Rasio Likuiditas (skripsi dan tesis)

Likuiditas menunjukkan bagaimana kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban financial jangka pendeknya. Tingkat likuiditas suatu perusahaan dapat diukur menggunakan suatu rasio yaitu rasio likuiditas. Menurut Brigham dan Houston (2010) rasio likuiditas merupakan rasio yang menunjukkan hubungan antara aset lacar dengan kewajiban lancarnya. Aset likuid merujuk pada suatu aset yang dapat dikonversi menjadi kas dengan cepat tanpa harus mengurangi harga aset tersebut terlalu banyak. Analisis posisi keuangan jangka pendek atau likuiditas ini sangat penting bagi perusahaan maupun kreditur. Bagi para kreditur jangka pendek, informasi likuiditas digunakan untuk mengawasi tingkat keamanan kreditnya. Bagi manajemen, informasi tersebut digunakan untuk mengetahui tingkat efisiensi modal kerja. Bagi 15 pemegang saham serta kreditur jangka panjang, likuiditas digunakan untuk mengetahui prospek pembayaran bunga dan dividen. Brigham dan Houston (2010) menyebutkan bahwa terdapat dua rasio likuiditas yang umumnya digunakan, yaitu curren ratio dan quick ratio.

a. Current Ratio Current ratio menurut Brigham dan Houston (2010) merupakan rasio yang menunjukkan sampai sejauh apa kewajiban lancar ditutupi oleh aset yang diharapkan akan dikonversi menjadi kas dalam waktu dekat. Current ratio dihitung dengan membagi aset lancar dengan kewajiban lancar. Aset lancar yang dimaksud meliputi kas, efek yang dapat diperdagangkan, piutang usaha, dan persediaan. Kewajiban lancar terdiri atas utang usaha, wesel tagih jangka pendek, utang lancar jangka panjang, pajak, dan gaji yang masih harus dibayar.

b. Quick Ratio Quick ratio juga dapat disebut acid test ratio atau liquidity ratio. Rasio ini merupakan rasio yang dihitung dengan mengurangi persediaan dengan aset lancar, kemudian membagi sisanya dengan kewajiban lancar. Perbedaan perhitungan quick ratio dengan current ratio terletak pada adanya pengurangan persediaan yang digunakan pada quick ratio. Pengurangan persediaan ini dilakukan karena persediaan umumnya merupakan aset lancar yang tidak likuid, atau dengan kata lain memerlukan waktu relatif lebih lama dibanding aset lancar yang lain untuk direalisasikan menjadi uang. Bahkan persediaan cenderung tidak memiliki kepastian apakah dapat terjual atau tidak sehingga akan terjadi kerugian jika perusahaan mengalami likuidasi.