Hubungan antara kepemilikan asing terhadap kinerja perusahaan (skripsi dan tesis)

Sekarang ini banyak perusahaan-perusahaan besar di Indonesia yang menjual sahamnya kepada investor asing, dan menjadi PMA (Perusahaan milik asing). Hal tersebut mengasumsikan pandangan positif bahwa penjualan tersebut akan meningkatkan kinerja sekaligus dapat menciptakan kompetisi yang lebih sehat di Indonesia. Salvatore (2006 : 27) menyatakan bahwa sebuah portofolio yang mengandung saham-saham domestik dan asing menawarkan risiko yang lebih rendah dan tingkat pengembalian yang lebih tinggi bagi investornya dibanding portofolio yang hanya mengandung saham-saham domestik. Berkaitan dengan kepemilikan asing, dalam penelitian Setiawan, dkk (2006 : 41) menghasilkan kesimpulan bahwa kepemilikan asing dalam perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan.

Hubungan antara kepemilikan manajerial terhadap kinerja perusahaan (skripsi dan tesis)

Semakin besar kepemilikan manajerial maka manajemen akan cenderung berusaha meningkatkan kinerja untuk kepentingan para pemegang saham dan dirinya sendiri, selain itu dapat mendorong manajer untuk menciptakan adanya kinerja perusahaan yang optimal, serta dapat memotivasi manajer untuk lebih bertanggung jawab dan juga lebih berhati-hati dalam bertindak, sehingga masalah keagenan dapat diminimalisasi. Kepemilikan saham manajerial dalam perusahaan dapat dipandang sebagai cara untuk menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara pemegang saham diluar manajemen, sehingga masalah keagenan dapat diasumsikan akan hilang apabila seorang manajer adalah juga sebagai seorang pemilik (Jansen dan Meckling, 1976

Hubungan antara kepemilikan publik terhadap kinerja perusahaan (skripsi dan tesis)

Untuk mencapai suatu tujuan utama suatu perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaannya, diperlukan pendanaan yang dapat diperoleh baik melalui pendanaan internal maupun pendanaan eksternal. Masalah pendanaan berpengaruh pada tingkat kapitalisasi modal. Tingkat kapitalisasi modal yang rendah merupakan salah satu alasan kegagalan perusahaan (Gladstone, 2010 : 20) Hal ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan di Indonesia perlu memperbesar struktur kepemilikan publik untuk mendorong agar pihak manajemen perusahaan lebih transparan dan ada keinginan untuk melakukan penyebaran kepemilikan, sehingga perusahaan tidak dikendalikan oleh kalangan keluarga tertentu saja.

Kinerja Perusahaan (skripsi dan tesis)

Kinerja perusahaan merupakan penetuan dari beberapa ukuran tertentu yang dapat mengukur suatu keberhasilan suatu entitas dalam memperoleh laba yang optimal. Kinerja merupakan sesuatu hal yang sangat penting yang harus di gapai oleh perusahaan dimanapun, karena kinerja dapat dikatan sebagai cerminan dari kemampuan perusahaan dalam mengalokasikan sumber dayanya. Tujuan dari penilaian kerja adalah untuk memotivasi para pekerja atau karyawannya dalam mencapai sasaran dan tujuan organisasi di suatu perusahaan dan dalam memenuhi standar perilaku tertentu yang sudah ditetapkan atau disepakati sebelumnya agar membedakan hasil sebelumnya dan tundakan yang diinginkan. Standar perilaku dapat berubah sebuah kebijakan manajemen atau rencana formal yang telah dituangkan dalam anggaran perencanaan untuk kinerja perusahaa. Penilaian kinerja merupakan suatu bentuk refleksi kewajiban dan tanggung jawab untuk melaporkan kinerja, aktivitas dan sumber daya yang telah dipakai, dicapai dan dilakukan. Untuk menilai apakah tujuan yang telah ditetapkan sudah dicapai bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Hal ini karena hal tersebut menyangkut aspek-aspek manajemen yang tidak sedikit jumlahnya. Karena itu, kinerja perusahaan dapat dinilai melalui berbagai macam indikator atau variabel untuk mengukur keberhasilan perusahaan. Namun, secara umum penilaian kinerja perusahaan berfokus pada informasi kinerja yang berasal dari laporan keuangan. Kinerja perusahaan secara umum biasanya akan direpresentasikan dalam laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut bermanfaat untuk membantu investor, kreditor, calon investor dan para pengguna lainnya dalam rangka membuat keputusan investasi, keputusan kredit, analisis saham serta menentukan prospek suatu perusahaan di masa yang akan datang. Melalui penilaian kinerja, maka perusahaan dapat memilih strategi dan struktur keuangannya. Berikut ini adalah beberapa rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan (Ang, 1997): 1. Rasio likuiditas Rasio likuiditas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial yang berjangka pendek tepat pada waktunya. 2. Rasio aktivitas Rasio aktivitas adalah rasio yang menunjukkan bagaimana sumber daya telah dimanfaatkan secara optimal, kemudian dengan cara membandingkan rasio aktivitas dengan sadar industri, maka dapat diketahui tingkat efisiensi perusahaan dalam industri. 3. Rasio profitabilitas Rasio profitabilitas dapat mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba baik dalam hubungan penjualan, aset maupun laba bagi modal sendiri. Rasio profitabilitas dibagi menjadi enam antara lain: Gross profit margin (GRM), net profit margin (NPM), operating return on assets (OPROA), return on assets (ROA), return on equity (ROE), operating ratio (OR). 4. Rasio solvabilitas (Leverage) Financial leverage menunjukkan proporsi atas penggunaan utang untuk membiayai investasinya. Perusahaan yang tidak mempunyai leverage berarti menggunakan modal sendiri 100%. 5. Rasio Pasar (Market ratio) Rasio ini menunjukkan informasi penting perusahaan yang diungkapkan dalam basis per saham. Rasio nilai pasar perusahaan memberikan indikasi bagi manajemen mengenai penilaian investor terhadap kinerja perusahaan. Informasi kinerja perusahaan, terutama profitabilitas, diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan. Informasi kinerja bermanfaat untuk memprediksi kapasitas perusahaan dalam arus kas dari sumber daya yang ada dan juga untuk perumusan perimbangan tentang efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya (IAI, 2001). Menurut Riyanto (2001), return on assets (ROA) merupakan salah satu bentuk dari rasio profitabilitas untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasional perusahaan agar menghasilkan keuntungan.

Kepemilikan Asing (ASING) (skripsi dan tesis)

Kepemilikan asing dapat didefinisikan sebagai proporsi saham biasa dalam perusahaan yang dimiliki oleh perorangan, badan hukum, pemerintah serta bagian-bagiannya yang berstatus luar negeri. Kepemilikan asing diharapkan menjadi salah satu cara meningkatkan teknologi perusahaan dalam negara berkembang, melalui impor langsung dari modal baru dan teknologi baru (Benfratello and Sembenelli, 2002; Kozlov et al, 2000 dalam Haat, 2008). Kepemilikan asing dalam perusahaan merupakan pihak yang dianggap concern terhadap peningkatan good corporate governance (Simerly & Li, 2001; Fauzi, 2006 dalam Nur’aeni, 2010). Penelitian sebelumnya Patibandla (2007) dalam Nur’aeni (2010) meneliti perusahaan yang menggunakan data dari tahun 1989-1999, dan hasilnya menunjukkan bahwa kepemilikan asing memiliki hubungan positif dengan kinerja perusahaan, tanpa akuntansi untuk perusahaan yang tidak diketahui heterogenitas. Penelitian lainnya yaitu Douma dkk (2003) dalam Nur’aeni (2010) mengkaji bagaimana struktur kepemilikan, yaitu peran beda yang dinainkan oleh investor individu asing dan pemegang saham asing dalam mempengaruhi kinerja perusahaan, dengan menggunakan data tingkat perusahaan India tahun 2002. Penelitian tersebut menemukan bahwa perusahaan-perusahaan asing memberikan sebuah efek yang positif terhadap kinerja perusahaan. Struktur kepemilikan asing merupakan hal penting dalam menilai kinerja perusahaan, jika kinerja perusahaan baik maka investor asing akan menanamkan modalnya di perusahaan tersebut. Oleh karena itu, semakin besar proporsi kepemilikan saham asing dalam suatu perusahaan maka kinerja suatu perusahaan dapat dikatakan meningkat.

Kepemilikan Manajerial (MANJ) (skripsi dan tesis)

Dalam suatu pengambilan keputusan untuk memaksimalkan sumber daya yang dimilik oleh entitas haruslah diambil dari seorang manajer dalam menjalankan bisnisnya. Jika para manajer tersebut bertindak hanya untuk kepentingan individu atau kepentingan sendiri maka dapat menyebabkan suatu ancaman bagi entitas tersebut. Para investor dan manajer harus menyadari akan kepentingan kewajiban masing-masing demi tercapainya suatu tujuan perusahaan yang telah disepakati sebelumnya. Kepemilikan manajerial menunjukkan peran ganda seorang manajer. Adanya peran ganda ini, maka manajer akan mengoptimalkan keuntungan dan tidak sedikitpun menginginkan perusahaan mengalami kesulitan atau bahkan perusahaan mengalami kepailitan yang berdampak pada hilangnya insentif dan return serta investasinya. Kepemilikan manajerial merupakan suatu kondisi yang menggambarkan adanya kepemilikan saham oleh manajer dalam sebuah perusahaan. Menurut Nur’aeni (2010) kepemilikan saham manajerial didefinisikan sebagai proporsi saham biasa yang dimiliki oleh para manajemen, yang dapat diukur dari persentase saham biasa yang dimiliki oleh pihak manajemen yang secara aktif terlibat dalam pengambilan keputusan perusahaan. Secara teoritis ketika kepemilikan manajerial rendah maka insentif untuk memonitor terhadap kemungkinan terjadi perilaku oportunistic manajer akan meningkat (Nur’aeni, 2010). Kepemilikan saham manajerial dalam perusahaan dapat dipandang sebagai cara untuk menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara pemegang saham diluar manajemen, sehingga masalah keagenan dapat diasumsikan akan hilang apabila seorang manajer adalah juga sebagai seorang pemilik (Jansen dan Meckling, 1976). Hal itu berarti bahwa semakin besar kepemilikan manajerial maka manajemen akan cenderung berusaha meningkatkan kinerja untuk kepentingan para pemegang saham dan dirinya sendiri, selain itu dapat mendorong manajer untuk menciptakan adanya kinerja perusahaan yang optimal, serta dapat memotivasi manajer untuk lebih bertanggung jawab dan juga lebih berhati-hati dalam bertindak, sehingga masalah keagenan dapat diminimalisasi. Menurut pendapat Demsey & Laber (1993) dalam Nur’aeni (2010) menyatakan bahwa masalah keagenan banyak dipengaruhi oleh insider ownership (kepemilikan manajerial). Insider ownership dapat dikatakan sebagai pemilik perusahaan yang sekaligus sebagai pengelola perusahaan. Jika insider ownership semakin besar maka perbedaan kepentingan antara pemegang saham (pemilik) dengan pengelola perusahaan (manajemen) akan semakin kecil, hal tersebut karena pemegang saham (pemilik) dan pengelola perusahaan (manajemen) akan bertindak lebih hati-hati karena manajer juga ikut menanggung konsekuesi dari tindakan yang dilakukan. Sebaliknya, jika insider ownership kecil maka hanya sedikit jumlah pemegang saham yang ikut terlibat sehingga semakin tinggi kemungkinan terjadinya masalah agensi dikarenakan adanya perbedaan kepentingan yang semakin besar antara pemegang saham dengan pengelola perusahaan. Oleh karena itu, insider ownership merupakan insentif untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Hal tersebut konsisten dengan penelitian Hiraki, et al (2003) dalam Haat (2008) juga memberikan bukti dalam penelitian pada perusahaan-perusahaan di Jepang bahwa kepemilikan manajerial secara positif memiliki hubungan dengan nilai perusahaan dan adanya pengambilalihan sumber daya perusahaan sebagai determinan pemegang saham minoritas. Selain itu, penelitian Faisal (2005) dalam Sabrinna (2010) menyatakan bahwa proporsi jumlah kepemilikan manajerial dalam perusahaan dapat mengindikasikan ada kesamaan (congruence) kepentingan antara manajemen dengan pemegang saham. Jika terdapat peningkatan pada proporsi kepemilikan saham manajerial, maka kinerja perusahaan akan semakin baik. Hal ini didasarkan pada logika bahwa peningkatan proporsi saham yang dimiliki oleh manajer dan direksi akan cenderung menurunkan tindakan manipulasi yang berlebihan, sehingga manajer perusahaan yang sekaligus sebagai pemegang saham akan manyelaraskan kepentingan manajer dengan kepentingan pemegang sahamnya.

Pengaruh Struktur Aset terhadap Kebijkan Hutang (skripsi dan tesis)

Menurut Mayangsari (1996) dalam Kurniati (2007), menyatakan bahwa: Pemenuhan kebutuhan dana akan diutamakan dari modal sendiri jika perusahaan menggunakan sumber pendanaan yang berasal dari dalam perusahaan sedangkan modal asing hanya sebagai pelengkap. Hal ini disebabkan oleh penggunaan aktiva tetap akan menimbulkan adanya beban tetap yang berupa fixed cost. Apabila perusahaan memakai modal asing, untuk membelanjakan aktiva tetapnya maka fixed cost yang akan ditanggungnya juga akan besar.  Menurut Bambang Riyanto (1995) dalam Nugroho (2006), menyatakan bahwa: Kebanyakan perusahaan industri dimana sebagian besar dari pada modalnya tertanam dalam aktiva tetap, akan menguntungkan pemenuhan modalnya dari modal yang permanen, yaitu modal sendiri, sedangkan hutang sifatnya sebagai pelengkap. Haris dan Raviv (1991) dalam Nugroho (2006), menyatakan bahwa: Perusahaan dengan level fixed assets yang rendah mempunyai lebih banyak masalah asymmetric information dibandingkan perusahaan dengan level fixed assets yang tinggi. Perusahaan dengan level fixed assets yang tinggi umumnya adalah perusahaan yang besar, yang dapat menerbitkan saham dengan harga yang fair sehingga tidak menggunakan hutang untuk mendanai investasinya. Dengan demikian diharapkan asset tangibility berpengaruh negatif terhadap leverage. Hasil penelitian oleh Wahyuning Kurniati (2007) yang menguji pengaruh struktur asset terhadap kebijkan hutang menemukan bahwa struktur asset mempunyai pengaruh yang signifikan dan negatif terhadap kebijakan hutang.

Pengaruh Profitabilitas terhadap Kebijakan Hutang (skripsi dan tesis)

Profitabilitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan hutang dengan arah hubungan negatif. Profitabilitas berpengaruh negatif terhadap kebijkan hutang ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh brimingham dan Houston (2006) dalam Murtiningtyas (2012), bahwa:  Perusahaan dengan tingakat pengembalian yang tinggi atas investasi menggunakan hutang yang relatif kecil. Jika profitabilitas meningkat , perusahaan cenderung akan mengurangi hutang. Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan perusahaan untuk membiayai sebagia besar kebutuhan pendanaan mereka dengan dana yang dihasilkan secara internal sehingga perusahaan tidak memerlukan sumber dana eksternal. Perusahaan akan menggunakan laba dari dalam perusahaan terlebih dahulu dalam mencukupi kebutuhan operasionalnya, sebelum memutuskan untuk menggunakan dana dari luar perusahaan. Menurut Wijaya (2011) dalam Murtiningtyas (2012), berpendapat bahwa: Profitabilitas yang tinggi diharapkan pemegang saham mampu memberikan perusahaan dana besar yang dapat digunakan untuk melalakukan re-investasi. Berbagai penelitian telah dilakukan mengenai profitabilitas dengan kebijkan hutang, menurut Indahningrum dan Handayani (2009) dan Purba (2011), profitabilitas yang di proksi dengan rasio return on assets (ROA) mempunyai pengaruh terhadap kebijakan hutang yang di proksi dengan debt to equity ratio (DER). Juga penelitian oleh Yeniatie dan Destriana (2010): Murtiningtyas (2012) menunjukan terdapat pengaruh yang signifikan dengan arah hubungan negatif antara profitabilitas dengan kebijakan hutang.

Pengaruh Kebijakan (skripsi dan tesis)

Dividen terhadap Kebijakan Hutang. Setap periode, perusahaan harus memutuskan apakah laba yang diperoleh akan ditambah atau didistribusikan sebagian atau seluruhnya pada pemegang saham sebagai deviden. Deviden pada dasarnya merupakan bagian dari keuntungan perusahaan yang akan dibagikan kepada pemilik perusahaan atau investor. Dimana keuntungan tersebut merupakan keuntungan setelah digunakan untuk mendanai seluruh kesempatan investasi yang diterima. Jika tidak ada keuntungan, maka dividen tidak akan dibagikan. Menurut Sajidin (2013) menyatakan bahwa: Semakin besar jumlah dividen yang dibagikan maka semakin meningkatnya jumlah utang yang digunakan. Sebaliknya semakin kecil jumlah dividen yang dibagikan maka semakin rendah utang yang akan digunakan, sehingga adanya hubungan positif anatara kebijkan dividen dan kebijakan hutang. Bebebagai penelitian telah dilakukan mengenai kebijakan dividen dengan kebijakan hutang. Menurut Sajidin (2013), kebijkan dividen berpengaruh secara positif terhadap kebijakan hutang perushaan

Kepemilikan Publik (skripsi dan tesis)

Untuk mencapai suatu tujuan utama suatu perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaannya, diperlukan pendanaan yang dapat diperoleh baik melalui pendanaan internal maupun pendanaan eksternal. Masalah pendanaan berpengaruh pada tingkat kapitalisasi modal. Tingkat kapitalisasi modal yang rendah merupakan salah satu alasan kegagalan perusahaan (Gladstone, 2010 : 20). Sumber pendanaan eksternal yang dimaksud diatas dapat diperoleh antara lain melalui saham dari masyarakat (publik). Untuk menggerakkan ekonomi secara riil tidak bisa hanya dari konsumsi, secara fundamental diperlukan investasi. Salah satunya adalah pasar modal, terutama untuk memulihkan kepercayaan investor. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia perlu memperbesar struktur kepemilikan publik untuk mendorong agar pihak manajemen perusahaan lebih transparan dan ada keinginan untuk melakukan penyebaran kepemilikan, sehingga perusahaan tidak dikendalikan oleh kalangan keluarga tertentu saja.

Struktur Kepemilikan (skripsi dan tesis)

Pengelolaan perusahaan yang semakin dipisahkan dari kepemilikan perusahaan merupakan salah satu ciri perekonomian modern, hal ini sesuai dengan agency theory yang menginginkan pemilik perusahaan (principal) menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada tenaga professional (agent) yang lebih mengerti dalam menjalankan bisnis. Tujuan dipisahkannya pengelolaan dan kepemilikan perusahaan yaitu agar pemilik memperoleh keuntungan maksimal dengan biaya yang efisien. Wicaksono (2000) menjelaskan bahwa keberhasilan penerapan corporate governance tidak terlepas dari struktur kepemilikan perusahaan. Struktur kepemilikan tercermin baik melalui instrumen saham maupun instrumen utang sehingga melalui struktur tersebut dapat ditelaah kemungkinan bentuk masalah keagenan yang akan terjadi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam struktur kepemilikan, antara lain: 1. Kepemilikan sebagian kecil perusahaan oleh manajemen mempengaruhi kecenderungan untuk memaksimalkan nilai pemegang saham dibanding sekedar mencapai tujuan perusahaan semata. 2. Kepemilikan yang terkonsentrasi memberi insentif kepada pemegang saham mayoritas untuk berpartisipasi secara aktif dalam perusahaan. 3. Identitas pemilik menentukan prioritas tujuan sosial perusahaan dan maksimalisasi nilai pemegang saham, misalnya perusahaan milik pemerintah cenderung untuk mengikuti tujuan politik dibanding tujuan perusahaan

Teori Kebijakan Hutang (skripsi dan tesis)

Ada beberapa teori kebijakan hutang yang dikemukakan oleh I Made Sudana (2011:153), yaitu sebagai berikut: “a. Trade Of Theory b. Pecking Order Theory c. Signaling Theory” Adapun penjelasan dari teori-teori kebijakan hutang tersebut adalah sebagai berikut: a. Trade Of Theory Theori trade-off merupakan keputusan perusahaan dalam menggunakan hutang berdasarkan pada keseimbangan antara penghematan pajak dan biaya kesulitan keuangan. (I Made Sudana, 2011:153) b. Pecking Order Theory Pecking order theory menyatakan bahwa manajer lebih menyukai pendanaan internal daripada pendanaan eksternal. Jika perusahaan membutuhkan pendanaan dari luar, manajer cenderung memilih surat berharga yang paling aman, seperti hutang. Perusahaan dapat  menumpuk kas untuk menghindari pendanaan dari luar perusahaan. (I Made Sudana, 2011:156) c. Signaling Theory Signaling Theory menyatakan bahwa perusahaan yang mampu menghasilkan keuntungan cenderung meningkatkan hutangnya karena tambahan bunga yang dibayarkan akan diimbangi dengan laba sebelum pajak. (I Made Sudana, 2011:156).”

Definisi Kebijakan Hutang (skripsi dan tesis)

Kebijakan hutang menurut Riyanto (2011:98) adalah sebagai berikut: “Kebijakan hutang adalah keputusan yang sangat penting dalam perusahaan dimana kebijakan hutang merupakan salah satu bagian dari kebijakan pendanaan perusahaan. Kebijakan hutang adalah kebijakan yang diambil pihak manajemen dalam rangka memperoleh sumber pembiayaan bagi perusahaan sehingga dapat digunakan untuk membiayai aktivitas operasional perusahaan.” Menurut Subramanyan dan Wild yang dialihbahasakan oleh Dewi Yanti (2012:82), menyatakan kebijakan hutang adalah sebagai berikut: “Bagi pemegang saham dengan adanya kebijakan hutang berarti mendapatkan tambahan dana yang berasal dari pinjaman mampu memberi pengaruh positif bagi peningkatan kinerja para manajemen perusahaan.” Menurut Hartono (2011:137) menyatakan kebijakan hutang adalah sebagai berikut: “Kebijakan hutang adalah keputusan pendanaan oleh manajemen akan berpengaruh pada penelitian perusahaan yang terefleksi pada harga saham. Oleh karena itu, salah satu tugas manajer keuangan adalah menentukan kebijakan pendanaan yang dapat memaksimalkan harga saham yang merupakan cerminan dari suatu nilai perusahaan.” Menurut Herawati (2013) kebijakan hutang adalah:  “Kebijakan hutang adalah kebijakan yang menentukan seberapa besar kebutuhan dana perusahaan dibiayai oleh hutang.” Berdasarkan definisi di atas dapat dilihat bahwa kebijakan hutang adalah salah satu aktivitas pendanaan bagi perusahaan, selain modal sendiri, yang digunakan oleh perusahaan untuk mencapai tujuan tertentu seperti membiayai aktivitas operasional, meningkatkan kinerja manajemen perusahaan, dan tujuan perusahaan lainnya serta menentukan kebutuhan dana perusahaan yang dibiayai hutang

Pengelompokan Hutang (skripsi dan tesis)

Menurut Subramayam dan Wild yang dialihbahasan oleh Dewi Yanti (2012:170) pengelompokan hutang ada dua, yaitu: 1. “Hutang jangka pendek (kewajiban lancar) Hutang jangka pendek merupakan kewajiban yang pendanaannya memerlukan penggunaan asset lancar atau munculnya kewajiban lancar lainnya. Periode yang diharapkan untuk menyelesaikan hutang jangka pendek adalah periode masa yang lebih panjang antara satu tahun dan satu siklus operasi perusahaan. secara konsep, perusahaan harus mencatat seluruh kewajiban pada nilai sekarang seluruh arus kas keluar yang diperlukan untuk melunasinya. Pada praktiknya, kewajiban lancar dicatat pada nilai jatuh temponya, bukan pada nilai sekarangnya, karena pendeknya waktu penyelesaian hutang.  2. Hutang jangka panjang (Kewajiban tak lancar) Hutang jangka panjang (Kewajiban tak lancar) merupakan kewajiban yang jatuh temponya tidak dalam satu tahun atau satu siklus operasi, aman yang lebih panjang. Kewajiban ini meliputi pinjaman, obligasi, hutang, dan wesel bayar. Hutang jangka panjang beragam bentuknya dan peniliaian serta pengukurannya memerlukan pengungkapan atas seluruh batasan dan ketentuan. Pengungkapan meliputi pula jaminan, persyaratan penyisihan dana pelunasan, dari provisi kredit berulang. Perusahaan harus mengunkapkan default atas provisi kewajiban, termasuk untuk bunga dan pembayaran kembali pokok pinjaman.”

Definisi Hutang (skripsi dan tesis)

 

Menurut M.Hanafi (2010:29), pengertian hutang adalah sebagai berikut: “Hutang didefinisikan sebagai pengorbanan ekonomis yang mungkin timbul dimasa mendatang dan kewajiban organisasi sekarang untuk mentransfer asset atau memberikan jasa ke pihak lain di masa mendatang sebagai akibat dari transaksi atau kejadian dimasa lalu. Hutang muncul terutama karena penundaan pembayaran untuk barang atau jasa yang telah diterima oleh organisasi dan dari dana yang dipinjam.” Menurut Subramaryam dan Wild yang dialihbahasakan oleh Dewi Yanti (2012:169) pengertian hutang atau kewajiban adalah sebagai berikut: “Kewajiban (hutang) merupakan hutang untuk mendapatkan pendanaan yang membutuhkan pembayaran di masa depan dalam bentuk uang, jasa, atau asset lainnya. Kewajiban merupakan klaim pihak luar atas asset dan sumberdaya perusahaan kini dan masa depan.”

Definisi Struktur Aset (skripsi dan tesis)

Bambang Riyanto (2008:22) menyatakan bahwa: “Struktur aktiva atau struktur kekayaan adalah perimbangan atau perbandingan baik dalam artian absolut maupun dalam artian relatif antara aktiva lancar dengan aktiva tetap. Yang dimaksud dengan artian absolut adalah perbandingan dalam bentuk nominal, sedangkan yang dimaksud dengan artian relatif adalah perbandingan dalam bentuk persentase.”. Struktur aset menurut Syamsudin (2007;9) adalah: struktur aset adahlah “Penentuan berapa besar alokasi dana untuk masing-masing komponen aktiva,baik dalam aktiva lancar maupun dalam aktiva tetap Weston & Brigham (2005:175), mendefinisikan struktur aset sebagai: Struktur aktiva/aset adahlah “Perimbangan atau perbandingan antara aktiva tetap dan total aktiva .  Berdasarkan beberapa definisi di atas menunjukan bahwa struktur asset marupakan proporsi jumlah investasi yang dimiliki oleh perusahaan dalam bentuk asset tetap.

Jenis-jenis Aset (skripsi dan tesis)

Menurut Subramayan dan John J. Wild (2010:271-272), asset dapat digolongkan ke dalam dua kelompok – lancer dan tak lancer. 1. Asset lancer (current assets) merupakan sumber daya atau klaim ats sumber daya yang dapat langsung diubah menjadi kas sepanjang siklus operasi perusahaan. Golongan utama asset lancer mancakup kas, setara kas, efek, piutang, derivatif, persediaan, dan beban diterima di muka. 2. Asset jangka panjang (long-lived assets), disebut juga asset tetap (fixed asset) atau asset tak lancer (noncurrent assets) merupakan sumber daya atau klaim atas sumber daya yang diharapkan dapat memberikan manfaat pada perusahaan selama priode melebihi periode kini. Asset jangka panjang utama mencakup properti, pabrik, peralatan, asset tak berwujud, investasi, dan beban-beban yang ditangguhkan. Subramanyam dan John. J. Wild (2010:272), juga menyatakan bahwa: Suatu perbedaaan asset alternatif yang sering bermanfaat dalam analisi adalah membagi asset menjadi asset keuangan dan asset operasi. Asset keuangan (financial assets) terutama terdiri atas efek (surat berharga atau sekuritas) dan investasi. Asset ini dinilai pada nilai wajar (pasar) dan diharapkan dapat memberikan imbalan hasil yang setara dengan biaya modal yang telah disesuaikan dengan resiko mereka. Asset operasi dinilai pada biayanya dan merupakan asset operasi produktif yang diharapkan memberikan imbal hasil di atas laba normal. Sedangkan menurut Indahwati (2010), pengelompokan aktiva dibagi menjadi : 1. Aktiva Lancar Adalah uang kas dan aktiva lainya yang diharapkan untuk dicairkan atau ditukarkan menjadi uang tunai, dijual atau dipakai dalam periode   berikutnya (paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal), dan biasanya terdiri atas: – Kas/bank dan deposito – Piutang dagang dan piutang lainya – Biaya dibayar dimuka – Uang muka – Persediaan 2. Aktiva tetap, terdiri atas: – Tanah – Bangunan/gedung dan emplacement – Kendaraan dan lat transportasi – Mesin dan peralatan pabrik – Inventaris kantor 3. Aktiva lainya, terdiri dari: – Jaminan – Piutang lain-lain non current – Aktiva pajak tangguhan – Aktiva lain-lain

Definisi Aset (skripsi dan tesis)

Subramanyam dan John J. Wild (2010:271), menyatakan bahwa: ROE = 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝐴𝑓𝑡𝑒𝑟 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑒𝑠𝑡 𝑎𝑛𝑑 𝑇𝑎𝑥 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 Laba Per Lembar Saham = Laba Saham Biasa Saham Biasa Yang Beredar  Asset merupakan sumber daya yang dikuasai oleh suatu perusahaan dengan tujuan menghasilkan laba Definisi asset menurut Warren et al. (2006:63), aktiva atau asset (assets) adalah: Sumber daya yang dimiliki oleh entitas atau usaha. Sumber daya ini dapat membentuk fisik ataupun hak yang mempunyai nilai ekonomis. Contohnya aktiva adalah kas (uang tunai), piutang usaha, perlengkapan, beban bayar di muka (seperti asuransi), bangunan peralatan, tanah dan hak paten. Menurut Indahwati (2010), definisi aktiva adalah: Sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan. FASB dalam Concept Nomor 6 – Elements of Financial Statements of Business Enterprises dalam Zaki Baridwan (2010:20) yang dikutip oleh Wardani (2014), menyatakan bahwa aktiva adalah: Manfaat ekonomis di masa yang akan dating yang diharapkan akan diterima oleh suatu badan usaha sebagai hasil dari transaksi-transaksi di masa lalu. Suatu aktiva mempunyai tiga sifat pokok, yaitu: 1. Mempunyai kemungkinan manfaat di masa yang akan dating yang berbentuk kemampuan (baik sendiri atau kombinasi dengan aktiva lainya) untuk menyumbangkan pada aliran kas masuk di masa yang akan datang baik secara langsung maupun tidak langsung. 2. Suatu badan usaha tertentu dapat memperoleh manfaatnya dan mengawasi manfaat tersebut. 3. Transaksi-transaksi yang menyebabkan timbulnya hak perusahaan untuk memperoleh dan mengawasi manfaat tersebut sudah terjadi. Berdasarkan beberapa definisi di atas menunjukan bahwa asset merupakan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan yang diharapkan dapat memberikan manfaat 56 ekonomis di masa yang akan datang yang diterima oleh suatu badan usaha sebagai hasil dari transakski-transaksi di masa lalu.

Tujuan dan Manfaat Profitabilitas (skripsi dan tesis)

Menurut Kasmir (2015: 197) rasio profitabilitas memiliki tujuan dan manfaat, tidak hanya bagi pihak pemilik usaha atau manajemen, tetapi juga bagi pihak di luar perusahaan, terutama pihak-pihak yang memiliki hubungan dan kepentingan bagi perusahaan. Berikut tujuan dari rasio profitabilitas bagi perusahaan maupun pihak luar perusahaan: 1. Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu, 2. Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang, 3. Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu, 4. Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri, 5. Untuk mengukur produktivitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri, 6. Dan tujuan lainnya. Sementara itu, manfaat yang diperoleh adalah untuk; 1. Untuk mengetahui tingkat laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu, 2. Mengetahui posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang, 3. Menegetahui perkembangan laba dari waktu ke waktu,  4. Mengetahui besarnya laba bersih saesudah pajak dengan modal sendiri, 5. Mengetahui produktivitas dari seluruh dana perusahaan uang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri, 6. Manfaat lainnya

Pengertian Profitabilitas (skripsi dan tesis)

Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menciptakan laba dengan menggunakan modal yang cukup tersedia. Profitabilitas suatu perusahaan akan berpengaruh terhadap kebijakan perusahaan dalam menentukan pendanaannya. Menurut Kasmir (2015: 196), profitabilitas adalah: “…rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Penggunaan rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan   perbandingan antara berbagai komponen yang ada di laporan keuangan, terutama laporan keuangan neraca dan laporan laba rugi”. Menurut Hery (2016: 152), rasio profitabilitas adalah: “…rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktivitas normal bisnisnya. Rasio profitabilitas dapat diukur dengan membandingkan antara berbagai komponen yang ada di dalam laba rugi dan/atau neraca”. Menurut Agus Sartono (2012: 122), profitabilitas adalah: “…kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Dengan demikian bagi investor jangka panjang akan sangat berkepentingan dengan analisis profitabilitas ini, misalnya bagi pemegang saham akan melihat keuntungan yang benar-benar akan diterima dalam bentuk dividen”. Menurut Reeve, et al yang dialihbahasakan oleh Damayanti Dian (2012: 331). rasio profitabilitas adalah: “…kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Kemampuan dalam menghasilkan laba tergantung pada efektivitas dan efisiensi dari kegiatan operasinya dan sumber daya yang tersedia. Dengan demikian, analisis profitabilitas menitikberatkan terutama pada hubungan antara hasil kegiatan operasi seperti yang dilaporkan di laporan laba rugi dengan sumber daya yang tersedia bagi perusahaan seperti yang dilaporkan dalam neraca”. Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim (2012: 81), profitabilitas adalah: “…kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, asset, dan modal saham yang tertentu.”   Menurut Brigham dan Houston yang dialihbahasakan oleh Ali Akbar Yulianto (2011: 146): “Profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukkan kombinasi dan pengaruh likuiditas, manajemen aset dan utang pada hasil operasi”. Berdasarkan beberapa definisi di atas makas dapat disimpulkan bahwa profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam mengahasilkan laba dengan aktiva dan modal yang dimilikinya.

Jenis-jenis Laba (skripsi dan tesis)

Menurut Kasmir (2015: 303) dalam praktiknya, laba terdiri dari dua macam, yaitu: 1. laba kotor (gross profit); dan 2. laba bersih (net profit). Laba kotor artinya laba yang diperoleh sebelum dikurangi biaya-biaya yang menjadi beban perusahaan. Artinya, laba keseluruhan yang pertama sekali perusahaan peroleh. Sementara itu, laba bersih merupakan laba yang telah dikurangi biaya-biaya yang merupakan beban perusahaan dalam suatu periode tertentu, termasuk pajak.

Definisi Laba (skripsi dan tesis)

 

Tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan laba. Laba merupakan indikator prestasi atau kinerja perusahaan yang besarna tampak di laporan keuangan, tepatnya laba rugi. Menurut Hery (2016: 15), laba adalah: “Kenaikan dalam ekuitas (aset bersih) entitas yang ditimbulkan oleh transaksi pheriperal (transaksi di luar operasi utama atau operasi sentral perusahaan) atau transaksi insidentil (transaksi yang keterjadiannya jarang) dan dari seluruh transaksi lainnya serta peritiwa menurut keadaan-keadaan lainnya yang mempengaruhi entitas, tidak termasuk yang berasal dari pendapatan atau investasi oleh pemilik”. DPR = Dividen per Lembar 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 per Lembar EPS = Pendapatan setelah pajak Jumlah saham yang beredar Menurut Kasmir (2015: 45), laba adalah: “Selisih dari jumlah pendapatan dan biaya, dengan hasil jumlah pendapatan perusahaan lebih besar dari jumlah biaya”. Menurut Yayah Pudin Shatu (2016: 68), laba adalah: “Kenaikan modal aktiva bersih yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang timbul dari pendapatan (revenue) atau investasi oleh pemiliknya”. Menurut Dwi Martani, dkk (2012: 113), laba adalah: “…pendapatan yang diperoleh apabila jumlah financial (uang) dari aset neto pada akhir periode (di luar dari distribusi dan kontribusi pemilik perusahaan) melebihi aset neto pada awal periode”. Menurut Reeve, et. al. yang dialihbahasakan oleh Damayanti Dian (2009: 3), keuntungan atau laba adalah: : “…selisih antara uang yang diterima dari pelanggan atas barang atau jasa yang dihasilkan, dan biaya yang dikeluarkan untuk input yang digunakan dengan guna menghasilkan barang atau jasa.” Menurut Sofyan Syafri Harahap (2011: 309): “Laba akuntansi adalah perbedaan antara revenue yang direalisasikan yang timbul dari transaksi pada periode tertentu dihadapkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan pada periode tersebut.” Menurut Mamduh M. Hanafi (2016: 32), laba adalah: “…ukuran keseluruhan prestasi perusahaan, yang dudefinisikan sebagai berikut: Laba= Penjualan – Biaya” 49 Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa laba merupakan perbedaan antara realisasi penghasilan yang berasal dari transaksi perusahaan pada periode tertentu dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan itu

Jenis-jenis Kebijakan Dividen (skripsi dan tesis)

Menurut Bambang Riyanto (2010: 269): Ada macam-macam kebijakan dividen yang dilakukan oleh perusahaan antara lain sebagai berikut: 1. Kebijakan dividen yang stabil. 2. Kebijakan dividen dengan penetapan jumlah dividen minimal plus jumlah ekstra tertentu. 3. Kebijakan dividen dengan penetapan dividen payout ratio yang konstan, dan 4. Kebijakan dividen yang fleksibel. Adapun penjelasan berbagai macam kebijakan dividen yaitu: Kebijakan dividen yang pertama adalah kebijakan dividen yang stabil menurut menurut Bambang Riyanto (2010: 269): Banyak perusahaan yang menjalankan kebijakan dividen yang stabil artinya jumlah dividen perlembar yang dibayarkan setiap tahunnya relatif tetap selama jangka waktu tertentu meskipun pendapatan per lembar saham setiap tahunnya berfluktuasi. Dividen yang stabil ini dipertahankan untuk beberapa tahun, dan kemudian apabila ternyata pendapatan perusahaan meningkat dan kenaikan pendapatan tersebut nampak mantap dan relatif permanen, barulah besarnya dividen perlembar saham dinaikkan. Dan dividen yang sudah dinaikkan ini akan dipertahankan untuk jangka waktu yang relatif panjan Cara penetapan dividen payout yang kedua adalah kebijakan dividen dengan penetapan jumlah dividen minimal plus jumlah ekstra tertentu menurut Bambang Riyanto (2010: 271): Kebijakan ini menetapkan jumlah rupiah minimal dividen per lembar saham tiap tahunnya. Dalam keadaan keuangan yang lebih baik perusahaan akan membayarkan dividen ekstra di atas jumlah minimal tersebut. Bagi pemodal ada kepastian akan menerima jumlah dividen yang minimal setiap tahunnya meskipun keadaaan keuangan perusahaan agak memburuk. Tetapi di lain pihak kalau keadaan keuangan perushaaan baikmaka pemodal akan menerima dividen minimal tersebut dengan dividen tambahan. Kalau keadaan keuangan memburuk lagi maka yang dibayarkan hanya dividen minimal saja. Cara penetapan dividend payout yang ketiga adalah penetapan dividen payout ratio yang konstan menurut Bambang Riyanto (2010: 271): Perusahaan yang menjalankan kebijakan ini menetapkan dividen payout ratio yang konstan misalnya 50%. Ini berarti bahwa jumlah dividen per lembar saham yang dibayarkan setiap tahunnya akan berfluktuasi sesuai dengan perkembangan keuntungan netto yang diperoleh setiap tahunnya. Menurut Bambang Riyanto (2010: 272) Cara penetapan dividend payout yang keempat adalah penetapan dividen payout ratio yang fleksibel, yang besarnya setiap tahun disesuaikan dengan posisi finansial dan kebijakan finansial dari perusahaan yang bersangkutan

Teori Kebijakan Deviden (skripsi dan tesis)

Sebuah teori akan memberikan petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada pengetahuan peneliti. Berikut ini terdapat beberapa teori kebijakan dividen menurut Agus Sartono (2012: 282), yaitu: 1. Teori Dividen Adalah Tidak Relevan 2. Bird-In-The Hand Theory 3. Tax Differencial Theory 4. Information Content Hypothesis 5. Clientele Effect Adapun penjelasan teori-teori tersebut adalah: Teori pertama yaitu teori dividen adalah tidak relevan menurut Agus Sartono (2012: 282): Modigliani-Miller (MM) berpendapat bahwa di dalam kondisi bahwa keputusan investasi yang given, pembayaran dividen tidak berpengaruh terhadap kemakmuran pemegang saham. Lebih lanjut lagi MM berpendapat bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh earning power dari aset perusahaan. Dengan demikian perusahaan ditentukan oleh keputusan invesatsi. Sementara itu keputusan apakah laba yang diperoleh akan dibagikan dalam bentuk dividen atau akan ditahan tidak mempengaruhi nilai perusahaan. MM membuktikan pendapatnya secara matematis dengan asumsi: a. Pasar modal yang sempurna dimana semua investor bersikap rasional. b. Tidak ada pajak perseorangan dan pajak penghasilan perusahaan. c. Tidak ada biaya emisi dan biaya transaksi. d. Kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap biaya modal sendiri perusahaan. e. Informasi tidak tersedia untuk setiap individu terutama yang menyangkut tentang kesempatan invesatsi. Teori kedua yaitu Bird-In-The Hand Theory menurut Agus Sartono (2012: 284-285): Myron Gordon dan John Lintner berpendapat kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap harga pasar saham. Artinya, jika dividen yang dibagikan perusahaan semakin besar, harga pasar saham perusahaan tersebut akan semakin tinggi dan sebaliknya. Investor lebih merasa aman untuk memperoleh pendapatan berupa pembayaran dividen daripada menunggu capital gain. Hal ini terjadi karena pembagian dividen dapat mengurangi ketidakpastian yang dihadapi investor. Sementara itu MM berpendapat dan telah dibuktikan secara matematis bahwa investor merasa sama saja apakah menerima dividen saat ini atau menerima capital gain di masa datang. Gordon-Lintner beranggapan bahwa investor memandang satu burung di tangan lebih berharga daripada seribu burung di udara. Teori ketiga yaitu Tax Differencial Theory menurut Agus Sartono (2012: 288): “…(a) Modigliani-Miler berpendapat bahwa kebijakan dividen tidak relevan berarti bahwa tidak ada kebijakan dividen yang optimal karena kebijakan dividen tidak mempengaruhi nilai perusahaan ataupun biaya modal; (b) Gordon-Lintner mempunyai pendapat lain bahwa dividen lebih kecil risikonya disbanding dengan capital-gain, sehingga GordonLintnermenyarankan perusahaan untuk menentukan dividend payout ratio atau bagian laba sete;ah pajak yang dibagikan dalam bentuk dividen yang tinggi dan menawarkan dividend yield yang tinggi untuk meminimumkan biaya modal-the-bird-hand fallacy; (c) Kelompok ketiga berpendapat bahwa karena dividen cenderung dikenakan pajak yang lebih tinggi daripada capital gain, maka investor akan meminta tingkat keuntungan yang lebih tinggi untuk saham dengan dividend yield yang tinggi. Kelompok terakhir 43 ini menyarankan bahwa perusahaan lebih baik menentukan dividend payout ratio yang rendah atau bahkan tidak membagikan dividen sama sekali untuk meminimumkan biaya modal dan memaksimalkan nilai perusahaan.” Teori keempat yaitu Information Content Hypothesis menurut Agus Sartono (2012: 289): Dalam kenyataannya manajer cenderung memiliki informasi yang lebih baik tentang prospek perusahaan dibanding dengan investor atau pemegang saham, akibatnya investor menilai bahwa capital gain lebih berisiko dibanding disbanding dengan dividen saham dalam bentuk kas. Dalam kenyataannya sering terjadi bahwa pembayaran dividen selalu diikuti dengan kenaikan harga saham sedangkan penurunan dividen akan diikuti dengan penurunan harga saham. Kenyataan ini menunjukkan bahwa investor secara keseluruhan lebih menyukai pembayaran dividen daripada capital gain. Tetapi Modigliani-Miller melihat kecenderungan ini dengan menyatakan bahwa karena perusahaan cenderung enggan untuk menurunkan prospek perusahaan di masa datang lebih baik atau paling tidak stabil. MM selanjutnya berpendapat bahwa kenaikan dividen ini oleh investor dilihat sebagai tanda atau signal bahwa prospek perusahaan di masa datang lebih baik. Sebaliknya penurunan dividen akan dilihat sebagai tanda bahwa prospek perusahaan menurun. MM berkesimpulan bahwa reaksi investor terhadap perubahan dividen tidak berarti sebagai indikasi bahwa investor lebih menyukai dividen dibanding dengan laba ditahan. Kenyataan bahwa harga saham berubah mengikuti perubahan dividen semata-mata karena adanya information content dalam pengumuman dividen. Teori kelima yaitu Clientele Effect menurut Agus Sartono (2012: 290): Ada investor yang lebih menyukai memperoleh pendapatan saat ini dalam bentuk dividen seperti halnya individu yang sudah pension sehingga investor ini menghendaki perusahaan untuk membayar dividen yang tinggi. Tetapi ada pula investor yang lebih menyukai untuk menginvestasikan kembali pendapatan mereka, karena kelompok investor ini berada dalam tarif pajak yang cukup tinggi. Jika perusahaan menahan laba setelah pajak yng diperoleh, maka investor yang menyukai pembayaran dividen akan kecewa. Mereka memang akan menerima capital gain, tetapi untuk memenuhi kebutuhan, mereka terpaksa harus menjual sebagian sahamnya. Sementara itu investor yang memilih untuk menginvestasikan kembali pendapatannya menghendaki perusahaan untuk membayar dividen yang rendah, karena bagi mereka pembayaran dividen yang besar berarti pajak yang harus dibayarkan juga semakin besar. 44 Ini terjadi karena mungkin kenaikan dividen mengakibatkan kenaikan tariff pajak pendapatan sehingga pembayaran dividen tidak begitu menguntungkan dibandingkan dengan kenaikan pajak yang harus dibayarkan. Dengan demikian paling tidak terdapat dua kelompok investor dengan dua kepentingan yang bertentangan. Dengan adanya dua kelompok investor tersebut, perusahaan dapat kebijakan dividen yang oleh manajemen dianggap paling baik. Kemudian biarkan investor yang ridak menyukai kebijakan dividen perusahaan, menjual saham mereka; dengan kata lain biarkan investor melakukan pemindaham investasi dari satu perusahaan ke perusahaan lain.

Pengertian Kebijakan Dividen (skripsi dan tesis)

Seorang investor yang menanamkan modalnya pada suatu perusahaan tentu saja mengaharapkan return atau keuntungan yang akan diperoleh dari investasi yang telah dilakukannya. Keuntungan yang dapat diterima oleh investor atau pemegang saham dari pemilik perusahaan melalui pembelian saham terdiri dari diua macam yaitu, dividend dan capital gain. Sundjaja dan Barlian (2003: 390) dalam Mirna Amirya dan Sari Atmini (2008) pengertian kebijakan dividen adalah rencana tindakan dalam membuat keputusan dividen untuk dua tujuan dasar, yaitu maksimalisasi kekayaan pemilik dan pembiayaan yang cukup. Kedua tujuan tersebut saling berhubungan dan harus 40 memenuhi faktor hukum, perjanjian, pertumbuhan, hubungan dengan pemilik dan hubungan dengan pasar yang membatasi alternatif kebijakan. Menurut Agus Sartono (2012: 281), kebijakan dividen adalah: “…suatu keputusan untuk menentukan apakah laba perusahaan akan dibagikan kepada investor sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan untuk pembiayaan investasi di masa mendatang.” Menurut Bambang Riyanto (2010: 265), kebijakan dividen adalah: “…kebijakan yang bersangkutan dengan penentuan pembagian pendapatan (earning) antara pengguna pendapatan untuk dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai dividen atau untuk digunakan dalam perusahaan, yang berarti pendapatan tersebut harus ditanam di dalam perusahaan.” Menurut Sutrisno (2012: 266), kebijakan dividen adalah: “… salah satu kebijakan yang harus diambil oleh manajemen untuk memutuskan apakah laba yang diperoleh oleh perusahaan selama satu periode akan dibagi semua atau sebagian untuk dividend dan sebagian lagi tidak dibagi dalam bentuk laba ditahan.” Menurut Eugene F. Brigham & Joel F. Houston yang dialihbahasakan oleh Ali Akbar Yulianto (2011: 32), kebijakan dividen adalah: “…keputusan mengenai berapa banyak laba saat ini yang akan dibayarkan sebagai dividen sebagai ganti dari dipertahankan untuk diinvestasikan kembali di dalam perusahaan”. Lease (2000: 29) dalam Tatang Gumanti (2013: 7), yang mengartikan kebijakan dividen sebagai: “…praktik yang dilakukan oleh manajemen dalam membuat keputusan pembayaran dividen, yang mencakup besaran rupiah, pola distribusi kas kepada pemegang saham. 41 Menurut Abdul Halim (2015: 135), kebijakan dividen adalah: “…penentuan tentang berapa besarnya laba yang diperoleh dalam suatu periode akan dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen, dan akan ditahan di perusahaan dalam bentuk laba ditahan.” Berdasarkan beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan dividen adalah keputusan yang dibuat oleh manajemen untuk menentukan berapa besarnya laba yang akan dibagikan kepada investor atau perusahaan lebih memilih untuk tidak membagikan dividen, karena akan digunakan sebagai laba ditahan untuk membiayai pendanaan perusahaan

Jenis-jenis Dividen (skripsi dan tesis)

Dividen yang dibagikan oleh perusahaan kepada para pemegang saham terdiri dari beberapa jenis dividen yang berbeda-beda. Menurut Tatang Gumanti (2013: 21), ada sejumlah cara untuk membedakan dividen. Pertama, dividen dapat dibayarkan bentuk tunai (cash dividen) atau dalam bentuk saham (stock dividen). Pembagian dividen umumnya didasarkan atas akumulasi laba (yaitu laba ditahan) atau atas beberapa pos modal lainnya seperti tambahan modal disetor. 38 Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2001: 127) dalam Mirna Amirya dan Sari Atmini (2008) dividen, dapat berbentuk dividen kas ataupun dividen saham, merupakan laba bersih perusahaan yang didistribusikan kepada pemegang saham atas persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham. Sedangkan menurut Wibowo dan Abubakar Arief (2009: 61) dividen dapat dibedakan menjadi lima jenis yaitu: 1. Dividen Tunai (Cash Dividend) 2. Dividen Properti (Property Dividend) 3. Dividen Surat Wesel (Scrip Dividend) 4. Dividen Likuidasi (Liquidating Dividend) 5. Dividen Saham (Stock Dividend). Adapun penjelasan mengenai jenis-jenis dividen tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, menurut Wibowo dan Abubakar Arief (2009: 61) dividen tunai (Cash Dividend) merupakan: “…distribusi laba kepada para pemegang saham yang berbentuk tunai atau kas.” Kedua, menurut Wibowo dan Abubakar Arief (2009: 62) dividen poperti (Property Dividend) merupakan: “…distribusi laba kepada para pemegang saham bukan dalam bentuk kas, melainkan properti (merchandise, real estate atau investment, dll). Besarnya dividen dicatat sebesar nilai pasar wajar dari properti pada saat pengumuman dividen, dan selisih antara nilai pasar wajar dengan biaya perolehan diakui sebagai laba atau rugi dari apresiasi terhadap properti tersebut.” Ketiga, menurut Wibowo dan Abubakar Arief (2009: 63) dividen surat wesel (Scrip Dividend) merupakan: “…distribusi laba kepada para pemegang 39 saham oleh perusahaan dengan cara menerbitkan surat wesel khusus kepada para pemegang saham yang akan dibayarkan pada waktu yang akan datang ditambah dengan bunga tertentu.” Keempat, menurut Wibowo dan Abubakar Arief (2009: 63) dividen likuidasi (Liquidating Dividend) merupakan: “…distribusi laba kepada para pemegang saham yang didasarkan kepada modal disetor (paid in capital) bukan didasarkan kepada laba ditahan. Oleh karena itu, dividen ini lebih tepat disebut sebagai pengembalian investasi kepada para pemegang saham.” Kelima, menurut Wibowo dan Abubakar Arief (2009: 64) dividen saham (Stock Dividend) merupakan: “…distribusi laba kepada para pemegang saham dalam bentuk saham atau stock bukan aktiva

Definisi Dividen (skripsi dan tesis)

Menurut Sawidjo Widoatmodjo (2008: 58), dividen adalah: “…bagian laba yang diberikan emiten kepada para pemegang sahamnya.” 37 Menurut Dermawan Sjahrial (2009: 305), dividen adalah: “…seluruh laba yang diperoleh perusahaan, dan sebagian dari tersebut dibagikan kepada pemegang saham.” Menurut Abdul Halim (2015: 135), dividen adalah: “…dividen akan dipergunakan investor sebagai alat penduga mengenai prestasi perusahaan dimasa mendatang, dividen menyampaikan pengharapan-pengharapan manajemen menganai masa depan.” Menurut Ahmad Syafi’i Syakur (2015: 201), dividen merupakan: “…bagian dari laba ditahan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham sebagai keuntungan invesatsi.” Menurut Mamduh M. Hanafi (2016: 361), dividen merupakan: “…kompensasi yang diterima oleh pemgang saham, di samping capital gain.” Berdasarkan beberapa definisi di atas menunjukkan bahwa dividen adalah laba yang dibagikan kepada pemegang saham atas modal yang mereka tanamkan diperusahaan

Kepemilikan Asing (skripsi dan tesis)

Menurut Anggraeni (2011) dalam Rahayu (2015), Kepemilikan asing merupakan kepemilikan saham yang dimiliki oleh perusahaan multinasional. Kepemilikan asing dalam perusahaan merupakan pihak yang dianggap convern terhadap pengungkapan pertanggungjawaban social perusahaan. Menurut Etha (2010), kepemilikan asing merupakan saham biasa perusahaan yang dimiliki oleh perorangan, badan hukum, pemerintah serta bagianbagiannya yang berstatus luar negri. Menurut Undang-undang No.25 Tahun 2007 Pada pasal 1 angka 6 dalam Rahayu (2015), pemilikan asing adalah perseorangan warga negara asing, badan usaha asing, dan pemerintah asing yang melakukan penanaman modal di wilayah Republik Indonesia. Berdasarkan definisi diatas kepemilikan asing merupakan proporsi saham biasa perusahaan yang dimiliki oleh perorangan, badan hukum, pemerintah serta bagian-bagiannya yang berstatus luar negri. Atau perorangan, badan hukum, pemerintah yang bukan berasal dari Indonesia.

Kepemilikan Institusional (skripsi dan tesis)

Menurut Juniarti dan Sentosa (2009) dalam Rebecca (2012), kepemilikan institusional adalah: Kepemilikan saham perusahaan yang dimiliki oleh investor institusional, seperti pemerintah, perusahaan investasi, bank, perusahaan asuransi, institusi luar negri, dana perwalian serta institusi lainya. Brancato (1997) dalam Rebecca (2012), menyatakan bahwa: Istilah investor institusional mengacu kepada investor yang dilengkapi dengan manajemen professional yang melakukan investasi atas nama pihak lain, baik sekelompok individu maupun sekelompok organisasi. Jansen dan Meckling (1976) dalam Rebecca (2012), menyatakan bahwa: kepemilikan institusional marupakan salah satu mekanisme corporate gopernance yang dapat digunakan untuk mengendalikan agency problem. Jansen dan Meckling (1976) dalam Wahyu S A (2011) menyatakan bahwa: Dengan adanya investor institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen. Menurut Ashbaugh et al. (2004) dalam Rebecca (2012), menjelaskan bahwa: Adanya kepemilikan saham oleh investor institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen karena mereka memiliki voting power untuk mengadakan perubahan pada saat manajemen sudah dianggap tidak efektif lagi dalam mengelola perusahaan. Berdasarkan beberapa definisi di atas menunjukan bahwa kepemilikan institusional adalah saham perusahaan yang dimiliki oleh institusi atau lembaga seperti perusahaan lain.

Kepemilikan Manajerial (skripsi dan tesis)

Teori Keagenan (agency theory) memunculkan argumentasi terhadap adanya konflik Antara pemilik yaitu pemegang saham dengan para manajer. Konflik tersebut muncul sebagai akibat perbedaan kepentingan diantara kedua belah pihak. Menurut Gideon (2005) dalam Indahningrum dan Handayani (2009), pengertian kepemilikan manajerial adalah: Jumlah kepemlikan saham oleh pihak manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang dikelola. Sedangkan menurut Pithaloka (2009:20), menjelaskan bahwa: Kepemilikan manajerial menunjukan adanya peran ganda seorang manajer, yakni manajer bertindak juga sebagai pemegang saham. Sebagai seorang manajer sekaligus pemegang saham tidak ingin perusahaan dalam keadaan kesulitan bahkan mengalami kebangkrutan. Keadaan ini akan merugikan baik sebagai manajer atau sebagai pemegang saham. Sebagai manajer akan kehilangan insentif dan sebagai pemegang saham akan kehilangan return ataupun dana yang diinvestasikannya. Christiawan dan Josua (2007) dalam Tjeleni (2013), menyatakan bahwa: kepemilikan manajerial adalah situasi dimana memiliki saham perusahaan atau dengan kata lain manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang saham. Menurut Wahidahwati (2002:5) dalam Wahyu S A (2011), yang dimaksud dengan kepemilikan manajerial adalah: Tingkat kepemilikan saham pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengembilan keputusan perusahaan, misalkan direktur dan komisaris. Menurut Sofiana (2009) dalam Pithaloka (2009), peran struktur kepemilikan manajerial dapat dilihat dari dua sudut panadang, yaitu: Pendekatan keagenan (agency approach) dan pendekatan informasi asimetri atau ketidakseimbangan informasi (asymmetric information approach). Dimana pendekatan keagenan menganggap struktur kepemilikan manajerial sebagai sebuah instrumen atau alat untuk mengurangi konflik keagenan diantara berbagai klaim (claim holder) terhadap perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan meningkatkan kepemilikan manajerial untuk mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang saham sehingga bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham. Dengan adanya peningkatan persentase kepemilikan akan mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang saham maka manajer termotivasi meningkatkan kinerja dan bertanggung jawab meningkatkan kemakmuran pemegang saham. Sedangkan menurut pendekatan kedua, informasi asimetri menganggap setruktur kepemilikan manajerial sebagai salah satu cara untuk mengurangi ketidakseimbangan informasi antara insider dan outsider melalui pengungkapan informasi di dalam pasar modal. Dengan adanya kepemilikan saham oleh pihak insider, maka insider akan ikut memperoleh manfaat langsung atas keputusan-keputusan yang diambilnya, selain itu para manajer juga akan semakin hati-hati dalam menentukan hutang perusahaan karena mereka akan memperoleh manfaat langsung dari keputusan yang mereka ambil serta akan menanggung kerugian sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah. Sehingga kebangkrutan perusahaan bukan lagi menjadi tanggung jawab pemilik utama. Berdasarkan beberapa definisi di atas menunjukan bahwa kepemilikan manajerial merupakan persentase kepemilikan saham yang dimiliki oleh manajemen perusahaan seperti direksi dan dewan komisaris maupun setiap pihak yang terlibat secara langsung dalam pembuatan keputusan perusahaan.

Jenis-jenis Kepemilikan Saham (skripsi dan tesis)

Pramoto (2009:38), mengemukakan bahwa jenis kepemilikan saham dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Kepemilikan Saham Institusional Kepemilikan saham institusional adalah kepemilikan saham suatu perusahaan oleh institusi baik yang bergerak dalam bidang keuangan atau non keuangan atau badan huku lain.  2. Kepemilikan Manajerial Kepemilikan Saham Manajerial adalah kepemilikan saham oleh manajemen perusahaan, contohnya kepemilikan saham oleh anggota Board of Directors (BDO) perusahaan. 3. Kepemilikan Keluarga Kepemilikan Keluarga adalah kepemilikan saham oleh keluarga atau sekelompok orang yang masih memiliki relasi kerabat umumnya terdapat pada perusahaan keluarga yang sudah diwariskan turun-temurun. 4. Kepemilikan Pemerintah Kepemilikan saham oleh pemerintah suatu Negara umumnya terdapat pada perusahaan milik Negara atau BUMN ataupun perusahaan milik Negara yang sudah go public 5. Kepemilikan Saham oleh Pihak Asaing Kepemilikan salam oleh pihak asing adalah kepemilikan saham yang dimiliki oleh

Kepemilikan Saham (skripsi dan tesis)

Menurut Pramoto (2009:37), secara umum ada tiga jenis istilah terkait dengan penerbitan saham biasa oleh perusahaan yaitu: 1. Saham biasa yang terotorisasi (authorized common stock ) adalah jumlah saham biasa yang tercantum di dalam anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) perusahaan. Saham biasa yang terotorisasi ini mencerminkan batas jumlah saham biasa yang dapat diterbitkan oleh perusahaan. 2. Saham biasa yang diterbitkan (issued common stock) adalah jumlah sahm biasa yang telah diterbitkan oleh perusahaan ke masyarakat melalui pasar modal. 3. Saham biasa yang beredar (outstanding common stock) adalah jumlah saham biasa yang masih beredar di masyarakat. Saham yang beredar inilah yang mencerminkan kepemilikan terhadap perusahaan

Definisi saham (skripsi dan tesis)

Untuk memperoleh modal, perusahaan menerima setoran dari para investor. Sebagai bukti setoran dikeluarkan tanda bukti pemilikan yang berbentuk saham yang diserahkan kepada pihak-pihak yang menyetorkan modal. Pemilik perusahaan merupakan pihak yang mempunyai saham sehingga disebut pemegang saham. Pengertian saham menurut Anggraeni (2010:25), yaitu: Sertifikat yang menunjukan bukti kepemilikan suatu perusahaan, dan pemegang saham memiliki hak klaim atas penghasilan dan aktiva perusahaan. Menurut Hendy M. Fakhruddin (2008:175), saham merupakan: Salah satu sekuritas atau efek surat berharga yang diperdagangkan di pasar modal yang bersifat kepemilikan. Artinya siapapun yang membeli saham berarti ikut memiliki beberapa persen bagian dari perusahaan tertentu atau perusahaan yang menerbitkan saham. Sedangkan menurut Kamaludin (2011:234), saham merupakan: Sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Para pemegang saham biasa (common stock) suatu perusahaan adalah para pemilik residu perusahaan itu secara kolektif mereka memiliki perusahaan dan menanggung resiko akhir yang berkaitan dengan pemilikan. Berdasarkan ketiga definisi diatas menunjukan bahwa saham merupakan bukti kepemilikan seseorang atau instansi terhadap suatu perusahaan yang menerbitkan saham

Pengertian Teori Keagenan (Agency Theory) (skripsi dan tesis)

Perspektif hubungan keagenan merupakan dasar yang digunakan untuk
memahami suatu keputusan pendanaan perusahaan. Jensen dan Meckling (1976)
dalam Sugiarto (2009) mengembangkan suatu teori tentang bagaimana struktur
kepemilikan mempengaruhi perilaku-perilaku individu dalam perusahaan. Jensen
dan Meckling (1976) dalam sugiarto (2009), menjelaskan hubungan Keagenan
sebagai:
Suatu mekanisme kontrak antara penyedia modal (the principal) dan para
agen. Hubungan keagenan merupakan kontrak, baik bersifat eksplisit
maupun implisit dimana satu orang atau lebih orang (yang disebut
Principal) meminta orang lain (yang disebut agen) utuk mengambil
tindakan atas nama principal.
Hubungan keagenan ini dapat dijelaskan dengan agency theory yang
memberikan wawasan analisis untuk mengkaji dampak dari hubungan agen dengan
principal (pemegang saham) atau pemegang saham mayoritas dengan pemegang
saham minoritas.
Ariyoto (2000) dalam Rebecca (2012), menyatakan bahwa:
Agency theory muncul setelah fenomena terpisahnya kepemilikan
perusahaan dengan pengelolaan yang terdapat di perusahaan-perusahaan
besar modern sehingga teori perusahaan yang klasik tidak bias lagi
dijadikan basis analisis perusahaan seperti itu.
Teori keagenan juga dijelaskan oleh Jansen dan Warner (1998) dalam
Rebecca (2012), yang menyatakan bahwa:
Pada teori perusahaan klasik, pemilik perusahaan yang berjiwa wiraswasta,
mengendalikan sendiri perusahaannya, mengambil keputusan demi
kelangsungan hidup perusahaan sehingga yang diharapkan adalah
maksimum profit sebagai syarat utama untuk bisa bertahan hidup dan
berkembang. Dalam konteks pemisahan kepemilikan dan pengelolaan
perusahaan, selalu muncul masalah dimana kepentingan para pengelola
tidak selalu selaras dengan kepentingan pemilik modal. Disinilah peran
Agency teory yang mengidentifikasi potensi konflik kepentingan antara
pihak-pihak dalam perusahaan yang mempengaruhi prilaku perusahaan
dalam berbagai cara yang berbeda.
Eisenhardt (1989) dalam Rebecca (2012), menyatakan bahwa teori agency
menggunakan tiga asumsi sifat manusia:
1. Manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self interest)
2. Manusia memiliki daya piker terbatas mengenai persepsi masa
mendatang (bounded realitionality).
3. Manusia selalu menghindari risiko (risk averse)
Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut, manajer sebagai agen akan
bertindak opportunistic, yaitu mengutamakan kepentingan pribadinya. Hal inilah
yang kemudian konflik dalam hubungan antara principal dengan agen (agency
conflict). Konflik ini timbul karna ada keinginan manajemen (agen) untuk
melakukan tindakan yang sesuai dengan kepentingannya yang dapat mengorbankan
kepentingan pemegang saham (principal) untuk memperoleh return dan nilai
jangka panjang perusahaan.
Jansen dan Meckling (1976) dalam Indahningrum dan Handayani (2009),
menyatakan bahwa:
Agency problem akan terjadi bila proporsi kepemilikan manajer atas saham
perusahaan kurang dari 100% sehingga manajer cenderung bertindak untuk
mengejar kepentingan dirinya dan sudah tidak berdasarkan maksimalisasi
nilai dalam pengambilan keputusan pendanaan. Kondisi tersebut merupakan
konsekuensi dari pemisahan fungsi pengelolaan dengan fungsi kepemilikan,
manajemen tidak menanggung resiko atas kesalahan dalam mengambil
keputusan, risiko tersebut sepenuhnya ditanggung pemegang saham
(principal). Oleh karena itu manajemen cenderung melakukan pengeluaran
yang bersifat konsumtif dan tidak produktif untuk kepentingan pribadinya,
seperti peningkatan gaji dan status.
Masalah keagenan muncul saat agen tidak selalu bertindak sesuai dengan
kepentingan prinsipal. Pemegang saham tentu menginginkan manajer bekerja
dengan tujuan memaksimalkan kemakmuran pemegang saham. Manajer
perusahaan sebaliknya bisa saja bertindak tidak untuk memaksimumkan
kemakmuran pemegang saham, tetapi memaksimumkan kemakmuran mereka
sendiri (Atmaja, 2008).
Sugiarto (2009:55) menyatakan masalah keagenan dapat muncul dalam
berbagai tipe, yaitu:
Tipe pertama adalah konflik antara manajer dengan pemegang saham.tipe
kedua adalah konflik antara pemegang saham mayoritas dengan pemegang
minoritas. Tipe ketiga adalah konflik antara pemegang saham atau manajer
dengan pemberi pinjaman.
Permasalahan keagenan tipe pertama umum terjadi di negara-negara maju,
dimana banyak ditemukan perusahaan-perusahaan besar yang dikelola
manajer professional dan pemiliknya adalah bersetatus investor dengan
kepemilikan relatif kecil. Principal adalah pemilik perusahaan (pemegang
saham) dan agennya adalah tim manajemen dalam konteks perusahaan. Tim
manajemen diberi kewenangan untuk mengambil keputusan yang terkait
dengan operasi dan strategi perusahaan dengan harapan keputusankeputusan yang diambil akan memaksimumkan nilai perusahaan. Harapan
agar tim manajemen selalu mengambil keputusan yang sejalan dengan
peningkatan nilai perusahaan seringkali tidak terwujud. Banyak keputusan
manajer justru lebih menguntungkan manajer dan mengesampingkan
kepentingan pemegang saham.
Permasalahan keagenan tipe kedua menyoroti konflik kepentingan antara
pemengang saham mayoritas dengan pemegang saham minoritas,
pemegang saham yang biasanya juga menjadi manajer di perusahaan
tersebut atau paling tidak menunjuk manajer pilihannya, dapat mengambil
keputusan yang hanya menguntungkan pemegang saham mayoritas.
Permasalahan keagenan tipe ketiga menyoroti konflik anatara pemegang
saham dengan pemberi pinjaman. Konflik tersebeut disebabkan perbedaan
risiko antara dua pihak (Choi, 1992).
De Jong (1999) dan Jensen & Smith (1985) dalam sugiarto (2009),
menjelaskan bahwa:
Pemegang saham dapat memberlakukan kebijakan yang memungkinkan
terjadinya transfer kesejahteraan dari pemberi pinjaman ke pemegang
saham. Pemberi pinjaman selalu berharap agar bisnis perusahaan berjalan
aman sehingga uang yang dipinjamkan dapat kembali, namun pemegang
saham dapat saja memilih bisnis beresiko tinggi dengan harapan
memperoleh return yang lebih tinggi. Proyek beresiko tinggi hanya akan
menguntungkan pemegang saham tetapi merugikan pemberi pinjaman.
Manajer perusahaan sebagai pengelola tentu akan lebih banyak mengetahui
informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan
pemilik (pemegang saham). Atmaja (2008:13), memaparkan bahwa:
Untuk meyakinkan bahwa manajer bekerja sungguh-sungguh untuk
kepentingan pemegang saham, pemegang saham harus mengeluarkan biaya
disebut agency cost yang meliputi antara lain: pengeluaran untuk memonitor
kegiatan manajer, pengeluaran untuk membuat sesuatu struktur organisasi
yang meminimalkan tindakan-tindakan manajer yang tidak diinginkan, serta
opportunity cost yang timbul akibat kondisi dimana manajer tidak dapat
segera mengambil keputusan tanpa persetujuan pemegang saham.
Menurut Godfrey et al, (2010) dalam Rebecca (20012), biaya agensi yang
muncul dari konflik kepentingan antara agen dengan principal berpotensi
menimbulkan jenis biaya berikut ini :
1. Biaya yang timbul karena dilakukannya kegiatan monitoring cost
kinerja dan perilaku agen oleh principal atau disebut dengan monitoring
cost. Contoh biaya ini adalah biaya yang dikelurakan untuk
menyelenggarakan sistem audit yang dapat membatasi perilaku
oportunistik manajemen.
2. Biaya yang timbul karena dilakukannya pembatasan-pembatasan bagi
kegiatan agen oleh principal atau disebut dengan bonding cost. Contoh
biaya ini adalah biaya yang dikeluarkan manajer untuk menyediakan
laporan keuangan kepada pemegang saham.
3. Biaya yang timbul meskipun sudah dilakukan monitoring dan bonding
atau disebut residual loss. Biaya ini terjadi karena kenyataan bahwa
kadang kala tindakan agen berbeda dari tindakan yang
memaksimumkan kepentingan principal.
Ada beberapa alternatif untuk mengurangi agency cost yaitu pertama
dengan meningkatkan kepemilikan saham oleh manajemen. Menurut Jansen dan
Meckling (1976) dalam purba (2011), menyatakan bahwa:
Penambahan kepemilikan manajerial memiliki keuntungan untuk mensejajarkan
kepentingan manajer dan pemilik saham.
Kedua dengan menggunakan kebijakan hutang. Easterbrook (1984) dalam
purba (2011), menyatakan bahwa:
Pemegang saham akan melakukan monitoring terhadap manajemen. Namun
bila biaya monitoring tersebut tinggi maka mereka akan menggunakan
pihak ketiga yaitu debtholders. Debtholders yang sudah menanamkan
dananya di perusahaan dengan sendirinya akan melakukan pengawasan
akan menggunakan dana tersebut.
Ketiga melalui peningkatan dividen payout ratio. Crutchley dan Hansen
(1989) dalam purba (2011), menyatakan bahwa:
Pembayaran dividen akan menjadi alat monitoring sekaligus bonding bagi
manajemen.
Dan alternatif keempat, institusional investor sebagai pihak yang
memonitor agen. Moh’d et al (1998) dalam Wahyu S A (2011), menyatakan bahwa:
Distribusi saham Antara pemegang saham dari luar seperti institusional investor
dapat mengurangi agency cost.

Jenis-Jenis Akuntansi (skripsi dan tesis)

Di dalam ilmu akuntansi telah berkembang jenis-jenis khusus di mana
perkembangan tersebut disebabkan oleh meningkatnya jumlah dan ukuran
perusahaan serta pengaturan pemerintah. Menurut Wibowo dan Abubakar (2008:2)
adapun jenis-jenis akuntansi yang telah mengalami perkembangan, antara lain:
1. Akuntansi Keuangan (Financial/General Accounting)
Menyangkut pencatatan transaksi-transaksi suatu perusahaan dan
penyusunan laporan berkala di mana laporan tersebut dapat memberikan
informasi yang berguna bagi manajemen, para pemilik, dan kreditor.
2. Pemeriksaan Akuntansi (Auditing)
Merupakan suatu bidang yang menyangkut pemeriksaan laporan-laporan
keuangan melalui catatan akuntansi secara bebas, yaitu laporan keuangan
tersebut diperiksa mengenai kejujuran dan kebenarannya.
3. Akuntansi Manajemen (Management Accounting)
Merupakan bidang akuntansi yang menggunakan baik data historis maupun
data-data taksiran dalam membantu manajemen untuk merencanakan
operasi-operasi di masa yang akan dating.
4. Akuntansi Perpajakan (Tax Accounting)
Mencakup penyusunan laporan-laporan pajak dan pertimbangan tentang
konsekuensi-konsekuensi dari transaksi-transaksi perusahaan yang akan
terjadi.
5. Akuntansi Budgeter (Budgetary Accounting)
Merupakan bidang akuntansi yang merencanakan operasi-operasi
keuangan (anggaran) untuk suatu periode dan memberikan perbandingan
antara operasi-operasi yang sebenarnya dengan operasi yang direncanakan.
6. Akuntansi untuk Organisasi Nirlaba (Nonprofit Accounting)
Merupakan bidang yang mengkhususkan diri dalam pencatatan transaksitransaksi perusahaan yang tidak mencari laba, seperti organisasi
keagamaan dan yayasan-yayasan sosial.
7. Akuntansi Biaya (Cost Accounting)
Merupakan bidang yang menekankan penentuan dan pemakaian biaya serta
pengendalian biaya tersebut yang pada umumnya terdapat pada perusahaan
industri.
8. Sistem Akuntansi (Accounting System)
Meliputi semua teknik, metode, dan prosedur untuk mencatat dan
mengolah data akuntansi dalam rangka memperoleh pengendalian internal
yang baik, di mana pengendalian internal merupakan suatu sistem
pengendalian yang diperoleh dengan adanya struktur organisasi yang
memungkinkan adanya pembagian tugas dan sumber daya manusia yang
cakap dan praktek-praktek yang sehat.
9. Akuntansi Sosial (Social Accounting)
Merupakan bidang yang terbaru dalam akuntansi yang paling sulit untuk
diterangkan secara singkat, karena menyangkut dana-dana kesejahteraan

Laporan Keuangan (skripsi dan tesis)

Pengertian laporan keuangan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) (2011:1): “Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja suatu entitas.” Pada prinsipnya laporan keuangan merupakan suatu susunan daftar atau ringkasan sebagai pertanggungjawaban manajemen perusahaan kepada pihak penilai sebagai yang menilai kinerja perbankan untuk melihat sejauh mana prestasi atau hasil kinerja suatu perusahaan. Hasil kinerja ini dapat digunakan sebagai perbandingan apakah kinerjanya lebih baik atau tidak dengan melihat sisi kelebihan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan. Tujuan laporan keuangan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) (2011:1.5-1.6) adalah: “Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas besar kalangan pengguna laporan keuangan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga menujukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.” Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas yang meliputi aset, liabilitas, ekuitas, pendapatan, dan  beban termasuk keuntungan dan kerugian, kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik dan arus kas. Informasi tersebut beserta informasi lain yang terdapat pada catatan atas laporan keuangan, membantu pengguna laporan keuangan dalam memprediksi arus kas masa depan dan khususnya dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas. Tujuan laporan keuangan perusahaan tercermin dari laporan keuangan yang terdiri dari beberapa unsur laporan keuangan. Seperti yang diungkapkan Agoes dan Estralita Trisnawati (2013:4), laporan keuangan yang lengkap terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut: a. Laporan Laba Rugi Laporan yang menyajikan penghasilan dan beban entitas untuk suatu periode yang merupakan kinerja keuangannya. Laporan ini didasarkan pada konsep penandingan, yaitu suatu konsep yang menandingkan beban dengan penghasilan yang dihasilkan selama periode terjadinya beban tersebut. b. Laporan Perubahan Ekuitas Laporan yang menunjukkan perubahan ekuitas pemilik yang terjadi selama periode waktu tertentu, misalnya sebulan atau setahun. Laporan ini dibuat setelah laporan laba rugi tetapi sebelum neraca, karena jumlah ekuitas pemilik pada akhir periode harus dilaporkan di neraca. c. Neraca Informasi yang menyajikan aset, kewajiban, dan ekuitas suatu entitas pada tanggal tertentu, misalnya pada akhir bulan atau akhir tahun. Ada dua bentuk neraca, yaitu bentuk akun dan juga bentuk laporan, menurut IAI dalam SAK-ETAP (2009:22) pengungkapan neraca untuk entitas berbentuk perseroan terbatas mengungkapkan antara lain hal-hal sebagai berikut: (a) untuk setiap kelompok modal dan saham terdiri dari jumlah saham modal dasar; jumlah saham yang diterbitkan dan disetor penuh; nilai nominal saham; ikhtisar perubahan jumlah saham beredar; hak, keistimewaan dan pembatasan yang melekat pada setiap jenis saham, termasuk pembatasan atas dividen dan pembayaran kembali atas modal; (b) penjelasan mengenai cadangan dalam ekuitas. d. Laporan Arus Kas Laporan yang menyajikan informasi perubahan historis atas kas dan setara kas entitas, yang menunjukkan secara terpisah perubahan yang terjadi selama satu periode dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Laporan arus kas terdiri atas tiga bagian, yaitu:  i. arus kas dari aktivitas operasi, merupakan arus kas dari transaksi yang mempengaruhi laba neto dan aset lancar serta kewajiban lancar; ii. arus kas dari aktivitas investasi, merupakan arus kas dari transaksi yang mempengaruhi investasi dan aset tidak lancar; iii. arus kas dari aktivitas pendanaan, merupakan arus kas dari transaksi yang mempengaruhi kewajiban tidak lancar dan ekuitas. e. Catatan atas Laporan Keuangan Berisi informasi sebagai tambahan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan naratif atau rincian jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan dan informasi pos-pos yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.

Pengertian Akuntansi (skripsi dan tesis)

Pengertian akuntansi menurut Wild & Kwok (2011:4) dalam Agoes dan Estralita Trisnawati (2013:1), yaitu: “Akuntansi adalah sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan. Akuntansi mengacu pada tiga aktivitas dasar yaitu mengidentifikasi, merekam dan mengkomunikasikan kejadian ekonomi yang terjadi pada organisasi untuk kepentingan pihak pengguna laporan keuangan yang terdiri dari pengguna internal dan eksternal.” Sementara itu, pengertian akuntansi menurut Soemarso (2009:14): “Akuntansi (accounting) suatu disiplin yang menyediakan informasi penting sehingga memungkinkan adanya pelaksanaan dan penilaian jalannya perusahaan secara efisien.” Adapun pengertian akuntansi menurut Mursyidi (2010:17): “Akuntansi adalah proses pengidentifikasian data keuangan, memproses pengolahan dan penganalisisan data yang relevan untuk diubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk pembuatan keputusan.” Menurut Hanafi dan Abdul Halim (2012:27) bahwa definisi akuntansi adalah: “Sebagai proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dan pengkomunikasian informasi ekonomi yang bisa dipakai untuk penilaian (judgement) dan pengambilan keputusan oleh pemakai informasi tersebut.”

Ukuran Perusahaan Berpengaruh Positif Terhadap Kinerja Perusahaan (skripsi dan tesis)

Ukuran perusahaan bisa dilihat dari total asset perusahaan. Menurut Astuti dan Zuhrotun 2007 (dalam Basir 2003), perusahaan dengan total asset yang besar mencerminkan kemapanan perusahaan. Ukuran perusahaan adalah suatu skala yang dapat mengklasifikasikan besar kecilnya suatu perusahaan (Aryani, 2011). Pada umumnya perusahaan besar memiliki operasi yang stabil sehingga mampu memperoleh penjualan yang lebih stabil dibanding perusahaan kecil. Kemampuan mempertahankan penjualan tersebut pada akhirnya akan menghasilkan laba yang persisten. Dengan demikian semakin besar ukuran suatu perusahaan maka akan semakin persisten laba pada perusahaan tersebut. Hal tersebut didukung oleh penelitian Laksmana dan Yang (2009), Francis et al. (2004) dan Dechow dan Dichev (2002)

Hubungan antara GCG dengan Kinerja Perusahaan (skripsi dan tesis)

Good Corporate governance ( Tata kelola perusahaan ) merupakan seperangkat hubungan antar manajemen perusahaan, dewan, pemegang saham, dan pemangku kepentingan lainnya (Haddad et al., 2011). Kinerja perusahaan ditentukan sejauh mana keseriusannya dalam menerapkan good corporate governance. Perusahaan dengan level GCG yang tinggi menunjukan adanya pengawasan yang kuat dari shareholder terhadap manajemen, sehingga dapat mengurangi peluang manjemen untuk melakukan tindakan yang menguntungkan diri sendiri dan merugikan perusahaan. Maka dari itu kepentingan antara principal dan agent menjadi selaras dengan kepentingan perusahaan. Dengan selarasnya antara principal dan agent maka hasil kerjanya efektif dan efisien sehingga kinerja perusahaan menjadi lebih unggul. sehingga kinerja perusahaan meningkat. Maka dari itu terdapat pengaruh yang positif antara GCG terhadap kinerja (Yasser, 2011; Javid & Iqbal, 2009).

Hubungan antara Struktur Kepemilikan Keluarga dan Kinerja Perusahaan (skripsi dan tesis)

Perusahaan dikategorikan milik keluarga jika di perusahaan tersebut terdapat anggota keluarga yang menduduki bagian Board of Director atau manajerial atau presentase kepemilikan sahamnya 10% atau lebih. Biasanya perusahaan keluarga memiliki insentif yang tinggi untuk mengontrol perusahaan serta memiliki pengetahuan lebih akan perusahaan sehingga kontrol yang dilakukan keluarga lebih efektif (Anderson & Reeb, 2003; Shyu, 2011). Sehingga perusahaan dengan struktur kepemilikan keluarga diyakini dapat mengurangi agency problem antara principal dan agent (Fama & Jensen, 1983). Dengan berkurangnya agency problem maka akan mengurangi agency cost dan bisa menaikan profitabilitas perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) ketika keluarga sebagai pemegang saham, mereka akan memiliki insentif untuk meminimalisasi masalah keagenan dan mengawasi keputusankeputusan manajerial yang berkaitan dengan perusahaan sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Di sisi lain perusahaan keluarga cenderung mempertahankan anggota keluarga yang tidak kompeten sehingga keluarga yang berada duduk dalam manajemen tidak bekerja dengan baik serta keluarga melakukan tindakan yang menguntungkan diri sendiri dengan memberikan kompensasi yang berakibat anggota yang bukan anggota keluarga merasa tidak dihargai dan menurukan profitabilitas perusahaan. Hal ini telah di teliti oleh Fama dan Jensen (1983); Leksmono (2010); Abdullah et al (2011); Miller (2007); Villalonga dan Amit (2006); Cucculelli dan Micucci (2008); Rehman dan Shah (2013); Fazlzadeh, et al (2011); Onder (2003); Lauterbach dan Vaninsky (1999); Morck et al (1988); Juniarti (2015). yang menyatakan bahwa kepemilikan keluarga berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan.

Ukuran Perusahaan (skripsi dan tesis)

Ukuran perusahaan adalah skala yang mengendalikan kemungkinan dampak dari ukuran perusahaan pada discretionary acrual di mengklasifikasikan besar kecilnya suatu perusahaan (Aryani, 2011). Perusahaan besar memiliki operasi yang stabil dan dapat diprediksi yang akan berdampak pada laba yang semakin tinggi dan berkelanjutan (Dechow & Dichev, 2002). Scherer (1973) dalam Baginski et al. (1999) menunjukkan bukti bahwa variabilitas tingkat pertumbuhan perusahaan besar lebih rendah dari perusahaan kecil karena perusahaan besar memiliki sumber daya keuangan yang diharapkan dapat menstabilkan pertumbuhan dan menyebabkan aliran pendapatan lebih persisten. Francis et al. (2004) menyatakan bahwa ukuran perusahaan diproksikan dengan log dari total aset.

Intensitas Persaingan (skripsi dan tesis)

Intensitas persaingan adalah tingkat kompetisi yang dihadapi oleh perusahaan dalam industri ritel. Secara spesifik, intensitas persaingan berkaitan dengan jumlah kompetitor lokal maupun asing, frekuensi penggunaan teknik marketing (seperti periklanan, aktivitas harga) untuk mendapatkan market share dan jumlah dari kompetitor yang menggunakan teknik ini dan intensitas penggunaan teknik ini (Slater dan Narver, 1994). Intensitas persaingan juga dapat didefinisikan sebagai tingkatan persaingan yang terjadi di dalam suatu industri (Porter,1980). Menurut Porter (2008), intensitas persaingan pada sebuah industri dapat dipandang dari lima kekuatan antara lain: 1. Ancaman Pendatang Baru (threat of new entrants) yaitu ancaman dari pendatang baru yang masuk ke dalam industri sejenis, semakin sulit tingkat masuk perusahaan baru ke dalam industri maka ancaman yang dihadapi perusahaan relatif ringan, namun apabila perusahaan baru mudah untuk masuk ke dalam industri maka ancaman terhadap perusahaan relatif besar. 2. Kekuatan Tawar-menawar Pemasok (bargaining power of suppliers) yaitu kekuatan daya tawar pemasok, tingkat kekuatan daya tawar pemasok ditentukan jumlah dari pemasok tersebut, apabila terdapat banyak pilihan pemasok maka daya tawar perusahaan terhadap pemasok menjadi tinggi, apabila terdapat sedikit pilihan pemasok maka daya tawar perusahaan terhadap pemasok menjadi rendah. 3. Kekuatan Tawar-menawar Pembeli (bargaining power of buyers) yaitu kekuatan daya tawar pembeli, ditentukan oleh kemampuan mempengaruhi industri untuk menekan harga produk menjadi lebih murah, kualitas produk yang lebih baik, peningkatan kualitas pelayanan, serta membandingkan perusahaan dengan kompetitornya. Ketika pembeli dalam suatu industri dapat beralih ke produk lain dengan mudah, industri kesulitan dalam mempertahankan pembeli, maka semakin tinggi kekuatan daya tawar pembeli. 4. Ancaman Produk Substitusi (threat of substitute products) yaitu ancaman dari produk atau jasa pengganti, semakin murah dan mudah didapatkan produk pengganti maka akan semakin besar ancaman terhadap perusahaan. 5. Persaingan di Dalam Industri (rivalry among existing competitors) yaitu persaingan di antara perusahaan yang sudah ada dalam industri.

Good Corporate Governance (skripsi dan tesis)

Good Corporate governance ( Tata kelola perusahaan ) merupakan seperangkat hubungan antar manajemen perusahaan, dewan, pemegang saham, dan pemangku kepentingan lainnya (Haddad et al., 2011). Secara teoritis, penerapan GCG dapat meningkatkan nilai perusahaan, karena dengan penerapan GCG yang baik dapat mengurangi risiko yang mungkin dilakukan oleh dewan dengan keputusan-keputusan yang menguntungkan diri sendiri, dan umumnya corporate governance dapat meningkatkan tingkat kepercayaan para investor (Newell dan Wilson 2002). Menurut FCGI (2001), tujuan dari corporate governance adalah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders). Mekanisme GCG adalah sebagai berikut: 1) Board Size adalah jumlah anggota dewan didalam suatu perusahaan. 2) Board Composition yaitu proporsi dewan independen didalam suatu organisasi yang didalam mengambil keputusan bertindak secara independen. 3) Board Meeting yang merupakan frekuensi rapat dewan dalam setahun serta berguna untuk meningkatkan efektivitas perusahaan. Dan ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari penerapan GCG, antara lain : 1. Meningkatkan kinerja perusahaan. 2. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah yang pada akhirnya akan meningkatkan corporate value. 3. Mengembalikan kepercayaan investor untuk kembali menanamkan modalnya di Indonesia, pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan Shareholders’s value dan deviden, dan mencegah tindak kecurangan perusahaan. Pengukuran GCG sendiri menggunakan proksi GCG Score yang didalamnya terdapat 5 subindex yang digunakan sebagai acuan dalam penghitungan skor GCG antara lain Hak Pemegang saham (subindex A) untuk skoring hak para pemegang saham, Boards of Directors (subindex B) menjelaskan tentang variabel yang dipakai untuk melakukan skoring ke dewan komisaris, Outside Directors (subindex C) yang dipakai untuk skoring terhadap komisaris independen, Audit Commitee and Internal Auditor (subindex D) menjelaskan tentang variabel yang dipakai untuk melakukan skoring ke komite audit dan auditor internal, dam Disclosure to Investors ( subindex E) menjelaskan tentang variabel yang dipakai untuk melakukan skoring terhadap pengungkapan kepada investor. Menurut Black, Jang, dan Kim (2003) masingmasing subindex diberi 1 poin jika terpenuhi dan nilai 0 apabila tidak terpenuhi.

Kinerja Perusahaan (skripsi dan tesis)

Kinerja perusahaan merupakan variabel yang paling sering digunakan dalam penelitian-penelitian perusahaan sekarang ini (Rogers and Wright, 1998). Kinerja perusahaan memperlihatkan kemampuan perusahaan untuk memberikan keuntungan dari aset, ekuitas, maupun hutang (astuti et al, 2015). Kinerja perusahaan itu sendiri merupakan hasil sesungguhnya atau output yang dihasilkan sebuah perusahaan yang kemudian diukur dan dibandingkan dengan hasil atau output yang diharapkan (Jahanshahi et al , 2012). Penelitian ini menggunakan Return on Asset (ROA) sebagai dasar pengukuran kinerja finasial keuangan. Alasan peneliti menggunakan ROA sebagai proxy dari kinerja perusahaan karena ROA lebih komprehensif dalam mengukur tingkat pengembalian secara keseluruhan baik dari hutang maupun modal.

Komposisi Dewan Komisaris (skripsi dan tesis)

Komposisi Dewan Komisaris adalah susunan keanggotaan yang terdiri
dari komisaris dari luar perusahaan (komisaris independen) dan komisaris
dari dalam perusahaan. Menurut aturan yang dikeluarkan oleh PT Bursa
Efek Jakarta (BEJ) didalam pencatatan efek nomor 1-A tentang ketentutan
umum pencatatan efek yang bersifat ekuitas di bursa dalam angka 1-a
menyebutkan tentang rasio komisaris independen yaitu komisaris
independen yang jumlahnya secara proporsional jumlah saham anggota
komisaris independen sekurang-kurangnya 30% dari jumlah seluruh
anggota dewan komisaris wajib diisi oleh anggota komisaris yang berasal
dari luar perusahaan. Jadi, seperti itulah komposisi dewan komisaris yang
ideal. Berdasarkan konflik kepentingan antara pemilik perusahaan
(pricipal) dengan manajemen (agent) serta asimetri informasi akibat dari
segala tindakan manajer yang tidak dapat diawasi langsung oleh pemilik
perusahaan setiap harinya. Untuk mencegah kemungkinan seorang
manajer untuk melakukan manajemen laba, maka diperlukan komposisi
dewan komisaris yang ideal sebagai pihak penengah dan pengawas agar
pelaporan keuangan dapat sesuai dengan kegiatan perusahaan yang
sesungguhnya terjadi. Fama dan Jensen (1983) menyatakan bahwa
komisaris independen dapat bertindak sebagai penengah dalam
perselisihan yang terjadi diantara para manajer internal dan mengawasi
kebijakan manajemen serta memberikan nasihat kepada manajemen. Kao
dan Chen (2004) dalam Tutut (2010) mengemukakan bahwa komposisi
dewan komisaris luar perusahaan lebih independen terhadap manajemen
dibandingkan dengan dewan komisaris yang berada di dalam perusahaan,
sehingga lebih efektif dalam melaksanakan fungsi pengawasan terhadap
manejemen. Egon (2000) dalam Bimo (2012) menyatakan bahwa dewan
komisaris merupakan inti dari corporate governance yang ditugaskan
untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen
dalam mengelola perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya
akuntabilitas. Jadi, dengan adanya komposisi dewan komisaris yang ideal,
diharapkan mampu untuk melakukan pengawasan yang baik ke
perusahaan secara keseluruhan guna menekan keinginan manajer dalam
melakukan manajemen laba. Sehingga, semakin besar proporsi dewan
komisaris independen dalam komposisi dewan komisaris maka
manajemen laba akan semakin berkurang. Komisaris independen
merupakan posisi terbaik untuk melaksanakan fungsi monitoring agar
terciptanya perusahaan yang memiliki Corporate Governance yang baik.
Variabel komposisi dewan komisaris ini dihitung dengan membagi jumlah
komisaris independen terhadap jumlah total anggota komisaris

Kecakapan Manajerial (skripsi dan tesis)

Berdasarkan teori agensi yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan kepentingan antara pemilik (principal) dengan manajemen (agent) perusahaan yang mengasumsikan bahwa setiap individu bertindak atas kepentingan serta keuntungan pribadi mereka sendiri dan teori tentang asimetri informasi yang biasa terjadi di perusahaan yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan keadaan, dimana manajemen (agent) mempunyai informasi yang lebih banyak tentang perusahaan dibandingkan pemilik perusahaan (principal). Hal-hal seperti inilah yang dimanfaatkan seorang manajer untuk melakukan manajemen laba. Hal ini didasari bahwa berharap seorang manajer yang cakap akan selalu melaporkan laba yang berkualitas adalah hal yang tidak mungkin, karena seorang manajer yang cakap dipandang lebih mampu dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada untuk melakukan manajemen laba, demi mendapatkan bonus yang lebih besar lagi. Sugiri (2005) dalam Isnugrahadi dan Kusuma (2009) mengatakan ada dua hal prasyarat yang harus ada agar manajemen selalu jujur dalam melaksanakan tugasnya. Pertama, kultur organisasional harus mendukung pengambilan keputusan yang etis. Kedua, manajemen harus memiliki pemotivator untuk selalu bertindak jujur. Tindakan manajer juga tidak dapat langsung diamati oleh para pemegang saham. Pada kondisi ini manajer memiliki informasi tersembunyi yang bisa dieksploitasi demi kepentingan pribadi manajer. Pada saat yang sama terjadi asimetri informasi yang mendorong manajemen untuk melakukan rekayasa laba. Seorang manajer handal yang termotivasi untuk melakukan tindakan oportunis akan lebih mampu untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada untuk melakukan manajemen laba.

Data Envelopment Analysis (DEA) (skripsi dan tesis)

Data Envelopment Analysis (DEA) biasanya digunakan untuk mengukur efisiensi relatif organisasi atau perusahaan. Satuan ukuran ini biasanya dinyatakan dalam Decision Making Unit atau Unit Kegiatan Ekonomi (UKE). Efisiensi relatif suatu UKE adalah efisiensi suatu UKE yang dibandingkan dengan efisiensi UKE lainnya dalam satu kesatuan populasi sampel. Di sini berlaku syarat bahwa UKE-UKE tersebut memiliki set data yang terdiri dari jenis input dan output yang sama. Menurut DEA, UKE dikatakan efisien jika rasio perbandingan output/input sama dengan 1 atau 100%, artinya UKE tersebut sudah tidak lagi melakukan pemborosan dalam penggunaan input-inputnya dan atau mampu memanfaatkan secara optimal kemampuan potensial produksi yang dimiliki sehingga mampu mencapai tingkat yang efisien.

Manajemen Laba (skripsi dan tesis)

Setiap individu mempunyai sifat yang cenderung untuk memaksimalkan kepentingannya sendiri. Demikian juga seorang manajer yang bekerja dalam sebuah perusahaan akan berusaha mencapai utilitasnya, apalagi pihak pemilik yang tidak dapat memonitor kinerja manajer setiap saat untuk meyakinkan bahwa mereka bekerja sesuai keinginan pemegang saham. Sugiri (1998) dalam Widyaningdyah (2001) mengatakan bahwa manajemen laba merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut .

Komposisi Dewan (skripsi dan tesis)

Komisaris Komposisi Dewan Komisaris adalah susunan keanggotaan yang terdiri dari komisaris dari luar perusahaan (komisaris independen) dan komisaris dari dalam perusahaan. Dewan komisaris memiliki peran untuk memonitor kebijakan direksi. Peran komisaris ini diharapkan dapat meminimalisir permasalahan agensi yang muncul antara dewan direksi dan pemengang saham, sehingga kinerja yang dihasilkan oleh perusahaan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan.

Kecakapan Manajerial (skripsi dan tesis)

Kecakapan manajerial dalam penelitian ini didefinisikan sebagai tingkat
keefisienan relatif sebuah perusahaan dalam mengelola input-input (faktorfaktor sumber daya dan operasional) untuk meningkatkan output
(penjualan). Tingkat keefisienan relatif ini kemudian disimpulkan sebagai
hasil dari kecakapan manajer. Semakin efisien sebuah perusahaan
dibanding dengan perusahaan lainnya dalam subsektor industri
pemanufakturan yang sama, maka semakin cakap manajer yang berada di
perusahaan tersebut (Isnugrahadi dan Kusuma, 2009).

Asimetri Informasi (skripsi dan tesis)

Asimetri informasi adalah suatu keadaan dimana manajer (agent)
mempunyai informasi yang lebih banyak tentang perusahaan dan prospek
di masa yang akan datang dibandingkan dengan pemegang saham
(principal). Kondisi ini memberikan kesempatan kepada agent
menggunakan informasi yang diketahuinya untuk memanipulasi pelaporan
keuangan sebagai usaha untuk memaksimalkan kemakmurannya.

Teori Agensi (skripsi dan tesis)

Adanya pemisahan kepemilikan oleh principal dengan pengendalian oleh agent dalam sebuah organisasi cenderung menimbulkan konflik keagenan diantara principal dan agent. Teori agensi mengasumsikan bahwa semua individu bertindak atas kepentingan mereka sendiri. Pemegang saham sebagai principal hanya tertarik kepada hasil investasi mereka bertambah di dalam perusahaan. Sedangkan para manajer sebagai agent menerima kepuasan berupa kompensasi keuangan dan syarat-syarat yang menyertai dalam hubungan tersebut

Model Kompetensi dan Penilaian (skripsi dan tesis)

Model Kompetensi dan Penilaian Model kompetensi beragam dari satu organisasi ke organisasi lainnya, karena kesuksesan paling sering didefinisikan dalam hal memenuhi kebutuhan bisnis. Kebutuhan bisnis yang berbeda jadi model kompetensi juga berbeda. Saat mempertimbangkan untuk membuat suatu model kompetensi dalam organisasi, perlu diperhatikan secara luas berbagai perilaku, pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk menciptakan model sendiri (Barbazette, 2005). Berdasarkan konsep kompetensi dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang aparatur sipil negara, PERKA-BKN Nomor 7 Tahun 2013 tentang pedoman penyusunan standar kompetensi manajerial dan PERKA-BKN Nomor 8 Tahun 2013 tentang pedoman penyusunan standar kompetensi teknis serta adaptasi model kompetensi piramida (Mittas dkk., 2015)

Perancangan Basis Data (skripsi dan tesis)

Perancangan basis data merupakan suatu proses pembuatan sebuah desain yang akan mendukung tujuan dan operasi dari perusahaan untuk kebutuhan sistem basis data (Connolly dan Begg, 2005). Tujuan utama dari perancangan basis data adalah untuk mempresentasikan data dan relationship antar data yang dibutuhkan oleh seluruh area aplikasi dan grup pengguna, kemudian menyediakan model data yang mendukung segala transaksi yang diperlukan pada data, serta menspesifikasikan rancangan minimal yang secara tepat disusun untuk memenuhi kebutuhan performa yang ditetapkan pada sistem. Untuk mendesain basis data sebuah perusahaan, ada proses desain yang harus dilalui yang dibagi menjadi tiga fase utama yaitu perancangan basis data konseptual (Conceptual Database Design), perancangan basis data logikal (Logical Database Design), dan perancangan basis data fisikal (Physical Database Design) (Connolly dan Begg, 2005). Perancangan konseptual (Conceptual Database Design) adalah proses membangun model data yang digunakan dalam perusahaan, yang terlepas dari semua pertimbangan-pertimbangan fisik seperti platform perangkat keras (dasar atau tempat untuk menjalankan perangkat lunak) contohnya personal computer (PC), MAC, PDA/Smartphone, dan lain-lain, kemudian program aplikasi, masalah kinerja, bahasa pemograman, target DBM dan pertimbangan fisik lainnya. Tujuan dari perancangan basis data konseptual adalah mengidentifikasi entitas penting beserta atribut-atributnya dan hubungan antar entitas yang satu dengan yang lainnya. Setelah melalui tahap perancangan basis data konseptual, tahap selanjutnya adalah melakukan perancangan basis data logikal (Logical Database Design). Pada tahap ini dibangun sebuah model data yang akan digunakan pada perusahan berdasarkan sebuah model data spesifik tetapi terlepas dari DBMS (Sistem 15 Manajemen Database) dan pertimbangan fisik lainnya. Tujuan perancangan basis data logikal adalah untuk menerjemahkan model dan konseptual menjadi model data logikal dari basis data yang meliputi perancangan relasi-relasi dan kemudian memvalidasi model tersebut untuk mengecek apakah sudah terstruktur dengan benar dan mampu mendukung kebutuhan transaksi. Tahap akhir dari perancangan basis data adalah membangun perancangan data fisikal (Physical Database Design) yang menghasilkan deskripsi dari pengimplementasian suatu basis data pada media penyimpanan kedua. Menjelaskan relasi dasar, pengaturan file, dan indeks yang digunakan untuk mencapai akses data yang efisien, integrity constraint yang terkait, serta ukuran keamanan. Tahap ini menerjemahkan model data logikal global untuk target DBMS. Langkah ini bertujuan untuk menghasilkan skema basis data relasional dari model data logikal yang dapat diimplementasikan pada DBMS pilihan.

Kepemimpinan (skripsi dan tesis)

a. Pengertian Kepemimpinan
Wirawan (2013) mengartikan kepemimpinan sebagai proses
pemimpin menciptakan visi dan melakukan interaksi saling
mempengaruhi dengan bawahannya dalam rangka merealisasikan
visi yang telah dirancang. Menurut Yulk (2015) kepemimpinan
adalah proses yang disengaja dari seseorang untuk meberikan
pengaruhnya terhadap orang lain guna membimbing dan
mengarahkan yang berkaitan dengan jalannya organisasi menuju
visi.
Robbins dan Judge (2008) mendefinisikan kepemimpinan
sebagai kemampuan untuk mempengaruhi kelompok dengan tujuan
mancapai sarasan. Zekeri mengatakan bahwa kepemimpinan adalah
variabel kunci yang mempengaruhi kinerja organisasi dan
keberhasilan pemimpin mewujudkan tujuan untuk merubah dan
mempengaruhi orang lain untuk menyebarkan tujuannya
(Mcfarlane).
b. Sifat-sifat kepemimpinan
Tampubolon (2012) mengungkapkan ada beberapa sifat
kepemimpinan yang amat penting, yaitu:
1) Integritas
Setiap pemimpin harus siap menghadapi segala situasi yang
akan dihadapi. Dengan semua kapasitasnya untuk menghadapi
bahaya yang kecil sampai bahaya yang fatal. Dengan demikian,
bahaya akan dapat dihadapi dengan meminimalkan resiko.
2) Kecerdasan dan pengetahuan
Pemahaman seorang pemimpin tentang bidangnya sangat
diperlukan untuk membuat keputusan yang tepat sasaran. Dan
pengetahuan yang dimiliki akan sempurna dengan ditopang
kecerdasan dalam mengelola pengetahuan.
3) Rasa simpati insani
Setiap pemimpin harus mampu memandang dua unsur penting,
yaitu orang dan hasil. Pemimpin yang hanya memandang pada
satu unsur saja , tidak akan mendapatka hasil yang maksimal.
4) Kesungguhan
Kesungguhan merupakan tanda kedewasaan yang dapat
memusatkan perhatian dan mengerjakan apa yang dibutuhkan
keadaan akibat beberapa hal yang dibutuhkan.
5) Kesadaran terhadap diri
Pemimpin yang baik adalah yang mengetahui dirinya sendiri,
baik kemampuan maupun apa tujuannya. Dengan demikian
pemimpin mampu untuk mengambangkan kemampuan dan
mampu mengandalikan diri.
c. Indikator kepemimpinan
Kepemimpinan pada hakikatnya adalah bagaimana
pemimpin mampu memahami dan menguasai kemampuan
manajerial dan kepemimpinan yang efektif seperti yang
diakronimkan bahwa kepala sekolah sebagai EMASLIM (educator,
manajer, adminstrator, supervisor, leader, inovator, dan motivator)

Profesionalisme (skripsi dan tesis)

a. Pengertian Profesionalisme
Profesionalisme dapat diartikan sebagai komitmen anggota
suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan
terus menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya
dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya itu. Orang
yang profesional memiliki sikap-sikap yang berbeda dengan orang
yang tidak profesional meskipun dalam pekerjaan yang sama atau
katakanlah berada pada satu ruang kerja (Danim, 2002).
Konsep profesionalisme dapat dipahami sebagai sikap
seseorang atau sekelompok orang yang berhasil menjadikan diri atau
kelompoknya memiliki sistem budaya yang mampu memberikan
pelayanan yang memuaskan bagi yang dilayani sesuai tugas dan
tanggung jawabnya. Seorang profesional akan memaknai
pekerjaannya bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai
kebutuhan. Dengan demikian seorang profesional akan melakukan
tugasnya dengan nyaman (Sairin, et, al., 2003).
b. Karakteristik Profesi
Pendekatan karakteristik memandang bahwa profesi
mempunyai seperangkat elemen inti yang membedakan dengan
pekerjaan lain. Seorang penyandang profesi dapat dikatakan
profesional manakala elemen elemen inti itu menjadi bagian integral
dalam kehidupannya. Karakteristik profesi yang dimaksud adalah
sebagai (Danim, 2002) berikut:
1) Kemampuan intelektual yang diperoleh melalui pendidikan
2) Memiliki pengetahuan spesialisasi
3) Memiliki pengetahuan praktis yang dapat digunakan langsung
oleh orang lain atau kalien
4) Memiliki teknik kerja yang dapat dikomunikasikan
(communicable)
5) Memiliki kapasitas mengkomunikasikan kerja secara mandiri
6) Mementingkan kepentingan orang lain
7) Memiliki kode etik
c. Guru Profesional
Guru profesional seperti yang dipaparkan Sumarno (2009)
dalam penelitianya adalah sebagai berikut:
1) Menguasai kurikulum
2) Menguasai materi setiap mata pelajaran
3) Menguasai metode dan evaluasi belajar
4) Setia terhadap tugas
5) Disiplin.
d. Dimensi Profesionalisme
Hasbullah dan Moeins dalam penelitiannya memaparkan tiga
dimensi prrfesionalisme, antara lain:
1. Pengetahuan (Knowlage), yang diukur dengan indikator:
a) Tingkat pengetahuan mendalam tentang subjek,
b) Pengetahuan tingkat mendalam tentang mengajar dan
belajar,
c) Tingkat pemahaman masyarakat,
d) Tingkat pengetahuan kebijakan dan organisasi dalam
pendidikan kepemimpinan.
2. Keterampilan (Skill), yang diukur dengan indikator:
a) Kemampuan untuk berkomunikasi dan mendiskusikan
masalah-masalah pendidikan dengan khalayak yang lebih
luas,
b) Tingkat kemampuan untuk menjelaskan kualitas
pekerjaannya kepada orang luar,
c) Tingkat kemampuan untuk melakukan kelas tindakan
penelitian,
d) Tingkat kemampuan untuk berkontribusi pada pembelajaran
bekerja sama dengan masyarakat profesional,
e) Sejauhmana menerjemahkan hasil penelitian pendidikan
sebagai inovasi di kelas / sekolah
3. Sikap (Attitude), yang diukur dengan indikator:
a) Tingkat dedikasi mengajar,
b) Tingkat komitmen terhadap profesi dan kelompok
profesional,
c) Tingkat pengetahuan berkontribusi pada pengembangan
kelompok profesional,
d) Tingkat komitmen untuk mematuhi kode perilaku
profesional dan integritas profesi,
e) Fokus pada tingkat pengembangan profesional
berkelanjutan,
f) Tingkat fokus pada peningkatan dan inovasi pengajaran.

Self-Efficacy (skripsi dan tesis)

Marrison mengungkapkan bahwa self-efficacy adalah
kecenderungan seseorang melibatkan diri dalam suatu kegiatan yang
mengarah pada sasaran (Fadzilah, 2006). Dengan adanya
tujuan/sasaran akan membuat seseorang melakukan pekerjaan
sebaik mungkin dan menjadikannya sebagai motivasi diri dalam
melaksanakan tugas. Dengan demikian efektifitas kerja akan dapat
dicapai.
Menurut Bandura Self-efficacy adalah konsep kepercayaan
seseorang untuk dapat mengkontrol berbagai keadaan dan kejadian
di dalam kehidupan (Jaafar, et, al., 2012). Self-Efficacy tidak
berkaitan langsung dengan kecakapan yang dimiliki individu,
melainkan pada penilaian diri tentang apa yang dapat dilakukan dari
apa yang dapat dilakukan, tanpa terkait dengan kecakapan yang
dimiliki.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Self-Efficacy
Menurut Bandura terdapat beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi self-efficacy (Fatmasari, 2017), antara lain
1) Pengalaman akan kesuksesan
Keberhasilan yang sering didapatkan akan meningkatkan selfefficacy yang dimiliki seseorang sedangkan kegagalan akan
menurunkan self-efficacynya. Apabila keberhasilan yang
didapat seseorang seseorang lebih banyak karena faktor-faktor
di luar dirinya, biasanya tidak akan membawa pengaruh
terhadap peningkatan self-efficacy. Akan tetapi, jika
keberhasilan tersebut didapatkan dengan melalui hambatan
yang besar dan merupakan hasil perjuangannya sendiri, maka
hal itu akan membawa pengaruh pada peningkatan selfefficacynya.
2) Pengalaman individu lain
Pengalaman keberhasilan orang lain yang memiliki kemiripan
dengan individu dalam mengerjakan suatu tugas biasanya akan
meningkatkan self-efficacy seseorang dalam mengerjakan
tugas yang sama. Self-efficacy tersebut didapat melalui social
models yang biasanya terjadi pada diri seseorang yang kurang
pengetahuan tentang kemampuan dirinya sehingga mendorong
seseorang untuk melakukan modeling. Namun self-efficacy
yang didapat tidak akan terlalu berpengaruh bila model yang
diamati tidak memiliki kemiripan atau berbeda dengan model.
3) Persuasi verbal
Informasi tentang kemampuan yang disampaikan secara verbal
oleh seseorang yang berpengaruh biasanya digunakan untuk
meyakinkan seseorang bahwa ia cukup mampu melakukan
suatu tugas.
4) Keadaan fisiologis
Kecemasan dan stress yang terjadi dalam diri seseorang ketika
melakukan tugas sering diartikan sebagai suatu kegagalan. Pada
umumnya seseorang cenderung akan mengharapkan
keberhasilan dalam kondisi yang tidak diwarnai oleh
ketegangan dan tidak merasakan adanya keluhan atau gangguan
somatic lainnya. Self-efficacy biasanya ditandai oleh
rendahnya tingkat stress dan kecemasan sebaliknya selfefficacy yang rendah ditandai oleh tingkat stress dan kecemasan
yang tinggi pula.

Kerangka Kerja Manajemen Talenta (skripsi dan tesis)

Menurut Pella dan Inayati, proses manajemen talenta
tertuang dalam kerangka manajemen talenta yang disusun
berdasarkan komponen komponen inti (Kusuma, 2017). Komponen
inti tersebut meliputi berbagai proses , antara lain:
1) Proses perekrutan dan seleksi, meliputi upaya yang dilakukan
organisasi dalam mengidentifkasi keterampilan teknis,
kompetensi, komitmen, karakter dan berbagai unsur talenta lain
yang sesuai dengan kebutuhan organisasi, untuk selanjutnya
melakukan pencarian dan seleksi atas sumber daya manusia
yang memenuhi berbagai kriteria tersebut
2) Proses orientasi, berkaitan dengan program organisasi dalam
menyambut talenta baru yang masuk ke organisasi melalui
pengenalan formal dan informal untuk dapat memperkenalkan
organisasi kepada talenta baru tersebut, sehingga dapat segera
memberikan hasil dan kontribusi kepada organisasi.
3) Proses manajemen kinerja, berkaitan dengan upaya dan cara
yang dilakukan organisasi dalam hal pengelolaan kinerja
keseluruhan bagian dari organisasi, untuk memastikan tiap
bagian tersebut memberikan kontribusi terhadap produktivitas
dan nilai perusahaan secara maksimal dan konsisten.
4) Proses pengakuan dan retensi, meliputi upaya yang dilakukan
organisasi untuk mengidentifkasi dan memberikan pengakuan
dan penghargaan terhadap talenta-talenta dalam organisasi
melalui pemberian insentif atau imbalan, sehingga talentatalenta tersebut bertahan dan tetap berusaha memberikan
kontribusi secara maksimal.
5) Proses pendidikan dan pelatihan, berkaitan dengan upaya yang
dilakukan organisasi dalam memberikan kesempatan dan
fasilitas kepada talenta yang berada dalam organisasi untuk
mengembangkan kemampuan, keterampilan dan pengetahuan
melalui program-program pengembangan dan pelatihan yang
memberikan peningkatan sesuai dengan kebutuhan organisasi
dan perubahan lingkungan bisnis.
6) Proses pengembangan kaderisasi, berkaitan dengan upaya
organisasi untuk menjaga ketersediaan talenta-talenta yang akan
mengisi posisi penting dalam organisasi. Pengembangan
kaderisasi meliputi kegiatan investasi dan pengembangan
kemampuan talenta yang ada dalam organisasi untuk dapat
memiliki kualifkasi sebagai pemimpin atau komponen inti
dalam organisasi di masa depan.

Manfaat Manajemen Talenta (skripsi dan tesis)

Pella dan Inayati mengungkapkan bahwa secara garis besar
ada 3 manfaat utama dari keberadaan dan pelaksanaan proses
menejemen talenta didalam organisasi (Kusuma, 2017) diantaranya:
1) Hasil manajemen talenta yang baik akan mendukung dalam
persaingan organisasi
2) Adanya kepastian ketersedian talent atau sumber daya manusia
berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan mengisi posisi kunci
di organisasi
3) Menejemen talenta yang baik akan membentuk persepsi yang
baik dari masyarakat terhadap organisasi yang mempunyai
reputasi yang baik, sekaligus mendorong anggota organisasi
untuk tetap bertahan dalam organisasi.

Tujuan Manajemen Talenta (skripsi dan tesis)

Menurut Smilansky (2008) tujuan dari manajemen talenta
adalah:
1) Untuk mengambangkan tim unggul dalam organisasi dalam
menghadapi persaingan
2) Untuk memperoleh calon pengganti posisi kunci dalam
organisasi
3) Untuk memungkinkan saling pengisian antar resekutif bari
berbagai latar belakang fungsional, geografis, dan bisnis
sehingga dapat mengambangkan inovasi dan memanfaatkan
sebaik mungkin sumberdaya internal yang ada di organisasi
4) Untuk mengembangkan peluang peluang karir yang diperlukan
5) Untuk membengun budaya yang mampu mendorong eksekutif
terbaik menunjukan kinerjanya dipuncak potensinya
6) Untuk memastikan adanya peluang-peluang bagi karyawan
yang bertalenta untuk dapat meningkat dengan cepat
7) Agar dapat mempromisikan adanya keragaman eksekutif dalam
posisi kunci
8) Untuk merangcang proses asesmen yang hasilnya melebihi
perspektif manajer tersebut
9) Untuk membangun rasa memiliki perlunya karyawan terbaik

Pengertian Manajemen Talenta (skripsi dan tesis)

Manajemen talenta merupakan aspek penting dalam
organisasi yang berkaitan dengan tata kelola anggota organisasi
dengan tujuan membentuk maupun mendapatkan talent terbaik
untuk dapat mengisi posisi-posisi kunci di dalam organisasi.
Pandangan mengenai manajemen talenta datang dari berbagai ahli,
antara lain:
1) Dessler (2013) mendefinisikan manajemen talenta sebagai
proses perencanaan yang berorientasi pada tujuan dan
terintegrasi, merekrut, mengembangkan, mengelola, dan
memberi kompensasi kepada karyawan.
2) Menurut Sareen dan Mishra (2016) manajemen talenta dapat
didefinisikan sebagai proses merekrut, melatih, mengelola
mengembangkan, menilai, dan memelihara sumber daya yang
paling berharga milik organisasi yaitu orang-orang.
3) Menurut Pella dan Inayati manajemen talenta adalah proses
pengelolaan dan pendayagunaan talent yang ada didalam
organisasi untuk memberikan kepastian ketersediaan talent
sesuai dengan kebutuhan organisasi, baik aspek kompetensi inti
organisasi maupun aspek kepemimpinan yang akan datang
(Kusuma, 2017).
4) Menurut Kehinde (2012) manajemen talent adalah penerapan
strategi atau sistem terpadu yang dirancang untuk meningkatkan
produktivitas di tempat kerja dengan mengembangkan proses
yang lebih baik untuk menarik, mengembangkan,
mempertahankan dan memanfaatkan orang dengan
keterampilan dan kecakapan yang dibutuhkan untuk memenuhi
kebutuhan bisnis saat ini dan futur

Indikator Kinerja (skripsi dan tesis)

Critical Succes Factors menentukan indikator kinerja sebagai
berikut (Moeheriono, 2012):
1. Pelayanan yang tepat waktu
2. Tingkat ketrampilan karyawan sesuai dengan tugas pekerjaan
3. Efektifitas sistem pelaporan keuangan
4. Jumlah omzet penjualan

Pengukuran Kinerja (skripsi dan tesis)

Kinerja yang umum untuk kebanyakan pekerjaan meliputi
elemen sebagai berikut (Mathis dan Jackson, 2002):
1. Kuantitas dari hasil
2. Kualitas dari hasil
3. Jangka waktu dari hasil
4. Kehadiran ditempat kerja
5. Sikap kooperatif

Pengertian Kinerja (skripsi dan tesis)

Kinerja dapat dikatakan sebagai tolak ukur penilaian keberhasilan atas pelaksanaan tugas. Dengan melihat hasil kinerja saat ini, akan diketahui bagaimana perkembangan organisasi dengan membandingkan dengan hasil kinerja periode sebelumnya. Dan dengan hasil kinerja sekarang dapat dijadikan batu loncatan pengambilan kebijakan untuk periode selanjutnya. Pengertian kinerja menurut beberapa ahli:  1) Menurut Wirawan (2013) kinerja merupakan output yang dihasilkan oleh indikator-indikator atau fungsi-fungsi suatu profesi atau pekerjaan dalam waktu tertentu. 2) Menurut Simanjuntak (2005) kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu. Kinerja di dalam organisasi meliputi kinerja individu, kinerja kelompok dan kinerja organisasi. 3) Menurut Hanun (2013) kinerja dapat dikatakan sebagai hasil, baik kualitas maupun kuantitas, yang dicapai atas tugas tugas yang diemban sesuai dengan standar yang ditetapkan organisasi sehingga tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien. 4) Panggabean mengartikan kinerja sebagai hasil kerja yang dicapai atas tugas tugas yang diberikan kepadanya yang didasarkan pada ability dan motivasi (Nisa, et, al., 2016).

Manajemen Sumber Daya Manusia (skripsi dan tesis)

Manajemen sumber daya manusia merupakan salah satu aspek penting dalam menjalankan organisasi. Manajemen sumber daya manusia akan membantu mengetahui sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Dengan demikian akan tercipta efektifitas pengelolaan sumber daya manusia dan menghasilkan sumber daya manusia yang berkompeten untuk menempati posisi kunci dalam organisasi. Berdasarkan pendapat para ahli: a. Menurut Rivai (2015) manajemen sumber daya manusia merupakan salah satu bidang manajemen umum yang didalamnya mencakup proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian. b. Menurut Noe et. al., (2010) manajemen sumber daya manusia mengacu pada praktik, kebijakan dan sistem yang mempengaruhi sikap perilaku dan kinerja karyawan. Konsep MSDM sering disebut sebagai bentuk “praktik-praktik manusia”. c. Menurut Dessler (2013) manajemen sumber daya manusia adalah proses memperoleh, melatih, menilai, dan memberi kompensasi 11 kepada karyawan, dan memperhatikan hubungan kerja mereka, kesehatan dan keselamatan, dan kekhawatiran tentang kewajaran d. Menurut Nugrahani dan Wulansari (2018) manajemen sumber daya manusia adalah satu kesatuan proses perencanaan, pengelolaan, pengawasan terhadap manusia yang ada didalam organisasi, agar dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Manajemen sumber daya manusia bertujuan untuk mengatur orangorang yang ada di organisasi. Rivai (2015) menyampaikan bahwa manajemen sumber daya manusia berupaya untuk melakukan berbagai cara yang dapat dipertangguang jawabkan dalam rangka meningkatkan kontribusi orang orang yang ada di dalam organisasi.

Hubungan Kepemimpinan Transformasional dengan Kinerja Pegawai (skripsi dan tesis)

 

Kepemimpinan transformasional memiliki hubungan yang erat dengan kinerja pegawai. Bahwa untuk mencapai kinerja pegawai yang baik bagi organisasi, salah satunya ditentukan oleh gaya kepemimpinan dalam melaksaakan tugas atau pekerjaan yang berkaitan dengan pencapaian kineja pegawai. Gaya kepemimpinan yang dimaksud adalah kepemimpinan transformasional, dimana gaya transformasional adalah upaya untuk memberikan perubahan tehadap pegawai untuk berbuat lebih positif atau lebih baik dari apa yang bisa dikerjakan yang berpengaruh terhadap peningkatan kinerja. Hal ini diperkuat oleh pendapat Luthans (2006:653) dalam bukunya Prilaku Organisasi bahwa : Kepemimpinan transformasional membawa keadaan menuju kinerja yang tinggi pada organisasi yang menghadapi tuntutan pembaharuan dan perubahan. Berdasarkan pendapat ahli diatas dapat peneliti simpulkan bahwa kepemimpinan transformasional dan kinerja pegawai memiliki kaitan yang sangat erat dimana pemimpin transformasional memberikan perubahan kepada pegawai untuk menuju kinerja yang lebih baik lagi didalam organisasi.

Meningkatkan Kinerja Pegawai (skripsi dan tesis)

Menurut Tyson dan Jackson (2010), meningkatkan kinerja merupakan
konsep sederhana, tetapi penting. Konsep tersebut didasarkan pada ide bahwa
sebuah tim akan meningkat dengan cepat dan terus-menerus dengan cara
meninjau keberhasilan dan kegagalan. Tyson dan Jackson (2010) menyebutkan
empat tahap dalam rencana kerja meningkatkan kinerja, yaitu :
1. Memulai tugas-tugas yang telah dikerjakan oleh kelompok dan membiarkan
tim mengidentifikasi faktor-faktor signifikan yang telah memberikan
kontribusi terhadap keberhasilan dan tugas-tugas yang merintangi
keberhasilan.
2. Dari faktor-faktor keberhasilan dan kegagalan, pilihlah yang praktis dan
buang yang tidak mempunyai nilai
3. Kelompok menyetujui cara membuat faktor-faktor tersebut dengan tepat dan menyingkirkan yang lain.
4. Analisis tersebut tidak hanya dilakukan pada tingkat kelompok, tetapi juga
pada tingkat individual

Faktor-Faktor yang Mempegaruhi Kinerja Pegawai (skripsi dan tesis)

Menurut Mathis dan Jackson dalam bukunya Manajemen Sumber
Daya Manusia (2012:6) menjelaskan bahwa ada 3 faktor yang mempengaruhi
kinerja pegawai, diantaranya sebagai berikut :
1. Kemampuan Individual, mencakup bakat, minat dan faktor kepribadian.
Tingkat keterampilan merupakan bahan mentah yang dimiliki oleh
seseorang berupa pengetahuan, pemahaman, kemampuan, kecakapan
interpersonal, dan kecakapan teknis.
2. Usaha yang dicurahkan, usaha yang dicurahkan bagi pegawai adalah
ketika kerja, kehadiran, dan motivasinya. Tingkat usahanya merupakan
gambaran motivasi yang diperlihatkan pegawai untuk menyelesaikan
pekerjaan dengan baik. Oleh karena itu jika pekerjaan pegawai memiliki
tingkat keterampilan untuk mengerjakan pekerjaan, ia tidak akan bekerja
dengan baik jika hanya sedikit upaya. Hal ini berkaitan dengan perbedaan
antara tingkat keterampilan dan tingkat upaya. Tingkat keterampilan
merupakan cerminan dari kemampuan yang dilakukan, sedangkan tingkat
upaya merupakan cerminan dari sesuatu yang dilakukan.
3. Lingkungan Organisasi, perusahaan menyediakan fasilitas bagi pegawai
yang meliputi pelatihan dan pengembangan, peralatan, teknologi,

Kriteria – Kriteria Kinerja Pegawai (skripsi dan tesis)

Menurut Schuler dan Jacksondalam Harsuko (2011 : 3)menyebutkan
tiga kriteria yang berhubungan dengan kinerja sebagai berikut :
1. Sifat, kriteria berdasarkan sifat memusatkan diri pada karakteristik pribadi
seseorang karyawan.
2. Perilaku, kriteria berdasarkan prilaku terfokus pada cara pekerjaan
dilaksanakan.
3. Hasil, kriteria berkenaan dengan hasil semakin populer dengan semakin
ditekannya produktivitas dan daya saing internasional

Pengertian Kinerja Pegawai (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya seorang pegawai dalam melaksanakan tugas yang
dibebankan kepadanya diharapkan untuk menunjukan suatu performance yang
terbaik yang bisa ditunjukkan oleh pegawai, selain itu performance yang
ditunjukan oleh seorang pegawai tentu saja dipengaruhi oleh berbagai faktor
yang penting artinya bagi peningkatan hasil kerja yang menjadi tujuan dari
organisasi dimana pegawai itu bekerja.
Performance atau kinerja ini perlu diukur oleh pimpinan agar dapat
diketahui sampai sejauh mana perkembangan kinerja dari seseorang pegawai
pada khususnya dan organisasi pada umumnya.
Menurut Mangkunegara dalam bukunya Manajemen Sumber Daya
Perusahaan (2000:67)
Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang
dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya
sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan.
Berdasarkan pengertian diatas, dengan hasil kerja yang dicapai oleh
seorang pegawai dalam melakukan sesuatu pekerjaan dapat dievaluasi tingkat
kinerja pegawainya, maka kinerja pegawai harus dapat ditentukan dengan
pencapaian target selama priode waktu yang dicapai organisasi.
Menurut Rivai dan Sagala (2009 : 548)
Kinerjaadalah prilaku nyata yang ditampilkan setiap orang
sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh pegawai sesuai
dengan perannya dalam perusahaan.
Berdasarkan pengertian diatas,bahwa kinerja merupakan perwujudan
atas pekerjaan yang telah dihasilkan oleh pegawai, hasil tersebut tercatat dengan
baik sehingga tingkat ketercapaian kinerja yang seharusnya.
MenurutAmstrong dan Baron dalam buku Wibowo (2012 : 7)
Kinerja pegawai adalah hasil pekerjaan yang mempunyai
hubungan yang kuat dengan tujuan strategis, kepuasan
konsumen, dan memberikan kontribusi ekonomi.
Berdasarkan pengertian diatas,kinerja pegawaiadalah hasi kerja baik
dari kualitas maupun kuantitas yang dicapai pegawai per satuan periode waktu
pada pelaksanaan tugas kerjanya seseorang sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikan kepadanya

Karakter Kepemimpinan Transformasional (skripsi dan tesis)

Tichy dan Devenna dalam Luthans (2006 : 653),menyatakan bahwa
pemimpin transformasional memiliki karakter sebagai berikut :
1. Mereka mengidentifikasi dirinya sebagai alat perubahan
2. Mereka berani
3. Mereka mempercayai orang lain
4. Mereka motor penggerak nilai
5. Mereka pembelajar sepanjang masa
6. Mereka memiliki kemampuan menghadapi kompleksitas, ambiguitas, dan
ketidakpastian
7. Mereka visioner

Unsur Kepemimpinan Transformasional (skripsi dan tesis)

Di dalam kepemimpinan transformasional terdapat beberapa unsur
(lensufiie, 2010 : 125):
1. Unsur pemimpin
a. Pemimpin memiliki karisma di mata pengikut
b. Pemimpin memiliki visi atau idealisme yang sesuai dengan harapan
pengikut
c. Pemimpin mampu memberikan pengaruh kepada pengikut
2. Unsur pengikut
a. Pengikut memiliki inspirasi dari dirinya dan memandang pemimpin
mampu membawannya untuk mewujudkan inspirasi tersebut
b. Pengikut memiliki motivasi dan pemimpin menangkap motivasi
tersebut untuk diarahkan menjadi tujuan bersama
3. Unsur kerjasama
Di dalam melakukan pekerjaanya, pemimpin mampu merangsang atau
memicu kreativitas intelektual dari para pengikut
4. Unsur keputusan
Di dalam kerjasama transformasional, pengikut bebas mengambil
keputusan dan bukan karena ada tekanan

Pengertian Kepemimpinan Transformasional (skripsi dan tesis)

Pada rangka mempengaruhi orang lain, seorang pemimpin mempunyai
banyak pilihan gaya kepemimpinan yang akan digunakan salah satunya
kepemimpinan transformasional yang dimana kepemimpinan ini dapat
menginsprasi perubahan positif pada mereka yang mengikutinya.
Kepemimpinan transformasional suatu gaya yang menginsprasi dan
memberdayakan individu, kelompok dan organisasi untuk melakukan perubahan
dimana perubahan tersebut berpengaruh terhadap kinerja dari pegawai itu
sendiri, komunikasi juga harus selalu berjalan yang dilakukan pimpinan kepada
bawahannya agar ada hubungan yang baik untuk bisa mencapai suatu tujuan
yang dicapai.
Menurut Bass dalam Robbins dan Judge (2007 : 387)
Kepemimpinan transformasional merupakan pimpinan yang
memberikan pertimbangan dan rangsangan intelektual yang di
induvidualkan dan memiliki kharisma.
Berdasarkan pandangan tersebut diatas, bahwa kepemimpinan
transformasional merupakan pemimpin yang kharismatik dan mempunyai peran
sentral serta strategi dalam membawa organisasi mencapai tujuannya.
Menurut O’Leary (2001 : 112)
Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan
yang digunakan oleh seseorang manajer bila ia ingin suatu
kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerjanya
melampaui status quo atau mencapai serangkaian sasaran
organisasi sepenuhnya baru. Kepemimpinan transformasional
pada prinsipnya memotivasi bawahan untuk berbuat lebih baik
dari apa yang bisa dilakukan, dengan kata lain dapat
meningkatkan kepercayaan atau keyakinan diri bawahan yang
akan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja.
Berdasarkan pandangan tersebut diatas, bahwa kepemimpinan
transformasioal merupakan upaya perubahan terhadap bawahan untuk berbuat
lebih positif atau lebih baik dari apa yang bisa dikerjakan yang berpengaruh
terhadap peningkatan kinerja.

Syarat – syarat Kepemimpinan (skripsi dan tesis)

Syarat-syarat kepemimpinan sangat urgent diperhatikan, karena
merupakan landasan untuk melakukan aktivitas-aktivitas seorang pemimpin.
Jika syarat-syarat untuk jadi pemimpin terpenuhi, maka akan melahirkan
pemimpin yang berkualitas. Menurut Kartono (2005 : 36-38), mengatakan
bahwa persyaratan kepemimpinan itu harus selalu dikaitkan dengan tiga hal
penting yaitu :
1. Kekuasaan, yaitu otoritas dan legalitas yang memberikan kewenangan
kepada pemimpin guna mempengaruhi dan menggerakkan bawahan untuk
berbuat sesuatu.
2. Kelebihan, keunggulan, keutamaan sehingga orang mampu mengatur orang
lain, sehingga orang tersebut patuh pada pemimpin, dan bersedia melakukan
perbuatan-perbuatan tertentu.
3. Kemampuan, yaitu segala daya, kesanggupan, kekuatan dan kecakapan atau
keterampilan teknis maupun sosial yang dianggap melebihi dari kemampuan
anggota biasa.

Nilai-nilai Kepemimpinan (skripsi dan tesis)

Menurut Guth dan Taguiri dalam Salusu (2000) menyatakan ada 5
tipe nilai yaitu :
1. Teorik, yaitu nilai-nilai yang berhubungan dengan usaha mencari kebenaran
dan mencari keberadaan dan mencari pembenaran secara rasional.
2. Ekonomis, yaitu yang terletak pada aspek-aspek kehidupan yang penuh
keindahan, menikmati setiap peristiwa peristiwa untuk kepentingan sendiri.
3. Sosial, yaitu menaruh belas kasihan pada orang lain, simpati, tidak
mementingkan diri sendiri
4. Politis, yaitu berorientasi pada kekuasaan dan melihat kompetisi sebagai
faktor yang vital dalam kehidupannya.
5. Religius, selalu menghubungkan setiap aktivitas dengan kekuasaan sang
pencipta.

Fungsi Kepemimpinan (skripsi dan tesis)

Fungsi kepemimpinan menurut Siagian (2003 : 48-70), yaitu :
1. Pimpinan sebagai penentu arah, yaitu setiap birokrasi baik dibidang
kenegaraan, keniagaan, politik, sosial dan birokrasi kemasyarakatan lainnya
diciptakan atau dibentuk sebagai wahana untuk mencapai tujuan tertentu, baik
yang sifatnya jangka panjang, jangka pendek, yang tidak mungkin
tercapaivapabila tidak diusahakan dicapai oleh anggotanya yang bertindak
sendiri-sendiri tanpa ditentukan oleh pimpinan.
2. Pimpinan sebagai wakil dan juru pimpinan bicara birokrasi, yaitu dalam
rangka mencapai tujuan, tidak ada birokrasi yang bergerak dalam suasana
terisolasi. Artinya tidak ada birokrasi yang akan mampu mencapai tujuannya
tanpa memelihara hubungan yang baik dengan berbagai pihak di luar
birokrasi itu sendiri yaitu pihak stakeholder.
3. Pimpinan sebagai komunikator, yaitu pemeliharaan baik keluar maupun
kedalam dilaksanakan melalui proses komunikasi, baik secara lisan maupun
tertulis.
4. Pimpinan sebagai mediator, yaitu dalam kehidupan birokrasi selalu saja ada
situasi konflik yang harus diatasi baik dalam hubungan keluar maupun dalam
hubungan kedalam birokrasi.
5. Peranan selaku integrator, yaitu kenyataan dalam kehidupan birokrasi bahwa
timbulnya kecenderungan berpikir dan bertindak berkotak-kotak dikalangan
para anggota birokrasi dapat diakibatkan oleh sikap yang positif, dan
mungkin pula karena sikap yang negatif

Pengertian Kepemimpinan (skripsi dan tesis)

Pada suatu organisasi, faktor kepemimpinan memegang peran yang penting karena pemimpin itulah yang akan menggerakan dan mengarahkan organisasi dalam mencapai tujuan dan sekaligus merupakan tugas yang tidak mudah. Tidak mudah, karena harus memahami setiap perilaku bawahan yang berbeda-beda. Bawahan dipengaruhi sedemikian rupa sehingga bisa memberikan pengabdian dan partisipasinya kepada organisasi secara efektif dan efisien. Kepemimpinan memainkan peran yang dominan, kursial dan kritial dalam keseluruhan upaya meningkatkan kinerja, baik dalam tingkat individual, kelompok, dan organisasi. Dengan ini tanpak pemimpin selalu akan dikaitkan dengan kelompok, karena seorang pemimpin tanpa kelompok dan anggota tidak akan ada manfaatnya meskipun individu tersebut mempunyai potensi yang sangat baik untuk menjadi seorang pemimpin. Perlu diketahui arti kepemimpinan itu agar kita mengetahui apa sebenarnya kepemimpinan, untuk itu kepemimpinan mengemukakan beberapa pengertian mengenai kepemimpinan yang berdasarkan kepada pendapat para ahli. Menurut P. Siagian, Sondang dalam bukunya Kepemimpinan Organisasi & Prilaku Administasi (2002:235)yaitu : Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, dalam hal ini para bawahannya sedemikian rupa sehingga orang lain itu mau melakukan kehendak pimpinan meskipun secara pribadi hal itu mungkin tidak disenanginya

Berdasarkan pandangan tersebut diatas, bahwa kepemimpinan merupakan upaya seorang pemimpin untuk mempengaruhi orang lain salah satunya kepada bawahannya agar mereka mau mengikuti arahan dari pimpinan walaupun bawahan tidak menyukai hal itu. Menurut Blancard dan Hersey dalam Tohardi (2002 : 57) Kepemimpinan adalah setiap proses mempengaruhi kegiatan individu dan kelompok dalam usaha untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Berdasarkan pengertian diatas, bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan dari pimpinan untuk mempengaruhi bawahannya agar tujuan dapat tercapai

Faktor-faktor yang mempengaruhi Actuating (skripsi dan tesis)

 

Arni (2009) menyatakan bahwa arus komunikasi melalui media actuating dipengaruhi oleh struktur hierarki dalam organisasi, namun arus  komunikasi ini tidaklah berjalan lancar, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain sebagai berikut : 1. Keterbukaan, kurangnya sifat terbuka antara pimpinan dan pegawai akan menyebabkan pemblokan atau tidak mau menyampaikan pesan atau gangguan dalam pesan. 2. Kepercayaan pada pesan tertulis, kebanyakan para pimpinan lebih percaya pesan tertulis dan metode diskusi yang menggunakan alat-alat elektronik dari pada pesan yang disampaikan secara lisan dan tatap muka 3. Pesan yang berlebihan, karena banyaknya pesan-pesan yang dikirim secara tertulis, maka pegawai dibebani dengan memo-memo, bulletin, surat-sura pengumuman, majalah dan pernyaaan kebijaksanaan sehingga banyak sekali pesan-pesan yang harus dibaca oleh pegawai. 4. Timing, pengiriman pesan mempengaruhi komunikasi kebawah, pimpinan hendaknya mempertimbangkan saat yang tepat bagi pengiriman pesan dan tampak yang potensial kepada tingkah laku karyawan. 5. Penyariangan, pesan-pesan yang dikirimkan kepada bawahan hendaknya semuanya diterima mereka, tetapi mereka sering mana yang mereka lakuakan. Penyariangan pesan ini dapat disebabkan oleh bermacammacam faktor diantaranya perbedaan persepsi diantara pegawai, jumlah mata rantai dalam jaringan komunikasi dan perasaan kurang percaya kepada pimpinan.

Pengertian Actuating (Pengarahan) (skripsi dan tesis)

Actuating diartikan sebagai pengarahan orang lain. Pada dasanya pengarahan sangat erat kaitannya dengan unsur manusia yang ada dalam organisasi. Kegiatan organisasiakan sangat ditentukan oleh sejauh mana unsur manusia dapat mendayagunakan seluruh unsur-unsur lainnya, serta mampu melaksanakan tugas-tugas yang telah ditetapkan. Actuating merupakan keinginan untukmembuat orang lain mengikuti keinginan untuk mebuat orang lain mengikuti keinginannya dengan menggunakan kekuatan pribadi atau kekuasaan jabatan secara efektif dan pada tempatnya demi kepentingan jangka panjang perusahaan. Menurut G.R Terry yang dikutip oleh Hasibun dalam bukunya Manajemen Dasar, Pengertian, Dan Masalah (2018:183) yaitu : Actuating adalah membuat semua anggota kelompok, agar mau bekerja sama dan bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk mencapai tujuan sesuai dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian. Berdasarkan pandangan tersebut diatas, bahwa actuating merupakan kumpulan sekelompok orang untuk bekerjasama secara ikhlas dan bersemangat dalam bekerja agar rencana yang sudah dirancang dapat berjalan dengan lancar dan tujuannya dapat tercapai.

Menurut Koontz dan O’Donnel yang dikutip oleh Hasibun dalam bukunya Manajemen Dasar, Pengertian, Dan Masalah (2018:183) yaitu : Actuating adalah hubungan antara aspek-aspek individual yang ditimbulkan oleh adanya pengaturan terhadap bawahanbawahan untuk dapat dipahami dan pembagian pekerjaan yang efektif untuk tujuan perusahaan yang nyata. Berdasarkan pandangan tersebut diatas, bahwa actuating merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pimpinan untuk membimbing, menggerakkan, mengatur segala kegiatan yang telah diberi tugas dalam melaksanakan sesuatu kegiatan usaha. Menurut Terry (2008:181) Actuating adalah mengintegrasikan usaha-usaha anggota suatu kelompok sedemikian rupa, sehingga dengan selesainya tugastugas yang diserahkan kepada mereka, mereka memenuhi tujuan-tujuan individual dan kelompok. Berdasarkan pandangan tersebut diatas, bahwa actuating merupakan penggabungan dari usaha-usaha kelompok untuk diserahkan kepada mereka agar dapat terpenuhinya tujuan individu maupun kelompok.

Pengertian Manajemen (skripsi dan tesis)

 

Manajemen yaitu ilmu tentang bagaimana mengatur dan mengelola sesuatu untuk mencapai tujuan atau target yang sudah direncanakan sebelumnya melalui orang lain atau dilakukan oleh seseorang. Manajemen dikatakan sangat penting karena segala sesuatu tentu saja membutuhkan pengelolaan agar bisa tertata secara baik, tanpa pengelolaan atau peraturan akan sangat sulit mencapai target yang ingin dicapai. Manajemen dilakukan oleh seseorang yang bisa mengatur atau mengarahkan orang lain dengan kemampuan dan ilmu manajemennya untuk mencapai tujuan-tujuan yang akan dicapai bisa terlaksana dengan baik, cepat, benar dan efisien. Dengan adanya manajemen yang mengatur atau mengarahkan maka kemampuan atau sumber daya manusia dalam suatu perusahaan bisa dilakukan atau disalurkan dengan baik untuk mencapai tujuan perusahaan atau organisasi, karena manajemen adalah bagaimana memimpin dan mencapai suatu tujuan dengan baik sesuai perencanaan. Menurut P. Siagian, Sondang dalam bukunya Filsafat Administrasi (2003:146) yaitu : Manajemen adalah kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui orang lain. 7 Berdasarkan pandangan tersebut diatas, bahwa untuk memperoleh suatu hasil atau tujuan diperlukanny kemampuan atau skill yang dimiliki lewat orang lain. Menurut Draft dalam bukunya Manajemen (2002:8) yaitu : Manajemen adalah pencapaian sasaran-sasaran organisasi dengan cara efektif dan efisien melalui perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian sumber daya organisasi. Berdasarkan pandangan tersebut diatas, bahwa untuk mencapai suatu perencanaan yang baik, pelaksanaan yang konsisten dan pengendalian yang kontinyu, dengan maksud agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan efektif dan efesien

Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Sikap dan Perilaku (skripsi dan tesis)

1. Efisiensi
Efisiensi dapat dirumuskan sebagai suatu teknik operasional yang
berdampak pada pencapaian tujuan secara optimal dan efektif,
sehingga sumber daya, waktu, potensi, dan modal termanfaatkan
secara penuh tanpa terbuang. Sejalan dengan itu, suatu manajemen
yang sukses dapat diartikan sebagai cara yang tidak saja efektif dalam
mencapai tujuan, tetapi juga efisiensi dalam memanfaatkan sumber
daya.
2. Perubahan Lingkungan
Dinamika lingkungan ditunjukkan oleh perubahan yang sedemikian
cepat terjadi di segala bidang. Perubahan lingkungan yang relevan
dengan manajemen adalah polusi. Polusi lingkungan adalah akibat dari
pengeksplotasian sumber daya dan industrialisasi. Banyak ahli Ekologi
(Ilmuwan yang mempelajari hubungan manusia dan lingkungannya)
melihat kemungkinan kerusakan sumber daya yang tidak dapat
tergantikan kembali. Manajer dalam suatu organisasi sebagaimana
masyarakat profesi dan akademi saat ini mulai menunjukkan minat
terhadap ekologi. Telah disadari bahwa tindakan nyata harus diambil
untuk meningkatkan kegiatan pengusaha sehingga mereka tidak
menyebabkan perubahan lingkungan yang drastis dan merusak.
3. Perubahan Sosial
Perubahan dalam masyarakat yang didapat muncul adalah
pertumbuhan populasi. Perubahan kebutuhan masyarakat dan variasi
aspek-aspek pengembangan. Hasilnya, seorang pengusaha harus
berubah untuk memuaskan kebutuhan masyarakat.
4. Persaingan
Persaingan termasuk pada usaha yang menjual produk-produk sejenis
dan memberikan layanan yang sama sehingga bersaing untuk
mendapattkan pelanggan yang sama.
5. Perubahan Teknologi
Teknologi secara berkala berubah sesuai dengan permintaan
konsumen. Pengembangan teknologi baru dilakukan untuk
menghasilkan produk atau jasa baru.
6. Perubahan Minat
Pengusaha menggunakan perilaku mereka untuk mengendalikan
situasi

Indikator Perilaku Kewirausahaan (skripsi dan tesis)


Menurut B.N Marbun (2009:63) sikap dan perilaku yang harus
dimiliki seorang wirausahawan adalah sebagai berikut:
1. Percaya Diri
Orang yang tinggi percaya dirinya adalah orang yang sudah
matang jasmani dan rohaninya. Karakteristik kematangan
seseorang adalah ia tidak tergantung pada orang lain, dia
memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, obyektif, dan kritis.
Dia tidak begitu saja menyerap pendapat orang lain, tetapi dia
mempertimbangkan secara kritis. Emosionalnya boleh dikatakan
sudah stabil, tidak gampang tersinggung dan naik pitam. Juga
tingkat sosialnya tinggi, mau menolong orang lain, dan yang
paling tinggi lagi ialah kedekatannya dengan Allah Swt.
Diharapkan wirausahawan seperti ini betul-betul dapat
menjalankan usahanya secara mandiri,jujur,dan disenangi oleh
semua relasinya.
2. Beorientasi pada Tugas dan Hasil
Orang ini tidak mengutamakan prestise terlebih dulu. Akan
tetapi, ia mengutamakan pada prestasi kemudian setelah berhasil
prestisenya akan naik. Anak muda yang selalu memikirkan
prestise lebih dulu dan prestasi kemudian, tidak akan mengalami
kemajuan.
3. Pengambilan Resiko
Watak selalu menyukai tantangan dalam wirausaha seperti
persaingan, harga turun naik, barang tidak laku, dan sebagainya
harus dihadapi dengan penuh perhitungan. Jika perhitungan
sudah matang, membuat pertimbangan dari segala macam segi,
maka berjalanlah terus dengan tidak lupa berlindung kepadaNya
4. Kepemimpinan
Sifat kepemimpinan memang ada dalam diri masing-masing
individu. Namun sekarang ini, sifat kepemimpinan sudah
banyak dipelajari dan dilatih. Ini tergantung kepada masingmasing individu dalam menyesuaikan diri dengan organisasi
atau orang yang ia pimpin.
5. Keorsinilan
Sifat orsinil ini tentu tidak selalu ada pada diri seseorang. Yang
dimaksud orsinil disini ialah tidak mengekor pada orang lain,
tetapi memiliki pendapat sendiri, ada ide yang orsinil, ada
kemampuan untuk melaksanakan sesuatu.
6. Berorientasi ke Masa Depan
Sifat berorientasi ke masa depan ini harus selalu ada dalam
setiap pimpinan usaha agar usahanya dapat terus berlanjut dan
dengan seiring berjalannya waktu produktivitasnya perusahaan
dapat terus meningkat

Upaya Pengembangan Perilaku Kewirausahaan (skripsi dan tesis)

Perilaku kewirausahaan yang dimiliki oleh seorang wirausaha pada
kenyataannya memang perlu dikembangkan, misalnya dengan menambah
pengetahuan wawasan. Penambahan pengetahuan dan wawasan itu seharusnya
dilakukan secara bertahap dan terus menerus melalui proses belajar.
Terkadang setiap proses belajar itu tidak disadari sebagai alat dalam
mengembangkan perilaku kewirausahaan, karena biasanya itu dianggap
sebagai bagian dari pengalaman. Padahal pengalaman itu sendiri dapat
dijadikan cermin untuk selalu menentukan yang terbaik dimasa yang akan
datang. Dengan pengalaman-pengalaman itu pula setiap wirausaha diharapkan
selalu belajar dan belajar untuk menambah pengetahuannya.
Umpan balik dan evaluasi dari pelanggan mengenai jasa dan
pelayanan wirausaha terhadap pelanggan merupakan hal yang terpenting dari
dalam keempat proses tersebut. Hal ini disebabkan karena dari umpan balik
tersebut setiap wirausaha akan selalu mampu menilai diri sendiri dan
memperbaiki kekurangan-kekurangan, baik pembentukan profil
pribadi,penugasan,pelatihan,pengembangan maupun dari aspek pemasarannya.

Pengertian Perilaku Kewirausahaan (skripsi dan tesis)

Perilaku kewirausahaan yaitu, aktivitas-aktivitas atau kegiatankegiatan dari seorang wirausaha yang diantaranya dibina oleh beberapa ciri
utamanya yaitu percaya diri, berorientasi tugas dan hasil, berani mengambil
resiko, kepemimpinan, keorsinilan, dan berorientasi ke masa depan.
Selanjutnya Mc. Clelland dalam Suryana (2003:40) memberikan
definisi tingkah laku kewiraswastaan/kewirausahaan sebagai pengambil resiko
yang moderat, pengetahuan terhadap hasil dari keputusan-keputusan yang
diambil, mengetahui yang bakal terjadi, penuh semangat dan memiliki
keterampilan berorganisasi.
Maemuna (2011:20) Perilaku dalam ilmu niwa didefinisikan sebagai
“Kegiatan organisme yang dapat diamati oleh organisme lain atau oleh
berbagai instrument penelitian, yang termasuk dalam perilaku adalah laporan
verbal mengenai pengalaman subjektif yang didasari”. Tingkah laku atau
perilaku seorang individu terbentuk karena adanya suatu interaksi antara
seorang individu dengan lingkungannya.
Menurut P.O Sumarya (2010:33) “Wirausahawan adalah orang yang
mempunyai usaha sendiri. Wirausahawan adalah orang yang berani membuka
kegiatan produktif yang mandiri. Sikap dan perilaku sangat dipengaruhi oleh
sifat dan watak yang dimiliki oleh seseorang. Sifat dan watak yang baik,
beroreintasi pada kemajuan dan positif merupakan sifat dan watak yang
dibutuhkan oleh seorang wirausaha agar wirausaha tersebut dapat lebih
maju/sukses”.
Menurut Kasmir (2011:28) sikap dan perilaku pengusaha dan seluruh
karyawannya merupakan bagian penting dalam etika wirausaha. Oleh karena
itu, dalam praktiknya sikap dan perilaku yang harus ditunjukkan oleh
pengusaha dan seluruh karyawan, terutama karyawan di customer service,
sales, teller, dan satpam harus sesuai dengan etika yang berlaku. Sikap dan
tingkah laku menunjukan kepribadian karyawan suatu perusahaan. Sikap dan
perilaku ini harus diberikan sama mutunya kepada seluruh karyawan tanpa
pandang bulu.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
Perilaku Kewirausahaan adalah sikap seorang wirausaha dalam menjalankan
segala kegiatan usahanya yang didukung dengan sikap-sikap yang wajib
dimiliki oleh seorang wirausaha. Diantaranya percaya diri, berorientasi pada
tugas dan hasil, pengambilan resiko, kepemimpinan, keorsinilan dan
berorientasi pada masa depan

Faktor – Faktor yang meningkatkan Kemampuan Manajerial (skripsi dan tesis)

Menurut hasil pengamatan Drs.Supadi dalam jurnal Kemampuan
Manajerial Penting dalam Membentuk Team Kerja yang Produktif. Ada 10
faktor yang mempengaruhi kemampuan manajerial antara lain :
1. Pekerjaan yang menarik
Pemimpin hendaknya mampu meyakinkan bawahannya
pekerjaannya sangat menarik. Suatu pekerjaan dikatakan
menarik bila orang yang mengerjakannya senang dalam
melakukannya. Berawal dari rasa senang itu pula diharapkan
dapat meningkatkan mutu suatu hasil kerja. Juga tak kalah
pentingnya agar pimpinan bisa mengetahui jenis pekerjaan
yang cocok dan disenangi bawahannya.
2. Kesejahteraan yang memedahi
Pemimpin harus bisa membuktikan bahwa dia mampu
menentukan dan memberikan kesejahteraan yang wajar pada
bawahannya secara obyektif. Ini penting dalam membangkitkan
dan memelihara gairah kerja yang baik.
3. Keamanan dan perlindungan dalam pekerjaan
Pemimpin hendaknya mampu memberikan pengarahan atau
training yang memadai sebelum suatu pekerjaan dilakukan.
Dengan demikian bisa mengurangi rasa kuatir bila gagal dalam
melakukan pekerjaan itu, sehingga terlalu hati-hati. Karena
terlalu berhati-berhati akibatnya akan sama bila tidak berhati-
hati.
4. Penghayatan atas maksud dan makna pekerjaan
Pemimpin mampu membimbing bawahannya agar dapat
menghayati atas maksud dan makna pekerjaan. Dengan begitu
dia akan tahu kegunaan dari pekerjaannya. Bila dia telah tahu
betapa sangat pentingnya pekerjaan itu, maka dalam
mengerjakan pekerjaan itu, dia akan lebih meningkatkan
kinerjanya.
5. Suasana atau lingkungan kerja yang baik
Pimpinan wajib mengetahui cara agar membuat tempat kerja
tenang dan hubungan antar personal yang harmonis. Dari
lingkungan kerja yang baik itu diharapkan akan mampu
membawa pengaruh yang baik pula dari semua pihak baik dari
bawahan, atasan ataupun hasil pekerjaannya.
6. Promosi dan perkembangan diri mereka sejalan dengan
kompetensi dan kontribusi
Seorang bawahan akan merasa bangga bila team kerjanya
meraih kemajuan dalam kinerjanya. Lebih-lebih lagi bila
promosi dan perkembangan diri mereka dihargai secara fair
berdasarkan pada kompetensi dan kontribusinya. Dengan
kebanggaan itu pula dia akan selalu menjaga prestasi dan citra
team kerjanya.
7. Merasa terlibat dalam kegiatan-kegiatan team kerja
Sense of belonging bawahan terhadap team kerjanya harus
senantiasa ditumbuh kembangkan melalui keterlibatan yang
aktif dan tulus. Dengan demikian bawahan akan merasa bahwa
dirinya benar-benar dibutuhkan dalam team kerjanya. Dengan
timbulnya kecintaan dalam dirinya terhadap team kerjanya,
maka ia akan selalu termotivasi untuk meningkatkan
kinerjanya.
8. Pengertian dan simpati atas persoalan-persoalan pribadi
Seorang pemimpin harus mampu menjalin hubungan emosional
dengan sikap dan batas perilakunya yang bijaksana terhadap
bawahan. Jika diperlukan dengan batas-batas tertentu dia akan
memperhatikan bawahannya sampai pada urusan pribadinya
tanpa mengesankan turut campur. Dengan demikian hubungan
kerja tidak terbatas pada pendekatan formal legalistik, namun
juga mempunyai pendekatan kekeluargaan atau dari hati kehati
antara pimpinan dan bawahannya.
9. Kesetiaan Pimpinan pada bawahan
Tidak hanya bawahan yang perlu memberikan loyalitas pada
pimpinan, namun penting juga sebaliknya. Loyalitas demikian
akan menjadi dasar rasa kepercayaan bawahan terhadap
pimpinannya, sehingga mau memberikan dukungan yang penuh
terhadap team kerjanya. Hal ini dapat juga mendatangkan
wibawa terhadap atasan. Apabila jika dia sanggup
menyampaikan realita secara arif dan bijaksana. Tidak
mengobral janji-janji kosong hanya untuk meningkatkan
kinerja sesaat yang berbuntut pada rasa kesal pada diri
bawahan. Hingga bawahan berpendapat dia bukan pimpinan
yang pantas dipercaya dan didukungnya
10. Disiplin kerja
Penerapan disiplin kerja dengan pendekatan legalitas formal
hendaknya diminimasi sekecil mungkim. Pimpinan yang hanya
berbicara tentang sangsi atau hukuman dalam membenahi
bawahannya hanya akan memberikan indikasi ketidakmampuan
memimpin. Hal demikian juga tidak selalu efektif. Adalah
sudah menjadi sifat manusia yang biasanya ber ego tinggi,
sehingga pendekatan diatas akan sering menstimulasi bawahan
untuk bersikap defensive dan boleh jadi akan membalas
tindakan itu dengan diam-diam menurunkan kinerjanya dalam
team dengan mengurangi keterlibatan dan dukungan terhadap
tim kerjanya.

Faktor Penyebab Rendahnya Kemampuan Manajerial (skripsi dan tesis)

Dalam team kerja pada umumnya tidak jarang pemimpin atau leader
yang tidak menghasilkan kinerja optimal. Penyebab rendahnya kemampuan
manajerial ini menurut Drs. Supadi dalam jurnal Kemampuan Manajerial
Penting dalam Membentuk Team Kerja yang Produktif adalah sebagai berikut:
1. Pemimpin tidak memahami kinerja yang diharapkan dari posisinya
sebagai seorang pimpinan team kerja
2. Pemimpin tidak memahami peran manajerial yang disandangnya
3. Pemimpin tidak mempunyai manajerial skill yang diperlukan untuk
menghasilkan kinerja manajerial yang ditargetkan
4. Pemimpin tidak memiliki semangat untuk mengfokuskan dan
mendorong aktivitasnya dalam menghasilkan kinerja manajerial

Indikator Kemampuan Manajerial (skripsi dan tesis)

Sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh J.David Hunger
& Thomas L.Wheelen (2001:452) dan Paul Hersey dalam Wahjosumidjo
(2003:99) menyatakan terdapat 3 Indikator yang mempengaruhi Kemampuan
Manajerial yaitu :
1. Keahlian Teknis
Keahlian teknis berkaitan dengan apa yang dilakukan dan bekerja
dengan sesuatu, terdiri dari kemampuan menggunakan teknologi untuk
mengerjakan tugas-tugas organisasional. Keterampilan teknikal
memungkinkan orang yang bersangkutan melaksanakan mekanisme yang
diperlukan untuk melakukan pekerjaan khusus. Pengertian yang lebih lengkap
dikemukakan oleh Konntz, dkk dalam Munfaat (2001:26-27) yaitu
“Technical skill is knowledge of and profiency in activities
involving methods,process, and procedures, thuts, it involves working with
tools, and supervisors should have the ability to teach these skill to their
subordinates”.
2. Keahlian Manusia
Keahlian manusia berkaitan dengan bagaimana sesuatu dilakukan
dengan bekerja dengan orang terdiri dari kemampuan untuk bekerja sama
dengan orang lain untuk mencapai sasaran.
3. Keahlian Konseptual
Keahlian konseptual berkaitan dengan mengapa sesuatu dilakukan
dengan cara pandang orang terhadap organisasi secara keseluruhan, terdiri dari
kemampuan untuk memahami kompleksitas perusahaan karena kompleksitas
itu dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan

Ciri-Ciri Penerapan Kemampuan Manajerial yang Baik (skripsi dan tesis)

Pada Penelitian Stogdill yang dilakukan pada tahun 1949-1970
meninjau 163 studi tentang ciri dari penerapan kemampuan manajerial yang
baik yang dilakukan pemimpin. Diantaranya :
 Dapat beradaptasi dengan situasi
 Waspada terhadap lingkungan sosial
 Ambisius,berorientasi terhadap keberhasilan
 Asertif
 Kooperatif
 Tegas
 Dapat diandalkan
 Dominan (Motivasi terhadap kekuasaan)
 Enerjik (Tingkat aktivitasnya tinggi)
 Gigih (mempunyai kekuatan dan kegigihan dalam mengejar
sasaran
 Keyakinan diri (mempunyai keyakinan diri dan rasa identitas
pribadi
 Toleran terhadap tekanan (kesiapan untuk menyerapkan tekanan
antarpribadi dan kesediaan untuk bertoleransi terhadap frustasi dan
penundaan)
 Bersedia untuk mengambil tanggung jawab (mempunyai dorongan
yang kuat akan tanggung jawab dan penyelesaian tugas)

Aspek-Aspek Kemampuan Manajerial (skripsi dan tesis)

Kemampuan manajerial dalam menjalan kegiatan usahanya
dipengaruhi oleh 7 aspek, yaitu :
1. Kepemimpinan
Konsep kepemimpinan erat sekali hubungannya dengan kekuasaan
pemimpin dalam memperoleh alat untuk mempengaruhi para
pengikutnya. Terdapat sumber dan bentuk kekuasaan paksaan,
leigitmasi keahlian, referensi, informasi dan hubungan (Veithzal
Rivai, 2003:4-5)
Kepemimpinan bukan saja bertanggung jawab agar orang-orang
bekerja namun juga mengendalikan kebanyakan alat pemuas
kebutuhan manusia dalam organisasi
2. Pemecahan Masalah
Dalam menjalankan perannya sebagai pengambil keputusan,
manajer harus mampu menangani masalah-masalah yang terjadi
dalam organisasi. Sebagai penanganan masalah, manajer
mengambil tindakan korektif sebagai tanggapan terhadap masalah-
masalah yang tidak diduga sebelumnya (Stephen P.Robbins,
2002:4)
3. Komunikasi
Perilaku manusia dapat dipengaruhi oleh beberapa cara bentuk
penyampaian informasi, maka hanya melalui komunikasi
kebutuhan manusia dasar dapat terpuasi (Komaruddin
Sastradipoera, 2002:95). Dalam organisasi, pencapaian tujuan
dengan segala proses membutuhkan komunikasi yang efektif,
sehingga pemimpin menyampaikan informasi berupa perintah, atau
bawahan menyampaikan informasi laporan lisan maupun tulisan
sehingga mencapai sasaran dengan persepsi yang sama (Vehitzhal
Rivai, 2003:137-139).
Komunikasi yang efektif dan komunikatif merupakan hal yang
penting bagi manajer karena :
– Komunikasi merupakan alat bagi manajer untuk melaksanakan
fungsi perencanaan, fungsi pengorganisasian, fungsi
kepemimpinan dan fungsi pengendalian
– Komunikasi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh setiap
manajer di setiap harinya dan memakan waktu paling banyak
dari waktu yang tersedia (Indriyo Gistosudarmo, 1997:203)
4. Keterampilan Manajerial
Robert Katz dalam Stephen P.Robbins (2002:4) dan Veitzhal
Rivai (2003 : 33) mengatakan keterampilan manajerial yang
efektif adalah :
– Keterampilan Teknis : yaitu keterampilan menerapkan
pengetahuan khusus dan keahlian spesialisasi
– Keterampilan Manusia : Kemampuan bekerjasama, memahami
dan memotivasi orang lain, baik perorangan maupun dalam
kelompok
– Keterampilan Konseptual : Keterampilan mental untuk
menganalisis dan mendiagnosis situasi rumit
5. Pengalaman
Melalui pengalaman, seseorang menjadi lebih mudah untuk
melaksanakan tugas yang sama dan mempunyai potensi untuk
menghadapi segala permasalahan yang bersangkut paut dengan
bidang keahliannya (Stephen P. Robbins, 2002 : 66)
6. Kewirausahaan
Kewirausahaan mempelajari tentang nilai kemampuan, dan
perilaku seseorang dalam berkreasi dan berinovasi. Oleh sebab itu,
objek studi kewirausahaan adalah nilai-nilai dan kemampuan
seseorang yang diwujudkan dalam bentuk perilaku. Menurut
Soeparman Soemahamidjaja 2003 : 9, Kemampuan seseorang
yang menjadi objek kewirausahaan meliputi :
– Kemampuan merumuskan tujuan hidup (usaha)
– Kemampuan memotivasi diri untuk melahirkan suatu tekad
kemauan yang menyala-nyala
– Kemampuan untuk berinisiatif, yaitu mengerjakan sesuatu yang
baik tanpa menunggu orang lain, yang dilakukan berulangulang sehingga menjadi kebiasaan berinisiatif
– Kemampuan berinovasi, yang melahirkan kreativitas (daya
cipta) setelah dibiasakan berulang-ulang akan melahirkan
motivasi.
– Kemampuan untuk membentuk modal uang atau barang
(capital goods)
– Kemampuan untuk mengatur waktu dan membiasakan diri
untuk selalu tepat waktu dalam segala tindakan melalui
kebiasaaan yang selalu tidak menunda pekerjaan.
– Kemampuan mental yang dilandasi agama
– Kemampuan untuk membiasakan diri dalam mengambil
hikmah dari pengalaman yang baik maupun menyakitkan.
7. Motivasi
Teori motivasi terbagi kedalam dua kategori: teori kepuasan dan
teori proses (Gibson; Ivancevich; Donelly, 1996 : 186). Teori
kepuasan memusatkan perhatian pada faktor-faktor didalam
individu yang mendorong, mengarahkan, mempertahankan dan
menganalisa bagaimana perilaku dorong, diarahkan, dipertahankan
dan dihentikan
Teori motivasi yang termasuk dalam kategori teori kepuasan
adalah teori motivasi yang berpendapat bahwa manusia berperilaku
karena ingin memenuhi kebutuhan dasarnya. Sedikitnya ada tiga
kebutuhan pokok umum (Komaruddin Sastradipoera, 2002 : 92):
– Motif fisioligis : Kebutuhan pokok manusia paling
primitive yang melandasi motivasi yang meliputi sandang,
pangan, papan, dan tidur
– Motif sosiologis : kebutuhan akan cinta dan kasih sayang,
dan kebutuhan untuk diterima orang disekitarnya.
– Motif psikologis : kebutuhan untuk diakui, berprestasi,
status, dan lain-lain

Pengertian Kemampuan Manajerial (skripsi dan tesis)

Dalam menjalankan usahanya,seorang manajer dituntut untuk
memiliki kemampuan keterampilan dalam mengelola sumber-sumber yang
ada dalam perusahannya, terutama kemampuan mengkombinasikan sumber
daya manusia dan alam diwujudkan dengan menjalankan fungsi-fungsi
manajemen. Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Winardi (2000:4)
menyatakan bahwa :
“Kemampuan manajerial adalah kesanggupan mengambil tindakantindakan perencanaan,pengorganisasian,pelaksanaan, pengawasan yang
dilakukan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan”
Hampir sama dengan pendapat Winardi menurut Siagian P.
Sondang (2007:67) bahwa :
“Kemampuan manajerial adalah kemampuan untuk mengelola usaha
seperti perencanaan,pengorganisasian,pemberian motivasi,pengawasan dan
penilaian”.
Selanjutnya menurut pendapat yang dikemukakan oleh J.David Hunger &
Thomas L.Wheelen (2001:452) dan Paul Hersey dalam Wahjosumidjo
(2003:99) menyatakan yaitu
“Kemampuan Manajerial adalah kemampuan dalam menggerakan
sumberdaya agar dapat mencapai tujuannya dengan tepat, yang terdiri dari
keahlian teknis, keahlian manusia dan keahlian konseptual.”
Sedangkan menurut B.S Wibowo (2002:14) menyatakan bahwa :
“Kalau kita ingin sukses, maka kita harus memiliki „keterampilan
manajerial‟ diantaranya energy spiritual,keterampilan emosional,kekuatan
intelektual,kualitas fisik dan penguasaan teknologi terapan”
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
Kemampuan manajerial sangat berperan penting dalam menjalankan kegiatan
usaha karena didalamnya telah terdapat hal-hal yang wajib dimiliki oleh
wirausahawan. Diantaranya adalah Keahlian Teknis, Keahlian Manusia,
Keahlian Konseptual

Kualitas Audit (skripsi dan tesis)

De Angelo (1981) mendefinisikan kualitas audit sebagai probabilitas dimana seorang auditor menemukan dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya dan kemungkinan untuk menyampaikan atau melaporkan temuan tersebut kepada pihak manajemen. Kualitas audit dapat dilihat dari kemampuan auditor mendeteksi kesalahan material dan independensi auditor dalam melaporkan kesalahan material. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa KAP yang besar akan berusaha untuk menyajikan kualitas audit yang lebih besar dibandingkan dengan KAP yang kecil. Gerayli, Yanesari, & Ma’atoofi (2011), kualitas auditor merupakan salah satu faktor efektif untuk mengendalikan perilaku oportunis manajemen perusahaan. Auditor yang berkualitas harus memberikan informasi yang tepat, tidak hanya mengenakan fee yang lebih tinggi agar pilihan itu benar-benar mencerminkan informasi yang ada pada perusahaan (Kirana & Hasan, 2016). Ching, Teh, San, & Hoe, (2015), menegaskan bahwa auditor yang berkualitas tinggi cenderung lebih mudah untuk menemukan praktik akuntansi yang dipertanyakan oleh klien dan melaporkan penyimpangan material serta salah saji dibandingkan dengan auditor berkualitas rendah, sehingga audit yang berkualitas lebih tinggi lebih mampu menghambat manajemen laba dan meningkatkan kualitas laporan keuangan. Laporan keuangan audit dengan kualitas tinggi akan menarik para investor untuk menanamkan investasinya di perusahaan. Penelitian-penelitian empiris berkaitan dengan kualitas audit telah banyak dilakukan di luar negeri maupun Indonesia. Yaşar (2013) menyatakan big four dipercaya memberikan audit kualitas yang lebih tinggi daripada auditor non-big four, karena auditor big four memiliki 30 kemampuan lebih besar untuk membatasi praktik manajemen laba. Daftar KAP yang termasuk ke dalam kelompok KAP Big Four di Indonesia adalah sebagai berikut: 1) KAP Tanudiredja, Wibisana, dan Rekan yang berafiliasi dengan Price Waterhouse Coopers (PWC). 2) KAP Purwantono, Suherman, Surja yang berafiliasi dengan Ernst & Young (EY). 3) KAP Osman Bing Satrio dan Rekan yang berafiliasi dengan Deloitte. 4) KAP Siddharta dan Widjaja yang berafiliasi dengan KPMG

Kecakapan Manajerial (skripsi dan tesis)

Kecakapan Manajerial Kecakapan manajerial merupakan kemampuan manajer untuk mengambil dan menerapkan keputusan-keputusan yang dapat membawa perusahaan kepada efisiensi yang lebih baik (P. Demerjian, Lev, & McVay, 2012). Manajer yang cakap dan professional memiliki pengetahuan yang lebih banyak dan luas terkait dengan perusahaan, sehingga memungkinkan mereka untuk membuat keputusan yang lebih baik dan menunjukkan pemahaman serta penerapan standar akuntansi yang lebih fleksibel (W. Chen & Tai, 2015). Kemampuan manajerial adalah salah satu faktor yang mendorong efisiensi operasional perusahaan. Li (2015), kecakapan manajerial  dapat diukur melalui seberapa efisien manajer dalam menggunakan sumber daya perusahaan untuk menghasilkan keluaran yang optimal dan menciptakan dampak positif pada kualitas pelaporan keuangan yang mempengaruhi masa depan perusahaan. Perusahaan memiliki sumber daya berupa modal, tenaga kerja, dan aset untuk menghasilkan keluaran berupa pendapatan dan laba. Demerjian, Lewis, & Mcvay (2012b) mengungkapkan manajer yang cakap akan mampu mengambil keputusan-keputusan ekonomi yang tepat dan mampu mencapai tingkat efisiensi yang tinggi dalam mengelola sumber daya perusahaan karena mereka memiliki pengalaman, tingkat intelegensia, dan tingkat pendidikan yang cukup tinggi. Manajer memiliki kewajiban untuk memberikan informasi perusahaan kepada stakeholders untuk mengkomunikasikan kinerja perusahaan. Wadah yang tepat bagi manajer untuk mengkomunikasikan kinerja tersebut adalah laporan keuangan yang disusun pada setiap periode pelaporan. Isnugrahadi & Kusuma (2009) mengatakan ada dua hal prasyarat yang harus ada agar manajemen selalu jujur dalam melaksanakan tugasnya. Pertama, kultur organisasional harus mendukung pengambilan keputusan yang etis. Kedua, manajemen harus memiliki pemotivator untuk selalu bertindak jujur. Manajer menggunakan judgment untuk membuat laporan keuangan. (Kirana & Hasan, 2016), dalam penerapan akuntansi akrual, prinsip akuntansi berterima umum memperbolehkan manajer memilih metode akuntansi yang diperbolehkan seperti penggunaan metode garis lurus atau akselerasi, ataupun memilih FIFO atau LIFO dalam menilai persediaan. Manajer juga harus memilih 28 untuk membebankan atau menangguhkan pengeluaran. Agar semua kebijakan tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka manajer dituntut untuk memiliki kemampuan dan keahlian atau kecakapan yang cukup, dan keahlian tersebut biasanya dimilik oleh manajer yang memiliki tingkat intelegensi dan pendidikan yang cukup tinggi serta pengalaman yang dimiliki oleh seorang manajer. P. R. Demerjian, Lev, Lewis, & McVay (2013), memperkenalkan perhitungan kecakapan manajerial dengan menggunakan data-data laporan keuangan melalui Data Envelopment Analysis (DEA). DEA merupakan alat yang digunakan untuk mengukur efisiensi relatif suatu organisasi. DEA biasanya dinyatakan dalam Decision Making Unit atau Unit Kegiatan Ekonomi (UKE). Efisiensi UKE dapat diketahui dengan membandingkan efisiensi UKE suatu perusahaan dengan UKE dari perusahaan lainnya dalam suatu satuan populasi atau sampel dengan syarat bahwa jenis input dan outputnya sama. UKE dinilai efisien apabila rasio perbandingan input/output sama dengan 1 atau 100%, yang artinya UKE tersebut mampu memanfaatkan inputnya secara maksimal untuk menghasilkan output tertentu dan tidak lagi melakukan pemborosan. Sedangkan UKE yang tidak efisien apabila rasio perbandingan antara input/output adalah antara 0 ≤ input/output < 1 atau nilainya kurang dari 100% berarti perusahaan belum mampu mengelola input-input yang dimilikinya untuk menghasilkan output yang optimal atau masih melakukan pemborosan.

Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan (skripsi dan tesis)

(Wolk 2008) mengemukakan tingkat pengungkapan adalah informasi yang ada di dalam laporan keuangan maupun komunikasi pelengkap yang mencakup catatan kaki, peristiwa setelah pelaporan, analisis manajemen tentang operasi yang akan datang, peramalan keuangan dan operasi, serta laporan keuangan tambahan. Tujuan pengungkapan adalah untuk menyediakan informasi yang signifikan dan relevan kepada pemakai laporan keuangan untuk pengambilan keputusan yang tepat. Jenis pengungkapan dalam hubungannya dengan persyaratan yang ditetapkan standar ada dua, antara lain: 1) Pengungkapan wajib (mandatory disclosure): pengungkapan informasi yang diharuskan oleh peraturan yang berlaku, dalam hal ini adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM). Peraturan mengenai pengungkapan laporan keuangan di Indonesia yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui keputusan ketua BAPEPAM No.Kep-134/BL/2006. Item pengungkapan wajib yang diwajibkan oleh BAPEPAM terdiri dari 85 item. 2) Pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) merupakan pilihan bebas manajemen perusahaan untuk memberikan informasi akuntansi dan informasi  lainnya yang dipandang relevan sebagai dasar untuk membuat keputusan oleh para pemakai laporan tahunan. Melalui pengungkapan sukarela diharapkan para pemakai laporan akan semakin lengkap informasinya dalam memahami kegiatan operasional perusahaan publik, serta semakin menunjukkan ketransparan keadaan perusahaan (Kirana & Hasan, 2016). Item pengungkapan sukarela terdiri dari 33 item. Tingkat pengungkapan laporan keuangan dalam penelitian ini didasarkan atas indeks pengungkapan yang dideskripsikan oleh (Benardi et al., 2008). Indeks pengungkapan yang digunakan didasarkan atas informasi yang tersedia dalam laporan tahunan (annual report). Di Indonesia, pengungkapan dalam laporan keuangan baik yang bersifat wajib maupun sukarela telah diatur dalam PSAK No.1. Pemerintah melalui BAPEPAM juga mengatur mengenai pengungkapan informasi dalam laporan tahunan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Menurut Purwanti & Rahardjo (2012) terdapat tiga tingkatan pengungkapan yaitu sebagai berikut: 1) Pengungkapan Penuh (Full Disclosure) Pengungkapan penuh mengacu pada seluruh informasi yang diberikan oleh perusahaan, baik informasi keuangan maupun non keuangan. Pengungkapan penuh mencakup informasi-informasi lainnya yang diberikan oleh manajemen yang menyiratkan penyajian seluruh informasi yang relevan, dan tidak ada informasi atas substansi atau kepentingan bagi kebanyakan investor yang akan dihilangkan atau disembunyikan. 2) Pengungkapan Wajar (Fair Disclosure) Pengungkapan wajar adalah pengungkapan cukup ditambah dengan informasi yang dapat berpengaruh pada kewajaran laporan keuangan. Pengungkapan wajar menyiratkan suatu tujuan etika, yaitu memberikan perlakuan yang sama pada semua calon pembaca. Menurut PSAK (IAI: 2012), pengungkapan wajar adalah catatan atas laporan keuangan yang disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas harus berkaitan dengan informasi yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan. 3) Pengungkapan Cukup (Adequate Disclosure) Pengungkapan cukup adalah pengungkapan yang diwajibkan oleh standar akuntansi yang berlaku, yang merupakan informasi minimum yang harus disajikan dalam tingkat yang memadai yang harus dipenuhi secara menyeluruh, agar tidak menyesatkan jika digunakan untuk pengambilan keputusan

Teknik Manajemen Laba (skripsi dan tesis)

Teknik manajemen laba menurut Setiawati & Na’im (2000) dilakukan melalui tiga cara, antara lain sebagai berikut: 1) Perubahan metode akuntansi Manajemen mengubah metode akuntansi yang berbeda dengan metode sebelumnya sehingga dapat menaikkan atau menurunkan angka laba. Metode akuntansi memberikan peluang bagi manajemen untuk mencatat suatu fakta tertentu dengan cara yang berbeda, seperti: a) Mengubah metode depresiasi aktiva tetap dari metode jumlah angka tahun menjadi metode depresiasi garis lurus. b) Mengubah periode depresiasi. 2) Memainkan kebijakan perkiraan akuntansi Manajemen mempengaruhi laporan keuangan dengan cara memainkan kebijakan perkiraan akuntansi. Hal tersebut memberikan peluang bagi manajemen untuk melibatkan subjektivitas dalam menyusun estimasi, misalnya: a) Kebijakan mengenai perkiraan jumlah piutang tidak tertagih b) Kebijakan mengenai perkiraan biaya garansi c) Kebijakan mengenai perkiraan terhadap proses pengadilan yang belum terputuskan.  3) Menggeser periode biaya atau pendapatan Manajemen menggeser periode biaya atau pendapatan atau seringkali disebut sebagai manipulasi keputusan operasional, misalnya: a) Mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sampai periode akuntansi berikutnya. b) Mempercepat atau menunda pengeluaran promosi sampai periode berikutnya. c) Kerjasama dengan vendor untuk mempercepat atau menunda pengiriman tagihan sampai periode akuntansi berikutnya. d) Menjual investasi sekuritas untuk memanipulasi tingkat laba. e) Mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tidak terpakai. 2.1.3 Discretionary Accruals Manajemen laba dapat terjadi dengan cara penyusunan laporan keuangan menggunakan dasar akrual. Sistem akuntansi akrual yang terdapat pada prinsip akuntansi yang berterima umum memberikan peluang bagi manajer untuk membuat pertimbangan akuntansi yang akan memberi pengaruh kepada pendapatan yang dilaporkan. Akrual tidak hanya mencerminkan pilihan metode akuntansi tetapi juga pengaruh waktu pengakuan pendapatan dan beban, penurunan nilai, serta perubahan estimasi akuntansi (Islam, Ali, & Ahmad, 2011) . Jones (1991) membagi total akrual menjadi dua yaitu, discretionary accruals dan non discretionary. Lee & Vetter (2015) non discretionary accruals adalah pengakuan akrual laba yang wajar yang tunduk pada suatu standar atau prinsip akuntansi yang berlaku umum, contoh: satu fakta yang sama dapat dilaporkan dengan cara yang berbeda, mesin yang sama dapat didepresiasikan dengan dua metode yang berbeda (metode depresiasi garis lurus atau saldo menurun) atau dengan dua estimasi umur ekonomis yang berbeda. Perbedaan umur atau perbedaan estimasi tersebut akan menghasilkan laba) yang sedikit berbeda. Non discretionary accruals merupakan akrual yang wajar, dan apabila dilanggar akan mempengaruhi kualitas laporan keuangan (tidak wajar) maka non discretionary accruals tidak relevan dalam penelitian ini. Chen (2010), menyatakan untuk mendeteksi indikasi terdapat manajemen laba dalam suatu perusahaan dapat diketahui dari perhitungan total akrual yang diukur dengan total discretionary accruals. Menurut Friedlan (1994) discretionary accrual merupakan kebijakan akuntansi yang memberikan keleluasaan kepada manajemen untuk menentukan jumlah transaksi akrual secara fleksibel, atau dengan kata lain, metode discretionary accrual memberikan peluang kepada manajer untuk memperbaiki profit laba sesuai dengan keinginannya. Contohnya pada akhir tahun buku perusahaaan mengetahui bahwa suatu piutang tertentu tidak dapat ditagih. Perusahaan dapat melakukan pencatatan kapan piutang tersebut dihapuskan, pada periode buku sekarang atau pada tahun buku berikutnya. Discretionary accruals digunakan sebagai indikator adanya praktik manajemen laba karena merupakan intervensi manajerial dalam proses pelaporan keuangan dan lebih menekankan kepada keleluasaan atau kebijakan yang tersedia dalam memilih dan menerapkan prinsip-prinsip akuntansi untuk mencapai hasil akhir (Islam et al., 2011). Discretionary accruals diantaranya penilaian piutang, pengakuan biaya garansi, dan aset modal. Manajer akan melakukan manajemen laba untuk  mencapai tingkat pendapatan yang diinginkan dengan manipulasi akrual-akrual tersebut. Alareeni & Aljuaidi (2014) menyatakan dalam melakukan manajemen laba, perusahaan yang menaikkan laba cenderung menggunakan untung dari penghentian aset, sedangkan perusahaan yang menurunkan laba cenderung menggunakan biaya kerugian piutang. Dengan menggunakan akrual yang menaikkan laba, maka akan didapatkan harga saham yang relatif tinggi pada waktu penerbitan saham. Penelitian ini memfokuskan pada discretionary accruals, karena discretionary accruals memungkinkan manajer memberikan informasi privat dan meningkatkan kemampuan laba untuk mencerminkan nilai ekonomis perusahaan. Pada saat yang sama, discretionary accruals memungkinkan manajer untuk terlibat dalam pelaporan yang oportunistik untuk memaksimalkan kemakmuran manajer. Perhitungan discretionary accruals dalam penelitian ini menggunakan Modified Jones Model yang merupakan modifikasi dari Model Jones (1991). Dechow et al. (1995) memodifikasi model Jones untuk menghilangkan dugaan kesalahan pengukuran discretionary accruals ketika kebijaksanaan diterapkan terhadap pendapatan. Perubahan pendapatan disesuaikan dengan perubahan piutang pada periode tersebut. Mereka menyimpulkan bahwa mengelola laba dengan menerapkan kebijaksanaan atas pengakuan pendapatan pada credit sales lebih mudah daripada mengelola pendapatan dengan menerapkan kebijaksanaan pengakuan pendapatan atas cash sales (Roodposhti, Banimahd, Rezaei, & Salehi, 2012). Modified Jones Model mengasumsikan bahwa semua perubahan dalam credit sales pada periode tersebut hasil dari manajemen laba (Bhuiyan, Roudaki, & Clark, 2013). Modified Jones Model  digunakan karena model ini dianggap paling baik untuk mengukur manajemen laba dibandingkan metode lain (T. Chen, 2010). Model ini merupakan model pendeteksi manajemen laba yang umum digunakan dalam riset-riset empiris mengenai manajemen laba di Indonesia (Erawan & Ulupui, 2013).

Pola Manajemen Laba (skripsi dan tesis)

Berbagai pola yang sering dilakukan manajer dalam manajemen laba (Scott, 2015), adalah sebagai berikut: 1) Taking a bath Terjadinya reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru. Bila perusahaan harus melaporkan laba yang tinggi, manajer dipaksa untuk melaporkan laba yang tinggi, konsekuensinya manajer akan menghapus aktiva dengan harapan laba yang akan datang dapat meningkat. 2) Income minimization Manajer mendapatkan laba yang tinggi dengan mempercepat penghapusan aktiva tetap dan aktiva tak berwujud dan mengakui pengeluaran sebagai biaya. Pada saat profitabilitas perusahaan sangat tinggi dengan maksud agar tidak mendapat perhatian secara politis, kebijakan yang diambil dapat berupa penghapusan atas barang modal dan aktiva tak berwujud, biaya iklan dan pengeluaran untuk penelitian, serta hasil akuntansi untuk biaya eksplorasi. 3) Income maximization Tujuan dari tindakan ini untuk melaporkan net income yang tinggi demi bonus yang lebih besar. Perencanaan bonus yang didasarkan pada data akuntansi mendorong manajer untuk memanipulasi data akuntansi guna menaikkan laba untuk meningkatkan pembayaran bonus tahunan. Tindakan ini dilakukan pada saat laba menurun. 4) Income smoothing  Manajer meratakan laba yang dilaporkan untuk tujuan pelaporan eksternal, terutama bagi investor karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil

Motivasi Manajemen Laba (skripsi dan tesis)

Scott (2015), beberapa motivasi manajemen melakukan manajemen laba antara lain sebagai berikut: 1) Earning Management for Bonus Purposes 18 Manajer akan meningkatkan net income perusahaan untuk memaksimalkan bonus yang mereka terima. 2) Contractual Motivation Manajer menaikkan laba bersih untuk mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami technical default. Hal ini berkaitan dengan utang jangka panjang. 3) Political Motivation Perusahaan besar yang sebagian besar kegiatan usahanya ditujukan untuk hajat hidup orang banyak menyentuh pada umumnya cenderung mengurangi laba yang dilaporkan untuk mengurangi political cost. 4) Taxation Motivation Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan agar pajak penghasilan yang dibayarkan perusahaan semakin kecil. 5) Changes of Chief Executive Officer (CEO) CEO yang mengundurkan diri atau pensiun cenderung membuat kondisi perusahaan terlihat baik dengan meningkatkan pendapatan atau laba. Hal ini dilakukan agar bonus yang mereka terima pada saat pengunduran diri atau pensiun dapat meningkat. 6) Initial Public Offering (IPO) Perusahaan go public cenderung menampilkan kondisi perusahaan yang sehat sehingga mendorong manajemen untuk meningkatkan laba perusahaan. Hal tersebut dilakukan agar saham yang ditawarkan pada publik bernilai tinggi.

Manajemen Laba (skripsi dan tesis)

(Earnings Management) Scott (2015), earnings management adalah pilihan yang dilakukan oleh manajer dalam pemilihan kebijakan akuntansi atau tindakan yang dapat mempengaruhi laba, yang bertujuan untuk mencapai beberapa tujuan dalam pelaporan laba. Menurut Healy & Wahlen (1999) manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan keputusannya dalam pelaporan keuangan dan mengubah transaksi untuk mengubah laporan keuangan yang dapat menyesatkan stakeholders tentang kinerja ekonomi yang diperoleh perusahaan maupun untuk mempengaruhi hasil kontraktual yang bergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan. Manajemen laba adalah tindakan oportunistik yang dilakukan dengan cara memilih kebijakan akuntansi tertentu, sehingga laba perusahaan dapat diatur, dinaikkan atau diturunkan sehingga menimbulkan perilaku manajemen untuk mengatur laba sesuai dengan keinginannya (Nuryaman, 2009). Adanya praktik manajemen laba dalam pengelolaan perusahaan oleh manajer dapat dijelaskan berdasarkan agency theory (Putri, 2012). Pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian dalam perusahaan bersamaan dengan asimetri informasi di dalam perusahaan semakin memperluas kemungkinan tindakan oportunistik oleh manajer yang mempunyai tujuan berbeda dengan stakeholders, dan setiap pihak ingin memaksimalkan kepentingannya sendiri. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen laba adalah intervensi manajemen terhadap laporan keuangan, berupa pilihan yang dilakukan oleh manajemen terhadap kebijakan-kebijakan akuntansi, yang diperkenankan dalam proses pelaporan keuangan eksternal untuk mencapai tujuan tertentu, sehinggga dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan dan tidak dapat dipertanggungjawaban.

Teori Keagenan (skripsi dan tesis)

Jensen & Meckling (1976) menyatakan hubungan keagenan merupakan hubungan antara dua belah pihak atau lebih, dimana satu atau lebih individu (principal) mempekerjakan individu lain (agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan kekuasaan kepada agent untuk membuat suatu keputusan atas nama principal berdasarkan kontrak kerja (nexus of contract). Pemegang saham sebagai principal dan manajemen sebagai agent tentunya harus memiliki visi dan misi yang sama. Hubungan keagenan mewajibkan agent untuk mempertanggungjawabkan upayanya kepada pemegang saham dengan memberikan  laporan periodik pada principal tentang usaha yang dijalankan dan principal akan menilai kinerja agent melalui laporan keuangan yang disampaikan. Tujuan dari teori keagenan adalah menciptakan kontrak yang efisien antara pemegang saham dan manajemen. Kontrak kerja merupakan seperangkat aturan yang mengatur mengenai mekanisme bagi hasil, baik yang berupa keuntungan, return maupun risiko-risiko yang disetujui oleh principal dan agent. Sukartha (2008) menjabarkan syarat-syarat kontrak yang efisien, adalah sebagai berikut: 1) Terdapat informasi yang simetris antara agent dan principal, yaitu keadaan dimana manajemen dan pemegang saham memiliki kualitas dan kuantitas informasi yang sama sehingga tidak terdapat informasi yang tidak disajikan atau disembunyikan manajemen yang dapat digunakan untuk kepentingan pribadi. 2) Imbal jasa yang diperoleh manajemen sebagai agent adalah pasti sehingga menimbulkan risiko yang kecil terkait dengan pembebanan tugas yang diberikan kepadanya. Kontrak kerja menjadi optimal bila kontrak mampu menjaga keseimbangkan antara principal dan agent yang memperlihatkan pelaksanaan kewajiban yang optimal oleh agent dan pemberian imbalan khusus dari principal ke agent (Endrianto, 2010). Manajemen dalam kenyataannya sering mempunyai tujuan yang berbeda yang mungkin bertentangan dengan tujuan utama pihak principal. Masalah akan timbul apabila manajer tidak menyajikan seluruh informasi yang dimilikinya di dalam laporan keuangan. Permasalahan yang timbul akibat adanya konflik kepentingan antara para manajemen dan pemegang saham disebut dengan agency problem.Tanggung jawab yang dimiliki manajemen dalam aktivitas perusahaan sehari-hari untuk pengambilan keputusan perusahaan mengakibatkan manajemen memiliki informasi lebih banyak dibandingkan pemegang saham sehingga simetri informasi tidak terjadi. Kesenjangan informasi ini biasa disebut dengan asimetri informasi. Menurut (Scott, 2015), terdapat dua macam asimetri informasi yaitu: 1) Adverse selection, adalah manajer pada dasarnya mengetahui lebih banyak keadaan dan prospek perusahaan dibandingkan pihak luar. Informasi mengenai perusahaan yang diperoleh pemilik dari manajer digunakan untuk mengambil keputusan tidak diberikan secara detail oleh manajer. Dan mungkin terdapat fakta-fakta yang tidak disampaikan kepada pemilik. 2) Moral hazard, adalah kegiatan yang dilakukan manajer tidak seluruhnya diketahui oleh oleh investor (pemegang saham, kreditor). Sehingga manajer dapat melakukan tindakan di luar sepengetahuan pemilik yang melanggar kontrak kerja dan sebenarnya secara etika mungkin tidak layak dilakukan. Eisenhardt (1989) menggunakan tiga asumsi untuk guna menjelaskan tentang teori keagenan yaitu sebagai berikut: 1) Asumsi tentang sifat dasar manusia Manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self interest), manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan manusia selalu menghindari risiko (risk aversion). 2) Asumsi tentang keorganisasian  Asumsi keorganisasian adalah adanya konflik antar anggota organisasi, efisiensi sebagai kriteria produktivitas, dan adanya asimetri informasi antara principal dan agent. 3) Asumsi tentang informasi Asumsi tentang informasi adalah bahwa informasi dipandang sebagai barang komoditi yang bisa diperjual belikan. Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia, konflik kepentingan antara manajemen dan pemilik membuat agent menyajikan informasi yang tidak sebenarnya kepada principal demi untuk kepentingan privat. Dalam hubungan keagenan tersebut, laporan keuangan merupakan sarana transparansi dan akuntabilitas manajemen kepada pemegang saham. Agent dapat melakukan tindakan oportunistik dengan mempengaruhi angka-angka akuntansi yang disajikan dalam laporan keuangan dengan cara melakukan manajemen laba. Perspektif hubungan keagenan menjadi dasar yang digunakan untuk memahami manajemen laba. Inti dari teori keagenan adalah pendesainan kontrak yang tepat untuk menyelaraskan kepentingan manajemen dan pemegang saham dalam hal terjadi konflik kepentingan. Upaya mengatasi atau mengurangi masalah keagenan ini menimbulkan biaya keagenan (agency cost). Menurut Jensen & Meckling (1976) , cara untuk mengurangi agency problem dengan menimbulkan agency cost adalah sebagai berikut: 1) Monitoring Cost  Biaya monitoring ditanggung oleh principal untuk memonitor perilaku agent, yaitu untuk mengukur, mengamati, dan mengontrol perilaku agent. 2) Bonding Cost The bonding cost merupakan biaya yang dikeluarkan oleh agent untuk menetapkan dan mematuhi mekanisme yang menjamin bahwa agent akan bertindak untuk kepentingan principal. 3) Residual loss Residual loss merupakan biaya yang timbul akibat adanya perbedaan antara keputusan yang diambil oleh agent dengan keputusan yang seharusnya memberikan manfaat maksimal pada principal.

Indikator Keberhasilan (skripsi dan tesis)

Usaha Menurut Murphy and Pack (2000:8) ciri wirausaha yang sukses adalah sebagai berikut:  1. Mau Kerja Keras (Capacity for Hard Work) Kerja keras merupakan modal dasar untuk keberhasilan seseorang. Sikap kerja keras harus dimiliki oleh seorang wirausahawan. Dalam hal ini, unsur disiplin memainkan peranan penting. 2. Bekerjasama dengan Orang Lain (Getting Things Done With and Through People) Seorang wirausahawan mudah bergaul, disenangi oleh masyarakat. Sehingga memudahkan dalam suksesi usahanya. 3. Penampilan yang Baik (Good Appearance) Ini bukan berarti penampilan body faceyang elok atau paras cantik. Akan tetapi lebih ditekankan pada penampilan perilaku jujur, disiplin. 4. Yakin (Self Confidence) Kita harus memiliki keyakinan diri bahwa kita akan sukses melakukan suatu usaha. Self confidence ini diimplementasikan dalam tindakan seharihari, melangkah pasti tekun. 5. Pandai Membuat Keputusan (Making Sound Decision) Jika anda dihadapkan alternatif, harus memilih, maka buatlah pertimbangan yang matang. Dengan berbagai alternatif yang ada dalam pikirannya ia akan mengambil keputusan yang terbaik. 6. Mau Menambah Ilmu Pengetahuan (College Education) Pendidikan adalah hal yang penting dalam menjalankan kepemimpinan. Karena ilmu dapat menambah skill sehingga kepemimpinan dapat terarah dengan baik.  7. Ambisi Untuk Maju (Ambition Drive) Karena keberhasilan tidak dapat dicapai dengan mudah, gigih dalam berjuang untuk maju dan pantang untuk berputus asa adalah modal utama dalam berwirausaha. 8. Pandai Berkomunikasi (Ability to Communicate) Pandai berkomunikasi berarti pandai mengelola buah pikiran kedalam bentuk ucapan-ucapan yang jelas, menggunakan tutur kata yang enak didengar, mampu menarik perhatian orang lain. Komunikasi yang baik, diikuti dengan perilaku jujur, konsisten dalam pembicaraan akan dsangat membantu seseorang dalam mengembangkan karir masa depannya. Akhirnya dengan keterampilan berkomunikasi itu seseorang dapat mencapai puncak karir.

Keberhasilan Usaha (skripsi dan tesis)

Seperti yang kita ketahui bahwa keberhasilan tidak mungkin diraih dengan begitu saja, tetapi harus melalui beberapa tahapan . Menurut Suryana (2001:38- 39) mengemukakan bahwa untuk menjadi wirausaha atau pengusaha yang sukses pertama–tama harus memiliki ide atau visi bisnis (busisess vision) kemudian ada kemauan dan keberanian untuk menghadapi resiko baik waktu maupun uang. Langkah selanjutnya yang sangat penting adalah dengan membuat perencanaan usaha, pengorgganisasian dan menjalankanya. Berikut dikemukakan beberapa pengertian keberhasilan usaha menurut para ahli: Menurut Hari Lubis dikutip Panigoro (2010:42) “Keberhasilan usaha adalah sebagai suatu prestasi yang berhasil diraih oleh suatu perusahaan dari satu periode ke periode berikutnya”. Untuk melihat dan mengukur tingkat keberhasilan suatu usaha berikut ini terdapat beberapa teori yang mengemukakan beberapa alat ukur dan aspek yang menjadi alat evaluasinya hal tersebut diantaranya adalah: Menurut Van Horne (2000:77-774 ) “Keberhasilan usaha dapat dilihat dari kemampulabaan atau profitabilitas, dapat di ukur dengan 2 tipe yaitu rasioprofitabilitas dalam hubungan penjualan(sales) dan profitabilitas dalam hubungan dengan investasi”. Dan salah satu kriteria untuk mencapai keberhasilan usaha adalah dengan efisiensi, yaitu apabila sudah tercapai tingkat kemampulabaan (profitabilitas) yang tinggi, menurut Sri Wiludjeng SP (2007:4) menyatakan bahwa:  “Yang di maksud efisien adalah kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan benar (doing the thing right). Efisien dihitung dengan membandingkan antara input yang dipergunakan dengan output yang dihasilkan’’ . Dengan demikian manajer yang efisien adalah manajer yang mampu meminimumkan penggunaan input untuk mencapai output tertentu sehingga dapat mencapai kemampulabaan. Untuk lebih jelasnya berikut di paparkan kemampulabaan menurut Agus Sartono(2001:130) menyatakan bahwa : “Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan dan total aktiva maupun modal sendiri”. Sedangkan Murphy and Pack (2000:8) yang menyatakan bahwa “Ciri wirausaha yang sukses adalah mau kerja keras (Capacity for Hard Work), bekerjasama dengan orang lain (Getting Things Done With and Through People), penampilan yang baik (Good Appearance), yakin (Self Confidence), pandai membuat keputusan (Making Sound Decision), mau menambah ilmu pengetahuan (College Education), ambisi untuk maju (Ambition Drive), pandai berkomunikasi (Ability to Communicate).