Pengertian Kepemimpinan Transformasional (skripsi dan tesis)

Kepemimpinan transformasional merupakan pendekatan terakhir yang hangat dibicarakan selama dua dekade terakhir ini. Menurut Robbins dalam Setiawan dan Muhith (2013), mengatakan bahwa kepemimpinan transformasional termasuk dalam teori kepemimpinan modern yang gagasan awalnya dikembangkan oleh James McGroger Burns, yang secara eksplisit mengangkat suatu teori bahwa kepemimpinan transformasional adalah sebuah proses dimana pimpinan dan para bawahannya berusaha mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Menurut Wutun (2001) konsep kepemimpinan transformasional dari Bass merupakan salah satu konsep kepemimpinan yang lebih dapat menjelaskan secara tepat pola perilaku kepemimpinan atasan yang nyata ada dan mampu memuat pola-pola perilaku dari teori kepemimpinan lain. Wutun (2001), menyatakan bahwa pemimpin berusaha memperluas dan meningkatkan kebutuhan melebihi minat pribadi serta mendorong perubahan tersebut ke arah kepentingan bersama termasuk kepentingan organisasi. Bila model situasional lebih berfokus pada gaya kepemimpinan yang cocok untuk status quo, maka model agen perubahan (chande agency models) menekankan alternative kepemimpinan yang tepat untuk mengadakan 13 perubahan. Salah satu teori agen perubahan yang paling komprehensif adalah teori kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional. Gagasan awal megenai model kepemimpinan tersebut dikembangkan oleh James MacGregor Burn yang menerapkannya dalam konteks politik dan selanjutnya disempurnakan serta diperkenalkan kedalam konteks organisasional oleh Bernard Bass (Eisenbach,2005). Selanjutnya menurut Burns (2004) menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. Pemimpin Transformasional harus mampu mendefinisikan, mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi dan bawahan harus menerima dan mengakui pemimpinnya. Kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki seorang pemimpin untuk mempengaruhi orang lain (karyawan), olehnya diperlukan suatu gaya atau perilaku kepemimpinan tertentu, yang dikenal dengan kepemimpinan abad 21 yakni kepemimpinan transformasional. Menurut Setiawan dan Muhith (2012) secara leksikal istilah kepemimpinan transformasional terdiri dari dua kata yaitu kepemimpinan dan transformasional. Istilah tersebut bermakna perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi dan lain sebagainya) bahkan ada juga yang menyatakan bahwa kata transformasional berinduk dari kata “to transform” yang memiliki makna mentransformasionalkan visi menjadi realitas, panas menjadi energi, potensi menjadi faktual, laten menjadi manifest. Menurut Lensufiie (2010) bahwa kepemimpinan transformasional 14 memiliki pengertian kepemimpinan yang bertujuan untuk perubahan, perubahan yang dimaksud diasumsikan sebagai perubahan yang lebih baik menentang status quo dan aktif. Kepemimpinan Transformasiona ljuga diartikan sebagai pendekatan kepemimpinan yang menciptakan perubahan positif dan bernilai bagi suatu organisasi. Selanjutnya Bass dalam Zanikham (2008) Kepemimpinan Transformasional didefinisikan sebagai kemampuan pemimpin mengubah kemampuan kerja, motivasi kerja, pola kerja dan nilai-nilai kerja yang dipersepsikan bawahan sehingga mereka lebih mampu mengoptimalkan kinerja untuk mencapai tujuan organisasi. Menurut Burns dalam sedarmayanti (2010) pakar kepemimpinan kelas dunia mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional yang mampu dan melaksanakan perubahan karena kepemimpinan transformasional menyediakan visi yang jelas bagi perubahan lebih lanjut dikemukakan pemimpin mempunyai tujuan jelas yang bisa membimbing organisasi menuju arah baru, pemimpin menekankan pentingnya melihat kemungkinan baru dan mempromosikan visi dimasa datang yang menggairahkan. Selanjutnya berdasarkan penelitian dari Olga Epitropaki bahwa sistem kepemimpinan transformasional menunjukkan bahwa: 1) Secara signifikan dapat meningkatkan performance organisasi 2) Mempunyai pengaruh positif terhadap penjualan jangka panjangdan kepuasan pelanggan   3) Meningkatkan komitmen organisasi dan bawahan 4) Meningkatkan kepercayaan karyawan dan perilaku perusahaan 5) Meningkatkan kepuasan karyawan dengan pekerjaan danpimpinan 6) Mengurangi tekanan kerja dan meningkatkan kesejahteraanKaryawan Dari pendapat diatas disimpulkan bahwa pemimpin yang transformasional diukur dari tingkat kepercayaan, kepatuhan, kekaguman, kesetiaan dan rasa hormat para pengikutnya. Perilaku-perilaku yang dimunculkan kepemimpinan transformasional dapat ditarik beberapa karekteristik yang menjadi ciri khas kepemimpinan transformasional antara lain: 1) Mempunyai visi yang besar dan memercayai intuisi 2) Menempatkan diri sebagai motor penggerak perubahan 3) Berani mengambil resiko dengan pertimbangan yang matang 4) Memberikan kesadaran pada bawahan akan pentingnya hasil pekerjaan 5) Memiliki kepercayaan akan kemampuan bawahan 6) Fleksibel dan terbuka terhadap pengalaman baru 7) Berusaha meningkatkan motivasi yang lebih tinggi daripada sekedar motivasi yang bersifat materi 8) Mendorong bawahan untuk menempatkan kepentingan organisasi diatas kepentingan pribadi atau golongan 9) Mampu mengartikulasikan nilai inti (budaya/tradisi) untuk membimbing perilaku mereka (Karim dalam Setiawan dan Muhith,2013) 16 Selanjutnya Bass (2002) mengemukakan pedoman kepemimpinan transformasional adalah sebagai berikut: 1) Menyatakan visi jelas dan menarik 2) Menjelaskan bagaimana visi dicapai 3) Bertindak rahasia dan optimistis 4) Memperlihatkan keyakinan pada pengikut 5) Menggunakan tindakan dramatis dan simbolis untuk menekankannilai penting 6) Memimpin dan memberi contoh 7) Memberi kewenangan kepada orang untuk mencapai visi (dalam Sedarmayanti, 2010) Sejauh mana pemimpin dikatakan sebagai pemimpin transformasional, Bass (2002) mengemukakan bahwa hal tersebut dapat diukur dalam hubungan dengan pengaruh pemimpin tersebut berhadapan dengan karyawan. Oleh karena itu bass mengemukakan ada tiga cara seorang pemimpin transformasional memotivasi karyawannya yaitu dengan: 1) mendorong karyawan untuk lebih menyadari arti penting hasil usaha 2) mendorong karyawan untuk mendahulukan kepentingan kelompok 3) meningkatkan kebutuhan karyawan yang lebih tinggi seperti harga diridan aktualisasi diri.