Brand Association (skripsi dan tesis)

Aaker dalam Handayani, dkk (2010: 76), mendefinisikan brand association sebagai segala sesuatu yang terhubung di memori konsumen terhadap suatu merek. Schiffman dan Kanuk (2000: 111), menambahkan bahwa asosiasi merek yang positif mampu menciptakan citra merek yang 24 sesuai dengan keinginan konsumen, sehingga dapat menciptakan rasa percaya diri konsumen atas keputusan pembelian merek tersebut. Menurut Simamora (2003: 63), asosiasi merek adalah segala hal yang berkaitan tentang merek dalam ingatan. Sedangkan menurut Durianto, dkk (2004: 61), asosiasi merek merupakan segala kesan yang muncul di benak seseorang yang terkait dengan ingatannya mengenai suatu merek. Keller (2003: 731), secara konseptual membedakan tiga dimensi dari asosiasi merek, yaitu:

1) Strength (kekuatan) Kekuatan dari asosiasi merek tergantung dari banyaknya jumlah atau kuantitas dan kualitas informasi yang diterima oleh konsumen. Semakin dalam konsumen menerima informasi merek, semakin kuat asosiasi merek yang dimilikinya. Dua faktor yang memengaruhi kekuatan asosiasi merek yaitu hubungan personal dari informasi tersebut dan konsistensi informasi tersebut sepanjang waktu.

2) Favorability (kesukaan) Asosiasi merek yang disukai terbentuk oleh program pemasaran yang berjalan efektif mengantarkan produk-produknya menjadi produk yang disukai oleh konsumen.

3) Uniqueness (keunikan) Asosiasi keunikan merek tercipta dari asosiasi kekuatan dan kesukaan yang membuat suatu merek menjadi lain daripada yang lain. Dengan adanya asosiasi unik dari suatu merek, akan tercipta keuntungan kompetitif dan alasan-alasan mengapa konsumen sebaiknya membeli merek tersebut. Asosiasi unik dirancang agar konsumen “tidak ada alasan untuk tidak” memilih merek tersebut. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa asosiasi merek merupakan segala hal atau kesan yang ada di benak seseorang yang berkaitan dengan ingatannya mengenai suatu merek. Kesan-kesan yang terkait merek akan semakin meningkat dengan semakin banyaknya pengalaman konsumen dalam mengonsumsi atau menggunakan suatu merek atau dengan seringnya penampakkan merek tersebut dalam strategi komunikasinya, ditambah lagi jika kaitan tersebut didukung oleh suatu jaringan dari kaitan-kaitan lain. Sebuah merek adalah seperangkat asosiasi, biasanya terangkai dalam berbagai bentuk yang bermakna.

Menurut Durianto, dkk (2004: 69), asosiasi-asosiasi yang terkait dengan suatu merek umumnya dihubungkan dengan berbagai hal berikut:

1) Atribut produk (product attributes) Atribut produk yang paling banyak digunakan dalam strategi positioning adalah mengasosiasikan suatu obyek dengan salah satu atau beberapa atribut atau karakteristik produk yang bermakna dan saling mendukung, sehingga asosiasi bisa secara langsung diterjemahkan dalam alasan untuk pembelian suatu produk.

2) Atribut tak berwujud (intangibles attributes) Suatu faktor tak berwujud merupakan atribut umum, seperti halnya persepsi kualitas, kemajuan teknologi, inovasi, atau kesan nilai yang mengikhtisarkan serangkaian atribut yang obyektif.

3) Manfaat bagi konsumen (customers benefits) Biasanya terdapat hubungan antara atribut produk dan manfaat bagi konsumen. Terdapat dua manfaat bagi konsumen, yaitu: (a) manfaat rasional (rational benefit), adalah manfaat yang berkaitan erat dengan suatu atribut produk dari produk yang dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan yang rasional; (b) manfaat psikologis (psychological benefit), seringkali merupakan konsekuensi ekstrim dalam proses pembentukan sikap, berkaitan dengan perasaan yang ditimbulkan ketika membeli atau menggunakan merek tersebut.

4) Harga relatif (relative price) Evaluasi terhadap suatu merek di sebagian kelas produk ini akan diawali dengan penentuan posisi merek tersebut dalam satu atau dua dari tingkat harga.

5) Penggunaan (application) Pendekatan ini adalah dengan mengasosiasikan merek tersebut dengan suatu penggunaan atau aplikasi tertentu.

6) Pengguna/konsumen (user/customer) Pendekatan ini adalah dengan mengasosiasikan sebuah merek dengan sebuah tipe pengguna atau konsumen dari produk tersebut.

7) Orang terkenal/khalayak (celebrity/person) Mengkaitkan orang terkenal atau artis dengan sebuah merek dapat mentransfer asosiasi kuat yang dimiliki oleh orang terkenal ke merek tersebut.

8) Gaya hidup/kepribadian (lifestyle/personality) Sebuah merek bisa diilhami oleh para konsumen merek tersebut dengan aneka kepribadian dan karakteristik gaya hidup yang hampir sama.

9) Kelas produk (product class) Beberapa merek perlu membuat keputusan positioning yang menentukan dan melibatkan asosiasi-asosiasi kelas produk.

10) Para pesaing (competitors) Mengetahui pesaing dan berusaha untuk menyamai atau bahkan mengungguli pesaing.

11) Negara/wilayah geografis (country/geographic area) Sebuah negara dapat menjadi simbol yang kuat asalkan memiliki hubungan yang erat dengan produk, bahan, dan kemampuan.

Pada umumnya asosiasi merek (terutama yang membentuk brand image-nya) menjadi pijakan konsumen dalam keputusan pembelian dan loyalitas pada merek tersebut. Dalam prakteknya, didapati banyak sekali kemungkinan asosiasi dan varian dari asosiasi merek yang dapat memberikan nilai bagi suatu merek, dipandang dari sisi perusahaan maupun dari sisi pengguna.

Menurut Simamora (2003: 82) antara lain: 1) Proses penyusunan informasi Asosiasi-asosiasi dapat membantu mengikhtisarkan sekumpulan fakta dan spesifikasi yang mungkin sulit diproses dan diakses para konsumen. 2) Pembedaan Suatu asosiasi dapat memberikan landasan yang penting bagi upaya pembedaan suatu merek dari merek lain. 3) Alasan untuk membeli Asosiasi merek yang berhubungan dengan atribut produk atau manfaat bagi konsumen yang dapat pembeli untuk menggunakan merek tersebut. 4) Menciptakan sikap atau perasaan positif Asosiasi mampu merangsang suatu perasaan positif yang pada gilirannya merambat pada merek yang bersangkutan.  5) Landasan untuk perluasan Asosiasi dapat menjadi dasar perluasan sebuah merek dengan menciptakan kesan kesesuaian antara merek tersebut dan produk baru perusahaan

Brand Awareness (skripsi dan tesis)

Aaker dalam Handayani, dkk (2010: 62), mendefinisikan kesadaran merek adalah kemampuan dari konsumen potensial untuk mengenali atau mengingat bahwa suatu merek termasuk ke dalam kategori produk tertentu. Sedangkan menurut Durianto, dkk (2004: 30), brand awareness adalah kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali, mengingat kembali suatu merek sebagai bagian dari suatu kategori produk tertentu. Kesadaran merek merupakan elemen ekuitas yang sangat penting bagi perusahaan karena kesadaran merek dapat berpengaruh secara langsung terhadap ekuitas merek. Apabila kesadaran konsumen terhadap merek rendah, maka dapat dipastikan bahwa ekuitas mereknya juga akan rendah. Kemampuan konsumen untuk mengenali atau mengingat merek suatu produk berbeda tergantung tingkat komunikasi merek atau persepsi konsumen terhadap merek produk yang ditawarkan.

Berikut adalah tingkatan brand awareness yang dikemukakan oleh Handayani, dkk (2010: 65): 22 1) Unware of brand Pada tahapan ini, konsumen merasa ragu atau tidak yakin apakah sudah mengenal merek yang disebutkan atau belum. Tingkatan ini yang harus dihindarkan oleh perusahaan. 2) Brand recognition Pada tahapan ini, konsumen mampu mengidentifikasi merek yang disebutkan. 3) Brand recall Pada tahapan ini, konsumen mampu mengingat merek tanpa diberikan stimulus. 4) Top of mind Pada tahapan ini konsumen mengingat merek sebagai yang pertama kali muncul di pikiran saat berbicara mengenai kategori produk tertentu. Kesadaran merek akan sangat berpengaruh terhadap ekuitas suatu merek. Kesadaran merek akan memengaruhi persepsi dan tingkah laku seorang konsumen. Oleh karena itu meningkatkan kesadaran konsumen terhadap merek merupakan prioritas perusahaan untuk membangun ekuitas merek yang kuat. Durianto, dkk (2004: 57), mengungkapkan bahwa tingkat kesadaran konsumen terhadap suatu merek dapat ditingkatkan melalui berbagai upaya sebagai berikut:

1) Suatu merek harus dapat menyampaikan pesan yang mudah diingat oleh para konsumen. Pesan yang disampaikan harus  berbeda dibandingkan merek lainnya. Selain itu pesan yang disampaikan harus memiliki hubungan dengan merek dan kategori produknya.

2) Perusahaan disarankan memakai jingle lagu dan slogan yang menarik agar merek lebih mudah diingat oleh konsumen.

3) Simbol yang digunakan perusahaan sebaiknya memiliki hubungan dengan mereknya.

4) Perusahaan dapat menggunakan merek untuk melakukan perluasan produk, sehingga merek tersebut akan semakin diingat oleh konsumen.

5) Perusahaan dapat memperkuat kesadaran merek melalui suatu isyarat yang sesuai dengan kategori produk, merek, atau keduanya.

6) Membentuk ingatan dalam pikiran konsumen akan lebih sulit dibandingkan dengan memperkenalkan suatu produk baru, sehingga perusahaan harus selalu melakukan pengulangan untuk meningkatkan ingatan konsumen terhadap merek.

Ekuitas Merek (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Keller (2009: 263), ekuitas merek adalah nilai tambah yang diberikan pada produk dan jasa. Ekuitas merek dapat tercermin dalam cara konsumen berpikir, merasa, dan bertindak dalam hubungannya dengan merek, dan juga harga, pangsa pasar, dan profitabilitas yang diberikan merek bagi perusahaan. Menurut Durianto, dkk (2004: 61), ekuitas merek dapat memberikan nilai bagi perusahaan. Berikut adalah nilai ekuitas merek bagi perusahaan:

a. Ekuitas merek yang kuat dapat membantu perusahaan dalam upaya menarik minat calon konsumen serta upaya untuk menjalin hubungan yang baik dengan para konsumen dan dapat menghilangkan keraguan konsumen terhadap kualitas merek.

b. Seluruh elemen ekuitas merek dapat memengaruhi keputusan pembelian konsumen karena ekuitas merek yang kuat akan mengurangi keinginan konsumen untuk berpindah ke merek lain.

c. Konsumen yang memiliki loyalitas tinggi terhadap suatu merek tidak akan mudah untuk berpindah ke merek pesaing, walaupun pesaing telah melakukan inovasi produk.

d. Asosiasi merek akan berguna bagi perusahaan untuk melakukan evaluasi atas keputusan strategi perluasan merek.

e. Perusahaan yang memiliki ekuitas merek yang kuat dapat menentukan harga premium serta mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap promosi.

f. Perusahaan yang memiliki ekuitas merek yang kuat dapat menghemat pengeluaran biaya pada saat perusahaan memutuskan untuk melakukan perluasan merek

. g. Ekuitas merek yang kuat akan menciptakan loyalitas saluran distribusi yang akan meningkatkan jumlah penjualan perusahaan.

h. Empat elemen inti ekuitas merek (brand awareness, brand association, perceived quality, dan brand loyalty) yang kuat dapat meningkatkan kekuatan elemen ekuitas merek lainnya seperti kepercayaan konsumen, dan lain-lain.

Aaker (1997: 23) mengungkapkan bahwa ekuitas merek menciptakan nilai baik pada perusahaan maupun pada konsumen. Pernyataan ini telah didukung oleh beberapa penelitian, diantaranya yang dilakukan oleh Smith (2007: 107), yang menyatakan bahwa ekuitas merek dapat menjadi pertimbangan perusahaan dalam melakukan merger atau akuisisi. Penelitian lain yang dilakukan oleh Lane (1995: 70), menyebutkan bahwa ekuitas  merek memengaruhi respon pada stock market. Ekuitas merek dapat menjaga harga premium dari suatu produk (Keller, 2003: 75), selain itu menurut Rangaswamy dalam Yoo (2000: 200), ekuitas merek juga dapat memengaruhi kelangsungan hidup sebuah merek. Ekuitas merek dapat diartikan dengan kekuatan dari sebuah merek. Menurut Morgan (2000: 76), dari sisi perusahaan, melalui merek yang kuat perusahaan dapat mengelola aset-aset mereka dengan baik, meningkatkan arus kas, memperluas pangsa pasar, menetapkan harga premium, mengurangi biaya promosi, meningkatkan penjualan, menjaga stabilitas, dan meningkatkan keunggulan kompetitif. Sedangkan menurut Shoker (1994: 151), apabila dikaitkan dengan perspektif konsumen, ekuitas merek merupakan suatu bentuk respon atau tanggapan dari konsumen terhadap sebuah merek. Lebih lanjut, Lassar (1995: 15) mendefinisikan ekuitas merek sebagai bentuk peningkatan perceived utility dan nilai sebuah merek dikaitkan dengan suatu produk. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ekuitas merek merupakan persepsi konsumen terhadap keistimewaan suatu merek dibandingkan dengan merek yang lain. Beberapa peneliti mempunyai pendapat yang berbeda-beda dalam mengklasifikasikan indikator atau dimensi yang terdapat dalam ekuitas merek. Keller (2003: 56), menyebutkan pengetahuan merek (brand knowledge) yang terdiri atas kesadaran merek (brand awareness) dan citra merek (brand image) sebagai indikator dari ekuitas merek.

Shocker dan Weitz dalam Gil (2007: 191), mengklasifikasikan dimensi ekuitas merek menjadi dua, yaitu citra merek (brand image) dan loyalitas merek (brand loyalty). Agarwal dan Rao dalam Gil (2007: 191), mengemukakan dua indikator utama pada ekuitas merek yaitu kualitas keseluruhan (overall quality) dan minat memilih (choice intention). Namun yang paling umum digunakan adalah pendapat Aaker (1997: 25), yaitu bahwa terdapat lima indikator atau dimensi utama pada ekuitas merek. Kelima indikator tersebut adalah kesadaran merek (brand awareness), asosiasi merek (brand associations), mutu yang dirasakan (perceived quality), loyalitas merek (brand loyalty) dan aset-aset lain yang berkaitan dengan merek (other brand-related assets). Pada prakteknya, hanya empat dari kelima indikator tersebut yang digunakan pada penelitian-penelitian mengenai consumer-based brand equity, yaitu kesadaran merek, asosiasi merek, persepsi kualitas, dan loyalitas merek. Hal ini dikarenakan aset-aset lain yang berkaitan dengan merek (seperti hak paten dan saluran distribusi), tidak berhubungan secara langsung dengan konsumen. Menurut Simamora (2003: 68), ekuitas merek tidak terjadi dengan sendirinya. Ekuitas merek dibangun oleh elemen-elemen ekuitas merek yang terdiri dari:

a. Kesadaran merek (brand awareness).

b. Asosiasi merek (brand association).

c. Persepsi kualitas (perceived quality).

d. Loyalitas merek (brand loyalty).

e. Aset-aset merek lainnya (other proprietary brand assets), seperti hak paten, akses terhadap pasar, akses terhadap teknologi, akses terhadap sumber daya, dan lain-lain.

Menurut Durianto, dkk (2004: 4), empat elemen brand equity di luar aset-aset merek lainnya dikenal dengan elemen-elemen utama dari brand equity. Elemen brand equity yang kelima secara langsung akan dipengaruhi oleh kualitas dari empat elemen utama tersebut.

Pengertian, Peranan dan Kegunaan Merek (skripsi dan tesis)

Melihat fenomena persaingan pemasaran yang terjadi, membuat para pemasar untuk mampu mencari, mengembangkan bahkan merebut pangsa pasar dari para pesaingnya. Selain mengandalkan produk yang dihasilkan dengan segala macam perbedaan dan keunggulannya, salah satu modal untuk memenangkan persaingan adalah dengan menggunakan merek (brand). Merek adalah sesuatu yang mudah dikenali dari sebuah produk. Melihat merek suatu produk membuat produsennya mudah dikenali. Dalam era globalisasi ini, peranan merek menjadi sangat penting karena perbedaan satu produk dari produk lainnya sangat tergantung pada merek yang ditampilkan. Selain itu, merek yang telah dipatenkan dapat membuat produk tersebut menjadi lebih terlindungi dari upaya pemalsuan dan pembajakan. Menurut UU Merek No. 15 Tahun 2001 Pasal 1 ayat 1 (Tjiptono, 2005: 2), merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa.

American Marketing Association (AMA) (Kotler, 2002: 215), mendefinisikan merek sebagai nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing. Jadi merek membedakan penjual, produsen atau produk dari penjual, produsen atau produk lain. Kotler dan Susanto (2001: 575), menyatakan bahwa merek merupakan nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan atau kombinasi dari hal-hal tersebut yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing. Selanjutnya Aaker (1997: 9), menyatakan bahwa merek adalah nama dan atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, cap atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu, dengan demikian membedakannya dari barang-barang dan jasa yang dihasilkan para kompetitor.

Menurut Durianto, dkk (2004: 61), merek sangat penting atau berguna karena beberapa alasan sebagai berikut:

a. Mengkosistenkan dan menstabilkan emosi konsumen.

b. Mampu menembus setiap pagar budaya dan pasar.

c. Mampu menciptakan komunikasi interaksi dengan konsumen.

d. Berpengaruh dalam membentuk perilaku konsumen.

e. Memudahkan proses pengambilan keputusan pembelian, karena konsumen dapat dengan mudah membedakan produk yang dibelinya dengan produk lain.

f. Dapat berkembang menjadi sumber aset terbesar bagi perusahaan. Merek mengandung janji perusahaan untuk secara konsisten memberikan ciri, manfaat, dan jasa tertentu kepada pembeli. Menurut Kotler (2002: 460), merek lebih dari sekedar jaminan kualitas karena di dalamnya tercakup enam pengertian berikut:

a. Atribut Produk Merek mengingatkan pada atribut-atribut tertentu.

b. Manfaat Atribut perlu diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan emosional. Konsumen sebenarnya membeli manfaat dari produk yang dibelinya.

c. Nilai Merek menyatakan sesuatu tentang nilai produsen.

d. Budaya Merek mencerminkan budaya tertentu.

e. Kepribadian Merek mencerminkan kepribadian tertentu.

f. Pemakai Merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa merek mempunyai dua unsur, yaitu brand name yang terdiri dari huruf-huruf atau kata-kata yang dapat terbaca, serta brand mark yang berbentuk simbol, desain, selain berguna untuk membedakan satu produk dari produk pesaingnya juga berguna untuk mempermudah konsumen untuk mengenali dan mengidentifikasi barang atau jasa yang hendak dibeli.

Pengaruh Country of Origin terhadap keputusan pembelian ulang (Skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Keller (2018) menyebutkan bahwa persepsi Country Of Origin adalah asosiasi mental dan kepercayaan yang dipicu oleh suatu Negara. Pembeli memiliki perilaku dan keyakinan yang berbeda terhadap merek dari negara asalnya. Dalam penelitian Nurina Nadhifi Suria Andriani (2016), Jovita S. Dinata (2015) dan Lina Pileliene (2014) mengemukakan bahwa Country Of Origin terbukti mempengaruhi keputusan pembelian secara signifikan.

Pengaruh loyalitas merek terhadap keputusan pembelian ulang (skripsi dan tesis)

Konsep Loyalitas Merek dalam karya (Jacoby and Kyner, dalam Odin et al. 2001) menjelaskan tentang rangkaian tindakan konsumen dan mengemukakan enam poin yaitu non-random, Perilaku respon, Menyatakan dari waktu ke waktu, Unit pengambilan keputusan, terkait dengan satu atau lebih merek alternatif dari satu merek dan Fungsi dari proses psikologis. Dalam penelitian Adiati Hardjanti dan Yollanda Dwilova (2014), Beata Seinauskiene (2015), mengemukakan bahwa loyalitas merek berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian ulang

Pengaruh Kualitas Persepsian terhadap keputusan pembelian ulang (skripsi dan tesis)

Menurut Aaker (dalam Kartajaya, 2010) Kualitas Persepsian merupakan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan yang sama dengan maksud yang diharapkannya. Persepsi terhadap kualitas menggambarkan perasaan konsumen yang secara menyeluruh tentang suatu merek. Dalam konsep perilaku konsumen persepsi terhadap kualitas dari seorang konsumen adalah hal yang sangat penting, produsen berlomba dengan berbagai macam gaya untuk dapat membuat suatu produk atau jasa yang bagus menurut konsumen (Kotler, 2018). Pada penelitian Reski Pratiwi (2015) dan Aditia Hardjanti (2014) mengungkapkan bahwa Kualitas Persepsian berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian ulang.

Pengaruh asosiasi merek terhadap keputusan pembelian ulang (skripsi dan tesis)

Menurut Tjiptono (2014), asosiasi merek adalah Semua hal yang berkaitan dengan ingatan terhadap sebuah merek. Brand association berkaitan erat dengan brand image, yang diartikan sebagai serangkaian asosiasi merek dengan makna tertentu. Asosiasi merek memiliki tingkat kekuatan tertentu dan seiring dengan bertambahnya pengalaman konsumsi atau eksposur dengan merek spesifik. Pada penelitian Dwi Nanda Putri Sirajudin (2016), Mila Azhari (2014). Pada penelitian tersebut menunjukkan berjalan sesuai dengan keinginan yang bisa membuat konsumen memiliki rasa puas dan melakukan keputusan pembelian ulang dan sulit untuk mengganti merek (Switching brand)

Pengaruh kesadaran merek terhadap keputusan pembelian ulang (skripsi dan tesis

Menurut Rossiter dan Percy dalam Mila (2014) konsep kesadaran merek yaitu kesanggupan konsumen untuk menentukan (mengenal atau mengingat) suatu merek yang cukup terperinci untuk melakukan pembelian. Kesadaran merek merupakan langkah pertama untuk setiap konsumen terhadap setiap produk atau merek baru yang ditawarkan melalui periklanan. Aspek paling penting dari brand awareness adalah wujud informasi dalam benak di tempat yang pertama. Dalam penelitian Noor Fajar Rizky Nugrahanto (2015) dan Mila Azhari (2014) yang menyatakan adanya pengaruh kesadaran merek terhadap keputusan pembelian ulang

Keputusan Pembelian Ulang (Repurchase Decision) (skripsi dan tesis)

Pembelian ulang adalah dimana suatu produk dibeli ternyata memiliki kepuasan yan lebih dari merek sebelumnya, maka konsumen akhirnya memiliki keinginan untuk membeli lagi produk tersbut sesudah memiliki konsumen memiliki kesan yang baik dengan produk ataupun perusahaan. (Schiffman dan Kanuk dalam Lianda, 2009). Menurut Hawkins (2007) pembelian kembali sebagai suatu aktivitas membeli kembali yang dilakukan oleh konsumen terhadap suatu produk dengan merek yang sama tanpa diikuti oleh pertimbangan yang berarti terhadap produk tersebut. Terdapat dua hal yang dapat menyebabkan seseorang melakukan pembelian ulang suatu produk. Pertama, konsumen merasa puas dengan pembelian yang mereka lakukan. Kedua, pelanggan merasa tidak puas, tetapi mereka tetap melakukan pembelian kembali. Untuk kemungkinan kedua ini lazimnya dikarenakan mereka berpendapat bahwa biaya yang harus mereka habiskan untuk mencari, mengevaluasi, dan mengadopsi produk dengan merek lain (switching cost) terlalu tinggi. Menurut Kotler dan Amstrong (2018) terdapat dua faktor yang bisa mempengaruhi niat pembelian dan keputusan pembelian ulang. a. Faktor sikap orang lain, yaitu seseorang yang mempunyai arti penting dalam memberikan pemikirannya kepada seseorang, sehingga mungkin bisa mempengaruhi keputusan pembelian seseorang. b. Faktor situasional yang tidak diharapkan, yaitu konsumen mungkin membentuk niat pembelian berdasarkan faktor–faktor seperti pendapatannya, harga dan manfaat yang diharapkannya terhadap produk yang ingin dibeli, Tetapi kejadian yang tidak terduga bisa mengubah semuanya seperti ekonomi yang menurun, pesaing yang semakin banyak, pengaruh negatif seseorang dan lain-lain.

Negara Asal ( Country of Origin) (skripsi dan tesis)

Kotler dan Keller (2018) menyebutkan bahwa persepsi Country Of Origin adalah asosiasi mental dan keyakinan yang dipicu oleh suatu Negara. Pembeli memiliki sikap dan keyakinan yang berbeda terhadap merek dari berbagai Negara. Tjiptono (2014) menyatakan bahwa Country Of Origin efek merupakan evaluasi yang dilakukan konsumen atas produk tidak hanya didasarkan pada daya tarik dan karakteristik fisik produk saja, tetapi negara yang memproduksinya. Negara asal merek (country of origin) didefinisikan sebagai suatu negara dimana suatu merek itu diproses/diproduksi (Ermawati, 2009). Sedangkan Johnson and Boon (2004) secara jelas mendefinisikan Negara asal merek sebagai negara tempat produksi atau perakitan yang diidentifikasikan sebagai label ”dibuat di” atau ”di produksi di”. Ronkainen (2001) bahkan menyebutkan bahwa Negara asal merek dipahami sebagai efek yang muncul dalam persepsi konsumen yang dipengaruhi oleh lokasi dimana suatu produk dihasilkan. Setiap produk atau merek yang ada di dunia ini pasti memiliki suatu Negara asal merek (Rosenbloom, 2012). Negara asal merek memililki suatu pengaruh terhadap ekuitas dari suatu merek melalui penciptaan asosiasi suatu merek terhadap negara asal suatu merek itu diproduksi (Rosenbloom, 2011). Ramayah (2011) mengatakan bahwa persepsi konsumen terhadap Negara asal merek dipengaruhi faktor system politik, kebudayaan dan keekonomian negara itu sendiri yang membuat seorang konsumen menjadi sensitif. Pengetahuan konsumen mengenai negara asal merek dari suatu merek didukung oleh faktorfaktor berikut ini (Maheswaran, 2000):

a. Tingkat pendidikan konsumen,

Menurut Al-Sulaiti dan Baker (1998), semakin tinggi tingkat pendidikan, maka makin tinggi seseorang cenderung mempunyai wawasan lebih mengenai negara dan budaya lain, dan lebih menghargai aadanya perbedaan. Orang tersebut dapat lebih menerima produk-produk yang didatangkan dari luar negeri.

b. Kelas negara dan ekonomi,

Seseorang yang mempunyai kelas negara dan ekonomi yang tinggi diduga mempunyai sarana dan prasarana lebih untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, intensitas bepergian meningkat dan lebih terbuka dengan kultur lain. Hal tersebut menjadikan mereka lebih peka dan memperhatikan merek-merek internasional dan negara asal dari merek tersebut.

c. Level mempelajari budaya negara lain,

Bepergian ke luar negeri yang memiliki budaya yang beda merupakan suatu cara untuk mengetahui dan mempelajari budaya lain. Pada dasarnya, orang yang bepergian relatif lebih sadar dan mengamati budaya, produk dan ide-ide lain yang bukan dari daerah dimana orang tersebut berasal. Orang yang bepergian ke luar negeri, mempunyai pengetahuan terhadap merek-merek internasional dan Negara asal merek dari merek tersebut. Miranda (2012) menyimpulkan bahwa konsumen peduli tenang dari mana asal produk tersebut, bagaimana produk tersebut dibuat. Kedua faktor tersebut lalu dijadikan landasan seorang konsumen untuk mengevaluasi kualitas produk yang berakhir dengan pembelian. Dengan semakin banyaknya informasi yang dimiliki konsumen, maka efek dari negara asal akan semakin berkurang. Hal ini karena adanya rasionalitas konsumen akan kualitas suatu produk. Ketika konsumen hanya memiliki informasi lokasi produk itu dihasilkan, maka hanya itulah hal yang menjadi landasan konsumen berkeinginan untuk membeli suatu produk (Schweige, 2007). Negara asal berpengaruh terhadap keputusan beli juga bisa dikarenakan merek sudah mewakili negara asal. Di benak konsumen, merek sendiri sudah mewakili negara asal sehingga negara asal begitu diperhatikan lagi oleh konsumen. Banyak orang yang mengerti mengenai. Bagi konsumen negara asal begitu penting asalkan merek yang mereka gunakan terkenal dan terpercaya memiliki kualitas yang baik. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa negara asal berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian.

Loyalitas Merek (Brand Loyalty) (skripsi dan tesis)

Loyalitas merek memiliki hubungan antara konsumen dengan merek, yang dimana ukuran tersebut digunakan untuk memberikan sebuah gambaran bagaimana seorang kosumen pindah ke merek yang berbeda. Loyalitas merek menunjukkan sebauh relasi antara konsumen dengan merek yang dipilihnya harus diperhatikan dengan adanya pembelian kedua dan seterusnya yang dilakukan oleh konsumen. Menurut Mowen dalam Sengkey (2015), loyalitas berdasarkan pada perilaku pembelian yang terjadi pada suatu produk yang dihubungkan dengan adanya peningkatan jumlah pembelian. Konsep Loyalitas Merek dalam karya (Jacoby and Kyner, dalam Odin et al. 2001) menjelaskan tentang proses bagaimana konsumen memutuskan dan mengajukan usulan enam poin yaitu non-random, Perilaku respon, Menyatakan dari waktu ke waktu, Unit pengambilan keputusan, terkait dengan satu atau lebih merek alternatif dari satu merek dan Fungsi dari proses psikologis. Menurut Aaker (1997) loyalitas merek adalah suatu ukuran hubungan seorang konsumen terhadap sebuah merek. Ada beberapa pangkat atau lapisan dalam loyalitas merek :

a. Switches, pembeli tidak memiliki loyalitas, tidak minat pada merek perusahaan, berpindah-pindah, serta tidak lalai dalam memperhatikan perubahan terhadap harga.

b. Habitual buyer, pembeli yang kepuasan terhadap produk, atau bersifat berulang, sehingga tidak mempunyai alasan untuk berpindah. Setidaknya tidak terjadi ketidakpuasan.

c. Satiesfied buyer, pembeli yang merasa terpuaskan, namun mereka menanggung biaya peralihan (switching cost), biaya dalam waktu, uang, atau risiko kinerja berkaitan dengan tindakan perpindahan merek.

d. Likes the brand, pembeli yang benar – benar menyukai merek, memandang merek sebagai sahabat.

e. Committed buyer, konsumen yang loyal, mempunyai perasaan bangga dalam menjadi bagian dalam suatu merek.

 

Kualitas Persepsian (Perceived Quality) (skripsi dan tesis)

Menurut Aaker (dalam Kartajaya, 2010) Kualitas Persepsian merupakan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan yang sama dengan maksud yang diharapkannya. Persepsi terhadap kualitas mencerminkan perasaan konsumen yang secara menyeluruh mengenai suatu merek. Dalam konsep perilaku konsumen persepsi terhadap kualitas dari seorang konsumen adalah hal yang sangat penting, produsen bersaing dengan berbagai cara untuk dapat menghasilkan suatu produk atau jasa yang bagus menurut konsumen (Kotler, 2018). Menurut Kotler dan Keller (2018), adalah proses dimana kita memilih, mengatur, dan menerjemahkan masukan informasi untuk menciptakan gambaran yang berarti. Dalam pemasaran kecenderungan persepsi bisa dikatakan lebih penting dari realitas, karena berbekal dengan adanya persepsi konsumen dapat terpengaruhi walaupun setiap orang mempunyai persepsi pemahaman yang berbeda-beda

Asosiasi Merek (Brand Association) (skripsi dan tesis)

Kotler dan Keller (2018), asosiasi merek terdiri dari semua pikiran,perasaan, persepsi, citra, pengalaman, kepercayaan, dan sebagainya yang berkaitan dengan merek dan berhubungan dengan node merek. Sebuah merek adalah seperangkat asosiasi, biasanya terangkai dalam berbagai bentuk yang bermakna. Asosiasi dan pencitraan keduanya mewakili berbagai persepsi yang menunjukkan suatu kesan tertentu dalam kaitannya dengan memori terhadap sebuah merek. (Tjiptono 2014). Aaker (1997) menambahkan bahwa pada asosiasi merek ini terdapat tipetipe asosiasi, antara lain: a. Atribut produk b. Barang tak berwujud c. Manfaat bagi pelanggan d. Harga relatif e. Penggunaan / aplikasi f. Pengguna / pelanggan g. Orang terkenal h. Gaya hidup / kepribadian i. Kelas produk j. Para kompetitor, dan k. Negara / wilayah geografis

Kesadaran Merek (Brand awareness) (skripsi dan tesis)

Menurut Rossiter dan Percy dalam Mila (2014) konsep kesadaran merek yaitu kemampuan pembeli untuk mengidentifikasi (mengenal atau mengingat) suatu merek yang cukup detail untuk melakukan pembelian. Kesadaran merek merupakan langkah awal bagi setiap konsumen terhadap setiap produk atau merek baru yang ditawarkan melalui periklanan. Aspek paling penting dari brand awareness adalah bentuk informasi dalam ingatan di tempat yang pertama. Aaker (1997) berpendapat bahwa kesadaran merek adalah kesanggupan seseorang pembeli untuk mengenali dan mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan perwujudan kategori produk tertentu. Suatu mekanisme untuk memperluas pasar merek dengan meningkatkan kesadaran. Kemudian kesadaran tersebut dapat mempengaruhi persepsi konsumen dan berprilaku. Pada dasarnya perusahaan dituntut untuk dapat memberikan ingatan yang baik pada konsumen mengenai merek yang dipasarkan, sehingga pada saat konsumen akan melakukan pembelian, mereka akan langsung teringat dengan merek yang perusahaan pasarkan. Meningkatkan kesadaran adalah suatu mekanisme untuk memperluas pasar merek. Kesadaran juga mempengaruhi persepsi dan tingkah laku. Kesadaran merek merupakan key of brand asset atau kunci pembuka untuk masuk ke elemen lainnya. Jadi jika kesadaran itu sangat rendah maka hampir dipastikan bahwa ekuitas mereknya juga rendah (Durianto dkk dalam Amalia 2014).

Ekuitas Merek (Brand equity) (skripsi dan tesis)

Menurut Aaker (1991) Ekuitas merek adalah seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau melindungi nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa kepada konsumen. Terdapat lima dimensi dari Ekuitas Merek menurut Aaker (1991:15) yaitu:

1. Kesadaran Merek (Brand Awareness), adalah kemampuan pelanggan untuk mengenali atau mengingat kembali sebuah merek dan mengaitkannya dengan satu kategori produk tertentu.

2. Asosiasi Merek (Brand Association), berkenaan dengan segala sesuatu yang terkait dalam memori pelanggan terhadap sebuah merek.

3. Kualitas Persepsian (Perceived Quality),kualitas terhadap merek menggambarkan respons keseluruhan pelanggan terhadap kualitas dan keunggulan yang ditawarkan merek

4. Loyalitas Merek (Brand Loyalty), adalah komitmen kuat dalam berlangganan atau membeli kembali suatu merek secara konsisten di masa mendatang.

5. Aset-aset hak milik yang lain, mewakili aset seperti paten, dan saluran distribusi. Empat dimensi yang pertama tersebut merupakan aset-aset utama dari Ekuitas Merek, sedangkan aset-aset merek lainnya hanya sebagai pelengkap.

Kesesuaian merek diri berpengaruh terhadap loyalitas merek (skripsi dan tesis)

He et al., (2012) dalam Jinzhao Lu and Yingjiao Xu (2015) menyarankan bahwa perspektif identifikasi sosial dari loyalitas merek dapat berintegrasi dengan perspektif lain (misalnya nilai yang dirasakan) dalam menjelaskan kesetiaan merek. Demikian pula, telah ada peningkatan minat dalam mengadopsi keselarasan diri dalam studi loyalitas merek. Dalam studi mereka tentang produk mewah, Liu et al., (2012) Jinzhao Lu and Yingjiao Xu (2015) menemukan pengaruh positif pada kesesuaian diri pada sikap merek dan loyalitas merek berdasarkan pada identifikasi konsumen dengan merek. Amatulli dan Guido’s (2011) dalam Giovannini et al., (2015) menemukan konsumen dengan kesesuaian merek diri yang tinggi dalam mengonsumsi produk mewah akan lebih bisa menggambarkan citra diri mereka pada fashion. Hal ini berdampak pada peningkatan untuk mengkonsumsi atau melakukan pembelian ulang terhadap produk dengan merek yang sama sesuai karakteristik mereka.

Konsumsi yang mencolok berpengaruh terhadap loyalitas merek (skripsi dan tesis)

Konsumsi yang mencolok (conspicuous consumption) adalah pengeluaran yang

sia-sia untuk kesenangan semata dan hasrat untuk menunjukkan suatu posisi atau status

sosial yang lebih terpandang dibandingkan dengan kalangan-kalangan lain (Damsar.

2011). Dengan ini kaum leisure class hidup dalam aliran hedonisme yang lebih

mengedepankan pada kesenangan dan kenikmatan semata dan cenderung untuk

melakukan pemborosan (perilaku konsumtif). Semua itu menurut Veblen, merupakan

leisure class yang tumbuh dan berkembangnya melaui industri waktu luang (tempat

hiburan), seperti dunia konser, bioskop, tempat kuliner, fotografi, spa/salon kecantikan,

tempat wisata dan sebagainya. Leisure class ini akan menciptakan suatu budaya yang

ditandai oleh nafsu dan pola konsumsi yang mencolok (Damsar. 2011).

Menurut Giovannini et al., (2015) konsumsi produk mewah sering dikaitkan

dengan status konsumsi seperti keinginan untuk mendapatkan status sosial dan

loyalitas konsumen untuk merek fashion mewah. bisa terpenuhi melalui konsumsi

produk mewah yang mencolok agar memperoleh status sosial tertentu yang tidak

terbatas pada mereka yang kaya raya.

Sebuah merek dengan tingkat kesadaran yang tinggi serta citra yang baik lebih dapat meningkatkan loyalitas konsumen terhadap merek dan mengingatkan kepercayaan konsumen terhadap produk (Aaker 2012). Loyalitas merek merupakan komitmen konsumen kepada suatu merek dan pemasok berdasarkan sikap yang positif dan tercermin pada pembelian ulang yang konsisten (Aaker, 2013). Menurut (Esmaeilpour 2015), loyalitas merek telah dibagi menjadi dua kategori: kesetiaan perilaku dan sikap. Definisi perilaku dari loyalitas merek merupakan pembelian berulang dari suatu merek seperti jumlah pembelian dan jumlah pengalihan merek telah ditawarkan selama periode waktu. Kesetiaan perilaku saja tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana berbagai situasi pembelian merek yang sama oleh konsumen. Jadi, perilaku harus dihadiri dengan sikap positif. Kesetiaan sikap mengacu pada unsur-unsur kognitif yang kuat. Loyalitas afektif juga berdampak pada komitmen dalam hal beberapa nilai unik yang terkait dengan merek.

Pengaruh Kesadaran Merek Terhadap Kesesuaian Merek Diri (skripsi dan tesis)

Giovinni et al., (2015) menunjukkan bahwa tingkat kesadaran merek yang tinggi secara positif mempengaruhi kesesuaian merek diri. Ini berarti konsumen dengan kesadaran merek tinggi lebih cenderung memiliki motivasi kuat untuk membeli merek/produk yang dengannya mereka merasakan koneksi yang kuat. Individu dengan tingkat kesadaran merek yang tinggi juga memiliki tingkat motivasi konsumsi yang mencolok. Memahami hubungan kompleks antara kesadaran merek, dan kesesuaian merek diri sangat penting. Strategi pemasaran yang memposisikan merek fashion mewah sebagai simbol status yang mendukung atau mendorong gaya hidup atau nilai personal tertentu akan berguna saat menargetkan konsumen Generasi Y. Jenis strategi ini juga didukung oleh penelitian Sirgy (1985) dalam Giovannini et al., (2015) yang menentukan bahwa konsumen yang terdorong untuk merasakan hubungan dengan produk yang mereka beli cenderung mencari merek yang mencerminkan citra diri mereka.

Menurut Jinzhao Lu and Yingjiao Xu (2015), efek kesesuaian merek diri berasal dari kecocokan konsep diri konsumen dengan citra merek. Secara tradisional, citra merek dioperasionalkan sebagai “citra pengguna merek”. Kesamaan citra merek pengguna didefinisikan sebagai tingkat kesamaan yang dirasakan yang dilihat pembeli potensial dari pengguna tipikal merek dengan dirinya sendiri. Kesesuaian diri yang tinggi akan berarti bahwa konsumen merasakan pengguna dari merek tertentu sangat cocok dengan citranya

Kesadaran merek berpengaruh terhadap konsumsi yang mencolok (skripsi dan tesis)

Penelitian oleh Fernandez (2009) yang menyimpulkan bahwa konsumen muda lebih memilih untuk membeli pakaian merek karena mereka peduli dengan bagaimana rekan mereka memandang mereka. Agar lebih efektif terhubung dengan konsumen Generasi Y harus mengembangkan strategi yang meningkatkan kesadaran merek dengan memusatkan perhatian pada atribut produk yang membantu konsumen merasa percaya diri tentang membeli merek. Amatulli dan Guido (2011) dalam Giovannini et al., (2015) mengemukakan bahwa konsumen menginginkan produk mewah yang memiliki kepribadian sesuai dengan keinginan mereka. Produk mewah memberi konsumen kesempatan untuk mengekspresikan individualitas mereka. Chaudhuri dkk. (2011) dalam Giovannini et al., (2015) memusatkan perhatian pada perbedaan konsumen yang mencolok dalam studi mereka. Penelitian mereka mengaitkan ciri-ciri kepribadian serta motivasi sosial sebagai faktor pendukung untuk konsumsi yang mencolok. Perilaku konsumsi yang mencolok dipengaruhi oleh karakteristik konsumen, termasuk individualisme, visibilitas sosial, keinginan untuk keunikan, harga diri, dan materialisme.

Harga diri berpengaruh terhadap kesadaran merek (Skripsi dan tesis)

Demikian pula, dengan rendahnya harga diri dipandang sebagai sinyal tingkat tertentu dari “pengecualian sosial”, merek terkenal dapat dipilih atau disukai sebagai cara bagi konsumen dengan harga diri rendah untuk mendapatkan persetujuan sosial (Giovannini et al., 2015).

Menurut penelitian (Peters et al., 2011) kebutuhan untuk memiliki harga diri tinggi yang membuat generasi Y konsumen lebih cenderung sadar merek. Kebutuhan konsumen generasi Y untuk harga diri dapat membantu pemasar untuk lebih memasarkan merek mereka ke kelompok konsumen ini. Pesan iklan yang menggunakan pendekatan peer-to-peer, akan mendukung hubungan yang kuat antara kebutuhan harga diri dan kesadaran merek yang tinggi.

kesadaran diri publik berpengaruh terhadap kesadaran merek (skripsi dan tesis)

Kesadaran diri publik mencerminkan orang-orang menggambarkan diri mereka sendiri dan bagaimana orang lain mempersepsikan mereka. Konsumen yang sangat sadar publik cenderung terlalu khawatir tentang penampilan dan mode mereka Quoquab et al., (2014). Menurut Casidy et al., (2015) bahwa tingkat kesadaran publik yang kuat secara signifikan terkait dengan kesadaran fashion terhadap merek terkenal dan mode pakaian dapat digunakan untuk meningkatkan citra diri sosial. Namun, meskipun sejumlah besar studi telah meneliti kesadaran diri publik dari perspektif psiko-sosiologis, sampai saat ini sedikit penelitian telah dikhususkan untuk  memeriksa kesadaran publik terhadap perilaku konsumen (Workman dan Seung-Hee, 2011).

Hasil penelitian Giovannini et al., (2015) menunjukkan bahwa tingkat kesadaran

diri publik pada individu secara positif mempengaruhi kesadaran merek mereka.

Karena itu semakin banyak individu yang melihat pakaian yang dikenakan maka

tingkat kesadaran merek mereka tinggi. Kesadaran merek mengacu pada keinginan

konsumen untuk membeli produk merek terkenal. Dengan kata lain, konsumen dengan

kesadaran merek yang kuat cenderung membeli produk merek yang terkenal, mahal,

dan sangat dipasarkan.

Loyalitas Merek (Brand Loyalty) (skripsi dan tesis)

Menurut Aaker (2013) menjelaskan bahwa kesetian merek adalah suatu indikator hubungan pelanggan pada suatu merek. Loyalitas merek merupakan inti dari Brand Equity yang menjadi gagasan dalam pemasaran, karena hal ini digambarkan sebagai perilaku pembelian berulang terhadap suatu merek tertentu yang dilakukan secara konsisten untuk jangka waktu relatif lama. Kotler & Keller (2013) dengan pengelolaan dan pemanfaatan yang benar, loyalitas merekdapat menjadi aset strategis bagi perusahaan. Loyalitas merek memiliki 5 tingkatan, yaitu:

1. Switcher/ Price Buyer (pembeli yang berpindah-pindah)

Merupakan tingkat loyalitas yang paling besar.Dalam hal ini merek memegang peranan yang kecil dalam keputusan pembelian, dimana konsumen lebih memperhatikan harga dalam pembelian.

2. Habitual Buyer (pembeli yang bersifat kebiasaan)

Merupakan pembeli yang puas dalam mengkonsumsi suatu produk atau minimal konsumen tidak mengalami kekecewaan. Tidak ada alasan yang kuat baginya untuk berpindah merek, terutama jika peralihan itu membutuhkan usaha atau suatu tambahan biaya. Jadi, konsumen membeli suatu merek produk karena kebiasaan.

3. Statisfied Buyer (pembeli yang puas dengan biaya peralihan)

Merupakan kategori yang puas dengan merek yang mereka konsumsi. Namun mereka dapat saja berpindah merek dengan memikul biaya peralihan (Switching cost) seperti waktu, biaya, atau resiko yang timbul akibat biaya peralihan tersebut.

4. Liker the Brand (menyukai merek)

Merupakan kategori pembeli yang benar-benar menyukai merek tersebut.  Rasa suka didasari oleh asosiasi yang berkaitan dengan simbol, rangkaian pengalaman merek, atau persepsi kualitas yang tinggi.

5. Commited Buyer (pembeli yang berkomitmen)

Merupakan kategori pelanggan yang setia. Mereka mempunyai kebanggaan dalam menggunakan suatu merek. Merek tersebut bahkan menjadi sangat penting bagi mereka baik dari segi fungsinya maupun sebagai ekspresi mengenai siapa mereka sebenarnya. Ciri-ciri yang tampak pada kategori ini adalah tindakan pembeli untuk merekomendasikan atau mempromosikan merek yang mereka gunakan kepada oranglain.

Kesadaran Merek (Brand Consciousness) (Skripsi dan tesis)

Kesadaran merek artinya kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu (Kotler dan Keller, 2016). Kesadaran merek terdiri dari kinerja pengakuan merek dan penarikan merek kembali. Pengakuan merek adalah kemampuan konsumen untuk mengenal suatu merek ketika diberikan pilihan merek sebagai isyarat. Penarikan
merek kembali adalah kemampuan konsumen untuk mengingat merek dari ingatan ketika diberikan kategori produk, kebutuhan terpenuhi oleh kategori, atau pembelian atau penggunaan situasi sebagai petunjuk (Kotler dan Keller, 2016).
Menurut Aaker (2013) kesadaran merek menyediakan sejumlah besar keunggulan kompetitif yaitu :
1. Kesadaran menyediakan merek dengan rasa keakraban/dikenal, dan konsumen biasanya menyukai sesuatu hal/merek yang dikenal dan akrab dengan dirinya.
2. Kesadaran merek dapat menjadikan sinyal kehadiran, komitmen dan atribut
yang dapat menjadi sangat penting bagi konsumen untuk mempertahankan
posisi merek di pasaran.
3. Keunggulan merek akan menentukan apabila konsumen mengingat

Harga Diri (Self Esteem) (skripsi dan tesis)

Menurut Kochar (2018) mendefinisikan harga diri sebagai tingkat dimana
seseorang tidak hanya menghargai kemampuannya tetapi juga menghargai dirinya sendiri. Ini membantu mempersiapkan individu untuk memenuhi harapan dirinya tentang penerimaan kekuatan dan kesuksesan pribadi. Pyszczynski et al., (2004) dalam Giovannini et al., (2015) menemukan bahwa harga diri berpengaruh pada cara orang bertindak dan berfungsi sebagai motivasi untuk beberapa perilaku mereka. Harga diri juga dipandang sebagai tingkat kebutuhan manusia. Oleh karena itu, ketika seseorang
mengalami tingkat harga diri yang rendah, dia akan cenderung untuk mengadopsi /menjalankan aktivitas yang dapat membantu meningkatkan tingkat harga diri mereka. Studi tentang persepsi dan perilaku remaja terhadap merek (Isaksen dan Roper 2012 dalam Giovannini et al., 2015) menemukan bahwa, sebagai akibat tekanan teman sebaya dan pentingnya kesesuaian atau kesetaraan di antara remaja yang menggunakan
barang mewah dapat mengakibatkan terjadinya penerimaan sosial dalam hal
mendapatkan pertemanan dan harga diri. Harga diri konsumen mempengaruhi
konsumen untuk membeli barang secara impulsif, karena ini adalah cara bagi
konsumen untuk mendapatkan penerimaan dengan orang lain dan kepuasan dengan diri mereka sendiri.

Kesadaran Diri Publik (Public Self Consiciousness) (skripsi dan tesis)

Fenigstein (1979) dalam Casidy et al., (2015) mengidentifikasi dua jenis
kesadaran diri yaitu kesadaran diri pribadi dan kesadaran diri publik. Kesadaran diri pribadi mencerminkan aspek-aspek dari diri yang tidak dapat dilihat oleh orang lain sedangkan kesadaran diri publik mencerminkan orang-orang menggambarkan diri mereka sendiri dan bagaimana orang lain mempersepsikan mereka.
Konsumen yang memiliki kesadaran publik cenderung terlalu khawatir tentang
penampilan dan mode mereka (Quoquab et al., 2014). Studi sebelumnya telah
menemukan bahwa tingkat kesadaran publik yang kuat secara signifikan terkait dengan kepemimpinan opini fashion keterlibatan mode, dan kemampuan mode yang dirasakan memberikan lebih lanjut bukti untuk gagasan bahwa mode pakaian dapat digunakan
untuk meningkatkan citra diri sosial. Namun, meskipun sejumlah besar studi telah meneliti kesadaran diri publik dari perspektif psiko-sosiologis, sampai saat ini sedikit penelitian telah dikhususkan untuk memeriksa kesadaran publik terhadap perilaku konsumen (Workman dan Lee, 2013).

Generasi Y (skripsi dan tesis)

Setiap generasi pada zamannya mempunyai ciri dan karakteristik masing-masing.
Beragam kesamaan atau pun perbedaan di dalamnya layaknya dapat dijadikan sebagai
gambaran umum atas bagaimana mereka berperilaku. Salah satu generasi yang paling
mencolok karena terkenal dengan keragaman yang berada di dalamnya adalah
Generation Y atau yang biasa dikenal dengan “Gema Boomers” atau pun “Millennials”
(Solomon, 2009).Menurut Nickell (2012) dalam Septiari dan Kusuma (2016), generasi
milenial disebut sebagai generasi Y atau Gema boomers. Kelompok ini terdiri dari
individu yang lahir antara tahun 1980 dan 2000, datang dalam usia milenium baru dan
dianggap sebagai kelompok usia terbesar kedua di belakang baby boomer, yang lahir
antara 1946 dan 1964.
Kebanyakan dari “Gema Boomers” ini telah memasuki dunia perkuliahan atau pun
dunia kerja. Mereka juga sadar akan teknologi dan menggunakan email, telpon selular,
dan juga SMS untuk berkomunikasi. Konsumen Generasi Y tergolong sangat sadar
merek dan bersedia untuk “memperdagangkan tingkat kualitas dan rasa yang lebih
tinggi” dengan berinvestasi pada produk mewah menurut Grotts and Johnson (2012);
Silverstein dan Fiske (2008) dalam Giovannini et al., (2015).
Menurut Eastman dan Liu (2012) dalam Giovannini et al., (2015), generasi Y juga
menampilkan tingkat materialisme yang tinggi, tentang pentingnya memiliki produk
bermerek dan cara memilih merek yang disukai berdasarkan karakteristiknya. Maka
dapat dikatakan bahwa generasi Y sebagai generasi yang beragam berdasarkan sifat
dan perilaku pada saat menentukan produk yang disukai. Generasi Y tumbuh pada
dunia yang selalu terhubung selama 24 jam sehingga informasi bagi generasi Y adalah
hal yang cenderung mudah dan cepat didapatkan. Hal tersebut mempengaruhi cara
mereka mencari informasi, memecahkan masalah, cara berkomunikasi dan tentunya
berpengaruh pada perilaku pembelian.

Perilaku Konsumen dalam Pengambilan Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Perilaku konsumen ini sangat penting untuk diperhatikan karena akan berhubungan
dengan strategi apa yang akan digunakan oleh perusahaan untuk mempengaruhi
perilaku mereka. Para konsumen sangat beragam dilihat dari segi usia, pendapatan,
tingkat pendidikan dan selera. Maka untuk mengenali perilaku seorang konsumen
sangatlah tidak mudah, sehingga sangat penting bagi para pemasar untuk mempelajari
persepsi, preferensi, dan perilakunya dalam berbelanja.
Menurut Kotler dan Keller (2016:179), mendefinisikan bahwa perilaku konsumen
adalah “perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan
organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau
pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka.” Kotler dan Keller
(2016:187) menjelaskan proses pengambilan keputusan oleh konsumen dipengaruhi
oleh beberapa faktor yang berbeda namun saling terikat.
Pada gambar 2.1, bahwa proses pengambilan keputusan merupakan proses
psikologis dasar yang memainkan peranan penting dalam memahami bagaimana
konsumen secara aktual mengambil keputusan pembelian. Titik awal untuk memahami
perilaku konsumen adalah model rangsangan-tanggapan. Pemasar bertugas untuk
memahami apa yang terjadi dalam kesadaran konsumen antara datangnya rangsangan
luar dan keputusan pembelian akhir. Empat proses psikologis penting yaitu motivasi,
persepsi, pembelajaran dan memori secara fundamental turut mempengaruhi tanggapan
konsumen terhadap berbagai rangsangan pemasaran.

Laporan Keuangan Bank Umum (skripsi dan tesis)

Dalam rangka peningkatan transparasi kondisi keuangan, berdasarkan
Peraturan Bank Indonesia Nomor: 3/22/PBI/2001, bank wajib menyusun
dan menyajikan laporan keuangan dengan bentuk dan cakupan yang salah
satunya adalah laporan keuangan publikasi bulanan. Laporah keuangan
publikasi bulanan ad adalah laporan keuangan yang disusun berdasarkan
laporan bulanan bank umum yang disampaikan bank kepada Bank
Indonesia dan dipublikasikan setiap bulan. Laporan bulanan bank umum
merupakan laporan keuangan bank secara individu yang merupakan
gabungan antar kantor pusat bank dengan seluruh kantor bank.
Pengumuman dilaksanakan oleh bank melalui Bank Indonesia
berdasarkan dara Laporan Bulanan Bank Umum (LBBU) yang
disampaikan kepada Bank Indonesia yang telah direklasifikasi oleh Bank
Indonesia berdasarkan standar laporan sebagaimana diatur dalam
Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan dan Peruaturan Bank Indonesia
yang berlakuLaporan Keuagan publikasi bulanan bank umum sekurangkurangnya
meliputi:
1. Neraca
2. Laporan Laba Rugi

Pengertian dan Fungsi Bank Umum (skripsi dan tesis)

Pengertian bank menurut UU No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998 adalah:
a. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat
dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam
bentuk kreditdan atau bentuk-bentuk lainnyadalam rangka meningkatlan
taraf hidup rakyat banyak
b. Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam
kegiatannya memberikan jasa dalam lau lintas pembayaran.
Kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh bank umum menurut UU No.7
Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan UU No.10 Tahun 1998
tentang Perbankan adalah sebagai berikut:
a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro,
deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk
lainnya yang dipersamakan dengan itu.
b. Memberikan kredit
c. Menerbitkan surat pengakuan utang
d. Membeli, menjual atau menjamin atas risko sendiri maupun untuk
kepentingan dan atas perintah nasabahnya
e. Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk
kepentingan nasabahnya
14
f. Menempatkan dana pada, menjamin dana dari, atau meminjamkan dana
kepada bank lain, baik dengan menggunakna surat, saran telekomunikasi
maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana lainnya
g. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan
perhitungan dengan atau antara pihak ketiga
h. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga
i. Melakukan kegiatan penitipan utnuk kepentingan pihak lain berdasarkan
suatu kontrak
j. Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya
dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek
k. Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali
amanat
l. Menyediakam pembiayaan dan atau melakukan kegiatan lain
berdasarkan prinsip syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan
oleh Bank Indonesia
m. Melakukan kegiatan lain, misalnya: kegiatan dalam valuta asing;
melakukan penyertaan modal pada bank atau perusahaan lain di bidang
keuangan seperti: sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, dan
asuransi; dan melaukan penyertaan modal sementara untuk mengatasi
akibat kegagalan kredit.
n. Kegiatan lain yang lazin dilakukan oleh bank sepanjang tidak
bertentangan dengan undang-undang.

Pendekatan Loyalitas Merek (skripsi dan tesis)

Menurut Setiadi (2003) terdapat dua pendekatan yang dapat dipakai untuk mempelajari loyalitas merek, yaitu: (1) pendekatan instrumental atau pendekatan behavioral yang memandang bahwa pembelian yang konsisten sepanjang waktu adalah menunjukkan loyalitas merek. Jadi, pengukuran bahwa seorang konsumen itu loyal atau tidak dilihat dari frekuensi dan konsistensi perilaku pembelian terhadap satu merek. Pengukuran loyalitas konsumen dengan pendekatan ini menekankan pada perilaku masa lalu. (2)  pendekatan yang didasarkan pada teori kognitif yang mana loyalitas dinyatakan sebagai komitmen seorang konsumen terhadap merek yang mungkin tidak hanya direfleksikan oleh perilaku pembelian yang terus menerus. Konsumen mungkin sering membeli merek tertentu karena harganya murah, dan ketika harganya naik, konsumen beralih ke merek lain.

Brand Loyalty (Loyalitas Merek) (Skripsi dan tesis)

 

 Definisi Loyalitas merek memiliki pengertian sikap yang menyenangi terhadap suatu merek yang direpresentasikan dalam pembelian yang konsisten terhadap merek tersebut sepanjang waktu (Setiadi, 2003). Sedangkan Sumarwan (2003) mendefinisikan brand loyalty sebagai sikap positif konsumen terhadap suatu merek, konsumen memiliki keinginan kuat untuk membeli ulang merek yang sama pada saat sekarang maupun masa mendatang.

Definisi Brand Trust (Kepercayaan Terhadap Merek) (skripsi dan tesis)

Kepercayaan memiliki peran penting dalam pemasaran industri. Dinamika lingkungan bisnis yang cepat berubah memaksa perusahaan untuk mencari cara memasarkan produknya dengan lebih kreatif dan fleksibel untuk beradaptasi, salah satunya adalah menciptakan sebuah kepercayaan merek karena kepercayaan merupakan salah satu aset penting dalam menciptakan loyalitas. Ballestar yang dikutip dari Prawitowati (2008) mendefinisikan brand trust sebagai perasaan aman yang diperoleh konsumen dalam interaksinya dengan merek yang didasarkan pada persepsi bahwa merek tersebut dapat diandalkan dan memenuhi kepentingan serta keselamatan konsumen. Trust didefinisikan sebagai persepsi konsumen mengenai reliabilitas yang didasarkan pada pengalaman atau serangkaian interaksi yang dikarakteristikan oleh konfirmasi dari harapan atas kinerja produk dan kepuasan. Lau dan Lee mendefinisikan brand trust sebagai keinginan pelanggan untuk bersandar pada sebuah merek dengan resiko-resiko yang dihadapi karena ekspektasi terhadap merek itu akan menyebabkan hasil yang positif (dalam Tjahyadi, 2006)

Sepuluh Perintah Emotional Branding (skripsi dan tesis)

 Sepuluh perintah emotional branding berikut ini mengilustrasikan perbedaan antara konsep kepedulian merek yang tradisional dengan dimensi emosional yang diperlukan oleh merek untuk mengekspresikan dirinya sehingga menjadi disukai (Gobe, 2005).
1. Dari konsumen menuju manusia Konsumen membeli, manusia hidup. Dalam lingkaran komunikasi konsumen sering dianggap musuh secara tak langsung. Hal yang baik digunakan dalam menumbuhkan kesan positif di benak konsumen adalah dengan melakukan pendekatan yang didasari pada hubungan saling menghormati karena konsumen merupakan sumber informasi terbaik bagi perusahaan.
2. Dari produk menuju ke pengalaman Produk memenuhi kebutuhan, pengalaman memenuhi hasrat. Pembelian memenuhi kebutuhan melalui harga dan kenyamanan. Bagi produk yang sudah mapan, untuk menarik dan mempertahankan minat konsumen dibutuhkan penjualan yang inovatif, iklan, dan peluncuran produk baru yang dapat menangkap imajinasi konsumen. Sebuah produk dapat menjadi baru dan lama pada saat yang bersamaan jika produk tersebut terus mempunyai relevansi emosional terhadap konsumen.
3. Dari kejujuran menuju kepercayaan Kejujuran diharapkan. Kepercayaan bersifat melekat. Oleh karena itu, untuk memperoleh kejujuran dan kepercayaan dibutuhkan perjuangan yang keras. Keperayaan merupakan salah satu nilai pokok dari suatu  merek yang memerlukan usaha keras dari sebuah perusahaan. Salah satu gerakan terkuat dalam membangun kepercayaan adalah pelaksanaan “tidak adanya pertanyaan yang ditanyakan” kembali (konsumen dengan mudahnya membeli kembali tanpa adanya pertanyaan mengenai kondisi produk). Strategi ini memberikan kenyamanan sepenuhnya bagi para konsumen yang mana mereka bisa mendapatkan manfaat dari pilihan mereka sendiri.
4. Dari kualitas menuju preferensi Saat ini kualitas dengan harga yang tepat sudah menjadi hal biasa. Preferensi menciptakan penjualan. Kualitas merupakan hal yang penting bagi perusahaan untuk bertahan dalam dunia bisnis yang sebaiknya diwujudkan, sedangkan preferensi terhadap merek merupakan hubungan yang nyata dengan kesuksesan. Levi’s adalah suatu merek yang berkualitas, nmun kini ia telah kehilangan status preferensinya.
5. Dari kemasyuran menuju aspirasi Menjadi terkenal bukan berarti dicintai. Kemasyuran merupakan apa yang menjadikan sesuatu terkenal. Untuk menjadi sesuatu yang didambakan maka sesuatu tersebut harus diekspresikan sesuai aspirasi konsumen.
6. Dari identitas menuju kepribadian Identitas adalah pengakuan. Kepribadian adalah mengenai karakter dan kharisma. Identitas adalah penggambaran dari karakter dan kharisma. Identitas merek adalah sesuatu yang unik, dan mengekspresikan suatu pembedaan. Kepribadian merek adalah hal yang sangat spesial yang  merepresentasikan karakter kharismatik dan mendorong terjadinya tanggapan emosional.
7. Dari fungsi menuju ke perasaan Fungsionalitas hanya mengacu pada kegunaan dan kualitas dari produk saja, sedangkan desain penginderaan adalah mengenai pengalaman. Fungsionalitas akan menjadi usang apabila penampilan dan kegunaannya tidak didesain berdasarkan pertimbangan perasaan konsumen. Banyak perusahaan yang mendesain produk mereka hanya pada pemaksimalan fungsi produk saja, bukan pada pembentukan pengalaman bagi para konsumennya. Desain adalah tentang solusi manusia, atas dasar inovasi yang menghadirkan suatu rangkaian pengalaman panca indera yang baru
. 8. Dari ubikuitas menuju keberadaan Ubikuitas (keberadaan yang sangat umum) dapat dilihat, sedangkan kehadiran emosional dapat dirasakan. Merek dapat membentuk hubungan yang permanen dan kuat dengan manusia jika merek tersebut disiasatkan menjadi sebuah gaya hidup. 9. Dari komunikasi menjadi sebuah percakapan Komunikasi adalah pemberitahuan, sedangkan percakapan adalah berbagi. Banyak perusahaan yang melakukan komunikasi satu arah, yakni seperti melakukan pengiklanan dengan mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit demi menarik perhatian konsumen. Padahal dengan sebuah dialog/percakapan dapat merepresentasikan hubungan dua arah antara konsumen dengan perusahaa
 10. Dari pelayanan menuju suatu hubungan Pelayanan adalah menjual, sedangkan hubungan adalah penghargaan. Pelayanan adalah apa yang menghasilkan, sedangkan hubungan adalah orang-orang yang berusaha untuk memahami dan menghormati konsumen. Menurut Morrison dan Crane dalam Mutyalestari (2009) pada umunya apabila berbicara tentang emotional branding, maka sebagian besar akan membahas ke arah product brand (tangibles) dan service brand (intangibles). Namun dalam pelayanan marketing, permainan emosi merupakan kunci dalam keputusan dan perilaku konsumsi konsumen.
Berdasarkan teori perilaku emosi Ajzen, dan O’Shaughnessy dalam Mutyalestari (2009) membuat kerangka untuk memahami bagaimana konsumen melihat produk dan jasa saat proses keputusan pembelian terdapat enam kriteria, yaitu:
1. Technical Criteria Berbicara mengenai elemen fungsional dari sebuah produk. Jika tambahan fungsi dan fitur produk dapat membuat pengoperasian menjadi mudah dilaksanakan, maka produk tersebut akan diterima secara luas atas barang pengganti lainnya. Technical criteria, meliputi desain produk, atmosfir toko, dan perlengkapan toko.
2. Economic/Sacrifice Criteria Manfaat yang diterima dibandingkan pengeluaran (biaya) dan pemakaian uang.
 3. Legalistic Criteria Meliputi pemenuhan produk atau jasa terhadap keinginan dan permintaan konsumen.
4. Integrative Criteria Menciptakan mimpi pada pikiran konsumen bahwa orang-orang suka melihat keindahan suatu objek. Apabila mereka melihat sesuatu yang menarik hati, mereka akan mengasosiasikannya terhadap produk tersebut dan mereka akan semakin menyukainya sehingga memberikan mereka rasa penerimaan di masyarakat dengan keyakinan yang lebih besar misalnya kepercayaan sosial, status, visi, fashion produk atau jasa dalam satu lingkungan.
5. Adaptive Criteria Sesuatu yang meminimalisir resiko, seperti kekhawatiran, ketidakpastian, dan penyesalan saat membeli produk atau jasa.
6. Intrinsic Criteria Menyoroti fakta bahwa produk harus menarik rasa pelanggan. Pelanggan didorong oleh perasaan, penglihatan, pendengaran, dan penciuman. Mereka ingin mengasosiasikannya melalui kesenangan, keindahan, kebanggaaan, dan kepercayaan diri. Hal itu berupa bentuk produk, perasaan, wangi/bau, dan musik.

Empat Pilar Emotional Branding (skripsi dan tesis)

Marc gobe (2005) menerangkan konsep dasar dari proses emotional branding didasarkan pada empat pilar penting, yakni:
(1) Hubungan (relationship)
Adalah menumbuhkan ikatan yang mendalam dan menunjukkan rasa hormat pada jati diri konsumen yang sebenarnya serta memberikan mereka pengalaman emosional. Gagasan inti untuk berhubungan dengan konsumen dan melayani konsumen sebagai makhluk yang nyata, hidup, bernapas, dan kompleks akan selalu mengalahkan laju program pemasaran jangka pendek dan akan selalu mejadi kunci dalam menciptakan suatu merek yang mempunyai keberadaan emosional jangka panjang dalam kehidupan masyarakat. Dengan berdasarkan pada konsep hubungan ini, maka suatu perusahaan akan dapat mengetahui posisi merek (positioning) dari produk yang dikeluarkannya karena hal tersebut sangatlah penting untuk mengidentifikasi bagaimana perasaan pelanggan mengenai suatu merek dalam konteks pengertian merek tersebut bagi perusahaan dan bagaimana cara mewujudkan hubungan antara kedua hal tersebut serta di manakah hubungan tersbut dapat terputus.
(2) Pengalaman Panca Indera (Sensorial Experience)
Merupakan suatu area yang sangat besar yang belum diekplorasi sepenuhnya dan juga merupakan tambang emas yang potensial untuk merek. Menyediakan konsumen suatu pengalaman panca indera dari suatu merek adalah suatu kunci untuk mencapai jenis hubungan emosional dengan merek yang menimbulkan kenangan manis serta akan menciptakan preferensi merek dan menciptakan loyalitas. Sejalan dengan meningkatnya penawaran atas produk-produk yang semakin serupa satu sama lain, elemen panca indera dapat menjadi faktor kunci yang dapat membedakan satu pengalaman merek dengan merek lainnya. Senada dengan yang diungkapkan oleh Holbrook dan Hirschman  bahwa banyak produk yang menampilkan stimulus-stimulus nonverbal yang penting yang harus dilihat, didengar, dicicipi, dirasakan atau dibaui untuk dapat diapresiasikan dengan tepat yang pada akhirnya dampak dari konsumsi tercermin dalam kesenangan yang diperoleh seseorang dari suatu produk atau kegembiraan yang ditawarkan dan kepuasan yang ditimbulkan oleh produk
 (3) Imajinasi (Imagination)
Merupakan salah satu pilar penting dalam emotional branding dengan menetapkan desain merek dalam upaya membuat proses emotional branding menjadi nyata. Pendekatan imajinatif dalam desain produk, kemasan, iklan, dan situs web memungkinkan merek menembus batas atas harapan dan meraih hati konsumen dengan cara yang baru dan segar.
(4) Visi
Adalah faktor utama kesuksesan merek dalam jangka panjang. Merek berkembang melalui suatu daur hidup yang alami dalam pasar dan untuk menciptakan serta memelihara keberadaannya dalam pasar saat ini, merek harus berada dalam kondisi seimbang sehingga dapat memperbaharui dirinya kembali secara terus menerus. Emotional branding ini merupakan faktor emosional yang dirasakan konsumen, seperti kepribadian merek, kesukaan terhadap merek, dan pengalaman terhadap merek sangat dipengaruhi oleh kepuasan saat menggunakan suatu merek yang akan menimbulkan kepercayaan terhadap merek dan mengakibatkan repeat buying dan recommended buying. Faktor emosional dan merek memiliki hubungan erat seperti yang dikatakan oleh Gobe (2005) bahwa emosional memiliki maksud bagaimana suatu merek menggugah perasaan dan emosi konsumen, bagaimana suatu merek menjadi hidup bagi masyarakat dan membentuk hubungan yang dalam dan tahan lama

Definisi Emotional Branding (skripsi dan tesis)

Emotional berasal dari kata emosi yang menurut William James adalah kecenderungan untuk memiliki perasaan yang khas bila berhadapan dengan objek tertentu dalam lingkungannya (Asi, 2010). Emosi merupakan perasaan atau afeksi yang timbul ketika seseorang sedang berada dalam suatu keadaan atau suatu interaksi yang dianggap penting olehnya, terutama kesejahteraan dirinya (Campos, dkk dalam Asi, 2010). Sedangkan branding adalah brand atau merek. Jadi secara harfiah, emotional branding adalah pembentukan merek dengan nuansa emosional. Secara luas dapat juga didefinisikan sebagai menciptakan hubungan emosional antara konsumen dengan perusahaan melalui produknya. Kata “emosional” di sini adalah bagaimana suatu merek menggugah perasaan dan emosi konsumen, bagaimana suatu merek menjadi hidup bagi masyarakat, dan membentuk hubungan yang mendalam dan tahan lama. Emotional branding adalah saluran di mana orang secara tidak sadar berhubungan dengan perusahaan dengan produk dari perusahaan tersebut  dalam suatu metode yang mengagumkan secara emosional. Emotional branding ini merupakan strategi yang efektif digunakan karena kita pada umumnya merespon pengalaman hidup kita secara emosional dan secara alami memproyeksikan nilai-nilai emosional kita ke dalam objek-objek di sekitar kita. Pada dasarnya emotional branding didasarkan pada rasa percaya yang unik yang terjalin erat dengan konsumen. Pendekatan ini meningkatkan pembelian yang hanya sekedar dipicu oleh kebutuhan menjadi pembelian yang muncul dari alam hasrat. Misalnya, komitmen pada sebuah produk atau institusi, kebanggaan yang kita rasakan saat menerima hadiah cantik dari merek yang kita senangi, atau pengalaman berbelanja yang positif dalam sebuah lingkungan yang menakjubkan (Gobe, 2005)

Indikator Dari Experiential Marketing (skripsi dan tesis)

 1) Mengindera (Sense)
 Sense merupakan tipe experience yang muncul untuk menciptakan pengalaman panca indera melalui penglihatan, pendengaran, sentuhan, rasa, dan bau (Schmitt dalam Indrakusuma, 2011). Namun, indikator sense yang relevan digunakan dalam penelitian ini adalah pendengaran dan penglihatan. Tujuan sense secara keseluruhan adalah menyediakan kesenangan estetika melalui rangsangan terhadap kelima indera manusia (Nurrohman, 2011). Sense yang diciptakan oleh suatu organisasi ini dapat memberikan dampak positif ataupun negatif terhadap kepuasan konsumen akan suatu produk atau jasa, yang kemudian munculah rasa kepercayaan konsumen terhadap suatu merek/produk tertentu, dan berakhir pada loyalitas. Dengan adanya loyalitas mungkin konsumen tidak akan berpikir lagi mengenai harga yang ditawarkan karena berapa pun harganya, konsumen pasti akan bayar.
 2) Perasaan (Feel)
 Feel bertujuan memberikan pengalaman yang dimulai dari suasana hati yang lembut sampai pada emosi yang kuat terhadap kesenangan dan kebanggan (Schmitt dalam Indrakusuma, 2011). Pemasaran feel ini merupakan strategi pendekatan perasaan (afeksi) dan implementasi  terhadap perusahaan dan merek melalui perangkat penyedia pengalaman (experiences providers) dengan tujuan untuk mempengaruhi mood (suasana hati), perasaan dan emosi yang ditimbulkan oleh events (peristiwa), orang yang melakukan peristiwa, dan objek (suatu hal yang telah dilihat). Perangkat penyedia pengalaman yang dimaksud berupa:
 ♦ Komunikasi : Seperti iklan, humas, laporan tahunan,brosur, dan laporan berkala.
♦ Identitas Visual/Verbal : Berupa nama, logo, tanda, dan transportasi.
♦ Kehadiran Produk : Rancangan produk, kemasan.
♦ Merek Bersama : Pemasaran secara khusus (event) dan pensponsoran, aliansi dan kemitraan,perlisensian,serta penempatan produk dalam TV.
♦ Lingkungan : Ruang eceran dan publik, kamar dagang, bangunan perusahaan, pabrik, dan interior lain.
♦ Situs Web dan Media Elektronik : Situs korporat, situs produk dan jasa,email, iklan.
 ♦ Orang : CEO, tenaga penjual.
 3) Berpikir (Think)
Think bertujuan untuk menciptakan suatu pemecahan masalah yang mengajak konsumen untuk berpikir kreatif (Schmitt dalam Indrakusuma, 2011). Think ini mempengaruhi pelanggan agar terlibat dalam pemikiran yang kreatif dan dapat menciptakan kesadaran melalui proses berfikir yang berdampak pada evaluasi ulang terhadap perusahaan, produk, dan jasa. Sebagai contoh motor Yamaha misalnya dengan menggunakan iklan yang dapat memberikan gambaran bagi konsumen, citra yang positif yang dapat membangkitkan kemampuan untuk membeli motor Yamaha. Slogan “Semakin di depan” motor Yamaha dapat membangkitkan pikiran konsumen untuk selalu memilih motor Yamaha. Motor Yamaha lebih baik dari pada yang dijanjikan. Menurut Schmitt dalam Nurrohman (2011) kampanye think dapat diciptakan melalui: (1) Kejutan (Surprise) Kejutan merupakan suatu hal yang penting dalam membangun pelanggan agar mereka terlibat dalam cara berpikir yang kreatif. Kejutan dihasilkan ketika pemasar memulai dari sebuah harapan. Kejutan harus bersifat positif, yang berarti pelanggan mendapatkan lebih dari yang mereka minta, lebih menyenangkan dari yang mereka harapkan, atau sesuatu yang sama sekali lain dari yang mereka harapkan yang pada akhirnya dapat membuat pelanggan merasa senang. Misalnya apa yang diberikan oleh smartphone dari Nokia mampu memberikan lebih dari yang dijanjikan. Dalam experiential marketing, unsur surprise menempati hal yang sangat penting karena 16 dengan pengalaman-pengalaman yang mengejutkan dapat memberikan kesan emosional yang mendalam dan diharapkan dapat terus membekas di benak konsumen dalam waktu yang lama. (1) Memikat (Intrigue) Apabila surprise berawal dari sebuah harapan, maka intrigue mencoba berangkat dari membangkitkan rasa ingin tahu konsumen yakni apa saja yang memikat konsumen. Namun, daya pikat ini tergantung dari acuan yang dimiliki oleh setiap konsumen. Terkadang apa yang dapat memikat seseorang dapat menjadi sesuatu yang membosankan bagi orang lain, tergantung pada tingkat pengetahuan, kesukaan, dan pengalaman konsumen tersebut. (2) Provokasi (Provocation) Provokasi dapat menimbulkan sebuah diskusi, atau menciptakan sebuah perdebatan. Provokasi dapat beresiko jika dilakukan secara tidak baik dan agresif. Perusahaan harus cepat tanggap terhadap kebutuhan dan keluhan konsumen. Terutama dalam persaingan bisnis yang ketat sekarang ini, perusahaan dituntut untuk dapat berfikir kreatif. Salah satunya dengan mengadakan program yang melibatkan konsumen.
4) Tindakan (Act)
Act merupakan tipe experience yang bertujuan untuk mempengaruhi perilaku, gaya hidup dan interaksi dengan konsumen (Schmitt dalam Indrakusuma, 2011). Act Marketing adalah salah satu cara untuk membentuk persepsi pelanggan terhadap produk dan jasa yang bersangkutan (Kertajaya dalam Indrakusuma, 2011). Act marketing didesain untuk menciptakan pengalaman konsumen dalam hubungannya dengan Physical body, lifestyle, dan interaksi dengan orang lain. Act ini berhubungan dengan bagaimana membuat orang berbuat sesuatu dan mengekspresikan gaya hidupnya. Riset pasar menunjukkan banyak orang membeli Volkswagen Beetle sebagai mobil kedua setelah BMW atau Lexus. Mereka mempunyai gaya hidup tertentu, mereka ingin mengendarai mobil yang lebih enak untuk dikendarai daripada mobil pertama mereka yang profesional. Jadi act di sini meliputi perilaku yang nyata atau gaya hidup yang lebih luas.
 5) Hubungan (Relate)
Relate marketing merupakan tipe experience yang digunakan untuk mempengaruhi pelanggan dan menggabungkan seluruh aspek sense, feel, think, dan act serta menitikberatkan pada penciptaan persepsi positif dimata pelanggan (Schmitt dalam Indrakusuma, 2011). Relate berkaitan dengan budaya seseorang dan kelompok referensinya yang dapat menciptakan identitas seseorang. Seorang pemasar harus mampu menciptakan identitas sosial (generasi, kebangsaan, etnis) bagi pelanggannya dengan produk atau jasa yang ditawarkan. Pemasar dapat menggunakan simbol budaya dalam kampanye iklan dan desain web yang mampu mengidentifikasi kelompok pelanggan tertentu. Relate merupakan perluasan dari sensasi individual, feeling, cognition, dan  action dengan berhubungan dengan konteks sosial dan budaya yang merefleksikan suatu merek. Harley Davidson adalah salah satu contoh kampanye relate yang mampu menarik beribu-ribu pengendara motor besar di Amerika dalam rally di penjuru negara itu. Pelanggannya kebanyakan mempunyai tattoo berupa logo Harley Davidson di lengan atau bahkan di seluruh tubuhnya. Mereka menunjukkan kelompok referensi tertentu dengan apa yang dimilikinya.

Pengaruh Variabel Pengalaman Merek Terhadap Niat Beli (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian Yasin dan Amjad (2013) pengalaman merek mempunyai pengaruh signifikansi positif terhadap niat beli. Pengalaman tidak begitu kuat berpengaruh terhadap niat beli bila dibandingkan dua variabel lainnya. Penelitian ini juga mengklaim bahwa seseorang orang tidak tertarik hanya membeli produk atau jasa. Sebaliknya mereka membeli pengalaman yang luar biasa dan ekspresif tentang apa yang sedang dijual kepada mereka. Pengalaman merek dapat menarik daya tarik dalam praktek pemasaran untuk mengembangkan strategi pemasaran yang lengkap untuk barang dan jasa. Pengalaman produk terjadi ketika konsumen saling berhubungan dengan produk, misalnya ketika konsumen mencari produk dan kemudian mengamati dan mengevaluasi produk tersebut. Pengalaman merek akan tetap dalam memori konsumen dan juga berdampak pada kepuasaan konsumen serta loyalitas. Kepuasaan konsumen juga tergantung pada fitur atau desain. Desain produk akan meningkatkan nilai untuk konsumen dan memiliki 33 efek positif di benak konsumen dan juga membantu mengingkatkan kinerja organisasi.

Pengaruh Variabel Kesadaran Merek Terhadap Niat Beli (skripsi dan tesis)

Hsing Kuang Chi et al. (2009), kesadaran merek dapat mempengaruhi niat beli secara signifikan baik melalui kualitas yang dirasa maupun loyalitas merek. Penelitian Mariam Tahira et al. (2011) menunjukkan adanya hubungan 32 signifikansi antara kesadaran merek terhadap niat konsumen untuk membeli suatu produk. Grewal, Monroe & Krishnan (1998) dalam Amir Gulzar et al. (2011) berpendapat “high brand awareness can influence the retailer or reseller purchase decision” yang artinya kesadaran merek yang tinggi akan memengaruhi pengecer atau penjual ulang memutuskan untuk membeli. Peneliitian tersebut menguji keterkaitan hubungan antara kesadaran merek, persepsi kualitas dan loyalitas terhadap niat pembelian. Hasil penelitian menunjukkan dampak yang tidak signifikan antara kesadaran merek dengan loyalitas, sedangkan dampak yang signifikan yaitu persepsi kualitas terhadap profitabilitas

Pengaruh Variabel Kepercayaan Merek Terhadap Niat Beli (skripsi dan tesis)

Penelitian Yasin dan Amjad (2013) kepercayaan merek mempunyai pengaruh signifikansi positif terhadap niat beli. Yasin dan Amjad (2013) mengemukakan bahwa merek memiliki peranan yang penting dalam proses pemilihan konsumen. Merek adalah penghubung penting antara produsen dan konsumen menawarkan sejumlah fitur untuk pelanggan yang memenuhi kebutuhan pelanggan, merek adalah hal utama dipertimbangkan oleh konsumen dalam melakukan pembelian produk atau jasa. Pelanggan yang mempunyai tingkat pengetahuan produk tertentu akan membantu dalam membantu hubungan merek dengan loyalitas merek

Kesadaran Merek (skripsi dan tesis)

Pengenalan dan pengingat merek kepada masyarakat merupakan hal yang sengat penting bagi perusahaan, karena dengan hal ini akan menentukan langkah perusahaan selanjutnya dalam menetapkan strategi pasar. Durianto (2004) menjelaskan bahwa kesadaran menggambarkan keberadaan merek didalam pikiran konsumen yang dapat menjadi penentu dalam beberapa kategori dan biasanya mempunyai peranan kunci dalam brand equity. Meningkatkan kesadaran adalah suatu mekanisme untuk memperluas pasar merek. Kesadaran juga mempengaruhi persepsi dan tingkah laku. Jadi jika kesadaran itu sangat rendah maka hampir dipastikan bahwa ekuitas mereknya juga rendah. Peran brand awareness dalam keseluruhan brand equity tergantung dari sejauh mana tingkatan kesadaran yang dicapai oleh suatu merek. Tingkatan kesadaran merek secara berurutan dari tingkat rendah sampai tingkat tertinggi sebagai berikut: a) Tidak menyadari merek (unware of brand) Merupakan tingkat yang paling rendah dalam piramida kesadaran merek, 29 dimana konsumen tidak menyadari akan adanya suatu merek. b) Pengenalan merek (brand recognition) Tingkat minimal dari kesadaran merek. Hal ini penting pada saat pembeli memilah suatu merek pada saat melakukan pembelian. c) Pengingatan kembali terhadap merek (brand recall) Pengingatan kembali terhadap merek berdasarkan pada permintaan seseorang untuk menyebutkan merek tertentu dalam suatu kelas produk. Hal ini di istilahkan dengan pengingatan kembali tanpa bantuan, karena berbeda dari tugas pengenalan, responden tidak perlu dibantu untuk memunculkan merek tersebut. d) Puncak pikiran (top of brand) Apabila seseorang ditanya secara langsung tanpa diberi bantuan pengingatan dan ia dapat menyebutkan satu nama merek yang paling banyak disebutkan pertama kali merupakan puncak pikiran. Dengan kata lain, merek tersebut merupakan merek utama dari berbagai merek yang ada didalam benak konsumen. Kesadaran merek menggambarkan kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali, mengingat kembali suatu brand sebagai bagian dari suatu kategori produk tertentu. Pada umumnya konsumen cenderung membeli produk dengan brand yang sudah dikenalnya atas dasar pertimbangan kenyamanan, keamanan dan lain-lain. Bagaimanapun juga, merek yang sudah dikenal menghindarkan konsumen dari risiko pemakaian dengan asumsi bahwa merek yang sudah dikenal dapat diandalkan Durianto (2004 : 29) Kesadaran merek (brand awareness) 30 adalah kemampuan konsumen untuk mengindentifikasi merek dalam berbagai kondisi, seperti yang dicerminkan oleh pengenalan merek atau ingatan atas kinerja merek Kotler dan Keller (2009 : 403). Peran kesadaran merek dalam ekuitas merek tergantung pada tingkat akan pencapaian kesadaran yang ada dibenak konsumen. Fandy Tjiptono (2011 : 111) ukuran pada kesadaran merek yang banyak dipakai adalah recall dan recognition, baik menggunakan alat bantu (aided) maupun tanpa menggunakan alat bantu (aided). Hal ini bukanlah sekedar menjadi merek pertama yang disebut atau yang di ingat konsumen (name awareness), namun terciptanya asosiasi khusus antara nama merek dengan produk tertentu. Hanya saja, kelemahan utama kesadaran merek terletak pada dampak ukuran merek dan skala aktivitas promosi yang sangat dominan, sementara brand strength dalam konteks preferensi atau sikap positif konsumen terhadap merek yang bersangkutan tidak banyak terungkap. Menurut Erna Ferrinadewi (2008 : 174) merek yang sering dibeli oleh keluarga biasanya akan membuat seluruh anggota keluarga memiliki kesadaran yang tinggi akan keberadaan merek. Walaupun merek tersebut adalah merek yang tidak terpikirkan oleh konsumen, namun nama merek akan menetap dalam ingatan konsumen karena tingginya frekuensi anggota keluarga melihat merek yang sama. Semakin sering merek tersebut dilihat dan digunakan oleh seluruh anggota keluarga maka ingatan pada konsumen semakin kuat. Aaker (2013:205) juga menjelaskan bahwa di dalam kesadaran merek terdapat tiga dimensi yang menyediakan sejumlah besar keunggulan kompetitif, diantaranya : 31 1. Kesadaran menyediakan merek dengan rasa keakraban atau dikenal, dan orang menyukai hal yang dikenal atau akrab. Untuk produk dengan keterlibatan yang rendah keakraban dapat mendorong keputusan pembelian. 2. Kesadaran nama dapat menjadi sinyal kehadiran, komitmen, dan substansi, atribut yang dapat menjadi sangat penting bahkan bagi pembeli industri untuk barang dengan tiket besar dan pembeli konsumen untuk barang tahan lama. 3. Keunggulan merek akan menentukan apabila diingat pada waktu penting dalam proses pembelian.

Pengalaman Merek (skripsi dan tesis)

Pengalaman merek telah menarik perhatian dalam praktek pemasaran sekarang ini. Praktisi-praktisi pemasaran harus menyadari bahwa dengan memahami apa sebenarnya pesan pengalaman merek, akan sangat membantu para pemasar untuk mengembangkan strategi pemasaran. Menurut Brakus, Schmitt dan Zarantonello (2009) Pengalaman merek didefinisikan sebagai sensasi, perasaan kognisi dan tanggapan konsumen yang ditimbulkan oleh merek, terkait rangsangan yang di timbulkan oleh desain merek, identitas merek, komunikasi pemasaran orang dan lingkungan merek tersebut dipasarkan. Untuk dapat mendefinisikan lebih jauh mengenai pengalaman merek Brakus, Schmitt dan Zarantello (2009), memulai penelitian dengan melihat sudut pandang konsumen dengan menguji pengalaman- pengalaman konsumen itu sendiri dan bagaiman pengalaman itu menghasilkan pendapat sikap, dan aspek lainnya dari perilaku konsumen, pengalaman dimulai pada saat konsumen mencari produk, membeli, menerima, pelayanan dan mengkonsumsi produk. Pengalaman merek dapat dirasakan langsung saat konsumen mengkonsumsi dan membeli produk. Pengalaman merek dapat 27 dirasakan secara tidak langsung saat konsumen melihat iklan atau juga saat pemasar mengkonsumsi produk melalui website. Pengalaman pada suatu merek menjadi salah satu sumber bagi konsumen untuk Menciptakan rasa kepercayaan pada suatu merek maupun untuk mencoba merek yang lainnya, hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Gobe Marc (2003 :99) pengalaman merek adalah mengenai interaksi mental langsung dengan merek, merek dapat meningkatkan dan mengekspresikan karakter kuat emosional dengan cara yang positif. Dengan menawarkan produk yang luar biasa yang bisa menjadi pengalaman merek yang tak terlupakan. Konsumen akan melakukan penilaian pada suatu merek tertentu setelah merasakan pengalaman terhadap merek tersebut. Pengalaman konsumsi merupakan sumber terpenting terciptanya kepercayaan merek karena melalui pengalaman terjadi proses pembelajaran yang memungkinkan terbangunnya asosiasi, pemikiran dan pengambilan kesimpulan yang lebih relevan dengan pribadi konsumen atau individu Erna (2008:150)

Dari dua teori diatas bisa disimpulkan bahwa pengalaman merek berpengaruh pada kepercayaan konsumen terhadap suatu merek sehingga dapat menjadi faktor penentu saat melakukan pembelian ulang maupun pembelian awal bagi calon konsumen. Selain pengalaman dapat berdampak pada dunia marketing, pengalaman sendiri juga sering sekali menjadi acuan masayarakat luas dalam membentuk kepribadian mereka dari waktu ke waktu. Baik mengembangkan kepribadian mereka maupun menciptakan kepribadian baru yang terus beradaptasi dengan lingkungan sekitar mereka. Pengalaman dianggap penting oleh banyak  perusahaan yang memiliki merek premium, karena dari pengalaman mereka dapat menuju dunia global dalam mengenalkan produk mereka. Permasalahan belum begitu disadari oleh banyak perusahaan,saat ini perusahaan masih berlomba – lomba menciptakan citra mereka saja tanpa melihat bagaimana konsumen pasar luas terhadap produk mereka. Perusahaan memerlukan studi yang mendalam dan mengaplikasikannya dalam dunia lapangan marketing untuk membangkitkan pengalaman yang dirasa baik bagi konsumen.

Kepercayaan Merek (Skripsi dan tesis)

Kepercayaan merupakan suatu bentuk sikap yang menunjukan perasaan suka dan tetap bertahan untuk menggunakan suatu produk. Pada dasarnya kepercayaan akan timbul apabila produk yang dibeli oleh seorang konsumen mampu memberikan manfaat atau nilai yang diinginkan konsumen pada suatu produk. Menurut Lau dan Lee dalam Tjahyadi (2006 : 71) kepercayaan pelanggan pada merek (brand trust) di definisikan sebagai keinginan pelanggan untuk bersandar 24 pada sebuah merek dengan resiko yang dihadapi karena ekspetasi terhadap merek itu akan menyebabkan hasil yang positif. Dalam hubungan kepercayaan dan merek, entisitas yang dipercaya adalah bukan orang tapi sebuah symbol. Karena itu, loyalitas pada merek melibatkan kepercayaan pada merek. Untuk menciptakan loyalitas dalam pasar saat ini pemasar harus memfokuskan pada pembentukan dan pemliharaan kepercayaan dalam Consumer Brand Relationship. Lau dan Lee dalam jurnal Tjahyadi (2006 : 71). Lau dan Lee juga menjelaskan bahwa kepercayaan merek akan menimbulkan loyalitas pada merek. Sementara itu, Kepercayaan merek terbangun karena adanya harapan bahwa pihak lain akan bertindak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Ketika seseorang telah mempercayai pihak lain maka mereka yakin bahwa harapan akan terpenuhi dan tak akan ada lagi kekecawaan. Sedangkan Tjahyadi (2006) menyatakan bahwa kepercayaan terhadap merek adalah kemauan konsumen mempercayai merek dengan segala resikonya karena adanya harapan yang dijanjikan oleh merek dalam memberikan hasil yang positif bagi konsumen. Kepercayaan merek adalah harapan akan kehandalan dan intense baik merek Delgado (2004) dalam Ferrinadewi (2008 : 150). Sedangkan menurut Luarn dan Lin, (2003) dalam Ferrinadewi (2008 : 147), kepercayaan adalah sejumlah keyakinan spesifik terhadap integritas ( kejujuran pihak yang dipercaya dan kemampuan menepati janji), benevolence (perhatian dan motivasi yang dipercaya untuk bertindak sesuai dengan kepentingan yang mempercayai mereka), competency ( kemampuan yang dipercaya untuk melaksanakan kebutuhan yang mempercayai ) dan predictability ( konsistensi perilaku pihak yang dipercaya)

 Kepercayaan merek (brand trust) memiliki peran penting bagi merek. Apabila efek dari kepercayaan merek ini tidak diperhatikan dapat mengakibatkan pertimbangan dalam mengembangkan loyalitas konsumen terhadap produk Dimensi dari kepercayaan merek menurut Nuruni dan Kustini, (2011) adalah: 1. Kebenaran (Validity) yaitu, persepsi bahwa merek mampu memenuhi kebutuhan konsumen. 2. Perbedaan (Disparity) yaitu, rasa percaya bahwa konsumen aman menggunakan produk. Kepercayaan merek merupakan salah satu factor utama yang mempengaruhi loyalitas merek Gecti & Zengin (2013,112). Kepercayaan merek berfluktuasi dengan waktu dan akumulasi dari pengalaman pelanggan dalam proses pembentukan loyalitas merek Haijun (2014, 1801). Masih dari Haijun (2014,1801) meningkatnya waktu dan pengalaman akan membuat sikap dan penilaian pelanggan lebih stabil terhadap suatu merek. Pelanggan cenderung akan lebih tegas dalam memilih kembali merek yang sama dengan waktu dan pengalaman yang meningkat dan lebih loyal kepada merek tersebut. Ketika perusahaan berhasil membuat konsumen percaya akan mereknya, selain dapat mendorong terjadinya loyalitas kepercayaan merek juga dapat memperkuat hubungan dengan pelanggan. Kepercayaan merupakan komponen penting dalam membangun hubungan yang efektif dengan pelanggan Yannopoulou et al, (2011,532). Hurley (2012,14). Kepercayaan adalah tingkat keyakinan terhadap pihak lain yang dapat diandalkan untuk memenuhi komitmen Hurley (2012,1). Maka dari itu 26 kepercayaan merek dapat didefinisikan sebagai kesediaan dari rata-rata konsumen agar mengandalkan kemampuan merek untuk melakukan fungsinya Chaudhuri & Holbrook (2001,82). Maka dari itu, kepercayaan merupakan factor yang lebih kuat dibandingkan kepuasaan dalam membina hubungan antara perusahaan dan pelanggan Baran, Galka, & Strunk (2008, 332). Dengan demikian perusahaan harus membangun kepercayaan merek agar dapat menjalin hubungan dengan pelanggan.

Niat Beli (skripsi dan tesis)

 Niat beli adalah perintah seorang pembeli kepada dirinya sendiri untuk membeli suatu produk atau mengambil tindakan lain yang berhubungan dengan pembelian. Menurut Khan, et al (2012) dalam penelitiannya, niat beli didefinisikan sebagai niat individu untuk membeli sebuah merek spesifik yang mana individu tersebut ingin membeli sebuah merek yang sudah terpilih untuk diri mereka sendiri setelah evaluasi. Fandos & Flavianus (2006) Niat beli adalah janji tersirat dari seseorang untuk membeli produk lagi setiap kali seseorang membuat perjalanan berikutnya ke pasar. Ini memiliki kepentingan substansi karena perusahaan ingin meningkatkan penjualan produk tertentu untuk tujuan untuk memaksimalkan 16 keuntungan. Niat beli yang berkaitan empat perilaku konsumen termasuk rencana diragukan untuk membeli produk, berpikir tegas untuk membeli produk , ketika seseorang merenungkan untuk membeli produk dimasa depan, dan untuk membeli produk tertentu.
Fandos & Flavianus (2006) menjelaskan fenomena niat beli sebagai perilaku diproyeksikan konsumen secara singkat tentang pembelian produk tertentu ketika seseorang memutuskan untuk membeli produk setiap kali dia akan datang lagi ke pasar. Ada beberapa variabel yang bisa mempengaruhi niat beli untuk contoh dugaan merek yang diperuntukkan untuk pembelian dan dugaan pembelian merek dimasa depan (Khan, et al. 2012). Menurut Blackwell, Miniard, dan Engel (2006) dalam Hsin kuang Chi et al., niat beli adalah apa yang kita pikir akan kita beli. Howard dan Sheth dalam Khan et al., menjabarkan bahwa salah satu penentu niat beli adalah keyakinan, yang tidak lain adalah kebalikan dari menyadari risiko. Merek yang dikenal oleh konsumen juga berpengaruh secara positif terhadap niat beli. Niat beli juga memiliki pengaruh yang positif terhadap pencarian informasi. Seseorang yang ingin membeli suatu produk, terutama untuk produk yang tergolong memiliki keterlibatan tinggi, disadari ataupun tidak disadari akan terlibat dalam usaha mencari informasi berkaitan produk tersebut. Niat beli diperoleh dari suatu proses belajar dan proses pemikiran yang membentuk suatu persepsi. Niat beli ini menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benaknya dan menjadi suatu keinginan yang sangat kuat yang pada akhirnya ketika seorang konsumen harus memenuhi kebutuhannya akan mengaktualisasikan apa yang ada didalam benaknya, Elisabeth 2011:29). Setiap konsumen akan dihadapkan pada keputusan pembelian atau pertimbangan untuk suatu produk atas produk pesaing lainnya. Beberapa faktor yang membentuk niat beli dan keputusan pembelian konsumen Kotler dan Keller (2009:189) yaitu: Sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yangdisukai seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu, sikap negatif orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain. Faktor situasi yang tidak terantisipasi, faktor ini nantinya akan dapat mengubah pendirian konsumen. Hal tersebut tergantung dari pemikiran konsumen sendiri, apakah dia percaya diri dalam memutuskan akan membeli suatu barang atau tidak

Karakteristik Perusahaan (Company Characteristics) (skripsi dan tesis)

Karakteristik perusahaan yang berpengaruh terhadap kepercayaan pelanggan pada sebuah merek adalah kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan, reputasi perusahaan, motif-motif dari perusahaan yang dipersepsikan, dan integritas perusahaan yang dipersepsikan. Karakteristik perusahaan juga dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan pelanggan pada sebuah merek. Pengetahuan konsumen terhadap perusahaan kemungkinan akan mempengaruhi penilaiannya terhadap merek perusahaan.
a. Trust in the Company Dalam kasus perusahaan dan mereknya, perusahaan merupakan entitas terbesar dan merek merupakan entitas terkecil dari entitas terbesar tersebut. Sehingga, pelanggan yang percaya terhadap perusahaan kemungkinan percaya terhadap mereknya.
b. Company Reputation Ketika pelanggan mempersepsikan opini orang lain bahwa perusahaan dikenal adil dan jujur, maka pelanggan akan merasa lebih aman dalam memperoleh dan menggunakan merek perusahaan. Dalam konteks saluran pemasaran, ketika perusahaan dinilai memiliki reputasi yang baik, maka pelanggan kemungkinan besar akan percaya pada pengecer dan vendor).
c. Company Perceived Motives Intentionality merupakan cara dimana kepercayaan dibangun dalam hubungan antara penjual dan pembeli. Benevolence of motives merupakan faktor penting dalam suatu hubungan. Dalam konteks merek, ketika pelanggan mempersepsikan a suatu perusahaan layak dipercaya dan bertindak sesuai dengan kepentingan mereka, maka pelanggan akan mempercayai merek perusahaan. d. Company Integrity Integritas perusahaan merupakan persepsi pelanggan yang melekat pada sekumpulan dari prinsip-prinsip yang dapat diterima. Perusahaan yang memiliki integritas tinggi tergantung pada konsistensi dari tindakannya di masa lalu, komunikasi yang akurat tentang perusahaan dari kelompok lain, keyakinan bahwa perusahaan memiliki sense of justice yang kuat, serta tindakannya sesuai dengan janji-janjinya. Jika perusahaan dipersepsikan memiliki integritas tersebut, maka kemungkinan merek perusahaan akan dipercaya oleh pelanggan (Lau dan Lee, 1999:348)

Karakteristik Merek (Brand Characteristics) Terhadap Loyalitas Merek (skripsi dan tesis)

Karakteristik merek memainkan peran yang vital dalam menentukan apakah pelanggan memutuskan untuk percaya pada suatu merek. Karakteristik merek umumnya didefinisikan segala hal yang terkait dengan merek yang ada di benak konsumen. Dalam konteks hubungan pelanggan-merek, kepercayaan pelanggan dibangun berdasarkan pada reputasi merek, prediktabilitas merek, dan kompetensi merek. Penjelasan dari tiga karakteristik merek dapat ditunjukkan sebagai berikut: a.Brand Reputation Brand reputation berkenaan dengan opini dari orang lain bahwa merek itu baik dan dapat diandalkan (reliable). Reputasi merek dapat dikembangkan bukan saja melalui advertising dan public relation, tapi juga dipengaruhi oleh kualitas dan kinerja produk. Pelanggan akan mempersepsikan bahwa sebuah merek memiliki reputasi baik, jika sebuah merek dapat memenuhi harapan mereka, maka reputasi merek yang baik tersebut akan memperkuat kepercayaan pelanggan. b. Brand Predictability Brand predictability berkenaan dengan kemampuan suatu kelompok untuk memprediksi perilaku dari kelompok lain. Predictable brand adalah merek yang memungkinkan pelanggan untuk mengharapkan bagaimana sebuah merek akan memiliki performance pada setiap pemakaian. Predictability mungkin karena tingkat konsistensi dari kualitas produk. Brand predictability dapat meningkatkan keyakinan konsumen karena konsumen mengetahui bahwa tidak ada sesuatu yang tidak diharapkan akan terjadi ketika menggunakan merek tersebut. Karena itu, brand predictability akan meningkatkan kepercayaan terhadap merek karena predictability menciptakan ekspektasi positif. c. Brand Competence Brand competence adalah merek yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh pelanggan, dan dapat memenuhi kebutuhannya. Kemampuan berkaitan dengan keahlian dan karakteristik yang memungkinkan suatu kelompok memiliki pengaruh dalam suatu wilayah tertentu. Ketika diyakini bahwa sebuah merek itu mampu untuk menyelesaikan permasalahan dalam diri pelanggan, maka pelanggan tersebut mungkin berkeinginan untuk meyakini merek tersebut.

Kepercayaan Terhadap Merek (Trust in Brand) (skripsi dan tesis)

Menurut Turnbull dkk (dalam Bennet dan Gabriel, 2001) sifat dari sebuah hubungan yang dekat adalah adanya kondisi yang lebih stabil, lebih mudah saling memprediksi perilaku partner dan usia dari sebuah hubungan sehingga konsumen menjadi enggan untuk berganti penyedia produk. Determinan hubungan yang dekat adalah kepercayaan. Bagi pemasar, merek mewakili hubungan pemasaran yang tercipta dengan konsumen. (Ferinadewi, 2008: 146) Kepercayaan memiliki peran yang penting dalam pemasaran industri. Dinamika lingkungan bisnis yang cepat memaksa pemasaran perusahaan untuk mencari cara yang lebih kreatif dan fleksibel untuk beradaptasi. Untuk tetap bertahan dalam situasi tersebut, perusahaan akan mencari cara yang kreatif melalui pembentukan hubungan yang kolaboratif dengan pelanggan. Kepercayaan dianggap sebagai cara yang paling penting dalam membangun dan memelihara hubungan dengan pelanggan dalam jangka panjang. Kepercayaan adalah sejumlah keyakinan spesifik terhadap integritas (kejujuran pihak yang dipercaya dan kemampuan menepati janji, benevolence (perhatian dan motivasi yang dipercaya untuk bertindak sesuai dengan kepentingan yang mempercayai mereka), competency (kemampuan pihak yang dipercaya untuk  melaksanakan kebutuhan yang mempercayai) dan predictability (konsistensi perilaku pihak yang dipercaya). Hal ini menjelaskan bahwa penciptaan awal hubungan dengan partner didasarkan pada trust (kepercayaan). (Lau dan Lee, 1999:344) Dalam pasar konsumen, ada begitu banyak konsumen yang tidak teridentifikasi, sehingga sulit bagi perusahaan untuk membangun hubungan personal dengan setiap pelanggan. Cara lain yang ditempuh oleh pemasar untuk membangun hubungan personal dengan pelanggan adalah melalui sebuah simbol, yaitu merek (brand). Dalam situasi tersebut, merek berperan sebagai substitute hubungan person-to-person antara perusahaan dengan pelanggannya, selanjutnya kepercayaan dapat dibangun melalui merek. Kepercayaan terhadap merek merupakan kesediaan atau kemauan konsumen dalam menghadapi resiko yang berhubungan dengan merek yang dibeli akan memberikan hasil yang positif atau menguntungkan. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kepercayaan terhadap merek. Ketiga faktor ini berhubungan dengan tiga entitas yang tercakup dalam hubungan antara merek dan konsumen. Adapun ketiga faktor tersebut adalah merek itu sendiri, perusahaan pembuat merek, dan konsumen. Kepercayaan terhadap merek akan menimbulkan loyalitas merek. (Lau dan Lee, 1999:344).

Kesetiaan Merek (Brand Loyalty) (skripsi dan tesis)

Loyalitas merupakan hasil dari pembelajaran konsumen pada suatu entitas tertentu (merek, produk, jasa, atau toko) yang dapat memuaskan kebutuhannya. (Ruly, 2006:68). Kesetiaan merek (brand loyalty) merupakan suatu konsep yang sangat penting dalam strategi pemasaran karena memberikan banyak manfaat bagi perusahaan termasuk pembelian berulang dan dapat mengurangi biaya pemasaran. (Ruly, 2006:68). Loyalitas dapat diartikan sebagai suatu komitmen yang mendalam untuk melakukan pembelian ulang produk atau jasa yang menjadi preferensinya secara konsisten pada masa yang akan datang dengan cara membeli ulang merek yang sama meskipun ada pengaruh situasional dan usaha pemasaran yang dapat menimbulkan peralihan perilaku. Loyalitas merek menunjukkan adanya suatu ikatan antara pelanggan dengan merek tertentu dan ini sering kali ditandai dengan adanya pembelian ulang dari pelanggan. Minor dan Mowen (2002:109) mengemukakan bahwa loyalitas dapat didasarkan pada perilaku pembelian aktual produk yang dikaitkan dengan proporsi pembelian. Berdasarkan dari pandangan tersebut maka loyalitas merek didefinisikan sebagai: keinginan konsumen untuk melakukan pembelian ulang. Perusahaan yang mempunyai basis pelanggan yang mempunyai loyalitas merek yang tinggi dapat mengurangi biaya pemasaran perusahaan karena biaya untuk mempertahankan pelanggan jauh lebih murah dibandingkan dengan Universitas Sumatera Utara mendapatkan pelanggan baru. Loyalitas merek yang tinggi dapat meningkatkan perdagangan. Dan dapat menarik minat pelanggan baru karena mereka memiliki keyakinan bahwa membeli produk bermerek minimal dapat mengurangi risiko. Keuntungan lain yang didapat dari loyalitas merek adalah perusahaan dapat lebih cepat untuk merespons gerakan pesaing

Merek (Brand) (skripsi dan tesis)

Branding adalah keseluruhan proses bisnis dalam memilih janji, nilai, dan komponen apa yang akan dimiliki oleh suatu entitas. (Patricia, 2007:5). Keahlian yang sangat unik dari pemasar profesional adalah kemampuannya untuk menciptakan, memelihara, melindungi, dan meningkatkan merek. Merek adalah sejumlah citra dan pengalaman dalam benak konsumen yang mengkomunikasikan manfaat yang dijanjikan produk yang diproduksi oleh perusahaan tertentu. Menurut Kotler & Keller (2007:332), bahwa merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, desain atau kombinasi keseluruhannya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa yang ditawarkan perusahaan sekaligus untuk mendiferensiasikannya dari barang atau jasa pesaing. Selain membedakan satu produk dengan produk yang lain, merek juga memberi manfaat bagi konsumen diantaranya membantu mengidentikasi manfaat yang ditawarkan dan kualitas produk. Konsumen lebih mempercayai produk dengan merek tertentu daripada produk tanpa merek meskipun manfaat yang ditawarkan sama (Ferinadewi, 2008:135). Merek dapat memiliki enam level pengertian yaitu sebagai berikut:

 1. Atribut: merek mengingatkan pada atribut tertentu. Mercedes memberi kesan sebagai mobil yang mahal, dibuat dengan baik, dirancang dengan baik, tahan lama, dan bergengsi tinggi. 2. Manfaat: bagi konsumen, kadang sebuah merek tidak sekadar menyatakan atribut, tetapi manfaat. Mereka membeli produk tidak membeli atribut, tetapi membeli manfaat. Atribut yang dimiliki oleh suatu produk dapat diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan atau emosional. Sebagai contoh : atribut “tahan lama” diterjemahkan menjadi manfaat fungsional “tidak perlu cepat beli lagi, atribut “mahal“ diterjemahkan menjadi manfaat emosional “bergengsi”, dan lain lain. 3. Nilai: merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai produsen. Jadi, Mercedes berarti kinerja tinggi, keamanan, gengsi, dan lain-lain. 4. Budaya: merek juga mewakili budaya tertentu. Mercedes mewakili budaya Jerman, terorganisasi, efisien, bermutu tinggi. 5. Kepribadian: merek mencerminkan kepribadian tertentu. Mercedes mencerminkan pimpinan yang masuk akal (orang), singa yang memerintah (binatang), atau istana yang agung (objek). 6. Pemakai: merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut. Mercedes menunjukkan pemakainya seorang diplomat atau eksekutif. Pada intinya merek adalah penggunaan nama, logo, trade mark, serta slogan untuk membedakan perusahaan perusahaan dan individu-individu satu sama lain dalam hal apa yang mereka tawarkan. Penggunaan konsisten suatu merek, simbol,  atau logo membuat merek tersebut segera dapat dikenali oleh konsumen sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengannya tetap diingat.
Dengan demikian, suatu merek dapat mengandung tiga hal, yaitu sebagai berikut: 1) Menjelaskan apa yang dijual perusahaan. 2) Menjelaskan apa yang dijalankan oleh perusahaan. 3) Menjelaskan profil perusahaan itu sendiri. Suatu merek memberikan serangkaian janji yang didalamnya menyangkut kepercayaan, konsistensi, dan harapan. Dengan demikian, merek sangat penting, baik bagi konsumen maupun produsen. Bagi konsumen, merek bermanfaat untuk mempermudah proses keputusan pembelian dan merupakan jaminan akan kualitas. Sebaliknya, bagi produsen, merek dapat membantu upaya-upaya untuk membangun loyalitas dan hubungan berkelanjutan dengan konsumen. Persoalan merek menjadi salah satu persoalan yang harus dipantau secara terus menerus oleh setiap perusahaan. Merek bisa memiliki nilai tinggi karena ada brand building activity yang bukan sekadar berdasarkan komunikasi, tetapi merupakan segala macam usaha lain untuk memperkuat merek tersebut. Adanya komunikasi, merek bisa menjanjikan sesuatu, bahkan lebih dari janji, merek juga mensinyalkan sesuatu (brand signaling). Merek akan mempunyai reputasi jika ia memiliki kualitas dan karisma. Agar memiliki karisma, merek harus mempunyai aura, harus konsisten, kualitasnya harus dijaga dari waktu ke waktu, selain tentunya juga harus mempunyai kredibilitas. Merek terbaik, tentu suatu merek harus terlihat baik di pasar hingga mampu membuat konsumen tertarik membelinya. Agar terlihat baik, merek tersebut harus Universitas Sumatera Utara memiliki costumer value jauh di atas merek-merek yang lain. Selain itu, harus mampu meningkatkan keterlibatan emosi pelanggan sehingga pelanggan mempunyai ikatan dan keyakinan terhadap merek tersebut

Faktor Pembentuk Kepuasan Pelanggan (skripsi dan tesis)

 Konsep trust (kepercayaan) menjadi suatu isu yang populer dalam bidang pemasaran dengan munculnya orientasi relasional dalam aktivitas pemasaran. Trust dipandang sebagai dasar dalam hubungan dengan konsumen dan trust merupakan atribut terpenting yang dimiliki oleh merek. Para peneliti pemasaran menyatakan bahwa trust merupakan faktor fundamental yang dapat mengembangkan loyalitas konsumen. Adanya kepuasan pada konsumen akan menimbulkan kepercayaan, karena adanya konsistensi merek dalam memenuhi harapan konsumen, Di samping itu, merek yang dipilih dapat melindungi, menjaga keselamatan, keamanan, dan kepentingan konsumen. Dengan demikian, keyakinan mengenai keandalan dan kenyamanan merupakan hal yang penting dari trust (kepercayaan). Menurut (Irawan : 2003) kepuasan pelanggan merupakan salah satu alat ukur untuk melihat daya saing suatu perusahaan. Berdasarkan beberapa artikel ilmiah tentang kepuasan pelanggan, terdapat lima faktor utama yang menentukan tingkat kepuasan pelanggan: Pertama adalah kualitas produk, Konsumen atau pelanggan akan merasa puas bila hasil evaluasi menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas.
Beberapa dimensi yang berpengaruh dalam membentuk kualitas produk adalah performance, features, reliability, conformance to spesification, durability, serviceability, estetika, dan perceived quality. Kedua adalah kualitas pelayanan. Pelanggan akan merasa puas apabila mereka mendapatkan pelayanan yang baik atau sesuai dengan yang diharapkan. Dimensi kualitas pelayanan sudah banyak dikenal yang meliputi reliability, responsiveness, assurance, emphaty, dan tangible. Ketiga adalah faktor emosional. Konsumen merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa orang lain akan kagum terhadap dia apabila menggunakan produk dengan merek tertentu. Kepuasan ini bukan semata-mata karena kualitas produk tersebut, tetapi social value yang membuat pelanggan menjadi puas terhadap merek produk tertentu. Keempat adalah harga. Produk yang mempunyai kualitas yang sama, tetapi menetapkan harga yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi kepada pelanggan. Di sini jelas bahwa faktor harga juga merupakan faktor yang penting bagi pelanggan untuk mengevaluasi tingkat kepuasannya. Kelima adalah biaya dan kemudahan untuk mendapatkan produk atau jasa. Pelanggan yang tidak perlu mengeluarkan suatu biaya tambahan atau tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa akan cenderung puas terhadap produk atau jasa tersebut.

Kepercayaan terhadap Merek (Trust In a Brand) (skripsi dan tesis)

 Pemahaman yang lengkap tentang loyalitas merek tidak dapat diperoleh tanpa penjelasan mengenai kepercayaan terhadap merek (trust in a brand) dan bagaimana hubungannya dengan loyalitas merek. Dalam pemasaran industri, para peneliti telah menemukan bahwa kepercayaan terhadap sales dan supplier merupakan sumber dari loyalitas. Kepercayaan terhadap merek merupakan kesediaan atau kemauan konsumen dalam menghadapi resiko yang berhubungan dengan merek yang dibeli akan memberikan hasil yang positif atau menguntungkan (Lau & Lee) dalam (Wijaya : 2009). Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kepercayaan terhadap merek. Ketiga faktor ini berhubungan dengan tiga entitas yang tercakup dalam hubungan antara merek dan konsumen. Adapun ketiga faktor tersebut adalah merek itu sendiri, perusahaan pembuat merek, dan konsumen. Selanjutnya (Lau & Lee : 1999) memproposisikan bahwa kepercayaan terhadap merek akan menimbulkan loyalitas merek. Hubungan ketiga faktor tersebut dengan kepercayaan merek dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Brand Characteristic,
Karakteristik merek mempunyai peran yang penting dalam menentukan pengambilan keputusan konsumen untuk mempercayai suatu merek, hal ini disebabkan konsumen melakukan penilaian sebelum membelinya. Karakteristik merek yang berkaitan dengan kepercayaan merek meliputi: Brand reputation (reputasi merek), brand predictability (merek yang dapat diramalkan), dan brand competence (kompentensi merek). Brand reputation, Mengacu pada pendapat orang lain tentang bagus tidaknya dan dapat dipercaya tidaknya suatu merek. Brand reputation dapat dikembangkan melalui iklan dan hubungan dengan masyarakat (public relation), tetapi kemungkinan juga dapat dipengaruhi oleh kualitas dan kinerja produk. Reputasi yang baik akan menguatkan kepercayaan konsumen.
 Greed dan Miles (Lau & Lee : 1999) menemukan bahwa reputasi suatu partai dapat membawa pada pengharapan positif, yang dihasilkan dalam pengembangan timbale balik antar partai. Jika konsumen merasakan bahwa orang lain berpendapat bahwa merek tersebut itu memiliki reputasi yang bagus, maka konsumen tersebut dapat mempercayai merek itu untuk kemudian membelinya. Setelah berpengalaman memakai, jika ternyata merek tersebut dapat memenuhi harapan konsumen, maka dapat dinyatakan bahwa reputasi yang bagus sudah memberikan umpan balik dalam membangun kepercayaan konsumen. Jika merek tidak memiliki reputasi yang bagus, konsumen akan menjadi semakin sangsi. Jadi persepsi konsumen bahwa suatu merek memiliki reputasi yang bagus sangatlah berkaitan dengan kepercayaan konsumen terhadap merek tersebut.
2.  Brand predictability, Berkaitan erat dengan kemampuan kelompok untuk meramalkan perilaku kelompok yang lain. Merek yang dapat diprediksi adalah merek yang memungkinkan konsumen untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan dengan percaya diri yang beralasan. Prediktabilitas ini dapat terkait dengan tingkat kekonsistenan kualitas produk. (Lau & Lee) dalam (Wijaya : 2009) menggambarkan tiga kepercayaan yang dapat ditemui dalam hubungan bisnis; kepercayaan yang berdasar pada penolakan, kepercayaan yang berdasar pada pengetahuan, dan kepercayaan yang berdasar identifikasi. Kepercayaan yang berdasar pada pengetahuan tercipta jika suatu kelompok memiliki informasi yang cukup tentang kelompok lainnya untuk memahami dan memprediksi tingkah lakunya. (Lau & Lee) dalam (Wijaya : 2009) berpendapat bahwa prediktabilitas meningkatkan kepercayaan, seolah kelompok yang lain tidak dapat dipercaya, karena cara yang mengesampingkan kepercayaan dapat diprediksi. Prediktabilitas merek meningkatkan kepercayaan diri merek itu sendiri. Prediksi atau persepsi konsumen adalah bahwa suatu merek dapat diprediksikan erat kaitannya dengan kepercayaan konsumen terhadap merek tersebut. Brand competence, Merupakan merek yang mempunyai kemampuan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh konsumen dan memenuhi segala keperluannya. Kemampuan mengacu pada keahlian dan karakteristik yang memungkinkan suatu kelompok mempunyai pengaruh yang dominan.
Sitkin dan Roth (Lau & Lee : 1999) menganggap bahwa kemampuan merupakan elemen penting yang mempengaruhi kepercayaan. Konsumen mungkin mengetahui Brand competence melalui penggunaan secara langsung atau komunikasi dari mulut ke mulut. Diyakini bahwa suatu merek mampu memecahkan permasalahannya, maka konsumen akan percaya terus pada merek tersebut. Dalam pasar industri, Swan dkk (Lau & Lee : 1999) mengungkapkan bahwa sales people industry yang konsumennya merasa puas dan merasakan kompetensi merek yang ditawarkannya, akan mendapat kepercayaan lebih.
3. Company Characteristic, Karakteristik perusahaan yang ada di balik suatu merek juga dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan konsumen terhadap merek tersebut. Pengetahuan konsumen tentang perusahaan yang ada di balik suatu merek kemungkinan dapat mempengaruhi penilaiannya terhadap merek tersebut. Karakteristik perusahaan yang diperkirakan dapat mempengaruhi kepercayaan konsumen terhadap perusahaan (trust in the company) adalah reputasi perusahaan (company reputations), motivasi yang dirasakan oleh perusahaan (perceived motives of the company), dan integritas perusahaan yang dirasakan (company integrity). Trust in the company, (Kepercayaan terhadap Perusahaan). Trust in a company adalah rasa percaya bahwa perusahaan itu bagus, bonafit, dan mempunyai kemampuan untuk menciptakan produk yang berkualitas. Ketika kesatuan suatu komponen dipercaya, maka kesatuankesatuan yang lebih kecil juga cenderung dipercaya, karena kesatuankesatuan kecil tersebut bernaung pada kesatuan yang lebih besar. Dilihat dari segi perusahaan dan produk yang dikeluarkannya, perusahaan yang lebih besar merupakan kesatuan yang lebih besar, sementara itu merek merupakan kesatuan yang lebih kecil. Jadi konsumen yang menempatkan atau menaruh kepercayaan pada sebuah perusahaan, kemungkinan akan mempercayai merek yang dikeluarkannya.
4. Company Reputation, Bila seorang konsumen merasa bahwa orang lain berpendapat bahwa perusahaan yang berada di balik merek yang dipilihnya terkenal adil dan bijak, konsumen tersebut akan merasa lebih aman dalam menerima dan menggunakan produk perusahaan tersebut. Hal ini akan menimbulkan kepercayaan yang lebih besar terhadap merek tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, persepsi konsumen bahwa perusahaan memiliki reputasi kesetaraan sangat berkaitan erat dengan kepercayaan konsumen terhadap merek tersebut.
5. Perceived Motives of the Company, (motif perusahan yang dirasakan pelanggan). (Remple dkk) dalam (Wijaya : 2009) menemukan bahwa motif – motif yang dirasakan dari partner jual beli mempengaruhi kepercayaan terhadap partner tersebut. Intensionalitas merupakan suatu cara untuk mengembangkan kepercayaan dalam hubungan jual-beli industri. Intensionalitas erat kaitannya dengan interpretasi dan penilaian kelompok terhadap motif-motif kelompok lain. Ketika suatu kelompok dirasa membawa keuntungan, kelompok tersebut akan dipercaya. Sama halnya dengan (Jones dkk : 1975) mengungkapkan bahwa ruang lingkup perilaku pimpinan yang relevan bagi kepentingan bawahannya mempengaruhi kepercayaan diri dan kepercayaan terhadap pimpinan. Oleh karena itu, motif yang baik merupakan faktor yang penting dalam suatu hubungan. Dalam konteks suatu merek, ketika konsumen merasa bahwa perusahaan yang ada di balik merek banyak mendatangkan keuntungan dan bertindak sesuai dengan minat mereka, maka konsumen akan mempercayai merek tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan, persepsi konsumen bahwa perusahaan memiliki motif yang menguntungkan sangat berkaitan dengan kepercayaan konsumen terhadap merek yang diluncurkan perusahaan tersebut. Company Integrity, Integritas perusahaan merupakan persepsi konsumen yang sesuai dengan prinsip-prinsip yang logis, misalnya menepati janji, bertindak etis, dan berlaku jujur.
Definisi ini sesuai dengan ungkapan (Mayer dan Colleman) dalam (Wijaya : 2009) mengenai integritas yang diharapkan. Tingkat sejauh mana perusahaan dinilai memiliki integritas tergantung pada konsistensi tindakan perusahaan tersebut pada masamasa sebelumnya, komunikasi yang kredibel dengan kelompok-kelompok lain, kepercayaan yang dimiliki, rasa keadilan yang kuat, dan intensitas dari tindakan-tindakan perusahaan yang sesuai dengan pernyataannya. Jika perusahaan dirasakan mempunyai integritas, maka merek produknya akan dipercaya konsumen. Dengan demikian dapat disimpulkan, persepsi konsumen bahwa perusahaan memiliki integritas sangatlah terkait dengan kepercayaan konsumen terhadap merek yang diluncurkan oleh perusahaan tersebut.
 6. Consumer-Brand Characteristic, Totalitas pemikiran dan perasaan individu dengan acuan dirinya sebagai objek sehingga sering kali dalam konteks pemasaran dianalogkan merek sama dengan orang. Konsumen sering kali berinteraksi dengan merek seolah olah merek tersebut adalah manusia sehingga kesamaan antara konsep diri konsumen dengan merek dapat membangun kepercayaan terhadap merek. Karakteristik ini meliputi kemiripan antara konsep emosional konsumen dengan kepribadian merek (Similarity between Consumer Self-Concept and Brand Personality), kesukaan terhadap merek (brand liking) dan pengalaman terhadap merek (Brand Experience).
7. Similarity between Consumer’s Self-Concept and Brand Personality, (Kemiripan antara konsep diri konsumen dengan kepribadian merek). Konsep diri merupakan totalitas pemikiran dan perasaan individu dengan acuan dirinya sebagai suatu obyek. Sebuah analogi populer yang digunakan dalam konteks pemasaran adalah, merek sama seperti orang. Jadi suatu merek dapat memiliki kesan atau kepribadian. Kepribadian merek adalah asosiasi yang terkait dengan merek yang diingat oleh konsumen dalam menerimanya. Kepribadian merek ini mirip dengan kepribadian manusia, bersifat abadi dan bersifat unik. Konsumen seringkali berinteraksi dengan merek seolaholah merek tersebut adalah manusia, khususnya bila merek tersebut merupakan produk yang bermutu tinggi seperti pakaian dan mobil. Jika ciri-ciri fisik suatu merek dinilai sesuai dengan kesan dari konsumen terhadap suatu produk, kemungkinan besar konsumen akan percaya pada merek tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, kesamaan antara konsep diri konsumen dengan kepribadian merek sangat berkaitan dengan kepercayaan konsumen terhadap merek tersebut.
8. Brand Liking
 Brand liking menunjukkan kesukaan yang dimiliki oleh suatu kelompok terhadap kelompok lain karena kesamaan visi dan daya tariknya. (Bennet) dalam (Wijaya : 2009) berpendapat bahwa, untuk mengawali hubungan suatu kelompok harus disukai atau mendapat simpati dari kelompok yang lain. Bagi konsumen, untuk membuka hubungannya dengan suatu merek, maka konsumen tersebut harus menyukai dulu merek tersebut. Di pasar konsumen, jika seorang konsumen menyukai suatu jenis merek (yaitu suatu merek yang menurutnya sesuai dan menarik), kemungkinan konsumen akan lebih mempercayai merek tersebut. Secara formal dapat dinyatakan, simpati konsumen terhadap suatu merek sangat berhubungan dengan kepercayaan konsumen terhadap merek tersebut.
9. Brand Experience,
Yang dimaksud dengan pengalaman merek (brand experience) adalah pengalaman masa lalu konsumen dengan merek tersebut, khususnya dalam lingkup pemakaian. (Zucker) dalam (Wijaya : 2009) mengungkapkan bahwa dalam pengembangan kepercayaan yang bersandar pada proses, timbal balik (saling bertukar) merupakan kuncinya. Pengalaman akan memberikan pada dua kelompok yang melakukan hubungan saling memahami satu dengan yang lainnya. Jadi, pengalaman kemungkinan besar dapat membangun kepercayaan partner. Juga ketika seorang konsumen mendapat banyak pengalaman dengan suatu merek, maka konsumen tersebut dapat memahami merek secara lebih baik dan kepercayaannya akan semakin meningkat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengalaman konsumen dengan suatu merek sangat berkaitan dengan kepercayaannya terhadap merek tersebut.
10. Brand Satisfaction, Kepuasan terhadap suatu merek dapat didefinisikan sebagai hasil evaluasi subyektif terhadap apa yang telah dicapai oleh merek terpilih dalam rangka memenuhi apa yang diharapkan konsumen. Fenomena ini sesuai dengan paradigm diskonfirmasi kepuasan konsumen, di mana perbandingan antara harapan konsumen dengan hasil yang dirasakan sangat mencirikan definisi “kepuasan”.
11.Peer Support, (Bearden, et.al : 1989) berpendapat bahwa, salah satu determinan perilaku individu adalah pengaruh yang dibawa oleh individu lain. Untuk menyatakan secara tidak langsung bahwa pengaruh sosial merupakan determinan penting dalam pembentukan perilaku individu. Implikasi dalam dunia pemasaran menurut (Doney & Canon : 1997) jika seorang konsumen membeli suatu merek dan temannya mengatakan bagus maka ia percaya pada merek tersebut. Pada dasarnya, kalau orang lain banyak yang menyatakan bahwa suatu produk bagus, berarti produk tersebut memang bagus dengan catatan tidak ada dramatisasi dalam hal ini. Kesimpulan yang dapat diungkapkan dari pendapat di atas adalah, peer support suatu merek sangat berhubungan dengan kepercayaan konsumen terhadap merek tersebut.

Loyalitas Merek (Brand Loyalty) (skripsi dan tesis)

Merupakan suatu konsep yang sangat penting dalam strategi pemasaran. Keberadaan konsumen yang loyal pada merek sangat diperlukan agar perusahaan dapat bertahan hidup. Loyalitas dapat diartikan sebagai suatu komitmen yang mendalam untuk melakukan pembelian ulang produk atau jasa yang menjadi preferensinya secara konsisten pada masa yang akan datang dengan cara membeli ulang merek yang sama meskipun ada pengaruh situasional dan usaha pemasaran yang dapat menimbulkan perilaku peralihan. Mendefinisikan brand loyalty sebagai “A measure of the attachment that a costumer has a brand“ (Aaker) dalam (Riana : 2008). Loyalitas merek menunjukkan adanya suatu ikatan antara pelanggan dengan merek tertentu dan ini sering kali ditandai dengan adanya pembelian ulang dari pelanggan. Menurut (Minor & Mowen : 2002) loyalitas dapat didasarkan pada perilaku pembelian aktual produk yang dikaitkan dengan proporsi pembelian. Perusahaan yang mempunyai basis pelanggan yang mempunyai loyalitas merek yang tinggi dapat mengurangi biaya pemasaran perusahaan karena biaya untuk mempertahankan pelanggan jauh lebih murah dibandingkan dengan mendapatkan pelanggan baru. Loyalitas merek yang tinggi dapat meningkatkan perdagangan. Dan dapat menarik minat pelanggan baru karena mereka memiliki keyakinan bahwa membeli produk bermerek minimal dapat mengurangi risiko. Keuntungan lain yang didapat dari loyalitas merek adalah perusahaan dapat lebih cepat untuk merespons gerakan pesaing.

Pengertian Merek (Brand) (skripsi dan tesis)

Keahlian yang sangat unik dari pemasar profesional adalah kemampuannya untuk menciptakan, memelihara, melindungi, dan meningkatkan merek. Para pemasar mengatakan bahwa pemberian merek adalah seni dan bagian paling penting dalam pemasaran.
Menurut American Marketing Association (Kotler : 2000) merek adalah nama,
istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang atau kelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing.
Menurut (Aaker) dalam (Riana : 2008) merek adalah “ A distinguishing name and / or symbol (such as logo, trade mark, or package design ) intended to identify to goods or services of either one seller of a group of seller, and to differentiate those goods or services from those of competitors “.
Suatu merek pada gilirannya memberi tanda pada konsumen mengenai sumber produk tersebut. Di samping itu, merek melindungi, baik konsumen maupun produsen dari para kompetitor yang berusaha memberikan produk-produk yang tampak identik.
Merek sebenarnya merupakan janji penjual untuk secara konsisten memberikan keistimewaan, manfaat, dan jasa tertentu kepada pembeli. Merek-merek terbaik memberikan jaminan mutu. Akan tetapi, merek lebih dari sekadar simbol.
Merek dapat memiliki enam level pengertian (Kotler : 2000) yaitu sebagai berikut:

1. Atribut: merek mengingatkan pada atribut tertentu. Mercedes memberi kesan sebagai mobil yang mahal, dibuat dengan baik, dirancang dengan baik, tahan lama, dan bergengsi tinggi.
2. Manfaat: bagi konsumen, kadang sebuah merek tidak sekadar menyatakan atribut, tetapi manfaat. Mereka membeli produk tidak membeli atribut, tetapi membeli manfaat. Atribut yang dimiliki oleh suatu produk dapat diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan atau emosional. Sebagai contoh : atribut “tahan lama“ diterjemahkan menjadi manfaat fungsional “tidak perlu cepat beli lagi, atribut “mahal“ diterjemahkan menjadi manfaat emosional “bergengsi”, dan lain-lain.
3. Nilai: merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai produsen. Jadi, Mercedes berarti kinerja tinggi, keamanan, gengsi, dan lain-lain.
4. Budaya: merek juga mewakili budaya tertentu. Mercedes mewakili budaya Jerman, terorganisasi, efisien, bermutu tinggi.
5. Kepribadian: merek mencerminkan kepribadian tertentu. Mercedes mencerminkan pimpinan yang masuk akal (orang), singa yang memerintah (binatang), atau istana yang agung (objek).
6. Pemakai: merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut.
Mercedes menunjukkan pemakainya seorang diplomat atau eksecutif. Pada
intinya merek adala penggunaan nama, logo, trade mark, serta slogan untuk
membedakan perusahaan perusahaan dan individu-individu satu sama lain dalam hal apa yang mereka tawarkan. Penggunaan konsisten suatu merek, simbol, atau logo membuat merek tersebut segera dapat dikenali oleh konsumen sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengannya tetap diingat. Dengan demikian, suatu merek dapat mengandung
tiga hal, yaitu sebagai berikut.
1. Menjelaskan apa yang dijual perusahaan.
2. Menjelaskan apa yang dijalankan oleh perusahaan.
3. Menjelaskan profil perusahaan itu sendiri.
Suatu merek memberikan serangkaian janji yang di dalamnya menyangkut
kepercayaan, konsistensi, dan harapan. Dengan demikian, merek sangat penting, baik bagi konsumen maupun produsen. Bagi konsumen, merek bermanfaat untuk mempermudah proses keputusan pembelian dan merupakan jaminan akan kualitas. Sebaliknya, bagi produsen, merek dapat membantu upaya-upaya untuk membangun loyalitas dan hubungan berkelanjutan dengan konsumen

Perencanaan Brand experience (skripsi dan tesis)

Untuk menciptakan dan menyampaikan brand-based experience kepada
konsumen, pemasar atau perusahaan perlu mengetahui apa itu perencanaan dari pengalaman itu sendiri, seperti bagaimana berinteraksi dengan pelanggan, dan perlu adanya tindakan nyata untuk melakukan interaksi kepada pelanggan, untuk menciptakan pengalaman. Proses dari brandslation, atau pengartian sebuah merek, membantu perusahaan untuk menciptakan brand proposition dengan cara yang membantu menciptakan pengalaman merek. Pada akhirnya perencanaan ini akan menciptakan interaksi dari organisasi untuk menciptakan pengalaman merek itu sendiri.
Di bawah ini adalah struktur yang disarankan Filho (2014) dalam menyusun
cara-cara melakukan strategi brand experience dan bagaimana hasil dari
brandslation seharusnya.
1. Hubungan merupakan metaphor brand experience proposition, merupakan
inti dari brand experience itu sendiri. Hal tersebut menggambarkan
bagaimana karakter merek dan bagaimana konsumen berinteraksi satu sama
lain. Contoh bagaimana berinteraksi dengan mereka, dan bagaimana sikap
mereka, dapat membantu menjelaskan tentang bagaimana persepsi dari
merek yang diinginkan perusahaan, diposisikan di benak konsumen.
Pengalaman dari pelayanan dapat di jadikan cara untuk menetapkan tujuan,
dalam menjalin hubungan jangka pendek dengan konsumen.
2. Sumber daya manusia merupakan sesuatu yang penting dalam melakukan
pelayanan dan dalam membantu proses brandslation untuk menciptakan
karakter dari merek itu sendiri. Dalam menciptakan pengalaman,
diperlukan sumber daya manusia yang dapat menciptakan interaksi dan
menjalin hubungan antara merek atau perusahaan dengan konsumen.
Manusia sebagai inti dalam menciptakan hubungan dengan pelanggan,
membantu perusahaan dala mewujudkan karakter dari merek yang ingin
dibangun didalam benak konsumen perusahaan.
3. Mengatur nilai dan sikap dari personil atau karyawan dalam
mengkomunikasian strategi dari brand experience, malalui titik – titik
interaksi yang ada, seperti di dalam customer service, hal ini bertujuan
untuk memudahkan dalam mengkomunikasikan brand experience yang
ingin dibangun oleh perusahaan.
4. Menciptakan dasar atau asas yang dapat menjelaskan konsistensi dari sikap
dan nilai dalam mengkomunikasian brand experience melalui titik –titik
interaksi yang ada. hal ini berdasarkan analisis dari bagaimana merek itu di
dipersepsikan dan siapa yang ingin menjadi target sasaran, dan dapat
menciptakan hubungan antara brand image dengan brand identity.
5. service moments merupakan contoh bagaimana konsumen merasakan
pengalaman dari brand experience melalui beberapa titik pelayanan yang
telah ditentukan sebelumnya

Dalam menciptakan pengalaman merek, dibutuhkan perubahan semantik,
merubah Sesuatu makna menjadi sebuah elemen dari desain sebuah produk
Proses tersebut merupakan tahapan awal dari proses New Service Development (NSD) ketika konsep dari suatu pelayanan di definisikan, dan ketika perencanaan dari sistem pelayanan dan proses dari pelayanan di desain. Proses perubahan semiotika ini memberikan pemahaman bahwa merek dapat diartikan dan dianalogikan dalam karakteristik dari desain produk atau jasa, yang nantinya akan berinteraksi dengan pelanggan yang akan menghasilkan brand image. Dalam pengertian lain, perencanaan merek harus diartikan kedalam sesuatu yang dapat dirasakan oleh konsumen melalui sebuah interaksi pelayanan, jadi ketika konsumen berinteraksi dengan orang yang melakukan pelayanan, mereka dapat merasakan kehadiran dari sebuah merek (Filho : 2014).

Pengertian Brand Exprience (skripsi dan tesis)

Brand experience adalah pengalaman masa lalu konsumen dengan merek tersebut, khususnya dalam lingkup pemakaian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengalaman konsumen terhadap suatu merek sangatlah berkaitan dengan kepercayaan terhadap merek tersebut. Menurut Brakus et al (2009) Brand experience didefinisikan sebagai sensasi, perasaan, kognisi, dan tanggapan konsumen yang ditimbulkan oleh merek, terkait rangsangan yang ditimbulkan oleh desain merek, identitas merek, komunikasi pemasaran, orang dan lingkungan merek tersebut dipasarkan. Menurut Neumeier (2013) brand experience adalah seluruh interaksi dari seseorang terhadap produk, servis, organisasi, yang kesemuanya merupakan bahan baku dari sebuah merek. Sedangkan teori yang dikemukakan oleh Filho (2014) dalam penelitiannya brand experience adalah transisi antara strategi merek dengan pengalaman konsumen. Teori tentang brand experience lainnya dikemukakan oleh Ambler dalam Filho, 2014, bahwa brand experience tercipta ketika konsumen mengkonsumsi produk atau jasa dari merek tersebut, menceritakannya kepada orang lain tentang merek tersebut dan mencari tahu informasi terkait dengan promosi, event, dan lain – lain. Brand experience dapat diasumsikan sebagai persepsi konsumen terhadap touch point yang ada, baik itu promosi, atau kontak langsung dengan orang yang melakukan kegiatan servis. Menurut Tulianti dan Tung (2013) dalam skripsi Hilmi, B (2015), menyebutkan brand experience merupakan respon internal dari pelanggan dan respon perilaku yang ditimbulkan oleh rangsangan merek yang terkait yang merupakan bagian dan desain merek identitas, kemasan, komunikasi, dan lingkungan. Brand experience merupakan aspek pengalaman yang terdiri dari seluruh pemahaman dan persepsi merek oleh pelanggan. Maka dari itu, pemasar harus memahami pengalaman pelanggan tentang merek mereka untuk dapat mengembangkan strategi pemasaran. Dalam strategi merek, pengalaman mengenai merek menjadi hal yang penting. Tidak ada yang lebih kuat daripada pengalaman pelanggan terhadap merek.

Karakteristik merek (skripsi dan tesis)

a. Brand reputation Reputasi dari merek bias dikatakan sebagai suatu opini dari pihak lain bahwa merek tersebut baik dan dapat diandalkan. (Lau dan lee, 1999). Reputasi merek dikembangkan melalui advertising dan public relation, selain itu dapat juga dipengaruhi word of mouth. Creed dan Miles dalam Laud dan Lee (1999) mengemukakan bahwa jika seorang konsumen mempunyai persepsi bahwa orang lain memiliki opini suatu merek itu baik, maka konsumen tersebut akan percaya untuk membeli. Dan sebaliknya.
b. Brand predictability Predictable brand adalah merek yang bias diantisipasi oleh pengguna merek, diperkirakan atau diramalkan berkaitan dengan apa saja tentang merek tersebut, dengan keyakinan yang masuk akal (Lau dan Lee, 1999). Kemampuan untuk memprediksi dapat mengaci pada konsistensi dari kualitas suatu produk atau jasa. Dimana suatu prediksi dapat muncul dari interaksi berulan, seperti halnya ketika perusahaan memberi janji dan mengenal karakteristik konsumennya dan konsumen dapat mengenal dan mempelajari produk tersebut.
c. Brand competence Merek yang kompeten adalah merek yang memiliki kemampuan untuk memcahkan permasalah konsumen dan memenuhi kebutuhan konsumen (Butler dan Cantrell, 1984; Butler 1991 dalam Lau dan Lee, 1999). Seorang konsumen dapat mengetahui kemampuan dari sebuah merek dengan menggunakannya secara langsung atau melalui word of mouth communication (Lau dan Lee : 1999).

Tingkat Pengertian Merek (skripsi dan tesis)

Merek memiliki enam tingkat pengertian (Rangkuti, 2008 : 3), yaitu:
a. Atribut Setiap merek memiliki atribut. Atribut ini dikelola dan diciptakan agar pelanggan dapat mengetahui dengan pasti atribut-atribut apa saja yang terkandung dalam suatu merek. Misalnya, iPhone 6s merupakan sebuah smartphone terbaru Apple yang mengandalkan kemampuan kamera, layar serta keeksklusifan yang dimiliki oleh smartphone tersebut.
 b. Manfaat  Merek tidak hanya memberikan kaitan terhadap atribut – atribut produk atau bentuk lainnya, namun juga memberikan sebuah arti manfaat dari produk tersebut. Produsen harus mampu menerjemahkan manfaat atribut menjadi manfaat emosional atau fungsional.
 c. Nilai Merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai bagi konsumen. Merek yang memiliki nilai tinggi akan dihargai oleh konsumen sebagai merek yang berkelas sehingga dapat mencerminkan siapa pengguna merek tersebut.
 d. Budaya Merek juga dapat mewakili budaya tertentu, misalnya, Mercedes benz memiliki budaya jerman yang memiliki budaya organisasi yang baik, mewakili kinerja para karyawan yang efisien dan efektif, serta kecanggihan teknologi yang mewakili budaya inovatif.
e. Kepribadian Sebuah merek juga memberikan identitas kepribadian tertentu. Pada sebuah produk atau jasa, kepribadian dapat membangun hubungan tertentu dengan memberikan ikatan emosional terhadap produk atau jasa. Merek juga mewakili kepribadian yaitu kepribadian penggunanya. Jadi diharapkan denggan menggunakan merek, kepribadian si pengguna akan tercermin ketika menggunakan merek tersebut.
 f. Pemakai Merek dapat memberikan sinyal siapa, bagaimana karakteristik konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut, serta menunjukkan jenis atau kelas konsumen pemakai merek tersebut

Definisi Merek atau Brand (skripsi dan tesis)

Pada zaman modern seperti saat ini, suatu perusahaan perlu melakukan pengembangan strategi pemasaran untuk mendapatkan hasil yang maksimal, tidak hanya dalam hal laba maupun penjualan, melainkan bagaimana agar terus bertahan dalam persaingan bisnis. Oleh karena itu untuk membedakan antara suatu perusahaan dengan perusahaan lain, diperlukan sebuah merek (branding). Diperlukan keahlian untuk menciptakan, memeliharan, melindungi dan meningkatkan merek. Menurut Kotler (2008 : 275), merek adalah sebagai nama, istilah, tanda, lambing, atau kombinasi dari hal – hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seseorang atau kelompok penjual dan untuk membedakannya dari seorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing. Merek dibagi dalam beberapa pengertian (Rangkuti, 2008 : 2): a. Brand name (nama merek)  Merupakan bagian dari produk atau jasa yang dapat diucapkan. Contohnya seperti The Botol, Honda, Asus dan lain-lain.
b. Brand mark (tanda merek) Merupakan bagian dari merek yang dapat dikenali namun tidak dapat diucapkan, seperti lambing, atau desain huruf atau warna khusus. Contoh : lambing garpu tala milik Yamaha
c. Trade Mark (merek dagang) Merupakan merek atau sebagian merek yang dilindungi hokum karena kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu yang istimewa. d. Copyright (hak cipta) Merupakan hak istimewa yang dilindungi oleh hokum utnuk memproduksi, menerbitkan dan menjual karya seperti tulisan, music, video, dan lain-lain

Keabsahan Kualitatif (Skripsi dan tesis)

. Empat criteria keabsahan dan keajegan yang diperlukan dalam suatu penelitian pendekatan kualitatif. Empat hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Keabsahan Konstruk (Construct validity) Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastiaan bahwa yang berukur benar-benar merupakan variabel yang ingin di ukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai dengan proses pengumpulan data yang tepat. Salah satu caranya adalah dengan proses triangulasi, yaitu tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.
2. Keabsahan Internal (Internal validity) Keabsahan internal merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh kesimpulan hasil penelitian menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Keabsahan ini dapat dicapai melalui proses analisis dan interpretasi yang tepat. Aktivitas dalam melakukan penelitian kualitatif akan selalu berubah dan tentunya akan mempengaruhi hasil dari penelitian tersebut. Walaupun telah dilakukan uji keabsahan internal, tetap ada kemungkinan munculnya kesimpulan lain yang berbeda.
3. Keabsahan Eksternal (Eksternal validity) Keabsahan ekternal mengacu pada seberapa jauh hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada kasus lain. Walaupun dalam penelitian kualitatif memeiliki sifat tidak ada kesimpulan yang  pasti, penelitiaan kualitatif tetapi dapat dikatakan memiliki keabsahan ekternal terhadap kasus- kasus lain selama kasus tersebut memiliki konteks yang sama.
 4. Keajegan (Reabilitas) Keajegan merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh penelitian berikutnya akan mencapai hasil yang sama apabila mengulang penelitian yang sama, sekali lagi. Keajegan dalam penelitian ini mengacu pada kemungkinan peneliti selanjutnya memperoleh hasil yang sama apabila penelitian dilakukan sekali lagi dengan subjek yang sama. Hal ini menunjukan bahwa konsep keajegan penelitian kualitatif selain menekankan pada desain penelitian, juga pada cara pengumpulan data dan pengolahan data

Pengertian Laba (skripsi dan tesis)

Menurut Jusup (2005:25) laba (atau rugi) adalah selisih lebih (atau kurang) antara pendapatan dengan biaya. Apabila pendapatan lebih besar daripada biaya, maka dikatakan bahwa perusahaan memperoleh laba. 11 Menurut Soemarso dalam Yanti (2013:14) ada beberapa jenis laba, yaitu: 1. Laba bersih (net income) Selisih lebih semua pendapatan dan keuntungan terhadap semua beban dan kerugian. Jumlah ini merupakan kenaikan bersih terhadap modal. 2. Laba bruto (gross profit) Penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan. Laba bruto kadang juga disebut laba kotor. 3. Laba ditahan (retained earnings) Jumlah akumulasi laba bersih dari semua perseroan terbatas dikurangi distribusi laba (income distribution) yang dilakukan. 4. Laba usaha (income from operations) Laba yang diperoleh semata dari kegiatan utama perusahaan

Perencanaan Produksi (skripsi dan tesis)

Untuk membuat sesuatu barang secara lancar dengan biaya produksi yang minimal maka haruslah direncanakan. Menurut Indriyo (2009:207) dalam perencanaan tersebut, maka perlu adanya pembuatan gambar-gambar. Gambar tersebut akan menunjukkan komponen-komponen yang terkandung dalam barang yang akan diproduksi itu. Selanjutnya memikirkan tentang bagaimana urutan proses produksi itu harus dilaksanakan. Urutan proses produksi tersebut kemudian harus dituangkan ke dalam dokumen yang disebut rout sheets atau operation sheets. Perencanaan merupakan hal penting karena menghadapi ketidakpastian keadaan dimasa akan datang, sehingga dibuat suatu perencanaan diharapkan kegiatan berjalan sesuai dengan tujuan. Untuk membuat perencanaan yang baik perlu diperhatikan masalah intern dan ekstern. Masalah intern adalah yang datang dari dalam perusahaan dimana masalah berada dalam manajemen perusahaan seperti peralatan atau mesin-mesin atau bahan baku yang digunakan untuk produksi, serta tenaga kerja dan lain-lain. Sedangkan masalah ekstern adalah masalah yang datang dari luar perusahaan dan diluar manajemen perusahaan, seperti inflasi, kebijakan pemerintah dan faktor lingkungan lainnya. Sedangkan pengertian perencanaan produksi (production planning) adalah perencanaan dan pengorganisasian sebelumnya mengenai orang-orang, bahan-bahan, mesin-mesin dan peralatan lain serta modal yang diperlukan untuk memproduksi barang-barang pada suatu periode tertentu di masa depan sesuai dengan yang diperkirakan atau diramalkan (Assauri, 2008:181).

Dari pengertian diatas berarti bahwa perencanaan produksi membutuhkan pertimbangan dan ketelitian yang terperinci dalam menganalisa kebijakan, karena perencanaan ini merupakan dasar penentuan bagi manajer dalam rangka mencapai tujuan.

Pengertian Proses Produksi (Skripsi dan tesis)

Sebelum membahas mengenai pengertian proses produksi, sebaiknya terlebih dahulu membahas mengenai definisi dari proses. Menurut Assauri (2008:105) proses adalah cara, metode dan teknik bagaimana sesungguhnya sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada diubah untuk memperoleh suatu hasil. Sedangkan untuk istilah produksi seperti yang kita ketahui adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa. Adapun pengertian proses produksi menurut Yamit (2007:123) dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan dengan melibatkan tenaga manusia, bahan serta peralatan untuk menghasilkan produk yang berguna. Menurut Assauri (2008:105) pengertian proses produksi dapat diartikan sebagai cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan-bahan dan dana) yang ada.
 Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa proses produksi adalah suatu cara atau metode dalam menciptakan atau menambah nilai suatu barang dengan memanfaatkan sumber daya (tenaga kerja, bahan baku, dan lain-lain).

Pengertian Manajemen Produksi dan Operasi (skripsi dan tesis)

Manajemen Produksi dan Operasi terdiri dari kata manajemen, produksi dan operasi. Terdapat beberapa pengertian untuk kata manajemen itu sendiri. Menurut Assauri (2008:18) pengertian manajemen adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan dengan menggunakan atau mengoordinasikan kegiatan-kegiatan orang lain. Dalam pengertian ini terdapat tiga unsur yang penting, yaitu adanya orang yang lebih daripada satu, adanya tujuan yang ingin dicapai dan orang yang bertanggung jawab akan tercapainya tujuan tersebut. Sedangkan menurut Herjanto (2007:2) pengertian manajemen pada umumnya, yaitu mengandung unsur adanya kegiatan yang dilakukan dengan mengkoordinasikan berbagai kegiatan dan sumber daya untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Istilah produksi dan operasi sering dipergunakan dalam suatu organisasi yang menghasilkan keluaran atau output, baik yang berupa barang maupun jasa. Menurut Assauri (2008:17) mendefinisikan produksi secara umum sebagai suatu kegiatan atau proses yang mentransformasikan masukan (input) menjadi hasil keluaran (output). Sedangkan menurut Rosenberg dalam Haming (2011:25) mendefinisikan operasi yang berasal dari kata operation yang kemudian diterjemahkan operasi atau operasional merupakan suatu proses atau tindakan tertentu yang menjadi unsur dari sejumlah kegiatan untuk membuat suatu produk. Operations (jamak dari operation) menunjukkan jumlah semua kegiatan atau proses yang diperlukan untuk memproduksi barang atau jasa tertentu. Dari istilah tersebut maka Handoko (2000:3) menyatakan bahwa manajemen produksi dan operasi merupakan usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaan sumber daya-sumber daya (atau sering disebut faktor-faktor produksi), tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya. Dalam proses transformasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk atau jasa. Dari uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa manajemen produksi dan operasi merupakan suatu kegiatan atau usaha untuk mencapai tujuan dalam memproduksi barang atau jasa tertentu

Linear Integrated Discret Optimizer (LINDO) (skripsi dan tesis)

LINDO adalah program komputer yang digunakan untuk aplikasi LP, yaitu suatu pemodelan matematik yang digunakan untuk mengoptimalkan suatu tujuan dengan berbagai kendala yang ada. LP merupakan bagian dari management science atau penelitian operasional. Program Lindo ini diciptakan oleh profesor Linus Scrage dari Scrage dari Graduate School of business, Chicago. Dari sudut pandang teori sistem, program ini menghendaki masukan model matematik LP dengan format standar. Masukan tersebut akan diolah dengan proses tertentu, agar menghasilkan keluaran. Hasil olahan program sebagai keluaran sistem, dapat ditampilkan dalam dua (2) format, yaitu format Lindo dan format simpleks. Format simpleks di lain pihak, merupakan hasil olahan program yang masih mentah dan masih merupakan keluaran langsung dari program yang perlu dikembangkan lagi agar lebih bermanfaat dalam proses pembuatan keputusan manajerial. Selama peubah-peubah dalam program sasaran linear juga mengikuti sifat linear, maka Lindo dapat digunakan (Siswanto 2007).

Analisis Sensivitas Linear Programming (skripsi dan tesis)

Seorang analisis jarang dapat menentukan parameter model LP seperti (cj,bi,aij) dengan pasti, karena nilai parameter ini adalah fungsi dari beberapa uncontrolable variabel. Misalnya, permintaan masa depan, biaya bahan mentah dan harga energi sebagai sumber daya tak dapat diperkirakan dengan tepat sebelum masalah diselesaikan. Sementara itu solusi optimum model LP didasarkan pada parameter ini. Akibatnya analisis perlu mengamati pengaruh perubahan parameter terhadap solusi optimum. Analisis perubahan parameter dan pengaruhnya terhadap solusi LP dinamakan post optimality analysis. Post optimality menunjukan bahwa analisis ini terjadi setelah diperoleh solusi optimum (Mulyono, 2007). Melalui analisis sensitivitas dapat dievaluasi pengaruh perubahanperubahan parameter dengan sedikit tambahan perhitungan berdasarkan tabel simpleks optimum. Namum, jika perubahan-perubahan terlalu banyak, meka perhitungan post optimum dapat menjadi meletihkan, sehingga lebih efisien, jika menyelesaikan kembali masalah LP dengan metode simpleks.   Dalam analisis sensitivitas, perubahan-perubahan parameter dibagi menjadi : 1. Perubahan koefisien fungsi tujuan (cj), 2. Perubahan konstan sisi kanan (bi), 3. Perubahan kendala atau koefisien matriks A, 4. Penambahan peubah baru, 5. Penambahan kendala baru.

Metode Simpleks (skripsi dan tesis)

Menurut Mulyono (2007) metode simpleks pertama kali diperkenalkan oleh G. B. Dantzig pada tahun 1947. Metode ini menyelesaikan masalah LP melalui perhitungan-ulang (iteration) di mana langkah-langkah perhitungan yang sama diulang berkali-kali sebelum solusi optimum dicapai. Dalam menggunakan meode simpleks untuk menyelesaikan masalahmasalah LP, model LP harus diubah ke dalam bentuk umum yang dinamakan bentuk baku atau standart form. Ciri-ciri bentuk baku model LP adalah : 1. Semua kendala berupa persamaan dengan sisi kanan nonnegatif 2. Semua variabel nonnegatif 3. Fungsi tujuan dapat maksimum maupun minimum Berikut adalah cara merubah ke bentuk baku : 1. Kendala a. Suatu kendala jenis ≤ (≥) dapat diubah menjadi suatu persamaan dengan menambahkan suatu variabel slack sisi kiri kendala b. Sisi kanan suatu persamaan dapat selalu dibuat nonnegatif dengan cara mengalikan kedua sisi dengan -1 c. Arah pertidaksamaan dibalik jikan kedua sisi dikalikan dengan -1 9 2. Variabel Sebagian atau semua variabel dikatakan unrestricted jika merekan dapat memiliki nilai negative maupun positif. Variabel unrestricted dapat diekspresikan dalam variabel nonnegatif dengan menggunakan subtitusi. 3. Fungsi tujuan Meskipun model LP dapat berjenis maksimisasi maupun minimisasi, terkadang bermanfaat untuk mengubah salah satu bentuk ke bentuk lain. Maksimisasi dari suatu fungsi adalah ekuivalen dengan minimisasi dari negative fungsi yang sama dan sebaliknya

Linear Programming (skripsi dan tesis)

Sejak diperkenalkan pada tahun 1940-an, Linear Programming (LP) menjadi salah satu alat riset operasi yang paling efektif. LP merupakan metode matematika dalam mengalokasikan sumber daya yang langka untuk mencapai tujuan seperti memaksimumkan keuntungan atau menimumkan biaya. LP banyak diterapkan dalam membantu menyelesaikan masalah ekonomi, industri, militer, sosial dan lain-lain (Mulyono, 2007). Subagyo dalam Yuliawan (2009), mendefinisikan LP sebagai suatu model umum yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah pengalokasian sumber-sumber yang terbatas secara optimal. LP mencangkup perencanaan aktivitas-aktivitas untuk mencapai suatu hasil yang optimal, yaitu hasil yang menggambarkan tercapainya tujuan tertentu yang paling baik (menurut model 7 matematis) diantara alternaif-alternatif yang mungkin, dengan menggunakan fungsi linear. Perumusan masalah umum pengalokasian sumber daya dapat dirumuskan secara matematik dengan model LP. Fungsi model LP meliputi dua macam fungsi, yakni fungsi tujuan dan fungsi kendala. Fungsi tujuan adalah fungsi yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai dalam permasalahan LP yang berkaitan dengan pengaturan secara optimal sumber daya, untuk memperoleh keuntungan secara maksimal atau biaya yang minimal. Nilai yang akan dioptimalkan pada umumnya dinyatakan sebagai Z, sedangkan fungsi kendala adalah fungsi yang menggambarkan secara matematik batasan ketersediaan kapasitas yang akan dialokasikan secara optimal ke berbagai aktivitas. Asumsi model LP yang harus dipenuhi adalah sebagi berikut :

1. Proporsionalitas Bila peubah keputusan berubah, maka dampak peubahnya akan menyebar dalam proporsi tertentu terhadap fungsi tujuan dan fungsi kendala.

2. Aditivitas Nilai koefiensi pengambil keputusan fungsi tujuan merupakan jumlah dari nilai individu-individu dalam model LP.

3. Divisibilitas Peubah pengambil keputusan dapat dibagi kedalam pecahan-pecahan apabila diperlukan. 4. Deterministik Semua parameter yang terdapt dalam model LP adalah tetap, diketahui dan dapat diperkirakan secara pasti.

5. Linearitas Perbandingan antara masukan yang satu dengan masukan lainya, atau untuk suatu masukan dengan keluaran besarnya tetap dan tidak bergantung pada tingkat produksi.

Optimasi Produksi (skripsi dan tesis)

Manajemen perusahaan, baik perusahaan besar maupun UKM akan selalu berusaha untuk merencanakan dan mengatur penggunaan faktor-faktor produksinya secara efisien sehingga mampu memproduksi dengan biaya seminimum mungkin untuk mencapai keuntungan pada tingkat tertentu. Dengan perencanaan optimasi produksi, maka tujuan perusahaan untuk memaksimumkan keuntungan ataupun meminimumkan biaya produksi dapat dicapai.   Menurut Soekartawi (1992), optimasi merupakan pencapaian suatu keadaan yang terbaik, yaitu pencapaian solusi masalah yang diarahkan pada batas maksimum dan minimum. Persoalan optimasi meliputi optimasi tanpa kendala dan optimasi dengan kendala. Dalam optimasi tanpa kendala, faktorfaktor yang menjadi kendala terhadap fungsi tujuan diabaikan sehingga dalam menentukan nilai maksimum ataupun minimum tidak ada batasan untuk berbagai pilihan peubah yang tersedia. Pada optimasi dengan kendala, faktofaktor yang menjadi kendala pada fungsi tujuan diperhatikan dan ikut dalam menentukan nilai maksimum ataupun minimum (Nicholson, 1995). Optimasi dengan kendala pada dasarnya merupakan persoalan dalam menentukan nilai peubah-peubah suatu fungsi menjadi maksimum atau minimum dengan memperhatikan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Keterbatasan tersebut meliputi faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, lahan dan modal (Supranto dalam Yuliawan, 2009). Salah satu teknik optimasi yang sering digunakan untuk menyelesaikan masalah optimasi berkendala adalah teknik Liniear Programming (LP) yang dapat diselesaikan dengan program computer untuk menghasilkan solusi yang cepat dan akurat bagi perusahaan.

Pengertian Produksi dan Operasi (skripsi dan tesis)

Menurut Assauri (2008), pengertian produksi dan operasi dalam arti luas adalah kegiatan yang mentranformasikan masukan (input) menjadi keluaran (output), mencangkup semua kegiatan atau aktifitas yang menghasilkan barang dan jasa, serta kegiatan-kegiatan lain yang mendukung atau menunjang usaha untuk menghasilkan produk tersebut. Berdasarkan batasan ini kegiatan produksi terdapat pada pabrik manufaktur, pertambangan, perhotelan, rumah sakit, pelayanan dan lain sebagainya. Dalam arti sempit, produksi dan operasi hanya dimaksud sebagai kegiatan yang mengasilkan barang baik barang jadi maupun barang setengah jadi. Sedangkan pengertian produksi dan operasi dalam ekonomi adalah merupakan kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk menciptakan dan menambah kegunaan atau utilitas suatau barang atau jasa. Menurut Handoko (2008), manajemen produksi dan operasi merupakan usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaan sumber daya atau faktor produksi – tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya – dalam proses tranformasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk dan jasa.

Definisi Usaha Kecil Menengah (skripsi dan tesis)

Pengertian Usaha Kecil Menengah (UKM) menurut Keputusan Presiden RI No. 99 tahun 1998, yaitu kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Pengertian UKM berdasarkan kuantitas tenaga kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5-19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20-99 orang. Pengertian Usaha Kecil menurut UU No. 20 Tahun 2008, Pengertian Usaha Kecil, memiliki dua pengertian, yakni : Usaha Kecil adalah entitas yang memiliki kriteria berikut : 1. Kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. 2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah). Usaha Menengah adalah entitas usaha yang memiliki kriteria berikut : 1. Kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. 2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).

Hubungan Antara Linier Programming dengan Laba (Skripsi dan tesis0

Dalam linier programming terdapat dua tujuan yang bisa dicapai yaitu memaksimumkan laba atau meminimumkan biaya, setiap perusahaan pasti menginginkan keuntungan dalam setiap proses produksinya agar menutupi biaya operasional yang telah dikeluarkan, akan tetapi untuk mencapai keuntungan yang diinginkan perusahaan seringkali mendapatkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi, seperti penggunaan sumber daya yang tidak optimal yang menyebabkan keuntungan tidak maksimal, memproduksi barang yang terlalu banyak tetapi  penjualan terhadap produk tidak maksimal, tingginya biaya produksi yang dikeluarkan tetapi keuntungan tidak maksimal. Linier programming adalah model pemecahan permasalaah yang dapat digunakan oleh setiap perusahaan produksi ataupun jasa yang menginginkan pengoptimalan penggunaan sumber daya sehingga tujuan dalam memaksimumkan keuntungan atau meminimumkan biaya dapat tercapai dengan menggunakan metode kuantitatif

Jenis-Jenis Laba (Skripsi dan tesis)

Salah satunya ukuran dari keberhasilan suatu perusahaan adalah mencari perolehan keuntungan, karena keuntungan pada dasarnya hanya sebagai ukuran efisiensi suatu perusahaan. Kasmir (2012:303) menyatakan bahwa : 1. Keuntungan kotor (Gross Profit) artinya keuntungan yang diperoleh sebelum dikurangi biaya-biaya yang menjadi beban perusahaan. Artinya keuntungan keseluruhan yang pertama sekali perusahaan peroleh. 2. Keuntungan bersih (Net Profit) merupakan keuntungan yang telah dikurangi biaya-biaya yang merupakan beban perusahaan dalam suatu periode tertentu termasuk pajak.

Pengertian Laba (Skripsi dan tesis)

Laba pada umumnya, ukuran yang sering kali digunakan untuk menilai berhasil atau tidaknya manajemen suatu perusahan adalah dengan melihat keuntungan yang diperoleh perusahaan. Keuntungan bersih merupakan selisih positif atas penjualan dikurangi biaya-biaya dan pajak. Menurut Suwardjono (2008:464) : Keuntungan dimaknai sebagai imbalan atas upaya perusahaan menghasilkan barang dan jasa. Ini berarti keuntungan merupakan kelebihan pendapatan diatas biaya (biaya total yang melekat dalam kegiatan produksi dan penyerahan barang/jasa). Menurut Mahmud M. Hanafi (2008:32) Keuntungan merupakan ukuran keseluruhan prestasi perusahaan yang didefinisikan sebagai berikut : Keuntungan = Penjualan – Biaya

Menurut Stice, Skousen (2009:240) is taking on investment income to the owner. It measures the value of which can be provided by the entity to investors and the entity still has the same wealth to their initial position. Kekayaan seorang investor sebagai hasil penanam modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan penanaman modal tersebut (termasuk didalamnya, biaya kesempatan). Sementara itu, keuntungan dalam manajemen operasional didefinisikan sebagai selisih antara harga penjualan dengan biaya produksi. Kebalikannya, kerugian modal terjadi jika surat berharga atau properti tersebut dijual dengan harga lebih rendah dari harga pembelianya. Keuntungan modal dapat mangacu pada “pendapatan investasi” yang timbul dalam kaitannya dengan investasi yang dilakukan dalam bidang properti, aset keuangan (surat 44 berharga) seperti saham atau obligasi dan produk turunannya serta aset tidak berwujud seperti “goodwill”

Pembelian Impulsif (Skripsi dan tesis)

Penelian sebelumnya menjelaskan bahwa pembelian impulsif merupakan pembelian yang tidak terencana (Stern 1962, p. 59). Baru-baru ini, para peneliti telah membahas pembelian impulsif sebagai perangsang dan dikenakan sebagai pengalaman emosional yang berhubungan dengan emosi tinggi dan perilaku spontanitas yang menghalangi untuk mempertimbangan suatu alternatif atau konsekuensi secara bijaksana (Jones et al., 2003; Rook 1987).

Hypermarket (skripsi dan tesis)

Hypermarket memiliki luas antara 100.000 – 300.000 meter persegi dengan kombinasi produk makanan 60 – 70% dan produk-produk general atau umum 30 – 40%. Hypermarket memiliki persediaan lebih sedikit dibanding supercenter, yaitu 40.000 hingga 60.000 item yang meliputi produk makanan, hardware, dan peralatan olahraga, hingga pada furniture, perlengkapan rumah tangga, komputer dan elektronik. Dengan demikian hypermarket adalah toko eceran yang mengkombinasikan pasar swalayan dan pemberi diskon di dalam ruangan yang berukuran 100.000 – 300.000 meter persegi (Utami, 2008).

Hubungan Kontrol diri terhadap Pengelolaan Keuangan (skripsi dan tesis)

Pengaruh pengontrolan diri dalam manajemen keuangan pribadi sangatlah penting. Dengan melakukan kontrol diri, maka pribadi akan memiliki sikap bertanggung jawab dalam pengelolaan keuangan. Kontrol diri merupakan keseluruhan kemampuan diri untuk mengendalikan diri pribadinya. Ada empat bidang kontrol diri yaitu Kognitif, Impulse ( Dorongan ), Emosi dan Kinerja. Menurut Senduk (2004) mengatakan bahwa manajemen keuangan pribadi meliputi keputusan tentang
1. Membeli dan memiliki sebanyak mungkin harta produktif. Tentukan harta produktif yang ingin anda miliki. Harta produktif ini merupakan harta yang dapat menekan pengeluaran besar anda dalam kebutuhan sehari-hari. Seperti, jika anda mahasiswa maka memiliki komputer dan printer dapat mengurangi pengeluaran print di rental, dan lainnya. Harta produktif ini harus anda upayakan untuk miliki dengan cara membeli pada saat anda mendapatkan  uang. Prioritaskan harta-harta produktif yang benar-benar mendukung aktivitas anda.
2. Mengatur Pengeluaran anda. Atur pengeluaran anda dan jangan sampai anda mengalami defisit. Usahakan dalam pengaturan pengeluaran anda, sudah di pastikan pos-pos pengeluaran tetap sudah terakomodir. Pelajari dan biasakanlah diri anda untuk mengeluarkan uang secara bijak dan tidak boros.
3. Berhati-hati dengan Hutang. Anda harus mengetahui kapan saat yang tepat untuk berhutang, dan kapan saat yang tidak tepat tidak berhutang. Banyak perusahaan dapat memanfaatkan hutang di bank sebagai mdal usaha. Pada manajemen keuangan pribadi, jika anda mengalami defisit dan memaksa anda untuk berhutang, maka usahakanlah hutang tersebut tidak terlalu besar, dan menggangu keuangan anda secara keseluruhan pada saat pengembalian hutang tersebut
. 4. Sisihkan untuk masa depan. Rencanakan masa depan anda secara sistematis. Karena dengan merencanakannya, anda dapat menyisihkan pemasukan anda sebagian untuk diinvestasikan bagi masa depan. Dengan membantu melakukan investasi masa depan dalam pengelolaan keuangan, maka anda mengurangi resiko untuk bergerak jauh dari masa depan yang anda inginkan.
5. Memiliki proteksi. Milikilah asuransi untuk melindungi anda dari berbagai bentuk resiko yang kemungkinan dapat terjadi. Jika anda belum memiliki penghasilan yang tetap, maka anda dapat membuka rekening tabungan dan menyisihkan uang anda sedikit dari pemasukan untuk ditabung sebagai anggaran proteksi pada resiko yang tidak anda harapkan.
 Diduga seseorang yang cenderung melakukan tindakan belanja impulsif memilki kaitan dengan tindakan perencanaan keuangan. Menurut Senduk (2001) perencanaan keuangan adalah proses merencanakan tujuan-tujuan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang. Yang dimaksud dengan tujuan keuangan itu adalah keinginan keuangan yang ingin direalisasikan. Dalam dunia nyata seseorang yang memilki kecenderungan melakukan tindakan belanja impulsif diduga memiliki perencanaan keuangan yang buruk, dimana praktek manajemen keuangan masih belum diimplementasikan sepenuhnya dalam kehidupan

Pengertian Nilai Materialisme (Skripsi dan tesis)

Menurut (Richin dan Dawson 1992 dalam Prima Naomi 2008) berpendapat bahwa, materialisme adalah salah satu trait kepribadian yang berkaitan dengan kepemilikan barang atau materi. Trait ini membedakan seseorang dari orang lain terkait dengan apakah materi merupakan sesuatu yang penting dan memberinya identitas ataukah hanya merupakan sesuatu yang sekunder. Salah satu komponen konsep diri yang penting adalah hubungan seseorang dengan dunia material. Peneliti melihat perbedaan individu berkaitan dengan bagaimana konsumen menilai kepemilikan seseorang. Tendensi untuk mencapai kebahagiaan melalui kepemilikan benda tertentu disebut materialisme (Mowen dan Minor, 2002: 280). Para peneliti menemukkan ciri orang yang dapat di kategorikan materialistik yaitu: (1) Individu yang mengutamakan menghargai dan memamerkan kepemilikan, (2) umumnya individu egois dan terpusat pada diri sendiri, (3) individu mencari gaya hidup yang penuh dengan kepemilikan, contohnya: mereka menginginkan untuk mempunyai tidak hanya ”sesuatu”, tetapi lebih dari sebuah gaya hidup yang biasa dan sederhana, (4) yang dimiliki sekarang tidak dapat memberikan kepuasan yaitu seseorang yang selalu mengharapkan kepemilikan yang lebih tinggi agar mendapatkan kebahagian yang lebih besar (Schiffman dan Kanuk, 2007: 129). Konsumen dengan nilai materialistik yang tinggi sangat didorong untuk mengkonsumsi lebih banyak dari konsumen lainnya (Wong, 1997 dalam Phau, 2009). Dalam kamus bahasa Inggris Oxford, materialisme didefinisikan sebagai sebuah pengabdian untuk keinginan dan kebutuhan material dan mengabaikan hal-hal rohani, sebuah cara hidup, pendapat, atau kecenderungan didasarkan sepenuhnya pada kepentingan materi

Pengertian Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Prima Naomi (2008 : 182) mendefinisikan kontrol diri merupakan pola respon yang baru dimulai untuk menggantikan sesuatu dengan yang lain, misalnya respon yang berkaitan dengan mengalihkan perhatian dari sesuatu yang diinginkan, mengubah emosi menahan dorongan tertentu dan memperbaiki kinerja. Dapat dikatakan sebagian besar seseorang mengiginkan dapat mengelola self control untuk di implementasikan dalam pengambilan keputusan yang baik dan terencana untuk jangka panjang kedepan. Pembelian Impulsif atau pembelian tidak terencana adalah pembelian yang terjadi secara spontan karena munculnya dorongan yang kuat untuk membeli dengan segera (Assael, 1998 ; Hanna dan Wozniak, 2001; London dan Bitta, 1993; Mowen dan Minor, 2002; Rook dalam Enggel dkk, 1995; Solomon 2002 pada Fika Ariani 2008).
Secara umum ada empat tipe pembelian impulsif di masyarakat (Assael, 1998; Enggel dkk, 1995; London dan Bitta, 1993 pada Fika Ariani 2008) yaitu pertama dorongan murni (pure Impulse) berupa dorongan untuk membeli produk yang baru atau menghentikan pola pembelian normal, kedua dorongan atas saran anjuran (suggestion impulse) yang didasarkan stimulus pada toko dan ditunjang pada pembelian saran, baik dari sales promotion, pramuniaga atau teman, ketiga dorongan karena ingatan (reminder impulse) yang  muncul saat melihat barang dan produk pada rak’ display atau teringat iklan dan informasi lainnya tentang suatu produk, keempat dorongan yang direncanakan (planed impulse) berupa intensi membeli berdasarkan harga khusus, kupon dan lain sebagainya tanpa merencanakan produk yang akan dibelinya. Pada pembelian Impulsif, konsumen memilki perasaan yang kuat dan positif terhadap suatu produk yang harus dibeli hingga ahirnya konsumen memutuskan untuk membelinya (Mowen dan Minor, 2002). Proses afektif yang muncul pada konsumen langsung menuju pada perilaku membeli, tanpa konsumen memikirkannya dahulu bahkan memperhitungkan konsekuensi yang diperolehnya. Kontrol diri perlu dimiliki oleh seseorang ketika menghadapi situasi pembelian yang bersifat impulsif maupun kompulsif. Perilaku ini merupakan sesuatu yang tidak teratur dan diakibatkan oleh dorongan yang tidak direncanakan dan spontan. Perilaku ini dianggap sebagai pembelian yang tidak disertai dengan pertimbangan yang matang, sesuai dengan tujuan jangka panjang, dan rasionalitas. Pembelian impulsif akan sulit ditahan bila berkaitan dengan sesuatu yang menarik dan menggugah perhatian seseorang. Individu akan mau mengorbankan segala cara untuk mendapatkan sesegera mungkin. Pembelian impulsif sebenarnya bisa ditahan bila seseorang mempunyai kapasitas untuk menahannya

Dimensi Celebrity worship (skripsi dan tesis)

Keterlibatan dengan celebrity oleh Maltby et.al, (2006) dibagi menjadi tiga dimensi yang disebut sebagai Celebrity Attitude Scale (CAS), yang bisa digambarkan sebagai tingkatan, yaitu: a. Entertaiment social Pada level ini individu biasanya dikaitkan dengan penggunaan media sebagai sarana untuk mencari informasi mengenai idolanya dan senang membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan idola dengan sesama teman  yang mengidolakan idola yang sama sebagai hiburan yang didasari oleh ketertarikan fans terhadap idola. Fans menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh idolanya adalah menarik dan menjadi hiburan bagi fans tersebut. Salah satu contoh tipikal perilaku dalam aspek entertainment-social adalah ketika individu gemar membicarakan tentang idolanya kepada sesama teman yang mempunyai idola yang sama. b. Intense-personal Dimensi ini merefleksikan perasaan intensif dan empati terhadap idola, hampir sama dengan tendesi obsesif pada fans. Hal ini menyebabkan individu menjadi memiliki kebutuhan untuk mengetahui apapun tentang celebrity tersebut, mulai dari berita terbaru hingga informasi mengenai pribadi celebrity. Contoh perilaku yang menggambarkan tipikal Intense-personal, misalnya saat individu merasa idolanya bisa menjadi pasangan hidupnya. c. Borderline-pathological Dimensi ini adalah yang paling tinggi dari hubungan parasosial dengan celebrity. Hal ini digambarkan dalam sikap seperti kesediaan untuk melakukan apapun demi celebrity tersebut meskipun hal tersebut melanggar hukum. Fans yang seperti ini tampak memiliki pemikiran yang tidak terkontrol dan menjadi irasional. Salah satu contoh perilaku yang menggambarkan tahapan borderlinepathological misalnya seorang individu rela memberikan uang sebanyak sepuluh juta demi bisa membeli seprei yang pernah dipakai tidur oleh idolanya.

Pengertian Celebrity worship (skripsi dan tesis)

Celebrity worship menurut Maltby et. Al, (2005) adalah gangguan obsesif-adiktif saat seseorang terlalu melibatkan diri di setiap detil kehidupan selebriti idolanya,  dimana semakin seseorang memuja, merasa kagum atau terlibat dengan sosok selebriti tertentu, semakin besar pula keintiman (intimacy) yang diimajinasikan terhadap sosok selebriti yang diidolakan, semakin tinggi tingkat pemujaan seseorang terhadap idolanya, maka semakin tinggi pula tingkat keterlibatannya dengan sosok idola. Seiring dengan meningkatnya intensitas keterlibatan seseorang dengan selebriti idolanya, maka ia mulai melihat sosok selebriti idolanya adalah orang yang dianggap dekat dan ia mulai mengembangkan hubungan parasosial. Hubungan parasosial adalah hubungan yang diimajinasikan seseorang dengan sosok yang diidolakan yang bersifat satu arah, dari fans kepada selebriti idolanya (Maltby, 2004). Celebrity worship dipengaruhi oleh kebiasaaan seperti melihat, mendengar, membaca dan mempelajari tentang kehidupan selebriti secara berlebihan (McCutcheon et al., 2005). Secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa celebrity worship merupakan segala bentuk perilaku atau perasaan yang timbul dari dalam diri individu untuk memuja sosok idola sebagai suatu hiburan atau pemuasan diri.

Tiga Fitur Inti Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

 Dittmar (2005) menyatakan bahwa terdapat tiga fitur inti dari pembelian kompulsif, yaitu: a. Compulsive buyer memiliki hasrat yang tidak dapat ditahan untuk membeli atau mendapatkan sesuatu b. Individu tersebut tidak mampu mengontrol perilaku compulsive buying-nya. c. Individu tersebut akan terus melakukan kebiasaan utuk membeli sesuatu secara berlebihan tanpa menghiraukan dampak yang mungkin timbul dalam kehidupan pribadi, sosial, ataupun pekerjaan dan kesulitan dalam hal keuangan

Faktor-faktor Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian kompulsif, yaitu:
 a. Celebrity worship
Menurut Revees (2014) celebrity worship mempengaruhi pembelian kompulsif. Lebih lanjut Revees (dalam Anastasia, 2017) berpendapat bahwa semakin tinggi tingkat kebutuhan seseorang untuk dihibur oleh idolanya maka semakin tinggi pula tingkat pembelian kompulsif fans. Teori ini didukung oleh penelitian Devi (2014) jika seorang fans merasa terikat secara emosional maka Ia akan mengikuti perkembangan idolanya dengan cara membeli tiket pertunjukan dan bertemu langsung dengan idolanya.
b. Kontrol Diri
O’Guinn dan Faber (1989) seseorang yang memiliki perilaku pembeli yang kompulsif biasanya tidak bisa mengontrol diri dan terkesan kurang peduli terhadap apa yang dibelinya. Menurut Naomi & Mayangsari (2008) kontrol diri  perlu dimiliki seseorang ketika menghadapi pembelian yang bersifat impulsive maupun kompulsif, karena perilaku ini diangap sebagai pembelian yang tidak disertai pertimbagan yang matang, sesuai dengan kebutuhan jangka panjang, dan rasionalitas. Seseorang yang tidak memiliki kontrol diri lebih memprioritaskan konsumsi yang bersifat hedonis dari pada fungsional karena memang menginginkan sesuatu yang bersifat luas (Phillips,dkk dalam Naomi & Mayangsari 2008). Teori ini didukung oleh penelitian Maskhuroh & Renanita (2018) semakin tinggi kontrol diri maka semakin rendah kecenderunan pembelian kompulsif. Sebaliknya, semakin rendah kontrol diri maka semakin tinggi kecenderunan perikalu pembelian kompulsifnya.
 c. Keluarga
Menurut Mangestuti (2014), keluarga sebagai faktor dari pembelian kompulsif dapat dipahami melalui teori belajar sosial. Keluarga adalah dasar terbentuknya perilaku pembelian kompulsif, karena awal dari sosialisasi konsumen berasal dari keluarga. Keluarga dengan orang tua berstatus pembeli kompulsif akan menjadi model untuk ditiru. Selain itu, orang tua yang tidak memberikan dukungan berupa kasih sayang dan perhatian namun justru banyak memberikan tekanan menjadi penguat bagi remaja untuk melakukan pembelian kompulsif.
Workman & Paper (2010) merangkum faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian kompulsif dalam enam kategori:
a. Variabel Kepribadian Variabel kepribadian yang dimaksud meliputi kompulsifitas, merasa harga dirinya rendah, perasaan negatef atau depresi, rasa kesepian, pencarian gairah, dan berfantasi.
 b. Faktor Demografi Faktor demografi di sini mengenai faktor pendapatan, usia, dan gender.
 c. Intensitas Perasaan Konsumen yang kompulsif cenderung memiliki respon perasaan yang kuat terhadap stimuli tertentu dibandingkan dengan konsumen lain.
d. Evaluasi normatif dan pengendalian impuls Kurangnya pengendalian impuls telah dikaitkan dengan orang-orang yang tidak mampu menahan ataupun menunda kepuasan ketika sebuah rangsangan untuk membeli muncul.
e. Penggunaan kartu kredit Konsumen yang kompulsif membuktikan penggunaan kartu kredit yang sangat tinggi atau menyalah gunakan kartu kredit disbanding dengan konsumen lain.
f. Konsekuensi jangka pendek dan janka panjang dari belanja kompulsif Konsekuensi jangka pendek pembelian kompulsif bersifat positif seperti berkurangnya stress dan tekanan. Namun jika bekelanjutan, konsekuensi jangka panjang dari perilaku ini sifatnya negatif seperti kesulitan pribadi, utang finansial, gangguan dalam kehidupan keluarga.
 Oleh karena itu dapat disimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian kompulsif adalah celebrity worship, kontrol diri, keluarga, variabel kepribadian, demografi, intensitas perasaan, evaluasi normatif dan pengendalian impuls, penggunaan kartu kredit, dan konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang pembelian kompulsif

Dimensi Pembelian Kompulsif (Skripsi dan tesis)

 Edwards (1993) pembelian kompulsif memiliki lima dimensi utama, yaitu:
a. Tendency to Spend
Keadaan dimana kecenderungan seseorang membeli barang secara berlebihan, menghabiskan uang dengan sering.
b. Drive to Spend
Saat individu merasa tergoda untuk berbelanja preokupasi (pemusatan pikiran pada satu hal tertentu), kompulsif (dilakukan secara berulang-ulang) dan adanya perilaku impulsif dalam berbelanja atau membeli barang.
c. Feelings about shopping and spending
Keadaan mengenai seberapa besar individu menikmati aktivitas berbelanja dan menghabiskan waktunya untuk berbelanja
 d. Dysfunctional spending.
Menjelaskan bahwa pengaruh lingkungan dapat menyebabkan atau menggiring seseorang untuk melakukan aktivitas berbelanja dan menghabiskan waktunya untuk berbelanja.
e. Post-purchase guilt.
Keadaan dimana seseorang merasa menyesal setelah melakukan aktivitas berbelanja

Pengertian Pembelian Kompulsif (Skripsi dan tesis)

Edwards (1993) pembelian kompulsif adalah suatu tindakan seseorang dalam mengambil keputusan untuk membeli barang bukan hanya karena kebutuhannya, melainkan juga demi pemuasan keinginannya yang dilakukan secara berlebihan, kronis, dan berulang-ulang sebagai representatif perasaan negatif atau untuk mengurangi perasaan negatif. Pembelian kompulsif ini juga dapat diartikan sebagai bentuk pembelian dengan kontrol yang lemah atau berlebihan, dorongan yang berkenaan dengan pembelajaan dan pengeluaran, yang konsekuensinya bersifat merugikan. Menurut O’Guinn dan Faber (1998), pembelian kompulsif adalah pembelian yang kronis, dilakukan berulang-ulang yang menjadi respon utama dari suatu kejadian atau perasaan yang negatif. Sehingga pembelian kompulsif adalah satu bentuk konsumsi yang dianggap sebagai sisi gelap konsumsi, karena ketidakmampuan konsumen dalam mengendalikan dorongan hati yang kuat untuk selalu melakukan pembelian (Shiffman & Kanuk, 2008).  Konsumen yang kompulsif adalah konsumen yang merasa ketagihan, dalam beberapa kondisi mereka berlaku diluar kontrol dan sikap mereka dapat berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain (Schiffman & Kanuk, 2008). Compulsive buying bisa terjadi pada setiap individu yang memiliki kondisi jiwa yang normal (D’Astous, Maltais, & Roberge dalam Naomi & Mayangsari, 2009).

Tipe Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Rosenbaum (Putri dkk, 2009 : 8) mengemukakan tipe-tipe kontrol diri yang terdiri dari: a) Kontrol diri tipe redresif, yaitu berfokus pada proses pengendalian diri b) Kontrol diri tipe reformatif, yaitu berfokus pada bagaimana mengubah gaya hidup, pola perilaku, dan kebiasaan-kebiasaan yang destruktif. c) Kontrol diri tipe eksperiensial, yaitu kemampuan seseorang untuk menjadi sensitif dan menyadari perasaan-perasaannya dan penghayatan akan stimuli dari lingkungan yang spesifik.

Aspek-aspek Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

 Averill (Diba, 2014: 319) mengungkapkan beberapa aspek yang terdapat dalam kontrol diri seseorang, yaitu:
 a. Kontrol Perilaku
Merupakan sikap yang menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya (Azwar, 2013 : 27). Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. Sementara Diba (2014 : 319) menyatakan kontrol perilaku sebagai kesiapan atau tersedianya suatu respon yang dapat secara langsung mempengaruhi keadaan yang tidak menyenangkan dan langsung mengantisipasinya. Kontrol perilaku ditentukan oleh pengalaman masa 36 lalu dan perkiraan individu mengenai seberapa sulit atau mudahnya untuk melakukan yang bersangkutan, yang mana kontrol perilaku ini sangat penting artinya ketika rasa percaya diri seseorang sedang berada dalam kondisi yang lemah (Azwar, 2013 : 13). Kemampuan ini diperinci lebih lanjut ke dalam dua komponen, yakni kemampuan mengontrol pelaksanaan yang ditunjukkan dengan kemampuan individu untuk menentukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan, dirinya sendiri atau sesuatu di luar dirinya. Dan kedua adalah kemampuan mengontrol stimulus yang ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengetahui bagaimana dan kapan stimulus yang tidak dikehendaki dihadapi. Stimulus adalah hal-hal yang merangsang terjadinya kegiatan pembelajaran, seperti pikiran, perasaan dll yang dapat ditangkap melalui alat indera.
b. Kontrol Kognitif
Yaitu kemampuan individu dalam mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau menggabungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau untuk mengurangi tekanan. Secara sederhananya, kontrol kognitif ini merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap, yakni kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap (Azwar, 2013 : 24).
 Komponen kognitif mengacu pada kesadaran responden dan pengetahuannya terhadap beberapa obyek atau fenomena yang terkadang disebut juga dengan komponen keyakinan, yang diekspresikan seperti: “saya mempercayai produk A mempunyai …. ” 37 atau “saya tahu bahwa produk B akan … “. Komponen kognitif penting bagi berbagai kebutuhan informasi. Banyak situasi keputusan membutuhkan informasi yang menyangkut kesadaran/pengetahuan pasar tentang ciri-ciri produk, kampanye periklanan, penetapan harga, ketersediaan produk, dan lain sebagainya. Kemampuan ini diperinci lebih lanjut ke dalam dua komponen, yaitu kemampuan memperoleh informasi, dan kemampuan melakukan penilaian. Kemampuan memperoleh informasi ini dengan informasi yang dimiliki, individu dapat mengantisipasi keadaan dengan berbagai pertimbangan secara objektif. Sedangkan kemampuan melakukan penilaian ditunjukkan dengan melakukan penilaian dimana individu berusaha menilai dan menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara memperhatikan segi-segi positif secara objektif.
c. Kontrol Keputusan
Yaitu kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakininya atau disetujuinya. Ghufron dan Rini (Heni, 2011: 5) mengungkapkan 2 faktor yang mempengaruhi kontrol diri, yaitu:
1. Faktor Internal Salah satu faktor yang ikut andil terhadap kontrol diri adalah usia. Semakin bertambah usia seseorang, maka semakin baik kemampuan mengontrol diri seseorang itu.
 2. Faktor Eksternal Salah satu faktor yang ikut andil terhadap kontrol diri adalah keluarga. Lingkungan keluarga dapat menentukan bagaimana kemampuan mengontrol diri seseorang. Bila lingkungan keluarganya menerapkan disiplin yang konsisten kepada anaknya, maka konsisten ini akan diinternalisasi oleh anak dan kemudian akan menjadi kontrol diri baginya

Definisi Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

 Lazarus (Diba, 2014: 315) mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur, dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi yang positif. Messina (Naomi dan Mayasari, 2009: 4) mendefinisikan kontrol diri sebagai kemampuan seseorang untuk tidak melakukan pembelian secara spontan atau kemampuan diri untuk menunda pembelian dengan melakukan pertimbangan terlebih dahulu. Kontrol diri biasanya melibatkan upaya untuk menghindari preferensi jangka pendek agar mencapai preferensi jangka panjang (Putra dkk, 2012 : 4). Seseorang yang tidak memiliki kontrol diri lebih mengutamakan konsumsi yang bersifat hedonis daripada fungsional karena ia menginginkan sesuatu yang bersifat kemewahan dan kesenangan. Berdasarkan beberapa pengertian kontrol diri tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kontrol diri merupakan kemampuan individu dalam mengontrol segala perilaku, pikiran, dan perasaannya dalam keinginannya untuk melakukan hal-hal negatif. Hal-hal negatif dalam bahasan ini ialah pola perilaku pembelian kompulsif. Jadi kontrol diri ini perlu dimiliki oleh seseorang ketika menghadapi situasi pembelian yang bersifat impulsif maupun kompulsif (Naomi dan Mayasari, 2009: 3).
 Rotter (Friedman & Schustack, 2008 : 50) membagi kontrol diri ke dalam 2 elemen utama, yakni kontrol eksternal, dan kontrol internal. Kontrol eksternal diakibatkan karena adanya sebuah keyakinan bahwa hal-hal di luar diri individu, seperti kesempatan atau kekuatan lainnya itu menentukan apakah hasil akhir yang diinginkan akan terjadi. Seseorang dengan kontrol eksternal cenderung kurang independen dan lebih mungkin menjadi depresif dan stres. Sedangkan kontrol internal merupakan ekspektasi umum di mana tindakan individu sendiri akan menyebabkan munculnya hasil akhir yang diinginkan. Seseorang dengan kontrol internal lebih berorientasi pada keberhasilan karena mereka menganggap perilaku mereka dapat menghasilkan efek positif dan juga mereka lebih cenderung tergolong ke dalam high achiever

Metode AIO (Activity, Interest, Opinion) (skripsi dan tesis)

 Menurut Kasali (Susanto, 2013: 3) para peneliti pasar yang menganut pendekatan gaya hidup cenderung mengklasifikasikan konsumen berdasarkan variabel AIO (Activity, Interest, Opinion). Berikut ini adalah :
 1. Aktivitas
Aktivitas mengacu pada cara setiap individu menghabiskan waktu dan uang yang mereka miliki terkait dengan tindakan nyata, seperti pekerjaan atau tindakan yang wajib dilakukan sehari-hari, bekerja, rekreasi, menonton, berbelanja, dll (Aresa, 2012: 29). Jadi dapat dikatakan bahwa indikator dari aktivitas ini meliputi hobi, hiburan, dan berbelanja.
2. Minat
Minat adalah sesuatu yang membuat seseorang merasa tertarik, seperti ketertarikannya terhadap makanan, teknologi, fashion, dll. (Susanto, 2013: 4). Aresa (2012: 31) mendefinisikan minat sebagai faktor pribadi yang terdapat pada diri individu dalam mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang diukur melalui minat individu terhadap keluarga, rumah, pekerjaan, komunitas, rekreasi, fashion, makanan, media, dan achievement.
3. Pendapat
Pendapat-pendapat yang diucapkan oleh seseorang akan membantu kita untuk mengetahui karakter orang tersebut, dan apa yang dia butuhkan untuk memperkuat karakternya (Susanto, 2013: 4). Engel, Blackwell, dan Miniard mengungkapkan bahwa opini digunakan untuk mendeskripsikan harapan dan evaluasi, seperti kepercayaan, antisipasi terhadap peristiwa di masa depan, dan pertimbangan konsekuensi dari adanya tindakan alternatif (Aresa, 2012: 32). Jadi opini ini merupakan pendapat dari setiap individu, baik lisan maupun tulisan yang diberikan seseorang sebagai respon terhadap stimulus. Dan opini ini biasanya berbentuk pertanyaan yang  diajukan. Opini sendiri ini dapat diukur melalui opini mengenai diri sendiri, isu-isu sosial, politik, bisnis, ekonomi, pendidikan, produk, masa depan, dan budaya

Klasifikasi Gaya Hidup (skripsi dan tesis)

 

David Chaney (dalam Aresa, 2012: 24) mengklasifikasikan gaya hidup berdasarkan kebutuhan seseorang dalam memenuhi keinginan dan rutinitasnya, yaitu :
a) Industri Gaya Hidup “Kamu bergaya maka kamu ada!” adalah sebuah ungkapan yang mungkin cocok untuk menggambarkan kegandrungan manusia modern akan gaya karena gaya hidup sebagai penunjuk penampilan diri mengalami estetisisasi dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya industri gaya hidup untuk sebagian besar adalah industri penampilan.
b) Iklan Gaya Hidup Di dalam era globalisasi informasi saat ini, yang berperan besar dalam membentuk gaya hidup adalah budaya citra dan budaya cita rasa. Iklan dapat dapat mempresentasikan gaya hidup dengan menanamkan secara halus arti pentingnya citra diri untuk tampil di muka publik. Iklan juga secara perlahan namun pasti akan mempengaruhi pilihan cita rasa yang akan dipilih.
 c) Public Relation dan Jurnalisme Gaya Hidup Dalam hal ini celebrity endorser turut membantu dalam pembentukan identitas dari para konsumen. Dalam budaya konsumen, identitas menjadi suatu sandaran “aksesoris fashion”.
d) Gaya Hidup Mandiri Kemandirian adalah kemampuan hidup untuk tidak bergantung secara mutlak kepada sesuatu yang lain. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri, serta berstrategi dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki untuk mencapai tujuan. Dengan gaya hidup mandiri, budaya konsumerisme tidak lagi mengajarkan manusia karena manusia akan bebas untuk menetukan pilihannya sendiri secara bertanggung jawab, serta dapat memunculkan inovasi-inovasi yang kreatif untuk menunjang kemandirian tersebut. e) Gaya Hidup Hedonis Gaya hidup hedonis adalah suatu pola hidup yang akitivitasnya hanya untuk mencari kesenangan hidup, seperti lebih banyak bermain, lebih menyukai keramaian kota, senang membeli barang mahal, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian (Boedeker, Arnold dan Reynold, dan Sproles dan Kendal dalam Arifianti dkk, 2010: 85).

Definisi Gaya Hidup (skripsi dan tesis)

Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa gaya hidup merupakan bagian dari faktor pribadi yang turut mempengaruhi konsumen dalam berperilaku dan mengambil keputusan pembelian. Gaya hidup adalah sebuah konsep yang lebih baru dan mudah terukur dibandingkan dengan kepribadian. Orang-orang yang berasal dari sub kebudayaan, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama dapat memiliki gaya hidup yang berbeda. Kotler dan Armstrong (2001 : 208) mendefinisikan gaya hidup sebagai sebuah pola kehidupan seseorang seperti yang diperlihatkannya dalam kegiatan, minat, dan pendapat-pendapatnya atau dapat disingkat AIO (Activities, Interest, dan Opinions). AIO ini merupakan dimensi utama konsumen dalam mengukur gaya hidupnya. Suryani (2012 : 74) menjelaskan bahwa pertanyaan aktivitas (Activities) menanyakan apa yang dilakukan konsumen, apa yang dibeli, dan bagaimana konsumen menghabiskan waktunya yang meliputi pekerjaan, hobi, belanja, olahraga, kegiatan sosial. Minat (Interest) menanyakan preferensi dan prioritas konsumen, seperti makanan, pakaian, keluarga, rekreasi. Sedangkan pendapat (Opinion) ialah menanyakan pandangan dan perasaan konsumen mengenai berbagai topik kejadian-kejadian 30 yang berlangsung di lingkungan sekitar, baik lokal maupun internasional, masalah-masalah ekonomi, sosial, bisnis, dan produk maupun pendapat tentang diri mereka sendiri.
 Gaya hidup merupakan salah satu cara mengelompokkan konsumen secara psikografis. Gaya hidup ini mencakup lebih dari sekedar kelas sosial ataupun kepribadian seseorang, tetapi gaya hidup saat ini sudah dapat menampilkan pola perilaku seseorang dan interaksinya di dunia. Sementara Sumarwan (2003: 56) menyatakan bahwa gaya hidup itu mencerminkan pola konsumsi yang menggambarkan pilihan seseorang bagaimana seseorang itu menggunakan uang dan waktunya. Dan gaya hidup bersifat tidak permanen karena seseorang akan cepat mengganti model dan merek pakaiannya karena menyesuaikan diri dengan perubahan hidupnya. Sementara itu, Piliang (Wijayanti dan Seminari, 2012 : 642) mengemukakan bahwa gaya hidup merupakan kombinasi dan totalitas cara, tata, kebiasaan, pilihan, serta objek-objek yang mendukungnya, dalam pelaksanaannya dilandasi oleh sistem nilai atau sistem kepercayaan tertentu. Sedangkan Jackson (2004, dalam Japarianto & Sugiharto, 2011 :33) mengatakan bahwa gaya hidup berbelanja merupakan ekspresi tentang gaya hidup dalam berbelanja yang mencerminkan perbedaan status sosial.

Konsekuensi Perilaku Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis )

Berikut ini adalah konsekuensi yang dapat muncul dari adanya perilaku pembelian kompulsif (Lisan dan Ida, 2010: 7).
1. Dorongan Tak Terkendali
 Untuk Berbelanja Keinginan untuk menghilangkan perasaan negatif melalui kegiatan berbelanja sangat kuat dalam diri si pembeli kompulsif. Jika keinginan kuat tersebut selalu muncul ketika mereka mengalami perasaan negatif, maka tidak mengherankan dalam diri mereka akan selalu muncul keinginan berbelanja yang tidak terkendali. Faber dan O’Guinn menjelaskan bahwa perilaku kompulsif dilakukan secara berulang-ulang.
2. Sikap Terhadap Iklan
 Kwak et al (dalam Lisan dan Ida, 2010: 8) mengatakan bahwa pembeli kompulsif memiliki reaksi yang berbeda terhadap iklan dibandingkan dengan konsumen normal lainnya. Berdasarkan Teori Perbandingan Sosial, Kwak et al (dalam Lisan dan Ida, 2010: 8) juga mengatakan bahwa konsumen membandingkan kehidupan nyatanya dengan kehidupan ideal yang ditampilkan di dalam iklan. Oleh karena itu, pembeli kompulsif akan merasa tidak puas dengan kehidupan nyatanya yang sekarang, akibatnya konsumen ingin menyamai kehidupan ideal yang ditampilkan dalam iklan tersebut, dan cara untuk mendapatkan kehidupan idealnya adalah dengan melakukan pembelian atas produk yang diiklankan. Selain itu, pembeli kompulsif juga cenderung lebih mudah dipengaruhi oleh iklan atau hal semacamnya.
 3. Masalah Keuangan
Individu yang cenderung melakukan pembelian kompulsif tidak mempermasalahkan hal keuangan meskipun itu berarti ia harus berhutang atau harus menggunakan kartu kredit untuk memenuhi keinginannya berbelanja. Seperti yang dikatakan oleh Dittmar bahwa finansial bukan halangan bagi pembeli kompulsif mengingat dorongan untuk membeli suatu produk sangatlah kuat. Jika kondisi tersebut terjadi secara berulangulang, maka kemungkinan hutang para pelaku kompulsif akan semakin banyak dan akibatnya akan menimbulkan masalah keuangan bagi dirinya seperti kesulitan dalam membayar hutang. Roberts mengatakan hal yang senada dengan Dittmar bahwa meningkatnya kebangkrutan individu dan penggunaan kartu kredit yang melebihi batas merupakan bagian dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh perilaku pembelian kompulsif

Aspek-aspek Perilaku Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

Menurut Desarbo dan Edward (1996 : 235) aspek yang mempengaruhi seseorang berperilaku kompulsif terbagi ke dalam 2 aspek, yaitu aspek predispostional dan aspek circumstansial.
 1. Aspek Predispostional
Faktor ini merupakan konstruk-konstruk yang mempengaruhi individu untuk melakukan perilaku pembelian kompulsif dan mengindikasikan kecenderungan secara umum yang mengarah pada perilaku pembelian kompulsif. Faktor predispositional terdiri dari :
 a) Kecemasan : Pada tingkat ini individu memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dari pada non kompulsif. Untuk dapat keluar dari kecemasan ini si individu akan termotivasi untuk melakukan perilaku kompulsif. Pembeli kompulsif menggunakan aktivitas berbelanja sebagai cara untuk menghilangkan kecemasannya, dan pola ini dilakukan secara terus-menerus yang dalam artiannya adalah apabila tiap kali si individu mengalami kecemasan yang berlebihan, ia cenderung mengobati kecemasannya dengan berbelanja.
b) Perfeksionis : Perfeksionis dicirikan dengan harapan yang terlalu berlebihan untuk mendapatkan suatu pencapaian yang lebih besar. Orang-orang yang perfeksionis melakukan pembelian kompulsif untuk mendapatkan kompetensi, kontrol dan harga diri meskipun hanya sementara.
c) Harga Diri : Harga diri ini didefinisikan sebagai suatu penilaian terhadap diri sendiri bahwa dirinya begitu berharga. Seseorang yang berperilaku kompulsif cenderung memiliki harga diri yang rendah, karena dengan melakukan pembelian kompulsif akan memunculkan perasaan memiliki kekuasaan melalui aktivitas berbelanja.
d) Fantasi : Pada tingkat ini si individu memiliki khayalan yang terlalu tinggi dan kebebasan akibat dari suatu perilaku yang dilakukannya. Pembelian kompulsif merupakan pelarian dari rasa cemas dan perasaan negatif seseorang yang berarti dengan melakukan pembelian kompulsif maka seakan-akan masalah yang dihadapi menjadi hilang. Disitulah letak fantasi nya.
 e) Impulsif : Pembelian impulsif terjadi karena adanya ketidakmampuan seseorang untuk menolak melakukan pembelian, rendahnya kontrol tersebut sangat erat kaitannya dengan pembelian kompulsif, dan perilaku impulsif umumnya terjadi karena adanya stimulus eksternal. Pembelian kompulsif dideskripsikan sebagai sebuah impulse control disorder dalam kajian ilmu psikologi. Oleh karena itu, perilaku kompulsif dapat dikatakan sebagai perilaku yang tidak dapat dikendalikan karena begitu kuatnya dorongan untuk berperilaku.
f) Pencari Kesenangan : Para pembeli kompulsif cenderung melakukan aktivitas belanja sebagai kegiatan untuk mencari kesenangan semata yang berada di antara kontrol dan rendahnya kontrol.
g) General Kompulsif : Dalam hal ini orang-orang yang cenderung memiliki perilaku kompuslif dapat diketahui dari ciri-ciri: suka menunda pekerjaan, sering mengalami kebimbangan, pola makan tidak teratur, kecanduan obat dan alkohol, dll.
h) Ketergantungan : Orang-orang yang mudah bergantung pada orang lain memiliki kecenderungan untuk berperilaku kompulsif.
i) Approval Seeking : Pembeli kompulsif memiliki kebutuhan untuk mendapat pujian dari orang lain dalam rangka untuk membuat diri mereka menjadi bahagia walaupun itu hanya untuk sementara waktu, seperti mendapatkan pujian dari si penjual di dalam toko akan mengakibatkan mereka melakukan pembelian kompulsif.
j) Locus of Control : Orang yang memiliki hidup yang dikendalikan oleh faktor dari luar memiliki kecenderungan berperilaku kompulsif.
 k) Depresi : Orang yang memiliki tingkat depresi yang tinggi akan cederung melakukan pembelian kompulsif karena tujuannya untuk keluar dari perasaan depresi yang tidak menyenangkan tersebut.
2. Faktor Circumstantial Faktor ini merupakan faktor yang dihasilkan dari kondisi individu pada saat ini dan juga mungkin menjadi pemicu munculnya perilaku-perilaku pembelian kompulsif selanjutnya (Desarbo dan Edwards, 1996 : 238), antara lain seperti :
a) Menghindari Masalah
 Menghindari masalah adalah sebuah kecenderungan umum menggunakan cara-cara tertentu untuk menghindari diri dari sebuah permasalahan, dan para pelaku pembelian kompulsif memiliki kecenderungan untuk menghindari masalah.
b) Penyangkalan
Penyangkalan merupakan penyangkalan terhadap permasalahan yang dihadapi. Pembeli kompulsif memiliki kecenderungan untuk menyangkal keberadaan dari permasalahan yang dihadapinya. Bagi mereka, denial adalah cara untuk menghindari rasa cemas, rasa marah, rasa takut atau emosi negatif lainnya yang biasanya tidak ada hubungannya dengan pengalaman berbelanja.
 c) Pengasingan
 Terdapat dugaan bahwa pembelian kompulsif merupakan sebuah gambaran dari perilaku individu yang terisolasi dari lingkungan sosialnya. Isolasi tersebut mendorong individu untuk memiliki perilaku  berlebihan yang tidak diterima secara sosial sehingga menyebabkan mereka mengisolasi dirinya sendiri. Kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain mungkin mendorong para pembeli kompulsif untuk berbelanja pada sebuah toko karena di sana lah merasa merasa mendapatkan perhatian dari tenaga penjual toko.
 d) Materialistis
Faber dan O’Guinn menggunakan materialism scale yang dikemukakan oleh Belk’s untuk menilai nilai materialisme dalam sampel pembeli kompulsif mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa pembeli kompulsif lebih materialistik dibandingkan dengan populasi umum lainnya. Tetapi meskipun demikian, kepemilikan terhadap suatu barang tidak menjadi perhatian utama bagi mereka. Pembeli Kompulsif lebih fokus pada proses berbelanja daripada barang-barang yang mereka beli.
Sementara itu, Kurnia (2013: 3) mengungkapkan faktor-faktor penyebab terjadinya perilaku pembeli kompulsif adalah :
1. Faktor Keluarga Keluarga mempunyai peranan yang sangat penting dalam membantu individu untuk melakukan proses sosialisasi melalui pembelajaran, dan penyesuaian diri dalam berpikir dan juga bertindak di dalam masyarakat. Keluarga yang utuh dan harmonis akan memberikan dampak positif bagi individu dan perilakunya. Robert (dalam Kurnia, 2013: 3) menyatakan bahwa pada beberapa penelitian yang telah dilakukan ternyata pembelian kompulsif dipengaruhi oleh perilaku dari anggota keluarga yang lain.
2. Faktor Psikologi
Pembelian kompulsif terjadi karena ketegangan psikologi yang menyebabkan meningkatnya keinginan seseorang untuk melakukan pembelian saat itu juga. Dengan kata lain, hasrat untuk melakukan pembelian pada pembeli kompulsif lebih disebabkan oleh dorongan psikologis dari dalam diri mereka.
3. Faktor Sosiologi
Robert (dalam Kurnia, 2013: 3) menyatakan bahwa terdapat pengaruh tayangan televisi, teman sebaya, frekuensi berbelanja, serta kemudahan mengakses dan menggunakan kartu kredit pada pembelian kompulsif.
4. Faktor Situasional
Faktor situasional merupakan faktor eksternal yang muncul karena seseorang melakukan kontak dengan lingkungan dan produk yang nantinya dapat menyebabkan pembelian impulsif dan pembelian kompulsif. Faktor situasional membuat konsumen melakukan pengambilan keputusan di dalam toko pada saat itu juga (Gor dalam Kurnia, 2013: 3).
 5. Materialisme
Materialistik adalah tingkatan seseorang dianggap sebagai materialis. Konsumen menganggap suatu kepemilikan sebagai suatu yang berharga, maka ia semakin materialistis. Demikian juga sebaliknya.  Kemudian, Sari (2013: 6) mengungkapkan 5 dimensi dari perilaku pembelian kompulsif yang terdiri dari :
 1. Tendency to Spend
Yaitu sebagian besar mengarah pada kecenderungan seseorang untuk melakukan aktivitas berbelanja dan lebih sering menghabiskan uang, dimana ada episode tertentu pada aktivitas berbelanjanya.
2. Drive To Spend
 Mendeskripsikan tentang adanya dorongan, preokupasi (pemusatan pikiran pada satu hal tertentu), kompulsif (dilakukan secara berulang-ulang) dan adanya perilaku impulsif dalam berbelanja.
3. Feelings about Shopping
 Mendeskripsikan seberapa besar seseorang menikmati aktivitas berbelanja dan menghabiskan waktunya untuk berbelanja.
4. Dysfunctional Spending
Mendeskripsikan bahwa disfungsinya lingkungan dapat menyebabkan atau menggiring seseorang untuk melakukan aktivitas berbelanja dan menghabiskan waktunya untuk berbelanja.
5. Post Purchase Guilt
Menjelaskan bahwa ada Perasaan menyesal dan pengalaman yang memalukan setelah melakukan aktivitas berbelanja.

Tingkatan Pembelian Kompulsif (skripsi dan tesis)

Edwards (dalam Poetra, 2012: 4) mengklasifikasikan konsumen berdasarkan tingkat kompulsivitas dalam berbelanja, yaitu:
 1. Low (Borderling) Level Konsumen dengan tingkat berbelanja ini adalah seorang yang berada di antara menghibur diri dan menghamburkan uang.
2. Medium (Compulsive) Level Konsumen dengan tingkat berbelanja ini sebagian besar berbelanja untuk menghilangkan kecemasan.
3. High (Addicted) Level Pada tingkatan ini seseorang yang berbelanja sebagian besar untuk menghilangkan kecemasan, tetapi pada addicted level ini seseorang memiliki perilaku berbelanja yang ekstrim

Hal-hal yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian Kompulsif (Skripsi dan tesis)

 Hoyer & MacInnis (1997: 527) mengemukakan hal-hal yang dapat mempengaruhi seseorang berperilaku belanja kompulsif adalah sebagai berikut :
1. Para pembeli kompulsif memiliki kepercayaan diri yang rendah. Rendahnya kepercayaan diri mereka ini dilampiaskan dengan cara berbelanja, karena dari aktivitas berbelanja tersebut mereka mendapatkan perhatian lebih, dan penerimaan sosial dari salesperson misalnya.
 2. Faktor personal yang menyebabkan terjadinya perilaku pembelian kompulsif adalah berorientasi pada fantasi. Dengan berbelanja para pembeli kompulsif akan merasa mereka begitu berarti. Perasaan fantasi ini mungkin menjelaskan bagaimana pembeli kompulsif menghindari atau melarikan diri dari pikiran tentang konsekuensi keuangan dari pengalaman berbelanja mereka.
 3. Para pembeli kompulsif cenderung menarik diri dari masyarakat, mereka memiliki teman yang sedikit dan jarang melakukan kontak sosial dengan yang lainnya. Oleh karena itu, mereka melakukan pembelian secara kompulsif dapat memberikan sebuah kepuasan tersendiri. Para pembeli kompulsif merasa bahwa si penjual adalah teman mereka.
4. Pembeli kompulsif lebih memungkinkan berasal dari keluarga yang ratarata anggota keluarganya pun berperilaku kompulsif atau kecanduan berbelanja

Definisi Pembelian Kompulsif (Skripsi dan tesis)

 Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh beberapa individu di masa perkembangan dunia mode pakaian saat ini adalah bahwa mereka membeli secara kompulsif, yakni mereka membeli sesuatu yang tidak terlalu dibutuhkan, membeli karena situasi, dan bahkan mereka berbelanja secara berlebihan (Hoyer & MacInnis, 1997 : 526). Pembelian kompulsif didefinisikan sebagai respon dari keinginan atau dorongan yang tidak terkendali untuk mendapatkan, menggunakan, atau memahami perasaan, hakekat atau aktivitas yang menjadi petunjuk bagi seseorang untuk secara berulang/terus-menerus melakukan pembelian produk yang tidak terlalu dibutuhkan dalam jangka waktu yang cukup lama akibat dari 13 adanya perasaan negatif, depresi, rasa stres, rasa bosan akan aktivitasnya seharihari dengan tujuan utamanya adalah mencari kesenangan pada proses pembeliannya, bukan pada produknya (Sharma dkk, 2009 : 110 ; Gupta, 2013 : 44 ; Faber & O’Guinn, 1989 : 148 ; Dittmar, 2005 : 469 ; dan Kwak et al dalam Poetra, 2012 : 2).
Sementara itu, Hoyer & MacInnis (1997 : 527) menyatakan bahwa pembelian kompulsif memiliki ikatan emosional yang kuat dari adanya perasaan negatif hingga sampai pada pencapaian perasaan positif. Dampak negatif yang kemungkinan besar terjadi apabila perilaku kompulsif ini terus berkembang adalah dari segi finansial, yakni kemungkinan terjadinya pembengkakan hutang dan rendahnya dana yang bisa ditabung (Robert dalam Ekowati, 2009: 3). Sementara itu, Solomon (1992 : 26) menjelaskan bahwa perilaku kompulsif merupakan ketergantungan seseorang terhadap produk atau jasa dan merupakan perilaku belanja yang dilakukan secara berulang dan berlebihan yang dianggap sebagai penangkal ketegangan, kecemasan, depresi, atau kebosanan sehingga produk atau jasa tersebut dapat memberikan kepuasan dan dianggap dapat memecahkan permasalahan yang sedang terjadi. Solomon (1992 : 27) juga mengungkapkan bahwa pembelian kompulsif ini termasuk ke dalam pembelian yang tidak terencana, namun perilaku pembelian kompulsif berbeda dengan perilaku pembelian impulsif. Pembelian impulsif terjadi karena adanya dorongan untuk membeli barang yang bersifat sementara, dan pembeliannya cenderung lebih ke arah produknya. Sedangkan pembelian kompulsif terjadi akibat dari adanya dorongan kuat untuk membeli barang yang berpusat pada proses pembeliannya.
 Pembelian kompulsif dewasa ini sudah menjadi fenomena yang semakin berkembang, dan menjadi masalah yang penting dalam dunia pemasaran dan dalam bidang ilmu perilaku konsumen, khususnya mengenai perilaku pembelian kompulsif. Valence (Gupta, 2013 : 45) mengungkapkan bahwa terdapat dua faktor utama pemicu seseorang berperilaku kompulsif, yaitu yang pertama adalah faktor sosial budaya (budaya, lingkungan komersial, dan kegiatan periklanan), dan yang kedua adalah faktor psikologis (personaliti, inteaksi lingkungan, keluarga, dan faktor genetik). Sementara itu, penjualan yang menarik, display toko yang menarik, dan pelayan toko yang perhatian, serta kredit yang mudah memungkinkan seseorang untuk berperilaku kompulsif (Hoyer & McInnis dalam Gupta, 2013 : 45). Gilbert dan Jackaria (Gupta, 2013 : 45) mengemukakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian kupon, diskon harga, pemberian sampel, dan pembelian buy one get one free terhadap terjadinya perilaku kompulsif. Hal serupa diungkapkan pula oleh Rajagopal, dan Faber & O’Guinn (Gupta, 2013 : 45) bahwa terdapat hubungan antara pembelian kompulsif dan stimulus eksternal, seperti promosi penjualan dan tawar menawar dalam penjualan retail, kemudian stimulus di dalam toko termasuk display toko, display promosi diskon, dan penerapan harga yang rendah sehingga membentuk suatu atmosfer toko yang kondusif yang mampu meningkatkan gairah emosional pengunjung dalam berbelanja secara kompulsif. Perasaan gairah, eksitasi, persepsi terhadap pandangan, suara, dan perasaan yang kuat dan disukai merupakan faktor penting dalam perilaku pembelian kompulsif (Faber & O’Guinn, 1989 : 156). Loudon dan Bitta (1993 : 563) juga mengungkapkan bahwa terdapat beberapa karakteristik produk, pemasaran, dan karakteristik konsumen yang berhubungan dengan pembelian tak terencana. Karakteristik produk mempengaruhi terjadinya pembelian tak terencana lantaran produk tersebut memiliki harga yang rendah, pendeknya usia produk, adanya kebutuhan, dan akses yang memudahkan seseorang untuk pergi ke toko. Kemudian pemasaran berpengaruh terhadap terjadinya pembelian spontan adalah adanya iklan yang menarik, display toko, dan pelayanan. Sementara itu, karakteristik konsumen seperti usia seseorang, adanya daftar belanja, tujuan berbelanja, dan frekuensi berbelanja juga mempengaruhi seseorang untuk melakukan pembelian tak terencana.
Perilaku pembelian kompulsif merupakan bagian dari pembelian impulsif (Kurniawan dan Suparna, 2012: 3). Perilaku impulsif yang dilakukan berkali-kali dan dalam jangka waktu yang lama menimbulkan suatu perilaku pembelian yang diberi nama perilaku pembelian kompulsif (Larasati dan Budiani, 2014: 14). Pada dasarnya pembelian impulsif dan pembelian kompulsif hampir sama. Perbedaannya adalah pembelian impulsif lebih cenderung menyukai produknya, sedangkan pembelian kompulsif lebih cenderung menyukai kegiatan berbelanjanya (Kurnia, 2013: 2). Larasati dan Budiani (2014 : 15) mengatakan bahwa perilaku kompulsif dapat berasal dari semua golongan ekonomi. Seseorang yang kompulsif adalah seorang yang pemboros yang dicirikan sebagai seseorang yang menghabiskan uang dengan cepat, dan mereka membentuk citra diri bahwa orang lain harus mengagumi mereka dengan segala yang dimilikinya. Perilaku berbelanja kompulsif atau disebut juga shopping addiction merupakan sebutan bagi mereka yang mengalami shopaholic (Poetra, 2012: 2 ; Sharma dkk, 2009 : 110). Shopaholic merupakan istilah medis untuk seseorang yang memiliki keinginan atau hasrat berbelanja secara kompulsif yang berasal dari bahasa 16 Yunani “Oniomania” , yakni “Onios” (belanja) dan “Mania” (Gila) (Sharma dkk, 2009 : 110). Kegiatan berbelanja ini pada umumnya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Namun untuk beberapa orang kegiatan berbelanja merupakan kegiatan yang menyenangkan, dianggap sebagai alat mengatur emosi, ataupun cara untuk mengekspresikan diri, dan biasanya kegiatan berbelanja tersebut tidak terkontrol dan bahkan memberikan dampak negatif. Kegiatan berbelanja yang demikian inilah disebut sebagai perilaku pembelian kompulsif, addictive buying, excessive buying, shopping addiction, spendaholism, shopaholic, dan addictive consumption (Koran dalam Poetra, 2012: 2 ; Sharma dkk, 2009 : 110 ; Solomon, 1992 : 26).
Marlatt (dalam Poetra, 2012: 4) juga menambahkan bahwa perilaku adiktif tersebut biasanya dialami secara subyektif “loss of control” yakni dimana perilaku tersebut terus muncul meskipun telah adanya usaha untuk menghentikannya. Perilaku kompulsif ini biasanya terjadi pada seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah, tingkat berkhayal yang tinggi, dan tingkat depresi, kecemasan, dan obsesi yang tinggi (Rajagopal dalam Larasati dan Budiani, 2014 : 15) sehingga untuk mengurangi perasaan negatif tersebut ia melakukan pembelian kompulsif (Gupta, 2013 : 44). Tujuan dari adanya pembelian kompulsif tersebut adalah untuk menarik perhatian lingkungannya, untuk diakui oleh lingkungan sekitarnya, untuk meningkatkan rasa percaya diri, serta untuk membentuk citra diri individu melalui barang-barang konsumsi pribadi (consumer goods), seperti pakaian, fashion, dan produk yang mampu meningkatkan penampilan diri seseorang, bukan produk makanan, minuman atau belanja kebutuhan rumah 17 tangga (Kaser & Ryan dalam Gupta, 2013 : 44 ; Dittmar, 2005 : 468). Robert & Pirog mengemukakan bahwa wanita menempati posisi paling atas dalam hal mementingkan penampilan menarik dibandingkan dengan pria dan wanita juga lebih sering melakukan pembelian kompulsif dalam bentuk pakaian dan kosmetik (Gupta, 2013 : 44). Akan selalu ada dampak yang diakibatkan dari segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan. Begitu pun dengan perilaku kompulsif. Gwin et al (dalam Sari, 2012: 2) menjelaskan adanya dampak positif dan dampak negatif dari adanya perilaku pembelian kompulsif. Dampak positif dari perilaku pembelian kompulsif dalam jangka pendek adalah kepuasan dan kesenangan yang langsung dapat dirasakan dari aktivitas pembelian tersebut. Perlu diperhatikan bahwa para pembeli kompulsif tidak melakukan pembelian semata-mata hanya untuk mendapatkan suatu produk tertentu, tetapi lebih kepada hasrat untuk mencapai kepuasan dan kesenangan melalui proses pembelian yang dilakukan oleh si individu. Sementara itu, untuk jangka panjangnya perilaku pembelian kompulsif ini akan memberikan dampak negatif bagi si individu karena proses pembelian yang dilakukan secara berlebihan dan berulang-ulang tersebut akan menyebabkan masalah keuangan, kebangkrutan, hutang yang menumpuk, keretakan rumah tangga, terganggunya pekerjaan dan sebagainya (Gwin et al dalam Sari, 2012: 2 ; McElroy dalam Sharma dkk, 2009: 110). Dittmar (2005 : 470) mengungkapkan bahwa pembeli kompulsif berbelanja di atas batas kemampuan mereka karena termotivasi oleh tingginya keinginan mereka untuk memiliki harta benda, dan  menganggap bahwa kepemilikan harta benda tersebut merupakan tolok ukur identitas diri, keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup

Definisi Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Definisi perilaku konsumen menurut Umar (2005: 50) adalah suatu tindakan langsung dalam mendapatkan, mengkonsumsi, serta menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan penyusuli tindakan tersebut. Sementara itu, Schiffman dan Kanuk (Sumarwan, 2003: 25) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai perilaku yang mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan akan memuaskan kebutuhan mereka. Jadi dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen ini adalah kegiatan konsumen dalam membeli dan menggunakan produk/jasa dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen yang kemudian di akhiri dengan hasil evaluasi konsumen terhadap produk/jasa tersebut.

Hubungan antara Self Esteem dengan Compulsive Buying (skripsi dan tesis)

Self esteem didefinisikan sebagai evaluasi mengenai diri individu dan keyakinan pribadi individu tentang keterampilan, kemampuan, hubungan sosial, dan hasil masa depan (Heatherton & Polivy dalam Lopez & Snyder, 2003). Aspek-aspek self esteem terbagi menjadi 3 yaitu : (a) Physical self esteem, (b) Social self esteem, (c) Performance self esteem (Heatherton & Polivy dalam Lopez & Snyder, 2003). 29 Aspek physical self esteem berhubungan dengan kondisi fisik yang dimiliki oleh individu, termasuk daya tarik fisik, citra tubuh, perasaan mengenai ras dan etnis. Aspek ini juga merupakan keadaan dimana individu mampu untuk menerima keadaan fisiknya. Kepuasan wanita akan diri mereka banyak dipengaruhi oleh seberapa sering kecantikan ideal yang terpapar dimedia massa terekspos. Hal ini dapat berimbas pada kecenderungan wanita untuk merasa tidak puas dengan penampilan mereka (Clay dkk., 2005). Hal ini terbukti oleh hasil wawancara yang dilakukan Dittmar dan Drury (2000) kepada beberapa wanita dewasa awal yang salah satu dari mereka berprofesi sebagai mahasiswi, menyatakan bahwa kebanyakan dari mereka mengaku berbelanja karena merasa barang-barang yang ia beli akan mempercantik dirinya. Ketika muncul penilaian negatif mengenai dirinya akan penampilan dan daya tarik fisik individu, maka mereka akan mencari cara untuk mengubah penilaian tersebut dengan mencari dukungan eksternal yang dinilai memiliki kekuatan yang lebih besar dari diri mereka, serta dapat memberikan rasa aman, kenyamanan, kesenangan, yang dalam penelitian ini adalah berbelanja. Aktivitas berbelanja diasosiasikan dengan perasaan berharga, kebahagiaan, serta kekuatan yang secara langsung dapat memuaskan individu (Scherhorn dalam Kurnia, 2012).

 Berbelanja memang memiliki manfaat psikologis yang mampu melepas emosi negatif menjadi emosi yang positif (Dittmar, 2005). Namun perilaku tersebut hanya membawa efek positif yang sifatnya hanya sementara saja. Apabila kegiatan membeli dalam rangka menjadikan penampilan mereka lebih menarik dan diterima oleh orang-orang 30 disekitarnya melalui pembelian produk sukses, maka kebiasaan dalam pembelian tersebut akan semakin kuat dan akan menjadi perilaku yang akan terus berulang. Kegiatan pembelian berulang yang tidak terkontrol biasa disebut dengan compulsive buying (Maisyaroh dalam Islami & Satwika, 2018). Aspek social self esteem berhubungan dengan kemampuan individu dalam bersosialisasi dengan lingkungannya diantaranya adalah tentang pergaulan individu. Selain itu, aspek ini juga merupakan persepsi individu tentang penerimaan orang lain terhadap dirinya. Individu yang memiliki self esteem sosial yang tinggi memiliki keyakinan bahwa mereka adalah orang yang berharga, dihargai dan diterima oleh orang lain. Sementara individu yang harga diri sosialnya rendah sering mengalami kecemasan sosial, yaitu kecemasan akan penilaian orang lain terhadap diri mereka. Wanita cenderung lebih memperhatikan identitas diri mereka daripada pria, akibatnya identitas diri mereka pun lebih rentan terancam (Dittmar, 2005). Berbelanja dapat dengan mudah menjadi pelarian bagi individu dengan self esteem rendah karena dapat merepresentasikan status sosial dan citra diri (Dittmar, 2005). Ketika berbelanja, rasa cemas, sedih, perasaan inferior yang dimiliki akan sedikit demi sedikit hilang dan digantikan dengan perasaan senang serta mampu untuk melupakan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-harinya. Perilaku belanja ini memberikan efek positif meskipun hanya bersifat sementara, yaitu yang membuat individu dapat memberikan perasaan bahagia ketika sedang berbelanja hal yang disukai (Kothari & Mallik, 2015).

 Lingkungan kampus juga merupakan faktor utama seseorang diwajibkan untuk mampu beradaptasi agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan bersosialiasi (Islami & Satwika, 2018). Ditambah lagi mahasiswi memiliki potensi yang besar untuk terus berbelanja kompulsif, karena mahasiswi mulai mengikuti pergaulan masyarakat kota yang mengarah pada kebutuhan hidup tingkat modern, seperti dalam hal penampilan, pembelian produk tertentu yang sedang trend, maupun aktivitas lainnya yang berdasarkan trend masa kini dan sesuai dengan gaya hidup mahasiswi perkotaan. Individu akan merasa seolah dirinya berkuasa dan memiliki kedudukan penting yang kemudian menimbulkan perasaan positif akan dirinya terhadap sekitarnya (Kothari & Mallik, 2015). Perilaku belanja ini akan kembali dilakukan ketika individu merasa nyaman dengan aktivitas belanja tersebut. Individu yang berhasil dapat merubah perasaan negatif menjadi positif dengan aktivitas belanja, maka akan cenderung kembali melakukan aktivitas belanja berulang yang disebut dengan perilaku pembelian kompulsif (Islami & Satwika, 2018).

 Aspek performance self esteem berhubungan dengan penilaian seseorang terhadap kompetensi secara umum yang dimilikinya, meliputi kemampuan intelektual, kinerja sekolah, kapasitas pengaturan diri, kepercayaan diri. Individu yang memiliki self esteem tinggi percaya bahwa dirinya merupakan orang yang cerdas. Mahasiswi yang memiliki penilaian negatif akan dirinya baik itu tidak memiliki kepercayaan diri dan tidak meyakini bahwa mereka merupakan orang yang cerdas, mereka individu akan mencari cara untuk mengubah penilaian dan pemikiran tersebut dengan mencari dukungan eksternal yang dapat memberinya  emosi positif, dalam hal ini cara tercepat adalah melalui berbelanja (Christensen dkk., dalam Workman & Paper, 2010). Ketika individu melakukan pembelian, individu akan merasa diri mereka kompeten, terlebih jika ia dapat membeli barang-barang dari merk ternama atau tergolong mahal (Dittmar, 2005). Dittmar & Beattie (dalam Lee & Workman, 2015) turut berpendapat jika pakaian, tas, dan sepatu memiliki nilai simbolis dalam peningkatan self esteem individu. Salah satu contoh nyata diperoleh dalam penelitian Dittmar & Drury (2000) yaitu dimana sebagian besar compulsive buyer berbelanja consumer goods karena merasa barang-barang tersebut akan menunjukkan kesan jika dirinya mampu secara ekonomi, memiliki kedudukan sosial tinggi dan terlihat lebih baik. Keadaan sebelum mereka berbelanja dan setelah berbelanja akan terlihat bedanya. Setelah melakukan pembelanjaan individu akan merasa bahwa dirinya berharga, dihargai, dan diterima oleh orang lain. Namun jika kegiatan pembelian tersebut semakin kuat dan berulang maka pada akhirnya akan menjadi kebiasaan membeli yang kompulsif atau compulsive buying. Semua aspek yang telah disebutkan diatas memiliki keterkaitan satu sama lain yang dapat mempengaruhi compulsive buying pada mahasiswi dewasa awal. Mahasiswi dewasa awal yang memiliki self esteem tinggi akan merasa bahwa dirinya berharga, dihargai, diterima oleh orang lain, memiliki citra diri yang baik, dan memiliki kepercayaan diri sehingga tidak melakukan kegiatan belanja berulang yang disebut dengan compulsive buying. Sedangkan mahasiswi dewasa awal yang memiliki self esteem rendah akan merasa bahwa dirinya tidak berharga, tidak dihargai, tidak diterima oleh orang lain, tidak memiliki kepercayaan diri, dan 33 menilai bahwa citra diri yang dimilikinya buruk sehingga cenderung kembali melakukan aktivitas belanja berulang yang disebut dengan compulsive buying

Aspek-aspek Self Esteem (skripsi dan tesis)

 Menurut Heatherton & Polivy (dalam Lopez & Snyder, 2003) terdapat tiga aspek dalam self esteem individu, yaitu:
 a. Physical self esteem
 Aspek ini berhubungan dengan kondisi fisik yang dimiliki oleh individu, termasuk daya tarik fisik, citra tubuh, perasaan mengenai ras dan etnis. Aspek ini juga merupakan keadaan dimana individu mampu untuk menerima keadaan fisiknya.
b. Social self esteem
Aspek ini berhubungan dengan kemampuan individu dalam bersosialisasi dengan lingkungannya diantaranya adalah tentang pergaulan individu. Selain itu, aspek ini juga merupakan persepsi individu tentang penerimaan orang lain terhadap dirinya. Individu yang memiliki self esteem sosial yang tinggi memiliki keyakinan bahwa mereka adalah orang yang berharga, dihargai dan diterima oleh orang lain. Sementara individu yang harga diri sosialnya rendah sering mengalami kecemasan sosial, yaitu kecemasan akan penilaian orang lain terhadap diri mereka.
 c. Performance self esteem
Aspek ini berhubungan dengan penilaian seseorang terhadap kompetensi secara umum yang dimilikinya, meliputi kemampuan intelektual, kinerja sekolah, kapasitas pengaturan diri, kepercayaan diri. Individu yang memiliki self esteem tinggi percaya bahwa dirinya merupakan orang yang cerdas. Sedangkan menurut Coopersmith (1967) aspek-aspek dalam self esteem terdiri dari:
1) Keberhasilan Diri
Keberhasilan mempunyai arti berbeda untuk masing‐masing individu. Bagi beberapa orang keberhasilan diwakili oleh penghargaan yang berupa materi dan popularitas. Ada empat area keberhasilan self esteem, yaitu:
a. Significance
 Significance merupakan penerimaan perhatian dan kasih sayang dari orang lain. Penerimaan dan perhatian ditandai dengan adanya kehangatan, tanggapan, minat, serta rasa suka terhadap individu sebagaimana individu itu sebenarnya. Penerimaan dan perhatian juga tampak dalam pemberian dorongan dan semangat ketika individu membutuhkan dan mengalami kesulitan, minat terhadap kegiatan dan gagasan individu, ekspresi kasih sayang dan persaudaraan, disiplin yang relatif ringan, verbal dan rasional, serta sikap yang sabar. Semakin banyak eskpresi kasih sayang yang diterima individu, maka individu akan semakin merasa berarti dan berharga. Tetapi apabila individu jarang atau bahkan tidak memperoleh stimulus positif dari orang lain, maka individu akan merasa di tolak dan mengisolasi diri dari pergaulan.
b. Power
Power menunjukkan suatu kemampuan untuk bisa mengatur dan mengontrol tingkah laku orang lain berdasarkan pengakuan dan rasa hormat yang diterima individu dari orang lain. Kesuksesan dalam area power diukur dengan kemampuan individu dalam mempengaruhi arah tindakan dengan mengendalikan perilakunya sendiri dan orang lain. Power meliputi penerimaan, perhatian, dan perasaan terhadap orang lain.
 c. Competence
Competence dimaksudkan sebagai keberhasilan dalam mencapai prestasi sesuai tuntutan, baik tujuan atau cita-cita, baik secara pribadi maupun yang berasal dari lingkungan sosial. Kesuksesan dalam area competence ditandai dengan tingginya tingkat performa, sesuai dengan tingkat kesulitan tugas dan tingkat usia.
d. Virtue Menunjukkan adanya suatu ketaatan untuk mengikuti standar moral, etika, dan agama. Seseorang yang mengikuti kode etik dan moral yang telah diterima dan terinternalisasi di dalam diri berasumsi bahwa perilaku diri yang positif ditandai dengan keberhasilan memenuhi kode tersebut. Perasaan penghargaan terhadap diri seringkali diwarnai dengan kebajikan, ketulusan, dan pemenuhan spiritual.
 2) Nilai dan Aspirasi
 Nilai diperoleh dari pengalaman dan yang ditanamkan oleh orangtua sejak kecil pada individu. Penilaian atau evaluasi diri individu ditentukan oleh keyakinan-keyakinan individu mengenai cara orang lain mengevaluasi dan memberikan penilaian atas diri individu tersebut. Penilaian dari lingkungan tersebut akan menginternalisasi dan menjadi batasan tingkah laku individu. Penilaian terhadap kesuksesan dan kegagalan dalam melakukan sesuatu sebagai bagian dari identitas diri dan dapat membuat individu merasa berharga, baik secara pribadi maupun secara sosial. Individu yang mempunyai self esteem rendah akan mempunyai tingkat aspirasi rendah. Sebaliknya, individu yang mempunyai self esteem tinggi akan mempunyai aspirasi yang tinggi.
3) Pertahanan
 Pertahanan diwakili oleh kemampuan individu untuk berusaha melawan perasaan ketidakmampuan dalam melakukan sesuatu. Individu dengan self esteem yang tinggi akan mempertahankan kemampuan dalam bersaing. Individu tersebut mampu mengekpresikan atau mempertahankan diri serta mampu mengatasi kelemahan yang dimiliki. Individu yang memiliki self esteem tinggi juga mampu mengatasi penyebab stres, situasi yang sulit atau membingungkan, dan mempunyai aspirasi serta tujuan di dalam hidupnya. Individu dengan self esteem tinggi membangun pertahanan di dalam dirinya dengan cara memberikan kepercayaan dan dukungan kepada orang lain, bahwa orang lain juga memiliki kemampuan yang sama dengan dirinya. Dalam hal ini, pertahanan yang dimaksud tidak hanya mengatasi kecemasan tetapi  juga kemampuan untuk memimpin orang lain secara aktif dan asertif. Sebaliknya, individu dengan self esteem yang rendah tidak mampu mempertahankan kemampuan yang dimiliki dan cenderung kalah dalam persaingan serta sulit mengatasi kecemasan dan tidak mampu menjadi pemimpin yang aktif dan asertif.

Pengertian Self Esteem (skripsi dan tesis)

Heatherton & Polivy (dalam Lopez & Snyder, 2003) mendefinisikan self esteem sebagai evaluasi mengenai diri individu dan keyakinan pribadi individu tentang keterampilan, kemampuan, hubungan sosial, dan hasil masa depan. Coopersmith (1967) mengemukakan bahwa self esteem adalah penilaian diri yang dilakukan oleh individu yang berkaitan dengan dirinya sendiri, yang mencerminkan sikap penerimaan dan penolakan, dan menujukkan seberapa jauh individu tersebut percaya bahwa dirinya mampu, penting, berhasil, serta berharga. Sedangkan menurut Baron & Byrne (2005) self esteem adalah evaluasi diri yang dibuat oleh masing-masing individu; sikap seseorang terhadap dirinya sendiri di sepanjang dimensi positif-negatif. Semakin tinggi self esteem yang dimiliki seseorang maka akan mampu untuk menghadapi masalah personal dalam kehidupannya dan dapat segera bangkit dari kegagalan. Sebaliknya, jika self esteem yang rendah dikarakteristikan dengan tingginya tingkat kecemasan, depresi, dan stres dimana inividu ini cenderung untuk menggunakan berbagai cara, seperti taktik pertahanan diri, agar dapat melupakan masalah personal dihidupnya 24 daripada mengatasinya (Baron & Byrne, 2005). Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa self esteem evaluasi mengenai diri individu dan keyakinan pribadi individu tentang keterampilan, kemampuan, hubungan sosial, dan hasil masa depan