Mathis, R.L dan Jackson (2009) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai keadaan
emosional yang positif yang merupakan hasil dari evaluasi pengalaman kerja
seseorang. Karyawan yang tidak memperoleh kepuasan kerja tidak akan pernah
mencapai kepuasan psikologis dan akhirnya akan timbul sikap atau tingkah laku
negative dan pada gilirannya akan dapat menimbulkan frustasi, sebaliknya
karyawan yang terpuaskan akan dapat bekerja dengan baik, penuh semangat, aktif
dan dapat berprestasi lebih baik dari karyawan yang tidak memperoleh kepuasan
kerja. Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individu. Setiap
individu memiliki tingkat kepuasan kerja yang berbeda-beda sesuai dengan
system nilai-nilai yang berlaku pada dirinya. Ini disebabkan karena adanya
perbedaan pada masing-masing individu. Semakin banyak aspek-aspek dalam
pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu tersebut, maka semakin tinggi
tingkat kepuasan yang dirasakannya, sebaliknya semakin sedikit aspek-aspek
dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu, maka semakin rendah
tingkat kepuasan yang dirasakannya.
Pengertian Manajemen Pemasaran
Manajemen pemasaran pada dasarnya merupakan suatu kegiatan
penyusunan dan penerapan terhadap rencana-rencana di suatu perusahaan.
Dalam membuat perencanaan sangat dibutuhkan keahlian untuk
menentukan strategi dan perencanaan yang tepat. Peran manajemen
pemasaran disuatu perusahaan sangat penting. Diantaranya,
mempersiapkan suatu produk yang lebih inovatif dan menyeleksi pangsa
pasar yang sesuai dengan yang diharapkan oleh perusahaan serta
mempromosikan produk baru tersebut pada calon pembeli.
Manajemen pemasaran menurut Kotler dan Keller (2012:5),
Manajemen Pemasaran merupakan suatu seni dan ilmu di dalam pasar
sasaran untuk menarik, menjaga, juga meningkatkan konsumen dengan
menciptakan, mengkomunikasikan dan menghantarkan kualitas konsumen
yang unggul.
Menurut Tjiptono (2011:2), Manajemen pemasaran adalah suatu
teknik yang secara keseluruhan merupakan kegiatan bisnis yang
dipersiapkan untuk menyusun, menentukan harga, serta menyalurkan
suatu produk, jasa dan ide yang bisa memenuhi kebutuhan pasar
sasarannya sehingga tercapai tujuan perusahaan tersebut.
Pengertian Manajemen Pemasaran menurut Assauri (2013:12),
Manajemen pemasaran merupakan suatu aktivitas penjabaran, persiapan,
pelaksanaan, dan penerapan suatu rencana yang dilakukan demi
menciptakan, menyusun, dan menjaga keuntungan dari pertukaran dengan
tujuan pasar untuk mencapai misi di perusahaan dalam jangka panjang.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen
pemasaran merupakan suatu keterampilan atau seni untuk menentukan
pasar sasarannya, dengan cara menyusun, menentukan harga, dan
menyalurkan suatu produk terhadap pasar sasaran untuk mencapai tujuan
di dalam organisasi atau perusahaan dalam jangka waktu panjang.
Menurut Rangkuti (2010:105) manajemen dalam pemasaran
memiliki tiga tugas pokok, yaitu:
1. Menyusun strategi atau cara secara umum di dalam perusahaan.
2. Mengadakan strategi tersebut.
3. Melaksanakan penilaian, menganalisis, dan memperhatikan strategi
tersebut dalam pelaksanaanya (untuk menilai hasil dan kekeliruan serta
untuk mengatur kegiatan).
Pengertian Pemasaran
Kegiatan utama yang dilakukan setiap pelaku bisnis dalam
mempertahankan keberlangsungan hidup usahanya adalah memasuki
sebuah pasar, dengan cara memasarkan suatu produk. Keberhasilan setiap
pelaku bisnis tergantung bagaimana cara atau strategi yang diterapkan
perusahaan dalam memasarkan produknya, agar dapat mencapai tujuan
yang diharapkan. Kegiatan pemasaran berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan dan keinginan banyak orang, maka dari itu produsen harus
memberikan kualitas yang diharapkan oleh konsumen untuk mendapatkan
manfaat yang sama dengan pengorbanannya agar terpenuhi kebutuhannya.
Menurut American Marketing Association (AMA) dalam Kotler
dan Keller (2009:5), Pemasaran merupakan suatu aktivitas dan sistem di
dalam suatu perusahaan atau produsen untuk memberikan kualitas kepada
konsumen agar memperoleh keuntungan, dengan cara menciptakan suatu
produk, menginformasikan kepada konsumen secara langsung maupun
secara tidak langsung tentang suatu produk yang akan produsen jual, dan
memberikan kesenangan kepada pelanggan.
Menurut Kotler dan Armstrong (2012:127) pemasaran merupakan
suatu proses sosial dan manajerial dimana individu atau kelompok
mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan melalui penciptaan
dan penukaran suatu produkndengan pihak lain yang saling membutuhkan.
Menurut Kotler (2008:76) pemasaran adalah sistem yang secara
menyeluruh merupakan aktivitas dari suatu usaha yang diarahkan untuk
mengatur, memutuskan suatu harga, memasarkan dan menyalurkan barang
ataupun jasa yang memenuhi kebutuhan baik untuk pembeli yang ada
maupun pembeli potensial.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pemasaran
merupakan suatu kegiatan yang bersangkut-paut dengan pemenuhan
kebutuhan dan keingian setiap orang dalam kehidupan sehari-harinya.
Kegiatan pemasaran dilakukan dengan cara menciptakan dan menukarkan
suatu produk dengan pihak lain, untuk mendapatkan barang atau jasa yang
diingingkan agar terpenuhi kebutuhannya.
Pengertian Brand (Merek)
Aaker (1997) dalam Priansa (2017:242), menyatakan bahwa merek berkenaan
dengan nama atau simbol yang bersifat membedakan (contohnya logo, cap,
kemasan) dengan maksud mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang atau
sekelompok penjual tertentu sehingga membedakannya dengan barang atau jasa
milik kompetitor.
Menurut undang-undang Merek no 15 tahun 2001 pasal 1 ayat 1 dalam
Priansa (2017:242), menyatakan bahwa merek adalah tanda yang berupa gambar,
nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsurunsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan
perdagangan barang atau jasa.
Brand atau merek adalah sebuah nama, istilah, simbol, atau desain atau
sebuah kombinasi diantaranya, yang bertujuan untuk mengidentifikasikan barang
atau jasa yang dihasilkan oleh produsen (Kotler & Amstrong, 2014 dalam
Yuliantari et al., 2020:24).
Berdasarkan definisi dari beberapa ahli tentang merek, dapat disimpulkan
bahwa merek merupakan suatu bentuk identitas dari suatu produk yang
ditawarkan ke konsumen atau pelanggan yang dapat membedakan produk
perusahaan dari produk pesaing dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa
yang berbentuk suatu nama, kata, tanda, simbol, desain, atau kombinasi dari
semua hal tersebut.
Faktor-faktor Persepsi harga
Menurut Shichiffman dan Kanuk (2007) dalam Nanda Octaviona
(2016:402) persepsi merupakan suatu proses seseorang individu dalam
menyeleksi, mengorganisasikan, dan menterjemahkan stimulus informasi yang
datang menjadi suatu gambaran yang menyeluruh, persepsi harga ialah bagaimana
cara konsumen melihat harga sebagai harga yang tinggi, rendah dan adil.
Beberapa hal yang menjadi faktor dapat meningkatkan persepsi sebuah
harga yang di tawarkan oleh perusahaan menurut (Schiffman dan kanuk ,
2007:160) antara lain :
1) Persepsi kewajaran harga
Persepsi ini dipengaruhi oleh harga acuan yang didapatkan oleh
konsumen bedasarkan informasi yang didapatkannya.
2) Persepsi ketidakadilan harga
Persepsi ini didasari oleh pernyataan fleksibilitas dan objektifitas harga
yang diberikan produsen bedasarkan diskon-diskon dan paket paket yang
di berikan untuk menarik pelanggan secara tidak langsung untuk
membeli produk mereka.
Menurut Kotler dan keller (2009:180) menjelaskan proses-proses
pemahaman yang menjadi faktor dalam mempengaruhi persepsi konsumen antara
lain adalah :
1) Perhatian Selektif
Peroses alokasi kapasitas terhadap beberapa ransangan yang secara tak
sukarela disebabkan oleh stimulus dari beberapa orang.beberapa tantangan
mengenai stimulan dalam menarik perhatian konsumen, antara lain; Orangorang mungkin lebih memperhatikan stimulasi yang berhubungan dengan
kebutuhan saat ini, perhatian antisipasi konsumen terhadap sebuah ransangan
dan stimulasi yang besar dalam kaitannya dengan ukuran normal.
2) Distorsi Selektif
Menjelaskan kecenderungan orang untuk mengolah informasi menjadi suatu
pengertian pribadi.
3) Retensi Selektif
Orang-orang akan melupakan kebanyakan dari hal, yang mereka pelajari
dancenderung mempertahankan informasi yang mendukung pendirian dan
kepercayaan mereka.
Hubungan Variabel Orientasi Kewirausahaan Terhadap Keunggulan Bersaing
Ismawanti dalam Erni dan Brillyanes (2018:151) menyatakan bahwa
perusahaan dengan orientasi kewirausahaan dapat mencapai target pasar dan berada
di posisi pasar yang lebih depan dibandingkan dengan pesaing mereka
Terdapat keterkaitan antara variabel orientasi kewirausahaan, inovasi, dan
kewirausahaan (new entry), keterkaitan ini disebut dengan “triadic connect”.
Menurut Ndubisi dalam Elisabeth dan Susilo (2017:2). Orientasi kewirausahaan
mendukung inovasi di dalam organisasi dan inovasi mendorong munculnya new
entry. Kewirausahaan dan inovasi merupakan konsep yang sering dihubungkan
dengan peningkatan kinerja perusahaan sebagai sumber daya dalam keunggulan
bersaing
Menurut Drucker dalam Muliasari et al (2018), Penguatan
kewirausahaan, sebagai orientasi utama, menjadi tujuan penting bagi perusahaan
yang ingin meningkatkan daya tanggapnya terhadap lingkungan yang global dan
berubah. Perusahaan saat ini tidak akan terus bisa bertahan pada saat mutasi dan
menghadapi inovasi yang cepat jika mereka tidak mempertahankan kemampuan
wirausaha
Peranan berusaha juga sangat penting dalam kemampuan pimpinan, selain
tingkat pendidikan dan kemampuan pengambilan risiko, karena dengan
pengalaman berusaha yang tinggi maka kemampuan pimpinan untuk melihat
keinginan konsumen pada suatu produk juga sangat tinggi Hadjimanolis dalam
Nitya (2013:136)). Sikap berwirausaha dan konsekuensi dari perilaku kepada
inovasi sangat dipengaruhi oleh latar belakang pimpinannya yang menyangkut
pengalaman berusaha pimpinannya. Kemampuan pimpinan akan sangat
mempengaruhi sikap perusahaan dalam mempengaruhi sikap perusahaan dalam
memperhatikan perusahaan pasar, menjadi responsif terhadap perusahaan,
kebutuhan pasar, seringkali memerlukan dirancangnya produk baru untuk
menyesuaikan dengan perubahan dan eksploitasi konsumen,sehingga tercipta
keunggulan bersaing perusahaan
Terdapat pengaruh yang signifikan antara Orientasi Kewirausahaan dan
Keunggulan Bersaing di dalam penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Renita
dkk. (2015)
Hubungan antar variabel ini di perkuat oleh Ardiani et al. (2018) dalam
penelitian terdahulu yang menyatakan adanya pengaruh signifikan antara Orientasi
Kewirausahaan terhadap Keunggulan Bersaing
