Eskalasi Komitmen (skripsi dan tesis)

Seorang manajer dalam suatu perusahaan seringkali dituntut untuk
mengambil keputusan penting, dan tidak jarang mengalami dilema ketika harus
membuat keputusan untuk menghentikan suatu proyek yang dianggap tidak
menguntungkan ataukah tetap melanjutkan proyek tersebut apapun konsekuensi
yang akan dihadapi ke depan. Suatu jenis keputusan yang dihasilkan dari keadaan
tersebut dalam perilaku organisasi, manajemen strategi dan psikologi dikenal
dengan fenomena eskalasi (Wong et al. 2006).
Eskalasi komitmen dapat dikatakan sebagai upaya meningkatkan
keseriusan atau keloyalan terhadap komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
Eskalasi komitmen dalam penelitian ini diproksikan dengan keputusan manajer
untuk tetap melanjutkan proyek yang mengindikasikan kegagalan. Eskalasi
komitmen dapat terjadi ketika individu atau organisasi dihadapkan pada dua
kesempatan atas serangkaian tindakan yang telah dilakukan (dalam hal ini
serangkaian tindakan yang telah diambil ternyata tidak berjalan seperti yang
diharapkan). Individu atau organisasi tersebut berkesempatan untuk memilih
bertahan dengan terus menjalankan proyek tersebut atau menarik kembali
serangkaian tindakan yang telah dilakukan sebelumnya. Konsekuensi dari kedua
pilihan tersebut sama-sama mengandung ketidakpastian. Staw (1997)
mencontohkan organisasi mengetahui bahwa konsekuensi dari pengembangan
produk baru bisa bermuara pada kondisi menguntungkan maupun tidak
menguntungkan di masa yang akan datang. Eskalasi komitmen merupakan
perilaku untuk meningkatkan komitmen dengan tetap menjalankan proyek
walaupun proyek tersebut akan memberikan umpan balik negatif. Seorang
manajer dapat mengalokasikan sumber daya tambahan pada proyek yang
dianggap tidak menguntungkan ini.
Brockner (1992) menjelaskan bahwa eskalasi komitmen adalah
melanjutkan komitmen walaupun terdapat informasi negatif yang berkaitan
dengan ketidakpastian pencapaian tujuan. Eskalasi komitmen sering dikaitkan
dengan pengabaian atas sinyal kegagalan. Kanodia et al. (1989) menjabarkan
eskalasi komitmen sebagai keputusan manajer yang cenderung mengabaikan
kepentingan perusahaan dan lebih mengutamakan kepentingan ekonomi
pribadinya.
Beberapa penjelasan dapat dikemukakan untuk perilaku eskalasi ini,
pertama, adanya umpan balik negatif atas keputusan yang telah dijalankan
menyebabkan individu melanjutkan proyek tersebut dalam upaya pembenaran
keputusan mereka sebelumnya (Bazerman, 1994). Kedua preferensi risiko
seseorang apakah risk taker atau risk averse dapat bergeser berdasarkan kondisi
yang dihadapi seseorang (Kahneman dan Tversky, 1979). Pada saat menghadapi
keuntungan individu cenderung bersikap risk averse, namun saat menghadapi
kerugian cenderung risk taker (Supramono dan Putlia, 2007). Berdasarkan
penjelasan tersebut kemungkinan manajer yang memandang dirinya sedang dalam
posisi mengalami kerugian cenderung memilih untuk menerima keputusan yang
berisiko tinggi. Ketiga, teori keagenan menjelaskan bahwa antara kepentingan
pemilik dan manajer seringkali bertentangan.