Hubungan Sense of Humor dengan Kreativitas (skripsi dan tesis)

Hauck & Thomas (dalam Whisonant, 1998) menunjukkan bahwa
humor memiliki korelasi yang sangat tinggi dengan kecerdasan dan
kreativitas, siswa yang dilihat sebagai siswa yang penuh humor bagi temantemannya
adalah mereka yang menyampaikan humor yang berkualitas.
Berdasarkan ciri-ciri kreatif yang telah dikemukakan oleh Munandar
(2002: 54) bahwa pribadi kreatif biasanya mempunyai rasa humor yang
tinggi, dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang, dan memiliki
kemampuan untuk bermain dengan ide, konsep, atau kemungkinankemungkinan
yang dikhayalkan.
Senada dengan apa yang telah disampaikan oleh Piers (dalam Ali &
Asrori, 2006: 52) bahwa salah satu ciri-ciri pribadi kreatif adalah memiliki
rasa humor.
Sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Isen, Daubman & Nowicki
(dalam Whisonant, 1998: 14) menunjukkan bahwa humor membantu
perkembangan kreativitas berpikir. Kelompok eksperimen yang diminta
untuk menonton film komedi mampu melakukan pemecahan yang lebih baik
daripada kelompok kontrol.
McGhee (1987) menyatakan bahwa terdapat sebuah penelitian yang
dilakukan pada tahun 1950-an di sebuah perusahaan membuktikan hubungan
yang erat antara humor dan kreativitas. Dalam penelitian tersebut dikatakan
bahwa pekerja yang menjaga sense of humor mereka menjadi lebih kreatif.
Jadi, ada alasan untuk membangkitkan kecakapan pemecehan masalah yang
kreatif dengan membiarkan para pekerja untuk memiliki humor yang baik
dalam pekerjaan mereka. Hal ini membuktikan bahwa dengan menjaga sense
of humor maka pemecahan masalah yang kreatif akan lebih mudah dilakukan.
Whisonant (2013) mengusulkan bahwa pengaruh yang positif
memudahkan pemecahan masalah yang kreatif, sebaliknya pengaruh negatif
tidak menimbulkan pengaruh bagi pemecahan masalah.
Selanjutnya, humor mampu membantu kreativitas berpikir adalah
dengan menjauhkan permasalahan yang menguras secara emosi untuk
sementara, apabila individu telah memiliki kegembiraan maka individu
tersebut akan mendapat solusi untuk pemecahan masalah
(www.laughterremedy.com).
Banyak orang yang mampu berpikir lebih kreatif ketika mereka tidak
terlalu serius dan lebih bersungguh-sungguh terhadap pekerjaan mereka ketika mereka merasa rileks dan bebas tekanan. Jadi, mereka membutuhkan
sesuatu yang secara cepat dan efektif untuk mengurangi ketegangan yang
dirasakan ketika mencari solusi dalam pemecahan masalah
(www.laughterremedy.com). Humor menciptakan rasa positif secara alami
dan akhirnya menimbulkan gagasan atau ide yang bervariasi atau divergen,
dimana proses berpikir ini merupakan salah satu ciri individu kreatif.
Bleedorn (1987) menjelaskan bahwa, sumber pada kreativitas dan
humor mengingatkan kita bahwa “mendapatkan sebuah kelucuan”
memerlukan keahlian mental dalam membuat pemahaman dan membuat
hubungan yang berkaitan. Produksi dan respon humor bergantung pada
perkembangan kolaborasi keahlian dan aktivitas mental. Proses berpikir
kreatif mampu membuat kelucuan “Ha-Ha” atau pemecahan masalah yang
kreatif “Ah-Ha”.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kreativitas dalam penelitian
Dacey (1989) yang dilakukan terhadap kehidupan beberapa keluarga di
Inggris adalah humor yang dilakukan dalam kehidupan keluarga (Munandar,
2004: 80). Bercanda, berolok-olok, dan memperdayakan sebagai kelucuan
biasa terjadi pada keluarga kreatif.
Hurlock (1978: 20) menjelaskan pula bahwa terdapat beberapa cara
yang paling umum digunakan anak untuk mengekspresikan kreativitas, salah
satunya adalah melucu/humor. Humor dalam hal ini mempunyai dua aspek:
kemampuan untuk mempersepsikan kelucuan dan kemampuan melucu.
Kedua aspek ini mampu menunjang penerimaan sosial, karena hal itu
membantu menciptakan kesan bahwa anak tersebut cukup menyenangkan
dalam pergaulan dan sportif.
Bentuk humor ini menuntut pemikiran berbeda (divergen thinking),
yang memungkinkan orang yang melucu mendapatkan cara baru
menggabungkan bahan yang telah diketahui sebelumnya menjadi bentukbentuk
yang akan dianggap lucu oleh orang lain. Untuk menciptakan sesuatu
yang lucu dibutuhkan pengetahuan mengenai jenis situasi yang oleh orang
lain dipersepsikan sebagai lucu, dan motivasi yang akan menghasilkan
lelucon.
Bagi siswa, humor sangat dibutuhkan untuk menciptakan efek positif
dalam diri. Sehingga ketika menyelesaikan masalah yang diberikan oleh guru,
mereka mampu menyelesaikannya dengan mudah dengan cara-cara yang
dikemas dengan kelucuan