Teori Kepemimpinan (skripsi dan tesis)

Sucipto (2008), mengklasifikasikan beberapa teori dan penelitian empiris tentang kepemimpinan dalam lima pendekatan berikut:
(1) The Trait Approach (pendekatan sifat)
The trait approach leadership (teori sifat kepemimpinan) menekankan pada
atribut pemimpin, misalnya; kepribadian, nilai dan keterampilan. Pendekatan ini
berasumsi bahwa beberapa orang secara alami adalah pemimpin yang dianugerahi sifat-sifat tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dalam perkembangannya kepemimpinan lebih menekankan pada aspek kepribadian dibandingkan dengan aspek fisik. Pendekatan ini berusaha mengidentifikasi kombinasi faktor psikologis, yaitu dimana fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan mengembangkan
sistem motivasi terbaik untuk merangsang bawahan, agar mereka mau bekerja guna mencapai sasaran organisatori maupun tujuan pribadi. Karena dengan mengidentifikasi faktor-faktor psikologis kita dapat membedakan pemimpin dengan pengikut.
Keith Davis merumuskan empat sifat umum yang nampaknya mempunyai
pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi (Thoha, 2005).
1. Kecerdasan (Intellegence)
Kecerdasan yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin itu merupakan
kemampuan untuk melihat dan memahami dan mengerti sebab dan akibat
kejadian atau permasalahan, menemukan hal-hal yang krusial dan cepat dalam
menemukan penyelesaiannya.
Selain itu juga seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan emosional
(Emotional Intellegence). Seseorang bisa saja mempunyai pendidikan yang
tinggi, kemampuan analisis yang tajam, visi yang hebat dan ide-ide yang
cemerlang tetapi tetap saja, ia tidak bisa bertahan dalam menjadi pemimpin
yang besar tanpa mempunyai kecerdasan emosional. Hal ini bisa terjadi Karena
dalam kecerdasan emosional terdapat komponen inti yaitu empati. Pemimpin
yang memiliki sifat empati bisa merasakan kebutuhan orang lain,
mendengarkan apa yang dikatakan dan yang tidak terucapkan oleh anak
buahnya, dan mampu membaca reaksi orang.
2. Kedewasaan dan keluasan hubungan sosial.
Pemimpin yang baik itu memiliki sikap yang cenderung matang dan
emosi yang stabil. Artinya pemimpin tidak mudah marah, tersinggung
perasaannya, dan tidak meledak secara emosional. Pemimpin menghormati
martabat bawahannya, toleran terhadap kelemahan bawahannya, dan bisa
memaafkan kesalahan-kesalahan yang tidak terlalu prinsipil. Semua itu
diarahkan untuk mencapai lingkungan sosial yang rukun damai, harmonis, dan
menyenangkan.
3. Motivasi diri dan dorongan berprestasi.
Para pemimpin secara umum memiliki dorongan motivasi yang kuat
untuk berprestasi. Selain itu dukungan dari luar akan memperkuat hasrat sendiri untuk memberikan pelayanan dan pengabdian diri kepada kepentingan orang banyak.
4. Sikap-sikap hubungan kemanusiaan.
Pemimpin yang berhasil mau mengakui harga diri dan kehormatan para
bawahannya dan mampu berpihak kepada bawahannya. Selain itu pemimpin
juga bersikap ramah, terbuka, dan mudah menjalin persahabatan berdasarkan
rasa saling percaya, pemimpin juga menghargai pendapat bawahannya, untuk
bisa memupuk kerja sama yang baik dalam suasana rukun dan damai.
(2) The Behaviour Approach
Teori perilaku digunakan untuk mengidentifikasi perilaku pemimpin yang efektif yang ditunjukan dengan kemampuan pemimpin dalam mengelola konflik, mengatasi tuntutan, mengambil kesempatan/peluang dan mengatasi hambatan yang ada.
Penelitian yang dilaksanakan oleh Ohio University telah menghasilkan dua kategori  perilaku kepemimpinan. Yaitu Consideration dan Initiating Structure.
Consideration (konsiderasi) adalah gaya kepemimpinan yang
menggambarkan kedekatan hubungan antara bawahan dengan atasan, adanya saling percaya, kekeluargaan, menghargai gagasan bawahan, dan adanya komunikasi antara pimpinan dengan bawahan. Pemimpin yang memiliki konsiderasi yang tinggi menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan parsial. Initiating Structure (struktur inisiatif) merupakan gaya kepemimpinan yang menunjukkan bahwa pemimpin mengorganisasikan dan mendefinisikan hubungan dalam kelompok, cenderung membangun pola dan saluran komunikasi yang jelas, menjelaskan cara mengerjakan tugas yang benar (Armandi et al. 2003).
Perilaku pemimpin dapat diterima oleh bawahan pada tingkatan yang ditinjau
oleh mereka sebagai sebuah sumber kepuasan saat itu atau masa mendatang.
Perilaku pemimpin akan memberikan motivasi sepanjang (1) membuat bawahan merasa butuh kepuasan dalam pencapaian kinerja yang efektif, dan (2) menyediakan ajaran, arahan, dukungan dan penghargaan yang diperlukan dalam kinerja efektif (Robins, 2002).
(3) The Power-Influenced Approach
The Power-Influenced Approach menekankan pada proses yang saling
mempengaruhi antara pemimpin dengan pihak-pihak lain, penelitian tentang Power-
Influenced approach mempunyai perspektif yang terpusat pada pemimpin (leadercenterd)
dengan asumsi implisit bahwa hubungan sebab akibat (causality)
mempunyai arah tunggal (pemimpin bertindak dan para pengikut bereaksi). Dalam hal ini melihat efektifitas pemimpin dalam kaitannya dengan jumlah dan jenis kekuasaan yang dimiliki seorang pemimpin dan dalam menggunakan kekuasaannya.
(4) The Situational Approach
Pendekatan situasional (situational approach) menekankan pada pentingnya
faktor-faktor yang saling berhubungan dalam mempengaruhi proses kepemimpinan.
Dalam era kepemimpinan situasional disadari bahwa tidak ada satupun gaya
kepemimpinan yang terbaik dan berlaku universal untuk segala situasi dan
lingkungan. Pendekatan situasional menekankan bahwa gaya kepemimpinan yang digunakan tergantung pada faktor-faktor situasi, bawahan, tugas dan lingkungan. Dengan kata lain seorang pemimpin harus menentukan gaya kepemimpinan secara tepat dalam menghadapi beberapa situasi tertentu.
Menurut kartini kartono (2011:161) pendekatan situasional menyatakan bahwa
sifat-sifat pribadi pemimpin itu bukan satu-satunya hal yang menentukan derajat dan kualitas pemimpin, melainkan situasi dan lingkunganlah yang merupakan faktor penentunya. Karena, belum tentu seorang pemimpin yang efisien pada saat sekarang ini, mampu menjabat tugas kepemimpinan pada saat lain dan dengan kondisi-kondisi yang berbeda.
(5) The Integrative Approach
Pada paruh sampai akhir tahun 1970an, paradigma kepemimpinan mulai
berubah menjadi paradigma integratif atau teori kharismatik baru. Sesuai namanya,
teori kepemimpinan integratif ini memadukan teori pembawaan, perilaku dan
kontingensi untuk menjelaskan kesuksesan dan pengaruh hubungan antara
pemimpin dan pengikut. Peneliti berusaha menjelaskan mengapa pengikut pemimpin tertentu mempunyai keinginan bekerja keras dan rela berkorban untuk mencapai tujuan kelompoknya. Di samping itu, menjelaskan bagaimana seorang pemimpin secara efektif mempengaruhi perilaku pengikutnya, serta mengapa perilaku pemimpin yang sama dapat membawa dampak yang berbeda pada pengikutnya dalam situasi tertentu.