Penelitian Sebelumnya (skripsi dan tesis)

Penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan dengan variabel-variabel
yang dibahas dalam penelitian ini, antara lain:
Rutledge dan Karim (1999) mengungkapkan hasil penelitiannya, yaitu
kondisi adverse selection pada manajer berpengaruh signifikan secara statistik
pada keputusan manajer evaluasi proyek. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan
manajer lebih cenderung menghentikan kemungkinan proyek gagal ketika mereka
memiliki tingkat penalaran moral yang tinggi daripada ketika mereka memiliki
tingkat penalaran moral rendah. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa
manajer lebih mungkin untuk melanjutkan suatu proyek yang gagal ketika adanya
dua kondisi yaitu kondisi adverse selection dan tingkat penalaran moral rendah.
Salter dan Sharp (2004) menunjukkan bahwa asimetri informasi dan
incentive to shirk meningkatkan kemungkinan eskalasi. Selain itu, negative
framing juga meningkatkan kemungkinan eskalasi.
Suartana (2003) menguji prosedur pengendalian dengan bantuan informasi
akuntansi untuk mengurangi eskalasi komitmen sunk cost. Hasil penelitian
mengindikasikan bahwa progress report dan future benefits merupakan strategi
yang tepat untuk mengurangi eskalasi komitmen sunk cost.
Sahmuddin (2003) menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan keputusan
individu yang berpengalaman dan tidak berpengalaman jika informasi disajikan
dalam framing baik positif maupun negatif serta adanya perbedaan keputusan
individu berpengalaman dan tidak berpengalaman jika individu bertanggungjawab
tinggi dan bertanggungjawab rendah.
Effriyanti (2005) meneliti tentang pengaruh dari strategi ambiguous
feedback, progress report, dan pemberian informasi future benefit dalam
menghindari permasalahan eskalasi komitmen. Hasil pengujian hipotesis
mengindikasikan bahwa ketiga strategi dapat digunakan untuk membantu
pengambil keputusan individu terhindar dari permasalahan eskalasi. Selain
melihat pengaruh ketiga strategi terhadap level pengambilan keputusan individu,
penelitian ini juga mengamati pengaruh ketiga strategi terhadap level
pengambilan keputusan kelompok. Hasilnya memberi dukungan secara statistik
bahwa strategi pemberian feedback yang tidak ambigu dan progress report
memang secara signifikan pada tingkat kepercayaan 95% dapat membantu
kelompok terhindar dari permasalahan eskalasi komitmen. Hasil akhir
memperlihatkan bahwa strategi progress report merupakan strategi yang paling
baik untuk diterapkan, baik level pengambilan keputusan individu maupun
kelompok untuk menghindari terjadinya permasalahan eskalasi komitmen.
Chong dan Suryawati (2007) menunjukkan bahwa manajer proyek
cenderung tidak melakukan eskalasi pada proyek yang mengindikasikan
kegagalan ketika ada kebijakan job rotation. Ketika manajer memiliki informasi
privat dan kebijakan job rotation, secara signifikan mengurangi dampak informasi
privat pada perilaku eskalasi.
Koroy (2008) menunjukkan bahwa pembingkaian keputusan
mempengaruhi subjek yang tidak berpengalaman dalam eskalasi, serta semakin
berpengalaman seseorang dalam keputusan bisnis atau manajerial, maka semakin
cenderung dia berperilaku eskalasi.
Yao dan Cui (2010) menunjukkan bahwa ketika dihadapkan dengan level
sunk cost yang tinggi, pembuat keputusan lebih mungkin untuk melakukan
eskalasi komitmen daripada ketika dihadapkan dengan level sunk cost yang
rendah. Ketika dihadapkan dengan level self–esteem yang tinggi diyakini pembuat
keputusan akan jauh lebih mungkin untuk melakukan eskalasi komitmen
dibandingkan dengan level self–esteem yang rendah.
Dewanti (2010) menunjukkan bahwa framing negatif berpengaruh
signifikan terhadap keputusan eskalasi komitmen. Hasil interaksi antara framing
negatif dengan adverse selection tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan
terhadap keputusan manajer untuk melanjutkan proyek yang mengindikasikan
kegagalan. Job rotation berpengaruh signifikan terhadap keputusan manajer untuk
tidak melakukan eskalasi pada proyek yang mengindikasikan kegagalan. Hasil
interaksi antara job rotation dan adverse selection tidak menunjukkan pengaruh
yang signifikan terhadap keputusan manajer untuk tidak melakukan eskalasi pada
proyek yang mengindikasikan kegagalan.
Eveline (2010) meneliti tentang pengaruh adverse selection, pembingkaian
negatif, dan self efficacy terhadap eskalasi komitmen proyek investasi yang tidak
menguntungkan. Hasil penelitian menunjukkan adverse selection, pembingkaian
negatif, dan self efficacy (keyakinan diri) berpengaruh terhadap keputusan eskalasi
komitmen.
Bahrudin dan Anissa (2011) meneliti tentang pengaruh pembingkaian dan
locus of control terhadap eskalasi komitmen. Hasil penelitian menunjukkan
pembingkaian dan locus of control berpengaruh positif terhadap eskalasi
komitmen.
Irfan (2012) menunjukkan bahwa pengaruh langsung dari distribusi yang
fair yang hanya bisa mempengaruhi tingkat eskalasi komitmen sedangkan dengan
melihat pengaruh variabel intervening yaitu self esteem tidak bisa memediasi
hubungan antara prosedur dan distribusi yang fair terhadap tingkat eskalasi
komitmen.
Irfan dkk. (2013) menunjukkan bahwa manajer dihadapkan dengan
tantangan adverse selection akan cenderung untuk melanjutkan proyek-proyek
yang tidak menguntungkan. Hasil penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa
manajer dengan unrigid thinking cenderung tidak akan melanjutkan proyek yang
tidak menguntungkan. Hasil hipotesis terakhir adalah manajer dengan unrigid
thinking, dalam kondisi adverse selection cenderung akan melanjutkan proyek
yang tidak menguntungkan daripada ketika manajer dengan rigid thinking.
Kanodia, et al. (1989) menunjukkan bahwa ketika manajer tidak
melanjutkan proyek yang dianggap gagal justru akan merusak reputasi dan
peluang karirnya di masa yang akan datang. Selain itu, hasil penelitian juga
menunjukkan bahwa insentif untuk switching atau eskalasi akan bervariasi dengan
besarnya sunk cost.
Harrison dan Harrel (1993) menunjukkan bahwa ketika tidak ada kondisi
adverse selection, orang cenderung membuat keputusan yang terbaik untuk
kepentingan principal mereka.