Modal Sendiri/Ekuitas (skripsi dan tesis)

Modal sendiri/ekuitas adalah Modal dana jangka panjang pada suatu perusahaan yang meliputi semua
bagian disisi kanan neraca perusahaan kecuali hutang lancar. Jumlah hutang di
dalam neraca akan menunjukkan besarnya modal pinjaman yang digunakan
dalam operasi perusahaan. Modal pinjaman ini dapat berupa hutang jangka
pendek maupun hutang jangka panjang, tetapi umumnya pinjaman jangka
panjang jauh lebih besar dibandingkan dengan hutang jangka pendek. Pemberi
dana umumnya meminta pengembalian yang relatif rendah, karena mereka
memperoleh risiko yang paling kecil atas segala jenis modal jangka panjang,
antara lain:
a) Modal pinjaman mempunyai prioritas lebih dahulu bila terjadi tuntutan
atas pendapatan/aktiva yang tersedia untuk pembayaran;
b) Modal pinjaman mempunyai kekuatan hukum atas pembayaran
dibandingkan dengan pemegang saham preferen atau saham biasa;
c) Bunga pinjaman merupakan biaya yang dapat mengurangi pajak, maka
biaya modal pinjaman yang sebenarnya secara substansial menjadi lebih
rendah.
Menurut Sundjaja dan Barlian (2003, p.324), “hutang jangka panjang
merupakan salah satu dari bentuk pembiayaan jangka panjang yang memiliki
jatuh tempo lebih dari satu tahun, biasanya 5-20 tahun”. Pinjaman hutang jangka
panjang dapat berupa pinjaman berjangka (pinjaman yang digunakan untuk
membiayai kebutuhan modal kerja permanen, untuk melunasi hutang lain, atau
membeli mesin dan peralatan) dan penerbitan obligasi (hutang yang diperoleh
melalui penjualan surat-surat obligasi, dalam surat obligasi ditentukan nilai
nominal, bunga per tahun, dan jangka waktu pelunasan obligasi tersebut).
Mengukur besarnya aktiva perusahaan yang dibiayai oleh kreditur (debt
ratio) dilakukan dengan cara membagi total hutang jangka panjang dengan total
asset. Semakin tinggi debt ratio, semakin besar jumlah modal pinjaman yang
digunakan di dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan manajemen sehingga memilih
untuk menggunakan hutang menurut Sundjaja et al (2003) adalah sebagai
berikut:
1. Biaya hutang terbatas, walaupun perusahaan memperoleh laba besar,
jumlah bunga yang dibayarkan besarnya tetap.
2. Hasil yang diharapkan lebih rendah daripada saham biasa.
3. Tidak ada perubahan pengendalian atas perusahaan bila pembiayaan
memakai hutang.
4. Pembayaran bunga merupakan beban biaya yang dapat mengurangi pajak.
5. Fleksibilitas dalam struktur keuangan dapat dicapai dengan memasukkan
peraturan penebusan dalam perjanjian obligasi.
Kreditur (investor) lebih memilih menanamkan investasi dalam bentuk
hutang jangka panjang karena beberapa pertimbangan. Menurut Sundjaja et al
(2003) yang dikutip oleh Denny Bagus (2010) dalam situs WordPress oleh Chris
Pearson , pemilihan investasi dalam bentuk hutang jangka panjang dari sisi
investor didasarkan pada beberapa hal berikut:
1. Hutang dapat memberikan prioritas baik dalam hal pendapatan maupun
likuidasi kepada pemegangnya.
2. Mempunyai saat jatuh tempo yang pasti.
3. Dilindungi oleh isi perjanjian hutang jangka panjang (dari segi resiko).
4. Pemegang memperoleh pengembalian yang tetap (kecuali pendapatan
obligasi).