Pembelian Impulsif (Skripsi dan tesis)

Penelian sebelumnya menjelaskan bahwa pembelian impulsif merupakan pembelian yang tidak terencana (Stern 1962, p. 59). Baru-baru ini, para peneliti telah membahas pembelian impulsif sebagai perangsang dan dikenakan sebagai pengalaman emosional yang berhubungan dengan emosi tinggi dan perilaku spontanitas yang menghalangi untuk mempertimbangan suatu alternatif atau konsekuensi secara bijaksana (Jones et al., 2003; Rook 1987).

Hypermarket (skripsi dan tesis)

Hypermarket memiliki luas antara 100.000 – 300.000 meter persegi dengan kombinasi produk makanan 60 – 70% dan produk-produk general atau umum 30 – 40%. Hypermarket memiliki persediaan lebih sedikit dibanding supercenter, yaitu 40.000 hingga 60.000 item yang meliputi produk makanan, hardware, dan peralatan olahraga, hingga pada furniture, perlengkapan rumah tangga, komputer dan elektronik. Dengan demikian hypermarket adalah toko eceran yang mengkombinasikan pasar swalayan dan pemberi diskon di dalam ruangan yang berukuran 100.000 – 300.000 meter persegi (Utami, 2008).

Hubungan Kontrol diri terhadap Pengelolaan Keuangan (skripsi dan tesis)

Pengaruh pengontrolan diri dalam manajemen keuangan pribadi sangatlah penting. Dengan melakukan kontrol diri, maka pribadi akan memiliki sikap bertanggung jawab dalam pengelolaan keuangan. Kontrol diri merupakan keseluruhan kemampuan diri untuk mengendalikan diri pribadinya. Ada empat bidang kontrol diri yaitu Kognitif, Impulse ( Dorongan ), Emosi dan Kinerja. Menurut Senduk (2004) mengatakan bahwa manajemen keuangan pribadi meliputi keputusan tentang
1. Membeli dan memiliki sebanyak mungkin harta produktif. Tentukan harta produktif yang ingin anda miliki. Harta produktif ini merupakan harta yang dapat menekan pengeluaran besar anda dalam kebutuhan sehari-hari. Seperti, jika anda mahasiswa maka memiliki komputer dan printer dapat mengurangi pengeluaran print di rental, dan lainnya. Harta produktif ini harus anda upayakan untuk miliki dengan cara membeli pada saat anda mendapatkan  uang. Prioritaskan harta-harta produktif yang benar-benar mendukung aktivitas anda.
2. Mengatur Pengeluaran anda. Atur pengeluaran anda dan jangan sampai anda mengalami defisit. Usahakan dalam pengaturan pengeluaran anda, sudah di pastikan pos-pos pengeluaran tetap sudah terakomodir. Pelajari dan biasakanlah diri anda untuk mengeluarkan uang secara bijak dan tidak boros.
3. Berhati-hati dengan Hutang. Anda harus mengetahui kapan saat yang tepat untuk berhutang, dan kapan saat yang tidak tepat tidak berhutang. Banyak perusahaan dapat memanfaatkan hutang di bank sebagai mdal usaha. Pada manajemen keuangan pribadi, jika anda mengalami defisit dan memaksa anda untuk berhutang, maka usahakanlah hutang tersebut tidak terlalu besar, dan menggangu keuangan anda secara keseluruhan pada saat pengembalian hutang tersebut
. 4. Sisihkan untuk masa depan. Rencanakan masa depan anda secara sistematis. Karena dengan merencanakannya, anda dapat menyisihkan pemasukan anda sebagian untuk diinvestasikan bagi masa depan. Dengan membantu melakukan investasi masa depan dalam pengelolaan keuangan, maka anda mengurangi resiko untuk bergerak jauh dari masa depan yang anda inginkan.
5. Memiliki proteksi. Milikilah asuransi untuk melindungi anda dari berbagai bentuk resiko yang kemungkinan dapat terjadi. Jika anda belum memiliki penghasilan yang tetap, maka anda dapat membuka rekening tabungan dan menyisihkan uang anda sedikit dari pemasukan untuk ditabung sebagai anggaran proteksi pada resiko yang tidak anda harapkan.
 Diduga seseorang yang cenderung melakukan tindakan belanja impulsif memilki kaitan dengan tindakan perencanaan keuangan. Menurut Senduk (2001) perencanaan keuangan adalah proses merencanakan tujuan-tujuan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang. Yang dimaksud dengan tujuan keuangan itu adalah keinginan keuangan yang ingin direalisasikan. Dalam dunia nyata seseorang yang memilki kecenderungan melakukan tindakan belanja impulsif diduga memiliki perencanaan keuangan yang buruk, dimana praktek manajemen keuangan masih belum diimplementasikan sepenuhnya dalam kehidupan

Pengertian Nilai Materialisme (Skripsi dan tesis)

Menurut (Richin dan Dawson 1992 dalam Prima Naomi 2008) berpendapat bahwa, materialisme adalah salah satu trait kepribadian yang berkaitan dengan kepemilikan barang atau materi. Trait ini membedakan seseorang dari orang lain terkait dengan apakah materi merupakan sesuatu yang penting dan memberinya identitas ataukah hanya merupakan sesuatu yang sekunder. Salah satu komponen konsep diri yang penting adalah hubungan seseorang dengan dunia material. Peneliti melihat perbedaan individu berkaitan dengan bagaimana konsumen menilai kepemilikan seseorang. Tendensi untuk mencapai kebahagiaan melalui kepemilikan benda tertentu disebut materialisme (Mowen dan Minor, 2002: 280). Para peneliti menemukkan ciri orang yang dapat di kategorikan materialistik yaitu: (1) Individu yang mengutamakan menghargai dan memamerkan kepemilikan, (2) umumnya individu egois dan terpusat pada diri sendiri, (3) individu mencari gaya hidup yang penuh dengan kepemilikan, contohnya: mereka menginginkan untuk mempunyai tidak hanya ”sesuatu”, tetapi lebih dari sebuah gaya hidup yang biasa dan sederhana, (4) yang dimiliki sekarang tidak dapat memberikan kepuasan yaitu seseorang yang selalu mengharapkan kepemilikan yang lebih tinggi agar mendapatkan kebahagian yang lebih besar (Schiffman dan Kanuk, 2007: 129). Konsumen dengan nilai materialistik yang tinggi sangat didorong untuk mengkonsumsi lebih banyak dari konsumen lainnya (Wong, 1997 dalam Phau, 2009). Dalam kamus bahasa Inggris Oxford, materialisme didefinisikan sebagai sebuah pengabdian untuk keinginan dan kebutuhan material dan mengabaikan hal-hal rohani, sebuah cara hidup, pendapat, atau kecenderungan didasarkan sepenuhnya pada kepentingan materi

Pengertian Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Prima Naomi (2008 : 182) mendefinisikan kontrol diri merupakan pola respon yang baru dimulai untuk menggantikan sesuatu dengan yang lain, misalnya respon yang berkaitan dengan mengalihkan perhatian dari sesuatu yang diinginkan, mengubah emosi menahan dorongan tertentu dan memperbaiki kinerja. Dapat dikatakan sebagian besar seseorang mengiginkan dapat mengelola self control untuk di implementasikan dalam pengambilan keputusan yang baik dan terencana untuk jangka panjang kedepan. Pembelian Impulsif atau pembelian tidak terencana adalah pembelian yang terjadi secara spontan karena munculnya dorongan yang kuat untuk membeli dengan segera (Assael, 1998 ; Hanna dan Wozniak, 2001; London dan Bitta, 1993; Mowen dan Minor, 2002; Rook dalam Enggel dkk, 1995; Solomon 2002 pada Fika Ariani 2008).
Secara umum ada empat tipe pembelian impulsif di masyarakat (Assael, 1998; Enggel dkk, 1995; London dan Bitta, 1993 pada Fika Ariani 2008) yaitu pertama dorongan murni (pure Impulse) berupa dorongan untuk membeli produk yang baru atau menghentikan pola pembelian normal, kedua dorongan atas saran anjuran (suggestion impulse) yang didasarkan stimulus pada toko dan ditunjang pada pembelian saran, baik dari sales promotion, pramuniaga atau teman, ketiga dorongan karena ingatan (reminder impulse) yang  muncul saat melihat barang dan produk pada rak’ display atau teringat iklan dan informasi lainnya tentang suatu produk, keempat dorongan yang direncanakan (planed impulse) berupa intensi membeli berdasarkan harga khusus, kupon dan lain sebagainya tanpa merencanakan produk yang akan dibelinya. Pada pembelian Impulsif, konsumen memilki perasaan yang kuat dan positif terhadap suatu produk yang harus dibeli hingga ahirnya konsumen memutuskan untuk membelinya (Mowen dan Minor, 2002). Proses afektif yang muncul pada konsumen langsung menuju pada perilaku membeli, tanpa konsumen memikirkannya dahulu bahkan memperhitungkan konsekuensi yang diperolehnya. Kontrol diri perlu dimiliki oleh seseorang ketika menghadapi situasi pembelian yang bersifat impulsif maupun kompulsif. Perilaku ini merupakan sesuatu yang tidak teratur dan diakibatkan oleh dorongan yang tidak direncanakan dan spontan. Perilaku ini dianggap sebagai pembelian yang tidak disertai dengan pertimbangan yang matang, sesuai dengan tujuan jangka panjang, dan rasionalitas. Pembelian impulsif akan sulit ditahan bila berkaitan dengan sesuatu yang menarik dan menggugah perhatian seseorang. Individu akan mau mengorbankan segala cara untuk mendapatkan sesegera mungkin. Pembelian impulsif sebenarnya bisa ditahan bila seseorang mempunyai kapasitas untuk menahannya

Dimensi Celebrity worship (skripsi dan tesis)

Keterlibatan dengan celebrity oleh Maltby et.al, (2006) dibagi menjadi tiga dimensi yang disebut sebagai Celebrity Attitude Scale (CAS), yang bisa digambarkan sebagai tingkatan, yaitu: a. Entertaiment social Pada level ini individu biasanya dikaitkan dengan penggunaan media sebagai sarana untuk mencari informasi mengenai idolanya dan senang membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan idola dengan sesama teman  yang mengidolakan idola yang sama sebagai hiburan yang didasari oleh ketertarikan fans terhadap idola. Fans menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh idolanya adalah menarik dan menjadi hiburan bagi fans tersebut. Salah satu contoh tipikal perilaku dalam aspek entertainment-social adalah ketika individu gemar membicarakan tentang idolanya kepada sesama teman yang mempunyai idola yang sama. b. Intense-personal Dimensi ini merefleksikan perasaan intensif dan empati terhadap idola, hampir sama dengan tendesi obsesif pada fans. Hal ini menyebabkan individu menjadi memiliki kebutuhan untuk mengetahui apapun tentang celebrity tersebut, mulai dari berita terbaru hingga informasi mengenai pribadi celebrity. Contoh perilaku yang menggambarkan tipikal Intense-personal, misalnya saat individu merasa idolanya bisa menjadi pasangan hidupnya. c. Borderline-pathological Dimensi ini adalah yang paling tinggi dari hubungan parasosial dengan celebrity. Hal ini digambarkan dalam sikap seperti kesediaan untuk melakukan apapun demi celebrity tersebut meskipun hal tersebut melanggar hukum. Fans yang seperti ini tampak memiliki pemikiran yang tidak terkontrol dan menjadi irasional. Salah satu contoh perilaku yang menggambarkan tahapan borderlinepathological misalnya seorang individu rela memberikan uang sebanyak sepuluh juta demi bisa membeli seprei yang pernah dipakai tidur oleh idolanya.

Pengertian Celebrity worship (skripsi dan tesis)

Celebrity worship menurut Maltby et. Al, (2005) adalah gangguan obsesif-adiktif saat seseorang terlalu melibatkan diri di setiap detil kehidupan selebriti idolanya,  dimana semakin seseorang memuja, merasa kagum atau terlibat dengan sosok selebriti tertentu, semakin besar pula keintiman (intimacy) yang diimajinasikan terhadap sosok selebriti yang diidolakan, semakin tinggi tingkat pemujaan seseorang terhadap idolanya, maka semakin tinggi pula tingkat keterlibatannya dengan sosok idola. Seiring dengan meningkatnya intensitas keterlibatan seseorang dengan selebriti idolanya, maka ia mulai melihat sosok selebriti idolanya adalah orang yang dianggap dekat dan ia mulai mengembangkan hubungan parasosial. Hubungan parasosial adalah hubungan yang diimajinasikan seseorang dengan sosok yang diidolakan yang bersifat satu arah, dari fans kepada selebriti idolanya (Maltby, 2004). Celebrity worship dipengaruhi oleh kebiasaaan seperti melihat, mendengar, membaca dan mempelajari tentang kehidupan selebriti secara berlebihan (McCutcheon et al., 2005). Secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa celebrity worship merupakan segala bentuk perilaku atau perasaan yang timbul dari dalam diri individu untuk memuja sosok idola sebagai suatu hiburan atau pemuasan diri.

Tiga Fitur Inti Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

 Dittmar (2005) menyatakan bahwa terdapat tiga fitur inti dari pembelian kompulsif, yaitu: a. Compulsive buyer memiliki hasrat yang tidak dapat ditahan untuk membeli atau mendapatkan sesuatu b. Individu tersebut tidak mampu mengontrol perilaku compulsive buying-nya. c. Individu tersebut akan terus melakukan kebiasaan utuk membeli sesuatu secara berlebihan tanpa menghiraukan dampak yang mungkin timbul dalam kehidupan pribadi, sosial, ataupun pekerjaan dan kesulitan dalam hal keuangan

Faktor-faktor Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian kompulsif, yaitu:
 a. Celebrity worship
Menurut Revees (2014) celebrity worship mempengaruhi pembelian kompulsif. Lebih lanjut Revees (dalam Anastasia, 2017) berpendapat bahwa semakin tinggi tingkat kebutuhan seseorang untuk dihibur oleh idolanya maka semakin tinggi pula tingkat pembelian kompulsif fans. Teori ini didukung oleh penelitian Devi (2014) jika seorang fans merasa terikat secara emosional maka Ia akan mengikuti perkembangan idolanya dengan cara membeli tiket pertunjukan dan bertemu langsung dengan idolanya.
b. Kontrol Diri
O’Guinn dan Faber (1989) seseorang yang memiliki perilaku pembeli yang kompulsif biasanya tidak bisa mengontrol diri dan terkesan kurang peduli terhadap apa yang dibelinya. Menurut Naomi & Mayangsari (2008) kontrol diri  perlu dimiliki seseorang ketika menghadapi pembelian yang bersifat impulsive maupun kompulsif, karena perilaku ini diangap sebagai pembelian yang tidak disertai pertimbagan yang matang, sesuai dengan kebutuhan jangka panjang, dan rasionalitas. Seseorang yang tidak memiliki kontrol diri lebih memprioritaskan konsumsi yang bersifat hedonis dari pada fungsional karena memang menginginkan sesuatu yang bersifat luas (Phillips,dkk dalam Naomi & Mayangsari 2008). Teori ini didukung oleh penelitian Maskhuroh & Renanita (2018) semakin tinggi kontrol diri maka semakin rendah kecenderunan pembelian kompulsif. Sebaliknya, semakin rendah kontrol diri maka semakin tinggi kecenderunan perikalu pembelian kompulsifnya.
 c. Keluarga
Menurut Mangestuti (2014), keluarga sebagai faktor dari pembelian kompulsif dapat dipahami melalui teori belajar sosial. Keluarga adalah dasar terbentuknya perilaku pembelian kompulsif, karena awal dari sosialisasi konsumen berasal dari keluarga. Keluarga dengan orang tua berstatus pembeli kompulsif akan menjadi model untuk ditiru. Selain itu, orang tua yang tidak memberikan dukungan berupa kasih sayang dan perhatian namun justru banyak memberikan tekanan menjadi penguat bagi remaja untuk melakukan pembelian kompulsif.
Workman & Paper (2010) merangkum faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian kompulsif dalam enam kategori:
a. Variabel Kepribadian Variabel kepribadian yang dimaksud meliputi kompulsifitas, merasa harga dirinya rendah, perasaan negatef atau depresi, rasa kesepian, pencarian gairah, dan berfantasi.
 b. Faktor Demografi Faktor demografi di sini mengenai faktor pendapatan, usia, dan gender.
 c. Intensitas Perasaan Konsumen yang kompulsif cenderung memiliki respon perasaan yang kuat terhadap stimuli tertentu dibandingkan dengan konsumen lain.
d. Evaluasi normatif dan pengendalian impuls Kurangnya pengendalian impuls telah dikaitkan dengan orang-orang yang tidak mampu menahan ataupun menunda kepuasan ketika sebuah rangsangan untuk membeli muncul.
e. Penggunaan kartu kredit Konsumen yang kompulsif membuktikan penggunaan kartu kredit yang sangat tinggi atau menyalah gunakan kartu kredit disbanding dengan konsumen lain.
f. Konsekuensi jangka pendek dan janka panjang dari belanja kompulsif Konsekuensi jangka pendek pembelian kompulsif bersifat positif seperti berkurangnya stress dan tekanan. Namun jika bekelanjutan, konsekuensi jangka panjang dari perilaku ini sifatnya negatif seperti kesulitan pribadi, utang finansial, gangguan dalam kehidupan keluarga.
 Oleh karena itu dapat disimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian kompulsif adalah celebrity worship, kontrol diri, keluarga, variabel kepribadian, demografi, intensitas perasaan, evaluasi normatif dan pengendalian impuls, penggunaan kartu kredit, dan konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang pembelian kompulsif

Dimensi Pembelian Kompulsif (Skripsi dan tesis)

 Edwards (1993) pembelian kompulsif memiliki lima dimensi utama, yaitu:
a. Tendency to Spend
Keadaan dimana kecenderungan seseorang membeli barang secara berlebihan, menghabiskan uang dengan sering.
b. Drive to Spend
Saat individu merasa tergoda untuk berbelanja preokupasi (pemusatan pikiran pada satu hal tertentu), kompulsif (dilakukan secara berulang-ulang) dan adanya perilaku impulsif dalam berbelanja atau membeli barang.
c. Feelings about shopping and spending
Keadaan mengenai seberapa besar individu menikmati aktivitas berbelanja dan menghabiskan waktunya untuk berbelanja
 d. Dysfunctional spending.
Menjelaskan bahwa pengaruh lingkungan dapat menyebabkan atau menggiring seseorang untuk melakukan aktivitas berbelanja dan menghabiskan waktunya untuk berbelanja.
e. Post-purchase guilt.
Keadaan dimana seseorang merasa menyesal setelah melakukan aktivitas berbelanja

Pengertian Pembelian Kompulsif (Skripsi dan tesis)

Edwards (1993) pembelian kompulsif adalah suatu tindakan seseorang dalam mengambil keputusan untuk membeli barang bukan hanya karena kebutuhannya, melainkan juga demi pemuasan keinginannya yang dilakukan secara berlebihan, kronis, dan berulang-ulang sebagai representatif perasaan negatif atau untuk mengurangi perasaan negatif. Pembelian kompulsif ini juga dapat diartikan sebagai bentuk pembelian dengan kontrol yang lemah atau berlebihan, dorongan yang berkenaan dengan pembelajaan dan pengeluaran, yang konsekuensinya bersifat merugikan. Menurut O’Guinn dan Faber (1998), pembelian kompulsif adalah pembelian yang kronis, dilakukan berulang-ulang yang menjadi respon utama dari suatu kejadian atau perasaan yang negatif. Sehingga pembelian kompulsif adalah satu bentuk konsumsi yang dianggap sebagai sisi gelap konsumsi, karena ketidakmampuan konsumen dalam mengendalikan dorongan hati yang kuat untuk selalu melakukan pembelian (Shiffman & Kanuk, 2008).  Konsumen yang kompulsif adalah konsumen yang merasa ketagihan, dalam beberapa kondisi mereka berlaku diluar kontrol dan sikap mereka dapat berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain (Schiffman & Kanuk, 2008). Compulsive buying bisa terjadi pada setiap individu yang memiliki kondisi jiwa yang normal (D’Astous, Maltais, & Roberge dalam Naomi & Mayangsari, 2009).

Tipe Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Rosenbaum (Putri dkk, 2009 : 8) mengemukakan tipe-tipe kontrol diri yang terdiri dari: a) Kontrol diri tipe redresif, yaitu berfokus pada proses pengendalian diri b) Kontrol diri tipe reformatif, yaitu berfokus pada bagaimana mengubah gaya hidup, pola perilaku, dan kebiasaan-kebiasaan yang destruktif. c) Kontrol diri tipe eksperiensial, yaitu kemampuan seseorang untuk menjadi sensitif dan menyadari perasaan-perasaannya dan penghayatan akan stimuli dari lingkungan yang spesifik.

Aspek-aspek Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

 Averill (Diba, 2014: 319) mengungkapkan beberapa aspek yang terdapat dalam kontrol diri seseorang, yaitu:
 a. Kontrol Perilaku
Merupakan sikap yang menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya (Azwar, 2013 : 27). Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. Sementara Diba (2014 : 319) menyatakan kontrol perilaku sebagai kesiapan atau tersedianya suatu respon yang dapat secara langsung mempengaruhi keadaan yang tidak menyenangkan dan langsung mengantisipasinya. Kontrol perilaku ditentukan oleh pengalaman masa 36 lalu dan perkiraan individu mengenai seberapa sulit atau mudahnya untuk melakukan yang bersangkutan, yang mana kontrol perilaku ini sangat penting artinya ketika rasa percaya diri seseorang sedang berada dalam kondisi yang lemah (Azwar, 2013 : 13). Kemampuan ini diperinci lebih lanjut ke dalam dua komponen, yakni kemampuan mengontrol pelaksanaan yang ditunjukkan dengan kemampuan individu untuk menentukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan, dirinya sendiri atau sesuatu di luar dirinya. Dan kedua adalah kemampuan mengontrol stimulus yang ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengetahui bagaimana dan kapan stimulus yang tidak dikehendaki dihadapi. Stimulus adalah hal-hal yang merangsang terjadinya kegiatan pembelajaran, seperti pikiran, perasaan dll yang dapat ditangkap melalui alat indera.
b. Kontrol Kognitif
Yaitu kemampuan individu dalam mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau menggabungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau untuk mengurangi tekanan. Secara sederhananya, kontrol kognitif ini merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap, yakni kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap (Azwar, 2013 : 24).
 Komponen kognitif mengacu pada kesadaran responden dan pengetahuannya terhadap beberapa obyek atau fenomena yang terkadang disebut juga dengan komponen keyakinan, yang diekspresikan seperti: “saya mempercayai produk A mempunyai …. ” 37 atau “saya tahu bahwa produk B akan … “. Komponen kognitif penting bagi berbagai kebutuhan informasi. Banyak situasi keputusan membutuhkan informasi yang menyangkut kesadaran/pengetahuan pasar tentang ciri-ciri produk, kampanye periklanan, penetapan harga, ketersediaan produk, dan lain sebagainya. Kemampuan ini diperinci lebih lanjut ke dalam dua komponen, yaitu kemampuan memperoleh informasi, dan kemampuan melakukan penilaian. Kemampuan memperoleh informasi ini dengan informasi yang dimiliki, individu dapat mengantisipasi keadaan dengan berbagai pertimbangan secara objektif. Sedangkan kemampuan melakukan penilaian ditunjukkan dengan melakukan penilaian dimana individu berusaha menilai dan menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara memperhatikan segi-segi positif secara objektif.
c. Kontrol Keputusan
Yaitu kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakininya atau disetujuinya. Ghufron dan Rini (Heni, 2011: 5) mengungkapkan 2 faktor yang mempengaruhi kontrol diri, yaitu:
1. Faktor Internal Salah satu faktor yang ikut andil terhadap kontrol diri adalah usia. Semakin bertambah usia seseorang, maka semakin baik kemampuan mengontrol diri seseorang itu.
 2. Faktor Eksternal Salah satu faktor yang ikut andil terhadap kontrol diri adalah keluarga. Lingkungan keluarga dapat menentukan bagaimana kemampuan mengontrol diri seseorang. Bila lingkungan keluarganya menerapkan disiplin yang konsisten kepada anaknya, maka konsisten ini akan diinternalisasi oleh anak dan kemudian akan menjadi kontrol diri baginya

Definisi Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

 Lazarus (Diba, 2014: 315) mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur, dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi yang positif. Messina (Naomi dan Mayasari, 2009: 4) mendefinisikan kontrol diri sebagai kemampuan seseorang untuk tidak melakukan pembelian secara spontan atau kemampuan diri untuk menunda pembelian dengan melakukan pertimbangan terlebih dahulu. Kontrol diri biasanya melibatkan upaya untuk menghindari preferensi jangka pendek agar mencapai preferensi jangka panjang (Putra dkk, 2012 : 4). Seseorang yang tidak memiliki kontrol diri lebih mengutamakan konsumsi yang bersifat hedonis daripada fungsional karena ia menginginkan sesuatu yang bersifat kemewahan dan kesenangan. Berdasarkan beberapa pengertian kontrol diri tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kontrol diri merupakan kemampuan individu dalam mengontrol segala perilaku, pikiran, dan perasaannya dalam keinginannya untuk melakukan hal-hal negatif. Hal-hal negatif dalam bahasan ini ialah pola perilaku pembelian kompulsif. Jadi kontrol diri ini perlu dimiliki oleh seseorang ketika menghadapi situasi pembelian yang bersifat impulsif maupun kompulsif (Naomi dan Mayasari, 2009: 3).
 Rotter (Friedman & Schustack, 2008 : 50) membagi kontrol diri ke dalam 2 elemen utama, yakni kontrol eksternal, dan kontrol internal. Kontrol eksternal diakibatkan karena adanya sebuah keyakinan bahwa hal-hal di luar diri individu, seperti kesempatan atau kekuatan lainnya itu menentukan apakah hasil akhir yang diinginkan akan terjadi. Seseorang dengan kontrol eksternal cenderung kurang independen dan lebih mungkin menjadi depresif dan stres. Sedangkan kontrol internal merupakan ekspektasi umum di mana tindakan individu sendiri akan menyebabkan munculnya hasil akhir yang diinginkan. Seseorang dengan kontrol internal lebih berorientasi pada keberhasilan karena mereka menganggap perilaku mereka dapat menghasilkan efek positif dan juga mereka lebih cenderung tergolong ke dalam high achiever

Metode AIO (Activity, Interest, Opinion) (skripsi dan tesis)

 Menurut Kasali (Susanto, 2013: 3) para peneliti pasar yang menganut pendekatan gaya hidup cenderung mengklasifikasikan konsumen berdasarkan variabel AIO (Activity, Interest, Opinion). Berikut ini adalah :
 1. Aktivitas
Aktivitas mengacu pada cara setiap individu menghabiskan waktu dan uang yang mereka miliki terkait dengan tindakan nyata, seperti pekerjaan atau tindakan yang wajib dilakukan sehari-hari, bekerja, rekreasi, menonton, berbelanja, dll (Aresa, 2012: 29). Jadi dapat dikatakan bahwa indikator dari aktivitas ini meliputi hobi, hiburan, dan berbelanja.
2. Minat
Minat adalah sesuatu yang membuat seseorang merasa tertarik, seperti ketertarikannya terhadap makanan, teknologi, fashion, dll. (Susanto, 2013: 4). Aresa (2012: 31) mendefinisikan minat sebagai faktor pribadi yang terdapat pada diri individu dalam mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang diukur melalui minat individu terhadap keluarga, rumah, pekerjaan, komunitas, rekreasi, fashion, makanan, media, dan achievement.
3. Pendapat
Pendapat-pendapat yang diucapkan oleh seseorang akan membantu kita untuk mengetahui karakter orang tersebut, dan apa yang dia butuhkan untuk memperkuat karakternya (Susanto, 2013: 4). Engel, Blackwell, dan Miniard mengungkapkan bahwa opini digunakan untuk mendeskripsikan harapan dan evaluasi, seperti kepercayaan, antisipasi terhadap peristiwa di masa depan, dan pertimbangan konsekuensi dari adanya tindakan alternatif (Aresa, 2012: 32). Jadi opini ini merupakan pendapat dari setiap individu, baik lisan maupun tulisan yang diberikan seseorang sebagai respon terhadap stimulus. Dan opini ini biasanya berbentuk pertanyaan yang  diajukan. Opini sendiri ini dapat diukur melalui opini mengenai diri sendiri, isu-isu sosial, politik, bisnis, ekonomi, pendidikan, produk, masa depan, dan budaya

Klasifikasi Gaya Hidup (skripsi dan tesis)

 

David Chaney (dalam Aresa, 2012: 24) mengklasifikasikan gaya hidup berdasarkan kebutuhan seseorang dalam memenuhi keinginan dan rutinitasnya, yaitu :
a) Industri Gaya Hidup “Kamu bergaya maka kamu ada!” adalah sebuah ungkapan yang mungkin cocok untuk menggambarkan kegandrungan manusia modern akan gaya karena gaya hidup sebagai penunjuk penampilan diri mengalami estetisisasi dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya industri gaya hidup untuk sebagian besar adalah industri penampilan.
b) Iklan Gaya Hidup Di dalam era globalisasi informasi saat ini, yang berperan besar dalam membentuk gaya hidup adalah budaya citra dan budaya cita rasa. Iklan dapat dapat mempresentasikan gaya hidup dengan menanamkan secara halus arti pentingnya citra diri untuk tampil di muka publik. Iklan juga secara perlahan namun pasti akan mempengaruhi pilihan cita rasa yang akan dipilih.
 c) Public Relation dan Jurnalisme Gaya Hidup Dalam hal ini celebrity endorser turut membantu dalam pembentukan identitas dari para konsumen. Dalam budaya konsumen, identitas menjadi suatu sandaran “aksesoris fashion”.
d) Gaya Hidup Mandiri Kemandirian adalah kemampuan hidup untuk tidak bergantung secara mutlak kepada sesuatu yang lain. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri, serta berstrategi dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki untuk mencapai tujuan. Dengan gaya hidup mandiri, budaya konsumerisme tidak lagi mengajarkan manusia karena manusia akan bebas untuk menetukan pilihannya sendiri secara bertanggung jawab, serta dapat memunculkan inovasi-inovasi yang kreatif untuk menunjang kemandirian tersebut. e) Gaya Hidup Hedonis Gaya hidup hedonis adalah suatu pola hidup yang akitivitasnya hanya untuk mencari kesenangan hidup, seperti lebih banyak bermain, lebih menyukai keramaian kota, senang membeli barang mahal, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian (Boedeker, Arnold dan Reynold, dan Sproles dan Kendal dalam Arifianti dkk, 2010: 85).

Definisi Gaya Hidup (skripsi dan tesis)

Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa gaya hidup merupakan bagian dari faktor pribadi yang turut mempengaruhi konsumen dalam berperilaku dan mengambil keputusan pembelian. Gaya hidup adalah sebuah konsep yang lebih baru dan mudah terukur dibandingkan dengan kepribadian. Orang-orang yang berasal dari sub kebudayaan, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama dapat memiliki gaya hidup yang berbeda. Kotler dan Armstrong (2001 : 208) mendefinisikan gaya hidup sebagai sebuah pola kehidupan seseorang seperti yang diperlihatkannya dalam kegiatan, minat, dan pendapat-pendapatnya atau dapat disingkat AIO (Activities, Interest, dan Opinions). AIO ini merupakan dimensi utama konsumen dalam mengukur gaya hidupnya. Suryani (2012 : 74) menjelaskan bahwa pertanyaan aktivitas (Activities) menanyakan apa yang dilakukan konsumen, apa yang dibeli, dan bagaimana konsumen menghabiskan waktunya yang meliputi pekerjaan, hobi, belanja, olahraga, kegiatan sosial. Minat (Interest) menanyakan preferensi dan prioritas konsumen, seperti makanan, pakaian, keluarga, rekreasi. Sedangkan pendapat (Opinion) ialah menanyakan pandangan dan perasaan konsumen mengenai berbagai topik kejadian-kejadian 30 yang berlangsung di lingkungan sekitar, baik lokal maupun internasional, masalah-masalah ekonomi, sosial, bisnis, dan produk maupun pendapat tentang diri mereka sendiri.
 Gaya hidup merupakan salah satu cara mengelompokkan konsumen secara psikografis. Gaya hidup ini mencakup lebih dari sekedar kelas sosial ataupun kepribadian seseorang, tetapi gaya hidup saat ini sudah dapat menampilkan pola perilaku seseorang dan interaksinya di dunia. Sementara Sumarwan (2003: 56) menyatakan bahwa gaya hidup itu mencerminkan pola konsumsi yang menggambarkan pilihan seseorang bagaimana seseorang itu menggunakan uang dan waktunya. Dan gaya hidup bersifat tidak permanen karena seseorang akan cepat mengganti model dan merek pakaiannya karena menyesuaikan diri dengan perubahan hidupnya. Sementara itu, Piliang (Wijayanti dan Seminari, 2012 : 642) mengemukakan bahwa gaya hidup merupakan kombinasi dan totalitas cara, tata, kebiasaan, pilihan, serta objek-objek yang mendukungnya, dalam pelaksanaannya dilandasi oleh sistem nilai atau sistem kepercayaan tertentu. Sedangkan Jackson (2004, dalam Japarianto & Sugiharto, 2011 :33) mengatakan bahwa gaya hidup berbelanja merupakan ekspresi tentang gaya hidup dalam berbelanja yang mencerminkan perbedaan status sosial.

Konsekuensi Perilaku Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis )

Berikut ini adalah konsekuensi yang dapat muncul dari adanya perilaku pembelian kompulsif (Lisan dan Ida, 2010: 7).
1. Dorongan Tak Terkendali
 Untuk Berbelanja Keinginan untuk menghilangkan perasaan negatif melalui kegiatan berbelanja sangat kuat dalam diri si pembeli kompulsif. Jika keinginan kuat tersebut selalu muncul ketika mereka mengalami perasaan negatif, maka tidak mengherankan dalam diri mereka akan selalu muncul keinginan berbelanja yang tidak terkendali. Faber dan O’Guinn menjelaskan bahwa perilaku kompulsif dilakukan secara berulang-ulang.
2. Sikap Terhadap Iklan
 Kwak et al (dalam Lisan dan Ida, 2010: 8) mengatakan bahwa pembeli kompulsif memiliki reaksi yang berbeda terhadap iklan dibandingkan dengan konsumen normal lainnya. Berdasarkan Teori Perbandingan Sosial, Kwak et al (dalam Lisan dan Ida, 2010: 8) juga mengatakan bahwa konsumen membandingkan kehidupan nyatanya dengan kehidupan ideal yang ditampilkan di dalam iklan. Oleh karena itu, pembeli kompulsif akan merasa tidak puas dengan kehidupan nyatanya yang sekarang, akibatnya konsumen ingin menyamai kehidupan ideal yang ditampilkan dalam iklan tersebut, dan cara untuk mendapatkan kehidupan idealnya adalah dengan melakukan pembelian atas produk yang diiklankan. Selain itu, pembeli kompulsif juga cenderung lebih mudah dipengaruhi oleh iklan atau hal semacamnya.
 3. Masalah Keuangan
Individu yang cenderung melakukan pembelian kompulsif tidak mempermasalahkan hal keuangan meskipun itu berarti ia harus berhutang atau harus menggunakan kartu kredit untuk memenuhi keinginannya berbelanja. Seperti yang dikatakan oleh Dittmar bahwa finansial bukan halangan bagi pembeli kompulsif mengingat dorongan untuk membeli suatu produk sangatlah kuat. Jika kondisi tersebut terjadi secara berulangulang, maka kemungkinan hutang para pelaku kompulsif akan semakin banyak dan akibatnya akan menimbulkan masalah keuangan bagi dirinya seperti kesulitan dalam membayar hutang. Roberts mengatakan hal yang senada dengan Dittmar bahwa meningkatnya kebangkrutan individu dan penggunaan kartu kredit yang melebihi batas merupakan bagian dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh perilaku pembelian kompulsif

Aspek-aspek Perilaku Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

Menurut Desarbo dan Edward (1996 : 235) aspek yang mempengaruhi seseorang berperilaku kompulsif terbagi ke dalam 2 aspek, yaitu aspek predispostional dan aspek circumstansial.
 1. Aspek Predispostional
Faktor ini merupakan konstruk-konstruk yang mempengaruhi individu untuk melakukan perilaku pembelian kompulsif dan mengindikasikan kecenderungan secara umum yang mengarah pada perilaku pembelian kompulsif. Faktor predispositional terdiri dari :
 a) Kecemasan : Pada tingkat ini individu memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dari pada non kompulsif. Untuk dapat keluar dari kecemasan ini si individu akan termotivasi untuk melakukan perilaku kompulsif. Pembeli kompulsif menggunakan aktivitas berbelanja sebagai cara untuk menghilangkan kecemasannya, dan pola ini dilakukan secara terus-menerus yang dalam artiannya adalah apabila tiap kali si individu mengalami kecemasan yang berlebihan, ia cenderung mengobati kecemasannya dengan berbelanja.
b) Perfeksionis : Perfeksionis dicirikan dengan harapan yang terlalu berlebihan untuk mendapatkan suatu pencapaian yang lebih besar. Orang-orang yang perfeksionis melakukan pembelian kompulsif untuk mendapatkan kompetensi, kontrol dan harga diri meskipun hanya sementara.
c) Harga Diri : Harga diri ini didefinisikan sebagai suatu penilaian terhadap diri sendiri bahwa dirinya begitu berharga. Seseorang yang berperilaku kompulsif cenderung memiliki harga diri yang rendah, karena dengan melakukan pembelian kompulsif akan memunculkan perasaan memiliki kekuasaan melalui aktivitas berbelanja.
d) Fantasi : Pada tingkat ini si individu memiliki khayalan yang terlalu tinggi dan kebebasan akibat dari suatu perilaku yang dilakukannya. Pembelian kompulsif merupakan pelarian dari rasa cemas dan perasaan negatif seseorang yang berarti dengan melakukan pembelian kompulsif maka seakan-akan masalah yang dihadapi menjadi hilang. Disitulah letak fantasi nya.
 e) Impulsif : Pembelian impulsif terjadi karena adanya ketidakmampuan seseorang untuk menolak melakukan pembelian, rendahnya kontrol tersebut sangat erat kaitannya dengan pembelian kompulsif, dan perilaku impulsif umumnya terjadi karena adanya stimulus eksternal. Pembelian kompulsif dideskripsikan sebagai sebuah impulse control disorder dalam kajian ilmu psikologi. Oleh karena itu, perilaku kompulsif dapat dikatakan sebagai perilaku yang tidak dapat dikendalikan karena begitu kuatnya dorongan untuk berperilaku.
f) Pencari Kesenangan : Para pembeli kompulsif cenderung melakukan aktivitas belanja sebagai kegiatan untuk mencari kesenangan semata yang berada di antara kontrol dan rendahnya kontrol.
g) General Kompulsif : Dalam hal ini orang-orang yang cenderung memiliki perilaku kompuslif dapat diketahui dari ciri-ciri: suka menunda pekerjaan, sering mengalami kebimbangan, pola makan tidak teratur, kecanduan obat dan alkohol, dll.
h) Ketergantungan : Orang-orang yang mudah bergantung pada orang lain memiliki kecenderungan untuk berperilaku kompulsif.
i) Approval Seeking : Pembeli kompulsif memiliki kebutuhan untuk mendapat pujian dari orang lain dalam rangka untuk membuat diri mereka menjadi bahagia walaupun itu hanya untuk sementara waktu, seperti mendapatkan pujian dari si penjual di dalam toko akan mengakibatkan mereka melakukan pembelian kompulsif.
j) Locus of Control : Orang yang memiliki hidup yang dikendalikan oleh faktor dari luar memiliki kecenderungan berperilaku kompulsif.
 k) Depresi : Orang yang memiliki tingkat depresi yang tinggi akan cederung melakukan pembelian kompulsif karena tujuannya untuk keluar dari perasaan depresi yang tidak menyenangkan tersebut.
2. Faktor Circumstantial Faktor ini merupakan faktor yang dihasilkan dari kondisi individu pada saat ini dan juga mungkin menjadi pemicu munculnya perilaku-perilaku pembelian kompulsif selanjutnya (Desarbo dan Edwards, 1996 : 238), antara lain seperti :
a) Menghindari Masalah
 Menghindari masalah adalah sebuah kecenderungan umum menggunakan cara-cara tertentu untuk menghindari diri dari sebuah permasalahan, dan para pelaku pembelian kompulsif memiliki kecenderungan untuk menghindari masalah.
b) Penyangkalan
Penyangkalan merupakan penyangkalan terhadap permasalahan yang dihadapi. Pembeli kompulsif memiliki kecenderungan untuk menyangkal keberadaan dari permasalahan yang dihadapinya. Bagi mereka, denial adalah cara untuk menghindari rasa cemas, rasa marah, rasa takut atau emosi negatif lainnya yang biasanya tidak ada hubungannya dengan pengalaman berbelanja.
 c) Pengasingan
 Terdapat dugaan bahwa pembelian kompulsif merupakan sebuah gambaran dari perilaku individu yang terisolasi dari lingkungan sosialnya. Isolasi tersebut mendorong individu untuk memiliki perilaku  berlebihan yang tidak diterima secara sosial sehingga menyebabkan mereka mengisolasi dirinya sendiri. Kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain mungkin mendorong para pembeli kompulsif untuk berbelanja pada sebuah toko karena di sana lah merasa merasa mendapatkan perhatian dari tenaga penjual toko.
 d) Materialistis
Faber dan O’Guinn menggunakan materialism scale yang dikemukakan oleh Belk’s untuk menilai nilai materialisme dalam sampel pembeli kompulsif mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa pembeli kompulsif lebih materialistik dibandingkan dengan populasi umum lainnya. Tetapi meskipun demikian, kepemilikan terhadap suatu barang tidak menjadi perhatian utama bagi mereka. Pembeli Kompulsif lebih fokus pada proses berbelanja daripada barang-barang yang mereka beli.
Sementara itu, Kurnia (2013: 3) mengungkapkan faktor-faktor penyebab terjadinya perilaku pembeli kompulsif adalah :
1. Faktor Keluarga Keluarga mempunyai peranan yang sangat penting dalam membantu individu untuk melakukan proses sosialisasi melalui pembelajaran, dan penyesuaian diri dalam berpikir dan juga bertindak di dalam masyarakat. Keluarga yang utuh dan harmonis akan memberikan dampak positif bagi individu dan perilakunya. Robert (dalam Kurnia, 2013: 3) menyatakan bahwa pada beberapa penelitian yang telah dilakukan ternyata pembelian kompulsif dipengaruhi oleh perilaku dari anggota keluarga yang lain.
2. Faktor Psikologi
Pembelian kompulsif terjadi karena ketegangan psikologi yang menyebabkan meningkatnya keinginan seseorang untuk melakukan pembelian saat itu juga. Dengan kata lain, hasrat untuk melakukan pembelian pada pembeli kompulsif lebih disebabkan oleh dorongan psikologis dari dalam diri mereka.
3. Faktor Sosiologi
Robert (dalam Kurnia, 2013: 3) menyatakan bahwa terdapat pengaruh tayangan televisi, teman sebaya, frekuensi berbelanja, serta kemudahan mengakses dan menggunakan kartu kredit pada pembelian kompulsif.
4. Faktor Situasional
Faktor situasional merupakan faktor eksternal yang muncul karena seseorang melakukan kontak dengan lingkungan dan produk yang nantinya dapat menyebabkan pembelian impulsif dan pembelian kompulsif. Faktor situasional membuat konsumen melakukan pengambilan keputusan di dalam toko pada saat itu juga (Gor dalam Kurnia, 2013: 3).
 5. Materialisme
Materialistik adalah tingkatan seseorang dianggap sebagai materialis. Konsumen menganggap suatu kepemilikan sebagai suatu yang berharga, maka ia semakin materialistis. Demikian juga sebaliknya.  Kemudian, Sari (2013: 6) mengungkapkan 5 dimensi dari perilaku pembelian kompulsif yang terdiri dari :
 1. Tendency to Spend
Yaitu sebagian besar mengarah pada kecenderungan seseorang untuk melakukan aktivitas berbelanja dan lebih sering menghabiskan uang, dimana ada episode tertentu pada aktivitas berbelanjanya.
2. Drive To Spend
 Mendeskripsikan tentang adanya dorongan, preokupasi (pemusatan pikiran pada satu hal tertentu), kompulsif (dilakukan secara berulang-ulang) dan adanya perilaku impulsif dalam berbelanja.
3. Feelings about Shopping
 Mendeskripsikan seberapa besar seseorang menikmati aktivitas berbelanja dan menghabiskan waktunya untuk berbelanja.
4. Dysfunctional Spending
Mendeskripsikan bahwa disfungsinya lingkungan dapat menyebabkan atau menggiring seseorang untuk melakukan aktivitas berbelanja dan menghabiskan waktunya untuk berbelanja.
5. Post Purchase Guilt
Menjelaskan bahwa ada Perasaan menyesal dan pengalaman yang memalukan setelah melakukan aktivitas berbelanja.

Tingkatan Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

Edwards (dalam Poetra, 2012: 4) mengklasifikasikan konsumen berdasarkan tingkat kompulsivitas dalam berbelanja, yaitu:
 1. Low (Borderling) Level Konsumen dengan tingkat berbelanja ini adalah seorang yang berada di antara menghibur diri dan menghamburkan uang.
2. Medium (Compulsive) Level Konsumen dengan tingkat berbelanja ini sebagian besar berbelanja untuk menghilangkan kecemasan.
3. High (Addicted) Level Pada tingkatan ini seseorang yang berbelanja sebagian besar untuk menghilangkan kecemasan, tetapi pada addicted level ini seseorang memiliki perilaku berbelanja yang ekstrim

Hal-hal yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian Kompulsif (Skripsi dan tesis)

 Hoyer & MacInnis (1997: 527) mengemukakan hal-hal yang dapat mempengaruhi seseorang berperilaku belanja kompulsif adalah sebagai berikut :
1. Para pembeli kompulsif memiliki kepercayaan diri yang rendah. Rendahnya kepercayaan diri mereka ini dilampiaskan dengan cara berbelanja, karena dari aktivitas berbelanja tersebut mereka mendapatkan perhatian lebih, dan penerimaan sosial dari salesperson misalnya.
 2. Faktor personal yang menyebabkan terjadinya perilaku pembelian kompulsif adalah berorientasi pada fantasi. Dengan berbelanja para pembeli kompulsif akan merasa mereka begitu berarti. Perasaan fantasi ini mungkin menjelaskan bagaimana pembeli kompulsif menghindari atau melarikan diri dari pikiran tentang konsekuensi keuangan dari pengalaman berbelanja mereka.
 3. Para pembeli kompulsif cenderung menarik diri dari masyarakat, mereka memiliki teman yang sedikit dan jarang melakukan kontak sosial dengan yang lainnya. Oleh karena itu, mereka melakukan pembelian secara kompulsif dapat memberikan sebuah kepuasan tersendiri. Para pembeli kompulsif merasa bahwa si penjual adalah teman mereka.
4. Pembeli kompulsif lebih memungkinkan berasal dari keluarga yang ratarata anggota keluarganya pun berperilaku kompulsif atau kecanduan berbelanja

Definisi Pembelian Kompulsif (Skripsi dan tesis)

 Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh beberapa individu di masa perkembangan dunia mode pakaian saat ini adalah bahwa mereka membeli secara kompulsif, yakni mereka membeli sesuatu yang tidak terlalu dibutuhkan, membeli karena situasi, dan bahkan mereka berbelanja secara berlebihan (Hoyer & MacInnis, 1997 : 526). Pembelian kompulsif didefinisikan sebagai respon dari keinginan atau dorongan yang tidak terkendali untuk mendapatkan, menggunakan, atau memahami perasaan, hakekat atau aktivitas yang menjadi petunjuk bagi seseorang untuk secara berulang/terus-menerus melakukan pembelian produk yang tidak terlalu dibutuhkan dalam jangka waktu yang cukup lama akibat dari 13 adanya perasaan negatif, depresi, rasa stres, rasa bosan akan aktivitasnya seharihari dengan tujuan utamanya adalah mencari kesenangan pada proses pembeliannya, bukan pada produknya (Sharma dkk, 2009 : 110 ; Gupta, 2013 : 44 ; Faber & O’Guinn, 1989 : 148 ; Dittmar, 2005 : 469 ; dan Kwak et al dalam Poetra, 2012 : 2).
Sementara itu, Hoyer & MacInnis (1997 : 527) menyatakan bahwa pembelian kompulsif memiliki ikatan emosional yang kuat dari adanya perasaan negatif hingga sampai pada pencapaian perasaan positif. Dampak negatif yang kemungkinan besar terjadi apabila perilaku kompulsif ini terus berkembang adalah dari segi finansial, yakni kemungkinan terjadinya pembengkakan hutang dan rendahnya dana yang bisa ditabung (Robert dalam Ekowati, 2009: 3). Sementara itu, Solomon (1992 : 26) menjelaskan bahwa perilaku kompulsif merupakan ketergantungan seseorang terhadap produk atau jasa dan merupakan perilaku belanja yang dilakukan secara berulang dan berlebihan yang dianggap sebagai penangkal ketegangan, kecemasan, depresi, atau kebosanan sehingga produk atau jasa tersebut dapat memberikan kepuasan dan dianggap dapat memecahkan permasalahan yang sedang terjadi. Solomon (1992 : 27) juga mengungkapkan bahwa pembelian kompulsif ini termasuk ke dalam pembelian yang tidak terencana, namun perilaku pembelian kompulsif berbeda dengan perilaku pembelian impulsif. Pembelian impulsif terjadi karena adanya dorongan untuk membeli barang yang bersifat sementara, dan pembeliannya cenderung lebih ke arah produknya. Sedangkan pembelian kompulsif terjadi akibat dari adanya dorongan kuat untuk membeli barang yang berpusat pada proses pembeliannya.
 Pembelian kompulsif dewasa ini sudah menjadi fenomena yang semakin berkembang, dan menjadi masalah yang penting dalam dunia pemasaran dan dalam bidang ilmu perilaku konsumen, khususnya mengenai perilaku pembelian kompulsif. Valence (Gupta, 2013 : 45) mengungkapkan bahwa terdapat dua faktor utama pemicu seseorang berperilaku kompulsif, yaitu yang pertama adalah faktor sosial budaya (budaya, lingkungan komersial, dan kegiatan periklanan), dan yang kedua adalah faktor psikologis (personaliti, inteaksi lingkungan, keluarga, dan faktor genetik). Sementara itu, penjualan yang menarik, display toko yang menarik, dan pelayan toko yang perhatian, serta kredit yang mudah memungkinkan seseorang untuk berperilaku kompulsif (Hoyer & McInnis dalam Gupta, 2013 : 45). Gilbert dan Jackaria (Gupta, 2013 : 45) mengemukakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian kupon, diskon harga, pemberian sampel, dan pembelian buy one get one free terhadap terjadinya perilaku kompulsif. Hal serupa diungkapkan pula oleh Rajagopal, dan Faber & O’Guinn (Gupta, 2013 : 45) bahwa terdapat hubungan antara pembelian kompulsif dan stimulus eksternal, seperti promosi penjualan dan tawar menawar dalam penjualan retail, kemudian stimulus di dalam toko termasuk display toko, display promosi diskon, dan penerapan harga yang rendah sehingga membentuk suatu atmosfer toko yang kondusif yang mampu meningkatkan gairah emosional pengunjung dalam berbelanja secara kompulsif. Perasaan gairah, eksitasi, persepsi terhadap pandangan, suara, dan perasaan yang kuat dan disukai merupakan faktor penting dalam perilaku pembelian kompulsif (Faber & O’Guinn, 1989 : 156). Loudon dan Bitta (1993 : 563) juga mengungkapkan bahwa terdapat beberapa karakteristik produk, pemasaran, dan karakteristik konsumen yang berhubungan dengan pembelian tak terencana. Karakteristik produk mempengaruhi terjadinya pembelian tak terencana lantaran produk tersebut memiliki harga yang rendah, pendeknya usia produk, adanya kebutuhan, dan akses yang memudahkan seseorang untuk pergi ke toko. Kemudian pemasaran berpengaruh terhadap terjadinya pembelian spontan adalah adanya iklan yang menarik, display toko, dan pelayanan. Sementara itu, karakteristik konsumen seperti usia seseorang, adanya daftar belanja, tujuan berbelanja, dan frekuensi berbelanja juga mempengaruhi seseorang untuk melakukan pembelian tak terencana.
Perilaku pembelian kompulsif merupakan bagian dari pembelian impulsif (Kurniawan dan Suparna, 2012: 3). Perilaku impulsif yang dilakukan berkali-kali dan dalam jangka waktu yang lama menimbulkan suatu perilaku pembelian yang diberi nama perilaku pembelian kompulsif (Larasati dan Budiani, 2014: 14). Pada dasarnya pembelian impulsif dan pembelian kompulsif hampir sama. Perbedaannya adalah pembelian impulsif lebih cenderung menyukai produknya, sedangkan pembelian kompulsif lebih cenderung menyukai kegiatan berbelanjanya (Kurnia, 2013: 2). Larasati dan Budiani (2014 : 15) mengatakan bahwa perilaku kompulsif dapat berasal dari semua golongan ekonomi. Seseorang yang kompulsif adalah seorang yang pemboros yang dicirikan sebagai seseorang yang menghabiskan uang dengan cepat, dan mereka membentuk citra diri bahwa orang lain harus mengagumi mereka dengan segala yang dimilikinya. Perilaku berbelanja kompulsif atau disebut juga shopping addiction merupakan sebutan bagi mereka yang mengalami shopaholic (Poetra, 2012: 2 ; Sharma dkk, 2009 : 110). Shopaholic merupakan istilah medis untuk seseorang yang memiliki keinginan atau hasrat berbelanja secara kompulsif yang berasal dari bahasa 16 Yunani “Oniomania” , yakni “Onios” (belanja) dan “Mania” (Gila) (Sharma dkk, 2009 : 110). Kegiatan berbelanja ini pada umumnya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Namun untuk beberapa orang kegiatan berbelanja merupakan kegiatan yang menyenangkan, dianggap sebagai alat mengatur emosi, ataupun cara untuk mengekspresikan diri, dan biasanya kegiatan berbelanja tersebut tidak terkontrol dan bahkan memberikan dampak negatif. Kegiatan berbelanja yang demikian inilah disebut sebagai perilaku pembelian kompulsif, addictive buying, excessive buying, shopping addiction, spendaholism, shopaholic, dan addictive consumption (Koran dalam Poetra, 2012: 2 ; Sharma dkk, 2009 : 110 ; Solomon, 1992 : 26).
Marlatt (dalam Poetra, 2012: 4) juga menambahkan bahwa perilaku adiktif tersebut biasanya dialami secara subyektif “loss of control” yakni dimana perilaku tersebut terus muncul meskipun telah adanya usaha untuk menghentikannya. Perilaku kompulsif ini biasanya terjadi pada seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah, tingkat berkhayal yang tinggi, dan tingkat depresi, kecemasan, dan obsesi yang tinggi (Rajagopal dalam Larasati dan Budiani, 2014 : 15) sehingga untuk mengurangi perasaan negatif tersebut ia melakukan pembelian kompulsif (Gupta, 2013 : 44). Tujuan dari adanya pembelian kompulsif tersebut adalah untuk menarik perhatian lingkungannya, untuk diakui oleh lingkungan sekitarnya, untuk meningkatkan rasa percaya diri, serta untuk membentuk citra diri individu melalui barang-barang konsumsi pribadi (consumer goods), seperti pakaian, fashion, dan produk yang mampu meningkatkan penampilan diri seseorang, bukan produk makanan, minuman atau belanja kebutuhan rumah 17 tangga (Kaser & Ryan dalam Gupta, 2013 : 44 ; Dittmar, 2005 : 468). Robert & Pirog mengemukakan bahwa wanita menempati posisi paling atas dalam hal mementingkan penampilan menarik dibandingkan dengan pria dan wanita juga lebih sering melakukan pembelian kompulsif dalam bentuk pakaian dan kosmetik (Gupta, 2013 : 44). Akan selalu ada dampak yang diakibatkan dari segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan. Begitu pun dengan perilaku kompulsif. Gwin et al (dalam Sari, 2012: 2) menjelaskan adanya dampak positif dan dampak negatif dari adanya perilaku pembelian kompulsif. Dampak positif dari perilaku pembelian kompulsif dalam jangka pendek adalah kepuasan dan kesenangan yang langsung dapat dirasakan dari aktivitas pembelian tersebut. Perlu diperhatikan bahwa para pembeli kompulsif tidak melakukan pembelian semata-mata hanya untuk mendapatkan suatu produk tertentu, tetapi lebih kepada hasrat untuk mencapai kepuasan dan kesenangan melalui proses pembelian yang dilakukan oleh si individu. Sementara itu, untuk jangka panjangnya perilaku pembelian kompulsif ini akan memberikan dampak negatif bagi si individu karena proses pembelian yang dilakukan secara berlebihan dan berulang-ulang tersebut akan menyebabkan masalah keuangan, kebangkrutan, hutang yang menumpuk, keretakan rumah tangga, terganggunya pekerjaan dan sebagainya (Gwin et al dalam Sari, 2012: 2 ; McElroy dalam Sharma dkk, 2009: 110). Dittmar (2005 : 470) mengungkapkan bahwa pembeli kompulsif berbelanja di atas batas kemampuan mereka karena termotivasi oleh tingginya keinginan mereka untuk memiliki harta benda, dan  menganggap bahwa kepemilikan harta benda tersebut merupakan tolok ukur identitas diri, keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup

Definisi Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Definisi perilaku konsumen menurut Umar (2005: 50) adalah suatu tindakan langsung dalam mendapatkan, mengkonsumsi, serta menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan penyusuli tindakan tersebut. Sementara itu, Schiffman dan Kanuk (Sumarwan, 2003: 25) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai perilaku yang mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan akan memuaskan kebutuhan mereka. Jadi dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen ini adalah kegiatan konsumen dalam membeli dan menggunakan produk/jasa dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen yang kemudian di akhiri dengan hasil evaluasi konsumen terhadap produk/jasa tersebut.

Hubungan antara Self Esteem dengan Compulsive Buying (skripsi dan tesis)

Self esteem didefinisikan sebagai evaluasi mengenai diri individu dan keyakinan pribadi individu tentang keterampilan, kemampuan, hubungan sosial, dan hasil masa depan (Heatherton & Polivy dalam Lopez & Snyder, 2003). Aspek-aspek self esteem terbagi menjadi 3 yaitu : (a) Physical self esteem, (b) Social self esteem, (c) Performance self esteem (Heatherton & Polivy dalam Lopez & Snyder, 2003). 29 Aspek physical self esteem berhubungan dengan kondisi fisik yang dimiliki oleh individu, termasuk daya tarik fisik, citra tubuh, perasaan mengenai ras dan etnis. Aspek ini juga merupakan keadaan dimana individu mampu untuk menerima keadaan fisiknya. Kepuasan wanita akan diri mereka banyak dipengaruhi oleh seberapa sering kecantikan ideal yang terpapar dimedia massa terekspos. Hal ini dapat berimbas pada kecenderungan wanita untuk merasa tidak puas dengan penampilan mereka (Clay dkk., 2005). Hal ini terbukti oleh hasil wawancara yang dilakukan Dittmar dan Drury (2000) kepada beberapa wanita dewasa awal yang salah satu dari mereka berprofesi sebagai mahasiswi, menyatakan bahwa kebanyakan dari mereka mengaku berbelanja karena merasa barang-barang yang ia beli akan mempercantik dirinya. Ketika muncul penilaian negatif mengenai dirinya akan penampilan dan daya tarik fisik individu, maka mereka akan mencari cara untuk mengubah penilaian tersebut dengan mencari dukungan eksternal yang dinilai memiliki kekuatan yang lebih besar dari diri mereka, serta dapat memberikan rasa aman, kenyamanan, kesenangan, yang dalam penelitian ini adalah berbelanja. Aktivitas berbelanja diasosiasikan dengan perasaan berharga, kebahagiaan, serta kekuatan yang secara langsung dapat memuaskan individu (Scherhorn dalam Kurnia, 2012).

 Berbelanja memang memiliki manfaat psikologis yang mampu melepas emosi negatif menjadi emosi yang positif (Dittmar, 2005). Namun perilaku tersebut hanya membawa efek positif yang sifatnya hanya sementara saja. Apabila kegiatan membeli dalam rangka menjadikan penampilan mereka lebih menarik dan diterima oleh orang-orang 30 disekitarnya melalui pembelian produk sukses, maka kebiasaan dalam pembelian tersebut akan semakin kuat dan akan menjadi perilaku yang akan terus berulang. Kegiatan pembelian berulang yang tidak terkontrol biasa disebut dengan compulsive buying (Maisyaroh dalam Islami & Satwika, 2018). Aspek social self esteem berhubungan dengan kemampuan individu dalam bersosialisasi dengan lingkungannya diantaranya adalah tentang pergaulan individu. Selain itu, aspek ini juga merupakan persepsi individu tentang penerimaan orang lain terhadap dirinya. Individu yang memiliki self esteem sosial yang tinggi memiliki keyakinan bahwa mereka adalah orang yang berharga, dihargai dan diterima oleh orang lain. Sementara individu yang harga diri sosialnya rendah sering mengalami kecemasan sosial, yaitu kecemasan akan penilaian orang lain terhadap diri mereka. Wanita cenderung lebih memperhatikan identitas diri mereka daripada pria, akibatnya identitas diri mereka pun lebih rentan terancam (Dittmar, 2005). Berbelanja dapat dengan mudah menjadi pelarian bagi individu dengan self esteem rendah karena dapat merepresentasikan status sosial dan citra diri (Dittmar, 2005). Ketika berbelanja, rasa cemas, sedih, perasaan inferior yang dimiliki akan sedikit demi sedikit hilang dan digantikan dengan perasaan senang serta mampu untuk melupakan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-harinya. Perilaku belanja ini memberikan efek positif meskipun hanya bersifat sementara, yaitu yang membuat individu dapat memberikan perasaan bahagia ketika sedang berbelanja hal yang disukai (Kothari & Mallik, 2015).

 Lingkungan kampus juga merupakan faktor utama seseorang diwajibkan untuk mampu beradaptasi agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan bersosialiasi (Islami & Satwika, 2018). Ditambah lagi mahasiswi memiliki potensi yang besar untuk terus berbelanja kompulsif, karena mahasiswi mulai mengikuti pergaulan masyarakat kota yang mengarah pada kebutuhan hidup tingkat modern, seperti dalam hal penampilan, pembelian produk tertentu yang sedang trend, maupun aktivitas lainnya yang berdasarkan trend masa kini dan sesuai dengan gaya hidup mahasiswi perkotaan. Individu akan merasa seolah dirinya berkuasa dan memiliki kedudukan penting yang kemudian menimbulkan perasaan positif akan dirinya terhadap sekitarnya (Kothari & Mallik, 2015). Perilaku belanja ini akan kembali dilakukan ketika individu merasa nyaman dengan aktivitas belanja tersebut. Individu yang berhasil dapat merubah perasaan negatif menjadi positif dengan aktivitas belanja, maka akan cenderung kembali melakukan aktivitas belanja berulang yang disebut dengan perilaku pembelian kompulsif (Islami & Satwika, 2018).

 Aspek performance self esteem berhubungan dengan penilaian seseorang terhadap kompetensi secara umum yang dimilikinya, meliputi kemampuan intelektual, kinerja sekolah, kapasitas pengaturan diri, kepercayaan diri. Individu yang memiliki self esteem tinggi percaya bahwa dirinya merupakan orang yang cerdas. Mahasiswi yang memiliki penilaian negatif akan dirinya baik itu tidak memiliki kepercayaan diri dan tidak meyakini bahwa mereka merupakan orang yang cerdas, mereka individu akan mencari cara untuk mengubah penilaian dan pemikiran tersebut dengan mencari dukungan eksternal yang dapat memberinya  emosi positif, dalam hal ini cara tercepat adalah melalui berbelanja (Christensen dkk., dalam Workman & Paper, 2010). Ketika individu melakukan pembelian, individu akan merasa diri mereka kompeten, terlebih jika ia dapat membeli barang-barang dari merk ternama atau tergolong mahal (Dittmar, 2005). Dittmar & Beattie (dalam Lee & Workman, 2015) turut berpendapat jika pakaian, tas, dan sepatu memiliki nilai simbolis dalam peningkatan self esteem individu. Salah satu contoh nyata diperoleh dalam penelitian Dittmar & Drury (2000) yaitu dimana sebagian besar compulsive buyer berbelanja consumer goods karena merasa barang-barang tersebut akan menunjukkan kesan jika dirinya mampu secara ekonomi, memiliki kedudukan sosial tinggi dan terlihat lebih baik. Keadaan sebelum mereka berbelanja dan setelah berbelanja akan terlihat bedanya. Setelah melakukan pembelanjaan individu akan merasa bahwa dirinya berharga, dihargai, dan diterima oleh orang lain. Namun jika kegiatan pembelian tersebut semakin kuat dan berulang maka pada akhirnya akan menjadi kebiasaan membeli yang kompulsif atau compulsive buying. Semua aspek yang telah disebutkan diatas memiliki keterkaitan satu sama lain yang dapat mempengaruhi compulsive buying pada mahasiswi dewasa awal. Mahasiswi dewasa awal yang memiliki self esteem tinggi akan merasa bahwa dirinya berharga, dihargai, diterima oleh orang lain, memiliki citra diri yang baik, dan memiliki kepercayaan diri sehingga tidak melakukan kegiatan belanja berulang yang disebut dengan compulsive buying. Sedangkan mahasiswi dewasa awal yang memiliki self esteem rendah akan merasa bahwa dirinya tidak berharga, tidak dihargai, tidak diterima oleh orang lain, tidak memiliki kepercayaan diri, dan 33 menilai bahwa citra diri yang dimilikinya buruk sehingga cenderung kembali melakukan aktivitas belanja berulang yang disebut dengan compulsive buying

Aspek-aspek Self Esteem (skripsi dan tesis)

 Menurut Heatherton & Polivy (dalam Lopez & Snyder, 2003) terdapat tiga aspek dalam self esteem individu, yaitu:
 a. Physical self esteem
 Aspek ini berhubungan dengan kondisi fisik yang dimiliki oleh individu, termasuk daya tarik fisik, citra tubuh, perasaan mengenai ras dan etnis. Aspek ini juga merupakan keadaan dimana individu mampu untuk menerima keadaan fisiknya.
b. Social self esteem
Aspek ini berhubungan dengan kemampuan individu dalam bersosialisasi dengan lingkungannya diantaranya adalah tentang pergaulan individu. Selain itu, aspek ini juga merupakan persepsi individu tentang penerimaan orang lain terhadap dirinya. Individu yang memiliki self esteem sosial yang tinggi memiliki keyakinan bahwa mereka adalah orang yang berharga, dihargai dan diterima oleh orang lain. Sementara individu yang harga diri sosialnya rendah sering mengalami kecemasan sosial, yaitu kecemasan akan penilaian orang lain terhadap diri mereka.
 c. Performance self esteem
Aspek ini berhubungan dengan penilaian seseorang terhadap kompetensi secara umum yang dimilikinya, meliputi kemampuan intelektual, kinerja sekolah, kapasitas pengaturan diri, kepercayaan diri. Individu yang memiliki self esteem tinggi percaya bahwa dirinya merupakan orang yang cerdas. Sedangkan menurut Coopersmith (1967) aspek-aspek dalam self esteem terdiri dari:
1) Keberhasilan Diri
Keberhasilan mempunyai arti berbeda untuk masing‐masing individu. Bagi beberapa orang keberhasilan diwakili oleh penghargaan yang berupa materi dan popularitas. Ada empat area keberhasilan self esteem, yaitu:
a. Significance
 Significance merupakan penerimaan perhatian dan kasih sayang dari orang lain. Penerimaan dan perhatian ditandai dengan adanya kehangatan, tanggapan, minat, serta rasa suka terhadap individu sebagaimana individu itu sebenarnya. Penerimaan dan perhatian juga tampak dalam pemberian dorongan dan semangat ketika individu membutuhkan dan mengalami kesulitan, minat terhadap kegiatan dan gagasan individu, ekspresi kasih sayang dan persaudaraan, disiplin yang relatif ringan, verbal dan rasional, serta sikap yang sabar. Semakin banyak eskpresi kasih sayang yang diterima individu, maka individu akan semakin merasa berarti dan berharga. Tetapi apabila individu jarang atau bahkan tidak memperoleh stimulus positif dari orang lain, maka individu akan merasa di tolak dan mengisolasi diri dari pergaulan.
b. Power
Power menunjukkan suatu kemampuan untuk bisa mengatur dan mengontrol tingkah laku orang lain berdasarkan pengakuan dan rasa hormat yang diterima individu dari orang lain. Kesuksesan dalam area power diukur dengan kemampuan individu dalam mempengaruhi arah tindakan dengan mengendalikan perilakunya sendiri dan orang lain. Power meliputi penerimaan, perhatian, dan perasaan terhadap orang lain.
 c. Competence
Competence dimaksudkan sebagai keberhasilan dalam mencapai prestasi sesuai tuntutan, baik tujuan atau cita-cita, baik secara pribadi maupun yang berasal dari lingkungan sosial. Kesuksesan dalam area competence ditandai dengan tingginya tingkat performa, sesuai dengan tingkat kesulitan tugas dan tingkat usia.
d. Virtue Menunjukkan adanya suatu ketaatan untuk mengikuti standar moral, etika, dan agama. Seseorang yang mengikuti kode etik dan moral yang telah diterima dan terinternalisasi di dalam diri berasumsi bahwa perilaku diri yang positif ditandai dengan keberhasilan memenuhi kode tersebut. Perasaan penghargaan terhadap diri seringkali diwarnai dengan kebajikan, ketulusan, dan pemenuhan spiritual.
 2) Nilai dan Aspirasi
 Nilai diperoleh dari pengalaman dan yang ditanamkan oleh orangtua sejak kecil pada individu. Penilaian atau evaluasi diri individu ditentukan oleh keyakinan-keyakinan individu mengenai cara orang lain mengevaluasi dan memberikan penilaian atas diri individu tersebut. Penilaian dari lingkungan tersebut akan menginternalisasi dan menjadi batasan tingkah laku individu. Penilaian terhadap kesuksesan dan kegagalan dalam melakukan sesuatu sebagai bagian dari identitas diri dan dapat membuat individu merasa berharga, baik secara pribadi maupun secara sosial. Individu yang mempunyai self esteem rendah akan mempunyai tingkat aspirasi rendah. Sebaliknya, individu yang mempunyai self esteem tinggi akan mempunyai aspirasi yang tinggi.
3) Pertahanan
 Pertahanan diwakili oleh kemampuan individu untuk berusaha melawan perasaan ketidakmampuan dalam melakukan sesuatu. Individu dengan self esteem yang tinggi akan mempertahankan kemampuan dalam bersaing. Individu tersebut mampu mengekpresikan atau mempertahankan diri serta mampu mengatasi kelemahan yang dimiliki. Individu yang memiliki self esteem tinggi juga mampu mengatasi penyebab stres, situasi yang sulit atau membingungkan, dan mempunyai aspirasi serta tujuan di dalam hidupnya. Individu dengan self esteem tinggi membangun pertahanan di dalam dirinya dengan cara memberikan kepercayaan dan dukungan kepada orang lain, bahwa orang lain juga memiliki kemampuan yang sama dengan dirinya. Dalam hal ini, pertahanan yang dimaksud tidak hanya mengatasi kecemasan tetapi  juga kemampuan untuk memimpin orang lain secara aktif dan asertif. Sebaliknya, individu dengan self esteem yang rendah tidak mampu mempertahankan kemampuan yang dimiliki dan cenderung kalah dalam persaingan serta sulit mengatasi kecemasan dan tidak mampu menjadi pemimpin yang aktif dan asertif.

Pengertian Self Esteem (skripsi dan tesis)

Heatherton & Polivy (dalam Lopez & Snyder, 2003) mendefinisikan self esteem sebagai evaluasi mengenai diri individu dan keyakinan pribadi individu tentang keterampilan, kemampuan, hubungan sosial, dan hasil masa depan. Coopersmith (1967) mengemukakan bahwa self esteem adalah penilaian diri yang dilakukan oleh individu yang berkaitan dengan dirinya sendiri, yang mencerminkan sikap penerimaan dan penolakan, dan menujukkan seberapa jauh individu tersebut percaya bahwa dirinya mampu, penting, berhasil, serta berharga. Sedangkan menurut Baron & Byrne (2005) self esteem adalah evaluasi diri yang dibuat oleh masing-masing individu; sikap seseorang terhadap dirinya sendiri di sepanjang dimensi positif-negatif. Semakin tinggi self esteem yang dimiliki seseorang maka akan mampu untuk menghadapi masalah personal dalam kehidupannya dan dapat segera bangkit dari kegagalan. Sebaliknya, jika self esteem yang rendah dikarakteristikan dengan tingginya tingkat kecemasan, depresi, dan stres dimana inividu ini cenderung untuk menggunakan berbagai cara, seperti taktik pertahanan diri, agar dapat melupakan masalah personal dihidupnya 24 daripada mengatasinya (Baron & Byrne, 2005). Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa self esteem evaluasi mengenai diri individu dan keyakinan pribadi individu tentang keterampilan, kemampuan, hubungan sosial, dan hasil masa depan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Compulsive Buying (skripsi dan tesis)

Menurut DeSarbo dan Edwards (1996) faktor-faktor yang mempengaruhi compulsive buying adalah : 1) Predispositional factors, yaitu konstruk-konstruk yang mempengaruhi individu untuk melakukan pembelian kompulsif dan mengindikasikan kecenderungan secara umum yang mengarah pada pembelian kompulsif. Predispositional factors meliputi:
 a. Self esteem
 Self esteem didefinisikan sebagai evaluasi diri individu (persetujuan atau ketidaksetujuan) dan sejauh mana orang itu percaya dirinya berharga (Coopersmith, 1990). Individu yang memiliki self esteem yang rendah akan memiliki kecenderungan untuk melakukan pembelian kompulsif. Pembeli yang kompulsif mencari self esteem, kepercayaan diri, dan kekuatan pribadi melalui aktivitas belanja. Self esteem yang rendah tidak hanya menjadi penyebab individu melakukan pembelian tetapi juga sebagai konsekuensi dari siklus kecanduan tersebut. Pada akhirnya individu mengalami ketakutan dan rasa bersalah karena ketidakmampuan untuk mengontrol perilaku pembeliannya. Karena itu, semakin ekstrem perilaku pembelian atau berbelanja yang dilakukan oleh individu maka semakin rendah self esteem individu tersebut.
 b. Kecemasan
Pembeli kompulsif cenderung lebih cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pembeli non kompulsif. Individu dengan perasaan negatifnya yaitu kecemasan akan mencari jalan keluar bagaimana mereka bisa lolos dari perasaan tersebut. Individu menggunakan aktivitas berbelanja sebagai pereda rasa cemas yang sedang dirasakan karena sudah diyakini bahwa aktivitas berbelanja merupakan kegiatan yang menyenangkan (Christensen dalam Workman & Paper, 2010).  Pembeli kompulsif menggunakan kecemasan sebagai motivasi utama untuk melakukan pembelian kompulsif agar keluar dari perasaan yang tidak menyenangkan tersebut. Aktivitas berbelanja yang individu lakukan hanya membawa perasaan bahagia dan menyenangkan sementara, sehingga pada saat individu merasakan perasaan negatif lagi maka mereka akan melakukan kegiatan berbelanja terus-menerus hingga tidak disadari bahwa mereka compulsive buying.
c. Perfeksionisme
 Perfeksionisme dicirikan dengan individu yang memiliki harapan yang terlalu berlebihan untuk mencapai suatu pencapaian yang lebih besar. Individu yang perfeksionis melakukan pembelian kompulsif untuk mendapatkan otonomi, kompetensi, dan self esteem walaupun hanya untuk sementara. Individu akan terus melakukan pembelian untuk mencapai dan memenuhi ekspektasi yang ada dalam dirinya. d. Fantasi Pembeli kompulsif cenderung memiliki khayalan mengenai grandiosity dan kebebasan akibat dari suatu perilaku yang dilakukan. Letak fantasi tersebut berada pada saat ketika individu melakukan aktivitas berbelanja maka seakan-akan masalah yang dihadapi menghilang. Maka dari itu individu memiliki peluang besar untuk melakukan aktivitas berbelanja lagi dalam rangka mengatasi masalah yang sedang dihadapi. 18 e. Impulsivitas Pembelian kompulsif dideskripsikan dalam penelitian kejiwaan dan konsumen sebagai sebuah impulse-control disorder. Perilaku pembelian kompulsif dapat dikatakan sebagai sebuah perilaku yang tidak dapat dikendalikan karena dorongan yang terlalu kuat untuk berperilaku. Individu yang kompulsif juga impulsif karena impulsif merupakan bagian dari kompulsif. Impulsivitas berpengaruh terhadap compulsive buying karena di picu oleh rangsangan eksternal, dengan kata lain impulsive buying dapat diasosiasikan sebagai compulsive buying namun pada level rendah.
f. Kompulsivitas umum
 Karakteristik kepribadian yang spesifik seperti prokrastinasi dan keragu-raguan, dikaitkan dengan individu yang menunjukkan perilaku kompulsif (Kernberg dalam DeSarbo & Edwards, 1993). Karakteristik-karakteristik ini merepresentasikan tingkat kompulsif umum yaitu suatu sifat yang ada pada individu yang memperlihatkan segala jenis perilaku kompulsif. Jadi pembeli kompulsif menjadi kompulsif tidak hanya tentang belanja tetapi juga dalam arti umum. Mengingat kecenderungan individu yang kompulsif adalah mencari aktivitas untuk meredakan ketegangan, kompulsivitas umum juga dapat menjadi indikator perilaku nyata seperti gangguan makan, alkoholisme, kecanduan narkoba, dan sebagainya.
 g. Dependence
 Individu yang kompulsif diharapkan menunjukkan kepribadian yang tergantung. Mereka cenderung bergantung pada orang lain untuk menentukan perilaku mereka sendiri, didorong untuk untuk terlihat berharga di mata orang lain, atau khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan tentang mereka dalam menentukan perilaku mereka sendiri (O’Guinn & Faber, 1989). Pada faktor ini individu yang kompulsif diartikan kompulsif dalam hal ketergantungan, mereka akan selalu bergantung untuk menentukan perilaku mereka sendiri di hadapan orang lain.
h. Approval seeking
Pembeli kompulsif memiliki kebutuhan untuk mendapatkan pujian dari individu lain dalam rangka membuat diri sendiri menjadi bahagia. Jadi kebutuhan untuk menerima pujian dari individu lain walaupun hanya untuk sementara waktu, hal tersebut dapat memicu terjadinya pembelian kompulsif. Individu melakukan kegiatan berbelanja guna mendapatkan pujian dari orang lain (O’Guinn & Faber dalam DeSarbo & Edwards, 1996). Kegiatan berbelanja akan terus berulang ketika individu merasa berhasil dan meyakini bahwa dengan kegiatan berbelanja yang mereka lakukan bisa mendatangkan perasaan bahagia dengan mendapatkan pujian dari orang lain karena perilaku berbelanja yang mereka lakukan.
 i. Locus of control
 Pembeli yang kompulsif memiliki kebutuhan besar untuk mendapatkan kendali dalam kehidupan mereka untuk menghadapi rasa tidak aman, ketakutan, dan kecemasan. Pembeli kompulsif terjebak dalam siklus dimana kecanduan berbelanja yang mereka lakukan memberikan pelarian sementara. Pembeli kompulsif juga dipengaruhi oleh lingkungan, menganggap hadiah dan bergantung pada kekuatan luar daripada pada perilaku mereka sendiri. Hirschmam (1992) mengidentifikasi konsumen kompulsif yang tertekan sebagai individu yang kecanduan yang merasa tidak mampu mengelola emosi mereka melalui sarana internal lalu beralih ke substansi atau perilaku eksternal untuk membuat mereka merasa lebih mengendalikan diri mereka sendiri. Pada akhirnya pembeli kompulsif dapat menganggap diri mereka dikendalikan secara eksternal, dan mereka mencari rasa kontrol melalui aktivitas pengeluaran yaitu dengan cara berbelanja.
 2) Circumstansial factors, yaitu faktor yang dihasilkan dari kondisi individu pada saat ini dan juga dapat memicu munculnya perilaku-perilaku pembelian kompulsif selanjutnya. Circumstansial factors meliputi:
 a. Avoidance coping
Coping berfokus pada kognitif dan usaha dalam keseharian dalam rangka untuk mengelola konflik eksternal dan internal yang membebani individu (Cohen, 1987). Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana individu menghadapi situasi yang terlalu stres atau  kegelisahan yang berlebihan. Avoidance coping adalah kecenderungan untuk menggunakan metode coping dengan cara menghindar, mungkin berhubungan dengan apakah seseorang memiliki kecenderungan untuk berperilaku pembelian kompulsif atau adiksi berbelanja. Pengeluaran ekstrem yang dilakukan mungkin memiliki kecenderungan terhadap penghindaran yang berulang kali yang dinyatakan sebagai pembelian kompulsif, sehingga dengan kata lain pembelian kompulsif adalah mekanisme dari avoidance coping.
b. Denial
Merupakan penyangkalan yang dilakukan terhadap permasalahan yang dihadapi. Pembeli kompulsif memiliki kecenderungan untuk menyangkal keberadaan dari permasalahan yang dihadapinya. Bagi pembeli kompulsif, denial adalah cara untuk menghidari rasa cemas, marah, takut, dan emosi lainnya yang biasanya tidak ada hubungan dengan kegiatan berbelanja.
c. Isolation
Terdapat dugaan bahwa pembelian kompulsif merupakan sebuah gambaran dari perilaku seorang individu yang terisolasi dari lingkungan sosialnya. Isolasi tersebut mendorong beberapa individu untuk memiliki perilaku berlebihan, dan perilaku berlebihan yang tidak diterima secara sosial menyebabkan beberapa individu untuk mengisolasi dirinya sendiri. Kebutuhan untuk berkomunikasi dengan individu lain mendorong pembeli kompulsif untuk berbelanja di suatu toko, karena pembeli mendapatkan perhatian dari tenaga penjual toko dan merasakan hubungan tersebut.
d. Materialisme
Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa pembeli kompulsif cenderung lebih materialistik dibandingkan dengan pembeli nonkompulsif. Tetapi kepemilikan bukanlah fokus utama dari pembeli kompulsif. Pembeli kompulsif lebih terfokus pada proses berbelanja yang sedang berlangsung

Aspek-aspek Compulsive Buying (skripsi dan tesis)

Menurut Edwards (1993) berpendapat bahwa aspek-aspek dari compulsive buying terdiri dari: 1) Tendency to spend Pada aspek ini menjelaskan tingkat kecenderungan individu untuk berbelanja dan membeli secara berlebihan atau yang disebut sebagai “periode dalam berbelanja”. Aspek ini ditandai dengan banyaknya perilaku pembelian berulang yang sering dilakukan. 2) Compulsion / drive to spend Pada aspek ini mengukur tingkat dorongan yang terdapat dalam diri individu, tingkat dorongan dalam diri tersebut meliputi tingkat perasaan positif, tindakan kompulsi, dan impulsivitas dalam berbelanja, serta mengetahui bagaimana pola membeli pada individu. Pola dalam membeli ini biasanya dilakukan secara berulang dan cenderung membeli suatu jenis produk yang sama. 3) Feeling (joy) about shopping and spending Pada aspek ini menggambarkan tentang perasaan atau penilaian afektif individu akan aktivitas berbelanja itu sendiri. Individu biasanya cenderung merasakan rasa senang atau bahagia disaat berbelanja. Dimensi ini mengukur seberapa besar individu menikmati kegiatan berbelanja yang dilakukannya. 4) Dysfunctional spending Pada aspek ini menggambarkan masalah yang muncul hasil dari perilaku berbelanja yang dilakukan oleh individu. Masalah yang biasa muncul adalah perilaku berhutang demi membeli barang yang diinginkan akibat dari perilaku belanja individu yang bersangkutan, selain itu menyalahgunakan uang yang tidak diakomodasikan untuk berbelanja. 5) Post-purchase guilt Pada aspek ini menggambarkan perasaan bersalah, menyesal, dan rasa malu yang dirasakan setelah individu melakukan pembelian secara berlebihan. Individu baru merasa bersalah dan menyesal sesaat setelah ia melakukan kegiatan berbelanja yang berlebihan. Mereka tidak memikirkan kebutuhan yang benar-benar mereka butuhkan, melainkan membeli kebutuhan yang sebenarnya hanya memuaskan diri mereka demi mendapatkan kesenangan sesaat. Sejalan dengan aspek-aspek diatas mеnurut Faber, O’Guinn dan Krych (1987) compulsivе buying mеmiliki aspek-aspek sеbаgаi bеrikut: 1) Tendency to spend, pembeli kompulsif mеmpunyаi kеinginаn yаng kuаt untuk mеndаpаtkаn sеsuаtu sehingga para pembeli kompulsif lebih menunjukkan kecenderungan pengeluaran yang lebih tinggi daripada pembeli non kompulsif. 2) Reactive aspect, aspek ini berhubungan dengan respon individu terhadap dorongan kuat untuk membeli. 15 3) Post-purchase guilt, adаnyа pеrаsааn bersalah setelah pembelian yang dilakukan oleh individu. 4) Determined to be family environment, lingkungan berpengaruh terhadap perilaku berbelanja kompulsif yang dilakukan oleh individu (mencakup hubungan diantara anggota keluarga)

Hubungan interpersonal (skripsi dan tesis)

Hubungan interpersonal adalah hubungan yang terdiri atas dua orang atau lebih yang memiliki ketergantungan satu sama lain dan menggunakan pola interaksi yang konsisten. Hubungan interpersonal adalah keadaan dimana kita berkomunikasi dengan orang lain, disini kita tidak hanya menyampaikan apa yang ingin disampaikan tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Oleh karena itu hubungan interpersonal sangat erat kaitannya dengan “komunikasi”. Selain komunikasi yang dibutuhkan ada salah satu dasar untuk membangun hubungan interpersonal adalah ketertarikan dengan orang lain. Dalam buku Weiten (2011:527) Hubungan interpersonal adalah proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. (Muhammad 2005:158). Seseorang melakukan hubungan interpersonal ketika mencoba untuk berinteraksi dengan orang lain. Hubungan interpersonal adalah hubungan yang terdiri atas dua orang atau lebih yang memiliki ketergantungan satu sama lain dan menggunakan pola interaksi yang konsisten. Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas maka variabel hubungan interpersonal dalam penelitian ini dibentuk oleh indikator berikut Sugesti (2012:43) 1. Komunikasi karyawan dengan pelanggannya 2. Karyawan selalu menyapa pelanggannya   3. Kesempatan konsultasi tentang produk dengan karyawan 4. Perasaan pelanggan ketika konsultasi dengan karyawan 5. Hubungan dengan sesama pelanggan 6. Interaksi dengan sesama pelanggan

Daya pikat Produk (skripsi dan tesis)

Daya pikat produk meliputi seberapa banyak sesuatu yang lebih buruk atau lebih baik dalam berbagai dimensi suatu alternatif konsumen akan produk Julander dan Soderlund dalam Taufiq (2007:20). Ketika ada sedikit alternatif sehat atau merasa kinerja atau manfaat dari atribut produk rendah, tingkat kemungkinan untuk tetap mengkonsumsi juga rendah. Jika resiko yang dirasakan lebih besar dari resiko yang dapat diterima, maka konsumen termotivasi untuk mengurangi resiko dengan beberapa cara atau tidak jadi melakukan pembelian. Oleh karena itu konsumen cenderung memperkecil tingkat resiko untuk mencari alternatif merek produk yang terbaik dari beberapa merek yang tersedia di pasar. Lebih lanjut, daya pikat produk berorientasi pada persepsi pelanggan mengenai alternatif pilihan dari persaingan yang ada di pasar. Jones dan Burnham dalam Balabanis dkk, (2006:12) sudah menyoroti bahwa  daya pikat produk merupakan satu faktor penting ketika pelanggan mempertimbangkan perpindahan supplier yang heterogen. Oleh karena itu merek perlu meningkatkan persepsi tentang manfaat perpindahan dalam kaitan dengan temuan suatu alternatif sehingga pelanggan merasa tidak ada manfaat yang dirasakan dari perpindahan merek ketika produk yang disediakan oleh pesaing adalah sama. Berdasarkan pernyataan-pernyataan diatas maka variabel Daya pikat produk dalam penelitian ini dibentuk oleh indikator berikut Ramada (2006:22) : 1. Reputasi produk dibanding provider lainnya 2. Produk adalah merek (brand) yang terkenal dibanding provider lainnya. 3. Kelengkapan layanan produk dibanding provider lainnya. 4. Kualitas layanan sms (short message service quality) produk dibanding provider lainnya. 5. Kualitas suara saat percakapan (call quality) produk dibanding provider lainnya. 6. Kualitas jangkauan (coverage quality) produk dibanding provider lainnya. 7. Kualitas layanan internet produk lebih baik dari operator lain dibanding provider lainnya

Biaya Perpindahan (skripsi dan tesis)

Biaya perpindahan meliputi perjuangan untuk berubah, waktu dan usaha yang diperlukan untuk memperoleh merek suatu produk. Menurut Siregar (2009:4) Switching Cost adalah biaya segera yang   dikeluarkan oleh konsumen atas proses berpindah dari penyedia layanan satu ke penyedia layanan yang lain.Wijayanti (2008:4) mendefinisikan switching cost sebagai biaya yang akan dihadapi oleh pelanggan ketika berpindah dari supplier satu ke supplier lain. Ketika sebuah hubungan ditetapkan, satu pihak akan menjadi lebih bergantung kepada pihak lainnya. Hal ini diartikan biaya untuk berpindah menjadi tinggi. Dapat juga dikatakan bahwa konsumen terkadang menjadi terikat (locked into) dengan penyedia layanannya sekarang dikarenakan tingginya switching cost. Switching cost menggambarkan persepsi pelanggan terhadap waktu, uang, dan upaya yang diperlukan untuk berpindah merek, perusahaan dan pelayanan provider. Adapun biaya-biaya yang terlibat didalam proses switching cost menurut Fornel dalam Purnomo (2008:4) adalah biaya pencarian provider lain, transaksi, pembelajaran, perubahan habits, emotional cost, resiko keuangan, sosial dan psikologi. Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa switching cost adalah suatu pengorbanan yang dikeluarkan oleh pelanggan jika pelanggan tersebut memilih beralih kepada supplier lain, pengorbanan itu bukan hanya bersifat fisik, ekonomi, tetapi juga bersifat psikologi. Berdasarkan uraian diatas Bawanestri (2007:28) menjabarkan indikator dari variabel switching cost sebagai berikut : 1. Kualitas produk yang tidak sesuai harapan jika beralih ke operator lain 18 2. Biaya atas waktu dan usaha untuk mengevaluasi produk GSM prabayar lain 3. Biaya atas waktu dan usaha membiasakan diri dengan fitur baru jika beralih ke operator lain 4. Biaya untuk mengawali hubungan dengan operator baru jika beralih 5. Pilihan paket yang menarik hilang jika beralih ke operator lain 6. Biaya yang dikeluarkan dalam proses berpindah ke operator lain jika beralih

Hambatan berpindah (switching barrier) (skripsi dan tesis)

Ada banyak faktor yang menjadikan konsumen untuk tetap loyal kepada merek tertentu selain kepuasan yang hingga kini diyakini mampu untuk memelihara hubungan antara perusahaan dengan pelanggan,salah satu faktornya yaitu hambatan berpindah (switching barrier). Hambatan pindah (switching barrier) merupakan rintangan yang dirasakan oleh seorang konsumen untuk beralih dari produk suatu provider ke provider lain menurut Supriyanto dan Ernawaty (2009:92). Hambatan (switching barrier), yaitu menyangkut hambatan yang dirasakan konsumen bila pindah atau beralih dari produk satu ke produk yang lainnya. Switching barrier ini mampu menjadikan pelanggan merasa enggan berpindah merek karena beberapa kelebihannya. Hal ini justru dapat menjadi aset bagi perusahaan untuk menjadikan switching barrier ini sebagai kekuatan bagi kelangsungan hidup perusahaan.

Behavioral Loyalty (skripsi dan tesis)

Chauduri and Holbrook (2001) menyatakan bahwa Behavioral loyalty merupakan pembelian-pembelian yang diulangi pada merk tertentu. Oleh karena itu, perilaku niat akan tergantung pada tujuan pembelian konsumen. Menurut Swani (2010) ketika tujuan bisa puas, konsumen akan membeli merek, menjadi loyal terhadap merek dan merasa nilai lebih dengan nama merek

Costumer Loyalty (skripsi dan tesis)

Menurut Dick and Basu (1994) customer loyalty adalah hubungan yang kuat antara sikap relatif individu dengan kemungkinan pembelian dengan pemasok yang sama. Lovelock (1992:64) mendefinisikan loyalitas konsumen sebagai perilaku positif dalam melakukan pembelian selama jangka waktu yang panjang (diukur dengan pembelian yang berulang, frekuensi pembelian, atau indikator lainnya).

Switching Cost (skripsi dan tesis)

Menurut Lee et al. (2001) switching cost adalah persepsi pelanggan mengenai waktu, uang dan usaha terkait dengan perubahan penyedia layanan. Jones and Farquhar (2000) menyatakan bahwa biaya langsung konsumen diasosiasikan sebagai proses peralihan dari satu penyedia jasa ke penyedia jasa yang lain. Terdapat tiga jenis biaya peralihan yaitu biaya procedural, biaya financial dan biaya relational (Lee et al., 2001).

Promosi (skripsi dan tesis)

Menurut William J. Stanton (1991) promosi adalah unsur dalam bauran pemasaran perusahaan yang didayagunakan untuk memberitahukan, membujuk, dan mengingatkan tentang produk perusahaan.Menurut Stanton, Etzel dan Walker (1994) ada lima jenis promosi meliputi penjualan tatap muka (personal seeling), periklanan (advertising), promosi penjualan (sales promotion), publisitas (publicity), dan hubungan masyarakat (public relation).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Brand Switching (Skripsi dan tesis)

Menurut Wuri (2002) terdapat dua faktor yang mempengaruhi terjadinya brand switching yaitu faktor internal dan faktor eksternal konsumen. Faktor internal konsumen adalah faktor lingkungan dari dalam diri konsumen. Dimensi faktor internal konsumen adalah keinginan untuk mencari variasi (variety seeking), dissatisfaction, dan pengetahuan konsumen mengenai merek. Sedangkan faktor eksternal konsumen adalah faktor lingkungan dari konsumen yang dapat mempengaruhi perpindahan merek baik berupa iklan, promosi dan sebagainya. Selain itu Rohman (2016) dalam Risna (2017) menyatakan bahwa perilaku perpindahan dipengaruhi oleh faktor ekstrisik dan intrinsik. Faktor ekstrisik antara lain adalah kualitas produk, merek, desain, fitur produk, harga, muncul produk baru,promosi dan distribusi. Sedangkan faktor intrinsic antara lain adalah ketidakpuasan dan mencari variasi (variety seeking).

Perpindahan Merek / Brand Switching (Skripsi dan tesis)

Perpindahan merek (Brand switching) merupakan fenomena yang sering terjadi pada berbagai pasar, terutama pasar persaingan sempurna dimana terdapat berbagai macam produk sejenis dengan harga yang bersaing sehingga memudahkan konsumen melakukan variety seeking atau pembelian bervariasi (Diaz Abisatya,2009). Brand switching behavior adalah perilaku perpindahan merek yang dilakukan oleh konsumen karena alasan-alasan tertentu atau dapat diartikan juga sebagai kerentanan konsumen untuk berpindah merek lain (Dharmmesta,1999 : 83)

Pengaruh Kepuasan Konsumen dan Reference Group Terhadap Minat Perpindahan Merek (skripsi dan tesis)

Penelitian Widyasari (2008) menyatakan bahwa kepuasan konsumen tidak berpengaruh terhadap perpindahan merek, Griffin (1995) dalam Koskela (2002) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan tidak berpengaruh terhadap minat perpindahan merek. Sedangkan Penelitian yang dilakukan oleh Kusumawati (2007) menyimpulkan bahwa kepuasan konsumen berpengaruh terhadap minat perpindahan merek. Amaldoss dan Jain (2008) mengemukakan bahwa reference group akan mempengaruhi seorang konsumen untuk berpindah merek atau tidak. Hal ini juga didukung oleh penelitian Shahay dan Sharma (2009). Jadi apabila semakin tinggi kepuasan konsumen akan semakin rendah minat perpindahan mereknya, terlebih lagi didukung oleh kelompok referensi yang dominan

Pengaruh Kepuasan Konsumen Terhadap Minat Perpindahan Merek (skripsi dan tesis)

Kepuasaan konsumen terhadap merek produk tidak hanya ditentukan oleh kualitas pelayanan yang disediakan oleh perusahaan, tetapi melalui fitur-fitur atau layanan dari produk itu sendiri. Menurut Beatty, Kahle dan Homer (1988) dalam Dharmmesta (1999,h.83) ketidakpuasan emosional konsumen dari pengalaman dengan produk dapat menyebabkan konsumen merasa tertarik untuk mencari merek lain diluar merek yang biasanya. Pencarian merek lain ini dapat dilakukan konsumen dengan mendapatkan informasi melalui media iklan, dimana tujuan akhirnya adalah perilaku untuk keinginan berpindah merek. Pengambilan keputusan minat perpindahan merek yang dilakukan konsumen terjadi karena adanya ketidakpuasan yang diterima konsumen setelah melakukan pembelian. Ketidakpuasan muncul karena pengharapan konsumen tidak sama dengan apa yang diharapkan oleh konsumen dari produk tersebut (Junaidi dan Dharmmesta, 2002,h.94). Sedangkan kepuasan terjadi ketika harapan konsumen terpenuhi atau melebihi harapannya dan keputusan menggunakan produk tersebut dipertahankan. Kepuasan dapat memperkuat sikap positif terhadap merek, serta kepuasan memiliki peran penting pada kemungkinan untuk konsumen tetap menggunakan produk yang telah dipakainya. Sehingga diduga bahwa meningkatnya kepuasan konsumen terhadap provider Indosat M3 yang sudah dipakainya akan menurunkan perilaku minat beralih ke merek yang lain

Pengaruh Efektivitas iklan Terhadap Minat Perpindahan Merek (skripsi dan tesis)

Berdasarkan sifat iklan menurut Kotler (2005), dapat ditarik kesimpulan bahwa persaingan dalam dunia periklanan membuka peluang bagi iklan produsen untuk memberikan pesan-pesan yang efektif yang dapat mempengaruhi konsumen yang loyal terhadap sebuah merek untuk mengurangi minat konsumen berpindah merek. Pesan-pesan tersebut dapat membuat konsumen untuk mengingat informasi sebuah merek yang sebelumnya telah melekat di benak konsumen tersebut. Jadi, iklan yang lebih efektif akan semakin mendorong konsumen untuk tetap loyal terhadap merek yang sudah digunakan.

Pengaruh Variety Seeking Terhadap Minat Perpindahan Merek (skripsi dan tesis)

Beberapa tipe konsumen yang mencari variasi mempunyai ciri-ciri perilaku beli eksploratori, eksplorasi yang dilakukan oleh orang lain, dan keinovatifan penggunaan (Dharmmesta dan Junaidi, 2002). Sedangkan Ardininto (2009) mengatakan pada beberapa produk tertentu, perilaku konsumen dalam mencari variasi menjadi salah satu faktor pendorong perilaku untuk berpindah merek. Namun perilaku mencari variasi yang dilakukan konsumen tersebut terbatas pada beberapa kategori produk khusus. Menurut Sulistiyani (2006), minat perpindahan merek dapat muncul karena adanya perilaku variety seeking atau perilaku mencari variasi konsumen. Dalam hal ini konsumen hanya mengaktifkan tahap kognitifnya dapat dihipotesiskan sebagai konsumen yang paling rentan terhadap minat perpindahan merek karena adanya rangsangan pemasaran
.Kebutuhan mencari variasi adalah dorongan yang timbul dari dalam diri konsumen ketika konsumen dihadapkan pada pemilihan merek (Van Trijp dkk, 1996). hal ini dipertegas oleh pernyataan Wilkie (1994) yang mengemukakan bahwa yang mendasari konsumen dalam mencari variasi adalah karena munculnya rasa penasaran pada diri konsumen itu sendiri. Hal inilah yang mendasari terjadinya keputusan minat perpindahan merek. Perilaku minat perpindahan merek merupakan fenomena yang kompleks, yang dapat terjadi karena adanya perilaku mencari keberagaman (variety seeking), terdapatnya penawaran produk lain atau dapat juga terjadi karena adanya masalah yang ditemukan atas produk yang sudah dibeli

Ketidakpuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

Ketidakpuasan konsumen digambarkan sebagai lawan dari kepuasan (Mittal dkk dalam Heijden dan Snijder, 2007) keduanya dilihat sebagai dua dimensi yang berbeda (Mano dan Oliver dalam Heijden dan Snijder, 2007). Sumber literatur tidak menyediakan kerangka kerja konseptual untuk ketidakpuasan konsumen namun ketidakpuasan dapat diukur dengan dimensi yang sama seperti kepuasan, yaitu waktu, fokus, dan respons afektif. Ketidakpuasan secara nyata memiliki pengaruh negative terhadap loyalitas konsumen. Ini secara tidak langsung menunjukkan adanya pengaruh positif dari ketidakpuasan terhadap switching behavior. Solomon (1992) menyatakan bahwa konsumen memiliki tiga tindakan yang berbeda dalam menghadapi ketidakpuasan (mungkin saja terjadi lebih dari satu tindakan). 1. Voice response. Konsumen dapat menyerukan secara langsung ketidakpuasan mereka kepada penjual untuk mendapatkan perbaikan atau penggantian. 2. Private response. Konsumen dapat menceritakan ketidakpuasan terhadap toko atau produk kepada teman dan/atau memboikot toko tersebut. Negative word of mouth (WOM) dapat merusak reputasi perusahaan. 3. Third-party response. Konsumen dapat mengambil tindakan hukum untuk menentang pedagang, mendaftarkan keluhan pada lembaga konsumen atau menulis surat pembaca di surat kabar.Ketidakpuasan konsumen dapat timbul karena adanya proses informasi dalam evaluasi terhadap suatu merek. Konsumen akan menggunakan informasi masa lalu dan masa sekarang untuk melihat manfaat yang mereka harapkan. Kepuasan konsumen adalah fungsi seberapa dekat harapan konsumen atas produk dengan kinerja yang dirasakan dari produk tersebut. Jika kinerja produk lebih buruk dari harapan konsumen, maka konsumen akan mengalami ketidakpuasan. Menurut Kotler (1997), jika produsen melebih-lebihkan manfaat suatu produk maka harapan konsumen tidak akan tercapai sehingga akan mengakibatkan ketidakpuasan. Hasil dari evaluasi merek yang dilakukan konsumen adalah niat atau keinginan membeli atau tidak membeli melalui proses yang kompleks (Assael, 1995). Pada dasarnya kepuasan konsumen mencakup perbedaan antara harapan dan kinerja atau hasil yang diharapkan. Penilaian terhadap kepuasan konsumen dapat dibedakan menjadi : a. Positive disconfirmation dimana hasil yang diterima lebih baik dari hasil yang diharapkan. b. Simple confirmation, dimana hasil yang diterima sama dengan hasil yang diharapkan. c. Negative disconfirmation dimana hasil yang diterima lebih buruk dari hasil yang diharapkan Berdasarkan penelitian Shellyana dan Dharmmesta (2002) yang menemukan adanya pengaruh yang positif antara ketidakpuasan pasca konsumsi dan kep utusan perpindahan merek yakni apabila terjadi ketidakpuasan pasca konsumsi maka akan terjadi keputusan perpindahan merek pada konsumen. Hal yang sama dapat terjadi pada telepon seluler, bila produsen membuat telepon seluler yang kinerjanya tidak sesuai dengan harapan konsumennya, maka keputusan untuk berpindah merek akan semakin besar.

Perpindahan Merek (Brand Switching) (skripsi dan tesis)

Brand switching behavior adalah perilaku perpindahan merek yang dilakukan konsumen atau diartikan juga sebagai kerentanan konsumen untuk be rpindah ke merek lain (Keaveney, 1995). Dimana menurut Mazursky et al., (1998) penilaian konsumen terhadap merek dapat timbul dari berbagai variabel, seperti pengalaman konsumen dengan produk sebelunya dan pengetahuan tentang produk. Pengalaman konsumen dalam memakai produk memunculkan komitmen terhadap merek tersebut. Pengalaman yang menimbulkan penilaian yang tidak menyenangkan bagi seorang konsumen akan menyebabkan mereka melakukan perpindahan merek. Menurut Givon (2001), brand switching adalah perpindahan merek yang digunakan oleh pelanggan untuk setiap waktu penggunaan, dimana tingkat brand switching juga menunjukkan sejauh mana mereka memiliki pelanggan yang loyal. Mazursky et al., (1998) memiliki pendapat bahwa perpindahan merek terjadi ketika seorang konsumen atau sekelompok konsumen beralih kesetiaan dari satu merek produk tertentu ke merek lain dan hal tersebut bias saja terjadi sementara waktu saja. Semakin tinggi tingkat brand switchingnya, semakin tidak loyal konsumen dari merek tersebut. Dan ketika hal tersebut terjadi dalam waktu lama dan dilakukan oleh kelompok konsumen dari suatu merek maka merek tersebut memiliki resiko yang tinggi karena dengan mudah dan cepat kehilangan konsumennya. Loyalitas merek konsumen disebabkan oleh adanya pengaruh kepuasan atau ketidakpuasan dengan merek tersebut yang terakumulasi secara terus menerus disamping adanya persepsi tentang kualitas produk (Dodson et al., 1986).
 Kepuasan terjadi ketika harapan konsumen terpenuhi atau melebihi harapannya dan keputusan pembelian dipertahankan. Kepuasan dapat memperkuat sikap positif terhadap merek, sehingga konsumen lebih besar kemungkinannya untuk kembali membeli merek yang sama. Ketidakpuasan terjadi ketika harapan konsumen tidak terpenuhi, sehingga konsumen akan bersikap negative terhadap suatu merek dan kecil kemungkinannya konsumen akan membeli lagi merek yang sama ( Mazursky et al, 1998 ). Sedangkan pengambilan keputusan berpindah merek yang dilakukan konsumen terjadi karena adanya ketidakpuasan yang diterima konsumen setelah melakukan pembelian. Ketidakpuasan muncul karena pengharapan konsumen tidak sama atau lebih tinggi dari kinerja yang diterimanya dari pemasar (Chintagunta, 1999). Konsumen yang merasa tidak puas dengan produk yang mereka pakai cenderung untuk berganti merek, hal ini dilakukan untuk memenuhi kepuasan mereka.

Menurut Roos seperti yang dikutip oleh Marco van der Heijden dan Snijder (2007) ada dua kategori perpindahan merek. Kategori pertama, perpindahan konsumen didasarkan pada keputusan pribadi, yang kedua perilaku brand switching dilakukan secara tidak segaja tanpa dipengaruhi pertimbangan pribadi. Pada kategori pertama, penyebab dari perilaku berpindah merek dapat berupa ketidakpuasan, kebiasaan yang berubah, alternatif lain yang lebih baik atau kebutuhan akan variasi. Sedangkan menurut Junaidi dan Dharmmesta (2002), perpindahan merek merupakan gambaran dari beralihnya pengkonsumsian konsumen atas suatu produk ke produk lainnya. Hal ini dikarenakan seseorang selalu melakukan perbandingan antara merek satu dengan merek yang lain pada saat ia mengevaluasi merek tertentu atau pada saat ia membentuk sikapnya terhadap merek (Laroche, Flou, dan Zhou, 1994).
a. Potential Switcher Kelompok ini terdiri dari seluruh pelanggan yang loyal terhadap suatu produk namun ada potensi untuk dipengaruhi oleh berbagai macam faktor untuk berpindah merek.
b. Repeat Buyer Kelompok pembeli yang membuat pilihan produk yang sama pada waktu yang lalu, waktu sekarang dan untuk masa yang akan datang.
c. Brand Switcher Kelompok ini terdiri dari sebagian pembeli yang akan berpindah merek setidaknya satu kali ketika membuat pilihan merek untuk pembelian sekarang atau di masa yang akan datang

Loyalitas (skripsi dan tesis)

Loyalitas diasumsikan sebagai hasil akhir dari kepuasan konsumen (Geffen, 2009). Homburg dan Giering (dikutip oleh Geffen, 2009) mendefinisikan kepuasan konsumen sebagai hasil dari evaluasi kognitif dan afektif dimana beberapa standar perbandingan dibandingkan dengan kinerja yang sesungguhnya. Hal ini menunjukkan bahwa kepuasan didasarkan atas keseluruhan pengalaman, bukan pada pengalaman transaksi secara spesifik (Anderson, Fornell dkk. dalam Geffen 2009). Semakin tinggi tingkat kepuasan, maka semakin tinggi pula tindakan positif yang diambil konsumen terhadap produk atau jasa. Perusahaan pada umumnya ingin membawa tingkat kepuasan konsumen mereka setinggi mungkin karena seperti yang diasumsikan, kepuasaan konsumen akan berujung pada meningkatnya profit yang diperoleh perusahaan. Kepuasan konsumen dikaitkan pada loyalitas konsumen dimana pada akhirnya memiliki pengaruh positif pada tingkat profitabilitas perusahaan (Oliver,1980; Bearden dan Teel, 1983; Oliver dan Swan, 1989; Bolton dan Drew, 1991; Anderson dan Sullivan, 1993; Boulding, Kalra et al., 1993; Reichheld dan Teal, 1996; Bolton, 1998; Mittal dan Kamakura, 2001 dalam Geffen 2009).

Ada beberapa cara yang dapat menuntun kepuasan pada loyalitas. Misalnya konsumen yang puas sering membeli lebih banyak dari perusahaan, baik dari segi kuantitas maupun harga (Bolton, 1998; Bolton, Kannan dkk., 2000; Verhoef, Franses dkk., 2001, dikutip oleh Geffen 2009). Hal ini memberikan pengaruh positif terhadap laba dan biaya transaksi. Pengaruh dalam jangka panjang adalah kepuasan konsumen mendorong loyalitas pada perusahaan sehingga, seperti yang dikemukakan oleh Reichheld dan Sasser (1996) serta Reichheld and Teal (1996) (dikutip oleh Geffen 2009), peluang konsumen membeli produk lain yang dikeluarkan perusahaan itu semakin tinggi. Hal ini berarti perusahaan dengan basis konsumen dengan loyalitas tinggi akan lebih mudah meluncurkan produk baru, memasuki pasar baru, dan meningkatkan keuntungan mereka. Selain itu dengan semakin tingginya kepuasan konsumen maka perusahaan akan memperoleh manfaat lain, yaitu word-of-mouth advertising serta rekomendasi. Menurut Geffen (2009), konsumen yang loyal merupakan asset penting bagi perusahaan. Diasumsikan secara umum bahwa mempertahankan konsumen hanya membutuhkan biaya 25% dari menarik konsumen baru. Ada beberapa alasan mengapa perusahaan lebih memilih untuk mempertahankan konsumen yang loyal. Zeithaml (dalam Geffen 2009) membagi alas an-alasan ini dalam tiga kelompok: economic benefits, customer behavior benefits, and human resource management benefits. Economic enefits dapat dibagi lagi menjadi beberapa sub bagian dimana yang paling berpengaruh adalah mengurangi start-up costs. Ini merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menarik konsumen baru, dalam hal ini termasuk iklan, promosi dan opportunity cost lainnya. Jika konsumen loyal terhadap perusahaan, start-up costs ini dapat dipertahankan dalam jangka waktu lama. Maksudnya, biaya yang dikeluarkan perusahaan secara rata-rata akan semakin kecil dari waktu ke waktu. Manfaat ekonomis yang kedua adalah pelanggan kemungkinan besar akan membeli lebih banyak produk dari perusahaan. Pelanggan setia pada umumnya memiliki kepercayaan yang tinggi pada perusahaan yang membuat mereka enggan untuk mencoba produk yang ditawarkan perusahaan lain. “The creation of trust leads to the creation of commitment and that is the condition necessary for customers to extend the time perspective of a relationship” (Zeithaml, Gremler et al. 2007 p.181, Geffen 2009). Penciptaan kepercayaan mendorong munculnya komitmen yang merupakan kondisi yang bermakna bagi pelanggan untuk memperluas waktu hubungan dengan perusahaan. Manfaat terpenting dari kepuasan konsumen adalah terciptanya positive wordof- mouth communication dari pelanggan yang ada. Ini merupakan iklan gratis bagi perusahaan. Pada akhirnya, human resource benefits juga memiliki pengaruh positif bagi perusahaan. Pelanggan yang loyal dapat berkontribusi pada perusahaan dengan bertukar pikiran dengan para karyawan. Contoh lainnya adalah lebih mudah bagi perusahaan untuk mempertahankan karyawannya karena para karyawan pada umumnya membentuk suatu hubungan dengan pelanggan yang setia. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, positive word-of-mouth communication bermanfaat bagi perusahaan. Dari sudut pandang perusahaan, word-of-mouth communication merupakan bentuk promosi terbaik dan termurah. Seperti yang dikemukakan Assael dalam Geffen (2009), “Word-of-mouth is the most influential type of communication because it comes from family, friends, and neighbors – all highly credible sources of information”. Word of mouth merupakan tipe komunikasi yang paling berpengaruh karena berasal dari keluarga, teman dan tetangga dimana semuanya merupakan sumber informasi yang dapat dipercaya. Ini menunjukkan bahwa konsumen memandang opini dari sepuluh orang pelanggan lainnya sebagai informasi yang paling dapat diandalkan.
Menurut Hennig-Thurau (dikutip oleh Geffen 2009), ada dua factor yang mendorong positive word-of-mouth communication yaitu kepuasan dan komitmen. Hubungan di antara kedua factor tersebut terhadap word-of-mouth communication sangatlah jelas. Konsumen yang puas cenderung menceritakan pengalaman mereka pada konsumen lain. Hal ini juga berlaku pada orang-orang yang berkomitmen terhadap perusahaan. Namun orang-orang ini tidak selalu berkomitmen secara sukarela, sementara kepuasan berujung pada word-of-mouth communication secara sukarela yang dilakukan konsumen. Seperti yang telah dikemukakan di atas, word-of-mouth communication merupakan cara beriklan terbaik karena biayanya rendah serta keandalannya yang tinggi. Oleh karena itu berdasarkan pendapat-pendapat di atas dan dari literature akademis, Geffen (2009) menyimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang kuat dan langsung antara customer satisfaction dan loyalty. Semakin tinggi tingkat loyalitas konsumen maka semakin tinggi pula profitabilitas perusahaan yang berasal dari meningkatnya nilai saham dan asset perusahaan (Rust and Oliver, 1994; Reichheld and Teal, 1996 dalam Geffen, 2009). Oleh karena itu dari tahun ke tahun, customer satisfaction menjadi fokus penting bagi banyak perusahaan. Namun Engel dkk menunjukkan pola yang berbeda dari kepuasan konsumen, perilaku pembelian dan loyalitas konsumen

Kepuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

 

Kepuasan konsumen adalah fungsi seberapa dekat harapan konsumen atas produk dengan kinerja yang dirasakan dari produk tersebut. Jika kinerja produk lebih buruk dari harapan konsumen, maka konsumen akan mengalami ketidakpuasan. Menurut Kotler (1997), jika produsen melebih-lebihkan manfaat suatu produk maka harapan konsumen tidak akan tercapai sehingga akan mengakibatkan ketidakpuasan. Hasil dari evaluasi merek yang dilakukan konsumen adalah niat atau keinginan membeli atau tidak membeli melalui proses yang kompleks (Assael, 1995). Engel (1995) mendefinisikan kepuasan konsumen sebagai evaluasi pascakonsumsi bahwa suatu alternatif yang dipilih setidaknya memenuhi atau melebihi harapan. Kepuasan konsumen merupakan konsep yang penting dalam riset pemasaran. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kepuasan konsumen memiliki pengaruh positif terhadap loyalitas (Lein-Ti Bei dan Yu-Ching Chiao, 2001, dikutip oleh Marco van der Heijden and Tim Snijder, 2007). Vasquez Carrasco dan Foxall (2006) membuktikan bahwa kepuasan konsumen mempunyai pengaruh positif terhadap ingatan konsumen pada merek tersebut. Parasuman, Zeithaml dan Berry (1994) seperti yang dikutip oleh Marco van der Heijden dan Tim Snijder (2007) memberikan definisi yang jelas tentang kepuasan. Mereka mengemukakan bahwa kepuasan dipengaruhi oleh kualitas layanan, kualitas produk dan harga. Mereka telah meneliti kepuasan pada level transaksi yang menunjukkan bahwa kepuasan secara keseluruhan merupakan fungsi dari transaksi. Kepuasan merupakan respons konsumen baik secara afektif maupun kognitif (Giese dan Gote, 2000, dalam Marco van der Heijden dan Tim Snijder, 2007). Fokus dari kepuasan konsumen ialah membandingkan kinerja produk dengan standar. Richard Oliver, seperti yang dikemukakan Engel (1995) telah mempelopori penelitian mengenai kepuasan dan ketidakpuasan konsumen dengan model diskonfirmasi harapan. Konsumen melakukan pembelian dengan harapan mengenai bagaimana produk akan benar-benar bekerja begitu digunakan.
Para peneliti mengidentifikasikan tiga jenis harapan: 1. Kinerja yang wajar, yaitu suatu penilaian normative yang mencerminkan kinerja yang orang harus terima dengan biaya dan usaha yang dicurahkan untuk pembelian dan pemakaian. 2. Kinerja yang ideal, yaitu tingkat kinerja “ideal” yang optimum atau diharapkan. 3. Kinerja yang diharapkan, yaitu bagaimana kemungkinan kinerja nantinya. Kepuasan dikenal sebagai fenomena pascapembelian, pada praktiknya hal ini tidak selalu benar. Konsumen dapat menunjukkan kepuasan sebelum pembelian atau ketiadaan pilihan dalam pembelian. Tipe kepuasan seperti ini sulit diukur karena hal tersebut tidak terjadi setiap waktu. Heijden dan Snijder (2007) menyatakan bahwa kepuasan secara empiris diukur dari membandingkan ekspektasi konsumen terhadap produk atau layanan dengan pengalaman yang sesungguhnya.
 Penelitian terdahulu mengidentifikasi berbagai tingkatan pengukuran kepuasan konsumen sebagai berikut: 1. During consumption (Oliver, 1997) Fokus pada produk dan layanan 2. Post-consumption (Mano and Oliver, 1993) Fokus pada produk 3. During or after consumption (Halstead, Hartman and Schmidt, 1994) Fokus pada kinerja produk dibandingkan dengan beberapa standard pra pembelian. 4. During consumption experience (Hunt , 1977) Fokus pada pengalaman dibandingkan dengan pengalaman sebelumnya. 5. Post-purchase (Fornell, 1992) Fokus pada perceived product performance pascapembelian dibandingkan ekspektasi pra pembelian 6. Post-choice (Westbrook and Oliver, 1991) Fokus pada pilihan pembelian yang spesifik.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Lein-Ti Bei dkk (dikutip oleh Marco van der Heijden and Tim Snijder, 2007) mengemukakan sebuah model alternative untuk kepuasan konsumen. Mereka mengemukakan bahwa kepuasan konsumen bergantung pada tiga variable independen, antara lain: 1. Perceived service quality Merupakan pandangan konsumen terhadap kualitas layanan ketika mereka membandingkan antara harapan dengan kinerja layanan yang sebenarnya  Perceived product quality Merupakan pandangan konsumen terhadap kualitas produk ketika mereka membandingkan antara harapan dengan kinerja produk yang sesungguhnya. 3. Perceived price fairness Harga yang dimaksud tidak hanya harga secara moneter, tetapi segala yang harus dikorbankan konsumen untuk memperoleh produk atau jasa tertentu. Perceived price fairness adalah bagaimana konsumen menilai harga dikaitkan dengan produk atau jasa yang mereka terima

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Pemasar perlu mempelajari konsumen dalam rangka memasarkan produknya. Sebab dengan mempelajari perilaku konsumen maka pemasar mampu menentukan strategi pemasaran yang tepat. Dengan memahami perilaku konsumen, pemasar akan mampu mengetahui produk atau jasa seperti apa yang disukai konsumen sehingga produk atau jasa akan lebih mudah terjual. Menurut Hawkins, Best, dan Coney dalam Supranto dan Limakrisna (2007:4), perilaku konsumen adalah studi tentang individu, kelompok atau organisasi serta proses yang mereka gunakan untuk memilih, menjamin, menggunakan, dan menjual produk, jasa, pengalaman atau ide untuk memuaskan kebutuhan dan pengaruh dari proses ini kepada konsumen dan masyarakat. Dalam memahami perilaku konsumen perlu dipahami siapa konsumen, sebab dalam suatu lingkungan yang berbeda akan memiliki penelitian, kebutuhan, pendapat, sikap, dan selera yang berbeda. Kotler dan Armstrong menyatakan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah kebudayaan, faktor sosial, pribadi, psikologis. Sebagian faktorfaktor tersebut tidak diperhatikan oleh pemasar tetapi sebenarnya harus diperhitungkan untuk mengetahui seberapa jauh faktor-faktor perilaku konsumen tersebut mempengaruhi pembelian konsumen. Engel (1995) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai suatu tindakan yang langsung mendapatkan, mengkonsumsi, serta menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusul tindakan. The American Marketing Association mendefinisikan perilaku konsumen sebagai interaksi dinamis antara pengaruh dan kognisi, perilaku, dan kejadian di sekitar kita dimana manusia melakukan kegiatan pertukaran dalam hidup mereka. Paling tidak ada tiga ide penting dalam definisi di atas: (1) perilaku konsumen adalah dinamis; (2) hal tersebut melibatkan interaksi antara pengaruh dan kognisi, perilaku, dan kejadian sekitar; dan (3) Hal tersebut melibatkan pertukaran (Peter dan Olson, 2003). Menurut Mowen (1995), perilaku konsumen didefinisikan sebagai studi mengenai pembelian dan proses pertukaran yang melibatkan konsumsi dan pertukaran barang, jasa, pengalaman, dan ide.

Brand Switching Behavior (skripsi dan tesis)

Brand Switching Behavior adalah perilaku perpindahan merek yang dilakukan oleh konsumen karena alasan- alasan tertentu atau dapat diartikan juga sebagai kerentanan konsumen untuk berpindah ke merek lain (Dharmmesta, 1999:83). Perilaku perpindahan merek merupakan fenomena yang kompleks, yang dapat terjadi karena adanya perilaku mencari keberagaman (variety seeking), terdapatnya penawaran produk lain atau dapat juga terjadi karena adanya masalah yang ditemukan atas produk yang sudah dibeli. Banyak sekali produk dengan berbagai merek yang ditawarkan oleh perusahaan dalam rangka meningkatkan keinginan konsumen untuk mencoba produk dan merek. tersebut.. Perilaku perpindahan merek pada pelanggan merupakan suatu fenomena yang kompleks yang dipengaruhi oleh faktor-faktor keperilakuan, persaingan dan waktu (Srinivasan, 1996). Perpindahan merek(brand Switching) ditandai dengan adanya perbedaan signifikan antar merek. Konsumen dalam hal ini tidak mengetahui banyak mengenai kategori produk yang ada. Para pemasar dengan demikian perlu mendiferensiasikan keistimewaan mereknya untuk menjelaskan merek tersebut. Perpindahan merek (brand switching) juga ditandai dengan keterlibatan yang rendah (low involvement). Konsumen tidak melalui tahap-tahap keyakinan, sikap atau perilaku yang normal. Konsumen tidak secara ekstensif mencari informasi mengenai merek, melainkan merupakan penerima informasi pasif (information catching). Konsumen tidak membentuk keyakinan merek (brand conviction), tetapi memilih suatu merek karena merek tersebut terasa akrab (brand familiarity)

Retail Size (skripsi dan tesis)

Sambandam dan Lord (1995) berpendapat bahwa retailer search berpengaruh signifikan positif terhadap perilaku brand switching. Merek yang sudah dipertimbangkan dapat mempengaruhi konsumen dalam keputusan beralih merek baik secara langsung maupun tidak langsung yang dimotivasi oleh kegiatan pencarian agen / toko atau retailer. Konsumen mempunyai banyak pertimbangan terhadap alternatif pilihan merek yang tersedia di agen atau retalier untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan bahkan dapat mencobanya terlebih dahulu

Consideration – Set Size Pada Konsumen (skripsi dan tesis)

Peter dan Olsen (1990) dalam Sambandam (1995) mengemukakan Consideration set adalah kumpulan sub dari semua kemungkinan merek yang dievaluasi konsumen ketika akan membuat keputusan pembelian, mengambil merek yang sudah dikenal (familier) dalam membangkitkan perangkat dan sebelumnya tidak tahu akan merek-merek yang ditemukan secara tidak sengaja atau karena pencarian yang disengaja. Nenungadi (1990) mendefinisikan Consideration set sebagai kumpulan merek yang dibeli berdasarkan ingatan pada saat pemilihan secara teliti. Menurut Kardes (1993)
mengemukakan Consideration set terdiri dari kumpulan merek di memori yang dicari kembali dengan cermat dalam kondisi tertentu.

PEncarian Informasi Konsumen (skripsi dan tesis)

 

Beaty dan Smith (1987) dalam Sambandam dan Lord (1995) mengemukakan empat dimensi pencarian informasi berdasarkan informasi, yaitu media, retailer, interpersonal dan netral. Sumber netral dikombunasikan dengan sumber media karena sumber netral mengarahkan pembaca tentang rating produk, sehingga dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan. Sumber interpersonal tidak masuk dalam model media karena pengaruhnya sulit diprediksi. Menurut Sutisna (2001), faktor-faktor yang menentukan pencarian informasi pada konsumen adalah tingkat keterlibatan konsumen yang tinggi, barang yang mempunyai tingkat resiko tinggi sehingga konsumen akan selektif, serta tingkat pengetahuan konsumen terhadap produk yang rendah karena ketidaktahuannya tentang spesifikasi dan kemampuan produk yang akan dibeli

KEpuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

Konsumen akan merasa puas bila produk yang telah dibeli dan dipakai sesuai dengan produk yang diharap- kannya. Sebaliknya, konsumen akan merasa tidak puas bila produk yang telah dibeli dan dipakainya tidak sesuai dengan harapannya. Dick dan Basu (1994); Bitner (1990): Satisfaction menggambarkan tangggapan sesudah pembelian dari seorang konsumen terhadap sebuah merek yang diyakini tepat atau ada kecocokan antara apa yangdiharapkan oleh konsumen dengan kinerja produk yang telah diterimanya

Product Knowledge Konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut Sambandam dan Lord (1995), pengetahuan tentang produk berpengaruh signifikan positif terhadap pencarian media, dimana pengaruh kuat dari product knowledge akan mendorong konsumen untuk mempelajari dan menggabungkan informasi baru dengan lebih mudah. Bruks (1985) dalam Srinivasan dan Ratchford (1991) : ada dua tipe knowledge yaitu subject knowledge dan objective knowledge adalah apa yang konsumen tahu secara nyata, yang masing-masing dari tipe knowledge ini mungkin mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap search. Rao dan Monroe (1998) yang dikutip oleh Rao dan Sieben (1992): product knowledge adalah mencakup keseluruhan informasi akurat yang termemori oleh konsumen yang diperoleh konsumen sebagai persepsinya terhadap produk. Product knowledge adalah pengetahuan konsumen tentang produk (Assael, 1995).

Prior Experience Konsumen (skripsi dan tesis)

Pengalaman sebelumnya adalah pembelajaran konsumen sebagai suatu perubahan dalam perilaku yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman masa lalu (Assael, 1998). Sejumlah pengalaman konsumen di masa lalu dapat menggambarkan banyaknya merek produk yang pernah dikonsumsi. Pengalaman dan pengetahuan tentang produk dimodelkan oleh Srinivasan dan sebagai variabel yang mendahului seperangkat pertimbangan memberikan basis bagi timbulnya seperangkat merek yang familiar (Ratchford,1991).

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Perilaku konsumen (consumer behavior) adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mem- pergunakan barang-barang dan jasa-jasa tersebut didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut. Dharmmesta dan Handoko, (2008:10). Hubungannya dengan keputusan pembelian suatu produk atau jasa, pemahaman mengenai perilaku konsumen meliputi jawaban atas pertanyaan seperti apa (what) yang dibeli, dimana membeli (where), bagaimana kebiasaan (how often) membeli dan dalam keadaan apa (under what condition) barang-barang dan jasajasa dibeli. Perilaku konsumen, seperti didefinisikan oleh Prasetijo dan Ihalauw John (2005:11) adalah proses yang dilalui oleh seseorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa maupun ide yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya. Sumarwan (2003:25) mengemukakan bahwa: ”Perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan ini”.

Merek (skripsi dan tesis)

Menurut David A. Aaker dalam Rangkuti (2002:36), Brand Equity adalah satu set brand asset dan liabilitas yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau para pelanggan perusahaan. Aaker (1997:56) mendefinisikan loyalitas merek (brand loyalty) sebagai suatu ukuran keterkaitan pelanggan kepada sebuah merek. Ukuran ini mampu memberikan gambaran tentang mungkin tidaknya seorang pelanggan beralih ke merek lain yang ditawarkan oleh kompetitor, terutama jika pada merek tersebut didapati adanya perubahan, baik menyangkut harga ataupun atribut lainnya. Seorang pelanggan yang sangat loyal kepada suatu merek tidak akan dengan mudah memindahkan pembeliannya ke merek lain, apa pun yang terjadi dengan merek tersebut. Bila loyalitas pelanggan terhadap suatu merek meningkat, kerentanan kelompok pelanggan tersebut dari ancaman dan serangan merek produk pesaing dapat dikurangi

Perilaku Berpindah Merek (Brand Switching Behavior) (skripsi dan tesis)

Perilaku berpindah merek merupakan perilaku yang sangat tidak diinginkan oleh perusahaan karena dapat merugikan perusahaan. Sehingga alasan perusahaan untuk selalu berorientasi pada pasar adalah dalam rangka menjaga kepuasan konsumen. Sangat disadari memang ketidakpuasan konsumen merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya perpindahan merek karena pelanggan yang tidak puas akan mencari informasi pilihan produk lain, dan mungkin akan berhenti membeli produk atau mempengaruhi orang lain untuk tidak membeli (Kotler, 2003). Indikator yang dapat digunakan adalah nilai, manfaat dan keinginan. Menurut Dharmmesta dan Junaidi (2002), karakteristik kategori produk merupakan sifat suatu produk yang dapat membedakan produk tersebut dengan produk lainnya. Adapun indikatornya meliputi: keterlibatan, perbedaan persepsi di antara merek, fitur hedonis, dan kekuatan preferensi. Perpindahan merek adalah pola pembelian yang dikarakteristikkan dengan perubahan atau pergantian dari suatu merek ke merek lain (Peter dan Olson 2002 dalam Setyaningrum, 2007).
Perpindahan merek dapat muncul karena adanya kebutuhan mencari variasi. Menurut Hoyer dan Ridway (1984) dalam Setyaningrum (2007), keputusan konsumen untuk berpindah merek tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan mencari variasi, namun juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti strategi keputusan, faktor situasional dan normatif, ketidakpuasan terhadap merek sebelumnya, dan strategi pemecahan masalah. Konsumen yang hanya mengaktifkan tahap kognitifnya dihipotesiskan sebagai konsumen yang paling rentan terhadap perpindahan merek karena adanya rangsangan pemasaran (Dharmmesta,1999). Adapun indikatornya meliputi ada/tidaknya uang, switching cost, dan kebiasaan. Brand Switching Behavior adalah perilaku perpindahan merek yang dilakukan oleh konsumen karena alasan-alasan tertentu atau dapat diartikan juga sebagai kerentanan konsumen untuk berpindah ke merek lain (Dharmmesta, 1999). Perilaku perpindahan merek merupakan fenomena yang kompleks, yang dapat terjadi karena adanya perilaku mencari keberagaman (variety seeking), terdapatnya penawaran produk lain atau dapat juga terjadi karena adanya masalah yang ditemukan atas produk yang sudah dibeli. Selain itu, perilaku perpindahan merek juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti perilaku, persaingan dan waktu (Srinivasan, 1991). Sedangkan Assael (1995) menyatakan bahwa perpindahan merek terjadi pada produkproduk dengan karakteristik keterlibatan yang rendah (low involvement). Pengalaman konsumen dalam memakai produk memunculkan komitmen terhadap merek tersebut. Pengalaman yang menimbulkan penilaian yang tidak menyenangkan bagi seorang konsumen akan menyebabkan mereka melakukan perpindahan merek. Menurut Givon (2001), brand switching adalah perpindahan merek yang digunakan oleh pelanggan untuk setiap waktu penggunaan, dimana tingkat brand switching juga menunjukkan sejauh mana mereka memiliki pelanggan yang loyal. Mazursky et al., (1998) memiliki pendapat bahwa perpindahan merek terjadi ketika seorang konsumen atau sekelompok konsumen beralih kesetiaan dari satu merek produk tertentu ke merek lain dan hal tersebut dapat saja terjadi sementara waktu saja. Semakin tinggi tingkat brand switchingnya, semakin tidak loyal konsumen dari merek tersebut. Dan ketika hal tersebut terjadi dalam waktu lama dan dilakukan oleh kelompok konsumen dari suatu merek maka merek tersebut memiliki resiko yang tinggi karena dengan mudah dan cepat kehilangan konsumennya

Merek (Brand) (skripsi dan tesis)

Kotler (2002) mendefinisikan merek sebagai janji dari penjual untuk secara konsisten memberikan feature, manfaat dan jasa tertentu kepada pembeli sehingga merek yang baik akan memberikan jaminan kualitas dan bukan hanya simbol. Kedua definisi tersebut menjelaskan bahwa pemberian merek merupakan keputusan yang penting bagi perusahaan. Sedangkan Aaker (1991) menyebutkan bahwa merek adalah nama dan atau simbol yang bersifat membedakan dengan maksud mengidentifkasi barang atau jasa dari seorang penjual atau sebuah penjual tertentu yang mampu membedakannya. Suatu merek memberikan serangkaian janji yang di dalamnya menyangkut kepercayaan, konsistensi, dan harapan. Dengan demikian, merek sangat penting, baik bagi konsumen maupun produsen. Bagi konsumen, merek bermanfaat untuk mempermudah proses keputusan pembelian dan merupakan jaminan akan kualitas. Sebaliknya, bagi produsen, merek dapat membantu upayaupaya untuk membangun loyalitas dan hubungan berkelanjutan dengan konsumen. Lebih jauh, sebenarnya merek merupakan nilai tangible dan intangible yang ditawarkan dalam sebuah trendmark yang mampu menciptakan nilai dan pengaruh tersendiri di pasar bila diatur dengan tepat. Saat ini merek sudah menjadi konsep yang komplek dengan sejumlah retifikasi teknis dan psikologis. Jika merek sukses secara berulang dalam memenuhi janji-janjinya, maka merek akan mempunyai citra yang baik, begitupun sebaliknya, kegagalan suatu merek untuk memenuhi janji-janjinya mungkin akan menciptakan citra negatif. Hal ini sepadan dengan pendapat Lau dan Lee (1999), bahwa citra dari sebuah merek akan menghubungkan pada opini-opini orang lain bahwa merek tersebut harus dan dapat dipercaya. Jika seorang konsumen merasakan opini orang lain tentang merek bagus, maka konsumen akan mempercayai merek tersebut dan membelinya. Setelah pengalaman dalam menggunakannya, jika merek sesuai dengan harapan konsumen, maka citra yang bagus akan menguatkan kepercayaan konsumen dan begitu juga sebaliknya jika merek tidak sesuai dengan yang harapkan, maka konsumen akan mencari merek lain yang dapat memenuhi harapan mereka.

Kepuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (2003) mendefinisikan kepuasan sebagai perasaan senang atau kecewa seseorang yang dialami setelah membandingkan antara persepsi kinerja atau hasil suatu produk dengan harapan-harapannya. Sedangkan Tjiptono (2007) menjelaskan kepuasan dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu memadai. Apabila dicermati lebih jauh, kepuasan merupakan tujuan dari setiap perusahaan dalam rangka membangun kelangsungan hidup perusahaan. Karena pelanggan yang puas akan mudah bercerita kepada konsumen lainnya, hal ini biasa disebut word of mouth (WOM). Dampak dari terciptanya kepuasan ini adalah adanya pembelian ulang dari para pelanggan, sehingga memungkinkan terjadinya kenaikan keuntungan. Kepuasan konsumen dalam melakukan transaksi/pembelian sangat tergantung pada bagaimana produk dan jasa yang diberikan itu dapat memenuhi ekspektasi dari konsumen. Konsumen mungkin saja akan mengalami beberapa tingkatan kepuasan. Jika produk/jasa yang diberikan itu tidak memenuhi ekspektasi konsumen maka konsumen tidak puas. Jika produk/jasa yang diberikan itu sesuai dengan ekspektasi konsumen maka konsumen puas. Jika produk/jasa yang diberikan itu melebihi ekspektasi konsumen maka konsumen akan sangat puas. Ekspektasi dari konsumen ini didasarkan pada pengalaman konsumen di masa lalu, pendapat-pendapat dari teman dan yang lainnya mengenai pelayanan, fasilitas, dan lainlain, janji-janji yang diberikan oleh pihak penyedia service kepada konsumen. Konsumen menginginkan pelayanan yang maksimal yang diberikan dengan sikap yang profesional serta perlakuan yang sama seperti konsumen lain diperlakukan. Semakin mahal konsumen membayar/mengeluarkan uangnya maka semakin besar ekspektasi dari konsumen. Menjaga agar konsumen puas bukanlah pekerjaan yang mudah bagi perusahaan, karena apabila konsumen tidak mendapatkan produk atau pelayanan yang sesuai dengan keinginannya, maka dapat memunculkan ketidakpuasan pada para konsumen. Perilaku setelah pembelian akan menimbulkan sikap puas atau tidak puas pada pelanggan, maka kepuasan pelanggan merupakan fungsi dari harapan pembeli atas produk atau jasa dengan kinerja yang dirasakan (Spreng et al, 1996). Sehingga dapat disimpulkan kunci keberhasilan perusahaan sebenarnya sangat tergantung kepada suksesnya perusahaan dalam memuaskan pelanggan. Semua tindakan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengetahui harapan pelanggan tersebut agar dapat menciptakan kepuasan pelanggan, oleh karena itu kepuasan pelanggan menjadi prioritas utama dalam setiap perusahaan maupun organisasi.

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

 Perilaku konsumen diartikan sebagai perilaku seorang konsumen, kelompok konsumen atau masyarakat luas yang selalu berubah dan bergerak sepanjang waktu. Definisi mengenai perilaku konsumen banyak diutarakan oleh para ahli, seperti Kotler (2003) menjelaskan perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka. Sedangkan Menurut Peter dan Olson (1999), perilaku konsumen adalah interaksi dinamis antara pengaruh dan kognisi, perilaku, dan kejadian di sekitar kita, di mana manusia melakukan aspek pertukaran dalam hidup mereka. Sedangkan menurut Engel, dkk (1992), perilaku konsumen adalah tindakan yang terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusul tindakan ini. Kedua definisi ini memberikan gambaran bahwa perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara pikiran, pengaruh, perilaku, dan kejadian di sekitar manusia, termasuk juga proses yang kompleks yang mendasari terjadinya perilaku tersebut. Perilaku konsumen mencakup proses pengambilan keputusan dan kegiatan yang dilakukan konsumen secara fisik dalam pengevaluasian, perolehan penggunaan atau mendapatkan barang dan jasa. Jadi di dalam menganalisis perilaku konsumen tidak hanya menyangkut faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan kegiatan saat pembelian, akan tetapi juga meliputi proses pengambilan keputusan yang menyertai pembelian. Menurut Assael dalam Simamora (2001) bahwa ada empat tipe perilaku pembelian konsumen berdasarkan pada tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat perbedaan di antara merek sebagai berikut
1. Perilaku membeli yang rumit (complex buying behavior) Perilaku membeli yang rumit membutuhkan keterlibatan tinggi dalam pembelian. Perilaku ini menyingkapkan adanya perbedaan-perbedaan yang jelas di antara merek-merek yang ada. Perilaku membeli ini terjadi pada waktu membeli produk-produk yang mahal, tidak sering dibeli, berisiko dan dapat mencerminkan diri pembelinya, seperti mobil, televisi, pakaian, komputer dan lain-lain. Biasanya konsumen tidak tahu terlalu banyak tentang kategori produk dan harus belajar untuk mengetahuinya, sehingga pemasar harus menyusun strategi untuk memberikan informasi kepada konsumen tentang atribur, kepentingannya, tentang merek perusahaan, dan atribut penting lainnya.
2. Perilaku membeli mengurangi ketidakcocokan (dissonance reducing buying behavior) Perilaku membeli mempunyai keterlibatan yang tinggi dan konsumen menyadari hanya sedikit perbedaan antara berbagai merek. Perilaku membeli ini terjadi untuk pembelian produk yang mahal, tidak sering dilakukan, berisiko, dan membeli secara relatif cepat karena perbedaan merek tidak terlihat. Contoh, karpet, keramik, dan lain-lain
. 3. Perilaku membeli berdasarkan kebiasaan (habitual buying behaviour) Konsumen membeli suatu produk berdasarkan kebiasaan, bukan berdasarkan kesetiaan terhadap merek. Konsumen memilih produk secara berulang bukan karena merek produk, tetapi karena konsumen sudah mengenal produk tersebut. Setelah membeli produk tersebut konsumen tidak mengevaluasi kembali mengapa mereka membeli produk tersebut. Perilaku ini biasanya terjadi pada produk-produk seperti gula, garam, air mineral dalam kemasan, deterjen, dan lainlain.
4. Perilaku membeli yang mencari keragaman (variety seeking buying behaviour) Perilaku ini memiliki keterlibatan yang rendah, namun masih terdapat perbedaan merek yang jelas. Konsumen berperilaku dengan tujuan mencari keragaman dan bukan kepuasan. Jadi merek dalam perilaku ini bukan merupakan suatu yang mutlak. Sebagai market leader, pemasar dapat melakukan strategi seperti menjaga agar jangan sampai kehabisan stok atau dengan promosi-promosi yang dapat mengingatkan konsumen akan produknya. Perilaku pembeli yang mencari keragaman biasanya terjadi pada produk-produk yang sering dibeli, harganya murah dan konsumen sering mencoba merek-merek baru.

Ketidakpuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

Terjadinya kegagalan pelayanan (service failures) dapat menyebabkan rasa tidak puas pada pelanggan yang menuntun terjadinya perilaku brand switching. Kepuasan menurut Kotler dan Keller (2009) diartikan sebagai tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang ia rasakan dengan harapannya. Pada dasarnya kepuasan dan ketidakpuasan pelanggan atas produk akan berpengaruh pada pola perilaku konsumen selanjutnya. Hal tersebut akan ditunjukkan oleh pelanggan setelah terjadi proses pembelian (Kotler dan Keller, 2009). Selain itu, ketidakpuasan konsumen dapat timbul karena adanya proses informasi dalam evaluasi terhadap suatu merek. Konsumen akan menggunakan informasi masa lalu dan masa sekarang untuk melihat merek-merek yang memberikan manfaat yang diharapkan (Dharmmesta dan Junaidi, 2002).

Service Failures (skripsi dan tesis)

Service failures didefinisikan sebagai situasi di mana pelayanan gagal dalam menghidupkan ekspektasi dari konsumen, hal tersebut diutarakan oleh Michael dalam Awwad dan Neimat (2010). Dengan kata lain, service failures adalah sinonim dari masalah terkait layanan yang dihadapi oleh konsumen (Spreng et al., 1995; Ahmad, 2002). Service failures tidak hanya mengarah pada konsumen berpindah yang telah mengalaminya, tetapi bisa juga terjadi pada pelanggan lain atau calon pelanggan dikarenakan negatif word of mouth (Boroumand, 2006). Sedangkan menurut Smith dalam Seongun Jeon (2016), ia mendefinisikan hasil dari kegagalan sebagai situasi saat penyedia layanan gagal memahami atau menemukan keinginan dari konsumen. Situasi tersebut dapat dianggap sebagai sebuah celah (gap). Apabila perusahaan gagal dalam menyampaikan dan menangani keluhan pelanggan secara benar, hal tersebut akan membuat pelanggan untuk berpindah merek produk. Respon yang tidak baik, kegagalan dalam merespon, atau respon yang negatif dari pegawai perusahaan adalah beberapa dari alasan utama mengapa perusahaan kehilangan banyak pelanggan (Sidhu, 2005). Untuk menghindari meningkatnya customer churn, maka perusahaan perlu memperbaiki kinerja sistem pelayanan agar loyalitas pelanggan meningkat.

Brand Switching (skripsi dan tesis)

Saat ini banyak ditemukan produk yang ditawarkan kepada konsumen dengan berbagai merek, dalam rangka meningkatkan keinginan konsumen untuk mencoba produk dan merek tersebut. Dari keragaman merek tersebut, maka muncul keinginan konsumen untuk mencoba merek yang lain atau bisa juga disebut berpindah merek. Perpindahan merek (brand switching) adalah pola pembelian yang dikarakteristikkan dengan perubahan atau pergantian dari satu merek ke merek yang lain (Peter dan Olson, 2002). Hawkins dan Mothersbaugh (2010:637) menyatakan bahwa brand switching adalah hasil dari ketidakpuasan konsumen akan suatu produk yang mengakibatkan konsumen melakukan penghentian pembelian produk pada suatu merek dan menggantinya dengan produk dari merek lain. Berdasarkan definisi tersebut, dijelaskan bahwa brand switching adalah berpindahnya loyalitas konsumen dari suatu merek tertentu ke merek produk lainnya. Tingkat brand switching juga menunjukkan keloyalitasan pelanggan terhadap merek tersebut.

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Perilaku konsumen adalah perilaku yang ditunjukkan dalam mencari, membeli, menggunakan, menilai, dan menentukan produk , jasa, dan gagasan (Schiffman dan Kanuk, 2008). Sedangkan menurut Peter dan Olson (2013), perilaku konsumen adalah interaksi dinamis afeksi dan kognisi, perilaku, dan lingkungan di mana individu melakukan aspek pertukaran kehidupan mereka. Kotler dan Keller (2008:214) mengungkapkan bahwa perilaku konsumen adalah studi bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan menempatkan barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Brand Switching (skripsi dan tesis)

Menurut Wuri (2002) terdapat dua faktor yang mempengaruhi terjadinya brand switching yaitu faktor internal dan faktor eksternal konsumen. Faktor internal konsumen adalah faktor lingkungan dari dalam diri konsumen. Dimensi faktor internal konsumen adalah keinginan untuk mencari variasi (variety seeking), dissatisfaction, dan pengetahuan konsumen mengenai merek. Sedangkan faktor eksternal konsumen adalah faktor lingkungan dari konsumen yang dapat mempengaruhi perpindahan merek baik berupa iklan, promosi dan sebagainya. Selain itu Rohman (2016) dalam Risna (2017) menyatakan bahwa perilaku perpindahan dipengaruhi oleh faktor ekstrisik dan intrinsik. Faktor ekstrisik antara lain adalah kualitas produk, merek, desain, fitur produk, harga, muncul produk baru,promosi dan distribusi. Sedangkan faktor intrinsic antara lain adalah ketidakpuasan dan mencari variasi (variety seeking)

Perpindahan Merek / Brand Switching (skripsi dan tesis)

Perpindahan merek (Brand switching) merupakan fenomena yang sering terjadi pada berbagai pasar, terutama pasar persaingan sempurna dimana terdapat berbagai macam produk sejenis dengan harga yang bersaing sehingga memudahkan konsumen melakukan variety seeking atau pembelian bervariasi (Diaz Abisatya,2009). Brand switching behavior adalah perilaku perpindahan merek yang dilakukan oleh konsumen karena alasan-alasan tertentu atau dapat diartikan juga sebagai kerentanan konsumen untuk berpindah merek lain (Dharmmesta,1999 : 83)

Pengaruh Variety Seeking memoderasi hubungan antara Customer Dissatisfaction Terhadap Brand Switching (skripsi dan tesis

Ketika individu merasa tidak puas dan ia suka mencari variasi maka ia akan lebih termotivasi untuk berpindah merek. Namun ketika individu tidak puas dan ia tidak suka mencari variasi maka ia kurang termotivasi untuk berpindah merek (Hoyer dan Ridgway,1984) dalam Setiyaningrum (2007). Sehingga perilaku perpindahan merek merupakan fenomena yang kompleks, yang dapat terjadi karena adanya perilaku mencari keberagaman (variety seeking), terdapatnya penawaran produk lain atau dapat juga terjadi karena adanya masalah yang ditemukan atas produk yang sudah dibeli. Hal inilah yang mendasari terjadinya ada kemungkinan variety seeking memoderasi hubungan ketidakpuasan konsumen terhadap keputusan perpindahan merek. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ari Setiyaningrum (2007) mengemukakan adanya pengaruh moderating yaitu variety seeking yang mempengaruhi hubungan antara ketidakpuasan konsumen dan keputusan perpindahan merek. Dapat disimpulkan bahwa Variety Seeking memoderasi pengaruh Customer Dissatisfaction Terhadap Brand Swtiching

Pengaruh antara Customer Dissatisfaction Terhadap Brand Switching (skripsi dan tesis)

Ketidakpuasan konsumen merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya perpindahan merek karena pelanggan yang tidak puas akan mencari informasi pilihan produk lain, dan mungkin akan berhenti membeli produk atau mempengaruhi orang lain untuk tidak membeli. Berdasarkan penelitian (Kotler & Keller, 2008: 177-193) yang menemukan adanya pengaruh yang positif antara ketidakpuasan konsumen dan keputusan perpindahan merek yakni apabila terjadi ketidakpuasan konsumen maka akan terjadi keputusan perpindahan merek pada konsumen. Peter dan Olson (1987) dalam Setiyaningrum (2007) menyatakan jika konsumen merasa puas terhadap suatu produk atau mereka merasa akan terus membelinya dan mengunakan serta menceritakan pengalaman menyenangkan mereka kepada orang lain. Sebaliknya jika konsumen merasa tidak puas mereka akan cenderung berpindah merek. Dapat disimpulkan bahwa Customer Dissatisfaction dapat menyebabkan Brand Switching

Pengaruh antara Words of Mouth Communications Terhadap Brand Switching melalui Subjective Norm (skripsi dan tesis)

WOM communications yang negatif dapat menyebabkan konsumen melakukan brand switching, dengan demikian efek mediasi konsumen dirasakan oleh norma subyektif. Menurut Fieshbein dan Ajzen (2005) menyatakan bahwa words of mouth communications memilih untuk menyebarkan variabel yg positif dan signifikan pada konsumen yang melakukan brand switching melalui subjective norm. Sehingga subjective norm dari words of mouth communications akan berdampak pada efek konsumen yang beralih merek yang lebih jelas dalam proses mediasi. Dapat disimpulkan bahwa Words of Mouth Communications dapat menyebabkan Brand Switching melaui Subjective Norm.

Pengaruh antara Subjective Norm Terhadap Brand Swtiching (skripsi dan tesis)

Niat seseorang merupakan fungsi dari attitude towards the behavior dan persepsi orang terhadap lainnya yang mendahului mewujudkan perilaku yang disebut “subjective norm”. Menurut penelitian Fieshbein dan Ajzen (2005) attitude toward switching (kecenderungan berpindah bank) merupakan prediksi yang sangat kuat terhadap perilaku (behavior). Berdasar penelitian Mitchell and Olson (1981) dalam Leong and Wang (2007), karena masalah pada definisi operasional dan konseptual yang berhubungan dengan subjective norm dan munculnya pertanyaan kapan subjective norm dapat berdiri sebagai variabel tersendiri, sehingga subjective norm termasuk bagian dari attitude toward switching. Teori ini memandang pelanggan sebagai seorang yang rasional dan menggunakan informasi yang memungkinkan sebelum mereka memutuskan berperilaku atau berpindah. Dapat disimpulkan bahwa Subjective Norm dapat menyebabkan Brand Switching.

Pengaruh antara Words of Mouth Communications Terhadap Brand Switching (skripsi dan tesis)

WOM Communications positif ditemukan mengarah pada sikap positif dan mendorong produk pembelian. Seorang konsumen mungkin tidak memahami layanan penuh sebelum konsumsi, ia mungkin akan mencari informasi dari WOM sumber yang berpengalaman (Bansal dan Voyer, 2000). Oleh karena itu, WOM Communications menjadi sangat penting dalam pembelian. Sedangkan WOM Communications negatif yang lebih kuat dapat mempengaruhi sikap dan niat dalam arah yang berlawanan (Richins 1983; Mizerski 1982, Hennig-Thurau dan Walsh 2003). WOM Communications memainkan peran penting dalam membantu mengurangi konsumen yang akan melakukan suatu tindakan yaitu berpindah merek. Dapat disimpulkan bahwa Words of Mouth Communications dapat menyebabkan Brand Switching

Indikator Word of Mouth Communications (skripsi dan tesis)

Berdasarkan Words of Mouth dapat diukur dengan menggunakan indikator-indikator, yaitu dengan melihat hubungan antara lawan bicara dengan mengenai produk X dan tindakan setelah melakukan pembicaraan mengenai produk X tersebut. Lam et al (2003) menunjukkan bahwa di Cina, memiliki pengaruh besar pada pengambilan keputusan ketika konsumen melakukan pembelian dan membicarakan kepada orang lain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Words of Mouth adalah sangat penting untuk pengambilan keputusan dan memperkuat untuk menghindari kritik dan melalui integrasi ke dalam masyarakat untuk mendapatkan pengakuan keinginan. Sedangkan WOM negatif yang lebih kuat dapat mempengaruhi sikap dan niat dalam arah yang berlawanan. WOM memainkan peran penting dalam membantu mengurangi konsumen yang akan melakukan tindakan berpindah merek. Menurut Laczniak, Russell N., Thomas E. DeCarlo and Carol M. Motley (1996), Indikator Word of Mouth Communications yang negatif adalah sebagai berikut : 1. Professional adalah memiliki tingkat tinggi pengetahuan tentang bagaimana untuk memilih berbagai produk dipasar. Dengan demikian pengetahuan professional dari mulut ke mulut bahwa orang-orang professional sangat berguna bagi penerima untuk melakukan pengambilan keputusan pada merek. 2. Similarity adalah menunjukan istilah kesamaan antara penerima dengan pengirim sehingga bagi konsumen yang memiliki beberapa kepentingan yang sama biasanya memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk berbicara dengan baik. Tetapi bila berdampak negatif maka konsumen cenderung melakukan perpindahan merek. 3. Consensus adalah sebuah frase untuk menghasilkan atau menjadikan sebuah kesepakatan yang disetujui secara bersama-sama antar kelompok atau individu setelah adanya perdebatan dan penelitian yang dilakukan dalam kolektif intelijen untuk mendapatkan konsensus pengambilan keputusan. Dimana bila kesepakatan negatif, maka dapat menyebabkan perpindahan merek. 4. Distinctiveness adalah memaksa konsumen membuat keputusan berbeda sementara berdampak norma tujuannya, dan mengarah kemungkinan lebih tinggi terhadap perpindahan merek. 5. Consistency adalah sebagian besar kelompok sosial memiliki pandangan yang sama , sehingga konsumen dapat menerima informasi dan membuat konsumen melakukan keputusan perpindahan merek.

Keterkaitan Interaksi dan Komunikasi (skripsi dan tesis)

Dalam kehidupan sehari-hari senantiasa ada interaksi, antar individu, antar kelompok, antar bangsa. Hubungan ini merupakan suatu dinamika tersendiri dan diwarnai oleh bermacam-macam sikap, pandangan maupun tingkah laku. Adapun materi dalam interaksi ini tergantung dari motivasi dan tujuan terjadinya interaksi tersebut. Dengan sendirinya dalam interaksi ini ada hubungan timbal balik di mana terlihat bentuk-bentuk dari komunikasi antar kedua objek. Bentuk interaksi komunikasi dapat bersifat penuh kehangatan, kerjasama, persaingan, kepedulian, kebencian atau agresifitas dan pertentangan diantara kedua belah pihak, yang semuanya ini merupakan dimensi dari interaksi dan komunikasi. Untuk menjalankan aktivitas kehidupannya, manusia tidak pernah lepas dari komunikasi, karena komunikasi merupakan suatu proses asasi bagi manusia dalam bermasyarakat serta dalam kapasitasnya sebagai mahluk sosial. Eksistensinya sebagai mahluk sosial dimanifestasikan melalui interaksi, interaksi sosial dan komunikasi. Begitu lekatnya keberadaan interaksi dan komunikasi yang bersandar dalam setiap gerak langkah manusia sehingga menganggap hal itu sebagai suatu proses yang biasa, karenanya tidak banyak mendapat perhatian yang khusus. Disadari atau tidak komunikasi sebagai bagian dari kehidupan manusia mempunyai peranan yang sangat dominan. Dengan komunikasi manusia mampu meningkatkan kualitas kehidupan di samping memberikan nilai tambah yang tidak terukur jumlahnya bagi manusia, sehingga dengan terputusnya atau adanya gangguan pada sumber pesan, saluran penerima pesan, maka hilanglah suatu kesempatan yang berarti, dengan kata lain bahwa individu baik sebagai komunikator ataupun sebagai komunikan sama-sama mempunyai peranan yang penting dalam terjadinya proses interaksi dan komunikasi

Pengertian Informasi Bagi Konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut Indrajit dalam Zubair (2005:9) ”Informasi adalah hasil pengolahan data yang secara prinsip memiliki nilai atau value yang dibandingkan dengan data mentah”. Menurut Krismiaji dalam Zabaer (2005:15), “Informasi adalah data yang telah diorganisasi, dan telah memiliki kegunakan dan manfaat”. Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang berguna untuk membuat keputusan. Sehingga Informasi menjadi penting, karena berdasarkan informasi itu para pengelola dapat mengetahui kondisi obyektif perusahaannya. Informasi tersebut merupakan hasil pengolahan data atau fakta yang dikumpulkan dengan metode ataupun cara – cara tertentu. Informasi adalah data yang telah disusun sedemikian rupa sehingga bermakna dan bermanfaat karena dapat dikomunikasikan kepada seseorang yang akan menggunakannya untuk membuat keputusan, sedangkan data sebagai bahan baku informasi, didefiniskan sebagai fakta mengenai objek, oran dan lain lain. Jadi, secara umum informasi adalah data yang sudah diolah menjadi suatu bentuk lain yang lebih berguna yaitu pengetahuan atau keterangan yang ditujukan bagi penerima dalam pengambilan keputusan, baik masa sekarang atau yang akan datang.

Indikator Variety Seeking (skripsi dan tesis)

Pemasar perlu mengidentifikasi pelanggan yang ingin mencoba produk baru. Hal ini karena mereka dapat menjadi pelopor yang membantu perusahaan dalam menawarkan produk baru (Junaedy dan Dharmmesta, 2002). Dalam hal karakteristik perbedaan individu adalah, ciri-ciri kepribadian dan faktor motivasional yang menyebabkan kebutuhan untuk mencari variasi. Indikator variety seeking adalah sebagai berikut : 1. Ciri Kepribadian : keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang ciri-ciri kepribadian, yang di dalamnya mencakup : a. Karakter Adalah konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsisten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. b. Sikap Adalah sambutan terhadap objek yang bersifat positif dan negatif. c. Stabilitas emosi Adalah kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah berpindah merek. d. Temperamen Adalah disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. e. Responsibilitas (tanggung jawab) Adalah kesiapan untuk menerima risiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. 2. Faktor Motivasional : hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang. a. Kebutuhan akan stimulus baru (Penny dan Reinehr 1966). b. Perlunya Perubahan (Leuba 1955). c. Kebutuhan untuk kegembiraan (Zuckerman et al. 1964). d. Kebutuhan akan gairah (Mehrabian dan Russell 1974). e. Preferensi untuk ketidakteraturan (Garlington dan Shimota 1964).

Pengertian Variety Seeking (skripsi dan tesis)

Konsumen akan sering mengekspresikan kepuasan dengan merek barang seperti yang mereka gunakan sekarang, tetapi tetap terlibat dalam penggantian merek. Hal ini dapat terjadi karena pencarian variasi adalah motif konsumen yang cukup lazim. Konsumen yang mempunyai keterlibatan emosional yang rendah terhadap suatu merek akan mudah berpindah pada merek pesaing. Kecenderungan inilah yang sering menjadi perhatian para pemasar akan keberhasilan produk yang ditawarkan. Pencarian variasi dapat terjadi pada pengambilan keputusan yang terbatas. Perilaku kebutuhan mencari variasi terjadi resiko kecil dan sedikit atau tidak ada komitmen terhdap suatu merek. Menurut Kotler, Philip (2005) beberapa situasi pembelian ditandai oleh keterlibatan konsumen yang rendah tetapi perbedaan antar merek signifikan. Sehingga dalam situasi tersebut, maka konsumen sering melakukan peralihan merek. Pembelian yang bersifat mencari variasi di dorong oleh adanya ketidakpuasan atas pembelian yang telah dilakukan, tetapi sifatnya lebih kepada reaksi belanja yang bertujuan mengurangi kebosanan dengan membeli merek-merek baru dari suatu produk. Konsumen kadang-kadang melakukan pengambilan keputusan, walaupun memiliki keterlibatan yang rendah terhadap produk. Hal ini akan mudah terjadinya perilaku mencari variasi. Pembelian yang sifatnya mencari variasi yaitu pembelian yang dilakukan ketika konsumen melakukan pembelian secara spontan dan bertujuan untuk mencoba merek baru dari suatu produk. Pembelian yang bersifat variasi ini tidak didorong oleh adanya ketidakpuasan atas pembelian yang telah dilakukan tetapi sifatnya lebih kepada pembelian yang bertujuan mengurangi kebosanan dengan membeli merek baru dari suatu produk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pencarian variasi merupakan komitmen kognitif untuk membeli merek yang berbeda, yang disebabkan adanya perpindahan merek dalam mencoba sesuatu yang berbeda.

Indikator Customer Dissatisfaction (skripsi dan tesis)

Timbulnya ketidakpuasan dari calon pelanggan kita dapat dipengaruhi oleh beberapa indikator. Menurut Assael (2004), hal ini disebabkan karena : 1. Kurang mencari informasi : Ketidakpuasan mereka terhadap produk keseluruhan atau sebagian, karena mereka tidak mengetahui manfaat dari produk tersebut. Hal ini dikarenakan kurangnya informasi yang diberikan oleh penjual kepada pelanggan. 2. Kurangnya Pengalaman : Ketidakpuasan mereka terhadap pelayanan yang diberikan oleh penjual kepada para pelanggan. Hal ini dikarenakan sikap penjual yang tidak ramah terhadap mereka. 3. Kurangnya memahami kategori produk : Ketidakpuasan mereka terhadap produk yang diberikan oleh penjual terhadap produk yang ditawarkan. 4. Evaluasi yang lebih terbatas : Ketidakpuasan mereka terhadap lingkungan di mana produk tersebut dijual. Pada seorang konsumen, semakin kompleks keputusan yang harus diambil biasanya semakin banyak pertimbangannya untuk membeli. Kotler dan Amstrong membedakan empat jenis perilaku pembelian konsumen berdasarkan tingkat keterlibatan dan tingkat perbedaan diantara merek. Adalah sebagai berikut : 1. Perilaku Pembelian yang rumit 2. Perilaku pembelian untuk mengurangi keraguan 3. Perilaku pembelian berdasarkan kebiasan 4. Perilaku Pembelian mencari variasi Konsumen akan mencoba merek baru dari suatu produk dikarenakan merasa tidak puas, sehingga konsumen mengurangi kebosanan dengan membeli merek baru dari suatu produk.

Pengertian Customer Dissatisfaction (skripsi dan tesis)

Ketidakpuasan konsumen digambarkan sebagai lawan dari kepuasan (Mittal dkk dalam Heijden dan Snijder, 2007) keduanya dilihat sebagai dua dimensi yang berbeda (Mano dan Oliver dalam Heijden dan Snijder, 2007). Sumber literatur tidak menyediakan kerangka kerja konseptual untuk ketidakpuasan konsumen namun ketidakpuasan dapat diukur dengan dimensi yang sama seperti kepuasan, yaitu waktu, fokus, dan respons afektif. Ketidakpuasan secara nyata memiliki pengaruh negatif terhadap loyalitas konsumen. Ini secara tidak langsung menunjukkan adanya perngaruh positif dari ketidakpuasan terhadap switching behavior. Pelanggan yang puas akan menjadi loyal dan ingin membangun hubungan yang berkelanjutan dengan perusahaan yang menawarkan produk yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen dan keinginan (Kotler dan Keller, 2009). Ketidakpuasan menyebabkan sikap negatif terhadap merek dan mengurangi kecenderungan untuk membeli merek yang sama, sedangkan kepuasan dapat memperkuat sikap positif dari konsumen terhadap sebuah merek, dan meningkatkan kecenderungan untuk membeli kembali merek yang sama. Menurut Assael (2004), kebutuhan untuk mencari variasi hanya terjadi pada produk-produk yang melibatkan keterlibatan rendah konsumen, melainkan karena produk ini tidak terlalu berisiko bagi konsumen. Pada pembelian produk yang melibatkan keterlibatan rendah konsumen, konsumen kurang mencari informasi, kurangnya pengalaman, kurangnya memahami kategori produk dan kemudian mengevaluasi pilihan yang terbatas atau mengevaluasi pilihan berbagai merek, sehingga kemungkinan hubungan kebutuhan mencari variasi dapat memoderasi ketidakpuasan konsumen terhadap keputusan perpindahan merek. Kesetiaan merek dapat terjadi jika tingkat pembelian tinggi.

Proses Pengambilan Keputusan Konsumen (skripsi dan tesis)

Dalam merealisasikan pembeliannya, konsumen melalui lima tahapan, yaitu; problem recognition, information search, evaluation of alternatives, purchase decision, dan postpurchase behavior (Kotler, 2006:181). Kelima tahapan ini dikenal sebagai The Buying Decision process.. Tidak semua konsumen selalu melewati semua tahapan, seorang konsumen mungkin tidak akan melewati beberapa tahapan, ini semua bergantung pada pentingnya pembelian tersebut bagi konsumen
 Tahap pertama adalah proses pembelian bermula ketika konsumen menyadari adanya suatu masalah (Problem recognition) atau kebutuhan. Proses ini muncul ketika konsumen melihat adanya perbedaan (gap) atas keadaannya sekarang dengan keadaan yang diharapkan. Kebutuhan ini dapat dipicu oleh stimuli eksternal maupun stimuli internal.
 Tahap kedua adalah information search, pada tahap ini seorang konsumen akan mencari informasi yang relevan untuk melakukan pembelian, melakukan perbandingan berbagai alternatif produk dan menyediakan waktu yang lebih banyak dalam pencarian produk. Tahap ketiga yaitu pada tahapan Evaluation of alternatives, konsumen memproses seluruh informasi yang didapat sebelum melakukan penilaian akhir. Evaluations kadang merefleksikan beliefs dan attitudes. Melalui pengalaman dan pembelajaran, orang memperoleh beliefs dan attitudes yang dapat mempengaruhi buying behavior. Beliefs adalah pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang tentang sesuatu. Attitude adalah penilaian seseorang untuk jangka waktu lama, perasaan emosional, dan tindakan yang mengacu pada suatu obyek atau ide. Orang memiliki attitudes terhadap segala sesuatu : agama, politik, pakaian, musik, makanan dan lain-lain. Attitudes menempatkan orang pada suatu pola pikir : suka atau tidak suka, menjauhi atau mendekati.
Tahapan keempat adalah Purchase decision. Setelah melakukan proses evaluasi, konsumen membentuk preferensi diantara produk/merek yang telah dievaluasi. Konsumen juga membentuk intensi untuk membeli produk yang paling disukai, dan kemudian melakukan proses pembelian. Konsumen akan membentuk intensi pembelian diantara fase evaluasi dan purchase decision. Tahap yang kelima adalah postpurchase Behavior. Setelah melakukan pembelian, konsumen mungkin mengalami pengalaman yang berbeda dari yang diharapkan sebelumnya (contoh: fitur-fitur yang sulit digunakan) ataupun mendengar hal-hal positif mengenai produk/merek lain. Pemasar harus mengkomunikasikan kepercayaan dan evaluasi yang memperkuat pilihan konsumen akan produknya dan membantunya untuk memiliki sikap positif terhadap merek tersebut. Pemasar perlu memonitor postpurchase satisfaction, postpurchase actions, dan postpurchase product uses setelah konsumen membeli produknya. Jika konsumen merasa puas, maka kemungkinan untuk melakukan pembelian kembali di masa mendatang akan terjadi. Sebaliknya jika konsumen merasa tidak puas, maka konsumen akan mencari kembali berbagai informasi yang dibutuhkannya. Proses tersebut akan terus berulang hingga konsumen merasa puas atas keputusan pembelian produk.

Pengertian Pengambilan Keputusan Konsumen (skripsi dan tesis)

Pengambilan keputusan merupakan suatu keputusan melibatkan dua pilihan atau lebih alternatif tindakan atau perilaku. Harus diperhatikan juga bahwa konsumen juga membuat beberapa keputusan sehubungan dengan perilaku tidak membeli. Kadang kala perilaku keputusan sehubungan dengan perilaku tidak membeli. Kadang kala perilaku keputusan tidak membeli ini dapat mempengaruhi keputusan pembelian merek konsumen. Menurut Shiffman dan Kanuk (2004, p485) “Keputusan adalah seleksi terhadap dua pilihan atau lebih. Dengan perkataan lain, pilihan alternatif harus tersedia bagi seseorang ketika pengambilan keputusan”. Sehingga dapat didefinisikan pengambilan keputusan (consumen decision making) adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua tau lebih perilaku alternatif, dan memilih salah satu diantaranya”.

Indikator Subjective Norm (skripsi dan tesis)

Norma subjektif yaitu keyakinan individu untuk mematuhi arahan atau anjuran orang sekitarnya untuk turut dalam aktivitas berwirausaha. Norma subjektif diukur dengan skala subjective norm (Ramayah & Harun, 2005) dengan indikator keyakinan peran keluarga dalam memulai usaha, keyakinan dukungan dari orang yang dianggap penting, keyakinan dukungan teman dalam usaha. Dapat disimpulkan indikator Norma subyektif adalah : 1. Peran Keluarga 2. Dukungan orang yang dianggap penting 3. Dukungan teman

Pengertian Subjective Norm (skripsi dan tesis)

Niat seseorang merupakan fungsi dari attitude towards the behavior dan persepsi orang terhadap lainnya yang mendahului mewujudkan perilaku yang disebut “subjective norm”. Subjective norms adalah apa yang dipikirkan oleh orang lain terhadap perilaku kita. Subjective norms dibentuk oleh normative belief dan motivation to comply. Hal ini dapat diketahui melalui kepribadian dan pengalaman seseorang. Teori Planned Behavior menyebutkan bahwa intensi adalah fungsi dari tiga determinan dasar yaitu keyakinan atau sikap berperilaku (attitude), norma subjektif (subjective norm) dan efikasi diri. Sikap merupakan fungsi dari belief (keyakinan) seperti misalnya seseorang yang percaya bahwa mewujudkan perilaku tertentu akan menghasilkan akibat yang positive atau negative, sikap yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan sebelum melakukan perilaku (Ajzen dan Fishbein 1980: 5-7) dalam Leong dan Wang (2006)

Theory of Reasoned Action (skripsi dan tesis)

Theory of Reasoned Action bertujuan untuk memprediksi dan memahami perilaku individual. Teori ini memandang pelanggan sebagai seorang yang rasional dan menggunakan informasi yang memungkinkan sebelum mereka memutuskan berperilaku atau berpindah. Niat seseorang untuk mewujudkan perilaku sebagai perilaku sebagai faktor penengah yang menetukan tindakan. Dalam penelitian ini aplikasi Theory of Reasoned Action dimodifikasi dengan dua hal yaitu: 1. Penelitian ini fokus pada keyakinan nasabah untuk berpindah bank sebagai prediktor attitude toward switching. Untuk memprediksi Attitude toward switching digunakan belief sesuai Theory of Planned Behavior. Faktor-faktor harga, reputasi, service quality, promosi, keterpaksaan berpindah dan rekomendasi pihak lain merupakan faktor-faktor yang menyebabkan nasabah berkeyakinan untuk berpindah bank (Keaveney 1995; Gerrald dan Cunningham 2004). 2. Menurut penelitian Fieshbein dan Ajzen (2005) attitude toward switching (kecenderungan berpindah bank) merupakan prediksi yang sangat kuat terhadap perilaku (behavior). Teori ini menyebutkan bahwa niat seseorang adalah fungsi dari tiga determinan dasar, yaitu : a) Sikap berperilaku (attitude) adalah merupakan dasar bagi pembentukan intensi. Di dalam sikap terhadap perilaku terdapat dua aspek pokok, yaitu: keyakinan individu bahwa menampilkan atau tidak menampilkan perilaku tertentu akan menghasilkan akibat-akibat atau hasil-hasil tertentu, dan merupakan aspek pengetahuan individu tentang obyek sikap dapat pula berupa opini individu hal yang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Semakin positif keyakinan individu akan akibat dari suatu obyek sikap, maka akan semakin positif pula sikap individu terhadap obyek sikap tersebut, demikian pula sebaliknya. b) Norma subjektif (subjective norm), yaitu keyakinan individu akan norma, orang sekitarnya dan motivasi individu untuk mengikuti norma tersebut. Di dalam norma subjektif terdapat dua aspek pokok yaitu: keyakinan akan harapan, harapan norma referensi, merupakan pandangan pihak lain yang dianggap penting oleh individu yang menyarankan individu untuk menampilkan atau tidak menampilkan perilaku tertentu serta motivasi kesediaan individu untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan pendapat atau pikiran pihak lain yang dianggap penting bahwa individu harus atau tidak harus berperilaku. Berdasar penelitian Mitchell and Olson (1981) dalam Leong and Wang (2007), karena masalah pada definisi operasional dan konseptual yang berhubungan dengan subjective norm dan munculnya pertanyaan kapan subjective norm dapat berdiri sebagai variabel tersendiri (bukan bagian dari attitude). c) Kontrol perilaku (perceived feasiable), yang merupakan dasar bagi pembentukan kontrol perilaku yang dipersepsikan. Kontrol perilaku yang dipersepsi merupakan persepi terhadap kekuatan faktor-faktor yang mempermudah atau mempersulit suatu perilaku.

Pengertian Consumer Behaviour (Perilaku Konsumen) (skripsi dan tesis)

Perilaku konsumen menurut Solomon, Jill (2007:7) merupakan proses yang terjadi ketika individu ataupun sekelompok orang memilih, membeli, menggunakan ataupun membuang sebuah produk, jasa, ide, ataupun pengalaman yang semuanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Perilaku konsumen merupakan suatu proses yang terus berlanjut dan tidak terpaku pada apa yang terjadi ketika seorang konsumen melakukan transaksi. Pihak luar sangat berperan dalam memberikan pengaruh kepada seorang pembeli atau pemakai dalam membeli ataupun menggunakan suatu produk, memberikan dukungan ataupun menentang keputusan seorang pembeli. Solomon, Jill (2007 : 14) menyatakan bahwa seorang konsumen membeli suatu produk bukan karena kegunaannya, melainkan arti produk tersebut bagi konsumen tersebut. Pernyataan ini menerangkan bahwa peran dari suatu produk melebihi dari aspek kegunaan produk tersebut. Bagi beberapa masyarakat, konsumsi menjadi pemenuhan kebutuhan simbolis. Interaksi simbolis membawa hal ini selangkah lebih maju dengan melihat cara orang bertindak terhadap arti suatu benda terhadap diri mereka. Hal ini menjadikan suatu benda menjadi bagian dari perilaku manusia, yang dipengaruhi oleh interaksi sosial dan komunikasi dan respon dari orang lain. Bahkan banyak produk atau benda bertindak sebagai alat komunikasi antar individu. Memahami konsumen, memegang peranan penting dalam pengembangan strategi pemasaran. Data mengenai konsumen membantu perusahaan memahami pasar dan mengidentifikasi ancaman serta peluang dari suatu produk. Dengan memahamingetahui perilaku konsumen, pemasar dapat menciptakan strategi pemasaran yang memenuhi kepuasan muaskan konsumen dan bermuara pada kesuksesan di pasar (Solomon, 2007:9)

Kebutuhan Konsumen (skripsi dan tesis)

Teori kebutuhan Maslow merupakan konsep aktualisasi diri yang merupakan keinginan untuk mewujudkan kemampuan diri atau keinginan untuk menjadi apapun yang mampu dicapai oleh setiap individu. Kehidupan keluarga petani kelapa sawit memiliki keinginan untuk mewujudkan impian-impiannya melalui anak. Kebutuhan akan prestise/pengharagaan dari orang lain sangatlah diinginkan. Abraham Maslow menerangkan lima tingkatan kebutuhan dasar manusia adalah sebagai berikut : 1. Basic needs atau kebutuhan fisiologi, merupakan kebutuhan yang paling penting seperti kebutuhan akan makanan. Dominasi kebutuhan fisiologi ini relatif lebih tinggi dibanding dengan kebutuhan lain dan dengan demikian muncul kebutuhan-kebutuhan lain. 2. Safety needs atau kebutuhan akan keselamatan, merupakan kebutuhan yang meliputi keamanan, kemantapan, ketergantungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan; kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batasbatas kekuatan pada diri, pelindung dan sebagainya. 3. Love needs atau kebutuhan rasa memiliki dan rasa cinta, merupakan kebutuhan yang muncul setelah kebutuhan fisiologis dan kebutuhan keselamatan telah terpenuhi. Artinya orang dalam kehidupannya akan membutuhkan rasa untuk disayang dan menyayangi antar sesama dan untuk berkumpul dengan orang lain. 4. Esteem needs atau kebutuhan akan harga diri. Semua orang dalam masyarakat mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat yang biasanya bermutu tinggi akan rasa hormat diri atau harga diri dan penghargaan dari orang lain. Kebutuhan ini di bagi dalam dua peringkat : a. Keinginan akan kekuatan, akan prestasi, berkecukupan, unggul, dan kemampuan, percaya pada diri sendiri, kemerdekaan dan kebebasan. b. Hasrat akan nama baik atau gengsi dan harga diri, prestise (penghormatan dan penghargaan dari orang lain), status, ketenaran dan kemuliaan, dominasi, pengakuan, perhatian dan martabat. 5. Self Actualitation needs atau kebutuhan akan perwujudan diri, yakni kecenderungan untuk mewujudkan dirinya sesuai dengan kemampuannya.

Pengertian Brand Switching (Perpindahan Merek) (skripsi dan tesis)

Sebagaimana diketahui bersama bahwa banyak sekali produk dengan berbagai merek yang ditawarkan oleh perusahaan dalam rangka meningkatkan keinginan konsumen untuk mencoba produk dan merek tersebut. Beragamnya produk mengakibatkan konsumen sedikit banyak mempunyai keinginan untuk berpindah ke merek lain. Sedangkan menurut Ganes, Arnold, Reynold (dalam Chatrin dan Karlina, 2006) Brand switching adalah perilaku konsumen yang mencerminkan pergantian dari merek produk yang biasa dikonsumsi dengan produk merek lain. Sehingga berdasarkan definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa brand switching adalah saat dimana seorang pelanggan atau sekelompok pelanggan berpindah kesetiaan dari satu merek sebuah produk tertentu ke merek produk lainnya. Tingkat brand switching ini juga menunjukan sejauhmana sebuah merek memiliki pelanggan yang loyal. Semakin tinggi tingkat Brand Switching, maka semakin tidak loyal tingkat pelanggan kita. Untuk itu berarti semakin beresiko juga merek yang kita kelola karena bisa dengan mudah dan cepat kehilangan pelanggan, Sumarni (2010, h.56). Menurut Gerrard dan Cunningham (2004) mendefinisikan customer switching sebagai berpindahnya nasabah dari satu bank ke bank yang lainnya, bukan antar cabang dalam satu bank yang sama. Perpindahan merek dapat muncul karena adanya variety seeking. Menurut Hoyer dan Ridgway (1984), keputusan konsumen untuk berpindah merek tidak hanya dipengaruhi oleh variety seeking, namun juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti strategi keputusan (decision strategy), faktor situasional dan normatif, ketidakpuasan terhadap merek sebelumnya, dan strategi pemecahan masalah (problem solving strategy).

Perilaku Konsumen Terhadap Merek (skripsi dan tesis)

Menurut Aeker sebagaimana dikutip oleh Kotler, Philip (2003,p.422) tingkat perilaku konsumen terhadap merek dibedakan atas lima tingkat, yaitu: 1. Konsumen yang sering mengganti merek khususnya karena alasan harga. 2. Konsumen yang puas akan suatu merek dan tidak memiliki alasan untuk mengganti merek. 3. Konsumen yang puas akan suatu merek dan akan merasa rugi bila konsumen mengganti suatu merek lain. 4. Konsumen yang memberikan nilai yang tinggi pada suatu merek, menghargainya dan menjadikan merek bagian dari dirinya atau seperti teman. 5. Konsumen yang setia terhadap merek.

Pengertian Brand (Merek) (skripsi dan tesis)

Kotler dan Keller (2006, p256), mengemukakan bahwa definisi merek adalah nama, istilah, tanda, symbol, rancangan atau kombinasi dari ketiganya yang bertujuan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari penjual dan membedakannya dari pesaing lain. Kunci utama dalam merek adalah pemberian atribut yang mengidentifikasikan produk dan menjadikannya berbeda dengan merek lain. Merek merupakan tanda berupa gambar, nama kata, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. (Fandy Tjiptono 2005, p25). Menurut Durianto (2004, p.1) merek merupakan nama, istilah, tanda, simbol, desain ataupun kombinasinya yang mengidentifikasi suatu produk / jasa yang di hasilkan oleh suatu perusahaan. Identifikasi tersebut juga berfungsi untuk membedakannya dengan produk yang ditawarkan perusahaan pesaing. Merek menjadi sangat penting saat ini karena beberapa faktor (Durianto, 2004, p.2) : 1. Emosi konsumen terkadang turun naik. Merek mampu membuat janji emosi menjadi konsisten dan stabil. 2. Merek mampu menembus setiap pagar budaya dan pasar. Bisa dilihat bahwa suatu merek yang kuat dapat diterima oleh seluruh dunia dan budaya. 3. Merek mampu menciptakan komunikasi interaksi dengan konsumen. Semakin kuat suatu merek, makin kuat pula interaksinya dengan konsumen. 4. Merek sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku konsumen. 5. Merek memudahkan proses pengambilan keputusan. Dengan adanya merek konsumen dapat mudah membedakan produk yang akan dibelinya dengan produk lain sehubungan dengan kualitas, keputusan, kebanggan ataupun atribut lain yang melekat pada merek tersebut. 6. Merek berkembang menjadi sumber aset terbesar bagi perusahaan.