Hukum Permintaan (skripsi dan tesis)

Hukum permintaan adalah hukum yang menjelaskan tentang adanya hubungan yang bersifat negatif antara tingkat harga dengan jumlah barang yang diminta. Apabila harga naik jumlah barang yang diminta sedikit dan apabila harga rendah jumlah barang yang diminta meningkat, dengan demikian menurut Sadono Sukirno (2010:76) hukum permintaan adalah sebagai berikut: “Semakin turun tingkat harga, maka semakin banyak jumlah barang yang tersedia diminta, dan sebaliknya semakin naik tingkat harga maka semakin sedikit jumlah barang yang bersedia diminta”. Penyebab utama berlakunya hukum permintaan ini karena terbatasnya pendapatan konsumen. Hubungan terbalik antara harga dan jumlah permintaan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Pertama, kenaikan harga menyebabkan para pembeli mencari barang lain yang dapat digunakan sebagai pengganti terhadap barang yang mengalami kenaikan harga. Sebaliknya, apabila harga turun maka orang mengurangi pembelian terhadap barang lain yang sama jenisnya dan menambah pembelian terhadap barang yang mengalami penurunan harga.
2) Kedua, kenaikan harga menyebabkan pendapatan riil para pembeli berkurang.
Pendapatan yang merosot tersebut memaksa para pembeli untuk mengurangi pembeliannya terhadap berbagai jenis barang, dan terutama barang yang mengalami kenaikan harga. Permintaan akan suatu barang di pasar akan terjadi apabila konsumen mempunyai keinginan (willing) dan kemampuan (ability) untuk membeli, pada tahap kosumen hanya memiliki keinginan atau kemampuan saja maka permintaan barang belum terjadi, kedua syarat willing dan ability harus ada untuk terjadinya permintaan (Sukirno, 2010). Hukum permintaan menyatakan bahwa jumlah barang yang diminta dalam suatu periode waktu tertentu berubah berlawanan dengan harganya, dengan asumsi hal lain tetap atau ceteris paribus (Samuelson, 1998).

Teori Permintaan (skripsi dan tesis)

Permintaan berkaitan dengan keinginan konsumen akan suatu barang dan jasa yang ingin dipenuhi. Teori permintaan menerangkan tentang hubungan antara berbagai kombinasi harga dan jumlah suatu barang yang ingin dan dapat dibeli oleh konsumen pada berbagai tingkat harga untuk suatu periode tertentu. Permintaan yang dilakukan oleh individu terhadap suatu komoditas dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut Sadono Sukirno (2010:75), faktor-faktor yang menentukan permintaan masyarakat terhadap suatu barang, yaitu : 1) harga barang itu sendiri 2) harga barang lain yang berkaitan erat dengan barang tersebut 3) pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat 4) corak distribusi pendapatan dalam masyarakat 5) cita rasa masyarakat 6) jumlah penduduk dan 7) ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang

Pengertian Pendapatan (skripsi dan tesis)

Dalam Ilmu Ekonomi pendapatan merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan harapan di akhir periode tetap memiliki kemakmuran yang sama pada awal periode. Menurut Damayanti (2011) mendefinisikan pendapatan sebagai berikut: “Pendapatan adalah penerimaan seseorang dalam bentuk uang tunai atau bukan tunai yang diperoleh ketika terjadi transaksi antara pedagang dan pembeli dalam suatu kesepakatan bersama.” Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendapatan konsumen adalah kesanggupan seseorang di dalam membeli pakaian sangat dipengaruhi pendapatan yang diperolehnya. Apabila pendapatan seseorang meningkat dan kondisi perekonomiannya tidak terjadi resesi dan inflasi, kecenderungan untuk membeli pakaian akan meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas. Sudarsono (2007:68) membagi pedapatan menjadi tiga bagian yaitu:
 1. Pendapatan pokok: adalah pendapatan yang tiap bulan diharapkan diterima dari pekerjaan utama yang bersifat rutin. Seperti gaji pegawai, gaji karyawan, gaji guru, dan lain-lain.
 2. Pendapatan sampingan: adalah pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan di luar pekerjaan pokok, tidak semua orang mempunyai pendapatan sampingan. Pendapatan ini bersifat tidak tetap.
3. Pendapatan lain-lain: pendapatan yang berasal dari pemberian pihak lain, baik bentuk barang maupun bentuk uang, pendapatan bukan dari usaha.

Pengertian Harga (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Armstrong (2008:278) mendefinisikan harga sebagai berikut: “Harga adalah sejumlah uang yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai yang ditukarkan para pelanggan untuk memperoleh manfaat dari memiliki atau menggunakan suatu produk atau jasa”. Dari definisi tersebut dijelaskan bahwa harga merupakan unsur penting dalam sebuah penjualan, dengan adanya harga maka penjual atau produsen akan mendapatkan keuntungan bagi keberlangsungan usaha nya. Selain itu, harga juga merupakan suatu alat yang nantinya dijadikan proses pertukaran terhadap suatu barang atau jasa oleh konsumen. Lebih lanjut menurut Kotler dan Amstrong (2008:345), menjelaskan ada empat ukuran yang mencirikan harga yaitu keterjangkauan harga dengan kualitas produk, kesesuaian harga dengan manfaat, dan harga sesuai dengan kemampuan atau daya saing harga. Dibawah ini penjelasan mengenai empat ukuran harga yaitu:
1. Keterjangkauan harga
Konsumen dapat menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Produk biasanya ada beberapa jenis dalam satu merek namun harganya juga berbeda dari yang termurah hingga yang termahal. Dengan harga yang di tetapkan para konsumen banyak yang membeli produk.
2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Harga sering dijadikan indikator kualitas bagi konsumen, konsumen sering memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena mereka melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi orang beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.
3. Kesuaian harga dengan manfaat
Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang dirasakan lebih besar atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk mendapatkannya. Jika konsumen merasakan manfaat produk lebih kecil dari uang yang dikeluarkan maka konsumen akan beranggapan bahwa produk tersebut mahal dan konsumen akan berpikir dua kali untuk melakukan pembelian ulang.
4. Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan produk linnya
. Dalam hal ini mahal murahnya suatu produk sangat dipertimbangkan oleh konsumen pada saat akan membeli produk tersebut. Jadi bisa dikatakan harga tergantung pada kemampuan bernegosiasi dari pihak penjual atau pembeli untuk memperoleh harga kesepakatan yang sesuai dengan keinginan masing-masing pihak, sehingga pada awalnya pihak penjual akan menetapkan harga yang tinggi dan pembeli akan menetapkan penawaran dengan harga terendah. Harga sebuah produk atau jasa merupakan faktor penentu dalam permintaan pasar. Harga merupakan hal yang sangat penting yang diperhatikan oleh konsumen dalam membeli produk atau jasa. Jika konsumen merasa cocok dengan harga yang ditawarkan, maka mereka akan cenderung melakukan pembelian ulang untuk produk yang sama. Dalam teori ekonomi disebutkan bahwa harga suatu barang atau jasa yang pasarnya kompetitif, maka tinggi rendahnya harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran pasar.  Selanjutnya Tjiptono (2008:152) mengatakan bahwa harga memiliki dua peranan utama dalam proses pengambilan keputusan untuk mempengaruhi minat beli, yaitu:
 1. Peranan alokasi harga
Peranan alokasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam membantu para pembeli untuk memutuskan cara memperoleh manfaat tertinggi yang diharapkan berdasarkan daya belinya. Dengan demikian dengan adanya harga dapat membantu para pembeli untuk memutuskan cara mengalokasikan daya belinya pada berbagai jenis barang atau jasa, pembeli membandingkan harga dari berbagai alternatif yang tersedia, kemudian memutuskan alokasi dana yang dikehendaki.
2. Peranan informasi harga
Peranan informasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam “mendidik” konsumen mengenai faktor-faktor produk, seperti kualitas. Hal ini terutama bermanfaat dalam situasi dimana pembeli mengalami kesulitan untuk menilai faktor produksi atau manfaatnya secara objektif. Persepsi yang sering berlaku adalah bahwa harga yang mahal mencerminkan kualitas yang tinggi. Selain itu terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat harga tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat harga menurut Basu Swastha dan Irawan (2005:242) adalah sebagai berikut:
 1. Keadaan Perekonomian
Keadaan perekonomian sangat mempengaruh tingkat harga yang berlaku. Pada periode resesi misalnya, merupakan suatu periode dimana harga berada pada suatu tingkat yang lebih rendah.
 2. Penawaran dan Permintaan
 Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli oleh pembeli pada tingkat harga tertentu. Pada umumnya tingkat harga yang lebih rendah akan mengakibatkan jumlah yang diminta lebih besar. Sedangkan penawaran merupakan kebalikan dari permintaan, yaitu suatu jumlah yang ditawarkan oleh penjual pada suatu tingkat harga tertentu. Pada umumnya, harga yang lebih tinggi mendorong jumlah yang ditawarkan lebih besar.
3. Elastisitas Permintaan
Sifat permintaan pasar tidak hanya mempengaruhi penentuan harganya tetapi juga mempengaruhi volume yang dapat dijual. Untuk beberapa barang, harga dan volume penjualan ini berbanding terbalik, artinya jika terjadi kenaikan harga maka penjualan akan menurun dan sebaliknya.
 4. Persaingan
 Harga jual beberapa macam barang sering dipengaruhi oleh keadaan persaingan yang ada. Dalam persaingan, penjual yang berjumlah banyak aktif menghadapi pembeli yang banyak pula. Banyaknya penjual dan pembeli akan mempersulit penjual perseorangan untuk menjual dengan harga lebih tinggi kepada pembeli yang lain.
 5. Biaya
Biaya merupakan dasar dalam penentuan harga, sebab suatu tingkat harga yang tidak dapat menutup akan mengakibatkan kerugian. Sebaliknya, apabila suatu tingkat harga melebihi semua biaya akan menghasilkan keuntungan.
6. Tujuan manajer
 Penetapan harga suatu barang sering dikaitkan dengan tujuan yang akan dicapai. Setiap perusahaan tidak selalu mempunyai tujuan yang sama dengan perusahaan lainnya.
7. Pengawasan Pemerintah
 Pengawasan pemerintah juga merupakan faktor penting dalam penentuan harga. Pengawasan pemerintah tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk penentuan harga maksimum dan minimum, diskriminasi harga, serta praktek-praktek lain yang mendorong atau mencegah usaha kearah monopoli.

Pasar Monopoli (skripsi dan tesis)

Berbeda dengan pasar persaingan sempurna, pasar monopoli merupakan kebalikan dari pasar tersebut di dalam pasar monopoli hanya terdapat satu 18 penjual untuk satu jenis barang tertentu. Pada umumnya produsen monopoli memperoleh laba melebihi normal karena adanya hambatan masuk ke dalam pasar serta di dalam pasar monopoli produsen adalah sebagai price maker. Berikut merupakan ciri-ciri dari pasar monopoli:

 Hanya ada satu penjual

 Penjual dapat mempengaruhi harga pasar (price maker)

 Terdapat hambatan untuk masuk ke dalam pasar bagi calon produsen baru (barriers to entry)

Pasar Modern (skripsi dan tesis)

Menurut Peraturan Presiden RI No.112 Tahun 2007, pada dasarnya pasar modern tidak jauh berbeda dari pasar tradisional, namun pasar modern terdapat penjual dan pembeli yang tidak bertransaksi secara langsung melainkan konsumen atau pembeli melihat label harga yang terdapat dalam barang tersebut, berada dalam bangunan serta pelayanannya dilakukan secara mandiri atau swalayan dan dapat juga dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual 16 tersebut, selain dari bahan makanan, terdapat juga barang lainnya yang dijual dan biasanya dapat bertahan lama. Adapun pasar modern yang diatur keberadaan lokasinya bahwa minimarket boleh berlokasi pada setiap sistem jaringan jalan, termasuk sistem jaringan jalan lingkungan pada kawasan pelayanan lingkungan (perumahan) di dalam kota/perkotaan.Berdasarkan luas lantai toko minimarket memiliki luas lantai < 400 m2 . Dibawah ini merupakan struktur pasar menurut Sukirno (2010) antara lain: 1. Pasar Persaingan Sempurna Pasar persaingan sempurna merupakan salah satu jenis pasar yang banyak menjual satu jenis produk tertentu. Dapat dikatakan sempurna karena di dalam pasar penjual sama-sama menjual barang sejenis dan tidak ada persaingan harga didalamnya serta para penjual dapat bebas keluar masuk pasar karena di dalam pasar persaingan sempurna tidak ada penghalang atau barriers. Pasar persaingan sempurna memiliki ciri yaitu diantaranya:

 Terdapat banyak penjual dan pembeli di dalam pasar.

 Barang yang dijual bersifat homogen atau satu jenis.

 Penjual tidak dapat mempengaruhi harga atau penjual sebagai price taker. Pasar persaingan sempurna memiliki dua keseimbangan yaitu keseimbangan dengan keuntungan maksimum dan keseimbangan dengan kerugian minimum. Keuntungan maksimum yaitu kondisi keseimbangan tercapai ketika produsen memperoleh laba maksimum sebesar bidang yang diarsir

Pasar Tradisional (skripsi dan tesis)

Menurut Peraturan Presiden RI No. 112 Tahun 2007, pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda 15 yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar. Lebih lanjut, Samuelson dan Nordhaus (2000) mengemukakan pasar tradisional sebagai berikut: “Pasar tradisional adalah suatu bentuk pasar nyata sebagaimana definisi pasar, dimana barang yang diperjualbelikan bisa dipegang oleh pembeli dan memungkinkan terjadinya tawar menawar secara langsung antara penjual dan pembeli. Barang yang diperjualbelikan di pasar tradisional biasanya adalah barang kebutuhan sehari-hari”. Sebagian besar pasar tradisional secara keleluasaan distribusi dapat dikategorikan sebagai pasar lokal, karena hanya menjangkau daerah tertentu yang luas cakupannya sempit. Kebanyakan pedagang pasar tradisional tidak mempunyai catatan penjualan, biaya produksi maupun biaya-biaya lainnya jarang sekali dihitung dengan seksama (Asakdiyah, 2004). Pasar tradisional juga merupakan pasar yang mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, baik lapisan masyarakat kalangan atas, menengah, maupun masyarakat kalangan bawah

Pengertian Pasar (skripsi dan tesis)

Menurut Boediono (2000:28) dalam Ilmu Ekonomi pengertian pasar tidak harus dikaitkan dengan suatu tempat yang dinamakan pasar dalam pengertian sehari-hari. Suatu pasar dalam Ilmu Ekonomi adalah dimana terjadi transaksi antara penjual dan pembeli, barang yang ditransaksikan bisa berupa barang apapun, mulai dari beras dan sayur-mayur, sampai jasa angkutan, uang dan tenaga kerja. Setiap barang ekonomi mempunyai pasarnya sendiri-sendiri. Selain itu, menurut Peraturan Presiden RI No. 112 Tahun 2007, pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu, baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plasa, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya. Dari definisi ini, ada empat poin penting yang menonjol yang menandai terbentuknya pasar, yaitu:
1. Ada penjual dan pembeli.
 2. Bertemu di sebuah tempat yang sama
 3. Terjadi kesepakatan di antara penjual dan pembeli, sehingga terjadi jual beli atau tukar menukar.
4. Antara penjual dan pembeli kedudukannya sederajat.

Fungsi Pengecoh/Distractor (skripsi dan tesis)

Berbeda dengan soal bentuk uraian, pada soal pilihan ganda telah dilengkapi beberapa pilihan jawaban. Di antara pilihan jawaban yang ada, hanya satu yang benar. Selain jawaban yang benar tersebut, adalah jawaban yang salah. Jawaban yang salah itulah yang dikenal dengan distractor (pengecoh). Butir soal yang baik, pengecohnya akan dipilih secara merata oleh peserta didik yang menjawab salah. Sebaliknya, butir soal yang kurang baik, pengecohnya akan dipilih secara tidak merata oleh peserta didik. Tujuan utama dari pemasangan distractor pada setiap butir item adalah agar dari sekian banyak peserta tes yang mengikuti tes hasil 52 belajar ada yang tertarik untuk memilihnya. Distractor akan mengecoh peserta didik yang kurang mampu untuk dapat dibedakan dengan yang mampu. Distractor yang baik adalah yang dapat dihindari oleh peserta didik yang pandai dan akan dipilih oleh peserta didik yang kurang pandai. Dengan demikian distractor baru dapat dikatakan telah berfungsi dengan baik apabila distraktor tersebut telah memiliki daya rangsang atau daya tarik yang baik. Menurut Anas Sudijono (2011: 411), mengungkapkan bahwa distractor telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila distractor tersebut telah dipilih sekurang-kurangnya 5% dari seluruh peserta tes. Distrsctor yang telah menjalankan fungsinya dengan baik dapat digunakan kembali pada tes yang akan datang. Dengan demikian, efektivitas distractor adalah seberapa baik pilihan yang salah tersebut dapat mengecoh peserta tes yang memang tidak mengetahui kunci jawaban yang tersedia. Semakin banyak peserta tes yang memilih distractor tersebut, maka distractor itu dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Jika peserta tes mengabaikan semua option (tidak memilih) disebut omit. Dilihat dari segi omit, sebuah item dikatakan baik jika omitnya tidak lebih dari 10 % pengikut tes.

Fungsi Pengecoh/Distractor (skripsi dan tesis)

Berbeda dengan soal bentuk uraian, pada soal pilihan ganda telah dilengkapi beberapa pilihan jawaban. Di antara pilihan jawaban yang ada, hanya satu yang benar. Selain jawaban yang benar tersebut, adalah jawaban yang salah. Jawaban yang salah itulah yang dikenal dengan distractor (pengecoh). Butir soal yang baik, pengecohnya akan dipilih secara merata oleh peserta didik yang menjawab salah. Sebaliknya, butir soal yang kurang baik, pengecohnya akan dipilih secara tidak merata oleh peserta didik. Tujuan utama dari pemasangan distractor pada setiap butir item adalah agar dari sekian banyak peserta tes yang mengikuti tes hasil 52 belajar ada yang tertarik untuk memilihnya. Distractor akan mengecoh peserta didik yang kurang mampu untuk dapat dibedakan dengan yang mampu. Distractor yang baik adalah yang dapat dihindari oleh peserta didik yang pandai dan akan dipilih oleh peserta didik yang kurang pandai. Dengan demikian distractor baru dapat dikatakan telah berfungsi dengan baik apabila distraktor tersebut telah memiliki daya rangsang atau daya tarik yang baik. Menurut Anas Sudijono (2011: 411), mengungkapkan bahwa distractor telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila distractor tersebut telah dipilih sekurang-kurangnya 5% dari seluruh peserta tes. Distrsctor yang telah menjalankan fungsinya dengan baik dapat digunakan kembali pada tes yang akan datang. Dengan demikian, efektivitas distractor adalah seberapa baik pilihan yang salah tersebut dapat mengecoh peserta tes yang memang tidak mengetahui kunci jawaban yang tersedia. Semakin banyak peserta tes yang memilih distractor tersebut, maka distractor itu dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Jika peserta tes mengabaikan semua option (tidak memilih) disebut omit. Dilihat dari segi omit, sebuah item dikatakan baik jika omitnya tidak lebih dari 10 % pengikut tes.

Reliabilitas Tes (skripsi dan tesis)

Menurut Nana Sudjana (2006: 17), ada empat cara yang digunakan untuk melakukan uji reliabilitas tes, yaitu:

a) Reliabilitas Tes Ulang
Tes ulang (retest) adalah penggunaan alat penilaian terhadap subjek yang sama dilakukan dua kali dalam waktu berlainan.
 b) Reliabilitas Pecahan
Setara Mengukur reliabilitas bentuk pecahan setara tidak dilakukan dengan pengulangan pada subjek yang sama, tetapi menggunakan hasil dari bentuk tes sebanding atau setara dengan yang diberikan kepada subjek yang sama pada waktu yang berbeda. Dengan demikian, diperlukan dua perangkat tes yang disusun agar memiliki derajat kesamaan atau kesetaraan, baik dari segi isi, tingkat kesukaran, abilitas yang diukur, jumlah pertanyaan, bentuk pertanyaan, maupun segi-segi teknis lainnya.
 c) Reliabilitas Belah Dua
Dalam prosedur ini tes diberikan kepada kelompok subjek cukup satu kali atau pada satu saat. Butir-butir soal dibagi menjadi dua bagian yang sebanding, biasanya dengan membedakan soal nomor genap dengan soal nomor ganjil. Setiap bagian soal diperiksa hasilnya, kemudian skor dari kedua bagian tersebut dikorelasikan untuk dicari koefisien korelasinya. Mengingat korelasi tersebut hanya berlaku sebagian, tidak untuk seluruh soal, maka koefisien korelasi yang diperolehnya tidak untuk seluruh soal, tetapi hanya untuk separuhnya.
 d) Kesamaan Rasional
Prosedur ini dilakukan dengan menghubungkan setiap butir dalam satu tes dengan butir-butir yang lainnya dalam tes itu sendiri secara keseluruhan. Dalam penelitian ini untuk mengukur reliabilitas digunakan cara kesamaan rasional. Setiap butir dikorelasikan dengan butir-butir yang lainnya secara keseluruhan

Reliabilitas (skripsi dan tesis)

Reliabilitas adalah tingkat atau derajat konsistensi dari suatu instrumen. Reliabilitas tes berkenaan dengan pertanyaan apakah suatu tes teliti dan dapat dipercaya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Suatu tes dikatakan reliabel jika selalu memberikan hasil yang sama bila diteskan pada kelompok yang sama pada waktu atau kesempatan yang berbeda (Zainal Arifin, 2011: 258). Menurut Nana Sudjana (2006: 16), “Reliabilitas alat penilaian adalah ketetapan atau keajegan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya”. Artinya, kapan pun alat penilaian tersebut digunakan akan memberikan hasil yang relatif sama. Hal senada juga diungkapkan Validitas Item Validitas Logika Validitas Validitas Empiris Validitas Tes Validitas Isi Validitas Konstruksi Validitas Ramalan Validitas Bandingan 45 Chabib Thoha (2003: 118), “reliabilitas sering diartikan dengan keterandalan”. Artinya, suatu tes memiliki keterandalan jika tes tersebut dipakai mengukur berulang-ulang hasilnya sama. Dengan demikian reliabilitas dapat pula diartikan dengan keajegan atau stabilitas. Reliabilitas merupakan salah satu persyaratan bagi sebuah tes. Reliabilitas sebuah soal perlu karena sebagai penyokong terbentuknya validitas butir soal sehingga sebuah soal yang valid biasanya reliabel.

Teknik Analisis Butir (skripsi dan tesis)

Soal Analisis kualitas tes merupakan suatu tahapan yang harus ditempuh untuk mengetahui derajat kualitas suatu tes. Dalam penilaian hasil belajar diharapkan tes dapat menggambarkan hasil yang objektif dan akurat. Dalam melaksanakan analisis butir soal, pembuat soal dapat melakukan analisis secara kualitatif, dalam kaitannya dengan isi dan bentuk, dan analisis secara kuantitatif dalam kaitannya dengan ciri–ciri statistikanya atau prosedur peningkatan secara judgment dan prosedur peningkatan secara empirik. Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruk, sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi soal yang termasuk validitas dan reliabilitas soal. 1) Validitas Validitas mencerminkan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen tes berfungsi sebagai alat ukur hasil belajar. Suatu tes dapat dikatakan memiliki validitas apabila tes tersebut dapat mengukur objek yang seharusnya diukur dan sesuai dengan kriteria tertentu. Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Tes yang memiliki 39 validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran. a) Validitas Tes Menurut Anas Sudijono (2011: 163), penganalisisan terhadap tes hasil belajar sebagai suatu totalitas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penganalisisan dengan jalan berpikir secara rasional (logical analysis) dan penganalisisan yang dilakukan dengan mendasarkan diri pada kenyataan empiris (empirical analysis). (1)Pengujian Validitas Tes Secara Rasional Validitas rasional adalah validitas yang diperoleh atas dasar hasil pemikiran, validitas yang diperoleh dengan berpikir secara logis. Dengan demikian maka suatu tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas rasional apabila setelah dilakukan penganalisisan secara rasional tes hasil belajar tersebut memang telah mengukur apa yang seharusnya diukur dengan tepat (Anas Sudijono, 2011: 164). Untuk dapat menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas rasional atau belum, maka dapat dilakukan penelusuran melalui dua segi, yaitu dari segi isi (content) dan dari segi susunan atau konstruksinya (construct). (a)Validitas Isi (Content Validity) Menurut Anas Sudijono ( 2011: 164-165) validitas isi adalah validitas yang dilihat dari segi isi tes tersebut sebagai 40 alat pengukur hasil belajar, yaitu sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, isinya telah mewakili secara representatif terhadap seluruh materi atau bahan pelajaran yang seharusnya diteskan/diujikan. Dalam praktik, validitas isi dari suatu tes hasil belajar dapat diketahui dengan jalan membandingkan antara isi yang terkandung dalam tes hasil belajar dengan tujuan instruksional khusus yang telah ditentukan untuk masingmasing mata pelajaran. Jika penganalisisan secara rasional itu menunjukkan hasil yang telah mencerminkan tujuan instruksional khusus di dalam tes hasil belajar, maka tes hasil belajar yang sedang diuji tersebut dapat dinyatakan sebagai tes hasil belajar yang telah memiliki validitas isi. Upaya lain yang dapat ditempuh dalam rangka mengetahui validitas isi dari tes hasil belajar adalah dengan menyelenggarakan diskusi panel (Anas Sudijono, 2011: 165). (b)Validitas Konstruksi (Construct Validity) Validitas konstruksi dapat diartikan sebagai validitas yang dilihat dari segi susunan, kerangka, atau rekaan. Suatu tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas konstruk apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut telah benar-benar dapat secara tepat mengukur aspek-aspek berpikir seperti aspek kognitif, aspek afektif, dan 41 aspek psikomotorik sebagaimana telah ditentukan dalam tujuan instruksional khusus (Anas Sudijono, 2011: 166). Validitas konstruksi dari suatu tes hasil belajar dapat dilakukan penganalisisannya dengan melakukan pencocokan antara aspek-aspek berpikir yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut dengan aspek-aspek yang dikehendaki untuk diungkap oleh tujuan instruksional khusus. Seperti pada penganalisisan validitas isi, pada penganalisisan validitas konstruksi juga dapat dilakukan dengan menyelenggarakan diskusi panel (Anas Sudijono, 2011: 167). (2)Pengujian Validitas Tes Secara Empiris Validitas empiris adalah validitas yang bersumber pada atau diperoleh atas dasar pengamatan di lapangan. Tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas empiris apabila berdasarkan hasil analisis yang dilakukan terhadap data hasil pengamatan di lapangan terbukti bahwa tes hasil belajar secara tepat telah dapat mengukur hasil belajar yang seharusnya diukur lewat tes hasil belajar tersebut (Anas Sudijono, 2011: 167). Untuk dapat menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas empirik atau belum, maka dapat dilakukan penelusuran melalui dua segi, yaitu dari segi daya ketepatan meramalnya (Predictive Validity) dan daya ketepatan bandingannya (Concurrent Validity). 42 (a)Validitas Ramalan (Predictive Validity) Validitas ramalan dari suatu tes adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauhkah sebuah tes telah dapat secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk meramalkan apa yang bakal terjadi pada masa mendatang (Anas Sudijono, 2011: 168). Untuk mengetahui apakah suatu tes hasil belajar telah memiliki validitas ramalan, maka dapat dilakukan dengan mencari korelasi antara tes hasil belajar yang sedang diuji validitas ramalannya dengan kriterium yang ada. Jika di antara kedua variabel tersebut terdapat korelasi yang signifikan, maka tes yang sedang diuji tersebut telah memiliki daya ramal yang tepat, artinya apa yang telah diramalkan, betul-betul telah terjadi secara nyata dalam praktik. (b)Validitas Bandingan (Concurrent Validity). Tes sebagai alat pengukur dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan apabila tes tersebut dalam kurun waktu yang sama secara tepat telah mampu menunjukkan adanya hubungan searah antara tes pertama dengan tes berikutnya (Anas Sudijono, 2011: 176). Dalam rangka menguji validitas bandingan, data yang mencerminkan pengalaman yang diperoleh pada masa lalu dibandingkan dengan data hasil tes yang diperoleh pada masa 43 sekarang. Jika hasil tes yang sekarang memiliki hubungan searah dengan hasil tes berdasar pengalaman masa lalu, maka tes tersebut dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan. Perbedaan antara validitas ramalan dengan validitas bandingan adalah apabila kriterium yang dihubungkan itu terdapat pada waktu yang akan datang, maka validitasnya disebut validitas ramalan. Sebaliknya, apabila kriterium tersebut terdapat atau tersedia pada saat sekarang atau pada kurun waktu bersamaan dengan alat pengukur yang sedang diuji validitasnya, maka validitasnya disebut validitas bandingan. b) Validitas Item Menurut Anas Sudijono (2011: 163), validitas item dari suatu tes adalah ketepatan mengukur yang dimiliki oleh sebutir item (yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tes sebagai suatu totalitas), dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir item tersebut. Hubungan antara butir item dengan tes hasil belajar sebagai suatu totalitas adalah bahwa semakin banyak butir-butir item yang dapat dijawab oleh peserta didik, maka skor total hasil tes tersebut akan semakin tinggi. Untuk sampai pada kesimpulan bahwa item-item yang ingin diketahui validitasnya, dapat digunakan teknik korelasi sebagai 44 teknik analisisnya. Sebutir item dapat dinyatakan valid apabila skor item yang bersangkutan terbukti memiliki kesejajaran dengan skor total.

Pengertian Analisis Butir Soal (skripsi dan tesis)

Kegiatan menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan mutu soal yang telah ditulis. Tugas melakukan evaluasi terhadap alat pengukuran yang telah digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar peserta didik pada umumnya dilupakan oleh evaluator. Menurut Nana Sudjana (2006: 135), “Analisis butir soal atau analisis item adalah pengkajian pertanyaan-pertanyaan tes agar diperoleh 37 perangkat pertanyaan yang memiliki kualitas yang memadai”. Menurut Daryanto (2007: 177), “Analisis soal adalah suatu prosedur sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun”. Tujuan penelaahan butir soal adalah untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu untuk digunakan. Di samping itu, tujuan analisis butir soal juga untuk membantu meningkatkan tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif serta untuk mengetahui informasi diagnostik pada peserta didik apakah mereka sudah atau belum memahami materi yang telah diajarkan. Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya, di antaranya dapat menentukan peserta didik mana yang sudah atau belum menguasai materi yang diajarkan guru. Salah satu cara memperbaiki proses belajar-mengajar yang paling efektif adalah dengan cara mengevaluasi tes hasil belajar yang diperoleh dari proses belajar-mengajar itu sendiri. Dengan kata lain, hasil tes tersebut kita olah sedemikian rupa sehingga hasil dari pengolahan itu dapat diketahui komponen manakah dari proses belajarmengajar itu yang masih lemah. Pengolahan tes hasil belajar dalam rangka memperbaiki proses belajar-mengajar salah satunya adalah dengan melakukan analisis butir soal.

Ciri-ciri Tes Hasil Belajar yang Baik (skripsi dan tesis)

Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 57-63), sebuah tes dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memiliki persyaratan tes. Setidaknya ada lima ciri yang harus dimiliki agar tes dapat dikatakan yang baik sebagai alat ukur yaitu memiliki validitas, reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas, dan ekonomis.
1) Validitas
Kata valid dalam bahasa Indonesia sering diartikan dengan istilah shahih. Sebuah tes dapat dikatakan telah memiliki “validitas” apabila tes tersebut dengan shahih telah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur lewat tes tersebut. Dalam pembicaraan evaluasi pada umumnya orang hanya mengenal istilah “valid” untuk alat evaluasi atau instrumen evaluasi. Hingga saat ini belum banyak yang menerapkan istilah “valid” untuk data. Sebuah data atau informasi dapat dikatakan valid apabila sesuai dengan keadaan senyatanya.
2) Reliabilitas
Reliabilitas sering dikaitkan dengan masalah kepercayaan. Tes dapat dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berulang kali. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukkan ketetapan. Dengan kata lain, jika para siswa diberikan tes yang sama pada waktu yang berbeda maka setiap siswa akan tetap berada pada ururan (ranking) yang sama pada kelompoknya.
3) Objektivitas
Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor-faktor subjektivitas yang mempengaruhi. Dalam hal ini kaitannya dengan sistem pemberian skor terhindar dari unsur-unsur subjektivitas yang melekat pada penyusun tes. Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan pada sistem scoring, sedangkan reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.
 4) Praktikabilitas Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis, mudah pengadministrasiannya. Tes yang praktis adalah tes yang:
 a) Mudah dilaksanakan
 b) Mudah pemeriksaannya
c) Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan/diawali oleh orang lain.  5) Ekonomis Yang dimaksud ekonomis adalah pelaksanaan tes tidak membutuhkan biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang lama.

Macam-macam Tes (skripsi dan tesis)

Sebagai alat pengukur dan penilai dalam evaluasi hasil belajar, tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis atau golongan, tergantung dari segi mana atau dengan alasan apa penggolongan tes itu dilakukan. Secara garis besar, tes sebagai alat evaluasi digolongkan menjadi dua macam yaitu tes dan bukan tes (non tes). Menurut Anas Sudijono (2011: 68-75) tes dapat digolongkan menjadi beberapa macam yaitu:

1) Penggolongan Tes Berdasarkan Fungsinya Sebagai Alat Pengukur Perkembangan/Kemajuan Belajar Peserta Didik.
a) Tes Seleksi
b) Tes Awal
c) Tes Akhir
 d) Tes Diagnostik
e) Tes Sumatif
 f) Tes Formatif
2) Penggolongan Tes Berdasarkan Aspek Psikis yang Ingin Diungkapkan.
 a) Tes Intelegensi
b) Tes Kemampuan
c) Tes Sikap
d) Tes Kepribadian
 e) Tes Hasil Belajar
3) Penggolongan Lain –lain
 a) Dilihat dari segi banyaknya orang yang mengikuti tes.
 (1)Tes Individual.
(2)Tes Kelompok.
 b) Dilihat dari segi waktu yang disediakan bagi testee untuk menyelesaikan tes.
 (1)Power Test (2)Speed Test
 c) Dilihat dari segi bentuk responnya.
(1)Verbal Test
(2)Nonverbal Test
d) Ditinjau dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara memberikan jawaban.
 (1)Tes Tertulis
 (2)Tes Lisan
 Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 26-39) ada dua teknik evaluasi, yaitu teknik nontes dan teknik tes. 1) Teknik nontes. Yang tergolong teknik non tes adalah:
a) Skala bertingkat (rating scale)
b) Kuesioner (questionair)
 c) Daftar cocok (check list)
d) Wawancara (interview)
e) Pengamatan (observation)
f) Riwayat hidup
 2) Teknik tes.
a) Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur siswa.
 (1)Tes diagnostik
Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahankelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.
 (2)Tes formatif
Tes formatif digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah terbentuk setelah mengikuti sesuatu program tertentu.
(3)Tes sumatif
Tes sumatif dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atau sebuah program yang lebih besar. Di sekolah-sekolah tes formatif biasanya diberikan pada akhir setiap program dan biasanya dikenal dengan istilah ulangan harian. Tes ini merupakan tes akhir program atau dapat juga dipandang sebagai tes  diagnostik pada akhir pelajaran, sedangkan tes sumatif biasanya dikenal dengan istilah ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada akhir catur wulan atau akhir semester. Tes dapat dibedakan atas beberapa jenis dan pembagian jenis-jenis tersebut dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang.
Chabib Thoha (2003: 46-47) membagi jenis tes menjadi sembilan macam yaitu:
 1) Tes Penempatan adalah tes untuk mengukur kemampuan dasar yang dimiliki oleh anak didik, kemampuan tersebut dapat dipakai meramalkan kemampuan peserta didik pada masa mendatang, sehingga peserta didik dapat dibimbing, diarahkan atau ditempatkan pada jurusan yang sesuai dengan kemampuan dasarnya.
 2) Tes Pembinaan diselenggarakan secara periodik, isinya mencakup semua unit pengajaran yang telah diajarkan.
3) Tes Sumatif bertujuan mengukur keberhasilan belajar peserta didik secara menyeluruh, materi yang diujikan seluruh pokok bahasan dan tujuan pengajaran dalam satu program tahunan.
4) Tes Diagnostik digunakan untuk mengetahui sebab kegagalan peserta didik dalam belajar.
 5) Tes Standar adalah tes yang disusun oleh satu tim ahli atau lembaga yang khusus menyelenggarakan secara profesional.
6) Tes Nonstandar adalah tes yang disusun oleh seorang pendidik yang belum memiliki keahlian profesional dalam penyusunan tes.
7) Tes Tertulis adalah tes yang soal dan jawaban yang diberikan kepada siswa berupa bahasa tulisan. Tes tertulis secara umum dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu:
a) Tes Objektif, yaitu tes yang itemnya dapat dijawab dengan memilih jawaban yang sudah tersedia sehingga peserta didik menampilkan keseragaman data, baik bagi yang menjawab benar maupun yang menjawab salah.
 b) Tes Subjektif, yaitu tes yang memberikan kebebasan peserta didik untuk memilih dan menentukan jawaban. Kebebasan tersebut mengakibatkan data jawaban bervariasi sehingga mengundang subjektivitas penilai.
8) Tes Lisan, yaitu tes soal dan jawabannya menggunakan bahasa lisan.
 9) Tes Tindakan, yaitu tes di mana respon atau jawaban yang dituntut dari peserta didik berupa tindakan tingkah laku konkrit.
 Dari sekian banyak jenis tes seperti di atas, alat penilaian bukan tes (nontest) masih jarang digunakan baik dalam menilai hasil belajar maupun dalam menilai proses belajar mengajar. Para guru di sekolah pada umumnya lebih banyak menggunakan tes daripada nontes mengingat alatnya mudah dibuat, penggunaannya lebih praktis, dan yang dinilai terbatas pada aspek kognitif berdasarkan hasil belajar peserta didik setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya.

Fungsi Tes (skripsi dan tesis)

Hasil Belajar Tes sebagai instrumen dalam kegiatan evaluasi memiliki makna tersendiri dalam dunia pendidikan, terutama dalam pembelajaran. Tes merupakan prosedur yang sistematis dipandang sebagai alat dan teknik dalam melakukan evaluasi hasil belajar. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa tes banyak digunakan oleh seorang guru untuk melakukan evaluasi hasil belajar. Secara umum, ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu:
1) Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hubungan ini tes berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.
2) Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh program pengajaran yang telah ditentukan, telah dapat dicapai. (Anas Sudijono, 2011: 67)
Menurut Nana Sudjana (2006: 35)., tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan 29 tujuan pendidikan dan pengajaran. Dalam batas tertentu tes dapat pula digunakan untuk mengukur atau menilai hasil belajar afektif dan psikomotor. Dengan demikian fungsi tes sebagai instrumen evaluasi adalah untuk mengukur prestasi atau hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam belajar. Selain itu tes juga berfungsi untuk mengukur keberhasilan suatu program pengajaran

Pengertian Tes (skripsi dan tesis)

Banyak alat atau instrumen yang dapat digunakan dalam kegiatan evaluasi, salah satunya adalah tes. Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Menurut Anne Anastasi yang dikutip Anas Sudijono (2011: 66), “Tes adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang objektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu”. Zainal Arifin (2011: 118), mengartikan tes sebagai suatu teknik atau cara yang digunakan dalam rangka melaksanakan kegiatan pengukuran, yang di dalamnya terdapat berbagai pertanyaan, pernyataan, atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh peserta didik untuk mengukur aspek perilaku peserta didik. Di sisi lain, menurut Goodenough dalam Anas Sudijono (2011: 28 67), tes adalah suatu tugas atau serangkaian tugas yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu, dengan maksud untuk membandingkan kecakapan mereka, satu sama lain. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa dalam dunia evaluasi pendidikan yang dimaksud dengan tes adalah cara atau prosedur dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan. Tes tersebut dapat berbentuk pemberian tugas kepada peserta didik sehingga hasilnya dapat dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan

Tinjauan Teori tentang Hasil Belajar sebagai Objek Evaluasi Hasil Belajar (skripsi dan tesis)

Dalam kegiatan pembelajaran terdapat empat unsur utama yang harus dipahami yaitu tujuan, bahan, metode, alat dan metode, serta evaluasi. Evaluasi berfungsi sebagai alat untuk mengetahui keberhasilan proses dan hasil belajar peserta didik. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris. Dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar evaluator dituntut untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap peserta didik, baik dari segi pemahamannya terhadap materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan, maupun dari segi penghayatan dan pengamalannya. Mengingat ketiga aspek atau ranah tersebut sangat erat kaitannya dan tidak mungkin dapat dipisahkan dari kegiatan evaluasi hasil belajar, maka ketiga ranah tersebut sangat penting untuk dipahami. Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Di antara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menguasai isi bahan pengajaran.

a. Ranah Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari tujuh aspek yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi, dan kreasi. Seperti yang diungkapkan Anas Sudijono (2011: 49) “Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak)”. Menurut Bloom dalam Asmi (2010: 2), segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Pada awalnya Bloom mengklasifikan tujuan kognitif dalam enam level, yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), aplikasi (apply), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation) dalam satu dimensi, akan tetapi Anderson dan Kratwohl merevisinya menjadi dua dimensi, yaitu proses dan isi/jenis. Pada dimensi proses, terdiri atas mengingat (remember), memahami (understand), menerapkan (apply), menganalisis (analyze), menilai (evaluate), dan berkreasi (create). Pada dimensi isinya terdiri atas pengetahuan faktual (factual knowlwdge), pengetahuan konseptual (conceptual knowledge), pengetahuan prosedural (procedural knowledge), dan pengetahuan metakognisi (metacognitive knowledge).
 b. Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni, penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Ranah afektif merupakan internalisasi sikap yang menunjuk ke arah pertumbuhan batiniah dan terjadi bila peserta didik menjadi sadar tentang nilai yang diterima, kemudian mengambil sikap sehingga menjadi bagian dari dirinya dalam membentuk nilai dan menentukan tingkah laku. Ranah afektif berkaitan dengan sikap dan nilai. Sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya apabila telah memiliki penguasaan yang tinggi pada ranah kognitifnya. Hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagi tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman kelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial. Ada beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar seperti yang dikemukakan Nana Sudjana (2006: 30). Kategorinya dimulai dari tingkat yang dasar atau sederhana sampai tingkat yang kompleks, meliputi: 1) Menerima (receiving), yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dll. 2) Menjawab (responding), yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar. 3) Penilaian (valuing) berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi. 4) Organisasi (organization), yakni pengembangan dari nilai ke dalam suatu sistem organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan, dan prioritas nilai yang telah dimilikinya.
5) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai (characterization by a value or value complex), yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.
 c. Ranah Psikomotorik Ranah psikomotorik merupakan kemampuan peserta didik yang berkaitan dengan gerak tubuh atau bagian-bagiannya, mulai dari gerakan sederhana sampai gerakan yang kompleks. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik, yakni:
1) Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang tidak disadari).
2) Ketrampilan pada gerakan-gerakan dasar.
 3) Kemampuan perseptual, termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motoris, dll.
4) Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan dan ketepatan.
 5) Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada ketrampilan kompleks.
 6) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-decursive seperti gerakan ekspresif dan interpretatif. (Nana Sudjana, 2006: 23)
Menurut Anas Sudijono (2011: 57) ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar psikomotor merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif dan afektif. Hasil belajar kognitif dan afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan ranah afektif.
Penilaian psikomotor memang lebih sulit dan subjektif dibandingkan dalam aspek kognitif karena penilaian psikomotorik memerlukan pengamatan dengan keterandalan yang tinggi terhadap dimensi-dimensi yang akan diukur. Apabila pengukuran dalam aspek psikomotor ini tidak dilakukan secara cermat maka aspek subjektivitas akan lebih dominan

Ciri-ciri Hasil Belajar (skrispi dan tesis)

 Sebagai suatu bidang kegiatan, evaluasi hasil belajar merupakan hal yang terpenting untuk mengukur keberhasilan tercapainya tujuan pendidikan. Evaluasi hasil belajar memiliki ciri-ciri khas yang membedakannya dengan kegiatan yang lain. Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 11-16) ciri-ciri penilaian dalam pendidikan antara lain:
1) Penilaian dilakukan secara tidak langsung.
2) Penggunaan ukuran kuantitatif.
 3) Penilaian pendidikan menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap.
 4) Penilaian pendidikan bersifat relatif.
5) Dalam penilaian pendidikan sering terjadi kesalahan-kesalahan. E
valuasi hasil belajar yang baik adalah evaluasi yang jauh dari sikap subjektivitas penilai. Selain itu dalam melakukan evaluasi harus objektif dalam melakukan pengukuran sehingga dapat mengukur apa yang seharusnya diukur dalam pembelajaran

Prosedur Evaluasi Hasil Belajar (skripsi dan tesis)

Menentukan pokok-pokok dan ketentuan apa yang perlu dilakukan dalam suatu program evaluasi hasil belajar itu sangat sulit. Hal ini disebabkan oleh tujuan khusus dari tiap jenis dan keadaan sekolah masing-masing tidak sama. Sekalipun tidak selalu sama, namun pada umumnya para pakar dalam bidang evaluasi pendidikan merinci kegiatan evaluasi hasil belajar ke dalam enam langkah pokok seperti yang dikemukakan Anas Sudijono (2011: 59-62) yaitu:

1) Menyusun rencana evaluasi hasil belajar.
a) Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi.
b) Menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi.
c) Memilih dan menentukan teknik yang akan dipergunakan di dalam pelaksanaan evaluasi.
d) Menyusun alat-alat pengukur yang akan dipergunakan dalam pengukuran dan penilaian hasil belajar peserta didik.
e) Menentukan tolok ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi.
 f) Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri.
 2) Menghimpun data.
 3) Melakukan verifikasi data.
4) Mengolah dan menganalisis data.
5) Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan.
 6) Tindak lanjut hasil evaluasi. Dalam kegiatan evaluasi terdapat prosedur tersendiri, meskipun kegiatan mengevaluasi itu lebih tepat dipandang sebagai suatu proses kontinyu yang tidak terputus-putus.
Untuk menghubungkan proses yang kontinyu tersebut diperlukanlah suatu prosedur. Prosedur merupakan langkah-langkah pokok yang harus ditempuh dalam kegiatan evaluasi. Keberhasilan suatu kegiatan evaluasi akan dipengaruhi pula oleh kegiatan evaluator dalam melaksanakan prosedur evaluasi. Menurut Zainal Arifin (2011: 88) prosedur evaluasi pembelajaran meliputi:
 1) Perencanaan evaluasi, yang meliputi analisis kebutuhan, merumuskan tujuan evaluasi, menyusun kisi-kisi, mengembangkan draft instrumen, uji coba dan analisis, merevisi dan menyusun instrumen final.
 2) Pelaksanaan evaluasi dan monitoring.
3) Pengolahan data dan analisis.
4) Pelaporan hasil evaluasi.
5) Pemanfaatan hasil evaluasi. Baik buruknya evaluasi hasil belajar berada di tangan seorang guru sebagai evaluator yang melaksanakan evaluasi tersebut. Oleh sebab itu seorang guru harus bertanggung jawab terhadap hasil evaluasi. Tanggung jawab tersebut dapat ditunjukkan dengan melaksanakan prosedur evaluasi yang baik, dan dipertanggungjawabkan bagi pihak–pihak yang berkepentingan.

Prinsip-prinsip Evaluasi Hasil Belajar (skripsi dan tesis)

Mengingat pentingnya evaluasi hasil belajar dalam menentukan kualitas pendidikan, maka upaya dalam merencanakan dan melaksanakan evaluasi tersebut hendaknya memperhatikan pada beberapa prinsip sehingga evaluasi dapat mencapai sasaran yang diinginkan. Evaluasi hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip seperti yang dikemukakan oleh Anas Sudijono (2011: 31-33), yaitu:

1) Prinsip keseluruhan. Evaluasi hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi tersebut dilaksanakan secara bulat, utuh, dan menyeluruh.
2) Prinsip kesinambungan. Evaluasi hasil belajar yang baik adalah evaluasi belajar yang dilaksanakan secara teratur dan sambungmenyambung dari waktu ke waktu.
3) Prinsip objektivitas. Evaluasi hasil belajar dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari faktor-faktor yang sifatnya subjektif.

Menurut Daryanto (2007: 19-21) beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam menyusun evaluasi antara lain:
1) Keterpaduan.
Evaluasi merupakan komponen integral dalam program pengajaran di samping tujuan instruksional dan materi serta metode pengajaran. Karena itu, perencanaan evaluasi harus sudah ditetapkan pada waktu menyusun satuan pengajaran sehingga dapat disesuaikan secara harmonis dengan tujuan instruksional dan materi pengajaran yang hendak disajikan.
2) Keterlibatan siswa.
Untuk dapat mengetahui sejauh mana siswa berhasil dalam kegiatan belaja-mengajar yang dijalaninya secara aktif, siswa membutuhkan evaluasi.
3) Koherensi.
Evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur.
4) Pedagogis.
Evaluasi perlu diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap dan tingkah laku ditinjau dari segi pedagogis.
5) Akuntabilitas.
 Sejauh mana keberhasilan program pengajaran perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan sebagai laporan pertanggungjawaban.
Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 24) ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga komponen yaitu antara:
 1) Tujuan pembelajaran.
2) Kegiatan pembelajaran atau Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
3) Evaluasi.
Dalam Suharsimi Arikunto (2009: 24-25) juga dijelaskan maksud dari bagan triangulasi
 yaitu:
 1) Hubungan antara tujuan dengan KBM.
Kegiatan belajar-mengajar yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, anak panah yang menunjukkan hubungan antara keduanya mengarah pada tujuan dengan makna bahwa KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM, menunjukkan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya ke KBM.
2) Hubungan antara tujuan dengan evaluasi.
Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai. Dengan makna demikian maka anak panah berasal dari evaluasi menuju ke tujuan. Di lain sisi, jika dilihat dari langkah, dalam menyusun alat evaluasi ia mengacu pada tujuan yang sudah dirumuskan. 3) Hubungan antara KBM dengan evaluasi.
 Selain mengacu pada tujuan, evaluasi juga harus mengacu atau disesuaikan dengan KBM yang dilaksanakan. Sebagai misal, jika kegiatan belajar-mengajar dilakukan oleh guru dengan menitikberatkan pada keterampilan, evaluasinya juga harus mengukur tingkat keterampilan siswa, bukannya aspek pengetahuan. 20 Untuk memperoleh hasil evaluasi yang lebih baik, maka kegiatan evaluasi harus bertitik tolak dari prinsip-prinsip umum seperti yang dikemukakan Zainal Arifin (2011: 30-31) yaitu:
1) Kontinuitas.
 Evaluasi tidak boleh dilakukan secara insidental karena pembelajaran itu sendiri adalah suatu proses yang kontinu. Oleh sebab itu, evaluasi pun harus dilakukan secara kontinyu.
2) Komprehensif
 Dalam melakukan evaluasi terhadap suatu objek, guru harus mengambil seluruh objek itu sebagai bahan evaluasi. Misalnya, objek evaluasi adalah peserta didik, maka seluruh aspek kepribadian peserta didik harus dievaluasi, baik yang menyangkut kognitif, afektif, maupun psikomotor.
 3) Adil dan objektif.
Dalam melakukan evaluasi, guru harus berlaku adil tanpa pilih kasih. Semua peserta didik harus diberlakukan sama tanpa “pandang bulu”. Guru juga hendaknya bertindak secara objektif, apa adanya sesuai dengan kemampuan peserta didik. Evaluasi harus didasarkan atas kenyataan (data dan fakta) yang sebenarnya, bukan hasil manipulasi atau rekayasa.
4) Kooperatif.
Dalam kegiatan evaluasi guru hendaknya bekerja sama dengan semua pihak seperti orang tua peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, termasuk dengan peserta didik itu sendiri. Hal ini dimaksudkan agar semua pihak merasa puas dengan hasil evaluasi, dan pihak-pihak tersebut merasa dihargai.
5) Praktis.
Praktis mengandung maksud mudah digunakan, baik oleh guru itu sendiri yang menyusun alat evaluasi maupun orang lain yang menggunakan alat tersebut. Untuk itu harus diperhatikan bahasa dan petunjuk mengerjakn soal. Dengan demikian evaluasi hasil belajar yang baik agar kualitas pendidikan dapat tercapai harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengukur hasil belajar yang telah ditentukan dengan jelas dan sesuai dengan kompetensi serta tujuan pembelajaran. Selain itu evaluasi hasil belajar hendaknya diikuti dengan tindak lanjut sehingga dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan

Tujuan dan Fungsi Evaluasi Hasil Belajar

Nana Sudjana (2006: 4) mengemukakan bahwa tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk:

1) Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya.
 2) Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.
3) Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi pelaksanaannya.
4) Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu: pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa.
Anas Sudijono (2011: 16-17) mengemukakan bahwa tujuan evaluasi ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus.
 1) Tujuan umum. Secara umum, tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan ada dua, yaitu:
a) Untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh para peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
b) Untuk mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pengajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka waktu tertentu.
2) Tujuan khusus. Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan adalah :
a) Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan.
b) Untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya. Fungsi evaluasi tidak dapat dipisahkan dari tujuan evaluasi itu sendiri. Dari pemaparan di atas tersirat tujuan evaluasi ialah untuk memperoleh data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di mana tingkat kemampuan dan keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan-tujuan kurikuler. Secara rinci, evaluasi hasil belajar dikemukakan oleh Chabib Thoha (2003: 10-11) apabila dilihat dari kepentingan masing-masing pihak, yaitu:
 1) Fungsi bagi guru.
a) Mengetahui kemajuan belajar peserta didik.
 b) Mengetahui kedudukan masing-masing individu peserta didik dalam kelompoknya.
 c) Mengetahui kelemahan-kelemahan dalam cara belajar mengajar dalam PBM. 16 d) Memperbaiki proses belajar mengajar.
 e) Menentukan kelulusan peserta didik.
 2) Fungsi bagi peserta didik.
a) Mengetahui kemampuan dan hasil belajar.
 b) Memperbaiki cara belajar.
c) Menumbuhkan motivasi dalam belajar.
3) Fungsi bagi sekolah.
a) Mengukur mutu hasil pendidikan.
 b) Mengetahui kemajuan dan kemunduran sekolah.
c) Membuat keputusan kepada peserta didik.
 d) Mengadakan perbaikan kurikulum.
 4) Fungsi bagi orang tua peserta didik.
 a) Mengetahui hasil belajar anaknya
 b) Meningkatkan pengawasan dan bimbingan serta bantuan kepada anaknya dalam usaha belajar.
 c) Mengarahkan pemilihan jurusan, atau jenis sekolah pendidikan lanjutan bagi anaknya.
 5) Fungsi bagi masyarakat dan pemakai jasa pendidikan.
a) Mengetahui kemajuan sekolah.
 b) Ikut mengadakan kritik dan saran perbaikan bagi kurikulum pendidikan pada sekolah tersebut.
 c) Lebih meningkatkan partisipasi masyarakat dalam usahanya membantu lembaga pendidikan. Selain fungsi di atas, menurut Daryanto (2007: 14-16) evaluasi juga dapat berfungsi sebagai alat seleksi, diagnostik, penempatan, dan pengukur keberhasilan guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil pembelajaran. Penjelasan dari setiap fungsi tersebut adalah:
1) Fungsi seleksi. Evaluasi yang dilakukan oleh guru digunakan untuk menyeleksi siswanya. Seleksi itu mempunyai berbagai tujuan, antara lain:
a) Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.
 b) Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.
 c) Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
d) Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dan sebagainya.
 2) Fungsi diagnostik. Evaluasi digunakan untuk mendiagnosis peserta didik tentang kebaikan dan kelemahannya serta peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan tersebut maka akan mudah mencari cara untuk mengatasinya.
 3) Fungsi penempatan. Evaluasi digunakan untuk menempatkan peserta didik dalam situasi pembelajaran yang tepat sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
4) Fungsi pengukur keberhasilan Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana, dan sistem kurikulum.
Pada hakikatnya, tujuan dan fungsi evaluasi adalah untuk mengetahui seberapa jauh tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan itu dapat tercapai dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan. Di samping itu, tujuan dan fungsi evaluasi adalah untuk memberikan gambaran terhadap tingkah laku hasil belajar yang telah dicapai pesrta didik. Tujuan yang terpenting dalam evaluasi adalah untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu.

Pengertian Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi Hasil Belajar (skripsi dan tesis)

Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 3) mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran, artinya hasil ukur secara kuantitatif hanya dengan satuan atau besaran ukuran saja tanpa memberikan penilaian. Dengan kata lain mengukur adalah suatu proses untuk menentukan kuantitas tertentu. Gronlund dalam Zainal Arifin (2011: 4) mengemukakan bahwa penilaian adalah suatu proses yang sistematis dari pengumpulan, analisis, dan interpretasi informasi/data untuk menentukan sejauh mana peserta 14 didik telah mencapai tujuan pembelajaran. Dalam Peraturan Pemerintah RI No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Ayat (17) penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 3) menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk dan penilaian bersifat kualitatif. Berdasarkan pengertian pengukuran, penilaian, dan evaluasi di atas dapat disimpulkan bahwa antara pengukuran, penilaian, dan evaluasi merupakan suatu proses yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Evaluasi mencakup dua kegiatan yaitu pengukuran dan penilaian. Evaluasi merupakan program atau kegiatan untuk menilai sesuatu. Untuk dapat menentukan nilai dari sesuatu yang sedang dinilai itu, maka dilakukanlah pengukuran

Tujuan dan Fungsi Mata Pelajaran Ekonomi Akuntansi di SMA (skripsi dan tesis)

Zainal Arifin (2011: 10) menyatakan “Pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan sistemik, yang bersifat interaktif dan komunikatif antara pendidik dengan peserta didik, sumber belajar dan lingkungan untuk menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya tindakan belajar peserta didik, baik di kelas maupun di luar kelas, dihadiri guru secara fisik atau tidak, untuk menguasai kompetensi yang telah ditentukan ”. Proses kegiatan pembelajaran yang baik akan dapat membantu siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memperoleh pengetahuan maupun keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam Depdiknas (2003: 6) tentang standar kompetensi mata pelajaran Ekonomi SMA dan MA dijelaskan bahwa tujuan dan fungsi mata pelajaran Ekonomi adalah sebagai berikut : 1) Tujuan Mata Pelajaran Ekonomi di SMA : Membekali siswa sejumlah konsep ekonomi untuk mengetahui dan mengerti peristiwa dan masalah ekonomi dalam kehidupan seharihari, terutama yang terjadi di lingkungan setingkat individu/rumah tangga, masyarakat dan negara. Membekali siswa sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi pada jenjang selanjutnya. Membekali siswa nilai-nilai serta etika ekonomi dan memiliki jiwa wirausaha. Meningkatkan kemampuan berkompetensi dan bekerjasama dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun skala internasional. 13 2) Fungsi Mata Pelajaran Ekonomi di SMA: Mengembangkan kemampuan siswa untuk berekonomi, dengan cara mengenal berbagai kenyataan dan peristiwa ekonomi, memahami konsep dan teori serta berlatih dalam memecahkan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan masyarakat. Dalam Depdiknas (2003: 6) tentang standar kompetensi mata pelajaran Akuntansi SMA dan MA dijelaskan bahwa tujuan dan fungsi mata pelajaran Akuntansi adalah sebagai berikut : 1) Tujuan Mata Pelajaran Akuntansi di SMA : Membekali tamatan SMA dalam berbagai kompetensi dasar, agar mereka menguasai dan mampu menerapkan konsep-konsep dasar, prinsip dan prosedur Akuntansi yang benar, baik untuk kepentingan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ataupun untuk terjun ke masyarakat, sehingga memberikan manfaat bagi kehidupan siswa. 2) Fungsi Mata Pelajaran Akuntansi di SMA : Mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap rasional, teliti, jujur, dan bertanggung jawab melalui prosedur pencatatan, pengelompokkan, pengikhtisaran transaksi keuangan, penyusunan laporan keuangan dan penafsiran perusahaan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK).

Ruang Lingkup Mata Pelajaran Ekonomi Akuntansi di SMA (skripsi dan tesis)

Mata pelajaran Ekonomi mencakup perilaku ekonomi dan kesejahteraan yang berkaitan dengan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan kehidupan terdekat hingga lingkungan terjauh, meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1) Perekonomian 2) Ketergantungan 3) Spesialisasi dan pembagian kerja 4) Perkoperasian 5) Kewirausahaan 6) Akuntansi dan manajemen Depdiknas (2003: 7) Ruang lingkup pelajaran Akuntansi SMA dimulai dari dasar-dasar konseptual, struktur, dan siklus Akuntansi. Adapun materi pokok pelajaran Akuntansi di SMA adalah sebagai berikut: 1) Akuntansi dan sistem informasi 2) Dasar hukum pelaksanaan Akuntansi 3) Struktur Dasar Akuntansi 4) Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa 5) Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang 12 6) Siklus Akuntansi Koperasi 7) Analisis Laporan Keuangan 8) Metode kuantitatif Depdiknas (2003: 6-7)

Pengertian Ekonomi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang banyak, bervariasi, dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi, dan/atau distribusi. Pengertian ekonomi menurut Iskandar Putong (14: 2002) adalah semua yang menyangkut halhal yang berhubungan dengan perikehidupan dalam rumah tangga. Menurut Samuelson (4: 2003) ilmu ekonomi adalah kajian bagaimana masyarakat menggunakan sumber daya yang langka untuk memproduksi komoditi-komoditi yang berharga dan mendistribusikannya kepada masyarakat luas. Prospek dan tantangan di masa depan merupakan bagian integral dari globalisasi ekonomi yang berpengaruh terhadap profesionalisme pengelolaan usaha. Salah satu aspek pengelolaan usaha baik pada sektor formal maupun non formal adalah kewajiban perusahaan membuat laporan keuangan sesuai dengan besar kecilnya transaksi keuangan suatu usaha. Sebagai bagian ilmu ekonomi yang mempelajari siklus/proses kegiatan dari seluruh transaksi keuangan perlu dilaksanakan di sekolah untuk membangun pemahaman dan keterampilan Akuntansi. Dalam 10 pembelajaran di sekolah, mata pelajaran Akuntansi merupakan bagian dari mata pelajaran Ekonomi yang diajarkan di SMA. Akuntansi merupakan bahan kajian mengenai suatu sistem untuk menghasilkan informasi berkaitan dengan transaksi keuangan. Informasi tersebut dapat digunakan dalam rangka pengambilan keputusan dan tanggung jawab di bidang keuangan baik oleh pelaku ekonomi swasta (akuntansi perusahaan), pemerintah (akuntansi pemerintah), ataupun organisasi masyarakat lainnya (akuntansi publik). Pengertian akuntansi menurut American Accounting Association adalah “Accounting as the process identifiying, measuring, and communicating economic information to permit informed judgements and decisions by users of the information” (Sumarsono, 2004: 3). Definisi selanjutnya terdapat pada Accounting Principles Board (APB) No. 4 yang menjelaskan akuntansi sebagai suatu aktivitas jasa yang memiliki fungsi menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan tentang satuan-satuan ekonomi yang dapat bermanfaat dalam menetapkan pilihan-pilihan yang logis diantara berbagai tindakan alternatif (Suwardjono, 2010: 9). Definisi akuntansi menurut Haryono Yusuf (2001: 4) mencakup 2 (dua) pengertian, yaitu : 1) Ditinjau dari sudut pemakainya, akuntansi adalah suatu disiplin yang menyediakan informasi yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efisien dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan suatu organisasi. 2) Ditinjau dari sudut kegiatannya, akuntansi didefinisikan sebagai proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan, dan penganalisisan data keuangan suatu organisasi. 11 Secara umum, ekonomi dapat dipahami sebagai suatu kegiatan atau usaha tentang bagaimana manusia dapat memenuhi kebutuhannya dan bagaimana mengelola sumber daya yang terbatas atau langka, sedangkan akuntansi (accounting) dapat dipahami sebagai suatu proses kegiatan mengolah data keuangan (input) agar menghasilkan informasi keuangan (output) yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan atau organisasi ekonomi yang bersangkutan.

Tujuan Kebijakan Ekonomi Makro (skripsi dan tesis)

Kebijakan ekonomi yang dirumuskan oleh pemerintah tentu harus disesuaikan dengan tujuan ataupun target apa yang harus dicapai dengan kebijakan yang akan dibuat tersebut. Oleh karena itu sebelum memutuskan kebijakan apa yang harus digunakan dalam perekonomian harus terlebih dahulu ditentukan target dan tujuan yang hendak dicapai, sehingga dalam pelaksanaan kebijakan tersebut dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Kelana (1996:7) secara umum ada beberapa aspek yang menjadi tujuan kebijakan makroekonomi dan merupakan pilihan tersendiri bagi setiap Negara. Hal ini diakibatkan oleh berbedanya tujuan dan sasaran ekonomi suatu Negara tergantung pada kondisi dan keadaan ekonomi di Negara tersebut. Tujuan yang dimaksudkan antara lain:

1. Menciptakan Tingkat Harga yang Stabil. Banyak orang mengartikan harga yang stabil sebagai harga yang selalu konstan (constant price). Namun bila dilihat lebih jauh, harga yang stabil bukan berarti harga selalu konstan namun tingkat fluktuasinya lebih kecil atau jarang. Stabilitas harga merupakan tujuan yang penting. Fluktuasi harga yang tinggi tentu akan meningkatkan risiko pada dunia usaha. Sebagai contoh di bidang properti (perumahan). Untuk membangun suatu perumahan tentu dibutuhkan bahan baku dan tenaga kerja. Tentu harga bahan baku dan tenaga kerja tidak akan selalu sama pada berbagai periode waktu. Kontrak yang dilakukan pengembang dengan tenaga kerja tentu dipengaruhi oleh perubahan harga. Demikian juga dengan bahan baku,  harga dari bahan bahan bangunan akan sangat dipengaruhi oleh kestabilan perubahan harga dari waktu ke waktu. Kestabilan harga akan memudahkan pengembang merencanakan pembangunan perumahan sesuai dengan yang diharapkannya. Dan dengan demikian akan semakin meningkatkan gairah dunia usaha perumahan kedepannya.

 2. Memaksimalkan Tenaga Kerja dan Output Mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh (full employment) merupakan cita cita setiap negara di dunia . Namun pada umumnya tidak ada satu negara pun didunia yang mampu mewujudkan adanya penggunaan tenaga kerja penuh. Walaupun memaksimalkan output cenderung mendorong tercapainya tujuan penggunaan tenaga kerja kapasitas penuh (full employment) namun kebijakan kebijakan yang dirumuskan oleh pemerintah dengan menambah pengeluaran aggregat (output) hanya mampu mengurangi jumlah pengangguran tetapi tetap tidak mampu untuk menciptakan perekonomian dengan penggunaan tenaga kerja penuh.

3. Menciptakan Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi merupakan dambaan bagi setiap Negara di dunia. Namun pertumbuhan ekonomi yang diharapkan biasanya harus diikuti dengan adanya stabilitas, keadilan ekonomi (economic equality) serta distribusi pendapatan yang merata di setiap wilayah yang ada di Negara tersebut. Disamping itu, adanya peningkatan populasi manusia dan kebutuhan yang tidak terbatas mendorong perekonomian untuk selalu Universitas Sumatera Utara meningkatkan produksi barang dan jasanya dan akan semakin memungkinkan penambahan jumlah tenaga kerja yang terserap dalam memproduksi barang tersebut. Sehingga pertumbuhan ekonomi akan terjadi di Negara tersebut dan akan lebih baik jika diikuti dengan distribusi pertumbuhan yang merata. 4. Mengukuhkan Neraca Pembayaran (Stabilitas Neraca Pembayaran) Stabilitas neraca pembayaran dianggap sangat penting dikarenakan hal ini berkenaan dengan hubungan luar negeri dan cadangan devisa suatu Negara. Neraca pembayaran yang tidak kukuh akan mengurangi kemampuan suatu negara dalam menghadapi masalah pengaliran dana keluar negeri yang melebihi dari keadaan yang biasanya berlaku. Sebagai akibatnya cadangan mata uang asing akan merosot dan kurs mata uang asing meningkat. Hal ini akan menimbulkan efek buruk ke perekonomian suatu negara seperti inflasi, biaya produksi meningkat akan tetapi sebaliknya daya beli masyarakat merosot. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi makro perlu memperhatikan kedudukan neraca pembayaran dan kurs valuta asing selalu tetap teguh keadaannya

Masalah dalam Ekonomi Makro (skripsi dan tesis)

Di setiap negara di dunia ini tentu kegiatan perekonomiannya tidak selalu stabil, apalagi dengan ruang lingkup yang sangat luas setiap negara pasti mempunyai kendala ataupun masalah tersendiri. Namun bila diklasifikasikan lagi masalah masalah yang dihadapi oleh tiap negara di dunia dapat dikelompokkan menjadi 3 masalah pokok. Menurut Bakti, Rakhmat, dan Syahrir (2010:12) kebijakan makro ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah sebagai keiikutsertaan pemerintah dalam memacu kehidupan ekonomi selalu dihadapkan kepada masalah pertumbuhan, inflasi, dan pengangguran sebagai central issues macroeconomic. Dengan kata lain bahwa yang menjadi masalah pokok dalam ekonomi makro dan mencakup keseluruhan variabel variabel dalam ekonomi makro adalah masalah pertumbuhan, inflasi dan pengangguran

Pengertian dan Sejarah berkembangnya Ekonomi Makro (skripsi dan tesis0

Makro ekonomi adalah salah satu cabang ilmu ekonomi yang membahas perilaku perekonomian secara agregat, misalnya kemakmuran dan resesi, output barang dan jasa, total perekonomian, laju pertumbuhan output, laju inflasi dan pengangguran, neraca pembayaran dan juga nilai kurs ( Dornbusch, Stanley, dan Mulyadi, 1996:3) Ekonomi makro terbentuk dari adanya kemerosotan ekonomi dunia yang berawal dari adanya depresi ekonomi di Amerika Serikat tahun 1932. Pada saat itu hampir 25 % masyarakat Amerika kehilangan pekerjaannya dan berakibat pada merosotnya angka pendapatan nasional negara tersebut. Tentu saja hal ini menjalar dan meluas ke seluruh dunia. Pada saat itu tidak ada satu teori atau ajaran ekonomi yang mampu memecahkan masalah depresi ekonomi tersebut. Hal ini semakin menyadarkan para ahli ekonomi saat itu bahwa ekonomi tidak dapat hanya tergantung pada mekanisme pasar saja, karena mekanisme pasar tidak mampu menimbulkan pertumbuhan ekonomi yang baik dan stabil. Seorang ahli ekonomi yang sekaligus pada saat itu bertugas sebagai Presiden World Bank mengemukakan pandangannya terhadap krisis ekonomi yang dihadapi dunia saat itu. Dalam buku yang berjudul The General Theory of Employment, Interest, and Money, John Maynard Keynes mengatakan bahwa pada saat itu untuk memecahkan masalah ekonomi suatu perekonomian tidak boleh hanya tergantung pada mekanisme pasar saja tetapi membutuhkan juga campur tangan pemerintah didalamnya. Pandangan John Maynard Keynes dalam bukunya tersebut menjadi awal ataupun landasan lahirnya teori ekonomi makro modern.

Tahapan Pelaksanaan Assertive (skripsi dan tesis)

Training Pelaksanaan assertive training memiliki beberapa tahapan atau prosedur yang akan dilalui ketika pelaksanaan latihan. Pada umumnya teknik untuk 24 melakukan latihan asertif, mendasarkan pada prosedur belajar dalam diri seseorang yang perlu diubah, diperbaiki dan diperbarui. Masters (Gunarsih, 2007) meringkas beberapa jenis prosedur latihan asertif, yakni:

1. Identifikasi terhadap keadaan khusus yang menimbulkan persoalan pada pasien atau klien.

2. Memeriksa apa yang dilakukan atau dipikirkan pasien atau klien pada situasi tersebut.
3. Dipilih sesuatu situasi khusus di mana pasien atau klien melakukan permainan peran (role play) sesuai dengan apa yang ia perlihatkan.
4. Terapis memberikan umpan balik secara verbal, menekankan hal yang positif dan menunjukkan hal-hal yang tidak sesuai ( tidak cocok, inadekuat) dengan sikap yang baik dan dengan cara yang tidak menghukum atau menyalahkan.
5. Terapis memperlihatkan model perilaku yang lebih diinginkan, pada pasien atau klien menerima model perilaku jika sesuai ( terjadi pergantian peran).
6. Terapis membimbing, menjelaskan hal-hal yang mendasari perilaku yang diinginkan.
 7. Selama berlangsung proses peniruan, terapis meyakinkan pernyataan dirinya yang positif yang diikuti oleh perilaku.
8. Pasien atau klien kemudian berusaha untuk mengulangi respon tersebut.
9. Terapis menghargai perkembangan yang terjadi pada pasien atau klien dengan strategi “pembentukan”(shaping) atau dukungan tertentu yang menyertai pebentukan respon baru.
 (Langkah nomor lima, enam, tujuh dan delapan, diulang sampai terapis dan pasien atau klien puas terhadap respon-responnya yang setidaknya sudah berkurang ansietasnya dan tidak membuat pernyataan diri(selfsentiment) yang negatif.)
10. Sekali pasien atau klien dapat menguasai keadaan sebelumnya menimbulkan sedikit ansietas, terapis melangkah maju ke hierarki yang lebih tinggi dari keadaannya yang menjadi persoalan.
11. Kalau interaksinya terjadi dalam jangka waktu lama, harus dipecah menjadi beberapa bagian yang diatur waktunya. Selanjutnya terapis bersama pasien atau klien menyusun kembali urutan keseluruhannya secara lengkap
. 12. Diantara waktu-waktu pertemuan, terapis menyuruh pasien atau klien melatih dalam imajinasinya, respon yang cocok pada beberapa keadaan. Kepada mereka juga diminta menyertakan pernyataan diri yang terjadi selama melakukan imajinasi. Hasil apa yang dilakukan pasien atau klien, dibicarakan pada pertemuan berikutnya.
13. Pada saat pasien atau klien memperlihatkan ekspresi yang cocok dari perasaan-perasaannya yang negatif, terapis menyuruhnya melakukan dengan respon yang paling ringan. Selanjutnya pasien atau klien harus memberikan respons yang kuat kalau respon tidak efektif.
14. Terapis harus menentukan apakah pasien atau klien sudah mampu memberikan respon yang sesuai dari dirinya sendiri secara efektif terhadap keadaan baru, baik dari laporan langsung yang diberikan maupun dari keterangan orang lain yang mengetahui keadaan pasien atau klien. 26 Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa assertive training merupakan terapi perilaku yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan individu yang diganggu kecemasan dengan berbagai teknik yang ada agar individu tersebut dapat memiliki perilaku asertif yang diinginkan

Manfaat Assertive Training (skripsi dan tesis)

Menurut pendapat Corey (2009), manfaat latihan asertif yaitu membantu bagi orang-orang yang:

 a. tidak mampu mengungkapkan kemarahan dan perasaan tersinggung;

b. menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya ; c. memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”;
d. mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respon-respon positif lainnya merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.
Berdasarkan pendapat diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa manfaat latihan asertif adalah membantu peningkatan kemampuan mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain.

Tujuan Assertive Training (skripsi dan tesis)

Teknik assertive training dalam pelaksanaannya tentu memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh konselor dan klien. Day (2008) menjelaskan bahwa assertive training membantu klien belajar kemandirian sosial yang diperlukan untuk mengekspresikan diri mereka dengan tepat. Sedangkan menurut Corey (2009) terdapat beberapa tujuan assertive training yaitu :

a. Mengajarkan individu untuk menyatakan diri mereka dalam suatu cara sehingga memantulkan kepekaan kepada perasaan dan hak-hak orang lain;
b. Meningkatkan keterampilan behavioralnya sehingga mereka bisa menentukan pilihan apakah pada situasi tertentu perlu berperilaku seperti apa yang diinginkan atau tidak;
 c. Mengajarkan pada individu untuk mengungkapkan diri dengan cara sedemikian rupa sehingga terefleksi kepekaanya terhadap perasaan dan hak orang lain;

d. Meningkatkan kemampuan individu untuk menyatakan dan mengekspresikan dirinya dengan enak dalam berbagai situasi sosial;
e. Menghindari kesalahpahaman dari pihak lawan komunikasi.   Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan latihan assertif adalah untuk melatih individu mengungkapkan dirinya, mengemukakan apa yang dirasakan dan menyesuaikan diri dalam berinteraksi sehingga dapat menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam berkomunikasi.

Perilaku Asertif (skripsi dan tesis)

Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilah assertiveness atau assertion, yang artinya titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif. Frensterhim dan Baer, mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkah laku atau perilaku asertif orang yang berpendapat dari orientasi dari dalam, memiliki kepercayan diri yang baik, dapat mengungkapkan pendapat dan ekspresi yang sebenarnya tanpa rasa takut dan berkomunikasi dengan orang lain secara lancar. Sebaliknya orang yang kurang asertif adalah mereka yang memiliki ciri terlalu mudah mengalah atau lemah, mudah tersinggung, cemas, kurang yakin pada diri sendiri, sukar mengadakan komunikasi dengan orang lain, dan tidak bebas mengemukakan masalah atau hal yang telah dikemukakan. Nelson dan Jones (2006) menjelaskan bahwa perilaku asertif adalah perilaku yang merefleksikan rasa percaya diri dan menghormati diri sendiri dan orang lain. hal ini sejalan dengan pengertian perilaku asertif yang dikemukakan oleh Alberti dan Emmons, yaitu perilaku asertif meningkatkan kesetaraan dalam hubungan sesama manusia, yang memungkinkan kita untuk menunjukkan minat terbaik kita, berdiri sendiri tanpa hatrus merasa cemas, mengeekspresikan perasaan kita dengan jujur dan nyaman, melatih kepribadian kita yang sesungguhnya tanpa menolak kebenaran dari orang lain. 22 Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah perilaku sesesorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut, emosi, perasaan, pikiran serta keinginan dan kebutuhan secara terbuka, tegas dan jujur tanpa perasaan cemas atau tegang terhadap orang lain, tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain.

Pengertian Assertive Training (skripsi dan tesis)

 Assertive training merupakan salah satu teknik dalam terapi behavioral. Menurut Willis (2004) terapi behavioral berasal dari dua arah konsep yakni Pavlovian dari Ivan Pavlov dan skinerian dari B.F Skinner. Mula-mula terapi ini dikemabangkan oleh Wolpe untuk menanggulangi neurosis. Neurosis dapat dijelaskan dengan mempelajari perilaku yang tidak adaptif melalui proses belajar. Dengan kata lain perilaku yang menyimpang bersumber dari hasil belajar di lingkungan. Willis (2004) menjelaskan bahwa assertive training merupakan teknik dalam konseling behavioral yang menitikberatkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya. Assertive Training adalah suatu teknik untuk membantu klien dalam hal-hal berikut: a. Tidak dapat menyatakan kemarahan atau kejengkelannya; b. Mereka yang sopan berlebihan dan membiarkan orang lain mengambil keuntungan padanya; c. Mereka yang mengalami kesulitan berkata “tidak”; d. Mereka yang sukar menyatakan cinta dan respon positif lainnya; e. Mereka yang merasakan tidak punya hak untuk menyatakan pendapat dan pikirannya. Selain itu Gunarsih (2007) dalam bukunya Konseling dan Psikoterapi menjelaskan pengertian latihan asertif yaitu prosedur latihan yang diberikan kepada klien untuk melatih perilaku penyesuaian sosial melalui ekspresi diri dari perasaan, sikap, harapan, pendapat, dan haknya. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa assertive training atau latihan asertif adalah prosedur latihan yang diberikan 21 untuk membantu peningkatan kepercayaan diri dalam mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain

Pendekatan Behavioral (skripsi dan tesis)

Pendekatan konseling behavioral adalah pendekatan yang berfokus pada tingkah laku klien yang luas cakupannya. Sering kali seseorang mengalami kesulitan karena tingkah laku yang kurang atau berlebihan dari kelaziman. Konselor yang mengambil pendekatan tingkah laku berupaya membantu klien mempelajari cara bertindak yang baru dan tepat, atau membantunya mengubah atau menghilangkan tindakan yang berlebihan. Cormier dkk (dalam Gladding, 2012), mengungkapkan bahwa pendekatan behavioral juga berguna dalam menangani kesulitan yang berhubungan dengan kegelisahan, stres, kepercayaan diri, hubungan dengan orang tua, dan interaksi sosial. James & Gilliland (dalam Gladding. 2012) menjelaskan bahwa Pada dasarnya, pendekatan behavioral diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku yang maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan. Seorang konselor dapat mengambil beberapa peranan, bergantung pada orientasi tingkah lakunya dan tujuan klien. Bagaimanapun juga umumnya konselor yang menggunakan pendekatan behavioral, aktif di dalam sesi konseling. Sebagai hasilnya, klien belajar, tidak belajar, atau mempelajari ulang cara 19 berperilaku yang spesifik. Dalam proses itu, konselor berfungsi sebagai konsultan, guru, penasihat, fasilitator, dan pendukung. Konselor behavioral memberikan instruksi atau memberikan tenaga pendukung di lingkungan klien yang membantu proses perubahan. Konselor behavioral yang efektif bekerja dari suatu perspektif yang luas dan melibatkan klien di dalam setiap tahapan konseling. Pada dasarnya konselor ingin membantu klien untuk menyesuaikan diri dengan baik terhadap kondisi kehidupannya, dan mencapai tujuan pribadi dan profesionalnya. Langkah besar dalam pendekatan behavioral adalah bahwa konselor dan klien mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Satu aspek yang penting dari peran klien dalam pendekatan behavioral adalah klien didorong untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru dengan maksud memperluas perbendaharaan tingkah laku adaptifnya. Dalam terpi, klien dibantu untuk menggeneralisasikan dan mentransfer belajar yang diperoleh di dalam situasi konseling ke dalam situasi di luar konseling. konseling ini belum lengkap apabila verbalisasi-verbalisasi tidak atau belum diikuti oleh tindakan-tindakan. Klien harus berbuat lebih dari sekedar memperoleh pemahaman-pemahaman, sebab dalam pendekatan ini klien harus bersedia mengambil resiko. Masalah-masalah dalam kehidupan nyata harus dipecahkan dengan tingkah laku baru di luar konseling,berarti fase tindakan merupakan hal yang esensial. Keberhasilan dan kegagalan usahausaha menjalankan tingkah laku baru adalah bagian yang vital dari perjalanan konseling

Pengertian bimbingan dan konseling (skripsi dan tesis)

Menurut Prayitno (1995) menyatakan bahwa Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku. Dan Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuankemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. Jadi, dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling adalah proses pemberian bantuan yang diberikan oleh seorang profesional dalam hal ini adalah seorang konselor kepada seorang konseli atau lebih, dimana bimbingan dan konseling ini adalah untuk memandirikan konseli 18 dalam menyelesaikan masalahnya serta dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Ada dua macam pemberian bantuan yang diberikan jika dilihat dari jumlah konseli yang diberi bantuan, yaitu konseling perseorangan dan bimbingankonseling kelompok. Dan dalam penelitian ini peneliti menggunakan bimbingan kelompok dalam praktek aplikasi penelitian

Fungsi Komunikasi Interpersonal (skripsi dan tesis)

Tanpa kita sadari, keberadaan komunikasi interpersonal telah berperan aktif dalam kehidupan, bahkan tidak sedikit manusia yang melakukan praktik komunikasi interpersonal ini. Menurut Enjang (2009: 77-79) komunikasi Interpersonal memiliki fungsi yaitu :

 a. Memenuhi kebutuhan sosial dan psikologis. Dengan komunikasi inetrpersonal, kita bisa memenuhi kebutuhan sosial atau psikologis kita;
b. Mengembangkan kesadaran diri. Melalui komunikasi interpersonal akan terbiasa mengembangkan diri;

c. Matang akan konvensi sosial. Melalui komunikasi interpersonal kita tunduk atau menentang konvensi sosial;
d. Konsistensi hubungan dengan orang lain. Melalui komunikasi interpersonal kita menetapkan hubungan kita. Kita berhubungan dengan orang lain, melalui pengalaman dengan mereka, dan melalui percakapan– percakapan bersama mereka;

 e. Mendapatkan informasi yang banyak. Melalui komunikasi interpersonal, kita juga akan memperoleh informasi yang lebih. Informasi yang akurat 17 dan tepat waktu merupakan kunci untuk membuat keputusan yang efektif;
f. Bisa mempengaruhi atau dipengaruhi orang lain

Pentingnya Komunikasi Interpersonal

Sebagai makhluk sosial, komunikasi interpersonal sangat penting bagi kebahagiaan hidup kita. Jhonson (Supratiknya, 2003:9) menunjukkan beberapa peranan yang disumbangkan oleh komunikasi interpersonal dalam rangka menciptakan kebahagiaan hidup manusia, yaitu sebagai berikut :

1. Komunikasi interpersonal membantu perkembangan intelektual dan sosial kita;
2. Identitas dan jati diri kita terbentuk dalam dan lewat komunikasi dengan orang lain;
3. Dalam rangka menguji realitas disekeliling kita serta menguji kebenaran kesan-kesan dan pengertian yang kita miliki tentang di dunia disekitar kita, kita perlu membandingkannya dengan kesan-kesan dan pengertian orang lain tentang realitas yang sama;

4. Kesehatan mental kita sebagian besar juga ditentukan oleh kualitas komunikasi atau hubungan kita dengan orang-orang lain, lebih-lebih orang-orang yang merupakan tokoh-tokoh signifikan (significant figure) dalam hidup kita.   Jadi, secara tidak langsung dengan berkomunikasi individu akan mengenali jati dirinya. Komunikasi juga memberikan berbagai informasi yang dapat membantu individu untuk belajar dan mengembangkan kemampuan intelektualnya. Kondisi mental seseorang juga dipengaruhi oleh kualitas komunikasinya. Oleh karena itu, sebagai makhluk sosial komunikasi interpersonal merupakan hal yang penting bagi individu

Ciri-Ciri Komunikasi Interpersonal (skripsi dan tesis)

Komunikasi interpersonal bersifat dialogis, dalam arti arus balik antara komunikator dengan komunikan terjadi langsung, sehingga pada saat itu juga komunikator dapat mengetahui secara langsung tanggapan dari komunikan, dan secara pasti akan mengetahui apakah komunikasinya positif, negatif dan berhasil atau tidak. Apabila tidak berhasil, maka komunikator dapat memberi kesempatan kepada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya. Menurut Kumar (dalam Wiryanto, 2005: 36) bahwa ciri-ciri komunikasi interpersonal yaitu: a. Keterbukaan (openess), yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang diterima di dalam menghadapi hubungan interpersonal; b. Empati (empathy), yaitu merasakan apa yang dirasakan orang lain. c. Dukungan (supportiveness), yaitu situasi yang terbuka untuk mendukung komunikasi berlangsung efektif. d. Rasa positif (positivenes), seseorang harus memiliki perasaan positif terhadap dirinya, mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi kondusif untuk interaksi yang efektif. e. Kesetaraan atau kesamaan (equality), yaitu pengakuan secara diamdiam bahwa kedua belah pihak menghargai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. 15 Berdasarkan paparan diatas mengenai ciri-ciri komunikasi interpersonal, dapat disimpulkan bahwa dalam komunikasi interpersonal, agar diperoleh komunikasi yang efektif maka dibutuhkannya keterbukaan (opennes), empati (empathy), sikap mendukung (supportivenes), rasa positif (positivenes) dan kesetaraan (equality).

Pengertian Komunikasi Interpersonal (skripsi dan tesis)

Pada hakikatnya komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara komunikator dan komunikan. Komunikasi ini paling efektif mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang. Komunikasi interpersonal bersifat dialogis. Artinya, arus balik terjadi langsung. Komunikator dapat mengetahui tanggapan komunikan saat itu juga. Komunikator mengetahui tanggapan komunikan saat itu juga. Komunikator mengetahui secara pasti apakah komunikasinya positif, negatif, berhasil atau tidak. Jika tidak berhasil maka komunikator dapat memberi kesempatan komunikan untuk bertanya seluasluasnya. Menurut Cangara (2010) komunikasi Interpersonal merupakan proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka. Sedangkan definisi umum komunikasi interpesonal menurut Enjang (2009: 68) adalah komunikasi antar orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap peserta menangkap reaksi yang lain secara langsung, baik verbal maupun nonverbal. Selain itu, Kellerman dan Peter (2001) dalam bukunya Interpersonal Communication mendefinisikan komunikasi interpersonal sebagai komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang memiliki karakteristik yaitu komunikasi terjadi dari satu orang ke orang lain, komunikasi berlangsung secara tatap muka dan isi dari komunikasi itu merefleksikan karakter pribadi dari tiap individu itu sebaik hubungan dan peran sosial mereka. 14 Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih secara langsung (tatap muka) dan terjadi timbal balik secara langsung pula baik secara verbal maupun non-verbal

Pengertian Komunikasi (skripsi dan tesis)

Komunikasi mencakup pengertian yang luas dari sekedar wawancara. Setiap bentuk tingkah laku mengungkapkan pesan tertentu, sehingga juga merupakan sebentuk komunikasi. Sedangkan Rogers bersama Kuncaid (Cangara, 2010) mendefinisikan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. Secara sempit komunikasi diartikan sebagai pesan yang dikirimkan seseorang kepada satu atau lebih penerima dengan maksud sadar untuk mempengaruhi tingkah laku penerima. Setiap bentuk komunikasi setidaknya dua orang saling mengirimkan lambang-lambang yang memiliki makna tertentu. Lambanglambang tersebut bisa bersifat verbal berupa kata-kata, atau bersifat nonverbal berupa ekspresi atau ungkapan tertentu dan gerakan tubuh Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian ide, gagasan atau pesan-pesan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara lisan maupun tulisan untuk tujuan tertentu

Proses Komunikasi (skripsi dan tesis)

Proses komunikasi dibagi menjadi dua tahapan (Ridwan, 2013) :

 1. Proses komunikasi secara primer adalah sebuah cara penyampaian pikiran atau perasaan seseorang dengan orang lain dan biasanya disampaikan dengan (bahasa, isyarat, warna, gambar)
2. Proses komunikasi secara sekunder adalah sebuah cara penyampaian pikiran atau perasaan dengan dibantu media dan menggunakan alat atau sarana, seperti contohnya (email, telepon, televisi, surat kabar, radio, dan lain-lain). Proses komunikasi sekunder ini semakin menunjukan keefektifan dan efisien seiring dengan berkembang nya teknologi saat ini. Jika dikaitkan dengan penelitian ini, rumah sakit Telogorejo Semarang melakukan proses keduanya

Komunikasi Organisasi (skripsi dan tesis)

Komunikasi dalam suatu organisasi merupakan hal penting dalam menciptakan kesamaan pemahaman atas informasi yang disampaikan satu sama lain. Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan sebagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi formal merupakan komunikasi yang disetujui oleh suatu organisasi atau kelompok itu sendiri yang bersifat terorientasi pada kepentingan organisasi. Yang berisi cara kerja dalam suatu organisasi atau kelompok, produktifitas, dan berbagai macam pekerjaan yang harus dilakukan dalam suatu organisasi. Misal : memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Sedangkan komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Yang orientasinya bukan hanya pada organisasi saja akan tetapi lebih pada anggotanya secara individual. Komunikasi yang efektif yang terjalin dapat ditunjukan dengan peningkatan kinerja karyawan karena telah berhasil menunjukan kerjasama yang baik (Garnet et al, 2008). Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan perusahaan harus membuat strategi yang baik agar hasil yang diinginkan dapat tercapai. Kualitas manajemen sebuah perusahaan dinilai dari proses karyawannya berkomunikasi (Razi dan More, 2008).

Pemikiran Fenomenologi Alfred Schutz (skripsi dan tesis)

Schutz memusatkan perhatian pada cara orang memahami kesadaran orang lain, akan tetapi ia hidup dalam aliran kesadaaran diri sendiri. Persefektif yang digunakan oleh Schutz untuk memahami kesadaran itu dengan konsep intersubyektif. Yang dimaksud dengan dunia intersubyektif ini adalah kehidupan dunia (life-word) atau dunia kehidupan sehari-hari (Ritzer & Douglas 2007: 94). Menurut Schutz, manusia mengkonstruksi makna diluar arus utaman pengalaman melalui proses “tipikasi”. Hubungan antarmakna pun diorganisasikan melalui proses ini, atau biasa disebut stock of knowledge. Jadi kumpulan pengetahuan memiliki kegunaan praktis dari dunia itu sendiri, bukan sekedar pengetahuan tentang dunia. Inti dari pemikiran Schutz (Kuswarno, 2013: 18) adalah bagaimana memahami tindakan sosial melalui penafsiran. Proses penafsiran dapat digunakan untuk memperjelas atau memeriksa makna yang sesungguhnya, sehingga dapat memberikan konsep kepekaan yang implicit. Schutz meletakan hakikat manusia dalam pengalaman subjektif, terutama ketika mengamil tindakan dan mengambil sikap terhadap dunia kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, Schutz mengikuti pemikiran Husserl, yaitu proses pemahaman aktual kegiatan kita, dan pemberian makna terhadapnya, sehingga terefleksi dalam tingkah laku. Schutz (Kuswarno, 2013: 19) mengawali pemikirannya dengan mengatakan bahwa objek penelitian ilmu sosial pada dasarnya berhubungan dengan dengan interpretasi terhadap realitas. Orang-orang saling terikat ketika membuat interpretasi ini. Peneliti berusaha untuk menyamakan persepsi dengan informan. Persamaan persepsi dapat terbentuk apabila adanya komunikasi yang terus menerus sehingga peneliti dapat menemukan makna dari informan sebagai objek penelitian. Peneliti harus menggunakan metode interpretasi yang sama dengan orang yang diamati, sehingga peneliti bisa masuk kedalam dunia interpretasi dunia orang yang dijadikan objek penelitian. Menurut Schutz, tindakan manusia adalah bagian dari posisinya dalam masyarakat (Kuswarno, 2013: 38). Ada dua aspek yang dibahas dalam teori fenomenologi, berdasarkan pemikiran Schutz (Kuswarno, 2013: 109-111).yaitu : 1) Aspek intersubyektif, yakni makna subjektif yang terbentuk dalam dunia sosial oleh aktor berupa sebuah “kesamaan dan kebersamaan”. Pembentukan makna dapat dihasilkan dari proses berbagi makna antarindividu. . 2) Aspek historis, yaitu tindakan yang beriorentasi pada waktu. Ada dua hal yang dilihat dari aspek historis, yaitu motif tujuan (in order motive) dan motif alasan (because motive). Motif tujuan merupakan motif yang dimiliki oleh informan untuk mencapai tujuan tertentu ketika mereka menafsirkan dan melakukan sebuah tindakan. Motif alasan merupakan pijakan atau pemahaman yang melatarbelakangi informan sehingga membentuk pemahaman tersendiri dalam penafsiran tindakan tersebut.

Pengertian Fenomenologi (skripsi dan tesis)

Morissan menjelaskan dalam bukunya Teori Komunikasi (2013: 31) Tradisi Fenomenologi memfokuskan perhatian terhadap pengalaman sadar seseorang individu.Teori komunikasi yang masuk dalam tradisi fenomenologi berpandangan bahwa manusia secara aktif menginterpretasikan pengalaman mereka sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan. Tradisi fenomenologi memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi dan interprestasi dari pengalaman subjektif manusia. Pendukung teori ini berpandangan bahwa cerita atau pengalaman individu adalah lebih penting dan memiliki otoritas lebih besar dari pada hipotesis penelitian sekalipun. Pernahkah anda berbaring di suatu tempat terbuka pada malam hari yang gelap, sambil memandang kelangit yang ditaburi bintang-bintang nan jauh disana? (hal ini mungkin pernah kita lakukan pada masa kecil dulu). Sebagian orang yang melakukan ini mungkin pernah membayangkan dan merenung betapa luasnya alam semesta dan bertanya mungkinkah ada makhluk lain yang hidup diluar sana. Ketika melihat kerlap-kerlip bintang, kita pun berpikir mengenai cahaya bintang, kecepatan cahaya, jarak anatara bintang dengan kita, waktu yang dibutuhkan cahaya hingga sampai kemata kita, dan seterusnya. Orang pun mencoba memperluas pengetahuan tentang langit dengan menggunakan teleskop. Proses untuk mengetahui melalui pengalaman langsung ini merupakan wilayah pembahasan fenomenologi, tradisi kedua dalam disiplin ilmu komunikasi (Morissan, 2013: 31). Istilah phenomenon mengacu pada kemunculan sebuah benda, kejadian, atau kondisi yang dilihat. Fenomenologi merupakan cara yang digunakan manusia untuk memahami dunia melalui pengalaman langsung. Peneliti hendak mengetahui sesuatu dengan sadar menganalisis serta menguji persepsi dan perasaan peneliti tentangnya (Kuswarno, 2013: 1). Kuswarno pun menyatakan bahwa tujuan fenomenologi adalah mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran, dan dalam tindakan, seperti bagaimana fenomenologi tersebut bernilai atau diterima secara estetis. Fenomenologi mencoba mencari sebuah pemahaman manusia dalam mengkonstruksi kerangka intersubjektif, karena pemahaman kita mengenai dunia dibentuk oleh hubungan kita dengan orang lain, hal ini jelas bahwa fenomenologi mengkonstruksikan sebuah pengalaman berdasarkan pengetahuan yang dilakukan manusia dengan adanya sebuah hubungan dengan orang lain (Kuswarno, 2013: 2).

Pengertian dan Pemikiran Fenomenologi (skripsi dan tesis)

Memahami metodelogi fenomenologi, akan lebih jelas dengan mengikuti pemikiran dari Schutz. Dialah yang pertama kali membuat penelitian sosial berbeda dari pendahulunya, yang berorientasi positivistik. Walaupun plopor fenomenologi adalah Husserl, Schutz adalah orang pertama yang menerapkan fenomenologi dalam penelitian ilmu sosial. Itulah sebabnya dalam pemabahasan metodelogi fenomenologi, Schutz mendapat prioritas yang utama. Selain itu, melalui Schutz-lah pemikiran-pemikiran Husserl yang dirasakan abstrak pada masa itu dapat dimengerti

Keunggulan Jejaring Sosial Facebook (skripsi dan tesis)

Sumadirian menjelaskan bahwa facebook menawarkan banyak kelebihan dibandingkan dengan pendahuluannya e-mail. Pada facebook, kita saling berkomunikasi dengan menampakkan wajah kita, foto-foto zaman dulu atau foto-foto dan video terkini kita. Dengan facebook, tiap orang mendadak menjadi narsis, senang bergaya, tampil menjadi peragawanperagawati genit centil, atau muncul jadi aktor dan aktris seksi (Sumadiria, 2014: 238). Facebook adalah situs web jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid Ardsley High School (Madcoms, 2009: 4). Seperti yang sudah diutarakan diatas bahwa jumlah layanan jejaring sosial yang beredar di internet sangat banyak sekali, mulai dari friendster, myspace, Hi5, twitter, Linkedin, Bebo, Fupei, Digli dan masih banyak lagi, nah tentu banyak alasan kenapa memilih facebook, hingga menjadikan layanan ini menjadi sangat booming sampai saat ini. Dilihat dari segi tampilannya facebook lebih simple, banyak pengguna jejaring sosial yang mengatakan bahwa tampilan facebook lebih bersih, rapih dan sederhana itulah kesimpulan saat kita menggunakan facebook. Dalam mengelola user facebook lebih serius, jika kita bermain-main di facebook akan sangat jarang kita dapati user ganda atau user yang hanya iseng menggunakan akun. Hal ini sudah diantisipasi oleh facebook, oleh karena itu tidak akan kitajumpai nama user dengan menggunakan karakter-karakter aneh. Facebook sangat serius dan professional dalam mengelola akun dan masih banyak lagi keunggulan yang di suguhkan facebook seperti dapat menulis dengan space dan karakter perhuruf yang cukup leluasa yaitu dengan 420 sampai 63.206 karakter (Madcoms, 2009: 6).

Pengertian Jejaring Sosial Facebook (skripsi dan tesis)

Dalam bentuk yang sederhana, suatu jaringan sosial adalah peta semua ikatan yang relevan antar simpul yang dikaji. Jaringan peta semua ikatan yang relevan antar simpul yang dikaji. Jaringan tersebut dapat pula digunakan untuk menentukan modal sosial aktor individu. Konsep ini sering digambarkan dalam diagram jaringan sosial yang mewujudkan simpul sebagai titik dan ikatan sebagai garis penghubungnya (Madcoms, 2009: 2). Jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi. Jejaring sosial terbesar antara lain facebook, myspace, twitter dan instagram. Facebook adalah suatu jenis jejaring sosial yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk menjalin hubungan pertemanan dengan seluruh orang yang ada di belahan dunia untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Facebook merupakan situs pertemanan yang dapat digunakan oleh manusia untuk bertukar informasi, berbagi foto, video, dan lainnya (Madcoms, 2010: 1)

Awal Mula Media Sosial (skripsi dan tesis)

Dibalik lahirnya media sosial dewasa ini, pertumbuhannya tidak terlepas dari dampak kemajuan teknologi internet yang pesat. Meskipun internet banyak disalah gunakan oleh penggunanya, namun internet menjadi sebuah “nama” penting dibalik perkembangan World Wide Web (WWW) hingga sekarang. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas (Madcoms, 2009: 1).

a. Sejarah Singkat Internet
Pertama kali internet merupakan jaringan komputer yang dibentuk tahun 1970-an yang disebut Arpanet (Advanced Research Project Agency Network) yaitu komputer yang dibentuk oleh departemen pertahanan Amerika Serikat. Yang untuk selanjutnya jaringan ini diperbaharui dan dikembangkan dan menjadi tulang punggung terbentuknya internet sekarang (Noegroho, 2010: 48). Membayangkan internet sebagai jaringan komputer adalah tidak dapat dibenarkan. Jaringan komputer hanyalah medium yang membawa informasi. Daya guna internet terletak pada informasi itu sendiri bukan pada jaringan komputer, sehingga dapat dikatakan bahwa internet merupakan sumber daya yang berorientasi kemanusia. Internet memberikan kesempatan pada pemakai seluruh dunia untuk mempergunakan sumber daya informasi tersebut secara bersama-sama. Dapat mengirim dan menerima elektronik mail (e-mail) atau membentuk hubungan jaringan komputer lain, untuk hal ini diperlukan jaringan terkomunikasi dan komputer yang memadai serta perangkat lunak sebagai browser (penjelajah) (Noegroho, 2010: 48-49). Internet merupakan sebuah jaringan antar-komputer yang saling berkaitan. Jaringan ini tersedia secara terus-menerus sebagai pesan-pesan elektronik, termasuk email, transmisi file, dan komunikasi dua arah antar-individu atau komputer. Hal yang membuat internet mampu menarik perhatian dunia adalah dengan adanya penemuan mosaic tahun 1993, yakni sebuah browser untuk World Wide Web (WWW) yang menyebabkan internet bisa diakses (Saverin & Tankard, 2008: 6). Bulletin Board Service dalam (Noegroho, 2010) menjelaskan bahwa fasilitas internet yang memungkinkan pemakai melakukan kegiatan seperti: memilih satu grup diskusi atau lebih yang dianggap menarik, secara berkala mengecek item berita yang baru muncul, mengeposkan suatu nota ke grup diskusi untuk dibaca pengakses lainnya. Layanan internet yang juga menarik adalah transfer file secara elektronis, yaitu File Transfer Protocol (FTP) digunakan untuk mentransfer satu salinan file dari sebuah komputer ke komputer lain melalui internet. Internet telah ditempatkan pada pisau bermata dua, dari titik kerawanan dan keamanannya (Noegroho, 2010: 48-50). Media sosial mempunyai banyak bentuk, diantaranya yang paling popular yaitu, blog, twitter dan facebok. Facebook merupakan salah satu jejaring sosial yang paling mudah digunakan. Karena hanya memerlukan waktu yang singkat tetapi informasi yang disampaikan dapat langsung menyebar secara luas (Zarella, 2010: 31).

Pengertian Media Sosial (skripsi dan tesis)

Dewasa ini teknologi HP sudah demikian maju fiture layanannya, dahulu hanya digunakan untuk menerima dan menelpon serta mengirim dan menerima Short Message System (SMS), namun sekarang sudah dipadukan dengan teknologi audio dan video, sehingga bisa mengirim gambar dan suara (Noegroho, 2010: 2). McLuhan menjeaskan bahwa seluruh teknologi komunikasi sudah menjangkau pancaindra manusia seperti sentuhan, penciuman, rasa, pendengaran dan pengelihatan. Bahkan teknologi komunikasi dapat membawa seseorang individu melintasi batas ruang dan waktu serta mendapatkan informasi yang tidak didapat sebelumnya. Manusia telah menjadikan teknologi media sebagai jendela dunia atau “a window to the world” dan dapat mengetahui kejadian-kejadian yang jauh jaraknya tanpa kita hadir langsung di lokasi kejadian (Noegroho, 2010: 4). Teknologi komunikasi sekarang telah berhasil mengintegrasikan teknologi telekomunikasi, teknologi informasi dan teknologi multimedia atau teknologi telematika. Ketika teknologi tersebut berjalan sendiri-sendiri tentunya dampak yang dihasilkan belum sebesar apabila bersatu seperti sekarang. Bervariatif pelayanan baru untuk mendapatkan informasi karena didukung teknologi telekomunikasi menjadi keniscayaan. Pelayanan baru tersebut pada hakekatnya adalah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan informasi yang disajikan dalam berbagai bentuk. Karena manusia meng-encode dan men-decode informasi menggunakan panca indranya (mata, hidung, telinga, mulut, dan kulit), maka pelayanan inipun berupaya menyajikan informasi dalam bentuk gambar, grafik, teks, suara (Noegroho, 2010: 4). Pada dasarnya media sosial merupakan perkembangan mutakhir dari teknologiteknologi web baru berbasis internet, yang memudahkan semua orang untuk dapat berkomunikasi, berpartisifasi, saling berbagi dan membentuk sebuah jaringan secara online, sehingga ada keringanan untuk menyebar luaskan konten merek sendiri. Post di blog, tweet, atau video youtube dapat direproduksi dan dapat dilihat secara langsung oleh jutaan orang secara gratis (Zarella, 2010: 2-3). Pengertian media sosial atau dalam bahasa inggris “social media” menurut tata bahasa, terdiri dari kata “social” yang memiliki arti kemasyarakatan atau sebuah interaksi dan “media” adalah sebuah wadah atau tempat sosial itu sendiri. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisifasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, wiki, dan jejaring sosial utamanya facebook dan twitter merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat diseluruh dunia (Asm. Romli, 2012: 104). Sedangkan menurut Nasrullah (2015: 20) media sosial merupakan media yang digunakan untuk mempublikaskan konten profil, aktivitas, atau pendapat pengguna sebagai media yang memberikan ruang bagi komunikasi dan interaksi dalam jejaring sosial. Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein (2010: 101), mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran usergenerated”.Sosial media dapat pula dideskripsikan sebagai aplikasi berbasis internet dimana para penggunanya dapat berbagi informasi, opini, pandangan, pengalaman, dan perspektif. Bentuk sosial media sendiri sangat beragam, termasuk aplikasi yang bersifat community content seperti youtube, situs jejaring sosial (instagram, twitter, dan tentu saja facebook), blog seperti tumblr, dan kolaborasi projek seperti Wikipedia. Semua aplikasi tersebut memiliki konten yang diciptakan, diperbaharui, dan dipelihara oleh para pengguna sendiri secara individual dan disediakan untuk pengguna lain yang menggunakan aplikasi tersebut, tanpa perlu membayar dan bersifat sukarela

Internet sebagai New Media (skripsi dan tesis)

Saverin & Tankard menjelaskan dalam buku Teori Komunikasi (2008: 443) media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada peneriman informasi, dan yang dimaksud dengan baru adalah sesuatu yang dapat menciptakan suatu inovasi ataupun perubahan yang dapat melahirkan sesuatu yang sangat diinginkan seseorang. New media atau media baru adalah sebuah terminologi untuk menjelaskan konvergensi antara teknologi komunikasi digital yang terkomputerisasi serta terhubung ke dalam jaringan. Termasuk dalam new media atau media baru adalah internet, selain internet tidak termasuk ke dalam new media, seperti media cetak, televisi, majalah, Koran, dan lainlain. New media juga bisa diartikan sebagai produk teknologi komunikasi di media massa yang akan datang bersama-sama dengan komputer digital. Media baru dideskripsikan sebagai media yang dapat menayangkan konten atau informasi secara interaktif, audien dimampukan untuk menanggapi setiap informasi dengan mudah, pembaca bisa bertindak secara aktif untuk menyampaikan informasi, dan pembaca dapat berkomunikasi dan bekerja sama pembaca atau anggota lainnya. Istilah “media baru” ini sering muncul untuk aplikasi web 2.0, aplikasi yang identik dengan konten digital yang dapat didistribusikan secara massif dan interaktif melalui internet. Konten internet berupa gabungan berbagai jenis media seperti teks, gambar, suara, dan video ditambah dengan kemampuan interaktifnya mengalahkan segenap media yang pernah ada. Internet adalah jaringan komuputer dunia yang mengembangkan Arpanet (Advanced Research Project Agency Network), suatu sistem komunikasi yang terkait dengan pertahanan keamanan yang dikembangkan pada tahun 1960-an. Manfaat sistem komunikasi yang berjaringan ini dengan cepat ditangkap oleh para peneliti dan pendidik secara umum. Akhirakhir ini, melalui komputer dirumah, modem, dan warnet, serta melalui layanan-layanan seperti Web-TV, Internet hadir untuk publik. Pada keadaan seperti ini pun masih ada beberapa orang yang tak setuju bahwa internet merupakan sebuah media massa baru. Internet berkembang secara fenomenal, baik dari segi jumlah host computer (komputer induk) maupun dari segi jumlah penggunanya, selama beberapa tahun terakhir (Saverin & Tankard, 2008: 443). Levy menggambarkan (Severin & Tankard, 2008: 6) internet sebagai “saluran komunikasi yang tidak terbatas, pembangunan komunikasi, iklan elektronik dan interaksi yang sangat kompleks yang mengaburkan batas antara penyedia dan konsumen”. Dapat disimpulkan bahwa Levy menggambarkan komunikasi melalui saluran internet tidak memiliki batasan, sehingga pengguna layanan internet perlu berhati-hati terhadap informasi yang mereka terima. Seperti yang dijelaskan oleh Saverin & Tankard (2008: 8-9) banyak pengguna layanan internet yang juga menyadari bahwa mereka juga perlu berhati-hati terhadap informasi yang mereka terima. Para pengguna internet dan layanan jasa iklan seharusnya meninjau kembali ketepatan informasi dari layanan ini. Berita yang diterima oleh masing-masing pengguna kadang memuat informasi yang bisa dipercaya, tetapi bisa juga hanya memuat rumor, spekulasi, pernyataan yang sengaja diselewengkan, dan penipuan. Situasi ini sebenarnya dapat memacu para jurnalis serta professional lain (yaitu orang-orang yang memiliki keahlian untuk menilai sebuah informasi) untuk menguji kebenaran berita, dan yang terpenting adalah memberikan pengarahan tentang mana yang penting dan mana yang tidak. Tulisan Mashall McLuhan adalah sumber gagasan yang kaya untuk melakukan riset tentang media baru. Gagasan inti McLuhan bahwa the medium is the message dapat diaplikasikan pada internet atau pada bentuk-bentuk khusus world wide web, seperti situs-situs berita online. Gagasan Mcluhan bahwa media baru sering memanfaatkan media lama sebagai isi juga dapat diterapkan pada internet. Beberapa penelitian telah mendokumentasikan kecenderungan koran-koran online untuk mengemas kembali materi-materi dari koran-koran cetak. Tentunya, gagasan Mcluhan tentang “desa global” tampaknya semakin dekat pada realita dengan internet. Berbagai pertanyaan menarik tentang seperti apa bentuk desa global ini dapat disinggung oleh para peneliti. Gagasan McLuhan tentang kematian atau penurunan cetakan juga merupakan gagasan provokatif. Dengan munculnya hypertext, kita tidak lagi terbatas pada model teks linier yang dikatakan oleh Mcluhan sebagai fitur dasar buku-buku dan bentuk cetakan yang lebih kuno lainnya (Saverin & Tankard, 2008: 458).

Perubahan Komunikasi Massa di Era Internet (skripsi dan tesis)

Berubahan terbesar dibidang komunikasi 40 tahun terakhir (sejak munculnya TV) adalah penemuan dan pertumbuhan internet. Salah satu perubahan teknologi baru itu menyebabkan dipertanyakannya kembali definisi komunikasi itu sendiri. Definisi komunikasi massa yang sebelumnya sudah cukup jelas komunikasi massa bisa didefinisikan dalam tiga ciri menurut Wright (Severin & Tankard, 2008: 4):

 1. Komunikasi massa diarahkan kepada audience yang relatif besar, heterogen, dan anonim.
 2. Pesan-pesan yang disebarkan secara umum, sering dijadwalkan untuk bisa mencapai sebanyak mungkin anggota audiens secara serempak dan sifatnya sementara.
3. Komunikator cenderung berada atau beroperasi dalam sebuah organisasi yang komplek yang mungkin membutuhkan biaya yang besar.
Tetapi internet, newsgroups, mailing list, perbincangan di radio yang mengundang telepon dari pendengarnya, World Wide Web, televisi kabel multisaluran, dan buku-buku yang melampirkan disket-disket komputer, yang tidak dapat dikategorikan dengan mudah apakah mereka termasuk dalam komunikasi massa atau bukan. Internet berbeda dengan media-media yang lebih tradisional ini. Dari pada mengubah hubungan antara khalayak dan industri, internet mengubah definisi komponen-komponen yang berbeda dalam proses komunikasi, dan sebagai hasilnya, mengubah hubungan antara komponen yang satu dan yang lain. Pada internet, individu tunggal dapat berkomunikasi dengan kahlayak luas, seperti halnya sebuah perusahaan raksaksa dan multinasional yang memproduksi sebuah program jaringan televisi. Perusahaan atau korporasi ini cocok dengan definisi terdahulu sumber komunikasi massa-namun tidak demikian dengan pengguna internet. Umpan balik dalam komunikasi massa secara tradisional dideskripsikan sebagai umpan balik yang dapat tersimpulkan dan tertunda. Akan tetapi, umpan balik online dapat saja, dan sangat mungkin, bersifat segera dan langsung. Ini lebih mirip dengan umpan balik dalam komunikasi antarpribadi dari pada umpan balik komunikasi massa. Definisi ulang elemen-elemen komunikasi yang dipengaruhi oleh internet ini memfokuskan kembali perhatian pada isu-isu seperti kebebasan berekspresi, privasi, tanggung jawab, dan demokratis (Baran, 2012: 402)

Karakteristik Komunikasi Massa (skripsi dan tesis)

Menurut Sumadiria (2014: 20) dengan merujuk kepada pendapat para pakar
komunikasi, karakteristik atau ciri-ciri spesifik komunikasi massa, yaitu; (1) Komunikator komunikasi massa melembaga; (2) Komunikasi massa berlangsung satu arah; (3) Pesan komunikasi massa bersifat umum dan diterima serempak, (4) Ditunjuk kepada khalayak yang lebih luas, tersebar, anonim, dan heterogen; dan (5) Selintas.
1) Komunikator Melembaga
Komunikasi massa bersifat institusional. Ini berarti komunikator komunikasi massa bersifat melembaga. Ia merupakan kumpulan individu dari berbagai keahlian dalam ranah sejenis yang tergabung dalam sebuah lembaga yang terorganisasi dengan rapi, baik, dan professional. Karena institusional, maka gaya komunikator suatu media komunikasi massa tidaklah berbeda satu sama lain. Semuanya sama. Semuanya seragam. Sebagai contoh, gaya seluruh presenter berita Metro TV Jakarta ketika membacakan berita, tidak ada yang
berbeda satu sama lain. Mereka menapilkan gaya serupa. Mereka tampil dalam gaya yang  sama karena harus tunduk kepada kebijakan redaksional stasiun televisi tersebut. Itulah konsekuensi dari komunikator yang bersifat institusional atau melembaga (Sumadiria, 2014: 21).
2) Komunikasi Satu Arah
Pesan komunikasi massa bersifat satu arah, maksudnya tidak terjadi umpan balik langsung. Tidak terdapat proses dialogis. Kita sebagai pemirsa televisi misalnya, tetap saja hanya sebagai penerima.Posisi kita pasif. Ketika dilayar kaca disajikan tayangan infotainment dengan banyak kisah perselingkuhan, perceraian, dan hujan caci-maki dari pihak-pihak yang sedang bertikai dikalangan selebritis kelas karbitan, kita tidak bisa melayangkan protes seketika kepada pembawa acara untuk mengalihkan pembicaraan ke
topik lain yang bersifat mendidik. Seperti kaset yang sedang diputar, mereka terus saja bicara (Sumadiria, 2014: 22).
3) Khalayak Tersebar Anonim Heterogen
Khalayak komunikasi massa tersebut dimana-mana; dikota dan dikampung, digunung dan dilembah, disungai dan dipantai. Karena tersebar dimana-mana, maka khalayak komunikasi massa tidak dikenal dan tidak kenal satu sama lain. Mereka diikat oleh media secara psikologis tetapi mereka tidak diikat dan tidak terikat oleh antar mereka sendiri. Dengan kata lain mereka hanya terhubung dengan media massa tetapi antar mereka tidak terhubungkan satu sama lain. Dalam ilustrasi sederhana, kita dirumah kita masing-masing
menyaksikan siaran televisi. Tetapi antar penghuni rumah tidak mengenal satu sama lain, meskipun secara fisik geografis hanya dipisahkan oleh batas administratif rukun warga (RW) atau kelurahan. Jadi, khalayak komunikasi massa selain tersebar juga anonim. Kita tidak tahu siapa tetangga kita di RW sebelah. Begitu juga sebaliknya. Satu sama lain tidak saling mengenal
tentu saja, dalam anonimitas tersebut terdapat heterogenitas. Artinya dalam kelompok-kelompok masyarakat yang tidak saling mengenal satu sama lain tetapi terhubungkan oleh tayangan acara-acara televisi, ditemukan banyak unsur kemajemukan, dari soal jenis kelamin sampai dengan kepersoalan tingkat kependidikan, ras, warna kulit, dan bahkan keterikatan sosial budaya serta keyakinan beragama (Sumadiria, 2014: 23).
4) Selintas
Selintas berarti sesaat, sambil lalu, sambil lewat, sekilas, sepintas, hanya sekelebatan. Sebagai contoh, siaran berita radio, bersifat selintas. Dalam bahasa popular hanya numpang lewat. Begitu saat itu singgah ditelinga, bahkan belum dapat dicerna dengan baik maknanya, pesan berita radio sudah hilang lenyap tak berbekas. Selintas mengandung arti juga tak bisa diulang atau diulang-ulang. Walau sudah lewat dari pendengaran kita, maka berita radio tidak akan pernah bisa dibacakan ulang. Sifat radio siaran yang selintas itu, sangat bertolak belakang dengan sifat surat kabar atau majalah. Surat kabar dan majalah, sifatnya tercetak diatas kertas. Karena tercetak, maka berita surat kabar dan majalah terdokumentasikan. Karena terdokumentasikan, maka kita bisa membaca berita dan tulisan surat kabaratau majalah kapan saja dan dimana saja. Jika banyak yang kurang dipahami maknanya, kita juga bisa membacanya berulang-ulang.
Lebih dari itu, kita bisa bertanya kepada yang lebih tahudan lebih ahli dengan cara menunjukan bagian-bagian kalimat yang tidak bisa dipahami maknanya tersebut sifat berita radio siaran dan televisi siaran selintas, dan sifat berita surat kabar dan majalah yang tercetak terdokumentasikan, pada akhirnya melahirkan filosofi jurnalistik yang berbeda bagi industri media. Filosofi media cetak misalnya, yakni surat kabar dan majalah: apapun yang ditulis dan dilaporkan haruslah memenuhi klasifikasi kelengkapan informasi,
keakuratan data, ketajaman analisis, dan dampak informasi, edukasi, serta daya referensi tinggi yang ditimbulkannya. Dalam bahasa sederhana, laporan media cetak harus unggul  dalam kedalaman dan ketajaman analisis. Sedangkan laporan radio dan televisi siaran harus unggul dalam kecepatan dan kesaksian dari lokasi prestiwa (Sumadiria, 2014: 24).
5) Pesan Umum Diterima Serempak
Ketika kita sedang menonton acara televisi “Metro The Morning” di Metro TV, tanpa kita sadari pesan tersebut juga dinikmati secara bersamaan oleh ribuan, bahkan jutaan orang di seluruh Indonesia. Acara ini sangat mustahil disiarkan hari ini di Jakarta dan di putar keesokan paginya di Kalimantan.Acara itu di siarkan secara serempak dan saat itu juga. Bahkan kalau kita menikmati acara Liga Champion atau Piala Dunia, acara tesebut dinikmati oleh hampir seluruh masyarakat dunia.
Inilah salah satu ciri komunikasi massa selanjutnya. Bahwa dalam komunikasi massa ada keserempakan dalam proses penyebaran pesan-pesannya.  serempak berarti khalayak bisa menikmati media massa tersebut hampir bersamaan. Bersamaan tentu juga bersifat relatif. Majalah atau media sebagai contohnya, surat kabar bisa dibaca ditempat terbit pukul 5 pagi, tetapi di luar kota baru pukul 6 pagi, ini masalah teknis semata. Namun, harapan komunikator dalam komunikasi massa, pesan tetap ingin dinikmati secara bersamaan oleh para pembacanya. Tidak terkecuali bahwa pesan tersebut (lewat surat kabar) disebar (didistribusikan) oleh media cetak secara bersamaan pula (Baran, 2008: 28-29).

Pengertian Komunikasi Massa (skripsi dan tesis)

Apapun bentuknya komunikasi massa akan terus menerus berperan penting dalam kehidupan kita. Komunikasi massa menjadi mata dan telinga bagi masyarakat. Komunikasi massa memberi masyarakat sarana untuk mengambil keputusan dan membentuk opini kolektif yang bisa digunakan untuk bisa lebih memahami diri mereka sendiri. Ia merupakan sumber
utama untuk mengembangkan nilai-nilai dalam masyarakat (Severin & Tankard, 2008: 4). Lantas, apa yang dimaksud dengan media massa? Apa pula hubungannya dengan komunikasi massa? Keduanya tidak bisa disamakan, Media massa menunjuk kepada bentuk saluran penyampai pesan (media channel). Sedangkan komunikasi massa menunjuk kepada proses kegiatannya (media activity). Sebagai contoh, surat kabar, tabloid, majalah, radio,
televisi, film, media online internet, itulah yang dimaksud dengan media massa, atau lengkapnya media komunikasi massa. Ia terlihat kasat mata menurut bentuk, ukuran, dan volumenya. Sedangkan bagaimana pesan-pesan melalui surat kabar, radio, atau televisi dipersiapkan, diolah, dan dipublikasikan kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya, maka itulah yang di maksud dengan proses komunikasi massa (Sumadiria, 2006: 1).
Banyak definisi tentang komunikasi massa yang telah dikemukakan. Namun, dari sekian banyak definisi itu ada benang merah kesamaan definisi satu sama lain. Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media (media cetak dan elektronik) sebab awal perkembangannya saja, komunikasi massa berasal dari pengembangan kata media of mass communication (media komunikasi massa). Media massa (saluran) yang dihasilkan oleh teknologi modern. Hal ini perlu ditekankan sebab ada media yang bukan media massa yakni  media tradisional seperti kentongan, angklung, gamelan, dan lain-lain. Jadi, disini jelas media massa menunjuk pada hasil produk teknologi modern sebagai saluran dalam komunikasi massa (Nurudin, 2013: 4).
Dari definisi komunikasi massa diatas maka internet masuk kedalam media massa dan jika ditinjau dari ciri-ciri, fungsi, dan elemennya, internet jelas masuk dalam bentuk komunikasi massa dengan demikian bentuk komunikasi massa bisa ditambah dengan internet. Bisa jadi pula beberapa definisi yang tidak menyebutkan internet dalam definisi komunikasinya karena definisi itu dibuat beberapa puluh tahun yang lalu ketika internet belum mewabah
seperti sekarang ini maka, sah-sah saja jika kita memasukan internet dalam bentuk komunikasi massa. Jadi, media massa itu antara lain: televisi, radio, internet, majalah, koran, tabloid, buku dan film (film bioskop, dan bukan negatif film yang dihasilkan kamera)

Arah Komunikasi (skripsi dan tesis)

Komunikasi dapat berjalan mengalir secara vertikal atau lateral,
lateral di artika sejajar antara mereka yang berada tingkat satu wewenang. Lebih jauh, dimensi vertikal dapat dibagi aliran komunikasi ke bawah dan ke atas.
1. Komunikasi kebawah
Komunikasi yang mengalir dari satu tigkatan dalam kelompo atau organisasi
ke tingkatan yang lebih rendah disebut komunikasi ke bawah. Ketika berpikir
mengenai para manajer yang berkomunikasi dengan karyawan-karyawannya, kita
biasanya memikirkan pola ke bawah ini. Komunikasi inilah yang digunakan oleh
para pemimpin kelompok dan manajer untuk menetapkan tujuan, menyampaikan
instruksi, menginformasikan kebijakan serta prosedur

Proses komunikasi Organisasi (skripsi dan tesis).

Sebelum komunikasi dapat terjadi, dibutuhan suatu tujuan, yang
terekpresikan sebagai pesan untuk disampaikan. Pesan tersebut disampaikan dari seorang pengirim kepada seorang penerima. Ia disandikan (diubah menjadi suatu bentuk simbolis) dan dialihkan melalui perantara (saluran) kepada penerima, yang  lalu menerjemahkan ulang (membaca sandi) pesan yang diberikan oleh pengirim hasilnya adalah transfer makna dari satu orang kepada orang lain.
Proses komunikasi (Robin, hal 6, 2008) meliputi : (1) pengirim, (2)
penyandian, (3) pesan, (4) saluran, (5) penerjemahan sandi, (6) penerima, (7)
gangguan, (8) umpan balik. Pengirim mengirimkan sebuah pesan dengan cara
menyadikan pemikirannya. Pesan tersebut adalah produk fisik aktual dari
penyadian oleh pengirim.
Saluran formal (Formal channels) disediakan oleh organisasi dan
berfungsi sebagai penyampai pesan-pesan yang berhubungan dengan aktivitas profesional dari para anggotanya. Secara tradisional, saluran ini mengikuti rantai otoritas dalam organisasi. Saluran informal tersebut bersifat spontan dan timbul sebagai tanggapan terhadap tanggapan-tanggapan individual.
Penerima adalah objek yang menjadi sasaran dari pesan itu. Tetapi,
sebelum pesan tersebut dapat diterima, simbol – simbol di dalamya harus
diterjemahkan menjadi bentuk yang dapat dipahami oleh penerima. Langkah ini disebut penerjemah sandi dalam pesan, Gangguan mewakili berbagai hambatan komunikasi yang mengacaukan kejelasan pesan. Contoh-contoh sumber gangguan meliputi masalah persepsi, muatan informasi yang berlebihan, kesulitan-kesulitan semantik, atau perbedaan kultural. Mata rantai terkhir dalam lingkaran umpan balik, Umpan balik adalah sarana pengecekan mengenai seberapa berhasil kita telah menyampaikan pesan.
Dalam teori fungsional komunikasi kelompok (Morissan, hal 141, 2009)
memandang proses sebagai instrumen yang digunakan kelompok untuk
mengambil keputusan dengan menekankan hubugan antara kualitas komunikasi dan kualitas keluaran (output) kelompok. Menurut teori ini, komunikasi berfungsi dalam sejumlah hal yang akan menentukan atau memutuskan hasil- hasil yang dicapai kelompok.
Komunikasi adalah alat untuk menyampaikan informasi, cara yang
digunakan amggota kelompok untuk menjeljahi dan mengenai kesalahan dan
komunikasi juga berfungsi sebagai alat persuasi. Pendekatan yang digunakan teori fungsional sangat dipengaruhi oleh sifat pragmatis ajaran diskusi kelompok kecil.
Pendekatan ini meletakkan sebagian besar dasar pemikirannya pada karya ahli
filsafat john Dewey .
Menurut Dewey (dalam Morissan, hal 141, 2009) Proses pemecahan
dalam kelompok terdiri dari atas enam langkah yaitu (1) Pernyataan kesulitan; (2) Penentuan masalah;(3)Analisis masalah; (4)Saran penyelesaian;
(5)Membandingkan alternatif dan pengujian alternatif terhadap seperangkat
tujuan atau kriteria (6)Melaksanakan solusi terbaik. Teori-teori fungsional
membahas cara- cara komunikasi mempengaruhi masing-masing dari keenam
elemen tersebut. Berikut empat fungsi komunikasi untuk menghasilkan keputusan yang efektif terutama dalam pelaksanaan program paket B yang terdiri atas :
1. Analisis masalah
Biasanya dimulai dengan proses pengambilan keputusan dengan
mengindentifikasikan dan menilai suatu masalah dan pada tahap ini mereka harus menjawab berbagai pertanyaaan, seperti apa yang terjadi, mengapa terjadi, siapa yang terlibat?apa bahayanya?siapa yang dirugikan?analisis masalah harus  dilakukan, analisi masalah harus dilakukakn ketika kita menjawab “ya” terhadap pertanyaan : apakah telah terjadi sesuatu yang memerlukan perbaikan dan perubahan.
2. Penentuan tujuan
Kelompok harus mengumpulkan dan mengevaluasi informasi terkait dengan
masalah yang tengah dihadapi. Ketika kelompok membahas berbagai
kemungkinan solusi, informasi akan terus diterima dan terkumpul.
3. Indentifikasi alternatif
Pada tahap ini, kelompok membuat berbagai usulan alternatif untuk mengatasi masalah. Hirokawa dan Gouran (dalam Morissan) menekankan pentingnya memiliki sejumlah solusi alternatif ketika kelompok mengambil keputusan mengenai masalah yang tengah dihadapi.
4. Evaluasi konsekuensi
Berbagai solusi alternatif yang tersedia kemudian dievaluasi dengan tujuan
akhirnya adalah untuk mengambil keputusan. Anggota kelompok harus menguji keunggulan dari setiap pilihan yang tersedia untuk menentukan pilihan solusi yang paling memenuhi kriteria yang dinilai penting

Fungsi-Fungsi Komunikasi (skripsi dan tesis)

Komunikasi (dalam Robin) memiliki empat fungsi utama : Kontrol,
Motivasi, Ekspresi emosional, dan Informasi, Komunikasi menjaga motivasi
dengan cara menjelaskan kepada para karyawan yang harus dilakukan, seberapa baik pekerjaan mereka, dan apa yang dapat dilakukan, seberapa baik pekerjaan mereka, dan apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kinerja sekiranya hasilnya kurang baik.
Fungsi terakhir komunikasi berhubungan dengan perannya dalam
memfasilitasi pengambilan keputusan. Komunikasi memberikan fungsi yang
dibutuhkan oleh individu dan kelompok untuk mengambil keputusan dengan cara menyampaikan data untuk mmengindentifikasi dan mengevaluasi pilihan-pilihan alternatif yang ada.
Tidak ada satu dari keempat fungsi komunikasi tersebut yang harus
dipahami sebagai lebih penting dibanding yang lainnya. Agar dapat berjalan
secara efektif, kelompok- kelompok kerja harus melakukan kontrol atas para
anggotanya, merangsang para anggotanya untuk bekerja, menyediakan cara bagi mereka untuk meluapkan ekspresi emosional mereka dan membuat pilihanpilihan keputusan

Pengertian Komunikasi (skripsi dan tesis)

Komunikasi yang efektif (Muhamad, Arni. Hal 1, 2009) adalah penting
bagi semua sorganisasi, oleh karena itu, para pimpinan organisasi dan para
komunikator dalam organisasi perlu memahami dan menyempurnakan
kemampuan komunikasi mereka (Kohler 1981), Seperti yang dikemukakan oleh Forsdale (hal 1, 1987) adalah ahli sosiologi Amerika mengatakan bahwa,
“Communication is the process by which an individual transmits stiuly (usually
verbal) to modify the behavior of oter individuals “ dengan kata-kata lain
komunikasi adalah proses individu mengirim stimulus yang biasanya dalam
bentuk verbal untuk mengubah tingkah laku orang laku orang lain.
Dalam proses komunikasi dapat terjadi adanya gangguan (noise) yang
disebabkan oleh berita yang disampaikan tidak jelas, atau gangguan lain yang
mempengaruhi media komunikasi. Bila hal ini terjadi, keadaan tersebut
menunjukkan bahwa komunikasi tidak efektif. Lebih lanjut Robbin (2003 :78)
Mengatakan suatu komunikasi dikatakan efektif apabila mengandung aspek-aspek
sebagai berikut :
1. Langsung (To the point)
Artinya informasi yang disampaikan secara langsung atau tidak ragu.
2. Assertive
Artinya dalam penyampaian informasi tidak ada perasaan takut untuk
menyampaikan apa yang diinginkan dan menyampaikan pertanyaan
mengapa.
3. Ramah dan bersahabat (Congenial)
Artinya informasi yang disampaikan sebaiknya dibarengi dengan sikap
dan airmuka yang ramah dan ada kesan bersahabat.
4. Kejelasan (Clarity)
Kejelasan mengandung arti bahwa bahasa maupun informasi yang
disampaikan harus jelas atau mudah dimengerti.
5. Ketepatan (Accuracy)
Bahasa yang digunakan harus sesuai dengan apa yang sesungguhnya ingin
disampaikan.
6. Konteks (Context)
Bahasa dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan
lingkungan dimana komunikasi itu terjadi.
7. Alur (Flow)
Komunikasi yang efektif akan tercapai apabila dalam penyampaiannya
informasi tersebut disampaikan dengan alur bahasa secara runtut dan
terjadi dua arah.
8. Budaya (Culture)
Aspek ini tidak saja menyangkut bahasa dan informasi, tetapi juga
menyangkut tata krama dan etika.
Pada definisi ini mereka menganggap komunikasi sebagai suatu proses,
bukan sebagai suatu hal. Selain itu terdapat yang dimaksudkan dengan model
komunikasi adalah gambaran yang sederhana dari proses komunikasi yang
memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi dengan komponen
lainya. Penyajian model dalam bagian ini dimaksudkan untuk mempermudah
memahami proses komunikasi dan melihat komponen dasar yang perlu ada dalam suatu komunikasi.

Stakeholder dalam event (skripsi dan tesis)

Stakeholder dalam event adalah suatu kesatuan dari bermacam-macam
pihak yang terlibat dalam suatu event. Keterlibatan pihak-pihak ini
memiliki tingkatan masing-masing sesuai motif individual, kekuasaan,
sumber, besarnya pengaruh, dan peran. Kesuksesan suatu event bisa
ditentukan oleh besarnya pengaruh dan dukunganyang diberikan dari
stakeholder. Konsep suatu event juga menjadi salah satu factor dalam
membentuk sebuah kelompok stakeholder. Misalnya, event festival seni
akan menarik komunitas seni dan lembaga-lembaga kesenian lainnya.
Panitia dan perencana event juga harus teliti dan tepat dalam menyeleksi
dan mengkoordinir stakeholder yang akan berpartisipasi dalam event.
Kerja sama yang baik dengan stakeholder dapat membawa efek yang luas
bagi event maupun kumpulan stakeholder lainnya, seperti yang dikatakan
oleh Bramwell dan Lane dalam buku Event Management (McCartney,
2010: 261) :
“Each stakeholder controls resources, such as knowledge,
expertise, constituency, and capital, but on their own they
are unlikely to posses all the resources necessary to achieve
their objectives and to plan effectively for their future in
relation to a significant tourism development issue”
Menurut Sulyus Natoradjo dalam buku Event Organizing (2011: 20),
stakeholder event adalah semua pihak, baik perorangan, asosiasi, maupun
organisasi internal atau eksternal, yang memiliki kepentingan dan peran
dalam event. Kelompok dari stakeholder tidak hanya terdiri dari pihak
yang melakukan investasi secara financial terhadap event, tetapi juga
semua pihak yang terlibat baik secara politik, emosional, motivasi atau
dukungan, serta berminat pada event tersebut.
Menurut peneliti, stakeholder event adalah pihak-pihak penting yang
terlibat dalam mendukung kesuksesan suatu event dengan fungsi dan
kepentingan masing-masing yang berbeda. Stakeholder dan event
memiliki keterikatan yang saling berpengaruh, artinya, kesuksesan event
dipengaruhi oleh efektivitas stakeholder, dan nama baik stakeholder juga
dipengaruhi oleh event yang diinvestasikannya. Jika stakeholder
berfungsi dengan baik, maka event dapat berjalan lancer dan sukses
terselenggara, dan jika event sukses maka nama baik stakeholder bisa
meningkat dan dipandang baik oleh publik.
Fomburn and Shanley dalam Khasali membagi stakeholders menjadi
dua bagian yaitu stakeholders internal dan eksternal. (Khasali, 2008 : 63)
Stakeholders internal yaitu :
1. Pemegang saham, yaitu pihak yang mempunyai modal untuk
membantu berjalannya perusahaan, sehingga pihak tersebut mempunyai
kuasa atas perusahaan tersebut.
2. Manajemen dan Top Executive, adalah orang-orang yang
bertanggung jawab untuk menjaga kelangsungan perusahaan serta
pembuat kebijakan dalam perusahaan sehingga mereka menjadi sumber
berita majalah bisnis dan ekonomi.
3. Karyawan, adalah orang-orang yang tidak memegang jabatan
struktural.
4. Keluarga karyawan, sangat penting artinya untuk menjaga relasi
dengan keluarga karyawan karena mereka pun akan menaruh minat
yang sama besar dengan karyawan karena mereka secara tidak langsung
telah mengetahui perusahaan lewat karyawan.
Stakeholders eksternal yaitu :
1. Konsumen, yaitu pihak yang mempunyai hak untuk memilih
barangnya sendiri.
2. Penyalur, yaitu orang yang menyalurkan barang-barang kepada
konsumen.
3. Pemasok, yaitu orang-orang yang menyediakan pasokan barangbarang dari penyalur kepada konsumen.
4. Bank, sebuah lembaga komersial yang tidak hanya mengandalkan
bunga yang diterima melainkan jaminan, atas pengambilan pinjaman
pokok debitur.
5. Pemerintah, adalah penentu kebijakan, bahwa kebijakan dibuat dengan
melihat kebutuhan akan masyarakat.
6. Pesaing, adalah pihak yang dianggap ancaman oleh perusahaan.

7. Komunitas, yaitu masyarakat yang tinggal, hidup dan berusaha di
lokasi sekitar perusahaan.
8. Pers
Dari teori stakeholder, peneliti menarik kesimpulan bahwa stakeholder
adalah semua pihak yang memiliki kepentingan dan tanggung jawab
yang tidak secara langsung terhadap kelangsungan suatu event.
Stakeholder terbagi atas dua yaitu internal dan eksternal, dimana pihak
internal lebih memiliki peran besar atas perencanaan dan pelaksanaan
event, sedangkan pihak eksternal memberi dukungan yang secara fisik
tidak terlihat namun secara teknis memberikan pengaruh yang cukup
besar.

Jenis Event (skripsi dan tesis)

Ruslan dalam buku Special Event (Natoradjo, 2011: 135)
membagi event dalam tiga kelompok, yaitu:
a. Calendar event
Jenis event ini terdiri dari acara reguler pada tanggal
tertentu secara spesifik (hari, bulan, tahun) secara periodik
setiap tahunnya.
b. Momentum event
Jenis event yang bersifat khusus dan dilakukan pada
momen-momen tertentu.
c. Special event
Special event adalah acara yang dilakukan untuk
mendapatkan perhatian media atau khalayak tertentu
terhadap perusahaan atau produk perusahaan. Special
event dari program public relations adalah sebuah ajang
khusus yang dilaksanakan secara spesial yang dikaitkan
dengan kejadian atau peristiwa tertentu.

Elemen Event (skripsi dan tesis)

Dalam buku Event Organizing (2011: 95), Hoyle mengidentifikasi lima
elemen yang berguna untuk merancang desain event dan
mengembangkan strategi komunikasi pemasaran event. Berikut adalah
pemaparan lima elemen dan definisinya:
a. Why – Mengapa
Mengapa event ini dibutuhkan dan yang penjelasan akan latar
belakang dan tujuan penyelenggaraan event, serta manfaat event
bagi pengunjung.
b. Who – Siapa
Siapa yang harus hadir dan sasaran cakupan audiens atau
khalayak sasaran harus jelas dan tepat
c. When – Kapan
Kapan diselenggarakannya (jadwal/waktu penyelenggaraan event)
d. Where – Di mana
Penentuan tempat/lokasi event dengan segala pertimbangan mulai
dari akses, keunikan, fasilitas, kenyamanan, dan kelebihan dari
lokasi tersebut.
e. What – Apa
Penjelasan tentang program dan tujuan penyelenggaraan event,
serta program-programnya.
23
Pernyataan Hoyle juga didukung oleh pernyataan Pudjiastuti dalam
bukunya Special Event yang menjabarkan 5W elemen event, sebagai
berikut (2010: 20) :
a. Elemen Who : menjawab pertanyaan khalayak sasaran,
kebutuhan, karakteristik, dan siapa saja yang turut mengambil
bagian dalam event.
b. ElemenWhy : menjawab tujuan yang ingin dicapai dari event
c. Elemen When : menjawab seputar waktu pelaksaan yang tepat dan
berapa lama durasi event
d. Elemen Where : menjawab seputar tempat dan lokasi yang
strategis untuk mengadakan acara.
e. Elemen What : menjawab seputar bentuk event yang ingin
diselenggarakan dan apakah sesuai dengan sumber daya yang
tersedia.
f. Elemen How : menjawab seputar bagaimana konsep event dan
perancangan yang sesuai untuk mencapai tujuan.
Semua elemen ini dibutuhkan dalam pertimbangan dan perencanaan
untuk membuat konsep event. Elemen-elemen ini membantu perusahaan
atau panitia dalam menentukan rincian kegiatan, khalayak sasaran,
penentuan lokasi, penentuan konsep, penentuan waktu pelaksanaan, dan
bagaimana suatu event ingin dilaksanakan (regulasinya).

Pengertian Event (skripsi dan tesis)

Definisi event adalah suatu kegiatan yang diselenggarakan untuk memperingati hal-hal penting sepanjang hidup manusia, baik secara
individu maupun kelompok yang terikat secara budaya, adat, tradisi, dan
agama dengan tujuan tertentu serta melibatkan lingkungan masyarakat
yang diselenggarakan pada waktu tertent. (Noor, 2009 : 7)
Sedangkan menurut The Chambers Dictionary , pengertian event
adalah (Allen, 2011: 17) :
Anything which happens; result; any incidence or
occurrence esp a memorable one; contingency or
possibility of occurrence; an item in a programme; a type
of horse-riding competition, often held over three days
(three days event), consisting of three sections, ie dressage,
cross-country riding and showjumping; fortune or fate; an
organized activity at a particular venue, eg for sales
promotion, fundraising.
Tujuan diadakan event menurut Tom Duncan (Pudjiastuti, 2010 : 25) :
a. Mempengaruhi target khalayak
b. Mengasosiasikan sebuah merek dengan suatu kegiatan, gaya
hidup, maupun individu tertentu
c. Menjangkau target khalayak yang lebih luas
d. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap merek, produk,
maupun perusahaan
e. Mempublikasikan sebuah merek, produk, maupun perusahaan
yang nantinya bisa meningkatkan pengetahuan khalayak
Menurut peneliti, event adalah suatu rangkaian acara atau kegiatan yang
direncanakan sedemikian rupa untuk akhirnya diselenggarakan dengan latar belakang
tertentu, misalnya untuk perayaan, peringatan, hiburan, baik secara komersil maupun
non-komersil. Salah satu tujuan utama dari event adalah pada target sasarannya atau
target pengunjung yang diharapkan akan hadir dalam event yang diadakan.

Fungsi Public Relations (skripsi dan tesis)

Fungsi dan tugas PR adalah untuk menghasilkan publisitas atas opini dan
citra positif dari public untuk organisasi maupun perusahaan. Beberapa
cara seperti events, campaign, dan programs dapat membantu PR dalam
publisitas (Ardianto, 2011 : 261). Sedangkan fungsi utama PR adalah
memberi keterangan atau pencitraan pada publik, berupa kegiatan yang
persuasif untuk mengubah pemikiran dan sikap masyarakat secara
langsung, dan berupaya untuk menyatukan sikap organisasi atau
perusahaan sesuai dengan pemikiran dan sikap masyarakat (Liliweri,
2011 : 658).
Fungsi umum PR menurut peneliti adalah untuk menjalin relasi dan
hubungan baik antara perusahaan dengan publik. Selain itu, PR memiliki
tanggung jawab yang cukup besar bagi perusahaan untuk dapat
mempertahankan dan meningkatkan citra, serta mendapatkan
kepercayaan publik

Public Relations (skripsi dan tesis)

Public Relations adalah sebuah fungsi kepemimpinan dan manajemen
yang membantu pencapaian tujuan sebuah organisasi, membantu mendefinisikan filosofi, serta memfasilitasi perubahan organisasi. Para praktisi PR berkomunikasi dengan semua masyarakat internal dan eksternal yang relevan untuk mengembangkan hubungan yang positif serta menciptakan konsistensi antara tujuan organisasi dengan harapan masyarakat. (Lattimore, 2010 : 10)
Menurut Cultip dan Center yang diambil dari bukunya Effective Public Relations (2006: 11) mengemukakan bahwa:
“Public Relations is the communication and interpretation, and the communications and ideas from and institutions to its publics, and the communication of information, ideas, and opinions from those publics to the institutions, in a sincere effort to establish mutuality of interest and this achieve the harmonious adjustment of an institution to its community.”
PR pemasaran atau Marketing Public Relations adalah PR yang secara khusus
mendukung aktivitas penjualan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kesadaran dan membangun penjualan melalui hubungan antara merek dan konsumen. Ini berarti menggunakan PR sebagai bagian penting dalam aktivitas pemasaran

Komunikasi Internal dalam Organisasi (skripsi dan tesis)

Organisasi sebagai dasar menunjukan adanya pembagian tugas antara individu di dalam organisasi itu dan diklasifikasikan sebagai tenaga pimpinan dan yang dipimpin. Untuk mengawasi proses dalam pelaksanaan tujuan yang ingin dicapai, manager atau administrator membuat peraturan sedemikian rupa sehingga ia tidak perlu berkomunikasi satu per satu dengan seluruh
karyawan. Manager membuat kelompok-kelompok menurut jenis
pekerjaannya dan mengangkat seseorang sebagai penanggung
jawab utama. Sehingga pimpinan cukup berkomunikasi dengan
para penanggung jawab kelompok. Untuk pengaturan dalam sistem komunikasi internal, maka terdapat 2 jenis alur komunikasi, yaitu (Onong Uchjana, 2011:122) :
a. Komunikasi Vertikal
Komunikasi vertical adalah komunikasi yang memiliki arah dari atas ke bawah (downward communication) dan dari bawah ke atas (upward communication). Dalam komunikasi vertical downward, pimpinan memberikan instruksi, petunjuk, informasi, penjelasan, dan lain-lainnya kepada bawahannya.
Dalam komunikasi upward, bawahan memberikan laporan, saran, pengaduan, dan sebagainya kepada pemimpin. Komunikasi vertikal dapat dilakukan secara langsung antara pimpinan tertinggi dengan seluruh karyawan, bisa juga
bertahap melalui divisi-divisi yang banyaknya bergantung pada besarnya organisasi. Komunikasi vertikal yang lancar, terbuka, dan saling mengisi merupakan pencerminan sikap kepemimpinan yang demokratis, yakni jenis kepemimpinan yang paling baik di antara jenis-jenis kepemimpinan lainnya.
b. Komunikasi Horizontal
Komunikasi horizontal ialah komunikasi secara mendatar, antara anggota staf dengan anggota staf, karyawan sesama karyawan, dan sebagainya. Berbeda dengan komunikasi vertikal yang sifatnya lebih formal, komunikasi horizontal
berlangsung tidak formal. Mereka berkomunikasi satu sama lain bukan pada waktu mereka bekerja, melainkan saat istirahat, rekreasi, atau pada waktu pulang kerja. Dalam situasi komunikasi yang seperti ini, desas-desus cepat sekali menyebar yang sering kali mengenai hal-hal yang menyangkut
pekerjaan atau tindakan pimpinan yang merugikan mereka.  Menurut Robbins dan Coulter (2007: 322), komunikasi organisasi dapat mengarah kebawah, keatas, lateral atau diagonal.
a. Komunikasi ke bawah
Komunikasi yang mengalir ke bawah dari pemimpin perusahaan ke para karyawan adalah komunikasi ke bawah. Komunikasi ke bawah digunakan untuk memberitahu, mengarahkan, mengoordinasikan, dan mengevaluasi karyawan.
b. Komunikasi ke atas
Komunikasi ke atas adalah komunikasi yang mengarah
dari ke atas dari karyawan ke manajerial yang lebih
tinggi. Para manajer bergantung kepada para karyawannya
untuk mendapatkan informasi. Laporan yang diberikan
kepada para atasan bertujuan untuk memberitahu mereka
tentang perkembangan semua masalah terkini yang terjadi
dalam perusahaan maupun seputar tugas pekerjaan.
c. Komunikasi lateral
Komunikasi lateral adalah komunikasi yang terjadi diantara semua karyawan pada tingkatan organisasi yang sama. Dalam lingkungan sekarang yang mengalami perubahan yang cepat, komunikasi horizontal sering  digunakan untuk menghemat waktu dan memudahkan koordinasi.
d. Komunikasi diagonal
Komunikasi diagonal adalah komunkasi yang memotong atau menyamping, baik dalam bidang kerja maupun tingkat organisasi. Contohnya melakukan komunikasi dengan karyawan maupun pemimpin di bagian atau divisi
yang berbeda.
Menurut peneliti, komunikasi dalam organisasi dapat terjadi secara keatas, kebawah, menyamping, dan sesama. Semua kegiatan ini pasti terjadi dan dialami oleh setiap perusahaan, karena dalam suatu perusahaan memerlukan arah komunikasi yang jelas untuk kepentingan pekerjaan masing-masing.

Fungsi Komunikasi Organisasi (skripsi dan tesis)

Fungsi Komunikasi Organisasi (Sasa Djuarsa Senjaya, 2007 : 4.8)
a. Fungsi Informatif
Organisasi sebagai suatu sistem pemrosesan informasi.
Artinya, seluruh anggota dalam organisasi tersebut
memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan
tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap
anggota organisasi melaksanakan tugasnya secara lebih
pasti. Informasi pada dasarnya diperlukan sebagai arahan
oleh semua individu yang mempunyai perbedaan
kedudukan dalam suatu organisasi. Anggota organisasi
dalam tatanan manajemen membutuhkan informasi untuk
membuat suatu kebijakan organisasi atau untuk mengatasi
konflik yang terjadi di dalam organisasi, sedangkan
anggota organisasi dalam tatanan karyawan (bawahan)
membutuhkan informasi sebagai arahan untuk
melaksanakan pekerjaan.
b. Fungsi Regulatif
Fungsi regulatif berkaitan dengan peraturan-peraturan
yang berlaku dalam organisasi. Pengaruh dari fungsi ini
terhadap organisasi adalah, pertama, atasan dalam tatanan
manajemen (yaitu yang memiliki kewenangan untuk
mengendalikan semua informasi yang disampaikan)
memiliki kewenangan untuk memberi instruksi atau
perintah, sehingga dalam struktur organisasi kemungkinan
mereka ditempatkan pada bagian atas supaya perintah
dilaksanakan sebagaimana mestinya. Kedua, berkaitan
dengan pesan. Pesan regulatif didasarkan oleh orientasi
pada saat kerja. Artinya, bawahan membutuhkan
kepastian peraturan tentang pekerjaan (yang boleh/tidak
boleh dikerjakan).
c. Fungsi Persuasif
Banyak pimpinan yang lebih memilih untuk mempersuasi
bawahannya daripada memberi perintah, karena dalam
mengatur organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak
akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang
diharapkan. Pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh
karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar
dibandingkan apabila pemimpin sering menggunakan
kekuasaan dan kewenangannya terhadap karyawan.
d. Fungsi Integratif
Setiap organisasi berusaha menyediakan saluran
komunikasi yang memungkinkan karyawan dapat
melakukan pekerjaan dengan baik. Terdapat dua saluran
yaitu saluran komunikasi formal (news letter, bulletin,
email) dan saluran komunikasi informal (perbincangan
antar pribadi, masa istirahat kerja, dll).
Menurut Robbins (2003: 4), komunikasi organisasi menjalankan
empat fungsi utama,yaitu : kendali atau pengawasan, motivasi,
pengungkapan emosional dan informasi. Setiap organisasi
mempunyai hierarki atau tatanan atas wewenang dan garis panduan
resmi yang harus dipatuhi oleh karyawan. Komunikasi membantu
perkembangan dalam motivasi dengan memberi arahan kepada para
karyawan apa yang harus dilakukan, seberapa baik kinerja karyawan,
dan apa yang dapat dilakukan untuk memajukan kinerja yang
dibawah standar.
Menurut peneliti, empat fungsi dalam komunikasi organisasi di atas
selalu ada dan terjadi pada setiap organisasi yang berjalan. Fungsifungsi diatas akan sangat dibutuhkan dalam organisasi untuk
kegiatan-kegiatan tertentu yang membutuhkan koordinasi yang besar,
misalnya dalam menggelar event.

Komunikasi Organisasi (skripsi dan tesis)

Definisi komunikasi organisasi adalah suatu sistem yang mapan dari
individu-individu yang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama,
melalui tatanan jenjang kepangkatan dan pembagian tugas. Organisasi juga
dipandang sebagai suatu struktur yang menjalankan proses pencapaian tujuan yang teratur dimana operasi dan interaksi di antara individu yang satu dengan yang lainnya berjalan secara harmonis, dinamis, dan pasti (Onong Uchjana Effendy, 2011 : 114).
Komunikasi organisasi merupakan arus informasi, pertukaran informasi
dan pemindahan arti di dalam suatu organisasi (Dr. Arni Muhammad, 2009 :
65),. Menurut Katz dan Kahn organisasi adalah sebagai suatu sistem terbuka
yang menerima energi dari lingkungannya dan mengubah energi ini menjadi
produk atau servis dari sistem dan mengeluarkan produk atau servis ini kepada lingkungan.
Menurut peneliti berdasarkan pengertian-pengertian yang telah ada
mengenai komunikasi organisasi, definisi komunikasi organisasi adalah suatu
proses pertukaran informasi dan makna untuk pencapaian tujuan bersama melalui tatanan struktur kewenangan yang berlaku. Terdapat juga peran lingkungan dan budaya yang berpengaruh dalam proses komunikasi organisasi. Seluruh proses komunikasi ini bersifat terikat dan saling ketergantungan. Dalam melaksanakan event diperlukan kekompakan dalam suatu organisasi, karena dengan melakukan komunikasi organisasi yang baik, maka proses perencanaan dan pelaksanaan event dapat berjalan sesuai harapan.

Teknik Komunikasi (skripsi dan tesis)

Teknik komunikasi ialah cara yang dianggap tepat
untuk mengerjakan sesuatu dan merupakan kecakapan yang
dimiliki oleh orang yang memiliki keahlian tertentu.Teknik
komunikasi merupakan keahlian yang dimiliki oleh
seseorang dalam menyampaikan informasi kepada pihak lain
sehingga informasi yang disampaikan dapat diterima dengan
cepat dan tepat oleh penerima informasi. Secara singkat
bahwa teknik komunikasi adalah kecakapan dalam
berkomunikasi.
Beberapa teknik komunikasi,yaitu (1) teknik
kepercayaan, (2) teknik perhubungan, (3) teknik kepuasan,

(4) teknik kejelasan, (5) teknik kesinambungan dan
konsistensi, (6) teknik persesuaian, dan (7) teknik
penggunaan saluran yang tepat.14
1) Teknik Kepercayaan (credibility technique)
berarti antara komunikator dengan komunikan harus
saling mempercayai. Tidak adanya saling percaya akan
menghambat komunikasi.
2) Teknik Perhubungan (context technique)
berarti informasi yang disampaikan harus saling
berhubungan. Antara informasi yangbarudisampaikan
tidak bertentangan dengan informasi yang
terdahulu.Apabila hal ini terjadi harus segera diberi
penjelasan mengapa hal tersebut dapat terjadi.
3) Teknik Kepuasan (content technique)
bahwa komunikasi harus memberikan kepuasan kepada
kedua belah pihak. Hal ini akan terjadi apabila
komunikasi berlangsung secara timbal-balik (dua arah).
4) Teknik Kejelasan (clarity technique)
bahwa informasi yang disampaikan harus jelas.
Kejelasan ini meliputi kejelasan akan isi informasi yang
disampaikan, kejelasan akan tujuan yang akan dicapai,
kejelasan bahasa yang dipergunakan.

5)Teknik Kesinambungan dan Konsistensi (continuity and
consistency technique)
berarti komunikasi hendaknya dilakukan secara terus
menerus dan diusahakan agar informasi yang baru tidak
bertentangan dengan informasi yang terdahulu.
6) Teknik Persesuaian (concord technique)
berarti pengiriman berita harus disesuaikan dengan
kemampuan dan pengetahuan yang pihak penerima
berita, sebaiknya mempergunakan istilah-istilah yang
mudah dimengerti oleh pihak penerima
berita.Pengiriman informasi juga harus disesuaikan
dengan situasi dan kondisi yang memungkinkan
informasi itu dapat diterima dengan baik oleh
komunikan. Dalam hal ini dapat kita ambil contoh
misalnyya seorang bawahan akan mengajukan suatu
program kepada pimpinan. Apabila program itu
diajukan pada saat pimpinan sedang menghadapi
persoalan yang berat, sudah tentu program tersebut
tidak akan diterima. Kemungkinan besar program itu
akan diterima apabila diajukan pada saat pimpinan
sedang santai, pada waktu istirahat, makan bersama dan
sebagainya.
7) Teknik Penggunaan Saluran Yang Tepat(channels of
distribution technique)
berarti bahwa dalam penyampaian informasi
hendaknya dipakai saluran-saluran komunikasi yang
sudah biasa dipergunakan dan sudah dikenal oleh para
pegawai. Saluran komunikasi yang dipergunakan
hendaknya juga disesuaikan dengan jenis dan sifat
informasi yang akan disampaikan. Informasi yang
sangat penting dan bersifat rahasia lebih tepat apabila
disampaikan secara lisan (melalui telepon, atau
melalui tatap muka)

Tahapan Dalam Komunikasi (skripsi dan tesis)

Komunikasi dikatakan berhasil apabila penerima pesan memahami pesan sebagaimana yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. Menurut Bovee dan Thill dalam buku Business Communication Today, mengatakan bahwa proses
komunikasi terdiri dari atas enam tahap, yaitu:
1. Tahap Pertama: Pengirim memiliki suatu ide atau gagasan
Sebelum proses penyampaian pesan dapat dilakukan, pengirim pesan harus menyiapkan ide atau gagasan yang ingin disampaikan kepada pihak lainatau
audiens. Ide satu orang dengan orang yang akan
disampaikan mungkin akan berbeda, bahkan seseorang
yang mengalami pengalaman yang sama terhadap suatu
hal, akan memiliki kesan yang tidak serupa.
2. Tahap Kedua: Pengirim merubah ide menjadi suatu pesan
Dalam suatu proses komunikasi, tidak semua ide
dapat diterima atau dimengerti secara sempurna. Proses
komunikasi dimulai dengan adanya ide dalam pikiran,
lalu diubah ke dalam bentuk pesan-pesan seperti dalam
bentuk kata-kata, ekspresi wajah, dan sejenisnya untuk
kemudian disampaikan kepada orang lain.
3. Tahap Ketiga: Pengirim menyampaikan pesan
Setelah mngubah ide ke dalam suatu pesan, tahap
berikutnya adalah menyampaikan pesan melalui berbagai
saluran yang ada kepada si penerima pesan. Saluran
komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan
terkadang relatif pendek, tetapi ada juga yang cukup
panjang. Panjang pendeknya saluran komunikasi yang
digunakan akan berpengaruh terhadap efektivitas
penyampaian pesan.
4. Tahap Keempat: Penerima pesan menerima pesan
Komunikasi antara seseorang dengan orang lain
akan terjadi, bila pengirim mengirimkan suatu pesan dan
penerima pesan menerima pesan tersebut. Sebagai contoh
jika seseorang mengitrim sepucuk surat, komunikasi baru
bisa terjalin bila penerima surat telah membaca dan
memahami isinya. Dan jika seseorang menyampaikan
pidato di hadapan umum, para pendengar sebagai audiens
harus dapat mendengar apa yang dikatakan dan
memahami pesan-pesan yang ingin disampaikan.
5. Tahap Kelima: Penerima menafsirkan pesan
Setelah penerima menerima pesan, tahap
berikutnya adalah bagaimana ia dapat menafsirkan pesan
tersebut. Suatu pesan yang dikirimkan harus mudah
dimengerti dan tersimpan dibenak pikiran si penerima.
Selanjutnya, suatu pesan baru dapat ditafsirkan secara
benar bila penerima pesan telah memahami isi pesan
sebagaimana yang dimaksudkan oleh si pengirim.

Menafsirkan pesan (to interpret) berarti menguraikan
atau memahami suatu pesan dengan cara tertentu.
6. Tahap keenam: Penerima memberi tanggapan dan umpan
balik Umpan balik atau feedback adalah penghubung
akhir dalam suatu mata rantai komunikasi. Umpan balik
itu merupakan suatu tanggapan penerima pesan yang
memungkinkan pengirim untuk menilai efektivitas suatu
pesan. Feedback ini bisa berupa suatu sinyal yang
bentuknya dapat berupa senyuman, tertawa, sikap
murung, atau bahkan memberi komentar. Adanya umpan
balik akan dapat menunjukkan adanya faktor-faktor
penghambat komuniukasi, misalnya perbedaan latar
belakang, perbedaan penafsiran kata, dan perbedaan
reaksi secara emosional.

Elemen Dalam Komunikasi (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa elemen-elemen dalam komunikasi, diantaranya sebagai berikut:
1. Source (sumber)
Source atau sumber adalah seseorang yang membuat keputusan untuk berkomunikasi.Sering disebut juga dengan pengirim (sender), penyandi (encoder), komunikator, pembicara (speaker).
2. The message (pesan)
Pesan adalah apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal maupun nonverbal yang berisi ide, sikap dan nilai komunikator.Pesan memiliki tiga komponen yaitu; (1) makna, (2) simbol yang digunakan untuk menyampaikan makna, (3) bentuk atau organisasi pesan.
3. The cannel (saluran)
Saluran adalah alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima.
4. The receiver (penerima)
Adalah orang yang menerima pesan.Penerima sering disebut juga dengan sasaran/ tujuan (destinationion), penyandi balik (decoder), khalayak
(audience), pendengar (listener), atau penafsir (interpreter).
5. Barriers (hambatan)
Hambatan adalah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan pemaknaan pesan yang komunikator sampaikan kepada penerima.Hambatan ini bisa berasal dari pesan, saluran, dan pendengar.
6. Feedback (umpan balik)
Adalah reaksi dan respon pendengar atas komunikasi yang komunikator lakukan.Feedback bisa dalam bentuk komentar atau tertulis, surat.
7. The situation (situasi)
Adalah salah satu elemen yang paling penting dalam proses komunikasi. Situasi atau keadaan selama komunikasi berlangsung berpengaruh terhadap mood pembicara maupun pendengar, saluran/ media yang dipakai, dan feedback audience

Tujuan Komunikasi (skripsi dan tesis)

Menurut Widjaya pada umumnya komunikasi memiliki beberapa tujuan, antara lain :
a. Supaya pesan yang disampaikan dapat dimengerti, maka komunikator harus menjelaskan kepada komunikan (penerima) dengan sebaik-baiknya dan tuntas sehingga mereka dapat mengerti dan mengikuti apa yang kita maksudkan.
b. Memahami orang lain, komunikator harus mengerti benar aspirasi masyarakat tentang apa yang diinginkan mereka.
c. Supaya gagasan dapat diterima orang lain, maka komunikator harus berusaha agar gagasan kita dapat  diterima orang lain dengan pendekatan persuasif bukan memaksakan kehendak.
d. Untuk dapat menggerakkan orang lain dalam melakukan sesuatu.
Komunikasi yang dilakukan dalam berorganisasi tentunya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Krizan menyatakan bahwa setidak-tidaknya terdapat empat tujuan komunikasi yaitu:
1. Penerima pesan dapat memahami pesan yang disampaikan oleh pengirim. Agar diperoleh pemahaman atas pesan yang disampaikan, pesan tersebut haruslah jelas dan baik. Pengirim maupun penerima harus memiliki makna yang sama terhadap pesan yang disampaikan.
2. Penerima pesan memberikan tanggapan terhadap pesan yang disampaikan (respon penerima). Tujuan selanjutnya dari komunikasi yang dilakukan oleh menajer adalah agar pihak yang diajak berkomunikasi memberikan tanggapan
atas pesan yang disampaikan. Tanggapan itu bisa berupa tanggapan positif, negatif, maupun netral.
3. Membangun hubungan saling menguntungkan (favorable relationship). Tujuan ini dimaksudkan agar terciptanya hubungan saling menguntungkan antara pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi.
4. Membangun nama baik organisasi (organizational Goodwill). Dengan komunikasi yang baik kepada internal stakeholders maupun external holders, organisasi dapat membangun nama baik organisasi itu.
Jadi secara singkat dapat dikatan bahwa komunikasiitu bertujuan memperoleh pengertian, dukungan, gagasan, dan tindakan. Setiap kali kita bermaksud mengadakan komunikasi maka kita perlu meneliti apa yang menjadi tujuan kita. Selain dari pada itu, komunikasi juga menyertakan bahasa yang
komunikatif.

Pengertian Komunikasi  (skripsi dan tesis)

Istilah komunikasi dalam bahasa Inggris communication mempunyai banyak arti. Menurut asal katanya (etimologi), istilah komunikasi berasal dari bahasa
latin, yaitu communis, yang berarti sama (common). Dari kata communisberubah menjadi kata kerja communicare, yang berarti menyebarkan atau memberitahukan informasi kepada pihak lain guna mendapatkan pengertian yang sama.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) “komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan dan berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami”.
Gerald R. Miller yang dikutip oleh Deddy Mulyana menjelaskan pengertian komunikasi sebagai berikut “komunikasi terjadi jika suatu sumber menyampaikan suatu pesan kepada penerima dengan niat yang disadari
untuk mempengaruhi perilaku penerima”.
Sedangkan menurut Stoner, Freeman, dan Gilbert (1995) mendefinisikan komunikasi sebagai the process by which people attempt to share meaning via the transmission of symbolic messages. Komunikasi adalah proses dimana seseorang berusaha untuk memberikan pengertian atau pesan kepada orang lain melalui pesan simbolis. Komunikasi bisa dilakukan secara langsung
maupun tidak langsung, dengan menggunakan berbagai media komunikasi yang tersedia.Komunikasi langsung berarti komunikasi disampaikan tanpa penggunaan mediator atau perantara, sedangkan komunikasi tidak
langsung berarti sebaliknya. Senada dengan itu, Everest M. Rogers menyatakan bahwa “komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud mengubah tingkah laku mereka. Sedangkan menurut Anwar Arifin komunikasi berarti suatu
upaya bersama-sama orang lain, atau membangun kebersamaan dengan orang lain dengan membentuk perhubungan.

Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan
bahwa komunikasi adalah proses penyampaian informasi
dan pengertian dari seorang kepada orang lain, baik verbal
maupun non verbal melalui simbol-simbol ataupun isyaratisyarat asalkan komunikasi itu dapat dipahami dan
dimengerti oleh kedua belah pihak. Dalam keadaan seperti
inilah baru dapat dikatakan komunikasi telah berhasil baik
(komunikatif). Jadi, komunikasi adalah pernyataan
manusia, sedangkan pernyataan itu dapat dilakukan dengan
kata-kata tertulis ataupun lisan, disamping itu dapat
dilakukan juga dengan isyarat-isyarat atau simbol-simbol.

Komunikasi Interpersonal/Antar Personal (skripsi dan tesis)

Menurut Carl I. Hovland, ilmu komunikasi adalah upaya yang sistematis
untuk merumuskan secara tegas asas-asas penyampaian informasi serta
pembentukan pendapat dan sikap. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah penyampaian informasi dan pengertian seseorang terhadap orang lain (Effendy, 2007:9).
R. Wayne Pace mengemukakan bahwa komunikasi antarpribadi atau
communication interpersonal merupakan proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka dimana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung dan penerima pesan dapat menerima dan menanggapi secara langsung.11 Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk verbal atau nonverbal, seperti komunikasi pada umumnya komunikasi interpersonal selalu mencakup dua unsur pokok yaitu isi pesan dan bagaimana isi pesan dikatakan atau dilakukan secara verbal atau nonverbal. Dua unsur tersebut sebaiknya diperhatikan dan dilakukan berdasarkan pertimbangan situasi, kondisi, dan keadaan penerima pesan.
Komunikasi interpersonal merupakan kegiatan aktif bukan pasif.
Komunikasi interpersonal bukan hanya komunikasi dari pengirim pada penerima pesan, begitupula sebaliknya, melainkan komunikasi timbal balik antara pengirim dan penerima pesan. Komunikasi interpersonal bukan sekedar serangkaian rangsangan-tanggapan, stimulus-respon, akan tetapi serangkaian proses saling menerima, penyeraan dan penyampaian tanggapan yang telah diolah oleh masingmasing pihak. Komunikasi Interpersonal juga berperan untuk saling mengubah dan mengembangkan. Dan perubahan tersebut melalui interaksi dalam komunikasi, pihak-pihak yang terlibat untuk memberi inspirasi, semangat, dan dorongan agar dapat merubah pemikiran, perasaan, dan sikap sesuai dengan topik yang dikaji bersama. Komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi adalah proses pertukaran informasi serta pemindahan pengertian antara dua orang atau lebih di dari suatu kelompok manusia kecil dengan berbagai efek dan umpan balik Agar komunikasi interpersonal yang dilakukan menghasilkan hubungan interpersonal yang efektif dan kerjasama bisa ditingkatkan maka kita perlu bersikap terbuka, sikap percaya, sikap mendukung, dan terbuka yang mendorong timbulnya sikap yang paling memahami, menghargai, dan saling mengembangkan kualitas. Hubungan interpersonal perlu ditumbuhkan dan ditingkatkan dengan memperbaiki hubungan dan kerjasama antara berbagai pihak. Komunikasi interpersonal dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan.

Kajian Budaya (skripsi dan tesis)

Menurut Koentjaraningrat memberikan definisi budaya sebagai sistem
gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1990: 180). Dan, James Spradley nampaknya hampir sependapat dengan Koentjaraningrat. Ia mengatakan budaya merupakan sistem pengetahuan yang diperoleh manusia melalui proses belajar, yang kemudian mereka gunakan untuk menginterpretasikan dunia sekelilingnya, sekaligus untuk menyusun strategi perilaku dalam menghadapi dunia sekitar.
Kajian budaya di Indonesia di pelopori oleh jurnal Kalam (pertama terbit
1994) yang menyegarkan peneliti kebudayaan. Kalam menunjukkan bahwa
kebudayaan itu bisa diselidiki dengan cara yang berbeda yang ditunjukkan oleh prisma (jurnal berpengaruh tahun 70-an dan 80-an). Kalam muncul ketika masih hangat-hangatnya perdebatan tentang pascamodernisme. Berbeda dengan prisma, penelitian kebudayaan yang dimuat di Kalam itu lebih sadar akan pluralisme kebudayaan dan keterkaitan antara kekuasaan dengan kebudayaan. Jurnal-jurnal lain yang juga turut merintis penelitian kebudayaan di Indonesia adalah :
a. Horison (terbit pertama 1966)
b. Ulumul Qur‟an (sudah tidak terbit)
c. Basis
d.Jurnal Seni Pertunjukkan
e. Jurnal Perempuan
Disamping jurnal-jurnal tersebut ada juga pendorong tumbuhnya kajian budaya di Indonesia melalui beberapa diskusi, debat, seminar ataupun konferensi misalnya perdebatan sastra kontekstual pada pertengahan tahun ‟80-an. Dalam terminologi disiplin Kajian Budaya (Cultural Studies) menyajikan
bentuk kritis atas definisi budaya yang mengarah pada “the complex everyday
world we all encounter and through which all move”.9 Budaya secara luas adalah proses kehidupan sehari-hari manusia dalam skala umum, mulai dari tindakan hingga cara berpikir, sebagaimana konsep budaya yang dijabarkan oleh Kluckhohn. Pengertian ini didukung juga oleh Clifford Geertz, kebudayaan
didefinisikan serangkaian aturan-aturan, resep-resep, rencana-rencana dan
petunjuk-petunjuk yang digunakan manusia untuk mengatur tingkah lakunya.
Menurut Barker, inti kajian budaya bisa dipahami sebagai kajian tentang
budaya sebagai praktik- praktik pemaknaan dari representasi. Kajian budaya bersandar pada asumsi bahwa konsumsi menentukan produksi daripada cara lain disekitarnya. Sehingga, „gaya hidup‟ masyarakat (yang menjadi cara lain dalam menunjukkan komoditas yang mereka konsumsi dan bagaimana mereka mengkonsumsinya) dianggap lebih penting, dalam hal ini, daripada hubungan tenaga kerja yang harus mereka masuki sebagai kondisi awal yang dibutuhkan pada proses konsumsi. Pendapat semacam ini menyimpulkan bahwa penanda dan keyakinan yang menempatkan seseorang dalam budaya sebagai pria dan wanita, orang kulit hitam, bangsa Latin, homo, dan lain-lainnya merupakan faktor yang lebih penting yang menunjukkan identitas mereka

Bahasa Verbal dan Non Verbal Dalam Komunikasi (skripsi dan tesis)

Dalam kebanyakan peristiwa komunikasi yang berlangsung, hampir
selalu melibatkan penggunaan lambang-lambang verbal dan non verbal secara
bersama-sama. Dalam banyak tindakan komunikasi, bahasa nonverbal menjadi komplemen atau pelengkap bahasa verbal. Lambang-lambang nonverbal juga dapat berfungsi kontradiktif, pengulangan, bahkan pengganti ungkapan-ungkapan  verbal, misalnya ketika seseorang mengatakan terima kasih (bahasa verbal) maka orang tersebut akan melengkapinya dengan tersenyum (bahasa non verbal). Maka komunikasi tersebut merupakan contoh bahwa perilaku verbal dan perilaku nonverbal bekerja bersama-sama dalam menciptakan makna suatu perilaku komunikasi.
a) Bahasa Verbal
Bahasa dan kata-kata merupakan bagian penting dalam cara
pengemasan pesan-pesan. Salah satu fenomena yang mempengaruhi
proses komunikasi antar budaya adalah proses komunikasi verbal. Pada
dasarnya, bahasa verbal dan nonverbal tidak terlepas dari konteks
budaya. Tidak mungkin bahasa terpisah dari budaya. Setiap budaya
mempunyai system bahasa yang memungkinkan orang untuk
berkomunikasi dengan orang lain. Budaya dibentuk secara kultural, dan
karena itu dia merefleksikan nilai-nilai dari budaya.
b) Bahasa Non Verbal
Manusia dipersepsikan tidak hanya melalui bahasa verbalnya,
bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual, mampu berbahasa asing
dan sebagainya), namun juga melalui perilaku nonverbalnya. Lewat
perilaku nonverbalnya, kita dapat mengetahui suasana emosional
seseorang, apakah ia sedang bahagia, bingung atau sedih. Kesan awal
kita pada seseorang sering didasarkan pada perilaku nonverbalnya yang
mendorong kita untuk mengenalnya lebih jauh. Secara sederhana, pesan nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa banyak peristiwa dan perilaku nonverbal ini ditafsirkan melalui simbol-simbol verbal. Dalam pengertian ini, peristiwa dan perilaku nonverbal itu tidak
sungguh-sungguh bersifat nonverbal. Bahasa verbal dan nonverbal dalam kenyataannya jalin menjalin dalam suatu aktivitas komunikasi tatap muka. Keduanya dapat berlangsung spontan dan serempak.
Menurut Samovar, pesan-pesan nonverbal dibagi menjadi dua kategori
besar, yakni: pertama, perilaku yang terdiri dari penampilan, gerakan dan postur tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, bau-bauan dan parabahasa. Kedua, ruang, waktu, dan diam. Sebagaimana bahasa verbal yang tidak terlepas dari budaya, begitu pula dengan bahasa nonverbal. Perilaku nonverbal seseorang adalah akar budaya seseorang tersebut. 7 Oleh karena itu, posisi komunikasi nonverbal memainkan bagian yang penting dan sangat dibutuhkan dalam interaksi komunikatif di antara orang dari budaya yang berbeda.
Hubungan antara komunikasi verbal dengan kebudayaan jelas adanya,
apabila diingat bahwa keduanya dipelajari, diwariskan dan melibatkan pengertianpengertian yang harus dimiliki bersama. Dilihat dari ini, dapat dimengerti mengapa komunikasi nonverbal dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebagaimana aspek verbal, komunikasi nonverbal juga tergantung atau ditentukan oleh kebudayaan, dimana kebudayaan menentukan perilaku-perilaku nonverbal yang mewakili atau melambangkan pemikiran, perasaan, keadaan tertentu dari komunikator dan kebudayaan menentukan kapan waktu yang tepat atau layak untuk mengkomunikasikan pemikiran, perassan, keadaan internal. Oleh karena itu, meskipun perilaku-perilaku yang memperlihatkan emosi ini banyak yang bersifat universal, tetapi ada perbedaan-perbedaan kebudayaan dalam menentukan bilamana oleh siapa dan dimana emosi-emosi itu dapat diperlihatkan

Pola Komunikasi (skripsi dan tesis)

Dalam melakukan komunikasi, diperlukan suatu proses yang
memungkinkannya untuk melakukan komunikasi secara efektif. Proses
komunikasi inilah membuat komunikasi berjalan dengan baik untuk mencapai
tujuannya. Adanya proses komunikasi, berarti terdapat suatu alat yang digunakan sebagai cara dalam berkomunikasi.
Pengertian dari pola komunikasi adalah proses yang dirancang untuk
mewakili kenyataan keterpautannya unsur-unsur yang di cakup beserta
keberlangsunganya. Hal ini untuk memudahkan pemikiran secara sistematik dan logis. Komunikasi adalah salah satu bagian dari hubungan antar manusia baik individu maupun kelompok dalam kehidupan sehari-hari dari pengertian ini jelas bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang dimana seorang menyatakan  sesuatu kepada orang lain, jadi yang terlibat dalam komunikasi itu adalah manusia itu juga.
Komunikasi berawal dari gagasan yang ada pada seseorang, gagasan itu
diolahnya menjadi pesan dan dikirimkan melalui media tertentu kepada orang lain sebagai penerima. Kegiatan berkomunikasi juga memiliki polanya sendiri. Pola komunikasi terdiri atas beberapa macam, antara lain;5
1) Pola Komunikasi Primer
Pola komunikasi primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau
perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang
(symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses
komunikasi seperti bahasa, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya.
Simbol ini secara langsung mampu menyampaikan pikiran atau perasaan
komunikator kepada komunikan.
2) Pola Komunikasi Sekunder
Pola komunikasi sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh
seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai
media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Proses
komunikasi sekunder merupakan sambungan dari komunikasi primer
untuk menembus dimensi ruang dan waktu. Surat, telepon, surat, majalah,
radio, televisi, film, internet, dan lain-lain adalah media kedua yang sering
digunakan dalam komunikasi. Media kedua ini akan memudahkan proses komunikasi dengan meminimalisir berbagai keterbatasan manusia
mengenai jarak, ruang, dan waktu.
3) Pola Komunikasi Linear
Linear di sini mengandung makna yang berarti perjalanan dari
satu titik ke titik yang lain secara lurus, berarti penyampaian pesan oleh
komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal. Oleh karena itu,
dalam proses komunikasi ini biasanya terjadi dalam komunikasi tatap
muka (face to face), tetapi juga adakalanya komunikasi bermedia. Pada
proses komunikasi ini, pesan yang disampaikan akan efektif apabila ada
perencanaan sebelum melaksanakan komunikasi.
4) Pola Komunikasi Sirkular
Sirkular secara harfiah berati bulat, bundar, atau keliling. Dalam
proses sirkular itu terjadinya feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya
arus dari komunikan kekomunikator, sebagai penentu utama keberhasilan
komunikasi. Dalam pola komunikasi seperti ini, proses komunikasi
berjalan terus yaitu adanya umpan balik antara komunikator dan
komunikan.

Teori Komunikasi (skripsi dan tesis)

Istilah “komunikasi” berasal dari bahasa latin “communicatus” atau
communicatio atau communicare yang berarti “berbagi” atau “menjadi milik
bersama”. Sedangkan menurut kamus bahasa Indonesia, kata komunikasi
mengacu pada suatu upaya yang bertujuan untuk mencapai kebersamaan. Menurut Webster New Collogiate Dictionary komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi di antara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda atau tingkah laku.
Para ahli mendefinisikan komunikasi menurut sudut pandang mereka
masing-masing. Ingat bahwa sejarah ilmu komunikasi, ia dikembangkan dari
ilmuwan berasal dari berbagai disiplin ilmu. Berikut ini adalah beberapa definisi
tentang komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut:2
1) Carl Hovland, Janis dan Kelley mengartikan komunikasi adalah
suatu proses melalui dimana seseorang yaitu komunikator
menyampaikan stimulus biasanya dalam bentuk kata-kata dengan
tujuan mengubah atau membentuk perilaku khalayak.
2) Bernard Berelson dan Gary A. Steiner mengemukakan bahwa
komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, dan lain-lain melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata,
gambar, angka-angka, dan lainnya.
3) Menurut Gode, komunikasi adalah suatu proses yang membuat
sesuatu dari semula yang dimiliki oleh seseorang (monopoli
sesorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih.
Berdasarkan pendapat dari para ahli di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa ilmu komunikasi adalah ilmu yang mempelajari usaha manusia dalam
menyampaikan isi pernyataan kepada manusia lainnya. Selanjutnya, unsur-unsur dalam proses komunikasi antara lain meliputi :
1) Komunikator-Isi pernyataan-Komunikan
Komunikator menyampaikan isi pernyataaan (pesan) kepada komunikan.
Sementara itu, komunikan menerima isi pernyataan dari komunikator. Isi
pernyataan yang disampaikan komunikator mempunyai daya pengaruh
terhadap komunikan. Daya pengaruh tersebut ditentukan oleh penguasan
ruang dan waktu serta kecepatan sampainya isi pesan dari komunikator
kepada komunikan.
2) Tindak Komunikasi
Tindak komunikasi adalah penyampaian isi pernyataan dari komunikator
kepada komunikan.

3) Saluran Komunikasi
Saluran komunikasi adalah jalan yang dilalui isi pernyataan komunikator
kepada komunikan atau jalan yang dilalui feedback (umpan balik)
komunikan kepada komunikator.
4) Peralatan Tubuh Manusia
Dalam diri manusia, komunikator menggunakan peralatan rohaniah seperti
hati nurani, akal, budi, serta naluri. Sedangkan peralatan jasmaniah seperti
mulut, telingga, kaki, tangan, mata, dan sebagainya. Baik komunikator
maupun komunikan adalah manusia. Sebab itu baik komunikator maupun
komunikan menggunakan peralatan jasmaniah dan peralatan rohaniah
dalam proses komunukasi.

Model Framing Menurut Zhongdang Pan dan Kosicki (skripsi dan tesis)

Menurut Zhongdang Pan dan Kosicki, Framing adalah strategi
konstruksi dan memproses berita. Perangkat kognisi yang digunakan
dalam mengkode informasi, menafsirkan peristiwa, dan dihubungkan
dengan rutinitas dan konvensi pembentukan makna.29 Dalam model
analisis Pan dan Kosicki terdapat dua konsepsi dari framing yang
saling berkaitan yaitu konsepsi psikologis dan sosiologis. Dalam
konsepsi psikologis, framing berkaitan dengan struktur dan proses
kognitif karena lebih menekankan bagaimana seseorang memproses
informasi dari dalam dirinya, sedangkan konsepsi sosiologis, frame
berfungsi membuat suatu realitas menjadi teridentifikasi, dipahami dan
dapat dimengerti karena sudah di labeli dengan label tertentu.30
Model analisis framing milik Zhongdang Pan dan Kosicki adalah
salah satu model yang paling populer dan banyak dipakai untuk
menganalisa sebuah media dalam mengkonstruksi suatu teks berita.
Model ini dipilih oleh peneliti karena pengutipan sumber berita
menjadi salah satu aspek penting untuk dikupas dan diteliti, hal ini
karena pengutipan sumber turut menentukan objektivitas berita.
Sementara itu, dalam pemberitan media asing online CNN.com
mengenai peristiwa serangan di Jakarta beberapa teks berita
menampilkan kutipan dari pihak tertentu yang mana hal tersebut dapat
berdampak mempengaruhi masyarakat global, terlebih lagi masyarakat
dunia. Secara umum situs media online dapat dicakup atau diakses
oleh khalayak luas. Selain itu peneliti memilih model Zhongdang Pan dan Kosicki dibandingkan model framing lain karena model ini
memiliki pisau analisis yang paling tajam dan rinci untuk membedah
framing dalam suatu pemberitaan.
Analisis framing model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki
memiliki empat struktur besar, diantaranya: Pertama, struktur
sintaksis. Sintaksis berhubungan dengan bagaimana wartawan
menyusun peristiwa dalam bentuk susunan umum berita. Dapat
diamati di bagian bagan berita (headline, lead, latar informasi, kutipan
sumber, pernyataan, penutup). Kedua, struktur skrip. Skrip
berhubungan dengan bagaimana mengisahkan atau menceritakan
peristiwa ke dalam bentuk berita. Ketiga, struktur tematik. Tematik
berhubungan dengan bagaimana wartawan mengungkapkan pandangan
atas peristiwa ke dalam proposis, kalimat atau hubungan antar kalimat
yang membentuk teks secara keseluruhan. Keempat, struktur retoris.
Retoris berhubungan dengan bagaimana wartawan menekankan arti
tertentu ke dalam berita. Struktur ini melihat bagaimana wartawan
memakai pilihan kata, idiom, grafik dan gambar yang dipakai bukan
hanya mendukung tulisan, melainkan juga menekankan arti tertentu
kepada pembaca

Analisis Framing (skripsi dan tesis)

Framing didefinisikan sebagai proses membuat suatu pesan lebih
menonjol, menempatkan informasi lebih daripada yang lain sehingga
khalayak lebih tertuju pada pesan tersebut. Konsep framing telah
digunakan secara luas dalam literatur ilmu komunikasi untuk
menggambarkan proses penyeleksian dan penyorotan aspek-aspek
khusus sebuah realita oleh media. Dalam ranah studi komunikasi,
analisis framing mewakili tradisi yang mengedepankan pendekatan
atau perspektif multidisipliner untuk menganalisis fenomena atau
aktivitas komunikasi. Analisis framing digunakan untuk membedah
cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksikan fakta. Analisis
ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan tautan fakta ke dalam
berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih
diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya.
Pada dasarnya analisis framing merupakan versi terbaru dari
pendekatan analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks
media. Gagasan framing pertama kali dilontarkan oleh Baterson tahun
1955. Mulanya frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau
kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan
wacanan serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Konsep ini kemudian dikembangkan lebih jauh
oleh Goffman pada 1974, yang mengandalkan frame sebagai kepingkepingan perilaku (strips of behavior) yang membimbing individu
dalam membaca realitas.26
Dalam perspekif komunikasi, analisis framing dipakai untuk
membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta.
Dengan kata lain framing adalah pendekatan untuk mengetahui
bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh
wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita.27 Pembingkaian
berita juga memiliki pengaruh-pengaruh yang sulit dipahami dan
sangat kuat daripada prasangka dalam berita. Pembaca ataupun
khalayak penerima isi berita mungkin bisa mengetahui bahwa sebuah
cerita berprasangka terhadap seorang calon politik tertentu. Tetapi
mereka tidak bisa mengetahui dengan mudah karena kejadian berita itu
dikemas dalam jenis cerita tertentu.

Analisis Isi (skripsi dan tesis)

Menurut Eriyanto (2013: 15) Analisis isi didefinisikan sebagai suatu teknik penelitian ilmiah yang ditujukan untuk mengetahui gambaran karakteristik isi dan menarik inferensi dari isi, serta ditujukan untuk mengidentifikasi secara sistematis isi komunikasi yang tampak.
Menurut Holsti (dalam Eriyanto,2013: 33) terdapat 4 (empat) desain analisis isi yang umumnya dipakai untuk :Pertama, analisis isi yang dipakai untuk menggambarkan pesan dari sumber yang sama tetapi dalam waktu yang berbeda. Biasanya dipakai untuk mengetahui kecenderungan tren dari suatu pesan komunikasi dengan perbandingan waktu. Contoh, mengetahui tren iklan di televisi anak-anak dari decade ke decade, seperti yang dilakukan Alexander et al (1998). Kedua, analisis isi dipakai untuk melihat pesan pada situasi yang berbeda. Situasi yang berbeda dapat diartikan sebagai perbedaan konteks budaya, sosial dan politik. Secara singkat, Analisis isi yang mendapat sumber data (pesan) yang sama, akan tetapi dalam konteks yang berbeda. Dalam karakteristik kali ini, penelitian biasanya melakukan perbandingan isi pesan dari konteks-konteks tersebut. Contoh, penelitian dari Ji and McNeal (2001) tentang iklan anak-anak di Amerika dan Cina. Ketiga, analisis Isi dipakai untuk melihat pesan pada khalayak yang berbeda. Pengertian khalayak di sini dapat diartikan sebagai pembaca atau penonton media yang mempunyai karakter berbeda. Desain memasukan pesan dari sumber yang sama (satu), akan tetapi untuk pemirsa yang berbeda. Contoh, penelitian Kolbe dan Albanese (1996) tentang bagaimana tampilan iklan laki-laki dalam majalah dengan segmen yang berbeda. Keempat, analisis isi dipakai untuk melihat pesan dari komunikator yang berbeda. Penelitian disain ini ingin melihat kasus yang sama dan bagaimana komunikator yang berbeda akan menghasilkan isi (konten) yang berbeda dari kasus yang sama akan tetapi hal yang paling penting dalam analisis isi adalah mengetahui pendekatan yang digunakan.

Asal Berita (skripsi dan tesis)

Asal berita menurut Eriyanto (2013: 226), merujuk kepada dari mana berita ini didapat oleh wartawan, apakah dari liputan lagsung ataukah dari sumber lain. Penjelasanya sebagai berikut :
1. Liputan wartawan surat kabar. Berita didapatkan dari liputan langsung wartawan (liputan, wawancara)
2. Kantor berita Indonesia. Berita didapatkan dari Kantor berita Indonesia.
3. Kantor berita Asing. Berita didapatkan dari kantor berita luar negeri.
4. Mengutip media dari Indonesia. Berita mengutip dari berita lain, baik surat kabar, radio, televisi ataupun dotcom.
5. Mengutip media Asing. Berita mengutip berita dari media lain,baik surat kabar, radio, televise ataupun dotcom.
6. Lainnya. Asal berita tidak dapat diidentifikasikan secara jelas, atau diluar yang telah disebut diatas.

Narasumber Berita (skripsi dan tesis)

Bagian terpenting dari wawancara adalah narasumber. Narasumber yang paling baik adalah seorang yang
berpengetahuan dalam sesuatu bidang dan yang mengetahui apa yang sedang terjadi sebenarnya.Macam-macam narasumber menurut (Kusumaningrat, 2006: 250) yaitu :
1. Ilmuwan. Ilmuwan dianggap sebagai narasumber paling sensitif diantara narasumber lainnya dalam hal memberikan keterangan kepada pihak-pihak lain di luar disiplin ilmunya. Para ilmuwan, sama seperti juga wartawan, sama mengejar kebenaran. Ilmuwan mengejar kebenaran baru, yang belum ditemukan, dan mempunyai kepentingan dalam menyampaikan kebenaran baru yang ditemukan dengan sikap sangat saksama dana korek.
2. Birokrat. Dari sudut pandang wartawan, seorang birokrat adalah orang yang untuk melaksanakan tugas-tgasnya harus memperoleh kerjasama dari publik dalam hal ini memperoleh kerjasama dari publik dan dalam hal ini memperoleh kerjasama melalui media. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang menjadi bagian sebuah institusi dan memiliki kompetensi untuk menjelaskan apa yang tengah terjadi terkait hal yang dinaungi oleh institusi tersebut seperti Dinas Pendapatan Pajak untuk soal pajak, atau pemerintah daerah dalam soal pemilihan kepala daerah.
3. Politisi. Politisi memiliki motivasi yang sedikit berbeda dalam mencari perhatian publik melalui media. Seorang politisi adalah seorang yang berusaha meniti tangga kepemimpinan institusi sosial atau mengubah institusi. Politisi berusaha “menggerakan” segala
sesuatu (birokrat berusaha melaksanakan sesuatu yang sudah tetap).
4. Anggota yang tidak puas. Anggota yang tidak puas dalam sebuah organisasi merupakan narasumber yang seringkali digunakan dalam reportase investigatif. Tetapi, sumber-sumber semacam itu penting juga dalam reportase interpretatif karena mereka memberikan pandangan tentang kelemahan-kelemahan institusi yang tidak mungkin diperoleh dengan cara lain.
5. Pengejar Publisitas. ementara narasumber juga bisa jadi merupakan pengejar publisitas – publicity seeker. Mereka seringkali memburu ruangan-ruangan redaksi suratkabar. Mereka jarang memberikan sumbangan pada interpretasi yang tajam tentang suatu isu , tetapi informasinya bermanfaat.
6. Pejabat Humas. Bagi seorang wartawan interpretatif, sumber resmi yang bernama pejabat humas (hubungan masyarakat) amat penting. Pejabat humas merupakan narasumber yang dapat membawa kenarasumber-narasumber lain. Ia juga dapat memberikan informasi serta merespon interpretasi tentang isu-isu tertentu dengan pemahaman mendalam.

Penempatan Berita (skripsi dan tesis)

Penempatan berita menurut Eriyanto (2013: 226), didefinisikan sebagai dimana letak berita dalam halaman surat kabar yaitu:
1. Headline/Berita Utama. Posisi atau letak berita berada di halaman depan dan berada di posisi utama (headline). Headline umumnya ditulis dengan huruf lebih besar di bagian depan surat kabar dan panjang berita lebih besar.
2. Halaman Depan, tidak headline. Posisi atau letak berita di halaman depan tetapi tidak berada di posisi berita utama (headline)
3. Halaman Belakang. Berita ditempatkan di halaman belakang surat kabar. Misalnya, jika surat kabar terdiri dari 24 halaman, beita ditempatkan di halaman
4. Halaman Dalam. Posisi/letak berita di halaman dalam surat surat kabar (di luar halaman 1 dan halaman belakang surat kabar)
5. Halaman Khusus (Suplemen). Posisi/letak berita di halaman khusus (Suplemen) surat kabar. Ini adalah halaman khusus yang disediakan oleh surat kabar dalam liputan

Nilai Berita (skripsi dan tesis)

Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat dalam buku ”Jurnalistik teori dan Praktek” menyebutkan bahwa nilai berita antara lain :
1. Aktualitas (Timeliness). Semakin aktual berita, artinya semakin baru peristiwanya terjadi, semakin tinggi nilai beritanya. Tetapi adakalanya juga penemuan suatu peristiwa penting atau menarik yang usianya sudah bertahun-tahun dapat langsung menjadi berita utama. Dalam hal seperti ini kecepatan adalah dalam hal penyingkapannya.
2. Kedekatan (Proximity). Peristiwa yang mengandung unsur kedekatan dengan pembaca, akan menarik perhatian. Kian dekat dengan pembaca, kian menarik berita itu.
3. Keterkenalan (Prominence). Kejadian yang menyangkut tokoh terkenal akan menarik banyak pembaca. Nama-nama terkenal ini tidak harus diartikan orang saja. Tempat-tempat terkenal dan situasi-situasi terkenal juga memiliki nilai berita yang tinggi.
4. Dampak (Consequence). Peristiwa yang memiliki dampak luas terhadap masyarakat, misalnya pengumuman kenaikan harga BBM atau ilmuwan yang mengembangkan suatu vaksin baru, memiliki nilai berita tinggi.
5. Human Interest. Berita yang memiliki daya tarik secara universal yang menarik minat orang memiliki nilai berita tinggi. Beberapa unsur human interest misalnya ketegangan, ketidaklaziman, minat pribadi, konflik, simpati, kemajuan, seks, usia, hewan, dan humor.

Definisi Berita (skripsi dan tesis)

Berita berasal dari bahasa Sangsekerta, yakni Vrit yang dalam bahasa Inggris disebut Write, arti sebenarnya ialah ada atau terjadi. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, “berita” berarti kabar atau warta,
sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia diperjelas menjadi “laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat”. Jadi berita dapat dikaitkan dengan kejadian atau peristiwa yang terjadi.
Definisi berita menurut The New Grolier Wbester International Dictionary yang dikutip kembali oleh Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat dalam buku ”Jurnalistik teori dan Praktek” menyebutkan bahwa berita adalah :
”(1) Current informatiom about something that has taken place, or obout something not known before; (2) News is information as presented by a news media such as paper, radio, or television; (3) News is anything or anyone regarded by a news media as a subject woethy of treatment. ( (1) Informasi hangat tentang sesuatu yang telah terjadi, atau tentang sesuatu yang belum diketahui sebelumnya; (2) Berita adalah informasi seperti yang disajikan oleh media semisal surat kabar, radio, atau televisi; (3) Berita adalah sesuatu atau seseorang yang dipandang oleh media merupakan subjek yang layak untuk diberitakan.” (Kusumaningrat, 2006:39).
Tidak semua peristiwa layak dijadikan berita atau layak untuk di jadikan sebuah konsumsi publik ada indikator-indikator dimana sebuah peristiwa layak untuk di beritakan, kelayakan sebuah peristiwa menjadi sebuah berita disebut (news worthiness). Sedangkan indikator-indikator untuk mengukur kelayakan sebuah peristiwa menjadi sebuah berita disebut nilai berita (news value

Keberpihakan Media (skripsi dan tesis)

Keberpihakan media dalam memberitakan suatu kasus yang mencerminkan konflik merupakan hal yang perlu dihindari. Keberpihakan yang paling mendasar terhadap suatu objek adalah :
1. Perasaan mendukung (favourable) ataupun perasaan tidak mendukung (unfavourable) seperti yang diungkapkan Berkowitz (Rahayu, 2006:134). Lebih spesifik lagi adalah sikap berpihak sebagai derajat afeksi positif atau afeksi negatif terhadap objek psikologis (Rahayu,2006:134)
2. Dalam kegiatan jurnalistik keberpihakan media akan tampak untuk berpihak pada kecenderungan berafeksi positif, netral, dan negatif (Rahayu,2006:134). Keberpihakan positif berarti media memilih sikap mendukug (favourable). Sedangkan sikap negatif mencerminkan sikap tidak mendukung (unfavourable).
3. Berdasarkan gagasan jurnalisme profesional dalam pemberitaan konflik, media dituntut berada dalam situasi tengah antara pihak-pihak terlibat
konflik. Jelasnya, media dalam menjalankan peran idealnya terutama jurnalis dalam memberitakan konflik harus menjalankan tugas sesuai dengan pedoman profesional. Seperti yang diungkap Burns (Rahayu,2006:132) yaitu agar dapat menjaga sikap objektif, berimbang, akurat, dan benar sehingga dalam posisi independen.
Media massa sebagai penyampai pesan-pesan komunikasi biasa disebut dengan pers. Pers dalam arti sempit yaitu kegiatan komunikasi yang hanya dilakukan dengan perantaraan barang cetakan. Sedangkan pers dalam arti kata luas adalah kegiatan komunikasi yang hanya dilakukan dengan media cetak maupun media elektronik. (Kusumaningrat, 2006:17).
Semua peristiwa dan permasalahan dapat menjadi berita setelah berita tersebut diangkat, diolah dan disajikan sebagai berita dalam media. Sedangkan berita dalam arti teknis jurnalistik adalah: “laporan tentang fakta atau ide yang termasa, yang dipilih oleh staf redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca, entah karena ia luar biasa,entah karena pentingnya, atau akibatnya, entah pula karena ia mencakup segi-segi human interest seperti humor, emosi, dan ketegangan (Assegaf, 1982:24).

Majalah Sebagai Media Massa (skripsi dan tesis)

Majalah merupakan media massa yang dipakai untuk
menyalurkan dan memperlancar dan sampailah pesan komunikasi
kepada komunikasi khalayak dan majalah termasuk penerbitan berkala
yang menggunakan kertas sampul, memuat bermacam-macam teladan
yang dihiasi ilustrasi maupun foto-foto. Dalam hal ini, media cetak majalah sebagai jembatan komunikasi yang mampu menerjemahkan pesan komunikasi yang dimaksud komunikator kedalam pesan komunikasi yang bisa dipahami komunikannya. Islam dalam menyebarkan agamanya (berdakwah),
juga membutuhkan media massa yang dipakai masyarakat Islam.
Untuk itu, yang menjadi ciri khas dari media massa Islam dan
membedakan dengan media massa lainnya adalah media massa Islam
berkarakteristik religius (Islami), berorientasi, berwawasan, berpijak
dan bernafaskan ajaran agama Islam. Sebagai massa religius (Islami),
Kurniawan Djunaedi, Ensiklopedi Pers Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia
niscaya media massa Islam memegang peranan penting dalam
kehidupan beragam, bermasyarakat terutama masyarakat Islam.7
Majalah adalah suatu majalah penerbitan berkala yang
menyajikan liputan jurnalistik dan artikel berisi informasi dan opini
yang membahas berbagi aspek kehidupan.8
Kurnia Junaedhie dalam
bukunya “rahasia dapur majalah Indonesia” memberikan batasan
pengertian bahwa yang disebut majalah adalah:
1. Media cetak yang terbit secara berkala, tapi bukan yang tebit setiap
hari.
2. Media cetak itu bersampul, setidak-tidaknya punya wajah dan
dirancang secara khusus.
3. Media cetak itu dijilid atau sekurang-kurangnya memiliki sejumlah
halaman.
4. Madia cetak itu, harus berformat tabloid atau saku atau formal
konvensional sebagai format majalah yang kita kenal selama ini.
Sedangkan Totok Djuroto memberikan definisi majalah yaitu:
kumpulan berita, artikel, cerita, iklan dan lain sebagainya yang dicetak
dalam lembaran kertas ukuran kuarto atau folio, dijilid dalam bentuk
buku, majalah biasanya terbit teratur seminggu sekali, dua minggu
sekali, ataus satu bulan sekali.

Misi Media Massa (skripsi dan tesis)

Kehidupan masyarakat tidak dapat terlepas dari adanya fenomena-fenomena atau sosial yang senantiasa melingkupinya. Gejala sosial atau fenomena sosial tersebut meliputi berbagai sendi kehiddupan, seperti sendi ekonomi, budaya, kesehatan, pendidikan amaupun politik. Guna mengekspos atau mengover informasi yang berkaitan dengan barbagai dinamika kehidupan masyarakat tersebut, maka media massa sebagai salah satu media yang cukup efektif dalam upaya mendidik, mengarahkan, membentuk pola kepribadian dan cara pandang masyarakat dalam menyikapi fenomena yang terjadi dalam lingkungan sosialnya maupun memberikan ideal, yakni terciptanya ketenangan, kesusahan, pencerahan dan berbagai implikasi positif lainnya. Media massa terkait erat dengan misi pers sebagai sebuah institusi yang memprodulsi keberadaannya, dengan kata lain misi media massa senantiasa sejalan dengan misi pers. Karena produk dari pers yang bergerak dibidang pengumpulan dan penyebaran informasi media massa dituntut senantiasa tampil dalam upaya mencerdaskan masyarakat, menegakkan keadilan dan memberantas kebatilan. Selama melaksanakan tugasnya, pers terkait erat dengan tata nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. 12 Dalam kehidupan sosial, masyarakat mempunyai hak untuk mengetahui segala hal yang berkaitan dengan hajat hidup mereka.5 Untuk itulah media massa sebagai produk dari pers senantiasa memainkan peranan yang sangat signifikan dalm kancah kehidupan manusia di muka bumi ini dengan barusaha menyajikan berbagai informasi yang positif dengan landasan sifat pers yang telah di sepakati dan ditetapkan bersama.

Pengertian Media Massa (skripsi dan tesis)

Media massa merupakan alat Bantu utama dalam proses
komunikasi massa. Sebab komunikasi massa sendiri secara sederhana
adalah suatu alat transmisi informasi seperti koran, majalah, buku,
film, radio dan televisi atau suatu kombinasi bentuk dari bentuk-bentuk
media. Merujuk pada penjelasan mengenai media komunikasi massa
adalah media komunikasi massa yang merupakan produk dari pers
yang menyajikan berbagai informasi kepada masyarakat mengenai
fenomena-fenomena atau gejalah-gejalah sosial yang terjadi ditengahtengah kehidupan masyarakat..
Secara umum fungsi media massa yaitu mensyiarkan informasi,
mendidik, menghibur. Untuk memainkan fungsinya media massa cetak
memiliki strategi komunikasi pendekatan yang berbeda dengan media
massa elektronik. Karena penyusunan pesan-pesan yang akan
disampaikan kepada khalayak.Merujuk pada penjelasan mengenai media massa, pers dan komunikasi diatas, dapat disimpulkan bahwa media massa adalah media komunikasi massa yang merupakan produk dari pers yang
menyajikan berbagai informasi kepada masyarakat mengenai  fenomena-fenomena atau gejala-gejala sosial yang terjadi di tengah-tengah
kehidupan masyarakat sendiri, baik yang menyangkut masalah sosial,
ekonomi, budaya, politik maupun berbagai sektor kehidupan
masyarakat lainnya. Sedangkan pers merupakan sebutan atau nama
dari lembaga yang memproduksi media massa. Selanjutnya media
massa dan pers merupakan media (perantara) terjadinya proses
komunikasi massa. Jadi meskipun secara arti termitologi
(istilah)tersebut mempunyai perbedaan yang cukup mendasar, tetapi
pada hakikatnya ketiga istilah itu merupakan suatu kesatuan yang
saling terkait. Sehingga tidak heran apabila terdapat literature yang
mengkaji salah satu istilah tersebut, baik media massa, pers, maupun
komunikasi massa. Karena sering dalam pembahasannya senantiasa
mengikut sertakan kedua istilah yang lainnya

Instagram (skripsi dan tesis)

Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto yang memungkinkan
pengguna mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke
berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik Instagram sendiri. Satu fitur yang unik di Instagram adalah memotong foto menjadi bentuk persegi, sehingga terlihat seperti hasil kamera Kodak Instamatic dan Polaroid. Hal ini berbeda dengan rasio aspek 4:3 yang umum digunakan oleh kamera pada peralatan bergerak.
Instagram dapat digunakan di iPhone, iPad atau iPod Touch versi apapun
dengan sistem operasi iOS 3.1.2 atau yang terbaru dantelepon kamera Android apapun dengan sistem operasi 2.2 (Froyo) atau yang terbaru. Aplikasi ini tersebar melalui Apple App Storedan Google Play.
Nama Instagram sendiri berasal dari pengertian dari keseluruhan fungsi
aplikasi ini. Kata “insta” berasal dari kata “instan”, seperti kamera polaroid yang pada masanya lebih dikenal dengan sebutan “foto instan”. Instagram juga dapat menampilkan foto-foto secara instan, seperti polaroid di dalam tampilannya. Sedangkan untuk kata “gram” berasal dari kata “telegram”, dimana cara kerja telegram sendiri adalah untuk mengirimkan informasi kepada orang lain dengan  cepat. Sama halnya dengan Instagram yang dapat mengunggah foto dengan menggunakan jaringan internet, sehingga informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan cepat. Oleh karena itulah Instagram berasal dari instan-telegram.
Pada tanggal 9 April 2012, diumumkan bahwa Instagram akan diambil alih
oleh Facebook senilai hampir $1 miliar dalam bentuk tunai dan saham.
Sistem sosial di dalam Instagram adalah dengan menjadi mengikuti akun
pengguna lainnya, atau memiliki pengikut Instagram. Dengan demikian
komunikasi antara sesama pengguna Instagram sendiri dapat terjalin dengan
memberikan tanda suka dan juga mengomentari foto-foto yang telah diunggah oleh pengguna lainnya. Pengikut juga menjadi salah satu unsur yang penting, dimana jumlah tanda suka dari para pengikut sangat mempengaruhi apakah foto tersebut dapat menjadi sebuah foto yang populer atau tidak. Untuk menemukan temanteman yang ada di dalam Instagram. Juga dapat menggunakan teman-teman mereka yang juga menggunakan Instagram melalui jejaring sosial seperti Twitter dan juga Facebook.
Kegunaan utama dari Instagram adalah sebagai tempat untuk mengunggah
dan berbagi foto-foto kepada pengguna lainnya. Foto yang hendak ingin diunggah dapat diperoleh melalui kamera iDevice ataupun foto-foto yang ada di album foto di iDevice tersebut

New Media (skripsi dan tesis)

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, khususnya teknologi
komunikasi yang telah mengimbangi kehebatan media massa yang selama ini
menjadi primadona di antara media lainnya sebagai media penyampai dan
pertukaran pesan. Kehadiran internt di tengah-tengah kehidupan masyarakat
merupakan awal munculnya Media Baru (New Media).
Internet menjadi sebuah revolusi dari komunikasi yang sangat luas dan
mendalam serta memberikan banyak kemudahan bagi individu maupun organisasi dalam menyampaikan dan menerima informasi dalam waktu yang lebih singkat dan memiliki jangkauan luas.
Pakar media baru Pavlik dan McIntosh dalam Cutlip, Center & Broom
pada buku Effective Public Relations mengatakan tentang konvergensi media yaitu:
“Menyatukan telekomunikasi, komputer dan media dalam
lingkungan digital. Konvergensi dan perubahan yang dihasilkan
telah mengubah banyak aspek dasar dari media massa dan
komuikasi.” (2007:287)
Dari pengertian di atas dikatakan bahwa media baru adalah perpaduan
anatara telekomunikasi, kompter dan media dalam bentuk digital. Perpaduan unsurunsur tersebut telah mengubah banyak aspek dasar dari media massa dan komunikasi. Jika dikatakan dengan media massa pesan akan bisa disampaikan secara luas, maka media baru bisa menyiarkan secara lebih luas lagi hingga mampu menembus ruang dan waktu dan tidak hanya sekedar aspek penyiaran yang akan dihasilkan tetapi media baru mampu membentuk sebuah jaringan. LittleJhon dan Foss dalam bukunya Teori Komunikasi; The Teories of Human Communicatio menyebutkan bahwa media baru sebagai “media kedua” dan media yang sebelumnya atau media massa adalah sebagai “media pertama” Perbedaan paling dominan antara kedua media tersebut ia membandingkan diantara keduanya dengan memberikan gambaran sebagai berikut :
Era media pertama digambarkan oleh (1) Sentralisasi Produksi
( satu menjadi banyak); (2) Komunikasi Satu Arah; (3) Kendali
Situasi, untuk sebagian besar; (4) Reproduksi Stratifikasi Sosial
dan Perbedaan melalui Media; (5) Audien Massa yang
Terpecah; (6) Pembentukan Kesadaran Sosial. Era media kedua
sebaliknya, dapat digambarkan sebagai : (1) Desentralisasi; (2)
Dua Arah; (3) Diluar Kendali situasi; (4) Demokratisasi; (5)
Mengangkat Kesadaran Individu; (6) Orientasi Individu.
(2009:413)
Dari rincian di atas dapat disimpulkan bahwa media baru bersifat lebih bebas
dibandingkan dengan media sebelumnya dan adanya komunikasi dua arah
(interaktif) merupakan hal yang tidak dapat dikendalikan dengan mudah, karena siapa saja bisa masuk menjadi pelaku komunikasi dan antar pelaku komunikasi satu sama lain saling mempengaruhi.

Pertumbuhan Media Sosial (skripsi dan tesis)

Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang seperti
bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan media sosial dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Pengguna media sosial dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya.
Menurut Antony Mayfield dari iCrossing, media sosial adalah mengenai menjadi manusia biasa. Manusia biasa yang saling membagi ide, bekerjasama, dan  berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berfikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas. Intinya, menggunakan media sosial menjadikan kita sebagai diri sendiri. Selain kecepatan informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik, menjadi diri sendiri dalam media sosial adalah alasan mengapa media sosial berkembang pesat.
Tak terkecuali, keinginan untuk aktualisasi diri dan kebutuhan menciptakan
personal branding. Media Social juga kini mejadi sarana atau aktivitas digital
marketing, seperti Social Media maintenance, Social Media Endorsment dan Social Media Activation. Oleh karena itu, Media Sosial kini menjadi salah sau servis yang diawarkan oleh adigital Agency

Perkembangan Media Social (skripsi dan tesis)

Perkembangan dari Media Sosial itu sendiri sebagai berikut:
1. 1978 Awal dari penemuan Sistem papan buletin yang memungkinkan untuk
dapat berhubungan dengan orang lain menggunakan surat elektronik ,
ataupun mengunggah dan mengunduh Perangkat lunak , semua ini
dilakukan masih dengan menggunakan saluran telepon yang terhubung
dengaan modem
2. 1995 Kelahiran dari situs GeoCities, situs ini melayani Web Hosting yaitu
layanan penyewaan penyimpanan data – data website agar halaman website
tersebut bisa di akses dari mana saja, dan kemunculan GeoCities ini menjadi
tonggak dari berdirinya website – website lain.
3. 1997 Muncul situs jejaring sosial pertama yaitu Sixdegree.com walaupun
sebenarnya pada tahun 1995 terdapat situs Classmates.com yang juga
merupakan situs jejaring sosial namun, Sixdegree.com di anggap lebih
menawarkan sebuah situs jejaring sosial di banding Classmates.com
4. 1999 Muncul situs untuk membuat blog pribadi, yaitu Blogger. situs ini
menawarkan penggunanya untuk bisa membuat halaman situsnya sendiri.
sehingga pengguna dari Blogger ini bisa memuat hal tentang apapun.
termasuk hal pribadi ataupun untuk mengkritisi pemerintah. sehingga bisa
di katakan blogger ini menjadi tonggak berkembangnya sebuah Media
sosial.
5. 2002 Berdirinya Friendster, situs jejaring sosial yang pada saat itu menjadi
booming, dan keberadaan sebuah media sosial menjadi fenomenal.
6. 2003 Berdirinya LinkedIn, tak hanya berguna untuk bersosial, LinkedIn
juga berguna untuk mencari pekerjaan, sehingga fungsi dari sebuah Media
Sosial makin berkembang.
7. 2003 Berdirinya MySpace, MySpace menawarkan kemudahan dalam
menggunakannya,sehingga myspace di katakan situs jejaring sosial yang
user friendly.
8. 2004 Lahirnya Facebook, situs jejaring sosial yang terkenal hingga sampai
saat ini, merupakan salah satu situs jejaring sosial yang memiliki anggota
terbanyak.
9. 2006 Lahirnya Twitter, situs jejaring sosial yang berbeda dengan yang
lainnya, karena pengguna dari Twitter hanya bisa mengupdate status atau
yang bernama Tweet ini yang hanya di batasi 140 karakter.
10. 2007 Lahirnya Wiser, situs jejaring social pertama sekali diluncurkan
bertepatan dengan peringatan Hari Bumi (22 April) 2007. Situs ini
diharapkan bisa menjadi sebuah direktori online organisasi lingkungan
seluruh dunia termasuk pergerakan lingkungan baik dilakukan individu
maupun kelompok.
11. 2011 Lahirnya Google+, google meluncurkan situs jejaring sosialnya yang
bernama google+, namun pada awal peluncuran. google+ hanya sebatas
pada orang yang telah di invite oleh google. Setelah itu google+ di
luncurkan secara umum.

Ciri Ciri Media Sosial (skripsi dan tesis)

Media sosial mempunyai ciri – ciri sebagai berikut :
1. Pesan yang di sampaikan tidak hanya untuk satu orang saja namun bisa
keberbagai banyak orang contohnya pesan melalui SMS ataupun internet
2. Pesan yang di sampaikan bebas, tanpa harus melalui suatu Gatekeeper
3. Pesan yang di sampaikan cenderung lebih cepat di banding media lainnya
4. Penerima pesan yang menentukan waktu interaksi

Media Sosial (skripsi dan tesis)

Media sosial adalah salah satu produk dari kemunculan new media. Didalam
media sosial individu-individu maupun kelompok saling berinteraksi secara online melalui jaringan internet. Semenjak kemunculannya, media sosial tidak hanya digunakan oleh individu tetapi juga dimulai digunakana oleh organisasi atau perusahaan-perusahaan besar maupun kecil untuk melakukan komunikasi dengan publiknya. Lattimore dalam buku Public Relations Profesi dan Praktik berpendapat bahwa: Media sosial yang terkadang diidentifikasi dengan Web 2.0, merupakan istilah yang mengacu pada media baru yang menggunakan teknologi dalam menciptakan interaksi, partisipasi, dan kolaborasi terbuka dimana setiap orang mempunyai kesempatan untuk menyuarakan ide, pendapat, dan pengalaman mereka melalui media online dalam bentuk kata-kata atau materi visual. (2010:207)
Dari pendapat diatas, bahwa media sosial digunakan dengan cara
memanfaatkan teknologi dalam berkomunikasi. Teknologi yang dimaksud disini adalah internet. Sifatnya yang terbuka membuat siapa saja bisa masuk di dalamnya.
Jika dikaitkan dengan kegiatan eksistensi diri di dalam dunia maya dalam
hal ini jejaring sosial, orang-orang dapat mengkomunikasikan apapun aktivitas
yang mereka lakukan sepanjang hari, karena di dalam media sosial siapa saja boleh menuangkan idenya dalam bentuk tulilsan atau visual. Lebih lanjut lagi Dave Evan dalam bukunya yang berjudul Social Media Marketing One Hour a Day, menjelaskan media sosial sebagai berikut:
Social media is the democratization of information, transforming people from conten reader into content publisher. Is is shift from broadcast mechanismto a many-tomany model, rootedin conversations between authors, people, and peers. Social media uses the “wisdoms of crowds” to connect information in a collaborative manner. (media sosial ada demokratisasi informasi, mengubah
orang dari pembaca konten menjadi penerbit konten. Hal ini adalah pergeseran dari mekanisme siaran menjadi model banyak ke banyak saluran, yang berakar dari percakapan antara penulis, orang dan rekan-rekan. Media
sosial menggunakan “konsep orang banyak” agar dapat terhubung dengan informasi secara bersama-sama. (2008:33)
Dari penjelasan diatas dapat kita ketahui bahwa kehadiran media sosial di istilahkan sebagai bentuk demokratisasi informasi, orang yang terlibat di media sosial bukan hanya berperan sebagai pembaca tapi juga penerbit konten. Perubahan salurannya menjadi model banyak ke banyak, otomatis akan membuat informasi semakin cepat tersebar

Public Relations dan Media (skripsi dan tesis)

Ruang lingkup Public Relations yang cukup luas dengan jenis publik yang
beragam, menuntut Public Relations untuk menggunakan strategi agar mampu untuk menjalan kan tugas dan fungsinya serta menjangkau publiknya yang luas. Salah satu cara yang dilakukan dalam menjalankan tugas Public Relations yaitu dengan memanfaatkan media. Media merupakan unsur penting yang juga ikut mempengaruhi kesuksesan seorang Public Relations dalam menjalankan tugas-tugasnya. Media menurut Mulyana dalam bukunya yang berjudul Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, mendefinisikan bahwa:
“Sarana atau media, yakni lat atau wahan yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima” (2007:70).
Dari definisi tersebut dapat diaktakan bahwa bahwa media adalah alat yang
digunakan oleh sumber, sumber dalam hal ini adalah Public Relations dan penerima dari pesan adalah publik atau khalayak dari Public Relations tersebut. Selain itu, Denis McQuall dalam Littlejohn & Foss dalam buku Teori
Komunikasi Theories of Human Communication mengartikan dealapan aspek
media dalam berbagai metafora, yaitu: Media merupakan jendela (windows) yang memungkinkan kita untuk melihat lingkungan yang lebih jauh, penafsir
(interpreters) yang membatu kita memahami pengalaman, landasan (platforms) atau pembawa yang menyampaikan komunikasi interaktif (interactive communication) yang meliputi opini audience, penanda (signpost) yang memberi kita intruksi dan petunjuk, penyaring (filters) yang membagi pengalaman dan fokus pada orang lain, cermin (mirrors) yang merefleksikan diri kita, dan penghalang (barriers) yang menutupi kebenaran. (2009:407) Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dikatakan bahwa media bukan sekedar alat untuk menyampaikan pesan, akan tetapi juga terdiri dari delapan aspek diadalamnya, diantaranya adalah sebagai jendela (windows), penafsir (interpreters), pengalaman, landasan (platforms), komunikasi interaktif (interactive  communication), penanda (signpost), penyaring (filters), cermin (mirrors), dan penghalang (barriers).
Jika dikaitkan antara aspek media dengan fungsi Public Relations hal
tersebut begitu ideal. Media sebagai jendela dimana Public Relations bisa
melihatnya dari jendela tersebut dan publik bisa mengetahui informasi-informasi yang diberikan Public Relations tentang berbagai hal melalui jendela tersebut. Media pun sebagai penafsir yang akan membantu Public Relations untuk memahami publiknya sehingga ia bisa mengetahui pesan apa yang akan
disampaikan sehinggap pemahaman yang baik bisa diterima oleh publik melalui media pula

Tujuan Public Relations (skripsi dan tesis)

Pada umumnya tujuan Public Relations di dalam sebuah organisasi adalah
sebagai berikut:
1. Membina hubungan ke dalam (Public internal)
Praktisi Public Relations yang baik akan mengetahui dan
mengidentifikasi bagaimana membina hubungan yang baik di dalam
suatu organisasi tempat ia bernaung, dengan hal tersebut ia dapat
mengenali situasi yang ada di dalam organisasinya.
2. Membina hubungan keluar (Public external)
Praktisi Public Relations akan mencari tahu bagaimana cara membina
hubungan yang baik dengan masyarakat luas sebagai khalayaknya,
dengan cara mengetahui apa yang diinginkan dan juga kritik negatif apa
yang ingin masyarakat tujukan kepada organisasinya.

Tugas dan Fungsi Public Relations (skripsi dan tesis)

Tugas Public Relations menurut Frank Jefkins dalam bukunya Public
Relations edisi kelima yang dikutip Seidel menjabarkannya sebagai berikut:
1. Menciptakan dan memelihara suatu citra yang
baik dan tepat atas perusahaan atau organisasinya, baik
yang berkenaan dengan kebijakan-kebijakan, produk,
jasa maupun dengan para personelnya.
2. Memantau pendapat eksternal mengenai segala
sesuatu yang berkaitan dengan citra, kegiatan, reputasi
maupun kepentingan-kepentingan organisasi/perusahaan,
dan menyampaikan setiap informasi yang penting
langsung kepada pihak manajemen atu pimpinan puncak
untuk segera ditanggapi atau ditindak lanjuti.
3. Memberi nasihat atau masukan kepada pihak
manajemen mengenai berbagai masalah komunikasi yang
penting, berikut teknik-teknik untuk mengatasinya.
4. Menyediakan berbagai informasi kepada khalayak
perihal kebijakan organisasi, kegiatan, prodik, jasa, dan
personalia selangkap mungkin demi menciptakan suatu
pengetahuan yang maksimal dalam rangka menjangkau
pengertian khalayak. (2004:33)
Dozier dan Broom yang dikutip Ruslan dalam buku Manajemen Public
Relations dan Media Komunikasi mengatakan bahwa fungsi Public Relations,
yaitu :
1. Penasehat Ahli (Expert Presciber)
Seorang praktisi pakar Public Relations yang
berpengalaman dan memiliki kemampuan tinggi dapat
membantu mencarikan solusi dalam penyelesaian masalah
hubungan dengan publiknya (public relationship).
2. Fasilitator Komunikasi (Communication fasilitator)
Dalam hal ini praktisi Public Relations bertindak sebagai
komunikator datau mediator untuk membantu pihak
manajemen dalam hal mendengarkan apa yang
diharapkan oleh publiknya.
3. Fasilitator Proses Pemecahan Masalah (Problem solving
process fasilitator)
Peranan praktisi Public Relations dalam hal pemecahan
masalah merupakan bagian dari tim manajemen, hal ini
dimaksudkan untuk membantu pimpinan organisasi baik
sebagai penasihat (adviser) hingga mengambil keputusan
dalam menghadapi krisis secara rasional dan profesional.
4. Teknisi Komunikasi (Communication technician)
Perbedaan dengan ketiga hal diatas yaitu, praktisi Public
Relations sebagai journalist in resident yang hanya
menyediakan layanan teknis komunikasi saja. (2007:21)
Definisi tesebut mengandung arti fungsi Public Relations selain sebagai
praktisi Public Relations yang bekerja secara profesional juga harus menjadi
penasehat yang memberikan saran, menjadi fasilitator untuk berkomunikasi sebagai pemecah masalah, memberikan saran dan juga masukan serta menjadi penyedia layanan teknis komunikasi. Bernay yang dikutip Ruslan dalam buku Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi, tiga fungsi utama Public Relations, yaitu :
1. Memberikan penerangan kepada masyarakat.
2.Melakukan persuasi untuk mengubah sikap dan
perbuatan masyarakat secara langsung.
3.Berupaya untuk menginterpretasikan, sikap dan suatu
badan lembaga sesuai dengan sikap dan perbuatan
masyarakat atau sebaliknya. (2005:18)
mematuhi kebijakan tersebut, dikarenakan lewat peran Public Relations yang
memberi penerangan kepada masyarakat luas. Disini fungsi Public Relations adalah memberikan informasi kepada masyarakat luas dengan harapan dapat merubah  pandangan, sikap dan perilaku mereka agar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh organisasi atau pemerintahan yang diwakilinya

Pengertian Public Relations (skripsi dan tesis)

Tidak bisa dipungkiri zaman sekarang ini public relations masih sering
diperdebatkan oleh para ahli tentang definisi yang pasti. Ketidakpastian tersebut dikarenakan banyaknya definisi public relations yang dirumuskan oleh para ahli maupun profesional public relations atau humas yang berdasarkan perbedaan sudut pandang mereka terhadap pengertian humas atau public relations tersebut.
Selanjutnya perbedaan latar belakang misalnya definisi yang dilontarkan oleh
kalangan praktisi (public relations practicioner). Adanya indikasi baik teoritis
maupun praktis bahwa kegiatan public relations atau kehumasan bersifat dinamis dan fleksibel terhadap perkembangan dinamika kehidupan masyarakat yang mengikuti kemajuan zaman, khususnya memasuki era globalisasi saat ini.
Memahami pengertian public relations melalui salah satu atau dua definisi
tidaklah mudah, karena semua definisi yang ada mungkin tidak mampu
menggambarkan kegiatan public relations sesungguhnya. Akan tetapi, jika
diperhatikan lebih jauh sejumlah definisi mempunyai persamaan satu sama lain hanya cara pengungkapannya saja yang berbeda.
Salah satu definisi Public Relations menurut Jefkins dalam bukunya
“Public Relations” mendefinisikan Public Relations dalam hubungan pers adalah sebagai berikut :
Usaha untuk mencapai publikasi atan penyiaran yang
maksimum atas suatu pesan atau informasi Public
Relations dalam rangka menciptakan pengetahuan dan
pemahaman bagi khalayak dan organisasi perusahaan
yang bersangkutan. (2003:113)
Definisi tersebut sangat berkaitan dengan bagaimana membina hubungan
antara media dan juga kepentingan proses publikasi tentang berbagai program kerja serta penginformasian pengetahuan kepada khalayak luas, karena fungsi Public Relations harus menginformasikan setiap kebijakan atau pemberitaan yang ada agar diketahui oleh masyarakat luas dan lewat bantuan media lah para praktisi Public Relations dapat mengabarkan informasi tersebut kepada khalayak luas. Menurut The British Institute of Public Relations dalam buku Public Relations karangan Jefkins adalah sebagai berikut:
Public Relations adalah keseluruhan upaya yang
dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam
rangka menciptakan dan memelihara niat baik (good will)
dan saling pengertian antara satu organisasi dengan
segenap khalayaknya. (2007:18)
Definisi di atas berarti Public Relations adalah suatu cara yang dilakukan
agar mencapai suatu tujuan baik lewat upaya-upaya yang berkesinambungan dan terorganisasi dengan benar antara organisasi dan juga khalayaknya.
Agustus 1978 di Mexico city ada pertemuan yang dihadiri oleh para pakar
Public Relations menyimpulkan bahwa definisi Public Relations adalah :
Praktik Public Relations adalah seni dan ilmu pengetahuan
sosial yang dapat dipergunakan untuk menganalisis
kecenderungan, memprediksi konsekuensi-konsekuensinya,
menasehati para pemimpin organisasi dan rnelaksanakan
program terencana mengenai kegiatan-kegiatan yang
melayani, baik untuk kepentingan organisasi maupun
kepentingan public atau umum. (2007:17)
Definisi tersebut sangat menjelaskan bahwa Public Relations berguna
sebagai penganalisis kecenderungan yang terjadi dalarn suatu organisasi,
bagairnana menyampaikan informasi yang benar terhadap khalayak dengan baik dan berbagai kepentingan yang ada yang harus disampaikan oleh Public Relations dalam suatu organisasi.
Soemirat mengutip Fraser P. Seitel dalam bukunya Dasar – Dasar Public
Relations mengemukakan bahwa pada tahun 1975 Yayasan Pendidikan dan
Penelitian Public Relations menganalisa 472 definisi dan merangkumnya menjadi satu paragraf yaitu:
Public Relations is a distinctive management function which
help established and maintain mutual line of communication
understanding, acceptance and cooperation between and
organization and its publics, involves the management of
problem or issues, helps management to keep informed on
and responsive to public opinion, defines emphasiszesteh
responsibility of management to serve the public interest
helps management keep abreast of and effectively utilize,
serving as and early warning System to help anticipate trend,
and uses research and sound and ethical communication
techniques as its principles tools. (2004:13)
Dapat kita lihat bahwa Public Relations sangat menunjang dalam
pelaksanaan suatu kegiatan di pemerintahan. Tidak hanya bertugas untuk
memelihara keharmonisan tetapi juga berfungsi sebagai alat manajernen yang
mernbantu dalarn penyempaian informasi dan juga harus tanggap terhadap
permasalahan yang terjadi.