 2013). Tanggapan negatif menjadikan individu selalu hidup dalam ketakutan yang akan mempengaruhi seluruh alam perasaaannya sehingga terjadi keguncangan dalam keseimbangan kepribadian, yaitu suatu keadaan emosi yang labil, maka dalam keadaan tersebut individu tidak berfikir secara wajar, jalan fikirannya palsu, dan segala sesuatu diluar diri dipersepsikan secara salah. Hal demikian akhirnya akan menimbulkan kecemasan, dan jelaslah hal tersebut akan berpengaruh pada perkembangan harga diri pada dirinya (Dariuszky dalam Kamila, 2013).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Diri (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri menurut Wirawan dan Widyastuti (dalam Sari, 2008) adalah faktor fisik, psikologis, lingkungan, tingkat intelegensi, status sosial ekonomi, ras, dan kebangsaan. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, maka akan dijelaskan lebih lanjut, yaitu :

a. Faktor Fisik

Seperti ciri fisik dan penampilan wajah manusia. Misalnya: beberapa orang cenderung memiliki harga diri yang tinggi apabila memiliki wajah yang menarik.

b. Faktor Psikologis

Seperti kepuasan kerja, persahabatan, kehidupan romantis. Misalnya: seorang laki-laki memperlakukan pasangannya dengan sangat romantis, maka akan meningkatkan harga dirinya.

c. Faktor Lingkungan Sosial

Seperti orang tua dan teman sebaya. Misalnya: kalau orang tua mampu menerima kemampuan anaknya sebagaimana yang ada, maka anak menerima dirinya sendiri. Tetapi, kalau orang tua menuntut lebih tinggi dari apa yang ada pada diri anak sehingga mereka tidak menerima sebagaimana adanya.

d. Faktor Tingkat Intelegensi

Semakin tinggi tingkat intelegensi seseorang, maka semakin tinggi pula harga dirinya dan jelas bahwa tingkat intelegensinya ternyata mempengaruhi harga diri seseorang dan terlihat adanya hubungan positif diantara keduanya.

e. Faktor Status Sosial Ekonomi

Secara umum seseorang yang berasal dari status sosial ekonomi rendah memiliki harga diri yang lebih rendah daripada yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi tinggi.

f. Faktor Ras dan Kebangsaan

Seseorang yang berkulit hitam dan bersekolah disekolah-sekolah orang yang berkulit putih memiliki harga diri yang lebih tinggi daripada orangorang Australia, India, dan Irlandia.

g. Faktor Urutan Keluarga

Anak tunggal cenderung memiliki harga diri yang lebih tinggi daripada anak- anak yang memiliki saudara sekandung. Selain itu anak laki-laki sulung yang memiliki adik kandung perempuan cenderung memiliki harga diri yang lebih tinggi.

Menurut Clemes dan Bean (1995) harga diri merupakan perasaan. Harga diri akan muncul pada rasa puas apabila kondisi tertentu dalam hidupnya terpenuhi. Kondisi-kondisi tersebut adalah:

a. Keterikatan

Keterikatan akan terjadi jika merasa puas berhubungan dengan orang lain.

b. Keunikan

Keunikan akan terjadi jika dirinya dapat mengakui dan menghargai kualitas dan sifat yang membuatnya unik dan berbeda.

c. Kekuasaan

Kekuasaan akan muncul ketika memiliki sumber daya, kesempatan, dan kemampuan untuk mempengaruhi lingkungan dan kehidupannya dengna cara- cara yang penting.

d. Model

Model disini merupakan kemampuan merefleksikan diri pada contoh-contoh kemanusiaan, filosofis, dan operasional yang cukup dan dapat membantunya mewujudkan nilai-nilai, tujuan, cita-cita, dan tolak ukur pribadi yang berarti.

Sementara itu menurut Coopersmith (1967) harga diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang diantaranya:

a. Penghargaan dan penerimaan dari orang-orang yang memiliki pengaruh

Harga diri seseorang juga dipengaruhi oleh orang yang dianggap penting dalam kehidupan individu yang bersangkutan.

b. Kelas sosial dan kesuksesan

Kedudukan kelas sosial dapat dilihat dari pekerjaan, pendapatan, dan tempat tinggal.

c. Nilai dan inspirasi individu dalam menginterpretasikan pengalaman

Kesuksesan yang diterima individu tidak mempengaruhi harga diri secara langsung melainkan disaring terlebih dahulu melalui tujuan dan nilai yang di pegang oleh individu.

d. Cara individu dalam menghadapi devaluasi

Individu meminimalisasi ancaman berupa evaluasi negatif yang datang dari luar dirinya. Mereka dapat menolak hak dari orang lain yang memberikan penilaian negatif terhadap dirinya. Dari beberapa tokoh diatas disimpulkan bahwa harga diri secara umum ternyata dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu meliputi fisik, psikologis, dan sosial.

Komponen-komponen Harga Diri (skripsi dan tesis)

Felker (dalam Kamila, 2013) mengemukakan bahwa komponen harga diri terdiri dari:

a. Perasaan diterima (Felling Of Belonging)

Perasaan individu bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu kelompok dan dirinya diterima seperti dihargai oleh anggota kelompoknya. Kelompok ini dapat berupa keluarga kelompok teman sebaya, atau kelompok apapun. kelompok tertentu.

b. Perasaan Mampu (Felling Of Competence )

Perasaan dan keyakinan individu akan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri dalam mencapai suatu hasil yang diharapkan, misalnya perasaan seseorang pada saat mengalami keberhasilan atau kegagalan.

c. Perasaan Berharga ( Felling Of Worth )

Perasaan dimana individu merasa dirinya berharga atau tidak, dimana perasaan ini banyak dipengaruhi oleh pengalaman yang lalu. Perasaan yang dimiliki individu yang sering kali ditampilkan dan berasal dari pernyataan- pernyataan yang sifatnya pribadi seperti pintar, sopan, baik dan lain sebagainya

Sumber-Sumber Harga Diri (skripsi dan tesis)

Harga diri sebagai proses avaluatif yang dilakukan oleh individu terhadap dirinya memiliki sumber-sumber yang membentuk harga diri. Coopersmith (1967) menyebutkan bahwa terdapat empat sumber harga diri, yaitu:

a. Kekuasaan (Power)

Kekuasaan (power) adalah kemampuan untuk mempengaruhi dan mengontrol orang lain. Hal ini ditandai dengan adanya penghargaan dan penerimaan dari dari orang lain terhadap ide-idenya dan hak-hak individu tersebut.

b. Keberartian (significance)

Keberartian yang dimaksud dalam hal ini adalah adanya penerimaan, perhatian dan kasih sayang dari orang lain. Hal ini ditandai dengan keramahan, ketertarikan dan disukai individu menyukai dirinya.

c. Kebaikan (virtue)

Kebaikan (virtue) adalah ketaatan terhadap standar moral dan etika yang berlaku dalam lingkungan individu yang ditandai dengan kepatuhan terhadap standar moral, etika dan prinsip-prinsip agama yang berlaku dimasyarakat. d. Kemampuan (competence) Kemampuan (competence) adalah keberhasilan memenuhi tuntutan prestasi yang ditandai oleh tingkat prestasi yang tinggi sesuai dengan usianya

Pengertian Harga Diri (skripsi dan tesis)

Menurut Santrock (2007) harga diri merupakan evaluasi individu terhadap dirinya sendiri secara positif atau negatif (rendah atau tinggi). Evaluasi ini memperlihatkan bagaimana individu menilai dirinya sendiri dan diakui atau tidaknya kemampuan dan keberhasilan yang diperolehnya. Individu yang memiliki harga diri yang tinggi akan menerima dan menghargai dirinya sendiri apa adanya. Penilaian yang tinggi terhadap diri sendiri adalah penilaian terhadap kondisi diri, menghargai kelebihan dan potensi diri, serta menerima kekurangan yang ada, sedangkan yang dimaksud penilaian rendah terhadap diri sendiri adalah penilaian tidak suka atau tidak puas dengan kondisi diri sendiri, tidak menghargai kelebihan diri dengan melihat diri sebagai sesuatu yang selalu kurang. Menurut Fenzel (dalam Santrock, 2007), rendahnya harga diri juga dapat mengakibatkan depresi, bunuh diri, anoreksia nervosa, kenakalan remaja, dan masalah-masalah penyesuaian diri lainnya. Menurut Clemes dan Bean (1995) harga diri merupakan dasar bagi pertumbuhan positif dalam hubungan kemanusiaan, belajar, kreatifitas, dan tanggung jawab pribadi. Self esteem (harga diri) merupakan semen yang mengikat kepribadian anak bersama-sama menjadi struktur yang positif, terpadu dan efektif.

Harga diri itu sendiri berasal dari fikiran, perasaan, sensasi, dan pengalaman yang telah dikumpulkan sepanjang rentang kehidupan. Selanjutnya menurut Coopersmith (1967) harga diri merupakan evaluasi yang dibuat oleh individu dan biasanya mempertahankan segala sesuatu yang berkenaan dengan dirinya sendiri. Dari konsep tersebut Coopersmith menjelaskan bahwa harga diri mengekspresikan setuju atau tidak setuju dan menunjukkan sikap kepercayaan individu terhadap dirinya untuk menjadi mampu, penting, berhasil dan berharga. Jadi, harga diri adalah personal judgment (penilaian pribadi) mengenai perasaan pantas yang diekspresikan dalam sikap-sikap individu terhadap dirinya. Menurut Tambunan (2001) harga diri mengandung arti suatu penilaian individu terhadap diri diungkapkan dalam sikap-sikap yang dapat bersikap negatif dan positif. Sedangkan menurut Branden (dalam Sari, 2008) harga diri adalah apa yang individu pikirkan dan rasakan tentang dirinya, bukan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang lain tentang siapa dirinya sebenarnya. Harga diri menurut Klass dan Hodge (dalam Izzah, 2012) harga diri merupakan evaluasi yang dibuat dan dipertahankan oleh individu, yang diperoleh dari hasil interaksi individu dengan lingkungan, serta penerimaan, penghargaan, dan perlakuan orang lain terhadap individu tersebut. Menurut Santrock (2007) harga diri juga dapat diartikan sebagai dimensi evaluative yang menyeluruh dari diri individu itu sendiri. Harga diri menurut Parker (dalam Kamila, 2013) artinya merasa senang, bahagia dan bangga terhadap diri sendiri. Artinya mencintai diri sendiri dan 12 merasa bahagia dan bangga dengan siapa dirinya. Jika individu memiliki harga diri, individu bahagia menjadi diri sendiri dan yakin dengan nilai intrinsik yang dimiliki sebagai seorang individu yang unik. Oleh karena itu, terbentuknya harga diri melibatkan juga adanya citra diri (gambaran diri) yang positif dan self awareness (kesadaran diri) yang akurat. Menurut Burns (1993) harga diri adalah perasaan bahwa diri itu penting dan efektif, dan melibatkan pribadi yang sadar akan dirinya sendiri. sedangkan gagasan-gagasan tentang evaluasi diri menyiratkan bahwa perasaaan harga diri seseorang berasal dari memiliki sifat-sifat yang memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan standar-standar tertentu, dan standar bagi mencakupi aspirasi-aspirasinya sendiri dan orang-orang lain baginya merupakan perasaan harga diri.

Rosenberg (dalam Burns, 1993) harga diri merupakan suatu sikap positif atau negatif terhadap suatu objek khusus yaitu diri. Perasaan harga diri tampaknya dengan sederhana menyatakan secara tidak langsung bahwa individu yang bersangkutan merasakan bahwa ia seseorang yang berharga, menghargai dirinya sendiri terhadap sebagai apa dia sekarang ini, tidak mencela tentang apa dia yang tidak dilakukan, dan tingkatan dimana dia merasa positif tentang dirinya sendiri. perasaan harga diri yang rendah menyiratkan penolakan diri, penghinaan diri, dan evaluasi diri yang negatif. James (dalam Burn,1993) perasaan harga diri merupakan ratio antara hasil-hasil yang sebenarnya dan aspirasi-aspirasi yang merupakan pernyataan dari titik acuan yang utama dalam evaluasi diri, aktualisasi darititik acuan yang utama didalam evaluasi diri, aktualisasi dari cita-cita. Mereka yang menyadari memiliki 13 sifat-sifat yang kehendaki oleh cita-cita mereka kemungkinan besar memiliki perasaan harga diri yang positif

Teknik Thought Stopping Melalui Layanan Konseling Kelompok (skripsi dan tesis)

Konseling kelompok merupakan bantuan individu dalam situasi kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, serta diarahkan pada pemberian kemudahan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Maksud dari konseling kelompok yang bersifat pencegahan bahwa individu mempunyai kemampuan normal atau berfungsi secara wajar dalam masyarakat, tetapi memiliki beberapa kelemahan dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain. Konseling kelompok bersifat memberi kemudahan bagi pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam arti memberikan kesempatan, dorongan juga pengarahan pada individu–individu yang bersangkutan untuk mengubah sikap perilakunya sesuai dengan lingkungannya. Thought stopping dalam situasi kelompok dilakukan dengan mulai mengajarkan anggota memulai latihan kelompok tentang menggali pikiran-pikiran negative dalam diri, selanjutkan anggota lain memberikan balikan kemudian anggota kelompok didorong untuk menyusun pernyataan yang cenderung meningkatkan harga dirinya, yang  meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan tindakan efektif serta mencoba mengantikan dengan pernyataan konseli dalam menentang self defeating.

Selain itu konselor juga dapat berperan sebagai ketua kelompok sehingga terwujud kepercayaan. Konselor memulai konseling dengan memproses kembali konsep-konsep yang dimiliki konseli dengan memberi reinforce baik negatif maupun positif terutama terhadap kondisi emotional konseli, dengan kata lain konselor mentransfer proses konseling menjadi normal. Peranan untuk konseli sebagai anggota kelompok mampu mengubah pola berfikir sehingga mudah dalam menata kognitifnya. Pengalaman utama yang diharapkan adalah konseli menemukan pikiran negative tentang harga dirinya karena konseli sendiri yang akan mencari penyelesaiannya. Dari uraian tersebut digambarkan penerapan teknik thought stopping dalam meningkatkan harga diri siswa dengan konseling dengan 4 tahap diantaranya:

1. Tahap pertama dengan pembentukan kelompok sehingga terbentuk kelompok yang dinamis.

2. Tahap kedua merupakan jembatan antara tahap pertama dan ketiga.

3. Tahap ketiga merupakan tahap kegiatan yang sesuai dengan tujuan kegiatan yaitu penerapan teknik thought stopping.

Tahap keempat adalah tahap pengakhiran. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kelompok dalam konseling kelompok yaitu diskusi, pengamatan diri, latihan penghentian, latihan problem solving

Aplikasi Teknik Thought Stopping Untuk Meningkatkan Harga Diri Siswa (skripsi dan tesis)

Teknik thought stopping merupakan strategi yang dapat digunakan dalam teknik cognitive restructruring. Thought stopping digunakan untuk mengatasi pikiran yang irasional yang dapat menjadikan masalah pada orang tersebut, teknik ini mengontrol pikiran irasional dengan membatasinya.Rudestam merupakan tokoh pengembangan teknik ini, rudestam mengaplikasikan prosedur teknik thought stopping dengan meminta konseli untuk membayangkan pikiran-pikiran irasional yang menimbulkan masalah sehingga konselor menyatakan secara keras “stop”. Kata stop tersebut dimaksudkan untuk menghentikan urutan pikiran, yang memuat konseli tidak bisa melanjutkan. Prosedur ini diulang-ulang sehingga timbul hubungan antara kata stop dengan pikiran irasional yang ditekankan. Teknik thought stopping mencakup 6 langkah dasar, diantaranya :

1. Mengantar kata-kata (verbal set).

Konseli mulai memahami pikiran irasionalnya dan ingin mengubah pola pikirnya tersebut dan konselor 25membantu untuk menyadarkan pikiran negatifnya dan bagaimana pikiran negative itu mempengaruhi tingkah lakunya, kemudian konselor memberikan penjelasan sebagai alasan pentingnya prosedur thought stopping.

2. Penghentian pikiran atas arahan konselor:

Overt Interruption. konselor bertanggungjawab untuk menginterupsikan kata berhenti.

3. Penghentian pikiran atas arahan konseli:

Overt interruption. Konseli sendiri yang bertanggungjawab untuk menginterupsikan kata berhenti setelah memusatkan lagi pada masalahnya dan pikiran negative tersebut muncul.

4. Penghentian pikiran atas arahan konseli:

Overt interruption. Cara sama dengan langkah ketiga diulangi tetapi diucapkan dalam hati.

5. Pengubahan ke arah pikiran yang netral, positif dan tegas.

etelah menginterupsikan kata stop konseli belajar menggantikan pikiran negative tersebut dengan pernyataan dan pikiran positif, tegas dan netral. Pekerjaan rumah dan tindak lanjut. Konseli perlu menerapkan prosedur ini ketika konseling dan dalam kehidupan sehari-hari ketika pikiran yang merusak diri itu muncul. Cara ini perlu diimbangi dengan membuat catatan dalam kertas untuk kemajuan yang dicapai dalam penerapan teknik thought stopping. Pada uraian diatas telah dijelaskan uraian prosedur dasar penghentian pikiran. Pada bagian ini akan diaplikasikan teknik cognitive restructruring melalui penghentian pikiran (thought stopping). Seorang konseli banyak mengalami hambatan-hambatan dan sering merendahkan dirinya sendiri karena ada cara- cara berpikir yang salah pada diri konseli dengan berpikiran negative pada dirinya sendiri bahwa dirinya bodoh, akan mengalami kegagalan, serta tidak mampu dalam menghadapi ujian atau suatu masalah apapun. Pikiran-pikiran dari konseli seperti itu yang harus direstruktur dengan menghentikan pikiran-pikiran negativenya terlebih dahulu. Untuk membantu menstruktur kognitif konseli melalui penghentikan pikiran konselor membantunya fase-fase berikut: terdiri atas cara belajar konseli bagaimana mengobservasi tingkah laku mereka sendiri.

Fase 1 yaitu observasi diri. Tahap awal dalam proses perubahan terdiri atas cara belajar konseli mengobservasi tingkah laku mereka sendiri. Suatu factor yang menentukan proses adalah kesediaan dan kemampuan konseli untuk mendengarkan diri mereka sendiri, ini menyangkut suatu kepekaan yang tinggi kepada pikiran mereka, perasaaan-perasaan, reaksi psikologi dan tingkah laku dalam hubungan antar pribadi. Dalam penelitian ini, siswa-siswa yang tidak menghargai diri mereka dengan menganggap diri mereka bodoh, tidak berguna dan tidak mampu berharap mengadakan perubahan yang konstruktif, mereka harus pertama-tama menyadari bahwa mereka bukan korban-korban dan perasaan negative. Sebenarnya yang menyebabkan mereka mengalami hambatan dalam hidupnya adalah kata-kata mereka sendiri.

Fase 2, memulai dialog internal baru. Sebagai kontrak awal konseli dan konselor, konseli belajar tingkah laku kurang menghargai diri sendiri, dan mereka mulai melihat beberapa kesempatan adanya pilihan-pilihan untuk penyesuain 46 tingkah laku yang akan mengarah pada perubahan afektif, kognitif dan behavioral. Jika konseli mengharap untuk perubahan maka apa yang mereka katakana kepada diri mereka harus dapat menghentikan pikiran irasional melalui teknik penghentian pikiran yang terdiri dalam 6 langkah seperti yang telah dijelaskan diatas kemudian menggantikan dengan pikiran rasional yang dapat membentuk tingkah laku baru untuk menghargai dirinya. Konseli belajar untuk mengubah dialog internal yang mereka bawa dalam proses treatment . Dialog internal mereka yang baru hasilnya dalam bentuk restrukturisasi kognitif.

Fase 3, yaitu mempelajari keterampilan baru. Fase ketiga prose memodifikasi terdiri atas mengajar konseli untuk memperoleh keterampilan pemecahan yang lebih efektif, yang dipraktikan dalam situasi kehidupan nyata (misalnya konseli yang tidak dapat menanggulangi kegagalan mungkin menghindari hal-hal yang konseli tidak dapat mampu padahal konseli bukan berarti tidak mampu tetapi hanya berfikir negative, cognitive restructuring dapat membantu konseli mengubah pandangan negative pada kegagalan, jadi membuat mereka lebih bersedia untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang diinginkan). Pada waktu yang sama, konseli terus berfokus mengatakan kepada diri mereka dengan kalimat-kalimat baru dan mengobservasi dan menilai hasilnya karena mereka secara nyata mendapatkan reaksi-reaksi yang berbeda dari orang lain. Stabilitas apa yang mereka pelajari sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka  katakan kepada mereka mengenai tingkah laku mereka yang baru diperoleh dan konsekuensi-konsekuensinya

Konsep Teknik Thought Stopping (skripsi dan tesis)

Dalam Dunia Konseling Konsep dasar konseling thought stopping yaitu membantu konseli mengidentifikasi pikiran negative, menghentikan pikiran- pikiran negatifnya kemudian mengantikkan dengan pikiran yang lebih rasional dan realitas. Dalam pelaksanaan teknik thought stopping ini berasal dari teknik Cognitive Restructrusing dalam pendekatan rational emotif behavior therapy. Konseling rational emotive atau lebih tepatnya disebut rational behavior therapy (REBT) dikembangkan oleh Albert Ellis pada tahun 1962. Rational emotive adalah aliran yang berusaha memahami manusia sebagaimana adanya. Manusia adalah objek yang sadar akan dirinya dan sadar akan objek-objek yang dihadapinya. Dalam memandang hakikat REBT memiliki sejumlah asumsi tentang kebahagian dan ketidakbahagian dalam hubungannya dengan dinamika pikiran dan perasaan. Asumsi tentang hakikat manusia menurut REBT adalah manusia merupakan pribadi unik yang dipandang sebagai makhluk rasional dan juga dapat irasional serta pikiran, perasaan dan tindakan manusia merupakan proses yang saling berhubungan dengan lainnya yang tidak dapat dipisahkan.24 Manusia sebagai pribadi yang unik, yang memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasannya serta kemampuan mengubah pandangan dasar dan system nilainya dan untuk melawan kecenderungan untuk menolak diri sendiri.

Konseling REBT yang berusaha menghilangkan gangguan emosional yang merusak diri dibagi menjadi beberapa teknik diantaranya:

1. Teknik-teknik Perilaku ialah teknik-teknik intervensi yang bertujuan membiasakan konseli mengalami dan bertindak dengan perilaku baru yang disepakati dalam proses terapi. Teknik perilaku antara lain berupa teknikteknik penguatan, penghentian, pembentukan perilaku, kendali stimulus, kendali afersif, pengelolah diri, desensitisasi sistematis, teknik relaksasi, modeling, perlakuan asertif dan kontrak perilaku.

2. Teknik-teknik Kognitif merupakan kelompok teknik intervensi yang dimaksudkan untuk membongkar akar-akar keyakinan irasional konseli. Teknik tersebut antara lain menentang keyakinan irasional, pekerjaan rumah yang bersifat kognitif, pengubahan pernyataan dan bahasa konseli, penggunaan humor, restrukturisasi kognitif, penghentian pikiran irasional, diskusi, dan terapi bacaan 3. Teknik –teknik Emotif untuk menghabiskan konseli dengan emosi baru yang diharapkan. Teknik emotif antara lain berupa imajinasi rasional emotif, permainan peran, latihan taklukkan rasa malu, penggunaan kekuatan dan tenaga untuk menghindari emosi negative, dan perkerjaan rumah yang berkaitan dengan pengembangaan emosi. Dalam mengubah pikiran negative siswa tentang harga dirinya digunakan teknik thought stopping yang berada dalam naungan teknik cognitive restructuring pada pendekatan REBT tersebut. Teknik cognitive restructuring yang dikembangkan oleh Meichenbaum, yang terpusat pada pesan-pesan negative yang disampaikan oleh orang kepada diri sendiri dan cenderung melumpuhkan kreativitasnya serta menghambat dalam mengambil tindakan penyesuaian diri yang realistis. Menurut pandangan Meichenbaum, orang mendengarkan diri sendiri dan berbicara kepada diri sendiri, yang bersama-sama menciptakan suatu dialog internal dan berkisar pada mendengarkan pesan negative dari sendiri dan menyampaikan pesan negative pula kepada diri sendiri. Dialog internal yang berisikan penilaian negative terhadap diri sendiri akan membuat orang lain gelisah dalam menghadapi tantangan hidup dan kurang mampu mengambil tindakan penyesuaian diri yang tepat. Struktur kognitif merupakan pikiran yang dapat menentukan kapan melanjutkan pikiran, menghentikan pikiran, dan mengubah pikiran. Struktur kognitif mempunyai beberapa aspek yaitu aspek mengatur pikiran, aspek memantau, aspek mengarahkan strategi, aspek menentukan penyebab masalah, aspek menentukan pilihan. Cognitive Restructuring adalah suatu cara untuk menata kembali pikiran yang menimbulkan atau menyebabkan ketegangan pada individu atau proses belajar untuk menyangkal distorsi kognitif atau fundamental“kesalahan berpikir,” dengan tujuan menggantikan pikiran seseorang yang tidak rasional, keyakinan kontra-faktual yang akurat dan dominan.

Penggunaan rekonstruksi kognitif ini telah digunakan dalam berbagai sasaran perilaku, seperti mengurangi pernyataan diri irasional, untuk mengatasi kecemasan, untuk mengubah perilaku rendah diri dan pernyataan negative. Corminer mengemukakan bahwa prosedur teknik cognitive restructuring ini meliputi tahapan-tahapan sebagai berikut:

1. Menyajikan rasional tentang cognitive restructuring itu dilatih dan dipelajari oleh konseli.

2. Menyuruh konseli mengidentifikasi pikiran-pikiran positif dan negative terhadap sesuatu situasi masalah.

3. Memperkenalkan prosedur dan cara meningkatkan harga diri.

4. Beralih dari pikiran yang merusak diri pada pikiran penaggulangan positif. 5. Pengenalan dan latihan-latihan pernyataan positif atau memberi penguatan. 6. Tindak lanjut. Tujuan dari teknik ini yaitu agar konseli terampil dalam mengenali dan mengamati sejauh mana pikiran dan perasaan pada saat itu, mengubah cara berpikir konseli yang salah, belajar tentang proses pembuatan keputusan, agar konseli dapat mengevaluasi tingkah laku mereka yang menitikberatkan pada pribadi yang negative.

Proses Pembentukan Harga Diri (skripsi dan tesis)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Khon menunjukkan adanya hubungan yang berarti antara penilaian anak terhadap dirinya dengan pola asuh orang tua. Anak dengan harga diri tinggi biasanya diasuh oleh orang tua yang mudah mengekspresikan kasih sayang, mempunyai perhatian terhadap masalah-masalah yang dihadapi anak, memiliki hubungan yang harmonis dengan anak, memiliki aktifitas yang dilakukan bersama, memiliki peraturan yang jelas dan memberikan kepercayaan kepada anak. Selain hubungan dengan orang tua, identitas berkelompok yang dimiliki anak juga mempengaruhi harga diri mereka. Anak usia sekolah mulai mengidentifikasikan dirinya pada kelompok tertentu ‘nilai lebih’ dibanding kelompok lain, hal ini akan menghasilkan harga diri yang tinggi pada diri anak. Namun pengaruh ini sangat kecil sebagaimana ditunjukkan oleh hasil peneliti. Coopersmith, yaitu bahwa harga diri anak hanya sedikit saja berhubungan dengan posisi sosial dan tingkat penghasilan orang tuanya. Harga diri anak terbentuk melalui berbagai pengalaman yang dialaminya, terutama yang diperolehnya dari sikap orang lain terhadap dirinya

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Diri (skripsi dan tesis)

Terbentuknya harga diri menurut Coopersmith dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu: a. Latar belakang social Latar belakang sosial meliputi :

1) Kelas Sosial

Kelas social merupakan aspek yang berhubungan dengan status social ekonomi. Kelas sosial umum klasifikasikan dalam tiga tingkatan yaitu kelas atas, kelas menengah, kelas bawah. Tingkat pendidikan, pekerjaan dan pendapatan keluarga akan menempatkan individu dalam kedudukan kelas social tertentu dalam masyarakat yang kemudian akan mempengaruhi harga diri seseorang. Orang tua yang berada pada kelas social atas akan mempengaruhi terbentuknya harga diri yang tinggi pada anak. Anak akan merasa bangga dan merasa dirinya berharga karena

kebutuhannya selalu terpenuhi dan bisa menikmati fasilitas yang dimiliki orang tuanya. Anaknya yang berasal dari kelas social menengah mempunyai harga diri yang menengah pula. Hal ini disebabkan orang tua dapat memberikan kebutuhan anak secukupnya beranggapan dirinya tidak berharga dibanding teman-temanya yang lain.

2) Agama

Agama sebagai kepercayaan ritual terorganisasi secara social dan diberlakukan oleh anggota masyarakat. Setiap agama memiliki jumlah pemeluk dan nilai-nilai yang berbeda dengan agama lainnya. Hal tersebut berpengaruh pada harga diri seseorang. Anak yang berasal dari agama yang berbeda dengan mereka yang agamanya dianut oleh kaum minoritas. Demikian pula dengan ketaatan seseorang terhadap nilai-nilai agama yang dianutnya membuat dirinya memiliki rasa bangga dan bahagia. Perasaan bangga ini membuat individu memiliki harga diri yang tinggi.

3) Riwayat pekerjaan orangtua

Orangtua yang memiliki pekerjaan tetap dan dapat meraih prestasi dalam pekerjaannya akan memberikan rasa aman dan bangga pada diri anak. Keadaan seperti membuat anak menilai dirinya secara positif. Sebaliknya, orangtua yang pekerjaannya, bahkan pernah 30 dipecat pada suatu jabatan tertentu, akan berdampak pada diri anak dan akibatnya dan mempengaruhi cara peniliain anak terhadap dirinya sendiri. Anak akan merasa malu, tidak memiliki harga diri, dan tidak berguna baik dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Hal ini dapat mengakibatkan anak memiliki harga diri yang rendah.

b. Karakteristik pengasuha

n Karakteristik pengasuhan meliputi hal-hal sebagai berikut :

1) Harga diri dan stabilitas ibu Hubungan emosioanl antara ibu dan anak biasanya sangat dekat sehingga apa yang dirasakan oleh ibu akan dilihat dan dihayati oleh anak dan akhirnya akan mempengaruhi kepribadian anak termasuk harga dirinya. Demikian pula dengan stabilitas emosional ibu akan tercermin pada diri anak. Ibu yang memiliki emosi yang stabil biasanya tenang sehingga tidak menyebabkan anak merasa bingung. Sebaliknya, ibu yang memiliki harga diri dan pribadi yang tidak stabil akan tercermin pula pada diri anak. Anak akan memandang dirinya sebagai orang yang sama seperti apa yang dialami oleh ibunya sehingga anak tidak bisa menilai secara positif akan dirinya sendiri.

2) Nilai- nilai pengasuhan

Menerapkan nilai-nilai yang positif pada anak perlu dilakukan oleh orang tua. Dalam proses sosialisasi terkandang anak memiliki sikap atau pendirian yang bertentangan dengan ketentuan social, maka dari itu orang tua dituntut untuk meluruskan kembali perilaku anak yang kurang tetap tersebut. Bila orang tua gagal menangani perilaku, maka orang tua dianggap telah gagal dalam mengembangkan harga diri yang tinggi pada diri anak mereka.

3) Riwayat perkawinan

Remaja yang berasal dari keluarga yang kacau biasanya lebih banyak mengalami kesulitan dalam hubungan social daripada remaja yang berasal dari keluarga yang utuh. Keadaan orang tua yang seperti itu menyebabkan sulit bagi anak menerima kenyataan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada harga diri remaja itu sendiri. Anak akan merasa malu, bingung dan takut terhadap masa depan dan kehidupannya karena kehilangan percaya diri. Perkawinan kembali dari orang tua juga akan berakibat harga diri rendah pada anak. Coopersmith mengemukakan bahwa anak-anak yang berasal dari orang tua tiri dan orang tua wali akan memiliki harga diri yang rendah.

4) Perilaku peran pengasuhan

Anak yang memiliki harga diri yang tinggi biasanya berasal dari ayah dan ibu yang berperan sama dalam mengasuh anak-anaknya. Perbedaan peran antara ayah dan ibu dalam mengasuh anak menyebabkan anak menjadi bingung tidak tahu mana yang harus didengar atau dipatuhi, apakah ayah atau ibu. Demikian pula halnya dengan orang tua yang tidak dapat melakukan perannya sebagai orang tua bagi anak-anaknya. Keadaan seperti ini mempengaruhi perkembangan pribadi anak dan menyebababkan terbentuknya harga diri yang rendah pada diri anak.

5) Peran pengasuhan ayah

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh cooperstmith pada ibu dan anak bahwa kelompok anak memiliki harga diri positif dari ayah yang memilki hubungan lebih dekat dan hangat dengan anakanaknya. Hal ini disebabkan karena anak-anaknya merasa bahwa dirinya dihargai dan dilindungi dengan penuh kehangatan sehingga perasaan seperti ini membuat dirinya bangga dan memiliki harga diri yang positif.

6) Interaksi ayah dan ibu

Pola interaksi antara ayah dan ibu yang kasar dan keras diharapkan anak-anaknya akan terbaca oleh anaknya dan membuat mereka merasa tidak nyaman, tegang, takut dan tidak memiliki rasa percaya diri. Hal ini akan berakibat pada terbentuknya harga diri yang rendah pada diri anak. Anak- anak dengan harga diri yang tinggi jarang sekali menyaksikan dan merasakan ketegangan antara ayah dan ibunya.

c. Karakteristik Subjek

Adapun karakteristik subjek meliputi beberapa hal sebagai berikut:

1) Atribut fisik

Permasalahan yang sering dialami remaja adalah artibut fisik. Postur tubuh yang dinilai kurang ideal oleh orang lain maupun diri sendiri terkadang menyebabkan remaja malu untuk berhubungan dengan orang lain, tidak percaya diri cenderung menjadi pendiam dan malas bergaul. Keadaan tersebut dapat mempengaruhi kepribadiannya termasuk harga dirinya, mereka akan menilai dirinya sebagai orang yang tidak memiliki harga diri yang positif

2) Kemampuan umum Intelegensi atau kemampuan umum dapat mempengaruhi harga diri seseorang. Bila individu memiliki gambaran yang pasti tentang dirinya sebagai orang yang mampu menghadapi tantangan baru, memiliki rasa percaya diri, harga diri serta tidak putus asa apabila mengahadapi kegagalan. Individu seperti ini dapat digolongkan sebagai orang yang memiliki harga diri tinggi. Sebaliknya orang yang mempunyai kemampuan umum di bawah rata-rata akan memandang dirinya sebagai orang tidak berharga atau tidak berguna baik dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Dia selalu merasa takut menghadapi tantangan yang baru, tidak aktif dan cepat putus asa dalam menghadapi kesulitan. Individu seperti ini adalah orang yang mempunyai harga diri yang rendah.

3) Pernyataan sikap

Seseorang yang menilai dan menyatakan dirinya sebagai orang yang tidak mampu melakukan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, maka ia akan mengembangkan perasaan tak bernilai dan sering merasa sedih, depresi, malas dan murung. Keadaan seperti ini akan berpengaruh pada terbentuknya harga diri yang negative.

4) Masalah dan penyakit

Menurut coopersmith orang yang harga dirinya cenderung rendah sering mengalami gejala seperti: penyakit menular, penyakit turunan, menurunya nafsu makan dan gelisah daripada orang yang termsuk dalam kategori harga diri yang tinggi. Hal ini disebabkan karena individu secara terus menerus merasa bahwa penyakit yang dialaminya sebagai masalah yang serius. Dengan demikian ia akan mengembangkan perasaan terhadap dirinya sebagai orang yang tidak berharga dan tidak berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

5) Nilai-nilai diri

Setiap orang menginginkan penilain positif terhadap dirinya, akan tetapi dalam kehidupan social pada umumnya tidak semua orang selalu dapat memberikan penilaian yang positif terhadap dirinya sendiri. Hal ini disebabkan adanya perbedaan individu. Individu yang selalu memandang dirinya sebagai orang yang lebih atau sama dengan orang lain cenderung dapat mengembangkan harga dirinya yang positif dalam dirinya.

6) Aspirasi

Hal yang berhubungan dengan inspirasi adalah keberhasilan. Istilah keberhasilan memiliki makna yang berbeda untuk setiap orang. Rasa tidak berhasil dari usahanya dapat menimbulkan kekecawaan dan merasa dirinya sebagai orang yang tidak akan pernah berhasil karena memiliki kemampuan dan tidak berguna bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

d. Riwayat Awal dan pengalaman

Factor ini meliputi beberapa hal diantaranya:

1) Ukuran dan posisi dalam keluarga

Anak yang berasal dari keluarga yang lebih baik dari tiga orang anak akan terjadi persaingan antara saudara untuk mendapatkan perhatian yang lebih dari orang tuanya. Selain itu, posisi dalam keluarga juga memberikan pengaruh penting dalam pengalaman social anak.

2) Cara memberi makna (feeding practices)

Anak yang berasal dari keluarga yang tidak memperhatikan kebutuhan makanan berpengaruh pada perkembangan anak dan perkembangan harga dirinya karena anak merasa anak tidak aman.

3) Masalah dan trauma pada masa anak-anak

Pengalaman pahit dan peristiwa menakutkan yang pernah dialami sejak masa anak-anak dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian termasuk harga diri anak itu sendiri. Pengalaman seperti itu akan membekas dalam waktu yang lama dan sulit untuk membuangnya dan menyebabkan dirinya merasa kehilangan rasa percaya diri. Kehilangan rasa percaya diri ini akan meyebabkan terbentuknya harga diri yang rendah.

4) Hubungan social awal

Keluarga merupakan unit social pertama dan utama yang dijumpai anak dalam hidupnya. Dari keluarga anak mengenal konsep diri, peranan yang harus diperankan sesuai dengan jenis kelaminnya, keterampilan intelektual maupun social. Dengan demikian hubungan social yang baik diantara anggota keluarga memberikan rasa aman dan berpengaruh pada terbentuknya harga diri yang tinggi pada diri anak.

e. Hubungan orang tua- Anak

Hubungan orang tua dengan anak merupakan faktor mendasar yang mempengaruhi perkembangan anak, termasuk harga dirinya. Studi yang dilakukan coopersmith lebih menekankan pola asuh orang tua yaitu sikap dan perilaku orang tua yang cenderung otoriter menyebabkan anak menjadi kurang percaya diri terhadap kemampuannya sendiri. Poal asuh yang permisif ditandai dengan supervisi yang longgar dan bimbingan yang minim terhadap anak yang menjadi individu yang kurang dapat menghargai orang lain, emosi yang tidak stabil dan control social yang kurang. Ini yang menyebabkan anak tergolong memiliki harga diri yang rendah

Karekteristik Harga Diri (skripsi dan tesis)

Harga diri seorang tergantung bagaimana dia menilai tentang dirinya yang dimana hal ini akan mempengaruhi perilau dalam kehidupan sehari-hari. Penilaian individu ini diungkapkan dalam sikap-sikap yang dapat bersifat tinggi dan negative. Menurut Coopersmith harga diri mempunyai beberapa karakteristik, yaitu:

a. Harga diri sebagai sesuatu yang bersifat umum.

b. Harga diri bervariasi dalam berbagai pengalaman.

c. Evaluasi diri. Individu yang memiliki harga diri tinggi menunjukkan perilaku menerima dirinya apa adanya, percaya diri, puas dengan  karakter dan kemampuan diri dan individu yang memiliki harga diri rendah, akan menunjukkan perhargaan buruk terhadap dirinya sehingga tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan social.

Harga diri mulai terbentuk setelah anak lahir, ketika anak berhadapan dengan dunia luar dan berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya. Interaksi secara minimal memerlukan pengakuan, penerimaan peran yang saling tergantung pada orang yang bicara dan orang yang diajak bicara. Interaksi menimbulkan pengertian tentang kesadaran diri, identitas, dan pemahaman tentang diri. Hal ini akan membentuk penilaian individu terhadap dirinya sebagai orang yang berarti, berharga, dan menerima keadaan diri apa adanya sehingga individu mempunyai perasaan harga diri. Harga diri mengandung pengertian ”siapa dan apa diri saya”. Segala sesuatu yang berhubungan dengan seseorang, selalu mendapat penilaian berdasarkan kriteria dan standar tertentu, atribut-atribut yang melekat dalam diri individu akan mendapat masukan dari orang lain dalam proses berinteraksi dimana proses ini dapat menguji individu, yang memperlihatkan standar dan nilai diri yang terinternalisasi dari masyarakat dan orang lain dalam sikap-sikap yang dapat bersifat negative atau positif.

a. Karakteristik harga diri tinggi

Harga diri yang tinggi akan membangkitkan rasa percaya diri, penghargaan diri, rasa yakin akan kemampuan diri, rasa berguna serta rasa bahwa kehadirannya diperlukan didalam dunia ini. Contoh: seorang remaja yang memiliki harga diri yang cukup tinggi, dia akan yakin dapat mencapai prestasi yang dia dan orang lain harapkan. Pada gilirannya, keyakinan itu Akan memotivasi remaja tersebut untuk sungguh-sungguh mencapai apa yang diinginkan. Karakteristik anak yang memiliki harga diri yang tinggi menurut Clemes dan Bean, antara lain:

1) Bangga dengan hasil kerjanya.

2) Bertindak mandiri.

3) Mudah menerima tanggung jawab.

4) Mengatasi prestasi dengan baik.

5) Menanggapi tantangan baru dengan antusiasme.

6) Merasa sanggup mempengaruhi orang lain.

7) Menunjukkan jangkauan perasaan dan emosi yang luas.

Manfaat dari dimilikinya harga diri yang tinggi diantaranya:1

1) Individu akan semakin kuat dalam menghadapi penderitaanpenderitaan hidup, semakin tabah, dan semakin tahan dalam menghadapi tekana-tekanan kehidupan, serta tidak mudah menyerah dan putus asa.

2) Individu semakin kreatif dalam bekerja.

3) Individu semakin ambisius, tidak hanya dalam karier dan urusan financial, tetapi dalam hal-hal yang ditemui dalam kehidupan baik secara emisional, kreatif maupun spiritual.

4) Individu akan memiliki harapan yang besar dalam membangun hubungan yang baik dan konstruktif.

5) Individu akan semakin hormat dan bijak dalam memperlakukan orang lain, karena tidak memandang orang lain sebagai ancaman.

b. Karakteristik harga diri rendah

Remaja yang memiliki harga diri rendah akan cenderung merasa bahwa dirinya tidak mampu dan tidak berharga. Disamping itu remaja dengan harga diri rendah cenderung untuk tidak berani mencari tantangan – tantangan baru dalam hidupnya, lebih senang menghadapi hal-hal yang sudah dikenal dengan baik serta menyenangi hal-hal yang tidak penuh dengan tuntutan, cenderung tidak merasa yakin akan pemikiran-pemikiran serta perasaan yang dimilikinya, cenderung takut menghadapai respon dari orang lain, tidak mampu membina  komunikasi yang baik dan cenderung merasa hidupnya tidak bahagia. Pada remaja yang memiliki harga diri rendah inilah sering muncul perilaku rendah. Berawal dari perasa tidak mampu dan tidak berharga, mereka mengkompensasikannya dengan tindakan lain yang seolah-olah membuat dia lebih berharga. Misalnya dengan mencari pengakuan dan perhatian dari teman-temannya. Dari sinilah kemudian muncul penyalahgunaan obat-obatan, berkelahi, tawuran, yang dilakukan demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan.

Karakteristik anak dengan harga diri yang rendah menurut Clemes dan Bean diantaranya:

1) Menghindari situasi yang dapat mencetuskan kecemasan.

2) Merendahkan bakat dirinya.

3) Merasa tak ada seorangpun yang menghargainya.

4) Menyalahkan orang lain atas kelemahannya sendiri.

5) Mudah dipengaruhi oleh orang lain.

6) Bersikap defensif dan mudah frustrasi.

7) Merasa tidak berdaya.

8) Menunjukkan jangkauan perasaan dan emosi yang sempit Akibat memiliki harga diri yang negatif, yaitu :

a) Mudah merasa cemas, stress, merasa kesepian dan mudah terjangkit depresi.

b) Dapat menyebabkan masalah dengan teman baik dan social.

c) Dapat merusak secara serius, akademik dan penampilan kerja.

d) Membuat underchiver dan meningkatkan penggunaan obatobat dan alkohol.

Aspek- Aspek Harga Diri (skripsi dan tesis)

Menurut Coopersmith terdapat empat aspek : kekuatan, signifikan, kebajikan dan kompetensi:

a. Keberartian Diri (Significance)

Hal itu membuat individu cenderung mengembangkan harga diri yang rendah atau negatif. Jadi, berhasil atau tidaknya individu  memiliki keberartian diri dapat diukur melalui perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh lingkungan.

b. Kekuatan Individu (Power)

Kekuatan di sini berarti kemampuan individu untuk mempengaruhi orang lain, serta mengontrol atau mengendalikan orang lain, di samping mengendalikan dirinya sendiri. Apabila individu mampu mengontrol diri sendiri dan orang lain dengan baik maka hal tersebut akan mendorong terbentuknya harga diri yang positif atau tinggi, demikian juga sebaliknya. Kekuatan juga dikaitkan dengan inisiatif. Pada individu yang memiliki kekuatan tinggi akan memiliki inisiatif yang tinggi. Demikian sebaliknya.

c. Kompetensi (Competence)

Kompetensi diartikan sebagai memiliki usaha yang tinggi untuk mendapatkan prestasi yang baik, sesuai dengan tahapan usianya. Misalnya, pada remaja putra akan berasumsi bahwa prestasi akademik dan kemampuan atletik adalah dua bidang utama yang digunakan untuk menilai kompetensinya, maka individu tersebut akan melakukan usaha yang maksimal untuk berhasil di bidang tersebut. Apabila usaha individu sesuai dengan tuntutan dan harapan, itu berarti invidu memiliki kompetensi yang dapat membantu membentuk harga diri yang tinggi. Sebaliknya apabila individu sering mengalami kegagalan  dalam meraih prestasi atau gagal memenuhi harapan dan tuntutan, maka individu tersebut merasa tidak kompeten. Hal tersebut dapat membuat individu mengembangkan harga diri yang rendah.

d. Ketaatan Individu Dan Kemampuan Memberi Contoh (Virtue)

Ketaatan individu terhadap aturan dalam masyarakat serta tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari norma dan ketentuan yang berlaku di masyarakat akan membuat individu tersebut diterima dengan baik oleh masyarakat. Demikian juga bila individu mampu memberikan contoh atau dapat menjadi panutan yang baik bagi lingkungannya, akan diterima secara baik oleh masyarakat. Jadi ketaatan individu terhadap aturan masyarakat dan kemampuan individu memberi contoh bagi masyarakat dapat menimbulkan penerimaan lingkungan yang tinggi terhadap individu tersebut. Penerimaan lingkungan yang tinggi ini mendorong terbentuknya harga diri yang tinggi. Demikian pula sebaliknya.

Sedangakn Menurut Maslow ada dua aspek utama yang mempengaruhi harga diri individu, yaitu :

a. Penghargaan dari diri sendiri

Penghargaan dari sendiri adalah berupa keyakinan bahwa individu merasa aman dengan keadaan dirinya, merasa berharga dan adekuat.

Ketidakmampuan merasakan diri berharga membuat individu merasa rendah diri, kecil hati, tidak berdaya dalam menghadapi kehidupan. Perasaan berharga terhadap diri dapat ditumbuhkan melalui pengetahuan yang baik tentang diri serta mampu menilai secara obyektif kelebihan-kelebihan maupun kelemahan-kelamahan yang dimiliki. Jadi, individu dapat menghargai dirinya bila individu mengetahui siapa dirinya.

b. Penghargaan dari orang lain

Keberartian ini dikaitkan dengan penerimaan, perhatian, dan afeksi yang ditunjukkan oleh lingkungan. Bila lingkungan memandang individu memiliki arti, nilai, serta dapat menerima inidividu apa adanya maka hal itu memungkinkan individu untuk dapat menerima dirinya sendiri, yang pada akhirnya mendorong individu memiliki harga diri tinggi atau yang positif. Sebaliknya bila lingkungan menolak dan memandang individu tidak berarti maka individu akan mengembangkan penolakan dan mengisolasi diri.

Sulit untuk mengetahui apakah orang lain sebenarnya menghargai atau tidak, oleh sebab itu individu perlu merasa yakin bahwa orang lain berpikir baik tentng dirinya. Ada banyak cara supaya orang lain menghargai individu, antara lain melalui  reputasi, status sosial, popularitas, prestasi, atau keberhasilan lainnya di dalam lingkungan masyarakat, kerja, sekolah, dan lain-lain

Pengertian Harga Diri (skripsi dan tesis)

Harga diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang mempunyai peran penting dan berpengaruh besar terhadap sikap dan perilaku individu. Menurut Coopersmit bahwa :  “Harga diri merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan memandang dirinya, terutama sikap menerima, menolak, dan indikasi besarnya kepercayaan individu terhadap kemampuan, keberartian, kesuksesan, keberhargaan”. Secara singkat, harga diri adalah “Personal judgment” mengenai perasaan berharga atau berarti yang diekspresikan dalam sikap-sikap individu terhadap dirinya”. Stuart dan Sundeen mengatakan bahwa harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal dirinya. Dapat disimpulkan bahwa harga diri menggambarkan sejauhmana individu tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan kompeten

Baron dan Byrne menyebutkan harga diri sebagai penilaian terhadap diri yang dipengaruhi oleh karakteristik yang dimiliki orang lain dalam menjadi pembanding.3 Sedangkan Harper memberikan pengertian tentang harga diri adalah penilaian diri yang dipengaruhi oleh sikap, interaksi, penghargaan dan penerimaan orang lain terhadap individu. Shahizan mengungkapkan bahwa harga diri merupakan evaluasi positif dan negative tentang diri sendiri yang dimiliki seseorang. Evaluasi ini memperlihatkan bagaimana individu menilai dirinya sendiri dan diakui atau tidaknya kemampuan dan keberhasilan yang diperolehnya. Penilaian tersebut terlihat dari penghargaan mereka terhadap keberadaan dan keberartian dirinya. Gecas dan Rosenberg mendefinisikan harga diri sebagai evaluasi positif yang menyeluruh tentang dirinya.

Kreitner dan kinicki mengungkapkan bahwa: “Harga diri adalah suatu keyakinan nilai diri sendiri berdasarkan evaluasi diri secara keseluruhan. Orang dengan harga diri yang tinggi memandang diri mereka sendiri berharga, mampu dan dapat diterima. Orang dengan harga diri yang rendah memandang diri mereka sendiri dalam pemahaman yang negative. Mereka tidak merasa baik dengan diri mereka sendiri dan dipenuhi dengan rasa sangsi akan dirinya sendiri.” Menurut Maslow , melihat harga diri sebagai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia. Kebutuhan akan rasa harga diri ini oleh Maslow dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

a. Penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri yang mencakup hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, adekuasi, kemandirian dan kebebasan. Individu ingin mengetahui atau yakin bahwa dirinya berharga serta mampu mengatasi segala tantangan dalam hidupnya.

b. Penghargaan dari orang lain, antara lain prestasi. Dalam hal ini individu butuh penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya disini individu akan berusaha memenuhi kebutuhan akan harga diri, apabila kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memilikinya telah terpenuhi atau terpuaskan

Kecemasan Akademik (skripsi dan tesis)

Kecemasan akademik merupakan jenis kecemasan yang berkaitan dengan bahaya yang akan datang dari lingkungan lembaga akademik termasuk pengajar dan mata pelajaran ataupun mata kuliah tertentu. Hal tersebut merupakan perasaan mental gelisah atau distress sebagai reaksi terhadap situasi di lembaga akademik yang dianggap negatif (Attri dan Neelam, 2013). Sedangkan Ottens (1991) menjelaskan bahwa istilah kecemasan akademik mengacu pada terganggunya pola pemikiran, respon fisiologis dan perilaku, karena perasaan khawatir pada buruknya kinerja pada saat tugas akademik diberikan.
Ottens (1991) berpendapat bahwa ada empat karakteristik yang ada pada kecemasan akademik, meliputi:
a. Pola kecemaan yang menimbulkan aktivitas mental (pattern of anxiety-engendering mental activity). Individu menunjukkan pemikiran, persepsi dan pandangan yang mengarah pada kesulitan akademik yang dihadapi. Ada tiga hal penting dalam pola kecemasan yang menyebabkan aktivitas mental, yaitu:
1) Rasa khawatir. Perasaan tidak aman dan mencemaskan segala sesuatu yang mereka lakukan menjadi salah.
2) Dialog diri (self-dialogue) yang maladaptif. Berbentuk kritikan keras terhadap diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan self-talk yang menimbulkan perasaan cemas yang berkontribusi pada kepercayaan diri yang rendah dan penyelesaian masalah yang tidak teratur.
3) Pengertian dan keyakinan yang salah. Mahasiswa memiliki keyakinan yang salah tentang isu-isu bagaimana menetapkan nilai dalam diri, cara terbaik untuk memotivasi diri sendiri, dan bagaimana cara mengatasi kecemasan dan kesalahan dalam isu-isu inilah yang memicu adanya kecemasan akademik.
b. Perhatian ke arah yang salah (misdirecxted attention).
Tugas akademik seperti membaca buku, ujian, dan mengerjakan tugas membutuhkan konsentrasi penuh. Seseorang yang cemas secara akademik membiarkan perhatian
mereka menurun. Terdapat 2 indikator, yaitu:
1) Pengganggu Internal. Perhatian menurun akibat gangguan-gangguan dari dalam diri
seperti kekhawatiran, melamun dan reaksi fisik.
2) Pengganggu eksternal. Perhatian menurun akibat gangguan-gangguan dari luar diri
seperti perilaku orang lain, suara jam, suara-suara bising, dan lain-lain.
c. Distress secara fisik (physiological distress)
Banyak perubahan yang terjadi pada tubuh yang dihubungkan dengan kecemasan seperti otot menjadi kaku, berkeringat, jantung berdetak lebih cepat, dan tangan gemetar.
Aspek-aspek emosional dan fisik dari kecemasan dapat sangat mengganggu jika diinterpretasikan sebagai hal yang berbahaya atau menjadi fokus perhatian yang penting selama manjalankan tugas akademik.
d. Perilaku yang kurang tepat (inappropriate behaviours).
Kecemasan akademik pada mahasiswa terjadi karena ingin memilih cara yang tepat
dalam menghadapi kesulitan. Perilaku tersebut mengarah pada situasi akademik yang
tidak tepat, indikatornya yaitu:
1) Menunda (prokrastinasi). Adalah hal yang umum dijumpai, seperti menghindar
dari pelaksanaan tugas.
2) Kecermatan yang berlebihan. Kecemasan akademik juga tampak pada saat
menjawab soal-soal secara terburu-buru atau terlalu teliti dalam ujian untuk
menghindari kesalahan.

Plagiarisme (skripsi dan tesis)

Plagiarisme menurut historisnya, berakar dari istilah Romawi yaitu plagium, yang artinya adalah penculikan anak atau budak. Istilah ini kemudian dipakai Mancus Valerius Martialis untuk menyindir penyair lainnya, Fedentinus, yang melakukan plagiat atas syairsyairnya (Soelistyo, 2011). Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan plagiarisme sebagai penjiplakan yang melanggar hak cipta. Sedangkan Weber-Wulff (2014) mendefinisikan bahwa plagiarisme adalah tindakan sadar dari seorang individu untuk mengambil sebagian dari ide orang lain yang diakui sebagai pekerjaannya dengan penataan ulang untuk menyamarkan asal ide pengambilan, sehingga pembaca mengira bahwa karya tersebut orisinil. Tindakan yang dapat masuk ke dalam jenis plagiarisme cukup beragam dan luas. Jenis-jenis tindakan tersebut menurut Weber-Wulff (2014) meliputi tindakan-tindakan sebagai berikut:

a. Copy and paste.

Tindakan ini adalah yang paling popular dan sering dilakukan. Plagiator mengambil sebagian porsi teks yang biasanya berasal dari internet kemudian dengan (CTRL + C dan CTRL + V) salinan dokumen diambil dan disisipkan ke dalam tulisan yang dibuat. Dari penggabungan dokumen ini dapat dilihat ketidaksesuaian ide dan gaya penulisan. Di bagian tertentu tulisan terlihat baik sementara di bagian lainnya tidak.

b. Penerjemahan.

Penerjemahan tanpa mengutip atau merujuk secara tepat juga sering dilakukan. Plagiator biasanya memilih bagian teks dari sumber yang akan diterjemahkan, kemudian secara manual atau melalui software, penerjemah malakukan penerjemahan ke dalam draft kasar. Tak jarang karena menggunakan software yang tidak peka terhadap konteks kalimat, maka hasil terjemahan pun menjadi kacau.

c. Plagiarisme terselubung.

Plagiarisme terselubung disini adalah tindakan mengambil sebagian porsi tulisan orang lain untuk kemudian mengubah beberapa kata atau frasa dan menghapus sebagian lainnya tanpa mengubah sisa dan konstruksi teks lainnya. d. Shake and paste collections. Tindakan ini mengacu pada pengumpulan beragam sumber tulisan untuk kemudian mengambil darinya ide dalam level paragraph bahkan kalimat untuk menggabungkannya menjadi satu. Seringkali hasil teks dari penggabungan ini tidak tersusun secara logis dan menjadi tidak koheren secara makna.

e. Clause quilts.

Tindakan ini adalah mencampurkan kata-kata yang dibuat dengan potongan tulisan dari sumber-sumber yang berbeda. Potongan teks dari berbagai sumber digabungkan dan tak jarang sebagian merupakan kalimat yang belum tuntas digabung dengan potongan lain untuk melengkapinya. Beberapa ahli menamakannya mosaic plagiarism. f. Plagiarisme struktural. Jenis plagiarisme ini adalah terkait dengan peniruan pola struktur tulisan, dari mulai struktur retorika, sumber rujukan, metodologi, bahkan sampai tujuan penelitian.

g. Pawn sacrifice.

Tindakan ini merupakan upaya mengaburkan beberapa bagian dari teks yang memang digunakan walaupun penulis menuliskan sumber kutipannya. Sering kali bagian teks dari sumber lain yang dikutip dan diberi pengakuan hanya sebagian kecil saja, padahal bagian yang diambil lebih dari itu.

h. Cut and slide.

Pada dasarnya mirip dengan pawn sacrifice dengan sedikit perbedaan. Plagiator biasanya mengambil satu porsi teks dari sumber lain. Sebagian teks tersebut dikutip dan diberi pengakuan dengan cara yang benar dengan kutipan langsung, sementara sebagian lain yang jelas-jelas diambil langsung tanpa modifikasi dibiarkan begitu saja masuk dalam tulisannya.

i. Self-plagiarism

. Jenis tindakan ini adalah menggunakan ide dari tulisan-tulisan sendiri yang telah dibuat sebelumnya namun menggunakannya dalam tulisan baru tanpa kutipan dan pengakuan yang tepat. Walaupun penulis merasa bahwa ide tersebut adalah miliknya dalam tulisan sebelumnya dan dapat menggunakannya secara bebas sesuai keinginannya, hal ini dianggap sebagai praktik akademik yang tidak baik.

j. Other dimensions.

Jenis-jenis tindakan plagiarisme lainnya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Plagiator dapat menjiplak dari satu sumber atau lebih, atau menggabungkan dua atau lebih bentuk plagiat yang disebutkan diatas dalam tulisan yang dibuat. Tindakan plagiat masih memungkinkan untuk berkembang dengan modifikasi dimensi dari tindakannya

Aspek-aspek Kecemasan Akademik (skripsi dan tesis)

Calhoun dan Acocella (1995) mengemukakan aspek-aspek
kecemasan ke dalam tiga reaksi, yaitu:
a. Reaksi Emosional : reaksi ini adalah komponen dari kecemasan
yang kaitannya ada pada persepsi individu, sehingga akan memberi
pengaruh pada psikologis individu seperti, perasaan sedih, perasaan
keprihatinan, ketegangan, mencela diri sendiri atau orang lain.
b. Reaksi Kognitif : reaksi ini merupakan komponen kecemasan yang
kaitannya pada kemampuan berpikir jernih individu dalam
penyelesaian sebuah masalah. Hal ini tentu dapat memunculkan rasa
kekhawatiran dan ketakutan individu
c. Reaksi Fisiologis : reaksi ini berkaitan dengan reaksi tubuh
individu terhadap sumber-sumber kecemasan seperti ketakutan dan
kekhawatiran. Reaksi ini berhubungan dengan sistem syaraf yang
mampu mengendalikan otot dan kelenjar tubuh sehingga
memunculkan reaksi seperti jantung yang berdetak lebih keras,
nafas bergerak lebih cepat hingga tekanan darah yang meningkat

Pengertian Kecemasan Akademik (skripsi dan tesis)

Diawali dengan konsep Freud (dalam Hidayat 2011), kecemasan
merupakan ketakutan yang tidak jelas yang tidak memiliki objek
sehingga seringkali individu sulit untuk menunjukkan sumber
kecemasan dan sulit untuk menjelaskannya secara spesifik. Tidak jauh
berbeda dengan pendapat dari ahli lain yaitu Atkinson, dkk (1996,
dalam Safaria, 2009) kecemasan merupakan emosi yang tidak
menyenangkan yang dapat menimbulkan gejala seperti perasaan
khawatir, dan rasa takut. Pendapat ini juga sejalan dengan pernyataan
dari Priest (1994 dalam Safaria, 2009) bahwa kecemasan atau perasaan
cemas ialah suatu keadaan yang dialami seseorang yang membuat ia
berpikir tentang sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Blackburn
dan Davidson (1994) menambahkan bahwa proses terjadinya
kecemasan bermula ketika individu bertemu dengan suatu stimulus
yang dirasakan dapat memberi ancaman bagi individu sendiri baik
secara langsung atau tidak langsung berdasarkan hasil pengamatan atau
pengalaman dari individu yang diolah melalui proses kognitif dengan
menggunakan skemata. Dari hasil skemata tersebut, individu akan
merespons sebuah stimulus berdasarkan penilaian atau proses kognitif.
Respons yang akan ditimbulkan tergantung dari seberapa baik individu
menilai atau mengenali situasi tersebut dan seberapa baik individu
mampu mengendalikan diri dalam menghadapi stimulus atau ancaman
tersebut.
Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kecemasan
merupakan suatu kondisi dimana individu merasa berada dalam situasi
yang tidak meyenangkan dan merasa terancam sehingga menimbulkan
kekhawatiran serta rasa takut.
Berdasarkan penjelasan mengenai kecemasan diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa kecemasan akademik adalah suatu keadaan atau
pengalaman yang tidak menyenangkan yang dialami oleh individu
yang memunculkan rasa khawatir dan takut dalam konteksnya
menghadapi tugas-tugas akademik.
Ketidakyakinan akan kemampuan untuk menyelesaikan tugastugas
akademik seringkali memicu munculnya kecemasan, kecemasan
ini disebut dengan kecemasan akademik oleh Bandura (1997, dalam
Prawitasari 2012).
Ahli lain Ottens (1991), juga menyampaikan pendapat yang serupa,
bahwa kecemasan akademik mengarah pada munculnya pola
pemikiran dan respon fisik perilaku yang terganggu yang disebabkan
oleh performa yang ditampilkan siswa tidak sesuai dengan harapan
atau ketika siswa merasa tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas
akademik yang diberikan. Dengan kata lain, ketika siswa tidak mampu
menyelesaikan tugas yang diberikan maka muncullah kecemasan
akademik, kecemasan ini mengarah pada terganggunya pola pemikiran
dan respon fisik seorang siswa.
Valiante dan Pajares (1999) menyampaikan pendapat yang sejalan
dengan dua pendapat yang telah dipaparkan di atas, bahwa kecemasan
akademis mengacu pada perasan tegang dan ketakutan yang dirasakan
siswa pada sesuatu yang akan terjadi. Perasaan tersebut tentu saja
dapat mengganggu aktivitas akademis serta pelaksanaan tugas.
Dari beberapa penjelasan yang telah dikemukakan oleh beberapa
ahli diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa kecemasan akademik
mengarah pada gangguan pola pikir, reaksi fisik seperti rasa takut,
kekhawatiran, dan ketegangan yang dipicu oleh ketidakampuan
mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik,
ketidakmampuan mengerjakan ujian atau tes yang diberikan dosen, dan
ketidakmampuan berinteraksi serta berkomunikasi dengan dosen

Bentuk-bentuk Defense Mechanism (skripsi dan tesis)

Jika individu menggunakan defense mechanism secara efektif dan
sesuai dengan usia perkembangan yang sedang dijalaninya maka individu
tersebut memiliki kepribadian yang sehat. Kepribadian yang sehat
memiliki kemampuan dalam menggunakan defense mechanism yang
“matang” yakni sesuai dengan masa usia perkembangan individu.
Sebaliknya, pribadi yang tidak sehat akan menggunakan defense
mechanism yang “tidak matang” yakni yang tidak sesuai dengan usia
perkembangan individu tersebut, ini menunjukkan individu menggunakan
defense mechanism secara tidak efektif (Arif, 2006).
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan subjek yang menempuh
pendidikan di bangku kuliah yaitu usia mahasiswa 18-25 tahun. Pada masa
usia mahasiswa ini, mahasiswa menjalani tugas-tugas perkembangan
seperti menerima keadaan jasmaniah dan dapat menggunakannya secara
efektif, mencapai kemandirian emosional, mencapai perilaku yang
bertanggung jawab secara sosial, secara sadar mengembangkan gambaran
dunia yang lebih memadai, serta mengembangkan sistem nilai etika
sebagai petunjuk dalam berperilaku (Sumanto, 2014). Dari penjelasan
singkat diatas, maka diharapkan pada masa usia mahasiswa ini, mahasiswa
dapat menggunakan defense mechanism yang “matang” yakni yang sesuai
dengan usia perkembangannya.
Vaillant (1977, dalam Kline) mengklasifikasikan defense
mechanism ke dalam 3 kategori, yakni : defense mechanism yang
tergolong matang (mature), defense mechanism yang tergolong tidak
matang (immature), dan defense mechanism yang tergolong neurotik
(neurotic).
1. Defense Mechanism yang tergolong Mature
Vaillant menjelaskan bahwa pertahanan yang matang (mature)
lebih adaptif dan mengarah pada kesehatan mental yang lebih baik.
Steiner (2001, dalam Bowins) juga menjelaskan bahwa defense
mechanism matang (mature) melibatkan distorsi kognitif yang relatif
kecil, yang sebagian besar terdiri dari redaman pengalaman yang tidak
diinginkan. Defense mechanism yang mature biasanya berhubungan
dengan efek yang positif seperti kepuasaan hidup atau memperoleh
kesuksesan dalam pekerjaan (dalam Zeigler-Hill & Pratt, 2007).
Bentuk-bentuk defense mechanism yang tergolong Mature
yakni; Humor, Sublimasi, Antisipasi, dan Supresi.
a. Humor
Individu dapat menggunakan defense humor dengan cara
mengubah suatu peristiwa yang dianggap berpotensi dapat
mengganggu menjadi lebih menyenangkan.
b. Sublimasi
Individu dapat menggunakan defense sublimasi untuk mengubah
perasaan atau impuls yang mengganggu dengan menyalurkannya
ke dalam dorongan yang lebih sesuai atau diterima, prosesnya
ialah memodifikasi kesadaran akan kondisi yang negatif.
c. Antisipasi
Individu dapat menggunakan defense ini untuk mengalihkan
perhatian dari pengalaman saat ini demi mempersiapkan
konsekuensi yang akan terjadi.
d. Supresi
Defense ini dilakukan dengan sengaja dan sadar oleh individu
untuk mengurangi fokusnya pada keadaan intrapsikis yang
mengganggunya dengan cara mengalihkan perhatian akan
gangguan tersebut.
2. Defense Mechanism yang tergolong Immature
Defense mechanism yang tidak matang (immature) melibatkan
distorsi kognitif yang paling ekstrem sehingga dapat mengganggu
realitas yang ada. Sering ditemui ketika stres berat dan ada gangguan
kepribadian, misalnya saja proyeksi dan gangguan paranoid (Bowins,
2004). Defense mechanism yang tidak matang atau immature biasanya
berhubungan dengan efek yang negatif seperti kecemasan, depresi
bahkan gangguan makan (Zeighler-Hill et al, 2008).
Menurut Bowins (2004), bentuk-bentuk defense mechanism
yang tergolong ke dalam Immature yakni; proyeksi, agresi pasif,
acting-out, isolasi, devaluasi, fantasi autistik, penyangkalan (denial),
pengalihan (displacement), disosiasi, rasionalisasi, dan somatisasi.
a. Proyeksi
Individu yang menggunakan defense ini akan mengubah
pengalaman atau peristiwa sedemikian rupa sehingga individu
meyakini bahwa dorongan dan sikap yang tidak dapat diterima itu
bukan dari diri sendiri melainkan berasal dari orang lain atau
objek luar.
b. Agresi Pasif
Ketika individu menghadapi konflik emosional atau tekanan baik
internal maupun eksternal, individu akan mengekspresikan sikap
agresinya kepada orang lain secara tidak langsung.
c. Acting-out
Pada defense ini, individu akan melakukan suatu tindakan dengan
cepat ketika menghadapi sebuah konflik emosional atau mendapat
sebuah tekanan baik internal maupun eksternal dibandingkan jika
hanya menggunakan perasaan saja.
d. Isolasi
Pada defense ini, individu menarik diri dari situasi yang
menimbulkan stres atau ketegangan didalam dirinya. Individu
juga akan memisahkan aspek kognitif (pikiran), afektif
(perasaan), dan konatif (tingkah laku).
c. Devaluasi
Pada defense ini, individu menghadapi konflik emosional dan
tekanan dari dalam dan luar dirinya dengan mengatribusi sifat
negatif yang berlebihan pada diri sendiri atau orang lain.
d. Fantasi Autistik
Pada defense ini individu menghadapi konflik emosional dan
tekanan dari dalam dan luar dirinya dengan khayalan yang
berlebihan.
e. Denial
Defense ini merupakan defense yang paling primitif. Individu gagal
mengenali implikasi nyata akibat dari suatu perilaku atau keadaan
yang ada.
f. Displacement
Pengalihan dari objek yang sebenarnya kepada objek pengganti.
Objek pengganti inilah yang dapat memuaskan dorongan naluri
individu. Pengalihan cukup memberikan kepuasaan bagi individu
dan merupakan defense yang bisa diandalkan.
g. Disosiasi
Membagi pikiran atau aktivitas dari bagian utama. Pemisahan pola
proses-proses psikologi yang kompleks sebagai satu kesatuan dari
struktur-struktur kepribadian, yang kemudian bisa berfungsi bebas
otonom dari bagian kepribadian lainnya.
h. Splitting
Pada defense ini, individu melihat kebersamaan diantara
kontradiksi ego yang menggambarkan diri sendiri dan orang lain,
begitu juga dengan sikap terhadap diri sendiri dan orang lain.
Individu mempersepsikan bahwa semuanya baik atau semuanya
jahat.
i. Rasionalisasi
Pada defense ini, individu memberikan penjelasan yang logis dan
dapat diterima secara sosial untuk perilaku atau keputusan yang
dihasilkan oleh ketidaksadaran.
j. Somatisasi
Pada defense ini, konflik ditunjukkan dengan adanya gejala fisik
yang timbul. Hal ini dipengaruhi oleh sistem simpatik dan
parasimpatik.
3. Defense Mechanism yang tergolong Neurotic
Bowins (2004) menjelaskan defense mechanism yang neurotik
(neurotic) melibatkan tingkat distorsi kognitif yang lebih tinggi
daripada mature dan seringkali menggambarkan sebuah usaha untuk
mengatasi dengan signifikan stres dari internal maupun eksternal
Defense mechanism yang neurotik atau neurotic biasanya bersifat
bertentangan dengan realitas.
Bentuk-bentuk defense mechanism yang tergolong ke dalam
Neurotic yakni; Pseudo-altruism, Undoing, Reaksi-Formasi,
Idealisasi.
a. Pseudo-altruism
Defense ini melibatkan kebutuhan untuk memuaskan diri oleh
individu dengan cara memberi kepada orang lain apa yang
sebenarnya ingin diterima. Hal ini memerlukan asumsi yang tidak
selalu realistis bahwa membantu orang lain dapat membuat
individu merasa akan menerima bantuan untuk dirinya sendiri.
b. Undoing
Pada defense ini, individu secara simbolis melakukan kebalikan
sesuatu yang telah dikerjakannya, atau pikirannya yang tidak dapat
diterima oleh egonya di masyarakat. Secara tidak langsung,
individu akan menghapus pikiran, perasaan ataupun keinginan
yang tidak dapat diterima oleh lingkungannya.
c. Reaksi-formasi
Pada defense ini , individu menekan impuls-impuls yang tidak
disukainya kedalam ketidaksadaran dan memunculkan hal yang
justru berlawanan dalam kesadaran.
d. Idealisasi
Pada defense ini, individu menilai berlebihan hal yang
menyenangkan dan meremehkan keterbatasan dari hal yang
disukai.
6. Dampak Defense Mechanism
Dalam kondisi yang biasa ataupun kadar ancaman yang cukup
maka defense mechanism dapat berfungsi dengan baik. Sebaliknya, jika
defence mechanism digunakan secara berlebihan, maka dapat memicu
munculnya efek negatif. Defence mechanism mendistorsi realitas sehingga
individu mengalami kesulitan dalam melihat realita sumber ketegangan
secara objektif. Apabila ketegangan, kecemasan dan stres menjadi semakin
hebat sehingga individu tidak lagi dapat mentoleransi rasa ketegangan
tersebut, maka pola tingkah laku defensif akan menjadi berlebihan atau
menyimpang. Akibatnya pada taraf tertentu mengindikasikan adanya
perilaku neurotik dan gangguan psikotik, yaitu gangguan yang memiliki
gejala distress yang tidak dapat diterima oleh penderita seperti konsentrasi
berkurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, menjadi pesimis,
memiliki perbuatan yang membahayakan diri atau bunuh diri (Semiun,
2006).

Karakteristik atau Ciri khas Defense Mechanism (skripsi dan tesis)

Untuk dapat lebih memahami cara penggunaan defense mechanism
maka perlu diperhatikan ciri khas atau karakteristik dari defense
mechanism seperti yang telah diuraikan oleh Semiun (2006).
a. Defense Mechanism adalah Tingkah Laku-Tingkah Laku
Normal.
Defense mechanism digunakan oleh setiap orang dalam batas
tertentu terlebih dalam situasi-situasi yang mengancam ego mereka.
Hal ini merupakan tingkah laku yang normal sebagai akibat dari
penyesuaian diri seseorang untuk memenuhi kepuasan suatu
kebutuhan secara tidak langsung, sehingga perasan tegang dapat
direduksi dan harga diri dapat dipertahankan. Ketika seorang
individu menjadi matang dan beralih ke tahap perkembangan
selanjutnya, maka tentu ia akan menghadapi sebuah frustasi yang
mungkin saja tidak dapat diatasi. Perasaan frustasi didalam situasi
yang mengancam inilah yang membuat individu menggunakan
defense mechanism untuk melepaskan tekanan yang kemudian
menjadi sebuah pola kebiasaan. Penyesuaian diri yang secara
sederhana dapat dikatakan sebagai suatu proses yang menyelaraskan
tuntutan-tuntutan motivasi baik dari dalam ataupun dari luar.
Tingkatan sikap defensif seseorang sebanding dengan tingkatan
keraguan dalam dirinya terhadap kemampuan untuk menerima.
Maka semakin stres dialami seseorang maka semakin kemungkinan
individu tersebut menggunakan sikap yang defensif. Cara
bertingkah laku ini menjadi patologik bila digunakan secara
berlebihan.
b. Defense Mechanism Sering Tidak Disadari
Frustasi dan konflik dalam kehidupan sehari-hari dapat diselesaikan
pada taraf sadar, sedangkan konflik yang tidak dapat diselesaikan
pada taraf sadar akan menimbulkan usaha-usaha penyesuaian diri
secara tidak sadar yakni defense mechanism. Cara penyesuaian diri
secara sadar dapat dilakukan dengan meningkatkan usaha untuk
mereduksi atau mengubah tujuan serta dapat menilai secara realistik
situasi yang menyebabkan konflik ataupun frustasi. Sedangkan
usaha penyesuaian diri secara tidak sadar (defense mechanism)
adalah usaha individu untuk melindungi dirinya terhadap berbagai
ancaman serta untuk meredakan ketegangan dan rasa cemas sebagai
akibat dari rasa frustasi dan konflik yang tidak terpecahkan.
Penggunaan defense mechanism sangat menguntungkan bagi
individu dalam usaha untuk menyesuaikan diri namun
ketergantungan yang berlebihan dalam penggunaan defense
mechanism sebagai sarana untuk memecahkan konflik
menunjukkan gaya penyesuaian diri yang abnormal.
c. Defense Mechanism itu Tidak Bersifat Instingtif
Seperti tingkah laku lainnya, penggunaan defense mechanism dapat
mengurangi tekanan dan tegangan sehingga mekanisme-mekanisme
ini menyenangkan bagi orang yang menggunakannya dan
sebaliknya jika tidak menyenangkan mekanisme tersebut tidak akan
digunakan lagi. Setiap individu bertingkah laku dengan alasan
tertentu dan akan mengulanginya apabila tingkah laku tersebut
menguntungkan dan jika penggunaannya telah memenuhi
kebutuhan psikologis bagi individu tersebut.
d. Defense Mechanism Mendistorsikan Persepsi
Penggunaan Defense Mechanism dapat mendistorsikan atau
mengaburkan persepsi individu terhadap realitas, hal ini
mengakibatkan informasi yang diproses oleh individu tersebut
mengenai lingkungan sosialnya adalah keliru karena
permasalahannya sesuai dengan apa yang dipersepsikannya bukan
menurut situasi sebenarnya. Komunikasi yang diterima dari seorang
defensif tidak berhubungan dengan situasi yang sebenarnya namun
hanya dengan persepsi individu itu sendiri. Dengan demikian,
tingkah laku individu dalam menanggulangi situasi tidaklah efektif.
e. Defense Mechanism Cenderung Mengekalkan Diri
Individu yang menggunakan tingkah laku defensif cenderung
memperkuat diri, sirkuler, dan kumulatif. Misalnya, seseorang
menarik diri dari hubungan dengan orang-orang lain atau menutup
dan membatasi kesadarannya karena merasa tidak senang dan cemas
bila hal-hal tertentu terjadi. Individu seperti ini memiliki kebutuhan
untuk mempertahankan status sehingga akan mengesampingkan
realitas. Bila merasa sangat terancam, individu akan menggunakan
defense mechanism dengan mengesampingkan semua tingkah laku
yang realistik sehingga membatasi kesempatan untuk
mengembangkan cara bertingkah laku yang lebih efektif.
f. Defense Mechanism membutuhkan energi.
Individu yang defensif memerlukan energi atau kekuatan untuk
dapat mendistorsikan kenyataan, sehingga tekanan atau paksaan
untuk tetap melindungi diri secara psikologi membuat individu
menjadi tidak relaks. Hal ini disebabkan oleh perhatian dan
dorongan yang diberikan hanya digunakan untuk satu hal saja.
g. Defense Mechanism adalah Manipulatif
Mekanisme merupakan cara yang tidak efektif yang digunakan
untuk mengontrol lingkungan agar individu dapat memuaskan
kebutuhan psikologis individu tersebut. Defense dijadikan sebagai
sebuah sarana untuk memperoleh apa yang kita inginkan dari
lingkungan kita (McGuire, 1974), sehingga defense mechanism
merupakan usaha untuk mempengaruhi serta membentuk keadaan
lingkungan sekitar agar cocok dengan keadaan ataupun ide dari
individu tersebut

Fungsi Defense Mechanism (skripsi dan tesis)

Fungsi utama atau kegunaan dari defense mechanism adalah untuk
mempertahankan diri dalam menghadapi realitas eksternal yang penuh
dengan tantangan (Arif, 2006). Lebih lanjut lagi, Cramer (2006)
menyatakan bahwa defense mechanism memiliki kegunaan, yaitu (1)
untuk melindungi individu dengan cara menangkal rasa cemas yang
berlebihan juga dari pengaruh negatif lainnya yang mengganggu sehingga
(2) perasaan yang nyaman dapat berfungsi kembali.

Tujuan Defense Mechanism (skripsi dan tesis)

Defense mechanism dalam penggunaannya memiliki upaya untuk
menjaga keseimbangan kepribadian seorang individu (Arif, 2006).
Sehingga untuk mencapai suatu tujuan tertentu,seorang individu
menggunakan defense mechanism untuk melindungi diri, pikiran maupun
ego dari kecemasan, serta mengurangi perasaan yang menyakitkan dengan
mempertahankan perasaan yang aman (Salkind, 2004).
Saludin Muis (2009) juga menyatakan bahwa defense mechanism
bertujuan untuk mengurangi kecemasan dan melindungi ego individu,
yang setiap saat dibutuhkan. Kecemasan yang dimaksud adalah perasaan
takut, yang sesungguhnya tidak terdapat bahaya namun bahaya tersebut
muncul dari dalam diri individu sendiri.

Definisi Defense Mechanism (skripsi dan tesis)

Defense Mechanism atau mekanisme pertahanan diri pertama kali
diperkenalkan oleh Freud (1894/1962) sebagai proses ketidaksadaran yang
termodifikasi atau terdistorsi untuk melindungi si individu dari pikiran
impuls dan keinginan yang tidak dapat diterima. Pada konsep awal
mengenai mekanisme pertahanan diri bahwa, semua mekanisme
pertahanan memiliki tugas dalam mengatur keadaan psikologis individu
melalui self-deception atau dengan cara menipu diri sendiri (Zeigler-Hill
& Pratt, 2007).
Cramer (2006) mendefinisikan defense mechanism sebagai
penangkal yang mengarah pada ekspresi dari dorongan dan impuls.
Defense mechanism bertugas untuk mengendalikan ekspresi impuls yang
dapat melindungi individu agar tidak terbebani oleh kecemasan yang
diakibatkan oleh pengakuan sadar akan impuls yang tidak dapat diterima.
Konsep ini mencakup penggunaan defense sebagai reaksi terhadap sumber
stres eksternal serta kekuatan internal yaitu dorongan.
Pendapat yang serupa juga disampaikan oleh Pervin dkk (2004)
bahwa defense mechanism merupakan konsep dari Freud yang membahas
tentang strategi mental yang digunakan oleh individu untuk
menyingkirkan keinginan, pemikiran atau perasannya dari kesadaran
dengan tujuan untuk meredakan kecemasannya.
Sophia & Siregar (2015) mengungkapkan bahwa defense
mechanism merupakan mekanisme pertahanan yang dihasilkan alam
bawah sadar yang digunakan seorang individu untuk mengantisipasi
ancaman atau mengatasi kecemasan yang dapat membahayakan individu
itu sendiri. Pada skala penggunaan yang normal, mekanisme pertahanan
tersebut dapat membantu individu dalam membentuk pertahanan yang
bersifat positif seperti kesuksesan dalam bekerja, kepuasan hidup.
Sebaliknya, jika penggunaan dalam skala yang tidak normal, mekanisme
tersebut dapat menimbulkan efek yang negatif seperti depresi berat, hingga
gangguan makan.
Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
defense mechanism merupakan mekanisme yang bekerja di alam bawah
sadar yang berfungsi untuk melindungi diri individu dari ancaman berupa
kecemasan baik kecemasan internal maupun eksternal.
Arif (2006) mengatakan bahwa defense mechanism dianggap
sebagai suatu mekanisme psikis yang pasti patologis dan maladaptif.
Namun, dalam perkembangan teori psikoanalisis selanjutnya konsep
mengenai defense mechanism mengalami perubahan. Defense mechanism
belum tentu bersifat maladaptif dan patologis; melainkan merupakan
mekanisme psikis yang dibutuhkan oleh seseorang untuk dapat adaptif
dengan realitas eksternal. Jika individu menggunakan defense mechanism
secara efektif dan sesuai dengan usia perkembangan yang sedang
dijalaninya yaitu pada masa usia mahasiswa (18-25 tahun) seperti yang
dikatakan oleh Syamsul Yusuf (dalam Sumanto, 2014) maka dapat
dikatakan bahwa individu menggunakan defense mechanism yang matang.
Sebaliknya, jika individu menggunakan defense mechanism yang tidak
efektif dan tidak sesuai dengan usia perkembangannya, maka dikatakan
bahwa individu menggunakan defense mechanism yang tidak matang.

Aspek-aspek efikasi diri (skripsi dan tesis)

Menurut Bandura (1997), keyakinan akan kemampuan diri individu dapat bervariasi pada masing-masing dimensi. Dimensidimensi tersebut yaitu:

a. Level / magnitude

Dimensi ini berkaitan dengan derajat kesulitan tugas dimana individu merasa mampu atau tidak untuk melakukannya, sebab kemampuan diri individu berbeda-beda. Konsep dalam dimensi ini terletak pada keyakinan individu atas kemampuannya terhadap tingkat kesulitan tugas. Jika individu dihadapkan pada tugas-tugas yang disusun menurut tingkat kesulitannya, maka keyakinan individu akan terbatas pada tugas-tugas yang mudah, kemudian sedang hingga tugas-tugas yang paling sulit, sesuai dengan batas kemampuan yang dirasakan untuk memenuhi tuntutan perilaku yang dibutuhkan pada masing-masing tingkat. Makin tinggi taraf kesulitan tugas, makin lemah keyakinan yang dirasakan untuk menyelesaikannya. Keyakinan individu berimplikasi pada pemilihan tingkah laku berdasarkan hambatan atau tingkat kesulitan suatu tugas atau aktivitas. Individu terlebih dahulu akan mencoba tingkah laku yang dirasa mampu dilakukannya dan menghindari tingkah laku yang berada di luar batas kemampuannya. Rentang kemampuan individu dapat dilihat dari tingkat hamabatan atau kesulitan yang bervariasi dari suatu tugas atau aktivitas tertentu.

b. Strength

Dimensi ini berkaitan dengan tingkat kekuatan dari keyakinan atau pengharapan individu mengenai kemampuannya. Pengharapan yang lemah mudah digoyahkan oleh pengalamanpengalaman yang tidak mendukung. Sebaliknya, pengharapan yang mantap mendorong individu tetap bertahan dalam usahanya. Meskipun mungkin ditemukan pengalaman yang kurang mendukung. Dimensi ini biasanya berkaitan langsung dengan dimensi level, yaitu makin tinggi taraf kesulitan tugas, makin lemah keyakinan yang dirasakan untuk meyelesaikannya.

c. Generality

Dimensi ini berkaitan dengan keyakinan individu akan kemampuannya melaksanakan tugas di berbagai aktivitas. Aktivitas yang bervariasi menuntut individu yakin atas kemampuannya dalam melaksanakan tugas atau aktivitas tersebut, apakah individu merasa yakin atau tidak. Individu mungkin yakin akan kemampuannya pada banyak bidang atau hanya beberapa bidang tertentu, misalnya seseorang yang ingin melakukan diet, yakin akan kemampuannya dapat menjalankan olahraga secara rutin, namun ia tidak yakin akan kemampuannya mengurangi nafsu makan, itulah mengapa dietnya tidak berhasil.

Definisi Efikasi diri (skripsi dan tesis)

Menurut Bandura (1997) mendefinisikan bahwa efikasi diri adalah penilaian seseorang terhadap kemampuannya untuk menyusun tindakan yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas-tugas khusus yang dihadapi. Efikasi diri tidak berkaitan langsung dengan kecakapan yang dimiliki individu, melainkan pada penilaian diri tentang apa yang dapat dilakukan, tanpa terkait dengan kecakapan yang dimiliki. Baron dan Byrne (dalam Ghufron & Rini, 2010) mendefinisikan efikasi diri sebagai evaluasi seseorang mengenai kemampuan atau kompetensi dirinya untuk melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan, dan mengatasi hambatan. Ormrod (2008) menyatakan bahwa efikasi diri adalah keyakinan bahwa seseorang mampu menjalankan perilaku tertentu atau mencapai tujuan tertentu. Alwisol (2010) mengungkapkan efikasi adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Efikasi ini berbeda dengan aspirasi atau cita-cita, karena cita-cita menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya (dapat dicapai), sedang efikasi menggambarkan penilaian kemampuan diri. Menurut Dariyo (2007), efikasi diri ialah keyakinan seseorang individu yang ditandai dengan keyakinan untuk melakukan sesuatu hal dengan baik dan berhasil. Orang yang memiliki efikasi diri akan dapat memepertanggungjawabkan kemampuannya di hadapan orang lain sesuai 20 dengan bakat atau kemampuannya. Dapat dipastikan orang yang memiliki efikasi diri biasanya sebagai orang yang percaya diri, optimis, dan dapat mencapai sesuatu dengan baik

Gejala Kecemasan Akademik (skripsi dan tesis)

O’Connor (2007), membagi gejala-gejala kecemasan akademik menjadi 2 berat dan ringan, yaitu : a. Gejala kecemasan akademik yang ringan, yaitu :

1. Pusing

2. Mual atau sakit perut

3. Berkeringat, lembab pada telapak tangan

4. Bercak merah di wajah

5. Merah kemalu-maluan

6. Sakit kepala

7. Kenaikan pada nada suara saat berbicara

8. Pikiran negatif tentang tugas gagal atau kehabisan waktu

9. Keraguan tentang diri akan hal kemampuan dibanding siswa lain

10. Takut malu di depan teman sekelas, dan guru

11. Takut gagal

b. Gejala kecemasan akademik yang berat, yaitu :

1. Mati rasa di tangan dan kaki

2. Hipokondria (sakit pada kaki)

3. Kesulitan tidur

4. Pusing berat atau kehilangan kesadaran

5. Kesulitan bernapas dan perasaan menjadi tersendat

6. Pikiran yang Paranoid seperti dinilai buruk oleh orang lain

7. Obsesif, pikiran berulang yang sulit berhenti

8. Takut malu di depan teman sekelas dan guru

9. Takut merasa cemas

10.Depresi

11. Kesedihan dan merasa khawatir terhadap beban yang berat

12. Panik dan kesal yang terus menerus tanpa masalah atau peristiwa tertentu.

Aspek-aspek Kecemasan Akademik (skripsi dan tesis)

Holmes (1991) membagi kecemasan dalam empat komponen, yaitu mood (psikologis), kognitif, somatik, dan motorik. Adapun penjelasan dari keempat komponen kecemasan tersebut adalah:

a. Komponen Mood (psikologis)

Holmes mengatakan bahwa gejala mood (psikologis) yang terjadi berupa khawatir, ketegangan, panik, dan ketakutan. Mood (psikologis) seseorang yang merasa cemas dapat berupa was-was, khawatir, gelisah, takut, tegang, gugup, dan rasa tidak aman. Individu tidak dapat merasa tenang dan mudah tersinggung, sehingga memungkinkannya untuk terkena depresi.

b. Komponen kognitif

Secara kognitif, seseorang yang merasa cemas akan terus mengkhawatirkan segala macam masalah yang mungkin terjadi, sehingga ia akan sulit untuk berkonsentrasi atau mengambil keputusan, bingung, dan menjadi sulit untuk mengingat kembali.

c. Komponen somatik

Secara somatik (dalam reaksi fisik atau biologis), gangguan kecemasan dibagi kedalam dua bagian, yaitu pertama adalah gejala langsung yang terdiri dengan mudah berkeringat, sesak nafas, jantung berdetak cepat, tekanan darah meningkat, pusing, otot yang tegang. Kedua, jika kecemasan dirasakan secara berlarut-larut, maka  hal tersebut secara berkesinambungan akan meningkatkan tekanan darah, sakit kepala, ketegangan otot, dan sering merasa mual.

d. Komponen motorik

Secara motorik (gerak tubuh) kecemasan dapat terlihat dari gangguan tubuh pada seseorang, seperti tangan yang selalu gemetar, suara yang terbata-bata, dan sikap yang terburu-buru. Ottens (1991) berpendapat bahwa ada empat karakteristik yang ada pada kecemasan akademis.

a. Pola kecemasan yang menimbulkan aktivitas mental

Siswa memperlihatkan pikiran, persepsi dan dugaan yang mengarah pada kesulitan akademis yang dihadapi. Ada tiga aktivitas mental yang terlibat. Pertama dan terpenting adalah kekhawatiran. Siswa menjebak diri sendiri ke dalam kegelisahan dengan menganggap semua yang dilakukannya adalah salah. Kedua, dialog diri (self-dialog) yang maladaptif. Siswa berbicara dengan dirinya sepanjang hari, yang merupakan wujud dari dialog sadar. Pengingat diri (self-reminder), instruksi diri (self-directives), menyelamati diri (self-congratulations), dan kesukaan akan sesuatu merupakan bentuk-bentuk dari dialog sadar. Tetapi berbicara dalam hati pada siswa yang cemas secara akademik seringkali ditandai dengan kritik diri (self-criticism) yang keras, penyalahan diri (self-blame), dan kepanikan berbicara pada diri sendiri (self-talk) yang mengakibatkan munculnya perasaan cemas dan memperbesar 1peluang untuk merendahkan kepercayaan diri serta mengacaukan siswa dalam memecahkan masalah. Ketiga, pengertian yang kurang maju dan keyakinan siswa mengenai diri dan dunia mereka. Siswa memiliki keyakinan yang salah tentang pentingnya masalah yang ada. Cara untuk menegaskan harga diri (self-worth), mengetahui cara yang terbaik untuk memotivasi dan mengatasi kecemasan, serta memisahkan pemikiran-pemikiran salah yang menjamin adanya kecemasan akademis.

b. Perhatian yang menunjukkan arah yang salah

Tugas akademis seperti membaca buku, ujian, dan mengerjakan tugas rumah membutuhkan konsentrasi penuh. Siswa yang cemas secara akademis membiarkan perhatian mereka menurun. Perhatian dapat dialihkan melalui pengganggu eksternal (perilaku siswa lain, jam, suara-suara bising), atau melalui pengganggu internal (kekhawatiran, melamun, reaksi fisik).

c. Distress secara fisik (physiological distress)

Perubahan pada tubuh diasosiasikan dengan kecemasan otot tegang, berkeringat, jantung berdetak cepat, dan tangan gemetar. Aspek fisik dan emosi dari kecemasan menjadi kacau jika diinterpretasikan sebagai bahaya atau jika menjadi fokus penting dari perhatian selama tugas akademis berlangsung.

d. Perilaku yang kurang tepat (inappropriate behaviors)

Berulangkali, siswa yang cemas secara akademis memilih berperilaku dengan cara menjadikan kesulitan menjadi satu. Perilaku siswa mengarah pada situasi akademis yang tidak tepat. Penghindaran (prokrastinasi) sangat umum dijumpai, karena dengan menunjukkan tugas yang belum sempurna dan performa siswa fungsinya yang bercabang (misalnya, berbicara dengan teman ketika sedang belajar). Siswa yang cemas juga berusaha keras menjawab pertanyaan ujian atau terlalu cermat mengerjakan untuk menghindari kesalahan dalam ujian

Definisi Kecemasan Akademik (skripsi dan tesis)

Nevid (2005) berpendapat bahwa kecemasan adalah suatu keadaan yang mempunyai ciri ketegangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan perasaan aprehensif bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kecemasan adalah reaksi normal terhadap stressor yang membantu seorang individu untuk menghadapi situasi yang menuntut memotivasi untuk mengatasinya, tetapi ketika kecemasan menjadi berlebihan dapat memiliki dampak serius pada kehidupan sehari-hari dan mengganggu fungsi normal seseorang (Hartley & Phelps dalam Singh & Jha, 2013). Dari berbagai definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kecemasan merupakan kumpulan dari berbagai kondisi fisiologis dan psikologis sehingga menimbulkan berbagai macam reaksi di dalam diri individu, seperti: gemetar, banyak keringat, mual, sakit kepala, rasa takut, rasa tegang, khawatir, bingung, dan lain sebagainya. Kecemasan tidak hanya terjadi karena permasalahan-permasalahan umum, namun bisa juga terjadi karena masalah-masalah akademik yang biasanya disebut dengan kecemasan akademik.

Ottens (1991) menjelaskan bahwa kecemasan akademik mengacu pada terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku karena kemungkinan performa yang ditampilkan siswa tidak diterima secara baik ketika tugastugas akademik diberikan. Menurut Valiante dan Pajares (1999) menyatakan kecemasan akademis sebagai perasaan tegang dan ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi, perasaan tersebut mengganggu dalam pelaksanaan tugas dan aktivitas yang beragam dalam situasi akademis. Kecemasan akademik paling sering dialami selama latihan yang bersifat rutinitas dan diharapkan siswa dalam kondisi sebaik mungkin saat performa ditunjukkan, serta saat sesuatu yang dipertaruhkan bernilai sangat tinggi, seperti tampil di depan orang lain. Cara seseorang merasakan kecemasan dapat terjadi secara bertahap dari pertama kali kecemasan tersebut muncul, contohnya kegugupan saat harus membaca di depan kelas dengan suara keras. Gangguan serius yang dialami seseorang menegaskan terjadinya kepanikan dan mengalami kesulitan untuk berfungsi secara normal (O’Connor, 2007).

Transcendence (skripsi dan tesis)

Virtue transcendence adalah memungkinkan individu untuk membentuk hubungan dengan alam semesta dan dengan demikian dapat memberikan makna bagi kehidupan individu. Kekuatan karakter transcendence mencoba untuk melampaui orang lain untuk merangkul sebagian atau seluruh alam semesta yang lebih besar.

a. Apresiasi Keindahan dan Keunggulan

Apresiasi keindahan dan keunggulan mengacu pada kemampuan untuk menemukan, mengenali, dan menilai keindahan, keterampilan, kebaikan moral, yang dapat mengahsilkan kekaguman yang berhubungan dengan emosi pengamat (Peterson & Seligman, 2004).

b. Berterima Kasih

Berterima Kasih adalah rasa syukur dan sukacita saat merespon menerima hadiah, apakah hadiah itu menjadi manfaat nyata dari orang lain atau saat kebahagiaan yang ditimbulkan oleh keindahan alam. Emmons & Crumpler (dalam Peterson & Seligman, 2004) berpendapat bahwa rasa syukur adalah kekuatan manusia, dalam hal ini meningkatkan pribadi seseorang dan hubungan kesejahteraan dan sangat mungkin bermanfaat untuk seluruh masyarakat.

c. Harapan

Harapan, optimisme, pemikiran masa depan dan orientasi masa depan merupakan kondisi kognitif, emosional dan motivasi menuju masa depan. Berpikir tentang masa depan, mengharapkan bahwa peristiwa yang diinginkan dan hasil yang akan terjadi, bertindak dengan cara-cara yang dipercaya untuk membuat mereka lebih mungkin dan merasa yakin bahwa akan diberikan upaya yang tepat dalam mempertahakan kegembiraan disini dan sekarang dan tindakan yang mengarah langsung pada tujuan (Peterson & Seligman, 2004).

d. Humor

Humor adalah kemampuan menciptakan kesenangan dan/atau menciptakan keganjilan, orang yang ceria dan melihat sisi terang dalam kesulitan dengan mempertahankan suasana hati yang baik, dan mampu membuat orang lain tersenyum atau tertawa (Peterson & Seligman, 2004).

e. Spiritualitas

Spiritualitas dan religiusitas mengacu kepada keyakinan dan praktek bahwa terdapat dimensi transenden (nonfisik) di dalam kehidupan. Keyakinan ini menentukan jenis atribusi yang dibuat manusia, makna hidup, dan bagaimana manusia menciptakan hubungan. Religiusitas diyakini menjelaskan derajat penerimaan individu dari keyakinan yang berhubungan dengan pemujaan figur Illahi dan partisipasi individu pada pemujaan publik maupun pribadi. Spiritualias, sebaliknya, diyakini menjelaskan hubungan intim dan pribadi antara manusia dengan Illahi, dan sejumlah kebaikan sebagai hasil dari hubungan tersebut (Peterson & Seligman, 2004)

Temperance (skripsi dan tesis)

Temperance adalah bagian dari menahan diri untuk melakukan sesuatu yang mereka anggap berlebihan. Virtue temperance terdiri dari empat karakter yaitu pengampunan dan belas kasih, kerendahan hati dan kesopanan, kehati-hatian, dan pengaturan diri.

a. Pengampunan dan Belas Kasih

Pengampunan merepresentasikan kepada serangkaian perubahan prososial yang terjadi pada individu yang telah tersinggung atau kecewa yang disebabkan hubungan mitra dengan orang lain (McCullough, dalam Peterson & Seligman, 2004). Pengampunan adalah perubahan motivasi dimana seseorang menjadi kurang termotivasi untuk melakukan balas dendam dan menghindari si pembuat kesalahan dan kemudian menjadi murah hati kepada si pembuat kesalahan (McCullough, dalam Seligman, 2004). Dalam ajaran Konfusius, demi kebaikan mental atau pikiran, manusia harus memaafkan kesalahan orang lain. Sebuah konsep memberikan muka menjelaskan bahwa manusia tidak hanya memaafkan saja, tetapi juga memaklumi, mengingat jasa orang tersebut atau karena kerabatnya (Tong, 2011).

b. Kerendahan Hati dan Sederhana

Kekuatan karakter ini adalah seorang yang pendiam. Orang yang sederhana membiarkan hasil usaha mereka yang berbicara. Mereka tidak mencari popularitas. Mereka mengakui kesalahan dan bukan orang yang sempurna. Mereka tidak mengambil yang tidak pantas untuknya, memandang dirinya sebagai orang yang beruntung berada posisi dimana sesuatu yang baik terjadi pada mereka.

c. Kehati-Hatian

Menurut Aquinas (Peterson & Seligman, 2004) kehati-hatian adalah nasihat yang baik mengenai kehidupan secara lengkap dan akhir dari kehidupan manusia. Kehati-hatian adalah orientasi untuk masa depan seseorang, bentuk penalaran praktis dan pengelolaan diri yang membantu untuk mencapai tujuan jangka panjang secara efektif dengan mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan yang diambil dan tidak diambil.

d. Pengaturan Diri

Pengaturan diri didefenisikan sebagai kemampuan yang dimiliki individu untuk mengatur perasaan dan perilaku orang lain, menjadi disiplin, dan mampu untuk mengontrol keinginan dan emosi (Peterson & Seligman, 2004). Individu dengan pengaturan diri yang kuat memiliki kekuatan untuk mengontrol pikiran dan perilaku mereka, mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri.

Justice (skripsi dan tesis)

Kekuatan keadilan dianggap sebagai hubungan antar individu yang sangat luas, relevan untuk mengoptimalkan interaksi antara individu dan kelompok atau komunitas. Kekuatan keadilan dipahami sebagai kemampuan untuk memperhatikan hak-hak dan kewajiban setiap orang sehingga menciptakan keadilan dalam hidup bermasyarakat. Karakter yang termasuk ke dalam virtue keadilan adalah citizenship, fairness, dan kepemimpinan.

a. Citizenship

Citizenship merupakan kepentingan setiap orang yang diwujudkan dalam mengejar kebaikan bersama. Individu dengan kekuatan karakter ini cenderung mengorbankan kepuasan mereka sendiri untuk kepentingan jangka panjang kelompok (Peterson & Seligman, 2004). Sehingga, citizenship adalah karakter yang lebih mementingkan kepentingan bersama daripada pribadi atas keanggotaannya.

b. Keadilan

Keadilan mengandung pengertian yakni memperlakukan semua orang dengan sama tanpa adanya perbedaan, tidak membiarkan perasaan pribadi akan mengganggu individu tersebut dalam mengambil keputusan, dan memberikan kesempatan yang sama pada setiap orang (Peterson & Seligman, 2004). c. Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah kumpulan yang terintegrasi dari atribut kognitif dan temperamen yang mengacu pada kemampuan mempengaruhi dan membantu orang lain, mengarahkan dan memotivasi tindakan orang lain untuk mencapai kesukesan. Orang yang memiliki sifat kepemimpinan merasa nyaman dalam mengatur aktifitas dirinya maupun orang lain dalam suatu sistem yang terintegrasi (Peterson & Seligman, 2004).

Humanity (skripsi dan tesis)

Humanity merupakan kekuatan interpersonal yang melibatkan keterdekatan dan pertemanan dengan orang lain. Humanity juga kemampuan untuk menunjukkan kepedulian dan perhatian kepada orang lain (Leimon & Mahon, 2009). Virtue ini terdiri dari karakter cinta, kebaikan, dan kecerdasan bermasyarakat.

a. Cinta

Cinta didefenisikan sebagai membentuk dan memiliki hubungan dekat dengan orang lain, yang melibatkan proses penerimaan, kenyamanan, kepercayaan, dan saling berbagi kasih (Peterson & Seligman, 2004).

b. Kebaikan

Kebaikan dan cinta altruistik merupakan istilah kemanusiaan dimana orang lain berhak mendapat perhatian dan pengakuan tanpa alasan apapun, hanya karena mereka memang berhak mendapatkannya. Kebaikan termasuk kemurahan hati terhadap orang lain, dorongan untuk meluangkan waktu membantu orang lain meski terhadap orang yang tidak begitu dikenal (Peterson & Seligman, 2004).

c. Kecerdasan Bermasyarakat

Kecerdasan bermasyarakat merupakan kesadaran akan motif dan perasaan dari diri sendiri dan orang lain, mengetahui apa yang harus dilakukan agar dapat menyesuaikan diri pada tiap situasi sosial yang berbeda, serta mengetahui apa yang dapat membuat orang lain merasa nyaman atau bahkan terganggu. Mencoba membangun hubungan sosial dan berusaha memahami motif, cara berpikir, perasaan, dan perilaku yang ditampilkan oleh orang lain

Courage (skripsi dan tesis)

Kekuatan emosi yang melibatkan kemampuan dalam menuntaskan suatu tujuan dan dihadapkan pada perlawanan atau pertentangan baik dari luar maupun dari dalam diri Anda sendiri. Virtue ini terdiri dari empat karakter, yaitu keberanian, kegigihan, integritas, dan vitalitas.

a. Keberanian

Keberanian adalah kecenderungan untuk sukarela dalam bertindak, dalam situasi yang menakutkan, situasi berbahaya yang penuh dengan resiko dalam usaha untuk memperoleh ataupun mempertahankan suatu kebaikan baik bagi diri sendiri dan orang lain (Shelp, dalam Peterson & Seligman, 2004). Keberanian juga melibatkan penilaian yakni pemahaman akan risiko dan menerima konsekuensi dari suatu tindakan (Peterson & Seligman, 2004).

b. Kegigihan

Kegigihan didefenisikan sebagai kelanjutan dari tindakan sukarela yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan meskipun ada hambatan, kesulitan, atau keputusasaan. Kegigihan memerlukan adanya suatu perilaku aktif dalam mempertahankan suatu kepercayaan (Peterson & Seligman, 2004).

c. Integritas

Integritas dimiliki oleh orang yang menerima dan mengambil tangung jawab atas pikiran dan perilaku mereka, tampil tanpa adanya kepura-puraan, selalu berbicara kebenaran dan setiap tindakannya bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain (Seligman & Peterson, 2004; Leimon & Mahon, 2009).

d. Vitalitas

Vitalitas adalah pendekatan terhadap kegembiraan dan semangat terhadap kegiatan. Upaya yang tidak setengah hati terhadap petualangan atau aktifitas yang beragam (2004). Vitalitas dijelaskan sebagai aspek well-being yang ditandai dengan pengalaman subjektif mengenai kekuatan dan aliveness (Ryan & Frederick, dalam Peterson & Seligman, 2004)

Wisdom (Kebijaksanaan) (skripsi dan tesis)

Sebutan “wisdom‖ menurut Kramer (Seligman & Peterson, 2004) melibatkan luar biasa luas dan dalamnya pengetahuan seorang individu mengenai kondisi dan urusan manusia, dan bagaimana ia menerapkan pengetahuan tersebut. Wisdom adalah kekuatan kognitif yang memerlukan kemahiran dan penggunaan pengetahuan (Seligman & Peterson 2004). Wisdom memiliki lima karakter, yaitu kreatifitas, keingintahuan, keterbukaan pikiran, kecintaan belajar, dan perspektif.

a. Kreatifitas

Kreatifitas adalah kemampuan berfikir yang menghasilkan perilaku atau ide yang original (asli), indah, tidak biasa, dan adaptif. Untuk menjadi adaptif dan orisinalitas individu harus memberikan kontribusi positif bagi kehidupannya dan kehidupan orang lain. Orang-orang kreatif memiliki ciri khas tertentu, yaitu cenderung bersifat independen, nonkonformis, tidak konvensional, bahkan bohemian, dan biasanya memiliki ketertarikan yang luas, terbuka untuk pengalaman baru, dan perilaku yang memerlukan pemikiran dan tantangan, serta berani mengambil resiko.

b. Keingintahuan

Keingintahuan melibatkan keterlibatan aktif, pencarian, dan pengaturan seseorang terhadap pengalaman seseorang dalam menghadapi tantangan. Berdasarkan model perkembangan kognitif menyatakan bahwa keingintahuan meliputi adanya pengakuan dan ketertarikan terhadap hal-hal baru, ketidakpastian, dan tantangan yang dapat meningkatkan kemampuan pribadi dan interpersonal (Kashdan, Rose, & Fincham, dalam Seligman & Peterson, 2004). Hal ini meliputi proses timbal balik (a) mengalokasikan energi dan perhatian untuk mengenal hal-hal baru dan menantang (b) evaluasi kognitif dan eksplorasi perilaku dalam kegiatan yang menantang, (c) terlibat dalam kegiatan tersebut, dan (d) integrasi pengalaman rasa ingin tahu dengan asimilasi atau akomodasi.

c. Keterbukaan

Pikiran Keterbukaan pikiran adalah memikirkan sesuatu secara keseluruhan dan melihat dari berbagai sisi; tidak melompat dalam mengambil kesimpulan, dan mampu untuk merubah suatu pemikiran kedalam bukti yang nyata, dan menerima bukti tersebut dengan suka rela (Peterson & Seligman, 2004). d. Kecintaan Belajar Kecintaan Belajar menggambarkan cara di mana seseorang terlibat dengan informasi baru dan keterampilan umum dan perkembangan ketertarikan yang lebih baik antara individu dengan konten tertentu. Mereka biasanya mengalami perasaan positif dalam proses memperoleh keterampilan, memuaskan rasa ingin tahu mereka, membangun pengetahuan yang ada, dan mempelajari sesuatu yang  benar-benar baru dengan kesenagan (Krapp & Fink, dalam Peterson & Seligman, 2004).

e. Perspektif

Perspektif merupakan sifat positif yang dimiliki oleh orang yang bijaksana (Assmann, dalam Peterson & Seligman, 2004). Perspektif diartikan sebagai sesuatu yang berbeda dengan inteligensi, menggambarkan tingkat yang lebih tinggi dari pengetahuan, penilaian, dan kemampuan untuk memberikan nasehat, mampu dan memahami makna hidup yang digunakan untuk kebaikan dan kesejahteraan bagi diri sendiri dan orang lain

Defenisi Virtue (skripsi dan tesis)

 

Virtue adalah karakter-karakter inti yang ditelusuri dan dihargai oleh para filsuf moral dan pemikir agama. Berdasarkan catatan sejarah, keenam virtue ini sudah ada dan dipelajari sejak dulu. Virtue bersifat universal dan ada di dalam setiap budaya, akan tetapi setiap budaya akan memaknai virtue yang ada dengan cara pandang yang berbeda (Seligman & Peterson, 2004). Virtue tersebut antara lain, wisdom, courage, humanity, justice, temperance dan transcendence (Seligman and Peterson, 2004). Ke enam virtue tersebut terdiri dari kekuatan karakter, yang berarti karakter baik yang mengarahkan individu pada pencapaian keutamaan (virtue), atau trait positif yang terefleksi dalam pikiran, perasaan, dan tingkah laku

Kepuasan Subjektif (skripsi dan tesis)

Kepuasan subjektif mengacu pada penilaian subjektif seseorang mengenai kepuasannya dalam domain tertentu kehidupannya. Kepuasan subjektif akan berpengaruh pada domain satisfaction seseorang yang berarti juga akan berpengaruh terhadap kepuasan hidup seseorang (Campbell dalam Diener, 2009). Berikut adalah beberapa domain yang menggambarkan kepuasan subjektif seseorang. 1. Penghasilan

Beberapa bukti menunjukkan adanya hubungan positif antara pendapatan dengan subjective well being dalam berbagai negara (Larsen, dalam Diener, 2009). Kepuasan terhadap pendapatan yang dimiliki juga berhubungan dengan kebahagiaan (Braun dan Campbell dalam Diener, 2009).

2. Variabel Demografis lainnya

a) Umur Penelitian baru-baru ini mengatakan bahwa tidak ada pengaruh perbedaan usia dalam hal kepuasan hidup, sedangkan penelitian lainnya menunjukkan adanya hubungan positif antara usia dengan kepuasan hidup (Diener, 2009). Ada beberapa kemungkinan mengapa hasil penelitian tersebut dapat berbeda. Pertama mungkin karena perbedaan konstruk yang diukur pada setiap usia. Kedua,  kemungkinan disebabkan karena perasaan positif dan negatif yang dialami oleh individu yang lebih muda terlihat lebih intensif, dengan demikian, orang yang lebih muda terlihat mengalami tingkat kesenangan yang lebih tinggi, padahal sebenarnya orang yang lebih tua juga menilai hidup mereka dengan cara yang positif.

b) Gender Meskipun perempuan melaporkan lebih banyak perasaan negatif, tampaknya wanita juga mengalami kesenangan yang lebih besar. Menurut Gurin et al, dalam Diener, 2009) perempuan mengalami kesenangan yang lebih besar walaupun banyak juga yang mengalami perasaan negatif. Sehingga hanya sedikit perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal kebahagiaan ataupun kepuasan (Andrews & Withey, dalam Diener, 2009).

c) Ras

Orang kulit hitam biasanya memiliki subjective well being yang lebih rendah dibandingkan orang kulit putih di Amerika Serikat, meskipun efek ini belum ditemukan secara universal (Messer, dalam Diener, 2009). Orang kulit hitam dan kulit putih pada umumnya berbeda pada usia, pendidikan, pendapatan, status perkawinan, dan perpindahan maka penting untuk mempertimbangkan fakto-faktor ini. Jadi, walaupun beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang kulit hitam melaporkan subjective well being yang lebih rendah, akan tetapi kesimpulan ini harus dijelaskan kembali dengan melihat faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh pada hal ini. (Diener, 2009) Universitas Sumatera Utara

d) Status Kerja

Campbell et al. (1976) menemukan bahwa orang yang pengangguran merupakan kelompok yang tidak bahagia, sehingga pengangguran memiliki dampak buruk pada subjective well being karena adanya kesulitan keuangan. Bradburn, dalam Diener, 2009 melaporkan bahwa pengangguran akan berpengaruh pada subjective well being baik pada pria maupun wanita.

e) Pendidikan

Campbell (dalam Diener, 2009) menunjukkan bahwa pendidikan memiliki pengaruh terhadap subjective well being di Amerika Serikat selama 1957-1978. Namun, efek pendidikan pada subjective well being tidaklah terlalu kuat dan tampaknya berinteraksi dengan variabel lain seperti penghasilan (Bradburn & Caplovitz dalam Diener, 2009). Analisis yang dilakukan oleh Campbell (dalam Diener, 2009) menunjukan bahwa kemungkinan pendidikan akan berhubungan positif dengan subjective well being karena pendidikan dapat berfungsi sebagai sumber daya seseorang dan juga dapat meningkatkan aspirasi seseorang.

f) Agama

Cameron (dalam Diener, 2009) menemukan bahwa religiusitas berkorelasi terbalik dengan suasana hati yang positif, akan tetapi banyak penelitian yang menunjukkan bahwa keyakinan terhadap agama, penilaian tentang seberapa penting agama, dan pelaksanaan agama umumnya berhubungan positif dengan subjective well being (Cameron dkk, dalam Diener 2009). Universitas Sumatera Utara 18 g) Pernikahan dan Keluarga Sejumlah penelitian mengindikasikan bahwa individu yang menikah memiliki subjective well being yang lebih tinggi daripada kelompok individu yang tidak menikah. Glenn (dalam Diener, 2009) melaporkan bahwa walaupun wanita menikah melaporkan simptom stres yang lebih besar daripada wanita yang tidak menikah, tetapi mereka juga melaporkan kepuasan yang lebih tinggi.

3. Perilaku dan Hasilnya

a) Kontak Sosial

Hal ini didukung oleh pernyataan Fordyce (dalam Diener, 2009) menyatakan bahwa ada sebuah program yang dilakukan untuk meningkatkan kebahagiaan dan program tersebut sangat merekomendasikan kontak sosial sebagai cara untuk meningkatkan subjective well being.

b) Peristiwa Hidup

Peristiwa baik berhubungan dengan afek postitif dan peristiwa buruk berhubungan dengan afek negatif. Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengontrol suatu peristiwa akan berpengaruh pada dampak dari peristiwa tersebut pada diri seseorang yang nantinya akan berpengaruh pada subjevtive well being. Bahkan peristiwa negatif dapat meningkatkan subjective well being jika individu tersebut dapat mengontrol peristiwa negatif tersebut (Gutman, dalam Diener, 2009).

c) Aktivitas Menurut pendekatan activity teori, keterlibatan dalam aktivitas akan menyebabkan kebahagiaan. Akan tetapi tidak semua aktifitas dapat meningkatkan subjective well being. S.J.Cutler (dalam Diener, 2009) menyatakan bahwa beberapa aktifitas merupakan prediktor yang baik dari subjective well being, sedangkan yang lain tidak.

4. Kepribadian

Kepribadian dianggap berpengaruh penting terhadap subjective well being. Campbell et al (dalam Diener, 2009) menemukan bahwa kepuasan terhadap diri sendiri menunjukkan hubungan yang tinggi dengan kepuasan hidup.

5. Kesehatan

Kepuasan pada kesehatan merupakan prediktor dari kepuasan hidup secara keseluruhan. Diener dkk (2008) mengatakan bahwa individu dengan subjective well being yang tinggi akan lebih jarang mengalami sakit

Karakteristik Individu dengan Kepuasan Hidup yang Tinggi (skripsi dan tesis)

Diener (2009) menyatakan bahwa individu yang memiliki kepuasan hidup yang tinggi adalah individu yang memiliki tujuan penting dalam hidupnya dan berhasil untuk mencapai tujuan tersebut. Orang yang mendapat skor tinggi pada kepuasan hidup biasanya memiliki keluarga dekat dan dukungan dari temanteman, memiliki pasangan romantis (meskipun hal ini tidak mutlak diperlukan), memiliki pekerjaan atau kegiatan bermanfaat, menikmati rekreasi, dan memiliki kesehatan yang baik. Mereka merasa bahwa hidup ini bermakna, serta memiliki tujuan dan nilai-nilai yang penting bagi mereka. Individu yang puas akan kehidupannya adalah individu yang menilai bahwa kehidupannya mungkin memang tidak sempurna tetapi segala sesuatu berjalan dengan baik, mereka mempunyai keinginan untuk berkembang, dan menyukai tantangan. Individu yang bahagia dan memiliki kepuasan hidup yang baik biasanya memiliki keyakinan,  optimisme dan self-efficacy, kemampuan sosial, energi, perilaku prososial, imunitas dan kesejahteraan fisik, coping yang efektif terhadap stress, orisinalitas, fleksibilitas, serta perilaku yang berorientasi pada tujuan (Frisch et al., dalam Frisch, 2006 ).

Struktur Kepuasan Hidup (skripsi dan tesis)

Kepuasan hidup merupakan aspek kognitif dari subjective well-being (Diener, 2009). Kepuasan hidup dapat dilihat dari dua pendekatan yang berbeda, pertama Diener mengenalkan teori bottom-up, dimana kepuasan hidup dipengaruhi oleh penilaian individu terhadap domain-domain yang menurutnya penting dalam kehidupannya. Kedua teori top-down, yang melihat bahwa kepuasan hidup akan mempengaruhi domain kepuasan seseorang. Seseorang yang umumnya puas dengan kehidupannya juga akan mengevaluasi domain penting dalam kehidupan dengan lebih positif, meskipun kepuasan hidup secara umum tidak hanya didasarkan pada kepuasan terhadap domain tersebut saja. Andrews dan Withey (dalam Diener, 2009) mengatakan bahwa kedua pendekatan tersebut merupakan proses yang sejalan atau disebut dengan feedback loop. Contohnya, ketika penghasilan pertama kali meningkat maka domain finansial juga meningkat, dan menyebabkan kepuasan hidup meningkat secara keseluruhan. Ketika kepuasan hidup meningkat maka kepuasan di domain-domain lain juga meningkat, walaupun peningkatan domain-domain tersebut tidak terlalu tampak.

Komponen Kepuasan Hidup (skripsi dan tesis)

Diener dan Biswar (2008) mengemukakan bahwa kepuasan hidup memiliki lima komponen, yaitu Keinginan untuk Mengubah Kehidupan, Kepuasan Terhadap Kehidupan Saat Ini, Kepuasan Hidup di Masa Lalu, Kepuasan Terhadap Kehidupan Di Masa Mendatang, dan Penilaian Orang Lain Terhadap Kehidupan Seseorang. Kelima komponen tersebut mewakili 5 item pernyataan dalam Satisfaction with Life Scale oleh Diener et al. (2008: hal.234), yaitu:

1. In most ways my life is close to my ideal.

2. The conditions of my life are excellent.

3. I am satisfied with my life.

4. So far I have gotten the important things I want in life.

5. If I could live my life over, I would change almost nothing

Defenisi Kepuasan Hidup (skripsi dan tesis)

Berdasarkan pendekatan kognitif, kepuasan hidup merupakan penilaian secara kognitif dimana seseorang membandingkan keadaannya saat ini dengan keadaan yang dianggapnya sebagai standar ideal (Diener, Emmons, Larsen, & Griffen, dalam Frisch, 2006). Semakin kecil perbedaan yang dirasakan yaitu antara apa yang diharapkan dengan apa yang dicapai oleh individu maka semakin besar kepuasan hidup seseorang (Diener dkk, dalam Frisch, 2006). Menurut pendekatan quality of life, kepuasan hidup mengacu pada evaluasi subjektif mengenai seberapa banyak kebutuhan, tujuan, dan nilai-nilai yang kita punya telah terpenuhi dalam kehidupan. Dengan demikian, kesenjangan yang dirasakan antara apa yang kita miliki dan apa yang kita inginkan menjadi penentu tingkat kepuasan hidup atau ketidakpuasan seseorang.

Kepuasan hidup berpatokan pada kepercayaan atau sikap individu dalam menilai kehidupannya (Schimmack dalam Eid & Larsen, 2008). Dalam hal ini, individu menilai apakah situasi dan kondisi dalam kehidupannya positif dan memuaskan (Pavot dalam Eid & Larsen, 2008). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kepuasan hidup adalah penilaian kognitif seseorang atas kehidupan yang baik dan memuaskan  dengan membandingkan keadaannya saat ini dengan keadaan yang dianggapnya sebagai standar ideal

Aspek-aspek Harapan (skripsi dan tesis)

Harapan yang ditanamkan dalam suatu kehidupan individu memiliki beberapa aspek. Menurut Snyder (2000), aspek-aspek yang terkandung dalam teori harapan adalah sebagai berikut Goal, pathway thinking, agencythinking, berikut adalah penjelasan mengenai ke tiga aspek Harapan

a. Goal

Aspek pertama dari harapan adalah goal, Goal atau tujuan sendiri diartikan oleh Averill dalam Snyder (2000) sebagai sasaran dari tahapan tindakan mental yang menghasilkan komponen kognitif. Tujuan menyediakan titik akhir dari tahapan perilaku mental individu, tujuan dapat berupa tujuan jangka pendek ataupun jangka panjang, namun tujuan harus cukup bernilai untuk mengaktifkan pemikiran yang disadari. Tujuan harus memiliki kemungkinan untuk dicapai tetapi juga mengandung beberapa ketidakpastian. Pada suatu akhir dari kontinum kepastian, kepastian yang absolut adalah tujuan dengan tingkat kemungkinan pencapaian 100%, tujuan seperti ini tidak memerlukan harapan. Harapan berkembang dengan baik pada kondisi tujuan yang memiliki tingkat kemungkinan pencapaian sedang (Averil 1896 dalam Snyder, 2000). Lopez, Snyder & Pedrotti (2003) menyatakan bahwa tujuan dapat berupa approach-oriented in nature (misalnya sesuatu yang positif yang diharapkan untuk terjadi) atau preventative in nature (misalnya sesuatu yang negatif yang ingin dihentikan agar tidak terjadi lagi). Tujuan juga sangat beragam dilihat dari tingkat kemungkinan untuk mencapainya. Bahkan suatu tujuan yang tampaknya tidak mungkin untuk dicapai, dimungkinkah dapat tercapai dengan perencanaan dan usaha yang lebih keras.

b. Pathway Thinking

Pathway thinking menurut Snyder (1991) dalam Lopez, Snyder & Pedrottidkk (2003) adalah proses seseorang untuk dapat mencapai tujuan dengan cara memandang dirinya sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan suatu jalur untuk mencapai tujuan. Prose pathway thinking ditandai dengan pernyataan pesan internal yang meyakinkan diri sendiri seperti dirinya akan menemukan cara untuk menyelesaikan suatu masalah. Pathway thinking mencakup pemikiran mengenai kemampuan untuk menghasilkan satu atau lebih cara yang berguna untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Beberapa jalur yang dihasilkan akan berguna ketika individu menghadapi hambatan, dan orang yang memiliki harapan yang tinggi merasa dirinya mampu menemukan beberapa jalur alternatif dan umumnya mereka sangat efektif dalam menghasilkan jalur alternatif (Irving, Snyder, & Crowson; Snyder, Harris dalam Snyder, Rand & Sigmon, 2002).

c. Agency Thinking

Komponen motivasional pada teori harapan adalah agency, agency dapat diartikan sebagai kapasitas untuk menggunakan suatu jalur untuk  mencapai tujuan yang diinginkan. Agency mencerminkan persepsi individu bahwa dirinya mampu mencapai tujuannya melalui jalur-jalur yang dipikirkannya, agency juga dapat mencerminkan penilaian individu mengenai kemampuannya bertahan ketika menghadapi hambatan dalam mencapai tujuan. Berbeda dengan efikasi diri, agency -thinking hanya berada di ranah kognitif, dimana agencythinking ini memunculkan kemauan individu untuk memotivasi diri, sedangkan efikasi diri sudah memunculkan perilaku dari keyakinan atas kemampuan yang dimiliki. Hal ini juga dijelaskan oleh Snyder, Simpson & Hughes (2006) bahwa definisi harapan diarahkan pada dua komponen yaitu kemauan dan cara sesuai dengan ungkapan lama bahwa dimana ada kemauan, di situ ada jalan

Pengertian Harapan (skripsi dan tesis)

Snyder (2000) dalam Carr (2004) menyatakan bahwa harapan adalah keseluruhan dari kemampuan yang dimiliki individu untuk menghasilkan jalur mencapai tujuan yang diinginkan, bersamaan dengan motivasi yang dimiliki untuk menggunakan jalur-jalur tersebut. Harapan didasarkan pada harapan positif dalam pencapaian tujuan. (Snyder, Irving, & Anderson. 1991) menambahkan harapan adalah keadaan termotivasi yang positif didasarkan pada hubungan interaktif antara agency (energi yang mengarah pada tujuan) dan pathway (rencana untuk mencapai tujuan).

Snyder (2000) dalam Carr (2004) mengkonsepkan harapan ke dalam dua komponen, yaitu kemampuan untuk merencanakan jalur untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan agency atau motivasi untuk menggunakan jalur tersebut. Harapan merupakan keseluruhan dari kedua komponen tersebut. Berdasarkan konsep ini, harapan akan menjadi lebih kuat jika harapan ini disertai dengan adanya tujuan yang bernilai yang memiliki kemungkinan untuk dapat dicapai, bukan sesuatu yang mustahil dicapai. Pemikiran hopeful mencakup tiga komponen, yaitu goal, pathway thinking, dan agency thinking. Namun jika individu memiliki keyakinan untuk mencapai tujuannya, maka individu tidak memerlukan harapan. Sebaliknya, jika individu yakin bahwa ia tidak akan bisa maka ia akan menjadi hopeless. Berdasarkan konseptualisasi ini, emosi positif dan negatif merupakan hasil dari pemikiran hopeful atau hopeless yang memiliki tujuan. Pada situasi adanya usaha untuk mencapai tujuan, perilaku hopeful akan ditentukan oleh interaksi dari hal berikut:

a. Seberapa bernilainya tujuan atau hasil yang ingin dicapai.

b. Pemikiran mengenai jalur untuk mencapai tujuan dan harapan yang berkaitan dengan seberapa efektif jalur/cara ini untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

c. Pemikiran mengenai pribadi dan seberapa efektif individu dalam mengikuti jalur untuk mencapai tujuan tersebut.

Teori harapan juga menekankan peran dari hambatan, stressor, dan emosi, ketika menjumpai hambatan yang menghalangi pencapaian tujuan, individu menilai kondisi tersebut sebagai sumber stres. Berdasarkan postulat teori harapan, emosi positif dihasilkan dari persepsi mengenai keberhasilan pencapaian tujuan. Sebaliknya emosi negatif mencerminkan kegagalan pencapaian tujuan, baik yang mengalami hambatan ataupun tidak mengalami hambatan. Oleh karena itu, persepsi mengenai keberhasilan pencapaian tujuan akan mendorong munculnya emosi positif dan negative. Kemudian emosi ini bertindak sebagai reinforcing feedback (Snyder, Simpson & Hughes, 2006)

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Hidup (skripsi dan tesis)

Menurut Hurlock (1980) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan hidup pada seorang individu antara lain:

a. Kesehatan

Kesehatan yang baik memungkinkan individu pada usia berapa pun dapat melakukan aktivitas. Sedangkan kesehatan yang buruk atau ketidak mampuan fisik dapat menjadi penghalang untuk mencapai kepuasan bagi keinginan dan kebutuhan individu (Hurlock, 1980).

b. Jenis pekerjaan

Menurut Hurlock (1980) semakin rutin sifat pekerjaan dan semakin sedikit kesempatan untuk otonomi dalam pekerjaan maka akan semakin kurang memuaskan. Hal ini dapat dilihat pada tugas sehari-hari yang diberikan kepada anak-anak dan juga pekerjaan orang-orang dewasa.

c. Status kerja

Baik di bidang pendidikan maupun pekerjaan, semakin berhasil seseorang melaksanakan tugas dan semakin hal tersebut dihubungkan dengan prestise maka akan semakin besar pula kepuasan yang ditimbulkan (Hurlock, 1980).

d. Kondisi kehidupan Jika pola kehidupan memungkinkan seseorang untuk berinteraksi dengan orang-orang lain baik di dalam keluarga maupun dengan temanteman dan tetangga di dalam masyarakat, maka kondisi demikian akan memperbesar potensi kepuasan hidup (Hurlock, 1980).

e. Keseimbangan antara Harapan dan Pencapaian

Jika harapan-harapan itu realistis, orang akan puas dan bahagia apabila tujuannya tercapai. Pendapat lain meengatakan beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya kebahagiaan secara umum dan khususnya mempengaruhi kepuasan hidup pada seorang individu yaitu antara lain:

a. Kesehatan

Diener (1984) dalam Carr (2004) mengatakan bahwa hal yang berkaitan dengan kebahagiaan adalah penilaian subjektif individu mengenai kesehatannya dan bukan atas penilaian objektif yang didasarkan pada analisa medis. Kesehatan yang baik memungkinkan seseorang pada usia berapa pun dapat melakukan aktivitas. Sedangkan kesehatan yang buruk atau ketidakmampuan fisik dapat menjadi penghalang untuk mencapai kepuasan bagi keinginan dan kebutuhan individu, sehingga menimbulkan rasa tidak bahagia (Hurlock, 1999). Diener & Biswas-Diener (2008) juga mengatakan bahwa individu yang bahagia lebih jarang mengalami sakit daripada individu yang tidak bahagia. Hal ini dikarenakan kebahagiaan dapat menangkis infeksi penyakit, pertahanan melawan gaya hidup yang dapat menimbulkan penyakit dan melindungi dari penyakit jantung. Sementara itu, ketidakbahagiaan dan depresi dikatakan dapat membahayakan kesehatan individu.

Olahraga juga dikatakan mempunyai dampak jangka pendek dan jangka panjang terhadap kesehatan dan kebahagiaan individu. Hal ini dikemukakan oleh Argyle (2001) dalam Carr (2004) yang menyatakan bahwa dampak jangka pendek dari olahraga adalah dapat menimbulkan emosi positif yaitu dengan adanya pengeluaran endorphin di otak. Lebih lanjut, dampak jangka panjangnya adalah mengurangi depresi dan kecemasan, meningkatkan kecepatan dan ketepatan kerja, memperbaiki konsep diri dan meningkatkan kebugaran tubuh dan fungsi kardiovaskuler yang baik serta mengurangi resiko timbulnya penyakit sehingga pada akhirnya mengarah pada kebahagiaan.

b. Status Kerja

Argyle (2001) dalam Carr (2004) mengatakan bahwa individu dengan status bekerja lebih bahagia daripada individu yang tidak bekerja dan begitu juga dengan individu yang profesional dan terampil tampak lebih bahagia daripada individu yang tidak terampil. Diener & Biswas-Diener (2008) juga mengatakan bahwa ketika individu menikmati pekerjaannya dan merasa pekerjaan tersebut adalah hal yang penting dan bermakna maka individu akan puas terhadap kehidupannya. Sebaliknya, ketika individu merasa pekerjaannya buruk oleh karena lingkungan pekerjaan yang buruk dan kurang sesuai dengan diri individu tersebut maka individu akan merasa tidak puas pada kehidupannya.

c. Penghasilan/Pendapatan

Penghasilan berkaitan dengan kepuasan finansial dan kepuasan finansial berkaitan dengan kepuasan hidup (Diener, Lucas & Oishi (2005). Diener dan Seligman (2002) juga mengatakan bahwa penghasilan mempunyai hubungan yang lemah dengan kebahagiaan. Dalam hal ini, kemiskinan dilaporkan dapat menyebabkan individu tidak bahagia, namun kekayaan juga dikatakan tidak selamanya menyebabkan individu bahagia.

d. Realisme dari Konsep-Konsep

Peran Masa dewasa dini merupakan periode penyesuaian diri terhadap polapola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru, orang dewasa muda diharapkan memainkan peran baru, seperti peran suami/istri, orang tua dan pencari nafkah dan mengembangkan sikap-sikap baru, keinginankeinginan dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas-tugas baru ini. Semakin berhasil seseorang melaksanakan tugas tersebut semakin hal itu dihubungkan dengan prestise, maka semakin besar kepuasan yang ditimbulkan (Hurlock, 1999). Myers (2012) dalam Carr (2004) juga mengatakan bahwa individu baik pria maupun wanita yang telah menikah lebih bahagia daripada individu yang tidak menikah, baik yang bercerai, berpisah maupun tidak pernah menikah sama sekali. Hal tersebut dikarenakan pernikahan menyediakan intimasi psikologis dan fisik, yang meliputi memiliki anak dan membangun rumah, peran sosial sebagai orang tua dan pasangan, dan menegaskan identitas dan menciptakan keturunan.

e. Pernikahan

Meskipun hubungan romantis dapat menimbulkan keadaan stres, namun hubungan romantis juga adalah sumber kebahagiaan (Weiten & Llyod, 2006). Penelitian menunjukkan bahwa individu yang telah menikah memiliki subjective well being yang lebih tinggi daripada kelompok individu yang tidak menikah (Diener, 2009). Glenn (1998) dalam Diener (2009) juga mengatakan bahwa meskipun wanita yang menikah mungkin dilaporkan mengalami gejala stres yang lebih besar daripada wanita yang tidak menikah, mereka juga dilaporkan memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi. Lebih lanjut Harvey, Pauwels & Zickmund (2001) dan Carr (2004) juga menambahkan bahwa pernikahan yang memiliki komunikasi yang saling menghargai dan jelas serta saling memaafkan kesalahan masingmasing berkaitan dengan tingkat kepuasan yang tinggi sehingga mengakibatkan kebahagiaan yang lebih tinggi.

f. Usia

Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Bradburn & Caplovitz (1965) dalam Diener (2009) menemukan bahwa individu usia muda lebih bahagia daripada individu yang berusia lanjut. Akan tetapi, sejumlah tokoh mengadakan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan penelitian tersebut dan hasilnya menunjukkan dua hal, ada penelitian yang menunjukkan tidak ada efek usia terhadap kebahagiaan tetapi ada juga penelitian yang menemukan adanya hubungan yang positif antara usia dengan kepuasan hidup (Diener, 2009).

g. Agama/Kepercayaan)

Myers (2012) dalam Weiten & Llyod (2006) mengatakan bahwa agama dapat memberikan tujuan dan makna hidup, membantu individu mensyukuri kegagalannya, memberikan individu komunitas yang supportif, dan memberikan pemahaman mengenai kematian secara benar. Agama menyediakan manfaat bagi kehidupan sosial dan psikologis individu sehingga akhirnya meningkatkan kepuasan hidup. Agama dapat menyediakan perasaan bermakna dalam kehidupan setiap hari terutama saat masa krisis. Selain itu, juga menyediakan identitas kolektif dan jaringan sosial dari sekumpulan individu yang memiliki kesamaan sikap dan nilai. (Diener, 2009).

h. Hubungan sosial

Hubungan sosial memiliki dampak yang signifikan terhadap kepuasan hidup. Individu yang memiliki kedekatan dengan orang lain, memiliki teman dan keluarga yang supportif cenderung puas akan seluruh kehidupannya. Sebaliknya, kehilangan orang yang disayangi akan menyebabkan individu menjadi tidak puas akan hidupnya dan individu tersebut memerlukan waktu untuk kembali menilai kehidupannya secara positif (Diener, 2009).

Aspek Kepuasan Hidup (skripsi dan tesis)

Diener & Biswas-Diener (2008) mengatakan ada lima aspek dari kepuasan hidup yaitu:

a. Keinginan untuk mengubah kehidupan

Individu yang memiliki kepuasan hidup, maka dalam dirinya juga memiliki perasaan untuk menjadikan hidupnya lebih baik, dalam hal ini bagian kehidupan yang hendak dirubah tidak hanya pada satu aspek seperti kesehatan, namun juga sebagian besar aspek yang akan menambah kualitas kepuasan hidup.

b. Kepuasaan terhadap hidup saat ini

Aspek kedua dalam dimiliki seseorang dengan tingkat kepuasan hidup yang baik adalah dengan merasa bahwa kehidupan yang sekarang ini di jalani adalah kehidupan yang baik serta memuaskan.

c. Kepuasan hidup di masa lalu

Kepuasan hidup juga ditandai dengan ketidak adanya penyesalan tentang apapun yang terjadi di masa lalu, masa lalu terasa ringan untuk dilupakan namun juga sebagai salah satu pengalaman untuk evalusi diri dimasa kini.

d. Kepuasan terhadap kehidupan di masa depan

Masa depan adalah misteri kehidupan, namun orang orang dengan tingkat kepuasan hidup yang tinggi memiliki optimisme yang baik terhadap kehidupan di masa depan.

e. Penilaian orang lain terhadap kehidupan seseorang.

Penilaian orang lain terhadap kehidupan individu juga merupakan salah satu aspek kepuasan kehidupan, dikarenakan pertimbangan orang lain selalu individu perlukan mengingat keterbatasan individu secara manusiawi.

Pendapat lain berasal dari (Ryff, 1990) yang mengungkapkan bahwa kepuasan hidup atau kondisi well – being terdiri dari enam aspek, yaitu sebagai berikut:

a. Self Acceptance (penerimaan diri)

Self Acceptance didefinisikan sebagai suatu ciri sentral dari kesehatan mental sebagaimana karakteristik dari aktualisasi diri, fungsi individu yang optimal.

b. Positive relations with others (hubungan positif dengan orang lain)

Banyak teori menekankan pentingnya kehangatan dan kepercayaan pada relasi interpersonal. Kemampuan untuk mencintai merupakan komponen sentral dari kesehatan mental. Orang yang telah mencapai self actualization digambarkan mempunyai perasaan yang kuat terhadap empati dan afeksi terhadap semua orang, dan mempunyai kecakapan dalam memberikan cinta, pertemanan yang dalam, dan mengidentifikasi orang lain secara lebih lengkap. Kehangatan berhubungan dengan orang lain merupakan suatu kriteria dari kematangan seseorang.

c. Outonomy (kemandirian)

Orang yang telah mencapai aktualisasi diri adalah individu yang mampu memainkan fungsi otonomi dan perlawanan terhadap ketidaksopanan. Pribadi yang berfungsi sepenuhnya merupakan pribadi yang mempunyai internal locus of control. Artinya mampu mengevaluasi dirinya sendiri dengan menggunakan standar pribadinya. Pribadi yang mempunyai otonomi yang tinggi diidentifikasikan sebagai pribadi yang mempunyai ketentuan diri dan mandiri, mampu mengatur perilaku dan mengevaluasi diri dengan standar dirinya sendiri.

d. Environmental Mastery (penguasaan lingkungan)

Individu yang mampu memilih atau membentuk lingkungan agar menjadi nyaman merupakan karakteristik dari kesehatan mental. Penguasaan lingkungan adalah suatu kemampuan memanipulasi dan mengontrol keadaan lingkungan. Individu dengan penguasaan lingkungan yang baik adalah seseorang yang mempunyai kemampuan dalam penguasaan dan kecakapan dalam mengatur lingkungannya, mempunyai kontrol terhadap aktivitas eksternal, membuat segala sesuatu menjadi efektif dengan menggunakan kesempatan yang ada, mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dan nilai pribadi.

e. Purpose in Life (tujuan hidup)

Kesehatan mental didefinisikan sebagai kepercayaan seseorang terhadap tujuan hidup dan kebermaknaan dalam hidup. Kematangan menekankan adanya tujuan yang terarah dan komprehensif dalam hidup, perasaan yang terarah dan mempunyai tujuan. Individu yang mempunyai tujuan hidup terarah, merasakan kebermaknaan dalam hidup saat ini dan masa lalunya, percaya terhadap tujuan hidupnya. Individu yang kurang mempunyai tujuan hidup digambarkan sebagai individu yang kurang memiliki rasa bermakna dalam hidup, mempunyai banyak tujuan dan sasaran hidup, kurang terarah, tidak melihat tujuannya pada masa lalu, tidak memiliki harapan, pandangan, atau kepercayaan.

f. Personal Growth (perkembangan pribadi)

Fungsi psikologis optimal tidak hanya memerlukan karakteristik utama dan tujuan utama, tapi juga prestasi yang harus dilanjutkan mengembangkan potensi lain untuk mengembangkan pribadi. Kebutuhan aktualisasi diri dan merealisasikan potensi merupakan sentral dari perkembangan pribadi. Terbuka pada pengalaman merupakan salah satu karakter dari pribadi yang berfungsi sepenuhnya. Pribadi yang mempunyai personal growth yang baik digambarkan mempunyai perasaan untuk melanjutkan perkembangan, melihat dirinya sebagai pribadi yang selalu berkembang, terbuka terhadap pengalaman baru, mempunyai keinginan untuk merealisasikan potensi yang dimilikinya, selalu berusaha dan memperbaiki diri dan perilakunya sepanjang waktu, berubah kecara yang merefleksikan efektivitas dan pengetahuan diri yang lebih baik.

Pada penelitian kali ini, peneliti menggunakan aspek kepuasan hidup yang disampaikan Diener & Biswas-Diener (2008) yaitu sebagai berikut:

a. Keinginan untuk mengubah kehidupan

b. Kepuasaan terhadap hidup saat ini

c. Kepuasan hidup di masa lalu

d. Kepuasan terhadap kehidupan di masa depan

e. Penilaian orang lain terhadap kehidupan seseorang

Pengertian Kepuasan Hidup (skripsi dan tesis)

Sousa & Lyubomirsky (2001) menyatakan kepuasan hidup seseorang adalah sebuah penerimaan seseorang terhadap keadaan kehidupannya serta sejauh mana seseorang itu dapat memenuhi apa yang dikehendakinya secara menyeluruh. Secara umum kepuasan hidup merujuk kepada sejauh mana seeseorang itu berpuas hati dengan apa yang diperolehnya selama ini. Dirinya adalah aspek yang diukur secara kognitif oleh seseorang terhadap dirinya sendiri. Kepuasan hidup sukar untuk didefinisikan karena aspek kepuasan hidup adalah bersifat subjektif. Berdasarkan pendekatan kognitif yang disampaikan oleh Diener (1985) dalam Frisch (2006) kepuasan hidup merupakan penilaian secara kognitif dimana seseorang membandingkan keadaannya saat ini dengan keadaan yang dianggapnya sebagai standar ideal. Semakin kecil perbedaan yang dirasakan yaitu antara apa yang diharapkan dengan apa yang dicapai oleh individu maka semakin besar kepuasan hidup seseorang (Diener, 1985 dalam Frisch, 2006).

Michalos (2007) dalam Amat & Mahmud (2009) menegaskan kepuasan hidup adalah melibatkan berbagai konstruk yang memerlukan seseorang itu menilai berbagai aspek kehidupannya seperti kesehatan, keuangan, kerja,  serta hubungan interpersonalnya. Tetapi kebanyakan masyarakat meletakkan berbagai nilai tersebut terhadap salah satu aspek saja. Sedangkan Diener (1984) mengungkapkan seseorang itu perlu melihat kepada aspek kepuasan hidupnya secara kognitif dan menyeluruh. Pavot dan Diener (1993) menyatakan kepuasan hidup sebagai penilaian secara keseluruhan terhadap perasaan dan sikap seseorang berkaitan dengan kehidupannya pada suatu waktu. Lebih lanjut, Diener & Biswas-Diener (2008) menambahkan bahwa kepuasan hidup merupakan penilaian secara kognitif mengenai seberapa baik dan memuaskan hal-hal yang sudah dilakukan individu dalam kehidupannya secara menyeluruh dan atas area-area utama dalam hidup yang mereka anggap penting (domain satisfaction) seperti hubungan interpersonal, kesehatan, pekerjaan, pendapatan, spiritualitas dan aktivitas di waktu luang. Kepuasan hidup dan domain satisfaction tersebut berpatokan pada kepercayaan atau sikap individu dalam menilai kehidupannya (Schimmack, 2008). Kepuasan hidup merupakan aspek kognitif dari subjective well-being (Diener, 2009). Kepuasan hidup dapat dilihat dari dua pendekatan yang berbeda, pertama Diener mengenalkan teori bottom-up, dimana kepuasan hidup dipengaruhi oleh penilaian individu terhadap domain-domain yang menurutnya penting dalam kehidupannya. Kedua teori top-down, yang melihat bahwa kepuasan hidup akan mempengaruhi domain kepuasan seseorang. Seseorang yang umumnya puas dengan kehidupannya juga akan mengevaluasi domain penting dalam kehidupan dengan lebih positif, meskipun kepuasan hidup secara umum tidak hanya didasarkan pada kepuasan terhadap domain tersebut saja. Andrews & Withey (1976) dalam Diener (2009) mengatakan bahwa kedua pendekatan tersebut merupakan proses yang sejalan atau disebut dengan feedback loop. Misalkan, ketika penghasilan pertama kali meningkat maka domain finansial juga meningkat, dan menyebabkan kepuasan hidup meningkat secara keseluruhan. Ketika kepuasan hidup meningkat maka kepuasan di domain-domain lain juga meningkat, walaupun peningkatan domain-domain tersebut tidak terlalu tampak

Fungsi sikap qona’ah dalam kehidupan (skripsi dan tesis)

Menurut Labib (2001), fungsi sikap qona’ah didalam kehidupan antara lain :

a. Sebagai Stabilisator

Fungsi sikap qona’ah sebagai stabilisator dalam kehidupan, karena seorang muslim yang mempunyai sifat Qana’ah akan selalu berlapang dada, berhati tenteram, merasa kaya dan berkecukupan, bebas dari keserakahan, karena pada hakekatnya kekayaan dan kemiskinan terletak pada hati bukan pada harta yang dimilikinya (Labib, 2001).

b. Dinamisator

Sikap qona’ah sebagai dinamisator dalam keehidupan individu yaitu kekuatan batin yang selalu mendorong seseorang untuk meraih kemajuan hidup berdasarkan kemandirian dengan tetap bergantung kepada karunia Allah (Labib, 2001). Orang yang mempunyai sikap Qona’ah akan selalu menerima apa adanya yang telah diberikan oleh Allah padanya, ia tidak akan tergiur oleh kemewahan atau kekayaan yang dimiliki orang lain, karena dirinya sudah merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, karena pada hakikatnya kekayaan itu bukanlah tergantung pada banyaknya harta melainkan sifat menerima yang dimilikinya

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Hidup (skripsi dan tesis)

Menurut Hurlock (1980), beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan hidup pada seorang individu antara lain:

a. Kesehatan

Kesehatan yang baik memungkinkan individu pada usia berapa pun dapat melakukan aktivitas. Sedangkan kesehatan yang buruk atau ketidak mampuan fisik dapat menjadi penghalang untuk mencapai kepuasan bagi keinginan dan kebutuhan individu (Hurlock, 1980).

b. Jenis pekerjaan

Menurut Hurlock (1980), semakin rutin sifat pekerjaan dan semakin sedikit kesempatan untuk otonomi dalam pekerjaan, semakin kurang memuaskan. Hal ini dapat dilihat pada tugas sehari-hari yang diberikan kepada anak-anak dan juga pekerjaan orang-orang dewasa.

c. Status kerja

Baik di bidang pendidikan maupun pekerjaan, semakin berhasil seseorang melaksanakan tugas semakin hal itu dihubungkan dengan  prestise maka, semakin besar kepuasan yang ditimbulkan (Hurlock, 1980).

d. Kondisi kehidupan

Jika pola kehidupan memungkinkan seseorang untuk berinteraksi dengan orang-orang lain baik di dalam keluarga maupun dengan teman-teman dan tetangga di dalam masyarakat, maka kondisi demikian memperbesar kepuasan hidup (Hurlock, 1980).

e. Keseimbangan antara Harapan dan Pencapaian

Jika harapan-harapan itu realistis, orang akan puas dan bahagia apabila tujuannya tercapai.

Karakteristik qona’ah (skripsi dan tesis)

Menurut Hamka (2005) Qona’ah ialah menerima dengan cukup dan mengandung 5 hal yaitu :

a. Menerima dengan rela apa yang ada.

Bagi orang yang memiliki sifat Qona’ah, (Hamka, 2005) ia akan selalu berada dalam bimbingan Allah, redha menerima apa yang tertentu dalam zal atau apa yang sudah ditakdirkan untuknya. Meskipun susah atau senang, miskin atau kaya, semua hanya pada hukum orang luar. Sebab dia sendiri adalah dalam nikmat, dalam kekayaan, dalam perbendaharaan yang tiada ternilai harganya, pada lahirnya azab, pada batinnya rahmat. Jika dia ditimpa susah, dia senang sebab dapat mengingat kelemahan dirinya dan kekuatan Tuhannya, jika dia dihujani rahmat, dia senang pula, sebab dapat bersyukur. Manusia hendaknya ridha terhadap apa yang dianugerahkan kepadanya dalam hal yang tidak dapat ia rubah. Hendaknya ia tidak berangan-angan memperoleh sesuatu yang tidak mudah didapat, selalu melihat apa yang diberikan kepada orang lain yang belum ia dapat, seperti angan-angannya orang yang sudah tua untuk dapat kembali kuat seperti anak muda, atau orang yang pendek bercermin pada orang yang tinggi dengan penuh kesedihan dan penyesalan (Basya, 2007).

b. Memohonkan kepada Tuhan tambahan yang pantas, dan berusaha.

Qona’ah juga berkaitan dengan usaha atau ikhtiar, menurut Hamka (2005) selama masih hidup, orang wajib bekerja dan berusaha, “bekerja bukan lantaran meminta tambahan yang telah ada dan tak merasa cukup pada apa yang dalam tangan, tetapi bekerja karena orang hidup mesti bekerja”. Dengan demikian jelaslah salah perasangka orang yang selama ini mengatakan bahwa Qona’ah itu melemahkan hati, memalaskan fikiran, dan mengajak berpangku tangan. Tetapi Qona’ah adalah modal yang paling teguh untuk menghadapi kehidupan, menimbulkan kesungguhan hidup yang betul-betul dalam mencari rezeki. Karena manusia dikirim ke dunia buat bekerja, tetapi tenangkan hati, yakinlah bahwa di dalam pekerjaan iu ada kalah dan menang (Hamka, 2005).

c. Menerima dengan sabar akan ketentuan Tuhan.

Qona’ah juga mengaharuskan adanya sifat sabar terhadap apa yang diperoleh jika tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Sikap ini juga akan menghindarkan orang dari perasaan cemas, ragu, penyusah, putus-asa, dan lekas marah.

d. Bertawakkal kepada Tuhan.

Tawakal adalah membebaskan diri dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan atas segala sesuatunya hanya kepada Allah Swt. Tawakkal merupakan perbuatan lahir dan batin untuk menyerahkan segala perkara, ikhtiar dan usaha kepada Allah swt serta berserah diri sepenuhnya untuk mendapat manfaat atau menolak madharat (Supriyanto, 2010). Dengan demikian tawakal merupakan implikasi langsung dari iman seseorang sebab iman tidak saja berarti percaya akan adanya Allah, tetapi lebih bermakna mempercayai atau menaruh kepercayaan kepada Tuhan yang Esa, Allah Swt dan menafikan segala sesuatu selain-Nya yang bisa dianggap sekutu.

e. Tidak tertarik oleh tipu-daya dunia

. Di dalam Qona’ah juga adanya tuntutan untuk bersikap zuhud, yaitu perasaan tidak tertarik oleh tipu daya dunia. Menurut Harun Nasution (dalam Nata, 2010) zuhud artinya keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Zuhud termasuk salah satu ajaran agama yang sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh kehidupan dunia. Orang yang zuhud lebih menngutamakan atau mengeja kebahagiaan hidup di akhirat yang kekal dan abadi, dari pada mengejar kehidupan dunia yang fana dan sepintas lalu

Pengertian Qona’ah (skripsi dan tesis)

Qona’ah menurut Hamka (dalam Shunhaji, 2011) merupakan rasa menerima secara ikhlas yang berhubungan dengan hati, bukan menerima apa adanya tanpa disertai dengan usaha yang keras. Qona’ah pada dasaranya adalah menganggap cukup dengan sesuatu yang ada dan tidak berkeinginan terhadap sesuatu yang tidak ada hasilnya (An-Naisaburi, 2007). Menurut Muhammad Bin Turmuzi (dalam Akhyar, 1992) Qona’ah ialah jiwa merasa lapang dengan rezeki yang diberikan Allah kepadanya, dan merasa cukup dengan yang ada dan hilang rasa tamak terhadap yang tidak tercapai. Sedangkan Abu Abdillah bin Khafif (dalam An-Naisaburi, 2007), menyatakan Qona’ah adalah meninggalkan angan-angan terhadap sesuatu yang tidak ada dan menganggap cukup dengan sesuatu yang ada. Qona’ah diartikan juga menerima atau merasa cukup apa yang ada padanya (Al Ghazali, 2003). Jadi orang yang bersifat Qona’ah berarti selalu rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan (Labib, 2001).

Qana’ah bukan berarti hidup bermalas-malasan, tidak mau berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Justru orang yang Qana’ah itu selalu giat bekerja dan berusaha, namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ia akan tetap rela hati menerima hasil tersebut dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Sikap yang demikian itu akan mendatangkan rasa tenteram dalam hidup dan menjauhkan diri dari sifat serakah dan tamak. Kemudian rasa puas akan menyelinap ke dalam hatinya dan terpancar dari mukanya yang penuh kegembiraan. “Abdullah bin Amru r.a. berkata (dalam Labib, 2001): Bersabda Rasulullah SAW, sesungguhnya beruntung orang yang masuk Islam dan rizqinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya (H.R.Muslim). Qona’ah adalah basis menghadapi hidup, menerbitkan kesungguhan hidup, menimbulkan energi kerja untuk mencari rizki, berikhtiar dan juga percaya akan takdir yang diperoleh sebagai takdir (Labib, 2001). Qona’ah menurut Hamka (dalam Shunhaji, 2011) adalah adanya keikhlasan hati dalam menerima apa yang ada dengan disertai ikhtiar maksimal. Namun, sekiranya hasil yang diperoleh dari ikhtiar tersebut tidak sesuai dengan harapan, maka diharuskan sabar untuk menerima ketentuan Ilahi, dan jika ikhtiar yang dilakukan membawa hasil yang menyenangkan maka diharuskan bersyukur kepada Tuhan yang meminjami nikmat-Nya.

Karakteristik Individu yang Memiliki Kepuasan Hidup (skripsi dan tesis)

Menurut Pavot dan Diener (1993) aspek kepuasan hidup dinilai dari aspek kognitif seseorang secara keseluruhan terhadap kualitas hidupnya berdasarkan kriteria yang dipilih oleh mereka sendiri. Jadi, aspek kepuasan hidup bukanlah merujuk kepada kepuasan hidup dari aspek- aspek seperti kesehatan, persahabatan, keuangan dan taraf sosial seseorang. Diener (1985) mengatakan bahwa individu yang puas akan kehidupannya adalah individu yang menilai bahwa kehidupannya memang  tidak sempurna tetapi segala sesuatunya berjalan dengan baik, selalu mempunyai keinginan untuk berkembang dan menyukai tantangan. Kepuasan hidup seseorang menunjukkan sebuah kesenangan atau penerimaan hidup individu tersebut, atau pemenuhan keinginan dan kebutuhan hidup individu secara keseluruhan (Sousa & Lyubomirsky, 2001).

Pengertian Kepuasan Hidup ( Life Satisfaction) (skripsi dan tesis)

Satisfaction merupakan satu keadaan kesenangan dan kesejahteraan, disebabkan karena orang telah mencapai satu tujuan atau sasaran (Chaplin, 2006). Sedangkan Diener (1984); Shin dan Johnson (dalam Diener, Emmons, Larsen, & Griffin, 1985) mendefinisikan kepuasan hidup sebagai penilaian menyeluruh terhadap kualitas kehidupan seseorang berdasarkan kriteria-kriteria yang ditetapkannya sendiri. Michalos (dalam Amat & Mahmud, 2009) menegaskan kepuasan hidup adalah melibatkan berbagai konstruk yang memerlukan seseorang itu menilai berbagai aspek kehidupannya seperti kesehatan, keuangan, kerja, serta hubungan interpersonalnya. Tetapi kebanyakan masyarakat meletakkan berbagai nilai tersebut terhadap salah satu aspek saja. Sedangkan Diener (1984) menegaskan seseorang itu perlu melihat kepada aspek kepuasan hidupnya secara kognitif dan menyeluruh. Pavot dan Diener (1993) menyatakan kepuasan hidup sebagai penilaian secara keseluruhan terhadap perasaan dan sikap seseorang berkaitan dengan kehidupannya pada suatu waktu. Sementara itu Sosusa dan Lyubomirsky (2001) menyatakan kepuasan hidup seseorang itu merujuk kepada penerimaan seseorang terhadap keadaan kehidupannya serta sejauh mana seseorang itu dapat memenuhi apa yang dikehendakinya secara menyeluruh. Secara umum  kepuasan hidup merujuk kepada sejauh mana seeseorang itu berpuas hati dengan apa yang diperolehnya selama ini. Ia adalah aspek yang diukur secara kognitif oleh seseorang terhadap dirinya sendiri. Kepuasan hidup sukar untuk didefinisikan karena aspek kepuasan hidup adalah bersifat subjektif.

Dimensi Dukungan Sosial (skripsi dan tesis)

Menurut Zimet, dkk. (1988), Dahlem, Zimet & Walker (1991), Walen & Lachman (2000), Mitchell & Zimet (2000), Edwards (2004), Kazarian & McCabe (1991) terdapat tiga dimensi dukungan sosial, antara lain keluarga, teman dan orang yang dianggap penting (significant other).

a. Keluarga

Menurut Zimet, dkk. (1988) keluarga merupakan sumber dukungan yang dapat mengubah hidup individu. Zimet, dkk. (1988) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa keluarga merupakan pilihan yang paling banyak dipilih oleh individu sebagai sumber dukungan utama. Hal tersebut mendukung pernyataan dari Holahan & Moos (Zimet, dkk., 1988) bahwa keluarga dan hubungan kerja yang terjalin dalam keluarga merupakan sumber kekuatan dukungan yang nyata.

b. Teman

Dukungan yang berasal dari teman yaitu dukungan yang diberikan oleh teman kepada individu untuk memberikan bantuan dan meringankan permasalahan yang sedang dimiliki individu. Kelompok teman memiliki hubungan yang lebih luas daripada keluarga karena lebih menyediakan dukungan yang nyata dalam permasalahan sehari-hari.

c. Orang lain yang dianggap penting (Significant Other)

Dukungan dari orang lain yang diangggap penting (significant other), yaitu dukungan yang diberikan oleh orang lain yang dianggap penting (significant other) kepada individu dengan tujuan untuk memberikan bantuan ketika individu memiliki permasalahan. Orang lain yang dianggap penting (significant other) dapat merupakan orang yang mendukung atau spesial bagi individu, seperti pasangan kekasih, psikoterapis, suami atau istri, pengurus panti asuhan, pendeta dan orang lain yang dipercayai individu, di luar dari lingkup keluarga dan teman sebaya (Zimet, dkk., 1990).

Cohen & McKay (Cutrona & Russel, 1990; House, 1984; Schafer, Coyne & Lazarus, 1981; Wills, 1984; Sarafino, 1994) menjelaskan bahwa terdapat lima aspek dukungan sosial, antara lain :

a. Dukungan Emosional

Terdiri dari ekspresi seperti perhatian, empati dan turut prihatin kepada individu. Dukungan ini menyebabkan penerima dukungan marasa nyaman, tentram kembali, merasa dimiliki dan dicintai. Dukungan ini dapat berupa bantuan dalam bentuk semangat, kehangatan personal dan cinta dalam upaya memotivasi pekerjaan pasangan.

b. Dukungan Penghargaan

Dukungan ini melibatkan ekspresi yang berupa pernyataan setuju dan penilaian positif terhadap ide-ide, perasaan dan performa orang lain dalam lingkup pekerjaannya. c. Dukungan Instrumental Dukungan instrumental merupakan dukungan yang paling sederhana untuk didefinisikan, yaitu dukungan yang berupa bantuan secara langsung dan nyata seperti memberi atau meminjamkan uang atau membantu meringankan tugas individu. d. Dukungan Informasi Orang-orang yang berada disekitar individu akan memberikan dukungan informasi dengan cara menyarankan pilihan tindakan yang dapat dilakukan individu dalam mengatasi masalah. Dukungan ini dapat berupa nasehat, arahan, saran ataupun penilaian tentang bagaimana individu melakukan sesuatu. 39 e. Dukungan Kelompok Dukungan kelompok merupakan dukungan yang dapat menyebabkan individu merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu kelompok dimana anggota-anggotanya dapat saling berbagi. Terdapat empat aspek-aspek dukungan sosial menurut Terok, Bawotong & Untu (2012), antara lain :

a. Dukungan Emosional

Dukungan secara emosional untuk menurunkan dan meniadakan rasa cemas, tidak berdaya dan putus asa.

b. Dukungan Penghargaan

Dukungan penghargaan yaitu dukungan melalui ungkapan, penghargaan atau penilaian yang positif untuk individu, dorongan maju dan semangat. Bentuk dukungan ini membentuk perasaan dalam diri individu bahwa dirinya berharga, mampu dan berarti.

c. Dukungan Intrumental

Dukungan instrumental merupakan bantuan nyata atau bantuan langsung dan biasanya berbentuk bantuan secara finansial.

d. Dukungan Informatif

Dukungan informatif adalah dukungan yang diberikan dengan cara memberikan informasi berupa nasihat, saran atau pengarahan dan umpan balik untuk menyelesaikan suatu permasalahan.

Ada enam dimensi dukungan sosial menurut Weiss (Cutrona, 1987; Putra & Tresniasari, 2015), antara lain: attachment (kelekatan), social integration (integrasi sosial), reassurance of worth (adanya pengakuan), reliable alliance (ketergantungan untuk dapat diandalkan), guidance (bimbingan), dan opportunity for nurturance (kesempatan untuk merasa dibutuhkan).

Definisi Dukungan Sosial (skripsi dan tesis)

Shumaker & Brownell (Zimet, dkk., 1988) memberikan definisi bahwa, dukungan sosial adalah pertukaran sumber-sumber, yaitu berupa dukungan yang dilakukan minimal oleh dua individu yang disadari oleh pemberi maupun penerima yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan penerima. Sama  halnya dengan penjelasan Frey & Rothlisberger (1996), bahwa dukungan sosial merupakan ketentuan dan efek dari dukungan yang diperoleh melalui hubungan secara luas yang ditentukan oleh individu yang dirasa telah cukup.

Dukungan sosial menurut Lin (Zimet, dkk., 1988) yaitu proses penilaian individu terhadap bantuan yang diberikan yang terdiri dari informasi atau nasehat, baik bersifat verbal maupun tidak verbal, perhatian, bantuan instrumental, diperoleh dari komunitas, hubungan sosial dan partner yang dipercaya. Dukungan sosial yang diperoleh individu dari lingkungan sosialnya dapat berasal dari sumber-sumber yang berbeda, misalnya dari pasangan suami-istri atau orang tercinta, keluarga, teman, partner kerja, psikolog, organisasi atau komunitas (Sarafino, 1994). Suatu jaringan sosial dapat menghasilkan bantuan maupun dukungan yang dibutuhkan individu, yaitu berupa bantuan dalam bentuk emosional, instrumental dan finansial (Sener, 2011).

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Walen & Lachman (2000), bahwa dukungan sosial dioperasionalkan sebagai persepsi yang dirasakan individu mengenai kepedulian dan kepahaman yang diperoleh dari suatu jaringan atau hubungan sosial, seperti sumber bantuan dan dukungan yang diperoleh individu dari keluarga, teman, partner kerja dan orang lain yang dapat menimbulkan perasaan nyaman bagi individu. Hal tersebut sejalan dengan pengertian dari Jacob (Orford, 1992) bahwa, dukungan sosial merupakan bentuk tingkah laku yang menimbulkan perasaan nyaman, menyebabkan individu yakin bahwa dirinya dihargai dan dicintai oleh 36 orang lain serta bersedia memberikan perhatian, kenyamanan kepada diri individu. Menurut Sheridan & Radmascher (1992), dukungan sosial merupakan kehadiran orang lain yang dapat menyebabkan individu percaya bahwa dirinya dicintai, diperhatikan dan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok sosial, yaitu keluarga, teman dekat dan rekan kerja.

Procidano & Heller (Dahlem, Zimet & Walker, 1991) menambahkan bahwa keluarga dan teman dapat menjadi sumber utama dukungan sosial. Dari beragam pendapat yang dikemukakan para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial dapat diperoleh dari tiga sumber, yaitu keluarga, teman-teman dan orang yang dianggap penting (significant other), dimana dukungan tersebut dapat menimbulkan perasaan nyaman, diperhatikan dan sejahtera (Dahlem, Zimet & Walker, 1991).

Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Hidup (Life Satisfaction) (skripsi dan tesis)

Menurut Diener & Ryan (2015) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan hidup (life satisfaction), antara lain:

a. Hubungan Sosial

Kepuasan hidup dapat dipengaruhi oleh jumlah teman-teman dan anggota keluarga yang dimiliki (Diener & Biswas-Diener, 2008; Diener & Ryan, 2015). Selain itu, kepuasan hidup dipengaruhi oleh kecenderungan individu untuk memiliki hubungan yang lebih dekat dan memperoleh  dukungan dari hasil hubungan sosial tersebut (Diener & Biswas-Diener, 2008; Diener & Ryan, 2015).

b. Pekerjaan dan Pendapatan

Kepuasan hidup individu dipengaruhi oleh keadaan dan tingkat status ekonomi serta kesuksesan pekerjaan. Individu yang menikmati pekerjaannya dianggap memiliki kepuasan hidup yang tinggi, dimana kepuasan tersebut berpengaruh terhadap peningkatan kreativitas, produktivitas dan dapat dipercaya dapat meningkatkan hasil kerjanya. Tingkat pendapatan juga berpengaruh terhadap kepuasan hidup individu.

c. Kesehatan dan Umur Panjang

Individu akan berperilaku sehat dan mempraktikkan gaya hidup sehat untuk memperoleh kesehatan yang maksimal serta memiliki umur panjang. Dengan kondisi yang sehat dan memiliki umur panjang, individu dapat lebih maksimal dalam memenuhi segala apa yang dikehendakinya, seperti meraih jabatan atau kedudukan, meraih prestasi maupun pemenuhan kebutuhan hubungan sosial. Kesehatan fisik dan psikis untuk memperoleh umur panjang dipengaruhi oleh tingkat hubungan sosial dengan lingkungannya dan dukungan sosial yang diterima.

d. Kebermanfaatan Individu secara Sosial

Kepuasan meningkat ketika individu dapat berguna terhadap lingkungan sosialnya, seperti misalnya individu bersedia menjadi sukarelawan dalam suatu komunitas dan bergabung dalam suatu kelompok amal.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan hidup menurut Diener (1984), antara lain :

a. Hubungan sosial

Secara umum ada dua aspek penting dari hubungan sosial yang positif, yaitu dukungan sosial dan keterikatan secara emosional.

b. Ras

Terdapat perbedaan tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup antara individu ras kulit putih dengan ras kulit hitam. Individu ras kulit hitam cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah dibandingkan individu ras kulit putih Amerika

c. Pekerjaan

Individu yang memiliki pekerjaan terbukti memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi daripada individu yang tidak bekerja.

d. Umur

Umur berpengaruh terhadap tingkat kepuasan hidup. Orang yang lebih tua cenderung lebih banyak merasakan kebahagiaan dibandingkan anak muda, karena orang yang lebih tua memandang kehidupannya dengan cara yang positif.

e. Pendidikan

Pendidikan memiliki pengaruh positif terhadap individu karena menjadi pendukung untuk meningkatkan aspirasi dan menyiapkan individu dalam menjalani berbagai macam hal dalam kehidupannya (Campbell’s, 1981; Diener, 1984).

f. Jenis kelamin

Perbedaan penilaian individu terhadap kepuasan hidup berdasarkan jenis kelamin mengalami perubahan seiring tahap perkembangan. Pada wanita ditemukan lebih bahagia dibandingkan laki-laki pada usia muda, namun sebaliknya pada usia tua, laki-laki ditemukan menjadi merasa lebih bahagia dibandingkan dengan perempuan. Perbedaan ini tidak terlalu berpengaruh lagi terhadap kepuasaan dan kebahagiaan ketika memasuki usia sekitar 45 tahun.

g. Agama

Agama menimbulkan perasaan positif dalam menjalani kehidupan dan agama menjadi salah satu yang berpotensi menjadi pendukung dalam kehidupan individu.

h. Pendapatan

Studi terdahulu membuktikan bahwa tingkat pendapatan dapat meningkatkan kepuasan hidup. Namun, seiring berjalannya waktu, pendapatan secara langsung tidak mempengaruhi kepuasan individu karena seringkali ketika pendapatan naik, stres menjadi meningkat dan menghambat kepuasan hidup untuk naik.

i. Pernikahan dan Keluarga

Pernikahan dan hubungan keluarga berpengaruh terhadap kepuasan hidup. Menurut Glenn (Diener, 1984), meskipun wanita yang telah menikah memiliki tingkat stres yang tinggi daripada wanita yang belum menikah, namun mereka juga menunjukkan kepuasan hidup yang tinggi.

j. Peristiwa-peristiwa yang terjadi selama kehidupan

Setiap peristiwa memiliki pengaruh terhadap kepuasaan hidup individu. Berbagai peristiwa dalam hidup individu menimbulkan berbagai macam perasaan, seperti senang, puas atau traumatis.

k. Aktivitas

Aktivitas berpengaruh terhadap kepuasan hidup, misalnya individu yang melakukan lebih banyak aktivitas positif dan berguna dapat meningkatkan kepuasaan individu.

l. Kepribadian

Terdapat hubungan antara self-esteem, optimis dan extrovert dengan kepuasan hidup pada remaja. Self-esteem merupakan penilaian individu terhadap potensi yang dimiliki dan kemampuan menerima kekurangan diri, yang memiliki peran dalam menentukan perilaku individu melalui proses berpikir, pengendalian emosi dan pencapaian tujuan hidup. Sedangkan Individu yang memiliki kepribadian extrovert, maka dirinya akan lebih terbuka dan mudah untuk berinteraksi dengan individu lain dan lebih menerima kondisi diri maupun kejadian yang dialami.

Menurut Saric, Zganec & Sakic (2009), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan hidup pada remaja, antara lain sebagai berikut :

a. Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penelitian Saric, Zganec & Sakic (2009), remaja putri memiliki tingkat kepuasan hidup rendah dibandingkan remaja putra.

b. Self-Esteem

Self-esteem yang tinggi sama halnya dengan penilaian diri yang positif. Self-esteem berpengaruh terhadap kepuasan hidup remaja. Begitu pula menurut Diener & Diener (Snyder & Lopez, 2002) bahwa self-esteem berpengaruh kuat terhadap kepuasan hidup.

c. Dukungan orangtua dan Dukungan Teman Dekat

Dukungan keluarga dan teman dekat berfungsi bagi remaja sebagai sumber pengayoman dan petunjuk serta untuk melindungi diri dari faktorfaktor berbahaya, seperti stres.

d. Status Ekonomi Keluarga

Status ekonomi keluarga berpengaruh terhadap kepuasan hidup remaja. Status ekonomi yang semakin tinggi, maka kebutuhan material individu akan semakin terpenuhi karena kemudahan finansial dan terpenuhinya fasilitas. Hal tersebut pengaruh terhadap tingkat kepuasan hidup.

Menurut Kapikiran (2013), terdapat dua faktor yang mempengaruhi kepuasan hidup remaja, yaitu :

a. Self-Esteem

Self-esteem merupakan salah satu variabel kepribadian yang cukup konsisten berkaitan dengan kepuasan hidup. Self-esteem mengacu pada suatu penilaian individu mengenai kelayakan dirinya dan menunjukkan sejauh mana individu percaya dirinya mampu, signifikan, sukses, dan berharga. Sebagian besar individu dengan self-esteem yang tinggi menjalani kehidupan yang bahagia dan produktif, sedangkan individu dengan self- esteem yang rendah memiliki persepsi negatif dalam memandang diri dan lingkungannya.

b. Social Support

Dukungan sosial merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan hidup remaja. Dukungan sosial menyediakan bantuan dan menciptakan perasaan nyaman bagi penerima, sehingga dapat meningkatkan kepusssn hidup individu

Aspek-Aspek Kepuasan Hidup (Life Satisfaction) (skripsi dan tesis)

Menurut Huebner (2004) terdapat dua ukuran model kepuasan hidup, yaitu unidimensional dan multidimensional. Unidimensional mengungkap kepuasan hidup dengan cara memberi kebebasan individu untuk menggunakan kriteria yang dipilih sendiri dalam menentukan kepuasan hidup secara keseluruhan. Dalam pengukuran unidimensional, item-item yang digunakan bersifat bebas dari konteks. Sebagai contohnya, yaitu The Satisfaction with Life Scale (SWLS) dari Diener, dkk., (1985) yang menampilkan ukuran kepuasan hidup individu secara global.

Diener & Biswar (Ulfah & Mulyana, 2014) menjelaskan lima komponen kepuasan hidup dalam The Satisfaction with Life Scale (SWLS), meliputi: keinginan untuk mengubah kehidupan, kepuasan terhadap kehidupan saat ini, kepuasan hidup di masa lalu, kepuasan terhadap kehidupan di masa mendatang dan penilaian individu terhadap kehidupannya. Kelima komponen tersebut mewakili 5 item pernyataan dalam The Satisfaction with Life Scale oleh Pavot & Diener (1993), yaitu:

a. Pada sebagian besar aspek, hidup saya telah mendekati ideal.

b. Kondisi yang ada dalam hidup saya telah sangat baik.

c. Saya merasa puas dengan hidup saya.

d. Sejauh ini, saya telah mendapatkan hal-hal penting yang saya inginkan dalam hidup saya.

e. Bila saya dapat mengulang kembali hidup saya, saya hampir tidak akan mengubah apapun.

Model pengukuran secara multidimensional, yaitu individu dituntut untuk melakukan evaluasi atas kehidupannya pada dimensi-dimensi yang dianggap penting oleh peneliti. Sebagai contohnya, yaitu dimensi keluarga, teman, diri, sekolah dan lingkungan tempat tinggal yang dianggap penting untuk mengungkap kepuasan hidup (Huebner, 2004). Terdapat beberapa dimensi untuk mengukur kepuasan hidup individu menurut Huebner (2004), antara lain :

a. Keluarga

Keluarga merupakan salah satu pendukung sosial yang dapat mempengaruhi tingkat kepuasan hidup individu. Upaya intervensi dari ketidakpuasan hidup dapat diperoleh dari pengalaman yang terjadi di dalam lingkungan keluarga.

b. Teman

Teman merupakan salah satu faktor eksternal yang memiliki konstribusi terhadap kualitas hidup individu. Hubungan baik dengan teman merupakan domain positif yang dapat mempengaruhi kepuasan hidup individu, seperti membangun komitmen persahabatan, membangun kepercayaan dan loyalitas serta saling menyukai.

c. Sekolah

Sekolah memiliki pengaruh terhadap kepuasan hidup individu. Sekolah berperan dalam menjalankan peran dan fungsi sebagaimana mestinya. Peran sekolah memberikan pengaruh pada proses pengembangan intelektual dan efektivitas akademik.

d. Diri

Kesejahteraan psikologis dipertimbangkan berdasarkan indikator positif. Indikatir positif tersebut merupakan kepuasan dasar terhadap diri sendiri.

e. Lingkungan Tempat Tinggal

Lingkungan tempat tinggal yang dimaksud yaitu lingkungan rumah dan lingkungan sosial masyarakat. Lingkungan tempat tinggal  mempengaruhi karakter fisik dan interpersonal di dalam rumah, kualitas pribadi individu, keamanan, komunitas, teman-teman dan ikatan sosial

. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat dua kriteria pengukuran untuk mengungkap kepuasan hidup individu, yaitu secara unidimensional, yaitu The Satisfaction with Life Scale (SWLS) dari Diener, dkk. (1985) yang memiliki lima komponen kepuasan hidup dan secara multidimensional dari Huebner (2004) yang memiliki lima dimensi, yaitu dimensi keluarga, teman, diri, sekolah dan lingkungan tempat tinggal yang dianggap penting untuk mengungkap kepuasan hidup. .

Definisi Kepuasan Hidup (Life Satisfaction) (skripsi dan tesis)

Diener & Scollon (Hamdana & Alhamdu, 2015) menjelaskan bahwa kepuasan hidup merupakan salah satu komponen utama kesejahteraan individu. Menurut Diener, dkk. (1985), kepuasan hidup yaitu menunjuk pada proses penilaian kognitif individu. Dapat dikatakan bahwa kepuasan hidup merupakan salah satu komponen pokok dari kesejahteraan individu dan didefinisikan sebagai penilaian kognitif individu mengenai kepuasan hidup secara global (Pavot & Diener, 1993). Kepuasan hidup secara global diartikan sebagai penilaian terhadap kehidupan secara umum dan bagian-bagian spesifik kehidupan individu, seperti kepuasan dalam lingkup keluarga, teman, komunitas dan kepuasan terhadap diri sendiri (Huebner, 1991). Diener (Mahanta & Aggarwal, 2013) menambahkan bahwa, kepuasan hidup berhubungan dengan pengalaman- pengalaman nyata individu selama rentang kehidupan, seperti di sekolah atau universitas, pekerjaan dan keluarga. Apabila kualitas hidup individu secara global meningkat, maka kepuasan hidup akan meningkat (Peterson, dkk., 2005; Singh & Jha, 2008).

Menurut Shin & Johnson (Pavot & Diener, 1993), kepuasan hidup diukur oleh individu berdasarkan kriteria-kriteria yang ditetapkan oleh individu itu sendiri. Diener, dkk. (1985) menambahkan untuk mendapatkan ukuran tingkat kepuasan yang tepat, penilaian terhadap kepuasan hidup tergantung pada perbandingan antara keadaan atau peristiwa sebenarnya dengan harapan individu, sehingga penilaian kepuasan hidup bersifat subjektif, karena standar kepuasan ditentukan oleh individu itu sendiri. Berdasarkan definisi kepuasan hidup (life satisfaction) dari beberapa ahli di atas, Diener & Biswar (Ulfah & Mulyana, 2014) menyimpulkan bahwa tingkat kepuasan hidup dapat dilihat dari tingginya penilaian yang ditunjukkan oleh individu pada kelima komponen kepuasan hidup, yaitu keinginan untuk mengubah kehidupan, kepuasan terhadap kehidupan saat ini, kepuasan hidup di masa lalu, kepuasan terhadap kehidupan di masa mendatang dan penilaian individu terhadap kehidupannya

Aspek-Aspek Subjective well being (skripsi dan tesis)

Menurut Diener (Eid & Larsen, 2008) subjective well being terbagi dalam dua aspek, yaitu:

a. Aspek kognitif Komponen atau aspek kognitif adalah evaluasi dari kepuasan hidup, yang didefinisikan sebagai penlilaian dari hidup seseorang. Evaluasi terhadap kepuasan hidup dapat dibagi menjadi:

1) Evaluasi terhadap kepuasan hidup secara global (life statisfaction), yaitu evaluasi responden terhadap kehidupannya secara menyeluruh. Kepuasan hidup secara global dimaksudkan untuk mempresentasikan penilaian responden secara umum dan reflektif terhadap kehidupannya. Secara lebih spesifik, kepuasan hidup secara global melibatkan persepsi seseorang terhadap perbandingan keadaan hidupnya dengan standar unik yang mereka punyai.

2) Evaluasi terhadap kepuasan pada bagian tertentu, yaitu penilaian yang dibuat seseorang dalam mengevaluasi setiap bagian kehidupan individu seperti kesehatan fisik dan mental, pekerjaan, rekreasi, hubungan sosial dan keluarga. Kedua sub aspek tersebut tidak sepenuhnya terpisah. Evaluasi terhadap kepuasan hidup secara global atau life satisfaction merupakan refleksi dari persepsi seseorang terhadap hal-hal kecil dari hidupnya, ditambah dengan bagaimana kultur atau budaya mempengaruhi pandangan hidup yang positif dari seseorang.

b. Aspek Afektif Secara umum, komponen atau aspek afektif subjective well being merefleksikan pengalaman dasar dalam peristiwa yang terjadi di dalam hidup seseorang. Dengan meneliti tipe-tipe dari reaksi afektif yang ada, seorang peneliti dapat memahami cara seseorang mengevaluasi kondisi dan peristiwa di dalam hidupnya.

Komponen afektif subjective well being dapat dibagi menjadi:

1) Afek positif (positive affect) Afek positif mempresentasikan mood dan emosi yang menyenangkan seperti misalnya kasih sayang. Emosi positif atau emosi yang menyenangkan adalah bagian dari subjective well being karena emosi-emosi tersebut merefleksikan reaksi seseorang terhadap peristiwaperistiwa yang menunjukkan bahwa hidup berjalan sesuai dengan apa yang seseorang kehendaki. Afek positif terlihat dari emosi-emosi spesifik seperti tertarik atau berminat akan sesuatu (interested), gembira (excited), kuat (strong), antusias (enthusiastic), waspada atau siap siaga (alert), bangga (proud), bersemangat (inspired), penuh tekad (determined), penuh perhatian (attentive), dan aktif (active).

2) Afek negatif (negatif affect) Afek negatif adalah prevalensi (sesuatu yang lumrah) dari emosi dan mood yang tidak menyenangkan dan merefleksikan respon negatif  yang dialami seseorang sebagai reaksinya terhadap kehidupan, kesehatan, keadaan dan peristiwa yang mereka alami. Afek negatif terlihat dari emosi-emosi spesifik seperti sedih atau susah (distressed), kecewa (disappointed), bersalah (guilty), takut (scared), bermusuhanc(hostile), lekas marah (irritable), malu (shamed), gelisah (nervous), gugup (jittery), khawatir (afraid). Kedua hal diatas saling berkaitan namun memiliki perbedaan, yakni kebahagiaan merupakan penilaian mengenai hidup individu secara menyeluruh, sedangkan afek positif dan negatif terdiri dari reaksi-reaksi berkelanjutan terhadap kejadian-kejadian yang dialami

Pengertian Subjective Well Being (skripsi dan tesis)

Diener, Lucas dan Oishi (2002) berpendapat bahwa happiness merupakan bagian dari subjective well being. Istilah happines dan subjective well being ini juga sering digunakan baergantian sehingga orang sering salah menafsirkan, namun sebenarnya happines adalah bagian dari subjective well being. Mereka juga menyebutkan subjective well being berarti pemikiran seseorang dan perasaan seseorang mengenai hidupnya. Subjective well being merupakan evaluasi subjektif seseorang mengenai kehidupan , termasuk konsep-konsep seperti kepuasan hidup, kebahagiaan, fulfilment, kepuasan terhadap area-area tertentu seperti pernikahan dan pekerjaan, termasuk di dalamnya emosi yang menyenangkan psikis seorang individu, yang artinya tingkat emosi yang tidak menyenangkan dalam diri seseorang rendah. Subjective well being adalah payung istilah yang digunakan untuk menggambarkan tingkat well-being individu menurut evaluasi subjektif dari kehidupannya (RyandanDiener, 2008). Veenhouven (Diener, 1994) menjelaskan bahwa subjective well being merupakan tingkat dimana seseorang menilai kualitas kehidupanya sebagai suatu yang diharapkan dan merasakan emosi yang menyenangkan.

Subjective well being memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu faktor genetik, faktor kepribadian, faktor demografis, dukungan sosial, kognitif dan tujuan (goals) (Rohmad, 2014). Subjective well being menunjukkan kepuasan hidup dan evaluasi terhadap prioritas kehidupan seperti: pekerjaan, kesehatan dan sebuah hubungan. Emosi mereka juga dapat menilai sesuatu, seperti keceriaan, kelerlibatan, dan pengalaman emosi negatif (kemarahan, kesedihan, dan ketakutan) yang rendah. Dengan kata lain, kenyamanan adalah nama yang diberikan untuk pikiran dan perasaan yang positif terhadap hidup seseorang (Diener, 2008). Andrew dan Withey (Diener, 1994) mengatakan bahwa subjective well being merupakan evaluasi kognitif dan sejumlah tingkatan perasaan positif atau negatif seseorang. Dalam penelitian ini subjective well being dijeaskan sebagai evaluasi subjektif seseorang mengenai kehidupannya, yang mencakup kepuasan terhadap hidupnya, tingginya afek positif dan rendahnya afek negatif.

perbedaan subjective well-being antara wanita karir dan ibu rumah tangga (skripsi dan tesis)

Bekerja dalam arti luas adalah melakukan suatu kegiatan, kegiatan yang dimaksud dapat berupa kegiatan fisik maupun mental. Dengan bekerja dapat memenuhi kehendak yang ingin dicapai dan membawa individu ke dalam keadaan atau situasi yang lebih memuaskan. Dengan tercapainya tujuan yang ingin dicapai tersebut individu merasa adanya dorongan untuk melakukan aktivitas yang dikatakan kerja. Magnis mengatakan pekerjaan adalah kegiatan yang direncanakan, sebab pekerjaan memerlukan pemikiran yang khusus dan hanya bisa dilakukan oleh manusia, bekerja merupakan bagian yang mendasar dari kehidupan manusia. Bekerja dapat dilakukan oleh pria maupun wanita (dalam Anoraga, 2009). Pekerjaan yang dilakukan oleh wanita dapat dilakukan pada ruang lingkup di luar rumah (wanita karir) maupun di dalam rumah (ibu rumah tangga). Pada saat sekarang (modern) wanita yang bekerja merupakan suatu hal yang biasa. Dengan tuntutan zaman, wanita bekerja tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan saja melainkan untuk mengembangkan kemampuan atau keterampilan dan potensi yang dimiliki. Seorang wanita ingin sedikit lebih maju dengan menambah ruang gerak yang tidak lagi terbatas pada urusan rumah tangga, melainkan ingin masuk dan terlibat pada wilayah yang lebih luas. Berbagai aktivitas yang dilakukan di tempat kerja mempengaruhi kemampuan kontrol yang ada dalam diri seseorang sehingga mampu merasakan emosi dan tanggapan mengenai situasi tempat kerja. Penilaian posif tersebut merupakan indikator dari kesejahteraan (well-being).

Diketahui adanya Kesejahteraan yang subjektif (subjective well-being) oleh ada atau tidaknya perasaan bahagia, dengan menilai lingkungan kerja yang menarik, menyenangkan dan penuh dengan tantangan dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa seseorang merasa bahagia dan dapat menunjukkan kinerja kerja yang optimal. Kebahagiaan di tempat kerja adalah bila seseorang merasa puas dengan pekerjaannya (Ariati, 2010). Menurut Diener, Scollon, dan Lucas (2003) penggunaan istilah subjective well-being (kesejateraan subjectif) untuk menggambarkan kebahagiaan. Subjective well-being merupakan suatu bentuk evaluasi atau penilaian mengenai kehidupan individu yang bersangkutan, subjective well-being terbagi atas beberapa komponen yang berhubungan, yaitu komponen afektif dan kognitif, komponen afektif terdiri lagi pada dua bagian yaitu afek positif dan negatif. Sedangkan pada komponen kognitif terdiri dari kepuasan hidup. Subjective well-being akan dipengaruhi beberapa faktor seperti harga diri, kontrol kesadaran, ekstrovert (sifat terbuka), optimis, hubungan positif, makna dan tujuan hidup. Dari faktor-faktor tersebut dapat diketahui tinggi rendahnya subjective well-being (kebahagiaan) dan kepuasan dalam kehidupan individu tersebut (Compton, dalam Indriana, 2012). Pekerjaan atau Peran yang dijalani oleh wanita karir dan ibu rumah tangga sudah tentu memiliki rasa kebahagiaan atau kesejahteraan yang subjektif serta kepuasan tersendiri bagi kedua belah pihak, setiap peran yang dijalani akan ada rasa nyaman, senang, bahagia dari emosi positif yang dialami.

Wanita bekerja atau karir  adalah wanita dengan status menikah yang memiliki pekerjaan di luar rumah, namun memiliki tanggung jawab untuk mengurus keluarganya. Sedangkan ibu rumah tangga adalah wanita yang mempersembahkan waktunya untuk memelihara dan melatih anak-anak, mengasuh anak menurut pola yang dibenarkan oleh masyarakat sekitarnya. Sebagai orang tua yang memiliki kuasa penuh, wanita melayani kepuasan suami, dan anak-anak di rumah. Menurut Mappiare (1983) mengatakan dalam konsep perkembangan zaman dan moderat bahwa seorang ibu rumah tangga memiliki kesempatan untuk mendayagunakan dan kemampuan dan mengikuti keterampilan yang dapat menimbulkan kepuasan bagi diri sendiri namun tidak melupakan peran dan tugas pokoknya sebagai istri. Wanita karir dan ibu rumah tangga akan merasakan subjective well-being dalam peran yang dijalani dalam kehidupan rumah tangga. Misalnya pada wanita karir lebih banyak menghabiskan waktunya diluar rumah, maka tidak semua peran yang dapat dijalaninya sebagai wanita karir sekaligus ibu rumah tangga. Begitu pula dengan ibu rumah tangga juga dapat merasakan terhambatnya peran yang dijalani dalam keseharian. Wanita karir lebih banyak menghabiskan waktunya diluar rumah disebabkan adanya tuntutan dari pekerjaan, akan tetapi wanita karir mampu menyeimbangkan dalam bekerjanya dengan tanggung jawab sebagai ibu dan istri. Selain itu, wanita karir juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari pekerjaan yang akan membantu dan membantu perekonomi keluarga yang merupakan faktor yang dapat 14 meningkatkan kesejahteraan dalam bekerja. Berbeda halnya dengan ibu rumah tangga yang memiliki waktu lebih banyak dibandingkan wanita karir dikarenakan tidak ada kesibukan lain selain lebih focus mengurus keluarga. Namun, pada sisi lain menjadi ibu rumah tangga akan cenderung bergantung pada suami dalam hal pengaturan keuangan. Dari uraian di atas dalam peranan yang dirasakan oleh wanita karir dan ibu rumah tangga akan ada rasa memiliki subjective well-being dalam kehidupannya. Sebab dalam kehidupan itu akan ada ungkapan atau penilaian dari perasaan, perasaan itu bisa berupa kebahagiaan, kepuasan serta hal-hal positif lainnya.

Menurut Diener, Scollon, dan Lucas (2003) penggunaan istilah subjective well-being (kesejateraan subjectif) untuk menggambarkan kebahagiaan. Subjective well-being merupakan suatu bentuk evaluasi atau penilaian mengenai kehidupan individu yang bersangkutan, subjective well-being terbagi atas beberapa komponen yang berhubungan, yaitu komponen afektif dan kognitif, komponen afektif terdiri lagi pada dua bagian yaitu afek positif dan negatif. Sedangkan pada komponen kognitif terdiri dari kepuasan hidup. Sebagian orang kerja merupakan merupakan arah untuk menuju ke arah terpenuhinya kepuasan untuk memungkinkan terwujudnya kehidupan social. Kepuasan merupakan hal yang bersifat individu. Setiap individu yang memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem yang berlaku pada dirinya 15 sendiri. Hal ini disebabkan atau dikarenakan adanya perbedaan pada setiap peran yang dijalani seperti halnya wanita karir dan ibu rumah tangga.

Ibu Rumah Tangga (skripsi dan tesis)

Ibu rumah tangga adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seorang wanita yang telah menikah serta menjalankan pekerjaan rumah, keluargahingga merawat anak-anaknya, memasak, membersihkan, dan lain-lainnya yang tidak bekerja di luar rumah.seorang ibu rumah tangga sebagai wanita menikah yang bertanggung jawab atas rumah tangganya. Pekerjaan yang paling mulia adalah  saat kita menjadi seorang ibu rumah tangga sejati yang mengurus semua kebutuhan rumah dan menjaga kehormatannya untuk sang suami tercinta (Gunawan, 2012).

Menurut Mappiare (1983) ada tiga konsep tentang peranan ibu rumah tangga, yaitu;

1. Konsep Tradisional

Menurut konsep tradisional, ibu rumah tangga adalah wanita yang mempersembahkan waktunya untuk memelihara dan melatih anak-anak, mengasuh anak dan menurut pola-pola yang dibenarkan oleh masyarakat sekitarnya. Sebagai orang tua yang memiliki kuasa penuh, wanita melayani keperluan suami dan anak-anak di rumah. Wanita yang dapat berperan melayani keperluan keluarga di rumah sangat terpuji. Pekerjaan yang disebut feminism yang jika dikerjakan sepenuhnya oleh ibu rumah tangga di rumah akan mendatangkan penilaian baik bagi wanita

. 2. Konsep Menurut Perkembangan (zaman)

Konsep menurut perkembangan ini, meletakkan penekanan pada adanya kesamaan status bagi orangtua dan anak pun hamper mempunyai kesamaan dengan status kedua orang tuanya. Bagi wanita, menurut konsep ini mempunyai tugas mandiri dalam membangkitkan potensi-potensi pada wanita. Wanita lebih suka menggunakan kemampuannya untuk mengembangkan kemampuan- kemampuan orang lain, atau wanita lain. Di rumah wanita memiliki peranan yang sama dengan suaminya. Para ahli juga menyepakati bahwa para wanita yang menganut konsep ini, tidak merasa bersalah jika meninggalkan rumah. Baik untuk kegiatan yang mendayagunakan kemampuannya maupun dalam mengikuti latihan keterampilan yang dapat mendatangkan kepuasan baginya. Tidak pula wanita yang berdosa jika pekerjaan rumahnya (termasuk mengasuh anak) dilimpahkan kepada orang lain (misalnya pembantu) ketika ia tidak berada di rumah. Ibu rumah tangga menurut konsep ini, mengutamakan membimbing anak sesuai dengan kemampuan anak itu sendiri. Kalau ibu memiliki kebebesan sebagai individu maka anak juga mempunyai kebebasan itu.

3. Konsep Moderat

Menurut konsep ini, peranan wanita bukan ekstrim tradisional dan tidak pula terlalu mengikuti konsep yang ekstrim menurut pekembangan. Konsep moderat juga mengakui individualitas seseorang yang mempunyai hak untuk mengembangkannya sendiri, namun tidak diutamakan. Dengan begitu, wanita punya hak untuk bekerja di luar rumah, akan tetapi peranan dan tugas pokoknya tetaplah berpegang kepada nilai luhur naluri kewanitaan. Wanita yang demikian itu, akan merasa bersalah dan mungkin berdosa, jika terpaksa mengabaikan pemeliharaan dan pendidikan anak-anaknya karena mereka merasa bertanggung jawab penuh.

Pengertian Wanita karir (skripsi dan tesis)

Ibu yang bekerja harus menyandang atau menerima peran ganda, yaitu mencari nafkah untuk keluarga dan mengurus rumah tangga, yang mana semua itu merupakan status professional seorang wanita. Menurut Anoraga (2009) wanita karir adalah wanita yang memperoleh atau mengalami perkembangan dan kemajuan dalam pekerjaan, jabatan dan lain-lain. Bekerja dengan pikiran atau bekerja dengan tenaga fisik maupun kedua.Wanita bekerja ini disebutkan dalam istilah wanita karir. Wanita karir lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah dibandingkan menghabiskan waktu bersama keluarga, karena sibuk dengan pekerjaanya maka wanita karir banyak menggunakan jasa orang lain untuk untuk menyelesaikan pekerjaan rumah serta menjaga anak-anaknya.

Menurut Sadli (dalam Yarni, 2010) mengemukakan wanita karir adalah wanita yang bekerja atau melakukan  kegiatan yang direncanakan untuk mendapatkan hasil berupa uang dan jasa. Menjadi wanita karir yang professional dalam artian wanita yang bekerja di luar rumah dan meniti karir sampai puncak adalah “mudah”. Asal memiliki kecakapan yang cukup ditambah kemampuan “lobi”yang baik, tuujuan itu akan tercapai. Tetapi wanita “non- konvensional”, yang menjalakan bisnis dan menjadikan rumah sebagai kantor demi menjaga keseimbangan anggota keluarga dan mendidik anak. Tapi mudah bagi kalangan wanita yang lebih mementingkan hasil koleksi dari pada penampakan ego pribadi. Wanita karir adalah sosok seorang wanita yang memiliki status seorang ibu dari anak-anaknya dan status istri dari suami yang menikahinya. Wanita karir juga disebut wanita yang bekerja dan melakukan aktivitasnya diluar rumah atau bekerja dikantor maupun perusahaan negara atau swasta untuk mendapatkan hasil berupa uang dan jasa untuk menunjang kebutuhan finansial atau keuangan dalam keluarganya

Faktor Yang Mempengaruhi Subjective Well-Being (skripsi dan tesis)

Menurut Compton (dalam Indriana, 2012), subjective well-being mempengaruhi tinggi rendahnya nilai kebahagiaan dan kepuasan dalam kehidupan individu, diantaranya:

a. Harga Diri (self-esteem)

Self-esteem yang positif merupakan variabel yang terpenting dalam Subjective well-being karena evaluasi terhadap diri akan mempengaruhi bagaimana seseorang menilai kepuasan dalam hidup dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Seseorang yang memiliki self esteem rendah cenderung tidak akan merasa puas dengan hidupnya dan tidak akan merasa bahagia. Self esteem yang positif berasosiasi dengan fungsi adaptif dalam setiap aspek kehidupan.

b. Arti kontrol kesadaran

Kontrol pribadi merupakan keyakinan individu bahwa ia dapat memaksimalkan hasil yang bagus dan atau meminimalkan hasil yang jelek. Dengan keyakinan ini maka seseorang dapat mempengaruhi peristiwa- peristiwa yang terjadi dalam hidupnya, memilih hasil yang diinginkan, menghadapi konsekuensi dari pilihannya, dan memahami serta menginterpretasikan hasil dari pilihannya. Jadi kontrol pribadi dapat membantu seseorang untuk mewujudkan apa yang diinginkannya, yang kemudian dapat membawa kepuasan akan hidupnya.

c. Ekstrover

Individu dengan kepribadian ekstrovert (sifat terbuka) akan tertarik pada hal- hal yang terjadi di luar dirinya, seperti lingkungan fisik dan sosialnya. Kepribadian ekstrovert secara signifikan akan memprediksi terjadinya kesejahteraan individual. Orang-orang dengan kepribadian ekstrovert biasanyamemiliki teman dan relasi sosial yang lebih banyak, merekapun memiliki sensitifitas yang lebih besar mengenai penghargaan positif pada orang lain.

d. Optimis

Orang yang optimis mengenai masa depan merasa lebih bahagia dan puas dengan kehidupannya. Individu yang mengevaluasi dirinya dalam cara yang positif, akan memiliki kontrol yang baik terhadap hidupnya, sehingga memiiki impian dan harapan yang positif tentnag masa depan. Schneider (dalam Indriana, 2005) menyatakan bahwa kesejahteraan psikologis akan tercipta bila sikap optimis yang dimiliki oleh individu bersifat realistis.

e. Hubungan positif

Hubungan yang positif akan tercipta bila adanya dukungan sosial dan keintiman emosional. Hubungan yang didalamnya ada dukungan dan keintiman akan membuat individu mampu mengembangkan harga diri, meminimalkan masalah-masalah psikologis, kemampuan pemecahan masalah yang adaptif, dan membuat individu menjadi sehat secara fisik.

f. Makna dan tujuan hidup

Memiliki makna dan tujuan dalam hidup merupakan factor penting dari subjective well-being, karena individu akan merasakan kepuasan maupun kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam berbagai penelitian subjective well-being merupakan salah satu variabel yang sering diukur sebagai religiusitas. Religiusitas akan berpengaruh terhadap subjective well-being karena memberikan makna dan arah dalam kehidupan seseorang. Dengan adanya makna dan arah dalam hidup akan menimbulkan kepuasan dalam hidup dan kebahagiaan

Komponen Subjective Well-Being (skripsi dan tesis)

Menurut Diener (dalam Gatari, 2008) kebahagiaan mempunyai makna yang sama dengan subjective well-being. Subjective well-being terbagi atas dua komponen, yaitu komponen afektif dan komponen kognitif.

a. Komponen Afektif

Komponen afektif subjective well-being gambaran pengalaman emosi dari kesenangan, kegembiraan, dan emosi. Komponen afektif ini terbagi atas :

1. Afek Positif. Kombinasi dari hal yang sifatnya dalam hal yang menyenangkan

2. Afek Negatif. Respon negatif yang sebagai reaksi terhadap kehidpan, kesehatan, keadaan dan peristiwa yang dialami

. b. Komponen Kognitif

Kepuasan hidup merupakan komponen kognitif dalam Subjective well-being yang mengacu pada penilaian global tentang kualitas hidup dan dapat menilai kondisi hidupnya. Mempertimbangkan kondisi dan mengevaluasi kehidupan dari tidak puas hingga menjadi atau merasakan puas akan hidup. Keterangan diatas dapat disimpulkan subjective well-being memiliki makna yang sama dengan kebahagiaan, subjective well-being ini memiliki dua komponen, yaitu komponen afektif yang menggambarkan pengalaman emosi berdasarkan kesenangan, kegembiraan. Komponen kognitif sesuai dengan kepuasan yang mengacu pada kepercayaan atau perasaan subjektif yang dijalani dengan baik

Pengertian Subjective Well-Being (skripsi dan tesis)

Kebahagiaan bisa merujuk ke banyak arti seperti rasa senang (pleasure), kepuasan hidup, emosi positif, hidup bermakna, atau bisa juga merasakan kebermaknaan (contentment). Beberapa peneliti menggunakan istilah well-being sebagai istilah dari kebahagiaan (happiness) itu sendiri. Konsep well-being sendiri mengacu pada pengalaman dan fungsi psikologis secara optimal. Menurut Pasha (dalam Lestari, 2008) kebahagiaan adalah seni atau kemampuan seseorang dalam menikmati apa yang ada padanya, atau apa yang dimiliki. Kebahagiaan adalah keterpesonaan pada segala sesuatu yang indah dan memalingkan diri dari kemuraman.Kebahagiaan adalah kemampuan diri meraih segala sisi keindahan. Kebahagiaan bukan hanya memiliki, tetapi kebahagiaan adalah kemampuan menggunakan apa yang kita miliki dengan baik. Menurut Pasha kebahagiaan ditentukan oleh pikiran sendiri. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh manusia dalam jiwanya berupa ketentraman jiwa, ketenangan hati, kelapangan dada dan kedamaian nurani. Kebahagiaan adalah sesuatu yang tumbuh dari dalam diri manusia, akan tetapi tidak datang dari luar. Jika diibaratkan sebagai tumbuhan, maka akar kebahagiaan itu adalah jiwa dan hati yang jernih. 2 Menurut Ryan dan Deci (dalam Primasani, 2005) ada dua pendekatan dalam menjelaskan mengenai well-being, yaitu pendekatan eudaimonic dan hedonic. Pendekatan Eudaimonic memandang well-being tidak hanya sebagai pencapaian kesenangan, tetapi juga realisasi potensi diri seorang individu dalam mencapai kesesuaian tujuannya yang melibatkan pemenuhan dan pengidentifikasian diri individu yang sebenarnya. Konsep yang banyak dipakai pada penelitian dengan pandangan ini adalah konsep psychological well-being (PWB).

Pendekatan Hedonic memandang well-being tersusun atas kebahagiaan subjektif dan berfokus pada pengalaman yang mendatangkan kenikmatan. Pandangan hedonic memperhatikan pengalaman menyenangkan versus tidak menyenangkan yang didapatkan dari penilaian baik buruknya hal-hal yang ada dalam kehidupan seseorang. Konsep yang dipakai dengan pandangan ini biasanya adalah konsep subjective well-being. Diener, Kahneman, dan Schwarz (dalam Ed Diener & Scollon, 2003) subjective well-being adalah evaluasi subjektif masyarakat terhadap hidup individu, yang meliputi konsep seperti kepuasan hidup, emosi yang menyenangkan, perasaan pemenuhan, kepuasan dengan domain seperti perkawinan, pekerjaan dan tinggi rendahnya situasi emosi. Dengan demikian subjective well-being merupakan istilah umum yang mencakup berbagai konsep yang terkait pada bagaimana orang merasakan dan berfikir tentang kehidupan mereka. Diener (dalam Veenhoven, 2008), subjective well-being merupakan suatu produk penilaian keseluruhan kehidupan yang menyeimbangkan baik dan buruk. Tidak membatasi diri dengan perasaan tertentu dan tidak mencampur pengalaman 3 subjektif dengan penyebab konseptualisasi. Menurut Veenhoven (2008), subjective well-being adalah suatu perbedaan antara penilaian kognitif dan afektif pada kehidupan. Diener (dalam Ariati, 2010) subjective well-being adalah teori evaluasi akan kejadian yang telah terjadi atau dialami dalam kehidupan. Yang ini melibatkan proses afektif dan kognitif yang aktif karena menentukan bagaimana informasi tersebut akan diatur. Evaluasi kognitif dilakukan saat seseorang memberikan evaluasi secara sadar dan menilai kepuasan mereka terhadap kehidupan secara keseluruhan atau penilaian evaluatif mengenai aspek-aspek khusus dalam kehidupan, seperti kepuasan kerja, minat, dan hubungan. Reaksi afektif dalam subjective well-being (SWB) yang dimaksud adalah reaksi individu terhadap kejadian-kejadian dalam hidup yang meliputi emosi yang menyenangkan dan emosi yang tidak menyenangkan

Faktor –Faktor yang Mempengaruhi Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

Roberts (1998) dalam Oktaviana (2007) mengidentifikasi kelompokfaktor – faktor yang mempengaruhi kecenderungan pembelian kompulsif.Faktor – faktor tersebut adalah faktor peranan keluarga, faktor psikologis,faktor sosial, dan faktor demografi (O’Guinn dan Faber, 1992) dalamOktaviana (2007) didalam penelitiannya mengatakan bahwa faktor yangmempengaruhi pembelian kompulsif adalah faktor keluarga.
Banyak orang tua menggunakan uang sebagai imbalan bagi perilakuyang diinginkan, ataupun untuk menggantikan perhatian emosional padaanak – anak mereka. O’ Guinn dan Faber (1989) dalam Oktaviana (2007)berpendapat pelaku pembelian kompulsif mungkin telah belajar bahwaimbalan seperti itu dapat menggantikan atau mengkompensasi perhatiandan kasih sayang orang tua. Penelitian d’ Asous (1990) menunjukanbahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsiresponden akan kecenderungan pembelian kompulsif dari orang tuamereka dengan kecenderungan pembelian kompulsif mereka sendiri.Berbagai penelitian tentang perilaku kompulsif sebelumnya telahbanyak dilakukan untuk menunjukan pengaruh kepribadian individu padaperilaku kompulsif (Shoham dan Brencic, 2003) dalam Oktaviana (2007).Individu dengan perilaku addictive cenderung memiliki kehidupan masaanak – anak ataupun dewasa dengan perasaan ketidak cukupan dan self –esteem yang rendah (O’ Guinn dan Faber, 1989). Scherorn et la (1990)juga mengatakan bahwa pelaku pembelian kompulsif memiliki pribadidengan self – esteem yang rendah. Status sosial pelaku pembelian memilikihubungan positif dengan kecenderungan pembelian kompulsif (Roberts,1998) dalam Oktaviana (2007). Kemampuan berfantasi diperlukan agarpembelian kompulsif dapat terjadi, karena kemungkinan seseorang untukmenekan perasaan negatife dan self – esteem yang rendah melalui fantasiakan sukses pribadi dan status sosial mereka (O’Guinn dan Faber, 1989) .dalam Oktaviana (2007).
2Faktor – faktor sosial dan beberapa faktor yang pernah ditelititermasuk kebiasaan menonton televisi, pengaruh teman, kekerapanberbelanja, akses pada kartu kredit, dan penggunaan kartu kredit (Robert,1998). Kekerapan menonton televisi berhubungan positif denganpembelian kompulsif (Faber dan O’Guinn, 1998 ; Rook, 1987) dalam Oktaviana (2007).
Peranan teman sering merupakan faktor yang kuatdalam pola konsumsi, terlebih pada individu yang mengalami kurangnyaperanan orang tua pada masa muda mereka. Pembelian kompulsifmempunyai hubungan positif dan signifikan dengan peranan teman(Roberts, 1998). Penggunaan kartu kredit akan menstimuli konsumsi danbila dibandingkan dengan uang tunai, kartu kredit menimbulkan pembelianyang lebih banyak. Untuk banyak orang, uang yang terlibat dalamtransaksi kartu kredit merupakan pengertian yang abstrak dan tidak nyata.Persoalanya yang timbul dengan peningkatan industri kartu kredit(Robert,1998) dalam Oktaviana (2007). Penelitian d’ Astous (1990) dalamOktaviana (2007) menunjukan hubungan yang positif dan signifikan darijumlah kepemilikan dari kartu kredit dengan pembelian kompulsif.Faktor demografi juga telah banyak diteliti yang menunjukan perananfaktor – faktor tersebut terhadap pembelian kompulsif (Roberts, 1998).Shoham dan Brencic (2003) dalam Oktaviana (2007) beragumentasibahwa wanita cenderung lebih merencanakan pembelian mereka darikaum pria. Hal ini karena secara tradisional wanita yang bertanggungjawab akan pembelian keperluan rumah tangga, sehingga lebih mengetahui tentang toko – toko dan barang – barang yang dijual, serta memiliki lebihbanyak pengetahuan tentang level persediaan barang di rumah mereka.Faktor umur juga telah dibuktikan secara empiris berhubungan secaranegatif dengan pembelian kompulsif (d’ Astous 1990; O’ Guinn danFaber, 1989). Roberts (1998) dalam Oktaviana (2007) berargumentasibahwa banyak perilaku pembelian dapat dijelaskan dengan status sosialseseorang. Hubungan yang negatif antara pembelian kompulsif denganstatus sosial ekonomi seseorang ditunjukan oleh penelitian d’ Astous(1990)

Dampak Pembelian kompulsif (skripsi dan tesis)

Dampak dari pembelian kompulsif bagi pelakunya sangat beragam,akan tetapi sebagian besar dampak yang ditimbulkan adalah dampak yangnegatif (Rook dan Fish, 1995) dalam Oktaviana (2007). Para pelakupembelian kompulsif yang terlibat dalam masalah hutang yang tidak dapatdiatasi akan menimbulkan masalah bagi mereka yaitu dalam masalahekonomi dan emosi bagi mereka sendiri maupun keluarga mereka. Dipihaklain, hal ini akan menimbulkan dampak yang buruk bagi kreditor karena ketidak mampuan konsumen untuk membayar hutangnya (O’Guinn danFaber, 1989) dalam Oktaviana (2007) .Robert dan Pirog III (2004) dalam Oktaviana (2007) penelitiannyamenyebutkan bahwa dampak dari pembelian kompulsif adalah adanyakesulitan keuangan, termasuk hutang kartu kredit dan juga kebangkrutan.Robert (1998) mengemukan bahwa penyalahgunaan kartu kredit adalahsalah satu indikator yang kuat dari pembelian kompulsif.Shoham dan Brencic (2003) dalam Oktaviana (2007) mengatakanbahwa untuk mengurangi stress seseorang dapat melakukan terapi belanja.Bagi kebanyakan orang berbelanja adalah pembebasan diri dari stress dandari masalah yang dihadapi setiap hari. Untuk sementara konsumenbisanya mendapatkan kesenangan dari membeli barang yang diharapkandapat mengurangi stressnya. Masalah akan datang ketika terapi berbelanjatidak dapat menghilangkan stress, tetapi justru meningkatkan stress apabilahasilnya adalah hutang

Pengertian Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

Menurut O’ Guinn dan Faber (1992 : 459) dalam Oktaviana (2007)definisi pembelian kompulsif adalah“ compulsive buying has been defineas a chronic, repetitive purchasing that become response to negativeevent or feeling”. Pembelian kompulsif didefinisikan sebagai sikappembelian secara terus menerus dan berulang sebagai respon darikejadian negatif atau perasaan negatif.Hal Brook dan Hirschman (1983) didalam O’Guinn dan Faber (1989)mendefinisikan pembelian kompulsif sebagai berikut :“compulsive consumption as a response to an uncontrollable drive ordesire to obtain, use are experience a feeling, substance, or activitythat leads an indiviual to revetitively engage in behavior that willultimately cause harm to individual and or to order”.Pembelian kompulsif adalah sebagai respon terhadap keinginan atauhasrat yang tidak terkendali untuk memperoleh, menggunakan ataumengalami suatu perasaan, subtansi dan secara terus menerus melakukankegiatan yang akhirnya akan menimbulkan kerugian pada diri sendiriatau orang lain.
Pembelian kompulsif dapat dipandang sebagai bagian dari kategoriperilaku konsumsi yang kompulsif. Kompulsif merupakan perilaku yangberulang dan dilakukan berdasarkan aturan tertentu (O’Guinn danFasber, 1989) dalam Oktaviana (2007). Konsumsi yang kompulsif seringberlebihan dan merupakan perilaku yang cenderung memandangpembelian sebagai aktifitas untuk mengurangi ketegangan, ketertarikanakan suatu barang atau jasa, atau perasaan yang tidak nyaman. Konsumsiyang kompulsif dengan demikian adalah merupakan suatu reaksiterhadap dorongan yang tidak dapat dikendalikan untuk memperoleh,menggunakan, atau mengalami suatu perasaan, substansi atau aktifitasyang membuat seorang individu melakukan perilaku yang berulang yangakhirnya memberikan kerugian bagi individu tersebut atau orang lain.Semua bentuk dari perilaku kompulsif juga mempunyai sisi normal,akan tetapi kondisi perilaku kompulsif mempunyai perbedaan yang unik.Perbedaan tersebut tidak hanya karena frekuensi terjadinya, tetapi jugakarena melibatkan perbedaan yang besar pada motivasi untuk melakukanaktifitas tersebut dan konsekuensi dari perilaku tersebut (O’Guinn danFaber, 1989) dalam Oktaviana (2007). Para pembeli kompulsif jugadipastikan mempunyai suatu keinginan yang lebih besar dari padapembeli normal untuk membeli suatu produk. Pada tahap awal,kecenderungan untuk melakukan pembelian kompulsif dianggap pelakusebagai cara yang tepat untuk memberikan ketenangan dari kecemasandan gangguan emosional.
Menurut O’Guinn dan Faber (1989) dalam Oktaviana (2007)para pembeli kompulsif juga cenderung mempunyai rasa percaya diriyang rendah dan melakukan aktifitas berbelanja untuk menutupi semuakekurangan mereka. Para pembeli kompulsif juga dilaporkan mencariperubahan pada suasana hati mereka atau citra diri mereka daripembelian yang mereka lakukan dibandingkan dengan nilai ekonomiatau manfaat yang mereka dapat.Park, Iyer dan Smith (1989) dalam Oktaviana (2007) penelitiannyamengatakan bahwa konsumen kompulsif tidak seperti kebanyakankonsumen lain, pengalaman berbelanja sehari – hari konsumenkompulsif ditandai oleh tujuan berbelanja yang lebih dari satu yangharus dicapai melalui proses yang kompleks dari rangsangan yangtimbul didalam toko, pembelian yang berulang pada waktu tertentu(seminggu sekali, sebulan sekali dan seterusnya

Hubungan Materialisme dengan Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

Menurut Wikipedia, kata materialisme terdiri dari kata materi dan isme.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia materi adalah bahan, benda dan segalasesuatu yang tampak. Materialis adalah pengikut paham (ajaran) materialismeatau juga orang yang mementingkan kebendaan (harta, uang, dan sebagainya).Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yangtermasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata denganmengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra.Desarbo dan Edwards dalam Tao Sun (2003) dalam Raeni (2011:112)menghubungkan beberapa sifat seperti ketergantungan, materialisme konsumen,perfeksionisme, pengingkaran, depresi, pencarian persetujuan, pencariankesenangan, dan kurangnya pengendalian hasrat berpengaruh terhadap pembelian kompulsif.
Kwak et al (2004) mengusulkan bahwa konsumen yang menunjukankegigihan dalam kegiatan berebelanja cenderung untuk terlibat dalam pembeliankompulsif.Materialisme adalah salah satu trait kepribadian yang berkaitan dengankepemilikan barang atau materi (Richin dan Dawson dalam ejournal uajay : 18).Menurut studi Dittmar (2005 : 467 – 488) menunjukkan bahwa, nilai materialismeyang dimiliki oleh individu menyebabkan seseorang memiliki kecenderunganuntuk melakukan pembelian secara kompulsif.Dittmar et al dalam Raeni (2011:113) menyelidiki hubungan antarakecenderungan membeli kompulsif dan pertimbangan penggunaan pembelianspesifik (misalnya harga, produk, antisipasi suasana menambah pembelianberikutnya), penggunaan barang-barang yang dibeli dalam strategi simbolispenyelsaian diri, dan jumlah yang dirasakan perbedaan diri antara kenyataan dandiri ideal yang kesemuanya merupakan ciri dari perilaku orang yang materialis.

Hubungan Kontrol Diri dengan Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

Persfektif psikologis yang diangkat dalam penelitian ini salah satunyaadalah faktor kontrol diri. Menurut J.P. Chaplin, Self Control adalah “kemampuanuntuk membimbing tingkah laku sendiri; kemampuan untuk menekan ataumerintangi impuls-impuls atau tingkah laku kompulsif”.Salah satu anugerah Tuhan kepada manusia adalah kesadaran diri (selfawareness). Hal ini berarti manusia memiliki kekuatan untuk mengendalikan diri.Kesadaran diri membuat seseorang dapat sepenuhnya sadar terhadap seluruhperasaan dan emosinya. Dengan senantiasa sadar akan keberadaan diri, seseorangdapat mengendalikan emosi dan perasaannya. Dalam kaitan antara kontrol diri dankeinginan pembelian sebuah produk. Hirschman (1992) dalam Naomi danMayangsari (2006 : 2-8) berpendapat bahwa individu yang memiliki kontrol diriyang rendah, cenderung tidak mampu mengalihkan perhatian untuk memilikiproduk baru.
Rini Kartika Sari, (2009:7) dalam penelitiannya terhadap mahasiswauniversitas Muhamadiyah Purworejo menyatakan bahwa setiap konsumen harusmemiliki kontrol diri terutama bagi yang memiliki kecenderungan untuk mencobahal-hal baru dengan frekuensi tinggi untuk berusaha menjadi konsumen yang hati-hati dalam menentukan pilihan pembelian. Diantara trait yang diteliti adalahvariabel kontrol diri, motivasi, dan materialisme

Karakteristik Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

Park dan Burns (2005: 135) menyatakan bahwa, biasanya pembelanja kompulsif adalah seseorang yang tidak dapat mengendalikan atau mengatasidorongan untuk membeli sesuatu. Selanjutnya Park juga menyatakan bahwa,beberapa di antara konsumen menunjukkan pembelian secara ekstrim atau yangdisebut juga pembelian kompulsif (compulsive buying). “Compulsive Consumption refers to repetitive shopping, often excessive,as an antidote to tension, anxiety, depression or boredom” (Konsumsi kompulsiflebih kepada pembelian berulang, seringkali berlebihan, sebagai obat untuk ketegangan, kekhawatiran, depresi, atau kebosanan) (Solomon, 2007: 30).“Compulsive Consumption can be defined as an uncontrolled andobsessive consumption of a product or service frequently and in excessiveamounts, likely to ultimately cause harm to consumer or others.”(Konsumsi kompulsif dapat didefinisikan sebagai konsumsi yang tidak terkontrolatau obsesif terhadap produk atau jasa dimana seringkali dalam jumlah yangbanyak sehingga mungkin menimbulkan kerugian bagi konsumen atau yanglainnya.) (Sheth dan Mittal, 2004: 187)
Dimensi Pembelian Kompulsif menurut Shiffman dan Kanuk dalam RaeniD. S (2011: 128) dikategorikan dalam 3 hal :1) Tendency to SpendYaitu suatu kecenderungan kuat bagi seseorang untuk membeli sebuahbarang dan menghabiskan semua uang yang dimiliki.2) Reactive AspectYaitu adanya dorongan yang tiba – tiba untuk membeli barang tanpadiikuti pemikiran yang rasional.3) Postpurchase GuiltYaitu adanya perasaan bersalah setelah melakukan aktifitas belanja.
Pembelian Kompulsif memiliki beberapa karakteristik seperti yang dikutip dari Krueger, 1998 dan Magee, 1994 dalam Iin dan prima (2006:3) sebagai berikut:1) Pembelian produk ditujukan bukan karena nilai guna produk;2) Konsumen yang membeli produk secara terus-menerus tidakmempertimbangkan dampak negatif pembelian;3) Pembelian produk yang tidak bertujuan memenuhi kebutuhan utama dalamfrekuensi tinggi dapat mempengaruhi harmonisasi dalam keluarga danlingkungan sosial;4) Perilaku ini merupakan perilaku pembelian yang tidak dapat dikontrol olehindividu;5) Ada dorongan yang kuat untuk mempengaruhi konsumen segara membeliproduk tanpa memperhitungakan risiko, misalnya keuangan;6) Pembelian dilakukan secara tiba-tiba tanpa mencari informasi terlebihdahulu;7) Pembelian dilakukan untuk menghilangkan kekhawatiran atau ketakutandalam diri;8) Perilaku yang ditujukan untuk melakukan kompensasi, misalnya kurangnya perhatian keluarga.

Pengertian Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

Menurut O’Guinn dan Faber (1992 : 459) Pembelian kompulsif adalahpembelian yang kronis berulang-ulang yang menjadi respon utama dari suatukejadian atau perasaan yang negatif” sehingga pembelian kompulsif adalah satubentuk konsumsi yang merupakan perilaku konsumen abnormal yang dianggap sebagai sisi gelap konsumsi (Shiffman dan Kanuk, 2000 dalam Park dan Burn,2005) karena ketidakmampuan konsumen dalam mengendalikan dorongan hati Page 7 20yang kuat untuk selalu melakukan pembelian, dan terkadang mempunyaikonsekuensi yang berat. Menurut Lorrin Koran (dalam Raeni Dwi Santy, 2011:13), seorang GuruBesar Psikiatri dan Keperilakuan dari Stanford University, Pembeli kompulsifadalah konsumen yang cenderung suka membelanjakan uang untuk membelibarang meskipun barang tersebut tidak mereka butuhkan dan terkadang tidakmampu dibeli, dalam jumlah yang berlebihan (Hoyer dan MacInnis, 2001 dalamRaeni Dwi Santy, 2011:13), perilaku semacam ini disebut juga sebagaikeranjingan belanja (shopaholics).Menurut kutipan Horizon Surbakti (dalam e-journal uajay, 2009:14), Pembelian kompulsif merupakan proses pengulangan yang sering berlebihandalam berbelanja yang dikarenakan oleh rasa ketagihan, tertekan atau rasa bosan(Solomon, 2002:15) dan pembelanja kompulsif adalah seseorang yang tidak dapatmengendalikan atau mengatasi dorongan untuk membeli sesuatu.

Indikator Materialisme (skripsi dan tesis)

Para peneliti dalam Schiffman dan Kanuk (2009:119) telah menemukan hal – hal yang mendukung ciri – ciri orang yang materialis seperti sebagai berikut:

1. Mereka sangat menghargai barang – barang yang dapat diperoleh dan dipamerkan

2. Mereka sangat egosentris dan egois

3. Mereka mencari gaya hidup dengan banyak barang (misalnya, merekaingin mempunyai berbagai “barang”, bukannya gaya hidup yang teratur dan sederhana)

4. Kebnyakan milik mereka tidak memberikan kepuasan pribadi dankebahagiaan yang lebih besar.

Persoalan dalam materialisme konsumen adalah sebagai berikut (Kanuk,2009:119) :

1. Sukses: tingkat dimana seseorang merasa baik, sukses, dan inginmengesankan orang lain

2. Sentralisasi : tingkat dimana seseorang merasa menikmati aktivitasbelanja dan memberikan kesenangan diri

3. Kebahagiaan : tingkat dimana seseorang merasa bahagia jika dapatmembeli barang yang disukai.Belk (1985 : 265) menyatakan bahwa materialisme dapat dijelaskan olehskala kepemilikan (possessiveness), ketidakmurahan hati (nongenerosity) dan kecemburuan (envy). Kepemilikan (possessiveness) adalah kecenderungan dan tendensi untukmenahan kontrol atau kepemilikan milik seseorang (Belk, 1985:265).Ketidakmurahan hati (nongenerosity) adalah sebuah ketidak bersediaan untukmemberikan kepemilikan untuk membagi kepemilikan dengan orang lain (Belk,1984). Kecemburuan (envy) adalah sesuatu yang tidak puas dan penyakit yang muncul pada orang lain dalam kebahagiaan, kesuksesan, reputasi, ataukepemilikan atas segalanya yang diinginkan.

Pengertian Materialisme (skripsi dan tesis)

Materialisme adalah suatu sifat yang menganggap penting adanyakepemilikan terhadap suatu barang dalam hal menunjukkan status danmembuatnya merasa senang (Schiffman dan Kanuk, 2008:119; Mowen dalam Sundan Wu, 2011; Ahuvia dalam Podoshen dan Andrzejewski, 2012).Podoshen dan Andrzejweski (dalam Ni Nyoman Ayu, 2013:716)materialisme biasanya dimulai dari pengumpulan atas barang-barang diluarkebutuhan pokok. Nilai materialisme yang tinggi membuat konsumen meyakinibahwa benda material merupakan hal yang sangat penting bagi hidup mereka.Menurut Watson, seseorang yang memiliki sifat materialisme cenderung memilikikemampuan kontrol diri yang rendah dan gemar menghabiskan uangnya denganmenikmati kegiatan belanjanya.Menurut Schiffman dan Kanuk (2009 :119) Materialisme adalah “tingkatdimana seseorang dianggap materialistis”. Materialism merupakan topik yangsering dibicarakan dalam surat kabar, majalah, dan TV dan dalam percakapan ehari – hari diantara teman. Materialisme disebut sebagai sifat kepribadian yangmembedakan antara individu yang menganggap kepemilikan barang sangatpenting bagi identitas kehidupan mereka, dan orang – orang yang menganggapkepemilikan barang merupakan hal yang sekunder.

Indikator Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Averill (dalam Sarafino, 1990) dan Acep (2013:22) mengungkapkanbeberapa aspek yang terdapat dalam kontrol diri seseorang, antara lain :
a) Aspek kontrol perilaku (behavioral control)Kemampuan mengontrol perilaku merupakan kesiapan atau terjadinyarespons yang dapat secara langsung mempengaruhi atau memodifikasikeadaan yang tidak menyenangkan.
b) Aspek kontrol stimulus (cognitive control)Kemampuan mengontrol stimulus ialah kemampuan untuk menggunakan proses dan strategi yang sudah dipikirkan untuk mengubah pengaruhstressor.
c) Aspek kontrol peristiwa (informational control)Kemampuan menantisipasi peristiwa adalah kemampuan untukmendapatkan informasi mengenai kejadian yang tidak dikehendaki, alasanperistiwa tersebut terjadi, perkiraan peristiwa selanjutnya yang akanterjadi, konsekuensi yang akan diterima terkait dengan kejadian tersebut.d) Aspek kontrol retrospektif (retrospection control)Kemampuan menilai peristiwa dari segi positif adalah keyakinan tentangapa dan siapa yang akan menyebabkan peristiwa yang penuh dengan stresssetelah hal itu terjadi, kemampuan individu untuk mengolah informasiyang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai atau menggabungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis untuk mengurangi tekanan.e) Aspek kontrol keputusan (decision control)Kemampuan mengambil keputusan adalah kemampuan individu untukmemilih hasil atau tindakan berdasarkan keyakinannya.
Selain itu, Menurut J.P. Chaplin (dalam Rahayu Ginintasasi, p.5-6) dalamself control terdapat dua dimensi, yaitu:
1) Mengendalikan Emosi
Mengendalikan emosi berarti mampu memahami atau mengenali sertamengelola emosi. Menurut Daniel Goleman, emosi merujuk pada suatuperasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis danpsikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Senadadengan hal ini, Anthony Robbins menyebutkan bahwa emosi merupakansinyal untuk melakukan tindakan. Menurutnya emosi bukan akibat atausekedar respon tetapi justru sinyal untuk melakukan sesuatu.
2) Disiplin
John Maxwell mendefinisikan disiplin sebagai suatu pilihan dalammemperoleh apa yang kita inginkan dengan tidak melakukan apa yangtidak kita inginkan sekarang.Dua hal yang sulit dilakukan seseorang:
1) Melakukan hal-hal berdasarkan urutan kepentingannya (menetapkanprioritas).
2) Secara terus menerus melakukan hal-hal tersebut berdasarkankepentingan dengan disiplin.

Pengertian Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Setiap individu memiliki suatu kemampuan yang dapat membantu,mengatur dan mengarahkan perilaku, yaitu kontrol diri. Menurut Chaplin (dalamIin Novita dan Harlina, 2008:7) Kontrol diri adalah kemampuan untukmembimbing tingkah laku sendiri dan kemampuan untuk menekan ataumerintangi impuls-impuls atau tingkah laku Kompulsif.Sementara Calhoun dan Acocella (dalam Ghufron dan Risnawita,2012:637) mendefinisikan kontrol diri sebagai pengaturan proses-proses fisik,psikologis, dan perilaku seseorang; dengan kata lain serangkaian proses yangmembentuk dirinya sendiri. Kontrol diri juga berkaitan dengan mengendalikanemosi serta dorongan-dorongan yang ada dalam dirinya. Seseorang yang memilikikontrol diri akan mempertimbangkan segala konsekuensi yang akan terjadisebelum memutuskan sesuatu untuk bertindak

terialisme berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku belanja kompulsif online (skripsi dan tesis)

Materialisme umumnya dianggap sebagai nilai negatif, sifat atau perilaku,terkait dengan keserakahan, kedangkalan, dan kurangnya nilai spiritual (Lipovčanet al., 2015). Materialisme adalah penekanan pada hal-hal materi, dan orang-orangyang berbagi nilai-nilai ini menganggap bahwa memiliki komoditas membawakebahagiaan dan menawarkan prestise yang lebih tinggi. Sebagai ciri kepribadian,Materialisme dimiliki oleh orang-orang yang posesif, dan iri hati, meski tidakmemiliki kemurahan hati (Frunzaru & Popa, 2015). Seorang individu yangmaterialistis mempunyai kecenderungan untuk mengumpulkan harta benda, dengan Eukuran kuantitas dan kualitas barangnya sehingga hal-hal yang dipentingkanbersifat keduniaan (Wijaya, 2015). Ketika materialisme sangat penting dalamsistem nilai seseorang, kepemilikan menjadi fokus utama (Moran et al., 2015).Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rasool et al. (2012) danEren et al. (2012) mengungkapkan bahwa materialisme memiliki hubungan yangsignifikan dan positif terhadap perilaku pembelian kompulsif pada perilakukonsumen. Dalam penelitian yang dilakukan Omar et al. (2013) menunjukkanmaterialisme secara signifikan berpengaruh pada pembelian kompulsif. Padapenelitian yang dilakukan oleh Türkyilmaz et al. (2016) materialisme berpengaruhpositif terhadap perilaku pembelian kompulsif, dengan kata lain individu yangberpikir bahwa kepemilikan menunjukkan kesuksesan dan memberikankebahagiaan pada kehidupan mereka serta memandang kepemilikan sebagai pusatkehidupan mereka cenderung melakukan pembelian kompulsif. Ma

Kecanduan internet berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilakubelanja kompulsif online (skripsi dan tesis)

Konsumsi kompulsif telah didefinisikan secara luas sebagai respons terhadapdorongan atau keinginan yang tidak terkendali untuk memperoleh, menggunakan,atau mengalami perasaan, substansi, atau aktivitas yang mengarahkan seseoranguntuk secara berulang-ulang melakukan perilaku yang pada akhirnya akanmenyebabkan kerugian bagi individu dan atau bagi orang lain (O’Guinn & Faber
dalam Weaver et al., 2011).
Perilaku impulsif dan kompulsif, meski serupa,bukanlah masalah yang sama. Pembelian impulsif adalah pembelian ditentukanoleh rangsangan luar sedangkan dalam kasus pembelian kompulsif, keinginanuntuk membeli berasal dari dalam, mungkin perasaan cemas dan individu tersebutingin merasa tenang, atau mungkin membeli untuk membuat diri merasa lebihbahagia, lebih baik, dan sebagainya. Di sisi lain, pembeli kompulsif cenderung tidakmenolak untuk impuls yang terkait dengan perasaan positif, seperti kenikmatan,kepuasan dan kelegaan (Bighiu et al., 2015).Perilaku pembelian kompulsif adalah sebuah perilaku keputusan pembeliandimana motif atau keinginan yang mendorong keputusan pembelian atas kategoriproduk tertentu tak tertahankan lagi atau tidak bisa ditahan oleh emosi orangtersebut dan akan menjadi suatu kebiasaan karena cenderung terjadi berulang–ulangsebagai pemenuhan terhadap kebutuhan emosional yang negatif (Kristanto,2011). Krych (dalam Varveri et al., 2014) memaparkan pembelian kompulsifsebagai kecanduan perilaku, kebiasaan patologis yang terkait dengan perilaku yangditandai dengan adanya dorongan untuk membeli, dorongan untuk pergi berbelanja,kecanduan pribadi yang berorientasi pada aktivitas yang berakhir dengan hilangnyakontrol perilaku, kegagalan dalam mengendalikan dan merevisi aktivitas dankonsekuensi afektif yang signifikan bila tindakan tersebut tidak layak dilakukan,pada tingkat individu dan sosial. Akan tetapi dаri sеgi pеrusаhааn yаng mеnjuаlsuаtu produk, konsumеn yаng kompulsif аdаlаh sаsаrаn yаng pаling tеpаt, kаrеnаkonsumеn kompulsif аkаn mеmbеli аpаpun yаng dijuаl jikа iа mеrаsа tеrtаrik dеngаn produk tеrsеbut tаnpа mеmikirkаn dаmpаk dаri pеmbеliаn yаngdilаkukаnnyа (Akhadiyah & Suharyono, 2017).Kandell (dalam Panayides & Walker, 2012) menyatakan bahwa kecanduaninternet merupakan ketergantungan psikologis pada internet, apapun aktivitasnyasekalinya terkoneksi pada internet. Gangguan kecanduan internet meliputi segalamacam hal yang berhubungan dengan internet seperti jejaring sosial, e-mail,pornografi, judi online, game online, chatting, dan lain-lain (Herlina dalamNingtyas, 2012). Hasil penelitian Claes et al. (2012) menunjukkan terdapathubungan signifikan antara pembelian kompulsif dan kecanduan internet padaresponden. Dalam penelitian yang dilakukan Omar et al. (2015) menunjukkanbahwa penggunaan internet yang berlebihan akan membuat konsumen berpeluanglebih besar untuk melakukan pembelian kompulsif.

Materialisme (skripsi dan tesis)

Menurut Wikipedia, kata materialisme terdiri dari kata materi dan isme.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia materi adalah bahan, benda dan segalasesuatu yang tampak. Materialis adalah pengikut paham (ajaran) materialismeatau juga orang yang mementingkan kebendaan (harta, uang, dan sebagainya).Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yangtermasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata denganmengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra.Materialisme adalah salah satu trait kepribadian yang berkaitan dengankepemilikan barang atau materi (Richin dan Dawson, 1992). Menurut studiDittmar (2005) menunjukkan bahwa, nilai materialisme yang dimiliki olehindividu menyebabkan seseorang memiliki kecenderungan untuk melakukanpembelian secara kompulsif.Belk (1985) menyatakan bahwa materialisme dapat dijelaskan oleh skalakepemilikan (possessiveness), ketidakmurahan hati (nongenerosity) dankecemburuan (envy).
Kepemilikan (possessiveness) adalah kecenderungan dan tendensi untukmenahan kontrol atau kepemilikan milik seseorang (Belk, 1983). Ketidakmurahan hati (nongenerosity) adalah sebuah ketidak bersediaan untukmemberikan kepemilikan untuk membagi kepemilikan dengan orang lain(Belk,1984). Kecemburuan (envy) adalah sesuatu yang tidak puas dan penyakityang muncul pada orang lain dalam kebahagiaan, kesuksesan, reputasi, ataukepemilikan atas segalanya yang diinginkan (Belk, 1983)

Gender (skripsi dan tesis)

Menurut Wikipedia, Pertama, kata gender berasal dari bahasa Inggrisberarti “jenis kelamin”. Kedua, dalam Webster’s New World Dictionary, genderdiartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihatdari segi nilai dan tingkah laku. Ketiga, Women’s Studies Encyclopediamenjelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuatpembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristikemosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.Keempat, menurut Hilary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex & Gender:an Introduction mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadaplaki-laki dan perempuan. Kelima, H. T. Wilson dalam Sex and Gendermengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan pengaruh faktorbudaya dan kehidupan kolektif dalam membedakan laki-laki dan perempuan(http://paramadina.wordpress.com).
berdasarkan berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa genderadalah sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secarasosial dan kultural dengan akibat terjadinya perbedaan fungsi, peran dan tanggungjawab pada kedua jenis kelamin. Perbedaan ini merupakan konstruksi masyarakatsehingga sifatnya bisa berubah dan tidak sam

Pembelian Tidak Terencana (Unplanned Purchase) (skripsi dan tesis)

Stimulus di dalam situasi pembelian yang dialami konsumen mempunyaiperan dalam pembelian yang tidak direncanakan konsumen. Ketika seorangkonsumen sedang berjalan-jalan di suatu mal dan melihat potongan harga padaproduk baju yang sebetulnya kurang diperlukan, seketika itu konsumenmempertimbangkan pembelian tersebut (http://www.blogcatalog.com).Besarnya ketertarikan konsumen pada potongan harga pada baju yang adapada gerai mampu membangkitkan keinginan untuk mencoba sehingga terjadilahpembelian yang tidak direncanakan sebelumnya. Namun dapat saja niat yangmuncul untuk mewujudkan pembelian yang tidak direncanakannya ini akanberubah karena konsumen mempertimbangkan kebutuhan, nilai danketertarikannya (keterlibatan) pada sepatu tersebut. Apabila kebutuhannyadirasakan tidak mendesak, nilai produk yang akan dibeli dirasakan rendah dankonsumen kurang tertarik untuk memilikinya, maka pembelian yang tidakdirencanakannya sebelumnya tidak akan terjadi

Perbedaan Pembelian Kompulsif dan Pembelian Impulsif (skripsi dan tesis)

Menurut Hirschman dan Stern (2001) Pembelian impulsif ataupembelian yang tidak direncanakan adalah kecenderungan konsumenuntuk melakukan pembelian secara spontan, tidak terefleksi, secaraterburu-buru dan didorong oleh aspek psikologis emosional terhadap suatuproduk dan tergoda oleh persuasi dari pemasar.
Pembelian impulsif merupakan suatu proses pembelian yang terjadiketika seseorang melihat suatu barang dan tiba-tiba ingin membeli barangtersebut, dan kemudian memutuskan untuk melakukan pembelian saat itujuga. Perilaku pembelian tanpa direncanakan yang dilakukan secara terusmenerus menyebabkan orang berperilaku kompulsif.

Karakteristik Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

Pembelian Kompulsif memiliki beberapa karakteristik seperti yangdikutip oleh Iin dan prima (2006) sebagai
(1) pembelian produk ditujukanbukan karena nilai guna produk; (
2) konsumen yang membeli produksecara terus-menerus tidak mempertimbangkan dampak negatif pembelian;
(3) pembelian produk yang tidak bertujuan memenuhi kebutuhan utamadalam frekuensi tinggi dapat mempengaruhi harmonisasi dalam keluargadan lingkungan sosial;
(4) perilaku ini merupakan perilaku pembelian yangtidak dapat dikontrol oleh individu;
(5) ada dorongan yang kuat untukmempengaruhi konsumen segara membeli produk tanpa memperhitungkan risiko, misalnya keuangan;
(6) pembelian dilakukansecara tiba-tiba tanpa mencari informasi terlebih dahulu;
(7) pembeliandilakukan untuk menghilangkan kekhawatiran atau ketakutan dalam diri;
(8) perilaku yang ditujukan untuk melakukan kompensasi, misalnyakurangnya perhatian keluarga (Krueger, 1998; Magee, 1994)

Definisi Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

Menurut O’Guinn dan Faber (1992 : 459) Pembelian kompulsifadalah pembelian yang ”kronis berulang-ulang yang menjadi respon utamadari suatu kejadian atau perasaan yang negatif” sehingga pembeliankompulsif adalah satu bentuk konsumsi yang merupakan perilakukonsumen abnormal yang dianggap sebagai sisi gelap konsumsi (Shiffmandan Kanuk, 2000 dalam Park dan Burn, 2005) karena ketidakmampuankonsumen dalam mengendalikan dorongan hati yang kuat untuk selalumelakukan pembelian, dan terkadang mempunyai konsekuensi yang berat.
Menurut Lorrin Koran, seorang Guru Besar Psikiatri danKeperilakuan dari Stanford University, Pembeli kompulsif adalahkonsumen yang cenderung suka membelanjakan uang untuk membelibarang meskipun barang tersebut tidak mereka butuhkan (Koran, 2006)dan terkadang tidak mampu dibeli, dalam jumlah yang berlebihan (Hoyerdan MacInnis, 2001 dalam Park dan Burn,2005), perilaku semacam inidisebut juga sebagai keranjingan belanja (shopaholics).Menurut kutipan Horizon Surbakti (2009), Pembelian kompulsifmerupakan proses pengulangan yang sering berlebihan dalam berbelanjayang dikarenakan oleh rasa ketagihan, tertekan atau rasa bosan (Solomon,2002:15) dan pembelanja kompulsif adalah seseorang yang tidak dapatmengendalikan atau mengatasi dorongan untuk membeli sesuatu. Park danBurns (2005:135

Pengukuran Compulsive Buying (skripsi dan tesis)

Naomi dan Mayasari (2012) mengukur perilaku pembelian kompulsif kedalam 5 indikator sebagai berikut:
a. Biasa merasakan adanya dorongan yang kuat dalam diri untuk pergiberbelanja.
b. Mempunyai keinginan yang kuat untuk pergi berbelanja atau membelisesuatu.
c. Setiap kali masuk suatu pusat perbelanjaan, merasa ada dorongan yangkuat untuk membeli sesuatu dari pusat perbelanjaan tersebut.d. Biasa pergi berbelanja setiap kali muncul dorongan dalam diri untuk pergike pusat perbelanjaan.
e. Biasa membeli produk karena lebih terdorong untuk melakukan belanjadaripada memiliki produknya.