Teknik Dasar Lari (skripsi dan tesis)

1.

Tujuan utama dari pembelajaran ini bukan untuk meningkatkan prestasi siswa-siswanya. Namun lebih ditekankan pada upaya untuk memperkaya gerak-gerak dasar jalan dan lari. Dengan demikian diharapka mereka akan lebih terampil, efektif dan efisien dalam menggunakan/memfungsikan anggota badannya. Berbagai gerak dasar jalan dan lari tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu yang sederhana dan dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan oleh siapapun tak terkecuali oleh anak-anak tunanetra sekalipun semakin sering dan semakin banyak melakukan, maka akan semakin banyak peluang bagi siswa untuk lebih cepat meningkatkan kesegaran jasmaninya, kemampuan fisiknya, pengalaman geraknya, pengayaan geraknya efisiensi dan efektivitas geraknya serta otomatisasi gerak siswa.

Oleh karena itu berikanlah kesempatan kepada siswa untuk melakukan berbagai kegiatan gerak dasar jalan dan lari sebanyak mungkin, hingga mereka akan menjadi siswa-siswa yang sehat, segar, terampil serta kaya akan konsep gerak yang diperlukannya kelak. Djumidar (2001 : 5.2 – 5.3 ) mengemukakan ada berbagai macam gerakan-gerakan dasar lari untuk lari jarak pendek, antara lain :

  1. Gerakan menginjak-injak tanah, gerakan dari pergelangan kaki, pinggul tidak bergerak.
  2. Gerakan mengangkat ujung kaki satu-persatu kedepan lurus setinggi mata kaki dengan frekwensi gerakan cepat dengan sikap permulaan jinjit.
  3. Gerakan menekuk lutut hingga tumit menyentuh pantat oleh kaki kiri dan kanan berganti-ganti dengan frekwensi yang cepat.
  4. Gerakan mengangkat lutut setinggi pangkal paha dengan frekwensi yang cepat.
  5. Hopping, yaitu gerakan melompat dengan kaki ayun ditahan/ditekuk setinggi pangkal  paha dan kaki menumpu terangkat dari permukaan tanah setinggi mungkin, dilakukan

berganti-ganti tumpuan.

  1. Hopjump atau melompat kijang, yaitu langkah yang lebar disertai gerak lompatan kedepan, kedua kaki saling berganti  menumpu untuk mengangkat berat badan, kedua tangan mengayun menjaga keseimbangan.
  2. Hopstep atau jingkrak atau engklek, gerakan tersebut dilakukan dengan tumpuan satu kaki dengan mengangkat lutut bergerak kedepan dengan frekwensi yang cepat, dilakukan dengan berganti-ganti kaki.

Pengertian Lari (skripsi dan tesis)

Menurut Djumidar ( 2001 : 5.2 ) “ Lari adalah frekwensi langkah yang dipercepat, sehingga pada waktu berlari ada kecenderungan badan melayang. Yang artinya pada waktu kedua kaki tidak menyentuh tanah, sekurang-kurangnya satu kaki tetap menyentuh tanah “. Akitivitas gerak dasar jalan dan lari pada dasarnya hampir sama, yaitu didominasi oleh gerak melangkahkan kedua kaki diimbangi oleh gerak ayunan lengan yang harmonis. Jalan dan lari termasuk pada kategori keterampilan gerak siklis. Tujuan dari jalan dan lari adalah menempuh suatu jarak tertentu (tanpa rintangan atau melewati rintangan) secepat mungkin. Gerak dominan yang utama dari gerak lari adalah gerakan langkah kaki dan ayunan lengan. Sedangkan aspek lain yang perlu diperhatikan pada saat berlari adalah kecondongan badan (disesuaikan dengan jenis / type lari ), pengaturan nafas, dan harmonisasi gerakan lengan dan tungkai. Sedangkan yang paling menentukan kecepatan lari seseorang adalah panjang langkah kaki kekerapan langkah. Langkah kaki terdiri dari tahap menumpu dan tahap melayang. Sedangkan gerakan kaki mulai tahap menumpu kemudian mendorong (kaki tolak ) sedangkan kaki ayun melakukan gerak pemulihan dan gerak ayunan.

Kaki tumpu : Mendaratlah pada telapak kaki bagian depan, lurus kedepan.

Mata kaki, lutut dan pinggul diluruskan penuh selama tahap mendorong.

Kaki ayun : Kaki ditekuk selama masa pemulihan. Lutut angkat kedepan atas pada tahap mengayun.

Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (skripsi dan tesis)

Pendidikan jasmani dan kesehatan seperti dikemukakan oleh Rijsdorp (1971) dalam Sukintaka (2004 : 31-32) sebagai berikut:

  1. Pendidikan jasmani merupakan bagian dari Gymnologie, yakni pengetahuan (wetenschap) tentang berlatih, dilatih, atau melatih; yang terdiri dari tiga bagian besar: (1) Pendidikan Jasmani, (2) Olahraga (Sport), (3) Rekreasi.
  2. Pendidikan jasmani merupakan pergaulan dalam bidang gerakan dan pengetahuan tubuh. Selanjutnya Rijsdorp juga menerangkan, bahwa pendidikan jasmani merupakan pendidikan. Dan pendidikan itu menolong anak-anak atau anak muda mencapai kedewasaan.

Pendapat tersebut diperkuat dengan salah satu pendapat pendidikan jasmani yang dikemukakan Wuest dan Bucher (1995) dalam Sukintaka (2004 : 34) sebagai berikut :

“Pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang bertujuan untuk memperbaiki kerja, dan peningkatan pengembangan manusia melalui aktivitas jasmani”.

Pendidikan jasmani bukanlah pendidikan terhadap badan atau bukan merupakan pendidikan tentang problem tubuh, akan tetapi merupakan pendidikan tentang problem manusia dan kehidupan. Tujuan pendidikan jasmani berbeda dengan tujuan pembinaan olahraga prestasi, tujuan pendidikan jasmani adalah untuk membuat anak senang bermain dan bergerak dalam proses pembelajaran sehingga anak melakukan aktivitas gerak yang cukup, sedangkan tujuan pembinaan olahraga prestasi adalah mendapatkan pencapaian hasil prestasi yang maksimal. Dalam hal ini seorang guru pendidikan jasmani dituntut untuk memiliki kemampuan persuasif yang baik untuk mengajak siswa mengikuti proses pembelajaran dengan semua aktivitas gerak di dalamnya dengan perasaan senang, nyaman, dan tenang.

Seorang guru harus kreatif dan mampu berinovasi dalam proses pembelajaran di sekolah agar tercapai tujuan pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani itu pendidikan melalui gerak manusia. Akibat dari hal tersebut, maka pembelajaran pendidikan jasmani harus mampu mengembangkan seluruh aspek pribadi manusia, dan harus berpegang teguh kepada norma-norma pendidikan. Dengan demikian dalam pembelajaran dapat dilaksanakan modifikasi baik alat, peraturan, dan lain sebagainya untuk membuat proses pembelajaran lebih menarik dan membuat anak senang mengikuti pembelajaran.

Pengertian Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Pembelajaran sebagaimana dijelaskan dalam Sukintaka (2004 : 55) mengandung pengertian, bagaimana para guru mengajarkan sesuatu kepada peserta didik, tetapi di samping itu juga terjadi peristiwa bagaimana peserta didik mempelajarinya. Jadi di dalam sauatu peristiwa pembelajaran terjadi dua kejadian secara bersamaan, yaitu sebagai berikut: pertama, ada satu pihak yang memberi dan kedua, pihak lain yang menerima. Oleh sebab itu peristwa tersebut dapat dikatakan terjadi proses ineraksi edukatif. Kalau pembelajaran direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan dengan baik, maka dapat diharapkan bahwa pembelajaran sebagai wahana pencapaian tujuan pendidikan jasmani akan berhasil dengan baik juga. Winarno Surachmad (1980) dalam Sukintaka (2004 : 57), mengutarakan “bahwa mengajar merupakan peristiwa yang terikat oleh tujuan, terarah oleh tujuan, dan dilaksanakan semata-mata untuk mencapai tujuan”.

Menurut Winarno Surachmad (1980) dalam Sukintaka (2004 : 38) Untuk pencapaian tujuan pembelajaran dengan baik dan lancar, maka guru pendidikan jasmani harus betul-betul mengetahui interaksi edukatif berikut ini :

  1. Keadaan anak (jenis kelamin, atau kemampuan anak, karakteristik pertumbuhan dan perkembangan anak)
  2. Penentuan bahan pelajaran yang tepat
  3. Tempat pelaksanaan (kolam renang, bangsal senam, atau lapangan terbuka)
  4. Tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran rasa sosial, kemampuan motorik)
  5. Keterampilan motorik, afektif, atau kognitif
  6. Tersedianya alat pembelajaran
  7. Penentu pembelajaran dan metode penyampaian (bentuk metode penyampaian : bermain, ceritera, gerka dan lagu, meniru, lomba, tugas, komando, latihan, dan modifikasi)
  8. Ada penilaian interaksi

Tujuan pembelajaran dijelaskan dalam Sukintaka (2004 : 60-61), yaitu:

  1. Tujuan pembelajaran umum.

Perumusannya masih sangat umum, karena belum operasional. Artinya belum spesifik, karena masih meliputi ruang lingkup yang cukup luas. Kata kerja yang digunakan dalam tujuan pengajaran umum ialah kata kerja yang tidak atau belum operasional, jadi masih menimbulkan berbagai tafsiran. Adapun kata kerja itu antara lain: memahami, menguasi, mengetahui, mengerti, mengenal, atau kata-kata lain yang sejenis.

  1. Tujuan pembelajaran khusus

Perumusan pada tujuan pembelajaran khusus sudah lebih operassional dari pada perumusan tujuan pembelajaran umum. Komponen pokok dalam perumusan tujuan pengajaran ialah keadaan anak didik yang berkaitan dengan tingkah laku, kondisi tertentu, dan derajat kemampuan. Dalam perumusan tujuan pembelajaran khusus yang akan ditentukan oleh para guru sendiri ialah kata kerja yang dipilih harus bermakna operasional, seperti: dapat atau mampu.

Dari uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi edukatif antara guru dan siswa yang mempunyai tujuan dalam menyalurkan ilmu dari guru ke siswa menuju proses kematangan dalam diri siswa.

Pengertian Atletik (skripsi dan tesis)

Olahraga merupakan berbagai macam kegiatan atau usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan dan membina kekuatan jasmani maupun rohani pada setiap orang. Lebih luas lagi olahraga dianggap sebagai salah satu alat dalam usaha meningkatkan kesanggupan bangsa guna menanggulangi kewajibannya yang semakin lama semakin meningkat sesuai dengan perkembangan jaman.

Atletik adalah gabungan dari beberapa jenis olahraga yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi lari, lempar, dan lompat. Kata ini berasal dari bahasa Yunani “athlon” yang berarti kontes, Munasifah (2008 : 9). Nomor olahraga atletik adalah induk dari semua cabang olahraga dan yang paling tua. Dalam nomor atletik terdapat bermacam latihan fisik yang lengkap dan menyeluruh. Latihan fisik tersebut diharapkan akan memberikan kepuasan karena dengan melakukan berbagai kegiatan dalam olahraga atletik maka dorongan naluri seseorang untuk bergerak dapat terpenuhi.

Atletik memegang peranan penting dalam pendidikan dan pengembangan kondisi fisik individu pelaku olahraga. Atletik juga menjadi dasar pokok untuk pengembangan dan peningkatan prestasi yang optimal bagi cabang olahraga lainnya. Sesuai dengan penjelasan dan tujuan dalam melakukan olahraga tersebut di atas, maka di sekolah mempunyai seperangkat kurikulum yang menjabarkan kegiatan olahraga pendidikan jasmani. Di dalam Kurikulum SD pengertian pendidikan jasmani dan kesehatan adalah mata pelajaran yang merupakan bagian pendidikan keseluruhan yang proses pembelajarannya mengutamakan aktifitas jasmani dan kebiasaan hidup sehat menuju pada pertumbuhan dan pengembangan jasmani, mental, sosial dan emosional yang selaras, serasi seimbang. Salah satu cabang olahraga nomor atletik yang juga menjadi muatan materi pendidikan di sekolah adalah nomor lari, terutama dalam materi pembelajaran Penjas di sekolah dasar.

Kurikulum Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan untuk SD meliputi kegiatan pokok dan kegiatan pilihan. Kegiatan pokok terdiri atas atletik, senam, permainan dan pendidikan kesehatan. Sedang kegiatan pilihan disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat, seperti renang, pencak silat, bulu tangkis, tenis meja dan sepak bola. Kegiatan dalam atletik yang termasuk dalam materi kurikulum adalah nomor lari, dimana di dalamnya terdapat materi tentang gerak dasar lari itu sendiri.

Modifikasi Permainan Dalam Pembelajaran (skripsi dan tesis)

              Memodifikasi pembelajaran adalah sangat penting agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Modifikasi dibutuhkan apabila, kondisi pembelajaran ini dapat dilakukan pada berbagai aspek tergantung tingkat kesulitan dari gerakan ketrampilan yang dipelajari. Rusli Lutan & Adang Suherman (2000: 69) menyatakan bahwa, “Modifikasi permainan berarti guru atau pelatih dapat mengurangi atau menambah tingkat kompleksitas dan kesulitan tugas ajar dengan memodifikasi permainan yang digunakan untuk melakukan skill itu”. Pendapat lain dikemukakan Yoyo Bahagia & Adang Suherman (1999/2000:1) bahwa, “Esensi modifikasi adalah menganalisa sekaligus mengembangkan materi pelajaran atau latihan dengan cara meruntunkan dalam proses aktivitas belajar atau berlatih yang potensial dapat memperlancar siswa dalam latihannya. Cara ini dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan dan membelajarkan siswa dari yang tadinya tidak bisa menjadi bisa dari tingkatnya yang tadinya rendah menjadi lebih tinggi”.

            Berdasarkan dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa modifikasi merupakan usaha atau cara yang dilakukan oleh seorang guru. Jika keterampilan yang dipelajari sulit atau rumit, maka pembelajaran dapat mengurangi atau menyederhanakan ketrampilan yang dipelajari terutama untuk pemula.

Permainan Dalam Pembelajaran (skripsi dan tesis)

                 Pendidikan sebagai proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, mempunyai peranan yang sangat penting yaitu memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani.

                 Pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang dilakukan melalui aktivitas fisik sebagai media utama mencapai tujuan. Bentuk-bentuk aktivitas fisik yang lazim digunakan oleh anak SD, sesuai dengan muatan yang tercantum dalam kurikulum adalah bentuk gerak-gerak olahraga, sehingga pendidikan jasmani memuat cabang-cabang olahraga.

                     Jadi pendidikan jasmani merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, dan penghayatan nilai-nilai serta pembiasaan pola hidup sehat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang. Yang membedakan antara pendidikan jasmani dengan mata pelajaran lain adalah alat yang digunakan yaitu gerak insani atau manusia yang bergerak secara sadar.

                 Untuk mencapai tujuan tersebut, guru pendidikan jasmani harus dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani sesuai dengan tahap-tahap perkembangan dan karakteristik anak SD. Memodifikasi alat pembelajaran merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan guru pendidikan jasmani SD, agar siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Rusly Lutan dalam modul pengembangan media Penjaskes oleh Departemen Pendidikan Nasional (1994:3) menyatakan, modifikasi dalam mata pelajaran pendidikan jasmani diperlukan, dengan tujuan agar :

    1) Siswa memperoleh kepuasan dalam mengikuti pelajaran.

    2) Meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi.

    3) Siswa dapat melakukan pola gerak secara benar.

     Pendekatan modifikasi ini dimaksudkan agar materi yang ada di dalam kurikulum dapat disajikan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan kognitif,  afektif, dan psikomotor anak, sehingga pembelajaran pendidikan jasmani di SD dapat dilakukan secara intensif.

                  Modifikasi digunakan sebagai salah satu alternatif pendekatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani di SD dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Menurut Ngasmain dan Soepartono dalam modul pengembangan media Penjaskes oleh Departemen Pendidikan Nasional (1994:4) alasan utama perlunya modifikasi adalah :

      1) Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, kematangan fisik dan mental anak belum selangkap orang dewasa.

      2) Pendekatan pembelajaran pendidikan jasamani selam ini kurang efektif,   hanya bersifat lateral dan monoton.

3) Sarana dan prasarana pembelajaran pendidikan jasmani yang ada sekarang, hampir semuanya didesain untuk orang dewasa. Aussie dalam modul pengembangan media Penjaskes oleh Departemen Pendidikan Nasional (1994:4) mengembangkan modifikasi di Australia dengan pertimbangan :

 1) Anak-anak belum memiliki kematangan fisik dan emosional seperti orang dewasa.

 2) Berolahraga dengan peralatan dan peraturan yang dimodifikasi akan menguragi cidera pada anak.

 3) Olahraga yang dimodifikasi akan mampu mengembangkan keterampilan anak lebih cepat disbanding dengan peralatan yang standar untuk orang dewasa.

 4) Olahraga yang dimodifikasi menumbuhkan kegembiraan dan kesenangan pada anak-anak dalam situasi kompetitif.

                   Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan modifikasi                                             dapat digunakan sebagai suatau alternatif dalam pembelajaran pendidikan jasmani di SD, karena pendekatan ini mempertimbangkan tahap-tahap perkembangan dan karakteristik anak, sehingga anak akan mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dengan senang dan gembira.

                  Dengan melakukan modifikasi, guru penjas akan lebih mudah menyajikan materi pelajaran yang sulit akan menjadi lebih mudah dan disederhanakan tanpa harus takut kehilangan makna dari apa yang ia berikan. Anak akan lebih banyak bergerak dalam berbagai situasi dan kondisi yang dimodifikasi. Komponen-komponen penting dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan yang dapat dimodifikasi menurut Aussie meliputi :

       1) Ukuran, berat atau bentuk peralatan yang dipergunakan.

       2) Lapangan permainan.

       3) Waktu bermain atau lamanya permainan.

       4) Peraturan permainan.

       5) Jumlah pemain.

                    Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen yang dapat dimodifikasi sebagai pendekatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani di SD adalah :

       1) Ukuran, berat atau bentuk peralatan yang dipergunakan.

       2) Ukuran lapangan.

       3) Lamanya waktu bermain atau lamanya permainan.

       4) Peraturan permainan yang digunakan.

     5) Jumlah pemain atau jumlah siswa yang dilibatkan dalam suatu permainan.

Kesalahan yang Sering terjadi pada Passing Bawah (skripsi dan tesis)

Passing bawah merupakan salah satu teknik dasar bola voli yang paling mudah jika dibandingkan dengan teknik lainnya. Namun tidak menutup kemungkinan, bagi siswa sekolah seringkali dalam melakukan passing bawah

    terjadi kesalahan, sehingga kualitas passing yang di hasilkan tidak sesuai yang di harapkan.

             Menurut Barbara L.V & Bonnie. J.F (1996:21), kesalahan melakukan passing bawah antara lain :

1) Lengan terlalu tingi ketika memukul bola

2) Merendahkan tubuh dengan menekuk pingang bukan lutut, sehingga bola yang di operkan terlalau rendah dan terlalu kencang.

3) Tidak memindahkan berat badan ke arah sasaran, sehingta bola tidak bergerak ke muka.

4) Lengan terpisah sebelum pada saat atau sesudah menerima bola, sehinga operan salah.

5) Bola mendarat di lengan di daerah siku atau menyentuh tubuh. Hal-hal tersebut di atas harus diperhatikan oleh guru atau pelatih dalam mengajar passing bawah bola voli. Pada umumnya siswa tidak mampu mengamati letak kesalahan yang dilakukan. Seorang guru harus mampu mencermati setiap kesalahannya dan setiap kesalahan yang dilakukan siswa, guru segera mungkin untuk membetulkan gerakan yang salah tersebut. Kesalahan yang dibiarkan akan membentuk pola gerak yang salah, sehingga kualitas passing bawah yang dilakukan hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.

Pelaksanaan Passing Bawah (skripsi dan tesis)

Passing bawah merupakan satu pola gerakan yang di rangkaikan secara baik dan harmonis agar passing bawah yang dilakukan menjadi lebih baik dan sempurna. Untuk mencapai hal tersebut seorang siswa harus menguasai teknik passing bawah. Cara melakukannya adalah ibu jari sejajar dan jari-jari tangan yang satu membungkus jari-jari tangan lainnya. Semua penerimaan bola dengan teknik ini sebaiknya bola di sentuh persis sedikit lebih atas dari pergelangan tangan. Sikap lengan dan tangan diupayakan seluas mungkin dari kedua sikut sebaiknya disejajarkan untuk mencegah terjadinya pergeseran yang memberikan kemungkinan arah bola yang dikehendaki tidak melenceng. Sikap kaki dibuka selebar bahu, dan salah satu kaki berada di depan. Ketika bola datang cepat dan sangat menukik, maka gunakan sikap penjagaan rendah, demikian pula jika bola datang tidak terlalu cepat dan rendah gunakan sikap penjagaan menengah (Amung ma’mun dan Toto Subroto, 2001:57). Sedangkan menurut Soedarwo dkk (2000:9) teknik pelaksanaan passing bawah adalah sebagai berikut : Sikap permulaan  Ambil sikap siap normal pada saat tangan akan dikenakan pada bola, segera tangan dan juga lengan diturunkan serta tangan dan lengan dalam keadaan terjulur kebawah depan lurus. Siku tidak boleh ditekuk, kedua lengan merupakan papan pemukul yang selalu lurus keadaannya. Sikap saat perkenaan Pada saat akan mengenakan bola pada bagian sebelah atas dari pada pergelangan tangan , ambillah terlebih dahulu posisi sedemikian hingga badan berada dalam posisi menghadap bola. Begitu bola berada pada jarak yang tepat maka segeralah ayunkan lengan yang telah lurus dan fixir tadi dari arah bawah kedepan atas. Tangan pada saat itu telah berpegangan satu dengan yang lain. Perkenaan bola harus diusahakan tepat dibagian proximal daripada pergelangan tangan dan dengan bidang yang selebar mungkin agar bola dapat melambung secara stabil. Maksudnya agar bola selama lintasannya tidak banyak membuat putaran. Putaran bola setelah mengenai bagian proximal daripada pergelangan tangan, akan memantul keatas depan dengan lambungan yang cukup tinggi dan dengan sudut pantul 90. Bila sudut pantulnya tidak 90 maka secara teoritis bola memantul kearah lain atau dikatakan bola tersebut akan diterima luncas. Dengan demikian bola tidak akan memantul kearah seperti yang diharapkan.

Sikap akhir Setelah bola berhasil dipass bawah maka segera diikuti pengambilan sikap siap normal kembali dengan tujuan agar dapat bergerak lebih cepat untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Untuk memperoleh kualitas passing bawah yang baik, maka setiap terjadi kesalahan harus dicermati letak kesalahannya dan kesalahan harus dihindari. Kemampuan siswa dalam mencermati setiap kesalahan yang dilakukan akan dapat membentuk pola passing seperti yang diharapkan.

Pengertian Passing Bawah (skripsi dan tesis)

Passing merupakan operan bola yang dimainkannya kepada teman seregunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Soedarwo dkk (2000:8) yang menyatakan bahwa, “ Passing didalam permainan bola voli adalah usaha ataupun upaya seorang pemain bola voli dengan cara menggunakan suatu teknik tertentu yang tujuannya adalah untuk mengoperkan bola yang dimainkannya itu kepada teman seregunya untuk dimainkan dilapangan sendiri”. Sedangkan menurut  M.Yunus (1992:80) mengemukakan bahwa “ passing adalah mengoperkan kepada teman sendiri dalam satu regu dengan suatu teknik tertentu, sebagai langkah awal untuk menyusun pola serangan kepada regu lawan”. Oleh karena itu, menguasai teknik dasar passing bola voli merupakan faktor yang penting dan harus dipahami serta dikuasai dengan benar. Passing bawah merupakan teknik dasar bola voli yang paling awal diberikan dalam mengajar atau melatih bola voli. G. Durrwachter (1990:52) menyatakan, “teknik passing bawah bagi anak didik dirasakan lebih wajar, gampang dan terutama lebih aman pada saat menerima bola yang keras, dibandingkan dengan gerak passing atas yang memerlukan sikap tangan dan jari khusus”. Dengan demikian passing bawah memiliki keuntungan yang lebih baik jika dibandingkan dengan passing atas. Hal ini dapat dilihat dalam permainan,

 jika menerima servis atau smash yang keras dan tajam harus dilakukan dengan passing bawah. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, passing bawah adalah teknik dasar memainkan bola dengan mengunakan kedua tangan,dimana perkenaan bola yaitu pada kedua lengan bawah ynag bertujuan untuk mengoperkan bola kepada teman seregunya untuk dimainkan ke lapangan sendiri atau sebagai awal melakukan serangan.

Peraturan Permainan Bola voli Mini (skripsi dan tesis)

Peraturan bola voli mini merupakan modifikasi dari peraturan bola voli yang sesungguhnya. Bola voli mini dimainkan oleh pemain yang sejumlahnya kurang dari 6 orang dalam satu tim, Taktik yang sederhana, Ukuran lapangan yang lebih kecil, tergantung tingkat umur anak-anak yang memainkannya. Ukuran tinggi net dikurangi sehingga memungkinkan anak-anak untuk bermain diatas net pada saat menyerang dan bertahan sesuai dengan tinggi badan dan kemampuan daya lompat pemain. Bola yang digunakan lebih kecil dan lebih ringan, berat dan lingkaran bola disesuaikan dengan tingkat umur anak-anak Ukuran yang umum digunakan untuk bola voli mini adalah ukuran 4. Peraturan Putra dan Putri pada tingkat pemula ini tidak perlu dibedakan. Peraturan yang baku secara internasional belum ada, Menurut Horst Baacke dalam Coaches Manual 1, (1980:90), jumlah anggota regu, ukuran lapangan dan tinggi net untuk umur dimukakan seperti tabel berikut ini:

     Tabel.1 Ukuran lapangan dan tinggi net untuk bola voli mini

Umur 9 – 11 Tahun 10 – 12 Tahun 11 – 13 Tahun
Regu 2 lawan 2 3 lawan 3 4 lawan 4
Lapangan 3 x 9 m 4,5 x 9 m 6 x 9 m 6 x 12 m 8 x 12 m 9 x 12 m
Tinggi Net 210  ± 5 Cm 210   ± 5 Cm 210 ± 5 cm

 

Berdasarkan table diatas menunjukkan bahwa permainan bola voli mini sarana dan parasarananya dimodifikasi sesuai dengan umur siswa. Baik dari jumlah pemain, lebar lapangan maupun tinggi net

Penjelasan tentang bola voli mini (skripsi dan tesis)

    Pengajaran Olahraga atau pendidikan jasmani di sekolah dasar, khususnya cabang olahraga bola voli, masih sulit diajarkan dalam bentuk aturan cabang olahraga yang sesungguhnya, karena tingkat perkembangan fisik anak masih belum mampu mengatasi beban seberat itu. Oleh sebab itu hampir semua cabang olahraga diberikan dalam bentuk yang disederhanakan atau diminikan yang sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangan anak di Sekolah Dasar. Pengenalan dan pembentukan teknik-teknik dasar yang sedini mungkin, sejak umur sekitar 6-8 tahun diharapkan bagi anak yang berpotensi dapat mencapai prestasi puncaknya setelah berlatih secara teratur selama 10-12 tahun. Bola voli mini harus disesuaikan agar anak dapat memainkan dengan asyik dan gembira alat dan fasilitas serta peraturan disederhanakan. Seperti dalam penggunaan Bola lebih kecil, Lapangan lebih kecil, Jumlah permainan lebih kecil, Tidak Perlu ada garis serang, Pertandingan cukup dua kali kemenangan, Pergantian pemain bebas asal berseling satu rally, dan yang paling penting adalah membuat permainan yang menyenangkan.

Prinsip Dasar Permainan Bola voli (skripsi dan tesis)

Permainan bola voli adalah olahraga beregu yang dalam pelaksanaan permainannya dilakukan dengan memantulkan bola secara bergantian dari tim yang satu ke lawannya bertujuan untuk mematikan lawan dan memperoleh kemenangan. Amung Ma’mum dan Toto Subroto (2001:43) menyatakan bahwa, “Prinsip dasar permainan bola voli adalah memantul-mantulkan bola agar jangan sampai bola menyentuh lantai, bola dimainkan sebanyak-banyaknya tiga kali sentuhan dalam lapangan sendiri dan mengusahakan bola hasil sentuhan itu diseberangkan ke lapangan lawan melewati jaring masuk sesulit mungkin”. Menurut Agus Mukholid (2004: 35) bahwa, “Permainan bola voli adalah suatu permainan yang menggunakan bola untuk di-voli (dipantulkan) di udara hilir mudik di atas net (jaring), dengan maksud dapat menjatuhkan bola di dalam petak daerah lapangan lawan, dalam rangka mencari kemenangan. Mem-volly atau memantulkan bola ke udara dapat mempergunakan seluruh anggota atau bagian tubuh dari ujung kaki sampai ke kepala dengan pantulan sempurna”. Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, permainan bola voli adalah suatu permainan yang dilakukan dengan cara memantulkan bola menggunakan seluruh bagian kaki untuk dimainkan di lapangan permainan sendiri sebanyak tiga kali. Syarat pantulan bola harus sempurna tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Tujuan dari permainan bola voli yaitu menyeberangkan bola ke daerah lapangan permainan lawan sesulit mungkin untuk dijatuhkan atau mematikan bola agar memperoleh kemenangan

Penjelasan Tentang Bola Voli (skripsi dan tesis)

Olahraga bola voli sebagai bagian dari mata rantai materi pendidikan jasmani dalam arti kata merupakan bagian dari materi pendidikan jasmani secara keseluruhan. Bila dikategorikan, maka olahraga bola voli termasuk dalam olahraga yang bercirikan permainan. Sebagaimana karakteristiknya permainan bola voli mengandung unsur keterampilan gerak yaitu berupa teknik-teknik memainkan bola di dalam permainan bola voli. Menurut Amung Ma’mum dan Toto Subroto (2001: 41-42) nilai-nilai yang terkandung dalam permainan bola voli meliputi “(1) Nilai sosial, (2) Nilai kompetetif, (3) Kebugaran fisik, (4) Keterampilan berpikir, (5) Kestabilan emosi, dan (6) Tertib hukum dan aturan”. Nilai-nilai sosial seperti unsur kerjasama di antara teman seregu sangat dibutuhkan, memahami keterbatasan diri atau regu, memahami keunggulan teman bermain di luar regu sendiri dan lain-lain. Nilai-nilai kompetetif seperti memaknai keberhasilan dan ketidak-berhasilan. Nilai kompetetif ini sebaiknya ditanamkan kepada setiap diri anak agar dapat terimplementasikan dalam kehidupan baik sekarang atau kemudian hari. Nilai kebugaran fisik bahwa pembelajaran bola voli mendorong anak untuk senantiasa bergerak (terintegrasi dengan pembelajaran keterampilan gerak). Keterampilan berpikir yang diperoleh dari permainan bola voli yaitu dalam memainkan bola untuk mencapai suatu keberhasilan regu dituntut untuk memecahkan persoalan yang berkaitan dengan taktiknya agar regu dapat memperoleh angka menuju keberhasilan secara keseluruhan. Ditinjau dari kestabilan emosi bahwa, dengan bermain bola voli anak akan terbiasa dan terlatih untuk belajar memaknai keberhasilan dan kegagalan baik dalam setiap sub kegiatan permainan maupun permainan secara keseluruhan. Sedangkan kesadaran tertib hukum dan aturan karena dalam setiap cabang olahraga termasuk permainan bola voli ketentuan yang menjadi aturan permainan tercantum di dalamnya. Dengan adanya aturan permainan anak akan terbiasakan untuk mentaati dan menghormati aturan. Dari nilai-nilai yang terkandung dalam permainan bola voli tersebut akan dapat memberikan pengaruh terhadap pengembangan berbagai potensi yang ada pada diri individu ke arah yang dicita-citakan. Oleh karena itu, guru pendidikan jasmani dan olah raga harus senantiasa menciptakan suasana pembelajaran permainan bola voli yang dapat mengarahkan anak agar nilai-nilai yang terkandung dalam permainan bola voli dapat dirasakan dan nantinya akan memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan

Pengertian Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan pengetahuan atau kemahiran yang sedikit permanen. Proses belajar akan berjalan dengan baik apabila disertai dengan tujuan yang jelas. Tujuan belajar yaitu agar terjadinya perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya, sehingga perubahan tersebut bermakna dan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat sekitarnya. Sedangkan menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa,“pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkunganbelajar”. Dari berbagai pendapat pengertian pembelajaran di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses kegiatan yang memungkinkan guru dapat mengajar dan siswa dapat menerima materi pelajaran yang diajarkan oleh guru secara sistematik dan saling mempengaruhi dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang diinginkan pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/ media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Proses yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun didikan yang ada dalam kurikulum, sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis buku dan media. Demikian pula kunci pokok pembelajaran ada pada guru (pengajar), tetapi bukan berarti dalam proses pembelajaran hanya guru yang aktif sedang siswa pasif. Pembelajaran menuntut keaktifan kedua belah pihak yang sama-sama menjadi subjek pembelajaran. Jadi, jika pembelajaran ditandai oleh keaktifan guru sedangkan siswa hanya pasif, maka pada hakikatnya kegiatan itu hanya disebut mengajar. Demikian pula bila pembelajaran di mana siswa yang aktif tanpa melibatkan keaktifan guru untuk mengelolanya secara baik dan terarah,  maka hanya disebut belajar. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menuntut keaktifan guru dan siswa, sehingga akan tercipta suatu Proses Belajar Mengajar ( PBM ) yang sesuai dengan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan ( PAIKEM )

Karakteristik Siswa Kelas V (skripsi dan tesis)

             Menurut Evelyn 1. Schurr (Evelyn 1. Schurr dalam Syamsir Azis 2005), siswa kelas 5 sekolah dasar mempunyai karakteristik antara lain :

1) Pengembangan koordinasi lebih tinggi

2) Perbedaan jenis kelamin lebih besar pada skill, minat lebih mungkin beberapa permainan dan pertandingan dengan sejenis, hal-hal bermain lebih bersemangat dan besar dari perempuan.

3) Skill dan fisik yang baik adalah penting, pada penerimaan sosial.

4) Kemauan dan kesetiaan tinggi pada kelompok dan gang.

5) Kesadaran sosial dan keinginan untuk mengatur pada permainan dan tanggung jawab yang lebih besar.

 6) Pengurangan kelenturan.

7) Pertumbuhan otot pada anak laki–laki meningkat, kebanyakan anak   perempuan dalam masa puber.

Tujuan Pendidikan Jasmani (skripsi dan tess)

Samsudin (2008:3) tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan jasmani antara lain :

1) Meletakkan landasan karakter yang kuat melalui internalisasi dalam pendidikan jasmani.

2) Membangun landasan kepribadian yang kuat, sikap cinta damai, sikap sosial dan toleransi dalam konteks kemajemukan budaya, etnis dan agama.

3) Menumbuhkan kemampuan berpikir kritis melalui tugas-tugas pembelajaran pendidikan jasmani.

4) Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerja sama, percaya diri, dan demokratis melalui aktivitas jasmani.

5) Mengembangkan keterampilan gerak dan keterampilan teknik serta strategi berbagai permainan olahraga, aktivitas pengembangan, senam, aktivitas ritmik, akuatik (aktivitas air), dan pendidikan luar kelas (outdoor education).

6) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani.

7) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain.

8) Mengetahui dan memahami konsep aktivitas jasmani sebagai informasi untuk mencapai kesehatan, kebugaran dan pola hidup sehat.

9) Mampu mengisi waktu luang dengan aktivitas jasmani yang bersifat rekreatif.

Bidang Miring (skripsi dan tesis)

            Bidang miring merupakan peralatan yang bekerja berdasarkan prinsip pesawat sederhana yang berfungsi untuk meringankan pekerjaan sehingga memudahkan dalam pemindahan benda. Menurut Zainuri (2011:3), bidang miring adalah suatu permukaan datar yang memiliki suatu sudut, yang bukan sudut tegak lurus, terhadap permukaan horizontal. Tangga rumah dibuat landai dan jalan di sekitar pegunungan dibuat berkelok-kelok merupakan beberapa dari sekian banyak contoh penerapan bidang miring. Sejarah penggunaan bidang miring sesungguhnya telah ada sejak ribuan tahun silam. Orang-orang Mesir kuno memanfaatkan bidang miring untuk mengangkat batu raksasa ketika membangun piramida, sekitar tahun 2700 SM hingga 1000 SM.

Semakin landai atau kecil sudut kemiringan suatu bidang miring maka semakin kecil pula gaya yang dibutuhkan dan sebaliknya semakin terjal atau besar sudut kemiringan bidang miring maka semakin besar pula gaya yang diperlukan untuk pemindahan benda.

             Dalam penelitian ini, bidang miring digunakan untuk mempermudah siswa dalam melakukan guling belakang. Matras yang diposisikan dengan kemiringan tertentu akan membuat gerakan guling belakang siswa lebih mudah. Hal ini dikarenakan adanya gaya gravitasi yang mempengaruhi gerakan guling belakang siswa sehingga badan siswa tertarik ke belakang pada saat mengguling.Matras diposisikan dengan sudut kemiringan yang bervariasi berdasarkan prosedur penggunaan yang telah dibuat oleh guru. Pada fase awal sudut yang digunakan relatif besar sehingga siswa akan merasa mudah dalam melakukan guling belakang. Selanjutnya sudut kemiringannya dikurangi secara periodik berdasarkan instruksi guru dan sejalan dengan meningkatnya kesulitan siswa dalam melakukan guling belakang. Tujuan akhirnya adalah siswa dapat melakukan guling belakang tanpa bantuan bidang miring lagi. Bidang miring digunakan oleh siswa hanya sebagai alat bantu mempermudah gerakan guling belakang pada senam lantai serta meningkatkan hasil belajar atau kemampuan guling belakang siswa.

Peranan Fleksibilitas dalam Senam Lantai (skripsi dan tesis)

          Fleksibilitas memegang peranan penting dalam menunjang kehidupan sehari-hari baik dalam dunia anak-anak maupun orang dewasa. Dalam dunia anak-anak, fleksibilitas sangat penting karena dunia anak-anak adalah dunia bermain. Kegiatan bermain membutuhkan kelincahan, dan kelincahan membutuhkan fleksibilitas.

           Agar elastisitas otot dapat diperoleh dengan hasil yang maksimal, maka latihan untuk meningkatkan fleksibilitas sangat diperlukan, sebab fleksibilitas seseorang dapat menurun apabila tidak dilatih. Fleksibilitas sangat berperan hampir di seluruh cabang olahraga. Cabang-cabang olahraga yang menuntut banyak gerak seperti senam lantai juga memerlukan fleksibilitas yang tinggi. Fleksibilitas yang baik akan menghindarkan seseorang dari cedera pada saat melakukan gerakan yang berkaitan dengan kelenturan otot dan sendi. Selain itu, fleksibilitas juga dapat membuat suatu gerakan menjadi lincah dan efektif.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Fleksibilitas (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi fleksibilitas di antaranya: (1) Otot, jaringan ikat memberikan kelentukan pada otot, yakni sifat fisik yang menentukan daya rentang otot. Karena otot seringkali melewati persendian, komponen otot elastis menjadi faktor yang membatasi kelentukan sendi. (2) Tendon, Tendon merupakan sekumpulan jaringan penunjang tempat otot dapat melekat pada tulang. Tendon menghubungkan otot dengan tulang seperti tali. (3) Ligamen, merupakan pembalut dari jaringan penghubung yang kuat yang fungsi utamanya adalah untuk menguatkan sendi.(4) Struktur sendi, Susunan bentuk sendi menentukan kemampuan gerakan seseorang dan masing-masing susunan persendian juga menyebabkan perbedaan fungsi yang khusus. (5) Usia, Fleksibilitas seseorang meningkat pada masa kanak-kanak dan berkurang bersamaan dengan bertambahnya usia. (6) Jenis kelamin, wanita lebih lentur daripada laki-laki karena tulang-tulangnya lebih kecil dan otot-ototnya lebih sedikit daripada laki-laki. (7) Suhu tubuh atau suhu otot. Suhu tubuh dan suhu otot mempengaruhi luas suatu gerakan. Suhu tubuh dan suhu otot dapat ditingkatkan dengan melakukan pemanasan.

Pengertian Fleksibilitas (skripsi dan tesis)

          Menurut Harsono sebagaimana dikutip oleh Deni Kurniawan (2012:16) mengungkapkan bahwa fleksibilitas adalah kemampuan untuk melakukan gerakan dalam ruang gerak sendi. Maksud pernyataan tersebut yaitu fleksibilitas berhubungan dengan ruang gerak di sekitar sendi.

          Fleksibilitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan gerak dalam ruang gerak sendi. Kemampuan yang dimaksud disini menunjukkan modal awal untuk menampilkan suatu keterampilan yang memerlukan ruang gerak sendi yang luas serta melakukan gerakan-gerakan yang cepat dan lincah. Luasnya ruang gerak sendi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seseorang dalam menampilkan gerakan.

           Fleksibilitas mempunyai peranan penting baik dalam menunjang aktivitas kegiatan sehari-hari, maupun keluwesan dalam gerak seperti senam, atletik, dan cabang-cabang olahraga permainan lainnya yang memerlukan fleksibilitas yang tinggi. Fleksibilitas yang dimiliki seseorang dapat mengindikasikan kelincahan seseorang dalam bergerak.

Gerak Dasar Senam Lantai (skripsi dan tesis)

Beberapa contoh gerakan dasar senam lantai sebagaimana diungkapkan oleh Deni Kurniawan (2012: 37) adalah gerakan guling depan dan belakang, teknik kayang, sikap lilin, gerakan meroda, dan guling lenting. Guling depan adalah gerakan badan berguling ke arah depan melalui bagian belakang badan (tengkuk), pinggul, pinggang, dan panggul bagian belakang. Teknik kayang adalah suatu bentuk sikap badan terlentang yang membusur, bertumpu pada kedua kaki dan kedua tangan siku-siku dan lutut lurus. Sikap lilin adalah tidur terlentang, dengan dilanjutkan mengangkat kedua kaki lurus ke atas (rapat) bersama-sama. Gerakan meroda adalah gerakan memutar badan dengan sikap menyamping arah gerakan dan tumpuan berat badan ketika berputar menggunakan kedua tangan dan kaki. Sedangkan guling lenting adalah suatu gerakan melentingkan badan ke depan atas dengan lemparan kedua kaki dan tolakan kedua tangan.

Pengertian Senam Lantai (skripsi dan tesis)

         Senam merupakan suatu cabang olahraga yang melibatkan performa gerakan yang membutuhkan kekuatan, kecepatan dan keserasian gerakan fisik yang teratur. Senam sangat penting untuk pembentukan kelenturan tubuh, yang menjadi arti penting bagi kelangsungan hidup manusia. Deni Kurniawan (2012:

37) mengemukakan bahwa senam ada berbagai macam, diantaranya senam lantai, senam hamil, senam aerobik, senam pramuka, Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), dll. Biasanya di sekolah dasar, guru-guru mengajarkan senam-senam yang mudah dicerna oleh murid, seperti senam lantai, SKJ dan senam pramuka.Senam lantai merupakan salah satu rumpun dari senam. Pada dasarnyasenam lantai adalah latihan senam yang dilakukan pada matras. Unsur-unsur gerakannya terdiri dari mengguling, melompat, meloncat, berputar di udara, menumpu dengan tangan atau kaki untuk mempertahankan sikap seimbang atau pada saat meloncat kedepan atau ke belakang. Bentuk latihannya merupakan gerakan dasar dari senam perkakas (alat).

Pengertian Belajar (skripsi dan tesis)

         Slameto (2010: 2) mendefinisikan belajar sebagai proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baik secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Senada dengan pendapat di atas, menurut Gagne dan Berliner sebagaimana dikutip oleh Chatarina (2006:2), belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya sebagai hasil dari pengalaman.

           Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dikatakan bahwa belajar merupakan proses untuk memperoleh pengetahuan baru yang dilakukan manusia

secara sadar dengan memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Belajar dilakukan untuk mendapatkan perubahan perilaku baik melalui latihan ataupun pengalaman individu dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Proses belajar dipengaruhi beberapa faktor sebagai berikut.

    2.3.1.1 Faktor Internal

           Faktor internal adalah faktor-faktor dalam diri individu yang dapat mempengaruhi hasil belajar. Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan psikologis. Faktor fisiologis adalah faktor yang berkaitan dengan kondisi tubuh individu.

          Ketika individu dalam keadaan sehat dan bugar maka akan berpengaruh positif terhadap hasil belajar atau kemampuan dalam pelajaran penjasorkes. Sedangkan faktor psikologis adalah keadaan psikologi seseorang yang dapat memberikan pengaruh terhadap hasil belajar yang dicapai. Faktor psikologis diantaranya: kecerdasan, motivasi, minat, sikap terhadap mata pelajaran, serta bakat alami siswa.

2.3.1.2 Faktor Eksternal

           Faktor eksternal terdiri dari dua golongan yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non-sosial. (1) Faktor lingkungan sosial terdiri dari: lingkungan sekolah yang meliputi metode pembelajaran yang dilakukan guru, kurikulum yang diterapkan, sarana dan prasarana belajar, serta hubungan sosial antar guru dan siswa; lingkungan masyarakat; dan lingkungan keluarga. (2) Faktor non-sosial terdiri dari: lingkungan alam, faktor instrumental, dan materi pelajaran

Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar (skripsi dan tesis)

         Rusli Lutan sebagaimana dikutip oleh Suharjana (2006: 229) menyatakan bahwa pengembangan kemampuan berolahraga pada usia sekolah dasar lebih banyak ditekankan kepada mengembangkan unsur kemampuan fisik secara menyeluruh (multilateral), dan keterampilan teknik dasar yang dominan yang merupakan dasar bagi keterampilan teknik berolahraga.

          Salah satu isi program pengajaran dalam kurikulum sekolah dasar adalah membangun manusia seutuhnya yaitu mengembangkan fisik motorik melalui latihan aktivitas jasmani atau olahraga. Pembelajaran pendidikan jasmani sesuai dengan tuntutan kurikulum harus dilaksanakan melalui metode yang tepat agar tujuan yang terkandung dalam kompetensi dasar dapat dicapai secara efektif dan optimal.

            Untuk meningkatkan peran pendidikan jasmani sebagai dasar tumbuh kembang anak perlu dilakukan upaya pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan menantang. Selain itu, sarana dan prasarana di sekolah yang memadai, pembaharuan kurikulum disesuaikan kebutuhan siswa dan kemampuan sekolah, serta guru pendidikan jasmani terus berupaya untuk meningkatkan profesionalitas.

            Secara teoritis, senam merupakan aktivitas fisik yang dapat membantu mengoptimalkan perkembangan anak. Guru pendidikan jasmani perlu memahami bahwa senam di sekolah dasar bukanlah senam yang bersifat perlombaan dengan tingkat kesulitan yang tinggi, serta memerlukan peralatan yang sulit didapat serta mahal harganya dan harus dilakukan di dalam ruangan khusus senam.

            Senam di sekolah dasar prinsipnya yaitu membelajarkan pola gerak dalam senam, serta pengembangannya yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan siswa. Tujuan pembelajaran senam di sekolah dasar yaitu memberikan dasar atau landasan yang kuat tentang sikap dan gerak agar siswa nantinya dapat bersikap dan bergerak secara efektif dan efisien.

Hakikat Pendidikan Jasmani (skripsi dan tesis)

Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan  aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematik yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuscular, perseptual, kognitif, dan

emosional (Depdiknas, 2006: 11). Sedangkan Barrow sebagaimana dikutip oleh

Fitra Ruswandi (2012: 21) mengungkapkan bahwa pendidikan jasmani dapat didefinisikan sebagai pendidikan tentang dan melalui gerak insani, ketika tujuan

pendidikan dicapai melalui media aktivitas otot-otot, termasuk olahraga, permainan, senam, dan latihan jasmani.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani merupakan pembelajaran sistematis yang memanfaatkan aktivitas jasmani sebagai alat mencapai tujuan perkembangan secara menyeluruh sebagai upaya pengembangan kemampuan berpikir dan individu secara organik, neuromuscular, perseptual, kognitif, dan emosional.

Berdasarkan Permendiknas (2006: 703), bahwa pendidikan jasmani bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut. (1) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih. (2) Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik. (3) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar. (4) Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. (5) Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis (6) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. (7) Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.

Pendidikan jasmani dapat mengaktualisasikan seluruh potensi yang dimiliki manusia baik berupa tindakan, sikap maupun karya. Pendidikan jasmani

juga menjadi media perkembangan keterampilan fisik, motorik, penalaran dan kebiasaan hidup untuk merangsang perkembangan manusia secara seimbang. Sekalipun dalam proses pembelajaran menggunakan aktivitas jasmaniah secara dominan, namun hal ini tidak ditujukan semata-mata untuk perkembangan jasmaniah.

Komponen Kebugaran Jasmani (skripsi dan tesis)

Komponen kebugaran jasmani menurut Giriwijoyo sebagaimana dikutip oleh Deni Kurniawan (2012:12) antara lain adalah (1) daya tahan terhadap penyakit, (2) daya tahan otot, (3) daya tahan jantung, peredaran darah dan pernapasan, (4) daya ledak otot, (5) kelentukan, (6) kecepatan, (7) kelincahan, (8) koordinasi, dan (9) keseimbangan. Seseorang dikatakan memiliki kebugaran jasmani yang baik apabila status setiap komponen harus berada dalam kategori baik. Komponen-komponen kebugaran jasamani saling berkaitan antara satu dengan yang lain, namun masingmasing komponen memiliki ciri tersendiri. Apabila daya tahan tubuh tidak stabil maka tubuh sangat rentan terkena ancaman radikal bebas. Daya tahan dan kekuatan otot dapat ditingkatkan dengan latihan fisik yang teratur dan terusmenerus.

KRITERIA DALAM PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)

   Abstrak

Abstrak harus menunjukkan tiga unsur:

  1. Latar belakang dan tujuan penelitian
  2. Prosedur atau metode penelitian
  3. Hasil atau temuan penelitian
  4. Pendahuluan

Pendahuluan harus menunjukkan unsure-unsur sebagai berikut:

  1. Deskripsi masalah, data awal, lokasi penelitian, identifikasi akar masalah, dan pentingnya pemecahan masalah dengan segera
  2. Rumusan masalah
  3. Tujuan penelitian
  4. Manfaat penelitian
  5. Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka
  6. Adanya deskripsi teori yang relevan serta mendukung tindakan yang dikenakan kepada siswa
  7. Adanya kerangka pikir pemecahan masalah atau ide orisinil peneliti untuk melakukan tindakan guna mengatasi masalah yang dihadapi dan memungkinkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran
  8. Hipotesis tindakan (jika diperlukan)
  9. Pelaksanaan Penelitian
  10. Deskripsi tahapan dan siklus demi siklus sepanjang penelitian
  11. Penggunaan instrument, usaha validasi data, hipotesis tindakan, dan cara refleksi
  12. Tindakan yang dilakukan benar-benar nyata, riil, logis dan fleksibel

  1. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Hasil penelitian dan pembahasan disajikan dengan mendeskripsikan secara lengkap dan sistematis setiap tahapan dari siklus ke siklus.

Siklus I

  1. Perencanaan. Dipaparkan mengenai tindakan yang dikenakan yang berbeda dari pembelajaran biasanya
  2. Pelaksanaan. Diuraikan cara dan langkah-langkah melakukan tindakan
  3. Pengamatan. Diambil dari dokumen-dokumen pengamatan atau data autentik
  4. Refleksi. Berisi hasil introspeksi diri atau renungan sejauh mana proses KBM dapat ditingkatkan

Siklus II (idem), tetapi perlu ditambahkan hal-hal yang mnedasar seperti berikut ini:

  1. Disajikan proses dan hasil perubahan yang dicapai siswa
  2. Tabel atau grafik hasil analisis data kuantitatif
  3. Pembahasan
  4. Terdapat ulasan yang dicapai dari siklus ke siklus
  5. Kesimpulan dan Rekomendasi
  6. Hasil penelitian, telah sesuai atau belum dengan tujuan yang dicanangkan
  7. Terdapat saran bagi penelitian selanjutnya agar lebih baik
  8. Ada usulan dalam hal pemanfaatan hasil penelitian atau penggunaan temuan dalam penelitian
  9. Daftar Pustaka dan Lampiran
  10. Berisi sumber-sumber rujukan dengan penulisan daftar pustaka sesuai standar ilmiah
  11. Kelengkapan lampiran

Asas Dalam Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

  1. Asas kritik dialektis

Metode posivitis menyarankan agar kita mengamati gejala secara menyeluruh dan membatasinya secara pasti agar dapat mengidentifikasi sebab dan akibatnya yang khusus. Pendekatan dialektis menuntut peneliti untuk melakukan kritik terhadap gejala yang ditelitinya (winter, 1989).

  1. Asas sumber daya kolaboratif

Untuk memahami asas ini pernyataan-pernyataan berikut perlu direnungkan (winter, 1989): apa peran saya sebagai peneliti? Hubungan macam apa yang harus saya, dengan murid/bawahan saya , dengan teman sejawat yang tertarik, dan diatas segalanya, dengan mereka yang akan menjadi sumber data? Khususnya, bagaimana saya berusaha agar “objektif”? kolaborasi yang dimaksud disini adalah bahwa sudut pandang setiap orang akan dianggap memberikan andil pada pemahaman ; tidak ada sudut pandang seseorang yang akan dipakai sebagai pemahaman tuntas dan mampu dibandingkan dengan sudut-sudut pandang lainnya. Untuk menjamin adanya kolaborasi peneliti tindakan hendaknya memulai pekerjaannya dengan mengumpulkan sejumlah sudut pandang, dan sederet sudut pandang inilah yang memberikan struktur dan makna awal pada situasi yang diteliti. Namun perlu diingt bahwa bekerja secara kolaboratif tidak berarti memadukan semua sudut pandang ini untuk mencapai kesepakatan melalui evaluasi. Sebaliknya, ragam perbedaan sudut pndang itulah menjadikan sumber daya yang kaya, dan dengan menggunakan sumber daya inilah analisis peneliti dapat mulai bergeser keluar dari titik awal pribadi yang tak terhindarkan menuju gagasan-gagasan yang secara antar pribadi telah dinegosiasikan.

  1. Asas resiko

Asas resiko berarti bahwa pemrekarsa penelitian harus berani mengambil resiko melalui proses penelitiannya. Salah satu resikonya adalah melesetnya hipotesis. Jadi melalui keterlibatannya dalam proses penelitian, peneliti mungkin berubah pandangan karena dapat melihat sendiri pertentangan dan kemungkinan untuk berubah dalam pandangannya.

  1. Asas struktur majemuk

Struktur majemuk ini berhubungan dengan gagasan bahwa gejala yang diteliti harus mencakup semua unsure pokok agar menyeluruh.. misalnya bila situasi pengajaran yang diteliti, situasinya harus mencakup (paling tidak) guru, siswa, tujuan pendidikan, interaksi pembelajaran, dan keluaran.

Struktur majemuk ini memungkinkan pelapor untuk memenuhi kebutuhan berbagai kelompok pembaca

  1. Asas teori, praktik, dan transformasi

Teori dan praktik bukanlah dua dunia yang berbeda, melainkan dua tahap yang berbeda yang saling bergantung dan mendukung proses perubahan. Jadi pertama-tama, peteori-peneliti terlibat dalam serentetan kegiatan praktis, mengadakan kontak, mengatur pertemuan, mengumpulkan dan memilah-milah materi dengan cara yang meyakinkan orang lain tentang kegunaannya. Sebaliknya pelaku praktis melakukan kegiatan mereka dengan banyak dibantu oleh pemahaman teoritis yang mencakup pengetahuan professional bidang spesialisasinya dan konsepsi akal sehat, kategori dan aturan engenai apa yang normal dan apa yang membentuk rintangan kemungkinan yang dapat dilihat sebelumnya. Jadi teori dan praktik bukan merupakan dua dunia yang berbeda yang bertentangan satu sama lain yang melintasi jurang yang tak terjembatani: teori mengandung unsure-unsur praktik begitu juga sebaliknya. Berdasarkan argument tersebut dapat dikatakan bahwa teori dan praktik saling membutuhkan, dan oleh karena itu mencakup tahap-tahap yang saling tak terhindarkan dari proses perubahan yang menyatu, yang mengajukan masalah terkuat untuk penelitian tindakan praktisi sebagai kegiatan yang mewakili bentuk penyelidika social yang kuat.[6]

Manfaat  Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

 

 

Manfaat PTK dapat dilihat dari dua aspek yakni

 

  1. Aspek Akademis, manfaatnya adalah untuk membantu guru mengahasilkan pengetahuan yang shahih dan relevan bagi kelas mereka untuk memperbaiki mutu pembelajaran dalam jangka pendek.
  2. Manfaat Praktis dari pelaksanaan PTK antara lain:
  3. pelaksanaan inovasi pembelajaran dari bawah. Peningkatan mutu dan perbaikan proses pembelajaran yang dilakukan guru secara rutin merupakan wahana pelaksanaan inovasi pembelajaran. Oleh karena itu guru perlu mencoba untuk mengubah, mengembangkan, dan meningkatkan pendekatan, metode,maupun gaya pembelajaran sehingga dapat melahirkan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan karakteristik kelas.
  4. pengembangan kurikulum di tingkat sekolah, artinya dengan guru melakukan PTK maka guru telah melakukan implementasi kurikulum dalam tataran praktis, yakni bagaimana kurikulum itu dikembangkan dan disesuaikan dnegan situasi dan kondisi, sehingga kurikulum dapat berjalan secara efektif melalui proses pembelajran yang aktif,inovatif,kreatif,efektif dan menyenangkan.

 

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas Menurut I Wayan Santyasa (2007) (skripsi dan tesis)

  1. Tujuan utama pertama, melakukan perbaikan dan peningkatan layanan professional Guru dalam menangani proses pembelajaran. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis kondisi, kemudian mencoba secara sistematis berbagai model pembelajaran alternatif yang diyakini secara teoretis dan praktis dapat memecahkan masalah pembelajaran. Dengan kata lain, guru melakukan perencanaan, melaksanakan tindakan, melakukan evaluasi, dan refleksi.

b.Tujuan utama kedua, melakukan pengembangan keteranpilan Guru yang bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi berbagai persoalan aktual yang dihadapinya terkait dengan pembelajaran. Tujuan ini dilandasi oleh tiga hal penting, (1) kebutuhan pelaksanaan tumbuh dari Guru sendiri, bukan karena ditugaskan oleh kepala sekolah, (2) proses latihan terjadi secara hand-on dan mind-on, tidak dalam situasi artifisial, (3) produknyas adalah sebuah nilai, karena keilmiahan segi pelaksanaan akan didukung oleh lingkungan.

c.Tujuan sertaan, menumbuh kembangkan budaya meneliti di kalangan Guru.

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas Menurut Suhadjono (2007:61) (skripsi dan tesis)

 

a.Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, serta hasil pendidikan dan pembelajaran disekolah

b.Membantu guru dan tenaga kekependidikan lainnya mengatasai masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam kelas

c.Meningkatkan sikap professional pendidik dan tenaga kependidika

d.Menumbuh-kembangkan budaya akademik dilingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan (sustainable).

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas Menurut Kunandar (2008) (skripsi dan tesis)

  1. Untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dan siswa yang sedang belajar, meningkatkan profesionalisme guru, dan menumbuhkan budaya akademik dikalangan para guru.
  2. Peningkatan kualitas praktik pembelajaran di kelas secara terus menerus mengingat masyarakat berkembang secara cepat.
  3. Peningkatan relevansi pendidikan, hal ini dicapai melalui peningkatan proses pembelajaran.
  4. Sebagai alat training in-service,yang memperlengkapi guru dengan skill dan metode baru, mempertajam kekuatan analisisnya dan mempertinggi kesadaran dirinya.
  5. Sebagai alat untuk memasukkan pendekatan tambahan atau inovatif terhadap system pembelajaran yang berkelanjutanyang biasanya menghambat inovasi dan perubahan.

f.Peningkatan hasil mutu pendidikan melalui perbaikan praktik pembeljaran di kelas dengan mengembangkan berbagai jenis ketrampilan dan menningktkan motivasi belajar siswa.

g.Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.

h.Menumbuh kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah, sehingga tercipta proaktif dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.

  1. Peningkatan efisiensi pengelolaan pendidikan, peningkatan atau perbaikan proses pembelajran di samping untuk meningkatkan relevansi dan mutu hasil pendidikan juga situnjukkan untuk meningkatkan efisiensi peemanfaatan sumber-sumber daya yang terintegrasi di dalamnya.

Alasan diperlukan Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

  1. PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Dia menjadi reflektif dan kritis terhadap lakukan.apa yang dia dan muridnya
  2. PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sebagai seorang praktis, yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan dan inovasi, namun juga sebagai peneniliti di bidangnya.
  3. Dengan melaksanakan tahapan-tahapan dalam PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terhadap apa yang terjadi di kelasnya. Tindakan yang dilakukan guru semata-mata didasarkan pada masalah aktual dan faktual yang berkembang di kelasnya.
  4. Pelaksanaan PTK tidak menggangu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan kelasnya. PTK merupakan suatu kegiatan penelitian yang terintegrasi dengan pelaksanaan proses pembelajaran.
  5. Dengan melaksanakan PTK guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan teknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipakainya.
  6. Penerapan PTK dalam pendidikan dan pembelajaran memiliki tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan sehingga meningkatan mutu hasil instruksional; mengembangkan keterampilan guru; meningkatkan relevansi; meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.

Jenis Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

  1. PTK Diagnostik

    PTK diagnosis adalah penelitian yang dirancang untuk menuntun penelitian ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini, peneliti mendiagnosis dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian.

  1. PTK Partisipan

    PTK Partisipan adalah penelitian yang terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan pembuatan laporan.

  1. PTK Empiris

    PTK Empiris adalah penelitian yang berupaya melaksanakan suatu tindakan, kemudian mebukukkannya.

  1. PTK Eksperimental

    PTK Eksperimental adalah penelitian yang diselenggarakan sebagai upaya menerapkan berbagai teknik dan strategi secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar-mengajar.

Prinsip Pembuatan Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

 

 

  1. Masalah yang diangkat berasal dari pengalaman guru selama proses pembelajaran di kelas.

 

  1. Masalah yang diujicoba harus dilaksanakan secara langsung.

 

  1. Penelitian berfokus pada data pengamatan dan data perilaku siswa.

 

  1. Penelitian harus bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran di kelas.

 

  1. Penelitian menyangkut hal-hal yang bersifat dinamis, adanya perubahan.

 

  1. Tindakan yang dipilih peneliti harus spesifik, sederhana dan mudah dilakukan.

 

Ciri dari Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

 

 

  1. Merupakan kegiatan nyata untuk meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar.

 

  1. Merupakan tindakan oleh guru kepada siswa.

 

  1. Tindakan harus berbeda dari kegiatan biasanya.

 

  1. Terjadi dalam siklus berkesinambungan, minimum dua siklus.

 

  1. Ada pedoman yang jelas secara tertulis bagi siswa untuk dapat mengikuti tahap demi tahap.

 

  1. Ada untuk kerja siswa sesuai pedoman tertulis dari guru.

 

  1. Ada penelusuran terhadapa proses dengan berdasar pedoman pengamatan.

 

  1. Ada evaluasi terhadap hasil penelitian dengan instrumen yang relevan.

 

  1. Keberhasilan tindakan dilakukan dalam bentuk refleksi dan melibatkan siswa yang di kenai tindakan.
  2. Hasil refleksi harus terlihat dalam perencanaan siklus berikutnya.

 

Karakteristik penelitian tindakan kelas (PTK) menurut  Richard Winter (skripsi dan tesis)

 

  1. Kritik Refleksi.

Salah satu langkah penelitian kualitatif pada umumya, dan khususnya penelitian tindakan kelas ialah adanya upaya refleksi terhadap hasil observasi mengenai latar dan kegiatan suatu aksi. Hanya saja, di dalam(PTK) yang dimaksud dengan refleksi ialah suatu upaya evaluasi atau penelitian, dan refleksi ini perlu adanya kritik sehingga dimungkinkan pada taraf evaluasi terhadap perubahan-perubahan. Adapun menurut Schmuck (1997), yang dimaksud refleksi disini adalah refleksi dalam pengertian melakukan introspeksi diri, seperti guru mengingat kembali apa saja tindakan yang telah dilakukan di dalam kelas, apa dampak dari tindakan tersebut, mengapa dampaknya menjadi demikian dan sebagainya.

  1. Kritik Dialektis.

Dengan adanya kritik dialektif diharapkan penelitian bersedia melakukan kritik terhadap fenomena yang ditelitinya. Selanjutnya peneliti akan bersedia melakukan pemerisaan terhadap :

  1. Kontek hubungan secara menyeluruh yang merupakan suatu unit walaupun dapat dipisahkan secarta jelas.
  2. Struktur kontradiksi internal, maksudnya dibalik unut yang kelas yang memungkinkan adanya kecenderungan mengalami perubahan meskipun sesuatu yang berada di balik unit tersebut bersifat stabil.
  3. Kritik Kolaboratif.

Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) diperlukan hadirnya suatu kerjasama dengan pihak-pihak lain seperti atasan, sejawat atau kolega, mahasiswa, dan sebagainya.

  1. Kritik Resiko.

Dengan adanya ciri resiko diharapkan dan dituntut agr peneliti berani mengambil resiko, terutama pada waktu proses penelitian berlangsung. Resiko yang mungkin ada diantaranya: Adanya tuntutan untuk melakukan suatu transformasi, dan Melesetnya hipotesis.

  1. Kritik Susunan Jamak.

Pada umumnya penelitian kuantitatif atau tradisional berstruktur tunggal karena ditentukan oleh suara tunggal, penelitiannya. Akan tetapi, PTK memiliki struktur jamak karena jelas penelitian ini bersifat dialektis, reflektif, partisipasitif dan kolaboratif.

  1. Kritik Internalisasi Teori dan Praktek.

Di dalam penelitian tindakan kelad (PTK), keberadaan antara teori dan praktikbukan merupakan dua dunia yang berlainan. Akan tetapi keduanya merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling bergantung dan keduanya berfungsi untuk mendukung transformasi.

 

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

 

  1. PTK hanya dilakukan oleh guru yang memahami bahwa proses pembelajaran perlu diperbaiki dan ia terpanggil jiwanya untuk memberikan tindakan-tindakan tertentu untuk membenahi masalah dalam proses pembelajaran dengan cara melakukan kolaborasi. Menurut Usman (dalam Daryanto,2011:2) guru dengan kompetensi tinggi merupakan seorang yang memiliki kemampuan dan keahlian serta keterampilan dalam bidangnya. Sehingga Ia dapat melakukan fungsi dan tugasnya sebagai pengajar dan pendidik dengan maksimal.
  2. Refleksi diri, refleksi merupakan salah satu ciri khas PTK yang paling esensial. Dan ini sekaligus sebagai pembeda PTK dengan penelitian lainnya yang menggunakan responden dalam mengumpulkan data, sementara dalam PTK pengumpulan data dilakukan dengan refleksi diri. (Tahir,2012:80)

3.Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di dalam “kelas” sehingga interaksi antara siswa dengan guru dapat terfokuskan secara maksimal. “Kelas” yang dimaksud di sini bukan hanya ruang yang berupa gedung, melainkan “tempat” berlangsungnya proses pembelajaran antara guru dan murid. (Suyadi,2012:6)

  1. PTK bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran secara terus menerus. PTK dilaksakan secara berkesinambungan di mana setiap siklus mencerminkan peningkatan atau perbaikan. Siklus sebelumnya merupakan patokan untuk siklus selanjutnya. Sehingga diperoleh model pembelajaran yang paling baik. (Daryanto,2011:6)

5.PTK merupakan salah satu indikator dalam peningkatan profesionalisme guru, karena PTK memberi motivasi kepada guru untuk berfikir Kritis dan sistematis, membiasakan guru untuk menulis, dan membuat catatan yang dapat. Di mana semua itu dapat menunjang kemampuan guru dalam pembelajaran. (Daryanto,2011:6)

6.PTK bersifat fleksibel sehingga mudah diadaptasikan dengan keadaan kelas. Dengan demikian proses pembelajaran tidak monoton oleh satu model saja.(Tahir,2012:81)

7.PTK menggunakaan metode kontekstuall. Artinya variable- variable yang akan dipahami selalu berkaitan dengan kondisi kelas itu sendiri. Sehingga data yang diperoleh hanya berlaku untuk kelas itu saja dan tidak dapat digeneralisasikan dengan kelas lain. (Tahir,2012:81)

8.PTK dalam pelaksanaannya terbikai dalam beberapa pembagian waktu atau siklus. (Sukardi,2011:212)

9.PTK tidak diatur secara khusus untuk memenuhi kepentingan penelitian semata. melainkan harus disesuaikan dengan program pembelajaran yang sedang berjalan di kelas tersebut. (Sanjaya,2010:34)

 

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

 

  1. Menurut Lewin (Tahir 2012:77), PTK merupakan siasat guru dalam mengaplikasikan pembelajaran dengan berkaca pada pengalamnya sendiri atau dengan perbandingan dari guru lain.
  2. Menurut Bahri (2012:8), Penelitian Tindakan Kelas merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan untuk mengamati kejadian-kejadian dalam kelas untuk memperbaiki praktek dalam pembelajaran agar lebih berkualitas dalam proses sehingga hasil belajarpun menjadi lebih baik.
  3. Menurut Suyadi,2012:18, PTK secara lebih sistematis dibagi menjadi tiga kata yaitu penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian yaitu kegiatan mengamati suatu objek tertentu dengan menggunakan prosedur tertentu untuk menemukan data dengan tujuan meningkatkan mutu. Kemudian tindakan yaitu perlakuan yang dilakukan dengan sengaja dan terencana dengan tujuan tertentu. Dan kelas adalah tempat di mana sekelompok peserta didik menerima pelajaran dari guru yang sama.
  4. Menurut Sanjaya,2010:25, Secara bahasa ada tiga istilah yang berkaitan dengan penelitian tindakan keleas (PTK), yakni penelitian, tindakan, dan kelas. Pertama, penelitian adalah suatu perlakuan yang menggunakan metologi untuk memecahkan suatu masalah. Kedua, tindakan dapat diartikan sebagai perlakuan yang dilakukan oleh guru untuk memperbaiki mutu. Ketiga kelas menunjukkan pada tempat berlangsungnya tindakan.
  5. Menurut Kemmis dan Mc. Taggart (Sanjaya,2010:25), PTK adalah gerakan diri sepenuhnya yang dilakukan oleh peserta didik untuk meningkatkan pemahaman.

g.Menurut Arikunto (Suyadi,2012:18), PTK adalah gabungan pengertian dari kata “penelitian, tindakan dan kelas”. Penelitian adalah kegiatan mengamati suatu objek, dengan menggunakan kaidah metodologi tertentu untuk mendapatkan data yang bermanfaat bagi peneliti dan dan orang lain demi kepentingan bersama. Selanjutnya tindakan adalah suatu perlakuan yang sengaja diterapkan kepada objek dengan tujuan tertentu yang dalam penerapannya dirangkai menjadi beberapa periode atau siklus. Dan  kelas adalah tempat di mana sekolompok siswa belajar bersama dari seorang guru yang sama dalam periode yang sama.

Berdasarkan beberapa pemahaman mengenai PTK diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) adalah suatu pengamatan yang menerapkan tindakan didalam kelas dengan menggunakan aturan sesuai dengan metodologi penelitian yang dilakukan dalam beberapa periode atau siklus. Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya, PTK dapat berbentuk individual dan kaloboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK kaloboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau kelas orang lain, sedang dalam PTK kaloboratif beberapa orang guru secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar kelas.