Aspek-Aspek Resiliensi (skripsi dan tesis)

Reivich K. & Shatte A. (2002: 36-46) memaparkan tujuh aspek
dari resiliensi, aspek-aspek tersebut adalah regulasi emosi (emotional
regulation), kontrol impuls (impulse control), optimisme (optimism),
analisis kausal (causal analysis), empati (empathy), efikasi diri (self
efficacy), dan pencapaian (reaching out). Adapun penjelasannya
adalah sebagai berikut.
1) Regulasi emosi (emotional regulation)
Pengaturan emosi diartikan sebagai kemampuan untuk tetap
tenang dalam kondisi yang penuh tekanan. Individu yang resilien
menggunakan serangkaian keterampilan yang telah dikembangkan
untuk membantu mengontrol emosi, atensi dan perilakunya.
Kemampuan regulasi penting untuk menjalin hubungan
interpersonal, kesuksesan bekerja dan mempertahankan kesehatan
fisik. Tidak setiap emosi harus diperbaiki atau dikontrol, ekspresi
emosi secara tepatlah yang menjadi bagian dari resiliensi.
2) Kontrol impuls (impulse control)
Kontrol impuls berkaitan erat dengan regulasi emosi.
Individu dengan kontrol impuls yang kuat, cenderung memiliki
regulasi emosi yang tinggi, sedangkan individu dengan kontrol
emosi yang rendah cenderung menerima keyakinan secara
impulsive, yaitu suatu situasi sebagai kebenaran dan bertindak atas
dasar hal tersebut. Kondisi ini seringkali menimbulkan
konsekuensi negatif yang dapat menghambat resiliensi.
3) Optimisme (optimism)
Individu yang resilien adalah individu yang optimis.
Mereka yakin bahwa berbagai hal dapat berubah menjadi lebih
baik. Mereka memiliki harapan terhadap masa depan dan percaya
bahwa mereka dapat mengontrol arah kehidupannya dibandingkan
orang yang pesimis, individu yang optimis lebih sehat secara fisik,
lebih produktif dalam bekerja dan lebih berprestasi dalam olah
raga. Hal ini merupakan fakta yang ditujukkan oleh ratusan studi
yang terkontrol dengan baik.
4) Kemampuan menganalisis masalah (causal analysis)
Kemampuan menganalisis masalah merupakan istilah yang
digunakan untuk merujuk pada kemampuan pada diri individu
secara akurat mengidentifikasi penyebab-penyebab dari
permasalahan mereka. Jika seseorang tidak mampu memperkirakan
penyebab dari permasalahannya secara akurat, maka individu
tersebut akan membuat kesalahan yang sama.
5) Empati (empathy)
Empati menggambarkan sebaik apa seseorang dapat
membaca petunjuk dari orang lain berkaitan dengan kondisi
emosional orang tersebut. Beberapa individu dapat
menginterpretasikan perilaku non verbal orang lain, seperti
ekspresi wajah, nada suara, bahasa tubuh dan menentukan apa
yang dipikirkan serta dirisaukan orang tersebut. Ketidakmampuan
dalam hal ini akan berdampak pada kesuksesan dalam bisnis dan
menunjukan perilaku non resilien.
6) Efikasi Diri (self efficacy)
Efikasi diri menggambarkan keyakinan seseorang bahwa ia
dapat memecahkan masalah yang dialaminya dalam keyakinan
seseorang terhadap kemampuannya untuk mencapai kesuksesan.
Dalam lingkungan kerja, seseorang yang memiliki keyakinan
terhadap dirinya untuk memecahkan masalah, maka dia muncul
sebagai pemimpin.
7) Pencapaian (reaching out)
Pencapaian menggambarkan kemampuan individu untuk
mencapai keberhasilan. Dalam hal ini terkait dengan keberanian
seseorang untuk mencoba mengatasi masalah, karena masalah
dianggap sebagai suatu tantangan bukan suatu ancaman.
Bogar Christine B. (2006: 321-322) dalam penelitiannya
mengidentifikasikan lima determinan dari resiliensi yang harus
dimiliki oleh setiap individu supaya bisa menjadi resilien, antara lain
sebagai berikut.
1) Keterampilan Interpersonal
Keterampilan interpersonal merupakan keterampilan yang
dipelajari ataupun bawaan pada diri seseorang yang dapat
memfasilitasi kemampuannya dalam berinteraksi secara positif dan
efektif dengan orang lain. Keterampilan ini meliputi kemampuan
verbal, kedekatan secara emosional, kemandirian berpikir, serta
optimisme dalam hubungan dengan orang lain dan kehidupan.
2) Kompetensi
Kompetensi diartikan sebagai bakat dan keterampilan yang
dimiliki oleh seseorang dan memberikan kontribusi terhadap
kemampuannya untuk memiliki resiliensi pada masa dewasa.
Termasuk dalam kompetensi ini adalah prestasi yang menonjol,
kesuksesan dalam bidang akademis di sekolah.
3) Self-regard yang tinggi
Penerimaan diri yang positif yaitu kemampuan seseorang
untuk mengubah pikiran yang negatif menjadi pikiran yang positif
terhadap diri mereka. Hal ini mampu menumbuhkan pikiran pada
individu bahwa mereka dapat memegang kendali atas
kehidupannya.
4) Spiritualitas
Spiritualitas dan religiusitas, keduanya adalah komponen
yang penting bagi resiliensi seseorang. Kepercayaan ini dapat
menjadi sandaran bagi individu dalam mengatasi berbagai
permasalahan saat peristiwa buruk menimpa.
5) Situasi kehidupan yang bermanfaat
Meskipun tidak semua peristiwa kehidupan bersifat positif,
namun bagi indvidu baik peristiwa- peristiwa yang negatif ataupun
positif mampu menantang individu untuk menjadi lebih kuat dan
memiliki empati terhadap kehidupan orang lain.
Penelitian ini akan merujuk pada tujuh aspek resiliensi dari
Reivich K. & Shatte A. (2002: 36-46), yaitu : regulasi emosi
(emotional regulation), kontrol impuls (impulse control),
optimisme (optimism), analisis kausal (causal analysis), empati
(empathy), efikasi diri (self efficacy), dan pencapaian (reaching
out).