Komponen –Komponen Lapangan Terbang (skripsi dan tesis)

Lapangan terbang (airport) adalah area daratan atau air yang secara regular digunakan untuk kegitan take off atau landing pesawat udara. Diperlengkapi dengan fasilitas untuk pendaratan, parkir pesawat, perbaikan pesawat,bongkar muat penumpang dan barang, dilengkapi dengan fasilitas keamanan dan terminal building untuk mengakomodasi keperluan penumpang dan barang, dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi.

Lapangan terbang berfungsi bukan hanya sebagai tempat tinggal landas pesawat namun dalam sistem transportasi udara meliputi kegiatan-kegiatan yang luas dimana didalamnya terdapat arus penumpang dan barang, untuk mendukung semua kegiatan-kegiatan yang berlangsung dalam lapangan terbang tersebut, sangatlah dibutuhkan komponen-komponen lapangan terbang yang sangat memadai dalam arti berfungsi dengan baik. Sistem lapangan terbang terbagi atas dua yaitu sisi udara (Air side) dan sisi darat (Land Side), kedua sistem ini dibatasi oleh terminal. Komponen-komponen dari kedua system lapangan terbang diatas adalah:

  1. Runway (R/W) atau landas pacu
  2. Taxiway (T/W) atau landas hubung
  3. Apron
  4. Terminal building atau gedung terminal
  5. Gudang
  6. Tower atau menara pengontrol
  7. Fasilitas keselamatan (Pemadam Kebakaran)
  8. Utility (Fasilitas listrik, Telepon, dan bahan bakar.

Parameter Kesuksesan Produk (skripsi dan tesis)

Kesuksesan maupun kegagalan produk dapat diketahui melalui berbagai parameter, yang juga manjadi ukuran kinerja perusahaan yang menghasilkan produk tersebut. Griffin dan Page (1993) mengklasifikasikan parameter yang menjadi ukuran kesuksesan dari suatu produk menjadi empat kelompok, antara lain:

  1. Ukuran kepercayaan pelanggan
  2. Tingkat kepercayaan pelanggan
  3. Tingkat kepuasan pelanggan
  4. Memenuhi target market share
  5. Memenuhi target jumlah penjualan
  6. Performa financial
  7. Break-even time
  8. Mencapai target margin
  9. Mencapai target profit
  10. IRR/ROI
  11. Ukuran level produk
  12. Biayapengembangan
  13. Diluncurkan tepat waktu
  14. Memenuhi standar kualitas
  15. Kecepatan untuk memasarkan
  16. Ukuran level perusahaan

Presentase penjualan produk baru

Komponen –Komponen Lapangan Terbang (skripsi dan tesis)

Lapangan terbang (airport) adalah area daratan atau air yang secara regular digunakan untuk kegitan take off atau landing pesawat udara. Diperlengkapi dengan fasilitas untuk pendaratan, parkir pesawat, perbaikan pesawat,bongkar muat penumpang dan barang, dilengkapi dengan fasilitas keamanan dan terminal building untuk mengakomodasi keperluan penumpang dan barang, dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi.

Lapangan terbang berfungsi bukan hanya sebagai tempat tinggal landas pesawat namun dalam sistem transportasi udara meliputi kegiatan-kegiatan yang luas dimana didalamnya terdapat arus penumpang dan barang, untuk mendukung semua kegiatan-kegiatan yang berlangsung dalam lapangan terbang tersebut, sangatlah dibutuhkan komponen-komponen lapangan terbang yang sangat memadai dalam arti berfungsi dengan baik. Sistem lapangan terbang terbagi atas dua yaitu sisi udara (Air side) dan sisi darat (Land Side), kedua sistem ini dibatasi oleh terminal. Komponen-komponen dari kedua system lapangan terbang diatas adalah:

  1. Runway (R/W) atau landas pacu
  2. Taxiway (T/W) atau landas hubung
  3. Apron
  4. Terminal building atau gedung terminal
  5. Gudang
  6. Tower atau menara pengontrol
  7. Fasilitas keselamatan (Pemadam Kebakaran)
  8. Utility (Fasilitas listrik, Telepon, dan bahan bakar.

Analisis Linier Programing (skripsi dan tesis)

            Linier Programing (LP) merupakan suatu cara untuk menyelesaikan persoalan pengalokasian sumber-sumber yang terbatas diantara beberapa aktivitas yang bersaing dengan cara yang terbaik yang mungkin dilakukan. Satu hal yang menjadi ciri situasi diatas adalah adanya keharusan untuk mengalokasian sumber terhadap aktivitas. Sifat “linier” memberi arti bahwa seluruh fungsi matematis dalam model ini merupakan fungsi yang linier, sedangkan kata “programa” merupakan sinonim untuk perencanaan. Maka Linier Programing juga merupakan perencanaan aktivitas-aktivitas untuk memperoleh suatu hasil yang optimal, yaitu suatu hasil yang mencapai tujuan terbaik diantara seluruh alternatif yang fisibel (Ali Parkhan dan Zainal Mustafa, 2000).

  1. Formulasi dan bentuk umum linier programming

            Dalam model LP dikenal dua macam fungsi, yaitu: fungsi tujuan dan fungsi batasan. Fungsi tujuan adalah fungsi yang menggambarkan tujuan/sasaran yang berkaitan dengan pengaturan secara optimal sumber daya-sumber daya, untuk memperoleh keuntungan maksimal atau biaya minimal. Sedangkan fungsi batasan merupakan bentuk penyajian secara matematis batasan-batasan kapasitas yang tersedia yang akan dialokasikan secara optimal ke berbagai kegiatan.

            Masalah keputusan yang sering dihadapi adalah alokasi optimum sumber daya terbatas yang ditunjukkan sebagai maksimasi keuntungan atau minimasi biaya. Setelah masalah diidentifikasi, tujuan/sasaran yang ingin dicapai ditetapkan, langkah selanjutnya adalah formulasi model matematis yang meliputi tiga tahap berikut :

  1.  Menentukan variabel keputusan (unsur-unsur dalam persoalan yang dapat dikendalikan)
  2. Membentuk fungsi tujuan yang ditunjukkan sebagai suatu hubungan linier dari variabel keputusan.
  3.  Menentukan batasan masalah

            Dalam pembahasan model Linier Programing digunakan simbol-simbol sebagai berikut:

m      : macam batasan-batasan sumber atau fasilitas yang tersedia

n       : macam kegiatan yang menggunakan sumber atau fasilitas tersebut

i        : nomor setiap macam sumber atau fasilitas yang tersedia (i: 1,2,3,…n)

j        : nomor setiap macam kegiatan yang menggunakan sumber atau fasilitas yang tersedia (j: 1,2,…n)

Xj     : tingkat kegiatan ke j (j: 1,2,…n)

aij      : banyak sumber i yang diperlukan untuk menghasilkan setiap unit keluaran atau output kegiatan (i: 1,2,3,…m) dan (j: 1,2,…n)

bi      : banyak sumber i yang tersedia untuk dialokasikan kesetiap unit kegiatan (i: 1,2,3,…m)

Z       : nilai yang dioptimalkan (maksimum atau minimum)

Ci      : kenaikan nilai Z apabila ada pertambahan tingkat kegiatan (Xj)

            Dengan satu satuan (unit) atau merupakan sumbangan setiap satuan keluaran kegiatan terhadap nilai Z. Keseluruhan simbol-simbol diatas saelanjutnya disusun kedalam bentuk tabel standart LP seperti pada table dibawah ini :

Kegiatan Sumber Pemakaian sumber per unit kegiatan

1         2         3         4      .    .    .     n

Kapasitas sumber
1

2

3

.

.

.

M

   a11      a12      a13     a14     .    .    .    n1n

a21         a22      a23     a24     .    .    .    n2n

    a31      a32      a33     a34     .    .    .    a3n

.          .         .        .       .     .    .      .

.         .          .        .       .      .    .      .

.         .          .        .       .      .     .     .

am1   am2   am3    am4   .      .     . amn  

 

b1

b2

b3

.

.

.

bm

Z pertambahan tiap

unit tingkat kegiatan

 

C1      C2      C3     C4    .       .    .    Cn

 

X1      X2       X3      X4    .     .     .     Xn

 

Tabel 2.1. Tabel data untuk model linier Programing

            Atas dasar tabel diatas kemudian dapat disusun model matematis yang dapat digunakan untuk mengemukakan suatu permasalahan LP sebagai berikut :

Ø   Fungsi Tujuan

Maksimum (minimum) Z = C1X1+C2X2+C3X3+C4X4+…+CnXn

Ø   Batasan-batasan

a11X1+a12X2+a13X3+a14X4+……+a1nXn  (  ) b1

a21X1+a22X2+a23X3+a24X4+…   +a2nXn   (  )  b2

.

.

.

Am1X1+am2X2+am3X3+am4X4+…..+amnXn  ( )  bm

            Asumsi-asumsi dalam linier programming

  1. 1.  Propotionality

                           Asumsi ini berarti bahwa naik turunnya nilai Z dan penggunaan sumber daya yang tersedia akan berubah secara sebanding  (proporsional) dengan perubahan tingkat kegiatan.

  1.  Addivity

                           Asumsi ini berarti bahwa nilai tujuan tiap kegiatan tidak saling mempengaruhi atau dianggap bahwa kenaikan dari fungsi tujuan (Z) yang diakibatkan oleh kenaikan suatu kegiatan dapat ditambah tanpa mempengaruhi bagian nilai Z yang diperoleh dari kegiatan lain.

  1. 3.  Divisibility

                           Asumsi ini menyatakan bahwa keluaran (output) yang dihasilkan oleh setiap kegiatan dapat berupa bilangan pecahan.

  1. 4.  Deternimistic (Certainty)

                           Asumsi ini menyatakan  bahwa semua parameter yang terdapat dalam model LP dapat diperkirakan dengan pasti meskipun jarang dengan tepat.

  1. Metode penyelesaian linier programming
  2.   Metode Grafis

               Metode ini digunakan apabila variable model LP yang ada tidak melebihi dua variabel atau yang berdimensi 2 x n atau m x 2.

  1.   Metode Simpleks

               Apabila suatu masalah LP melibatkan lebih dari dua kegiatan maka metode grafik tidak dapat digunakan dalam menentukan kombinasi optimal. Untuk itu digunakan metode simpleks.

               Metode simpleks digunakan untuk menyelesaikan permasalahan optimasi kombinasi dalam perusahaan yang mempunyai lebih dari dua variabel. Penyelesaian optimasi kombinasi disini akan dilakukan secara bertahap, yaitu dengan melihat kemungkinan penyelesaian pada masing-masing kombinasi yang berada pada daerah yang memenuhi syarat, sehingga sampai dengan didapatkannya posisi kombinasi yang paling optimal.

  1. Analisis sensitivitas

            Analisis sensifitas bertujuan untuk menghindari perhitungan-perhitungan ulang bila terjadi perubahan satu atau beberapa koefisien model LP pada saat penyelesaian optimal telah tercapai dan bagaimana pengaruh perubahan tersebut terhadap kondisi optimal.

            Secara umum, perubahan-perubahan tersebut akan mengakibatkan salah satu diantaranya ;

  1. Penyelesaian optimal tidak berubah, artinya baik variabel-variabel dasar maupun nilai-nilainya tidak mengalami perubahan.
  2. Variabel-variabel dasar mengalami perubahan, tetapi nilai-nilainya tidak berubah.
  3. Penyelesaian optimal sama sekali tidak berubah.

Tujuan dan segenap keterbatasannya harus dapat dinyatakan sebagai persamaan atau ketidaksamaan matematika dan harus ada kesamaan atau ketidaksamaan linier.

Penggolongan biaya (skripsi dan tesis)

           Penggolongan adalah proses pengelompokan secara sistematis atas keseluruhan elemen yang ada ke dalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas untuk dapat memberikan informasi yang lebih punya arti atau lebih penting. Berikut ini merupakan penggolongan biaya yang sering dilakukan, antara lain :

  1. Penggolongan biaya berdasarkan fungsi pokok dari kegiatan/aktivitas perusahaan.
  2. Biaya produksi, yaitu semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi atau kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai. Biaya produksi dapat digolongkan kedalam :
  3. Biaya bahan baku, yaitu harga perolehan dari bahan   baku yang dipakai dalam pengolahan produk.
  4. Biaya tenaga kerja langsung, yaitu balas jasa yang  diberikan oleh perusahaan kepada semua karyawan.
  5. Biaya overhead pabrik, yaitu biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, yang elemennya dapat digolongkan kedalam:

Ø  Biaya bahan penolong

Ø  Biaya tenaga kerja tidak langsung

Ø  Penyusutan aktiva tetap pabrik

Ø  Biaya listrik dan air

Ø  Biaya asuransi pabrik

Ø  Biaya overhead lain-lain

  1. Biaya pemasaran, yaitu biaya dalam rangka penjualan produk selesai sampai dengan pengumpulan piutang kas. Biaya ini meliputi: fungsi penjualan, fungsi penggudangan produk selesai dan lain-lain.
  2. Biaya administrasi dan umum, yaitu semua biaya yang berhubungan dengan fungsi administrasi dan umum, meliputi : gaji pimpinan, personalia, sekertariat, akuntansi, hubungan masyarakat, keamanan dan sebagainya.
  3. Biaya keuangan, yaitu biaya yang terjadi dalam melaksanakan fungsi keuangan, misalnya biaya bunga.
  4.  Penggolongan biaya berdasarkan aktivitas atau kegiatan atau volume
  5. Variable cost

      Variable cost merupakan jenis biaya yang selalu berubah sesuai dengan volume kegiatan, semakin besar volume kegiatan maka semakin tinggi jumlah total biaya variable dan semakin rendah volume kegiatan maka semakin rendah jumlah total biaya variabel.

  1. Fixed cost

      Fixed cost merupakan biaya yang jumlah totalnya tetap konstan tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai dengan tingkatan tertentu.

  1. Semi variable cost

      Semi variable cost merupakan jenis biaya yang sebagian variabel dan sebagian fixed, yang terkadang disebut semi fixed cost. Biaya semi variable merupakan biaya yang jumlah totalnya akan berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan, akan tetapi sifat perubahannya tidak sebanding.

2.2.2. Hubungan antara produksi dan biaya

            Untuk mengetahui adanya hubungan antara produksi dan biaya diperlukan suatu metode analisa biaya. Analisa biaya dimaksudkan untuk mencari berapa besarnya margin kontribusi dari masing-masing jenis produk yang diteliti. Data yang diperlukan yaitu mengenai biaya variabel produk, seperti : biaya bahan baku, upah tenaga kerja dan biaya-biaya overhead pabrik (Johannes Supranto, 1998).

            Dari analisa biaya ini dihasilkan harga pokok produksi tiap produk sehingga dapat diketahui margin kontribusi per satuan produk, yaitu dengan mengurangkan harga jual per satuan unit produk dengan harga pokok produksi per satuan unit produk.

Manajemen produksi dan operasi (skripsi dan tesis)

            Produksi sering digunakan dalam suatu operasi yang menghasilkan output, baik barang maupun jasa. Produksi adalah kegiatan atau proses yang mentransformasikan masukan (input) menjadi hasil (output). Jadi didalam pengertian produksi dan operasi tercakup proses yang merubah masukan (input) dan menggunakan sumber-sumber daya untuk menghasilkan keluaran (output) baik barang maupun jasa (Assuari, 1993).

            Menurut (Assauri, 1993) pengertian produksi dan operasi dalam ekonomi adalah kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk menciptakan dan menambah kegunaan suatu barang atau jasa. Kegunaan/utilitas dibedakan karena bentuk, tempat, waktu dan pemilikan, sehingga produksi dan operasi adalah penambahan atau penciptaan kegunaan karena bentuk dan tempat, sehingga perlu faktor-faktor produksi. Faktor produksi terdiri dari tanah, modal, tenaga kerja, ketrampilan manajerial, ketrampilan teknis dan teknologi. Faktor produksi sebagai input dalam proses produksi terdiri dari bahan, peralatan mesin, manusia (tenaga kerja dan skill) metode kerja dan dana.

            Pendapat Bambang Tri Cahyono (1996) manajemen adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan dengan menggunakan atau mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan orang lain. Disini ada tiga unsur penting yaitu adanya orang yang lebih dari satu dan adanya tujuan yang ingin dicapai dan orang yang bertanggung jawab akan tercapainya tujuan tersebut.

            Pengertian manajemen ada kaitannya dengan pengertian organisasi. Organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan dalam manajemen. Manajemen produksi adalah suatu proses manajemen yang diterapkan dalam bidang produksi di dalam produksi. Manajemen produksi merupakan suatu kegiatan untuk mengadakan pengorganisasian, perencanaan, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan dan pengendalian produksi. Kegiatan produksi saling berkaitan satu dengan yang lainnya, baik pada bagian pemasaran, bagian pengadaan bahan baku, bagian personalia, bagian keuangan, maupun bagian-bagian lainnya (Agus Ahyari, 1995).

Akurasi dan kontrol peramalan (skripsi dan tesis)

            Jika beberapa model cocok untuk kondisi tertentu maka perlu ditentukan model terbaik (tidak bebas) atau jika hanya terdapat satu model yang cocok, maka perlu model lain sebagai pembanding untuk melihat keefektifan model tersebut. Proses ini disebut dengan kesalahan peramalan. Kesalahan peramalan pada periode t adalah selisih dari data aktual dan hasil perhitungan

            Kualitas hasil peramalan yang disusun sangat ditentukan oleh proses pelaksanaan penyusunannya. Peramalan yang baik adalah peramalan yang dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah atau prosedur penyusunan yang baik. Pada dasarnya ada empat langkah yang penting, yaitu :

  1. Mengumpulkan data, tahap ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data masa lalu sesuai kebutuhan.
  2. Memplotkan data, tahap ini dilakukan  apabila data yang dibutuhkan sudah lengkap, kemudian diplotkan dengan maksud untuk mengetahui pola data masa lalu untuk peramalan periode berikutnya.
  3. Menentukan beberapa metode peramalan, tahap ini dilakukan alternatif metode peramalan yang akan digunakan sesuai pola data masa lalu.
  4. Menentukan metode peramalan data yang representatif, tahap ini dilakukan penentuan metode yang representatif dari beberapa metode peramalan yang dipilih sesuai dengan pola data dari peramalan masa lalu. Parameter yang digunakan yaitu dengan cara mencari nilai kesalahan yang terkecil. Metode peramalan yang baik adalah metode yang memberikan penyimpangan antara hasil peramalan dengan nilai kenyataan sekecil mungkin.

Teknik-teknik peramalan data deret berkala (skripsi dan tesis)

            Model-model peramalan yang digunakan dalam peramalan time series sebagai berikut :

  1. Rata-rata (simple average )

  Metode rata-rata secara sederhana menghitung rataan dari data yang tersedia ( sejumlah T).

Metode sederhana ini cocok jika data-datanya tidak memiliki  trend dan tidak mengandung faktor musiman.

  1. Weighted moving average

Istilah moving average menggambarkan prosedur jika ada data baru, rata-rata baru dapat dihitung dan data yang baru dihapus. Karakteristik moving average yaitu peramalan dipengaruhi T periode masa lalu dan jumlah data tiap waktu tetap

        Nilai default dari setiap weight 1/m

  1. Moving average with linier trend

Metode ini akan efektif jika trend linier dan faktor random error tidak besar, persamaan dari metode tersebut adalah

  1. Single exponential smooting

Peramalan single exponential smooting dihitung berdasar hasil peramalan ditambah dengan peramalan periode sebelumnya.

Kesalahan peramalan sebelumnya digunakan untuk mengoreksi peramalan berikutnya.

Semakin besar , smooting yang dilakukan semakin kecil, sebaliknya semakin kecil , smooting yang dilakukan semakin besar. Masalah yang dihadapi dalam melakukan peramalan dengan metode ini adalah mencari a optimum, karena akan memberi MSE, MAPE atau pengukuran lainnya minimum.

  1. Single exponential smooting with linier trend
  2. Double exponential smooting

Untuk linier regresi, TESC mengandung solusi untuk model linier sebagai berikut :

       Dimana Y adalah parameter dependen, X adalah variable independent, bo,….adalah parameter regresi dan e adalah random

  1. Winter’s model

                Dalam metode ini, jika tidak diberikan input faktor seasonal, maka default dari faktor seasonal akan melakukan setting  inisialisasi dengan mengikuti nilai :

               Kesalahan peramalan pada periode t adalah selisis dari data aktual  A (t) hasil peramalan f (t).

Faktor-faktor yang mempengaruhi volume produksi (skripsi dan tesis)

Suatu perusahaan memerlukan sumber daya yang akan digunakan untuk memproduksi barang. Sumber daya tersebut berupa bahan mentah, bahan pendukung, mesin-mesin, tenaga kerja, peralatan pendukung dan lain-lain. Tiap-tiap perusahaan tentu saja akan mempunyai jumlah dan jenis sumber-sumber produksi yang berbeda satu sama lain.

Faktor yang menjadi kendala dalam proses produksi yang mempengaruhi penentuan volume produksi dan tingkat kombinasi produksi optimal antara lain :

  1. Kapasitas bahan baku

Dengan tersedianya bahan baku dalam perusahaan, maka perusahaan dapat melakukan produksi dan besarnya jumlah kapasitas bahan baku dapat mempengaruhi tingkat produksi yang optimal. Apabila kapasitas bahan baku yang tersedia cukup besar, maka perusahaan dapat memperoleh luas produksi yang lebih besar pula. Sebaliknya apabila jumlah kapasitas bahan baku yang tersedia relatif kecil maka perusahaan akan memperoleh luas produksi yang lebih kecil pula.

  1. Kapasitas mesin

Kapasitas mesin yang dimiliki oleh perusahaan dapat mempengaruhi jumlah output yang dihasilkan selama produksi. Meskipun bahan baku yang tersedia cukup besar jumlahnya, namun apabila kapasitas mesin yang tersedia kurang mencukupi untuk memproses bahan baku tersebut, maka tingkat output yang dihasilkannya pun relatif kecil.

  1. Jumlah tenaga kerja

Tersedianya tenaga kerja dalam perusahaan sangat diperlukan guna pelaksanaan produksi, karena tenaga kerja yang tersedia baik jumlah maupun mutunya sangat menentukan luas perusahaan dalam suatu perusahaan. Perusahaan tidak mungkin melakukan proses produksi melebihi dari kemampuan jumlah tenaga kerja yang dimilikinya.

  1.  Batasan permintaan

Batasan permintaan merupakan dasar pedoman bagi  perusahaan untuk menentukan luas produksi. Dalam hal ini, batasan permintaan ditentukan melalui peramalan dengan menggunakan data produksi sebelumnya yang diolah dengan bantuan program Q.S 3.0. Dalam melakukan perhitungan peramalan tersebut , terdapat sepuluh metode yang dapat digunakan kemudian akan dicari MAD terkecil. Peramalan adalah suatu perkiraan atau dugaan suatu peristiwa/kejadian pada masa yang akan datang sebagai bagian dari integral aktivitas pengambilan keputusan. Dalam melakukan peramalan dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu metode kuantitatif dan metode kualitatif.

Metode kuantitatif meliputi metode deret berkala ( time series ) dan metode kausal. Yang mana metode time series memprediksi masa yang akan datang berdasarkan data masa lalu untuk menentukan pola masa lalu dan mengekstrapolasi pola tersebut untuk masa yang akan datang. Sedangkan metode kausal mengasumsikan faktor yang diramal memiliki hubungan sebab akibat terhadap beberapa variable independent, sehingga pada akhirnya dapat menentukan hubungan antar faktor dan menggunakan hubungan tersebut untuk meramal nilai-nilai variable independent.

Metode time series menggambarkan berbagai gerakan yang terjadi pada sederetan data pada waktu tertentu. Langkah penting dalam memilih metode time series adalah dengan mempertimbangkan jenis pola data. Pola data dapat dibedakan menjadi empat jenis siklus dan trend (Makridarkis dan Wheelwright, 1983), yaitu :

  1. Pola horizontal, terjadi bilamana nilai data berfluktuasi disekitar nilai rata-rata konstan. Contoh, suatu produk yang permintaannya tidak meningkat atau menurun selama waktu tertentu.
  2. Pola musiman, terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh faktor musiman. Contoh permintaan es krim, jas hujan, dan lain sebagainya.
  3. Pola silkus, terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka panjang seperti siklus bisnis.
  4. Pola trend, terjadi bilaman terdapat kenaikan atau penurunan sekuler jangka panjang dalam data.

            Dilihat dari sifat penyusunnya peramalan dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu :

  1. Peramalan subyektif, peramalan yang didasarkan pada intuisi dari orang yang menggunakannya. Dalam hal ini pandangan orang yang menyusun sangat menentukan baik tidaknya ramalan tersebut.
  2. Peramalan obyektif, terdiri dari dua sebagai berikut :
  3. Peramalan kualitatif, peramalan yang didasarkan pada data kualitatif pada masa yang lalu. Hasil peramalan sangat tergantung pada orang yang menyusunnya karena permasalahan dibuat berdasarkan pemikiran intuisi, pendapat dan pengetahuan serta pengalaman penyusun dan biasanya peramalan kualitatif didasarkan hasil penyelidikan.
  4. Peramalan kuantitatif, peramalan yang didasarkan atas data kuantitatif masa lalu. Hasil peramalan yang dibuat tergantung pada metode yang digunakan dalam peramalan tersebut. Metode yang baik adalah metode yang memberikan nilai penyimpangan terkecil.

Perencanaan produksi (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya perencanaan produksi merupakan suatu proses penetapan kapasitas produksi secara keseluruhan guna memenuhi tingkat permintaan yang diperoleh dari peramalan dan pesanan dengan tujuan meminimalkan total biaya produksi.

Perencanaan produksi merupakan masalah apa dan berapa yang harus diproduksi serta bagaimana dan kapan produksi harus dilaksanakan. Didalam beberapa perusahaan mengenai apa yang diproduksi sudah ditentukan oleh alat produksi yang dimiliki, sehingga barang yang diproduksi itu tidaklah mudah untuk diubah-ubah selama jangka waktu tertentu.  Namun begitu ada beberapa perusahaan lain, apa yang harus diproduksi harus ditentukan lebih dahulu ( Agus Ahyari, 1995 ).

Volume produksi adalah suatu ukuran akan berapa banyak barang-barang yang diproduksi oleh suatu perusahaan. Banyaknya barang-barang yang akan diproduksi tidak hanya terhadap satu jenis barang saja, tetapi meliputi banyaknya jenis barang yang dihasilkan. Jadi pengertian volume produksi merupakan ukuran terhadap apa dan berapa banyak barang-barang yang harus diproduksi oleh suatu perusahaan. Semakin banyak barang yang diproduksi, baik jumlah maupun jenisnya, semakin besar volume produksinya (Sirod Hantoro).

Dalam manajemen modern, perencanaan produksi memegang salah satu peranan yang sangat penting. Dunia industri tidak saja dituntut untuk meningkatkan permintaan pasar melalui pemasaran semata-mata namun juga bagaimana menghasilkan produk secara efisien dengan kualitas yang memenuhi harapan konsumen.

Kombinasi Produksi

            Suatu perusahan yang telah menentukan apa yang akan diproduksi, maka perusahaan dapat menentukan mesin-mesin dan peralatan yang akan digunakan untuk proses produksi, dengan adanya berbagai macam mesin dan peralatan yang digunakan maka dapat digunakan untuk memproduksi berbagai macam produk. Perusahaan yang memproduksi barang atau produk lebih dari satu jenis dengan menggunakan mesin, tenaga kerja dan bahan baku yang sama, maka akan timbul masalah kombinasi produksi. Menentukan kombinasi produk adalah menentukan jumlah dan jenis produk yang dihasilkan oleh perusahaan, menghadapi masalah ini seharusnya pihak manajemen harus dapat menentukan jumlah masing-     masing produk sehingga dapat mempergunakan input yang ada dengan sebaik-baiknya serta memperoleh hasil yang optimal ( Akhyari, 1992 ).

Anthropometri (skripsi dan tesis)

Athropometri berasal dari kata antropos yang berarti manusia, dan metrikos yang berarti pengukuran. Sehingga Anthropometri diartikan sebagai suatu ilmu yang secara khusus berkaitan dengan pengukuran tubuh manusia yang digunakan untuk menentukan perbedaan pada individu, kelompok, dan sebagainya (Pheasant, 1988). Menurut Roebuck (1994), anthropometri adalah ilmu yang berkaitan dengan pengukuran dimensi dan cara untuk mengaplikasikan karakteristik tertentu dari tubuh manusia.Perbandingan fungsional individual orang dewasa dan anak-anak dapat diketahui dengan sistem proporsi anthromorfis didasarkan pada dimensi-dimensi tubuh manusia. Salah satu caranya adalah dengan mengukur tubuh dalam berbagai posisi standard dan tidak bergerak (static anthropometry), serta saat melakukan gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan (dynamic anthropometry). Misalnya, perancangan kursi mobil (gerakan mengoperasikan kemudi, pedal, tangkai pemindah gigi). Gerakan yang biasa dilakukan anggota tubuh dapat dibagi dalam bentuk range/rentangan gerakan, kekuatan, ketahanan, kecepatan, dan ketelitian.

Metode Proporsi Athmoromorfis mencari perbandingan-perbandingan yang fungsional. Bukannya perbandingan yang abstrak atau simbolis. Sebagai bukti bahwa perbandingan-perbandingan matematis tertentu menunjukkan harmoni alam (Ching, 1987).

Data anthropometri ini menyajikan informasi mengenai ukuran tubuh manusia, yang dibedakan berdasarkan usia, jenis kelamin, suku bangsa (etnis), posisi tubuh saat beraktivitas, dan sebagainya, serta diklasifikasikan dalam segmen populasi pemakai, perlu diakomodasikan dalam penetapan dimensi ukuran produk desain yang dirancang guna menghasilkan kualitas rancangan yang tailor made dan memenuhi persyaratan fittness for use (Sritomo, 2000).

Evaluasi Ergonomi dalam Perancangan Desain (skripsi dan tesis)

Esensi dasar dari evaluasi ergonomi dalam proses perancangan desain adalah sedini mungkin mencoba memikirkan kepentingan manusia agar bisa terakomodasi dalam setiap kreativitas dan inovasi sebuah ‘man made object’ (Sritomo, 2000). Fokus perhatian dari sebuah kajian ergonomis akan mengarah ke upaya pencapaian sebuah perancanganan desain suatu produk yang memenuhi persyaratan ‘fitting the task to the man’ (Granjean,1982), sehingga setiap rancangan desain harus selalu memikirkan kepentingan manusia, yakni perihal keselamatan, kesehatan, keamanan maupun kenyamanan. Sama seperti yang diungkapkan Sritomo (2000), desain sebelum dipasarkan sebaiknya terlebih dahulu dilakukan kajian/evaluasi/pengujian yang menyangkut berbagai aspek teknis fungsional, maupun kelayakan ekonomis seperti analisis nilai, reliabilitas, evaluasi ergonomis, dan marketing.

Untuk melaksanakan kajian atau evaluasi (pengujian) bahwa desain sudah memenuhi persyaratan ergonomis adalah dengan mempertimbangkan faktor manusia, dalam hal ini ada empat aturan sebagai dasar perancangan desain, yakni :

  1. Memahami bahwa manusia merupakan fokus utama perancangan desain, sehingga hal-hal yang berhubungan dengan struktur anatom (fisiologik) tubuh manusia harus diperhatikan, demikian juga dengan dimensi ukuran tubuh (anthropometri).
  2. Menggunakan prinsip-prinsip kinesiologi dalam perancangan desain (studi mengenai gerakan tubuh manusia dilihat dari aspek biomechanics), tujuannya untuk menghindarkan manusia melakukan gerakan kerja yang tidak sesuai, tidak beraturan dan tidak memenuhi persyaratan efektivitas efisiensi gerakan.
  3. Pertimbangan mengenai kelebihan maupun kekurangan (keterbatasan) yang berkaitan dengan kemampuan fisik yang dimiliki oleh manusia di dalam memberikan respon sebagai kriteria-kriteria yang perlu diperhatikan pengaruhnya dalam perancangan desain.
  4. Mengaplikasikan semua pemahaman yang terkait dengan aspek psikologik manusia sebagai prinsip-prinsip yang mampu memperbaiki motivasi, attitude, moral, kepuasan dan etos kerja.

Selain hal-hal tersebut di atas, unsur lain yang juga penting untuk diperhatikan dalam perancangan adalah hubungan antara lingkungan, manusia, alat-alat atau perangkat kerja, dengan produk fasilitas kerjanya. Satu sama lain saling berinteraksi dan memberi pengaruh signifikan terhadap peningkatan produktivitas, efisiensi, keselamatan, kesehatan, kenyamanan maupun ketenangan orang bekerja sehingga menghindarkan diri dari segala bentuk kesalahan manusiawi (human error) yang berakibat kecelakaan kerja. Lingkungan fisik tempat kerja bagi manusia dipengaruhi antara lain oleh:

1)   Cahaya

Dalam faktor cahaya, kemampuan mata untuk melihat obyek dipengaruhi oleh ukuran obyek, derajat kontras antara obyek dan sekelilingnya, luminensi (brightness), lamanya melihat, serta warna dan tekstur yang memberikan efek psikologis pada manusia. Mata diharapkan memperoleh cahaya yang cukup, pemandangan yang menyenangkan, menenangkan pikiran, tidak silau, dan nyaman. Pencahayaan yang kurang dapat mengakibatkan kelelahan pada mata.

2)   Kebisingan

Aspek yang menentukan tingkat gangguan bunyi terhadap manusia adalah lama waktu bunyi terdengar, intensitas (dalam ukuran desibel/dB, besarnya arus energi per satuan luas), dan frekuensi (dalam Hertz/Hz, jumlah getaran per detik). Usaha-usaha pengurangan kebisingan dapat dilakukan dengan pengurangan kegaduhan pada sumber, pengisolasian peralatan penyebab kebisingan, tata akustik yang baik/ memberikan bahan penyerap suara, memberikan perlengkapan pelindung.

3)   Getaran mekanis

Getaran mekanis dapat diartikan sebagai getaran-getaran yang ditimbulkan oleh alat-alat mekanis. Biasanya gangguan yang dapat ditimbulkan dapat mempengaruhi kondisi bekerja, mempercepat datangnya kelelahan dan menyebabkan timbulnya beberapa penyakit. Besaran getaran ditentukan oleh lama, intensitas, dan frekuensi getaran. Sedangkan anggota tubuh mempunyai frekuensi getaran sendiri sehingga jika frekuensi alami ini beresonansi dengan frekuensi getaran mekanis akan mempengaruhi konsentrasi kerja, mempercepat kelelahan, gangguan pada anggota tubuh seperti mata, syaraf, dan otot.

4)   Temperatur

Temperatur yang terlalu panas akan mengakibatkan cepat timbulnya kelelahan tubuh, sedangkan temperatur yang terlalu dingin membuat gairah kerja menurun. Kemampuan adaptasi manusia dengan temperatur luar adalah jika perubahan temperatur luar tersebut tidak melebihi 20 % untuk kondisi panas dan 35 % untuk kondisi dingin (dari keadaan normal tubuh). Dalam kondisi normal, temperatur tiap anggota tubuh berbeda-beda. Tubuh manusia bisa menyesuaikan diri karena kemampuannya untuk melakukan proses konveksi, radiasi dan penguapan.Produktivitas manusia paling tinggi pada suhu 24 – 27° C.

5)   Kelembaban

Kelembaban diartikan sebagai banyaknya air yang terkandung dalam udara, biasanya dinyatakan dalam persentase. Jika udara panas dan kelembaban tinggi, terjadi pengurangan panas dari tubuh secara besar-besaran dan denyut jantung makin cepat.

6)   Warna.

Permainan warna dalam desain memberi dampak psikologis bagi pengamat dan pemakainya, misalnya warna merah memberi kesan merangsang, kuning memberi kesan luas dan terang, hijau atau biru memberi suasana sejuk dan segar, gelap memberi kesan sempit, permainan warna-warna terang memberi kesan luas.

Selain hal-hal tersebut di atas, kemampuan untuk meningkatkan produktivitas kerja manusia dipengaruhi pula oleh sikap, gerakan, aktivitas, struktur fisik tubuh manusia,struktur tulang, otot rangka, sistem saraf dan proses metabolisme. Sikap yang tidak tepat menyebabkan gangguan, stress, rasa malas bekerja, ketidaknyamanan dan kelelahan (kelelahan pada seluruh tubuh, mental, urat syaraf, bahkan menyebabkan rasa sakit dan kelainan pada struktur tubuh manusia.

Aktivitas kerja manusia, baik fisik maupun mental mempunyai tingkat intensitas yang berbeda. Intensitas tinggi berarti energi tinggi, intensitas rendah berarti energi rendah. Mengeluarkan energi dalam jumlah besar untuk periode yang lama bisa menimbulkan kelelahan fisik dan mental, sedangkan kelelahan mental lebih berbahaya dan kadang-kadang menimbulkan kesalahan-kesalahan kerja yang serius. Selain itu, posisi tubuh yang tidak alami atau sikap yang dipaksakan berakibat pada pengurangan produktivitas manusia, hal ini berkaitan dengan dengan sejumlah tenaga yang harus dikeluarkan akibat beban tambahan.

Bagas (2000) mengatakan, apabila antara manusia (pemakai) dan kondisi hasil desain yang sifatnya fisik atau mekanismenya tidak aman, itu berarti terjadi ketidakmampuan pelaksanaan fungsi secara baik, sehingga berakibat pada kesalahan manusiawi (human errors), kegagalan akhir pada desain yang tidak baik, kesulitan dalam produksi, kegagalan produk, bahkan menimbulkan kecelakaan kerja. Hal yang sama diungkapkan oleh Cormick dan Sanders (1992) ‘ it is easier to bend metal than twist arms’, yang bisa diartikan merancang produk untuk mencegah terjadinya kesalahan akan jauh lebih mudah bila dibandingkan mengharapkan orang atau operator jangan sampai melakukan kesalahan pada saat mengoperasionalkan produk tersebut. Memperhatikan hal tersebut, diperlukan pengetahuan dan penyelidikan tentang ketepatan atau kepresisian, kesesuaian, kesehatan, keselamatan, keamanan dan kenyamanan manusia dalam bekerja.

Faktor perbedaan ukuran atau postur dan berat badan manusia, kebiasan, perilaku, sikap manusia dalam beraktivitas, serta kondisi lingkungan juga memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh manusia antara lain umur, jenis kelamin (dimensi tubuh laki-laki umumnya lebih besar dari wanita), suku bangsa, dan posisi tubuh. Sedangkan dalam perancangan desain, pertimbangan ergonomi yang nyata dalam aplikasinya untuk mendapatkan data ukuran tubuh yang akurat menggunakan pengukuran anthropometri

(a)  Normal (Kelenturan normal/alami, tidak ada tekanan pada cakram tulang belakang

(b)  Kifosis (tulang punggung terlalu bengkok kebelakang, cakram terjepit),

(c)  Lordosis (tulang punggung bengkok ke depan, cakram terjepit),

(d)  Skoliosis (tulang punggung bengkok ke kiri dan kanan, cakram terjepit)

Desain dan Ergonomi (skripsi dan tesis)

Desain dapat diartikan sebagai salah satu aktivitas luas dari inovasi desain dan teknologi yang digagaskan, dibuat, dipertukarkan (melalui transaksi jual-beli) dan fungsional. Desain merupakan hasil kreativitas budi-daya (man-made object) manusia yang diwujudkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, yang memerlukan perencanaan, perancangan maupun pengembangan desain, yaitu mulai dari tahap menggali ide atau gagasan, dilanjutkan dengan tahapan pengembangan, konsep perancangan, sistem dan detail, pembuatan prototipe dan proses produksi, evaluasi, dan berakhir dengan tahap pendistribusian. Jadi dapat disimpulkan bahwa desain selalu berkaitan dengan pengembangan ide dan gagasan, pengembangan teknik, proses produksi serta peningkatan pasar.(Bagas, 2000)

Ruang lingkup kegiatan desain mencakup masalah yang berhubungan dengan sarana kebutuhan manusia, di antaranya desain interior, desain mebel, desain alat-alat lingkungan, desain alat transportasi, desain tekstil, desain grafis, dan lain-lain. Memperhatikan hal-hal tersebut, desainer dalam analisis pemecahan masalah dan perencanaannya atau filosofi rancangan desain bekerja sama dengan masyarakat dan disiplin ilmu lain seperti arsitek, psikolog, dokter atau profesi yang lain. Misalnya, dalam merancang desain kursi pasien gigi, dibutuhkan kerja sama dari dokter dan pasien, diperlukan penelitian lebih lanjut tentang aktivitas dan posisi duduk pasien sebagai pemakai, yang efektif, efisien, aman, nyaman dan sehat, sehingga desainer dapat menyatukan bentuk dengan memusatkan perhatian pada estetika bentuk, konstruksi, sistem dan mekanismenya. Selain itu, desainer dapat membuat suatu prediksi untuk masa depan, serta melakukan pengembangan desain dan teknologi dengan memperhatikan segala kelebihan maupun keterbatasan manusia dalam hal kepekaan inderawi (sensory), kecepatan, kemampuan penggunaan sistem gerakan otot, dan dimensi ukuran tubuh, untuk kemudian menggunakan semua informasi mengenai faktor manusia ini sebagai acuan dalam perancangan desain yang serasi, selaras dan seimbang dengan manusia sebagai pemakainya.(Bagas, 2000)

Untuk menilai suatu hasil akhir dari produk sebagai kategori nilai desain yang baik biasanya ada tiga unsur yang mendasari, yaitu fungsional, estetika, dan ekonomi. Kriteria pemilihannya adalah function and purposeutility and economicform and styleimage and meaning. Unsur fungsional dan estetika sering disebut fit-form-function, sedangkan unsur ekonomi lebih dipengaruhi oleh harga dan kemampuan daya beli masyarakat.

(Bagas, 2000) mengemukakan desain yang baik berarti mempunyai kualitas fungsi yang baik, tergantung pada sasaran dan filosofi mendesain pada umumnya, bahwa sasaran berbeda menurut kebutuhan dan kepentingannya, serta upaya desain berorientasi pada hasil yang dicapai, dilaksanakan dan dikerjakan seoptimal mungkin.

Ergonomi merupakan salah satu dari persyaratan untuk mencapai desain yang qualified, certified, dan customer need. Ilmu ini akan menjadi suatu keterkaitan yang simultan dan menciptakan sinergi dalam pemunculan gagasan, proses desain, dan desain final

Ergonomi adalah ilmu yang menemukan dan mengumpulkan informasi tentang tingkah laku, kemampuan, keterbatasan, dan karakteristik manusia untuk perancangan mesin, peralatan, sistem kerja, dan lingkungan yang produktif, aman, nyaman dan efektif bagi manusia. Ergonomi merupakan suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi mengenai sifat manusia, kemampuan manusia dan keterbatasannya untuk merancang suatu sistem kerja yang baik agar tujuan dapat dicapai dengan efektif, aman dan nyaman (Sutalaksana, 1979).

Fokus utama pertimbangan ergonomi menurut Cormick dan Sanders (1992) adalah mempertimbangkan unsur manusia dalam perancangan objek, prosedur kerja dan lingkungan kerja. Sedangkan metode pendekatannya adalah dengan mempelajari hubungan manusia, pekerjaan dan fasilitas pendukungnya, dengan harapan dapat sedini mungkin mencegah kelelahan yang terjadi akibat sikap atau posisi kerja yang keliru.

Untuk itu, dibutuhkan adanya data pendukung seperti ukuran bagian-bagian tubuh yang memiliki relevansi dengan tuntutan aktivitas, dikaitkan dengan profil tubuh manusia, baik orang dewasa, anak-anak atau orang tua, laki-laki dan perempuan, utuh atau cacad tubuh, gemuk atau kurus. Jadi, karakteristik manusia sangat berpengaruh pada desain dalam meningkatkan produktivitas kerja manusia untuk mencapai tujuan yang efektif, sehat, aman dan nyaman. Tujuan tersebut dapat tercapai dengan adanya pengetahuan tentang kesesuaian, kepresisian, keselamatan, keamanan, dan kenyamanan manusia dalam menggunakan hasil produk desain, yang kemudian dikembangkan dalam penyelidikan di bidang ergonomi. Penyelidikan ergonomi dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu :

1)  Penyelidikan tentang tampilan/display

Penyelidikan pada suatu perangkat (interface) yang menyajikan informasi tentang lingkungan dan mengkomunikasikannya pada manusia antara lain dalam bentuk tanda-tanda, angka, dan lambang,

2)  Penyelidikan tentang kekuatan fisik manusia

Penyelidikan dengan mengukur kekuatan serta ketahanan fisik manusia pada saat kerja, termasuk perancangan obyek serta peralatan yang sesuai dengan kemampuan fisik manusia beraktivitas.

3)  Penyelidikan tentang ukuran tempat kerja

Penyelidikan ini bertujuan untuk mendapatkan rancangan tempat kerja yang sesuai dengan ukuran atau dimensi tubuh manusia. Penyelidikan tentang lingkungan kerja Meliputi penyelidikan mengenai kondisi lingkungan fisik tempat kerja dan fasilitas kerja, misalnya pengaturan cahaya, kebisingan, temperatur, dan suara.

4)  Penyelidikan tentang lingkungan fisik

Lingkungan fisik meliputi ruangan dan fasilitas-fasilitas yang biasa digunakan oleh manusia, serta kondisi lingkungan kerja, kedua-duanya banyak mempengaruhi tingkah laku manusia.

Berkenaan dengan penyelidikan tersebut, beberapa disiplin ilmu ergonomi yang terlibat antara lain anatomi dan fisiologi (struktur dan fungsi pada manusia), antropometri (ukuran-ukuran tubuh manusia), fisiologi psikologi (sistim syaraf dan otak manusia), dan psikologi eksperimen (perilaku manusia). Studi tentang psikologi eksperimen dalam desain diperlukan untuk mengetahui kebutuhan dimensi/ukuran tubuh manusia (misalnya saja kebiasaan, perilaku dan budaya manusia duduk, berdiri, mengambil sesuatu, dan bergerak), sehingga didapatkan ukuran yang tepat agar tidak terjadi kekeliruan data dalam perencanaan desain. Psikologi dijadikan studi karena dianggap penting untuk menelaah perilaku dan hal-hal yang dipikirkan oleh manusia sebagai pengguna desain. Seperti yang diungkapkan Ching (1987) dalam perencanaan desain mebel, manusia adalah faktor utama yang mempengaruhi bentuk, proporsi dan skala mebel. Untuk memperoleh manfaat dan kenyamanan dalam melaksanakan aktivitas, mebel harus dirancang sesuai dengan ukuran tubuh manusia, jarak bebas yang diperlukan oleh pola aktivitas dan sifat aktivitas yang dijalani.

Pengambilan data ukuran yang keliru mengakibatkan kegagalan desain, struktur dan fungsi tubuh manusia terganggu dan berubah, bahkan yang paling vital mengakibatkan terganggunya sistem otak dan saraf. Misalnya dalam perancangan desain kursi, Suparto (2003) mengungkapkan hal penting yang diperhatikan dalam perancangan yaitu memperhatikan kemampuan elemen-elemen kursi untuk menanggapi dan membentuk keseimbangan dan kestabilan pada saat orang duduk di atasnya. Pusat gravitasi tubuh pada saat duduk tegak berada sekitar 22 cm di muka dan 24 cm di atas titik acuan duduk (titik acuan duduk adalah perpotongan bidang sandaran dan alas duduk), sedangkan pada saat berdiri tegak pusat gravitasi akan berada 10 cm di depan dan sekitar 15 cm di atas titik acuan duduk. Jadi perancangan dudukan yang terlalu tinggi atau rendah akan berpengaruh buruk pada kenyamanan, mengurangi keseimbangan duduk, kelelahan pada daerah punggung khususnya tulang belakang, bahkan bahaya yang lebih besar adalah terjadinya hambatan dalam sirkulasi darah atau gumpalan darah (thrombophlebitis).Ringkasnya, ergonomi merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam perancangan desain.

Prosedur Pelaksanaan Dalam Pengukuran dan Pengolahan Data Dengan Jam Henti (skripsi dan tesis)

Untuk memeperoleh hasil study yang baik dan bisa dipercaya maka langkah-langkah yang harus ditempuh dalam perhitungan waktu baku berdasarkan stop watch time study sebagai berikut:

1.. Pengukuran Pendahuluan

Dalam pengukuran hal ini kita harus mengetahui apa maksud dan tujuan pengukuran kerja ini. Setelah itu kita melihat proses produksinya dan membagi operasi kerja ke dalam elemen-elemen kerja sedetail-detailnya, tetapi masih dalam kemudahan untuk diamati atau diukur. Kemudian dilakukan pengukuran pendahuluan yaitu mencatat waktu kerja dari setiap elemen kerja tersebut. Secara umum, ada tiga metode yang digunakan untuk mengukur waktu dari elemen-elemen kerja dengan metode ini, yaitu pengukuran waktu secara terus-menerus (continuous timing), pengukuran waktu secara berulang-ulang (repetitive timing) dan pengukuran waktu secara penjumlahan (accumulative timing).

  1. Pengujian Kenormalan Data

Data sebelum diolah, terlebih dahulu diuji apakah data berdistribusi normal atau tidak. Sehingga bila ada data yang tidak berdistribusi normal maka data tersebut tidak diikutsertakan dalam perhitungan. Uji kenormalan dapat dilakukan dengan bantuan menggunakan software minitab (Statistics → Basic Statistics → Normality Test).

Dengan :

H: Data berdistribusi normal

H1 : Data tidak berdistribusi normal.

Apabila p-value yang diperoleh lebih besar dari a maka gagal tolak H0, tapi bila p-value nilainya lebih kecil dari a maka tolak H0­ dan terima H1.

  1. Pengujian Keseragaman Data

Data sebelum diolah, terlebih dahulu diuji apakah data sudah seragam atau tidak. Sehingga bila ada data yang berada di luar batas UCL (Upper Control Limit) dan LCL (Lawer Control Limit), data-data tersebut tidak diikutsertakan dalam perhitungan selanjutnya. Uji keseragaman dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan software minitab (Statistics → Control Charts → Xbar).

Apabila terdapat data yang keluar dari batas kendali, maka data tersebut harus diulang dan diganti dengan data yang baru. Data ekstrim dapat terjadi karena beberapa hal, misalnya karena pengamatan saat membaca stopwatch maupun juga adanya kondisi kerja yang diluar kewajaran.

.4. Pengujian Kecukupan Data

Pada dasarnya, semakin kecil variasi atau perbedaan data waktu yang ada, maka jumlah pengukuran/pengamatan yang harus dilakukan juga akan cukup kecil dan sebaliknya jika semakin besar variabilitas dari data waktu pengukuran akan menyebabkan jumlah siklus kerja yang diamati juga kana semakin besar agar bisa diperoleh ketelitian yang dikehendaki.

.5. Perhitungan Waktu Siklus

Waktu siklus merupakan waktu rata-rata  dari operasi, yang diperoleh dengan cara membagi membagi waktu dengan banyaknya data. Waktu siklus (Ws) juga dapat diperoleh dari hasil pengelolahan software minitab, yaitu sama dengan nilai mean.

.6. Penentuan Penyesuaian Performance Rantig (p)

Penyesuaian/penentuan performance rating perlu diperhatikan karena adanya ketidakwajaran yang dapat terjadi selama proses kerja berlangsung. Contoh ketidakwajaran, misalnya operator bekerja tanpa kesungguhan, operator menjumpai kesulitan-kesulitan, dan lain-lain. Ketidakwajaran yang terjadi ini dapat mempengaruhi kecepatan kerja (lama waktu sebuah proses kerja). Hal ini jelas tidak diinginkan, karena untuk perhitungan waktu baku yang dicari adalah waktu yang diperoleh dari kondisi dan cara kerja yang diselesaikan secara wajar.

Dengan adanya perhitungan penyesuaian, diharapkan waktu kerja yang tidak wajar tersebut dapat dinormalkan kembali. Penyesuaian yang telah ditentukan akan diakali dengan waktu siklusyang telah diperoleh. Adapun kondisi-kondisi yang dapat dijumpai adakag sebagai berikut (Sritomo, 1995,p.196):

  • Apabila operator dinyatakan terlalu cepat yaitu bekerja diatas kewajaran (normal) maka rating factor penyesuaian akan lebih kecil daripada satu (p>100%).
  • Apabila operator dinyatakan terlalu lambat yaitu bekerja di bawah batas kewajaran (normal) maka rating factor penyesuaian akan lebih kecil daripada satu (p<1 atau p<100%).
  • Apabila operator bekerja secara normal atau wajar maka rating factor penyesuaian akan sama dengan satu (p=1 atau p=100%).

 Ada beberapa metode yang dapat digunakan di dalam menentukan besarnya penyesuaian. Salah satu metode yang umum digunakan adalah metode Westinghouse.

 Table 2.1. Penyesuaian Menurut Westinghouse

Faktor Kelas Lambang Penyesuaian
 

 

 

 

 

Skill

Super Skill A1 + 0,15
A2 + 0,13
Excellent B1 + 0,11
B2 + 0,08
Good C1 + 0,06
C2 + 0,03
Average D 0,00
Fair E1 – 0,05
E2 – 0,10
Poor F1 – 0,16
F2 – 0,22
 

 

 

 

 

Effort

Super Skill A1 + 0,13
A2 + 0,12
Excellent B1 + 0,10
B2 + 0,08
Good C1 + 0,05
C2 + 0,02
Average D 0,00
Fair E1 – 0,04
E2 – 0,08
Poor F1 – 0,12
F2 – – 0,17
 

 

 

Condition

  A + 0,06
  B + 0,04
  C + 0,02
  D 0,00
  E – 0,03
  F – 0,07
 

 

 

Consistency

  A + 0,04
  B + 0,03
  C + 0.01
  D 0,00
  E – 0,02
  F – 0,04

Adapun penjelasan lebih lanjut dari masing-masing kelas diatas untuk kelas yang tepat untuk masing-masing kategori adalah sebagai berikut:

Ketrampilan (Skill)

Superskill

  1. Secara bawaan cocok sekali dengan pekerjaannya.
  2. Bekerja secara sempurna.
  3. Tampak seperti telah terlatih dengan baik.
  4. Gerak-geraknya halus tetapi sangat cepat sehingga sulit untuk diikuti.
  5. Kadang-kadang terkesan tidak berbeda dengan gerakan-gerakan mesin.
  6. Perpindahan dari satu elemen pekerjaan ke elemen lainnya tidak terlampau terlihat karena lancarnya.
  7. Tidak terkesan adanya gerakan-gerakan berpikir dan merencanakan tentang apa yang dikerjakan (sudah sangat otomatis).
  8. Secara umum dapat dikatakan bahwa pekerja yang bersangkutan adalah pekerja yang baik.

Excellent Skill

  1. Percaya pada diri sendiri
  2. Tanpak cocok dengan pekerjaannya
  3. Terlihat telah terlatih dengan baik
  4. Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan pengukuran-pengukuran atau pemeriksaan-pemeriksaan.
  5. Gerakan-gerakan kerjanya beserta urutan-urutannya dijalankan tanpa kesalahan
  6. Menggunakan peralatan dengan baik
  7. Bekerjanya cepat tanpa mengorbankan mutu
  8. Bekerjanya cepat tetapi halus
  9. Bekerjanya berirama dan terkoordinasi

Good Skill

  1. Kualitas hasil baik
  2. Bekerjanya tanpa lebih baik daripada kebanyakan pekerjaan pada umumnya
  3. Dapat memberi petunjuk-petunjuk pada pekerja lain yang ketrampilannya lebih rendah
  4. Tanpak jelas sebagai pekerja yang cakap
  5. Tidak memerlukan banyak pengawasan
  6. Tiada keragu-raguan
  7. Bekerjanya “stabil”
  8. Gerakan-gerakannya terkoordinasi dengan baik
  9. Gerakan-gerakannya cepat

Average Skill

  1. Tampak adanya kepercayaan pada diri sendiri
  2. Gerakannya cepat tetapi tidak lambat
  3. Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan yang perencanaan
  4. Tampak sebagai pekerja yang cakap
  5.  Gerakan-gerakannya cukup menunjukkan tiada keragu-raguan
  6. Mengkoordinasi tangan dan pikiran dengan cukup baik.
  7. Tampak cukup terlatih dan karenanya mengetahui seluk beluk pekerjaannya
  8. Bekerjanya cukup teliti
  9. Secara keseluruhan cukup memuaskan

Fair Skill

  1. tampak terlatih tetapi belum cukup baik
  2. Mengenal peralatan dan lingkungan secukupnya
  3. Terlihat adanya perencanaan sebelum melakukan gerakan-gerakan
  4. Tiada mempunyai kepercayaan diri yang cukup
  5. Tampak seperti tidak cocok dengan pekerjaannya tetapi telah ditempatkan di pekerjaan itu sejak lama
  6. Mengetahui apa yang dilakukan dan harus dilakukan tetapi tampak tidak selalu yakin
  7. Sebagian waktu terbuang karena kesalahan-kesalahan sendiri
  8.  Jika tidak bekerja sunguh-sunguh output-nya akan sangat rendah
  9. Biasanya tidak ragu-ragu dalam menjalankan gerak-gerakannya

Poor Skill

  1. Tidak bisa mengkoordinasikan tangan dan pikiran
  2. Gerakan-gerakannya kaku
  3. Kelihatan ketidakyakinannya pada urutan-urutan gerakan
  4. Seperti tidak terlatih untuk pekerjaan yang bersangkutan
  5. Tidak terlihat adanya kecocokan dengan pekerjaannya
  6. Ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerakan kerja
  7. Sering melakukan kesalahan-kesalahan
  8. Tidak adanya kepercayaan pada diri sendiri
  9. Tidak bisa mengambil inisiatif sendiri

Usaha (Effort)

Excessive Effort

  1. Kecepatan sangat berlebihan
  2. Usahannya tampak sungguh-sungguh tetapi dapat membahayakan kesehatannya
  3. Kecepatan yang ditimbulkannya tidak dapat dipertahankan sepanjang hari kerja

Excellent Effort

  1. Jelas terlihat kecepatan kerjanya yang tinggi
  2. Gerakan-gerakan lebih “ekonomis” daripada operator biasa
  3. Penuh perhatian pada pekerjaannya
  4. Banyak memberi saran-saran
  5. Menerima saran-saran dan petunjuk dengan senang
  6. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu
  7. Tidak dapat bertahan lebih dari beberapa hari
  8. Bangga atas kelebihannya
  9. Gerakan-gerakan yang salah sangat terjadi jarang sekali
  10. Bekerjanya sistematis
  11. Karena lancarnya, perpindahan dari suatu elemen ke elemen lain tidak terlihat

Good Effort

  1. Bekerjanya seirama
  2. Saat-saat menganggur sangat sedikit, bahkan kadang-kadang tidak ada
  3. Penuh perhatian pada pekerjaannya
  4. Senang pada pekerjaannya
  5. Kecepatannya baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari
  6. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu
  7. Menerima saran-saran dan petunjuk dengan senang
  8. Dapat memberikan saran-saran untuk perbaikan kerja
  9. Tempat kerjanya diatur baik dan rapi
  10. Menggunakan alat-alat yang tepat dengan baik
  11. Memelihara dengan baik kondisi peralatan

Avwrage Effort

  1. Tidak sebaik dood, tetapi lebih baik dari poor
  2. Bekerja dengan stabil
  3. Menerima saran-saran tetapi tidak melaksanakannya
  4. Set uo dilaksanakan dengan baik
  5. Melakukan kegiatan-kegiatan perencanaan

Fair Effort

  1. Saran-saran perbaikan diterima dengan pasti
  2. Kadang-kadang perhatian tidak ditujukan pada pekerjaannya
  3. Kurang sungguh-sungguh
  4. Tidak mengeluarkan tenaga dengan secukupnya
  5. Terjadi sedikit penyimpangan dari cara kerja baku
  6. Alat-alat yang dipakainya tidak selalu yang terbaik
  7. Terlihat adanya kecenderungan kurang perhatian pada pekerjaannya
  8. Tidak peduli pada cocok/baik tidaknya peralatan yang dipakai
  9. Mengubah-ubah tata letak tempat kerja yang telah diatur
  10. Set up kerjanya terlihat tidak baik

Kondisi (Condition)

Kondisi yang ideal suatu kondisi tempat kerja yang cocok dengan pekerjaan yang akan dijalankan, dimana kondisi tersebut memungkinkan operator untuk dapat melakukan pekerjaannya dengan performance yang terbaik. Kondisi ideal berlawanan dengan kondisi kerja poor. Kondisi kerja poor secara umum dapat dilakukan sebagai kondisi kerja yang tidak membantu dan mendukung pekerjaan yang akan dilakukan oleh operator, bahkan dengan kondisi semacam itu pekerjaan akan sering terlambat, sehingga waktu penyelesaian suatu pekerjaan dapat lebih lama

Konsistensi (Consistency)

Seorang pekerja dapat dikatakan memiliki konsistensi yang perfect apabila waktu penyelesaian pekerjaan yang sama dalam beberapa waktu cenderung tetap. Konsistensi perfect berlawanan denga poor, dimana waktu penyelesaian pekerjaan memiliki selisih yang jauh dengan nilai rata-ratanya secara acak. Sedangkan konsistensi dikatakan average apabila selisih waktu penyelesaian dengan rata-rata tidak terlalu jauh, walaupun ada satu atau dua waktu penyelesaian yang agak melenceng jauh.

Dari table Westinghouse di atas maka nilai p dapat ditemukan dengan caraa;

                  p = 1 + total nilai performance dari empat factor

 .7. Perhitungan Waktu Normal

Waktu normal untuk suatu elemen operasi menunjukkan bahwa operator yang berkualifikasi baik akan bekerja menghasilkan pekerjaan pada kecepatan/tempo kerja yang normal.

Untuk menghitung waktu normal, digunakan rumus:

               Waktu normal (Wn) = Ws x p

Hasil perkalian antara waktu siklus dan performance rating merupakan waktu normal.

  1. Penentuan Allowance rating (p), untuk mencari waktubakujuga dibutuhkan allowance (kelonggaran). Pada umumnya kelonggaran meliputi tiga hal (Sritomo, 2003, p.201):
  2. Istirahat untuk kebutuhan perorangan (personal needs)

Kelonggaran waktu ini ditunjukan untuk kebutuhan yang  bersifat pribadi, seperti untuk makan, minum, dan lain-lain. Nilai kelonggaran ini berkisar antara 0 – 5% untuk wanita.

  1. Kelelahan (fatique)

Kelonggaran ini diberikan karena kelelahan fisik ataupun mental setelah bekerja beberapa waktu. Berikut ini beberapa factor yang mengakibatkan kelelahan ini adalah:

  • Kondisi kerja
  • Sifat dari pekerjaan
  • Kesehatan pekerja, fisik dan mental
  1. Keterlambatan yang tak terhindarkan (unavoidable delay)

Kelonggaran ini diberikan untuk elemen-elemen pekerjaan yang berhenti karena hal yang tidak dapat dihindarkan, seperti interupsi oleh supervisor, analisis, ketersediaan material, gangguan mesin, mengasah peralatan, dan lain-lain.

  1. Penentuan Waktu Baku

Waktu baku merupakan waktu yang diperlukan pekerja yang memiliki tingkat kemampuan rata-rata untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan diberikan kelonggaran (allowance) untuk hal-hal yang diperlukan (Wignjosoebroto, Sritomo, 1995).

Untuk menghitung waktu baku digunakan rumus:

Waktu baku (Wb) = Wn x

Pengukuran Waktu dengan Metode Jam Henti (skripsi dan tesis)

 Pengukuran dengan jam henti dilakukan dengan menggunakan stopwatch, sehingga disebut juga Stop Watch Time Study, dan metode ini diperkenalkan oleh Frederick W Taylor. Metode ini baik digunakan untuk pengukuran pada situasi yaitu:

  1. Dimana terdapat siklus kerja berulang-ulang dengan durasi waktu yang pendek hingga panjang.
  2. Dimana operasi yang baru dapat dilakukan tanpa standar hingga pengukuran dilakukan.
  3. Dimana banyak variasi dari kerja yang berbeda-beda.
  4. Dimana elemen-elemen pengendalian proses menyusun satu bagian siklus.

 Pengukuran dengan jam henti dilakukan dengan metode pengukuran waktu secara berulang-ulang (repetitive timing) atau biasa disebut juga dengan metode snapback. Pada metode ini jarum penunjuk stopwatch akan selalu dukembalikan lagi ke posisi nol pada setiap akhir pengukuran sebuah elemen. Dari hasil pengukuran maka akan diperoleh waktu baku untuk menyelesaikan pekerjaan yang sama.

Metode Pengukuran Kerja (skripsi dan tesis)

Waktu baku merupakan waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh seorang pekerja normal untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan system kerja terbaik.

Adapun kegunaan waktu baku adalah sebagai berikut:

  • Perencanaan kebutuhan tenaga kerja
  • Perkiraan biaya-biaya upah pekerja
  • Penjadwalan produksi dan penganggaran
  • Perencanaan system pemberian bonus dan intensif
  • Menunjukkan output yang mampu dihasilkan pekerja

Ada beberapa teknik yang digunakan dalam pengukuran kerja, antara lain:

  1. Pengukuran waktu kerja secara langsung

Yaitu pengukuran kerja dimana, pengamat berada ditempat pekerja yang diukur. Ada dua metode yang digunakan pada pengukuran langsung:

    • Metode Jam Henti (Stop Watch Time Study)
    • Metode Sampling Kerja (Work Sampling)
  1. Pengukuran waktu kerja secara tak langsung

Yaitu pengukuran kerja dimana pengamat tidak berada ditempat pekerjaan yang diukur. Ada dua metode yang digunakan pada teknik ini:

    • Metode Data Waktu Baku
    • Metode Data Waktu Gerakan

Defuzifikasi (skripsi dan tesis)

Pengolahan bilangan Fuzzy menjadi bilangan real dapat dilakukan dengan berapa macam cara diantaranya adalah :

1 .       Max – Membership Principle

Juga dikenal sebagai height method, metode ini membatasi pencarian fungsi output puncak.

2 .       Centroid Method

Prosedur ini juga dikenal sebagai Center of AreaCenter of Gravity) merupakan metode defuzzifikasi yang paling umum digunakan (Sugeno, 1985 : Lee, 1990).

3 .       Weighted Average Method

Metode ini hanya bisa digunakan untuk output fungsi keanggotaan yang simetris. Weighted Average Method ini dibentuk oleh pembobotan tiap fungsi keanggotaan dalam output dengan didasarkan nilai fungsi keanggotaan maksimum.

Difuzifikasi adalah proses pengolahan bilangan fuzzy dalam hal ini adalah TFN (a, b, c) menjadi bilangan real.

Dalam pengolahan data ini, akan digunakan defuzifikasi metode Geometric Mean yang akan diformulasikan sebagai :

 ………………………………………. (2.7)

Representasi Fuzzy dari Penilaian Pelanggan (skripsi dan tesis)

 

Dengan adanya kerangka kerja fuzzy set theory akan lebih baik menyatakan penilaian dalam bentuk fuzzy set dari M1 = ‘mendekati 1’ sampai M9 = ‘mendekati 9’, daripada memberi penilaian dalam rating yang pasti dengan bilangan 1 – 9 untuk menilai kebutuhan pelanggan tersebut ‘sangat tidak penting’ sampai dengan ‘sangat penting’, Fuzzy set (Chen and Hwang, 1992) dapat dispesifikasikan sebagai TFN yang layak dengan fungsi keanggotaan 

Fuzzy Arithmetic Dan Fuzzy Ranking (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya manusia mengenal obyek dengan memberikan klasifikasi secara kualitatif, seperti besarkeciltinggi, rendah, dan sebagainya. Klasifikasi tersebut termasuk terminology linguistik. Sifat kebenaran yang dikandungnya adalah samar karena atas antara satu kebenaran dengan kebenaran lainnya tidak jelas. Kebenaran demikian disebut dengan kebenaran Fuzzy sekalipun demikian, ketidakpastian (Vagueness ) yang menjadi karakteristik dari bahasa natural tidak selalu mengimplikasikan hilangnya ketelitian atau keberartian.

Pada prinsipnya himpunan Fuzzy  tidak lain adalah perluasan himpunan Crisp, yaitu himpunan yang membagi sekelompok individu ke dalam dua  kategori : Anggota  dan bukan Anggota. Pencetus gagasan logika Fuzzy adalah Prof. L.A Zadeh dari Universitas California di Berkeley. Gagasan kuncinya adalah mengembangkan suatu kerangka yang variabel adalah ketidakpresisian (unprecision). Sebagai pengganti konsep himpunan yang biasa, diperkenalkan suatu fungsi yang mengekspresikan derajat kepemilikan suatu himpunan terhadap suatu harga sebagai suatu fungsi yang berharga antara 0 dan 1. Gagasan ini pertama kali diterapkan dalam sistem kontrol, sinyal di kuantifikasikan ke dalam beberapa tingkatan seperti misalnya sangat lambat, lambat, tinggi, sangat tinggi.

Sementara itu meskipun telah cukup lama teori kontrol memusatkan perhatiannya pada alegoritema klasik, ternyata bahwa persoalan kontrol tidak bisa langsung terpecahkan. Akan tetapi masih perlu ditambahkan unsur lain yang sifatnya adalah Heuristik (Astrom, 1991). Baik aturan kontrol maupun prosedur perancangan keduanya disusun secara algoritmik, akan tetapi untuk sampai kepada hasil akhir banyak pula yang diperlukan elemen Heuristiknya, misalnya cara pemilihan metode  yang tepat, alat yang harus dipakai dan sebagainya. Sistem kontrol demikian menjurus kepada apa yang dinamakan sistem kontrol intelejen (Intelligent Control System).

Ada tiga metodologi yang bisa digunakan dalam sistem kontrol intelejen. Kontrol logika Fuzzy (Fuzzy Logic Control ). Jaringan syaraf tiruan  (artificial Neural Network ) dan sistem berbasis pengetahuan (Knowledge Based System ). Dari ketiga metode logi ini kontrol Fuzzy telah menunjukkan banyak keberhasilan yang bisa dilihat dari produk-produk yang telah banyak memasuki pasaran dan rumah tangga (Self, 1990). Sekalipun demikian untuk masalah kestabilan aplikasi logika Fuzzy dalam sistem kontrol masih terus diteliti.

Perhatian terhadap kontrol Fuzzy menunjukkan adanya kenaikan yang cukup berarti karena adanya pengalaman praktis yang positif dalam beberapa sistem pengontrolan. Sejumlah kontrol Fuzzy untuk proses yang sederhana seperti kamera, mesin cuci, vacuum cleaner juga telah banyak muncul dipasaran..

Pada TFN, penambahan dan pengurangan merupakan operasi yang sangat dekat, misalnya jumlah dan perbedaan dari dua TFN adalah tetap TFN. Tetapi perkalian dan pembagian dari TFN hanya menghasilkan nilai pendekatan dari TFN. Untuk menunjukkan operasi aritmatik pada TFN, akan dicontohkan dengan dua TFN yaitu M1 = (a1, b1, c1) dan M2 = (a2, b2, c2) (Chen and Hwang, 1992)

1 .       Penjumlahan              : M1 + M2        = (a1 + a2, b1 + b2, c1 + c2)

2 .       Pengurangan              : M1 – M2         = (a1 – a2, b1 – b2, c1 – c2)

3 .       Perkalian dengan skala          : k.M1   = (k.a1, k.b1, k..c1), dimana k > 0

4 .       Perkalian                               : M1 ´ M2        = (a1 ´ a2, b1 ´ b2, c1 ´ c2)

5 .       Pembagian                             : M1 / M2            (a1 / a2, b1 / b2, c1 / c2)

Sesuai dengan aritmatika fuzzy diatas, dapat dilakukan penentuan peringkat dengan mudah untuk : kasus khusus seperti dibawah ini.

1 .       Bila a1 > a2, b1 > b2 , c1 > c2 dan paling tidak dua syarat dipenuhi maka M1 > M2 artinya penilaian pertama lebih disukai daripada penilaian kedua

2 .    Bila a1 = a2 , b1 = b2 , c1 = c2 maka M1 = M2 artinya kedua penilaian mempunyai rating sama atau sama-sama disukai.

Triangular Fuzzy Number (TFN) (skripsi dan tesis)

Banyak terdapat model fungsi keoanggotaan yang dipakai dalam aplikasi taksiran suatu nilai Fuzzy diantaranya adalah fungsi s, fungsi II, fungsi trapezoidal, fungsi setiga (triangular), dan fungsi exponential. Dari kelima bentuk fungsi keanggotaan yang dijelaskan diuraikan diatas, fungsi keanggotaan yang sering dipakai dalam aplikasinya adalah fungsi T atau lebih dikenal dengan Triangular Fuzzy Number.

Fuzzy number merupakan spesial fuzzy set F = { (x . mx (x) ) , x ÎR} dimana nilai x  ke dalam garis nyata R1 : – ¥ < x < + ¥ dan mx (x) adalah pemetaan kontinyu dengan interval tertutup [0,1]. Fuzzy Number digunakan untuk mengatasi konsep numeric yang tidak pasti seperti ‘mendekati 7’, ‘sekitar 8 sampai 9’, ‘kira-kira 5’ dan sebagainya.

 

Triangular Fuzzy Number dinotasikan sebagai M = (a, b, c)  dimana          a< b < c (Chen and Hwang), merupakan spesial fuzzy number yang menggambarkan fuzzy set atau konsep M = ‘mendekati b’. Fungsi keanggotaannya sebagai berikut

mM (x) = 0                                           Jika x £ a atau x ³ c

mM (x) = (x – a) / (b – a)         Jika a £ x £ b

mM (x) = (c – x) / (c – b)          jika b £ x £ c

 

Sebagai contoh jika pelanggan memberi rating sebesar 7 untuk faktor W1 yang berarti bahwa W1 adalah ‘penting’. Kemudian bisa dibuat triangular fuzzy number Mi = ‘mendekati 7’ = (6,7,8) yang dipresentasikan dengan fungsi keanggotaan sebagai berikut :

mM (x) = 0                   Jika x £ 6 atau x ³ 8

mM (x) = x – 6 Jika 6 £ x £ 7

mM (x) = 8 – x              jika 7 £ x £ 8

Dapat diartikan bahwa nilai keanggotaan atau ‘kemungkinan’ bahwa W1 diberi rating 7 adalah MM7(7) = 1, kemungkinan bahwa W1 diberi rating lebih rendah yaitu 6 ½ atau rating lebih tinggi yaitu 7 ½ adalah mungkin (dapat diterima) hingga tingkat 50%.

Menurut Dubois dan Prade (1980), Fuzzy Number merupakan Fuzzy Set khusus f = {(X), XeR1}, dimana x membawa nilai yang dimilikinya kedalam garis real R1 : – ¥ < x < + ¥, sedangkan Mf (x) adalah penggambaran kontinyu dari R1 pada interval terdekat dari [0,1].

Menurut Tzung – Pei Hong dan Jyh – Bin Chen di dalam jurnalnya. “Processing Individual Fuzzy Attributes for Fuzzy Rule Induction” dijelaskan bahwa Fuzzy system secara otomatis akan dapat menyusun fungsi keanggotaanya dengan dasar dari data numeric yang telah dibangun sebelumnya. Setiap  fungsi keanggotaan yang innisial dibangun dari setiap interval variabel linguistic. TFNs digunakan di sini  untuk menggambarkan Fuzziness setiap interval. Sebuah fungsi keaanggotaan triangular dapat di definisikan sebagai (a, b, c

Membership Function (Fungsi Keanggotaan) (skripsi dan tesis)

Fungsi keanggotaan (membership function) adalah suatu kurva yang menunjukkan pemetaan titik-titik input data ke dalam nilai keanggotannya (sering juga disebut dengan derajat keanggotaan) yang memiliki interval antara 0 sampai 1. salah satu cara yang dapat digunakan untuk mendapatkan nilai keanggotaan adalah dengan melakukan pendekatan fungsi. Ada beberapa fungsi yang bisa digunakan antara lain :

  1. Representasi Linear

Pada representasi linear, pemetaan input ke derajat keanggotaannya digambarkan sebagai suatu garis lurus.

  1. Representasi Kurva Segitiga (triangular)

Kurva segitiga merupakan gabungan antara 2 garis (linear)

  1. Representasi Kurva Trapesium

Kurva trapezium pada dasarnya seperti bentuk segitiga, hanya saja ada beberapa titik yang memiliki nilai keanggotaan.

. Fuzzy Set Theory (skripsi dan tesis)

Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Zadeh (1965) seperti dikutip L.K.Chan et al. (1999 : 2504) yang dikembangkan untuk menyelesaikan problem dimana deskripsi aktivitas, penelitian, dan penilaian bersifat subyektif, tidak pasti, dan tidak tepat. Kata “fuzzy” biasanya menunjukkan situasi yang tidak memiliki batasan yang jelas pada aktivitas maupun penilaian atau kabur. Sebagai contoh, kita dapat menggolongkan umur 24 tahun sebagai umur dengan kategori “muda” namun tidak mudah menggolongkan seseorang dengan umur 24 tahun sebagai golongan muda, namun juga tidak mudah untukmenggolongkan seseorang berumur 30 tahun sebagai orang “muda” karena kata “muda” tidak memiliki batasan yang jelas. Demikian juga dengan golongan “penting”, “bagus”. Kata-kata diatas tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena menyangkut penilaian yang subyektif dan terlalu persepsi. Golongan obyek diatasi dapat  diselesaikan dengan fuzzy theory set.

Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan (skripsi dan tesis)

      Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan setiap perrusahaan untuk mengukur dan memantau kepuasan pelanngannya. Kotler (1994) seperti dikutip Tjiptono (1996 : 146) mengemukakan 4 (empat) metode untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu :

  1. Sistem keluhan dan saran.

Setiap perusahaan yang berorientasi pada pelanggan perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para pelanggannya untuk menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan. Media yang digunakan bisa berupa kotak saran, menyediakan kartu komentar, menyediakan saluran telepon khusus dan lain-lain. Informasi ini dapat memberikan ide-ide atau masukan baru bagi perusahaan sehingga memungkinkanuntuk memberikan respon yang cepat terhadap masalah yang timbul. Upaya dari pelanggan ini sulit diwujudkan dengan metode ini, terlebih bila perusahaan tidak memberikan iumbal balik yang memadai kepada mereka.

  1. Survai kepuasan pelanggan

Umumnya banyak penelitian mengenai kepuasan pelanggan dilakukan dengan menggunakan metode survai, baik melalui pos, telepon, maupun wawancara pribadi (Mc Neal dan Lamb dalam Peterson dan Wilson, 1992). Melalui survai, perusahaan akan memperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan juga memberikan tanda positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap pelanggannya.

  1. Ghost shopping

Metode ini dilaksanakan dengan cara mempekerjakan beberapa orang (ghost shopper) untuk berperan atau bersikap sebagai pelanggan/pembeli potensial produk perusahaan dan pesaing. Dari situ ghost shopper  menyampaikan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka dalam pembelian produk-produk tersebut. Selain itu para ghost shopper  juga dapat mengamati atau menilai cara perusahaan dan pesaingannya menjawab pertanyaan pelanggan dan menangani setiap keluhan.

  1. Lost customer analysis

Metode ini agak unik, perusahaan berusaha menghubungi para pelanggannnya yang telah berhenti membeli atau yang telah beralih pemasok. Yang diharapkan adalah akan diperolehnya informasi penyebab terjadinya hal tersebut. Informasi ini sangat bermanfaat bagi perusahaan untuk mengambil kebijakan selanjutnya dalam rangka meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan.

Definisi Kepuasan Pelanggan (skripsi dan tesis)

Banyak pakar yang memberikan definisi mengenai kepuasan pelanggan. Day (dalam Tse dan Wilton1988) seperti dikutip Tjiptono (1996 : 146) menyatakan bahwa kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian/diskonfirmasi yang dirasakan antara harapan sebelumnya (atau norma kinerja lainnya) dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah pemakaiannya. Engel, et al (1990) mengungkapkan bahwa kepuasan pelanggan merupakan evaluasi purna beli dimana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya memberikan hasil (outcome) sama atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil yang diperoleh tidak memenuhi harapan pelanggan.

Kotler (1994) menandaskan bahwa kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang ia rasakan dibandingkan dengan harapannya. Jadi, umumnya harapan pelanggan merupakan perkiraan atau keyakinan pelanggan tentang apa yang akan diterimanya bila ia membeli atau mengkonsumsi suatu produk (barang atau jasa). 

Model Kualitas Jasa (skripsi dan tesis)

Ada banyak model yang dapat dipergunakan untuk menganalisis kualitas jasa. Pemilihan terhadap suatu model tergantung pada tujuan analisis, jenis perusahaan, dan situasi pasar.

Tiga peneliti Amerika, Leonard L. Berry, A. Parasuraman, dan Valerie A. Zeithaml melakukan penelitian, mereka membentuk model mutu jasa yang menyoroti syarat-syarat utama dalam memberikan mutu jasa yang tinggi. Misalnya dalam pelayanan jasa taman rekreasi, syarat utamanya yaitu antara lain tersedianya dokter dan perawat yang sesuai dan kompeten, memiliki manajemen yang mengelola, kelengkapan fasilitas taman rekreasi dan lain sebagainya. Model itu mengidentifikasi 5 kesenjangan yang mengakibatkan menyebabkan kegagalan penyampaian jasa : (Philiph Kotler, 2002 : 499).

Parasuraman, Zeithalm dan Berry (1990 : 45) membuat sebuah model kualitas jasa yang menekankan pada ketentuan penting yang harus dipatuhi pemberi jasa supaya bisa memberikan jasa sesuai dengan harapan konsumen.

Model kualitas jasa pada gambar diatas mengidentifikasi 5 (lima) gap (kesenjangan) yang menyebabkan gagalnya pelayanan jasa yaitu :

  1. Gab 1 : Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi pihak manajemen

Pihak manajemn tidak selalu memahami dengan tepat apa yang diinginkan konsumen dan bagaimana konsumen menilai masing-masing komponen jasa tersebut, akibatnya manajemen tidak mengetahui bagaimana suatu jasa seharusnya didesain, dan jasa-jasa pendukung/sekunder apa saja yang diinginkan oleh konsumen. Contohnya pengelola catering mungkin mengira para pelanggannya lebih mengutamakan ketepatan waktu pengantaran makanannya, padahal pelanggan tersebut mungkin lebih memperhatikan variasi menu yang disajikan.

  1. Gab 2 : Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi pihak manajemen

Kadangkala manajemen mampu mamahami secara tepat apa yang di inginkan konsumen,  tapi mereka tidak menyusun standar kinerja tertentu yang jelas.  Hal ini dapat di karenakan tiga faktor, yaitu tidak adanya komitmen total manajemen terhadap kualitas jasa, kekurangan sumber daya atau karena adanya kelebihan permintaan. Sebagai contoh : manajemen bank meminta para stafnya agar memberikan pelayanan secara ‘cepat’ tanpa menentukan standard atau ukuran waktu pelayanan yg dp dikategorikan cepat.

  1. Gab 3 : Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi pihak manajemen

Ada banyak faktor yang mempengaruhi pemberian jasa, dimana mungkin ada perbedaan antara beban kerja yang diberikan dengan ketrampilan yang dipunyai sehingga akan menimbulkan perbedaan hasil dari yang telah direncanakan. Faktor-faktor yang menyebabkan gap ini antara lain :

  1. Role Ambiguity : terjadinya kebingungan pada bagian pelaksana untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik karena tidak memiliki informasi dan ketrampilan yang dibutuhkan.
  2. Role Conflict : adanya persepsi dalam diri karyawan bahwa mereka tidak dapat memenuhi semua permintaan dari semua individu yang harus mereka layani. Hal ini dapat terjadi karena jumlah konsumen yang terlalu banyak dan menginginkan pelayanan pada waktu yang sama.
  3. Adaptasi lingkungan dari karyawan yang tidak memadai.
  4. Tidak tersedianya sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh karyawan dalam melaksanakan tugasnya.
  5. Kurangnya pengawasan dan pengontrolan yang efektif.
  6. Tidak adanya rasa kebersamaan sebagai satu tim dari pihak pelaksana dan pihak manajemen.
  7. Gab 4 : Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi pihak manajemen

Harapan konsumen dipengaruhi oleh pemberi jasa melalui komunikasi. Akan menjadi masalah jika pengharapan yang diinginkan konsumen berbeda dengan keadaan yang sebenarnya, sehingga menimbulkan kekecewaan konsumen.

 

  1. Gab 5 : Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi pihak manajemen

Gap ini timbul apabila pelanggan mengukur kinerja/prestasi perumahan dengan cara yang berlainan, atau bisa juga keliru mempersepsikan kualitas jasa tersebut.

Dimensi-Dimensi Kualitas Pelayanan (skripsi dan tesis)

Dari penelitian Parasuraman (1990), ada 10 dimensi umum yang mewakili kriteria penilaian yang digunakan pengguna jasa untuk menilai kualitas pelayanan. Adapun ke-10 dimensi umum tersebut disajikan didalam tabel 2.1 berikut ini :

 

Tabel 2 – 1. 10 Dimensi penilaian konsep kualitas pelayanan

Menurut Parasuraman (1990).

No. Dimensi Keterangan
1. Tangibles Perihal dari fasilitas fisik, peralatan personil dan alat-alat komunikasi.
2. Reliability Kemampuan untuk memberikan pelayanan yang telah dijanjikan dengan tepat.
3. Respon siveness Kemampuan untuk membantu pengguna jasa dengan memberikan pelayanan yang tepat.
4. Competence Penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan salam memberikan pelayanan
5. Courtesy Sikap hormat, sopan dan ramah tamah yang diberikan dalam memberikan dalam memberikan pelayanan.
6. Credibility Kepercayaan yang diberikan kepada pemberi jasa.
7. Security Rasa bebas dari bahaya, resiko, atau keragu-raguan.
8. Acess Kemudahan dijangkau dan kemudian dihubungi.
9. Camunication Kemudahan berkomunikasi dengan pengguna jasa, termasuk kesediaan untuk mendengarkan keluhan dan keinginan pengguna jasa.
10. Understanding the customer Usaha untuk mengerti kebutuhan dan keinginan pengguna jasa

Berdasarkan konsep kualitas pelayanan dan 10 dimensi penilaian diatas maka parasuraman (1990) mengembangkan alat untuk mengukur kualitas pelayanan yang disebut “servqual”.

Pada tool servqual, tujuan dimensi umum yang terakhir digolongkan dalam dua dimensi yang lebih luas yaitu : assurance dan empathy, sehingga dimensi-dimensi dalam servqual disederhanakan menjadi :

 

  1. Tangibles

Penampilan fasilitas-fasilitas fisik, peralatan, personel, dan material-material komunikasi.

  1. Reliability

Kemampuan untuk melaksanakan service yang telah dijanjikan secara akurat dan dapat diandalkan.

  1. Responsiveness

Kemampuan untuk membantu pengguna jasa dan penyediaan service yang cepat.

  1. Assurance

Pengetahuan dan kesopanan dari karyawan dan kemampuan mereka untuk mendapatkan kepercayaan pengguna jasa.

  1. Empathy

Sikap peduli, perhatian secara individu yang diberikan oleh perusahaan kepada pengguna jasanya.

Ada 8 (delapan) dimensi kualitas yang dikembangkan Garvin (dalam Lovelock; Peppard dan Rowland, 1995) seperti dikutip Fandy Tjiptono (1996 : 68) dan dapat digunakan sebagai kerangka perencanaan strategis dan analisis. Dimensi-dimensi tersebut adalah :

  1. Kinerja (performance), karakteristik pokok dari produk inti.
  2. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features), yaitu karakteristik sekunder atau pelengkap.
  3. Kehandalan (realibility), yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai.
  4. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications), yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standard-standard yang telah ditetapkan sebelumnya.
  5. Daya tahan (durability), berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan.
  6. Serviceability, meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah diperbaiki, penanganan keluhan yang memuaskan.
  7. Estetika (aesthetics), yaitu daya tarik produk terhadap panca indra.
  8. Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality), yaitu citra dan reputasi produk atau jasa serta tanggung jawab perusahaan terhadapnya.

Meskipun beberapa dimensi diatas dapat diterapkan pada bisnis jasa, tetapi sebagian besar dimensi tersebut dimensi tersebut dikembangkan berdasarkan pengalaman dan penelitian terhadap perusahaan manufaktur. Sementara itu ada beberapa pakar pemasaran, seperti  ParasuramanZeithaml, dan Berry yang melakukan penelitian khusus terhadap beberapa jenis jasa dan berhasil mengidentifikasi sepuluh faktor utama yang menentukan kualitas jasa. Kesepuluh faktor tersebut meliputi (Parasuraman, et. al; 1985) seperti dikutip              Tjiptono (1996 : 69) :

  1. Reliability, mencakup dua hal pokok, yaitu konsistensi kerja (performance) dan kemampuan untuk dipercaya (dependability). Hal ini berarti perusahaan memberikan jasanya secara tepat semenjak saat pertama (right the first time). Selain itu juga berarti bahwa perusahaan yang bersangkutan memenuhi janjinya, misalnya menyampaikan jasanya sesuai dengan jadwal yang disepakati.
  2. Responsiveness, yaitu kemauan atau kesiapan para karyawan untuk memberikan jasa yang dibutuhkan pelanggan.
  3. Competence, artinya setiap orang dalam suatu perusahaan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan agar dapat memberikan jasa tertentu.
  4. Access, meliputi kemudahan untuk dihubungi dan ditemui. Hal ini berarti lokasi fasilitas jasa yang mudah dijangkau, waktu menunggu yang tidak terlalu lama, saluran komunikasi perusahaan mudah dihubungi, dan lain-lain.
  5. Courtesy, meliputi sikap sopan santun, respek, perhatian, dan keramahan yang dimiliki para contact personnel (seperti resepsionis, operator telepon, dan lain-lain).
  6. Communication, artinya memberikan informasi kepada pelanggan dalam bahasa yang mereka pahami, serta selalu mendengarkan saran dan keluhan pelanggan.
  7. Credibility yaitu sifat jujur dan dapat dipercaya. Kredibilitas mancakup nama perusahaan, reputasi perusahaan, karakteristik pribadi (contact personnel), dan interaksi dengan pelanggan.
  8. Security, yaitu aman dari bahaya, risiko, atau keragu-raguan. Aspek ini meliputi keamanan secara fisik (physical safety), keamanan finansial (financial security), dan kerahasiaan (confidentiality).
  9. Understanding/Knowing the Customer, yaitu usaha untuk memahami kebutuhan pelanggan.
  10. Tangibles, yaitu bukti fisik dari jasa, bisa berupa fasilitas fisik, peralatan yang dipergunakan, representasi fisik dari jasa (mis: kartu kredit plastik)

Dalam perkembangan selanjutnya, yaitu pada tahun 1988, Parasuraman dan kawan-kawan (dalam Fitzmmons dan Fitzmmons, 1994; Zeithaml dan bitner, 1996) seperti dikutip Tjiptono (1996 : 70) menemukan bahwa 10 (sepuluh) dimensi yang ada dapat dirangkum menjadi hanya 5 (lima) dimensi pokok. Kelima dimensi pokok itu meliputi :

  1. Bukti langsung (tangibles), meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan   sarana komunikasi.
  2. Keandalan (reliability), yakni kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segara, akurat, dan memuaskan.
  3. Daya tanggap (responsivenass), yaitu keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap.
  4. Jaminan (assurance), mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf; bebas dari bahaya, risiko atau keragu-raguan.
  5. Empati (empathy), meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan para pelanggan.

 

Kualitas Pelayanan (Service Quality) (skripsi dan tesis)

Definisi kualitas jasa berpusat pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanngan. Menurut Wyckof (dalam lovelock, 1988) seperti dikutip Tjiptono (1996 : 59), kualitas jasa adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Dengan kata lain ada dua faktor utama menurut pasuraman, et al. (1985) seperti dikutip Tjiptono (1996 : 60) yang mempengaruhi kualitas jasa yaitu expected service (pelayanan yang diharapkan ) dan perceived service (pelayanan yang dirasakan).

Jadi menurut mereka, kualitas pelayanan dapat diperoleh dengan cara membandingkan antara harapan (ekspektasi) konsumen dengan penilaian mereka terhadap kinerja yang sebenarnya (persepsi)

Parasuraman (1997) menjelaskan bahwa, kualitas layanan didefinisikan sebagai seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan para pelanggan atas layanan yang mereka peroleh atau terima. Pada dasarnya suatu produk baik yang berupa barang atau jasa baru dapat dikatakan berkualitas apabila bermanfaat atau dapat memberikan suatu sumbangan yang bagi penggunanya.

Kualitas adalah faktor-faktor yang terdapat dalam suatu barang yang menyebabkan barang tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa barang itu dimaksudkan atau dibutuhkan (Sofyan Assauri, 1980).

Ada beberapa unsur penting dalam peningkatan kualitas (Fandy Tjiptono, 1995) :

  1. Pengguna jasa harus menjadi merupakan prioritas utama organisasi. Kelangsungan hidup organisasi tergantung pada pengguna jasa.
  2. Pengguna jasa yang dapat diandalkan merupakan pengguna jasa yang paling penting. Pengguna jasa yang dapat diandalkan adalah pengguna jasa yang menggunakan jasa secara berulang-ulang dari pihak penyedia jasa yang sama, atau dapat dikatakan pengguna jasa yang loyal. Pengguna jasa yang puas dengan kualitas produk atau jasa yang dibeli akan menjadi pengguna jasa yang dapat diandalkan, oleh karena itu kepuasan pengguna jasa menjadi sangat penting.
  3. Kepuasan pengguna jasa harus dijamin dengan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Kepuasan berimplikasi pada perbaikan terus-menerus sehingga kualitas harus diperbaharui setiap saat agar pengguna jasa tetap puas dan loyal.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas pelayanan adalah permulaan dari kepuasan pengguna jasa, artinya bila suatu badan usaha memberikan kualitas pelayanan yang baik pada pengguna jasa maka akan tercapai kepuasan pengguna jasa. Dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas layanan adalah layanan yang diharapkan dan layanan yang diterima oleh pihak pengguna jasa. Konsumen akan membandingkan antara pelayanan yang diharapkan dengan pelayanan yang diterima dari pihak penyedia jasa. Konsumen akan tidak puas apabila pelayanan yang diberikan berada dibawah pelayanan yang diharapakannya. Sebaliknya apabila konsumen akan merasa puas apabila pelayanan yang diterima sesuai atau melebihi pelayanan yang diharapkan. Oleh sebab itu peningkatan kualitas adalah strategi penting untuk memuaskan pengguna jasa.

Produktifitas Total Faktor (PTF) (skripsi dan tesis)

Untuk melihat pola pembentuk pertumbuhan ekonomi diperlukan suatu penghitungan dan analisis yang mengakomodir kontribusi investasi serta penambahan tenaga kerja dan produktifitasnya pada pertumbuhan ekonomi. Peningkatan produktifitas harus menjadi prioritas sehingga ekonomi suatu daerah memilki fondasi yang mantap dan stabil. Hal ini akan semakin diperlukan manakala terjadi krisis ekonomi. Salah satu indikator yang dapat menjelaskan pola tersebut adalah pengukuran produktifitas yang disebut sebagai Produktifitas Total Faktor (PTF). Indikator PTF mengkuantitatifkan produktifitas dari kondisi kualitatif produktifitas tenaga kerja. Dengan penghitungan PTF dapat diketahui berapa besar kontribusi faktor peningkatan balas jasa tenaga kerja, peningkatan investasi serta peningkatan produktifitas terhadap pertumbuhan ekonomi. Produktifitas Total Faktor (PTF)  menggambarkan sejauh mana Capital dan Labour dapat bersinergi sehingga dapat menghasilkan output yang maksimal.

Rumus yang dipakai diturunkan dari translog production function yang disesuaikan untuk interval waktu diskrit dengan merata-ratakan angka dua tahun yang berurutan. Model memasukkan dua faktor (kapital dan tenaga kerja):

Qt = At F(Kt,Lt) ………………………(6)

Rumus untuk penghitungan PTF diturunkan dari translog production

function sebagai berikut:

lnQt = ln α0 + αt T + αk lnKt +αl lnLt + ½ βkk(lnKt)+ βkl lnKtlnLt +1/2βll(lnLt)+ βkTTlnKt + βTl TlnLt +1/2 βTT T………….. (7)

Turunan persamaan (7) terhadap waktu diperoleh

Qt* = αt + αkKt* + αlLt* + βkk(lnKt)Kt* +βlk(Kt*lnLt + Lt*lnKt)

+ βll(lnLt)Lt*+ βkT(TKt* + lnKt) + βlT(TLt* + lnLt) + βTT T…..(8)

dimana * pertumbuhan instan dari peubah yang bersangkutan.

Selanjutnya dapat ditunjukkan bahwa:

Q*t = TFPt* + SkKt* + SlLt*…………(9)

Karena tingkat perubahan TFP dalam persamaan (4) merupakan tingkat perubahan instan untuk interval waktu distrit, dihitung rata-rata untuk dua waktu

yang berturutan

TFPGt = ½(TFPt* + TFPt-1*)

= (lnQt-lnQt-1)–½(Skt+Skt-1)(lnKt-lnKt-1)–½(Slt+Slt-1)(lnLt-lnLt-1)………………………………..(10)

dimana (lnXt-lnXt-1) menunjukkan pertumbuhan eksponensial dari X (modal dan

tenaga kerja), dan rata-rata bergerak dua tahun dari kontribusi pendapatan modal dan tenaga kerja, ini yang digunakan dalam estimasi PT

Secara ringkas rumus persamaan (10) dapat dituliskan sebagai berikut:

  Qt = TFP*  + St Kt* + St Lt*………………………(11)

Dimana Qt      = Pertumbuhan Output

 TFP*  = Kontribusi Pertumbuhan Produktifitas Total Faktor (PTF)

 St Kt* = Kontribusi Pertumbuhan Kapital

 St Lt* = Kontribusi Pertumbuhan Tenaga Kerja

Tingkat Efisiensi Industri Pengolahan (skripsi dan tesis)

Tingkat efisiensi adalah kemampuan dari setiap rupiah nilai input antara dalam menciptakan pendapatan, yang dalam hal ini diwakili oleh nilai tambah, pada sektor industri pengolahan (karena keterbatasan data khususnya untuk industri besar sedang). Karena tingkat efisiensi dihitung dengan cara membagi nilai tambah dengan nilai input antara, maka angka tingkat efisiensi yang diperoleh sudah mengeliminir pengaruh dari perubahan harga atau inflasi.

Ada berbagai faktor yang berpengaruh dalam tingkat efisiensi yaitu sebagai berikut :

  1. Banyaknya Perusahaan
  2. Banyaknya Tenaga Kerja
  3. Biaya Tenaga Kerja
  4. Nilai Output
  5. Input Antara
  6. Nilai Tambah

            Dari faktor-faktor  diatas dapat pula dicari seperti di bawah ini :

  • Nilai Tambah Output Rasio (%) = Nilai Tambah / Nilai Output ……….(2)
  • Tingkat Efisiensi (Rp) = Nilai Tambah /Input Antara …………………..(3)
  • Produktifitas Tenaga Kerja (Juta Rp) =Nilai Tambah / Tenaga Kerja……(4)
  • Produktifitas Tenaga Kerja (Rp) = Nilai Tambah / Biaya Tenaga Kerja..(5)

Produktifitas Tenaga Kerja (skripsi dan tesis)

            Masalah peningkatan produktifitas kerja dapat dilihat sebagai masalah keperilakuan, tetapi juga dapat mengandung aspek-aspek teknis . Untuk mengatasi hal itu  perlu pemahaman yang tepat  tentang faktor-faktor penentu keberhasilan meningkatkan produktifitas kerja, sebagian diantaranya berupa etos kerja yang harus dipegang teguh oleh semua orang dalam organisasi (Sondang P. Siagian, 2002)

            Ada dua cara yang bisa digunakan untuk mengetahui tingkat produktifitas tenaga kerja pada sektor industri pengolahan (khususnya industri besar sedang). Cara pertama adalah dengan membagi nilai tambah yang dihasilkan dengan jumlah tenaga kerja, sedangkan cara kedua adalah dengan cara membandingkan nilai tambah yang dihasilkan dengan pengeluaran untuk tenaga kerja. Masing-masing metode tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan.

Dengan cara pertama, bisa diketahui berapa jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh setiap tenaga kerja. Sedangkan dengan cara kedua, kita bisa mengetahui besarnya nilai tambah yang dihasilkan untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk biaya tenaga kerja. Salah satu kelebihan dari cara kedua dibandingkan dengan cara pertama adalah cara ini dapat menghilangkan pengaruh perubahan nilai uang yang disebabkan oleh inflasi, seperti halnya ketika menghitung nilai tambah output rasio dan tingkat efisiensi.

Rasio Nilai Tambah Terhadap Output (skripsi dan tesis)

                Secara definisi, output adalah hasil yang diperoleh baik berbentuk barang maupun jasa dari pemanfaatan seluruh faktor produksi seperti tanah, tenaga kerja, modal dan kewirausahaan yang ikut serta dalam proses produksi. Output merupakan penjumlahan seluruh nilai input antara dan input primer atau nilai tambah bruto atas dasar biaya faktor produksi yang dihasilkan dari seluruh kegiatan usaha. Atau kalau dilihat dari sudut penggunaan/konsumsi, output juga disebut sebagai permintaan akhir dari  nilai barang/jasa yang dihasilkan oleh suatu jenis industri pengolahan pada suatu periode tertentu.

Output dinilai atas dasar harga produsen yaitu suatu tingkat harga yang diterima oleh produsen pada transaksi yang pertama. Nilai output masih bersifat bruto, karena masih mengandung nilai penyusutan barang modal dan pajak tak langsung.

Konsep nilai tambah berkaitan erat dengan penghitungan output. Keduanya merupakan konsep penghitungan neraca ekonomi yang berkaitan  dengan kegiatan produksi. Nilai tambah adalah suatu tambahan nilai pada nilai input antara yang digunakan dalam proses produksi, menjadi barang yang nilainya lebih tinggi. Sedangkan input antara mencakup nilai seluruh komoditi barang dan jasa yang habis atau dianggap habis dipakai dalam suatu proses produksi, seperti bahan baku, bahan bakar, dan lain-lain. Penghitungan nilai tambah bruto dari suatu unit produksi adalah output bruto atas dasar harga produsen dikurangi dengan input antara.

Klasifikasi Industri Manufaktur (skripsi dan tesis)

Klasifikasi Industri Manufaktur/Pengolahan menurut BPS.

  1. Industri Manufaktur/Pengolahan dikelompokkan ke dalam 4 golongan berdasarkan banyaknya pekerja yaitu:
  2. Industri Besar adalah perusahaan yang mempunyai pekerja 100 orang atau lebih
  3. Industri Menengah adalah perusahaan yang mempunyai pekerja 20-99 orang
  4. Industri Kecil adalah perusahaan yang mempunyai pekerja 5-19 orang
  5. Industri Rumah Tangga adalah usaha kerajinan rumah tangga yang mempunyai pekerja antara 1-4 orang
  6. Klasifikasi Industri Manufaktur/Pengolahan berdasarkan ISIC 2 Digit:
  7. Subsektor Industri Makanan, Minuman dan Tembakau
  8. Subsektor Industri Tekstil, Pakaian Jadi dan Kulit
  9. Subsektor Industri Kayu dan Sejenisnya
  10. Subsektor Industri Kertas, Percetakan dan Penerbitan
  11. Subsektor Industri Kimia, Minyak Bumi, Karet dan Plastik
  12. Subsektor Industri Barang Galian Non Logam, Kecuali Minyak Bumi dan Batu Bara
  13. Subsektor Industri Logam Dasar
  14. Subsektor Barang Dari Logam, Mesin dan Peralatan
  15. Subsektor industri Pengolahan Lainnya

Metode Perhitungan Tarif Taksi (skripsi dan tesis)

      Menurut Dirjen Hubdat Dephub RI, hasil operasional harian per unit taksi berdasarkan hasil argometer dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut :

Hasil operasional harian =  { jarak tempuh perjalanan x tarif per km }

                                                +  { jumlah perjalanan isi x tarif buka pintu }

Hasil operasional harian merupakan biaya pokok kendaraan per hari ditambah dengan keuntungan operator taksi sebesar 5% dari biaya pokok kendaraan per hari

Jarak tempuh perjalanan merupakan jarak yang ditempuh taksi ketika mengangkut penumpang dalam waktu satu hari sedangkan jumlah perjalanan isi adalah jumlah perjalanan taksi dengan mengangkut penumpang dalam waktu satu hari. Tarif buka pintu adalah tarif awal yang dikenakan kepada penumpang ketika menngunakan taksi. Besar tarif buka pintu sama dengan dua kali tarif per km.

Biaya Operasional Kendaraan (skripsi dan tesis)

      Dalam sub bab sebelumnya dijelaskan bahwa biaya angkutan umum terbesar yang dikeluarkan oleh pihak operator adalah biaya operasional kendaraan (BOK). BOK adalah jumlah biaya yang dikeluarkan sebuah kendaraan sewaktu beroperasi pada suatu kondisi lalu lintas dan jalan. BOK merupakan komponen biaya yang penting. Perbaikan atau peningkatan mutu sarana dan prasarana transportasi salah satu tujuannya adalah mengurangi jenis biaya ini.

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi BOK

Dalam menjalankan usahanya, perusahaan atau pihak operator harus cermat dalam menghitung setiap biaya yang dikeluarkan. Sebagai komponen biaya yang penting dalam penyediaan angkutan umum, BOK harus senantiasa dianalisis dari waktu ke waktu. Hal ini untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi akibat perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya BOK. Perubahan itu dapat bersifat langsung, misalnya perubahan harga bahan bakar, atau pelumas. Namun juga dapat bersifat tidak langsung seperti turunnya kondisi mesin yang mengakibatkan naiknya konsumsi bahan bakar, atau perubahan permukaan jalan yang mengakibatkan cepat ausnya ban, dan lain sebagainya. Dengan mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi, pihak operator dapat meminimalkan BOK yang terjadi.

Menurut Clarkson (1985), perhitungan BOK akan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar kendaraan.

1)      Faktor dari dalam

   Faktor dari dalam kendaraan meliputi keadaan dan kondisi mesin kendaraan yang  akan sangat berpengaruh dalam menentukan besar kecilnya BOK tersebut. Keadaan itu antara lain berat total kendaraan, kecepatan kendaraan, tenaga penggerak mesin, umur kendaraan, dan harga kendaraan.

  1.             Berat kendaraan

Berat total kendaraan akan mempengaruhi jumlah pemakaian bahan bakar dan penggunaaan ban. Untuk kendaraan berat yang menggunakan penggerak hidrolis, berat total kendaraan akan mempengaruhi kebutuhan minyak pelumas. Dengan kata lain, semakin berat kendaraan maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar.

  1.       Kecepatan kendaraan

            Kecepatan berpengaruh besar pada BOK karena hal ini berhubungan dengan energi yang diperlukan untuk menggerakkan mesin. Penambahan kecepatan dan permulaan kecepatan akan memerlukan energi yang lebih besar dan menaikkan BOK. Di sisi lain pengurangan kecepatan juga akan berpengaruh pada segi penggunaan ban. Dengan demikian kecepatan yang stabil akan menghasilkan BOK yang lebih rendah dibandingkan dengan kecepatan yang fluktuatif atau berubah-ubah.

                                  iii.      Tenaga penggerak mesin

Besar tenaga penggerak mesin akan menentukan kekuatan dari kendaraan. Kendaraan dengan tenaga penggerak hidrolis yang besar memiliki daya angkat dan daya gerak yang lebih besar sehingga membutuhkan energi yang besar pula. Jika kondisi tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal tentunya akan merugikan.

  1.             Umur kendaraan

Umur kendaraan yang telah tua menyebabkan kondisi kendaraan menurun dan harus diservis. Hal ini mempengaruhi unsur BOK. Harga jual kendaraan pun akan menurun yang tentunya mengurangi nilai investasi.

  1.             Harga kendaraan

Harga suku cadang kendaraan, biaya pemasangan, dan berbagai unsur BOK lainnya tergantung dari harga kendaraan tersebut. Semakin tinggi harga suatu kendaraan maka harga suku cadangnya pun akan semakin tinggi dan peralatan yang dibutuhkan pun semakin mahal disebabkan kualitas suku cadang yang lebih baik. Harga kendaraan juga akan berpengaruh pada laju penyusutan harga.

2)      Faktor dari luar

Faktor dari luar kendaraan adalah situasi dan kondisi diluar kendaraan yang juga sedikit banyak berpengaruh pada BOK. Faktor ini meliputi kondisi geometris, kondis perkerasan, dan situasi lalu lintas yang ada. Faktor tersebut dirinci menjadi kelandaian naik dan kelandaian turun, sudut belokan, keadaan permukaan jalan, kekasaran, kekompakkan, kelembaban permukaan, situasi dan kondisi lalu lintas.

  1.             Kelandaian

Tambahan energi diperlukan dalam perjalanan mendaki. Jumlah tambahan energi terbesar adalah pada kebutuhan bahan bakar. Sedangkan pada kelandain turun, energi dan kebutuhan bahan bakar cenderung lebih sedkit. Pengaruh ini akan sangat kentara pada operasional kendaraan di daerah pegunungan dimana kondisi kemiringan yang besar dan panjang. Apalagi ditambah dengan kondisi geometri  jalan yang berkelok-kelok.

  1.             Sudut belokan

Perjalanan pada kecepatan tinggi di tikungan yang tajam akan menaikkan BOK disebabkan pada saat berbelok kendaraan akan mengalami hambatan akibat super elevasi permukaan jalan, kesulitan ini yang menyebabkan dilakukannya pengereman. Pengereman pada kecepatan tinggi akan memakan biaya yang dilakukan cukup mahal. Penambahan biaya pada suatu tikungan juga disebabkan oleh perubahan kecepatan, perubahan ini disamping akan menaikkan konsumsi bahan bakar juga berpengaruh pada kondisi ban akibat kemiringan dan gesekan tepi (side resistant).

                            iii.            Ketinggian permukaan

Ketinggian permukaan dari air laut menyebabkan kenaikan suhu dan tipisnya udara, sehingga terkadang mesin sukar dihidupkan untuk pertama kalinya. Selain itu dibutuhkan energi yang relatif lebih besar untuk tetap menjaga kondisi mesin tetap hidup. Fenomena ini terutama banyak ditemui pada kendaraan berbahan bakar diesel atau kendaraan berat.

  1.             Keadaan permukaan

Keadaan permukaan akan sangat mempengaruhi baik dari operasional maupun pemeliharaan kendaraan. Kekasaran permukaan terutama pada jalan yang belum diperkeras, akan sangat mempengaruhi biaya operasional kendaraan, baik saat mulai bergerak, berhenti, maupun pengereman.

  1.             Kondisi lalu lintas

Kemacetan lalu lintas akan sangat berpengaruh pada besarnya BOK. Pada kondisi macet dimana kendaraan harus berhenti atau berjalan pelan, jumlah bahan bakar yang dikeluarkan akan bertambah

  1. Metode Perhitungan BOK

                                            Pada penelitian ini, metode perhitungan BOK yang ditampilkan adalah metode perhitungan yang dikeluarkan oleh Dephub Republik Indonesia.

                                            Rumus perhitungan ini membagi komponen BOK dalam dua kategori yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung. Model perhitungan ini merupakan hasil pendekatan empiris di lapangan.

Biaya langsung merupakan penjumlahan dari komponen biaya yang  terdiri dari beberapa komponen yaitu biaya penyusutan, biaya bunga modal, biaya konsumsi bahan bakar, biaya konsumsi oli, biaya konsumsi suku cadang, biaya tenaga pemeliharaan, dan biaya konsumsi ban. Berikut penjabaran rumus untuk perhitungan biaya langsung yang akan digunakan :

1 Biaya penyusutan
 
2 Biaya bunga modal
3 Biaya BBM
 
4 Biaya Ban
 
5 Biaya pemeliharaan kendaraan    
 
 
 
6 Biaya PKB (STNK)
  PKB = Biaya pajak kendaraan per tahun,
  KIR = Biaya KIR kendaraan,

            Sedangkan biaya tidak langsung meliputi seluruh komponen biaya yang secara tidak langsung mendukung operasional kendaraan, seperti biaya ijin, administrasi, biaya sewa kantor, biaya pegawai, biaya terra argo, dsb.

                     Penjumlahan antara biaya tidak langsung dan langsung biasa disebut sebagai biaya pokok kendaraan per km.

            Biaya pokok kendaraan / hari = biaya pokok kendaraan / km x KMhari          

BIAYA ANGKUTAN UMUM (skripsi dan tesis)

Menurut Woodward (1986) menyatakan bahwa dalam membicarakan suatu biaya, tidak lepas dari membahas dua hal pokok yaitu sumber yang harus menanggung biaya dan jumlah biaya yang harus ditanggung.

Di pandang dari sumbernya, biaya dapat dikategorikan sebagai berikut :

  1. dari sudut pandang penyedia, biaya adalah segala sesuatu dan konsekuensi yang harus dikeluarkan agar mendapatkan imbalan yang diharapkan
  2. dari sudut pandang pengguna, biaya adalah segala konsekuensi dan resiko yang harus diterima setelah mendapatkan fasilitas yang dipakai.

Morlok (1985) mengatakan bahwa kelompok yang harus menanggung biaya adalah sebagai berikut :

  1. pemilik kendaraan selaku produsen atau operator, meliputi biaya pembelian kendaraan, biaya operasional maupun biaya pemeliharaan
  2. pengguna kendaraan selaku konsumen meliputri ongkos angkutan, waktu tunggu, kemanan, dan kenyamanan
  3. lingkungan sekitar meliputi polusi, kebisingan, dan aksesbilitas kendaraan
  4. pemerintah selaku regulator meliputi sarana jalan, jembatan, sistem pengaturan lalu lintas, dan operasional angkutan.

Selanjutnya Woodward (1986) menjelaskan bahwa secara garis besar biaya angkutan umum dibedakan menjadi dua yaitu biaya yang dikeluarkan oleh pihak operator dan biaya penumpang.

Biaya yang dikeluarkan operator terdiri atas biaya operasi kendaraan dan biaya pendukung. Biaya pendukung adalah biaya yang mutlak dan relatif tetap pada setiap operasional kendaraan sehingga biaya ini tergolong sebagai fixed cost. Biaya ini diantaranya meliputi biaya sewa kantor, gaji pegawai, biaya manajemen operasional, dan biaya garasi. Meskipun bersifat mendukung namun biaya ini tetap dibutuhkan dalam menunjang kelancaran operasional kendaraan. Untuk angkutan umum lainnya seperti kapal laut dan pesawat terbang, biaya pendukung juga meliputi biaya keselamatan (safety cost) dan juga biaya promosi (promotion cost), Sedangkan biaya operasional kendaraan adalah biaya yang bersifat variabel cost artinya sangat tergantung pada kondisi operasional kendaraan itu sendiri. Dari kedua biaya tersebut, biaya operasional kendaraan (vehicle operating cost) sangat mendominasi dan menentukan. Biaya tersebut meliputi antara lain:

  1. biaya modal kendaraan
  2. biaya konsumsi bahan bakar
  3. biaya minyak pelumas
  4. biaya penggunaan ban
  5. biaya pemeliharaan
  6. biaya ijin dan administrasi
  7. biaya penyusutan

Selain biaya yang dikeluarkan oleh pihak operator, Woodward (1986) juga menjelaskan tentang biaya penumpang, yang meliputi harga tarif yang harus dibayar, lama waktu perjalanan, dan tingkat pelayanan. Dari ketiga biaya tersebut harga tarif relatif selalu tetap untuk  suatu perjalanan yang sama sehingga digolongkan sebagai fixed cost, sedangkan waktu perjalanan dan tingkat pelayanan yang diperoleh merupakan variable cost yang selalu dapat berubah dan sulit untuk dihitung secara matematis.

Harga tarif merupakan faktor biaya yang paling banyak diperhitungkan oleh pengguna angkutan umum sehingga berperan cukup besar. Tarif inilah yang menjadi fokus dalam penelitian tugas akhir ini. Sedangkan waktu perjalanan adalah waktu yang ditempuh oleh penumpang untuk bergerak dari tempat asal ke lokasi tujuan. Biaya untuk waktu ini tidak dapat dianalisis tersendiri namun dibandingkan dengan waktu yang diperlukan jika menggunakan moda lain, sehingga harga ekstrim waktu penumpang dapat diperhitungkan. Selain harga tarif dan waktu perjalanan, biaya penumpang juga meliputi tingkat pelayanan dari moda angkutan yang digunakan. Pelayanan yang dimaksud yaitu ketersediaan moda angkutan, kecepatan perjalanan, kenyamanan perjalanan, dan bagasi.

Pengertian Taksi (skripsi dan tesis)

Menurut Papacostas (1987), taksi, persewaan mobil dan pelayanan individual lainnya termasuk dalam kategori angkutan umum dengan kontrak. Taksi merupakan kendaraan milik operator atau pribadi yang disediakan untuk masyarakat umum dengan sifat pelayanan yang pribadi sehingga pengguna dapat menggunakannya kapan saja dan kemana saja. Selain itu moda angkutan ini tidak memerlukan tempat parkir khusus, dan memiliki bagasi yang cukup nyaman. Namun demikian, biaya atau tarif yang harus dikeluarkan oleh penumpang cukup tinggi dan tingkat kehandalannya rendah (tidak tersedia pada jam dan tempat tertentu) dibandingkan moda angkutan lainnya..

Menurut Dephub (2002), taksi digolongkan ke dalam angkutan tidak dalam trayek dengan pelayanan angkutan dari pintu ke pintu dalam wilayah operasi terbatas meliputi daerah kota atau perkotaan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pelayanan angkutan taksi diselenggarakan dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  1. tidak berjadwal
  2. dilayanai dengan mobil penumpang umum jenis sedan atau station wagon dan van yang memiliki konstruksi seperti sedan, sesuai standar teknis yang ditetapkan Direktur Jenderal
  3. tarif angkutan berdasarkan argometer
  4. pelayanan dari pintu ke pintu.

Kendaraan yang digunakan pun harus dilengkapi dengan beberapa kelengkapan sebagai berikut :

  1. tulisan “TAKSI” yang ditempatkan di atas atap bagian luar kendaran dan harus menyala dengan warna lampu kuning atau putih apabila dalam keadaan kosong dan padam apabila argometer dihidupkan
  2. alat pendingin udara
  3. logo dan nama perusahaan yang ditempatkan pada pintu depan bagian tengah, dengan susunan sebelah atas adalah logo perusahaan dan sebelah bawah adalah nama perusahaan
  4. lampu bahaya berwarna kuning yang ditempatkan di samping kanan tanda taksi
  5. tanda jati diri pengemudi yang ditempatkan pada dashboard kendaraan, yang dikeluarkan oleh masing-masing perusahaan angkutan taksi
  6. radio komunikasi yang bergungsi sebagai alat komunikasi antara pengemudi dengan pusat pengendali operasi dan atau sebaliknya
  7. keterangan tentang biaya awal, kilometer, waktu dan biaya tambahan yang ditempatkan pada sisi bagian dalam pintu belakang
  8. nomor urut kendaraan dari setiap perusahaan angkutan yang ditempatkan pada bagian depan, belakang, kanan dan kiri kendaraan dan bagian dalam kendaraan
  9. argometer yang disegel oleh instansi yang berwenang dan dapat berfungsi dengan baik serta ditera ulang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Karakteristik pengguna jasa taksi pun sangat bervariasi jika dilihat dari kondisi sosial ekonominya. Secara garis besar mereka dapat dikelompokkan menjadi 2 (Levinson & Weant, 1982), yaitu :

  1. Mereka yang tidak punya pilihan lain kecuali taksi, misal orang tua, orang cacat, ibu rumah tangga dan sebagainya
  2. Mereka yang memilih taksi untuk mendapatkan kualitas pelayanan yang tinggi, misal pebisnis, eksekutif dan penduduk berpenghasilan tinggi.

Menurut Black (1995) ada 3 cara dalam menentukan tarif taksi, yaitu :

  1. dihitung dengan meter (argometer). Ada tarif awal saat buka pintu/argo dinyalakan, lalu tarif bertambah sejalan dengan bertambahnya jarak perjalanan. Di kota-kota besar yang sering terjadi kemacetan, tarif juga akan bertambah pada saat kendaraan terhambat (tidak bergerak) akibat kemacetan yang terjadi
  2. cara kedua adalah dengan sistem zona. Tarif didasarkan pada zona tertentu dan akan bertambah pada saat taksi memasuki zona baru. Peta yang menunjukkan batas zona-zona tersebut dipasang di dalam taksi sehingga penumpang dapat mengetahui ongkos yang harus dibayar. Keuntungan dari sistem ini adalah pengemudi tidak bisa mengambil rute yang jauh untuk mencapai tujuan
  3. Ongkos rata-rata (flat rate), dimana harga tidak berubah sejalan dengan jarak perjalanan yang bertambah. Cara ini biasanya digunakan daerah-daerah kecil yang sebagaian besar perjalanannya berjarak pendek. Sistem ini dapat kita temui pada perjalanan dari bandara udara ke pusat kota.

Dalam  PP No 41 tahun 1993, dijelaskan bahwa struktur taksi terdiri atas :

  1.       tarif awal yaitu tarif yang dikenakan saat penumpang mulai membuka pintu taksi (flag fall) atau angka awal saat pengaktifan argo. Angka yang tertera di argo meter menunjukkan biaya awal sebagai biaya minimum yang tidak berubah untuk jangka waktu atau jarak tertentu
  2.       tarif dasar yaitu tarif yang dikenakan kepada penumpang tiap satu kilometer perjalanan taksi

                      iii.      tarif waktu yaitu besarnya biaya tambahan tarif yang dikenakan atas dasar penggunan waktu, misal taksi harus menunggu atau terjebak dalam kemacetan lalu lintas

  1.       tarif jarak yaitu tarif yang tertera dalam argometer yang harus dibayar penumpang dengan berdasarkan tarif awal ditambah tarif dasar dikalikan jarak tempuh dan tarif waktu.

Semua tarif tersebut ditunjukkan dengan argometer. Besarnya tarif taksi itu sendiri ditetapkan oleh Gubernur dengan persetujuan Menteri perhubungan. Sehingga dengan demikian, persaingan antar perusahaan taksi yang terjadi dalam meraih penumpang sebanyak-banyaknya diutamakan pada sisi pelyanan kepada konsumen.

Sistem penetapan tarif yang digunakan di Yogyakarta adalah sistem pertama yakni menggunakan argometer. Namun dalam kenyataannya sering dijumpai taksi yang tidak mau menggunakan sistem ini tetapi menggunakan sistem borongan. Hal ini dilakukan oleh pengemudi taksi dalam upaya memperoleh setoran dan pendapatan sebanyak-banyaknya, sehingga melupakan pelayanan yang baik, yang seharusnya dilakukan oleh pengemudi taksi selaku penyedia jasa kepada penumpang sebagai pengguna jasa.

Struktur Persoalan Persediaan (skripsi dan tesis)

Untuk mengklasifikasikan persoalan persediaan, persoalan ini dapat ditinjau dari dua aspek yang saling berkaitan yaitu aspek permintaan bahan baku untuk sekarang atau untuk waktu yang akan datang dan aspek yang kedua adalah untuk mengadakan persediaan agar permintaan tersebut dapat dipenuhi.

                 Pengetahuan mengenai kebutuhan dimasa yang akan datang dapat dibagi dalam tiga kelas, yaitu:

  1. Permintaan bahan baku untuk waktu yang akan datang diketahui dengan    pasti, disebut dengan persoalan persediaan denga kepastian (inventory problem under certainly).
  2. Permintaan bahan baku untuk waktu yang akan datang tidak dapat diketahui dengan pasti, tetapi hanya dapat diketahui distribusi kemungkinannya, disebut persoalan dengan resiko (inventory problem under risk).
  3. Permintaan bahan baku untuk waktu yang akan datang tidak dapat diketahui, baik jumlahnya maupun kemungkinannya disebut dengan persoalan persediaan dengan ketidakpastian (inventory problem under-uncertainty).

                        Ada empat unsur utama yang harus diperhatikan dengan baik dalam melakukan analisis dalam system persediaan, yaitu:

  1. Permintaan, adalah suatu yang dibtuhkan oleh pemakai yang perlu dikeluarkan dari persediaan. Ukuran permintaan ada yang bersifat tetap dan ada yang berubah-ubah (bervariasi).
  2. Penambahan persediaan adalah penambahan pada persediaan yang ada pada umumnya dapat dikendalikan. Sifat penambahan pada persediaan ini ukurannya dapat tetap atau bervariasi, dapat dengan atau tanpa waktu ancang-ancang (lead time).
  3. Biaya-biaya persediaan, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan persediaan.
  4. Faktor-faktor pembatas jumlah persediaan. Seperti keterangan pada unit keterbatasan tempat penyimpanan karena penambahan, keterbatasan pada penjadwalan dan tingkat persediaan. Keterbatasan permintaan seperti terjadinya kekurangan persediaan serta keterbatasan dana.

                        Dari uraian diatas, jelas terlihat semua itu adalah kendala yang hampir dialami oleh semua perusahaan, baik itu perusahaan yang kecil maupun yang besar sekalipun. Sebagai landasan utama dalam memecahkan masalah tersebut, perlu ditetapkan suatu kebijakan perusahaan terutama dalam persediaan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut ada empat kebijakan yang perlu dilakukan dengan standar kualitas:

  1. Persediaan Minimum (Minimum Point)

                 Persdiaan minimum merupakan batas jumlah persediaan yang paling rendah atau kecil yang harus ada untuk suatu jenis bahan atau barang untuk menghindari terjadinya kekurangan bahan/persediaan (stock out). Untuk mengatasi hal tersebut persediaan minimum ini merupakan cadangan untuk menjamin keselamatan operasi atau kelancaran produksi perusahaan, oleh karena itu persediaan ini persediaan penyelamat (safety stock). Jadi besarnya persediaan minimum hendaknya sama besarnya persediaan penyelamat.

  1. Besar Standar Pesanan (standar Order)

                 Yang dimaksud dengan pesanan standar adalah banyaknya bahan yang dipesan dalam jumlah yang tetap dalam satu periode yang telah ditetapkan, misalnya satu tahun. Pemesanan ini sering disebut juga dengan jumlah pemesanan yang ekonomis (economic order quantity), dimana hal ini dimaksudkan untuk meminimumkan yang terkandung dalam persediaan. Biaya-biaya tersebut adalah biaya pemesanan (ordering cost) dan biaya penyimpanan (carrying cost). Untuk meminimumkan biaya persediaan, maka idealnya adalah biaya pemesanan tersebut sama dengan biaya penyimpanan.

  1. Persediaan maksimum (maximum Points/Stock)

                 Persediaan maksimum merupakan batas jumlah persdiaan yang paling besar yang sebaiknya dapat diadakan oleh perusahaan. Batas persediaan maksimum tidak didasarkan pada pertimbangan efektifitas dan efisiensi kegiatan perusahaan. Adapun maksud dari persediaan ini adalah agar perusahaan dapat menghindari kerugian-kerugian karena kekurangan bahan (stock out) dan tidak melakukan pengadaan yang berlebihan, yang dapat menimbulkan pengeluaran biaya banyak. Adapun besarnya persediaan maksimum yang sebaiknya dimilki oleh perusahaan adalah jumlah dari pesanan standar (standar order) ditambah dengan besranya biaya penyelamat (safety order). Dengan diketahui besarnya biaya maksimum, maka akan dapat membantu pimpinan perusahaan dalam menentukan besarnya investasi maksimum yang perlu disediakan untuk bahan-bahan tertentu yang dibutuhkan.

  1. Titik pemesanan Kembali ( Reorder Point/Level)

                 Titik pemesana kembali adalah suatu titik atau batas dari jumlah persediaan yang ada pada suatu saat dimana pemesanan harus diadakan kembali. Dalam menentukan titik ini harus diperhatikan besarnya penggunaan bahan selama bahan-bahan yang dipesan belum datang dan persediaan minimum. Besarnya penggunaan selama bahan-bahan yang dipesan belum diterima ditentukan oleh dua factor, yaitu lead time dan tingkat penggunaan rata-rata.

Pengertian Pengawasan Persediaan (skripsi dan tesis)

Pengawasan persediaan adalah suatu kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposits dari parts atau bagian., bahan baku dan barang hasil poduksi, sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi dan penjualan serta kebutuhan-kebutuhan pembelanjaan perusahaan yang efektif dan efisien.

Pengawasan persedian dengan serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi dan berapa besar pesanan yang harus dilakukan.

  1. Tujuan Pengawasan Persediaan
  2. Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi.
  3. Menjaga agar pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak telalu besar atau berlebih-lebihan, sehingga biaya-biaya yang timbul dari persediaan tidak terlalu besar.
  4. Menjaga agar pembeliaan secara kecil-kecilan dapat dihindari karena ini akan berakibat biaya pemesanan menjadi besar.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persediaan (skripsi dan tesis)

Ada beberapa macam faktor yang mempengaruhi penyelenggaraan persediaan untuk kepentingan proses produksi dalam suatu perusahaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan tersebut saling berkaitan, sehingga faktor-faktor ini akan mempengaruhi persediaan bahan baku yang ada dalam perusahaan tersebut.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan tersebut adalah:

  1. Perkiraan Pemakaian Bahan Baku

Sebelum perusahaan yang bersangkutan ini melakukan pembelian bahan baku, sebaiknya manajemen perusahaan ini dapat memperkirakan pemakaian bahan baku tersebut untuk keperluan proses produksi tersebut dalam perusahaan yang bersangkutan. Berapa banyaknya bahan baku tiap unit yang akan dipergunakan untuk untuk setiap kali produksi ataupun tiap periode produksi. Dengan demikian maka manajemen akan mempunyai gambaran tentang pemakaian bahan baku untuk melaksanakan proses produksi pada produksi atau periode produksi yang akan datang, baik dalam jenis bahan baku maupun jumlah bahan baku dari masing-masing jenis tersebut.

Supaya dapat memperhitungkan pembelian bahan baku dari tiap-tiap jenis bahan baku yang dipergunakan tersebut, maka manajemen perusahaan tersebut akan mempunyai gambaran tentang pemakaian bahan baku untuk melaksanakan proses produksi pada periode yang akan datang, baik dalam jenis bahan baku maupun jumlah bahan baku dari masing-masing jenis produk.

  1. Harga Bahan Baku

Harga bahan baku yang akan dipergunakan dalam proses produksi terhadap persediaan bahan baku yang dilakukan dalam perusahaan  akan menjadi factor penentu seberapa besarnya dana yang harus disediakan oleh perusahaan apabila akan melakukan persediaan atau pembelian bahan baku.

  1. Biaya-Biaya Persediaan

Dalam pelaksanaan penyediaan bahan baku di perusahaan, tidak akan lepas dari adanya biaya-biaya persediaan bahan baku yang harus ditanggung oleh perusahaan. Dalam hubungannya dengan biaya-biaya persediaan ini, maka dikenal 3 macam biaya persediaan yaitu biaya pemesanan, biaya penyimpanan, dan biaya tetap.

  1. Kebijaksanaan Pembelanjaan

Kebijakan pambelanjaan di dalam perusahaan akan mempengaruhi kebijakan pembelian dalam perusahaan yang bersangkutan tersebut. Demikian pula dalam pelaksanaan persediaan bahan baku di “WL” akan dipengaruhi oleh kebijaksanaan pembelanjaannya.

  1. Pemakaian Bahan

Pemakaain bahan baku perusahaan di periode-periode yang telah berlalu untuk keperluan proses produksi akan dapat digunakan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam penyediaan bahan baku tersebut.

  1. Waktu Tunggu

Yang dimaksud waktu tunggu atau lead time disini adalah waktu tunggu bahan baku dari mulai dipesan sampai bahan baku tersebut datang. Waktu tunggu ini sangat perlu untuk diperhatikan, karena sangagat berpengaruh pada proses produksi.

  1. Model Pembeliaan Bahan Baku

Model pembeliaan bahan baku di perusahaan akan menentukan besar kecilnya persediaan bahan baku yang dilakukan dalam perusahaan. Pemilihan model pembelian bahan baku, tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada dalam intern perusahaan.

  1. Persediaan Pengaman

     Pada umumnya untuk menanggulangi adanya kehabisan bahan baku dalam perusahaan maka perusahaan yang bersangkutan akan mengadakan persediaan pengamanan (safety stock). Persediaan pengaman ini akan digunakan perusahaan apabila terjadi kekurangan bahan baku atau keterlambatan datangnya bahan baku yang dibeli oleh perusahaan sehingga proses produksi yang berlangsung dalam perusahaan tidak terganggu karena kekurangan bahan baku. Persediaan pengaman ini jumlahnya tertentu, dimana jumlah ini akan merupakan suatu jumlah yang tetap pada periode yang telah ditentukan sebelumnya.

  1. Pembelian Kembali

Persediaan bahan baku dalam suatu perusahaan tidak akan memadai jika dilaksanakan dlam sekali pembelian. Hal ini berkaitan dengan biaya-biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan bahan baku, bahan pembantu, maupun untuk fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan perusahaan. Dalam melaksanakan pembelian kembali (reorder Point) perusahaan akan memperhatikan waktu tunggu (lead time) yang diperlukan dalam pembelian bahan baku tersebut sehingga bahan baku yang dibeli dapat sampai kegudang dengan waktu yang tepat. [2]

Jenis Persediaan (skripsi dan tesis)

  1. Persediaan menurut fungsinya.

Persediaan dapat dibedakan menurut fungsinya sebagai berikut:

  1.  Batch stock atau Lot Size Inventory

Yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu. Jadi dalam hal ini pembelian atau pembuatan yang dilakukan untuk jumlah besar, sedang penggunaan atau pengeluaran dalam jumlah kecil. Terjadinya persediaan karena pengadaan bahan atau barang yang dilakukan lebih banyak dari yang dibutuhkan.

  1.  Fluctuation Stock

Persediaan yang yang disediakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan. Dalam hal ini perusahaan mengadakan persediaan untuk dapat memenuhi permintaan konsumen, apabila tingkat permintaan menunjukan keadaan yang tidak beraturan atau fluktuasi permintaan tidak dapat diramalkan.

  1.  Antisipation Stock

Persediaan yang dilakukan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan permintaan yang meningkat.

Disamping itu anticipation stock dimaksudkan pula untuk menjaga kemungkinan sukarnya diperoleh bahan-bahan sehingga tidak menggangu jalannya produksi atau menghindari kemacetan produksi.

  1. Jenis Persediaan Secara Fisik

Jenis persedian secara fisik dapat dibedakan atas:

  1. Persediaan bahan mentah (raw materials), yaitu persedian barang-barang berwujud seperti kayu, besi, dan komponen-komponen lainnya yang digunakan dalam proses produksi. Bahan mentah dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau dari supplier atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi selanjutnya.
  2. Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts), yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain, dimana secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk.
  3. Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplier), yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen barang jadi.
  4. Persediaan barang dalam proses (work in process), yaitu persediaan barang-barang yang merupakan keluaran tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
  5. Persediaan Barang jadi ( Finished goods ), yaitu persediaan barang – barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim kepada pelanggan.[ 3 ]

Arti Perencanaan Dan Persediaan (skripsi dan tesis)

Perencanaan merupakan usaha menentukan tujuan, sedangkan pengawasan diperlukan pada tiap-tiap kegiatan yang diadakan agar tindakan-tindakan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pengawasan selalu dihubungkan dengan perencanaan. Pengawasan tidak dapat diadakan tanpa adanya perencanaan, sebaliknya perencanaan dapat dilakukan tanpa pengawasan.

Istilah persediaan sendiri adalah suatu istilah umum yang menunjukan segala sesuatu atau sumber daya yang disimpan untuk memenuhi atau mengantisipasi terhadap permintaan. Persediaan ini meliputi bahan mentah, barang setengah jadi, ataupun barang-barang jadi yang menjadi kebutuhan dari perusahaan.

Banyak dari organisasi-organisasi lain yang menyimpan jenis-jenis persediaan dalam bentuk yang lain seperti uang, peralatan kerja, dan lain-lain untuk memenuhi permintaan akan produk ataupun jasa. Sumber daya-sumber daya ini sering dapat dikendalikan lebih efektif melalui penggunaan berbagai system dan model manajemen persediaan.

Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan yang yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi dan dan berapa besar pesanan harus dilakukan. Sistem ini bertujuan untuk menetapkan dan menjamin tersedianya sumber daya yang tepat. Sistem dan model persediaan bertujuan untuk meminimumkan biaya total melalui penentuan apa, berapa, dan kapan pesanan dilakukan secara optimal.

Biaya.(skripsi dan tesis)

Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau mungkin akan terjadi untuk maksud tertentu. Dalam arti sempit biaya merupakan pengorbanan ekonomis untuk memperoleh aktiva (Moelyadi, 1992)

Biaya merupakan pengorbanan ekonomi yang dibuat untuk memperoelh barang atau jasa. Dengan kata lain biaya merupakan harga perolehan barang atau jasa yang diperlukan oleh organisasi. Besarnya diukur dalam satuan moneter (Supriyono, 1999).

Dari ke dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa biaya adalah :

  1. Merupakan pengorbanan sumber ekonomi.
  2. Pengorbanan dimaksudkan untuk tujuan tertentu.
  3. Pengorbanan menyangkut masa depan dan masa lalu.
  4. Besarnya pengornbanana diukur dalam satuan moneter.
  5. Pengorbanana dilakukan secara sengaja.

III.3. Biaya Produksi

Biaya produksi adalah semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi atau kegaiatan pengolahan bahan baku menjadi produksi selesai. Biaya produksi dapat digolongkan menjadi :

  1. Biaya bahan baku

Adalah harga perolehan dari bahan baku yang dipakai dalam pengolahan produk.

Bahan adalah barang yang akan diproses atau diolah menjadi produk selesai atau barang yang akan merupakan produk selesai.

Bahan dapat digolongkna ke dalam bahan baku (direct material) dan bahan penolong atau bahan pembantu (indirect material).Bahan baku adalah bahan yang akan diolah menjadi produk selesai dan pemakaianannya dapat diidentifikasi atau diikuti jejaknya atau merupakan bagian integral pada produk tertentu. Baiaya abhan penolong adalah perolehan bahan penolong yang dipakai dalam pengolahan produk. Bahan penolong adalah bahan yang akan diolah menjadi bagian produk selesai tetapi pemakaiannya tidak dapat diikuti jejak atau manfaatnya pada produk selesai tertentu atau nilai relatif kecil sehingga meskipun dapat diikuti jejak pemakaiannya tidak praktis atau bermanfaat. Dalam perhitungan harga pokok produk, biaya penolong  diperlakukan sebagai elemen baiaya overhead pabrik.

  1. Biaya tenaga Kerja Langsung

Tenaga kerja adalah semua karyawan perusahaan yang memberikan jasa kepada perusahaan. Dalam melaksanakan karyanya dapt diglongkan sesuai dengan fungsi di mana karyawan bekerja yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, fungsi administrasi dan umum serta fungsi keuangan (apabila dianggap perlu dipisahkan).

Baiay tenaga kerja langsung adalah semua balas jasa yang diberikan perusahaan kepada semua karyawan, dapat digolongkan menjadi biaya tenaga kerja langsung (direct labor) adalah balas jasa yang diberikan kepada karyawan pabrik yang manfaatnya dapat diidentifikasikan atau diikiti jejaknya pada produk tertentu yang dihasilkan perusahaan. Baiaya tenaga tidak langsung (indirect labor) adalah balas jasa yang diberikan kepada karyawan pabrik tetapi manfaatnya tidak dapat diidentifikasikan pada produk tertentu yang dihasilken perusahaan.

  1. Biaya Overhead Pabrik

Baiaya overhead pabrik (factory overhead cost) adalah biaya produksi selain bahan baku dan baiaya tenaga kerja langsung yang elemennya dapat digolongkan ke dalam :

  1. Biaya bahan penolong.
  2. Baiya tenaga kerja tidak langsung.
  3. Penyusutan dan amortisasi aktiva tetap pabrik.
  4. reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap pabrik.
  5. Biaya listrik dan biaya air.
  6. Biaya asuransi pabrik.
  7. Biaya overhead lainnya.

Apabila perusahaan mempunyai departemen pembantu di dalam pabrik semua biaya departemnen pembntu merupakan elemen biaya overhead pabrik (Supriyono, 1999 dan Sutrino, 2000).

Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja disebut prime cost. Biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik disebut conversion cost (baiya konversi).

Berdasarkan pengertian masing-masing elemen biaya produksi dapat diperoleh kesimpulan, biaya produksi adalah semua biaya yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi dari suatu produk mulai dari saat pembelian bahan baku sampai produk selesai dan siap dijual.

Biaya Lingkungan (skripsi dan tesis)

Peningkatan kesadaran perusahaan akan kerusakan lingkungan mengarah pada peningkatan biaya perusahaan yang  meliputi peralatan, pemulihan, pencatatan dan pengawasan lingkungan. Biaya yang dikeluarkan inilah yang dimaksud dengan biaya lingkungan. Sementara kewajiban perusahaan mengeluarkan biaya lingkungan serta melakukan semua kegiatan yang menyangkut peralatan, pemulihan, pencatatan dan pengawasan disebut dengan kewajiban lingkungan. Setiap kegiatan yang menyangkut kewajiban lingkungan mempunyai perbedaan dalam pembebanan biaya perusahaan. Biaya lingkungan yang termasuk dalam produksi langsung dibebankan langsung ke dalam produk atau lini produk sedangkan biaya lingkungan yang berupa akibat dampak limbah dimasukkan ke dalam biaya overhead (Abdul Rohman, 2002)

 Penilaian biaya lingkungan akibat dampak limbah mempunyai permasalahan umum yaitu menentukan nilai ekonomis potensi kerusakan lingkungan yang dapat berubah setiap waktu seiring dengan produktivitas perusahaan sehingga dalam penghitungan biaya lingkungan seringkali menggunakan banyak asumsi. Beberapa pendekatan dalam penentuan nilai ekonomis terhadap sumber daya dalam lingkungan  adalah hasil bersih (net price) atau sewa bersih (unit rent) (Robert Reppetto, 1989). Hasil bersih adalah beda antara harga jual dengan seluruh biaya produksi termasuk laba yang layak bagi usaha produksi dengan tetap memperhitungkan pjak serta pungutan-pungutan lain. Pendekatan nilai ekonomis ke dua dengan menggunakan nilai sekarang (net present value) (El Seraffi, 1990).

Langkah awal dari implementasi baiya lingkungan dalam langkah kerja perusahaan adalah mengelompokkan besar dampak limbah  dengan meperhatikan beberapa aspek seperti : lokasi limbah, jenis limbah, jumlah dan kondisi lingkungan sekitar perusahaan. Berdasarkan pengaruh limbah terhadap lingkungan maka lingkungan dapat dibagi menjadi: pencemaran tanah (soil contamination), pencemaran air tanah (ground water contamination), pencemaran air permukaan (surface water contamination), pencemaran emisi udara (air emission conatmination) (Stanko, 1995).

Metode yang dapat digunakan untuk mengukur jenis dan besar biaya lingkungan yang dapat ditanggung perusahaan antara lain menggunakan metode cost benefit. Metode cost benefit merupakan laporan atas pertanggungjawaban sosial yang terdiri dari unsur biaya dan manfaat sosal. Suatu kegiatan dapat dimasukkan ke dalam manfaat sosial bila aktivitasnya meliputi perbaikan keadaan lingkungan atau mengurangi kerusakan lingkungan yang terjadi. Contohnya bila terdapat potensi pencemaran air maka besar biaya lingkungan dapat dihitung berdasarkan jjumlah biaya untuk membeli atau memasang pengendali limbah produk. Sedangkan aktivitas dalam biaya sosial bila aktivitas itu menimbulkan kerusakan lingkungan atau menambah kerusakan lingkungan. Misal, mengukur besar kerugian dengan mengukur bentuk biaya pengobatan ke dokter dan turunnya penghasilan masyarakat setempat karena produktivitas yang menurun ((Abdul Rohman, 2002).

Sedangkan metode pengukuran besar dan jenis dampak lingkungan yang dapat ditanggung perusahaan oleh Mohan Monasinghe dan Ernst Luz (1991) dibedakan menjadi :

  1. Penilaian langsung,

Metode ini mendasarkan diri secara langsung pada harga pasar atau produktivitas. Hal ini dimungkinkan bila perubahan dalam kondisi lingkungan mempengaruhi kemampuan produktivitas. Yang lebih jelas diuraikan menjadi pendekatan yaitu yang pertama yang dan yang ke dua yang. dibedakan menjadi :

  1. Perubahan produktivitas yaitu menyangkut produktivitas yang berubah akibat perubahan kondisi lingkungan, misalkan untuk kondisi perairan yang tercemar dan menyebabkan turunnya populasi ikan maka menurunnya populasi ikan yang dapat ditangkap dinilai dengan menggunakan harga ikan di pasar atau harga ikan  diperkirakan.
  2. Pendapatan yang hilang menggambarkan pengaruh terhadap kesehatan akibat adanya perubahan kondisi lingkungan. Ini bisa dilihat dari besarnya kesediaan membayar individu untuk memperbaiki kesehatan. Dalam praktek, cara lain digunakan dengan melihat hilangnya penghasilan karena sakit atau kematian awal.
  3. Pengeluaran untuk mencegah atau mempertahankan merupakan penilaian berdasarkan jumlah biaya perusahaan untuk mencegah rusaknya lingkungan. Pada umumnya kita mengetahui bahwa biaya pencegahan pencemaran akan lebih murah daripada biaya untuk memperbaiki lingkungan yang sudah terkena dampak limbah. Oleh karena itu pendekatan ini akan memberikan nilai lebih rendah bagi kondisi lingkungan.

  1.  Nilai pengganti

Metode ini menggunakan informasi pasar secara tidak langsung. Masing-masing cara yang digunakan memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga untuk menganalisa menggunakan metode ini harus dapat memilih dengan tepat sesuai dengan situasi dan kondisi.

1.Nilai rumah dan tanah. Pendekatan metode ini menggunakan penilaian pada sebidang lahan. Tujuan dari pendekatan ini adalah menentukan harga implisit dari memburuknya kondisi lingkungan atau memperkirakan manfaat dari perbaikan mutu lingkungan..

2.Perbedaan tingkat upah. Pendekatan ini didasarkan pada teori dalam pasar persaingan sempurna di mana tingkat upah tenaga kerja akan sama dengan nilai dan produktivitas marginal tenaga kerja terebut sedangkan penawaran tenaga kerja akan sesuai dengan kondisi kerja dan taraf hidup di suatu daerah. Oleh karena itu tingkat upah yang tinggi diperlukan untuk menarik tenaga kerja agar mau bekerja di daerah yang tercemar.

Perbedaan tingkat upah di dua daerah yang berbeda tingkat pencemarannya dapat dianggap sebagai biaya dari adanya pencemaran tersebut.

3.Biaya perjalanan. Pendekatan ini digunakan untuk menilai manfaat yang diberikan oleh adanya biaya yang dikelurkan untuk perjalanan wisata. Wisata yang dekat tempat tinggalnya dengan daerah wisata akan membayar biaya transpor yang lebih murah daripada mereka yang tinggal dngan jarak yang lebih jauh.

4.Barang yang dipasarkan sebagai proxi untuk barang yang tidak dipasarkan. Beberapa keadaan menunjukkan bahwa barang yang dihasilkan oleh lingkungan merupakan barang substitusi yang dekat dengan barang-barang yang dipasarkan.

  1. Kesediaan membayar atau pengeluaran potensial

Dalam pendekatan ini menggunakan perkiraan manfaat yang dapat dilakukan dengan menghitung biaya lingkungan untuk mengganti jasa-jasa lingkungan yang rusak atau hilang karena adanya proyek atau aktivitas perusahaan atau dapat pula melihat berapa besar masyarakat bersedia membayar (willingness to pay) usaha perlindungan lingkungan.

  1. Biaya pengganti yaitu pendekatan dengan memperkirakan besarnya biaya yang digunakan untuk menggantikan kekayaan yang hilang. Perkiraan ini tidak megukur manfaat yang timbul karena mneghindari kerusakan, sebab biaya kerusakan dapat lebih tinggi atau lebih rendah dari nilai penggantian tersebut. Sebagai contoh adalah manfaat dari pencegahan erosi maka nilai manfaat didasarkan pad penghitungan nilai pupuk yang diperlukan untuk mengganti kesuburan atu unsur hara karena erosi tanah.
  2. Proyek bayangan yaitu pendekatan menggunakan proyek  yang dapat dlaksanakan untuk jasa-jasa pengganti guna mengimbangi hilangnya sumber daya alam akibat proyek atau aktivitas perusahaan.
  3. Penilaian masyarakat yaiu pendekatan yang didasarkan atas sederet pertanyaan mengenai kesediaan masyarakat untuk membayar guna menghindari kerusakan lingkungan atau bahkan membatalkan atau menutup aktivitas perusahaan. Dari pendekatan ini kita mendapatkan peningkatan atau penurunan jumlah barang dalam pasar. Kesediaan membayar dipengaruhi pula oleh tingkat kesehjateraan masyarakat sedangkan tingkat kesediaan untuk menerima kerusakan tidak dipengaruhi apapun. Sebagai hasil akhir maka kita mendapatkan kurva permintaan terhadap produk atau proyek yang bersangkutan.

Value Engineering (Rekayasa Nilai) (skripsi dan tesis)

Value engineering (rekayasa nilai) merupakan penerapan teknik manajemen dengan menggunakan pendekatan yang sisematis untuuk mencari keseimbangan fungsional terbaik antara biaya, kehandalan dan performansi  dari sebah produk atau proyek (Zimmerman dan Hart, 1982)

Secara umum nilai dapat didefinisikan sebagai kegunaan atau  manfaat suatu barang atau jasa. Nilai dapat dirumuskan sebagai perbandingan anatara performansi yang ditampilkan suatu fungsi terhadap biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan fungsi tersebut.

Performansi merupakan keuntungan atau manfaat yang diperoleh dari fungsi-fungsi suatu produk. Biaya merupakan total biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan semua fungsi yang diinginkan. Rekayasa nilai bertujuan untuk memperoleh nilai yang semaksimal mungkin dengan biaya yang seminimal mungkin (Zimmerman dan Hart, 1982).

Nilai dapat dirumuskan sebagai berikut:

Value = performansi

biaya

Value engineering menggunakan teknik tertentu dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Teknik ini terdiri dari tiga tahapan utama yaitu (Handoko, 1999)

  1. Tahap Informasi

Pada tahap ini dilakukan identifikasi kebutuhan konsmen untuk mengetahui spesifikasi kerupuk palembang yang diinginkan oleh konsumen  karena sumber utama gagasan produk baru adalah pasar, atau teknologi yang telah ada. Gagasan produk baru dapat juga berasal dari observasi terhadap produk-produk sekarang, pendapat para distributor, pesaing, kondumen, penjual dan manajemen puncak

  1. Tahap Kreatifitas

Tahap kreatifitas dapat dilakukan dengan menentukan spesifikasi produk yang akan dikembangkan. Spesifikasi produk merupakan tahapan pengembangan produk dengan penilaian terhadap identifikasi kebuthan konsumen. Data-data kebutuhan konsumen dikumpulkan dalam karakteristik yang diinginkan, selanjutnya dinilai berdasarkan matrik masing-masing dengan nilai tertentu.

  1. Tahap Analisa

Tidak semua gagasan harus dikembangkan menjadi produk-produk baru. Gagasan untuk produk baru perlu memenuhi paling tidak potensi pasar, kelayakan finansial, dan kelayakan operasi. Tujuan analisis seleksi produk adalah untuk menyaring gagasan yang kurang sesuai. Untuk membantu dalam analisis seleksi produk, beberapa metode telah dikembangkan salah satunya dengan penilaian yang menyangkut suatu daftar faktor penimbang dengan setiap faktor diberi bobot.

Menurut Miles (1972), value engineering terdiri dari empat tahap. Setiap tahap harus  sudah selesai sebelum tahap berikutnya dimulai.

  1. Tahap Informasi

Pada tahap ini pencarian dilakukan untuk mengetahui apa yang terjadi, apa yang telah terjadi, apa faktanya, apa fakta-fakta yang berrhubungan, apa asumsinya, berapa jumlahnya, berapa biayanya. Fakta apa yang dibutuhkan dan ingin dicapai.

  1. Tahap Analisis

Pada tahap ini sebuah keyakinan terhadap arti yang terkandung  di dalam informamsi dikembangkan. Fungsi-fuungsi dan kelompok fungsi yang dapat diselesaikan  dan dibandingkan ditentukan dan dievaluasi.

  1. Tahap Kreatifitas

Pada tahap ini semua ide pemikiran dihormati, permasalahan spesifik yang disusun pada tahap analisa digunakan oleh semua pihak secara  individual, dan semua alernatif yang mungkin dari pendekatan yang mungkin sebagai individu ditampilkan dalam sebuah daftar.

  1. Tahap Penentuan

Pada tahap ini daftar yang diperoleh dari tahap kreatifitas diteliti  satu per satu (biasanya dilakukan oleh satu orang) untuk memperoleh satu atau dua pendekatan baru yang setelah dilakukan minimasi terhadap kerugiannya akan diperoleh apa yang dibtuhkan bisnis atau

Pengembangan Produk (skripsi dan tesis)

Produk adalah sekumpulan atribut yang nyata (tangible) dan tidak nyata (intangible), di dalamnya sudah tercakup warna, harga, kemasan, prestise pabrik, prestise pengecer, dan pelayanan dari parik serta pengecer yang mungkin diterima oleh pembeli sebagai sesuatu yang bisa memuaskan keinginannya. Untuk menghadapi persaingan yang semakin keras di dunia industri, para pengusaha dituntut untuk dapat meningkatkan daya saing produknya dari waktu ke waktu. Salah satu cara meningkatkan daya saing produk adalah dengan melakukan pengemangan produk. Pengembangan produk merupakan kumpulan aktivitas yang dimulai dari persepsi terhadap peluang pasar dan diakhiri dengan produksi, penjualan, dan pengiriman (Ulrich dan Eppinger, 1995).

Proses pengembangan produk adalah urutan langkah atau kegiatan di mana suatu perusahaan berusaha untuk menyusun, merancang dan mengkomersialkan suatu produk yang secara umum terdiri dari 6 fase, yaitu (Ulrich dan Eppinger, 1995):

  1. Perencanaan Kegiatan

Perencanaan sering disebut sebagai zero fase karena kegiatan ini mendahului persetujuan proyek dan proses peluncuran pengembangan produk aktual

  1. Pengembangan konsep

Pada fase pengembangan konsep, kebutuhan pasar dan target diidentifikasi, alternatif konsep-konsep produk dibangkitkan dan dievaluasi, dan satu atau lebih konsep dipilih untuk pengembangan dan percobaan lebih jauh.

  1. Perancangan Tingkatan Sistem

Fase ini mencakup definisi arsiteltur produk dan iraian produk menjadi subsistem-subsistem serta komponen-komponen.

  1. Perancangan detail

Fase ini mencakup spesifikasi lengkap dari bentuk, material, dan toleransi-toleransi dari seluruh komponen unik pada produk dan identifikasi seluruh standar yang dibeli dari pemasok.

  1. Pengujian dan Perbaikan

Fase ini melibatkan konstruksi dan evaluasi dari bermacam-macam veri produksi awal produk

  1. Produk awal

Pada fase ini produk dibuat menggunakan sistem produksi yang sesungguhnya. Tujuannya adalah untuk melatih tenaga kerja dalam memecahkan masalah yang timbul pda proses produksi sesungguhnya dan mengidentifikasi kekurangan yang timbul pada produk.

Konsep produk harus diuji untuk mendapatkan respon dan umpan balik dari konsumen. Pengujian konsep ini berkaitan dengan aktivitas perancngan dan pengembangan produk dengan menggunakan pendekatan Value engineering (rekayasa nilai), yaitu seperangkat sistem yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menyelidiki faktor-faktor yang menimbulkan biaya atau usaha yang tidak memiliki kontribusi terhadap produk, proses atau jasa yang dibutuhkan dan diinginkan produsen.

Beberapa teknik value engineering yang sering digunakan adalah (Miles, 1972):

  1. Kuisioner, adalah teknik untuk memperoleh informasi melalui pengumpulan pendapat terhadap sejumlah responden yang berkepentingan dengan tujuan penelitian.
  2. Brainstorming, merupakan metode untuk memcahkan suatu permasalahan dengan mengadakan diskusi kelompok.
  3. Sinektik, merupakan salah satu metode psikososial yang digunakan untuk membangkitkan spontanitas sekelompok orang.
  4. FAST (Function Analysis System Technique), adalah teknik penyusunan diagram secara sistematis untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi dan menggambarkan kaitan antara fungsi-fungsi tersebut.
  5. Adjective, bertujuan untuk menganalisa keterkaitan antara adjective (sifat) yang ada pada suatu produk serta mengidentifikasi sifat yang kurang maupun berlebihan dari produk tersebut.
  6. Zero-One, adalah teknik untuk memilih alternatif terbaik dengan melakukan perbandingan natra alternatif berdasarkan kriteria dan bobot masing-masing altermnatif tersebut. Prose perbandingan ini dilakukan terhadap tiap kriteria yang ada dan masing-masing alternatif dibandingkan satu per satu. Alternatif yang memiliki penampilan lebih baik dibandingkan alternatif lain akan diberikan nilai 1 (one) sedangkan alternatif lainnya diberi nilai 0 (zero).

Hubungan Bentuk Kemasan dan Potensi Pemasaran Produk (skripsi dan tesis)

Manfaat kemasan selain mampu mempengaruhi konsumen untuk membeli, juga memposisikan produk di segmen mana, sekaligus dapat menaikkan produk tersebut. Kemasan seringkali disebut sebagai the silent sales-man/girl karena mewakili ketidak hadiran pelayan dalam menunjukkan kualitas produk. Untuk itu kemasan harus mampu menyampaikan pesan lewat komunikasi informatif, seperti halnya komunikasi antara penjual dengan pembeli. Para pakar pemasaran menyebut desain kemasan sebagai pesona produk (the product charm), sebab kemasan memang berada di tingkat akhir suatu proses alur produksi yang tidak saja untuk memikat mata (eye-cathing) tetapi juga untuk memikat pemakaian (usage attractiveness).(Sawitri,2006)

Kemasan yang baik mampu mengeleminir pemilihan strategi antara Harga atau Produk (Price or Product Method).  Dahulu produsen membuat strategi dari sebuah keputusan target pasar yang akan dituju pertimbangannya secara tradisional adalah antara memilih dasar harga yang murah dengan konsekuensi kualitas produk yang lebih rendah, atau kebalikannya.  Namun sekarang kemasan produk yang baik akan sangat membantu menjadi penengah dalam mengoptimalkan pilihan, yaitu mampu menampilkan produk yang cantik dengan harga yang terjangkau dan pasar yang lebih luas. (Marrwini, 2007)

Keinginan dan kebutuhan konsumen adalah ilham dan katalis yang kuat bagi inovasi kemasan. Pada saat ini ada beberapa keinginan dan kebutuhan konsumen yang memacu perkembangan desain dan model kemasan, diantaranya adalah gaya hidup masyarakat yang selalu bergerak cepat, meningkatnya patron keluarga kecil,  tuntutan akan makanan sehat serta porsi dan diet yang terkontrol dan lain-lain.

Konsep Inti Pemasaran (skripsi dan tesis)

Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain. Definisi ini berdasarkan pada konsep inti: Kebutuhan, keinginan dan permintaan; produk nilai, biaya dan kepuasan; pertukaran, transaksi, dan hubungan; pasar dan pemasaran serta pemasar. Konsep ini kita gambarkan dalam Gambar 3.1 dan kita bicarakan dibawah ini. (Kotler,1997)

Cara berpikir pemasaran mulai dengan kebutuhan dan keinginan manusia. Manusia membutuhkan makanan, udara, air, pakaian, dan rumah untuk hidup. Di luar ini, manusia ingin rekreasi, pendidikan maupun jasa lainnya. Mereka punya pilihan yang jelas akan macam dan merek tertentu dari barang dan jasa pokok.

Ada perbedaan antara kebutuhan, keinginan, dan permintaan. Kebutuhan manusia adalah keadaan merasa tidak memiliki kepuasan dasar. Manusia membutuhkan makanan, pakaian, perlindungan, keamanan, hak milik, harga diri dan beberapa hal lain untuk bisa hidup. Kebutuhan ini tidak diciptakan oleh masyarakat atau pemasar, namun sudah ada terukir dalam hayati serta kondisi manusia.

Keinginan adalah hasrat akan pemuas tertentu dari kebutuhan tersebut. Orang Indonesia butuh makan dan ingin nasi goreng; butuh pakaian dan ingin jas Piere Cardin; butuh harga diri dan ingin Mercedes. Dalam masyarakat lain, kebutuhan tersebut dipenuhi dengan cara lain. Jika orang Aborigin Australia lapar, mereka mencari burung kiwi; pakaian mereka adalah cawat dan kalung kerang yang menunjukan harga diri mereka. Walaupun kebutuhan manusia sedikit, keinginan mereka banyak. Keinginan manusia dibentuk oleh kekuatan dan institusi sosial seperti gereja, sekolah, keluarga dan perusahaan.

Permintaan adalah keinginan akan suatu produk yang didukung dengan kemampuan serta kesediaan membelinya. Keinginan menjadi permintaan bila didukung oleh daya beli. Banyak orang ingin memiliki Mercedes, namun hanya sedikit yang mampu dan mau membelinya. Perusahaan tidak hanya harus mengukur berapa banyak orang yang menginginkan produknya, tetapi juga berapa banyak yang benar-benar mampu dan mau membelinya.

Perbedaan ini bisa menjelaskan akan tuduhan dari pengkritik pemasaran bahwa “pemasar menciptakan kebutuhan “atau” pemasar membuat orang membeli barang-barang yang tidak mereka inginkan”. Pemasar tidak menciptakan kebutuhan; kebutuhan sudah ada sebelumnya. Pemasar, seperti juga panutan lain dalam masyarakat, mempengaruhi keinginan. Mereka mengajukan ide bahwa sebuah Mercedes akan memenuhi kebutuhan seorang akan status sosial. Pemasar mempengaruhi permintaan dengan membuat suatu produk cocok, menarik, terjangkau dan mudah didapatkan oleh konsumen yang dituju.

Manajemen Pemasaran (skripsi dan tesis)

Manajemen pemasaran terjadi bila setidaknya satu pihak dalam pertukaran potensial memikirkan sasaran dan cara mendapatkan tanggapan yang dia kehendaki dari pihak lain. Manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan dari perwujudan, pemberian harga, promosi dan distribusi dari barang-barang, jasa dan gagasan untuk menciptakan pertukaran dengan kelompok sasaran yang memenuhi tujuan pelanggan dan organisasi. (Kotler, 1997)

Definisi ini menyadari bahwa manajemen pemasaran adalah proses yang mencakup analisis, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan juga mencakup barang, jasa serta gagasan: berdasarkan pertukaran dan tujuannya adalah memberikan kepuasan bagi pihak yang terlibat.

Manajemen pemasaran dapat terjadi dalam organisasi dengan semua pasarnya. Misalnya dalam sebuah perusahaan mobil, direktur personalia mengurus pasar pekerja; direktur pembelian mengurus pasar bahan mentah dan direktur keuangan mengurus pasar uang. Masing-masing harus menentukan sasaran dan membuat strategi untuk mencapai hasil yang memuaskan dalam pasar-pasar tersebut Eksekutif ini biasanya tidak disebut pemasar atau dididik dalam pemasaran. Kebanyakan dari mereka adalah pemasar “paruh waktu”. Biasanya manajemen pemasaran dihubungkan dengan tugas dan orang-orang yang bergerak dalam pasar pelanggan. Kita akan mengikuti konvensi ini, walaupun apa yang kita katakan tentang pemasaran berlaku untuk semua pasar.

Pengertian Pemasaran (skripsi dan tesis)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita senantiasa dikelilingi oleh berbagai pihak yang melakukan kegiatan pemasaran. Kegiatan penjualan, periklanan, dan publikasi merupakan bentuk dari kegiatan pemasaran. Menurut Kasali (2001), pemasaran merupakan suatu konsep yang menyangkut suatu sikap mental, suatu cara berpikir yang membimbing anda melakukan kegiatan sesuatu.

Kegiatan sesuatu itu tidak selalu berupa menjual suatu benda, tetapi juga menjual gagasan-gagasan, karir, tempat, jasa serta kegiatan-kegiatan nirlaba seperti yayasan-yayasan sosial keagamaan. Pada masa sekarang ini orientasi perusahaan lebih tertuju pada pasar daripada produk. Dengan demikian pemasaran mempunyai arti penting bagi setiap perusahaan. Pemasaran tidak sekedar penjualan atau periklanan saja. Menurut Kotler (1997), pemasaran merupakan suatu proses sosial dan manajerial dimana seseorang atau kelompok berusaha memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan mempertukarkan barang dan jasa yang bernilai bagi individu atau kelompok lain.

Konsep Desain Kemasan (skripsi dan tesis)

Desain Kemasan menguraikan mulai dari mendesain suatu kemasan sampai maksud yang terkandung didalamnya agar tercapai sasaran. Ada tiga kategori untuk menentukan desain kemasan. Pertama,, soal makna kemasan. Kemasan sebaiknya bermakna personal, sosial, dan publik. Berdasarkan sifat komunikasi antara pengirim ke penerima pesan atau dari produsen ke konsumen, kemasan harus punya nilai intimacy. Maksudnya produk tersebut hanya ingin diketahui oleh pelakunya, tidak ingin orang lain tahu apa isi produk dalam kemasan itu. Sedang kemasan yang bermakna sosial, biasanya untuk penghargaan atau penghormatan atas prestasi atau hasil yang dicapai. Sementara kemasan yang bernilai publik, biasanya untuk produk untuk komersial, jadi pesan kemasannya harus dapat dimengerti oleh semua orang yang membacanya. (Sawitri, 2006)

Kedua, kemasan dalam bentuk fisik. Terdiri dari kemasan primer (melekat pada produknya), kemasan sekunder (melindungi produk), kemasan tersier (fungsi kemudahan dan praktis pembawaannya), kemudian kemasan transport dan sebagainya. Ketiga, mendesain kemasan yang baik harus mencakup 5 fungsi yaitu fungsi protektif, fungsi praktis, fungsi informasi, fungsi komunikasi dan fungsi lingkungan.

Seiring dengan kemajuan teknologi dan kesadaran konsumen terhadap dampak lingkungan, fungsi kemasan mulai bergeser. Jika dulu kemasan dibuat sebagai fungsi melindungi dan melayani kepraktisan produk. Namun sekarang, kemasan telah menjadi media informasi, dan komunikasi gaya hidup(makna, citra dan nilai). Kemasan yang baik adalah yang mampu memenuhi aspirasi gaya hidup. Oleh karena itu,masalah desain kemasan ini harus diserahkan kepada ahlinya,karena tidak setiap orang bisa melakukan. Setiap produsen yang menitipkan barangnya di swalayan berusaha membuat kemasannya dapat mempengaruhi perhatian konsumen, sehingga tertarik dan membeli.

Kejelian produsen dalam menangkap selera konsumen membeli atau tidak, waktunya sangat singkat, waktunya saat pertama kali melihat. Tampilan kemasan tidak lepas dari perkembangan jaman. Misalnya kemasan untuk individu, disesuaikan dengan jumlah suatu keluarga yang makin sedikit. Bahkan orang-orang kota lebih menyukai kemasan yang praktis, mudah dibuka, disimpan dan gampang dihangatkan dengan microwave. (Sawitri, 2006)

Sedang bahan kemasan yang lazim digunakan adalah kertas, gelas, plastik, metal/logam, dan monomer (karet, kayu, keramik, sutra, dan lain-lain). Dengan berkembangnya teknologi, kini telah ditemukan jenis-jenis kemasan yang baru, dan kemasan plastik yang paling mendominasi. Namun bahan plastik ternyata banyak menimbulkan kendala pada lingkungan. Untuk itu, para ahli bahan kemasan berusaha mencari bahan-bahan baru yang lebih ramah lingkungan.

Sementara soal desain grafis kemasan, harus ada komunikasi visualnya atas tampilan kemasan tersebut. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam desain kemasan yaitu soal warna, teks atau tipografi, komposisi terutama barcode, lay-out untuk ingredient, target konsumen, pencantuman expired date (batas kadaluwarsa), logografi (cetakan logo), logoteks (urutan perhatian mata atau eye-tracking), dan urutan reaksi gerakan (action-tracking).

Sedangkan packaging design (desain kemasan), berfungsi melindungi produk atau produk di luar produk. Untuk produk di luar produk, dari sifatnya yang membungkus sesuatu yang umum menjadi lebih khusus terdiri dari beberapa jenis; desain wadah untuk membungkus aneka barang (container desain), desain kemasan (packaging design) untuk mengemas aneka komoditi, desain luaran produk (casing design) untuk menutup rangkaian mekanisme dan komponen produk, desain bungkusan (wrapping design) untuk sesuatu yang berharga, dan desain pelapis sesuatu (liners design) untuk melapisi dan melindungi sesuatu.

Desain kemasan mempunyai 5 prinsip fungsional, yaitu: (Sawitri, 2006)

  1. Kemasan (packaging).

Pada kemasan ini harus disampaikan tentang jenis produk, dan kegunaannya. Disini kejujuran jadi hal penting.

  1. Kemasan secara fisik.

Fungsinya sebagai pelindung produk dari benturan, gesekan, guncangan, hentakan dan lain-lain. Disini kekuatan menjadi prinsip utama.

  1. Kemasan yang nyaman dipakai.

Maksudnya kemasan disini memberikan rasa nyaman jika disentuh, permukaannya tidak melukai, lentur saat digenggam, mudah dibersihkan, disimpan, stabil bila diletakkan. Kemasan yang dapat didaur ulang sangat diutamakan.

  1. Kemasan yang mampu menampilkan citra produk dan segmentasi

pasar pemakainya.

Disini melibatkan banyak unsur terutama yang berkaitan dengan imajinasi, selera, dan fantasi sipemakai. Kemasan disini harus mampu menerjemahkan siapa pemakainya, status sosial, dimana dan jenis perilaku seperti apa produk mainan tersebut dipakai. Keunikan menjadi nilai penting.

  1. Kemasan yang berprinsip mendukung keselarasan lingkungan.

Kemasan yang baik adalah yang; mudah didaur ulang (recycle) ke produk baru dan tidak terkontaminasi, bisa dilebur dan dibuat kembali

ke produk (re-use) asal.

Saat ini konsumen cenderung tidak mau membeli barang yang kemasannya buruk dan kurang meyakinkan, harga produk mahal bisa diimbangi dengan desain kemasan yang indah. Sesuai dengan kaidah teknologi bahwa kemasan yang baik tidak hanya indah, cantik namun harus mudah diterapkan dan dioperasionalkan dalam produksi.  Kadang produsen hanya berpaku pada hasil rancangan yang dianggap bagus di atas kertas, sehingga pada waktu aplikasinya sangat tidak efisien bahkan menjadikan beban biaya baru yang tidak dapat dihindarkan.  Oleh karena itu semua bagian atau unit yang terkait dalam produksi maupun distribusi produk harus dilibatkan pula mulai dari perancangan sampai pada aktualisasi perubahan kemasan yang telah direncanakan tersebut, sehingga perubahan yang terjadi dapat secara mulus diterapkan sehingga akan memberikan penambahan nilai (value) sesuai yang diharapkan.(Sawitri, 2006)

Bahan-bahan Kemasan Plastik (skripsi dan tesis)

Bahan pembuat plastik dari minyak dan gas sebagai sumber alami, dalam perkembangannya digantikan oleh bahan-bahan sintetis sehingga dapat diperoleh sifat-sifat plastik yang diinginkan dengan cara kopolimerisasi, laminasi, dan ekstruksi (Syarief, et al., 1989).

Komponen utama plastik sebelum membentuk polimer adalah monomer, yakni rantai yang paling pendek. Polimer merupakan gabungan dari beberapa monomer yang akan membentuk rantai yang sangat panjang. Bila rantai tersebut dikelompokkan bersama-sama dalam suatu pola acak, menyerupai tumpukan jerami maka disebut amorp, jika teratur hampir sejajar disebut kristalin dengan sifat yang lebih keras dan tegar.

Menurut Eden dalam Davidson (1970), klasifikasi plastik menurut struktur kimianya terbagi atas dua macam yaitu:

  1. Linear, bila monomer membentuk rantai polimer yang lurus (linear) maka akan terbentuk plastik thermoplastik yang mempunyai sifat meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan sifatnya dapat balik (reversible) kepada sifatnya yakni kembali mengeras bila didinginkan.
  2. Jaringan tiga dimensi, bila monomer berbentuk tiga dimensi akibat polimerisasi berantai, akan terbentuk plastik thermosetting dengan sifat tidak dapat mengikuti perubahan suhu (irreversible). Bila sekali pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali.

Proses polimerisasi yang menghasilkan polimer berantai lurus mempunyai tingkat polimerisasi yang rendah dan kerangka dasar yang mengikat antar atom karbon dan ikatan antar rantai lebih besar daripada rantai hidrogen. Bahan yang dihasilkan dengan tingkat polimerisasi rendah bersifat kaku dan keras (Flinn dan Trojan, 1975)

Bahan kemasan plastik dibuat dan disusun melalui proses yang disebabkan polimerisasi dengan menggunakan bahan mentah monomer, yang tersusun sambung-menyambung menjadi satu dalam bentuk polimer. Kemasan plastic memiliki beberapa keunggulan yaitu sifatnya kuat tapi ringan, inert, tidak karatan dan bersifat termoplastis (heat seal) serta dapat diberi warna.

Kelemahan bahan ini adalah adanya zat-zat monomer dan molekul kecil lain yang terkandung dalam plastik yang dapat melakukan migrasi ke dalam bahan makanan yang dikemas. Berbagai jenis bahan kemasan lemas seperti misalnya polietilen, polipropilen, nilon poliester dan film vinil dapat digunakan secara tunggal untuk membungkus makanan atau dalam bentuk lapisan dengan bahan lain yang direkatkan bersama. Kombinasi ini disebut laminasi.

Sifat-sifat yang dihasilkan oleh kemasan laminasi dari dua atau lebih film dapat memiliki sifat yang unik. Contohnya kemasan yang terdiri dari lapisan kertas/polietilen/aluminium foil/polipropilen baik sekali untuk kemasan makanan kering. Lapisan luar yang terdiri dari kertas berfungsi untuk cetakan permukaan yang ekonomis dan murah. Polietilen berfungsi sebagai perekat antara aluminium foil dengan kertas. Sedangkan polietilen bagian dalam mampu memberikan kekuatan dan kemampuan untuk direkat atau ditutupi dengan panas. Dengan konsep laminasi, masing-masing lapisan saling menutupi kekurangannya menghasilkan lembar kemasan yang bermutu tinggi (Winarno, 1994).

Plastik berisi beberapa aditif yang diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat fisiko kimia plastik itu sendiri. Bahan aditif yang sengaja ditambahkan itu disebut komponen non plastik, diantaranya berfungsi sebagai pewarna, antioksidan, penyerap cahaya ultraviolet, penstabil panas, penurun viskositas, penyerap asam, pengurai peroksida, pelumas, peliat, dan lain-lain (Crompton, 1979).

Plastik masih sering sulit dibedakan dengan resin karena tidak jelas benar bedanya. Secara alami, resin dapat berasal dari tanaman, misalnya balsam, damar, terpentin, oleoresin dan sebagainya. Tapi kini resin tiruan sudah dapat diproduksi dan dikenal sebagi resin sintetik, contohnya selofan, akrilik seluloid, formika, nylon, fenol formaldehida dan sebagainya (Winarno, 1994).

Plastik juga mengandung beberapa aditif yang diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat fisika kimia plastik itu sendiri. Bahan aditif yang ditambahkan tersebut disebut komponen nonplastik yang berupa senyawa anorganik atau organik yang memiliki berat molekul rendah. Bahan aditif dapat berfungsi sebagai pewarna, antioksidan, penyerap sinar UV, anti lekat dan masih banyak lagi (Winarno, 1994).

Sifat terpenting bahan kemasan yang digunakan meliputi permeabilitas gas dan uap air, bentuk dan permukaannya. Permeabilitas uap air dan gas, serta luas permukaan kemasan mempengaruhi jumlah gas yang baik dan luas permukaan yang kecil menyebabkan masa simpan produk lebih lama.

Menurut Erliza dan Sutedja (1987) plastik dapat dikelompokkan atas dua tipe, yaitu thermoplastik dan termoset. Thermoplastik adalah plastik yang dapat dilunakkan berulangkali dengan menggunakan panas, antara lain polietilen, polipropilen, polistiren dan polivinilklorida. Sedangkan termoset adalah plastik yang tidak dapat dilunakkan oleh pemanasan, antara lain phenol formaldehid dan urea formaldehid.

Syarief et al., (1989) membagi plastik menjadi dua berdasarkan sifat-sifatnya terhadap perubahan suhu, yaitu: a) termoplastik: meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan mempunyai sifat dapat balik (reversibel) kepada sifat aslinya, yaitu kembali mengeras bila didinginkan, b) termoset: tidak dapat mengikuti perubahan suhu (irreversibel). Bila sekali pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali. Pemanasan yang tinggi tidak akan melunakkan termoset melainkan akan membentuk arang dan terurai karena sifatnya yang demikian sering digunakan sebagai tutup ketel, seperti jenis-jenis melamin.

Plastik jenis termoset tidak begitu menarik dalam proses daur ulang karena selain sulit penanganannya juga volumenya jauh lebih sedikit (sekitar 10%) dari volume jenis plastik yang bersifat termoplastik (Moavenzadeh dan Taylor, 1995).

Pada kemasan plastik, perubahan fisika kimia pada wadah dan makanannya sebenarnya tidak mungkin dapat dihindari. Industri pangan hanya mampu menekan laju perubahan itu hingga tingkat minimum sehingga masih memenuhi syarat konsumen. Banyak ragam kemasan plastik untuk makanan dan minuman, beberapa contoh misalnya: polietilen, polipropilen, polistiren, poliamida, polisulfon, poliester, poliuretan, polikarbonat, polivinilklorida, polifenilinoksida, polivinilasetat, poliakrilonitril dan melamin formaldehid. Plastik diatas dapat digunakan dalam bentuk lapis tunggal, ganda maupun komposit, dengan demikian kombinasi dari berbagai ragam plastik dapat menghasilkan ratusan jenis kemasan (Crompton, 1979).

Penggunaan plastik sebagai bahan pengemas mempunyai keunggulan dibanding bahan pengemas lain karena sifatnya yang ringan, transparan, kuat, termoplatis dan selektif dalam permeabilitasnya terhadap uap air, O2, CO2. Sifat permeabilitas plastik terhadap uap air dan udara menyebabkan plastik mampu berperan memodifikasi ruang kemas selama penyimpanan (Winarno, 1994). Ryall dan Lipton (1972) menambahkan bahwa plastik juga merupakan jenis kemasan yang dapat menarik selera konsumen.

  1. Polyethylen

Polietilen merupakan film yang lunak, transparan dan fleksibel, mempunyai kekuatan benturan serta kekuatan sobek yang baik. Dengan pemanasan akan menjadi lunak dan mencair pada suhu 110OC. Berdasarkan sifat permeabilitasnya yang rendah serta sifat-sifat mekaniknya yang baik, polietilen mempunyai ketebalan 0.001 sampai 0.01 inchi, yang banyak digunakan sebagai pengemas makanan, karena sifatnya yang thermoplastik, polietilen mudah dibuat kantung dengan derajat kerapatan yang baik (Sacharow dan Griffin, 1980).

Konversi etilen menjadi polietilen (PE) secara komersial semula dilakukan dengan tekanan tinggi, namun ditemukan cara tanpa tekanan tinggi. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

n(CH2= CH2)                                 (-CH2-CH2-)n

Etilen       polimerisasi           Polietilen

Polietilen dibuat dengan proses polimerisasi adisi dari gas etilen yang diperoleh dari hasil samping dari industri minyak dan batubara. Proses polimerisasi yang dilakukan ada dua macam, yakni pertama dengan polimerisasi yang dijalankan dalam bejana bertekanan tinggi (1000-3000 atm) menghasilkan molekul makro dengan banyak percabangan yakni campuran dari rantai lurus dan bercabang. Cara kedua, polimerisasi dalam bejana bertekanan rendah (10-40 atm) menghasilkan molekul makro berantai lurus dan tersusun paralel.

  1. Low Density Polyethylen (LDPE)

Sifat mekanis jenis plastik LDPE adalah kuat, agak tembus cahaya, fleksibel dan permukaan agak berlemak. Pada suhu di bawah 60OC sangat resisten terhadap senyawa kimia, daya proteksi terhadap uap air tergolong baik, akan tetapi kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen, sedangkan jenis plastik HDPE mempunyai sifat lebih kaku, lebih keras, kurang tembus cahaya dan kurang terasa berlemak.

  1. High Density Polyethylen (HDPE).

Pada polietilen jenis low density terdapat sedikit cabang pada rantai antara molekulnya yang menyebabkan plastik ini memiliki densitas yang rendah, sedangkan high density mempunyai jumlah rantai cabang yang lebih sedikit dibanding jenis low density. Dengan demikian, high density memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Ikatan hidrogen antar molekul juga berperan dalam menentukan titik leleh plastic (Harper, 1975).

  1. Polypropilena

Polipropilen sangat mirip dengan polietilen dan sifat-sifat penggunaannya juga serupa (Brody, 1972). Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap (Winarno dan Jenie, 1982). Monomer polypropilen diperoleh dengan pemecahan secara thermal naphtha (distalasi minyak kasar) etilen, propylene dan homologues yang lebih tinggi dipisahkan dengan distilasi pada temperatur rendah. Dengan menggunakan katalis Natta-Ziegler polypropilen dapat diperoleh dari propilen (Birley, et al., 1988).

Definisi Kemasan (skripsi dan tesis)

Didalam pengemasan bahan pangan terdapat dua macam wadah, yaitu wadah utama atau wadah yang langsung berhubungan dengan bahan pangan dan wadah kedua atau wadah yang tidak langsung berhubungan dengan bahan pangan. Wadah utama harus bersifat non toksik dan inert sehingga tidak terjadi reaksi kimia yang dapat menyebabkan perubahan warna, flavour dan perubahan lainnya. Selain itu, untuk wadah utama biasanya diperlukan syarat-syarat tertentu bergantung pada jenis makanannya, misalnya melindungi makanan dari kontaminasi, melindungi kandungan air dan lemaknya, mencegah masuknya bau dan gas, melindungi makanan dari sinar matahari, tahan terhadap tekanan atau benturan dan transparan (Winarno, 1983).

Melindungi bahan pangan dari kontaminasi berarti melindunginya terhadap mikroorganisme dan kotoran serta terhadap gigitan serangga atau binatang pengerat lainnya. Melindungi kandungan airnya berarti bahwa makanan didalamnya tidak boleh menyerap air dari atmosfer dan juga tidak boleh berkurang adar airnya. Jadi wadahnya harus kedap air. Perlindungan terhadap bau dan gas dimaksudkan supaya bau atau gas yang tidak diinginkan tidak dapat masuk melalui wadah tersebut dan jangan sampai merembes keluar melalui wadah. Wadah yang rusak karena tekanan atau benturan dapat menyebabkan makanan di dalamnya juga rusak dalam arti berubah bentuknya (Winarno, 1983).

Menurut Erliza dan Sutedja (1987) bahan kemasan harus mempunyai syarat-syarat yaitu tidak bersifat toksik, harus cocok dengan bahan yang dikemas, harus menjamin sanitasi dan syarat-syarat kesehatan, dapat mencegah kepalsuan, kemudahan membuka dan menutup, kemudahan dan keamanan dalam mengeluarkan isi, kemudahan pembuangan kemasan bekas, ukuran, bentuk dan berat harus sesuai, serta harus memenuhi syarat-syarat yaitu kemasan yang ditujukan untuk daerah tropis mempunyai syarat yang berbeda dari kemasan yang ditujukan untuk daerah subtropis atau daerah dingin. Demikian juga untuk daerah dengan kelembaban tinggi dan daerah kering.

Berdasarkan fungsinya pengemasan dibagi menjadi dua, yaitu pengemasan untuk pengangkutan dan distribusi (shiping/delivery package) dan pengemasan untuk perdagangan eceran atau supermarket (retail package). Pemakaian material dan pemilihan rancangan kemasan untuk pengangkutan dan distribusi akan berbeda dengan kemasan untuk perdagangan eceran. Kemasan untuk pengangkutan atau distribusi akan mengutamakan material dan rancangan yang dapat melindungi kerusakan selama pengangkutan dan distribusi, sedangkan kemasan untuk eceran diutamakan material dan rancangan yang dapat memikat konsumen untuk membeli (Peleg, 1985).

Menurut Winarno, et al. (1986) makanan yang dikemas mempunyai tujuan untuk mengawetkan makanan, yaitu mempertahankan mutu kesegaran, warnanya yang tetap, untuk menarik konsumen, memberikan kemudahan penyimpanan dan distribusi, serta yang lebih penting lagi dapat menekan peluang terjadinya kontaminasi dari udara, air, dan tanah baik oleh mikroorganisme pembusuk, mikroorganisme yang dapat membahayakan kesehatan manusia, maupun bahan kimia yang bersifat merusak atau racun. Beberapa faktor yang penting diperhatikan dalam pengemasan bahan pangan adalah sifat bahan pangan tersebut, keadaan lingkungan dan sifat bahan pengemas. Sifat bahan pangan antara lain adalah adanya kecendrungan untuk mengeras dalam kadar air dan suhu yang berbeda-beda, daya tahan terhadap cahaya, oksigen dan mikroorganisme.

Winarno dan Jennie (1982) mengemukakan bahwa bahan pengemas harus tahan serangan hama atau binatang pengerat dan bagian dalam yang berhubungan langsung dengan bahan pangan harus tidak berbau, tidak mempunyai rasa serta tidak beracun. Bahan pengemas tidak boleh bereaksi dengan komoditi.

Adanya pengemasan dapat membantu untuk mencegah atau mengurangi terjadinya kerusakan- kerusakan. Menurut Brody (1972) kerusakan produk biasanya terjadi karena pengaruh lingkungan luar dan pengaruh kemasan yang digunakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerusakan bahan pangan sehubungan dengan kemasan yang digunakan menurut Winarno dan Jenie (1982) dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu golongan pertama kerusakan ditentukan oleh sifat alamiah dari produk dan tidak dapat dicegah dengan pengemasan, misalnya perubahan kimia, biokimia, fisik serta mirobiologi; sedangkan golongan kedua, kerusakan yang ditentukan oleh lingkungan dan hampir seluruhnya dapat dikontrol dengan kemasan yang dapat digunakan, misalnya kerusakan mekanis, perubahan kadar air bahan, absorpsi dan interaksi dengan oksigen.

Faktor-faktor Dominan Penentu Persediaan (skripsi dan tesis)

  1. Perkiraan pemakaian

Penentuan besarnya pemakaian material yang diperlukan harus sesuai dengan kebutuhan material tersebut dalam suatu periode tertentu. Pemakaian material pada suatu periode yang lalu (actual usage) dapat digunakan untuk memperkirakan kebutuhan dimasa mendatang.

  1. Harga material

Harga material merupakan faktor lainnya yang dapat mempengaruhi besarnya persediaan yang harus diadakan. Harga material ini bila dikalikan dengan jumlah bahan yang diperlukan merupakan kebutuhan modal yang harus disediakan untuk membeli persediaan tersebut.

  1. Biaya persediaan

Terdapat 2 jenis biaya untuk menyelenggarakan persediaan material, yaitu biaya pemesanan (ordering cost) dan biaya penyimpanan (carrying cost). Biaya pemesanan terdiri dari biaya telepon untuk pemesanan, biaya bongkar muat, biaya pengiriman, dan biaya lain yang berkaitan dengan pemesanan bahan sampai bahan masuk gudang. Adapun biaya penyimpanan meliputi biaya sewa gudang, biaya asuransi, bunga modal, biaya kerusakan material selama disimpan.

Terdapat satu lagi jenis biaya yang berkaitan dengan pengelolaan persediaan, yaitu Cost of Shortage (biaya akibat terjadinya kehabisan stock atau stockout)

  1. Lead time

Waktu menunggu pesanan (lead time) adalah waktu antara atau tengang waktu sejak pesanan dilakukan sampai dengan saat pesanan tersebut masuk ke gudang. Waktu tenggang ini merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan agar barang yang dipesan datang tepat pada waktunya. Jadi lead time perlu untuk menentukan saat pemesanan kembali (re-order).

Pemesanan (Order) (skripsi dan tesis)

Untuk menjaga tingkat persediaan dilakukan review stock, yaitu kegiatan melihat, memantau  dan meneliti posisi persediaan untuk meyakinkan bahwa jumlah persediaan yang ada cukup untuk memenuhi kebutuhan pengusahaan perusahaan

Dari hasil review stock dapat ditentukan kebutuhan material. Proses ini, disebut ordering review, meliputi penentuan apa, kapan, dan berapa yang harus dipesan. Di dalam menentukan jumlah dan jenis kebutuhan material harus diperhitungkan hal-hal sebagai berikut :

–          Jumlah yang diperlukan

–          Pemakaian masa lampau (past consumption)

–          Lead Time

–          Pesanan berjalan (outstandaing order)

–          Proyeksi ke depan

Material untuk proyek atau keperluan khusus lainnya diperhitungkan secara khusus (terpisah dari material persediaan).

Dalam menentukan jumlah dan jenis material persediaan yang akan dibeli/diadakan, harus dicegah kemungkinan terjadinya surplus material di masa yang akan datang.

Penentuan jenis kebutuhan material suku cadang harus dikaitkan dengan kategori peralatan induknya (vital, essential, atau auxiliary)

Pembagian Jenis material (skripsi dan tesis)

  1. Pembagian material menurut penggunaannya :
  2. a)Material MRO (Maintenance, Repair, Operation), yaitu material yang bersifat habis pakai (consumables) yang dibutuhkan untuk perawatan dan reparasi peralatan seperti mesin, kendaraan, instalasi gedung dan lain-lain untuk operasi perusahaan.

Contoh : spark plug, piston, paint, valve, dsb.

  1. b)Material Program, yaitu material yang sifatnya habis pakai (consumables) yang diperlukan untuk mencapai produksi, target, atau program tertentu dari suatu unsur pelaksana.

Contoh : Casing, tubing, TEL, drum sheet, wellhead, dsb.

  1. Pembagian material menurut jenis barangnya :
  2. Material Umum (general materials), yaitu material yang digunakan tidak untuk suatu peralatan tertentu, misalnya pipa, chemical, flensa, dsb.
  3. Suku Cadang (spare parts), yaitu material yang merupakan komponen pengganti dari suatu peralatan, misal : piston, ring, crankshaft, flywheel, dsb.

Suku cadang dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis :

  1. a)Consumable parts

Adalah suku cadang untuk pemakaian ‘wear dan tear’ biasa, misal v-belt, spark plug, dsb.

  1. b)Replacement parts

Adalah suku cadang yang biasanya diganti pada waktu overhaul, termasuk assembly parts, misal cylinder gasket, piston, dsb.

  1. c)Insurance parts

Adalah suku cadang yang biasanya tidak pernah atau jarang rusak, namun apabila rusak dapat menghentikan kegiatan operasi peralatan. Contoh : cylinder head, crankshaft, flywheel, dsb.

Untuk keperluan pengendalian tingkat persediaan suku cadang, peralatan dibagi menajdi 3 kategori :

  1. a)Peralatan vital (vital equipment)

Adalah peralatan yang digunakan dalam proses utama (main process), yang vital terhadap operasi komersial dan keselamatn pekerja yang apabila rusak akan menyebabkan shutdown. Untuk peralatan vital ini perlu disediakan insurance, replacement dan consumable parts dalam stock. Untuk vital equipment yang tersedia spare unitnya, pengadaan suku cadangnya mengikuti ketentuan essential equipment.

  1. b)Peralatan esensial (essential equipment)

Adalah peralatan yang dipergunakan dalam proses yang esensial terhadap operasi perusahaan. Apabila peralatan tersebut rusak akan menyebabkan pengurangan jumlah dan mutu produksi. Untuk peralatan jenis ini, hanay perlu disediakan consumable parts dan sebagian replacement parts.

  1. c)Peralatan pembantu (auxiliary equipment)

Adalah peralatan yang tidak langsung digunakan dalam proses operasi, yang apabila rusak tidak akan berpengaruh pada operasi perusahaan atau keselamatan. Untuk peralatan jenis ini hanya perlu disediakan consumable parts.

  1. Pembagian material menurut frekuensi pemakaian :
  2. Slow moving items, yaitu material yang bulan pengeluarannya dalam satu tahun terakhir kurang dari 4.

Contoh :

Bulan            :   J     F     M     A     M     J     J     A     S     O     N     D

Pengeluaran :                  5                     7                                  4

Dalam contoh diatas pengeluaran suatu material hanya terjadi dalam bulan Maret, Juni, dan November (3 bulan pengeluaran), walaupun dalam satu bulan bisa terjadi pengeluaran beberapa kali (misal, dalam bulan Juni terdapat pengeluaran 2 kali).

  1. Fast moving items, yaitu material yang bulan pengeluarannya dalam satu tahun terakhir 4 atau lebih.

Contoh :

Bulan            :   J     F     M     A     M     J     J     A     S     O     N     D

Pengeluaran :          6      5     6              7           8            10      9

Dalam contoh diatas pengeluaran suatu material terjadi dalam bulan Februari, Maret, Juni, Agustus, Oktober dan November (7 bulan pengeluaran).

  1. Pembagian material menurut jenis anggarannya :
  2. a)Material Operasi, yaitu material yang dianggarkan dalam anggaran operasi, yang umumnya menyangkut material MRO.
  3. b)Material Kapital, yaitu material yang dianggarkan dalam anggaran kapital, yang digunakan untuk penambahan penanaman modal dalam perusahaan, umumnya menyangkut material program.

Penambahan penanaman modal dapat berupa :

–          Penggantian (replacement)

–          Penambahan/perluasan (additional/extension)

–          Pembangunan baru (new project)

  1. Pembagian material menurut tujuan penggunaannya :
  2. a)Material untuk dipakai sendiri (own use), yaitu material yang dibeli dengan tujuan untuk digunakan dalam operasi sendiri.
  3. b)Material untuk dijual lagi (resale commodities), yaitu material yang dibeli untuk dijual atau dipasarkan kembali dengan atau tanpa melalui proses produksi.

  1. Pembagian material menurut harganya :
  2. a)Material harga tinggi (high value items), yaitu material yang nilai pemakaiannya tinggi, biasanya mewakili 65% – 75% dari seluruh nilai pemakaian namun jumlah itemnya hanya berkisar antara 5% – 15% dari seluruh item material.
  3. b)Material harga menengah (medium value items), yaitu material yang nilai pemakaiannya menengah, biasanya mewakili 15% – 25% dari seluruh nilai pemakaian dan jumlah itemnya juga berkisar antara 15% – 25% dari seluruh item material.
  4. c)Material harga rendah (low value items), yaitu material yang nilai pemakaiannya rendah, biasanya hanya mewakili 5% – 15% dari seluruh nilai pemakaian namun jumlah itemnya mencapai sekitar 65% – 75% dari seluruh item material.

  1. Pembagian material menurut jenis pembukuannya :
  2. a)Stock item, yaitu material yang sering dibutuhkan sehingga disimpan dalam persediaan.

Material dikategorikan sebagai persediaan apabila :

–          Standar Pilihan Perusahaan (Company Selected Standard = CSS)

–          Dibutuhkan terus menerus atau disyaratkan keberadaannya.

  1. b)Material Direct Charge, yaitu material yang sangat jarang pemakaiannya sehingga tidak perlu disimpan dalam persediaan. Material ini diadakan untuk digunakan dan dibebankan langsung kepada pemakai tanpa dicatat di dalam rekening persediaan.

Material dikategorikan sebagai direct charge apabila :

–          Penggunaannya sangat jarang

–          Waktu penggunaannya dapat diperkirakan sebelumnya sehingga tidak ekonomis untuk disediakan dalam persediaan

Dalam perkembangannya, stock item bisa menjadi Non-Stock Item, yaitu  material yang cukup sering dibutuhkan namun tidak perlu disimpan dalam persediaan (Stockless Policy). Untuk penyediaannya disediakan melalui kontrak jangka pendek maupun jangka panjang dengan pihak ketiga.

Penggolongan Inventory (skripsi dan tesis)

Inventory digolongkan menjadi :

  1. Bahan Baku (Raw Materials), yaitu barang yang akan diproses menjadi barang setengah jadi atau barang jadi.
  2. Barang Setengah Jadi (Work-In-Process), yaitu barang yang sudah mengalami pemrosesan namun prosesnya belum seluruhnya selesai.
  3. Barang Jadi (Finished Products), yaitu barang yang telah seslesai menjalani pemrosesan dan siap untuk dipasarkan.
  4. MRO (Maintenance, Repair, and Operating Supplies), mencakup spare part dan material yang diperlukan dalan dalam pemeliharaan peralatan, atau material yng digunakan dalam mendukung operasi perusahaan.
  5. Beberapa jenis inventory yang lain, yaitu :

–          Resale goods : barang yang diperoleh untuk dijual lagi

–          Capital goods : peralatan yang digunakan dalam lebih dari satu periode operasi/anggaran

–          Construction goods : bahan baku dan komponen untuk proyek konstruksi

–          Hard goods/soft goods : misal komputer (hard goods), software (soft goods)

–          Components : bahan baku untuk kegiatan perakitan.

–          Obsolete : barang yang berdasar alasan tertentu tidak diperlukan atau tidak bisa digunakan lagi

–          Defective : barang yang ditolak, akan dikembalikan ke supplier atau akan di-scrap.

Fungsi Inventory (skripsi dan tesis)

Persediaan berfungsi untuk :

  1. Untuk menghadapi ketidakpastian dalam kebutuhan (demand) dan pasokan (supply). Ketidakpastian bisa berupa dalam hal jumlah atau waktu. Ketidakpastian kwantitas supply dapat disebabkan oleh adanya reject dalam penerimaan, kekosongan di pasaran, dll. Untuk mengatasi hal ini digunakan safety stock.
  2. Untuk memungkinkan pemesanan atas dasar jumlah ekonomis (economics of scale). Agar bisa tercapai prinsip ini, pemesanan didasarkan pada kwantitas pada unit biaya terendah.
  3. Decoupling, yaitu penggunaan inventory untuk membuat satu proses agar tidak tergantung dengan proses lainnya. Dengan menyediakan stock diantara dua proses, apabila proses pertama mengalami permasalahan (quality atau repair/maintenance), proses berikutnya tetap dapat berjalan.
  4. Antisipasi, bisa berupa antisipasi untuk pemenuhan kebutuhan yang bersifat musiman, karena ada promosi khusus, pemogokan, dll. Apabila hal diatas telah selesai atau telah diatasi, persediaan bisa dikembalikan ke tingkat normal. Fungsi ini bisa juga disebut Product Smoothing.

Pengendalian Persediaan (Inventory Control) (skripsi dan tesis)

Kegiatan pengendalian persediaan berhubungan dengan perencanaan pelaksanaan dan pengawasan penentuan kebutuhan material sedemikian rupa sehingga disatu pihak kebutuhan operasi dapat dipenuhi pada waktunya dan dilain pihak investasi persediaan material dapat ditekan secara optimal (sumber : Protap Pengendalian Tingkat Persediaan No. 35/PB/1991 tgl. 11 Desember 1991)

Kegiatan pengendalian persediaan  juga diatikan kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan serta penentuan kebutuhan material sedemikian rupa, sehingga disatu pihak  kebutuhan operasi dapat dipenuhi pada waktunya dan dilain pihak investasi persediaan material dapat dikendalikan pada tingkat yang ekonomis (sumber : Peraturan Perusahaan Bidang Logistik SK. Kpts-172/C0000/99-S0 tgl. 21 November 1999)

Pengendalian tingkat persediaan bertujuan mencapai daya guna (efisiensi) dan hasil guna (efektifitas) optimal dalam penyediaan material

Definisi Inventory ( Persediaan) (skripsi dan tesis)

Persediaan adalah sejumlah material yang disimpan dan dirawat menurut aturan tertentu dalam tempat persediaan agar selalu dalam keadaan siap pakai dan ditatausahakan dalam buku perusahaan ( sumber : Protap Pengendalian Tingkat Persediaan No. 35/PB/1991 tgl. 11 Desember 1991)

Persediaan juga diartikan sejumlah material standar yang diadakan untuk disimpan, dirawat dan dicatat menurut aturan tertentu dalam gudang (warehouse), yang belum dibebankan ke dalam biaya pengusahaan dan disediakan untuk menjamin kelangsungan perusahaan (sumber : Peraturan Perusahaan Bidang Logistik SK. Kpts-172/C0000/99-S0 tgl. 21 November 1999)

Joint Replenisment Order Quantity Model (skripsi dan tesis)

Tujuan dari model ini adalah untuk meminimumkan biaya dari pembelian atau produksi satu kelompok item. Biaya yang relevan secara umum adalah biaya pembelian dan biaya penyimpanan. Sehingga model ini akan menentukan kuantitas dari sekelompok item dengan meminimumkan biaya inventory dan biaya pembelian dalam satu periode. (Narasimhan,1995). P

Multi Item Joint Replenishment (skripsi dan tesis)

Joint Replenishment atau pembelian bersama-sama sekelompok inventori item dapat terjadi ketika sebuah perusahaan membeli sebuah barang dari supplier ataupun memproduksi secara internal. Sekelompok item yang merupakan satu family membutuhkan major setup umum dan minor setup khusus untuk setiap item.

Dalam beberapa hal, dimungkinkan adanya pembagian biaya pembelian yang merata. Secara umum, biaya tetap yang berhubungan dengan pembelian barang dari supplier tunggal adalah tidak terpengaruhi pada jumlah pembelian. Biaya tetap tersebut disebut juga biaya major set up.

Secara umum kapasitas perusahaan tentu terbatas. Dengan menggabungkan beberapa item menjadi satu family, biaya pembelian dapat dihemat. Sehingga, sangat penting untuk memutuskan berapa banyak masing-masing item akan dibeli atau diproduksi pada satu pembelian atau produksi. Dalam joint replenishment, variabel pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: (Narasimhan,1995)

1)            Volume dalam satuan mata uang atau kuantitas masing-masing item yang akan diproduksi atau dibeli dalam dalam satu periode.

2)            Total nilai dalam satuan mata uang atau kuantitas keseluruhan dari barang yang akan diproduksi atau dipesan dalam satu periode.

3)            Frekuensi pembelian dan penjualan

.Konsep Keandalan (skripsi dan tesis)

Keandalan didefinisikan sebagai probabilitas suatu unit atau sistem berfungsi normal, jika digunakan pada kondisi operasi tertentu untuk suatu periode waktutertentu. (Gaspersz,1992). Salah satu fungsi distribusi yang sering digunakan untuk menggambarkan distribusi keandalan adalah Distribusi Weibull. Distribusi ini memiliki dua parameter, yaitu parameter bentuk (β) dan parameter scala (η). Parameter skala memiliki satuan yang sama dengan variabel acak, dan untuk parameter bentuk tidak memiliki satuan (Wolstenholme,1999).

Control Chart (skripsi dan tesis) Control Chart juga dikenal sebagai peta kontrol yang menganalisis proses. Grafik ini mendeteksi penyimpangan masalah dengan bantuan standar dengan adanya garis kendali batas (limit) di tengah, atas bawah. Untuk data yang sifatnya variable, peta kendali yang digunakan adalah x, R, σ sedangkan untuk data yang sifatnya atribut peta kendali yang digunakan adalah : P, NP, C, dan peta kendali U. Berdasarkan karakteristik kualitas, peta kontrol dibagi dua, yaitu peta kontrol atribut dan peta kontrol variabel (Mitra, 1993). Perbedaan antara peta kontrol atribut dan peta kontrol variabel adalah: a. Peta kontrol atribut digunakan jika karakteristik kualitas tidak dapat terukur dalam nilai numerik, seperti proporsi ketidaksesuaian, jumlah ketidaksesuaian, dan lain sebagainya. b. Peta kontrol variabel digunakan jika karakteristik kualitas dapat terukur dalam skala numerik, seperti rata-rata panjang, rata-rata diameter, rata-rata tegangan, rata-rata ketahanan, rata-rata waktu servis dan lain sebagainya. Tabel 3.1. Tipe data dan control chart yang digunakan Tipe Data Control Chart yang digunakan Kegunaan Variabel Atribut R σ P nP u c · Untuk jumlah pengamatan per unit dalam sampel · Ukuran rata-rata dari pengukuran · Untuk range dari pengukuran · Untuk deviasi dari pengukuran · Untuk persentase yang diamati dalam sampel · Untuk Jumlah yang diamati dalam sampel · Untuk jumlah yang diamati dalam berbagai jumlah sampel yang berbeda · Untuk jumlah yang diamati perunit dalam sampel Dalam proses pengendalian, control chart mendeteksi adanya sebab kasus terhadap ketidaksesuaian yang terjadi. Pabila data sample berada di luar batas kendali, maka data sampel disebut berada di luar batas kendali statistic (Out of control). Sebaliknya apabila data berada dalam batas pengendali statistik maka disebut berada dalam batas pengendali statistik (in control).

Control Chart juga dikenal sebagai peta kontrol  yang menganalisis proses. Grafik ini mendeteksi penyimpangan masalah dengan bantuan standar dengan adanya garis kendali batas (limit) di tengah, atas bawah.

Untuk data yang sifatnya variable, peta kendali yang digunakan adalah x, R, σ sedangkan untuk data yang sifatnya atribut  peta kendali yang digunakan adalah : P, NP, C, dan peta kendali U.

Berdasarkan karakteristik kualitas, peta kontrol dibagi dua, yaitu peta kontrol atribut dan peta kontrol variabel (Mitra, 1993). Perbedaan antara peta kontrol atribut dan peta kontrol variabel adalah:

  1. Peta kontrol atribut digunakan jika karakteristik kualitas tidak dapat terukur dalam nilai numerik, seperti proporsi ketidaksesuaian, jumlah ketidaksesuaian, dan lain sebagainya.
  2. Peta kontrol variabel digunakan jika karakteristik kualitas dapat terukur dalam skala numerik, seperti rata-rata panjang, rata-rata diameter, rata-rata  tegangan, rata-rata ketahanan, rata-rata waktu servis dan lain sebagainya.

Tabel 3.1. Tipe data dan control chart yang digunakan

Tipe Data Control Chart yang digunakan Kegunaan
Variabel

 

 

 

 

 

 

 

 

Atribut

 

R

 

σ

 

 

 

 

P

 

nP

 

 

u

 

 

c

·                 Untuk jumlah pengamatan per unit dalam sampel

·                 Ukuran rata-rata dari pengukuran

·                 Untuk range dari pengukuran

·                 Untuk deviasi dari pengukuran

 

·                 Untuk persentase yang diamati dalam sampel

·                 Untuk Jumlah yang diamati dalam sampel

·                 Untuk jumlah yang diamati dalam berbagai jumlah sampel yang berbeda

·                 Untuk jumlah yang diamati perunit dalam sampel

 

Dalam proses pengendalian, control chart mendeteksi adanya sebab kasus terhadap ketidaksesuaian yang terjadi. Pabila data sample berada di luar batas kendali, maka data sampel disebut berada di luar batas kendali statistic (Out of control). Sebaliknya apabila data berada dalam batas pengendali statistik maka disebut berada dalam batas pengendali statistik (in control).

Fishbone Diagram ( Diagram sebab akibat) (skripsi dan tesis)

     Diagram sebab akibat adalah diagram yang digunakan untuk menemukan penyebab timbulnya persoalan dan akibatnya serta hubungan antar sebab akibat. Fishbone diagram penting untuk mengidentifikasi secara tepat hal-hal yang menyebabkan persoalan kemudian mencoba untuk menanggulangi.

     Diagram sebab akibat dapat dipergunakan untuk kebutuhan-kebutuhan berikut : (Gaspersz,1998)

  1. Membantu mengidentifikasi akar penyebab dari suatu permasalahan.
  2. Membantu membangkitkan ide-ide untuk solusi suatu masalah
  3. Membantu dalam penyelidikan atau pencarian fakta lebih lanjut.

Diagram sebab-akibat dapat dilukiskan secara garis besar terdiri dari dua bagian utama, yaitu garis horizontal utama sebagai dari masalah atau akibat dan beberapa garis berupa cabang-cabang dari garis horizontal tersebut menggambarkan sebab-sebab utama yaitu manusia, mesin, metode, alat, bahan. dari sebab-sebab utama tersebut dapat dijabarkan menjadi ranting-ranting sebab serinci mungkin.

Diagram ini membantu memperlihatkan semua faktor yang dapat menyebabkan suatu masalah. Pembuatan diagram ini menggunakan prinsip brainstorming. Faktor penting dalam pembuatan diagram ini : materialmanmachinemethod dan environment.

Langkah-langkah dalam pembuatan diagram sebab akibat :

  1. Mencari masalah utama yang akan diperbaiki.
  2. Mencari penyebab utama masalah tersebut.
  3. Mencari penyebab-penyebab lain.
  4. Menganalisis data dan menentukan penyebab utama masalah tersebut.

Diagram Pareto (skripsi dan tesis)

Pareto diagram merupakan cara yang paling mudah dalam teknik untuk merengking  sehingga fokus terpusat pada hal yang terpenting, disajikan dalam bentuk grafik yang menunjukkan masalah berdasarkan urutan banyaknya kejadian. Masalah yang paling banyak terjadi oleh grafik batang pertama yang tertinggi serta ditempatkan pada sisi kiri, dan seterusnya sampai  masalah yang paling sedikit terjadi ditunjukkan oleh grafik batang terakhir yang terendah serta ditempatkan pada sisi paling kanan. Pada dasarnya Diagram Pareto  dapat digunakan sebagai alat interpretasi untuk :

  1. Menentukan frekuensi relatif dan urutan pentingnya masalah-masalah atau penyebab-penyebab dari masalah yang ada.
  2. Memfokuskan perhatian pada isu-isu kritis dan penting melalui pembuatan ranking terhadap masalah-masalah atau penyebab-penyebab dari masalah itu dalam bentuk yang signifikan.

 

 

Histogram (skripsi dan tesis)

Histogram adalah bentuk batang yang dipergunakan sebagai alat sederhana untuk mengetahui distribusi data yang dikumpulkan. Histogram menyajikan sebaran data secara visual yang digunakan untuk memonitor proses apakah masih konsisten atau tidak sesuai dengan keinginan pelanggan. Proses diukur untuk melihat apakah hasilnya sesuai dengan target dan standar yang telah ditentukan.

   Untuk membuat Histogram diperlukan:

  1. Tepi kelas bukan batas kelas.
  2. Distribusi frekuensi dengan interval tertutup.
  3. Interval kelas yang sama.

 

 

 

Check Sheet (skripsi dan tesis)

Check sheet digunakan untuk memudahkan pengumpulan data, dimana item-item yang akan diperiksa telah dicetak dalam formulir itu, sehingga data dapat dikumpulkan secara mudah dan ringkas.

Penggunaan Check Sheet bertujuan untuk :

  1. Memudahkan proses pengumpulan data, dan membantu mentabulasi banyaknya kejadian dari suatu masalah tertentu atau penyebab tertentu.
  2. Mengumpulkan data tentang jenis masalah yang sedang terjadi, dalam hal ini lembar kerja akan memilah-milah data ke dalam kategori yang berbeda.

Check Sheet dapat dibuat dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Menjelaskan tentang tujuan pengumpulan data

                        1.)   Apa yang menjadi masalah utama?

                        2.)   Mengapa data harus dikumpulkan?

                        3.)   Siapa yang akan mengumpulkan informasi yang sedang dikumpulkan dan informasi apa yang benar-benar dibutuhkan?

  1. Identifikasi apakah data bersifat variabel atau atribut?
  2. Menentukan tempat dan waktu pengukuran.
  3. Mulai mengumpulkan data untuk item yang sedang diukur.
  4. Menjumlahkan data yang telah dikumpulkan.
  5. Memutuskan untuk mengambil tindakan peningkatan atas penyebab masalah yang sedang terjadi.

 

TYPE OF CALL MON TUE WED THU TOTAL
  AM PM AM PM AM PM AM PM  
NON-CUSTOMER Crank Call II I   II III   I   9
Wrong Number   I II   II I     6
CUSTOMER Service Out   II III III I   III II 14
Question on Service I I II III II   I I 11
High Bill Complains     I II   I   I 5
TOTAL 3 5 8 10 8 2 5 4 45

 

Gambar 3.3. Contoh Lembar Periksa

(Sumber:Bank,1992)dengan sedikit perubahan

 

Tujuh Alat Dalam Pengendalian Kualitas (skripsi dan tesis)

Ada tujuh alat yang secara umum dan populer dipakai dalam pengendalian kualitas untuk mengolah data dan menganalisa data sebelum masalah dipecahkan (Gasperz, 1998), yaitu :

  1. Check Sheet
  2. Histogram
  3. Diagram Pareto
  4. Fishbone Diagram( Diagram sebab akibat)
  5. Stratifikasi(Pengelompokan)  
  6. Scatter Diagram(Diagram Pencar)
  7. Control Chart(Peta Kontrol)

Variasi (skripsi dan tesis)

Variasi adalah bagian dari proses. Variasi adalah ketidakseragaman dalam sistem produksi atau operasional sehingga menimbulkan perbedaan dalam kualitas pada produk atau jasa yang dihasilkan (Gaspersz, 1998). Variasi output produk atau jasa dari sebuah proses dapat disebabkan oleh 2 faktor, yaitu :

  1. Faktor umum

1.)Bahan baku

2.)Peralatan dan teknologi

3.)Manusia

4.)Sarana fisik

  1. Faktor khusus

1.)Persaingan pasar

2.)Tujuan perusahaan

3.)Pengujian produk dan desain produk

4.)Kualitas bahan bsku

5.)Proses produksi

6.)Perawatan peralatan

7.)Standar kualitas

8.)Feedback konsumen

Tujuan dan Manfaat Pengendalian Kualitas (skripsi dan tesis)

Fungsi sistem pengendalian kualitas ini dapat dicapai melalui berbagai pengukuran, diantaranya : perencanaan, perancangan, penggunaan peralatan dengan prosedur yang tepat, inspeksi, dan mengambil tindakan perbaikan dalam suatu kasus penyimpangan yang ditemui dalam produk, proses pengeluaran dari standar yang telah ditetapkan. 

Tujuan dari pengendalian kualitas adalah sebagai berikut :

  1. Pengawasan terhadap kualitas produk sehingga barang yang dibuat sesuai dengan yang diharapkan.
  2. Untuk mengetahui apakah segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana.
  3. Untuk mengetahui apakah rencana sudah berjalan sesuai dengan rencana melalui instruksi-instruksi serta prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.
  4. Untuk mengetahui kelemahan dan kesulitan serta jangan sampai terulang lagi
  5. untuk mengetahui apakah segala sesuatu berjalan dengan efisien dan apakah mungkin dapat diadakan perbaikan.

Beberapa manfaat pengendalian kualitas menurut Mitra (1993) adalah sebagai berikut :

  1. Meningkatkan kualitas produk atau jasa.
  2. Sistem secara terus menerus akan dievaluasi dan dimodifikasi agar memenuhi perubahan kebutuhan pada pelanggan.
  3. Meningkatkan produktivitas suatu perusahaan.
  4. Mengefisiensikan pengeluaran biaya jangka panjang.
  5. Mengurangi waktu produksi sehingga akan meningkatkan ketepatan waktu pengiriman.
  6. Sistem pengendalian kualitas memelihara peningkatan pada lingkungan dimana setiap individu akan bejuang untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas.

Pengertian Pengendalian Kualitas (skripsi dan tesis)

Prosedur untuk mencapai target kualitas industri yang diinginkan dinamakan pengendalian kualitas (Feigenbaum, 1991). Pengendalian dalam dunia industri dapat diartikan sebagai sebuah proses penyerahan tanggung jawab dan kekuasaan pada aktivitas manajemen dalam kepengurusan dengan artian dengan menggunakan cara-cara untuk menjamin hasil yang memuaskan. Secara umum, pengendalian kualitas dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem yang digunakan untuk menjaga level kualitas yang diinginkan pada produk atau jasa. Hal ini dapat dicapai melalui bermacam pengukuran seperti perencanaan, desain, penggunaan peralatan dan prosedur yang benar, inspeksi, dan mengambil tindakan koreksi jika terjadi penyimpangan yang diamati antara  produk, jasa, atau hasil proses dengan standar tertentu (Mitra, 1993).

Pengertian Kualitas (skripsi dan tesis)

Beberapa pengertian kualitas menurut beberapa pendapat adalah sebagai berikut :

  1. Menurut Juran (1974)

Kualitas adalah kepuasan untuk dipakai, sedangkan Crosby (1979) mendefinisikan kualitas adalah kesesuaian terhadap permintaan atau spesifikasi.

  1. Menurut Mitra (1993)

Kualitas sebuah produk atau jasa adalah kesesuaian produk atau servis tersebut untuk memenuhi atau melebihi maksud kegunaannya seperti yang diminta oleh pelanggan.

  1.  Menurut Reksohadiprojo (1995).

Kualitas adalah ukuran seberapa dekat suatu barang atau jasa sesuai dengan standar tertentu, standar mungkin berlainan dengan waktu, bahan, kinerja, kehandalan atau karakteristik (obyektif dan dapat diukur)yang dapat dikuantifikasikan.

  1. Menurut perbendaharaan istilah ISO 842 dan dari standar nasional Indonesia (SNI 19-8402-1991)

Kualitas adalah keseluruhan ciri dan karakteristik produk atau jasa yang kempuannya dapat memuaskan kebutuhan baik yang dinyatakan tegas maupun samar.

Pengertian dalam kontek statistical process control adalah bagaimana baiknya suatu output itu memenuhi spesifikasi dan toleransi yang ditetapkan oleh bagian disain produk yang disebut dengan kualitas disain harus berorientasi pada kebutuhan pasar.

Pengertian Pengendalian (skripsi dan tesis)

     Pengendalian adalah sebuah lingkaran yang dimulai dan berakhirannya dengan perencanaan (Shigeru, 1994). Lingkaran pengendalian tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.

  1. Plan(P)  : Menetapkan sebuah rencana atau standar untuk mencapai sasaran.
  2. Do(D)     : Melaksanakan rencana atau pekerjaan yang telah ditetapkan
  3. Check(C) : Mengukur dan menganalisis hasil yaitu pengecekan.
  4. Action(A) : Melakukan perbaikan yang perlu apabila hasil tidak sesuai rencana semula.

     Keempat langkah ini merupakan proses pengendalian. Tidak ada salah satu dari langkah ini yang secara sendirian mewujudkan pengendalian, karena pengendalian adalah menyambung langkah – langkah ini menjadi sebuah proses yang berkelanjutan.

     Pengendalian merupakan salah satu dari fungsi menejemen. Dengan adanya pengawasan diharapkan penyimpangan-penyimpangan dapat dikurangi ataupun dihilangkan sama sekali. Tujuan dari pengendalian adalah untuk merealisasikan rencana seevektif mungkin sehingga dapat menekan penyimpangan yang terjadi sampai batas minimum yang telah ditentukan.

Jadi pengendalian adalah tindakan yang perlu dilakukan untuk menjamin tercapainya tujuan dengan jalan mengadakan pemeriksaan yang dimulai bahan yang diinginkan atau standar yang telah ditentukan.

Focused Quality (skripsi dan tesis)

Focused Quality adalah kualitas terfokus. Kualitas selalu berhubungan erat dengan pelanggan. Dengan demikian pelayanan diberikan bertujuan untuk memenuhi keinginan dari pelanggan atau konsumen.

Focused Quality merupakan bagian dari Total Quality Management (TQM). Focused Quality ini disusun karena banyak sekali perusahaan yang menggunakan TQM tapi mulai menyimpang dan sering mengalami kegagalan. Sebagian kegagalan TQM dikarenakan mereka tidak memadukan usaha TQM dengan praktek manajemennya untuk mencapai sasaran bisnis yang strategis. Berikut ini adalah alasan pokok kegagalan dari TQM, diantaranya:

  1. Upaya yang dilakukan tidak terfokus. Artinya TQM dilaksanakan secara sporadic tanpa memperhatikan yang penting.
  2. Eksekutif senior tidak terlibat dalam manajemen mutu.
  3. Beberapa organisasi mempunyai visi dan misi tetapi tidak mempunyai disiplin untuk melaksanakannya (Brelin, dkk, 1997).

Untuk mencegah hal tersebut maka lahirlah Focused Quality dengan dasar pemikiran bahwa prakarsa mutu harus diarahkan untuk memperbaiki proses yang mempunyai dampak terbesar pada apa yang harus terjadi kalau suatu organisasi ingin mencapai sasarannya.

Jasa (skripsi dan tesis)

Jasa adalah setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu (Kotler, 1997). Meskipun terjadi beberapa perbedaan pengertian jasa, namun ada beberapa karakteristik jasa yang akan memberikan jawaban yang lebih mantap terhadap pengertian jasa. Karakteristik yang dimaksud antara lain sebagai berikut;

  1. Tidak dapat diraba (intangibility). Artinya jasa tidak dapat diraba maupun dilihat, tetapi jasa dapat dirasakan dan dinikmati yang berwujud pelayanan.
  2. Tidak dapat dipisahkan (inseparability). Artinya jasa tidak dapat dipisahkan, biasanya dimana jasa itu dihasilkan disitu juga jasa akan dikonsumsi.
  3. Bisa berubah-ubah (variability). Artinya jasa bisa berubah-ubah baik nama, bentuk, kualitas dan jenisnya tergantung dari siapa, kapan dan dimana jasa tersebut dihasilkan.
  4. Tidak dapat disimpan (pershability). Artinya jasa tidak dapat disimpan dan tidak mempunyai daya tahan, hal ini tidak menjadi masalah jika permintaannya tetap karena untuk menyiapkan pelayanan permintaan tersebut mudah.

Bagian yang paling rumit dari pelayanan jasa adalah kualitasnya, karena sangat dipengaruhi oleh harapan dari konsumen. Harapan konsumen dapat bervariasi antara konsumen satu dengan konsumen yang lainnya. Kualitas jasa layanan mungkin dapat dilihat sebagai suatu kelemahan kalau konsumen mempunyai harapan yang terlalu tinggi walaupun dengan suatu pelayanan yang baik.

Ada beberapa langkah yang harus ditempuh untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan jasa yang ditawarkan. Langkah-langkah yang dimaksud antara lain:(Wahyu, 1999 dalam Sriyanto, 2004)

  1. Mengidentifikasi penentu utama kualitas pelayanan, dengan melakukan riset pelanggan dan melakukan penilaian terhadap perusahaan atau lembaga lain dan bersaing berdasarkan factor penentu tersebut.
  2. Mengelola harapan pelanggan, dengan mengolah hasil riset untuk menentukan langkah memenuhi harapan pelanggan.
  3. Mengelola kualitas jasa, dengan menjaga perilaku atau sikap orang-orang yang memberikan jasa bagi pelanggan.
  4. Mengembangkan budaya kualitas, yang meliputi filosofi, keyakinan, sikap, nilai, norma, tradisi, prosedur dan lain-lain yang akan meningkatkan kualitas jasa layanan.

Beberapa dimensi atau atribut dalam perbaikan kualitas jasa adalah sebagai berikut (Gaspersz, 1997):

  1. Ketepatan waktu pelayanan,
  2. Akurasi pelayanan,
  3. Kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan,
  4. Tanggung jawab,
  5. Kelengkapan,
  6. Kemudahan dalam mendapatkan pelayanan,
  7. Variasi model pelayanan,
  8. Pelayanan pribadi,
  9. Kenyamanan dalam memperoleh pelayanan,
  10. Atribut pendukung pelayanan lainnya.

Kualitas (skripsi dan tesis)

Kualitas memiliki banyak definisi yang berbeda dan bervariasi dari yang konvensional sampai yang strategis. Kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi kebutuhan pelanggan (Gazpersz,1997), sebagai faktor yang terdapat dalam suatu barang atau hasil yang menyebabkan barang tersebut sesuai dengan tujuan keberadaan barang itu (Assauri,1993). Menurut Tampubolon (2001), pengertian kualitas adalah paduan sifat-sifat produk yang menunjukkan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan pelanggan langsung atau tak langsung, baik kebutuhan yang dinyatakan maupun yang tersirat, masa kini dan masa depan.

Beberapa dimensi atau atribut yang diperhatikan dalam perbaikan kualitas jasa antara lain:

  1. Ketepatan waktu pelayanan
  2. Akurasi pelayanan
  3. Kesopanan dan kehormatan dalam memberikan pelayanan
  4. Tanggung jawab
  5. Kelengkapan
  6. Kemudahan pelayanan
  7. Variasi model pelayanan

Model Dalam Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Permodelan merupakan elemen kunci dalam Sistem Pendukung Keputusan. Model merupakan konseptualisasi dari suatu masalah dengan mencoba mengabtraksikanya dalam bentuk kuantitatif maupun kualitatif. Dengan model kita mencoba mendekati masalah sebenarnya dengan melakukan beberapa penyerderhanaan melalui pernyataan asumsi. Penyederhanaan dilakukan dengan tujuan memperpendek waktu mencapai solusi masalah dan mengurangi biaya yang perlu dikelurkan, tapi dengan tetap usaha seoptimal mungkin menyerupai masalahnya. [9]

Model secara umum terdiri dari: [9]

  1. Variabel Keputusan,yaitu variabel yang berada dibawah control pemegang keputusan yang nilainya ditentukan oleh sipemegang keputusan, contohnya adalah nilai anggaran, waktu proses, jumlah produk, jenis produk dan lain-lain.
  2. Variabel diluar Kontrol, yaitu variabel yang berada diluar control pemegang keputusan namun mempengaruhi keluaran dari model, contohnya adalah tingkat inflasi, strategi pesain, pertumbuhan teknologi dan lain-lain.
  3. Variabel Hasil, yang merupakan keluaran dari model yang ditentukan oleh variabel keputusan variabel diluar control, contonya adalah nilai keuntungan, nilai return on investment, kapasitas produksi, harga produk dan lain-lain

Ada beberapa jenis model matematika yang dominan dipakai oleh Sistem Pendukung Keputusan dapat dikelompokkan menjadi 3 dimensi, yaitu: [9]

Model Statis atau Dinamis

Kelompok ini dibuat berdasarkan dimensi waktu.

  1. Model Statis

Tidak menyertakan waktu sebagai variabel, sementara model dinamis menggunakan waktu sebagai variabel. Jadi pada model dinamis outputr yang dihasilkan bias berbeda pada waktu yang berbeda.

  1. Model Probabilistik Atau Deterministik

Kelompok ini dibuat berdasarkan tingkat keyakinan. Model probabilistik menyertakan kemungkinan atau peluang terjadinya suatu kejadian, yaitu peluang 0 berarti kejadian tidak akan terjadi sama sekali, peluang 1 berarti kejadian pasti akan terjadi, atau peluang 0,5 berarti 50% bias terjadi, 50% bias tidak terjadi. Sementara model deterministik tidak menyertakan kemungkinan yang berarti peluang 1.

  1. Model Optimisasi atau Suboptimisasi

Kelompok ini berdasarkan kemampuan model dalam memberikan solusi. Model optimisasi ditujukan untuk memilih solusi terbaik dari alternatif yang ada. Sementara model suboptimisasi hanya mensimulasikan alternatifkeputusan yang telah ditentukan oleh pengambil keputusan.

Langkah-langkah Pembangunan Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya, untuk membangun suatu SPK dikenal 8 tahapan sebagai berikut: [10]

  1. Perencanaan

Pada tahap ini, yang paling penting dilakukan adalah perumusan masalah serta penentuan tujuan dibangunnya SPK

  1. Penelitian

Berhubungan dengan pencarian data serta sumber daya yang tersedia.

  1. Analisis

Dalam tahap ini termasuk penentuan teknik pendekatan yang akan dilakukan serta sumber daya yang dibutuhkan

  1. Perancangan

Pada tahap ini dilakukan perancangan dari ketiga subsistem utama SPK yaitu subsistem Database, subsistem Model dan subsistem Dialog.

  1. Konstruksi

Tahap ini merupakan kelanjutan dari perancangan, dimana ketiga subsistem yang dirancang digabungkan menjadi suatu SPK.

  1. Implementasi

Tahap ini merupakan penerapan SPK yang dibangun.

  1. Pemeliharaan

Merupakan tahap yang harus dilakukan secara terus menerus untuk mempertahankan keandalan sistem.

  1. Adaptasi

Dalam tahap ini dilakukanb pengulangan terhadap tahapan diatas sebagai tanggapan terhadap perubahan kebutuhan ‘pengguna’.

Teknik Perancangan Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Dalam merancang serta menggunakan sistem pendukung keputusan dikenal tiga tingkatan teknologi : [10]

  1. Sistem Pendukung Keputusan Spesifik (SPKS)/ Spesifik Decision Support Systems (SDSSS).

Sistem Pendukung Keputusan Spesifik adalah sistem yang ditujikan untuk membantu pemecahan serangkaian masalah yang memeliki karakteristik tertentu .

  1. Pembangkitan Sistem Pendukung Keputusan/ Decision Support Systems Generator(DSSG).

Pembangkitan Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support Systems Generator) merupakan perangkat lunak untuk pengembangan Sistem pendukung Keputusan.

  1. Perlengkapan Sistem Pendukung Keputusan/ Decision Support Systems Tools(DSST)

Sistem ini merupakan teknologi yang paling dasar dalam merancang dan membangun Sistem Pendukung Keputusan

 Dalam proses modifikasi ada lima fungsi yang harus bekerja sama dengan baik yaitu: [10]

  1. Manajer

Manajer atau pengguna adalah orang yang berhadapan dengan masalah atau keputusan.

  1. Penghubung

Orang yang membantu pengguna, seperti staf pimpinan, yang bertugas sebagai pemberi saran atau informasi, serta menerjemahkan kebutuhan manajer pada perancang.

  1. Perancang

Fasilitator yang menggabungkan kemampuan dari pembangkit SPK untuk menghasilkan suatu SPK spesifik.

  1. Pendukung Teknik

Bertugas untuk mengembangkan kemampuan atau menambahkan komponen sistem informasi tambahan.

  1. Toolsmith

Fungsi yang mengembangkan teknologi, bahasa, perangkat lunak dan perangkat keras baru serta yang menghubungkan berbagai subsistem lainnya.

Sistem Pendukung Keputusan terdiri atas tiga komponen utama atau subsistem yaitu: [10]

  1. Subsistem Data(data base)

Subsistem Data merupakan komponen SPK penyedia data bagi sistem.

  1. Subsistem Model (model base)

Keunikan dari SPK adalah kemampuannya dalam mengintegrasikan data dengan model-model keputusan.

  1. Subsistem Dialog(user system interface)

Keunikan lain dari SPK adalah adanya fasilitas yang mampu mengintegrasikan sistem terpasang dengan pengguna secara interaktif.

Teknik yang digunakan dalam perancangan SPK sangat tergantung pada kondisi dan waktu yang tersedia. Teknik tersebut diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu: [10]

  1. Perancangan dengan cara cepat

Cara ini dilakukan bila dibutuhkan SPK yang mempunyai kemampuan khusus dan dapat memberikan hasil yang cukup, namun waktu perancangan yang tersedia sangat singkat.

  1. Perancangan dengan cara bertahap

Perancangan SPK dengan cara ini dilakukan dengan membuat suatu SPK spesifik, dimana pembuatannya disesuaikan dengan perencanaan masa yang akan datang, sehingga bagian yang telah dikembangkan dalam sistem awal dapat digunakan lagi untuk pengembngan selanjutnya.

  1. Perancangan SPK lengkap

Sebelum suatu SPK spesifik dibuat, terlebih dahulu perlu dikembangkan pembangkit SPK yang lengkap serta struktur organisasi pengelolaanya.

Karakteristik dan Nilai Guna (skripsi dan tesis)

Beberapa karakteristik dari sistem pendukung keputusan yaitu:[10]

  1. Sistem Pendukung Keputusan dirancang untuk membantu pengambil keputusan dalam memecahkan masalah yang sifatnya semi terstruktur ataupun tidak terstruktur.
  2. Dalam proses pengolahannya, Sistem Pendukung Keputusan mengombinasikan penggunaan model-model/ teknik – teknik analisis dengan teknik pemasukan data konvensional serta fungsi-fungsi pencari/interogasi informasi.
  3. Sistem Pendukung Keputusan, dirancang sedemikian rupa sehingga dapat digunakan/dioperasikan dengan mudah oleh orang-orang yang tidak memiliki dasar kemampuan pengoperasian computer yang tinggi. Oleh karena itu pendekatan yang digunakan biasanya model interaktif.
  4. Sistem Pendukung Keputusan dirancang dengan menekankan pada aspek fleksibilitas serta kemampuan adaptasi yang tinggi. Sehingga mudah disesuaikan dengan bebagai perubahan lingkungan yang terjadi dan kebutuhan pemakai.

Keuntungan dari penggunaaan Sistem Pendukung Keputusan meliputi: [10]

  1. Sistem Pendukung Keputusan memperluas kemempuan pengambil keputusan dalam memproses data/informasi bagi pemakainya
  2. Sistem Pendukung Keputusan membantu pengambil keputusan dalam hal penghematan waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah terutama berbagai masalah yang sangat kompleks dan tidak terstruktur
  3. Sistem Pendukung Keputusan dapat menghasilkan solusi dengan lebih cepat serta hasilnya dapat diandalkan.
  4. Walaupun Sistem Pendukung Keputusan, mungkin saja tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapai oleh pengambil keputusan, namun ia dapat menjadi stimulan bagi pengambil keputusan dalam memahami persoalannya. Karena Sistem Pendukung Keputusan dapat mampu menyajikan berbagai alternatif.
  5. Sistem Pendukung Keputusan dapat menyediakan bukti tambahan untuk memberikan pembenaran sehingga dapat memperkuat posisi pengambil keputusan

Tujuan Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Karena Sistem Pendukung Keputusan berhubungan dengan kegiatan pengambilan keputusan, maka kita perlu mengetahui dengan baik bagaimana proses pengambilan keputusan dilakukan. Proses pengambilan keputusan melibatkan 4 tahapan, yaitu: [9]

  1. Tahap Intelligence

Dalam tahap ini pengambil keputusan mempelajari kenyataan yang terjadi sehingga kita bias mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah yang terjadi, biasanya dilakukan analisis berurutan dari sistem ke subsistem pembentuknya. Dari tahap ini didapatkan keluaran berupa dokumen pernyataan masalah.

  1. Tahap Design

Dalam tahap ini pengambil keputusan menemukan, mengembangkan dan menganalisis semua pemecahan yang mungkin.

  1. Tahap Choice

Dalam tahap ini pengfambilan keputusan memelih salah satu alternative pemecahan yang dibuat pada tahap design yang dipandang sebagai aksi yang paling tepat untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Dari tahap ini didapatkan keluaran berupa dokumen Solusi dan rencana implementasinya

  1. Tahap Implementation

Dalam tahap ini pengambil keputusan menjalankan rangkaian aksi pemecahan yang dipilih ditahap choice. Implementasi yang sukses ditandai dengan terjawabnya masalah yang dihadapi, sementara kegagalan ditandai dengan tetap adanya masalah yang sedang dicoba untuk diatasi. Dari tahap ini didapatkan keluaran berupa laporan pelaksanaan solusi dan hasil-nya.

Dari definisi diatas bias disimpulkan bahwa tujuan Sistem Pendukung Keputusan dalam proses pengambilan keputusan adalah:[9]

  1. Membantu menjawab masalah semi terstruktur
  2. Membantu manajer dalam mengambil keputusan bukan menggantikannya
  3. Manajer yang dibantu melingkupi top manajer sampai manajer lapangan
  4. Fokus pada keputusan yang efektif, bukan keputusan yang efisien

Pengertian Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Decision Support System atau Sistem Pendukung Keputusan secara umum didefinisikan sebagai sebuah sistem yang mampu memberikan kemampuan baik kemampuan pemecahan masalah maupun kemampuan pengkomunikasian untuk masalah semi terstruktur. Secara khusus Sistem Pendukung Keputusan didefinisikan sebagaisebuah sistem yang mendukung kerja seorang manajer maupun sekelompok manajer dalam memecahkan masalah semi terstruktur dengan cara memberikan informasi ataupun usulan menuju pada keputusan tertentu.[ 9 ]

Sistem Pendukung Keputrusan merupakan sistem berbasis komputer yang dirancang untuk mempertinggi efektifitas pengambil keputusan dari masalah semi terstruktur.menurut Mann dan Watson .[10]

Menurut,Maryam Alavi dan H. Albert Napier Sistem Pendukung Keputusan aalah sistem yang interaktif, yang membantu pengambil keputusan melalui penggunaaan data dan model-model keputusan untuk memecahkan masalah-masalah yang sifatnya semi terstruktur dan tidak struktur.[10]

Menurut, Litlle Sistem pendukung keputusan adalah suatu sistem informasi berbasis computer yang menghasilkan berbagai alternatif keputusan untuk membantu manajemen dalam menangani berbagai permasalahan yang terstuktur ataupun tidak terstruktuir dengan menggunakan data dan model.

Menurut, Raymond Mcleod Sistem pendukung keputusan adalah sistem penghasil informasi yang ditujukan untuk memecahkan suatu masalah tertentu yang harus dipecahkan oleh manajer pada berbagai tingkatan. [10]

Dari berbagai definisi diatas dapat dikatakan bahwa sistem pendukung keputusan adalah suatu sistem informasi spesifik yang ditujukan untuk membantu manajemen dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan persoalan yang bersifat semi terstruktur.

Pembagian pendekatan program dinamis berdasarkan persoalan (skripsi dan tesis)

  1. Program Dinamis Deterministik.

Pendekatan program dinamis sebagai persoalan deterministik, dimana state pada stage berikutnya sepenuhnya ditentukan oleh state dan keputusan pada stage saat ini.

  1. Program Dinamis Probabilitastik

Pada program dinamis probabilistik, tahap (stage) berikutnya tidak dapat seluruhnya ditentukan oleh state dan keputusan pada state ini, tetapi ada suatu distribusi kemungkinan mengenai apa yang akan terjadi. Namun, distribusi kemungkinan ini masih seluruhnya ditentukan oleh state dan keputusan pada stage saat ini.

Dalam program ini meliputi tiga algoritma pemrograman dinamis yaitu     stagecoach problem, knapsack problem, dan production and inventory control problem. Pemrograman dinamis memecahkan masalah yang bersifat multi stage dan multi state. Prosedur solusi menggunakan backward recursion dari stage paling akhir (ini adalah stage yang paling dekat kepada detisnation) menuju ke stage yang paling awal.

Data – data yang diperlukan untuk stagecoach problem adalah jumlah stage, jumlah stage dan returns untuk tiap states pada successive stage. Untuk kasus knapssacak problem dibutuhkan return dan space untuk setiap stage. Sedangkan untuk production and inventory control problem memerlukan data permintaan, kapasitas penyimpanan yang berhubungan dengnan ongkos per unit dan ongkos set-up, holding dan atau ongkos shortage untuk setiap stage . Fungsi transformaasi stage dan fungsi return pada penggunaan program ini diasumsikan berbentuk linear.  [4]

Model Budijati ( 2005 )

Beberapa asumsi yang diberlakukan pada model ini adalah sebagai berikut [ 5 ] :

  1. Produk multi item
  2. Permintaan pada masing – masing jenis produk pada horison perencanaan diketahui dengan pasti.
  3. Fasilitas produksi hanya tersedia satu lintasan.
  4. Kecepatan produksi lebih besar atau sama dengan tingkat permintaan.
  5. Tidak diperkenankan adanya back order.
  6. Persediaan di akhir horison perencanaan sama dengan nol.

Permasalahan pada model yang dikembangkan dapat dilihat seperti pada gambar 2. Adapun notasi – notasi yang digunakan adalah sebagai berikut :

xij   : jumlah produksi pada periode ke i untuk item produk ke j

 I0j  : persediaan awal untuk item produk ke j

 i    : indeks periode

            dimana i = 1,2,3,…,n

        j   : indeks item produk

             dimana j = 1,2,3,..,m

       tj    :  waktu proses item produk ke j

b  : jam kerja efektif yang tersedia pada setiap periode

     Vj   : kecepatan produksi item produk ke j

Dj : permintaan pada periode j

Dari gambar 2 tersebut, dapat dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan sistem yang dimodelkan adalah sebagai berikut :

  1. Semua jenis produk memiliki due date yang sama, yaitu pada akhir horison perencanaan ( periode n )
  2. Horison perencanaan terdiri dari beberapa periode yang bersifat diskrit
  3. Masing – masing jenis produk mempunyai waktu proses yang berbeda satu dengan yang lain
  4. Pada setiap periode tersedia jam kerja efektif yang terbatas

Elemen biaya pada model yanng dikembangkan adalah :

K= biaya set – up untuk item produk ke j

hj = biaya simpan per unit item produk ke j dari periode i ke periode i + 1

Biaya set –up bagi item produk tertentu dikenakan, jika item produk bersangkutan diproduksi pada periode i, sehingga biaya set – up dapat didefinisikan sebagai berikut :

Model ini bertujuan untuk meminimalkan total inventory cost ( yang merupakan jumlahan biaya set – up dan biaya simpan ) untuk seluruh n periode.

Adanya due date yang sama bagi semua item produk, berarti produksi yang dilakukan dari periode 1 sampai dengan n untuk item produk ke j, digunakan untuk memenuhi permintaan item produk ke j tersebut, pada akhir horizon perencanaan ( periode n ), dan adanya keinginan bahwa persediaan akhir pada horison perencanaan sama dengan nol, maka ketentuan tersebut dapat diformulasikan sebagai berikut :

Karakteristik program dinamis (skripsi dan tesis)

Suatu masalah dapat diformulasikan kedalam model programa dinamis bila memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Permasalahan dapat dibagi menjadi  tahap-tahap (stage) dengan sebuah keputusan pada setiap tahap.
  2. Setiap keputusan memiliki sejumlah status (state) yang berhubungan dengan tahap tersebut. Secara umum, status merupakan berbagai kemungkinan masukan yang ada pada system tertentu. Jumlah status bisa terbatas (finite) atau tidak terbatas (infinite)
  3. Pilihan keputusan setiap tahap adalah keputusan yang dapat dipilih untuk tahap tertentu.
  4. Solusi optimal dari masalah programa dinamis adalah sama dengan pemilihan status dari tahap yang terakhir.
  5. Hubungan rekrusif yang mengidentifikasi pilihan optimal untuk setiap status pada tahap n, memberikan pilihan optimal untuk setiap status pada tahap n + 1

is

Secara umum pada program dinamis dapat dicarikan beberapa definisi sebagai berikut :

  1. Tahap adalah bagian dari program dinamis yang menggambarkan sistem secara keseluruhan dimana keputusan harus dibuat.
  2. Status adalah bagian yang menggambarkan variabel masukan yang ada pada tahap – tahap tertentu. Status merupakan penghubung antara dua tahap karena masukan bagi tahap tertentu merupakan keluaran tahap sebelumnya.
  3. Alternatif adalah variabel keputusan pada setiap tahap yang berhubungan dengan fungsi perolehan. Variabel keputusan ini bersifat mutually exclusive.[4]

Pengertian Program Dinamis (skripsi dan tesis)

 

    Programa dinamis adalah suatu teknis matematis yang biasanya digunakan untuk membuat suatu keputusan dari serangkaian keputusan yang saling berkaitan. Tujuan utama model ini adalah untuk memudahkan penyelesaian persoalan optimasi yang mempunyai karakteristik tertentu. [ 4 ]

   Ide dasar programa dinamis ini adalah membagi persoalan menjadi beberapa bagian yang lebih kecil sehingga memudahkan penyelesaiannya. Dibanding dengan teknik pemecahan masalah yang lain (programa linier), programa dinamis ini tidak ada formulasi matematis yang standar. Karena itu, persamaan – persamaan yang terpilih untuk digunakan harus dapat dikembangkan agar dapat memenuhi masing -masing situasi yang dihadapi. Dengan demikian, maka antara persoalan yang satu dengan persoalan lainnya dapat mempunyai struktur penyelesaian.

Programa dinamis telah banyak diterapkan dalam masalah bisnis dan industri seperti : masalah scheduling produksi, pengendalian persediaan, analisa network, proyek – proyek penelitian dan pengembangan, serta employment yang kesemuanya dapat dipecahkan dengan menggunakan prosedur penyelesaian programa dinamis yang berbeda – beda tergantung pada sifat masalah optimasinya.

Struktur Persoalan Persediaan (skripsi dan tesis)

Untuk mengklasifikasikan persoalan persediaan, persoalan ini dapat ditinjau dari dua aspek yang saling berkaitan yaitu aspek permintaan bahan baku untuk sekarang atau untuk waktu yang akan datang dan aspek yang kedua adalah untuk mengadakan persediaan agar permintaan tersebut dapat dipenuhi.

Pengetahuan mengenai kebutuhan dimasa yang akan datang dapat dibagi dalam tiga kelas, yaitu:

  1. permintaan bahan baku untuk waktu yang akan datang diketahui dengan    pasti, disebut dengan persoalan persediaan denga kepastian (inventory problem under certainly).
  2. Permintaan bahan baku untuk waktu yang akan datang tidak dapat diketahui dengan pasti, tetapi hanya dapat diketahui distribusi kemungkinannya, disebut persoalan dengan resiko (inventory problem under risk).
  3. Permintaan bahan baku untuk waktu yang akan datang tidak dapat diketahui, baik jumlahnya maupun kemungkinannya disebut dengan persoalan persediaan dengan ketidakpastian (inventory problem under-uncertainty).

Ada empat unsur utama yang harus diperhatikan dengan baik dalam melakukan analisis dalam system persediaan, yaitu:

  1. permintaan, adalah suatu yang dibtuhkan oleh pemakai yang perlu dikeluarkan dari persediaan. Ukuran permintaan ada yang bersifat tetap dan ada yang berubah-ubah (bervariasi).
  2. Penambahan persediaan adalah penambahan pada persediaan yang ada pada umumnya dapat dikendalikan. Sifat penambahan pada persediaan ini ukurannya dapat tetap atau bervariasi, dapat dengan atau tanpa waktu ancang-ancang (lead time).
  3. Biaya-biaya persediaan, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan persediaan.
  4. Factor-faktor pembatas jumlah persediaan. Seperti keterangan pada unit keterbatasan tempat penyimpanan karena penambahan, keterbatasan pada penjadwalan dan tingkat persediaan. Keterbatasan permintaan seperti terjadinya kekurangan persediaan serta keterbatasan dana.

Dari uraian diatas, jelas terlihat semua itu adalah kendala yang hampir dialami oleh semua perusahaan, baik itu perusahaan yang kecil maupun yang besar sekalipun. Sebagai landasan utama dalam memecahkan masalah tersebut, perlu ditetapkan suatu kebijakan perusahaan terutama dalam persediaan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut ada empat kebijakan yang perlu dilakukan dengan standar kualitas:

  1. Persediaan Minimum (Minimum Point)

            Persdiaan minimum merupakan batas jumlah persediaan yang paling rendah atau kecil yang harus ada untuk suatu jenis bahan atau barang untuk menghindari terjadinya kekurangan bahan/persediaan (stock out). Untuk mengatasi hal tersebut persediaan minimum ini merupakan cadangan untuk menjamin keselamatan operasi atau kelancaran produksi perusahaan, oleh karena itu persediaan ini persediaan penyelamat (safety stock). Jadi besarnya persediaan minimum hendaknya sama besarnya persediaan penyelamat.

  1. Besar Standar Pesanan (standar Order)

            Yang dimaksud dengan pesanan standar adalah banyaknya bahan yang dipesan dalam jumlah yang tetap dalam satu periode yang telah ditetapkan, misalnya satu tahun. Pemesanan ini sering disebut juga dengan jumlah pemesanan yang ekonomis (economic order quantity), dimana hal ini dimaksudkan untuk meminimumkan yang terkandung dalam persediaan. Biaya-biaya tersebut adalah biaya pemesanan (ordering cost) dan biaya penyimpanan (carrying cost). Untuk meminimumkan biaya persediaan, maka idealnya adalah biaya pemesanan tersebut sama dengan biaya penyimpanan.

  1. Persediaan maksimum (maximum Points/Stock)

            Persediaan maksimum merupakan batas jumlah persdiaan yang paling besar yang sebaiknya dapat diadakan oleh perusahaan. Batas persediaan maksimum tidak didasarkan pada pertimbangan efektifitas dan efisiensi kegiatan perusahaan. Adapun maksud dari persediaan ini adalah agar perusahaan dapat menghindari kerugian-kerugian karena kekurangan bahan (stock out) dan tidak melakukan pengadaan yang berlebihan, yang dapat menimbulkan pengeluaran biaya banyak. Adapun besarnya persediaan maksimum yang sebaiknya dimilki oleh perusahaan adalah jumlah dari pesanan standar (standar order) ditambah dengan besranya biaya penyelamat (safety order). Dengan diketahui besarnya biaya maksimum, maka akan dapat membantu pimpinan perusahaan dalam menentukan besarnya investasi maksimum yang perlu disediakan untuk bahan-bahan tertentu yang dibutuhkan.

  1. Titik pemesanan Kembali ( Reorder Point/Level)

            Titik pemesana kembali adalah suatu titik atau batas dari jumlah persediaan yang ada pada suatu saat dimana pemesanan harus diadakan kembali. Dalam menentukan titik ini harus diperhatikan besarnya penggunaan bahan selama bahan-bahan yang dipesan belum datang dan persediaan minimum. Besarnya penggunaan selama bahan-bahan yang dipesan belum diterima ditentukan oleh dua factor, yaitu lead time dan tingkat penggunaan rata-rata.

Pengawasan dan Tujuan Persediaan (skripsi dan tesis)

  1. Pengertian Pengawasan Persediaan

Pengawasan persediaan adalah suatu kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposits dari parts atau bagian., bahan baku dan barang hasil poduksi, sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi dan penjualan serta kebutuhan-kebutuhan pembelanjaan perusahaan yang efektif dan efisien.

Pengawasan persedian dengan serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi dan berapa besar pesanan yang harus dilakukan.

  1. Tujuan Pengawasan Persediaan

Tujuan pengawasan persediaan:

1). Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi.

2). Menjaga agar pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak telalu besar atau berlebih-lebihan, sehingga biaya-biaya yang timbul dari persediaan tidak terlalu besar.

3). Menjaga agar pembeliaan secara kecil-kecilan dapat dihindari karena ini akan berakibat biaya pemesanan menjadi besar.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persediaan (skripsi dan tesis)

Ada beberapa macam faktor yang mempengaruhi penyelenggaraan persediaan untuk kepentingan proses produksi dalam suatu perusahaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan tersebut saling berkaitan, sehingga faktor-faktor ini akan mempengaruhi persediaan bahan baku yang ada dalam perusahaan tersebut.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan tersebut adalah:

  1. Perkiraan Pemakaian Bahan Baku

Sebelum perusahaan yang bersangkutan ini melakukan pembelian bahan baku, sebaiknya manajemen perusahaan ini dapat memperkirakan pemakaian bahan baku tersebut untuk keperluan proses produksi tersebut dalam perusahaan yang bersangkutan. Berapa banyaknya bahan baku tiap unit yang akan dipergunakan untuk untuk setiap kali produksi ataupun tiap periode produksi. Dengan demikian maka manajemen akan mempunyai gambaran tentang pemakaian bahan baku untuk melaksanakan proses produksi pada produksi atau periode produksi yang akan datang, baik dalam jenis bahan baku maupun jumlah bahan baku dari masing-masing jenis tersebut.

Supaya dapat memperhitungkan pembelian bahan baku dari tiap-tiap jenis bahan baku yang dipergunakan tersebut, maka manajemen perusahaan tersebut akan mempunyai gambaran tentang pemakaian bahan baku untuk melaksanakan proses produksi pada periode yang akan datang, baik dalam jenis bahan baku maupun jumlah bahan baku dari masing-masing jenis produk.

  1. Harga Bahan Baku

Harga bahan baku yang akan dipergunakan dalam proses produksi terhadap persediaan bahan baku yang dilakukan dalam perusahaan  akan menjadi factor penentu seberapa besarnya dana yang harus disediakan oleh perusahaan apabila akan melakukan persediaan atau pembelian bahan baku.

  1. Biaya-Biaya Persediaan

Dalam pelaksanaan penyediaan bahan baku di perusahaan, tidak akan lepas dari adanya biaya-biaya persediaan bahan baku yang harus ditanggung oleh perusahaan. Dalam hubungannya dengan biaya-biaya persediaan ini, maka dikenal 3 macam biaya persediaan yaitu biaya pemesanan, biaya penyimpanan, dan biaya tetap.

  1. Kebijaksanaan Pembelanjaan

Kebijakan pambelanjaan di dalam perusahaan akan mempengaruhi kebijakan pembelian dalam perusahaan yang bersangkutan tersebut. Demikian pula dalam pelaksanaan persediaan bahan baku di “WL” akan dipengaruhi oleh kebijaksanaan pembelanjaannya.

  1. Pemakaian Bahan

Pemakaain bahan baku perusahaan di periode-periode yang telah berlalu untuk keperluan proses produksi akan dapat digunakan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam penyediaan bahan baku tersebut.

  1. Waktu Tunggu

Yang dimaksud waktu tunggu atau lead time disini adalah waktu tunggu bahan baku dari mulai dipesan sampai bahan baku tersebut datang. Waktu tunggu ini sangat perlu untuk diperhatikan, karena sangagat berpengaruh pada proses produksi.

  1. Model Pembeliaan Bahan Baku

Model pembeliaan bahan baku di perusahaan akan menentukan besar kecilnya persediaan bahan baku yang dilakukan dalam perusahaan. Pemilihan model pembelian bahan baku, tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada dalam intern perusahaan.

  1. Persediaan Pengaman

            Pada umumnya untuk menanggulangi adanya kehabisan bahan baku dalam perusahaan maka perusahaan yang bersangkutan akan mengadakan persediaan pengamanan (safety stock). Persediaan pengaman ini akan digunakan perusahaan apabila terjadi kekurangan bahan baku atau keterlambatan datangnya bahan baku yang dibeli oleh perusahaan sehingga proses produksi yang berlangsung dalam perusahaan tidak terganggu karena kekurangan bahan baku. Persediaan pengaman ini jumlahnya tertentu, dimana jumlah ini akan merupakan suatu jumlah yang tetap pada periode yang telah ditentukan sebelumnya.

  1. Pembelian Kembali

Persediaan bahan baku dalam suatu perusahaan tidak akan memadai jika dilaksanakan dlam sekali pembelian. Hal ini berkaitan dengan biaya-biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan bahan baku, bahan pembantu, maupun untuk fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan perusahaan. Dalam melaksanakan pembelian kembali (reorder Point) perusahaan akan memperhatikan waktu tunggu (lead time) yang diperlukan dalam pembelian bahan baku tersebut sehingga bahan baku yang dibeli dapat sampai kegudang dengan waktu yang tepat.[ 2 ]

Jenis Persediaan (skripsi dan tesis)

    1. Persediaan menurut fungsinya.

Persediaan dapat dibedakan menurut fungsinya sebagai berikut:

1). Batch stock atau Lot Size Inventory

Yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu. Jadi dalam hal ini pembelian atau pembuatan yang dilakukan untuk jumlah besar, sedang penggunaan atau pengeluaran dalam jumlah kecil. Terjadinya persediaan karena pengadaan bahan atau barang yang dilakukan lebih banyak dari yang dibutuhkan.

2). Fluctuation Stock

Persediaan yang yang disediakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan. Dalam hal ini perusahaan mengadakan persediaan untuk dapat memenuhi permintaan konsumen, apabila tingkat permintaan menunjukan keadaan yang tidak beraturan atau fluktuasi permintaan tidak dapat diramalkan.

3). Antisipation Stock

Persediaan yang dilakukan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan permintaan yang meningkat.

Disamping itu anticipation stock dimaksudkan pula untuk menjaga kemungkinan sukarnya diperoleh bahan-bahan sehingga tidak menggangu jalannya produksi atau menghindari kemacetan produksi.

    1. Jenis Persediaan Secara Fisik

Jenis persedian secara fisik dapat dibedakan atas:

1). Persediaan bahan mentah (raw materials), yaitu persedian barang-barang berwujud seperti kayu, besi, dan komponen-komponen lainnya yang digunakan dalam proses produksi. Bahan mentah dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau dari supplier atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi selanjutnya.

2). Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts), yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain, dimana secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk.

3). Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplier), yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen barang jadi.

4). Persediaan barang dalam proses (work in process), yaitu persediaan barang-barang yang merupakan keluaran tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.

5). Persediaan Barang jadi ( Finished goods ), yaitu persediaan barang – barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim kepada pelanggan.[ 3 ]

Arti Perencanaan dan Persediaan (skripsi dan tesis)

Perencanaan merupakan usaha menentukan tujuan, sedangkan pengawasan diperlukan pada tiap-tiap kegiatan yang diadakan agar tindakan-tindakan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pengawasan selalu dihubungkan dengan perencanaan. Pengawasan tidak dapat diadakan tanpa adanya perencanaan, sebaliknya perencanaan dapat dilakukan tanpa pengawasan.

Istilah persediaan sendiri adalah suatu istilah umum yang menunjukan segala sesuatu atau sumber daya yang disimpan untuk memenuhi atau mengantisipasi terhadap permintaan. Persediaan ini meliputi bahan mentah, barang setengah jadi, ataupun barang-barang jadi yang menjadi kebutuhan dari perusahaan.

Banyak dari organisasi-organisasi lain yang menyimpan jenis-jenis persediaan dalam bentuk yang lain seperti uang, peralatan kerja, dan lain-lain untuk memenuhi permintaan akan produk ataupun jasa. Sumber daya-sumber daya ini sering dapat dikendalikan lebih efektif melalui penggunaan berbagai system dan model manajemen persediaan.

Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan yang yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi dan dan berapa besar pesanan harus dilakukan. Sistem ini bertujuan untuk menetapkan dan menjamin tersedianya sumber daya yang tepat. Sistem dan model persediaan bertujuan untuk meminimumkan biaya total melalui penentuan apa, berapa, dan kapan pesanan dilakukan secara optimal. [ 1 ]

Sistem Kontrol (skripsi dan tesis)

Sistem kontrol adalah suatu sistem yang membahas tindakan manusia untuk merubah keadaan mesin.

Sistem kontrol bisa dihubungkan dengan permesinan, pneumatik, hydraulik, atau sistem­-sistem elektrik. Sebagian dari sistem teknologi, sistem kontrol seringkali dirancang untuk membuat mesin menjadi lebih canggih dibandingkan dari manusianya. Beberapa kesalahan umum pada perancangan sistem kontrol adalah :

  • Fungsi kontrol tidak jelas.
  • Membutuhkan terlalu banyak cara pengoperasian.
  • Petunjuk pengoperasian yang tidak standard atau tidak layak.
  • Lokasi yang tidak semestinya agar pengontrolan mesin mudah diamati.
  • Dapat dioperasikan dengan kurang hati-hati.
  • Tidak ada umpan balik atas respon pengoperasian kontrol.
  • Dalam posisi yang tidak standard.

Ini semua dan problem-problem yang lain dapat dihindari degan mengikuti prinsip-prinsip umum dari rancangan berikut :

  1. Definisi Fungsi Kontrol. Apakah yang akan dilakukan terhada mesin dan jenis masukan mana yang diperlukan, misalnya : ketelitian, kecepatan dan kekuatan dari gerakan operator. Penglihatan atau kemampuan untuk melihat dan posisi dari kontrol dalam hubungannya dengan pandangan lain dan keperluan manusia dalam pekerjaan. Kesinambungan gerakan-gerakan  atau gerakan-gerakan terpisah di antara pemberhentian (stop).
  2. Ketentuan pada bagian tubuh digunakan untuk mengoperasikan kontrol dan rancangannya disesuaikan (gambar 2.7) untuk  ketelitian yang tinggi dalam menggunakan tombol-tombol yang dapat dioperasikan melalui jari-jemari dan pergelangan tangan, tenaga yang kuat, ketelitian yang rendah dalam menggunakan pengungkit, pedal, dan sebagainya, dapat dioperasikan dengan tangan dan kaki.
  3. Menempatkan atau menentukan tempat kontrol dengan tepat dalam sudut pandang bagian-bagian tubuh yang akan digunakan. Arah atau petunjuk gerakan kontrol seharusnya juga dipilih untuk disesuaikan dengan fungsi anatomi manusia.
  4. Jarak atau ruang kontrol untuk menghindari kecelakaan alam pengoperasian atau gangguan dari beberapa bagian lain di tempat kerja. Secara nyata, jari-jemari (tangan) mengoperasikan kontrol lebih rapat jaraknya dari pada menggunakan tenaga pegangan. Bahkan kontrol dengan menggunakan ujung jari kadang-kadang sangat rapat,contohnya : tombol atau tuts-tuts pada kalkulator kecil.
  5. Lindungi kontrol dimana kecelakaan pada waktu pengoperasian akan membahayakan, contoh : tombol-­tombol start seharusnya dilindungi oleh lingkungan sekelilingnya dimana dengan hanya membiarkan ujung jari yang masuk. Dengan demikian tidak akan dioperasikan oleh penyikatan yang dapat menyebabkan kecelakaan atau yang yang lebih kecil dari itu.
  6. Tempat kontrol agar dapat dioperasikan dengan nyaman ketika operator mempunyai pandangan yang penuh terhadap situasi mesin yang sedang dikontrol.
  7. Penentuan tempat dan pengenalan kontrol membuat pergerakan- pergerakan mereka dapat digabungkan dengan gerakan mesin yang sedang dikontrol atau beberapa display atau peragaan yang digabungkan, contohnya pergerakan mesin pengungkit naik untuk mengangkat atau menaikkan beberapa bagian mesin, dan turun untuk menurunkan atau merendahkannya. Sejauh display-display tersebut dihubung­kan, suatu prinsip umum yang lebih tertuju pada display yang sama akan bergerak dalam arah yang sama seperti permukaan tombol kontrol yang paling dekat dengannya (gambar 2.8). Bagian ini, berputar menurut arah putaran jarum jam, umumnya digunakan untuk meningkatkan suatu jumlah atau kuantitas.
  8. Dimana tata letak yang standard untuk kontrol yang ada, akan ditempatkan menurut posisi yang sesuai.
  9. Mempertimbangkan apakah ada populasi dengan bentuk yang tetap yang akan mempengaruhi cara-cara manusia yang akan mencoba lebih alami untuk mengoperasikan kontrol (stereotype), contoh : saklar lampu, kran-kran, pedal kendaraan, tombol-tombol dan volume radio.
  10. Menggunakan tipe kontrol yang tidak stabil dimana penempatan ketelitian diperlukan, tetapi sesuai penyesuaian daerah yang lebar, termasuk sejumlah putaran juga diperlukan, contohnya: penempatan kontrol untuk meja mesin milling
  11. Menggunakan kontrol penyesuaian yang terpisah (bunyi berhenti) atau susunan tombol-tekan lebih baik dari pada kontrol yang berkesinambungan ketika suatu nilai terpisah harus selalu ditempatkan, contoh : menyetel radio atau televisi.
  12. Menggunakan kontrol yang berkesinambungan hanya ketika menyesuaikan ketepatan atau menempatkan jumlah yang besar dan terpisah yang lebih dipentingkan (katakanlah lebih dari 20). Penyesuaian yang berkesinambungan memerlukan putaran yang tepat, diikuti oleh gerakan-gerakan yang sesuai dan baik. lni dapat dijadikan waktu pemakaian (time consum­ing) dan memerlukan suatu perubahan tekanan diatas kontrol. Meminimumkan reaksi yang salah dalam kontrol yang berkesinambungan.
  13. Membuat kontrol lebih mudah diidentifikasikan. Penggunaan simbol-simbol standard identifikasi dalam bentuk tertentu. Dalam pelabelan (penamaan) kontrol pada suatu alat atau instrument dijamin ada ketidak-ambigiusan (tidak mempunyai dua arti) tentang penamaan yang menunjukkan kontrol. Apabila operator sedang melihat kebawah terhadap alat-alat atau instrument-instrument (pada seluruh atau sebagian besar perintah), label atau penamaan  diletakkan diatas tambol atau saklar
  14. Dalam suatu panel pengontrol, secara fungsional kombinasi kontrol-kontrol harus dioperasikan dalam suatu susunan. Dalam panel-panel ini, kontrol harus juga dihubungkan secara dekat dengan display-display yang sesuai.
  15. Memperlengkapi beberapa umpan balik pada operator karena gerakan kontrol sudah cukup dan telah terdaftar pada mesin, contoh :
  • Sebuah lampu pembatas atau dikombinasikan dengan kontrol masuk.
  • Sebuah suara elektrik yang dapat didengar.
  • Sebuah bunyi mekanik yang tersendiri.
  • Sebuah perubahan rasa yang jernih dalam gaya pengoperasian.
  1. Membangun beberapa ketahanan (resistan) pada kontrol dengan cara lain juga memelihara atau mengontrol ditempat yang terang dan keras. Ketahanan gerak dari kontrol, mungkin juga menjadi suatu umpan-balik yang berguna, contohnya: setir mobil dan tekanan progresif pada beberapa sistem pengereman.

Sinyal Cahaya (skripsi dan tesis)

Sinyal cahaya (warna) sering digunakan untuk mengidentifikasi status dari suatu sistem (seperti ON atau OFF) atau untuk memberikan peringatan kepada operator sistem tersebut bahwa suatu bagian tidak berjalan dan memerlukan tindakan khusus. Tanda darurat (emergency) lebih baik menggunakan sinyal peringatan suara disertai dengan cahaya yang berkelap kelip (operator mungkin menjawab keadaan darurat dengan mematikan salah satu sinyal).

Perbandingan dari Beberapa Perancangan Alat Peraga (skripsi dan tesis)

Selama bertahun-tahun telah dilakukan beberapa penelitian yang mengamati sejumlah alat peraga tertentu untuk dibandingkan satu dengan yang lainnya. Walaupun hasil pengamatan tersebut berbeda antara satu dengan lainnya, seperti misalnya untuk beberapa penggunaan alat peraga numerik/digit (disebut juga sebagai counters) adalah lebih baik daripada alat peraga analog (seperti misalnya yang berskala dan berbentuk bundar, horisontal, dan vertikal) jika beberapa kondisi berikut diinginkan : (1) dibutuhkan nilai numerik yang presisi, (2) nilai yang ditunjukkan adalah cukup jelas untuk dibaca (tidak berubah secara kontinu). Seperti misalnya, pada studi yang dilakukan oleh Simmonds, Galer, dan Baines (1981).

Mereka membandingkan beberapa digital speedometer yang dilengkapi dengan tiga jarum penunjuk alat peraganya dan sebuah alat peraga yang melengkung (curvilinier display). Semua desain yang dipakai dijalankan sccara elektronik, dua dari jarum penunjuknya tersebut dan curvilinier display-nya menggunakan bar dan tidak menggunakan jarum penunjuk untuk menggambarkan nilai numeriknya. Dari eksperimen tersebut ditemukan bahwa digital dis­play lebih baik daiam hal ketepatan baca dan pemilihan.

Walaupun digital dis­play mempunyai beberapa keunggulan untuk mendapatkan nilai numerik tertentu yang mempunyai kecenderungan telaah lama untuk dapat dibaca , analog display mempunyai keuntungan dari sudut lain. Fixed scale moving pointer dis­play misalnya, akan sangat menguntungkan jika nilai-nilainya sering berubah secara kontinyu yang akan mengesampingkan penggunaan dari digital display (karena keterbatasan waktu untuk pembacaan berbagai nilai tertentu).

Sebagai informasi tambahan bahwa analog display seperti yang telah disebutkan di atas mempunyai suatu keuntungan yang positif untuk mengamati arah atau kecepatan perubahan nilai variabel yang ditunjukkan. Secara umum analog display dengan fixed scale dan moving pointer adalah lebih baik dari moving scale dan fixed pointer.

Dalam hal ini Heglin (1973) memberikan beberapa alternatif pertimbangan untuk pemilihan alat peraga analog sebagai berikut:

  1. Secara umum, dipilih jarum penunjuk bergerak dengan skala tetap (moving pointer, fixed scale).
  2. Jika nilai dari variabel numerik lebih ditonjolkan seperti misalnya : “lebih-kurang” atau “atas-bawah”. Hal ini lebih mudah untuk diinterpretasikan dengan bantuan “garis-lurus” atau ” skala termometer” dengan jarum penunjuk bergerak (moving pointer) (lihat gambar 2.4 d dan e).
  3. Tidak dicampur-adukkan berbagai macam penggunaan indikator skala dan jarum penunjuknya, untuk menghindari kesalahan baca yang diakibatkan informasi yang bersifat antagonis (berlawanan).
  4. Agar didapat kompatibilitas yang tinggi, maka arah gerakan dari kontrol/ pcngendali dan alat peraga (display)nya harus jelas.
  5. Perubahan pergerakan/perubahan variabel kuantitas adalah penting bagi pengamat, lebih-lebih juka dengan menggunakan jarum pcnunjuk yang bergerak (moving pointer).
  6. Jika diinginkan adanya nilai numerik, maka skala bergerak (moving scale) pada open window dapat dibaca lebih cepat. (Skala seperti yang dimaksud adalah lebih baik jika digital atau counter, display) (lihat gambar 2.4 j, k, l, dan m).

Alat Peraga Visual Kualitatif (skripsi dan tesis)

Pada penggunaan alat peraga untuk mendapatkan informasi kualitatif, operator biasanya lebih tertarik pada nilai approksimasi dari variabel yang kontinyu seperti misalnya temperatur, tekanan, kecepatan, dan pada perubahan variabel nilainya. Namun bagaimanapun juga dasar pemikiran untuk desain alat peraga visual kualitatif adalah pada desain yang kuantitatif juga.

Alat Peraga Visual Kuantitatif (skripsi dan tesis)

Tujuan dari alat peraga kuantitatif adalah untuk memberikan informasi tentang nilai kuantitatif dari suatu variabel. Pada kebanyakan kasus, variabel tersebut selalu berubah atau paling tidak mempunyai kecenderungan untuk berubah misalnya : kecepatan dan temperatur. Dalam penggunaan alat peraga kuantitatif ada suatu tingkat kepresisian yang disebut dengan satuan skala.

Alat peraga kuantitatif yang konvensional adalah merupakan salah satu bentuk peralatan mekanis yang ada di bawah ini :

  1. Skala tetap dengan jarum penunjuk berputar (Fixed scale with moving pointer).
  2. Skala berputar dengan jarum penunjuk tetap (Moving scale with fixed pointer).
  3. Alat peraga numerik (Digital display).

Dua alat peraga yang pertama adalah indikator analog (analog indicators) karena posisi jarum penunjuknya analog dengan besarnya nilai yang ditunjukkan. Walaupun alat peraga kuantitatif yang konvensional, mempunyai bagian mekanis yang bergerak (jarum penunjuk, skala, atau nilai numerik), namun teknologi modern telah membuat suatu kemungkinan baru untuk menyajikan dalam bentuk elektronik, sehingga dapat mengurangi kebutuhan untuk masalah pengadaan komponen mekanisnya

Alat Peraga (Display) (skripsi dan tesis)

Alat peraga menyampaikan informasi kepada organ tubuh manusia dengan berbagai macam cara. Penyampaian informasi tersebut didalam “sistem manusia-mesin” adalah merupakan, suatu proses yang dinamis dari suatu presentasi visual indera penglihatan. Disamping itu keterandalan proses tersebut akan sangat banyak dipengaruhi oleh desain dari alat peraganya.

Display berfungsi sebagai suatu “sistem komunikasi” yang menghubungkan antara fasilitas kerja maupun mesin kepada manusia. Adapun yang bertindak sebagai mesin dalam hal ini adalah stasiun kerja dengan perantaraan alat peraga, sedangkan manusia disini berfungsi sebagai operator yang dapat diharapkan untuk melakukan suatu respon yang diinginkan.

Manusia Sebagai Komponen Sistem Interaksi Manusia-Mesin (skripsi dan tesis)

Sistem interaksi manusia-mesin disini ialah kombinasi antara satu atau beberapa manusia dengan satu atau beberapa “mesin” dimana salah satu mesin dengan lainnya saling berinteraksi untuk menghasilkan keluaran-keluaran berdasarkan masukan-masukan yang diperoleh.

Yang dimaksud dengan “mesin” dalam rangka ini adalah mempunyai arti luas, yaitu mencakup semua obyek fisik seperti peralatan, perlengkapan, fasilitas dan benda-benda yang bisa digunakan oleh manusia dalam melaksanakan kegiatannya.

Penyelidikan terhadap manusia-mesin didasarkan atas suatu kenyataan bahwa antara manusia dan mesin, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan artinya ada beberapa pekerjaan yang akan lebih baik jika dikerjakan oleh manusia dan sebaliknya ada beberapa bidang pekerjaan yang lebih baik jika dikerjakan oleh mesin.

Masing-masing perbedaan kemampuan diatas bisa saling melengkapi, dan adalah tugas para perancang untuk menyeimbangkannya. Kelebihan utama dari manusia dibandingkan mesin ialah sifatnya yang mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Manusia bisa berubah peranannya dengan cepat dan teratur, sehingga memungkinkan untuk bekerja dalam kondisi bagaimanapun. Tetapi sifat yang berubah-ubah dari manusia ini juga menunjukan kelemahannya; cara menghadapi suatu masalah yang sekarang belum tentu sama dengan cara yang mungkin dilakukan kemudian hari. Keadaan ini akan menimbulkan ketidak menentuan jalannya suatu sistem. Dengan kata lain, secara keseluruhan, sistem manusia-mesin dipengaruhi oleh kemampuan dan keterbatasan manusia. Sehingga dengan mempelajari “manusia sebagai salah satu komponen sistem manusia-mesin”, diharapkan akan bisa meletakkan fungsi manusia dengan segala kemampuan dan keterbatasannya, dalam hubungan untuk merancang sistem manusia-mesin yang terdiri dari manusia, peralatan dan lingkungan kerja sedemikian rupa sehingga memberikan hasil akhir secara keseluruhan yang optimal.

Diatas sudah dikatakan bahwa untuk bisa menerapkan ergonomi, perlu informasi yang lengkap mengenai kemampuan manusia dengan segala keterbatasannya. Salah satu usaha untuk mendapatkan infomnasi-informasi ini, telah banyak dilakukan penyelidikan-penyelidikan dan dalam buku ini pembahasannya akan dilakukan menurut empat kelompok besar sebagai berikut:

  1. Penyelidikan tentang display

Yang dimaksud dengan display disini adalah bagian dari lingkungan yang mengkomunikasikan keadaannya kepada manusia. Contohnya: kalau kita ingin mengetahui berapa kecepatan motor yang sedang kita kemudikan, maka dengan melihat jarum speedometer, kita akan mengetahui keadaan lingkungan: dalam hal ini kecepatan motor.

  1. Penyelidikan mengenai hasil kerja manusia dan proses pengendaliannya.

Dalam hal ini diselidiki tentang aktifitas-aktifitas manusia ketika bekerja dan kemudian mempelajari cara mengukur dari setiap aktifitas tersebut, dimana penyelidikan ini banyak berhubungan dengan biokmekanik.

  1. Penyelidikan mengenai tempat kerja.

Agar diperoleh tempat kerja yang baik, dalam arti kata sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan manusia, maka ukuran-ukuran dari tempat kerja tersebut harus sesuai dengan tubuh manusia. Hal-hal yang bersangkutan dengan tubuh manusia ini dipelajari dalam anthropometri.

  1. Penyelidikan mengenai lingkungan fisik.

Yang dimaksud dengan lingkungan fisik disini meliputi ruangan dan fasilitas-fasilitas yang biasa digunakan oleh manusia, serta kondisi lingkungan kerja yang kedua-duanya banyak mempengaruhi tingkah laku manusia.

 Interaksi antara manusia dengan mesin selalu ada dalam setiap pekerjaan, dimana manusia akan memberikan instruksi dan mesin akan melakukan pekerjaannya. Selain melakukan pekerjaan, mesin juga akan memperlihatkan kemajuan pekerjaannya dengan sederetan informasi kepada manusia. Dapat terlihat bahwa dalam sistem manusia-mesin terdapat dua interface penting dimana ergonomilah yang memegang peranan penting di dalam hubungan tersebut. Interface pertama adalah display yang dapat menghubungkan kondisi mesin pada manusia, kemudian interface kedua adalah kontrol yang mana manusia dapat menyesuaikan respon dengan feedback yang diperoleh dari display tadi. Jadi antara display dan kontrol harus terdapat interaksi yang saling menyesuaikan.

Persentil (skripsi dan tesis)

Dalam melakukan desain terhadap mesin atau alat-alat yang akan berinteraksi dengan manusia pada saat manusia akan melakukan pekerjaannya, diperlukan data-data dimensi tubuh dalam menentukan ukuran dari mesin atau alat-alat tersebut. Data yang dikumpulkan bergantung dari tujuan desain yang akan dilakukan baik itu yang berorientasi kepada pengguna yang terdiri dari orang tertentu saja, atau yang berorientasi pada masyarakat umum. Jika desain terhadap alat-alat ditujukan kepada orang atau kelompok orang tertentu, maka kegiatan ini disebut sebagai  user center design. Sedangkan jika hasil desain ditujukan kepada masyarakat umum, maka disebut sebagai human center design.

Dari sekian banyak data dimensi tubuh yang dikumpulkan tentunya memiliki sebaran data yang tidak sama satu dengan yang lainnya, hal ini disebabkan oleh diemnsi tubuh dari setiap orang berbeda-beda. Ada orang yang memiliki dimensi tubuh yang ekstrim besar, ada yang memiliki dimensi tubuh yang ekstrim kecil, dan yang paling banyak tentunya orang dengan dimensi tubuh yang normal atau rata-rata.

Adanya perbedaan dimensi tubuh ini mengakibatkan sangat susah untuk menentukan ukuran tubuh yang mana yang akan dijadikan sebagai patokan dalam melakukan desain terhadap mesin atau alat-alat bantu bagi manusia dalam melakukan pekerjaannya.

Menentukan nilai ukuran tidak dapat dilakukan dengan menggunakan nilai rata-rata saja sebab bagi orang-orang yang memiliki dimensi tubuh yang lebih besar atau lebih kecil akan merasa kesulitan dalam menggunakannya. Meminimasi keadaan seperti ini diperlukan persentil.

Cara-cara perhitungan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara sederhana dan secara lengkap :

  1. Cara sederhana adalah dengan mengurutkan data tersebut dari yang terkecil sampai yang terbesar. Kemudian menghitung persentil dari P5, P50, dan P95.

Langkah-langkah perhitungan persentil cara sederhana adalah sebagai berikut:

  1. Mencari data minimum (X)
  2. Mencari data maksimum (Y)
  3. Menghitung range (R)

R = Y – X

  1. Menghitung persentil Pn = (R x n%) + X

P5 = (Range x 5%) + data minimum

P50 = (Range x 50%) + data minimum

P95 = (Range x 95%) + data minimum

  1. Cara lengkap adalah dengan tidak mengurutkan data tersebut dahulu melainkan dengan cara langsung menghitung persentil dari P5, P50, dan P95.