Faktor Stres Kerja (Job Stress)


Davis dan Newstrom (dalam Margiati, 1999:73) stres kerja
disebabkan:
a) Adanya tugas yang terlalu banyak. Banyaknya tugas tidak
selalu menjadi penyebab stres, akan menjadi sumber stres bila
banyaknya tugas tidak sebanding dengan kemampuan baik fisik
maupun keahlian dan waktu yang tersedia bagi karyawan.
b) Supervisor yang kurang pandai. Scorang karyawan dalam
menjalankan tugas sehari-harinya biasanya di hawah bimbingan
sekaligus mempertanggungjawabkan kepada supervisor. Jika
seorang supervisor pandai dan menguasai tugas bawahan, ia akan
membimbing dan memberi pengarahan atau instruksi secara
baik dan benar.
c) Terbatasnya waktu dalam mengerjakan pekerjaan.
Karyawan biasanya mempunyai kemampuan normal
menyelesaikan tugas kantor/perusahaan yang dibebankan
kepadanya. Kemampuan bcrkaitan dengan keahlian, pcngalaman,
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id27
dan waktu yang dimiliki. Dalam kondisi tertentu, pihak atasan
seringkali memberikan tugas dengan waktu yang lerbatas.
Akibatnya, karyawan dikejar waktu untuk menyelesaikan
tugas sesuai tepat waktu yang ditetapkan atasan.
d) Kurang mendapat tanggungjawab yang memadai. Faktor ini
berkaitan dengan hak dan kewajiban karyawan. Atasan sering
memberikan tugas kepada bawahannya tanpa diikuti kewenangan
(hak) yang memadai. Sehingga, jika harus mengambil keputusan
harus berkonsultasi, kadang menyerahkan sepenuhnya pada atasan.
e) Ambiguitas peran. Agar menghasilkan performan yang baik,
karyawan perlu mengetahui tujuan dari pekerjaan, apa yang
diharapkan untuk dikerjakan serta scope dan tanggungjawab dari
pekerjaan mereka. Saat tidak ada kepastian tentang definisi kerja dan
apa yang diharapkan dari pekerjaannya akan timbul ambiguitas
peran.
f) Perbedaan nilai dengan perusahaan. Situasi ini biasanya
terjadi pada para karyawan atau manajer yang mempunyai
prinsip yang berkaitan dengan profesi yang digeluti maupun
prinsip kemanusiaan yang dijunjung tinggi (altruisme).
g) Frustrasi. Dalam lingkungan kerja, perasaan frustrasi memang
bisa disebabkan banyak faktor. Faktor yang diduga berkaitan
dengan frustrasi kerja adalah terhambatnya promosi,
ketidakjelasan tugas dan wewenang serta penilaian/evaluasi staf,
ketidakpuasan gaji yang diterima. Perubahan tipe pekerjaan,
khususnya jika hal terscbul tidak umum. Situasi ini bisatimbul
akibat mutasi yang tidak sesuai dengan keahlian dan jenjang karir
yang di lalui atau mutasi pada perusahaan lain, meskipun dalam
satu grup namun lokasinya dan status jabatan serta status
perusahaannya berada di bawah perusahaan pertama.
h) Konflik peran. Terdapat dua tipe umum konflik peran yaitu (1)
konflik peran intersender, dimana pegawai berhadapan dengan
harapan organisasi terhadapnya yang tidak konsisten dan tidak
sesuai; (2) konflik peran intrasender, konflik peran ini kebanyakan
terjadi pada karyawan atau manajer yang menduduki jabatan di dua
struktur. Akibatnya, jika masing-masing struktur memprioritaskan
pekerjaan yang tidak sama, akan berdampak pada karyawan atau
manajer yang berada pada posisi dibawahnya, terutama jika mereka
harus memilih salah satu alternative