Identitas Sosial dan Identitas Pribadi (skripsi dan tesis)

Hogg dan Vaughan (2002), teori identitas sosial telah
menyadarkan bahwa ada dua kelas yang luas dalam identitas, yang
menentukan jenis diri : (1) identitas sosial, yang mendefinisikan
diri dalam hal keanggotaan kelompok, dan (2) identitas pribadi,
yang menentukan diri dalam hal hubungan pribadi dan sifat – sifat
istimewa. Identitas sosial dikaitkan dengan kelompok dan antar
kelompok perilaku seperti etnosentrisme, ingroup Bias, solidaritas
kelompok, diskriminasi antar kelompok, kesesuaian, perilaku
normatif, steorotipe dan prasangka. Identitas pribadi yang terkait
dengan hubungan interpersonalyang dekat positif dan negatif dan
dengan perilaku pribadi istimewa. Kita memiliki banyak identitas
sosial karena ada kelompok yang merasa kita miliki, dan banyak
identitas pribadi karena ada hubungan interpersonal yang mana kita
terlibat dalam klaster dan atribut istimewa yang kita percaya dan
kita miliki. Identitas sosial dapat menjadi aspek penting dalam
konsep diri kita.
b. Stereotipe
Stereotipe adalah hasil dari adanya proses prasangka. Ktaz & Barly
menyatakan bahwa prasangka (prejudice) dan pelabelan (stereotipe)
tidak dapat dipisahkan. David menyatakan bahwa prasangka merupakan
persepsi orang terhadap seseorang atau kelompok lain. Prasangka
merupakan persepsi dalam tarahan kognitif, sedangkan stereotipe lebih
pada arti pelabelan kepada seseorang atau kelompok tersebut, termasuk
sikap dan perilakunya terhadap mereka sudah dalam tataran efektif dan
psikomotorik. (Mega, Rahayu. 2017. Stereotipe Pada Waria Dalam
Perspektif Islam. Skripsi Fakultas Ushuludin UIN Raden Intan
Lampung).
Stereotipe mungkin bernakna negatif atau positif, meskipun banyak
peneliti telah menemukan bahwa bahkan penggunaan stereotipe positif
memiliki konsekuensi negatif karena membatasi kelompok atau
individu yang stereotipe. Misalnya, salah satu “positif” stereotipe laki –
laki keturunan Afrika – Amerika dinilai unggul dalam hal bidang
olahraga. Stereotipe ini dapat mencegah laki – laki Afrika – Amerika
untuk berusaha dalam bidang alternatif lainnya, misalnya orang – orang
yang bergantung pada kemampuan akademik. (Gold, 2006 : 413)
Stereotipe tidak selalu bersifat buruk atau berbahaya, dalam sebuah
dunia yang bersifat kompleks, pandangan stereotipe diperlukan dan
membantu manusia dalam menyederhanakan dan menggorganisasikan
lingkungan, membantu individu dalam menentukan respons terbaik
dalam menghadapi situasi tertentu. (Appiah, 2008 : 4833)
Meskipun terdapat efek positifnya, namun stereotipe memiliki
dampak negatif melampaui bayangan seseorang dan bisa dapat
berbahaya, menghina, diskriminatif dan merusak. Orang yang tidak
bersalah telah dihukum, dipenjara karena orang mengandalkan
stereotipe sebagai dasar bukti pembuktian. (Patel et al, 2011 : 143)
Menurut Operario dan Fiske, stereotipe memiliki tiga prinsip dasar
yaitu, antara lain 1) stereotipe berisi kepercayaan yang bersifat ganda
yang menggambarkan hubungan kelompok, 2) stereotipe mendorong
persepsi negatif dan perilaku ekstrem dari individu, 3) stereotipe
mengelola hubungan antara perasaan tentang kita (in-group) dan
mereka (out-group). (Brewer dan Hewstone, 2004 : 122)