Hubungan antara Struktur Kepemilikan Keluarga dan Kinerja Perusahaan (skripsi dan tesis)

Perusahaan dikategorikan milik keluarga jika di perusahaan tersebut terdapat anggota keluarga yang menduduki bagian Board of Director atau manajerial atau presentase kepemilikan sahamnya 10% atau lebih. Biasanya perusahaan keluarga memiliki insentif yang tinggi untuk mengontrol perusahaan serta memiliki pengetahuan lebih akan perusahaan sehingga kontrol yang dilakukan keluarga lebih efektif (Anderson & Reeb, 2003; Shyu, 2011). Sehingga perusahaan dengan struktur kepemilikan keluarga diyakini dapat mengurangi agency problem antara principal dan agent (Fama & Jensen, 1983). Dengan berkurangnya agency problem maka akan mengurangi agency cost dan bisa menaikan profitabilitas perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) ketika keluarga sebagai pemegang saham, mereka akan memiliki insentif untuk meminimalisasi masalah keagenan dan mengawasi keputusankeputusan manajerial yang berkaitan dengan perusahaan sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Di sisi lain perusahaan keluarga cenderung mempertahankan anggota keluarga yang tidak kompeten sehingga keluarga yang berada duduk dalam manajemen tidak bekerja dengan baik serta keluarga melakukan tindakan yang menguntungkan diri sendiri dengan memberikan kompensasi yang berakibat anggota yang bukan anggota keluarga merasa tidak dihargai dan menurukan profitabilitas perusahaan. Hal ini telah di teliti oleh Fama dan Jensen (1983); Leksmono (2010); Abdullah et al (2011); Miller (2007); Villalonga dan Amit (2006); Cucculelli dan Micucci (2008); Rehman dan Shah (2013); Fazlzadeh, et al (2011); Onder (2003); Lauterbach dan Vaninsky (1999); Morck et al (1988); Juniarti (2015). yang menyatakan bahwa kepemilikan keluarga berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan.