Konsep Efisiensi (skripsi dan tesis)

Menurut (Hadad et.al 2003) dalam Ruddy Trisantoso (2010) Efisiensi
merupakan salah satu parameter kinerja yang secara teoriti merupakan salah
satu ukuran kinerja yang mendasari seluruh kinerja organisasi. Kemampuan
menghasilkan output yang maksimal dengan input yang ada, adalah
merupakan ukuran kinerja yang diharapkan. Efisiensi dalam dunia
perbankan merupakan salah satu parameter kinerja yang cukup populer
sehingga lazin digunakan karena dapat memberikan jawaban atas berbagai
kesulitan dalam menghitung berbagai ukuran kinerja sebagaimana
disebutkan diatas.
Adapun konsep dalam mendefinisikan hubungan input-output pada A.
Noor Pratiwi (2014) dan juga seperti pada Hadad et al. (2003), menjelaskan
bahwa perilaku lembaga keuangan dapat melalui beberapa pendekatan,
antara lain:
a. Pendekatan produksi (Production Approach), yaitu dengan melihat
bahwa institusi keuangan sebagai produsen simpanan (deposit
account) dan juga pinjaman kredit (loans). Pendekatan ini
mendefinisikan output adalah penjumlahan dari keduanya dari
berbagai transaksi-transaksi terkait, sedangkan input-inputnya adalah
biaya tenaga kerja, pengeluaran modal untuk aset-aset tetap (fixed
assets), serta pengeluaran-pengeluaran lainnya yang bersifat material.
b. Pendekatan intermediasi (Intermediation Approach), yaitu
memperlakukan institusi keuangan sebagai lembaga yang
menjalankan fungsi intermediasi, dengan mengubah dan mentransfer
berbagai aset finansial dari unit-unit surplus menjadi unit-unit defisit.
Dalam pendekatan ini, biaya tenaga kerja, pengeluaran modal, dan
pembayaran bunga simpanan dikategorikan sebagai input-input,
sedangkan pinjaman kredit dan investasi pada instrumen keuangan
(financial investment) sebagai output-outputnya.
c. Pendekatan aset (Asset Approach), pendekatan ini hampir sama
dengan pendekatan intermediasi, namun dengan lebih memperlakukan
institusi keuangan adalah lembaga yang menjalankan fungsi utama
sebagai pencipta pinjaman kredit (loans).
Menurut Hadad et al (2003) dalam Prapanca (2012) menyatakan
bahwa pengukuran efisiensi bank dapat dilakukan dengan menggunakan dua
pendekatan. Pertama, menggunakan pendekatan parametrik seperti
Stochastic Frontier Approach (SFA) dan Distribution Free Approach
(DFA) Pendekatan kedua, menggunakan pendekatan non-parametrik yaitu
Data Envelopment Analysis (DEA).
Efisiensi menjadi salah satu ukuran yang sangat penting dalam
menilai kinerja suatu perusahaan. Menurut Berger dan Mester (1997) pada
F. Maharani (2012) efisiensi industri perbankan dapat ditinjau dari sudut
pandang mikro maupun makro.Dari perspektif mikro, dalam suasana
3
persaingan yang semakin ketat sebuah bank agar bisa bertahan dan
berkembang harus efisien dalam kegiatan operasinya. Bank-bank yangtidak
efisien, besar kemungkinan akan exit dari pasar karena tidak mampu
bersaing dengan kompetitornya, baik dari segi harga (pricing) maupun
dalam hal kualitas produk dan pelayanan. Bank yang tidak efisien akan
kesulitan dalam mempertahankan kesetiaan nasabahnya dan juga tidak
diminati oleh calon nasabah dalam rangka untuk memperbesar customerbasenya.
Sementara dari perspektif makro, industri perbankan yang efisien
dapat mempengaruhi biaya intermediasi keuangan dan secara keseluruhan
stabilitas sistem keuangan.Hal ini disebabkan peran yang sangat strategis
dari industri perbankan sebagai intermediator dan produsen jasa-jasa
keuangan.
Dengan tingkat efisiensi yang lebih tinggi, kinerja perbankan akan
semakin lebih baik dalam mengalokasikan sumber daya keuangan dan pada
akhirnya dapat meningkatkan kegiatan investasi dan pertumbuhan ekonomi

Tahapan Umum Menggunakan SEM (skripsi dan tesis)

Tahapan dalam menggunakan SEM secara garis besar, adalah sebagai berikut (Jogiyanto, 2011): 1. Spesifikasi model, yaitu membangun model yang sesuai dengan tujuan dan masalah penelitian dengan landasan teori yang kuat. 2. Estimasi parameter bebas, yaitu komparasi matrik kovarian yang merepresentasi hubungan antar variabel dengan mengestimasinya ke dalam model yang paling sesuai. Parameter untuk mengukur kesesuaian model adalah maximum likelihood, weighted least squares atau asymptotically distribution-free methods. 3. Assessment of fit, yaitu eksekusi estimasi kesesuaian model dengan menggunakan parameter anatara lain : Chi-Square (ukuran dasar kesesuaian model yang secara konseptual merupakan fungsi dari ukuran sampel dan perbedaan antara matrik kovarian yang diobservasi dengan matrik kovarian model), Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA), Standarized Root Mean Residual (SRMR), and Comparative Fit Index (CFI). 4. Modifikasi model, yaitu mengembangkan model yang diuji di awal untuk meningkatkan goodness-of-fit (GOF) model. Peluang untuk mengembangkan model tergantung besarnya degree of freedom dari model. Namun, pengembangan model harus mempertimbangkan dasar teori, tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan alasan/argument statistis. 5. Interpretasi dan komunikasi, yaitu interpretasi hasil pengujian statistika dan pengakuan bahwa konstruk yang dibangun berdasarkan model yang paling sesuai. Namun, hasil tersebut dapat dicapai ketika desain riset dibangun secara cermat sehingga dapat membedakan hipotesis rival. 6. Replikasi dan validasi ulang, yaitu kemampuan model yang dimodifikasi untuk dapat direplikasi dan divalidasi ulang sebelum hasil penelitian diinterpretasi dan dikomunikasikan

Pemodelan SEM-PLS (skripsi dan tesis)

Diagram lintasan (path diagram) dalam SEM digunakan untuk menggambarkan model SEM agar lebih jelas dan mudah dimengerti. Notasi dan simbol dalam SEM serta variabel-variabel yang berkaitan perlu diketahui untuk dapat menggambarkan diagram jalur sebuah persamaan, kemudian hubungan diantara model-model tersebut dimasukkan ke dalam model persamaan struktural dan model pengukuran.

\Evaluasi model PLS dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan mengevaluasi outer model dan inner model. Outer model merupakan model pengukuran untuk menilai validitas dan reliabilitas model. Inner model merupakan model struktural untuk memprediksi hubungan antar variabel laten

Metode SEM-PLS (skripsi dan tesis)

SEM (Structural Equation Modeling) adalah suatu teknik statistika untuk menguji dan mengestimasi hubungan kausal dengan mengintegrasikan analisis faktor dan analisis jalur (Wright dalam Jogiyanto, 2011). SEM dapat berbasis varian dan kovarian. SEM berbasis varian adalah SEM yang menggunakan varian dalam proses iterasi atau blok varian antar indikator atau parameter yang diestimasi dalam satu variabel laten tanpa mengkorelasikannya dengan indikator-indikatornya yang ada divariabel laten lain dalam satu model penelitian (Jogiyanto, 2011). Salah satu SEM berbasis varian yang mulai banyak digunakan adalah PLS. Analisis Partial Least Square (PLS) adalah teknik statistika multivariat yang melakukan pembandingan antara variabel dependen berganda dan variabel independen berganda (Jogiyanto, 2011). PLS adalah salah satu metoda statistika SEM berbasis varian yang didesain untuk menyelesaikan regresi berganda ketika terjadi permasalahan spesifik pada data, seperti ukuran sampel penelitian kecil, adanya data yang hilang (missing values), dan multikolinearitas (Field dalam Jogiyanto, 2011). SEM-PLS mampu menganalisis variabel yang tidak dapat diukur langsung. Variabel yang tidak dapat diukur secara langsung dalam SEM-PLS disebut variabel laten atau konstruk yang harus diukur dengan indikator. SEM-PLS bertujuan untuk menguji hubungan prediktif antar konstruk dengan melihat, apakah ada hubungan atau pengaruh antar konstruk tersebut (Dwipradnyana dkk, 2017). SEM–PLS dapat digunakan untuk ukuran sampel lebih besar dari 250 sampel dan tidak mensyaratkan asumsi data berdistribusi normal (Sholihin dan Ratmono, 2013).

Partial Least Square (PLS) (skripsi dan tesis)

Pendekatan PLS dikembangkan pertama kali oleh seorang ahli ekonomi dan statistika bernama Herman Ole Andreas Wold. Pada tahun 1974, Wold memperkenalkan PLS secara umum dengan menggunakan algorithm NIPALS (nonlinear iterative partial least squares) yang berfokus untuk maximize variabel eksogen (X) untuk menjelaskan variance variabel endogen (Y) dan menjadi metoda alternatif untuk OLS regresi. Menurut Wold dibandingkan dengan 16 pendekatan lain dan khususnya metoda estimasi Maximum Likelihood, NIPALS lebih umum oleh karena bekerja dengan sejumlah kecil asumsi zero intercorrelation antara residual dan variabel. Hal ini sejalan dengan yang dinyatakan Fornell dan Bookstein (1982) bahwa PLS menghindarkan dua masalah serius yang ditimbulkan oleh SEM berbasis covariance yaitu improper solutions dan factor indeterminacy. Partial Least Squares merupakan metoda analisis yang powerfull dan sering disebut juga sebagai soft modeling karena meniadakan asumsi-asumsi OLS (Ordinary Least Squares) regresi, seperti data harus berdistribusi normal secara multivariate dan tidak adanya problem multikolonieritas antar variabel eksogen (Wold, 1985). Pada dasarnya Wold mengembangkan PLS untuk menguji teori yang lemah dan data yang lemah seperti jumlah sampel yang kecil atau adanya masalah normalitas data (Wold, 1985). Walaupun PLS digunakan untuk menjelaskan ada tidaknya hubungan antar variabel laten (prediction), PLS dapat juga digunakan untuk mengkonfirmasi teori (Chin, 1998). Sebagai teknik prediksi, PLS mengasumsikan bahwa semua ukuran varian adalah varian yang berguna untuk dijelaskan sehingga pendekatan estimasi variabel laten dianggap sebagai kombinasi linear dari indikator dan menghindarkan masalah factor indeterminacy. PLS menggunakan iterasi algorithm yang terdiri dari seri OLS (Ordinary Least Squares) maka persoalan identifikasi model tidak menjadi masalah untuk model recursive (model yang mempunyai satu arah kausalitas) dan menghindarkan masalah untuk model yang bersifat non-recursive (model yang bersifat timbal-balik atau reciprocal antar variabel) yang dapat diselesaikan oleh SEM berbasis covariance. Sebagai alternatif analisis covariance based SEM, pendekatan variance based dengan PLS mengubah orientasi analisis dari menguji model kausalitas (model yang dikembangkan berdasarkan teori) ke model prediksi komponen (Chin, 1998). CB-SEM lebih berfokus pada building models yang dimaksudkan untuk menjelaskan covariances dari semua indikator konstruk, sedangkan tujuan dari PLS adalah prediksi. Oleh karena PLS lebih menitikberatkan pada data dan dengan prosedur estimasi yang terbatas, persoalan misspecification model tidak terlalu berpengaruh terhadap estimasi parameter. Algoritma dalam PLS adalah untuk mendapatkan the best weight 17 estimate untuk setiap blok indikator dari setiap variabel laten. Setiap variabel laten menghasilkan komponen skor yang didasarkan pada estimated indicator weight yang memaksimumkan variance explained untuk variabel dependen (laten, observed atau keduanya) (Yamin dan Kurniawan, 2011). Kelebihan dalam PLS antara lain (1) algoritma PLS tidak terbatas hanya untuk hubungan antara indikator dengan variabel latennya yang bersifat refleksif namun juga bisa dipakai untuk hubungan formatif, (2) PLS dapat digunakan untuk ukuran sampel yang relatif kecil, (3) dapat digunakan untuk model yang sangat kompleks, (4) dapat digunakan ketika distribusi skew (Yamin dan Kurniawan, 2011). PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator refleksif dan indikator formatif, hal ini tidak mungkin dijalankan dalam CB-SEM karena akan terjadi unidentified model. Oleh karena algorithm dalam PLS menggunakan analisis series ordinary least square, maka identifikasi model bukan masalah dalam model rekursif dan juga tidak mengasumsikan bentuk distribusi tertentu dari pengukuran variabel. Lebih jauh algorithm dalam PLS mampu mengestimasi model yang besar dan komplek dengan ratusan variabel laten dan ribuan indikator. Namun, metode PLS juga memiliki kekurangan yakni distribusi data tidak diketahui sehingga tidak bisa menilai signifikansi statistik. Kelemahan pada metode partial least square ini bisa diatasi dengan menggunakan metode resampling atau bootstrap (Ghozali, 2011).

Analisis Faktor Konfirmatori (Confirmatory Factor Analysis/CFA) (skripsi dan tesis)

Analisis faktor konfirmatori atau CFA adalah salah satu diantara metode statistik multivariat yang digunakan untuk menguji dimensionalitas suatu konstruk atau mengkonfirmasi apakah model yang dibangun sesuai dengan yang dihipotesiskan oleh peneliti. Model yang dihipotesiskan terdiri dari satu atau lebih variabel laten yang diukur oleh indikator-indikatornya. Dalam CFA, variabel laten dianggap sebagai variabel penyebab (variabel bebas) yang mendasari variabelvariabel indikator (Ghozali, 2011). Variabel-variabel dalam CFA terdiri dari variabel yang dapat diamati atau diukur langsung disebut variabel manifes (manifest variable) dan variabel-variabel yang tidak dapat diukur secara langsung disebut dengan variabel laten (latent variable), yang dapat dibentuk dan dibangun dengan variabel-variabel yang dapat diukur (variabel indikator). Dalam CFA biasanya tidak mengasumsikan arah hubungan, tapi menyatakan hubungan korelatif atau hubungan kausal antar variabel. Sehingga dapat dikatakan bahwa CFA digunakan untuk mengevaluasi pola-pola hubungan antar variabel, apakah suatu indikator mampu mencerminkan variabel laten, melalui ukuran-ukuran statistik.

Analisis Jalur (Path Analysis) (skripsi dan tesis)

Analisis jalur (path analysis) merupakan suatu teknik statistika yang bertujuan untuk menganalisis hubungan sebab akibat yang terjadi pada model regresi berganda jika variabel prediktornya mempengaruhi variabel respon tidak secara langsung tetapi juga secara tidak langsung. Analisis jalur digunakan untuk mengetahui apakah data yang digunakan telah mendukung teori, yang sebelumnya atau  telah dihipotesiskan oleh peneliti mencakup kaitan struktural hubungan kausal antar variabel terukur. Subyek utama dalam analisis jalur adalah variabel-variabel yang saling berkorelasi. Dengan analisis jalur, semua pengaruh baik langsung (direct effect) maupun tak langsung (indirect effect), dan pengaruh total (total couse effect) pada suatu faktor dapat diketahui. Dalam perkembangannya, analisis jalur ini dilakukan dalam kerangka pemodelan SEM

Istilah dan Notasi dalam SEM (skripsi dan tesis)

 

Terdapat beberapa istilah dan notasi yang sering digunakan pada SEM, berikut ini merupakan penjelasan singkat mengenai istilah-istilah dalam SEM (Ghozali, 2011):
a. Variabel laten atau construct atau unobserved variables merupakan variabel yang tidak dapat diukur melalui observasi secara langsung namun memerlukan beberapa indikator untuk dapat mengukurnya.

b. Variabel indikator atau manifest variables atau observed variable adalah variabel yang dapat diukur dan diamati secara langsung, variabel indikator/manifes digunakan untuk mengukur sebuah variabel laten.

c. Variabel eksogen adalah variabel yang tidak dipengaruhi variabel lain, ditunjukkan dengan tidak ada tanda panah yang mengarah pada variabel tersebut. Variabel eksogen dinotasikan dengan simbol  (ksi) yang merupakan penduga atau penyebab untuk variabel lainnya dalam suatu model persamaan struktural. Jika terdapat dua variabel eksogen yang saling berkorelasi, ditunjukkan dengan gambar tanda panah dua arah (nonrecursive) yang menghubungkan kedua variabel tersebut.
d. Variabel endogen, dinotasikan dengan simbol  (eta) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lainnya (independent variable) dalam suatu model penelitian. Variabel endogen ditunjukkan dengan adanya tanda panah yang mengarah pada variabel tersebut.
e. Variabel antara yang ditunjukkan dengan adanya tanda panah yang mengarah dan meninggalkan suatu variabel, sedangkan variabel terikat hanya memiliki tanda panah yang mengarah ke variabel tersebut. f. Model struktural atau disebut juga dengan inner model adalah model yang menggambarkan hubungan-hubungan antara variabel laten. Sebuah hubungan diantara variabel laten serupa dengan sebuah persamaan regresi linier diantara variabel laten tersebut.
g. Model pengukuran (measurement model) atau outer model adalah model yang menghubungkan variabel indikator dengan variabel laten.
 h. Loading factor dinotasikan dengan simbol  (lambda) adalah nilai yang menyatakan hubungan-hubungan antara variabel laten dengan indikatornya. Faktor loading memiliki nilai diantara -1 sampai dengan 1 seperti korelasi. i. Indikator reflektif adalah indikator yang menjelaskan bahwa variabel laten merupakan pencerminan dari indikator-indikatornya. Pada indikator reflektif, kesalahan pengukuran (error) adalah pada tingkat indikator dan disimbolkan dengan  (epsilon) atau  (delta). j. Indikator formatif adalah indikator yang menjelaskan bahwa variabel laten dibentuk atau disusun oleh indikatornya. Sehingga seolah-olah variabel laten dipengaruhi oleh indikator-indikatornya. Pada indikator formatif kesalahan pengukuran berada pada tingkat variabel laten dan dinotasikan oleh  (zeta)

Jenis kesalahan dalam SEM (skripsi dan tesis)

Jenis kesalahan dalam SEM ada dua, yaitu: a. Kesalahan struktural (structural error) yaitu kesalahan pada model struktural dan disebut dengan error atau noise. b. Kesalahan pengukuran (measurement error) yaitu kesalahan pada model pengukuran.

Jenis model dalam SEM (skripsi dan tesis)

Jenis model dalam SEM ada dua, yaitu: a. Model struktural (structural model/inner model) yaitu model yang menggambarkan hubungan-hubungan diantara varibel laten yang membentuk persamaan simultan. b. Model pengukuran (measurement model/outer model) yaitu model yang menjelaskan hubungan sebuah variabel laten dengan variabel manifes dalam bentuk analisis faktor

Jenis variabel dalam SEM (skripsi dan tesis)

. Jenis variabel dalam SEM ada dua, yaitu: a. Variabel laten (unobserved variabel atau latent variable) yaitu variabel yang tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat direpresentasikan oleh satu atau lebih variabel manifes/indikator. Menurut Kuntoro (2006), variabel laten ada dua macam, yaitu variabel laten endogen atau variabel terikat dan variabel laten eksogen atau variabel bebas, digambarkan dalam bentuk lingkaran/elips, dinotasikan dengan  (small ksi) untuk variabel laten eksogen dan  (small eta) untuk variabel laten endogen. b. Variabel teramati (observed variable atau measurement variable) yang sering juga disebut dengan indikator/variabel manifes (manifest variabel) yaitu variabel yang dapat diamati secara empiris melalui kegiatan survei atau sensus (Hair dkk, 1995). Variabel manifest juga terbagi menjadi dua, yakni variabel manifes eksogen/independen dan variabel manifes endogen/dependen, digambarkan dalam bentuk kotak/persegi empat, dinotasikan dengan Yi untuk indikator yang berhubungan dengan variabel laten endogen dan Xi untuk indikator yang berhubungan dengan variabel laten eksogen (Kuntoro, 2006).

Structural Equation Modeling (SEM) (skripsi dan tesis)

Structural Equation Modeling (SEM) merupakan metode statistika yang menggabungkan beberapa aspek yang terdapat pada analisis jalur dan analisis faktor konfirmatori untuk mengestimasi beberapa persamaan secara simultan (Ferdinand, 2002). Definisi tentang SEM lainnya dikemukakan oleh Wijayanto (2008) yang menyatakan bahwa SEM adalah metode pengembangan dari analisis multivariat yang berpangkal pada analisis faktor, analisis komponen utama, analisis kovarian, dan analisis korelasi. SEM memiliki kemampuan lebih dalam menyelesaikan permasalahan yang melibatkan banyak persamaan linier dengan menghasilkan model pengukuran dan sekaligus model struktural. Berbeda dengan regresi berganda, dimana pada umumnya model regresi merupakan hubungan sebab-akibat antar variabel-variabel yang teramati, sedangkan pada SEM hubungan sebab-akibat yang dispesifikasikan terjadi antar variabel-variabel laten. Model regresi lebih condong kepada eksplanatori, sedangkan pada SEM walaupun ada unsur eksplanatori namun secara empiris lebih sering dimanfaatkan sebagai model konfirmatori (Wardono, 2009). Proses estimasi parameter dalam model struktural SEM, salah satunya dapat menggunakan struktur kovarians yang lebih sering dikenal dengan istilah Model Struktur Kovarians (MSK) atau Covariance Based SEM (CB-SEM) dan lebih populer dikenal dengan model LISREL (Linier Structural Relationships). SEM  berbasis kovarians mengasumsikan bahwa variabel-variabel pengamatan adalah kontinyu yang berdistribusi normal multivariat serta mensyaratkan jumlah sampel yang besar (Afifah, 2014).

Analisis Faktor Dalam SEM (skripsi dan tesis)

 Analisis faktor merupakan teknik interdependen yang memiliki tujuan utama untuk mendefinisikan struktur dasar diantara variabel-variabel pengamatan dalam suatu analisis. Dengan kata lain, analisis faktor bertujuan untuk meringkas atau mereduksi variabel-variabel pengamatan menjadi bentuk dimensi baru yang merepresentasikan variabel utama (faktor). Berdasarkan tujuannya, analisis faktor dibedakan menjadi dua yaitu exploratory/penyelidikan atau confirmatory/ penegasan (Hair, Black, Babin dan Anderson, 2010).

1. Exploratory Factor Analysis (EFA), pendekatan yang bertujuan untuk menyelidiki faktor-faktor yang terkandung dalam variabel-variabel pengamatan tanpa penentuan teori pengukuran yang mengaturnya. Metode statistika yang termasuk dalam kategori EFA adalah Analisis Cluster dan Analisis Faktor.
2. Confirmatory Factor Analysis (CFA), pendekatan yang sudah memiliki teori pengukuran yang mengatur hubungan antara variabel-variabel pengamatan Problem Penelitian Apakah analisis eksploratory/confirmatory? Confirmatory Structural Equation Modeling Exploratory Tipe Analisis Faktor Pengelompokan variabel/observasi? Observasi Variabel Analisis Cluster Analisis Faktor  dan faktor-faktor yang diberikan dalam suatu penelitian dengan tujuan untuk melakukan penegasan suatu teori pengukuran yang diberikan dalam rangka membandingkan teoritis dengan hasil empiris/pengamatan.
Metode statistika yang termasuk dalam kategori CFA adalah Structural Equation Model (SEM) (Hair, dkk., 2010). Baik pada EFA maupun CFA, suatu variabel laten merupakan suatu faktor sebagai refleksi dari indikator-indikator. Dikatakan demikian karena indikatorindikator tersebut dipandang sebagai variabel-variabel yang dipengaruhi oleh konsep yang mendasarinya disebut sebagai faktor. Tingkat reflektifitas yang menghubungkan antara faktor dengan setiap indikator disebut dengan faktor loading.

PLS Prediction Oriented Segmentation (PLS-POS) (skripsi dan tesis

Menurut Becker dkk (2013) bahwa banyak kasus yang memiliki heterogenitas yang tidak teramati dapat menyamarkan beberapa hubungan yang berbeda antara konsep laten dalam suatu model kausal. Penelitian baru-baru ini telah menerapkan teknik kelas laten untuk mengevaluasi model jalur PLS. Oleh karena itu, perlu diterapkan beberapa jenis segmentasi berbasis respon laten yang memungkinkan adanya identifikasi heterogenitas yang tidak teramati.
Di antara teknik terbaru yang ada, metode hill-climbing  (misalnya Becker dkk, 2013) adalah salah satu contoh sangat baik karena pengukurannya menggunakan pendekatan distribusi bebas untuk SEM-PLS. Metode POS tidak menggunakan indeks apapun seperti BIC, AIC atau CAIC untuk memilih jumlah segmen terbaik. PLS-POS merupakan salah satu metode segmentasi yang berorientasi pada prediksi hubungan antar konstruk dan secara khusus dikembangkan untuk melengkapi pemodelan jalur pada PLS. Metode ini mengikuti pendekatan clustering yang menempatkan observasi secara deterministik dalam kelompok dan menggunakan ukuran jarak untuk menempatkan ulang observasi ke dalam kelompok yang lebih tepat untuk meningkatkan kekuatan prediksi model R2 dari variabel laten endogen. Kelebihan dari PLS-POS antara lain yaitu merupakan pendekatan berbasis nonparametrik yang bebas dari asumsi distribusi, serta mampu mengungkap heterogenitas pada model struktural dan model pengukuran. Selain itu juga dapat diaplikasikan pada semua model jalur tanpa memperhatikan jenis model pengukuran, distribusi data, ukuran sampel, ukuran segmen relatif, multikolinearitas, maupun kompleksitas model struktural (Becker dkk, 2013). Metode PLS-POS juga dapat mendeteksi heterogenitas pada model reflektif jika terdapat heterogenitas pada model struktural, yaitu jika heterogenitas pada model pengukuran reflektif merupakan sumber dari heterogenitas yang ada pada model struktural. Berikut ini merupakan algoritma dalam PLS-POS. 1. Membentuk segmentasi awal untuk memulai algoritma 2. Menghitung estimasi PLS kelompok tertentu untuk model jalur 3. Menentukan hasil dari kriteria objektif 4. Membentuk daftar calon observasi untuk dilakukan penempatan ulang 5. Meningkatkan hasil segmentasi 23 6. Jika maksimum jumlah iterasi atau kedalaman pencarian maksimum telah tercapai, proses berhenti. Jika tidak,kembali ke langkah ke 2. Ulangi sampai tahap berhenti. 7. Menghitung estimasi model jalur PLS kelompok tertentu dan memberikan hasil akhir segmentasi. Kriteria objektif yang dimaksud dalam PLS-POS adalah memaksimalkan jumlah nilai R2 variabel laten endogen. Sesuai dengan tujuan algoritma PLS, fokus dari PLS-POS adalah memaksimalkan prediksi dari setiap kelompok dengan cara meminimumkan jumlah residual kuadrat variabel laten endogen pada model jalur PLS. Oleh karena itu, kriteria objektif diwakili oleh penjumlahan dari nilai R2 setiap kelompok yang didefinisikan dan dihitung secara eksplisit di dalam algoritma PLS-POS. Setiap penempatan observasi pada PLS-POS meyakinkan peningkatan kriteria objektif karena berdasar pada pendekatan hill climbing. Kriteria objektif ini cocok untuk diaplikasikan pada semua model jalur PLS, terlepas dalam model tersebut melibatkan pengukuran reflektif maupun pengukuran formatif. Ukuran jarak total yang digunakan dalam PLS-POS, yaitu (Becker, 2013)

Pengelompokan dan Heterogenitas Dalam PLS SEM (skripsi dan tesis)

Salah satu perhatian penting dalam penerapan SEM-PLS aadalah segementasi atau pengelompokan.Tujuan pengelompokan  adalah membentuk observasi ke dalam kelompok dengan karakteristik yang sama atau serupa sehingga mampu meningkatkan kekuatan prediksi model. Prosedur segmentasi melibatkan pemeriksaan homogenitas atau heterogenitas pada pengamtan. Namun studi terdahulu dalam SEM sering mengasumsikan bahwa data yang dikumpulkan dari observasi telah homogeny atau dengan kata lain suatu model dengan nilai parameter yang sam cukup mempresentasikan seluruh observasi (Trujilo, 2009). Bagaimanapun, asumsi homogenitas ini sering tidak realistis dan diragukan karena data dikumpulkan dari observasi dengan latar belakang dan karakteristik beragam, seperti gender, kelompok umur, tingkat pendidikan, kultur budaya, status perkawinan, dan sebagainya Mengasumsikan homogenitas pada data dapt mendorong analisis membuat keputusan yang tidak akurat, keliru dan menghasilkan kesimpulan yang lemah. Oleh karena itu perlu mengasumsikan adanya heterogenitas pada populasi terkait perbedaan karakteristik setiap observasi (Trujilo, 2009). Dengan asumsi heterogenitas, berimplikasi bahwa terdapat lebih dari satu set estimasi parameter untuk dapat memberikan gambaran yang tepat terhadapa fenomena penelitian. Becker dkk (2013) menyatakan bahwa mengabaikan adanya heterogenitas tidak teramati dapat menimbulkan kerugian yang besar terhadap hasil estimasi PLS. Selain estimasi parameter bersifat bias, beberapa akibat lain seperti: a. Koefisien jalur yang tidak signifikan pada level kelompok (local group) menjadi signifikan pada level keseluruhan sampel yang mengkombinasikan kelompok b. Perbedaan tanda pada estimasi parameter antar kelompok termanifestasi pada hasil yang non signifikan pada level keseluruhan sampel c. Variansi yang dapat dijelaskan model (R2 dari variabel endogen) menurun. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk mengurangi bias pada estimasi parameter dan menghindarkan 21 kesalahan yang ditimnulkan karena mengabaikan heterogenitas tidak teramati pada model jalur PLS antara lain FIMIX-PLS, REBUS –PLS, dan PLS-POS (Becker dkk, 2013)

Evaluasi Model Struktural atau Inner Model (skripsi dan tesis)

Ada beberapa tahap untuk mengevaluasi model struktural.
a. Melihat signifikansi hubungan antara konstrak/variabel laten. Hal ini dapat dilihat dari koefisien jalur (path coefficient) yang menggambarkan kekuatan hubungan antara konstrak/variabel laten. Untuk melihat signifikansi path coefficient dapat dilihat dari nilai t-test (critical ratio) yang diperoleh dari proses bootstrapping (resampling method).
b. Nilai R2 yang menunjukkan besarnya variabilitas variabel endogen yang mampu dijelaskan oleh variabel eksogen. Chin (1998) menjelaskan kriteria batasan nilai R2 ini dalam tiga klasifikasi, yaitu nilai R2 0.67, 0.33, dan 0.19 sebagai subtansial, moderat, dan lemah. Nilai R2 merupakan kuadrat dari korelasi antara variabel laten eksogen dengan variabel laten endogen.
c. Q-Square Predictive Relevance (Q2 ) digunakan untuk validasi kemampuan prediksi model d
 Apabila nilai Q2 > 0 dan semakin mendekati nilai 1, maka dapat dikatakan bahwa model struktural fit dengan data atau memiliki prediksi yang relevansi (Ghozali, 2011).

Evaluasi Model SEM-Partial Least Square (PLS) (skripsi dan tesis)

Evaluasi model dalam PLS meliputi dua tahap, yaitu evaluasi outer model dan evaluasi inner model. a) Evaluasi Model Pengukuran atau Outer Model Model pengukuran atau outer model bertujuan untuk menilai validitas dan reliabilitas model. 1. Validitas Konvergen (Convergent Validity) Convergent validity digunakan untuk mengukur besarnya korelasi antara variabel laten dengan variabel indikator pada model pengukuran refleksif. Dalam evaluasi convergent validity dapat dinilai berdasarkan korelasi antara item score dengan construct score. Suatu kolerasi dapat dikatakan memenuhi convergent validity apabila memiliki nilai loading factor sebesar lebih besar dari 0,5 – 0,6 Ghozali (2011) serta nilai Thitung > pada α tertentu, pada penelitian ini menggunakan α =5%. 2. Discriminant Validity Discriminant Validity dari model pengukuran dengan tipe indikator refleksif dihitung berdasarkan nilai cross loading dari variabel indikator terhadap masing-masing variabel laten. Jika kolerasi antara variabel laten dengan setiap variabel indikator lebih besar daripada korelasi dengan variabel laten lainnya, maka variabel laten tersebut dapat dikatakan memprediksi indikatornya lebih baik dari pada variabel laten lainnya. 3. Pengujian Reliabilitas Composite Reliability atau reliabilitas komposit merupakan blok indikator yang mengukur suatu konstruk dapat dievaluasi dengan ukuran internal consistency. Composite reliability dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.

Bootstrap pada SEM-Partial Least Square (PLS) (skripsi dan tesis)

SEM-PLS tidak berasumsi bahwa data distribusi normal. Sehingga pada SEM-PLS berlaku metode bootstrap yaitu metode statistika nonparametrik untuk mengestimasi parameter suatu distribusi, varians sampel, dan menaksir tingkat kesalahan (Davison dan Hinkley 1997). Pada proses bootsrap, dilakukan pengambilan sampel secara resampling with replacement untuk mendapatkan kesalahan standar untuk pengujian hipotesis. Metode bootstrap telah dikembangkan oleh Efron (1979) sebagai alat untuk membantu mengurangi ketidakandalan yang berhubungan dengan kesalahan penggunaan distribusi normal dan penggunaannya. Boostrap membuat pseudo data (data bayangan) dengan menggunakan informasi dari data asli dengan memperhatikan sifat-sifat data asli, sehingga data bayangan memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan data asli. Metode resampling pada partial least square dengan sampel kecil   menggunakan bootstrap standard error untuk menilai level signifikansi dan memperoleh kestabilan estimasi model pengukuran dan model struktural dengan cara mencari estimasi dari standard error (Chin, 1998).

Structural Equation Model (skripsi dan tesis)

Partial Least Square (SEMPLS) Partial Least Squares merupakan satu metode penyelesaian SEM, yang sering disebut sebagai soft modeling karena meniadakan asumsi-asumsi OLS (Ordinary Least Squares) regresi, seperti data harus berdistribusi normal secara multivariate dan tidak adanya problem multikolonieritas antar variabel eksogen. Walaupun PLS digunakan untuk menjelaskan ada tidaknya hubungan antar variabel laten (prediction), PLS dapat juga digunakan untuk mengkonfirmasi teori (Wold dalam Ghozali, 2011). PLS memiliki kelebihan antara lain (1) algoritma PLS tidak terbatas hanya untuk hubungan antara indikator dengan variabel latennya yang bersifat refleksif namun juga bisa dipakai untuk hubungan formatif, (2) PLS dapat digunakan untuk ukuran sampel yang relatif kecil, (3) dapat digunakan untuk model yang   sangat kompleks, (4) dapat digunakan ketika distribusi skew atau tidak normal (Yamin dan Kurniawan, 2011). PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator refleksif dan indikator formatif, hal ini tidak mungkin dijalankan dalam CB-SEM karena akan terjadi unidentified model. Oleh karena algorithm dalam PLS menggunakan analisis series ordinary least square, maka identifikasi model bukan masalah dalam model rekursif dan juga tidak mengasumsikan bentuk distribusi tertentu dari pengukuran variabel. Lebih jauh algorithm dalam PLS mampu mengestimasi model yang besar dan komplek dengan ratusan variabel laten dan ribuan indikator. Namun, metode PLS juga memiliki kekurangan yakni distribusi data tidak diketahui sehingga tidak bisa menilai signifikansi statistik. Kelemahan pada metode partial least square ini bisa diatasi dengan menggunakan metode resampling atau bootstrap

Analisis Jalur (Path Analysis) (skripsi dan tesis)

Analisis jalur (path analysis) merupakan suatu teknik statistika yang bertujuan untuk menganalisis hubungan sebab akibat yang terjadi pada model regresi berganda jika variabel prediktornya mempengaruhi variabel respon tidak secara langsung tetapi juga secara tidak langsung (Rutherford dalam Sarwono, 2007). Model analisis jalur digunakan untuk menganalisis pola hubungan antar variabel dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh seperangkat variabel eksogen terhadap variabel endogen. Analisis jalur digunakan untuk mengetahui apakah data yang digunakan telah mendukung teori, yang sebelumnya telah dihipotesiskan oleh peneliti mencakup kaitan struktural hubungan kausal antar variabel terukur. Subyek utama dalam analisis jalur adalah variabel-variabel yang saling berkorelasi. Dengan analisis jalur, semua pengaruh baik langsung (direct effect) maupun tak langsung (indirect effect), dan pengaruh total (total couse effect) pada suatu faktor dapat diketahui. Dalam perkembangannya, analisis jalur ini dilakukan dalam kerangka pemodelan SEM.

Komponen-komponen dalam SEM (skripsi dan tesis)

Komponen-komponen dalam SEM secara umum adalah sebagai berikut:

 1. Jenis variabel dalam SEM ada dua, yaitu:
a. Variabel laten (unobserved variable atau latent variable) yaitu variabel yang tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat direpresentasikan oleh satu atau lebih variabel manifes/indikator. Variabel laten ada dua macam, yaitu variabel laten endogen atau variabel terikat (  ) dan variabel laten eksogen (  ) atau variabel bebas.
b. Variabel teramati (observed variable atau measurement variable) yang sering juga disebut dengan indikator/variabel manifes (manifest variabel) yaitu variabel yang dapat diamati secara empiris melalui kegiatan survei atau sensus (Hair, dkk, 2007). Variabel manifes juga terbagi menjadi dua, yaitu variabel manifes eksogen yang bersifat independen dinotasikan dengan X dan variabel manifes endogen yang bersifat dependen dinotasikan dengan Y.
Model Pengukuran Model Struktural
 2. Jenis model dalam SEM ada dua, yaitu:
a. Model struktural (structural model/inner model) yaitu model yang menggambarkan hubungan-hubungan diantara varibel laten yang membentuk persamaan simultan. b. Model pengukuran (measurement model/outer model) yaitu model yang menjelaskan hubungan variabel laten dengan indikator-indikator dalam bentuk analisis faktor

. 3. Jenis kesalahan dalam SEM ada dua, yaitu: a. Kesalahan struktural (structural error) yaitu kesalahan pada model struktural dan disebut dengan error atau noise, dilambangkan dengan  (zeta) dimana variabel laten eksogen yang tidak dapat memprediksi sempurna variabel laten endogen b. Kesalahan pengukuran (measurement error) yaitu kesalahan pada model pengukuran. Kesalahan pengukuran merupakan nilai/ ukuran kesalahan akibat variabel indikator tidak dapat mengukur variabel laten secara sempurna dan dibedakan berdasarkan variabel indikator eksogen yang dilambangkan dengan (delta) dan variabel indikator endogen yang dilambangkan dengan (epsilon). (Wijayanto, 2008)

Analisis Structural Equation Modeling (SEM) (skripsi dan tesis)

SEM adalah metode statistika multivariat yang banyak digunakan untuk mengatasi masalah dasar dalam pengambilan keputusan dalam ilmu-ilmu sosial dan perilaku dan berkembang 8 dalam disiplin ilmu lainnya, yaitu melalui pengukuranpengukuran yang melibatkan variabel-variabel yang tidak dapat diukur secara langsung, sehingga memerlukan variabel indikator sebagai variabel yang dapat diukur (Wijayanto, 2008). SEM mampu menguji model persamaan structural yang merupakan hubungan antara variabel laten endogen dan variabel laten eksogen. Selain itu dapat digunakan untuk menguji model pengukuran yaitu hubungan antara variabel indikator dengan variabel laten yang menunjukkan besarnya korelasi antara indikator dengan variabel laten yang dijelaskannya (Hidayat, 2010). Pemodelan dengan melibatkan banyak variabel yang tidak dapat diukur secara langsung serta menjelaskan hubungan kausal yang bersifat kompleks tidaklah mudah dan diperlukan metode statistika yang dapat menyelesaikan sistem persamaan secara komprehensif

Statistika Deskriptif (skripsi dan tesis)

Statistika deskriptif adalah metode-metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang berguna. Statistika deskriptif berkenaan dengan bagaimana data dapat digambarkan, dideskripsikan atau disimpulkan baik secara numerik (misal menghitung rata-rata dan deviasi standar) atau secara grafis (dalam bentuk tabel atau grafik) untuk mendapatkan gambaran sekilas mengenai data tersebut sehingga lebih mudah dibaca dan bermakna (Walpole,1992). Dalam statistika deskriptif terdapat dua ukuran, yaitu ukuran pemusatan data dan ukuran penyebaran data. Ukuran pemusatan data dapat berupa rata-rata, median, modus, kuartil bawah, dan kuartil atas. Hasil ukuran pemusatan data dapat dijadikan pedoman untuk mengamati karakter dari sebuah data. Sedangkan ukuran penyebaran data digunakan untuk menentukan seberapa besar nilai-nilai data berbeda atau bervariasi dengan nilai pusatnya, atau seberapa besar data tersebut menyimpang dari nilai pusatnya. Ukuran penyebaran data terdiri dari jangkauan (range), variasi, dan standar deviasi (Walpole,1992).

Structural Equation Modeling (SEM) (skripsi dan tesis)

Structural Equation Modeling (SEM) merupakan metode analisis multivariat yang dapat digunakan untuk menggambarkan keterkaitan hubungan linier secara simultan antara variabel pengamatan (indikator) dan variabel yang tidak dapat diukur secara langsung (variabel laten). Variabel laten merupakan variabel tak teramati (unobserved) atau tak dapat diukur (unmeasured) secara langsung, melainkan harus diukur melalui beberapa indikator. Terdapat dua tipe variabel laten dalam SEM yaitu endogen () dan eksogen (ξ).

Asumsi Dalam Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Asumsi yang digunakan dalam analisis jalur yaitu:

1. Hubungan antar variabel linier

2. Sifat aditif

3. Skala pengukuran minimal interval

4. Hubungan sebab akibat (landasan teoritis)

5. Syarat lainnya sama dengan persyaratan untuk multiple regresi

Analisis jalur (skripsi dan tesis)

Analisis jalur pertama kali diperkenalkan oleh Sewall Wright (1921), seorang ahli genetika, namun kemudian dipopulerkan oleh Otis Dudley Duncan (1966), seorang ahli sosiologi. Analisis jalur bisa dikatakan sebagai pengembangan dari konsep korelasi dan regresi, dimana korelasi dan regresi tidak mempermasalahkan mengapa hubungan antar variabel terjadi serta apakah hubungan antar variabel tersebut disebabkan oleh variabel itu sendiri atau mungkin dipengaruhi oleh variabel lain.

Berbeda dengan korelasi dan regresi, analisis jalur mempelajari apakah hubungan yang terjadi disebabkan oleh pengaruh langsung dan tidak langsung dari variabel independen terhadap variabel dependen, mempelajari ketergantungan sejumlah variabel dalam suatu model (model kausal), dan menganalisis hubungan antar variabel dari model kausal yang telah dirumuskan oleh peneliti atas dasar pertimbangan teoritis. Melalui analisis jalur kita akan menguji seperangkat hipotesis kausal dan menginterpretasikan hubungan tersebut (langsung atau tidak langsung).

PARTIAL LEAST SQUARE REGRESSION (skripsi dan tesis)

Partial least square (PLS) adalah suatu tekhnik statistik multivariat yang bisa menangani banyak variabel respon dan variabel eksplanatori sekaligus. PLS merupakan alternatif yang baik untuk metode analisis regresi berganda dan regresi komponen utama karena metode PLS bersifat lebih robust, artinya parameter model tidak banyak berubah ketika sampel baru diambil dari total populasi (Geladi dan Kowalski, 1986).

PLS pertama kali dikembangkan pada tahun 1960-an oleh Herman O. A. Wold dalam bidang ekonometrik. PLS merupakan suatu tekhnik prediktif yang bisa menangani banyak variabel independen, bahkan sekalipun terjadi multikolinieritas diantara variabel-variabel tersebut (Ramzan dan Khan, 2010).

Analisis regresi berganda sebenarnya bisa digunakan ketika terdapat variabel prediktor yang banyak. Namun, jika jumlah variabel tersebut terlalu besar (misal lebih banyak dari jumlah observasi) akan diperoleh model yang fit dengan data sampel, tapi akan gagal memprediksi untuk data baru. Fenomena ini disebut overfitting. Dalam kasus seperti itu, meskipun terdapat banyak faktor manifes, mungkin saja hanya terdapat sedikit faktor laten yang paling bisa menjelaskan variasi dalam respon. Ide umum dari PLS adalah untuk mengekstrak faktor-faktor laten tersebut, yang menjelaskan sebanyak mungkin variasi faktor manifes saat memodelkan variabel respon.

Fungsi Partial Least Square (skripsi dan tesis)

Setelah para pembaca menelaah secara seksama penjelasan yang lumayan panjang diatas, tentunya bisa jadi malah tambah pusing. Maka bukan maksud untuk menyepelekan tulisan yang diatas, lupakanlah atau simpan saja hasil bacaan anda diatas. Secara mudahnya saya coba simpulkan dari kaca mata orang yang awam ilmu statistik. Yaitu sebagai berikut:

  1. Partial Least Square adalah analisis yang fungsi utamanya untuk perancangan model, tetapi juga dapat digunakan untuk konfirmasi teori.
  2. PLS tidak butuh banyak syarat atau asumsi seperti SEM. Apa itu SEM nanti akan saya jelaskan lebih lanjut pada artikel lainnya.
  3. Fungsi Partial Least Square kalau dikelompokkan secara awam ada 2, yaitu inner model dan outer model. Outer model itu lebih kearah uji validitas dan reliabilitas. Sedangkan inner model itu lebih kearah regresi yaitu untuk menilai pengaruh satu variabel terhadap variabel lainnya.
  4. Kecocokan model pada Partial Least Square tidak seperti SEM yang ada kecocokan global, seperti RMSEA, AGFI, PGFI, PNFI, CMIN/DF, dll. Dalam PLS hanya ada 2 kriteria untuk menilai kecocokan model, yaitu kecocokan model bagian luar yang disebut dengan outer model dan kecocokan bagian dalam yang disebut dengan inner model. Sehingga maksud poin 3 diatas adalah menjelaskan poin 4 ini. Untuk kecocokan model bagian luar ada 2 yaitu pengukuran reflektif dan pengukuran formatif, yang sudah dijelaskan diatas.
  5. Penilaian kecocokan model bagian luar atau outer model antara lain: Reliabilitas dan validitas variabel laten reflektif dan validitas variabel laten formatif.
  6. Penilaian kecocokan model bagian dalam antara lain: Penjelasan varian variabel laten endogenous, ukuran pengaruh yang dikontribusikan dan relevansi dalam prediksi.

Model Indikator Formatif (skripsi dan tesis)

Model Formatif tidak mengasumsikan bahwa indikator dipengaruhi oleh konstruk tetapi mengasumsikan semua indikator mempengaruhi single konstruk. Arah hubungan kausalitas mengalir dari indikator ke konstruk laten dan indikator sebagai grup secara bersama-sama menentukan konsep atau makna empiris dari konstruk laten.

Model hubungan formatif ialah hubungan sebab akibat berasal dari indikator menuju ke variabel laten. Hal ini dapat terjadi jika suatu variabel laten didefinisikan sebagai kombinasi dari indikator-indikatornya. Dengan demikian perubahan yang terjadi pada indikator-indikator akan tercermin pada perubahan variabel latennya.

Oleh karena diasumsikan bahwa indikator mempengaruhi konstruk laten maka ada kemungkinan antar indikator saling berkorelasi. Tetapi model formatif tidak mengasumsikan perlunya korelasi antar indikator atau secara konsisten bahwa model formatif berasumsi tidak adanya hubungan korelasi antar indikator. Karenanya ukuran internal konsistensi reliabilitas (cronbach alpha) tidak diperlukan untuk menguji reliabilitas konstruk formatif.

Kausalitas hubungan antar indikator tidak menjadi rendah nilai validitasnya hanya karena memiliki internal konsistensi yang rendah (cronbach alpha), untuk menilai validitas konstruk perlu dilihat variabel lain yang mempengaruhi konstruk laten.

Jadi untuk menguji validitas dari konstruk laten, peneliti harus menekankan pada nomological dan atau criterion-related validity. Implikasi lain dari Model Formatif adalah dengan menghilangkan satu indikator dapat menghilangkan bagian yang unik dari konstruk laten dan merubah makna dari konstruk.

Model Indikator Refleksif (skripsi dan tesis)

Model Indikator Refleksif sering disebut juga principal factor model dimana covariance pengukuran indikator dipengaruhi oleh konstruk laten atau mencerminkan variasi dari konstruk laten

Model reflektif mencerminkan bahwa setiap indikator merupakan pengukuran kesalahan yang dikenakan terhadap variabel laten. Arah sebab akibat ialah dari variabel laten ke indikator dengan demikian indikator-indikator merupakan refleksi variasi dari variabel laten (Henseler, Ringle & Sinkovicks, 2009). Dengan demikian perubahan pada variabel laten diharapkan akan menyebabkan perubahan pada semua indikatornya.

Pada Model Refleksif konstruk unidimensional digambarkan dengan bentuk elips dengan beberapa anak panah dari konstruk ke indikator, model ini menghipotesiskan bahwa perubahan pada konstruk laten akan mempengaruhi perubahan pada indikator.

Model Indikator Refleksif harus memiliki internal konsistensi oleh karena semua ukuran indikator diasumsikan semuanya valid indikator yang mengukur suatu konstruk, sehingga dua ukuran indikator yang sama reliabilitasnya dapat saling dipertukarkan.

Walaupun reliabilitas (cronbach alpha) suatu konstruk akan rendah jika hanya ada sedikit indikator, tetapi validitas konstruk tidak akan berubah jika satu indikator dihilangkan.

Tujuan Partial Least Square (skripsi dan tesis)

Walaupun Partial Least Square digunakan untuk menkonfirmasi teori, tetapi dapat juga digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antara variabel laten. Partial Least Square dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator refleksif dan indikator formatif dan hal ini tidak mungkin dijalankan dalam Structural Equation Model (SEM) karena akan terjadi unidentified model.

PLS mempunyai dua model indikator dalam penggambarannya, yaitu: Model Indikator Refleksif dan Model Indikator Formatif.

Pengertian Partial least square (skripsi dan tesis)

Partial least square adalah suatu teknik statistik multivariat yang bisa untuk menangani banyak variabel respon serta variabel eksplanatori sekaligus. Analisis ini merupakan alternatif yang baik untuk metode analisis regresi berganda dan regresi komponen utama, karena metode ini bersifat lebih robust atau kebal. Robust artinya parameter model tidak banyak berubah ketika sampel baru diambil dari total populasi (Geladi dan Kowalski, 1986).

Partial Least Square suatu teknik prediktif yang bisa menangani banyak variabel independen, bahkan sekalipun terjadi multikolinieritas diantara variabel-variabel tersebut (Ramzan dan Khan, 2010).

Menurut Wold, PLS adalah metode analisis yang powerfull sebab tidak didasarkan pada banyak asumsi atau syarat, seperti uji normalitas dan multikolinearitas. Metode tersebut mempunyai keunggulan tersendiri antara lain: data tidaklah harus berdistribusi normal multivariate. Bahkan indikator dengan skala data kategori, ordinal, interval sampai rasio dapat digunakan. Keunggulan lainnya adalah ukuran sampel yang tidak harus besar.

PLS (Partial Least Square) (skripsi dan tesis)

PLS (Partial Least Square) menggunakan metoda principle component analiysis dalam model pengukuran, yaitu blok ekstraksi varian untuk melihat hubungan indikator dengan konstruk latennya dengan menghitung total varian yang terdiri atas varian umum (common variance), varian spesifik (specific variance) dan varian error (error variance). Sehingga total varian menjadi tinggi. Metoda ini merupakan salah satu dari metoda dalam Confirmatory Factor Analysis (CFA).

Menurut Hair et.al. (2006) metoda ini tepat digunakan untuk reduksi data, yaitu menentukan jumlah faktor minimum yang dibutuhkan untuk menghitung porsi maksimum total varian yang direpresentasi dalam seperangkat variabel asalnya. Metoda ini digunakan dengan asumsi peneliti mengetahui bahwa jumlah varian unik dan varian error dalam total varian adalah sedikit. Metoda ini lebih unggul karena dapat mengatasi masalah indeterminacy, yaitu skor faktor yang berbeda dihitung dari model faktor tunggal yang dihasilkan dan admissible data, yaitu ambiguitas data karena adanya varian unik dan varian error. Penelitian ini menggunakan variabel undimensional dengan model indikator reflektif. Variabel undimensional adalah variabel yang dibentuk dari indikatorindikator baik secara reflektif maupun secara formatif (Jogiyanto dan Abdilah, 2009). Sedangkan model indikator reflektif adalah model yang mengansumsikan bahwa kovarian diantara pengukuran dijelaskan oleh varian yang merupakan manifestasi dari konstruk latennya dimana indikatornya merupakannya indikator efek (effect indikator). Menurut Ghozali (2006) Model reflektif sering disebut juga principal factor model dimana covariance pengukuran indikator dipengaruhi oleh konstruk laten. Model refleksif menghipotesiskan bahwa perubahan pada konstruk laten akan mempengaruhi perubahan pada indikator dan menghilangkan satu indikator dari model pengukuran tidak akan merubah makna atau arti konstruk (Bollen dan Lennox, 1991)

Analisis Statistik Inferensial (skripsi dan tesis)

Statistik inferensial, (statistic induktif atau statistic probabilitas), adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi (Sugiyono, 2009). Sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan, maka dalam penelitian ini analisis data statistik inferensial diukur dengan menggunakan software SmartPLS (Partial Least Square) mulai dari pengukuran model (outer model), struktur model (inner model) dan pengujian hipotesis

Statistik Deskriptif (skripsi dan tesis)

Analisis deskriptif, yaitu analisis empiris secara deskripsi tentang informasi yang diperoleh untuk memberikan gambaran/menguraikan tentang suatu kejadian (siapa/apa, kapan, dimana, bagaimana, berapa banyak) yang dikumpulkan dalam penelitian (Supranto:2002). Data tersebut berasal dari jawaban yang diberikan oleh responden atas item-item yang terdapat dalam kuesioner. Selanjutnya peneliti akan mengolah data-data yang ada dengan cara dikelompokkan dan ditabulasikan kemudian diberi penjelasan

Pengertian PLS (Partial Least Square) (skripsi dan tesis)

PLS (Partial Least Square) merupakan analisis persamaan struktural (SEM) berbasis varian yang secara simultan dapat melakukan pengujian model pengukuran sekaligus pengujian model struktural. Model pengukuran digunakan untuk uji validitas dan reabilitas, sedangkan model struktural digunakan untuk uji kausalitas (pengujian hipotesis dengan model prediksi). Lebih lanjut, Ghozali (2006) menjelaskan  bahwa PLS adalah metode analisis yang bersifat soft modeling karena tidak mengasumsikan data harus dengan pengukuran skala tertentu, yang berarti jumlah sampel dapat kecil (dibawah 100 sampel). Perbedaan mendasar PLS yang merupakan SEM berbasis varian dengan LISREL atau AMOS yang berbasis kovarian adalah tujuan penggunaannya. Dibandingkan dengan covariance based SEM (yang diwakili oleh software AMOS, LISREL dan EQS) component based PLS mampu menghindarkan dua masalah besar yang dihadapi oleh covariance based SEM yaitu inadmissible solution dan factor indeterminacy (Tenenhaus et al.,2005). Terdapat beberapa alasan yang menjadi penyebab digunakan PLS dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini alasan-alasan tersebut yaitu: pertama, PLS (Partial Least Square) merupakan metode analisis data yang didasarkan asumsi sampel tidak harus besar, yaitu jumlah sampel kurang dari 100 bisa dilakukan analisis, dan residual distribution. Kedua, PLS (Partial Least Square) dapat digunakan untuk menganalisis teori yang masih dikatakan lemah, karena PLS (Partial Least Square) dapat digunakan untuk prediksi. Ketiga, PLS (Partial Least Square) memungkinkan algoritma dengan menggunakan analisis series ordinary least square (OLS) sehingga diperoleh efisiensi perhitungan olgaritma (Ghozali, 2006). Keempat, pada pendekatan PLS, diasumsikan bahwa semua ukuran variance dapat digunakan untuk menjelaskan

Perbedaan VB-SEM (PLS-SEM ) dengan CB-SEM (AMOS dan LISREL)

Analisis SEM secara umum dapat dibedakan menjadi Variance Based SEM (VB SEM) dan Covariace Based SEM (CBSEM). Pendekatan PLS-SEM didasarkan pada pergeseran analisis dari pengukuran estimasi parameter model menjadi pengukuran prediksi model yang relevan. PLS-SEM menggunakan algoritma iteratif yang terdiri atas beberapa analisis dengan metode kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least Squares). Oleh karena itu, dalam PLS-SEM persoalan identifikasi tidak penting. PLS-SEM justru mampu menangani masalah yang biasanya muncul dalam analisis SEM berbasis kovarian. Pertama, solusi model yang tidak dapat diterima (inadmissible solution) seperti munculnya nilai standardized loading factor > 1 atau varian bernilai 0 atau negatif. Kedua, faktor indeterminacy yaitu faktor yang tidak dapat ditentukan seperti nilai amatan untuk variable laten tidak dapat diproses. Karena PLS memiliki karakteristik algoritma interatif yang khas, maka PLS dapat diterapkan dalam model pengukuran reflektif maupun formatif. Sedangkan analisis CB-SEM hanya menganalisis model pengukuran reflektif (Yamin dan Kurniawan, 2011:15).

Dengan demikian, PLS-SEM dapat dikatakan sebagai komplementari atau pelengkap CB SEM (AMOS dan LISREL) bukannya sebagai pesaing

Pengertian PLS (skripsi dan tesis)

Dalam sebuah penelitian sering kali peneliti dihadapkan pada kondisi di mana ukuran sampel cukup besar, tetapi memiliki landasan teori yang lemah dalam hubungan di antara variable yang dihipotesiskan. Namun tidak jarang pula ditemukan hubungan di antara variable yang sangat kompleks, tetapi ukuran sampel data kecil. Partial Least Square (PLS) adalah salah satu metode alternative Structural Equation Modeling (SEM) yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Terdapat dua pendekatan dalam Structural Equation Modeling (SEM), yaitu SEM berbasis covariance (Covariance Based-SEM, CB-SEM) dan SEM dengan pendekatan variance (VB-SEM) dengan teknik Partial Least Squares (PLS-SEM). PLS-PM kini telah menjadi alat analisis yang popular dengan banyaknya jurnal internasional atau penelitian ilmiah yang menggunakan metode ini. Partial Least Square disingkat PLS merupakan jenis analisis SEM yang berbasis komponen dengan sifat konstruk formatif. PLS pertama kali digunakan untuk mengolah data di bidang economertrics sebagai alternative teknik SEM dengan dasar teori yang lemah. PLS hanya berfungsi sebagai alat analisis prediktor, bukan uji model.

Semula PLS lebih banyak digunakan untuk studi bidang analyticalphysical dan clinical chemistry. Disain PLS dimaksudkan untuk mengatasi keterbatasan analisis regresi dengan teknik OLS (Ordinary Least Square) ketika karakteristik datanya mengalami masalah, seperti : (1). ukuran data kecil, (2). adanya missing value, (3). bentuk sebaran data tidak normal, dan (4). adanya gejala multikolinearitas. OLS regression biasanya menghasilkan data yang tidak stabil apabila jumlah data yang terkumpul (sampel) sedikit, atau adanya missing values maupun multikolinearitas antar prediktor karena kondisi seperti ini dapat meningkatkan standard error dari koefisien yang diukur (Field, 2000 dalam Mustafa dan Wijaya, 2012:11).

PLS yang pada awalnya diberi nama NIPALS (Non-linear Iterative Partial Least Squares) juga dapat disebut sebagai teknik prediction-oriented. Pendekatan PLS secara khusus berguna juga untuk memprediksi variable dependen dengan melibatkan sejumlah besar variable independen. PLS selain digunakan untuk keperluan confirmatory factor analysis (CFA), tetapi dapat juga digunakan untuk exploratory factor analysis (EFA) ketika dasar teori konstruk atau model masih lemah. Pendekatan PLS bersifat asymptotic distribution free (ADF), artinya data yang dianalisis tidak memiliki pola distribusi tertentu, dapat berupa nominal, kategori, ordinal, interval dan rasio.

Pendekatan PLS lebih cocok digunakan untuk analisis yang bersifat prediktif dengan dasar teori yang lemah dan data tidak memenuhi asumsi SEM yang berbasis kovarian. Dengan teknik PLS, diasumsikan bahwa semua ukuran variance berguna untuk dijelaskan. Karena pendekatan mengestimasi variable laten diangap kombinasi linear dari indikator, masalah indereminacy dapat dihindarkan dan memberikan definisi yang pasti dari komponen skor. Teknik PLS menggunakan iterasi algoritma yang terdiri dari serial PLS yang dianggap sebagai model alternative dari Covariance Based SEM (CB-SEM). Pada CB-SEM metode yang dipakai adalah Maximum Likelihood (ML) berorientasi pada teori dan menekankan transisi dari analisis exploratory ke confirmatory. PLS dimaksudkan untuk causal-predictive analysis dalam kondisi kompleksitas tinggi dan didukung teori yang lemah.

Seperti penjelasan di muka, metode PLS juga disebut teknik prediction-oriented. Pendekatan PLS secara khusus berguna untuk meprediksi variable dependen dengan melibatkan banyak variable independen. CB-SEM hanya mampu memprediksi model dengan kompleksitas rendah sampai menengah dengan sedikit indikator.

  Regresi Ordinal (Skripsi dan tesis)

Metode regresi ordinal digunakan untuk memodelkan hubungan antara variabel dependen yang berskala ordinal, misalnya perbedaan kepuasan mahasiswa yang berkaitan dengan pengalaman masa kuliah, dan penjelasan variabel yang menyangkut demografi dan suasana belajar.  Variabel dependen untuk kepuasan siswa diukur dengan golongan , kategori skala empat likert : sangat puas, tidak puasa, puas dan sangat puas.Variabel demografi misalnya gender dan ras. suasana belajar menyangku masalah keterlibatan fakultas, materi kurikulum, penunjang fasilitas dan aktivitas waktu belajar. Untuk membangun model regresi ordinal yang perlu diperhatikan adalah variabel mana yang harus dimasukkan kedalam model dan memilih fungsi hubungan (misal. logit link atau complemeary link) yang menunjukkan kesesuaian model. Selain itu, model statistik yang sesuai, keakuratan hasil klasifikasi dan valdasi model, misalnya parallel lines, umumnya digunakan untuk menyeleksi model yang terbaik.
Seperti penjelasan di atas, regresi ordinal adalah regresi dimana variabel dependen atau terikat yang menggunakan skala ordinal. Apa itu skala ordinal? Skala ordinal adalah skala pengukuran berupa data tingkatan atau rangking. Sedangkan variabel independen atau bebasnya bisa berupa  covariate (jika skala interval atau rasio) dan factor (jika skala nominal atau ordinal)
Terdapat lima pilihan regresi ordinal atau disebut option link. Pilihannya tergantung dari distribusi data yang dianalisis. Kelima option link tersebut adalah :
  1. Logit. program SPSS secara default menggunakan opsi ini. Digunakan pada kebanyakan distribusi data.
  2. Complementary log-log. Digunakan untuk data yang mempunyai kecenderungan bernilai tinggi.
  3. Negative Log-log. Digunakan untuk data yang mempunyai kecenderungan rendah.
  4. Probit. Digunakan jika variabel laten terdistribusi secara normal.
  5. Cauchit (Inverse Cauchy). Digunakan jika variabel laten mempunyai nilai yang ekstrim

ANALISIS HIERARCHICAL CLUSTER (skripsi dan tesis)

” Cluster analysis is technique for grouping individual or object into clusters so that object in same cluster are more like one another than they are like object in other cluster. Specifically the objective is to clasify a sample of entities (individual or object) into a small number mutually exclusive groups based on the similarites among the entities. Cluster analysis usually involves at least two step. The first is the measurement of some form of similarity or association between the entties to determine how many groups really exist in the sample. The second step is to profile the person or variable to determine their composition ” (Hair, Anderson, Black, 1995)
Analisis kluster adalah teknik untuk mengelompokkan individu atau objek menjadi beberapa kelompok tertentu dimana setiap objek yang berada dalam kluster yang sama mempunyai kemiripan satu dengan yang lain dibandingkan dengan anggota kluster yang lain. Secara khusus, tujuan analisis kluster adalah untuk menklasifikasikan entitas sampel (individu atau objek) menjadi sejulah kecil kelompok khusus yang didasarkan pada kemiripan antar entitas. Analisis kluster umumnya membutuhkan dua tahapan. Pertama, mengukur kemiripan atau asosiasi diantara entitas untuk menentukan berapa banyak kelompok yang akan dipakai pada sampel . Kedua, memprofilkan orang atau variabel untuk menentukan posisinya (Hair, Anderson, Tatham, Black, 1995)
Sumber : Yamin dan Kurniawan, 2009
Analisis kluster adalah teknik statistik yang berguna untuk megelompokkan objek atau variabel ke dalam beberapa kelompok tertentu dimana setiap objek memiliki sifat dan karakteristik yang berdekatan. Pada riset pemasaran, analisis kluster biasanya digunakan untuk melakukan proses segmentasi sejumlah responden dalam hal ini konsumen berdasarkan ciri-ciri sejumlah atribut yang ada. Analisis kluster dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu : Hierarchical Cluster dan K-Mean ClusterHierarchical Cluster biasanya digunakan untuk jumlah sampel (data) yang relatif sedikit (< 100) sedangkan K-Mean Cluster digunakan untuk data yang relatif banyak (> 100). Hierarchical berupaya mengelompokkan responden berdasar kemiripan yang ada (persepsi) mereka. Hal ini disebabkan kluster secara hierarki akan melakukan proses dengan membandingkan setiap pasang kasus yang tentunya untuk jumlah kasus yang sedikit

Analisis Varians Dua Arah (Two-Way Anova) (skripsi dan tesis)

“Analysis of variance is statistical technique used to determining whether samples come from populations with equal means. Univariate analysis of variance employs on dependent measure, whereas multivariate analysis of variance compares samples based on two or more dependent variables,”( Hair, Anderson, Tatham, Black, 1995).
Analisis varians adalah teknik statistik yang digunakan untuk memutus apakah sampel yang berasal dari populasi mempunyai mean yang sama. Analisis univariat menggunakan satu sampel dependen, sedangkan analisis multivariat membandingkan satu atau lebih variabel dependen.
Ketika perbandingan rata-rata melibatkan paling sedikit tiga kelompok data, maka dapat digunakan analisis varians. Analisis dengan satu faktor disebut One-Way Anova, analisis varians dua faktor disebut Two-Way Anova dan analisis tiga faktor disebut Three Way-Anova.

PERANAN MEDIATOR DALAM PLS MODEL (Skripsi dan tesis)

Dalam model SEM, konsep dasar analisis yang melibatkan variabel mediator apabila variabel eksogen (independen) mampu mempengaruhi variabel endogen (dependen) melalui variabel lain yang disebut dengan variabel mediator (M). Artinya variabel independen (X) dapat mempengaruhi variabel mediator dan variabel mediator (M) mempengaruhi variabel dependen (Y). Secara visual dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Peranan Mediator dalam PLS
Menurut Baron dan Kenny (1986), peranan variabel sebagai mediator terjadi apabila :
  1. Variasi pada variabel independen mampu menjelaskan secara signifikan variasi dalam variabel mediator (path a)
  2. Variasi pada variabel mediator mampu menjelaskan secara signifikan variasi dalam variabel dependen (path b)
  3. Ketika variabel mediator dikontrol (path a dan path b), hubungan antara variabel independen dan variabel dependen tidak atau signifikan (path c)

Dalam arti variabel independen dapat memprediksi secara langsung variabel dependen, tetapi nilainya lebih kecil dibandingkan dengan nilai prediksi variabel mediator. seandainya nilainya lebih besar kenapa harus melibatkan/melalui variabel mediator? Begitulah sekiranya.
Ada dua model analisis yang melibatkan variabel mediator :
  1. Full Mediation, artinya variabel independen tidak mampu mempengaruhi secara signifikan variabel variabel dependen tanpa melalui variabel mediator.
  2. Part Mediation, artinya variabel independen mampu mempengaruhi secara langsung variabel dependen tanpa melalui/melibatkan variabel mediator.

software PLS (skripsi dan tesis)

Beberapa software PLS yang telah dikembangkan untuk analisis model Partial Least Square (PLS), antara lain :
  1. LVPLS versi 1.8 (Latent Variable Partial Least Square). Ini merupakan software yang pertama kali dikembangkan oleh Jan-Bernd Lohmoller (1984,1987,1989) under DOS, dapat didownload http://kiptron.psyc.virginia.edu/ . Kemudian dikembangkan lagi oleh Wynne Chin (1998,1999,2001) menjadi under Windows dengan tampilan grafis dan tambahan teknik validasi bootstrapping dan jacknifing. Software ini diberi nama PLS Graph versi 3.0. Untuk versi student dapat didownload di http://www.bauer.uh.edu.
  2. SmartPLS, software ini dikembangkan di University of Hamburg Jerman. Software ini dapat didownload di www.smartpls.de.
  3. Visual Partial Least Square (VPLS), dikembangkan oleh Jen Ruei Fu dari National Kaohsiung University Taiwan. Software ini dapat didownload di http://www2.kuas.edu.tw
  4. PLS-GUI, software ini dikembangkan oleh Yuan Li dari Management Science Department, The More School Business, Universitas of South Carolina. Software ini dapat didownload di http://dmsweb.badm.sc.edu
  5. WarpPLS, software ini dikembangkan oleh Ned Kock. Software ini merupakan alternatif path modeling linier dan nonlinier. Dapat didownload di http://www.scriptwarp.com

Pemodelan dalam PLS-Path Modeling (skripsi dan tesis)

Pemodelan dalam PLS-Path Modeling ada 2 model

  1. Model structural (Inner model) yaitu model struktural yang menghubungkan antar variabel laten.
  2. Model Measurement (Outer Model yaitu model pengukuran yang menghubungkan indikator dengan variabel latennya.
Dalam PLS Path Modeling terdapat 2 model yaitu outer model dan Inner model. Kriteria uji dilakukan pada kedua model tersebut.


Outer model (Model Measurement)

Model ini menspesifikasi hubungan antar variabel laten dengan indikator-indikatornya. atau dapat dikatakan bahwa outer model mendefinisikan bagaimana setiap indikator berhubungan dengan variabel latennya. Uji yang dilakukan pada outer model :
  • Convergent Validity. Nilai convergen validity adalah nilai loading faktor pada variabel laten dengan indikator-indikatornya. Nilai yang diharapkan >0.7.
  • Discriminant Validity. Nilai ini merupakan nilai cross loading faktor yang berguna untuk mengetahui apakah konstruk memiliki diskriminan yang memadai yaitu dengan cara membandingkan nilai loading pada konstruk yang dituju harus lebih besar dibandingkan dengan nilai loading dengan konstruk yang lain.
  • Composite Reliability. Data yang memiliki composite reliability >0.8 mempunyi reliabilitas yang tinggi.
  • Average Variance Extracted (AVE). Nilai AVE yang diharapkan >0.5.
  • Cronbach Alpha. Uji reliabilitas diperkuat dengan Cronbach Alpha.Nilai diharapkan >0.6 untuk semua konstruk.

Uji yang dilakukan diatas merupakan uji pada outer model untuk indikator reflektif. Untuk indikator formatif dilakukan pengujian yang berbeda. Uji untuk indikator formatif yaitu :

  • Significance of weights. Nilai weight indikator formatif dengan konstruknya harus signifikan.
  • Multicolliniearity. Uji multicolliniearity dilakukan untuk mengetahui hubungan antar indikator. Untuk mengetahui apakah indikator formatif mengalami multicolliniearity dengan mengetahui nilai VIF. Nilai VIF antara 5- 10 dapat dikatakan bahwa indikator tersebut terjadi multicolliniearity.

Masih ada dua uji untuk indikator formatif yaitu nomological validity dan external validity.

Inner Model (Model Structural).
Uji pada model struktural dilakukan untuk menguji hubungan antara konstruk laten. Ada beberapa uji untuk model struktural yaitu :
  • R Square pada konstruk endogen. Nilai R Square adalah koefisien determinasi pada konstruk endogen. Menurut Chin (1998), nilai R square sebesar 0.67 (kuat), 0.33 (moderat) dan 0.19 (lemah)
  • Estimate for Path Coefficients, merupakan nilai koefisen jalur atau besarnya hubungan/pengaruh konstruk laten. Dilakukan dengan prosedur Bootrapping.
  • Effect Size (f square). Dilakukan untuk megetahui kebaikan model.
  • Prediction relevance (Q square) atau dikenal dengan Stone-Geisser’s. Uji ini dilakukan untuk mengetahui kapabilitas prediksi dengan prosedur blinfolding. Apabila nilai yang didapatkan 0.02 (kecil), 0.15 (sedang) dan 0.35 (besar). Hanya dapat dilakukan untuk konstruk endogen dengan indikator reflektif

Partial Least Square (skripsi dan tesis)

Partial Least Square (PLS) dikembangkan pertama kali oleh Herman Wold (1982). Ada beberapa metode yang dikembangkan berkaitan dengan PLS yaitu model PLS Regression (PLS-R) dan PLS Path Modeling (PLS-PM ). PLS Path Modeling dikembangkan sebagai alternatif pemodelan persamaan struktural ( SEM) yang dasar teorinya lemah. PLS-PM berbasis varian berbeda dengan metode SEM dengan software AMOS, Lisrel, EQS menggunakan basis kovarian.
Ada beberapa hal yang membedakan analisis PLS dengan model analisis SEM yang lain :

  1. Data tidak harus berdistribusi normal multivariate.
  2. Dapat digunakan sampel kecil. Minimal sampel >30 dapat digunakan.
  3. PLS selain dapat digunakan unutk mengkonfirmasikan teori, dapat juga digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antar variabel laten.
  4. PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator reflektif dan formatif
  5. PLS mampu mengestimasi model yang besar dan kompleks dengan ratusan variabel laten dan ribuan indikator (Falk and Miller, 1992)

Model Indikator Formatif Dalam PLS (skripsi dan tesis)

Konstruk dengan indikator formatif mempunyai karakteristik berupa komposit, seperti yang digunakan dalam literatur ekonomi yaitu index of sustainable economics welfare, the human development index, dan the quality of life index. Asal usul model formatif dapat ditelusuri kembali pada “operational definition”, dan berdasarkan definisi operasional, maka dapat dinyatakan tepat menggunakan model formatif atau reflesif. Jika η menggambarkan suatu variabel laten dan x adalah indikator, maka: η= x Oleh karena itu, pada model formatif variabel komposit seolah-olah dipengaruhi (ditentukan) oleh indikatornya. Jadi arah hubungan kausalitas seolah-olah dari indikator ke variabel laten. Ciri-ciri model indikator formatif adalah: 1. Arah hubungan kausalitas seolah-olah dari indikator ke konstruk 2. Antar indikator diasumsikan tidak berkorelasi (tidak diperlukan uji konsistensi internal atau Alpha Cronbach) 3. Menghilangkan satu indikator berakibat merubah makna dari konstruk 4. Kesalahan pengukuran diletakkan pada tingkat konstruk (zeta)

Model Indikator Refleksif (skripsi dan tesis)

Model indikator refleksif dikembangkan berdasarkan pada classical test theory yang mengasumsikan bahwa variasi skor pengukuran konstruk merupakan fungsi dari true score ditambah error. Ciri-ciri model indikator reflektif adalah: 1. Arah hubungan kausalitas seolah-olah dari konstruk ke indikator 2. Antar indikator diarapkan saling berkorelasi (memiliki internal consitency reliability) 3. Menghilangkan satu indikator dari model pengukuran tidak akan merubah makna dan arti konstruk 4. Menghitung adanya kesalahan pengukuran (error) pada tingkat indikator

Gambar Umum PLS (skripsi dan tesis)

PLS merupakan metode analisis yang powerful karena dapat diterapkan pada semua skala data, tidak membutuhkan banyak asumsi dan ukuran sampel tidak harus besar. PLS selain dapat digunakan sebagai konfirmasi teori juga dapat digunakan untuk membangun hubungan yang belum ada landasan terorinya atau untuk pengujian proposisi. PLS juga dapat digunakan untuk pemodelan structural dengan indiaktor bersifat reflektif ataupun formatif. PLS dibandingkan dengan LISREL mampu menangani dua masalah serius : (a) Solusi yang tidak dapat diterima (inadmissible solution); hal ini terjadi karena PLS berbasis varians dan bukan kovarians, sehingga masalah matriks singularity tidak akan pernah terjadi. Di samping itu, PLS bekerja pada model struktural yang bersifat rekursif, sehingga masalah un-identified, under-identified atau overidentified juga tidak akan terjadi. (b) Faktor yang tidak dapat ditentukan (factor indeterminacy), yaitu adanya lebih dari satu faktor yang terdapat dalam sekumpulan indikator sebuah variabel. Khusus indikator yang bersifat formatif tidak memerlukan adanya comon factor sehingga selalu akan diperoleh variabel laten yang bersifat komposit. Dalam hal ini variabel laten merupakan kombinasi linier dari indikator-indikatornya.

Keabsahan Kualitatif (Skripsi dan tesis)

. Empat criteria keabsahan dan keajegan yang diperlukan dalam suatu penelitian pendekatan kualitatif. Empat hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Keabsahan Konstruk (Construct validity) Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastiaan bahwa yang berukur benar-benar merupakan variabel yang ingin di ukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai dengan proses pengumpulan data yang tepat. Salah satu caranya adalah dengan proses triangulasi, yaitu tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.
2. Keabsahan Internal (Internal validity) Keabsahan internal merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh kesimpulan hasil penelitian menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Keabsahan ini dapat dicapai melalui proses analisis dan interpretasi yang tepat. Aktivitas dalam melakukan penelitian kualitatif akan selalu berubah dan tentunya akan mempengaruhi hasil dari penelitian tersebut. Walaupun telah dilakukan uji keabsahan internal, tetap ada kemungkinan munculnya kesimpulan lain yang berbeda.
3. Keabsahan Eksternal (Eksternal validity) Keabsahan ekternal mengacu pada seberapa jauh hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada kasus lain. Walaupun dalam penelitian kualitatif memeiliki sifat tidak ada kesimpulan yang  pasti, penelitiaan kualitatif tetapi dapat dikatakan memiliki keabsahan ekternal terhadap kasus- kasus lain selama kasus tersebut memiliki konteks yang sama.
 4. Keajegan (Reabilitas) Keajegan merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh penelitian berikutnya akan mencapai hasil yang sama apabila mengulang penelitian yang sama, sekali lagi. Keajegan dalam penelitian ini mengacu pada kemungkinan peneliti selanjutnya memperoleh hasil yang sama apabila penelitian dilakukan sekali lagi dengan subjek yang sama. Hal ini menunjukan bahwa konsep keajegan penelitian kualitatif selain menekankan pada desain penelitian, juga pada cara pengumpulan data dan pengolahan data

Linear Integrated Discret Optimizer (LINDO) (skripsi dan tesis)

LINDO adalah program komputer yang digunakan untuk aplikasi LP, yaitu suatu pemodelan matematik yang digunakan untuk mengoptimalkan suatu tujuan dengan berbagai kendala yang ada. LP merupakan bagian dari management science atau penelitian operasional. Program Lindo ini diciptakan oleh profesor Linus Scrage dari Scrage dari Graduate School of business, Chicago. Dari sudut pandang teori sistem, program ini menghendaki masukan model matematik LP dengan format standar. Masukan tersebut akan diolah dengan proses tertentu, agar menghasilkan keluaran. Hasil olahan program sebagai keluaran sistem, dapat ditampilkan dalam dua (2) format, yaitu format Lindo dan format simpleks. Format simpleks di lain pihak, merupakan hasil olahan program yang masih mentah dan masih merupakan keluaran langsung dari program yang perlu dikembangkan lagi agar lebih bermanfaat dalam proses pembuatan keputusan manajerial. Selama peubah-peubah dalam program sasaran linear juga mengikuti sifat linear, maka Lindo dapat digunakan (Siswanto 2007).

Analisis Sensivitas Linear Programming (skripsi dan tesis)

Seorang analisis jarang dapat menentukan parameter model LP seperti (cj,bi,aij) dengan pasti, karena nilai parameter ini adalah fungsi dari beberapa uncontrolable variabel. Misalnya, permintaan masa depan, biaya bahan mentah dan harga energi sebagai sumber daya tak dapat diperkirakan dengan tepat sebelum masalah diselesaikan. Sementara itu solusi optimum model LP didasarkan pada parameter ini. Akibatnya analisis perlu mengamati pengaruh perubahan parameter terhadap solusi optimum. Analisis perubahan parameter dan pengaruhnya terhadap solusi LP dinamakan post optimality analysis. Post optimality menunjukan bahwa analisis ini terjadi setelah diperoleh solusi optimum (Mulyono, 2007). Melalui analisis sensitivitas dapat dievaluasi pengaruh perubahanperubahan parameter dengan sedikit tambahan perhitungan berdasarkan tabel simpleks optimum. Namum, jika perubahan-perubahan terlalu banyak, meka perhitungan post optimum dapat menjadi meletihkan, sehingga lebih efisien, jika menyelesaikan kembali masalah LP dengan metode simpleks.   Dalam analisis sensitivitas, perubahan-perubahan parameter dibagi menjadi : 1. Perubahan koefisien fungsi tujuan (cj), 2. Perubahan konstan sisi kanan (bi), 3. Perubahan kendala atau koefisien matriks A, 4. Penambahan peubah baru, 5. Penambahan kendala baru.

Metode Simpleks (skripsi dan tesis)

Menurut Mulyono (2007) metode simpleks pertama kali diperkenalkan oleh G. B. Dantzig pada tahun 1947. Metode ini menyelesaikan masalah LP melalui perhitungan-ulang (iteration) di mana langkah-langkah perhitungan yang sama diulang berkali-kali sebelum solusi optimum dicapai. Dalam menggunakan meode simpleks untuk menyelesaikan masalahmasalah LP, model LP harus diubah ke dalam bentuk umum yang dinamakan bentuk baku atau standart form. Ciri-ciri bentuk baku model LP adalah : 1. Semua kendala berupa persamaan dengan sisi kanan nonnegatif 2. Semua variabel nonnegatif 3. Fungsi tujuan dapat maksimum maupun minimum Berikut adalah cara merubah ke bentuk baku : 1. Kendala a. Suatu kendala jenis ≤ (≥) dapat diubah menjadi suatu persamaan dengan menambahkan suatu variabel slack sisi kiri kendala b. Sisi kanan suatu persamaan dapat selalu dibuat nonnegatif dengan cara mengalikan kedua sisi dengan -1 c. Arah pertidaksamaan dibalik jikan kedua sisi dikalikan dengan -1 9 2. Variabel Sebagian atau semua variabel dikatakan unrestricted jika merekan dapat memiliki nilai negative maupun positif. Variabel unrestricted dapat diekspresikan dalam variabel nonnegatif dengan menggunakan subtitusi. 3. Fungsi tujuan Meskipun model LP dapat berjenis maksimisasi maupun minimisasi, terkadang bermanfaat untuk mengubah salah satu bentuk ke bentuk lain. Maksimisasi dari suatu fungsi adalah ekuivalen dengan minimisasi dari negative fungsi yang sama dan sebaliknya

Linear Programming (skripsi dan tesis)

Sejak diperkenalkan pada tahun 1940-an, Linear Programming (LP) menjadi salah satu alat riset operasi yang paling efektif. LP merupakan metode matematika dalam mengalokasikan sumber daya yang langka untuk mencapai tujuan seperti memaksimumkan keuntungan atau menimumkan biaya. LP banyak diterapkan dalam membantu menyelesaikan masalah ekonomi, industri, militer, sosial dan lain-lain (Mulyono, 2007). Subagyo dalam Yuliawan (2009), mendefinisikan LP sebagai suatu model umum yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah pengalokasian sumber-sumber yang terbatas secara optimal. LP mencangkup perencanaan aktivitas-aktivitas untuk mencapai suatu hasil yang optimal, yaitu hasil yang menggambarkan tercapainya tujuan tertentu yang paling baik (menurut model 7 matematis) diantara alternaif-alternatif yang mungkin, dengan menggunakan fungsi linear. Perumusan masalah umum pengalokasian sumber daya dapat dirumuskan secara matematik dengan model LP. Fungsi model LP meliputi dua macam fungsi, yakni fungsi tujuan dan fungsi kendala. Fungsi tujuan adalah fungsi yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai dalam permasalahan LP yang berkaitan dengan pengaturan secara optimal sumber daya, untuk memperoleh keuntungan secara maksimal atau biaya yang minimal. Nilai yang akan dioptimalkan pada umumnya dinyatakan sebagai Z, sedangkan fungsi kendala adalah fungsi yang menggambarkan secara matematik batasan ketersediaan kapasitas yang akan dialokasikan secara optimal ke berbagai aktivitas. Asumsi model LP yang harus dipenuhi adalah sebagi berikut :

1. Proporsionalitas Bila peubah keputusan berubah, maka dampak peubahnya akan menyebar dalam proporsi tertentu terhadap fungsi tujuan dan fungsi kendala.

2. Aditivitas Nilai koefiensi pengambil keputusan fungsi tujuan merupakan jumlah dari nilai individu-individu dalam model LP.

3. Divisibilitas Peubah pengambil keputusan dapat dibagi kedalam pecahan-pecahan apabila diperlukan. 4. Deterministik Semua parameter yang terdapt dalam model LP adalah tetap, diketahui dan dapat diperkirakan secara pasti.

5. Linearitas Perbandingan antara masukan yang satu dengan masukan lainya, atau untuk suatu masukan dengan keluaran besarnya tetap dan tidak bergantung pada tingkat produksi.

Hubungan Antara Linier Programming dengan Laba (Skripsi dan tesis0

Dalam linier programming terdapat dua tujuan yang bisa dicapai yaitu memaksimumkan laba atau meminimumkan biaya, setiap perusahaan pasti menginginkan keuntungan dalam setiap proses produksinya agar menutupi biaya operasional yang telah dikeluarkan, akan tetapi untuk mencapai keuntungan yang diinginkan perusahaan seringkali mendapatkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi, seperti penggunaan sumber daya yang tidak optimal yang menyebabkan keuntungan tidak maksimal, memproduksi barang yang terlalu banyak tetapi  penjualan terhadap produk tidak maksimal, tingginya biaya produksi yang dikeluarkan tetapi keuntungan tidak maksimal. Linier programming adalah model pemecahan permasalaah yang dapat digunakan oleh setiap perusahaan produksi ataupun jasa yang menginginkan pengoptimalan penggunaan sumber daya sehingga tujuan dalam memaksimumkan keuntungan atau meminimumkan biaya dapat tercapai dengan menggunakan metode kuantitatif

Estimasi Parameter Model Dengan Data Panel (skripsi dan tesis)

untuk mengestimasi parameter model dengan data panel, terdapat beberapa teknik yang ditawarkan, yaitu:

1.Ordinary Least Square

Tehnik ini sama pada analisis data cross sectiondan time series karena mengasumsikan bahwa koefisien intercept dan slopenya sama(konstan) untuk setiap data cross section dan time series.dengan kata lain model ini tidak memperhatikan dimensi individu dan waktu. namun, untuk melakukan regresinya perlu menggabungkan data cross section dan time seriesyang biasa disebut pool data. namun, dianggap tidak masuk akal karena karena menganggap tidak adanya efek dimensi individu dan waktu

Model sebagai berikut:
pool model

2. Model Efek Tetap (Fixed Effect)

Tehnik Model Efek Tetap sudah memasukkan efek dimensi individu dan waktu. pada model ini efek dimensi individu dan waktu terletak pada intercept dan slope pada model. sehingga pada model ini menganggap bahwa yang sangat mempengaruhi variabel dependent adalah slope dan intercept.

Model sebagai berikut:
fixed model

3. Model Efek Random (random effect)
Tehnik ketiga ini hampir sma dengan Model fixed effect karena memasukkan efek dimensi individu dan waktu. namun, model ini beranggapan bahwa efek dimensi tersebut terletak pada error dari model.

Model sebagai berikut:
random effect model

Estimasi Regresi Data Panel (skripsi dan tesis)

Secara umum dengan menggunakan data panel kita akan menghasilkan intersep dan slope koefisien yang berbeda pada setiap perusahaan dan setiap periode waktu. Oleh karena itu, di dalam mengestimasi persamaan (3) akan sangat tergantung dari asumsi yang kita buat tentang intersep, koefisien slope dan variabel gangguannya. Ada beberapa kemungkinan yang akan muncul, yaitu:
a. Diasumsikan intersep dan slope adalah tetap sepanjang waktu dan individu
(perusahaan) dan perbedaan intersep dan slope dijelaskan oleh variabel gangguan
b. Diasumsikan slope adalah tetap tetapi intersep berbeda antar individu
c. Diasumsikan slope tetap tetapi intersep berbeda baik antar waktu maupun antar individu
d. Diasumsikan intersep dan slope berbeda antar individu
e. Diasumsikan intersep dan slope berbeda antar waktu dan antar individu

Pemodelan Data Panel (skripsi dan tesis)

Regresi dengan menggunakan data panel disebut model regresi data panel. Ada beberapa keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan data panel. Pertama, data panel merupakan gabungan data data time seris dan cross section mampu menyediakan data yang lebih banyak sehingga akan menghasilkan degree of freedom yang lebih besar.
Kedua, menggabungkan informasi dari data time series dan cross section dapat mengatasi masalah yang timbul ketika ada masalah penghilangan variabel (ommited-variable).

Model regresi linier menggunakan data cross section dan time series.
• Model dengan data cross section
Yi = α + β Xi + εi ; i = 1,2,….,N (1)
N: banyaknya data cross section
• Mode dengan data time series
Yt = α + β Xt + εt ; t = 1,2,….,T (2)
N: banyaknya data time series
Mengingat data panel merupakan gabungan dari data cross section dan data time series, maka modelnya dituliskan dengan:
Yit = α + β Xit + εit ; i = 1,2,….,N; t = 1,2,….., T (3)
di mana :
N = banyaknya observasi
T = banyaknya waktu
N x T = banyaknya data panel

Pengertian Data Panel (skripsi dan tesis)

Data panel adalah gabungan antara data runtut waktu (time series) dan data silang (cross section). Data runtut waktu biasanya meliputi satu objek/individu (misalnya harga saham, kurs mata uang, SBI, atau tingkat inflasi), tetapi meliputi beberapa periode (bisaharian, bulanan, kuartalan, atau tahunan). Data silang terdiri dari atas beberapa atau banyak objek, sering disebut responden (misalnya perusahaan) dengan beberapa jenis data (misalnya; laba, biaya iklan, laba ditahan, dan tingkat investasi) dalam suatu periode waktu tertentu. Ketika kita melakukan suatu observasi perilaku unit ekonomi seperti rumah tangga, perusahaan atau Negara, kita tidak hanya akan melakukan observasi
terhadap unit-unit tersebut di dalam waktu yang bersamaan tetapi juga perilaku unit-unit tersebut pada berbagai periode waktu

Metode Regresi Data panel (skripsi dan tesis)

 

Common Effect

Teknik yang digunakan dalam metode Common Effect hanya dengan mengkombinasikan data time series dan cross section. Dengan hanya  menggabungkan kedua jenis data tersebut maka dapat digunakan metode OLS untuk mengestimasi model data panel. Dalam pendekatan ini tidak memperhatikan dimensi individu maupun waktu, dan dapat diasumsikan bahwa perilaku data antar perusahaan sama dalam berbagai rentang waktu. Asumsi ini jelas sangat jauh dari realita sebenarnya, karena karakteristik antar perusahaan baik dari segi kewilayahan jelas sangat berbeda

Fixed Effect

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Fixed Effect. Metode dengan menggunakan variabel dummy untuk menangkap adanya perbedaan intersep. Metode ini mengasumsikan bahwa koefisien regresi (slope) tetap antar perusahaan dan antar waktu, namun intersepnya berbeda antar perusahaan namun sama antar waktu (time invariant). Namun metode ini membawa kelemahan yaitu berkurangnya derajat kebebasan (degree of freedom) yang pada akhirnya mengurangi efisiensi parameter.

Random Effect

Tenik yang digunakan dalam Metode Random Effect adalah dengan menambahkan variabel gangguan (error terms) yang mungkin saja akan muncul pada hubungan antar waktu dan antar kabupaten/kota. Teknik metode OLS tidak dapat digunakan untuk mendapatkan estimator yang efisien, sehingga lebih tepat untuk menggunakan Metode Generalized Least Square (GLS).

Keunggulan Regresi Data panel (skripsi dan tesis)

 

Keunggulan regresi data panel menurut Wibisono (2005) antara lain :

Pertama. Panel data mampu memperhitungkan heterogenitas individu secara ekspilisit dengan mengizinkan variabel spesifik individu;

kedua. Kemampuan mengontrol heterogenitas ini selanjutnya menjadikan data panel dapat digunakan untuk menguji dan membangun model perilaku lebih kompleks.

Ketiga, data panel mendasarkan diri pada observasi cross-section yang berulang-ulang (time series), sehingga metode data panel cocok digunakan sebagai study of dynamic adjustment.

Keempat, tingginya jumlah observasi memiliki implikasi pada data yang lebih informative, lebih variatif, dan kolinieritas (multiko) antara data semakin berkurang, dan derajat kebebasan (degree of freedom/df) lebih tinggi sehingga dapat diperoleh hasil estimasi yang lebih efisien.

Kelima. data panel dapat digunakan untuk mempelajari model-model perilaku yang kompleks.

Keenam, Data panel dapat digunakan untuk meminimalkan bias yang mungkin ditimbulkan oleh agregasi data individu.

Dengan keunggulan tersebut maka implikasi pada tidak harus dilakukannya pengujian asumsi klasik dalam model data panel (Verbeek, 2000; Gujarati, 2006; Wibisono, 2005; Aulia; 2004, dalam Shochrul R, Ajija, dkk. 2011 ).

Definisi Data Panel (skripsi dan tesis)

 

Regresi data panel merupakan teknik regresi yang menggabungkan data time series dengan cross section.

Menurut Agus Widarjono (2007) metode regresi data panel mempunyai beberapa keuntungan jika dibandingkan dengan data time series atau cross section, yaitu :

  1. Data panel yang merupakan gabungan dua data time series dan cross section mampu menyediakan data yang lebih banyak sehingga akan menghasilkan degree of freedom yang lebih besar.
  2. Menggabungkan informasi dari data time series dan cross section dapat mengatasi masalah yang timbul ketika ada masalah penghilangan variabel (ommited-variabel)

Kelebihan Regresi Data Panel (skripsi dan tesis)

 

Menurut Widarjono (2007: 249), ada beberapa keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan data panel. Pertama, data panel merupakan gabungan dua data cross section dan time series mampu menyediakan data yang lebih banyak sehingga akan menghasilkan derajat kebebasan (degree of freedom) yang lebih besar. Kedua, menggabungkan informasi data dari cross section dan time series dapat mengatasi masalah yang timbul ketika ada masalah penghilangan variabel

Tujuan Penggunaan Data Panel (skripsi dan tesis)

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa regresi data panel digunakan pada saat jenis datanya adalah data panel yaitu data yang memiliki karakteristik cross section dan time series. Apakah setiap analisis hubungan kausalitas dengan data panel harus menggunakan regresi data panel? Tentu saja tidak. Perlu beberapa pertimbangan dalam penggunaan regresi data panel selain dari jenis datanya, seperti tujuan penelitiannya. Jika tujuan penelitian tidak menginginkan adanya analisis terhadap pengaruh perbedaan entitas (individu) dan atau pengaruh perbedaan periode pengamatan, maka tidak perlu menggunakan analisis regresi data panel cukup regresi linier saja. Tetapi jika tujuan penelitian menginginkan adanya pengaruh beda entitas dan atau periode maka regresi data panel cocok digunakan sebagai model penelitian. Meskipun demikian, bukan berarti tidak boleh sebuah penelitian yang memiliki data panel tetapi tidak memiliki spesifikasi tujuan seperti disebut di atas menggunakan regresi data panel, boleh-boleh saja, tetapi perlu dipertimbangakan kompleksitas model dan intepretasinya. Apabila kita mengabaikan tujuan spesifik seperti yang disebutkan di atas, analisis regresi data panel memiliki kelebihan dibandingkan dengan analisis regresi linier, salah satunya alternatif pilihan model yang relatif lebih banyak (tidak hanya satu) dan pada saat tertentu tidak wajibnya pemenuhan asumsi klasik sebagaimana metode OLS dalam regresi linier.

Regresi Data Panel (skripsi dan tesis)

 

Regresi data panel merupakan pengembangan dari regresi linier dengan metode OLS yang memiliki kekhususan dari segi jenis data dan tujuan analisisnya. Dari segi jenis data, regresi data panel memiliki karakteristik (jenis) data cross section dan time series. Sifat cross section data ditunjukkan oleh data yang terdiri lebih dari satu entitas (individu), sedangkan sifat time series ditunjukkan oleh setiap individu memiliki lebih dari satu pengamatan waktu (periode). Misal pada suatu penelitian diamati entitas yang terdiri dari empat perusahaan dengan masing-masing perusahaan memiliki periode pengamatan yang sama yaitu 15 tahun dari tahun 1935 sampai dengan 1954.

Dilihat dari tujuan analisis data, data panel berguna untuk melihat dampak ekonomis yang tidak terpisahkan antar setiap individu dalam beberapa periode, dan hal ini tidak bisa didapatkan dari penggunaan data cross section atau data time series secara terpisah. Adanya perbedaan karakteristik variabel terikat dari setiap entitas atau adanya pengaruh variabel lain di luar model yang ingin diamati pengaruhnya penggunaan regresi data panel akan efektif karena regresi linier tidak dapat melakukannya.

ASUMSI KLASIK DALAM DATA PANEL  (skripsi dan tesis)

 

Data panel adalah regresi yang menggabungkan data time series dan data cross section (Widarjono, 2009). Ada beberapa keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan estimasi data panel. Pertama, meningkatkan jumlah obeservasi (sampel), dan kedua, memperoleh variasi antar unit yang berbeda menurut ruang dan variasi menurut waktu (Kuncoro, 2012). Menurut Gujarati (2012) data panel sedikit terjadi kolinearitas antar variabel sehingga sangat kecil kemungkinan terjadi multikolinearitas. Berdasarkan uraian tersebut asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian adalah uji autokorelasi dan uji heterokedastisitas.

  1. Uji Autokorelasi

Autokorelasi muncul karena residual yang tidak bebas antar satu observasi ke observasi lainnya (Kuncoro, 2011). Hal ini disebabkan karena error pada individu cenderung mempengaruhi individu yang sama pada periode berikutnya. Masalah autokorelasi sering terjadi pada data time series (runtut waktu). Deteksi autokorelasi pada data panel dapat melalui uji Durbin-Watson. Nilai uji Durbin-Watson dibandingkan dengan nilai tabel Durbin-Watson untuk mengetahui keberadaan korelasi positif atau negatif (Gujarati, 2012). Keputusan mengenai keberadaan autokorelasi sebagi berikut :

  1. Jika d < dl, berarti terdapat autokorelasi positif
  2. Jika d > (4 – dl), berarti terdapat autokorelasi negatif
  3. Jika du < d < (4 – dl), berarti tidak terdapat autokorelasi
  4. Jika dl < d < du atau (4 – du), berarti tidak dapat disimpulkan
  5. Uji Heterokedastisitas

Heterokedastisitas timbul apabila nilai residual dari model tidak memiliki varians yang konstan. Artinya, setiap observasi mempunyai reliabilitas yang berbeda-beda akibat perubahan kondisi yang melatarbelakangi tidak terangkum dalam model (Kuncoro, 2011). Gejala ini sering terjadi pada data cross section (Gujarati, 2012), sehingga sangat dimungkinkan terjadi heterokedastisitas pada data panel.

Implikasi terjadi autokorelasi dan heterokedastisitas pada data panel dapat diperbaiki dengan model Cross-section SUR. Apabila model data panel mengalami heterokedastisitas tanpa autokorelasi dapat diatasi dengan model Cross-section Weight

MENENTUKAN MODEL TERBAIK  UNTUK DATA PANEL (skripsi dan tesis)

 

Penentuan model terbaik antara common effect, fixed effect, dan random effect menggunakan dua teknik estimasi model. Dua teknik ini digunakan dalam regresi data panel untuk memperoleh model yang tepat dalam mengestimasi regresi data panel. Dua uji yang digunakan, pertama Chow test digunakan untuk memilih antara model common effect atau fixed effect. Kedua, Hausman test digunakan untuk memilih antara model fixed effect atau random effect yang terbaik dalam mengestimasi regresi data panel.  

  1. Chow Test

Chow test merupakan uji untuk membandingkan model common effect dengan fixed effect (Widarjono, 2009). Chow test dalam penelitian ini menggunakan program Eviews. Hipotesis yang dibentuk dalam Chow test adalah sebagai berikut :

H0 : Model Common Effect

H1 : Model Fixed Effect

H0 ditolak jika P-value lebih kecil dari nilai a. Sebaliknya, H0 diterima jika P-value lebih besar dari nilai a. Nilai a yang digunakan sebesar 5%.

  1. Hausman Test

Pengujian ini membandingkan model fixed effect dengan random effect dalam menentukan model yang terbaik untuk digunakan sebagai model regresi data panel (Gujarati, 2012). Hausman test menggunakan program yang serupa dengan Chow test yaitu program Eviews. . Hipotesis yang dibentuk dalam Hausman test adalah sebagai berikut :

H0 : Model Random Effect

H1 : Model Fixed Effect

H0 ditolak jika P-value lebih kecil dari nilai a. Sebaliknya, H0 diterima jika P-value lebih besar dari nilai a. Nilai a yang digunakan sebesar 5%.

 Pemilihan Model Untuk Data Panel (skripsi dan tesis)

Untuk memilih model yang paling tepat digunakan dalam mengelola data panel, terdapat beberapa pengujian yang dapat dilakukan yakni:

  1. Uji Chow

Chow test yakni pengujian untuk menentukan model Fixed Effet atau Random Effect yang paling tepat digunakan dalam mengestimasi data panel. Pembahasan uji Chow akan dijelaskan lebih lanjut pada Part 3.

  1. Uji Hausman

Hausman test adalah pengujian statistik untuk memilih apakah model Fixed Effect atau Random Effect yang paling tepat digunakan. Pembahasan uji Hausman akan dijelaskan lebih lanjut pada Part 4.

  1. Uji Lagrange Multiplier

Untuk mengetahui apakah model Random Effect lebih baik daripada metode Common Effect (OLS) digunakan uji Lagrange Multiplier (LM). P

Metode Estimasi Model Regresi Panel (skripsi dan tesis)

Dalam metode estimasi model regresi dengan menggunakan data panel dapat dilakukan melalui tiga pendekatan, antara lain:

  1. Common Effect Model

Merupakan pendekatan model data panel yang paling sederhana karena hanya mengkombinasikan data time series dan cross section. Pada model ini tidak diperhatikan dimensi waktu maupun individu, sehingga diasumsikan bahwa perilaku data perusahaan sama dalam berbagai kurun waktu. Metode ini bisa menggunakan pendekatan Ordinary Least Square (OLS) atau teknik kuadrat terkecil untuk mengestimasi model data panel.

  1. Fixed Effect Model

Model ini mengasumsikan bahwa perbedaan antar individu dapat diakomodasi dari perbedaan intersepnya. Untuk mengestimasi data panel model Fixed Effects menggunakan teknik variable dummy untuk menangkap perbedaan intersep antar perusahaan, perbedaan intersep bisa terjadi karena perbedaan budaya kerja, manajerial, dan insentif. Namun demikian slopnya sama antar perusahaan. Model estimasi ini sering juga disebut dengan teknik Least Squares Dummy Variable (LSDV).

  1.  Random Effect Model

Model ini akan mengestimasi data panel dimana variabel gangguan  mungkin saling berhubungan antar waktu dan antar individu. Pada model Random Effect perbedaan intersep diakomodasi oleh error terms masing-masing perusahaan. Keuntungan menggunkan model Random Effect yakni menghilangkan heteroskedastisitas. Model ini juga disebut dengan Error Component Model (ECM) atau teknik Generalized Least Square (GLS)

 Pengertian Data Panel (skripsi dan tesis)

Data panel adalah gabungan antara data runtut waktu (time series) dan data silang (cross section). Misalkan anda sebagai seorang peneliti ingin meneliti bank Mandiri dalam kurun waktu 2000-2013 maka anda melakukan penelitian menggunakn data time series. Contoh lain pada tahun 2009 keuntungan industri perbankan Indonesia di atas rata-rata  negara-negara ASEAN, apabila anda ingin meneliti fenomena tersebut dengan memasukan data semua bank dalam waktu 2009 saja, penelitian anda disebut menggunakan data cross section. Sedangkan jika anda ingin meneliti banyak bank dan dengan beberapa periode waktu (misalnya 10 bank dalam kurun waktu 5 tahun) penelitian anda menggunakan data panel.

Menurut Agus Widarjono (2009) penggunaan data panel dalam sebuah observasi mempunyai beberapa keuntungan yang diperoleh. Pertama, data panel yang merupakan gabungan dua data time series dan cross section mampu menyediakan data yang lebih banyak sehingga akan lebih menghasilkan degree of freedom yang lebih besar. Kedua, menggabungkan informasi dari data time series dan cross section dapat mengatasi masalah yang timbul ketika ada masalah penghilangan variabel (omitted-variabel).

Hsiao (1986), mencatat bahwa penggunaan panel data dalam penelitian ekonomi memiliki beberapa keuntungan utama dibandingkan data jenis cross section maupun time series.

  1. Pertama, dapat memberikan peneliti jumlah pengamatan yang besar, meningkatkan degree of freedom (derajat kebebasan), data memiliki variabilitas yang besar dan mengurangi kolinieritas antara variabel penjelas, di mana dapat menghasilkan estimasi ekonometri yang efisien.
  2. Kedua, panel data dapat memberikan informasi lebih banyak yang tidak dapat diberikan hanya oleh data cross section atau time series saja.
  3. Ketiga, panel data dapat memberikan penyelesaian yang lebih baik dalam inferensi perubahan dinamis dibandingkan data cross section.

Pemilihan Teknik Estimasi Regresi Data Panel (skripsi dan tesis)

     Seperti diketahui terdapat tiga jenis teknik estimasi model regresi data panel, yaitu model dengan metode OLS (common), model Fixed Effect dan model Random Effect. Pertanyaan yang muncul adalah teknik mana yang sebaiknya dipilih untuk regresi data panel.
  1. Uji Statistik F

    Uji Statistik F digunakan untuk memilih antara metode OLS tanpa variabel dummy atau Fixed Effect. Setelah kita melakukan regresi dua model yaitu model dengan asumsi bahwa slope dan intersep sama dan model dengan asumsi bahwa slope sama tetapi beda intersep, pertanyaan yang muncul adalah model mana yang lebih baik? Apakah penambahan dummy menyebabkan residual sum of squares menjadi menurun atau tidak? Keputusan apakah kita sebaiknya menambah variabel dummy untuk mengetahui bahwa intersep berbeda antar perusahaan dengan metode Fixed Effect dapat diuji dengan uji F statistik. Uji F Statistik disini merupakan uji perbedaan dua regresi sebagaimana uji Chow. Sekarang uji F kita gunakan untuk mengetahui apakah teknik regresi data panel dengan fixed effect lebih baik dari model regresi data panel tanpa variabel dummy dengan melihat residual sum of squares (RSS). Adapun uji F statistiknya adalah sebagai berikut: Dimana RSS1 dan RSS1 merupakan residual sum of square teknik tanpa variabel dummy dan teknik fixed effect dengan variabel dummy.

  1. Uji Langrange Multiplier (LM)

    Uji ini digunakan untuk memilih antara OLS tanpa variabel dummy atau Random Effect

  1. Uji Hausman

    Uji ini untuk memilih antara Fixed Effect atau Random Effect

Estimasi Regresi Data Panel (skripsi dan tesis)

     Secara umum dengan menggunakan data panel kita akan menghasilkan intersep dan slope koefisien yang berbeda pada setiap perusahaan dan setiap periode waktu. Oleh karena itu, di dalam mengestimasi persamaan (3) akan sangat tergantung dari asumsi yang kita buat tentang intersep, koefisien slope dan variabel gangguannya. Ada beberapa kemungkinan yang akan muncul, yaitu:
  1. Diasumsikan intersep dan slope adalah tetap sepanjang waktu dan individu (perusahaan) dan perbedaan intersep dan slope dijelaskan oleh variabel gangguan
  2. Diasumsikan slope adalah tetap tetapi intersep berbeda antar individu
  3. Diasumsikan slope tetap tetapi intersep berbeda baik antar waktu maupun antar individu
  4. Diasumsikan intersep dan slope berbeda antar individu
  5. Diasumsikan intersep dan slope berbeda antar waktu dan antar individu
     Untuk mengestimasi parameter model dengan data panel, terdapat beberapa teknik yang ditawarkan, yaitu:
  1. Koefisien Tetap Antar Waktu dan Individu (Common Effect): Ordinary Least Square

    Teknik ini tidak ubahnya dengan membuat regresi dengan data cross section atau time series. Akan tetapi, untuk data panel, sebelum membuat regresi kita harus menggabungkan data cross-section dengan data time series (pool data). Kemudian data gabungan ini diperlakukan sebagai suatu kesatuan pengamatan untuk mengestimasi model dengan metode OLS. Metode ini dikenal dengan estimasi Common Effect. Akan tetapi, dengan menggabungkan data, maka kita tidak dapat melihat perbedaan baik antar individu maupun antar waktu. Atau dengan kata lain, dalam pendekatan ini tidak memperhatikan dimensi individu maupun waktu. Diasumsikan bahwa perilaku data antar perusahaaan sama dalam berbagai kurun waktu.kalo kita punya asumsi bahwa α dan β akan sama (konstan) untuk setiap data time series atau cross section, maka α dan β dapat diestimasi dengan model berikut dengan menggunakan N*T pengamatan:

Yit = α + βxit + εit ; i = 1,2,….,N; t = 1,2,….,T
  1. Model Efek Tetap (Fixed Effect)

    Adanya variabel-variabel yang tidak semuanya masuk dalam persamaan model memungkinkan adanya intercept ini mungkin berubah untuk setiap individu dan waktu… pemikiran inilah yang menjadi dasar pemikiran pembentukan model tsb…asumsi pembuatan model yang menghasilkan nilai α konstan untuk setiap individu (i) dan waktu (t) kurang realistis…. kalo dalam FEM, kita dapat mengatasi hal tersebut, karena metode ini memungkinkan adanya perubahan α pada setiap i dan yang secara matematis, model FEM dinyatakan sbb:

Yit = α + βxit + γ²x²t + γ²x²i + δ²x²t + δ²x²i + εit
ket:
Yit    = Variabel dependen untuk individu ke-i dan waktu ke-t
βxit   = Variabel independen untuk individu ke- dan waktu ke-t
variabel dummy yang didefinisikan sebagai berikut:
γt      = 1 ; untuk waktu ke-i = 1,2,…,N
γi      = 0 ; untuk individu ke-  i
δt      = 1 ; untuk periode tt = 1,2,…,T
δi      = 0 ; untuk observasi   i
  Dari model di atas terlihat bahwa sesungguhnya FEM adalah sama dengan regresi yang menggunakan Dummy Variable sebagai variabel independen, sehingga dapat diestimasi dengan OLS… dengan diestimasinya tersebut menggunakan OLS, maka akan memperoleh estimator yang tidak bias dan konsisten…
  1. Model Efek Random (Random Effect)

    Bila pada FEM, perbedaan antar individu dan atau waktu dicerminan lewat intercept, maka pada REM perbedaan tersebut diakomodasi lewat error… teknik ini juga memperhitungkan bahwa error mungkin berkorelasi sepanjang time series dan cross section….Pada FEM, perbedaan karakteristik individu dan waktu diakomodasikan pada intecept-nya berubah antar individu dan antar waktu… sementara pada REM, perbedaan karakteristik individu dan waktu diakomodasikan pada error dari model…. mengingat ada dua komponen yang memiliki kontribusi pada pembentukan error, yaitu individu (i) dan waktu (t), maka random error untuk komponen individu, error komponen waktu, dan error gabungan. Dengan demikian, persamaan REM diformulasikan sbb:

Yit = α + βxit + εit ; εit = ui + vt + wit
Di mana:
ui  = Komponen error cross section
  vt  = Komponen error time series
  wit = Komponen error gabungan
Adapun asumsi yang digunakan untuk komponen error tersebut :
  ui ~ N (0, σu²);
  vt ~ N (0, σv²);
  wit ~ N (0, σw²);
Kalo melihat persamaan di atas, maka dapat dinyatakan bahwa REM menganggap efek rata-rata dari data cross section dan time series direpresentasikan dalam intercept.. kita telah mengetahui bahwa:
dengan demikian, varians dari error tersebut dapat dituliskan dengan:
Var(εit) = σu² + σv² + σw²

Pemodelan Data Panel (skripsi dan tesis)

     Model regresi linier menggunakan data cross section dan time series.
  • Model dengan data cross section
Yi = α + β Xi + εi ; i = 1,2,….,N (1)
N: banyaknya data cross section
  • Model dengan data time series
Yt = α + β Xt + εt ; t = 1,2,….,T (2)
N: banyaknya data time series
Mengingat data panel merupakan gabungan dari data cross section dan data time series, maka modelnya dituliskan dengan:
Yit = α + β Xit + εit ; i = 1,2,….,N; t = 1,2,….., T (3)
dimana :
N = banyaknya observasi
T = banyaknya waktu
N x T = banyaknya data panel

Keunggulan Regresi Data panel (skripsi dan tesis)

    Keunggulan regresi data panel menurut Wibisono (2005) antara lain:
  1. Panel data mampu memperhitungkan heterogenitas individu secara ekspilisit dengan mengizinkan variabel spesifik individu;
  2. Kemampuan mengontrol heterogenitas ini selanjutnya menjadikan data panel dapat digunakan untuk menguji dan membangun model perilaku lebih kompleks.
  3. Data panel mendasarkan diri pada observasi cross-section yang berulang-ulang (time series), sehingga metode data panel cocok digunakan sebagai study of dynamic adjustment.
  4. Tingginya jumlah observasi memiliki implikasi pada data yang lebih informative, lebih variatif, dan kolinieritas (multiko) antara data semakin berkurang, dan derajat kebebasan (degree of freedom/df) lebih tinggi sehingga dapat diperoleh hasil estimasi yang lebih efisien.
  5. Data panel dapat digunakan untuk mempelajari model-model perilaku yang kompleks.
  6. Data panel dapat digunakan untuk meminimalkan bias yang mungkin ditimbulkan oleh agregasi data individu.
   Dengan keunggulan tersebut maka implikasi pada tidak harus dilakukannya pengujian asumsi klasik dalam model data panel (Verbeek, 2000; Gujarati, 2006; Wibisono, 2005; Aulia; 2004, dalam Shochrul R, Ajija, dkk. 2011).

Pengertian Data Panel (skripsi dan tesis)

      Data panel adalah gabungan antara data runtut waktu (time series) dan data silang (cross section). Data runtut waktu biasanya meliputi satu objek/individu (misalnya harga saham, kurs mata uang, SBI, atau tingkat inflasi), tetapi meliputi beberapa periode (bisa harian, bulanan, kuartalan, atau tahunan). Data silang terdiri dari atas beberapa atau banyak objek, sering disebut responden (misalnya perusahaan) dengan beberapa jenis data (misalnya; laba, biaya iklan, laba ditahan, dan tingkat investasi) dalam suatu periode waktu tertentu.
   Menurut Agus Widarjono (2007) metode regresi data panel mempunyai beberapa keuntungan jika dibandingkan dengan data time series atau cross section, yaitu :
  1. Data panel yang merupakan gabungan dua data time series dan cross section mampu menyediakan data yang lebih banyak sehingga akan menghasilkan degree of freedom yang lebih besar.
  2. Menggabungkan informasi dari data time series dan cross section dapat mengatasi masalah yang timbul ketika ada masalah penghilangan variabel (ommited-variabel).

Teknik Estimasi Model Persamaan Simultan (skrpsi dan tesis)

.1.Indirect Least Square (ILS) Tahap pertama membentuk persamaan bentuk tereduksi dari persamaanpersamaan struktural sebagaimana sehingga variabel dependen dalam setiap persamaan merupakan satu-satunya variabel endogen dan fungsi satu-satu dari variabel eksogen dan residual stokastik. Tahap kedua menerapkan OLS terhadap persamaan bentuk tereduksi. Hal ini diperkenankan karena variabel-variabel independen dalam persamaan-persamaan tersebut adalah eksogen dan karenanya tidak berkorelasi dengan residual, estimasi OLS menjadi konsisten.
.2.Two Stages Least Square (2SLS) Tahap pertama, regresikan variabel endogen terhadap semua variabel eksogen dari sistem tersebut bukan hanya dari persamaan yang diberikan, hal ini hampir menyerupai dengan membuat persamaan bentuk tereduksi. Kemudian estimasi parameter menggunakan OLS sehingga diperoleh nilai prediksi variabel endogen. Tahap kedua, mengganti variabel endogen dari sistem dengan nilai estimasi pada tahap pertama, kemudian dilakukan estimasi OLS.

Aturan Identifikasi (Skripsi dan tesis)

Aturan identifikasi sistem persamaan simultan: a. Jika J-j < m-1, persamaan itu mengalami underidentified, tidak dapat dilakukan estimasi parameter, solusinya dengan membentuk model lain. b. Jika J-j = m-1, persamaan itu mengalami just identified, teknik estimasi parameter yaitu metode kuadrat terkecil tidak langsung atau Indirect Least Square (ILS). c. Jika J-j > m-1, persamaan itu mengalami overidentified, teknik estimasi parameter yaitu metode kuadrat terkecil dua tahap atau Two Stages Least Square (2SLS). dimana m = banyak variabel endogen dalam persamaan; j = banyak variabel eksogen dalam persamaan; J = banyak variabel eksogen dalam sistem

Model Persamaan Simultan (skripsi dan tesis)

 Supranto (2004) mendefinisikan suatu sistem persamaan simultan ialah suatu himpunan persamaan di mana variabel tak bebas dalam satu atau lebih persamaan juga merupakan variabel bebas dalam beberapa persamaan lainnya, yaitu keadaan dimana di dalam sistem persamaan suatu variabel sekaligus mempunyai dua peranan, yaitu sebagai variabel tak bebas dan variabel bebas, jadi tidak hanya variabel tak bebas Y yang ditentukan, misalnya oleh variabel bebas X, tetapi bisa juga X ditentukan oleh Y sehingga X dan Y nilainya ditentukan secara bersama-sama (jointly of simultaneous determined). Dalam model persamaan simultan, terdiri atas variabel endogen (endogenous variables) dan variabel eksogen (exogenous variables).
Variabel endogen ialah variabel tak bebas di dalam sistem persamaan simultan, yang nilainya ditentukan di dalam sistem persamaan, walaupun variabel-variabel tersebut mungkin juga muncul sebagai variabel bebas di dalam sistem persamaan lain. Gujarati (2007) menyebut variabel-variabel ini sebagai variabel tergantung bersama. Di sini lah terjadi simultanitas. Sedangkan variabel eksogen ialah variabel yang nilainya ditentukan di luar model termasuk variabel endogen beda kala (lagged endogeneous variables), sebab nilainya sudah diketahui sebelumnya. Adanya simultanitas antar variabel endogen menyebabkan terjadinya korelasi antara variabel respon Y dengan faktor residual. Karena salah satu asumsi klasik metode estimasi ordinary least square (OLS) yaitu nonautokorelasi dilanggar, maka jika tetap digunakan OLS secara langsung pada persamaan struktural, estimator akan bersifat bias dimana akan terjadi overestimation atau underestimation serta tidak konsisten. Dalam model persamaan simultan, dikenal dua macam persamaan, yaitu persamaan stuktural (structural equations) dan persamaan bentuk tereduksi (reduced form equations). Persamaan struktural atau tingkah laku menguraikan struktur suatu perekonomian atau tingkah laku dari para pelaku ekonomi seperti konsumen, produsen, dan penyalur. Ada satu persamaan struktural untuk setiap variabel endogen di dalam model persamaan simultan. Koefisien setiap persamaan struktural disebut parameter struktural (structural parameter) dan menunjukkan pengaruh langsung dari setiap variabel bebas terhadap variabel tak bebas

Analisis Deret Waktu (time series) (Skripsi dan tesis)

Time series merupakan serangkaian observasi terhadap suatu variabel yang diambil secara beruntun berdasarkan interval waktu yang tetap (Wei, 2006). Rangkaian data pengamatan time series dinyatakan dengan variabel Xt dimana t adalah indeks waktu dari urutan pengamatan.

Jenis Data Berdasarkan Waktu Pengumpulannya (skripsi dan tesis)

Menurut Gujarati dan Porter (2009) jenis data dalam analisis empiris terbagi menjadi tiga, yaitu time series,cross-section dan panel. 1. Data Time series Data time series adalah kumpulan nilai-nilai pengamatan dari suatu variabel yang diambil pada waktu yang berbeda. Data jenis ini dikumpulkan pada interval waktu tertentu, misalnya harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. 2. Data Cross-section Data cross-section adalah data dari satu variabel atau lebih yang dikumpulkan pada waktu tertentu secara bersamaan. 3. Data Panel Data panel adalah data yang elemen-elemennya merupakan kombinasi dari data time series dan data cross-section.

Klasifikasi Data (skripsi dan tesis)

 Menurut (Syofian, 2010: 6) data adalah bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta. Data juga dapat didefinisikan sebagai kumpulan fakta atau angka atau segala sesuatu yang dapat dipercaya kebenarannya sehingga dapat digunakan sebagai dasar menarik suatu kesimpulan. Menurut (Hasan 2004: 19) suatu data dapat diklasifikasikan menjadi empat macam yaitu berdasarkan sumber pengambilan, waktu pengambilan, sifat data dan tingkat pengukuran. Keempat klasifikasi data tersebut adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan Sumber Pengambilannya Berdasarkan sumber pengambilannya, data dibedakan menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder.
a. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung dilapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang  bersangkutan yang memerlukannya. Data primer disebut juga data asli atau data baru. Contoh : data kuesioner, data survei dan sebagainya.
b. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada. Data ini biasanya diperoleh dari perpustakaan atau dari laporan-laporan penelitian terdahulu. Contoh: data yang sudah tersedia ditempat-tempat tertentu seperti perpustakaan, BPS (Badan Pusat Statistika), kantor-kantor dan sebagainya.
2. Berdasarkan Waktu Pengumpulannya Berdasarkan waktu pengumpulannya, data dibedakan menjadi dua yaitu data runtun waktu (Time Series) dan data cross section.
a. Data runtun waktu (Time Series) Data runtun waktu (time series) adalah data yang terkumpul dari waktu ke waktu untuk memberikan gambaran perkembangan suatu kegiatan atau keadaan. Contoh: data perkembangan harga sembilan macam bahan pokok selama 10 bulan terakhir yang dikumpulkan setiap bulan.
 b. Data Cross Section Data cross section adalah data yang terkumpul pada suatu waktu tertentu untuk memberikan gambaran perkembangan suatu kegiatan atau keadaan pada waktu itu. Contoh: data sensus penduduk tahun 2013.
3. Berdasarkan Sifat Data Berdasarkan sifatnya, data dibedakan menjadi dua yaitu data kualitatif dan data kuantitatif.
a. Data Kualitatif Data kualitatif adalah data yang tidak berbentuk bilangan. Contoh: jenis kelamin, agama, warna.
b. Data Kuantitatif Data kuantitatif adalah data yang berbentuk bilangan. Contoh: tinggi, panjang, umur, dan sebagainya.
 4. Berdasarkan Tingkat Pengukurannya Berdasarkan tingkat pengukurannya (skala), data dibedakan menjadi empat yaitu data nominal, data ordinal, data interval rasio.
a. Data Nominal Data nominal adalah data yang berasal dari pelabelan berdasarkan kategori atau klasifikasi tertentu yang perbedaannya hanya menunjukkan perbedaan kualitatif. Ciri-ciri data nominal adalah posisi data setara dan tidak bisa dilakukan operasi matematika  Contoh: jenis kelamin, pria diberi label 1 dan wanita diberi label 0.
 b. Data Ordinal Data ordinal adalah data yang berdasarkan urutan yang disusun menurut besarnya, dari tingkat terendah ke tingkat tertinggi atau sebaliknya, dengan jarak atau rentang yang tidak harus sama. Data ordinal disebut juga sebagai data berurutan, data berjenjang, data berpangkat, data tata jenjang atau data bertingkat. Ciri-ciri data ordinal adalah mempunyai urutan, posisi data tidak setara dan tidak dapat dilakukan operasi matematika. Contoh: kepuasan pelanggan sebuah cafe, misalnya sangat puas diberi label 1, puas diberi label 2, cukup puas diberi label 3, tidak puas diberi label 4, sangat tidak puas diberi label 5.
c. Data Interval Data interval adalah data yang diperoleh dengan cara pengukuran, dimana jarak antar dua titik pada skala sudah diketahui. Pada data interval ini tidak terdapat titik nol absolut atau mutlak. Ciri-ciri data interval adalah tidak ada pelabelan seperti pada data nominal dan data ordinal serta dapat dilakukan operasi matematika. Contoh: suhu dapat diukur dengan Celciuc atau Fahreinheit dengan masing-masing mempunyai skala tersendiri. Misal Celcius pada 0° C sampai 100° C. Fahreinheit pada 323° F sampai 212° F. d. Data Rasio Data rasio adalah data yang diperoleh dengan cara pengukuran, dimana jarak dua titik pada skala sudah diketahui dan mempunyai titik 30 nol absolut. Ini berbeda dengan data interval dimana tak ada titik nol absolut atau mutlak. Seperti titik 0° C tentu berbeda dengan titik 0° F. Ciriciri data rasio adalah tidak ada pemberian label atau kode dan dapat dilakukan operasi matematika

EViews (skripsi dan tesis)

EViews adalah program komputer yang digunakan untuk mengolah data statistika dan data ekonometrika. Program ini dapat dijalankan pada sistem operasi Microsoft Windows, sejak versi XP atau sesudahnya, baik versi 32 maupun 64 bit. EViews merupakan kelanjutan dari program MicroTSP yang dikeluarkan pada tahun 1981. Program EViews dibuat oleh QMS (Quantitative Micro Software) yang berkedudukan di Irvine, California, Amerika Serikat. Alamat situsnya ada di www.eviews.com (Wing, 2011: 1). EViews dapat dijalankan dengan dua cara, yaitu dengan memilih menu atau dengan menuliskan perintah. Cara pertama dengan memilih menu dapat menggunakan mouse atau keyboard sering juga disebut dengan cara interaktif. Cara ini lebih mudah dilakukan kebanyakan pemakai komputer karena pemakai tinggal memilih menu yang sesuai. Sedangkan cara kedua dengan menuliskan perintah sering disebut dengan metode batch. Cara ini sedikit lebih sulit karena pemakai komputer harus menghafal perintah-perintah yang disediakan. Keunggulan dengan menuliskan perintah adalah perintah-perintah yang ditulis dapat disimpan dan dijalankan pada waktu lain atau dikirim ke pemakai lainnya tanpa perlu memilih-milih menu lagi (Wing, 2011: 2). EViews bersifat window based sehingga memakan banyak memori. Namun demikian sisi positifnya adalah sifat user friendly.

Meskipun EViews mampu mengelola berbagai tipe data, namun software ini dianggap memiliki  kemampuan lebih dalam hal prosesing data runtun waktu karena banyaknya tipe analisis yang dapat dilakukan. Dalam menggunakan EViews pengguna akan berinteraksi dengan beberapa komponen penting, yakni workfile, object, series dan database (Doddy, 2012: 195-196). Keunggulan EViews terletak pada kemampuannya untuk mengolah data yang bersifat time series, meskipun tetap dapat mengolah data cross section maupun data panel. Keunggulan lainnya, EViews tidak memerlukan langkah yang panjang seperti pada program sejenis untuk mengolah data. Pada program EViews, cukup dengan beberapa mengklik mouse, hasil akan tampak di layar. Hasil analisis EViews selalu ditampilkan dalam satu layar, sehingga mudah dan praktis untuk dianalisis (Wing, 2011: 3). Kelemahan EViews yang utama adalah cara penggunaannya yang tidak biasa seperti pada program lainnya. Contoh kasus adalah untuk menjalankan regresi, menunya menggunakan istilah Quick Estimate, dan bukan Analysis atau Regression seperti pada program statistika lainnya. Kelemahan lain, menurut beberapa peneliti yang sudah banyak menggunakan program EViews adalah kelemahannya mengolah data grafik. Oleh karenanya, bila banyak mengolah data dan perlu membuat grafik, dianjurkan tetap mengolah datanya dengan program EViews ini, namun grafiknya diselesaikan dengan program spresdsheet seperti Microsoft Excel dan Lotus 1-2-3.
 Ini dikarenakan kemampuan pembuatan grafiknya jauh lebih baik bila dibanding dengan kemampuan EViews (Wing, 2011: 3).  Untuk dapat menggunakan program EViews, dibutuhkan pengetahuan mengenai statistika, baik statistika deskriptif, statistika parametrik maupun statistika nonparametrik. Selain itu, agar dapat memanfaatkan EViews dengan baik juga dibutuhkan pengetahuan mengenai cara pengoperasian komputer di dalam sistem grafik seperti Microsoft Windows. Program EViews sangat membantu dalam proses penyelesaian uji kointegrasi khususnya dengan menggunakan metode Johansen.

Stasioneritas (skripsi dan tesis)

Sebuah data dikatakan stasioner jika tidak terdapat pertumbuhan atau penurunan data. Dengan kata lain, fluktuasi data berada disekitar suatu nilai rata-rata yang konstan. Stasioner atau tidaknya suatu data dapat dilihat dengan grafik. Jika grafik cenderung naik maka dapat disimpulkan sementara bahwa data tersebut tidak stasioner.
Data dengan adanya pola trend ditandai dengan adanya kecenderungan arah data bergerak menaik atau menurun pada jangka panjang. Data dengan adanya pengaruh seasonal ditandai dengan adanya pola perubahan yang berulang secara otomatis dari tahun ke tahun. Data dengan adanya pengaruh siklis maksudnya adalah data yang terjadi di sekitar garis trend. Pola siklis agak sulit diprediksi karena pola yang ada cenderung tidak stabil.  Kestasioneran data terbagi menjadi dua yaitu kestasioneran dalam mean dan varians. Data runtun waktu yang tidak stasioner dapat dikatakan distasionerkan dengan cara sebagai berikut:
1. Ketidakstasioneran dalam mean
 Data runtun waktu yang tidak stasioner dalam mean berarti memiliki mean yang tidak konstan atau meannya terpengaruh oleh waktu. Cara yang digunakan untuk mengatasi ketidakstasioneran dalam mean ini dengan melakukan pembedaan (differencing) terhadap data runtun waktu.

2. Ketidakstasioneran dalam varians
Data runtun waktu yang tidak stasioner dalam varians berarti mempunyai varians yang tidak konstan atau variansnya terpengaruh oleh waktu. Cara yang digunakan untuk mengatasi ketidakstasioneran dalam varians yaitu dengan melakukan transformasi. Proses stasioneritas rata-rata pada data dapat menggunakan metode differencing, sedangkan untuk proses stasioneritas varians pada data dapat menggunakan transformasi box-cox.
 1. Differencing Salah satu cara umum yang digunakan dalam stasioneritas data adalah metode differencing. Tujuan menghitung pembedaan adalah untuk mencapai stasioneritas dalam rata-rata. Metode ini dilakukan dengan cara mengurangi nilai data pada suatu periode dengan data periode sebelumnya. Pembedaan dapat dilakukan untuk beberapa order sampai diperoleh data yang stasioner.

2. Transformasi Box-Cox Transformasi Box-Cox adalah salah satu metode untuk proses stasioneritas data dalam varians yang dikenalkan oleh Box dan Tiao Cox.

Derajat Integrasi (skripsi dan tesis)

Data runtun waktu dikatakan terintegrasi pada orde ݀ atau dinotasikan jika runtun waktu tersebut dapat di-differencing sebanyak ݀ kali dan hasil differencing adalah stasioner (Gujarati, 2003). Dengan kata lain derajat integrasi adalah dimana pada derajat tersebut data runtun waktu bersifat stasioner. Tujuan derajat integrasi adalah untuk melihat apakah runtun waktu terintegrasi atau tidak.

Analisis Korelasi (skripsi dan tesis)

 Sederhana Analisis korelasi pertama kali dikembangkan oleh Karl Pearson pada tahun 1990. Tujuan dari analisis korelasi adalah untuk menentukan seberapa erat hubungan antara dua variabel. Menurut (Subaryadi & Purwanto, 2004: 158), analisis korelasi adalah suatu teknik statistika yang digunakan untuk mengukur keeratan hubungan atau korelasi antara dua variabel. Analisis korelasi mencoba mengukur keeratan hubungan antara dua variabel X dan Y. Keeratan hubungan antara dua variabel tersebut dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi yang dilambangkan dengan huruf r. Koefisien korelasi (r) menunjukkan seberapa dekat titik kombinasi antara variabel X dan Y pada garis lurus sebagai garis dugaannya. Semakin dekat titik kombinasinya dengan garis dugaannya maka nilai korelasinya semakin membesar. Sebaliknya, semakin menyebar dari garis dugaannya, maka nilai korelasi semakin kecil. Ukuran statistik yang dapat menggambarkan hubungan antara suatu variabel dengan variabel lain adalah koefisien korelasi dan koefisien determinasi.
1. Koefisien Korelasi
Ukuran korelasi antara dua buah variabel yang paling banyak digunakan adalah koefisien korelasi momen yang dikembangkan oleh Pearson. Koefisien korelasi mempunyai nilai antara -1 sampai 1. Nilai r = -1 yang disebut dengan linear sempurna negatif, terjadi apabila titik sampel atau kombinasi terletak tepat pada suatu garis lurus yang mempunyai kemiringan negatif. Nilai r = 1 disebut dengan linear sempurna positif, dan hal ini terjadi apabila semua titik contoh terletak tepat pada satu garis lurus dengan kemiringan positif. Nilai koefisien korelasi yang mendekati -1 atau 1 menyatakan bahwa hubungan kedua variabel adalah kuat atau korelasi kedua variabel tinggi. Akan tetapi apabila nilai r mendekati 0, hubungan  antara kedua variabel sangat lemah atau mungkin tidak ada sama sekali (Subaryadi & Purwanto, 2004: 159).
 2. Koefisien Determinasi
Menurut Subaryadi & Purwanto (2004:162-163), koefisien determinasi merupakan ukuran untuk mengetahui kesesuaian atau ketepatan antara nilai dugaan atau garis regresi dengan data sampel. Jika semua data observasi terletak pada garis regresi akan diperoleh garis regresi yang sesuai atau sempurna, namun apabila data observasi tersebar jauh dari nilai dugaan atau garis regresinya, maka nilai dugaannya menjadi kurang sesuai. Koefisien determinasi adalah bagian dari keragaman total variabel terikat Y (variabel yang dipengaruhi atau dependent) yang dapat diterangkan atau diperhitungkan oleh keragaman variabel bebas X (variabel yang mempengaruhi atau independent). Jadi koefisien determinasi adalah kemampuan variabel X (variabel independen) mempengaruhi variabel Y (variabel terikat). Semakin besar koefisien determinasi menunjukkan semakin baik kemampuan X menerangkan Y.

Konsep Dasar Analisis Runtun Waktu (skripsi dan tesis)

Dalam kehidupan sehari-hari banyak data yang diperoleh dari observasi suatu fenomena di berbagai bidang berdasarkan waktu. Misalnya di bidang pertanian, produksi dan harga hasil panen per tahun. Di bidang ekonomi dan bisnis, harga saham per hari, suku bunga per minggu, indeks harga per bulan, jumlah penjualan per kuartal dan pendapatan per tahun. Di bidang meteorologi, kecepatan angin per jam, temperatur, udara per hari dan curah hujan tiap tahun. Di bidang ilmu sosial dipelajari angka kelahiran, angka kematian, angka kecelakaan dan angka pelbagai tindakan kejahatan dan lain sebagainya. Data demikian disebut data runtun waktu yang bisa diobservasi tidak pernah berakhir (Rusdi, 2002: 6).

 Menurut (Dedi, 2011:1), untuk dapat memahami pemodelan runtun waktu, perlu diketahui beberapa jenis data menurut waktu, yang dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Data Time Series (Runtun Waktu) yakni jenis data yang terdiri atas variabelvariabel yang dikumpulkan menurut urutan waktu dalam suatu rentang waktu tertentu. Jika waktu dipandang bersifat diskrit (waktu dapat dimodelkan bersifat kontinu), frekuensi pengumpulan selalu sama (equidistant). Dalam kasus diskrit, frekuensi dapat berupa misalnya detik, menit, jam, hari, minggu, bulan atau tahun dan lain-lain.
 2. Data Cross-Section yakni jenis data yang terdiri atas variabel-variabel yang dikumpulkan pada sejumlah individu atau kategori pada suatu titik waktu tertentu. Model yang digunakan untuk memodelkan data tipe ini seperti model regresi (Cross-Section).
 3. Data Panel atau Pooled yakni tipe data yang terdiri atas variabel-variabel yang dikumpulkan menurut urutan waktu dalam suatu rentang waktu tertentu pada sejumlah individu atau kategori. Model yang digunakan untuk pemodelan data ini seperti model data panel dan model runtun waktu multivariat. Secara ekuivalen, dikenal juga tipe data longitudinal dengan frekuensi data tidak harus equidistant, namun analisa statistika yang 8 dilakukan dalam model longitudinal berbeda tujuannya dengan analisa untuk model panel

Langkah Pada Confirmatory Factor Analysis (skripsi dan tesis)

Tiga langkah yang dilakukan pada CFA (Umar, 2012) yaitu:

 1. Menguji apakah hanya satu faktor saja yang menyebabkan item-item saling berkorelasi (hipotesis uni-dimensional item). Hipotesis ini diuji dengan chi- square. Untuk memutuskan apakah memang tidak ada perbedaan antara matriks korelasi yang diperoleh dari data dengan matriks korelasi yang dihtung menurut teori/model. Jika hasil chi-square tidak signifikan (p>0.05), maka hipotesis nihil yang menyatakan “tidak ada perbedaan antara matriks korelasi yang diperoleh dari data dan model” tidak ditolak yang artinya item yang diuji mengukur satu faktor saja (uni- dimensional). Sedangkan, jika nilai chi-square signifikan (p<0.05) maka hipotesis nihil tersebut ditolak yang artinya item-item yang diuiji ternyata mengukur lebih dari satu faktor (multidimensional). Dalam keadaan demikian maka peneliti melakukan modifikasi terhadap model dengan cara memperbolehkan kesalahan pengukuran pada item-item saling berkorelasi tetapi dengan tetap menjaga bahwa item hanya mengukur satu faktor (uni-dimensional). Jika sudah diperoleh model yang fit(tetapi tetap uni-dimensional maka dilakukan langkah selanjutnya.
2. Menganalisis item mana yang menjadi sumber tidak fit, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengetahui item mana yang menjadi sumber tidak fit, yaitu :
a. melakukan uji signifikansi terhadap koefisien muatan faktor darimasing-masing item dengan menggunakan t-test, jika nilai t yang diperoleh pada sebuah item tidak signifikan (t<1.96) maka item tersebut akan di drop karena dianggap tidak signifikan sumbangannya terhadap pengukuran yang sedang dilakukan.
 b. Melihat arah dari koefisien muatan faktor (faktor loading). Jika suatu item memiliki muatan faktor negatif, makan item tersebut di drop karena tidak sesuai dengan pengukuran (berarti semakin tinggi nilai pada item tersebut semakin rendah nilai pada faktor yang diukur).
c. Sebagai kriteria tambahan (optional) dapat dilihat juga banyaknya korelasi parsial antar kesalahan pengukuran, yaitu kesalahan pengukuran pada suatu item yang berkorelasi dengan kesalahan pengukuran pada item lain. Jika pada suatu item terdapat terlalu banyak korelasi seperti ini (misalnyalebih dari tiga), maka item tersebut juga akan di drop. Alasannya adalah karena item yang demikian selain mengukur apa yang ingin di ukur juga mengukur hal lain (multidemensional item).
 3. Menghitung faktor skor. Jika langkah langkah di atas telah dilakukan, maka diperoleh item- item yang valid untuk mengukur apa yang ingin di ukur (Umar, 2012).

Kaidah Penulisan Aitem (skripsi dan tesis)

Dalam penulisan aitem, ada beberapa langkah atau kaidah atau aturan yang harus diperhatikan, yaitu (Periantalo, 2016): 1) Aitem mengungkap konstrak secara tersirat. 2) Aitem harus sesuai dengan indikator perilaku 3) Kalimat yang baik 4) Sesuai dengan subjek 45 5) Hindari aitem yang pasti disetujui atau tidak disetujui oleh orangorang. 6) Disarankan menggunakan kalimat present tense 7) Disarankan menggunakan kata positif daripada kata negatif. 8) Hindari dua kata negatif dalam kalimat, karena akan menimbulkan kebingungan

jenis konstruk aitem (skripsi dan tesis)

Dalam penulisan aitem, perlu dilihat jenis konstruk aitem (Periantalo, 2015), yaitu:

1) Konstrak Linear
 Konstrak linear merupakan konstrak satu arah. Aitem akan mengungkap konstrak yang sama. Terdapat dua jenis aitem dalam konstrak ini, yaitu favorable dan unfavorable. Favorable aitem mengarah pada konstrak yang hendak diungkap, dan pemberian skornya “semakin tinggi jenjang, semakin tinggi skornya”. Unfavorable aitem merupakan negasi dari konstrak tersebut dan pemberian skornya adalah kebalikannya yaitu “semakin tinggi jenjang, maka semakin rendah skornya”. Konstrak tidak memiliki pembagian tertentu, sehingga skor akhir dari konstrak merupakan penjumlahan dari aitem tersebut.
 2) Konstrak Bipolar
Konstrak bipolar merupakan mengukur konstrak yang berlawanan. Besarnya suatu konstrak merupakan kecilnya konstrak yang lain. Sebagai contoh, nilai ekstrovert yang tinggi, maka secara otomatis nilai introvertnya rendah. Skor konstrak tertentu sekaligus skor konstruk yang lainnya. Salah satu skala psikologi yang menggunakan konstrak bipolar adalah Skala Myers Briggs Type Indicator (Periantalo, 2015).
3) Konstrak Ortogonal
Konstrak ortogonal merupakan konstrak mengukur aspek yang berbeda satu sama lain. Konstrak ini memiliki jenis-jenis, sehingga memiliki skor pada masing-masing jenisnya. Konstrak ini tidak memiliki skot total. Aitem mengungkapkan konstrak tertentu dan tidak mengungkapkan konstrak secara keseluruhan. Bentuk aitem yang disarankan dalam konstrak ini adalah pertanyaan dengan pilihan jawaban (Periantalo, 2015). Salah satu contoh skala dengan menggunakan konstrak ortogonal yaitu Skala Pola Asuh. Dalam skala pola asuh ada tiga pembagian pola asuh yaitu demokratis, otoriter dan permisif. Skor yang dibutuhkan sesuai dengan jenis pola asuhnya masing-masing

model penskalaan dan pemberian skor (Skripsi dan tesis)

Ada beberapa model penskalaan dan pemberian skor (Periantalo, 2016) yaitu:

 1) Pilihan Dua
 Peneliti membuat jawaban yang sesuai dengan konstrak, situasi dan keadaan subjek. Hal yang paling penting adalah terdapat dua pilihan jawaban. Peneliti dapat membuat jawaban setuju-tidak setuju, pernah-belum pernah, diterima-ditolak, dan lain sebagainya. Saat subjek menjawab “Ya” pada aitem favorable, skor yang diberikan adalah 1, sedangkan ketika subjek menjawab “tidak” pada aitem favorable maka skor yang diberikan adalah 0 dan begitu pula sebaliknya.

 2) Metode Pasangan
Metode ini dengan memasangkan dua konstrak sekaligus. Metode pasangan ini cocok untuk konstrak linear dan/atau bipolar. Untuk konstrak ortogonal, metode yang cocok berupa 46 metode pemasangan, karena ortogonal memiliki banyak aspek dan tidak memiliki nilai kesatuan. Metode pemasangan memiliki konsep yang serupa dengan metode pasangan.

3) Likert Dalam skala likert terdapat dua jenis aitem yaitu favorable dan unfavorable. Kedua jenis aitem ini harus setara dalam jumlahnya. Aitem favorable mengarah pada konstrak yang hendak diungkap dengan pemberian skor “1, 2, 3, 4, dan 5”, sedangkan aitem unfavorable merupakan negasi dari konstrak yang hendak diungkap dengan pemberian skor kebalikan dari aitem favorable yaitu “5, 4, 3, 2, dan 1”. Respon sesuai digunakan untuk konstrak yang berhubungan dengan diri subjek. Model likert cocok untuk konstrak linear.
 4) Model Jenjang
Model jenjang mirip dengan skala likert, yaitu bergerak dari suatu kontinum dan cocok untuk konstrak linear. Model jenjang ini lebih diperuntukkan untuk skala perilaku, dengan kegiatan konkret yang dilakukan dan dapat dilihat secara kasat mata. Dalam model jenjang ini, peneliti membuat respon yang spesifik. Salah satu contoh skala yang cocok dengan model jenjang adalah Skala 16 PF. Skala 16 PF merupakan model skala jenjang perilaku, dimana subjek diminta untuk memilih salah 47 satu jawaban yang menggambarkan diri sendiri, kemudian jawaban ditulis di lembar yang disediakan. Jenjang tersebut merupakan jenjang respon yang harus dipilih oleh subjek. Semakin mengarah ke konstrak maka nilai jenjang semakin tinggi.
 5) Semantik Diferensial
Model ini diperkenalkan oleh Charles Osgood. Metode ini berfokus pada aspek sematif dari kata. Terdapat dua komponen yaitu stimulus dan respon. Stimulus berfokus pada objek yang hendak dikenai seperti pelajaran, profesi, kegiatan atau produk, sedangkan respon berupa pasangan dua kata sifat yang kontinum yang bergerak dari kutub kiri ke kanan. Metode Semantik Deferensial ini berguna untuk mengukur sikap, opini, perilaku dan pendapat. Respon dari semantik diferensial terdiri dari evaluasi, potensi dan aktivitas. Evaluasi yaitu dengan memberikan penilaian evaluasi terhadap stimulus berupa jahatbaik, jelek-cantik, kasar-lembut, dan penting-tidak penting. Respon potensi merupakan penilaian mengenai aktivitas yang dikandung stimulus seperti besar-kecil, lemah-kuat, berat-ringan dan susah-gampang. Sementara respon aktivitas adalah penilaian mengenai muatan aktivitas yang dikandung stimulus seperti jijiktakjub, dibenci-dicintai dan dihindari-ditunggu. Semantif diferensial tidak berfokus pada indikator maupun komponen,  tetapi peneliti membuat aitem kata sifat yang cocok dengan stimulus. Aitem dibuat sekreatif mungkin oleh peneliti. Semantif difereisal ini cocok digunakan untuk evaluasi terhadap suatu produk.
 6) Guttman
Model guttman merupakan model penskalaan dengan urutan. Jika memilih jenjang yang lebih tinggi berarti memilih jenjang yang lebih rendah juga. Jenjang yang lebih rendah tersebut sudah dilaksanakan atau disetujui.
7) Thurstone
Aitem pada model thurstone memiliki bobot skor yang berbeda. Bobot aitem pertama berbeda dengan kelima ataupun kesepuluh. Berapa bobot aitem tersebut ditentukan sejumlah orang yaitu ahli teori maupun orang yang berpengalaman dalam hal tersebut

Analisis Aitem (skripsi dan tesis)

 Ada beberapa tahapan yang dilakukan pada analisis aitem (Periantalo, 2015), yaitu:
 1) Analisis Kualitatif
Aitem Analisis kualitatif aitem merupakan analisis dengan melihat deskripsi aitem tersebut. Analisis melihat kandungan yang ada di dalam aitem dan tidak melibatkan angka. Analisis dilakukan oleh berbagai pihak yang berhubungan dengan skala psikologi tersebut. Analisis dilakukan oleh (Periantalo, 2015):
a) Ahli Konstrak
 Analisis ini bertujuan untuk memastikan aitem yang dibuat mengarah pada konstrak. Aitem tersebut harus sesuai dengan indikator perilaku yang mengarah pada komponen dan selaras dengan konstrak. Ahli yang melakukan ini adalah orang yang mengetahui banyak tentang konstrak tersebut, seperti pakar, peneliti yang pernah meneliti kontrak tersebut, pernah mengalami atau memiliki banyak pengetahuan mengenai konstrak.
 b) Ahli Psikometri
 Tujuan dari analisis ini adalah untuk meminta tanggapan tentang properti psikometri yang digunakan. Peneliti meminta tanggapan terhadap jenis validitas, reliabilitas, indeks diskriminasi aitem maupun norma. Orang yang  dijadikan analasis ini adalah orang-orang yang menguasasi ilmu pengukuran psikologi. Ahli Psikometri pun diminta untuk melihat aitem-aitem yang telah disusun oleh peneliti.
c) Ahli Tata Bahasa
 Tujuan dari analisis ini adalah untuk memastikan bahwa yang digunakan baik dan benar. Analisis ini disarankan menggunakan orang yang memiliki kemampuan tata bahasa yang bagus.
d) Subjek
 Analisis ini bertujuan untuk memastikan subjek paham dengan aitem yang telah dibuat. Sebaik apapun aitem yang telah dibuat, tetapi menjadi tidak berguna ketika subjek tidak memahami makna dari aitem tersebut. Ketidakpahaman subjek terhadap aitem membuat validitas isi penelitian menjadi rendah, sehingga skala tersebut tidaklah valid. Analisis ini meminta subjek untuk menelaah makna atau kalimat atau kata dalam aitem tersebut dan memastikan bahwa kalimat tersebut tidak ambigu. Aitem harus dapat dimengerti oleh subjek dari skala yang ditargetkan. Kata-kata dalam aitem adalah kata-kata yang sesuai dengan kelompok subjek. Subjek diminta untuk memberikan tanggapan terhadap aitem

2). Ujicoba Skala
 Ujicoba skala ini bertujuan untuk melihat apakah aitem tersebut memang aitem yang baik secara kuantitatif (Periantalo, 2015; Azwar, 2016). Ujicoba harus dilakukan seperti dalam keadaan sebenarnya. Subjek yang dilibatkan adalah subjek yang setara dengan kelompok target dari skala tersebut, begitu pun dengan waktu. Waktu yang digunakan dalam ujicoba adalah waktu yang baik. Dalam artian, subjek mengerjakan pada waktu subjek memiliki semangat untuk mengerjakan. Sama halnya dengan tempat dan tampilan skala yang harus dibuat senyaman dan semenarik mungkin, agar dalam mengerjakan skala, subjek menjadi termotivasi untuk mengerjakan skala.
 3) Analisis Kuantitatif
 Analisis kuantitatif yang dilakukan berupa indeks diskriminasi aitem (daya beda aitem). Daya beda aitem bertujuan untuk memastikan aitem memiliki daya beda yang bagus. Aitem dapat membedakan individu yang memiliki atribut atau tidak. Aitem bisa membedakan individu yang berformasi tinggi maupun rendah (Azwar, 2016). Daya beda pun dapat berarti kemampuan aitem membedakan individu secara teori harus memilih aitem tersebut. Hasil analisis aitem kuantitatif bisa dijadikan batu pijakan dalam penyusunan skala final. Daya beda  aitem dalam penelitian ini dilakukan dengan Korelasi Aitem dengan Skor Total.
4) Indeks Diskriminas
i Aitem dengan Reliabilitas Fungsi indeks diskriminasi (beda) aitem adalah untuk melihat kemampuannya dalam membedakan individu memiliki atribut atau tidak. Aitem lolos seleksi dijadikan sebagai bahan dalam perakitan skala final. Salah satu fungsi indeks diskriminasi aitem adalah untuk reliabilitas. Skala dengan indeks diskriminasi aitem bagus mendukung reliabilitas. Semakin tinggi indeks diskriminasi aitem, maka semakin tinggi reliabilitasnya. Indeks diskriminasi aitem pun dipengaruhi oleh respon penskalaannya, sehingga semakin tinggi respon penskalaan, maka semakin tinggi pula indeks diskriminasi aitem

Syarat Skala Psikologi Yang Baik (skripsi dan tesis)

Adapun syarat untuk membuat skala yang baik, antara lain (Periantalo, 2015): a. Skala harus valid, dimana aitem skala berisi aspek yang hendak diungkap. b. Reliabel, dimana melihat seberapa jauh skor skala tersebut dapat dipercaya. c. Terstandarisasi, dimana skala memiliki sistem yang jelas seperti petunjuk pengerjaan, waktu, subjek, pemberian skor dan cara interpretasi jelas, sehingga siapapun yang menggunakan skala ini melakukan dengan cara yang sama. d. Efisien, dimana skala dapat dikerjakan dalam waktu relatif singkat, sehingga subjek tidak merasa bosan, cara pengerjaan yang mudah, serta metode pemberian skor dan interpretasi mudah. e. Bermanfaat, dimana dapat digunakan untuk berbagai keperluan, sehingga dapat menjelaskan fenomena yang ada, dan memprediksi masa depan

Pengertian Skala Psikologi (skripsi dan tesis)

Skala psikologi merupakan salah satu instrumen psikologi yang biasa digunakan untuk mengungkap aspek nonkognitif melalui aitem-aitem, dan menghasilkan skor yang dianalisis melalui proses psikometri (Periantalo, 2015). Dalam skala psikologi, hal yang ingin diungkapkan adalah aspek afektif dan perilaku. Skala mengungkap bagaimana manusia merespon, sehingga semua jawaban dianggap sebagai jawaban yang benar. Skala psikologi biasanya diwujudkan dalam bentuk aitem-aitem perilaku atau sikap. Aitem berasal dari indikator perilaku yang dibuat. Aitem mengalami seleksi baik kualitatif maupun kuantitatif. Dari aitemaitem tersebut, skala psikologi menghasilkan skor. Skor pada skala psikologi merupakan suatu kontinum internal, dimana setiap pengukuran menghasilkan skor. Skor memiliki klasifikasi tertentu dan memiliki interpretasi atau makna. Kemudian skor-skor yang dihasilkan akan dianalisis melalui proses psikometris. Skala psikologi diujicobakan melalui proses psikometris. Proses dimulai dari penetapan konstrak yang hendak diungkap. Ujicoba skala menghasilkan validitas, reliabilitas, indeks diskriminasi, norma dan interpretasi. Skala psikologi memiliki manfaat dalam pengembangan ilmu maupun kegunaan praktis. Secara garis besar, skala psikologi bermanfaat sebagai evaluasi untuk memberikan gambaran tentang apa yang telah dilakukan sehingga mampu membuat kebijakan yang tepat dan sesuai
 (Periantalo, 2015).

Reliabilitas Konsistensi Internal (skripsi dan tesis)

Pendekatan konsistensi internal dilakukan dengan menggunakan satu bentuk tes yang dikenakan hanya sekali saja pada sekelompok subjek. Pendekatan reliabilitas konsistensi internal bertujuan melihat konsistensi antar aaitem atau antarbagian dalam tes itu sendiri(Azwar, 2010). Dalam hal ini reliabilitas konsistensi internal mengukur seberapa konsisten aitem-aitem yang berbeda yang merefleksikan suatu konstruk yang sama memberikan hasil-hasil yang sama (Joguyanto, 2008). Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghitung reliabilitas ini yaitu (Jogiyanto, 2008):
1) Rata-rata korelasi antar aitem
 Cara menghitung reliabilitas ini dilakukan untuk masing-masing konstruk. Aitem-aitem di suatu konstruk dikorelasikan satu dengan lainnya dan nilai-nilai hasil korelasinya diratarata.
 2) Rata-rata korelasi total antar aitem
Cara menghitung reliabilitas ini hampir sama dengan yang dilakukan di rata-rata korelasi antar-aitem. Bedanya adalah korelasi antar-aitem dirata-rata terlebih dahulu untuk masingmasing aitem dan kemudian dihitung rata-rata dari rata-rata tersebut.
 3) Separuh dipecah (Split-half)
Split-half dilakukan dengan melakukan sebuah tes pada satu kelompok subjek dan membagi aitem-aitem di tes menjadi dua separuhan. Pemecahan aitem-aitem menjadi dua separuhan dapat dilakukan secara acak atau secara atas bawah atau secara ganjil-genap. Skor-skor dari separuh pertama dibandingkan dengan skor-skor dari separuh kedua. Analisis korelasi juga digunakan untuk membandingkan dua kelompok skor tersebut. Koefisien korelasi ini menunjukkan koefisien konsistensi internal dari alat ukur. Koefisien korelasi yang tinggi menunjukkan konsistensi internal aitem-aitem di alat ukur

Reliabilitas Bentuk Pararel (skripsi dan tesis)

Dalam pendekatan bentuk pararel ini, tes yang akan diestimasi reliabiltasnya harus ada pararelnya, yaitu tes lain yang sama tujuan ukurnya dan setara isi aaitemnya baik secara kualitas maupun kuantitasnya (Azwar, 2010). Untuk membuat dua tes menjadi paralel, penyusunannya haruslah didasarkan pada satu spesifikasi yang sama. Spesifikasi ini meliputi antara lain tujuan ukur, batasan objek ukur dan operasionalisasinya, indikator-indikator perilakunya, banyaknya aaitem, format aaitem, dan juga kalau perlu meliputi taraf kesukaran aaitem. Secara empirik, kedua tes yang pararel itu haruslah menghasilkan mean skor dan varians yang setara dan korelasi yang juga tidak berbeda dengan suatu variabel ketiga. Analisis korelasi digunakan untuk membandingkan dua kelompok skor tersebut. Koefisien korelasi ini menunjukkan koefisien ekuivalansi (coefficient of 38 equivalence) dari alat ukur. Koefisien korelasi yang tinggi menunjukkan ekuivalensi atau kesamaan atau stabilitas atau konsistensi alat ukur antar kelompok subjek berbeda (Jogiyanto, 2008)

Reliabilitas Tes Retest (skripsi dan tesis0

Pendekatan tes retest dilakukan dengan menyajikan tes dua kali pada satu kelompok subjek dengan tenggang waktu diantara kedua penyajian tersebut. Asumsi yang menjadi dasar dalam cara ini adalah bahwa suatu tes yang reliabel tentu akan menghasilkan skor-tampak yang relatif sama apabila dikenakan dua kali pada waktu yang berbeda (Azwar, 2010). Prosedur reliabilitas tes retest dimana reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya. Bila koefisien korelasi positif dam signifikan maka instrumen tersebut sudah dinyatakan reliabel (Sugiyono, 2010; Jogiyanto, 2008). Pengujian ini sering disebut stability. Dalam menggunakan pendekatan retest ini harus diperhatikan kemungkinan adanya perubahan kondisi subjek sejalan dengan berbedanya waktu diantara kedua penyajian tes. Perubahan kondisi subjek yang terjadi tidak pada keseluruhan subjek dan tidak searah sedikit-banyak akan ada pengaruhnya terhadap koefisien reliabilitas yang diperoleh. Disamping itu, masih ingatnya subjek akan jawaban yang pernah diberikan pada tes 37 yang pertama menjadi efek bawaan dalam pendekatan ini. Hal ini dapat mengakibatkan distribusi skor pada kedua penyajian tes dan korelasinya akan tinggi lebih dari semestinya (over estimasi). Koefisien sedemikian itu pun tentu tidak mencerminkan derajat reliabilitas yang benar karena tingginya korelasi bukan disebabkan kecilnya varians error, tetapi diakibatkan oleh pengulangan jawaban yang diberikan oleh subjek (Azwar, 2010).

Reliabilitas (skripsi dan tesis)

Reliabilitas berasal dari kata “rely” yang berarti kepercayaan dan “ability” yang berati kemampuan. Reliabilitas berarti kemampuan mengukur sejauhmana hasil suatu alat ukur dapat dipercaya. Reliabilitas berkorelasi juga dengan keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan dan konsistensi (Azwar, 2010; Sugiyono, 2010; Supratiknya, 2014). Secara psikometrik, reliabilitas memiliki dua makna (Klein dalam Supratiknya, 2014) yaitu self consistency atau konsistensi internal dan stabilitas tes. Konsistensi internal adalah kesesuaian antar bagian-bagian dalam suatu tes. Dalam artian jika salah satu bagian dari sebuah tes mengukur suatu variabel tertentu maka bagian-bagian lainnya jika tidak konsistensi dengan bagian yang disebut pertama pastilah tidak mengukur variabel yang sama. Reliabilitas yang didasarkan pada kesesuaian antar  bagian-bagian dalam suatu tes semacam ini dikenal sebagai reliabilitas konsistensi internal.
Menurut Klein (Supratiknya, 2014) konsep reliabilitas konsistensi internal inilah yang mendasari prinsip umum dalam psikometri yang menyatakan bahwa reliabilitas (konsistensi internal yang tinggi) merupakan salah satu syarat validitas. Sementara makna kedua mengenai stabilitas merupakan kesamaan skor yang dicapai oleh setiap testi yang sama dalam pengetesan ulang seperti skor yang dicapai dalam pengetesan pertama atau sebelumnya. Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah. Pengukuran yang memiliki reliabiltas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel. Secara empirik, tinggi rendahnya reliabilitas ditunjukkan oleh koefisien reliabilitas. Semakin tinggi koefisien korelasi berarti konsistensi antara hasil pengenaan dua tes tersebut semakin baik dan hasil ukur kedua tes tersebut dikatakan semakin reliabel. Secara teoretik besarnya koefisien reliabilitas berkisar mulai dari 0.0 sampai 1.0 (Azwar, 2010). Koefisien korelasi dapat bertanda negatif, tetapi akan selalu mengacu pada angka positif, dikarenakan angka yang negatif tidak ada artinya bagi interpretasi reliabilitas hasil ukur. Guilford (Supratiknya, 2014), batas minimum koefisien korelasi reliabilitas yang dipandang cukup memuaskan adalah 0.70. Sebuah tes yang memiliki koefisien 36 korelasi kurang dari 0.70 dipandang kurang bermanfaat sebab hal itu berarti bahwa standard error atau kesalahan baku yang terkandung dalam skor tampak adalah sedemikian besar sehingga sulit ditafsirkan.

Validitas Prediktif (skripsi dan tesis)

Validitas prediktif melihat prediksi alat ukur terhadap performansi masa depan. Seberapa kuat alat ukur tersebut mampu memprediksi sesuatu. Validitas prediktif merupakan validitas tertinggi. Jika skala memiliki validitas prediktif yang bagus, maka skala tersebut memiliki kebenaran yang tinggi pula. Tujuan utama dilakukan assesmen psikologi adalah untuk memprediksi perilaku seseorang pada masa yang akan datang (Periantalo, 2016). Pengujian ini dilakukan melalui dua tahapan yaitu: a) Memberikan seperangkat alat ukur kepada subjek. Tahapan ini biasanya diawal sebuah kegiatan, dimana subjek belum atau sedikit melakukan kegiatan tersebut. b) Mengambil kriteria untuk validitas instrumen. Kriteria ini harus didapat setelah beberapa waktu tertentu. Dalam artian, subjek telah memiliki hasil dari kegiatan tadi. Kriteria ini diuji dengan skala, dan teknik statistik yang digunakan berupa regresi.

Validitas Konkuren (skripsi dan tesis)

Validitas konkuren membandingkan skala dengan kriteria yang bisa didapat sekarang. Kemudian dilihat, apakah skala memiliki korelasi dengan kriteria. Membandingkan skala dengan kriteria dapat dilakukan dengan cara: a) Membandingkan dengan kriteria skala standar dan kedua skala harus memiliki landasan teori yang setara.  b) Membandingkan dengan skala yang berhubungan. Skala yang berhungan bisa dijadikan kriteria. Dasar skala ini adalah kedua skala memiliki hubungan, baik positif maupun negatif

Validitas Kriteria (skripsi dan tesis)

Validitas kriteria dilakukan setelah skala final dirakit. Validitas kriteria membandingkan skala dengan suatu kriteria. Kriteria tersebut merupakan kriteria yang relevan, dan dapat berasal dari teori, hasil penelitian, maupun analisis rasional. Kriteria harus memiliki skor. Skor skala dikorelasikan dengan skor kriteria. Jika kriteria belum memiliki skor, maka perlu dikonversi menjadi skor. Validitas kriteria melihat sejauhmana hubungan antara skala dengan kriterianya. Semakin tinggi hubungan, maka semakin kuatlah validitas kriterianya

Confirmatory Factor Analysis (CFA) (skripsi dan tesis)

Confirmatory Factor Analysis dimana peneliti sudah menentukan beberapa faktor yang pembentukan skala tersebut. Tujuan utama CFA adalah menguji apakah indikator-indikator yang sudah dikelompokkan berdasarkan konstruknya konsisten berada dalam konstruknya tersebut atau tidak. Pada CFA, peneliti mengukur apakah data fit dengan model yang dibentuk sebelumnya atau tidak. Di awal peneliti telah mengembangkan model hipotesis berdasarkan kerangka teoritis atau penelitian sebelumnya yang dijadikan acuan. Ukuran-ukuran yang digunakan dalam CFA sama halnya dengan yang digunakan dalam Structural Equation Modelling (SEM) yaitu ukuran kesesuaian model dengan data (fitness index). Chi Square, RMSEA, GFI, AGFI adalah beberapa contoh ukuran kesesuaian model yang akan  digunakan di luar nilai bobot setiap indikator (Periantalo, 2016).