Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Budaya Organisasi


Menurut Robert (2003: 80) ada beberapa faktor yang mempengaruhi budaya
organisasi dalam sebuah perusahaan. Adapun faktor-faktor tersebut adalah sebagai
berikut :

  1. Nilai
  2. Kepercayaan
  3. Perilaku yang dikehendaki
  4. Keadaan yang amat penting
  5. Pedoman menyeleksi atau mengevakuasi kejadian
  6. Perilaku
    Sedangkan menurut Veithzal (2003: 81) faktor-faktor yang mempengaruhi
    budaya organisasi dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja karyawan
    adlah dipengaruhi oleh 3 hal. Yaitu sebagai berikut :
  7. Pola-pola yang dipandu oleh norma
  8. Nilai-nilai
  9. Kepercayaan yang ada dalam diri individu.

Indikator Budaya Organisasi


Variabel budaya organisasi terdiri dari 7 (tujuh) indikator, yaitu :

  1. Inovasi dan Keberanian Mengambil Risiko
    Pegawai memiliki dorongan untuk terus berinovasi seperti berkreatifitas
    dalam melakukan pekerjaannya serta berani mengambil risiko dan
    bertanggung jawab terhadap tugas yang dikerjakannya.
  2. Perhatian Terhadap Detail
    Pegawai memiliki perhatian terhadap detail dalam melaksanakan
    pekerjaannya seperti memperhatikan posisi kecermatan, menganalisis, dan
    perhatian pada setiap rincian pekerjaan.
  3. Berorientasi Pada Hasil
    Pegawai mampu mencapai target atau hasil yang telah ditentukn serta
    mampu memanajemen pekerjaannya, yang mana hasil pekerjaan tersebut
    berfokus pada hasil yang ingin dicapai.
  4. Berorientasi Kepada Manusia
    Pegawai memberikan pelayanan yang baik kepada orang yang dilayani, hal
    tersebut akan sangat berdampak baik kepada orang yang dilayani dan untuk
    pegawai dalam meningkatkan kinerjanya.
  5. Berorientasi Tim
    Pegawai memiliki hubungan yang baik sesame anggota sehingga mampu
    bekerja sama dengan baik sesama anggota-anggota lainnya dalam
    menyelesaikan pekerjaan.
  6. Agresif
    Pegawai memiliki inisiatif sendiri apa yang seharusnya dikerjakan tanpa
    harus menunggu perintah pimpinan agar dapat mengefesienkan waktu
    pekerjaan
  7. Stabil
    Pegawai memiliki dorongan untuk terus berprestasi dengan memberikan
    hasil kerja yang memuaskan untuk meningkatkan kinerja bukan menjadikan
    kinerja menurun dan tidak memiliki motivasi untuk berprestasi.

Karakteristik Budaya Organisasi


Untuk memberikan pengertian yang sangat mudah, terdapat 10 (sepuluh)
karakteristik penting yang dapat dipakai sebagai ancuan dalam memahami serta
mengukur keberadaan budaya organisasi menurut (Robbins 2001: 36) sebagai
berikut :

  1. Inisiatif individu, tingkat tanggung jawab, kebebasan dan kemandirian yang
    dimiliki individu.
  2. Toleransi resiko, tingkat pengembalian resiko, inovasi dan keberanian
    individu.
  3. Arahan, kemampuan organisasi dalam menciptakan kreasi terhadap sasaran
    dan harapan kinerja.
  4. Integritas, kemampuan organisasi dalam melakukan koordinasi semua unit
    menjadi satu kesatuan gerak.
  5. Dukungan manajemen, kemampuan jajaran dalam proses komunikasi,
    pembimbingan dan memberikan dukungan terhadap bawahan.
  6. Control, seberapa besar aturan, arahan, supervise mengontrol kerja bawahan.
  7. Identitas, seberapa kuat jati diri sosial organisasai dalam diri pegawai.
  8. System imbalan, sejauh mana alokaasi imbalan didasarkan atas kinerja.
  9. Toleransi konflik, kesempatan pegawai untuk dapat meningkatkan konflik
    secara terbuka.
  10. Pola komunikasi, seberapa jauh komunikasi yang dibangun organisasi
    hirarki secara formal.

Fungsi dan Peran Budaya Organisasi


Budaya organisasi sebagai dasar dala, mengontrol perilaku anggota
organisasi, yang tentunya mempunyai fungsi dan manfaat bagi suatu organisasi.
Budaya organisasi berfungsi untuk membangun dan merancang kembali system
pengendalian manajemen organisasi, ialah sebagai alat dalam menciptakan
komitmen supaya para manajer serta karyawan terdorong melakukan perencanaan
strategis programming, budgeting, controlling, monitoring, evaluasi dan lainnya.
Adapun budaya organisasi memiliki beberpa manfaat dalam organisasi menurut
Robbins (1996), (Ismail Nahwawi, 2017) sebagai berikut :
a. Budaya organisasi mewujudkan perbedaan yang jelas dari suatu organisasi
dengan organisasi yang lainya.
b. Budaya organisasi membawa suatu rasa identitas terhadap anggota
organisasi.
c. Budaya organisasi memudahkan lahirnya pertumbuhan komitmen pada
suatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual
d. Budaya korporat itu meningkatkan konsistensi sistem sosial.

Pengertian Budaya Organisasi


Budaya organisasi berkaitan dengan bagaimana karyawan empersepsikan
karakteristik dari budaya suatu organisasi, bukan dengan apa mereka menyukai
budaya itu atau tidak. Artinya, budaya itu merupakan suatu istilah deskriptif.
Budaya organisasi merupakan suatu persepsi bersama yang dianut oleh semua
anggota organisasi. Robbins (2001) menyatakan budaya organisasi adalah mengacu
kepada suatu system makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota yang
membedakannya organisasi itu dari organisasi-organisasi lain.
Selanjutnya David (2004) menyatakan budaya organisasi adalah pola
tingkah laku yang dikembangkan oleh suatu organisasi yang dipelajarinya ketika
mengalami masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal, yang telah terbukti
cukup baik untuk disahkan dan diajarkan kepada anggota baru sebagai cara untuk
menyadari, berfikir dan merasa.

Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia


Mengutip dari buku Bahan Ajar Manajemen SDM

  1. Tujuan Organisasional ditujukan untuk mengenali keberadaan
    Manajemen Sumber Daya Manusia dalam memberikan kontribusi pada
    pencapaian efektivitas organisasi.
  2. Tujuang Fungsional ditujukan untuk mempertahankan kontribusi
    departmene pada tingkat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
  3. Tujuan Sosial ditujukan untuk secara etis dan sosial merespon terhadap
    kebutuhan-kebutuhan dan tantangan-tantangan masyarakat melalui
    tindakan meminimasi dampak negatif terhadap organisasi.
  4. Tujuan Personal ditujukan untuk membantu karyawan dalam pencapaian
    tujuannya

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Dalam pengelolaan sumber daya manusia di perusahaan, MSDM
mempunyai dua fungsi menurut Sunyoto (2013; 5). Kedua fungsi tersebut terdiri
dari fungsi manajerial dan operasional. Berikut adalah penjelasannya :
a. Fungsi Manajerial
1) Perencanaan
Fungsi Perencanaan meliputi penentuan program sumber daya
manusia yang akan membantu pencapaian tujuan perusahaan yang sudah
ditetapkan.
2) Pengorganisasian
Fungsi Perorganisasian adalah membentuk organisasi dengan
meracang sususunan dan berbagai hubungan antara jabatan, personalia dan
faktor-faktor fisik.
3) Pengarahan
Fungsi pengarahan adalah mengusahakan agar karyawan mau
bekerja secara efektif melalui perintah motivasi
4) Pengendalian
Fungsi pengendalian adalah mengadakan pengamatan atas
pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana dan mengoreksinya jika
terjadi penyimpangan atau jika perlu menyesuaikan kembali rencana yang
telah dibuat.
b. Fungsi Operasional
1) Pengadaan
Fungsi pengadaan meliputi perencaan sdm, perekrutan, seleksi,
penempatan dan orientasi karyawan, perencanaan mutu dan jumlah
karyawan.
2) Pengenmbangan
Fungsi pengembangan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan,
pengetahuan dan sikap karyawan agar dapat melaksanakan tugas dengan
baik
3) Kompensasi
Fungsi kompensasi dapat diartikan sebagai pembrian penghargaan
yang adil dan layak kepada karyawan sebagai balas jasa kerja mereka.
4) Integrasi
Fungsi pengintegrasian karyawan ini meliputi usaha-usaha untuk
menyelarasakan kepentingan invidu karyawan, organisasi dan masyakarat.
Usaha perlu memahami sikap dan perasaan karyawan.
5) Pemeliharaan
Fungsi pemeliharaan tidak hanya mengenao usaha mencegah
kehilangan karyawan-karyawan tetapi dimaksud untuk memelihara sikap
kerjasama dan kemampuan bekerja karyawan tersebut.
6) Pemutusan Hubungan Kerja
Fungsi pemutusan hubungan kerja yang terakhir adalah
memutuskan hubungan kerja dan mengembalikannya kepada masyarakat,
proses pemutusan hubungan kerja yang utama adalah pensiun,
pemberhentian dan pemecatan.

Kompensasi Non Finansial


Salah satu tujuan manajemen sumber daya manusia, yaitu memastikan
organisasi memiliki tenaga kerja yang bermotivasi dan berkinerja tinggi, serta
dilengkapi dengan sarana untuk menghadapi perubahan yang dapat memenuhi
kebutuhan pekerjanya. Dalam usaha mendukung pencapaian tenaga kerja yang
memiliki motivasi dan berkinerja tinggi, yaitu dengan cara memenuhi kebutuhan- kebutuhannya.
Sistem kompensasi juga berpotensi sebagai salah satu sarana terpenting dalam
membentuk perilaku dan mempengaruhi kinerja. Namun demikian banyak organisasi
mengabaikan potensi tersebut dengan suatu persepsi bahwa kompensasi tidak lebih
sekadar a cost yang harus diminimisasi. Tanpa disadari beberapa organisasi yang
mengabaikan potensi penting dan berpersepsi salah telah menempatkan sistem
tersebut justru sebagai sarana meningkatkan perilaku yang tidak produktif atau
counter productive. Akibatnya muncul sejumlah persoalan personal seperti low
employee motivation, poor job performance, high turn over, irresponsible behaviour
dan bahkan employee dishonestry yang berawal dari sistem kompensasi yang tidak
proporsional.
Menurut Handoko (2013) menyatakan faktor pendorong penting yang
menyebabkan manusia bekerja adalah adanya kebutuhan dalam diri manusia yang
harus dipenuhi dimana keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup, manusia bekerja
dengan menjual tenaga, pikiran dan juga waktu yang dimilikinya kepada perusahaan
dengan harapan mendapatkan kompensasi (imbalan).
Secara umum kompensasi merupakan sebagian kunci pemecah bagaimana
membuat anggota berbuat sesuai dengan keinginan organisasi. Sistem kompensasi ini
akan membantu menciptakan kemauan diantara orang-orang yang berkualitas untuk
bergabung dengan organisasi dan melakukan tindakan yang diperlukan organisasi.
Secara umum berarti bahwa karyawan harus merasa bahwa dengan melakukannya,
mereka akan mendapatkan kebutuhan penting yang mereka perlukan. Dimana
didalamnya termasuk interaksi sosial, status, penghargaan, pertumbuhan dan
perkembangan.
Menurut Long (2013) mendefinisikan sistem kompensasi adalah bagian dari
sistem reward yang hanya berkaitan dengan bagian ekonomi, namun demikian sejak
adanya keyakinan bahwa perilaku individual dipengaruhi oleh sistem dalam spektrum
yang lebih luas maka sistem kompensasi tidak dapat terpisah dari keseluruhan sistem
reward yang disediakan oleh organisasi. Sedangkan reward adalah semua hal yang
disediakan organisasi untuk memenuhi satu atau lebih kebutuhan individual. Adapun
dua jenis reward tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Ekstrinsik kompensasi yaitu kompensasi yang memuaskan kebutuhan dasar
    untuk survival dan security dan juga kebutuhan sosial dan pengakuan.
    Pemuasan ini diperoleh ari faktor-faktor yang ada di sekeliling para
    karyawan dan disekitar pekerjaannya.
  2. Intrinsik kompensasi yaitu kompensasi yang memenuhi kebutuhan yang
    lebih tinggi tingkatannya, misalnya untuk kebanggaan, penghargaan, serta
    pertumbuhan dan perkembangan yang dapat diperoleh dari faktor-faktor
    yang melekat dalam pekerjaan karyawan itu, seperti tantangan karyawan
    atau interest suatu pekerjaan yang diberikan, tingkatan keragaman atau
    variasi dalam pekerjaan, adanya umpan balik, dan otoritas pengambilan
    keputusan dalam pekerjaan serta signifikansi makna pekerjaan bagi nilai- nilai organisasional.

Kompetensi


Seseorang dalam menyelesaiakan suatu pekerjaan banyak dipengaruhi oleh
kemampuannya dalam bidang pekerjaan tersebut. Oleh karena itu agar pekerjaan
tersebut dapat diselesaikan dengan baik harus dikerjakan oleh orang yang memiliki
kompetensi di bidang pekerjaan yang dimaksud. Menurut Muhaimin (2011)
menyatakan kompetensi adalah seperangkat tindakan intelegen penuh tanggung
jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu
melaksankan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu. Kompetensi menurut
Spencer (2013) yaitu karakteristik yang mendasari seseorang dan berkaitan dengan
efektifitas kinerja individu dalam pekerjaanya (an underlying characteristi`s of an
individual which is causally related to criterion referenced effective and or superior
performance in a job or situation).
Kompetensi adalah bagian kepribadian yang mendalam dan melekat kepada
seseorang serta perilaku yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas
pekerjaan. Sedangkan kata causally related berarti kompetensi adalah sesuatu yang
menyebabkan atau memprediksi perilaku dan kinerja. Dan kata criterion referenced
mengandung makna bahwa kompetensi sebenarnya memprediksi siapa yang
berkinerja baik dan kurang baik, diukur dari kriteria atau standar yang digunakan.
Gulo (2012) berpendapat bahwa kompetensi terdiri dari dua aspek yang saling
berinteraksi, yaitu aspek yang tampak atau yang disebut performance dan aspek yang
20
tidak tampak atau yang disebut aspek rasional. Performance ditunjukan dalam bentuk
tingkah laku yang dapat didemonstrasikan sehingga dapat dilihat, diamati dan
dirasakan. Sedangkan aspek rasional tidak dapat diamati karena tidak tampil dalam
bentuk prilaku empiris. Ahsan (2011) mengemukakan bahwa kompetensi “…is a
knowledge, skills, and abilities or capabilities that a person achieves, which become
part of his or her being to the extent he or she can satisfactorily perform particular
cognitive, affective, and psychomotor behaviors. yang diartikan sebagai pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi
bagian dari dirinya, sehingga dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan
psikomotorik dengan sebaik-baiknya.
Sofo (2011) mengemukakan a competency is composed of skill, knowledge, and
attitude, but in particular the consistent applications of those skill, knowledge, and
attitude to the standard of performance required in employment dimana dengan kata
lain kompetensi tidak hanya mengandung pengetahuan, keterampilan dan sikap,
namun yang penting adalah penerapan dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap
yang diperlukan tersebut dalam pekerjaan. Menurut Prihadi (2014) ada dua
penggunaan istilah kompetensi untuk merujuk pada area pekerjaan atau peranan yang
mampu dilakukan oleh seseorang dengan kompeten. Untuk merujuk pada dimensi
perilaku yang terIetak di balik kinerja yang kompeten (efficiency oreentation, result
driven). Kompetensi pada dasarnya terdiri dari tiga unsur utama yaitu pengetahuan
(cognitive domain), keahlian dan keterampilan (psychomotor domain), perilaku dan
sikap (affective domain)

Stres Kerja


Luthans (2011) mendefinisikan stres sebagai suatu tanggapan dalam
menyesuaikan diri yang dipengaruhi oleh perbedaan individu dan proses psikologis,
sebagai konsekuensi dari tindakan lingkungan, situasi atau peristiwa yang terlalu
banyak mengadakan tuntutan psikologis dan fisik seseorang. Menurut Schuler (2013)
stres adalah suatu kondisi dinamis dimana individu dihadapkan pada kesempatan,
hambatan dan keinginan dan hasil yang diperoleh sangatlah penting tetapi tidak dapat
dipastikan.
Stres kerja yang dialami oleh karyawan dapat menimbulkan dampak positif,
sekaligus dampak negatif bagi yang bersangkutan dan bagi organisasi atau
perusahaan. Aspek positif dari stres kerja itu dapat temukan jika dilihat dari
kegunaannya dan kesediaan kita dalam menggunakannya. Berdasarkan dua hal ini
maka muncul penjelasan bahwa stres akan positif apabila kadarnya proporsional.
maksudnya disini adalah tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan. Adanya
penyikapan yang konstruktif (membangun). Penyikapan disini adalah bagaimana
karyawan meresponi tekanan-tekanan dari pekerjaan. Respon disini biasanya terkait
dengan apakah karyawan melihat tekanan itu sebagai tekanan atau sebagai tantangan
(challenge). Tantangan adalah sesuatu yang mendorong karyawan untuk
menjawabnya atau melangkah maju dengannya.
Stres kerja dapat dirumuskan sebagai suatu keadaan tegang yang dialami
seseorang didalam suatu organisasi. Stres ini dapat merupakan akibat dari lingkungan
fisik, sistem dan teknik dalam organisasi, interaksi sosial interpersonal, sruktur
pekerjaan, tingkah laku sebagai anggota dan aspek-aspek organisasi lainnya
(Leila,2012). Stres terjadi pada hampir semua pekerja, baik tingkat pimpinan maupun
pelaksana. Kondisi kerja yang lingkungannya tidak baik sangat potensial untuk
menimbulkan stres bagi pekerjanya. Stres dilingkungan kerja memang tidak dapat
dihindarkan, yang dapat dilakukan adalah bagaimana mengelola, mengatasi atau
mencegah terjadinya stres tersebut, sehingga tidak menganggu pekerjaan
(Notoatmodjo,2010).
Menurut Handoko (2011) menyatakan stress adalah kondisi-kondisi yang
menyebabkan stres disebut dengan istilah stressors. Stres dapat disebabkan oleh satu
stessor, biasanya karyawan mengalami stres karena kombinasi beberapa stessor. Ada
dua kategori penyebab stres, yaitu on the job dan off the job. Hampir dalam setiap
kondisi pekerjaan diperusahaan dapat menyebabkan stres tergantung pada reaksi
karyawan

Fasilitas Kerja


Fasilitas kerja merupakan suatu bentuk pelayanan bagi instansi terhadap
karyawan agar menunjang kinerja dalam memenuhi kebutuhan karyawan, sehingga
dapat meningkatkan kinerja karyawan (Robbins,2013). Husnan (2012) menyatakan
fasilitas kerja adalah sarana dan prasarana yang diperlukan untuk membantu
karyawan agar lebih mudah menyelesaikan pekerjaan sehingga dapat meningkatkan
kinerjanya. Fasilitas kerja ini merupakan suatu bentuk pelayanan perusahaan terhadap
karyawan agar menunjang kinerja dalam memenuhi kebutuhan karyawan, sehingga
dapat meningkatkan kinerja karyawan.
Adanya fasilitas kerja yang disediakan oleh organisasi sangat mendukung
karyawan dalam bekerja. Sementara Djoyowirono (2012) menyatakan bahwa fasilitas
adalah alat yang diperlukan untuk menggerakkan kegiatan manajemen dalam rangka
mencapai tujuan organisasi. Fasilitas kerja merupakan faktor-faktor yang tidak dapat
dipisahkan dari dunia kerja dan merupakan hal yang vital bagi karyawan untuk
menyelesaikan tugas-tugasnya. Dengan tersedianya fasilitas berupa sarana dan
prasarana penunjang kerja yang lengkap maka karyawan akan terdorong untuk
meningkatkan kinerjanya.
Robbins (2014) menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi fasilitas
kerja, yaitu:

  1. Fasilitas alat kerja merupakan suatu perkakas atau barang yang berfungsi
    secara langsung untuk digunakan dalam proses produksi. Dalam bekerja
    sehari-hari seorang karyawan tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya tanpa
    menggunakan alat kerja.
  2. Fasilitas kelengkapan kerja merupakan semua benda atau barang yang
    digunakan dalam melakukan pekerjaan. Fasilitas perlengkapan ini berfungsi
    sebagai pelancar dan pelengkap serta alat bantu dalam bekerja.
  3. Fasilitas sosial merupakan fasilitas yang disediakan perusahaan untuk
    kepentingan pelayanan bagi karyawan dalam kegiatan sehari-hari yang
    berfungsi sosial. Fasilitas sosial didalam perusahaan biasanya dapat berupa
    pelayanan makan dan minum, adanya kamar mandi, kantin, tempat ibadah,
    penyediaan fasilitas kesehatan

Perilaku Organisasi


Perilaku organisasi adalah suatu studi yang mempelajari tingkah laku manusia
dimulai dari tingkah laku secara individu, kelompok dan tingkah laku ketika
berorganisasi, serta pengaruh perilaku individu terhadap kegiatan organisasi dimana
mereka melakukan atau bergabung dalam organisasi tersebut. Perilaku organisasi
merupakan suatu bidang studi yang mengamati tentang pengaruh perilaku individu,
kelompok dan perilaku dalam struktur organisasi dengan maksud untuk mendapatkan
pengetahuan guna memperbaiki keefektifan organisasi. Perilaku organisasi adalah
suatu disiplin ilmu yang mempelajari bagaimana seharusnya perilaku tingkat
individu, tingkat kelompok, serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja
individual, kelompok, maupun organisasi).
Toha (2013) menyatakan bahwa yang dimaksud perilaku organisasi adalah
suatu studi yang menyangkut aspek-aspek tingkah laku manusia dalam suatu
organisasi atau suatu kelompok tertentu. Perilaku organisasi merupakan suatu istilah
yang agak umum yang menunjukkan kepada sikap dan perilaku individu dan
kelompok dalam organisasi, yang berkenaan dengan studi sistematis tentang sikap
dan perilaku, baik yang menyangkut pribadi maupun antar pribadi di dalam konteks
organisasi. Robbins (2012) bahwa perilaku organisasi adalah suatu bidang studi yang 
menyelidiki dampak perorangan, kelompok dan struktur pada perilaku dalam
organisasi dengan maksud menerapkan pengetahuan semacam itu untuk memperbaiki
keefektifan organisasi

Faktor-faktor Penentu Kepribadian”


Menurut Robbins & Judges (2014, h. 127-129),
terdapat 2 faktor penentu kepribadian, yaitu :

  1. “Faktor Keturunan”
    Keturunan merujuk pada faktor genetis seorang
    individu. Tinggi fisik, bentuk wajah, gender, temperamen,
    komposisi otot dan refleks, tingkat energi, dan irama
    biologis adalah karakteristik yang pada umumnya
    dianggap, entah sepenuhnya atau substansial, dipengaruhi
    oleh siapa orang tua.
  2. “Faktor Lingkungan”
    Faktor lingkungan yaitu lingkungan dimana kita tumbuh
    dan dibesarkan, norma dalam keluarga, teman-teman,
    kelompok sosial dan pengaruh-pengaruh lain yang kita
    alami. Kepribadian seseorang dapat berubah pada situasi
    yang dihadapi.

Teori Big Five Model”


Menurut Robbins & Judge (2014, h. 132-133), Model
Lima Besar (Big Five Model) kepribadian yang mendasar dan
sangat relevan dengan kegiatan sumber daya manusia dalam
perusahaan yaitu :
a. Ekstraversi (Extroversion)
Ekstaversi (Extroversion) mencerminkan tingkat
kenyamanan seseorang dalam berhubungan dengan
individu lain. Ekstrover cenderung tegas, suka bergaul
dan mampu bersosialisasi. Ekstrover juga cenderung
berkinerja lebih tinggi pada keseluruhan pekerjaan.
b. Keramahan (Agreeableness)
Agreeableness merupakan kecenderungan
individu untuk patuh terhadap individu lainnya. Individu
yang senang akan bekerja sama, kooperatif, penuh
kepercayaan, dan hangat merupakan individu yang
mudah bersepakat.
c. Kehati-hatian (Conscientiounsness)
Karyawan yang memiliki sifat kehati-hatian pada
umumnya dapat diandalkan, bertanggung jawab, teratur,
dan gigih dalam bekerja. Orang-orang yang berhati-hati
cenderung berkinerja tinggi dibandingkan dengan orang
yang kurang berhati-hati dalam bekerja.
31
d. Stabilitas Emosi (Emotional Stability)
Stabilitas emosi adalah penyesuaian emosional.
Pekerjaan membutuhkan karyawan yang tenang, stabil,
dan merasa aman. Stabilitas emosional karyawan
menyebabkan karyawan terlihat lebih handal daripada
rekan-rekan mereka yang kurang stabil. Dalam hal ini,
sisi agama juga berpengaruh dalam emosi yang ada alam
diri seseorang. Seseorang yang mempunyai sifat religius
tinggi, ia akan berusaha untuk mengatasi emosinya
sendiri dengan tenang.
e. Keterbukaaan terhadap hal-hal baru (Openness to
experience)
Individu dengan tingkat keterbukaan tinggi
bersedia untuk mendengarkan ide-ide baru dan
mengubah ide, keyakinan dan sikap mereka sendiri
sebagai respons terhadap adanya informasi baru.
Karyawan dengan keterbukaan yang lebih besar
diharapkan berkinerja lebih baik karena fleksibilitas
mereka dan kemungkinan bahwa mereka akan diterima
secara lebih baik oleh orang lain dalam organisasi.

“Pengertian Kepribadian”


Menurut Robbins & Judge (2014, h. 127), Personality
(kepribadian) sebagai jumlah total cara dimana seorang
individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain.
Penggabungan dari seperangkat karakteristik mental dan fisik
seseorang yang merupakan cerminan diri seseorang individu
adalah hasil dari kepribadian itu sendiri.
Griffin & Moorhead (dalam Ria Mardiana Yusuf &
Darman Syarif, 2017, h. 91), mengemukakan bahwa
Personality (kepribadian) adalah kumpulan atribut psikologis
yang relatif stabil yang membedakan seseorang dari orang
lain. Personality (kepribadian) merupakan kecenderungan
untuk memiliki keyakinan tertentu, sikap, dan perilaku.
Personality (kepribadian) memiliki dua elemen yaitu
elemen internal dan eksternal. Ciri-ciri eksternal adalah
perilaku yang dapat diamati sehingga dapat digunakan untuk
mengindentifikasi personality (kepribadian) seseorang.
Keadaan internal mewakili pikiran, nilai-nilai, dan
karakteristik genetik yang dapat disimpulkan dari perilaku
yang diamati. Kepribadian setiap individu berbeda-beda,
namun sikap yang berkaitan dengan kepribadian perlu
dikembangkan ke arah yang lebih positif demi tercapainya
kinerja mereka.

Perilaku Individu


Perilaku merupakan interaksi berupa sikap dan
tindakan seseorang terhadap lingkungannya. Perilaku setiap
individu sangat berbeda-beda antar satu dengan yang lainnya.
Seseorang manajer harus memahami perilaku individu
karyawannya agar dapat memenentukan keputusan yang tepat
untuk menjalankan kegiatan perusahaan.
Irham Fahmi (2016, h. 34) memberikan definisi reaksi
dari seseorang karyawan dalam bersikap terhadap apa yang ia
lihat, dengar, dan rasakan merupakan definisi perilaku
individual.
Background (latar belakang) dari masing-masing
individu itu berbeda beda, sehingga perilaku setiap individu
ketika memahami suatu hal pun dapat berbeda. Keputusan
dalam pehaman tersebut dapat memberikan pengaruh pada
perusahaan yang sedang dijalankannya. “Performa
merupakan output dari setiap perilaku karyawan yang
berkaitan langsung dengan tugas-tugas pekerjaan dan perlu
dilaksanakan untuk mencapai sasaran-sasaran perusahaan”.
Irham Fahmi (2016, h. 195) menyebutkan terdapat 3
(tiga) kelompok variabel yang secara langsung
mempengaruhi perilaku dan performa seseorang karyawan,
yaitu :

  1. Individual
    a. Kemampuan dan ketrampilan
    Kemampuan & ketrampilan adalah kapasitas
    seseorang untuk melaksanakan beberapa kegiatan
    dalam satu pekerjaan.
    b. Latar belakang (keluarga, kelas sosial, pengalaman)
    c. Demografik (umur, jenis kelamin)
    27
  2. Psikologikal
    a. Persepsi
    Persepsi merupakan suatu proses memperhatikan
    dan menyeleksi, mengorganisasikan, dan
    menafsirkan stimulus lingkungan.
    b. Sikap
    Sikap merupakan faktor yang harus dipahami agar
    dapat memahami individu lain. Dengan saling
    memahami sikap individu maka organisasi dapat
    berjalan dengan baik.
    c. Kepribadian
    Kepribadian sebagai cara dengan mana individu
    bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain.
    d. Motivasi
    Merupakan dorongan dalam diri seseorang karyawan
    untuk melakukan suatu pekerjaan.
    e. Belajar
    Belajar merupakan suatu proses perubahan yang
    relatif konstan dalam tingkah laku yang terjadi
    karena adanya pengalaman atau latihan.
  3. Keorganisasian
    a. Kepemimpinan
    Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi yang
    dilakukan seseorang terhadap seseorang dalam
    mencapai suatu tujuan organisasi.
    b. Imbalan-imbalan
    Merupakan balas jasa yang diberikan kepada
    seseorang.
    c. Desain pekerjaan
    Desain pekerjaan adalah suatu rincian tugas dan cara
    pelaksanaan tugas dalam suatu pekerjaan.
    d. Sumber-sumber daya
    Sumber daya merupakan apa yang dimiliki dari
    perusahaan tersebut. Misalnya : sumber daya
    finansial dan manusia.

Model Perilaku Organisasi


Menurut John A. Wagner & Hollenbeck (dalam Ria
Mardiana Yusuf & Darman Syarif, 2017, h. 5) terdapat 3
subbidang perilaku organisasi yang berkembang, yaitu :
a. Perilaku Oganisasi Mikro
Perilaku Oganisasi Mikro berkaitan dengan perilaku
individu yang bekerja
b. Perilaku Organisasi Meso
Perilaku organisasi meso berkaitan dengan pemahaman
perilaku individu-individu yang berkerjasama secara tim
atau kelompok
c. Perilaku Organisasi Makro
Perilaku organisasi makro berfokus pada pemahaman
perilaku organisasi secara keseluruhan

Pengertian Perilaku Organisasi”


“Organisasi adalah suatu perserikatan atau persatuan
individu-individu yang bekerjasama untuk mengembang visi
dan misi yang sama atau tujuan yang sama”. Suatu organisasi
dikatakan baik apabila keberadaaanya oleh masayarakat atau
lingkungan sekitar karena memberi kontribusi tertentu dalam
masyarakat atau lingkungan tersebut.
Menurut John A. Wagner & Hollenbeck (dalam Ria
Mardiana Yusuf & Darman Syarif, 2017, h. 4) menyatakan
bahwa perilaku organisasi adalah bidang studi yang berupaya
untuk memahami, menjelaskan, memprediksi, dan mengubah
perilaku manusia yang terjadi dalam konteks organisasi.
Perilaku Organisasi (Organizational behavior) adalah
suatu bidang studi yang menyelidiki pengaruh yang dimiliki
oleh individu, kelompok, dan struktur terhadap perilaku dalam
organisasi yang bertujuan menerapkan ilmu pengetahuan
semacam ini guna meningkatkan keefektifan suatu organisasi
(Robbins & Judge, 2014, h. 11).

Penilaian Kinerja”


Penilaian kinerja dikenal dengan istilah “Performance
rating, performance appraisal, personel assesment, employee
evaluation, merit taing, efficiency rating, and service rating”.
Andrew E. Sikula (dalam Mangkunegara, 2013, h. 69)
menjelaskan bahwa Penilaian kerja merupakan evaluasi
sistematis dari pekerjaan pegawai/ karyawan dan potensi
yang dapat dikembangkan. Penilaian adalah proses
penkasiran/ penentuan nilai, kualitas, atau status dari
beberapa objek, orang ataupun sesuatu.
Sedangkan Leon C. Megginson (dalam
Mangkunegara, 2013, h. 69) mengemukakan bahwa
performance appraisal adalah suatu proses digunakan atasan
untuk menentukan apakah pegawai/karyawan melakukan
pekerjannya sesuai dengan yang dimaksudkan.
Berdasarkan pendapat diatas, penilaian pegawai
adalah suatu proses penilaian kerja pegawai yang dilakukan
pimpinan perusahaan secara sistematik berdasarkan pekerjaan
yang ditugaskan kepadanya.
Menurut Gary Desler (2009, h. 264), tujuan dari
penilaian kinerja karyawan, yaitu :
a. Mengetahui ketrampilan dan kemampuan karyawan
b. Sebagai dasar pengembangan dan pendayagunaan
karyawan secara optimal
c. Mendorong terciptanya hubungan baik antar atasan dan
bawahan atau sesasama rekan kerja
d. Mengetahui kinerja karyawan karywan dalam bekerja
e. Karyawan dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan
masing-masing
f. Hasil penilaian pelaksanaa pekerjaan dapat bermanfaat
bagi peneliti dan pengembangan dibidang kepegawaian

Faktor-faktor yang menpengaruhi kinerja”


Mangkunegara (2013, h. 67), mengemukakan faktorfaktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja karyawan
adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi
(motivation).
a. “Faktor kemampuan”
Kemampuan (ability) pegawai terdiri dari
kemampuan reality (knowladge & skill) dan kemampuan
potensi (IQ). Semakin tinggi IQ seseorang maka kinerja
pegawai akan sesuai dengan harapan. Oleh karena itu,
pegawai harus ditempatkan sesuai dengan keahlianya
(the right man in the right places, the right man on the
right job).
b. “Faktor Motivasi”
Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang
pegawai dalam menghadapi situasi (situation) kerja.
Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri
pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi
(tujuan kerja).
Selain itu, Wirawan (2015, h. 276) juga menyebutkan
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan
antara lain:
a. Faktor Lingkungan Organisasi”
Meliputi : manajemen SDM, kepemimpinan,
kompensasi, budaya organisasi, tim kerja, fasilitas kerja.
b. Faktor pegawai”
Meliputi : etos kerja, disiplin kerja, kepuasan kerja,
semangat kerja, loyalitas, stres kerja, komitmen
organisasi, pengalaman kerja, dan motivasi kerja.

Pengertian Kinerja Karyawan”


Menurut Moeheriono (2014, h. 95), kinerja berasal
dari kata job performance dan disebut juga actual
performance atau prestasi sesungguhnya yang telah dicapai
oleh seseorang karyawan. “Kinerja atau performance
merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian
karyawan adalam pelaksanaan suatu program kegiatan atau
kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi, dan misi
organisasi yang dituangkan melalui perencanaan strategis
suatu organisasi.
Menurut Mangkunegara (2013, h. 67), kinerja
adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai
oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Pihak pemberi kerja pasti menginginkan
karyawannya memiliki kinerja ysng baik untuk dapat
memberikan hasil yang memuaskan bagi perusahaan.
Sehingga perusahaan mampu berkembang dan bersaing
dengan kompetitif. Ada hubungan erat antara kinerja
perseorangan/individu dengan kinerja perusahaan. Apabila
kinerja karyawan baik, maka kemungkinan besar
perusahaan juga baik.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja Fisik


Menurut Umi Farida & Hartono (2016, h. 10-15),
beberapa faktor yang dapat memengaruhi terbentuknya suatu
kondisi lingkungan kerja fisik di antaranya :

  1. “Pewarnaan”
    Faktor warna dalam suatu ruangan dapat
    berpengaruh dalam diri manusia, utamanya pada
    karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya.
    Perusahaan setidaknya harus memperhatikan faktor
    warna dalam perusahaan untuk meningkatkan semangat
    dan gairah kerja karyawan yang ada ditempat tersebut.
  2. “Kebersihan Lingkungan”
    Terdapat banyak pepatah tentang kebersihan
    yang muncul dimasyarakat, diantaranya yaitu
    “Kebersihan pangkal kesehatan” dan “Kebersihan
    sebagian dari iman”. Pepatah tersebut memberikan arti
    bahwa kebersihan lingkungan itu sangat penting.
    Kebersihan lingkungan haruslah dijaga dalam setiap
    perusahaan, karena hal tersebut dapat mempengaruhi
    karyawan dalam bekerja. Entah itu berhubungan
    dengan konsentrasi kerja, kesehatan kejiwaan
    karyawan, semangat dan gairah kerja karyawan.
  3. “Penerangan/cahaya di tempat kerja”
    Cahaya atau penerangan sangat besar
    manfaatnya bagi karyawan guna mendapat keselamatan
    dan kelancaran kerja. Oleh sebab itu, perlu diperhatikan
    adanya penerangan/cahaya yang cukup.
  4. “Pertukaran udara/ ventilasi”
    Pertukaran udara yang cukup akan
    menyegarkan fisik karyawan dan jika pertukaran udara
    kurang, maka dapat menimbulkan rasa pengap sehingga
    mudah menimbulkan kelelahan dari para karyawan.
    Perusahaan harus memperhatikan pertukaran udara
    yang ada di perusahaan tersebut. Apabila merasa
    pertukaran udara secara alami kurang, maka bisa
    menambahkan kipas angin, AC, dsb.
  5. “Keamanan”
    Faktor keamanan perlu diwujudkan
    keberadaannya, karena apabila karyawan merasa aman
    berada di tempat kerja tersebut maka ia akan
    mendapatkan ketenangan dalam bekerja dan apabila
    karyawan tidak merasa aman ditempat kerja tersebut
    maka ini akan menimbulkan kegelisahan ketika
    melaksanakan pekerjaan mereka yang kemudian
    berimbas pada menurunnya kinerja karyawan. Salah
    satu upaya untuk menjaga keamanan di tempat kerja,
    dapat memanfaatkan tenaga Satuan Petugas Keamanan
    (SATPAM).

“Pengertian lingkungan kerja fisik”


“Lingkungan kerja adalah keadaan dimana tempat
kerja yang baik meliputi fisik dan non fisik yang dapat
memberikan kesan menyenangkan, aman, tentram, dan lain
sebagainya. Menurut Sedarmayanti (2009, h. 26), pengertian
dari lingkungan kerja fisik yaitu semua keadaan berbentuk
fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja dimana dapat
mempengaruhi karyawan baik secara langsung maupun tidak
langsung. Sedangkan lingkungan kerja non fisik merupakan
suatu hubungan yang berkaitan dengan rekan kerja, atasan,
dsb.
Lingkungan kerja yang sehat (aman, nyaman dan
bersih) harus menjadi perhatian bagi setiap perusahaan.
Karena dengan lingkungan kerja yang seperti itu, para
karyawan akan terhindar dari gangguan yang tidak diinginkan
yang dapat merusak semangat kerja dan berimbas pada
kinerja mereka juga. Kebersihan lingkungan seharusnya
menjadi tanggung jawab bersama sehingga semua karyawan
diharapkan bisa menjaga kebersihan lingkungannya. Banyak
manfaat yang didapatkan jika lingkungan kerja perusahaan
dipelihara dan kelolan dengan baik. Bukan hanya bagi pihak
perusahaan, namun bagi pihak luar perusahaan juga

Indikator Disiplin Kerja”


Menurut Wirawan (2015, h. 280), indikator disiplin
kerja yang dapat dipergunakan untuk mengetahui tinggi
rendahnya tingkat kedisiplinan tenaga kerja dalam suatu
oraganisasi, antara lain :

  1. Integritas
    Integritas merupakan suatu sikap konsisten dari
    karyawan yang dapat membangun kinerja karyawan
    suatu perusahaan. Integritas dari karyawan berhubungan
    dengan perilaku dapat dipercaya dalam melaksanakan
    tugas serta dapat menghormati pimpinan dan rekan kerja.
  2. Mematuhi peraturan
    Peraturan adalah hal-hal apa yang perlu dilakukan
    ataupun tidak perlu dilakukan. Peraturan yang berlaku
    disuatu perusahaan harus dipatuhi oleh karyawan,
    sehingga itu dapat memperlancar jalannya aktivitas kerja.
  3. Mematuhi jam kerja
    Jam kerja berkaitan dengan waktu dimana karyawan
    dapat datang kerja ataupun pulang kerja.
  4. Manajemen waktu
    Manajemen waktu meliputi hal dalam mempergunakan
    jam kerja untuk melaksanakan tugas pekerjaan dan
    melakukan pekerjaan sesuai dengan skedul kerja.

Macam-Macam Disiplin Kerja”


Menurut Mangkunegara (2013, h. 129-130), terdapat
2 macam disiplin kerja, yaitu disiplin preventif, dan disiplin
korektif.

  1. “Disiplin Preventif”
    Disiplin Preventif adalah upaya yang dilakukan
    untuk mencegah/menggerakkan karyawan agar
    mematuhi peraturan yang berlaku dalam perusahaan
    (tidak melakukan kesalahan/ pelanggaran). Disiplin
    Preventif merupakan suatu sistem yang berhubungan
    dengan kebutuhan kerja untuk semua bagian sistem yang
    ada dalam organisasi. Disiplin kerja akan lebih mudah
    digerakkan apabila sistem organisasinya baik.
  2. “Disiplin Korektif”
    Disiplin Korektif merupakan upaya menggerakan
    seseorang untuk memperbaiki, memelihara, dan
    memberikan pelajaran bagi yang melanggar peraturan
    yang berlaku dalam perusahaan dengan memberikan
    sanksi atau hukuman.

Pengertian Disiplin Kerja”


Keith Davis (dalam Mangkunegara, 2013, h. 129)
mengemukakan bahwa “Dicipline is management action to
enforce organizatition standards”. Berdasarkan pendapat
Ketih Davis tersebut, disiplin kerja dapat diartikan sebagai
pelaksanaan manajemen untuk memperteguh pedomanpedoman organisasi.
Bedjo Siswanto (dalam Umi Farida & Sri Hartono,
2016, h. 40), mendefinisikan bahwa “Disiplin kerja sebagai
suatu sikap patuh, menghormati, menghargai dan taat terhadap
peraturan-peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun
tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak
mengelak untuk menerima sanksi-sanksi apabila ia melanggar
tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya”.

“Tujuan dilakukannya tindakan disiplin kerja
karyawan adalah untuk meningkatkan kualitas kinerja SDM
perusahaan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Robert Bacal
(dalam Irham Fahmi, 2016, h. 42), yaitu “Disiplin adalah
sebuah proses yang digunakan untuk menghadapi
permasalahan kinerja, proses ini melibatkan manajer dalam
mengidentifikasi dan mengkomunikasikan masalah-masalah
kinerja kepada para karyawan”. Selain itu disiplin kerja
bertujuan agar para karyawan dapat berhati-hati dalam
melakukan suatu pekerjaan, karena peraturan-peraturan yang
ditetapkan merupakan penyelesaian masalah yang tejadi.
Karyawan harus mengetahui aturan tentang apa yang boleh
dilakukan atau tidak.

Manajemen Sumber Daya Manusia”


Mulyadi (2015, h. 2), menjelaskan bahwa manajemen adalah
ilmu dan seni yang mengatur proses pendayagunaan sumber daya
manusia dalam mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan orang
lain. Sumber daya manusia perlu dikelola secara profesional dengan
mengatur mereka mulai dari awal sampai berkembangnya karier
mereka dalam perusahaan.

Indikator – Indikator Komitmen Organisasi


Menurut Robbins (2015), Komitmen organisasi adalah suatu
keadaan dimana seorang karyawan memihak organisasi tertentu serta
tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan
dalam organisasi tersebut. Jadi, keterlibatan pekerjaan yang tinggi
berarti memihak pada pekerjaan tertentu seorang individu, sementara
komitmen organisasional yang tinggi berarti memihak organisasi yang
merekrut individu tersebut. Adapun indikator yang mempengaruhi
komitmen organisasi yaitu :
1) Komitmen afektif (affective commitment): yaitu perasaan emosional
untuk organisasi dan keyakinan dalam nilai- nilainya.
2) Komitmen berkelanjutan (continuance commitment): yaitu nilai
ekonomi yang dirasa dari bertahan dalam suatu organisasi bila
dibandingkan dengan meninggalkan organisasi tersebut. seorang
karyawan mungkin berkomitmen kepada pemberi kerja karena ia
dibayar tinggi dan merasa bahwa pengunduran diri dari perusahaan
akan menghancurkan keluarganya.
3) Komitmen normatif (normative commitment): yaitu kewajiban
untuk bertahan dalam organisasi untuk alasan- alasan moral atau
etis.

Manfaat dari Komitmen Organisasi


Menurut Juniarari (2011) menyatakan bahwa manfaat dari
komitmen organisasi antara lain:
1) Para pegawai yang serius menunjukkan komitmen tinggi kepada
organisasi memiliki kemungkinan yang jauh lebih besar untuk
menunjukkan tingkat keikutsertaan yang tinggi dalam organisasi.
2) Mempunyai keinginan yang lebih kuat untuk tetap bekerja di
organisasi yang sekarang dan bisa terus memberikan sumbangan
untuk mencapai tujuan.
3) Secara penuh terlibat dengan pekerjaan, karena pekerjaan tersebut
merupakan mekanisme kunci dan saluran individu untuk
memberikan sumbangan dalam pencapaian tujuan organisasi.

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen Organisasi


Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi
menurut pendapat Allen dan Meyer, (2011) sebagai berikut:
1) Karakteristik Pribadi, terbagi kedalam dua variable yaitu variable
demografis dan variable disposisional. Variable demografis
mencakup gender, usia, status pernikahan, tingkat pendidikan dan
lamanya seseorang bekerja pada suatu organisasi. Sedangkan
variable disposisional mencakup, kepribadian dan nilai yang
dimiliki anggota organisasi. Variabel disposisional ini memiliki
hubungan yang lebih kuat dengan komitmen berorganisasi, karena
adanya perbedaan pengalaman masing-masing anggota dalam
organisasi tersebut.
2) Karakteristik Organisasi, yang termasuk dalam karakteristik
organisasi itu sendiri yaitu: struktur organisasi, desain
kebijaksanaan dalam organisasi dan bagaimana kebijaksanaan
organisasi tersebut disosialisasikan.
3) Pengalaman Organisasi, tercakup ke dalam kepuasan dan motivasi
anggota organisasi selama berada dalam organisasi, perannya
dalam organisasi tersebut dan hubungan antara anggota organisasi
dengan supervisor pimpinannya.

Pengertian Komitmen Organisasi


Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang
membulatkan hati, bertekad berjerih payah, berkorban, dan
bertanggung jawab demi mencapai tujuan dirinya dan tujuan
organisasi atau perusahaan yang telah disepakati atau ditentukan
sebelumnya. Menurut Mathis dan Jackson (2017, 72) Komitmen
Organisasi merupakan tingkat kepercayaan dan penerimanan tenaga
kerja terhadap tujuan organisasi dan mempunyai keinginan untuk tetap
ada di dalam organisasi tersebut. Ketika karyawan tidak mempunyai
komitmen terhadap organisasi, maka mereka akan bekerja secara acuh
tak acuh, dan tidak akan mampu menghasilkan kinerja yang tinggi
yang pada akhirnya mereka akan meninggalkan organisasi, baik karena
kesadaran sendiri maupun diberhentikan oleh perusahaan. (Suryaman,
2016). Komitmen memiliki peranan penting terutama pada kinerja
seseorang ketika bekerja, hal ini disebabkan oleh adanya komitmen
yang menjadi acuan serta dorongan yang membuat mereka lebih
bertanggung jawab terhadap kewajiban (Robbins,2011)
menyebutkan komitmen adalah tingkatan di mana seseorang
mengidentifikasikan diri dengan organisasi dan tujuan tujuannya dan
berkeinginan untuk memelihara keanggotaannya dalam organisasi.
Bansal, Irvin dan Taylor (2012) mendefenisikan Komitmen sebagai
kekuatan yang mengikat seseorang pada suatu tindakan yang memiliki
relevansi dengan satu atau lebih sasaran. Komitmen organisasi
terbentuk dari keseharian seseorang dalam memahami situasi dan
kondisi organisasi, sehingga membentuk suatu proses mental yang
kuat, yang mampu menghidupkan ghirah atau semangat dalam
berorganisasi dengan berusaha melakukan segala aktifitas organisasi
dengan segala ketekunan dan kekosistenan. Pemahaman ini timbul dari
rasa kepedulian yang tinggal untuk melakukan perubahan yang sangat
signifikan terhadap kondisi fisik maupun kondisi non fisik organisasi.
dalam organisasi, pegawai merupakan ujung tombak dari sukses
tidaknya capaian tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya. Sejalan
dengan pandangan ini, Mathis dan Jackson (2014) menegaskan bahwa
komitmen organisasi yang dimiliki karyawan pada menumbuhkan
keyakinan dan menerima tujuan organisasi,serta berkeinginan untuk
tinggal bersama atau meningglkan perusahaan pada akhirnya tercermin
dalam ketidakhadiran dan angka perputaran karyawan.(Wijaya dan
Rifa’i,2016:167-169).

Indikator Kepuasan Kerja


Menurut Robbins (2017:132) terdapat beberapa indikator kepuasan
kerja yang meliputi
1) Hubungan kerja
Hubungan kerja merupakan sesuatu yang abstrak dan merupakan
hubungan hukum antara pengusaha dengan seorang pekerja
atau buruh.
2) Tantangan kerja
Pekerjaan yang memberikan tantangan secara mental membuat
individu merasa puas menjalankan pekerjaannya.
3) Perlindungan kerja
Perlindungan ini sebagai wujud pengakuan terhadap hak-hak
pekerja sebagai manusia yang harus diperlakukan secara
manusiawi dengan mempertimbangkan keterbatasan
kemampuan fisiknya, sehingga harus diberikan waktu yang
cukup untuk beristirahat.

Faktor – Faktor Kepuasan Kerja


Menurut Hasibuan (2012) berpendapat bahwa kepuasan kerja
dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
1) Balas jasa yang adil dan layak.
2) Penempatan yang tepat sesuai dengan keahlian.
3) Berat dan ringannya suatu pekerjaan.
4) Suasana dan lingkungan pekerjaannya.
5) Peralatan dan fasilitas yang menunjang pelaksanaan pekerjaan
6) Sikap pimpinan dalam kepemimpinannya.
7) Sifat pekerjaan yang monoton atau tidak.
Menurut Mangkunegara (2010) ada 2 faktor yang mempengaruhi
kepuasan kerja yaitu:
1) Faktor karyawan, yaitu kecerdasan (IQ), kecakapan khusus, umur,
jenis kelamin, kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa
kerja, kepribadian emosi, cara berpikir, persepsi dan sikap kerja
2) Faktor pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan, stuktur organisasi,
pangkat, kedudukan, mutu pengawasan,
jaminan finansial, kesempatan,promosi jabatan, interaksi sosial,
dan hubungan kerja Menurut Susilo Martoyo (2013)Masalah
kepuasan kerja

Pengertian Kepuasan Kerja


Pada dasarnya dalam kepuasan kerja terlihat adanya perbedaan
individual, sesuai dengan persepsi individu tersebut terhadap
pekerjaannya. Persepsi individu terhadap pekerjaan dan hasil-hasilnya
maupun faktor-faktor terkait di sekitar pekerjaannya mempengaruhi
perasaan atau sikap individu tersebut terhadap pekerjaannya. Menurut
Kreitner dan Kinicki (2014:169), kepuasan kerja adalah sebuah
tanggapan afektif atau emosional terhadap berbagai segi pekerjaan
seseorang. Definisi ini secara tidak langsung menyatakan bahwa
kepuasan kerja bukanlah sebuah konsep kesatuan. Namun seseorang
bisa merasa cukup puas dengan salah satu aspek pekerjaannya dan
merasa kurang puas dengan satu atau beberapa aspek lainnya. Kepuasan
kerja merupakan perasaan positif tentang suatu pekerjaan yang
merupakan hasil evaluasi dari beberapa karakteristik. Perasaan positif
maupun negatif yang dialami karyawan menyebabkan seseorang dapat
mengalami kepuasan mau ke tidak puasaan Robbins (2017:101)
Menurut Hellriegel dan Slocum (2011:88), kepuasan kerja
mencerminkan sejauh mana individu menemukan kepuasan dalam
pekerjaan mereka. Kepuasan kerja rendah dapat mengakibatkan absensi,
keterlambatan, dan kesehatan mental. Menurut Robbins dan Judge
(2013:79), kepuasan kerja dapat didefinisikan sebagai perasaan positif
terhadap pekerjaan mereka yang dihasilkan dari evaluasi karakteristik.
Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi memegang
perasaan positif terhadap pekerjaan mereka, sementara orang yang tidak
puas memegang perasaan negatif terhadap pekerjaan mereka.
Menurut Hasibuan (2012) menyatakan kepuasan kerja adalah
sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya.
Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja.
Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor dari kinerja seorang
karyawan. Kemudian menurut Herberg (2017:122) mengemukan
bahwa kepuasan kerja sebagai suatu perasaan positif yang merupakan
hasil dari suatu evaluasi atas hasil yang di peroleh dengan hasil yang
diharapakan

Indikator – Indikator Sifat Kerja


Adapun indikator – indikator yang mempengaruhi sifat kerja
menurut Robbins (2011) yaitu
1) Sikap yang memiliki arah arti nya sikap tersebut mendukung atau
tidak mendukungnya dalam menerima pekerjaan tersebut
2) Sikap memiliki intensitas maksudnya sikap yang memiliki
kedalaman atau kekuatan dalam menerima sesuatu yang belom pasti
3) Sikap mempunyai keluasaan artinya kesetujuan atau
ketidaksetujuan terhadap suatu objek yang akan di kerjakan
4) Sikap yang memiliki konsistensi, maksudnya kesesuaian antara
pernyataan sikap yang dikemukan dengan responnya terhadap
objek sikap tersebut
5) Sikap yang memliki spontanitas artinya menyangkut sejauh mana
kesiapan individu untuk menyatakan sikapnya secara spontan

Macam – Macam Sifat Kerja


Adapun macam-macam sikap kerja antara lain:
1) Sikap kerja yang Efektif adalah suatu pekerjaan yang dapat
diselesaikan tepat waktu, sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan. Dengan kata lain, efektif adalah sampai tingkat apakah
tujuan itu sudah dicapai dalam arti kualitas dan kuantitas.
2) Sikap kerja yang Efisien adalah perbandingan yang terbaik antara
input dan output, antara daya usaha dan hasil usaha, atau antara
pengeluaran dan pendapatan. Dengan kata lain, efisien adalah
segala sesuatu yang dikerjakan dengan berdaya guna atau segala
sesuatunya dapat siselesaikan dengan tepat, cepat, hemat, dan
selamat.
a) Cepat artinya tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu.
Pekerjaannya selesai dengan tepat sebelum waktu yang
ditetapkan.
b) Hemat artinya dengan biaya yang sekecil-kecilnya tanpa
adanya pemborosan dalam bidang pekerjaan apa pun.
c) Tepat artinya kena sasaran sesuai dengan yang diinginkannya
atau semua yang dicita-citakan tercapai.
d) Selamat artinya segala sesuatu sampai pada tujuan pekerjaan
yang dimaksud, tanpa mengalami hambatan-hambatan,
kelemahan-kelemahan, atau kemacetan-kemacetan.
3) Sikap kerja Prestatif adalah bersikap atau berperilaku kerja prestatif
merupakan salah satu modal dasar untuk mencapai kesuksesan
dalam berwirausaha. Prestatif dalam hal ini mempunyai arti bahwa
seorang yang berwirausaha mempunyai sikap yang selalu berambisi
ingin maju dalam segala bidang. Mengapa perilaku kerja prestatif
perlu dilakukan? Berikut ini adalah 3 alasan utama yang
mengharuskan untuk berperilaku kerja prestatif.
a) Persaingan bebas
b) Perubahan yang semakin cepat
c) Derasnya situs informasi yang semakin luas

Faktor – Faktor Sikap Kerja


Menurut Blum and Nylon (2011) menyatakan beberapa faktor yang
mempengaruhi sikap kerja antara lain:
1) Kondisi kerja, meliputi lingkungan fisik maupun sosial berpengaruh
terhadap kenyamanan dalam bekerja.
2) Pengawasan atasan, pengawasan dan perhatian yang baik dari
atasan dapat mempengaruhi sikap dan semangat kerja.
3) Kerja sama dari teman sekerja, adanya kerja sama dari teman
sekerja juga berpengaruh dengan kualitas dan prestasi dalam
menyelesaikan pekerjaan.
4) Kesempatan untuk maju, jaminan terhadap karir dan hari tua dapat
dijadikan salah satu motivasi dalam sikap kerja.
5) Keamanan, rasa aman dan lingkungan yang terjaga akan menjamin
dan menambah ketenangan dalam bekerja.
6) Fasilitas kerja, fasilitas kerja yang memadai berpengaruh terhadap
terciptanya sikap kerja yang positif.
7) Imbalan, rasa senang terhadap imbalan yang diberikan baik berupa
gaji pokok maupun tunjangan mempengaruhi sikap dalam
menyelesaikan pekerjaannya.
Sikap kerja seseorang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor
ekstrnal dari orang yang bersangkutan. Faktor internal merupakan
faktor yang berasal dari dalam diri, meliputi emosional, psikologis
terhadap pekerjaan, kedekatan dengan rekan kerja, dan kenyamanan
yang tercipta dari diri sendiri. Faktor eksternal merupakan faktor dari
luar atau faktor yang berasal dari lingkungan. Faktor eksternal juga
sangat berperan dalam pembentukan sikap seseorang. Faktor ini
meliputi kondisi pekerjaan, hubungan kerja, rasa aman, lingkungan
kerja, dan fasilitas dalam bekerja. Semakin tinggi tingkat kenyamanan
seseorang ketika bekerja maka sikap kerja positif yang dihasilkan akan
semakin tinggi.

Pengertian Sikap Kerja


Sikap kerja adalah respon atau pernyataan baik yang
menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan dalam melakukan
pekerjaan atau pengorbanan jasa, jasmani, dan pikiran untuk
menghasilkan barang-barang atau jasa-jasa, yang dapat diukur dengan
keyakinan bahwa kinerja baik berasal dari bekerja keras, perasaan, dan
perilaku untuk mencapai tujuan. Robbins (2011) menjelaskan bahwa
sikap kerja berisi evaluasi positif atau negatif yang dimiliki oleh
karyawan tentang aspek-aspek lingkungan kerja mereka. Kariyawan
yang memiliki evaluasi positif terhadap segala sesuatu dilingkungan
kerja cenderung memiliki kepuasan terhadap pekerjaan yang tinggi dan
sebaliknya karyawan yang memiliki evaluasi negatif terhadap segala
sesuatu di lingkungan kerja maka cenderung akan merasa kurang puas
setelah bekerja dan adanya perasaan sedikit membosankan. Sikap kerja
sebagai tindakan yang akan diambil karyawan dan kewajiban yang
harus dilaksanakan sesuai dengan tanggung jawab yang hasilnya
sebanding dengan usaha yang dilakukan. Sikap kerja dapat dijadikan
indikator dalam sebuah pekerjaan dapat berjalan lancar atau tidak,
masalah antar karyawan ataupun atasan dapat mengakibatkan
terabaikannya sikap kerja. Kenneth (2011:129) menjelaskan bahwa
sikap kerja merupakan sikap seseorang terhadap pekerjaannya yang
mencerminkan pengalaman yang menyenangkan dan tidak
menyenangkan dalam pekerjaannya serta harapan-harapannya terhadap
pengalaman masa depan.

Kriteria Pengukuran Kinerja


Mathis (2006:80) menyebutkan kriteria yang dapat digunakan untuk
mengukur kinerja pegawai secara individu yakni:
1) Kualitas.
2) Kuantitas.
3) Ketepatan waktu dari hasil
4) Kemampuan bekerja sama

Metode Penilaian Kinerja


Penilaian kinerja merupakan salah satu tugas penting untuk
dilakukan oleh seorang manajer atau pimpinan. Walaupun demikian,
pelaksanaan kinerja yang objektif bukanlah tugas yang sederhana.
Penilaian harus dihindarkan adalnya “like dan dislike” dari penilai, agar
objektivitas penilaian dapat terjaga. Ada beberapa metode penilaian
kinerja karyawan Penggabean (2013:15) antara lain:
1) Rating Scales (Skala Rating)
Dengan menggunakan metode ini hasil penilaian kinerja karyawan
dicatat dalam suatu skala. Evaluasi hanya didasarkan pada pendapat
penilai, yang membandingkan hasil pekerjaan karyawan dengan
kriteria yang dianggap penting bagi pelaksanaan kerja.
2) Checklist
Metode ini adalah untuk mengurangi beban penilai. Penilai tinggal
memilih kalimat-kalimat atau kata-kata yang menggambarkan
kinerja karyawan. Penilai biasanya atasan langsung. Pemberian
bobot sehingga dapat di skor. Metode ini bisa memberikan suatu
gambaran prestasi kerja secara akurat, bila daftar penilaian berisi
item-item yang memadai.
3) Critical Incident (Peristiwa Kritis)
Penilaian yang berdasarkan catatan-catatan penilai yang
menggambarkan perilaku karyawan sangat baik atau jelek dalam
kaitanya dengan pelaksanaan kerja. Catatan-catatan ini disebut
peristiwa kritis. Metode ini sangat berguna dalam memberikan
umpan balik kepada karyawan, dan mengurangi kesalahan kesan
terakhir.
4) Ranking
Penilai membandingkan satu dengan karyawan lain siapa yang
paling baik dan menempatkan setiap karyawan dalam urutan terbaik
sampai terjelek.
5) Work Standard (Standar Kerja)
Metode ini membandingkan kinerja karyawannya dengan standar
yang ditetapkan terlebih dahulu. Standar mencerminkan hasil yang
normal dari rata-rata pekerja dalam usaha yang normal.
6) Management By Objective (Manajemen Berdasarkan Sasaran)
Dalam pendekatan ini, setiap karyawan dan penyelia secara
bersama-sama menentukan sasaran organisasi, tujuan-tujuan dan
sasaran-sasaran untuk meningkatkan produktivitas organisasi.
7) Field Review (Peninjauan Lapangan)
Seorang ahli dapartemen turun ke lapangan dan membantu para
penyelia dalam penilaian mereka. Spesialis personalia mendapatkan
informasi khusus dari atasan langsung tentang kinerja karyawan.
Kemudian ahli itu mempersiapkan evaluasi atas dasar informasi
tersebut. Evaluasi dikirim kepada penyelia untuk di review,
perubahan, persetujuan dan serubahan dengan karyawan yang
dinilai. Spesialis personalia bisa mencatat penilaian pada tipe
formulir penilaian apapun yang digunakan perusahaan.

Faktor – Faktor Kinerja


Hasibuan (2017:91) terdapat beberapa faktor yang menpengaruhi
kinerja yaitu:
1) Kecakapan (pemahaman yang baik terhadap pekerjaan)
2) Pengalaman
3) Kesungguhan untuk bekerja dengan baik
4) Kecukupan waktu pengerjaan
5) Keinginan/kemauan untuk melaksanaan pekerjaan
6) Lingkungan kerja
7) Pemahaman pekerjaan
Khan et.al., (2010:292) menekankan, bahwa faktor yang
mempengaruhi unjuk kerja para pekerja yaitu:
1) Sikap kerja
2) Kepuasan kerja
3) Komitmen organisasi

Pengertian Kinerja


Kinerja karyawan merupakan aspek penting agar bisnis dapat
berjalan dengan baik. kinerja merupakan kualitas dan kuantitas kerja
yang dimiliki oleh karyawan yang dipengaruhi oleh faktor internal dan
eksternal karyawan tersebut. Kinerja karyawan yang baik akan
meningkatkan produktivitas perusahaan. Efendi (2012) berpendapat
bahwa kinerja karyawan merupakan hasil kerja yang dihasilkan oleh
karyawan atau perilaku nyata yang ditampilkan sesuai peranannya
dalam organisasi. Kinerja karyawan merupakan perbandingan antara
kinerja yang dihasilkan karyawan dengan kinerja yang diharapkan dari
karyawan oleh perusahaan. Perusahan mengharapkan kinerja
karyawannya baik, dengan begitu diharapkan kinerja perusahaan akan
membaik. Simamora (2014) berpendapat kinerja karyawan adalah
tingkatan dimana para karyawan mencapai persyaratan – persyaratan
pekerjaan.
Kinerja mengacu pada kadar pencapaian tugas-tugas yang
membentuk sebuah pekerjaan karyawan. Jadi dapat disimpulkan bahwa
kinerja merupakan hasil kerja seorang karyawan pada periode tertentu
dalam menyelesaikan tugas yang telah ditargetkan oleh perusahaan,
serta tolak ukur pencapaian kualitas kerja yang dihasilkan karyawan
10
11
tersebut. Koopmans, et al. (2014) kinerja adalah ukuran dari hasil yang
relevan berdasarkan penelitian dalam pengaturan kerja. Penilaian
kinerja difokuskan baik dalam ukuran objektif yaitu dari produktivitas
kerja seperti absensi, jumlah tindakan tertentu ataupun output yang
dipelihara dan berada dalam catatan organisasi ataupun dalam penilaian
subjektif yaitu dari kuantitas dan kualitas pekerjaan dari masing-masing
karyawan. Dikatakan juga bahwasannya kinerja adalah tindakan
terukur, baik perilaku dan hasil bahwa karyawan terlibat ataupun
berkontribusi dalam tujuan organisasi.
Kemudian Wirawan (2017:5) kinerja adalah keluaran yang
dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator – indikator suatu pekerjaan
atau sesuatu profesi dalam waktu tertentu sedangkan Khan et. al.,
(2010:297) kinerja didefiniskan sebagai kemampuan kerja didalam
terminologi kualitas dan kuatitas, yang di maksud dengan terminologi
kualitas dan kuantitas merupakan prestasi kerja baik bersifat kuantitas
maupun kualitas yang dicapai oleh seseorang selama periode tertentu
biasanya dalam waktu satu tahun

Ciri-ciri intrinsik pekerjaan


Menurut Munandar (2001:357) ada lima ciri-ciri intrinsik pekerjaan (dimensi
utama) antara lain:

  1. Keragaman ketrampilan (skill variety)
    Banyaknya ketrampilan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan. Makin
    banyak ragam ketrampilan yang digunakan, makin kurang membosankan pekerjaan.
  2. Jati diri tugas (task identity)
    Tingkat sejauh mana penyelesaian pekerjaan secara keseluruhan dapat dilihat
    hasilnya dan dapat dikenali sebagai hasil kinerja seseorang. Tugas yang dirasakan
    sebagai bagian dari pekerjaan yang lebih besar dan yang dirasakan tidak merupakan
    satu kelengkapan tersendiri menimbulkan rasa tidak puas.
  3. Tugas yang penting (task significance)
    Tingkat sejauh mana pekerjaan mempunyai dampak yang berarti bagi
    kehidupan orang lain, baik orang tersebut merupakan rekan sekerja dalam suatu
    perusahaan yang sama maupun orang lain di lingkungan sekitar. Jika tugas dirasakan
    penting dan berarti oleh tenaga kerja, maka ia cenderung mempunyai kepuasan kerja.
  4. Otonomi
    Tingkat kebebasan pemegang kerja, yang mempunyai pengertian
    ketidaktergantungan dan keleluasaan yang diperlukan untuk menjadwalkan pekerjaan
    dan memutuskan prosedur apa yang akan digunakan untuk menyelesaikannya.
    Pekerjaan yang memberi kebebasan, ketidaktergantungan dan peluang mengambil
    keputusan akan lebih cepat menimbulkan kepuasan kerja.
  5. Umpan balik (feed back)
    Memberikan informasi kepada para pekerja tentang hasil pekerjaan sehingga
    para pekerja dapat segera memperbaiki kualitas dan kinerja pekerjaan.

Teknik Pengayaan Pekerjaan


Untuk menerapakan pengayaan pekerjaan ada 2 teknik dalam penerapannya,
yaitu :

  1. Job Range : Perluasan pekerjaan (rentang pekerjaan) dengan kata lain
    apabila seorang pekerja yang mempunyai banyak macam pekerjaan maka
    range pekerjaan juga akan lebih luas lagi.
  2. Job Depth : Pendalaman pekerjaan. Pendalaman ini bermaksud untuk
    lebih meguasai ruang lingkup pekerjaan yang digelutinya sehingga
    menghasilkan kualitas kinerja lebih baik lagi dari sebelumnya.

Pengertian Pengayaan Pekerjaan


Pengayaan pekerjaan merupakan perluasan rancangan tugas untuk memberi
arti lebih dan memberikan kepuasan kerja dengan cara melibatkan karyawan dengan
pekerjaan perencanaan, penyelenggaran organisasi dan pengawasan pekerjaan.
Menurut Robbins dan Judge (2009:273), menyatakan bahwa pekerjaan yang
diperkaya mengatur tugas-tugas sedemikian rupa sehingga memungkinkan karyawan
menyelesaikan aktivitas, meningkatkan kebebasan dan tanggung jawab karyawan dan
memberikan umpan balik sehingga individu dapat menilai dan memperbaiki kinerja
mereka sendiri.
Menurut Mathis dan Jackson (2006) pengayaan pekerjaan adalah peningkatan
kedalam sebuah pekerjaan dengan menambah tanggung jawab untuk merencanakan,
mengatur, mengendalikan dan mengevaluasi pekerjaan.
Menurut Simamora (2004) model karakteristik pekerjaan (job characteristic
models) merupakan suatu pendekatan terhadap pemerkayaan pekerjaan (pengayaan
pekerjaan) yang berusaha merancang pekerjaan dengan cara memuaskan kebutuhan,
pengakuan dan tanggung jawab. Pemerkayaan pekerjaan menambah sumber kepuasan
kepada pekerjaan.Metode ini meningkatkan tanggung jawab, otonomi dan kendali.
Perubahan ini akan memberikan tantangan yang lebih besar bagi organisasi dan
diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan.

Dimensi dan Indikator Motivasi Kerja


Dimensi untuk mengukur motivasi menurut teori kebutuhan McClelland
(McClelland’s Theory of Needs) dalam Robbins dan Judge (2015: 207) adalah
sebagai berikut:

  1. Need for achievement (nAch) is The drive to excel, to achieve in relationship
    to a set of standards, and to strive to succeed.
    Kebutuhan untuk beprestasi adalah dorongan untuk mengungguli, berprestasi
    sehubungan dengan seperangkat standar dan berusaha keras untuk berhasil.
  2. Need for power (nPow) is the need to make others behave in a way they would
    not have otherwise.
    Kebutuhan akan kekuasaan adalah kebutuhan untuk membuat individu lain
    berperilaku dalam satu cara sehingga mereka tidak akan berperilaku
    sebaliknya.
  3. Need for affiliation (nAff) is the desire for friendly and close interpersonal
    relationships.
    Kebutuhan akan berafiliasi adalah keinginan untuk menjalin suat hubungan
    antar personal yang ramah dan akrab.

Aspek-Aspek Motivasi Kerja


Bekerja adalah suatu bentuk aktivitas yang bertujuan untuk mendapatkan
kepuasan. Aktivitas ini melibatkan fisik dan mental (As’ad, 2001). Bekerja
merupakan proses fisik maupun mental manusia dalam mencapai tujuannya
(Gilmer, 1971 dalam Nursalam 2008) Motivasi kerja adalah suatu kondisi yang
berpengaruh untuk membangkitkan, mengarahkan, dan memelihara perilaku yang
berhubungan dengan lingkungan kerja (Nursalam, 2008).
Prinsip-prinsip dalam motivasi kerja Menurut Nursalam (2008), terdapat
beberapa prinsip dalam memotivasi kerja pegawai yaitu:

  1. Prinsip partisipatif Dalam upaya memotivasi kerja, pegawai perlu diberikan
    kesempatan ikut berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang akan dicapai oleh
    pemimpin.
  2. Prinsip komunikasi Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang
    berhubungan dengan usaha pencapaian tugas. Dengan informasi yang jelas,
    pegawai akan lebih mudah dimotivasi kerjanya.
  3. Prinsip mengakui andil bawahan Pemimpin mengakui bahwa bawahan
    (pegawai) mempunyai andil didalam usaha pencapaian tujuan. Dengan
    pengakuan tersebut, pegawai akan lebih mudah dimotivasi kerjanya.
  4. Prinsip pendelegasian wewenang Pemimpin akan memberikan otoritas atau
    wewenang kepada pegawai bawahan untuk sewaktu-waktu dapat mengambil
    keputusan terhadap pekerjaan yang dilakukannya, akan membuat yang
    bersangkutan menjadi termotivasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh
    pemimpin.
  5. Prinsip memberi perhatian Pemimpin memberikan perhatian terhadap apa yang
    diinginkan pegawai bawahannya, sehingga bawahan akan termotivasi bekerja
    sesuai dengan harapan pemimpin.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi motivasi kerja


Motivasi kerja dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mendorong seseorang
melakukan sesuatu. Menurut Komang Ardana dkk. (2017: 31), faktor-faktor yang
mempengaruhi motivasi seseorang adalah sebagai berikut:

  1. Karakteristik individu, antara lain: minat, sikap terhadap diri sendiri, pekerjaan
    dan situasi pekerjaan, kebutuhan individual kemampuan atau kompetensi,
    pengetahuan tentang pekerjaan, emosi, suasana hati, perasaan keyakinan dan
    nilai-nilai
  2. Faktor-faktor pekerjaan, antara lain: (a) Faktor lingkungan pekerjaan, yaitu:
    gaji yang diterima, kebijakan-kebijakan sekolah, supervisi, hubungan antar
    manusia, kondisi pekerjaan, budaya organisasi; (b) Faktor dalam pekerjaan,
    yaitu: sifat pekerjaan, rancangan tugas atau pekerjaan, pemberian pengakuan
    terhadap prestasi, tingkat atau besarnya tanggung jawab yang diberikan,
    adanya perkembangan dan kemajuan dalam pekerjaan, adanya kepuasan dari
    pekerjaan

Dimensi dan Indikator Kepemimpinan Transformasional


Pada dasarnya Kepemimpinan transformasional digunakan bila pemimpin
perlu meningkatkan kinerja seseorang secara drastis. Kepemimpinan
transformasional dapat menjadi gaya kepemimpinan yang melelahkan. Pemimpin
bertanggung jawab untuk visi dan cara-cara mencapai visi tersebut. Pemimpin
transformasional hingga tingkat tertentu bagaikan seorang penjudi yang
mempertaruhkan visinya sebagai visi yang benar. Menurut Robbins & Judge
(2015: 383) karakteristik kepemimpinan transaksional antara lain:

  1. Idealized Influence (Pengaruh Idealis), yaitu Pengaruh yang ideal berkaitan
    dengan reaksi bawahan terhadap pemimpin. Pemimpin dijadikan sebagai
    panutan, dipercaya, dihormati dan mempunyai visi dan misi yang jelas menurut
    persepsi bawahan dapat diwujudkan. Selanjutnya indikator dari dimensi
    Idealized Influence (Pengaruh Idealis) antara lain:
    a. Pimpinan mampu membuat karyawan merasa nyaman di bawah
    pimpinannya
    b. Pimpinan mampu menumbuhkan rasa hormat karyawan kepadanya.
    c. Pimpinan membuat karyawan merasa bangga menjadi rekan sekerjanya
  2. Inspirational Motivation (Inspirasi Motivasi), pemimpin harus mampu
    mengkomunikasikan sejauh mana visi yang menarik, menggunakan simbolsimbol untuk memfokuskan usaha-usaha bawahan dan memodelkan perilakuperilaku yang sesuai. Selanjutnya, pemimpin harus mampu menimbulkan
    inspirasi pada bawahannya, antara lain dengan menentukan standar-standar
    tinggi, memberikan keyakinan bahwa tujuan dapat dicapai. Indikator dimensi
    Inspirational Motivation (Inspirasi Motivasi) antara lain:
    a. Pimpinan mengembangkan cara-cara sederhana untuk mendorong atau
    memotivasi karyawan.
    b. Pimpinan menggunakan simbol dan imajinasi untuk memusatkan usaha yang
    karyawan lakukan.
    c. Pimpinan memberitahu tentang harapan – harapan prestasi kerja yang tinggi
    kepada karyawan.
  3. Intellectual Stimulation (Stimulasi Intelektual), yaitu sebuah proses dimana
    para pemimpin meningkatkan kesadaran para pengikut terhadap masalahmasalah dan mempengaruhi para pengikut untuk memandang sebuah
    masalah dari sebuah perspektif yang baru. Pimpinan mampu mendorong
    karyawan untuk berpikir mengenai relevansi cara, sistem baru, kepercayaan,
    harapan dan didorong melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan
    dan berkreasi untuk mengembangkan kemampuan diri serta didorong untuk
    menetapkan tujuan atau sasaran yang menantang. indikator Intellectual
    Stimulation (Stimulasi Intelektual) antara lain:
    a. Pimpinan membuat karyawan mampu berpikir tentang masalah lama
    dengan cara baru.
    b. Pimpinan menunjukkan cara-cara baru untuk menghadapi masalah.
    c. Pimpinan memberikan semangat pada karyawan untuk mengekspresikan
    ide dan pendapat karyawan.
  4. Individual Consideration (Perhatian individu), Perhatian individu kemampuan
    dan tanggung jawab pemimpin untuk memberikan kepuasaan dan mendorong
    produktivitas pengikutnya. Pemimpin cenderung bersahabat, informal, dekat
    dan memperlakukan pengikutnya atau karyawannya dengan perlakuan yang
    sama memberikan nasehat, membantu dan mendukung serta mendorong selfdevelopment para pengikutnya. Indikator Individual Consideration (Perhatian
    individu) antara lain:
    a. Pimpinan memberikan perhatian pribadi kepada karyawannya.
    b. Pimpinan mengetahui keinginan karyawan dan membantu untuk
    mendapatkannya.
    c. Pimpinan memberikan perhatian pada siapa saja yang lalai dalam pekerjaan

Bentuk-Bentuk Kepemimpinan Transformasional


Menurut (Antonakis, Avolio, & Sivasubramaniam, 2003; Avolio & Bass,
2014) terdapat 4 bentuk perilaku kepemimpinan transformasional yaitu:

  1. Idealized influence menekankan tipe pemimpin yang memperlihatkan
    kepercayaan, keyakinan dan dikagumi / dipuji pengikut.
  2. Inspirasional motivation menekankan pada cara memotivasi dan
    memberikan inspirasi kedada bawahan terhadap tantangan tugas.
    Pengaruhnya diharapkan dapat meningkatkan semangat kelompok.
  3. Intelectual stimulation menekankan tipe pemimpin yang berupaya
    mendorong bawahan untuk memikirkan inovasi, kreatifitas, metode atau
    cara-cara baru.
  4. Individualized consideration menekankan tipe pemimpin yang memberikan
    perhatian terhadap pengembangan dan kebutuhan berprestasi bawahan

Kepemimpinan Transformasional


Kepemimpinan atau Leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu
sosial, sebab prinsip prinsip dan rumusan-rumusannya bermanfaat dalam
meningkatkan kesejahteraan manusia. Sebagai langkah awal untuk mempelajari
dan memahami segala sesuatu yang berkaitan dengan aspek aspek kepemimpinan
dan permasalahannya, perlu dipahami terlebih dahulu makna atau pengertian dari
kepemimpinan melalui berbagai macam perspektif.
Menurut Arep & Tanjung (2014: 235) menerangkan bahwa kepemimpinan
adalah kemampuan seseorang untuk menguasai atau mempengaruhi orang lain atau
masyarakat yang saling berbeda-beda menuju kepada pencapaiaan tujuan tertentu.
Sedangkan menurut Robbins (2015: 432) menyatakan kepemimpinan adalah
kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran.
Definisi lain menurut Kartono (2015:153) menyatakan kepemimpinan
adalah kemampuan untuk memberikan pengaruh yang konstruktif kepada orang
lain untuk melakukan suatu usaha kooperatif mencapai tujuan yang sudah di
rencanakan Berdasarkan defenisi-defenisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa
kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain
untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Dimensi dan Indikator Karakteristik Pekerjaan


Robbins & Judge (2015:125) menjelaskan bahwa karakteristik pekerjaan
adalah suatu pendekatan terhadap pemerkayaan jabatan yang dispesifikasikan
kedalam 5 dimensi karakteristik inti yaitu keragaman ketrampilan (skill variety),
jati diri dari tugas (task identity), signifikasi tugas (task significance), otonomi
(autonmy) dan umpan balik (feed back).

  1. Keragaman ketrampilan (skill variety)
    Banyaknya keterampilan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan.
    Semakin banyak ragam keterampilan yang digunakan, semakin kurang
    membosankan suatu pekerjaan. Indikator untuk dimensi ini antara lain:
    a. Keragaman pekerjaan
    b. Keragaman keterampilan
  2. Jati diri dari tugas (task identity)
    Jati diri tugas yang memungkinkan karyawan untuk melaksanakan pekerjaan
    seutuhnya. Para karyawan yang secara individu mengerjakan bagian kecil
    pekerjaan tidak dapat mengidentifikasi salah satu produk dengan upaya
    karyawan tersebut. Apabila tugas diperluas untuk menghasilkan sebuah produk
    secara keseluruhan atau bagiannya yang dapat diidentifikasi, maka telah
    terbentuk identitas tugas.
    Indikator untuk dimensi ini adalah:
    a. Kemungkinan penyelesaian tugas
    b. Kesesuaian tugas dengan posisi karyawan
  3. Signifikasi tugas (task significance)
    Tugas yang penting yang mengacu pada seberapa besar dampak pekerjaan
    tersebut terhadap orang lain, seperti yang dipersepsikan masyarakat. Dampak
    itu boleh jadi atas orang lain dalam organisasi yang bersangkutan atau dampak
    itu atas pihak lain diluar perusahaan. Hal yang penting adalah karyawan
    percaya bahwa telah melakukan sesuatu yang penting dalam organisasi dan
    atau masyarakat. Indikator signifikansi tugas antara lain:
    a. Kepentingan tugas
    b. Dampak tugas bagi perusahaan
    c. Dampak tugas bagi masyarakat
  4. Otonomi (autonomy)
    Otonomi dalam konteks dimensi karakteristik pekerjaan adalah karakteristik
    pekerjaan yang memberikan kebijakan dan kendali tertentu bagi karyawan atas
    keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan dan hal ini merupakan hal yang
    mendasar untuk menimbulkan rasa tanggung jawab dalam diri karyawan.
    Indikator otonomi antara lain:
    a. Kebebasan karyawan menjalankan pekerjaanya
    b. Kewenangan karyawan dalam pekerjaannya
    c. Tanggungjawab pekerjaan
  5. Umpan balik (feed back).
    Umpan balik mengacu pada informasi yang memberitahu karyawan tentang
    seberapa baik prestasi kerja yang telah dicapai selama bekerja. Umpan balik
    timbul dari pekerjaan itu sendiri, atasan atau penyelia, dan karyawan lainnya.
    Lebih lanjut para karyawan perlu mengetahui seberapa baik prestasi yang telah
    dilakukan dalam jangka waktu karyawan sesering mungkin karena karyawan
    mengakui bahwa prestasi itu memang berbeda-beda dan salah satu cara untuk
    dapat mengadakan penyesuaian adalah dengan mengetahui bagaimana prestasi
    karyawan sekarang. Indikator feedback antara lain:
    a. Umpan balik yang timbul dari pekerjaan
    b. Umpan balik yang diberikan rekan kerja
    c. Umpan balik yang diberikan atasan

Teknik-Teknik Karakteristik Pekerjaan


Menurut Robin (2010:120) karakteristik pekerjaan terdiri dari teknik-teknik
sebagai berikut:

  1. Mengkombinasikan tugas-tugas
  2. Langkah yang dilakukan adalah mengumpulkan tugas-tugas yang telah terbagi
    untuk membetuk modul pekerjaan yang lebih besar (pemekaran pekerjaan),
    untuk meningkatkan keragaman keterampilan dan identitas tugas.
  3. Menciptakan unit kerja yang alami
  4. Mendesain tugas-tugas yang membentuk satu kesatuan yang dapat
    diidentifikasi dan bermakna untuk meningkatkan “kepemilikan” pegawai
    terhadap pekerjaan.
  5. Membangun hubungan dengan klien
  6. Bila memungkinkan, membangun hubungan langsung antara pekerja dengan
    klien merek untuk meningkatkan keragaman keterampilan, otonomi, dan
    umpan balik.
  7. Memperluas pekerjaan secara vertical
  8. Perluasan secara vertical memberikan tanggungjawab dan kendali kepada
    pegawai hala-hal yang dilakukan oleh manajer sehingga dapat meningkatkan
    otonomi pegawai.
  9. Membuka saluran umpan balik
  10. Umpan balik yang langsung memungkinkan pegawai mengetahui seberapa
    baik mereka melaksanakan pekerjaan mereka dan apakah kinerja pegawai
    membaik.

Pengertian Karakteristik Pekerjaan


Pekerjaan pada dasarnya adalah pekerjaan adalah sekelompok posisi yang
agak serupa dalam hal elemen-elemen pekerjaannya, tugas-tugas dan tanggung
jawab-tanggung jawab yang dicakup oleh deskripsi pekerjaan yang sama
(Simamora, 2015). Karakteristik pekerjaan didefinisikan sebagai sifat tugas yang
meliputi besarnya tanggung-jawab dan macam-macam tugas yang diemban
karyawan (Porter, 2015). Karakteristik pekerjaan merupakan sifat tugas karyawan
yang meliputi macam tugas, tanggung jawab, dan tingkat kepuasan yang diperoleh
dari karakteristik pekerjaan itu sendiri (Stoner dan Freeman dalam Sumarsono,
2014). Selanjutnya menurut Jatmiko (2011) Karakteristik pekerjaan adalah
menunjukkan seberapa besar pengambilan keputusan yang dibuat oleh karyawan
kepada pekerjaannya, dan seberapa banyak tugas yang harus dirampungkan oleh
karyawan.
Karakteristik pekerjaan merupakan dasar bagi produktivitas organisasi dan
kepuasan kerja karyawan yang memainkan peranan penting dalam kesuksesan dan
kelangsungan hidup organisasi. Dalam kondisi persaingan yang semakin
meningkat, pekerjaan yang dirancang dengan baik akan mampu menarik dan
mempertahankan tenaga kerja dan memberikan motivasi untuk menghasilkan
produk dan jasa yang berkualitas. Simamora (2014) mengatakan bahwa
karakteristik pekerjaan merupakan suatu pendekatan terhadap pemerkayaan
pekerjaan.
Program pemerkayaan pekerjaan berusaha merancang pekerjaan dengan
cara membantu para pemangku jabatan memuaskan kebutuhan mereka dan
pertumbuhan, pengakuan, dan tanggung jawab. Pemerkayaan pekerjaan
menambahkan sumber kepuasan kepada pekerjaan, metode ini meningkatkan
tanggung jawab, otonomi, dan keja secara vertikal (vertikal job loading). Menurut
Agung Panudju (2014:52), karakteristrik pekerjaan menunjukkan seberapa besar
pengambilan keputusan yang dibuat oleh karyawan kepada pekerjaannya, dan
seberapa banyak tugas yang harus dirampungkan oleh karyawan. Selanjutnya
menurut Robbins dan Judge (2015:124) karakteristik pekerjaan adalah sebuah
pendekatan dalam merancang pekerjaan yang menunjukkan bagaimana pekerjaan
dideskripsikan ke dalam lima dimensi inti yaitu keanekaragaman keterampilan,
identitas tugas, arti tugas, otonomi dan umpan balik.

Karakteristik Pekerjaan


Pada dasarnya pekerjaan merupakan komponen dasar struktur organisasi
dan merupakan alat untuk mencapai tujuan organisasi, oleh karena itu pekerjaan
harus dirancang sedemikian rupa dalam rangka mencapai efisiensi teknis dan
produktivitas yang diciptakan oleh karakteristik pekerjaan.

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Sedarmayanti (2017:6) fungsi sumber daya manusia
dikelompokan menjadi 2 (dua) fungsi yaitu fungsi manajerial MSDM dan fungsi
operasional MSDM yaitu:

  1. Fungsi Manajerial Manajemen Sumber Daya Manusia
    a. Perencanaan (Planning)
    Setiap manajer harus menyadari pentingnya perencanaan, manajer perlu
    mencurahkan untuk fungsi perencanaan.
    b. Pengorganisasian (Organizing)
    Serangkaian tindakan yang akan dilakukan ditetapkan, maka akan ditetapkan
    organisasi beserta pegawai untuk melaksankannya. Organisasi adalah alat
    mencapai tujuan. Sumber Daya Manusia membentuk organisasi dalam
    merancang struktur hubungan dalam suatu perusahaan.
    c. Penggerakan (Motivating)
    Perusahaan adalah mempunyai perencanaan lengkap dengan orang-orangnya
    untuk melaksanakan rencana kegiatan, fungsi penggerakan penting karena
    sebagai langkah awal untuk menggerakan, mengarahkan, memotivasi,
    mengusahakan tenaga kerja, bekerja rela, efektif dan efisien.
    d. Pengawasan (Controlling)
    Mengadakan pengamatan dan pemeriksaan atas pelaksanaan dan
    membandingkan dengan rencana. Bila terjadi penyimpanan, diambil tindakan
    atau koreksi/penyusunan kembali rencana untuk menyesuaikan yang
    diperlukan atas penyimpanan yang tidak dapat dihindari.
  2. Fungsi Operasional Manajemen Sumber Daya Manusia
    a. Pengadaan Sumber Daya Manusia
    Kegiatan memperoleh Sumber Daya Manusia tepat dari kuantitas dan kualitas
    yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan perusahaan.
    b. Pengembangan Sumber Daya Manusia
    Proses untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, sikap melalui latihan
    dan pengembangan agar dapat menjalankan tugas dengan baik. Pengembangan
    merupakan proses pendidikan jangka pendek, pada saat pegawai operasional
    mempelajari keterampilan teknis operasional secara sistematis.
    c. Pemberian Kompensasi atau Balas Jasa
    Pemberian penghargaan langsung dan tidak langsung, dalam bentuk material
    dan non material yang adil dan layak kepada pegawai atau kontribusinya dalam
    pencapaian tujuan perusahaan.
    d. Pengintegrasian Pegawai
    Fungsi pengintegrasian berfungsi sebagai usaha memperoleh keamanan
    kepentingan pegawai, perusahaan dan masyrakat.
    e. Pemeliharaan pegawai
    Fungsi pemeliharaan pegawai berkaitan dengan usaha mempertahankan
    kesinambungan dari keadaan yang telah dicapai melalui fungsi sebelumnya.
    Dua aspek utama pegawai yang dipertahankan dalam fungsi pemeliharaan
    yaitu sikap positif pegawai terhadap pekerjaan dan kondisi fisik pegawainya.
    Pemeliharaan kondisi fisik pegawai dapat tercapai melalui program Kesehatan
    Dan Keselamatan kerja (K3)
    f. Pemutusan Hubungan Kerja
    Proses pemutusan hubungan kerja yang sering terjadi adalah pemensiunan,
    pemberhentian, dan pemecatan pegawai yang tidak memenuhi harapan atau
    keinginan perusahaan.

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia

 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia Manajemen sumber daya manusia didefinsikan secara berbeda oleh para ahli. Berikut beberapa devinisi mengenai manajemen sumber daya manusia menurut para ahli : Pengertian manajemen sumber daya manusia menurut Herman Sofyadi dalam R.Supomo dan Eti Nurhayati (2018:6) yang mendefinisikan manajemen sumber daya manusia sebagai berikut: “Suatu strategi dalam menerapkan fungsifungsi manajemen mulai dari planning, organizing, leading, dan controlling dalam setiap aktivitas/fungsi operasional SDM mulai dari proses penarikan, seleksi, pelatihan dan pengembangan, hingga pemutusan hubungan kerja, yang ditunjukan bagi peningkatan kontribusi produktif dari SDM organisasi terhadap pencapaian tujuan organisasi secara lebih efektif dan efisien.” 20 Pendapat yang lain disampaikan oleh Edwin B. Flippo dalam R.Supomo dan Eti Nurhayati (2018:7) menyatakan: “Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian dari pengadaan, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemberhentian karyawan dengan maksud dan terwujudnya tujuan perusahaan, individu, karyawan, dan masyarakat.” Menurut T. Hani Handoko (2015:20) menyebutkan bahwa : “Suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan kegiatan-kegiatan pengadaan pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pelepasan sumber daya manusia agar tercapai berbagai tujuan individu, organisasi dan masyarakat.”  

  1. Tujuan Organisasi
    Ditujukan untuk dapat mengenal keberadaan manajemen sumber daya manusia
    dalam memberikan kontribusi pada pencapaian efektivitas organisasi.
  2. Tujuan Fungsional
    Ditujukan untuk mempertahankan kontribusi departemen pada tingkat yang
    sesuai dengan kebutuhan organisasi. Sumber daya memiliki kriteria yang lebih
    rendah dari tingkat kebutuhan organisasi.
  3. Tujuan Sosial
    Ditujukan untuk merespons kebutuhan-kebutuhan dan tantangan-tantangan
    masyarakat melalui tindakan meminimalisir dampak negatif terhadap
    organisasi.
  4. Tujuan Personal
    Ditujukan untuk membantu karyawan dalam pencapaian tujuan, setidaknya
    tujuan-tujuan yang dapat meningkatkan kontribusi individual terhadap
    organisasi.

Unsur-Unsur Manajemen


Tujuan yang telah ditetapkan oleh seorang manajer membutuhkan sarana
manajemen yang disebut dengan unsur manajemen. Menurut pendapat yang
dikemukan oleh Manullang (dalam Usman Effendi, 2014:28) tentang unsur
manajemen tersebut, terdiri dari atas man, money, materials, machines, methods
dan markets. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

  1. Manusia (Man)
    Manusia merupakan orang-orang yang akan menjalankan fungsi-fungsi
    manajemen dalam oprasional suatu organisasi, manusia merujuk pada sumber
    daya manusia yang dimiliki organisasi. Hal ini termasuk penempatan orang
    yang tepat, pembagian kerja, pengaturan jam kerja dan sebagainya. Dalam
    manajemen faktor manusia adalah yang paling mentukan. Manusia yang
    membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai
    tujuan. Sehingga peran manusia di dalam oranisasi itu sangat penting untuk
    keberhasilan suatu perusahaan.
  2. Uang (Money)
    Money merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan, uang
    merupakan modal yang dipergunakan pelaksanaan program dan rencana yang
    telah ditetapkan, uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai, seperti
    pembelian alat-alat, pembelian bahan baku, pembayaran gaji dan lain
    sebagainya. Besar kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang
    beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat yang penting
    untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara
    rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa besar uang yang harus
    disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan
    harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai dalam suatu organiasi.
  3. Bahan (Materials)
    Materials adalah bahan-bahan baku yang dibutuhkan biasanya terdiri dari
    bahan setengah jadi dan bahan jadi dalam operasi awal guna menghasilkan
    barang atau jasa. Dalam organisasi untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain
    manusia yang ahli dibidangnya juga harus dapat menggunakan sebagai salah
    satu sarana. Bahan baku dan manusia tidak dapat dipisahkan, tanpa bahan baku
    aktivitas produksi tidak akan mencapai hasil yang dikehendaki.
  4. Mesin (Machine)
    Machine adalah peralatan termasuk teknologi yang digunakan untuk
    membantu dalam operasi untuk menghasilakan barang dan jasa. Mesin yang
    digunakan untuk memberi kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang
    lebih besar serta menciptakan efisiensi kerja. Terutama pada penerapan
    teknologi mutahir yang dapat meningkatkan kapasitas dalam proses produksi
    baik barang atau jasa.
  5. Metode (Methods)
    Methods adalah cara yang ditempuh teknik yang dipakai untuk mempermudah
    jalannya pekerjaan manajer dalam mewujudkan rencana operasional. Metode
    dapat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan
    memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitasfasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan aktivitas bisnis.
  6. Pasar (Market)
    Market merupakan pasar yang hendak dimasuki hasil prosuksi baik barang atau
    jasa untuk menghasilkan uang, mengembalikan investasi dan mendapatkan
    profit dari hasil penjualan atau tempat dimana organisasi menyebarluaskan
    produknya

Dimensi dan Indikator Kinerja Pegawai Kecamatan


Penilaian kinerja di lingkungan pegawai negeri sipil (PNS) dikenal dengan
sebutan penilaian pelaksanaan pekerjaan (Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun
1979) dikutip oleh Nurjanah (2008). Penilaian kinerja tersebut dilaksanakan
menggunakan daftar penilaian pelaksanaan pekerjaan (DP3), dengan unsur-unsur
yang terdapat di dalamnya, meliputi :

  1. Kesetiaan
    Yang dimaksud dengan kesetiaan, adalah kesetiaan, ketaatan, dan pengabdian
    kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara, dan Pemerintah. Unsur
    kesetiaan terdiri atas sub-sub unsur penilaian sebagai berikut:
    1) Tidak pernah menyangsikan kebenaran Pancasila baik dalam ucapan, sikap,
    tingkah laku, dan perbuatan.
    2) Menjunjung tinggi kehormatan Negara dan atau Pemerintah, serta senantiasa
    mengutamakan kepentingan Negara dari pada kepentingan diri sendiri,
    seseorang, atau golongan.
    3) Berusaha memperdalam pengetahuan tentang Pancasila dan Undang-Undang
    Dasar 1945, serta selalu berusaha mempelaiari haluan Negara, politik
    Pemerintah, dan rencana-renca Pemerintah dengan tujuan untuk
    melaksanakan tugasnya secara berdaya guna dan berhasil guna.
    4) Tidak menjadi simpatisan/anggota perkumpulan atau tidak pernah terlibat
    dalam gerakan yang bertujuan mengubah atau menentang Pancasila UndangUndang Dasar 1945, bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, atau
    Pemerintah.
    5) Tidak mengeluarkan ucapan, membuat tulisan, atau melakukan tindakan yang
    dapat dinilai bertujuan mengubah atau menentang Pancasila, Undang-Undang
    Dasar 1945, Negara, dan Pemerintah.

Langkah-Langkah Peningkatan Kinerja Pegawai


Kinerja pegawai harus ditingkatkan agar tujuan dari suatu organisasi dapat
dicapai. Langkah-langkah dalam meningkatkan kinerja pegawai memiliki berbagai
cara, menurut Anwar (2011:22) sebagai berikut :

  1. Mengetahui adanya kekurangan dalam kinerja, dapat dilakukan dengan cara :
    a. Mengidentifikasi masalah melalui data dan informasi yang dikumpulkan
    terus-menerus mengenai fungsi bisnis.
    b. Mengidentifikasi masalah melalui pegawai.
    c. Memperhatikan masalah yang ada.
  2. Mengenai kekurangan dan tingkat keseriusan, untuk memperbaiki keadaan ini
    diperlukan berbagai informasi antara lain :
    a. Mengidentifikasi masalah secepat mungkin.
    b. Memnentukan tingkat keseriusan dengan mempertimbangkan harga yang
    harus di bayar, apabila tidak ada kegiatan dan harga yang harus dibayar bila
    ada campur tangan dan penghematan yang diperoleh apabila ada penutupan
    kekurangan kerja.
    c. Mengidentifikasi hal-hal yang mungkin menjadi penyebab kekurangan, baik
    yang berhubungan dengan sistem maupun yang berhubungan dengan pegawai
    itu sendiri.
    d. Mengembangkan rencana tindakan untuk menanggulangi kekurangan
    tersebut.
    e. Melakukan rencana tindakan tersebut.
    f. Melakukan evaluasi apakah masalah tersebut sudah teratasi atau belum.
    g. Mulai dari awal bila perlu

Penyebab Masalah-Masalah Kinerja Pegawai


Masalah kinerja dalam organisasi dapat disebabkan oleh banyak faktor, yaitu
faktor internal atau faktor dari dalam diri dan faktor eksternal atau faktor dari
lingkungan. Faktor-faktor ini dapat dikelompokkan menjadi empat penyebab utama
masalah-masalah kinerja berikut ini.

  1. Pengetahuan atau keterampilan. pegawai tidak tahu bagaimana menjalankan
    tugas-tugas secara benar. Kurangnya keterampilan, pengetahuan, dan
    kemampuan.
  2. Lingkungan. Masalah tidak berhubungan dengan pegawai, tetapi disebabkan oleh
    lingkungan, kondisi kerja, proses nyang buruk dan lain-lain.
  3. Sumber daya. Kurangnya sumber daya atau teknologi.
  4. Motivasi. Pegawai tahu bagaimana menjalankan pekerjaan, tetapi tidak
    melakukannya secara benar. Ini mungkin saja disebabkan oleh proses seleksi yang
    tidak sempurna.

Penilaian Kinerja Pegawai


Bangun (2012:231), menjelaskan bahwa penilaian kerja adalah proses yang
dilakukan oleh organisasi untuk mengevaluasi atau menilai keberhasilan pegawai
dalam melaksanakan tugasnya. Penilaian dapat dilakukan dengan membandingkan
hasil kerja yang dicapai pegawai dengan standar pekerjaan. Bila hasil kerja yang
diperoleh sampai atau melebihi standar pekerjaan dapat dikatakan kinerja seorang
pegawai termasuk pada kategori baik. Demikian sebaliknya, seorang pegawai yang
hasil kerjanya tidak mencapai standar pekerjaan termasuk pada kinerja yang tidak
baik atau rendah.
Secara umum tujuan dari penelitian kinerja adalah memberikan timbal balik
kepada pegawai dalam upaya memperbaiki kinerja pegawai, dan untuk meningkatkan
produktivitas organisasi. Secara khusus tujuan penilaian kinerja adalah sebagai
pertimbangan keputusan-keputusan organisasi terhadap pegawainya mengenai
promosi, mutasi, kenaikan gaji, pedidikan, dan pelatihan ataupun kebijakan
manajerial lainnya. Menurut Rivai (2011:563) manfaat penilaian kinerja adalah
sebagai berikut :
1) Manfaat bagi pegawai yang dinilai, antara lain :
a. Meningkatkan motivasi.
b. Meningkatkan kepuasan kerja.
c. Adanya kejelasan standar hasil yang diharapkan.
d. Adanya kesempatan berkomunikasi ke atas.
e. Peningkatan pengertian tentang nilai pribadi.
2) Manfaat bagi penilai
a. Meningkatkan kepuasan kerja.
b. Kesempatan untuk mengukur dan mengidentifikasi kecenderungan kinerja
pegawai.
c. Meningkatkan kepuasan kerja baik para manajer maupun pegawai.
d. Sebagai sarana meningkatkan motivasi pegawai.
e. Bisa mengidentifikasi kesempatan untuk rotasi pegawai.
3) Manfaat bagi perusahaan
a. Perbaiki seluruh simpul unit-unit yang ada dalam perusahaan.
b. Meningkatkan kualitas komunikasi.
c. Meningkatkan motivasi pegawai secara keseluruhan.
d. Meningkatkan pandangan secara luas menyangkut tugas yang dilakukan
masing-masing karyawan.

Kinerja Pegawai


Dalam suatu kegiatan agar dapat berjalan secara efektif dan efesien sudah
tentu mempunyai tujuan, demikian juga dengan kinerja pegawai dalam suatu
organisasi atau intansi. Kegunaan dari kinerja pegawai adalah untuk memenuhi
keinginan pegawai dalam pencapaian penghargaan dan kesempatan yang tinggi,
pegawai ingin dinilai secara objektif, memperoleh umpan balik dan hasil kerjanya
memuaskan.
Tujuan dari kinerja pegawai sendiri adalah untuk meningkatkan prsestasi
pegawai dengan membantu merealisasikan dan menggunakan seluruh potensi mereka
dengan menyatukan ke dalam misi organisasi dan untuk menyediakan informasi
untuk para pegawai dan atasan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan.
Tujuan kinerja pegawai tersebut memiliki kegunaan, yaitu untuk penyesuaian
penempatan, keputusan penempatan, kebutuhan latihan dan pengembangan,
perencanaan dan pengembangan karir, penyimpanan proses staffing, ketidak akuratan
informasi, kesalahan pekerjaan, kesempatan kerja yang adil dan tantangan eksternal.
Jadi dengan demikian dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam suatu
organisasi harus melakukan sistem kinerja yang dirancang dengan baik agar dapat
membantu tercapainya tujuan-tujuan instansi atau organisasi dan akan memberikan
harapan demi kemajuan organisasi. Menurut Mangkunegara (2010:84)

Dimensi dan Indikator Lingkungan Kerja


Alex, (2011:184) menyatakan bahwa lingkungan kerja adalah segala sesuatu
yang ada disekitar para pekerjaan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas yang dibebankan.

  1. Lingkungan kerja fisik
    Lingkungan kerja fisik bersifat nyata, berkenaan dengan kondisi tempat atau
    ruangan dan kelengkapan material atau peralatan yang di perlukan pegawai untuk
    bekerja.
    a. Pewarnaan
    Pewarnaan harus diperhatikan dalam sebuah lingkungan kerja, karena warna
    mempengaruhi jiwa seseorang yang ada di sekitarnya. Menurut Sedarmayanti
    (2011:21), menata warna di tempat kerja perlu dipelajari dan direncanakan
    sebaik-baiknya. Pada kenyataannya tata warna tidak dapat dipisahkan dengan
    penataan dekorasi. Hal ini dapat dimaklumi karena warna kadang-kadang
    menimbulkan rasa senang, sedih, dan lain-lain karena dalam sifat warna dapat
    merangsang perasaan manusia.
    b. Kebersihan
    Lingkungan yang bersih dapat menimbulkan perasaan yang nyaman dan
    senang sehingga dapat mempengaruhi semangat kerja seseorang. Dalam setiap
    instansi hendaknya selalu menjaga kebersihan lingkungan kerja yang bersih
    akan dapat mempengaruhi kesehatan kejiwaan. Kebersihan lingkungan bukan
    hanya berarti kebersihan tempat kerja, tetapi jauh lebih luas daripada itu
    misalkan kamar kecil yang berbau tidak sedap akan menimbulkan rasa kurang
    menyenangkan bagi para pegawai yang menggunakan. Menjaga kebersihan
    pada umumnya diperlukan tugas khusus tetapi ini bukan semata-mata
    kewajiban dari petugas khusus tersebut. Setiap pegawai wajib ikut
    bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan tempat meeka bekerja.
    c. Pertukaran udara
    Pertukaran udara yang baik akan menyehatkan badan dan menimbulkan
    kesegaran, sehingga dapat menimbulkan semangat kerja seseorang. Tanaman
    merupakan penghasil oksigen yang dibutuhkan oleh manusia.dengan
    cukupnya oksigen di sekitar tempat kerja, ditambah dengan pengaruh secara
    psikologis akibat adanya tanaman disekitar tempat kerja, keduanya akan
    memberikan kesejukan dan kesegaran pada jasmani. Rasa sejuk dan segar
    selama bekerja akan membantu mempercepat pemulihan tubuh akibat setelah
    bekerja.
    d. Penerangan
    Penyediaan penerangan yang cukup tetapi tidak menyilaukan akan
    menjadikan suatu pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih baik dan lebih
    teliti. Menurut Sedarmayanti (2011:23), cahaya atau penerangan sangat besar
    manfaatnya bagi pegawai guna mendapat keselamatan dan kelancaran kerja,
    oleh sebab itu perlu diperhatikan adanya penerangan (cahaya) yang terang
    tetapi tidak menyilaukan. Cahaya yang kurang jelas, sehingga pekerjaan akan
    lambat, banyak mengalami kesalahan dan pada akhirnya menyebabkan kurang
    efesien dalam melaksanakan pekerjaan, sehingga organisasi sulit dicapai.
    e. Keamanan
    Rasa aman akan menimbulkan ketenangan dan mendorong semangat kerja
    kegairahan untuk bekerja bagi para pegawainya. Dalam hal ini ialah
    keamanan terhadap milik pribadi pegawai. Misalnya kendaraan pribadi
    pegawai yang tidak diawasi dengan baik dan tidak adanya pemberian jaminan
    keamanan pada pegawai ketika mereka bekerja, akan membuat mereka
    merasa tidak terlindungi, tidak ada ketenangan, dan selalu merasa di bayangbayang oleh rasa takut tidak aman. Hal ini secara pssikologis akan
    mengganggu mental dan menghambat konsentrasi sehingga hasil pekerjaan
    tidak maksimal, apabila organisasi dapat memberikan jaminan keamanan,
    maka ketenangan bekerja akan timbul. Keamanan dinilai sangat penting guna
    memberikan kenyamanan bagi pegawai dalam bekerja sehingga dapat
    memberikan hasil yang optimal.
    f. Tata ruang
    Tata peralatan dalam ruang lantai yang tersedia, yang dapat mempengaruhi
    aktivitas ruang kantor adalah penyusunan atau pengaturan dari pada perlakuan
    dan pegawai dalam bergerak.
  2. Lingkungan kerja non fisik
    Lingkunga kerja non fisik bersifat tidak nyata, berkenaan dengan suasana
    sosial atau pergaulan (komunikasi) antar personel diunit kerja masing-masing atau
    dalam keseluruhan organisasi kerja. Menurut Sedarmayanti (2011:31) Lingkungan
    kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan
    kerja, baik hubungan dengan atasan maupun hubungan sesama rekan kerja, ataupun
    hubungan dengan bawahan. Lingkungan non fisik ini juga merupakan kelompok
    lingkungan kerja yang tidak bisa diabaikan.
    Faktor-faktor lingkungan kerja non fisik (psikologis) menurut Sedarmayanti
    (2011:301) yang kemudian dijadikan sebagai indikator lingkungan kerja non fisik
    adalah sebagai berikut:
    a. Hubungan yang harmonis
    Hubungan sosial yang harmonis di dalam organisasi, baik antara pegawai
    dengan pemimpin, maupun antara pegawai dengan pegawai merupakan
    faktor-faktor yang cukup penting dalam meningkatkan motivasi kerja
    pegawai. Adanya ketegangan yang muncul dalam organisasi, akan
    menurunkan motivasi kerja seorang pegawai, sehingga kinerjanya tidak
    optimal. Untuk itu, tugas seorang pemimpin adalah menciptkan hubungan
    kerja yang harmonis diantara para pegawai, misalnya dengan mengatasi
    berbagai permasalahan yang muncul diantara para pegawai, melakukan
    rekreasi bersama dan lain-lain.
    b. Kesempatan untuk maju
    Kemampuan atau kesempatan untuk maju merupakan faktor yang juga sangat
    penting untuk diperhatikan setiap organisasi. Faktor ini berhubungan dengan
    kebutuhan pegawai untuk mendapatkan penghargaan dan perhatian atas
    kinerjanya. Apabila pegawai diberikan kesempatan untuk maju, mereka akan
    berusaha untuk meningkatkan kualitas kerja pekerjanya, sehingga mereka
    akan menunjukkan kinerja yang optimal.
    c. Keamanan dalam pekerjaan
    Keamanan dalam pekerjaan adalah terjaminnya keselamatan kerja pegawai
    selama menjalankan tugasnya, misalnya aman dari berbagai kondisi yang
    membahayakan, memperoleh perlakuan yang adil dan sebagainya. Dengan
    terpenuhinya berbagai kondisi keamanan tersebut setiap pegawai akan
    memperoleh ketenangan dalam bekerja, yang berpengaruh terhadap kinerja.

Syarat-Syarat Lingkungan Kerja Yang Kondusif


Perencanaan lingkungan kerja yang kondusif merupaka suatu hal yang sangat
penting untuk dilakukan perusahaan. Syarat-syarat lingkungan kerja yang kondusif
secara terinci menurut Anoraga (2010:44) adalah sebagai berikut:

  1. Lingkungan kerja yang menyangkut fisik
    a. Keadaan bangunan, gedung atau tempat kerja yang menarik dan menjamin
    keselamatan kerja para pegawai, termasuk didalamnya ruang kerja yang
    nyaman dan mampu memberikan ruang gerak yang cukup bagi para pegawai,
    serta mengatur ventilasi yang baik sehingga pegawai leluasa bekerja.
    b. Tersedianya beberapa fasilitas, seperti: peralatan kerja yang cukup memadai,
    tempat istirahat, tempat ibadah dan sebagainya.
    c. Letak gedung dan tempat kerja yang strategis sehingga mudah dijangkau dari
    segala penjuru dengan kendaraan umum.
  2. Lingkugan kerja yang menyangkut psikis
    a. Adanya perasaan aman dari pegawai dalam menjalankan tugasnya, yang
    meliputi: rasa aman dari bahaya yang mungkin timbbul pada saat menjalankan
    tugas, merasa aman dari pihak yang sewenang-wenang, serta merasa aman
    dari segala macam bentuk tuduhan antara pegawai.
    b. Adanya loyalitas yang bersifat dua dimensi, yaitu loyalitas yang bersifat
    vertikal (antara bawahan dengan pimpinan) dan loyalitas yang bersisfat
    horizontal (antara pimpinan dengan pimpinan yang setingkat, antara pegawai
    dengan pegawai yang setingkat).
    c. Adanya perasaan puas dikalangan para pegawai. Perasaan puas tersebut akan
    terwujud apabila pegawai merasa kebutuhannya telah terpenuhi. Beberapa hal
    diatas merupakan persyaratan lingkungan kerja yang kondusif, yaitu suatu
    kondisi lingkungan kerja yang dapat memberikan keamanan serta
    kenyamanan kepada pegawai dalam melakukan pekerjaannya, apabila instansi
    menghendak setiap pegawai dapat menunjukkan kinerja yang optimal.

Aspek-aspek Lingkungan Kerja


Kondisi kerja yang baik akan sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan
kinerja pegawai. Aspek-aspek lingkungan kerja yang dapat memberikan dampak
positif kepada para pegawai sehingga dapat meningkatkan kinerjanya secara optimal,
menurut Alex Nitisemito (2011:183) diantaranya:

  1. Lingkungan kerja yang selalu bersih, sejuk, dan rindang
  2. Tempat kerja yang dapat memberikan rasa aman saat bekerja
  3. Tersedianya alat-alat memadai
  4. Tersedianya ruang kerja yang memiliki penerangan cukup baik
  5. Tersedianya ruang kerja yang mencakupi dan memadai serta lokasi yang jauh dari
    kebisingan dan getaran sehingga tidak mengganggu konsentrasi saat bekerja.
    Manusia akan mampu melaksanakan kegiatannya dengan baik, sehingga
    dicapai suatu hasil yang optimal, apabila diantaranya ditunjang oleh suatu kondisi
    lingkungan yang sesuai. Suatu kondisi lingkungan dikatakan baik atau sesuai apabila
    manusia dapat melaksanakan kegiatannya secara optimal, sehat, aman, dan nyaman.
    Ketidak sesuaian lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam jangka waktu yang
    lama. Lebih jauh lagi, keadaan lingkungan yang kurang baik dapat menuntut tenaga
    dan waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung diperolehnya rancangan sistem
    kerja yang efisien. Banya faktor yang mempengaruhi terbentuknya suatu kondisi
    lingkungan kerja. Untuk menciptakan kondisi lingkungan kerja yang baik sesuai
    dengan kebutuhan pegawai yang dapat meningkatkan semangat kerja pegawai, ada
    faktor-faktor yang membentuknya

Jenis Lingkungan Kerja


Ketidak nyamanan saat bekerja merupakan kondisi yang sangat tidak baik
bagi tenaga kerja dalam beraktivitas, karena pekerja akan melakukan aktivitasnya
yang kurang optimal dan akan menyebabkan lingkungan kerja yang tidak
bersemangat dan membosankan. Sebaliknya apabila kenyamanan kerja tercipta saat
pegawai melakukan aktivitasnya maka pekerja akan melakukan aktivitasnya dengan
optimal, dikarenakan kondisi lingkungan pekerjaan yang sangat baik dan mendukung
serta akan memberikan kepuasan kerja tersendiri bagi pegawai. Sedarmayanti
(2011:21) menyatakan bahwa secara garis besar, jenis lingkungan kerja terbagi
menjadi 2 yakni:
1) Lingkungan kerja fisik
Semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat
mempengaruhi pegawai baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Lingkungan kerja fisik dapat dibagi dalam dua kategori, yakni:
a. Lingkungan kerja yang langsung berhubungan dengan pegawai, seperti: pusat
kerja, kursi, meja dan sebagainya.
b. Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga disebut lingkungan
kerja yang mempengaruhi kondisi manusia, misalnya: temperatur,
kelembabab, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, bau
tidak sedap, warna dan lain-lain.
2) Lingkungan Kerja Non Fisik
Lingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan
dengan hubungan kerja.
a. Hubungan dengan atasan
b. Hubungan sesama rekan kerja
c. Hubungan dengan bawahan

Dimensi Dan Indikator Karakteristik Pekerjaan


Pada dasarnya setiap pekerjaan pasti mempunyai karakteristik sendiri. Antara
satu pekerjaan dengan pekerjaan yang lain dimungkinkan adanya kesamaan
karakteristik namun dipastikan bahwa mayoritas pekerjaan mempunyai perbedaan
karakteristik. Panudju (2010:7), menyebutkan bahwa setiap pekerjaan memiliki lima
karakteristik, yaitu :
a. Otonomi, yaitu kebebasan untuk mengendalikan sendiri pelaksanaan tugasnya
berdasarkan uraian dan spesifikasi pekerjaan yang dibebankan kepadanya, dengan
indikator kebebasan dalam merencanakan pekerjaan dan kebebasan dalam
melaksanakan tugas.
b. Variasi perkerjaan, yaitu keterampilan/metode/cara yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan tugas, keterampilan dan variasi tugas.
c. Identitas tugas, yaitu aktivitas yang dilakukan karyawan dalam merencanakan dan
melaksanakan tugas, dengan indikator tingkat pemahaman prosedur kerja dan tingkat
keterlibatan kerja.
d. Signifkansi tugas, yaitu pentingnya pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan,
dengan indikator dampak pekerjaan terhadap pegawai lain dalam satu departemen
dan lain departemen.
e. Umpan balik, yaitu informasi atau tanggapan mengenai hasil pelaksanaan kerja
karyawan, dengan indikator penerima informasi tentang keberhasilan yang telah
dicapai dan penerimaan informasi tentang kesesuaian pelaksanaan kerja dengan
keinginan atasan.

Rancangan Pekerjaan (Job Design)


Job design merupakan suatu perancangan pekerjaan dengan proses penentuan
tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh pemegang jabatan, hak untuk mengatur
pekerjaan tersebut, dan tanggung jawab dari suatu paket pekerjaan.

  1. Job Specialization, meliputi pekerjan-pekerjaan kedalam bagian yang lebih
    kecil, penempatan ahli untuk mengerjakan bagian masing-masing.
    Keterampilan lebih dan pembelajaran yang lebih cepat. Lebih sedikit waktu
    yang hilang. Membayar hanya untuk keterampilan yang dibutuhkan.
  2. Job Expansion, proses dalam menambah keanekaragaman pekerjaan,
    bertujuan untuk mengurangi kebosanan. Menggunakan metode: Job
    Enlargemen, peningkatan jumlah tugas dengan tingkat kesulitan dan tanggung
    jawab yang sama disebut juga beban kerja horizontal. Job Enrichment,
    peningkatan tanggung jawab pekerja dan dalam mengendalikan pekerjaannya
    disebut juga beban kerja vertikal. Cara-caranya membiarkan pekerja untuk
    merencanakan jadwal kerja mereka sendiri, menetukan bagaimana kerja harus
    dilakukan, untuk mengkoreksi pekerjaan mereka sendiri, untuk belajar
    keterampilan-keterampilan yang baru. Job Rotation, Empowerment.
  3. Komponen Psikologi, individu mempunyai nilai, sikap dan emosi yang
    mempengeruhi hasil suatu pekerjaan, tindakan efektif pekerja datang
    kebanyakan dari dalam diri individu.
  4. Self Directed Teams, kelompok yang meberikan kuasa kepada individu untuk
    bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Alasan terciptanya keefektifan:
    adanya pemberian kuasa kepada pegawai, adanya karakteristik inti pekerjaan,
    memenuhi kebutuhan psikologi.
  5. Kontinum rancangan kerja, peningkatan kepercayaan pada kontribusi
    pegawaidan peningkatan penerimaan tanggung jawab oleh pegawai.
    Hubungan antara Job Analysis dengan Job Design.
    Menurut DR.Dwi Suryanto (2010)

Karakteristik Pekerjaan


Karakteristik pekerjaan merupakan sifat dari tugas yang meliputi tanggung
jawab, macam tugas dan tingkat kepuasan yang diperoleh dari pekerjaan itu sendiri.
Menurut Berry dan Houtson (dalam Martinus, 2010:164) karakteristik pekerjaan
adalah sikap aspek internal dari kerja itu sendiri yang terdiri dari variasi keterampilan
yang dibutuhkan, prosedur dan kejelasan tugas, tingkat kepentingan tugas,
kewenangan dan tanggungjawab serta umpan balik dari tugas yang telah dilakukan.
Robbins, (2009:219) banyak penelitian yang dilakukan untuk mendesain
pekerjaan sedemikian rupa sehingga motivasi, kepuasan dan kinerja pegawai dapat
meningkat. Penelitian awal mengenai model-model karakteristik pekerjaan antara lain
dilakukan oleh Turner dan Lawrence (2011), yang mengidentifikasikan “Requisite
Task Attribute ” yang berhubungan dengan kepuasan kerja dan tingkat absensi
pegawai. Keenam atribut tersebut adalah keanekaragaman, otonomi, interaksi yang
diperlukan, interaksi yang dibutuhkan, pengetahuan dan keterampilan yang
diperlukan dan tanggung jawab. Selanjutnya Hackman dan Oldham melakukan
pengembangan lebih lanjut mengenai pendekatan karakteristik-karakteristik dalam
merancang pekerjaan.

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Flippo (1981) yang dikutip oleh Suwanto dan Priansa (2011 :
30)fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia meliputi :
1) Fungsi Manajerial
a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah proses penentuan tindakan untuk mencapai tujuan.
Sebelum tujuan akhir perusahaan ditentukan, informasi, khususnya informasi
mengenai kepegawaian harus lengkap. Kelengkapan informasi mengenai
kepegawaian itu datangnya dari manajer kepegawaian. Sehubungan dengan
perencanaan kepegawaian, manajer kepegawaian harus dapat mengajukan dan
menjawab pertanyaan-pertanyaan.
b. Pengorganisasian(Organizing)
Setelah diadakan perencanaan, tindakan selanjutnya adalah membentuk
organisasi untuk melaksanakan tujuan yang telah ditentukan untuk dicapai.
Proses organisasi ialah membentuk organisasi, kemudian membaginya dalam
unit-unit yang sesuai dengan fungsi-fungsi yang telah ditentukan, dan
dilengkapi dengan pegawai serta ditambah fasilitas-fasilitas tertentu.
c. Pengarahan (Directing)
Sesudah dilakukan pengorganisasian, maka tahap selanjutnya adalah
mengadakan pengarahan. Pengarahan berarti memberi petunjuk dan mengajak
para pegawai agar mereka berkemauan secara sadar untuk melaksanakan
pekerjaan sesuai dengan yang telah ditentukan perusahaan. Pengarahan ini
sering disebut sebagai penggerak, motivasi, dan pemberian perintah. Jadi
dalam pengarahan ini adalah agar pegawai bekerja sukarela tanpa merasa
dirinya dipaksa dan mau bekerjasama dengan pegawai lainnya dalam
perusahaan.
d. Pengendalian(Controlling)
Setelah diadakan perencanaan, pengorganisasian, dan pengarahan maka fungsi
manajerial yang terakhir adalah pengendalian. Pengendalian berarti melihat,
mengamati dan menilai tindakan atau pekerjaan pegawai. Pengendalian
membandingkan hasil yang dicapai pegawai dengan hasil atau target yang
direncanakan. Kalau terjadi penyimpangan dari rencana semula perlu
diperbaiki dengan memberi petunjuk-petunjuk kepada pegawai. Dalam hal ini
dipakai pengendalian (controlling) bukan pengawasan, karena pengawasan
merupakan bagian dari pengendalian. Pengawasan berarti mengawasi pegawai
yang sedang bekerja, tetapi tidak menilai apakah dia benar atau salah
melakukan pekerjaan. Sedangkan pengendalian disamping mengamati
pegawai, juga turut serta menilai hasil pekerjaan yang dicapai oleh pegawai.
2) Fungsi Operatif dan Fungsi Teknis
a) Pengadaan (Recruitment)
Fungsi operasional manajemen kepegawaian yang pertama adalah
memperoleh jumlah dan jenis pegawai yang tepat untuk mencapai tujuan
organisasi, fungsi ini terutama berkaitan dengan penentuan kebutuhan
pegawai dan penarikannya, seleksi dan penempatannya. Penentuan kebutuhan
pegawai menyangkut mutu dan jumlah pegawai. Sedangkan seleksi dan
penempatan menyangkut masalah memilih dan menarik pegawai, pembahasan
tentang formulir-formulir surat lamaran, mengadakan tes psikologis dan
wawancara, dan lain sebagainya.
b) Pengembangan (Development)
Sesudah pegawai diterima, kemudian pegawai perlu dibina dan
dikembangkan. Pengembangan ini dilakukan dengan tujuan untuk
meningkatkan keterampilan melalui latihan yang diperlukan untuk dapat
menjalankan pekerjaannya dengan baik. Kegiatan ini dianggap semakin
penting untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan, dan semakin
rumitnya tugas-tugas pekerjaan.
c) Kompensasi (Compensation)
Fungsi kompensasi sangat besar bagi pegawai. Kompensasi adalah sebagai
pemberian penghargaan kepada pegawai sesuai dengan sumbangan mereka
untuk mencapai tujuan organisasi. Kompensasi ini biasanya diterima pegawai
dalam bentuk uang yang ditambah dengan tunjangan-tunjangan lain.
d) Pengintegrasian (integration)
Walaupun sudah menerima pegawai, sudah mengembangkannya, dan sudah
memberi kompensasi yang memadai, perusahaan masih mengalami masalah
yang sulit, yaitu pengintegrasian. Pengintegrasian adalah penyesuaian sikapsikap, keinginan pegawai, dengan keinginan perusahaan dan masyarakat.

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) adalah suatu bidang yang
khusus mempelajari hubungan dan peranan manusia dalam organisasi perusahaan.
Unsur MSDM adalah manusia yang merupakan tenaga kerja pada perusahaan.
Dengan demikian, yang dipelajari MSDM ini hanyalah masalah yang berhubungan
dengan tenaga kerja manusia saja. Manajemen sumber daya manusia dapat diartikan
sebagai proses serta upaya untuk merekrut, mengembangkan, memotivasi, serta
mengevaluasi keseluruhan sumber daya manusia yang diperlukan perusahaan dalam
pencapaian tujuannya. Hal ini mencakup dari mulai memilih siapa saja yang memiliki
kualifikasi dan pantas untuk menempati posisi dalam perusahaan (the right man on
the right place) seperti disyaratkan perusahaan hingga bagaimana agar kualifikasi ini
dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan serta dikembangkan dari waktu ke waktu.
Oleh karena manajemen sumber daya manusia ini merupakan proses yang
berkelanjutan sejalan dengan proses operasionalisasi perusahaan, maka perhatian
terhadap sumber daya manusia ini memiliki tempat yang khusus dalam organisasi
perusahaan.
Menurut Rivai (2010:1) menyatakan bahwa manajemen sumber daya manusia
merupakan salah satu bidang dan manajemen umum yang meliputi segi-segi
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian. Proses ini terdapat
dalam bidang-bidang produksi, pemasaran, keuangan, maupun kepegawaian.
Sedangkan Flippo (2010:11) menyatakan bahwa manajemen personalia adalah
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian dari pengadaan
pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan dan pemberhentian
karyawan dengan maksud terwujudnya tujuan perusahaan, individu, karyawan dan
masyarakat. Selain itu, Hasibuan (2010:10) menyatakan bahwa manajemen sumber
daya manusia adalah ilmu dan seni yang mengatur hubungan dan peranan tenaga
kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan
dan masyarakat.

Pengertian Manajemen


Manajemen merupakan suatu ilmu dan seni untuk menerapkan fungsi-fungsi
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian pada kegiatan
kegiatan sekelompok manusia yang dilengkapi dengan sumber ekonomi (faktor
produksi) untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya.
Menurut Hasibuan (2010:1) manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan
efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sedangkan menurut Yahya (2011:1),
manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pengawasan usaha-usaha anggota dan penggubaan sumber daya organisasi lainnya
agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dikutip Hasibuan (2011:2) menyatakan
bahwa“Management in general refers toplanning organiszing controlling staffing,
leading, motivating, communicating, and decession making activities performed by
any organization in order to coordinate the varied resources of the enterprise so as to
bring an afficinet of some product of service”,(Manajemen pada umumnya dikaitkan
dengan aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan,
pengarahan, pemotivasian, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang dilakukan
oleh setiap organisasi dengan tujuan untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya
yang dimiliki oleh perusahaan sehingga akan dihasilkan suatu produk atau jasa secara
efisien).

Faktor –Faktor yang mempengaruhi Stress kerja


Handoko (2008) menyatakan karyawan yang mengalami stress bisa menjadi
nervous dan merasakan kekhawatiran kronis. Mereka sering menjadimudah marah,
tidak dapat relaksa, atau menunjukkan sikap yang kooperatif sehingga dapat
mengganggu pelaksanaan kerja mereka. Hani Handoko (2008) jugamenyatakan ada
beberapa kondisi kerja yang sering menyebabkan stress bagi para karyawan
diantaranya:
a. Beban kerja yang berlebihan
b. Tekanan atau desakan waktu
c. Kualitas supervisi yang jelek
d. Iklim politis yang tidak aman
e. Umpan balik tentang pelaksanaan kerja yang tidak memadai
f. Wewenang yang tidak mencukupi untuk menjalankan tanggung jawab
g. Kemenduan peranan (role ambiguity)
h. Frustasi
i. Konflik antar pribadi dan antar kelompok
j. Perbedaan antara nilai- nilai perusahaan dan karyawan
k. Berbagi bentuk perubahan
Mengenai penyebab stress, Robbins (2006) juga menyatakan bahwa ada
banyak faktor organisasi yang dapat menimbulkan stress, diantaranya:
a. Tuntutan Tugas
Tuntas tugas merupakan faktor yang terkait dengan pekerjaan seseorang.
Faktor ini mencakup desain pekerjaan individu (otonomi, keragaman
tugas, tingkat otomatisasi), kondisi kerja, dan tata letak kerjafisik.
b. Tuntutan peran
Tuntutan peran berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada
seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam
organisasi itu. Konflik peran menciptakan harapan yang barangkali sulit
dipuaskan. Kelebihan peran terjadi bila karyawan diharapkan untuk
melakukan lebih daripada yang dimungkinkan oleh waktu. Ambiguitas
peran tercipta bila harapan peran tidak dipahami dengan jelas dan
karyawan tidak pasti mengenai apa yang harus dikerjakan.
c. Tuntutan Antara Pribadi
Tuntutan antar pribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan
lain. Kekuatannya dukungan sosial dari rekan – rekan dan hubungan
antar pribadi yang buruk dapat menimbulkan stress yang cukup besar,
khususnya di antara para karyawan yang memiliki kebutuhan sosial yang
tinggi.
d. Struktur Organisasi
Struktur organisasi menentukan tingkat diferensiasi dalam organisasi,
tingkat aturan dan peraturan, dan dimana keputusan diambil. Aturan yang
berlebihan dan kurangnya partisipasi dalam pengambilan keputusan yang
berdampak pada karyawan merupakan contoh variabel keinginan
berpindah dankepuasan kerja yang dapat merupakan potensi sumber
stress.
e. Kepemimpinan Organisasi
Kepemimpinan organisasi menggambarkan gaya manajerial eksekutif
senior organisasi. Manajer menciptakan budaya yang dicirikan oleh
ketegangan, rasa takut, dan kecemasan. Merasa memberikan tekanan
yang tidak realistis untuk bekerja dalam jangka pendek, memaksakan
pengawasan yang sangat ketat, dan secara rutin memecat karyawan tidak
dapat mengikuti.

Definisi Stress kerja


Dalam menjalankan pekerjaan seseorang pekerja dapat mengalami stress
kerja. Istilah beban kerja yang berlebihan serta desakan waktu mengakibatkan
karyawan menjadi tertekan dan stress. Beberapa tekanan kerap kali berasal dari
penyelia, sehingga kualitas penyelia yang jelek bisa mengakibatkan stress terhadap
karyawan. Penyelia yang otokratik, wewenang pekerjaan yang tidakjelas
merupakan contoh lain dari sumber stress kerja yang dialami oleh karyawan.
Greebreg dalam Kristanto (2007) mendefinisikan stress kerja sebagai kombinasi
antara sumber –sumber stress pada pekerjaan, karakteristik individual, dan stress di
luar organisasi, yang mempengaruhi emosi, proses, berpikir, dan kondisi seorang
karyawan. Stress yang terlalu hasilnya dapat mengancam kemampuan seseorang
untuk menghadapi lingkungan. sebagai hasilnya, pada diri karyawan berbagai
macam gejala stress dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka. Sehingga orang
yang mengalami stress kerja bias menjadi gugup dan merasakan kekhawatiran
kronis. Mereka sering menjadi mudah marah dan agresif, tidak dapat rileks atau
menunjukkan sikap yang tidak kooperatif (Veithzal et.al.,2009).
Siagian (2008) menyatakan bahwa stress merupakan kondisi ketengangan
yang berpengaruh empsi, jalan pikiran, dan kondisi fisik seseorang. Stress yang
tidak bisa diatasi baik biasanya lingkunganya, baik dalam lingkungan pekerjaan
maupun lingkungan luarnya. Artinya, karyawan yang bersangkutan akan
menghadapi berbagai gejala negatif yang pada gilirannya berpengaruh pada prestasi
kerja.
Stress di tempat kerja akhir-akhir ini telah menjadi masalah yang serius bagi
manajemen perusahaan di dalam dunia bisnis (Qureshi et.al., 2013)karyawan
sering dihadapi dengan berbagai masalah dalam perusahaan sehingga sangat
mungkin untuk terkena stress. Studi penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
paille (2011) menunjukkan hasil bahwa stress kerja mampu menurunkan kondisi
fisik seseorang di tempat kerja, meningkatkan tekanan psikologis di tempat kerja,
mendorong kekerasan antara rekan-rekan dan menyebabkan kelelahan yang
berlebihan. Stress kerja akan muncul apabila
disuatu titik karyawan merasa tidak dapat lagi memenuhi tuntutan-tuntutan
pekerjaan. Dalam jangka panjang, karyawanyang tidak dapat menahan stress kerja,
karyawan tidak akan mampu lagi bekerja di perusahaan terkait. Pada tahap yang
semakin parah, stress bias membuat karyawan menjadi sakit atau bahkan akan
mengundurkan diri (Manurung & Ratnawati, 2012).
Menurut Hasibun (2006), stress kerja adalah sejumlah aktivitas fisik dan
mental yang dilakukan seseorang untuk melakukan sebuah pekerjaan, maka dari itu
bekerja merupakan salah satu bentuk ragam dari segala aktivitas hidup manusia
dalam memenuhi kebutuhan, dimana setiap orang akan melakukan produktivitas
tinggi dengan menghadapkan pencapaian status, keadaan yang lebih baik serta
mencapai kondisi yang memuaskan.
Stress kerja dapat menimbulkan konsekuensi pada individu pekerja. Baik
secara fisiologis, psikologis, dan perilaku. Stress kerja dialami secara terus menerus
dan tidak terkendali dapat menyebabkan terjadinya burnout yaitu kombinasi
kelelahan secara fisik, psikis dan emosi. Bagi organisasi stress di tempatkerja dapat
berakibatkan pada rendahnya kepuasan kerja, kurangnya komitmen terhadap
organisasi, terhambatnya pembentuk emosi positif, pengambilan keputusan yang
buruk, rendahnya kinerja dan tingginya keinginan untukberpindah. Stress di tempat
kerja pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya kerugian finansial pada
organisasi yang tidak sedikit jumlahnya (saragih, 2010).

Dampak Kepuasan kerja


Dampak perilaku dari kepuasan dan ketidakpuasan kerja tidak hanya
meliputi variabel kerja, hingga kerja dan perpindahan, tetapi juga variable nonkerja
seperti kesehatan dan kepuasan hidup (priansa, 2017).
Hubungan penelitian membuktikan bahwa ada pengaruh kepuasan kerja
terhadap kinerja, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hingga
membuktikan bahwa kepuasan kerja berkaitan dengan motivasi kerja yang ada
akhirnya meningkatkan kinerja. Hubungan juga ada yang membuktikan bahwa
kepuasan kerja dan kinerja akan lebih tinggi pada pekerjaan yang menghargai
kinerja yang bagus ketimbangan pekerjaan yang tidak memberikan penghargaan.
Dengan demikian karyawan yang memiliki kinerja baik akan mendapatkan
penghargaan itu menyebabkan kepuasan kerja.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja


Psikologi industri & organisasi telah mempelajari beberapa faktor-faktor
lingkungan dan pribadi yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja. Faktor
lingkungan adalah persyaratan pekerjaan, beberapa banyak yang akan di bayarkan
dan bagaimana itu dapat mempengaruhi kehidupan pekerjaan diluar tempat kerja.
Sedangkan faktor-faktor pribadi adalah jenis kelamin, usia dan etnik pekerja
(Bernstein, 2010) kepuasan kerja itu sendiri adalah sesuatu yang kompleks dan sulit
untuk diukur keobjektivitasannya. Kepuasan kerja dipengaruhi oleh rentang yang
luas dari variable-variabel yang berhubungan dengan faktor-faktor individu, sosial,
budaya, organisasi, dan lingkungan

Dampak keinginan Berpindah


Keinginan berpindah kerja pada karyawan dapat berdampak pada organisasi
yang pada akhirnya keputusan karyawan benar-benar meninggalkan organisasi.
Karena keinginan untuk berpindah tersebut berasal dari individu sendiridan bukan
merupakan keinginan organisasi atau perusahaan (Dwiningtyas 2015). Beberapa
dampak yang akan terjadi pada organisasi akibat pergantian karyawan,
antara lain meningkatnya potensi biaya perusahaan, masalah prestasi masalah pola
komunikasi dan, menurunnya semangat kerja, strategi- strategi pengendalian yang
kaku, hilangnya biaya-biaya peluang (Manurung dan Ratnawati,2013). Dharma
(2013) menyebutkan dampak berpindah karyawan bagi perusahaan adalah:

  1. Biaya penarikan Karyawan menyangkut waktu dan fasilitas untuk
    wawancara dalam proses seleksi karyawan, penarikan dan mempelajari.
  2. Biaya latihan menyangkut waktu pengawas departemen personalia dan
    karyawan yang dilatih. Apa yang dikeluarkan buat karyawan lebih kecildari
    yang dihasilkan karyawanbaru tersebut.
  3. Tingkat kecelakaan para karyawan baru, biasanya cenderung tinggi.
  4. Adanya produksi yang hilang selama masa pergantian karyawan.
  5. Peralatan produksi yang tidak digunakan sepenuhnya.
  6. Banyak pemborosan karena adanya karyawan baru.
  7. Perlu melakukan kerja lembur.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keinginan berpindah


Faktor-faktor yang mempengaruhi keinginan berpindah cukup kompleks
dan saling untuk berkaitan satu sama lain. Diantara faktor-faktor tersebut yang akan
dibahas antara lain sebagai berikut (Novliadi, 2007).

  1. Usia
    Tingkat keinginan untuk berpindah yang cenderung lebih tinggi pada
    karyawan berusia muda disebabkan karena memiliki keinginan untuk
    mencoba-coba pekerjaan atau organisasi kerja serta ingin mendapatkan
    keyakinan diri lebih besar melalui cara coba-coba tersebut. Hal ini juga
    didukung oleh Chen dan Chan (2008), bahwa keinginan berpindah lebih
    kuat pada karyawan dengan masa kerja yang lebih pendek dan lebih kuat
    pada karyawan yang lebih muda dari pada karyawan yang lebih tua.
  2. Lama Kerja
    Semakin lama masa kerja semakin rendah kecenderungan untuk keinginan
    berpindah lebih banyak terjadi pada karyawan dengan masa kerja lebih
    singkat.Interaksi memungkinkan keinginan berpindah.
  3. Tingkat Pendidikan dan intelegensi
    Mereka yang mempunyai tingkat intelegensi tidak terlalu tinggi akan
    memandang tugas-tugas yang sulit sebagai tekanan dan sumber kecemasan.
    Iamudah merasa gelisah akan tugas dan tanggungjawab yang diberikan
    padanya dan merasa tidak nyaman. Sebaliknya mereka mempunyai tingkat
    intelegensi yang lebih tinggi akan merasa cepat bosan dengan pekerjaanpekerjaan monoton. Mereka akan berani keluar mencari pekerjaan baru
    daripada mereka yang tingkat pendidikannya terbatas, karena kemampuan
    intelegensinya terbatas pula.
  4. Keterikatan terhadap perusahaan
    Karyawan yang mempunyai rasa keterkaitan yang cukup kuat terhadap
    perusahaannya berarti mempunyai dan membentuk perasaan memiliki
    (Sense of belonging), rasa aman, efikasi, tujuan dan arti hidup serta
    gambaran diri positif. Akibat secara langsung adalah menurunya dorongan
    diri untuk berpindah pekerjaan dari perusahaan.

Definisi Keinginan Berpindah


Keinginan berpindah dapat diartikan sebagai pergerakan tenaga kerja keluar
dari organisasi. Keinginan berpindah menurut Robbins dan Judge (2011) adalah
tindakan pengunduran diri secara permanen yang dilakukan oleh karyawan baik
secara sukarela ataupun tidak secara sukarela. keinginan berpindah dapat berupa
pengunduran diri, berpindah ataupun keluar unit organisasi, pemberhentian atau
kematian anggota organisasi. Culpeper (2011) menyatakan bahwa keinginan
berpindah merupakan prediktor terbaik untuk mengidentifikasi secara perilaku
keinginan yang akan terjadi pada karyawan suatu organisasi.
Keinginan berpindah pada karyawan dapat dipengaruhi oleh faktor
kepuasan kerja yang dirasakan di tempat kerja (Abdillah, 2012). Sebagai aspek
yang cukup menarik perhatian adalah mendeteksi faktor-faktor motivasional yang
akan dapat mengurangi niat karyawan untuk meninggalkan organisasi, niat bentuk
pindah yang kuat pengaruhnya memerlukan biaya yang besar dalam bentuk
kerugian yang besar akan membutuhkan tenaga ahli, yang mungkin juga
memindahkan suatu spesifik dalam perusahaan kepada pesaing (Carmeli dan
Weisberg, 2006).

Unsur-unsur Iklim Orginasasi


Menurut Panuju (2001) iklim organisasi meliputi :
a. Tanggung jawab tingkat pendelegasian yang dialami pegawai.
b. Standar, yakni harapan tentang kualitas kerja pegawai.
c. Imbalan, pengakuan dan penghargaan atas kinerja dan penolakan
terhadap penyimpangan kerja.
d. Keramahan semangat tim, persaudaraan, saling mempercayai penuh
kejujuran.
e. Kesiapan teknologi. Penyempurnaan metode kerja.
f. Komunikasi terbuka, kecukupan informasi dan terbuka bagi saran- saran.

Pendekatan dalam Iklim Organisasi


James dan Jones (Ruliana, 2014) membagi iklim organisasi dalam 3 (tiga)
pendekatan, yaitu :
a. The Multiple Measurement-Organizational Atribute Approach
Pendekatan ini memandang bahwa iklim organisasi adalah serangkaian
karakteristik deskriptif dari organisasi yang mempunyai tiga sifat,
yaitu: relatif tetap selama periode tertentu, berbeda antara organisasi
satu dengan organisasi lainnya, serta mempengaruhi perilaku orang
yang berada dalam organisasi tersebut. Faktor-faktor utama yang
mempengaruhi adalah ukuran, struktur, kompleksitas sistem, gaya
kepemimpinan, dan arah tujuan organisasi.
b. The Perseptual measurement – organizational attribute approach
Pendekatan ini juga memandang iklim organisasi sebagai atribut
organisasi, tetapi pendekatan ini lebih menekankan penggunaan
pengukuran persepsi daripada pengukuran secara obyektif seperti
ukuran dan strukturorganisasi.
c. The Perseptual Measurement-Individual Approach
Pendekatan ini memandang iklim sebagai serangkaian ringkasan atau
persepsi global yang mencerminkan sebuah interaksi antara kejadian
yang nyata dalam organisasi dan persepsi terhadap kejadian tersebut.
Pendekatan ini menekankan pada atribut organisasi yang nyata ke
sebuah ringkasan dari persepsi individu. Dengan pendekatan ini,
variabel intervensi yang disebabkan oleh kejadian-kejadian baik yang
dialami oleh individu maupun organisasi dapat mempengaruhi perilaku
individu-individu tersebut. Oleh karena itu, iklim organisasi dapat
berlaku sebagai variabel bebas maupun terikat

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Iklim Organisasi


Stringer (Wirawan,2008) mengemukakan faktor-faktor penyebab iklim
organisasi sebagai berikut, yaitu:
a. Lingkungan eksternal
Industri atau bisnis mempunyai iklim organisasi umum yang sama. Misalnya, iklim organisasi umum perusahaan asuransi umumnya
sama. Demikian juga iklim organisasi pemerintah, sekolah dasar
mempunyai iklim organisasi yang sama. Kesamaan faktor tersebut
disebabkan faktor lingkungan eksternal.
b. Strategi organisasi
Kinerja suatu perusahaan tergantung pada strategi, energy, yang
dimiiki oleh karyawan untuk melaksanakan pekerjaan yang
diperlukan oleh strategi (motivasi), dan faktor-faktor lingkungan
penentu dari level energi tersebut. Strategi memengaruhi iklim
organisasi secara tidak langsung.

  1. Praktik kepemimpinan akan bervariasi, bergantung pada
    strategi yang dilaksanakan.
  2. Pengaturan organisasi akan dikembangkan untuk
    memperkuat strategi-strategi yang berbeda.
  3. Strategi jangka panjang akan mempunyai dampak terhadap
    kekuatan sejarah yang menentukan iklim organisasi.
    c. Pengaturan Organisasi
    Pengaturan organisasi mempunyai pengaruh paling kuat terhadap
    iklim organisasi.
    d. Kekuatan Sejarah
    Semakin tua umur suatu organisasi semakin kuat pengaruh
    kekuatan sejarahnya. Pengaruh tersebut dalam bentuk tradisi dan
    ingatan yang membentuk harapan anggota organisasi dan
    mempunyai pengaruh terhadap iklim organisasinya.

Dimensi Iklim Organisasi


Dimensi iklim organisasi Litwin dan Stringer (Hardjana,2006) adalah
sebagai berikut:

  1. Struktur (Structure)
    Dimensi ini berkaitan dengan tugas yang terorganisir dengan baik dan
    tujuan dirumuskan secara jelas, struktur juga memberikan batasan- batasan melalui peraturan, prosedur, kebijaksanaan dan praktek yang
    harus ditaati dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban mereka.
  2. Tanggung jawab (Responsibility)
    Dimensi ini berkaitan dengan rasa tanggung jawab yang harus dimiliki
    setiap anggota dalam melaksanakan tugas-tugasnya serta adanya rasa
    percaya adanya satu dengan lainnya maupun dengan atasan.
  3. Penghargaan (Reward)
    Dimensi ini berkaitan dengan penghargaan yang diperoleh anggota
    karena pekerjaan yang tealh dilaksanakan dengan baik, tidak hanya
    sekedar hukuman ketika terdapat kesalahan yang diperbuat oleh
    anggota akan tetapi juga dorongan untuk maju atau kritik yang
    membangun, termasuk juga kebijakan tentang promosi karir ataupun
    hal yang lain.
  4. Resiko (Risk)
    Dimensi ini berkaitan dengan pengetahuan anggota tentang resiko
    pekerjaannya dan anggotanya diberikan kesempatan untuk melakukan
    atau mengambil resiko dalam menjalankan tugas sebagai sebuah
    tantangan.
  5. Kekeluargaan (Warmth)
    Dimensi ini berkaitan dengan perlakuan atau perhatian yang baik dari
    atasan maupun anggota pada saat melaksanakan pekerjaannya. Serta
    adannya rasa kepedulian dari atasan maupun anggota lainnya dalam
    mendapatkan perlindungan dan pengayoman.
  6. Dukungan (Support)
    Dimensi ini berkaitan dengan dukungan yang positif yang dirasa dari
    atasan dan anggota didalam kelompoknya, penekanannya terhadap
    dukungan timbale balik dari atas dan di bawah. Jadi dimensi ini
    berbicara tentang adanya saling dukungan diantara sesame anggota
    yang setingkat maupun dukungan timbale balik (saling mendukung)
    antara anggota dan pimpinan sehingga terciptanya harmonisasi antar
    anggota organisasi.
  7. Standar (Standart)
    Dimensi ini berkaitan dengan penekanan yang dilakukan oleh pihak
    organisasi untuk melakukan yang terbaik agar memenuhi sasaran yang
    dapat dicapai berdasarkan target yang ditetapkan. Sasaran ini
    dibebankan pada individu maupun terhadap kelompok kerjanya.
  8. Konflik (Conflict)
    Dimensi ini menggambarkan bahwa atasan dan anggota lainnya mau
    bekerjasama dalam menyelesaikan konflik. Penekanannya adalah pada
    usaha penyelesaian masalah secara terbuka, daripada menutupi atau
    menghindarinya.
  9. Identitas (Identity)
    Dimensi ini berkaitan dengan memberikan pengetahuan anggota
    tentang tujuan serta misi organisasi, sehingga pada akhirnya ada rasa
    ketertarikan yang kuat dan loyalitas yang tinggi terhadap organisasi.
    Serta adanya rasa bangga dan rasa memiliki organisasi tersebut baik
    pada anggota maupun atasan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Kehidupan Kerj


Swammy, Nanjundeswaraswamy dan Rashmi (2015) mengemukakan 8
(Delapan) faktor yang mempengaruhi kualitas kehidupan kerja. Yaitu sebagai
berikut:
a. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja adalah tempat di mana seseorang bekerja. Lingkungan
ini adalah lingkungan sosial dan profesional di mana karyawan seharusnya
berinteraksi dengan sejumlah orang, dan harus bekerja sama dengan
koordinasi dengan satu atau sebaliknya. Kondisi kerja yang aman dan
sehat memastikan kesehatan yang baik, kelangsungan layanan,
menurunnya hubungan manajemen buruh yang buruk. Seorang pekerja
yang sehat mencatat produktivitas yang tinggi. Karyawan ceria, percaya
diri dan bisa membuktikan aset tak ternilai bagi organisasi jika lingkungan
kerja baik. Hal ini terdiri dari situasi kerja fisik dan mental yang aman dan
menentukan jam kerja yang masuk akal.
b. Budaya Organisasi dan Iklim
Budaya organisasi adalah seperangkat sifat dan iklim organisasi adalah
perilaku kolektif orang-orang yang merupakan bagian dari nilai, visi,
norma, dan lain-lain. Peluang promosi, promosi dan evaluasi penghargaan
yang digunakan keduanya berada di bawah kendali langsung dari sebuah
organisasi dan tunduk pada kebijakan organisasi.
c. Hubungan dan Kerjasama
Hubungan dan kerjasama adalah komunikasi antara manajemen dan
karyawan, mengenai keputusan di tempat kerja, konflik dan penyelesaian
masalah. Pekerjaan dan karir biasanya dikejar dalam kerangka organisasi
sosial dan sifat hubungan pribadi menjadi dimensi penting kualitas
kehidupan kerja. Penerimaan pekerja didasarkan pada keterampilan, sifat
terkait pekerjaan, kemampuan dan potensi tanpa mempertimbangkan ras,
jenis kelamin, penampilan fisik, dan lain-lain.
d. Pelatihan dan Pengembangan
Pelatihan dan pengembangan merupakan kegiatan organisasi yang
bertujuan untuk meningkatkan kinerja individu dan kelompok. Kualitas
kehidupan kerja dipastikan untuk pengembangan karyawan dan dorongan
yang diberikan oleh manajemen untuk melakukan pekerjaan, memiliki
kondisi yang baik untuk meningkatkan pemberdayaan dan keterampilan
pribadi.
e. Kompensasi dan Penghargaan
Kompensasi dan penghargaan adalah faktor motivasi. Pelaku terbaik diberi
penghargaan, dan ini membangun kompetisi di antara para karyawan
untuk bekerja keras dan mencapainya baik tujuan organisasi maupun
individu. Kepentingan ekonomi karyawan mendorong mereka untuk
bekerja dan kepuasan karyawan bergantung pada tingkat tertentu pada
kompensasi yang ditawarkan. pembayaran harus ditetapkan berdasarkan
pekerjaan yang dilakukan, keterampilan individu, tanggung jawab yang
dilakukan, kinerja dan prestasi.
f. Fasilitas
Fasilitas memainkan peran utama dalam aktualisasi tujuan dan sasaran
dengan memuaskan kebutuhan fisik dan emosional para karyawan.
Fasilitas termasuk layanan makanan, transportasi, keamanan, dan
sebagainya. Banyak pengusaha merasa beruntung dapat memberikan
alternatif pengaturan kerja bagi karyawan mereka. Inilah salah satu metode
untuk meningkatkan produktivitas dan semangat kerja karyawan.
Pengaturan kerja alternatif untuk karyawan termasuk jam kerja yang
fleksibel, lebih pendek atau tidak ada jalan buntu, dan lingkungan kerja
yang aman.
g. Kepuasan Kerja dan Jaminan Kerja
Kepuasan kerja dipengaruhi oleh desain pekerjaan. Pekerjaan yang kaya
akan elemen perilaku konstruktif seperti otonomi kerja, variasi tugas,
identitas, signifikansi kerja dan umpan balik turut berkontribusi pada
kepuasan karyawan. Jaminan kerja merupakan faktor lain yang menjadi
perhatian karyawan. Pekerjaan tetap memberikan keamanan kepada
karyawan dan meningkatkan kualitas kehidupan kerja mereka.
h. Otonomi Kerja
Karyawan diberi kebebasan pengambilan keputusan. Pekerja sendiri
merencanakan, mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan terkait
pekerjaan. Ini juga mencakup berbagai kesempatan bagi personil seperti
kemandirian di tempat kerja dan memiliki wewenang untuk mengakses
informasi terkait untuk tugas mereka

Dimensi Kualitas Kehidupan Kerja


Zin (2004) mengemukakan beberapa dimensi kualitas kehidupan kerja yaitu
sebagai berikut :
a. Pertumbuhan dan Pengembangan
Kesempatan untuk menggunakan berbagai keterampilan, melakukan
pekerjaan yang menantang.
b. Partisipasi
Kesempatan untuk terlibat dalam keputusan yang berkaitan dengan
pekerjaan.
c. Lingkungan Fisik
Adanya lingkungan kerja yang kondusif termasuk penjadwalan kerja.
d. Atasan
Hubungan dengan atasan dan saling pengertian.
e. Gaji dan tunjangan
Keadilan dan manfaat moneter yang memadai.
f. Relevansi sosial
Hubungan antara pekerjaan dan aspek kehidupan lainnya.
g. Integrasi tempat kerja
Sesama rekan kerja memiliki hubungan kekompakan dalam bekerja.

Harmonious Work Passion


Menurut Vallerand et al., (2003), passion didefinisikan sebagai
kecenderungan kuat seseorang untuk mencurahkan waktu dan energinya
terhadap sebuah aktivitas yang disukai atau dianggap penting. Selanjutnya,
mereka membagi konsep passion kedalam 2 dimensi, yaitu Obsessive
Passion dan Harmonious Passion. Namun, penelitian kali hanya fokus pada
HWP sebagai variabel yang menghubungkan konsep WOM dan IWB.
Secara umum, HWP dapat diartikan sebagai internalisasi mandiri
yang menggerakkan individu untuk melakukan aktivitas yang mereka sukai
(Vallerand et al., 2003). Dalam konteks pekerjaan, internalisasi otonom
terjadi ketika individu secara sukarela melakukan sebuah pekerjaan sebagai
aktivitas yang mereka anggap penting tanpa tujuan tertentu. Pengaruh dari
HWP membuat seseorang memiliki kebebasan untuk memilih melakukan
sebuah pekerjaan tertentu atau tidak (Vallerand et al., 2003). Sebagai akibat
dari kebebasan untuk memilih terlibat atau tidak dalam sebuah aktivitas,
HWP dianggap berkontribusi terhadap emosi positif karyawan. Hal tersebut
dijelaskan kembali oleh Mageau & Vallerand (2007) bahwa HWP memiliki
2 karakteristik utama, yaitu aktivitas yang membuat seseorang menjadi
bergairah secara harmonis terintegrasi secara otonom dan menyenangkan
bagi dirinya sendiri. Sejalan dengan hal tersebut, maka peneliti perlu
mengidentifikasi berbagai konsensus yang mempengaruhi proses
terciptanya HWP di tempat kerja

Teori Pendukung dan Well-Being Oriented Management


Berkaitan dengan pernyataan di atas, Job Demand-Resource
Concept juga menjadi salah satu faktor yang mendasari menjadi terciptanya
WOM. Teori ini menjelaskan bahwa setiap pekerjaan memiliki resiko
tersendiri yang berhubungan dengan stress kerja, diantaranya yaitu Job
Demand (tuntutan kerja) dan Job Resources (sumber daya pekerjaan)
(Bakker & Demerouti, 2007). Menurut Bakker & Demerouti (2007),
tuntutan kerja mengacu pada tujuan organisasi sehingga membutuhkan
upaya atau keterampilan yang menguras energi baik secara fisik, psikologis,
maupun sosial untuk menggapainya. Dilihat dari dampaknya secara
berkelanjutan, tuntutan kerja dapat menyebabkan keletihan yang memicu
stress di tempat kerja. Hal tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap
produktivitas karyawan, misalnya dalam berinovasi. Berkebalikan dengan
tuntutan kerja, sumber daya pekerjaan menjadi jawaban dalam
menyelesaikan permasalahan tersebut. Sumber daya pekerjaan dapat
mengurangi tuntutan pekerjaan, biaya fisiologis dan psikologis, serta
merangsang pertumbuhan, pembelajaran, dan perkembangan individu
(Bakker & Demerouti, 2007). Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan
antara kedua faktor di atas untuk membuat karyawan tetap bekerja secara
optimal.
Sejalan dengan Job Demand-Resource Concept, Guest (2017) juga
menyarankan organisasi untuk menetapkan kebijakan HRM yang
memberikan prioritas terhadap kesejahteraan karyawan. Terdapat tiga
alasan utama yang mendasari hal tersebut, yaitu atas dasar etika karena
kurangnya perhatian pemangku kepentingan terhadap kesejahteraan
karyawan; tekanan kerja yang mengancam kesejahteraan karyawan; serta
manfaat dari praktik berorientasi pada kesejahteraan dalam hal peningkatan
kinerja dan pengurangan biaya (Guest, 2017). Menurut Guest (2017),
kesejahteraan karyawan tercermin melalui psikologis, kesehatan fisik, dan
hubungan sosial yang positif di tempat kerja. Selain itu, Guest (2017) juga
mengusulkan pendekatan terkait praktik berorientasi kesejahteraan perlu
dipromosikan untuk studi lebih lanjut di masa depan.
Atas dasar pandangan di atas, maka Salas-Vallina et al., (2020)
mengusulkan sebuah model sebagai pengembangan dari praktik HRM
terhadap kesejahteraan karyawan, yaitu Well-Being Oriented Management
(WOM). Praktik ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar psikologis,
fisik, dan sosial karyawan. Untuk memenuhi aspek tersebut, Salas-Vallina
et al., (2020) membagi praktik WOM ke dalam empat poin yaitu
memperkaya (penggunaan variasi keterampilan, signifikansi tugas, umpan
balik, refleksi dan work-life balance), memperkuat (pelatihan,
pendampingan, toleransi terhadap kesalahan, keamanan, gaji yang sesuai,
pengakuan, kesehatan dan keselamatan kerja), menghubungkan (kerja tim,
kemitraan, interaksi eksternal), dan memberdayakan (otonomi, hak
bersuara, representasi kolektif) karyawan. Berikutnya, akan dijelaskan lebih
lanjut terkait konsep WOM dan pemenuhannya terhadap aspek psikologis,
fisik, dan sosial yang mendorong kesejahteraan.
Merujuk pada teori Job Characteristics Model, dijelaskan bahwa
tingkat dimensi pekerjaan yang semakin terstruktur akan meningkatkan
kepuasan, motivasi, dan kinerja karyawan (Hackman, 1980). Karyawan
cenderung menghargai pekerjaan mereka ketika proses pelaksanaanya lebih
terstruktur. Maka dari itu, praktik WOM dalam hal pengayaan tugas
memiliki pengaruh positif terhadap motivasi sehingga berdampak pada
kesejahteraan psikologis karyawan (Salas-Vallina et al., 2020)

Innovative Work Behavior dan Human Resource Management


Keberhasilan sebuah organisasi bergantung pada tingkat kinerja
inovatif di dalamnya. Brem et al., (2016) mendefinisikan kinerja inovatif
sebagai akumulasi dari kegiatan inovatif dalam sebuah industri. Hal tersebut
diperkuat dengan beberapa konsensus yang menunjukkan bahwa sumber
daya utama dalam menggapai kesuksesan organisasi adalah inovasi (AlEssa
& Durugbo, 2021), khususnya dalam menciptakan keunggulan kompetitif
(Anderson et al., 2014; Aziz & Samad, 2016). Terkait dengan pernyataan
tersebut, De Jong & Den Hartog (2007) mengidentifikasi Innovative Work
Behavior (IWB) sebagai kunci bagi organisasi untuk lebih berinovatif.
Menurut Janssen (2000), IWB merupakan sekumpulan kegiatan untuk
menciptakan, memperkenalkan, dan menerapkan ide – ide baru dengan
sengaja di tempat kerja yang berkontribusi pada kinerja. Singkatnya, IWB
berkaitan erat dengan kreativitas karyawan untuk menghasilkan manfaat di
tempat kerja (Bos-Nehles et al., 2017). Untuk memahami istilah ini lebih
lanjut, organisasi perlu mengidentifikasi berbagai faktor yang
mempengaruhi terciptanya IWB di tempat kerja.
Zhou & George (2001) mengidentifikasi lingkungan kerja sebagai
faktor yang mempengaruhi perilaku inovatif seseorang. Ketika karyawan
merasakan lingkungan kerja yang mendukung, maka respon terhadap
perilaku inovatif meningkat. Selain itu, persepsi terhadap iklim organisasi
juga memiliki keterkaitan dengan IWB karena peran penting manajer di
dalamnya untuk menciptakan / memperkuat hubungan sosial serta
memberikan dukungan langsung kepada karyawan di berbagai situasi
(Wojtczuk-Turek & Turek, 2016). Oleh karena itu, dukungan manajemen
atau praktik human resource management (HRM) menjadi faktor penting
dalam meningkatkan perilaku inovatif (Parker et al., 2006)
Praktik HRM dianggap sebagai sumber daya yang mendorong
kinerja inovatif di sebuah organisasi. Tingkat kinerja inovatif akan
berbanding lurus dengan pengembangan praktik HRM di tempat kerja
(Berber & Lekovic, 2018). Terkait dengan hal tersebut, Bos-Nehles et al.,
(2017) mengidentifikasi tujuh praktik HRM yang dikategorikan sebagai
aspek terbaik dalam merangsang IWB. Praktik – praktik tersebut meliputi
pengembangan dan pelatihan, penghargaan, keamanan kerja, otonomi,
komposisi tugas, tuntutan pekerjaan dan tekanan waktu, serta umpan balik.
Selain itu, terdapat salah satu pendekatan yang telah dikembangkan untuk
menjawab keterkaitan antara perilaku inovatif dengan praktik HRM, yaitu
Job Demand-Resource Concept. Secara umum, teori ini menjelaskan bahwa
organisasi harus menyediakan sumber daya (praktik – praktik HRM) yang
cukup bagi karyawan agar mereka memiliki energi dalam menyelesaikan
setiap tuntutan pekerjaan, termasuk proses inovasi.

Self Determination Theory


Self Determination Theory merupakan salah satu teori motivasi yang
dikembangkan oleh Edward L. Deci dan Richard Ryan tahun 1985. Teori
ini menjelaskan tentang pentingnya pemenuhan kebutuhan psikologis
bawaan seperti kompetensi, otonomi, dan keterkaitan sebagai konstruksi
dasar motivasi instrinsik seseorang (Deci & Ryan, 2000). Motivasi
instrinsik ini kemudian mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu
secara mandiri (Gagné et al., 2014) seperti mencari, mengembangkan, dan
menerapkan ide atau pengetahuan baru yang pada akhirnya menuju
ke perilaku inovatif. Secara umum, teori ini menjadi payung besar yang
akan direpresentasikan melalui variabel dalam penelitian ini karena
keterkaitannya pada kesejahteraan, perilaku otonom, dan kemauan untuk
menemukan hal-hal baru

Faktor-Faktor Pendukung Memahami Perilaku Organisasi


Menurut Timotius Huda (2018:15) faktor-faktor pendukung perilaku
organisasi adalah sebagai berikut:

  1. Keberagaman Kebutuhan
    Merupakan suatu kondisi untuk memahami dan menyampaikan ide-ide
    yang merupakan suatu tolak ukur mencapai keberhasilan yang harus
    dipahami disuatu organisasi.
  2. Perkembangan Zaman
    Perkembangan zaman diera ini harus dibarengi dengan adanya
    perubahan yang mana dapat membawa organisasi menjadi kuat dalam
    menghadapi persaingan yaitu dengan menggunakan teknologi digital,
    mesin-mesin dan alat-alat pendukung lainnya.
  3. Pengorganisasian
    Penyesuaian bidang atau keahlian individu dalam bekerja yang tepat
    atau sesuai akan meningkatkan kinerja sehingga organisasi harus lebih
    memperhatikan penempatan struktur organisasi yang sesuai sehingga
    tujuan organisasi dapat dicapai.
  4. Kesetiaan
    Loyalitas individu terhadap perusahaan memang merupakan hal yang
    harus diperhatikan, karena indivu didalam organisasi dapat menetukan
    berhasil atau tidaknya suatu organisasi sehingga harus diperhatikan
    fasilitas, penunjang kerja, dan gaji yang sesuai dengan hak yang
    seharusnya diperoleh

Pengertian Perilaku Organisasi


Menurut Badeni (2014:3) mengemukakan bahwa perilaku organisasi
adalah suatu bahasan yang memperhatikan tingkah laku individu atau
kelompok yang berada dalam organisasi yang mana dapat meningkatkan
kinerja yang efektif dan efisien sehingga tujuan organisasi dapat terwujud.
Menurut Thoha dalam Timotius Huda (2018:8) menyatakan bahwa
perilaku organisasi merupakan suatu aspek-aspek tingkah laku yang
diperhatikan didalam suatu kelompok yang berada didalam suatu
organisasi.
Menurut Robbins dalam Timotius Huda (2018:9) menyatakan bahwa
perilaku organisasi merupakan suatu ilmu yang mempelajari dampoak
adanya pengaruh yang ditimbulkan individu, kelompok dan struktur
organisasi terhadap perilaku orang-orang yang mungkin terlibat
didalamnya untuk kemudian dapat disimpulkan suatu pengetahuan yang
mana dapat meningkatkan efektivitas organisasi.
Kesimpulan dari definisi diatas bahwa pengertian perilaku
organisasi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tingkah laku suatu
kelompok, atau individu, mengenai keterlibatan individu didalam suatu
organisasi yang mana dapat meningkatkan tujuan organisasi.

Indikator Kemampuan Teknologi Informasi


Indikator teknologi informasiMenurut Robbins dan Judge (2009:45)

  1. Knowledge, pengetahuan merupakan memahami arti penting dari
    pekerjaan dalam menyelesaikan pekerjaan menggunakan teknologi
    informasi dengan memberikan manfaat dalam pekerjaanya.
  2. Ability, yaitu kemampuan pemakai teknologi informasi
  3. Skill, yaitu keahlian yang dimilki pegawai dalam meningkatkan kinerja
    karyawan

Fungsi Kemampuan Teknologi Informasi


Menurut Sutarman (2009:18) menyatakan bahwa teknologi informasi
mempunyai fungsi adalah sebahgai berikut:
a. Menangkap (Capture) : proses memasukan data melalui keyboard,
scanner, dll.
b. Mengolah (Processing) : memproses data yang masuk menjadi
informasi
c. Menghasilkan (Generating): mengorganisasikan informasi dalam bentuk
laporan yang berguna. Misal table, grafik dll
d. Menyimpan (Storage) : menyimpan atau merekam informasi dari data
agar mudah apabila ingin dibutuhkan kembali.
e. Mencari kembali (Retrival): menelusuri dan mendapatkan kembali data
yang telah disimpan sebelumnya untuk keperluan lain.
f. Transmisi (Transmission) : proses mengirim informasi data dari lokasi
lain melalui jaringan computer.
Menurut Sutarman (2009:17) fungsi kemampuan teknologi informasi
adalah:
a. Sebagai suatu acuan dalam memecahkan masalah.
b. Sebagai sarana untuk membukan kreativitas.
c. Sebagai cara meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam melakukan
pekerjaan

Pengertian Kemampuan Teknologi Informasi


Menurut Azhar Susanto (2010:290) menyatakan bahwa kemampuan
teknologi informasi merupakan suatu cara dalam menggunakan alat-alat
teknologi informasi diri dalam menjalankan atau mengerjakan suatu
pekerjaan yang ditujukan dalam kemampuan menggunakan teknologi
informasi di dalam bekerja.
Menurut Robbins (2009:57) menyatakan bahwa kemampuan teknologi
informasi merupakan suatu hal yang menjadi landasan individu didalam
mengerjakan tugas atau pekerjaan yang dapat membantu pekerjaan dengan
cara memahami cara mengoperasikan dan menjalankan teknologi informasi
yang sekarang menjadi suatu tuntutan bagi perkembangan saat ini.
Kesimpulan dari pernyataan tentang kemampuan teknologi informasi
merupakan proses yang dimilki oleh pegawai yang mana harus memilki suatu
kecakapan, kemampuan dan keahlian dalam menjalankan suatu teknologi
informasi karena dengan adanya kemampuan teknologi informasi maka
pekerjaan yang dikerjakan menjadi mudah karena apabila pegawai merasa
mempunyai kemampuan dalam menjalankan pekerjaan dapat membuat
pekerjaan menjadi selesai dengan mudah dan cepat sehingga dapat
meningkatkan kepuasan didalam pekerjaannya.

Karakteristik Kompetensi


Menurut Spencer dalam Sutrisno (2011:206)

  1. Motivies (Motif) merupakan suatu cara mencirikan kompetensi melalui
    tindakan dengan cara berfikir dalam mengambil suatu tujuan
    pekerjaannya yang mana karyawan memberikan semangat dan tantangan
    pada dirirnya agar memberikan tanggung jawab yang dapat memberikan
    kepuasan dalam bekerja.
  2. Traits (watak) merupakan suatu dasar yang berasal dari dalam diri
    seseorang terhadap perilaku dalam menyelesaikan pekerjaan
  3. Self concept (sikap dan nilai-nilai) merupakan suatu cara untuk
    mengidentifikasi seseorang melalui tes terhadap responden untuk
    mengetahui nilai atau sikap yang dimiliki oleh seseorang untuk sesuatu
    yang menarik terhadap sikap karyawan.
  4. Knowledge (Pengetahuan) merupakan pengetahuan yang dimilki
    seseorang berkaitan dengan ketrampilan keahlian terhadap suatu bidang
    pekerjaan.
  5. Skills (kemampuan) merupakan penyelesaian tugas yang dilakukan oleh
    seseorang yang didukung oleh kemampuan fisik maupun mental yang
    diharuskan mempunyai hal tersebut.

Pengertian Kompetensi


Menurut Busro (2018:26) kompetensi merupakan suatu kemampuan yang
dimilki oleh seseorang yang menjadi faktor penentu dalam menyelesaikan
pekerjaan dengan pengetahuan, keterampilan dan faktor-faktor individu
seperti sikap seseorang dalam menilai suatu pekerjaan.
Menurut Sutrisno (2011:202) kompetensi berasal dari kata competence
merupakan yang sudah dimiliki oleh seseorang yang mana menjadi bagian
dari dirinya seperti kemampuan, wewenang dan kecakapan sebagai dasar
keunggulan kemampuan menyelesaikan semua pekerjaan yang telah
diterapkan.
Menurut Rivai (2010:298) menyatakan bahawa kompetensi merupakan
suatu kemampuan, keterampilan serta kecakapan yang dimiliki oleh seseorang
dalam menjalankan pekerjaannya yang mana dapat membantu untuk
memcahkan masalah yang ada dipekerjaannya.