Komponen Modal Intelektual (skripsi dan tesis)

Secara umum komponen dalam modal intelektual adalah sebagai berikut:

1. Human Capital

Human capital merupakan keterampilan dan pengetahuan karyawan yang dapat lebih ditingkatkan dengan bantuan pelatihan. Dimensi lain dari human capital adalah pengalaman yang bisa dikembangkan dengan program pelatihan. Human capital terbatas pada mikro (individu), misalnya atribut pribadi, kompetensi teknis dan kreativitas) atau tingkat makro (organisasi), misalnya kerja tim, lingkungan kerja yang sehat (Joshi, et. al, 2013). Menurut Solihin (2012), human capital mencakup berbagai pengetahuan, keahlian, kemampuan, pengalaman, kecerdasan, kreativitas, dan motivasi yang dimiliki individu-individu di dalam sebuah perusahaan. Perusahaan dapat memanfaatkan modal manusia (human capital) dengan segala pengetahuan dan kemampuannya dalam menjalankan kegiatan operasi perusahaan. Bahkan produk-produk baru yang inovatif lahir dari modal manusia berkualitas yang dimiliki oleh perusahaan.

2. Structural Capital

Menurut Solihin (2012), structural capital mencakup proses yang dimiliki perusahaan, perangkat keras, prosedur, database, nilai-nilai perusahaan, budaya perusahaan, dan struktur organisasi perusahaan. 14 Structural capital dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang diciptakan oleh suatu organisasi dan tidak dapat dipisahkan dari entitas. Ini dapat terdiri dari struktur organisasi, prosedur, rutinitas, sistem, perangkat keras, database dan budaya organisasi. Contoh modal struktural dapat berupa penemuan, proses, hak cipta, hak paten, teknologi, strategi, sistem, dan sebagainya. Kemampuan inilah yang meningkatkan kemampuan karyawan namun tidak terkait dengan karyawan pada tingkat individu (Joshi et al, 2013). Dalam hal ini organisasi harus memiliki sistem dan prosedur yang baik sehingga dapat menggunakan modal intelektual secara optimal dalam rangka menciptakan keunggulan kompetitif.

3. Customer Capital

Customer capital menjelaskan bagaimana perusahaan menjalin hubungan baik kepada mitra kerjanya, pemerintah dan semua yang terlibat dalam proses bisnis perusahaan agar dapat menghasilkan dan meningkatkan nilai tambah bagi perusahaan. Customer capital juga dapat diartikan sebagai kemampuan perusahaan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan pasar sehingga menghasilkan hubungan baik dengan pihak luar (Cahyadi, 2012). Customer capital terkait dengan organisasi dan hubungannya dengan elemen eksternal seperti pelanggan, penyedia sumber daya, bank dan pemegang saham. Dengan kata lain, customer capital adalah kemampuan sebuah organisasi untuk menciptakan nilai relasional dengan pemangku kepentingan eksternal. Organisasi mendapatkan manifold saat membangun customer capital, misalnya loyalitas pelanggan dan merek, kepuasan pelanggan, citra pasar dan niat baik, kekuatan untuk bernegosiasi, aliansi strategis dan koalisi. Namun, tidak hanya penting untuk menciptakan customer capital, organisasi yang sukses harus dapat mempertahankannya juga (Joshi et al, 2013)