Kualitas (skripsi dan tesis)

Kualitas memiliki banyak definisi yang berbeda dan bervariasi dari yang konvensional sampai yang strategis. Kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi kebutuhan pelanggan (Gazpersz,1997), sebagai faktor yang terdapat dalam suatu barang atau hasil yang menyebabkan barang tersebut sesuai dengan tujuan keberadaan barang itu (Assauri,1993). Menurut Tampubolon (2001), pengertian kualitas adalah paduan sifat-sifat produk yang menunjukkan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan pelanggan langsung atau tak langsung, baik kebutuhan yang dinyatakan maupun yang tersirat, masa kini dan masa depan.

Beberapa dimensi atau atribut yang diperhatikan dalam perbaikan kualitas jasa antara lain:

  1. Ketepatan waktu pelayanan
  2. Akurasi pelayanan
  3. Kesopanan dan kehormatan dalam memberikan pelayanan
  4. Tanggung jawab
  5. Kelengkapan
  6. Kemudahan pelayanan
  7. Variasi model pelayanan

Model Dalam Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Permodelan merupakan elemen kunci dalam Sistem Pendukung Keputusan. Model merupakan konseptualisasi dari suatu masalah dengan mencoba mengabtraksikanya dalam bentuk kuantitatif maupun kualitatif. Dengan model kita mencoba mendekati masalah sebenarnya dengan melakukan beberapa penyerderhanaan melalui pernyataan asumsi. Penyederhanaan dilakukan dengan tujuan memperpendek waktu mencapai solusi masalah dan mengurangi biaya yang perlu dikelurkan, tapi dengan tetap usaha seoptimal mungkin menyerupai masalahnya. [9]

Model secara umum terdiri dari: [9]

  1. Variabel Keputusan,yaitu variabel yang berada dibawah control pemegang keputusan yang nilainya ditentukan oleh sipemegang keputusan, contohnya adalah nilai anggaran, waktu proses, jumlah produk, jenis produk dan lain-lain.
  2. Variabel diluar Kontrol, yaitu variabel yang berada diluar control pemegang keputusan namun mempengaruhi keluaran dari model, contohnya adalah tingkat inflasi, strategi pesain, pertumbuhan teknologi dan lain-lain.
  3. Variabel Hasil, yang merupakan keluaran dari model yang ditentukan oleh variabel keputusan variabel diluar control, contonya adalah nilai keuntungan, nilai return on investment, kapasitas produksi, harga produk dan lain-lain

Ada beberapa jenis model matematika yang dominan dipakai oleh Sistem Pendukung Keputusan dapat dikelompokkan menjadi 3 dimensi, yaitu: [9]

Model Statis atau Dinamis

Kelompok ini dibuat berdasarkan dimensi waktu.

  1. Model Statis

Tidak menyertakan waktu sebagai variabel, sementara model dinamis menggunakan waktu sebagai variabel. Jadi pada model dinamis outputr yang dihasilkan bias berbeda pada waktu yang berbeda.

  1. Model Probabilistik Atau Deterministik

Kelompok ini dibuat berdasarkan tingkat keyakinan. Model probabilistik menyertakan kemungkinan atau peluang terjadinya suatu kejadian, yaitu peluang 0 berarti kejadian tidak akan terjadi sama sekali, peluang 1 berarti kejadian pasti akan terjadi, atau peluang 0,5 berarti 50% bias terjadi, 50% bias tidak terjadi. Sementara model deterministik tidak menyertakan kemungkinan yang berarti peluang 1.

  1. Model Optimisasi atau Suboptimisasi

Kelompok ini berdasarkan kemampuan model dalam memberikan solusi. Model optimisasi ditujukan untuk memilih solusi terbaik dari alternatif yang ada. Sementara model suboptimisasi hanya mensimulasikan alternatifkeputusan yang telah ditentukan oleh pengambil keputusan.

Langkah-langkah Pembangunan Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya, untuk membangun suatu SPK dikenal 8 tahapan sebagai berikut: [10]

  1. Perencanaan

Pada tahap ini, yang paling penting dilakukan adalah perumusan masalah serta penentuan tujuan dibangunnya SPK

  1. Penelitian

Berhubungan dengan pencarian data serta sumber daya yang tersedia.

  1. Analisis

Dalam tahap ini termasuk penentuan teknik pendekatan yang akan dilakukan serta sumber daya yang dibutuhkan

  1. Perancangan

Pada tahap ini dilakukan perancangan dari ketiga subsistem utama SPK yaitu subsistem Database, subsistem Model dan subsistem Dialog.

  1. Konstruksi

Tahap ini merupakan kelanjutan dari perancangan, dimana ketiga subsistem yang dirancang digabungkan menjadi suatu SPK.

  1. Implementasi

Tahap ini merupakan penerapan SPK yang dibangun.

  1. Pemeliharaan

Merupakan tahap yang harus dilakukan secara terus menerus untuk mempertahankan keandalan sistem.

  1. Adaptasi

Dalam tahap ini dilakukanb pengulangan terhadap tahapan diatas sebagai tanggapan terhadap perubahan kebutuhan ‘pengguna’.

Teknik Perancangan Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Dalam merancang serta menggunakan sistem pendukung keputusan dikenal tiga tingkatan teknologi : [10]

  1. Sistem Pendukung Keputusan Spesifik (SPKS)/ Spesifik Decision Support Systems (SDSSS).

Sistem Pendukung Keputusan Spesifik adalah sistem yang ditujikan untuk membantu pemecahan serangkaian masalah yang memeliki karakteristik tertentu .

  1. Pembangkitan Sistem Pendukung Keputusan/ Decision Support Systems Generator(DSSG).

Pembangkitan Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support Systems Generator) merupakan perangkat lunak untuk pengembangan Sistem pendukung Keputusan.

  1. Perlengkapan Sistem Pendukung Keputusan/ Decision Support Systems Tools(DSST)

Sistem ini merupakan teknologi yang paling dasar dalam merancang dan membangun Sistem Pendukung Keputusan

 Dalam proses modifikasi ada lima fungsi yang harus bekerja sama dengan baik yaitu: [10]

  1. Manajer

Manajer atau pengguna adalah orang yang berhadapan dengan masalah atau keputusan.

  1. Penghubung

Orang yang membantu pengguna, seperti staf pimpinan, yang bertugas sebagai pemberi saran atau informasi, serta menerjemahkan kebutuhan manajer pada perancang.

  1. Perancang

Fasilitator yang menggabungkan kemampuan dari pembangkit SPK untuk menghasilkan suatu SPK spesifik.

  1. Pendukung Teknik

Bertugas untuk mengembangkan kemampuan atau menambahkan komponen sistem informasi tambahan.

  1. Toolsmith

Fungsi yang mengembangkan teknologi, bahasa, perangkat lunak dan perangkat keras baru serta yang menghubungkan berbagai subsistem lainnya.

Sistem Pendukung Keputusan terdiri atas tiga komponen utama atau subsistem yaitu: [10]

  1. Subsistem Data(data base)

Subsistem Data merupakan komponen SPK penyedia data bagi sistem.

  1. Subsistem Model (model base)

Keunikan dari SPK adalah kemampuannya dalam mengintegrasikan data dengan model-model keputusan.

  1. Subsistem Dialog(user system interface)

Keunikan lain dari SPK adalah adanya fasilitas yang mampu mengintegrasikan sistem terpasang dengan pengguna secara interaktif.

Teknik yang digunakan dalam perancangan SPK sangat tergantung pada kondisi dan waktu yang tersedia. Teknik tersebut diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu: [10]

  1. Perancangan dengan cara cepat

Cara ini dilakukan bila dibutuhkan SPK yang mempunyai kemampuan khusus dan dapat memberikan hasil yang cukup, namun waktu perancangan yang tersedia sangat singkat.

  1. Perancangan dengan cara bertahap

Perancangan SPK dengan cara ini dilakukan dengan membuat suatu SPK spesifik, dimana pembuatannya disesuaikan dengan perencanaan masa yang akan datang, sehingga bagian yang telah dikembangkan dalam sistem awal dapat digunakan lagi untuk pengembngan selanjutnya.

  1. Perancangan SPK lengkap

Sebelum suatu SPK spesifik dibuat, terlebih dahulu perlu dikembangkan pembangkit SPK yang lengkap serta struktur organisasi pengelolaanya.

Karakteristik dan Nilai Guna (skripsi dan tesis)

Beberapa karakteristik dari sistem pendukung keputusan yaitu:[10]

  1. Sistem Pendukung Keputusan dirancang untuk membantu pengambil keputusan dalam memecahkan masalah yang sifatnya semi terstruktur ataupun tidak terstruktur.
  2. Dalam proses pengolahannya, Sistem Pendukung Keputusan mengombinasikan penggunaan model-model/ teknik – teknik analisis dengan teknik pemasukan data konvensional serta fungsi-fungsi pencari/interogasi informasi.
  3. Sistem Pendukung Keputusan, dirancang sedemikian rupa sehingga dapat digunakan/dioperasikan dengan mudah oleh orang-orang yang tidak memiliki dasar kemampuan pengoperasian computer yang tinggi. Oleh karena itu pendekatan yang digunakan biasanya model interaktif.
  4. Sistem Pendukung Keputusan dirancang dengan menekankan pada aspek fleksibilitas serta kemampuan adaptasi yang tinggi. Sehingga mudah disesuaikan dengan bebagai perubahan lingkungan yang terjadi dan kebutuhan pemakai.

Keuntungan dari penggunaaan Sistem Pendukung Keputusan meliputi: [10]

  1. Sistem Pendukung Keputusan memperluas kemempuan pengambil keputusan dalam memproses data/informasi bagi pemakainya
  2. Sistem Pendukung Keputusan membantu pengambil keputusan dalam hal penghematan waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah terutama berbagai masalah yang sangat kompleks dan tidak terstruktur
  3. Sistem Pendukung Keputusan dapat menghasilkan solusi dengan lebih cepat serta hasilnya dapat diandalkan.
  4. Walaupun Sistem Pendukung Keputusan, mungkin saja tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapai oleh pengambil keputusan, namun ia dapat menjadi stimulan bagi pengambil keputusan dalam memahami persoalannya. Karena Sistem Pendukung Keputusan dapat mampu menyajikan berbagai alternatif.
  5. Sistem Pendukung Keputusan dapat menyediakan bukti tambahan untuk memberikan pembenaran sehingga dapat memperkuat posisi pengambil keputusan

Tujuan Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Karena Sistem Pendukung Keputusan berhubungan dengan kegiatan pengambilan keputusan, maka kita perlu mengetahui dengan baik bagaimana proses pengambilan keputusan dilakukan. Proses pengambilan keputusan melibatkan 4 tahapan, yaitu: [9]

  1. Tahap Intelligence

Dalam tahap ini pengambil keputusan mempelajari kenyataan yang terjadi sehingga kita bias mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah yang terjadi, biasanya dilakukan analisis berurutan dari sistem ke subsistem pembentuknya. Dari tahap ini didapatkan keluaran berupa dokumen pernyataan masalah.

  1. Tahap Design

Dalam tahap ini pengambil keputusan menemukan, mengembangkan dan menganalisis semua pemecahan yang mungkin.

  1. Tahap Choice

Dalam tahap ini pengfambilan keputusan memelih salah satu alternative pemecahan yang dibuat pada tahap design yang dipandang sebagai aksi yang paling tepat untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Dari tahap ini didapatkan keluaran berupa dokumen Solusi dan rencana implementasinya

  1. Tahap Implementation

Dalam tahap ini pengambil keputusan menjalankan rangkaian aksi pemecahan yang dipilih ditahap choice. Implementasi yang sukses ditandai dengan terjawabnya masalah yang dihadapi, sementara kegagalan ditandai dengan tetap adanya masalah yang sedang dicoba untuk diatasi. Dari tahap ini didapatkan keluaran berupa laporan pelaksanaan solusi dan hasil-nya.

Dari definisi diatas bias disimpulkan bahwa tujuan Sistem Pendukung Keputusan dalam proses pengambilan keputusan adalah:[9]

  1. Membantu menjawab masalah semi terstruktur
  2. Membantu manajer dalam mengambil keputusan bukan menggantikannya
  3. Manajer yang dibantu melingkupi top manajer sampai manajer lapangan
  4. Fokus pada keputusan yang efektif, bukan keputusan yang efisien

Pengertian Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Decision Support System atau Sistem Pendukung Keputusan secara umum didefinisikan sebagai sebuah sistem yang mampu memberikan kemampuan baik kemampuan pemecahan masalah maupun kemampuan pengkomunikasian untuk masalah semi terstruktur. Secara khusus Sistem Pendukung Keputusan didefinisikan sebagaisebuah sistem yang mendukung kerja seorang manajer maupun sekelompok manajer dalam memecahkan masalah semi terstruktur dengan cara memberikan informasi ataupun usulan menuju pada keputusan tertentu.[ 9 ]

Sistem Pendukung Keputrusan merupakan sistem berbasis komputer yang dirancang untuk mempertinggi efektifitas pengambil keputusan dari masalah semi terstruktur.menurut Mann dan Watson .[10]

Menurut,Maryam Alavi dan H. Albert Napier Sistem Pendukung Keputusan aalah sistem yang interaktif, yang membantu pengambil keputusan melalui penggunaaan data dan model-model keputusan untuk memecahkan masalah-masalah yang sifatnya semi terstruktur dan tidak struktur.[10]

Menurut, Litlle Sistem pendukung keputusan adalah suatu sistem informasi berbasis computer yang menghasilkan berbagai alternatif keputusan untuk membantu manajemen dalam menangani berbagai permasalahan yang terstuktur ataupun tidak terstruktuir dengan menggunakan data dan model.

Menurut, Raymond Mcleod Sistem pendukung keputusan adalah sistem penghasil informasi yang ditujukan untuk memecahkan suatu masalah tertentu yang harus dipecahkan oleh manajer pada berbagai tingkatan. [10]

Dari berbagai definisi diatas dapat dikatakan bahwa sistem pendukung keputusan adalah suatu sistem informasi spesifik yang ditujukan untuk membantu manajemen dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan persoalan yang bersifat semi terstruktur.

Pembagian pendekatan program dinamis berdasarkan persoalan (skripsi dan tesis)

  1. Program Dinamis Deterministik.

Pendekatan program dinamis sebagai persoalan deterministik, dimana state pada stage berikutnya sepenuhnya ditentukan oleh state dan keputusan pada stage saat ini.

  1. Program Dinamis Probabilitastik

Pada program dinamis probabilistik, tahap (stage) berikutnya tidak dapat seluruhnya ditentukan oleh state dan keputusan pada state ini, tetapi ada suatu distribusi kemungkinan mengenai apa yang akan terjadi. Namun, distribusi kemungkinan ini masih seluruhnya ditentukan oleh state dan keputusan pada stage saat ini.

Dalam program ini meliputi tiga algoritma pemrograman dinamis yaitu     stagecoach problem, knapsack problem, dan production and inventory control problem. Pemrograman dinamis memecahkan masalah yang bersifat multi stage dan multi state. Prosedur solusi menggunakan backward recursion dari stage paling akhir (ini adalah stage yang paling dekat kepada detisnation) menuju ke stage yang paling awal.

Data – data yang diperlukan untuk stagecoach problem adalah jumlah stage, jumlah stage dan returns untuk tiap states pada successive stage. Untuk kasus knapssacak problem dibutuhkan return dan space untuk setiap stage. Sedangkan untuk production and inventory control problem memerlukan data permintaan, kapasitas penyimpanan yang berhubungan dengnan ongkos per unit dan ongkos set-up, holding dan atau ongkos shortage untuk setiap stage . Fungsi transformaasi stage dan fungsi return pada penggunaan program ini diasumsikan berbentuk linear.  [4]

Model Budijati ( 2005 )

Beberapa asumsi yang diberlakukan pada model ini adalah sebagai berikut [ 5 ] :

  1. Produk multi item
  2. Permintaan pada masing – masing jenis produk pada horison perencanaan diketahui dengan pasti.
  3. Fasilitas produksi hanya tersedia satu lintasan.
  4. Kecepatan produksi lebih besar atau sama dengan tingkat permintaan.
  5. Tidak diperkenankan adanya back order.
  6. Persediaan di akhir horison perencanaan sama dengan nol.

Permasalahan pada model yang dikembangkan dapat dilihat seperti pada gambar 2. Adapun notasi – notasi yang digunakan adalah sebagai berikut :

xij   : jumlah produksi pada periode ke i untuk item produk ke j

 I0j  : persediaan awal untuk item produk ke j

 i    : indeks periode

            dimana i = 1,2,3,…,n

        j   : indeks item produk

             dimana j = 1,2,3,..,m

       tj    :  waktu proses item produk ke j

b  : jam kerja efektif yang tersedia pada setiap periode

     Vj   : kecepatan produksi item produk ke j

Dj : permintaan pada periode j

Dari gambar 2 tersebut, dapat dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan sistem yang dimodelkan adalah sebagai berikut :

  1. Semua jenis produk memiliki due date yang sama, yaitu pada akhir horison perencanaan ( periode n )
  2. Horison perencanaan terdiri dari beberapa periode yang bersifat diskrit
  3. Masing – masing jenis produk mempunyai waktu proses yang berbeda satu dengan yang lain
  4. Pada setiap periode tersedia jam kerja efektif yang terbatas

Elemen biaya pada model yanng dikembangkan adalah :

K= biaya set – up untuk item produk ke j

hj = biaya simpan per unit item produk ke j dari periode i ke periode i + 1

Biaya set –up bagi item produk tertentu dikenakan, jika item produk bersangkutan diproduksi pada periode i, sehingga biaya set – up dapat didefinisikan sebagai berikut :

Model ini bertujuan untuk meminimalkan total inventory cost ( yang merupakan jumlahan biaya set – up dan biaya simpan ) untuk seluruh n periode.

Adanya due date yang sama bagi semua item produk, berarti produksi yang dilakukan dari periode 1 sampai dengan n untuk item produk ke j, digunakan untuk memenuhi permintaan item produk ke j tersebut, pada akhir horizon perencanaan ( periode n ), dan adanya keinginan bahwa persediaan akhir pada horison perencanaan sama dengan nol, maka ketentuan tersebut dapat diformulasikan sebagai berikut :

Karakteristik program dinamis (skripsi dan tesis)

Suatu masalah dapat diformulasikan kedalam model programa dinamis bila memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Permasalahan dapat dibagi menjadi  tahap-tahap (stage) dengan sebuah keputusan pada setiap tahap.
  2. Setiap keputusan memiliki sejumlah status (state) yang berhubungan dengan tahap tersebut. Secara umum, status merupakan berbagai kemungkinan masukan yang ada pada system tertentu. Jumlah status bisa terbatas (finite) atau tidak terbatas (infinite)
  3. Pilihan keputusan setiap tahap adalah keputusan yang dapat dipilih untuk tahap tertentu.
  4. Solusi optimal dari masalah programa dinamis adalah sama dengan pemilihan status dari tahap yang terakhir.
  5. Hubungan rekrusif yang mengidentifikasi pilihan optimal untuk setiap status pada tahap n, memberikan pilihan optimal untuk setiap status pada tahap n + 1

is

Secara umum pada program dinamis dapat dicarikan beberapa definisi sebagai berikut :

  1. Tahap adalah bagian dari program dinamis yang menggambarkan sistem secara keseluruhan dimana keputusan harus dibuat.
  2. Status adalah bagian yang menggambarkan variabel masukan yang ada pada tahap – tahap tertentu. Status merupakan penghubung antara dua tahap karena masukan bagi tahap tertentu merupakan keluaran tahap sebelumnya.
  3. Alternatif adalah variabel keputusan pada setiap tahap yang berhubungan dengan fungsi perolehan. Variabel keputusan ini bersifat mutually exclusive.[4]

Pengertian Program Dinamis (skripsi dan tesis)

 

    Programa dinamis adalah suatu teknis matematis yang biasanya digunakan untuk membuat suatu keputusan dari serangkaian keputusan yang saling berkaitan. Tujuan utama model ini adalah untuk memudahkan penyelesaian persoalan optimasi yang mempunyai karakteristik tertentu. [ 4 ]

   Ide dasar programa dinamis ini adalah membagi persoalan menjadi beberapa bagian yang lebih kecil sehingga memudahkan penyelesaiannya. Dibanding dengan teknik pemecahan masalah yang lain (programa linier), programa dinamis ini tidak ada formulasi matematis yang standar. Karena itu, persamaan – persamaan yang terpilih untuk digunakan harus dapat dikembangkan agar dapat memenuhi masing -masing situasi yang dihadapi. Dengan demikian, maka antara persoalan yang satu dengan persoalan lainnya dapat mempunyai struktur penyelesaian.

Programa dinamis telah banyak diterapkan dalam masalah bisnis dan industri seperti : masalah scheduling produksi, pengendalian persediaan, analisa network, proyek – proyek penelitian dan pengembangan, serta employment yang kesemuanya dapat dipecahkan dengan menggunakan prosedur penyelesaian programa dinamis yang berbeda – beda tergantung pada sifat masalah optimasinya.

Struktur Persoalan Persediaan (skripsi dan tesis)

Untuk mengklasifikasikan persoalan persediaan, persoalan ini dapat ditinjau dari dua aspek yang saling berkaitan yaitu aspek permintaan bahan baku untuk sekarang atau untuk waktu yang akan datang dan aspek yang kedua adalah untuk mengadakan persediaan agar permintaan tersebut dapat dipenuhi.

Pengetahuan mengenai kebutuhan dimasa yang akan datang dapat dibagi dalam tiga kelas, yaitu:

  1. permintaan bahan baku untuk waktu yang akan datang diketahui dengan    pasti, disebut dengan persoalan persediaan denga kepastian (inventory problem under certainly).
  2. Permintaan bahan baku untuk waktu yang akan datang tidak dapat diketahui dengan pasti, tetapi hanya dapat diketahui distribusi kemungkinannya, disebut persoalan dengan resiko (inventory problem under risk).
  3. Permintaan bahan baku untuk waktu yang akan datang tidak dapat diketahui, baik jumlahnya maupun kemungkinannya disebut dengan persoalan persediaan dengan ketidakpastian (inventory problem under-uncertainty).

Ada empat unsur utama yang harus diperhatikan dengan baik dalam melakukan analisis dalam system persediaan, yaitu:

  1. permintaan, adalah suatu yang dibtuhkan oleh pemakai yang perlu dikeluarkan dari persediaan. Ukuran permintaan ada yang bersifat tetap dan ada yang berubah-ubah (bervariasi).
  2. Penambahan persediaan adalah penambahan pada persediaan yang ada pada umumnya dapat dikendalikan. Sifat penambahan pada persediaan ini ukurannya dapat tetap atau bervariasi, dapat dengan atau tanpa waktu ancang-ancang (lead time).
  3. Biaya-biaya persediaan, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan persediaan.
  4. Factor-faktor pembatas jumlah persediaan. Seperti keterangan pada unit keterbatasan tempat penyimpanan karena penambahan, keterbatasan pada penjadwalan dan tingkat persediaan. Keterbatasan permintaan seperti terjadinya kekurangan persediaan serta keterbatasan dana.

Dari uraian diatas, jelas terlihat semua itu adalah kendala yang hampir dialami oleh semua perusahaan, baik itu perusahaan yang kecil maupun yang besar sekalipun. Sebagai landasan utama dalam memecahkan masalah tersebut, perlu ditetapkan suatu kebijakan perusahaan terutama dalam persediaan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut ada empat kebijakan yang perlu dilakukan dengan standar kualitas:

  1. Persediaan Minimum (Minimum Point)

            Persdiaan minimum merupakan batas jumlah persediaan yang paling rendah atau kecil yang harus ada untuk suatu jenis bahan atau barang untuk menghindari terjadinya kekurangan bahan/persediaan (stock out). Untuk mengatasi hal tersebut persediaan minimum ini merupakan cadangan untuk menjamin keselamatan operasi atau kelancaran produksi perusahaan, oleh karena itu persediaan ini persediaan penyelamat (safety stock). Jadi besarnya persediaan minimum hendaknya sama besarnya persediaan penyelamat.

  1. Besar Standar Pesanan (standar Order)

            Yang dimaksud dengan pesanan standar adalah banyaknya bahan yang dipesan dalam jumlah yang tetap dalam satu periode yang telah ditetapkan, misalnya satu tahun. Pemesanan ini sering disebut juga dengan jumlah pemesanan yang ekonomis (economic order quantity), dimana hal ini dimaksudkan untuk meminimumkan yang terkandung dalam persediaan. Biaya-biaya tersebut adalah biaya pemesanan (ordering cost) dan biaya penyimpanan (carrying cost). Untuk meminimumkan biaya persediaan, maka idealnya adalah biaya pemesanan tersebut sama dengan biaya penyimpanan.

  1. Persediaan maksimum (maximum Points/Stock)

            Persediaan maksimum merupakan batas jumlah persdiaan yang paling besar yang sebaiknya dapat diadakan oleh perusahaan. Batas persediaan maksimum tidak didasarkan pada pertimbangan efektifitas dan efisiensi kegiatan perusahaan. Adapun maksud dari persediaan ini adalah agar perusahaan dapat menghindari kerugian-kerugian karena kekurangan bahan (stock out) dan tidak melakukan pengadaan yang berlebihan, yang dapat menimbulkan pengeluaran biaya banyak. Adapun besarnya persediaan maksimum yang sebaiknya dimilki oleh perusahaan adalah jumlah dari pesanan standar (standar order) ditambah dengan besranya biaya penyelamat (safety order). Dengan diketahui besarnya biaya maksimum, maka akan dapat membantu pimpinan perusahaan dalam menentukan besarnya investasi maksimum yang perlu disediakan untuk bahan-bahan tertentu yang dibutuhkan.

  1. Titik pemesanan Kembali ( Reorder Point/Level)

            Titik pemesana kembali adalah suatu titik atau batas dari jumlah persediaan yang ada pada suatu saat dimana pemesanan harus diadakan kembali. Dalam menentukan titik ini harus diperhatikan besarnya penggunaan bahan selama bahan-bahan yang dipesan belum datang dan persediaan minimum. Besarnya penggunaan selama bahan-bahan yang dipesan belum diterima ditentukan oleh dua factor, yaitu lead time dan tingkat penggunaan rata-rata.

Pengawasan dan Tujuan Persediaan (skripsi dan tesis)

  1. Pengertian Pengawasan Persediaan

Pengawasan persediaan adalah suatu kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposits dari parts atau bagian., bahan baku dan barang hasil poduksi, sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi dan penjualan serta kebutuhan-kebutuhan pembelanjaan perusahaan yang efektif dan efisien.

Pengawasan persedian dengan serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi dan berapa besar pesanan yang harus dilakukan.

  1. Tujuan Pengawasan Persediaan

Tujuan pengawasan persediaan:

1). Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi.

2). Menjaga agar pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak telalu besar atau berlebih-lebihan, sehingga biaya-biaya yang timbul dari persediaan tidak terlalu besar.

3). Menjaga agar pembeliaan secara kecil-kecilan dapat dihindari karena ini akan berakibat biaya pemesanan menjadi besar.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persediaan (skripsi dan tesis)

Ada beberapa macam faktor yang mempengaruhi penyelenggaraan persediaan untuk kepentingan proses produksi dalam suatu perusahaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan tersebut saling berkaitan, sehingga faktor-faktor ini akan mempengaruhi persediaan bahan baku yang ada dalam perusahaan tersebut.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan tersebut adalah:

  1. Perkiraan Pemakaian Bahan Baku

Sebelum perusahaan yang bersangkutan ini melakukan pembelian bahan baku, sebaiknya manajemen perusahaan ini dapat memperkirakan pemakaian bahan baku tersebut untuk keperluan proses produksi tersebut dalam perusahaan yang bersangkutan. Berapa banyaknya bahan baku tiap unit yang akan dipergunakan untuk untuk setiap kali produksi ataupun tiap periode produksi. Dengan demikian maka manajemen akan mempunyai gambaran tentang pemakaian bahan baku untuk melaksanakan proses produksi pada produksi atau periode produksi yang akan datang, baik dalam jenis bahan baku maupun jumlah bahan baku dari masing-masing jenis tersebut.

Supaya dapat memperhitungkan pembelian bahan baku dari tiap-tiap jenis bahan baku yang dipergunakan tersebut, maka manajemen perusahaan tersebut akan mempunyai gambaran tentang pemakaian bahan baku untuk melaksanakan proses produksi pada periode yang akan datang, baik dalam jenis bahan baku maupun jumlah bahan baku dari masing-masing jenis produk.

  1. Harga Bahan Baku

Harga bahan baku yang akan dipergunakan dalam proses produksi terhadap persediaan bahan baku yang dilakukan dalam perusahaan  akan menjadi factor penentu seberapa besarnya dana yang harus disediakan oleh perusahaan apabila akan melakukan persediaan atau pembelian bahan baku.

  1. Biaya-Biaya Persediaan

Dalam pelaksanaan penyediaan bahan baku di perusahaan, tidak akan lepas dari adanya biaya-biaya persediaan bahan baku yang harus ditanggung oleh perusahaan. Dalam hubungannya dengan biaya-biaya persediaan ini, maka dikenal 3 macam biaya persediaan yaitu biaya pemesanan, biaya penyimpanan, dan biaya tetap.

  1. Kebijaksanaan Pembelanjaan

Kebijakan pambelanjaan di dalam perusahaan akan mempengaruhi kebijakan pembelian dalam perusahaan yang bersangkutan tersebut. Demikian pula dalam pelaksanaan persediaan bahan baku di “WL” akan dipengaruhi oleh kebijaksanaan pembelanjaannya.

  1. Pemakaian Bahan

Pemakaain bahan baku perusahaan di periode-periode yang telah berlalu untuk keperluan proses produksi akan dapat digunakan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam penyediaan bahan baku tersebut.

  1. Waktu Tunggu

Yang dimaksud waktu tunggu atau lead time disini adalah waktu tunggu bahan baku dari mulai dipesan sampai bahan baku tersebut datang. Waktu tunggu ini sangat perlu untuk diperhatikan, karena sangagat berpengaruh pada proses produksi.

  1. Model Pembeliaan Bahan Baku

Model pembeliaan bahan baku di perusahaan akan menentukan besar kecilnya persediaan bahan baku yang dilakukan dalam perusahaan. Pemilihan model pembelian bahan baku, tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada dalam intern perusahaan.

  1. Persediaan Pengaman

            Pada umumnya untuk menanggulangi adanya kehabisan bahan baku dalam perusahaan maka perusahaan yang bersangkutan akan mengadakan persediaan pengamanan (safety stock). Persediaan pengaman ini akan digunakan perusahaan apabila terjadi kekurangan bahan baku atau keterlambatan datangnya bahan baku yang dibeli oleh perusahaan sehingga proses produksi yang berlangsung dalam perusahaan tidak terganggu karena kekurangan bahan baku. Persediaan pengaman ini jumlahnya tertentu, dimana jumlah ini akan merupakan suatu jumlah yang tetap pada periode yang telah ditentukan sebelumnya.

  1. Pembelian Kembali

Persediaan bahan baku dalam suatu perusahaan tidak akan memadai jika dilaksanakan dlam sekali pembelian. Hal ini berkaitan dengan biaya-biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan bahan baku, bahan pembantu, maupun untuk fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan perusahaan. Dalam melaksanakan pembelian kembali (reorder Point) perusahaan akan memperhatikan waktu tunggu (lead time) yang diperlukan dalam pembelian bahan baku tersebut sehingga bahan baku yang dibeli dapat sampai kegudang dengan waktu yang tepat.[ 2 ]

Jenis Persediaan (skripsi dan tesis)

    1. Persediaan menurut fungsinya.

Persediaan dapat dibedakan menurut fungsinya sebagai berikut:

1). Batch stock atau Lot Size Inventory

Yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu. Jadi dalam hal ini pembelian atau pembuatan yang dilakukan untuk jumlah besar, sedang penggunaan atau pengeluaran dalam jumlah kecil. Terjadinya persediaan karena pengadaan bahan atau barang yang dilakukan lebih banyak dari yang dibutuhkan.

2). Fluctuation Stock

Persediaan yang yang disediakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan. Dalam hal ini perusahaan mengadakan persediaan untuk dapat memenuhi permintaan konsumen, apabila tingkat permintaan menunjukan keadaan yang tidak beraturan atau fluktuasi permintaan tidak dapat diramalkan.

3). Antisipation Stock

Persediaan yang dilakukan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan permintaan yang meningkat.

Disamping itu anticipation stock dimaksudkan pula untuk menjaga kemungkinan sukarnya diperoleh bahan-bahan sehingga tidak menggangu jalannya produksi atau menghindari kemacetan produksi.

    1. Jenis Persediaan Secara Fisik

Jenis persedian secara fisik dapat dibedakan atas:

1). Persediaan bahan mentah (raw materials), yaitu persedian barang-barang berwujud seperti kayu, besi, dan komponen-komponen lainnya yang digunakan dalam proses produksi. Bahan mentah dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau dari supplier atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi selanjutnya.

2). Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts), yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain, dimana secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk.

3). Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplier), yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen barang jadi.

4). Persediaan barang dalam proses (work in process), yaitu persediaan barang-barang yang merupakan keluaran tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.

5). Persediaan Barang jadi ( Finished goods ), yaitu persediaan barang – barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim kepada pelanggan.[ 3 ]

Arti Perencanaan dan Persediaan (skripsi dan tesis)

Perencanaan merupakan usaha menentukan tujuan, sedangkan pengawasan diperlukan pada tiap-tiap kegiatan yang diadakan agar tindakan-tindakan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pengawasan selalu dihubungkan dengan perencanaan. Pengawasan tidak dapat diadakan tanpa adanya perencanaan, sebaliknya perencanaan dapat dilakukan tanpa pengawasan.

Istilah persediaan sendiri adalah suatu istilah umum yang menunjukan segala sesuatu atau sumber daya yang disimpan untuk memenuhi atau mengantisipasi terhadap permintaan. Persediaan ini meliputi bahan mentah, barang setengah jadi, ataupun barang-barang jadi yang menjadi kebutuhan dari perusahaan.

Banyak dari organisasi-organisasi lain yang menyimpan jenis-jenis persediaan dalam bentuk yang lain seperti uang, peralatan kerja, dan lain-lain untuk memenuhi permintaan akan produk ataupun jasa. Sumber daya-sumber daya ini sering dapat dikendalikan lebih efektif melalui penggunaan berbagai system dan model manajemen persediaan.

Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan yang yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi dan dan berapa besar pesanan harus dilakukan. Sistem ini bertujuan untuk menetapkan dan menjamin tersedianya sumber daya yang tepat. Sistem dan model persediaan bertujuan untuk meminimumkan biaya total melalui penentuan apa, berapa, dan kapan pesanan dilakukan secara optimal. [ 1 ]

Sistem Kontrol (skripsi dan tesis)

Sistem kontrol adalah suatu sistem yang membahas tindakan manusia untuk merubah keadaan mesin.

Sistem kontrol bisa dihubungkan dengan permesinan, pneumatik, hydraulik, atau sistem­-sistem elektrik. Sebagian dari sistem teknologi, sistem kontrol seringkali dirancang untuk membuat mesin menjadi lebih canggih dibandingkan dari manusianya. Beberapa kesalahan umum pada perancangan sistem kontrol adalah :

  • Fungsi kontrol tidak jelas.
  • Membutuhkan terlalu banyak cara pengoperasian.
  • Petunjuk pengoperasian yang tidak standard atau tidak layak.
  • Lokasi yang tidak semestinya agar pengontrolan mesin mudah diamati.
  • Dapat dioperasikan dengan kurang hati-hati.
  • Tidak ada umpan balik atas respon pengoperasian kontrol.
  • Dalam posisi yang tidak standard.

Ini semua dan problem-problem yang lain dapat dihindari degan mengikuti prinsip-prinsip umum dari rancangan berikut :

  1. Definisi Fungsi Kontrol. Apakah yang akan dilakukan terhada mesin dan jenis masukan mana yang diperlukan, misalnya : ketelitian, kecepatan dan kekuatan dari gerakan operator. Penglihatan atau kemampuan untuk melihat dan posisi dari kontrol dalam hubungannya dengan pandangan lain dan keperluan manusia dalam pekerjaan. Kesinambungan gerakan-gerakan  atau gerakan-gerakan terpisah di antara pemberhentian (stop).
  2. Ketentuan pada bagian tubuh digunakan untuk mengoperasikan kontrol dan rancangannya disesuaikan (gambar 2.7) untuk  ketelitian yang tinggi dalam menggunakan tombol-tombol yang dapat dioperasikan melalui jari-jemari dan pergelangan tangan, tenaga yang kuat, ketelitian yang rendah dalam menggunakan pengungkit, pedal, dan sebagainya, dapat dioperasikan dengan tangan dan kaki.
  3. Menempatkan atau menentukan tempat kontrol dengan tepat dalam sudut pandang bagian-bagian tubuh yang akan digunakan. Arah atau petunjuk gerakan kontrol seharusnya juga dipilih untuk disesuaikan dengan fungsi anatomi manusia.
  4. Jarak atau ruang kontrol untuk menghindari kecelakaan alam pengoperasian atau gangguan dari beberapa bagian lain di tempat kerja. Secara nyata, jari-jemari (tangan) mengoperasikan kontrol lebih rapat jaraknya dari pada menggunakan tenaga pegangan. Bahkan kontrol dengan menggunakan ujung jari kadang-kadang sangat rapat,contohnya : tombol atau tuts-tuts pada kalkulator kecil.
  5. Lindungi kontrol dimana kecelakaan pada waktu pengoperasian akan membahayakan, contoh : tombol-­tombol start seharusnya dilindungi oleh lingkungan sekelilingnya dimana dengan hanya membiarkan ujung jari yang masuk. Dengan demikian tidak akan dioperasikan oleh penyikatan yang dapat menyebabkan kecelakaan atau yang yang lebih kecil dari itu.
  6. Tempat kontrol agar dapat dioperasikan dengan nyaman ketika operator mempunyai pandangan yang penuh terhadap situasi mesin yang sedang dikontrol.
  7. Penentuan tempat dan pengenalan kontrol membuat pergerakan- pergerakan mereka dapat digabungkan dengan gerakan mesin yang sedang dikontrol atau beberapa display atau peragaan yang digabungkan, contohnya pergerakan mesin pengungkit naik untuk mengangkat atau menaikkan beberapa bagian mesin, dan turun untuk menurunkan atau merendahkannya. Sejauh display-display tersebut dihubung­kan, suatu prinsip umum yang lebih tertuju pada display yang sama akan bergerak dalam arah yang sama seperti permukaan tombol kontrol yang paling dekat dengannya (gambar 2.8). Bagian ini, berputar menurut arah putaran jarum jam, umumnya digunakan untuk meningkatkan suatu jumlah atau kuantitas.
  8. Dimana tata letak yang standard untuk kontrol yang ada, akan ditempatkan menurut posisi yang sesuai.
  9. Mempertimbangkan apakah ada populasi dengan bentuk yang tetap yang akan mempengaruhi cara-cara manusia yang akan mencoba lebih alami untuk mengoperasikan kontrol (stereotype), contoh : saklar lampu, kran-kran, pedal kendaraan, tombol-tombol dan volume radio.
  10. Menggunakan tipe kontrol yang tidak stabil dimana penempatan ketelitian diperlukan, tetapi sesuai penyesuaian daerah yang lebar, termasuk sejumlah putaran juga diperlukan, contohnya: penempatan kontrol untuk meja mesin milling
  11. Menggunakan kontrol penyesuaian yang terpisah (bunyi berhenti) atau susunan tombol-tekan lebih baik dari pada kontrol yang berkesinambungan ketika suatu nilai terpisah harus selalu ditempatkan, contoh : menyetel radio atau televisi.
  12. Menggunakan kontrol yang berkesinambungan hanya ketika menyesuaikan ketepatan atau menempatkan jumlah yang besar dan terpisah yang lebih dipentingkan (katakanlah lebih dari 20). Penyesuaian yang berkesinambungan memerlukan putaran yang tepat, diikuti oleh gerakan-gerakan yang sesuai dan baik. lni dapat dijadikan waktu pemakaian (time consum­ing) dan memerlukan suatu perubahan tekanan diatas kontrol. Meminimumkan reaksi yang salah dalam kontrol yang berkesinambungan.
  13. Membuat kontrol lebih mudah diidentifikasikan. Penggunaan simbol-simbol standard identifikasi dalam bentuk tertentu. Dalam pelabelan (penamaan) kontrol pada suatu alat atau instrument dijamin ada ketidak-ambigiusan (tidak mempunyai dua arti) tentang penamaan yang menunjukkan kontrol. Apabila operator sedang melihat kebawah terhadap alat-alat atau instrument-instrument (pada seluruh atau sebagian besar perintah), label atau penamaan  diletakkan diatas tambol atau saklar
  14. Dalam suatu panel pengontrol, secara fungsional kombinasi kontrol-kontrol harus dioperasikan dalam suatu susunan. Dalam panel-panel ini, kontrol harus juga dihubungkan secara dekat dengan display-display yang sesuai.
  15. Memperlengkapi beberapa umpan balik pada operator karena gerakan kontrol sudah cukup dan telah terdaftar pada mesin, contoh :
  • Sebuah lampu pembatas atau dikombinasikan dengan kontrol masuk.
  • Sebuah suara elektrik yang dapat didengar.
  • Sebuah bunyi mekanik yang tersendiri.
  • Sebuah perubahan rasa yang jernih dalam gaya pengoperasian.
  1. Membangun beberapa ketahanan (resistan) pada kontrol dengan cara lain juga memelihara atau mengontrol ditempat yang terang dan keras. Ketahanan gerak dari kontrol, mungkin juga menjadi suatu umpan-balik yang berguna, contohnya: setir mobil dan tekanan progresif pada beberapa sistem pengereman.

Sinyal Cahaya (skripsi dan tesis)

Sinyal cahaya (warna) sering digunakan untuk mengidentifikasi status dari suatu sistem (seperti ON atau OFF) atau untuk memberikan peringatan kepada operator sistem tersebut bahwa suatu bagian tidak berjalan dan memerlukan tindakan khusus. Tanda darurat (emergency) lebih baik menggunakan sinyal peringatan suara disertai dengan cahaya yang berkelap kelip (operator mungkin menjawab keadaan darurat dengan mematikan salah satu sinyal).

Perbandingan dari Beberapa Perancangan Alat Peraga (skripsi dan tesis)

Selama bertahun-tahun telah dilakukan beberapa penelitian yang mengamati sejumlah alat peraga tertentu untuk dibandingkan satu dengan yang lainnya. Walaupun hasil pengamatan tersebut berbeda antara satu dengan lainnya, seperti misalnya untuk beberapa penggunaan alat peraga numerik/digit (disebut juga sebagai counters) adalah lebih baik daripada alat peraga analog (seperti misalnya yang berskala dan berbentuk bundar, horisontal, dan vertikal) jika beberapa kondisi berikut diinginkan : (1) dibutuhkan nilai numerik yang presisi, (2) nilai yang ditunjukkan adalah cukup jelas untuk dibaca (tidak berubah secara kontinu). Seperti misalnya, pada studi yang dilakukan oleh Simmonds, Galer, dan Baines (1981).

Mereka membandingkan beberapa digital speedometer yang dilengkapi dengan tiga jarum penunjuk alat peraganya dan sebuah alat peraga yang melengkung (curvilinier display). Semua desain yang dipakai dijalankan sccara elektronik, dua dari jarum penunjuknya tersebut dan curvilinier display-nya menggunakan bar dan tidak menggunakan jarum penunjuk untuk menggambarkan nilai numeriknya. Dari eksperimen tersebut ditemukan bahwa digital dis­play lebih baik daiam hal ketepatan baca dan pemilihan.

Walaupun digital dis­play mempunyai beberapa keunggulan untuk mendapatkan nilai numerik tertentu yang mempunyai kecenderungan telaah lama untuk dapat dibaca , analog display mempunyai keuntungan dari sudut lain. Fixed scale moving pointer dis­play misalnya, akan sangat menguntungkan jika nilai-nilainya sering berubah secara kontinyu yang akan mengesampingkan penggunaan dari digital display (karena keterbatasan waktu untuk pembacaan berbagai nilai tertentu).

Sebagai informasi tambahan bahwa analog display seperti yang telah disebutkan di atas mempunyai suatu keuntungan yang positif untuk mengamati arah atau kecepatan perubahan nilai variabel yang ditunjukkan. Secara umum analog display dengan fixed scale dan moving pointer adalah lebih baik dari moving scale dan fixed pointer.

Dalam hal ini Heglin (1973) memberikan beberapa alternatif pertimbangan untuk pemilihan alat peraga analog sebagai berikut:

  1. Secara umum, dipilih jarum penunjuk bergerak dengan skala tetap (moving pointer, fixed scale).
  2. Jika nilai dari variabel numerik lebih ditonjolkan seperti misalnya : “lebih-kurang” atau “atas-bawah”. Hal ini lebih mudah untuk diinterpretasikan dengan bantuan “garis-lurus” atau ” skala termometer” dengan jarum penunjuk bergerak (moving pointer) (lihat gambar 2.4 d dan e).
  3. Tidak dicampur-adukkan berbagai macam penggunaan indikator skala dan jarum penunjuknya, untuk menghindari kesalahan baca yang diakibatkan informasi yang bersifat antagonis (berlawanan).
  4. Agar didapat kompatibilitas yang tinggi, maka arah gerakan dari kontrol/ pcngendali dan alat peraga (display)nya harus jelas.
  5. Perubahan pergerakan/perubahan variabel kuantitas adalah penting bagi pengamat, lebih-lebih juka dengan menggunakan jarum pcnunjuk yang bergerak (moving pointer).
  6. Jika diinginkan adanya nilai numerik, maka skala bergerak (moving scale) pada open window dapat dibaca lebih cepat. (Skala seperti yang dimaksud adalah lebih baik jika digital atau counter, display) (lihat gambar 2.4 j, k, l, dan m).

Alat Peraga Visual Kualitatif (skripsi dan tesis)

Pada penggunaan alat peraga untuk mendapatkan informasi kualitatif, operator biasanya lebih tertarik pada nilai approksimasi dari variabel yang kontinyu seperti misalnya temperatur, tekanan, kecepatan, dan pada perubahan variabel nilainya. Namun bagaimanapun juga dasar pemikiran untuk desain alat peraga visual kualitatif adalah pada desain yang kuantitatif juga.

Alat Peraga Visual Kuantitatif (skripsi dan tesis)

Tujuan dari alat peraga kuantitatif adalah untuk memberikan informasi tentang nilai kuantitatif dari suatu variabel. Pada kebanyakan kasus, variabel tersebut selalu berubah atau paling tidak mempunyai kecenderungan untuk berubah misalnya : kecepatan dan temperatur. Dalam penggunaan alat peraga kuantitatif ada suatu tingkat kepresisian yang disebut dengan satuan skala.

Alat peraga kuantitatif yang konvensional adalah merupakan salah satu bentuk peralatan mekanis yang ada di bawah ini :

  1. Skala tetap dengan jarum penunjuk berputar (Fixed scale with moving pointer).
  2. Skala berputar dengan jarum penunjuk tetap (Moving scale with fixed pointer).
  3. Alat peraga numerik (Digital display).

Dua alat peraga yang pertama adalah indikator analog (analog indicators) karena posisi jarum penunjuknya analog dengan besarnya nilai yang ditunjukkan. Walaupun alat peraga kuantitatif yang konvensional, mempunyai bagian mekanis yang bergerak (jarum penunjuk, skala, atau nilai numerik), namun teknologi modern telah membuat suatu kemungkinan baru untuk menyajikan dalam bentuk elektronik, sehingga dapat mengurangi kebutuhan untuk masalah pengadaan komponen mekanisnya

Alat Peraga (Display) (skripsi dan tesis)

Alat peraga menyampaikan informasi kepada organ tubuh manusia dengan berbagai macam cara. Penyampaian informasi tersebut didalam “sistem manusia-mesin” adalah merupakan, suatu proses yang dinamis dari suatu presentasi visual indera penglihatan. Disamping itu keterandalan proses tersebut akan sangat banyak dipengaruhi oleh desain dari alat peraganya.

Display berfungsi sebagai suatu “sistem komunikasi” yang menghubungkan antara fasilitas kerja maupun mesin kepada manusia. Adapun yang bertindak sebagai mesin dalam hal ini adalah stasiun kerja dengan perantaraan alat peraga, sedangkan manusia disini berfungsi sebagai operator yang dapat diharapkan untuk melakukan suatu respon yang diinginkan.

Manusia Sebagai Komponen Sistem Interaksi Manusia-Mesin (skripsi dan tesis)

Sistem interaksi manusia-mesin disini ialah kombinasi antara satu atau beberapa manusia dengan satu atau beberapa “mesin” dimana salah satu mesin dengan lainnya saling berinteraksi untuk menghasilkan keluaran-keluaran berdasarkan masukan-masukan yang diperoleh.

Yang dimaksud dengan “mesin” dalam rangka ini adalah mempunyai arti luas, yaitu mencakup semua obyek fisik seperti peralatan, perlengkapan, fasilitas dan benda-benda yang bisa digunakan oleh manusia dalam melaksanakan kegiatannya.

Penyelidikan terhadap manusia-mesin didasarkan atas suatu kenyataan bahwa antara manusia dan mesin, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan artinya ada beberapa pekerjaan yang akan lebih baik jika dikerjakan oleh manusia dan sebaliknya ada beberapa bidang pekerjaan yang lebih baik jika dikerjakan oleh mesin.

Masing-masing perbedaan kemampuan diatas bisa saling melengkapi, dan adalah tugas para perancang untuk menyeimbangkannya. Kelebihan utama dari manusia dibandingkan mesin ialah sifatnya yang mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Manusia bisa berubah peranannya dengan cepat dan teratur, sehingga memungkinkan untuk bekerja dalam kondisi bagaimanapun. Tetapi sifat yang berubah-ubah dari manusia ini juga menunjukan kelemahannya; cara menghadapi suatu masalah yang sekarang belum tentu sama dengan cara yang mungkin dilakukan kemudian hari. Keadaan ini akan menimbulkan ketidak menentuan jalannya suatu sistem. Dengan kata lain, secara keseluruhan, sistem manusia-mesin dipengaruhi oleh kemampuan dan keterbatasan manusia. Sehingga dengan mempelajari “manusia sebagai salah satu komponen sistem manusia-mesin”, diharapkan akan bisa meletakkan fungsi manusia dengan segala kemampuan dan keterbatasannya, dalam hubungan untuk merancang sistem manusia-mesin yang terdiri dari manusia, peralatan dan lingkungan kerja sedemikian rupa sehingga memberikan hasil akhir secara keseluruhan yang optimal.

Diatas sudah dikatakan bahwa untuk bisa menerapkan ergonomi, perlu informasi yang lengkap mengenai kemampuan manusia dengan segala keterbatasannya. Salah satu usaha untuk mendapatkan infomnasi-informasi ini, telah banyak dilakukan penyelidikan-penyelidikan dan dalam buku ini pembahasannya akan dilakukan menurut empat kelompok besar sebagai berikut:

  1. Penyelidikan tentang display

Yang dimaksud dengan display disini adalah bagian dari lingkungan yang mengkomunikasikan keadaannya kepada manusia. Contohnya: kalau kita ingin mengetahui berapa kecepatan motor yang sedang kita kemudikan, maka dengan melihat jarum speedometer, kita akan mengetahui keadaan lingkungan: dalam hal ini kecepatan motor.

  1. Penyelidikan mengenai hasil kerja manusia dan proses pengendaliannya.

Dalam hal ini diselidiki tentang aktifitas-aktifitas manusia ketika bekerja dan kemudian mempelajari cara mengukur dari setiap aktifitas tersebut, dimana penyelidikan ini banyak berhubungan dengan biokmekanik.

  1. Penyelidikan mengenai tempat kerja.

Agar diperoleh tempat kerja yang baik, dalam arti kata sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan manusia, maka ukuran-ukuran dari tempat kerja tersebut harus sesuai dengan tubuh manusia. Hal-hal yang bersangkutan dengan tubuh manusia ini dipelajari dalam anthropometri.

  1. Penyelidikan mengenai lingkungan fisik.

Yang dimaksud dengan lingkungan fisik disini meliputi ruangan dan fasilitas-fasilitas yang biasa digunakan oleh manusia, serta kondisi lingkungan kerja yang kedua-duanya banyak mempengaruhi tingkah laku manusia.

 Interaksi antara manusia dengan mesin selalu ada dalam setiap pekerjaan, dimana manusia akan memberikan instruksi dan mesin akan melakukan pekerjaannya. Selain melakukan pekerjaan, mesin juga akan memperlihatkan kemajuan pekerjaannya dengan sederetan informasi kepada manusia. Dapat terlihat bahwa dalam sistem manusia-mesin terdapat dua interface penting dimana ergonomilah yang memegang peranan penting di dalam hubungan tersebut. Interface pertama adalah display yang dapat menghubungkan kondisi mesin pada manusia, kemudian interface kedua adalah kontrol yang mana manusia dapat menyesuaikan respon dengan feedback yang diperoleh dari display tadi. Jadi antara display dan kontrol harus terdapat interaksi yang saling menyesuaikan.

Persentil (skripsi dan tesis)

Dalam melakukan desain terhadap mesin atau alat-alat yang akan berinteraksi dengan manusia pada saat manusia akan melakukan pekerjaannya, diperlukan data-data dimensi tubuh dalam menentukan ukuran dari mesin atau alat-alat tersebut. Data yang dikumpulkan bergantung dari tujuan desain yang akan dilakukan baik itu yang berorientasi kepada pengguna yang terdiri dari orang tertentu saja, atau yang berorientasi pada masyarakat umum. Jika desain terhadap alat-alat ditujukan kepada orang atau kelompok orang tertentu, maka kegiatan ini disebut sebagai  user center design. Sedangkan jika hasil desain ditujukan kepada masyarakat umum, maka disebut sebagai human center design.

Dari sekian banyak data dimensi tubuh yang dikumpulkan tentunya memiliki sebaran data yang tidak sama satu dengan yang lainnya, hal ini disebabkan oleh diemnsi tubuh dari setiap orang berbeda-beda. Ada orang yang memiliki dimensi tubuh yang ekstrim besar, ada yang memiliki dimensi tubuh yang ekstrim kecil, dan yang paling banyak tentunya orang dengan dimensi tubuh yang normal atau rata-rata.

Adanya perbedaan dimensi tubuh ini mengakibatkan sangat susah untuk menentukan ukuran tubuh yang mana yang akan dijadikan sebagai patokan dalam melakukan desain terhadap mesin atau alat-alat bantu bagi manusia dalam melakukan pekerjaannya.

Menentukan nilai ukuran tidak dapat dilakukan dengan menggunakan nilai rata-rata saja sebab bagi orang-orang yang memiliki dimensi tubuh yang lebih besar atau lebih kecil akan merasa kesulitan dalam menggunakannya. Meminimasi keadaan seperti ini diperlukan persentil.

Cara-cara perhitungan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara sederhana dan secara lengkap :

  1. Cara sederhana adalah dengan mengurutkan data tersebut dari yang terkecil sampai yang terbesar. Kemudian menghitung persentil dari P5, P50, dan P95.

Langkah-langkah perhitungan persentil cara sederhana adalah sebagai berikut:

  1. Mencari data minimum (X)
  2. Mencari data maksimum (Y)
  3. Menghitung range (R)

R = Y – X

  1. Menghitung persentil Pn = (R x n%) + X

P5 = (Range x 5%) + data minimum

P50 = (Range x 50%) + data minimum

P95 = (Range x 95%) + data minimum

  1. Cara lengkap adalah dengan tidak mengurutkan data tersebut dahulu melainkan dengan cara langsung menghitung persentil dari P5, P50, dan P95.

Anthropometri Dinamis (skripsi dan tesis)

Terdapat tiga kelas pengukuran dinamis, yaitu:

  1. Pengukuran tingkat keterampilan sebagai kegiatan untuk mekanis dari suatu aktivitas.

Contoh: dalam mempelajari performansi atlit.

  1. Pengukuran jangkauan ruang yang dibutuhkan saat bekerja

Contoh: jangkauan dari gerakan tangan dan kaki efektif pada saat bekerja yang dilakukan dengan berdiri dan duduk.

  1. Pengukuran variabilitas kerja

Contoh: analisis kinematika dan kemampuan jari-jari tangan seorang juru ketik atau operator komputer.

Anthropometri Statis (skripsi dan tesis)

Pengukuran dimensi tubuh yang dilakukan untuk memperoleh data anthropometri statis meliputi:

  1. Posisi duduk samping, meliputi:
  1. Tinggi Duduk Tegak (TDT)

Merupakan jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai ke ujung atas kepala. Dimana pada pengukuran ini subjek berada dalam posisi duduk tegak dengan mata memandang lurus kedepan dan lutut membentuk sudut siku-siku.

  1. Tinggi Bahu Duduk (TBD)

Merupakan jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai ujung tulang bahu yang menonjol pada saat duduk tegak.

  1. Tinggi Mata Duduk (TMD)

Merupakan jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai ujung mata bagian dalam.

  1. Tinggi Siku Duduk (TSD)

Merupakan jarak vertikal dari permukaan alas duduk sampai bawah siku dimana pada sat pengukuran ini subjek duduk tegak dengan lengan atas di sisi badan dan lengan bawah membentuk sudut siku-siku dengan lengan atas.

  1. Tebal Paha (TP)

Merupakan jarak dari permukaan alas duduk sampai ke permukaan atas paha.

  1. Tinggi Popliteal (TPO)

Merupakan jarak vertikal dari lantai sampai bagian bawah paha.

  1. Pantat Popliteal (PPO)

Merupakan jarak horizontal dari bagian terluar sampai lekukan lutut sebelah dalam (popliteal). Dimana pada saat pengukuran ini subjek duduk tegak, paha dan kaki bagian bawah membentuk sudut siku-siku.

  1. Pantat Ke Lutut (PKL)

Merupakan jarak horizontal dari bagian terluar pantat sampai ke lutut.

  1. Posisi duduk menghadap ke depan, meliputi:
    1. Lebar Pinggul (LP):

Adalah jarak horisontal dari bagian terluar pinggul sisi kiri sampai bagian terluar pinggul sisi kanan pada saat duduk tegak.

  1. Lebar Bahu (LB):

Adalah jarak horisontal antara kedua lengan atas. Subjek duduk tegak dengan lengan atas merapat ke badan dan lengan bawah direntangkan ke depan.

  1. Lebar Sandaran (LS):

Adalah jarak horisontal antara tulang belikat kiri sampai tulang belikat kanan, sementara subjek duduk tegak dengan lengan atas merapat ke badan dan lengan bawah direntangkan ke depan.

  1. Panjang Sandaran (PS):

Adalah jarak vertikal dari tulang ekor sampai pertengahan antara tulang belikat kanan dan kiri.

  1. Posisi berdiri, meliputi:
  2. Tinggi Siku Berdiri (TSB)

Merupakan jarak vertikal dari lantai ke titik pertemuan antara lengan atas dan lengan bawah. Dimana pada saat pengukuran ini subjek berdiri tegak dengan kedua tangan tergantung secara wajar.

  1. Panjang Lengan Bawah (PLB)

Merupakan jarak dari siku sampai pergelangan tangan.

  1. Tinggi Mata Berdiri (TMB)

Merupakan jarak vertikal dari lantai sampai ujung mata bagian dalam (dekat pangkal hidung).

  1. Tinggi Badan Tegak (TBT)

Merupakan jarak vertikal dari telapak kaki sampai ujung kepala yang paling atas.

  1. Tinggi Bahu Berdiri (TBB)

Merupakan jarak vertikal dari lantai sampai bahu yang menonjol.

  1. Tebal Badan (TB)

Merupakan jarak horizontal dari dada (bagian ulu hati) sampai punggung.

  1. Posisi berdiri dengan tangan lurus ke depan, meliputi:

Jangkauan Tangan (JT):

Adalah jarak horisontal dari punggung sampai ujung jari tengah. Subjek berdiri tegak dengan betis, pantat, dan punggung merapat ke dinding, tangan direntangkan secara horisontal ke depan.

  1. Posisi berdiri dengan kedua tangan direntangkan, meliputi:

Rentangan Tangan (RT):

Adalah jarak horisontal dari ujung jari sampai ujung jari terpanjang tangan kanan. Subjek berdiri tegak dan kedua tangan direntangkan horisontal ke samping sejauh mungkin.

  1. Pengukuran jari tangan, meliputi:
    1. Panjang Jari 1, 2, 3, 4, 5 (PJ):

Adalah jarak dari masing-masing pangkal ruas jari sampai ujung jari. Jari-jari subjek merentang lurus dan sejajar.

  1. Pangkal Ke Tangan (PKT):

Adalah jarak dari pangkal pergelangan tangan sampai pangkal ruas jari. Lengan bawah sampai telapak tangan subjek lurus.

  1. Lebar Jari (LJ):

Adalah jarak dari sisi luar jari telunjuk sampai sisi luar jari kelingking. Jari-jari subjek lurus dan merapat satu sama lain.

  1. Lebar Tangan (LT):

Adalah jarak dari sisi luar ibu jari sampai sisi luar jari kelingking.

Anthropometri (skripsi dan tesis)

Aspek-aspek ergonomi dalam suatu perancangan fasilitas .kerja adalah merupakan suatu faktor penting dalam peningkatan pelayanan jasa produksi. Perlunya memperhatikan faktor ergonomi dalam proses rancang bangun fasilitas adalah merupakan hal yang amat penting. Dalam rangka untuk mendapatkan suatu perancangan yang optimum dari fasilitas yang harus diperhatikan adalah faktor seperti panjang dari dimensi tubuh manusia baik dalam posisi statis maupun dinamis. Hal lain yang perlu diamati adalah berat tubuh, bentuk tubuh, jarak urituk pergerakan melingkar dari tangan dan kaki, selain itu pula harus didapatkan data-data yang sesuai dengan tubuh manusia. Pengukuran tersebut akan semakin mudah jika diaplikasikan untuk perorangan.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dimensi tubuh manusia, di antaranya:

  1. Umur

Umur manusia digolongkan atas beberapa kelompok sesuai dengan perkembangan tubuhnya yaitu : balita, anak-anak, remaja, dewasa, lanjut usia. Usia jelas merupakan faktor pembeda antara ukuran tubuh dan dimensi tubuh contohnya ukuran dan dimensi tubuh antara anak­anak dan orang dewasa. Pada usia lanjut tinggi badan manusia memiliki kecenderungan untuk menurun yang antara lain disebabkan karena berkurangnya elastisitas tulang belakang.

  1. Jenis kelamin

Secara umum ada perbedaan antara bentuk tubuh pria dan wanita, pria memiliki dimensi tubuh yang lebih besar daripada wanita, kecuali dada dan pinggul.

  1. Suku bangsa (etnis)

Variasi antara beberapa kelompok suku bangsa telah menjadi tidak kalah pentingnya, sebagai contoh ras kaukasoid memiliki dimensi tubuh yang lebih besar dan tinggi daripada ras mongoloid.

  1. Pekerjaan

Pekerjaan yang sehari-hari dilakukan oleh seseorang juga akan menentukan perbedaan dalam dimensi tubuhnya, sebagai contoh orang yang bekerja sebagai buruh angkut di pelabuhan akan memiliki dimensi bahu dan lengan yang lebih besar daripada orang yang bekerja dikantor.

Data pengukuran antropometri berdasarkan gerakan tubuh objek yang diamati, dibagi menjadi 2 bagian yaitu :

  1. Anthropometri statis

Pengukuran dilakukan pada tubuh manusia yang berada dalam posisi diam. Contoh : pengukuran tinggi badan atau jangkauan tangan yang dilakukan pada saat objek tersebut dalam keadaan diam.

  1. Anthropometri dinamis

Dimensi tubuh diukur dalam berbagai posisi tubuh yang sedang bergerak, sehingga lebih kompleks dan lebih sulit diukur. Contoh : pengukuran luas jangkauan tangan dari manusia pada saat melakukan pekerjaan.

Ergonomi Orang dan Pekerjaannya (skripsi dan tesis)

Sebelum sampai kepada tahap yang terperinci mengenai berbagai macam faktor yang berkaitan dengan orang dan pekerjaannya, ada baiknya kalau kita pahami terlebih dulu tentang bidang yang akan diperani oleh orang itu sendiri. Pada setiap kegiatan, seseorang akan menerima informasi, memproses informasi itu lalu bertindak untuk menanggapinya. Menerima informasi merupakan tugas dari “reseptor”, umumnya terjadi melalui organ pengindera mata dan telinga. Tetapi informasi juga dapat disampaikan  melalui melalui indera penciuman, rabaan, rasa panas atau dingin.

 Oleh  “sistem saraf”  informasi yang tertangkap tadi disalurkan sampai ke pusat mekanisme yang berada di otak dan tali sumsum (spinal cord) di mana informasi itu diproses sampai diambil keputusan. Selama pemrosesan akan terjadi pengintegrasian antara antara informasi yang baru saja diterima dengan informasi yang telah tersimpan di dalam otak, keputusan yang diambil akan bervariasi mulai dari tanggapan yang automatik (refleks) sampai yang memerlukan alasan atau logika yang mendalam. Tindakan yang dilakukan sebagai akibat dari keputusannya, dan akan ia kerjakan melalui mekanisme “efektor”, dan biasanyua melibatkan kegiatan otot yang dilandasi oleh tulang kerangka tubuhnya.

 Apabila kegiatan orang itu melibatkan mesin, barangkali ia harus menjadi bagian dari pengulangan-tertutup (close-loop) dari sistem-servo yang banyak menyajikan informasi umpan balik khas bagi sistem tersebut. Kecuali itu, ia biasanya juga menjadi bagian yang mengambil keputusan pada sistem tadi, karena itu harus diakui bahwa ia akan memainkan peranan penting dalam upaya mencapai efisiensi sitem. Untuk mencapai efisiensi yang setinggi-tingginya, “sistem orang-mesin” itu harus dirancang secara menyeluruh dengan orang sebagai unsur pelengkap bagi kemampuan mesin, dan mesin sebagai unsur pelengkap bagi kemampuan orangnya.

 Untuk dapat memahami tentang bagaimana berlangsungnya berbagai proses itu, akan baik kalau kita mengetahui sesuatu mengenai sistem saraf, berfungsinya mekanisme pusat termasuk kapasitasnya, struktur dari tubuh, tulang kerangka dan sendi-sendinya, serta otot yang menyediakan tenaga penggerak. Sesuatu hal jugaperlu diketahui mengenai bagaimana tentang sumber energi yang menggerakkan mekanisme tadi, serta keterbatasan keluaran yang boleh dinantikan daripadanya.

 Karena kegiatan-kegiatan ini tentunya tidak dilakukan di ruang hampa, maka orang akan berhadapan dengan suhu lingkungan yang mungkin terlalu panas, tepat nyaman, atau terlalu dingin. Kalau dihadapkan pada panas yang sangat ekstrim, mungkin mekanisme untuk mengatur suhu badan akan menjadi rusak. Kalau dihadapkan pada suhu dingin yang ekstrim, mungkin tenaga mekanismenya akan lemah. Orang juga bisa dihadapkan pada bising/berisik yang barangkali begitu melengkingnya dan berlangsung lama sehingga menyebabkan kelemahan pendengaran (hearing loss), bahkan mungkin kehilangan pendengaran sama sekali (hearing lost)

 Untuk bisa melihat dengan jelas, tempat bekerja harus disuplai dengan cahaya yang berkualitas dan berkuantitas memadai untuk melakukan pekerjaan. Penampilan atau prestasi seseorang mungkin saja dapat dipengaruhi oleh warna dan tata ruangan sekelilingnya, karena itu ruang kerjanya/lingkungan kerjanya harus ditata/didekorasi sedemikian rupa agar setiap orang dapat merasa nyaman dan aman untuk bekerja di tempat tersebut.

 Dalam bidang kegiatan manusia bekerja, ada banyak unsur-unsur yang memegang peranan penting, dan apabila kita ingin mencapai keberhasilan dalam hal efektifitas dan efisiensi kita harus mengaturnya sedemikian rupa sehingga setiap orang dapat bekerja dengan efektif, nyaman, aman, sehat, dan efisien (ENASE) . Unsur-unsur yang memegang peranan penting dalam kegiatan manusia yang sedang bekerja (sistem tertutup) dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut ini :

Cakupan dan Kaitan Ergonomi (skripsi dan tesis)

Sebenarnya kaitan antara orang dengan rekan kerjanya, penyelia (supervisor), manajemen, dan keluarga berada juga pada cakupan ergonomi, akan tetapi kini hal-hal tersebut tidak dimasukkan ke dalam lingkup ergonomi. Biasanya butir-butir tersebut  diliput dalam bidang sosiologi. Subyek cakupan lain yang juga bertumpang-tindih dengan ergonomi ialah masalah kesehatan industrial, teristimewa yang menyangkut masalah racun dan jenis musibah lainnya. Mempelajari masalah musibah memang bukan merupakan tugas ergonomi, akan tetapi pada masalah tertentu akan ada kemungkinan di mana ahli ergonomi, pengobatan dan kesehatan harus bekerjasama dalam menemukan metode kerja yang aman dan selamat.

Ada sejumlah disiplin ilmu dan teknologi yang besar kontribusinya kepada ergonomi. Dari anatomi dan fisiologi kita akan mempelajari tentang struktur dan berfungsinya badan manusia. Anthropometri memberi informasi tentang ukuran tubuh. Psikologi terapan berupaya untuk menemukan parameter dari tingkah laku manusia. Pengobatan industrial dapat membantu untuk merumuskan kondisi kerja yang tidak akan merusak struktur manusia. Dari ilmu fisika dan rekayasa dapat memberi sumbangan pengetahuian tentang kondisi yang dapat menyenangkan karyawan.

            Hasil dari berbagai riset itulah digabung dengan segmen pengetahuan yang telah terkumpul, kemudian dijadikan landasan bagi ergonomi dan pengembangan. Hasil riset hanya bermanfaat setelah diuji-cobakan di dalam praktek. Dan karena ergonomi berkaitan dengan orang yang bekerja, maka penerapannya akan dilakukan di kawasan industri ataupun di tempat-tempat kerja lainnya yang kecuali efektivitas dan efisiensi juga memasukkan keselamatan, keamanan dan kenyamanan sebagai sasaran organisasinya.

Definisi dari Ergonomi (skripsi dan tesis)

Istilah ergonomi berasal dari bahasa latin yaitu ERGON (KERJA) dan NOMOS (HUKUM ALAM) dan dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain/perancangan.

Ergonomi berkenaan pula dengan optimasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan manusia di tempat kerja, di rumah, dan tempat rekreasi. Didalam ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem dimana manusia, fasilitas kerja dan lingkungannya saling berinteraksi dengan tujuan utama yaitu menyesuaikan suasana kerja dengan manusianya. Ergonomi disebut juga sebagai “Human Factors”. Ergonomi juga digunakan oleh berbagai macam ahli/profesional pada bidangnya misalnya: ahli anatomi, arsitektur, perancangan produk industri, fisika, fisioterapi, terapi pekerjaan, psikologi, teknik industri. (Definisi diatas adalah berdasar pada Internasional Ergonomics Association). Selain itu ergonomi juga dapat diterapkan untuk bidang fisiologi, psikologi, perancangan, analisis, sintesis, evaluasi proses kerja dan produk bagi wiraswastawan, manajer, pemerintahan, militer, dosen, dan mahasiswa.

Penerapan ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas rancang bangun (desain) ataupun rancang ulang (re-desain). Hal ini dapat meliputi perangkat keras seperti misalnya perkakas kerja (tools), bangku kerja (benches), platform, kursi, pegangan alat kerja (workholders), sistem pengendali (controls), alat peraga (displays), jalan/lorong (acces ways), pintu (doors), jendela (windows), dan lain-lain. Masih dalam kaitan dengan hal tersebut diatas adalah bahasan mengenai rancang bangun lingkungan kerja (working environment), karena jika sistem perangkat keras berubah maka akan berubah pula lingkungan kerjanya.

            Disamping itu ergonomi juga memberikan peranan penting dalam meningkatkan faktor keselamatan dan kesehatan kerja, misalnya: desain stasiun kerja untuk alat peraga visual (visual display unit station). Hal ini adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan visual dan postur kerja. Desain suatu peletakan instrumen dan sistem pengendali agar didapat optimasi dalam proses transfer informasi dengan dihasilkannya suatu respon yang capat dengan meminimumkan resiko kesalahan, serta supaya didapatkan optimasi, efisiensi kerja, dan hilangnya resiko kesehatan akibat metode kerja yang kurang tepat.

Verifikasi dan Validasi Model (skripsi dan tesis)

Setelah model dibuat, maka tahapan berikutnya adalah melakukan verifikasi dan validasi terhadap model. Verifikasi dari suatu model adalah proses mendemonstrasikan bahwa model benar-benar bekerja sesuai keinginan yang diharapkan dengan mengacu kepada literatur dari pemodelan yang dilakukan. Verifikasi juga merupakan upaya untuk melacak kesalahan yang mungkin terjadi dalam model melalui proses debug sehingga dapat diperbaiki dan dapat menghasilkan suatu model yang diyakini dapat berjalan dengan baik dan benar.

Selama pembuatan model, harus diperhitungkan seberapa dekat model merefleksikan definisi sistem. Proses menentukan tingkat korespondensi (hubungan) model terhadap sistem yang sesungguhnya, atau paling tidak sesuai dengan dokumen yang menspesifikasikan model, disebut dengan validasi.

Tujuan dari validasi adalah memberikan  keyakinan bahwa model benar-benar mempresentasikan sistem sesuai pemodelan yang dilakukan, sehingga semua kesimpulan yang mungkin ditarik dari hasil simulasi mengenai sistem dapat diterima dan dipertanggungjawabkan sampai batas-batas tertentu.

Validasi dapat dilakukan dengan memeriksa kesesuaian struktur model, dengan membandingkan  hasil keluaran  dari simulasi dengan hasil yang terjadi pada sistem sebenarnya yaitu menghitung nilai rata-rata masing-masing simulasi model yang ingin divalidasi dan nilai rata-rata dari sistem nyata kemudian dibuat perbandingan. Dalam hal ini menggunakan uji kesamaan dua rata-rata dan uji variansi. Uji ini untuk membandingkan sistem nyata dengan model simulasi, apakah terdapat perbedaan yang nyata dari sistem nyata dengan model simulasi. Uji kesamaan dua rata-rata diperlakukan pada data output sistem nyata dengan model simulasi.

Simulasi Arena 3 (skripsi dan tesis)

Untuk membangun model  dan menjalankan (run) model  dari sistem manufaktur seperti assembly Lines, flowlines, Job Shop, fork Truck, Conveyor dan Sistem Non Manufaktur seperti Retail and restaurant facilities, logistic system, maintenance system dapat menggunakan software Arena 3.

Arena 3  adalah sebuah program penyusun model dan juga merupakan simulator. Arena merupakan percampuran dari 2 kategori diatas, kombinasi antara kemudahan pemakaian yang dimiliki high level program dan fleksibilitas / kelenturan yang menjadi ciri general purpose  bahasa simulasi.

Arena 3 masuk dalam kategori high level program karena ia bersifat sangat interaktif, pengguna dapat membangun sebuah model hamper sama mudahnya dengan membuat poster dengan menggunakan Corel draw atau membangun flowchart dengan Visio. Hal yang membedakan hanyalah, dalam Arena 3 dibutuhkan pengetahuan mengenai sistem yang akan diamati sebelum memodelkannya.

Sedangkan predikat general purpose-pun disandangnya karena dengan Arena 3 pengguna dapat membangun model, templates dan bahkan pengguna dapat membuat sendiri, modul jika diperlukan dengan menggunakan bantuan program seperti Visual basic, FORTRAN dan bahkan C/C++. Dalam professional edition Arena 3 memfasilitasi pengguna yang ingin membangun sendiri modul dan templatenya.

Mengenai orientasi apa yang dianut oleh Arena 3, Arena 3 secara lugas menggabungkan kedua orientasi tersebut. Disatu sisi ia memodelkan sistem dengan process orientation dan disisi lain yang lain ia memberikan informasi mengenai kejadian dalam sistem secara event orientation (Arya Wirabhuana, 1999)

Setelah penyusunan model maka seterusnya melakukan pemeriksaan apakah model sesuai dengan permasalahan yang sebenarnya (validasi model), dengan cara melihat asumsi-asumsi yang berlaku pada model apakah sesuai dengan permasalahan sebenarnya. Selanjutnya dilakukan tahap analisis model untuk mencari solusi dari model yang bersangkutan.

Pengertian Simulasi (skripsi dan tesis)

Simulasi merupakan pemodelan suatu proses atau sistem sedemikian rupa sehingga model menyerupai sistem nyata dengan segala event yang terjadi didalamnya. Simulasi adalah proses perancangan model dari suatu sistem nyata yang pelaksanaan eksperimen-eksperimen debngan model ini untuk tujuan memahami tingkah laku sistem serta menyusun strategi sehubungan dengan operasi sistem tersebut.

Simulasi dapat digunakan sebagai alat yang dapat memberikan informasi alam kaitannya dengan proses pengambilan keputusan, karena proses pengambilan keputusan akan memakan waktu yang lebih singkat dengan bantuan simulasi.

Pemodelan Sistem (skripsi dan tesis)

Pada umumnya literature tentang model sepakat untuk mendefinisikan kata ”model” sebagai suatu representasi atau formalisasi dalam bahasa tertentu (yang disepakati) dari suatu kondisi sistem nyata. Adapun sistem nyata adalah sistem yang sedang berlangsung dalam kehidupan, sistem yang dijadikan titik perhatian dan dipermasalahkan. Dengan demikian, pemodelan adalah proses membangun atau membentuk sebuah model dari suatu sistem nyata dalam bahasa formal tertentu (Togar Simatupang, 1994).

Model digunakan untuk memberikan gambaran (description), memberikan penjelasan dan memberikan  perkiraan dari realita yang diselidiki.

Pendekatan Sistem dan Konsep Sistem Antrian (skripsi dan tesis)

Pendekatan sistem memberikan suatu kerangka yang menyeluruh dalam menyelesaikan bermacam-macam permasalahan yang ada. Dengan menggunakan pendekatan sistem, dunia nyata yang berhubungan dengan masalah dipandang sebagai sistem dan pemecahan masalah dipandang sebagai suatu studi dari sistem tersebut dengan tujuan tertentu yang telah ditentukan. Langkah penting dari tahap ini adalah mendiskripsikan sistem tersebut secara tepat.

  1. Sebagai langkah awal adalah mendefinisikan masalah yang diangkat dari dunia nyata. Tahap ini merupakan tahap yang paling kritis karena akan menentukan arah tahap-tahap selanjutnya.
  2. Pemecahan masalah yang diangkat, dianggap sebagai suatu studi, harus mempunyai tujuan yang jelas. Kejelasan pemecahan masalah akan menentukan kelancaran proses pencarian solusi dari permasalahan.
  3. Dunia nyata yang berhubungan dengan masalah yang diangkat dipandang sebagai sistem. Langkah penting untuk mengetahui gambaran sistem yang dimaksud adalah dengan mendiskripsikan keseluruhan secara tepat.
  4. Pada umumnya permasalahan dari dunia nyata adalah sangat kompleks, Oleh sebab itu perlu dilakukan penyederhanaan (simplifikasi), karena tidak semua faktor dari sistem nyata dapat diambil untuk proses pemodelan dalam menyelesaikan masalah yang dipertimbangkan saja.
  5. Karakterisasi sistem merupakan hasil dari simplifikasi yang bertujuan untuk mengidentifikasikan faktor-faktor yang relevan utuk mendapatkan solusi dari permasalahan yang diangkat.

Dalam menggambarkan suatu sistem, seseorang harus memiliki pemahaman dan konsep-konsep yang digunakan dalam pendekatan sistem, serta pengertian-pengertian yang jelas tentang sistem itu sendiri.

Berikut akan dijelaskan mengenai konsep sistem, karakteristik sistem, parameter dan variabel sistem, serta lingkungan sistem.

  1. Konsep Sistem

Sistem adalah sekumpulan obyek yang tergabung dalam suatu interaksi atau saling ketergantungan atau interdepensi yang teratur (Sandi Setiawan, 1991).

Pendapat yang lain, sistem didefinisikan sebagai sekumpulan elemen yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan didalam suatu lingkungan yang kompleks (Ali Basyah Siregar, 1992).

  1. Karakterisasi Sistem

Merupakan diskripsi parsial dari sistem nyata yang hanya berhubungan dengan permasalahan yang diangkat. Karakterisasi sistem berkenaan dengan permasalahan yang meliputi : hubungan interaksi (relasi), derajat ketelitian, sistem statik dan dinamik, waktu kontinyu dan diskrit, serta sistem deterministik dan stokastik.

  1. Hubungan Interaksi (relasi)

Hubungan interaksi antar komponen digambarkan melalui hubungan antar variabel-variabel dari komponen yang berinteraksi. Hubungan “cause effek” ini menghasilkan sesuatu yang dinamakan dengan hubungan sebab akibat.

Dalam beberapa sistem, tidak semudah untuk mengidentifikasikan dan mendefinisikan hubungan kausal antar variabel-variabelnya. Bahkan dalam beberapa kasus tertentu, mungkin terdapat lebih dari satu sebab untuk sebuah akibat pada suatu sistem tertentu.

  1. Derajat Ketelitian

Jika struktur dalam (inner) sistem tidak diketahui dan sistem digambarkan hanya dengan variabel-variabel yang berinteraksi dengan lingkungannya saja sering dinamakan dengan “Black-box”. Sebaliknya, jika struktur dalam sistem digambarkan secara rinci dengan melalui seluruh komponen dalam suatu sistem beserta atribut-atributnya (melalui variabel dan hubungan-hubungan). Dalam hal ini sistem dipandang sebagai suatu “White-box” atau yang biasa dinamakan “Transparent-box”.

Derajat ketelitian diperlukan untuk menggambarkan suatu sistem secara tepat dalam hubungan dengan banyak faktor. Jika seluruh perincian dimasukkan dalam penggambaran suatu sistem, maka hal ini bias menjadi tidak teratur atau menjadi lebih rumit. Namun sebaliknya, jika perincian penting diabaikan, maka penggambaran sistem  menjadi tidak lengkap. Oleh sebab itu, diperlukan batas tertentu untuk mengadakan suatu studi.

  1. Sistem statis dan dinamik

Dalam sistem statis, aspek waktu tidak banyak berpern sehingga variabel-variabel dan hubungan yang digambarkan oleh sistem bersifat tidak terikat dengan waktu (time-independent).

Sebaliknya, dalam sistem dinamik, aspek waktu sangat berperan sehingga variabel-variabel dan hubungan-hubungan yang digambarkan sistem senantiasa berubah-ubah sesuai waktu.

  1. Waktu Kontinyu dan Diskrit

Jika elemen waktu diperlukan secara kontinyu maka variable-variabel sistem harus digambarkan untuk setiap waktu selama interval waktu pengamatan yang telah ditentukan. Sebaliknya, jika elemen waktu diperlukan secaraa diskrit, maka variabel-variabelnya digambarkan hanya untuk saat-saat tertentu yang relevan saja.

Apabila penggunaan waktu secara kontinyu terlalu rinci maka dalam kondisi tersebut, seseorang harus memilih penggunaan waktu secara diskrit dengan perubahan-perubahan waktu yang berlainan. Jika interval perubahan cukup besar, maka didapat penggambaran sistem secara kasar.

  1. Sistem Deterministik dan Stokastik

Suatu sistem dikatakan deterministik jika nilai-nilainya dapat diasumsikan oleh variabel-variabel untuk sistem statis atau perubahan-perubahan variabel dapat diprediksi secara pasti untuk sistem dinamik jika tidak, maka ketidakpastian akan menjadi ciri penting dari sistem tersebut dan nilai-nilai yang diasumsikan oleh variabel-variabel atau perubahan dalam variabel-variabel tersebut, akan terjadi secara random dan tidak dapat diprediksikan. Sistem seperti ini biasa dapat disebut sistem probabilistik atau sistem stokastik.

Jika ketidakpastian tidak dominan (tidak berarti) maka dapat diabaikan dan sistem dipandang sebagai sistem deterministik. Hal ini merupakan proses penyederhanaan (simplifikasi) atau idealisasi. Jika ketidakpastian sangat dominan (cukup berarti) maka tidak bisa diabaikan begitu saja, dan harus dipertimbangkan dalam proses karakterisasi sistem

  1. Parameter dan Variabel Sistem

Atribut suatu komponen sering dinamakan dengan parameter dan variabel. Parameter adalah atribut intrinsik dari suatu komponen. Variabel adalah atribut yang diperlukan  untuk menjelaskan interaksi antar komponen-komponen.

  1. Lingkungan Sistem

Lingkungan sistem adalah sesuatu yang digunakan untuk menggambarkan komponen-komponen yang berada di luar sistem, namun memiliki hubungan interaksi dengan sistem. Hubungan interaksi antar sistem dan lingkungannya, dilakukan melalui variabel-variabel umum pada kedua sistem tersebut.

Apabila suatu komponen berinterasi dengan sistem ini tidak dianggap sebagai bagian dari sistem, karena sistem dan lingkungan membuat suatu dunia sendiri, yang masing-masing tidak kalah menariknya, pemisahan hal ini menjadi dua bagian, sistem dan lingkungan, adalah untuk memudahkan dan perubahan-perubahan, karena ini dapat dilakukan dalam banyak cara.

Hal di atas memberikan impliksi bahwa terdapat pilihan-pilihan khusus dari batas sistem yang dapat menjawab permasalahan. Pemilihan batas sistem merupakan bagian dari aspek seni dalam pemodelan matematika, tidak ada pemisahan sistem dan lingkungan secara baku suatu proses karakterisasi sistem akan memberikan bermacam-macam pilihan batas sistem. Tahap berikutnya setelah proses karakterisasi sistem adalah penyusunan model.

Tujuan Model Antrian (skripsi dan tesis)

Tujuan dari model antrian adalah untuk meminimasi total dua biaya, yaitu biaya langsung penyediaan fasilitas pelayanan dan biaya tidak langsung karena para individu harus menunggu untuk dilayani. Bila suatu sistem mempunyai fasilitas pelayanan lebih dari jumlah optimal, ini berarti membutuhkan investasi modal yang berlebihan, tetapi bila jumlahnya kurang dari optimal hasilnya adalah tertundanya pelayanan (Hani Handoko dkk, 1997).

Model biaya dalam antrian berusaha menyeimbangkan biaya menunggu dengan biaya kenaikan tingkat pelayanan yang saling bertentangan. Sementara tingkat pelayanan meningkat, biaya waktu menunggu pelayanan menurun. Tingkat pelayanan optimum terjadi ketika jumlah kedua biaya ini optimum (Hamdy Taha,1997).

Model-model Antrian (skripsi dan tesis)

Dalam mengelompokkan model-model antrian yang berbeda-beda akan digunakan suatu notasi yang disebut Kendall’ Notation. Notasi ini sering dipergunakan karena beberapa alasan. Pertama, karena notasi  tersebut merupakan alat yang efisien untuk mengidentifikasikan tidak hanya model-model antrian, tetapi juga asumsi-asumsi yang harus  dipenuhi. Kedua, hampir semua literatur yang membahas teori antrian menggunakan notasi ini.

Tanda pertama notasi selalu menunjukkan distribusi tingkat kedatangan. Dalam hal ini, M menunjukkan tingkat kedatangan mengikuti suatu distribusi probabilitas Poisson. Tanda kedua menunjukkan distribusi tingkat pelayanan. Lagi, M menunjukkan bahwa tingkat pelayanan mengikuti distribusi probabilitas Poisson.

Tanda  ketiga menunjukkan jumlah fasilitas pelayanan dalam sistem. Model di atas adalah model yang mempunyai fasilitas pelayanan tunggal. Tanda keempat dan kelima ditambahkan untuk menunjukkan apakah sumber populasi dan kepanjangan antrian  adalah tak terbatas (I) atau terbatas (F).

Dengan tanda-tanda tersebut ditunjukkan empat model yang berbeda yang akan dirumuskan dan dipecahkan dalam bagian ini, yaitu :

Model 1 :    M/M/I/I/I

Model 2 :    M/M/S/I/I

Model 3 :    M/M/I/I/F

Model 4 :    M/M/S/F/I

Struktur antrian (skripsi dan tesis)

Atas dasar sifat proses pelayanannya, dapat diklasifikasikan fasilitas-fasilitas pelayanan dalam susunan saluran atau chanel (single atau multiple) dan phase (single atau multiple) yang akan membentuk suatu struktur antrian yang berbeda-beda. Istilah saluran atau channel menunjukkan jumlah jalur (tempat) untuk memasuki sistem pelayanan, yang juga menunjukan jumlah fasilitas pelayanan. Istilah phase berarti jumlah stasiun-stasiun pelayanan, dimana para langganan harus melaluinya sebelum pelayanan dinyatakan lengkap (Hani Handoko dkk, 1997).

Ada 4 model struktur antrian dasar yang umum terjadi dalam seluruh sistem antrian. ( Richard B Chase, 1997) :

  1. Single Channel- Single Phase

Sistem ini adalah sistem antrian yang paling sederhana. Single channel berarti bahwa hanya ada satu jalur untuk  memasuki sistem pelayanan atau ada satu fasilitas pelayanan. Single phase menunjukkan bahwa  hanya ada satu stasiun pelayanan atau sekumpulan tunggal operasi yang dilaksanakan. Setelah menerima pelayanan, individu-individu keluar dari sistem.

Contoh untuk model struktur ini adalah seorang tukang cukur, pembelian tiket kereta api antarkota kecil yang dilayani oleh satu loket, seorang pelayan toko, dan sebagainya.

  1. Single Channel- Multiphase

Model ini ditunjukkan dalam gambar 2. Istilah multiphase menunjukkan ada dua  atau lebih pelayanan yang dilaksanakan secara berurutan (dalam phase-phase). Sebagai contohnya, lini produksi massa, pencucian mobil, tukang cat mobil dan sebagainya.

  1.   Multichannel – Single Phase

         System multichannel-single phase terjadi (ada) kapan saja dua atau lebih fasilitas layanan dialiri oleh antrian tunggal, seperti yang ditunjukkan dalam gambar 3.  Sebagai contoh model ini adalah pembelian tiket yang dilayani oleh lebih dari satu loket pelayanan potong rambut  oleh beberapa tukang potong dan sebagainya.

                                             d. Multichannel – Multiphase

Sistem  multichanel – multiphase ditunjukkan dalam gambar 4. Sebagai contoh, herregistrasi para mahasiswa di universitas, pelayanan kepada pasien di rumah sakit dari pendaftaran, diagnosa, penyembuhan sampai pembayaran. Setiap sistem-sistem ini mempunyai beberapa fasilitas pelayanan pada setiap tahap, sehingga lebih dari satu  dari individu dapat dilayani pada suatu waktu. Pada umumnya, jaringan antrian ini terlalu kompleks untuk dianalisa  dengan teori antrian, mungkin simulasi lebih sering digunakan untuk menganalisa sistem ini.

Sistem Antrian (skripsi dan tesis)

Pada umumnya sistem antrian dapat diklasifikasikan menjadi sistem yang berbeda-beda di mana teori antrian dan simulasi sering diterapkan secara luas. Klasifikasi menurut Hiller dan Lieberman (Hani Handoko dkk, 1997) adalah sebagai berikut :

  1. Sistem pelayanan komersial

Sistem pelayanan komersial merupakan aplikasi yang sangat luas dari model-model antrian seperti restoran, cafetaria, toko-toko, tempat potong rambut (salon), boutiques, supermarket dan sebagainya.

  1. Sistem pelayanan bisnis-industri

Sistem pelayanan bisnis industri mencakup lini produksi, sistem material handling, sistem pergudangan, dan sistem-sistem informasi komputer.

  1. Sistem pelayanan transportasi

Sistem pelayanan transportasi mencakup sistem layanan pelayanan transportasi udara, air dan darat.

  1. Sistem pelayanan sosial

Sistem-sistem pelayanan sosial merupakan sistem-sistem pelayanan yang dikelola oleh kantor-kantor dan jawatan-jawatan lokal maupun nasional, seperti kantor tenaga kerja, kantor registrasi SIM dan STNK, dan sebagainya, serta kantor pos, rumah sakit, puskesmas  dan lain-lainnya.

Prinsip Antrian (skripsi dan tesis)

  1. Panjang antrian

Banyak sistem antrian  dapat menampung jumlah individu-individu yang relatif besar, tetapi ada beberapa sistem yang mempunyai kapasitas yang terbatas. Bila kapasitas antrian menjadi faktor pembatas besarnya jumlah individu yang dapat dilayani  dalam sistem secara nyata, berarti sistem mempunyai kepanjangan antrian yang terbatas dan model antrian terbatas harus digunakan untuk menganalisa sistem tersebut.

Sebagai contoh sistem yang mungkin mempunyai antrian yang terbatas adalah jumlah tempat parkir atau stasiun pelayanan, jumlah tempat minum di pelabuhan udara, atau jumlah tempat tidur di rumah sakit. Secara umum model antrian terbatas lebih kompleks daripada sistem antrian tak terbatas (Hani Handoko dkk, 1997).

  1. Disiplin Antrian

Disiplin antrian menunjukkan pedoman keputusan yang digunakan  untuk menyeleksi individu-individu yang memasuki antrian untuk dilayani terlebih dahulu (prioritas). Beberapa macam disiplin antrian (Hani Handoko dkk, 1997) diantaranya adalah :

  1. First Come, First Served (FCFS)

Disiplin antrian yang paling umum adalah pedoman First Come, First Served (FCFS), yang pertama kali datang pertama  kali dilayani. Contohnya sistem antrian dalam membeli tiket kereta api.

  1. 2.Last Come-Fisrts Served (LCFS)

Yang datang terakhir yang lebih dahulu keluar. Contohnya sistem antrian dalam lift untuk lantai yang sama.

  1. 3.Service In Random Order (SIRO).

Panggilan didasarkan pada peluang secara random, tidak mempersoalkan siapa yang lebih dahulu datang.

Struktur Dasar Model Antrian (skripsi dan tesis)

Setiap masalah antrian dapat diuraikan dalam tiga karakteristik yaitu kedatangan / sumber masukan, antrian dan keluar / exit (Richard B.Chase, 1997). Sistem antrian yang paling sederhana  dapat digambarkan sebagai berikut :

  1.  Kedatangan 
  2.    Sumber kedatangan / input

                     Sumber masukan dari suatu sistem antrian dapat terdiri atas suatu  populasi orang, barang, komponen, atau kertas kerja yang datang  pada sistem yang dilayani. Bila populasi relatif  besar sering dianggap bahwa hal itu merupakan besaran yang tak terbatas.

                      Suatu populasi dinyatakan “besar” bila populasi tersebut besar dibanding dengan kapasitas sistem pelayanan. Sebagai contoh, suatu masyarakat kecil yang terdiri dari  10.000 orang mungkin akan menjadi suatu populasi yang tidak terbatas bagi sebuah pengecer tetapi mungkin tidak cukup besar bagi 100 shopping center yang ada. Bila dirumuskan sistem pemeliharaan sejumlah mesin sebagai populasi dan perawat mesin sebagai fasilitas pelayanan, tentu saja sejumlah mesin tersebut tidak  akan dinyatakan sebagai sumber yang tidak terbatas (Hani Handoko dkk, 1997).

  1. Pola Kedatangan

               Cara dengan mana individu-individu dari populasi memasuki sistem disebut pola kedatangan (arrival pattern). Individu-individu mungkin sering datang dengan tingkat kedatangan (arrival rate) yang konstan ataupun acak / random. Tingkat kedatangan produk-produk yang bergerak sepanjang lini perakitan produksi massa mungkin konstan, sedang tingkat kedatangan telephone calls sangat sering mengikuti suatu distribusi Poisson (Hani Handoko dkk, 1997).

               Distribusi probabilitas Poisson adalah salah satu dari pola-pola kedatangan yang paling sering (umum) bila kedatangan-kedatangan didistribusikan secara random. Hal ini terjadi karena distribusi Poisson menggambarkan sejumlah kedatangan perunit bila sejumlah besar variabel-variabel random mempengaruhi tingkat kedatangan. D

  1. Perilaku kedatangan

       Ada dua perilaku kedatangan, yaitu balk dan renegeBalk (penolakan) adalah fenomena dimana pelanggan yang datang ke sistem antrian menolak  untuk masuk ke  sistem antrian  karena harus mengantri. Sementara itu renege menggambarkan situasi dimana pada mulanya pelanggan bersedia mengantri tetapi kemudian meninggalkan antrian sebelum dilayani.

Antrian (skripsi dan tesis)

Situasi antrian merupakan suatu kejadian yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari, misalnya para pelanggan yang berdiri di depan kasir pada supermarket, nasabah bank yang berdiri di depan loket pelayanan, antrian restoran, antrian mobil di gerbang tol, mesin-mesin rusak yang menunggu untuk diperbaiki oleh petugas perbaikan mesin  dan lain-lain.

Satu hal yang dimiliki bersama oleh semua situasi ini adalah fenomena menunggu.  Fenomena menunggu adalah hasil langsung dari keacakan dalam operasi sarana pelayanan. Secara umum kedatangan pelanggan dan waktu pelayanan tidak diketahui sebelumnya, karena jika diketahui, pengoperasian  sarana tersebut dapat dijadwalkan sedemikian rupa sehingga akan sepenuhnya menghilangkan keharusan untuk menunggu (Hamdy Taha, 1997).

Situasi antrian terjadi sebagai berikut, sementara para pelanggan tiba di satu sarana pelayanan, mereka bergabung dalam sebuah antrian. Pelayan memilih seorang pelanggan  dari antrian untuk memulai pelayanan. Setelah selesainya pelayanan, proses memilih pelanggan baru (yang sedang menunggu) diulangi. Diasumsikan tidak ada waktu yang hilang antara penyelesaian pelayanan dengan diterimanya seorang pelanggan baru di sarana pelayanan tersebut (Hamdy Taha, 1997).

Pengertian Kemasan (skripsi dan tesis)

 

Didalam pengemasan bahan pangan terdapat dua macam wadah, yaitu wadah utama atau wadah yang langsung berhubungan dengan bahan pangan dan wadah kedua atau wadah yang tidak langsung berhubungan dengan bahan pangan. Wadah utama harus bersifat non toksik dan inert sehingga tidak terjadi reaksi kimia yang dapat menyebabkan perubahan warna, flavour dan perubahan lainnya. Selain itu, untuk wadah utama biasanya diperlukan syarat-syarat tertentu bergantung pada jenis makanannya, misalnya melindungi makanan dari kontaminasi, melindungi kandungan air dan lemaknya, mencegah masuknya bau dan gas, melindungi makanan dari sinar matahari, tahan terhadap tekanan atau benturan dan transparan (Winarno, 1983).

Melindungi bahan pangan dari kontaminasi berarti melindunginya terhadap mikroorganisme dan kotoran serta terhadap gigitan serangga atau binatang pengerat lainnya. Melindungi kandungan airnya berarti bahwa makanan didalamnya tidak boleh menyerap air dari atmosfer dan juga tidak boleh berkurang adar airnya. Jadi wadahnya harus kedap air. Perlindungan terhadap bau dan gas dimaksudkan supaya bau atau gas yang tidak diinginkan tidak dapat masuk melalui wadah tersebut dan jangan sampai merembes keluar melalui wadah. Wadah yang rusak karena tekanan atau benturan dapat menyebabkan makanan di dalamnya juga rusak dalam arti berubah bentuknya (Winarno, 1983).

Menurut Erliza dan Sutedja (1987) bahan kemasan harus mempunyai syarat-syarat yaitu tidak bersifat toksik, harus cocok dengan bahan yang dikemas, harus menjamin sanitasi dan syarat-syarat kesehatan, dapat mencegah kepalsuan, kemudahan membuka dan menutup, kemudahan dan keamanan dalam mengeluarkan isi, kemudahan pembuangan kemasan bekas, ukuran, bentuk dan berat harus sesuai, serta harus memenuhi syarat-syarat yaitu kemasan yang ditujukan untuk daerah tropis mempunyai syarat yang berbeda dari kemasan yang ditujukan untuk daerah subtropis atau daerah dingin. Demikian juga untuk daerah dengan kelembaban tinggi dan daerah kering.

Berdasarkan fungsinya pengemasan dibagi menjadi dua, yaitu pengemasan untuk pengangkutan dan distribusi (shiping/delivery package) dan pengemasan untuk perdagangan eceran atau supermarket (retail package). Pemakaian material dan pemilihan rancangan kemasan untuk pengangkutan dan distribusi akan berbeda dengan kemasan untuk perdagangan eceran. Kemasan untuk pengangkutan atau distribusi akan mengutamakan material dan rancangan yang dapat melindungi kerusakan selama pengangkutan dan distribusi, sedangkan kemasan untuk eceran diutamakan material dan rancangan yang dapat memikat konsumen untuk membeli (Peleg, 1985).

Menurut Winarno, et al. (1986) makanan yang dikemas mempunyai tujuan untuk mengawetkan makanan, yaitu mempertahankan mutu kesegaran, warnanya yang tetap, untuk menarik konsumen, memberikan kemudahan penyimpanan dan distribusi, serta yang lebih penting lagi dapat menekan peluang terjadinya kontaminasi dari udara, air, dan tanah baik oleh mikroorganisme pembusuk, mikroorganisme yang dapat membahayakan kesehatan manusia, maupun bahan kimia yang bersifat merusak atau racun. Beberapa faktor yang penting diperhatikan dalam pengemasan bahan pangan adalah sifat bahan pangan tersebut, keadaan lingkungan dan sifat bahan pengemas. Sifat bahan pangan antara lain adalah adanya kecendrungan untuk mengeras dalam kadar air dan suhu yang berbeda-beda, daya tahan terhadap cahaya, oksigen dan mikroorganisme.

Winarno dan Jennie (1982) mengemukakan bahwa bahan pengemas harus tahan serangan hama atau binatang pengerat dan bagian dalam yang berhubungan langsung dengan bahan pangan harus tidak berbau, tidak mempunyai rasa serta tidak beracun. Bahan pengemas tidak boleh bereaksi dengan komoditi.

Adanya pengemasan dapat membantu untuk mencegah atau mengurangi terjadinya kerusakan- kerusakan. Menurut Brody (1972) kerusakan produk biasanya terjadi karena pengaruh lingkungan luar dan pengaruh kemasan yang digunakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerusakan bahan pangan sehubungan dengan kemasan yang digunakan menurut Winarno dan Jenie (1982) dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu golongan pertama kerusakan ditentukan oleh sifat alamiah dari produk dan tidak dapat dicegah dengan pengemasan, misalnya perubahan kimia, biokimia, fisik serta mirobiologi; sedangkan golongan kedua, kerusakan yang ditentukan oleh lingkungan dan hampir seluruhnya dapat dikontrol dengan kemasan yang dapat digunakan, misalnya kerusakan mekanis, perubahan kadar air bahan, absorpsi dan interaksi dengan oksigen.

Dimensi dan Mobilitas Kebutuhan Hunian (skripsi dan tesis)

2.1.1   Dimensi dan Mobilitas Kebutuhan Hunian

Turner (1968) mengemukakan 4 macam dimensi yang bergerak paralel dengan mobilitas tempat tinggal yakni :

  1. Dimensi lokasi, mengacu pada tempat – tempat tertentu yang oleh seseorang dianggap cocok untuk tempat tinggal dalam kondisi dirinya. Kondisi ini lebih ditekankan pada penghasilan dan siklus kehidupannya. Sebagai contoh, seseorang pada struktur ekonomi menengah ke bawah akan lebih memilih lokasi tempat tinggal yang dekat dengan lingkungan kerjanya agar menimimalisir biaya transportasi.
  2. Dimensi perumahan, berkaitan dengan penguasaan (tenure) yang erat kaitannya dengan pemilihan karakteristik tempat tinggalnya. Semakin tinggi tingkat penguasaan maka akan semakin flexible pula pilihan atribut tempat tinggalnya. Aspek penguasaan pada umumnya bergerak paralel pada tingkat penghasilan dan siklus kehidupannya. Seseorang yang berpenghasilan rendah misalnya, akan memilih menyewa atau mengontrak rumah saja daripada memilikinya dikarenakan adanya kebutuhan primer yang lebih dianggap mendesak untuk dipenuhi.
  3. Dimensi siklus kehidupan, membahas tahap – tahap seseorang menapaki kehidupannya. Dimensi ini serupa dengan teori yang diungkapkan oleh Maslow (1970), dimana terdapat lima hirarki kebutuhan yakni,

 

Seseorang harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan primernya dalam hal ini kebutuhan fisiologis manusia sebelum beranjak kepada tingkatan – tingkatan kebutuhan tertinggi. Berdasarkan gambar 2.1, dijelaskan tentang tahapan seseorang dalam memenuhi kebutuhannya yang menurut Turner berbanding lurus dengan penghasilannya. Secara umum, semakin tinggi tingkat penghasilan seseorang maka semakin tinggi pula tingkatan kebutuhan yang akan dipenuhinya. Lebih lanjut Turner (1968) menyimpulkan tiga kebutuhan dasar manusia yakni opportunity (kesempatan), identity (identitas), dan security (keamanan).   

  1. Dimensi penghasilan, menekankan pembahasannya pada besar kecilnya penghasilan yang diperoleh persatuan waktu. Seiring dengan meningkatnya jumlah penghasilan seseorang, maka semakin tinggi pula prioritas dari kebutuhan perumahan dan siklus kehidupan yang diperolehnya. Oleh karena itu, Turner (1972) mengkaitkan hubungan antara penghasilan dengan prioritas kebutuhannya sebagai berikut :

 

Dlam dimensi siklus kehidupan, dimensi lokasi, dan dimensi perumahan terdapat korelasi yang sangat erat. Seseorang dengan penghasilan yang rendah cenderung memprioritaskan kebutuhan dasar (opportunity) tanpa melihat keamanan dan status sosialnya sehingga prioritas dalam bertempat tinggalpun cenderung memilih untuk menyewa tempat tinggal yang kualitas fisiknya terbilang kurang memadai. Dari segi lokasipun, seseorang dengan tingkat penghasilan yang rendah lebih memilih tempat tinggal yang berdekatan dengan sesamanya. Lain halnya dengan seseorang yang penghasilannya tinggi dimana prioritas kebutuhan utamanya yakni meningkatkan strata sosial di masyarakat. Seseorang pada tahap ini cenderung ingin memiliki tempat tinggal yang secara kualitas fisiknya modern.

Untuk menilik pada klasifikasi objek yang berkaitan dengan dimensi kebutuhan tempat tinggal, maka dilakukan pembagian golongan penduduk berdasarkan strata sosial yang berkenaan dengan lama bertempat tinggal di suatu wilayah. Dengan asumsi bahwa semakin lama seseorang menetap di sesuatu wilayah, maka semakin mantap posisi pekerjaannya sehingga semakin tinggi pula tingkat penghasilannya. Turner (1968) mengemukakan tiga golongan yakni :

  1. Bridgeheaders, golongan yang baru bertempat tinggal di suatu daerah yang dengan segala keterbatasannya belum mampu mengangkat dirinya ke jenjang sosial ekonomi yang lebih tinggi.
  2. Consolidators, golongan yang agak lama tinggal di suatu daerah yang telah mapan terhadap posisi pekerjaannya.
  3. Status seekers, golongan yang telah lama tinggal di suatu daerah yang telah mapan dalam hal kemampuan ekonominya. Kemampuan ekonomi tersebut mengubah perilaku seseorang dimana ia menginginkan pengakuan dalam status sosial oleh lingkungan sosialnya.

 

Seseorang dalam golongan bridgeheaders pada umumnya termasuk pada golongan kategori penghasilan rendah sehingga kemampuan ekonominya belum mampu untuk membangun rumah sendiri. Oleh karena lokasi pekerjaan pada umumnya terletak di pusat kota, maka golongan ini cenderung lebih senang tinggal di lokasi yang dekat dengan tempat kerjanya dengan maksud supaya pengeluaran untuk transportasi dapat dihemat.

Seiring dengan berjalannya waktu, golongan bridgeheaders yang telah mapan dari segi kemampuan ekonominya kemudian memasuki pada jenjang consolidators. Dalam jenjang ini, pemilihan lokasi tempat tinggal yang dekat dengan lokasi kerjanya akan turun skala prioritasnya karena dirasa tempat tinggal di pusat kota sudah tidak memberikan kenyamanan. Golongan ini mulai mengalihkan perhatiannya pada daerah pinggiran kota yang menurutnya menjanjikan kenyamanan bertempat tinggal. Hal ini wajar, karena penghasilannya sudah cukup tinggi sehingga mampu mengusahakan untuk membeli alat transportasi pribadi.

Dengan meningkatnya kemapanan ekonomi seseorang, kebutuhan hunian pun sudah tidak lagi berdasar pada sisi perlindungan. Pandangan tempat tinggal bagi golongan lanjut yakni status seekers, mulai menapaki fungsi hunian sebagai alat investasi. Pada tahap ini, seseorang akan lebih cenderung untuk membeli rumah yang mewah dari segi kualitas fisiknya dengan jumlah yang banyak. Hal ini merupakan upayanya untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang lebih dan pengakuan dari segi status sosial di lingkungan masyarakatnya.

Kebutuhan Hunian (skripsi dan tesis)

Hunian atau tempat tinggal secara umum disebut permukiman dan secara khusus disebut sebagai bangunan rumah. Setiap manusia membutuhkan tempat tinggal baik di daerah bersuhu dingin maupun daerah bersuhu udara panas sebagai tempat perlindungannya. Dalam Undang – Undang Nomor 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman, dijelaskan bahwa rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Sedangkan perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Sementara itu Sa’idah (1999) berpendapat bahwa rumah (hunian) selain menjadi tempat berlindung, juga mempunyai peranan lain yaitu sebagai tempat berlangsungnya proses penghidupan manusia. Kebutuhan hidup ini sesuai dengan peradaban manusia yang semakin tinggi tidak saja terbatas pada kebutuhan untuk mempertahankan diri tetapi juga meningkat pada kebutuhan yang lebih tinggi nilainya, misalnya kebutuhan untuk bergaul dengan manusia lain, kebutuhan akan harga diri, kebutuhan meningkatkan sumber pendapatan, dan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Berdasarkan hal tersebut, maka disimpulkan bahwa hunian sebagai sarana dalam pemenuhan kebutuhan kehidupan yakni :

  1. Secara fisik, sebagai shelter atau tempat berlindung dari cuaca dan ancaman nyawa manusia yang tidak dihendaki.
  2. Secara ekonomi, sebagai investasi atau modal bagi pemiliknya. Rumah sebagai produk yang memiliki nilai ekonomis dan untuk kegiatan berekonomi.
  3. Secara sosial, sebagai tempat bersosialisasi serta pemenuhan kepuasan dalam pencerminan taraf hidup di lingkungan sosialnya.
  4. Secara psikologis, sebagai sarana edukasi dan pemenuhan cita rasa estetika.

PERGESERAN GUNA LAHAN (skripsi dan tesis)

Menurut Lestari (2009) mendefinisikan perubahan atau pergeseran guna lahan atau lazimnya disebut sebagai konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula (seperti yang direncanakan) menjadi fungsi lain yang menjadi dampak negatif (masalah) terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri.

Winoto (2005) mengemukakan bahwa lahan yang paling rentan terhadap alih fungsi adalah sawah. Hal tersebut disebabkan oleh:

  1. Kepadatan penduduk di pedesaan yang mempunyai agroekosistem dominan sawah pada umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan agroekosistem lahan kering, sehingga tekanan penduduk atas lahan juga lebih inggi.
  2. Daerah persawahan banyak yang lokasinya berdekatan dengan daerah perkotaan.
  3. Akibat pola pembangunan di masa sebelumnya. Infrastruktur wilayah persawahan pada umumnya lebih baik dari pada wilayah lahan kering.
  4. Pembangunan prasarana dan sarana pemukiman, kawasan industri, dan sebagainya cenderung berlangsung cepat di wilayah bertopografi datar, dimana pada wilayah dengan topografi seperti itu (terutama di Pulau Jawa) ekosistem pertaniannya dominan areal persawahan.

Menurut Wahyunto (2001), perubahan penggunaan lahan dalam pelaksanaan pembangunan tidak dapat dihindari. Perubahan tersebut terjadi karena dua hal, pertama adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin meningkat jumlahnya dan kedua berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan kebutuhan hidup yang lebih baik. Menurut Irawan (2005), ada dua hal yang mempengaruhi alih fungsi lahan. Pertama, sejalan dengan pembangunan kawasan perumahan atau industri di suatu lokasi alih fungsi lahan, maka aksesibilitas di lokasi tersebut menjadi semakin kondusif untuk pengembangan industri dan pemukiman yang akhirnya mendorong meningkatnya permintaan lahan oleh investor lain atau spekulan tanah sehingga harga lahan di sekitarnya meningkat. Kedua, peningkatan harga lahan selanjutnya dapat merangsang petani lain di sekitarnya untuk menjual lahan.

Menurut Lestari (2009) proses alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan non pertanian yang terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Ada tiga faktor penting yang menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan sawah yaitu:

  1. Faktor Eksternal.

  Merupakan faktor yang disebabkan oleh adanya dinamika pertumbuhan perkotaan, demografi maupun ekonomi. Pertumbuhan perkotaan didorong oleh pertumbuhan jumlah penduduk perkotaan yang ada baik dari kelahiran maupun urbanisasi, hal ini menyebabkan kebutuhan ruang untuk tempat tinggal juga akan meningkat sementara lahan perkotaan sangatlah terbatas. Selain itu, pertumbuhan perekonomian kota seperti kebutuhan penyediaan fasilitas umum, maupun infrastrutur untuk bisnis dan perdagangan juga samakin membutuhkan ketersediaan lahan yang besar.

  1. Faktor Internal.

Faktor ini lebih melihat sisi yang disebabkan oleh kondisi sosial ekonomi rumah tangga pertanian pengguna lahan. Kebutuhan sosial ekonomi masyarakat petani semakin tinggi sehingga seringkali kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi dari usaha pertanian saja dan pada akhirnya hanya dapat dipenuhi dengan cara menjual lahan pertanian yang mereka miliki dan beralih profesi ke non pertanian.

  1. Faktor Kebijakan

  Yaitu aspek regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah yang berkaitan dengan perubahan fungsi lahan pertanian. Kelemahan pada aspek regulasi atau peraturan itu sendiri terutama terkait dengan masalah kekuatan hukum, sanksi pelanggaran, dan akurasi objek lahan yang dilarang dikonversi. Pemrintah harus membuat kebihakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan lahan dan kebutuhan pangan masyarakat.

Perubahan penggunaan lahan tersebut juga bukannya tanpa ada sebab, terdapat empat faktor utama yang menyebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan (Bourne, 1982), yaitu:

  1. Perluasan batas kota;
  2. Peremajaan pusat kota;
  3. Perluasan jaringan infrastruktur khususnya jaringan transportasi;
  4. Tumbuh dan hilangnya pemusatan aktivitas tertentu.

Dalam perencanaan penggunaan lahan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, factor-faktor tersebut antara lain manusia, aktivitas, serta lokasi kegiatan (Catanese, 1986:317).

Sebagai contoh dari keterkaitan tersebut yakni keunikan sifat lahan akan mendorong pergeseran aktifitas penduduk perkotaan ke lahan yang terletak di pinggiran kota yang mulai berkembang, tidak hanya sebagai barang produksi tetapi juga sebagai investasi terutama pada lahan-lahan yang mempunyai prospek akan menghasilkan keuntungan yang tinggi.

Hubungan antara ketiga faktor tersebut sangat berkaitan sehingga dapat disebut sebagai siklus perubahan penggunaan lahan. Dari hubungan dinamik ini akan timbul bentuk aktivitas yang akan menimbulkan beberapa perubahan (Bintarto, 1989: 73-74). Beberapa perubahan yang akan terbentuk adalah sebagai berikut:

  1. Perubahan Lokasi (Locational Change)
  2. Perubahan Perkembangan (Developmental Change)
  3. Perubahan Tata Laku (Behavioral Change)

DAMPAK SOSIAL EKONOMI PEMBANGUNAN PRASARANA JALAN (skripsi dan tesis)

1.

Sosial ekonomi yaitu lingkungan yang terdiri dari manusia baik secara individu maupun kelompok yang saling berhubungan, sehingga terbentuklah komunitas- komunitas sosial dan kegiatan-kegiatan perekonomian. Komunitas sosial dan kehidupan ekonomi akan sangat berpengaruh terhadap kualitas lingkungan kehidupan dimana manusia tersebut berada. Kualitas lingkungan sosial ekonomi yang baik yaitu jika kehidupan manusia yang ada di lingkungan tersebut secara ekonomi terpenuhi, tidak kekurangan pangan dan sandang, memiliki rumah, berpendidikan, merasa aman dan nyaman, terpenuhinya sarana dan prasarana yang dibutuhkan dan lain sebagainya. Semua kebutuhan tersebut akan dapat terpenuhi dengan cara mereka harus memiliki pekerjaan dan pendapatan yang tepat dan memadai (Sunarko, 2007).

Sementara itu, menurut Soekanto (2002), sosial ekonomi adalah posisi seseorang dalam masyarakat yang berkaitan dengan orang lain dalam arti lingkungan pergaulan, prestasinya, dan hak-hak serta kewajibannya dalam hubungannya dengan sumberdaya. Kondisi sosial ekonomi masyarakat akan selalu mengalami perubahan, melalui proses sosial dan interaksi sosial yaitu suatu proses hubungan dan saling mempengaruhi, yang terjadi antar individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok

Pembangunan dan penataan lingkungan buatan akan berdampak pada aspek Sumber Daya Alam (SDA) baik air, udara dan tanah. Semua itu akan memberikan dampak pada aspek sosial, baik perubahan ke arah negatif maupun ke arah positif. Namun sebagian besar perubahan yang ditimbulkan dari berubahnya lingkungan alam dan buatan telah memberikan perubahan sosial ke arah negatif (Reksohadiprodjo, 1997).

Akibat dari perubahan kualitas lingkungan alam, manusia sebagai makhluk yang berada di dalamnya akan memberikan reaksi penyesuaian diri. Reaksi tersebut diawali dengan stress yang mana aspek ini diakibatkan oleh suatu keadaan dimana lingkungan mengancam atau membahayakan keberadaan atau kesejahteraan atau kenyamanan diri seseorang. Ada dua macam tindakan manusia dalam menghadapi stress ini, pertama adalah tindakan langsung dan yang kedua adalah penyesuaian mental. Migrasi atau berpindah tempat adalah contoh tindakan langsung akibat perubahan lingkungan.

Menurut Roucek dan Warren aspek sosial ekonomi pada suatu masyarakat umumnya dipengaruhi oleh aspek lingkungan alam dimana masyarakat tersebut berdomisili. Aspek sosial ekonomi memberikan gambaran mengenai tingkat pendapatan masyarakat, jenis atau keragaman mata pencaharian yang ditekuni, aspek perumahan serta hubungan atau interaksi antara individu maupun kelompok masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya. Aspek sosial ekonomi seseorang dapat ditentukan lewat kegiatan ekonomi yang dilakukan, jumlah pendapatan yang diperoleh, jenis pekerjaan yang ditekuni, pendidikan formal, pemilikan barang dan pemilikan rumah.

Menurut Hagul (1985) pendekatan sosial ekonomi pembangunan terbatasi atas tiga berdasarkan manusianya, yaitu: Universitas Sumatera Utara

  1. The Trickle Down Theory, yaitu suatu pendekatan program percepatan pembangunan dan hasilnya dinikmati baik secara langsung atau tidak oleh masyarakat.
  2. Basic Needs Approach, yaitu pendekatan yang meliputi upaya secara langsung menanggulangi masalah kebutuhan pokok misalnya: Gizi, kesehatan, kebersihan, pendidikan, dll.
  3. Development From Within, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan mengembangkan potensi kepercayaan dan kemampuan masyarakat itu sendiri serta membangun sesuai tujuan yang mereka kehendaki.

Selanjutnya Reksohadiprodjo (1997) mengemukakan bahwa pembangunan kota akan mempunyai dampak social ekonomi yang bernilai positif maupun negatif. Berbagai masalah kota muncul seperti kemiskinan akibat terbatasnya mata pencaharian dan tingkat pendapatan, masalah kesehatan yang akan berakibat terhadap produktivitas, masalah pendidikan yang akan berakibat terhadap sumber daya manusia, masalah lingkungan hidup yang akan berakibat terhadap daya dukung kota.

Salah satu konsep tentang dampak suatu pembangunan infrastruktur jalan bertolak dari pemikiran bahwa masyarakat itu dipandang sebagai suatu bagian dari ekosistem. Perubahan dari salah satu subsistem akan mempengaruhi subsistem yang lain. Di dalam masyarakat terdapat tiga subsistem yang saling interaktif yakni (Sudharto P. Hadi, 2005):

  1. sistem social,

Secara sosial pembangunan infrastruktur transportasi menyediakan berbagai kemudahan, diantaranya (Prapti, 2015): a) Pelayanan untuk perorangan atau kelompok, b) Pertukaran atau penyampaian informasi, c) Perjalanan untuk bersantai, d) Memendekkan jarak, e) Memencarkan penduduk Di samping itu ada manfaat lain

  1. sistem ekonomi,

J’afar M. (2007) menyatakan bahwa, infrastruktur memiliki peranan positif terhadap pertumbuhan ekonomi dengan jangka pendek menciptakan lapangan kerja sektor konstruksi dan jangka menengah dan panjang akan mendukung peningkatan efisiensi dan produktivitas sektor-sektor terkait. Infra- struktur sepertinya menjadi jawaban dari kebutuhan negara- negara yang ingin mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan membantu penanggulangan kemiskinan, meningkatkan kualitas hidup, mendukung tumbuhnya pusat ekonomi dan meningkatkan mobilitas barang dan jasa serta merendahkan biaya aktifitas investor dalam dan luar negeri

  1. sistem fisik atau lingkungan fisik.

Meskipun membawa dampak positif, pembangunan infrastruktur jalan juga membawa dampak negatif diantaranya (Kementrian Pekerjaan Umum RI, 2010): 1. Berkurangnya lahan produktif pertanian. 2. Adanya pengurangan luasan lahan terbuka hijau. 3. Rusaknya lingkungan hidup di sekitar pembangunan infrastruktur jalan.

Dampak muncul ketika terdapat aktivitas: proyek, program atau kebijaksanaan yang akan diterapkan pada suatu masyarakat. Bentuk intervensi ini (karena aktivitas biasanya selalu datang dari luar masyarakat) mempengaruhi keseimbangan pada suatu sistem (masyarakat). Pengaruh itu bisa positif, bisa pula negatif (Sudharto P. Hadi, 2005)

PERKEMBANGAN KOTA (skripsi dan tesis)

1.

Batas fisik kota selalu mengalami perubahan, sehingga batas fisik kota tidak selalu berada didalam batas administrasi kota. Northam dalam Yunus (1994) mengatakan terdapat tiga macam kemungkinan hubungan antara eksistensi batas fisik kota dengan batas administrasi kota, yaitu

  1. Batas fisik kota yang ditunjukkan areal terbangun berada jauh diluar batas administrasi kota (Under Bound City).
  2. Batas fisik kota berada didalam batas administrasi kota (Over Bounded City).
  3. Batas fisik kota berimpitan dengan batas administrasi kota (True Bounded City).

Menurut Branch (1995) beberapa unsur yang mempengaruhi perkembangan kota, antara lain: keadaan geografis, lokasi site, fungsi kota, sejarah, serta kebudayaan yang melatar belakanginya. Sedangkan pertumbuhan kota lebih cenderung dianalisis dari pertumbuhan penduduk perkotaan. Semua unsur tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi, dan dalam tampilan fisik tercermin dari bentukan fisik perkotaan yang mengalami fungsi – fungsi tertentu. Keadaan topografi dan perkembangan sosial ekonomi akan mengakibatkan perkembangan pola kota yaitu:

  1. Pola menyebar, pada keadaan topografi yang seragam dan kegiatan ekonomi yang homogen di suatu wilayah akan menyebabkan perkembangan dengan pola menyebar.
  2. Pola sejajar, terjadi akibat adanya perkembangan kota mengikuti jalur jalan, lembah, sungai, atau pantai.
  3. Pola merumpun, berkembang karena adanya sumberdaya alam tertentu yang menonjol.

Sedangkan menurut Jayadinata (1999), pola – pola perkembangan kota yang terdapat di atas lahan yang bertopografi datar dapat menjadi bentuk – bentuk radial menerus, radial tidak menerus, gridion menerus, radial menerus atau linear menerus. Kota terbentuk dari berbagai aspek yaitu aspek fisik, ekonomi, sosial, serta kebudayaan. Perkembangan aspek – aspek tersebut secara otomatis akan mempengaruhi perkembangan kota satu dengan lainnya tidak sama, ada kota yang tumbuh pesat namun adapula yang sulit berkembang. Hal ini disebabkan setiap kota memiliki ciri atau kondisi aspek yang beragam satu sama lainnya. Dengan didasari perkembangan tersebut suatu kota memiliki pendorong maupun penarik perkembangan yang beragam pula.

Apabila dicermati, berkembangnya suatu kawasan tidak akan terlepas dari berkembangnya pusat kota. Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan proses perkembangan kawasan kota, yaitu:

  1. Proses Perkembangan Fisik Wilayah

Proses ini adalah proses perkembangan fisik wilayah ke arah “mengkota”. Perubahan bentuk fisik wilayah ini tentunya terjadi pada wilayah yang secara administrasi dekat dengan kota.

  1. Proses Aglomerasi Penduduk

Proses perkembangan penduduk di suatu kawasan pusat kota sangat dipengaruhi oleh aglomerasi penduduk yang memiliki tujuan untuk meningkatkan taraf kehidupannya dan mendapat akses yang lebih mudah untuk menjangkau pusat kota.

  1. Proses Urbanisasi Penduduk

Aktivitas identik dengan manusia, sehingga semakin banyak aktivitas mengindikasikan banyaknya manusia yang ada di kawasan tersebut. Hal ini erat kaitannya dengan proses urbanisasi, karena disuatu kawasan terdapat sebuah pusat aktivitas baru yang menyebabkan orang-orang berdatangan kedalam kawasan tersebut.

  1. Pemanfaatan Lahan dengan Kepadatan Tinggi

Adanya minat yang tinggi dari masyarakat untuk bermukim di lahan perkotaan menjadikan perluasan wilayah perkotaan secara fungsional di wilayah pinggiran menjadi solusinya. Akan tetapi perlu dicermati pula bahwa keseimbangan wilayah harus tetap terjaga antara wilayah perkotaan dan non-perkotaan agar kontinuitas wilayah dapat berjalan dalam waktu yang panjang. Berkaitan dengan hal tersebut maka wilayah perkotaan juga harus bisa dibatasi, salah satu caranya adalah dengan memaksimalkan lahan secara vertikal. Perluasan bangunan tidak lagi dilakukan melebar, namun memanfaatkan ruang kosong yang ada diatas.

PENGERTIAN JALAN TOL (skripsi dan tesis)

1

Jalan sebagai salah satu prasarana transportasi yang merupakan urat nadi kehidupan masyarakat mempunyai peranan penting dalam usaha pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara, utamanya untuk mewujudkan sasaran pembangunan seperti pemerataan pembangunan, pertumbuhan ekonomi, dan perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, mendefinisikan jalan sebagai prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori dan jalan kabel.

Jalan sesuai dengan peruntukannya terdiri atas jalan umum dan jalan khusus. Jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum, sedangkan jalan khusus adalah jalan yang dibangun oleh instansi, badan usaha, perseorangan atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri. Jalan umum menurut fungsinya dikelompokkan ke dalam jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal dan jalan lingkungan. Sementara itu, menurut statusnya jalan umum dikelompokkan ke dalam jalan nasiomal, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota dan jalan desa.

Undang-Undang Nomor 38 tahun 2004 tentang jalan, menyebutkan bahwa jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol. Sedangkan tol adalah sejumlah uang tertentu yang dibayarkan untuk penggunaan jalan tol. Tarif tol dihitung berdasarkan kemampuan bayar pengguna jalan, besar keuntungan biaya operasi kendaraan dan kelayakan investasi.

Adapun tujuan dari adanya tariff tol yaitu untuk pengembalian investasi, pemeliharaan dan pengembangan jalan tol itu sendiri. Penyelenggaraan jalan tol dimaksudkan untuk :

  1. memperlancar lalu lintas di daerah berkembang,
  2. meningkatkan hasil guna dan daya guna pelayanan distribusi barang dan jasa guna menunjang peningkatan pertumbuhan ekonomi,
  3. meringankan beban dana Pemerintah melalui partisipasi pengguna jalan, dan
  4. meningkatkan pemerataan hasil pembangunan dan keadilan

Teori Pusat Kegiatan Banyak (skripsi dan tesis)

            Menurut Harris and Ulmann pada tahun 1945 yang menyebutkan bahwa pusat kegiatan tidak selalu berada pada posisi di tengah-tengah suatu wilayah (center). Lokasi-lokasi keruangan yang terbentuk tidak ditentukan dan dipengaruhi oleh factor jarak dari CBD sehingga membentuk persebaran zona-zona yang teratur namun berasosiasi dengan sejumlah faktor yang akan menghasilkan pola-pola keruangan yang khas. Dimana wilayah yang tercakup adalah

  1. Central business district
  2. Wholesale light manufacturing
  3. Low class residential
  4. Medium class residential
  5. High class residential
  6. Heavy manufacturing
  7. Outlying business district
  8. Residential suburb
  9. Industrial suburb

Teori Poros (skripsi dan tesis)

Menurut babcock pada tahun 1932, Teori ini mendasarkan penggunaan lahan pada peranansektor transportasi. Keberadaan jalur transportasi akan menyebabkan distorsi padapola konsentris, sehingga daerah yang dilalui oleh jalur transportasi akan memilikiperkembangan fisik yang berbeda dengan daerah yang tidak dilalui oleh jalur transportasi. dimana wilayah yang tercakup adalah

  1. Pusat Kegiatan (CBD)
  2. Transistion Zone: Major Roads
  3. Low Income Housing: Railways
  4. Middle Income Housing

Teori Sektor (skripsi dan tesis)

Secara konsepsual, model teori sector yang di kembangakan oleh Hoyt, dalam beberapa hal masih menunjukan persebaran zona – zona konsentrisnya. Terlihat jelas bahwa yang menghubugkan pusat kota ke bagian –bagian yang lebih jauh di beri peran yang besar dalam pembentukan pola struktur internal kotanya.

             Keterangan :

  1. CBD ( Daerah Pusat Kegiatan )

Deskripsinya sama dengan zona pertama dalam teori konsentris.

  1. Woleshale Light Manufacturing

Apa bila dalam teori konsentris, zona 2 berada pada lingkaran konsentris, berbatasan langsung dengan zona 1 maka pada teori sector zona ke 2 pula seperti taji ( wedge ) dan menjari kea rah luar menembus lingkaran – lingkaran konsentris sehingga gambaran konsentris mengabur adanya.

  1. Pemukiman Kelas Rendah

Zona ini adalah suatu zona yang di huni oleh penduduk yang mempunyai kemampuan ekonomi lemah.

  1. Pemukiman Kelas Menengah

Zona ini menurut Hoyt memang agak menyimpang khususnya dalam pembentukan sektornya. Tidak seperti zona 2, 3 dan 5 dimana sifat radiating sector yang sangat mencolok.

  1. Pemukiman Kelas Tinggi

Zona 5 ini merupakan tahap terakhir dari pada residential mobilelity penduduk kota. Daerah ini menjanjikan kepuasan, kenyamanan bertempat tinggal.

Teori Ketinggian Bangunan (skripsi dan tesis)

Menurut bergel, (1995) mengusulkan untuk memperhatikan variable ketinggian bangunan. Variable ini memang menjadi perhatian yang cukup besar untuk negara – negara maju, karena menyangkut antara hak seorang untuk menikmati sinar matahari, hak seorang untuk menikmati keindahan alam dari tempat  tertentu batas kepadatan bangunan, kepadatan penghuni dan pemanfaatan lahan dengan aksesbilitas yang tinggi.

Secara garis besar dapat dikatakan bahwa pada daerah pusat kegiatan harga lahan sangat mahal, aksesbilitas sangat tinggi dan ada kecendrungan membangun struktur perkotaan secara vertical. Oleh karena pada hakikatnya, ruang yang menikmati aksesbilitas paling tinggi yang sesungguhnya adalah pada ground floor maka ruang –ruangnya akan di tempati oleh fungsi yang paling kuat ekonominya.

Pada ruang yang  terletak pada tingkat yang lebih tinggi, walaupun berada pada pusat kota ( aksesbilitas tertinggi secara horizontal, namun karena letaknya paling atas menjadi menurun nilai akesbilitasnya ) dan mungkin hanya akan laku bila di peruntukan untuk tempat tinggal sementara.

Teori Konsentris (skripsi dan tesis)

Menurut E.W. Burgess dalam analisisnya pada tahun 1925 di kota Chicago dengan analogi dari dunia hewan dimana suatu daerah akan di dominasi oleh suatu spesies tertentu. Seperti halnya dalam wilayah perkotaan akan terjadi pengelompokan tipe dalam penggunaan lahan tertentu. Pembagian wilayah dalam teori kosentris

  1. Daerah pusat kegitan/ Central

Dareah ini merupakan pusat dari segala kegiatan kota antara lain politik, social budaya, ekonomi dan teknologi.

  1. Daerah peralihan/ Transisi Zone

Zona ini merupakan daerah yang mengalami penurunan kualitas lingkungan permukiman yang terus menerus dan makin lama makin hebat. Penyebabnya antara lain karena adanya pengaruh fungsi yang berasal dari zona pertama sehingga perbauran permukiman dengan bangunan bukan untuk permukiman seperti gudang, kantor dll sangat mempercepat terjadinya kemunduran dan penurunan mutu lingkungan permukiman.

  1. Zona perumahan para pekerja yang bebas

Zona ini paling banyak di tempati oleh perumahan pekerja – pekerja baik perkerja pabrik, industry dan sebagainya.

  1. Zona permukiman yang lebih baik

Zona ini di huni oleh penduduk yang berstatus ekonomi menengah ke atas, walaupun tidak berstatus ekonomi sangat baik namun mereka mengusahakan sendiri dengan bisnis kecil-kecilan, para professional, para pegawai dan lain sebagainya. Fasilitas permukiman terencana dengan baik sehingga kenyamanan pada tepat tinggal di rasakan pada zona ini.

  1. Zona penglaju

Zona ini di huni oleh para pekerja yang jarak tempat tinggalnya cukup jauh dari tempat bekerjanya.

Teori Konsentris Burgess memiliki beberapa kelemahan antara lain:

  1. Pada kenyataannya gradasi antar zona tidak terlihat dengan jelas.
  2. Bentuk daerah pusat kegiatan kebanyakan memiliki bentuk yang tidak teratur.
  3. Perkembangan kota cenderung mengikuti rute strategis.
  4. Homogenitas internal yang tidak sesuai dengan kenyataan.
  5. Area perumahan menengah kebawah tidak selalu berada di area pusat kota.

Pengertian Lahan (skripsi dan tesis)

Lahan adalah suatu daratan / permukaan tanah yang dapat di manfaatkan oleh manusia untuk keberlangsungan kehidupan. Tata guna lahan (land use) adalah suatu upaya dalam merencanakan penggunaan lahan dalam suatu kawasan yang meliputi pembagian wilayah untuk pengkhususan fungsi-fungsi tertentu. Tata guna lahan merupakan salah satu faktor penentu utama dalam pengelolaan lingkungan. Keseimbangan antara kawasan budidaya dan kawasan konservasi merupakan kunci dari pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Tata guna lahan dan pengembangan lahan dapat meliputi :

a.Kota, merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditunjukkan oleh kumpulan rumah-rumah yang mendominasi tata ruangnya dan memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan warganya secara mandiri.

b.Kawasan perkotaan (urban), merupakan wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

c.Wilayah, merupakan sebuah daerah yang memiliki batasan yang jelas sesuai dengan pengamatan administrative pemerintah.

d.Kawasan, merupakan daerah tertentu yang mempunyai ciri tertentu, seperti tempat tinggal, pertokoan, industri, dan sebagainya.

e.Perumahan, merupakan kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal.

f.Permukiman, merupakan lingkungan tempat tinggal berupa kawasan perkotaan maupun kawasan pedesaan yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kehidupan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja (skripsi dan tesis)

Para pimpinan organisasi sangat menyadari adanya perbcdaan kinerja antara satu karyawan dengan karyawan, lainnya yang berada di bawah pengawasannya. Walaupun karyawan-karyawan bekerja pada tempat yang sama namun produktifitas karyawan tidaklah sama. Menurut Gibson, et al. (dalam Novitasari, 2003:39-40), ada tiga perangkat variabel yang mempengaruhi perilaku dan prestasi kerja atau kinerja, yaitu:

  1. Variabel individual, terdiri dari: 1). Kemampuan dan ketrampilan: mental dan fisik 2). Latar belakang: keluarga, tingkat sosial, penggajian 3). demografis: umur, asal-usul, jenis kelamin.
  2. Variabel organisasional, terdiri dari: sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur dan desain pekerjaan.
  3. Variabel psikologis, terdiri dari: persepsi, sikap, kepribadian, belajar dan motivasi.

Menurut Tiffin dan Me. Cormick (dalam Novitasari, 2003:36-37) ada dua variabel yang dapat mempengaruhi kinerja, yaitu:

  1. Variabel individual, meliputi: sikap, karakteristik, sifat-sifat fisik, minat dan motivasi, pengalaman, umur, jenis kelamin, pcndidikan, serta faktor individual lainnya.
  2. Variabel situasional: 1). Faktor fisik dan pekerjaan, terdiri dari ; metode kcrja, kondisi dan desain perlengkapan kerja, penataan ruang dan lingkungan fisik (penyinaran, temperatur, dan fentilasi) 2). Faktor sosial dan organisasi, meliputi: peraturan-peraturan organisasi, sifat organisasi, jenis latihan dan pengawasan, sistem upah dan lingkungan sosial.

Penilaian Kinerja (skripsi dan tesis)

Penilaian kinerja merupakan suatu proses organisasi untuk menilai kinerja pegawainya. Tujuan dilakukannya penilaian kinerja secara umum adalah untuk memberikan umpan balik kepada karyawan dalam upaya memperbaiki kinerjanya dan meningkatkan produktivitas organisasi, khususnya yang berkaitan dengan kebijaksanaan terhadap karyawan seperti untuk tujuan promosi, kenaikan gaji, pendidikan dan latihan. Saat sekarang ini dengan lingkungan bisnis yang bersifat dinamis penilaian kinerja merupakan suatu yang sangat berarti bagi organisasi. Organisasi haruslah memilih kriteria secara subyektif maupun obyektif. Kriteria kinerja secara obyektif adalah evaluasi kinerja terhadap standar-standar spesifik, sedangkan ukuran secara subyektif adalah seberapa baik seorang karyawan bekerja keseluruhan.

Penilaian kinerja (performance appraisal, PA) adalah proses evaluasi seberapa baik karyawan mengerjakan, ketika dibandingkan dengan satu set standar dan kemudian mengkomunikasikannya dengan para karyawan. Penilaian kinerja merupakan landasan penilaian kegiatan manajemen sumber daya manusia seperti perekrutan, seleksi, penempatan, pelatihan, penggajian, dan pengembangan karir. Kegiatan penilaian kinerja sangat erat kaitannya dengan kelangsungan organisasi. Data atau informasi tentang kinerja karyawan terdiri dari tiga kategori (Mathis dan Jackson, 2002 ), yaitu :

  1. Informasi berdasarkan ciri-ciri seperti kepribadian yang menyenangkan, inisiatif atau kreatifitas dan mungkin sedikit pengaruhnya pada pekerjaan tertentu.
  2. Informasi berdasarkan tingkah laku memfokuskan pada perilaku yang spesifik yang mengarah pada keberhasilan pekerjaan. Informan perilaku lebih sulit diidentifikasikan dan mempunyai keuntungan yang secara jelas memberikan gambaran akan perilaku apa yang ingin dilihat oleh pihak manajemen.
  3. Informasi berdasarkan hasil mempertimbangkan apa yang telah dilakukan karyawan atau apa yang telah dicapai karyawan. Untuk pekerjaan-pekerjaan dimana pengukuran itu mudah dan tepat, pendekatan hasil ini adalah cara yang terbaik. Akan tetapi, apa-apa yang akan diukur cenderung ditekankan, dan apa yang sama-sama pentingnya dan tidak merupakan bagian yang diukur mungkin akan diabaikan karyawan. Sebagi contoh, seorang tenaga penjualan mobil yang hanya dibayar berdasarkan penjualan mungkin tidak berkeinginan untuk mengerjakan tugas-tugas administrasi atau pekerjaan lain yang tidak berhubungan secara langsung dengan penjualan mobil. Lebih jauh lagi, masalah etis atau legal bisa jadi timbul ketika hasilnya saja yang ditekankan dan bukannya bagaimana hasil itu diperoleh.

Rahmanto (2002) mengemukakan bahwa sistem penilaian kinerja mempunyai dua elemen pokok, yakni :

  1. Spesifikasi pekerjaan yaang harus dikerjakan oleh bawahan dan criteria yang memberikan penjelasan bagaimana kinerja yang baik (good performance) dapat dicapai, sebagai contoh : anggaran operasi, target produksi tertentu dan sebagainya.
  2. Adanya mekanisme untuk pengumpulan informasi dan pelaporan mengenai cukup tidaknya perilaku yang terjadi dalam kenyataan dibandingkan dengan kriteria yang berlaku sebagai contoh laporan bulanan manager dibandingkan dengan anggaran dan realisasi kinerja (budgeted and actual performance) atau tingkat produksi dibandingkan dengan angka penunjuk atau meteran suatu mesin.

Penilaian kinerja dapat terjadi dalam dua cara, secara informal dan secara sistimatis (Mathis dan Jackson, 2002). Penilaian informal dapat dilaksanakan setiap waktu dimana pihak atasan merasa perlu. Hubungan sehari-hari antara manajer dan karyawan memberikan kesempatan bagi kinerja karyawan untuk dinilai. Penilaian sistimatis digunakan ketika kontak antara manajer dan karyawan bersifat formal,dan sistemnya digunakan secara benar dengan melaporkan kesan dan observasi manajerial terhadap kinerja karyawan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian kinerja merupakan bagian integral dari proses penilaian yang meliputi : penerapan sasaran kinerja yang spesifik, terukur, memiliki tingkat perubahan, terbatas waktu, adanya pengarahan dan dukungan atasan. Karyawan bersama atasan masing-masing dapat menetapkan sasaran dan standar kinerja yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu. Peningkatan kinerja karyawan perseorangan pada gilirannya akan mendorong kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan.

Dharma, (2001) menyatakan bahwa hampir seluruh cara penilaian kinerja mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut.

  1. Kuantitas yaitu jumlah yang harus diselesaikan
  2. Kualitas yaitu mutu yang dihasilkan
  3. Ketepatan  waktu  yaitu  sesuai  atau  tidaknya  dengan  waktu  yang  telah direncanakan.

Selanjutnya  Simamora,  (2006)  menyatakan  bahwa  :  “Penilaian  kinerja seyogyanya  tidak dipahami secara sempit, tetapi dapat menghasilkan beraneka ragam jenis kinerja yang diukur melalui berbagai cara.  Kuncinya adalah dengan sering  mengukur  kinerja  dan  menggunakan  informasi  tersebut  untuk  koreksi pertengahan periode”. Mitchell  (dalam  Sedarmayanti,  2001)  menyatakan  bahwa  :  “kinerja meliputi beberapa aspek, sebagai berikut.

  1. Quality of work (kualitas kerja)

Kualitas kerja lebih menekankan pada hasil atau yang diperoleh dari sebuah pekerjaan sebagai kontribusi pada perusahaan atau standar pencapaian hasil akhir dari pegawai yang ada di perusahaan dalam memenuhi kebutuhan konsumen.

  1. Promptness (ketepatan)

Ketepatan waktu dalam melaksanakan tugas diartikan sebagai sikap seseorang atau kelompok yang berniat untuk mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan. Dalam kaitannya dengan pekerjaan, pengertian ketepatan waktu atau  disiplin kerja adalah suatu sikap dan tingkah laku yang menunjukkan ketaatan karyawan terhadap peraturan organisasi.

  1. Initiative (inisiatif)

Inisiatif berarti usaha sendiri, langkah awal, ide baru. Berinisiatif berarti mengembangkan dan memberdayakan sektor kreatifitas daya pikir manusia, untuk merencanakan idea atau buah pikiran menjadi konsep yang baru yang pada gilirannya diharapkan dapat berdaya guna dan bermanfaat.

  1. Capability (kemampuan)

Kemampuan merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Kemampuan merupakan salah satu hal yang harus dimiliki dalam jenjang apapun karena kemampuan memiliki kepentingan tersendiri dan sangat penting untuk dimiliki oleh pegawai.

  1. Communication (komunikasi)

Komunikasi merupakan bagian yang penting dalam kehidupan kerja. Hal ini mudah dipahami sebab komunikasi yang tidak baik bisa mempunyai dampak yang luas terhadap kehidupan organisasi , misalnya konflik antar pegawai, dan sebaliknya komunikasi yang baik dapat meningkatkan saling pengertian, kerjasama dan juga kepuasan kerja.

Sedangkan  Simamora,  (2006)  menyatakan  bahwa  kinerja  karyawan sesungguhnya dinilai atas lima dimensi.

  1. Mutu

Mutu pekerjaan yang dihasilkan berdasarkan syarat-syarat yang telah ditetapkan (quality of work)

  1. Kuantitas

Jumlah pekerjaan yang mampu dilakukan dalam suatu periode waktu yang telah ditentukan (quantity of work)

  1. Penyelesaian proyek

Penyelesaian pekerjaan yang dibebankan sesuai waktu yang telah ditetapkan (time of work).

  1. Kerjasama

Kesadaran untuk bekerja sama dengan unit kerja masing-masing (cooperation)

  1. Kepemimpinan

Kemampuan untuk mendelegasikan tugas serta mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan.

Menurut Hasibuan (2007:95), unsur-unsur yang dinilai pada penilaian prestasi kerja adalah:

  1. Kesetiaan

Penilai mengukur kesetiaan pegawai terhadap pekerjaannya, jabatannya, dan organisasi. Kesetiaan ini dicerminkan oleh kesediaan pegawai menjaga dan membela organisasi di dalam maupun di luar pekerjaan dari rongrongan orang yang tidak bertanggung jawab.

  1. Prestasi kerja

Penilai menilai hasil kerja baik kualitas maupun kuantitas yang dapat dihasilkan pegawai tersebut dari uraian pekerjaannya.

  1. Kejujuran

Penilai menilai kejujuran dalam melaksanakan tugas-tugasnya memenuhi perjanjian baik bagi dirinya sendiri maupun terhadap orang lain seperti kepada para bawahannya.

  1. Kedisiplinan

Penilai menilai disiplin karyawan dalam mematuhi peraturan-peraturan yang ada dan melakukan pekerjaannya sesuai dengan instruksi yang diberikan kepadanya.

  1. Kreativitas

Penilai menilai kemampuan karyawan dalam mengembangkan kreativitasnya untuk menyelesaikan pekerjaannya, sehingga bekerja lebih efektif.

  1. Kerjasama

Penilai menilai kesediaan pegawai berpartisipasi dan bekerjasama dengan pegawai lainnnya secara vertikal atau horizontal di dalam maupun di luar pekerjaan sehingga hasil pekerjaan akan semakin baik.

  1. Kepemimpinan

Penilai menilai kemampuan untuk memimpin, berpengaruh, mempunyai pribadi yang kuat, dihormati, berwibawa, dan dapat memotivasi orang lain atau bawahannya untuk bekerja secara efektif.

  1. Kepribadian

Penilai menilai pegawai dari sikap perilaku, kesopanan, periang, disukai, memberi kesan menyenangkan, memperlihatkan sikap yang baik, dan lain-lain.

  1. Prakarsa

Penilai menilai kemampuan berpikir yang logis dan berdasarkan inisiatif sendiri untuk menganalisis, menilai, menciptakan, memberikan alasan, mendapatkan kesimpulan, dan membuat keputusan penyelesaian masalah yang dihadapinya.

  1. Kecakapan

Penilai menilai kecakapan pegawai dalam menyatukan dan menyelaraskan bermacam-macam elemen yang semuanya terlibat di dalam penyusunan kebijaksanaan dan di dalam situasi manajemen.

  1. Tanggung jawab

Penilai menilai kesediaan pegawai dalam mempertanggungjawabkan kebijaksanaannya, pekerjaan, dan hasil kerjanya, sarana dan prasarana yang dipergunakannya, serta perilaku kerjanya.

Menurut Handoko (2001) ada enam metode penilaian kinerja karyawan:

  1. Rating Scale, evaluasi hanya didasarkan pada pendapat penilai, yang membandingkan hasil pekerjaan karyawan dengan kriteria yang dianggap penting bagi pelaksanaan kerja.
  2. Checklist, yang dimaksudkan dengan metode ini adalah untuk mengurangi beban penilai. Penilai tinggal memilih kalimat-kalimal atau kata-kata yang menggambarkan kinerja karyawan. Penilai biasanya atasan langsung. Pemberian bobot sehingga dapat di skor. Metode ini bias memberikan suatu gambaran prestasi kerja secara akurat, bila daftar penilaian berisi item-item yang memadai.
  3. Metode peristiwa kritis (critical incident method), penilaian yang berdasarkan catatan-catatan penilai yang menggambarkan perilaku karyawan sangat baik atau jelek dalam kaitannya dengan pelaksanaan kerja. Catatan-catatan ini disebut peristiwa kitis. Metode ini sangat berguna dalam memberikan umpan balik kepada karyawan, dan mengurangi kesalahan kesan terakhir.
  4. Metode peninjauan lapangan (field review method), seseorang ahli departemen main lapangan dan membantu para penyelia dalam penilaian karyawan. Spesialis personalia mendapatkan informasi khusus dari atasan langsung tentang kinerja karyawan. Kemudian ahli itu mempersiapkan evaluasi atas dasar informasi tersebut. Evaluasi dikirim kepada penyelia untuk di review, perubahan, persetujuan dan serubahan dengan karyawan yang dinilai. Spesialis personalia bisa mencatat penilaian pada tipe formulir penilaian apapun yang digunakan perusahaan.
  5. Tes dan observasi prestasi kerja, bila jumlah pekerja terbatas, penilaian irestasi kerja bisa didasarkan pada tes pengetahuan dan ketrarnpilan. Tes mungkin tertulis atau peragaan ketrampilan. Agar berguna tes harus reliable dan valid. Metode evaluasi kelompok ada tiga: ranking, grading, point allocation method.
  6. Method ranking, penilai membandingkan satu dengan karyawan lain siapa yang paling baik dan menempatkan setiap karyawan dalam urutan terbaik sampai terjelek. Kelemahan metode ini adalah kesulitan untuk menentukan faktor-faktor pembanding, subyek kesalahan kesan terakhir dan halo effect, kebaikannya menyangkut kemudahan administrasi dan penjelasannya. Grading, metode penilaian ini memisah-misahkan atau menyortir para karyawan dalam berbagai klasifikasi yang berbeda, biasanya suatu proposi tertentu harus diletakkan pada setiap kategori. Point location, merupakan bentuk lain dari grading penilai dibenkan sejumlah nifai total dialokasikan di antara para karyawan dalam kelompok. Para karyawan diberi nilai lebih besar dan pada para karyawan dengan kinerja lebih jelek. Kebaikan dari rnetode ini, penilai dapat mengevaluasi perbedaan rclatif di antara para karyawan, meskipun kelemahan-kelemahan efek halo (halo effect) dan bias kesan terakhir masih ada.

Manfaat penilaian kinerja yaitu :

  1. Perbaikan prestasi kerja atau kinerja.Umpan balik pelaksanaan kerja mernungkinkan karyawan, manajer dan departemen personalia dapat memperbaiki kegiatan-kegiatan karyawan, manajer dan departemen personalia untuk meningkatkan prestasi.
  2. Penyesuaian-penyesuaian kompensasi. Evaluasi prestasi keja membantu para pengambil keputusan dalam mcnentukan kenaikan upah, pemberian bonus dan bentuk kompensasi lainnya.
  3. Keputusan-keputusan penempatan. Promosi dan transfer biasanya didasarkan atas prestasi kerja atau kinerja masa lalu atau antisipasinya.
  4. Perencanaan kebutuhan latihan dan pengembangan. Prestasi kerja atau kinerja yang jelek mungkin menunjukkan perlunya latihan. Demikian pula sebaliknya, kinerja yang baik mungkin mencerminkan potensi yang harus dikembangkan.
  5. Perencanaan dan pengembangan karir. Umpan balik prestasi mengarahkan keputusan-keputusan karir, yaitu tentang jalur karir tertentu yang harus diteliti.
  6. Mendeteksi penyimpangan proses staffing. Prestasi kerja yang baik atau buruk adaiah mencerminkan kekuatan atau kelemahan prosedur staffing departemen personalia.
  7. Melihat ketidakakuratan informasional. Prestasi kerja yanng jelek mungkin menunjukkan kesalahan-kesalahan dalam informasi analisis jabatan, rencana sumberdaya manusia, atau komponen-komponen lain sistem informasi manajemcn personalia. Menggantungkan pada informasi yang tidakakurat dapat rnenyebabkan keputusan-kcpulusan personalia tidak tepat.
  8. Mendeteksi kesalahan-kesalahan desain pekerjaan. Prestasi kerja yang jelek mungkin merupakan tanda kesalahan dalam desain pekerjaan. Penilaian prestasi membantu diagnosa kesalahan-kesalahan tersebut.
  9. Menjamin kesempatan kerja yang adil. Penilaian prestasi kerja yang akurat akan menjamin keputusan-keputusan penempatan internal diambil tanpa diskriminasi.
  10. Melihat tanlangan-tantangan ekternal. Kadang-kadang prestasi seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor diluar lingkungan kerja, seperti keluarga, kesehatan, dan masalah-masalah pribadi lainnya.

Definisi Kinerja (skripsi dan tesis)

Hasibuan, (2007) menyatakan kinerja merupakan perwujudan kerja yang dilakukan oleh karyawan yang biasanya dipakai sebagai dasar penilaian terhadap karyawan  atau  organisasi.  Kinerja  yang  baik  merupakan  langkah  untuk tercapainya  tujuan  organisasi.  Sehingga  perlu  diupayakan  usaha  untuk meningkatkan  kinerja.  Tetapi  hal  ini  tidak  mudah  sebab  banyak  faktor  yang mempengaruhi  tinggi  rendahnya  kinerja  seseorang.  As’ad,  (2004)  menyatakan kinerja adalah hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan  yang  bersangkutan.  Dharma,  (2001)  menyatakan  sesuatu  yang dikerjakan  atau  produk/jasa  yang  dihasilkan  atau  diberikan  seseorang  atau sekelompok orang.

Bernardin dan Russel, (2001) menyatakan kinerja adalah catatan perolehan yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu atau kegiatan selama satu periode  pekerjaan  tertentu.  Simamora,  (2006)  menyatakan  kinerja  mengacu kepada  kadar  pencapaian  tugas-tugas  yang  membentuk  sebuah  pekerjaan karyawan. Kinerja merefleksikan seberapa baik karyawan memenuhi persyaratan sebuah pekerjaan. Rivai (2008) menyatakan kinerja merupakan perilaku nyata yang  ditampilkan  setiap  orang  sebagai  prestasi  kerja  yang  dihasilkan  oleh karyawan  sesuai  dengan  perannya  dalam  perusahaan.  Kinerja  karyawan merupakan  suatu  hal  yang  sangat  penting  dalam  upaya  perusahaan  untuk mencapai tujuannya.

Pengukuran Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Pengukuran kepuasan kerja sangat bervariasi, baik dalam segi analisis statistiknya maupun pengumpulan datanya. Informasi yang didapat dari kepuasan kerja bisa melalui tanya jawab secara perorangan, dengan angket maupun dengan pertemuan suatu kelompok kerja. Kalau menggunakan tanya jawab sebagai alatnya maka karyawan diminta untuk merumuskan tentang perasaannya terhadap aspek-aspek pekerjaan. Cara lain dengan mengamati sikap dan tingkah laku orang tersebut (As’ad, 2004).

Menurut Robbins (2003), terdapat dua pendekatan dalam mengukur kepuasankerja, yaitu:

  1. Single Global Rating

Dengan mengajukan pertanyaan kepada responden, seperti: “Berdasarkan semua yang ada, sejauhmana anda puas terhadap kerja anda?” Para responden itu kemudian menjawab dengan melingkari angka 1 sampai dengan 5 yang mewakili “perasaan puas” sampai “tidak puas”.

  1. Summation Score

Mengidentifikasikan elemen-elemen dalam pekerjaan dan bertanya kepada karyawan tentang apa yang mereka rasakan dari setiap elemen tersebut. Elemen-elemen tersebut antara lain: pekerjaan mereka, supervisi, bayaranmereka, kesempatan untuk promosi, dan hubungan dengan rekan kerja. Semua elemen ini akan diurut dalam skala standar dan ditambahkan untukmenghasilkan nilai kepuasan kerja secara keseluruhan.

Dalam penelitian ini adalah menggunakan Summation Score, karena yang ditanyakan menyangkut pekerjaan, supervisi, imbalan yang diterima, dan hubungandengan rekan kerja serta beberapa faktor lainnya yang berhubungan dengan kepuasankerja karyawan.

Pentingnya dilakukan pengukuran terhadap kepuasan kerja bagi karyawanmempunyai tujuan berikut:

  1. Mengidentifikasi kepuasan karyawan secara keseluruhan, termasuk kaitannyadengan tingkat urutan prioritasnya (urutan faktor atau atribut tolak ukurkepuasan yang dianggap penting bagi karyawan).
  2. Mengetahui pandangan setiap karyawan terhadap organisasi atau perusahaan.Sampai seberapa dekat pandangan tersebut sesuai dengan harapan mereka danbagaimana perbandingannya dengan karyawan lain.
  3. Mengetahui atribut-atribut mana yang termasuk dalam kategori kritis (criticalperfoment attributes) yang berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasankaryawan.
  4. Apabila memungkinkan, perusahaan atau instansi dapat membandingkannyadengan indeks milik perusahaan atau instansi saingan atau yang lainnya (Kuswadi, 2004).

Faktor-Faktor Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Ada lima faktor yang dapat mendorong kepuasan kerja (Robbins, 2003:328) yaitu:

  1. Kerja yang secara mental menantang

Karyawan cenderung lebih menyukai pekerjaan yang memberi mereka kesempatan untuk menggunakan ketrampilan itu dan kemampuan mereka.

  1. Ganjaran yang pantas

Para karyawan menginginkan sistem upah dan kebijaksanaan promosi yang mereka persepsikan sebagai adil, tidak meragukan, segaris dengan harapan mereka.

  1. Kondisi kerja yang mendukung

Karyawan peduli akan lingkungan kerja baik untuk kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan mengerjakan tugas.

  1. Rekan sekerja yang mendukung

Orang-orang yang mendapatkan lebih daripada sekedar uang atau prestasi yang berwujud dari pekerjaan mereka. Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi kebutuhan akan interaksi sosial.

  1. Kesesuaian antara kepribadian-pekerjaan

Kecocokan yang tinggi antara kepribadian seorang karyawan dan pekerjaan akan menghasilkan individu yang lebih terpuaskan.

Definisi Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Masalah kepuasan kerja yang terjadi dalam suatu organisasi atau perusahaan merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian tersendiri. Apabila kurang mendapat perhatian yang serius, akan dapat berpengaruh pada produktivitas kerja karyawan yang akhirnya dapat menghambat pencapaian tujuan perusahaan. Kepuasan Kerja merupakan hasil persepsi para karyawan tentang seberapa jauh pekerjaan seseorang tersebut memberikan segala sesuatu yang dipandang penting melalui hasil kerjannya.

Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan dengan mana para karyawan memandang pekerjaan mereka, kepuasan karyawan mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaanya (Handoko, 2001:129). Setiap individu selalu berusaha untuk bekerja dengan baik sesuai dengan tugasnya masing-masing. Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri antara individu yang satu dengan yang lain memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik dan jiwa emosional masing-masing individu tidaklah sama.

Kepuasan kerja adalah Kondisi emosional karyawan dengan adanya kesesuaian atau ketidak sesuaian antara harapan dan kenyataan. Apabila harapan yang ada pada individu dapat terjadi atau sesuai dengan kenyataan, maka ada kepuasan karyawan dalam bekerja. Sebaliknya bila harapan yang diinginkan tidak sesuai dengan kenyataan, berarti karyawan tersebut merasa tidak puas. Kepuasan kerja ini berhubungan juga dengan kinerja. Apabila karyawan merasa puas dalam bekerja, maka akan selalu berupaya berprestasi kerja secara optimal.

Apabila kepuasan kerja dari karyawan tercapai, maka pada umumnya akan berpengaruh pada sikap dari karyawan yang diwujudkan dengan tindakan positif terhadap segala pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Sehingga bagian personalia diharapkan lebih kontinyu atau terus menerus memberikan pengawasan pada karyawan mengenai kepuasan kerja dari pada karyawan.

Indikator untuk mengukur kompensasi (skripsi dan tesis)

Indikator yang digunakan untuk mengukur kompensasi menurut (Simamora, 2006:445) adalah sebagai berikut :

  1. Upah dan gaji

       Upah biasanya berhubungan dengan tarif gaji per jam. Upah merupakan basis bayaran yang kerapkali digunakan bagi pekerja-pekerja produksi dan pemeliharaan. Gaji umumnya berlaku untuk tarif bayaran mingguan, bulanan, atau tahunan.

  1. Insentif

Insentif adalah tambahan kompensasi di atas atau di luar gaji atau upah yang diberikan oleh organisasi.

  1. Tunjangan

Contoh-contoh tunjangan adalah asuransi kesehatan dan jiwa, liburan yang ditanggung perusahaan, program pensiun, dan tunjangan lainnya yang berkaitan dengan hubungan kepegawaian

  1. Fasilitas

Contoh-contoh fasilitas adalah kenikmatan/fasilitas seperti mobil perusahaan, keanggotaan klub, tempat parkir khusus, atau akses ke pesawat perusahaan yang diperoleh karyawan. Fasilitas dapat mewakili jumlah substansial dari kompensasi, terutama bagi eksekutuf yang dibayar mahal.

Tujuan Pemberian Kompensasi (skripsi dan tesis)

Menurut (Hasibuan, 2007:120), tujuan pemberian kompensasi (balas jasa) antara lain adalah:

  1. Ikatan Kerja Sama

Dengan pemberian kompensasi terjalinlah ikatan kerja sama formal antara majikan dengan karyawan. Karyawan harus mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, sedangkan pengusaha/majikan wajib membayar kompensasi sesuai dengan perjanjian yang disepakati.

  1. Kepuasan Kerja

Dengan balas jasa, karyawan akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik, status sosial, dan egoistiknya sehingga memperoleh kepuasan kerja darimjabatannya.

  1. Pengadaan Efektif

Jika program kompensasi ditetapkan cukup besar, pengadaan karyawan yang qualified untuk perusahaan akan lebih mudah.

  1. Motivasi

Jika balas jasa yang diberikan cukup besar, manajer akan mudah memotivasi bawahannya.

  1. Stabilitas Karyawan

Dengan program kompensasi atas prinsip adil dan layak serta eksternal konsistensi yang kompentatif maka stabilitas karyawan lebih terjamin karena turn-over relatif kecil.

  1. Disiplin

Dengan pemberian balas jasa yang cukup besar maka disiplin karyawan semakin baik. Mereka akan menyadari serta mentaati peraturan-peraturan yang berlaku.

  1. Pengaruh Serikat Buruh

Dengan program kompensasi yang baik pengaruh serikat buruh dapat dihindarkan dan karyawan akan berkonsentrasi pada pekerjaannya.

  1. Pengaruh Pemerintah

Jika program kompensasi sesuai dengan undang-undang perburuhan yang berlaku (seperti batas upah minimum) maka intervensi pemerintah dapat dihindarkan.

Jenis-Jenis Kompensasi (skripsi dan tesis)

Menurut Dessler (2005:72) kompensasi mempunyai tiga komponen sebagai berikut :

  1. Pembayaran uang secara langsung (direct financial payment) dalam bentuk gaji, dan intensif atau komisi. Pada perusahaan asuransi umumnya komisi didapatkan jika pegawai pemasaran mampu mendapatkan pemegang polis asuransi yang baru.
  2. Pembayaran tidak langsung (indirect payment) dalam bentuk tunjangan dan asuransi.
  3. Ganjaran non finansial (non financial rewards) seperti jam kerja yang luwes dan kantor yang bergengsi.

Menurut Mondy dan Noe (2005:374), kompensasi dapat dibedakan atas kompensasi finansial dan kompensasi non finansial. Kompensasi finansial terdiri dari  kompensasi finansial langsung dan tidak langsung. Kompensasi non finansial terdiri dari interpersonal reward dan personal growth reward.

  1. Kompensasi finansial :

1)      Kompensasi finansial langsung (direct financial compentation) terdiri dari pembayaran yang diterima oleh seseorang pegawai dalam bentuk gaji, upah, bonus, dan komisi.

2)      Kompensasi finansial tidak langsung (Indirect financial compentation), yang disebut juga dengan tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak termasuk dalam kompensasi langsung antara lain berupa program asuransi jiwa dan kesehatan, bantuan sosial, benefit antara lain: jaminan pensiun, jaminan sosial tenaga kerja, bantuan pendidikan, dan bantuan natura, ketidakhadiran yang dibayar seperti cuti. Hari libur atau vacation, cuti sakit dan lain-lain.

  1. Kompensasi non finansial (non financial compentation) terdiri dari interpersonal reward dan personal growth reward.

Interpersonal reward terdiri dari hubungan interpersonal dengan sesama, status sosial dalam organisasi dan komitmen pada organisasi. Sedangkan personal growth reward meliputi variasi pekerjaan, pengembangan diri dan partisipasi dalam pengambilan keputusan

Pengertian Kompensasi (skripsi dan tesis)

Kompensasi acapkali juga disebut penghargaan dan dapat didefinisikan sebagai setiap bentuk penghargaan yang diberikan kepada karyawan sebagai balas jasa atas kontribusi yang mereka berikan kepada organisasi (Panggabean, 2002:75). Selain itu menurut Hasibuan, (2007:119) terdapat beberapa pengertian kompensasi dari beberapa tokoh yaitu :

  1. Menurut Werther dan Davis kompensasi adalah apa yang seorang pekerja terima sebagai balasan dari pekerjaan yang diberikannya. Baik upah per jam ataupun gaji periodik yang didesain dan dikelola oleh bagian personalia.
  2. Menurut Sikula kompensasi adalah segala sesuatu yang dikonstitusikan atau dianggap sebagai suatu balas jasa atau ekuivalen.

Pengertian kompensasi juga terdapat pada berbagai literatur yang dikemukakan oleh beberapa pakar, antara lain:

  1. Menurut Dessler (2005:72) kompensasi karyawan adalah setiap bentuk pembayaran atau imbalan yang diberikan kepada karyawan dan timbul dari dipekerjakannya karyawan itu.

Menurut Handoko (2001:155) kompensasi adalah segala sesuatu yang diterima para karyawan sebagai balas jasa untuk kerja mereka

Gaya-Gaya Kepemimpinan (skripsi dan tesis)

Gaya kepemimpinan adalah cara yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku orang lain dalam hal ini adalah bawahannya. Dalam setiap organisasi/perusahaan seorang pemimpin mempunyai gaya yang berbeda dalam kepemimpinannya sesuai kemampuannya masing-masing. Pada umumnya gaya kepemimpinan dalam setiap organisasi dapat diklasifikasikan menjadi lima golongan utama yaitu (Rivai, 2008:103):

  1.  Gaya kepemimpinan Otokratis

Gaya kepemimpinan ini menganggap bahwa pemimpin adalah merupakan suatu hak. Ciri-ciri pemimpin tipe ini adalah sebagai berikut:

1)   Menganggap bahwa organisasi adalah milik pribadi.

2)   Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.

3)   Menganggap bahwa bawahan adalah sebagai alat semata-mata.

4)   Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain karena dia menganggap dialah yang paling benar.

5)   Selalu bergantung pada kekuasaan formal.

6)   Dalam menggerakkan bawahan sering mempergunakan pendekatan (Approach) yang mengandung unsur paksaan dan ancaman.

Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe pimpinan otokratis tersebut di atas dapat diketahui bahwa tipe ini tidak menghargai hak-hak dari manusia, karena tipe ini tidak dapat dipakai dalam organisasi modern.

  1.  Gaya kepemimpinan Militeristis

Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan seorang pemimpin tipe militeristis tidak sama dengan pemimpin-pemimpin dalam organisasi militer. Artinya tidak semua pemimpin dalam militer adalah bertipe militeristis. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

1)   Dalam menggerakkan bawahan untuk yang telah ditetapkan, perintah mencapai tujuan digunakan sebagai alat utama.

2)   Dalam menggerakkan bawahan sangat suka menggunakan pangkat dan jabatannya.

3)   Senang kepada formalitas yang berlebihan.

4)   Menuntut disiplin yang tinggi dan kepatuhan mutlak dari bawahan.

5)   Tidak mau menerima kritik dari bawahan.

6)   Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh gaya kepemimpinan militeristis jelaslah bahwa gaya kepemimpinan seperti ini bukan merupakan pemimpin yang ideal.

  1.  Gaya kepemimpinan Fathernalistis

Gaya kepemimpinan fathernalistis, mempunyai ciri tertentu yaitu bersifat fathernal seperti ini menggunakan pengaruh yang sifat kebapakan dalam menggerakkan bawahan mencapai tujuan. Kadang-kadang pendekatan yang dilakukan sifat terlalu sentimentil. Sifat-sifat umum dari gaya kepemimpinan fathernalistis dapat dikemukakan sebagai berikut:

1)   Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa.

2)   Bersikap terlalu melindungi bawahan.

3)   Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, karena itu jarang dan pelimpahan wewenang.

4)   Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya tuk mengembangkan inisatif daya kreasi.

5)   Sering menganggap dirinya maha tau, sehingga sulit menerima saran.

Harus diakui bahwa dalam keadaan tertentu pemimpin seperti ini sangat diperlukan. Akan tetapi ditinjau dari segi sifat-sifat negatifnya pemimpin faternalistis kurang menunjukkan elemen kontinuitas terhadap organisasi yang dipimpinnya.

  1.  Gaya kepemimpinan karismatis

Sampai saat ini para ahli manajemen belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seorang pempimin memiliki karisma. Yang diketahui ialah gaya kepemimpinan seperti ini mampunyai daya tarik yang amat besar, dan karenanya mempunyai pengikut yang sangat besar. Kebanyakan para pengikut menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin seperti ini, dilatar belakangi karena kurangnya pemahaman terhadap seorang pemimpin yang karismatis, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers). Perlu dikemukakan bahwa kekayaan, umur, kesehatan, profil pendidikan dan sebagainya, tidak dapat digunakan sebagai kriteria gaya kepemimpinan karismatis.

  1.  Gaya kepemimpinan Demokratis

Dari semua gaya kepemimpinan yang ada, gaya kepemimpinan demokratis dianggap adalah gaya kepemimpinan yang terbaik. Hal ini disebabkan karena gaya kepemimpinan ini selalu mendahulukan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan individu.

Beberapa ciri dari gaya kepemimpinan demokratis adalah sebagai berikut:

1)   Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia.

2)   Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan kepentingan organisasi.

3)   Senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya.

4)   Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan pendidikan  kepada    bawahan agar jangan berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi   kreativitas, inisatif, dan prakarsa dari bawahan.

5)   Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan.

6)   Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya.

7)   Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

Dari sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tipe demokratis, jelaslah bahwa tidak mudah untuk menjadi pemimpin demokratis.

Teori kepemimpinan yang umum misalnya menyatakan asal-usul kepemimpinan dan ada pula yang menyatakan salah satu aspek dari fenomena kepemimpinan misalnya teori mengenai kepemimpinan, mengenai kekuasaan, mengenai proses, mempengaruhi, atau mengenai konflik.

Pengertian Gaya Kepemimpinan (skripsi dan tesis)

Pernyataan mengenai pemimpin mempunyai banyak pengertian. Definisi pemimpin banyak, sesuai dengan pribadinya masing-masing dan sesuai dengan situasinya.

        Pemimpin menurut Ki Hadjar Dewantara diwajibkan bersikap:  Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun  karsa, dan Tutwuri handayani. (Reksohadiprodjo, 1989: 47).

  1. Ing Ngarsa Sung Tuladha

Ing Ngarso Sung Tulodho adalah menjadi seorang pemimpin harus bisa memberikan suri tauladan yang baik bagi bawahannya. Pemimpin harus bisa menjaga sikap sekaligus memiliki sikap dan perilaku yang baik dalam segala langkah dan tindakannya agar dapat menjadi panutan bagi anak bawahannya

  1. Ing Madya Mangun Karsa

Mangun karsa berarti di tengah pemimpin juga harus mampu membangkitkan atau menggugah semangat bawahannya. Harus mampu meberikan inovasi-inovasi baru pada anak didiknya yang bisa menciptakan peluang untuk berprakarsa. Hal ini bisa dilakukan dengan berupaya membangun kreatifitas pengembangan diri dalam setiap kesempatan. Sehingga pemimpin harus kreatif dalam memimpin supaya orang yang dipimpinnya mempunyai wawasan baru dalam bertindak.

  1. Tutwuri Handayani

Tut wuri handayani, yang dimaksud adalah menjadi seorang pemimpin harus memberikan dorongan moral dan semangat dari belakang. Terutama dorongan moral yang sangat dibutuhkan para bawahannya yang bisa menumbuhkan semangat juang yang tinggi sehingga dapat mencapai tujuan yang dicita-citakan bersama

Definisi pemimpin menurut Fairchild yang dikutip oleh Kartini Kartono dalam bukunya Pemimpin dan Kepemimpinan (1998:33), menyatakan pemimpin itu adalah “ Seseorang yang memimpin, dengan cara memprakarsai tingkah laku sosial, dengan mengatur, mengorganisir, mengontrol atas upaya/usaha orang lain atau melalui kekuasaan atau posisi.”

       Gaya kepemimpinan merupakan salah satu posisi kunci dimana seorang pemimpin harus bisa mempengaruhi , mengarahkan, dan menunjukan kemampuannya agar semua tujuan perusahaan bisa tercapai sesuai dengan yang telah ditetapkan.

       Menurut Susilo Martoyo (2000:81) dalam bukunya Sumber Daya Manusia bahwa “ Gaya Kepemimpinan adalah norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain “. Sedangkan menurut menurut Musanef (1996:81) Gaya kepemimpinan adalah “ Kecenderungan performa kepemimpinan dalam menjalankan tugas kepemimpinannya”

       Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan adalah usaha seseorang yang diserahi tugas sebagai pimpinan, untuk mengatur, mempersatukan dan menggerakan bawahannya secara bersama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pada hakikatnya kepemimpinan merupakan berasal dari pribadi pemimpin itu agar bisa mempengaruhi orang lain. Dengan mempengaruhi bawahannya, seorang pemimpin berharap bawahannya bisa bergerak dalam suatu ikatan tertentu, aktivitas terarah, sadar dan bekerjasama dengan penuh tanggung jawab atas pekerjaannya tersebut.

Tingkatan Kompetensi SDM (skripsi dan tesis)

Spencer dan Spencer (dalam Wibowo, 2007:96) mengelompokkan tiga tingkatan kompetensi yaitu:

  1. Behavioral Tools

1)      Knowledge merupakan informasi yang digunakan orang dalam bidang tertentu, misalnya membedakan antara akuntan senior dan junior.

2)      Skill merupakan kemampuanorang untuk melakukan sesuatudengan baik. Misalnya, mewawancara dengan efektif, dan menerima pelamar yang baik.

  1. Image Attribute

1)      Social Role merupakan pola perilak orang yang diperkuat oleh kelompok social atau organisasi. Misalnya menjadi pemimpin atau pengikut, menjadi agen perubahan atau menolak perubahan.

2)      Self Image merupakan pandangan orang terhadap dirinya sendiri, identitas, kepribadian, dan harga dirinya. Misalnya melihat dirinya sebagai pengembang atau manajer yang berada di atas.

  1. Personal Charasteristic

1)      Traits merupakan aspek tipikal berprilaku Misalnya, menjadi pendengar yang baik.

2)      Motive merupakan apa yang mendorong perilaku seseorang dalam bidang tertentu (prestasi, afiliasi, kekuasaan). Misalnya, ingin mempengaruhi perilaku orang lain untuk kebaikan organisasi.

Aspek-aspek yang Terkandung pada Konsep Kompetensi (skripsi dan tesis)

Hutapea dan Thoha (2008:28) mengungkapkan bahwa ada tiga komponen utama pembentukan kompetensi yaitu pengetahuan yang dimiliki seseorang, kemampuan, dan prilaku individu. Pengetahuan (knowledge) adalah informasi yang dimiliki seseorang karyawan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan bidang yang digelutinya (tertentu), misalnya bahasa komputer. Pengetahuan karyawan turut menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan tugas yang dibebankan kepadanya, karyawan yang mempunyai pengetahuan yang cukup akan meningkatkan efisiensi perusahaan. Namun bagi karyawan yang belum mempunyai pengetahuan cukup, maka akan bekerja tersendat-sendat. Pemborosan bahan, waktu dan tenaga serta faktor produksi yang lain akan diperbuat oleh karyawan berpengetahuan kurang. Pemborosan ini akan mempertinggi biaya dalam pencapaian tujuan organisasi. Atau dapat disimpulkan bahwa karyawan yang berpengetahuan kurang, akan mengurangi efisiensi

Gordon (Sutrisno, 2010: 204) menyatakan bahwa aspek yang terkandung dalam konsep kompetensi adalah sebagai berikut:

  1. Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif. Misalnya seorang karyawan mengetahui cara melakukan identifikasi belajar, dan bagaimana melakukan pembelajaran yang baik sesuai dengan kebutuhan yang ada di perusahaan.
  2. Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif, dan afektif yang dimiliki oleh individu. Misalnya, seorang karyawan dalam melaksanakan pembelajaran harus mempunyai pemahaman yang baik tentang karakteristik dan kondisi kerja secara efektif dan efisien.
  3. Nilai (value), adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang. Misalnya, standar perilaku para karyawan dalam melaksanakan tugas (kejujuran, keterbukaan, demokratis, dan lain-lain).
  4. Kemampuan (skill), adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepada karyawan. Misalnya standar perilaku para karyawan dalam memilih metode kerja yang dianggap lebih efektif dan efisien.
  5. Sikap (attitude), yaitu perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya reaksi terhadap krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan gaji.
  6. Minat (interest), adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Misalnya melakukan suatu aktivitas kerja.

Kompetensi (skripsi dan tesis)

Menurut Boulter et al. (dalam Sulistyani dan Rosidah, 2003:11), kompetensi adalah karakteristik dasar dari seseorang yang memungkinkan pegawai mengeluarkan kinerja superior dalam pekerjaannya. Hal ini berarti kompetensi mengandung bagian kepribadian yang mendalam dan melekat pada seseorang dengan perilaku yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan. Prediksi siapa yang berkinerja baik dan kurang baik dapat diukur dari kriteria atau standar yang digunakan.

Analisis kompetensi disusun sebagian besar untuk pengembangan karier, tetapi penentuan tingkat kompetensi dibutuhkan untuk mengetahui efektivitas tingkat kinerja yang diharapkan. Menurut Boulter et al. (dalam Sulistyani dan Rosidah:11) level kompetensi adalah sebagai berikut : Skill, Knowledge, Social Role, Self Image, Trait dan MotiveSkill adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas dengan baik misalnya seorang progamer computer. Knowledge adalah informasi yang dimiliki seseorang untuk bidang khusus (tertentu), misalnya bahasa komputer. Social role adalah sikap dan nilai-nilai yang dimiliki seseorang dan ditonjolkan dalam masyarakat (ekspresi nilai-nilai diri), misalnya : pemimpin. Self image adalah pandangan orang terhadap diri sendiri, merekflesikan identitas, contoh : melihat diri sendiri sebagai seorang ahli. Trait adalah karakteristik abadi dari seorang karakteristik yang membuat orang untuk berperilaku, misalnya : percaya diri sendiri. Motive adalah sesuatu dorongan seseorang secara konsisten berperilaku, sebab perilaku seperti hal tersebut sebagai sumber kenyamanan, contoh : prestasi mengemudi.

Kompetensi Skill dan Knowledge cenderung lebih nyata (visible) dan relatif berada di permukaan (ujung) sebagai karakteristik yang dimiliki manusia. Social role dan self image cenderung sedikit visibel dan dapat dikontrol perilaku dari luar. Sedangkan trait dan motive letaknya lebih dalam pada titik sentral kepribadian. Kompetensi pengetahuan dan keahlian relatif mudah untuk dikembangkan, misalnya dengan program pelatihan untuk meningkatkan tingkat kemampuan sumber daya manusia. Sedangkan motif kompetensi dan trait berada pada kepribadian sesorang, sehingga cukup sulit dinilai dan dikembangkan. Salah satu cara yng paling efektif adalah memilih karakteristik tersebut dalam proses seleksi. Adapun konsep diri dan social role terletak diantara keduanya dan dapat diubah melalui pelatihan, psikoterapi sekalipun memerlukan waktu yang lebih lama dan sulit.

Spencer dan Spencer (dalam Moeheriono, 2009:3) menyatakan bahwa kompetensi merupakan karakteristik yang mendasari seseorang berkaitan dengan efektivitas kinerja individu dalam pekerjaannya atau karakteristik dasar individu yang memiliki hubungan kausal atau sebagai sebab-akibat dengan kriteria yang dijadikan acuan, efektif atau berkinerja prima atau superior di tempat kerja atau pada situasi tertentu. Berdasarkan dari definisi ini, maka beberapa makna yang terkandung di dalamnya adalah sebagai berikut:

  1. Karakteristik dasar (underlying characteristic), kompetensi adalah bagian dari kepribadian yang mendalam dan melekat pada seseorang serta mempunyai perilaku yang mendalam dan melekat pada seseorang serta mempunyai perilaku yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan tugas pekerjaan.
  2. Hubungan kausal (causally related), berarti kompetensi dapat menyebabkan atau digunakan untuk memprediksikan kinerja seseorang, artinya jika mempunyai kompetensi yang tinggi, maka akan mempunyai kinerja yang tinggi pula (sebagai akibat).
  3. Kriteria (criterian referenced), yang dijadikan sebagai acuan, bahwa kompetensi secara nyata akan memprediksikan seseorang dapat bekerja dengan baik, harus terukur dan spesifik atau terstandar.

Kompetensi berdasarkan penjelasan tersebut merupakan sebuah karakteristik dasar seseorang yang mengindikasikan cara berpikir, bersikap, dan bertindak serta menarik kesimpulan yang dapat dilakukan dan dipertahankan oleh seseorang pada waktu periode tertentu. Dari karakteristik dasar tesebut tampak tujuan penentuan tingkat kompetensi atau standar kompetensi yang dapat mengetahui tingkat kinerja yang diharapkan dan mengkategorikan tingkat tinggi atau di bawah rata-rata.

Teknik Dasar Lari (skripsi dan tesis)

1.

Tujuan utama dari pembelajaran ini bukan untuk meningkatkan prestasi siswa-siswanya. Namun lebih ditekankan pada upaya untuk memperkaya gerak-gerak dasar jalan dan lari. Dengan demikian diharapka mereka akan lebih terampil, efektif dan efisien dalam menggunakan/memfungsikan anggota badannya. Berbagai gerak dasar jalan dan lari tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu yang sederhana dan dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan oleh siapapun tak terkecuali oleh anak-anak tunanetra sekalipun semakin sering dan semakin banyak melakukan, maka akan semakin banyak peluang bagi siswa untuk lebih cepat meningkatkan kesegaran jasmaninya, kemampuan fisiknya, pengalaman geraknya, pengayaan geraknya efisiensi dan efektivitas geraknya serta otomatisasi gerak siswa.

Oleh karena itu berikanlah kesempatan kepada siswa untuk melakukan berbagai kegiatan gerak dasar jalan dan lari sebanyak mungkin, hingga mereka akan menjadi siswa-siswa yang sehat, segar, terampil serta kaya akan konsep gerak yang diperlukannya kelak. Djumidar (2001 : 5.2 – 5.3 ) mengemukakan ada berbagai macam gerakan-gerakan dasar lari untuk lari jarak pendek, antara lain :

  1. Gerakan menginjak-injak tanah, gerakan dari pergelangan kaki, pinggul tidak bergerak.
  2. Gerakan mengangkat ujung kaki satu-persatu kedepan lurus setinggi mata kaki dengan frekwensi gerakan cepat dengan sikap permulaan jinjit.
  3. Gerakan menekuk lutut hingga tumit menyentuh pantat oleh kaki kiri dan kanan berganti-ganti dengan frekwensi yang cepat.
  4. Gerakan mengangkat lutut setinggi pangkal paha dengan frekwensi yang cepat.
  5. Hopping, yaitu gerakan melompat dengan kaki ayun ditahan/ditekuk setinggi pangkal  paha dan kaki menumpu terangkat dari permukaan tanah setinggi mungkin, dilakukan

berganti-ganti tumpuan.

  1. Hopjump atau melompat kijang, yaitu langkah yang lebar disertai gerak lompatan kedepan, kedua kaki saling berganti  menumpu untuk mengangkat berat badan, kedua tangan mengayun menjaga keseimbangan.
  2. Hopstep atau jingkrak atau engklek, gerakan tersebut dilakukan dengan tumpuan satu kaki dengan mengangkat lutut bergerak kedepan dengan frekwensi yang cepat, dilakukan dengan berganti-ganti kaki.

Pengertian Lari (skripsi dan tesis)

Menurut Djumidar ( 2001 : 5.2 ) “ Lari adalah frekwensi langkah yang dipercepat, sehingga pada waktu berlari ada kecenderungan badan melayang. Yang artinya pada waktu kedua kaki tidak menyentuh tanah, sekurang-kurangnya satu kaki tetap menyentuh tanah “. Akitivitas gerak dasar jalan dan lari pada dasarnya hampir sama, yaitu didominasi oleh gerak melangkahkan kedua kaki diimbangi oleh gerak ayunan lengan yang harmonis. Jalan dan lari termasuk pada kategori keterampilan gerak siklis. Tujuan dari jalan dan lari adalah menempuh suatu jarak tertentu (tanpa rintangan atau melewati rintangan) secepat mungkin. Gerak dominan yang utama dari gerak lari adalah gerakan langkah kaki dan ayunan lengan. Sedangkan aspek lain yang perlu diperhatikan pada saat berlari adalah kecondongan badan (disesuaikan dengan jenis / type lari ), pengaturan nafas, dan harmonisasi gerakan lengan dan tungkai. Sedangkan yang paling menentukan kecepatan lari seseorang adalah panjang langkah kaki kekerapan langkah. Langkah kaki terdiri dari tahap menumpu dan tahap melayang. Sedangkan gerakan kaki mulai tahap menumpu kemudian mendorong (kaki tolak ) sedangkan kaki ayun melakukan gerak pemulihan dan gerak ayunan.

Kaki tumpu : Mendaratlah pada telapak kaki bagian depan, lurus kedepan.

Mata kaki, lutut dan pinggul diluruskan penuh selama tahap mendorong.

Kaki ayun : Kaki ditekuk selama masa pemulihan. Lutut angkat kedepan atas pada tahap mengayun.

Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (skripsi dan tesis)

Pendidikan jasmani dan kesehatan seperti dikemukakan oleh Rijsdorp (1971) dalam Sukintaka (2004 : 31-32) sebagai berikut:

  1. Pendidikan jasmani merupakan bagian dari Gymnologie, yakni pengetahuan (wetenschap) tentang berlatih, dilatih, atau melatih; yang terdiri dari tiga bagian besar: (1) Pendidikan Jasmani, (2) Olahraga (Sport), (3) Rekreasi.
  2. Pendidikan jasmani merupakan pergaulan dalam bidang gerakan dan pengetahuan tubuh. Selanjutnya Rijsdorp juga menerangkan, bahwa pendidikan jasmani merupakan pendidikan. Dan pendidikan itu menolong anak-anak atau anak muda mencapai kedewasaan.

Pendapat tersebut diperkuat dengan salah satu pendapat pendidikan jasmani yang dikemukakan Wuest dan Bucher (1995) dalam Sukintaka (2004 : 34) sebagai berikut :

“Pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang bertujuan untuk memperbaiki kerja, dan peningkatan pengembangan manusia melalui aktivitas jasmani”.

Pendidikan jasmani bukanlah pendidikan terhadap badan atau bukan merupakan pendidikan tentang problem tubuh, akan tetapi merupakan pendidikan tentang problem manusia dan kehidupan. Tujuan pendidikan jasmani berbeda dengan tujuan pembinaan olahraga prestasi, tujuan pendidikan jasmani adalah untuk membuat anak senang bermain dan bergerak dalam proses pembelajaran sehingga anak melakukan aktivitas gerak yang cukup, sedangkan tujuan pembinaan olahraga prestasi adalah mendapatkan pencapaian hasil prestasi yang maksimal. Dalam hal ini seorang guru pendidikan jasmani dituntut untuk memiliki kemampuan persuasif yang baik untuk mengajak siswa mengikuti proses pembelajaran dengan semua aktivitas gerak di dalamnya dengan perasaan senang, nyaman, dan tenang.

Seorang guru harus kreatif dan mampu berinovasi dalam proses pembelajaran di sekolah agar tercapai tujuan pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani itu pendidikan melalui gerak manusia. Akibat dari hal tersebut, maka pembelajaran pendidikan jasmani harus mampu mengembangkan seluruh aspek pribadi manusia, dan harus berpegang teguh kepada norma-norma pendidikan. Dengan demikian dalam pembelajaran dapat dilaksanakan modifikasi baik alat, peraturan, dan lain sebagainya untuk membuat proses pembelajaran lebih menarik dan membuat anak senang mengikuti pembelajaran.

Pengertian Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Pembelajaran sebagaimana dijelaskan dalam Sukintaka (2004 : 55) mengandung pengertian, bagaimana para guru mengajarkan sesuatu kepada peserta didik, tetapi di samping itu juga terjadi peristiwa bagaimana peserta didik mempelajarinya. Jadi di dalam sauatu peristiwa pembelajaran terjadi dua kejadian secara bersamaan, yaitu sebagai berikut: pertama, ada satu pihak yang memberi dan kedua, pihak lain yang menerima. Oleh sebab itu peristwa tersebut dapat dikatakan terjadi proses ineraksi edukatif. Kalau pembelajaran direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan dengan baik, maka dapat diharapkan bahwa pembelajaran sebagai wahana pencapaian tujuan pendidikan jasmani akan berhasil dengan baik juga. Winarno Surachmad (1980) dalam Sukintaka (2004 : 57), mengutarakan “bahwa mengajar merupakan peristiwa yang terikat oleh tujuan, terarah oleh tujuan, dan dilaksanakan semata-mata untuk mencapai tujuan”.

Menurut Winarno Surachmad (1980) dalam Sukintaka (2004 : 38) Untuk pencapaian tujuan pembelajaran dengan baik dan lancar, maka guru pendidikan jasmani harus betul-betul mengetahui interaksi edukatif berikut ini :

  1. Keadaan anak (jenis kelamin, atau kemampuan anak, karakteristik pertumbuhan dan perkembangan anak)
  2. Penentuan bahan pelajaran yang tepat
  3. Tempat pelaksanaan (kolam renang, bangsal senam, atau lapangan terbuka)
  4. Tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran rasa sosial, kemampuan motorik)
  5. Keterampilan motorik, afektif, atau kognitif
  6. Tersedianya alat pembelajaran
  7. Penentu pembelajaran dan metode penyampaian (bentuk metode penyampaian : bermain, ceritera, gerka dan lagu, meniru, lomba, tugas, komando, latihan, dan modifikasi)
  8. Ada penilaian interaksi

Tujuan pembelajaran dijelaskan dalam Sukintaka (2004 : 60-61), yaitu:

  1. Tujuan pembelajaran umum.

Perumusannya masih sangat umum, karena belum operasional. Artinya belum spesifik, karena masih meliputi ruang lingkup yang cukup luas. Kata kerja yang digunakan dalam tujuan pengajaran umum ialah kata kerja yang tidak atau belum operasional, jadi masih menimbulkan berbagai tafsiran. Adapun kata kerja itu antara lain: memahami, menguasi, mengetahui, mengerti, mengenal, atau kata-kata lain yang sejenis.

  1. Tujuan pembelajaran khusus

Perumusan pada tujuan pembelajaran khusus sudah lebih operassional dari pada perumusan tujuan pembelajaran umum. Komponen pokok dalam perumusan tujuan pengajaran ialah keadaan anak didik yang berkaitan dengan tingkah laku, kondisi tertentu, dan derajat kemampuan. Dalam perumusan tujuan pembelajaran khusus yang akan ditentukan oleh para guru sendiri ialah kata kerja yang dipilih harus bermakna operasional, seperti: dapat atau mampu.

Dari uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi edukatif antara guru dan siswa yang mempunyai tujuan dalam menyalurkan ilmu dari guru ke siswa menuju proses kematangan dalam diri siswa.

Pengertian Atletik (skripsi dan tesis)

Olahraga merupakan berbagai macam kegiatan atau usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan dan membina kekuatan jasmani maupun rohani pada setiap orang. Lebih luas lagi olahraga dianggap sebagai salah satu alat dalam usaha meningkatkan kesanggupan bangsa guna menanggulangi kewajibannya yang semakin lama semakin meningkat sesuai dengan perkembangan jaman.

Atletik adalah gabungan dari beberapa jenis olahraga yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi lari, lempar, dan lompat. Kata ini berasal dari bahasa Yunani “athlon” yang berarti kontes, Munasifah (2008 : 9). Nomor olahraga atletik adalah induk dari semua cabang olahraga dan yang paling tua. Dalam nomor atletik terdapat bermacam latihan fisik yang lengkap dan menyeluruh. Latihan fisik tersebut diharapkan akan memberikan kepuasan karena dengan melakukan berbagai kegiatan dalam olahraga atletik maka dorongan naluri seseorang untuk bergerak dapat terpenuhi.

Atletik memegang peranan penting dalam pendidikan dan pengembangan kondisi fisik individu pelaku olahraga. Atletik juga menjadi dasar pokok untuk pengembangan dan peningkatan prestasi yang optimal bagi cabang olahraga lainnya. Sesuai dengan penjelasan dan tujuan dalam melakukan olahraga tersebut di atas, maka di sekolah mempunyai seperangkat kurikulum yang menjabarkan kegiatan olahraga pendidikan jasmani. Di dalam Kurikulum SD pengertian pendidikan jasmani dan kesehatan adalah mata pelajaran yang merupakan bagian pendidikan keseluruhan yang proses pembelajarannya mengutamakan aktifitas jasmani dan kebiasaan hidup sehat menuju pada pertumbuhan dan pengembangan jasmani, mental, sosial dan emosional yang selaras, serasi seimbang. Salah satu cabang olahraga nomor atletik yang juga menjadi muatan materi pendidikan di sekolah adalah nomor lari, terutama dalam materi pembelajaran Penjas di sekolah dasar.

Kurikulum Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan untuk SD meliputi kegiatan pokok dan kegiatan pilihan. Kegiatan pokok terdiri atas atletik, senam, permainan dan pendidikan kesehatan. Sedang kegiatan pilihan disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat, seperti renang, pencak silat, bulu tangkis, tenis meja dan sepak bola. Kegiatan dalam atletik yang termasuk dalam materi kurikulum adalah nomor lari, dimana di dalamnya terdapat materi tentang gerak dasar lari itu sendiri.

Modifikasi Permainan Dalam Pembelajaran (skripsi dan tesis)

              Memodifikasi pembelajaran adalah sangat penting agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Modifikasi dibutuhkan apabila, kondisi pembelajaran ini dapat dilakukan pada berbagai aspek tergantung tingkat kesulitan dari gerakan ketrampilan yang dipelajari. Rusli Lutan & Adang Suherman (2000: 69) menyatakan bahwa, “Modifikasi permainan berarti guru atau pelatih dapat mengurangi atau menambah tingkat kompleksitas dan kesulitan tugas ajar dengan memodifikasi permainan yang digunakan untuk melakukan skill itu”. Pendapat lain dikemukakan Yoyo Bahagia & Adang Suherman (1999/2000:1) bahwa, “Esensi modifikasi adalah menganalisa sekaligus mengembangkan materi pelajaran atau latihan dengan cara meruntunkan dalam proses aktivitas belajar atau berlatih yang potensial dapat memperlancar siswa dalam latihannya. Cara ini dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan dan membelajarkan siswa dari yang tadinya tidak bisa menjadi bisa dari tingkatnya yang tadinya rendah menjadi lebih tinggi”.

            Berdasarkan dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa modifikasi merupakan usaha atau cara yang dilakukan oleh seorang guru. Jika keterampilan yang dipelajari sulit atau rumit, maka pembelajaran dapat mengurangi atau menyederhanakan ketrampilan yang dipelajari terutama untuk pemula.

Permainan Dalam Pembelajaran (skripsi dan tesis)

                 Pendidikan sebagai proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, mempunyai peranan yang sangat penting yaitu memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani.

                 Pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang dilakukan melalui aktivitas fisik sebagai media utama mencapai tujuan. Bentuk-bentuk aktivitas fisik yang lazim digunakan oleh anak SD, sesuai dengan muatan yang tercantum dalam kurikulum adalah bentuk gerak-gerak olahraga, sehingga pendidikan jasmani memuat cabang-cabang olahraga.

                     Jadi pendidikan jasmani merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, dan penghayatan nilai-nilai serta pembiasaan pola hidup sehat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang. Yang membedakan antara pendidikan jasmani dengan mata pelajaran lain adalah alat yang digunakan yaitu gerak insani atau manusia yang bergerak secara sadar.

                 Untuk mencapai tujuan tersebut, guru pendidikan jasmani harus dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani sesuai dengan tahap-tahap perkembangan dan karakteristik anak SD. Memodifikasi alat pembelajaran merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan guru pendidikan jasmani SD, agar siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Rusly Lutan dalam modul pengembangan media Penjaskes oleh Departemen Pendidikan Nasional (1994:3) menyatakan, modifikasi dalam mata pelajaran pendidikan jasmani diperlukan, dengan tujuan agar :

    1) Siswa memperoleh kepuasan dalam mengikuti pelajaran.

    2) Meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi.

    3) Siswa dapat melakukan pola gerak secara benar.

     Pendekatan modifikasi ini dimaksudkan agar materi yang ada di dalam kurikulum dapat disajikan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan kognitif,  afektif, dan psikomotor anak, sehingga pembelajaran pendidikan jasmani di SD dapat dilakukan secara intensif.

                  Modifikasi digunakan sebagai salah satu alternatif pendekatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani di SD dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Menurut Ngasmain dan Soepartono dalam modul pengembangan media Penjaskes oleh Departemen Pendidikan Nasional (1994:4) alasan utama perlunya modifikasi adalah :

      1) Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, kematangan fisik dan mental anak belum selangkap orang dewasa.

      2) Pendekatan pembelajaran pendidikan jasamani selam ini kurang efektif,   hanya bersifat lateral dan monoton.

3) Sarana dan prasarana pembelajaran pendidikan jasmani yang ada sekarang, hampir semuanya didesain untuk orang dewasa. Aussie dalam modul pengembangan media Penjaskes oleh Departemen Pendidikan Nasional (1994:4) mengembangkan modifikasi di Australia dengan pertimbangan :

 1) Anak-anak belum memiliki kematangan fisik dan emosional seperti orang dewasa.

 2) Berolahraga dengan peralatan dan peraturan yang dimodifikasi akan menguragi cidera pada anak.

 3) Olahraga yang dimodifikasi akan mampu mengembangkan keterampilan anak lebih cepat disbanding dengan peralatan yang standar untuk orang dewasa.

 4) Olahraga yang dimodifikasi menumbuhkan kegembiraan dan kesenangan pada anak-anak dalam situasi kompetitif.

                   Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan modifikasi                                             dapat digunakan sebagai suatau alternatif dalam pembelajaran pendidikan jasmani di SD, karena pendekatan ini mempertimbangkan tahap-tahap perkembangan dan karakteristik anak, sehingga anak akan mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dengan senang dan gembira.

                  Dengan melakukan modifikasi, guru penjas akan lebih mudah menyajikan materi pelajaran yang sulit akan menjadi lebih mudah dan disederhanakan tanpa harus takut kehilangan makna dari apa yang ia berikan. Anak akan lebih banyak bergerak dalam berbagai situasi dan kondisi yang dimodifikasi. Komponen-komponen penting dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan yang dapat dimodifikasi menurut Aussie meliputi :

       1) Ukuran, berat atau bentuk peralatan yang dipergunakan.

       2) Lapangan permainan.

       3) Waktu bermain atau lamanya permainan.

       4) Peraturan permainan.

       5) Jumlah pemain.

                    Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen yang dapat dimodifikasi sebagai pendekatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani di SD adalah :

       1) Ukuran, berat atau bentuk peralatan yang dipergunakan.

       2) Ukuran lapangan.

       3) Lamanya waktu bermain atau lamanya permainan.

       4) Peraturan permainan yang digunakan.

     5) Jumlah pemain atau jumlah siswa yang dilibatkan dalam suatu permainan.

Kesalahan yang Sering terjadi pada Passing Bawah (skripsi dan tesis)

Passing bawah merupakan salah satu teknik dasar bola voli yang paling mudah jika dibandingkan dengan teknik lainnya. Namun tidak menutup kemungkinan, bagi siswa sekolah seringkali dalam melakukan passing bawah

    terjadi kesalahan, sehingga kualitas passing yang di hasilkan tidak sesuai yang di harapkan.

             Menurut Barbara L.V & Bonnie. J.F (1996:21), kesalahan melakukan passing bawah antara lain :

1) Lengan terlalu tingi ketika memukul bola

2) Merendahkan tubuh dengan menekuk pingang bukan lutut, sehingga bola yang di operkan terlalau rendah dan terlalu kencang.

3) Tidak memindahkan berat badan ke arah sasaran, sehingta bola tidak bergerak ke muka.

4) Lengan terpisah sebelum pada saat atau sesudah menerima bola, sehinga operan salah.

5) Bola mendarat di lengan di daerah siku atau menyentuh tubuh. Hal-hal tersebut di atas harus diperhatikan oleh guru atau pelatih dalam mengajar passing bawah bola voli. Pada umumnya siswa tidak mampu mengamati letak kesalahan yang dilakukan. Seorang guru harus mampu mencermati setiap kesalahannya dan setiap kesalahan yang dilakukan siswa, guru segera mungkin untuk membetulkan gerakan yang salah tersebut. Kesalahan yang dibiarkan akan membentuk pola gerak yang salah, sehingga kualitas passing bawah yang dilakukan hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.

Pelaksanaan Passing Bawah (skripsi dan tesis)

Passing bawah merupakan satu pola gerakan yang di rangkaikan secara baik dan harmonis agar passing bawah yang dilakukan menjadi lebih baik dan sempurna. Untuk mencapai hal tersebut seorang siswa harus menguasai teknik passing bawah. Cara melakukannya adalah ibu jari sejajar dan jari-jari tangan yang satu membungkus jari-jari tangan lainnya. Semua penerimaan bola dengan teknik ini sebaiknya bola di sentuh persis sedikit lebih atas dari pergelangan tangan. Sikap lengan dan tangan diupayakan seluas mungkin dari kedua sikut sebaiknya disejajarkan untuk mencegah terjadinya pergeseran yang memberikan kemungkinan arah bola yang dikehendaki tidak melenceng. Sikap kaki dibuka selebar bahu, dan salah satu kaki berada di depan. Ketika bola datang cepat dan sangat menukik, maka gunakan sikap penjagaan rendah, demikian pula jika bola datang tidak terlalu cepat dan rendah gunakan sikap penjagaan menengah (Amung ma’mun dan Toto Subroto, 2001:57). Sedangkan menurut Soedarwo dkk (2000:9) teknik pelaksanaan passing bawah adalah sebagai berikut : Sikap permulaan  Ambil sikap siap normal pada saat tangan akan dikenakan pada bola, segera tangan dan juga lengan diturunkan serta tangan dan lengan dalam keadaan terjulur kebawah depan lurus. Siku tidak boleh ditekuk, kedua lengan merupakan papan pemukul yang selalu lurus keadaannya. Sikap saat perkenaan Pada saat akan mengenakan bola pada bagian sebelah atas dari pada pergelangan tangan , ambillah terlebih dahulu posisi sedemikian hingga badan berada dalam posisi menghadap bola. Begitu bola berada pada jarak yang tepat maka segeralah ayunkan lengan yang telah lurus dan fixir tadi dari arah bawah kedepan atas. Tangan pada saat itu telah berpegangan satu dengan yang lain. Perkenaan bola harus diusahakan tepat dibagian proximal daripada pergelangan tangan dan dengan bidang yang selebar mungkin agar bola dapat melambung secara stabil. Maksudnya agar bola selama lintasannya tidak banyak membuat putaran. Putaran bola setelah mengenai bagian proximal daripada pergelangan tangan, akan memantul keatas depan dengan lambungan yang cukup tinggi dan dengan sudut pantul 90. Bila sudut pantulnya tidak 90 maka secara teoritis bola memantul kearah lain atau dikatakan bola tersebut akan diterima luncas. Dengan demikian bola tidak akan memantul kearah seperti yang diharapkan.

Sikap akhir Setelah bola berhasil dipass bawah maka segera diikuti pengambilan sikap siap normal kembali dengan tujuan agar dapat bergerak lebih cepat untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Untuk memperoleh kualitas passing bawah yang baik, maka setiap terjadi kesalahan harus dicermati letak kesalahannya dan kesalahan harus dihindari. Kemampuan siswa dalam mencermati setiap kesalahan yang dilakukan akan dapat membentuk pola passing seperti yang diharapkan.

Pengertian Passing Bawah (skripsi dan tesis)

Passing merupakan operan bola yang dimainkannya kepada teman seregunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Soedarwo dkk (2000:8) yang menyatakan bahwa, “ Passing didalam permainan bola voli adalah usaha ataupun upaya seorang pemain bola voli dengan cara menggunakan suatu teknik tertentu yang tujuannya adalah untuk mengoperkan bola yang dimainkannya itu kepada teman seregunya untuk dimainkan dilapangan sendiri”. Sedangkan menurut  M.Yunus (1992:80) mengemukakan bahwa “ passing adalah mengoperkan kepada teman sendiri dalam satu regu dengan suatu teknik tertentu, sebagai langkah awal untuk menyusun pola serangan kepada regu lawan”. Oleh karena itu, menguasai teknik dasar passing bola voli merupakan faktor yang penting dan harus dipahami serta dikuasai dengan benar. Passing bawah merupakan teknik dasar bola voli yang paling awal diberikan dalam mengajar atau melatih bola voli. G. Durrwachter (1990:52) menyatakan, “teknik passing bawah bagi anak didik dirasakan lebih wajar, gampang dan terutama lebih aman pada saat menerima bola yang keras, dibandingkan dengan gerak passing atas yang memerlukan sikap tangan dan jari khusus”. Dengan demikian passing bawah memiliki keuntungan yang lebih baik jika dibandingkan dengan passing atas. Hal ini dapat dilihat dalam permainan,

 jika menerima servis atau smash yang keras dan tajam harus dilakukan dengan passing bawah. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, passing bawah adalah teknik dasar memainkan bola dengan mengunakan kedua tangan,dimana perkenaan bola yaitu pada kedua lengan bawah ynag bertujuan untuk mengoperkan bola kepada teman seregunya untuk dimainkan ke lapangan sendiri atau sebagai awal melakukan serangan.

Peraturan Permainan Bola voli Mini (skripsi dan tesis)

Peraturan bola voli mini merupakan modifikasi dari peraturan bola voli yang sesungguhnya. Bola voli mini dimainkan oleh pemain yang sejumlahnya kurang dari 6 orang dalam satu tim, Taktik yang sederhana, Ukuran lapangan yang lebih kecil, tergantung tingkat umur anak-anak yang memainkannya. Ukuran tinggi net dikurangi sehingga memungkinkan anak-anak untuk bermain diatas net pada saat menyerang dan bertahan sesuai dengan tinggi badan dan kemampuan daya lompat pemain. Bola yang digunakan lebih kecil dan lebih ringan, berat dan lingkaran bola disesuaikan dengan tingkat umur anak-anak Ukuran yang umum digunakan untuk bola voli mini adalah ukuran 4. Peraturan Putra dan Putri pada tingkat pemula ini tidak perlu dibedakan. Peraturan yang baku secara internasional belum ada, Menurut Horst Baacke dalam Coaches Manual 1, (1980:90), jumlah anggota regu, ukuran lapangan dan tinggi net untuk umur dimukakan seperti tabel berikut ini:

     Tabel.1 Ukuran lapangan dan tinggi net untuk bola voli mini

Umur 9 – 11 Tahun 10 – 12 Tahun 11 – 13 Tahun
Regu 2 lawan 2 3 lawan 3 4 lawan 4
Lapangan 3 x 9 m 4,5 x 9 m 6 x 9 m 6 x 12 m 8 x 12 m 9 x 12 m
Tinggi Net 210  ± 5 Cm 210   ± 5 Cm 210 ± 5 cm

 

Berdasarkan table diatas menunjukkan bahwa permainan bola voli mini sarana dan parasarananya dimodifikasi sesuai dengan umur siswa. Baik dari jumlah pemain, lebar lapangan maupun tinggi net

Penjelasan tentang bola voli mini (skripsi dan tesis)

    Pengajaran Olahraga atau pendidikan jasmani di sekolah dasar, khususnya cabang olahraga bola voli, masih sulit diajarkan dalam bentuk aturan cabang olahraga yang sesungguhnya, karena tingkat perkembangan fisik anak masih belum mampu mengatasi beban seberat itu. Oleh sebab itu hampir semua cabang olahraga diberikan dalam bentuk yang disederhanakan atau diminikan yang sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangan anak di Sekolah Dasar. Pengenalan dan pembentukan teknik-teknik dasar yang sedini mungkin, sejak umur sekitar 6-8 tahun diharapkan bagi anak yang berpotensi dapat mencapai prestasi puncaknya setelah berlatih secara teratur selama 10-12 tahun. Bola voli mini harus disesuaikan agar anak dapat memainkan dengan asyik dan gembira alat dan fasilitas serta peraturan disederhanakan. Seperti dalam penggunaan Bola lebih kecil, Lapangan lebih kecil, Jumlah permainan lebih kecil, Tidak Perlu ada garis serang, Pertandingan cukup dua kali kemenangan, Pergantian pemain bebas asal berseling satu rally, dan yang paling penting adalah membuat permainan yang menyenangkan.

Prinsip Dasar Permainan Bola voli (skripsi dan tesis)

Permainan bola voli adalah olahraga beregu yang dalam pelaksanaan permainannya dilakukan dengan memantulkan bola secara bergantian dari tim yang satu ke lawannya bertujuan untuk mematikan lawan dan memperoleh kemenangan. Amung Ma’mum dan Toto Subroto (2001:43) menyatakan bahwa, “Prinsip dasar permainan bola voli adalah memantul-mantulkan bola agar jangan sampai bola menyentuh lantai, bola dimainkan sebanyak-banyaknya tiga kali sentuhan dalam lapangan sendiri dan mengusahakan bola hasil sentuhan itu diseberangkan ke lapangan lawan melewati jaring masuk sesulit mungkin”. Menurut Agus Mukholid (2004: 35) bahwa, “Permainan bola voli adalah suatu permainan yang menggunakan bola untuk di-voli (dipantulkan) di udara hilir mudik di atas net (jaring), dengan maksud dapat menjatuhkan bola di dalam petak daerah lapangan lawan, dalam rangka mencari kemenangan. Mem-volly atau memantulkan bola ke udara dapat mempergunakan seluruh anggota atau bagian tubuh dari ujung kaki sampai ke kepala dengan pantulan sempurna”. Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, permainan bola voli adalah suatu permainan yang dilakukan dengan cara memantulkan bola menggunakan seluruh bagian kaki untuk dimainkan di lapangan permainan sendiri sebanyak tiga kali. Syarat pantulan bola harus sempurna tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Tujuan dari permainan bola voli yaitu menyeberangkan bola ke daerah lapangan permainan lawan sesulit mungkin untuk dijatuhkan atau mematikan bola agar memperoleh kemenangan

Penjelasan Tentang Bola Voli (skripsi dan tesis)

Olahraga bola voli sebagai bagian dari mata rantai materi pendidikan jasmani dalam arti kata merupakan bagian dari materi pendidikan jasmani secara keseluruhan. Bila dikategorikan, maka olahraga bola voli termasuk dalam olahraga yang bercirikan permainan. Sebagaimana karakteristiknya permainan bola voli mengandung unsur keterampilan gerak yaitu berupa teknik-teknik memainkan bola di dalam permainan bola voli. Menurut Amung Ma’mum dan Toto Subroto (2001: 41-42) nilai-nilai yang terkandung dalam permainan bola voli meliputi “(1) Nilai sosial, (2) Nilai kompetetif, (3) Kebugaran fisik, (4) Keterampilan berpikir, (5) Kestabilan emosi, dan (6) Tertib hukum dan aturan”. Nilai-nilai sosial seperti unsur kerjasama di antara teman seregu sangat dibutuhkan, memahami keterbatasan diri atau regu, memahami keunggulan teman bermain di luar regu sendiri dan lain-lain. Nilai-nilai kompetetif seperti memaknai keberhasilan dan ketidak-berhasilan. Nilai kompetetif ini sebaiknya ditanamkan kepada setiap diri anak agar dapat terimplementasikan dalam kehidupan baik sekarang atau kemudian hari. Nilai kebugaran fisik bahwa pembelajaran bola voli mendorong anak untuk senantiasa bergerak (terintegrasi dengan pembelajaran keterampilan gerak). Keterampilan berpikir yang diperoleh dari permainan bola voli yaitu dalam memainkan bola untuk mencapai suatu keberhasilan regu dituntut untuk memecahkan persoalan yang berkaitan dengan taktiknya agar regu dapat memperoleh angka menuju keberhasilan secara keseluruhan. Ditinjau dari kestabilan emosi bahwa, dengan bermain bola voli anak akan terbiasa dan terlatih untuk belajar memaknai keberhasilan dan kegagalan baik dalam setiap sub kegiatan permainan maupun permainan secara keseluruhan. Sedangkan kesadaran tertib hukum dan aturan karena dalam setiap cabang olahraga termasuk permainan bola voli ketentuan yang menjadi aturan permainan tercantum di dalamnya. Dengan adanya aturan permainan anak akan terbiasakan untuk mentaati dan menghormati aturan. Dari nilai-nilai yang terkandung dalam permainan bola voli tersebut akan dapat memberikan pengaruh terhadap pengembangan berbagai potensi yang ada pada diri individu ke arah yang dicita-citakan. Oleh karena itu, guru pendidikan jasmani dan olah raga harus senantiasa menciptakan suasana pembelajaran permainan bola voli yang dapat mengarahkan anak agar nilai-nilai yang terkandung dalam permainan bola voli dapat dirasakan dan nantinya akan memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan

Pengertian Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan pengetahuan atau kemahiran yang sedikit permanen. Proses belajar akan berjalan dengan baik apabila disertai dengan tujuan yang jelas. Tujuan belajar yaitu agar terjadinya perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya, sehingga perubahan tersebut bermakna dan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat sekitarnya. Sedangkan menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa,“pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkunganbelajar”. Dari berbagai pendapat pengertian pembelajaran di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses kegiatan yang memungkinkan guru dapat mengajar dan siswa dapat menerima materi pelajaran yang diajarkan oleh guru secara sistematik dan saling mempengaruhi dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang diinginkan pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/ media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Proses yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun didikan yang ada dalam kurikulum, sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis buku dan media. Demikian pula kunci pokok pembelajaran ada pada guru (pengajar), tetapi bukan berarti dalam proses pembelajaran hanya guru yang aktif sedang siswa pasif. Pembelajaran menuntut keaktifan kedua belah pihak yang sama-sama menjadi subjek pembelajaran. Jadi, jika pembelajaran ditandai oleh keaktifan guru sedangkan siswa hanya pasif, maka pada hakikatnya kegiatan itu hanya disebut mengajar. Demikian pula bila pembelajaran di mana siswa yang aktif tanpa melibatkan keaktifan guru untuk mengelolanya secara baik dan terarah,  maka hanya disebut belajar. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menuntut keaktifan guru dan siswa, sehingga akan tercipta suatu Proses Belajar Mengajar ( PBM ) yang sesuai dengan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan ( PAIKEM )

Karakteristik Siswa Kelas V (skripsi dan tesis)

             Menurut Evelyn 1. Schurr (Evelyn 1. Schurr dalam Syamsir Azis 2005), siswa kelas 5 sekolah dasar mempunyai karakteristik antara lain :

1) Pengembangan koordinasi lebih tinggi

2) Perbedaan jenis kelamin lebih besar pada skill, minat lebih mungkin beberapa permainan dan pertandingan dengan sejenis, hal-hal bermain lebih bersemangat dan besar dari perempuan.

3) Skill dan fisik yang baik adalah penting, pada penerimaan sosial.

4) Kemauan dan kesetiaan tinggi pada kelompok dan gang.

5) Kesadaran sosial dan keinginan untuk mengatur pada permainan dan tanggung jawab yang lebih besar.

 6) Pengurangan kelenturan.

7) Pertumbuhan otot pada anak laki–laki meningkat, kebanyakan anak   perempuan dalam masa puber.

Tujuan Pendidikan Jasmani (skripsi dan tess)

Samsudin (2008:3) tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan jasmani antara lain :

1) Meletakkan landasan karakter yang kuat melalui internalisasi dalam pendidikan jasmani.

2) Membangun landasan kepribadian yang kuat, sikap cinta damai, sikap sosial dan toleransi dalam konteks kemajemukan budaya, etnis dan agama.

3) Menumbuhkan kemampuan berpikir kritis melalui tugas-tugas pembelajaran pendidikan jasmani.

4) Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerja sama, percaya diri, dan demokratis melalui aktivitas jasmani.

5) Mengembangkan keterampilan gerak dan keterampilan teknik serta strategi berbagai permainan olahraga, aktivitas pengembangan, senam, aktivitas ritmik, akuatik (aktivitas air), dan pendidikan luar kelas (outdoor education).

6) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani.

7) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain.

8) Mengetahui dan memahami konsep aktivitas jasmani sebagai informasi untuk mencapai kesehatan, kebugaran dan pola hidup sehat.

9) Mampu mengisi waktu luang dengan aktivitas jasmani yang bersifat rekreatif.

Bidang Miring (skripsi dan tesis)

            Bidang miring merupakan peralatan yang bekerja berdasarkan prinsip pesawat sederhana yang berfungsi untuk meringankan pekerjaan sehingga memudahkan dalam pemindahan benda. Menurut Zainuri (2011:3), bidang miring adalah suatu permukaan datar yang memiliki suatu sudut, yang bukan sudut tegak lurus, terhadap permukaan horizontal. Tangga rumah dibuat landai dan jalan di sekitar pegunungan dibuat berkelok-kelok merupakan beberapa dari sekian banyak contoh penerapan bidang miring. Sejarah penggunaan bidang miring sesungguhnya telah ada sejak ribuan tahun silam. Orang-orang Mesir kuno memanfaatkan bidang miring untuk mengangkat batu raksasa ketika membangun piramida, sekitar tahun 2700 SM hingga 1000 SM.

Semakin landai atau kecil sudut kemiringan suatu bidang miring maka semakin kecil pula gaya yang dibutuhkan dan sebaliknya semakin terjal atau besar sudut kemiringan bidang miring maka semakin besar pula gaya yang diperlukan untuk pemindahan benda.

             Dalam penelitian ini, bidang miring digunakan untuk mempermudah siswa dalam melakukan guling belakang. Matras yang diposisikan dengan kemiringan tertentu akan membuat gerakan guling belakang siswa lebih mudah. Hal ini dikarenakan adanya gaya gravitasi yang mempengaruhi gerakan guling belakang siswa sehingga badan siswa tertarik ke belakang pada saat mengguling.Matras diposisikan dengan sudut kemiringan yang bervariasi berdasarkan prosedur penggunaan yang telah dibuat oleh guru. Pada fase awal sudut yang digunakan relatif besar sehingga siswa akan merasa mudah dalam melakukan guling belakang. Selanjutnya sudut kemiringannya dikurangi secara periodik berdasarkan instruksi guru dan sejalan dengan meningkatnya kesulitan siswa dalam melakukan guling belakang. Tujuan akhirnya adalah siswa dapat melakukan guling belakang tanpa bantuan bidang miring lagi. Bidang miring digunakan oleh siswa hanya sebagai alat bantu mempermudah gerakan guling belakang pada senam lantai serta meningkatkan hasil belajar atau kemampuan guling belakang siswa.

Peranan Fleksibilitas dalam Senam Lantai (skripsi dan tesis)

          Fleksibilitas memegang peranan penting dalam menunjang kehidupan sehari-hari baik dalam dunia anak-anak maupun orang dewasa. Dalam dunia anak-anak, fleksibilitas sangat penting karena dunia anak-anak adalah dunia bermain. Kegiatan bermain membutuhkan kelincahan, dan kelincahan membutuhkan fleksibilitas.

           Agar elastisitas otot dapat diperoleh dengan hasil yang maksimal, maka latihan untuk meningkatkan fleksibilitas sangat diperlukan, sebab fleksibilitas seseorang dapat menurun apabila tidak dilatih. Fleksibilitas sangat berperan hampir di seluruh cabang olahraga. Cabang-cabang olahraga yang menuntut banyak gerak seperti senam lantai juga memerlukan fleksibilitas yang tinggi. Fleksibilitas yang baik akan menghindarkan seseorang dari cedera pada saat melakukan gerakan yang berkaitan dengan kelenturan otot dan sendi. Selain itu, fleksibilitas juga dapat membuat suatu gerakan menjadi lincah dan efektif.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Fleksibilitas (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi fleksibilitas di antaranya: (1) Otot, jaringan ikat memberikan kelentukan pada otot, yakni sifat fisik yang menentukan daya rentang otot. Karena otot seringkali melewati persendian, komponen otot elastis menjadi faktor yang membatasi kelentukan sendi. (2) Tendon, Tendon merupakan sekumpulan jaringan penunjang tempat otot dapat melekat pada tulang. Tendon menghubungkan otot dengan tulang seperti tali. (3) Ligamen, merupakan pembalut dari jaringan penghubung yang kuat yang fungsi utamanya adalah untuk menguatkan sendi.(4) Struktur sendi, Susunan bentuk sendi menentukan kemampuan gerakan seseorang dan masing-masing susunan persendian juga menyebabkan perbedaan fungsi yang khusus. (5) Usia, Fleksibilitas seseorang meningkat pada masa kanak-kanak dan berkurang bersamaan dengan bertambahnya usia. (6) Jenis kelamin, wanita lebih lentur daripada laki-laki karena tulang-tulangnya lebih kecil dan otot-ototnya lebih sedikit daripada laki-laki. (7) Suhu tubuh atau suhu otot. Suhu tubuh dan suhu otot mempengaruhi luas suatu gerakan. Suhu tubuh dan suhu otot dapat ditingkatkan dengan melakukan pemanasan.

Pengertian Fleksibilitas (skripsi dan tesis)

          Menurut Harsono sebagaimana dikutip oleh Deni Kurniawan (2012:16) mengungkapkan bahwa fleksibilitas adalah kemampuan untuk melakukan gerakan dalam ruang gerak sendi. Maksud pernyataan tersebut yaitu fleksibilitas berhubungan dengan ruang gerak di sekitar sendi.

          Fleksibilitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan gerak dalam ruang gerak sendi. Kemampuan yang dimaksud disini menunjukkan modal awal untuk menampilkan suatu keterampilan yang memerlukan ruang gerak sendi yang luas serta melakukan gerakan-gerakan yang cepat dan lincah. Luasnya ruang gerak sendi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seseorang dalam menampilkan gerakan.

           Fleksibilitas mempunyai peranan penting baik dalam menunjang aktivitas kegiatan sehari-hari, maupun keluwesan dalam gerak seperti senam, atletik, dan cabang-cabang olahraga permainan lainnya yang memerlukan fleksibilitas yang tinggi. Fleksibilitas yang dimiliki seseorang dapat mengindikasikan kelincahan seseorang dalam bergerak.

Guling Belakang (skripsi dan tesis)

           Guling belakang merupakan salah satu gerakan senam lantai. Guling belakang merupakan materi yang sering diberikan di sekolah dasar. Guling belakang adalah gerakan dengan urutan gerak yang merupakan kebalikan dari guling depan. Dimulai dari kontak ke matras dari kedua kaki, ke pantat, kepinggang, ke punggung, lalu ke bahu (tidak ke kepala), ke tangan yang bertumpu, dan kembali ke posisi awal yaitu ke kedua kaki. Selama bagian pertama guling belakang kedua tangan disimpan di atas bahu, dengan kedua telapak tangan menghadap ke atas, dan ibu jari dekat ke telinga. Mekanika gerakan guling belakang meliputi gerak angular yang terjadi disekitar sumbu transversal, posisi badan yang membulat ketat harus dipertahankan sepanjang gulingan, pemindahan berat tubuh harus dilakukan dengan posisi tubuh harus tetap membulat, dan tolakan bersifat konsentrik dengan lengan.Langkah-langkah gerakan guling belakang digambarkan dalam skema berikut.

Cara melakukan gerakan guling belakang berdasarkan gambar di atas adalah:

  (1) Ambil awalan.

(2) Rebahkan badan kebelakang tepat pada bagian pantat, kedua tangan berada        diatas bahu samping kepala.

(3) Pantat dijatuhkan dekat dengan tumit.

(4) Rebahkan badan dengan kecepatan yang cukup.

(5) Kedua tangan menumpu dengan kuat dan kedua kaki didorong kebelakang    dengan kuat.

(6) Pertahankan badan agar tetap membulat ketat.

(7) Mendarat dengan kedua tangan terbuka.

(8) Luruskan kedua tangan dan angkat badan berusaha untuk  berdiri.Berdasarkan pengamatan, kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi dalam melakukan guling belakang adalah: (1) penempatan terlalu jauh ke belakang sehingga tidak membuat tolakan, (2) sikap tubuh kurang bulat, (3) tumpuan kurang kuat, (4) keseimbangan kurang terjaga, dan (5) mengguling kurang sempurna.

Gerak Dasar Senam Lantai (skripsi dan tesis)

Beberapa contoh gerakan dasar senam lantai sebagaimana diungkapkan oleh Deni Kurniawan (2012: 37) adalah gerakan guling depan dan belakang, teknik kayang, sikap lilin, gerakan meroda, dan guling lenting. Guling depan adalah gerakan badan berguling ke arah depan melalui bagian belakang badan (tengkuk), pinggul, pinggang, dan panggul bagian belakang. Teknik kayang adalah suatu bentuk sikap badan terlentang yang membusur, bertumpu pada kedua kaki dan kedua tangan siku-siku dan lutut lurus. Sikap lilin adalah tidur terlentang, dengan dilanjutkan mengangkat kedua kaki lurus ke atas (rapat) bersama-sama. Gerakan meroda adalah gerakan memutar badan dengan sikap menyamping arah gerakan dan tumpuan berat badan ketika berputar menggunakan kedua tangan dan kaki. Sedangkan guling lenting adalah suatu gerakan melentingkan badan ke depan atas dengan lemparan kedua kaki dan tolakan kedua tangan.

Pengertian Senam Lantai (skripsi dan tesis)

         Senam merupakan suatu cabang olahraga yang melibatkan performa gerakan yang membutuhkan kekuatan, kecepatan dan keserasian gerakan fisik yang teratur. Senam sangat penting untuk pembentukan kelenturan tubuh, yang menjadi arti penting bagi kelangsungan hidup manusia. Deni Kurniawan (2012:

37) mengemukakan bahwa senam ada berbagai macam, diantaranya senam lantai, senam hamil, senam aerobik, senam pramuka, Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), dll. Biasanya di sekolah dasar, guru-guru mengajarkan senam-senam yang mudah dicerna oleh murid, seperti senam lantai, SKJ dan senam pramuka.Senam lantai merupakan salah satu rumpun dari senam. Pada dasarnyasenam lantai adalah latihan senam yang dilakukan pada matras. Unsur-unsur gerakannya terdiri dari mengguling, melompat, meloncat, berputar di udara, menumpu dengan tangan atau kaki untuk mempertahankan sikap seimbang atau pada saat meloncat kedepan atau ke belakang. Bentuk latihannya merupakan gerakan dasar dari senam perkakas (alat).

Pengertian Belajar (skripsi dan tesis)

         Slameto (2010: 2) mendefinisikan belajar sebagai proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baik secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Senada dengan pendapat di atas, menurut Gagne dan Berliner sebagaimana dikutip oleh Chatarina (2006:2), belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya sebagai hasil dari pengalaman.

           Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dikatakan bahwa belajar merupakan proses untuk memperoleh pengetahuan baru yang dilakukan manusia

secara sadar dengan memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Belajar dilakukan untuk mendapatkan perubahan perilaku baik melalui latihan ataupun pengalaman individu dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Proses belajar dipengaruhi beberapa faktor sebagai berikut.

    2.3.1.1 Faktor Internal

           Faktor internal adalah faktor-faktor dalam diri individu yang dapat mempengaruhi hasil belajar. Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan psikologis. Faktor fisiologis adalah faktor yang berkaitan dengan kondisi tubuh individu.

          Ketika individu dalam keadaan sehat dan bugar maka akan berpengaruh positif terhadap hasil belajar atau kemampuan dalam pelajaran penjasorkes. Sedangkan faktor psikologis adalah keadaan psikologi seseorang yang dapat memberikan pengaruh terhadap hasil belajar yang dicapai. Faktor psikologis diantaranya: kecerdasan, motivasi, minat, sikap terhadap mata pelajaran, serta bakat alami siswa.

2.3.1.2 Faktor Eksternal

           Faktor eksternal terdiri dari dua golongan yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non-sosial. (1) Faktor lingkungan sosial terdiri dari: lingkungan sekolah yang meliputi metode pembelajaran yang dilakukan guru, kurikulum yang diterapkan, sarana dan prasarana belajar, serta hubungan sosial antar guru dan siswa; lingkungan masyarakat; dan lingkungan keluarga. (2) Faktor non-sosial terdiri dari: lingkungan alam, faktor instrumental, dan materi pelajaran

Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar (skripsi dan tesis)

         Rusli Lutan sebagaimana dikutip oleh Suharjana (2006: 229) menyatakan bahwa pengembangan kemampuan berolahraga pada usia sekolah dasar lebih banyak ditekankan kepada mengembangkan unsur kemampuan fisik secara menyeluruh (multilateral), dan keterampilan teknik dasar yang dominan yang merupakan dasar bagi keterampilan teknik berolahraga.

          Salah satu isi program pengajaran dalam kurikulum sekolah dasar adalah membangun manusia seutuhnya yaitu mengembangkan fisik motorik melalui latihan aktivitas jasmani atau olahraga. Pembelajaran pendidikan jasmani sesuai dengan tuntutan kurikulum harus dilaksanakan melalui metode yang tepat agar tujuan yang terkandung dalam kompetensi dasar dapat dicapai secara efektif dan optimal.

            Untuk meningkatkan peran pendidikan jasmani sebagai dasar tumbuh kembang anak perlu dilakukan upaya pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan menantang. Selain itu, sarana dan prasarana di sekolah yang memadai, pembaharuan kurikulum disesuaikan kebutuhan siswa dan kemampuan sekolah, serta guru pendidikan jasmani terus berupaya untuk meningkatkan profesionalitas.

            Secara teoritis, senam merupakan aktivitas fisik yang dapat membantu mengoptimalkan perkembangan anak. Guru pendidikan jasmani perlu memahami bahwa senam di sekolah dasar bukanlah senam yang bersifat perlombaan dengan tingkat kesulitan yang tinggi, serta memerlukan peralatan yang sulit didapat serta mahal harganya dan harus dilakukan di dalam ruangan khusus senam.

            Senam di sekolah dasar prinsipnya yaitu membelajarkan pola gerak dalam senam, serta pengembangannya yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan siswa. Tujuan pembelajaran senam di sekolah dasar yaitu memberikan dasar atau landasan yang kuat tentang sikap dan gerak agar siswa nantinya dapat bersikap dan bergerak secara efektif dan efisien.

Hakikat Pendidikan Jasmani (skripsi dan tesis)

Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan  aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematik yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuscular, perseptual, kognitif, dan

emosional (Depdiknas, 2006: 11). Sedangkan Barrow sebagaimana dikutip oleh

Fitra Ruswandi (2012: 21) mengungkapkan bahwa pendidikan jasmani dapat didefinisikan sebagai pendidikan tentang dan melalui gerak insani, ketika tujuan

pendidikan dicapai melalui media aktivitas otot-otot, termasuk olahraga, permainan, senam, dan latihan jasmani.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani merupakan pembelajaran sistematis yang memanfaatkan aktivitas jasmani sebagai alat mencapai tujuan perkembangan secara menyeluruh sebagai upaya pengembangan kemampuan berpikir dan individu secara organik, neuromuscular, perseptual, kognitif, dan emosional.

Berdasarkan Permendiknas (2006: 703), bahwa pendidikan jasmani bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut. (1) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih. (2) Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik. (3) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar. (4) Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. (5) Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis (6) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. (7) Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.

Pendidikan jasmani dapat mengaktualisasikan seluruh potensi yang dimiliki manusia baik berupa tindakan, sikap maupun karya. Pendidikan jasmani

juga menjadi media perkembangan keterampilan fisik, motorik, penalaran dan kebiasaan hidup untuk merangsang perkembangan manusia secara seimbang. Sekalipun dalam proses pembelajaran menggunakan aktivitas jasmaniah secara dominan, namun hal ini tidak ditujukan semata-mata untuk perkembangan jasmaniah.

Komponen Kebugaran Jasmani (skripsi dan tesis)

Komponen kebugaran jasmani menurut Giriwijoyo sebagaimana dikutip oleh Deni Kurniawan (2012:12) antara lain adalah (1) daya tahan terhadap penyakit, (2) daya tahan otot, (3) daya tahan jantung, peredaran darah dan pernapasan, (4) daya ledak otot, (5) kelentukan, (6) kecepatan, (7) kelincahan, (8) koordinasi, dan (9) keseimbangan. Seseorang dikatakan memiliki kebugaran jasmani yang baik apabila status setiap komponen harus berada dalam kategori baik. Komponen-komponen kebugaran jasamani saling berkaitan antara satu dengan yang lain, namun masingmasing komponen memiliki ciri tersendiri. Apabila daya tahan tubuh tidak stabil maka tubuh sangat rentan terkena ancaman radikal bebas. Daya tahan dan kekuatan otot dapat ditingkatkan dengan latihan fisik yang teratur dan terusmenerus.

Pentingnya Kebugaran Jasmani (skripsi dan tesis)

            Kebugaran jasmani adalah aspek terpenting dalam menjalankan setiap aktivitas kehidupan manusia. Seseorang yang memiliki kebugaran jasmani yang baik akan lebih produktif dan dapat bekerja secara optimal. Begitupun kaitannya dengan siswa, tingkat kebugaran yang tinggi akan membuat siswa lebih termotivasi untuk belajar.

            Menurut Sumesardjo sebagaimana dikutip oleh Deni Kurniawan (2012:10),kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas sehari-hari dengan gampang, tanpa merasa lelah yang berlebihan dan masih mempunyai sisa cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya dan untuk keperluan-keperluan mendadak.

              Kebugaran jasmani seseorang berperan penting dalam menghadapi

pekerjaan. Fisik yang prima memungkinkan seseorang dapat melakukan aktivitas secara berulang-ulang tanpa mengalami kelelahan yang berarti serta masih memiliki kesiapan untuk menghadapi aktivitas lain yang mendadak serta tidak diprediksi sebelumnya. Dengan memiliki kebugaran yang baik maka setiap pekerjaan yang menjadi rutinitas akan dapat terselesaikan dengan baik. Setiap aktivitas yang dilalui akan terasa mudah dan ringan untuk dikerjakan. Lain halnya dengan orang yang memiliki kebugaran jasmani yang buruk, pekerjaan sekecil apapun akan terasa sangat berat dan sulit.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perataan laba (skripsi dan tesis)

Beberapa faktor yang menerangkan secara empiris mengapa perusahaan melakukan perataan laba. Moses (1987) menemukan bukti bahwa perusahaan-perusahaan besar memiliki dorongan yang lebih kuat melakukan perataan laba dibandingkan perusahaan-perusahaan kecil karena perusahaan-perusahaan besar mendapatkan pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah maupun masyarakat umum.

Menurut Dye (1988) dalam Zulfa dan Maya (2007), bahwa pemilik mendukung perataan penghasilan karena adanya motivasi internal dan motivasi eksternal. Motivasi internal menunjukkan maksud pemilik untuk meminimalisasi biaya kontrak manajer dengan membujuk manager agar melakukan perataan laba. Motivasi eksternal ditunjukkan oleh usaha pemilik saat ini untuk mengubah persepsi investor terhadap nilai perusahaan.

Michelson (1995), melakukan penelitian untuk menguji hubungan antara perataan laba dengan kinerja pasar. Hal yang diuji meliputi perbedaan dalam rata-rata return dari saham diantara perusaaan perata laba dan tidak serta resiko pasar yang diperkirakan dengan perataan laba. Hasil yang diperoleh bahwa perusahaan yang meratakan laba memiliki rata-rata return tahunan yang lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak melakukan perataan laba. Selain itu perusahaan yang meratakan laba memiliki beta yang lebih rendah dan nilai sekuritas yang lebih dibandingkan dengan yang tidak meratakan laba.

Penelitian tentang faktor yang mempengaruhi perataan laba di Indonesia dilakukan oleh Jin dan Machfoedz (1998), Narsa dkk (2003), Jatiningrum (2000), dan Salno dan Baridwan (2000). Hasil penelitian Jin dan Machfoedz (1998), Narsa dkk (2003) dan Jatiningrum (2000) yang menggunakan variabel yang sama yaitu ukuran perusahaan, profitabilitas, sektor industri, dan leverage operasi memberikan kesimpulan yang berbeda-beda. Jin dan Machfoedz (1998) menyimpulan bahwa yang merupakan faktor yang berpengaruh terhadap praktik perataan laba adalah variabel leverage operasi sedangkan variabel ukuran perusahaan, profitabilitas dan sektor industri tidak berpengaruh.

Hasil ini tidak sinkron dengan penelitian yang dilakukan oleh Narsa dkk (2003) yang menyimpulkan bahwa ukuran perusahaan yang memiliki pengaruh positif dengan praktik perataan laba. Sedangkan Jatiningrum (2000) menunjukkan bahwa praktik perataan laba dipengaruhi oleh variabel profitabilitas, dan untuk ukuran perusahaan dan sektor industri bukan merupakan faktor pendorong pelaksanaan praktek perataan laba. Salno dan Baridwan (2000) menggunakan instrumen besaran perusahaan, Net Profit Margin (NPM), kelompok usaha, dan winner/ losser stocks menyimpulkan bahwa baik besaran perusahaan, NPM, kelompok usaha maupun winner/ losser stocks tidak berpengaruh terhadap praktek perataan laba.

Perataan Laba ( Income Smooting ) (skripsi dan tesis)

Perataan laba menurut  definisi dari Poll (2004) dalam Juniarti (2005) perataan laba adalah cara menghapus volatilitas laba dengan meratakan dan meningkatkan pendapatan dari rendah menjadi tinggi. Definisi lain menganai income smoothing adalah definisi yang dikemukakan oleh Belkaoui (2007) perataan laba merupakan normalisasi laba yang dilakukan secara sengaja untuk mencapai trend atau tingkat yang diinginkan.

Adapun Frudenberg dan Tirole (1995) dalam Nurkhabib (2004:11) mendefinisikan perataan laba sebagai proses manipulasi profit waktu earning atau pelaporan earning agar aliran laba yang dilaporkan perubahannya lebih sedikit. Definisi income smoothing lainnya yang dikemukakan Beidelman (1973) dalam Anis C (2000:231) adalah perataan laba yang dilaporkan dapat didefinisikan sebagai usaha yang disengaja untuk meratakan atau memfluktuasikan tingkat laba sehingga pada saat sekarang dipandang normal bagi suatu perusahaan.

 Dalam hal ini perataan laba menunjukkan suatu usaha manajemen perusahaan untuk mengurangi variasi abnormal laba dalam batas-batas yang diizinkan dalam praktek akuntansi dan prinsip manajemen yang wajar. Beidleman dalam Belkaoui (2007) mempertimbangkan dua alasan menejemen meratakan laporan laba. Pendapat pertama berdasar pada asumsi bahwa suatu aliran laba yang stabil dapat mendukung deviden dengan tingkat yang lebih tinggi daripada suatu aliran laba yang variabel sehingga memberikan pengaruh yang menguntungkan bagi nilai saham perusahaan seiring dengan turunnya tingkat resiko perusahaan secara keseluruhan.

Argumen kedua berkenaan pada perataan kemampuan untuk melawan hakikat laporan laba yang bersifat siklus dan kemungkinan juga akan menurunkan korelasi antara ekspektasi pengembalian perusahaan dengan pengembalian portofolio pasar. Hal tersebut merupakan hasil dari kebutuhan manajemen untuk menetralisir ketidakpastian lingkungan dan menurunkan fluktuasi yang luas dalam kinerja operasi perusahaan terhadap siklus waktu baik maupun waktu buruk yang berganti-ganti.

Manajemen laba berbeda dengan kecurangan. Perbedaan tersebut terletak pada tingkat kepatuhan terhadap standar akuntansi. Manajemen laba merupakan rekayasa pelaporan keuangan dalam batas-batas tertentu yang tidak melanggar standar pelaporan keuangan. Hal ini dilakukan oleh menejemen dengan memanfaatkan wewenangnya dalam memilih metode akuntansi yang diizinkan oleh standar. Manajer memiliki fleksibilitas dalam membuat pilihan metode maupun kebijakan akuntansi dari berbagai alternative metode dan kebijakan akuntansi yang ada, yang menurut preferensi manajer paling menguntungkan pada periode pelaporan.

Manajemen banyak memanfaatkan standar pelaporan keuangan dengan cara menerapkan standar yang dipercepat pengadobsiannya. Selain itu standar juga dijadikan sebagai alat untuk melaporkan kondisi perusahaan. Fleksibilitas yang terdapat dalam standar akuntansi pada akhirnya menyebabkan tindakan tersebut sah dengan sendirinya. Sedangkan kecurangan dalam pelaporan keuangan lebih merupakan upaya manajemen untuk menyembunyikan atau memanipulasi sebagian atau seluruh informasi keuangan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.

Konsep perataan laba mengasumsikan bahwa investor adalah orang yang menolak resiko Fudenberg dan Tirole (1995) dalam Salno (2000) dan manajer yang menolak resiko terdorong untuk melakukan perataan laba. Demikian juga dalam hubungannya dengan kreditur, manajer lebih menyukai alternatif yang menghasilkan perataan laba (Trueman dan Titman 1988 dalam Salno 2000). Hasil penelitian Suh (1990) dalam Khafid (2004) juga menunjukkan adanya motivasi kuat yang mendorong manajer melakukan perataan laba.

Adapun Bidleman dalam Assih (2000) percaya bahwa manajemen melakukan perataan laba untuk menciptakan suatu aliran laba yang stabil dan mengurangi covariance atas return dengan pasar. Sedangkan Barnea et. al (1976) dalam Assih (2000) menyatakan bahwa manajer melakukan perataan laba untuk mengurangi fluktuasi dalam laba yang dilaporkan dan meningkatkan kemampuan investor untuk memprediksi aliran kas dimasa yang akan datang.

Di lain pihak menurut Dye (1988) dalam Khafid (2004:43) menyatakan pemilik mendukung perataan laba karena adanya motivasi internal dan motivasi eksternal. Motivasi internal menunjukkan maksud pemilik untuk meminimalisasi biaya kontrak manajer dengan membujuk manajer agar melakukan praktek manajemen laba. Motivasi eksternal ditujukan oleh usaha pemilik saat ini untuk mengubah persepsi investor prospektif atau potensial terhadap nilai perusahaan. Menurut Belkaoui (2007) tiga batasan yang mungkin mempengaruhi para manajer untuk melakukan perataan laba adalah:

  1. Mekanisme pasar yang kompetitif sehingga mengurangi jumlah pilihan yang   tersedia bagi manajemen.
  2. Skema kompensasi manajemen yang terhubung langsung dengan kinerja perusahaan.
  3. Ancaman penggantian manajemen.

Dipandang dari sisi manajemen, Hepworth (1953) dalam Harry dan Murtanto (2004), mengungkapkan bahwa manajer melakukan perataan laba pada dasarnya ingin mendapat berbagai keuntungan ekonomi dan psikologis, yaitu :

  1. Mengurangi total pajak terutang
  2. Meningkatkan kepercayaan diri manajer yang bersangkutan karena penghasilan yang stabil mendukung kebijakan dividen yang stabil pula.
  3. Meningkatkan hubungan antara manajer dengan karyawan karena pelaporan penghasilan meningkat tajam memberi kemungkinan munculnya tuntutan gaji dan upah.
  4. Siklus peningkatan dan penurunan penghasilan dapat ditandingkan dan gelombang optimisme dan pesimisme dapat diperlunak.

Dilain pihak Dye (1988), pemilik mendukung perataan laba karena adanya motivasi internal dan eksternal. Motivasi internal menunujukkan maksud pemilik untuk   meminimalisasi biaya kontrak manajer dengan membujuk manager agar melakukan praktik manajemen laba. Motivasi eksternal ditunjukkan oleh usaha pemilik saat ini untuk mengubah persepsi investor potensial terhadap nilai perusahaan.

Adapun tujuan perataan laba menurut Foster (1986) adalah sebagai berikut:

  1. Memperbaiki citra perusahaan di mata pihak luar, bahwa perusahaan tersebut memiliki risiko yang rendah.
  2. Memberikan informasi yang relevan dalam melakukan prediksi terhadap laba di masa mendatang.
  3. Meningkatkan kepuasan relasi bisnis.
  4. Meningkatkan persepsi pihak eksternal terhadap kemampuan manajemen.
  5. Meningkatkan kompensasi bagi pihak manajemen.

Dalam Dascher dan Malcom (1970) dalam Imam Subekti (2005) menyatakan bahwa terdapat 2 (dua) tipe perataan laba yaitu:

  1. Real smooting, yaitu merupakan suatu transaksi yang sesungguhnya untuk dilakukan atau tidak dilakukan berdasar pengaruh perataannya pada laba.
  2. Artificial smooting, yaitu merupakan perataan laba dengan menerapkan prosedur akuntansi untuk memindahkan biaya dan atau pendapatan dari suatu periode ke periode lainnya.

Beidlemen (1973), yang dikutip Assih dan Gudono (2000) dalam Imam Subekti (2005) menyatakan bahwa tujuan manajemen perusahaan melakukan keputusan perataan laba adalah untuk menciptakan suatu aliran laba yang stabil dan mengurangi covariance atas return dengan pasar.

Dalam beberapa penelitian sebelumnya, fokusnya selalu pada timbulnya tindakan perataan laba dan faktor-faktor yang berhubungan dengannya. Menurut Ronen dan Sadan (1981) yang dikutip dalam Jatiningrum (2000), perataan penghasilan bersih/laba dapat dilakukan dalam 3 cara, yaitu :

  1. Manajemen dapat menetapkan waktu terjadinya peristiwa tertentu, untuk mengurangi perbedaan laba yang dilaporkan, jadi alternatifnya, manajemen juga dapat menentukan waktu pengakuan beberapa peristiwa.
  2. Manajemen dapat mengalokasikan pendapatan atau dan beban tertentu pada periode akuntansi yang berbeda
  3. Manajemen dengan kebijaksanaannya  mengelompokkan item laba tertentu ke dalam kategori yang berbeda.

Brayshaw dan Eldin (1989) dalam Edy dan Arleen (2005), mengungkapkan bahwa manajemen perusahaan diuntungkan dengan praktek perataan laba.