Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry dalam Tjiptono (2012:198)
terdapat empat indikator kualitas layanan yaitu :

  1. Bukti Fisik (Tangibles,
    Berkenaan dengan daya tarik fasilitas fisik, perlengkapan, dan material
    yang digunakan perusahaan, serta penampilan karyawan.
  2. Empati (Emphaty)
    Bahwa perusahaan memahami masalah para pelanggannya dan bertindak
    demi kepentingan pelanggan, serta memberikan perhatian personal kepada para
    pelanggan dan memiliki jam operasi yang nyaman.
  3. Daya tanggap (Responsiveness)
    Berkenaan dengan kesediaan dan kemampuan para karyawan untuk
    membantu para pelanggan dan merespon permintaan mereka, serta
    menginformasikan kapan jasa akan diberikan dan kemudian memberikan jasa
    secara cepat.
  4. Jaminan (Assurance)
    Perilaku para karyawan mampu menumbuhkan kepercayaan pelanggan
    terhadap perusahaan dan perusahaan bisa menciptakan rasa aman bagi para
    pelanggannya. Jaminan juga berarti bahwa para karyawan selalu bersikap sopan
    dan menguasai pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk menangani
    setiap pertanyaan atau masalah pelanggan

Kualitas Pelayanan


Salah satu strategi yang dipakai perusahaan untuk bisa memenangkan
persaingan adalah dengan kualitas layanan yang baik. Pelanggan tertarik membeli
sebuah produk atau jasa karena kualitas layanan yang baik. Kualitas pelayanan
merupakan dasar bagi pemasar jasa, karena inti produk yang dipasarkan adalah
suatu kinerja yang berkualitas dan kinerjalah yang dibeli oleh konsumen. Seperti
yang diketahui bahwa kualitas pelayanan dapat digunakan sebagai salah satu alat
untuk mencapai keunggulan bersaing dan menentukan keberhasilan. Semakin baik
pelayanan yang diberikan dimata pelanggan berarti semakin tingi pula tingkat
keberhasilan dan kualitas perusahaan yang dicapai.
Menurut Tjiptono (2012) mendefinisikan kualitas pelayanan adalah ukuran
seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi
pelanggan. Definisi lain kualitas pelayanan menurut Wyckof dalam Lovelock
dalam Tjiptono (2012) merupakan tingkat keunggulan (excellence) yang
diharapkan dan pengendalian atas keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan
pelanggan.
Kualitas pelayanan memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk
menjalin ikatan hubungan yang kuat dengan lembaga atau instansi pemberi
pelayanan jasa. Ikatan hubungan yang baik ini akan memungkinkan lembaga
pelayanan jasa untuk memahami dengan seksama harapan pelanggan serta
kebutuhan mereka. Kualitas telah menjadi harapan dan impian bagi setiap
konsumen dari sebuah produk yang dibelinya. Konsumen dalam kesehariannya
menggunakan produk baik yang berwujud ataupun tidak berwujud (jasa) tidak
akan lepas dari kualitas baik yang diharapkan konsumen


Menurut Kotler dan Keller dalam Sabran (2011) kualitas produk memiliki
indikator-indikator sebagai berikut:

  1. Bentuk (form)
    Bentuk sebuah produk dapat meliputi ukuran, bentuk, atau struktur fisik
    produk.
  2. Kualitas Kesesuaian (Conformance Quality)
    Tingkat dimana semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi
    spesifikasi yang dijanjikan.
  3. Ketahanan (Durability)
    Merupakan ukuran umur operasi harapan produk dalam kondisi biasa atau
    penuh tekanan, merupakan atribut berharga untuk produl-produk tertentu

Indikator Harga


Menurut Kotler (2016:52) indikator yang digunakan untuk mengukur
harga, yaitu :

  1. Keterjangkauan harga produk.
    Kemampuan daya beli konsumen atas produk yang dibelinya.
  2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
    Harga merupakan salah satu indikator dalam menentukan suatu kualitas
    barang itu sendiri. Tidak selalu harga yang mahal itu menunjukan bahwa
    kualitas dari barang tersebut adalah bagus.
  3. Daya saing harga produk.
    Kemampuan suatu produk untuk bersaing dengan produk sejenisnya
    dipasaran dengan harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan, meskipun
    harga yang ditawarkan lebih tinggi dibandingkan dengan produk sejenis.
  4. Kesesuaian harga dengan manfaat produk.
    Harga yang mahal tidak menjadi persoalan untuk suatu produk apabila
    berbanding lurus dengan manfaat yang dapat diperoleh dari membeli
    produk tersebut.

Kualitas Produk


Pengertian kualitas produk memiliki inti pada upaya pemenuhan
kebutuhan pelanggan yang bertujuan untuk mengimbangi harapan pelanggan.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012:236) Kualitas produk didefinisikan sebagai
sesuatu yang dapat ditawarkan kedalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki,
dipakai, atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan
Kualitas merupakan faktor yang terdapat dalam suatu produk yang menyebabkan
produk tersebut bernilai sesuai dengan maksud untuk apa produk itu di produksi.
Kualitas biasanya berhubungan dengan manfaat atau kegunaan serta fungsi dari
suatu produk.
Menurut Kotler dan Armstrong (2012) “Product quality is the
characteristic of a product or service that bear onits ability to satisfy stated or
implied customer needs” yang bila diartikan dalam Bahasa Indonesia: “kualitas
produk adalah karakter yang dimiliki sebuah produk yang mempunyai
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan”. Sedangkan Menurut Kotler
dan Armstrong (2012:283) dalam Kresnamurti (2012) “kualitas produk adalah
kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk
keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan
reparasi produk juga atribut produk lainnya”

Strategi Penetapan Harga


Menurut Kotler dan Armstrong (2014) Strategi penetapan harga
berdasarkan bauran produk sebagai berikut :

  1. Penetapan harga lini produk, yaitu menetapkan jenjang harga diantara
    barang- barang pada lini produk.
  2. Penetapan harga produk tambahan, yaitu menetapkan harga produk
    tambahan atau pelengkap yang dijual beserta produk utama.
  3. Penetapan harga produk terikat, yaitu menetapkan harga produk yang
    harus digunakan bersama produk utama.
  4. Penetapan harga produk sampingan, yaitu menetapkan harga rendah pada
    produk – produk sampingan untuk menyingkirkan mereka.
  5. Penetapan harga paket produk, yaitu menetapkan harga untuk paket
    produk yang dijual bersama

Harga


Rangsangan dari perusahaan yang berperan sangat penting dalam
penjualan suatu produk adalah harga. Menurut Kotler dan Armstrong (2012:439)
Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk, atau jumlah dari
nilai yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena memiliki dan
menggunakan produk atau jasa tersebut. Harga merupakan elemen bauran
pemasaran yang dapat menghasilkan pendapatan melalui penjualan. Oleh karena
itu, perusahaan harus dapat menetapkan harga produknya dengan baik dan tepat
sehingga konsumen tertarik dan mau membeli produk yang ditawarkan agar
perusahaan mendapatkan keuntungan.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012:345) harga dapat didefenisikan
secara sempit sebagai jumlah uang yang ditagihkan untuk suatu produk atau jasa.
Atau dapat didefenisikan secara luas harga sebagai jumlah nilai yang ditukarkan
konsumen untuk keuntungan memiliki dan menggunakan produk atau jasa yang
memungkinkan perusahaan mendapatkan laba yang wajar dengan cara dibayar
untuk nilai pelanggan yang diciptakannya

Faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli Ulang


Menurut Kotler & Armstrong (2011:135-150) dalam Puspitasari (2016)
faktor utama yang mempengaruhi minat seseorang untuk melakukan pembelian
ulang, yaitu sebagai berikut ini :

  1. Faktor Kultur
    Kultur dan kelas sosial seseorang dapat mempengaruhi minat seseorang
    dalam melakukan pembelian. Konsumen memiliki persepsi, keinginan dan
    tingkah laku yang dipelajari sedari kecil, sehingga pada akhirnya akan
    membentuk persepsi yang berbeda-beda pada masing-masing konsumen. Faktor
    nasionalitas, agama, kelompok ras dan wilayah geografis juga berpengaruh pada
    masing-masing individu.
  2. Faktor Psikologis
    Meliputi pengalaman belajar individu tentang kejadian di masa lalu, serta
    pengaruh sikap dan keyakinan individu. Pengalaman belajar dapat didefinisikan
    sebagai suatu perubahan perilaku akibat pengalaman sebelumnya. Timbulnya
    minat konsumen untuk melakukan pembelian ulang sangat dipengaruhi oleh
    pengalaman belajar individu dan pengalaman belajar konsumen yang akan
    menentukan tindakan dan pengambilan keputusan membeli.
  3. Faktor Pribadi
    Kepribadian, umur, pekerjaan, situasi ekonomi dan juga lifestyle dari
    konsumen itu sendiri akan mempengaruhi persepsi dan pengambilan keputusan
    dalam membeli. Oleh karena itu, peranan restoran penting dalam memberikan
    pelayanan yang baik kepada konsumennya. Faktor pribadi ini termasuk di
    dalamnya konsep diri. Konsep diri dapat didefinisikan sebagai cara kita melihat
    diri sendiri dan dalam waktu tertentu sebagai gambaran tentang upah yang kita
    pikirkan. Dalam hubungan dengan minat beli ulang, restoran perlu menciptakan
    situasi yang diharapkan konsumen. Begitu pula menyediakan dan melayani
    konsumen dengan produk yang sesuai dengan yang diharapkan konsumen.
  4. Faktor Sosial
    Mencakup faktor kelompok anutan (small reference group). Kelompok
    panutan didefinisikan sebagai suatu kelompok orang yang mempengaruhi sikap,
    pendapat, norma dan perilaku konsumen. Kelompok panutan ini merupakan
    kumpulan keluarga, kelompok atau orang tertentu. Dalam menganalisis minat beli
    ulang, faktor keluarga berperan sebagai pengambil keputusan, pengambil inisiatif,
    pemberi pengaruh dalam keputusan pembelian, penentu apa yang dibeli, siapa
    yang melakukan pembelian dan siapa yang menjadi pengguna. Pengaruh
    kelompok acuan terhadap minat beli ulang antara lain dalam menentukan produk
    dan merek yang mereka gunakan yang sesuai dengan aspirasi kelompoknya. Ke
    efektifan pengaruh niat beli ulang dari kelompok anutan sangat tergantung pada
    kualitas produksi dan informasi yang tersedia pada konsumen

Repurchase Intention (Minat Beli Ulang)


Minat beli ulang menunjukkan keinginan pembeli untuk melakukan
kunjungan ulang di masa yang akan datang. Perilaku pembelian ulang seringkali
dikaitkan dengan loyalitas. Namun keduanya berbeda. Perilaku pembelian ulang
hanya menyangkut pembelian ulang merek tertentu yang sama secara berulang-
ulang, sedangkan loyalitas merek mencerminkan komitmen psikologis terhadap
merek tertentu.
Pengertian minat beli ulang menurut Peter dan Olson (2014:289) adalah
kegiatan pembelian yang dilakukan lebih dari satu kali atau beberapa kali.
Kepuasan yang diperoleh seorang pelanggan, dapat mendorong seseorang untuk
melakukan pembelian ulang, menjadi loyal terhadap produk tersebut ataupun
loyal terhadap toko tempat dia membeli barang tersebut sehingga konsumen dapat
menceritakan hal-hal yang baik kepada orang lain.
Menurut Keller dalam Sulistyari (2012:20), minat beli ulang adalah
seberapa besar kemungkinan pelanggan membeli suatu merek atau seberapa besar
kemungkinan pelanggan untuk berpindah dari satu merek ke merek lainnya. Bila
manfaat yang dirasakan lebih besar dibandingkan pengorbanan untuk
mendapatkannya, maka dorongan untuk membelinya semakin tinggi

Pemasaran


AMA (American Marketing Association) dalam Kotler dan Keller
(2017:124-135) menjelaskan bahwa “Marketing is the activity, set of institutions,
and processes for creating, communicating, delivering, and exchanging offerings
that have value for customers, client, partners, and society large” yang artinya
bahwa pemasaran merupakan suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses
untuk menciptakan, mengkomunikasikan dan memberikan nilai kepada
pelanggan, klien, rekan, dan cakupan sosial yang lebih luas dan untuk mengelola
hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku
kepentingan.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2017:124-135) sebagai berikut :
“Marketing is a societal process by which individuals and groups obtain what
they need and want through creating, offering, and freely exchanging products
and services of value with others”. Artinya pemasaran adalah sebuah proses
kemasyarakatan dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka
butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan secara bebas saling
bertukar produk dan jasa yang bernilai satu sama lainnya.
Menurut Kotler dan Armstrong (2017:124-135) Pemasaran adalah sebagai
berikut : “Marketing as the process by which companies create value from
customers and build strong customers relationship in order to capture value from
customers in return”. Artinya pemasaran sebagai proses dimana perusahaan
menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan
pelanggan untuk mendapat nilai dari pelanggan sebagai imbalan.
Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya
pemasaran bukan hanya kegiatan menjual barang maupun jasa tetapi juga meliputi
kegiatan untuk memenuhi keingian dan kebutuhan dengan berusaha
mempengaruhi konsumen untuk bersedia membeli barang dan jasa perusahaan
melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran produk yang bernilai. Hal ini
sangat penting bagi manajer pemasaran untuk memahami tingkah laku konsumen
tersebut. Sehingga perusahaan dapat mengembangkan, menentukan harga,
mempromosikan dan mendistribusikan prduk secara lebih baik.

Hubungan antara Brand Trust, Kepuasan Pelanggan dan MinatBeli Ulang


Semakin meningkatnya pengaruh kepercayaan merek terhadap minat
beli ulang yang disebabkan oleh kepuasan konsumen yang tinggi.
Pelanggan yang percaya kepada suatu produk atau jasa tentu saja
akan melakukan transaksi secara berulang secara konsisten dimasa yang
akan datang (Rifa’i et al., 2020). Haron et al., (2020) Terciptanya rasa
kepuasan terhadap produk atau jasa yang digunakan oleh pelanggan
akhirnya tumbuh menjadi kepercayaan merek karena apa yang
diharapkan oleh konsumen sudah terpenuhi sehingga minat beli ulang
tentu saja akan terjadi secara berulang. Hal ini sejalan dengan
meningkatnya kepercayaan pelanggan maka pelanggan akan terus
menerus menggunakan jasa atau produk tersebut secara konsisten.
Japarianto & Agatha (2020) brand trust memiliki pengaruh positif
terhadap kepuasan konsumen karena konsumen memiliki kepercayaan
terhadap suatu produk, maka produsen harus konsisten membangun
kepercayaan konsumen.

Hubungan Social Media Marketing, Kepuasan Pelanggan danMinat Beli Ulang


Peranan media sosial untuk meningkatkan minat beli ulang konsumen
dapat dipengaruhi oleh hubungan kerja sama yang baik antara
produsen dan konsumen dalam berkomunikasi melalui media sosial
sehingga mampu meningkatkan minat beli ulang konsumen, dimana hal
ini berdampak terhadap kepuasan konsumen yang dirasakan oleh
konsumen saat berbelanja melalui media sosial. Kepuasan konsumen
dirasakan saat tidak adanya keluhan atas produk yang dibelinya sehingga
akan mempengaruhi minat beli konsumen untuk menggunakan kembali
produk tersebut (Lestari & Iswati, 2021). Menurut oliver dalam jurnal
Dwipayana & Sulistyawati (2018) kepuasan secara positif berkaitan
dengan niat beli ulang baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pada tahap akhir dalam proses pembentukan kepuasan, kepuasan akan
menentukan seberapa niat konsumen untuk menggunakan kembali
produk tersebut disebabkan oleh pengaruh pemasaran di media sosial.
Dilanjutkan menurut Tong & Subagio (2020) terdapat pengaruh
positif antara pemasaran media sosial yang menjadi faktor penting
dalam meningkatkan minat beli ulang dengan bantuan media
promosi dimedia sosial. Adanya pengaruh kepercayaan dari
promosi yang dilakukan terhadap minat beli ulang, karena
dengan semakin meningkatnya kepercayaan maka minat beli ulang juga
akan meningkat (Nur et al., 2021).

Kepuasan Pelanggan terhadap Minat Beli Ulang


Kepuasan pembeli meliputi seberapa dekat harapan pembeli atas
suatu produk dengan kinerja yang dirasakan pembeli atas produk tersebut.
Kepuasan konsumen memegang peran penting dalam menentukan antara
harapan konsumen dan kemampuan produk dalam memuaskan konsumen.
Pengaruh yang signifikan antara kepuasan pelanggan dengan minat beli
ulang, dimana semakin tinggi tingkat kepuasan suatu pelanggan maka
akan semakin tinggi pula minat beli ulang yang dilakukan oleh pelanggan
tersebut (Maulana & Sukresna, 2022). Tingkat kepuasan pelanggan akan
menentukan seberapa niat konsumen untuk menggunakan kembali ulang
produk atau membeli ulang produk.
Jadi semakin tinggi konsumen merasa puas terhadap produk maka
semakin banyak konsumen yang melakukan pembelian ulang pada produk.
Kepuasan pelanggan berpengaruh secara parsial terhadap minat beli
pelanggan. Kepuasan pelanggan nantinya dapat menanamkan kepercayaan
bagi konsumen. Kepercayaan yang terbentuk dapat memicu keinginan
pelanggan untuk melakukan pembelian secara berulang (Dwipayana &
Sulistyawati, 2018).

Brand trust terhadap minat beli ulang


Terdapat pengaruh langsung antara kepercayaan merek terhadap
minat beli ulang, karena dengan semakin meningkatnya kepercayaan
terhadap merek maka minat beli ulang juga akan meningkat. Membangun
dan menjaga kepercayaan merek merupakan hal yang sangat penting,
karena berdampak langsung terhadap minat pembelian ulang. Brand trust
menjadi aspek nilai yang mengikat konsumen dengan merek dan sebagai
suatu perasaan aman yang ditimbulkan berdasarkan interaksi mereka
terhadap suatu merek dan merek tersebut dapat dipercayai serta
bertanggung jawab (Fandiyanto & Endriyasari, 2019). Brand trust
merupakan sebuah kemampuan merek untuk meyakinan pelanggannya
bahwa suatu produk mampu memberikan nilai dan ide yang dijanjikan.
Memiliki kepercayaan pada produk didapatkan ketika menerima respon
baik dari konsumen. Jadi jika produk mendapat kepercayaan,
kemungkinan untuk terjadi niat beli ulang akan besar (Nur et al., 2021).
Minat beli ulang pada dasarnya tentang perilaku pelanggan ketika
pelanggan bereaksi positif terhadap kualitas layanan perusahaan dan
berniat untuk kembali atau mengkonsumsi produk perusahaan lagi.
Sehingga minat membeli ulang akan terjadi jika ada rasa puas dari seorang
konsumen

Social Media Marketing terhadap Minat Beli Ulang


Media sosial sebagai platform komunikasi dengan konsumen untuk
memberitahu suatu brand sehingga menjadi faktor penting dalam
meningkatkan minat beli ulang serta membuat konsumen mengingat
kembali suatu merek atau produk dengan bantuan media promosi di media
sosial (Tong & Subagio, 2020). Media sosial sebagai media pemasaran
dapat mempengaruhi niat beli ulang konsumen dengan terus meningkatkan
kegiatan promosi yang menarik di media sosial, karena dengan terus
mengoptimalkan penggunaan media sosial yang tepat dapat meningkatkan
keuntungan melalui pembelian secara berulang. Sebab media teknologi
menurut teori ekologi media menyatakan bahwa kehidupan manusia tidak
dapat dilepaskan dari pengaruh teknologi (Rohani et al., 2020)

Brand Trust Terhadap Kepuasan Pelanggan


Kepercayaan merek memiliki pengaruh terhadap kepuasan
pelanggan karena ketika konsumen memiliki kepercayaan terhadap suatu
produk maka konsumen akan merasa puas bahkan akan
merekomendasikan kepada orang lain. Untuk membentuk suatu brand
trust, penjual produk perlu untuk secara konsisten membangun
kepercayaan konsumen. brand trust yang telah terbentuk akan
menimbulkan rasa nyaman dalam diri konsumen, Konsumen akan
cenderung merasa lebih nyaman dengan satu brand yang telah dipercaya
daripada memilih produk atau jasa dari brand lain (Japarianto & Agatha,
2020). Pelanggan akan percaya pada suatu merek walaupun adanya risiko
yang akan dihadapi. Faktor yang mempengaruhi kepercayaan meliputi tipe
suatu merek, tipe perusahaan dan hubungan pelanggan – merek. Terdapat
pengaruh yang baik antara kepercayaan merek dengan kepuasan pelanggan
dengan menandakan apabila tingkat kepuasan pelanggan tinggi maka
sudah dipastikan pelanggan sangat mempercayai merek tersebut.
(Anggraeni & Syuhada Sofyan., 2017). Kepercayaan merek yang telah
menjadi patokan dalam membangun dan menjalin hubungan bisnis
terutama yang berkaitan dengan unsur resiko sehingga dapat merasakan
kepuasan yang diinginkan (Ihsan & Sutedjo, 2022).

Social Media Marketing terhadap Kepuasan Pelanggan


Pemasaran yang efektif di media sosial sangat memungkinkan
perusahaan menciptakan hubungan yang menguntungkan dengan
konsumen untuk meningkatkan kepuasan konsumen. Kinerja media sosial
dalam memasarkan produk dapat mempengaruhi tingkat kepuasaan
konsumen terhadap produk yang mereka beli. konsumen yang
menggunakan media sosial tentunya ingin mendapat kepuasan sehingga
terdapat hubungan yang positif antar keduanya (Agustini et al., 2022).
(Agustini et al., 2022) Kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh pemasaran
media sosial, dimulai dari mencari informasi melalui media sosial,
menggunakan media sosial, tertarik karena postingan dan merasa senang
melihat media sosial Tiktok Zoya (Agustini et al., 2022). implementasi
program pemasaran yang efektif di media sosial dapat memungkinkan
perusahaan untuk menciptakan hubungan yang menguntungkan terhadap
konsumen dengan meningkatkan kepuasan (Fajri & Ma’ruf, 2018)

Indikator Kepuasan Pelanggan


Indikator kepuasan pelanggan yang digunakan dalam penelitian,
sebagaimana dikemukakan oleh (Kotler dan Keller 2016:120) pada
meliputi:

  1. Pengalaman: Ini merujuk pada pengalaman atau aktivitas
    yang telah dialami atau dilakukan oleh pelanggan dengan
    produk atau layanan yang mereka gunakan. Kepuasan
    pelanggan dapat muncul sebagai hasil dari pengalaman
    positif yang mereka alami dalam berinteraksi dengan
    perusahaan atau merek.
  2. Harapan Pelanggan: Harapan pelanggan mencakup sejauh
    mana harapan mereka terhadap produk atau layanan tertentu
    cocok dengan kinerja aktual yang mereka terima dari
    perusahaan. Jika kinerja produk atau layanan memenuhi atau
    bahkan melebihi harapan pelanggan, maka hal ini dapat
    berkontribusi positif terhadap kepuasan pelanggan.
    3) Kebutuhan: Indikator ini mengacu pada kesesuaian antara
    kebutuhan atau keperluan pelanggan dengan produk atau
    layanan yang ditawarkan oleh perusahaan. Ketika produk
    atau layanan secara efektif memenuhi kebutuhan pelanggan,
    maka pelanggan cenderung merasa puas.
    Ketiga indikator ini membantu dalam memahami faktor-faktor
    yang mempengaruhi kepuasan pelanggan. Menganalisis dan
    memahami hubungan antara pengalaman, harapan pelanggan,
    dan pemenuhan kebutuhan dengan kepuasan pelanggan dapat
    membantu perusahaan dalam merancang strategi pemasaran yang
    lebih efektif, meningkatkan kualitas produk atau layanan, dan
    mempertahankan hubungan yang kuat dengan pelanggan.

Definisi Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan (customer satisfaction) adalah suatu tingkatan
dimana perkiraan kinerja produk sesuai dengan harapan pembeli
(Kotler and Keller, 2013:150). Kepuasan pelanggan bergantung
pada perkiraan kinerja produk dalam memberikan nilai, relatif
terhadap harapan pembeli. Kepuasan pelanggan merupakan kunci
dalam menciptakan loyalitas pelanggan. Banyak manfaat yang
diterima oleh perusahaan dengan tercapainya tingkat kepuasan
pelanggan yang tinggi yaitu selain dapat meningkatkan loyalitas
pelanggan tapi juga dapat mencegah terjadinya perputaran
pelanggan, mengurangi sensitivitas pelanggan terhadap harga,
mengurangi biaya kegagalan pemasaran, mengurangi biaya operasi
yang diakibatkan oleh meningkatnya jumlah pelanggan,
meningkatkan efektivitas iklan dan meningkatkan reputasi bisnis
(Aryani dan Rosinta, 2010)

Indikator Brand Trust


Menurut Lau dan Lee (1999) dalam jurnal penelitiannya yang
berjudul “Consumers’ Trust in a Brand and Link to Brand Loyalty”
mengemukakan bahwa terdapat tiga indikator yang dapat digunakan
untuk mengukur Brand Trust, yaitu:

  1. Brand Characteristic (Karakteristik Merek)
    Karakteristik merek berperan penting dalam menentukan seorang
    konsumen memutuskan untuk mempercayainya. Karakteristik
    sebuah merek terdiri dari reputasi merek yang baik yang dapat
    terwujud dari iklan dan hubungan masyarakat yang baik pula.
    Namun, hal ini juga dapat dilihat dari kualitas dan performa dari
    sebuah produk. Reputasi merek juga terwujud dari brand
    predictability yang berdampak pada harapan positif konsumen
    terhadap merek, dan brand competence, yaitu seberapa kompeten
    merek tersebut dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan
    pelanggan.
  2. Company Characteristic (Karakteristik Perusahaan)
    Tingkat kepercayaan pelanggan terhadap suatu brand juga
    dipengaruhi oleh atribut perusahaan tersebut. Nilai suatu merek bisa
    dipengaruhi oleh pengetahuan konsumen tentang perusahaan di balik
    merek tersebut. Saat sebuah perusahaan mendapatkan kepercayaan
    dari konsumennya, maka sebuah merek produk yang muncul dari
    perusahaan tersebut juga akan mendapatkan kepercayaan dari
    konsumen. Karakteristik perusahaan ini terdiri dari reputasi
    perusahaan dan integritas perusahaan.
  3. Consumer-Brand Characteristic (Karakteristik Konsumen-Merek)
    Atribut merek bisa berdampak pada kepercayaan pelanggan terhadap
    merek tersebut. Ciri-ciri ini terdiri dari pengalaman merek, kesukaan,
    kepuasan, dan dampak merek dari konsumen lain (word of mouth),
    serta kesamaan antara konsep diri konsumen dan citra merek.

Definisi Brand Trust


Kepercayaan Merek (Brand Trust) diartikan sebagai konsumen yang
mempercayai suatu produk dengan segala resikonya karena adanya
harapan atau ekspektasi tinggi terhadap merek tersebut akan
memberikan hasil yang positif sehingga konsumen akan memberikan
rasa kesetiaan dan kepercayaan terhadap suatu merek (Hidayah &
Apriliani, 2019). Kepercayaan Merek (Brand Trust) didefinisikan
suatu perasaan aman yang ditimbulkan berdasarkan interaksi mereka
terhadap suatu merek dan merek tersebut dapat dipercayai serta
bertanggung jawab (Tong & Subagio, 2020). Kepercayaan
melibatkan kesediaan seseorang untuk bertingkah laku tertentu
karena keyakinan bahwa mitranya akan memberikan apa yang ia
harapkan (Rodiques & Rahanatha, 2018).

Indikator social media marketing


Variabel social media marketing dalam penelitian ini diukur
dengan mengacu pada indikator-indikator yang telah ditentukan
oleh Oktriyanto, dkk. (2021). Indikator-indikator tersebut
mencakup:
1) Entertainment (Hiburan): Mencerminkan sejauh mana
pemasaran melalui media sosial memberikan aspek hiburan
yang menarik bagi konsumen.
2) Interaction (Interaksi): Mengukur tingkat interaksi dan
keterlibatan konsumen dengan konten yang dipromosikan
melalui media sosial.
3) Trendiness (Keterkinian): Menggambarkan sejauh mana
pemasaran melalui media sosial mengikuti tren dan
perkembangan terkini dalam industri atau pasar.
4) Customization (Penyesuaian): Mencerminkan tingkat
penyesuaian konten pemasaran dengan preferensi dan
kebutuhan individu konsumen
5) Advertisement (Iklan): Mengukur efektivitas iklan yang
disebarkan melalui media sosial sebagai bagian dari strategi
pemasaran.

Definisi Social Media Marketing


Social media adalah platform online di mana orang-orang dengan
minat yang sama mendukung satu sama lain dengan berbagi,
memberi komentar, dan memberikan dukungan (Weber, 2007).
Penggunaan platform komunikasi online yang didasarkan pada
penggunaan internet dan teknologi berbasis seluler dalam strategi
pemasaran oleh bisnis sangat penting karena mempengaruhi
bagaimana konsumen merespons produk dan merek mereka, serta
bagaimana produk dan merek tersebut disajikan kepada konsumen
lain (Sigala & Marinidis, 2009; Chen et al., 2011) (Fahmi et al.,
2019).
Menurut Santoso, Baihaqi, & Persada (2017), pemasaran media
sosial adalah bentuk pemasaran yang digunakan untuk menciptakan
kesadaran, pengakuan, ingatan, dan tindakan terhadap suatu merek,
produk, bisnis, individu, atau kelompok, baik secara langsung
maupun tidak langsung, dengan menggunakan alat dari web sosial
seperti blogging, microblogging, dan jejaring sosial. Menurut
Ariadi & Saino (2014), pemasaran media sosial adalah upaya untuk
membujuk konsumen agar memilih suatu perusahaan, produk, atau
jasa yang ditawarkan. Pemasaran media sosial melibatkan
penggunaan jaringan sosial, blog pemasaran, dan berbagai platform
lainnya. Qurniawati (2018) menyatakan bahwa pemasaran media
sosial dilakukan untuk melibatkan pelanggan di platform online di
mana mereka secara alami menghabiskan waktu (Arif, 2021).
Social media marketing (SMM) melibatkan metode yang terkait
dengan pemasaran langsung dan tidak langsung untuk menciptakan
kesadaran, pengakuan, dan minat ulang terhadap suatu produk,
orang, atau merek. Ini dilakukan melalui alat-alat seperti jejaring
sosial, penyebaran konten, dan microblogging (Gunelius, 2011).
Dalam istilah yang lebih sederhana, SMM dapat dijelaskan sebagai
praktik periklanan yang dilakukan secara online, memanfaatkan
karakteristik etnis suatu masyarakat melalui jejaring sosial (seperti
Facebook dan YouTube), jejaring virtual (seperti Second Life), dan
situs yang berfokus pada pendapat (seperti Eopinions) untuk
mencapai tujuan pemasaran strategis (Tuten, 2008) (Fahmi et al.,
2019).

Indikator Minat Beli Ulang


Ferdinand dalam (Bahar & Sjaharuddin,2015) mengatakan bahwa
Indikator yang dapat diidentifikasikan dalam minat beli ulang
yaitu:

  1. Minat transaksional, yang merupakan kecenderungan
    seseorang untuk membeli ulang produk yang telah
    dikonsumsinya.
  2. Minat referensial, merupakan kecenderungan seseorang
    untuk mereferensikan produk yang sudah dibeli, agar dibeli
    juga oleh orang lain, dengan referensi pengalaman
    konsumsinya;
  3. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan
    perilaku seseorang yang selalu memiliki preferensi utama
    pada produk yang telah dikonsumsi.
  4. Minat eksploratif, yaitu menggambarkan perilaku seseorang
    yang selalu mencari informasi mengenai produk yang
    diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-
    sifat positif dari produk yang dilanggananinya

Definisi Minat Beli Ulang


Menurut Kotler (2016) minat beli ulang yakni sebagaimana
perilaku individu yang termotivas untuk menukarkan uangnya
untuk menikmati atas barang yang yang telah dialami oleh
individu. Sedangkan konsep minat beli ulang menurut Belopa
(2015) faktor utama yang mempengaruhi minat seseorang untuk
melakukan pembelian ulang yaitu psikologis, pribadi, dan sosial.
Minat beli ulang (Repurchase Intention) adalah niat atau keinginan
seorang pelanggan untuk kembali melakukan pembelian produk
atau layanan dari suatu perusahaan atau merek yang telah dia beli
sebelumnya. Ini mencerminkan tingkat kepuasan pelanggan
terhadap pengalaman sebelumnya dengan produk atau layanan
tersebut dan sejauh mana mereka memiliki niat untuk
mempertahankan hubungan bisnis dengan perusahaan atau merek
yang sama. Minat beli ulang adalah indikator penting dalam
mengukur kesetiaan pelanggan dan dapat menjadi petunjuk bagi
perusahaan untuk mempertahankan dan meningkatkan hubungan
dengan pelanggan yang sudah ada. Menurut Ferdinand (2014)
perilaku pembeli condong membeli produk, kecendurangan orang
merenferensikan produk kepada orang lain, tingkah laku seseorang
yang memiliki preferensi utama pada produk, dan mencar nformasi
untuk mendukung sifat – sifat baik produk tersebut

Pengaruh Promosi Terhadap Minat Beli


Promosi merupakan salah satu kegiatan pemasaran yang penting
bagi perusahaan dalam mempertahankan kontinuitas serta
meningkatkan kualitas penjualan, dan untuk meningkatkan kegiatan
pemasaran terhadap barang atau jasa dari suatu perusahaan. Menurut
Tjiptono (2010) Promosi merupakan suatu ungkapan dalam arti luas
tentang kegiatan-kegiatan yang secara efektif dilakukan perusahaan
untuk mendorong konsumen menggunakan produk atau jasa yang
ditawarkan.Perusahaan yang mampu mempromosikan suatu produk
dengan baik maka akan meningkatkan minat beli. Hasil penelitian ini
didukung dengan adanya penelitian dari Martono dan Iriani (2014)
yang berhasil membuktikan bahwa promosi berpengaruh signifikan
terhadap minat beli

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Minat Beli


Kualitas produk merupakan segala sesuatu yang ditawarkan ke
pasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan atau dikonsumsi
yang dapat memuaskan keinginan konsumen. Pemasar yang tidak
memperhatikan kualitas produk yang ditawarkan akan menanggung
tidak loyalnya konsumen sehingga penjualan produknya pun cenderung
menurun. Menurut Kotler dan Amstrong dalam Nurdiansyah (2017),
menyatakan bahwa pemasar harus memperhatikan kualitas, bahkan
diperkuat dengan periklanan dengan harga yang wajar maka konsumen
tidak akan berfikir panjang untuk melakukan pembelian terhadap
produk. Minat beli konsumen adalah tahap dimana konsumen
membentuk pilihan mereka diantara beberapa merk yang tergabung
dalam perangkat pilihan, kemudian pada akhirnya melakukan suatu
pembelian pada suatu alternatif yang paling disukainya atau proses
yang dilalui konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa yang
didasari oleh bermacam pertimbangan. Hasil penelitian Martono dan
Iriani (2014) berhasil membuktikan bahwa kualitas produk berpengaruh
signifikan terhadap minat beli.

Pengaruh Harga Terhadap Minat Beli


Harga sering kali dikaitkan dengan kualitas, konsumen cenderung
untuk menggunakan harga sebagai indikator kualitas atau kepuasan
potensial dari suatu produk. Menurut Umar dalam Widyaningrum
(2011), menyatakan bahwa produk dengan harga yang lebih murah,
fasilitas yang mudah didapatkan dan murah akan lebih diminati
masyarakat. Perusahaan yang mampu meluncurkan produk dengan
kualitas yang baik maka akan meningkatkan minat beli. Dalam
menentukan minat beli, informasi tentang harga sangatlah dibutuhkan
dimana informasi ini akan diperhatikan, dipahami dan makna yang
dihasilkan dari informasi harga ini dapat mempengaruhi perilaku
konsumen.

Tujuan promosi


Menurut Tjiptono (2015) Setiap perusahaan yang melakukan
kegiatan promosi tentu tujuan utamanya adalah untuk mencari laba
(keuntungan), pada umumnya kegiatan promosi harus mendasarkan
kepada tujuan sebagai berikut :

  1. Menginformasikan
    Kegiatan promosi yang bertujuan untuk berusaha
    menginformasikan konsumen akan merek atau produk tertentu
    baik itu produk maupun merek baru atau produk dan merek
    yang sudah lama tetapi belum luas terdengar oleh konsumen.
  2. Membujuk
    Kegiatan promosi yang bersifat membujuk dan mendorong
    konsumen untuk melakukan pembelian atas produk yang
    ditawarkan. Perusahaan lebih mengutamakan penciptaan kesan
    positif kepada konsumen agar promosi dapat berpengaruh
    terhadap perilaku pembeli dalam waktu lama.
  3. Mengingatkan
    Kegiatan promosi yang bersifat mengingatkan ini dilakukan
    untuk mempertahankan merek produk dihati masyarakat, dan
    mempertahankan pembeli yang akan melakukan transaksi
    pembelian.

Indikator-indikator promosi


Menurut Kotler (2012) indikator promosi adalah sebagai berikut :

  1. Advertising (periklanan)
    Semua yang bentuk presentasi dan promosi nonpersonal yang
    dibayar oleh sponsor untuk mempersentasikan gagasan, dan
    barang atau jasa. Periklanan di anggap sebagai manajemen citra
    yang bertujuan menciptakan dan memelihara cipta dan makna
    dalam benak konsumen. Bentuk promosi yang digunakan
    mencakup broadcast, print, internet, outdoor, dan dalam
    bentuk lainnya.
  2. Sales promotion (promosi penjualan)
    Intensif-intensif jangka pendek untuk mendorong pembelian
    atau penjualan suatu produk atau jasa. Bentuk promosi yang
    digunakan mencakup discounts, coupons, displays,
    demonstrations, contests, sweepstake, dan event.
  3. Personal selling (penjualan perseorangan)
    Persentasi personal oleh tenaga penjualan dengan tujuan
    menghasilkan penjualan dan membangun hubungan dengan
    konsumen. Bentuk promosi yang digunakan mencakup
    presentations, trade shows, dan incentive programs.
  4. Public relations (hubungan masyarakat)
    Membangun hubungan yang baik dengan berbagai publik
    perusahaan supaya memperoleh publisitas yang
    menggantungkan, membangun citra perusahaan yang bagus,
    dan menangani atau meluruskan rumor, cerita, serta event yang
    tidak menguntungkan. Bentuk promosi yang digunakan
    mencakup press releases, ponsorships, special event, dan web
    pages.
  5. Direct marketing (penjualan langsung)
    Hubungan langsung dengan sasran konsumen dengan tujuan
    untuk memperoleh tanggapan segera dan membina hubungan
    yang abadi dengan konsumen. Bentuk promosi yang digunakan
    mencakup catalogs, telephone marketing, kiosks, internet,
    mobile marketing, dan lainnya

Faktor-faktor yang mempengaruhi promosi


Kotler (2012:13) mengungkapkan faktor-faktor yang
mempengaruhi promosi, yaitu :

  1. Pemasar
    Dalam hal ini bisa digunakan push strategy dan pull strategy.
    Kegiatan push adalah mendorong penjualan yang dapat terjadi
    karena produsen mendorong pedagang besar kemudian
    pedagang besar mendorong konsumen agar mau membeli suatu
    produk. Dalam hal ini produsen langsung mengarahkan
    promosi ke konsumen akhir dan nanti konsumenlah yang
    meminta produk tersebut.
  2. Target pasar
    Penentuan target pasar mengenai lokasi, usia, jenis kelamin,
    status ekonomi, status pendidikan, dan lokasi pasar sebagai
    target yang akan dituju karena akan mempengaruhi bauran
    pemasaran yang akan digunakan sehingga akan berjalan efektif
    dan efisien.
  3. Produk
    Maksudnya melihat posisi produk dalam tingkat siklus
    kehidupan, pada tahap introduksi produk, promosi diarahkan
    untuk memperkenal produk dengan cara memberi sampel. Pada
    tahap growth promosi diarahkan untuk memantapkan
    kepercayaan masyarakat.
  4. Situasi
    Ini tergantung pada berbagai situasi lingkungan perusahaan,
    seperti persaingan, ekonomi, politik, dan sebagainya

Pengertian Promosi


Promosi merupakan suatu kegiatan yang bertujuan
mengkomunikasikan produk kepada konsumennya, sehingga
konsumen tersebut ikut merasakan kegunaan produk yang
dihasilkan sertan kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan.
Oleh karena itu, betapa pun tingginya kualitas produk yang
dihasilkan bila tanpa produk promosi yang optimal atau proses
menginformasikan yang baik kepada konsumen maka aktivitas
pemasaran tidak akan pernah efektif dan efisien. Menurut Kotler
(2012:10) promosi adalah usaha yang dilakukan oleh marketer,
berkomunikasi dengan calon audiens, komunikasi adalah proses
membagi ide, informasi atau perasaan audiens.
Menurut Alma (2014:179) promosi adalah suatu bentuk
komunikasipemasaran, yang merupakan aktivitas pemasaran yang
berusahamenyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan
atau mengingatkanpasar sasaran atas perusahaan dan produknya
agar bersedia menerima,membeli, dan loyal pada produk yang
ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Dalam usaha
menunjangpenjualan suatu produk dan memperkenalkannya kepada
orang lain ataukonsumen, serta menarik konsumen untuk membeli
produk maka diperlukansuatu usaha untuk mempromosikan produk
tersebut.Selain mempunyai mamfaat dalam memperkenalkan
produk baru, promosi juga penting sekali dalam hal
mempertahankan selera konsumen untuktetap mengkonsumsi
produk yang sudah ada. Namun betapun gencarannyakegiatan
promosi yang dilakukan perusahaan, perlu pula didukung oleh
hargadan kualitas dari produk yang dipromosikan.
Lalu Buchari Alma (2012) juga mengatakan promosi adalah
sejenis komunikasi yang memberi penjelasan yang menyakinkan
calon konsumen tentang barang dan jasa. Menurut Kotler dan
Keller (2016) promosi adalah aktifitas yang mengkomunikasikan
keunggulan produk dan membujuk pelanggan sasaran untuk
membelinya. Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa promosi adalah suatu kegiatan komunikasi
antara pembeli dan penjual mengenai keberadaan produk dan jasa,
menyakinkan, membujuk, dan meningkatkan kembali akan produk
dan jasa tersebut sehingga mempengaruhi sikap perilaku yang
mendorong kepada pertukaran dalam pemasaran

Tingkatan kualitas produk


Menurut Arif (2012), terdapat lima tingkatan didalam kualitas
produk, yaitu :

  1. Manfaat inti (core benefit), yaitu jasa atau manfaat inti
    sesungguhnya yang dibeli dan diperoleh oleh konsumen.
  2. Manfaat dasar tambahan (basic product), tingkat selanjutnya
    seorang pemasar harus mampu merubah manfaat inti menjadi
    produk dasar.
  3. Harapan produk (expected product), adalah serangkaian kondisi
    yang diharapkan dan disenangi, dimiliki atribut produk
    tersebut.
  4. Kelebihan yang dimiliki produk (augmented product), yaitu
    salah satu manfaat dan pelayanan yang dapat membedakan
    produk tersebut dengan pesaing.
  5. Potensi masa depan produk (potensial product), artinya
    bagaimana harapan masa depan produk tersebut apabila terjadi
    perubahan dan perkembangan teknologi serta selera konsumen.

Indikator dari kualitas produk


Menurut Kotler dan Keller (2012) kualitas produk memiliki
indikator sebagai berikut :

  1. Bentuk (form), bentuk sebuah produk dapat meliputi ukuran,
    bentuk, atau struktur fisik produk.
  2. Fitur (feature), fitur produk yang melengkapi fungsi dasar suatu
    produk.
  3. Penyesuaian (customization), pemasar dapat
    mendiferensiasikan produk dengan menyesuaikan produk
    tersebut dengan keinginan perorangan.
  4. Kualitas kinerja (performance quality), tingkat dimana
    karakteristik utama produk beroperasi.
  5. Kualitas kesesuaian (conformance quality), tingkat dimana
    semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi
    yang dijanjikan.
  6. Ketahanan (durability), merupakan ukuran umur operasi
    harapan produk dalam kondisibisa atau penuh tekanan.
  7. Keandalan (reliability),ukuran profitabilitas bahwa produk akan
    bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu
    tertentu.
  8. Kemudahan perbaikan (repairability), ukuran kemudahan
    perbaikan produk ketika produk itu tidak berfungsi atau gagal.
  9. Gaya (style), menggambarkan penampilan dan rasa produk
    kepada pembeli.
  10. Desain (design), totalitas fitur yang mempengaruhi tampilan,
    rasa, dan fungsi produk berdasarkan kebutuhan pelanggan

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas produk


Menurut Menurut Kotler dan Keller (2012) faktor-faktor
kualitas produk adalah sebagai berikut :

  1. Pasar (market), jumlah produk baru dan baik yang ditawarkan
    dipasar terus bertambah pada laju yang eksplosif.
  2. Uang (money), meningkatnya persaingan dalam banyak bidang
    bersamaan dengan fluktuasi ekonomi dunia telah menurunkan
    batas (margin) laba.
  3. Manajemen (management), tanggung jawab kualitas telah
    didistribusikan antara beberapa kelompok khusus.
  4. Manusia (man), pertumbuhan yang cepat dalam pengetahuan
    teknis dan penciptaan seluruh bidang baru seperti elektonika
    komputer menciptakan suatu permintaan yang besar akan
    pekerja dengan pengetahuan khusus.
  5. Motivasi (motivation), penelitian tentang motvasi manusia
    menunjukkan bahwa sebagai hadiah tambahan uang.
  6. Bahan (material), disebabkan oleh biaya produksi dan
    persyaratan kualitas.
  7. Mesin dan mekanis (machine and mecanization), kualitas yang
    baik menjadi faktor yang kritis dalam memelihara waktu kerja
    mesin agar fasilitasnya dapat digunakan sepenuhnya.
  8. Metode informasi modern (modern information method),
    evolusi teknologi komputer membuka kemungkinan untuk
    mengumpulkan, menyimpan, mengambil kembali,
    memanipulasi informasi pada skala yang tidak terbayangkan
    sebelumnya.
  9. Persyaratan proses produksi (morning product requirement),
    kemajuan yang pesat dalam perancangan produk, memerlukan
    pengendalian yang lebih ketat pada seluruh proses pembuatan
    produk

Pengertian Kualitas Produk


Produk merupakan inti dari sebuah kegiatan pemasaran karena
produk merupakan output atau hasil dari salah satu kegiatan atau
aktivitas perusahaan yang dapat ditawarkan kepasar sasaran untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Pada dasarnya
dalam membeli suatu produk, seorang konsumen tidak hanya
membeli produk, akan tetapi konsumen juga membeli manfaat atau
keunggulan yang dapat diperoleh dari produk yang dibelinya. Oleh
karna itu suatu produk harus harus memiliki keunggulan dari
produk-produk yang lain, salah satunya dari segi kualitas produk
yang ditawarkan. Menurut Kotler dan Keller (2012) kualitas
produk adalah kemampuan sebuah produk dalam mempergerakan
fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas,
ketepatan, kemudahan pengoperasian, dan reparasi produk juga
atribut produk lainnya. Sedangkan menurut Garvin (2010) kualitas
adalah keunggulan yang dimiliki produk tersebut. Kualitas dalam
pendangan konsumen adalah hal yang mempunyai ruang lingkup
tersendiri yang berbeda dengan kualitas dalam pandangan produsen
saat mengeluarkan suatu produk yang biasa dikenal sebagai
kualitas sebenarnya.
Menurut Fandy Tjiptono (2015:231), dari sudut pandang
pemasar, kualitas produk merupakan segala sesuatu yang dapat
ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli,
digunakan, dan dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan
atau keinginan pasar bersangkutan. Dan jika dari perspektif
konsumen, produk adalah segala sesuatu yang diterima konsumen
dari sebuah pertukaran dengan pemasar. Sedangkan menurut
Mowen (2012) kualitas produk adalah proses evaluasi secara
keseluruhan kepada pelanggan atas perbaikan kinerja suatu produk.
Kualitas produk memiliki suatu ketertarikan bagi konsumen dalam
mengelola hubungan yang baik dengan perusahaan penyedia
produk. Berdasrkan beberapa definisi diatas dapat disimpukan
bahwa kualitas produk adalah kemampuan suatu produk dalam
memenuhi keinginan konsumen. Keinginan konsumen tersebut
diantaranya daya tahan produk, keandalan produk, kemudahan
pemakaian, serta atribut bernilai lainnya yang bebas dari
kekurangan dan kerusakan

Tujuan dalam menetapkan harga


Menurut Fandy Tjiptono dalam Hadiyuda (2014) menyatakan
bahwa terdapat empat (4) macam tujuan dalam menetapkan harga,
yaitu:

  1. Tujuan mengacu terhadap laba, perusahaan memilih harga
    untuk dapat mengasilkan laba yang tinggi.
  2. Tujuan mengacu pada citra, perusahaan dapat menetapkan
    harga tinggi dalam membentuk citra prestisius dan harga
    tertentu citra nilai tertentu.
  3. Tujuan mengacu pada volume penjualan, menetapkan harga
    agar bisa mencapai target volume penjualan.
  4. Tujuan mengacu pada stabilitas harga, perusahaan
    mempertahankan untuk hubungan yang stabil antara harga dari
    perusahaan dengan harga pemimpin

Indikator dari harga


Menurut Kotler dan Amstrong (2012) indikator yang dimiliki
harga adalah sebagai berikut:
1) Keterjangkauan harga, konsumen bisa menjangkau harga yang
telah ditetapkan oleh perusahaan. Produk biasanya ada beberapa
jenis dalam satu merk dan harganya juga berbeda dari termurah
sampai termahal.
2) Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga, konsumen
sering membandingkan harga suatu produk dengan produk
lainnya. Dalam hal ini mahal murahnya harga suatu produk
sangat dipertimbangkan oleh konsumen pada saat membeli
produk tersebut.
3) Kesesuaian harga dengan kualitas produk, harga sering kali
dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen orang sering
memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena
mereka melihat adanya perbedaan kualitas.
4) Kesesuaian harga dengan manfaat, konsumen memutuskan
membeli suatu produk jika manfaat yang dirasakan lebih besar
atau sama dengan yag telah dikeluarkan untuk mendapatkannya.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) didalam variabel harga
ada beberapa unsur kegiatan utama yaitu, meliputi imbalan, diskon,
dan bonus. Teori nilai ini kemudian berkembang melahirkan teori
imbalan yang dikemukakan oleh Lorenzo (2016:37) bahwa setiap
aktivitas transaksi produk dan jasa selalu menyertakan harga
imbalan sebagai kesepakatan. Imbalan adalah balas jasa atas
kegiatan transaksi produk yang saling menguntungkan oleh pihak
produsen dan konsumen atau dengan kata lain provider dan
pelanggan. Pada berbagai kegiatan pemasaran produk dan jasa,
aktivitas penentuan harga menjadi penting dan krusial. Umumnya
pelanggan atau konsumen menghendaki harga yang lebih murah.
Teori potong harga atau diskon merupakan konsepsi tentang
penghargaan dan kejadian transaksi. Muller (2013:25)
mengemukakan bahwa teori potong harga (discount) merupakan
sebuah tindakan dan perilaku yang mengapresiasikan pentingnya
harga untuk menarik keuntungan. Artinya, pemberian diskon
merupakan sebuah daya tarik untuk mendapatkan keuntungan
dengan memberikan penghargaan dan manfaat atas produk dan jasa
yang dibeli. Pemberian bonus menjadi nilai keuntungan yang
dirasakan oleh pelanggan dan menjadi keuntungan bagi pemberi
bonus. Bonus merupakan dua sisiyang saling menguntungkan baik
dari pihak produsen dan konsumen atau dari provider dan
pelanggan

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menetapkan harga


Menurut Kotler dan Amstrong (2012) penetapan harga yaitu
merupakan keputusan tentang harga yang akan diikuti dalam
jangkawaktu tertentu untuk membuat konsumen agar menjadi
tertarik melakukan pembelian. Harga ditetapkan dengan
mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Elastisitas dengan harga permintaan
    Efektivitas program penetapan harga tergantung pada dampak
    perubahan harga terhadap permintaan, karena perubahan unit
    penjualan sebgai akibat perubahanharga perlu diketahui.
    Namun, perubahan harga memiliki damapak ganda terhadap
    penerimaan penjualan perusahaan, yakni perubahan unit
    penjualan dan perubahan penerimaan per-unit.
  2. Faktor persaingan
    Reaksi persaing terhadap perubahan harga merupakan salah
    satu faktor penting yang perlu dipertimbangkan setiap
    perusahaan. Jika perubahan harga disamai oleh semua pesaing,
    maka sebenarnya tidak akan ada perubahan pangsa pasar.
    Dalam hal ini pengurangan harga tidak akan berdampak pada
    permintaan selektif.
  3. Faktor biaya
    Struktur biaya perusahaan (biaya tetap dan biaya variabel)
    merupakan faktor pokok yang menentukan batas bawah harga.
    Artinya tingkat harga minimal harus bisa menutup biaya
    (setidaknya biaya variabel).
  4. Faktok lini produk
    Perusahaan bisa menambah lini produknya dalam rangka
    memperluas served market dengan cara perluasan ini dalam
    bentuk perluasan vertikal dan perluasan horizontal.
  5. Faktor pertimbangan lain dalam penetapan harga
    Faktor-faktor lain yang harus juga dipertimbangkan dalam
    rangka merancang program penetapan harga antara lain,
    lingkungan politik dan hukum, lingkungan internasional, dan
    unsur harga dalam program pemasaran lain

Pengertian Harga


Perusahaan mampu bertahan ditengah persaingan yang ketat
apabila perusahaan tersebut berhasil dalam memadukan keempat
varial bauran pemasaran, yaitu harga, produk, promosi, dan saluran
distribusi dengan tepat. Harga memiliki peranan yang sangat
penting dalam mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli
produk atau jasa, sehingga sangat menentukan keberhasilan
pemasaran suatu produk dan jasa. Disamping itu harga merupakan
unsur dari bauran pemasaran yang bersifat fleksibel, yang artinya
dapat diubah dengan cepat. Definisi harga menurut Kotler dan
Amstrong (2012) dalam artian sempit harga dapat didefiniskan
sebagai jumlah uang yang ditagihkan untuk suatu produk atau jasa,
atau dapat didefiniskan secara luas harga adalah sebagai jumlah
nilai yang ditukarkan konsumen untuk keuntungan memiliki dan
menggunakan produk atau jasa yang memungkinkan perusahaan
mendapatkan laba yang wajar dengan cara dibayar untuk nilai
pelanggan yang diciptakannya.
Definisi harga menurut Buchari Alma (2015) harga adalah
nilai suatu produk untuk ditukarkan dengan produk lain. Nilai ini
dapat dilihat dalam situasi barter yaitu pertukaran barang dengan
barang. Sekarang ini ekonomi kita tidak melakukan barter lagi,
akan tetapi menggunakan uang sebagai ukuran yang disebut harga.
Lalu Kotler (2014) juga menjelaskan bahwa harga adalah
penetapan balas jasa sesuai dengan nilai produk.Harga sangat
penting dalam menentukan nilai suatu produk nilai produk
tergantung pada harganya, nilai produk ditentukan berdasarkan
harganya. Pernyataan ini biasa dikenal dengan teori nilai. Semakin
mahal harga produk, maka semakin tinggi nilainya.
Menurut Philip Kotler (2012) harga adalah jumlah uang yang
harus dibayar pelanggan untuk produk yang akan dibelinya.
Menurut kebijakan mengenai harga sifat hanya sementara, itu
berarti produsen harus mengikuti perkembangan harga dipasar dan
harus mengetahui posisi perusahaan dalam situasi pasar secara
keseluruhan. Dari beberapa definisi menurut para ahli diatas dapat
disimpulkan harga adalah nilai uang yang harus dibayarkan oleh
konsumen kepada penjual atas barang atau jasa yang dibelinya,
dengan kata lain harga adalah nilai suatu barang yang ditentukan
oleh penjual

Indikator minat beli


Menurut Kotler dalam Abzari, et al (2014) ada beberapa
indikator yang menentukan minat beli, yaitu :
a) Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang dalam
membeli produk.
b) Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang
mereferensikan produk kepada orang lain.
c) Minat preferensial, yaitu menunjukkan perilaku seseorang yang
memiliki preferensial utama pada produk tersebut.
d) Minat eksploratif, yaitu menunjukkan perilaku seseorang yang
selalu mencari informasi mengenai produk yang diminati dan
mencari produk lain yang akan mendukung sifat-sifat positif
dari produk tersebut.
d. Aspek-aspek minat beli
Menurut Lucas dan Britt dalam Wisnu (2016) aspek-aspek
yang terdapat dalam minat beli adalah :
1) Aspek ketertarikan adalah perilaku konsumen yang
menunjukkan adanya pemusatan perhatian yang disertai rasa
senang terhadap suatu produk.
2) Aspek keinginan adalah perilaku konsumen yang menunjukkan
adanya dorongan untuk berkeinginan memiliki suatu produk.
3) Aspek keyakinan, adalah perilaku konsumen yang menunjukkan
adanya rasa percaya diri terhadap kualitas, daya guna dan
manfaat dari membeli suatu produk

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli


Faktor-faktor yang membentuk minat beli menurut Kotler
dalam Abzari, et al (2014), yaitu :
a) Faktor kualitas produk, merupakan atribut produk yang
dipertimbangkan dari segi manfaat fisiknya.
b) Faktor brand / merek, merupakan atribut yang memberikan
manfaat non material, yaitu kepuasan emosional.
c) Faktor kemasan, atribut produk berupa pembungkus dari pada
produk utamanya.
d) Faktor harga, pengorbanan riel dan material yang diberikan oleh
konsumen untuk memproleh atau memiliki produk.
e) Faktor ketersediaan barang, merupakan sejauh mana sikap
konsumen terhadap ketersediaan produk yang ada.
f) Faktor promosi, merupakan pengaruh dari luar yang ikut
memberikan rangsangan bagi konsumen dalam memilih produk

Pengertian Minat Beli


Banyak pakar yang mendefinisikan tentang minat beli
berdasarkan perspektifnya masing-masing meskipun tidak terdapat
satu definisi tunggal yang menjadi rujukan bersama mengenai
minat beli, namun pada intinya mereka menyatakan subtansi yang
sama tentang minat beli. Salah satu bentuk dari perilaku konsumen
yaitu minart atau keinginan membeli suatu produk atau layanan
jasa. Bentuk dari konsumen minat beli adalah konsumen potensial
yaitu konsumen yang belum melakukan tindakan pembelian pada
masa sekarang dan kemungkinan akan melakukan tindakan
pembelian pada masa yang akan datang atau bisa disebut sebagai
calon pembeli.Menurut Kotler dalam Abzari, et al (2014) minat
beli adalah perilaku konsumen dimana konsumen memiliki
keinginan dalam memilih dan mengkonsumsi suatu produk. Minat
beli akan timbul apabila seseorang konsumen sudah berpengaruh
terhadap mutu dan kualitas dari suatu produk dan informasi suatu
produk. Menurut Engel dalam Nih Luh Julianti (2014) berpendapat
bahwa minat beli sebagai kekuatan pendorong atau sebagai motif
yang bersifat instristik yang mampu mendorong seseorang untuk
menaruh perhatian secara spontan, wajar, mudah, tanpa paksaan
dan selektif pada suatu produk untuk kemudian mengambil
keputusan membeli. Hal ini dimungkinkan oleh adanya kesesuaian
dengan kepentingan individu yang bersangkutan serta memberi
kesenangan dan kepuasan pada dirinya. Jadi sangatlah jelas bahwa
minat beli diartikan sebagai suatu sikap menyukai yang ditunjukan
dengan kecenderungan untuk selalu membeli yang sesuai dengan
kesenangan dan kepentingannya. Sedangkan Menurut Durianto
(2013) minat beli adalah keinginan untuk membeli produk.
Menurut Assael Sukmawati dan Suyono dalam Pramono
(2012) minat beli adalah tahap dimana konsumen membentuk
pilihan mereka diantara beberapa merek yang tergabung dalam
perangkat pilihan. Kemudian pada akhirnya melakukan suatu
pembelian pada suatu alternatif yang paling disukainya atau proses
yang dilalui konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa yang
didasari oleh bermacam pertimbangan. Kemudian Kotler, Bowen,
dan Makens (2014) menyatakan bahwa minat beli timbul setelah
adanya proses evaluasi alternatif. Dalam proses evaluasi seseorang
akan membuat suatu rangkaian pilihan mengenai produk yang
hendak dibeli atas dasar merek maupun niat. Menurut Ferdinand
(2016) minat beli konsumen dapat diartikan sebagai minat beli
yang mencerminkan hasrat dan keinginan konsumen untuk
membeli suatu produk. Berdasarkan dari beberapa definisi diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa minat beli adalah perilaku
konsumen dimana konsumen memiliki keinginan dalam memilih
dan mengkonsumsi suatu produk dengan merk yang berbeda,
kemudian melakukan suatu pilihan yang disukainya dengan cara
membayar uang atau dengan pengorbanan

Hubungan Citra Merek terhadap Minat Beli Ulang


Citra merek diartikan sebagai ingatan akan suatu merek atau produk yang
terbentuk di benak konsumen. Sehingga konsumen akan lebih bersedia untuk
memilih produk yang sudah dikenal memiliki citra merek yang positif. Oleh karena
itu, sangat penting bagi produsen untuk menjaga citra merek yang baik dari
produknya di benak konsumen. Munculnya niat beli kembali suatu produk pada
konsumen disebabkan oleh pengaruh dari produk itu sendiri
Brand image juga merupakan pondasi penting untuk menarik minat beli
ulang konsumen. Ketika konsumen mengukur suatu merek melalui kualitas,
keandalan, dan nilai tambah, minat beli ulang cenderung akan meningkat. Sebuah
brand image yang kuat akan membangun kepercayaan dan loyalitas, dapat
menimbulkan minat beli ulang yang kuat, serta pengaruh positif terhadap
pertumbuhan dan kesuksesan merek dalam pasar.
Citra merek memiliki keterkaitan terhdap minat beli ulang, karena dengan
adanya citra merek yang positif dapat menarik dan juga meningkatkan minat
konsumen untuk membeli kembali produk atau layanan yang ditawarkan. Dengan
adanya keyakinan oleh konsumen terhdap suatu merek maka citra merek dianggap
memiliki hubungan yang signifikan terhadap minat beli ulang

Hubungan Kredibilitas Selebrity Endorser terhadap Minat Beli Ulang


Kredibilitas celebrity endorser di artikan sebagai sebuah kepercayaan
kepada seorang celebrity endorser, dengan adanya kepercayaan yang dibangun
oleh celebrity endorser maka akan mempengaruhi kepercayaan para pengikutnya
melalui segala informasi yang di sampaikan, dengan kepercayaan yang telah di
bangun dengan baik maka seorang celebrity endorser akan sangat mudah
mempengaruhi minat beli ulang jika melakukan promosi kepada para konsumen.
Kredibilitas selebrity endorser memiliki peran penting dalam
mempengaruhi minat beli ulang calon konsumen terhadap produk atau jasa yang
iklankan. Apabila seorang selebriti mempunyai reputasi yang baik dan dihormati
dalam bidangnya, pengikutnya cenderung untuk mengaitkan reputasi positif
tersebut dengan produk yang diiklankan.
Selain itu pemilihan selebrity sebagai endorser suatu produk harus
disesuaikan menurut sikap maupun karakteristik agar sesuai dengan produk yang
akan ditawarkan sehingga calon konsumen akan lebih mudah menerima pesan yang
di sampaikan dan berminat untuk membeli kembali.

Citra Merek


Menurut (Intan & Hardjanti, 2020) Citra terhadap sebuah merek
bersangkutan dengan sikap yang berupa kepercayaan dan preferensi terhadap
sebuah merek, Merek bisa dideskripsikan dengan karakteristik-karaktetristik
terentu. Semakin baik pemaparan dari karakteristik merek, maka semakin kuat citra
merek dan semakin besar kesempatan untuk pertumbuhan citra itu. Selain itu, citra
merek didefinisikan juga sebagai salah satu peran penting dalam membedakan
penyedia layanan dengan para pesaing lainnya (Novriani, 2022)
Citra merek adalah pemikiran setiap konsumen terhadap suatu produk
berdasarkan pemikiran, perasaan, dan visualisasi yang diterima pengunjung,
keduanya dirasakan secara langsung, serta informasi dari media (Nimas Bidari &
Kurniawan, 2023). Citra merek merupakan ciri khas, nama, istilah, desain, atau
kombinasi yang menampilkan identitas produk baik barang atau jasa, serta dapat
dijadikan pembeda suatu produk dengan produk pesaing lainnya (Iswara & Santika,
2019). Citra merek (Brand Image) adalah pengamatan dan kepercayaan yang
digenggam konsumen, seperti yang dicerminkan di asosiasi atau diingatan
konsumen (Rachmawati et al., 2024).
Brand image diartikan sebagai suatu gambaran atau kesan yang ditunjukkan
oleh suatu merek didalam benak pelanggan (I Gusti Ayu Elsa Permata Sari, dkk,
2022). Citra merek merupakan sebuah jati diri dari produk yang berada di dalam
benak konsumen. Citra merek sendiri dapat berupa logo, nama merek, semboyan
ataupun slogan dari suatu perusahaan, pemasar produk atau jasa (Amalia & Riva’i,
2022). Brand Image merupakan ingatan pada suatu merek yang dibentuk serta
29
ditanamkan pada seorang individu dalam pikiran mereka. Konsumen yang sudah
terbiasa dengan suatu merek tertentu mampu membangun citra merek yang
konsisten (Putri et al., 2022)
Merek atau brand, dalam suatu perusahaan merupakan suatu pengenal.
Lebih dari sekedar lambang ataupun nama (Suardhita & Rafik, 2019). Brand Image
adalah wujud dari keseluruhan persepsi terhadap sebuah merek dan dibentuk dari
informasi dan pengalaman masa lalu terhadap sebuah merek (Prihartini et al.,
2022). Brand image juga merupakan sebuah persepsi atau suatu keyakinan terhada
brand atau merek yang melekat pada produk sehingga memungkinkan konsumen
untuk melakukan pembelian (Prisca, dkk, 2020). Citra merek dalam penelitian ini
melambangkan keseluruhan persepsi konsumen terhadap merek yang muncul
karena informasi dan pengalaman konsumen pada suatu merek.
Adapun komponen-komponen yang terkandung dalam citra merek atau
brand image (Joseph, 2020) diantara lain yaitu sebagai berikut:

  1. Attributes (atribut)
    Atribut merupakan penjelasan secara deskriptif terhadap fitur-fitur yang
    melekat pada sebuah produk atau jasa. Berikut hal-hal yang ada di dalam
    komponen atribut yakni:
    a. Product related attributes (atribut produk). Merupakan berbagai hal
    yang diperlukan agar fungsi produk yang ditawarkan kepada kondumen
    dapat berfungsi dengan baik. Hal tersebut berhubungan dengan
    komposisi fisik atau persyaratan dari suatu jasa yang ditawarkan.
    b. Non-product related attributes (atribut non-produk). Merupakan aspek
    eksternal dari sebuah produk yang berhubungan dengan pembelian dan
    konsumsi suatu produk atau jasa. beruapa informasi tentang harga,
    kemasan dan desain produk, orang, per group atau selebriti yang
    menggunakan produk atau jasa tersebut, bagaimana dan dimana produk
    atau jasa itu digunakan.
  2. Benefits (keuntungan)
    Benefits atau keuntungan adalah nilai personal yang konsumen kaitkan pada
    atribut-atribut produk atau jasa tersebut. Adapun hal-hal yang perlu ada
    dalam komponen benefits adalah:
    a. Functional benefits, digunakan untuk pemenuhan kebutuhan dasar
    seperti kebutuhan fisik dan keamanan atau pemecahan masalah.
    b. Experiental benefits, dihubungkan dengan perasaan yang muncul
    dengan menggunakan suatu produk atau jasa. Benefit ini dimaksudkan
    untuk memenuhi kebutuhan bereksperimen seperti kepuasan sensori.
    c. Symbolic benefits, dihubungkan dengan kebutuhan akan persetujuan
    sosial atau ekspresi personal dan self-esteem seseorang. Konsumen
    akan menghargai nilai-nilai prestise, eksklusivitas dan gaya fashion
    karena hal tersebut berhubungan dengan konsep diri mereka.
  3. Brand Attitude (sikap merek)
    Brand attitude atau sikap merek merupakan penilaian keseluruhan atas
    suatu merek, seperti apa saja yang dipercayai oleh konsumen mengenai
    merek-merek tertentu , serta sejauh apa konsumen percaya bahwa produk
    atau jasa tersebut memiliki atribut atau keuntungan tertentu, dan penilaian
    evaluatif terhadap kepercayaan tersebut bagaimana baik atau buruknya
    suatu produk jika memiliki atribut atau keuntungan tersebut.
    (Schiffman, Leon G. Kanuk, 2021) menyebutkan faktor-faktor pembentuk citra
    merek yaitu:
  4. Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk barang yang
    ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu.
  5. Dipercaya atau diandalkan. Berkaitan dengan pendapat atau kesepakatan
    yang dibentuk oleh masyarakat tentang suatu produk yang dikonsumsi.
  6. Kegunaan atau manfaat yang terkait dengan fungsi dari suatu produk barang
    yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.
  7. Harga, yang dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak
    sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk mempengaruhi
    suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra jangka panjang.
  8. Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri, yaitu berupa pandangan,
    kesepakatan dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari produk
    tertentu.
    Menurut (Kotler & Keller, 2021) Citra merek adalah proses dimana seseorang
    memilih, mengorganisasikan, dan mengartikan masukan informasi untuk
    menciptakan suatu gambaran yang berarti. Citra merek diperlukan sebagai sebuah
    identitas atau daya tarik tersendiri untuk menarik minat konsumen berdasarkan
    persepsi konsumen terhadap sebuah merek. Terdapat 3 indikator brand image (citra
    merek) menurut (Kotler & Keller, 2021) diantaranya adalah:
  9. Keunggulan, merupakan kinerja suatu merek untuk mudah dikenal oleh
    pembeli serta mempunyai kelebihan dalam persaingan.
  10. Kekuatan, merupakan ukuran seberapa kuat interaksi yang bisa dibuat oleh
    merek dengan pembeli.
  11. Keunikan, merupakan kesanggupan untuk membedakan sebuah merek
    diantara merek-merek yang lainnya.