Parasuraman dalam Tjiptono (2006) mengklasifikasikan 5 dimensi
kualitas pelayanan, yakni:
1) Dimensi bukti langsung (Tangible) adalah penampilan fisik, peralatan, dan
sarana komunikasi. Misalnya keindahan interior, kebersihan dan kelengkapan,
penampilan karyawan, keserasian tata letak , kemudahan dan keamanan tempat
parkir, serta kelengkapan sarana telekomunikasi.
2) Dimensi keandalan (Reliability) adalah kemampuan untuk melaksanakan jasa
sesuai yang telah dijanjikan secara akurat dan dapat diandalkan. Misalnya
terpenuhinya keinginan pelanggan dan ketepatan waktu yang diberikan.
20
3) Dimensi daya tanggap (Responsiveness) yaitu kesediaan untuk membantu
pelanggan dan memberikan layanan seketika. Misalnya kepastian lamanya
layanan dan kesiapan karyawan dalam melayani pelanggan.
4) Dimensi jaminan (Assurance) adalah pengetahuan, sopan santun, dan
kemampuan karyawan untuk menimbulkan rasa percaya dan keyakinan.
Misalnya kesopanan karyawan, keramahan karyawan dan pengetahuan
karyawan yang mendukung.
5) Dimensi kepedulian (Empathy) adalah rasa peduli dan perhatian individual yang
diberikan perusahaan kepada pelanggan. Misalnya pendekatan perindividu
kepada pelanggan dan terciptanya hubungan yang baik dengan pelanggan
Tingkatan Dalam Keputusan Penggunaan Jasa
Menurut Schiffman dan Kanuk (2010: 487) terdapat tiga tingkatan dalam
pengambilan keputusan yaitu:
1. Pemecahan masalah secara luas (Extensive problem solving)
Ketika konsumen telah ada dibentuk kriteria untuk mengevaluasi kategori
produk atau merek tertentu dalam kategori tersebut atau belum mempersempit
jumlah merek yang mereka akan mempertimbangkan untuk kecil, bagian
dikelola ada pengambilan keputusan upaya dapat diklasifikasikan sebagai
masalah yang luas pemecahannya.
2. Pemecahan masalah terbatas (Limited problem solving)
Pada tingkat pemecahan masalah, konsumen sudah berdiri, kriteria dasar untuk
mengevaluasi kategori produk dan berbagai merek dalam kategori tersebut.
3. Tanggapan berdasarkan rutinitas kelakuan (Routinized response behavior)
Pada tingkatan ini, konsumen memiliki pengalaman dengan kategori produk dan
kriteria yang dapat digunakan untuk mengevaluasi merek yang mereka
pertimbangkan.
Seberapa mendalam tingkat pemecahan masalah konsumen dalam
mengambil keputusan pembelian bergantung pada seberapa baik kriteria pemilihan
yang ditetapkan, seberapa banyak informasi yang telah dimiliki mengenai setiap
produk yang sedang dipertimbangkan konsumen, dan seberapa terbatas rangkaian
produk yang akan dipilih. Jelas bahwa untuk pemecahan masalah yang luas,
konsumen harus mencari informasi yang lebih banyak untuk melakukan pilihan
dalam keputusan pembelian, namun sebaliknya untuk perilaku respons yang rutin
hanya sedikit informasi tambahan yang dibutuhkan.
Pengertian Praktik kerja industri (Prakerin)
Djojonegoro dalam Hamalik (2007) mengemukakan bahwa praktik kerja industri (Prakerin) (PI) adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian kejuruan yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasan keahlian yang diperoleh melalui bekerja langsung di dunia usaha atau dunia industri (DU/DI), secara terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional.
Menurut Hamalik (2007), praktik kerja industri (Prakerin) atau di beberapa sekolah disebut dengan On The Job Training (OJT) merupakan modal pelatihan yang di selenggarakan di lapangan, bertujuan untuk memberikan kecakapan yang diperlukan dalam pekerjaan tertentu sesuai dengan tuntutan kemampuan bagi pekerjaan. Hal ini sangat berguna untuk para siswa agar dapat beradaptasi dan siap terjun ke dunia kerja, sehingga di dalam bekerja nantinya dapat sesuai dengan tuntutan dunia kerja.
Praktik kerja industri (Prakerin) adalah “Prakerin adalah bagian dari pendidikan sistem ganda (PSG) sebagai program bersama antara SMK dan Industri yang dilaksanakan di dunia usaha, industri. Dalam Kurikulum SMK (Dikmenjur, 2008) disebutkan bahwa Prakerin adalah pola penyelenggaraan diklat yang dikelola bersama-sama antara SMK dengan industri/asosiasi profesi sebagai institusi pasangan (IP), mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi dan sertifikasi yang merupakan satu kesatuan program dengan menggunakan berbagai bentuk alternatif pelaksanaan , seperti day release, block release, dan sebagainya..
Pada hakekatnya penerapan PSG ini meliputi pelaksanaan praktik keahlian produktif, baik di sekolah dan di dunia usaha atau di dunia industri (DU/DI). Sekolah membekali siswa dengan materi pendiddikan umum (nourmative) pengetahuan dasar penunjang (adaptif), serta teori dan keterampilan dasar kejuruan (produktif). Selanjutnya DU/DI diharapkan dapat membantu bertanggung jawab terhadap peningkatan keahlian profesi melalui program khusus yang dinamakan Praktik kerja industri (Prakerin).
Praktik kerja industri (Prakerin) merupakan bagian dari Pendidikan Sistem Ganda (PGS) yang diilhami sebagai pendidikan dua sistem (dual system) yang dilakukan di Jerman. Yang kemudian mulai diberlakukan di Indonesia berdasarkan kurikulum SMK tahun 1994, dipertajam dengan kurikulum SMK edisi 1999 dan dipertegas dengan kurikulum SMK edisi 2004. Praktik kerja industri (Prakerin) merupakan inovasi program SMK dimana peserta didik melakukan praktik kerja di dunia usaha atau di dunia industri (DU/DI). Praktik kerja industri (Prakerin) merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan pelatihan di SMK.
Proses penyiapan siswa agar mempunyai kesiapan kerja kurang maksimal apabila dilakukan hanya disekolahan saja. Kerjasama dengan pihak lain seperti dunia industri dan dunia usaha (DU/DI) sangat diperlukan untuk mendukung kesiapan kerja siswa. Praktik kerja industri (Prakerin) diharapkan akan dapat memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa tentang kondisi dunia kerja yang sesungguhnya dan pelaksanaan kegiatan ini merupakan suatu pelatihan bagi siswa untuk meningkatkan kemampuan baik dalam hal pengetahuan maupun keterampilan yang sesuai dengan bidang keahlian busana. Dengan demikian bimbingan dari dunia usaha maupun dunia industri (DU/DI) sangatlah dibutuhkan, karena diharapkan akan terjadi transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan sehingga siswa akan lebih siap memasuki dunia kerja.
Praktik kerja industri (Prakerin) diarahkan pada pencapaian kemampuan professional sesuai dengan tuntutan jabatan pekerjaan-pekerjaan yang berlaku di lapangan pekerjaan. Program pendidikan ini dapat tercapai jika ada kerja sama yang saling membutuhkan antara Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja kemampuan professional tidak akan tercapai tanpa adanya peran dari dunia kerja karena DU/DI yang paling mengerti standar tenaga kerja yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Sehingga SMK diharapkan mampu menjalin kerja sama dengan dunia kerja, kerja sama ini meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemasangan tamatan yang terangkum dalam program Praktik kerja industri (Prakerin).
Definisi Ekuitas Merek (skripsi tesis dan disertasi)
Intensitas Penggunaan Media Facebook (skripsi dan tesis)
Facebook merupakan aplikasi jejaring sosial online yang membuat penggunanya dapat menampilkan diri mereka dalam profil online, menambah “teman” yang dapat mem posting komentar serta saling melihat profil satu sama lain (Ellison, Steinfeld, et al, 2007). Para anggotanya juga dapat bergabung dengan grup virtual berbasis kesamaan minat, seperti kelas, hobi, minat, selera musik dan status hubungan romantis melalui profil mereka. Di Facebook, tingkat visibilitas untuk melihat profil pengguna lainnya cukup tinggi. Para pengguna yang merupakan bagian dari jaringan yang sama dapat bebas melihat profil satu sama lain, kecuali jika si pemilik profil memutuskan untuk menutup profil mereka, membatasi hanya dapat dilihat oleh lingkaran teman terdekat saja.
Seperti yang dikutip dalam Ellison, Steinfeld & Lampe (2007), sebagian besar riset awalmengenai komunitas online berasumsi bahwa individu menggunakan situs jejaring sosial untuk berhubungan dengan orang lain di luar kelompok sosial dan lokasi tempat mereka berada. Media jejaring sosial membebaskan penggunanya untuk membentuk komunitas dalam berbagikesamaan minat, berbagi lokasi geografis (Wellman, Salaff, Dimitrova, Garton, Gulia, dan Haythornthwaite, 1996). Pengukuran mengenai penggunaan Internet yang diadaptasi dari LaRose, Lai, Lange, Love, danWu (2005) dalam Ellison, Steinfeld & Lampe (2007) yang diaplikasikan dalam penelitian inidiantaranya meliputi: (1) intensitas penggunaan, seperti durasi/frekuensi, jumlah waktu yangdihabiskan serta berapa jumlah teman yang dimiliki, (2) alasan/motivasi penggunaan (mis.apakah untuk bertemu orang baru, atau memperkuat hubungan), serta (3) preferensi dan fungsi dari situs jejaring sosial tersebut
Beberapa konsep awal dari pendekatan ini adalah apa yang dikemukakan oleh Blumler (1979)dalam mengidentifikasi makna konsep “aktivitas” dapat dilihat dari sejumlah faktor, yaitu: (1) utility (kegunaan), (2) intentionality (motivasi/tujuan penggunaan, (3) selectivity (pemilihan dan minat), (4) imperviousness to influence (penolakan terhadap pengaruh). McQuail, Blumler dan Brown (1972) mengemukakan bahwa beberapa kategori “uses of themedia” adalah: (1) sexual arousal (membangkitkan seks), (2) emotional release (pelepasan emosi), (3) filling time (pengisi waktu), (4) getting intrinsic culture/aesthetic enjoyment (menikmati budaya), (5) relaxing (relaksasi), (6) escaping from problems (pelepasan diri dari masalah) dan (7)having a substitute for real-life companinionship (pengganti/substitusi pertemanan di dunia nyata) (Baran, 2000).
